Ceritasilat Novel Online

Jago Dari Mongol 1


Pendekar Rajawali Sakti Jago Dari Mongol Bagian 1


JAGO DARI MONGOL Oleh Teguh Suprianto Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta Penyunting.

   Puji S.

   Gambar sampul oleh Soeryadi Hak cipta pada Penerbit Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Teguh Suprianto Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode.

   Jago dari Mongol Ebook.

   Abu Keisel
http.//duniaabukeisel.blogspot.com Sebuah kapal layar berukuran besar merapat di dermaga Pelabuhan Timur Kerajaan Jiwanala.

   Tidak seperti bi-asanya, kali ini pelabuhan itu tampak ramai disinggahi kapal besar dan kecil.

   Dari dalam kapal besar itu keluar orang-orang berpakaian aneh dari bulu binatang.

   Kulit mereka kuning dan mata agak sipit.

   Jumlahnya tidak kurang dari sepuluh orang, rata-rata menyan-dang senjata golok besar dan bergagang panjang.

   Dari bendera yang berkibar di tiang, dapat diketahui kalau mereka berasal dari daratan Mongol.

   Hampir semua orang yang memadati pelabuhan itu memperhatikan mereka.

   Sebuah tandu indah diusung oleh empat orang bertubuh kekar dengan otot-otot bersembulan keluar.

   Di dalam tandu itu duduk seorang laki-laki berkumis panjang, dan berbaju indah dari bahan sutra halus.

   Di pinggangnya tersandang sebilah pedang panjang yang gagangnya berta-burkan batu mutiara.

   Rombongan dari Mongol itu terus bergerak menuju ke ibukota Kerajaan Jiwanala.

   Seorang punggawa kerajaan yang kebetulan melihat rombongan asing itu, bergegas memacu kudanya menuju istana kerajaan yang tidak jauh dari situ.

   Dia sempat berpesan kepada empat orang prajurit penjaga pintu gerbang, kemudian memacu kudanya dengan cepat memasuki benteng istana.

   Kerajaan Jiwanala merupakan kerajaan megah yang kaya.

   Tidak heran kalau istananya begitu megah dan indah.

   Punggawa itu bergegas turun dari kudanya begitu sampai di depan istana.

   Langkahnya tergesa-gesa memasuki istana.

   Beberapa prajurit penjaga membungkukkan badan memberi hormat.

   Laki-laki berpakaian pembesar kerajaan itu terus melangkah lebar menuju ruangan singgasana kerajaan, dan langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Raja Jiwanala.

   "Ampunkan hamba, Gusti Prabu Duta Nitiyasa. Hamba menghadap tanpa dipe-rintah,"

   Ucap punggawa itu.

   "Ada apa, Punggawa Narayama?"

   Tanya Prabu Duta Nitiyasa lembut.

   "Ampun, Gusti. Hamba melihat serombongan orang asing menuju ke Kotaraja. Mereka datang dengan kapal yang cukup besar dan peralatan lengkap,"

   Lapor Punggawa Narayama.

   Belum lagi Prabu Duta Nitiyasa mengatakan sesuatu, seorang prajurit penjaga pintu gerbang istana muncul dan menghampiri.

   Prajurit itu membungkuk, kemudian berlutut memberi hormat.

   Para patih, panglima, dan pembesar kerajaan yang kebetulan berada di ruangan itu, memandang pada prajurit penjaga pintu gerbang yang baru datang.

   "Ada apa, prajurit?"

   Tanya Prabu Duta Nitiyasa.

   "Ampun, Gusti Prabu. Ada beberapa orang asing hendak bertemu Gusti Prabu,"

   Lapor prajurit penjaga itu.

   "Hm..., perintahkan mereka ma-suk."

   "Hamba, Gusti."

   Prajurit penjaga itu memberi hormat, lalu melangkah ke luar.

   Punggawa Narayama bermaksud meninggalkan ruangan itu, tapi Prabu Duta Nitiyasa cepat melarangnya.

   Punggawa itu menyingkir, dan duduk pada deretan punggawa lainnya.

   Tidak lama berselang, seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar dan berkumis hitam panjang melangkah masuk.

   Sepuluh orang berpakaian seragam aneh yang terbuat dari bulu binatang ikut mengiringnya.

   Mereka serentak membungkukkan badan sambil meletakkan tangan kanannya di depan dada.

   Prabu Duta Nitiyasa pun segera membalasnya dengan mengangkat tangannya ke depan.

   Orang-orang dari Daratan Mongol itu duduk bersila dengan sikap hormat.

   "Apakah maksud kalian datang jauh-jauh ke negeri kami?"

   Tanya Prabu Duta Nitiyasa.

   Laki-laki bertubuh tinggi besar dan berbaju sutra halus itu bangkit berdiri.

   Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut.

   Bagi mereka, sikap orang Mongol itu sudah melampaui batas! Berani berdiri tegak di hadapan junjungan mereka adalah melanggar tatakrama.

   Tapi Prabu Duta Nitiyasa segera mengangkat tangannya, sehingga para pembantunya bisa mengendalikan diri.

   "Aku bernama Ogodai Leng, dan mereka adalah pengawal khusus Yang Mulia Jengis Khan. Kami datang untuk meminta tanda takluk negeri ini,"

   Lantang suara laki-laki tinggi besar itu.

   "Gila! Setan apa yang membawa kalian kemari?"

   Bentak Panglima Sembada berang.

   "Panglima Sembada...,"

   Tetap tenang suara Prabu Duta Nitiyasa.

   "Hamba, Gusti Prabu,"

   Panglima Sembada memberi hormat.

   "Hm..., katakan pada rajamu. Kami semua di sini cinta damai, dan tidak akan pernah takluk pada siapa pun. Dengan tegas aku menolak permintaan rajamu,"

   Kata Prabu Duta Nitiyasa tegas.

   Ogodai Leng merebut tombak dari tangan salah seorang pengawalnya, lalu ditancapkan tepat di depan Prabu Duta Nitiyasa.

   Para panglima Kerajaan Jiwanala langsung bangkit berdiri, tapi Prabu Duta Nitiyasa cepat mengangkat tangannya kembali.

   Maka, kemarahan panglima-panglima itu masih dapat teredakan.

   "Silakan kalian tinggalkan istana ini,"

   Tegas Prabu Duta Nitiyasa.

   Orang-orang Mongol itu tidak berkata-kata lagi.

   Mereka langsung berbalik dan melangkah pergi.

   Tombak yang ditinggalkan menandakan tantangan untuk berperang, dan ini sangat dis-adari Prabu Duta Nitiyasa maupun para panglimanya.

   *** Orang-orang Mongol itu tidak langsung kembali ke kapalnya, dan singgah di sebuah kedai minum yang tidak begitu ramai.

   Dengan sikap dan gaya bagai penguasa, mereka bertindak semaunya di kedai itu.

   Tentu saja hal ini membuat pengunjung lain merasa tidak senang, tapi tidak bisa berbuat banyak.

   Seorang pemuda yang coba-coba mengusir, tewas di ujung golok salah seorang Mongol itu.

   Tapi dari sebelas orang itu, terlihat seorang pemuda berwajah tampan yang duduk tenang, tak menghiraukan keramaian itu.

   Sebilah pedang panjang bertengger di punggungnya.

   Kelihatannya pemuda itu tidak begitu suka melihat tingkah laku teman-temannya yang brutal dan membuat kekacauan di kedai ini.

   Sejak masuk tadi, pemuda berbaju putih bersih bagai seorang pelajar itu tidak membuka suara sedikit pun.

   Bahkan dia duduk tenang tidak menghiraukan tingkah teman-temannya.

   Di depan pemuda itu duduk Ogodai Leng, seorang panglima kepercayaan yang memimpin utusan dari Jengis Khan ini.

   "Sejak turun dari kapal tadi, kau diam saja, Hulagu Leng. Ada apa?"

   Tegur Ogodai Leng.

   "Tidak ada apa-apa, Kak Ogodai Leng,"

   Sahut pemuda yang dipanggil Hulagu Leng ini.

   Pemuda itu memang adik dari Ogodai Leng, dan dalam rombongan itu bertugas sebagai wakil kakaknya.

   Memang tidak ada yang bisa menyangka kalau mereka kakak beradik.

   Ogodai Leng berwajah kasar dan berwatak keras serta berangasan.

   Sedangkan Hulagu Leng berwajah tampan, dan berperilaku halus lembut bagai seorang wanita.

   Namun tingkat kepandaian mereka bisa dikatakan seimbang.

   Hanya saja, mereka saling menyayangi meskipun mempunyai watak yang saling bertolak belakang.

   "Baru kali ini kau keluar dari Mongol, Hulagu Leng. Kau harus banyak belajar. Ingat, kita berada di negeri asing, jangan samakan dengan negeri sendiri. Sikap lemah akan membuat dirimu sengsara. Kau harus mengerti itu, Hulagu Leng,"

   Jelas Ogodai Leng seperti bisa menduga jalan pikiran adiknya.

   "Selalu dengan cara seperti in-ikah kita memperoleh daerah kekuasaan, Kak Ogodai Leng?"

   Tanya Hulagu Leng.

   "Ingat, Adikku. Kekuatan adalah segala-galanya. Kita harus tunjukkan kekuatan untuk menurunkan mental mereka. Ini baru sebagian kecil yang dapat kau saksikan. Ah...! Sudahlah, Hulagu Leng. Kau nanti akan tahu sendiri, bagaimana caranya memperoleh daerah kekuasaan."

   Hulagu Leng diam membisu.

   Memang baru kali ini dia ikut dalam rombongan mencari daerah kekuasaan baru bagi negerinya.

   Tapi justru pengalaman pertama ini membuat hatinya terasa teriris.

   Betapa tidak, baru beberapa saat saja mereka mendarat di negeri asing, sudah lima orang tewas.

   "Mau ke mana kau?"

   Tanya Ogodai Leng melihat adiknya bangkit dari duduknya.

   "Kembali ke kapal,"

   Sahut Hulagu Leng seraya melangkah ke luar kedai.

   "Kau tahu jalannya, Hulagu Leng?"

   "Aku rasa tidak jauh dari sini."

   "Hati-hatilah. Semua orang di negeri ini adalah musuh."

   Hulagu Leng hanya tersenyum ti-pis, dan terus saja berjalan keluar dari kedai minum ini.

   Sementara teman-temannya masih terus berpesta.

   Hulagu Leng agak terkejut juga melihat banyak orang berdiri berjajar di sepanjang jalan depan kedai.

   Mereka semua membawa parang atau senjata lain yang sangat sederhana.

   Dari sinar matanya, dapat diketahui kalau orang-orang itu menyimpan kebencian yang amat sangat.

   Hulagu Leng terus berjalan pelahan-lahan, namun sikapnya jadi waspada juga.

   Berpuluh-puluh pasang mata menatapnya penuh kebencian.

   Tapi, tidak seorang pun yang bergerak mendeka-tinya.

   Sampai mendekati pelabuhan, tidak ada seorang pun yang mendekati orang Mongol itu.

   Sedangkan Hulagu Leng masih terus bersikap waspada.

   Dan begitu kakinya menginjak lantai dermaga, tiba-tiba terdengar bentakan keras dari belakang.

   "Orang asing! Berhenti...!"

   Hulagu Leng langsung menghentikan langkahnya.

   Perlahan-lahan dibalikkan tubuhnya.

   Tampak seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri tegak, bersikap menantang.

   Dari pakaiannya dapat diketahui kalau dia seorang panglima perang Kerajaan Jiwanala.

   Di belakangnya berdiri sepuluh orang berpakaian prajurit.

   Mereka semua membawa sebatang tombak panjang dan pedang tergantung di pinggang.

   "Panglima Sembada, ada keperluan pentingkah sehingga Tuan bersusah payah datang menemuiku?"

   Tanya Hulagu Leng mengenali panglima itu.

   "Aku datang untuk meminta tang-gung jawabmu, orang asing!"

   Sahut Panglima Sembada ketus.

   "Tanggung jawabku...?!"

   Hulagu Leng mengerutkan keningnya.

   "Jangan berpura-pura bodoh, orang asing! Kau datang membuat keributan dan membunuh lima orang rakyat tak berdosa. Kau tahu, apa hukumannya bagi seorang pembunuh?! Mati...!"

   Hulagu Leng mengerti sekarang.

   Dia kini tidak terkejut lagi.

   Memang, sejak keluar dari kedai tadi sudah diduga kalau hal ini pasti bakal terjadi.

   Dan kejadian ini memang disesal-kan sekali.

   Hanya saja dirinya tidak bisa berbuat banyak.

   Semua pengawal hanya tunduk pada perintah kakaknya.

   "Tangkap dia...!"

   Perintah Pan-glima Sembada.

   "Tunggu!"

   Sentak Hulagu Leng.

   Tapi sepuluh orang prajurit Jiwanala itu tidak mengindahkan bentakan itu.

   Mereka langsung bergerak cepat menyerang.

   Mau tidak mau Hulagu Leng melayaninya, namun berusaha untuk tidak balas menyerang.

   Yang dilakukannya hanya berkelit menghindari setiap serangan sepuluh orang prajurit itu.

   *** "Tahan! Kalian salah jika menye-rangku.

   Nanti akan kujelaskan!"

   Seru Hulagu Leng keras.

   Tapi seruan itu tidak didengar sama sekali.

   Bahkan sebatang tombak hampir saja merobek perutnya, kalau saja orang dari Mongol itu tidak cepat-cepat berkelit dengan memiringkan tubuhnya.

   Dan belum lagi sempat menarik kembali tubuhnya, satu tusukan tombak mengarah ke dadanya.

   "Eit..!"

   Hulagu Leng terpaksa mengangkat tangannya, lalu menangkap tombak itu.

   Dengan cepat tangan kirinya mengibas ke arah perut penyerangnya.

   Prajurit Kerajaan Jiwanala itu mengeluh pendek, dan tubuhnya terjajar ke belakang beberapa langkah.

   Tombaknya berhasil dirampas Hulagu Leng yang langsung digunakan sebagai senjata untuk menahan gempuran para prajurit lainnya.

   "Mundur...!"

   Tiba-tiba Panglima Sembada berteriak nyaring.

   Para prajurit itu segera berlompatan mundur begitu mendengar perintah pemimpinnya.

   Panglima Sembada langsung melompat ke depan.

   Di tangannya telah tergenggam sebilah pedang yang berkilat tertimpa cahaya matahari.

   Hulagu Leng menggeser kakinya sedikit ke kiri.

   "Tahan...!"

   Tiba-tiba terdengar bentakan keras.

   "Kakang Raksajunta...,"

   Desis Panglima Sembada begitu menoleh ke arah sumber suara tadi.

   Seorang laki-laki berusia hampir tujuh puluh tahun melompat ringan, dan langsung mendarat di samping Panglima Sembada.

   Raksajunta adalah seorang patih tertua di Kerajaan Jiwanala saat ini.

   Semua panglima, patih, dan para pembesar sangat menghormatinya.

   "Ada apa ini, Sembada?"

   Tanya Patih Raksajunta.

   "Orang Mongol itu telah membuat keributan dan membunuh lima orang penduduk, Kakang,"

   Sahut Panglima Sembada.

   "Hm..., benar apa yang dikatakan Panglima Sembada?"

   Patih Raksajunta bertanya penuh bijaksana pada Hulagu Leng.

   "Sama sekali tidak kusangkal. Ta-pi semua itu bukan aku yang melakukan,"

   Sahut Hulagu Leng.

   "Siapa pun yang berbuat, harus bertanggung jawab, Kakang!"

   Sergah Panglima Sembada.

   "Hm..., siapa namamu?"

   Tanya Patih Raksajunta tidak menghiraukan kata-kata Panglima Sembada.

   "Hulagu Leng. Aku adik kandung Panglima Ogodai Leng."

   "Kuminta dengan hormat, sebaiknya kau ikut ke istana untuk ikut bertanggung jawab akibat perbuatan teman-temanmu. Aku yakin, kau seorang ksatria yang bersedia bertanggung jawab atas perbuatan teman-temanmu,"

   Tegas Patih Raksajunta.

   Hulagu Leng terdiam beberapa saat.

   Tampaknya sedang menimbang keputusan Patih Raksajunta barusan.

   Di negerinya, dia memang seorang ksatria tangguh yang sukar dicari tandingan-nya.

   Tapi persoalan yang dihadapinya sekarang bukanlah persoalan kecil.

   Apalagi ini di negeri orang lain yang belum jelas tatacara kehidupan dan peraturan hukumnya.

   "Kau tidak perlu khawatir, Tuan Hulagu Leng. Akan kujamin keselamatan-mu, jika kau benar-benar tidak bersa-lah,"

   Kata Patih Raksajunta seperti mengetahui jalan pikiran orang Mongol itu.

   "Bisa kupercaya kata-kata Tuan?"

   Hulagu Leng ingin kepastian.

   "Nyawaku taruhannya,"

   Sahut Patih Raksajunta tegas.

   "Baiklah! Sumpah seorang satria telah kupegang."

   Hulagu Leng menyerahkan tombak yang dirampasnya dari tangan prajurit.

   Seorang prajurit menerimanya, dan segera menggiring laki-laki Mongol itu.

   Panglima Sembada memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya, kemudian berjalan di samping Hulagu Leng.

   Sedangkan Patih Raksajunta berjalan di depan.

   Sepuluh orang prajurit mengiringi di belakang mereka.

   *** Kecemasan merayapi hati Ogodai Leng yang tidak mendapatkan adiknya di kapal.

   Semua awak kapal dan prajuritnya ditanyai, tapi tidak ada seorang pun yang melihat Hulagu Leng kembali ke kapal.

   Berbagai macam pikiran dan dugaan berkecamuk di benaknya.

   Sudah beberapa negeri didatangi, berbagai macam bahaya dilalui, namun baru kali ini hatinya merasa gelisah.

   Menghi-langnya Hulagu Leng membuat panglima dari Mongol itu diliputi kecemasan.

   "Mungkin Hulagu Leng tersasar, Tuan Panglima,"

   Kata salah seorang pengawal khusus Panglima Ogodai Leng.

   "Tidak mungkin!"

   Bantah panglima itu.

   "Tapi sudah malam begini belum juga kembali,"

   Kata seorang pengawal lagi.

   "Temujin...,"

   Panggil Panglima Ogodai Leng.

   "Hamba, Panglima...,"

   Sahut seorang laki-laki bertubuh kekar memakai baju dari kulit harimau.

   "Bawa beberapa orang. Cari Hulagu Leng sampai dapat,"

   Perintah Ogodai Leng.

   Temujin membungkuk memberi hor-mat, lalu bergegas meninggalkan kapal itu diiringi enam orang berpakaian prajurit.

   Saat itu malam sudah demikian larut.

   Udara laut yang dingin berhembus kencang menggigilkan.

   Tapi semua itu tidak dipedulikan Temujin dan enam orang prajuritnya.

   Mereka terus bergerak menyusuri jalan yang tadi siang telah dilalui.

   Sepanjang jalan yang dilalui hanya kesunyian dan kegelapan saja ditemui.

   Mereka berhenti di depan kedai yang disinggahi siang tadi.

   Suasana di dalam kedai masih tetap sunyi, namun masih terlihat ada seseorang duduk di sana.

   Pintu kedai yang terbuka lebar dengan cahaya pelita yang terang-benderang, menampakkan suasana di dalam kedai itu.

   "Hm...!"

   Temujin memberi isyarat.

   Enam orang prajurit Mongol yang ikut bersamanya segera bergerak mendekati kedai itu.

   Laki-laki muda beram-but gondrong terikat, menoleh begitu mendengar langkah-langkah kaki yang berat memasuki kedai.

   Alisnya berkere-nyit melihat orang-orang Mongol masuk ke dalam kedai yang lantas membuat kegaduhan.

   Temujin melangkah tegap memasuki kedai itu, langsung menghampiri pemuda yang masih duduk tenang di kursinya.

   Seguci arak terhidang di atas meja itu.

   Temujin berdiri menatap tajam pada pemuda itu.

   Seorang laki-laki tua pemilik kedai mengintip dari balik dinding bagian belakang.

   "Gusti..., bencana apa lagi yang akan terjadi.... Hancur sudah seluruh kedaiku...,"

   Rintih laki-laki tua pemilik kedai ini.

   Sementara itu Temujin mengambil guci arak dari meja pemuda tampan yang tetap duduk tenang di kursinya.

   Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, pengawal pribadi panglima dari Mongol itu menuangkan arak dalam guci itu ke atas meja.

   Pemuda itu mengangkat kepalanya, menatap tajam ke bola mata orang di depannya.

   "Arak itu belum dibayar,"

   Kata pemuda itu kalem. Namun suaranya terdengar bernada datar dan agak tertekan.

   "Akan kubayar sepuluh kali lipat kalau kau jawab pertanyaanku!"

   Ujar Temujin kasar.

   "Hm...,"

   Pemuda tampan berbaju rompi putih itu hanya menggumam saja.

   "Kau tahu, di mana Tuan Muda Hulagu Leng?"

   Tanya Temujin.

   "Maaf, aku tidak kenal dengan orang yang Tuan tanyakan,"

   Sahut pemuda itu datar.

   Brak! Temujin menggebrak meja hingga hancur berantakan.

   Tapi pemuda berbaju rompi putih itu tetap tenang di kur-sinya.

   Sedikit pun tidak bergeming, bahkan tatapan matanya begitu tajam menusuk langsung ke bola mata orang Mongol itu.

   "Maaf, aku masih ada urusan lain,"

   Ucap pemuda itu seraya bangkit dari duduknya.

   "Setan...!"

   Temujin menggeram marah.

   Pemuda berbaju rompi putih itu terus berbalik dan melangkah pergi tanpa mempedulikan umpatan Temujin.

   Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, Temujin menghentakkan tangannya melayangkan pukulan jarak jauh.

   Desiran angin yang sangat kuat membuat pemuda tampan itu melesat ke atas, dan hinggap di palang atap kedai.

   "Grrr...!"

   Temujin menggeram hebat karena pukulannya luput dari sasaran.

   Sambil berteriak keras, Temujin melompat ke atas sambil mencabut senjatanya.

   Dengan mengerahkan tenaga yang sangat luar biasa, dikibaskan senjatanya ke arah pemuda itu.

   Tapi lagi-lagi serangan Temujin hanya menghantam tempat kosong.

   Entah kapan dimulainya, tahu-tahu pemuda itu sudah berada di bawah.

   "Hyaaat..!"

   Temujin semakin berang karena merasa dipermainkan di depan anak buah-nya.

   Dengan ganas, kembali diserangnya pemuda itu.

   Namun manis sekali pemuda tampan berbaju rompi putih itu menghindari setiap serangan Temujin.

   Dan hal itu membuat pengawal khusus Panglima Ogodai Leng itu marah luar biasa, sehingga tidak dipedulikan lagi kesatriaan.

   Sambil menyerang, diperin-tahkan enam orang prajuritnya untuk menyerang.

   "Hm..., kedai ini bisa hancur kalau aku tidak keluar,"

   Gumam pemuda itu dalam hati.

   Seketika itu juga pemuda itu melesat cepat ke luar kedai.

   Temujin berseru nyaring, dan tubuhnya langsung melompat ke luar mengejar.

   Enam orang prajuritnya pun bergegas berlarian mengikuti.

   Kini pertarungan berlangsung di halaman kedai, terselimut kegelapan dan desiran angin laut yang dingin.

   *** Malam yang semula sepi, kini pecah oleh suara pertarungan di depan kedai.

   Seorang pemuda tampan memakai baju rompi putih harus menghadapi seorang pengawal khusus Panglima Mongol yang dibantu enam orang prajuritnya.

   Meskipun dikeroyok tujuh orang, tapi kelihatannya pemuda itu tidak mengalami kesulitan dalam menghada-pinya.

   Gerakan-gerakan tubuhnya cepat luar biasa.

   Bahkan serangannya tidak terduga, selalu tepat mengenai sasaran.

   Orang-orang Mongol itu rupanya bukan lawan tanding pemuda berbaju rompi putih.

   Mereka dibuat jungkir balik bergulingan di tanah.

   Hanya Temujin yang kelihatan tangguh, mampu sedikit mengimbangi serangan pemuda itu.

   "Hiyaaat..!"

   Tiba-tiba saja pemuda itu berteriak keras melengking. Secepat kilat tubuhnya melesat ke atas, lalu secepat itu pula menukik ke bawah. Tangannya merentang lebar dan kaki bergerak cepat.

   "Aaa...!"

   Jeritan-jeritan melengking ter-dengar saling sahut.

   Sesaat kemudian terlihat empat orang asing itu roboh terjungkal bersimbah darah.

   Pemuda itu berdiri tegak sambil melipat tangannya di depan dada.

   Tatapan matanya tajam menusuk.

   Melihat empat orangnya tewas, Temujin jadi gentar juga.

   "Lari...!"

   Seru Temujin keras.

   Pengawal khusus Panglima Ogodai Leng itu langsung berlari kencang diikuti dua orangnya yang tersisa.

   Sedangkan pemuda itu tidak berkedip memandanginya.

   Temujin terus berlari cepat menuju ke dermaga.

   Laki-laki tua pemilik kedai yang sejak tadi melihat pertarungan itu dari tempat yang tersembunyi, langsung keluar begitu Temujin dan dua orang sisa prajuritnya melarikan diri.

   Segera dihampirinya pemuda itu, lalu di-bungkukkan tubuhnya.

   "Oh, terima kasih.... Terima kasih, Den.... Aden telah menyelamatkan kedaiku dari kehancuran,"

   Ucap laki-laki tua itu sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali.

   "Hm.... Banyak yang rusak, Pak Tua?"

   Tanya pemuda itu.

   "Tidak, Den. Hanya meja dan kur-si. Tapi bisa diperbaiki,"

   Jawab laki-laki tua pemilik kedai itu.

   "Ah, sebaiknya kita bicara di dalam saja, Den. Mari...."

   Pemuda itu tidak menolak. Dia berjalan memasuki kedai mengikuti Pak Tua pemilik kedai yang sudah berjalan lebih dahulu. Matanya sempat melihat empat mayat yang masih menggeletak di luar.

   "Biar pembantuku yang mengurus dan membuangnya ke laut. Biar jadi santapan ikan-ikan liar,"

   Ujar Pak Tua seperti mengetahui jalan pikiran pemuda itu.

   Laki-laki tua pemilik kedai itu menyediakan seguci arak manis pilihan di meja yang masih utuh.

   Pemuda itu duduk menghadapi meja, dan tidak menolak ketika laki-laki tua itu menuangkan arak ke dalam gelasnya.

   Sebentar Pak Tua itu masuk ke dalam bagian belakang setelah menuangkan arak.

   Pemuda tampan berbaju rompi putih itu sempat melihat beberapa orang laki-laki muda menggotong mayat-mayat orang asing di halaman, lalu membawanya pergi.

   Beberapa saat kemudian, pemilik kedai itu sudah kembali lagi membawa sepiring makanan kecil.

   "Hanya ini yang bisa kusediakan. Maklum, sudah larut malam,"

   Kata laki-laki tua itu.

   "Terima kasih, Pak...,"

   Ucap pemuda itu.

   "Jantar...! Panggil saja Ki Jantar. Semua orang di sini memanggilku begitu,"

   Pemilik kedai ini memperkenalkan diri.

   "Aden sendiri siapa...?"

   "Rangga."

   "Den Rangga sepertinya bukan orang sini. Tampaknya seperti..., pengembara,"

   Ki Jantar menebak-nebak "Tidak salah, Ki,"

   Sahut Rangga.

   "Wah, Den. Pada saat seperti ini, semua orang malah mengungsi. Eeeh..., kok Aden malah datang ke sini,"

   Kata Ki Jantar.

   "Mengungsi...?! Ada apa?"

   Tanya Rangga agak terkejut juga.

   Pendekar Rajawali Sakti itu bertanya-tanya dalam hati.

   Dugaannya pasti ada hubungan dengan orang-orang asing yang sempat bertarung dengannya.

   Dari bentuk wajah maupun pakaiannya, sepertinya mereka dari seberang lau-tan.

   Rangga memang sudah melihat adanya keanehan ketika datang ke Kerajaan Jiwanala sore tadi.

   Sepanjang jalan yang dilalui, banyak ditemui orang-orang yang pergi memakai kereta kuda ataupun berjalan kaki.

   Dan kelihatannya memang bermaksud meninggalkan kerajaan di pesisir pantai ini.

   Sempat juga Rangga melihat-lihat keadaan pelabuhan yang tampak sepi.

   Banyak kapal besar dan kecil telah bertolak meninggalkan dermaga.

   "Mereka memang baru siang tadi datang, Den. Tapi kedatangannya yang baru beberapa saat saja sudah membuat penduduk negeri ini meninggalkan kam-pung halamannya sendiri. Mereka sangat kejam! Bahkan menurut para punggawa atau prajurit kerajaan, mereka datang untuk merebut Kerajaan Jiwanala ini, Den,"

   Tutur Ki Jantar tanpa diminta.

   "Maksud Ki Jantar, orang-orang tadi itu?"

   Rangga ingin menegaskan.

   "Benar, Den. Mereka datang dari Daratan Mongol. Menurut kabar, mereka adalah utusan Jengis Khan. Ah..., aku sendiri kurang tahu siapa itu Jengis Khan. Tapi memang begitulah yang kudengar. Maklum, Den, Jiwanala hanya sebuah kerajaan kecil di pesisir pantai ini. Jadi setiap ada berita, cepat tersebar dalam waktu singkat."

   "Hm...,"

   Rangga bergumam tidak jelas.

   "Sudah larut malam, Den. Kalau Raden ingin beristirahat, ada kamar kosong yang bisa ditempati. Tapi agak berantakan, Den. Maklum, sudah lama tidak dipakai,"

   Kata Ki Jantar.

   "Terima kasih, Ki,"

   Ucap Rangga.

   *** Pagi-pagi sekali Rangga sudah keluar dari kamar yang disediakan Ki Jantar.

   Dia berjalan-jalan menghirup udara segar di pagi hari ini.

   Dalam hati, Pendekar Rajawali Sakti itu semakin sering bertanya-tanya melihat setiap pelosok terdapat sekelompok prajurit yang dipimpin seorang punggawa.

   Di pagi ini sudah terlihat beberapa keluarga meninggalkan rumahnya masing-masing.

   Arah yang ditempuh bukan menuju ke dermaga, melainkan masuk ke pedalaman yang berupa hutan dan perbukitan kecil.

   Suasana di pagi hari ini membuat Rangga tidak mengerti.

   Dia teringat kejadian semalam dan cerita Ki Jantar.

   Rangga jadi ingin tahu, apa benar orang-orang Mongol itu datang untuk merebut kerajaan kecil di pesisir pantai ini? "Dari mana, Den? Pagi-pagi sudah keliling,"

   Tegur Ki Jantar ketika melihat Rangga baru saja melangkahkan kakinya memasuki kedai.

   "Melihat-lihat suasana saja, Ki,"

   Sahut Rangga seraya menghenyakkan tubuhnya di kursi bambu panjang.

   "Tadi ada Panglima Sembada, Den,"

   Lapor Ki Jantar.

   "Gusti Panglima menanyakan tentang keributan semalam."

   "Kok bisa tahu?"

   Tanya Rangga heran juga.

   "Jangan heran, Den. Setiap kejadian di sini, dalam waktu sebentar saja akan tersebar cepat. Katanya ada beberapa orang prajurit yang melihat pertarungan semalam."

   "Oh, ya...? Kenapa mereka tidak muncul?"

   "Raden ini seperti yang tidak ta-hu saja. Semua orang sudah tahu kalau orang-orang Mongol itu kejam-kejam. Dan lagi, rata-rata sangat kuat dan tangguh. Kalau baru berpangkat prajurit saja, mana berani menghadapi mereka, Den."

   Rangga diam membisu.

   Sama sekali tidak diduga kalau prajurit-prajurit Kerajaan Jiwanala memiliki nyali kecil.

   Padahal kelihatannya gagah-gagah.

   Tapi Rangga tidak bisa menyalahkan begitu saja.

   Dia juga pernah dengar tentang kehebatan pasukan Mongol.

   Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah negara taklukannya.

   Dan kini mereka rupanya tertarik untuk menyeberang, meluaskan daerah kekuasaan.

   Rasanya pilihan orang Mongol itu memang tepat.

   Kerajaan Jiwanala merupakan negeri yang sangat kecil.

   Kekuatan prajuritnya sangat lemah dan mudah untuk ditaklukkan.

   Kerajaan pelabuhan ini memang sangat penting.

   Banyak kapal niaga yang singgah, sehingga kehidupan rakyat di sini boleh dikatakan makmur berkat hasil berniaga.

   Belum lagi kekayaan akan tambang emas dan batu permata di Kerajaan Jiwanala ini.

   Tidak heran kalau banyak kerajaan besar yang menginginkannya.

   "Ki Jantar tidak mengungsi?"

   Tanya Rangga iseng.

   "Untuk apa mengungsi, Den? Kehidupan di mana saja sama. Puluhan tahun aku hidup cukup di sini. Dan sekarang dalam masa genting begini, harus mencari kehidupan lain di tempat penga-singan. Hhh! Hanya orang yang bodoh dan berjiwa kerdil saja yang menyingkir,"

   Sahut Ki Jantar bernada mengeluh atas sikap rakyat Jiwanala yang pengecut.

   "Memang sayang sekali! Seharusnya orang-orang sepertimulah yang pantas hidup di negeri kaya ini, Ki,"

   Ujar Rangga memuji.

   "Tapi aku ini sudah jompo, tidak bisa berbuat apa-apa. Yaaah..., memang seharusnya yang muda-muda harus mempertahankan negeri ini dari rongrongan pihak luar."

   Rangga mengagumi jiwa kesetiaan laki-laki tua ini.

   Sulit mencari orang yang mempunyai pendirian kuat seperti Ki Jantar pada masa sekarang ini.

   Banyak orang yang selalu mementingkan diri sendiri, tanpa menghiraukan ke-pentingan orang lain.

   Kalau saja semua orang di kerajaan ini mempunyai sikap seperti Ki Jantar, kecil kemungkinan orang-orang dari Daratan Mongol itu berani datang.

   Tapi semua sudah terlambat.

   Api sudah tersulut, dan hanya menunggu waktu saja untuk berkobar lebih besar lagi.

   Dari beberapa orang penduduk dan prajurit yang ditemui, Rangga telah mencuri dengar pembicaraan mereka.

   Pendekar Rajawali Sakti itu sudah bisa menebak kalau orang-orang Mongol itu tidak akan pergi sebelum maksudnya terlaksana.

   Lebih-lebih sekarang ini mereka telah kehilangan empat orang prajurit, dan seorang adik panglimanya yang hilang tidak jelas kabarnya.

   Tapi dari kabar yang didengar Rangga, adik kandung Panglima Mongol yang bernama Hulagu Leng itu, tertangkap oleh Panglima Sembada dan Patih Raksajunta.

   Hal itu terjadi setelah ada keributan di kedai ini yang meminta korban nyawa lima orang rakyat.

   Pendekar Rajawali Sakti itu meno-lehkan kepala ketika telinganya menangkap derap langkah kaki kuda di kejauhan.

   Tampak satu pasukan Kerajaan Jiwanala menuju ke dermaga.

   Paling depan terlihat Panglima Sembada yang didampingi dua orang panglima lainnya, dan Patih Raksajunta.

   Di belakang mereka sepasukan prajurit berkuda bersenjata lengkap mengiringi.

   Jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang.

   "Mereka pasti akan menyerang kap-al orang Mongol itu,"

   Kata Ki Jantar setengah bergumam.

   "Hm...,"

   Rangga hanya bergumam tidak jelas.

   *** Dugaan Ki Jantar ternyata memang tepat.

   Prajurit Jiwanala yang dipimpin langsung Panglima Sembada dan Patih Raksajunta memang menuju ke pelabuhan.

   Tapi belum juga tiba di pelabuhan, mereka sudah disambut prajurit-prajurit Mongol.

   Pertempuran pun tak terelakkan lagi.

   Para penduduk di sekitar pelabuhan itu berlarian, berusaha menyelamatkan diri.

   Prajurit-prajurit Mongol bertarung bagai kesetanan.

   Bukan hanya prajurit Jiwanala saja yang mereka hantam, bahkan penduduk yang berusaha melarikan diri pun dibantai.

   Jerit dan pekik peperangan berbaur menjadi satu dengan jerit kematian.

   Pagi yang seharusnya tenang ini berubah menjadi ajang pembantaian.

   Prajurit-prajurit Mongol memang terkenal tangguh dalam pertempuran.

   Mereka sudah berpengalaman dalam hal ini, sehingga dalam menghadapi serbuan prajurit Kerajaan Jiwanala tidak gentar sedikit pun.

   Bahkan bertarung dengan penuh semangat.

   Panglima Ogodai Leng seperti seekor singa gurun yang bertarung bagai kesetanan.

   Senjatanya yang berupa golok besar dan bertangkai panjang, berkelebatan cepat.

   Setiap gerakan senjatanya, satu atau dua nyawa melayang.

   Saat itu Panglima Sembada dan Patih Raksajunta belum terjun dalam pertempuran.

   Mereka cukup cemas melihat para prajuritnya terus terdesak.

   Tidak terhitung lagi, berapa prajurit yang menggeletak bersimbah darah.

   Sedangkan dari pihak Mongol, hanya beberapa orang saja terluka.

   "Mundur...!"

   Seru Patih Raksajun-ta tiba-tiba.

   Prajurit-prajurit Jiwanala yang masih hidup segera berlompatan mundur sambil bertahan menghadapi gempuran dahsyat prajurit Mongol.

   Mereka terus mundur sampai keluar dari daerah pelabuhan.

   Patih Raksajunta kelihatan sedih menyaksikan lebih dari separuh prajuritnya tewas.

   "Kau lihat, Sembada. Meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi mereka sangat tangguh. Mereka sudah berpengalaman dalam peperangan,"

   Kata Patih Raksajunta pelan. Panglima Sembada hanya diam saja. Hatinya geram melihat banyak prajuritnya tewas. Belum lagi yang luka-luka. Tinggal beberapa orang saja masih kelihatan segar. Itu pun tampaknya terlalu kelelahan.

   "Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Gusti Prabu pasti tidak suka melihat kekalahan ini,"

   Keluh Patih Raksajunta.

   "Bagaimanapun juga, orang asing itu harus kita usir dari tanah ini, Kakang,"

   Tekad Panglima Sembada.

   "Benar! Mereka memang harus enyah dari sini. Tapi jangan lupa, Sembada. Prajurit kita tidak akan mampu mengha-dapinya."

   "Hanya ada satu jalan, Kakang,"

   Pelan suara Panglima Sembada. Patih Raksajunta menatap tajam pada panglima muda itu.

   "Minta bantuan orang-orang persilatan, atau mengundang tokoh asing untuk menghadapi mereka,"

   Usul Panglima Sembada.

   "Kau gila, Sembada!"

   Sentak Patih Raksajunta terkejut "Kerajaan Jiwanala di ambang kehancuran, Kakang. Cara apa pun harus ditempuh untuk menyelamatkannya."

   "Tapi itu tidak mungkin, Sembada. Apa yang akan kita pertaruhkan...?"

   "Dengan bayaran tinggi."

   "Edan!"

   Rungut Patih Raksajunta.

   "Akan kuajukan hal ini pada Gusti Prabu. Aku yakin beliau setuju dengan usulku ini, Kakang,"

   Tekad Panglima Sembada.

   "Percuma saja, Sembada. Aku tahu betul watak Gusti Prabu. Beliau lebih baik mati membela tanah air daripada berlindung di balik punggung orang asing, meskipun harus mengeluarkan biaya banyak."

   "Setiap usaha harus dicoba, Ka-kang."

   "Terserahlah. Yang penting kau sudah kuperingatkan,"

   Patih Raksajunta mengalah.

   Panglima Sembada melangkah menghampiri kudanya.

   Dengan gerakan indah dia melompat ke atas punggung kuda putih itu, kemudian menggebahnya dengan kencang.

   Debu berkepul begitu kuda putih itu berlari cepat menuju ke Kotaraja Jiwanala.

   Patih Raksajunta hanya memandangi saja sambil menggeleng-geleng beberapa kali.

   Dalam beberapa hal, diakui kalau usul Panglima Sembada memang benar.

   Tapi dia sangsi kalau Prabu Duta Nitiyasa bersedia menerima usulan itu.

   Beliau bukanlah raja yang lemah, yang hanya duduk di singgasana saja.

   Tingkat kepandaiannya cukup tinggi dan sukar ditandingi.

   Prabu Duta Nitiyasa tidak pernah meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan masalah yang menyangkut dalam negerinya.

   "Hhh...!"

   Patih Raksajunta menarik napas panjang dan berat.

   Perlahan-lahan dihampiri kudanya, lalu naik ke punggung kuda itu.

   Beberapa prajurit yang masih tersisa hanya memandangi dengan mata sayu.

   Patih Raksajunta terpaku sesaat, kemudian turun lagi dari punggung kudanya.

   Rasanya tidak tega meninggalkan prajurit yang tengah keletihan akibat pertempuran tadi.

   Bagaimanapun juga dia harus menahan orang-orang Mongol itu untuk tidak menjarah negeri ini.

   "Gusti Patih! Mereka menye-rang...!"

   Tiba-tiba seorang prajurit berteriak keras.

   "Jagat Dewa Batara...!"

   Desah Patih Raksajunta ketika melihat tidak kurang tiga puluh orang Mongol berlarian dengan senjata terhunus.

   Sementara itu prajurit Jiwanala yang masih tersisa hanya sekitar sebelas orang saja.

   Tapi mental mereka sudah turun akibat kekalahan dalam pertempuran tadi.

   Patih Raksajunta tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya.

   Orang-orang Mongol itu sudah semakin dekat saja.

   Mereka berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjatanya ke atas.

   "Dengar! Kalian harus bertahan sampai bantuan datang!"

   Seru Patih Raksajunta keras.

   Patih Raksajunta melompat ke depan.

   Pedangnya terhunus di depan dada.

   Para prajurit yang semula sudah gentar, mendadak bangkit semangatnya melihat Patih Raksajunta berdiri me-nyongsong di depan mereka.

   Sementara orang-orang Mongol itu sudah demikian dekatnya.

   Pekik peperangan terdengar menggemuruh ditambah derap kaki-kaki berat yang berlarian kencang.

   Suasana seperti itu pasti bisa membuat ciut hati orang yang melihatnya.

   Tapi Patih Raksajunta kelihatan tenang dan tegar.

   Pedang kebanggaannya tetap menyilang di depan dada.

   *** Sudah dapat diduga kalau Patih Raksajunta dan prajurit-prajuritnya tidak akan mampu membendung serangan orang-orang Mongol itu.

   Di samping saat ini berjumlah jauh lebih besar, rata-rata mereka pun memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

   Dalam waktu tidak lama empat orang prajurit Patih Raksajunta sudah roboh berlumuran darah.

   Satu per satu prajurit Jiwanala roboh berguguran.

   Sedangkan Patih Raksajunta tidak dapat membantu banyak.

   Meskipun sudah bertarung penuh semangat, namun lawan yang dihadapinya cukup tangguh.

   Saat ini yang harus dihadapi adalah lima orang lawan.

   Sudah tidak terhitung lagi, berapa pukulan dan tendangan bersarang di tubuhnya.

   "Akh!"

   Tiba-tiba saja Patih Raksajunta memekik tertahan.

   Satu sabetan golok lawannya berhasil merobek bahunya.

   Darah mengucur deras dari luka yang cukup panjang dan dalam itu.

   Patih Raksajunta terhuyung-huyung ke belakang.

   Dan pada saat itu satu tendangan keras telah menghantam punggungnya.

   Tak pelak lagi, laki-laki tua itu terjerembab mencium tanah.

   "Yaaah...!"

   "Matilah aku...,"

   Desah Patih Raksajunta melihat seorang lawannya mengibaskan goloknya dengan cepat.

   Dan pada saat yang kritis itu, tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat cepat menyambar tubuh Patih Raksajunta.

   Tebasan golok orang Mongol itu hanya menghantam tanah kosong.

   Hal ini membuatnya bengong terheran-heran.

   Tapi belum lagi rasa herannya hilang, bayangan putih itu kembali datang berkelebat cepat.

   "Akh...!"

   Orang itu memekik ke-ras, tubuhnya terpental jauh ke belakang.

   Empat orang lainnya yang melihat kejadian itu terperanjat kaget.

   Namun tanpa diduga sama sekali bayangan putih itu sudah kembali berkelebat cepat ke arah empat orang itu.

   Mereka berlompatan mundur dengan cepat.

   Tapi dua orang yang terlambat menyelamatkan diri, harus menerima nasib naas dan hanya mampu menjerit keras.

   Tubuh mereka ambruk ke tanah dengan dada hancur melesak ke dalam.

   Saat itu terdengar satu seruan keras dari arah belakang.

   Maka orang-orang Mongol itu pun segera berlarian mundur.

   Pada saat itu, seluruh prajurit Kerajaan Jiwanala sudah tergeletak tak bernyawa lagi.

   Sementara bayangan putih yang telah merobohkan tiga orang prajurit Mongol itu pun langsung lenyap tidak ketahuan arahnya.

   Orang-orang Mongol itu bergegas kembali ke kapalnya yang bersandar dekat dermaga.

   *** Sementara itu di dalam Istana Kerajaan Jiwanala, Prabu Duta Nitiyasa tengah berbincang-bincang dengan para panglima perang, para patih, dan pembesar istana lainnya.

   Di antara mereka tampak Panglima Sembada yang baru saja melaporkan keadaan pasukannya di pelabuhan.

   Prabu Duta Nitiyasa tampak diam membisu menerima laporan kekalahan itu.

   Yang membuat Prabu Duta Nitiyasa terdiam bukan laporan kekalahan prajurit, tapi usulan Panglima Sembada yang menyarankan untuk mengundang tokoh-tokoh sakti dunia persilatan atau prajurit asing lainnya.

   Suasana di Balai Sema Agung itu jadi hening.

   Tidak ada seorang pun yang membuka suaranya.

   "Kekuatan prajurit yang kita miliki memang tidak sebanding dengan mereka. Tapi itu bukan alasan yang tepat untuk berlindung di balik punggung orang lain. Kerajaan Jiwanala berdiri berkat darah dan keringat leluhur, dan wajib dipertahankan dengan darah juga,"

   Tegas Prabu Duta Nitiyasa.

   "Gusti Prabu, menurut hamba, saran yang diajukan Panglima Sembada patut dipertimbangkan,"

   Seorang laki-laki tua berjubah kuning gading membuka suara. Prabu Duta Nitiyasa menatap laki-laki berjubah kuning gading yang ber-kepala gundul itu. Laki-laki itu adalah Pendeta Naraboga, seorang penase-hat pribadi Prabu Duta Nitiyasa.

   "Paman Pendeta, sebaiknya Paman jangan berjiwa kerdil dan pengecut,"

   Dingin suara Prabu Duta Nitiyasa.

   "Ampun, Gusti Prabu. Bukannya hamba takut menghadapi mereka. Tapi menurut hemat hamba, tidak ada salahnya jika mencoba mengundang beberapa tokoh rimba persilatan untuk memper-kuat barisan pertahanan,"

   Kilah Pendeta Naraboga seraya memberi hormat.

   "Hm...,"

   Gumam Prabu Duta Nitiya-sa pelan.

   Saat itu seorang prajurit memasu-ki ruangan Balai Sema Agung.

   Prajurit itu segera membungkukkan tubuhnya, memberi hormat.

   Semua orang yang ada di ruangan itu memandangnya.

   Mereka tahu kalau prajurit yang tidak mengenakan seragam itu telah ditugaskan untuk memata-matai orang-orang Mongol di pelabuhan.

   "Ampun, Gusti Prabu. Ada yang hendak hamba laporkan,"

   Ucap prajurit mata-mata itu.

   "Katakan,"

   Perintah Prabu Duta Nitiyasa.

   "Seluruh prajurit yang berada di Pelabuhan Timur tewas, sedangkan Patih Raksajunta menghilang,"

   Lapor prajurit itu.

   "Apa...?!"

   Semua orang yang ada di Balai Sema Agung itu terperanjat kaget.

   Terlebih lagi Panglima Sembada.

   Waktu meninggalkan prajuritnya, Patih Raksajunta tidak jauh dari pelabuhan.

   Dan baru beberapa saat dia berada di istana ini, telah datang laporan bahwa semua prajuritnya tewas.

   Yang lebih mengejutkan lagi, hilangnya Patih Raksajunta.

   Prabu Duta Nitiyasa bangkit dari singgasananya, lalu melangkah ke depan.

   Dia berjalan mondar-mandir dengan wajah tertunduk.

   Keheningan kembali menyelimuti ruangan besar dan indah itu.

   Laporan prajurit tadi benar-benar mengejutkan semua orang.

   "Panglima, siapkan seluruh prajurit!"

   Perintah Prabu Duta Nitiyasa.

   "Gusti...!"

   Panglima Sembada tersentak kaget.

   "Ini perintah! Laksanakan sege-ra!"

   Bentak Prabu Duta Nitiyasa tegas.

   "Hamba laksanakan, Gusti,"

   Pan-glima Sembada membungkuk hormat.

   Dengan mengajak seluruh panglima perang lainnya, Panglima Sembada bergegas meninggalkan Balai Sema Agung.

   Prabu Duta Nitiyasa melangkah meninggalkan ruangan itu.

   Sedangkan Pendeta Naraboga mengikuti dari belakang bersama beberapa pembesar kerajaan lainnya.

   "Gusti, apakah ini bukan tindakan yang merugikan? Pikirkanlah lebih matang lagi, Gusti,"

   Pendeta Naraboga berusaha mencegah maksud rajanya itu.

   "Tidak ada jalan lain, Paman Pendeta. Orang-orang asing itu harus enyah secepatnya,"

   Jawab Prabu Duta Nitiyasa mantap.

   "Dengan mengerahkan seluruh prajurit, sama saja bunuh diri, Gusti."

   "Mati dalam pertempuran lebih terhormat daripada menjadi pengecut, Paman."

   "Hamba yakin masih ada jalan lain yang lebih baik, Gusti."

   Prabu Duta Nitiyasa menghentikan langkahnya. Ditatapnya tajam pendeta gundul itu. Pendeta Naraboga buru-buru membungkuk sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.

   "Ampun, Gusti Prabu. Hamba hanya menyampaikan saran. Bukankah kita memiliki satu tawanan orang Mongol. Tawanan itu bisa dimanfaatkan untuk mengusir mereka, Gusti,"

   Ujar Pendeta Naraboga.

   "Tidak ada gunanya, Paman Pende-ta. Mereka pun menawan Paman Patih Raksajunta. Aku tahu betul watak orang-orang Mongol itu. Bagi mereka, kehilangan satu nyawa bukan berarti apa-apa bila berhasil merebut satu daerah kekuasaan."

   "Memang benar, Gusti. Tapi...."

   "Sudahlah, Paman Pendeta. Aku akan bersiap-siap. Katakan pada seluruh panglima untuk bergerak lebih dahulu ke pelabuhan. Nanti aku menyusul dan memimpin langsung seluruh pasukan!"

   Sergah Prabu Duta Nitiyasa.

   Setelah berkata demikian, Prabu Duta Nitiyasa membuka pintu sebuah kamar yang dijaga dua prajurit bersenjata tombak.

   Pendeta Naraboga hanya bisa membungkuk hormat, kemudian melangkah pergi setelah pintu kamar itu tertutup rapat.

   Jelas sekali kalau raut wajah pendeta gundul itu diliputi kecemasan.

   Dia sudah berusaha untuk melunakkan hati junjungannya, tapi dasarnya Prabu Duta Nitiyasa memang seorang raja yang keras.

   Segala kepu-tusannya tidak bisa dirubah lagi.

   *** Prabu Duta Nitiyasa mengganti ba-junya dengan pakaian perang.

   Sebilah pedang panjang tergantung di pinggangnya.

   Sebentar dipandangi tombak pusaka peninggalan leluhurnya.

   Tombak yang menjadi kebanggaan seluruh rakyat Jiwanala.

   Dengan tombak pusaka itu kerajaan ini terlindungi dari serangan bangsa lain.

   "Kanda...,"

   Satu suara halus terdengar dari arah belakang.

   Prabu Duta Nitiyasa membalikkan tubuhnya.

   Pandangannya langsung ter-tumbuk pada seorang wanita cantik yang memakai baju biru indah dari kain sutra halus.

   Tatapan wanita itu kosong dan matanya agak berkaca-kaca, tertuju pada selendang putih yang mengikat leher Prabu Duta Nitiyasa.

   Selendang putih yang melambangkan satu tekad untuk mempertahankan negara sampai titik darah yang penghabisan.

   Prabu Duta Nitiyasa melangkah menghampiri permaisurinya itu.

   Dipe-gangnya bahu Permaisuri Dita Wardhani dengan kedua tangannya.

   Wanita berwajah cantik itu mengangkat kepalanya, langsung menatap ke bola mata yang juga tengah menatapnya.

   Bibirnya yang merah bergetar, namun tidak ada satu kata pun yang terucapkan.

   Prabu Duta Nitiyasa mendekatkan wajahnya, dan mengecup lembut bibir itu.

   "Urungkan niat Kanda untuk berperang. Lihat anak kita...,"

   Ucap Permaisuri Dita Wardhani seraya memalingkan mukanya, menatap pada wajah mungil yang tergolek di pembaringan.

   "Dia membutuhkanmu, Kanda."

   "Negara ini juga membutuhkan sum-bangan tenagaku, Dinda,"

   Sahut Prabu Duta Nitiyasa.

   "Tapi...."

   "Ssst.... Percayalah! Aku pasti akan kembali dengan selamat,"

   Potong Prabu Duta Nitiyasa cepat.

   "Kanda, tidakkah sebaiknya Kanda meminta bantuan pada Ayah. Pasti Ayahanda Resi bersedia membantu mengusir orang-orang asing itu,"

   Usul Permaisuri Dita Wardhani.

   Prabu Duta Nitiyasa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

   Dia tahu kalau ayah istrinya ini memiliki murid-murid yang cukup handal dan berkemampuan tinggi.

   Sebagai seorang resi beraliran lurus, tentu saja bersedia membantu mengusir orang asing yang berniat buruk.

   Tapi itu tidak dilakukannya, karena hanya mengusir satu pasukan asing saja.

   Terlalu riskan rasanya.

   Lagi pula, kelihatannya dia masih mampu menghadapi mereka.

   "Kenapa? Apakah Kanda ingin melihat kehancuran kerajaan ini? Membiarkan para prajurit dibantai orang-orang Mongol itu? Apa Kanda sudah tidak bisa lagi melihat kenyataan? Sadarlah, Kanda. Carilah jalan keluar lain. Jangan mengorbankan banyak orang hanya untuk mengusir segelintir orang asing,"

   Permaisuri Dita Wardhani mencoba menyadarkan suaminya.

   Prabu Duta Nitiyasa langsung terdiam.

   Kata-kata permaisurinya sungguh menyentuh sanubarinya yang paling dalam.

   Keputusan yang diambil tadi memang karena luapan rasa amarah setelah mendengar satu pasukan prajuritnya tewas, dan Patih Raksajunta menghilang entah ke mana.

   Tapi untuk meminta bantuan, keangkuhannya selalu mengalahkan kenyataan yang dihadapi saat ini.

   "Gusti...! Gusti Prabu...!"

   Tiba-tiba saja terdengar suara memanggil dari luar pintu, disertai ketukan yang beruntun.

   Prabu Duta Nitiyasa bergegas melangkah ke pintu dan membukanya lebar-lebar.

   Tampak seorang punggawa bersama enam orang prajurit telah berdiri di depan pintu dan segera membungkuk memberi hormat "Ada apa?"

   Tanya Prabu Duta Ni-tiyasa.

   "Ampun, Gusti. Mereka..., mere-ka...,"

   Punggawa itu tergagap.

   "Punggawa, katakan yang jelas!"

   Bentak Prabu Duta Nitiyasa.

   "Mereka telah mengepung istana, Gusti,"

   Lapor punggawa itu.

   "Apa...?!"

   Prabu Duta Nitiyasa tersentak kaget.

   "Seluruh gerbang masuk sudah ditutup, Gusti. Seluruh prajurit mereka pun sudah disiagakan,"

   Punggawa itu kembali melaporkan.

   "Bagaimana dengan Panglima Semba-da?"

   "Panglima Sembada dan dua orang panglima lainnya sudah bergerak ke pelabuhan membawa seratus prajurit, Gusti."

   "Seratus...?!"

   "Benar, Gusti."

   Prabu Duta Nitiyasa jadi bingung juga.

   Seratus prajurit telah meninggalkan istana, artinya tinggal lima puluh prajurit lagi yang tersisa.

   Kerajaan Jiwanala memang kecil, sehingga jumlah prajuritnya hanya sedikit.

   Hanya beberapa ratus orang saja jumlahnya.

   Jelas saja Prabu Duta Nitiyasa kini kelabakan.

   "Ada lagi yang hendak hamba la-porkan, Gusti. Panglima Sembada juga membawa tawanan orang Mongol itu."

   "Jagat Dewa Batara...!"

   Keluh Prabu Duta Nitiyasa.

   "Untuk apa dia membawa tawanan orang Mongol segala?!"

   "Hamba tidak tahu pasti, Gusti."

   "Punggawa, panggil Punggawa Na-rayama ke sini,"

   Perintah Prabu Duta Nitiyasa.

   "Hamba, Gusti Prabu."

   Punggawa itu bergegas pergi setelah memberi hormat lebih dahulu.

   Dua orang prajurit mendampinginya, sedangkan sisanya menjaga di depan pintu.

   Prabu Duta Nitiyasa melangkah menghampiri permaisurinya yang telah menggen-dong bayi tunggalnya.

   Seorang bayi laki-laki yang montok dan sehat.

   "Bereskan barang-barangmu seper-lunya. Bawa beberapa dayang. Tidak ada waktu lagi, Dinda. Kau dan anak kita harus selamat dari kehancuran ini,"

   Kata Prabu Nitiyasa.

   "Kanda...."

   "Pergilah ke padepokan ayahmu, dan ceritakan apa yang terjadi semuanya di sini."

   Setelah berkata demikian, Prabu Duta Nitiyasa melangkah keluar dari kamar ini. Tapi baru saja kakinya menjejak ambang pintu, Punggawa Narayama datang tergesa-gesa bersama punggawa yang tadi telah melaporkan keadaan.

   "Hamba datang memenuhi panggilan, Gusti Prabu,"

   Ucap Punggawa Narayama seraya menghaturkan sembah.

   "Punggawa Narayama, kau kutu-gaskan untuk menyelamatkan anak dan permaisuriku. Bawa mereka ke Padepokan Arang Watu. Bawa juga beberapa prajurit pengawal,"

   Perintah Prabu Duta Nitiyasa.

   "Segala titah Gusti Prabu hamba laksanakan,"

   Sahut Punggawa Narayama hormat.

   "Bergegaslah, tidak ada waktu la-gi. Gunakan lorong rahasia. Kau tahu letaknya, bukan?"

   "Hamba, Gusti."

   "Nah, berangkatlah. Keselamatan keluargaku ada di tanganmu."

   Punggawa Narayama memberi hormat.

   Prabu Duta Nitiyasa melangkah keluar melalui lorong istana yang panjang, diiringi pengawal khusus yang sangat terlatih.

   Punggawa Narayama bergegas menunjuk prajurit-prajurit pilihannya dan menyerahkan sisa prajurit lain pada punggawa yang ada.

   Tugas yang diembannya kali ini tidak ringan.

   Permaisuri dan putra mahkota harus diselamatkan keluar dari Kerajaan Jiwanala.

   *** Sementara itu jauh di batas Kerajaan Jiwanala, tampak seorang laki-laki tua duduk tepekur di atas bata sambil memandang ke arah kerajaan yang tampak sepi lengang.

   Di bagian timur terlihat tiang-tiang kapal dan layar perahu yang tertutup, terombang-ambing dipermainkan ombak laut.

   Laki-laki tua itu hampir satu harian duduk diam dengan pandangan ke satu arah.

   "Paman Raksajunta...."

   "Kau Rangga...?"

   Laki-laki tua yang ternyata memang Patih Raksajunta mengangkat kepalanya seraya mendesah panjang. Seorang pemuda tampan berbaju rompi putih duduk di sampingnya. Patih Raksajunta tidak bergeming sedikit pun. Pandangannya tetap lurus ke depan.

   "Hampir satu harian kau duduk di sini, Paman,"

   Kata Rangga pelan. Pandangannya juga mengarah pada Kerajaan Jiwanala.

   "Hhh...!"

   Patih Raksajunta hanya menarik napas panjang.

   "Aku bisa merasakan kecemasanmu, Paman...,"

   Kata Rangga pelan.

   "Hm.... Oh ya, tadi aku sempat jalan-jalan ke kota."

   "Apa yang kau lihat di sana?"

   Tanya Patih Raksajunta. Rangga tidak langsung menjawab, tapi malah bangkit dari duduknya dan melangkah tiga tindak ke depan. Patih Raksajunta ikut berdiri dan mendekati Pendekar Rajawali Sakti itu.

   "Aku berhutang budi padamu karena kau telah menyelamatkan nyawaku, Rangga. Tapi kerajaanku juga terancam kehancuran saat ini. Sebagai seorang pendekar tangguh dan digdaya, aku yakin kau tidak akan membiarkan kehancuran dan penindasan merajalela di depan matamu,"

   Kata Patih Raksajunta menggugah hati Pendekar Rajawali Sakti itu.

   "Paman, aku juga pernah menghada-pi hal seperti ini. Bukan hanya satu atau dua kali saja, bahkan sering kutemukan dalam pengembaraanku. Tidak mudah memang. Tapi perlu pemikiran yang matang, di samping kekuatan dan semangat,"

   Kata Rangga mencoba menjelaskan.

   "Bisa kumengerti, Rangga."

   "Aku harap, Prabu Duta Nitiyasa juga tidak terpancing. Tindakan gega-bah akan membuat keadaan semakin hancur tak terkendali."

   "Memang. Tapi itu jika dikatakan dalam satu atau dua hari yang lalu, Rangga. Rasanya saat ini sudah terlambat. Kulihat ada serombongan pasukan berkuda memasuki kota. Juga sepasukan lainnya keluar dari kota melalui jalan lain. Aku rasa hal itu satu pertanda buruk."

   Rangga diam sambil menatap laki-laki tua di sampingnya.

   Yang dikatakan Patih Raksajunta barusan memang benar.

   Waktu berjalan-jalan ke kota tadi, dia melihat orang-orang asing bergerak memasuki kota.

   Bersamaan dengan itu, satu pasukan yang berjumlah seratus prajurit juga bergerak keluar dari jalan lain menuju pelabuhan.

   Tiba-tiba terdengar satu ledakan keras, disusul dengan berkobarnya api yang sangat besar dari arah pelabuhan.

   Rangga dan Patih Raksajunta langsung berpaling memandang ke arah kobaran api itu.

   Tampak sebuah kapal berukuran sangat besar tengah dilalap api yang berkobar dahsyat.

   Juga terlihat banyak prajurit membawa lambang Kerajaan Jiwanala di sekitar pelabuhan itu.

   Dari tempat ketinggian seperti ini, memang cukup jelas melihat seluruh pelosok kerajaan itu.

   "Kapal Mongol...,"

   Desis Patih Raksajunta.

   "Gegabah!"

   Gumam Rangga mendesis karena menahan gusar melihat kapal dari Daratan Mongol itu terbakar.

   "Api sudah tersulut. Peperangan tidak mungkin dihindarkan lagi,"

   Gumam Patih Raksajunta. Rangga diam saja.

   "Tidak ada waktu lagi, Rangga. Atas nama Prabu Duta Nitiyasa, aku mohon bantuanmu untuk mengusir orang-orang Mongol itu,"

   Pinta Patih Raksajunta penuh harap.

   "Hhh...!"

   Rangga menarik napas berat. Patih Raksajunta tidak sempat la-gi menunggu sabar. Dia bergegas berlari menggunakan ilmu lari cepatnya menuruni bukit ini.

   "Paman, tunggu!"

   Seru Rangga keras.

   "Mereka membutuhkanku, Rangga!"

   Sahut Patih Raksajunta tanpa menghentikan larinya.

   Rangga tidak punya pilihan lain lagi dan segera melompat cepat mengejar laki-laki tua itu.

   Hanya tiga kali lompatan saja, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah mengejar Patih Raksajunta, dan langsung mencegatnya.

   Patih Raksajunta menghentikan larinya.

   "Jangan menghalangiku, Rangga. Walaupun Kerajaan Jiwanala terpaksa hancur, aku berkewajiban menyelamatkan keluarga Gusti Prabu,"

   Kata Patih Raksajunta dengan napas terengah.

   "Percuma saja, Paman. Kulihat mereka telah mengepung istana. Tidak ada celah untuk menerobos kepungan mereka,"

   Kata Rangga.

   "Aku bisa melalui jalan rahasia."

   "Jalan rahasia...?"

   "Ya, jalan menuju istana melalui lorong. Hanya beberapa orang saja mengetahuinya, terutama yang dekat dengan Gusti Prabu, termasuk aku."

   "Hm.... Kalau begitu, marilah ki-ta segera ke sana,"

   Ajak Rangga.

   "Lebih cepat, lebih baik."

   Kedua orang itu bergegas berlari menuruni bukit.

   Rangga mengikuti saja ke mana Patih Raksajunta pergi.

   Mereka berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

   Kalau mau, sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti bisa meninggalkan Patih Raksajunta.

   Hanya saja dia belum tahu jalan yang akan ditempuh.

   *** Patih Raksajunta menghentikan larinya ketika tiba di sebuah celuk yang tidak begitu dalam.

   Pada dinding celuk itu terdapat sebuah mulut goa buatan yang tidak begitu besar ukurannya.

   Di sekitar celuk itu banyak terdapat semak kering dan ranting-ranting.

   Juga terdapat rangkaian bambu selebar celuk itu.

   "Jagat Dewa Batara...!"

   Desis Patih Raksajunta terperangah di pinggir celuk.

   "Ada apa, Paman Patih?"

   Tanya Rangga.

   "Kau lihat tangga bambu ini?"

   Rangga memperhatikan tangga bambu yang ditunjuk Patih Raksajunta. Tangga bambu itu sudah hancur. Dan kelihatannya, di dasar celuk juga terdapat banyak jejak kaki manusia.

   "Ada orang yang telah melewati jalan rahasia ini. Aku tidak tahu siapa mereka,"

   Gumam Patih Raksajunta.

   "Banyak jejak di sekitar sini. Bagaimana kalau kita ikuti jejaknya, Paman?"

   Usul Rangga.

   "Mana yang akan kau pilih?"

   Patih Raksajunta memberikan pilihan pada Pendekar Rajawali Sakti itu.

   "Hm...,"

   Rangga tidak segera menjawab.

   Dipandangi semua jejak kaki yang terdapat di sekitarnya.

   Tidak mudah mengambil satu keputusan tepat.

   Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti itu mengikuti jejak-jejak kaki yang kelihatannya masih baru, lalu tidak berapa lama berhenti.

   Jejak-jejak kaki itu berkumpul dan menuju ke satu arah.

   "Paman, kemari!"

   Seru Rangga seraya berlutut. Patih Raksajunta menghampiri. Saat itu Rangga menjumput sesuatu di ujung jari kakinya. Dia berdiri dan berbalik menghadap Patih Raksajunta.

   "Aku temukan ini, mungkin kau mengenalinya,"

   Rangga menunjukkan sebuah arnel yang terbuat dari emas, berhias baru permata.

   "Arnel ini milik Gusti Permaisu-ri,"

   Patih Raksajunta mengenali tusuk rambut itu.

   "Itu berarti keluarga Prabu Duta Nitiyasa sudah selamat, Paman."

   "Belum."

   "Belum...?!"

   Rangga mengerutkan keningnya. Baru saja Patih Raksajunta akan membuka mulut, tiba-tiba sebatang tombak melesat cepat menuju ke arah mereka. Tak lama kemudian, disusul puluhan anak panah yang meluncur.

   "Paman, awas...!"

   Seru Rangga keras.

   "Akh...!"

   Patih Raksajunta memekik keras tertahan.

   Sebatang anak panah menancap dalam di bahu kanan laki-laki tua itu.

   Rangga cepat melompat ke arahnya, tapi serbuan anak panah itu demikian cepat.

   Niatnya untuk menolong Patih Raksajunta pun terhambat.

   Pendekar Rajawali Sakti itu berjumpalitan di udara meng-hindari serbuan anak panah yang datang bagai hujan.

   Sementara itu Patih Raksajunta menarik tubuhnya menjauh.

   Sesekali dikibaskan pedangnya dengan tangan kiri untuk menghalau anak panah yang terarah padanya.

   Sedangkan Rangga sendiri masih sibuk menghindari serbuan anak panah yang mengancam dirinya.

   Namun Pendekar Rajawali Sakti itu tetap berusaha mendekati Patih Raksajunta.

   "Hiyaaat..!"

   Sambil berteriak keras, Rangga melentingkan tubuhnya tinggi-tinggi ke udara, lalu dengan cepat menukik ke bawah.

   Bagaikan seekor rajawali, Rangga menyambar tubuh Patih Raksajunta, dan langsung membawanya pergi.

   Hujan anak panah itu terus menyerbu ke arah mereka.

   Namun gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu demikian cepat, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap di balik lebatnya pepohonan.

   Rangga terus berlompatan disertai pengerahan ilmu meringankan tubuhnya yang telah mencapai taraf kesempur-naan.

   Sebentar saja dia sudah jauh dari situ.

   Rangga berhenti, lalu menurunkan Patih Raksajunta dari pon-dongannya.

   Sebatang anak panah masih menancap dalam di bahu kanan laki-laki tua itu.

   "Untung panah ini tidak beracun,"

   Gumam Rangga setelah memeriksa sekitar bahu kanan Patih Raksajunta.

   "Terima kasih. Dua kali aku telah berhutang nyawa padamu,"

   Ucap Patih Raksajunta.

   "Ah, sudahlah. Yang penting sekarang anak panah ini harus dicabut."

   "Lakukan saja, Rangga."

   "Tahan sedikit, Paman."

   "Lakukan."

   Rangga menggenggam batang anak panah itu.

   Dengan sekuat tenaga dite-kannya anak panah itu sampai menembus bahu.

   Patih Raksajunta memekik tertahan.

   Pendekar Rajawali Sakti itu mema-tahkan ujung panah, lalu menarik ba-tangnya hingga ke luar.

   Kembali Patih Raksajunta memekik keras tertahan.

   Darah langsung keluar dari luka di bahu itu.

   Rangga segera menotok jalan darah di sekitar bahu Patih Raksajunta, sehingga darah seketika berhenti mengalir.

   Kemudian disobeknya ujung baju laki-laki tua itu, dan dibalutnya luka yang cukup dalam itu.

   "Kau tidak apa-apa, Paman?"

   Tanya Rangga ketika melihat keadaan laki-laki tua itu yang nampaknya lemas.

   "Tidak. Aku tidak apa-apa,"

   Sahut Patih Raksajunta pelan.

   "Telah kububuhkan bubuk obat, mudah-mudahan luka itu cepat mengering,"

   Kata Rangga seraya menghenyakkan tubuhnya di samping Patih Raksajunta.

   "Terima kasih,"

   Ucap Patih Raksajunta singkat.

   Patih Raksajunta berusaha bangkit berdiri.

   Pedangnya dijadikan penopang tubuh, sehingga dia mampu berdiri meskipun agak limbung.

   Sedangkan Rangga masih tetap duduk memandanginya.

   Tampak raut wajah laki-laki tua itu terlihat mendung.

   Tatapannya tidak lepas ke arah bangunan istana yang terlihat jelas dari tempat ini.

   Mereka memang tidak berapa jauh di belakang bangunan istana itu.

   "Mereka pasti sudah menguasai Istana Jiwanala,"

   Gumam Patih Raksajunta lirih.

   Rangga hanya bisa menarik napas panjang, tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan.

   Bisa dirasakan, apa yang tengah melanda hati laki-laki tua itu.

   Seumur hidupnya Patih Raksajunta telah mengabdikan diri pada Kerajaan Jiwanala.

   Dan kini di masa sisa-sisa hidupnya, dia harus melihat kehancuran kerajaan kecil ini.

   Terlalu sukar untuk dilukiskan perasaannya saat ini.

   Yang jelas, Rangga melihat bola mata Patih Raksajunta merembang berkaca-kaca.

   *** Malam ini angin berhembus agak keras membawa udara dingin yang menggigilkan tulang.

   Langit tampak kelam tanpa satu bintang pun berkelap-kelip.

   Seakan-akan alam turut berduka dengan kehancuran Kerajaan Jiwanala di pesisir pantai ini.

   Seluruh kota tampak sepi bagaikan mati.

   Tidak ada seorang pun yang terlihat berkeliaran seperti hari-hari sebelumnya.

   Bahkan rumah-rumah penduduk pun tampak gelap gulita.

   Hanya beberapa saja yang masih kelihatan terang oleh pelita kecil yang menyala redup.

   Malam yang hening dan dingin ini rupanya tidak menghalangi kelebatan sesosok bayangan putih dari atap rumah yang satu ke atap lainnya.

   "Hup...!"

   Bayangan putih itu langsung menu-ju ke Istana Jiwanala.

   Gerakannya begitu ringan tanpa suara sedikit pun.

   Kecepatannya sukar diikuti pandangan mata biasa.

   Bayangan itu melenting indah dengan cepat ke atas atap bangunan istana itu.

   Sebentar berhenti merapatkan tubuhnya pada atap, kemudian melesat lagi meluruk ke bawah.

   Dengan merapatkan dirinya ke dinding, bayangan itu bergerak cepat menghampiri sebuah jendela besar yang tampak terang benderang.

   Dari jendela itu dapat terlihat suasana dalam istana.

   Tampak orang-orang Mongol tengah berpesta pora merayakan kemenangannya merebut istana ini.

   "Hai...!"

   Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras. Orang yang tengah mengamati riuhnya pesta pora dari jendela itu tampak terkejut. Dan belum lagi hilang rasa terkejutnya, mendadak sebatang tombak melesat cepat ke arahnya.

   "Hup!"

   Tangkas sekali tubuhnya melenting ke atas, dengan menggunakan ujung jari kaki untuk menjejak batang tombak di bawahnya.

   Dengan satu gerakan manis, dia berputar di udara, lalu meluruk cepat ke arah seorang prajurit Mongol yang memergokinya.

   Gerakan orang itu demikian cepat, sehingga prajurit Mongol itu tidak sempat lagi berbuat sesuatu.

   Des...! "Heghk!"

   Tanpa bersuara sedikit pun orang itu berhasil menyarangkan pukulannya ke leher prajurit Mongol itu.

   Buru-buru disangganya tubuh orang Mongol yang besar dan berat itu, lalu diseretnya masuk ke dalam semak rumpun bunga mawar.

   Orang berbaju putih tanpa lengan itu kembali bergerak cepat mendekati jendela.

   Sebentar mengamati keadaan dalam, lalu tubuhnya kembali melenting ke atas dan hinggap di atap.

   "Hm..., di mana ruang penjara yang mereka maksudkan?"

   Terdengar gumaman pelan yang sangat halus.

   Orang itu kembali bergerak lin-cah, berlompatan di atas atap bangunan istana itu.

   Gerakannya begitu ringan, seolah-olah tidak menapak pada atap.

   Sampai di bagian belakang istana, dia langsung meluruk turun.

   Ringan sekali kakinya menjejak tanah.

   Sepasang matanya yang tajam langsung melihat seorang prajurit Mongol tengah memaksa seorang wanita di antara rumpun pohon perdu.

   "Binatang...!"

   Orang itu bergumam menggeram.

   Slap! Hanya satu lompatan saja, tubuhnya telah mencapai prajurit Mongol yang tengah dirasuki nafsu iblis itu.

   Satu pukulan telak telah mendarat di tengkuk prajurit Mongol itu, yang kemudian hanya mengeluh sedikit, lalu ambruk tak berkutik.

   Tulang lehernya patah seketika.

   Wanita muda yang pakaiannya sudah tidak karuan itu bergegas beringsut seraya merapikan ba-junya.

   "Oh...!"

   "Ssst...!"

   Orang berpakaian putih tanpa lengan itu menekap mulut wanita itu, lalu menyeretnya masuk lebih ke dalam semak perdu. Kemudian diseretnya juga mayat prajurit Mongol itu hingga tidak tampak dari luar.

   "Siapa kau?"

   Tanya wanita itu berbisik pelan. Nampaknya sudah agak tenang begitu menyadari laki-laki muda tampan ini tidak bermaksud buruk, bahkan akan menolongnya keluar dari neraka ini.

   "Di mana Prabu Duta Nitiyasa di-penjarakan?"

   Laki-laki berbaju putih tanpa lengan itu malah balik bertanya.

   "Tidak tahu,"

   Sahut wanita itu menggeleng lemah.

   "Hanya mereka yang tahu."

   "Hm..., kau siapa? Mengapa bisa sampai jatuh ke tangan mereka?"

   "Aku seorang dayang yang tidak ikut mengungsi bersama Gusti Permaisuri. Masih banyak dayang dan pelayan lain di dalam istana. Bahkan pengurus istana juga ada di dalam. Mereka semua tidak dapat keluar. Seluruh istana ini sudah dikuasai orang-orang asing itu,"

   Jelas wanita itu.

   "Siapa namamu?"

   "Parti. Raden siapa?"

   "Hm...,"

   Laki-laki berbaju putih itu tidak menjawab, tapi hanya menggumam saja tidak jelas.

   "Sebaiknya kau cepat tinggalkan tempat ini."

   "Tidak mungkin, mereka sudah menjaga ketat istana ini."

   "Kalau begitu...,"

   Laki-laki muda itu tidak melanjutkan ucapannya.

   Pada saat itu dua orang prajurit Mongol lewat.

   Dua orang dari Daratan Mongol itu menyeret seorang wanita yang meronta-ronta sambil menjerit histeris.

   Tapi kedua orang Mongol itu terus menyeretnya sambil tertawa terbahak-bahak.

   Sementara dari tempat persembunyian, pemuda itu menggeram muak melihatnya.

   "Iblis...!"

   Geramnya murka.

   "Kalian harus mampus! Hih...!"

   Pemuda tampan berbaju putih tanpa lengan itu langsung melompat cepat, dan.... Bug! Bug! "Heg!"

   Dua orang prajurit Mongol itu kontan ambruk ke tanah begitu mendapat dua pukulan keras di punggungnya.

   Wanita yang berada di dalam semak belukar segera keluar dan berlari menghampiri wanita yang menangis begitu terlepas dari cengkeraman tangan kotor orang asing itu.

   Kedua wanita itu saling berpelukan.

   Sedangkan pemuda yang berdiri di antara kedua mayat orang Mongol itu tidak punya waktu lagi.

   Keberadaan dua wanita itu bisa menyulitkannya.

   Dengan cepat dia melompat sambil menyambar mereka.

   Begitu cepatnya melesat, tahu-tahu sudah melewati pagar tembok benteng istana dan mendarat di luar benteng.

   Kedua wanita itu terperangah, sehingga tidak mampu berkata-kata.

   Mulut mereka hanya mampu terbuka le-bar.

   "Cepat kalian pergi ke arah ba-rat. Ada seseorang yang menunggu di sana,"

   Kata pemuda itu setengah berbisik.

   "Raden...,"

   Salah seorang wanita itu ingin berkata.

   "Cepat! Aku akan membebaskan yang lainnya,"

   Potong pemuda itu cepat.

   Kedua wanita itu tidak bisa lagi membantah.

   Mereka segera berlari sekuat mungkin ke arah yang ditunjuk pemuda yang menolongnya tadi.

   Setelah kedua wanita itu tidak kelihatan lagi, pemuda berbaju putih tanpa lengan itu bergegas melompat melewati pagar benteng yang tinggi dan kokoh itu.

   Cepat sekali gerakannya, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap di balik pagar.

   *** Malam ini terasa begitu lambat berlalu.

   Di dalam istana masih terdengar suara-suara orang berpesta.

   Suara tawa terbahak-bahak ditingkahi jerit dan pekik wanita yang ketakutan.

   Itupun masih ditambah suara cambuk yang menggeletar memecah keheningan malam ini.

   Pemuda tampan berbaju putih dengan bagian depan terbuka itu mengen-dap-endap mendekati satu bangunan batu yang kasar dan berlumut tebal.

   Bangunan batu itu mirip sebuah tungku api raksasa.

   Hanya ada satu pintu terbuat dari baja tebal, yang dikawal empat orang prajurit Mongol.

   Mereka bercakap-cakap dalam bahasa yang sukar dimengerti.

   Pemuda berbaju putih itu semakin mendekati, lalu menyelinap di balik pepohonan.

   "Uts...!"

   Tiba-tiba saja dia berhenti begi-tu merasakan kakinya membentur sesuatu.

   Jantungnya serasa berhenti berde-tak begitu melihat sesosok tubuh wanita hampir polos terbujur di depannya.

   Seluruh tubuhnya banyak terdapat luka goresan yang cukup dalam.

   Darah masih mengalir membasahi kulit tubuhnya yang putih mulus itu.

   Tidak jauh dari mayat wanita itu, terdapat beberapa mayat lagi.

   Dari pakaiannya dapat diketahui kalau itu adalah mayat para prajurit.

   Namun jika dilihat dari luka-luka yang ada, mereka seperti bukan tewas dalam pertarungan, melainkan karena mendapat siksaan yang kejam.

   Pemuda berbaju rompi putih itu menggeretakkan rahangnya menahan geram.

   Kepalanya terdongak ketika tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita yang melengking tinggi.

   Sepertinya tidak begitu jauh dari tempatnya.

   Tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda tampan itu melompat ke arah sumber jeritan tadi.

   Tubuhnya melambung tinggi ke udara, lalu hinggap pada atap belakang istana ini.

   "Iblis...!"

   Pemuda itu menggeram.

   Rasanya dia tidak sanggup melihat pemandangan yang berada di bagian sayap halaman istana ini.

   Tampak enam orang prajurit Mongol sibuk memper-mainkan seorang wanita yang pakaiannya sudah tak menentu lagi.

   Wanita itu lari ke sana kemari sambil menjerit-jerit ketakutan.

   Tapi enam orang asing itu selalu dapat menangkapnya.

   Setiap kali tertangkap, satu sayatan pisau merobek kulit wanita itu.

   Dan setiap kali itu pula, terdengar jerit keras kesakitan.

   "Yang Maha Agung..., bencana apa yang sedang Kau timpakan pada kerajaan ini...?"

   Keluh pemuda itu dalam hati.

   Dipalingkan mukanya, karena tidak sanggup melihat kekejaman yang berlangsung di depan matanya.

   Wanita malang itu benar-benar tidak berdaya lagi.

   Dia tersuruk jatuh.

   Maka, seorang prajurit yang sudah tidak berpakaian lagi langsung menubruknya.

   Sedangkan yang lainnya melihat sambil tertawa-tawa.

   Wanita itu berusaha memberontak sekuat tenaga.

   Namun dalam keadaan tubuh terluka, rasanya tak ada daya sama sekali.

   Prajurit Mongol itu begitu buas memperkosanya.

   Belum lagi hilang pen-deritaan wanita itu, seorang lagi menggumulinya dengan paksa.

   Wanita itu hanya bisa merintih, tidak mampu lagi melakukan perlawanan.

   Enam orang Mongol itu benar-benar bagai binatang liar kelaparan.

   Setelah puas, wanita itu ditebas lehernya hingga tewas.

   Sementara pemuda berbaju rompi putih di atas atap hanya mampu menggeram menahan amarah.

   Sambil tertawa-tawa, enam orang asing itu melangkah meninggalkan wanita yang malang itu.

   Beberapa kali pemuda berbaju rompi putih di atas atap menarik napas dalam-dalam berusaha untuk menenangkan dirinya.

   Memang, dia mudah saja membantai enam orang itu.

   Tapi jumlah yang lainnya tidak sedikit, sehingga mustahil bisa menghadapi semuanya seorang diri.

   Bagaimanapun juga harus dicari kesempatan yang baik dan perencanaan yang matang.

   "Prabu Duta Nitiyasa harus kubebaskan lebih dahulu. Aku yakin dia dikurung dalam penjara itu,"

   Bisiknya dalam hati.

   Pemuda tampan berbaju rompi putih itu segera melentingkan tubuhnya mendekati bangunan yang diduga sebagai penjara bawah tanah.

   Dia paham betul tentang seluk-beluk sebuah istana.

   Meskipun di kerajaan lain dengan bentuk bangunan yang berbeda, tapi pada dasarnya setiap bangunan istana mempu-nyai ciri yang sama.

   "Hait...!"

   Pemuda itu langsung bergerak cepat mengibaskan tangannya ke arah empat orang prajurit yang menjaga pintu bangunan batu itu.

   Serangan yang tiba-tiba dan bagaikan kilat itu tidak sempat lagi diketahui.

   Empat prajurit Mongol itu kontan ambruk tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

   "Hhh! Terkunci...!"

   Dengus pemuda itu saat berusaha membuka pintu baja itu.

   Didekati satu persatu mayat prajurit penjaga itu dan diperiksanya.

   Pada salah seorang prajurit, ditemukan serangkaian kunci.

   Pemuda itu bergegas kembali menghampiri pintu dan mencoba semua kunci yang ditemukannya.

   Berun-tung, salah satu kunci itu pas.

   Maka pintu baja itupun berhasil dibukanya.

   "Siapa itu...?"

   Terdengar suara dari dalam.

   "Prabu Duta Nitiyasa...?"

   Pemuda itu bertanya ingin meyakinkan.

   Ruangan yang semula gelap gulita mendadak jadi terang benderang oleh pelita yang dinyalakan.

   Tampak seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun berdiri di tengah-tengah ruangan yang tidak begitu besar dan berdinding batu.

   Laki-laki itu mengenakan pakaian perang dan selendang putih yang meli-lit lehernya.

   Sebuah sarung pedang yang kosong tergantung di pinggangnya.

   "Cepatlah keluar sebelum mereka mengetahuinya, Gusti Prabu,"

   Ajak pemuda itu.

   "Siapa kau?"

   Tanya Prabu Duta Nitiyasa.

   "Tidak ada waktu menjelaskannya, Gusti. Maaf.... Hup!"

   "Hey...!"

   Prabu Duta Nitiyasa terperanjat begitu tiba-tiba pemuda berbaju rompi putih itu menyergap, lalu menotok tubuhnya.

   Akibatnya Prabu Duta Nitiyasa lemas seketika.

   Sebelum kesadarannya hilang, Raja Jiwanala itu masih sempat melihat kalau pemuda itu membawanya keluar dari dalam penjara khusus ini.


Tujuh Pendekar Pedang Gunung Thian San Karya Liang Ie Shen Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung/Tjan Id Sepasang Cermin Naga Karya Batara

Cari Blog Ini