Pendekar Muka Buruk 2
Pendekar Muka Buruk Karya Kho Ping Hoo Bagian 2
Kata Kang-lam Koay-hiap. Lie Bun mendengar kata-kata ini lalu melepaskan pelukan ibunya, gunakan kedua tangan menghapus airmata, lalu berlari dan berlutut kehadapan pengemis tua itu sambil tertawa. Ia lalu berkata dengan suara tetap.
"Aku ikut, suhu! Kemana saja dan bilamana!"
Kang-lam Koay-hiap menjawab.
"Kalau begitu, sekarang juga kita pergi!"
"Baik, suhu!"
Semua orang terkejut mendengar ini, terutama ayah ibu Lie Bun.
"Locianpwe, apakah tidak bisa berangkat besok hari saja? Sekarang sudah jam malam dan hawa di luar sangat dingin,"
Kata Lie Ti. Kang-lam Koay-hiap tidak menjawab, hanya bertanya kepada muridnya.
"Beranikah kau berangkat sekarang juga muridku?"
"Mengapa tidak berani, suhu?"
Jawab Lie Bun gagah hingga gurunya tertawa senang.
"A Bun, anakku! Kau belum berkemas. Barang-barang yang harus kau bawa sebagai bekal belum disediakan,"
Kata ibunya.
"Tidak usah, Lie-hujin. Tak perlu membawa apa-apa. Kami akan berangkat begini saja,"
Kata Kang-lam Koay-hiap.
"Begitu saja? Apakah anakku tidak membawa pakaian, tidak membawa selimut, tidak membawa uang?"
Nyonya itu bertanya heran dan khawatir. Pengemis itu menggeleng kepala perlahan dan pasti.
"Hayo! Muridku kita berangkat."
Lie Bun lalu bangun dan lari ke ibunya. Ia peluk kaki ibunya dan berkata.
"Selamat tinggal, ibu. Anak pasti akan kembali dengan selamat."
Lalu ia berlutut di depan ayahnya dan berkata singkat.
"Ayah, selamat tinggal."
Lalu ia menghampiri pengemis tua itu.
"Marilah suhu. Teecu sudah siap!"
Katanya dengan suara tetap. Diam-diam Kang-lam Koay-hiap kagum dan bangga akan ketetapan hati muridnya. Iapun lalu lambaikan tangan kepada Lie-Wangwe dan berkata.
"Sampai jumpa pula!"
Setelah berkata demikian, Kang-lam Koay-hiap pegang lengan Lie Bun dan sekali bergerak saja tubuhnya melesat ke atas genteng dan sekejap kemudian murid dan guru itu sudah lenyap tak tampak bayangannya. Pada saat itu barulah nyonya Lie menangis tersedu-sedu dan menaggil-manggil nama Lie Bun. Suaminya menghibur dan berkata dengan halus.
"Sudahlah, Lie Bun bukan pergi untuk selamanya. Ia pergi untuk mengejar ilmu. Kelak ia pasti kembali sebagai orang pandai."
"Tapi... tapi ia pergi begitu saja! Tanpa bekal secarik pakaian atau sepotong perakpun. Ia akan hidup terlantar dan terlunta..."
Lie Kiat mendekati ibunya.
"Sudahlah jangan menangis, ibu. Bukankah aku masih ada di sini? Si topeng setan tentu kelak akan kembali pula."
"Jangan sebut dia topeng setan, kau setan bengal!"
Lie Ti membentak dan Lie Kiat meleletkan lidahnya dan bersembunyi di belakang tubuh ibunya. Sampai berbulan-bulan nyonya Lie masih merasa sedih dan tiap kali teringat akan putera bungsunya, air mata mengalir di sepanjang pipinya. Kepada Lie Kiat ia cinta dan sayang karena putera sulungnya itu cakap dan ganteng. Tapi sayangnya kepada Lie Bun tercampur rasa iba karena puteranya ini telah menderita sakit dan mendapat cacat pada mukanya.
Maka, tiap kali teringat hatinya menjadi terharu sekali. Marilah kita ikuti perjalanan Kang-lam Koay-hiap dengan muridnya yang baru berusia sebelas tahun itu. Ketika meninggalkan gedung keluarga Lie, Kang-lam Koay-hiap gunakan ilmunya loncat ke atas genteng dan berlari-lari dengan cepat sekali hingga muridnya hanya merasa tubuhnya seakan-akan dibawa terbang oleh seekor burung besar. Lie Bun merasa takut dan cemas, tapi kekerasan hatinya membuat ia tutup mulut dan meramkan mata. Setelah keluar dari kota, Kang-lam Koay-hiap loncat turun dari atas genteng dan suruh muridnya berjalan di sampingnya. Malam telah hampir berganti pagi dan hawa luar biasa dinginnya, tapi anak kecil yang berhati besar itu terus saja jalan tanpa banyak rewel sambil bersedakap menahan dingin.
Jangankan bagi seorang anak kecil seperti Lie Bun yang biasanya pada waktu demikian masih enak-enak
(Lanjut ke Jilid 02)
Pendekar Muka Buruk/Ouw Bin Hiap Kek (Cerita Lepas)
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02
meringkuk dan mendengkur di dalam kamarnya yang hangat di atas kasur yang empuk, sedangkan bagi orang buta yang sudah biasa pada hawa dinginpun pada saat itu tentu takkan kuat menahan dingin yang menyusup tulang itu. Kang-lam Koay-hiap mengerti akan hal ini, tapi ia pura-pura tidak tahu, hanya berjalan lambat-lambat sambil tunduk. Padahal diam-diam ia memperhatikan muridnya. Beberapa lama kemudian mulailah terdengar gigi Lie Bun mengeluarkan bunyi berketrukan karena menggigil hingga giginya yang bawah beradu dengan gigi atas dan kedua kakinya terhuyung-huyung hingga jalannya sempoyongan tak tentu. Masih saja anak itu tak mau membuka mulut dan gurunya juga masih diam saja pura-pura tidak tahu. Akhirnya Lie Bun roboh di atas tanah yang basah dan pingsan.
"Anak baik, ujian pertama lulus dengan baik!"
Kata guru yang aneh itu sambil berjongkok. Tapi muridnya tak mendengar pujiannya, Kang-lam Koay-hiap keluarkan sebotol arak yang entah ia dapat dari mana, lalu menuangkan sedikit arak ke dalam mulut Lie Bun. Kemudian ia gunakan jari tangannya menotok jalan darah pada leher dan di kedua iga kanan kiri Lie Bun lalu memencet-mencet kedua pundaknya. Perlahan-lahan Lie Bun buka matanya, tapi sedikitpun tak terdengar keluhan dari bibirnya yang membiru. Bahkan anak itu melihat gurunya sambil tersenyum karena kini ia tak merasa dingin lagi. Tubuhnya terasa hangat dan seakan-akan ada sesuatu yang panas dan enak menjalar di seluruh tubuhnya.
"Bagaimana, muridku? Hilang dinginnya, bukan?"
Lie Bun hendak menjawab tapi kaget ketika mulutnya tak dapat digerakkan. Ia hendak angkat tangannya, tapi juga tangannya kaku. Biarpun begitu, anak yang keras hati itu sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut. Ia hanya memandang kepada gurunya dengan mata mengandung pertanyaan.
"Jangan kaget, Lie Bun. Aku sengaja menotok jalan darahmu bagian tay-twi-hiat agar perasaanmu berhenti hingga tak terasa dingin di tubuhmu. Tapi jalan darahmu kubikin cepat agar tubuhmu panas dan kesehatanmu tidak terganggu."
Lie Bun memandang wajah suhunya dengan berterima kasih. Beberapa lama kemudian, Kang-lam Koay-hiap menotok pula muridnya hingga tubuhnya dapat bergerak lagi seperti biasa. Tapi berangsur-angsur rasa dingin datang menyerang.
"Muridku, hayo kau lawan rasa dingin itu. Mari kita balap lari!"
Dan guru itu lari perlahan ke depan. Lie Bun kertak gigi untuk melawan rasa kantuk dan lelah, lalu ia lari mengejar.
"Jangan cepat-cepat, biasa saja!"
Gurunya mencegah ketika ia percepat larinya.
Demikianlah, mereka berdua, anak kecil dan pengemis itu berlari-lari menempuh hawa dingin dan kabut tebal. Perlahan-lahan jalan darah di dalam tubuh Lie Bun yang mengalir cepat mendatangkan rasa panas yang mengusir hawa dingin. Anak itu merasa tubuhnya hangat maka timbullah kegembiraannya dan lenyaplah rasa mengantuk dan lelah. Siapakah sebetulnya Kang-lam Koay-hiap, pengemis tua yang aneh dan sangat lihai itu? Untuk mengenal dia, baiklah kita meninjau kembali secara singkat riwayat pendekar aneh dari Kang-lam itu. Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika pada suatu hari Gwat Leng Hosiang keluar dari kelentengnya di puncak bukit Hwan-tien-san untuk turun gunung, sebagaimana yang dilakukannya beberapa tahun sekali.
Ia sampai di kota Lok-yang untuk mengunjungi seorang kenalannya yang tinggal di kota itu. Kenalannya itu mengajaknya ke rumah makan di mana ia memesan masakan tanpa barang bernyawa dan dengan gembira mereka makan minum. Kenalannya itu mengajukan permohonan supaya Gwat Leng Hosiang suka menerima puteranya menjadi murid karena ia tahu bahwa Gwat Leng Hosiang adalah seorang ahli silat pendiri Hwan-tien-pai dan selamanya belum pernah mempunyai seorangpun murid. Tapi Gwat Leng Hosiang dengan halus menolak dan menyatakan bahwa ia tidak niat menerima murid. Ketika kenalannya itu sedang mendesak dan membujuk-bujuk, tiba-tiba di luar terdengar ribut-ribut dan suara anak menangis.
Gwat Leng Hosiang paling tidak kuat mendengar anak menangis, maka bersama kenalannya ia keluar melihat. Ternyata di luar terdapat seorang pengemis muda yang berusia kira-kira lima belas tahun dan sedang dipukuli oleh seorang anak berusia paling banyak dua belas tahun. Anak yang memukuli pengemis itu bertubuh tegap dan nampaknya kuat. Juga dari gerakan kaki tangannya nyata bahwa ia pernah belajar silat. Pengemis itu berusaha menangkis. Tapi ia kalah kuat dan kalah gesit, maka tubuhnya berkali-kali menerima pukulan-pukulan hingga akhirnya ia menjerit-jerit dan menangis. Penonton bersorak-sorak dan memuji-muji pemuda yang memukuli pengemis itu. Gwat Leng Hosiang segera menghampiri. Kenalannya berkata dengan tersenyum.
"Lihat losuhu, anak itulah puteraku. Ia berbakat bukan?"
"Ya, berbakat untuk menjadi tukang pukul!"
Kata pendeta itu yang lalu mendekati tempat perkelahian. Kenalannya segera bentak puteranya supaya berhenti memukul. Pengemis itu jatuh terduduk sambil menyusuti darah yang keluar dari hidungnya dan ia masih terisak-isak. Matanya memandang liar ke kanan kiri.
"Apakah yang telah terjadi? Mengapa pengemis itu dipukuli?"
Gwat Leng Hosiang bertanya halus. Seorang penonton bercerita.
"Ia mencuri ayam dan ketahuan oleh Ma-Kongcu, lalu dipukul. Ia mencoba melawan tapi mana ia bisa menang. Memang sudah sepantasnya ia dihajar. Ma-Kongcu lihai betul!"
Gwat Leng Hosiang menghampiri pengemis itu dan bertanya dengan suara lembut.
"Eh, anak muda, benarkah kau mencuri ayam?"
Mendengar pertanyaan dengan suara lembut itu, pengemis tadi memandang dengan heran. Selama hidupnya, selalu kata-kata kasar dan keras saja yang dilontarkan kemukanya dan baru pertama kali ini ia mendengar orang bertanya kepadanya dengan suara halus. Biasanya kalau ditanya orang, ia selalu membohong dan menjawab dengan sangkalan keras karena kalau ia mengaku selalu orang memukulnya. Kini, mendengar pertanyaan halus ini, ia menjadi sedih dan menangis lagi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Anak muda, mengapa kau mencuri?"
Tanya Gwat Leng Hosiang lagi.
"Karena... perutku lapar..."
Pengemis itu menjawab sambil tundukkan mukanya.
"Kenapa kau tidak mau bekerja untuk mencari makan?"
"Sudah kucoba... sia-sia... tidak ada yang mau memberi pekerjaan..."
Jawabnya dengan sedih dan sekali lagi matanya jelalatan memandang ke sekelilingnya dengan takut-takut karena orang-orang makin banyak saja yang mengelilinginya.
"Hm, begitukah? Kalau begitu, mengapa kau tidak mengemis saja dari pada mencuri? Lebih baik minta dengan baik-baik belas kasihan orang dari pada mencuri,"
Gwat Leng Hosiang berkata lagi, suaranya tetap sabar. Kali ini pengemis itu memandang pendeta itu dengan pandang mata tajam. Ia heran sekali mengapa ada orang yang demikian memperhatikan nasibnya. Melihat wajah hwesio yang alim dan agung itu, ia tiba-tiba maju dan jatuhkan diri berlutut.
"Suhu, aku tidak berani membohong. Aku memang seorang pengemis maka tak perlu lagi kiranya diberitahu untuk mengemis! Aku mencari pekerjaan tidak dapat, mengemis juga tidak diberi oleh orang-orang itu, yang kuterima bahkan hanya makian dan pukulan belaka. Apa dayaku? Aku hendak mempertahankan nafsu agar jangan mencuri. Tapi... tapi perutku... perutku lapar... mendesak tak dapat ditahan, suhu..."
Hampir saja Gwat Leng Hosiang mengeluarkan air mata mendengar ucapan ini. Tapi ia segera tetapkan hati dan meramkan mata. Matanya berkilat mengerling ke arah orang-orang yang berdiri mengelilingi dia dan pengemis itu. Tiba-tiba timbul sebuah pikiran dalam kepalanya.
Pengemis muda ini juga manusia, ia juga seperti orang-orang lain menghendaki kebahagiaan, menghendaki kecukupan, tapi jalannya telah tertutup, telah buntu hingga kalau tidak tertolong, pengemis itu tentu akan menjadi manusia perusak keamanan orang lain atau kalau tidak, ia akan mati kelaparan. Ia perhatikan pengemis itu. Tubuhnya kurus kering dan berpenyakitan karena kurang makan. Kulit tubuhnya kotor karena tidak dirawat, tapi sepasang matanya yang membayangkan putus asa dan penderitaan besar itu mempunyai biji mata yang bulat dan besar. Anak ini sudah cukup menderita hingga batinnya telah mempunyai dasar yang kuat, pikirnya. Mengapa tidak? Maka ia mengambil keputusan.
"Berdirilah kau anak muda, dan ikutlah padaku jika kau ingin mengubah jalan hidupmu!"
Pengemis muda itu walaupun tidak mengerti betul apa arti kata-kata pendeta itu, cepat berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala menyatakan terima kasihnya. Lalu ia berdiri dan berjalan mengikuti hwesio itu yang bertindak pergi keluar dari kota itu, tanpa pamit kepada kenalannya yang tadi membujuk-bujuknya untuk menjadi guru anaknya.
Pengemis muda itu ketika ditanya oleh Gwat Leng Hosiang, mengaku bernama Siok Ki dan berasal dari Kang-lam. Ia tidak ingat she nya lagi dan tidak tahu siapa orang tuanya, karena sepanjang ingatannya, ia sudah hidup seorang diri mengemis sepanjang jalan hingga hidupnya terlunta-lunta sampai ke kota Lok-yang. Setelah dibawa ke bukit Hwan-tien-san dan menjadi murid tunggal Gwat Leng Hosiang, Siok Ki bekerja membersihkan kelenteng itu dengan rajin sekali hingga Gwat Leng Hosiang suka kepadanya. Kemudian setelah diberi pelajaran silat, ternyata Siok Ki mempunyai bakat yang baik dan tekun belajar. Agaknya pengemis muda yang telah hidup menderita itu ingin menjadi seorang berguna. Pernah secara iseng suhunya bertanya.
"Siok Ki, kalau engkau sudah tamat belajar dan menjadi seorang yang berkepandaian tinggi dan kembali ke masyarakat ramai, kau hendak bekerja apakah?"
Untuk beberapa lama Siok Ki tak dapat menjawab dan berpikir keras. Kemudian ia menjawab dengan suara tetap.
"Suhu, teecu telah terangkat dari lumpur kehinaan oleh suhu dan menerima budi yang tak terkira besarnya. Akan tetapi, teecu bersumpah bahwa selama hidup teecu akan tetap menjadi seorang pengemis, pengemis yang akan menjalankan tugas kewajiban seorang yang berkepandaian. Teecu akan selalu menjadi pengemis agar teecu selamanya tak lupa akan budi kecintaan suhu, dan agar teecu selalu ingat bahwa di dunia ini masih banyak sekali orang-orang yang nasibnya seperti teecu ketika belum bertemu dengan suhu, hingga teecu akan selalu ingat untuk menolong nasib mereka yang bersengsara."
Gwat Leng Hosiang tersenyum.
"Aku setuju kepada maksud dan cita-citamu, Siok Ki, asal saja kau tidak melewati batas-batas yang telah ada pada setiap perbuatan di dunia ini. Aku yakin kau tidak akan mengganggu atau berbuat jahat terhadap sesama hidup, karena kau pernah menderita dan merasakan sendiri betapa sengsaranya hidup menderita. Tentu kau tidak tega untuk membikin orang menderita, bukan? Tapi hanya satu hal yang harus kau ingat baik-baik, Siok Ki, yaitu sedapat mungkin jangan sekali-kali kau menerima seorang murid!"
Kaget dan heranlah Siok Ki mendengar pesan suhunya ini.
"Mengapa suhu?"
Bukankah suhu juga mengangkat teecu sebagai murid? Kalau teecu tidak menerima murid kelak, maka kepandaian yang suhu ajarkan akan habis sampai di tangan teecu saja, siapakah yang akan melanjutkan dan memelihara kepandaian dan ilmu-ilmu dari Hwan-tien-pai?"
Gwat Leng Hosiang tersenyum.
"Memang demikianlah pendapat orang banyak. Tapi bagiku, baik ilmu silat kita musnah dari pada terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat yang menggunakan ilmu silat Hwan-tien-pai hanya untuk melakukan kejahatan belaka. Kalau hal ini terjadi, maka biarpun aku sudah mati, arwahku takkan dapat tenteram melihat betapa ilmu silat yang kuciptakan digunakan orang untuk melakukan kejahatan. Dan lagi, aku khawatir kalau-kalau kelak mengalami nasib seperti dongeng tentang guru silat yang dilawan muridnya sendiri, jika kau menerima murid."
"Bagaimanakah dongeng itu, suhu?"
"Beginilah dongengnya. Di jaman dulu terdapat seorang gagah perkasa yang sangat tinggi ilmu silatnya hingga ia terkenal sebagai guru silat yang paling pandai di seluruh Tiongkok dan mendapat julukan jago silat nomor satu di dunia. Kemudian ia mempunyai seorang murid yang sangat disayangnya karena murid itu pandai dan rajin. Semua ilmu kepandaian yang dimilikinya diturunkan semua kepada muridnya itu hingga pada suatu hari guru silat itu sudah kehabisan ilmu untuk diajarkan pula. Semua kepandaian yang dimilikinya sudah diketahui oleh muridnya. Hal inipun ia beritahukan kepada muridnya itu. Tidak disangka sama sekali olehnya bahwa murid yang diluarnya tampak baik dan taat itu ternyata mengandung niat jahat di dalam hati. Murid itu merasa iri hati dengan nama julukan suhunya sebagai jago sulat nomor satu di dunia, dan ingin merebut gelar itu dari tangan gurunya. Ia pikir bahwa setelah kepandaiannya setingkat dengan gurunya, tentu ia dapat mengalahkan gurunya itu karena ia menang tenaga dan lebih awas, sedangkan gurunya sudah mulai tua. Dengan pikiran ini, ia lalu dirikan panggung lui-tai dan menantang gurunya sendiri untuk adu kepandaian. Tentu saja suhunya merasa terkejut. Ia minta waktu selama tiga hari dan selama itu ia merasa sedih dan menyesal. Sedih mengapa murid yang disayangnya itu ternyata hanya seorang manusia durhaka, dan menyesal mengapa ia turunkan seluruh kepandaiannya kepada murid jahat itu. Pada hari ketiga, tiba-tiba ia teringat bahwa ada semacam ilmu silat yang belum ia turunkan kepada muridnya itu. Maka pada waktu pertempuran dilakukan dengan disaksikan oleh ribuan orang, pada saat gurunya itu terdesak oleh muridnya, ia gunakan ilmu yang belum diajarkan kepada muridnya karena lupa dan terlewat itu, hingga ia berhasil merobohkan dan membinasakan murid jahat itu. Semenjak itu maka semua guru silat tidak berani turunkan semua ilmu kepandaian mereka kepada murid-murid dan selalu menyimpan sepuluh bagian untuk diri sendiri."
"Teecu akan perhatikan semua petunjuk dan nasehat suhu, dan teecu takkan sembarangan menerima murid, kecuali kalau memang teecu lihat ia benar-benar seorang calon yang baik dan bersih."
Gwat Leng Hosiang tersenyum.
"Aku percaya kepadamu, Siok Ki. Dan jangan kira bahwa aku setuju dengan pikiran umum untuk menyimpan sepuluh bagian dari kepandaian untuk diri sendiri. Kalau demikian halnya dengan semua guru silat, maka tak lama lagi ilmu silat dari bangsa kita akan musnah dari permukaan bumi, atau setidaknya akan merosot nilai dan tingkatnya. Kau belajarlah beberapa tahun lagi dan semua ilmu yang kumiliki tentu akan kuturunkan semua kepadamu, muridku."
Siok Ki berlutut dan menyatakan terima kasihnya. Semenjak saat itu, ia belajar dengan lebih rajin hingga beberapa tahun kemudian tamatlah ia. Ia telah belajar sepuluh tahun lebih dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Tapi ia tidak mau turun gunung dan selalu melayani suhunya yang sudah tua sampai Gwat Leng Hosiang meninggal dunia karena usia tua. Setelah ditinggal mati oleh gurunya, barulah Siok Ki turun gunung sebagai seorang pengemis.
Ia merantau dan mengembara di seluruh propinsi dan malang melintang di dunia kang-ouw dengan sebatang tongkatnya. Entah berapa ratus penjahat yang telah dirobohkannya, entah berapa ribu orang yang telah ditolongnya, tapi selamanya ia bertindak dengan bijaksana dan penuh kegagahan hingga ia mendapat julukan Kang-lam Koay-hiap atau pendekar aneh dari Kang-lam. Ia disebut aneh karena selalu muncul sebagai seorang pengemis dan selalu bekerja seorang diri dengan diam-diam. Kang-lam Koay-hiap memegang teguh sumpahnya dan selalu hidup sebagai seorang pengemis. Ia tidak kawin selama hidupnya dan tidak mau menerima murid. Akhirnya ia bertemu dengan keluarga Lie yang ditolongnya dari pembalasan dendam Kiu-thou-lomo yang telah lama diincarnya karena si iblis tua itu seringkali berbuat jahat dan sewenang-wenang.
Dalam pertemuan itu, ia melihat Lie Bun yang menarik hatinya. Pada pertemuan pertama saja ia telah dibikin terharu oleh sikap anak itu yang membelanya hingga ia mengalirkan air mata. Selama hidupnya, selain suhunya yang telah meninggal dunia, baru pertama kali itulah ada seorang yang hendak membelanya. Dan orang itu ialah Lie Bun si anak kecil. Demikianlah riwayat singkat dari Kang-lam Koay-hiap yang kini tampak sedang berlari-lari dengan muridnya untuk menghilangkan hawa dingin pada waktu pagi-pagi sekali sebelum fajar menyingsing itu. Ketika matahari mulai mengintip di ufuk timur dan burung-burung berkicau di pohon-pohon, Kang-lam Koay-hiap ajak muridnya berhenti di luar sebuah kampung. Lie Bun berhenti dan mengatur napasnya yang terengah-engah, tapi tubuhnya kini terasa hangat dan segar.
"Lelah?"
Gurunya bertanya.
"Sedikit,"
Jawab murid itu dan mereka duduk di atas akar sebatang pohon. Sambil beristirahat, Kang-lam Koay-hiap mulai memberi pelajaran kepada muridnya tentang teori-teori ilmu silat tingkat permulaan.
Karena tubuhnya terasa segar pada pagi-pagi hari itu, pelajaran yang diberikan gurunya kepadanya diterima dengan mudah dan cepat dimengerti. Melihat kecerdikan muridnya itu, Kang-lam Koay-hiap sangat gembira. Ketika disuruh mengulang pelajaran-pelajaran itu, Lie Bun dapat mengingat semuanya di luar kepala. Karena girangnya, pengemis itu memeluk tubuh muridnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dan melemparnya ke udara untuk diterima dan dilempar kembali ke atas. Lie Bun sangat senang dan memekik-mekik kegirangan karena iapun hanya seorang anak-anak yang masih suka bermain-main. Setelah hari mendekat siang, Kang-lam Koay-hiap ajak muridnya masuk ke kampung itu untuk mengemis. Tentu saja Lie Bun tidak bisa melakukan pekerjaan ini dan hatinya merasa perih dan malu sekali.
"Mengapa malu? Kita tidak mencuri, tapi minta dengan jujur. Kita ketuk pintu hati manusia untuk menguji perikemanusiaan mereka. Kita tidak minta banyak-banyak, hanya dua mangkuk nasi, semangkuk untukmu dan semangkuk untukku!"
"Tapi, apakah orang lain tidak akan memaki kita malas, suhu?"
Gurunya tersenyum dan teringat masa mudanya. Dulu semua orang juga memakinya sebagai seorang pemalas.
"Biarlah kita dianggap malas, muridku. Tapi asal saja kita jangan malas. Bukankah kau tidak malas dan akan rajin mempelajari ilmu silat yang kuajarkan padamu? Bukankah itu juga pekerjaan yang membutuhkan seluruh tenaga dan pikiranmu?"
"Dan kau sendiri... kau bekerja apa suhu?"
Kang-lam Koay-hiap tertawa bergelak-gelak.
"Kerjaku... kerjaku tentu saja menghajarmu dan selain itu, ah, lihat sajalah, nanti kau pun akan tahu sendiri."
Beberapa hari kemudian tahulah Lie Bun apa yang dimaksudkan oleh gurunya dengan pekerjaan itu. Ketika itu mereka berjalan memasuki sebuah kampung di dekat hutan. Ketika mereka mengemis nasi, jangankan mendapat dua mangkuk nasi, sedangkan minta air saja tidak ada yang mau memberi. Semua penduduk kampung itu bermuka muram dan mereka itu kebanyakan menutup pintu dan keadaan di situ miskin sekali.
Kang-lam Koay-hiap merasa heran sekali, kemudian ia mencari dan menjumpai beberapa orang pengemis tua yang kelaparan di pinggir kampung. Ia majukan pertanyaan yang dijawab oleh seorang pengemis dengan suara pilu bahwa kampung itu menghadapi saat kebinasaannya, seperti juga dirinya dan beberapa orang kawan lain yang sejak kemaren belum makan. Lie Bun merasa kasihan sekali diam-diam ketika suhunya sedang bercakap-cakap dengan pengemis itu, ia pergi dan menuju ke sebuah warung nasi. Di situ ia mengemis dengan suara mohon dikasihani karena ada orang kelaparan yang kalau tidak lekas-lekas ditolong tentu mati. Tukang warung marah-marah dan mengusirnya, tapi Lie Bun terkenal berwatak keras hati dan tidak mudah mundur. Ia majukan alasan-alasan, bahkan berani berkata.
"Apa kau bukan manusia? Di sana ada beberapa orang manusia lain yang sedang kelaparan dan hampir mati. Apakah untuk memberi semangkuk nasi saja kepada mereka kau merasa keberatan?"
"Anjing kecil tak tahu keadaan orang. Kau kira kami ini hidup makmur? Kami sendiri terancam bahaya. Siapa yang bisa menolong?"
"Sabarlah, kawan. Sebentar lagi kalian kutolong."
Tiba-tiba terdengar suara dan orang-orang di kedai itu melihat seorang pengemis tua berdiri di situ. Mereka anggap pengemis ini gila maka mereka mengomel panjang pendek.
"Mengapa datang lagi pengemis-pengemis yang mengganggu kita? Ah, dunia sudah penuh segala pengemis dan perampok."
Kang-lam Koay-hiap yang telah menyusul muridnya dan memberi janji hendak menolong tak perdulikan sikap mereka, tapi ia langsung memasuki kedai itu dan cepat sekali ia mengambil lima potong kue kering yang terletak di atas meja. Orang-orang menjadi marah dan mengejarnya, tapi Kang-lam Koay-hiap rogoh bajunya yang penuh tambalan dan dari dalam saku dalam ia keluarkan sepotong perak yang beratnya tak kurang dari lima tail.
"Ah, manusia-manusia mata duitan. Kalian ingin terima uang untuk menolong sesama manusia hidup yang kelaparan? Hm, kalau hidupmu hanya untuk mengejar uang saja, akan datang saatnya kalian mendapat celaka. Nah, ini ambillah uang ini untuk pembayar makanan yang kubawa!"
Ia lempar potongan perak itu di atas tanah dan sambil membetot tangan muridnya. Ia tinggalkan tempat itu, cepat menuju ke tempat di mana para pengemis itu rebah kelaparan menanti datangnya maut. Kue itu dibagi-bagi dan para pengemis itu berlutut menghaturkan terima kasih. Pada saat itu datanglah orang-orang kampung yang tadi berkumpul di kedai beramai-ramai.
"Losuhu, tunggulah! Maafkan kelakuan kami tadi. Bukanlah kami orang-orang kejam dan mata duitan, tapi sebenarnya kami sendiri sedang berada dalam keadaan yang membutuhkan."
"Aku sudah tahu. Bukankah kalian diganggu oleh perampok-perampok yang tinggal di hutan itu? Kalian diperas dan dirampok sampai habis? Nah, bukankah tadi aku sudah berkata hendak menolong kalian?"
Kata Kang-lam Koay-hiap tak acuh.
"Maafkan kami, losuhu. Kalau memang losuhu ada kepandaian, tolonglah kami demi perikemanusiaan, demi Tuhan yang Maha Esa."
Orang-orang itu meratap dan kini bahkan ada beberapa orang yang berlutut memohon-mohon. Kang-lam Koay-hiap tiba-tiba pukulkan ujung tongkatnya ke atas tanah dan membentak.
"Kalau begitu, mengapa kalian sendiri tidak berperikemanusiaan dan tidak mau menolong beberapa orang yang sedang kelaparan ini?"
"Ampun, losuhu... kami sedang bingung dan tak tahu harus berbuat apa..."
"Dengarlah, kamu semua. Aku mau menolong kalian, tapi kalian harus berjanji bahwa mulai saat ini kalian harus lempar jauh-jauh sifat kikir dan mementingkan diri sendiri itu. Kalian harus saling bantu dan menolong mereka yang sengsara. Ingatlah bahwa tiap manusia ini tak mungkin berdiri sendiri di muka bumi tanpa saling bantu dan saling tolong. Jangan hanya ingin ditolong oleh orang lain saja tapi diri sendiri tidak sudi mengulurkan tangan memberi bantuan kepada orang yang sedang sengsara. Kalau kalian mau berjanji, aku pengemis miskin akan membantumu. Tapi, kalau tidak, aku bahkan ingin membantu perampok menghabiskan harta bendamu!"
Dengan menangis dan beramai-ramai mereka berlutut dan berjanji, bahkan ada beberapa orang yang serentak maju dan menarik bangun para pengemis yang kelaparan tadi dan membimbingnya ke dalam warung untuk diberi makan minum.
Pendekar Muka Buruk Karya Kho Ping Hoo di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
"Nah, kalau begitu, sediakan makan minum yang enak untuk aku dan muridku. Soal perampok-perampok kecil itu serahkan saja kepadaku."
Beramai-ramai mereka kembali ke warung tadi dan orang-orang sibuk menghidangkan makanan enak-enak untuk Kang-lam Koay-hiap dan muridnya. Melihat makanan yang lezat-lezat itu, walaupun di rumahnya dulu Lie Bun sering makan masakan-akan yang lebih mewah dan lezat, namun karena perutnya sekarang sedang lapar sekali, ia segera serbu hidangan itu dengan lahap tanpa sungkan-sungkan lagi. Gurunya pun demikian hingga sebentar saja guru dan murid itu berlomba makan hingga perut mereka menjadi penuh. Kang-lam Koay-hiap elus-elus perutnya yang kenyang, lalu ia rebahkan diri di atas bangku panjang dan tidur mendengkur. Lie Bun tertawa geli melihat suhunya dan ia sendiri lalu keluar dari warung dan mendekati rombongan anak-anak yang sedang main-main di luar.
Tapi anak-anak itu melihat seorang pengemis kecil mendekati mereka, lalu pada menjauh dan memandangnya dengan menghina. Lie Bun biarpun baru beberapa hari saja menjadi pengemis, namun ia sudah biasa akan pandangan menghina dari orang lain padanya hingga ia tidak menjadi marah. Bahkan ia lalu ambil sebutir batu yang runcing dan gunakan itu untuk menggurat-gurat tanah. Dulu di rumahnya ia pernah diajar menggambar oleh guru sekolahnya dan agaknya ia memang berbakat melukis. Anak-anak yang menjauhkan diri ketika melihat pengemis kecil itu menggurat-gurat di atas tanah, menjadi tertarik dan ingin tahu. Beberapa orang anak mendekat dan ketika mereka melihat lukisan kerbau yang indah, mereka maju makin dekat dan sebentar lagi semua anak yang tadi menjauh telah merubung Lie Bun.
"Bagus... kerbau bagus!"
Mereka bersorak dan seorang anak berkata.
"Gambarkan burung untukku!"
Lie Bun menengok sambil tersenyum girang ketika melihat semua anak-anak merubungnya, maka ia segera gunakan tangan kiri membersihkan batu-batu kecil dan daun-daun kering dari permukaan tanah dan mulai menggambar burung yang indah. Kembali anak-anak bersorak riang. Tak lama kemudian semua anak minta digambarkan, hingga halaman di situ penuh dengan lukisan segala macam binatang. Sorakan yang saling susul dari anak-anak itu tiba-tiba mendapat sambutan sorakan lain yang keras sekali.
Mendengar suara sorakan yang datangnya dari arah hutan itu, semua anak-anak yang tadi tertawa-tawa lalu menangis dan lari pulang ke masing-masing rumahnya. Orang-orang tua juga tampak bergemetaran dan lari masuk ke dalam rumah lalu kunci pintu rumah dari dalam. Lie Bun melihat betapa sebentar saja kampung itu menjadi kosong dan sunyi. Cepat-cepat ia masuk ke warung dan mendekati gurunya yang masih mendengkur. Di dalam warung itupun berkumpul banyak orang, karena sebagian besar orang kampung sengaja mendekati pengemis tua yang telah berjanji hendak menolong mereka. Tapi alangkah kaget dan kecewa mereka ketika melihat betapa pengemis itu masih saja enak-enak mengorok di bangku panjang, sedangkan kawanan perampok telah datang menyerbu. Beberapa orang lalu maju menghampiri kakek itu dan berbisik-bisik memanggil.
"Losuhu... losuhu... bangunlah, mereka telah datang!"
Lie Bun melihat suhunya diganggu, lalu mencegah mereka dengan berkata keras.
"Kalian ini tidak tahu aturan. Orang sedang tidur diganggu. Tidak percayakah kalian kepada suhu?"
Tentu saja orang-orang itu tidak puas mendapat jawaban ini karena kini telah terdengar suara kaki kuda di depan warung itu bahkan terdengar bentakan-akan para perampok.
"Mana orang? Hayo, lekas keluar!"
Mendengar ini semua orang di dalam warung itu menggigil dan berjongkok sambil tutupi muka. Pada saat itu, tiba-tiba dari luar terdengar suara yang parau dan keras tertawa bergelak dan berkata.
"Ha ha ha! Bagus sekali semua lukisan ini. Eh, orang dalam warung, siapakah yang melukis semua gambar di tanah ini? Pelukisnya lekas keluar!"
Lie Bun memang seorang anak pemberani. Mendengar pertanyaan ini, keluarlah ia tanpa ragu-ragu dan berjalan tenang menghampiri para perampok itu. Ia melihat seorang yang bertubuh tinggi besar bagaikan seorang raksasa telah turun dari kuda dan berdiri menundukkan kepala memandang ke arah lukisan-lukisannya.
Agaknya orang itu adalah kepala perampok, karena para perampok-perampok lain berdiri agak jauh dengan sikap menghormat, juga pakaian mereka tidak sehebat kepala rampok tinggi besar ini. Yang membuat ia tampak gagah menyeramkan adalah cambang bauknya yang kaku dan mengacung ke sana-sini, sedangkan dipinggangnya tergantung sebilah golok besar yang mengkilap dan tajam, karena golok itu telanjang tak bersarung. Kepala rampok itu mendengar ada orang keluar dari warung, lalu memandang. Alangkah herannya ketika melihat bahwa yang keluar hanyalah seorang anak kecil berusia belasan tahun. Ia makin tertarik dan heran melihat betapa anak itu dengan tabah dan tidak ragu-ragu berjalan menghampirinya dengan muka terangkat. Ternyata muka anak yang agak buruk itu mempunyai sepasang mata yang tajam dan bersemangat.
"He, anak kecil! Mau apakah kau keluar?"
Bentaknya dengan suara sengaja dikeraskan untuk menakut-nakuti.
"Bukankah tadi kau menanyakan pelukis semua gambar ini?"
Lie Bun balas bertanya. Makin heran kepala rampok itu. Ia bongkokkan tubuh untuk dapat menentang mata anak berwajah buruk itu.
"Apa katamu? Tahukah kau siapa yang melukis semua ini?"
"Tentu saja tahu karena yang melukisnya adalah aku sendiri!"
Kepala rampok itu dongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.
"Anak kecil, kau bohong! Kau lancang sekali. Tahukah kau siapa kami yang datang ini?"
Lie Bun mengangguk sederhana.
"Kalian adalah perampok-perampok jahat!"
Terbelalak mata kepala rampok itu, dan ia mulai menganggap anak ini berotak miring.
"Kalau kau tahu kami perampok, mengapa kau berani main-main? Aku akan membunuhmu!"
"Mengapa? Karena aku berani keluar?"
"Tidak, karena kau membohong! Mana kau becus membuat lukisan sebagus ini?"
Marahlah Lie Bun. Ia segera membungkuk dan memungut sepotong kayu tajam, lalu berkata.
"Kau lihatlah. Aku akan melukis kau!"
Kemudian sambil memandang-mandang muka kepala rampok itu, Lie Bun membuat corat-coret di atas tanah dan sebentar saja ia telah dapat membuat coretan kasar dari wajah seorang yang mirip wajah kepala rampok itu.
"Lihatlah!"
Dan kepala rampok itu lalu memandang lukisan itu dari dekat. Ia heran sekali karena coretan itu memang menggambarkan wajah orang yang hampir sama dengan wajahnya sendiri kalau ia sedang bercermin di dalam air.
"Kau pandai melukis anak kecil. Tapi tetap saja kau harus dibunuh, karena kau berani dan kurang ajar!"
"Kau takkan dapat membunuhku,"
Jawab Lie Bun tenang. Kembali orang tinggi besar itu terperanjat.
"Apa? Mengapa?"
"Suhuku takkan mengizinkan kau membunuhku!"
"Ha ha! Kau pengemis kecil mempunyai suhu? Tentu suhumu pengemis jembel tua. Mana dia?"
"Aku ada di sini, siapa mencari pengemis jembel tua?"
Tiba-tiba terdengar jawaban dan ketika Lie Bun menengok, maka suhunya telah berjalan menghampiri mereka dengan tindakan kaki perlahan dan tenang. Nyata bahwa suhunya masih merasa malas meninggalkan bangku panjang tempat tidurnya tadi. Melihat seorang kakek pengemis yang pakaiannya penuh tambalan dan celananya pendek hanya sampai di lutut dan kakinya telanjang itu, kepala rampok memandang rendah.
"Orang-orang kampung di sini agaknya berani mampus betul, tidak patut menyambuyt kedatangan kami dengan mengeluarkan para jembel yang berbau busuk!"
"Monyet besar, kami golongan pengemis masih jauh lebih harum jika dibandingkan dengan kamu perampok-perampok rendah!"
Jawab Kang-lam Koay-hiap dengan senyum menghina. Mendengar hinaan ini, kepala perampok itu menjadi marah sekali. Matanya melotot merah dan ia pandang pengemis tua itu dengan marah.
"Apakah kau cari mampus?"
Bentaknya lalu ia berpaling ke arah anak buahnya.
"Bakar semua rumah dan lempar jembel busuk ini ke dalam api!"
Dari rombongan perampok terdepan maju tiga orang yang menjadi thauwbak-thauwbak atau pemimpin-pemimpin kecil. Mereka siap hendak memberi perintah kepada para liauwho untuk melakukan tugas ini. Tapi tiba-tiba Kang-lam Koay-hiap gerakan tangan kanannya ke arah mereka bertiga sambil berseru.
"Jangan berani bergerak!"
Dari tangan Kang-lam Koay-hiap menyambar keluar beberapa buah batu kecil yang ternyata telah digenggam sejak tadi. Batu-batu kecil itu menyambar ke arah ketiga thauwbak itu dan heran sekali, tanpa dapat mengeluarkan sepatah pun kata atau jeritan, tubuh ketiga pemimpin itu menjadi lemas dan roboh, karena dengan jitu sekali batu-batu itu dapat menotok jalan darah mereka. Hal ini menimbulkan gempar di kalangan anak buah perampok, bahkan kepala perampok sendiri menjadi terkejut dan marah. Ia belum dapat menduga bahwa itu adalah serangan lweekang yang tinggi dan hanya mengira bahwa secara kebetulan saja kakek pengemis itu dapat merobohkan ketiga pembantunya, atau kakek itu menggunakan senjata rahasia yang lihai. Dengan teriakan keras, ia cabut goloknya yang mengeluarkan sinar mengkilap.
"Pengemis tua! Kau berani sekali mengganggu anak buahku. Tidak tahukah kau siapa yang berhadapan denganmu?"
Kang-lam Koay-hiap geleng-geleng kepalanya dengan perlahan, lalu menjawab.
"Mana aku kenal dengan segala cacing tanah!"
Merahlah wajah kepala rampok tinggi besar itu.
"Dengarlah, jembel tua bangka! Tay-Ongmu ini adalah Koay-to-ong dari Sansee. Kalau kau memang termasuk orang kang-ouw, hayo kau merayap pergi sebelum golokku minum darahmu yang tak berharga!"
Kang-lam Koay-hiap pandang tongkat bambu di tangannya sambil berkata perlahan.
"Orang tinggi besar ini julukannya Raja Golok Setan, tidak tahu goloknya itu dapat bertahan beberapa jurus terhadap kau, tongkat tua!"
Melihat sikap pengemis tua yang sangat memandang rendah padanya itu, Koay-to-ong merasa ragu-ragu, maka ia bertanya.
"Sebenarnya siapakah kau orang tua yang usil tangan dan suka mencampuri urusan orang lain?"
Kang-lam Koay-hiap menjawab tenang.
"Koay-to-ong, tak perlu kiranya di sini kita mengobrol nama kosong. Kau seorang gagah yang telah membuat nama besar di kalangan kang-ouw. Mengapa kau tidak mau menjaga nama besarmu? Mengapa sekarang kau begitu rendah hingga mengganggu rakyat jelata yang memang hidupnya sudah sukar? Kalau kau merampok hartawan-hartawan pelit atau pembesar-pembesar penindas rakyat, aku orang tua takkan ambil perduli. Tapi, melihat kau telah berubah menjadi perampok kecil yang rendah dan tidak kenal malu hingga berani menyerbu kampung yang begini miskin, terpaksa aku biarpun sudah tua, melupakan kebodohan dan kelemahan sendiri dan akan kucegah perbuatanmu yang hina ini!"
"Jermbel tua sungguh sombong! Kau tahu apa tentang pekerjaan kami? Kau berani betul menasehati kami dan hendak mencegah pekerjaanku. Biarlah kubikin kau mampus lebih dulu sebelum aku melanjutkan pekerjaanku!"
"Itu lebih baik, boleh kau cobalah!"
Koay-to-ong tak sabar lagi. Ia putar-putar goloknya yang berat dan besar hingga menimbulkan suara bersuitan dan angin bertiup di sekelilingnya. Kemudian sambil membentak keras, ia kirim bacokan ke arah kepala Kang-lam Koay-hiap dengan tipu gerak Han-ya-pok-cui atau Burung gagak sambar air. Tapi kakek itu dengan tenangnya berkelit sedikit hingga golok besar itu mendesing menyambar di sebelah tubuhnya ke bawah. Ternyata Koay-to-ong memiliki ilmu golok yang hebat dan gerakannya cepat sekali. Ketika serangannya yang pertama ini gagal, maka ia teruskan Hong-sauw-pay-yap atau Angin sapu daun rontok, hingga golok itu dengan cepat sekali menyambar kedua kaki lawannya. Gerakan ini bagus dan berbahaya sekali hingga Kang-lam Koay-hiap memuji.
"Bagus!"
Lalu loncat cepat berkelit dengan gerakan Lo-wan-teng-ki atau Monyet tua loncati cabang, hingga sekali lagi serangan lawannya dapat digagalkan dengan mudah. Makin marahlah Koay-to-ong betapa serangan-serangan hebat yang ia lancarkan itu dapat dikelit demikian mudahnya oleh lawannya, maka ia segera putar goloknya makin cepat dan mulai lakukan serangan bertubi-tubi sambil keluarkan ilmu golok Lo-han To-hwat dari cabang Siauw-lim-si yang terkenal lihai. Namun Kang-lam Koay-hiap seorang tokoh kawakan yang sudah mahir sekali akan segala macam ilmu silat dari cabang manapun juga, tentu saja kenal baik ilmu golok ini hingga tanpa banyak kesukaran ia dapat kelit semua serangan.
"Orang tua busuk, hanya jangan bisa berkelit, kau balaslah menyerang!"
Kepala rampok itu memaki sengit karena merasa gemas sekali betapa kakek itu mempermainkannya dengan main kelit tanpa membalas sedikitpun juga. Ia ingin kakek itu membalas agar ia dapat gunakan tenaga tangkisannya membikin terpental tongkat bambu kecil itu. Sementara itu Lie Bun yang nonton sambil nongkrong di pinggir, merasa senang sekali melihat betapa suhunya mempermainkan lawannya, maka tak terasa lagi ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata keras.
"Suhu, mengapa kau tidak pukul pantatnya dengan tongkatmu?"
Mendengar anjuran muridnya, Kang-lam Koay-hiap lalu tertawa dan berkata,
"Kau ingin dibalas? Nah, terimalah!"
Belum habis kata-kata terakhir diucapkan, tahu-tahu Koay-to-ong merasa pantatnya pedas ketika terdengar suara "plok!"
Dan tongkat bambu itu menghantam tubuh belakangnya.
"Kurang ajar!"
Ia membentak dan menyerang lagi. Tapi kini ia merasa terkejut sekali karena kakek itu dengan luar biasa sekali telah melakukan serangan balasan hingga seakan-akan berubah menjadi empat orang yang menyerangnya dari segala penjuru.
Ujung tongkat bambu itu tampak di mana-mana mengancam jalan darahnya, hingga Koay-to-ong terpaksa gunakan ilmu golok yang dilakukan dengan bergulingan di atas tanah. Tapi betapapun juga ia menjaga diri, ujung tongkat itu tetap saja mengikutinya. Bahkan sewaktu-waktu demikian dekat di depan matanya seakan-akan hendak mencongkel keluar matanya. Syukur sekali baginya bahwa Kang-lam Koay-hiap tidak hendak mencelakakannya. Kalau tidak, tentu sudah tadi-tadi ia tewas. Koay-to-ong loncat berdiri dari keadaan bergulingan, dan ketika tongkat menyambar ia sengaja gunakan goloknya menyabet sekuatnya. Kang-lam Koay-hiap maklum akan maksud lawannya, maka ia lalu keluarkan keandalan dan memperlihatkan kelihaiannya. Ia sengaja adu tongkatnya dengan golok itu. Dua senjata yang jauh bedanya, baik dalam ukuran maupun dalam beratnya itu, beradu dan,
"Cring!"
Tahu-tahu golok besar itu terlepas dari pegangan Koay-to-ong yang merasa kulit tangannya seakan-akan dibeset dan golok itu terbang ke atas terputar-putar. Ketika golok menyambar turun, Kang-lam Koay-hiap gunakan tongkatnya menyabet miring dan golok itu lalu meluncur dan menancap di atas tanah sampai lebih setengahnya. Melihat kehebatan kakek ini, pucatlah wajah Koay-to-ong. Ia segera menjura dalam dan berkata.
"Sungguh aku bermata buta tidak melihat seorang gagah di depan mata. Bolehkah siauwte mengetahui siapa nama losuhu yang mulia?"
Kang-lam Koay-hiap sekali lagi geleng-geleng kepala.
"Apa perlunya mengetahui nama? Asal saja kau dapat melihat kembali ke jalan yang benar dan menjaga nama besarmu sebagai seorang dari kalangan rimba hijau yang gagah dan tahu akan keadilan dan kejujuran, masak kau khawatir akan terganggu oleh orang-orang tua tak berharga seperti aku ini? Nah, kalian kembalilah dan kasihanilah orang-orang kampung yang telah cukup miskin dan menderita ini!"
Kepala rampok dan para anak buahnya masih merasa penasaran karena pengemis tua yang lihai itu tidak mau memberitahukan namanya. Tapi mereka tidak berani memaksa. Ketika kepala rampok itu lewat dekat Lie Bun, ia mendumel perlahan.
"Aneh benar kakek itu!"
Mendengar ini, dengan tersenyum Lie Bun berkata kepadanya.
"Memang, ia pendekar aneh dari Kang-lam, tentu saja aneh!"
Mendengar ini, Koay-to-ong terkejut sekali. Ia cepat berpaling dan berkata.
"Jadi ia Kang-lam Koay-hiap? Celaka, aku telah bersalah kepadanya!"
Ia cepat putar tubuh memandang kakek itu, tapi Kang-lam Koay-hiap telah berjalan tereok-seok sambil menyeret tongkat bambunya, menuju ke warung tadi untuk melanjutkan tidurnya yang telah terganggu.
"Locianpwe, maafkanlah kami yang tidak mengenal orang tua yang gagah perkasa!"
Kepala rampok itu berteriak. Tapi Kang-lam Koay-hiap seperti tidak mendengar teriakannya itu dan terus masuk ke dalam warung.
"Tentu saja suhuku suka maafkan kau. Kalau tidak, apa kau kira kau akan dapat pergi lagi?"
Lie Bun berkata. Kepala rampok itu menghela napas dan ia lalu cemplak kudanya dan memberi tanda kepada semua anak buahnya untuk cepat-cepat pergi dari situ. Suara kaki kuda yang gemuruh itu makin lama makin melemah, kemudian hilang di balik bukit. Penduduk kampung keluar dari tempat persembunyian mereka dan dengan berdesak-desakan hendak memasuki warung itu. Tapi Lie Bun mencegahnya di depan pintu dan berkata.
"Suhu sedang tidur, jangan ganggu dia!"
Penduduk kampung yang berterima kasih dan anggap Kang-lam Koay-hiap sebagai dewa penolong, menahan-nahan murid dan guru itu supaya suka tinggal di kampung itu untuk beberapa lama. Tapi Kang-lam Koay-hiap yang tidak suka akan sikap mendewa-dewakan dari mereka, segera ajak Lie Bun melanjutkan perjalanan mereka.
Ia meninggalkan pesan kepada para penduduk agar lebih mempererat kerja sama dan persatuan di antara mereka sendiri, juga agar mereka itu lebih memperhatikan nasib orang lain yang sedang ditimpa kesengsaraan dan kekurangan hingga dengan jalan bergotong royong mereka akan merupakan penduduk kampung yang bersatu padu dan kuat hingga tidak mudah diganggu gerombolan perampok. Baru setelah terjadi peristiwa itu, tahulah Lie Bun akan pekerjaan suhunya, yakni mengulurkan tangan mengerahkan tenaga untuk membela mereka yang tertindas dan membasmi yang jahat. Diam-diam ia kagum sekali dan tekun belajar silat di bawah bimbingan Kang-lam Koay-hiap yang lihai dan luar biasa. Kang-lam Koay-hiap melihat ketekunan dan kerajinan murid tunggalnya, merasa gembira sekali dan ia menggembleng muridnya itu dengan sungguh hati dan tak mengenal lelah.
Sementara itu, mereka terus merantau dan Kang-lam Koay-hiap sengaja ajak muridnya itu melalui daerah-daerah yang berbahaya hinga berkali-kali mereka mengalami pertempuran-pertempuran hebat dan dimana saja mereka berada, selalu Kang-lam Koay-hiap turunkan tangan besi kepada para penjahat dan ulurkan tangan hangat kepada mereka yang kedinginan dan kesusahan. Hal ini memang disengaja oleh Kang-lam Koay-hiap karena ia hendak mempertebal rasa perikemanusiaan yang memang telah bersemi di dalam jiwa muridnya. Ia hendak menggembleng muridnya itu supaya kelak menjadi seorang pendekar yang selain gagah perkasa, juga berjiwa luhur dan pembela keadilan dan kebenaran berdasarkan rasa perikemanusiaan.
Waktu berjalan cepat sekali hingga tak terasa lagi empat tahun telah lewat. Keadaan Tiongkok di waktu itu sangat kacau karena kaisar yang memegang tampuk pemerintahan sangat lalim dan hanya mementingkan pelesir dan senang-senang saja. Kaisar lalim ini tidak atau sedikit sekali memperdulikan keadaan negara dan rakyatnya hingga boleh dibilang ia telah melepaskan tangan dari kemudi dan menyerahkan kemudi pemerintahan kepada para pembesar tinggi yang pandai ambil muka dan yang berhati srigala. Dengan sifatnya yang menjilat-jilat, para durna itu dapat merebut kedudukan-kedudukan baik dan kepercayaan kaisar hingga mereka dapat menina-bobokan kaisar lalim itu yang tenggelam dalam siraman arak wangi,
Belaian tangan-tangan halus para selir yang tak terhitung banyaknya, di tambah pula dengan hiburan-hiburan berupa tari-tarian dan seni suara yang memabukkan dan membuat ia seakan-akan hidup dalam surga. Ia tidak sadar sama sekali betapa para durna itu menetapkan bermacam-macam peraturan seperti menambah beban rakyat dengan pajak-pajak yang berat, dan tidak tahu sama sekali bahwa di bawah matanya terjadi gejala-gejala yang membuat rakyatnya tertindas dan sengsara sekali. Para pembesar dari yang tinggi sampai yang paling rendah meniru keadaan kaisarnya, yakni semua hendak hidup mementingkan diri sendiri, hendak tenggelam dalam laut kesenangan dan untuk memenuhi nafsu angkara murka ini.
Tiada lain jalan bagi mereka selain memeras rakyat. Lain jalan ialah menghubungi para hartawan dari siapa mereka mendapat uang sogokan yang besar jumlahnya, dan sebaliknya si hartawan lalu memeras rakyat dengan jalan menghisap tenaga mereka. Celakalah rakyat kecil. Mereka bekerja seperti kerbau, membanting tulang memeras keringat. Para buruh bekerja mati-matian untuk memakmurkan majikannya yang hanya goyang-goyang kaki sambil isap huncpwe menikmati sedap harumnya tembakau. Para petani bekerja melebihi kerbau untuk menggendutkan perut tuan tanah yang sudah gendut. Dan semua itu hanya untuk dapat menerima sekepal makanan tiap hari untuk mencegah mereka dari pada bahaya maut kelaparan. Bila musim kering tiba, maka sudah tidak mengherankan lagi bila di sana sini terdapat orang-orang mati kelaparan.
Pada waktu seburuk itu, tidak heranlah hika terdapat hal-hal yang ganjil seperti berikut. Di dalam gudang-gudang para hartawan dan para pembesar bertumpuk padi dan gandum yang sampai membusuk di makan ulat karena banyaknya hingga berlebih-lebihan sedangkan di luar gudang-gudang itu mayat-mayat rakyat kecil mati bergelimpangan karena kelaparan. Ada pula hakim-hakim dan jaksa-jaksa yang menjatuhkan keputusan dari perkara yang diadilinya bukan berdasarkan duduknya perkara, tapi berdasarkan besarnya uang sogokan. Yang lebih kuat dan memberi terbanyak, pasti menang dalam perkara itu. Di tiap kampung muncullah raja-raja kecil, yakni tuan-tuan tanah dan para hartawan. Mereka ini merupakan raja-raja kecil, karena mereka untuk membela kepentingan sendiri sengaja membentuk barisan-barisan pengawal atau tukang pukul.
Sepasang Pedang Iblis Karya Kho Ping Hoo Cinta Bernoda Darah Karya Kho Ping Hoo Asmara Berdarah Karya Kho Ping Hoo