Ceritasilat Novel Online

Bangkitnya Pandan Wangi 2


Pendekar Rajawali Sakti Bangkitnya Pandan Wangi Bagian 2



Saat berada di udara, kakinya menghentak ke depan, langsung mendarat di dada Mayang.

   "Akh!"

   Mayang memekik tertahan. Gadis berbaju merah itu terhuyung-huyung belakang beberapa Iangkah Putri Naga Sewu bersalto di udara tiga kali, lalu menjejakkan kakinya di tana berkerikil. Jaraknya cukup jauh dari kedua orang yang menyerangnya tadi.

   "Dengar! Aku tidak kenal dan tidak pernah punya urusan dengan kalian Jangan membuatku jadi bertindak keras!"

   Tegas Putri Naga Sewu, lantang suaranya.

   "Pandan Wangi! Sebaiknya serahkan saja kitab dan pedang itu Dengan demikian, urusan ini akan selesai,"

   Kata Nyai Klenting juga lantang.

   "Rakus! Seharusnya kau bersiap-siap, Nyai Klenting. Umurmu tinggal sejengkal lagi!"

   Sinis nada suara gadis itu "Kadal! Kau memang patut mampus, bocah seta Hiyaaa...!"

   Nyai Klenting tidak dapat lagi menahan amarahnya, dan lantas melompat sambil berteria keras melengking tinggi.

   Pada saat yang sama, Mayang juga melompat dan berputar mengambil arah lain.

   Kembali Putri Naga Sewu yang diyakini kedua lawannya sebagai Panda Wangi itu harus menghadapi serangan dahsyat dari dua jurusan.

   Serangan-serangan yang datang bagai air bah itu datang tak henti-hentinya.

   Tapi sungguh mengherankan, Putri Naga Sewu manis sekali dia mengimbanginya.

   Bahkan tidak jarang mengirimkan serangan balasan yang sanggup membuat kedua wanita itu kerepotan menghindarinya.

   Pertarungan terus berjalan semakin sengit.

   Bahkan tanpa terasa sudah menghabiskan lebih dari dua puluh jurus.

   Tapi nampaknya Putri Naga Sewu masih sanggup melayani kedua lawannya.

   "Awas kaki...!"

   Tiba-tiba Mayang berseru nyaring.

   "Hait...!"

   Putri Naga Sewu melompat begitu melihat kilatan pedang menebas ke arah kaki.

   Tapi pada saat yang sama, ujung tongkat Nyai Klenling me luruk deras ke arah dadanya.

   Putri Naga Sewu tidak punya pilihan lain lagi.

   Diloloskan pedang dan disampoknya tongkat yang runcing itu.

   "Hiya...!"

   Trang! Tongkat Nyai Klenting terpental terbabat pedang Naga Geni yang berwarna merah bagai terbakar itu.

   Namun pada saat yang hampir bersamaan, Mayang melompat ke atas melewati kepala Putri Naga Sewu.

   Begitu cepat lompatannya sambil melayangkan tendangan disertai pengerahan tenaga dalam penuh.

   Putri Naga Sewu tidak bisa lagi menghindar.

   Tendangan yang keras bertenaga dalam itu langsung mendarat di punggungnya.

   Sebentar dia memekik tertahan.

   Tubuhnya terlempar ke depan, tersuruk jatuh mencium batu-batu kerikil yang panas terpanggang matahari.

   "Mampus kau, bocah setan! Hiyaaa...!"

   Sambil berteriak keras, Nyai Klenting melompa dan menghunjamkan ujung tongkatnya ke tubuh Putri Naga Sewu.

   Tapi tinggal seujung rambut lagi ujung tongkat itu menghunjam tubuh Putri Naga Sewu, mendadak satu bayangan putih berkelebat cepat memotong arus.

   Trang! "Akh!"

   Nyai Klenting memekik kaget.

   Belum lagi hilang rasa terkejumya, tahu-tahu dirasakan dadanya sesak.

   Bahkan tubuhnya terpental ke belakang beberapa tampak jauhnya.

   Tapi perempuan tua itu masih juga mampu melompat bangkit berdiri.

   Dengusannya begitu keras ketika melihat seorang pemuda berwajah tampan dan berbaju rompi putih sudah berdiri tegak di samping tubuh Putri Naga Sewu yang masih tengkurap di atas bebatuan.

   "Rangga ,"

   Desis Mayang terkesiap saat mengenali pemuda berbaju rompi putih itu.

   Seketika wajah Mayang jadi pucat pasi.

   Buru-buru tubuhnya berbalik dan hendak melompat kabur.

   Tapi belum juga niatnya tersampaikan, satu bayangan lain meluncur deras dan menghadangnya.

   Mayang terperanjat setengah mati.

   Apalagi setelah mengenali orang yang tahu-tahu sudah berdiri tegak menghadangnya.

   Ternyata dia adalah Cempaka, adik tiri Pendekar Rajawali Sakti.

   "Cempaka...,"

   Suara Mayang terdengar bergetar. Mayang bergegas melangkah mundur mendekati Nyai Klenting. Mereka berdiri berdampingan. Yang seorang berwajah geram penuh kemarahan, sedangkan yang seorang lagi berwajah agak pucat dan kelihatan serba salah.

   "Memuakkan! Mengeroyok orang yang tidak berdaya sama sekali!"

   Dengus Rangga dingin.

   "Anak muda! Apa urusanmu di sini?!"

   Bentak Nyai Klenting.

   "Apa pula yang kau kerjakan di sini?!"

   Rangga malah balik bertanya.

   "Heh! Aku bertanya padamu, bocah setan!"

   Bentak Nyai Klenting gusar.

   "Aku benci menjawab pertanyaan manusia iblis macam dirimu!"

   "Keparat! Barangkali kau punya nyawa rangkap, sehingga berani menghinaku!"

   Dengus Nyai Klenting semakin gusar.

   "Nyawaku hanya satu, tapi mampu meredam kebiadabanmu, perempuan Iblis!"

   "Kadal! Monyet buduk. Mampus kau! Hiyaaa...!"

   Nyai Klenting tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya, dan langsung melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Kebutan tongkatnya sungguh luar biasa dahsyatnya, sehingga menimbulkan deru angin bagai topan.

   Dan Rangga hanya mengegoskan tubuhnya sedikit, sehingga kebutan tongkat Nyai Klenting tidak mengenai sasaran.

   Bahkan perempuan tua itu jadi kerepotan juga menghindari pukulan yang dilepaskan secara beruntun oleh Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Sementara Rangga dan Nyai Klenting bertarung, Cempaka bergerak perlahan mendekati Putri Naga Sewu yang masih tergolek tengkurap di bebatuan kerikil.

   Namun matanya tidak berkedip memandang Mayang.

   Cempaka baru berhenti bergeser setelah dekat dengan Putri Naga Sewu.

   Sedikit pun dia tidak berani berpaling karena tahu kalau Mayang cukup cerdas.

   Gadis itu bisa memanfaatkan kesempatan yang hanya sedikit saja.

   Tapi Cempaka benar benar tidak berdaya, karena tiba-tiba saja Mayang melesat kabur.

   Cempaka memang tidak mungkin meninggalkan Rangga.

   Terlebih lagi di situ tergolek seorang gadis yang entah pingsan atau sudah tewas.

   Cempaka belum juga memeriksa gadis itu, karena pandangannya terpaku untuk menyaksikan pertarungan itu.

   Ini merupakan kesempatan baginya untuk menyaksikan pertarungan dua tokoh sakti yang temama dalam rimba persilatan.

   Pertarungan terus berlangsung semakin sengit, dan Cempaka memperhatikan tanpa berkedip Dia sampai tak tahu kalau Putri Naga Sewu mulai bergerak.

   Gadis itu pelahan-lahan bangkit berdiri dan melangkah menjauh.

   Meskipun langkahnya agak terhuyung, tapi masih mampu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

   Sedangkan Cempaka sama sekali tidak menyadarinya! Sementara pertarungan antara Rangga dan Nyi Klenting masih berlangsung sengit.

   Perhatian Cempaka semakin terpusat pada pertarungan itu.

   Benar-benar tidak disadari kalau gadis yang dikira masih pingsan atau sudah mati itu telah meninggalkannya diam-diam.

   Dan gadis itu kini berlari kencang, tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.

   "Modar...!"

   Tiba-tiba Rangga berseru keras.

   Dan seketika itu juga tangan kanannya bergerak ce pat mengibas ke depan.

   Tepat pada saat yang sama, Nyai Klenting juga menghunjamkan tongkatnya ke arah dada.

   Dan tongkat itu pun bertemu tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti dengan kerasnya.

   Saat itu Rangga memang tengah mengerahkan Jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

   "Akh...!"

   Nyai Klenting terpeklk tertahan.

   Tubuh perempuan tua Itu mencelat ke samping.

   dan sebelum bisa menguasal keseimbangan tubuhnya, Rangga sudah melompat sambil menghantamkan satu pukulan keras ke arah kepala.

   Pukulan yang mengandung tenaga dalam sempurna itu tidak dapat dihindari lagi, dan langsung mcnghajar kepala Nyai Klenting.

   Prak! "Aaakh.

   '"

   Nyai Klenting menjerit melengking.

   Perempuan tua berjubah merah itu ambruk dan menggelepar di tanah.

   Dari kepala yang pecah, mengalir darah segar Hanya sebentar Nyai Klenting berkelojotan, sebnjutnya diam tidak bergerak lagi.

   Rangga langsung melompat menghampiri Cempaka.

   "Cempaka, mana dia...?"

   Tanya Rangga.

   "Di...,"

   Suara Cempaka terputus.

   Adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu jadi celingukan.

   Sungguh mati tidak tiisadari kalau gadis yang diduga sudah mati itu telah lenyap dari sisinya.

   Cempaka memandang Rangga dengan sinar mata pe-nuh permohonan maaf Rangga menepuk pundak gadis itu penuh rasa pengertian.

   Memang, Pendeka Rajawali Sakti belum mengenali sosok yang tergolek pingsan tadi.

   "Sudahlah, kita tidak tahu siapa dia. Ayo jalan lagi,"

   Ujar Rangga lembut penuh pengertian.

   "Maaf, Kakang. Aku benar benar terkesima melihat pertarunganmu,"

   Ucap Cempaka lirih.

   "Ayolah! Lupakan saja,"

   Sahut Rangga.

   "Ke mana lagi kita pergi, Kakang? Seluruh Desa Banyu Biru rasanya sudah dijelajahi, tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali,"

   Kata Cempaka mulai biasa kembali.

   "Aku tidak tahu,"

   Sahut Rangga agak lesu.

   "Oh ya. Ke mana Mayang melarikan diri?"

   Rangga jadi ingat Mayang "Entahlah,"

   Desah Cempaka seraya mengangkat bahunya Rangga terdiam.

   Kepalanya tertunduk, dan keningnya berkerut cukup dalam.

   Cempaka memperhatikan.

   Dia tahu kalau kakak tirinya ini sedang berpikir keras.

   Memang agak heran juga, mengapa Mayang ada di Desa Banyu Biru ini.

   Tapi Cempaka tidak bisa menduga-duga.

   "Kakang, apakah kuda kita aman di rumah penginapan itu?"

   Tanya Cempaka mengalihkan perhatian.

   "Aku pemah menginap di sana beberapa kali. Pemiliknya sudah kenal padaku,"

   Sahut Rangga. Namun keningnya masih juga berkerut.

   "Ada yang dipikirkan, Kakang?"

   Cempaka tidak bisa juga menahan keingintahuannya.

   "Ada,"

   Sahut Rangga mendesah.

   "Tentang apa?"

   "Mayang. Aku heran, untuk apa dia berada di sini? Apakah dia sudah tahu kalau kita memang di sini?"

   Rangga seperti bicara pada dirinya sendiri.

   "Barangkali juga, Kakang Masalahnya sampai sekarang dia masih tetap mengharapkanmu Aku yakin kalau dia juga sudah tahu tentang hilangnya Pandan Wangi,"

   Cempaka mengemukakan pendapatnya.

   "Dia memang sudah tahu,"

   Kata Rangga.

   "Bahaya...!"

   Desis Cempaka. Rangga menatap dalam-dalam gadis itu.

   "Bukankah Mayang masih dendam pada Kak Pandan, Kakang? Aku pernah melihatnya sedang menimpuki pusara Kak Pandan dengan batu kerikil. Dia itu seperti sudah gila Aku jadi menduga kalau dia berusaha mendahuluimu menemukan Kak Pandan, dan mencoba membunuhnya. Atau bahkan mungkin mencincangnya,"

   Lagi lagi Cempaka mengemukakan dugaannya yang selama ini terpendam.

   "Apa itu mungkin, Cempaka?"

   Rangga sedikit terpengaruh juga "Mungkin saja Coba lihat saja tadi.

   Dia sudah berani bergabung dengan orang lain yang berilmu tinggi.

   Sejak diusir dari Karang Setra, Mayang memang seperti sudah gila, Kakang.

   Terus terang saja, sebenarnya aku tahu kalau Mayang tidak jauh-jauh meninggalkan Karang Setra.

   Tapi aku diam saja.

   Aku juga sering mendapat laporan kalau Mayang selalu membunuhi gadis-gadis yang memakai baju biru.

   Anggapannya, gadis berbaju biru adalah Pandan Wangi.

   Dia begitu dendam, tapi juga licik Segala ucapannya tidak pernah sesual dengan hatinya."

   "Sudah tahu begitu, ke ..."

   Ucapan Rangga ter-putus tiba tiba. Dia langsung tertegun, seperti mendapat lintasan dalam benaknya "Ada apa, Kakang?"

   Tanya Cempaka.

   "Sebentar, Cempaka. Kalau tidak salah, gadis itu tadi juga memakai baju biru...,"

   Agak ragu-ragu nada suara Rangga.

   "Memang benar,"

   Sahut Cempaka "Bahkan memegang pedang yang berwarna merah."

   "Naga Geni...,"

   Desis Rangga cepat. Tiba-tiba kenangan manis bersama Pandan Wangi terlintas di benak Pendekar Rajawali Sakti. 'Tapi, apakah mungkin?"

   Tanya Rangga dalam hati.

   Benak Rangga kini dipenuhi oleh pertanyaan yang membingungkan, sekaligus mendebarkan hatinya.

   Jangankan Cempaka, Rangga sendiri sukar untuk mempercayai kalau gadis yang telah mereka tolong dari maut adalah Pandan Wangi.

   Tapi melihat ciri-ciri yang begitu persis, mereka mulai diliputi keragu-raguan dan kebimbangan.

   Sayangnya, di antara mereka tidak ada yang sempat melihat wajahnya.

   Tapi ketika me lihat pedang itu, Rangga yakln kalau pedang itu adalah Pedang Naga Geni.

   Tidak ada lagi pedang yang berwama merah bagai besi terbakar selain Pedang Naga Geni milik Pandan Wangi "Apakah Pandan Wangi masih hidup? Atau ada orang lain yang...

   Tidak! Tidak mungkin...!"

   Rangga membantah sendiri pemikirannya.

   Perasaannya benar-benar bergolak Antara ada dan tiada.

   Antara rindu dan ketidakpastian.

   Pendekar Rajawali Sakti itu yakin benar kalau Pedang Naga Geni terkubur bersama tubuh Pandan Wangi.

   Sedangkan Kitab Naga Sewu memang sudah dimusnahkan pandan Wangi di Pulau Karang, setelah menguasai seluruh jurus-jurus yang ada di dalam kitab itu.

   Sayangnya, waktu itu Rangga tidak sekalian mengubur kipas baja yang menjadi ciri khas Pandan Wangi.

   Kipas itu kini tersimpan dalam ruangan peny impanan senjata pusaka di Kerajaan Karang Setra.

   Dan Rangga memang sengaja menyimpannya untuk selalu dapat mengenang gadis yang sangat dicintainya itu.

   Sudah setengah harian Rangga berdiri mematung di depan jendela kamar penginapannya.

   Sedangkan Cempaka sudah sejak tadi keluar.

   Katanya ingin me lihat-lihat suasana di Desa Banyu Biru ini, sambil mencari keterangan.

   Hampir semua orang yang melintas di depan rumah penginapan ini jadi perharian Rangga, terlebih lagi para gadis yang berbaju biru.

   Dan ketika mata Pendekar Rajawali Sakti itu menatap seorang gadis yang berjalan bersama seorang laki-laki tua berjubah putih, seketika aliran darahnya berdesir kuat.

   Apalagi gadis itu juga membawa pedang.

   Maka detak jantungnya terasa lebih cepat berdenyut Rangga menggosok-gosok matanya, setengah tidak percaya dengan yang dilihatnya ini.

   'Pandan...,"

   Desis Rangga.

   Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu melompat keluar dari jendela kamar penginapannya.

   Langsung dikejarnya dua orang yang dilihatnya.

   Tapi keadaan jalan yang penuh orang hillr mudik, membuat langkahnya agak tertahan.

   Tapi Rangga terus mengerahkan pandangannya pada dua orang yang berjalan cukup jauh darinya.

   "Pandan...!"

   Teriak Rangga memanggil.

   Tepat pada saat itu, sebuah kereta kuda melintas di depannya.

   Kalau saja Rangga tidak cepat melompat ke tepi, pasti akan terlanggar kereta yang melaju cukup kencang.

   Padahal jalan ini bisa dikatakan begitu padat Pandangan Rangga terhalang sesaat.

   Dan begitu kereta kuda berlalu, dua orang yang dikejarnya sudah tidak terlihat lagi.

   Rangga bergegas melangkah cepat, dan baru berhenti setelah tiba di tempat dua orang yang dilihatnya tadi.

   Pendekar Rajawali Sakti itu memandang ke sekeliling, namun tidak juga menemukan dua orang yang dicari.

   Dia bersungut-sungut kesal, memaki kereta kuda yang lewat dan menghalangi pandangannya tadi.

   Rangga menghampiri seorang penjual buah-buah-an di dekatnya.

   Penjual buah itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

   Ditawarkan buah semangka Yang cukup besar ukurannya, tapi Rangga menolak halus.

   "Maaf, Kisanak. Aku ingin bertanya,"

   Kata Rangga sopan.

   "Boleh saja, Den tapi beli dulu buahku ini,"

   Sahut penjual buah itu "Baiklah Berapa harga semangka itu?"

   Rangga nenyerah "Berapa saja, Den. Asal tidak rugi."

   Rangga mengeluarkan sekeping uang perak, dan menyerahkannya pada penjual semangka itu. T entu saja laki-laki setengah baya penjual buah itu terbeliak. Sekeping uang perak sudah lebih untuk memborong Semua dagangannya.

   "Kisanak, apakah tadi melihat seorang laki-laki tua berjubah putih membawa .tongkat bersama seorang gadis berbaju biru lewat di sini?"

   Tanya Rangga langsung tanpa mempedulikan penjual buah yang masih terkesiap itu.

   "Oh, eh.... Apa, Den?"

   Penjual buah itu tergagap Rangga mengulangi pertanyaannya dengan sedikit kesal.

   "Wah! Banyak yang lewat, Den. Tapi sepertinya Raden menanyakan Eyang Jamus...,"

   Agak ragu-ragu juga penjual buah itu menjawab.

   "Eyang Jamus? Siapa dia?"

   Tanya Rangga.

   "Seorang tabib yang sangat terkenal dan sakti. Segala macam penyakit bisa disembuhkan. Bahkan dia punya ilmu yang aneh-aneh. Kalau dilihat dari ciri-ciri yang Aden sebutkan tadi, tidak ada orang lain yang memakai jubah. putih bertongkat hitam selain Eyang Jamus,"

   Jelas penjual buah itu.

   "Apakah tadi dia lewat sini?"

   Rangga ingin ketegasan.

   "Baru saja, Den. Kalau memang benar Eyang Jamus yang dimaksudkan."

   "Bersama seorang gadis berbaju biru?"

   Tanya Rangga lagi.

   "Hm...,"

   Penjual buah itu berpikir sejenak.

   "iya, Den. Kabamya Eyang Jamus memang kedatangan cucunya dari kota.. Mungkin juga tadi dia berjalan sama cucunya."

   "Ke mana perginya?"

   "Arahnya ke sana...,"

   Penjual buah itu menunjuk ke suatu arah.

   "Pasti dia pulang, Den. Rumahnya terpencil, jauh di sana."

   "Kisanak pemah melihat cucunya?"

   Tanya Rangga semakin tertarik.

   "Wah belum, Den. Itu juga hanya dengar-dengar saja. Soalnya belum ada yang pernah melihat. Hanya dengar saja, Den."

   "Ya, sudah. Terima kasih "

   Rangga langsung melangkah pergi.

   "Eh, Den...! Buahnya...!"

   "Jual saja pada orang lain!"

   "Ha...!"

   Penjual buah itu terlongong Tapi hanya sebentar saja Sesaat kemudian dia berjingkrak gembira.

   Tidak disangka-sangka, hari ini mendapat sekeping uang perak.

   Dengan uang itu Usahanya bisa bertambah dua kali lipat! Padahal buah dagangannya saja masih begini banyak.

   Penjual buah tu tidak peduli dengan dagangannya yang masih banyak.

   Langsung saja dibenahi dan beranjak pulang penuh kegembiraan.

   "Dasar rejeki nomplok! He he he...!"

   Penjual buah itu terkekeh kegirangan sendirian, persis orang gila.

   Rangga memandangi rumah kecil yang letaknya terpencil, jauh dari rumah penduduk lainnya.

   Rumah itu dinaungi pohon beringin yang sangat besar.

   Memang, cukup teduh dan nyaman.

   Pelahan-lahan Rangga mengayunkan kakinya' mendekati rumah itu.

   Keakeadaannya sangat sepi, seperti tidak ada orang di dalam rumah itu.

   "Silakan masuk, Anak Muda. Pintu tidak terkunci."

   Rangga tersentak kaget, ketika tiba-tiba terdengar suara tua yang parau dari dalam rumah kecil itu.

   Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu tetap mengayunkan langkahnya mendekati pintu yang sedikit terbuka.

   Sebentar berhenti, kemudian tangannya mendorong pintu dari kayu itu.

   Suara bergerit terdengar dari engsel yang berkarat tidak pemah tersiram minyak.

   Sejenak Rangga memandangi bagian dalam yang tidak begitu luas.

   Hanya ada sebuah dipan bambu beralaskan tikar daun pandan, dan sebuah altar baru pualam putih dengan kolam kecil yang panjang.

   Tidak ada lagi perabotan, kecuali sebuah lemari kecil di samping dipan bambu itu.

   "Masuklah,"

   Kata seorang laki-laki tua berjubah putih yang duduk bersila di batu pualam putih.

   Rangga melangkah masuk, tapi hanya berdiri saja memandang laki-laki tua berjubah putih itu.

   Dialah yang dilihatnya tadi berjalan bersama seorang gadis yang wajahnya mirip Pandan Wangi.

   "Silakan duduk, tapi tidak ada kursi di sini,"

   Kata laki-laki tua itu ramah. 'Terima kasih,"

   Ucap Rangga seraya duduk bersila di lantai.

   "Ada keperluan apa hingga datang mengunjungi-ku, Anak Muda?"

   Tanya laki-laki tua itu tetap ramah suara nya "Hanya ingin bertanya saja, Eyang..."

   "Jamus. Panggil saja aku Eyang Jamus."

   "Baiklah,"

   Desah Rangga.

   "Maaf, terpaksa duduk di lantai. Di sini aku tidak pernah membedakan siapa pun. Semua yang datang ke sini kuanggap sama, meskipun seorang raja besar yang sepatutnya diberi tempat layak,"

   Kata Eyang Jamus yang sudah. tahu siapa sebenarnya pemuda yang datang ke rumahnya ini.

   "Tidak mengapa, Eyang,"

   Ucap Rangga maklum.

   "Nah! Katakan, apa keperluanmu sehingga sempat datang ke gubukku ini?"

   "Maaf, Eyang. Aku hanya ingin bertemu cucumu,"

   Kata Rangga langsung.

   "Hm...,"

   Eyang Jamus mengerutkan alisnya hingga bertaut hampir menyatu.

   "Apa tidak salah alamat, Anak Muda? Aku tahu, siapa kau sebenarnya. Kau seorang raja, dan seorang pendekar temama tanpa tanding. Ada apa dengan cucuku? Apakah punya kesalahan padamu?"

   "Sama sekali tidak. Aku hanya...,"

   Suara Rangga terputus.

   "Teruskan,"

   Pinta Eyang Jamus.

   Tiba-tiba Rangga terkesiap.

   Pandangan matanya lurus melewati belakang Eyang Jamus.

   Ternyata di sana telah berdiri seorang gadis berwajah cantik memakai baju biru dengan pedang tersampir di punggung.

   Sebenarnya gadis Itu biasa saja, tapi wajahnya sempat membuat Rangga tidak berkedip memandangnya.

   "Pandan...,"

   Desis Rangga tanpa sadar.

   Ingin rasanya Rangga menubruk gadis yang wajahnya mirip Pandan Wangi itu Kalau saja tidak ada Eyang Jamus, mungkin gadis itu langsung dipeluk dan diciuminya.

   Antara percaya dan tidak, yang jelas Rangga menyaksikan bahwa gadis itu bagaikan Pandan Wangi yang hidup kembali.

   Maka dengan seketika, jantungnya berdetak keras.

   Gelora cinta dan rindunya kian bergejolak.

   Eyang Jamus segera memutar tubuhnya, dan tersenyum.

   Lalu diberinya isyarat agar gadis itu mendekat.

   Laki-laki tua itu kembali memutar tubuhnya dalam keadaan masih tetap duduk bersila.

   Gadis berbaju biru itu me langkah mendekati Eyang Jamus, kemudian duduk di samping altar pualam putih itu.

   "Ini cucuku, Anak Muda,"

   Kata Eyang Jamus.

   "Oh!"

   Rangga tersentak, langsung mengalihkan pandangannva dari gadis itu pada Eyang Jamus. Mata Rangga benar-benar tertutup, seperti tak memandang ada laki laki tua di hadapannya "Dia bernama Naga Sewu,"

   Ujar Eyang Jamus memperkenalkan "Naga Sewu...?"

   Gumam Rangga.

   Ingatan Pendekar Rajawali Sakti langsung tertuju pada Kitab Naga Sewu.

   Dipandanginya gadis itu lagi.

   Gagang pedang yang menyembul membuat pemuda itu tertegun.

   Tidak salah lagi! Pedang itu meman benar Pedang Naga Geni.

   Rangga menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

   Sungguh mati tidak ditemukan perbedaannya dengan Pandan Wangi.

   Wajah, bentuk tubuh, dan segala-galanya sangat mirip Pandan Wangi.

   Mungkinkah Pandan Wangi hidup kembali? Tapi Rangga tidak percaya kalau Pandan Wangi masih hidup.

   Jelas kalau si Kipas Maut itu sudah tewas li tangan Purbaya.

   Pandan Wangi telah tewas di dalam pelukannya.

   Dan pusaranya selalu ditunggu selama tiga hari tiga ma lam.

   Lalu, siapa gadis di depannya ini sebenanya? Dan di mana mayat Pandan Wangi yang hilang? Macam-macam pertanyaan berkecamuk di dalam benak Rangga.

   Pertanyaan-pertanyaan yang sukar untuk dijawab sekarang ini.

   "Anak Muda...,"

   Tegur Eyang Jamus. Lagi-lagi Rangga tergagap kaget "Eyang, boleh bicara denganmu berdua saja?"

   Pinta Rangga setelah bisa menenangkan dirinya.

   "Kenapa? Bukankah tadi ingin bertemu dengan cucuku?"

   "Benar, Eyang. Tapi...,"

   Rangga melirik gadis yang masih diam saja di tempatnya.

   "Anak Muda. Sebenamya maksud kedatanganmu ke sini sudah kuketahui,"

   Kata Eyang Jamus. Rangga terdiam. Kembali diliriknya gadis itu. Entah kenapa, setiap kali melirik, selalu ada perasaan yang bergejolak di hatinya. Perasaan yang sukar untuk iigambarkan, tapi begitu indah jika jadi kenyataan.

   "Naga Sewu, bisa kau pergi sebentar?"

   Pinta Eyang Jamus yang bisa merasakan perasaan Pendekar Rajawali Sakti itu Putri Naga Sewu tidak membantah, lalu beranjak bangkit dan melangkah ke luar.

   Tapi sempat ju melirik pada Rangga.

   Dan Pendekar Rajawali Sakti! tidak bisa mengartikan lirikan gadis itu yang langsu menghilang di balik pintu.

   Rangga menggeser duduk nya lebih mendekat lagi pada Eyang Jamus.

   Untu beberapa saat keheningan menyelimuti mereka berdua.

   Sepertinya, masing-masing tengah sibuk berbicara dalam pikirannya.

   "Eyang, benarkah dia cucumu dan bernama Naga Sewu?"

   Tanya Rangga setelah cukup lama terdiam.

   "Bukan,"

   Sahut Eyang Jamus singkat "Bukan...?!"

   Rangga tersentak.

   Entah kenapa tiba-tiba saja dirasakan aliran darahnya seperti terbang.

   Bahkan jantungnya kembali jadi lebih cepat berdeta "Aku sendiri masih belum tahu, siapa dia sebenarnya.

   Meskipun aku sendiri selalu dihantui dugaan.

   Yaaah....

   memang tidak bisa disangkal kalau wajahnya begitu mirip cucu sahabat karibku, si Kakek Tangan Seribu,"

   Kata Eyang Jamus terus terang.

   "Siapa...?!"

   Rangga menggerinjang kaget mendengar nama Kakek Tangan Seribu disebut "Nampaknya .kau mengenali nama itu, Anak Muda."

   "Aku sempat bertemu dengannya, Eyang. Dan pasti Eyang sudah mendengar peristiwa di Bukit Setan Aku terlibat langsung di dalamnya. Yaaah..., memang sangat kusesalkan kematiannya,"

   Kata Rangga pelan.

   "Ya, aku tahu. Justru itu kau sudah kukenal meskipun tidak kau sebutkan namamu, Rangga."

   "Maafkan." 'Tidak apa."

   "Hm..., Jadi Eyang juga beranggapan kalau dia itu...,"

   Kembali suara Rangga terputus. Tapi hatinya terus berkata, dan berharap kalau gadis itu adalah Pandan Wangi.

   "Benar. Tapi aku tidak yakin;"

   Sahut Eyang Jamus bisa mengerti.

   "Naga Sewu adalah nama pemberianku, karena dia tidak bisa lagi mengingat tentang diri dan masa lalunya. Sudah cukup lama dia terkubur ..."

   "Terkubur...?!"

   Sentak Rangga memutus kata-kata yang Jamus. Hari Rangga makin diliputi perasaan tak menentu. Harapan yang semula tak mungkin, entah bagaimana caranya, harus menjadi mungkin.

   "Benar, Rangga. Hampir tiga purnama Naga Sewu terkubur. Aku sendiri tidak tahu, apa sebabnya. sampai terkubur selama itu. Memang ada suatu ilmu yang disebut 'Ilmu Mati Semu'. Seseorang bisa diduga mati, padahal sebenarnya jiwanya masih hidup. Tapi setahuku, paling tahan tiga atau tujuh hari lama nya, tapi yang terjadi pada diri Naga Sewu sungguh luar biasa! Ketahanannya hampir menyamai ilmu yang dimiliki salah seorang dari Sepasang Pendekar Banyu Biru."

   "Bukankah itu orang tua Pandan Wangi...?"

   Potong Rangga.

   "Benar. Tapi aku tidak yakin kalau ibu Pandan Wangi menurunkan ilmunya pada anaknya. Karena mereka meninggal saat Pandan Wangi baru saja satu bulan dilahirkan, dan langsung dibawa oleh kakeknya. Entah ke mana, aku sendiri tidak tahu." 'Ya, aku tahu. Kakek Tangan Seribu pernah cerita padaku sebelum tewas dalam pertarungannya melawan Nenek Jubah Merah. Sayang, Kakek Tangan Seribu tidak menceritakannya lebih rinci. Juga tentang kehidupan Eyang Abiyasa yang merawat Pandan Wangi."

   "Itulah yang menjadi keraguan dalam diriku, Rangga. Selama ini, kudengar kalau Pandan Wangi dibawa Abiyasa dalam pengembaraannya. Dan dia baru berada di Desa Banyu Biru setelah kakeknya itu meninggal Dalam pertarungan itu, aku sendiri tidak tahu permasalahannya. Belum lama Pandan Wangi tinggal bersama Kakek Tangan Seribu, tapi musibah sudah melanda lagi."

   "Hm.... Eyang, apakah 'ilmu Mati Semu' adalah ilmu keturunan?"

   Tanya Rangga "Memang bisa dijadikan ilmu keturunan, tapi...."

   "Kenapa?"

   "Ilmu itu bisa diturunkan pada saat masih bayi! melalui air susu ibunya. Dan itu pun kalau ibunya sempat menyusui paling sedikit tiga puluh kali. Setelah itu barulah ilmu itu akan menurun. Yaaah..., memang ada kemungkinan bisa semakin hebat pada keturunannya."

   "Eyang! Apa tidak mungkin ketika masih bayi Pandan Wangi diberi air susu ibunya?"

   Duga Rangga "Rasanya mungkin juga, Rangga.

   Walaupun Pandan Wangi langsung dibawa Abiyasa begitu orang tuanya meninggal, tapi mungkin masih sempat disusui.

   Memang sewaktu dibawa pergi, tidak ada seorang pun yang tahu.

   Mereka seperti menghilang begitu saja, hingga Pandan sudah besar baru muncul di desa ini."

   Untuk beberapa saat lamanya, kedua orang itu terdiam.

   Rangga menekur memandangi lantai di depannya.

   Sedangkan Eyang Jamus mengelus-elus janggutnya yang panjang dan putih keperakan.

   Hampir bersamaan mereka menarik napas panjang, seakan-akan ingin me longgarkan rongga dada masing masing.

   Persoalan yang dihadapi memang tidak mudah, karena orang-orang yang mungkin ada sangkut pautnya dengan Pandan Wangi sudah meninggal.

   "Eyang, di mana letak kuburan Naga Sewu ketika itu?"

   Tanya Rangga tiba tiba teringat kata-kata yang tadi diucapkan Eyang Jamus.

   "Di sebelah Timur Karang Setra. Tepatnya di...."

   "Bukit Karungan...!"

   Selak Rangga cepat.

   "Benar." 'Tidak salah lagi, Eyang. Dia pasti Pandan Wangi!"

   Entah bagaimana caranya, Rangga berusaha memastikan kalau gadis itu adalah Pandan Wangi. Perasaannya kini meledak-ledak.

   "Bagaimana kau bisa memastikan, Rangga?"

   Tanya Eyang Jamus "Eyang, kedatanganku ke Desa Banyu Biru memang untuk mencari mayat, Pandan Wangi yang hilang dari kuburannya. Karena, kudapatkan kuburan itu sudah terbongkar,"

   Jelas Rangga singkat "Memang aku yang membongkar kuburan itu,"

   Eyang Jamus mengakui terus terang.

   "Kenapa ?"

   "Dengar dulu penjelasanku, Rangga. Hal itu kulakukan dengan berbagai pertimbangan. Aku tidak tahu sama sekali ada pusara di sana. Dan aku juga tidak tahu letak Bukit Karungan, kalau saja tidak ada petunjuk dari mimpi-mimpiku yang aneh. Yaaah.... Seandainya gagal, jenazahnya past! kukembalikan lagi ke pusaranya semula. Tapi aku berhasil. Hanya saja gadis itu jadi seperti bayi yang baru lahir. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan tidak bisa lagi mengingat latar belakang dan masa lalunya. Aku memang sudah menduga sebelumnya, karena ia sudah lama terkubur,"

   Jelas Eyang Jamus singkat.

   "Ja... jadi, Pandan Wangi hidup lagi?"

   Rangga seperti tak percaya.

   Sinar matanya berbinar-binar memancarkan kebahagiaan yang amat sangat.

   Eyang Jamus hanya menganggukkan kepalanya sedikit.

   Dan Rangga sudah tahu maksudnya.

   Bahkan hampir saja dia berteriak seperti anak kecil yang menemukan mainannya kembali.

   "Lalu, bagaimana untuk mengembalikan dirinya yang sesungguhnya, Eyang?"

   Desak Rangga, seperti tidak sabar.

   "Hanya ada satu cara."

   "Apa?"

   "Dikubur kembali "

   Sejak bertemu Pandan Wangi yang kini memakai nama Putri Naga Sewu, hati Rangga yang semula berbunga-bunga, kini jadi sering murung menyendiri Semula memang diyakini katau Putri Naga Sewu adalah Pandan Wangi.

   Tapi gadis itu tetap menyangkal bahwa dirinya bukan Pandan Waingi! Bahkan tidak ingat sama sekali terhadap Rangga Memang benar kata Eyang Jamus Gadis itu bagai bayi yang baru di lahirkan.

   Beberapa kali Rangga mencoba untuk mengem balikan ingatan Pandan Wangi, tapi selalu gagal.

   Gadis itu tetap tidak ingat dirinya yang sebenamya.

   Malah sekarang lebih suka dipanggil Putri Naga Sewu.

   Rangga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan kini.

   Memang, tidak ada cara lain untuk mengembalikan Pandan Wangi pada keadaan seperti semula, selain yang dikatakan Eyang Jamus.

   Dikubur kembali selama tiga hari.

   Pagi-pagi sekali Rangga dan Cempaka sudah berada di rumah Eyang Jamus.

   Pendekar Rajawali Sakti itu sudah memutuskan untuk menyetujui usul Eyang Jamus, meskipun tahu resikonya terlalu tinggi bagi keselamatan Pandan Wangi yang kini masih juga memakai nama Putri Naga Sewu.

   "Berangkat sekarang?"

   Tanya Eyang Jamus.

   "Baik,"

   Sahut Rangga mantap.

   "Kuda dan perbekalan sudah kusiapkan,"

   Selak Cempaka.

   "Bagaimana, Naga Sewu. Sudah siap?"

   Eyang Jamus menatap Putri Naga Sewu "Sudah,"

   Sahut Putri Naga Sewu mantap.

   "Baiklah. Ayo kita berangkat "

   Empat orang keluar dari dalam rumah kecil itu.

   Empat ekor kuda sudah siap menanti di depan pintu.

   Mereka segera melompat ke punggung kuda masing-masing.

   Eyang Jamus menggebah kudanya lebih dahulu.

   Cempaka membarengi di sampingnya.

   Sengaja ditinggalkan Rangga dan Putri Naga Sewu di belakang.

   Rangga masih berusaha meyakini gadis itu sebagai Pandan Wangi.

   Kadangkala, di benak Rangga terlintas kalau dirinya tengah berjalan bersama gadis yang dicintainya Tapi jika teringat bahwa gadis itu lupa terhadap dirinya, hati Rangga seperti terpukul.

   Empat orang berkuda itu memacu kudanya tidak terlalu cepat Memang tidak dikejar waktu.

   Kapan saja bisa dilaksanakan.

   Rangga mengendalikan Kuda Dewa Bayu di samping Putri Naga Sewu.

   Sesekali diliriknya gadis itu.

   Setiap kali pandangannya tertumpu pada wajah cantik di sampingnya, terselip suatu perasaan ganjil.

   Meskipun yakin kalau gadis itu adalah Pandan Wangi, tapi masih terselip keraguan di hatinya.

   Keraguan yang didasarkan pada keyakinannya kalau Pandan Wangi sudah tewas tiga bulan yang lalu.

   Dan sekarang seorang gadis yang begitu serupa segala galanya dengan Pandan Wangi tengah berkuda di sampingnya.

   Tidak ada sedikit pun perbedaannya.

   "Hhh...!"

   Rangga menarik napas panjang dan te-rasa begitu berat.

   "Ada apa? Kok menarik napas?"

   Tegur Putri Naga Sewu seraya menoleh menatap pemuda di sampingnya. 'Tidak apa-apa,"

   Sahut Rangga disertai desahan panjang.

   "Kelihatannya ada yang dipikirkan,"

   Ujar Putri Naga Sewu tetap memperhatikan "Mungkin. Tapi aku tidak tahu apa yang sedang kupikirkan,"

   Sahut Rangga terus terang.

   "Aku tahu, kau pasti sedang memikirkan diriku,"

   Tebak Putri Naga Sewu.

   Rangga terkejut mendengar tebakan yang tepat itu.

   Secara jujur dirinya memang tengah memikirkan gadis itu.

   Dia cemas kalau usaha Eyang Jamus mengalami kegagalan.

   Itu berarti untuk selamanya tidak akan bisa bertemu Pandan Wangi lagi Menurut Eyang Jamus, pekerjaan ini mengandung resiko nyawa bagi gadis itu.

   Kegagalan sedikit saja mcngakibatkan kematian yang sebenamya.

   Tapi jika berhasil, maka gadis itu akan memiliki satu ilmu yang langka dan tidak ada duanya di dunia ini.

   ilmu yang bisa mematikan diri dan menghidupkannya kembali sesuka hati.

   Dan yang pasti, kekuatan ilmu untuk mati semu itu hanya selama tujuh hari.

   Lebih dari itu akan mati selama-lamanya.

   "Boleh kutanya kau sesuatu, Kakang?"

   Ucap Putri Naga Sewu yang sudah membiasakan memanggil Rangga dengan sebutan Kakang. Dan ini memang sudah diminta Rangga sebelumnya.

   "Apa yang akan kau tanyakan?"

   Sambut Rangga.

   "Kenapa kau begitu yakin kalau aku ini Pandan Wangi?"

   Tanya Putri Naga Sewu.

   "Sukar untuk dikatakan, Naga Sewu. Tapi aku tetap yakin kalau kau adalah Pandan Wangi,"

   Sahut Rangga hati-hati.

   "Apa karena wajahku yang mirip kekasihmu itu?"

   Tebak Putri Naga Sewu.

   "Mungkin salah satunya Tapi dari cerita Eyang Jamus, kau diambil dari dalam kubur. Dan aku tahu betul kalau kuburan itu adalah kuburan Pandan Wangi. Itu sebabnya jauh-jauh mencarimu sampai ke sini."

   Putri Naga Sewu diam saja.

   "Aku yakin, kau adalah Pandan Wangi. Bukan Putri Naga Sewu,"

   Lanjut Rangga.

   Sepertinya berusaha meyakinkan gadis di sampingnya.

   Putri Naga Sewu tetap diam.

   Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.

   Dan Rangga sendiri juga sudah tidak bicara lagi.

   Sementara mereka semakin jauh meninggalkan Desa Banyu Biru.

   Malam sudah jatuh dalam pelukan alam.

   Gelap menyelimuti seluruh permukaan bumi.

   Saat ini bulan bersinar penuh, dan langit pun terlihat cerah.

   Bintang-bintang gemerlap menambah indahnya malam ini.

   Rangga duduk bersila di depan seonggok api unggun.

   Di sampingnya duduk Cempaka.

   Sedangkan Eyang Jamus dan Putri Naga Sewu berada agak jauh dari tempat itu.

   Entah apa yang tengah mereka bicarakan.

   "Kakang ,"

   Bisik Cempaka tiba-tiba.

   "Aku sudah tahu, Cempaka. Sebaiknya beritahu Eyang Jamus dan Naga Sewu,'' kata Rangga bisa menangkap bisikan itu.

   "Sejak dari Desa Banyu Biru mereka mengikuti, Kakang,'' kata Cempaka setengah berbisik.

   "Benar. Aku juga ingin tahu apa maksudnya membuntuti kita,"

   Sahut Rangga kalem. Rangga dan Cempaka menoleh. Eyang Jamus dan Putri Naga Sewu datang menghampiri. Mereka duduk me lingkar mengelilingi api unggun yang tidak begitu besar. Pandangan Eyang Jamus lurus ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.

   "Apa yang mereka inginkan, Rangga?"

   Tanya Eyang Jamus yang rupanya juga sudah mengetahui kedatangan tamu-tamu tidak diundang.

   "Entahlah, mungkin...,"

   Rangga melirik Putri Naga Sewu.

   "Hm... Rupanya mereka masih juga menginginkan pedang ini,"

   Gumam Putri Naga Sewu.

   Gadis itu juga sudah tahu.

   Keempat orang itu tetap duduk diam tanpa bicara-bicara lagi, namun jelas bersikap waspada penuh.

   Suara-suara langkah kaki yang begitu ringan semakin jelas terdengar.

   Dalam hati, Rangga menghitung tamu-tamu tak diundang itu.

   Ada sekitar empat atau lima orang.

   Dan tampaknya bukan orang-orang sembarangan.

   Suara langkah kaki itu demikian halus, dan hampir tidak terdengar.

   Itu sudah menandakan kalau ilmu yang dimiliki cukup tinggi.

   Siapa mereka...? Belum sempat pertanyaan di dalam benak Rangga terjawab, mendadak sebatang tombak panjang meluncur deras ke arah Putri Naga Sewu.

   Hanya dengan sedikit memiringkan tubuh, tombak itu menancap dalam pada sebatang pohon di samping gadis itu.

   Sebatang tombak hitam kemerahan dan sebelum lagi keempat orang itu bisa bergerak, mendadak melesat puluhan anak panah.

   Keempat tokoh rimba persilatan itu serentak berlompatan menghindari hujan anak panah itu.

   Meskipun serangan itu hanya sekali, namun puluhan anak panah itu cukup mengancam nyawa mereka.

   Sekilas, Rangga melihat sebuah bayangan berkelebat dalam semak.

   Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu melompat mengejar.

   "Hiyaaa...!"

   Tepat begitu tubuh Pendekar Rajawali Sakti menembus semak, sebuah bayangan melesat ke atas, lalu hinggap di atas dahan.

   Dan belum lagi Rangga keluar dari dalam semak, dari segala penjuru bermunculan sekitar enam orang bersenjata golok dan tombak.

   Tanpa berkata apa apa, mereka berlompatan menyerang Putri Naga Sewu, Eyang Jamus dan Cempaka.

   Malam yang semula hening tenang itu, seketika pecah oleh pekik dan teriakan pertempuran, ditingkahi benturan senjata beradu.

   Rangga cepat-cepat melompat keluar dari dalam semak, dan langsung terjun ke dalam kancah pertempuran itu Tapi belum juga sempat melayangkan satu pukulan, mendadak sebuah bayangan berkelebat memotong arahnya.

   "Hait..!"

   Pendekar Rajawali Sakti Itu melentingkan tubuhnya ke belakang.

   Tubuhnya kini berputar beberapa kali di udara, kemudian mendarat manis di tanah.

   Tatapan matanya tajam menangkap sesosok tubuh perempuan tua kurus.

   Tongkat di tangannya, pada ujung-nya berbentuk tengkorak bertanduk "Dewi Tengkorak Hitam...,"

   Desis Kangga mengenali perempuan tua itu.

   Pendekar Rajawali Sakti pernah bertemu orang ini sekali ketika terjadi pertempuran di Bukit Setan.

   Memang sudah bisa ditebak kemunculan perempuan berhati iblis ini Yang jelas, pasti ingin merebut Pedang Naga Geni yang ada di tangan Putri Naga Sewu.

   "He he he ! Kalian tidak akan pernah sampai ke Karang Setra,"

   Dewi Tengkorak Hitam terkekeh.

   "Pandan Wangi! Serahkan pedang dan kitab pusaka itu!"

   Namun Putri Naga Sewu yang merasa dirinya bukan Pandan Wangi, hanya diam saja. Padahal Dewi Tengkorak Hitam menatap tajam padanya.

   "Phuih! Kalau aku tahu pedang itu terkubur bersamamu, sudah dari dulu kubongkar!"

   Rungut Dewi T engkorak Hitam.

   "Kotor sekali mulutmu, Nisanak!"

   Geram Rangga.

   "Wadya Bala, serang! Bunuh mereka semua...!"

   Seru Dewi Tengkorak Hitam keras.

   Seketika itu juga enam orang bersenjata golok dan tombak, serentak berlompatan menyerang.

   Eyang Jamus melompat mundur memberikan kesempatan pada Putri Naga Sewu dan Cempaka untuk menghadapi enam orang itu.

   Sedangkan Dewi Tengkorak Hitam segera merangsek Pendekar Rajawali Sakti.

   Eyang Jamus sudah dapat mengukur kalau enam orang itu tidak akan mampu menghadapi Cempaka dan Putri Naga Sewu.

   Seorang saja dari dua gadis itu, belum tentu dapat ditundukkan Tidak heran kalau sebentar saja sudah terdengar jeritan melengking tinggi, disusul ambruknya salah seorang dari mereka disertai simbahan darah.

   Belum lagi hilang suara jeritan itu, disusul jeritan lainnya.

   Melihat dua orang roboh dengan mudah, Cempaka melompat mundur.

   Dibiarkan saja Putri Naga Sewu bertarung sendirian.

   Meskipun tidak menghunus Pedang Naga Geni, namun Putri Naga Sewu mampu membuat empat orang lawannya jatuh bangun menghadapinya.

   Dan sebentar kemudian dua orang lawannya terjengkang, langsung tewas seketika Putri Naga Sewu berteriak keras, disusul satu lompatan cepat bagai kilat Dua pukulan dilepaskan secara beruntun.

   Maka, dua orang lawannya yang tersisa, tidak dapat lagi menghindar.

   Bug! Bug! Dua jeritan me lengking terdengar menyayat, kemudian dua tubuh besar itu terjungkal ambruk ke tanah.

   Kepala mereka pecah dan dada melesak masuk ke dalam.

   Hanya sebentar bisa bergerak, kemudian diam tidak berkutik lagi.

   Putri Naga Sewu berbalik menatap Cempaka yang mengacungkan jempolnya.

   Kedua gadis itu berdiri berdampingan menyaksikan pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan Dewi Tengkorak Hitam.

   Mengetahui tinggal sendirian, Dewi Tengkorak Hitam agak gentar juga hatinya.

   Padahal sudah dikerahkan lebih dari dua puluh jurus, tapi belum sedikit pun dapat mendesak Pendekar Rajawali Sakti.

   Kegentaran semakin melanda hari perempuan tua itu.

   "Mayang, bantu aku...!"

   Tiba-tiba Dewi Tengkoral Hitam berseru nyaring.

   Seruan yang keras itu membuat semua orang yang ada di hutan itu terkejut setengah mati.

   Lebih-lebih Pendekar Rajawali Sakti, yang sampai melompat mundur menghentikan serangannya.

   Cempaka langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

   Dan pada saat itu, terlihat sebuah bayangan merah berkelebat di balik pepohonan.

   Secepat kilat Cempaka melesat mengejar bayangan tadi.

   Dan pada saat yang sama, Dewi Tengkorak Hitam memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur.

   Bagaikan kilat tubuhnya melompat melarikan diri.

   "Jangan lari kau! Hiyaaa...!"

   Gesit sekali Putri Naga Sewu melemparkan pedangnya disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.

   Pedang Naga Geni yang berwama merah itu melesat cepat melebihi anak panah yang terlepas dari busur, dan langsung meluruk ke arah Dewi Tengkorak Hitam.

   Begitu cepatnya lemparan Putri Naga Sewu, sehingga "Aaa...!"

   Pedang Naga Geni menghunjam langsung ke punggung Dewi Tengkorak Hitam, hingga tembus ke dada.

   Dewi Tengkorak Hitam terjerembab jatuh mencium tanah.

   Dia berusaha bangkit meskipun dada dan punggungnya terpanggang pedang yang selalu diimpikannya itu.

   Namun belum juga mampu berdiri, Putri Naga Sewu sudah melompat cepat.

   Langsung saja tangan gadis itu melayang memberi satu pukulan keras bertenaga dalam cukup tinggi.

   "Hiyaaa "

   Prak! "Aaa...!"

   Dewi Tengkorak Hitam langsung tewas seketika dengan kepala hancur berantakan.

   Putri Naga Sewu menarik lepas pedangnya dari tubuh perempuan itu, kemudian menyarungkan kembali.

   Sebentar berdiri tegak, kemudian berbalik dan melangkah menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.

   Eyang Jamus sudah lebih dahulu sampai di samping pemuda pendekar itu "Mana Cempaka?"

   Tanya Rangga yang memang tidak sempat melihat kepergian Cempaka, karena terlalu terpusat perhatiannya pada Dewi T engkorak Hitam.

   "Mengejar bayangan itu,"

   Sahut Putri Naga Sewu.

   "Mayang...?"

   Belum terjawab pertanyaan Rangga, tiba-tiba Cempaka muncul. Gadis itu langsung menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Napasnya tersengal, dan wajahnya bersimbah keringat. Rangga memandangi adik tirinya ini.

   "Tidak ada. Cepat sekali menghilangnya,"

   Ujar Cempaka tanpa diminta memberitahu hasil pengejarannya.

   "Sudahlah. Malam ini dia pasti tidak akan berani muncul lagi,"

   Kata Rangga menjamin. 'Tapi sewaktu-waktu bakal muncul kembali, Kakang. Aku yakin,"

   Bantah Cempaka.

   "Aku tahu. Tapi yang jelas tidak malam ini. Entah besok atau lusa."

   "Huh! Benar-benar sudah gila dia. Tidak mengukur kemampuan diri sendiri!"

   Gerutu Cempaka.

   "Sebaiknya kau istirahat saja, Cempaka. Juga kau, Naga Sewu,"

   Kata Rangga seraya memandang ke wajah gadis itu Dan setiap kali memandang, darahnya seperti berdesir hangat.

   Kedua gadis itu tidak membantah.

   Mereka mendekati api unggun yang hampir padam.

   Setelah menambahkan beberapa ranting, kedua gadis itu merebahkan diri beralaskan daun tikar pandan yang dianyam halus.

   Sedangkan Rangga dan Eyang Jamus duduk tidak jauh di bawah pohon.

   Mereka duduk bersila saling berhadapan.

   "Dia juga pernah datang menemui Naga Sewu. Tapi waktu itu sambil menangis dan meminta maaf. Aku sendiri tidak tahu, apa persoalannya. Dia menyebut Naga Sewu sebagai Pandan Wangi,"

   Jelas Eyang Jamus.

   "Dan yang pasti Naga Sewu tidak mengakui, bukan?"

   Tebak Rangga pasti.

   "Benar."

   "Mayang pasti merasa terhina, lalu mendendam. Yaaah..., persoalan lama terulang lagi,"

   Gumam Rangga pelan, seolah bicara untuk dirinya sendiri.

   "Dendam lama...?"

   Tanpa ragu-ragu lagi Rangga menceritakan semua yang pernah terjadi antara Mayang dengan Pandan Wangi, yang tentu saja juga melibatkan dirinya (Baca; Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah "Darah Pendekar").

   Eyang Jamus mendengarkan penuh perhatian.

   Kepala laki-laki tua itu terangguk-angguk tanda mengerti.

   Sampai Rangga selesai bercerita, Eyang Jamus masih diam sambil terangguk-angguk seperti mengantuk.

   "Rangga! Kurasa ini ancaman serius bagi pemulihan Pandan Wangi..., eh, Naga Sewu,"

   Ujar Eyang Jamus setengah bergumam.

   "Itulah yang menjadi pemikiranku, Eyang,"

   Sam but Rangga.

   "Yang pasti, Mayang tidak akan membiarkan gadis itu hidup kembali. Hm... Apa tindakanmu, Rangga?"

   "Rencana ini tetap berjalan, Eyang. Aku bisa mengerahkan prajurit-prajurit Karang Setra untuk menjaga Bukit Karungan. Yang jelas, aku tidak akan jauh darimu. Percayalah, pekerjaanmu tidak akan mendapat gangguan yang berarti. Tapi entah dalam perjalanan ini. Mungkin juga banyak hambatan,"

   Kata Rangga mantap.

   "Kau begitu bersemangat sekali, Anak Muda,"

   Eyang Jamus tersenyum penuh arti.

   Rangga jadi tersenyum kecut Sedikit wajahnya bersemu merah.

   Kata-kata laki-laki tua itu sangat tepat mengenai hatinya yang paling dalam.

   Sejak mengetahui dan yakin kalau Putri Naga Sewu adalah Pandan Wangi, dia memang begitu bersemangat untuk mengembalikan gadis itu seperti semula.

   Rasanya, tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.

   )odwo( Perjalanan yang ditempuh Rangga, Eyang Jamus, dan dua gadis Itu memang mengalami banyak hambatan.

   Dan kebanyakan datangnya dari tokoh rimba persilatan yang masih menginginkan Pedang Naga Geni.

   Tapi untunglah semua itu mampu teratasi dengan mudah.

   Hanya satu yang menjadi pemikiran Rangga, yakni tentang Mayang.

   Gadis itu belum juga jera mengundang tokoh-tokoh berkepandaian tinggi hanya untuk melaksanakan dendamnya pada Pandan Wangi Pagi-pagi sekali rombongan kecil itu sudah tiba di Bukit Karungan.

   Mereka kini berdiri tepat di pinggir lubang bekas kuburan Pandan Wangi.

   Lubang itu masih menganga lebar, dan sebuah sekop masih berada di dalamnya.

   Saat itu Rangga meminta Cempaka kembali ke istana, untuk segera membawa prajurit-prajurit pilihan.

   Cempaka langsung pergi tanpa banyak tanya lagi.

   Dia sudah tahu maksud Pendekar Rajawali Sakti itu.

   "Kapan dimulai, Eyang?"

   Tanya Rangga.

   "Malam nanti,"

   Sahut Eyang Jamus.

   "Kenapa tidak secepatnya saja?"

   "Aku mengeluarkannya malam hari, dan harus dikembalikan malam hari juga. Hm..., lagi pula aku menyiapkan diri lebih dulu."

   Rangga tidak bertanya lagi.

   Dihampirinya Putri Naga Sewu yang sudah duduk di bawah pohon kemuning.

   Sedangkan Eyang Jamus menggelar tikar pandan, laki duduk bersila di dekat lubang kuburan itu.

   Disiapkan beberapa peralatan yang dibawanya, lalu dinyalakan pendupaan.

   Laki-laki tua itu duduk tepekur dengan telapak tangan merapat di depan dada.

   Kedua matanya terpejam rapat, dan tarikan napasnya halus teratur.

   Siang terus merambat semakin tinggi.

   Matahari bergulir sejalan dengan peredaran waktu.

   Hangatnya cahaya matahari demikian terasa menyengat.

   Beberapa kali Rangga mendongakkan kepalanya melihat ke arah jalan, menunggu Cempaka yang pergi ke Istana Karang Setra untuk mengambil beberapa prajurit pilihan.

   Tapi jalan tembus ke Kota Karang Setra itu tetap sunyi.

   Rangga tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.

   Sedangkan Putri Naga Sewu tampak tenang saja.

   "Kau gelisah sekali, Kakang,"

   Tegur Putri Naga Sewu.

   "Entahlah. Aku sendiri tidak tahu,"

   Desah Rangga pelahan.

   Rangga menatap dalam-dalam bola mata gadis di sampingnya, sepertinya sedang mencari sesuatu di dalam mata yang bulat bening itu.

   Memang tidak ada yang dapat ditemukan.

   Tatapan mata Putri Naga Sewu begitu bening bagai mata seorang bayi yang baru di-lahirkan.

   "Kenapa menatapku begitu?"

   Tegur Putri Naga Sewu sedikit jengah juga.

   "Naga Sewu, apakah tidak bisa kau batalkan semua ini?"

   Tanya Rangga ragu ragu.

   "Maksudmu?"

   Tanya Putri Naga Sewu.

   "Naga Sewu, aku tidak peduli siapa namamu. Yang jelas aku yakin kalau kau adalah Pandan Wangi. Itu kuburanmu, dan kau diangkat dari sana oleh Eyang Jamus. Hhh...! Terus terang, aku cemas kalau...."

   Rangga seperti mengharapkan sesuatu.

   "Pendirianku sudah mantap, Kakang,"

   Potong Putri Naga Sewu cepat.

   "Resikonya terlalu besar, Naga Sewu,"

   Rangga tetap membujuk.

   "Apa pun yang akan terjadi, tetap kujalani. Tidak enak menjadi orang lain. Padahal kau dan semua orang mengenaliku, meskipun aku tidak tahu diriku sebenamya. Percayalah! Eyang Jamus pasti berhasil. Dia bisa membangkitkan aku dari kubur, tentu bisa juga menyempumakan diriku."

   "Ya, aku percaya padanya. Tapi...,"

   Belum Rangga melanjutkan ucapannya, tiba-tiba di sekitai bermunculan sekitar sepuluh orang bersenjata terhunus.

   Rangga cepat melompat sigap mendekati Eyang Jamus yang masih duduk bersila menyatukan raga jiwa pada Sang Pencipta.

   Putri Naga Sewu juga segera melompat mengikuti Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Rangga mengedarkan pandangannya, menatap sepuluh orang yang bergerak pelahan mendekati.

   "Hm...,"

   Rangga menggumam pelan.

   Saat itu dari atas pohon yang cukup tinggi, me luruk turun seorang gadis berbaju merah menyala.

   Kemudian disusul seorang laki laki tua dan dua orang perempuan yang hampir sebaya usianya dengan Putri Naga Sewu.

   Rangga mengenali mereka semua.

   Yang berbaju merah, sudah pasti Mayang.

   Sedangkan yang laki-laki bersenjata cambuk ekor kuda adalah si Iblis Cambuk Neraka.

   Dan, dua orang wanita muda di samping Mayang adalah si Kembar Bidadari Maut.

   Mereka sudah jelas tokoh rimba persilatan dari golongan hitam.

   Memang sudah bisa ditebak maksud kedatangan mereka yang tiba-tiba ini.

   Sama sekali Pendekar Rajawali sakti itu tidak menghiraukan sepuluh orang yang bersenjata golok.

   Mereka adalah kroco-kroco yang pasti dibayar Mayang untuk kelancaran niatnya yang buruk pada Putri Naga Sewu.

   "Kau benar, Mayang. Dia adalah Pandan Wangi. Dan pedang itu.... He he he..., pedang itulah yang selama ini kucari cari. Tidak percuma mengajakku ke sini, Mayang,"

   Kata si Iblis Cambuk Neraka gembira melihat pedang di punggung Putri Naga Sewu.

   "Aku hanya menginginkan kepalanya saja, Iblis Cambuk Neraka Kau boleh memiliki pedang itu, atau apa saja yang kau inginkan,"

   Kata Mayang tersenyum sinis pada Putri Naga Sewu.

   "Bagaimana dengan janjimu, Mayang?"

   Celetuk salah seorang gadis dari si.Kembar Bidadari Maut.

   "Terserah kalian. Aku tidak membutuhkannya lagi. Aku muak dengan kesombongannya. Huh!"

   Mayang mendengus sambil menyemburkan ludahnya ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

   "Bisa kau balas kematian gurumu, si Durjana Pemetik Bunga."

   "Bukan guru, tapi kakak seperguruanku,"

   Ralat salah seorang lainnya dari si Kembar Bidadari Maut Sementara itu Rangga yang mendengar semua percakapan mereka, menjadi geram setengah mati.

   Rupanya selama ini Mayang tahu semua tentang petualangan dirinya.

   Maka dimanfaatkanlah orang-orang yang ada hubungan dengan Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Terutama yang menyangkut persoalan dendam dalam dunia persilatan.

   Benar-benar licik gadis ini.

   Tidak mampu menghadapi sendiri, maka diperalatlah orang-orang yang memiliki dendam pribadi pada Pendekar Rajawali Sakti.

   Atau mereka yang haus senjata pusaka.

   Rasa cinta, marah, dan benci, serta dendam dalam hati Mayang, rupanya tidak bisa terkendalikan lagi.

   Hati gadis itu bagai tertutup rayuan dan bujukan iblis sehingga lupa daratan dan menjadi wanita licik penuh dendam.

   Sungguh amat disayangkan, seorang gadis yang semula baik, polos, dan berada di jalan yang benar, kini terlibat persoalan dendam yang membuatnya jadi mata gelap.

   Tidak bisa lagi membedakan yang benar dan yang salah..

   "Sebaiknya kalian tidak perlu membuang-buang waktu lagi. Cepat bereskan sebelum para prajurit Karang Setra berdatangan,"

   Kata Mayang.

   "Keparat..!"

   Geram Rangga dalam hati.

   Dia benar-benar gusar melihat tingkah Mayang kali ini.

   Rangga baru sadar kalau selama ini ternyata Mayang membuntutinya mencari Pandan Wangi.

   Bahkan selalu bisa mengambil kesempatan untuk melampiaskan dendamnya.

   Rangga benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya.

   Kebenciannya memuncak melihat tingkah Mayang yang sudah dianggapnya kelewat batas "Seraaang...!"

   Seru Mayang tiba tiba.

   )odwo( Seruan Mayang yang keras Itu membuat sepuluh orang bersenjata golok, berlompatan menyerang seketika.

   Golok-golok berkilat tertimpa cahaya matahari saling berkelebat mengarah ke bagian-bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti dan Putri Naga Sewu.

   Sedangkan empat orang lainnya masih berdiri memper-hatikan.

   Terlebih Mayang, yang begitu tertumpah perhatiannya pada Putri Naga Sewu.

   Gadis yang diyakininya sebagai Pandan Wangi.

   Trang! Trang...! "Hiya! Y eaaah...!"

   Pertarungan berlangsung sengit.

   Putri Naga Sewu sudah mencabut pedangnya yang berwama merah bagai besi terbakar.

   Dengan Pedang Naga Geni, dirinya bagai sosok malaikat pencabut nyawa.

   Setiap kibasan pedangnya, satu nyawa melayang.

   Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti hanya mempergunakan jurus-jurus ringan.

   Itu pun sudah menyebabkan beberapa nyawa melayang.

   Meskipun hanya berdua, tapi sepuluh orang itu tidak mampu mendesak lawannya.

   Bahkan satu per-satu mereka terjerembab jatuh, dan nyawa melayang.

   Tidak berapa lama pertarungan itu berlangsung.

   Jeritan melengking terakhir masih terdengar dari lawan Putri Naga Sewu.

   Gadis itu segera melompat mendekati Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak melindungi Eyang Jamus.

   "Hebat! Tapi jangan berbangga dulu. Terimalah seranganku ini. Hiyaaa...!"

   Ctar! Si Iblis Cambuk Neraka melompat cepat bagai kilat menerjang Putri Naga Sewu. Tapi sebelum cambuknya menyentuh tubuh gadis itu, dengan cepat Rangga melepaskan satu pukulan menggeledek disertai pengerahan tenaga dalam yang sempurna sekali.

   "Eh! Uts. .!"

   Si Iblis Cambuk Neraka terkejut setengah mati.

   Belum juga pukulan Pendekar Rajawali Sakti itu sampai, angin pukulannya sudah terasa demikian dahsyat.

   Akibatnya, laki-laki berkumis tebal itu terpaksa menarik pulang serangannya, kemudian segera melenting ke atas Dan pada saat tubuhnya berada di udara, dengan cepat dikebutkan cambuknya ke arah Putri Naga Sewu kembali.

   Ctar! "Hap!"

   Putri Naga Sewu tidak menggeser kakinya sedikit pun.

   Begitu ujung cambuk yang menyerupai buntut kuda itu berada di atas kepalanya, secepat kilat diangkat tangannya, dan ditangkap cambuk itu.

   Dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi, Putri Naga Sewu membetot cambuk itu ke bawah.

   "Eh...!"

   Si Iblis Cambuk Neraka tersentak kaget.

   Belum juga dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, Putri Naga Sewu sudah melesat ke atas.

   Maka satu tendangan kilat segera dilepaskan ke dada laki-laki berkumis tebal itu.

   Tendangan yang cepat dan tak terduga sama sekali itu, sukar dihindarkan lagi.

   Apalagi, saat itu si Iblis Cambuk Neraka sedang menahan betotan Putri Naga Sewu Bug! "Akh...!"

   Si Iblis Cambuk Neraka terpekik tertahan.

   Seketika itu juga tubuh besar itu meluncur deras ke bawah, dan jatuh bergulingan di tanah.

   Tampak darah kental mengucur dari mulutnya.

   Iblis Cambuk Neraka bergegas bangkit, tapi tubuhnya agak limbung.

   Sebentar digerakkan tangannya di depan dada, lalu dikebut kebutkan cambuknya yang sama persis dengan buntut kuda.

   Hiyaaa...!"

   Sambil berteriak keras menggelegar, si Iblis Cambuk Neraka berlari kencang menyerang Putri Naga Sewu. Dikebutkan cambuknya kuat-kuat. Cambuk itu pun menegang kaku bagai sebatang tongkat. Bahkan ujung-ujungnya yang bagai rambut itu menegang kaku.

   "Hait..!"

   Putri Naga Sewu melompat ke atas menghindari serudukan si Iblis Cambuk Neraka.

   Dan begitu laki-laki berkumis tebal itu lewat di bawah kakinya, dengan cepat Putri Naga Sewu menghunus pedangnya kembali.

   Dengan kecepatan kilat, dikibaskan pedang itu ke arah leher, dan.

   Cras! "Aaa...!"

   Si Iblis Cambuk Neraka menjerit melengking tinggi.

   Darah langsung muncrat keluar dari leher yang terpenggal buntung.

   Bersamaan dengan menggelindingnya kepala, tubuh si Iblis Cambuk Neraka juga ambruk sambil memuncratkan darah segar dari leher yang buntung.

   Putri Naga Sewu menendang tubuh tanpa kepala itu setelah mendarat di tanah.

   Pada saat itu, dari kejauhan terdengar suara derap langkah kaki kuda.

   Tampak Cempaka, Danupaksi, dan dua orang panglima serta sekitar lima puluh prajurit Kerajaan Karang Setra memacu kudanya cepat mendaki Lereng Bukit Karungan ini.

   Seketika wajah Mayang jadi pucat pasi.

   Bagitu pula dengan si Kembar Bidadari Maut.

   Mereka nampak gelisah karena kini datang para prajurit Karang Setra itu.

   "Rangga, persoalan ini belum lagi selesai!"

   Kata salah seorang dari si Kembar Bidadari Maut lantang.

   Setelah berkata demikian, gadis kembar itu langsung melesat pergi sebelum para prajurit yang dibawa Cempaka tiba.

   Pada saat yang sama, Mayang juga hendak melompat kabur.

   Tapi Putri Naga Sewu cepat-cepat menghadangnya.

   Belum lagi Mayang bisa berbuat sesuatu, rombongan prajurit Karang Setra itu sudah tiba.

   Mereka langsung berlompatan turun dari kudanya masing-masing, membentuk lingkaran mengurung Mayang.

   "Kau menang, Pandan...,"

   Kata Mayang ketus.

   "Tidak ada kesempatan lagi untuk membalas, Mayang!"

   Dengus Cempaka yang sudah muak akan tingkah Mayang selama ini.

   Mayang menatap Cempaka yang berjalan mendekati Putri Naga Sewu.

   Saat itu, Rangga dan Danupaksi berada tidak jauh di sebelah kanan kedua gadis itu.

   Entah apa yang dibisikkan Rangga di telinga adik tirinya itu, tapi kepala Danupaksi terangguk-angguk.

   Kemudian, Danupaksi mendekati dua orang berpakaian panglima, dan juga berbisik.

   Kedua panglima itu langsung bergerak mengatur penjagaan di sekitar Bukit Karungan ini.

   Hanya tinggal enam prajurit dan seorang panglima saja yang masih berada di dekat tempat itu.

   "Kanda Prabu, hukuman apa yang pantas untuk perempuan setan ini?"

   Tanya Cempaka seraya melirik penuh kebencian pada Mayang.

   "Biarkan dia pergi,"

   Kata Rangga dingin dan datar.

   "Apa...?!"

   Cempaka terkejut tidak percaya dengan pendengarannya.

   Rangga memang muak dan benci terhadap tingkah Mayang.

   Tapi tidak mungkin untuk bertindak lebih selain membiarkan Mayang pergi.

   Bagaimanapun juga, gadis itu adalah murid bibinya yang pernah berjasa mengembalikan Karang Setra pada ahli warisnya.

   Berdirinya Kerajaan Karang Setra juga tidak terlepas dari jasa Mayang.

   Hal itu jelas tidak akan pernah dilupakan Rangga.

   Sukar bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk menjatuhkan hukuman berat pada Mayang.

   "Kakang...,"

   Danupaksi mendekati Pendekar Rajawali Sakti itu.

   "Aku tahu perasaan kalian semua. Tapi, kalian harus ingat jasa-jasanya yang tidak kecil. Meskipun sekarang ini pikirannya sedang kacau, tapi rasanya tidak patut memberikan hukuman padanya. Biarkan dia pergi,"

   Kata Rangga penuh kewibawaan.

   "Kakang, dia tidak akan kapok. Pasti akan membuat perkara lagi di kemudian hari,"

   Kata Cempaka tetap tidak setuju keputusan Rangga.

   "Pada dasarya dia baik, Cempaka. Aku yakin suatu saat Mayang akan menyadari kekeliruannya,"

   Kata Rangga "Pergilah kau Mayang, sebelum aku berubah pikiran."

   Mayang menatap dalam-dalam pemuda yang dicintainya, sekaligus juga dibencinya.

   Kemudian pandangannya beralih pada Cempaka, Danupaksi, dan berakhir pada Putri Naga Sewu yang wajahnya begitu mirip Pandan Wangi.

   Pantas memang semua orang yang ada di Bukit Karungan ini begitu yakin kalau gadis itu adalah Pandan Wangi.

   "Terima kasih kau biarkan aku pergi. Tapi, pikiranku tidak akan berubah! Aku tidak akan mencelakakanmu atau keturunanmu. Aku mencintaimu. Aku hanya membenci siapa saja yang berusaha mendapatkanmu. Itu janjiku, Kakang. Siapa saja yang mencoba mendekatimu harus mati di tanganku!"

   Tegas nada suara Mayang.

   Setelah berkata demikian, Mayang berbalik dan langsung melompat ke punggung salah seekor kuda prajurit.

   Dengan cepat digebahnya kuda itu.

   Debu berkepul tersepak kaki kuda yang beriari kericang bagai dikejar setan.

   Rangga dan kedua adik tirinya serta Putri Naga Sewu memandang kepergian Mayang, sampai bayangannya lenyap bersama kuda tunggangannya.

   Saat itu matahari sudah tergulir ke arah Barat.

   Sinarnya yang terik tidak lagi terasa.

   Angin berhembus agak kencang.

   Danupaksi memerintahkan pada empat orang prajurit untuk menguburkan mayat-mayat yang bergelimpangan.

   Sementara itu Rangga berdiri tegak tidak jauh dari Eyang Jamus yang masih tenang duduk bersila di pinggir liang lahat bekas milik Pandan Wangi.

   Sementara Putri Naga Sewu dan Cempaka mengambil tempat yang teduh di bawah naungan pohon flambo-yan.

   Suasana di sekitar Bukit Karungan menjadi sunyi senyap.

   Semua orang menunggu Eyang Jamus yang tengah mempersiapkan diri untuk memulihkan kembali Putri Naga Sewu atau Pandan Wangi.

   Waktu berjaian terasa begitu lambat Sepertinya lama sekali menanti datangnya malam.

   Namun, pada akhirnya datang juga.

   Seluruh permukaan Bukit Karungan kini sudah terselimut kegelapan.

   Tidak ada yang menyalakan api, karena memang dilarang Eyang Jamus.

   Laki-laki tua Itu sudah bangun dari semadinya yang cukup panjang.

   Ditatapnya Putri Naga Sewu, maka gadis itu melangkah menghampirinya didampingi Cempaka.

   "Sekarang waktunya, Cucuku,"

   Kata Eyang Jamus pelan.

   "Kau sudah siap, Pandan?"

   Tanya Rangga sudah menyebut gadis itu dengan nama Pandan Wangi.

   Putri Naga Sewu hanya tersenyum manis, kemudian melangkah mendekati lubang itu.

   Eyang Jamus berkomat kamit sebentar, lalu menyipratkan sepercik air dari dalam guci ke wajah Putri Naga Sewu.

   Seketika itu juga mata gadis itu terpejam, dan tubuhnya menegang kaku.

   Tak ada lagi gerakan di dalam dirinya.

   Eyang Jamus kembali duduk bersila, lalu mengangkat tangannya ke arah Putri Naga Sewu.

   Tak ada yang bersuara sedikit pun.

   Semua orang yang menyaksikan saling menahan napas.

   Tubuh ramping berbaju biru itu terangkat pelahan, dan rebah mengambang di udara.

   Pelahan-lahan tubuh Putri Naga Sewu bergerak masuk ke dalam lubang kuburan mengikuti gerakan tangan Eyang Jamus.

   "Kubur,"

   Perintah Eyang Jamus setelah tubuh Putri Naga Sewu terbaring di dalam lubang.

   "Eyang...,"

   Ada nada cemas pada suara Rangga.

   Eyang Jamus menatap tajam Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Rangga jadi serba salah, kemudiap memberi isyarat pada empat orang prajurit yang sudah memegang sekop.

   Empat prajurit itu segera bekerja menguruk lubang itu.

   Sedikit demi sedikit lubang itu tertimbun tanah merah.

   Rangga benar-benar tidak sanggup melihatnya lagi.

   Padahal dia sering melihat orang mati, bahkan mati terbunuh oleh tangannya.

   Tapi melihat tubuh gadis berbaju biru itu terkubur, benar-benar tidak tahan.

   Pendekar Rajawali Sakti itu berbalik dan bergegas melangkah menjauh Cempaka yang sejak tadi memperhatikan, bergegas menyusul "Kakang, kau tidak apa-apa?"

   Tegur Cempaka cemas.

   "Tidak..., aku tidak apa-apa,"

   Sahut Rangga seraya menarik napas panjang.

   Padahal hatinya begitu cemas.

   Betapa tidak? Gadis yang dicintainya kini harus dikubur kembali, dengan resiko kematian yang sesungguhnya.

   Pendekar Rajawali Sakti itu berdiri tegak memandang ke arah lain.

   Rasanya memang tidak sanggup melihat Putri Naga Sewu yang diyakininya sebagai Pandan Wangi kembali terkubur dalam liang pusaranya.

   Sementara itu para prajurit sudah menyelesaikan pekerjannya.

   Eyang Jamus masih tetap duduk bersila dengan kedua telapak tangan merapat di depan dada.

   Empat prajurit itu menyingkir menjauh setelah diberi isyarat Danupaksi.

   'Paman Panglima, atur penjagaan lebih ketat lagi.

   Aku tidak tahu, berapa lama hal ini berlangsung,"

   Perintah Danupaksi.

   "Hamba laksanakan, Gusti,"

   Sahut panglima itu seraya memberi hormat.

   Danupaksi mengangguk, kemudian menarik napas seraya menoleh ke arah Rangga dan Cempaka yang berdiri membelakangi tempat ini.

   Pemuda itu ikut merasakan apa yang tengah dirisaukan kakak tirinya saat ini.

   Tapi yang jelas, dia harus bisa mengambil tindakan cepat untuk mengamankan sekitar Bukit Karungan ini.

   Sementara itu Rangga duduk bersila di atas se-bongkah baru besar.

   Cempaka berdiri tidak jauh di sampingnya.

   Gadis itu tidak ingin meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti itu sendirian, karena tahu kalau semua ini akan berlangsung paling tidak tiga hari lamanya.

   Dan selama itu mereka harus berada di sini menjaga segala kemungkinan.

   "Kakang, apa tidak sebaiknya Kakang Danupaksi kembali ke istana?"

   Usul Cempaka.

   "Bicara saja pada Danupaksi, Cempaka,"

   Kata Rangga.

   "Aku serahkan semuanya pada kalian berdua."

   Cempaka berpaling pada Danupaksi. Pada saat yang sama, Danupaksi memandang ke arah gadis itu. Danupaksi bergegas menghampiri melihat isyarat yang diberikan adik tirinya itu "Ada apa?"

   Tanya Danupaksi.

   "Kakang minta agar kau kembali ke istana. Jangan sampai kosong di sana,"

   Kata Cempaka.

   "Lalu di s ini?"

   "Biar aku yang tangani. Atur saja pergantian penjagaan setiap pagi dan sore sampai semuanya selesai."

   "Baiklah. Tapi setiap hari aku akan menyempatkan diri datang ke sini,"

   Kata Danupaksi.

   Pemuda itu memberi hormat pada Rangga yang hanya diam saja dengan mata terpejam.

   Danupaksi bergegas mengambil kudanya.

   Dituntunnya kuda itu sampai jauh, lalu ditunggangi dan digebahnya cepat-cepat Cempaka menarik napas panjang.

   Sebentar di-tatapnya Rangga yang tetap bersemadi, kemudian dilangkahkan kakinya meninggalkan Rangga.

   Gadis itu masuk ke dalam tenda yang disiapkan prajurit untuk beristirahat Sebenarnya ada tiga tenda yang berdiri.

   Satu untuk Rangga, satu untuk Cempaka, dan satu lagi untuk Danupaksi.

   Tapi Danupaksi kini kembali ke istana, sedangkan Rangga sudah bersemadi di atas baru di luar tenda.

   Sepuluh orang prajurit dan satu panglima terlihat berjaga jaga.

   Sedangkan empat puluh prajurit dan seorang panglima lain, berada cukup jauh di bagian lereng.

   Belum lagi sekitar seratus prajurit yang menjaga di sekitar kaki bukit.

   Penjagaan ini memang sudah diatur oleh Danupaksi untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

   Tiga hari sudah terlewati tanpa ada kejadian yang berarti.

   Saat itu malam sudah demikian larut.

   Dan Rangga sudah berdiri di samping Eyang Jamus yang tetap duduk bersila.

   Di samping Pendekar Rajawali Sakti itu juga terlihat Cempaka.

   Hampir lima puluh prajurit terlihat berjaga-jaga di sekeliling tempat itu.

   "Bangkitlah, Cucuku. Sudah waktunya kau hidup kembali,"

   Kata Eyang Jamus dengan mata terpejam.

   Kembali hening, tak ada suara sedikit pun.

   Mulut Eyang Jamus berkomat-kamit, kemudian menaburkan sepercik air dari dalam cawan ke atas kuburan di depannya.

   T iba-tiba dia melompat cepat.

   Pada saat itu terdengar satu ledakan dahsyat menggelegar.

   Rangga dan Cempaka terkejut, dan langsung melompat mundur.

   Tampak kuburan itu terbongkar bagai gunung api me letus.

   Tanah dan bebatuan beterbangan ke udara disertai ledakan yang menggelegar memekakkan telinga.

   Di antara tanah dan bebatuan yang terlontar ke atas, juga terlihat sosok tubuh ramping mengenakan baju biru.

   Tubuhnya juga terlontar tinggi ke udara.

   Eyang Jamus sigap sekali melompat, lalu menangkap tubuh ramping itu, kemudian dengan manis mendarat di tanah.

   Laki-laki tua itu membaringkan tubuh ramping yang bagaikan tidur pulas itu di atas tikar daun pandan.

   Rangga dan Cempaka bergegas mengham-piri.

   "Bangun, Cucuku,"

   Desis Eyang Jamus seraya memercikkan air dari dalam cawan ke wajah gadis itu.

   Tidak berapa lama kemudian, dada gadis itu bergerak.

   Sebentar kemudian kepalanya menggeleng lemah ke kiri dan ke kanan.

   Pelahan-lahan kelopak matanya terbuka, dan terdengarlah rintihan lirih.

   "Pandan...,"

   Rangga berlutut di samping gadis berbaju biru itu. Seperti tak percaya pada penglihatan-nya.

   "Oh..., di mana aku...?"

   Lemah sekali suara gadis itu.

   "Pandan..., kau kenal aku?"

   Ujar Rangga, seperti mengharapkan jawaban yang selama ini diimpi-impikannya. Gadis itu menoleh. Sebentar dikerjapkan matanya be berapa kali.

   "Kakang...."

   "Oh, Pandan.... Kau kembali, Pandan...."

   Rangga tidak bisa lagi menahan perasaannya.

   Langsung saja direngkuhnya tubuh gadis itu, lalu diangkat dan dipeluknya erat-erat Rangga tak lagi mempedulikan orang-orang di sekitarnya.

   Perasaannya yang sukar dilukiskan telah menutup matanya.

   Kembalinya Pandan Wangi ke dunia ini, berarti juga kembalinya perasaan cinta yang selama ini hilang.

   Mungkin kalau tak malu, rasanya Rangga ingin menangis haru.

   Rangga benar-benar tak percaya melihat kenyataan bahwa gadis yang dicintai, kini hidup kembali! Sementara itu Eyang Jamus berdiri seraya menghembuskan napas panjang.

   Dimakluminya sikap Rangga yang seperti telah menemukan sesuatu yang hilang itu.

   Laki-laki tua itu kemudian berbalik dan melangkah menjauh.

   Cempaka mengikutinya dan menghadang laki-laki tua itu.

   "Eyang...,"

   Agak tercekat suara Cempaka.

   "Aku ingin istirahat. Di mana tendaku?"

   Ujar Eyang Jamus.

   "Oh..., itu,"

   Cempaka menunjuk salah satu tenda.

   Gadis itu lega, karena tadi dikira Eyang Jamus hendak pergi.

   Sementara itu Rangga membantu gadis berbaju biru itu berdiri.

   Kelihatan masih lemah, tapi sudah mulai nampak berangsur segar.

   Cempaka memandang sejenak, lalu menghampirinya.

   "Cempaka...,"

   Desah gadis Itu "Oh, Kak Pandan..."

   Cempaka menghambur dan kedua gadis itu langsung berpelukan disertai seribu macam perasaan bergelut di hati mereka berdua.

   Rangga hanya berdiri saja.

   Matanya agak berkaca-kaca.

   Rasanya malam inilah untuk pertama kali mengenyam kebahagiaan.

   Tidak ada lagi kebahagiaan yang dapat dirasakannya selain malam ini.

   Rangga tidak tahu lagi, apa yang diucapkannya.

   Mulutnya seperti terkunci oleh perasaan yang sukar diucapkan.

   Dia hanya berterima kasih pada Hyang Widi yang telah menghidupkan kembali Pandan Wangi dari kematian semu.

   Cempaka dan Pandan Wangi me lepaskan pelukannya.

   Mereka masih saling berpandangan.

   Kemudian sama-sama menoleh menatap Rangga.

   Pendekar Rajawali Sakti itu melingkarkan tangannya ke pundak kedua gadis itu, lalu memeluknya dengan sejuta rasa bahagia yang berbunga di hatinya.

   "Di mana Eyang Jamus?"

   Tanya Rangga tiba-tiba teringat laki-laki tua yang telah begitu berjasa mengembalikan Pandan Wangi dalam kehidupan yang nyata.

   "Istirahat di tenda,"

   Sampung Cempaka.

   Rangga bergegas menuju ke tenda yang ditunjuk Cempaka.

   Disibakkan kain penutup pintu tenda itu.

   Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu jadi tertegun, karena di dalam tenda itu tidak ada siapa-siapa.

   Rangga mencari di tenda lainnya.

   Tetap saja yang dicari tidak ada.

   Tiga tenda semuanya kosong.

   Cempaka dan Pandan Wangi saling berpandangan, kemudian sama-sama menghampiri Pendekar Rajawali Sakti itu.

   "Ada apa, Kakang?"

   Tanya Cempaka.

   "Eyang Jamus. Dia tidak ada,"

   Sahut Rangga.

   "Oh...! Ke mana perginya?"

   Cempaka menutup mulutnya.

   "Aku tidak tahu. Hhh...! Aku harus mencarinya. Dia pasti kembali ke Desa Banyu Biru,"

   Duga Rangga.

   "Aku ikut, Kakang,"

   Kata Cempaka.

   "Tidak! Kau harus kembali ke istana...,"

   Rangga menatap Pandan Wangi.

   "Pandan, kau masih perlu banyak beristirahat. Aku berjanji, tak akan lama pergi. Setelah bertemu Eyang Jamus, aku pasti akan kembali bersamamu,"

   Jelas Rangga.

   Jiwa besar Pendekar Rajawali Sakti memang selalu begitu.

   Hatinya tak akan tentram bila belum mengucapkan terima kasih pada Eyang jamus.

   Rangga menepuk bahu kedua gadis itu, kemudian memanggil seorang panglima yang ada di situ.

   Panglima itu bergegas menghampiri dan membungkuk memberi hormat.

   "Panglima, malam ini juga kalian harus kembali ke istana. Jaga mereka. Pertaruhkan keselamatannya dengan nyawamu,"

   Perintah Rangga.

   "Hamba, Gusti Prabu,"

   Sahut panglima itu seraya membungkuk hormat.

   "Aku pergi dulu, Pandan, Cempaka,"

   Pamit Rangga "Baik, Kakang,"

   Sahut kedua gadis itu hampir ber-samaan.

   Walaupun dengan hati berat, tapi Rangga tetap melompat ke punggung kudanya.

   Dan seketika itu juga Kuda Dewa Bayu melesat cepat bagai kilat menerobos kegelapan malam yang pekat.

   Cempaka mengajak Pandan Wangi pergi.

   Mereka menunggang kuda dikawal para prajurit dan panglima perang.

   Mereka kembali ke istana Karang Setra, dan menunggu Rangga pulang membawa Eyang Jamus yang tidak ketahuan pergi-nya.

   "Siapa itu Eyang Jamus?"

   Tanya Pandan Wangi yang berkuda pelahan di samping Cempaka.

   "Sahabat kakekmu. Katanya, juga sahabat orang tuamu, Kak Pandan. Dialah yang menghidupkan dirimu kembali dari kematian semu,"

   Jelas Cempaka singkat.

   Dia juga melanjutkan ceritanya tentang semua yang telah terjadi dalam upaya menghidupkan kembali Pandan Wangi.

   Sedangkan Pandan Wangi yang kini benar-benar sudah pulih kembali, mendengarkan penuh perhatian.

   Sampai Cempaka selesai bercerita, Pandan Wangi masih diam.

   Sungguh tidak disangka kalau dirinya pernah mati selama tiga bulan, dan terkubur di dalam liang lahat! "Kau tidak kenal Eyang Jamus, Pandan?"

   Tanya Cempaka ketika dilihatnya Pandan Wangi hanya diam saja.

   "Aku memang belum pernah melihat orangnya. Tapi aku tahu bahwa sebenamya dia bernama si Tabib Aneh Jari Delapan. Kudengar dia memang sahabat keluargaku. Hm..., aku tidak tahu kalau aku telah ditolong olehnya,"

   Kata Pandan Wangi.

   "Mungkin karena antara kau dan dia terdapat ikatan batin. Bukankah antara keluargamu dan Eyang Jamus bersahabat karib?"

   "Ya, mungkin juga,"

   Desah Pandan Wangi pelan.

   "Hhh.... Seandainya sudah pulih benar, pasti aku akan menyusulnya, lalu mengucapkan terima kasih."

   "Kakang Rangga pasti berhasil membawanya ke istana. Aku yakin,"

   Cempaka membesarkan hati Pandan Wangi.

   "Mudah-mudahan saja."

   Kedua gadis itu tidak berbicara lagi.

   Mereka berkuda pelahan-lahan di belakang panglima.

   Sedangkan sekitar lima puluh prajurit mengikuti di belakang.

   Sementara malam terus merayap semakin larut Dan perjalanan itu tampaknya tidak akan mengalami hambatan apa pun.

   Sementara, hati Pandan Wangi pun berharap agar Rangga dapat membujuk Eyang Jamus atau si Tabib Aneh Jari Delapan ke Istana Karang Setra.

   Tapi yang paling diharapkan, dapat bersama-sama kembali dengan pemuda yang dicintainya.

   Bahkan mungkin bersama-sama mengembara lagi memerangi ke angkara murkaan.

   Harapan yang tidak berlebihan.

   SELESAI Pembuat Ebook .

   Editor & Pdf .

   Dewi KZ
http.//kangzusi.com/
http.//dewi-kz.info/

   
http.//kangzusi.info/

   
http.//cerita_silat.cc/

   

   

   

Kisah Dua Saudara Seperguruan Karya Liang Ie Shen Pendekar Mabuk Pertarungan Di Bukit Jagal Pendekar Rajawali Sakti Sepasang Walet Merah

Cari Blog Ini