Ceritasilat Novel Online

Siluman Muka Kodok 1


Pendekar Rajawali Sakti Siluman Muka Kodok Bagian 1


SILUMAN MUKA KODOK Oleh Teguh Suprianto Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta Penyunting.

   Puji S.

   Hak cipta pada Penerbit Dilarang mengcopy atau memperbanyak seba-gian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Teguh Suprianto Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode.

   Siluman Muka Kodok
http.//duniaabukeisel.blogspot.com
https.//www.facebook.com/pages/D unia-Abu-Keisel/511652568860978 Hari masih terlalu pagi.

   Matahari juga belum me-nampakkan diri.

   Hanya bias cahayanya saja yang mencuat di balik puncak gunung sebelah timur.

   Na-mun begitu, suasana alam sudah diramaikan oleh ki-cauan burung yang mencari makan, setelah semala-man harus menahan lapar.

   Di kaki Gunung Lanjaran, terlihat serombongan orang berkuda menyusuri jalan setapak.

   Dari pakaian dan umbul-umbul yang dibawa oleh seorang penung-gang kuda paling depan, sudah bisa dipastikan kalau mereka adalah sepasukan prajurit sebuah kerajaan.

   Sebuah lambang yang tertera pada umbul-umbul, memperjelas kalau mereka dari Kerajaan Ringgading, yang terletak di daerah Selatan.

   Entah apa tujuan mereka sehingga terlihat berada di kaki Gunung Lanjaran yang berada di daerah Utara ini.

   "Hooop...!"

   Tiba-tiba saja, seorang prajurit yang berkuda pal-ing depan mengangkat tinggi-tinggi ke atas kepala, bendera umbul-umbul yang dibawanya sambil berteriak keras.

   Suaranya sampai terdengar ke barisan paling belakang.

   Maka seketika itu juga, rombongan berkuda itu berhenti bergerak.

   Tampak seorang penung-gang kuda berpakaian patih, memacu cepat kudanya dari bagian tengah menuju ke depan.

   Kemudian prajurit pembawa lambang kerajaan, memberi hormat begi-tu patih itu sudah berada dekat di sebelah kanannya.

   "Ada apa, Prajurit?"

   Tanya patih itu dengan suara besar dan berwibawa.

   "Ampun, Gusti Patih Gandaraka. Sekilas tadi, hamba melihat sebuah bayangan berkelebat memotong jalan di depan,"

   Sahut prajurit itu dengan sikap hormat "Di mana?"

   Tanya Patih Gandaraka sambil mengarahkan pandangannya ke depan.

   "Se...."

   Belum juga prajurit yang masih muda itu bisa meneruskan jawabannya, tiba-tiba saja sebatang anak panah meluncur begitu cepat bagai kilat menuju ke arahnya.

   Begitu cepatnya melesat, sehingga prajurit pembawa lambang kerajaan itu tidak sempat lagi menghindari.

   Dan....

   Crab! "Aaa...!"

   "Siaga...!"

   Teriak Patih Gandaraka dengan suara keras menggelegar.

   Sret! Cring! Semua prajurit langsung mencabut senjata mas-ing-masing.

   Sementara seorang prajurit pembawa um-bul-umbul lambang kerajaan, sudah menggeletak te-was di samping kudanya.

   Sebatang anak panah tam-pak menembus lehernya.

   Darah mengucur deras dari lubang di leher yang tertembus anak panah.

   Sementara, Patih Gandaraka sudah melompat tu-run dari punggung kudanya, diikuti sekitar dua puluh orang prajurit berpangkat punggawa.

   Dan mereka semua sudah menghunus pedang masing-masing.

   Seketika keadaan menjadi sunyi sekali, seperti berada di tengah-tengah hutan lebat dan tidak ber-penghuni.

   Hanya desir angin saja yang terdengar, mempermainkan dedaunan yang saling bergesekan.

   Patih Gandaraka segera mengedarkan pandangan ke sekeliling.

   Sedikit pun tak terlihat tanda-tanda ada orang bersembunyi di balik lebatnya pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di kaki Gunung Lanjaran ini.

   Namun mendadak saja....

   "Hiyaaa...!"

   "Yeaaah...!"

   Srak! Dari balik pepohonan dan Semak belukar seketi-ka bermunculan orang-orang berpakaian seragam ser-ba hitam, dengan kepala terselubung kain hitam pula.

   Hanya bagian mata dan mulut saja yang terlihat, karena adanya dua lubang di bagian mata dan satu lubang pada bagian mulut.

   Begitu cepat kejadian itu.

   Sehingga dalam waktu sebentar saja, prajurit-prajurit Kerajaan Ringgading sudah terkepung oleh sekitar seratus orang berpakaian serba hitam itu.

   Bahkan para pengepung sudah menggenggam pedang terhunus yang berkilatan di depan dada.

   Saat itu, Patih Gandaraka menarik kakinya ke belakang, mendekati para prajuritnya yang sejak tadi sudah bersiaga penuh.

   Pandangan mata patih itu tertuju lurus pada se-seorang yang juga berbaju hitam gelap dan ketat, walaupun sedikit berbeda dari yang lain.

   Pada bagian tengah dadanya, terdapat sebuah sulaman benang emas, bergambar sebuah lingkaran dan gambar bin-tang di bagian tengahnya.

   Senjatanya juga bukan pedang seperti yang lain, tapi sebatang tongkat berwarna putih keperakan sepanjang lengan yang tergenggam di tangan kanannya.

   Pada kedua ujung tongkat itu berbentuk bintang bersegi lima yang ujung-ujungnya sangat runcing.

   Patih Gandaraka menduga kalau orang itu adalah pemimpinnya.

   Ini bisa dilihat dari senjata dan pakaiannya yang berbeda dengan yang lain.

   Kini orang itu melangkah beberapa tindak, mendekati Patih Gandaraka yang berdiri di depan para prajuritnya.

   "Kau pemimpinnya...?"

   Terdengar sangat berat suara orang bertongkat putih keperakan yang kedua ujungnya berbentuk bintang bersegi lima itu, seraya menunjuk Patih Gandaraka dengan satu ujung tong-katnya.

   "Benar,"

   Sahut Patih Gandaraka, tegas.

   "Aku Patih Gandaraka dari Kerajaan Ringgading. Dan kau sendiri, apakah juga pemimpin mereka semua?"

   "Tidak salah. Akulah pemimpin mereka. Tapi, masih ada pemimpin yang lebih tinggi lagi. Dan aku selalu dipanggil dengan julukan si Tongkat Bintang Perak."

   "Hm.... Julukan yang bagus,"

   Gumam Patih Gandaraka, memuji tulus.

   "Patih Gandaraka! Kau jauh-jauh datang ke wi-layah Utara ini bersama sepasukan prajurit?"

   Tanya si Tongkat Bintang Perak, masih dengan suara besar dan menggetarkan.

   "Maaf! Kami mendapat tugas penting dan sangat rahasia dari junjungan kami yang bernama Gusti Prabu Gading Anom. Jadi, tujuan kami semua datang ke wilayah Utara ini tidak bisa dijelaskan. Dan perlu kau ketahui, kami hanya lewat saja di kaki gunung ini. Sebenarnya, bukan di sini tujuan kami,"

   Sahut Patih Gandaraka, mencoba menjelaskan dengan singkat.

   "Kau tahu, Patih?! Di sekitar Gunung Lanjaran ini tidak ada yang lebih berkuasa, selain junjungan kami. Maka tidak ada seorang pun yang boleh lewat begitu saja di sini, kecuali membayar upeti kepada kami.. Kau mengerti maksudku, Patih,..?"

   Lantang sekali suara si Tongkat Bintang Perak.

   "Hm.,.,"

   Patih Gandaraka menggumam perlahan.

   Kening patih itu jadi berkerut.

   Sedangkan kelo-pak matanya menyipit, menatap dengan sinar cukup tajam ke bola mata orang di depannya yang mengaku sebagai pemimpin orang-orang berseragam hitam itu.

   Walaupun dari suaranya sudah jelas laki-laki, tapi wa-jahnya memang sulit dikenali.

   Hanya kedua mata dan mulutnya saja yang terlihat, karena seluruh wajahnya tertutup kain hitam.

   Patih Gandaraka bisa memahami arti kata-kata orang berbaju serba hitam yang mengaku berjuluk si Tongkat Bintang Perak.

   Dan tentu saja, permintaan itu tidak bisa dianggap main-main.

   Apalagi, kemunculan mereka begitu tiba-tiba.

   Bahkan sudah, menewaskan satu orang prajurit.

   Patih Gandaraka menjentikkan ujung jarinya sedikit.

   Maka para prajurit yang berada di belakangnya, sudah bisa mengerti artinya.

   Mereka langsung saja bersiaga, siap menunggu perintah.

   "He he he...! Rupanya kau lebih sayang harta, Patih. Bagus...! Pertahankan milikmu kalau mampu,"

   Ujar si Tongkat Bintang Perak diiringi tawanya yang terkekeh.

   Patih Gandaraka hanya diam saja.

   Perlahan pe-dangnya yang sejak tadi tergantung di pinggang dicabut.

   Tatapan matanya tertuju lurus, seakan-akan hendak menembus kain hitam yang menutupi wajah si Tongkat Bintang Perak.

   "Seraaang...!"

   Tiba-tiba si Tongkat Bintang Perak berteriak lantang menggelegar. Begitu keras teriakannya, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Dan seketika itu juga....

   "Hiyaaa...!"

   "Yeaaah...!"

   "Hadang mereka...!"

   Seru Patih Gandaraka memberi perintah.

   "Yeaaah...!"

   "Hiyaaat..!"

   Pertarungan pun tidak dapat dihindari lagi.

   Be-gitu mendapat perintah, orang-orang berseragam hi-tam itu langsung saja berlompatan menyerang.

   Begitu juga para prajurit Kerajaan Ringgading, yang segera menyambut serangan.

   Sedikit pun tak tersirat kegenta-ran di mata para prajurit.

   Dengan tangkas sekali, serangan yang begitu gencar segera disambut.

   Tapi, rupanya orang-orang berpakaian serba hi-tam itu tidak bisa dianggap sembarangan.

   Mereka tampaknya sudah berpengalaman dalam menghadapi pertempuran seperti ini.

   Hingga dalam waktu yang tidak begitu lama, para prajurit yang memang kalah dalam hal jumlahnya, sudah terdesak.

   Pertarungan baru berjalan beberapa saat saja, tapi sudah separuh lebih para prajurit yang tewas.

   Dan hal ini membuat Patih Gandaraka jadi gusar.

   Terlebih lagi saat melihat orang-orang berbaju serba hitam itu bertarung seperti orang kesetanan saja.

   Sedikit pun tak tersirat rasa takut.

   Bahkan mereka terus saja me-rangsek maju.

   Kegentaran mulai terlihat pada sinar mata para prajurit.

   Sementara, orang-orang berbaju serba hitam itu semakin kelihatan ganas saja.

   Jerit dari pekikan melengking tinggi semakin sering terdengar.

   Sementara, tubuh-tubuh bersimbah darah terus berjatuhan.

   Bau anyir darah semakin terasa mengusik lubang hi-dung.

   "Berhenti...!"

   Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras meng-gelegar.

   Bentakan yang mengandung pengerahan tena-ga dalam itu membuat pertarungan jadi terhenti seketika.

   Sementara, orang-orang berbaju serba hitam segera berlompatan mundur, walaupun masih menge-pung para prajurit Kerajaan Ringgading.

   Tampak Patih Gandaraka berdiri berhadapan dengan si Tongkat Bintang Perak dengan jarak cukup dekat.

   Tapi, secara bersamaan mereka cepat-cepat berlompatan mundur, begitu tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat begitu cepat bagai kilat.

   Setelah ditunggu-tunggu beberapa saat, tapi tak ada seorang pun yang kelihatan muncul.

   Semua orang yang tadi bertarung, jadi kelihatan bingung.

   Mereka saling berpandangan satu sama lain.

   Tadi, bentakan itu jelas sekali terdengar.

   Begitu keras menggelegar, dan mengejutkan.

   Buktinya, mam-pu membuat pertarungan jadi terhenti seketika.

   Dan di saat mereka tengah kebingungan, tiba-tiba saja....

   "Khraaagkh...!"

   "Heh...?!"

   "Hah...?!"

   Tepat ketika terdengar teriakan serak yang be-gitu keras, terlihat sebuah bayangan di angkasa, melewati tempat pertarungan itu.

   Secara bersamaan, mereka mengangkat kepala memandang ke atas.

   Maka saat itulah terlihat seekor burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan, tengah terbang melayang memutari tempat dua kekuatan yang saling berhada-pan tadi.

   "Kalian yang dari Kerajaan Ringgading, cepat menyingkir dari sana...!"

   Tiba-tiba kembali terdengar suara yang begitu keras menggelegar, mengandung pengerahan tenaga dalam sangat tinggi.

   Bahkan sampai menggema, seper-ti datang dari segala arah.

   Dan tentu saja, hal itu membuat semua orang yang berada di bawahnya jadi terkejut setengah mati.

   Sampai-sampai tak ada seo-rang pun yang bergerak.

   Mereka semua diam mema-tung, dengan kepala terdongak ke atas memandangi burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan yang masih tetap berputaran di udara.

   "Cepat kalian menyingkir...!"

   Kembali terdengar bentakan keras menggelegar. Dan kali ini, jelas sekali kalau suara itu dari atas. Sepertinya, yang berbicara burung rajawali raksasa itu. Namun cukup jelas terlihat kalau paruh burung itu tidak bergerak sedikit pun.

   "Menyingkir, cepaaat...!"

   Seru Patih Gandaraka dengan suara lantang dan menggelegar.

   Mendengar perintah yang begitu menggelegar dari pemimpinnya, maka seketika itu juga para prajurit Kerajaan Ringgading segera bergerak menjauhi tempat itu.

   Sedangkan orang-orang berpakaian serba hitam yang dipimpin si Tongkat Bintang Perak masih terlongong bengong, memandangi burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan di atas sana.

   Dan begitu para prajurit Kerajaan Ringgading sudah cukup jauh, tiba-tiba saja burung rajawali putih raksasa itu meluruk deras ke bawah sambil mengeluarkan suara serak dan menyakitkan gendang telinga.

   "Khraaagkh...!"

   Begitu cepatnya burung raksasa itu menukik, sehingga membuat orang-orang berpakaian serba hi-tam hanya terlongong bengong, tanpa bertindak sesua-tu.

   Dan belum juga ada yang sempat menyadari, tiba-tiba saja terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi yang saling susul.

   Kemudian, terlihat puluhan orang berpakaian serba hitam itu berpentatan ke angkasa, lalu keras sekali jatuh menghantam tanah.

   Hanya dalam waktu beberapa saat saja, sudah lebih dari tiga puluh orang bergelimpangan dengan nyawa melayang.

   Burung rajawali raksasa putih keperakan itu kembali melambung tinggi ke angkasa.

   Dan bagaikan kilat, kembali meluruk deras sambil berkao-kan.

   Suaranya begitu keras, menyakitkan gendang telinga.

   "Khraaagkh...!"

   "Cepat berlindung...!"

   Teriak si Tongkat Bintang Perak sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalam tinggi.

   "Hiyaaa..!"

   "Yeaaah...!"

   Beberapa orang memang masih sempat berlom-patan menghindari serangan burung rajawali raksasa itu. Tapi, tidak sedikit yang terlambat. Mereka berpen-talan ke angkasa sambil menjerit keras menyayat, lalu berjatuhan tanpa nyawa lagi.

   "Gila...! Burung apa itu...?!"

   Desis si Tongkat Bintang Perak.

   "Khragkh...!"

   "Heh...?! Hup...!"

   Si Tongkat Bintang Perak jadi terperanjat se-tengah mati, begitu tiba-tiba burung rajawali raksasa berbulu putih itu meluruk deras menyerangnya.

   Maka cepat-cepat dia melompat ke samping.

   Tubuhnya langsung dibanting ke tanah, lalu bergelimpangan bebera-pa kali menghindari serangan burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu.

   "Hup!"

   Bergegas si Tongkat Bintang Perak melompat bangkit berdiri begitu berhasil menghindari serangan yang sangat mengerikan itu.

   Tapi baru saja kakinya menjejak tanah, burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah kembali meluruk ke arahnya dengan kecepatan tinggi sekali.

   "Haiit..!"

   Cepat-cepat si Tongkat Bintang Perak melompat ke kanan, menghindari terjangan itu.

   Tapi tanpa didu-ga sama sekali, sayap burung rajawali raksasa itu bergerak mengepak begitu cepat tanpa dapat dihindari oleh si Tongkat Bintang Perak.

   Apalagi, saat itu sedang berada di atas tanah.

   Maka....

   Plak! "Akh...!"

   Begitu kerasnya sambaran sayap burung rak-sasa itu, sehingga membuat tubuh si Tongkat Bintang Perak terpental deras sekali.

   Dan luncuran tubuhnya baru berhenti setelah menghantam sebongkah batu besar, hingga hancur berkeping-keping.

   Si Tongkat Bintang Perak menggeliat sambil merintih lirih di antara kepingan pecahan batu yang terlanda tubuhnya ta-di.

   Tampak darah kental menggumpal, memenuhi mu-lutnya.

   "Phuih...!"

   Si Tongkat Bintang Perak menyemburkan da-rah yang memenuhi mulutnya, lalu mencoba bangkit berdiri.

   Tapi belum juga bisa berdiri sempurna, tiba-tiba saja burung rajawali raksasa itu sudah kembali mengebutkan sayapnya yang sangat besar dan kokoh.

   Dan hal ini membuat si Tongkat Bintang Perak jadi terlongong tanpa dapat berbuat apa-apa.

   Dan.

   ...

   Plak! "Aaakh...!"

   Kembali si Tongkat Bintang Perak menjerit ke-ras melengking tinggi, begitu sayap burung rajawali raksasa itu kembali menghantam telak tubuhnya dengan keras sekali.

   Bagaikan batu yang dilontarkan oleh ketapel, tubuh si Tongkat Bintang Perak kembali melayang deras.

   Bahkan langsung menghantam beberapa batang pohon hingga hancur berkeping-keping.

   Lalu, dia jatuh keras sekali ke tanah, sehingga tubuhnya menggeliat sambil merintih lirih merasakan sakit yang amat sangat.

   Darah semakin banyak mengalir dari mulutnya.

   Hebatnya, si Tongkat Bintang Perak masih juga berusaha bangkit berdiri.

   Tapi belum juga bisa berdiri sempurna, mendadak saja paruh burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan yang setajam pedang sudah menyambar kedua kaki laki-laki berpakaian serba hitam itu.

   Begitu cepat sambarannya, sehingga si Tongkat Bintang Perak tidak sempat lagi menghindarinya.

   Krasss! "Aaakh...!"

   Si Tongkat Bintang Perak menjerit keras begitu kakinya tersambar paruh burung rajawali raksasa itu.

   Seketika, laki-laki berpakaian serba hitam itu jatuh kembali bergelimpangan.

   Tampak dari kaki ka-nannya darah deras sekali berhamburan keluar.

   Si Tongkat Bintang Perak merintih kesakitan sambil memegangi kakinya yang ternyata sudah hampir bun-tung.

   Rasanya, tidak mungkin dia bisa bangkit berdiri lagi dengan sebelah kaki yang sudah hampir buntung.

   "Setan keparat! Kubunuh kau, Burung Kepa-rat...!"

   Geram si Tongkat Bintang Perak sambil meringis menahan sakit yang amat sangat pada kaki kanannya.

   "Khraaagkh...!"

   Sedangkan burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah melambung tinggi ke ang-kasa sambil memperdengarkan suaranya yang serak dan sangat keras menyakitkan gendang telinga.

   Bu-rung rajawali raksasa itu terus berputaran di angkasa, mengelilingi hutan di kaki Gunung Lanjaran ini.

   "Khraaagkh...!"

   Sementara, si Tongkat Bintang Perak berusaha bangkit berdiri, walaupun kelihatannya memang sulit sekali.

   Sambil mendengus berat, ditotoknya jalan da-rahnya beberapa kali di sekitar luka yang menganga lebar pada kakinya.

   Dan seketika itu juga, darah berhenti mengalir keluar.

   Dengan bantuan tongkatnya, si Tongkat Bintang Perak kembali berusaha susah payah untuk berdiri.

   Dan akhirnya, dia mampu juga berdiri.

   Namun berdirinya tidak bisa kembali tegak, dan harus ditopang tongkatnya.

   "Phuih...!"

   Sambil menyemburkan ludahnya dengan kesal, si Tongkat Bintang Perak langsung mengempos tubuh-nya disertai pengerahan tenaga dalam.

   Tapi begitu melompat, tiba-tiba saja jatuh terguling ke tanah.

   Mulutnya memekik keras, begitu tubuhnya menghantam ta-nah dengan keras sekali, dan bergelimpangan bebera-pa kali.

   "Setan keparat...!"

   Makinya semakin berang.

   Sementara itu, orang-orang berbaju serba hi-tam yang melihat pemimpinnya sudah kehilangan ke-kuatan dan tenaga lagi, bergegas berlarian kabur.

   Tidak dihiraukan lagi si Tongkat Bintang Perak yang berteriak-teriak memerintahkan mereka untuk kembali.

   Seorang pun tak ada yang mau mendengarkan perin-tahnya, sehingga membuat si Tongkat Bintang Perak jadi memaki-maki dan menyumpah serapah sendiri.

   Laki-laki berpakaian hitam itu masih mencoba bangkit berdiri lagi, tapi tenaganya memang sudah lenyap.

   Entah kenapa, setelah kakinya tersambar paruh burung rajawali raksasa itu, seketika tenaganya jadi lenyap.

   Dan tenaga dalamnya benar-benar tidak bisa lagi dikerahkan.

   Bahkan untuk bisa berdiri lagi saja, terasa sangat sulit.

   "Huh...!" *** Si Tongkat Bintang Perak terus memaki-maki dan menyumpah serapah. Sementara, tidak seorang pun lagi anak buahnya yang masih tertinggal. Sedangkan Patih Gandaraka sudah melangkah menghampiri diikuti para prajuritnya yang kini tinggal separuhnya. Patih Kerajaan Ringgading itu baru berhenti setelah ja-raknya tinggal sekitar enam langkah lagi dari si Tongkat Bintang Perak. Sementara, para prajuritnya langsung mengepung rapat. Dengan senjata terhunus, me-reka siap mencabik tubuh orang berbaju serba hitam yang kepalanya tertutup kain hitam itu.

   "Phuih...!"

   Si Tongkat Bintang Perak mendengus berat, sambil menyemburkan ludahnya dari lubang kain pada bagian mulutnya.

   "Aku ingin tahu seperti apa wajahmu, Tongkat Bintang Perak,"

   Desis Patih Gandaraka, agak dingin nada suaranya.

   Bret! Cepat sekali Patih Gandaraka merenggut kain yang menyelubungi kepala si Tongkat Bintang Perak.

   Dan begitu kain hitam terlepas, terlihatlah seraut wajah berusia separuh baya, namun masih kelihatan gagah dan cukup tampan.

   Tapi di balik kegagahannya, tersembunyi sorot mata dan garis-garis kebengisan serta kekejaman.

   "Setan! Phuih...!"

   Si Tongkat Bintang Perak memaki sambil menyemburkan ludahnya dengan sen-git.

   "Hm.... Kau sekarang tidak punya daya lagi, Kisanak. Apa yang akan kau lakukan sekarang...?"

   Masih terdengar dingin sekali nada suara Patih Gandara-ka.

   "Bunuhlah aku...!"

   Bentak si Tongkat Bintang Perak, geram.

   "Terlalu enak kalau langsung membunuhmu, Tongkat Bintang Perak. Aku ingin tahu lebih dulu, kenapa kau dan orang-orangmu ingin meminta upeti pa-da kami? Padahal, kami tidak membawa apa-apa se-lain senjata, perbekalan, dan pakaian yang melekat di badan. Siapa yang memerintahkanmu?"

   Tanya Patih Gandaraka.

   "Kau tidak bisa mendapat jawaban dariku, Pa-tih Keparat!"

   Geram si Tongkat Bintang Perak dengan bola mata mendelik lebar.

   "Tapi, kau akan mendapat balasan dari gerombolan Tongkat Putih!"

   Wajah si Tongkat Bintang Perak yang kaku, semakin terlihat bengis.

   Sorot matanya begitu tajam, memancarkan dendam dan kebencian yang amat sangat pada Patih Gandaraka.

   Namun memang, dia tidak bisa lagi berbuat sesuatu.

   Bahkan untuk menggerakkan tangannya saja sudah terasa sangat sulit.

   Si Tongkat Bintang Perak hanya bisa mendengus dan memaki dalam hati.

   Seluruh tenaganya benar-benar tidak ada lagi, setelah beberapa kali terkena hantaman dan kebutan sayap burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan yang tiba-tiba saja muncul dan langsung ganas menyerangnya.

   Sementara di angkasa burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan masih terlihat melayang-layang memutari hutan kecil di kaki Gunung Lanjaran ini.

   Sepertinya burung itu belum mau meninggalkan hutan ini, sebelum para prajurit Kerajaan Ringgading benar-benar merasa aman.

   "Hih!"

   Sret! Tiba-tiba saja si Tongkat Bintang Perak men-gangkat tongkat yang ujungnya berbentuk bintang dengan sisa tenaganya.

   Dan sebelum ada yang bisa menyadari, mendadak saja ujung tongkatnya yang berbentuk bintang dihunjamkan ke dadanya sendiri.

   Jleb! "Akh...!"

   "Heh...?!"

   Begitu cepat tindakan yang dilakukan si Tong-kat Bintang Perak, sehingga Patih Gandaraka tidak sempat lagi mencegah.

   Seketika tongkat berujung bintang berwarna putih keperakan itu langsung meng-hunjam begitu dalam ke dada si Tongkat Bintang Pe-rak.

   Hanya sebentar saja laki-laki separuh baya itu menggeliat meregang nyawa sambil memegangi bagian tengah tongkatnya yang menghunjam dalam di da-danya, kemudian sudah menegang kaku disertai eran-gan lirih.

   Lalu, tubuhnya diam tak bergerak-gerak lagi.

   Sementara, Patih Gandaraka hanya bisa memandangi tanpa mampu berbuat apa pun lagi untuk menyela-matkan nyawa si Tongkat Bintang Perak.

   "Edan...!"

   Dengus Patih Gandaraka mendesis.

   Memang sulit dipahami tindakan yang dilaku-kan si Tongkat Bintang Perak.

   Nyawanya sendiri rela dihabisi daripada harus menjadi tawanan musuhnya.

   Suatu tindakan yang dilandasi keberanian besar.

   Sangat sulit menemukan orang yang rela menghabisi nyawanya sendiri.

   Dan itu merupakan satu pilihan yang sangat sulit! "Huuuh...!"

   Sambil menghembuskan napas panjang, Patih Gandaraka menghempaskan tubuhnya yang langsung jatuh terduduk lemas di samping mayat si Tongkat Bintang Perak.

   Sementara, sisa prajuritnya hanya bisa diam saja memandangi tanpa mampu berbuat sesuatu pun.

   Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang membuka suara.

   Dan tanpa disadari, Patih Gandaraka mendongakkan kepalanya.

   Dan burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan yang telah membantunya mengalahkan orang-orang berbaju serba hitam juga masih terlihat.

   "Kematiannya tidak perlu disesali, Patih. Se-baiknya bawalah sisa prajuritmu pergi dari tempat itu secepatnya. Kau akan mendapat kesulitan yang lebih besar lagi kalau tidak segera meninggalkan tempat itu,"

   Tiba-tiba saja terdengar suara menggema yang sangat keras.

   Jelas sekali kalau suara itu dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam sempurna, sehingga bagai-kan datang dari segala penjuru mata angin.

   Sangat sulit diketahui, dari mana asal suara itu.

   Dan ini tentu saja membuat Patih Gandaraka jadi tersentak kaget setengah mati.

   Bahkan semua prajuritnya juga terkejut.

   "Hup!"

   Bergegas Patih Gandaraka melompat bangkit berdiri.

   Dia berkacak pinggang sambil menengadahkan kepalanya.

   Saat itu, di angkasa terlihat burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan yang telah mem-bantunya tadi sedikit terbang berputar.

   Dan Patih Gandaraka sempat melihat kalau di atas punggung burung raksasa itu ada seseorang.

   Walaupun hanya terlihat sekilas, tapi dia sempat terperanjat juga.

   Tidak disangka kalau rajawali raksasa itu ditunggangi seseorang yang sama sekali tidak jelas, baik bentuk tubuh maupun rupanya.

   Dan belum juga Patih Gandaraka bisa memastikan, burung raksasa itu sudah melesat cepat bagai kilat.

   Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap dari pandangan.

   "Hm.... Siapapun dia, pasti bermaksud baik padaku. Baiklah, kata-katanya akan kuturuti,"

   Gumam Patih Gandaraka di dalam hati.

   Sebentar laki-laki itu masih menengadahkan kepalanya.

   Kini burung raksasa yang telah membuat-nya begitu tercengang sudah tidak terlihat lagi bayan-gannya.

   Kemudian, para prajuritnya diperintahkan untuk segera melanjutkan perjalanan.

   Sebentar kemu-dian, para prajurit Kerajaan Ringgading itu sudah kembali bergerak meninggalkan kaki Gunung Lanjaran ini.

   *** Sementara itu, tidak jauh di sebelah Selatan Gunung Lanjaran, terlihat seorang gadis cantik berbaju biru muda tengah duduk menyendiri di atas se-bongkah batu besar yang menghadap ke sebuah lem-bah yang sangat indah.

   Dan saat itu, matahari sudah agak condong ke arah Barat.

   Gadis itu memandangi mentari yang terus bergerak turun ke tempat pera-duannya.

   Begitu indah terlihat.

   Terlebih lagi, saat ini an-gin bertiup lembut.

   Sehingga indahnya suasana senja ini makin bertambah saja.

   Gadis cantik berbaju ketat warna biru yang tampaknya bukan orang sembarangan itu sedikit memutar tubuhnya ke kanan.

   Saat itu dirasakan adanya hembusan angin lain.

   Dan memang, dia bukan gadis sembarangan.

   Dan ini bisa dilihat dari sebilah pedang bergagang kepala seekor naga hitam yang bertengger di punggungnya.

   Sedangkan di bagian perutnya, terselip sebuah kipas tertutup, yang berwar-na putih keperakan.

   Pada bagian ujung-ujung kipas itu berbentuk seperti mata anak panah yang kecil sekali ukurannya.

   Dilihat dari pakaian dan senjata yang disan-dang, tentu tidak akan ragu-ragu lagi mengenalinya.

   Dan sepak terjangnya memang sudah terkenal di ka-langan rimba persilatan.

   Dialah yang dikenal berjuluk si Kipas Maut, walaupun nama sebenarnya Pandan Wangi.

   "Hhh...!"

   Sambil menghembuskan napas panjang, Pan-dan Wangi bangkit berdiri begitu melihat ada seekor burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan mendarat tidak jauh di sebelah kanannya.

   Dan dari punggung binatang raksasa itu melompat turun seo-rang pemuda berwajah tampan berbaju rompi warna putih.

   Tampak juga sebuah gagang pedang berbentuk kepala burung rajawali menyembul di balik, pung-gungnya.

   Pemuda tampan berbaju rompi putih itu berge-gas menghampiri gadis cantik yang sudah berdiri menunggu sambil berkacak pinggang.

   Tampak jelas kalau Pandan Wangi memasang wajah kaku, dengan sorot mata begitu tajam.

   Seakan-akan sorotannya hendak menembus langsung bola mata pemuda tampan berba-ju rompi putih yang selama ini dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.

   "Ke mana saja kau, Kakang? Kenapa begitu la-ma...?"

   Pandan Wangi langsung menodongnya dengan pertanyaan beruntun.

   "Sabar, Pandan...,"

   Ucap Rangga seraya meng-henyakkan tubuhnya di atas batu yang tadi diduduki si Kipas Maut.

   Sedangkan Pandan Wangi tetap berdiri berka-cak pinggang sambil memandangi Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata cukup tajam.

   Sementara yang dipandangi kelihatan tenang, sambil mengatur jalan nafasnya yang terdengar sedikit memburu.

   "Ada suatu peristiwa di perjalanan tadi,"

   Kata Rangga lagi, tanpa menghiraukan kekesalan si Kipas Maut itu. Memang, gadis cantik itu terpaksa harus menunggu hampir setengah harian di tempat yang sangat sunyi ini.

   "Peristiwa apa?"

   Tanya Pandan Wangi lagi, masih terdengar kaku.

   "Peristiwa yang tidak bisa dikatakan kecil. Dan terpaksa Rajawali Putih kuminta untuk mengatasinya,"

   Sahut Rangga, masih terdengar kalem suaranya.

   "Ceritakan saja yang jelas, Kakang,"

   Pinta Pandan Wangi.

   "Waktu sedang menuju ke sini, aku melihat se-buah pertarungan. Dan kedua kelompok yang berta-rung itu kukenali betul. Aku juga tidak perlu berpikir panjang untuk berpihak pada salah satu kelompok itu. Lalu, Rajawali Putih kuperintahkan untuk menghentikan pertarungan. Semula, aku tidak ingin sampai Rajawali Putih bertindak keras. Tapi, ternyata kekerasan harus dilakukan juga,"

   Rangga memulai menceritakan peristiwa yang dialaminya dalam perjalanan menuju ke lembah ini.

   "Lalu...?"

   Pandan Wangi meminta meneruskan.

   "Rajawali Putih memang berhasil mengusir salah satu kelompok itu. Bahkan berhasil melukai pemimpinnya. Tapi sungguh tidak kusangka kalau Raja-wali Putih membuat pemimpin satu kelompok itu sam-pai tidak berdaya sama sekali. Bahkan jadi putus asa, dan membunuh dirinya sendiri...,"

   Semakin terdengar pelan suara Rangga pada kalimat terakhir.

   "Kelompok mana yang kau usir? Dan, mana yang kau bela, Kakang?"

   Tanya Pandan Wangi jadi ingin tahu.

   "Kalau kukatakan, kau pasti tidak akan per-caya, Pandan,"

   Sahut Rangga kalem.

   "Katakan, Kakang. Siapa saja mereka...?"

   Desak Pandan Wangi semakin penasaran ingin tahu, Rangga tidak langsung menjawab pertanyaan itu.

   Dia malah bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Rajawali Putih yang mendekam tidak jauh jaraknya.

   Perlahan, tubuhnya diputar berbalik, setelah dekat dengan Rajawali Putih.

   Burung raksasa itu segera menyodorkan kepalanya.

   Rangga langsung menyambut dan memeluknya dengan hangat.

   Lembut sekali bola mata burung raksasa itu dikecupnya.

   Sementara, Pandan Wangi hanya memperhatikan saja dengan rasa penasaran.

   Terutama, karena pertanyaannya tadi be-lum juga dijawab Pendekar Rajawali Sakti.

   "Siapa saja mereka, Kakang...?"

   Pandan Wangi mengulangi pertanyaannya yang belum juga terjawab tadi.

   Perlahan gadis itu mengayunkan kakinya, menghampiri Pendekar Rajawali Sakti yang masih saja memeluk kepala burung tunggangannya, sekaligus gu-runya dalam ilmu-ilmu olah kanuragan dan kedig-dayaan.

   Rangga kemudian melepaskan pelukannya.

   Sedikit diberikannya senyum tipis pada gadis cantik berbaju biru yang kini sudah dekat di depannya.

   "Para prajurit dari Kerajaan Ringgading,"

   Sahut Rangga seperti tidak peduli rasa keingintahuan Pandan Wangi.

   "Lalu..., kelompok yang satunya lagi?"

   Desak Pandan Wangi, belum puas atas jawaban Pendekar Rajawali Sakti barusan.

   "Orang-orang Walet Hitam,"

   Sahut Rangga masih dengan nada yang sama.

   "Maksudmu.... Perguruan Walet Hitam, Ka-kang...?"

   Sentak Pandan Wangi, kelihatan terkejut sekali.

   Rangga hanya tersenyum dan mengangguk se-dikit.

   Sedangkan Pandan Wangi menarik napas pan-jang dan menghembuskannya kuat-kuat.

   Beberapa saat mereka jadi terdiam.

   Sementara, Rangga sudah melompat naik ke punggung Rajawali Putih.

   Sedang-kan Pandan Wangi masih tetap saja berdiri dengan pandangan lurus ke depan, seakan-akan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

   "Ayo, Pandan. Jangan membuang waktu. Kita harus segera sampai sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,"

   Ajak Rangga.

   Pandan Wangi mengangkat kepalanya, menatap Pendekar Rajawali Sakti yang sudah berada di atas punggung Rajawali Putih.

   Sedangkan Rangga terus memandangi dengan bibir masih menyunggingkan se-nyuman tipis.

   Entah apa arti dari senyumannya.

   Se-mentara, Pandan Wangi masih saja berdiri memandan-ginya dengan sinar mata sulit diartikan.

   Tapi, tampaknya Rangga sudah bisa menebak pancaran cahaya bola mata si Kipas Maut itu.

   "Ayolah, Pandan. Tidak ada waktu memikirkan orang-orang Walet Hitam. Kita harus segera berangkat sebelum terlambat,"

   Desak Rangga, mulai tidak sabar.

   Pandan Wangi masih saja berdiri mematung meman-dangi pemuda tampan berbaju rompi putih yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu.

   Beberapa saat kemudian, gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu sudah melesat ke atas, mempergunakan ilmu meringan-kan tubuh yang sudah mencapai taraf tinggi.

   Begitu ringan gerakannya, sehingga sebentar saja sudah berada di punggung Rajawali Putih, tepat di depan Rangga.

   "Ayo, Rajawali, Kita ke Utara!"

   Seru Rangga sambil menepuk leher Rajawali Putih.

   "Khraaagkh...!"

   Pandan Wangi mencengkeram erat bulu-bulu leher Rajawali Putih.

   Meskipun sudah beberapa kali menunggang burung rajawali raksasa ini, tapi kenge-rian masih juga menyelinap; di hatinya.

   Sedangkan Rangga tampak tenang, duduk di belakangnya.

   Begitu cepatnya Rajawali Putih melesat, sehing-ga sebentar saja sudah di atas sekitar Gunung Lanjaran.

   Telunjuk tangan kanan Rangga menuding ke sa-lah satu arah, maka Rajawali Putih mengikutinya.

   Sementara Pandan Wangi mengarahkan pandangannya juga ke arah yang ditunjuk Rangga hanya dengan ekor matanya.

   Dia benar-benar belum berani menatap ke bawah secara.

   langsung dari ketinggian seperti ini.

   Sementara, Rajawali Putih terus meluncur cepat bagai kilat membelah awan.

   "Kau lihat di kaki gunung sana, Pandan,"

   Kata Rangga sambil menunjuk ke kaki Gunung Lanjaran.

   "Yang mana...?"

   Tanya Pandan Wangi seraya mengerahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Pendekar Rajawali Sakti.

   "Itu...! Di tepi aliran sungai,"

   Sahut Rangga.

   Pandan Wangi tidak menjawab.

   Gadis itu me-mang melihat ada puluhan orang tengah menyusuri tepian sungai di kaki Gunung Lanjaran yang berkelok-kelok bagaikan ular.

   Walaupun dari ketinggian seperti ini, tapi masih jelas terlihat kalau orang-orang yang bergerak cepat menyusuri sungai itu adalah para prajurit Kerajaan Ringgading.

   Dan mereka semua tam-paknya menunggang kuda, sehingga bisa bergerak le-bih cepat.

   Dari angkasa ini jelas terlihat, kalau kuda mereka dipacu cepat, seakan-akan tengah memburu sesuatu.

   "Mau ke mana mereka, Kakang?"

   Tanya Pandan Wangi dengan kening berkerut. Kelopak matanya juga jadi menyipit, memandangi para prajurit yang bergerak begitu cepat dengan menunggang kuda.

   "Lihat saja, nanti, Pandan. Kalau mereka me-nyeberangi jembatan di hulu sana, pasti menuju Ka-rang Setra,"

   Sahut Rangga sambil menunjuk sebuah jembatan kayu yang ada di hulu sungai.

   "Ke Karang Setra...? Mau apa mereka, Kakang?"

   Tanya Pandan Wangi semakin tidak mengerti.

   Tapi, pertanyaan si Kipas Maut itu tidak sem-pat menjawab.

   Dan dugaan Rangga ternyata tepat Rombongan prajurit Kerajaan Ringgading itu benar-benar menuju ke arah jembatan di hulu sungai, dan menyeberanginya tanpa mengurangi kecepatan lari kuda sedikit pun juga.

   Sementara dari angkasa, Rang-ga dan Pandan Wangi terus memperhatikan.

   Sementara, rombongan prajurit itu terus berge-rak cepat.

   Dan dugaan Rangga semakin menguat saja.

   Mereka memang benar-benar menuju Kerajaan Karang Setra, tanah kelahiran Pendekar Rajawali Sakti.

   Tidak lama lagi, para prajurit yang dipimpin Patih Gandaraka itu akan melewati pintu gerbang perbatasan kerajaan.

   "Mereka berhenti, Kakang...,"

   Desis Pandan Wangi, hampir tidak terdengar. Suaranya seperti ter-makan deru angin yang begitu keras di angkasa ini.

   "Hm...!"

   Tapi Rangga hanya menggumam kecil saja.

   Para prajurit Kerajaan Ringgading memang berhenti, tidak jauh dari gerbang perbatasan Kerajaan Karang Setra yang dijaga sekitar dua puluh orang prajurit dan dua orang tamtama.

   Namun, mereka masih berada di luar wilayah Kerajaan Karang Setra.

   Tampak para prajurit itu berlompatan turun dari punggung kuda masing-masing, lalu berbaris rapi di samping kuda binatang tunggangannya.

   Sementara paling de-pan, terlihat Patih Gandaraka memegangi tali kekang kudanya.

   Dia berdiri tegak, memandang ke arah gerbang perbatasan yang dijaga sekitar dua puluh orang prajurit dan dua orang tamtama.

   Sementara para prajurit Karang Setra yang su-dah melihat rombongan prajurit dari kerajaan lain itu, sudah langsung berdiri berjajar dengan sikap menghadang.

   Senjata pun sudah siap-siap untuk keluar dari tempatnya.

   Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi yang berada di angkasa, terus saja memperhatikan dengan dada berdebar cukup keras.

   "Mereka mendirikan tenda, Kakang,"

   Kata Pandan Wangi memberi tahu. Padahal, dia sendiri tahu, Rangga juga terus memperhatikan.

   "Hm...,"

   Lagi-lagi Rangga hanya menggumam sa-ja perlahan.

   Para prajurit Kerajaan Ringgading memang ke-lihatan sibuk mendirikan tenda.

   Dan saat ini, senja memang sudah jatuh turun menyelimuti sebagian permukaan bumi.

   Sedangkan para prajurit Karang Se-tra terus mengawasi dari dalam wilayah kerajaannya.

   Seorang pun tidak ada prajurit penjaga gerbang perbatasan ini yang menghampiri.

   Memang, mereka tidak boleh sampai ke luar wilayah kerajaannya.

   Sehingga, mereka hanya bisa memperhatikan sambil bersiaga penuh dari jarak yang tidak begitu jauh lagi.

   "Sebaiknya kau turun, Kakang. Tanyakan pada mereka, apa tujuannya datang ke Karang Setra,"

   Saran Pandan Wangi.

   "Lihat saja nanti,"

   Sahut Rangga kalem.

   Pandan Wangi tidak bicara lagi.

   Dan memang, sulit baginya untuk mendesak Pendekar Rajawali Sak-ti.

   Tapi gadis itu tahu kalau Rangga tengah memikirkan sarannya tadi, walau sedikit pun tidak diperli-hatkannya.

   Sementara Rajawali Putih terus melayang ber-putar-putar, tepat di atas rombongan prajurit Kerajaan Ringgading yang sudah membuat tenda, tidak jauh da-ri perbatasan Kerajaan Karang Setra.

   Tampak jelas kalau Patih Gandaraka berdiri tegak, sambil menenga-dahkan kepala ke atas.

   Sepertinya, kehadiran burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah diketahuinya.

   Walaupun, dia tidak tahu kalau di punggung burung rajawali itu ada Rangga dan Pandan Wangi yang juga tengah memperhatikannya sejak tadi.

   *** Sementara itu di istana, Danupaksi mendapat kepercayaan dari Rangga Pati Permadi, Raja Karang Setra, untuk mewakili pemerintahannya.

   Dan dia su-dah mendapatkan laporan tentang adanya satu pasu-kan berjumlah cukup besar dari Kerajaan Ringgading yang kini membuat kubu tidak jauh dari perbatasan.

   Salah seorang prajurit penjaga perbatasan sudah me-laporkannya, walaupun belum mengetahui pasti tu-juan kedatangan mereka ke Kerajaan Karang Setra ini.

   "Kau harus cepat bisa mengambil keputusan, Kakang. Hanya kaulah yang bisa bertindak selama Ka-kang Rangga tidak ada,"

   Ujar Cempaka, yang selalu mendampingi.

   "Ini keputusan yang sangat sulit, Cempaka. Belum pernah Karang Setra kedatangan satu pasukan prajurit dari kerajaan lain. Sementara kita belum tahu, apa tujuan mereka datang ke sini,"

   Sahut Danupaksi sambil bangkit dari kursinya.

   Perlahan kaki pemuda itu terayun mendekati jendela.

   Lalu, Danupaksi berdiri mematung di depan jendela yang terbuka lebar, memandang jauh ke depan.

   Sedangkan Cempaka masih tetap duduk diam di kursinya sambil memandangi pemuda bertubuh tegap dan berotot itu.

   Beberapa saat lamanya Danupaksi terdiam mematung di situ, memandang lurus ke luar.

   Kemudian, perlahan tubuhnya berputar berbalik, sambil menghembuskan napas yang sangat panjang.

   "Sebaiknya, kirim saja utusan untuk menanya-kan maksud tujuan mereka datang ke sini, Kakang...?"

   Kembali Cempaka membuka suara.

   "Maksudmu?"

   Danupaksi meminta Cempaka memperjelas sarannya.

   "Ya.... Kita kirim satu atau dua orang punggawa ke sana, untuk menanyakan tujuan mereka membuat kubu di perbatasan tanpa meminta izin terlebih dahu-lu,"

   Kata Cempaka, menjelaskan usulnya tadi.

   "Mereka berkemah di luar perbatasan, Cempa-ka. Dan kita tidak bisa sembarangan menegurnya. Apalagi, menanyakan maksud membuat kubu di sana. Selama mereka tidak mengganggu kehidupan rakyat Karang Setra, kita tidak bisa bertindak apa-apa. Kecuali, kalau mereka memang membuat perkemahan di dalam wilayah kerajaan ini. Atau paling tidak, tepat di perbatasan,"

   Tegas sekali Danupaksi menolak saran adik tirinya ini.

   "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

   Tanya Cempaka ingin tahu.

   "Untuk sementara, tidak ada salahnya kalau mendiamkan saja dulu. Tapi, kita juga jangan sampai lengah. Mereka tetap harus diawasi sambil berjaga-jaga. Mungkin saja mereka melakukan sesuatu yang bisa merugikan,"

   Sahut Danupaksi kalem, tapi nada suaranya terdengar tegas sekali.

   "Hhh! Ucapan dan tindakanmu sekarang sudah sangat mirip Kakang Rangga...,"

   Dengus Cempaka sambil menghembuskan napas panjang.

   Danupaksi hanya tersenyum saja.

   Memang, pemuda itu selalu meniru semua yang diucapkan dan dilakukan kakak tirinya yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti, sekaligus Raja Kerajaan Karang Setra.

   Baginya, Rangga merupakan seorang tokoh yang patut dicontoh.

   Baik ucapan, jalan pikiran, maupun segala tindakannya.

   Tidak heran kalau para pembesar Kerajaan Karang Setra, sedikit pun tidak melihat adanya perbedaan dalam kepemimpinan antara Rangga dengan Danupaksi.

   Hanya saja, Danupaksi tidak bisa see-naknya pergi mengembara seperti yang dilakukan ka-kak tirinya.

   Saat itu, terlihat Ki Lintuk, Rakatala, dan Pa-man Wirapati masuk ke dalam ruangan Balai Sema Agung yang sangat besar dan megah, yang langsung disambut Danupaksi dan Cempaka.

   Mereka kemudian duduk di kursi masing-masing, dan menghadap Danu-paksi yang duduk di kursi singgasana.

   Dan memang, kalau Rangga tidak ada di istana maka yang mendu-duki kursi singgasana adalah Danupaksi.

   Tapi kalau Danupaksi tidak ada, Cempakalah yang harus meng-gantikannya.

   Dan semua itu sudah menjadi keputusan yang ditetapkan Rangga saat dinobatkan menjadi Raja Karang Setra.

   "Paman semua tentu sudah tahu, kenapa ku-minta untuk berkumpul di Balai Sema Agung ini...,"

   Kata Danupaksi langsung saja membuka suara.

   "Kami sudah mendengar semuanya, Gusti Da-nupaksi,"

   Sahut Ki Lintuk sambil memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

   "Kalau begitu, aku tidak perlu lagi menjelaskan. Dan memang, semuanya belum jelas benar. Pasukan prajurit itu sudah membuat kubu pertahanan tidak jauh dari perbatasan. Tapi, sampai sekarang ini kita semua belum tahu maksud dan tujuan kedatangan mereka ke sini,"

   Kata Danupaksi lagi.

   "Rasanya, tidak ada tujuan lain kalau sebuah kerajaan mengirimkan sepasukan prajurit berjumlah besar ke kerajaan lain, Gusti Danupaksi,"

   Selak Paman Wirapati yang di Karang Setra ini menjabat Panglima Tertinggi Angkatan Perang.

   "Benar, Gusti Danupaksi. Jelas sekali maksud kedatangan mereka tidak baik. Hamba sendiri sempat melihat ke sana. Mereka bukan hanya berjumlah cukup besar, tapi juga memiliki persenjataan lengkap, seperti hendak berperang,"

   Sambung Panglima Rakatala seorang panglima di Kerajaan Karang Setra. Sedangkan Ki Lintuk yang merupakan penasi-hat tertinggi, hanya diam saja mendengarkan.

   "Mereka berjumlah cukup banyak, Gusti Danu-paksi Persenjataan mereka pun lengkap, seperti hendak berperang,"

   Jelas Panglima Rakatala.

   Danupaksi dan Cempaka tampak berpikir ke-ras.

   Dia tengah memikirkan pendapat-pendapat dari para panglima dan tetua Karang Setra tanpa membuka suara sedikit pun juga.

   Tapi kerut-kerut di keningnya terlihat semakin dalam saja, pertanda tengah berpikir keras.

   Danupaksi dan Cempaka mengarahkan pandangan pada orang tua yang selalu mengenakan jubah panjang dan longgar, berwarna putih bersih dari bahan sutera halus.

   Sedangkan yang dipandangi masih saja diam dengan kepala tertunduk, merayapi lantai yang beralaskan permadani berbulu tebal yang sangat halus dan indah.

   "Ki Lintuk...?"

   Tanya Danupaksi melihat Ki Lintuk sejak tadi hanya diam saja.

   "Ampun, Gusti Danupaksi. Sekarang ini hamba belum bisa mengemukakan pendapat apa pun juga. Rasanya, masih terlalu dini untuk menyimpulkan maksud kedatangan mereka,"

   Sahut Ki Lintuk seraya memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

   "Jadi, bagaimana menurutmu yang terbaik, Ki?"

   Tanya Danupaksi tetap mendesak meminta pendapat laki-laki tua penasihat istana itu.

   Namun, Ki Lintuk tidak langsung memberi ja-waban.

   Dia kembali terdiam, dengan kepala tepekur merayapi ujung-ujung jari kakinya.

   Sementara, Pan-glima Rakatala dan Wirapati hanya diam saja meman-dangi.

   Cempaka juga mengarahkan pandangan ke wa-jah laki-laki tua yang sudah begitu banyak keriputnya itu.

   Cukup lama juga Ki Lintuk berdiam diri membisu, kemudian perlahan mengangkat kepalanya sambil menghembuskan napas panjang.

   Pandangan orang tua itu langsung bertemu so-rot mata Danupaksi yang sejak tadi tidak berkedip memandanginya.

   Kemudian tatapannya beralih pada Cempaka, Wirapati, dan Panglima Rakatala.

   Semuanya masih memandanginya, menunggu jawaban dari per-tanyaan yang diberikan Danupaksi tadi.

   Beberapa saat kemudian, Ki Lintuk kembali menatap adik tiri Pendekar Rajawali Sakti.

   "Jika Gusti Danupaksi tetap ingin tahu maksud kedatangan para prajurit itu, sebaiknya menunggu barang satu atau dua hari lagi. Mungkin mereka akan mengirimkan utusannya ke sini,"

   Usul Ki Lintuk. Suaranya jelas terdengar hati-hati.

   "Kenapa harus begitu, Ki?"

   Selak Panglima Rakatala, meminta penjelasan.

   "Hanya untuk menjaga kewibawaan saja, Adi Rakatala,"

   Sahut Ki Lintuk kalem.

   *** "Kewibawaan...? Bukankah kewibawaan sebuah kerajaan diukur oleh kecepatan bertindak, bersikap tegas, dan penuh perhitungan dari pemimpinnya? Dan lagi, tidak ada salahnya kalau kita yang lebih dulu mengirimkan utusan dan menanyakan maksud kedatangan mereka ke sini yang membawa sepasukan pra-jurit berjumlah cukup besar begitu,"

   Kata Panglima Rakatala, mengemukakan pendapatnya.

   "Justru hal itu bisa menimbulkan prasangka buruk, Adi Rakatala. Bukan hanya mereka saja yang bisa menyangka kalau kita selalu saja mencurigai orang yang datang ke kerajaan ini. Dan itu bisa mem-perburuk citra Karang Setra yang sudah terkenal akan kecintaannya pada perdamaian,"

   Tegas sekali Ki Lintuk membantah pendapat yang dikemukakan Panglima Rakatala.

   "Tapi, Ki..."

   "Sebentar...,"

   Selak Danupaksi memutuskan ucapan Panglima Rakatala. Semua mata langsung beralih, menatap adik ti-ri Pendekar Rajawali Sakti yang duduk di singgasana. Sementara yang dipandangi bangkit berdiri, lalu melangkah beberapa tindak ke depan.

   "Aku kira, ada benarnya juga kata-kata Ki Lintuk. Kita memang tidak perlu bertindak gegabah. Memang, sebaiknya tunggu dulu barang satu atau dua hari. Atau paling tidak, sampai ada utusan dari mereka datang ke sini,"

   Kata Danupaksi mengambil keputusan.

   "Bukankah itu berarti kita memberi kesempatan mereka untuk mempersiapkan kekuatan dan me-nyelidiki kekuatan kita, Gusti Danupaksi...?"

   Sambut Wirapati.

   "Jangan langsung menuduh kalau mereka hen-dak mengadakan penyerangan, Adi Wirapati,"

   Selak Ki Lintuk.

   "Maaf, Ki. Maksudku bukan begitu,"

   Ujar Wirapati.

   "Lalu...?"

   Tanya Ki Untuk meminta penjelasan.

   "Aku hanya menjaga dari segala kemungkinan yang terburuk, Ki,"

   Sahut Wirapati.

   "Itu boleh saja. Tapi tidak ada salahnya kalau kita sedikit bersabar, menunggu sampai ada utusan dari mereka yang datang ke sini,"

   Sergah Ki Lintuk.

   "Kalau seandainya tidak ada utusan?"

   Tanya Panglima Rakatala.

   "Hanya dua hari batasnya. Dan kalau memang tidak ada juga, tunggu satu hari lagi,"

   Sahut Ki Lintuk.

   "Kalau ternyata juga tidak ada utusan yang datang?"

   Selak Cempaka.

   "Terpaksa, harus dikirim satu atau dua orang utusan untuk menanyakan tujuan mereka datang dan membuat perkemahan dekat perbatasan,"

   Sahut Ki Lintuk tegas.

   "Aku rasa, itu hanya membuang-buang waktu saja, Ki,"

   Selak Panglima Rakatala tidak setuju.

   "Kita harus tunjukkan kewibawaan dan kesa-baran pada mereka. Aku yakin, kalau kita bisa bersikap sabar, mereka juga akan berpikir seribu kail. Itu kalau kedatangan mereka ke sini benar-benar bermaksud menyerang dan menjajah negeri ini,"

   Sahut Ki Lintuk tegas.

   "Kau benar, Ki,"

   Ujar Danupaksi langsung setuju.

   "Aku rasa, Kakang Rangga juga pasti akan mengambil sikap seperti itu."

   "Hhh.... Sayang, Kakang Rangga tidak ada di sini. Kalau ada, pasti tidak akan membuat kita semua jadi pusing begini,"

   Desah Cempaka.

   "Semua bisa diatasi kalau mau bersikap sabar dan sedikit menahan diri, Nini Cempaka,"

   Sambut Ki Lintuk.

   Tidak ada lagi yang membuka suara.

   Mereka semua terdiam dengan pikiran masing-masing berke-camuk dalam kepala.

   Dan memang, tidak ada seorang pun yang bisa membantah kata-kata yang dilontarkan Ki Lintuk.

   Dan seandainya Rangga sendiri pun, pasti akan bertanya lebih dulu pada orang tua ini tentang tindakan yang akan diambil.

   Dan biasanya pula, Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa lagi membantah setiap kali Ki Lintuk mengemukakan pendapatnya.

   Bahkan semua pembesar Kerajaan Karang Se-tra ini tidak ada yang bisa membantah semua kata-kata Ki Lintuk, yang dianggap begitu bijaksana dalam mengemukakan pendapat dan jalan pikiran.

   Mereka juga menyadari kalau apa yang dikatakan Ki Lintuk adalah demi kejayaan, keutuhan, dan kewibawaan Ke-rajaan Karang Setra.

   Pada saat mereka semua tengah terdiam, seo-rang prajurit penjaga gerbang istana memasuki ruang Balai Sema Agung yang berukuran sangat besar dan megah.

   Semua mata langsung mengarahkan pandan-gan pada prajurit yang masih muda itu.

   Dia segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

   Kedua telapak tangannya tampak merapat di depan hidung, lalu duduk bersila di lantai yang beralaskan permadani berbulu tebal dan sangat halus buatannya.

   "Ada apa, Prajurit?"

   Tanya Wirapati, Panglima Tertinggi Kerajaan Karang Setra.

   "Ampun, Gusti. Hamba datang menghadap un-tuk memberi laporan,"

   Sahut prajurit muda itu sambil memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

   "Katakan saja,"

   Selak Danupaksi meminta.

   "Di depan, ada dua orang utusan hendak ber-temu Gusti Prabu Rangga Pati Permadi. Mereka dua orang punggawa dari Kerajaan Ringgading, ingin memberi tahu kalau yang lain sudah ada di luar perbatasan. Kedatangan mereka hanya dipimpin seorang pa-tih, tanpa ada seorang pun panglima perang,"

   Sahut prajurit muda itu, menjelaskan panjang lebar.

   Semua yang ada di ruangan Balai Sema Agung saling melemparkan pandang.

   Sementara, Danupaksi memutar tubuhnya berbalik dan kembali duduk di singgasana.

   Sedangkan prajurit muda itu merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung, memberikan sembah setelah Danupaksi duduk di singgasana.

   "Perintahkan mereka masuk,"

   Perintah Danupaksi, dengan nada dibuat tegas.

   "Hamba, Gusti,"

   Sahut prajurit muda itu seraya memberi sembah.

   *** Danupaksi memandangi dua orang punggawa Kerajaan Ringgading yang datang ke Balai Sema Agung.

   Mereka diantar prajurit penjaga gerbang istana yang tadi melaporkan kedatangan kedua punggawa itu.

   Kedua punggawa itu masih berusia muda, dan mungkin sebaya dengan Danupaksi.

   Bukan saja Da-nupaksi yang mengamati, tapi juga Ki Lintuk, Panglima Rakatala, Wirapati, dan Cempaka.

   Mereka terus memandangi kedua punggawa berusia muda yang du-duk tepat di tengah-tengah, menghadap Danupaksi yang tetap duduk di singgasana.

   "Silakan, jika ada yang ingin disampaikan,"

   Ujar Danupaksi, mempersilakan. Tangannya dijulurkan ke depan, dengan telapak menghadap ke atas. Ramah se-kali sikapnya, tidak jauh berbeda dengan Rangga yang sebenarnya Raja Karang Setra.

   "Terus terang, sebenarnya kami datang hendak menghadap Gusti Prabu Rangga. Tapi...,"

   Salah seorang punggawa mulai membuka suara, tapi kemudian memutuskan ucapannya.

   "Aku memang bukan Gusti Prabu Rangga. Aku hanya adiknya yang diberi kekuasaan penuh untuk mewakili, selama Gusti Prabu bepergian,"

   Kata Danupaksi memberi tahu. Kedua punggawa itu saling melemparkan pan-dangan, kemudian sama-sama memberi sembah den-gan merapatkan kedua telapak tangan di depan hi-dung. Sedangkan Danupaksi hanya mengangkat tan-gan kanannya sedikit saja.

   "Maafkan kami, Gusti. Terpaksa kami tidak bi-sa mengatakan apa pun juga. Kami hanya menjalan-kan perintah, dan harus langsung bertemu Gusti Pra-bu Rangga Pati Permadi. Sekali lagi, kami mohon maaf,"

   Ucap punggawa itu lagi seraya memberi sembah hormat "Maaf, Punggawa...,"

   Selak Wirapati.

   "Gusti Prabu Rangga atau Gusti Danupaksi sama saja. Jika tidak ada Gusti Prabu Rangga di istana ini, maka Gusti Danupaksi lah yang menduduki singgasana. Dan itu ke-percayaan langsung dari Gusti Prabu Rangga. Jadi kalau ada sesuatu, Gusti Danupaksi lah yang menanga-ninya langsung, selama Gusti Prabu Rangga tidak berada di istana ini."

   "Tapi, kami tetap tidak bisa menyampaikannya. Maafkan, kami terpaksa harus kembali dan menunggu sampai Gusti Prabu Rangga ada di istana,"

   Kata punggawa muda itu lagi, masih bersikap hormat.

   Setelah berkata begitu, kedua punggawa Kera-jaan Ringgading memberi sembah.

   Kemudian, mereka bangkit berdiri, dan kembali memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

   Setelah memberi salam penghormatan, mereka memu-tar tubuhnya dan melangkah keluar dan ruangan Balai Sema Agung.

   "Tidak ada seorang pun yang mencegah keper-gian kedua punggawa itu. Bahkan Danupaksi sendiri hanya diam saja memandangi. Sementara, Cempaka sudah bangkit berdiri dan hendak mengejar kedua punggawa itu. Tapi baru saja kakinya terayun bebera-pa langkah, Danupaksi sudah keburu mencegahnya.

   "Biarkan mereka pergi, Cempaka."

   "Tapi, Kakang.... Sikap mereka sudah menghina dan merendahkanmu,"

   Selak Cempaka, terdengar agak berang.

   "Benar, Gusti Danupaksi. Jelas sekali kalau kedua punggawa itu tidak memandang sebelah mata pun juga. Mereka telah menghina Gusti Danupaksi. Ki-ta harus menyerang mereka untuk membalas penghi-naan ini!"

   Sambut Wirapati sambil bangkit berdiri dari kursinya.

   *** Sementara itu Rangga dan Pandan Wangi su-dah tidak lagi berada di angkasa bersama Rajawali Putih.

   Sepasang pendekar muda digdaya itu kini sudah tidak jauh lagi dari perbatasan.

   Mereka bisa melihat jelas tenda-tenda berwarna putih yang berdiri tidak jauh di luar perbatasan Kerajaan Karang Setra.

   Sebuah bendera berukuran besar berlambang Kerajaan Ring-gading berada di tengah-tengah tenda yang berdiri membentuk lingkaran itu.

   Sementara itu di dalam perbatasan, terlihat pa-ra prajurit sudah bersiaga penuh, bagaikan hendak menghadapi perang besar saja.

   Mereka semua sudah menyandang senjata lengkap.

   Bahkan sudah membuat benteng-benteng pertahanan di sekitar perbatasan.

   Tampak Wirapati yang merupakan Panglima Perang Tertinggi Kerajaan Karang Setra, begitu gagah duduk di atas punggung kuda dengan pakaian perangnya.

   "Kenapa jadi begini, Kakang...?"

   Desis Pandan Wangi seperti bertanya pada diri sendiri. Rangga hanya diam saja seperti tidak menden-gar.

   "Pasti ada kesalahpahaman,"

   Kata Pandan Wangi lagi.

   Nada suaranya terdengar agak menggu-mam.

   Tapi, Pendekar Rajawali Sakti masih saja diam.

   Malah pandangan matanya sedikit pun tidak berkedip ke arah dua kekuatan yang sudah sama-sama siaga penuh.

   Mereka seperti sudah siap-siap, tinggal me-nunggu perintah saja dari masing-masing pemimpin-nya.

   "Kita harus segera mencegah sebelum terjadi peperangan, Kakang. Lihat saja! Masing-masing sudah siap akan perang,"

   Kata Pandan Wangi lagi sambil menunjuk ke arah dua kekuatan yang sudah sama-sama siap-siap, bagai hendak berperang.

   "Hm...,"

   Rangga hanya menggumam saja perlahan.

   Pendekar Rajawali Sakti masih tetap berdiri tegak di atas puncak sebuah bukit yang tidak begitu tinggi, tidak jauh dari gerbang perbatasan Kerajaan Karang Setra.

   Dari atas puncak bukit ini, memang bisa jelas memandang ke perbatasan itu.

   Tapi, tidak mungkin bagi mereka yang berada di perbatasan itu untuk bisa melihat sampai ke puncak bukit yang begitu lebat ditumbuhi pepohonan.

   Melihat Rangga hanya diam saja dengan mata tidak berkedip, Pandan Wangi jadi tidak sabar.

   Dan baru saja kakinya hendak terayun menuruni bukit ini, tapi cepat sekali Rangga sudah mencekal pergelangan tangannya.

   Terpaksa, si Kipas Maut itu tidak jadi menuruni bukit ini.

   Kepalanya berpaling, langsung menatap tajam bola mata Pendekar Rajawali Sakti.

   "Jangan bertindak gegabah, Pandan,"

   Kata Rangga, agak mendesis suaranya.

   "Tapi...,"

   Suara Pandan Wangi terputus.

   "Percayalah, tidak akan terjadi sesuatu. Seperti katamu tadi, mereka pasti hanya salah paham saja,"

   Bujuk Rangga.

   Perlahan Pendekar Rajawali Sakti melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu.

   Dan pandangan matanya kem-bali terarah pada tenda-tenda putih yang membentuk lingkaran, tidak jauh dari perbatasan Kerajaan Karang Setra.

   Kemudian tatapannya beralih pada prajurit Karang Setra yang masih di dalam wilayahnya.

   Kini, terlihat Panglima Wirapati sudah berada tepat di tengah-tengah gerbang perbatasan.

   Berpakaian panglima pe-rang seperti itu, Panglima Wirapati kelihatan sangat gagah.

   Apalagi saat ini menunggang kuda putih yang tinggi dan tegap berotot.

   "Kau harus bertindak cepat, Kakang. Seper-tinya Paman Wirapati sudah siap menyerang,"

   Ujar Pandan Wangi.

   Jelas sekali kalau nada suara si Kipas Maut terdengar mengandung kekhawatiran, saat melihat Panglima Wirapati sudah berada di tengah-tengah gerbang perbatasan.

   Sedangkan puluhan prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris rapi di belakangnya.

   Sementara di sepanjang tembok perbatasan, pasukan panah pun sudah siap melepaskan anak panah di bu-surnya.

   Mereka semua benar-benar sudah siap, dan tinggal menunggu perintah saja.

   Tapi lain halnya para prajurit Kerajaan Ring-gading.

   Tampaknya mereka tidak gentar sedikit pun melihat kekuatan prajurit-prajurit Karang Setra.

   Walaupun mereka juga sudah siap dengan senjata mas-ing-masing, tapi sedikit pun tidak kelihatan kalau benar-benar ingin berperang.

   "Siaaap...!"

   Tiba-tiba saja Panglima Wirapati berteriak lan-tang menggelegar, seraya mengangkat tangan kanan-nya tinggi-tinggi ke atas kepala.

   Teriakannya langsung disambut teriakan gegap-gempita seluruh prajurit yang berada di belakangnya.

   Mereka juga mengangkat tangan kanannya ke atas, sambil mengacungkan senjata masing-masing yang beraneka ragam bentuknya.

   Namun belum juga Panglima Wirapati membe-rikan perintah selanjutnya, mendadak saja....

   "Suiiit...!"

   "Khraaagkh...!"

   Begitu terdengar siulan nyaring melengking, seketika itu juga terdengar suara serak dan keras, bagai hendak membelah bukit.

   Begitu kerasnya, sehingga bumi jadi bergetar bagaikan diguncang gempa.

   Dan saat itu juga, dari angkasa terlihat seekor burung rajawali berbulu putih keperakan meluncur turun den-gan kecepatan bagai kilat.

   "Hah...?!"

   Panglima Wirapati jadi terbeliak setengah mati begitu melihat burung rajawali raksasa tiba-tiba saja muncul.

   Burung itu melayang dekat di atas pucuk pepohonan.

   Sayapnya yang lebar terus mengepak, mem-buat sekitar perbatasan Kerajaan Karang Setra bagaikan dilanda badai.

   Angin akibat kepakannya memang sangat dahsyat.

   Hanya sebentar saja, sudah banyak pepohonan yang tumbang.

   Debu dan daun-daun kering berham-buran terhembus angin kepakan sayap burung rajawa-li raksasa itu.

   Dan kemunculan burung itu membuat seluruh prajurit Karang Setra jadi terperanjat setengah mati.

   Bahkan para prajurit Kerajaan Ringgading juga terlongong bengong.

   Walaupun pernah melihat burung rajawali raksasa itu sebelumnya, tapi tetap saja ke-munculannya membuat mereka tercengang setengah mati.

   "Suiiit...!"

   "Khraaagkh...!"

   Begitu terdengar siulan yang panjang melengk-ing, burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu langsung melesat tinggi ke angkasa.

   Begitu cepat-nya, sehingga dalam sekejap mata saja sudah lenyap tak terlihat lagi, tertelan awan tebal bergulung-gulung di langit.

   Dan semua prajurit yang ada di sekitar perbatasan itu masih terlongong bengong, memandang ke angkasa.

   Padahal, burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah tidak terlihat lagi.

   *** Sementara itu dari atas bukit, Pandan Wangi menyaksikan semua kejadian yang cepat tadi dengan mata tidak berkedip.

   Sungguh tidak disangka kalau Rangga akan bertindak begitu cepat mencegah Pangli-ma Wirapati menyerang para prajurit Kerajaan Ring-gading.

   Dan memang, kemunculan Rajawali Putih tadi, telah membuat panglima itu jadi terlongong seperti orang kebanyakan minum arak.

   Sehingga bagai tidak menyadari kalau dirinya berpakaian panglima perang.

   "Kau tetap di sini, Pandan. Jangan perlihatkan diri dulu,"

   Kata Rangga sambil menepuk pundak si Kipas Maut "Eh...?! Kau akan ke mana...?"

   Tanya Pandan Wangi tersentak kaget.

   Tapi baru saja pertanyaan Pandan Wangi sele-sai diucapkan, Rangga sudah melesat begitu cepat bagai kilat.

   Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh-nya, sehingga dalam waktu sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak terlihat lagi.

   Dan Pandan Wangi, walaupun sudah seringkali meli-hat kehebatan Pendekar Rajawali Sakti, masih juga berdecak kagum terhadap kepandaian pendekar yang juga kekasihnya itu.

   Meskipun kepandaiannya tidak bisa dikatakan rendah, tapi bila dibandingkan dengan Rangga, rasanya masih terlalu jauh untuk bisa me-nyamai.

   Pandan Wangi tidak bisa lagi berlama-lama mengagumi Pendekar Rajawali Sakti, karena penden-garannya yang tajam mendengar langkah kaki kuda dari arah belakang.

   Dan begitu tubuhnya berbalik, ta-hu-tahu di puncak bukit ini Rangga sudah kembali, duduk di punggung seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah.

   Kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu mendengus-dengus sambil mengangguk-anggukkan kepa-la, begitu Rangga menarik tali kekangnya agar berhenti tepat di depan Pandan Wangi.

   Sementara, gadis itu masih berdiri mematung, memandangi Rangga seperti tidak percaya.

   Karena ba-ru beberapa saat saja Pendekar Rajawali Sakti pergi, dan kini sudah kembali lagi bersama Dewa Bayu.

   Kuda itu memang bukan kuda sembarangan, tapi merupakan pemberian dewa dari kahyangan pada Adipati Arya Permadi, ayah kandung Pendekar Rajawali Sakti.

   Binatang itu juga tidak bisa ditandingi kuda-kuda manapun di seluruh jagat raya ini.

   Kecepatan larinya melebihi kilat.

   Jadi tidak heran kalau Rangga bisa me-manggil Dewa Baru dari Istana Karang Setra ke pun-cak bukit ini dalam waktu singkat sekali.

   Tapi, hal itu tetap saja membuat Pandan Wangi tercengang kagum, walaupun sudah seringkali melihat kehebatan Pende-kar Rajawali Sakti dan Kuda Dewa Bayu ini.

   "Kau jangan ke mana-mana, Pandan. Tunggu saja di sini,"

   Ujar Rangga tanpa turun dari punggung kudanya.

   "Lalu, kau sendiri mau ke mana?"

   Tanya Pandan Wangi.

   "Aku akan menemui Patih Gandaraka,"

   Sahut Rangga.

   Kening Pandan Wangi jadi berkerut.

   Sedangkan kelopak matanya terlihat menyipit, memandangi Pen-dekar Rajawali Sakti yang masih saja duduk di punggung Dewa Bayu.

   Sungguh sejak tadi belum disadari kalau Pendekar Rajawali Sakti kini sudah berganti pakaian.

   Pakaiannya tidak lagi biasanya seperti setiap kali mengembara, tapi kini layaknya seorang raja.

   Keterpanaan Pandan Wangi pun semakin men-dalam.

   Rangga kelihatan sangat tampan mengenakan pakaian seperti itu.

   Dia yakin, pasti tidak akan ada seorang pun yang bisa mengenalinya lagi sebagai Pendekar Rajawali Sakti.

   Benar-benar lain dari yang selama ini dikenalnya.

   Tapi pedang yang tersampir di punggung pemuda itulah yang membuat Pandan Wan-gi langsung bisa mengenalinya.

   Karena, tidak ada satu pun pedang di jagat raya ini yang menyamai Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

   "Aku pergi dulu, Pandan,"

   Pamit Rangga.

   Pandan Wangi hanya mengangguk saja.

   Se-dangkan Rangga sudah memutar kudanya berbalik, dan langsung cepat menggebahnya.

   Kuda hitam ber-nama Dewa Bayu itu berlari bagaikan kilat, seakan-akan keempat kakinya yang kokoh tidak menyentuh tanah.

   Begitu cepatnya berlari, sehingga dalam waktu sebentar saja sudah lenyap tidak terlihat lagi, meninggalkan debu yang membumbung ke angkasa.

   "Hm.... Apa yang akan dilakukannya nanti...?"

   Gumam Pandan Wangi bertanya sendiri dalam hati.

   *** Saat itu, Rangga terus memacu cepat kudanya menuruni lereng bukit.

   Sengaja diambilnya jalan memutar, sehingga sampai pada bagian belakang perke-mahan para prajurit Kerajaan Ringgading.

   Pendekar Rajawali Sakti baru menghentikan lari kudanya, setelah benar-benar dekat dengan perkemahan prajurit da-ri Kerajaan Ringgading itu.

   "Hup!"

   Dengan gerakan indah dan ringan sekali, Rang-ga melompat turun setelah kuda hitamnya berhenti.

   Tepat begitu kakinya menjejak tanah, dua orang prajurit melihatnya.

   Dan mereka langsung menghampiri dengan senjata tombak tergenggam erat di tangan kanan.

   Rangga hanya berdiri saja sambil memegangi tali kekang kudanya.

   Ditunggunya sampai kedua prajurit itu dekat.

   "Hm...."

   Kening Rangga berkerut melihat kedua prajurit itu langsung menghunuskan tombaknya.

   Bahkan ujung mata tombak itu hampir menempel di dada Rangga yang bidang dan tegap berotot Namun belum juga prajurit-prajurit itu membuka suara, dari dalam salah satu tenda keluar Patih Gandaraka.

   Laki-laki berusia separuh baya itu tampak terkejut begitu melihat Rangga dihadang dua orang prajuritnya dengan ujung mata tombak hampir menempel di dada.

   "Mundur kalian...!"

   Bentak Patih Gandaraka.

   Mendengar bentakan pemimpinnya, kedua pra-jurit itu segera bergerak mundur beberapa langkah.

   Mereka langsung menggeser ke samping, dan mem-bungkuk begitu Patih Gandaraka melewati.

   Patih Kerajaan Ringgading itu langsung mem-bungkukkan tubuhnya sambil merapatkan kedua tela-pak tangan di depan dada, begitu tiba di depan Rang-ga.

   Kemudian laki-laki setengah baya itu merendahkan dirinya dan berlutut dengan tangan masih merapat di depan dada.

   Melihat pemimpinnya bersikap begitu hormat pada pemuda ini, kedua prajurit itu jadi ter-longong bengong.

   Cepat-cepat mereka menekuk kaki, dan berlutut mengikuti sikap Patih Gandaraka.

   "Maafkan atas kelancangan penyambutan ke-dua prajurit hamba, Gusti Prabu. Mereka memang be-lum mengenal Gusti Prabu sebenarnya,"

   Ucap Patih Gandaraka, penuh rasa hormat.

   "Bangunlah, Paman Patih,"

   Sambut Rangga sambil memberi senyum.

   "Ampunkan hamba, Gusti Prabu,"

   Ucap Patih Gandaraka lagi, seraya memberi sembah.

   Perlahan kemudian patih itu bangkit berdiri.

   Sementara kedua prajurit yang tadi menodongkan tombak ke dada Pendekar Rajawali Sakti masih tetap berlutut dengan kepala tertunduk.

   Mereka seperti menyesal atas sikapnya tadi, karena memang belum mengenal pemuda tampan yang datang bersama kuda hi-tamnya ini.

   "Kalian juga, Prajurit. Bangunlah...,"

   Pinta Rangga.

   "Hamba, Gusti Prabu,"

   Sahut kedua prajurit itu berbarengan, sambil memberi sembah.

   Kemudian, mereka bangkit berdiri dan kembali merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

   Tombak yang tadi tergenggam di tangan, dibiarkan tergeletak di atas tanah.

   Rangga mengayunkan kakinya.

   Dipungutnya kedua tombak itu, lalu diberikannya pa-da kedua prajurit ini.

   "Kalian tidak perlu meninggalkan senjata,"

   Kata Rangga.

   "Ampunkan hamba, Gusti Prabu,"

   Sahut kedua prajurit itu sambil menerima tombaknya kembali, kemudian memberikan sembah lagi.

   "Kalian kembali ke tempat tugas,"

   Perintah Patih Gandaraka.

   "Hamba, Gusti Patih."

   Kedua prajurit itu segera berlalu, setelah mem-beri penghormatan pada Pendekar Rajawali Sakti dan Patih Gandaraka.

   Setelah kedua prajurit itu kembali ke tempat tugasnya, Patih Gandaraka mengajak Pendekar Rajawali Sakti masuk ke dalam tendanya.

   Tanpa menolak sedikit pun juga, diikutinya ayunan kaki Patih Gandaraka.

   Sementara Dewa Bayu telah ditambatkan pada sebatang pohon yang tumbang.

   "Maafkan atas kedatangan kami yang seperti ini, Gusti Prabu,"

   Ucap Patih Gandaraka, setelah berada dalam tendanya yang dijaga empat orang prajurit bersenjatakan tombak dan pedang di pinggang.

   Rangga dan Patih Gandaraka duduk bersila, beralaskan permadani tebal dan halus.

   Pendekar Ra-jawali Sakti hanya tersenyum saja menerima permin-taan maaf Patih Kerajaan Ringgading ini.

   "Kau datang bersama sepasukan prajurit, se-pertinya hendak menjarah negeri orang saja. Pasti ada alasannya, kenapa sampai membawa begitu banyak prajurit, Paman Patih,"

   Kata Rangga dengan nada suara lembut dan berwibawa.

   "Perjalanan yang harus ditempuh sangat pan-jang dan penuh rintangan, Gusti Prabu...."

   "Jangan panggil seperti itu, Paman,"

   Selak Rangga memutuskan ucapan Patih Gandaraka.

   "Tapi..."

   "Aku memang sengaja mengenakan pakaian se-perti ini agar prajuritmu mudah mengenali. Tapi, nya-tanya sama saja. Maaf, nanti aku akan mengganti pakaian,"

   Kata Rangga.

   "Dan, sebaiknya kau panggil saja aku Rangga. Jangan Gusti Prabu."

   "Baiklah. Aku akan memanggilmu Dimas Rang-ga,"

   Sahut Patih Gandaraka.

   "Itu lebih baik, Paman,"

   Sambut Rangga diiringi senyum lebar. Patih Gandaraka memang tidak bisa menolak. Apalagi, dia sudah tahu pula watak Raja Karang Setra, yang juga berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu.

   "Nah, sekarang katakan. Apa alasanmu keluar dari wilayah Kerajaan Ringgading dengan membawa prajurit berjumlah besar seperti ini,"

   Pinta Rangga.

   "Terpaksa, Dimas,"

   Sahut Patih Gandaraka.

   "Terpaksa...?!"

   Kening Rangga berkerut dalam.

   Dipandanginya kedua bola mata laki-laki sepa-ruh baya yang duduk bersila di depannya.

   Seakan, dia ingin mencari jawaban pasti dan sepasang bola mata redup dan memerah itu.

   Tapi, memang sulit.

   Dan Rangga tidak menemukan apa pun di sana, kecuali sorot mata yang redup tanpa cahaya, seperti kehilangan gairah hidup lagi.

   Dan itu tentu saja membuat berba-gai macam dugaan berkecamuk dalam benak Pendekar Rajawali Sakti.

   "Ceritakan yang jelas, Paman,"

   Pinta Rangga la-gi "Baiklah...,"

   Desah Patih Gandaraka.

   *** "Sebenarnya, aku tidak ingin mengganggu para sahabat Kerajaan Ringgading.

   Tapi semua ini terpaksa kulakukan.

   Sudah beberapa kerajaan kudatangi, tapi tak ada satu pun yang sanggup.

   Dan sekarang, tinggal satu harapanku.

   Kalau ini juga tidak berhasil, entah apa lagi yang akan kulakukan,"

   Suara Patih Gandaraka terdengar pelahan sekali. Bahkan terasa agak tersen-dat, seperti menanggung sebuah beban yang teramat berat untuk disandangnya.

   "Sebenarnya, apa yang terjadi di sana, Paman? Sampai-sampai harus meninggalkan kerajaan begini jauh..,"

   Tanya Rangga ingin tahu.

   Di dalam benaknya, Pendekar Rajawali Sakti sudah menduga, pasti telah terjadi sesuatu di Kerajaan Ringgading.

   Mustahil Patih Gandaraka meninggalkan kerajaan itu bersama sejumlah besar prajurit, kalau tidak terjadi apa-apa.

   Terlebih lagi, setelah mendengar penuturan yang baru sedikit tadi.

   Rangga sudah bisa menebak, dan teramat yakin kalau telah terjadi sesuatu yang sangat besar di Kerajaan Ringgading.

   "Kau memang harus tahu, Dimas Rangga. Ka-rena, tinggal kaulah satu-satunya harapanku,"

   Kata Patih Gandaraka, seraya mengangkat kepalanya. Langsung ditatapnya bola mata Pendekar Rajawali Sakti yang duduk bersila di hadapannya.

   "Hm...,"

   Rangga hanya menggumam kecil saja.

   "Malapetaka besar telah terjadi di Kerajaan Ringgading. Seseorang berwajah buruk, persis seekor kodok, telah menguasai singgasana. Dia sangat kejam. Bahkan setiap hari harus memakan daging manusia. Minumnya juga darah manusia yang masih segar...,"

   Patih Gandaraka mulai menceritakan keadaan di Kerajaan Ringgading.

   Sementara Rangga hanya diam saja, menden-garkan penuh perhatian.

   Terlihat jelas sekali kalau keningnya berkerut semakin dalam.

   Dugaannya memang tepat sejak tadi.

   Telah terjadi sesuatu yang sangat besar di Kerajaan Ringgading.

   Tapi, sungguh tidak disangka kalau bencana itu benar-benar besar.

   Tidak ada lagi bencana yang terbesar bagi sebuah kerajaan, se-lain runtuhnya singgasana.

   Terlebih lagi, kalau singgasana sampai diduduki orang lain yang tidak berhak.

   "Semula, Gusti Prabu Gading Anom masih bisa bertahan, dengan memberi tawanan-tawanan untuk menjadi santapan Siluman Muka Kodok. Tapi setelah tidak ada lagi tawanan yang bisa dikorbankan, terpaksa rakyat harus jadi korban. Dan ini membuat Gusti Prabu Gading Anom tidak bisa bertahan lagi,"


Api Dibukit Menoreh Karya Sh Mintardja Pendekar Rajawali Sakti Kembang Karang Hawu Kesatria Berandalan Karya Ma Seng Kong

Cari Blog Ini