Ceritasilat Novel Online

Kidung Senja Di Mataram 2


Kidung Senja Di Mataram Karya Kho Ping Hoo Bagian 2



"Ah, kiranya begitu? Kalau begitu, paman guru Ki Danusengoro mengabdi kepada kadipaten Ponorogo, paman?"

   "Tidak ada salahnya dalam hal itu, Raden. Dia memang tinggal di sebelah timur gunung yang termasuk daerah kadipaten Ponorogo. Baik saja kalau dia menghambakan diri kepada kadipaten Ponorogo. Akan tetapi, sungguh menyedihkan sekali kenapa dia hendak memaksakan kehendak, hendak memaksa aku untuk ikut membantu Ponorogo. Sungguh tidak kusangka bahwa adi Danusengoro telah melakukan penyelewengan sampai sekian jauhnya, dan agaknya dia terpengaruh oleh para jagoan dan Warok Ponorogo."

   "Dan tentang pinangan itu sendiri bagaimana, paman?"

   "Kami juga tidak tahu apakah pinangan itu dilakukan dengan setulus hati, ataukah hanya merupakan siasat untuk menarik kami menjadi sekutu Ponorogo, Raden. Akan tetapi, aku adalah kawula Mataram dan aku tidak akan mengkhianati Mataram!"

   Kata Ki Sinduwening penuh semangat.

   (Lanjut ke Jilid 02)

   Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas)

   Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

   Jilid 02

   "Demi Allah, sampai matipun aku tidak sudi membantu pemberontak dan berkhianat kepada Mataram."

   Nurseta mengangguk-angguk, memandang kepada paman gurunya penuh kagum.

   "Bagaimanapun juga, paman Danusengoro telah menyeleweng dari pada watak ksatria, paman. Persyaratan sebagai sayembara yang paman dan diajeng Mawarsih adakan itu memang sudah sepatutnya dan saya pun mendukung sepenuhnya. Sudah sepantasnya kalau diajeng Mawarsih mendapatkan jodoh yang terbaik. Akan tetapi, paman Danusengoro hendak mempergunakan tindak kekerasan, hendak memaksakan kehendak. Kalau tahu begitu, tadi tentu akan saya kerahkan pasukan untuk menangkap dia dan Brantoko!"

   Ki Sinduwening mengangkat kedua tangan ke atas.

   "Semoga Gusti Allah mengampuninya, Raden, bagaimanapun juga, dia adalah paman gurumu sendiri, oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau kita memaafkan dia."

   "Kakangmas Nurseta, bagaimana keadaan uwa guru Jayagiri? Aku sendiri hanya mendengar namanya saja dari bapa. Apakah beliau mempunyai anak?"

   Mawarsih bertanya untuk mengalihkan percakapan.

   Nurseta menggeleng kapala.

   "Setahuku, bapa guru tidak mempunyai anak. Beliau hidup seorang diri di lereng Gunung Merbabu, bersama beberapa orang cantrik yang diambil dari penduduk sekitar tempat itu. Menurut para cantrik, setahun sebelum aku menjadi muridnya di sana, bapa guru ditinggal oleh isterinya."

   Tiba-tiba Ki Sinduwening bertanya, suaranya seperti orang yang dicekam ketegangan.

   "Ditinggal mati"".!!"

   "Tidak, paman. Menurut keterangan para cantrik, isteri bapa guru pergi meninggalkan bapa guru, entah ke mana."

   Tentu saja Nurseta tidak berani menceritakan semua yang pernah didengarnya dari para cantrik, bahwa ibu guru itu jauh lebih muda dan cantik, bahwa di antara bapa guru dan isterinya sering terdengar percecokan!

   "Eh, kenapa isteri uwa guru meninggalkan suaminya, Kakangmas?"

   Mawarsih bertanya heran. Nurseta hanya menggeleng kepala.

   "Aku tidak tahu, diajeng. Para cantrik tidak berani bercerita banyak."

   "Sudahlah, tidak baik membicarakan keadaan rumah tangga orang lain,"

   Kata Ki Sinduwening.

   "Paman Sinduwening, menurut pendapat saya, setelah terjadi peristiwa tadi, sungguh tidak aman bagi paman dan diajeng Mawarsih untuk tinggal di sini. Saya khawatir bahwa mereka akan merasa penasaran dan masih akan mendendam, dan bukan tidak mungkin mereka akan datang kembali membawa gerombolan yang lebih banyak dan lebih kuat untuk memaksa paman dan diajeng Mawarsih mengabdi kepada Ponorogo. Ki Sinduwening manarik napas panjang."

   "Kalau terjadi demikian, aku akan melawan sampai titik darah terakhir!"

   "Akupun tidak takut menghadapi mereka!"

   Kata pula Mawarsih dengan sikap gagah.

   "Saya percaya kepada paman dan diajeng Mawarsih akan berani membela diri akan tetapi hendaknya paman ingat bahwa persoalannya bukan sekedar mempertahankan nama dan kehormatan belaka. Harap paman ingat bahwa diajeng Mawarsih masih amat muda, masa depannya masih terbentang luas. Apakah paman tega membiarkan ia terancam bahaya, menempuh bahaya dan mempertaruhkan nyawa hanya untuk urusan kecil seperti itu? Paman, marilah paman dan diajeng Mawarsih meninggalkan tempat ini dan ikut bersama saya ke Mataram"""

   "Hemm, dan membiarkan Danusengoro menertawakan kami dan menganggap kami pengecut yang lari ketakutan darinya?"

   Kata Ki Sinduwening.

   "Sama sekali tidak, paman. Yang penting adalah kenyataannya. Biarkan saja mereka menyangka bagaimanapun. Paman dan diajeng Mawarsih bukan melarikan diri dari Ki Danusengoro dan muridnya. Merekalah yang bersikap pengecut, melakukan pengeroyokan, dibantu para warok. Paman dan diajeng Mawarsih meninggalkan tempat ini untuk mengabdi kepada Mataram. Paman saat ini Mataram membutuhkan bantuan orang-orang gagah seperti paman. Tentu paman sudah mendengar bahwa semua daerah pesisir utara yang dahulu sudah ditaklukan oleh Kanjeng Eyang Senopati, kini telah memberontak kembali. Untuk mempersatukan seluruh daerah itu, terpaksa Sribaginda mengirim pasukan untuk menundukan mereka kembali. Tenaga paman amat dibutuhkan di Mataram. Juga saya akan memberi kabar kepada ayah saya yang menjadi demang di Praban untuk mengirim pasukan penjaga di daerah ini, untuk menghadang kalau-kalau orang Ponorogo membuat kerusuhan di daerah perbatasan. Nah, sekali lagi, paman bukan melarikan diri dari Ki Danusengoro, melainkan pergi ke Mataram untuk mengabdi."

   Ki Sinduwening mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya. Dia melihat kebenaran dalam ucapan murid keponakan itu. Kalau di nekat menanti datangnya serangan balasan dari Danusengoro dan Brantoko yang tentu akan membawa gerombolan warok Ponorogo yang lebih kuat, tentu keadaannya terancam dan betul seperti yang dikatakan Nurseta, dia tidak boleh membiarkan puterinya terancam bahaya. Mungkin lebih mengerikan daripada bahaya maut kalau sampai Mawarsih tertawan oleh mereka. Dan kini Mataram membutuhkan bantuannya. Dia masih kuat, apa yang lebih menyenangkan baginya seorang ksatria dari pada berjuang demi kepentingan negara? Juga Mawarsih sudah mulai dewasa. Kalau anaknya itu dibiarkan hidup di pegunungan ini, tentu akan sukar memperoleh jodoh yang baik.

   "Usul yang andika itu baik sekali, Raden. Berikan waktu kepada kami selama sepekan ini untuk mengambil keputusan. Kalau kami berdua telah mengambil keputusan dan sepakat, kami akan segera berangkat ke Mataram."

   Nurseta menjadi girang bukan main.

   "Baik, paman. Saya akan menanti di sana akan dapat menghadapkan paman kepada Sribaginda. Hari ini juga saya akan menghubungi ayah agar mengirim pasukan keamanan untuk menjaga di perbatasan, sengaja agar orang-orang Ponorogo tidak melanggar perbatasan dan membikin kekacauan di daerah ini."

   Nurseta lalu berpamit dan meninggalkan padepokan Ki Sinduwening bersama dua belas orang perajurit pengawalnya. Akan tetapi setibanya di luar pedusunan, dia menghentikan pasukannnya, kemudian memerintahkan enam orang perajurit untuk tinggal di sekitar daerah itu melakukan pengawasan dan menjaga kalau-kalau gerombolan datang menyerang Ki Sinduwening. Dia sendiri bersama enam orang pengawal lalu membalapkan kuda menuju ke kademangan Praban.

   Suara suling itu mendayu-dayu, dengan lembut namun kuat menyusup-nyusup di relung kalbu. Tidak seperti suara suling pada senja-senja yang lalu, kini suara suling itu tidak melengking, melainkan lembut dan menggetar, lirih namun menembus. Mawarsih merasa trenyuh. Semenjak pertemuannya dengan Nurseta, kemudian bapanya memberitahu bahwa mereka akan meninggalkan dusun, pindah ke Mataram, perasaannya mudah ternyuh, mudah hanyut dan terharu. Sejak kecil ia tinggal di daerah pegunungan yang sunyi itu, tempat yang tenteram penuh damai, di mana hawa udaranya selalu sejuk dan segar, di mana ia hidup demikian dekat dengan alam sekitarnya, amat dekat dengan tanah, tumbuhtumbuhan, burung-burung dan angin. Ia merasa bersatu, menjadi bagian yang utuh dengan alam sekitarnya.

   Dan dalam waktu tiga hari ia akan meninggalkan semua itu! Ia akan hidup di kota, di tengah masyarakat ramai, tempat yang penuh sesak dengan manusia, tempat yang bising di mana akan sukar dapat menikmati kicau burung, kerik jangkrik, kokok ayam, koak katak, apa lagi suling yang mengalun lembut menyusup perasaan itu. Ia segera menyelesaikan mandinya. Berganti pakaian bersih, mengeringkan rambut basah yang tadi dikeramisinya, membiarkannya tergantung di punggungnya. Rambut yang amat hitam, gemuk dan panjang itu sampai ke pinggulnya, Mawarsih lalu meninggalkan pondok, berjalan agak cepat menuju ke arah suara suling, ia tahu siapa yang meniup, bahkan sudah dikenalnya. Anak penggembala itu bernama Bayu, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih dua belas tahun yang lincah dan cerdik. Dia menggembala kerbau milik kepala dusun Pancol. Bayu anak yatim piatu, masih kemenakan ki lurah Pancol dan tinggal di rumah pamannya itu sebagai seorang pembantu yang rajin.

   Mawarsih suka kepada bocah itu, yang lincah jenaka akan tetapi sopan dan pandai membawa diri, dan terutama sekali, yang pandai meniup suling melagukan kidung-kidung merdu. Ia tahu bahwa pada saat seperti sekarang ini. Bayu tentu sudah mengandangkan kerbau-kerbaunya dan kalau meniup suling di senja hari, biasanya berada di tepi anak sungai yang jernih airnya itu. Ia pun menuju ke sana. Tiba-tiba dara itu menahan langkah kakinya. Tiupan suling itu baru saja mengakhiri kidung Pangkur dan kini terdengar tiupan kidung Asmaradana. Ia merasa kagum. Anak itu memang cerdik sekali. Biasanya dia hanya pandai meniup kidung Dandanggula, Kinanti dan Pangkur saja. Sekarang sudah pandai memainkan Kidung Asmaradana, entah kapan belajarnya! Dan tiupannya juga berbeda dari biasanya. Tidak terlalu melengking-lengking lagi, melainkan lembut dan merdu, tanda bahwa tiupannya lebih mendalam.

   Semakin trenyuh hatinya mendengar kidung Asmaradana yang meliuk-liuk itu, dan ia pun mempercepat langkahnya menuju ke arah suara yang datangnya dari anak sungai. Ketika dia melewati jalan setapak yang menikung dan tiba di balik batu gunung, tiba-tiba ia kembali menghentikan langkahnya dan kini bahkan ia menyelinap di balik sebatang pohon cemara. Ia mengintai dengan mata terbelalak heran. Bayu memang berada di sana, di tepi anak sungai seperti biasa, akan tetapi tidak sendirian. Bahkan yang meniup suling bukan anak itu, melainkan seorang pemuda yang memakai kain sebatas pinggang, dan tubuh atasnya bertelanjang.

   Kiranya bukan Bayu yang meniup suling. Pantas ada perbedaan. Setelah tembang Asmaradana selesai dimainkan, terdengar pemuda itu bertanya.

   "Bagaimana, Bayu, apakah engkau sudah hafal tembang Asmaradana tadi?"

   Bayu mengangguk.

   "Sudah, kakang Aji. Akan tetapi aku ingin sekali menghafal tembang tentang Waringin Sungsang itu, kakang."

   Pemuda itu tersenyum dan Mawarsih merasa betapa jantungnya berdebar. Belum pernah selama hidupnya ia merasakan debar jantung seperti saat ia melihat pemuda itu tersenyum. Wajah itu! Bentuk tubuh itu! Semuanya serba pas, serba cocok dan serba indah baginya. Bentuk tubuh yang sedang saja, semua jelas nampak membanyang di dada yang bidang dan pundak yang tegap itu kekuatan yang tersembunyi di balik kulit yang gelap dan mengkilap tertimpa cahaya matahari pagi yang cerah, seperti dilapis baja. Tentu pemuda itu seorang petani yang rajin. Pekerjaan berat setiap hari membuat tubuh itu menjadi kuat dan sehat. Kain sarung yang dipakainya juga sedehana namun bersih. Dan wajahnya! Mengingatkan Mawarsih akan wajah tokoh wayang kesayangannya, yaitu Wisanggeni, putera Arjuna yang terkenal sakti mandraguna.

   Wajah itu tampan dan manis, terutama sekali mulut dan dagunya, dan senyumnya membuat matahari nampak semakin, cerah. Dan sepasang matanya itu! Demikian lembut, demikian tenang, namun juga mengandung kekuatan aneh. Heran, bagaimana di dusun terdapat seorang pemuda tani seperti ini!

   "Ah, kau maksudkan tembang Durma? Bukankah kemarin dulu engkau sudah dapat memainkan tembang itu?"

   "Akan tetapi, aku ingin sekali menghafal kata-kata dalam kidung itu, kakang Aji. Kata-katanya demikian indah. Aku baru hafal sedikit, belum seluruhnya. Maukah engkau mengulang dan menembangkannya agar aku dapat menghafalnya, kakang?"

   Kembali pemuda itu tersenyum.

   "Wah, sore-sore begini orang disuruh menebang. Kalau ada orang lain melihat dan mendengar, tentu mengira aku ini seorang yang suka bermalas-malasan."

   "Tidak, kakang Aji. Suaramu merdu, dan setiap orang yang mendengarnya akan menikmati kidung senja ini. Ayolah, kakang, jangan pelit. Beberapa bagian saja, tidak seluruhnya. Ayolah, kakang Aji!"

   Bayu merengek sambil memegang dan mengguncang lengan pemuda itu.

   "Baiklah, akan tetapi lirih-lirih saja. Malu kalau terdengar orang lain,"

   Kata pemuda itu. Kemudian diapun mulai menembang, lirih akan tetapi cukup keras bagi Mawarsih yang bersembunyi tak jauh dari situ. Dan ia pun terpesona! Suara itu lembut dan merdu, tembangnya pun sederhana saja, akan tetapi getaran suara itu mampu menyusup ke sanubarinya.

   "Waringin sungsang wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suci kembar, pipita jujur maripit, asri yen siang, angker kalane wengi. Duk samana akepel kumpuling rasa, metraku dadi dingin, metraningsun emas, puputihe mutiara, ireng treng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih, Rambut kawat sinomku pamor angrayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gongsa, irungku wesi"duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning. Guluningsun paron wesi galigiran, dada wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walungin, bauku denda, sikutku pukul wesi."

   Bayu bersorak gembira dan bertepuk tangan.

   "Bagus sekali, kakang Aji. Aku ingin sekali menjadi seperti itu!"

   "Seperti apa?"

   "Itu lho, badanku serba besi, otot kawat tulang besi, tidak tedas tapak paluning pande!"

   Bayu bangkit berdri, membusungkan dada, menepuk-nepuk dadanya dengan telapak tangan, sikapnya seperti Sang Gatutkaca menantang lawan. Pemuda itu tertawa, suara tawanya renyah dan bebas.

   "Ha-ha-ha, untuk apa engkau ingin menjadi orang digdaya, Bayu?"

   "Kalau aku digdaya, akan kutangkapi maling dan rampok, akan kuhajar mereka yang sewenang-wenang mempergunakan harta, kekuasaan da kekuatan untuk menindas orang lain."

   "Hemmm, engkau ini seorang bocah yang bercita-cita menjadi ksatria?"

   Mawarsih tidak dapat menahan kegembiraan dan juga kinginan hatinya untuk menemui dan bicara dengan mereka, maka iapun muncul dari balik batang pohon cemara.

   "Bayu"""!"

   Serunya memanggil, berlagak seperti baru tiba. Bayu membalikkan tubuhnya dan wajahnya berseri. Wajah anak itu cukup tampan dan matanya jelas membayangkan kecerdikan walaupun gerak-geriknya lugu seperti biasa anakanak dusun yang sederhana.

   "MBakayu Mawar"""..!"

   Dia meloncat dan lari menyambut.

   "Mari, Ayu, di sana ada kakang Aji. Engkau sudah mengenalnya, bukan?"

   Pemuda yang disebut Aji oleh Bayu itu bangkit berdiri, perlahan-lahan dia membetulkan kain sarungnya dan memandang ke arah dara yang datang bergandeng tangan dengan Bayu itu. Dia terpukau. Dara itu melangkah santai, lenggangnya seperti seorang penari, tubuhnya padat dengan lekuk lengkung sempurna, kulit pundak dan dada bagian atas yang tidak tertutup itu demikian putih kuning mulus seperti gading, wajah itu, leher itu, rembut itu! Aji teringat bahwa tidaklah pada tempatnya dan melanggar kesusilaan untuk memandangi seorang dara seperti itu, maka cepat ia menundukkan mukanya sehingga dia tidak melihat betapa pada saat yang bersamaan, dara itupun menundukkan muka yang berubah kemarahan.

   "Kakang Aji, ini adalah mbakayu Mawarsih. Apakah kalian belum pernah saling jumpa?"

   Kata Bayu setelah mereka datang dekat.

   Aji dan Mawarsih berdiri berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang sejenak lalu mereka menunduk kembali. Mawarsih hanya menggeleng dan Aji berkata.

   "Bayu, aku belum mendapat kehormatan untuk berkenalan dengan adik ini""."

   Dia menyebut adik kerena dia yakin bahwa biarpun usia mereka sebaya, dia tentu lebih tua satu atau dua tahun.

   "Ah, ya,aku lupa. Kakang Aji adalah seorang pendatang baru, dan tidak pernah meninggalkan dusun Pancot. Kakang, mbakayu Mawarsih ini bersama ayahnya yang bernama Ki Sinduwening, tinggal di balik jurang itu, di luar dusun Sintren. Ayu, ini adalah kakang Aji, masih keponakan paman lurah sendiri yang baru kurang lebih satu bulan datang berkunjung ke Pancol."

   Dua orang muda itu kembali mengangkat muka, saling pandang dan setelah kini diperkenalkan, mereka tidak begitu sungkan lagi. Mawarsih bukan seorang dara pemalu, akan tetapi entah mengapa, beradu pandang mata terlalu lama dengan pemuda itu membuat ia merasa canggung dan salah tingkah!

   "Kalau begitu, dia masih kadangmu sendiri, Bayu?"

   Tanya Mawarsih.

   "Benar mbakayu Mawar. Kakang Aji adalah keponakan paman lurah, sedangkan aku adalah keponakan isteri paman lurah."

   Karena pemuda itu diam saja dan kelihatan canggung, Mawarsih juga tidak menyapanya, sebaliknya ia lalu duduk di atas batu besar dan menyanggul rambutnya yang sudah mulai kering. Gerakan seorang wanita menyanggul rambut dalah gerakan yang amat indah, penuh kelembutan dan keluwesan. Gerakan jari-jari tangan, lekukan pergelangan dan siku, terangkatnya lengan dengan sopan berirama dengan gerakan leher dan kepala, disemarakkan oleh tergerainya rambut, sungguh seperti gerakan tari yang membuat hati orang tergetar karena indahnya, seperti halnya pemuda itu yang menjadi terpesona ketika mengerling ke arah gadis itu.

   Gerakan dara itu mengingatkan Aji kapada ibunya. Bayangan ibunya menyanggul rambutnya merupakan bayangan yang tak pernah dilupakannya, dan selalu kalau dia teringat ibunya, dia membayangkan ibunya menyanggul rambut seperti itu, penuh gerakan lembut dan luwes, gerakan wanita sepenuhnya dan selalu menimbulkan kerinduan di hatinya kepada ibunya. Pesona yang seolah menyihirnya itu membuat Aji menjadi bengong terlongong menatap Mawarsih, seolah setiap gerakan jari tangan gadis itu telah menyihirnya. Mawarsih yang sedang menyanggul rambutnya, seperti merasakan pandang mata itu karena tiba-tiba, ia yang tadinya menunduk, seperti ada daya tarik kuat yang membuat ia mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut dan Mawarsih mengerutkan

   "Ihh, kenapa engkau memandangku seperti itu?"

   Tiba-tiba ia merasa rikuh dan teringat betapa kedua lengannya terangkat ketika ia menyanggul rambut, betapa kedua ketiaknya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu nampak! Cepat ia menurunkan kedua lengannya dan menatap wajah pemuda itu dengan tajam penuh teguran. Teguran itu membuat Aji menjadi sadar dari pesona. Dia menjadi salah tingkah, menunduk dan mukanya berubah kemerahan, senyumnya untuk menutupi rasa malunya menjadi senyum masam, jari tangan kiri menggosok-gosok dagu yang belum berjenggot. Gerakan otomatis tanpa disadari ini merupakan ciri khasnya.

   "Eh, ahh"". aku""

   Tidak apa-apa. Tidak bolehkah memandang?"

   Aji mengelak dan balas menyerang, sepasang matanya yang tajam mencorong itu kini mengamati wajah Mawarsih penuh selidik. Kini Mawarsih yang tersipu dan kedua pipinya yang sudah jambon itu menjadi semakin merah. Diam-diam ia merasa heran bukan main. Kenapa ia menjadi begini celingus? Kenapa pandang mata dan senyum malu-malu pemuda ini dapat membuat ia menjadi salah tingkah, merasa seolah-olah setiap gerak-geriknya diamati dan setiap denyut jantungnya didengar? Di lain pihak, Aji semakin terpesona. Melihat serangannya tadi membuat Mawarsih tersipu malu dan agaknya tidak mampu menglak atau menangkis, hanya menunduk, timbul perasaan iba di hatinya.

   "Maafkan"","

   Katanya lirih suaranya penuh penyesalan seolah-olah dia telah melakukan dosa besar.

   """.maafkan aku. Aku tidak bermaksud tidak sopan""."

   Dan hati Mawarsihpun luluh. Kenapa ia begitu keras hati, menegur orang yang memandang kepadanya? Pandang mata pemuda ini penuh kagum kepadanya, seperti juga pandang mata Brantoko ketika datang meminangnya, akan tetapi kekaguman pemuda ini tidak membayangkan suatu perasaan yang kurang ajar. Kekagumannya demikian wajar, kenapa ia tadi menegurnya?

   "Sudahlah, ki sanak"""

   "Namaku Aji, Banuaji"""

   Mawarsih tersenyum dan terpaksa Aji menundukan pandang matanya, senyum yang membuat wajah itu nampak demikian jelita dan manisnya tentu akan membuat dia terpesona lagi.

   "Baiklah, akan tetapi engkau juga harus memanggil aku Mawarsih."

   "Terima kasih, Mawar, aku senang sekali""."

   "Aji, eh, kumaksud Kakang Aji, tidak ada sesuatu yang harus dimintakan maaf di antara kita. Kita sudah berkenalan dan berarti manjadi sahabat, bukan? Kusebut engkau kakang, karena aku yakin kau lebih tua dariku. Usiaku sudah tujuh belas tahun."

   "Aku berusia sembilan belas tahun, Mawar. Aku hanya seorang pemuda pedusunan yang tidak mengenal tata-krama, maka kalau ada sikap dan kata-kataku yang kurang sopan, harap kau maklumi."

   Mawarsih tertawa dan menutupi mulut sehingga diam-diam Aji menyayangkannya. Kenapa penglihatan yang demikian indah menarik ditutupi dan disembunyikan di balik tangan? "Kakang Aji, engkau ini orangnya terlalu rendah hati. Aku sendiri bocah desa, dan mendengar ucapanmu, engkau seorang yang bersusila, kata-katamu teratur dan sikapmu lemah lembut, pantasnya engkau ini seorang pangeran yang menyamar sebagai pemuda dusun."

   Mendengar ini, pemuda itu tertawa bergelak sambil menengadah. Wajahnya nampak kekanak-kanakan ketika dia tertawa lepas seperti itu dan suara tawanya membawa daya tular yang kuat sehingga Mawarsih juga ikut

   "Ha-ha-ha-ha, di mana di dunia ini ada pangeran seperti aku? Aku hanya seorang pemuda dusun yng pandainya hanya bertani, mencangkul, menyabit rumput, menggembala kerbau"""".!"

   "Jangan lupa, kakang Aji ini pandai sekali meniup suling dan menembang, mbakayu Mawar!"

   Sambung Bayu yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.

   "Wah, kepandaianmu itu sudah cukup banyak, kakang Aji. Akupun hanya seorang bocah dusun yang kebiasaannya menanak nasi, menjerang air, mencuci pakaian dan segala pekerjaan dapur""."

   "Jangan lupa, mbakayu Mawarsih inipun pandai berpencak silat, digdaya dan kalau hanya lima sampai sepuluh orang maling atau perampok saja tentu akan dihajarnya sampai tunggang langgang""""

   "Ihh, Bayu, jangan banyak membual kau!"

   Mawarsih berlagak menghardik. Bayu yang sudah mengenal baik watak dara itu, menyeringai.

   "Siapa membual, mbakayu Mawar? Kakang Aji, mbakayu Mawar ini dan ayahnya terkenal sebagai orang-orang yang sakti mandraguna!"

   Banuaji mamandang kagum, hampir tidak percaya.

   "Wah, kalau begitu aku telah bersikap lancang dan kurang hormat! Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang dara seperti mas ayu ini, yang begini lemah lembut, begini""

   Eh, cantik jelita dan halus, ternyata memiliki kedigdayaan. Maafkan kelancanganku tadi, mas ayu Mawarsih""."

   "Hushhh! Kalau kalian bersikap begini, sebaiknya aku pulang saja!"

   Kata Mawarsih, cemberut dan membuat gerakan melangkah pergi dari situ.

   "Wah, jangan pergi, mbakayu! Kalau begitu maafkan aku, mbakayu."

   Kata Bayu. Anak ini sudah mendahului dan menghadang di depan gadis itu. Aji juga cepat menghampiri dan berkata dengan sikap hormat.

   "Maafkan kami. Bukan maksud kami menyinggung perasaan"""

   Bayu membuat gerakan seperti hendak menyembah.

   "Akulah yang bersalah, mbakayu, biarlah aku minta ampun, kalau perlu dengan menyembahmu""."

   Melihat sikap anak itu, Mawarsih tersenyum dan menangkap pundak anak itu, ditariknya bangkit lagi.

   "Asal kalian tidak bicara lagi tentang kedigdayaan, aku mau bercakap-cakap dengan kalian. Kita adalah orang-orang dusun biasa, tidak perlu banyak membual dan berlagak."

   Mereka lalu duduk di atas batu-batu di tepi sungai kecil itu, dan Aji tak dapat lagi menahan hatinya yang diliputi penuh kekaguman.

   "Aku merasa mendapat kehormatan besar dapat bertemu dan berkenalan denganmu, mas ayu"""

   
Kidung Senja Di Mataram Karya Kho Ping Hoo di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

   
"Nah mulai lagi ini rupanya!"

   Mawarsih menegur, akan tetapi sambil tersenyum.

   "Kakang Aji, kalau engkau masih bersungkan-sungkan, akupun tidak suka menjadi sahabatmu. Namaku Mawarsih dan sebut saja namaku tanpa embel-embel lain."

   "Maaf, Mawar""

   Ah, aku memang serba canggung. Maklumlah, sejak kecil aku berada di dusun pegunungan, kurang mengerti tata-krama."

   Mawarsih tersenyum.

   "Apa sih tata-krama itu kakang Aji? Biasanya, di balik tata-krama itu terkandung kepalsuan. Tata krama hanya dipergunakan untuk menutupi niat buruk, hanya untuk bermanis-manis dan berpalsu-palsu. Aku lebih menghargai sikap yang polos, jujur dan terbuka, biarpun nampaknya kadang kasar dan bodoh. Kepolosan seorang petani dusun jauh lebih murni daripada sikap bermanis-manis palsu yang dinamakan tata-krama para priyayi. Karena itu, aku merasa senang kalau engkau dan Bayu bersikap biasa, tidak memakai kedok tata krama sehingga aku tidak dapat melihat wajah kalian yang sebenarnya."

   Sepasang mata pemuda itu memancarkan kekaguman yang tidak disembunyikan lagi.

   "Andika hebat, Mawar! Seorang dara yang hidup di pedusunan, di pegunungan, akan tetapi selain memiliki kedigdayaan, juga memiliki pandangan yang demikian luas, berani mengemukakan hal yang berlawanan dengan pendapat umum walaupun yang dikemukakan itu merupakan kenyataan yang benar. Aku kagum, Mawar, dan kekagumanku bukan untuk bermanis-manis!"

   Kini Mawarsih yang mangamati wajah pemuda itu dengan penuh perhatian, lalu iapun tersenyum.

   "Dan engkaupun tidak dapat menyembunyikan keadaan dirimu di balik kesederhanaanmu, kakang Aji."

   Pemuda itu nampak terkejut.

   "Maksudmu bagaimana, Mawar? Aku seorang pemuda dusun, dari kaki Gunung Lawu sebelah timur, aku tidak menyembunyikan apa-apa."

   Mawarsih tersenyum.

   "Engkau mungkin memang pemuda dusun, akan tetapi dari cara engkau bicara dapat diketahui bahwa engkau bukan seorang yang tidak memiliki pengetahuan yang luas."

   "Mbakayu Mawar, kakang Aji memang seorang seniman tulen. Bukan saja pandai meniup suling dan menembang, akan tetapi juga pandai menari, memainkan semua gamelan, bahkan mendalang."

   "Wah-wah, engkau bisa membikin kepalaku membesar, Bayu. Jangan membual terlalu jauh."

   "Nah, sikapmu yang pandai merendah itu, kakang aji, menunjukkan bahwa andika bukan orang yang tinggi hati dan sombong, aku yakin andika terlalu banyak pula mempelajari kitabkitab para pujangga. Engkau tentu seorang seniman sejati."

   "Seniman sejati? Apakah gerangan yang dinamakan seniman itu, nimas?"

   "Menurut ayahku, seorang seniman itu seorang ahli seni, seorang yang berbakat seni, dan seorang seniman berperasaan halus, rendah hati, dan mencintai keindahan bahkan dapat melihat keindahan pada apa saja, di mana saja dan kapan saja. Karna itu, seorang seniman selalu mamayu hayuning bawono, tidak pernah merusak melainkan menjaga kelestarian dan keindahan alam dan lingkungan, membangun dan memperbaiki."

   "Wah-wah-wah, aku merasa seperti melayang di awang-awang atau terapung dibuai arus samudera. Gambaranmu itu terlampau tinggi, Mawar, akan tetapi terima kasih karena andika telah memberi contoh gambaran bagaimana seyogianya seorang hidup di dunia ini."

   Mawarsih mengadah, memandang langit yang mulai suram.

   "Wah, tidak terasa malam hampir tiba, aku harus segera pulang menanak nasi. Bayu, sebetulnya aku mencarimu untuk pamit."

   "Ehh? Pamit? Andika hendak pergi ke manakah, mbakayu Mawar?"

   "Beberapa hari lagi, ayah dan aku akan meninggalkan dusun Sintren. Kami akan pindah ke Mataram."

   Suara gadis itu menjadi lemah. Memang berat rasa hatinya harus meninggalkan tempat itu, tempat yang dikenalnya sejak kecil, membuat ia akrab dengan segala yang terdapat di situ, dengan bukit-bukitnya, dengan pohon-pohonnya, dengan batu dan sungai, dengan penduduk, terutama Bayu, Penggembala kerbau itu pun tertegun.

   "Pindah? Pergi dari sini, mbakayu? Ah, kenapa?"

   Melihat anak itu memandang kepadanya dengan muka membayangkan kekecewaan, Mawarsih menghampiri dan membelai kepala anak itu.

   "Jangan tanya kenapa, Bayu, ini kehendak ayah dan aku harus mengikutinya. Kau jaga baik-baik dirimu, Bayu, dan engkau beruntung dekat dengan kakang Aji ini. Dia akan dapat menuntun dan menasehatimu. Kau taatilah segala petunjuknya dan kelak engkau akan mnjadi orang yang berguna. Nah, selamat tinggal, Bayu. Kakang Aji, selamat berpisah."

   "Aduh, kenapa begini, Mawar? Kita baru saja bertemu, pertemuan yang amat membahagiakan hatiku, dan kita harus berpisah. Andika pindah ke Mataram, berarti belum tentu kita dapat saling jumpa kembali. Aku hanya dapat membekali puja puji semoga andika selalu mendapat berkah dan bimbingan Yang Maha Kasih."

   "Terima kasih, kakang Aji. Bayu sampaikan salamku kepada semua orang yang tidak sempat kupamiti."

   Bayu hanya terlongong saja, merasa kehilangan, memandang kepada dara yang berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Belum terlalu jauh Mawarsih meninggalkan tempat itu, ia mendengar suara suling ditiup melengking-lengking. Indah sekali suara itu, melagukan tembang Megatruh yang membuat hati merasa nglangut dan trenyuh. Mawarih tersenyum, menoleh dan ia melihat Aji yang meniup suling itu. Ia merasa betapa pemuda itu sengaja meniup suling untuknya, dan merasa lengking itu sebagai temannya berjalan pulang.

   Kerajaan Mataram adalah kerajaan yang masih muda, namun berkat kebesaran Panembahan Senopati, yaitu Adipati Mataram yang ke dua. Mataram menjadi besar dan menaklukan sebagian besar kadipaten di seluruh pulau jawa. Tadinya Mataram hanya merupakan kadipaten yang kecil saja, merupakan bagian dari kerajaan Pajang yang ketika itu diperintah oleh Sultan Pajang yang bergelar Sultan Hadiwijaya. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan bumi Mentaok kepada seorang panglimanya yang berjasa besar, yaitu Ki Panembahan.

   Oleh Ki Panembahan, bumi Mentaok yang tadinya kecil tak berarti itu dibangun dengan kerja keras penuh semangat dan menjadi tempat yang makmur dan banyak orang berdatangan untuk tinggal di situ. Ki Panembahan lalu mengangkat diri menjadi Adipati Mataram dengan julukan Ki Ageng Pemanahan. Kemudian dia mengundurkan diri dan puteranya yang tadinya menjadi panglima perang dengan pangkat Senopati Hing Ngalogo, diangkat menggantikannya sebagai pewaris Bumi Mataram. Putera Ki Panembahan ini bernama Sutawijaya, seorang pemuda yang cakap dan bijaksana.

   Setelah menjadi adipati menggantikan ayahnya, Sutawijaya berjuluk Panembahan Senopati [1575-1601]. Sebelum menjadi adipati, dia adalah seorang senopati [panglima], maka begitu menjadi adipati, diapun bercita-cita mempersatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaannya. Pertama-tama, adipati Mataram ini mengyerang karajaan Pajang. Perang saudara yang besar terjadi bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, setelah Sultan Hadiwijaya dari Pajang meninggal dunia, Pajang dapat ditundukkan oleh Mataram. Tidak puas dengan kemenangan itu, PanSenopati mengerahkan pasukannya untuk menundukkan semua daerah yang dikuasai para raja muda dan adipati. Panembahan Senopati sendiri lalu mengangkat diri menjadi Sunan MataDia mengerahkan pasukan menundukkan daerah di pesisir utara.

   Pertama-tama diserbunya Demak dan ditundukkannya, kemudian pasukannya bergerak ke Jawa Timur, Surabaya, Pasuruan, KedMadiun dan Ponorogo, semua satu demi satu jatuh dan menaluk. Bahkan dalam tahun 1595 pasukan Sunan Mataram Panembahan Senopati menyerang dan menundukan Cirebon dan kerajaan Galuh. Akan tetapi ketika Sunan Mataram Panembahan Senopati meninggal dunia dalam tahun 1601, hampir semua daerah yang tadinya ditundukan oleh Mataram, memberontak dan tidak mengakui kekuasaan raja baru. Pengganti Panembahan Senopati adalah puteranya yaitu Pangeran Mas Jolang yang telah dinobatkan menjadi sunan Mataram berjuluk Sang Prabu Hanyokrowati.

   Melihat betapa daerah pesisir dan Jawa Timur yang tadinya sudah takluk kini memberontak kembali, terpaksa Sunan Prabu Hanyokrowati menggerakkan pasukan untuk menyerbu dan menundukkan kembali daerah-daerah itu. Perang saudara terjadi di manamana. Padahal, mendiang Panembahan Senopati telah bersikap bijaksana. Daerah-daerah yang sudah ditundukkan itu diberi hak untuk berdaulat sendiri sebagai kadipaten bahkan diantaranya dipimpin oleh seorang adipati yang masih kerabat sendiri dari Sunan Mataram. Namun setelah Sunan Mataram meninggal dunia, tetap saja hampir semua daerah taklukan itu ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Maka terulang kembali perang saudara ketika Sang Prabu Hanyokrowati berusaha menundukkan kembali kadipaten-kadipaten yang memberontak itu.

   Ketika cerita ini terjadi, Demak baru saja ditundukkan kembali oleh pasukan Mataram, pada tahun 1604, setelah terjadi perang dengan Demak selama kurang lebih dua tahun. Dan kini Mataram sudah siapsiap untuk menundukkan kembali daerah di Jawa Timur. Namun, karena baru saja pasukan Mataram melakukan gerakan besar-besaran menundukkan Demak dan semua daerah pasisir, maka Mataram harus menyusun kembali kepala pasukannya dan memberi waktu kepada pasukannya untuk beristirahat sebelum menyerbu ke Jawa Timur. Dan waktu luang ini dipergunakan Mataram untuk menyusun kekuatan, juga untuk mengirim penyelidikpenyelidik ke daerah Jawa Timur yang akan diserbu dan akan ditundukan kembali.

   Ketika Raden Nurseta dan pasukan kecilnya menolong Ki Sinduwening dan Mawarsih yang dikeroyok oleh Ki Danusengoro dan Brantoko dibantu para warok Ponorogo, panglima pasukan pengawal itu juga sedang melakukan penyelidikan di perbatasan untuk mengamati keadaan Gunung Lawu yang bagian timurnya termasuk wilayah Ponorogo pada waktu itu. Maka, ketika berkenalan dengan Ki Sinduwening dan diapun membujuk orang tua itu untuk pindah ke Mataram dan menyumbangkan tenaganya untuk negara. Hal ini dia lakukan bukan saja sehubungan dengan tugasnya, akan tetapi juga karena dia tertarik sekali kepada Mawarsih, bahkan begitu berjumpa dan menyaksikan ketangkasan dara perkasa itu, dia merasa kagum dan jatuh cinta! Kalau ayah gadis itu pindah ke Mataram, berarti dia akan selalu dekat dengan dara itu.

   Sang Prabu Hanyokrowati atau Mas Jolang segera mengenal Ki Sinduwening ketika Nurseta mengajak bekas senopati itu menghadap. Ki Sinduwening pernah menjadi tokoh penting yang dahulu membantu Sunan Mataram Panembahan Senopati. Ketika Sang Prabu Hanyokrowati masih menjadi Pangeran Raden Mas Jolang, dia sudah mengenal Ki Siduwening. Setelah mendengar laporan Nurseta dan menerima sembah Ki Sinduwening, Sang Prabu dengan wajah cerah menerima penawaran dari Ki Sinduwening.

   "Paman Sinduwening, kami merasa gembira sekali bahwa paman dalam usia lanjut masih setia kepada kami dan suka menghambakan diri demi kepentingan Mataram. Kami sudah mengenal pengabdian paman kepada mendiang ramanda sunan, maka kami tidak ragu-ragu untuk menyerahkan tugas penting kepada paman, dan mengangkat paman sebagai seorang panglima perang."

   Ki Sinduwening memberi hormat dengan sembah.

   "Hamba menghaturkan banyak terima kasih atas kepercayaan dan karunia paduka, Sang Prabu. Akan tetapi, sesungguhnya hamba menghadap paduka bukan untuk mengharapkan pangkat atau kedudukan. Hamba bertemu dengan Raden Nurseta dan mendengar akan pemberontakan para adipati terhadap Mataram. Hamba ingin berbakti kepada Mataram selagi hamba masih kuat, untuk membalas budi kebaikan mendiang Kanjeng Sunan dan untuk berbakti kepada negara."

   Sang Prabu Hanyokrowati tertawa.

   "Kami tahu, paman. Kami sudah mengenal watak andika. Setelah dahulu kanjeng rama berhasil menundukkan semua kadipaten, andika juga tidak bersedia menerima anugerah pangkat dan bahkan mengundurkan diri dan menyepi. Akan tetapi, untuk tugas mempimpin pasukan, bagaimana mungkin anak buah pasukan akan mentaati andika, kalau andika tidak memegang jabatan panglima? Paman Sinduwening mulai saat ini, andika kami beri pangkat senopati dan memimpin pasukan penyelidik, untuk melakukan penyelidikan ke timur. Pertama-tama ke Ponorogo dan andika akan kami beri kekuasaan untuk bertindak atas sebuah kadipaten sebagai kuasa dan wakil kami."

   Pada hari itu juga, Sang Prabu Hanyokrowati memerintahkan agar kepada Ki Sindu-wening diberikan sebuah rumah gedung lengkap dengan perabotnya untuk menjadi tempat tinggal senopati baru itu. Ki Sinduwening merasa terharu dan hanya mengucapkan sembah terima kasih, dan berjanji dalam hatinya bahwa dia akan berjuang sekuat tenaga untuk mengabdi kapada Mataram dengan setia. Sebelum berangkat menunaikan tugasnya Ki Sinduwening lebih dahulu mengatur rumah baru pemberian Sang Prabu, bersama Mawarsih. Dalam pekerjaan ini, Nurseta mengulurkan tangan membantu, bahkan mencarikan seorang pembantu wanita untuk menjadi pelayan dalam rumah dan seorang pembantu pria untuk bekerja di luar rumah. Ayah dan anak itu merasa berterima kasih kepada Nurseta. Setelah selesai mengatur rumah baru itu, Ki Sinduwening berangkat meninggalkan Mataram bersama seratus orang anak buah yang merupakan perajurit penyelidik yang berpengalaman. Dia membawa anak buahnya menyusup ke daerah Jawa Timur.

   Ada suatu hal yang menjadi ganjalan di hati Mawarsih. Sebelum ayahnya pergi, orang tua itu telah meninggalkan pesan kepada Nurseta di depannya, ketika pemuda itu datang berkunjung untuk mengantar kepergian Ki Sinduwening. Di depannya, ayahnya itu meninggalkan pesan kepada Nurseta agar selama menunaikan tugas, pemuda itu suka mengawini, menjaga dan mengamati Mawarsih! Kemudian, di dalam kamarnya, ayahnya meninggalkan pesan kepadanya tanpa diketahui orang lain.

   "Mawar, anakku yang manis. Selama ayah pergi, baik-baiklah engkau menjaga diri di rumah. Kalau ada keperluan apapun, sampaikan saja kepada Raden Nurseta. Dilah orang yang telah menolong kita dan karena bantuannya maka kita dapat menerima anugerah dari Sang Prabu. Dan kalau Gusti Allah menghendaki, hatiku akan merasa bahagia apabila engkau dapat menjadi jodohnya."

   Pesan inilah yang menjadi ganjalan di hati Mawarsih. Bukan ia tidak suka kepada Nurseta. Pemuda itu memenuhi segala syarat untuk menjadi seorang suami yang membanggakan. Berwajah tampan, memiliki kegagahan, juga memiliki kedudukan tinggi dan kuasa, berwatak gagah perkasa, dan masih murid dari uwa gurunya sendiri. Mau apa lagi? Akan tetapi, entah mengapa, ia tidak mempunyai perasaan kasih sayang kepada pemuda ganteng itu. Bahkan ada sesuatu pada diri Nurseta yang mendatangkan perasaan tidak enak dalam hatinya. Perasaan tidak enak itu terasa setelah ayahnya pergi. Nurseta terlalu sering datang berkunjung dan pemuda tampan itu selalu nampak rapi, dengan dandanan seorang pesolek, pakaian serba indah dan mahal, sikap dan gerak-geriknya genit dan mengandung rayuan.

   Ia yang biasa hidup di pedusunan, yang biasanya melihat sikap dan gerak-gerik yang jujur dan polos serta wajar dari para penghuni dusun, kini melihat dengan jelas sekali gerak-gerik orang yang dianggapnya tidak wajar, dibuat-buat dan palsu. Bagi gadis-gadis lain, terutama gadis-gadis dusun, keadaan dan sikap pemuda ganteng ini tentu akan mempunyai daya tarik yang amat kuat dan akan dapat merobohkan hati mereka dengan mudah. Namun Mawarsih bukanlah dara biasa. Sejak kecil ia telah menerima gemblengan dari ayahnya, gemblengan lahir batin. Ia bukan seorang dara yang mudah silau oleh gemerlapnya sesuatu dari luar. Bahkan ayahnya sendiri sering kali menasihatinya agar ia tidak mudah terkecoh oleh segala sesuatu yang nampak indah menarik dari luar.

   "Nini, jangan menilai sesuatu dari kulitnya. Engkau akan terkecoh dan kecelik. Buah mundu itu kulitnya halus warnanya menimbulkan selera, namun isinya masam. Sebaliknya, buah durian kulitnya buruk tidak menarik, namun isinya manis dan lezat. Demikianpun manusia. Jangan menilai seseorang dari ketampanan wajahnya, besarnya kekayaannya atau tingginya kedudukannya. Semua itu palsu dan dapat menyesatkan."

   Demikianlah nasihat ayahnya dan gemblengan batin dari ayahnya membuat ia menjadi seorang gadis yang tidak mudah tertarik oleh sesuatu yang indah, kalau keindahan itu keindahan buatan, buka sewajarnya.

   Andaikata Nurseta seorang sederhana, tidak pesolek, tidak genit sikapnya, bersikap wajar saja, tentu akan mudah bagi Mawarsih untuk jatuh cinta. Pemuda itu memiliki kagagahan dan sudah memperlihatkan budi kebaikan dengan menolong ayahnya, bahkan sudah membantu ketika ia dan ayahnya terdesak dan terancam oleh Ki Danusengoro dan anak buahnya. Akan tetapi sayang, Nurseta memang seorang pemuda yang lincah jenaka, perayu dan pesolek sehingga Mawarsih melihat dia sebagai seorang pria yang dibungkus kepalsuan. Yang membuat ia tak senang adalah seringnya pemuda itu datang berkunjung, mengajaknya bercaka-cakap, bersenda-gurau, bahkan selalu merayu dan mengambil hati. Ia terpaksa harus menerima setiap kunjungan pemuda itu, bukan hanya karena pemuda itu penolong ayahnya atau karena ayahnya sudah meninggalkan pesan, akan tetapi juga demi kesopanan.

   Selama pemuda itu datang dengan iktikat baik, ia tidak dapat menghindarinya, tidak dapat pula menolaknya. Hanya sikap yang bermanis muka, menjilat dan merayu itulah yang membuat hatinya merasa muak. Raden Nurseta yang yakin sepenuhnya akan kemampuan dirinya, yakin bahwa dia tampan dan berkedudukan, apa lagi karena selama ini tidak ada seorangpun wanita yang mampu bertahan dari rayuannya, sekali ini benar-benar jatuh cinta kepada Mawarsih. Oleh karena itu, dia bersikap hati-hati dan tidak berani lancang mulut menyatakan cintanya. Rayuannya berupa puji-pujian, sering membawakan hadiah dan sikapnya yang manis budi, selalu dibatasi kesopanKalau dara yang dicintanya ini sampai marah, berbahaya baginya dan dia tidak mau kehilangan Mawarsih. Oleh karena itu, dia bersikap sabar dan sopan, namun selalu berusaha menyenangkan hatinya.

   Justru sikap pemuda ini yang membuat Mawarsih merasa tidak enak dan serba salah. Andaikata pemuda ini bersikap kasar dan kurang ajar, tentu ia akan mendapatkan alasan untuk mengusirnya dan memutuskan hubungan. Akan tetapi, pemuda ini bersikap sopan dan baik, dan tetap selalu mengunjunginya setiap ada kesempatan. Hal ini membuat Mawarsih merasa tersiksa dan mulailah ia menjadi gelisah dan tidak kerasan berada di rumah. Ia mulai merasa kehilangan ayahnya, dan terutama sekali kehilangan lingkungan yang amat tenteram menyenangkan di lereng Lawu itu. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk meninggalkan Mataram, pergi mencari ayahnya! Ia tidak dapat bertahan lagi. Dan mengingat akan pesan ayahnya, iapun segera memberitahukan maksud hatinya itu kepada Nurseta. Akan tetapi ia tidak mengatakan bahwa ia hendak mencari ayahnya, karena hal itu tentu akan menimbulkan keributan di pihak Nurseta.

   "Kakangmas Nurseta, aku merasa rindu sekali kepada kampung halamanku di lereng Lawu, apa lagi karena kepergian ayah membuat aku merasa kesepian. Aku ingin pergi berkunjung ke dusun Sintren."

   "Aku akan menemanimu, diajeng. Biar kuantarkan engkau ke sana, kerena kebetulan sekali tidak ada tugas bagiku. Dan kita singgah di kediaman orang tuaku. Aku ingin memperkenalkan diajeng kepada ayah ibuku."

   Mawarsih menggerakkan tangan mencegah.

   "Tidak usah ditemani, kakangmas. Aku akan pergi sendiri saja."

   "Tapi, diajeng Mawarsih. Engkau adalah seorang wanita, bagaimana akan melakukan perjalanan seorang diri? Perjalanan itu melewati bukit, jurang dan hutan belukar!"

   "Kakangmas Nurseta, andika lupa agaknya bahwa aku bukanlah seorang wanita lemah. Aku akan melakukan perjalanan sendiri saja dan hendak kulihat, siapa yang akan berani dan mampu menggangguku"

   Kata Mawarsih dengan suara tegas.

   Nurseta menarik napas panjang. Dia tahu bahwa kalau dia memaksa untuk mengawal gadis ini, Mawarsih akan menjadi marah.

   "Baiklah, kalau andika menghendaki begitu, diajeng. Berapa lama diajeng hendak berkunjung ke dusun itu? Aku telah dititipi paman Sinduwening, maka akulah yang bertanggung jawab atas keselamatanmu. Maka, aku perlu mengetahui berapa lama diajeng akan meninggalkan rumah ini."

   Mawarsih tidak tahu berapa lama ia akan dapat menemukan ayahnya. Akan tetapi, untuk berkunjung ke dusun Sintren, ia harus menentukan batas waktunya.

   "Paling lama satu bulan aku akan kembali ke sini, kakangmas."

   Nurseta tidak dapat berbuat lain kecuali menyetujui dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mawarsih meninggalkan ibu kota Mataram, membawa buntalan pakaian sebagai bekal.

   Kalau ada orang melihat isi buntalan itu, tentu akan merasa heran karena dalam buntalan itu terisi pakaian untuk pria! Dengan hati penuh kekecewaan dan penyesalan bahwa dia tidak dapat menemani dara perkasa yang dicintainya itu, Nurseta terpaksa melepas Mawarsih pergi. Setelah jauh meninggalkan Mataram dan berada di dalam sebuah hutan yang sunyi, barulah Mawarsih bersembunyi di balik semak belukar. Untuk beberapa lamanya ia berada di balik semak. Setengah jam kemudian, muncullah dari balik semak itu seorang pemuda tampan, yang berpakaian seperti seorang pemuda dusun, dengan ikat kepala berwarna hitam. Pemuda tampan ini kelihatan seperti seorang pemuda remaja berusia lima belas atau enam belas tahun saja. Dia adalahMawarsih yang menyamar sebagai pria. Niatnya untuk pergi mencari ayahnya sudah dipikirkan selama beberapa pekan dan diam-diam ia telah membuat persiapan untuk menyamar sebagai pria, bahkan sudah berlatih di dalan kamarnya bagaimana untuk berlagak kalau ia berpakainya pria.

   Kini lenyaplah Mawarsih, dan muncullah seorang pemuda remaja tampan yang mengenakan nama sederhana sekali, yaitu Joko Lawu! Mawarsih atau lebih baik kita sebut Joko Lawu memang benar-benar mendaki pegunungan Lawu, akan tetapi dia tidak pergi ke dusun Sintren. Walaupun memang dia merasa rindu kepada kampung halamannya itu, namun dia sedang mencari ayahnya, menyusul ke daerah Ponorogo di mana ayahnya bertugas dan dia sedang dalam penyamaran, maka tentu saja tidak baik kalau dia memperlihatkan diri sebagai Joko Lawu kepada penduduk dusun itu. Kalau ada yang mengenalnya, maka mereka tentu akan merasa heran dan penyamarannya akan terbuka. Dia mengambil jalan lain, melintasi perbukitan dan menuju ke lereng Lawu sebelah timur.

   Pada suatu senja, tibalah Joko Lawu di dusun Muncang yang berada di lereng Gunung Lawu sebelah timur. Dusun ini cukup ramai dan pada malam hari itu lebih meriah dari pada biasanya karena kepala dusun itu mengadakan pesta merayakan pernikahan puterinya. Yang membuat perayaan itu amat meriah adalah karena kepala dusun Muncang mendatangkan serombongan penari dan penyanyi berikut seperangkat gamelan dengan para penabuhnya. Rombongan ini datang dari Pacitan dan amat terkenal karena memiliki ledek (penari dan penyanyi) yang manis-manis, bersuara merdu dan pandai berjoget.

   Terutama sekali karena dalam rombongan itu ikut pula seorang ledek muda yang baru beberapa bulan terjun ke dalam dunia kesenian ini, namun namanya sudah terkenal kerena ledek muda ini memang cantik manis, suaranya merdu dan bentuk tubuhnya yang ramping padat membuat tariannya nampak menggairahkan. Usianya baru tujuh belas tahun dan nama ledek baru ini Saminten. Namun kepala rombongan gamelan itu memberi julukan Maduraras kepada Saminten. Joko Lawu mendapat tempat pondokan di rumah seorang kakek duda, petani yang hidup seorang diri di ujung dusun itu. Kakek itu peramah sekali dan dia yang mengajak Joko Lawu untuk nonton keramaian, kerena malam itu kepala dusun merayakan perkawinan puterinya dengan pesta tayuban!

   "Madularas ikut dalam rombongan itu, Raden,"

   Kata kakek itu yang menyebut raden kepada Joko Lawu karena biarpun mengenakan pakaian sederhana, namun penampilan pemuda tampan ini memang menyakinkan, dan kulitnya yang putih bersih itu tentu saja membuat si kakek petani menganggap dia seorang priyayi. Karena kakek itu berkeras menyebutnya raden, maka Joko Lawu membiarkannya saja. Bagaimanapun juga, dia hanya akan melewatkan malam saja di dusun itu dan besok pagi sebelum matahari muncul, dia sudah akan melanjutkan perjalanannya.

   "Pesta itu ramai sekali dan tak seorangpun melewatkan kesempatan baik untuk nonton atau bahkan ikut dalam tayuban ini."

   Joko Lawu tentu saja mengenal apa yang dinamakan pesta tayuban itu.

   Sejak kecil dia sudah seringkali menonton pesta tayuban, sebuah pesta tradisionil di mana para tamu yang ketiban sampur diharuskan menari dengan ledeknya. Karena dalam pesta itu dihidang- kan minuman keras, arak atau tuwak, dan yang ikut menari banyak yang dalam keadaan mabuk, maka tentu saja pesta seperti itu amat meriah, kadang juga diselingi kegaduhan, kemesuman, bahkan perkelahian karena memperebutkan giliran berjoget dengan ledeknya di dalam kesempatan mana para pria itu dapat menyentuh, meraba, menowel bahkan mencium ledeknya!

   Sebetulnya Joko Lawu ingin beristirahat dan tidak kepingin ikut menonton pesta tayuban yang dianggapnya gila-gilaan itu, akan tetapi dia merasa tidak enak kepada tuan rumah. Kakek duda itu hidup seorang diri saja di rumah itu, kalau dia menolak dan tinggal di rumah, berarti selain tidak menghormati tuan rumah, juga dia merasa tidak enak berada seorang diri saja di rumah orang selagi penghuninya pergi! Terpaksa dia pun ikut pula dan tuan rumah itu menjadi girang sekali.

   "Raden, kalau ledek-ledek itu melihat andika, tentu mereka akan berebutan melempar sampur (selendang) kepadamu!"

   Joko Lawu hanya tersenyum saja. Biarpun dia sendiri seorang yang tidak asing dengan seni tari dan nyanyi, akan tetapi tidak pernah terbayangkan dia akan ikut tayuban seperti para pria mata keranjang dan pemabokan itu! Kakek petani itu hanya seorang petani miskin, tentu saja tidak termasuk seorang undangan.

   Maka, bersama Joko Lawu dia hanya berdiri di tepi panggung sebagai penonton dan karena dia mengenal petugas keamanan yang berjaga di situ maka dia dan Joko Lawu mendapatkan tempat paling depan dekat panggung. Para penabuh gamelan sudah memainkan beberapa lagu dan suara waranggana sudah menggema di seluruh dusun. Ada empat orang ledek yang duduk bersimpuh di antara para penabuh gamelan dan diam-diam Joko Lawu kagum kepada seorang di antara mereka yang kesemuanya masih muda dan cukup cantik. Namun yang seorang itu, yang berselendang hijau, memang cantik jelita dan manis sekali. Tanpa diberitahupun dia dapat menduga bahwa tentu ledek itulah yang dimaksudkan kakek petani sebagai Madularas yang terkenal. Ketika hidangan dikeluarkan, mereka yang menjadi penonton hanya dapat menelan ludah melihat para tamu yang duduk di panggung menikmati hidangan.

   Bau minuman keras segera tercium, membuat Joko Lawu merasa muak dan dengan punggung tangan kadangkali dia menutup lubang hidungnya agar bau arak itu tidak terlalu menyengat. Tiba-tiba pandang mata Joko Lawu tertarik kepada seorang pria muda yang duduk di atas kursi, di antara para tamu. Wajah itu! Dia masih mengenalnya dengan baik. Bukankah pemuda yang kini mengenakan pakaian rapi itu adalah pemuda ahli tembang dan peniup suling, yang pernah diperkenalkan oleh Bayu kepadanya? Aji, benar sekali, pemuda itu tentulah Aji dan hampir saja Joko Lawu lupa diri dan berseru memanggil. Untung dia teringat bahwa dia sedang menyamar, dan tibatiba saja mukanya menjadi kemerahan karena dia teringat betapa anehnya keadaan hatinya. Kenapa dia mendadak menjadi begini gembira ketika melihat pemuda itu? Pandang matanya seperti melekat kepada Aji dan diamatinya setiap gerak-gerik pemuda itu yang agaknya duduk dekat rombongan keluarga tuan rumah. Petani tua itu menyentuh siku lengannya dan dia menoleh.

   "Ada apa, paman?"

   "Andika ini aneh, Raden. Semua orang memandang kepada para ledek dan mengagumi kecantikan mereka, sebaliknya andika malah sejak tadi melihat ke arah para tamu."

   

Pendekar Pemabuk Karya Kho Ping Hoo Seruling Gading Karya Kho Ping Hoo Jodoh Si Mata Keranjang Karya Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini