Ceritasilat Novel Online

Macan Gunung Sumbing 1


Pendekar Rajawali Sakti Macan Gunung Sumbing Bagian 1


MACAN GUNUNG SUMBING Oleh Teguh Suprianto Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta Penyunting . Puji S. Gambar sampul oleh Tony G.

   "Auuum...!"

   Suatu auman keras telah memecah keheningan malam. Siapa saja yang mendengar pasti jantungnya bergetar serasa akan copot. Belum lagi hilang suara mengaum itu, mendadak....

   "Aaa...!"

   Terdengar jeritan melengking yang menyayat hati.

   Sesaat kemudian, suasana malam menjadi sunyi sepi.

   Tak terdengar satu suara, kecuali desiran angin malam yang mengusik, membawa embun.

   Udara malam ini terasa begitu dingin membekukan.

   Sedangkan suara-suara tadi terdengar bagaikan alunan mimpi buruk yang mengerikan.

   Hanya sesaat, tapi mampu mence-kam seluruh penduduk Desa Weru.

   Malam itu terasa begitu lambat berjalan.

   Fajar seakan-akan enggan menyingsing.

   Kesunyian menyelimuti seluruh sudut desa yang dipenuhi rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun-daun rumbia.

   Pelita-pelita kecil tak sanggup menghalau gelapnya sang malam.

   Apinya yang redup seperti menari-nari tertiup angin, seakanakan hendak padam.

   Namun kesunyian itu tidaklah menghalangi langkah dua orang berkerudung kain pekat yang melintasi jalan berdebu membelah desa itu.

   Mereka berjalan cepat-cepat, seperti tengah memburu sesuatu.

   Namun sesekali mereka menoleh ke belakang.

   Tampak raut wajah yang pucat terlindung kain yang menutupi kepala dan tubuhnya.

   Mereka baru berhenti melangkah setelah tiba di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar, namun memiliki halaman luas yang dihiasi rumput dan pepohonan tertata apik.

   Sesaat mereka saling berpandangan, tapi tidak juga meneruskan langkahnya.

   Perlahan-lahan dibukanya kain yang menyelubungi kepala mereka.

   Dalam keremangan cahaya pelita dan bulan, terlihat wajah agak tua, namun memiliki tatapan mata tajam memancarkan kewibawaan.

   Sedangkan seorang lagi masih tampak muda.

   Mungkin usianya sekitar dua puluh lima tahun.

   Gagang golok menyembul keluar dari balik kain yang belum tersingkap penuh.

   "Kau yakin suara itu terdengar dari rumah ini, Argayuda?"

   Tanya laki-laki yang lebih tua. Tatapan matanya tak berkedip ke arah rumah di depannya yang tampak sepi.

   "Tidak salah, Ki. Rumahku di sebelah sana...,"

   Laki-laki muda yang dipanggil Argayuda menunjuk rumah kecil tidak jauh dari sini.

   "Bahkan kulihat, harimau itu keluar dari rumah ini. Tak lama kemudian, seseorang juga melompat keluar sambil membawa buntalan,"

   Jelas Argayuda.

   "Baiklah, kau tunggu di sini saja. Aku akan lihat ke dalam,"

   Kata laki-laki tua itu seraya melangkah.

   "Ki...."

   Argayuda bergegas mengikuti.

   Laki-laki tua itu terus saja melangkah, tidak menghiraukan panggilan Argayuda.

   Terpaksa pemuda itu mengikuti dari belakang.

   Mereka berhenti kembali setelah sampai di depan pintu rumah yang tertutup tak sempurna.

   Ada sedikit rongga yang cukup untuk mengintip ke dalam.

   Laki-laki tua itu mendekati pintu, kemudian mendo-rongnya perlahan-lahan.

   Derit daun pintu terdengar saat terkuak.

   "Akh...!"

   Tiba-tiba saja Argayuda memekik perlahan.

   "Dewata Yang Agung...,"

   Desis laki-laki tua itu se-raya memalingkan wajahnya ke arah lain.

   Apa yang mereka lihat di dalam rumah itu sungguh mengerikan.

   Tampak seonggok mayat tergeletak di lantai dengan kepala remuk dan tubuh tercabik.

   Tidak jauh dari mayat itu, terlihat satu mayat lagi yang tergantung seutas tambang ijuk.

   Tangan dan kakinya buntung.

   Darah segar masih menetes ke lantai.

   Tampak di atas dipan kayu, juga masih terdapat satu mayat lagi.

   Mayat seorang anak perempuan ber-usia sekitar sembilan tahun.

   Lebih mengerikan lagi, tubuh mayat itu hampir setengahnya hilang.

   Tinggal bagian dada ke atas saja yang tersisa.

   "Ki..., Ki Gedag...,"

   Suara Argayuda terdengar bergetar.

   "Pukul kentongan! Beri tanda kematian,"

   Perintah Ki Gedag, agak bergetar nada suaranya.

   "Bb... baik..., baik, Ki,"

   Sahut Argayuda gugup.

   Bergegas anak muda itu berlari menuju kentongan yang ada di bagian kanan depan rumah itu.

   Sesaat kemudian, terdengar kentongan dipukul bertalu-talu yang memiliki nada tersendiri.

   Suara kentongan itu terdengar menyelusup sampai ke sudut-sudut Desa Weru.

   Tidak lama kemudian terdengar suara kento-ngan balasan, yang semakin lama semakin banyak terdengar dari segala penjuru.

   Rumah-rumah yang semula remang-remang, kini terang benderang.

   Dan beberapa orang mulai bermunculan dari dalam rumahnya.

   Mereka setengah berlari menuju ke rumah yang tertimpa musibah.

   Terdengar suara langkah-langkah kaki mendekati rumah itu.

   Begitu tiba, mereka langsung memekik penuh kengerian saat melihat ke dalam.

   Sementara Argayuda jadi terpaku memegangi kentongan bambu yang tergantung di beranda samping rumah itu.

   *** Wajah mendung terlihat dari orang-orang yang melangkah perlahan meninggalkan areal pekuburan di luar perbatasan Desa Weru.

   Tampak Ki Gedag masih berdiri di samping gundukan tanah merah.

   Di sam-pingnya berdiri Argayuda.

   Kepala mereka tertunduk dalam.

   Tidak sedikit pun menghiraukan penduduk Desa Weru lainnya yang sudah meninggalkan pusara itu.

   Empat pusara baru berjajar di depan kedua laki-laki itu.

   "Aku tak percaya kalau Macan Gunung Sumbing sampai ke sini,"

   Desah Ki Gedag pelan bernada mengeluh.

   "Aku juga tidak percaya, Ki. Tapi benar-benar harimau itu kulihat keluar dari rumah Paman Waku,"

   Tegas Argayuda seraya mengangkat kepalanya.

   "Hhh..., kasihan Paman Waku. Kalau saja dia tahu keluarganya terbantai begini...."

   Ki Gedag menepuk pundak anak muda itu, kemudian mengajaknya berjalan meninggalkan pemakaman.

   Mereka berjalan perlahan-lahan berdampingan.

   Sesekali Argayuda menoleh ke belakang, melihat empat pusara yang baru terbentuk sekaligus hari ini.

   Kedua laki-laki itu terus berjalan berdampingan tanpa bicara lagi.

   Langkah mereka pelan tanpa me-noleh sedikit pun, sehingga sampai tidak menyadari ada seorang pemuda duduk di bawah pohon yang sejak tadi memperhatikan mereka ketika keluar dari areal kuburan itu.

   Seekor kuda hitam pekat dan bertubuh tinggi tegap, terlihat merumput tenang tidak jauh dari pemuda itu.

   "Ki...,"

   Agak ragu-ragu nada suara Argayuda.

   "Hm...,"

   Gumam Ki Gedag seraya menghentikan langkahnya.

   Dia menoleh sedikit memandang pemuda yang berjalan di sampingnya itu.

   Argayuda ikut berhenti setelah lewat dua langkah di depan Ki Gedag.

   Pemuda itu berbalik, menghadap pada laki-laki tua dengan gagang golok menyembul di pinggang.

   "Ada apa?"

   Tanya Ki Gedag melihat Argayuda nampak ragu-ragu untuk berkata.

   "Apa ini tidak ada hubungannya dengan kejadian di Desa Ilir...?"

   Tanya Argayuda ragu-ragu.

   "Maksudmu?"

   Ki Gedag malah balik bertanya.

   "Pembunuhan beruntun itu, Ki."

   Ki Gedag terdiam.

   Tatapan matanya tajam ke arah pemuda itu.

   Memang bisa dimengerti maksud pembicaraan Argayuda.

   Sebab, sebulan yang lalu, pernah terjadi peristiwa mengerikan di Desa Ilir.

   Desa itu memang tidak seberapa jauh letaknya dari Desa Weru ini.

   Peristiwa yang sangat menggemparkan, dan hampir tidak bisa dipercaya kebenarannya.

   Beberapa keluarga terbunuh dalam keadaan mengerikan.

   Tubuh mereka terpotong, tercabik, bahkan banyak yang sudah tidak berbentuk lagi.

   Ki Gedag juga tahu kalau mereka yang tewas masih satu darah.

   Tidak kurang dari dua belas orang tewas.

   Tidak peduli apakah orang tua, anak muda, atau anak-anak kecil.

   Bahkan bayi berusia enam bulan pun ikut menjadi korban.

   Ki Gedag tahu betul dengan keluarga yang terbantai itu.

   "Ciri-cirinya sama persis, Ki,"

   Kata Argayuda pelan.

   "Terus terang, Argayuda. Aku juga sudah berpikir ke situ. Tapi rasanya tidak ada hubungan keluarga antara Paman Waku dengan mereka yang terbunuh di Desa Ilir. Aku juga belum yakin kalau ini perbuatan si Macan Gunung Sumbing...,"

   Kata-kata Ki Gedag terdengar ragu-ragu.

   "Kalau ternyata benar, Ki...?"

   Bergetar juga suara Argayuda.

   "Mudah-mudahan saja tidak,"

   Desah Ki Gedag.

   "Ayo...!"

   Kedua laki-laki itu kembali berjalan tanpa bicara lagi.

   Namun dari kepala yang tertunduk, dapat ditebak kalau mereka masih memikirkan semua yang telah terjadi pada keluarga Paman Waku semalam.

   Suatu peristiwa yang mengerikan.

   Pembantaian satu keluarga, tanpa seorang pun dibiarkan hidup.

   Sementara itu, di bawah pohon yang cukup rindang, pemuda berwajah tampan dan berbaju rompi putih masih menatap kedua laki-laki yang kini sudah jauh.

   Kening pemuda itu nampak berkerut dalam dan matanya agak menyipit.

   Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, dan tangannya menyangga di batang pohon.

   Pandangannya masih tertuju pada Desa Weru.

   "Macan Gunung Sumbing...,"

   Desisnya perlahan.

   *** Suasana duka menyelimuti seluruh Desa Weru.

   Tidak tergambar wajah-wajah cerah.

   Kematian satu keluarga Paman Waku membuat hati seluruh penduduk terasa teriris.

   Terlebih lagi melihat cara kematian yang begitu mengerikan.

   Hati siapa tidak akan tergiris melihat tubuh terpotong, kepala pecah, darah berceceran di mana-mana.

   Pembantaian malam itu benar-benar mengguncang seluruh Desa Weru yang selama ini selalu damai dan tentram.

   Di setiap sudut, wajah-wajah mendung selalu terlihat nyata.

   Demikian juga di sebuah kedai yang tidak begitu besar.

   Tidak banyak orang datang ke situ.

   Meskipun pemilik kedai selalu tersenyum menyambut tamu, tapi tidak bisa menghilangkan kemurungan wajahnya.

   Laki-laki tua pemilik kedai itu tersenyum manis menyambut seorang pemuda tampan memakai baju rompi putih yang masuk ke kedainya.

   "Pesan apa, Den?"

   Tanya pemilik kedai itu.

   "Tuak, dan makanan kecil,"

   Sahut pemuda itu seraya duduk di bangku yang langsung menghadap ke luar lewat jendela.

   "Sebentar, Den."

   Laki-laki tua pemilik kedai itu bergegas pergi saat datang lagi seorang laki-laki berwajah aneh dan bertubuh tinggi tegap.

   Dia langsung duduk di sudut yang agak terlindung.

   Sempat diliriknya pemuda yang memakai baju rompi putih.

   Terdengar dengusan pendek.

   Sementara pemilik kedai sibuk melayani tamu-tamunya, pemuda berbaju rompi putih itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

   Perhatiannya langsung terpaku pada salah satu meja di sudut, tempat laki-laki berwajah penuh brewok tebal dengan mata bulat merah duduk di sana.

   Pada saat yang sama, laki-laki itu juga menatap pemuda berbaju rompi putih itu.

   Mereka saling pandang beberapa saat, kemudian perhatiannya beralih pada seorang wanita berbaju putih yang bersenjata pedang di punggung.

   Wanita itu baru saja masuk, dan langsung duduk di tengah-tengah kedai.

   Dipesannya arak dan beberapa macam makanan.

   Pemuda berbaju rompi putih yang duduk dekat jendela, menggapaikan tangannya memanggil pemilik kedai.

   Laki-laki tua dengan tangan membawa baki, bergegas menghampiri.

   Tubuhnya setengah membungkuk begitu sampai di depan pemuda itu.

   Disorongkan tubuhnya lebih ke depan begitu jari telunjuk pemuda berbaju rompi itu bergerak.

   "Ada apa, Den?"

   Tanya laki-laki tua pemilik kedai itu "Apakah mereka penduduk desa ini?"

   Pemuda berbaju rompi putih itu bertanya.

   "Siapa?"

   "Yang di sudut dan di tengah-tengah itu."

   Pemilik kedai itu menolehkan kepalanya sedikit, kemudian menatap pemuda itu dalam-dalam.

   "Mereka juga pendatang seperti Raden,"

   Kata pe-milik kedai.

   "Terima kasih,"

   Ucap pemuda itu seraya bangkit berdiri.

   Pemuda itu meletakkan beberapa keping uang untuk membayar pesanannya, kemudian melangkah ke luar.

   Matanya sempat melirik dua orang yang sejak tadi diperhatikannya.

   Laki-laki berwajah penuh brewok dan bermata bulat merah seperti mata kucing itu membalas tajam tatapan pemuda itu.

   Bibirnya yang hampir tertutup brewok, menyunggingkan senyuman tipis.

   Pemuda berbaju rompi putih itu langsung melompat ke atas punggung kuda hitamnya yang tinggi tegap.

   Otot-otot kuda itu bersembulan, mencerminkan kegagahan dan kejantanan.

   Suara decakan terdengar, maka kuda hitam itu melangkah perlahan-lahan meninggalkan kedai.

   Beberapa penduduk yang terlewati sempat memperhatikannya.

   Namun pemuda itu tetap mengendarai kudanya perlahan-lahan.

   Kuda hitam itu berhenti tepat di depan rumah yang tidak begitu besar, namun berhalaman luas dan ditumbuhi rerumputan.

   Pemuda berbaju rompi putih itu memandang ke arah rumah yang tampak sepi.

   Pintu depannya terbuka lebar.

   Pada bagian atas palang pintu terdapat hiasan dari daun kelapa muda.

   Tidak jauh dari situ terdapat bangunan batu berbentuk puri kecil yang diselubungi kain hitam dan dihiasi rangkaian bunga.

   "Ada yang menarik, Den?"

   Tiba-tiba terdengar teguran ramah.

   "Oh!"

   Pemuda itu terkejut, dan langsung berpaling.

   Seorang laki-laki tua tahu-tahu sudah berdiri di depannya.

   Di sampingnya tampak seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun.

   Gagang golok tersembul di pinggang mereka.

   Pemuda berbaju rompi putih itu turun dari kudanya.

   "Baru ada musibah di rumah itu rupanya...,"

   Ujar pemuda itu setengah bergumam.

   "Benar,"

   Sahut laki-laki tua yang ternyata adalah Ki Gedag.

   "Hm... kalau tidak salah, kau yang berada di dekat kuburan tadi. Benar...?"

   Celetuk pemuda di samping Ki Gedag. Dia tidak lain dari Argayuda.

   "Betul sekali. Aku juga sempat melihat upacara pemakaman tadi,"

   Sahut pemuda itu.

   "Apakah pemilik rumah itu yang meninggal?"

   "Benar,"

   Sahut Argayuda.

   "Kenapa kau tanyakan itu?"

   Pemuda berbaju rompi putih menatap Argayuda. Jelas suara Argayuda bernada kecurigaan. Kasarnya, nada itu bersifat menuduh. Tapi pemuda berbaju rom-pi putih itu malah tersenyum.

   "Permisi,"

   Ucap pemuda itu seraya melangkah me-nuntun kudanya.

   Ki Gedag bergeser ke samping memberi jalan.

   Sedangkan Argayuda tetap berdiri dengan tatapan mata penuh kecurigaan.

   Kedua laki-laki itu memutar tubuhnya, dan sama-sama memandangi pemuda berbaju rompi putih yang pedangnya tersampir di punggung.

   Argayuda menggeser kakinya mendekati Ki Gedag.

   "Aku jadi curiga, Ki,"

   Bisik Argayuda hampir tidak terdengar. Ki Gedag tidak menyahut, namun pandangannya tetap tertuju pada pemuda yang berjalan semakin jauh menuntun kudanya. Perlahan dia menoleh memandang Argayuda.

   "Jangan cepat menaruh kecurigaan, Argayuda,"

   Ujar Ki Gedag.

   "Kecurigaanku beralasan, Ki,"

   Sergah Argayuda.

   "Hm...,"

   Ki Gedag hanya menggumam tidak jelas.

   "Pertama dia ada di kuburan. Sekarang ada di sini, lalu menanyakan rumah itu. Apa maksud pertanyaannya tentang orang yang tertimpa musibah ini? Bukankah itu sangat mencurigakan, Ki. Jangan-jangan...,"

   Kata-kata Argayuda terputus.

   "Kau sudah mulai menuduh, Argayuda. Tidak baik menuduh orang tanpa bukti,"

   Celetuk Ki Gedag memperingatkan.

   "Bukan menuduh, Ki. Tapi kita perlu menyelidiki siapa dia, dan apa keperluannya datang ke Desa Weru ini. Aku merasakan ada sesuatu yang lain, Ki,"

   Kata-kata Argayuda seperti untuk dirinya sendiri.

   "Ah! Sudahlah, Argayuda. Sebaiknya kita cepat ke rumah Eyang Ganjur. Paman Waku sudah ada di sana,"

   Sergah Ki Gedag seraya berbalik dan terus melangkah.

   Argayuda mengangkat bahunya sedikit, kemudian ikut memutar tubuhnya dan berjalan di samping Ki Gedag.

   Mereka sempat menoleh ketika tiba di depan kedai.

   Tampak seorang wanita muda berparas cantik dan memakai baju putih keluar dari dalam kedai itu.

   Tidak lama kemudian seorang laki-laki berwajah penuh brewok menyusul ke luar.

   Tapi arah mereka berlawanan.

   Ki Gedag dan Argayuda terus saja berjalan tanpa berbicara lagi.

   *** Malam mulai menyelimuti seluruh Desa Weru.

   Bulan bersinar penuh.

   Namun awan hitam yang menggantung lebat di langit telah menghalangi cahaya bulan untuk menerangi mayapada ini.

   Angin bertiup sedikit keras membawa hawa dingin yang menggigilkan.

   Desa Weru sudah tenggelam terselimut kabut yang semakin menebal.

   Tak terlihat ada orang di luar rumah, kecuali dua laki-laki yang tengah duduk di beranda.

   Mereka adalah Eyang Ganjur bersama cucunya yang bernama Paman Waku.

   Laki-laki berusia lima puluh tahun itu baru saja tertimpa musibah di saat dirinya sedang melaksanakan tugas ke Bukit Opak membawa pesan kakeknya ini.

   Walaupun tidak muda lagi, namun masih terlihat gagah dan tegap.

   Rambutnya memang mulai berwarna dua.

   Sedangkan Eyang Ganjur sudah demikian lanjut.

   Usianya mungkin sudah mencapai sembilan puluh tahun lebih.

   Tapi laki-laki tua itu masih tetap terlihat gagah meskipun tubuhnya kurus tertutup jubah panjang berwarna putih bersih.

   "Rasanya aku tidak pernah punya musuh selama dua puluh tahun ini, Eyang. Tapi mengapa ada orang yang begitu tega membantai keluargaku...?"

   Desah Paman Waku lirih.

   "Mungkin saja salah seorang lawanmu dulu yang masih menyimpan dendam, Waku,"

   Ujar Eyang Ganjur lembut.

   "Ya..., mungkin juga. Tapi siapa...?"

   "Memang terlalu mudah untuk menuduh si pelaku, tapi sukar untuk membuktikannya. Masa mudamu kau habiskan dalam dunia persilatan. Tak sedikit orang yang menyimpan dendam di hatinya. Kau tidak akan mampu mengingatnya satu persatu,"

   Kata Eyang Ganjur bijaksana.

   "Lalu, apa yang harus kulakukan, Eyang?"

   Tanya Paman Waku meminta pendapat.

   "Diam,"

   Sahut Eyang Ganjur mantap.

   "Diam...?!"

   Paman Waku terkejut juga mendengar jawaban itu.

   Ditatapnya dalam-dalam laki-laki tua yang duduk di seberang meja bundar beralaskan batu pualam putih itu.

   Sedangkan yang ditatap hanya diam saja.

   Panda-ngannya malah lurus ke depan.

   Dagunya ditopangkan ke punggung tangan yang menggenggam tongkat ber-kepala ular.

   "Apa yang akan kau lakukan, Waku? Mencari pembunuh keluargamu? Mengumbar amarah dan dendam buta tanpa petunjuk sedikit pun? Kau sudah tidak muda lagi, Waku. Sadarilah keadaan dirimu sendiri,"

   Lembut namun terdengar tegas kata-kata Eyang Ganjur.

   Paman Waku hanya diam saja.

   Dia sendiri tidak tahu, apa yang akan dilakukannya sekarang ini.

   Sampai saat ini memang belum jelas, siapa pembunuh keluarganya.

   Meskipun siang tadi Ki Gedag dan Argayuda sudah menceritakan secara jelas, tapi masih belum bisa diyakini kalau yang melakukan semua itu adalah si Macan Gunung Sumbing.

   Paman Waku memang pernah bentrok dengan seorang tokoh yang berjuluk Macan Gunung Sumbing.

   Tokoh itu memang berhasil dikalahkannya.

   Pertaru-ngan waktu itu memang cukup adil dan disaksikan Eyang Ganjur, kakeknya sendiri yang kini menjadi ketua sebuah padepokan di Bukit Opak.

   Bahkan istrinya yang saat itu baru dinikahinya ikut menyaksikan, ditambah beberapa tokoh lain yang sulit untuk diingat lagi.

   Permasalahannya sangat sepele.

   Waktu itu Paman Waku menikahi seorang gadis yang juga diinginkan Macan Gunung Sumbing.

   Macan Gunung Sumbing tidak rela, dan mengajak bertarung sampai salah satu ada yang mati.

   Tapi Paman Waku tidak berusaha menewaskannya, meskipun saat itu Macan Gunung Sumbing sudah pasrah saat dikalahkan.

   Paman Waku membiarkannya pergi, hingga sampai sekarang tidak pernah terdengar lagi beritanya.

   Dan baru kali ini didengarnya nama Macan Gunung Sumbing disebut, malah kebetulan pula bersamaan dengan terjadinya musibah besar ini.

   Benarkah yang dilihat Argayuda saat terjadinya pembantaian malam itu? Pertanyaan ini yang selalu mengganggu benak Paman Waku.

   "Mungkin yang dikatakan Argayuda benar, Eyang. Rasanya tidak ada lagi yang...,"

   Ucapan Paman Waku terputus.

   "Mustahil!"

   Sentak Eyang Ganjur cepat.

   "Macan Gunung Sumbing tidak memelihara seekor harimau. Itu hanya sekedar julukan saja. Tidak ingatkah kau sewaktu bertarung dengannya?"

   "Tidak akan kulupakan, Eyang."

   "Nah! Apa mungkin Macan Gunung Sumbing me-miliki seekor harimau? Bodoh sekali kalau kau termakan omongan bocah kemarin sore itu!"

   Agak keras suara Eyang Ganjur.

   "Mungkin hal itu tidak akan kupikirkan kalau saja tidak ada peristiwa serupa sebulan lalu di Desa Ilir, Eyang. Aku kenal betul dengan keluarga yang terbantai habis tanpa sisa itu. Mereka adalah teman-teman baikku, yang juga pernah berurusan dengan si Macan Gunung Sumbing. Demikian pula peristiwa pembantaian yang hampir sama di Gunung Anjar, di Kampung Bulam dan di tempat-tempat lain. Pembantaian satu keluarga. Bahkan sanak familinya pun ikut terbantai dengan cara mengerikan. Dari semua itu Macan Gunung Sumbing selalu disebut-sebut sebagai pelakunya, meskipun sampai saat ini belum terbukti sama sekali,"

   Ujar Paman Waku panjang lebar.

   Eyang Ganjur terdiam.

   Memang benar apa yang dikatakan cucunya barusan.

   Semua peristiwa itu hampir serupa bentuknya.

   Brutal dan mengerikan.

   Dan yang terpenting, korbannya adalah anggota keluarga yang pernah punya urusan dengan si Macan Gunung Sumbing.

   Kini satu keluarga telah terbantai.

   Apakah peristiwa-peristiwa itu akan terulang kembali? Kalau memang benar, tidak sedikit yang akan menjadi korban.

   Masalahnya, hampir semua penduduk Desa Weru ini bertalian darah.

   "Aku akan mengirim utusan ke Bukit Opak secepatnya, Eyang,"

   Kata Paman Waku.

   "Untuk apa?"

   Tanya Eyang Ganjur.

   "Mengabarkan hal ini pada Kakang Bakor. Mereka semua harus waspada sebelum telanjur, Eyang."

   "Belum perlu, Waku. Kita belum bisa mengambil kesimpulan secepat itu."

   "Meskipun Eyang tidak setuju, aku tetap akan memberitahu seluruh sanak keluarga agar waspada. Aku yakin persoalan ini bukan persoalan sepele, Eyang. Ini menyangkut nyawa orang banyak,"

   Tegas kata-kata Paman Waku.

   "Pikirkan dulu, Waku,"

   Saran Eyang Ganjur.

   "Sudah!"

   Sahut Paman Waku mantap.

   "Hhh...!"

   Eyang Ganjur menarik napas panjang.

   *** Malam terus merayap semakin larut.

   Udara pun semakin dingin menusuk kulit.

   Di dalam sebuah ka-mar berdinding bilik bambu, terlihat sepasang insan tengah mereguk kenikmatan.

   Tak ada yang terdengar selain dengus napas memburu disertai erangan lirih mengusik telinga.

   Mereka adalah pasangan muda yang baru melangsungkan pernikahan beberapa hari.

   "Oh! Kakang...!"

   Terdengar pekikan lirih tertahan.

   "Ahhh...!"

   Disusul satu desahan panjang.

   Satu tubuh menggelimpang ke samping bermandikan keringat yang mengucur deras, berkilat tertimpa cahaya pelita yang menempel di dinding.

   Sebuah kepala dengan rambut terurai kusut menyembul terangkat naik.

   Terdengar bunyi suara gemerisik dari kain yang dililitkan ke tubuh ramping berkulit kuning langsat.

   "Mau ke mana?"

   Sapa laki-laki muda yang masih menggeletak bersimbah keringat. Tangannya menjulur memeluk pinggang istrinya.

   "Ambil air,"

   Sahut wanita itu seraya mengecup pipi suaminya.

   "Jangan lama-lama, di luar gelap."

   "He-eh."

   Wanita itu beranjak turun dari pembaringan.

   Terdengar bunyi bergerik.

   Sebentar wanita itu menoleh dan memberikan senyum menawan, kemudian jalan melenggang.

   Tubuhnya hanya dililit selembar kain.

   Dia melangkah keluar dari kamar, dan terus melintasi satu ruangan.

   Tangannya yang kecil dan halus, mengangkat pa-lang pintu.

   Dibukanya pintu itu perlahan-lahan, namun masih juga terdengar suara bergerit.

   Angin malam yang dingin langsung menerpa kulit wajahnya.

   Wanita itu membungkuk mengambil tempayan air dari tanah liat.

   Dan pada saat berdiri tegak....

   "Akh...!"

   Wanita itu memekik kaget agak tertahan.

   Seketika wajahnya pucat pasi, dan matanya mem-beliak lebar.

   Tubuhnya bergetar hebat, sehingga tempayan itu jatuh dan pecah di ujung kakinya.

   Belum lagi wanita itu bisa bersuara, mendadak satu baya-ngan besar berkelebat disertai auman keras menggetarkan.

   "Aaaum...!"

   "Aaa...!"

   Satu jeritan melengking terdengar. Tubuh wanita itu terguling ke lantai. Hanya sesaat jeritan melengking itu terdengar, kemudian tidak terdengar lagi suara dari bibir wanita itu.

   "Senah...!"

   Jeritan melengking itu membuat laki-laki yang berada di dalam kamar kontan memburu keluar.

   Betapa terkesiap hatinya begitu melihat pemandangan yang mengerikan sekali.

   Tubuhnya gemetar hebat dan wajahnya pucat pasi seketika.

   Tapi segera disambarnya golok yang menggantung di dinding di sampingnya.

   Sret! Baru saja dicabut goloknya, mendadak satu baya-ngan berkelebat cepat mengarah padanya.

   Sejenak dia terkesiap, dan buru-buru melompat ke samping sambil menjatuhkan tubuhnya bergulingan di lantai.

   Tapi mendadak saja bayangan itu berbalik dan langsung menerjangnya demikian kuat.

   "Akh!"

   Laki-laki muda itu memekik tertahan. Dan belum lagi menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba terasa ada beberapa tusukan benda kecil mengo-yak dadanya. Itu pun masih disusul suatu hentakan keras pada kepalanya ke lantai.

   "Aaa...!"

   Laki-laki itu menjerit melengking tinggi.

   Jeritan yang begitu keras menyayat, membelah keheningan malam yang dingin ini.

   Sesaat kemudian keadaan menjadi sunyi sepi kembali, namun masih tampak dua bayangan berkelebat cepat keluar dari bagian belakang rumah itu.

   Mereka meninggalkan dua sosok tubuh yang koyak tak berbentuk lagi.

   Kepala laki-laki muda itu hancur.

   Leher dan dadanya berlubang besar.

   Sedangkan yang wanita lebih mengerikan lagi.

   Sebagian besar tubuhnya hilang.

   Yang ada tinggal kepala, sebagian dada, sebelah tangan, dan potongan perut yang tercecer.

   Darah menggenangi lantai.

   "Grauuugh...!"

   Terdengar raungan panjang yang semakin lama semakin mengecil, lalu hilang sama sekali.

   Sementara malam terus merambat semakin larut.

   Tak ada seorang pun yang menyaksikan peristiwa memerikan itu.

   Memang begitu cepat terjadi, dan sukar sekali dipahami.

   *** "Biadab...!"

   Geram Paman Waku menyaksikan dua mayat dalam keadaan mengerikan di dalam rumah.

   Paman Waku tidak sanggup lagi melihat, dan langsung melangkah keluar.

   Wajahnya merah padam menahan geram.

   Betapa tidak? Wanita yang tewas bersama suaminya itu adalah keponakannya yang baru beberapa hari melangsungkan pernikahan.

   Rumah yang kecil dengan halaman tidak seberapa besar itu kini dipadati penduduk yang berdatangan ingin melihat.

   Semua orang yang melihat pasti akan mendesis kengerian.

   Hanya murid-murid Eyang Ganjur yang mampu bertahan lama.

   Itu pun terpaksa karena mendapat perintah gurunya untuk mengurus mayat-mayat itu.

   Sementara Paman Waku sendiri tidak sanggup lagi menyaksikannya.

   Eyang Ganjur yang semula berada di dalam mengawasi muridnya yang berjumlah empat orang, melangkah ke luar begitu melihat cucunya ke luar dengan wajah merah padam menahan geram.

   "Waku...,"

   Panggil Eyang Ganjur begitu berada di samping cucunya.

   "Eyang masih juga berdiam diri?!"

   Dengus Paman Waku langsung menyelak.

   "Tahan amarahmu, Waku. Bisa kurasakan apa yang kau rasakan sekarang. Kau pikir aku...,"

   Eyang Ganjur mendesah panjang seraya mengangkat kepalanya sedikit ke atas.

   "Hhh...! Tidak seharusnya aku kasar padamu, Waku."

   "Maafkan aku, Eyang. Aku terbawa kata hatiku,"

   Ucap Paman Waku perlahan.

   "Ah, sudahlah."

   Kakek dan cucu itu terdiam.

   Saat itu Ki Gedag dan Argayuda muncul dan langsung menghampiri.

   Mereka baru saja keluar dari dalam rumah duka.

   Eyang Ganjur menoleh pada kedua orang itu.

   Sesaat mereka hanya berdiam diri saja dengan sinar mata yang sulit diartikan.

   "Eyang, bukannya aku hendak menambah keruh suasana. Tapi sejak tadi kuperhatikan ada tiga orang yang...."

   "Di mana?"

   Sentak Paman Waku langsung memotong ucapan Argayuda.

   "Mereka sendiri-sendiri. Yang dua orang memang sudah tidak terlihat. Tapi yang seorang masih ada di bawah pohon kenanga. Itu, di samping kuda hitamnya,"

   Sahut Argayuda menunjuk dengan ekor matanya.

   Paman Waku dan Eyang Ganjur langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Argayuda.

   Di bawah pohon kenanga memang terlihat seorang pemuda berwajah tampan memakai baju rompi putih.

   Sebilah gagang pedang berbentuk kepala burung, tersembul dari balik punggungnya.

   Seekor kuda tegap berwarna hitam pekat tengah merumput di sampingnya.

   "Waku...,"

   Eyang Ganjur menangkap tangan cucu-nya yang hendak melangkah menghampiri pemuda itu. Paman Waku menatap kakeknya tajam.

   "Apa yang akan kau lakukan?"

   Tanya Eyang Ganjur.

   "Hanya ingin bertanya saja, Eyang,"

   Sahut Paman Waku.

   "Hatimu sedang panas! Biar aku saja,"

   Ujar Eyang Ganjur.

   Semula Paman Waku akan membantah, tapi Eyang Ganjur sudah melangkah begitu melepaskan cekalannya.

   Ki Gedag menghampiri Paman Waku dan berdiri di samping kanannya.

   Mereka memperhatikan Eyang Ganjur yang menghampiri pemuda berbaju rompi putih itu.

   Eyang Ganjur memberi salam ramah begitu sampai di depan pemuda itu, yang kemudian langsung disambut ramah pula.

   Sejenak Eyang Ganjur memperhatikan pemuda itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki "Maaf, boleh aku tahu siapa Kisanak ini?"

   Tanya Eyang Ganjur ramah.

   "Apakah kehadiranku mengganggu, Eyang?"

   Pemuda itu malah balik bertanya. Dia langsung memanggil Eyang karena melihat laki-laki itu usianya sudah lanjut dan memakai jubah putih bagai seorang pertapa.

   "Oh, bukan begitu maksudku. Hanya saja, aku harus tahu setiap orang asing yang berada di desa ini,"

   Sahut Eyang Ganjur.

   "Namaku Rangga. Aku memang sedang singgah di sini dalam perjalananku,"

   Jelas pemuda itu memperkenalkan diri.

   "Kau seorang pengembara?"

   Tanya Eyang Ganjur lagi.

   "Benar, Eyang."

   "Hm.... Begini Kisanak. Bukannya aku tidak suka akan kehadiranmu di sini. Tapi demi kebaikanmu, sebaiknya segeralah pergi setelah istirahatmu selesai,"

   Lembut dan sopan kata-kata Eyang Ganjur, namun bernada tegas penuh kewibawaan.

   "Oh...! Kenapa?"

   Tanya Rangga agak terkejut juga.

   "Sayang sekali tidak bisa kujelaskan. Yang jelas, terlalu berbahaya bagimu berada di sini terlalu lama. Bukan hanya dirimu, tapi juga bagi semua orang asing. Desa ini terpaksa kututup dari kunjungan orang luar. Kuharap, kau bisa memakluminya, Kisanak,"

   Kata E-yang Ganjur tetap ramah.

   "Baiklah, aku akan pergi sekarang,"

   Kata Rangga mengalah.

   "Aku ucapkan terima kasih atas pengertianmu, Ki-sanak,"

   Ucap Eyang Ganjur.

   "Tidak mengapa, Eyang. Aku bisa mengerti."

   Rangga berbalik dan melangkah pergi seraya me-nuntun kudanya.

   Eyang Ganjur masih berdiri memandang kepergian pemuda yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Eyang Ganjur masih menatap kepergian Rangga, sehingga tidak menyadari kalau Paman Waku, Ki Gedag, dan Argayuda sudah berdiri di sampingnya.

   Laki-laki tua itu menarik napas panjang setelah mengetahui kehadiran ketiga orang itu.

   "Apa yang Eyang katakan padanya?"

   Tanya Paman Waku seraya menatap punggung Rangga yang semakin jauh berjalan.

   "Hanya meminta pengertiannya,"

   Sahut Eyang Ganjur tanpa berpaling.

   "Hhh...! Pemuda yang sopan."

   "Eyang tidak menanyakan maksud kedatangannya ke sini?"

   Desak Paman Waku.

   "Dia hanya singgah sebentar. Ah! Sudahlah, Waku. Tidak pantas mencurigai orang yang begitu sopan dan bersedia mengerti tanpa harus dijelaskan lebih banyak."

   "Eyang, sejak kemarin dia ada di sini,"

   Celetuk Argayuda.

   "Argayuda!"

   Sentak Ki Gedag. Tapi Paman Waku sudah menanggapinya dengan serius.

   "Menginap di mana dia, Argayuda?"

   Tanya Paman Waku.

   "Aku tidak tahu. Tapi, dia selalu muncul setiap ada korban jatuh,"

   Sahut Argayuda tidak menghiraukan delikan mata Ki Gedag.

   "Bahkan juga muncul di kuburan, menatap rumah Paman, dan menanyakan...."

   "Argayuda!"

   Sentak Ki Gedag memotong ucapan pemuda itu.

   "Jangan tanggapi kata-kata cucuku, Paman Waku. Argayuda sendiri sedang tegang,"

   Sambung Ki Gedag melihat tatapan tajam Paman Waku.

   Paman Waku semakin tajam menatap laki-laki se-tengah baya itu.

   Sedangkan Argayuda jadi kikuk.

   Argayuda tidak menolak ketika Ki Gedag menariknya dan membawanya pergi.

   Sedangkan Paman Waku kelihatan tidak puas terhadap sikap Ki Gedag.

   "Keterlaluan kau, Argayuda!"

   Rungut Ki Gedag setelah cukup jauh.

   "Aku mengatakan yang sebenarnya, Ki,"

   Bela Argayuda.

   "Itu namanya membuat keruh suasana. Berapa kali kukatakan, jangan banyak bicara di depan Paman Waku. Kalau terjadi apa-apa, kau bersedia bertanggung jawab? Bisa-bisa malah kau sendiri yang dicurigai kalau ternyata pemuda itu tidak bersalah!"

   Dengus Ki Gedag menggerutu menyesali kecerobohan cucunya itu.

   "Tapi, Ki...."

   "Sudah!"

   Bentak Ki Gedag.

   Argayuda langsung diam.

   Mereka terus melangkah pergi tanpa bicara lagi.

   Ki Gedag benar-benar menyesali kelancangan cucunya ini.

   Dia tahu persis watak Paman Waku yang mudah bangkit amarahnya.

   Terlebih lagi, pada saat-saat seperti ini.

   Argayuda memang masih terlalu muda dan tidak bisa berpikir panjang.

   Darah muda yang selalu menuruti kata hati tanpa mengenal kompromi.

   *** Kuda hitam pekat itu melangkah perlahan.

   Ayunan kakinya begitu teratur seperti tahu keinginan majikannya.

   Di punggungnya duduk seorang pemuda berwajah tampan dan berkulit kuning langsat.

   Baju rompi putih yang bagian dadanya terbuka lebar, meriap dipermainkan angin senja.

   Rambutnya hitam panjang tergelung ke atas.

   Sebagian meriap melambai-lambai mengikuti irama derap langkah kaki kuda itu.

   "Berhenti...!"

   Tiba-tiba terdengar bentakan keras.

   Belum lagi hilang suara bentakan itu, mendadak di depan muncul seorang gadis cantik.

   Bajunya putih ketat, dan pedangnya tersampir di punggung.

   Gadis itu berdiri bertolak pinggang sambil menatap tajam.

   Pemuda di atas punggung kuda hitam itu langsung menghentikan langkah kudanya, dan tetap duduk dengan sikap tenang.

   "Nisanak, apa maksudmu menghalangi jalanku?"

   Tanya pemuda itu sopan dan lembut.

   "Jangan berlagak bodoh, Pendekar Rajawali Sakti! Apa maksudmu datang ke Desa Weru!"

   Dengus wanita itu ketus.

   "He...! Kau tahu namaku...?!"

   Pemuda yang berada di punggung kuda hitam itu terkejut, karena wanita itu tahu nama julukannya. Pemuda itu memang Pendekar Rajawali Sakti yang bernama asli Rangga.

   "Hhh! Hanya orang bodoh saja yang tidak tahu siapa dirimu!"

   Kembali wanita itu mendengus.

   "Nisanak, aku tidak kenal dirimu. Dan rasanya di antara kita tidak pernah ada persoalan apa-apa. Kenapa kau menghadang jalanku dengan sikap permu-suhan?"

   Rangga mencoba lembut.

   "Di antara kita memang belum pernah punya persoalan. Aku hanya ingin memberi peringatan saja padamu, Pendekar Rajawali Sakti!"

   Tetap ketus nada suara wanita itu.

   "Peringatan? Peringatan apa, Nisanak? Hm..., kalau boleh tahu, siapa namamu?"

   Rangga masih tetap lembut meskipun wanita itu tetap ketus.

   "Mungkin kau sudah mendengar julukan Bidadari Pencabut Nyawa! Itulah diriku. Dewi Tanjung atau si Bidadari Pencabut Nyawa. Jelas...!?"

   "Hm...,"

   Rangga menggumam pelan.

   Sama sekali belum pernah didengar nama wanita itu.

   Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari punggung kudanya.

   Dilangkahkan kakinya dua tindak ke depan, dan dibiarkan kuda hitamnya melenggang ke tepi, mendekati segerumbul rumput hijau yang subur di bawah pohon kamboja.

   "Kuperingatkan sekali lagi, Pendekar Rajawali Sakti. Tinggalkan segera Desa Weru, atau kau berhadapan denganku!"

   Dingin nada suara Dewi Tanjung.

   "Ha ha ha...!"

   Rangga tidak dapat lagi menahan tawanya.

   Seketika itu juga tawanya meledak mendengar peringatan wanita yang mengaku bernama Dewi Tanjung atau berjuluk Bidadari Pencabut Nyawa.

   Memang satu hari ini sudah dua orang memperingatkannya untuk pergi dari Desa Weru.

   Hatinya benar-benar terasa tergelitik, sehingga tidak bisa menahan tawanya.

   "Diam! Tidak lucu...!"

   Merah padam wajah Dewi Tanjung. Rangga langsung diam, tapi bibirnya tetap me-nyunggingkan senyum menahan tawa. Sedangkan De-wi Tanjung semakin merah wajahnya. Dirasakan kalau Rangga telah meremehkan peringatannya.

   "Aku tidak main-main, Pendekar Rajawali Sakti! Aku tidak ingin melihat mukamu lagi di desa ini!"

   Tegas kata-kata Dewi Tanjung.

   "Baik, aku akan pergi secepatnya. Tapi tolong jelaskan, mengapa kau menginginkan aku pergi dari Desa Weru?"

   "Kau tidak perlu tahu, Kisanak!"

   Dengus Dewi Tanjung ketus.

   "Kalau aku mencari tahu sendiri?"

   "Heh...?!"

   Dewi Tanjung terkejut setengah mati.

   Rangga mengangkat bahunya, kemudian melangkah ringan mendekati kudanya.

   Ditepuk-tepuknya leher kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu.

   Kemudian dia duduk di atas akar pohon yang menyembul dari dalam tanah.

   Sebatang rumput dicabut, kemudian diselipkan di sudut bibirnya.

   Dewi Tanjung semakin geram melihat sikap Pen-dekar Rajawali Sakti itu.

   Dengan ujung jari kakinya dikutiknya sebatang ranting kering, lalu disentilnya ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

   Sentilan yang mengandung pengerahan tenaga dalam itu sungguh luar biasa.

   Ranting kering itu meluruk deras bagai sebatang anak panah lepas dari busur.

   "Uts!"

   Rangga mengegoskan kepalanya sedikit ke samping.

   Ranting kering yang rapuh itu menancap sampai setengahnya di batang pohon di belakang Pendekar Rajawali Sakti.

   Rangga berdecak kagum melihat tenaga dalam yang dimiliki gadis itu.

   Memang boleh juga.

   Ranting kering yang rapuh itu bagai sebatang baja kuat, dan sanggup menembus batang kayu yang cukup besar dan kokoh.

   "Sudahlah, Nini Dewi. Aku tidak ada waktu bermain-main denganmu,"

   Ujar Rangga sengit.

   "Aku tidak minta kau bermain denganku, yang kuminta, enyahlah dari sini!"

   Dengus Dewi Tanjung.

   Rangga bangkit berdiri.

   Sebentar ditatapnya gadis berbaju putih itu.

   Meskipun masih kesal, tapi dia melompat juga ke punggung kudanya.

   Rangga benar-benar tidak ingin berurusan dengan gadis yang begitu galak.

   Dia berdecak dan menghentakkan tali kekang kudanya.

   Dewa Bayu segera melenggang setelah me-ringkik satu kali.

   Dewi Tanjung memandangi kepergian Rangga.

   Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis karena berhasil mengusir Pendekar Rajawali Sakti.

   Bidadari Pencabut Nyawa itu masih berdiri tegak meskipun Rangga sudah jauh, dan menghilang di dalam hutan, tubuhnya baru berbalik setelah bayangan Pendekar Rajawali Sakti itu tidak terlihat lagi.

   Namun baru saja berbalik, mendadak sebuah bayangan melesat.

   "Kau...!?"

   Dewi Tanjung terkesiap begitu melihat jelas bayangan itu.

   Dan belum lagi hilang rasa terkejutnya, bayangan itu sudah kembali melesat menerjangnya.

   Dewi Tanjung langsung melentingkan tubuhnya ke belakang, dan berputaran beberapa kali di udara.

   Namun sosok bayangan itu terus mencecarnya, dan tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk bernapas.

   "Hiyaaat...!"

   Sambil berteriak nyaring, Dewi Tanjung melentingkan tubuhnya ke atas.

   Dengan manis sekali kakinya hinggap di atas dahan pohon yang cukup tinggi.

   Sepasang bola matanya yang bulat bening, membeliak mendapati sesosok tubuh menyeramkan berdiri di bawah pohon itu.

   "Ha ha ha...!"

   Tiba-tiba terdengar tawa menggelegar.

   "Huh!"

   Dewi Tanjung mendengus berat.

   Dewi Tanjung meluruk turun.

   Begitu kakinya menjejak tanah, muncul seorang laki-laki tinggi tegap penuh brewok.

   Laki-laki itu menghampiri seekor harimau sebesar anak kerbau yang tadi sempat menyerang Dewi Tanjung.

   Binatang buas itu mendekam sambil menggerung-gerung perlahan.

   "He he he...! Hebat...! Hebat, kau bisa mengusir Pendekar Rajawali Sakti tanpa mengadu tenaga. He he he...!"

   Laki-laki itu memuji sambil terkekeh.

   "Aku tidak perlu pujianmu, Macan Gunung Sum-bing! Aku datang ke sini untuk membuat perhitungan denganmu!"

   Dengus Dewi Tanjung ketus.

   "Perhitungan...? Ha ha ha...!"

   Laki-laki yang wajahnya penuh brewok itu tertawa terbahak-bahak.

   Perutnya yang sedikit buncit terguncang-guncang.

   Dewi Tanjung menggeram melihat tingkah manusia seperti harimau itu.

   Wajahnya memang hampir menyerupai harimau peliharaannya itu.

   Matanya bulat merah, dan seluruh mukanya hampir tertutup brewok lebat.

   Kuku jari-jari tangannya runcing dan berwarna hitam.

   Lengannya kokoh dan dihiasi bulu tebal.

   Perawakan Macan Gunung Sumbing memang sungguh menyeramkan, membuat siapa saja yang melihatnya bakal merinding ketakutan! "Ghraugh...!"

   Harimau itu menggerung seraya membuka mulutnya lebar-lebar.

   Tampak barisan giginya yang tajam bertaring.

   Seluruh mulutnya berwarna merah darah.

   Tatapan matanya begitu tajam menusuk ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.

   Tapi dia tetap mendekam di samping si Macan Gunung Sumbing.

   "Telah lama kutunggu kesempatan ini, Macan Gu-nung Sumbing! Sekarang saatnya menagih hutang padamu!"

   Dingin sekali nada suara Dewi Tanjung.

   "Dewi Tanjung! Apakah kau sudah punya nyawa rangkap sehingga berani menantangku, heh?! Dengar, bocah! Aku tidak pernah punya hutang nyawa pada siapa pun juga. Kalau aku membunuh, itu karena me-reka patut dibunuh!"

   Keras suara Macan Gunung Sum-bing.

   "Dan aku akan membunuhmu, karena kau juga patut dibunuh!"

   Sambut Dewi Tanjung dingin.

   "Bocah setan! Rupanya kau benar-benar cari mampus, heh?!"

   Geram Macan Gunung Sumbing.

   "Kita lihat, siapa di antara kita yang lebih dahulu ke neraka!"

   Tantang Dewi Tanjung tegas.

   "Phuih! Baru kali ini aku ditantang bocah ingusan!"

   Dengus Macan Gunung Sumbing sinis.

   "Tantanganku yang akan mengirimmu ke neraka, Macan Gunung Sumbing!"

   "Bocah gendeng! Kupatahkan batang lehermu. Hiyaaat...!"

   Mendapat tantangan terbuka itu, Macan Gunung Sumbing tidak bisa lagi menahan luapan amarahnya.

   Cepat sekali tubuhnya melompat sambil menjulurkan tangannya ke depan.

   Kuku-kukunya yang hitam runcing, mengembang siap mengoyak tubuh indah Bidadari Pencabut Nyawa.

   Namun terjangan yang cepat itu manis sekali dielakkan wanita itu.

   Dewi Tanjung menggeser kakinya ke kanan sambil memiringkan tubuhnya sedikit.

   Dan dengan kecepatan kilat, dilayangkan tendangan ke arah perut Macan Gunung Sumbing.

   "Phuah!"

   Macan Gunung Sumbing menyumpah serapah.

   Buru-buru ditarik tubuhnya ke belakang, sehingga tendangan bertenaga dalam cukup tinggi itu luput dari sasaran.

   Laki-laki berwajah mirip harimau itu kembali menyerang ganas.

   Kedua tangannya selalu merentang dan jari-jarinya terbuka lebar.

   Kebutan tangannya begitu cepat dan kuat.

   Angin kebutannya mengandung hawa panas yang menyengat.

   Dewi Tanjung menyadari betul kalau saat tengah berhadapan dengan tokoh sakti yang berkepandaian tinggi dan sukar dicari tandingannya.

   Wanita itu berkelit dan berlompatan menghindari setiap serangan yang datang sambil sesekali mengirimkan serangan balasan.

   Bidadari Pencabut Nyawa itu juga tidak tanggung-tanggung lagi, langsung dipergunakanlah jurus-jurus yang dahsyat dan diandalkan.

   Pertarungan terus berlangsung semakin sengit.

   Ma-sing-masing berusaha untuk merobohkan lawannya.

   Tidak terasa, mereka sudah mengeluarkan sepuluh jurus.

   Namun pertarungan nampaknya masih terus berlangsung.

   Tempat di sekitar pertarungan itu sudah tidak karuan lagi.

   Porak-poranda bagai diterjang amukan dua manusia raksasa.

   Pohon-pohon besar dan kecil bertumbangan.

   Batu-batu pecah berantakan.

   Debu mengepul di udara, menambah pekatnya suasana.

   Namun pertarungan masih saja berlangsung.

   Bahkan semakin sengit.

   "Yeaaah...!"

   Tiba-tiba saja Macan Gunung Sumbing berteriak keras.

   Dan tahu-tahu tubuhnya sudah berputar cepat mengelilingi Dewi Tanjung.

   Sesaat Bidadari Pencabut Nyawa itu jadi kelabakan, karena tidak tahu lagi di mana lawannya berada.

   Yang terlihat hanya bayangan berkelebat cepat mengelilingi tubuhnya.

   Dan belum lagi gadis itu menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu Macan Gunung Sumbing melepaskan satu pukulan keras yang tidak terduga sama sekali.

   "Akh...!"

   Dewi Tanjung memekik keras tertahan.

   Tubuhnya limbung terhuyung-huyung.

   Satu pukulan keras bertenaga dalam sangat tinggi berhasil mendarat di punggungnya.

   Dan selagi tubuhnya terhuyung, kembali Macan Gunung Sumbing melepaskan satu pukulan disertai teriakan menggelegar.

   "Hiyaaa...!"

   "Aaakh...!"

   Pukulan itu tidak bisa dielakkan lagi.

   Dewi Tanjung memekik keras, dan tubuhnya terlontar sejauh beberapa tombak.

   Dua batang pohon langsung hancur berantakan terlanda tubuh ramping gadis itu.

   Namun Dewi Tanjung masih berusaha bangkit berdiri.

   Pukulan Macan Gunung Sumbing yang telah menghantam dadanya, membuatnya jadi sukar bernapas.

   Dan selagi mencoba bangkit berdiri, darah segar termuntahkan dari mulutnya.

   "Ha ha ha...!"

   Macan Gunung Sumbing tertawa terbahak-bahak.

   "Setan...!"

   Dengus Dewi Tanjung menggeram.

   Cepat Bidadari Pencabut Nyawa itu menggerak-ge-rakkan tangannya di depan dada, kemudian mencabut pedangnya.

   Sret...! Pedang berwarna hitam pekat itu telah tergenggam erat di tangan kanan, melintang di depan dada.

   Disekanya darah yang masih tersisa di mulut dengan punggung tangan kiri.

   Sepasang bola matanya menatap tajam penuh kemarahan.

   "Ghraugh...!"

   Tiba-tiba harimau yang sejak tadi mendekam diam, bangkit berdiri sambil menggerung keras.

   "He he he.... Rupanya kau ingin mendapat bagian juga, Belang. Baiklah! Aku serahkan dia untukmu,"

   Ujar Macan Gunung Sumbing terkekeh.

   "Phuih!"

   Dewi Tanjung menyemburkan ludahnya.

   Bidadari Pencabut Nyawa itu menggeser kakinya ke samping beberapa langkah.

   Sedangkan Macan Gunung Sumbing melangkah mundur, memberi kesempatan harimau peliharaannya untuk maju.

   Dari bibirnya yang tipis tertutup brewok, masih terdengar tawa terkekeh.

   Sementara Dewi Tanjung kembali menggeser kakinya.

   Pandangannya tajam tertuju pada binatang buas sebesar anak kerbau itu.

   "Auuum...!"

   Harimau itu mengaum keras.

   Dan belum lagi hilang suara aumannya, binatang buas itu sudah melompat cepat menerkam.

   Dewi Tanjung melompat ke samping sambil membabatkan pedangnya ke tubuh binatang mengerikan itu.

   Tapi sungguh di luar dugaan, ternyata binatang itu mampu berkelit dengan memutar tubuhnya di udara.

   Tebasan Dewi Tanjung hanya mengenai angin.

   Dan secepat itu pula, harimau belang itu berbalik.

   Langsung diterkamnya kembali tubuh ramping itu dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa.

   "Haaait..!"

   Dewi Tanjung melompat ke belakang seraya mengibaskan pedangnya. Tapi harimau itu tetap maju menerjang, dan.... Dug! "Heh...!"

   "Ha ha ha...!"

   Dewi Tanjung terkejut bukan main begitu pedang-nya membabat bagian perut harimau sebesar anak kerbau itu.

   Rasanya seperti menghantam sekarung kapuk saja.

   Pedangnya terpental balik, sedangkan harimau itu tidak mengalami luka sedikit pun.

   Dewi Tanjung bergegas melompat mundur.

   Diperiksa mata pedangnya, ternyata tak ada yang gompal.

   Kemudian, dipandangi tajam-tajam harimau yang menggerung-gerung memamerkan taringnya.

   "Gila! Binatang apa ini...?"

   Dengus Dewi Tanjung.

   "Graugh...!"

   Harimau itu menggeram.

   Binatang itu merendahkan tubuhnya sedikit, dan tiba-tiba melompat hendak menerkam Dewi Tanjung.

   Sesaat, Bidadari Pencabut Nyawa itu terperangah, sehingga tidak sempat lagi menghindar.

   Namun pada saat yang sangat kritis, mendadak sebuah bayangan putih berkelebat menghajar harimau itu.

   "Grrraaaugh...!"

   Harimau itu meraung keras.

   Tubuh binatang itu terpental cukup jauh ke bela-kang, menghantam sebongkah batu hingga hancur berantakan.

   Sebelum ada yang sempat menyadari, bayangan putih itu sudah berkelebat lagi.

   Langsung saja disambarnya tubuh Dewi Tanjung, dan seketika itu juga lenyap tak berbekas.

   "Setan keparat....!"

   Geram Macan Gunung Sumbing begitu tersadar.

   Tapi Dewi Tanjung sudah lenyap, bersama lenyapnya bayangan putih itu.

   Macan Gunung Sumbing menggerutu dan memaki-maki geram.

   Sedangkan harimau belang yang sangat besar itu menggerung-gerung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

   Dia melangkah menghampiri si Macan Gunung Sumbing, lalu mendekam di depan laki-laki berwajah kasar penuh brewok itu.

   Geramannya terdengar lirih, dan kepalanya terkulai rata dengan tanah.

   "Bukan hanya kau yang kecewa, Belang. Huh! Siapa pun orangnya yang berani usil, akan kurobek-robek tubuhnya!"

   Dengus Macan Gunung Sumbing geram.

   "Grrr...!"

   Harimau itu menggerung pelan, seakan menyetujui ucapan majikannya.

   "Ayo, Belang. Masih banyak yang harus dikerjakan,"

   Ajak Macan Gunung Sumbing.

   Harimau itu bangkit berdiri dan melangkah lenggang mengikuti Macan Gunung Sumbing.

   Sepertinya mereka melangkah biasa saja, tapi kecepatannya melebihi orang berlari sekuat tenaga.

   Bahkan sebentar saja sudah lenyap tertelan lebatnya pepohonan di sekitar perbatasan utara Desa Weru.

   Saat itu, tidak berapa jauh dari tempat pertarungan tadi, tampak Dewi Tanjung bergulir jatuh bergelimpangan di tanah.

   Tidak jauh darinya berdiri seorang pemuda berwajah tampan.

   Baju rompi putihnya berkibar-kibar tertiup angin.

   Dewi Tanjung bergegas bangkit berdiri.

   Dikibaskan debu yang melekat di bajunya, kemudian dimasukkan pedangnya kembali ke dalam sarungnya di punggung.

   Tatapannya langsung tertuju pada pemuda tampan yang menolongnya dari maut.

   "Huh! Kau lagi...!"

   Rungut Dewi Tanjung begitu mengenali pemuda itu. Memang dewa penolongnya itu tidak lain dari Rangga si Pendekar Rajawali Sakti.

   "Kenapa kau sampai bentrok dengan Macan Gu-nung Sumbing?"

   Tanya Rangga tidak menghiraukan gerutuan gadis itu.

   "Bukan urusanmu!"

   Dengus Dewi Tanjung seraya melangkah ingin pergi.

   "Hey...! Tunggu...!"

   Rangga melompat, dan tahu-tahu sudah berdiri menghadang.

   "Terima kasih atas pertolonganmu,"

   Ucap Dewi Tanjung ketus.

   "Bukan itu yang kuinginkan,"

   Kata Rangga.

   "O..., jadi kau meminta imbalan?"

   Sinis sekali nada suara Dewi Tanjung.

   Rangga mendengus kesal juga terhadap sikap ketus gadis ini, tapi masih bisa ditahan kekesalannya.

   Dia hanya ingin tahu, kenapa gadis ini bisa bentrok dengan Macan Gunung Sumbing.

   Sementara hampir seluruh penduduk Desa Weru sedang dicekam perasaan takut.

   Dan tidak jarang mereka menyebut-nyebut nama Macan Gunung Sumbing sebagai pelaku utama pembantaian di Desa Weru.

   Bukannya ingin tahu urusan orang lain, tapi Rangga merasa perlu ikut campur.

   Apalagi dia pernah bentrok dengan Macan Gunung Sumbing.

   Rangga tahu betul kalau tokoh sakti itu sukar ditandingi.

   Terutama binatang peliharaannya yang sangat kebal dan kuat luar biasa.

   Sepertinya memang bukan harimau sungguhan.

   Rangga juga sempat mendengar beberapa pembicaraan yang membuatnya harus berpikir keras mencari kebenaran.

   Kalau saja apa yang didengar dari beberapa penduduk Desa Weru itu benar, sudah menjadi kewajibannya untuk menghentikan sepak terjang Macan Gunung Sumbing.

   Dan tadi, Macan Gunung Sumbing hampir menewaskan seorang gadis yang ketus, angkuh, dan keras kepala.

   "Tunggu apa lagi? Imbalan apa yang kau inginkan?"

   Sinis nada suara Dewi Tanjung.

   "Pergilah!"

   Dengus Rangga jadi muak.

   "Ha ha ha...!"

   Dewi Tanjung tertawa terbahak-bahak melihat wajah Pendekar Rajawali Sakti itu jadi bersemu merah.

   Gadis itu memang sengaja membuka sedikit bagian atas dadanya, sehingga tampak sedikit dua bukit kembar yang putih dan mulus.

   Sambil memperdengarkan suara tawanya, gadis itu cepat melangkah pergi.

   Rangga bersungut-sungut sendirian.

   "Dasar...!" *** Dewi Tanjung tampak gelisah. Beberapa kali tubuhnya menggelimpang di atas pembaringan kamar penginapan ini. Sebentar bangkit duduk, kemudian menghenyakkan lagi tubuhnya. Sementara malam terus beranjak semakin larut. Keheningan menyelimuti seluruh Desa Weru ini. Desahan panjang terdengar diiringi bangkitnya tubuh ramping dari pembaringan.

   "Huh! Kenapa dia tidak mau hilang dari bayangan-ku...?"

   Gerutu Dewi Tanjung.

   Gadis itu melangkah menghampiri jendela yang masih terbuka lebar.

   Sebentar memandang ke luar, tapi hanya kegelapan yang terlihat.

   Perlahan tangannya menutup jendela itu, lalu berbalik seraya menghembuskan napas panjang.

   Terasa berat hembusan napasnya.

   Kembali kakinya terayun menghampiri pembaringan yang beralas kain merah muda, lalu duduk di tepinya.

   "Rangga.... Hhh...!"

   Dewi Tanjung mendesah pelan menyebut nama Pendekar Rajawali Sakti.

   Sejak peristiwa siang tadi, Dewi Tanjung menjadi gelisah.

   Entah kenapa, bayang-bayang wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti selalu menghantui pelupuk matanya.

   Sukar sekali untuk mengenyahkannya.

   Mes-kipun pertemuan yang tidak bersuasana baik, tapi ketampanan dan kegagahan Pendekar Rajawali Sakti sempat juga menggetarkan hati gadis itu.

   Dan Dewi Tanjung tidak mampu mengelaknya meskipun sudah berusaha keras mengusir bayang-bayang itu dari pelupuk matanya.

   Terbayang kembali ketika Rangga memeluk, dan membawanya kabur dari hadapan harimau besar peliharaan Macan Gunung Sumbing.

   Entah kenapa, saat itu Dewi Tanjung tidak berusaha berontak.

   Bahkan hatinya begitu kesal saat Rangga melepaskannya, sehingga tubuhnya jatuh bergulingan di tanah.

   Ada perasaan tentram ketika tubuhnya dipeluk pemuda pendekar itu.

   "Huh! Kenapa aku memikirkannya? Apa sih kelebihannya? Banyak pemuda yang lebih tampan dan lebih gagah darinya...!"

   Dewi Tanjung menggumam sendiri membantah segala bayangan di dalam hatinya.

   Dewi Tanjung jadi tersenyum begitu membayangkan wajah Rangga bersemu merah ketika bagian atas dadanya terbuka sedikit.

   Dan Pendekar Rajawali Sakti langsung menyuruhnya pergi.

   Senyum di bibir mungil yang selalu merah menantang itu, mendadak sirna.

   Dewi Tanjung mendongakkan kepalanya ke atas.

   Telinganya yang setajam mata pisau mendengar suara halus di atas atap kamar penginapannya.

   Walaupun suara itu langsung menghilang, tapi Dewi Tanjung masih juga mendengar tarikan napas yang demikian halus, dan hampir tidak terdengar.

   "Hm.. Ada tamu rupanya...,"

   Gumam Dewi Tanjung dalam hati. Dewi Tanjung melompat ke sudut dekat jendela ketika atap kamarnya perlahan-lahan terbuka. Gadis itu melirik pembaringan yang kosong, kemudian menatap atap yang semakin terbuka lebar. Lalu....

   "Hup! Hiyaaa...!"

   Secepat kilat gadis itu melentingkan tubuhnya ke atas, menembus atap yang sudah cukup lebar terbuka, tubuh ramping itu langsung menerobos keluar, dan tahu-tahu sudah hinggap di atas atap.

   Tampak seorang laki-laki muda di atas atap terkejut setengah mati.

   Buru-buru laki-laki itu melompat turun.

   Tapi Dewi Tanjung lebih cepat lagi bertindak.

   Dia langsung melesat, lalu mengirimkan satu pukulan bertenaga dalam penuh.

   Dug! "Ughk...!"

   Laki-laki itu mengeluh pendek.

   Seketika tubuhnya terjerembab ke tanah, namun masih mampu bangkit berdiri.

   Seleret cahaya keperakan terlihat begitu tangannya bergerak.

   Ternyata laki-laki muda yang hanya terlihat wajahnya itu mencabut sebilah golok.

   Dewi Tanjung tersenyum sinis, berdiri tegak sambil bertolak pinggang.

   "Maling kecil, ingin berlagak di depanku. Phuih!"

   Dengus Dewi Tanjung mengejek.

   "Aku bukan maling, perusuh keparat!"

   Bentak laki-laki muda yang ternyata adalah Argayuda.

   "Perusuh...? Kau bilang aku perusuh? Ha ha ha...!"

   Dewi Tanjung tertawa tergelak.

   "Orang lain boleh tidak peduli dan takut padamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu membantai seluruh penduduk Desa Weru seenak udel!"

   Geram Argayuda. Dewi Tanjung terkejut. Tawanya berhenti seketika. Ditatapnya tajam-tajam wajah Argayuda yang sudah menggeser kakinya dengan golok melintang di depan dada.

   "Dengar, bocah edan! Aku tak pernah membantai orang-orang di sini. Jelas ini perbuatan Macan Gunung Sumbing! Sebagian besar penduduk di sini bisa mampus di tangannya! Kau terlalu gegabah menuduh sembarangan tanpa bukti!"

   Tegas kata-kata Dewi Tanjung.

   "Heh! Tidak semudah itu mengelabuiku, iblis betina! Kau pikir aku tidak tahu perbuatanmu yang keji itu? Kau kulihat keluar dari rumah korban, lalu kuikuti sampai ke sini!"

   Dengus Argayuda dingin.

   "Korban...?!"

   Dewi Tanjung kelihatan terkejut.

   "Jangan berlagak bodoh, iblis! Kau baru saja membantai satu keluarga. Hm..., mana binatang peliharaanmu itu? Keluarkan sekalian, biar kukirim ke neraka bersamamu!"

   Jelas raut wajah Dewi Tanjung terlihat sangat terkejut.

   Ternyata malam ini kembali terjadi pembantaian serupa pada satu keluarga.

   Dan Argayuda melihat, dan mengikutinya sampai ke sini.

   Apakah orang yang melakukan semua itu benar-benar Dewi Tanjung? Atau ada orang lain yang juga menginap di rumah penginapan ini? Dan belum lagi rasa terkejut Dewi Tanjung hilang, Argayuda sudah melompat cepat sambil mengibaskan goloknya ke arah leher.

   "Mampus kau, Iblis! Hiyaaa...!"

   "Uts!"

   Dewi Tanjung cepat merundukkan kepalanya.

   Satu desingan keras terdengar melewati atas kepala gadis itu.

   Dan kembali Argayuda memutar goloknya menyimpang turun mengarah dada.

   Dewi Tanjung bergegas melompat mundur, tapi Argayuda tidak memberi kesempatan lagi.

   Dicecarnya wanita itu dengan kebutan golok ke kiri dan ke kanan.

   Dewi Tanjung terpaksa berjumpalitan berputaran menghindari kibasan golok yang beruntun itu.

   "Hup! Hiyaaa...!"

   Sambil berteriak keras, Dewi Tanjung melentingkan tubuhnya ke atas ketika satu babatan golok mengarah ke kakinya.

   Dua kali tubuhnya berputar di udara, lalu cepat meluruk turun, tepat di belakang Argayuda.

   Dewi Tanjung mengibaskan tangannya, langsung menghantam punggung pemuda itu.

   "Akh...!"

   Argayuda terpekik tertahan.

   Pemuda itu tersuruk jatuh mencium tanah.

   Dan belum lagi mampu berdiri, Dewi Tanjung sudah melompat cepat.

   Kakinya menyambar pergelangan tangan yang memegang golok.

   Kembali Argayuda memekik keras.

   Goloknya terlempar jauh, dan menancap di pohon.

   Sebelah kaki Dewi Tanjung langsung menginjak dada pemuda itu.

   "Ugh!"

   Argayuda mengeluh seraya meringis menahan sakit pada dadanya.

   Injakan kaki Bidadari Pencabut Nyawa itu demikian keras, sehingga membuat Argayuda jadi tersengal napasnya.

   Dadanya juga terasa nyeri, seolah-olah tulang-tulang dadanya remuk.

   Bahkan Dewi Tanjung semakin menekan kuat saat Argayuda mencoba menggelinjang berusaha melepaskan diri.

   "Punya kepandaian mentah saja coba-coba menantangku, hih!"

   Dengus Dewi Tanjung seraya mendupak tubuh Argayuda.

   Pemuda itu bergelimpangan beberapa tombak jauhnya.

   Dia berusaha bangkit, tapi dadanya terasa sesak sekali.

   Argayuda hanya mampu duduk dan bernapas tersengal, namun sinar matanya bersorot tajam penuh kebencian pada gadis cantik yang mempecundanginya.

   Sedangkan Dewi Tanjung hanya berdiri tegak, lalu berbalik.

   Gadis itu melesat cepat ke atas atap, dan menghilang di sana.

   *** Ki Gedag begitu terkejut saat melihat Argayuda pulang.

   Tubuhnya limbung, kotor, dan mulut berdarah.

   Buru-buru laki-laki tua itu menyongsong.

   Dipapahnya pemuda itu dan dibawanya masuk ke dalam.

   Argayuda menurut saja saat didudukkan di kursi.

   Ki Gedag segera membersihkan darah di mulut Argayuda dengan kain basah.

   "Ada apa? Apa yang terjadi denganmu, Argayuda?"

   Tanya Ki Gedag seraya memeriksa tubuh cucunya ini.

   "Dia menyerangku, Ki,"

   Sahut Argayuda sambil meringis.

   "Dia.... Dia siapa?"

   Desak Ki Gedag.

   "Iblis pembantai itu."

   Ki Gedag terhenyak mendengar jawaban yang tidak diduga-duganya itu.

   Dipandanginya Argayuda dalam-dalam, seakan-akan hendak mencari kebenaran pada jawaban yang mengejutkan itu.

   Ki Gedag menoleh ketika mendengar langkah kaki memasuki ruangan depan rumahnya.

   Tampak Paman Waku dan Eyang Ganjur mendekati.

   Mereka datang dari ruangan dalam.

   Argayuda terkejut karena tidak menyangka kalau ada tamu di rumah kakeknya ini.

   "Bagaimana kejadiannya, Argayuda?"

   Tanya Paman Waku langsung.

   Argayuda memandang Ki Gedag yang hanya meng-angguk saja.

   Rupanya Paman Waku dan Eyang Ganjur sudah mendengar pembicaraan mereka tadi dari da-lam.

   Argayuda menarik napas panjang, lalu segera menceritakan pengalamannya malam ini.

   Kejadiannya memang berawal dari rasa penasarannya.

   Kebetulan saat itu dia berada di depan rumah salah satu keluarga Paman Waku.

   Dari situ terdengar raungan keras yang disusul jeritan melengking saling susul.

   Argayuda menunggu beberapa saat, kemudian melihat dua bayangan berkelebat keluar dari dalam rumah itu.

   Paman Waku diam tertunduk.

   Eyang Ganjur me-narik kursi dan duduk di sebelah Argayuda.

   Sedangkan Ki Gedag hanya diam dengan kepala tertunduk.

   Argayuda kembali melanjutkan ceritanya.

   Waktu itu dibuntutinya kedua makhluk tadi sampai hilang di penginapan Ki Raga.

   Dia mengintai penginapan itu sesaat, lalu melihat salah satu kamar penginapan masih terang.

   Dicobanya masuk dari atap, tapi pemilik penginapan itu mengetahuinya.

   Maka terjadilah pertarungan.

   Argayuda menghentikan ceritanya.

   Dipandangi wajah-wajah yang tampak menegang penuh keseriusan.

   "Maafkan aku, Paman. Aku hanya ingin...,"

   Ucap Argayuda di akhir ceritanya.

   "Sudahlah, Argayuda. Kuhargai keberanianmu. Tapi aku minta jangan diulangi lagi. Terlalu berbahaya bagi dirimu sendiri,"

   Tegas Paman Waku pelan.

   "Argayuda, kau lihat jelas wajahnya?"

   Tanya Eyang Ganjur.

   "Tentu. Dia seorang wanita yang masih muda dan cantik. Memakai baju putih, dan pedangnya tersampir di punggung,"

   Sahut Argayuda.

   "Wanita...,"

   Desis Paman Waku lirih.

   Eyang Ganjur menatap cucunya itu, kemudian beralih pada Argayuda.

   Pemuda ini nampak kebingungan melihat perubahan wajah Paman Waku saat mendengar ciri-ciri orang yang tadi bertarung dengannya, dan dicurigai sebagai pelaku pembantaian sadis di desa itu.

   Tampak kepala Paman Waku menggeleng-geleng beberapa kali.

   Terdengar tarikan napas panjang dan berat.

   "Ada apa, Paman?"

   Tanya Argayuda kebingungan.

   "Hhh...!"

   Paman Waku menarik napas panjang.

   "Benarkah dia seorang wanita, Argayuda?"

   Paman Waku malah bertanya.

   "Benar, Paman,"

   Sahut Argayuda mantap. Kepala Paman Waku menggeleng-geleng beberapa kali. Kakinya melangkah mendekati jendela. Sambil ber-topang di sana, matanya memandang lurus ke depan. Tubuhnya lalu berbalik seraya menghembuskan napas panjang.

   "Dugaan kita selama ini ternyata keliru, Eyang,"

   Ujar Paman Waku disertai desahan napas panjang.

   "Kau tahu siapa wanita itu, Waku?"

   Tanya Eyang Ganjur.

   "Entahlah! Aku memang tidak mengenalnya. Tapi apa maksudnya membantai keluarga kita...?"

   Paman Waku seperti bertanya pada dirinya sendiri Tidak ada yang membuka suara sedikit pun.

   Ma-sing-masing sibuk dengan pikirannya.

   Pertanyaan Paman Waku masih menggantung.

   Di samping itu, mereka jadi khawatir karena sudah tiga keluarga yang terbantai sampai malam itu.

   Tidak ada yang hidup dari ketiga keluarga itu.

   Semuanya tewas mengerikan.

   Tubuh terpotong, atau tercabik.

   Bahkan ada beberapa yang hilang sebagian tubuhnya.

   Mungkinkah ini perbuatan Macan Gunung Sumbing atau si Bidadari Pencabut Nyawa? *** Desa Weru semakin dicekam perasaan takut.

   Me-reka kembali digemparkan oleh terbantainya satu keluarga semalam.

   Tak ada lagi yang berkomentar.

   Semuanya diliputi perasaan cemas dan kekhawatiran yang dalam.

   Setiap malam satu keluarga terbantai tanpa ada sisa seorang pun.

   Segala bentuk dugaan dan cerita-cerita mengerikan bergema dari setiap mulut.

   Namun semua itu terlukiskan dari perasaan takut yang amat sangat.

   Jauh di perbatasan Desa Weru sebelah barat, tampak Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk bersimpuh menyatukan jiwa dan raga pada alam semesta.

   Tidak jauh di sampingnya, seekor kuda hitam asyik merumput.

   Seakan-akan tidak peduli terhadap majikannya yang sedang bersemadi.

   Tampak seorang wanita berbaju putih berlari cepat menembus semak belukar.

   "Hup...!"

   Rangga bergegas melompat, langsung menghadang gadis yang ternyata adalah Dewi Tanjung.

   Gadis itu terkejut, dan langsung berlindung di balik punggung Pendekar Rajawali Sakti.

   Napasnya tersengal tidak teratur.

   Bajunya tampak kusut dan koyak di beberapa bagian perut dan punggung.

   Dari sudut bibirnya mengalir darah.

   "Ada apa?"

   Tanya Rangga.

   "Mereka..., mereka hendak membunuhku. Mereka masih mengejarku...,"

   Sahut Dewi Tanjung masih terengah.

   Rangga memalingkan mukanya ke arah datangnya Dewi Tanjung tadi.

   Terdengar suara-suara kaki yang berian cepat dalam jumlah banyak, disertai suara hiruk-pikuk.

   Sebentar Rangga memandang berkeliling, kemudian menarik tangan Dewi Tanjung.

   Seketika tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu melesat ke udara sambil menarik tangan Dewi Tanjung.

   Kaki mereka hinggap di atas dahan pohon yang cukup tinggi dan rimbun.

   Rangga berdecak perlahan yang disertai pe-ngerahan tenaga dalam, dan disalurkan melalui suara.

   Kuda hitam yang sedang merumput itu meringkik keras, lalu berlari menjauh.

   Tidak berapa lama kemudian muncul beberapa orang dari dalam semak belukar.

   Mereka terus bergerak memasuki hutan.

   Tampak di antara sekitar tiga puluh orang bersenjata golok dan tombak itu terlihat Eyang Ganjur, Argayuda, Ki Gedag, dan Paman Waku.

   Ternyata, di situ juga ada seorang laki-laki setengah baya yang mengenakan jubah hijau tua.

   Tangannya menggenggam tombak bermata yang memiliki keluk tiga seperti keris.

   Mereka terus bergerak menjauh, tapi tidak berapa lama kemudian kembali lagi.

   Dari atas pohon, Rangga mengamati semua itu.

   Tubuhnya baru meluruk turun setelah orang-orang tadi tidak terlihat lagi, sudah jauh kembali ke Desa Weru.

   Pendekar Rajawali Sakti itu segera melepaskan cekalannya pada tangan Dewi Tanjung begitu kakinya mendarat di tanah.

   Sedangkan kuda hitam itu kembali muncul, dan langsung menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.

   "Kenapa mereka mengejarmu?"

   Tanya Rangga. Dewi Tanjung tidak langsung menjawab. Dibersih-kan debu dan darah yang melekat di tubuhnya. Bajunya yang sobek segera dibenahi, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan sebagian kulit tubuhnya yang putih mulus.

   "Kau tanya apa tadi...?"

   Dewi Tanjung baru membuka suara setelah dirasa dirinya sedikit rapi.

   "Kadal!"

   Rungut Rangga seraya menghampiri Dewa Bayu, lalu menepuk-nepuk leher kuda hitam itu.

   "Jangan marah dulu, Kakang...,"

   Rajuk Dewi Tanjung seraya memberikan senyuman yang termanis dimiliki.

   "Kakang...?!"

   Rangga tersentak kaget. Seketika wajahnya bersemu merah mendengar sebutan itu.

   "Tidak bolehkah aku memanggilmu begitu?"

   Dewi Tanjung malah semakin melebarkan senyumnya.

   "Ka-lau tidak boleh, ya tidak apa-apa. Tapi..., terima kasih kau telah menolongku. Sudah dua kali, ya...?"

   "Kampret! Masih bisa bercanda juga...!"

   Rungut Rangga dalam hati. Tapi di balik itu, Rangga juga heran akan perubahan sikap Dewi Tanjung. Kemarin begitu ketus, galak, dan keras kepala. Tapi sekarang sungguh jauh berbeda! Bahkan dalam keadaan nyawa terancam masih juga bisa bergurau.

   "Hhh.... Rupanya kau masih marah tentang keja-dian kemarin. Aku minta maaf,"

   Ujar Dewi Tanjung melihat Rangga memberengut saja tidak segera bicara.

   "Untuk apa?"

   Pelan suara Rangga, seakan enggan berbicara.

   "Mungkin aku terlalu angkuh, keras kepala, dan cepat menuduh buruk pada setiap orang. Aku sadar kalau tidak bisa hidup sendiri di dunia yang kejam ini. Aku perlu seseorang yang bisa mengatasi segala kesu-litanku...,"

   Dewi Tanjung mengangkat bahunya.

   "Yah....Saat kesadaran itu muncul, mereka malah hendak membunuhku, mengeroyokku, bahkan tidak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan persoalan sebenarnya. Aku dituduh telah membantai beberapa keluarga secara keji. Padahal aku tahu siapa yang berbuat semua itu."

   "Siapa?"

   Tanya Rangga cepat "Macan Gunung Sumbing,"

   Sahut Dewi Tanjung.

   "Dialah yang menjadi biang keladinya. Bukan hanya di Desa Weru ini, tapi juga di desa-desa lain sebelumnya. Tidak terhitung lagi, berapa orang yang menjadi korban kebiadabannya."

   "Dan kau memburunya untuk menghentikan per-buatannya?"

   "Bukan hanya itu."

   "O..., lantas?"

   Dewi Tanjung diam sesaat.

   Ditariknya napas panjang-panjang.

   Wajahnya berubah mendung seketika.

   Rangga mendekati gadis itu dan memegang pundaknya.

   Dibawanya Dewi Tanjung duduk di bawah pohon agar terlindung dari sengatan matahari.

   Raut wajah gadis itu masih terlihat mendung, seperti ada satu kenangan pahit yang tiba-tiba melintas dalam benaknya.

   "Maaf, seharusnya aku tidak menyinggung masalah pribadimu,"

   Ujar Rangga pelan.

   "Tidak apa-apa. Kau memang harus tahu masalahnya. Aku sadar betul kalau kemampuanku belum apa-apa untuk menghadapi Macan Gunung Sumbing. Modalku hanya nekad. Tapi kematian orang tua dan saudara-saudaraku harus dibalas,"

   Sebentar Dewi Tanjung terdiam. Kembali ditarik napas panjang, seakan-akan ingin dilonggarkan rongga dadanya.

   "Peristiwa itu terjadi kira-kira sebulan yang lalu. Waktu itu aku masih berada di padepokan milik kakekku. Aku tidak tahu lagi, apa yang harus kulakukan selain dendam dan ingin membunuh si keparat Macan Gunung Sumbing itu!"

   Rangga diam sambil terangguk-angguk.

   Baru dimengerti, mengapa gadis ini bersikap aneh, keras kepala, dan angkuh.

   Rupanya di dalam hatinya menyimpan bara api dendam yang luar biasa.

   Dendam yang sulit dipadamkan sampai kapan pun, sebelum terlaksana niatnya! Tapi sekarang persoalannya menjadi semakin rumit.

   Semua orang sudah menuduh, Dewi Tanjung-lah yang melakukan semua pembantaian keji itu.

   Memang tidak mudah untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya, kecuali Macan Gunung Sumbing sendiri yang mengakui.

   Itu pun kalau bisa bertemu, atau paling tidak memergokinya saat beraksi.

   Tapi tidak mudah untuk melaksanakannya.

   Sedangkan Rangga sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya Macan Gunung Sumbing melakukan pembantaian keji itu.

   Dan lagi memang tidak ada yang tahu, siapa korban-korban berikutnya.

   "Aku akan membantumu, Dewi Tanjung. Bukan karena aku punya persoalan dengan Macan Gunung Sumbing. Tapi yang jelas, aku tidak bisa melihat kekejaman berlangsung di depan mataku,"

   Kata Rangga berjanji.

   "Aku percaya, Kakang. Eyang Guru sering bercerita tentang dirimu. Itu sebabnya kau langsung kukenali saat pertama kali bertemu. Juga ketika di kedai itu. Aku pun sudah bisa mengenalimu. Bahkan si keparat itu juga ada di sana,"

   Sahut Dewi Tanjung mulai cerah kembali wajahnya. Gadis ini memang selalu periang, meski dalam keadaan yang teramat sulit sekalipun.

   "Kenapa waktu itu tidak bertindak?"

   Tanya Rangga ingin tahu.

   "Aku tidak ingin membuat keributan. Yang ku-inginkan hanya pertarungan yang adil antara aku de-ngan dia saja."

   Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya.

   Dalam hatinya dikagumi juga keberanian dan sifat Dewi Tanjung yang satria itu.

   Tapi sayangnya, semua itu tidak didukung oleh kemampuan ilmu olah kanuragan.

   Dan Rangga sendiri belum yakin, apakah mampu mengatasi semuanya itu.

   Dia memang sudah pernah bentrok satu kali dengan si Macan Gunung Sumbing itu.

   Waktu itu Pendekar Rajawali Sakti memang sudah bisa mengukur, sampai di mana tingkat kepandaiannya.

   *** Malam itu udara terasa pekat sekali.

   Awan hitam bergulung-gulung di angkasa.

   Udara dingin terbawa angin yang berhembus kencang terasa begitu me-nusuk.

   Namun tidak ada tanda-tanda kalau malam itu akan terguyur hujan.

   Desa Weru tampak sunyi senyap.

   Dan malam itu tidak seperti pada malam-malam sebelumnya.

   Di beberapa tempat terlihat sekelompok orang bersenjata golok berjaga-jaga.

   Mereka adalah murid Padepokan Gunung Opak.

   Paman Waku memang sudah mengirim utusan ke Gunung Opak.

   Dalam suratnya, diceritakan semua kejadian di desa itu pada kakaknya.

   Bakor sendiri langsung datang bersama tiga puluh orang murid utamanya, karena tahu siapa yang bakal dihadapi.

   Seorang tokoh rimba persilatan yang sangat tangguh dan sukar dicari tandingannya! Tokoh yang berhati iblis, dan tidak segan-segan melenyapkan nyawa lawan, atau siapa saja yang dikehendaki.

   Tapi di tempat lain, tepatnya tidak jauh dari rumah penginapan milik Ki Raga, terlihat Pendekar Rajawali Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa tengah mengawasi rumah penginapan itu dari tempat yang cukup tersembunyi.

   Di rumah itu Bidadari Pencabut Nyawa menginap beberapa hari.

   Dan di situ pula nyawanya hampir melayang akibat kesalahpahaman.

   "Aku ragu-ragu dengan dugaanmu, Dewi Tanjung,"

   Kata Rangga setengah berbisik.

   "Mungkin bisa juga salah, Kakang. Tapi aku yakin betul kalau Macan Gunung Sumbing menginap di situ juga,"

   Sahut Dewi Tanjung.

   "Bagaimana kau bisa yakin?"

   "Tidak ada rumah penginapan lain di desa ini, selain rumah itu."

   "Kau pernah melihat dia di sana?"

   "Belum. Tapi dari kejadian siang tadi, keyakinanku semakin bertambah. Mana mungkin mereka langsung menuduhku sebagai pelaku, dan tahu kalau aku menginap di sana? Sedangkan malamnya ada seseorang yang hendak membunuhku secara licik."

   Rangga terdiam. Pandangannya tidak berkedip ke arah rumah penginapan di depan itu. Keningnya agak sedikit berkerut, pertanda tengah berpikir keras.

   "Kau tunggu saja di sini,"

   Kata Rangga seraya beringsut ke luar dari tempat persembunyiannya.

   "Mau ke mana?"

   Tanya Dewi Tanjung.

   "Sebentar aku kembali. Kau jangan ke mana-mana,"

   Sahut Rangga.

   Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat cepat ke arah hutan.

   Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sehingga dalam waktu singkat saja sudah jauh di luar perbatasan Desa Weru.

   Rangga berdiri tegak di tengah-tengah padang rumput yang cukup terbuka lebar.

   "Suiiit...!"

   Rangga bersiul nyaring dan panjang dengan nada aneh tanpa irama yang pasti.

   Siulan itu menggema, terpantul oleh bukit dan gunung, terbawa angin, me-rambat sampai jauh.

   Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu menunggu, kemudian bersiul kembali lebih panjang.

   Agak lama juga Rangga menatap langit yang kelam.

   Tapi sesaat kemudian bibirnya menyung-gingkan senyuman.

   Jauh di angkasa, tampak sebuah titik hitam keperakan.

   Titik itu semakin lama semakin membesar, dan terlihat jelas bentuknya.

   "Khraghk...!"

   "Rajawali, ke sini...!"

   Seru Rangga keras. Titik yang ternyata adalah burung rajawali raksasa, langsung menukik dan mendarat tepat di depan Pendekar Rajawali Sakti. Rangga langsung melompat naik ke punggung rajawali raksasa itu. Sebentar ditepuk-tepuknya leher burung itu.

   "Khraghk...!"

   "Aku mencari seseorang, Rajawali Putih. Tapi aku tidak tahu, di mana dia sekarang. Tapi yang jelas masih berada di Desa Weru. Kita terbang rendah di atas desa itu, tapi jangan sampai mengejutkan penduduk,"

   Perintah Rangga.

   "Khraghkkk...!"

   "Iya, kau juga jangan bersuara."

   "Khraghk...!"

   Rajawali Putih langsung melesat membumbung ke angkasa.

   Sebentar saja sudah melayang cukup rendah di atas puncak pepohonan.

   Burung raksasa itu terus menuju Desa Weru yang ditunjuk Rangga.

   Malam yang pekat ini memang membantu Rajawali Putih untuk tidak terlihat penduduk, meskipun terbang cukup rendah.

   Dia berputar-putar begitu sampai di Desa Weru.

   Dari atas, Rangga dapat melihat lebih jelas.

   Bahkan bibirnya tersenyum begitu mendapati Dewi Tanjung masih berada di tempatnya semula, tanpa bergerak sedikit pun.

   Pendekar Rajawali Sakti itu juga bisa mengetahui tempat-tempat yang dijaga murid-murid Padepokan Gunung Opak.

   "Hhh...! Jangan-jangan dia tahu kalau malam ini ada penjagaan yang cukup ketat juga,"

   Gumam Rangga dalam hati.

   Sudah cukup lama juga Rangga berada di angkasa bersama Rajawali Putih, tapi tidak ada tanda-tanda sedikit pun kalau Macan Gunung Sumbing bakal keluar malam ini.


Pendekar Naga Putih Dedemit Bukit Iblis Welas Asih Tak Terkalahkan Karya M mep TWL Pendekar Mabuk Pusaka Tuak Setan

Cari Blog Ini