Ceritasilat Novel Online

Siluman Muka Kodok 2


Pendekar Rajawali Sakti Siluman Muka Kodok Bagian 2



Sambung Patih Gandaraka. Dan Rangga masih tetap diam mendengarkan kelanjutannya.

   "Gusti Prabu Gading Anom benar-benar sudah tidak tahan lagi. Hingga akhirnya, beliau pergi dari istana dengan membawa satu pasukan prajurit dan dua puluh pengawal pribadi. Seluruh keluarganya ikut dalam pelarian itu. Beruntung, Siluman Muka Kodok tidak mengejar. Lalu, Gusti Prabu memerintahkan ham-ba untuk mencari bantuan. Maka hamba terpaksa membawa seluruh prajurit yang tersisa, karena Siluman Muka Kodok tidak lagi memilih-milih orang untuk santapannya. Sudah banyak prajurit yang menjadi korban kebiadabannya, sambung Patih Gandaraka la-gi.

   "Di mana Gusti Prabu Gading Anom sekarang berada?"

   Tanya Rangga ingin tahu.

   "Di Pertapaan Sangkalima,"

   Sahut Patih Gandaraka.

   "Hm...,"

   Rangga menggumam panjang.

   Pendekar Rajawali Sakti tahu, pertapaan itu masih termasuk wilayah Kerajaan Ringgading.

   Dan di sana memang aman bila untuk tempat persembunyian sementara.

   Tapi, bukannya tidak mustahil kalau Siluman Muka Kodok bisa juga mengetahui dan menda-tanginya ke sana.

   "Maaf, Paman. Bukankah Ringgading memiliki jago-jago persilatan yang tangguh dan berilmu tinggi. Apakah mereka tidak sanggup menandingi Siluman Muka Kodok. Sampai-sampai Gusti Prabu harus men-gungsi. Dan kau sendiri pun harus pergi jauh, hanya untuk meminta bantuan,"

   Kata Rangga bernada hati-hati, agar tidak menyinggung perasaan patih ini.

   "Sudah berulang kali jago silat Ringgading mencoba melawan. Tapi, tidak satu pun yang berhasil. Bahkan mereka menjadi korban kebuasannya. Silu-man Muka Kodok sangat sakti dan sukar sekali ditandingi, Dimas Rangga. Tubuhnya juga tidak mempan senjata tajam apa pun bentuknya. Benar-benar kebal dia. Bahkan juga memiliki ilmu suara yang sangat dahsyat. Sebuah bukit batu bisa diruntuhkannya hanya dengan suaranya saja"

   Sahut Patih Gandaraka menjelaskan, tanpa ada rasa tersinggung sedikit pun juga.

   "Begitu tangguhkah...?"

   Desis Rangga.

   "Bukan hanya jago-jago silat Ringgading yang sudah mencoba, tapi juga dari rimba persilatan. Dan ternyata mereka hanya mengantarkan nyawa saja me-nantang Siluman Muka Kodok,"

   Lanjut Patih Gandaraka.

   "Hm..., gumam Rangga lagi. Sementara, Patih Gandaraka tidak berbicara lagi. Dia terdiam dengan sorot mata tertuju lurus ke wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti. Sepertinya, dia sedang menunggu ke-sanggupan pemuda itu untuk mengusir Siluman Muka Kodok dari Kerajaan Ringgading. Bahkan kalau perlu, melenyapkan untuk selama-lamanya.

   "Berapa kekuatannya?"

   Tanya Rangga, setelah cukup lama terdiam.

   "Maksud, Dimas...?"

   Patih Gandaraka meminta penjelasan.

   "Orang-orang yang berada di belakangnya."

   "Dia hanya seorang diri saja, Dimas"

   "Seorang diri...?"

   "Benar. Hanya seorang diri."

   "Dan sampai saat ini belum ada seorang pun yang bisa mengenyahkannya...?"

   Jelas sekali kalau nada suara Rangga seperti tidak percaya.

   Hanya seorang diri ternyata orang yang berjuluk Siluman Muka Kodok bisa menaklukkan sebuah kerajaan yang bisa dikatakan cukup besar.

   Kalau memang benar demikian, tentulah orang itu tidak bisa lagi diukur tingkat kepandaiannya.

   Meskipun sulit dipercaya, tapi Rangga yakin kalau Patih Gandaraka berkata yang sesungguhnya.

   Dia tahu betul, patih itu tidak pernah berkata dusta.

   Terlebih lagi dalam menghadapi persoalan yang begini besar.

   "Hm, dia datang dari mana?"

   Tanya Rangga lagi.

   Patih Gandaraka menggelengkan kepala beberapa kali sambil menghembuskan napas panjang-panjang.

   Sedangkan Rangga juga menarik napas panjang, dan menghembuskannya kuat-kuat.

   Dari gelengan kepala Patih Gandaraka, bisa diketahui kalau tidak ada seorang pun yang mengetahui asal-usul Siluman Muka Kodok.

   "Sudah berapa lama hal ini berlangsung?"

   Tanya Rangga lagi, setelah cukup lama terdiam.

   "Entahlah, Dimas. Mungkin sudah lebih dari tiga purnama. Aku tidak bisa mengingatnya lagi dengan pasti,"

   Sahut Patih Gandaraka.

   "Berapa orang korbannya setiap hari?"

   "Dua atau tiga orang. Bahkan bisa sampai lima orang lebih, kalau sedang marah."

   "Hm...,"

   Kembali Rangga menggumam.

   Dan keadaan pun kembali sunyi senyap.

   Tidak ada lagi yang membuka suara.

   Masing-masing tengah disibuki oleh pikirannya.

   Tapi dari sorot mata Patih Gandaraka, jelas sekali kalau kesediaan Pendekar Rajawali Sakti sangat diharapkan untuk mengusir Siluman Muka Kodok dari Kerajaan Ringgading selama-lamanya.

   Rangga sendiri masih tetap diam membisu dengan kening berkerut cukup dalam.

   Entah apa yang ada dalam benaknya.

   "Baiklah, Paman. Aku akan secepatnya datang ke sana. Mudah-mudahan saja singgasana Gusti Prabu Gading Anom bisa kurebut kembali,"

   Kata Rangga me-nyanggupi, setelah terdiam membisu cukup lama.

   "Oh, terima kasih.... Terima kasih, Dimas,"

   Ucap Patih Gandaraka, langsung berbinar bola matanya.

   Rangga hanya tersenyum saja sedikit.

   *** Rangga berdiri tegak di tengah-tengah padang rumput yang cukup luas, di tengah-tengah hutan yang rapat oleh pepohonan.

   Sementara tidak jauh di sebelah kanan Pendekar Rajawali Sakti, berdiri Pandan Wangi.

   Gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu hanya memandangi saja.

   Sementara, Rangga terus berdiri tegak dengan kepala menengadah memandang langit.

   "Suiiit...!"

   Siulan yang bernada aneh dan sangat panjang melengking tinggi, terdengar menyakitkan telinga.

   Pandan Wangi sampai tersentak kaget, dan cepat-cepat menutup telinga dengan telapak tangan.

   Dia tahu, Rangga sedang memanggil Rajawali Putih.

   Seekor bu-rung rajawali raksasa berbulu putih keperakan yang menjadi tunggangan Pendekar Rajawali Sakti.

   Bahkan dari burung rajawali itu juga semua ilmu olah kanuragan dan kedigdayaan diperolehnya.

   "Suiiit...!"

   "Khraaagkh...!"

   Pendekar Rajawali Sakti tersenyum begitu te-linganya mendengar suara yang serak, meskipun ma-sih terdengar kecil dan jauh sekali.

   Dan senyum yang menghiasi bibirnya semakin lebar saat terlihat sebuah titik berkilat keperakan tengah melayang bagai kilat di angkasa.

   Dan semakin lama, titik keperakan itu semakin terlihat jelas bentuknya.

   "Khraaagkh...!"

   Rangga melambaikan tangannya, setelah Raja-wali Putih sudah terlihat jelas dan dekat.

   Burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu langsung mendarat sekitar dua batang tombak di depan Rangga.

   Meskipun bertubuh besar, tapi gerakannya sangat ringan.

   Sedikit pun tak ada getaran saat cakar-cakar Rajawali Putih menyentuh tanah.

   Kepakan sayapnya yang lebar, membuat beberapa pohon tumbang seketi-ka terkena hempasan anginnya yang luar biasa keras.

   "Khrrr...!"

   "Maaf, aku terpaksa mengganggu istirahatmu lagi, Rajawali,"

   Ucap Rangga seraya melangkah mendekati.

   "Khrrrkh...!"

   Rajawali Putih hanya mengkirik kecil.

   "Kita tidak punya banyak waktu, Rajawali. Secepatnya harus sampai di Ringgading,"

   Kata Rangga begitu dekat dengan burung rajawali raksasa itu.

   "Khrkh...!"

   "Hup!"

   Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti.

   Sehingga hanya sekali genjotan saja, sudah meluncur naik dan hinggap di punggung Rajawali Putih.

   Langsung ditatapnya Pandan Wangi yang masih saja berdiri mematung di tempat semula.

   Walaupun sudah seringkali berjumpa, bahkan sudah beberapa kali menunggangi, tapi tetap saja Pandan Wangi mempunyai suatu perasaan yang sulit diartikan pada burung rajawali raksasa ini.

   Dan gadis itu juga selalu merasa takut kalau harus menunggan-ginya.

   Belum pernah hatinya merasa tenang kalau sudah mengangkasa bersama Rangga dan Rajawali Putih.

   "Ayo, Pandan. Kau ingin ikut tidak..,?"

   Ajak Rangga.

   Pandan Wangi masih saja diam, dan seperti ra-gu-ragu untuk mengikuti Pendekar Rajawali Sakti.

   Ta-pi dalam hatinya, sedikit pun tidak terbetik kerelaan kalau Rangga berjalan sendiri menghadapi maut di Kerajaan Ringgading.

   Rangga memang sudah menceritakan semua hasil pembicaraannya dengan Patih Gandaraka.

   Pan-dan Wangi sendiri sempat terperanjat mendengarnya, dan hampir-hampir tidak percaya.

   Perlahan Pandan Wangi mengayunkan kakinya menghampiri Rangga yang sudah berada di punggung Rajawali Putih.

   Gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu kembali menghentikan ayunan kakinya, setelah jarak-nya tinggal sekitar satu tombak lagi dari Rajawali Putih.

   "Cepat, Pandan. Kita tidak punya banyak wak-tu,"

   Desak Rangga mulai tidak sabar.

   "Hup!"

   Beberapa saat Pandan Wangi masih terdiam mematung, kemudian melompat ringan.

   Lalu tubuh-nya hinggap di punggung Rajawali Putih, tepat di de-pan Rangga.

   Gadis itu langsung duduk dan menceng-keram bulu punggung Rajawali Putih yang besar dan tebal ini.

   "Ayo, Rajawali. Gunakan kecepatan penuh, ka-rena kita harus segera sampai di Ringgading,"

   Ajak Rangga.

   "Khraaagkh...!"

   Wusss! Tepat di saat matahari sudah condong ke Barat, Rangga dan Pandan Wangi yang menunggang Rajawali Putih sudah sampai di angkasa Kerajaan Ringgading.

   Dari ketinggian di atas awan seperti ini, masih terlalu sulit untuk bisa melihat jelas.

   Hanya atap-atap bangunan dan pepohonan saja yang bisa terlihat.

   Itu pun kelihatannya kecil-kecil sekali.

   "Kau terbang terlalu tinggi, Rajawali. Lebih dekat lagi...!"

   Seru Rangga, meminta.

   "Khragkh...!"

   Rajawali Putih segera merendahkan jarak ter-bangnya, sehingga Rangga bisa melihat jelas keadaan Kotaraja Kerajaan Ringgading.

   Sesaat, kening Pendekar Rajawali Sakti jadi berkerut.

   Kota yang sangat besar itu kelihatan sangat sunyi, seperti tidak berpenghuni.

   Tidak seorang pun juga yang terlihat, kecuali anjing-anjing liar dan binatang-binatang yang berkeliaran di jalan-jalan kota ini.

   "Turun di sana, Rajawali!"

   Teriak Rangga sambil menunjuk sebuah padang rumput yang ada di sebelah Timur Kotaraja Kerajaan Ringgading.

   "Khraaagkh...!"

   Sungguh cepat Rajawali Putih melesat.

   Hingga dalam sekejap saja sudah mendarat lunak di pinggir padang rumput yang tidak jauh dengan perbatasan ko-taraja sebelah Timur.

   Rangga langsung melompat tu-run dari punggung Rajawali Putih.

   Pandan Wangi juga bergegas mengikuti, turun dari punggung burung rajawali raksasa ini.

   "Kau boleh pergi, Rajawali. Tapi jangan terlalu jauh,"

   Ujar Rangga sambil menepuk kaki burung rajawali raksasa tunggangannya.

   "Khrrrkh...!"

   "Hm.... Jangan terlalu mencemaskan aku, Ra-jawali,"

   Ujar Rangga seakan-akan bisa mengerti kekhawatiran yang ditunjukkan Rajawali Putih melalui suaranya yang mengkirik lirih.

   Kepala burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu bergerak menggeleng perlahan beberapa kali.

   Sementara, Rangga memperhatikan dengan kening berkerut.

   Pandan Wangi juga memperhatikan tingkah Rajawali Putih, tapi terlalu sulit baginya untuk bi-sa mengerti.

   Dan memang, hanya Rangga saja yang bi-sa mengerti.

   "Baiklah, Rajawali. Kau boleh mengawasi dari angkasa. Tapi jangan bertindak apa pun sebelum ku-minta,"

   Kata Rangga akhirnya.

   "Khrrr..,!"

   "Pergilah...."

   "Khraaagkh...!"

   Hanya sekali saja mengepakkan sayapnya, Ra-jawali Putih sudah melambung tinggi ke angkasa.

   Sementara, Rangga langsung mengajak Pandan Wangi memasuki Kotaraja Kerajaan Ringgading.

   Tidak ada seorang prajurit pun yang menjaga pintu gerbang sebelah Timur ini.

   Namun begitu, Rangga meminta Pandan Wangi untuk selalu berhati-hati.

   Sedikit Pendekar Rajawali Sakti mendongakkan kepalanya ke atas, maka tampak Rajawali Putih masih di atas awan.

   Memang kelihatan kecil sekali, bahkan terkadang menghilang tertutup awan.

   "Sepertinya kau tidak senang Rajawali terus mengikutimu, Kakang,"

   Kata Pandan Wangi.

   "Jangan berkata begitu, Pandan. Dia bisa men-dengar semua yang kau katakan,"

   Sahut Rangga sambil mendongakkan kepala ke atas.

   "Khraaagkh...!"

   Dari angkasa terdengar suara serak yang san-gat nyaring melengking tinggi.

   "Apa kubilang, dia bisa mendengar,"

   Kata Rangga.

   Pandan Wangi hanya mengangkat bahunya sa-ja, lalu terus mengayunkan kakinya mengikuti langkah Rangga dari sebelah kanan.

   Sementara, mereka sudah memasuki Kotaraja Kerajaan Ringgading.

   Memang sangat sunyi keadaannya.

   Tidak satu pun manusia yang dijumpai sejak melewati gerbang masuk ke kota ini.

   Bahkan tidak satu rumah pun di sepanjang jalan ini yang membuka pintu atau jendela.

   Benar-benar seperti sebuah kota mati yang tidak lagi berpenghuni.

   "Sepi sekali...,"

   Desah Pandan Wangi pelan sekali.

   Hampir tidak terdengar suaranya.

   Sedangkan Rangga hanya diam saja, seolah-olah tidak mendengar ucapan Pandan Wangi tadi.

   Diam-diam Pendekar Rajawali Sakti menggunakan ilmu kesaktian aji 'Pembeda Gerak dan Suara', sebuah ilmu yang bisa menajamkan pendengaran.

   Bahkan bisa memilah-milah suara yang diinginkan untuk didengar jelas.

   Tanpa disadari, sejak tadi Pandan Wangi terus mem-perhatikan.

   Gadis itu tahu, Pendekar Rajawali Sakti sedang mengerahkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara'.

   "Ada yang kau dapatkan, Kakang?"

   Tanya Pandan Wangi ingin tahu.

   "Hm...,"

   Rangga hanya menjawab dengan gu-maman kecil saja.

   Tiba-tiba saja, Pendekar Rajawali Sakti meng-hentikan langkahnya.

   Pandan Wangi juga langsung berhenti melangkah di samping kanan pemuda tampan berbaju rompi putih ini.

   Tampak Rangga memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.

   Dan....

   "Hap!"

   Begitu cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti mengibaskan tangannya.

   Dan tahu-tahu, dalam geng-gaman tangan pemuda itu sudah ada sebatang tongkat berukuran cukup panjang berwarna putih bagai terbuat dari perak.

   Sedikit kakinya bergeser ke belakang.

   Sementara, Pandan Wangi langsung memegang senjata kipas mautnya, walaupun belum tercabut dari balik ikat pinggangnya.

   "Hati-hati, Pandan. Tampaknya kedatangan ki-ta sudah diketahui,"

   Kata Rangga memperingatkan.

   "Hm,"

   Pandan Wangi hanya menggumam saja.

   Suasana terasa begitu sunyi dan mencekam.

   Sedikit pun tak terdengar suara yang mencurigakan, kecuali desir angin saja yang mengusik telinga.

   Sementara, perlahan-lahan Rangga mengayunkan kakinya ke depan.

   Sorot matanya begitu tajam memandangi sekitarnya.

   Sedangkan Pandan Wangi tetap diam di tempat dengan sikap penuh kewaspadaan.

   "Hiyaaa...!"

   "Yeaaah...!"

   "Hup!"

   Rangga cepat melompat ke belakang mendekati Pandan Wangi, begitu tiba-tiba dari balik dinding rumah dan atap bermunculan orang-orang.

   Mereka lang-sung saja mengepung kedua pendekar muda dari Ka-rang Setra itu di tengah-tengah jalan.

   Sebentar saja sudah tidak ada lagi celah bagi Rangga dan Pandan Wangi untuk bisa meloloskan diri.

   Sekelilingnya sudah terkepung tidak kurang dari tiga puluh orang yang semuanya menggenggam sebatang tongkat berwarna pu-tih.

   "Selamat datang di wilayah kami, Kisanak dan Nisanak!"

   Rangga dan Pandan Wangi langsung berpaling, dan mendongak ke atas begitu mendengar sambutan keras dan menggelegar menyakitkan telinga.

   Tampak di atas atap sebuah rumah berdiri seorang laki-laki tua berjubah panjang dan longgar berwarna putih bersih.

   Di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat yang juga berwarna putih, persis dengan tongkat para pengepung dua orang pendekar muda dari Karang Setra ini."

   "Mengapa kalian. menghadang perjalanan ka-mi?"

   Tanya Rangga dengan suara lantang.

   "Seorang anak buahku yang lolos mengatakan kalau si Tongkat Bintang Perak lumpuh. Dan itu gara-gara seekor rajawali raksasa berbulu putih. Aku yakin, burung sialan itu milikmu. Karena dari ciri-cirimu, aku tahu kau adalah Pendekar Rajawali Sakti. Dan hanya seorang pendekar yang memiliki rajawali seperti itu, yaitu kau sendiri!"

   Dengus laki-laki tua berjubah putih itu.

   "Apa maksudmu, Ki...?"

   Tanya Rangga, pura-pura tidak mengerti.

   "Kau tidak berhak bertanya, Bocah!"

   Bentak orang tua itu kasar. Hup!"

   Sungguh ringan gerakan orang tua itu saat me-lompat turun dari atas atap.

   Tanpa menimbulkan sua-ra sedikit pun, kakinya mendarat tepat sekitar satu batang tombak lagi di depan Rangga.

   Gerakannya sangat cepat, indah, dan ringan, pertanda memiliki ilmu me-ringankan tubuh yang sangat tinggi.

   Tentu kepan-daiannya juga sangat tinggi, jika melihat dari caranya mengerahkan ilmu meringankan tubuh tadi.

   "Dan sekarang, aku menuntut balas atas kema-tian muridku!"

   Dengus orang tua berjubah putih itu, ketus.

   "Hm...,"

   Rangga hanya menggumam saja sedikit "Lihat sekelilingmu, Pendekar Rajawali Sakti.

   Semua muridku tidak akan segan-segan mencincang-mu!" *** Bukan hanya Rangga saja yang terkejut.

   Bah-kan Pandan Wangi juga jadi tersentak setengah mati begitu mendengar ancaman orang tua berjubah putih ini.

   "Kau harus membayar mahal nyawa muridku, Pendekar Rajawali Sakti. Sebaiknya menyerah saja, sebelum murid-muridku kuperintahkan mencincangmu!"

   Terasa dingin sekali nada suara orang tua berjubah putih itu.

   "Tunggu dulu...!"

   Sentak Rangga begitu orang tua berjubah putih itu sudah mengangkat tangan kanannya yang menggenggam tongkat.

   "Ada apa lagi, Pendekar Rajawali Sakti?"

   "Kaukah yang bernama Ki. Sadewa, Ketua Ge-rombolan Tongkat Putih...?"

   Tanya Rangga ingin memastikan.

   "Benar! Aku memang Ki Sadewa, Ketua Gerom-bolan Tongkat Putih. Dan mereka adalah murid-muridku yang sudah terlatih baik untuk mencincang orang-orang macam kau...!"

   Tegas Ki Sadewa.

   "Sebentar, Ki. Kau salah paham. Justru mu-ridmulah yang hendak merampok rombongan dari Ke-rajaan Ringgading,"

   Rangga mencoba menjelaskan dengan singkat.

   "Hm.... Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Pendekar Rajawali Sakti?"

   Dan belum juga Rangga menjelaskan, tiba-tiba saja....

   "Ghrrrogkh...!"

   "Heh...?! Apa itu...?!"

   Sentak Pandan Wangi terkejut.

   Bukan hanya Pandan Wangi saja yang tersen-tak kaget.

   Rangga, Ki Sadewa, dan murid-muridnya ju-ga jadi terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja terdengar suara menggorok yang sangat keras.

   Saat itu juga, terlihat wajah Ki Sadewa jadi berubah menegang.

   Bahkan semua muridnya kelihatan gelisah.

   "Bersembunyi kalian semua. Cepaaat...!"

   Seru Ki Sadewa lantang menggelegar kepada murid-muridnya.

   Belum juga hilang perintah Ketua Gerombolan Tongkat Putih itu, semua muridnya langsung berlarian mencari tempat persembunyian.

   Bahkan saat itu juga, rumah-rumah yang semula pintunya tertutup rapat langsung terbuka, memberi kesempatan masuk pada murid-murid Ki Sadewa.

   Sebentar saja, sudah tidak terlihat lagi murid-murid Gerombolan Tongkat Putih itu.

   Dan di tengah jalan ini tinggal Rangga, Pandan Wangi, dan Ki Sadewa saja.

   Sementara, perlahan-lahan Ki Sadewa menarik kakinya ke tepi jalan, lalu....

   "Hup!"

   "Heh...?!"

   Rangga jadi tersentak kaget, begitu tiba-tiba Ki Sadewa melesat cepat.

   Dan belum juga Pendekar Ra-jawali Sakti bisa mencegah, bayangan tubuh Ketua Gerombolan Tongkat Putih itu sudah tidak terlihat lagi.

   Kini, tinggal kedua pendekar muda dari Karang Setra saja yang masih berada di tengah-tengah jalan.

   Sementara, sekelilingnya begitu sunyi.

   Tak seorang pun yang terlihat lagi di luar rumah.

   Sedangkan semua pintu dan jendela rumah yang ada di sepanjang kiri dan kanan jalan ini tidak ada yang terbuka.

   "Ada apa dengan mereka, Kakang...?"

   Tanya Pandan Wangi, agak menggumam suaranya.

   Seperti bertanya pada diri sendiri.

   Namun Rangga tidak menjawab pertanyaan si Kipas Maut itu.

   Dia sendiri tidak mengerti melihat Ki Sadewa dan murid-muridnya.

   Mereka langsung pergi bersembunyi begitu mendengar suara menggorok tadi.

   Sedangkan suara itu hanya sekali saja terdengar.

   Dan kini sudah menghilang entah ke mana.

   Entah dari ma-na suara itu datang.

   Belum juga Rangga dan Pandan Wangi bisa mengerti, mendadak....

   "Aaa...!"

   "Heh...?! Hup...!" *** Rangga langsung melesat cepat bagai kilat, be-gitu terdengar jeritan panjang yang melengking tinggi. Sementara, Pandan Wangi masih terpaku sesaat, lalu bergegas melesat mengikuti Pendekar Rajawali Sakti. Langsung dikerahkannya ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi.

   "Oh...?!"

   Rangga jadi tersedak begitu melihat sebuah ke-pala manusia tergeletak di depan sebuah rumah.

   Da-rah berceceran di mana-mana.

   Tidak jauh dari kepala itu, tergeletak sebuah kaki yang masih mengucurkan darah segar.

   Belum juga Rangga bisa berbuat sesuatu, Pandan Wangi sudah berada di sampingnya.

   Gadis itu juga terkejut setengah mati melihat kepala buntung dan sebuah kaki tergeletak di halaman sebuah rumah kecil.

   "Ghrooogkh...!"

   "Heh...?!"

   Tepat ketika terdengar suara menggorok serak, terlihat sebuah bayangan berkelebat begitu cepat keluar dari dalam rumah melalui atap.

   Begitu cepatnya berkelebat, sehingga hanya sekilas saja Rangga bisa melihat.

   Dan bayangan itu kini sudah lenyap dalam sekejap mata saja.

   "Kau tunggu di sini, Pandan,"

   Kata Rangga.

   "Kau mau...?"

   "Hup!"

   Belum juga Pandan Wangi selesai bertanya, Rangga sudah melesat begitu cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai ke-sempurnaan.

   Begitu sempurna ilmu meringankan tu-buhnya sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan mata.

   Sementara, Pandan Wangi hanya bi-sa diam terpaku tanpa dapat berbuat sesuatu.

   Belum juga Pandan Wangi bisa berbuat sesua-tu, tiba-tiba saja murid-murid Gerombolan Tongkat Putih sudah bermunculan.

   Bahkan ada beberapa orang di atas atap yang mengarahkan panah terpasang di busur ke arah si Kipas Maut ini.

   Pandan Wangi jadi kelabakan sendiri.

   Sementara, Rangga pergi entah ke mana.

   Pendekar Rajawali Sakti tadi mengejar bayangan yang berkelebat cepat, keluar dari dalam rumah ini.

   Perlahan Pandan Wangi memutar tubuhnya, dan langsung menatap tajam Ki Sadewa yang melangkah perlahan-lahan menghampiri.

   "Mau apa kalian,..?!"

   Sentak Pandan Wangi.

   "Aku terpaksa harus menahanmu, Nisanak,"

   Sahut Ki Sadewa.

   "Heh...?! Apa salahku?!"

   Tapi pertanyaan Pandan Wangi tidak ada yang menjawab.

   Ki Sadewa sudah menjentikkan ujung jari tangannya.

   Maka saat itu juga empat orang muridnya berlompatan maju sambil memutar-mutar tambang.

   Namun belum juga keempat murid Gerombolan Tong-kat Putih menyerang, mendadak...

   "Khraaagkh...!"

   Wusss! "Eh?! Apa itu...?!"

   Sentak Ki Sadewa terkejut.

   Bukan hanya Ki Sadewa saja yang terkejut Pandan Wangi juga terperanjat setengah mati.

   Sungguh tidak disangka kalau Rajawali Putih yang memang sejak tadi mengawasi dari angkasa bisa melihat keadaannya yang tidak menguntungkan ini.

   Dan begitu cepat burung rajawali itu menukik turun, lalu me-nyambar si Kipas Maut dengan sepasang cakarnya yang kuat, sebelum Ki Sadewa dan murid-muridnya bisa berbuat sesuatu.

   Bagaikan kilat, Rajawali Putih membawa ter-bang Pandan Wangi dalam cengkeramannya.

   Dalam sekejapan mata saja, burung rajawali itu sudah kembali melambung tinggi ke angkasa.

   Sementara, Pandan Wangi langsung memejamkan matanya, tidak sanggup melihat ke bawah dalam keadaan tubuh menghadap ke bumi seperti ini.

   "Rajawali, turunkan, aku...!"

   Teriak Pandan Wangi.

   "Khragkh...!"

   Rajawali Putih kembali meluruk deras dengan kecepatan bagai kilat.

   Sehingga membuat jantung Pandan Wangi seakan hendak copot rasanya.

   Gadis itu benar-benar tidak kuasa membuka matanya.

   Dan matanya baru dibuka saat kakinya terasa menyentuh tanah.

   Saat Rajawali Putih melepaskan cengkeramannya, Pandan Wangi langsung jatuh terguling.

   Cepat-cepat gadis itu melompat bangkit berdiri.

   Sementara Rajawali Putih sudah mendekam di depannya.

   "Kau tidak perlu berbuat begitu, Rajawali. Aku bisa mengatasi mereka!"

   Dengus Pandan Wangi sambil mengibaskan kotoran tanah yang melekat di bajunya.

   "Khrrr...!"

   "Sudah! Aku tidak mengerti apa yang kau kata-kan,"

   Sentak Pandan Wangi kesal.

   Gadis cantik itu langsung mengedarkan pan-dangan berkeliling.

   Saat itu, keningnya jadi berkerut.

   Ternyata Rajawali Putih membawanya ke tempat yang belum dikenalnya sama sekali.

   Sebuah tempat sangat indah, bagaikan berada di dalam sebuah taman istana.

   Pandan Wangi tidak tahu, di mana kini berada.

   Yang jelas, dia seperti merasa tidak lagi berada di dalam wilayah Kerajaan Ringgading.

   Sebentar kemudian gadis itu sudah menatap Rajawali Putih yang masih mendekam dengan kepala agak tertunduk ke bawah.

   "Di mana ini, Rajawali?"

   Tanya Pandan Wangi. Namun Rajawali Putih tidak menjawab perta-nyaan si Kipas Maut itu. Bahkan tiba-tiba saja sudah mengepakkan sayapnya, dan langsung melesat ke angkasa.

   "Hei, tunggu...!"

   Seru Pandan Wangi terkejut.

   Tapi Rajawali Putih sudah melambung tinggi, dan terus melesat cepat bagai kilat meninggalkan gadis can-tik berjuluk si Kipas Maut itu.

   Sebentar saja, burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah tidak terlihat lagi.

   "Edan...! Apa maksudnya meninggalkan aku di sini...?"

   Dengus Pandan Wangi menggerutu sendiri.

   "Huh!"

   Pandan Wangi tidak sempat lagi memikirkan sikap Rajawali Putih yang membuat kesal hatinya.

   Kembali pandangannya beredar ke sekeliling.

   Kelopak matanya jadi menyipit begitu melihat sebuah bangunan kecil dari batu berbentuk puri, terletak di sudut dari taman ini.

   "Hm....."

   Baru saja Pandan Wangi mengayunkan kakinya beberapa langkah hendak mendekati puri kecil itu, mendadak saja dari balik pepohonan bermunculan orang-orang berseragam prajurit Kerajaan Ringgading.

   Mereka langsung berlompatan, dan mengepungnya.

   Sret! Pandan Wangi langsung mencabut kipas maut-nya, dan membukanya di depan dada.

   Sementara, lebih dari tiga puluh orang berpa-kaian seragam prajurit Kerajaan Ringgading sudah rapat mengepungnya dengan senjata tombak dan pedang terhunus.

   Saat itu, dari dalam puri muncul seorang laki-laki berusia separuh baya, didampingi empat orang laki-laki tua.

   Semuanya mengenakan jubah warna kuning gading, dengan kepala gundul.

   Mereka langsung menghampiri Pandan Wangi yang sudah siap dengan kipas maut terkembang di depan dada.

   "Kaukah Pandan Wangi yang berjuluk si Kipas Maut..?"

   Tanya laki-laki separuh baya berpakaian indah merah muda dari bahan sutera halus, begitu de-kat dengan gadis yang berjuluk si Kipas Maut.

   "Benar,"

   Sahut Pandan Wangi singkat.

   "Aku Prabu Gading Anom...."

   "Oh...." *** Pandan Wangi baru menyadari kalau kini bera-da di dalam lingkungan Pertapaan Sangkalima. Cepat-cepat kipas mautnya ditutup lagi, dan langsung berlutut seraya merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung, begitu tahu kalau laki-laki separuh baya yang berada di depannya adalah Prabu Gading Anom. Dan belum lama gadis itu berlutut memberi sembah, Prabu Gading Anom sudah menyentuh pundaknya. Segera dibawanya si Kipas Maut itu berdiri lagi.

   "Maafkan atas sambutan yang tidak enak ini, Nini Pandan,"

   Ucap Prabu Gading Anom.

   "Ah...,"

   Pandan Wangi hanya bisa mendesah sa-ja.

   Pandan Wangi memang tidak mampu lagi men-geluarkan kata-kata.

   Sungguh tidak diketahuinya kalau Rajawali Putih membawanya ke Pertapaan Sangka-lima.

   Dari Rangga, gadis itu tahu kalau Prabu Gading Anom sementara bersembunyi di pertapaan ini, selama Siluman Muka Kodok masih menguasai istananya.

   "Kau datang tidak bersama Prabu Rangga, Nini Pandan?"

   Tanya Prabu Gading Anom.

   "Ada sedikit peristiwa yang membuat kami ter-pisah,"

   Sahut Pandan Wangi.

   Tanpa diminta lagi, si Kipas Maut menceritakan semua yang terjadi begitu dia dan Rangga sampai di Kotaraja Kerajaan Ringgading.

   Sementara, Prabu Gading Anom terangguk-angguk mendengarkan semua ke-jadian yang dialami sahabat-sahabatnya.

   Bahkan Pandan Wangi juga menceritakan ten-tang kedatangan Patih Gandaraka dan prajurit-prajuritnya ke Karang Setra.

   Tapi, sekarang ini mereka semua sudah diterima baik.

   Bahkan tidak lagi harus berkemah di luar perbatasan.

   Atas perintah Rangga, Danupaksi mengatur tempat beristirahat untuk Patih Gandaraka dan para prajuritnya, sampai Siluman Muka Kodok terusir dari Istana Kerajaan Ringgading.

   "Aku gembira mendengar Patih Gandaraka dan prajurit-prajuritku sudah aman di Karang Setra. Ah..., sulit sekali mengucapkan terima kasih pada Prabu Rangga,"

   Ucap Prabu Gading Anom.

   "Demi persahabatan, aku dan Kakang Rangga sudah bertekad mengusir Siluman Muka Kodok. Bah-kan kalau perlu, melenyapkan untuk selama-lamanya,"

   Tegas Pandan Wangi.

   "Aku percaya kau dan Prabu Rangga pasti mampu mengalahkannya. Yaaah..., memang tidak ada lagi yang bisa kuharapkan selain kalian berdua. Kalian bukan saja orang utama di Karang Setra, tapi juga pendekar-pendekar muda yang tangguh dari digdaya. Rasanya, tidak ada seorang pun yang bisa menandingi kesaktian Prabu Rangga sekarang ini,"

   Puji Prabu Gading Anom.

   "Ah...! Gusti Prabu terlalu berlebihan,"

   Desah Pandan Wangi, langsung memerah wajahnya, mendapat pujian tulus seperti itu.

   "Aku tidak berlebihan. Tapi, ini memang kenyataan, Nini."

   Pandan Wangi hanya bisa tersenyum saja.

   Se-mentara dia sendiri merasa bukanlah apa-apa bila saja tidak bersama-sama Pendekar Rajawali Sakti.

   Tapi kepandaian yang dimiliki Pandan Wangi juga tidak bisa dikatakan rendah.

   Terlebih lagi, kalau sudah berta-rung mengeluarkan Pedang Naga Geni.

   Kehadirannya bagaikan malaikat maut yang siap mencabut nyawa.

   Tidak sedikit tokoh persilatan yang mengaguminya.

   Dan memang, semua orang mengakui kalau Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut merupakan pasangan yang sangat pas.

   Mereka sama-sama masih muda, dan berkepandaian sangat tinggi.

   Sementara Prabu Gading Anom mengajak si Ki-pas Maut berjalan-jalan di sekitar taman Pertapaan Sangkalima ini.

   Dan ajakan itu tidak bisa ditolak Pandan Wangi.

   Dia berjalan di samping kanan laki-laki separuh baya yang masih kelihatan gagah ini.

   Sementa-ra, empat orang pertapa yang tadi menyertai Prabu Gading Anom keluar, sudah masuk lagi ke dalam puri.

   Bahkan para prajurit yang tadi sempat mengepung Pandan Wangi pun sudah tidak terlihat lagi.

   Kini di dalam taman itu hanya ada Pandan Wangi dan Prabu Gading Anom saja.

   "Sunyi sekali di sini...,"

   Desah Pandan Wangi agak menggumam.

   "Memang. Aku sengaja membuatnya sunyi agar Siluman Muka Kodok tidak curiga,"

   Sahut Prabu Gading Anom.

   "Aku juga tidak ingin ada perubahan yang menyolok di sini. Tempat ini sengaja kupertahankan seperti apa adanya."

   "Berapa lama lagi Gusti Prabu akan tinggal di sini?"

   Tanya Pandan Wangi ingin tahu.

   "Secepatnya aku pergi dari sini, setelah Prabu Rangga bisa mengusir Siluman Muka Kodok dari istanaku,"

   Sahut Prabu Gading Anom.

   "Rasanya Ringgading memiliki prajurit tangguh. Juga banyak jago silat tangguh berada di sini. Tapi, kenapa sampai tidak bisa menandingi Siluman Muka Kodok..?"

   "Sudah berulangkali dicoba, tapi memang Si-luman Muka Kodok sangat tangguh. Bukan hanya ke-pandaiannya saja yang sangat tinggi, tapi juga kebal terhadap segala jenis senjata. Dia juga sangat ganas. Setiap hari, selalu mengambil korban untuk disantap."

   "Hanya iblis neraka yang bisa berbuat begitu,"

   Desis Pandan Wangi, gusar.

   "Dia memang iblis, Nini Pandan. Entah datang dari mana, tahu-tahu sudah ada di istana. Bahkan membantai puluhan prajurit. Akibatnya juga, aku kehilangan banyak panglima dan jago silat istana. Dia hanya seorang diri, tapi kekuatannya melebihi seribu prajurit,"

   Kata Prabu Gading Anom.

   "Hebat..."

   Desis Pandan Wangi memuji dengan tulus.

   Tapi di balik pujiannya yang tulus, terselip rasa khawatir dalam hatinya.

   Gadis cantik ini takut kalau-kalau Rangga tidak sanggup menghadapinya seorang diri.

   Dari semua yang diceritakan Prabu Gading Anom tentang Siluman Muka Kodok, sudah bisa dinilai kalau kepandaiannya sangat tinggi.

   Bahkan Pandan Wangi juga sudah bisa mengukur kalau dirinya sendiri tidak akan sanggup menandingi.

   Tapi, apakah Pendekar Rajawali Sakti mampu menandingi kesaktian yang dimili-ki Siluman Muka Kodok...? Kekhawatiran semakin dalam menyelimuti hari si Kipas Maut itu.

   Dia tahu, Rangga tadi meninggalkannya karena mengejar bayangan yang berkelebat cepat, keluar dari dalam rumah rakyat Ringgading.

   Dan dari cerita Prabu Gading Anom, Pandan Wangi sudah bisa menebak kalau bayangan yang dikejar Rangga pastilah Siluman Muka Kodok.

   Juga kepala dan kaki yang ada di luar rumah itu, pastilah salah satu korbannya.

   Mengingat itu, Pandan Wangi semakin diliputi kecemasan akan nasib Pendekar Rajawali Sakti.

   Entah kenapa, hatinya begitu cemas.

   Dan ini tidak pernah dirasakan sebelumnya.

   "Dewata Yang Agung..., lindungi Kakang Rang-ga dari bencana,"

   Desah Pandan Wangi dalam hati.

   *** Sementara itu Rangga sudah tiba di depan ger-bang Istana Kerajaan Ringgading.

   Sekilas masih sempat terlihat kalau bayangan hitam yang dikejarnya menghilang setelah masuk ke dalam istana yang dikelilingi tembok benteng tinggi dan kokoh ini.

   Pendekar Rajawali Sakti hendak melanjutkan pengejarannya, dan langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling.

   Diamatinya keadaan sekitar.

   Terasa sangat sunyi.

   Tidak terlihat seorang pun di sekitarnya.

   Begitu sunyi, bagaikan berada di tengah-tengah padang pasir yang sangat luas tak bertepi.

   Hanya desir angin saja yang terdengar, menggesek dedaunan.

   "Patih Gandaraka mengatakan, Siluman Muka Kodok hanya seorang diri, Hm.... Bagaimanapun juga aku harus hati-hati. Mungkin banyak jebakan di sekitar istana ini,"

   Gumam Rangga berbicara sendiri.

   Kembali Rangga merayapi keadaan sekitarnya.

   Sedikit pun tidak tampak adanya tanda-tanda jebakan di sekitar istana ini.

   Perlahan kakinya terayun beberapa tindak, mendekati pintu gerbang yang tertutup rapat.

   Pendekar Rajawali Sakti menggumam perlahan.

   Dan rasanya tidak mudah menjebol pintu gerbang yang terbuat dari besi baja ini.

   Kalaupun bisa, pasti akan menimbulkan keributan.

   Dan Siluman Muka Ko-dok dengan mudah bisa mengetahui kehadirannya.

   "Aku harus melompati tembok ini,"

   Gumam Rangga dalam hati. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti mengamati ketinggian tembok batu yang mengelilingi bangunan istana ini. Beberapa saat kemudian...

   "Hup!"

   Bagaikan kapas, Rangga melesat tinggi ke uda-ra. Begitu indah dan ringan gerakannya. Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti berputaran di udara, lalu manis sekali hinggap di bibir atas tembok.

   "Ups...!"

   Cepat Rangga memalingkan mukanya sambil menutup hidung, begitu bau busuk langsung menyer-gap lubang hidungnya.

   Sungguh tidak sedap peman-dangan di dalam lingkungan benteng istana ini.

   Tu-lang-tulang tengkorak manusia berserakan di mana-mana.

   Bahkan tidak sedikit mayat yang sudah mem-busuk bergelimpangan.

   Siluman Muka Kodok benar-benar membuat keadaan Istana Ringgading menjadi tempat pembantaian manusia.

   Entah berapa ratus orang sudah menjadi korbannya.

   Luasnya halaman is-tana, dipenuhi tulang-tulang tengkorak dan mayat-mayat yang sudah membusuk menyebarkan bau tidak sedap.

   "Hup!"

   Bau busuk yang sangat menusuk, membuat perut Rangga jadi bergolak mual hendak muntah.

   Ce-pat-cepat Pendekar Rajawali Sakti kembali melompat turun, namun jadi agak limbung begitu kakinya menjejak tanah.

   Bau busuk dari mayat-mayat yang berserakan di sekitar istana ini, membuat kepalanya jadi pen-ing.

   "Phuuuh...!"

   Sambil menghembuskan napas panjang, Rang-ga menarik kakinya ke belakang menjauhi istana. ini. Sulit dipercaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Begitu banyak tulang tengkorak berserakan di halaman depan istana.

   "Hhh! Tidak mungkin aku masuk ke sana. Bisa-bisa aku mati karena bau busuk...!"

   Dengus Rangga dalam hati.

   "Hm..., apa akalku sekarang...?"

   Rangga terus memutar otaknya, mencari jalan agar bisa mengusir Siluman Muka Kodok dari Istana Ringgading.

   Untuk masuk ke dalam, memang tidak mungkin lagi.

   Dia yakin, bukan hanya di halaman saja banyak tulang tengkorak dan mayat-mayat membusuk berserakan.

   Di dalam bangunan istana itu pasti juga sudah penuh mayat-mayat membusuk.

   "Aku harus bisa memancingnya keluar. Hm, tapi bagaimana caranya...?"

   Kembali Rangga menggumam bertanya-tanya sendiri dalam hati.

   Pikiran Pendekar Rajawali Sakti benar-benar te-rasa buntu saat ini.

   Tidak tahu lagi, bagaimana caranya bisa bertemu Siluman Muka Kodok.

   Tanpa dis-adari, kepalanya mendongak ke atas.

   Dan begitu melihat Rajawali Putih melayang memutari bangunan ista-na ini, bibirnya jadi menyunggingkan senyum.

   "Suiiit...!"

   Rangga memanggil Rajawali Putih dengan si-ulannya.

   "Khraaagkh...!"

   Rajawali Putih langsung meluruk turun dengan kecepatan bagai kilat. Sebentar saja burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah mendarat, tidak jauh di depan Rangga.

   "Hup!"

   Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga melompat naik ke punggung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu.

   "Rajawali! Aku ingin kau bisa memancing Silu-man Muka Kodok keluar dari istana,"

   Pinta Rangga.

   "Khragkh..."

   Wusss! Tanpa diminta dua kali, Rajawali Putih lang-sung melesat naik ke angkasa.

   Hanya sekali saja sayapnya dikepakkan, sudah melambung sangat tinggi sekali.

   Dari atas, Rangga bisa melihat jelas keadaan dalam lingkungan benteng Istana Ringgading, tanpa khawatir terserang bau busuk dari mayat-mayat yang berserakan di dalam sana.

   Memang benar dugaannya.

   Hampir di setiap pe-losok sudah penuh oleh tulang-tulang tengkorak dan mayat-mayat yang sudah membusuk.

   Sepertinya, tidak ada lagi tempat kosong.

   Istana ini bagaikan sebuah kuburan terbuka, penuh terisi mayat yang bergelimpangan saling tumpang tindih.

   Tapi, sedikit pun tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan.

   Walaupun sudah bersama Rajawali Putih di angkasa, tapi Rangga belum juga bisa mendapatkan cara untuk memancing Siluman Muka Kodok keluar.

   Dan hanya diamatinya saja setiap sudut dari Istana Ringgading ini.

   Sementara, Rajawali Putih terus berputar-putar mengelilingi istana ini.

   "Ke bagian belakang, Rajawali.!"

   Pinta Rangga dengan suara dikeraskan, karena angin di angkasa ini begitu kencang.

   "Khraaagkh...!"

   Rangga menajamkan matanya begitu Rajawali Putih sudah sampai ke bagian belakang Istana Ring-gading.

   Tapi, tidak ada yang bisa didapatkan juga di bagian belakang istana ini.

   Dan baru saja ingin memerintahkan Rajawali Putih ke bagian depan lagi, mendadak saja....

   Slap! "Awas...!"

   "Khraaagkh,..!"

   "Hup...!"

   Cepat sekali Rangga melesat sambil mengi-baskan tangannya, begitu melihat secercah cahaya kuning kemerahan melesat cepat bagai kilat ke arahnya.

   Sementara, Rajawali Putih langsung mengepak-kan sayapnya berusaha menghindari terjangan cahaya kuning kemerahan itu.

   Cahaya kuning kemerahan itu lewat di antara Rajawali Putih dan Rangga yang berputaran di udara sambil mengembangkan kedua tangan ke samping, bagai sepasang sayap burung.

   "Khraaagkh...!"

   Rangga terus meluncur ke bawah sambil berpu-taran karena berusaha menguasai keseimbangan tu-buhnya.

   Melihat hal ini, Rajawali Putih cepat sekali meluruk ke arah pemuda yang selalu mengenakan ba-ju rompi putih itu.

   Namun belum juga sampai, mendadak saja kembali terlihat secercah cahaya kuning kemerahan meluruk deras ke arahnya.

   "Khraaakgh...!"

   Rajawali Putih langsung menarik dirinya, menghindari terjangan cahaya kuning kemerahan itu.

   Sementara, Rangga terus meluruk deras ke bawah dengan tubuh berputaran.

   Meskipun sudah menge-rahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', tapi tetap saja Pendekar Rajawali Sakti meluncur cepat ke bawah.

   "Khraaakgh...!"

   Melihat Rangga sudah tidak bisa lagi mengua-sai keseimbangan dirinya, Rajawali Putih kembali meluruk cepat hendak menyambarnya.

   Dan pada saat itu, cahaya kuning kemerahan kembali terlihat melesat ke arah burung rajawali raksasa itu.

   Namun pada saat yang bersamaan, Rajawali Putih sudah dekat dengan Rangga.

   "Awas, Rajawali...!"

   Seru Rangga memperingatkan.

   "Khrakgh,..!"

   Tapi, Rajawali Putih tampaknya tidak mempe-dulikan peringatan Rangga, dan terus meluruk deras ke arahnya. Sehingga tanpa dapat dihindari lagi, cahaya kuning kemerahan itu tepat menghantam tubuh-nya.

   "Khreeeaaagkh...

   "Oh, tidaak...!"

   Rangga menjerit sekuat-kuatnya begitu Rajawa-li Putih terhantam cahaya kuning kemerahan yang melesat begitu cepat bagai kilat.

   Rajawali Putih menjerit keras sambil menggelepar di udara.

   Namun tanpa diduga sama sekali, burung raksasa berbulu putih keperakan itu masih bisa meluncur deras.

   Langsung dis-ambarnya tubuh Rangga dengan cakarnya yang kuat dan kokoh.

   "Khraaakgh...!"

   Begitu berhasil menyambar tubuh Rangga yang melayang di udara, secepat kilat Rajawali Putih melesat naik ke angkasa. Dan pada saat itu, kembali secercah cahaya kuning kemerahan meluncur cepat bagai kilat ke arah burung rajawali raksasa itu.

   "Hiyaaa...!"

   Sret! Cring! Rangga tidak ingin cahaya kuning kemerahan itu menghantam tubuh Rajawali Putih lagi.

   Dengan cepat sekali, pedang pusakanya dicabut, dan langsung dikibaskan untuk menangkis cahaya kuning kemerahan itu.

   Trang! Glarrr...! Satu ledakan keras menggelegar seketika ter-dengar disertai percikan api yang menyebar ke segala arah, begitu pedang di tangan Rangga beradu dengan cahaya kuning kemerahan yang keluar dari dalam Istana Ringgading ini.

   Tampak Rajawali Putih jadi oleng terbangnya.

   Namun cepat sekali bisa menguasai keseimbangan di-rinya.

   Dan dengan kecepatan bagai kilat, dia meluncur deras sambil membawa Rangga pada cakarnya, menjauhi bangunan istana yang sudah tidak terawat dan dipenuhi tulang tengkorak serta mayat-mayat membusuk itu.

   *** "Hup...!"

   Rangga langsung memutar tubuhnya begitu Ra-jawali Putih melepaskan cengkeraman cakarnya.

   Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti berputaran di udara, lalu manis sekali menjejakkan kakinya di tanah yang berumput cukup tebal ini.

   Sementara itu, Rajawali Putih langsung jatuh tergeletak di tanah.

   Tampak dari paruhnya mengeluarkan darah kental agak kehitaman.

   "Rajawali...."

   Rangga bergegas menghampiri burung tung-gangannya.

   Tampak jelas kalau Rajawali Putih terluka dalam yang cukup parah, akibat terkena serangan sinar kuning kemerahan tadi.

   Dan pada bagian dada, kelihatan menghitam seperti terbakar.

   Rangga cepat-cepat memberi totokan beberapa kali di sekitar bulatan hitam di dada Rajawali Putih.

   "Apa yang kau rasakan rajawali?"

   Tanya Rangga dengan nada dipenuhi kecemasan.

   "Khrrrkh...!"

   Rajawali Putih hanya mengkirik lirih. Kepalanya menggeletak di tanah. Sedangkan sinar matanya kelihatan begitu redup. Darah masih terlihat memenuhi paruhnya, walaupun tidak mengalir lagi seperti tadi.

   "Bertahanlah, Rajawali. Aku akan mencoba menyembuhkan luka dalammu,"

   Ujar Rangga.

   Pendekar Rajawali Sakti langsung duduk bersila di depan Rajawali Putih.

   Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada.

   Perlahan kedua kelopak matanya mulai terpejam.

   Sementara, Rajawali Putih masih tetap menggeletak dengan kepala terkulai lemas di tanah.

   Kedua sayapnya terkembang lemas.

   Burung raksasa itu benar-benar bagai tidak memiliki kekuatan lagi, akibat luka dalam yang diderita.

   "Hap!"

   Begitu kedua kelopak matanya terbuka, Rangga langsung menempelkan kedua telapak tangan, tepat di dada Rajawali Putih.

   Tampak asap tipis mengepul dari sela-sela jari tangan pemuda itu.

   Rajawali Putih mengkirik lirih sambil menggeliat.

   Darah kembali mengucur dari paruhnya yang terbuka.

   Sementara, Rangga terus menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh burung raksasa ini.

   "Hhh!"

   Begitu besarnya hawa murni yang harus dis-alurkan, membuat seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti basah bersimbah keringat.

   Tampak jelas kalau tubuhnya mulai menggeletar.

   Kerut-kerut di keningnya semakin terlihat banyak, dan kelopak matanya pun mulai menyipit.

   Sementara, asap yang mengepul dari sela-sela jari tangannya semakin terlihat menebal.

   Namun, Rangga seperti tidak peduli.

   Meskipun harus mengerahkan seluruh kemampuannya, dia terus menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh Rajawali Putih.

   "Khraaagkh...!"

   Tiba-tiba saja Rajawali Putih mengangkat kepa-lanya, dan seketika itu juga melesat sambil mengeluarkan suara sangat keras. Dan pada saat itu juga, tampak Rangga terpental sejauh dua batang tombak disertai pekikan keras yang melengking.

   "Aaakh...!"

   Sebatang pohon yang sangat besar seketika hancur berkeping-keping terlanda punggung Pendekar Rajawali Sakti.

   Tampak Rangga jatuh bergulingan beberapa kali, namun cepat duduk bersila.

   Beberapa kali kedua tangannya digerakkan di depan dada.

   Lalu sambil menahan napas, kedua telapak tangannya di-rapatkan di depan dada.

   Sementara, Rajawali Putih kembali mendarat di tanah.

   Burung raksasa berbulu putih keperakan itu memuntahkan darah kental dari paruhnya.

   Dia men-dekam memandangi Rangga yang tengah bersemadi untuk mengembalikan tenaganya, setelah terkuras akibat pengerahan hawa murni yang begitu besar ke dalam tubuh Rajawali Putih.

   "Ugkh....! Hoeeekh...."

   Rangga memuntahkan darah segar dari mulutnya.

   Dan saat itu juga, dia jatuh terkulai.

   Keringat semakin banyak membanjiri tubuhnya.

   Namun sebentar kemu-dian, Pendekar Rajawali Sakti kembali bangkit dengan napas tersengal memburu.

   Sedangkan Rajawali Putih segera menyorongkan kepalanya.

   "Khrrr...! "

   "Aku tidak apa-apa, Rajawali,"

   Ujar Rangga seraya tersenyum.

   "Bagaimana denganmu?"

   Rajawali Putih mengangguk-anggukkan kepala sambil mengkirik perlahan.

   Senyuman di bibir Rangga sema-kin terlihat lebar.

   Dia tahu, Rajawali Putih sudah sem-buh dari luka dalamnya, meskipun hampir mengor-bankan dirinya tadi.

   Untung saja Rajawali Putih tadi cepat melesat, sehingga penyaluran hawa murni yang berlebihan bisa dihentikan.

   Kalau tidak..., mungkin saat ini Rangga sendiri sudah tergeletak tak bernyawa lagi.."Uh..."

   Sambil menghembuskan napas panjang, Rang-ga bangkit berdiri.

   Seluruh tubuhnya terasa lemas sekali.

   Dia benar-benar telah begitu banyak kehilangan tenaga.

   Dengan punggung tangan, disekanya keringat yang membanjiri leher.

   Sementara, Rajawali Putih terus mendekam memandangi pemuda itu.

   Di paruhnya yang besar, masih terlihat sisa-sisa darah melekat.

   "Aku akan bersemadi dulu, Rajawali,"

   Kata Rangga sambil melangkah, mendekati sebongkah batu besar yang bagian atasnya datar.

   "Khrrr...!"

   Rangga naik ke atas batu itu, kemudian duduk bersila dan mengambil sikap bersemadi.

   Kedua telapak tangannya diletakkan di atas lututnya yang tertekuk.

   Perlahan kemudian pernafasannya mulai diatur.

   Lalu, kelopak matanya mulai terpejam.

   Sedangkan Rajawali Putih tetap mendekam menunggui.

   Jelas terlihat kalau kelopak mata burung raksasa itu juga terpejam.

   Sepertinya, Rajawali Putih juga melakukan semadi seperti yang sedang dilakukan pemuda yang dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu.

   *** Semalaman penuh, Rangga dan Rajawali Putih bersemadi untuk memulihkan kekuatan tubuh.

   Dan di saat matahari menampakkan diri di ufuk Timur, mere-ka baru bangun dari semadi.

   Rangga segera melompat turun dari atas batu tempat bersemadi, dan menghampiri Rajawali Putih yang sudah berdiri di atas kedua kakinya yang besar dan sangat kokoh.

   "Kau kelihatan segar sekali pagi ini, Rajawali,"

   Kata Rangga diiringi senyuman tebar.

   "Khragkh...!"

   Rajawali Putih menyambutnya dengan cerah.

   Kepalanya diangguk-anggukkan sambil mengepakkan sayapnya yang lebar.

   Rangga menepuk leher burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu, kemudian memeluknya dengan hangat.

   Pagi ini, mereka memang sudah benar-benar pulih seperti semula.

   Wa-laupun semalaman harus bersemadi, tapi sedikit pun tidak terlihat adanya kelelahan di wajah mereka berdua.

   "Kakang...

   "

   "Heh...?!"

   Rangga tersentak kaget ketika tiba-tiba terden-gar suara merdu memanggilnya.

   Cepat-cepat tubuhnya berbalik.

   Tampak Pandan Wangi berlari-lari kecil menghampiri.

   Sedangkan Rangga melangkah beberapa tindak ke depan.

   Pandan Wangi baru berhenti setelah dekat di depan Pendekar Rajawali Sakti.

   Nafasnya terlihat terengah-engah, dan keringat membanjiri leher-nya yang jenjang dan putih.

   Seakan-akan, gadis cantik yang dijuluki si Kipas Maut itu baru saja berlari jauh sekali.

   "Aku cari ke mana-mana, tidak tahunya ada di sini,"

   Ujar Pandan Wangi setelah bisa mengatur jalan pernafasannya.

   "Semalaman aku ada di sini,"

   Sahut Rangga.

   "Kakang..., aku sudah bertemu Prabu Gading Anom,"

   Kata Pandan Wangi langsung memberi tahu.

   "Oh, ya...? Bagaimana keadaannya?"

   Tanya Rangga.

   "Sehat Prabu Gading Anom juga menitipkan sa-lam untukmu. Dia mengharapkan sekali kau bisa mengusir Siluman Muka Kodok dari istana,"

   Jelas Pandan Wangi.

   "Hhh...!"

   Rangga menghembuskan napas panjang, dan terasa sangat berat.

   Pandangannya langsung tertuju ke depan, ke arah Istana Ringgading.

   Kemarin, Pendekar Rajawali Sakti sudah mencoba menyusup masuk ke istana itu.

   Tapi yang didapat, hampir saja dirinya dan Rajawali Putih terbunuh, Sedangkan keadaan di sekitar istana sekarang ini..., rasanya Rangga tidak akan sanggup mengatakan keadaan di dalam istana itu.

   Mayat-mayat yang sudah membusuk dan me-nyebarkan bau yang tidak sedap, membuat perut Pen-dekar Rajawali Sakti jadi bergolak hendak muntah.

   Rasanya tidak ada seorang pun yang akan sanggup menghalau bau busuk dan mayat-mayat yang bersera-kan memenuhi semua bagian istana.

   "Aku dapat pesan dan Prabu Gading Anom, kau ditunggu di depan istana,"

   Kata Pandan Wangi memberi tahu.

   "Heh...?! Mau apa Prabu Gading Anom ke sa-na...?"

   Tanya Rangga tersentak kaget "Mau menyerang Siluman Muka Kodok,"

   Sahut Pandan Wangi kalem.

   "Huh! Dia bukan manusia sembarangan, Pan-dan"

   Dengus Rangga.

   "Tapi sebelum matahari terbit tadi, Prabu Gading Anom sudah berangkat dari Pertapaan Sangkalima bersama para prajuritnya. Dan sekarang ini pasti sudah sampai di istana, Kakang,"

   Jelas Pandan Wangi la-gi.

   "Katanya, dia sudah terlalu banyak mengor-bankan orang tak berdosa pada Siluman Muka Kodok. Dan dia tak mau lagi mengorbankan orang sepertimu, yang sudah begitu baik padanya. Maaf, Kakang. Aku tidak bisa mencegah."

   Rangga tidak berkata apa-apa lagi. Langsung saja Pendekar Rajawali Sakti melompat naik ke punggung Rajawali Putih. Sementara, Pandan Wangi masih tetap berdiri diam memandangi. Dan Rangga juga memandangi gadis itu dengan sinar mata sangat dalam.

   "Ayo cepat, Pandan. Aku tidak punya waktu lagi untuk membujukmu,"

   Kata Rangga, meminta Pandan Wangi cepat-cepat naik ke punggung Rajawali Putih. Sebentar, Pandan Wangi masih kelihatan ragu-ragu.

   "Ayo cepat, Pandan...,"

   Desak Rangga tidak sabar.

   "Baik. Hup...!"

   Dengan memantapkan hati, Pandan Wangi me-lompat naik ke punggung burung raksasa berbulu pu-tih keperakan ini dan langsung duduk di depan Rang-ga.

   Rajawali Putih segera melesat ke angkasa begitu Rangga menepuk lehernya tiga kali.

   Seketika Pandan Wangi cepat-cepat memejamkan mata, dan saat itu ju-ga jantungnya terasa seperti berhenti berdetak.

   Na-mun, Rajawali Putih terus melesat dengan kecepatan sangat tinggi.

   "Ke istana, Rajawali...!"

   Pinta Rangga.

   "Khraaagkh...!" *** Dari angkasa, terlihat jelas sekali kalau praju-rit-prajurit Ringgading tengah menggempur seseorang yang berbaju hitam ketat. Namun, tampaknya orang itu tidak gentar sama sekali. Bahkan gerakan-gerakannya cepat sekali, sehingga bisa memporak-porandakan gempuran prajurit-prajurit itu. Jerit dan pekik melengking tinggi terdengar sal-ing sambut, disertai berjatuhannya para prajurit Ringgading. Sementara, di luar ajang pertarungan yang tidak seimbang itu, terlihat Prabu Gading Anom seperti gelisah melihat prajurit-prajuritnya tidak mampu menghadapi orang berpakaian serba hitam. Malah se-makin banyak pula prajurit Ringgading yang ambruk tak bernyawa lagi, dengan luka menganga mengelua-rkan darah di tubuh.

   "Cepat turun, Rajawali!"

   Perintah Rangga.

   "Khraaagkh...!"

   Bagaikan kilat, Rajawali Putih menukik turun. Tujuannya langsung ke tengah-tengah ajang pertarungan.

   "Menyingkir kalian semua...!"

   Seru Rangga sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.

   Teriakan Rangga yang begitu keras menggelegar bagai guntur, membuat prajurit-prajurit Ringgading jadi ter-sentak kaget.

   Dan seketika itu juga, mereka berlompatan mundur begitu melihat seekor burung rajawali raksasa menukik sangat cepat bagai kilat Dan di saat Rajawali Putih hampir mencapai tanah, cepat sekali Rangga melompat turun.

   "Hup! Hiyaaa...!"

   "Yeaaah...!"

   Pandan Wangi juga langsung melompat turun.

   Sementara, Rajawali Putih kembali melambung tinggi ke angkasa.

   Beberapa kali pendekar-pendekar muda dari Karang Setra itu berputaran di udara, kemudian manis sekali mendarat tepat sekitar tiga batang tombak di depan laki-laki berbaju serba hitam.

   "Ohh...?!"

   Pandan Wangi langsung tersedak begitu meli-hat wajah orang itu.

   Bukan wajah manusia yang terlihat, tapi wajah yang sangat mirip dengan kodok.

   Bahkan seluruh kulit tubuhnya juga tidak jauh berbeda dengan binatang yang hidup di dua alam itu.

   Benar-benar mengerikan! Kedua bola matanya yang merah, langsung menatap tajam Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri agak ke depan dari Pandan Wangi.

   "Menjauhlah, Pandan,"

   Pinta Rangga dengan suara ditekan agak dalam.

   "Hati-hati, Kakang. Kelihatannya dia sangat ganas,"

   Kata Pandan Wangi memperingatkan.

   "Hm...,"

   Rangga hanya menggumam saja sedikit.

   Pendekar Rajawali Sakti mengayunkan kaki ke depan perlahan-lahan, namun mantap.

   Sementara, Pandan Wangi bergerak menyingkir mendekati Prabu Gading Anom.

   Raja Ringgading itu kini sudah turun dari punggung kudanya, begitu melihat Rangga dan Pandan Wangi datang bersama seekor burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan.

   Kini jarak antara Rangga dan Siluman Muka Kodok tinggal sekitar satu batang tombak lagi.

   Sedikit Rangga memalingkan muka, karena tidak tahan dengan bau busuk yang menyebar dari dengusan napas Siluman Muka Kodok itu.

   Setiap hembusan nafasnya memperdengarkan suara menggorok seperti seekor ka-tak.

   "Ghrogkh! Siapa kau, Anak Muda?"

   Terdengar sangat berat suara Siluman Muka Kodok. Bahkan hampir tidak jelas kata-katanya di telinga.

   "Aku Rangga, yang akan mengusirmu dari Ringgading,"

   Sahut Rangga tegas.

   "Ghrogkh! Ghrooogkh...! Sia-sia saja, Anak Mu-da. Kau hanya datang mengantarkan nyawa seperti yang lain."

   "Lihat saja nanti. Kau atau aku yang akan lebih dulu menghuni lubang kubur."

   "Ghrooogkh...!"

   Siluman Muka Kodok seperti marah mendengar tantangan terbuka dari Pendekar Rajawali Sakti.

   Kedua bola matanya yang merah, semakin terlihat mem-bara, bagai sepasang bola api yang hendak membakar hangus seluruh tubuh pemuda tampan berbaju rompi putih ini.

   Perlahan tubuhnya yang berkulit hitam dan kasar penuh benjolan itu bergerak membungkuk.

   Namun, sorot matanya masih tetap tajam menatap Pen-dekar Rajawali Sakti.

   "Ghrooogkh...!"

   Diiringi suara menggorok keras, bagaikan kilat Siluman Muka Kodok melompat sambil menjulurkan kedua tangannya ke depan. Begitu cepat serangannya, sehingga membuat Rangga jadi terhenyak sesaat "Hup! Yeaaah...!"

   Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara, sehingga terjangan Siluman Muka Kodok hanya lewat di bawah kakinya.

   Tapi tanpa diduga sa-ma sekali, dengan kecepatan tinggi, Siluman Muka Kodok berbalik dan langsung melesat ke udara.

   Langsung dilepaskannya satu pukulan keras, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

   "Ups...!"

   Rangga sempat juga terhenyak kaget. Dan ma-nis sekali tubuhnya meliuk menghindari serangan Siluman Muka Kodok yang sangat cepat luar biasa.

   "Hiyaaa...!"

   Begitu pukulan Siluman Muka Kodok lewat di samping tubuhnya, cepat sekali Rangga meliukkan tubuhnya ke samping. Langsung dilepaskannya satu pu-kulan keras menggeledek dari jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.

   "Ghrogkh...!"

   Namun, Siluman Muka Kodok memang sangat luar biasa kecepatan geraknya. Hanya sedikit saja meliukkan tubuhnya, serangan balasan Pendekar Rajawa-li Sakti berhasil dihindarinya.

   "Hap...!"

   Saat serangannya tidak mencapai sasaran, Rangga cepat-cepat meluruk ke bawah.

   Beberapa kali tubuhnya berputaran di udara, lalu manis sekali menjejakkan kakinya kembali di tanah.

   Tepat pada saat itu, Siluman Muka Kodok sudah mendarat juga dengan indah sekali.

   "Ghrogkh...!"

   Belum juga Rangga bisa melakukan sesuatu, Siluman Muka Kodok sudah kembali melesat dengan kecepatan sangat tinggi. Kedua tangannya terjulur ke depan dengan jari-jari terkembang kaku, siap mener-kam Pendekar Rajawali Sakti "Hap! Yeaaah...!"

   Sedikit Rangga memiringkan tubuhnya ke ka-nan.

   Dan begitu terkaman Siluman Muka Kodok ber-hasil dihindari, cepat sekali tangan kirinya dikibaskan.

   Langsung diberikannya satu sodokan keras ke arah perut, disertai pengerahan tenaga dalam tingkat sempurna.

   Kali ini serangan Pendekar Rajawali Sakti memang sangat cepat luar biasa.

   Akibatnya, Siluman Muka Kodok tidak sempat lagi menghindarinya.

   Terlebih lagi, saat itu tubuhnya tengah doyong ke depan dan seluruh perhatiannya tertumpah pada serangan yang gagal.

   Begkh! "Ghraaagkh...!" *** "Hup! Hiyaaa...!"

   Rangga benar-benar tidak lagi membuang-buang kesempatan.

   Begitu tubuh Siluman Muka Ko-dok terbungkuk akibat sodokan tangan kiri yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi pada perut, cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melompat.

   Langsung dilepaskannya satu tendangan keras menggele-dek yang mengandung pengerahan tenaga dalam ting-gi.

   Begitu cepat sekali serangan yang dilakukan Rangga kali ini, sehingga....

   Diegkh! "Aaargkh...!"

   Siluman Muka Kodok meraung keras menggele-gar begitu wajahnya yang buruk terkena tendangan Pendekar Rajawali Sakti yang keras sekali.

   Akibatnya, dia jadi terdongak ke atas dan ter-huyung ke belakang.

   Dan pada saat itu juga, Rangga cepat sekali melepaskan satu pukulan keras menggeledek dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.

   Begitu sempurna jurus mautnya, sehingga kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti jadi berwarna merah bagai sebatang besi terbakar di dalam tungku.

   "Hiyaaa...!"

   Plak! "Aaargkh...!"

   Untuk kedua kalinya, Siluman Muka Kodok meraung keras menggelegar.

   Pukulan yang dilepaskan Rangga dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' ting-katan terakhir, tepat menghantam dada.

   Dan akibat-nya, laki-laki berwajah seperti seekor katak itu terpental jauh ke belakang.

   Beberapa batang pohon hancur seketika, begitu terlanda tubuhnya yang terus meluncur deras bagai anak panah terlepas dari busur.

   "Hiyaaat..!"

   Belum juga tubuh Siluman Muka Kodok ber-henti, Rangga sudah melesat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai pada ting-kat sempurna.

   Tapi tanpa diduga sama sekali, begitu Rangga melepaskan satu pukulan keras dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir, mendadak saja Siluman Muka Kodok memutar tubuhnya.

   Padahal saat itu tubuhnya masih melayang deras di atas permukaan tanah.

   "Ghrogkh!"

   "Ups...! Yeaaah...!"

   Hampir saja sodokan kaki Siluman Muka Ko-dok mendarat di dada, kalau saja Rangga tidak cepat-cepat melenting dan berputaran di udara, menghindari sodokan yang begitu cepat dan tidak terduga sama se-kali.

   "Hap!"

   Manis sekali Rangga kembali menjejakkan ka-kinya di tanah.

   Sementara, Siluman Muka Kodok su-dah lebih dulu mendarat indah dan ringan sekali, walaupun tadi beberapa kali mendapatkan serangan-serangan telak dari Pendekar Rajawali Sakti.

   Dua kali tubuhnya terkena pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir, tapi sedikit pun tidak berpengaruh apa-apa.

   Dan ini membuat Rangga jadi berkerut keningnya.

   Hampir Pendekar Rajawali Sakti tidak percaya kalau pukulan dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Raja-wali' tingkat terakhir tidak berpengaruh sama sekali terhadap lawan.

   Padahal, biasanya tidak ada seorang lawan pun yang sanggup bertahan jika sudah terkena pukulan dahsyat itu.

   Atau paling tidak, lawan akan menderita luka dalam yang sangat parah.

   Tapi, Siluman Muka Kodok kini masih terlihat berdiri tegak dengan tegar sekali.

   Bahkan bekas-bekas pukulan yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti tadi juga sama sekali tidak terlihat.

   "Hm...,"

   Rangga menggumam perlahan. Cring! "Heh...?!"

   Rangga sempat terkejut ketika Siluman Muka Kodok mengeluarkan senjatanya yang tadi sama sekali tidak terlihat.

   Senjata itu bagaikan keluar dari dalam perutnya saja.

   Sebuah senjata tongkat berukuran pendek, tapi pada kedua ujungnya berbentuk bulat sebesar kepalan tangan.

   Bet! Bet! Begitu Siluman Muka Kodok mengebutkan tongkatnya beberapa kali, dari kedua ujungnya yang bulat terlihat mengeluarkan cahaya kuning kemera-han.

   Sesaat Rangga jadi terkesiap.

   Dia tahu, cahaya itulah yang sempat melukai Rajawali Putih.

   Itu terjadi saat dia dan Rajawali Putih tengah mengamati keadaan Istana Ringgading dari angkasa.

   "Ghrooogkh...!"

   Bet! Sambil mengeluarkan suara menggorok yang sangat keras, Siluman Muka Kodok melompat cepat bagai kilat.

   Langsung tongkatnya dikebutkan ke arah kepala Pendekar Rajawali Sakti.

   Cahaya kuning kemerahan yang memancar dari ujung tongkat berbentuk bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa itu jadi berubah memanjang, bagaikan sepasang mata pedang kembar yang memancarkan cahaya kuning kemera-han.

   "Haiiit...!"

   Cepat-cepat Rangga menundukkan kepalanya, menghindari serangan senjata aneh Siluman Muka Kodok.

   Lalu bergegas dia melompat ke belakang sejauh beberapa langkah.

   Tapi, Siluman Muka Kodok tampaknya tidak ingin memberi kesempatan pada Pende-kar Rajawali Sakti untuk mengatur perlawanan.

   Begitu serangan pertamanya dapat digagalkan, dengan cepat sekali kembali dilakukan serangan-serangan beruntun dan sangat cepat.

   Akibatnya Rangga terpaksa harus berjumpalitan dan meliuk-liukkan tubuhnya menghindari serangan-serangan yang datang beruntun dan sangat cepat luar biasa.

   Wuk! "Hup! Hiyaaat...!"

   Tepat di saat tongkat Siluman Muka Kodok berkelebat mengarah ke kaki, cepat sekali Rangga melenting ke udara.

   Dan tubuhnya berputaran dua kali, sebelum kakinya kembali menjejak tanah.

   Saat itu ju-ga, tangan kanannya sudah memegang gagang Pedang Rajawali Sakti yang masih tersimpan dalam warang-kanya di punggung.

   "Ghrokh...!"

   Bet! "Hiyaaa...!"

   Sret! Wuk! Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti mencabut pedang pusakanya, tepat begitu Siluman Muka Kodok membabatkan tongkatnya dengan kecepatan tinggi se-kali.

   Rangga langsung saja mengebutkan pedangnya, menangkis serangan tongkat yang ujungnya meman-carkan cahaya kuning kemerahan.

   Begitu cepatnya mereka bergerak, sehingga benturan dua senjata yang sangat dahsyat tidak dapat dielakkan lagi.

   Dan....

   Trang! Glarrr...! Satu ledakan keras menggelegar seketika terja-di, begitu dua senjata berpamor dahsyat beradu.

   Tampak Rangga dan Siluman Muka Kodok sama-sama ter-pental ke belakang, sejauh satu batang tombak.

   "Hep!"

   Rangga langsung menyilangkan pedang di de-pan dada, begitu kakinya menjejak tanah dengan ma-nis sekali.

   Cahaya biru menyilaukan mata yang me-mancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti bagaikan hendak menutupi seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

   Sementara itu, Siluman Muka Kodok sudah memutar-mutar tongkatnya sambil mendengus-dengus berat.

   Suaranya terdengar menggorok, bagai orang tengah tidur mendengkur.

   "Haaap...!"

   Rangga segera menggosok mata pedang dengan telapak tangan kirinya.

   Saat itu juga, aji 'Cakra Buana Sukma' dikerahkan.

   Sebuah ilmu kedigdayaan yang sangat dahsyat dan belum ada tandingannya sampai saat ini.

   Tampak cahaya biru yang memancar dari pedang itu langsung menggumpal membentuk bulatan di ujungnya, begitu telapak tangan kiri berada di pangkal pedang.

   "Ghraaaugkh...!"

   "Aji 'Cakra Buana Sukma'. Hiyaaa...!"

   Secara bersamaan mereka melompat ke depan sambil mengerahkan ilmu kedigdayaan yang sangat dahsyat.

   Tampak Rangga mengayunkan pedangnya, tepat di saat Siluman Muka Kodok juga mengayunkan tongkatnya ke depan.

   Saat itu juga dua sinar yang saling berlawanan meluruk deras sekali, hingga bertemu di tengah-tengah.

   Dan....

   Glarrr...! Satu ledakan keras menggelegar dan sangat dahsyat kembali terjadi.

   Saat itu, terlihat Siluman Mu-ka Kodok terpental ke belakang sejauh dua batang tombak.

   Bahkan sampai jatuh terguling beberapa kali sambil mengeluarkan raungan keras dan menyakitkan telinga.

   Sementara itu, Rangga hanya terdorong dua langkah saja, lalu kakinya kembali menjejak tanah dengan manis sekali.

   Pedangnya juga langsung dis-ilangkan di depan dada.

   "Ghraaaugkh...!"

   Sambil menggerung keras, Siluman Muka Ko-dok kembali melompat bangkit.

   Dan saat itu, cahaya kuning kemerahan tidak lagi terlihat memancar dari ujung-ujung tongkatnya yang berbentuk bulat sebesar kepalan tangan.

   Terlihat dari sudut bibirnya mengalir-kan darah kental berwarna kehitaman.

   Sorot matanya begitu tajam tertuju langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.

   Sepertinya, sinar mata itu memancarkan dendam yang sangat mendalam.

   "Ghrogkh! Kau akan menyesal, Anak Muda!"

   Terasa sangat dingin dan berat suara Siluman Muka Kodok. Sedangkan Rangga hanya menghembuskan na-pas saja.

   "Tunggu pembalasanku, Anak Muda! Ghrogkh...!"

   Selesai berkata demikian, tiba-tiba saja Silu-man Muka Kodok berputar cepat sekali.

   Dan saat itu juga, seluruh tubuhnya terselubung asap yang sangat tebal.

   Saat asap itu menghilang tertiup angin, tahu-tahu Siluman Muka Kodok sudah lenyap tak berbekas sama sekali.

   Dan ini tentu saja membuat Rangga jadi terkejut.

   Bergegas Pendekar Rajawali Sakti berlari menghampiri, tapi Siluman Muka Kodok benar-benar sudah menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun juga.

   "Ke mana dia, Kakang...?"

   Tahu-tahu Pandan Wangi sudah berada di samping Pendekar Rajawali Sakti. Rangga berpaling sedikit. Sebentar dipandangnya gadis cantik berjuluk si Kipas Maut itu, kemudian beralih pada Prabu Gading Anom yang juga sudah berada di dekatnya.

   "Dia sudah pergi,"

   Sahut Rangga.

   "Apakah dia akan kembali lagi?"

   Tanya Prabu Gading Anom.

   "Aku tidak tahu,"

   Sahut Rangga seraya mengangkat pundaknya.

   "Tapi tampaknya dia sangat dendam padaku."

   "Itu sangat berbahaya, Prabu Rangga,"

   Sambut Prabu Gading Anom.

   Rangga hanya diam saja.

   Dipandanginya tanah tempat Siluman Muka Kodok menghilang, setelah seluruh tubuhnya terselubung asap tebal tadi.

   Cukup lama juga Pendekar Rajawali Sakti berdiri mematung, dengan bibir terkatup rapat dan mata menatap lurus tak berkedip ke tanah yang masih sedikit mengepulkan asap.

   Sementara, Prabu Gading Anom sudah memerin-tahkan prajurit-prajuritnya masuk ke dalam istana.

   Tapi begitu pintu gerbang terbuka, prajurit-prajurit itu langsung berlompatan mundur.

   Bau busuk seketika menyergap hidung, membuat perut mereka bergolak hendak muntah.

   Prabu Gading Anom cepat-cepat memerintahkan menutup pintu gerbang kembali.

   "Gila! Apa yang dilakukannya di istanaku...?"

   Desis Prabu Gading Anom.

   Sementara Rangga hanya memandangi Raja Ringgading.

   Dan sebenarnya, dia sudah ingin memberi tahu.

   Tapi rupanya, Prabu Gading Anom sudah keburu memerintahkan prajuritnya membuka pintu gerbang masuk ke istana.

   Dan kini, Pendekar Rajawali Sakti menghampiri Pandan Wangi.

   "Ayo kita pergi,"

   Ajak Rangga.

   "Tapi..."

   Pandan Wangi ingin menolak, tapi Rangga su-dah mencekal pergelangan tangannya.

   Dan sebelum bisa berbuat sesuatu, Rangga sudah melesat begitu cepat sambil menyeret Pandan Wangi.

   Sehingga, mem-buat si Kipas Maut itu terpaksa harus mengerahkan ilmu meringankan tubuh.

   Sementara, Prabu Gading Anom masih mengumpat dan memaki-maki, melihat istananya kini sudah penuh tengkorak dan mayat-mayat yang menyebarkan bau busuk.

   Benar-benar ti-dak disadari kalau Rangga dan Pandan Wangi sudah meninggalkannya.

   Ke manakah Rangga dan Pandan Wangi pergi? Bagaimana dengan ancaman Siluman Muka Kodok, yang akan mengadakan pembalasan pada Pendekar Rajawali Sakti? Tentunya dia tidak main-main dengan ancaman tersebut! Nah, para pembaca yang ingin tahu kisah pembalasannya, silakan ikuti serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode 'Tujuh Mata Dewa'.

   SELESAI Scan/E-Book.

   Abu Keisel Juru Edit.

   Aura PandRa
https.//www.facebook.com/pages/D unia-Abu-Keisel/511652568860978
http.//duniaabukeisel.blogspot.com

   

   

   

Dendam Kesumat Karya Tabib Gila Misteri Pulau Neraka Karya Gu Long Pertentangan Kaum Persilatan Yoe hiap eng hiong 1 Karya OKT

Cari Blog Ini