Ceritasilat Novel Online

Bukit Pemakan Manusia 34


Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung Bagian 34


Bukit Pemakan Manusia Karya dari Khu Lung   Kata Thio Yok sim.   "DidaIam ruang rahasia bukit pemakan manusia terdapat daftar nama mereka, asalkan diperiksa maka kau akan tahu."   Ke tiga orang itu kembali mengiakan, kemudian mengundurkan diri dari situ.   Sampan mereka masih berada disitu, maka tanpa banyak bicara mereka segera meninggalkan perahu tersebut.   Kini, mereka bertiga sudah mengetahui semua persoalan dengan jelas, maka setibanya didarat, sekali lagi mereka merundingan persoalan tersebut.   Pertama-tama Kang Tat yang berkata lebih dulu.   "Agaknya si tua bangka ini sudah mengandung maksud jahat, dia masih mempunyai rencana untuk mengerjai hujin tersebut!"   "ltulah sebabnya kita harus menggunakan kesempatan ini untuk menemukan Sun sauhiap"   Seru Thio Yok-sim. Cukat Tan menambahkan pula.   "Yaa, kita harus bertindak cepat, mari kita mencari secara terpencar besok pagi kita berjumpa lagi disini !"   Untuk sementara waktu pun mereka berpisah dan mengunjungi rumah makan, rumah penginapan pemilik perahu untuk mencari keterangan mengenai Sun Tiong-lo, termasuk Kwa Cun seng yang hendak mereka cari jejaknya...   ooO-de-Ooo Dibelakang kota Oh cian tin yang berjarak dua puluh lie dari kota Gak-yang, terdapat sebuah tebing Luan kong kang.   Malam itu, dikala Thio Yok-sim bertiga sedang mencari Sun Tiong-lo sekalian, waktu itu Sun Tiong-lo, Hou-ji, Bau ji dan nona Kim sedang berkumpul di Lung kong-kang.   Waktu itu baru kentongan ke dua, mereka datang agak lebih awal.   Datang lebih awal memang ada manfaatnya, tak ada ruginya, pertama-tama mereka mencari kuburan besar yang terdapat meja besarnya, meja besar yang sudah disapu bersih dan menunggu kedatangan mereka.   Baru saja mereka berempat mengambil tempat duduk, nona Kim segera berkata.   "Menurut pendapatku malam ini aku tak akan datang,"   "Kenapa?"   Tanya Sun Tiong lo tertawa.   "Persoalan ini merupakan suatu masalah yang tanpa bayangan, tanpa nama tanpa marga, hanya menyuruh seseorang menyampaikan sepatah kata pesanan, ternyata kita menuruti permintaan orang dan bersama sama datang kesini, seandainya peristiwa ini hanya sebuah perangkap untuk menjebak kita..."   "Jangan lagi hanya jebakan, sekalian sarang naga gua harimau, aku juga akan kemari !"   Nona Kim kembali menggelengkan kepalanya. gumamnya dengan naaa kesal .   "Aku benar benar tidak mengerti !"   Bau ji yang berada disisinya segera menukas dengan dingin.   "Benar, kau memang tidak mengerti, maka harap kau jangan mencampuri-urusan yang tidak kau pahami itu kami bukan orang tolol yang-tak punya otak, kami berani kemari tentu saja mempunyai alasan-alasan tertentu..!"   Nona Kim segera mendengus.   "Alasan apa?"   Serunya.   "aku lihat kau sudah dibikin keblinger, Baru mendengar ada kabar tentang orang she Kwa itu, kau sudah buru-buru berangkat kemari. hmmm!"   Bau ji turut mendengus.   "Hmm, tahukah kau betapa pentingnya orang she Kwa tersebut untuk kami berdua?"   "Benarkah terdapat manusia seperti ini, sampai sekarang pun merupakan tanda tanya..."   Belum habis sinona menyelesaikan perkataannya, Sun Tiong lo sudah mencegah sambil berseru.   "Adik Kim, jangan berbicara lagi, ada orang yang datang!"   Mendengar ucapan tersebut, semua orang menjadi tenang kembali, betul juga, dari kejauhan sana segera terdengar suara langkah yang kedengarannya sangat aneh. Hou ji memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, kemudian bisiknya.   "Bukankah dia sengaja berbuat begitu ? Kalau tidak, mengepa untuk berjalan pun harus mengeluarkan suara yang begitu keras ?"   "Jite, apakah kita harus duduk menanti?"   Bau ji bertanya pula dengan kening berkerut. Sun Tiong lo manggut-manggut.   "Benar, kita duduk menantikan kedatangannya."   "Aku lihat lebih baik kalian berdua bersembunyi dulu"   Usul nona Kim cepat.   "andaikata kejadian ini merupakan perangkap..."   Sebelum nona Kim menyelesaikan perkataannya, Sun Tiong-lo telah menggelengkan kepalanya sambil menukas.   "Tidak mungkin yang datang bukan sahabat dunia persilatan, agaknya dia kurang leluasa dalam berjalan memerlukan bantuan tongkat dan menyeret langkahnya yang berat, itulah sebabnya kita mendengar suara semacam itu!"   Semua orang merasa kurang percaya sesudah mendengar perkataan itu, tapi kebetulan sekali orang itu sudah muncul dihadapan mereka.   Dibawah sinar rembulan, seperti apa yang dikatakan Sun Tiong-lo tadi, kakek itu memang harus berjalan dengan bantuan tongkat.   Sun Tiong lo segera bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya sementara yang lain pun ikut bangkit berdiri.   Tak lama kemudian, kakek bertongkat itu sudah menghampiri mereka semua, setelah memandang sekejap wajah orang-orang itu, dia berkata.   "Lohu kurang leluasa dalam bergerak, bagaimana kalau kita duduk dulu sebelum berbincang-bincang?"   Sun Tiong-lo segera menjura.   "Yaa, memang sudah sepantasnya demikian, silahkan kau orang tua untuk duduk."   Kakek bertongkat itu tidak sungkan-sungkan lagi, sesudah tertawa dia lantas duduk di meja sebelah kiri. Kemudian sambil menuding meja di sebelah kanan kepada Sun Tiong-lo, sambungnya.   "Sauhiap, silahkan duduk pula, dengan begitu kita baru bisa berbincang lebih enak."   Sun Tiong-lo mengiakan sambil tertawa, kemudian duduk disebelah kanan, setelah itu baru tegurnya.   "Lotiang, nampaknya kau seperti kenal dengan diriku ?"   Kakek itu tertawa getir.   "Bukan cuma terhadap sauhiap saja, beberapa orang inipun kukenal semua."   Menyusul kemudian, dia lantas menuding ke arah Bau ji, Hoa ji daa nona Kim sembari menyebutkan nama mereka satu persatu. Diam-diam Sun Tiong lo terkejut sekali, namun perasaan mana tak sempat diperlihatkan diatas wajahnya.   "Lotiang memang tidak salah menyebut"   Katanya kemudian.   "hal ini benar-benar membuat aku merasa keheranan sekali"   Si Kakek itu segera tertawa.   "Tiada yang perlu diherankan, yang penting sekarang adalah membicarakan masalah pokoknya!"   Bsu ji paling gelisah diantara sekian orang yang hadir buru-buru serunya.   "Benar, tolong tanya lotiang, darimana kau bisa tahu kalau kami sedang mencari seseorang dari marga Kwa?"   Kakek bertongkat itu memandang sekejap ke arah Bau ji kemudian balik bertanya.   "Apakah lohu sudah salah menduga?"   Cepat Bau ji menggelengkan kepalanya.   "ltu mah tidak, cuma..."   "Asal persoalannya tidak salah, hal ini sudah lebih dari cukup"   Tukas si kakek bertongkat itu cepat.   "tentang bagaimana ceritanya sehingga lohu bisa mengetahui kalau saudara sekalian hendak mencari orang ini, kalau dibicarakan yang sebenarnya, mungkin kalian akan tertawa dan kalian akan mengerti sendiri setelah pembicaraan dilangsungkan nanti."   Sun Tiong lo tertawa, selanya tiba tiba.   "Lotiang, bersediakah kau untuk memberitahukan siapa nama lotiang yang sesungguhnya !"   Kakek itu menggeleng dengan cepat.   "Maaf kalau aku mempunyai kesulitan hingga tak bisa menyebutkan nama asliku !"   Nona Kim mendengar ucapan tersebut segera mendengus.   "Hmmm! Kau bersikap sok rahasia, sengaja menyembunyikan nama dan indentitas yang sebenarnya, siapa tahu kalau kau mempunyai sesuatu maksud dan tujuan tertentu?"   Kakek bertongkat itu tidak menjawab pertanyaan mana lebih dahulu, dia mengulurkan tangan kirinya kedepan dan berkata kepada Sun Tiong lo.   "Silahkan Sun sauhiap untuk memeriksa dahulu denyutan nadi lohu..."   Tentu saja Sun Tiong-lo mengetahui maksud dan tujuan lawannya, sambil tertawa dia lantas menampik.   "Aku mempercayai diri lotiang, soal memeriksa denyutan nadi mah tidak usah."   "Tidak bisa jadi."   Seru kakek bertongkat itu dengan wajah serius.   "bagaimana pun jua, kau harus memeriksanya !"   Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Sun Tiong-lo menempelkan ketiga jari tangannya diatas urat nadi pada pergelangan tangan kakek itu, setelah diperiksa, ia baru merasa amat terkejut.   Dengan mata terbelalak besar dan wajah tertegun, ia segera berseru lantang.   "Lotiang, apakah kau telah berjumpa dengan musuh tangguh? Kalau tidak, mengapa tenaga dalammu dipunahkan orang ? Bahkan cara pemunahan tersebut bukan pemunahan biasa, sebenarnya.."   Kakek bertongkat itu segera tertawa getir, tukasnya.   "Masalah lohu pribadi tiada sangkut pautnya dengan masalah kita, sekarang, Sun sauhiap telah memeriksa nadiku dan tentunya kau tahu bukan dengan tubuh begini lemah dan hampir mampus, lohu sudah tidak berkemampuan lagi untuk mencelakai sauhiap sekalian ?"   Merah padam selembar Sun Tiong-lo karena jengah.   "Sebenarnya aku sendiri memang tiada bermaksud untuk berbuat demikian."   Katanya.   "Oh, kalau memang begitu, hal ini lebih bagus lagi, bolehkah aku membicarakan persoalannya secara langsung ?"   Kata kakek itu. Dengan sikap hormat dan sungkan Sun Tiong lo menjawab.   "Aku memang sedang siap mendengarkan perkataanmu itu !"   Hou-ji memandang sekejap ke arah kakek itu, kemudian menyela.   "Tunggu sebentar, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan kepada Lo-tiang ?"   Katanya. Kakek itu segera manggut-manggut setuju.   "Tentu saja boleh, katakan saja Hou-hiap."   Houji mengerdipkan matanya berulangkali kemudian berkata.   "Lotiang mengundang kami sekalian datang kemari untuk membicarakan masalah mengenai orang she Kwa tersebut, bukannya aku curiga, namun sesungguhnya terdapat beberapa persoalan yang membuatku tidak habis mengerti, maka terpaksa soal tersebut harus kutanyakan lebih dulu. Pertama, darimana Lotiang bisa tahu kalau kami berada disini, dan sekali mencarinya sudah ketemu ? Kedua, untuk memberitahukan dimanakah she Kwa itu berada, apakah lotiang mempunyai suatu syarat ?"   "Ketiga, darimana lotiang bisa tahu kalau kami sedang mencari jejak dari orang she Kwa tersebut..."   Katanya terputus. Belum selesai perkataan itu diucapkan kakek bertongkat itu menukas dengan cepat.   "Semenjak sauhiap sekalian memasuki kota Gak yang, jejak kalian tidak pernah lolos dari mata-mata lohu: oleh karena itu untuk mencari jejak kalian, sepertinya bukan soal yang pelik buat lohu !"   "Soal memberitahukan jejak orang she Kwa tersebut, benar, lohu menang mempunyai syarat tersebut ringan dan lohu percaya kalian pasti bisa menyetujuinya dengan segera."   "Sedangkan mengenai pertanyaan yang ketiga hal ini lebih gampang lagi. Dimasa lalu orang she Kwa itu merupakan otak pembantu dari suatu pembunuhan, sedangkan kalian bermaksud untuk membalas dendam, bagaimana mungkin kalian tidak akan mencari jejaknya ?"   Bau ji segera kerkerut kening ucapanmu ini memang masuk di akal, tapi yang membuat orang tidak habis mengerti adalah darimana lotiang bisa mengenali kami semua bahkan mengetahui dengan begitu jelas tentang masalah yang sedang kami hadapi?"   Agaknya kakek bertongkat itu sudah merasa tak sabar lagi, dia segera menyela.   "Apakah masalah seperti itu tak bisa dibicarakan dibelakangan nanti saja ?"   "BetuI !"   Dukung Sun Tiong-lo dengan cepat.   "harap lotiang membicarakan dulu masalah menyangkut tentang orang she Kwa tersebut !"   Kakek bertongkat itu manggut-manggut, sesudah menarik napas panjang, dia berkata.   "Orang itu bernama Kwa Cun-seng, dia adalah kakak misan dari Mao Tin hong, anak bibi, tenaga dalam yang dimilikinya sama sekali tidak berada dibawah Mao Tin hong, terutama akal dan kecerdasannya, boleh dibilang tipu muslihat banyak sekali."   "Sayang sekali, meskipun dia pintar namun justru keblinger oleh kecerdasannya itu sehingga terjebak oleh siasat licik Mao Tin hong, tanpa disadari dia telah melakukan suatu perbuatan yang memalukan sekali, akibatnya dia terdesak untuk bergabung dengan Mao Tin hong dan menjadi komplotannya." - ooo0dw0ooo-   Jilid 37 "SUATU waktu, ketika Mao Tin-hong sedang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dia telah berkenalan dengan seorang iblis wanita dan kawin, sesungguhnya tidak pantas bila dia bermaksud untuk mengincar kitab pusaka dan kecantikan perempuan itu, sehingga akibatnya tindakan mana menimbulkan amarah iblis tersebut dan menghisap sari hawa lelakinya dengan maksud hendak membinasakannya.   "Dasar nasibnya masih mujur, disaat yang kritis dia tahu bahaya dan segera mempertahankan sedikit hawa murninya dan kabur dari cengkeraman iblis wanita itu..."   Bau ji yang mendengar cerita mana tidak bersangkutan dengan masalah apa yang sedang dihadapinya, dentan perasaan tidak sabar dia segera menukas.   "Lotiang, silahkan kau membicarakan dulu hal-hal yang terpenting, masalah yang tetek bengek tak usah dibicarakan lagi."   Dengan cepat kakek bertongkat iiu menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya.   "Semuanya itu melupakan soal yang penting sobat Bau-ji, apakah kau tidak ingin tahu, apa sebabnya ibumu dan nenek mu sampai mati terbunuh ?"   Paras muka Eau ji segera berubah hebat setelah mendengar perkataan ini, serunya.   "Apakah kejadiannya ada sangkut pautnya dengan kejadian di atas ?"   Kakek bertongkat itu segera tertawa-tawa.   Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo      "Tentu saja, tentu ada sangkut pautnya, bahkan besar sekali sangkut pautnya !"   Katanya.   "Ooh. baik, baik, kalau begitu lanjutkan kembali kisah ceritamu tadi !"   Kakek bertongkat itu manggut-manggut, katanya kemudian.   "Ketika dalam perjalanan pulang ke daratan Tionggoan Mao Tinhong telah berkenalan dengan seorang jago pedang muda yang sedang termashur namanya pada waktu itu, jago muda itu bernama Sun Pak gi, karena hubungannya yang akrab akhirnya mereka berdua mengikat diri menjadi saudara angkat !"   Mendengar perkataan itu, Sun Tiong-lo manggut-manggut, Hou ji berkerut kening sedangkan Bau ji segera menghimpun semangatnya untuk mendengarkan dengan lebih seksama.   Kakek bertongkat itu segera bercerita lebih jauh, bercerita untuk mengungkap kembali kejadian lama...   Kisah cerita tenrang keluarga Sun yang mempunyai hubungan dengan Mao Tin-hong itu di kisahkan oleh kakek bertongkat itu dengan teliti dan cermat, membuat semua orang terpukau rasanya dan mendengarkan dengan lebih bersemangat lagi.   Perasaan Sun Tiong lo waktu itu amat berat, setelah memandang sekejap ke arah kakek bertongkat itu, katanya.   "Lotiang, sebenarnya masalah apakah yang membuat Mao Tin- hong bermusuhan dengan mendiang ayahku ?"   Kakek itu tertawa getir.   "Harap sauhiap jangan terlalu terburu napsu-berilah kesempatan bagi lohu untuk berkisah secara pelan-pelan hingga segala sesuatunya menjadi jelas!"   Persoalan itu memang tak bisa dipaksakan untuk diungkap secara cepat, oleh sebab itu semua orang pun terpaksa hanya manggutmanggutkan kepalanya tanda setuju.   Untuk sesaat suasana menjadi hening...   ooO-de-Ooo SESAAT KEMUDIAN, setelah kakek bertongkat itu menarik napas panjang, dia baru berkata lagi.   "Semenjak berkenalan dengan Sun Pak-gi, sikap dari Mao Tinhong berobah agak gagah, lagaknya sok enghiong dan sok hohan, boleh dibilang sikap Sun Pak-gi kepadanya amat tulus, sebaliknya Mao Tin-hong juga tidak menaruh sesuatu pikiran terhadapnya.   "Oleh sebab itu mereka berdua pun melakukan pengembaraan bersama dalam dunia persilatan, hanya didalam satu dua tahun saja, mereka berdua sudah berubah menjadi menjadi seorang pendekar muda yang dihormati dan di segani dalam dunia persilatan.   "Suatu tahun, Sun Pak-gi pulang sendiri ke desa kelahirannya untuk berziarah dikuburan leluhurnya, sedang Mao Tin-hong juga merasa cukup umur, maka dia pulang ke dusunnya dan membangun sebuah perkampungan disana yang pada akhirnya menjadi perkampungan Ang-liu ceng yang amat termasyur itu."   "Perpisahan mereka berdua berlangsung dua tahun lamanya, sementara Sun Pak-gi telah berkenalan pula dengan lima saudara "Ngo kian"   Dan didalam suatu peristiwa, secara kebetulan pula bertemu dengan Wan Lihiap."   Rupanya mereka berdua saling jatuh cinta dalam pandangan yang pertama, sejak itulah mereka berkelana bersama dalam dunia persilatan diiringi Ngo kian.   "Suatu ketika, dia mengundang Mao Tin hong untuk bertemu di rumah makan Ping oa ciu lo ditepi telaga Say cu oh,,."   Berbicara sampai disini, kakek bertongkat itu berhenti berbicara dan memandang sekejap kearah Sun Tiong lo dan bau ji sambil menghela napas panjang, sikapnya itu membuat orang merasakan betapa seriusnya masalah itu.   Betul juga, setelah menghela napas panjang kakek bertongkat itu berkata lebih jauh.   "Sun sauhiap, pertemuan yang diselenggarakan ditepi telaga Say cu oh tersebut merupakan sumber dari permusuhan tersebut!"   Sun Tiong lo tidak menjawab, alis matanya saja yang segera berkenyit kencang. Melihat Sun Tiong lo tidak bicara terpaksa kakek bertongkat itu melanjutkan katanya.   "Dalam pertemuan dirumah makan Ping oh-ciu lo tersebut yang hadir boleh dibilang sahabat lama semua, rupanya Mao Ting hong dan Wan lihiap pun sudah pernah saling berkenalan dalam dunia persilatan pada dua tahun berselang, rupanya secara diam-diam Mao Tin hong pun menaruh hati terhadap pendekar wanita tersebut.   "Setelah diperkenalkan oleh Sun Pak-gi, suasana bertambah akrab dan rumah makan itu penuh dengan gelak tertawa yang amat ramai.   "Selama perjamuan berselang, baik Mao Tin hong maupun Sun Pak gi sama-sama berusaha merebut hati Wan lihiap, mungkin yang terlibat tidak menyadari akan hal ini, lain halnya dengan Ngo-kian yang ikut menyaksikan dari samping.   "Sebagai orang yang berpengalaman entah mengapa Ngo kian telah merasakan betapa licik dan banyak tipu muslihatnya Mao Tin hong tersebut bahkan mengetahui pula akan perasaan hati Sun Pak gi terhadap Wan lihiap, maka secara diam-diam mereka lantas berunding dan mengambil suatu keputusan.   "Keesokan harinya, Ngo kian segera tampil kedepan dan berkunjung ke rumah orang tua Wan lihiap serta mewakili Pak-gi untuk melamar gadis tersebut, ternyata segalanya berjalan lancar, hari perkawinanpun segera ditetap kan !"   "Mendengar sampai disitu, Sun Tiong lo segera dapat meraba garis besar dari jalannya peristiwa tersebut, dia segera menghembuskan napas panjang. Ketika Bau-ji menyaksikan kakek itu berhenti bercerita, dengan kening berkerut dia segera menegur.   "Ayolah lanjutkan ceritamu!"   Katanya. Kakek bertongkat itu menggeserkan tongkatnya lebih dulu, lalu baru berkata lebih jauh.   "Tatkala lima saudara Ngo-kian minta ijin untuk meninggalkan rumah makan Ping-ou ciu lo tersebut dan meminta kepada Sun Pak- gi. Mao Tin-hong serta Wan Lihiap untuk menunggu dua hari disitu, Mao Tin hong sudah menaruh curiga.   "Maka ketika malam ke tiga disaat Ngo-kian bersaudara kembali ke rumah makan itu dan memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Wan lihiap dan Sun Pak gi, karena malunya Wan lihiap segera mohon diri lebih dulu untuk pulang kerumah.   "Mao Tin hong mendengar pula berita tersebut menjadi cemburu bercampur sedih, meskipun dia sempat menyampaikan ucapan selamat kepada Sun Pak gi, nanum hatinya ketika itu sudah membencinya setengah mati.   "Maka sewaktu hari yang ditentukan hampir tiba dan Sun pak gi mengundang Mao Tin hong untuk mendampinginya, permintaan tersebut di tolak rnentah-mentah oleh Mao Tin hong, bahkan dengan alasan masih ada janji lain, dia pergi meninggalkan tempat itu."   Tiba tiba Hou ji menukas.   "Peristiwa itu lebih pantas dikatakan sebagai takdir dan jodoh, mengapa Mao Tin hong malah menaruh benci dan dendam terhadap sahabat karibnya sendiri?"   "Kita tidak bisa membicarakan masalah ini menurut ukuran yang sewajarnya, terutama terhadap manusia yang berjiwa sempit dan berpikiran picik seperti Mao Tin hong itu, kalau bukan begitu, diapun tak akan melakukan tindakan berikutnya yang brutal dan sama sekali diluar dugaan itu"   "Anggap saja Mao Tin hong memang menaruh rasa dendam terhadap toa nio dan mendiang ayahku."   Sela Bau ji dingin.   "tapi dengan ibu dan nenekku..."   Cepai kakek itu menukas kembali.   "Kau tak usah terburu napsu, satu persatu semuanya akan kuceritakan sampai jelas.   "Ketika Mao Tin hong merasa ia sudah tak berdaya lagi untuk menolong keadaan dan merebut hati Wan lihiap, hatinya baru merasa sakit dan pukulan batin yang dialaminya itulah memaksa dia untuk menampik undangan dari Sun Pak gi.   "Namun kemudian, semakin dipikir dia merasa semakin benci, hingga rasa dendamnya terhadap Sun Pak gi boleh dibilang sudah merasuk ke tulang sumsum, terutama sekali terhadap lima bersaudara Ngo kian yang dianggap sebagai biang keladinya, rasa bencinya boleh dibilang sukar dilukiskan dengan kata kata, yang lebih aneh lagi, terhadap Wan Lihiap pribadi pun ia turut mendendam.   "Sudah cukup lama dia memikirkan masalah tersebut dengan seksama, bahkan pernah pula membicarakan soal itu dengan sahabat karib nya, dia merasa bila dibandingkan dengan Sun Pak-gi, maka seharusnya dia hanya lebih tangguh dan tak mungkin lebih lemah..."   "Apa yang dimaksudkan sebagai: Lebih tangguh dan tak mungkin lebih lemah itu?"   Tukas Hou-ji. Kakek bertongkat itu segara tertawa terkekeh-kakeh.   "Yang dia maksudkan adalah baik paras muka kedudukan, harta kekayaan maupun nama besar mereki berdua, Yaa, berbicara soal hal tersebut, terus terangnya saja waktu itu Mao Tin hong memang lebih mengungguli Sun Pak gi !"   Walaupun Sun Tiong lo sekalian dilahirkan lebih muda dan tidak menyaksikan sendiri kesemuanya itu, namun mereka sudah banyak mendengar dari cerita orang persilatan seperti apa yang dikatakan kakek bertongkat tersebut, dulu Mio Tin hong memang jauh mengungguli Sun Pak gi dalam bidang apa saja.   Sementara itu, si kakek sudah memandang sekejap kearah Hou ji, kemudian berkata lebih jauh.   "Tentu saja berbicara soal tenaga dalam, ilmu silat dan watak, Mao Tin hong masih kalah bila dibandingkan dengan Sun Pak gi, oleh sebab itu kalau dibilang Win lihiap penuju pada Sun Pak gi, hal ini memang merupakan hasil dari kejelian mata pendekar wanita itu!"   Oleh karena orang lain sedang menyanjung orang tuanya, tentu saja Sun Tiong lo tidak dapat berbicara apa apa lagi, dia hanya tertawa belaka. Sesudah tersenyum kakek itu melanjutkan.   "Sementara itu, Mao Tin hong masih memutar otak untuk mencari jalan yang terbaik untuk melenyapkan musuhnya, tapi hingga saat perkawinan Sun Pak gi dan Wan lihiap dilangsungkan, ia masih belum berhasil menemukan suatu cara pun.   "Maka diapun menggunakan suatu alasan untuk tidak menghadiri pesta perkawinan tersebut, sebaliknya menyembunyikan diri sambil mengatur bagaimana untuk menjalankan siasat satu batu mendapat dua ekor burung dan menghindari kecurigaan orang terhadap dirinya.   "Akhirnya dia berkenalan dengan Yan li-hiap, Yan Wan hong dari bukit Siau-han san, dari tubuh Yan lihiap inilah dia memperoleh suatu rencana yang amat bagus untuk melakukan pembalasan dendam.   "Maka dengan suatu alasan, dia mengundang adik angkatnya Sun Pak gi untuk berkunjung ke perkampungannya untuk merayakan hari ulang tahunnya, waktu itu Yan lihiap juga hadir, masih ada lagi komplotan orang kepercayaannya.   "Dalam perjamuan mana diam-diam ia mencampuri arak Yan lihiap dan Sun Pak gi dengan obat perangsang, kemudian mengantar mereka dalam satu kamar yang berakibat Yan lihiap kehilangan kehormatannya dan mengandung..."   Bau ji mendengar sampai disitu, mendadak dia menjadi teringat kembali dengan perdebatan yang sedang dilangsungkan antara ayah dan ibunya dalam ruangan, dimana dia dan Sun Tiong-lo turut mendengarkan dari luar jendela.   Waktu itu ibunya menuntut kepada ayahnya, tapi ayahnya selalu menyangkal telah berbuat sesuatu atas dirinya.   Berpikir sampai disana, tanpa terasa Bau-jl segera memperlihatkan rasa sangsi: Menyaksikan hal mana, sambil tertawa kakek itu segera berkata agak pelan-pelan.   "Keadaan pada waktu itu masih terselip sebuah rahasia besar, seperti diketahui Yan lihiap kehilangan kehormatannya dalam keadaan tak sadar, demikian pula dengan keadaan dari Sun Pak gi, Ketika selesai melakukan perbuatan tersebut dan mereka berdua tertidur, secara diam-diam Mao Tin hong telah menggotong Sun Pak-gi untuk dipindahkan ke kamar lain, sedangkan ia sendiri justru menyaru Sun Pak gi untuk tidur bersama Yan lihiap."   Dengan cepat Hou ji dapat menangkap kejanggalan dari cerita itu, dengan cepat dia menyela.   "Mengapa dia harus membuang banyak waktu dengan berbuat demikian...?"   Sedangkan Bau ji juga segera bertanya.   "Aku dan jite pernah mendengarkan perdebatan antara ayah dan ibu ku dimasa lalu, waktu itu ayanku bersikeras mengatakan kalau tidak menginap dalam kamar ibuku, apa pula yang sesungguhnya telah terjadi..?"   Kakek itu menghela napas panjang.   "Aaaai, disinilah terletak kekejaman Mao Tin-hong, malam itu Yan lihiap yang pertama-tama tidak kuat minum arak sehingga sebelum kehilangan kesadarannya telah dihantar kembali ke kamarnya.   "Menyusul kemudian Sun Pak-gi juga di hantar ke sana, waktu itu Sun Pak gi sudah rada terpengaruh namun masih sanggup menahan diri, orang yang menghantarnya sengaja membukakan pintu kamar Yan lihiap dan menyuruhnya masuk.   "Waktu itu Yan lihiap memang belum terpengaruh oleh obat perangsang, maka dia lantas menegur ada urusan apa memasuki kamarnya. Sun Pak-gl yang masih sanggup mempertahan diri tahu kalau salah masuk, dia segera minta maaf kepada Yan lihiap dan segera mengundurkan diri dari sana.   "Tapi belum lama sesudah keluar dari kamar, dia roboh tak sadar, sedangkan Yan lihiap juga tak sadar pula terpengaruh obat perangsang, akhirnya secara diam-diam mereka disatukan kembali didalam kamar dan terjadi lah peristiwa itu !"   Sun Tiong-lo dan Bau-ji saling bertukar pandangan sekejap kemudian manggut-manggut.   Sekarang mereka berdua sudah mengetahui garis besar dari peristiwa itu, bahkan dari apa yang diketahui itu, mereka pun semakin memahami lagi watak yang sesungguhnya dari Mao Tin hong.   Dari sini, bisa disimpulkan kalau Mao Tm hong adalah seorang manusia yang licik, teliti dan banyak tipu muslihatnya.   Nona Kim yang selama ini membungkam terus, hingga kini masih belum percaya kalau dia bukanlah mereka itu putri Mao Tin-hong, oleh sebab itu terhadap ucapan dari kakek ber tongkat inipun merasa sangsi dan tidak mempercayainya.   Sekarang dia seperti berhasil menangkap suatu titik kelemahan, dengan dingin segera tegurnya.   "Waaah, tampaknya kau mengetahui jelas sekali akan persoalan yang menyangkut keluarga Sun dan keluarga Mao !"   Kakek itu memandang sekejap kearah nona Kim, lalu menjawab.   "Benar, dalam kolong langit dewasa ini, selain Mao Tin hong pribadi, siapapun tak bisa mengetahui persoalan yang begini banyak melebihi apa yang lohu ketahui, apakah nona tidak percaya ?"   Nona Kim mendengus dingin.   "Hmm, betul aku memang tidak percaya !"   Kakek bertongkat itu segera tertawa terbahak-bahak.   "Haaaahh... haaahh... haaahhh... terserah bagaimana pendapat nona ! Namun bila aku sudah selesai mengutarakan semua persoalan yang kuketahui nanti, aku percaya pikiran nona nanti alan sama sekali berubah dengan pandanganmu sekarang!"   "Aaah belum tentu begitu!"   Sahut nona Kim sambil melotot gusar kearahnya. Kakek bertongkat itu tidak memberi tanggapan lebih jauh, sambil tertawa dia lantas berpaling kearah Sun Tioog lo sambil melanjutkan keterangannya.   "Sun Pak gi yang dijumpai Yan lihiap setelah sadar tak lain adalah hasil penyaruan diri Mao Tin hong, kebetulan sekali tak lama sesudah peristiwa tersebat, Sun Pak gi juga mengajak istrinya mengundurkan diri dari dunia persilatan.   "Yang dimaksudkan sebagai mengundurkan diri hanyalah tidak melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan sampai akhirnya gedung mereka telah selesai dibangun, suami istri berdua itu baru mengambil keputusan untuk mengundurkan diri benar-benar dari keramaian dunia. rencananya niat tersebut akan diumumkan dihadapan para tamu yang menyampaikan selamat.   "Siapa tahu, pada saat itulah mereka mendapatkan pemberitahuan dari Lok hun pay, sebetulnya suami isteri berdua tak berniat untuk meminta bantuan dari sahabat karibnya, apa mau dikata pada saat itulah Ngo kian telah datang kesana..."   "Bukankah kejadian ini sangat kebetulan?"   Sela nona Kim dengan cepat.   "Benar, sekilas pandangan, kedatangan dari lima bersaudara Ngo kian seperti suatu kebetulan saja, pada hal bukan demikian sesungguhnya, mereka bisa muncul disitu karena diundang orang?"   "Siapa yang mengundang mereka?"   Tanya Hou ji.   "Mao Tin hong yaitu silencana Lok hun pay!"   Nona Kimbali mendengus dingin.   "Hmm, darimana kau bisa tahu kalau dia yang mengundang kehadiran mereka?"   "Mao Tiu hong sudah bertekad hendak membunuh Ngo kian untuk melampiaskan rasa bencinya, itulah sebabnya dia memberitahukan kepada ke lima orang bersaudara itu bahwa Sun Pak gi sedang mengalami ancaman bahaya maut, sehingga dengan demikian mereka ber lima akan berkumpul menjadi satu."   "Sesungguhnya dendam sakit hati apakah yang terjalin antara Mao Tin hong dengan Ngo-kian?"   Tanya Hou ji pula dengan kening berkerut.   "Dulu, andaikata Ngo-kian tidak bertindak sebagai Mak comblang dan meminangkan Wan lihiap untuk Sun Pak gi, bagaimana mungkin Wan lihiap bisa menjadi istri Sun Pak gi ? Oleh sebab itu, di dalam anngapan Mao Tin hong, lima bersaudara Ngo kian merupakan biang keladi dari semua peristiwa tersebut."   Tanpa terasa Sun Tiong-lo manggut-manggut.   "Oooh, rupanya begitu, kasihan benar ke lima orang paman angkatku itu..."   Kini, sorot mata kakek tersebut baru dialihkan kembali ke wajah Bau ji, kemudian melanjutkan.   "Malam itu, didahului dengan pengiriman kode rahasia oleh Kwa Cun seng yang sudah menyelundup ke dalam gedung keluarga Sun, mula2 Mao Tin-hong menuju keruang belakang dulu untuk membunuh Wan lihiap, kemudian ia muncul kembali dengan dandanan sebagai pelayan gedung keluarga Sun yang meneriakkan kalau Cubo sudah mati terbunuh."   "Disaat Sun Pak gi sedang tertegun karena mendengar berita kematian itu, diapun menggunakan ilmu Ciat lik sinkang untuk mendorong tangan Yan hliiap hingga pedangnya menusuk ke perut Sun Pak gi.   "Berhasil dengan usahanya itu, menggunakan kesempatan dikala Yan lihiap sedang terperanjat diapun menggunakan alasan membantu Yan Sian poo dan manfaatkan kesempatan itu untuk membinasakan lima bersaudara Ngo kian, disusul kemudian dengan melakukan pencarian terhadap sauhiap dengan tujuan membabat rumput sampai ke akar-akarnya.   "Tapi Thian memang maha kuasa, dikala ia sedang menghabisi nyawa lima bersaudara Ngo kian itulah, sauhiap telah ditolong oleh paman angkatmu hingga lolos dari ancaman bahaya maut, hal inipun membuat Mao Tin hong menanamkan bibit bencana baginya untuk di kemudian hari. Gagal didalam usahanya menemukan sauhiap ia lantas teringat kembali kalau putra Yan li hiap pun merupakan darah daging keluarga Sun, tentu saja dia tak akan melepaskannya dengan begitu saja, akhirnya terjadilah pembantaiannya atas Yan Sian-poo dan Yan lihiap.   "Tujuannya untuk membunuh Yan poo berdua sesungguhnya palsu, yang sebenarnya adalah dia hendak membunuh anak yatim yang mengenaskan itu, siapa tahu semuanya sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa, justru si bocah itu berhasil meloloskan diri dari cengkeraman mautnya !"   Berbicara sampai disitu, kakek tersebut terengah-engah dengan wajah pucat, nampaknya dia merasa lelah sekali. Lama kemudian, dia baru menggelengkan kepalanya dan berkata lagi dengan sedih.   "Persoalan tentang hubungan keluarga Mao dan keluarga Sun sudah banyak yang kucerita kan, lohu yakin kau pun sudah mengetahui cukup jelas, nah. apa bila sauhiap ada pertanyaan, silahkan diajukan kepadaku.."   Bau jl segera berpaling ke arah Sun Tiong-lo sambil bertanya.   "Jite, apakah kau hendak menanyakan sesuatu ?"   "Siaute sudah tiada masalah yang perlu ditanyakan lagi"   Jawab Sun Tiong lo dengan hormat. Bau ji manggut-manggut kepada kakek itu segera ujarnya.   "Orang tua, aku masih ingin meminta keteranganmu tentang satu hal..."   "Katakan, asal lohu tahu, pasti akan kuterangkan"   Dengan wajah serius Bau ji berkata.   "Kalau bicara soal perasaan, apa yang dikatakan kau orang tua barusan, kendatipun ditinjau dari sudut yang manapun dapat dibuktikan kalau semua itu merupakan kenyataan dan tak dapat diragukan lagi kebenarannya. Tapi, diantara sekian banyak persoalan yang kau ungkapkan, banyak diantaranya yang seharusnya merupakan suatu rahasia pribadi. kecuali Mao si bajingan tua itu, sulit bagi orang lain untuk mengetahuinya, tapi kenyataannya kau orang tua bisa mengetahui dengaa jelas sekali."   Kakek itu segera menukas.   "Lohu cukup memahami maksud hati dari sauhiap, tentang ini maaf bila lohu sengaja merahasiakannya, namun sauhiap tak usah kuatir tak lama lagi lohu pasti akan memberi penjelasan tentang persoalan ini."   Bauji tidak berkata apa apa lagi, katanya kemudian sambil tertawa.   "Baik, kalau begitu aku akan mendengarkan."   Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo   Kakek itu tertawa sorot matanya segera dialihkan kewajah nona Kim, lalu katanya.   "Seharusnya nonapun mempunyai banyak persoalan yang mencurigakan hatimu bukan ?"   "Kau memang pintar, benar, aku memang banyak persoalan yang membingungkan, tapi aku tak ingin bersia-sia untuk mengutarakan nya keluar, akupun tak ingin bertanya lagi."   "Oooh, apa sebabnya nona menganggap ucapan mana hanya sia-sia saja?"   Sudah tahu namun rupanya kakek itu sengaja bertanya lagi. Nona Kim tertawa dingin.   "Selama ini, kau selalu menolak untuk mengungkapkan nama serta asal usulmu yang sebenarnya kau selalu sok rahasia dan berdalih akan menerangkan hal ini belakangan nanti, hmmm ! Terhadap seseorang yang tak berani mengungkapkan nama serta asal usul yang sebenarnya, buat apa aku mesti banyak bertanya lagi ?"   Tampaknya kakek itu seperti ada maksud untuk menggoda nona Kim, katanya kemudian.   "Maksud nona berhubung selama ini lohu selalu merahasiakan namaku. maka kau menganggap lohu tak dapat dipercaya, maka kau pun tak usah banyak berbicara lagi ?"   Nona Kim manggut manggut "Benar, memang begitu maksudku !"   Kakek itu segera tertawa.   "Sekarang untuk kesekian kalinya aku hendak menandaskan kepada nona, nama dan asal usul lohu pasti akan kuungkapkan bila pembicaraan disini telah selesai, aku tidak akan berusaha untuk merahasiakannya."   "Cuma, sebelum lohu menyinggung soal nama dan asal usul lohu itu, terlebih dahulu lohu minta maaf kepada nona dan ingin mengajukan suatu pertanyaan kepadamu !"   "Kau boleh mengajukan pertanyaan, mau menjawab atau tidak adalah urusanku sendiri."   "Ooooh, lohu saja"   Kata si kakek sambil tertawa,"   Lohu sudah tentu tak akan memaksa !"   Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi.   "Nona, hingga sekarang tentunya kau masih belum mengetahui riwayat hidupmu yang sebenarnya bukan ?"   "Tentang persoalan ini, lebih baik kau tak usah membuang banyak pikiran untuk mengurusi diriku !"   Bentak nona Kim dengan mata melotot penuh kemarahan.   "Nona"   Kata sikakek lagi dengan wajah bersungguh-sungguh.   "bila lohu tidak menunjukkan sikap baik dengan mengungkapkan asal usul nona, mungkin nona akan menyesal sepanjang masa dan selalu bersedih hati.."   Dengan gusar Nona Kim kembali membentak.   "Lebih baik kau jangan mengaco belo lagi dihadapanku!"   Kakek itu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, ke mudian berkata.   "BiIa nona tidak memberi kesempatan kepada lohu untuk membicarakan persoalan ini, terpaksa lohupun tidak akan membicarakannya tapi ada satu persoalan lain yang mau tak mau harus lohu terangkan lebih dahulu..!"   "Apakah persoalan itupun menyangkut tentang persoaIanku...?"   Seru nona Kim dengan kening berkerut. Kakek itu berpikir sebentar, kemudian baru menyahut.   "Bukan hanya menyangkut soal nona saja!"   "Kalau masih ada sangkut pautnya dengan orang lain, mau bicara atau tidak terserah pada dirimu sendiri"   Kata nona Kim kemudian dengan suara dingin. Kakek itu menyapu sekejap wajah nona Kim kemudian ujarnya.   "Mula-mula lohu ingin membicarakan lebih dahulu masalah yang menyangkut tentang seorang perempuan lain !"   "Seorang perempuan lain? siapa ?"   Seru nona Kim dengan wajah tertegun karena keheranan.   "Dia adalah selir kesayangan dari Lok hun pay Mao Tin hong, Su Nio ! Kau kenal bukan dengan perempuan ini ?"   Paras muka nona Kim berubah hebat.   "Buat apa kita membicarakan persoalan tentang dia ?"   "Lohu percaya, disaat dia hendak meninggalkan Bukit Pemakan Manusia, sebelumnya tentu sudah mengadakan hubungan kontak dengan nona bukan ? Dan aku percaya diapun sudah menyampaikan sesuatu bukan kepada nona..?"   Nona Kim tidak menjawab, tepi tanpa terasa dia menjadi teringat kembali dengan peristiwa sebelum Su Nio melarikan diri dari Bukit Pemakan manusia, dimana perempuan itu telah menyampaikan banyak masalah dengannya.   Agaknya kakek bertongkat itu seperti mengetahui dengan jelas atas peristiwa yang terjadi pada malam itu, sesudah bermenung sebentar, seperti sengaja tak sengaja dia melirik sekejap kearah nona Kim, kemudian berkata lagi.   "Lohu hendak menyampaikan pesan kepada nona, bahwa apa yang diucapkan oleh Su Nio itu sesungguhnya bisa dipercaya semua."   Nona Kim segera mendengus dingin.   "Hmm, atas dasar apa kau mengatakan kalau perkataannya itu dapat dipercaya?"   Kakek bertongkat itu menghela napas.   "aaii.... kisah yang sebenarnya seperti sebuah cerita saja, bolehkah lohu untuk mengungkapnya.,."   Belum habis ia berkata, sekali lagi ia ber-kata, sekali lagi nona Kim menukas.   "Tidak usah, itu tidak suka mendengarkan kisah ceritamu itu!"   Sun Tiong lo yang berada disampingnya segera berkerut kening, kemudian menyela.   "Adik Klm, apa salahnya untuk didengarkan"   Nona Kim benar benar merasa bingung dan serba salah, namun sesungguhnya dia ingin mengetahui dengan segera segala sesuatu yang menyangkut riwayat hidup sesungguhnya, akan tetapi diapun kuatir apabila sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia akan menjadi tak tahan.   Sekarang, dalam segala bidang dan semua masalah, dia sudah merasa kalau Mao Tin hong adalah seorang manusia misterius yang amat mencurigakan rasa percayanya pada diri sendiri menjadi goyah, dia ingin membuktikan kebenaran dari dugaannya tersebut.   Maka sesudah Sun Tiong lo turut menimbrung diapun tidak membantah ataupun mengucapkan sepatah katapun ditatapnya Sun Tiong lo dengan pandangan gugup.   Sun Tion lo tersenyum.   dia maju kedepan dan menggenggam tangannya yang lembut dengan mesra.   Menyaksikan keadaan mana, kakek bertongkat itu segera berkata lagi sambil tertawa.   "Sebelum menemui ajalnya, lohu bisa menyaksikan kalian enghiong dan Bu jin..."   "Kau tidak usah mengaco belo tak karuan."   Tukas nona Kim dengan penuh kegusaran. Kakek bertongkat itu segera tertawa terbahak-bahak, dia pun mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya.   "Haah... haaah... haaah... dunia persilatan ini penuh dengan pelbagai aliran, meski ada sepuluh perguruan besar di tambah dua belas partai lainnya namun baik Siau lim pay mau pun Bu Tong pay masih terhitung kekuatan yang lemah.   "Kalau bicara ilmu silat dan tenaga dalam yang sesungguhnya, tiada perguruan atau partai manapun didunia persilatan yang bisa menandingi keluarga Kwik dari kota Tong ciu.   "Keluarga Kwik dari kota Tong ciu merupakan satu-satunya keluarga persilatan yang banyak melakukan kebajikan dan perbuatan sosial, dimana Mao Tin hong masih malang melintang didalam dunia persilatan pun, hanya keluarga Kwik dari kota Tong ciu yang disegani. Oleh sebab itu tak segan-segannya dia itu menyingkir jauh-jauh dari gedung keluarga itu, sementara secara diam-diam mengutus jago-jago lihay nya untuk menyelundup ke dalam gedung keluarga Kwik.   "Waktu itu, kebetulan sekali Kwik Toa wang-wee baru saja memperoleh seorang putri yang disayangi seperti menyayangi nyawa sendiri, nah! Disaat itulah, jago-jago lihay yang dikirim Mao Tin-hong segera menjalankan aksi-nya dengan membohongi mak inang pengasuh putri tersebut, kemudian menculik dan melarikan putri dari keluarga Kwik ini."   Nona Kim merasakan hatinya terkesiap, tanpa terasa dia teringat kembali dengan ucapan dari Su Nio.   Sebelum pergi, Su Nio pun memberitahukan kepadanya bahwa dia she Kwik, tapi tidak menyebutkan desa kelahirannya.   Setelah dicocokkan dengan perkataan dari si kakek sekarang, terbuktilah sudah kalau ucapan tersebut persis sama antara yang satu dengan lainnya, jangan-jangan...   Berpikir sampai disitu, tanpa terasa nona Kim segera menukas.   "Kau sedang membawakan sebuah cerita ?"   "Tidak, lohu ledang membawakan kisah nyata dan riwayat hliup nona"   Sahut kakek itu dengan wajah serius.   "Jadi kau mengatakan kalau aku she Kwik?"   Seru nona Kim dengan sepasang mata melotot besar. Kakek itu manggut-manggut.   "Tepat sekali, nona adalah putri kesayangan dari Kwik Toawangwee...!"   Belum sempat nona Kim mengucapkan sesuatu, Sun Tiong lo telah menyela kembali dari samping.   "Lotiang, dapatkah kau menjelaskan teka-teki ini ?"   "Menjelaskan teka teki ini ? Apa yang Sun sauhiap maksudkan ?"   Seru si kakek dengan wajah tertegun. Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah nona Kim, kemudian katanya.   "Menurut apa yang kuketahui, bukan saja Kwik Wangwee adalah seorang yang saleh dan ramah, diapun memiliki ilmu silat yang amat lihay dengan tenaga dalam yang tiada bandingannya..."   "Benar, benar !"   Sahut si kakek sambil mengangguk.   "Sauhiap memang seorang yang mempunyai maksud-maksud tertentu rupanya !"   Setelah kejadian berkembang menjadi begini rupa, Sun Tiong-lo merasa tidak perlu untuk membahas akan kejadian di masa lalu lagi, maka katanya kemudian.   "Terus terang saja kukatakan lotiang, seandainya Kwik wangwee tidak membantuku, mana mungkin aku bisa memiliki ilmu siiat seperti apa yang kumiliki sekarang !"   Begitu ucapan tersebut diutarakan, kakek bertongkat iiu menjadi amat terkejut dia se gera berseru tertahan.   "Maksud sauhiap, kepandaian silat yang kau miliki itu berasal dari keluarga Kwik?"   Sun Tiong lo manggut-manggut.   "Yaa, dasar kepandaianku sih berasal dari ketua Kay pang, tapi tehnik ilmu silatnya berasal dari Kwik wangwee!"   Mendengar sampai disini, kakek bertongkat iiu segera menghela napas panjang.   "Aaaai, rupanya begitu, tak heran kalau Mao Tin-hong tak mampu untuk menandingi sauhiap !"   Sun Tiong lo tertawa hambar.   "Lotiang, oleh sebab itulah aku merasa agak curiga dengan peristiwa yang lotiang ceritakan barusan, dimana Mao Tin hong telah mengirim orang untuk menculik putrinya, sebab sepengetahuanku ilmu silat dari Kwik wangwee liehay sekali..."   "Sun sauhiap, harap kau jangan lupa, Mio-Tin hong bertindak dengan suatu perencanaan yang amat matang."   Sun Tiong lo manggut-manggut.   "Tentu saja, cuma setelah kehilangan putri nya tentu saja Kwik wangwae tak akan berpeluk tangan belaka!"   "Tentu saja tak akan berpeluk tangan belaka, sayang sekali tiada tanda tanda yang bisa dipakai untuk melacaki peristiwa tersebut pada waktu itu, si Inang pengasuh yang masuk perangkap dan kena tertipu pada akhirnya juga turut dibunuh oleh Mao Tin hong, sehingga boleh dibilang tiada saksi hidup yang bisa ditemukan lagi."   "Membunuh saksi hidup? Siapa yg terbunuh?"   "lnang pengasuh tersebut !"   "Siapa yang membunuh ?"   "Su Nio, padahal Su Nio sendiri pun cukup mengenaskan nasibnya, dia sendiri pun kena di culik dan diancam oleh Mao Tinhong sehingga akhirnya tak berani membangkang perintahnya, semua kesulitan tersebut lohu ketahui dengan jelas sekali !"   Hou-ji yang selama ini hanya membungkam terus mendadak menyela.   "Aku tak sanggup menahan diri untuk mengajukan satu pertanyaan kepadamu, darimana kau bisa mengetahui persoalan yang begini banyak ..."   Kakek itu tertawa getir "Bila segala sesuatunya sudah kuterangkan lohu tentu akan memberi penjelasan tentang persoalan ini"   "Jadi sekarang tidak dapat ?"   Tanya Hou-ji sambil tertawa. Kakek itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.   "Tidak dspat, camun lohu dapat menjanjikan kepada Hou-hiap, sebelum ku tinggalkan tempat ini, pasti akan kuterangkan persoalan ini kepada saudara sekalian"   Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah nona Kim yang berada disisinya, lalu bertanya kepada kakek itu.   "Persoalan mengenai nona Kim, aku percaya ada kemungkinan seperti itu, sekarang aku ingin bertanya kepada lotiang, masih ada persoalan apa lagi yang hendak disampaikan kepada kami ?"   "Kini Mao Tin hong berada atas sebuah perahu besar ditengah telaga sana !"   Kata kakek itu cepat. Mendengar perkataan itu, buru buru Bau ji bertanya .   "Sungguh ? Diatas perahu yang mana ?"   "Daripada salah sasaran, lohu bersedia untuk menunjukkan sendiri perahu itu"   "Baik, baik, kami akan segera berangkat!"   Kata Bau ji cepat. Buru-buru Sun Tiong lo mencegah kakaknya untuk beranjak, katanya dengan cepat.   "Toako, harap tunggu sebentar lagi"   Kemudian sesudah berhenti sejenak, ujarnya lagi kepada si kakek bertongkat itu.   "Lotiang, bukannya aku kelewat banyak curiga, atas kesediaan lotiang memberitahukan begiat banyak rahasia kepada kami, tentu saja kami merasa berterima kasih sekali.   "Cuma, kami cukup mengetahui akan kelicikan dan kebusukan Mao Tin-hong, tak bisa di salahkan kalau kami harus bertindak kelewat berhati-hati didalam persoalan ini, karena itu kami harus menanyakan pula masalah ini sampai menjadi jelas."   Kakek itu segera manggut-manggut.   "Yaa, sudah seharusnya begitu, bila sauhiap menaruh curiga, sudah sewajarnya bila diutarakan."   "Berbicara dari keadaan lotiang yang begitu jelas mengetahui akan peristiwa yang lampau, semestinya kau mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan Mao Tin hong, bahkan bisa jadi kaupun pernah terlibat didalam peristiwa ini!"   Belum selesai ia berkata, kakek itu menukas "Sauhiap, mengenai asal usul lohu, akan ku terangkan pada akhir pembicaaraan nanti."   Sun Tiong-lo tertawa.   "Baik, kalau begitu aku ingin bertanya kepada looang, setelah kau mengungkap begitu banyak rahasia tentang Mao Tin hong kepada kami, apakah kau mempunyai pekerjaan yang menginginkan pertolongan kami untuk menyelesaikannya? Kalau ada, silahkan saja untuk diutarakan dengan setulus hati."   "Ada, ada satu persoalan besar yang hendak kusampaikan"   Sun Tiong lo kembali tertawa.   "Asal dapat kulakukan, sudah pasti akan ku selesaikan tanpa membantah..!"   Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo      Paras muka kakek bertongkat itu berubah menjadi amat serius, katanya kemudian.   "Lohu mengharapkan kalian dua bersaudara untuk menumpas kejahatan dan membunuh Mao Tin hong ?"   "Hmm, rupanya kau ingin menggunakan siasat meminjam golok untuk membunuh orang"   Bukan menyangkal kakek itu malahan manggut-manggut.   "Ucapan dari nona memang betul, memang begitukah maksud tujuanku yang sebenarnya."   Pengakuan dari si kakek yang berterus terang iiu malahan membuat semua orang menjadi terbungkam dan tak mampu menjawab. Pelan-pelan kakek bertongkat itu berkata lebih jauh.   "Terus terang saja kukatakan sau-hiap, rasa benciku terhadap bajingan she Mao itu tidak berada dibawah rasa benci kalian."   "Heeeh, heeeh, heeeh, tunggu dulu."   Tukas nona Kim sambil tertawa dingin.   "ucapanmu yang sepihak itu tak bisa dipercayai dengan begitu saja, kami harus membuktikannya lebih dahulu secara berhati hati !"   "Tidak usah !"   Tukas kakek bertongkat itu.   "disaat sauhiap sekalian berjumpa dengan Mao Tin-hong dan bertatap muka dengannya, bila semua persoalan ini kalian utarakan, aku percaya dia pasti mengakuinya."   "Masa begitu gampang ?"   Jengek nona Kim, Kembali kakek bertongkat itu tertawa.   "Di-kala nona mengungkapkan semua persoalan yang dianggap olehnya sebagai rahasia besar ini, dengan cepat dia akan tahu kalau lohu yang mengungkapkan semua rahasia ini kepadamu, tentu saja dia tak akan menyangkal lagi."   Nona Kim segera terbungkam dalam seribu bahasa, sedangkan Hou-ji kembali berkata.   "Kedengarannya semua perkataanmu itu memang masuk diakal, tapi sayangnya tanpa bukti yang jelas !"   "Gampang sekali, dikala sauhiap telah berhasil membekuk dirinya, lohu bersedia untuk diadu muka dengan dia !"   Sun Tionglo berpikir sebentar, harap lotiang sudi menunjukkan kepada kami perahu yang kau maksudkan tadi !"   Kakek bertongkat itu manggut-manggut.   "Boleh saja, cuma sauhiap harus berhati-hati walau diatas perahu tersebut penuh dengan para kaum perempuan sedangkan lelakinya hanya Mao Tin hong seorang, namun perempuan cabul itu benarbenar lihay sekali, kepandaian silatnya tak boleh dianggap enteng!"   "Aku tidak takut."   Tukas Bau ji cepat. Kakek itu segera mengulapkan tangannya.   "Walaupun begitu, lohu berharap sauhiap sekalian masih sudi mendengarkan sepatah kataku."   "Silahkan saja kau utarakan!"   Kata Sun Tiong Io sambil tertawa. Kakek itu memandang sekejap kearah Bou ji kemudian berkata.   "Lohu tahu, ilmu silat yang dimiliki Sau hiap berasal dari perkumpulan pengemis, dalam dunia persilatan pun sudah cukup lama berkelana. apakah kau pernah mendengar tentang suatu lembah yang bernama Tay hian mo kok?"   Mendengar pertanyaan itu, dengan kening berkerut Hou ji lantas menyahut.   "Yaa, aku memang pernah mendengar tentang nama tersebut dari guruku..."   "Tahukah Hou hiap, dimanakah letak lembah tersebut?"   Hou ji segera menggeleng.   "Soal ini mah kurang tahu..."   "Kalau begitu kau lebih-lebih tidak mengetahui tentang siapakah Tay hian kokcu itu?"   "Lotiang, apakah kau tidak merasa kalau pertanyaanmu itu diutarakan berlebihan?"   Seru Hou ji dengan kening berkerut. Kakek itu tidak marah, sebaliknya malah tertawa sembari menyahut.   "Kedengarannya memang seperti berlebihan tapi setelah lohu terangkan nanti, lohu percaya Hou hiap pasti akan terbelalak dan membungkam, bahkan menganggap pertanyaai lohu ini memang sudah sepantasnya diajukan..."   "Perduli siapakah Tay hian kokcu ini, apa sangkut pautnya dengan persoalan yang sedang kami hadapi?"   Tanya Bau ji dengan tak sabar.   "Oooh, besar sekali sangkut pautnya!"   Kata kakek bertongkat itu sambil tertawa. Sun Tiong lo memutar sebentar sepasang matanya, mendadak dia berkata.   "Apakah lembah tersebut ada hubungannya dengan Mao Tin hong?"   "Sun sauhiap memang tak malu disebut sebagai jagoan yang luar biasa, sekali tebak sudah dapat menebaknya secara jitu."   Puji si kakek sembari tepuk tangan.   "Ada sangkut pautnya dengan bajingan she Mao itu? Hou ji ikut bertanya. Kakek itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, melainkan berbalik bertanya kepada Hou-ji.   "Tolong tanya Hou hiap, pernahkah kau mendengar soal Pek ho- wan dari gurumu ?"   Hou ji berpikir sebentar, kemudian sahutnya.   "Nama itu seperti pernah kukenal, tapi..."   Berbicara sampai disitu, mendadak Hou ji teringat akan sesuatu dan buru-buru serunya.   "Apakah kau maksudkan kebun selaksa bunga Pek hoa wan yang berada digua Pek hoatong wilayah Biau di Tin lam ?"   Sekali lagi kakek bertongkat itu bertepuk tangan keras.   "Hou hiap memang betul-betul mengenali tempat-tempat kenamaan dalam dunia persilatan, tepat sekali ! Memang tempat itu yang kumaksudkan..."   "Hmmm, kalau toh tempat tersebut lantas kenapa?"   Jengek nona Kim sambil mendengus.   "Adat istiadat yang berlaku dalam gua Pek hoa tong sama sekali berbeda dengan tempat tempat lain, bukan saja jumlah perempuan di situ jauh lebih banyak daripada kaum lelaki nya, lagipula hanya kaum perempuan yang berhak diangkat menjadi kepala suku dan menguasahi segenap suku yang ada..."   "Apakah persoalan ini ada sangkut pautnya dengan persoalan yang akan kita kerjakan ?"   Jengek nona Kim sinis. Kakek bertongkat itu manggut-manggut.   "Benar, kepala suku Pekz hoa wan tunduk di bawah perintah pemilik kebun selaksa bunga, sedangkan pemilik lembah Thay hian mo kok dengan pemilik kebun selaksa bunga adalah suami isteri..."   "Dapatkah kau memberi keterangan secara langsung."   Tukas Bau ji sambil berkerut kening.   "Tak usah tergesa gesa sauhiap, sebentar akan kuterangkan yang kumaksudkan sebagai pemilik perahu yang sedang berlabuh di tengah telaga Tong-ting-oh tersebut bukan lain adalah pemilik kebun selaksa bunga beserta kawanan jago lihaynya..."   Seperti baru menyadari akan sesuatu, Sun Tiong lo segera berseru.   "Ooooh- jadi maksud lotiang, kokcu dari lembah Thay hian mo kok adalah Mao Tin hong?"   "Benar, si tua bangka itulah orangnya !"   Sahut kakek bertongkat itu dengan cepat. Paras muka Hou ji segera berubah hebat.   "Jadi kalau begitu, suami istri berdua telah bekerja sama untuk memusuhi diri kami?"   Seru nya.   "Memang begitulah kenyataannya dan tak bisa diragukan lagi !"   Sun Tiong lo tersenyum.   "Sekalipun begitu, aku rasa juga tidak mengapa !"   Hou ji segera menggelengkan kepalanya berulang kali.   "Siau-liong, kau tak boleh berpendapat begitu, suhu pernah memberitahukan kepadaku bahwa Pek hoa wancu atau pemilik kebun selaksa bunga itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, apalagi ilmu barisan Thay mi thian hun Siu-tin nya, boleh dibilang sudah tiada tandingannya di dunia ini, apalagi dalam kitab kecil kita, tempat terakhir yang dicantumkan adalah kebun selaksa bunga..."   Sudah barang tentu Sun Tiong lo tak akan melupakan hal ini, dengan kening berkerut serunya.   "Benarkah begitu lihay?"   "Bu lim sam seng (tiga malaikat suci dari dunia persilatan) pernah termashur dalam dunia persilatan dimasa lampau, hampir saja tumpas dalam barisan Tay mi thian bun siu ti-n tersebut, kejadian ini boleh dibilang hampir diketahui oleh setiap orang di dunia"   Sun Tiong lo termenung beberapa saat lama-nya, kemudian berkata.   "Engkoh Hou, sekalipun begitu kita sudah tidak memiliki pilihan yang lain lagi..."   Pada saat itulah, si kakek bertongkat itu menyambung kembali kata-katanya.   "Sampai dimanakah kehebatan dan kelihayan dari ilmu barisan dari siluman perempuan itu, berhubung lohu tidak tahu maka tidak berani ku katakan, namun ada cara yang paling bodoh dan paling sederhana untuk membuat barisan ini tak berfungsi !"   Ucapan ini tentu saja membuat para jago merasa terkejut bercampur keheranan, tanpa terasa mereka jadi saling berpandangan sampai lama sekali...   Berhubung Bau-ji sudah tahu kalau Tay hian kokcu adalah Mao Tin-hong, tentu saja ia tak bisa memandang remeh "cara paling bodoh"   Yang dikemukakan oleh kakek bertongkat itu, segera tanyanya dengan penuh napsu.   "Bagaimana caranya ?"   "Cara itu banyak sekali, seringkali cara yang paling bodoh bisa mendatangkan kemujuran."   Terhadap kakek bertongkat ini, seperti juga terhadap nona Kim, Bau ji tidak menaruh kesan yang terlalu paik, oleh sebab itu dengan perasaan tak sabar dia segera menimbrung.   "Dapatkah kau mengutarakan secara blak-blakan dan berterus terang...?"    Pendekar Bego Karya Can Wanita Iblis Pencabut Nyawa Karya Kho Ping Hoo Drama Gunung Kelud Karya Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini