Ceritasilat Novel Online

Penghuni Telaga Iblis 2


Pendekar Rajawali Sakti Penghuni Telaga Iblis Bagian 2



"Hup! Belum lagi, Nenek Ompong!"

   "Bangsat!"

   Maki Gagak Setan Pemakan Bangkai ketika serangannya dapat digagalkan.

   Saat itu sosok berbaju rompi putih itu telah melompat ke atas, kemudian dengan cepat meng-hantamkan satu tendangan ke wajah.

   Mau tak mau orang tua itu melompat ke belakang menghindarinya.

   Namun dia masih sempat kembali menyabetkan tongkat.

   Sementara, sosok berbaju rompi putih itu terus memburu sambil meliuk-liuk.

   Gerakannya semakin indah menghindari sabetan tongkat perempuan tua itu.

   "Yeaaa...!"

   Tiba-tiba saja sosok bayangan putih itu membuat serangan balik, dengan melepaskan satu pukulan ke arah kepala.

   "Uhhh!"

   Gagak Setan Pamakan Bangkai terkejut.

   Keri-ngat dinginnya mengucur pedahan, ketika nyaris saja kepalanya remuk terkena hantaman yang mampu dihindarinya dengan mengegos ke kiri.

   Tapi angin serangannya saja mampu membuat kepalanya terasa pening dan berdenyut kencang.

   Begitu ada kesempatan, dia jungkir balik beberapa kali, untuk menjauhi bayangan putih itu.

   Tapi pada saat yang sama, bayangan putih itu memang tak melanjutkan serangan.

   Dia langsung mendarat, dan memperhatikannya.

   "Huh! Sudah kuduga. Kau pasti akan membela gendakmu!"

   Dengus nenek itu begitu mengetahui siapa yang menyerangnya tadi. Bayangan putih itu memang tak lain dari Rangga, alias Pendekar Rajawali Sakti. Pemuda itu tersenyum kecil dengan sikap tenang.

   "Orang tua! Sikapmu sudah keterlaluan. Dan ini tak bisa kudiamkan begitu saja,"

   Kata Pendekar Rajawali Sakti datar.

   "Huh! Kau pikir dirimu sudah hebat dan merasa jago sendiri? Meski kau memiliki kepandaian setinggi langit, jangan harap akan kusudahi begitu saja persoalan ini. Salah satu di antara kita harus mampus."

   Dengus perempuan tua itu berang.

   "Kenapa harus begitu?"

   Tanya Rangga.

   "Karena gendakmu itu cucuku tewas!"

   Sentak Gagak Solan Pamakan Bangkai sengit.

   "Kurang ajar! Tutup mulutmu, Tua Bangka!"

   Sentak Pandan Wangi marah, karena sudah berapa kali nenek itu menyebutnya gendak. Suatu hal yang amat hina bagi seorang wanita.

   "He?! Kelakuanmu sudah jelas. Apa kau ingin mungkir lagi?!"

   Bola mata perempuan tua itu mendelik garang.

   "Kurang ajar!"

   Pandan Wangi bermaksud akan menghajar, namun....

   "Sabar, Pandan. Kita harus menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang baik...,"

   Cegah Rangga, buru-buru.

   "Dia sudah keterlaluan menghinaku, Kakang! Tua bangka sepertinya memang harus dihajar agar tak sembarangan menuduh orang!"

   Dengus Pandan Wangi.

   "Kalau memang dia keras kepala maka sudah sepatutnya kau yang harus menahan amarahmu. Ini hanya salah paham. Dan kita harus selesaikan dengan kepala dingin. Kalau masing-masing ber-keras, tentu tak akan menyelesaikan persoalan. Nah, bersabarlah, Pandan...,"

   Bujuk Rangga halus. Meskipun hatinya kesal dan kemarahannya siap meledak, tapi gadis itu menurut juga pada kata-kata kekasihnya.

   "Hm.... Kau tak akan bisa membelanya, Bo-cah. Sebab kau sendiri punya kelakuan yang sama dengan gendakmu!"

   Dengus Gagak Setan Pamakan Bangkai sinis.

   "Nisanak! Kau bicara sepertinya kenal betul dengan kami! Tapi keyakinanmu itu sebenarnya salah besar. Dan tuduhanmu, sama sekali tak beralasan. Mendengar nama itu pun, baru sekali ini. Kalau kau memang mengenal Setan Kuburan, tentu takkan salah mengenali orang saat ini. Kecuali, kalau kau memang sengaja membuat keonaran dengan tuduhan yang dicari-cari,"

   Sahut Rangga enteng.

   "Bocah sial! Malah menuduhku pula yang ti-dak-tidak. Jadi, siapa kalian kalau bukan Setan Kuburan?!"

   "Yang jelas, kami bukan Setan Kuburan. Dan kau harus tahu. Kalau tidak, sama saja kau mencari-cari urusan!"

   "Kurang ajar! Kau pikir aku takut denganmu, heh?!"

   "Aku tak bilang begitu. Tapi, ingat saja sejak tadi, kaulah yang mulai mencari gara-gara. Jadi sebenarnya siapa yang patut marah dalam hal ini?"

   "Huh! Kau pikir aku mudah dikibuli bocah ingusan seperti kalian!"

   "Mereka tak mengibulimu, Nenek Pikun! Kaulah yang kelewat banyak mengurung diri, sehingga tak menyadari kalau saat ini tengah berhadapan dengan pendekar besar di jagad ini!"

   Timpal sebuah suara, tiba-tiba.

   Semua orang yang ada di situ segera berpaling, dan melihat seorang laki-laki tua bertubuh kurus telah berdiri tak jauh dari situ.

   Rambutnya yang pendek dan telah ubanan, diikat sehelai kain merah dan hitam.

   Kulit wajahnya telah keriput.

   Demikian pula lengan dan kakinya.

   Sepintas lalu, orang tua itu seperti orang desa.

   Tapi, perempuan tua itu agaknya kenal betul dengannya.

   "Ki Waringin! Apa kerjamu di sini, heh?!"

   Sentak Gagak Setan Pemakan Bangkai dengan nada galak. *** "Apa pula yang kau kerjakan di sini, Nyai Ambarwati?"

   Sahut orang tua yang dipanggil Ki Waringin enteng. 'Sial! Dasar tua bangka tak tahu diri. Aku bertanya, dan kau harus menjawab!"

   Dengus Gagak Setan Pemakan Bangkai yang ternyata bernama asli Nyai Ambarwati.

   "Hm. ... Apa hakmu memerintahku?"

   "Tua bangka sial! Apakah kau ingin kugebuk?!"

   Ancam Nyai Ambarwati "He he he...! Sikap galakmu masih sama seperti tiga puluh tahun lalu.

   Tapi, sebaiknya dikurangi untuk keselamatan dirimu sendiri, Nyai.

   Kalau dulu, kau boleh karena merasa hebat.

   Tapi saat ini, tokoh persilatan yang memiliki kepandaian berlipat ganda sudah tak terhitung.

   Kau patut berhati-hati!"

   "Hm.... Ingin kulihat, kemajuanmu selama tiga puluh tahun ini!"

   Dengus Nyai Ambarwati.

   "Nyai Ambarwati, jangan memaksaku! Urusan kita sama, yaitu mencari Setan Kuburan. Kenapa kau malah mempersulit urusan?"

   Sahut Ki Waringin santai.

   "Aku akan berbuat sesuka hatiku tanpa ada yang bisa melarang! Sebaiknya, keluarkan seluruh kepandaianmu, karena aku tak akan segan menghajarmu!"

   "Ha ha ha...! Aku telah memperingatkan agar tak mendapat malu. Tapi, agaknya kau tetap ber-keras kepala juga. Hm... Kalau begitu, kuberi kau kesempatan dengan menyerangku sebanyak empat jurus!"

   "Huh! Aku mampu menjatuhkanmu kurang dari dua jurus!"

   "Sebaiknya buktikan dulu ucapanmu itu, Nyai. Karena sesudah itu, aku akan balas menyerang-mu!"

   Dingin ucapan Ki Waringin. Nyai Ambarwati tak mempedulikan ucapan Ki Waringin. Dengan geram tongkatnya diputar langsung diserangnya laki-laki tua itu dengan sengit! "Yeaaa...!"

   Namun dengan gesit Ki Waringin melompat ke sana kemari untuk menghindari sambaran tongkat Gagak Setan Pamakan Bangkai Gerakannya sangat mengagumkan, karena mampu melompat ringan bagai sehelai kapas.

   Bahkan, gerakannya juga cepat bagai lesatan anak panah.

   Sehingga, beberapa kali serangan dahsyat yang dilancarkan Nyai Ambarwati mampu dihindari dengan mudah.

   "Kakang! Lebih baik kita tinggalkan tempat ini, selagi mereka sibuk dengan urusannya. Aku muak berada disini terus!"

   Ajak Pandan Wangi seraya menghampiri kudanya.

   "Ya.... Aku pikir pun demikian. Perempuan tua itu keras kepala dan mau menang sendiri. Percuma kita debat omong dengannya,"

   Sahut Rangga juga menghampiri kuda hitamnya yang bernama Dewa Bayu. Namun baru saja mereka naik di punggung kudanya....

   "Bocah celaka! Kalian pikir bisa kabur dariku, heh?!"

   Tiba-tiba Nyai Ambarwati membentak nyaring sambil melesat menyerang sepasang pendekar dari Karang Setra itu. Wuttt! "Hiyaaat..!"

   Dengan gerakan ringan, sepasang pendekar dari Karang Setra itu melompat ke belakang dari punggung kuda masing-masing, ketika ujung tongkat Nyai Ambarwati menderu menghantam.

   Dan serangan perempuan tua itu agaknya tak berhenti sampai di situ.

   Begitu mereka mendarat di tanah, dengan cepat tongkat perempuan tua itu kembali menghantam seperti tak mau berhenti.

   "Nisanak! Jangan keterlaluan! Aku pun punya batas kesabaran kalau terus begini!"

   Teriak Rangga memperingatkan, sambil terus berusaha menghidar.

   "Huh! Siapa yang peduli dengan kesabaran?! Aku hanya inginkan nyawa busuk kalian!"

   Dengus Nyai Ambarwati geram.

   "Nyai Ambarwati! Kenapa kau ini?! Bukankah kau tengah berurusan denganku? Ayo, teruskan! Biarkan bocah-bocah itu berlalu!"

   Teriak Ki Waringin lantang.

   "Tua bangka busuk! Aku akan menyelesaikan urusanku yang lebih penting. Dan setelah itu, baru giliranmu. Itu pun kalau kau bukan penakut!"

   Sahut Nyai Ambarwati tak mempedulikan tantangan orang tua bertubuh kurus itu. Sementara serangan-serangannya semakin gencar saja terhadap kedua anak muda itu.

   "He he he...! Sebaiknya hentikan perbuatan konyolmu sebelum mendapat malu, Nyai!"

   Ujar Ki Waringin seperti mengingatkan.

   Tapi, mana mau perempuan tua itu mendengar ocehan Ki Waringin.

   Dia tetap menyerang kedua lawannya dengan kemarahan meluap.

   Ini tentu saja membuat Rangga dan Pandan Wangi mulal tak senang dan habis kesabaran.

   Terlebih-lebih, gadis itu.

   Kemarahannya yang tadi terpendam, kini marak kembali.

   Sambil mendengus geram, kipasnya dicabut dan mulai balas menyerang.

   "Tua bangka bebal! Kau memang perlu diberi pelajaran!"

   Bentak gadis itu nyaring.

   Wuttt! Wuttt! Pandan Wangi menyadari kalau tenaga dalam perempuan tua itu lebih tinggi setingkat.

   Tapi dalam kecepatan bergerak, gadis ini lebih unggul.

   Dan itu disadarinya betul.

   Sehingga sebisa mungkin dia selalu menghindari benturan senjata, tanpa mengunakan serangan-serangannya.

   Sementara itu, melihat Pandan Wangi telah membalas serangan, Rangga segera menghentikan serangannya.

   Dia hanya memperhatikan seksama setiap gerakan perempuan tua itu.

   Sebenarnya disadari kalau Pandan Wangi mampu melawan perempuan tua itu.

   Tapi, gadis itu sering ceroboh dan tak hati-hati.

   Apalagi kalau sedang marah.

   Sehingga meski bagaimanapun, Pendekar Rajawali Sakti terpaksa mengawasi dan berjaga-jaga jangan sampai gadis itu celaka.

   Sementara tiga laki-laki yang tadi berada di kedai, kini keluar untuk melihat pertarungan.

   Dan agaknya, bukan mereka saja yang menaruh perhatian.

   Demikian pula orang-orang yang lalu-lalang di sekitar itu.

   Mereka berhenti dan menonton pertarungan tingkat tinggi yang jarang mereka lihat.

   Sehingga lambat laun tanpa disadari tempat itu telah menjadi ajang tontonan menarik.

   Dengan kipas baja putih di tangan, Pandan Wangi merasa lebih mantap menghadapi serangan tongkat Gagak Setan Pamakan Bangkai.

   Tubuhnya bergerak segesit kijang dan menyodok tiba-tiba ke arah perempuan tua itu.

   Hal itulah yang sering membuat Nyai Ambarwati yang berjuluk Gagak Setan Pemakan Bangkai sering terkejut dan semakin penasaran.

   Dia berusaha mengadu senjata, tapi dengan lincah Pandan Wangi berkelit.

   Tentu saja hal itu semakin membuatnya kalap dan penasaran.

   Namun, sejauh ini dia tak bisa berbuat apa-apa, karena gadis itu semakin berada di atas angin dan mendesaknya habis-habisan! Wut! Ujung tongkat Gagak Setan Pemakan Bangkai berhasil dihindari Pandan Wangi dengan berjungkir balik ke atas sambil mengembangkan kipasnya.

   Dan dengan gerakan mengagumkan tubuhnya meluruk turun, membawa sebuah serangan dahsyat! "Hiyaaat!"

   "Hiiihl"

   Nyai Ambarwati mendengus.

   Ujung tongkatnya seketika diayunkan menghantam dada gadis itu.

   Tapi dengan gerakan lincah Pandan Wangi kembali berputaran di udara.

   Dan begitu ujung tongkat itu lewat, kipasnya langsung menyambar cepat ke leher.

   Nyai Ambarwati terkejut.

   Buru-buru kepalanya dimiringkan.

   Tapi saat itulah ujung kaki kanan gadis itu melayang ke perut.

   Duk! "Akh!"

   Nyai Ambarwati terpekik, begitu perutnya ter-hantam tendangan Pandan Wangi yang keras.

   Tubuhnya kontan terjungkal beberapa langkah.

   Sebenarnya, bisa saja pada saat itu Pandan Wangi menghabisi.

   Namun, tak dilakukan.

   Dia merasa sakit hatinya terhadap perempuan tua itu kini telah terbalas.

   "Hm... Hitungan kita saat ini satu sama, Nisanak. Kau boleh meneruskan urusan ini kapan saja kau suka!"

   Nyai Ambarwati cepat bangkit dan bermaksud melompat menghajar lawan. Namun mendadak ..

   "Setan Kuburan! Ada Setan Kuburan...!"

   Terdengar teriakan seseorang sambil berlari tergopoh-gopoh ke arah orang yang sedang berta-rung. *** Orang-orang yang berada di tempat itu serentak kaget. Sebagian terlihat kabur. Namun sebagian lagi bergegas menghadang orang yang datang itu.

   "Di mana dia?!"

   Tanya seseorang bertubuh tinggi kurus.

   "Di sana! Di ujung desa. Dia sedang bertarung melawan dua orang lawannya!"

   Sahut orang yang tadi datang.

   Laki-laki tinggi kurus itu langsung melompat dan berlari sekencang-kencangnya ke arah yang ditunjukkan.

   Begitu juga yang lainnya, termasuk Ki Waringin dan Jarot Kelono serta kawan-kawannya.

   Sementara Nyai Ambarwati mendelik tajam pada kedua anak muda itu, sebelum akhirnya mengikuti yang lain.

   "Urusan kita belum selesai, Bocah. Kalian akan bertemu lagi denganku!"

   Kata Gagak Setan Pamakan Bangkai mendengus, sebelum melesat dari situ. Mendengar itu, Pandan Wangi melotot garang. 'Tua bangka keras kepala! Aku siap mengha-dapimu kapan saja kau suka!"

   Teriak Pandan Wangi, sengit.

   "Sudahlah, Pandan! Untuk apa diladeni..,"

   De-sah Rangga kembali dihampirinya Dewa Bayu. Sebentar saja dia sudah melompat ke punggung kudanya, diikuti Pandan Wangi.

   "Huh! Kesal aku dibuatnya! Seharusnya orang tua seperti itu bisa lebih bijaksana. Tapi ini terbalik. Kelakuannya lebih sinting daripada orang gila!"

   Dengus Pandan Wangi lagi. Rangga tertawa kecil melihat kemarahan kekasihnya.

   "Kenapa Kakang tertawa?!"

   Bentak Pandan Wangi galak.

   "Sudahlah... Tak usah dipikirkan. Sebaiknya kita ikuti arah mereka saja. Aku pun heran, kenapa dua orang yang kita temui menyangka kalau kita adalah Setan Kuburan. Kalau mereka sinting, ya mungkin kita memang Setan Kuburan..."

   "Kau saja yang jadi Setan Kuburan!"

   Sahut Pandan Wangi kesal. Rangga tersenyum kecil.

   "Aku hanya bercanda. Maksudku, barangkali mereka benar kalau kita mirip orang yang disebut dengan Setan Kuburan itu..."

   Pandan Wangi tidak menyahut.

   Dan kudanya dipacu lebih cepat.

   Rangga tersenyum sambil menggeleng lemah.

   Kemudian kudanya juga dihela agar berlari lebih kencang untuk menyusul gadis itu.

   Sepasang pendekar dari Karang Setra itu tiba di sana agaknya sudah terlambat.

   Karena begitu sampai, yang tinggal hanya segelintir penduduk desa ini yang tengah menggotong dua sosok mayat.

   Sedangkan para tokoh persilatan yang tadi menuju ke sini sudah tak ada.

   "Kisanak! Ke mana perginya orang yang dise-but Setan Kuburan itu?"

   Tanya Rangga pada salah seorang yang masih berada di tempat itu. Orang itu menujuk ke satu arah.

   "Dia pergi ke arah sana. Dan sebagian pen-dekar tadi pun mengejar ke arah sana. Kalian belum terlambat kalau ingin bergabung dengan mereka. Makin banyak orang yang akan mengejar Setan Kuburan, akan semakin bagus. Karena kalau dibiarkan turus, mereka akan semakin mengganas,"

   Sahut orang itu seraya berlalu.

   "Mari, Pandan. Kita kejar mereka!"

   Rangga segera memacu kudanya dengan kencang. Sementara Pandan Wangi mengikuti dari be-lakang.

   "Kenapa Kakang begitu bersemangat mengejar Setan Kuburan yang tak ketahuan juntrungannya itu?!"

   Teriak Pandan Wangi di sela-sela angin yang bertiup kencang, ketika mereka melaju di atas punggung kuda yang berlari bagai terbang.

   "Aku mau tahu, apa benar mereka mirip kita?!"

   "Lalu?!"

   "Ya cari tahu, apakah mereka selama ini ber-buat jahat atau tidak..."

   "Hm.... mana ada penjahat yang mau mengaku."

   "Tentu saja kita tak tanya pada Setan Kuburan itu."

   "Jadi mau tanya pada siapa? Pada setan be-tulan?"

   Ejek Pandan Wangi. Rangga tertawa kecil.

   "Atau barangkali Kakang penasaran?"

   Tambah Pandan Wangi.

   "He, penasaran kenapa?"

   Rangga balik ber-tanya dengan kening berkerut. 'Dua orang yang menuduhku sebagai Setan Kuburan. Tentu orang yang berjuluk Setan Kuburan itu perempuan. Dan paling tidak berwajah cantik...,"

   Ledek Pandan Wangi.

   "Ha ha ha...!"

   Rangga tak bisa menahan ketawa mendengar kata-kata Pandan Wangi.

   "Kenapa ketawa?!"

   Belum juga Pendekar Rajawab Sakti menja-wab, tiba-tiba...

   "Ha ha ha...! Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara ternyata mencari mati datang ke sini!"

   Terdengar satu suara yang lantang dan meng-gema di tempat iu.

   Serentak Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi menghentikan lari kuda masing masing.

   Diperhatikannya keadaan sekeliling dengan seksama.

   Tak terlihat seorang pun di tempat itu.

   Hanya pepohonan, rumput, serta desau angin yang menggerak-gerakkan ranting dan dedaunan.

   Namun pendengaran dan penglihatan Rangga yang tajam, mampu melihat seseorang yang bersembunyi di sela-sela batang pohon yang tak jauh di depan mereka.

   "Kisanak! Tak ada gunanya kau bersembunyi kalau tak mampu menutupi pandangan kami. Ke-luarlah dan jelaskan, apa yang kau maksud tadi!"

   Sahut Rangga dengan suara tak kalah lantangnya.

   Tak terdengar sahutan.

   Pandan Wangi sendiri masih heran, di mana orang yang berteriak tadi menyembunyikan diri.

   Tapi dia memang yakin, Rangga jelas mengetahui orang itu.

   Dan terbukti, ketika tak juga terdengar jawaban, ujung kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti menghantam sebongkah kerikil yang cukup besar.

   Seketika kerikil itu mencelat jauh ke depan, ke arah sebatang pohon yang agak tinggi.

   Takkk! *** Pendekar Rajawali Sakti Notizen von Pendekar Rajawali Sakti info .

   124.

   Penghuni Telaga Iblis Bag.

   6 19.

   September 2014 um 09.25 Kerikil yang dilemparkan Pendekar Rajawali Sakti dengan ujung kakinya menghantam salah satu cabang pohon yang besar.

   Dan saat itu juga, melesat sesosok bayangan merah ke udara dan setelah berputaran beberapa kali di udara, sosok bayangan merah itu berdiri tegak di hadapan Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi.

   Di hadapan sepasang pendekar dari Karang Setra kini terlihat, kalau yang berdiri adalah pemuda tanggung berwajah tampan.

   Rambutnya panjang sebahu.

   Badannya tegap dengan kulitnya halus seperti bayi yang terbungkus pakaian ketat berwarna merah.

   Senyumnya menawan dan memikat hati.

   Pandan Wangi bukannya tak mengakuinya, malah ketika beradu pandang, jantungnya berdetak lebih kencang.

   Sorot mata pemuda tanggung itu seperti memiliki daya sihir yang memikat kuat.

   Maka buru-buru pandangannya dipalingkan.

   "Kenapa, Nisanak? Kenapa kau berpaling? Apakah kau tak suka bila aku ingin berkawan de-nganmu?"

   Tanya pemuda itu dengan suara halus. Perlahan pemuda itu mendekati Pandan Wangi, dan seolah-olah tak peduli dengan adanya Rangga di tempat itu. Tapi sebelum melangkah tiga tindak, sebelah tangan Rangga telah menjaganya.

   "Jaga sikapmu, Kisanak!"

   "Minggir kau! Aku tak berurusan denganmu!"

   Tanpa menoleh sedikit pun, pemuda tanggung itu mengibaskan tangan, bermaksud menepis tangan Rangga.

   Namun Pendekar Rajawali Sakti menyadari kalau kibasan tangan pemuda itu tidak sembarangan.

   Maka seketika tangannya dialiri tenaga dalam tinggi.

   Plak! "Aku bilang jaga sikapmu!"

   Sentak Rangga, begitu kedua lengan mereka beradu. Pemuda tanggung itu terkejut setengah mati ketika tangannya terasa kesemutan akibat benturan barusan. Maka kali ini baru kepalanya berpaling, dan memandang Pendekar Rajawali Sakti dengan senyum sinis.

   "Hm... Pantas kau berlagak. Rupanya memiliki kepandaian juga, heh?! Tapi jangan dikira keinginanku tak akan kumiliki. Perempuan itu harus jadi milikku. Dan tak seorang pun bisa menghalangi kalau tidak ingin mampus! Hup!"

   Selesai berkata demikian, pemuda tanggung itu membuka kedua kakinya lebar.

   Dan sambil menunduk kepala, kepalan tangan kanannya menghantam ke dada Pendekar Rajawali Sakti.

   Namun dengan sigap Rangga menangkis dan balas menyodok dengan satu tendangan kilat.

   Tubuh pemuda itu melesat ke atas, lalu bergerak cepat menyambar punggung Pendekar Rajawali Sakti.

   "Yeaaa...!"

   Tapi mana sudi Rangga dipecundangi begitu rupa.

   Maka tubuhnya cepat berputar, terus mengayunkan satu tendangan menggeledek.

   Untung saja pemuda tanggung itu sempat melenting ke belakang, sehingga terhindar dari bahaya.

   Namun pada serangan selanjutnya, terlihat pemuda tanggung itu seperti berusaha menghindari benturan.

   Dan dia merasakan kalau tenaga dalamnya kalah jauh.

   Apalagi Rangga telah kaya pengalaman bertarung.

   Sehingga, tak heran kalau Rangga berada di atas angin.

   "Hiyaaa...!"

   Dalam satu kesempatan, Pendekar Rajawali Sakti mengurung pertahanan lawannya dengan pengerahan lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti".

   Namun Rangga tak terpancing mengikutinya.

   Pendekar Rajawali Sakti menunggu di bawah dengan sikap siap bertarung dalam pengerahan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.

   Hal itu memang tak mudah jika dilakukan orang yang berkepandaian tanggung.

   Kini pemuda tanggung itu mengayunkan tendangan.

   Namun Rangga cepat menghindar dengan bergerak ke kanan.

   Dan seketika dilepaskannya satu sodokan ke arah dada.

   Dalam keadaan kaget begitu, pemuda itu masih sempat menangkis dengan tangan kiri.

   Wuttt! Plakkk! Namun satu sodokan keras kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti sama sekali tak sempat diperhitungkan pemuda itu.

   Akibatnya....

   Des! "Aaakh!"

   Pemuda itu menjerit kesakitan, begitu kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti mendarat di perutnya. Tubuhnya kontan terjungkal beberapa langkah. Dan dengan gesit dia, bangkit. Lalu tiba-tiba dilepaskannya satu pukulan maut ke arah Rangga.

   "Yeaaa...!"

   Rangga cepat melompat ke atas, ketika selarik sinar hitam kemerahan yang keluar dari telapak tangan pemuda itu menderu ke arahnya.

   Saat itu juga Pendekar Rajawali Sakti siap mengerahkan ajiannya kembali ketika melihat ge-lagat kalau pemuda itu akan menggunakan kesempatan untuk membawa kabur Pandan Wangi.

   Memang gadis ini masih terkesima dalam keadaan mematung, akibat pengaruh sihir pemuda tanggung itu tadi.

   "Jangan harap kau bisa melakukan niat busukmu selagi aku masih hidup! Hiiih!"

   Werrr! "Hup!"

   Pemuda tanggung itu terkejut ketika tiba-tiba selarik sinar merah meluruk dari tangan Pendekar Rajawali Sakti yang melepaskan 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

   Untung saja dia sempat jungkir balik menghindari, lalu cepat melesat kabur dari situ.

   Rangga sengaja tak mengejarnya, karena mengkhawatirkan keselamatan Pandan Wangi.

   Langsung dihampirinya gadis itu.

   "Pandan, kau tak apa-apa...?"

   Tegur Rangga menepuk bahu kekasihnya.

   "Eh, apa...!?"

   Sahut Pandan Wangi seperti terjaga dari mimpi. "Tidak ada apa-apa. Mari kita lanjutkan perjalanan,"

   Ajak Rangga enteng.

   Sementara Pandan Wangi kembali terdiam.

   Dia merasa bingung atas kejadian tadi.

   Kenapa dia? Apa yang telah terjadi? Tapi, Rangga tak memberikan jawaban.

   Dan hal itu semakin membuatnya penasaran saja.

    *** Sosok berbaju merah tampak terus berlari menembus hutan lebat menuju kaki Gunung Kelud.

   Di satu tempat yang agak tersembunyi, sosok yang ternyata pemuda tanggung itu memasuki sebuah goa yang terdapat dalam lereng gunung.

   Di sana telah menanti seorang wanita berwajah cantik.

   Sambil tersenyum disambutnya pemuda yang langsung membungkuk memberi hormat.

   "Bangunlah Pulang Geni"

   Pemuda tanggung yang tak lain Pulang Geni itu segera bangkit berdiri. Namun kepalanya tetap tertunduk.

   "Apa yang terjadi? Wajahmu kelihatan murung sekali. Apakah kau gagal memikat gadis idaman-mu?"

   Tanya wanita itu lembut seraya mengajak masuk ke dalam suatu ruangan di dalam goa itu. Pulang Geni mengangguk pelan.

   "Hm.... Sungguh mengherankan! Siapa gadis itu?"

   "Entahlah, Bu. Kalau saja kawannya tak menghalangiku, mungkin sudah kubawa ke sini...,"

   Sahut Pulang Geni lesu. Perempuan yang rupanya Setiasih itu tersenyum kecil begitu mendengar cerita Pulang Geni.

   "Ibu mengerti maksudmu...,"

   Desah Setiasih. Pulang Geni masih terdiam dan tetap menun-dukkan kepala.

   "Kau dikalahkan kawan gadis itu, bukan?"

   Pemuda itu mengangguk. Dan wajah wanita di depannya berubah seketika. Rautnya yang tadi penuh senyum dan manis, kini berubah menyeramkan menyiratkan hawa kesedihan.

   "Hm.... Sungguh hebat orang itu. Siapa dia?"

   Tanya Setiasih, seraya duduk di sebongkah batu.

   "Aku..., aku tak mengenalnya, Bu,"

   Sahut Pulang Geni, ikut duduk di sisi ibunya.

   "Kau bisa menyebutkan ciri-cirinya, bukan?"

   Pulang Geni mengangguk. Lalu diceritakannya tentang pemuda yang telah mempecundanginya. Setiasih mengangguk-angguk kecil, begitu mendengar penuturan anaknya. Kemudian terlihat bibirnya kembali tersenyum sinis.

   "Hm.... Pantas kau kebentur dengannya...,"

   Kata wanita cantik itu.

   "Maksud, Ibu?"

   "Aku sempat mencuri dengar pembicaraan, ketika mereka berada dalam kedai di desa itu. Orang yang kau hadapi itu adalah Pendekar Rajawali Sakti. Menurut para tokoh persilatan, dia sangat disegani karena kepandaiannya yang tinggi dan sulit ditaklukkan. Konon pula, banyak sudah tokoh sesat yang berilmu tinggi tewas di tangannya. Kau memang harus berhati-hati bila berhadapan dengannya. Jangan gegabah, apalagi sampai menganggap enteng,"

   Kata Setiasih memberi nasihat pada anaknya. 'Tapi, aku menginginkan gadis yang bersama-nya itu, Bu!"

   Sahut Pulang Geni berkeras.

   "Kau bermaksud merampasnya dari sisi pemuda itu?"

   Pulang Geni terdiam mendengar pertanyaan ibunya. Kemudian ditatapnya dalam-dalam wajah ibunya.

   "Lalu, apa yang harus kulakukan..?"

   Tanya Pulang Geni, seperti marah.

   "Serahkan saja pada Ibu."

   "Ibu akan bertarung melawannya?"

   "Menurutmu, bagaimana?"

   Sahut Setiasih balik bertanya. Pulang Geni berpikir sesaat, kemudian tersenyum kecil.

   "Apa yang Ibu perkirakan, memang tak meleset. Kepandaiannya memang sulit diukur. Kalau saja tadi aku berkeras melawan, tentu tak akan selamat. Agaknya dia memang tak bisa dilawan dengan kekerasan tutur Pulang Geni.

   "Orang itu memang harus ditaklukkan. Bahkan harus dibinasakan, karena akan menghalangi rencana kita. Tapi untuk menghadapinya, kita tak bisa menggunakan kekerasan. Banyak hal yang bisa digunakan, seperti mencari kelemahannya. Dan kelemahannya seorang laki-laki, umumnya mudah kepincut perempuan cantik. Menurutmu, apa Ibu terlalu jelek untuk menghadapinya?"

   Tanya Setiasih sambil tersenyum kecil Pulang Geni tersenyum lebar.

   "Ibu adalah wanita tercantik yang pernah kuli-hat selama ini. Tak seorang pun yang mampu me-nandingi kecantikan Ibu!"

   Puji pemuda itu cepat.

   Setiasih bangkit dari duduknya di batu yang terdapat di ruangan goa itu, lalu dia menuju ke ruangan lain.

   Sementara, Pulang Geni menunggu beberapa saat lamanya.

   Tak lama, kemudian perempuan itu telah keluar lagi.

   Kini dia memakai baju lusuh seperti kebanyakan seorang perempuan desa.

   "Bagaimana menurutmu?"

   "Sebagai serang gadis desa sekalipun, Ibu tetap cantik!"

   "Nah! Sementara waktu ini, lupakan dulu gadis idamanmu itu. Dan bersenang-senanglah dengan gadis lain yang mampu memuaskanmu. Ibu akan pergi sekarang juga...."

   Pulang Geni cepat mengangguk.

   Tak berapa lama, perempuan berwajah cantik itu telah melesat keluar dari goa itu.

   Dengan ge-rakan ringan dan gesit tubuhnya terus melesat meninggalkan goa.

   Pulang Geni tersenyum kecil, kemudian melangkah keluar goa.

   Pemuda itu melesat pula dari tempat ini dengan arah berlawanan dari yang diambil ibunya.

    *** Sepanjang perjalanan, Pandan Wangi masih terus penasaran melihat kelakuan Rangga.

   Pemuda itu sama sekali tak mau menceritakan apa yang telah terjadi tadi.

   "Untuk apa? Aku kan sudah katakan, tak ada terjadi apa-apa,"

   Sahut Rangga enteng.

   "Bohong! Lalu, ke mana perginya bocah itu?"

   Desah Pandan Wangi.

   "Kau naksir padanya?" 'Kakang! Jangan mengalihkan perhatian!"

   Sahut Pandan Wangi kesal.

   "Lho? Aku lihat sendiri kau menatapnya tadi. Kata orang, sinar mata manusia itu tak bisa membohongi perasaannya,"

   Kata Rangga tersenyum kecil.

   "Brengsek!"

   Rangga kembali tertawa kecil.

   "Sejak kapan aku pernah mengkhianatimu?! Coba katakan, sejak kapan?! Justru Kakanglah yang acapkali mengkhianatiku!"

   Mendengar gadis itu mengeluarkan kata-kata nyaring dan wajah berang, Rangga tersentak. Kemudian, bibirnya tersenyum kembali.

   "Sudah, kenapa dipersoalkan betul...?"

   "Aku akan terus penasaran kalau Kakang tak mau menjawab!"

   "Kau benar-benar ingin tahu?"

   Tanya pemuda itu sambil menoleh pada gadis itu.

   "Tentu saja!"

   Rangga menghela napas pendek sambil me-mandang ke depan sekilas. Dari sini, mereka dapat melihat sebuah desa di depan sana.

   "Pemuda itu menyukai dirimu dan ingin mem-bawamu. Kau tak berusaha menolak. Dan keli-hatannya juga tak keberatan. Tapi, aku yang ke-beratan. Dan aku pula yang menolak. Dan ketika dia ingin mencoba dengan cara kasar, aku tak mungkin mendiamkan begitu saja. Tapi, akhirnya dia mengalah dan kabur...!"

   Tutur Rangga.

   "Bohong!"

   Sentak Pandan Wangi berang "Kenapa aku musti berbohong?"

   Pandan Wangi memandang pemuda itu agak lama.

   Wajahnya terlihat merah, dengan bola mata mulai berair.

   Dia seperti tak kuasa menahan sedih di hatinya.

   Maka kudanya segera dipacu kencang-kencang.

   Namun belum lagi kuda itu berlari, Rangga telah cepat melompat dan menahannya.

   Sementara Pandan Wangi sudah langsung turun dari kudanya.

   Gadis itu langsung lari ke satu arah sambil menangis sesenggukan "Pandan, tunggu!"

   Pandan Wangi agaknya tak mempedulikan panggilan itu. Dia terus berlari ke sebatang pohon besar. Baru setelah itu dia berhenti, dan mene-lungkupkan wajahnya pada batang pohon besar berdaun rindang. Rangga segera bergerak menghampiri.

   "Pandan. Dengar. Aku tadi hanya menggoda saja...,"

   Bujuk Rangga, ketika telah dekat.

   "Kakang! Kau tentu tahu, aku tak mungkin berbuat seperti itu. Lagi pula, mana pernah aku mengkhianatimu. Apalagi di depan matamu sendiri. Kenapa kau tega berkata begitu?!"

   Teriak Pandan Wangi di antara isak tangisnya.

   "Sudah kukatakan, itu tak benar. Aku hanya ingin menggodamu. Sudah, jangan menangis seperti anak kecil begitu,"

   Desah Rangga. Langsung dipegangnya bahu gadis itu, dan dibalikkan tubuhnya. Namun Pandan Wangi tetap menundukkan kepala. Sementara isak tangisnya masih terdengar halus.

   "Aku percaya padamu...,"

   Lanjut Rangga sambil menaikkan dagu gadis itu hingga saling bertatapan.

   "Lalu apa yang terjadi tadi? Tolong jelaskan, Kakang. Sungguh, aku tak mengerti!"

   Rangga tersenyum kecil.

   "Kau tak salah. Tapi, pemuda itulah yang culas. Dia mencoba meluluhkan hatimu menggunakan tenaga batinnya yang mampu mempengaruhi siapa saja yang tenaga batinnya lemah. Dan kau tadi telah terpengaruh. Tapi, itu bukan salahmu. Siapa bilang aku tak percaya kalau kau hanya mencintaiku seorang?"

   "Kakang! Kau..., kau...."

   Pandan Wangj tak kuasa melampiaskan pera-saan hatinya yang terasa sedikit lega. Dipeluknya pemuda itu erat-erat, seakan ingin menumpahkan sesak hatinya sejak tadi.

   "Aku tak pernah berpikir seburuk itu, Pandan. Aku selalu percaya padamu...,"

   Bisik Rangga di telinga gadis itu sambil membelai lembut riak rambutnya yang panjang hitam.

   "Sekarang, ayo kita pergi dari sini."

   Pandan Wangi mengangguk.

   Tak berapa lama kedua anak muda itu kembali ke tempat kuda masing-masing yang tadi ditinggalkan.

    *** Sepasang pendekar dari Karang Setra itu kini melewati sebuah rumah yang di halamannya terlihat banyak orang berkerumun.

   Dengan kening berkerut dan wajah heran, mereka terus memandangi ke arah rumah itu.

   Sementara dari dalam terdengar tangis yang panjang.

   Lalu satu persatu orang-orang yang berada di dalam ruangan itu keluar sambil menutup hidung mereka.

   "Hm.... Apa yang telah terjadi di rumah itu? Ayo, Pandan. Coba kita tanyakan pada mereka,"

   Ajak Rangga. Kedua anak muda itu segera turun dari kudanya. Dan Rangga segera mendekati salah seorang yang tidak jauh di depan mereka.

   "Kisanak, apa yang telah terjadi di rumah ini?"

   Tanya Rangga ramah. Orang itu menoleh. Ditatapnya Rangga dan Pandan Wangi bergantian, dengan sinar mata pe-nuh selidik.

   "Siapakah kalian? Apakah kalian kaki tangannya si Setan Kuburan?"

   Orang itu malah balik bertanya. Rangga tersenyum manis, lalu menggeleng.

   "Kami hanya pengembara biasa...,"

   Sahut Rangga pelan."

   "Syukurlah. Kukira kalian kaki tangannya Setan Kuburan. Baru saja dia membuat korban baru. Penghuni rumah ini tewas...,"

   Jelas orang itu.

   "Terbunuh?"

   "Tepatnya begitu, meski secara tak langsung."

   "Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

   Tanya Rangga bingung.

   "Menurut apa yang kuketahui, Setan Kuburan itu terdiri dari dua orang. Yang satu pemuda dan yang satu lagi perempuan. Mereka menjerat mangsanya secara halus. Dan, jarang sekali ada yang mampu menolak ajakan mereka. Setelah puas berhubungan badan, maka korbannya akan menderita suatu penyakit aneh. Tubuhnya mengeluarkan bisul-bisul, yang kemudian pecah dan mengeluarkan bau busuk. Dan dalam waktu singkat orang itu akan meninggal,"

   Jelas orang itu secara singkat.

   "Apakah pemilik rumah ini tokoh persilatan?"

   Orang yang di tanya menggeleng.

   "Dia hanya seorang petani biasa. Setan Kuburan itu tak memilih-milih korban. Perempuan atau laki-laki berwajah cantik atau tampan, akan menjadi korban mereka."

   "Lalu, kenapa orang-orang itu disebut Setan Kuburan?"

   Tanya Rangga masih bingung.

   "Konon kedua Setan Kuburan itu mampu membangkitkan mayat-mayat, untuk diperintah menyerang lawannya. Tak heran bila sampai se-karang tak seorang pun yang berhasil membi-nasakan mereka,"

   Jelas orang itu. Rangga dan Pandan Wangi kembali meng-anggukkan kepala mendengar cerita itu.

   "Kisanak! Kulihat kau membawa-bawa pedang. Juga kawanmu itu. Kalian tentu bukan orang sembarangan. Apakah kalian pun akan mencari Setan Kuburan dan membinasakan mereka?"

   Tanya orang itu.

   "Hm.... Setiap kejahatan harus ada ganjaran-nya, seperti halnya kebaikan. Yakinlah! Dia tak akan bisa terus-terusan berbuat sesuka hatinya dengan menimbulkan korban di mana-mana,"

   Sahut Rangga.

   Setelah berbasa-basi sebentar, Pendekar Rajawali Sakti mengajak Pandan Wangi meninggalkan tempat itu.

   Kedua pendekar dari Karang Setra segera melompat ke atas punggung kuda masing-masing.

   Sebentar saja kuda itu sudah bergerak kencang meninggalkan tempat itu.

   Sementara orang tadi memandangi dua anak muda itu sampai hilang di tikungan jalan.

   Kemudian terlihat dia menghela napas pendek..

   "Mudah-mudahan mampu mengatasi Setan Kuburan keparat itu. Kalau tidak, entah bagaimana jadinya negeri ini. Korban akan terus berjatuhan, dan tak seorang pun yang mampu menahannya." *** Pendekar Rajawali Sakti Notizen von Pendekar Rajawali Sakti info . 124. Penghuni Telaga Iblis Bag. 7 19. September 2014 um 09.26 "Tolong...! Tolooong...!"

   Rangga dan Pandan Wangi saling berpandang-an sejenak begitu mendengar suara minta tolong dari depan mereka.

   Keduanya segera turun dari kuda dan tegak berdiri sambil memandangi wanita yang berlari tergopoh-gopoh menuju keduanya.

   Beberapa kali dia jatuh bangun sambil berusaha menahan rasa sakit.

   Napasnya terengah-engah begitu wanita itu tiba di depan sepasang pendekar dari Karang Setra.

   Mukanya pucat dan rambutnya terlihat kusut.

   Matanya menatap memelas ke arah Rangga dan Pandan Wangi bergantian.

   Wajahnya nampak dipenuhi rasa ketakutan.

   "Tolong. Di sana ada..., ada si Setan Kuburan. Dia tengah menganiaya korbannya!"

   Tunjuk wanita itu ke satu arah. Rangga dan Pandan Wangi saling berpandang-an sejenak.

   "Kakang, mari kita ke sana! Tanganku sudah gatal ingin menghajar orang itu!"

   Ujar Pandan Wangi cepat.

   "Baiklah. Coba tunjukkan, di mana mereka berada,"

   Ujar Pendekar Rajawali Sakti, kembali menatap wanita itu.

   "Aku..., aku, takut..."

   "Jangan khawatir. Kami akan melindungimu. Ayo, tunjukkan dimana si Setan Kuburan itu berada!"

   Desak Pandan Wangi.

   Dengan wajah khawatir, wanita itu mengantarkan Rangga dan Pandan Wangi ke tempat tadi dia bertemu Setan Kuburan.

   Mereka melangkah agak bergegas.

   Rangga dan Pandan Wangi berdampingan sambil menuntun kuda masing-masing.

   Sementara wanita itu agak ke belakang, di samping Pandan Wangi.

   "Di situ...,"

   Tunjukkan wanita itu ke sebuah pohon kecil. Memang tempat itu tak jauh dari tempat Rangga dan Pandan Wangi bertemu wanita tadi. Sehingga sebentar saja mereka sudah tiba di depan pondok kecil yang terletak di pinggir hutan.

   "Hm, Pandan. Kau tunggu di sini, dan jaga dia. Biar aku yang masuk ke dalam!"

   Ujar Pendekar Rajawali Sakti.

   "Tidak, Kakang! Aku juga ingin melihat bagai-mana tampang mereka!"

   Sahut Pandan Wangi lebih dulu melompat dan melangkah hati-hati mendekati pondok itu.

   "Hati-hati, Pandan!"

   Rangga mengingatkan. Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti mengikuti gadis itu dari belakang sambil mengajak wanita yang tadi ditemui.

   "Bau busuk apa ini?!"

   Desis Pandan Wangi sambil menutup hidungnya.

   Rangga pun mencium bau itu.

   Seketika hatinya semakin penasaran saja dengan apa yang telah terjadi di dalam pondok itu.

   Dengan hati-hati, Pendekar Rajawali Sakti mengintip ke dalam lewal celah-celah dinding yang bolong.

   Tak terlihat seorang pun.

   Maka sambil mengendap-endap, mereka menerobos masuk ke dalam.

   "Astaga!"

   Pandan Wangi nyaris terpekik ketika melihat sesosok tubuh tergeletak di lantai pondok dalam keadaan menjijikkan. Tubuhnya meleleh seperti daging busuk. Dan, dari situlah sumber bau busuk itu! "Kakang..!"

   Gadis itu memeluk Rangga sambil membenamkan wajahnya dengan perasaan ngeri dan geli.

   Rangga buru-buru mengajak Pandan Wangi keluar dan menjauh dari pondok ini.

   Sesaat lamanya, barulah gadis itu melepaskan pelukannya.

   Keduanya memandang kepada wanita yang sejak tadi masih menunjukkan rasa takutnya.

   "Siapa orang itu?!"

   Tanya Pandan Wangi lirih.

   "Dia.., dia bapakku ..,"

   Sahut wanita itu sambil terisak menangis.

   Pandan Wangi membujuk wanita itu beberapa lama, sampai tangisnya sedikit meredah.

   'Sudahlah.

   Hapus air matamu dan relakan ke pergiannya.

   Setan Kuburan keparat itu akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya...!"

   Lanjut Pandan Wangi, geram.

   "Kini aku sebatang kara dan tak tahu harus pergi ke mana...,"

   Lirih suara wanita itu.

   "Kau tak punya sanak keluarga yang lain?"

   Tanya Pandan Wangi. Wanita itu menggeleng lemah, kemudian menundukkan kepala. Sementara Pandan Wangi memandang Rangga, seakan meminta persetujuan atau pertimbangan. Sedang Rangga hanya diam, seraya mengangkat bahu.

   "Orang-orang itu pasti mau menolongmu...."

   "Setan Kuburan itu pasti akan mengejarku, ke mana saja aku pergi. Dan seluruh penduduk desa ini dicekam ketakutan. Mereka tak ada yang mau menolongku, kalau nyawa mereka sendiri terancam oleh kehadiranku. Oh! Aku tak tahu harus pergi ke mana. Barangkali memang sudah ditakdirkan kalau aku akan menjadi korban si Setan Kuburan itu,"

   Ratap wanita itu lirih.

   "Kakang, bagaimana kalau kita ajak saja dia...?"

   Tanya Pandan Wangi. Rangga berpikir sesaat, sebelum menyatakan persetujuannya.

   "Terserah kau saja kalau memang demikian...."

   "Terima kasih, Kakang...,"

   Sahut Pandan Wangi sambil tersenyum kecil. Pandan Wangi memandang pada wanita itu, bibirnya masih tetap tersenyum. Kemudian dia menepuk bahunya pelan.

   "Eh, siapa namamu?"

   Tanya Pandan Wangi.

   "Ng.., Ningsih."

   "Nah, Ningsih. Kau boleh ikut kami untuk sementara. Tapi setelah menemukan si Setan Kuburan, kita akan berpisah. Karena, tak ada lagi yang akan mengganggumu,"

   Lanjut Pandan Wangi.

   "Oh, terima kasih. Terima kasih...!"

   Sahut wanita itu, berseri.

   Tak berapa lama kemudian, mereka melanjut-kan perjalanan kembali dengan mengajak gadis itu bersama! *** Malam telah larut ketika Pendekar Rajawali Sakti, Pandan Wangi, dan wanita yang mengaku bernama Ningsih tiba di kotaraja yang cukup ramai.

   Dan mereka telah mendapat tempat penginapan, sehingga dapat beristirahat dengan leluasa.

   Sepanjang perjalanan mereka tadi, dapat diketahui kalau jejak si Setan Kuburan sampai pula di tempat ini.

   Hal itulah yang membuat mereka menuju ke tempat ini.

   Di sepanjang perjalanan pun banyak terlihat tokoh-tokoh persilatan berkumpul.

   Agaknya, sepak terjang si Setan Kuburan yang tak memilih korban, telah menimbulkan kemarahan mereka.

   Memang, tak kurang sanak saudara mereka pun ikut menjadi korban.

   Dan di antaranya, tak sedikit yang merasa geram dan bermaksud menghukum si Setan Kuburan meskipun sanak saudaranya tak ada yang menjadi korban.

   Rangga baru saja akan memejamkan mata ketika pintu kamar digedor.

   Dia tersentak kaget.

   Buru-buru dia bangkit, lalu melangkah ke arah pintu.

   Cepat dibukanya pintu kamar ini.

   "Ningsih? Ada apa?!"

   Tanya Rangga kaget, begitu pintu dibuka. Tampak wajah wanita itu pucat ketakutan, dan hela napasnya terasa memburu di depan pintu kamar ini.

   "Pandan Wangi, dia..., dia...."

   Suara Ningsih tergagap, tak mampu mengungkapkan satu patah kata pun.

   "Pandan Wangi? Kenapa dia?!"

   Rangga tersentak kaget.

   Tanpa mempedulikan wanita itu, Pendekar Rajawali Sakti melompat dan menerobos masuk ke dalam kamar Pandan Wangi.

   Begitu masuk, kamar itu terlihat kosong.

   Sementara tempat tidur serta barang-barang lain tampak berantakan.

   Jendela luar terbuka.

   Tanpa pikir panjang lagi Rangga langsung melesat menerobos keluar lewat jendela.

   Ditembusnya malam gelap, dengan berlari ke satu arah.

   Penglihatan serta pendengarannya dipertajam.

   Namun, tak ada tanda-tanda yang patut dicurigai.

   Mustahil tak seorang pun yang mengetahui, apa yang terjadi di kamar itu? Beberapa orang masih lalu lalang di tempat itu.

   Dan, keadaannya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

   Pendekar Rajawali Sakti segera berbalik, begitu menyadari keadaan.

   Seketika tubuhnya melesat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sepurna.

   Kembali diterobosnya jendela kamar penginapan itu.

   Tampak Ningsih masih terduduk dengan wajah ketakutan, ketika Rangga masuk ke kamarnya.

   Ditatapnya pemuda itu sekilas, kemudian kembali menundukkan kepala.

   "Katakan apa yang terjadi Ningsih?"

   Tanya Rangga dingin.

   "Seseorang menerobos lewat jendela. Dan Pandan Wangi langsung menyerangnya ketika orang itu hendak menangkap kami. Aku masih sempat melihat orang itu...,"

   Jelas Ningsih dengan tubuh gemetar.

   "Kau lihat siapa orang itu?"

   Desak Pendekar Rajawali Sakti. Ningsih menggeleng.

   "Setan! Siapa pun yang berbuat demikian ter-hadapnya, tak akan selamat dari tanganku!"

   Geram pemuda itu sambil melangkah gusar keluar dari kamar itu.

   "Tunggu...!"

   Ningsih berteriak memanggil sambil berlari kecil menghampiri.

   "Ada apa?"

   Rangga menghentikan langkahnya.

   "Aku..., aku takut...,"

   Sahut Ningsih dengan suara gemetar.

   "Kau tak apa-apa di sini. Tunggulah di kamar. Aku akan mencari jejak orang yang lelah menculik Pandan Wangi!"

   Ujar Rangga bergegas.

   "Aku ikut saja!"

   Ningsih langsung menangkap pergelangan tangan Rangga.

   Wajahnya terlihat mengiba dan pe nuh ketakutan.

   Tapi saat itu Rangga seperti tak mempedulikannya.

   Yang dikhawatirkan hanya nasib Pandan Wangi.

   Sehingga, meskipun gadis itu terus memohon, Rangga terus bergegas meninggalkannya.

   Dan meskipun demikian, gadis itu tetap mengi kuti Pendekar Rajawali Sakti dari belakang, dan dengan hati-hati sekali.

   Bahkan gerakannya terlihat lincah dan gesit! *** "Kejar dia! Jangan sampai lolos lagi!"

   Mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar kedai.

   "Itu dia si Setan Kuburan! Tangkap dan jangan beri kesempatan kabur!"

   Rangga kaget juga ketika mendengar teriakan-teriakan itu. Seketika langkahnya dihentikan. Dan Pendekar Rajawali Sakti melihat beberapa tokoh persilatan tampak tengah melompat saling berebut ke satu arah.

   "Sial! Apa yang kulakukan sekarang? Mencari Pandan Wangi, atau mengejar si keparat itu?!"

   Gu-mam pemuda itu geram.

   Lama Pendekar Rajawali Sakti berpikir sambil mengingat-ingat apa yang diceritakan Ningsih tadi.

   Benarkah Pandan Wangi bisa dicundangi dalam waktu singkat begitu? Rasanya sulit diterima akal.

   Seandainya bermaksud menjatuhkan Pandan Wangi, tak akan cukup dengan tiga atau empat jurus.

   Kecuali..., kalau Pandan Wangi lengah dan sama sekali tak menyangka kalau akan diserang.

   Atau barangkali orang yang menculiknya itu memiliki kepandaian sangat tinggi? Apa tidak mungkin kalau orang itu si Setan Kuburan.

   Mengingat, kejadian yang menimpa Pandan Wangi dengan kehadiran si Setan Kuburan yang diributkan orang-orang itu beberapa waktu yang lalu? "Setan! Dia akan mampus di tanganku kalau berani berbuat sesuatu terhadap Pandan Wangi!"

   Geram pemuda itu sambil melompat cepat dan berlari kencang ke arah orang-orang tadi.

   Agaknya Pendekar Rajawali Sakti memang tak perlu mengejar lebih jauh.

   Di ujung desa ini, telah berkumpul banyak orang.

   Tempat itu sendiri telah diterangi berpuluh-puluh obor yang dibawa seba-gian besar penduduk desa ini.

   Agaknya mereka penasaran betul dan ingin melihat, bagaimana tampang orang yang sering disebut Setan Kuburan.

   Sementara itu di tempat yang agak luas dipe-nuhi rumput, tengah terjadi pertarungan.

   Di dekatnya juga terlihat sesosok tubuh terbujur kaku dalam keadaan menyedihkan.

   Kepalanya remuk dan tulang dadanya patah.

   Rangga mengalihkan perhatian.

   Dicobanya melihat dengan pandangan yang tajam ke arah dua orang yang tengah bertarung itu.

   Yang seorang laki-laki berusia lanjut dengan rambut dan jenggot panjang.

   Jubahnya kuning berbunga-bunga dengan warna dasar abu-abu.

   Sementara yang seorang lagi...

   "Hei? Betulkah pemuda yang tengah bertarung itu Setan Kuburan?!"

   Kata pemuda itu bicara sendiri.

   "Ya, dialah si keparat Setan Kuburan itu,"

   Sahut salah seorang tokoh persilatan yang berada di dekatnya, dan kebetulan mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti.

   Mendadak, saat itu terdengar pekikan kesakitan.

   Tubuh orang tua itu tersungkur dengan memuntahkan darah kental.

   Bola matanya mendelik lebar, dan tubuhnya menggelepar beberapa saat.

   Sedangkan pemuda yang menjadi lawannya tegak berdiri sambil memandang ke sekeliling dengan senyum sinis.

   "Hm.... Siapa lagi yang akan menyusul untuk mampus?"

   Kata pemuda itu dingin. *** Rangga baru saja akan melompat untuk meng-hadapi pemuda itu, namun beberapa orang tokoh persilatan lebih dulu menyerbu serentak. Terpaksa niat itu diurungkan.

   "Jahanam keparat! Kau pikir bisa berbuat sesuka hatimu?! Kau akan mampus hari ini juga!"

   "Cincang dia!"

   "Bunuh...!"

   Melihat keberanian beberapa orang tokoh persilatan yang menyerbu ke arah pemuda itu, yang lain pun ikut-ikutan menghajar. Mereka seperti ingin melampiaskan dendam selama ini yang menggumpal di dada.

   "Tikus-tikus tak berguna! Kalian pikir bisa menghancurkanku dengan cara begini?! Terimalah kematian kalian, yeaaa...!"

   Werrr...! Sambil membentak nyaring pemuda itu menyo rongkan sebelah telapak tangannya. Saat itu pula, menderu angin kencang yang berbau busuk menghantam orang-orang yang akan mengerubutinya.

   "Aaakh...!"

   Sebagian orang-orang itu terpelanting sambil menjerit kesakitan.

   Sebagian lagi bertahan sambil memasang kuda-kuda kokoh.

   Beberapa orang lagi malah terlihat terus menyerang pemuda itu dengan garang.

   Seolah-olah, mereka tak terpengaruh sedikit pun dengan hantaman pukulan yang dilancarkan pemuda yang diduga Setan Kuburan.

   "Mampus!"

   Dengus salah seorang sambil mene-baskan pedangnya ke leher lawan.

   Namun dengan gerakan gesit, Setan Kuburan menundukkan kepala.

   Tubuhnya terus melayang menghindari tendangan maut yang dilancarkan seorang lawannya yang lain.

   Kemudian, kepalan tangan kanannya menyodok ke salah seorang.

   Sementara, kaki kirinya menghantam keras pada seorang lawan lagi yang mencoba mencuri kesem-patan dengan menyerang dari bawah.

   "Hiyaaa!"

   Dugkh! Orang yang mencoba menyerang dari bawah kontan terjengkang ketika dadanya terhantam kaki kiri Setan Kuburan.

   Dan begitu mendarat, Setan Kuburan telah mendapat dua sapuan pukulan dari dua orang pengeroyok.

   Seketika, dipapaknya dua pukulan itu dengan gerakan cepat.

   Wuttt! Plak! Plakkk! "Uhhh...!"

   Dua tokoh yang beradu pukulan dengan Setan Kuburan mengeluh kesaktian sambil mengusap tangan bekas benturan tadi.

   Wajah mereka meringis kesakitan.

   Agaknya, mereka baru menyadari kalau tenaga dalam pemuda itu sangat kuat dan tak bisa dianggap enteng.

   Tak heran bila tak ada seorang pun yang sampai saat ini yang berhasil mengalahkannya.

   "Huh! Sebaiknya kalian bunuh diri saja ber-sama-sama. Percuma, karena keinginan kalian untuk menghancurkan diriku hanya omong kosong. Kalianlah yang akan mampus di tanganku!"

   Dengus pemuda itu sinis.

   "Tutup mulutmu, Bocah! Kau pikir kami takut dengan mulut besarmu itu?! Meski punya kepan-daian tinggi jangan harap kami akan mundur!"

   Sahut salah seorang yang bertubuh tegap dengan codet di pipi kirinya.

   Senjatanya berupa pedang.

   Orang itu dalam dunia persilatan dikenal sebagai si Pedang Angin.

   Permainan pedangnya cepat dan hebat.

   Jarang ada orang yang mampu mengunggulinya.

   Sementara, tiga orang kawannya yang tegak berdiri mengurung pemuda itu masing-masing adalah si Belalang Sakti yang bertubuh kurus dan bermuka lonjong.

   Lalu, Peri Rimba Emas yang berambut panjang.

   Dan meski telah berusia lebih dari empat puluh tahun, namun masih terlihat cantik.

   Sementara yang terakhir adalah si Kapak Maut yang bertubuh gemuk pendek dan memiliki bibir dower.

   Senjatanya berupa sepasang tongkat pendek ter-buat dari baja hitam.

   Masing masing ujungnya, terdapat mala pisau yang tajam berkilat.

   "Hi hi hi...! Bocah gendeng, kaupikir dirimu sudah paling jago sehingga berani pentang bacot begitu?"

   Sinis suara Peri Rimba Emas sambil tertawa dingin.

   "Ha ha ha...! Perempuan molek! Kau sungguh menarik perhatianku. Meskipun usiamu sudah tua, tapi wajahmu masih tetap cantik dan tubuhmu menggugah seleraku. Sungguh sayang kalau musti mati di tanganku. Kalau kau mau menyerah dan minta ampun, barangkali aku akan mempertimbangkannya,"

   Kata pemuda itu jumawa.

   "Bocah ceriwis! Mulutmu agaknya perlu ditam-par agar kau tak seenaknya bicara pada nenek moyangmu!"

   Dengus Peri Rimba Emas sambil melompat menyerang.

   Satu tendangan yang dilancarkan perempuan itu berhasil dihindari.

   Tapi hampir bersamaan dengan itu, ujung rambutnya yang panjang ternyata merupakan senjata yang ampuh saat menyambar ke arah dada Setan Kuburan.

   Sementara pemuda itu kelihatan tak terlalu terkejut melihat serangan itu.

   Terbukti, dia mampu menghindarinya.

   Kalau saja pertarungan di antara mereka berlangsung satu lawan satu, barangkali akan sulit sekali bagi Peri Rimba Emas untuk menjatuhkan Setan Kuburan.

   Bahkan bisa jadi, malah dia yang akan dijatuhkan dengan mudah oleh pemuda tanggung itu.

   Untung saja agaknya hal itu tak terjadi.

   Memang ketiga kawannya yang lain juga mempunyii kepentingan sama, untuk membalaskan dendam terhadap pemuda tanggung yang dijuluki Setan Kuburan.

   Sehingga tentu saja sampai saat ini Peri Rimba Emas masih bisa bertahan.

   Melihat si Setan Kuburan disibuki oleh keempat lawannya, pengeroyok yang lain pun kini kembali maju menyerang dengan semangat menggebu-gebu.

   Tentu saja hal itu cukup merepotkan Setan Kuburan.

   Kalau dibiarkan terus, bukan tak mungkin akan keteler.

   Bahkan sedikit saja lengah, maka nyawanya pasti melayang.

   "Keparat!"

   Dengus pemuda tanggung itu geram.

   Pemuda itu membentak nyaring.

   Tubuhnya seketika berputar dan langsung meluncur deras ke atas bagai kitiran.

   Begitu meluruk langsung dilepaskannya dua hantaman pada arah yang berlawanan.

   Seketika terlihat kelebatan sinar merah kehitam-hitaman meluncur deras seperti menghantam ke langit.

   Dalam sekejap saja, daerah di sekitar tempat itu dipenuhi hawa busuk yang amat menusuk.

   Orang-orang kontan tersentak kaget.

   Dan beberapa saat, serangan mereka berhenti.

   "Kurang ajar! Dia pasti akan memanggil anak buahnya untuk menyerang kita!"

   Dengus si Pedang Angin berang.

   "Awas, hati-hati!"

   Teriak salah seorang mem peringatkan dengan sikap waspada.

   "Lebih baik dia dibinasakan lebih dulu, sebelum mayat-mayat hidup itu ke sini!"

   Desis si Belalang Sakti, sudah terus melompat menyerang pemuda itu, diikuti ketiga kawannya.

    *** Pendekar Rajawali Sakti Notizen von Pendekar Rajawali Sakti info  .

   124.

   Penghuni Telaga Iblis Bag.

   8 (Selesai) 19.

   September 2014 um 09.27 Namun baru saja yang lain akan bergerak menyerang, sekonyong-konyong muncul beberapa tengkorak yang bergerak perlahan ke arah mereka.

   Jumlah tengkorak itu makin lama terus bertambah.

   Sebagian tinggal tulang-belulang.

   Namun tak kurang yang tubuhnya masih utuh atau rusak sebagian.

   Semuanya menebar bau busuk yang amat menusuk.

   Akibatnya sebagian orang-orang yang berada di tempat itu menutup hidung.

   Bahkan ada yang sudah muntah muntah.

   "Grrrrgr...!"

   "Uhhh!"

   Mayat-mayat hidup itu langsung menyerang buas siapa saja yang berada di dekatnya.

   Tentu saja hal itu membuat mereka ketakutan.

   Namun sebagian lain dengan gagah berani terus melawan dan mampu menghancurkan satu atau dua sosok tengkorak Tapi jumlah mayat-mayat hidup itu terus bertambah, seperti tiada henti mengepung tempat Ini.

   "Ha ha ha...! Tempat ini akan menjadi kuburan bagi kalian semua. Dan begitu mampus, maka kalian adalah pengikut-pengikutku yang setia!"

   Teriak pemuda itu sambil tertawa terbahak-bahak.

   "Huh! Jangan terlalu yakin, Bocah! Sesumbarmu tak akan berlaku bagi kami!"

   Dengus si Katak Maut semakin geram mendengar ocehan sombong pemuda itu.

   Sebenarnya, si Katak Maut hanya membe-sarkan semangat kawan-kawannya saja, berikut beberapa tokoh lain yang nyalinya mulai jatuh begitu melihat kehadiran mayat-mayat hidup itu.

   Pada kenyataannya, hal itu memang tak membantu banyak.

   Malah kebanyakan dari mereka mulai putus asa.

   Bahkan banyak juga yang langsung kabur ketakutan begitu melihat kemunculan mayat-mayat hidup itu.

   Sehingga, mau tak mau yang lainnya jadi patah semangat dan perlahan-lahan kehilangan keberanian.

   Apalagi, mayat-mayat hidup itu mampu bergerak cepat dan menghantam lawan seperti di-kendalikan saja.

   Tiap kali pukulan atau tendangannya, mampu membuat lawan terjungkal.

   Bahkan tak jarang yang muntah darah!"

   Tapi, mendadak semangat mereka kembali muncul ketika mayat-mayat hidup itu terpental ke sana kemari tertiup angin topan maha dahsyat.

   Tampak seorang pemuda berambut panjang terurai dengan memakai baju rompi putih tengah mengamuk hebat.

   Dengan ajiannya mayat-mayat hidup itu dihancurkannya.

   "Horeee! Kita hancurkan setan-setan keparat ini!"

   "Sikaaat..!"

   Teriakan-teriakan itu benar-benar mengejutkan Setan Kuburan. Sorot matanya tajam melihat siapa gerangan yang mampu memporak-porandakan anak buahnya. Dan ketika mengetahui, wajahnya sedikit berubah menunjukkan keterkejutannya.

   "Sial! Kenapa dia berada di sini?!"

   Maki pemuda itu kesal.

   Memang yang tengah mengamuk itu tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti, orang yang selama ini harus dihindarinya untuk sementara.

   Terakhir pertemuan mereka, dia mendapat pelajaran pahit dari pemuda berbaju rompi putih itu.

   Dan malam ini, agaknya dia tak ingin peristiwa itu terulang lagi.

   Sehingga, tak heran kalau segenap kemampuannya dikerahkan untuk menjatuhkan keempat lawannya.

   "Yeaaa...!"

   Kini pemuda tanggung itu melepaskan satu serangan kaki ke arah si Belalang Sakti.

   Dan dengan cepat orang tua berusia empat puluh tahun itu menghindarinya dengan melenting dan berputaran di udara.

   Dan Setan Kuburan langsung melanjutkan serangannya berupa tendangan ke arah si Katak Maut sambil menghindari serangan si Pedang Angin dan Peri Rimba Emas.

   Setelah itu, kembali pemuda yang sebenarnya bernama Pulang Geni mencecar si Belalang Sakti.

   Agaknya dia merasakan kalau di antara keempat lawannya, hanya si Belalang Sakti saja yang daya serangnya tak begitu kuat.

   Namun sayang pertahannya hebat.

   Maka pertahanan itulah yang hendak ditembusnya.

   "Yeaaa..!"

   Tapi rupanya kepalan tangan Katak Maut lebih cepat menderu ke arah dada pemuda tanggung itu.

   Maka dengan gerakan manis.

   Pulang Geni memiringkan tubuh sambil menangkis dengan tangan kanan.

   Plakkk! Pada saat yang hampir bersamaan, dengan ne-kat Pulang Geni membiarkan tangan kirinya dililit ujung rambut Peri Rimba Emas.

   Namun dengan sekuat tenaga, tangan yang dililit rambut itu disentakkan keras.

   "Hih!"

   Wanita itu tersentak kaget.

   Terpaksa diikutinya sentakan itu kalau tak ingin kulit kepalanya copot.

   Apalagi tenaga yang dikerahkan pemuda itu kuat sekali.

   Prasss! Agaknya, Pulang Geni memang mempunyai suatu rencana lain.

   Ternyata gerakannya yang menyentak itu menjadikan rambut Peri Rimba Emas sebagai tameng untuk menangkis kelebatan senjata si Pedang Angin.

   "Hih!"

   Prasss! Tak ampun lagi! Rambut si Peri Rimba Emas hanya tersisa sedikit, begitu pedang milik Pedang Angin memapasnya.

   Bukan main terkejutnya wanita cantik itu.

   Sekian tahun memelihara rambutnya, tapi kini hanya sekali tebas saja tinggal sejengkal dari kulit kepalanya.

   Demikian pula si Pedang Angin.

   Sungguh sama sekali tak disangka kalau pemuda itu akan menyodorkan rambut si Peri Rimba Emas sebagai tameng.

   Sehingga untuk beberapa saat dia jadi terpaku tak percaya.

   Dan hal itu di manfaatkan betul oleh Pulang Geni.

   Seketika dilepaskannya pukulan maut yang menderu dengan tubuh berputar, disertai tendangan menggeledek ke arah Peri Rimba Emas.

   Dukkk! Desss! "Aaakh...!"

   Si Pedang Angin dan Peri Rimba Emas meme-kik nyaring ketika dada dan perut mereka terkena sodokan kepalan tangan dan tendangan Setan Kuburan yang keras bukan main. Keduanya kontan terjungkal di tanah dengan darah segar meleleh dari mulut.

   "Kurang ajar!"

   Si Belalang Sakti dan Katak Maut memaki hampir berbarengan.

   Dan mereka langsung menyerang disertai kemarahan meluap.

    *** Menghadapi kedua orang itu tidaklah sesulit saat mereka masih berempat.

   Lagi pula, pemuda tanggung itu menyadari betul kalau kedua lawannya kini tidak memiliki kepandaian, sehebat si Pedang Angin atau Peri Rimba Emas.

   "Yeaaa...!"

   Pulang Geni menundukkan kepala, ketika satu pukulan si Katak Maut menghantam ke arah dada.

   Lalu sambil memutar tubuhnya langsung mencelat ke atas, menghindari tendangan si Belalang Sakti.

   Dan pada saat yang bersamaan, kedua kakinya yang lincah berputaran memberi serangan balasan.

   "Hih!"

   "Uhhh!"

   Kedua pendekar itu mencoba berkelit dari tendangan dengan menggeser ke samping kanan dan kiri. Namun dengan gerakan cepat, Pulang Geni melepaskan satu sodokan keras ke arah si Katak Maut yang bergeser ke kanan. Diegkh! "Aaakh...!"

   Si Katak Maut kontan terjengkang disertai muntahan darah, ketika kepalan tangan kanan Pulang Geni menghantam dadanya.

   Sementara si Belalang Sakti mencoba mencuri kesempatan dengan mengirim tendangan kilat.

   Tapi cepat sekali Pulang Geni melenting ke atas dan berputaran di udara.

   Dan belum juga si Belalang Sakti memperbaiki kedudukan, tubuh Pulang Geni telah meluruk turun dengan gerakan laksana kilat.

   Kepalan tangannya bahkan siap diarahkan ke punggung kiri Belalang Sakti dengan kekuatan penuh.

   Tak ada kesempatan bagi orang tua bertubuh kurus itu untuk menghindar, sehingga....

   Begkh! "Aaakh...!"

   Disertai jeritan nyaring, tubuh Belalang Sakti terjungkal ke tanah, begitu punggungnya terhantam kepalan tangan Pulang Geni.

   Tubuh Belalang Sakti kini tergeletak di tanah dalam keadaan sekarat, setelah memuntahkan darah segar.

    *** Pulang Geni bermaksud kabur dari tempat itu.

   Namun baru saja melangkah tiga tindak, seseorang menghadang di depannya dengan wajah dingin dan sorot mata penuh kemarahan.

   "Pendekar Rajawali Sakti?!"

   Sahut Pulang Geni terkejut. Pemuda tanggung itu menoleh ke sekeliling. Tampak pasukan mayat hidupnya hanya tinggal segelintirr saja. Dan itu pun menjadi bulan-bulanan beberapa tokoh-tokoh yang masih tersisa.

   "Tak akan kubiarkan kau pergi dari tempat ini sebelum Pandan Wangi dikembalikan padaku!"

   Geram Pendekar Rajawali Sakti dingin.

   "He?! Apa maksudmu?"

   "Jangan berpura-pura! Sehelai saja rambutnya rontok karena ulahmu, sudah cukup nyawamu sebagai penggantinya!"

   Ancam Pendekar Rajawali Sakti.

   "Huh! Kau kira aku takut padamu! Aku tak tahu apa-apa tentang perempuan yang kau sebut Pandan Wangi itu. Tapi, baik! Majulah kalau me-mang kau memiliki kemampuan!"

   Dengus Pulang Genl geram.

   Rangga tak lagi menyahut! Namun tubuhnya sudah langsung mencelat mengirimkan serangan maut yang bertenaga kuat.

   Pemuda itu agaknya mengetahui betul tingkat kepandaian Pendekar Rajawali Sakti.

   Sehingga dia tak mau melayani secara serampangan.

   Dan ditambah dengan hawa kemarahannya yang menyala-nyala di dada, serangan Pendekar Rajawali Sakti memang tak bisa dianggap enteng.

   Pulang Geni atau yang lebih dikenal sebagai Setan Kuburan terpaksa mencoba menahan serangan lawan dengan sekuat daya kemampuannya.

   Sementara, Rangga sendiri sebenarnya sudah bisa menilai kemampuan Pulang Geni.

   Dan lagi, walaupun marah, dia masih bisa mengendalikan-nya.

   Sehingga, setiap serangan yang dilakukan sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti pemuda tanggung itu.

   Malah dia hanya menggunakan jurus-jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' tingkat menengah.

   "Hiyaaa!"

   Bet! Bet! Satu tendangan yang diikuti sodokan kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti, mampu dihindari Pulang Geni dengan gerakan mencelat ke belakang.

   Tapi serangan itu tak berhenti di situ.

   Dengan pengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' serangan Rangga seperti beruntun dan tiada henti.

   Baru saja Pulang Geni mendaratkan kakinya dengan manis di tanah Rangga sudah memberikan tendangan kaki kanan yang cepat bertenaga dalam kuat.

   "Hih!"

   Pulang Geni terkesiap sejenak, namun buru-buru mengibaskan tangan kirinya, untuk memapak tendangan Rangga.

   Plakkk! Pemuda tanggung itu meringis menahan sakit pada tangan kirinya, begitu memapak serangan Pendekar Rajawali Sakti.

   Dan tanpa diduga sama sekali, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan tendangan memutar dengan kaki kiri.

   Sehingga....

   Duk! "Uhhh...!"

   Setan Kuburan mengeluh pelan, ketika bahu kirinya terkena tendangan Rangga.

   Tubuhnya ter-jajar dua langkah ke belakang sambil merasakan persendiannya yang seolah mau copot.

   Pulang Geni menyadari, kalau terus-terusan begini, dia tak akan unggul melawan Pendekar Rajawali Sakti.

   Maka dipersiapkannya ajian miliknya, untuk menghancurkan pertahanan Pendekar Rajawali Sakti.

   Beberapa kali si Setan Kuburan itu melepaskan pukulan maut yang membuat beberapa pohon di sekitarnya hancur berantakan.

   Bahkan mereka yang tadi bertarung dan kini menonton pertarungan, terpaksa menyingkir agak jauh.

   Memang, hawa sinar merah kehitam-hitaman yang dikeluarkan si Setan Kuburan juga menyebar bau busuk yang menyengat "Hihhh!"

   Pendekar Rajawali Sakti menggertakkan rahangnya melihat Setan Kuburan telah melepaskan ajiannya.

   Bahkan kini selarik sinar berwarna merah kehitam-hitaman telah meluncur ke arahnya.

   Maka seketika dia membuat gerakan di depan dada.

   Lalu begitu tangannya telah berada di pinggang, langsung dihentakkan ke depan, melepaskan 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

   Seketika dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti melesat sinar merah yang memapak serangan Pulang Geni.

   Glarrr! "Aaakh...!"

   Dua pukulan maut beradu, menimbulkan le dakan yang cukup keras.

   Pulang Geni seketika terpental, disertai jeritan keras ketika merasakan pukulannya berbalik menghantam dirinya.

   Ternyata pengaruh tenaga dalam Pendekar Rajawali Sakti yang kuat tersalur lewat pukulan, terus melabrak pemuda tanggung itu.

   "Hiyaaa...!"

   Dan saat itu juga, tubuh Pendekar Rajawali Sakti melompat, bermaksud menghabisi Pulang Geni. Namun mendadak...

   "Pendekar Rajawali Sakti, hentikan! Kalau ti dak kekasihmu akan mampus!"

   "Heh?!"

   Rangga terkejut, dan kontan menghentikan serangannya.

   Setelah berputaran di udara sesaat, dia mendarat manis di tanah.

   Langsung kepalanya menoleh ke arah datangnya suara.

   Wajah Pendekar Rajawali Sakti kontan berubah heran, ketika melihat siapa orang yang mengeluarkan bentakan tadi.

   "Ningsih?! Apa yang kau lakukan?!"

   Orang itu memang Ningsih! Sambil tersenyum sinis, dia mencengkeram Pandan Wangi yang kelihatan tak berdaya.

   Mata Pendekar Rajawali Sakti menyipit, mencoba melihat tegas keadaan Pandan Wangi.

   Gadis itu kelihatannya tak kurang suatu apapun, karena tubuhnya dalam keadaan tertotok.

    *** "Hm...

   Jadi selama ini kau membohongiku.

   Apa maksudmu, Ningsih?"

   Tanya Rangga dingin sambil melangkah pelan mendekati.

   "Jangan mendekat kalau tak ingin kekasihmu ini mampus!"

   Bentak Ningsih memperingatkan. Rangga langsung menghentikan langkah.

   "Siapa kau sebenarnya. Dan, apa yang kau inginkan?!"

   "Hi hi hi...! Akulah Setan Kuburan yang selama ini dicari-cari. Sedangkan itu adalah anakku. Huh! Kalau saja kau tak mengacau, maka rencana kami akan berjalan mulus. Sekarang, cabutlah pedangmu. Dan, gorok lehermu! Kalau tidak, kekasihmu akan mampus di hadapanmu!"

   Ancam perempuan itu. Dia pura-pura akan mencekik leher Pandan Wangi, untuk menunjukkan kalau ancamannya tak main-main.

   "Ningsih, lepaskan Pandan Wangi! Kita akan bicara baik-baik selak Pendekar Rapwali Sakti.

   "Tulup mulutmu! Namaku bukan Ningsih, tapi Setiasih. Dan anakku, bernama Pulang Geni. Tak ada lagi yang akan dibicarakan saat ini. Turuti saja kata-kataku. Semua yang telah berlalu, tak akan bisa kembali lagi. Ketika dulu orang-orang membenci dan mengucilkan kami, kemudian kami diburu-buru seperti binatang, siapa yang mau bicara pada saat itu? Siapa yang memandang dan memberi belas kasihan pada kami? Semua orang menyalahkan penyakit anakku! Padahal, tak seorang ibu pun yang menghendaki anaknya menyebar malapetaka. Tapi, mereka tak mau mengerti. Bahkan tetap menganggap kami penyebab malapetaka. Sekarang, semuanya sudah berakhir. Dan kalian, akan menerima pembalasan yang menyakitkan dari kami...!"

   Kata perempuan itu, seperti menyimpan dendam yang membara.

   Rangga bingung sendiri mendengar cerita perempuan itu.

   Sepertinya cerita itu tak ada ujung pangkalnya.

   Namun sedikit banyak bisa dimengerti, apa yang menyebabkan mereka berbuat seperti yang dilakukan belakangan ini "Setiasih! Dendam tak akan bisa terhapus dengan dendam pula.

   Karena, semuanya akan berbuntut panjang.

   Tidakkah kau bisa mengerti kalau kau dan anakmu masih punya kesempatan untuk hidup tenang dan tenteram? Kalau kau tetap pada jalanmu, maka mereka pun akan menuntut dendam kembali...!"

   "Tutup mulutmu! Aku tak sudi mendengar khotbah itu lagi! Kau pikir, siapa dirimu?! Orang suci? Dewa?! Kau tak lebih busuk dari kami. Berapa banyak darah yang telah mengotori tanganmu. Dan berapa banyak oang yang mencari-carimu, untuk membalaskan dendam mereka akibat perbuatanmu. Apakah kau tak menyadarinya?!"

   Sentak perempuan itu garang.

   "Kau benar. Tapi, aku beda denganmu. Aku membunuh orang-orang tertentu yang menyebab-kan malapetaka. Tapi, korban kalian kebanyakan orang yang tak tahu apa-apa tentang urusanmu. Bahkan banyak dari mereka yang tak mengenal-mu!"

   "Sudah! Sudah! Aku muak mendengar oceh-anmu. Sekarang, cabut pedangmu. Dan, goroklah lehermu sendiri. Kalau tidak, gadis cantik ini akan mampus sekarang juga!"

   Dengus Setiasih geram.

   Perempuan itu agaknya betul-betul membuktikan ucapannya.

   Langsung dicekiknya leher Pandan Wangi kuat-kuat, sehingga gadis itu gelagapan dan sulit bernapas.

   Pelipisnya menegang, dan wajahnya mulai merah kebiru-biruan.

   Rangga tidak sampai hati melihatnya.

   Tapi, dia tak punya pilihan kalau tak ingin melihat kekasihnya mati di depan matanya tanpa bisa ditolong.

   "Baiklah. Kuturuti kata-katamu...,"

   Desah Pendekar Rajawali Sakti sambil mencabut pedang pusakanya perlahan-lahan. Sring! "Heh?!"

   Perempuan itu tersentak kaget, begitu melihat pamor Pedang Pusaka Rajawali Sakti, demikian juga yang lainnya.

   Kini malam yang hanya diterangi obor-obor, seketika disapu sinar biru kemilau yang terpancar dari batang pedang di tangan Pendekar Rajawali Sakti.

   Wajah Pendekar Rajawali Sakti terlihat dingin penuh perbawa bersama pedang itu.

   Bola matanya tajam, menatap perempuan di hadapannya.

   Setiasih bergidik ngeri ketika menatapnya.

   Namun dengan sekuat tenaga dicobanya untuk melawan pengaruh yang ditimbulkan perbawa pedang itu, dan sinar mata Pendekar Rajawali Sakti.

   Dan baru saat dia akan menguasai diri, mendadak...

   Serrr! Serrr! Tiba-tiba melesat beberapa senjata rahasia yang dilemparkan seorang tokoh persilatan ke arah perempuan itu.

   Sejenak Setiasih gelagapan, dan buru buru mengibaskan tangannya untuk menangkis senjata rahasia itu.

   Sehingga pegangan pada Pandan Wangi terlepas.

   "Hiyaaa...!"

   Sementara Pendekar Rajawali Sakti tak mau menyia-nyiakan peluang emas itu.

   Dengan mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, dia melompat ke arah perempuan itu.

   Angin gerakannya mendesir kencang, dan membuat kaget beberapa tokoh persilatan yang sempat dilaluinya.

   Setiasih yang baru saja menangkis habis senjata rahasia itu, mencoba kembali menyandera Pandan Wangi.

   Namun ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti lebih cepat datangnya.

   Sehingga Bresss...! "Aaa...!"

   Perempuan itu menjerit melengking tinggi begitu pedang Pendekar Rajawali Sakti menyambar, tubuhnya kontan ambruk bersimbah darah.

   "Ibuuu...!"

   Sambil berteriak kalap, Pulang Geni dengan kekuatannya sudah langsung melompat sambil menghantamkan pukulan maut ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang membelakanginya.

   Sepertinya, Rangga membiarkan saja serangan yang mengancamnya.

   Tapi tanpa diduga sama sekali ujung pedangnya cepat disorongkan ke belakang.

   Padahal tepat pada saat itu, Pulang Geni hampir mendaratkan pukulan.

   Dan....

   Blesss...! "Aaa..."

   Kembali terdengar jeritan menyayat, begitu pedang Pendekar Rajawali Sakti menembus dada Pulang Geni hingga ke punggung.

   Pendekar Rajawali Sakti cepat mencabut senjatanya, sehingga pemuda tanggung itu ambruk di tanah.

   Tampak darah memuncrat deras dari lubang yang tertembus pedang Pendekar Rajawali Sakti.

   Setelah menggelepar sesaat, tubuhnya meregang kaku.

   Mati! Pendekar Rajawali Sakti merayapi dua sosok tubuh yang bersimbah darah, karena termakan pedangnya.

   Cring! Setelah memasukkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka, Rangga menghampiri Pandan Wangi yang tak berdaya di tanah akibat tertotok oleh Setan Kuburan.

   Sebentar saja totokan itu telah dibebaskan Rangga.

   "Kakang.... Apa yang terjadi,"

   Desah Pandan Wangi setelah tersadar.

   "Kau baru saja pingsan, Pandan. Bangunlah. Rasanya kau tak menderita apa-apa...,"

   Ujar Rangga.

   "Bagaimana dengan si Setan Kuburan?"

   Tanya Pandan Wangi, begitu teringat. Rangga tak menjawab. Hanya matanya yang berpaling ke arah dua mayat yang terbujur kaku, bersimbah darah. Dan Pandan Wangi juga berpaling ke sana.

   "Mari kita pergi dari sini. Tak ada lagi yang perlu dikerjakan di sini,"

   Ajak Rangga.

   "Ayo, Kakang.'"

   Kedua pendekar dari Karang Setra itu segera melangkah perlahan, menuju penginapan. Mereka memang harus mengambil kuda yang ditinggalkan di sana.

   "Kisanak, terima kasih atas pertolonganmu...,"

   Kata Pendekar Rajawali Sakti, ketika melewati seorang tokoh persilatan berusia lanjut. Memang dialah yang melepaskan senjata rahasia berupa pi sau tadi.

   "Anak muda! Dari mana kau tahu, kalau aku yang melempar dua bilah pisau itu. Padahal, kau tak melihatnya?"

   Tanya orang tua itu, agak heran.

   "Lho? Bukankah Kisanak sendiri yang barusan menyahut. Kalau aku sih hanya mengucapkan te-rima kasih saja,"

   Kata Rangga, agak bergurau. Orang tua itu jadi garuk-garuk kepala sendiri sambil mengeleng-geleng seperti orang bodoh. Sementara Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut telah berlalu dari tempat itu. SELESAI
http.//duniaabukeisel.blogspot.com Pendekar Rajawali Sakti Notizen von Pendekar Rajawali Sakti info

   

   

   

Ibu Hantu Karya Ang Yung Sian Api Dibukit Menoreh Karya Sh Mintardja Pendekar Cambuk Naga Pedang Semerah Darah

Cari Blog Ini