Ceritasilat Novel Online

Teror Topeng Merah 1


Pendekar Rajawali Sakti Teror Topeng Merah Bagian 1


 .

   173.

   Teror Topeng Merah Bag.

   1 -4 22.

   Februar 2015 um 06.53 Pendekar Rajawali Sakti episode.

   Teror Topeng Merah Oleh Teguh S.

   Penerbit Cintamedia, Jakarta Beberapa anak muda tengah bergelak ria di penginapan dan kedai Bunga Nirwana yang terletak di pusat kota Kadipaten Lawang.

   Di meja merah, tersaji beberapa bumbung arak dan ayam bakar.

   Salah seorang yang paling menonjol adalah pemuda berbaju sutera warna biru.

   Dia duduk dikelilingi empat orang pemuda lain yang rata-rata berusia sebaya.

   Agaknya, pemuda berbaju biru itu yang membayari seluruh makanan dan minuman yang tersaji di meja.

   "Ayo Jliteng, Jenar, Bagus, dan kau Ragil! Kita minum sampai puas!"

   Teriak pemuda berpakaian biru sambil mengacungkan cawan.

   Dan seketika ditenggaknya arak sampai tandas.

   Perbuatan pemuda itu diikuti keempat kawannya.

   Kemudian mereka tergelak-gelak bersama-sama.

   Dan kembali menenggak arak entah yang keberapa kali.

   Belum habis gelak tawa mereka, seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang sejak tadi berada di luar mendadak masuk ke dalam.

   Dan dia langsung berdiri di belakang pemuda berbaju biru dengan wajah cemas.

   "Den Kamajaya telah banyak minum. Sebaiknya berhenti dulu. Kalau sampai mabuk, tentu Juragan Prajawasita akan menyalahkanku,"

   Kata laki-laki di belakang pemuda berbaju biru, sambil mendekatkan kepalanya.

   "Diam kau, Sompak!"

   Bentak pemuda berbaju biru yang bernama Kamajaya, membuat laki-laki yang dipanggil Sompak terjingkat mundur.

   "Beraninya kau mengurusi aku? Tempatmu di luar sana! Pergilah! Aku bukan anak kecil yang harus terus diawasi!"

   "Tapi, Den...."

   Kamajaya menoleh, lalu....

   "Pergi kataku!"

   Bentak Kamajaya lagi dengan mata melotot lebar. Kali ini pemuda berbaju biru itu betul-betul marah. Dan Sompak tidak berani lagi mengganggunya. Dengan tubuh gemetar ketakutan dan wajah pucat, buru-buru dia angkat kaki dari sisi majikannya.

   "Ayo, lanjutkan kawan-kawan! Kita minum sampai pagi!"

   Teriak Kamajaya sambil mengajak bersulang.

   Keempat laki-laki yang menemani Kamajaya langsung menyambut dengan sulangan pula, disertai tawa terkekeh lebar.

   Seakan-akan mereka sudah tak peduli dengan sekitarnya.

   Sehingga tanpa disadari, seseorang telah berkelebat dari pintu kedai, lalu berdiri tegak tanpa berkata apa-apa di belakang Kamajaya.

   "Kau cucu si Jayeng Rono?"

   Usik sosok yang berdiri di belakang Kamajaya.

   "Heh?!"

   Kamajaya tersentak.

   Dia tersinggung bukan main, karena ada orang seenaknya saja memanggil kakeknya tanpa sebutan penghormatan.

   Padahal semua orang di Lawang amat menghormati kakeknya.

   Mereka memperlakukannya seperti seorang raja kecil.

   Maka dengan mendelik gusar, pemuda berbaju biru ini menoleh.

   "Hei?!"

   Alangkah gelinya Kamajaya melihat orang yang tegak berdiri di dekatnya ternyata memakai topeng merah terbuat dari kayu.

   Bentuk topeng itu demikian garang dan sedikit menakutkan, tapi bagi Kamajaya justru menggelikan.

   Sehingga tanpa sadar bibirnya melebar tersenyum-senyum.

   "Kisanak! Kukira tadi kau sungguh-sungguh akan membuat ribut. Tapi, siapa sangka kau ternyata hanya seorang badut. He he he...! Duduklah! Aku senang ditemani orang sepertimu!"

   Ujar Kamajaya. Sulit dilihat, bagaimana tampang orang bertopeng itu. Tapi untuk sesaat dia diam saja tak menjawab.

   "Siapa sudi minum bersama keturunan pengecut sepertimu!"

   Ucap orang bertopeng itu dingin, begitu tawa Kamajaya terhenti.

   "He, apa maksud kata-katamu?!"

   Sentak Kamajaya.

   "Tidak usah berpura-pura, Tolol! Kaulah yang kumaksud!"

   Tuding orang bertopeng merah itu.

   Mendengar tuduhan itu, wajah manis Kamajaya kembali berubah geram.

   Amarahnya berkobar cepat Dan seketika dia berdiri dengan sikap digagah-gagahkan, meski kepalanya berdenyut sakit akibat menenggak arak terlalu banyak.

   "Kurang ajar kau! Berani benar kau menyebutku keturunan pengecut?!"

   Bentak Kamajaya garang, seraya mengibaskan tangan kanannya.

   Wut! Kamajaya sebenarnya bukanlah pemuda yang tidak tahu apa-apa soal ilmu silat.

   Dia cucu tertua Ki Jayeng Rono yang di kalangan rimba persilatan bergelar Macan Terbang.

   Dan selama ini Kamajaya cukup mendapat gemblengan dari kedua orangtua serta kakeknya.

   Meski dalam keadaan mabuk, rasanya masih sanggup menghadapi lima pemuda sebayanya.

   Tapi, kali ini Kamajaya kena batunya.

   Orang bertopeng itu hanya sedikit berkelit ke samping, maka pukulannya menghantam angin.

   Dan tahu-tahu, pukulan balasan menghajar perutnya.

   Desss...! "Aaakh...!"

   Kamajaya terjungkal ke belakang, langsung menghantam meja lain yang tengah dipakai orang.

   "Keparat!"

   Umpat Kamajaya tak karuan, seraya bangkit berdiri.

   Sementara empat orang kawan Kamajaya juga kelihatan gusar.

   Mereka tahu betul, siapa Kamajaya.

   Dia adalah anak keluarga terhormat.

   Dan menurut mereka, perlakuan orang bertopeng merah itu sungguh kelewatan.

   "Bangsat tak tahu diri! Apa yang telah kau lakukan terhadap cucu orang paling terhormat di daerah ini?!"

   Bentak Jliteng sambil menuding sinis.

   "Monyet buduk! Jangan ikut campur urusan ini! Lebih baik tutup mulut. Dan pergilah kalian sebelum mendapat hajaran serupa!"

   Balas orang bertopeng itu tidak kalah garang.

   Mendengar sahutan yang membuat merah telinga, bukan main geramnya Jliteng.

   Maka tanpa basa-basi lagi segera goloknya yang terselip di pinggang dicabut.

   Sret! "Manusia tak tahu diri memang perlu sesekali mendapat hajaran supaya mengerti bagaimana bersikap sopan!"

   Bentak Jliteng seraya melompat sambil menebas leher.

   Tapi orang bertopeng itu kelihatan tenang-tenang saja.

   Bahkan memperdengarkan tawa mengejek.

   Namun ketika beberapa rambut lagi mata golok yang berkilatan itu mendarat di sasaran, dia memiringkan tubuhnya sedikit Maka, tebasan golok Jliteng hanya mengenai tempat kosong.

   Dan tiba-tiba orang bertopeng itu menghajar pergelangan tangan Jliteng.

   Tak! "Aaakh...!"

   Jliteng kontan menjerit tertahan.

   Pergelangan tangannya yang terpapak tadi terasa sakit bukan main.

   Mungkin tulangnya patah.

   Goloknya terlepas dari genggaman.

   Dan belum juga dia bisa berbuat apa-apa, satu tendangan menyamping berisi tenaga dalam tinggi telah meluncur deras.

   Lalu....

   Begkh! "Aaakh...!"

   Disertai jeritan kesakitan, Jliteng terjungkal ke samping, menabrak meja makan lainnya.

   "Huh! Penjilat busuk! Apa kau kira harga dirimu akan terangkat dengan cara menjilat? Kau hanya seekor anjing. Dan meski berkawan dengan seekor menjangan, tetap saja anjing!"

   Dengus orang bertopeng itu. Melihat Jliteng jatuh terjungkal, tiga pemuda yang lain tidak mau tinggal diam. Serentak mereka menghunus golok dengan wajah garang.

   "Bangsat terkutuk! Berani benar kau menghajar kawan kami!"

   Bentak Jenar.

   "Apa?! Kalian pun mau ikut-ikutan? Boleh! Ayo! Maju ke sini, anjing-anjing buduk. Biar kuberi pelajaran, betapa tidak enaknya menjadi penjilat!"

   Hardik orang bertopeng itu, tersenyum dingin.

   Kelihatannya orang bertopeng itu begitu memandang enteng.

   Sebaliknya ketiga pemuda itu tidak mau gegabah.

   Jliteng adalah orang yang paling tinggi kepandaiannya di antara mereka.

   Kalau sampai dijatuhkan dengan mudah, maka apalah artinya mereka? Tapi ketiganya masih bisa berbesar hati dengan jumlah yang lebih banyak.

   Maka Jenar segera mengatur Bagus dan Ragil untuk menyergap dari samping kiri dan kanan.

   "Yeaaa...!"

   Disertai bentakan nyaring dari Jenar sebagai isyarat penyerangan, mereka bertiga melompat menerkam.

   Namun gerakan yang ditunjukkan orang bertopeng merah itu sungguh menakjubkan.

   Seperti terangkat, tubuhnya melesat ke atas sambil menendang silih berganti ke arah ketiga lawannya.

   Dess! Dess! Desss! "Aaakh...!"

   Kembali terdengar tiga jeritan berturut-turut, yang diikuti ambruknya Jenar, Bagus, dan Ragil.

   Melihat lawan-lawannya terjungkal, orang bertopeng itu tenang-tenang saja melangkah meninggalkan rumah makan ini.

   Sementara melihat hal ini, mana mau Kamajaya mendiamkannya saja.

   Dia yang masih terduduk bangkit.

   Langsung dikejarnya orang bertopeng itu, walaupun masih sempoyongan.

   "Mau pergi ke mana kau, Keparat?! Tinggalkan kepalamu baru boleh pergi seenak perutmu!"

   Bentak pemuda itu.

    *** Orang bertopeng itu melompat beberapa kali sehingga semakin menjauhi penginapan dan kedai Bunga Nirwana.

   Orang-orang yang melihat mendecah kagum, namun tidak ada yang berani menolong Kamajaya.

   Bahkan Jenar, Bagus, Ragil, dan Jliteng agaknya jera juga setelah mendapat hajaran dari orang bertopeng.

   Mereka hanya memperhatikan kepergian orang bertopeng.

   Namun, ternyata orang bertopeng itu tidak benar-benar pergi.

   Sekitar sepuluh tombak dari penginapan itu, dia berhenti dan berdiri tegak seperti menanti Kamajaya yang mengejar.

   Melihat orang bertopeng itu berhenti, Kamajaya mendengus dingin.

   Matanya memandang penuh kemarahan.

   Bukannya tampak garang, justru Kamajaya malah seperti orang mengantuk akibat terlalu banyak menenggak arak.

   "Akhirnya kau menyerah juga, he? He he he...! Bagus! Kau mengerti kalau aku tidak bisa dibuat main-main, bukan?"

   Kata Kamajaya, begitu berada sekitar dua tombak di depan orang bertopeng merah ini.

   Orang bertopeng itu sama sekali tidak menggubris ocehan Kamajaya.

   Tapi ketika pemuda berbaju biru ini telah mendekat, sebelah kakinya bergerak cepat menyapu pinggang.

   Cepat bagai kilat, Kamajaya mengibaskan tangannya, menangkis.

   Plak! Tangan Kamajaya yang berhasil menangkis terhempas.

   Dan tanpa diduga, kaki orang bertopeng itu bergerak ke pelipis.

   Diegkh...! "Aaakh...!"

   Pemuda berbaju biru itu terjungkal ke samping sambil mengeluh kesakitan. Pelipisnya yang jadi sasaran, biru dan membengkak akibat tendangan yang cukup keras tadi.

   "Kurang ajar! Huh! Kau akan menyesal karenanya!"

   Maki Kamajaya seraya bangkit perlahan-lahan.

   "Huh! Apa yang mesti kutakutkan darimu, Bocah Busuk? Bahkan kakek moyangmu sekalipun, aku tidak takut! Kau akan menjadi pelajaran serta peringatan terbaik bagi kakekmu!"

   Dengus orang bertopeng itu, siap hendak menghajar kembali.

   "Yeaaa...!"

   Kamajaya membentak sambil berkelebat.

   Pedangnya yang sudah tercabut langsung diputar-putar ke arah orang bertopeng.

   Meski bagaimanapun, anak muda ini hidup bergelimang harta dan betul-betul menikmatinya.

   Kerjanya hanya berfoya-foya serta mengejar-ngejar anak gadis orang.

   Lalu, berkumpul bersama kawan-kawannya yang mempunyai kesenangan sejenis.

   Sehingga perhatiannya terhadap ilmu olah kanuragan tidak begitu sungguh-sungguh.

   Maka, serangannya sama sekali tidak berarti bagi orang bertopeng itu.

   "Hup!"

   Begitu pedang yang berkilatan tertimpa sinar-sinar obor yang terpancang di tiap sudut penginapan itu mendekat, orang bertopeng ini cepat melenting ke atas.

   Dan tiba-tiba, tubuhnya meluruk turun seraya melepaskan tendangan dahsyat ke dada Kamajaya.

   Duk! "Aaakh...!"

   Kembali hajaran orang bertopeng itu telah menghantam dada Kamajaya yang kontan menjerit kesakitan. Dadanya seperti remuk mendapat tendangan keras tadi. Pemuda itu langsung terjungkal ke belakang.

   "Ayo bangkit lagi, Bocah! Tunjukkan padaku kehebatan ilmu olah kanuragan keluargamu!"

   Dengus orang bertopeng ini.

   "Bangsat!"

   Sebetulnya, Kamajaya sudah tidak kuat lagi untuk bertarung kembali.

   Kepalanya berdenyut-denyut karena kebanyakan menenggak arak.

   Tenaganya pun lemas sehingga tidak terlalu mampu bertarung dengan baik.

   Ditambah lagi, orang yang dihadapi agaknya bukan tokoh sembarangan.

   Paling tidak dengan cara melenting, akan kelihatan kalau orang bertopeng itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup hebat.

   Namun Kamajaya sendiri amat tersinggung karena diejek sedemikian rupa.

   Selama ini, dia merasa mampu berbuat apa pun.

   Dengan pengaruh kakeknya ataupun dengan kemampuan ilmu olah kanuragan yang pas-pasan, tidak jarang dia melepaskan tangan kasar pada orang-orang yang tak disukainya.

   Hanya saja mereka yang menjadi korbannya merasa lebih baik tutup mulut kalau tidak ingin menderita yang lebih parah lagi kelak.

   Sementara itu melihat majikannya jatuh bangun dihajar orang bertopeng, Sompak buru-buru menghampiri.

   Dia langsung berlutut, di hadapan orang bertopeng itu.

   "Kisanak, ampunilah majikanku! Mungkin dia suka usil, tapi sesungguhnya bukan orang jahat...!"

   Ratap Sompak.

   "Minggir kau, Sompak!"

   Dengus Kamajaya yang sudah bangkit berdiri dan berjalan ke arah Sompak. Bahkan tiba-tiba kakinya terayun ke arah Sompak. Dess...! "Aaakh...!"

   Sompak mengeluh kesakitan dihajar majikannya yang tengah kalap.

   "Huh! Kau mewarisi watak tidak berbudi dari kakekmu!"

   Dengus orang bertopeng itu.

   "Aku tidak peduli khotbahmu! Yang kuinginkan hanya kepalamu!"

   Desis Kamajaya seraya melepas tendangan ke dada. Orang bertopeng itu bergerak ke kanan. Tubuhnya langsung berputar cepat, lalu melayangkan sodokan keras ke dada dan muka. Begkh! Des! Duk! "Aaakh...!"

   Tiga kali berturut-turut hantaman orang bertopeng menghajar dada, lalu pipi kiri dan kanan, membuat Kamajaya terpekik. Tubuhnya terjungkal roboh tak berdaya dengan darah segar muncrat dari mulut.

   "Ini peringatan bagi kakekmu! Katakan padanya, dia akan mendapat kunjungan saudara angkatnya nanti!"

   Dengus orang bertopeng itu, lalu berkelebat meninggalkan Kamajaya.

   *** Semua orang yang tinggal di Kadipaten Lawang tahu, di lereng Gunung Arjuna pada bagian sebelah timur terdapat dataran yang agak luas, terdapat sebuah perkampungan yang dihuni sanak saudara Ki Jayeng Rono.

   Seorang tokoh silat dengan kepandaian cukup tinggi.

   Orang tua yang tahun ini genap berusia tujuh puluh tahun ini dalam rimba persilatan dikenal berjuluk si Macan Terbang.

   Namun belakangan ini namanya dikenal sebagai hartawan kaya raya di seluruh Kadipaten Lawang.

   Bahkan sebagian orang merasa yakin kalau Ki Jayeng Rono merupakan orang terkaya di kadipaten ini.

   Hari ini, di rumah Ki Jayeng Rono yang tampak megah, terlihat kesibukan yang lumayan besar.

   Pasalnya, laki-laki tua itu hendak mengadakan hajat perkawinan cucunya yang bernama Rajapadmi, dengan cucu seorang tokoh terkenal dan disegani di dunia persilatan.

   Konon nama pemuda itu Jaka Tawang, cucu Ki Sendrogowo yang di rimba persilatan dikenal sebagai Serigala Berbulu Hitam.

   Kali ini Ki Jayeng Rono yang semula begitu gembira menyambut pesta perkawinan ini, apalagi beliau yang menjodohkan, kelihatan bersedih selama dua hari belakangan ini.

   Orang tua itu lebih suka mengurung diri di kamarnya, sementara yang lain menyiapkan segala sesuatu untuk kelangsungan hajat Dan ini, agaknya tidak luput dari perhatian Rajapadmi.

   "Ada apa, Rajapadmi?"

   Tanya Ki Jayeng Rono, ketika seorang gadis cantik berambut panjang memasuki kamar ini. Gadis bernama Rajapadmi tidak langsung menjawab. Dia tampak ragu-ragu, dan sesekali memandang wajah eyangnya.

   "Aku justru hendak menanyakan itu pada Eyang...,"

   Kata Rajapadmi, lirih.

   "Apa maksudmu?"

   "Kulihat telah dua hari ini Eyang selalu mengurung diri di kamar. Ada apa, Eyang? Apakah kau hendak membatalkan perkawinan ini?"

   "Kenapa berpikir begitu, Padmi? Tentu saja tidak!"

   Sahut laki-laki tua itu seraya tertawa lebar.

   "Lalu, kenapa Eyang mesti mengurung diri?"

   Cecar Rajapadmi. Ki Jayeng Rono tidak mampu menjawabnya secara langsung. Wajahnya yang sempat berseri-seri, kembali murung seperti diliputi kabut tebal.

   "Ada apa, Eyang? Apa yang membuat kau kelihatan bersedih?"

   Ki Jayeng Rono menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri dan membelakangi cucunya.

   "Entahlah. Belakangan ini aku mimpi buruk. Dan itu selalu membayangi. Seolah-olah, mimpi itu seperti kenyataan...,"

   Tutur Ki Jayeng Rono.

   "Mimpi apa, Eyang?"

   "Perkampungan kita ini diliputi awan hitam. Dan di beberapa bagian, terlihat nyala api berkobar-kobar. Eyang berusaha memadamkannya, namun kedua kaki ini seperti terpaku di tempat. Jerit tangis bersahut-sahutan. Dan...."

   Ki Jayeng Rono tak kuasa melanjutkan ceritanya. Orang tua itu terdiam. Matanya kosong, memandang ke depan melewati jeruji jendela.

   "Mimpi hanya sekadar kembang tidur, Eyang. Kenapa kau begitu merisaukannya?"

   Bujuk Rajapadmi, seraya menghampiri orang tua itu.

   "Aku takut hal-hal dulu menghantui...."

   Ki Jayeng Rono tidak melanjutkan kata-katanya.

   Agaknya dia sadar kalau kenangan masa mudanya yang buruk tidak boleh diketahui anak cucunya.

   Selama ini, sosok Ki Jayeng Rono dikenal sebagai seorang dermawan.

   Bertingkah laku arif, bijaksana, serta santun.

   Dari mulutnya pun sering terdengar wejangan-wejangan yang welas asih.

   "Apa maksud Eyang? Apakah ketika muda kau pernah melakukan hal-hal buruk?"

   Tanya Rajapadmi curiga.

   "Bicara apa kau? Tentu saja tidak! Kita keluarga terhormat. Jadi mana mungkin aku melakukan perbuatan-perbuatan buruk!"

   Tangkis orang tua itu cepat.

   "Kalau demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"

   Tandas Rajapadmi.

   "Ya, ya! Sebenarnya memang begitu...,"

   Sahut Ki Jayeng Rono mengangguk cepat, untuk menghilangkan kecurigaan cucunya.

   Sikap itulah yang selama ini ditunjukkannya kepada seluruh penghuni perkampungan ini.

   Sosok tegar yang tidak tergoyahkan oleh badai apa pun! "Kalau demikian hilangkanlah pikiran-pikiran buruk itu.

   Tenanglah.

   Dan, jangan terlalu dimasukkan ke hati mimpi-mimpi buruk itu!"

   Ujar Rajapadmi, sedikit menasihati.

   "Tunjukkanlah pada orang-orang bahwa sesungguhnya Eyang bergembira menyambut hari perkawinanku!"

   "Ya, ya. Kau benar, Rajapadmi!"

   Gadis yang baru saja memasuki usia tujuh belas tahun itu tersenyum lebar. Digamitnya lengan laki-laki tua itu untuk diajaknya keluar dan berbaur dengan yang lain. Tapi pada saat yang sama seorang laki-laki setengah baya masuk ke dalam ruangan.

   "Sompak, ada apa?!"

   Tanya Rajapadmi heran.

    *** Orang yang baru datang memang Sompak pembantu setia Kamajaya yang juga saudara sepupu Rajapadmi.

   Dan gadis itu tidak perlu bertanya lebih lanjut ketika melihat Kamajaya mengerang-ngerang kesakitan dipapah dua orang pembantu lain ke ruangan ini.

   Mukanya lembab dan biru seperti dikeroyok orang sekampung.

   Demikian pula sekujur tubuhnya.

   "Astaga! Kakang Kamajaya! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau jadi begini?"

   Seru Rajapadmi kaget.

   "Kamajaya, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau jadi begini?!"

   Timpal Ki Jayeng Rono.

   Laki-laki tua itu geram bukan main.

   Hampir seluruh orang di Kadipaten Lawang kenal padanya.

   Bahkan tidak akan berani mengganggu orang-orang perkampungannya.

   Apalagi cucunya.

   Lagi pula kalau sekadar menghadapi pemuda sebayanya sampai berjumlah lima orang, Kamajaya masih mampu merobohkan.

   Tapi melihat keadaannya demikian, pastilah yang menghajarnya bukan orang sembarangan.

   Mungkin sengaja mau cari gara-gara dengannya.

   "Oh, sakit...! Sakit sekali...!"

   Keluh pemuda itu merintih-rintih.

   "Rajapadmi! Bawa dia pada Paman Teja untuk mendapat perawatan sebaik-baiknya!"

   Ujar Ki Jayeng Rono dengan wajah tidak sedap dipandang. Orang yang disebut Paman Teja adalah seorang tabib andalan perkampungan ini. Ramuan-ramuan obatnya selalu mujarab. Dan selama ini, tak pernah gagal mengobati penyakit apa pun.

   "Kau di sini. Dan ceritakan padaku, apa yang telah menimpa Kamajaya!"

   Ujar Ki Jayeng Rono ketika melihat Sompak hendak mengekor Rajapadmi yang telah keluar ruangan bersama Kamajaya yang dipapah dua orang pembantunya.

   "Eh, iya!"

   Sompak segera berlutut dan menundukkan kepala.

   "Siapa yang menghajarnya?!"

   Tanya Ki Jayeng Rono dengan suara agak keras mengagetkan.

   "Hamba tidak tahu orangnya, Ki. Dia..., dia memakai topeng merah terbuat dari kayu,"

   Sahut Sompak, tergagap.

   "Dia tidak menyebutkan nama?"

   Kejar Ki Jayeng Rono.

   "Tidak, Ki."

   Laki-laki itu terdiam untuk beberapa saat. Kemudian kembali dipandangnya tajam-tajam ke arah Sompak.

   "Apa yang menyebabkan orang bertopeng itu menghajar Kamajaya?"

   Tanya Ki Jayeng Rono lagi.

   "Dia datang begitu saja, lalu membuat Den Kamajaya marah dan berusaha menamparnya. Orang bertopeng itu cukup gesit mengelak. Bahkan balas menghajar, sampai Den Kamajaya tidak bisa menguasai diri,"

   Jelas Sompak.

   "Apa yang mereka percakapkan sehingga Kamajaya marah padanya?"

   Cecar Ki Jayeng Rono.

   "Entahlah, Ki. Saat itu hamba berada di luar. Tapi lapat-lapat hamba mendengar, orang bertopeng itu menyebut Den Kamajaya sebagai turunan pengecut. Padahal, Den Kamajaya telah bersikap sopan mengajaknya untuk minum bersama."

   Ki Jayeng Rono kembali terdiam memikirkan penjelasan barusan. Dicoba-cobanya untuk menerka, siapa sebenarnya orang bertopeng merah itu.

   "Dia menyebut Kamajaya sebagai turunan pengecut? Siapa orang itu?"

   Gumam Ki Jayeng Rono.

   "Tapi orang bertopeng itu kelihatannya cukup hebat, Ki. Rasanya, meski Den Kamajaya tidak mabuk pun, akan sulit mengalahkannya,"

   Lanjut Sompak.

   "Kenapa kau begitu yakin?"

   "Empat kawan Den Kamajaya yang ingin membantu menghajar orang bertopeng itu, dibuat babak belur tak berdaya dengan sekali pukul!"

   Jelas Sompak lagi penuh semangat.

   "Hm, apakah dia hanya seorang?"

   "Kelihatannya begitu, Ki."

   "Coba kau ingat-ingat, Sompak. Apakah ada sesuatu dari omongannya yang menarik perhatianmu?"

   "Ng.... apa ya? Ah, iya! Aku ingat!"

   Seru Sompak.

   "Apa itu?"

   "Dia memberi peringatan kepada Ki Jayeng!"

   "Peringatan apa yang kau maksudkan?"

   Tanya Ki Jayeng Rono dengan alis berkerut.

   "Katanya, Ki Jayeng akan mendapat kunjungan saudara angkat,"

   Jelas Sompak.

   "Hm...!"

   Wajah Ki Jayeng semakin berkerut seperti tengah berpikir keras untuk mengingat-ingat, siapa saudara angkatnya.

   "Apakah Ki Jayeng punya saudara angkat?"

   Tanya Sompak dengan wajah lugu.

   "Aku tidak punya saudara angkat sejahat itu,"

   Tegas laki-laki tua ini.

   "Ya, aku pun percaya. Orang itu pasti membual!"

   Dengus Sompak geram.

   "Apakah dia mengatakan kapan akan datang?"

   "Tidak, Ki. Tapi, kurasa dia tidak akan berani menunjukkan batang hidungnya di sini, setelah menghajar Den Kamajaya. Apalagi orang itu memang pengecut. Kalau tidak pengecut, tentu tidak akan menyembunyikan wajahnya di balik topeng!"

   Lanjut pembantu itu lagi, masih menyisakan kegeraman hatinya.

   "Ya, sudah. Kau kembali ke tempatmu. Dan, jaga baik-baik majikanmu!"

   Ujar Ki Jayeng Rono.

   "Baik, Ki!"

   Setelah menjura hormat, Sompak bangkit. Tubuhnya berbalik, lalu melangkah pergi. Sepeninggal Sompak, Ki Jayeng Rono kembali merenung. Sebentar-sebentar dia mondar-mandir, kemudian berdiri tertegun sambil memandang keluar lewat jeruji jendela.

   "Apakah mereka?"

   Gumam Ki Jayeng Rono.

   "Mustahil! Mereka pasti sudah mati!"

   Tok! Tok! Tok! "Heh?!"

   Ki Jayeng Rono sedikit kaget ketika mendengar ketukan dari luar pintu. Kakinya segera melangkah, dan segera membuka pintu.

   "Ayah! Apa yang terjadi pada Kamajaya? Siapa yang melakukannya?"

   Tanya seorang laki-laki setengah baya dengan wajah merah padam, ketika Ki Jayeng Rono membuka pintu lebar-lebar.

   Laki-laki setengah baya berpakaian indah dari sutera berwarna kuning itu langsung saja menerobos masuk ruangan ini, ditemani seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun.

    *** "Tenanglah, Dilaga.

   Jangan terpancing amarah begitu...,"

   Ujar Ki Jayeng Rono, berusaha menenangkan laki-laki setengah baya yang dipanggil Dilaga.

   "Tapi, Ayah. Kamajaya babak belur. Dan kita tidak bisa mendiamkannya begitu saja. Orang itu mesti ditangkap untuk mendapat pembalasan setimpal!"

   Timpal wanita di samping Dilaga dengan sikap tidak kalah garang.

   "Tenanglah kataku! Kemarahan kalian tidak akan menyelesaikan persoalan!"

   Seru Ki Jayeng Rono agak keras. Mendengar bentakan, dua orang yang agaknya adalah suami istri ini terdiam meski masih menyiratkan amarah pada wajah masing-masing.

   "Nah, begitu lebih...!"

   Lanjut orang tua itu. Ki Jayeng Rono menarik napas panjang lebih dulu, sebelum melanjutkan kata-katanya.

   "Aku telah mendapat keterangan bahwa yang menghajar Kamajaya adalah seorang tokoh memakai topeng merah agar wajahnya tidak dikenali. Aku tidak kenal dengannya. Dan seperti kalian ketahui, aku pun tidak bermusuhan dengan siapa pun. Jadi jelaslah dengan peristiwa itu, dia sengaja menciptakan permusuhan. Apalagi menjelang hajat perkawinan Rajapadmi. Aku khawatir orang itu akan semakin mengacaukan hajat itu. Oleh sebab itu, maka perintahkan semua orang di perkampungan ini untuk waspada,"

   Papar Ki Jayeng Rono.

   "Tapi, Ayah. Apakah mungkin dia akan ke sini? Hanya orang sinting yang berani mengacau. Di sini berkumpul beberapa tokoh persilatan yang berilmu tinggi, seperti kakak iparku Ki Sabda Kalaka yang bergelar Kelelawar Hitam. Lalu, ada besan si Joyologo yaitu Ki Sukatan Jember, yang bergelar Pendekar Tongkat Maut. Serta, ada juga Ki Danang Rejo yang menjadi Ketua Perguruan Tapak Buana. Di perkampungan ini pun tidak kurang jago-jago lainnya dari keluarga kita sendiri!"

   Tukas Dilaga, yang merupakan putra pertama Ki Jayeng Rono.

   "Orang-orang Topeng Merah itu tidak bisa dipandang sebelah mata, Dilaga."

   "Hei?! Ayah kenal mereka rupanya?"

   "Tidak. Ayah hanya menduga-duga. Belakangan ini ada komplotan yang menamakan diri mereka Gerombolan Topeng Merah. Ciri-ciri mereka yang mudah dikenali adalah topeng merah selalu dikenakan,"

   Jelas Ki Jayeng Rono.

   "Apakah sebelumnya kita pernah berurusan dengan mereka Ayah?"

   Tanya Dilaga sedikit curiga.

   "Apa keuntungan kita berurusan dengan mereka? Gerombolan Topeng Merah melakukan apa saja yang mereka suka. Membunuh, merampok, serta perbuatan-perbuatan keji lainnya. Mereka tidak perlu alasan untuk melakukan hal itu."

   Dilaga terdiam sesaat lamanya. Demikian pula istrinya.

   "Tapi kita tidak bisa mendiamkan perbuatan mereka begitu saja, Ayah!"

   Lanjut Dilaga masih dengan wajah penasaran.

   "Apa yang bisa kita lakukan? Mereka adalah gerombolan kuat yang rata-rata berilmu tinggi. Dan lagi pula, tidak ada seorang pun yang mengetahui, di mana sarang mereka. Orang-orang itu datang dan pergi bagai angin. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah waspada!"

   Dilaga dan istrinya tidak banyak bicara lagi. Mereka bermaksud hendak meninggalkan ruangan ini, namun mendadak terdengar ribut-ribut dari luar. Tak lama, seorang pelayan masuk. Dia langsung berlutut hormat di hadapan Ki Jayeng Rono.

   "Maaf, Ki. Hamba terpaksa masuk untuk melaporkan sesuatu!"

   Ucap pelayan itu.

   "Ada apa?"

   Tanya Ki Jayeng Rono.

   "Seseorang tengah mengacau di tembok sebelah barat. Saat ini, Den Ayu Sri Dewi dan Den Sukasrana tengah berusaha menghalaunya!"

   "Kurang ajar! Ingin kulihat, bagaimana tampang pengacau itu!"

   Dengus Dilaga.

   Seperti mendapat pelampiasan dari kekesalan hatinya, Dilaga bergegas meninggalkan ayahnya diikuti istrinya.

   Sementara Ki Jayeng Rono mengikuti dengan langkah lambat.

   *** Setiba di tempat kejadian, Ki Jayeng Rono, Dilaga, dan istrinya, hanya menemukan beberapa pelayan yang telah roboh jadi mayat.

   Sementara Sri Dewi dan Sukasrana kelihatan berkerut wajahnya menahan rasa sakit hebat.

   Sedangkan beberapa pelayan masih berdiri di tempat itu.

   "Mana pengacau itu?!"

   Tanya Dilaga, membentak.

   "Sudah pergi, Ki!"

   Sahut seorang pelayan.

   "Kurang ajar! Kenapa kalian tidak menahannya?! Dasar goblok! Tolol! Apa kerja kalian semua, he?!"

   Bentak Dilaga kalap. Tak seorang pun yang berani menyahut. Semuanya diam tertunduk, diam seribu bahasa.

   "Dilaga! Kau tidak sepatutnya bicara sekasar itu pada mereka. Orang-orang itu telah berusaha sekuat tenaga, bahkan telah jatuh korban di pihak kita. Tapi kemampuan lawan memang tinggi. Mestinya kau harus menghargai usaha mereka,"

   Ujar Ki Jayeng Rono, menasihati.

   Dilaga yang tengah kalap karena kejadian yang menimpa Kamajaya putranya, agaknya tidak bisa menerima wejangan begitu saja.

   Setelah memberi hormat pada orang tua itu, dia segera berlalu dengan wajah gusar.

   Ki Jayeng Rono menghela napas panjang, membiarkan saja putranya berlalu.

   Kemudian didekatinya Sri Dewi dan Sukasrana.

   "Kalian tidak apa-apa?"

   Tanya Ki Jayeng Rono.

   "Hanya sedikit luka, Eyang,"

   Sahut Sri Dewi.

   Gadis berusia enam belas tahun ini adalah adik Kamajaya, anak nomor dua Dilaga.

   Sedangkan Sukasrana yang usianya sebaya dengannya, adalah adik Rajapadmi.

   Ki Jayeng Rono memeriksa sebentar.

   Dan mereka hanya mendapat sedikit memar-memar.

   "Siapa yang datang?"

   Tanya laki-laki tua itu kembali.

   "Entahlah, Eyang. Kami tidak mengenalinya. Orang itu memakai topeng merah terbuat dari kayu. Dia datang tiba-tiba saja, lalu membunuhi orang-orang kita,"

   Jelas Sri Dewi.

   "Hanya seorang?"

   Kedua anak muda itu mengangguk.

   "Dia tidak meninggalkan pesan apa-apa?"

   Kejar Ki Jayeng Rono.

   "Ada. Tapi, kami tak percaya!"

   Sahut Sri Dewi.

   "Apa katanya?"

   "Katanya, Eyang berhutang padanya. Dan oleh sebab itu, dia hendak menagihnya!"

   Sahut Sri Dewi, polos. Ki Jayeng Rono terdiam untuk sesaat.

   "Bukankah itu mengada-ada? Kita tidak kurang suatu apa pun. Maka, mana mungkin Eyang berhutang padanya! Benarkah, Eyang?!"

   Lanjut gadis itu masih dengan wajah kesal.

   "Tentu saja! Eyang tidak pernah berhutang pada siapa pun."

   "Dasar orang gila tak tahu diri! Kalau saja dia datang baik-baik meminta makanan atau uang, pasti akan kuberikan. Tapi orang ini mungkin sinting atau sengaja cari permusuhan!"

   Rutuk Sri Dewi bersungut-sungut.

   "Sudahlah. Biar nanti cari tahu soal orang ini. Sekarang kalian bantu mereka untuk membereskan tempat ini!"

   Sukasrana dan Sri Dewi menjura hormat, lalu berbaur dengan para pelayan untuk membereskan tempat yang berantakan ini.

   Sementara para pelayan yang lain telah menggotong mayat-mayat kawan mereka, untuk dikebumikan secara layak.

   Kini Ki Jayeng Rono masih terpaku di tempatnya dengan wajah kusut.

   Pikirannya saat ini dihantui sesuatu yang mulai membayanginya belakangan ini.

   *** Sebuah rombongan berkuda yang mengawal tiga buah kereta kuda menghentikan perjalanan mereka ketika tiba-tiba di depan berdiri menghadang satu sosok tubuh dalam jarak sepuluh tombak.

   Salah satu dari sepuluh penunggang kuda terdepan yang berpakaian seragam segera bergerak menghampiri.

   Rombongan berkuda itu sendiri terdiri dari sepuluh orang berpakaian hijau yang dipadu celana hitam yang berada di depan.

   Sementara sepuluh lainnya yang berpakaian sama, berada di belakang kereta-kereta kuda itu.

   Pada masing-masing pinggang terselip sebilah golok.

   Agaknya, mereka adalah sepasukan pengawal tiga kereta kuda itu.

   "Apa maksudmu menghadang kami, Kisanak?"

   Tegur penunggang kuda yang menghampiri sosok laki-laki bertopeng merah.

   "Apakah kau mengawal Ki Sendrogowo?"

   Bukannya menjawab, laki-laki bertopeng itu malah mengajukan pertanyaan dengan nada merendahkan.

   "Ya! Kami hendak menuju perkampungan milik Ki Jayeng Rono!"

   Sahut pengawal berpakaian seragam ini.

   "Bagus! Jadi kehadiranku tak sia-sia!"

   Kata orang bertopeng itu.

   "Apa maksudmu, Kisanak?"

   "Maksudku? Ketahuilah. Aku adalah saudara angkat Ki Jayeng Rono yang hendak menyambut Ki Sendrogowo dengan..., ini!"

   Saat itu juga orang bertopeng ini mengebutkan tangannya ke depan. Set! Set! "Heh?!"

   Betapa terkejutnya pengawal itu ketika mendadak melesat beberapa sinar putih ke arahnya dengan kecepatan bagai kilat.

   "Hup!"

   Untung saja, pengawal itu cepat melenting dari kudanya. Tapi akibatnya.... Crab! Cras! "Aaakh...! Aaa...!"

   Dua orang pengawal kontan terjengkang disertai jerit kematian, begitu sinar-sinar putih keperakan yang ternyata senjata rahasia berbentuk payung menancap di leher dan dada mereka.

   Begitu ambruk di tanah, kedua pengawal itu tak berkutik lagi dengan wajah membiru.

   Jelas, ruyung-ruyung itu mengandung racun ganas.

   Sementara itu, mendengar jerit kematian, dari salah satu kereta kuda keluar seorang laki-laki tua bertubuh agak gemuk.

   Dia langsung berjalan ke depan, melihat apa yang terjadi.

   "Ada apa, Bakil?!"

   Tanya laki-laki tua itu, begitu tiba di samping pengawal yang tadi diserang.

   "Maaf, Ki Sendrogowo. Tiba-tiba saja orang ini menyerang kita!"

   Sahut pengawal yang dipanggil Bakil. Laki-laki tua yang tak lain Ki Sendrogowo ini menatap tajam pada orang bertopeng itu.

   "Siapa kau, Kisanak?! Mengapa kau menyerang kami?!"

   Tanya Ki Sendrogowo dengan suara keras.

   "Ha ha ha...! Sendrogowo alias Serigala Berbulu Hitam, tidak kusangka kita akan bertemu di sini!"

   "Jangan berbelit-belit. Katakan saja, apa maumu?!"

   Dengus laki-laki bertubuh agak gemuk yang selalu memakai jubah hitam panjang sampai ke mata kaki ini.

   "Kau tentu kenal topeng yang kukenakan ini, bukan?!"

   Sahut orang bertopeng itu seraya mendesis sinis.

   "Melihat ciri-cirimu, kau pasti salah satu dari Gerombolan Topeng Merah!"

   Desis Ki Sendrogowo.

   Memang, Gerombolan Topeng Merah belakangan ini memang amat diperhitungkan kalangan persilatan.

   Dalam waktu singkat saja, gerombolan itu menjadi momok yang menakutkan! Anggota-anggotanya rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

   Maka ketika mengetahui bahwa penghadangnya adalah salah satu dari Gerombolan Topeng Merah, laki-laki tua itu sedikit kecut.

   "Apa yang kau inginkan dari kami?"

   Tanya Ki Sendrogowo.

   Bagaimanapun sebagai tokoh yang cukup dikenal dalam rimba persilatan, mana mau Ki Sendrogowo yang berjuluk Serigala Berbulu Hitam menunjukkan kelemahan menghadapi anggota Gerombolan Topeng Merah ini.

   Apalagi, dia merasa tidak ada permusuhan di antara mereka.

   "Kalian hendak mendatangi si Jayeng Rono?"

   Tanya orang bertopeng merah itu, datar.

   "Betul."

   "Ha ha ha...! Bagus. Kalau begitu, kalian tidak bisa ke sana!"

   Kata orang bertopeng itu, seenaknya. Seolah-olah dia seorang hakim yang menentukan segalanya. Mendengar hal itu tentu saja Serigala Berbulu Hitam jadi kurang senang. Tapi belum lagi dia bicara....

   "Kisanak!"

   Selak seseorang dari belakang Ki Sendrogowo. Hampir saja semua orang menoleh ke arah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh lima tahun yang tahu-tahu telah berada di belakang Ki Sendrogowo.

   "Kau boleh saja tidak menyukai Ki Jayeng Rono. Tapi, kau tidak punya hak untuk menghalangi kami. Apalagi coba-coba mengganggu jalan kami!"

   Lanjut laki-laki itu.

   "Ha ha ha...! Aku bisa berbuat apa saja, meski di daerah kekuasaan si Jayeng Rono! Apa yang bisa diperbuat? Dia bahkan tidak mampu berkata apa-apa di depanku!"

   Sahut orang bertopeng ini, pongah.

   "Hati-hati, Praja! Kita tak boleh gegabah!"

   Ujar Ki Sendrogowo.

   "Ayah, kita tidak perlu mengurusinya! Lebih baik lanjutkan perjalanan!"

   Sahut laki-laki setengah baya itu pada Ki Sendrogowo.

   Rupanya, dia putra Ki Sendrogowo.

   Kemudian laki-laki berusia sekitar setengah abad lebih bernama Praja itu memberi perintah pada yang lain seraya mengajak Ki Sendrogowo untuk kembali masuk ke dalam kereta.

   Tapi baru saja mereka berbalik....

   "Aaa...!"

   Mendadak terdengar pekik kesakitan. Ki Sendrogowo dan Ki Praja kembali berbalik, menghadap ke arah sumber suara teriakan tadi. Tampak dua penunggang kuda yang paling depan roboh dan langsung tewas dengan ruyung beracun menancap di jidat.

   "Kau...?! Apa yang kau lakukan pada mereka, Pengecut?!"

   Bentak Ki Praja seraya melotot garang dengan muka merah karena marah.

   "Sudah kukatakan, aku bisa berbuat apa saja yang kusukai. Dan kau terlalu sombong untuk mempercayai. Dua orang tadi adalah korban kesombonganmu,"

   Sahut orang bertopeng itu tenang.

   "Keparat!"

   Desis Ki Praja, tidak dapat lagi menahan amarahnya.

   Saat itu juga, laki-laki setengah baya ini melompat menerjang sambil menghentakkan kedua tangannya.

   Wesss...! Serangkum angin kencang langsung melesat dari kedua telapak tangan Ki Praja, menuju orang bertopeng itu.

   "Uts...!"

   Sambil memperdengarkan tawa dingin, orang bertopeng itu melompat ke atas, sehingga serangan itu lewat.

   Tapi Ki Praja tidak berhenti sampai di situ.

   Tidak percuma dia menjadi putra seorang tokoh silat terkenal seperti Ki Sendrogowo.

   Tubuhnya terus meluruk dengan sebelah kaki menyambar pinggang orang bertopeng yang baru saja mendarat di tanah.

   Dengan gerakan cepat orang bertopeng itu menangkis dengan tangan kiri.

   Plak! Begitu habis terjadi benturan, orang bertopeng ini berputar.

   Tangan kanannya yang membentuk cakar cepat berkelebat.

   Wuttt! "Uts...!"

   Hampir saja muka Ki Sendrogowo robek kalau saja tidak melompat ke belakang sambil menjatuhkan diri.

   Untuk sesaat dia terpana, tak mampu berbuat apa-apa.

   Sementara orang bertopeng tidak melanjutkan serangan.

   Tiba-tiba tubuhnya berbalik dan berkelebat meninggalkan tempat ini.

   Cepat sekali kelebatannya, sehingga sebentar saja dia sudah menghilang di balik pepohonan di pinggir jalan menuju Gunung Arjuna itu.

   "Ha ha ha...! Kalian boleh melanjutkan perjalanan lagi. Tapi, ingat-ingatlah! Keluarga Ki Sendrogowo tidak bisa pamer kekuatan di daerah ini. Meski kalian bergabung dengan keluarga Jayeng Rono, tidak akan membuat Gerombolan Topeng Merah gentar. Kalau saja kami mau, maka dalam sekejap kalian akan hancur!"

   Terdengar suara orang bertopeng itu, yang dikeluarkan lewat ilmu mengirimkan suara jarak jauh.

    *** Meski keluarga Ki Jayeng Rono masih diliputi kedukaan karena peristiwa yang menimpa kemarin, namun penyambutan kepada keluarga Ki Sendrogowo cukup meriah.

   Seolah-olah mereka hendak menunjukkan kesan bahwa hajatan yang akan berlangsung berjalan dengan wajar.

   Malam ini, Ki Jayeng Rono mengundang Ki Sendrogowo untuk minum teh bersama.

   Hal itu wajar saja dilakukan sebagai kawan lama yang telah sekian belas tahun tidak bertemu.

   Keadaan ini bukan saja sekadar menghormati calon besannya, tapi juga digunakan untuk mengenang peristiwa-peristiwa manis yang dulu pernah dialami.

   Dengan begitu akan tercipta persahabatan yang semakin akrab.

   Namun, Ki Sendrogowo agaknya tidak bisa melupakan peristiwa yang belum lama dialami menjelang tiba di tempat ini.

   Bisa saja ketika membawa mayat anak buahnya, dia mengatakan kalau telah tertimpa malapetaka.

   Tapi agaknya hal itu tidak bisa ditutup-tutupi terus.

   Hatinya masih tidak enak dan sedikit dendam.

   Maka ketika ada kesempatan, hal itu diungkapkannya pada tuan rumah.

   "Apakah Ki Jayeng pernah merasa bermusuhan dengan Gerombolan Topeng Merah?"

   Tanya Ki Sendrogowo setelah menceritakan yang sebenarnya tentang kematian anak buahnya. Ki Jayeng Rono tidak langsung menjawab. Dia diam terpaku dengan wajah murung.

   "Tidak. Aku tidak mengadakan permusuhan dengan mereka...,"

   Sahut Ki Jayeng Rono lirih setelah menghela napas panjang.

   "Kelihatannya mereka demikian membencimu."

   "Entahlah. Kukira mereka hanya iri saja pada segala yang kumiliki, lalu mulai mencari gara-gara...."

   "Aku tidak habis pikir jadinya. Apa yang mereka kehendaki? Padahal kita tidak bermusuhan dengan mereka,"

   Keluh Ki Sendrogowo seraya menghela napas panjang.

   "Tapi ini tidak bisa dibiarkan terus, Ki Jayeng!"

   "Ya. Aku pun mulai berpikir begitu. Mereka sungguh keterlaluan sekali!"

   Desis Ki Jayeng Rono, mulai marah.

   "Kalau didiamkan terus, mereka akan besar kepala dan semakin leluasa mengganggu kita!"

   Sambut Ki Sendrogowo. Ki Jayeng Rono kembali mengangguk-angguk membenarkan.

   "Aku hanya heran, siapa sebenarnya orang-orang di balik topeng merah itu? Dan, siapa pula pemimpinnya? Kelihatannya mereka bernafsu sekali untuk menguasai dunia persilatan."

   "Tidak ada yang aneh, Ki Sendro!"

   Sahut Ki Jayeng Rono.

   "Di dunia ini segalanya serba mungkin. Orang kaya itu tidak puas dengan kekayaannya, dan ingin lebih kaya lagi. Demikian pula orang yang berkuasa yang tidak puas dengan kekuasaannya. Dia ingin lebih berkuasa lagi. Kurasa itu pula yang terpikir oleh pimpinan Gerombolan Topeng Merah itu."

   "Iya. Mungkin juga begitu. Tapi, mereka kelihatannya banyak berkeliaran di Kadipaten Lawang ini. Meski korbannya belum banyak, namun nama mereka telah cukup menggetarkan daerah-daerah di sekitar sini. Aku sendiri tidak yakin bahwa markas mereka di sini,"

   Tukas Ki Sendrogowo.

   "Aku yakin markas mereka bukan di sim. Sebab kalau betul, tentu aku yang lebih dulu tahu,"

   Tandas Ki Jayeng Rono.

   "Tapi, kenapa kelihatannya mereka mengincarmu, Ki?"

   "Tidak. Orang-orang seperti mereka mengincar siapa pun yang dikehendakinya,"

   Tangkis Ki Jayeng Rono cepat.

   "Menurut para pegawaimu, orang bertopeng itu pernah pula mengacau di sini. Benarkah itu?"

   Ki Jayeng Rono mengutuk pegawainya dalam hati. Kenapa mesti cerita pada orang luar segala? Padahal dia berusaha menutupinya, karena akan menjatuhkan pamornya saja di depan calon besannya.

   "Memang begitu, Ki Sendrogowo. Tapi para pegawaiku telah mengusir mereka. Dan kurasa, mereka akan berpikir dua kali untuk kembali mengacau di sini,"

   Sahut Ki Jayeng Rono, sedikit membanggakan diri.

   "Keluarga Ki Jayeng Rono amat terkenal. Dan mereka sungguh berani menyatroni tempat ini. Maka sudah pasti ada sesuatu yang tengah diincarnya di tempatmu ini, Ki."

   "He he he...! Kau ini bisa saja, Sobat!"

   Sahut Ki Jayeng Rono sambil tersenyum.

   "Apa yang diincarnya dariku? Harta yang tidak seberapa ini? Hm.... Keluarga Ki Sendrogowo memiliki harta sepuluh kali lipat dibanding denganku. Atau, barangkali dia mengincar cucu perempuanku? He he he...! Jangan khawatir. Rajapadmi akan kujaga baik-baik agar tidak digondol mereka."

   Ki Sendrogowo ikut-ikutan tersenyum. Namun begitu, hatinya jelas masih belum bisa tenang memikirkan soal ulah Gerombolan Topeng Merah.

   "Entah kenapa, tapi sepertinya aku punya firasat bahwa mereka hendak mengobarkan perang terbuka kepada kita...,"

   Desah Ki Sendrogowo. Ki Jayeng Rono yang saat ini tengah mengangkat cawan dan hendak mengajak tamunya minum bersama, sesaat membatalkannya. Dia berusaha bersikap sewajar mungkin, untuk tidak membuat calon besannya tenang.

   "Percayalah, Sobat. Keluargaku memang kecil dan tidak terkenal. Tapi bagaimanapun hebatnya, mereka akan berpikir sepuluh kali untuk mengacau ke sini!"

   Tandas Ki Jayeng meyakinkan.

   "Bukan hal itu yang kurisaukan. Karena aku sadar, tempat ini tidak bisa dibuat main-main. Tapi...."

   "Tapi apa, Sobat?"

   Potong Ki Jayeng Rono.

   "Aku hanya tidak habis pikir, kenapa hal itu terjadi di keluarga kita pada saat minggu bahagia ini...."

   Ki Jayeng Rono terdiam.

   Dengan ucapannya itu, terasa bahwa Ki Sendrogowo tidak tenang.

   Bahkan mungkin masih merasa kacau pikirannya, soal orang bertopeng merah tadi.

    *** Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan Ki Jayeng Rono bermaksud menyewa jago-jago tangguh untuk menghadapi Gerombolan Topeng Merah.

   Meskipun, dia mesti mengeluarkan uang cukup banyak.

   Dan niatnya segera diutarakan pada Dilaga, anaknya.

   "Ayah! Kita tidak perlu takut menghadapi Gerombolan Topeng Merah!"

   Tukas Dilaga merasa tidak senang mendengar niat ayahnya itu.

   "Bukannya takut. Tapi, aku tidak mau repot-repot mengurusi mereka. Kita tengah menghadapi hajat perkawinan Rajapadmi. Maka, segala sesuatunya harus berlangsung aman dan tenteram,"

   Kilah Ki Jayeng Rono.

   "Tapi dengan begitu Ayah mengeluarkan banyak uang. Bukankah itu pemborosan? Serahkan saja padaku! Dengan dibantu lima pegawai, aku akan menghancurkan mereka. Jadi, Ayah tidak perlu menyewa orang segala!"

   Sahut Dilaga, mantap.

   Ki Jayeng Rono tersenyum.

   Dia tahu, anaknya memiliki keberanian yang cukup.

   Tapi lawan yang dihadapi adalah anggota Gerombolan Topeng Merah yang rata-rata berilmu tinggi.

   Sedangkan menghadapi seorang dari mereka saja sudah kewalahan.

   Apalagi kalau mereka seluruhnya.

   Tapi, Ki Jayeng Rono tidak sampai hati menolak terang-terangan.

   "Dilaga! Ayah mengakui, kau mampu menghadapi mereka. Tapi tugasmu banyak dan tidak terus menerus mengurusi hal itu. Banyak hal lebih penting yang mesti dikerjakan. Maka, biarlah yang satu ini dikerjakan orang lain. Lagi pula, Ayah tak ingin mengotori tangan-tangan keluarga kita hanya untuk mengurusi para begundal yang menamakan diri Gerombolan Topeng Merah...,"

   Bujuk Ki Jayeng Rono.

   Entah karena bujukan dengan kata-kata manis, entah juga karena sebetulnya ciut nyalinya menghadapi Gerombolan Topeng Merah, tapi yang jelas akhirnya Dilaga tidak banyak bicara lagi, meski tidak mengangguk dengan usul ayahnya.

   *** Sementara itu, tepat di depan jendela ruangan Ki Jayeng Rono, seorang pemuda berusia enam belas tahun berwajah bulat, berlari-lari menuju ke belakang rumah yang sangat megah ini.

   Dihampirinya seorang gadis cantik yang saat itu tengah duduk di taman belakang perkampungan ini.

   "Sri Dewi! Kau tidak akan percaya dengan apa yang kubawa?!"

   Teriak pemuda itu sambil berlari-lari kecil.

   "Apa yang kau bawa, Sukasrana. Kue apem atau kue cucur?"

   Tanya gadis yang tak lain Sri Dewi sambil tertawa kecil memperlihatkan barisan giginya yang bagai biji mentimun.

   "Hush! Kau ini menggoda aku terus. Mentang-mentang aku suka mencuri makanan dari dapur! Aku membawa berita penting,"

   Sahut pemuda yang ternyata Sukasrana.

   "Berita apa?"

   Tanya Sri Dewi acuh tak acuh.

   "Eyang hendak menyewa jago-jago silat untuk menghadapi Gerombolan Topeng Merah!"

   Jelas Sukasrana.

   "Dari mana kau tahu?"

   "Aku mencuri dengar pembicaraan mereka tadi."

   "Kenapa eyang melakukan itu? Apa orang-orang kita tidak cukup untuk menghajar mereka?"

   Tanya gadis itu, seperti untuk diri sendiri.

   "Ayahmu pun tadi sudah berkata begitu. Tapi, eyang katanya tidak mau mengotori keluarga kita sekadar untuk mengurusi orang-orang bertopeng merah itu."

   "Hem.... Aku tidak bisa menerimanya! Kita harus berbuat sesuatu!"

   Dengus Sri Dewi.

   "Eyang telah merendahkan kemampuan kita, apa pun alasannya! Kita harus buktikan bahwa kita mampu menghajar mereka!"

   "Iya, iya...!"

   Timpal Sukasrana dengan bersemangat.

   "Tapi apa yang mesti kita lakukan?"

   "Kita harus keluar dari perkampungan ini, mencari Gerombolan Topeng Merah!"

   Sukasrana terkejut mendengar niat saudara sepupunya.

   "Mencari mereka?"

   "Iya, kenapa? Kau takut?"

   Tanya Sri Dewi.

   "Eh, tidak! Tentu saja tidak!"

   Sahut Sukasrana cepat sambil menggeleng.

   "Bagus! Kalau begitu, sekarang juga kita berangkat!"

   "Sekarang? Eh, apa kita perlu untuk minta izin pada eyang, atau ayah dan ibu?"

   Kilah Sukasrana.

   "Dasar tolol! Mana mungkin mereka memberi izin. Eyang telah menegaskan bahwa keluarganya tidak boleh keluar perkampungan sembarangan, tanpa izin beliau. Jadi kita harus menyelinap. Ayo! Kalau kau tidak berani, biar aku sendiri saja!"

   Umpat Sri Dewi, kesal. Sri Dewi telah bersiap-siap melangkah dengan pedang tersandang di pinggang ketika melihat Sukasrana masih menunjukkan sikap ragu.

   "Aku pergi dulu!"

   Lanjut Sri Dewi.

   "Baiklah. Tapi, tunggu dulu. Aku mesti mengambil pedangku terlebih dulu. Tunggu sebentar!"

   Sahut pemuda tampan itu seraya berlari ke rumahnya.

    *** Sri Dewi tidak peduli dengan ocehan saudara sepupunya.

   Begitu melihat Sukasrana menghilang dari pandangan, maka secepat itu pula tubuhnya berkelebat meninggalkannya.

   Memang, Sri Dewi mendapat pelajaran ilmu olah kanuragan bukan dari orangtuanya, melainkan langsung dari kakeknya.

   Lagi pula, dia amat tekun dan rajin.

   Sehingga meski usianya tergolong muda, tapi boleh dikata kemampuannya lebih tinggi dibanding saudara-saudaranya.

   Sehingga hatinya panas betul ketika mengetahui kalau kakeknya melarang untuk memburu Gerombolan Topeng Merah yang telah mengacau.

   Apalagi kini kakeknya membayar orang lain untuk menghadapinya.

   Gadis itu merasa dianggap angin dan dipandang sebelah mata.

   Adapun halnya Sukasrana, anak itu penakut dan suka ragu-ragu.

   Itu bisa menghambat maksud Sri Dewi.

   Kalau menunggu, mungkin saja Sukasrana akan mengadu pada orangtuanya.

   Atau bahkan pada Ki Jayeng Rono.

   Maka bisa-bisa rencananya batal, sehingga terpaksa gadis itu meninggalkannya.

   Sri Dewi tidak sempat mengeluarkan kuda, karena takut kepergok.

   Maka terpaksa dia harus berjalan kaki.

   Dan perjalanan ini amat melelahkan, karena selama ini dia terbiasa ke mana-mana dengan berkuda.

   Sudah cukup jauh gadis itu melewati jalan yang jarang dilalui orang-orang perkampungan bila hendak ke kota Kadipaten Lawang.

   Sengaja dia memilih jalan ini, untuk menghindari pengejaran pegawai-pegawai kakeknya bila Sukasrana sampai mengadu.

   Namun sampai sejauh ini, belum terlihat tanda-tanda bahwa para pegawai kakeknya akan menyusul.

   Matahari telah tergelincir dari atas kepala ketika Sri Dewi tiba di sebuah desa kecil.

   Penduduknya jarang.

   Dan jarak antara satu rumah dengan rumah lain cukup jauh.

   Tubuhnya telah letih dan penat, sehingga diputuskannya untuk mencari rumah penduduk untuk menumpang beristirahat.

   Tapi belum lagi hal itu dilakukan, mendadak dari arah belakang terasa terdengar langkah seseorang.

   Gadis itu cepat berbalik.

   Dan wajahnya seketika terkejut begitu melihat satu sosok tubuh dengan topeng merah di depannya.

   Sebenarnya, orang inilah yang dicari-carinya.

   Tapi entah kenapa, ketika berhadapan justru semangatnya perlahan-lahan terbang melayang.

   "Hei?!"

   Kembali gadis itu dibuat terkejut ketika dari belakangnya, terdengar suara orang melompat Dan wajahnya semakin pucat ketika melihat satu sosok lain yang mengenakan topeng merah.

   Ternyata dua dari Gerombolan Topeng Merah telah berada di sini.

   Apa yang bisa dilakukannya.

   "He he he...! Siapa sangka di tempat ini kita bertemu gadis cantik yang tengah kesasar!"

   Kata orang bertopeng merah yang di pinggangnya terselip sebatang kapak sambil terkekeh buas.

   "Bukan cuma kebetulan, Janang Uwung!"

   Sahut orang bertopeng yang bersenjata kipas di pinggang.

   "Tapi gadis ini benar-benar istimewa. Tidakkah kau mengenalinya bahwa dia berasal dari perkampungan si Jayeng Rono?"

   "Benarkah, Kakang Tunggul Wetu?!"

   Sambut laki-laki bersenjata kapak yang dipanggil Janang Uwung dengan sikap girang.

   "Kuyakin gadis ini cucunya!"

   Tandas laki-laki bernama Tunggul Wetu.

   "Ah, sungguh kebetulan! Enaknya akan kita apakan bocah manis ini?"

   Leceh Janang Uwung.

   "Apalagi? Adakah sesuatu yang lebih menyakitkan bagi si Jayeng Rono ketimbang membunuh cucunya ini?"

   Sahut Tunggul Wetu, seenaknya.

   "Aku mengerti! Ya, apalagi yang harus dilakukan antara laki-laki dan perempuan?! He he he...!"

   Sri Dewi terkesiap mendengar ocehan kedua orang bertopeng itu.

   Dan tak terasa jantungnya berdegup kencang.

   Sebagai gadis yang beranjak dewasa, dia mengerti apa yang tengah bercokol di kepala dua orang bertopeng itu.

   Dan tanpa terasa tangannya mulai memegang gagang pedang di pinggang.

   "He he he...! Kau hendak melawan, Cah Ayu? Bagus! Ketika di perkampungan kakekmu, kau cukup hebat. Tapi bukan berarti aku tidak mampu meringkusmu!"

   Seru Tunggui Wetu sambil tertawa mengejek.

   "Kakang, tidak usah repot-repot! Biar kuringkus dia untukmu!"

   Sahut Janang Uwung. Baru saja berkata begitu, secepat kilat Janang Uwung melangkah menghampiri dan siap menerkam Sri Dewi.

   "Hati-hati, Janang! Salah-salah kau akan dipecundangi bocah itu!"

   Teriak Tunggul Wetu memperingatkan.

   "Ha ha ha...! Kau meremehkan aku, Kakang? Apa hebatnya keturunan si Jayeng? Kalau dulu dia boleh menepuk dada, tapi sekarang?! Huh! Bila dia ada di sini, akan kuremukkan kepalanya!"

   Desis Janang Uwung. Sring! Mendengar kakeknya diremehkan begitu, mendadak semangat Sri Dewi pelan kembali merasuk dan membesar. Maka seketika pedangnya dicabut Pada saat yang sama Janang Uwung telah melompat, dengan kedua tangan terjulur ke depan.

   "Keparat busuk, mampuslah kau!"

   Bentak Sri Dewi seraya mengibaskan pedang.

   Ayunan pedang Sri Dewi bertenaga kuat, dan rasanya sulit bagi Janang Uwung untuk menghindar.

   Apalagi dalam keadaan mengapung di udara.

   Seolah-olah, Janang Uwung memberikan dadanya untuk ditembus pedang.

   Sementara gadis itu lupa bahwa lawannya bukanlah tokoh sembarangan.

   Buktinya Janang Uwung yang tidak berusaha menghindar cepat menggerakkan kedua telapak tangannya.

   Tap! Saat itu juga, pedang Sri Dewi terjepit ketat pada kedua telapak tangan Janang Uwung.

   Sri Dewi terkejut Pedangnya tidak bisa maju, tertahan oleh kedua telapak tangan Janang Uwung.

   Ini membuktikan bahwa tenaga dalam laki-laki ini sangat tinggi.

   Gadis itu segera mengerahkan tenaga dalamnya.

   Namun, tetap juga tidak menunjukkan hasil.

   Dahinya mulai bercucuran keringat.

   Wajahnya berkerut geram ketika mulai menarik pedangnya.

   Tapi pedangnya tidak bergeser seujung rambut pun! "Keparat!"

   Dengus Sri Dewi, seraya mengayunkan sebelah kakinya.

   Janang Uwung cepat menaikkan sebelah kaki, sehingga tendangan gadis itu hanya menghantam ke lutut.

   Plak! Dan tiba-tiba secepat kilat Janang Uwung melepaskan tendangan ke perut.

   Desss...! "Aaakh...!"

   Tak ampun lagi, Sri Dewi terpental ke belakang beberapa langkah.

   Pedangnya kini bertukar tempat di tangan Janang Uwung.

   Namun sebagai orang yang telah terdidik ilmu silat, hantaman begitu tidak langsung membuatnya kecut dan jeri.

   Gadis itu cepat menggulung tubuhnya ke belakang, menjauh.

   Lalu dia melompat, bermaksud tegak berdiri.

   Dan baru saja mengatur keseimbangan, mendadak Janang Uwung telah berkelebat dengan kedua tangan bergerak cepat.

   Dan....

   Tuk! Tuk! "Uhhh...!"

   Gadis itu kontan terduduk lemas begitu dua totokan Janang Uwung mendarat di dadanya. Tubuhnya seperti tidak bertenaga, tulang-belulangnya bagai dilolosi saja. Matanya hanya bisa menatap laki-laki itu dengan tajam.

   "Keparat busuk! Jangan main gila kau! Aku masih mampu menghadapi sampai ribuan jurus. Lepaskan totokanmu!"

   Bentak Sri Dewi garang.

   "He he he...! Cah Ayu.... Tentu saja aku percaya. Tapi untuk apa bersusah-payah meladenimu kalau ternyata dengan jalan mudah aku bisa meringkusmu?"

   Ejek Janang Uwung.

   "Kau memang hebat, Janang Uwung! Luar bisa. Kemajuanmu sungguh pesat sekali!"

   Puji Tunggul Wetu, sambil menghampiri Sri Dewi.

   "He he he...! Kakang bisa saja. Tapi saat ini bukan pujian yang kita harapkan. Tapi ini...,"

   Sahut Janang Uwung, seraya menunjuk ke bagian bawah perutnya.

   "He he he...! Kau memang pintar sekali. Tapi kita tidak bisa di sini. Jangan-jangan yang lain muncul dan minta bagian,"

   Tukas Tunggul Wetu.

   "Aku tahu tempat yang aman, Kang! Di sebelah sana ada pondok kosong. Kita bisa leluasa!"

   Sambar Janang Uwung.

   "Tunggu apa lagi? Ayolah cepat!"

   Desak Tunggul Wetu. Maka dengan serta-merta Janang Uwung langsung menyambar tubuh Sri Dewi. Tubuhnya langsung berkelebat, membopong Sri Dewi. Sedang Tunggul Wetu mengikuti dari belakang. *** Bret! "Aouw...!"

   Janang Uwung agaknya tidak tahan lagi sekadar membayangkan apa yang ada di balik baju Sri Dewi.

   Maka dengan sekali sambar baju gadis itu langsung robek lebar.

   Seketika dua buah bukit berkulit putih mulus yang menjadi salah satu kebanggaan kaum wanita terlihat jelas di depan mata Janang Uwung.

   "Ck ck ck...! Sempurna dan bagus sekali. Tidak sangka turunan si Jayeng Rono bisa menciptakan bidadari sepertimu, Anak Manis!"

   Puji Janang Uwung yang kali ini telah membuka topengnya.

   Tampak wajahnya yang seram, memperlihatkan seringai penuh nafsu dengan air liur hampir menetes.

   Mata laki-laki yang ternyata telah berusia lanjut itu melotot penuh nafsu.

   Tubuhnya gemetar menahan hasrat kelelakiannya tanpa mempedulikan teriakan serta makian gadis itu.

   Seolah-olah telinganya tertutup oleh pemandangan indah di depan mata.

   Dan tidak terasa tubuhnya mulai panas dingin.

   Nyaris saja sebelah tangan Janang Uwung bergulir ke dada gadis itu, kalau saja Tunggul Wetu tidak menangkapnya.

   "Kau sudah berjanji menangkapnya untukku! Maka aku yang berhak lebih dulu mencicipinya,"

   Sergah Tunggul Wetu. Janang Uwung terpaksa menelan ludah. Namun, tubuhnya tidak beranjak dari duduknya.

   "Tapi, Kakang...."

   "Tidak ada tapi-tapian!"

   Tukas Tunggul Wetu.

   "Nah, tunggulah di luar. Tidak lama. Dan setelah itu, kau akan menikmatinya sepuas hati!"

   Janang Uwung terpaksa mematuhinya.

   Kelihatannya, dia bukan takut.

   Tapi, menghormati.

   Sebab, Tunggul Wetu telah dianggapnya sebagai saudara tuanya.

   Sepeninggal Janang Uwung, Tunggul Wetu yang juga telah melepas topengnya mengunci pintu dari dalam, lalu duduk di sisi pembaringan.

   Mata laki-laki yang juga sudah berusia lanjut ini melotot tajam.

   Wajahnya menyeringai buas seperti harimau hendak menerkam kelinci.

   Dia sudah tidak peduli pada Sri Dewi yang hanya mampu menangis pasrah, karena sudah tak ada gunanya lagi berteriak.

   Sri Dewi hanya menggigil ketakutan.

   Wajahnya semakin pucat ketika hela napas orang bertopeng ini terasa menyapu wajahnya.

   Semangatnya terbang sejak tadi.

   Yang ada hanya sikap pasrah.

   Pada saat itu, ketika Tunggul Wetu hendak mencopot pakaiannya, mendadak pundaknya dicekal dari belakang.

   Cepat laki-laki tua ini menoleh dan hendak mendamprat Namun....

   Des! "Aaakh...!" *** Pendekar Rajawali Sakti Notizen von Pendekar Rajawali Sakti info  173.

   Teror Topeng Merah Bag.

   5 -8 (Selesai) 22 fEvrier 2015, 06.57 Tunggul Wetu sama sekali tidak menyangka akan mendapat hajaran telak pada perutnya begitu berbalik.

   Keruan saja, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang disertai jerit kesakitan.

   Dia segera bangkit, dan melihat satu tubuh telah berdiri dengan sikap tenang.

   "Kurang ajar! Manusia tidak tahu diri. Berani betul kau mencampuri urusanku!"


Pendekar Rajawali Sakti Darah Dan Asmara Tangan Berbisa Karya Khu Lung/Tjan Id Pendekar Rajawali Sakti Dendam Anak Pengemis

Cari Blog Ini