Ceritasilat Novel Online

Bangkitnya Pandan Wangi 1


Pendekar Rajawali Sakti Bangkitnya Pandan Wangi Bagian 1


"Aaauuu.. !"

   Terdengar lolongan panjang anjing hutan yang mendirikan bulu kuduk.

   Di malam yang pekat itu angin bertiup cukup kencang.

   Awan hitam bergulung-gulung menutupi cahaya bulan udara begitu dingin membekukan tulang.

   Namun keadaan alam yang nampak tidak ramah itu tak menghalangi seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah putih panjang untuk berjalan tertatih-tatih Sebatang tongkat kayu hitam yang berkeluk-keluk, tergenggam erat membantu langkahnya.

   Sesekali ditengadahkan kepalanya ke atas, memandang gumpalan awan yang semakin hitam menebal.

   Desahan napas-nya begitu panjang dan berat Namun kakinya terus terayun setengah terseret, menapaki tanah berumput.

   "Hhh..., mudah-mudahan belum terlambat,"

   Terdengar desahan pelan setengah bergumam.

   Laki-laki yang usianya kelihatan telah mencapai seratus tahun itu terus berjalan tertatih-tatih menembus kegelapan malam.

   Dia baru berhenti melangkah setelah tiba di sebuah puncak bukit yang tidak begitu tinggi.

   Pandangan matanya lurus ke arah suatu tempat yang terdapat cahaya-cahaya lampu berpendar, seakan ingin mengalahkan kegelapan.

   Hm..., apakah itu Karang Setra...?"

   Laki-laki tua itu menggumam bertanya pada dirinya sendiri.

   "Aaauuu...!"

   Kembali terdengar lolongan anjing hutan yang panjang dan menyayat hati.

   Laki-laki tua itu kembali menengadahkan kepalanya.

   Kakinya kembali melangkah pelahan-lahan, lalu kepalanya tertunduk memperhatikan ujung-ujung kakinya yang bergerak terseret Sebentar kemudian kepalanya mcnoleh ke kanan dan ke kiri.

   Kedua matanya yang cekung tampak tajam menatap sekelilingnya, tanpa sedikit pun berkedip.

   "Aku yakin, di sinilah tempatnya Hhh...! Mimpi itu jelas sekali. Aku yakin itu bukan sekedar mimpi. Aku hhh.... Begitu jelas. Oh, Dewata Yang Agung..., mudah-mudahan aku belum terlambat,"

   Desisnya lirih.

   Laki-laki tua berjubah putih panjang dan hampir menyentuh tanah itu, kembali berhenti melangkah.

   Tatapan matanya lurus pada satu tempat di bawah pohon besar dan rindang.

   Tampak sebuah gundukan tanah yang dikelilingi bcberapa batu.

   Pelahan-lahan laki-laki tua itu melangkah men-dekati, kemudian berhenti dan berdiri tegak di samping gundukan tanah itu Terdengar tarik.

   napasnya yang panjang dan berat.

   Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.

   Tatapan matanya tajam beredar ke sekeliling.

   "Benar! Di sini tempatnya. Aku yakin, itu bukan hanya sekedar mimpi. Hhh..., mudah mudahan masih bisa kuselamatkan,"

   Desah laki-laki tua renta itu.

   Pelahan-lahan dia menjulurkan ujung tongkatnya ke atas gundukan tanah itu, lalu ditekan hingga masuk hampir setengahnya.

   Pelahan kemudian, ditariknya kembali tongkat itu.

   Terdengar lagi tarikan.

   napas panjang, namun kali ini bemada kelegaan pada hembusan napasnya.

   Sinar matanya tidak lagi redup.

   Raut wajah-nya pun nampak bersinar dan bibimya menyungging-kan senyum Laki-laki tua itu membuka jubahnya, dan melemparkan begitu saja.

   Kini dia hanya memakai baju ketat warna biru tua.

   Di punggungnya tampak sebuah alat berbentuk sekop yang terikat Laki-laki tua renta itu membuka tali yang mengikat sekop, dan langsung menggali gundukan tanah Dari caranya menggali, sudah dapat dipastikan kalau laki-laki tua itu bukanlah orang sembarangan.

   Tenaganya begitu kuat.

   dan gerakannya cepat luar biasa.

   Dia terus menggali meskipun titik-titik air hujan mulai jatuh merinal Samuanya tidak dipedulikan, sampai seluruh tubuhnya hampir tenggelam dalam lubang yang digalinya.

   Sebentar masih terlihat tanah terlempar ke luar, kemudian tidak terlihat lagi sesuatu yang terlempar dari dalam lubang itu.

   Bahkan dari dalam lubang itu melesat bayangan yang langsung mendarat di tepi lubang.

   Tampak laki-laki tua itu sudah berdiri tegak memondong sesosok tubuh yang kotor oleh tanah merah berair.

   Sukar untuk dikenali tubuh dalam pondongan itu.

   Sebentar laki-laki berusia lanjut itu memandang ke dalam lubang, kemudian membungkuk memungut jubahnya.

   "Kau belum mati dan akan hidup kembali, Cucu ku,"

   Kata laki-laki tua itu pelan, namun terdengar mantap suaranya.

   Sesaat kemudian, tiba-tiba saja laki-laki tua renta itu me lesat cepat.

   Begitu cepatnya, tahu-tahu sudah menghilang ditelan kegelapan malam yang sangat pekat.

   Tepat pada saat itu di angkasa, kilat menyambar terang.

   Hujan pun turun dengan derasnya, bagai di-tumpahkan dari langit Sementara itu pada saat yang sama, di sebuah kamar penginapan di luar Kota Kerajaan Karang Setra, seorang pemuda nampak gelisah dalam tidurnya.

   Wajahnya yang tampan dan rambutnya yang panjang terurai, nampak seperti kusut.

   Keringat membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.

   Dan tiba-tiba saja....

   "Tidak..!"

   Pemuda itu menjerit keras, dan langsung terbangun duduk.

   Napas pemuda itu terengah engah.

   Wajahnya terlihat pucat pasi.

   Untuk beberapa saat dia hanya terduduk dan pandangannya kosong Tangannya menyeka keringat yang membanjiri wajah, kemudian meraih sebilah pedang yang tergeletak di sampingnya.

   Digeser tubuhnya, lalu duduk menjuntai di tepi pembaringan.

   Angin malam yang dingin menerobos masuk dari jendela yang terbuka lebar.

   Pemuda itu bangkit berdiri dan me langkah ke jendela, kemudian berdiri mematung sambil memandang ke luar.

   Langit tampak hitam, dan hujan turun bagai ditumpahkan dari langit Begitu derasnya, sehingga menimbulkan suara bergemuruh.

   Kilat menyambar angkasa, membuat alam jadi terang untuk sesaat "Hhh...! Aku bermimpi...,"

   Keluh pemuda itu pelan.

   Angin malam yang dingin membawa tumpahan hujan, membuat tubuh pemuda itu menggigil sedikit Ditutupnya jendela kamar sewaan.

   Seleret cahaya kilat kembali menyambar angkasa.

   Pemuda itu tidak jadi menurup jendela.

   Pandangannya lurus menatap ke arah bukit yang melatarbelakangi Kerajaan Karang Setra.

   Bukit yang nampak hitam dan terlihat angker.

   Lama juga pemuda Itu menatap ke arah bukit itu.

   Setelah menarik napas panjang, kemudian ditutupnya jendela kamar sewaannya Dia berbalik dan melangkah kembali mendekatl pvmbarlngan, lalu duduk di s itu.

   "Hampir tiga purnama aku tidak menginjakkan kaki lagi di sini. Hhh Entahlah, kenapa aku kembali lagi ke s ini? M impi itu ."

   Pemuda itu bergumam sendiri.

   Beberapa kali ditariknya napas panjang dan dihembuskannya kuat-kuat Dia masih duduk tennanung sambil memandang kosong ke depan.

   Keringat kembali menitik membasahi wajahnya.

   Dengan punggung tangan kiri, diseka keringat itu, lalu kembali ditarik napas panjang, seakan-akan ingin dilonggarkan dadanya.

   Bisa dirasakan kalau detak jantungnya demikian cepat Bahkan perasaan-nya jadi tidak menentu.

   Pemuda itu sendiri tidak tahu, kenapa beberapa hari ini jadi gelisah seperti ini? Sehingga, tanpa disadari dirinya berada kembali di Kerajaan Karang Setra.

   Karang Setra adalah satu tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan.

   Baik kenangan manis maupun pahit Tempat yang tidak akan pemah dilupa kan selama hidupnya.

   Di s ini dia dilahirkan, di s ini pula leluhumya terdahulu lahir dan meninggal.

   Pemuda itu kembali bangkit berdiri dan berjalan mendekati meja yang terletak di samping pintu.

   Diambilnya kendi dan diteguknya air bening dalam kendi itu.

   "Hhh..., aku tak pemah percaya dengan mimpi. Tapi m impi ini.... Sudah beberapa hari selalu datang, dan selalu sama! Apakah..., ah tidak!"

   Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berbalik dan kembali menuju ke pembaringannya.

   Dia duduk kembali di tepi pembaringan itu, dan merebahkan tubuhnya.

   Tapi pedang di punggungnya membuatnya tidak nyaman.

   Dilepaskan pedangnya, dan diletakkan di sampingnya.

   Tapi tangan kirinya masih memegangi gagang pedang berkepala burung llu Glarrr...! Guruh menggelegar kencang, membuat pemuda itu terlonjak bangkit berdiri.

   Seketika cahaya kilat memendar di angkasa, membuat kamar yang hanya diterangi sebuah pelita kecil itu sesaat jadi terang benderang.

   Dan pada saat itu, mata pemuda itu menangkap adanya kelebatan bayangan di depan jendela.

   Bergegas dia melompat ke jendela, dan langsung membukanya lebar-lebar.

   Tapi bayangan itu sudah tidak terlihat lagi.

   Hanya angin dingin dan curahan hujan saja yang menyambutnya.

   Sebentar diedarkan pandangannya ke sekeliling.

   Namun hanya kegelapan saja yang terlihat.

   Tidak ada lagi bayangan berkelebat yang dilihatnya sekejap tadi.

   Cras! Kembali seleret cahaya kilat menyambar langit, disusul suara guruh memekakkan telinga.

   Pada saat itu, mata pemuda itu tertumbuk pada sosok tubuh yang berdiri di bawah pohon yang cukup besar dan berdaun rimbun.

   Pohon itu terletak di seberang jalan, dan jaraknya cukup jauh dari rumah penginapan ini.

   Tapi sosok tubuh Itu terlihat hanya sekejap saja.

   Begitu kilat kembali menyambar, sosok tubuh itu sudah tidak terlihat lagi Pemuda itu jadi tertegun, lalu berdiri mematung di dipan jendelanya.

   Perasaannya yang halus, langsung menangkap kalau dirinya tengah diawasi seseorang.

   Tidak jelas , siapa dan apa maksud-nya orang itu mengawasi.

   Pagi begitu cerah.

   Langit bening tanpa awan sedikit pun menggantung di angkasa.

   Matahari bersinar penuh menghangati seluruh Kerajaan Karang Setra yang semalaman terguyur hujan lebat.

   Meskipun tanah berlumpur, namun seluruh penduduk Karang Setra tetap melakukan tugasnya masing-masing.

   Pagi ini kehidupan kembali berjalan sete lah semalaman bagaikan mati.

   Dari dalam sebuah kamar penginapan, keluar seorang pemuda berwajah tampan.

   Rambutnya panjang meriap terikat kain berwarna putih, sewarna dengan bajunya yang tanpa lengan.

   Bagian dada dan perutnya terbuka lebar, menampakkan bentuk otot yang kuat dan tegap.

   Pemuda itu melangkah ringan, keluar dari rumah penginapan menuju halaman.

   Ayunan kakinya seperti terlihat pelahan, tapi kecepatannya melebihi orang berlari Tidak ada seorang pun yang memperhatikan.

   Mereka terialu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

   Tapi, rupanya ada seorang yang selalu memperhatikan dari balik tudung tikar yang besar, sehingga menutupi sebagian wajahnya.

   "Aku harus segera sampai ke sana. Perasaanku semakin tidak enak. Aku yakin, mimpi-mimpi itu bukan sekedar mimpi biasa. Jelas itu merupakan petunjuk yang membawaku kembali ke sini,"

   Pemuda itu bergumam dalam hati.

   Langsung dikerahkan ilmu lari cepat begitu berada di luar pemukiman penduduk Ilmu meringankan tubuhnya memang Hungguh luar biasa, sehingga lari-nya bagaikan terbang saja.

   Sepasang kakinya seperti tidak menapak tanah, sukar untuk diikuti mata biasa.

   Begitu cepatnya bettari, sehingga yang nampak hanya sebuah bayangan putih berkelebatan cepat di antara pepohonan.

   "Oh, tidak...!"

   Pekik pemuda itu begitu sampai di suatu tempat, pemuda itu mendadak menghentikan larinya.

   Kedua bola matanya membeliak lebar dan mulut-nya menganga.

   Wajahnya tampak kosong.

   Langkah-nya pelahan-lahan mendekati sebuah lubang yang cukup besar dan dalam.

   Di sekitar lubang itu terdapat tanah basah merah yang sepertinya habis digali.

   Batu-batuan yang mengelilingi lubang itu masih terlihat "Oh...,"

   Pemuda itu mengeluh lirih, langsung jatuh berlutut di tepi lubang itu Tampak bahunya berguncang, tapi tidak terdengar sedikit pun suara dari bibimya yang bergeter.

   Kepala nya menggeleng-geleng beberapa kali.

   Tangannya memukul-mukul tanah, tapi tidak juga terdengar suara dari bibirnya yang bergetar semakin hebat.

   "Bajingan keparat "

   Tiba tiba saja dia berteriak keras.

   Sesaat kemudian.

   tubuhnya jatuh bersujud di tepi lubang itu.

   Jari-jari tangannya mencakar-cakar tanah di sekitar lubang itu.

   Sama sekali tidak disadari kalau ada seseorang yang menghampiri pelahan-lahan dari belakang.

   Orang bertudung lebar dan berbaju merah menyala itu berhenti melangkah setelah jaraknya cukup dekat dengan pemuda itu "Kakang...,"

   Terdengar suara lembut Pelahan guncangan pada bahunya mulai mereda, kemudian terhenti sama sekai Pelahan-lahan pula kepalanya bergerak terangkat, lalu menoleh ke belakang.

   Dan begitu me lihat ada seseorang di belakangnya, tubuhnya langsung melompat dan berdiri.

   "Siapa kau?"

   Bentak pemuda itu kasar. Nampak kedua bola matanya merah dan merembang berkaca kaca. Wajahnya juga menegang bagai menyimpan sesuatu yang hampir tidak tertahankan.

   "Kakang Rangga...,"

   Lembut sekali suara orang, bertudung besar itu.

   "Kau tidak lagi mengenali suaraku, Kakang?"

   Pemuda itu tertegun sesaat Dipandangi orang bertudung dan berbaju merah menyala itu.

   Sebilah pedang panjang tergantung di pinggangnya.

   Dari kulit tangan dan kakinya, dapat diketahui kalau orang itu adalah wanita.

   Apalagi juga terlihat tonjolan indah pada dadanya.

   Dan suaranya begitu lembut, namun terdengar agak tertahan.

   "Mayang. ,"

   Detis pemuda itu tidak percaya.

   "Aku senang kau masih ingat suaraku, Kakang,"

   Ucap wanita itu seraya membuka tudungnya.

   Pemuda itu menggeser kakinya ke samping beberapa tindak.

   Hampir tidak dipercaya apa yang dilihatnya kini.

   Di balik tudung tikar yang besar, tersembunyi seraut wajah cantik.

   Namun, matanya terlihat sendu bagai tidak memiliki gairah hidup lagi Wanita itu melemparkan tudungnya begitu saja "Aku Mayang, Kakang Rangga,"

   Ujar wanita itu menyebutkan namanya.

   "Kau tidak lupa denganku, kan? Aku Mayang...."

   "Tidak! Aku tidak akan pemah melupakan manusia yang paling kubenci di dunia ini!"

   Ketus jawaban pemuda yang memang tidak lain adalah Rangga, atau yang terkenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti Wanita yang ternyata bernama Mayang itu menangis terisak.

   Tapi cepat-cepat dihapus air matanya.

   Sebentar ditarik napasnya dalam-dalam, seakan menghendaki adanya kekuatan dalam dirinya.

   Tatapan matanya tetap sendu tanpa gairah kehidupan sedikit pun.

   "Hampir tiga purnama aku selalu mencarimu, Kakang. Meskipun aku tidak jauh meninggalkan Karang Setra. Aku yakin, suatu saat kau pasti akan kembali. begitu lama kau kurindukan, untuk menyesali semua kesalahanku. Kakang..., aku tidak kuat menerima hukumanmu ini. Maafkan aku, Kakang. Maafkan aku...,"

   Agak tersendat suara Mayang diselingi isaknya yang tertahan. Dia memang selalu berusaha untuk tidak menangis.

   "Aku tahu siapa kau. Mayang. Aku memang tidak percaya kau bisa selicik itu tapi semua sudah terjadi. Keinginanmu sudah tercapai Pandan Wangi sudah mati, dan sekarang kuburnya ada yang membongkar! Kau puas sekarang, Mayang"

   Dingin kata-kata Rangga.

   "Maafkan aku, kakang,"

   Mayang tidak bisa lagi membendung tangisnya yang meledak seketika itu juga.

   "Untuk apa menangis, Air matamu tidak akan dapat mengembalikan Pandan Wangi!"

   Dengus Rangga ketus.

   Mayang menyusut air matanya dengan punggung tangan kiri.

   Sekuat tenaga berusaha untuk tidak menangis, namun isaknya masih juga terdengar tertahan.

   Kini jelas sudah, tidak ada gunanya merengek dan menangis di depan Pendekar Rajawali Sakti ini.

   Pemuda yang begitu dicintai sudah terlanjur membencinya setengah mati.

   Dan itu akibat cemburu buta pada Pandan Wangi, sehingga gadis itu tewas di tangan seorang buronan yang paling berbahaya di Karang Setra (Baca; Serial Pendekar Rajawali Sakti, dalam kisah.

   "Darah Pendekar"). Rangga berbalik dan melangkah cepat mening-galkan tempat itu. Digunakannya ilmu meringankan tubuh, sehingga dalam waktu sebentar saja sudah begitu jauh meninggalkan tempat itu.

   "Kakang...!"

   Teriak Mayang keras. Gadis itu langsung berlari mengejar.

   "Maafkan aku, Kakang...! Maafkan aku...! Aku mencintaimu, Kakang. Sungguh...!"

   Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu tetap saja melangkah, bahkan kini berlari cepat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf sempurna.

   Dia benar-benar benci terhadap gadis itu.

   T erlebih lagi setelah menyaksikan kuburan Pandan Wangi terbongkar.

   Sia-sia saja bagi Mayang untuk mengejamya.

   Ilmu yang dimilikinya masih kalah jauh dibanding Pendekar Rajawali Sakti.

   Gadis itu berhenti mengejar dan jatuh berlutut di rerumputan yang basah.

   "Oh, Kakang... Sampai kapan pun kau tetap akan kucari. Aku mencintaimu, Kakang. Aku mencintaimu...,"

   Rintih Mayang seraya terisak.

   0odwo0 Suasana di Istana Karang Setra tidak seperti biasanya.

   Meskipun Rangga yang merupakan raja di tempat itu telah kembali dari pengembaraannya, tapi tidak mampu mengusir kemendungan yang menyelimuti seluruh Karang Setra.

   Sudah tiga hari ini Pendekar Rajawali Sakti barada di istananya kembali.

   Dan selama itu selalu duduk termenung di dalam kaputren.

   Seluruh pembesar.

   panglima, patih, maupun punggawa dan prajurit di kerajaan itu sudah mengetahui permasalahan yang membuat raja mereka selalu murung dan menyendiri Memang sudah jadi kelaziman bila rajanya diliputi kedukaan, maka seluruh rakyat ikut merasakan pula.

   Terlebih lagi bila mereka semua mencintai rajanya.

   Kemurungan dan wajah mendung bukan saja tersirat di lingkungan istana, bahkan sudah menyebar ke seluruh pelosok Kerajaan Karang Setra.

   Pagi itu sepasukan prajurit yang dipimpin langsung Panglima W irasaba memasuki pintu gerbang istana.

   Panglima itu bergegas melompat turun dari punggung kudanya, dan berlari-lari memasuki istana yang megah.

   Tapi belum saja memasuki balariung, langkahnya sudah dicegat Danupaksi, adik tiri Rangga selain Cempaka.

   "Salam sejahtera, Gusti Danupaksi,"

   Panglima Wirasaba memberi sembah.

   "Bagaimana, Paman Panglima? Sudah dapat petunjuk?"

   Tanya Danupaksi langsung.

   "Belum, Gusti. Tapi hamba sudah menyebar puluhan telik sandi dan ratusan prajurit. Mereka hamba perintahkan untuk pencarian tidak terbatas, Gusti,"

   Sahut Panglima Wirasaba Belum lagi Danupaksi melanjutkan pertanyaan-nya, muncul Cempaka dari dalam ruangan Balai Sema Agung.

   Gadis itu langsung menghampiri dan berdiri di samping kakak tirinya itu Panglima Wirasaba memberikan sembah dengan merapatkan tangan di depan dada dan tubuh sedikit membungkuk "Kakang, Kakang Prabu tidak menyentuh makanannya sedikit pun,"

   Kata Cempaka sendu.

   "Hhh..., sudah dua hari ini Kakang Prabu tidak makan,"

   Desah Danupaksi.

   "Aku khawatir, Kakang,"

   Cempaka mengemuka-kan kecemasannya.

   "Kita semua khawatir, Cempaka Kakang Prabu tidak akan kembali seperti semula kalau masalah ini belum terselesaikan Yaaah..., bisa kurasakan apa yang dirasakannya sekarang. Memang tidak mudah menerima kenyataan seperti ini. Dan semua ini kesalahanku! Seharusnya kutempatkan beberapa prajurit untuk menjaga pusara Pandan Wangi,"

   Ujar Danupaksi lirih.

   "Gusti...,"

   Selak Panglima Wirasaba.

   "Ada apa, Panglima,"

   Danupaksi menatap laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu.

   "Dari seorang telik sandi, hamba mendapat laporan bahwa Gusti Ayu Mayang terlihat di sekitar Kadipaten Majalayu. Bahkan kadang-kadang juga terlihat di Desa Pegaringan, dan di Bukit Karungan itu, Gusti,"

   Lapor Panglima Wirasaba.

   "Mayang...?!"

   Cempaka menatap Panglima Wirasaba dalam-dalam.

   "Benar, Gusti Ayu."

   "Bukankah Mayang tidak lagi diperkenankan berada di wilayah Karang Setra ?"

   Cempaka seperti bertanya pada dirinya sendin "Benar, Gusti Ayu tapi dari beberapa penduduk yang melihat, kehadiran Gusti Ayu Mayang bersamaan waktunya dengan kepulangan Gusti Prabu Rangga,"

   Ujar Panglima Wirasaba lagi Cempaka menatap kakak tirinya. Sedangkan yang ditatap hanya diam dengan pandangan menerawang jauh.

   "Di mana dia sekarang'' tanya Danupaksi setelah lama berpikir.

   "Menurut laporan terakhir, sekarang ini berada di perbatasan Utara, Gusti,"

   Jawab Panglima Wirasaba. 'Paman Panglima! Siapkan kuda untukku, dan beberapa prajurit pilihan,"

   Perintah Danupaksi.

   "Hamba, Gusti."

   Panglima W irasaba memberi hormat, lalu bergegas melangkah pergi.

   Danupaksi berbalik, tapi langkahnya terhalang Cempaka.

   Dan belum lagi gadis itu membuka mulut, dari dalam ruangan Ba lai Sema Agung muncul Rangga.

   Kedua kakak beradik tiri itu langsung berbalik dan memberi hormat.

   Rangga berdiri tegak disertai pandangan mata kosong.

   'Telah kudengar semua pembicaraan kalian,"

   Kata Rangga datar.

   "Ampun, Kakang Prabu,"

   Sembah Danupaksi.

   "Untuk apa menemui Mayang, Danupaksi?"

   Tanya Rangga.

   "Hanya mencari keterangan, Kakang,"

   Sahut Danupaksi.

   "Kuhargai usaha kalian. Tapi, Ini persoalan pribadiku. Kalian tidak perlu bersusah-payah mengirim telik sandi dan ratusan prajurit,"

   Tegas Rangga, tetap datar suaranya.

   Danupaksi menatap Cempaka, kemudian memberi sembah.

   Rangga mengayunkan kakinya keluar dari ruangan depan istana ini, lalu berhenti setelah berada di ujung tangga masuk istana.

   Danupaksi dan cempaka mengikuti.

   Beberapa prajurit membungkuk memberi hormat "Danupaksi, siapkan kudaku,"

   Perintah Rangga.

   "Kakang...,"

   Danupaksi tampak kebingungan.

   "Kau belum tuli, bukan?!"

   "Ampun, Kakang Prabu. Hamba segera laksana-kan."

   Danupaksi bergegas melangkah menghampiri seorang prajurit.

   Dia berkata sebentar, dan prajurit itu berlari-lari pergi.

   Danupaksi kembali lagi mendekati kakak tirinya itu.

   Cempaka masih berada di samping Pendekar Rajawali Sakti itu, yang juga raja di Karang Setra ini.

   Tidak berapa lama, prajurit yang diperintah Danupaksi datang membawa seekor kuda hitam.

   Pada waktu yang bersamaan, Panglima Wirasaba juga datang menuntun kuda yang diminta Danupaksi.

   Panglima dan prajurit itu membungkuk dengan kedua telapak tangan merapat di depan dada.

   Rangga langsung melompat ke punggung kuda hitam yang bernama Dewa bayu, dan yang tidak akan pemah berpisah darinya.

   Kuda itu dapat mengetahui, di mana majikannya berada, meskipun terpisah cukup auh.

   Dan Rangga juga cukup bersiul untuk memanggil kudanya kalau tengah mengembara.

   "Kakang, aku ikut!"

   Ceru Cempaka langsung melompat ke punggung kuda yang dibawa Panglima W irasaba.

   Padahal kuda Itu semula untuk Danupaksi.

   Rangga tidak menjawab, dan segera menggebah kudanya dengan cepat Kuda dewa Bayu meringkik keras, lalu berlari kencang menuju ke pintu gerbang.

   Cempaka langsung menggebah kudanya menyusul, sedangkan Danupaksi hanya terbengong.

   Dua ekor kuda menerobos pintu gerbang yang dibuka tergesa-gesa oleh dua orang prajurit penjaga.

   Sebentar saja kedua kuda itu sudah lenyap dari pandangan.

   Rangga terus memacu kudanya dengan cepat; menuju Bukit Karungan.

   Bukit yang tidak terlalu tinggi dan mudah untuk didaki.

   Pendekar Rajawali Sakti itu baru menghentikan lari kudanya setelah sampai pada suatu tempat, yang terdapat sebuah lubang besar dan dalam.

   Rangga melompat turun dan melangkah mendekati lubang itu.

   Dia berdiri tegak sambil memandang ke dalam lubang.

   Terlihat sebuah sekop di dalam sana.

   Cempaka yang mengikuti, juga bergegas turun dan menghampiri.

   Dia berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Gadis itu tidak sanggup melihat ke dalam liang lahat.

   Dipalingkan mukanya, dan berjalan mundur beberapa langkah.

   "Kakang..."

   Pelan suara Cempaka memanggil.

   "Hhh...."

   Rangga menarik napas sambil membalikkan tubuhnya, lalu berjalan menghampiri Cempaka.

   Sebentar Rangga menatap gadis itu, dan kembali berjalan mendekati kudanya.

   Cempaka buru-buru mengejar, dan menahan Rangga yang akan naik ke punggung kuda hitam itu.

   Dipegangi tali kekang Kuda Dewa Bayu dekat mulutnya.

   Rangga tidak jadi naik, tapi malah menatap tajam pada gadis itu.

   "Kembalilah, Cempaka. Ini bukan urusanmu,"

   Kata Rangga tegas.

   "Tidak, Kakang. Bagaimanapun juga aku ikut bersalah atas kejadian ini. Semua ini karena kelalaianku, Kakang Danupaksi, dan semuanya. Kalau saja aku atau Kakang Danupaksi menempatkan beberapa prajurit di sini, pasti pusara Kak Pandan Wangi tidak demikian jadinya,"

   Tegas Cempaka.

   "Cempaka...."

   "Meskipun Kakang melarang ikut, tapi aku tetap akan mencari siapa pencuri mayat Kak Pandan!"

   Sentak Cempaka cepat memotong. Rangga menarik napas panjang dan dalam. Dia naik ke punggung kudanya sambil terus menatap Cempaka yang masih berdiri memegangi tali kekang Kuda Dewa Bayu pada mulutnya.

   "Naiklah ke kudamu, Cempaka,"

   Kata Rangga mendesah.

   Cempaka tampak gembira, dan bergegas melompat ke atas punggung kudanya Dan kedua orang itu kembali berpacu cepat.

   Tapi baru saja mereka pergi, tiba-tiba Rangga menghentikan lari kudanya, lalu berbalik menghampiri bekas makam itu.

   Cempaka jadi keheranan, dan hanya mengikuti dari belakang.

   Rangga kembali turun dari punggung kudanya, kemudian meneliti sekitar liang bekas pusara Pandan Wangi itu.

   Cempaka yang masih berada di punggung kudanya segera mengambil tali kekang Kuda Dewa Bayu yang ditinggal begitu saja oleh Rangga.

   Diikutinya langkah Rangga yang berjalan perlahan-lahan dengan kepala tertunduk menekuri tanah.

   Pelahan-lahan namun pasti, Pendekar Rajawali Sakti itu berjalan ke satu arah, dan baru berhenti setelah di depannya menghadang segerumbul semak belukar.

   Raja Karang Setra itu jongkok, dan tangannya menyibak semak itu.

   Perlahan dia berdiri dan menghampiri kudanya yang dituntun Cempaka.

   Rangga melompat naik, lalu menggebah kudanya agar berjalan pelahan menerobos.

   Semak itu.

   Sedangkan Cempaka mengikutinya dari belakang.

   "Ada apa, Kakang?"

   Tanya Cempaka masih terheran-heran tidak mengerti.

   "Banyak jejak kaki di sekitar sini,"

   Sahut Rangga.

   "Mungkin itu jejak kaki para prajurit, Kakang,"

   Duga Cempaka.

   Rangga menatap gadis itu seraya menghentikan langkah kaki kudanya.

   Entah kenapa, pikirannya tidak sampai di situ.

   Sudah hampir empat hari kuburan itu terbongkar, dan yang pasti jejak pencuri mayat Pandan Wangi sudah lenyap.

   Sedangkan dua malam berturut-turut di sekitar tempat itu selalu diguyur hujan.

   Mustahil masih terlihat jejak kaki.

   Dan yang sekarang, memang begitu banyak.

   Bukan hanya tapak kaki manusia, tapi juga kaki-kaki kuda.

   "Kakang, mengapa tidak kita telusuri saja asal-usul Pandan Wangi...?"

   Ragu-ragu Cempaka memberikan usul.

   "Jagat Dewa Batara. .!"

   Rangga tersentak menepuk keningnya sendiri.

   Sungguh dirasakan pikirannya selama ini tertutup.

   Usul Cempaka seperti menggubah dirinya dari bayang-bayang mimpi yang panjang dan melelahkan.

   Sampai meninggalnya Pandan Wangi, Rangga memang belum tahu persis asal-usul gadis itu.

   Memang sedikit diketahui, tapi itu pun kurang jelas.

   Masih terlalu sukar untuk dipahami.

   Dan selama itu Rangga memang tidak pernah berminat untuk mengetahuinya.

   Hatinya sudah tertutup oleh cinta yang membara di dadanya.

   "Kau benar, Cempaka,"

   Ujar Rangga.

   "Ayo, kita ke Banyu Biru!"

   "Banyu Biru...?"

   Tanya Cempaka tidak mengerti.

   Tapi gadis itu tidak bisa lagi bertanya.

   Rangga sudah cepat menggebah kudanya.

   Buru-buru Cempaka menghentakkan tali kekang kudanya agar berpacu cepat menyusul Kuda Dewa Bayu.

   Tapi meskipun udah digebah agar lebih cepat, tetap saja kudanya tertinggal.

   Bahkan jaraknya semakin bertambah jauh saja.

   Kuda Dewa Bayu berpacu bagaikan terbang di atas tanah.

   "Kakang, tunggu. !"

   Teriak Cempaka keras, seraya menghentakkan tali kekang kudanya.

   Teriakan Cempaka yang begitu keras, membuat Rangga langsung menghentakkan lari kudanya.

   Tampak Cempaka tertinggal cukup jauh di belakang.

   Gadis itu menggebah kudanya, dan baru berhenti sete lah sampai di samping Pendekar Rajawali Sakti.

   'Terlalu kau, Kakang!' dengus Cempaka agak terengah.

   "Maaf,"

   Ucap Rangga pelahan.

   "Bisa mati kudaku kalau begini!"

   Cempaka memberengut "Ayolah! Lebih cepat sampai, lebih baik."

   "Iya, tapi jangan sepetii orang kesetanan begitu. Mana ada yang bisa mengejar Dewa Bayu!"

   Cempaka masih memberengut.

   "Baik, sekarang aku yang mengikutimu,"

   Ujar Rangga mengalah.

   Mereka kembali memacu kudanya kencang.

   Dan Rangga memang mengendalikan lari kudanya agar tetap berada di samping kuda Cempaka.

   )odwo( Cukup jauh perjalanan yang harus ditempuh Rangga bersama Cempaka.

   Dari Karang Setra ke Desa Banyu Biru, memerlukan waktu lima hari perjalanan berkuda.

   Itu pun kalau tidak mengalami hambatan di jalan.

   Desa Banyu.

   Biru bukan termasuk wilayah Kerajaan Karang Setra, dan terletak jauh di daerah Utara.

   Saat itu suasana di Desa Banyu Biru nampak tenang dan tentram.

   Desa yang tedetak di sepanjang Sungai Banyu Biru itu semakin terlihat ramai saja.

   Banyak perahu pedagang bersandar di dermaga.

   Dan sebagian besar, penduduk Desa Banyu Biru mengandalkan hidup dari hasil sungai.

   Sehingga tidak heran jika setiap hari selalu saja dikunjungi pendatang.

   D antara orang orang yang turun dari sebuah perahu besar, terlihat seorang gadis berbaju merah menyala, Gadis itu berjalan tenang menyusuri dermaga.

   Tidak ada seorang pun yang memperhatikan, meskipun pakaiannya tampak menyolok dengan sebilah pedang tergantung di pinggang.

   Selembar tudung besar terbuat dari anyaman daun pandan, bertengger di punggungnya.

   Rambutnya yang panjang terkepang menyamping di dada kanan.

   Gadis itu melangkah tenang menuju sebuah kedai yang tampak ramai dikunjungi pendatang.

   Seorang laki-laki tua pemilik kedai menyambutnya terbungkuk-bungkuk, dan mempersilakan gadis itu duduk di bangku dekat pintu.

   Hanya sedikit gadis itu bicara, maka nampak pemilik kedai itu terangguk-angguk dan meninggalkannya.

   Tidak lama berselang dia kembali lagi membawa baki berisi seguci arak dan beberapa makanan.

   Laki-laki pemilik kedai itu kembali meninggalkannya, dan kini sudah sibuk lagi melayani tamu-tamu lainnya.

   Gadis itu menuangkan arak dari guci ke gelas bambu, lalu meneguknya hingga tandas.

   "Agaknya terlalu keras minumanmu, Cah Ayu...."

   Terdengar suara berat dan besar dari arah samping kanan gadis berbaju merah menyala itu.

   Dan gadis itu hanya melirik saja tampak di situ seorang laki-laki bertubuh besar dengan cambang menghiasi wajahnya.

   Sebilah golok besar terselip, di pinggangnya.

   Di sampingnya duduk seorang lagi yang juga berwajah kasar, serta lehernya terkalung seulas cambuk hitam.

   'Tampaknya dia menyukaimu, Kakang Waringin,"

   Celetuk yang seorang lagi seraya mengedipkan sebelah matanya pada gadis Itu "He he he.... Cah Ayu itu memang cocok untuk-ku, Adik Watung,"

   Sambut laki laki itu terkekeh.

   "Hhh! Becokok pasar mau jual lagak!"

   Dengus gadis berbaju merah itu tidak mempedulikan.

   "Heh...!"

   Waringin tersentak, langsung menggerinjang berdiri.

   Gumaman gadis itu seperti seekor kala yang menyengat pantatnya.

   Wajahnya merah padam, dan bibirnya bergerak-gerak.

   Matanya mendelik lebar menatap gadis itu.

   Sedangkan yang seorang lagi tetap duduk meskipun wajahnya juga memerah.

   "Kakang Waringin, kenapa tidak kita undang saja untuk minum bersama satu meja,"

   Ucap Watung kalem.

   "Usul yang bagus, Adik Watung."

   Waringin mengayunkan kakinya mendekati gadis berbaju merah itu, dan berdiri tegak di depan meja.

   Sedangkan gadis itu telihat tenang menenggak araknya.

   Sedikit pun tidak dipedulikan kehadiran orang yang bernama Waringin itu.

   Sementara orang-orang yang berada di dalam kedai itu mulai muak melihat tingkah laki-laki kekar bercambang bawuk itu.

   Bahkan beberapa di antaranya sudah meninggalkan kedai.

   "Nisanak, pindahlah ke tempatku. Kita minum sama-sama,"

   Kata Waringin. 'Terima kasih, aku sudah selesai,"

   Sahut gadis itu seraya bangkit berdiri.

   Gadis itu me letakkan beberapa keping uang untuk membayar makanan dan minumannya.

   Tanpa mempedulikan Waringin, dia berbalik dan melangkah pergi.

   Waringin menggeram gusar, langsung mengambil guci arak yang masih tersisa setengah.

   "Arakmu tertinggal, Nisanak! Nih...!"

   Waringin melemparkan guci arak itu disertai pengerahan tenaga dalam.

   Guci itu meluncur deras ke arah si gadis.

   Tapi cepat sekali gadis itu berbalik, dan menangkap guci arak itu.

   Sambil tersenyum manis, diteguknya arak di dalam guci itu sampai habis, kemudian diseka mulutnya dengan punggung tangan.

   "Nih! Kukembalikan, tikus!"

   Wut! Gadis itu melemparkan guci ke arah Waringin.

   Lemparannya begitu kuat dan meluncur deras sekali.

   Waringin tersentak sesaat, lalu dengan cepat ditangkapnya guci itu.

   Tapi tanpa diduga sama sekali, tubuhnya terpental dan terbawa dorongan keras guci arak itu.

   Waringin menggerung keras.

   Sebuah meja hancur berantakan terlanda tubuhnya yang besar.

   "Perempuan setan!"

   Geram Waringin seraya bangkit berdiri Slap! Waringin melemparkan kembali guci di tangannya.

   Kali ini lemparannya disertai pengerahan tenaga dalam penuh.

   Guci itu kini melayang deras.

   Tetapi, gadis itu hanya mengibaskan tangannya saja menyampok guci itu.

   Akibatnya benda itu melesat dan mendarat tepat di depan meja Watung, dan membuatnya tersentak kaget.

   Laki-laki itu kontan melompat berdiri.

   "Huh! Tikus-tikus macam kalian memang selalu merusak suasana!"

   Dengus si Gadis dingin.

   "Kurobek mulutmu, perempuan keparat!"

   Geram Waringin gusar.

   Secepat kilat laki-laki yang bernama Waringin itu melompat sambil mencabut goloknya yang besar.

   Golok itu dikibaskan ke arah leher, tapi hanya sedikit saja gadis itu mengegoskan kepalanya.

   Sabetan golok Waringin ternyata hanya menyambar angin kosong.

   Dan belum lagi Waringin bisa menarik pulang golok-nya, tahu-tahu gadis itu sudah mengibaskan tangan kanannya.

   Bug! "Hughk!"

   Waringin mengeluh pendek.

   Kibasan tangan itu tepat menghantam perut Waringin, dan membuatnya terbungkuk.

   Dan kembali gadis itu menghantamkan satu pukulan keras ke arah wajah, sehingga Waringin terpekik tertahan.

   Wajah laki-laki itu terdongak ke atas.

   Tiba-tiba tubuhnya langsung mencelat ke belakang begitu satu tendangan telak menghantam dadanya.

   Kembali satu meja hancur terlanda tubuh besar itu "Setan keparat! Hiyaaa...!"

   Watung jadi geram bukan main melihat kakaknya terbanting setelah mendapat hajaran beberapa kali.

   Adik dari Waringin ini langsung me lompat dan mencabut cambuk yang melilit lehernya.

   Cambuk itu dikebutkan bebeiapa kali ke arah gadis berbaju merah itu.

   Tapi gadis itu lincah sekali berlompatan menghindarinya.

   Bahkan pada satu saat, berhasil menangkap ujung cambuk itu Langsung dibetotnya cambuk itu disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.

   "Ugh!"

   Watung berusaha, menahan betotan itu.

   Tapi, sentakan tenaga dalam gadis itu rupanya lebih kuat, sehingga Watung tidak kuasa menahan lagi.

   Tubuhnya tertarik deras.

   Kesempatan baik ini dimanfaatkan gadis itu untuk melayangkan satu tendangan keras menggeledek, tepat menghantam dada Watung.

   "Akh...!"

   Watung memekik keras.

   Belum lagi tubuh laki-laki itu mencelat ke belakang, kembali gadis itu menghantamkan pukulannya ke arah wajahnya.

   Watung menjerit melengking.

   Tubuhnya pun terlempar jauh, ambruk menindih tubuh kakaknya yang sudah tidak bergerak-gerak lagi.

   Hanya sebentar Watung mampu merintih dan menggelinjang, sesaat kemudian diam tak bergerak-gerak lagi.

   "Huh!"

   Gadis itu mendengus.

   Dengan Iangkah tenang gadis itu keluar dari kedai.

   Beberapa orang yang masih berada di dalam kedai hanya memandangi saja, tidak berani mencegah.

   Mereka baru merubungi Waringin dan Watung yang menggeletak bertindihan tanpa gerakan lagi.

   Salah seorang memeriksa, lalu cepat-cepat berdiri.

   "Bagaimana"

   "Mati."

   "Hah...?!"

   Walaupun malam sudah menyelimuti persada, namun seluruh kegiatan di Desa Banyu Biru belum juga berhenti.

   Lampu besar dan kecil menerangi sekitar desa di tepian sungai itu Namun tidak demikian halnya dengan sebuah rumah yang terletak agak terpencil letaknya dari rumah-rumah lainnya.

   Rumah itu tampak agak gelap.

   Hanya sebuah lampu pelita kecil saja yang meredup di bagian belakang rumah itu.

   Tampak seorang laki-laki tua berjubah putih panjang, duduk bersila di sebuah altar batu putih yang licin dan berkilat Di depannya terdapat sebuah kolam yang berisi air berasap menggolak mendidih.

   Air yang putih keruh bagai susu, juga ditabur bermacam-macam bunga dan daun daunan.

   Laki-laki tua yang berambut dan berjenggot putih itu duduk bersila.

   Kedua tangannya merapat di depan dada.

   Dan matanya setengah terpejam, namun meng-arah lurus ke kolam di depannya.

   T idak ada lagi penerangan, kecuali pelita kecil yang tergantung pada palang kayu melintang di atas kolam itu.

   "Bangkitlah, Cucuku. Sudah tiga hari kau berada di situ. Bangkitlah...,"

   Desah laki-laki tua itu lirih. Air di dalam kolam itu terus bergolak mendidih diiringi suara-suara letupan kecil. Golakan di dalam "Bangkitlah, Cucuku. Sudah tiga hari kau berada li situ. Bangkitlah...,"

   Desah laki-laki tua itu.

   Bibimya komat-kamit terus.

   Dan matanya terpejam rapat.

   Lalu tubuh perempuan itu pun mengambang naik dan terus naik, hingga berada di atas kolam.

   Kolam itu nampak semakin terasa kuat, dan mulai terdengar gemuruh.

   Asap di permukaannya menebal.

   Laki-laki tua itu menggerak-gerakkan tangannya, lalu menjulur ke depan dengan jari-jari terbuka lebar.

   Bibimya bergerak-gerak komat-kamit.

   Dan matanya sebentar terpejam.

   Tubuhnya mulai bergetar, disertai keringatnya yang bercucuran.

   "Bangkitlah, Cucuku Sudah waktunya bangun. Terlalu lama kau tertidur dalam penderitaan. Bangkitlah, Cucuku...,"

   Desis laki laki tua itu seraya mengatup-kan kembali tangannya di depan dada.

   Pelahan-lahan air di dalam kolam berhenti bergolak, dan sebentar kemudian menjadi tenang.

   Air yang semula keruh itu berubah bening bagai kaca.

   Asap pun tidak lagi mengepul, lenyap terbawa angin malam.

   Tampak di dalam kolam, terbaring sesosok tubuh ramping yang hanya terbungkus selembar kain putih bersih Tubuh itu mengambang naik ke atas permukaan air, lalu terus naik hingga berada di atas kolam.

   Laki-laki tua itu melompat turun dari batu putih yang didudukinya.

   Disangga dan dipondongnya tubuh ramping itu.

   Kakinya terayun melangkah mendekati sebuah pembaringan kayu beralaskan anyaman daun pandan.

   Dibaringkan tubuh ramping itu, lalu ditutupi dengan selembar kain putih.

   Sebentar kemudian dilepaskan kain yang basah itu.

   "Hm..,"

   Laki-laki tua itu bergumam pelahan.

   Laki-laki tua yang berusia sekitar seratus tahun itu duduk bersila di samping tubuh yang tetap terbaring dan matanya tetap terpejam.

   Dirapatkan tangannya di depan dada, lalu pelahan mata laki-laki tua itu terpejam.

   Mulutnya bergerak-gerak komat-kamit.

   Tidak lama kemudian kelopak matanya kembali terbuka.

   Dengan gerakan cepat, jari-jari tangannya menjalar ke seluruh tubuh yang terbaring itu.

   Dan terakhir ditotok-nya bagian dada tubuh yang terbaring itu, tepat pada jantungnya.

   "Hhh...!"

   Satu tarikan napas panjang terdengar.

   Laki-laki tua itu tetap duduk bersila, tapi kini telapak tangannya bertumpu pada lutut.

   Tampak matanya tidak berkedip memandang tubuh yang masih terbaring pucat.

   Tidak ada gerakan sedikit pun, sepertinya tubuh itu sudah mati.

   Namun sesaat kemudian, wajah pucat itu mulai berubah memerah.

   Bahkan kini dada-nya bergerak gerak pelahan.

   Laki-laki tua itu tersenyum disertai desahan napas panjang.

   "Kau hidup lagi, Cucuku. oh , puji syukur pada-Mu Dewata Yang Agung"

   Desah laki-laki tua itu seraya mendongak.

   )odwo( Derit daun pintu terdengar saat terkuak pelahan.

   Muncul seorang laki-laki tua berjubah putih yang kini berdiri di ambang pintu.

   Laki laki itu tersenyum melihat di pembaringan tergolek seorang wanita cantik tertutup selembar kain putih.

   Wanita itu menoleh, lalu juga tersenyum, meskipun pandangan matanya masih terlihat sayu.

   Laki-laki tua itu menutup pintu kembali.

   Kakinya melangkah mendekati pembaringan, lalu duduk di tepinya.

   Di tangannya tergenggam sebuah gelas bambu yang beruap.

   Diangkamya kepala wanita itu untuk diminumkan ramuan di dalam gelas.

   "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

   Tanya laki-laki tua itu lembut seraya membaringkan kembali kepala wanita itu.

   "Mulai membaik, tapi...,"

   Lemah sekali suara gadis itu.

   "Apa yang kau rasakan?"

   "Bahu dan dadaku terasa sakit sekali."

   "Itu karena bekas luka. Yah, terlalu dalam luka itu. Tapi untung saja tak sampai menembus jantung."

   Gadis itu terdiam Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang dipenuhi sarang laba-laba. Perlahan kepalanya herpaling, menatap laki-laki tua yang kini sudah bersila di sampingnya.

   "Boleh aku...."

   Tanya gadis itu terputus.

   "Jamus. Panggil saja aku Eyang Jamus,"

   Ucap laki-laki tua itu menyebutkan namanya.

   "Apa yang akan kau tanyakan?" 'Tentang diriku,"

   Masih lemah suara gadis itu.

   "Hhh...!"

   Eyang Jamus menarik napas panjang.

   Pandangannya begitu dalam merayapi wajah cantik yang terbaring di depannya.

   Sedangkan gadis itu hanya diam.

   Dari sorot matanya yang redup dan sayu, terlihat ada sesuatu yang sukar ditebak.

   Bibirnya masih tampak pucat, dan sedikit terbuka.

   Dicobanya untuk bergerak, tapi bibirnya langsung meringis merasakan sakit pada dadanya.

   "Siapa namamu, Anak Manis?"

   Tanya Eyang Jamus.

   "Aku...? Aku.., aku tidak tahu,"

   Sahut gadis itu itu kebingungan.

   "Sudah kuduga! Kau pasti tidak akan dapat mengingat lagi perihal dirimu. Bahkan apa yang terjadi padamu juga tidak"

   Mungkin dapat diketahui lagi. Yaaah..., terlalu lama kau terkubur di alam kematian semu,"

   Desah Eyang Jamus .

   "Kematian semu...? Apa maksud Eyang?"

   Tanya gadis itu tidak mengerti "Beberapa hari yang lain aku selalu dihantui mimpi yang selalu berulang dan sama persis. Aku melihatmu berada dalam ruangan gelap penuh lumpur sambil merintih dan meminta tolong padaku,"

   Eyang Jamus mulai menceritakan kejadian.....

   Gadis itu memperhatikan dengan seksama.

   Dicobanya untuk bisa mencerna dan mengingat apa yang lerjadi pada dirinya, sehingga sekarang terbaring di rumah kecil yang hanya ada satu kamar ini.

   Tapi pikirannya benar-benar kosong dia seperti seorang bayi yang baru lahir kembali.

   Tak satu pun yang dapat diingatnya.

   "Semula kuanggap itu hanya mimpi biasa. Tapi karena setiap malam mimpi itu selalu datang, akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya kepadamu. Saat itu kau hanya menyebutkan satu tempat, dan untungnya aku tahu tempat yang kau sebutkan itu. Maka bergegas aku ke sana, dan menemukan kuburanmu,"

   Lanjut Eyang Jamus.

   "Kuburanku...?!"

   Gadis itu semakin tidak mengerti.

   "Benar! Kau sudah terkubur hampir tiga purnama. Ketika kucoba memeriksa, aku benar-benar terkejut. Ternyata kau masih hidup! Itulah sebabnya mengapa kubongkar kuburanmu dan sekarang berada di rumah ku ini. Aku tidak tahu, seandainya sudah lewat tiga pumama mungkin kau benar benar mati."

   "Jadi..., apakah aku ini memang sudah mati, Eyang?"

   Tanya gadis Itu.

   "Semua orang memang akan menyangka begitu. Itu sebabnya kau dikubur. Tapi sebenarnya jiwamu masih tersimpan dalam ragamu. Kau hanya mati semu, Cucuku,"

   Eyang Jamus berusaha menjelaskan.

   "Aku.... Aku tidak mengerti maksudmu, Eyang."

   "Memang sukar untuk dimengerti. Kau sendiri juga tidak mungkin mengetahui masa-masa hidupmu. Kau adalah sosok manusia langka yang sukar dicari pada masa sekarang ini. Sebenarnya aku sendiri hampir tidak percaya kalau di zaman sekarang ini masih ada orang yang bisa mati semu, sebelum mati sesungguh-nya."

   "Eyang, bisa kau jelaskan siapa aku ini?"

   Pinta gadis itu.

   "Sulit! Sebab, belum kutemukan jawaban mengapa kau bisa mati semu dalam jangka waktu yang lama. Biasanya orang yang mati semu, paling lama mampu bertahan tiga sampai tujuh hari. Tapi, kau hampir tiga purnama masih juga belum mati sesungguhnya."

   "Kalau begitu, berilah nama padaku, Eyang. Mungkin aku bisa membantumu,"

   Pinta gadis itu.

   "Nama apa yang kau inginkan?"

   "Aku tidak tahu."

   Eyang Jamus terdiam beberapa saat.

   Rupanya juga kesulitan mencari nama untuk gadis yang tidak tahu apa-apa ini.

   Gadis yang seperti baru saja dilahirkan ke dunia ini.

   Eyang Jamus beranjak bangkit dari pembaringan, dan melangkah menghampiri sebuah lemari kecil lantas membukanya, Dari dalam lemari itu dikeluarkan seperangkat pakaian biru dan sebilah pedang, kemudian dibawanya pada gadis yang masih terbaring lemah.

   "Benda-benda ini kutemukan bersamamu di dalam kubur,"

   Kata eyang Jamus "Semua ini m ilikku. eyang '' tanya gadis itu.

   "Benar. Semua milikmu Kau tidak mengenali-nya?"

   Gadis itu menggeleng perlahan "Aku kenal pedang ini! dulu pernah diperebutkan tokoh-tokoh rimba persilatan.

   Waktu itu aku tidak ingin ikut campur, dan bersikap masa bodoh.

   Sudah puluhan tahun kutinggalkan dunia persilatan, dan tidak ingin mengotori tanganku lagi dengan darah dan kekerasan.

   Namun demikian tidak akan dapat kulupakan pedang ini,"

   Jelas Eyang Jamus.

   "Apakah pedang ini mempunyai nama, Eyang?"

   Tanya gadis itu.

   "Benar. Semua senjata pusaka selalu mempunyat nama yang sesuai dengan keampuhan dan kegunaannya."

   "Apa namanya?"

   "Pedang Naga Geni "

   "Pedang Naga Geni"

   "Biasanya, pedang ini tidak pemah terlepas dari kitabnya yang bernama Kitab Naga Sewu. Dalam kitab itu berisi jurus-jurus 'Naga Sewu', yang sukar dicari tandingannya bila seseorang benar-benar telah sempurna menguasainya Tapi sayangnya, tidak kutemukan kitab itu."

   "Aku tidak tahu, Eyang."

   "Aku bisa mengerti. Sekarang ini kau bagaikan bayi yang baru saja lahir. Masih putih, bersih, dan polos. Saat kau buka matamu untuk pertama kali, maka di situlah kau buka lembaran hidupmu yang baru. T idak ada lagi kehidupan masa lalumu."

   "Eyang..."

   "Hm.."

   "Boleh aku memakai nama...,"

   Ucapan gadis itu terputus.

   "Aku mengerti, Cucuku. Dan itu memang tengah kupikirkan. Untuk mengingatkan, kau pantas menyandang nama Putri Naga Sewu,"

   Potong Eyang Jamus.

   "Putri Naga Sewu...,"

   Gadis itu menggumamkan nama barunya. Bibimya tersenyum manis dan tola' matanya bersinar cerah.

   "Terima kasih, Eyang."

   "Ya. Sekarang, istirahatlah. Masih perlu tujuh hari kau berbaring. Dan selama itu aku akan mencoba memulihkan keadaan dirimu seperti sedia kala." 'Terima kasih, Eyang."

   "Hm...."

   Hari demi hari berlalu cepat.

   Tidak terasa, sudah cukup lama pula Eyang Jamus merawat gadis yang ditemukannya melalui jalan mimpi aneh, dan sudah terkubur selama hampir tiga purnama.

   Telah dua pekan gadis yang kini memakai nama Putri Naga Sewu itu tinggal di rumah kecil yang menyendiri di Desa Banyu Biru.

   Semakin hari, kesehatannya semakin membaik.

   Dan gadis itu kini sudah mulai menjalani latihan gerakan gerakan ilmu olah kanuragan di bawah bimbingan Eyang Jamus.

   "Cukup!"

   Seru Eyang Jamus keras.

   Putri Naga Sewu menghentikan gerakannya begitu mendengar seruan keras.

   Keringat bercucuran membasahi wajah dan lehernya yang jenjang.

   Langkahnya masih nampak segar menghampiri Eyang Jamus yang luduk bersila di beranda belakang rumahnya.

   Putri Naga Sewu duduk bersila di lanah, di hadapan laki-laki tua berjubah putih itu.

   "Semakin hari kemajuanmu semakin pesat, Naga Sewu. Aku tidak tahu, bagaimana caranya jurus-jurus Naga Sewu dapat kau kuasai begitu sempurna. Bahkan ada beberapa jurus yang sebelumnya pernah kulihat,"

   Jelas Eyang Jamus.

   "Jurus apa itu, Eyang?"

   Tanya Putri Naga Sewu.

   "Sini! Duduklah di sampingku."

   Putri Naga Sewu bangkit, dan kembali duduk di samping kanan Eyang Jamus.

   "Dari jurus-jurus 'Naga Sewu', terkadang kau selipkan beberapa jurus lain Dan sepertinya kukenali jurus itu. Tapi aku tidak yakin, Naga Sewu,"

   Kata Eyang Jamus. Putri Naga Sewu hanya dlam saja.

   "Entah, sudah berapa lama tidak pemah lagi kudengar nama dan kabar beritanya. Terakhir kudengar, ketika terjadi peristiwa di Bukit Setan. Jurus-jurus itu berasal dari jurus 'Kipas Maut' yang dimiliki oleh seorang gadis cucu sahabatku. Tapi gadis itu menghilang entah ke mana. Juga sahabatku, Kakek Tangan Seribu, tewas karena berusaha melindungi cucunya."

   "Siapa namanya?"

   Desak Putri Naga Sewu.

   "Pandan Wangi. Gadis nakal, keras kepala, dan pembuat onar. Tapi sangat manis, penurut, dan berilmu cukup tinggi. Waktu itu dikabarkan kalau Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni berada di tangannya. Tapi aku tidak percaya. Terlebih lagi, setelah. peristiwa di Bukit Setan. Ternyata kedua benda pusaka itu ada di tangan seorang pendekar muda yang sangat tinggi tingkat kepandaiannya."

   "Siapa nama pendekar itu?"

   Tanya Putri Naga Sewu.

   "Pendekar Rajawali Sakti. Nama sebenarnya Rangga. Dia seorang raja di Kerajaan Karang Setra, tempat kau terkubur di sana selama hampir tiga purnama. Tepatnya di sebelah T imur Karang Setra, di Bukit Karungan."

   "Rangga...,"

   Putri Naga Sewu mendesis.

   Sekilas dia teringat sesuatu.

   Tapi hanya sekilas, kemudian tidak tahu lagi.

   Putri Naga Sewu mencoba mengulangi lagi ingatan yang melintas sesaat itu, tapi tetap saja tidak mampu.

   Namun hatinya mendadak jadi bergetar aneh kala mendesiskan nama Rangga.

   Seperti ada sesuatu yang sukar diungkapkan.

   Dan Putri Naga Sewu sendiri tidak tahu, mengapa tiba tiba saja hatinya bergetar tatkala menyebut nama itu "Naga Sewu...."

   "Oh!"

   Putri Naga Sewu tergugah dari lamunannya.

   "Apa yang kau pikirkan?"

   Tanya Eyang Jamus. 'Tidak ada, Eyang,"

   Sahut Putri Naga Sewu.

   "Hm...,"

   Gumam Eyang Jamus tidak jelas.

   "Naga Sewu, ada yang ingin kukatakan padamu."

   "Katakan saja, Eyang Memang aku perlu penge-tahuan banyak sekali. barangkali saja bisa teringat salah satu dari pengalaman masa laluku. Bukankah itu Yang ingin Eyang ketahui?"

   Ujar Putri Naga Sewu cepat.

   "Beberapa hari ini perasaanku selalu dirisaukan oleh wajahmu,"

   Kata Eyang Jamus.

   "Wajahku...?! Ada apa dengan wajahku, Eyang?"

   "Entahlah, aku sendiri tidak yakin. Saat ini wajahmu sering kubandingkan dengan wajah Pandan Wangi. Ternyata kau begitu mirip dengan cucu sahabatku itu,"

   Ujar Eyang Jamus tidak yakin.

   "Benarkah itu?"

   "Ya! Meskipun sudah lama sekali tidak pemah lagi bertemu, tapi aku tak akan lupa pada wajah Pandan Wangi. Hhh..., sepertinya kau ini Pandan Wangi."

   "Apa tidak mungkin, aku ini Pandan Wangi?"

   Kata Putri Naga Sewu tiba tiba.

   Eyang Jamus agak terkesiap, sampai-sampai menatap tajam pada gadis itu.

   Dan Putri Naga Sewu juga seperti terkesima.

   Entah mengapa bisa telontar kata-kata yang demikian tandas dan lugas, seperti meluncur begitu saja tanpa dipikir lebih dahulu.

   Putri Naga Sewu jadi gelagapan dan menunduk.

   "Maaf, Eyang. Aku...,"

   Suara Putri Naga Sewu tersendat.

   "Tidak mengapa, Naga Sewu. Yah..., mungkin saja kau memang Pandan Wangi. Aku sungguh gembira kalau hal itu benar. Hanya saja perlu waktu yang tidak sedikit untuk mengetahui dirimu yang sebenarnya."

   "Aku akan berusaha, Eyang. Meskipun cukup se nang dengan nama sekarang, tapi harus juga kuketahui diriku yang sebenarnya. Bukankah begitu, Eyang?"

   "Benar, kau memang harus mencari keterangan tentang dirimu sesungguhnya, Naga Sewu."

   "Eyang bersedia membantuku?"

   "Tentu. Siapa pun kau sebenarnya, aku akan senang."

   "Terima kasih, Eyang."

   Matahari belum lagi penuh memancarkan sinar-nya.

   Tapi di suatu tempat yang cukup jauh dari Desa Banyu Biru, terlihat Putri Naga Sewu tengah melatih jurus-jurusnya.

   Sungguh tidak disadari kalau sepasang mata tengah mengawasinya sejak tadi.

   Sepasang mata ang terlindung dan tersembunyi, meskipun jaraknya tidak seberapa jauh.

   Trek! Terdengar sebatang ranting patah terinjak.

   Putri Naga Sewu kontan menghentikan latihannya.

   Ditatapnya tajam-tajam sumber suara tadi.

   Pelahan-lahan kakinya terayun, dan matanya tidak berkedip memandang ke arah semak belukar diantara dua pohon cemara.

   "Keluar kau! Hih"

   Bentak Putri Naga Sewu keras.

   Seketika itu juga dihentakkan tangan kanannya ke depan.

   Dan dari telapak tangannya tiba-tiba meluncur seleret cahaya merah, yang langsung menembus ke semak belukar dengan cepat Dan bersamaan terdengarnya ledakan, melesat satu bayangan merah dari dalam semak itu.

   Dan bayangan itu ternyata seorang gadis cantik berbaju merah dengan tudung besar.bertengger di kepalanya.

   "Siapa kau?! Kenapa mengintaiku?!"

   Bentak Putri Naga Sewu.

   Gadis berbaju merah itu tidak menjawab.

   Dibuka nya tudung itu, dan dilemparkan begitu saja ke samping.

   Tampaklah seraut wajah cantik, terlihat sendu.

   Gadis itu melangkah pelahan mendekati, dan baru berdiri sete lah berjarak sekitar lima Iangkah lagi di depan Putri Naga Sewu.

   "Pandan,... Aku tidak percaya kalau kau benar-benar Pandan Wangi,' gadis berbaju merah itu merayapi wajah Putri Naga Sewu.

   "He! Apa yang kau...?!"

   Putri Naga Sewu jadi kebingungan.

   Apalagi tatkala gadis berbaju merah itu malah me langkah mundur disertai gelengan kepala beberapa kali.

   Dan tiba-tiba saja dia berbalik, lalu berlari kencang.

   Putri Naga Sewu jadi tidak mengerti, tapi langsung me lompat mengejar.

   Hanya tiga kali lompatan saja, gadis itu sudah terhadang.

   "Tunggu!"

   Sentak Putri Naga Sewu. Gadis berbaju merah itu menghentikan larinya.

   "Biarkan aku pergi, Pandan Aku sudah cukup menderita, dan jangan kau tambah lagi penderitaan pada diriku. Atau, kau ingin membalas kematianmu? Silakan, Pandan. Aku tidak akan melawan jika kau ingin membunuhku,"

   Kata gadis berbaju merah itu.

   "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Siapa kau sebenarnya? Mengapa memanggilku Pandan?"

   Putri Naga Sewu nampak keheranan.

   "Kau lupa padaku, Pandan? Aku Mayang. Kau ingat?"

   Gadis berbaju merah itu juga jadi keheranan melihat sikap gadis di depannya yang wajahnya begitu mirip Pandan Wangi. Bahkan bentuk tubuh dan baju-nya juga begitu persis.

   "Aku tidak kenal denganmu. Hm..., mengapa kau memanggil diriku Pandan? Namaku Putri Naga Sewu. Bukan Pandan,"

   Kata Putri Naga Sewu.

   "Tidak mungkin! Kau pasti Pandan Wangi. Tapi.... tidak! Mustahil...!"

   Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirayapi seluruh tubuh Putri Naga Sewu dalam-dalam, seakan-akan ingin dipastikan penglihatannya.

   "Ada apa dengan diriku?"

   Tanya Putri Naga Sewu.

   "Tidak mungkin! Kau pasti bukan Pandan Wangi. Mustahil ada orang mati bisa hidup lagi. Tapi...,"

   Ber-nada ragu-ragu suara Mayang Kedua gadis itu saling bepandangan.

   Sinar mata nereka menyimpan rasa ke tidak pastian dan kebingungan.

   Yang satu tidak mengerti maksud kata-kata Mayang, sedangkan Mayang sendiri tidak yakin dengan yang dilihatnya.

   Sungguh tidak diyakini kalau vang berdiri di depannya ini adalah Pandan Wangi, padahal gadis itu telah tewas sekitar tiga bulan lalu (Baca.

   Serial Pendekar Rajawali Sakti, dalam kisah, Darah Pendekar").

   Lain halnya yang ada dalam benak Putri Naga Sewu.

   Kehadiran Mayang membuat dirinya begitu terasa lain.

   Seperginya ada sesuatu yang terjadi pada ingatan-nya, tapi masih samar-samar.

   Memang sukar dipercaya, Terlebih lagi sete lah mendengar kata-kata Mayang yang dirasakannya begitu aneh.

   Bahkan sama persis dengan yang dikatakan Eyang Jamus.

   Apakah benar dia sudah mati, dan kini hidup kembali? Memang sukar dipercaya, tapi memang itulah kenyataannya.

   Putri Naga Sewu memang tidak tahu dirinya yang sebenarnya.

   Bahkan nama dirinya hasil pemberian dari Eyang Jamus.

   Apakah benar dia Pandan Wangi seperti yang dikatakan Mayang, yang berarti sama dengan dugaan Eyang Jamus? Semua pertanyaan itu masih bergelayut di dalam pikiran Putri Naga Sewu.

   Terlalu sukar untuk mempercayai kalau dirinya telah mati tiga bulan yang lalu "Naga Sewu..! Naga Sewu...!"

   Putri Naga Sewu menoleh ketika namanya dipanggil.

   Mayang juga memalingkan wajahnya ke arah laki-laki tua yang berlari-lari kecil agak terseret.

   Jubah putihnya yang panjang, melambai-lambai ditiup angin.

   Sebatang tongkat membantunya untuk melangkah cepat menghampiri kedua gadis cantik yang saling berdiri berhadapan itu.

   "Siapa dia, Naga Sewu?"

   Tanya Eyang Jamus begitu tiba di samping Putri Naga Sewu.

   "Aku tidak tahu, Eyang. Dia menyebut namanya Mayang,"

   Sahut Putri Naga Sewu seraya melirik pada Mayang.

   "Benar! Namaku Mayang barangkali kau kakek gadis ini?"

   Serobot Mayang sedikit ramai "Benar. Namaku Eyang Jamus, kakek dari Putri Naga Sewu."

   Mayang memandangi Eyang Jamus dan Putri Naga Sewu bergantian. Pandangannya begitu dalam, dan banyak mengandung arti yang sukar ditebak. Eyang jamus agak berkerut keningnya melihat pandangan mata gadis itu.

   "Ada apa? Apakah ada yang aneh?"

   Tanya Eyang Jamus.

   "Tidak apa-apa. Sebaiknya aku pergi saja,"

   Kata Mayang seraya berbalik.

   Secepat kilat Mayang melompat, dan langsung berlari kencang sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh.

   Cepat sekali gerakannya, sehingga dalam waktu singkat tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.

   Eyang Jamus memandangi Putri Naga Sewu yang masih menatap ke arah perginya Mayang.

   Sepertinya ada sesuatu yang tengah dipikirkan gadis itu.

   "Ayo kita pulang, Naga Sewu,"

   Ajak Eyang Jamus.

   Putri Naga Sewu seperti tidak mendengar ajakan Eyang Jamus, dan terus saja menatap ke arah gadis itu pergi.

   Pandangannya kosong, serta wajahnya tidak menyiratkan perasaan apa pun.

   Sepertinya gadis itu hanya sesosok tubuh tanpa nyawa.

   Wajah itu terlihat pucat, meskipun masih ada sedikit tanda kemerahan pada belahan pipinya.

   "Naga Sewu...,"

   Eyang Jamus mencolek lengan gadis itu.

   "Oh!"

   Putri Naga Sewu tersentak kaget.

   "Sudah siang! Ayo pulang,"

   Ajak Eyang Jamus lagi.

   Putri Naga Sewu tidak menyahut Tapi dibalikkan juga tubuhnya, lalu dilangkahkan kakinya menuju rumah kecil yang tidak berapa jauh dari tempat ini.

   Sebentar Eyang Jamus memperhatikan, kemudian melangkah cepat.

   Disejajarkan langkahnya di samping gadis itu.

   Mereka berjalan tanpa berkata-kata lagi.

   "Apa yang kau pikirkan, Naga Sewu?"

   Tegur Eyang Jamus.

   "Ada Eyang,"

   Sahut Putri Naga Sewu mendesah.

   "Katakan, apa yang dipikirkan?"

   "Kata-kata Mayang, Eyang."

   "Apa yang dikatakannya padamu?"

   "Seperti yang kau katakan padaku, Eyang. Tentang diriku."

   Eyang Jamus termenung, lalu menghentikan langkahnya. Putri Naga Sewu juga berhenti berjalan. Diputar tubuhnya, sehingga menghadap pada laki-laki tua berjubah putih itu.

   "Pulanglah dulu, aku akan ke dermaga. Ada sesuatu yang harus kubeli,"

   Kata Eyang Jamus seraya menepuk pundak gadis itu.

   "Lama?"

   Tanya Putri Naga Sewu.

   "Mungkin sore nanti baru kembali."

   Putri Naga Sewu mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke bagian belakang rumah kecil yang menyendiri itu.

   Sementara Eyang Jamus masih berdiri mematung.

   Dibalikkan tubuhnya meng-hadap ke arah kepergian Mayang.

   Tiba tiba saja tubuhnya melesat bagai kilat.

   Begitu cepat lesatannya, sehingga dalam sekejap mata saja sudah tidak terlihat bayangannya.

   Sementara itu Putri Naga Sewu sudah sampai di dalam rumah kecil yang hanya memiliki satu ruangan saja.

   Sebentar dipandangi ruangan itu, dan langsung bertumpu pada sebilah pedang yang tergantung di dinding.

   Pedang Naga Geni yang menurut Eyang Jamus.

   adalah miliknya ketika dibangkitkan dari kubur.

   Putri Naga Sewu mengambil pedang itu.

   T api baru saja hendak mencabut, terdengar suara mengejutkan.

   Brak! "Hei...!"

   Putri Naga Sewu terlonjak kaget.

   Tiba-tiba saja pintu rumah itu jebol berantakan.

   Dan belum lagi hilang rasa terkejutnya, mendadak muncul seorang perempuan tua bersama dua orang laki-laki muda berwajah kasar.

   Perempuan tua itu melangkah sambil mengayun-ayunkan tongkatnya.

   Sedangkan kedua laki laki di belakangnya langsung menghunus golok besar agak melengkung.

   "Mana Eyang Jamus?!"

   Tanya perempuan tua ber-jubah merah itu kasar.

   "Tidak ada!"

   Sahut Putri Naga Sewu ketus. Dia memang tidak menyukai kehadiran tiga orang yang datang mendobrak pintu itu.

   "Siapa kau?!"

   Tanya perempuan tua itu, masih terdengar kasar suaranya.

   Belum sempat Putri Naga Sewu menjawab, salah seorang laki-laki yang berada di belakang perempuan berjubah merah itu membisikkan sesuatu.

   Perempuan tua itu mengangguk-angguk.

   Kedua bola matanya yang cekung, langsung bersinar melihat Putri Naga Sewu.

   T erlebih lagt saat melihat pedang di tangan gadis itu.

   "He he he..., pucuk dicinta ulam tiba. Tidak per-cuma jauh-jauh datang lagi ke sini. He he he...,"

   Perempuan tua itu tertawa terkekeh.

   Putri Naga Sewu langsung menyadari adanya gelagat tidak baik akan kehadiran perempuan tua bernama pengawalnya itu.

   Digeser kakinya mundur beberapa Iangkah.

   Dengan cepat, tubuhnya melenting ke atas, dan menjebol atap hingga melesat keluar.

   Begitu cepatnya tindakan Putri Naga Sewu, sehingga membuat perempuan tua berjubah merah itu terperanjat.

   "Kejar dia! Jangan sampai lolos!"

   Perintah perempuan tua itu.

   "Hiya...!"

   "Yeaaah...!"

   Dua orang laki-laki di belakang perempuan tua itu rentak berlompatan ke luar.

   Pada saat yang sama, Putri Naga Sewu baru saja menjejakkan kakinya di halaman depan rumah.

   Dan terpaksa dirinya melesat kembali karena dua orang laki-laki bersenjata golok itu langsung menyerang ke arah kakinya.

   "Hait..!"

   Putri Naga Sewu berjumpalitan di udara beberapa kali, lalu menukik seraya mencabut pedangnya yang tergenggam di tangan kiri.

   Secepat kilat dikibaskan pedangnya itu ke arah leher salah seorang penyerangnya.

   Tebasannya sangat cepat luar biasa dan tidak terduga sama sekali.

   Sepertinya sukar untuk dihindari lagL Cras! "Aaa...!"

   Laki-laki itu menjerit melengking.

   Tubuhnya limbung sebentar, kemudian ambruk menggelepar di tanah.

   Darah pun menyembur keluar dari leher yang terbabat hampir buntung.

   Sedang seseorang lagi nampak terkesiap, tapi segera bergegas menyerang ganas.

   Putri Naga Sewu menghindari tebasan golok yang begitu cepat mengurung dirinya.

   Beberapa kali dibenturkan pedangnya pada golok itu.

   Pedang yang berwarna merah bagai besi terbakar itu berkelebatan cepat, sehingga yang tampak hanya kilatan merah menyambar-nyambar.

   Trang! Trang! Dua kali terjadi benturan senjata.

   Dan bagaikan kilat, Putri Naga Sewu memutar pedangnya, langsung dibabatkan ke arah perut lawannya.

   Kibasan yang begitu cepat, tidak mampu mengelakkan lagi.

   Laki-laki berwajah kasar itu menjerit melengking tinggi.

   Tubuhnya terhuyung-huyung.

   Darah langsung merembes deras dari perutnya yang robek.

   Dan belum la mampu menyadari apa yang terjadi, Putri Naga Sewu sudah melompat seraya mengibaskan pedangnya ke samping.

   "Hiyaaat...!"

   "Aaakh...!"

   Orang itu menjerit keras.

   Hanya sebentar mampu berdiri tegak, kemudian laki-laki itu ambruk tidak bangkit bangkit lagi.

   Sesaat tubuhnya masih menggelepar meregang nyawa, kemudian diam tanpa nyawa lagi.

   Putri Naga Sewu berdiri tegak.

   Tatapan matanya tajam menusuk langsung pada perempuan tua berjubah merah yang baru keluar dari dalam rumah kecil dan terpencil itu.

   "Tidak kusangka kemajuanmu begitu pesat, Pandan Wangi,"

   Ucap perempuan tua berjubah merah itu.

   "Hm..., aku bukan Pandan Wangi! Aku Putri Naga sewu!"

   Ujar Putri Naga Sewu ketus.

   "Ha ha ha...! Kau bisa saja membodohi si tua bangka pencuri licik itu, bocah! Tapi jangan harap bisa menipu mata tuaku ini! Tidak ada seorang pun yang memiliki Pedang Naga Geni beserta jurus-jurus 'Naga Sewu' selain si bocah edan Pandan Wangi!"

   Putri Naga Sewu tertegun mendengar kata-kata perempuan tua itu.

   Pelahan dimasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya yang masih tergenggam di tangan kiri.

   Dia tetap berdiri tegak disertai tatapan matanya yang tajam menusuk.

   Sementara perempuan tua berjubah merah itu melangkah pelahan mendekati, dan baru berhenti setelah jaraknya tinggal beberapa batang tombak lagi.

   "Siapa kau? Mengapa mencari eyang Jamus?"

   Mya Putri Naga Sewu masih terdengar ketus nada suaranya.

   "He he he... Kau sudah lupa atau berlagak lupa, pandan Wangi?"

   Perempuan tua itu terkekeh tanpa menjawab.

   "Jawab saja pertanyaanku, Nenek Tua!"

   Dengus Putri Naga Sewu.

   "Hm.... Rupanya kau benar-benar sudah lupa, 'Pandan Wangi. Dengarkan baik-baik. Aku bernama Nyai Klenting. Datang ke sini, untuk meminta kembali Bunga Abadi yang dicuri Eyang Jamus dari saudaraku si Jari Malaikat. Saat ini dia membutuhkan bunga itu. Kau paham maksudku, Pandan Wangi?"

   Perempuan tua berjubah merah itu tetap saja memanggil! Putri Naga Sewu dengan nama Pandan Wangi.

   "Aku tidak tahu-menahu masalahmu dengan Eyang Jamus. Tapi jelas aku tidak terima kau sebut Eyang Jamus sebagai pencuri T idak ada Bunga Abadi di rumah ini!"

   Tegas Putri Naga Sewu.

   "Dan satu hal lagi. Aku bukan Pandan Wangi, tapi Putri Naga Sewu "Hm.... Kau bisa saja merubah nama, Pandan Wangi. Tapi wajahmu tidak akan bisa berubah. Apalagi pedang itu berada di tanganmu. Maka jelaslah kalau kau adalah Pandan Wangi. Hhh...! Sebaiknya serah kan saja Bunga Abadi itu padaku. Hm..., tapi aku juga memerlukan pedang itu dan Kitab Naga Sewu."

   "Bicaramu makin tidak karuan saja, Nyai Klenting Aku menghormatimu sebagai orang tua Tapi, kalaul kau tidak suka berlaku sopan, maaf saja kalau aku harus bertindak keras!"

   Ancam Putri Naga Sewu.

   "He he he. Kau mengancamku, bocah?"

   Nyai Klenting terkekeh meremehkan.

   "Jangan bangga dulu bisa menjatuhkan dua tikus busuk Mereka memang tidak berguna!"

   "Aku rasa kau juga tidak lebih busuk dari mereka "Bocah setan!"

   Geram Nyai K lenting memuncak amarahnya.

   "Rupanya kau tidak bisa lagi diajak bicara heh! Terimalah seranganku! Hiyaaat...!"

   Nyai Klenting tidak bisa lagi menahan amarahnya.

   langsung saja tubuhnya melompat sambil menusuk-kan tongkatnya yang berujung runcing.

   Putri Naga Sewu me lompat mundur.

   Namun Nyai Klenting menggenjot tubuhnya seraya memutar tongkatya cepat, dan ujungnya tetap mengancam tubuh gadis itu.

   T erpaksa Putri Naga Sewu mencabut pedangnya kembali.

   Trang! Trang! Dua kali senjata mereka beradu, dan masing-masing melompat mundur.

   Tapi sesaat kemudian sudah kembali bentrok sengit.

   Masing-masing berusaha untuk saling menjatuhkan.

   Pada saat pertarungan itu berlangsung, terlihat sebuah bayangan putih berkelebat cepat.

   Bayangan itu langsung meluruk ke dalam kanan pertarungan, dan tiba-tiba saja Nyai Klenting memekik keras.

   Tubuhnya terpental jauh ke belakang.

   "Eyang...,"

   Desah Putri Naga Sewu begitu melihat Eyang Jamus tahu-tahu sudah berdiri membelakanginya.

   "Mundurlah, Naga Sewu. Perempuan iblis ini bukan tandinganmu,"

   Tegas Eyang Jamus Saat itu Nyai Klenting sudah bisa bangkit berdiri.dari sudut bibirnya menetes darah segar, yang kemudian disekanya dengan punggung tangan.

   Tatapan matanya begitu tajam menusuk lurus ke bola mata Eyang lamus.

   Pelahan-lahan kakinya bergerak ke samping.

   Pongkat yang satu ujungnya berbentuk tengkorak kepala kerbau itu tersilang di depan dada, kemudian liputar pelahan-lahan.

   "Pergilah, sebelum aku berubah pikiran, Klenting!"

   Usir Eyang Jamus tegas.

   "Phuih! Kau pikir jauh-jauh aku datang hanya untuk kalah?! Tidak, Jamus. Aku tidak akan kembali tanpa Bunga Abadi itu!"

   Sahut Nyai Klenting dingin.

   "Bunga itu tidak ada lagi padaku. Sudah kupakai untuk menyembuhkan gadis ini,"

   Kata Eyang Jamus seraya membujuk Putri Naga Sewu.

   Nyai Klenting agak tertegun.

   T ongkatnya berhenti berputar seketika.

   Ditalapnya gadis yang kini berada di samping kanan Eyang Jamus.

   Tatapan matanya begitu dalam, seakan akan tidak percaya dengan pendengarannya.

   "Dia lebih membutuhkan daripada dirimu, Klenting. Nah, sekarang pergilah! Sia-sia saja kau datang ke sini,"

   Ujar Eyang Jamus lagi.

   "Huh! Kau pikir aku percaya omonganmu, Jamus, Aku tahu siapa dia. Dan aku juga punya urusan dengannya!"

   Agak keras nada suara Nyai Klenting. Eyang Jamus melirik Putri Naga Sewu di sampingnya.

   "Pandan! Serahkan Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni itu padaku! Cepat!"

   Bentak Nyai Klenting keras.

   "Perempuan edan! Sudah kukatakan kalau aku bukan Pandan Wangi! Namaku Putri Naga Sewu, hu!"

   Dengus Putri Naga Sewu berang. Tapi di balik keberangan itu, dia berpikir juga. Apakah dirinya benar-benar Pandan Wangi? Sudah dua orang yang menyangka dirinya adalah Pandan Wangi dalam satu hari ini.

   "Klenting! Kau datang untuk meminta Bunga Abadi padaku, tapi mengapa sekarang berubah? Sudah kukatakan, bunga itu tidak ada lagi! Sudah kupakai. Dan gadis inilah yang memakainya. Apa keteranganku kurang jelas?"

   Agak kesal juga nada suara Eyang Jamus.

   "He he he.... Sekarang tidak kupedulikan lagi Bunga Abadi itu, Jamus. Yang kuinginkan sekarang, pedang dan kitab itu!"

   Sahut Nyai Klenting.

   "Aku tidak peduli pada si Jari Malaikat yang kini sekarat!"

   "Kau benar-benar iblis, Klenting!"

   Desis Eyang Jamus.

   Laki-laki tua berjubah putih itu tahu, siapa si Jari Ma laikat Dia adalah saudara laki-laki Nyai Klenting.

   Dan Eyang Jamus juga tahu, mengapa si Jari Malaikat sekarang tengah sekarat.

   Itu semua karena kesalahannya sendiri yang mencoba merebut Bunga Abadi dari tangannya.

   Bunga Abadi itu hanya satu-satunya di dunia, dan berbunga hanya setiap seratus tahun sekali.

   Untuk mengambilnya juga tidak mudah.

   Pohonnya pun hanya satu.

   dan berada di atas Puncak Gunung Wijaya.

   Puncak gunung yang selalu tertutup kabut tebal dan tidak mudah didaki.

   Memang sejak Eyang Jamus berhasil memiliki Bunga Abadi itu, banyak tokoh rimba persilatan yang mencoba merampasnya.

   Salah satunya, si Jari Malaikat Bunga itu memang berguna untuk segala macam pengobatan.

   Salah satunya, untuk membangkitkan seseorang dari kematian semu, seperti yang dialami gadis yang kini memakai nama "Putri Naga Sewu".

   "Pergilah, Klenting. Aku tidak suka lagi mengotori tanganku dengan darah. Bunga itu sudah tidak ada lagi. Dan kalau ingin memilikinya, tunggu saja seratus tahun lagi,"

   Jelas Eyang Jamus, mulai lunak nada suaranya.

   "Baik, aku pergi sekarang. Tapi urusanku dengan Pandan Wangi belum selesai!"

   Tegas Nyai Klenting yang meriyadari tidak akan mampu menandingi Eyang Jamus.

   Setelah berkata demikian, Nyai Klenting langsung melompat cepat.

   Sebentar saja bayangan tubuh perempuan tua itu tidak terlihat lagi.

   Eyang Jamus menarik napas panjang, lalu melirik dua sosok mayat yang tergeletak bersimbah darah.

   Tatapannya kini beralih pada gadis di sampingnya.

   Saat itu Putri Naga Sewu juga menatap ke arahnya.

   "Kau yang menewaskan mereka?"

   Tanya Eyang Jamus.

   "Eyang, apa benar aku ini Pandan Wangi?"

   Putri Naga Sewu tak mempedulikan pertanyaan itu, tapi malah balik bertanya.

   "Entahlah. Aku sendiri tidak tahu,"

   Sahut Eyang Jamus sedikit mendesah. Putri Naga Sewu terdiam. Tapi jelas terlihat kalau sedang berpikir. Kata-kata Nyai K lenting dan Mayang membuat dirinya semakin tidak tahu dirinya yang sebenarnya.

   "Naga Sewu! Terus terang, kuakui kalau wajahmu mirip sekali dengan cucu sahabatku. Dan namanya pun memang Pandan Wangi. Dan aku tahu persis tentang pedang di tanganmu itu. Hhh.... Kalau kau memang benar-benar Pandan Wangi, aku hanya bisa berpesan agar hati-hati. Sebab sampai Sekarang ini masih banyak orang yang menginginkan Pedang Naga Geni dan Kitab Naga Sewu, seperti Nyai Klenting itu,"

   Jelas Eyang Jamus pelan.

   "Eyang! Kau katakan aku terkubur di Bukit Karungan, sebelah Timur Kerajaan Karang Setra...."

   "Benar."

   "Kalau memang demikian, aku harus kembali ke sana, Eyang. Di sana, aku harus kembali. dikubur selama tiga hari. Maka, hal itu bisa mengembalikan ingatan dari seluruh masa laluku,"

   Kata Putri Naga Sewu.

   "Heh! Dari mana kau tahu?"

   Eyang Jamus terperanjat.

   "Dari salah satu kitab milikmu. Maaf, aku telah lancang membacanya tanpa ijin lebih dulu padamu, Eyang,"

   Ucap Putri Naga Sewu.

   "Hhh...!"

   Eyang Jamus menarik napas panjang.

   "Apa isi kitab itu benar, Eyang?"

   Tanya gadis itu lagi.

   "Aku tidak tahu pasti. Kitab itu kutemukan di dalam sebuah goa dekat pusara Sepasang Pendekar Banyu Biru Kitab itu memang miliknya. Hm..., kau sudah membaca semuanya?"

   "Sudah."

   "Bagaimana menurutmu?"

   "Kalau dulu aku memang pemah diberi air susu oleh ibuku sebelum ia meninggal, ada kemungkinan kitab itu benar."

   "Terlalu tinggi resikonya, Cucuku."

   "Tapi mesti dicoba, Eyang."

   "Dengan resiko kematian sesungguhnya?"

   "Apa pun resikonya!"

   Tegas jawaban Putri Naga Sewu.

   "Sebaiknya selidikilah dulu, siapa dirimu dan kedua orang tuamu."

   "Tidak akan bisa, Eyang. Hhh.... Sudah dua orang yang menganggapku Pandan Wangi. Kalau memang benar berarti aku ini putri Sepasang Pendekar Banyu Biru. Di dalam kitab itu juga disebutkan kalau putri tunggal Sepasang Pendekar Banyu Biru pemah meminum air susu ibunya sebelum meninggal.... Sedangkan sang Ibu ternyata memiliki ilmu 'Mati Suri' yang sangat langka. Ilmu itu memang ilmu turunan yang berasal dari nenek Pandan Wangi, dari pihak Ibu. Ilmu itu bisa menghilangkan jiwa dari raga untuk waktu tujuh hari Dengan ilmu itu pula, seseorang bisa bernapas melalui pusar, atau pori pori kulit. Sedangkan seorang bayi yang minum air susu ibunya yang memiliki ilmu itu, berarti ilmu itu akan berpindah pada keturunannya. Semua itu kuketahui dari kitab itu, Eyang,"

   Ungkap Putri Naga Sewu.

   Eyang Jamus menarik napas panjang, dan tidak tahu lagi harus berkata apa.

   Semua isi kitab sudah dikuasai penuh oleh Putri Naga Sewu.

   Kitab yang berisi riwayat hidup Sepasang Pendekar Banyu Biru.

   Juga berisi uraian dari ilmu-ilmunya yang sangat langka dan sukar dicari tandingannya.

   Eyang Jamus sedikit menyesal, karena tidak menyimpan kitab itu baik-baik.

   Dan memang sebenarnya kitab itu tidak ada apa-apanya, tapi sudah cukup mempengaruhi jalan pikiran Putri Naga Sewu.

   Entah mengapa, gadis itu begitu tertarik dan meresapi seluruh isi kitab itu.

   Bahkan sampai hapal di luar kepala.

   "Baiklah kalau Eyang keberatan. Aku tidak akan mengungkit-ungkit lagi masalah ini Biarlah aku menjadi manusia baru dengan nama baru dan kehidupan yang baru pula,"

   Ujar Putri Naga Sewu melihat Eyang Jamus diam saja.

   "Bukannya keberatan, Cucuku Tapi berilah aku waktu untuk berpikir,"

   Sahut Eyang Jamus.

   "Aku tidak keberatan. Eyang. Semua keputusan ada di tanganmu "

   "Akan kuberikan Jawaban dalam tiga hari ini,"

   Janji Eyang Jamus. 'Terima kasih, Eyang, ucap Putri Naga Sewu, berseri wajahnya.

   "Hm...,"

   Eyang Jamus tersenyum.

   0odwo0 Hari itu udara begitu cerah.

   Langit terlihat bening tanpa sedikit pun awan menggantung.

   Angin bertiup semilir membuat seluruh penghuni alam ini terasa dibuai oleh kenyamanan dan kesejukan.

   Tapi tidak demikian halnya yang dirasakan Putri Naga Sewu.

   Gadis itu duduk termenung di tepi sungai yang mengalir membelah Desa Banyu Biru.

   Gadis itu memandang sebuah pondok yang tinggal puing-puing saja.

   Seluruh kayu dan batu di situ sudah hitam bekas terbakar.

   Putri Naga Sewu seperti teringat sesuatu di tempat ini.

   Tapi rasanya sukar untuk mengingat lebih jelas Hanya samar-samar yang dapat di-rasakan.

   Tapi tempat ini diyakini punya kenangan tersendiri bagi dirinya.

   Tapi kenangan apa? Dia sendiri tidak jelas mengetahuinya.

   "He he he..!"

   Gadis itu terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar suara terkekeh.

   Begitu menoleh, tampak Nyai K lenting sudah berdiri tidak jauh darinya.

   Perempuan tua itu terus terkekeh seraya mengayun-ayunkan tongkatnya.

   Putri Naga Sewu bangkit berdiri, dan berbalik meng-hadap perempuan tua berjubah merah itu.

   Digenggam-nya erat-erat pedang di tangan kirinya.

   "Orang yang sudah mati tidak perlu diingat lagi, Pandan Wangi,"

   Kata Nyai Klenting masih juga menyebut Pandan Wangi pada gadis itu.

   "Apa maksudmu berkata begitu, Nyai Klenting?"

   Ketus nada suara Putri Naga Sewu.

   "He he he.... Kini aku sudah tahu, mengapa kau selalu tidak mengakui dirimu sebagai Pandan Wangi. He he he.... Kau selalu ingat dia, Pandan?"

   Nyai Klenting menunjuk ke kanan.

   Putri Naga Sewu menoleh.

   Tampak seorang gadis berbaju merah menyala berdiri tidak jauh dari gerumbul semak.

   Gadis yang ternyata adalah Mayang itu melangkah mendekati Nyai Klenting, lalu berdiri di samping kanan wanita tua Itu "Aku tahu, sebenarnya kau sudah mati.

   Tapi si tua bangka Jamus Itu menghidupkanmu kembali dengan Bunga Abadi.

   Bunga yang seharusnya jadi milikku!"

   Ujar Nyai K lenting. 'Tapi, biarlah! Aku tidak perlu lagi bunga busuk itu. Y ang kuinginkan sekarang hanyalah Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni darimu, Pandan."

   "Aku jadi semakin tak mengerti pembicaraanmu, Nyai Klenting,"

   Ujar Putri Naga Sewu. Benar-benar sulit dipahami, karena dia sendiri tengah kebingungan tentang dirinya sendiri saat ini.

   "Aku tidak butuh pengertianmu, Pandan! Hampir tiga purnama kau terbujur. Karena kau putri dari Sepasang Pendekar Banyu Biru, dan telah minum air susu ibumu, maka kau tidak bisa mati sesungguhnya. Kau hanya mati semu. Dan hanya dengan Bunga Abadi bisa hidup kembali, karena sudah hampir terlewat batas kematianmu yang sesungguhnya. Tapi itu tida bisa terulang untuk kedua kali, Pandan. Sedikit saja jatuh pingsan, maka kematianmu sudah di ambang pintu. Tubuhmu juga tidak akan kuat. Kulitmu jadi peka. Jika sedikit saja tergores benda tajam, maka kau akan merasakan seperti tertusuk ribuan anak panah! Kemudian tubuhmu lemas, dan siapa saja dengan mudah dapat membunuhmu. Kecuali..., he he he.... Tapi itu tidak akan terjadi, Pandan Karena hari ini juga akan merasakan kematianmu yang sesungguhnya,"

   Panjang lebar Nyai Klenting berkata.

   Putri Naga Sewu bergidik juga mendengarnya.

   Hal itu juga diketahuinya dari Eyang Jamus.

   Dan sekarang, dirinya bisa hidup kembali karena Eyang Jamus yang mengobatinya dengan Bunga Abadi.

   Bunga yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun.

   "Nah! Sekarang bersiaplah untuk mati, Pandan Wangi! Hiyaaa...!"

   "Tunggu...!"

   Tapi Nyai Klenting sudah melompat menerjangnya dengan kecepatan tinggi.

   Putri Naga Sewu tidak bisa lagi berbuat banyak, selain menghindari terjangan itu.

   Bergegas dia melompat ke samping, dan bergulingan di atas batu-batu kerikil di tepi sungai ini.

   Tapi baru saja bisa bangkit berdiri, Mayang sudah melompat dan membabatkan pedangnya.

   "Uts!"

   Putri Naga Sewu tidak punya pilihan lain lagi, kecuali menjatuhkan dirinya dan bergulingan beberapa kali di atas kerikil kembali.

   Dan dengan cepat tubuhnya melompat bangkit, langsung melesat mundur menja, jarak.

   Tapi Nyai Klenting dan Mayang tidak lagi memberi kesempatan.

   Mereka berlompatan menyerang kembali dari dua jurusan.

   "Mayang! Mengapa kau menyerangku!"

   Seru Putri Naga Sewu meminta penjelasan.

   "Karena kau adalah Pandan Wangi, dan juga sebagai penghalangku untuk memperoleh Rangga!"

   Sahut Mayang seraya melayangkan pedangnya ke arah kepala.

   "Uts!"

   Putri Naga Sewu merundukkan kepalanya, sehingga tebasan pedang Mayang lewat di atasnya Tapi sebelum juga Putri Naga Sewu bisa mengangkat kepalanya, Nyai Klenting sudah menusukkan ujung tongkatnya ke arah perut.

   Buru buru Putri Naga Sewu mengibaskan pedang yang masih berada di dalam sarungnya di tangan kiri.

   Trak! "Ikh...!"

   Nyai Klenting terperanjat kaget, dan langsung melompat mundur.

   Seketika wajah perempuan tua itu jadi memerah.

   Tangannya mendadak kesemutan ketika tongkatnya beradu dengan pedang di tangan kiri Putri Naga Sewu yang diyakininya sebagai Pandan Wangi itu.

   Sedangkan saat itu Putri Naga Sewu sudah melompat menghindari kibasan pedang yang meluncur ke arah kaki.


Pendekar Pedang Matahari Neraka Lembah Tengkorak Dendam Kesumat Karya Tabib Gila Senopati Pamungkas (1) Karya Arswendo Atmowiloto

Cari Blog Ini