Ceritasilat Novel Online

Tokoh Besar 1

Tokoh Besar Karya Khu Lung Bagian 1


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oleh: Gu long Disadur: Gan K.H.
Bagian 1 Tangan pemuda itu menggenggam gagang golok,
benang sutra yang menghias gagang golok melambai
ditiup angin. Benang sutra merah. Semerah cahaya mentari yang
baru keluar dari peraduannya.
Golok tajam mengkilap itu memancarkan cahaya
kemilau ditingkah cahaya mentari, pemuda itu
bercucuran keringat di bawah terik matahari. Keringat
membasahi sekujur pakaian sutra hitam yang membelit
tubuhnya. Empat orang musuh mengepungnya, ia tahu betapa
menakutkan keempat musuh yang mengepungnya,
sudah beberapa kilas pikirannya untuk menjatuhkan
senjata, menyerah tanpa perlawanan, menghentikan
pertikaian. Tapi dia tidak berbuat demikian.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Karena dia pantang menghina, merendahkan arti
benang sutra merah yang menghiasi gagang goloknya.
Tidak boleh merendahkan lambang kebesaran orang
yang mengikat benang sutra merah di gagang goloknya
itu. Ikatan benang sutra merah itu melambangkan
perjuangan yang tidak kenal kalah, umpama harus mati
sekalipun pantang menyerah.
Benang sutra merah mendukung keberanian
pemegang golok untuk menghadapi tantangan,
menghadapi musuh tanpa mengenal arti kalah. Maka ia
mengayun golok disertai lolong panjang yang membakar
amarahnya, menerjang ke depan.
Benang sutra merah menari-nari, timbul tenggelam,
warnanya yang menyolok lebih cemerlang dibanding
cahaya golok yang kemilau.
Cepat sekali kupingnya mendengar suara golok
menebas badan orang, tulang patah dan darah muncrat.
Orang di depannya itu roboh dengan bola mata
melotot bundar, yang dipandang adalah bayangan
benang sutra yang lebih menyolok dari warna merah
darahnya sendiri.
Sampai ajal orang ini tidak sadar bahwa dirinya mati
bukan oleh tabasan golok, bukan mati di tangan pemuda
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang menyerangnya dengan ganas. Tapi mampus karena
benang sutra merah yang mengagumkan, lambang
keberanian yang memudarkan keberanian lawan
mengadu jiwa di arena pertempuran.
* * * * * Gadis itu setengah rebah di kursi malas rotan,
kerlingan matanya lebih lembut dibanding cahaya
bintang yang bertaburan di angkasa.
Ia menarik tangannya, merasa berat melepasnya
pergi. Sapu tangan yang terikat di pergelangan tangannya
melambai dihembus angin malam. Sapu tangan merah,
semerah jantung pujaan hatinya.
Malam sudah larut, sudah saatnya ia berangkat. Sejak
tadi mestinya ia sudah berangkat. Tapi ia bertahan di
tempat. Sebab ia merasa dirinya tak boleh merendahkan
arti yang luhur dari sapu tangan merah yang terikat di
pergelangan tangan, sepanjang ia mengikat sapu tangan
merah di tangannya, ia tanggung tiada seorang gadis
pun yang memujanya dibuat kecewa. Sapu tangan sutra
merah melambangkan keberanian, kejantanan, juga
melambangkan rasa simpatik, gejolak hati yang menyala,
ibarat bara yang berkobar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Pelan-pelan akhirnya ia mendekat dan berbisik di
pinggir telinganya. Bisikan yang mengasyikan, lebih
menyentuh dibanding usapan angin sepoi di musim semi.
Tapi matanya tetap melenggong mengawasi sapu tangan
merah di pergelangan tangannya.
Entah kenapa perasaan yang sudah menyala
bergejolak mendadak sirna, padam, lenyap seketika,
karena mendadak disadarinya yang ia puja yang menjadi
tumpuan hati selama ini bukan si 'dia' tapi adalah
lambang yang menjadi bayangan dari sapu tangan sutra
merah itu sendiri.
Entah berapa banyak gadis remaja, dalam impian
sekalipun selalu muncul bayangan si 'dia'.
Siapa lagi kalau bukan Cin Ko.
* * * * * Setelah mandi menyisir rambut, ia merapikan kukukuku jarinya dengan pisau kecil, lalu mengenakan
pakaian yang baru, sutra hitam plirit emas, hati-hati dan
sangat rapi ia ikat selendang sutra merah di
pinggangnya. Bahwasanya ia tidak suka pakaian sutra warna hitam,
tidak senang memakai selendang sutra warna merah,
tapi ia dipaksa dan terpaksa mengenakan itu semua,
karena menolak atau tidak mau mengenakan kesukaan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
publik, menandakan dirinya tiada keberanian, tidak
simpatik terhadap harapan orang banyak.
Sejak peristiwa tragedi Hou-khiu, pabrik kain atau
pertenunan di Kanglam dipaksa untuk mewarnai seluruh
hasil produknya dengan warna merah menyala, sebab
kalangan muda yang suka mengenakan hasil produk
mereka menghendaki, sapu tangan, selendang atau ikat
pinggang yang mereka pakai harus warna merah.
Pemuda yang tidak mengenakan selendang, sapu tangan
atau syal di badannya, dia tidak berani keluar rumah.
Sekarang pakaian serba merah bukan saja mode bagi
kaum muda, tapi juga menjalar kepada kaum tua, laki
atau perempuan, tanpa warna merah rasanya tidak
ngetren, warna merah akan membuat mereka merasa
dirinya lebih muda, kelihatan muda, yang pasti tidak
ketinggalan jaman.
Bagi pemuda romantis, mereka mengikat benang sutra
di pergelangan tangan, selendang sutra di pinggang.
Pemuda gagah dan pemberani menghias gagang
golok, pedang atau senjata apapun yang digunakan
dengan hiasan serba merah akan menambah wibawa dan
membangkitkan keberanian mereka. Pemuda-pemuda
kampungan malah mengikat sapu tangan merah di
kepala. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tapi belum pernah ada orang mengenakan syal, atau
sapu tangan di lehernya, tidak ada orang yang berani.
Karena Cin Ko mengenakan hiasan syal merahnya di
leher. Siapa berani mengenakan syal atau sapu tangan di
leher, umpama Cin Ko tidak perduli, orang lain akan
menebas atau memotong syal atau sapu tangan
merahmu, yang pasti leher pemakainya juga ikut
terpenggal. Siapapun boleh meniru Cin Ko, mengagungkan dan
memujanya, tapi pantang melanggar kebesaran atau
wibawanya. Umpama Cin Ko sedang menikmati suasana
padang bulan di atas jembatan, orang lain yang ingin ikut
menikmati suasana yang romantis itu pun harus
menikmatinya di bawah jembatan.
Cin Ko adalah Cin Ko, selamanya hanya satu, besok
tidak ada yang lain, kelak tiada, sepanjang jaman hanya
ada satu. Sejak tragedi Hou-khiu, Cin Ko adalah simbol
kebesaran seorang pendekar, seorang gagah yang
menjadi pujaan kaum muda, terutama kaum putri yang
sedang mekar, cewek-cewek yang lagi kasmaran akan
cinta. * * * * * TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dan yang pasti Cin Ko adalah tokoh besar pujaan Dian
Susi. Dian Susi duduk menggelendot di atas kursi malas
yang beralaskan kulit rase berbulu tebal dan halus.
Hembusan angin membawa bau wangi bunga teratai,
tangannya memegang sebuah mangkok putih mulus
terbuat dari batu giok (jade), dalam mangkok masih
tersisa sop biji teratai yang dimasak dengan salju.
Salju yang dikirim dari Kwan-gwa dengan kuda cepat
sejauh delapan ratus li. Sebetulnya Kim-siu-san-ceng
mempunyai simpanan salju di gudang bawah tanah, tapi
Dian Susi lebih suka salju yang dikirim dari Kwan-gwa.
Tiada alasan lain, hanya karena dia anggap salju Kwangwa lebih dingin dan rasanya sedap.
Jikalau Dian Susi bilang bulan itu persegi, tiada orang
yang berani mengatakan bundar. Apapun yang disukai
oleh nona Dian, perduli apapun yang ingin dia lakukan
takkan ada orang berani menentang.
Bukan lantaran dia putri tunggal Dian Sek, Dian jiya
yang dijuluki Tionggoan Bing Siang yang kenamaan, tapi
karena dia seorang nona yang manis. Bukan saja
perawakannya semampai dengan gerak-gerik gemulai,
lemah lembut dan sopan santun, tutur katanya pun
manis, terutama kalau tertawa manis sekali, begitu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
manisnya sampai tiada orang yang tidak suka atau tega
menolak permintaannya.
Yang dibuat sayang oleh khalayak ramai adalah,
jarang sekali mereka bisa melihat apa lagi berhadapan,
berjumpa dengan nona Dian yang manis ini.
Tiap tahun di perayaan Cap-go-meh di waktu Dian jiya
melepas kembang api, baru dia muncul sebentar di
hadapan orang banyak, kecuali itu, sepanjang tahun ia
mengeram diri di kamarnya, tidak pernah keluar pintu,
siapapun jangan harap bisa melihat wajahnya yang
molek. Dian jiya dijuluki Tionggoan Bing Siang, sudah pasti
bukan tokoh yang kikir, umpama sekali mengulap tangan
dia harus merogoh kantong sebanyak seribu tail uang
emas, dia tidak pernah mengerutkan kening, tapi sekalikali tidak akan mengizinkan siapa saja mendekati
putrinya. Putri tunggal yang satu ini dipandang jauh lebih
berharga dari segala harta benda yang dimilikinya.
* * * * * Sop biji teratai itu sudah tidak dingin lagi, Dian Susi
menghirup seteguk, lalu dia angsurkan cawan kepada
pelayannya Dian Sim.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Sim adalah pelayan pribadinya, juga teman
pelipur lara yang setia, teman satu-satunya. Tanpa Dian
Sim, entah betapa dia akan kesepian.
Saat mana Dian Sim sedang duduk di atas kursi kecil
di depannya, kepala menunduk sedang menyulam. Dian
Susi tiba-tiba merebut kain sulamannya itu, katanya
dengan nada aleman: "Kenapa selalu tunduk kepala
menyulam saja" Memangnya siapa yang sedang kau
bikinkan sarung bantal untuk pesalin?"
Dian Sim tertawa, katanya sambil mengelus
pinggangnya yang pegal: "Kalau tidak menyulam
memang harus kerja apa?"
"Temani aku ngobrol."
"Setiap hari ngobrol, obrolan apa pula yang menarik?"
"Coba kau bercerita saja."
Setiap hari sepanjang tahun Kim-siu-san-ceng
didatangi tamu dari berbagai penjuru dunia yang tak
terhitung banyaknya, dari mulut para tamu ini Dian Sim
mendengar banyak cerita yang menegangkan, mengerikan dan mengasyikkan, lalu dia ceritakan pula
kepada nona majikannya.
"Tamu-tamu yang datang beberapa hari ini semuanya
telur busuk, tiada yang pintar bercerita, semuanya repot
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengisi perut melulu, seperti orang kelaparan yang takut
kehabisan hidangan."
"Kalau begitu, lekas kau ceritakan pertempuran di
Hou-khiu itu sekali lagi."
"Cerita yang itu aku sudah lupa."
"Sudah lupa" Cerita itu sudah tujuh delapan kali kau
ceritakan, kenapa mendadak lupa?"
"Nah, kalau sudah kuceritakan delapan kali, tentunya
kau sendiri belum lupa. Kenapa kau ingin mendengarnya
lagi" Aku sendiri sudah bosan."
Merah muka Dian Susi, diraihnya sebatang jarum
sambil berjingkrak hendak menjahit mulut budak kurang
ajar ini. Dian Sim cekikikan sambil berkelit, akhirnya dia mohon
ampun, katanya: "Baiklah Siocia, baik, kau ingin dengar,
biarlah kuceritakan. Asal Siocia senang hati, meski harus
mengulang cerita seratus kali juga boleh."
Baru sekarang Dian Susi menghentikan tangannya,
katanya sambil melotot: "Lekas ceritakan, kalau tidak
biar kujahit mulut jahilmu."
Dian Sim duduk pula di atas kursi kecil itu,
menegakkan pinggang, sengaja batuk-batuk beberapa
kali serta tarik suara, lalu mulai bercerita dengan kalem:
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Pertempuran
Hou-khiu merupakan peristiwa

Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menggemparkan yang mengangkat nama Cin Ko Cinsiauhiap. Selama tujuh puluh tahun mendatang, belum
pernah terjadi pertempuran sehebat ini di kalangan
Kangouw. Tiada pertempuran lain yang lebih banyak
mengalirkan darah daripada pertempuran di Hou-khiu
itu." Cerita ini memang sudah berulang kali dia kisahkan,
maka seperti guru sekolah yang tengah menghafal
pelajaran di hadapan murid-muridnya, sudah hafal di luar
kepala, umpama tertidur dia pun bisa menceritakan
dengan lengkap tanpa ada yang ketinggalan.
Tapi Dian Susi seolah-olah baru pertama kali ini
mendengar kisah cerita ini, biji matanya memancarkan
sinar terang. Tutur Dian Sim: "Hari itu tanggal lima bulan lima, hari
raya Toan-ngo, setiap tahun pada hari-hari ini, Kanglam
Chit-hou (tujuh harimau dari Kanglam) berkumpul di
Hou-khiu, Tujuh Harimau itu bukan binatang baik-baik,
bukan saja mencaplok orang, sampai tulang-tulangnya
pun dia telan seluruhnya."
"Kalau begitu, orang lain tentu amat takut kepada
mereka?" sela Dian Susi.
"Sudah tentu jeri, malah takutnya bukan main. Meski
banyak orang yang ingin jadi pahlawan pembunuh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
harimau, tahu bahwa hari itu mereka berada di Hou-khiu,
tapi tiada seorang pun yang berani meluruk ke sana.
Tapi suatu hari pada lima tahun yang lalu..."
"Hari itu kenapa?"
"Hari itu waktu Tujuh Harimau naik ke atas gunung, di
tengah jalan bertemu seorang anak perempuan yang
cantik jelita, begitu melihat gadis ayu, Tujuh Harimau
seperti anjing kelaparan yang melihat sekerat daging,
tanpa perduli tujuh kali tiga dua puluh satu, beramairamai mereka menggondolnya naik ke atas."
"Apakah mereka tidak tahu siapa gadis itu?"
"Waktu itu mereka tidak tahu bahwa gadis ayu ini
adalah pujaan hati Cin Ko, umpama tahu, mereka pun
tidak takut, siapapun tiada yang mereka takuti, karena
selama ini tiada pernah orang mengganggu dan cari
penyakit kepada mereka."
"Tapi kali ini mereka benar-benar kebentur batunya."
"Waktu itu Cin Ko belum ternama, siapapun tak
mengira dia punya nyali sebesar itu. Waktu itu dia bilang
hendak naik ke gunung menggebuk harimau, banyak
orang kira dia cuma membual belaka, siapa tahu dia
benar-benar meluruk ke atas gunung."
"Dia pergi seorang diri?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ya, seorang diri, dengan membekal senjata seorang
diri dia naik ke Hou-khiu, walau dia berhasil melukai dua
dari Tujuh Harimau itu, tapi dia sendiri juga tertusuk
seratus delapan kali."
"Tertusuk golok sebanyak seratus delapan kali?"
"Ya, tepat seratus delapan kali, karena, menurut
aturan para harimau itu, bila mereka menawan
seseorang, tidak akan segera dibunuhnya, tapi ditusuk
dulu seratus delapan kali, baru membiarkannya mati
pelan-pelan."
Dian Susi menghela nafas, ujarnya: "Mungkin jarang
ada orang di dunia ini yang kuat bertahan setelah
tertusuk seratus delapan kali."
"Bukan saja jarang, boleh dikata malah tiada. Tapi Cin
Ko dengan kertak gigi turun gunung, karena dia tidak
mau mati, dia ingin menuntut balas."
"Masih berani menuntut balas?"
"Badannya seperti otot kawat tulang besi, nyalinya
sekeras baja juga, semua orang kira setelah beruntung
bisa lolos dan turun gunung, setiap kali mendengar orang
membicarakan harimau akan ketakutan setengah mati,"
sampai di sini Dian Sim menghela nafas, tuturnya lebih
lanjut: "Siapa tahu tahun kedua dia meluruk ke Hou-khiu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pula, dia tantang Tujuh Harimau itu pula. Kali ini dia bikin
empat di antara Tujuh Harimau itu terluka parah."
"Dia sendiri bagaimana?"
"Kembali dia tertusuk seratus delapan kali, kali ini para
harimau itu menusuk lebih keras, tapi dia toh masih kuat
bertahan, kabarnya menurut orang yang belakangan
melihatnya, tiada sejengkal kulit daging di badannya
yang utuh, darah yang mengalir cukup membuat batubatu gunung menjadi merah seluruhnya."
"Kenapa harimau-harimau itu tidak membunuhnya
saja?" "Karena mereka menepati aturannya sendiri, kalau
mereka sudah menusuk seratus delapan kali, maka tidak
boleh lebih tidak boleh kurang, setiap tusukan harus
sama-sama berat atau ringan, selamanya belum pernah
terpikir oleh mereka setelah terluka seratus delapan kali
tusukan masih kuat bertahan hidup, masih berani datang
menuntut balas lagi."
"Tapi Cin Ko kuat bertahan tusukan dua ratus enam
belas bacokan."
"Dia kuat bertahan dari bacokan tiga ratus dua puluh
empat golok."
"Kenapa?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Karena tahun ketiga dia meluruk datang pula,
kembali terbacok seratus delapan kali. Cuma kali ini dia
berhasil melukai lima di antara Tujuh Harimau itu."
"Menghadapi orang sekuat ini, memangnya mereka
tidak jeri" Kenapa masih dibiarkan hidup?"
"Karena mereka sendiri serba susah, peristiwa ini
sudah menggemparkan Kangouw, bukan sedikit orangorang yang khusus datang ke Hou-khiu menonton
keramaian."
"Oleh karena itu mereka tidak akan menusuk seratus
tujuh kali untuk membinasakan Cin Ko, soalnya tusukan
ke seratus delapan itu tidak boleh lebih keras dari
tusukan pertama."
"Benar, orang-orang macam mereka, betapapun tidak
sudi jual muka dan dibikin malu di hadapan sekian
banyak kaum persilatan, kalau tidak siapa lagi yang takut
terhadap mereka?"
"Tapi lima di antara mereka sudah terluka, kenapa
orang lain tidak bereskan mereka sekalian untuk
menghilangkan bencana?"
"Karena semua orang tahu, betapa derita siksa lahir
batin Cin Ko, tiada orang tega membuatnya gagal dan
kecewa setelah dia berkorban begitu rupa, semua
mengharap dia berhasil membunuh Tujuh Harimau itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan tangannya sendiri. Dan lagi semua orang tahu,
tusukan tiga ratus dua puluh empat itu merupakan
tusukan terakhir." Sampai di sini biji mata Dian Sim
sendiri bersinar terang, katanya lebih lanjut: "Oleh
karena itu, begitu tusukan terakhir yang menentukan ini,
ternyata Cin Ko belum ajal, seluruh penonton bersorak
gegap gempita."
"Apakah Tujuh Harimau itu tidak tahu bila itu
merupakan tusukan terakhir?"
"Tentu mereka cukup tahu, oleh karena itu tahun
ketiga tidak sedikit orang-orang undangannya, itulah
sebabnya orang banyak tidak turun tangan."
"Lalu tahun keempat?"
"Tahun keempat lebih banyak mereka mengundang
bala bantuan, tapi kawan-kawan mereka sendiri pun
dibikin kagum terhadap Cin Ko. Waktu Cin Ko turun
tangan, tiada satu pun yang tampil membantu mereka.
Setelah Cin Ko berhasil membunuh harimau yang terakhir
seluruh pelosok Hou-khiu-san serasa hureg oleh tepuk
tangan dan sorak sorai para penonton yang tidak
terhitung banyaknya, konon suaranya terdengar sepuluh
li jauhnya."
Dian Susi mendelong mengawasi asap dupa yang
mengepul dari perabuan, seolah-olah asap dupa itu
berubah menjadi seorang pada baju hitam yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengenakan sapu tangan merah di lehernya sesuai apa
yang pernah didengarnya menurut gambaran yang
tersiar di luar.
"Sampai pada waktu itu," tutur Dian Sim, "barulah
tersimpul senyuman manis di muka Cin Ko, tawa yang
bangga, bangga akan kemenangan, namun amat getir
dan berat juga, karena pujaan hatinya telah gugur,
takkan melihat kemenangan gilang gemilang hari itu,"
sampai di sini Dian Sim menghela nafas, katanya pula:
"Sejak hari itu, 'Manusia besi' Cin Ko tersiar luas di
seluruh penjuru dunia."
"Sungguh tokoh besar yang luar biasa," kata Dian Susi
gegetun. "Orang seberani dia, laki-laki sedalam itu cinta
kasihnya, sulit dicari keduanya dalam dunia ini."
Dian Susi tiba-tiba berjingkrak bangun, menangkap
tangan Dian Sim sambil berkata: "Oleh karena itu aku
harus kawin sama dia."
Raut mukanya bersemu merah, kelihatan begitu
teguh, haru dan jelita.
Dian Sim seketika cekikikan, katanya: "Lagi-lagi mau
kawin sama dia" Memangnya kau hendak kawin dengan
berapa laki-laki?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Lalu dengan bersungut menyambung: "Pertama kau
bilang mau kawin dengan Gak Hoan-san, lalu kau mau
kawin dengan Liu Hong-kut, sekarang bilang hendak
kawin dengan Cin Ko, memangnya siapa yang hendak
kau kawini?"
"Siapa lebih baik, kepadanya aku akan kawin."
"Kalau ketiganya sama-sama baik, punya kepintaran,
ada kelebihannya masing-masing" Memangnya kau
hendak kawin dengan tiga orang laki-laki?"
Tiba-tiba Dian Susi seperti tidak mendengar
ocehannya, sekian lama dia melamun, tiba-tiba menarik
tangannya pula, katanya berbisik: "Lekas kau ngeloyor
keluar diam-diam, belikan aku beberapa perangkat
pakaian laki-laki, mau tidak?"
Sekilas Dian Sim melenggong, tanyanya: "Siocia,
untuk apa beli pakaian laki-laki?"
Kembali Dian Susi terpekur sekian lama, katanya
pelan-pelan: "Kabarnya kalau perempuan mau keluar
pintu harus menyaru jadi laki-laki supaya tidak digoda
orang." Terbelalak mata Dian Sim, tanyanya tidak percaya:
"Siocia ingin keluar?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi manggut-manggut, katanya: "Aku ingin
keluar, menyaksikan orang macam apa sebenarnya
ketiga orang ini."
Dian Sim kebingungan, katanya tergagap: "Siocia, kau
berkelakar bukan?"
"Siapa berkelakar" Lekas belikan pakaian!"
Bukan saja tak bisa tertawa, Dian Sim hampir
menangis malah, katanya bersungut: "Siocia yang baik,
kau ampunilah aku, kalau Loya tahu, kedua kakiku pasti
dihajar sampai buntung."
"Kalau kau tidak dengar perintahku, biar sekarang
kubuat buntung kedua kakimu." Demikian ancamnya,
tiba-tiba dia tertawa serta mencubit pipi Dian Sim,
tambahnya: "Apa lagi usiamu tidak kecil lagi,
memangnya kau tidak suka keluar mencari suami yang
baik?" Tanpa hiraukan rasa malu Dian Sim berjingkrak
senang, serunya sambil menarik lengan Siocianya: "Kau
mau ajak aku?"
"Tak usah cerewet, lekas pergi, asal kau tidak banyak
bicara Loya masa tahu. Setelah kami pulang membawa
menantu yang setimpal, beliau pasti kegirangan."
Dian Susi sibuk merias diri di depan kaca, jubah hijau
pupus, syal hijau pupus berkembang, badannya tegak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
semampai, melihat bayangan dirinya di dalam kaca dia
merasa puas. Ingin dia menarik muka berpura-pura
marah, tak tertahan malah tertawa terpingkal-pingkal,
lalu terbayang olehnya sesuatu, tiba-tiba dia putar badan
membuka kedua tangan, katanya menyeringai:
"Hayolah pujaanku, biar kupeluk kau dulu untuk
kucium." Dian Sim menjerit keras, bagai dikejar setan dia berlari
sipat kuping. Tapi dengan mudah Dian Susi menyandaknya, sekali
raih dia peluk pinggang orang, katanya: "Kau tidak sudi
ya?" "Umpama mau berciuman juga tidak seperti
tampangmu sekarang."
"Lalu harus bagaimana?"
"Tampangmu yang garang dan main paksa begini
tentu bikin anak perempuan kaget ketakutan," kata Dian
Sim melerok, "sikapmu harus mesra, menarik tangan
mengelus rambut serta merayunya dengan kata-kata
manis, gerakkan dulu sanubari, supaya orang jatuh ke
dalam pelukanmu sendiri."
Kembali Dian Susi terpingkal-pingkal memegang perut
saking geli, katanya: "Kata-kata yang cabul bagi kaum
perempuan, masakah laki-laki berani mengatakan?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Nah, kau memang bodoh, justru kata-kata yang cabul
anak perempuan malah suka mendengarkan, semakin
cabul semakin baik."
"Baik, sekarang ingin kutanya kau."
"Tanya apa?"


Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Mulutmu yang mungil kecil ini pernah dicium orang
belum?" Dian Sim lari ke ranjang dan susupkan
kepalanya ke dalam selimut," serunya sambil tutupi
kedua telinganya: "Memalukan, ucapan yang memalukan
masakah berani kau ucapkan."
Muka Dian Susi sendiri juga merah, katanya sayu:
"Orang lain yang sebaya aku, entah sudah berapa kali
pernah melakukan adegan hot, memangnya kenapa
kalau kukatakan?"
"Mendengar ucapanmu, orang lain takkan percaya
bahwa kau ini gadis pingitan yang tidak pernah keluar
pintu," kata Dian Sim menggeleng-geleng, "tapi memang
salah Loya, kenapa sampai sekarang belum mencarikan
jodoh" Kalau kau sudah kawin, tentu tidak banyak
pikirkan adegan-adegan cabul seperti itu."
Dian Susi kipatkan tangannya, katanya menarik muka:
"Setan cilik, tidak keruan ya kau bicara."
Melihat nonanya marah, dengan aleman Dian Sim
maju menghampiri serta katanya unjuk tawa lucu:
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Barusan aku dengar sebuah kabar, Siocia ingin dengar
tidak?" "Aku tidak mau dengar!"
"Sebetulnya kabar gembira dan berita hangat, tapi
kalau Siocia tidak mau dengar, aku pun tak mau
sembarang bicara."
"Tidak sembarang bicara apa?" sentak Dian Susi.
"Mana keberanianmu?"
"Memangnya orang yang jadi budak nyalinya kecil."
Dian Susi tidak tega dan kasihan, katanya
memeluknya: "Hayo katakan, kalau tidak biar kucium
bibirmu yang kecil ini."
Karena dipeluk Dian Sim sudah terpingkal-pingkal
kehabisan nafas dan suara, katanya meratap: "Siocia
yang baik, ampun, lepaskan, biar kukatakan,
kukatakan..." Setelah nafasnya tenang, baru dia berkata
bisik-bisik: "Kabarnya Loya ada maksud menjodohkan
kau dengan putra sulung Nyo samya."
Seketika tegang hati Dian Susi, tanyanya: "Nyo samya
yang mana?"
"Sudah tentu Nyo samya dari Toa-bing-hu itu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi melenggong sekian lama, tiba-tiba berkata:
"Lekas bereskan barang-barang, malam nanti kita
berangkat."
"Buat apa tergesa-gesa?"
"Kabarnya putra sulung Nyo samya itu mahluk aneh,
sejak kecil menetap di kelenteng Hwesio, hwesio-hwesio
tua dalam kelenteng bilang dia dilahirkan oleh mahluk
aneh dari langit, orang seperti itu masakah bisa
kulayani?"
"Biarlah aku saja yang membereskan barang-barang
ini, pergilah kau menyewa kereta besar, suruh tunggu di
belakang pintu kecil di taman belakang itu," demikian
Dian Susi menambahkan.
"Buat apa menyewa kereta" Bukankah naik kuda lebih
cepat?" "Paling sedikit aku akan membawa enam tujuh peti
besar, kalau tidak pakai kereta mana bisa kubawa?"
"Tujuh peti besar?" seru Dian Sim terkesima. "Siocia, barang-barang apa yang hendak kau bawa?"
"Banyak sekali, umpamanya, kotak perhiasan, kotak
bahan-bahan kosmetik, baskom buat cuci muka, kaca,
selimut, bantal guling, kau kan tahu selamanya aku tidak
pernah pakai barang-barang orang lain, lebih baik kau
bawa juga sumpit yang biasa kugunakan, serta mangkok
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
cangkir dan handuknya, eh jangan lupa pedupaan, papan
catur, kau bungkus jadi satu."
Dian Sim mendengarkan dengan mendelong, serunya:
"Siocia, apa kau hendak membawa pesalin" Suami belum
lagi kau dapat, pesalin sudah dibawa, apa tidak terlalu
pagi?" Barang apa saja yang ingin dibawanya, umpama kau
menggunakan alasan apapun dia tetap anggap kentut.
Begitulah dengan membawa segala perabot dan
keperluan pribadinya, Dian toasiocia beserta pelayannya
Dian Sim menempuh perjalanannya. Inilah perjalanan
pertama kali keluar pintu menuju ke tempat jauh selama
hidupnya. Tujuan mereka adalah Kanglam.
Karena tiga tokoh pujaan hatinya semua berada di
Kanglam. Tapi tempat macam apa sebenarnya Kanglam
itu" Berapa jauh dari rumahnya" Sepanjang jalan bakal
lewat tempat-tempat mana" Bakal bertemu dengan
orang-orang macam apa" Orang baik atau orang jahat"
Apa pula yang akan dilakukan terhadap mereka"
Mungkin mereka bakal ketemu bahaya" Apakah bisa tiba
di Kanglam dengan selamat" Umpama benar mereka bisa
tiba di Kanglam, apakah bisa menemukan tiga tokoh
besar yang dipujanya itu" Lalu bagaimana sikap mereka
terhadap dirinya"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Semua persoalan ini tidak pernah dipikirkan oleh Dian
toasiocia. Seolah-olah asal dia naik kereta memejamkan
mata, waktu dia membuka mata pula, dirinya sudah tiba
di Kanglam dengan selamat. Ketiga tokoh besar yang
dipujanya itu berdiri berjajar menyambut kedatangannya.
Dia kira berkecimpung di Kangouw seaman dan
sebebas dia jalan-jalan di dalam taman kembang di
rumahnya, dia kira orang-orang Kangouw seperti juga
orang-orang yang berada di rumahnya, semua mematuhi
segala permintaannya.
Coba anda bayangkan, perempuan pingkan dengan
pikiran jenaka seperti ini, tanpa pengalaman dan
pengawal sedikit pun berkelana di Kangouw" Bukankah
amat berbahaya" Jikalau benar bisa tiba di Kanglam
dengan selamat, sungguh merupakan peristiwa aneh bin
ajaib. * * * * * Perasaan Dian Susi saat itu laksana burung kenari
yang terkurung dalam kurungan selama puluhan tahun,
kini lepas bebas, terbang ke mana dia suka, semakin
jauh dia meninggalkan kurungan lebih baik.
Cuaca sudah gelap, putri malam mulai menongolkan
kepala dari peraduannya, bertengger di tengah
cakrawala. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Coba kau lihat, betapa indahnya rembulan ini?" ujar
Dian Susi. "Rembulan di Kanglam bukan mustahil lebih
terang dan bundar dibanding disini."
"Apakah rembulan di Kanglam berbeda dengan
rembulan di sini?" tanya Dian Sim.
"Ah, kau ini memang tidak tahu seni," omel Dian Susi
sambil melerok, tiba-tiba dia berjingkrak bangun sambil
mengerutkan kening, keluhnya: "Celaka, celaka dua
belas." Dian Sim menjadi tegang, tanyanya: "Apanya yang
celaka?" Merah muka Dian Susi, katanya berbisik di pinggir
telinga: "Tadi aku minum terlalu banyak, sekarang
kebelet sekali."
Geli dan tidak enak tertawa Dian Sim dibuatnya,
katanya dengan menggigit bibir "Lalu bagaimana
baiknya" Masakah di atas kereta..."
"Aku masih lupa juga, seharusnya kita bawa pispot."
Sungguh tidak tertahan lagi, Dian Sim ngakak meliuk
pinggang. "Apanya yang dibuat geli," omel Dian Susi,
"memangnya kau tidak pernah kebelet?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sudah tentu Dian Sim pernah kebelet, dan rasanya
memang sukar dibayangkan. Katanya berbisik: "Malam
sudah gelap, di jalan tiada orang, terpaksa suruh kusir
menghentikan kereta, boleh kau lepas hajat di dalam
hutan..." "Plak!" dengan ringan Dian Susi menampar mulutnya,
sentaknya: "Setan cilik, kalau ada orang datang..."
"Tidak menjadi soal, aku boleh berjaga di luar."
"Tidak mau, bagaimana juga tidak mau."
"Kalau tidak mau, ya apa boleh buat, terpaksa kau
tahan saja."
Karena menahan diri, muka Dian Susi sampai merah
padam. Lebih baik kalau kau melupakan kebelet kencing
atau mau buang air besar, kalau dipikir malah semakin
mendesak. Tak tertahan lagi, akhirnya Dian Susi berteriak: "Hai
kusir kereta, hentikan keretamu!"
Dian Sim tertawa menutup mulut: "Agaknya ada
kalanya Dian toasiocia mengubah tekadnya."
Dengan gemas Dian Susi melotot kepadanya, katanya:
"Kebetulan aku ada pesan kepada kusir kereta."
"Ada pesan apa?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi geleng-geleng, gumamnya: "Betapapun
memang masih kecil, kerjanya ceroboh tidak seteliti
orang dewasa." Begitu kereta berhenti segera ia lompat
turun, katanya keras: "Kusir, kemarilah, aku ada
omongan." Dengan malas-malasan kusir kereta lompat turun,
seperti orang kurang tidur datang menghampiri, sikapnya
acuh tak acuh seperti orang linglung.
Dian Susi merasa amat puas, sepak terjangnya kali ini
amat dirahasiakan, sudah tentu lebih baik kalau kusir
kereta ini seorang linglung atau pikun, karena orang
linglung biasanya jarang membocorkan rahasia orang
lain. Tapi dia masih belum lega, dia ingin tanya sendiri
dan membuktikan. Karena Dian Susi memang gadis
cerdik yang pandai menggunakan otak dan bekerja teliti
dan cermat. Oleh karena itu dia bertanya: "Kau kenal
kami tidak" Tahukah kau siapa kami?"
Kusir kereta mendelong, sahutnya: "Tidak kenal, tidak
tahu." "Tahukah kau dari mana kami barusan masuk ke sini?"
"Aku toh bukan orang pikun kenapa tidak tahu?"
Dian Susi jadi tegang, tanyanya menegas: "Kau tahu?"
"Tentunya keluar dari pintu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi menghela nafas lega, tanyanya pula:
"Tahukah kau dari pintu rumah siapa?"
"Tidak tahu."
"Tahukah kau ke mana tujuan kami?"
"Tidak tahu."
Berputar biji mata Dian Susi, tanyanya pula: "Menurut
pandanganmu, kami ini perempuan atau laki-laki?"
Kusir tertawa, menunjukan sebaris giginya yang
kuning, katanya: "Kalau kalian perempuan, bukankah aku
jadi babi betina?"
Dian Susi tertawa, dia amat puas dan senang,
katanya: "Kita hendak jalan-jalan ke tempat sekitar ini,
kau tunggu kami di sini, jangan pergi."
"Sewa kereta belum kalian bayar, gorok leherku juga
aku tidak mau pergi."
"Benar, tinggal pergi tidak akan dibayar, kalau
menunggu kau akan mendapat upah."
Kusir kereta keluarkan pipa cangklong, terus duduk di
tanah mengisap pipanya.
Sekarang Dian Susi lega benar-benar, seketika rasa
kebeletnya tidak tertahan lagi. Dengan menarik Dian Sim
mereka terus menyusup ke dalam hutan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dalam hutan tidak begitu gelap, tapi kenyataan
bayangan setan pun tidak kelihatan. Kata Dian Sim lirih:
"Di sini sajalah, tiada orang mengawasi kereta, jangan
pergi terlalu jauh."
"Tidak, jangan di sini, kusir kereta itu seorang
linglung, tidak usah dibuat kuatir." Setelah menemukan
tempat yang paling gelap, baru Dian Susi berbisik: "Kau
perhatikan, begitu ada orang datang, kau harus
berteriak."
Dian Sim tidak bicara, dia cuma cekikikan dengan
tertahan. "Setan kecil, apa yang ditertawakan! Memangnya kau
tidak pernah lihat orang kencing?"
"Bukan soal kencing yang kutertawakan, memang di
sini tiada orang tapi kalau ada ular..."
Seketika Dian Susi melompat berdiri dengan muka
pucat, ingin dia cari apa-apa untuk menyumbat mulut
pelayannya yang bawel ini. Begitulah dengan bersenda
gurau mereka ribut setengah harian di dalam hutan
tanpa memperhatikan suara ringkik kuda dan suara
menggelindingnya roda kereta.
Setelah mereka keluar dari hutan dan tiba di jalan
raya, seketika mereka berdiri melongo dan saling
berpandangan. Kiranya kusir kereta bersama kereta
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tunggangan mereka yang berisi penuh bekal mereka
telah lenyap tak berbekas.
Lama mereka menjublek di tempat, akhirnya Dian Sim
menghela nafas, ujarnya: "Kita anggap dia sebagai orang
linglung, sebaliknya dia justru anggap kita ini orangorang pikun."
Dian Susi kertak gigi, mukanya pucat dan beringas
gusar saking dongkol.
"Bagaimana kita selanjutnya?" tanya Dian Sim.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pulang," ujar
Dian Susi tegas, tiba-tiba dia bertanya: "Kau bawa tidak
kantong perhiasanku?"
Dian Sim manggut-manggut seraya menarik buntalan
dari belakang punggungnya. Katanya menggumam:
"Maklum anak kecil, kerjanya tidak seteliti orang besar."
* * * * *

Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Fajar menyingsing.
Ayam jantan berkokok bersahutan, demikian juga
perut mereka berkokok menagih makanan.
Untunglah tidak lama mereka berjalan di tengah pagi
berkabut ini, di kejauhan sana terlihat sebuah tembok
kota, semakin dekat lambat laun orang-orang desa yang
mundar-mandir ke arah kota pun semakin banyak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di dalam kota tentu banyak rumah makan, di rumah
makan sudah tentu terdapat orang-orang dari berbagai
kalangan, sudah tentu tidak sedikit di antara mereka
adalah bajingan dan penipu.
Mie daging yang mereka pesan berada di dalam
sebuah mangkok raksasa, yang luar biasa adalah mie
buatan kota kecil ini lebarnya seperti pisau, kuahnya
berminyak menguning, sekerat daging yang terhidang
kira-kira ada setengah kati beratnya.
Makan minum di tempat seperti ini yang diutamakan
adalah perut kenyang harga murah, perduli bagaimana
rasanya, hakikatnya tiada orang yang memperdulikannya. Apalagi hidangan mie daging seperti
itu, biasanya nona besar dari keluarga hartawan jangan
menyentuhnya dengan sumpit, melirik pun segan, tapi
luar biasa hari ini, mungkin karena kelaparan, mie daging
sebanyak itu diganyangnya hampir habis separo, malah
daging sebesar itu disikatnya sampai bersih.
Dian Sim tertawa sambil menarik lengannya, katanya:
"Mangkok dan sumpit ini sudah biasa dipakai laki-laki
busuk, kenapa kau pun berani memakainya?"
Dian Susi tercengang, katanya tertawa: "Aku sudah
lupa, kiranya bila seorang perutnya berontak, persoalan
apapun boleh dia lupakan."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Waktu dia meletakkan sumpitnya, baru dia sadar,
seluruh hadirin dalam rumah makan sedang mengawasi
mereka dengan pandangan mendelong, seolah-olah
mereka ini dua makhluk aneh.
Diam-diam Dian Susi meraba mukanya, tanyanya
berbisik:" Apa mukaku kotor?"
"Tidak."
"Kenapa orang-orang itu mengawasiku?"
Dian Sim tertawa, sahutnya: "Mereka sedang pikirpikir untuk mencari menantu bagi putrinya." Sejak
datang sebelah tangannya memegangi buntalannya itu,
sampai pun waktu makan pegangan tangannya tidak
dilepaskan. Dian Susi tiba-tiba sadar, katanya: "Lepaskan
tanganmu, letakkan buntalanmu di atas meja."
"Kenapa?"
"Berada di luar harus selalu ingat harta jangan
dipamerkan dihadapan umum, dengan caramu memegangi kantong itu, orang akan tahu bila di dalam
buntalan ini ada disimpan barang berharga, bukan
mustahil akan menjadi perhatian mereka untuk
mencurinya. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kalau kau pura-pura tidak ambil perhatian, orang lain
pun anggap biasa."
Dian Sim tertawa sambil menyeka mulutnya: "Tak kira
Siocia seorang kawakan Kangouw."
"Siapa itu Siocia?" sentak Dian Susi melotot.
"Ya, ya, Siauya."
Baru saja Dian Sim letakkan buntalannya di atas meja,
maka dilihatnya seseorang beranjak menghampiri,
sapanya sambil bersoja:
"Selamat pagi saudara-saudara."
Tampang orang ini tidak gagah, malah kepalanya
menyerupai musang, bermata sipit seperti mata tikus,
selintas pandang dapat diketahui pasti bukan laki-laki
baik. Sebetulnya Dian Susi tidak ingin perdulikan orang, tapi
untuk menunjukkan sikap dirinya sebagai seorang
berpengalaman di Kangouw, lekas dia berdiri membalas
soja, sahutnya: "Selamat pagi."
Tanpa sungkan orang itu langsung duduk semeja,
katanya: "Agaknya kalian baru pertama kali datang ke
tempat ini?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi menjawab tawar: "Sudah beberapa kali,
tempat mana saja dalam kota ini cukup kuketahui seluk
beluknya."
"Kalau Heng-tai (saudara) sering keluyuran di luar,
tentunya sudah kenal baik dengan Tio-lotoa Tio toako."
Dari nada bicaranya seolah-olah Tio toako adalah
pentolan yang berkuasa di kota kecil ini. Jikalau tidak
kenal orang seperti itu, pasti bukan kawakan Kangouw.
"Kenal baik sih tidak," sahut Dian Susi, "cuma pernah
beberapa kali makan bersama."
Orang itu lantas tertawa berseri, katanya: "Kalau
begitu kita sama-sama orang sendiri. Cayhe Thi Ke-po,
kenalan baik Tio lotoa." Tiba-tiba dia rendahkan suaranya
menyambung: "Karena sesama orang sendiri, terpaksa
aku bicara secara blak-blakan."
"Silahkan berkata," Dian Sim kalem-kalem saja.
"Tempat ini amat kalut, orang-orang jahat macam
apapun ada, kalau buntalan kalian ini ada menyimpan
barang berharga, lebih baik dijaga hati-hati."
Baru saja Dian Sim hendak meraih buntalannya, Dian
Susi segera melotot kepadanya, katanya tawar: "Dalam
buntalan ini cuma ada beberapa perangkat pakaian saja,
tidak perlu diperhatikan."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Thi Ke-po tertawa-tawa, pelan-pelan dia berbangkit,
katanya: "Cayhe bermaksud baik, kalian..." sekonyong-konyong
dia rain buntalan itu terus lari sipat kuping.
Dian Susi tertawa dingin, dari kepandaian lari orang,
umpama dia biarkan orang lari lebih dulu sejauh lima
puluh kaki, dia tetap dapat menyandaknya. Kiranya nona
besar gadis pingitan ini bukan putri hartawan yang lemah
dihembus angin.
Suatu ketika di lapangan latihan silat di Kim-sui sanceng, dalam tiga lima gebrak beruntun dia pernah
jatuhkan beberapa Piauthau yang datang dari kota raja.
Menurut pujian Piauthau yang dikalahkan itu,
kepandaian silat Dian siocia, sudah boleh terhitung
setaraf dengan jago kelas satu di Bulim, Giok Lan-hoa
pendekar perempuan yang kenamaan di Kanglam pun
belum tentu mengungkulinya.
Sayang sekali belum sempat gadis pingitan ini
mendemontrasikan kepandaiannya, sebelum Thi Ke-po
lari keluar pintu, tahu-tahu dicegat laki-laki besar kekar
yang gagah dan kereng dengan muka codet bekas
bacokan golok. Sekali ulur tangan beruntun dia persen
beberapa kali gamparan keras ke muka Thi Ke-po,
bentaknya dengan bengis: "Keparat yang tidak tahu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
malu, hayo lekas kembalikan barang-barang itu kepada
pemiliknya."
Bukan saja tidak berani membalas, bercuit pun Thi Kepo tidak berani, dengan mengelus pipinya yang bengap
sambil menunduk dia putar balik mengembalikan
buntalan itu. Laki-laki besar itu pun maju menghampiri, katanya
bersoja:" Aku she Tio, dia ini adalah anak buahku,
beberapa hari ini sedang kantong kempes, sehingga
berani melakukan perbuatan yang memalukan. Kalian
hendak menghajar atau memaki dan menghukum
dengan cara apapun, silahkan lakukan."
Terasa oleh Dian Susi, bukan saja laki-laki ini punya
keadilan, sikapnya pun jantan, katanya tertawa lebar:
"Terima kasih akan bantuan kawan ini, barangku toh
tidak hilang, anggap saja tiada kejadian apa-apa."
Maka melotot laki-laki itu kepada Thi Ke-po,
bentaknya: "Kalau demikian, tidak lekas kau ucapkan
terima kasih kepada budi luhur kedua Kongcu ini."
Dian Susi tiba-tiba menyela: "Saudara she Tio, apakah
Tio toako adanya?"
"Ya, memang aku adanya, maaf aku kurang hormat."
"Sudah lama mendengar nama besar Tio toako,
silahkan duduk."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tio lotoa ulapkan tangan, katanya: "Rekening
masakan di meja ini hitung atas namaku."
"Ah, mana boleh, biar aku saja yang traktir," lekas
Dian Susi berseru, lalu diraihnya buntalan itu serta
merogoh uang untuk membayar rekening masakan, tapi
yang dia rogoh adalah sekeping batu jade hijau pupus
mainan hiasan kepala yang ditaburi berlian "
memangnya apa yang tersimpan dalam buntalan ini tiada
uang perak. Mata Tio lotoa mendelong, tiba-tiba dia pun menekan
suara, katanya: "Barang seperti ini tak boleh dikeluarkan
untuk membayar, kalau saudara perlu memakai uang
boleh aku ajak kau ke pegadaian, tanggung nilainya
setimpal."
Tengah Dian Susi ragu-ragu, tiba-tiba dilihatnya
seorang laki-laki pertengahan umur berjubah panjang
menyoreng pedang melangkah masuk, langsung melotot
kepada Tio lotoa, katanya kereng: "Topak Lo-liok (tua
keenam si muka codet), kau sedang jual lagak memakai
namaku main tipu lagi kepada orang?"
Tio lotoa di hadapan mereka tersipu-sipu berdiri,
sahutnya sambil munduk-munduk: "Hamba tidak berani,
Tio toaya, kau baik-baik saja..." belum habis katakatanya, bagai dikejar setan dia ngacir pontang-panting.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi melongo, belum lagi dia paham duduknya
persoalan, laki-laki pertengahan umur yang menyoreng
pedang sudah menghampiri dan bersoja, katanya:
"Cayhe she Tio, bernama Lo-tat, berkat junjungan orangorang dalam kota ini, sudi memanggilku Lo-toa,
sebetulnya aku tidak setimpal dengan sebutan ini,"
Baru sekarang Dian Susi paham, kiranya laki-laki
berpedang inilah Tio lotoa yang tulen, yang tadi hanyalah
palsu belaka. Berkata pula Tio lotoa: "Topak Lo-liok adalah penipu
yang kenamaan dalam kota, sering meminjam namaku
menipu orang-orang luar daerah, tentunya kalian hampir
ditipunya barusan."
Merah muka Dian Susi, katanya: "Tapi waktu
buntalanku tadi direbut orang, memang dia yang
memintanya kembali."
Tio lotoa tertawa, katanya: "Thi Ke-po sekongkol sama
dia, sengaja bermain sandiwara supaya kalian percaya
kepadanya, supaya leluasa turun tangan," sambil tertawa
dia menambahkan: "Sebetulnya siapa-pun akan tahu,
sorot mata kalian begini tajam, tentunya membekal
kepandaian silat yang tidak lemah, dengan kepandaian
Thi Ke-po berdua yang tidak becus itu, memangnya bisa
lolos dari tangan kalian?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi menghela nafas, katanya: "Sekali peristiwa
menambah satu pengalaman." Mau tidak mau hatinya
jadi senang, tanyanya:
"Apa benar kau tahu aku bisa main silat?"
Tio lotoa tertawa, ujarnya: "Bukan saja pandai main
silat, malah kosen lagi, cayhe ada maksud berkenalan
dengan kawan-kawan setimpal, kalau tidak buat apa aku
mencampuri tetek bengek ini."
Senang hati Dian Susi, katanya: "Silahkan duduk."
"Di sini terlalu gaduh," ujar Tio lotoa. "Bagaimana
kalau kalian ikut aku pulang, ngobrol di rumahku saja?"
Tempat tinggal Tio lotoa terletak di dalam sebuah
pekarangan besar yang banyak dihuni orang banyak
dengan petak-petak kamar yang cukup sederhana, dua di
antara kamar-kamar itu menjadi tempat tidur dan ruang
tamu, perabotnya amat bersahaja, sehingga kelihatannya
amat menyolok dengan pakaiannya yang begitu mewah.
Namun bagi Dian Susi bukan saja tidak merasa heran,
malah dia anggap suatu keharusan dan jamak. Laki-laki
sebatangkara macam Tio lotoa, umpama punya uang
banyak, dia akan merogoh kantong dengan royal untuk
berkenalan dengan orang-orang Kangouw umumnya,
sudah tentu tidak akan menyimpan uang untuk
keperluan hidupnya sendiri.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Berkata Tio lotoa: "Kalau kalian tiada keperluan
penting, sukalah menetap di sini beberapa hari, biar
kuundang teman-teman baikku di kota untuk
diperkenalkan kepada kalian."
Dian Susi kegirangan, katanya: "Bagus sekali, Siau-te
menempuh perjalanan memang ingin berkenalan dengan
orang banyak."
"Cuma, apakah tidak terlalu merepotkan Tio toaya?"
sela Dian Sim. Dian Susi melotot, katanya: "Ah, berhadapan dengan
Tio toako, tidak perlu sungkan segala."
Tio lotoa bertepuk, serunya tertawa: "Betul, saudara
memang laki-laki yang gagah dan berjiwa besar,
memang harus demikian baru terhitung saudaraku."
Pujian ini sungguh membuat Dian Susi tertawa lebar,


Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hati girang bukan main.
Kalau Tio lotoa si bajingan tengik sudah banyak
pengalaman ini tidak tahu akan rahasia orang yang
menyaru jadi laki-laki, siapa lagi yang akan tahu bila
mereka berdua sebetulnya adalah cewek-cewek jelita"
Namun hal ini tidak disadarinya sama sekali, diamdiam Dian Susi malah merasa bangga akan
penyamarannya yang berhasil mengelabui orang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Berkata pula Tio lotoa: "Saudara, jikalau memerlukan
apa-apa, boleh terus terang kepada Toako. Oh, ya, aku
lupa mengambil uang untuk kalian pakai."
"Tidak usahlah," tukas Dian Susi, "aku masih punya
perhiasan..." merah mukanya, segera dia menambahkan:
"Perhiasan milik adikku, bisa ditukar dengan uang."
Berkata Tio lotoa dengan muka sungguh-sungguh: "Ah
kenapa saudara begini sungkan. Biar sekarang aku cari
uang sambil membeli arak, nanti kita boleh makan
minum sepuasnya." Tanpa menunggu jawaban Dian Susi
terus melangkah keluar, tapi tiba-tiba dia putar balik
sambil keluarkan sebuah kunci membuka sebuah almari
di samping ranjang, katanya: "Barang-barang berharga
sebaiknya disimpan dalam almari saja. Betapapun kita
harus berhati-hati."
Setelah mengunci buntalan perhiasan di dalam almari,
kuncinya dia serahkan kepada Dian Susi, katanya pula:
"Bekerja harus hati-hati, nah kuserahkan kunci ini
kepadamu."
Dian Susi menjadi rikuh, dari samping Dian Sim ulur
tangannya menerima kunci itu. Setelah Tio lotoa keluar
dan tak kelihatan lagi, Dian Sim tak tahan lagi, katanya
berbisik: "Kukira Tio lotoa yang ini pun bukan orang baikbaik, entah apa sebenarnya yang sedang dia lakukan?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ah, kau memang terlalu banyak curiga, orang begitu
baik menerima kita menginap di rumahnya, pergi cari
uang lagi, kemana kau akan mencari orang sebaik ini."
"Tapi buntalan kita..."
"Bukankah terkunci di dalam almari" Kuncinya berada
di tanganmu, apa pula yang kau kuatirkan?"
Dengan bersungut-sungut Dian Sim tidak bicara lagi.
Dian Susi tidak menghiraukan dirinya lagi, dengan
menggendong tangan dia melangkah keluar ke
pekarangan, baru sekarang dia melihat jelas keadaan
pekarangan besar ini, kiranya dihuni oleh puluhan
keluarga yang serba miskin, pakaian yang terjemur
berderet di pojokan sana tiada satu pun yang baru dan
terbuat dari bahan kain kualitas baik.
Puluhan keluarga itu mempunyai cara hidup yang
berlainan dan tingkat hidup yang berlainan pula, mata
pencaharian mereka pun berbeda, ada keluarga
akrobatik, ada tukang nyanyi yang cari sedekah dari
rumah ke rumah, ada pula yang kerjanya menitik batu,
anak-anak kecil yang beringus sedang bermain tanah liat.
Seorang nyonya muda yang hamil besar tengah
membuat api, kedua matanya sudah merah dan
mencucurkan air mata kena asap api, dalam waktu dekat
anaknya pasti akan lahir. Dia bekerja begitu rajin dan
sang mertua masih ngomel panjang pendek, katanya dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
malas, tapi dia toh merogoh sapu tangan menyeka
keringat dan air matanya yang bercucuran.
Terasa penuh diliputi kehangatan hidup dalam
sanubari Dian Susi. Baru sekarang dia benar-benar
merasakan kehidupan manusia yang nyata. Belum
pernah dia berdekatan dengan kehidupan manusia.
"Kalau orang hanya terkurung di dalam pagar tembok,
mengawasi mega pergi datang, melihat kembang mekar
dan berguguran, umpama dia menikmati kesenangan
hidup serba kecukupan, tak ubahnya hidup laksana
burung kenari yang terkurung dalam sangkar."
Dian Susi menghela nafas, dia gegetun dan gemas
kenapa tidak sejak dulu memberanikan diri keluar dari
sangkar" Dia bertekad harus pegang kesempatan kali ini
baik-baik, menikmati kehidupan masyarakat ramai yang
nyata. Bagian 2 Api sudah menyala, di atas tungku nasi sudah hampir
matang. Hari sudah lohor, semua pekerjaan sementara
dihentikan, suasana jadi ramai dengan suara mangkok
piring. Dian Sim ikut keluar, katanya: "Kenapa Tio lotoa
belum datang juga" Mungkin sudah minggat."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Dia tidak menipu sepeser pun uang kita, kenapa
harus minggat?"
Dengan jengkel Dian Sim lantas berlari masuk lagi ke
dalam rumah. Di saat Dian Susi mengawasi orang-orang di dalam
pekarangan dengan hati kurang tentram, tiba-tiba Dian
Sim memburu keluar dari dalam. "Celaka, celaka..."
keadaannya seperti anjing yang terbakar api ekornya,
sambil membanting-banting kaki.
"Ada apa bikin ribut, apa kau juga kebelet" Tuh, di
sana ada WC."
"Bukan... bukan... buntalan kita itu..."
"Bukankah buntalan terkunci dalam almari?"
"Tiada lagi, almari itu kosong."
"Bohong, aku sendiri yang taruh buntalan itu di
dalam." "Tapi sekarang sudah lenyap, barusan aku merasa
kuatir, waktu almari kubuka..."
Dian Susi menjadi gugup, lekas dia lari ke dalam,
memang almari sudah kosong, buntalan mereka sudah
terbang tanpa sayap.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kata Dian Sim: "Ternyata almari ini tembus kedinding
yang berlubang, tentu Tio lotoa merogohnya dari luar
dinding. Aku sudah duga dia bukan manusia baik-baik."
Dengan membanting kaki Dian Susi segera memburu
keluar. Semua orang sedang sibuk makan di dalam rumah,
tinggal beberapa orang laki-laki yang menitik batu tadi
sedang sibuk cuci muka di pinggir perigi.
"Mana Tio lotoa?" tanya Dian Susi begitu memburu
dekat ke arah mereka. "Tahukah kalian di mana dia
sekarang?"
Orang-orang itu saling pandang, kata salah seorang:
"Siapa Tio lotoa" Kami tidak kenal dia?"
"Laki-laki yang tinggal di rumah sebelah sana itu,
kalian kan tetangga, masakah tiada yang kenal?"
Orang itu menerangkan: "Sudah setengah bulan
kamar itu kosong, tadi pagi baru ada orang datang,
hanya membayar setengah bulan uang sewa, kami belum
tahu siapa dia sebenarnya?"
Keruan Dian Susi dan Dian Sim melongo.
Tiba-tiba terdengar seseorang menyeletuk: "Barusan
kudengar ada orang tanya Tio toako, siapa yang ada
perlu sama dia?" Orang ini baru masuk dari luar,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tangannya menjinjing cemeti, agaknya dia seorang kusir
kereta. "Akulah yang cari keterangannya," bergegas Dian Susi
menyongsong maju, "kau kenal dia?"
"Sudah tentu kenal, tiada orang kota yang tidak
mengenalnya."
"Bisa kau bawa kami menemui dia?" tanya Dian Susi
girang. Orang itu mengamat-amati mereka berdua dengan
seksama, tanyanya: "Kalian adalah..."
"Kami adalah teman baiknya."
Orang itu tertawa, katanya: "Kalau teman Tio toaya,
hayolah, naik keretaku, kuantar kalian ke tempatnya."
Kereta berkuda itu akhirnya berhenti di depan sebuah
rumah yang hampir bobrok, kusir kereta segera berkata:
"Tio toako sedang temani seorang tamu yang datang dari
kabupaten, aku masih punya urusan, silahkan kalian
masuk saja."
Tak sempat mengucap terima kasih Dian Susi segera
menerjang masuk ke dalam rumah, dia kuatir Tio lotoa
bakal merat lagi sebelum bertemu dirinya. Biasanya
belum pernah gadis pingitan ini marah begitu rupa,
dalam hati dia sudah menyumpah-nyumpah, begitu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berhadapan dengan Tio lotoa dia hendak menghajarnya
sampai setengah mati.
Memang di dalam rumah ada dua orang sedang
berhadapan minum arak, seorang bermuka kuning pucat
seperti habis sakit dan kurang darah, laki-laki yang di
depannya sebaliknya bertubuh kereng bersemangat
dengan daging dan otot-otot badannya menonjol,
mukanya kuning terbakar panasnya matahari, berjambang bauk lebat lagi.
Begitu dekat Dian Susi lantas berteriak: "Tio lotoa di
mana" Lekas suruh dia keluar temui aku."
Laki-laki muka pucat kuning melirik ke arahnya,
tanyanya: "Untuk apa kau cari Tio lotoa?"
"Sudah tentu ada urusan, urusan yang amat penting."
Orang itu angkat cangkir menghabiskan araknya,
katanya dingin: "Ada urusan apa boleh kau bicara
dengan aku, aku inilah Tio lotoa."
"Kau ini Tio lotoa?" Dian Susi tercengang. "Bukan kau
yang kucari."
Laki-laki brewok itu gelak tawa, katanya: "Tio lotoa
hanya ada satu, dalam daerah delapan ratus li di daerah
sekeliling sini tiada orang kedua. Agaknya saudara
kebentur dengan Chi It-to."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siapa itu Chi It-to?"
"Yang kau cari bukankah laki-laki pertengahan umur
berjubah panjang menyoreng pedang" Dandanannya
mewah, usianya sekitar empat puluhan?"
"Ya benar, memang dia adanya."
"Nah, dia itulah Chi It-to. Harta miliknya hanya
pakaian seperangkat itu saja yang peranti untuk menipu
orang, maka orang memanggilnya Chi It-to." Demikian
tutur laki-laki brewok.
Tio lotoa menambahkan: "Pakaian Chi It-to hanya satu
stel, tapi cara dia menipu orang dengan akal yang tak
terhitung banyaknya, kukira kau tentu ditipunya bukan?"
"Dapatkah kalian bantu aku menemukan orang she
Chi itu?" tanya Dian Susi.
"Orang itu selicin rase, sulit sekali menemukan dia.
Apakah bekal dan sangumu habis ditipu olehnya?"
Merah muka Dian Susi terpaksa dia mengangguk.
"Baru pertama kali ini kalian datang ke kota ini?" tanya
Tio lotoa. Terpaksa Dian Susi manggut-manggut pula.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Terpaksa kalian tunggu di sini, tunggulah dengan
sabar, dalam satu minggu, aku akan berusaha bantu
menemukan dia."
"Merepotkan saja, sungguh kurang enak," kata Dian
Susi dengan muka merah.
"Tidak perlu sungkan, peribahasa ada bilang, di rumah
mengandal orang tua, di luar berkat teman-teman. Kalian
sudi kemari mencari aku, sudah berarti memberi muka
kepadaku."
Laki-laki brewok tiba-tiba mengawasinya dari kepala
sampai ke kaki, katanya dengan tertawa: "Menurut
hematku lebih baik kalau ajak dia ke tempat Ong toanio
saja. Di sana semua perempuan, kan lebih leluasa."
Dian Susi menjublek, katanya: "Semua perempuan"
Wah, mana bisa" Kami... kami..."
"Memangnya kalian bukan perempuan?" kata laki-laki
brewok tertawa besar.
Merah jengah muka Dian Susi, katanya getir seperti
apa boleh buat: "Agaknya tajam benar pandangan
kalian." Tio lotoa tertawa geli, katanya: "Bukan pandangan
kami yang tajam, tapi cara dandan seperti kalian, kalau
orang tidak tahu kalian ini perempuan, orang itu pasti
seorang buta."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi melongo sekian lamanya, katanya: "Jadi
orang she Chi itu juga sudah mengetahui penyamaranku
ini?" "Yang pasti Chi It-to bukan seorang buta."
Kembali terlongong sekian lamanya, tiba-tiba Dian Susi
renggut topinya terus dibanting ke atas tanah, katanya
tertawa dingin: "Perempuan ya perempuan, cepat atau
lambat memang orang she Chi itu harus tahu,
perempuan jangan dikira boleh dipermainkan."
Sejak kini mereka kembali ke asalnya menjadi
perempuan. Oleh karena itu kesulitan yang mereka hadapi semakin
banyak bertumpuk-tumpuk.
* * * * * Ong toanio sudah tentu adalah seorang perempuan.
Tapi perempuan ada banyak jenisnya, mungkin Ong
toanio merupakan perempuan yang punya jenis paling
istimewa. Keistimewaannya membuat orang yang melihat
dan mengalaminya merasa dirinya berada dalam mimpi.
Rumah Ong toanio terletak di lorong panjang yang
sepi dan tenang, pagar temboknya tinggi menutupi sinar
matahari, sepucuk pohon flamboyan tumbuh subur


Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan bunganya yang merah bertaburan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hari sudah keliwat lohor, tapi pintu besarnya yang
bercat merah itu masih tertutup rapat, tiada terdengar
suara orang di dalam pintu. Hanya melihat bentuk pintu
besar ini, siapapun sudah maklum bahwa Ong toanio
tentu bukan seorang perempuan sembarangan.
Dian Susi merasa di luar dugaan senangnya,
tanyanya: "Apakah Ong toanio benar-benar mau
menerima kami?"
"Tidak usah kuatir, Ong toanio adalah teman lamaku
yang baik."
"Dia... orang macam apa dia sebenarnya?"
"Sudah tentu martabatnya baik sekali, cuma tabiatnya
rada aneh."
"Bagaimana anehnya?"
"Asal kau menurut setiap petunjuk dan kehendaknya,
apapun permintaanmu pasti akan dikabulkan, tinggal di
sini kau akan merasa lebih senang seperti tinggal di
rumah. Tapi kalau kau berani membuat onar dan
membangkang kehendaknya, kau akan kasep setelah
menyesal." Sikapnya sungguh-sungguh, seolah-olah
hendak menakuti Dian Susi.
Tio lotoa mulai mengetuk pintu. Ketukannya cukup
hati-hati tidak terlalu keras, maka cukup lama mereka
menunggu baru terdengar suara orang mengomel: "PagiTIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pagi sudah ribut kemari mau apa, kenapa tidak tunggu
setelah hari menjadi gelap saja."
Tio lotoa segera unjuk seri tawa, katanya tertahan:
"Aku inilah, Tio lotoa."
Daun pintu segera terbuka sedikit. Seorang nona kecil
yang masih riap-riapan rambutnya menongolkan
kepalanya, baru saja matanya melotot belum sempat
bicara, tersipu-sipu Tio lotoa maju mendekat dan berbisik
dua tiga patah ke telinganya.
Berputar biji mata nona cilik ini, dengan memicing
mata dari atas ke bawah dia awasi Dian Susi berdua,
akhirnya manggut-manggut, katanya: "Baik masuklah
dulu, ringankan langkahmu, nona-nona masih tidur.
Kalau mereka sampai terjaga, awas Ong toanio bisa
beset kulitmu."
Setelah berada di dalam, tak tertahan Dian Susi lantas
berkata kepada Dian Sim dengan tertawa: "Agaknya
nona-nona di sini lebih malas dari kau, matahari sudah
setinggi ini, mereka masih tidur nyenyak."
Bukan saja matanya tajam, pendengaran laki-laki
brewok ternyata tajam juga, timbrungnya tertawa: "Itu
pertanda Ong toanio amat sayang terhadap mereka,
kalian bisa tinggal di sini, sungguh merupakan rejeki
besar." TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Sim kedip-kedip mata, tanyanya: "Orang-orang
apa saja yang tinggal di rumah Ong toanio?"
"Mereka adalah putri angkat Ong toanio, kemana pun
putri-putri angkat Ong toanio berada, tiada orang yang
berani mengganggu usik kepadanya," demikian tutur
laki-laki brewok.
Saat mana Tio lotoa sudah beranjak keluar dengan
muka berseri, katanya: "Ong toanio sudah mengabulkan,
silahkan kalian masuk menemui beliau."
Seorang nyonya pertengahan bertubuh tinggi
semampai berdiri di depan pintu, meski raut mukanya
dihiasi senyum, tapi sepasang matanya yang mirip mata
burung hong itu kelihatan kereng berwibawa, dengan
tajam dia mengawasi Dian Susi beberapa kali, katanya:
"Apakah kedua adik ini?"
"Ya, mereka inilah," Tio lotoa menjawab sambil
membungkuk. Perempuan cantik pertengahan ini manggut-manggut,
katanya: "Memang cantik dan suci, tentu anak dari
keluarga baik-baik, Toanio pasti akan menerimanya
dengan senang hati."
Tio lotoa tertawa, katanya: "Kalau budak-budak liar
yang sering kelayapan di luar, mana aku berani
membawanya kemari."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Baik, biar kubawa mereka masuk, tiada urusan kalian
lagi, silahkan kembali."
Tawa Tio lotoa semakin riang, sahutnya tertawa
munduk-munduk: "Baik, legalah hatiku."
Dian Susi heran, tanyanya: "Kau tidak ikut masuk?"
"Aku sudah sampaikan keadaan kalian kepada Ong
toanio, kalian menetap saja di sini, begitu ada kabar
beritanya segera kuberitahu kalian kemari," lalu dia ajak
laki-laki brewok meninggalkan tempat itu.
Sebetulnya Dian Susi masih ingin bertanya, namun
perempuan cantik itu sudah melambaikan tangan kepada
mereka, sekilas Dian Susi berpikir, akhirnya dia tarik
tangan Dian Sim melangkah masuk. Pintu segera
tertutup. Di belakang pintu adalah sebuah pekarangan besar,
keadaan di sini serba elok dan tenang serta nyaman,
setelah menyusuri serambi panjang yang belak-belok,
mereka tiba di sebuah taman kembang yang amat luas,
berbagai macam kembang bertaburan mekar bersama,
kicauan burung saling bersahutan, angin menghembus
sepoi-sepoi membawa harum kembang yang memabukkan, dibanding Kim-siau san-ceng, kebun
kembang ini kelihatannya tidak kalah permai dan
indahnya. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di dalam taman kembang yang luas ini di sana-sini
dibangun bangunan-bangunan mini berloteng, pagarnya
bercat merah, dindingnya hijau, kerainya terdiri dari
untaian manik-manik yang setengah tersingkap, pada
loteng terdekat, kelihatan beberapa gadis-gadis ayu
sedang menyisiri rambut menghadap keluar taman
dengan sikap malas seperti melamun.
Gadis-gadis itu cantik-cantik, pakaiannya pun mewah
dan mahal, cuma setiap orang kelihatan amat letih dan
kehilangan semangat, seakan-akan beberapa hari kurang
tidur. Begitu melangkah ke taman kembang, tak urung
terbayang oleh Dian Susi akan kehidupan sendiri waktu
berada di rumah, tak tahan dia berkata: "Tempat ini
serba bagus, cuma rasanya terlalu tenang dan sepi."
"Kau suka keramaian?"
"Kalau terlalu sepi, orang gampang melamun dan
punya pikiran tidak genah, aku tidak suka melamun."
Perempuan setengah umur yang cantik ini
memperkenalkan diri sebagai Bwe-ci, katanya tertawa:
"Itu lebih baik, sekarang memang serba sepi dan tenang,
tapi setelah malam tiba, ramainya bukan buatan. Perduli
kau suka sepi atau senang ramai, di sini kau akan hidup
dengan senang dan tentram."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi melirik ke atas loteng, katanya: "Nona-nona
itu sebaliknya seperti tidak suka keramaian."
"Mereka itu laksana kucing malam, sekarang kelihatan
seperti acuh tak acuh, tidak punya semangat, tapi begitu
malam tiba, mereka akan selincah naga segalak harimau,
ada kalanya malah begitu ributnya sampai sukar
dikuasai."
Dian Susi tertawa, katanya: "Aku tidak takut keributan,
kadang aku pun suka ribut, orang akan pusing
kepalanya, kau tidak percaya boleh kau tanya dia."
Dian Sim segera menjawab dengan merengut:
"Kenapa tanya aku" Yang terang apapun aku tidak tahu,
apapun aku tidak mengerti."
Waktu itu mereka melewati sebuah jembatan kecil.
Tak jauh dari jembatan ini, di belakang gunung batu, di
atas sebuah loteng kecil mendadak berkumandang
jeritan yang menyayatkan hati: "Aku tidak tahan lagi,
sungguh tidak tahan lagi... aku tidak ingin hidup lagi, biar
aku mati saja!" disusul menerobos keluar seorang anak
perempuan yang menangis dengan rambut terurai awutawutan dari atas loteng, pakaian sutra merah yang
dipakainya sudah koyak.
Tiada orang yang menghiraukan jerit tangisnya, nonanona yang duduk bersandar pagar dan jendela di loteng
sebelah sana tiada satu pun yang tertarik atau menaruh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perhatian akan kejadian di sini. Hanya Bwe-ci yang
segera menyongsong maju, perlahan-lahan dia rangkul
pinggang gadis cilik itu, serta membisiki entah apa di
pinggir telinganya.
Semula gadis ini sudah mencak-mencak dan merontaronta dengan tangisnya yang keras, tapi mendadak
seperti kucing yang jinak, kepala tertunduk, pelan-pelan
melangkah naik kembali ke atas loteng. Senyum Bwe-ci
tetap begitu mekar dan menggiurkan, seolah-olah tidak
pernah terjadi sesuatu.
"Kenapa nona cilik itu?" tanya Dian Susi.
Bwe-ci menghela nafas, katanya: "Sebelum datang
kemari, dia pernah mengalami pukulan hidup yang amat
berat, oleh karena itu sering penyakit gilanya kumat, kita
sudah biasa menghadapi kebinalannya."
"Pukulan hidup apakah yang pernah dialaminya dulu?"
tanya Dian Susi lebih lanjut.
"Aku sendiri kurang terang, tidak tega aku bertanya
kepadanya, supaya hatinya tidak bertambah duka, tapi
kalau tidak salah dulu dia pernah dipelet laki-laki,
akhirnya ditelantarkan sehingga hidupnya sengsara."
"Laki-laki memang bukan manusia baik."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Memang sedikit jumlah laki-laki yang baik, asal kau
selalu ingat akan hal ini, kelak kau pasti tidak akan
dirugikan," ujar Bwe-ci.
Tatkala mana mereka sudah mengitari batu-batu
gunung memasuki hutan kembang. Di tengah-tengah
hutan kembang sana terdapat sebuah bangunan
mentereng berloteng pula.
"Ong toaci bertempat tinggal di sini, mungkin
sekarang baru bangun, biar aku memberitahu
kedatanganmu dulu." Menyiak kembang dia menerobos
ke sana, gerak-geriknya begitu gemulai lembut laksana
bidadari di antara kelompok kembang.
Sejak tadi Dian Sim diam saja, kini tiba-tiba membuka
suara: "Siocia, kita pergi saja bagaimana?"
"Pergi. Kemana?"
"Ke mana saja boleh, asal jangan tinggal di tempat
seperti ini."
"Kenapa?"
"Entahlah aku punya firasat tempat ini bukan tempat
tinggal yang aman."
"Dalam hal apa kau rasakan kurang aman?"
"Segalanya serba ganjil, setiap penghuni di sini seperti
kurang normal, kehidupan mereka pun amat janggal,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sungguh aku tidak habis mengerti, tempat macam apa
sebenarnya perkampungan serba perempuan ini."
Dian Susi malah tertawa, katanya menggeleng-geleng
dengan tertawa: "Kau setan kecil ini ternyata memang
banyak curiga, setelah tertipu sekali, memangnya kau
anggap semua orang adalah penipu?" Kepalanya
menengadah mengawasi loteng, katanya lebih lanjut:
"Apa lagi, aku ingin melihat Ong toanio itu, kukira dia
pasti perempuan yang luar biasa."
* * * * * Siapapun yang berhadapan dengan Ong toanio, pasti
tidak akan menganggapnya sebagai penipu. Kalau orang
bilang Bwe-ci adalah perempuan genit yang cantik
rupawan, bila orang melihat Ong toanio, mungkin katakata pujian pun tak kuasa diucapkan.
Karena mungkin tiada uraian kata-kata seindah
apapun yang bisa dibuat melukiskan kecantikannya,
kalau mau dipaksakan paling hanya bisa memuji dengan
istilah; kecantikan yang sempurna, begitu sempurna
sampai tiada cacat sedikit pun.
Waktu Dian Susi dibawa masuk, Ong toanio sedang
sarapan pagi. Umpamanya di saat sarapan kaum
perempuan malu diliputi orang luar. Tapi lain dengan
Ong toanio yang satu ini. Perduli apapun yang sedang
dia lakukan, setiap gerak-geriknya kelihatan begitu indah,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
begitu sempurna tiada sesuatu yang kelihatan ganjil dan
menyolok dipandang mata.
Ternyata takaran makannya cukup mengagetkan,
karena dia cukup mengerti, seseorang bila ingin
mempertahankan potongan badan dan kesehatan serta
gairah hidupnya, maka dia harus menyerap makanan
yang bergizi tinggi dan banyak mengandung vitamin, bak
umpama sekuntum kembang yang sedang mekar, dia
pun memerlukan air dan sinar matahari.
Banyak makan namun sedikit pun tidak mempengaruhi
potongan badannya, setiap liku-liku badannya begitu
jelas menonjol. Sejak pertama melihat perempuan ini
Dian Susi tertarik seperti disedot sukmanya.
Agaknya Ong toanio pun juga tertarik kepada Dian
Susi, katanya lembut dengan tersenyum: "Kau kemarilah,
duduk di sampingku, biar kupandangmu dengan jelas."
Senyum dan sorot matanya seolah-olah mengandung
daya sedot dari tenaga iblis yang mempengaruhi daya
pikir orang sehingga apapun yang dikatakan harus
dituruti dengan patuh. Perduli laki-laki atau perempuan


Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

takkan kuasa melawan kehendaknya.
Tanpa banyak bicara Dian Susi melangkah maju terus
duduk di sebelahnya. Sorot mata Ong toanio tidak lepas
dari dada Dian Susi yang membusung tinggi, seperti dia
mengawasi hidangan di depannya yang menimbulkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
selera, pelan-pelan dia angsurkan sisa setengah mangkok
kuah kolesom bersarang burung kepadanya, katanya
lembut: "Nah, sop sarang burung ini masih hangat, lekas
kau habiskan!"
Selama hidup belum pernah Dian toasiocia
menggunakan barang lain orang, jikalau sekarang dia
disuruh makan sisa makanan orang lain, sungguh suatu
kejadian luar biasa. Tapi kenyataannya dia habiskan sop
sarang burung itu dengan menunduk kepala.
Dian Sim melongo kaget seperti disengat kala
mengawasi majikannya, hampir dia tidak percaya akan
pandangan matanya sendiri.
Semakin manis senyum Ong toanio, katanya: "Kau
tidak merasa, sisa makananku kotor?"
Dian Susi geleng-geleng.
"Asal kau tidak anggap kotor, semua barang-barangku
boleh kau pakai, pakaianku boleh kau kenakan, apapun
yang menjadi milikku, kau boleh dapat setengah bagian."
"Terima kasih," sahut Dian Susi tunduk.
Ong toanio tiba-tiba tertawa pula katanya: "Coba lihat,
siapa namamu aku belum tahu, tapi sudah pandang kau
sebagai temanku yang paling baik."
"Aku she Dian bernama Susi."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebenarnya dia sudah bertekad untuk tidak membeber
namanya di hadapan orang, supaya ayahnya tidak bisa
menemukan jejaknya, entah kenapa di hadapan Ong
toanio, sepatah kata pun dia tidak kuasa berbohong.
"Dian Susi... bukan saja orangnya manis namanya pun
manis, memang kau adik yang manis sekali."
Merah muka Dian Susi.
"Adik cilik berapa usiamu tahun ini?"
"Delapan belas."
"Nona berusia delapan belas bak umpama sekuntum
bunga, tapi kembang apa dalam dunia ini yang bisa
dibandingkan kau?" mendadak dia bertanya: "menurut
pendapatmu, berapa usiaku sekarang?"
"Aku sulit mengatakan."
"Kau boleh menerka sembarangan."
Dian Susi mengerling, katanya: "Dua puluh... dua"
Atau dua tiga?"
Ong toanio cekikikan senyaring kelinting, katanya:
"Ternyata ucapanmu amat manis, tentunya aku pernah
berusia dua puluhan tahun, sayang sekali saat itu sudah
berselang dua puluh tahun yang lalu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Terbelalak kaget mata Dian Susi, "Apa benar"... Aku
tidak percaya."
"Kenapa aku menipu kau" Masakah aku tega
menipumu?"
pelan-pelan dia menghela nafas, sambungnya. "Tahun ini aku sudah empat puluh tiga,
paling tidak boleh menjadi kakakmu yang tertua, kau
sudi tidak menjadi adikku?"
Dian Susi manggut-manggut, dia suka. Tapi tiba-tiba
dia menggeleng-geleng, katanya: "Tapi aku tidak percaya
bila kau berusia empat puluh tiga, kukira takkan ada
orang mau percaya."
"Orang lain mungkin tidak percaya, tapi aku sendiri
terpaksa harus percaya. Aku bisa kelabui orang lain, tapi
takkan mengelabui diriku sendiri."
Dian Susi tertunduk dengan menghela nafas. Baru
pertama kali ini dia benar-benar meresapi betapa cepat
usia berlalu, pertama kali dia merasakan duka cita dan
merasa sayang dan betapa berharganya masa remaja
itu. "Adik cilik ini, dia pernah apa dengan kau?" tanya Ong
toanio. "Yang terang dia dibesarkan bersamaku sejak kecil."
"Sekarang terpaksa aku harus merebut dirimu dan
sampingnya... adik cilik, kau tidak marah bukan?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Sim merengut dan memonyongkan mulut, diam
saja tidak memberi jawaban.
Dian Susi melotot sekali kepadanya, katanya tertawa:
"Dia memang masih bocah, bocah yang belum tahu apaapa." "Belum tahu apa-apa malah lebih baik. Hari ini kita
harus bergaul dengan riang, tak perlu mengobrol
panjang pendek... coba katakan betul tidak?"
Baru Dian Susi hendak menjawab, tiba-tiba dilihatnya
mata Ong toanio tidak tertuju ke arah dirinya. Tepat
pada saat itu pula didengarnya seseorang menjawab
dingin di belakangnya: "Tidak benar!"
Jawaban cekak aos, tajam dan tegas, setajam pisau.
Tapi suara ini terasa melengking, seolah-olah bisa
memekak pecah kuping orang, membelah jantung
pendengarnya. Tak tertahan Dian Susi berpaling. Baru sekarang
dilihatnya di pojok ruangan sana duduk seseorang.
Seseorang yang tidak mirip manusia. Waktu dia duduk
di sana, persis benar dengan sebuah meja, sebuah kursi,
sebuah perabot rumah tangga, bukan saja tidak
bergerak, juga tidak bersuara, siapapun takkan pernah
menaruh perhatian terhadapnya. Tapi sekilas kau pernah
melihatnya, kau tidak akan melupakan untuk selamanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sekilas melirik Dian Susi lantas tak berani
mengawasinya lagi. Waktu dia melihat orang itu, seperti
melihat sebatang golok meski sudah karatan tapi masih
cukup mampu untuk membunuh orang. Seolah-olah
melihat sebongkah batu es yang sudah membeku ribuan
tahun lamanya sehingga warnanya menjadi hitam.
Siapapun takkan pernah menduga orang ajaib seperti
itu berada di dalam kamar Ong toanio. Lebih tidak
menduga lagi manusia ajaib ini masih buka suara
berbicara. Karena jawaban orang itu, Ong toanio malah
cekikikan, katanya: "Tidak benar" Kenapa tidak benar?"
Orang itu berkata dingin: "Karena bila kau benarbenar riang, apapun yang kau katakan kau harus tetap
riang gembira."
"Memang masuk akal, apa yang diucapkan oleh Kek
siansing selamanya masuk akal."
"Tidak benar."
"Tidak benar" Kenapa tidak benar lagi?"
"Apa yang kuucapkan memang masuk akal, bukan
seperti masuk akal."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tawa Ong toanio berdering senyaring kelinting,
katanya: "Adik cilik, coba lihat bukankah Kek siansing ini
amat lucu?"
Mulut Dian Susi terkancing, sementara sungut Dian
Sim semakin guram, mulutnya semakin runcing
cemberut. Bahwasanya mereka tidak bisa mengakui
bahwa Kek siansing itu memang lucu.
Tapi lain pula pendapat Ong toanio, katanya tetap
tertawa: "Waktu pertama kali kalian melihat orang ini,
mungkin merasa dirinya menakutkan. Tapi bila kau
sudah lama kumpul sama dia, lambat laun kau akan
merasa dia orang amat menyenangkan."
Sebetulnya ingin Dian Susi mengutarakan pikiran
hatinya: "Orang seaneh itu, siapa bisa bergaul dengan
dia?" Umpama dia yang harus bergaul, jangan kata satu
hari, satu jam pun rasanya tidak betah.
* * * * * Sang Surya sudah doyong ke barat, tapi bagi Ong
toanio kehidupan yang semarak untuk hari ini baru akan
dimulai. Sementara Dian Susi merasa nasib mereka hari ini
cukup baik. Setelah mengalami berbagai penipuan
sehingga segala miliknya ludes, kini bertemu Tio lotoa
dan Ong toanio, dua orang yang baik hati.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sekonyong-konyong Dian Susi merasa badannya amat
letih, baru sekarang dia ingat rasanya dirinya sudah lama
belum tidur, tanpa disadarinya kedua biji matanya melirik
ke arah tempat tidur Ong toanio yang lebar empuk dan
nyaman itu... Cuaca sudah gelap.
Sinar api sudah bercahaya di dalam rumah, suasana
amat sunyi tak terdengar suara apapun. Dian Susi hanya
mendengar degup jantungnya sendiri yang teratur dan
normal. Terasa sekujur badannya lemas lunglai, malas untuk
bergerak, tapi mulutnya kering, tak urung teringat
olehnya sop biji teratai yang sering diminumnya di
rumah. Di mana Dian Sim" Entah kemana setan cilik itu"
Setelah menghela nafas, pelan-pelan Dian Susi
merangkak turun dari ranjang, sepatu yang dicopotnya
tadi entah berada di mana, di samping ranjang telah
disiapkan sepasang sandal kain yang ringan. Langsung
dia menuju ke arah jendela lalu mendorongnya terbuka.
Sayup-sayup hembusan angin membawa alunan musik
yang merdu. Taman kembang di luar jendela terang
benderang, di mana dipasang lampion beraneka warna
dan berbeda bentuknya. "Ternyata kalau malam di sini
amat ramai, Ong toanio pasti seorang yang suka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menjamu tamu-tamunya." Lalu terpikir pula olehnya:
"Jikalau Cin Ko juga datang kemari, betapa baik dan
menyenangkan!" Terbayang akan pemuda ganteng
romantis yang suka mengenakan sapu tangan merah di
lehernya, tiba-tiba terasa panas dan merah muka Dian
Susi. Pikirannya terombang-ambing dibuai mabuknya
asmara, sehingga tidak didengarnya langkah Ong toanio
yang mendekat. Waktu dia mendengar suara merdu Ong
toanio, orang tahu-tahu sudah berada di sampingnya,
katanya sambil pegang pundaknya: "Apa yang kau
pikirkan sampai melongo begitu rupa?"
" Aku sedang berpikir, Dian Sim setan kecil itu entah
kemana, kenapa tidak kelihatan bayangannya?"
Selamanya belum pernah dia berbohong, tapi kali ini
entah kenapa tanpa disadarinya secara reflek dia
menjawab sekenanya.
Ong toanio menarik tangannya menuju ke meja
bundar kecil itu, katanya sambil berduduk: "Bagaimana
tidurmu" Nyenyak bukan?"
"Tidurku seperti orok yang baru dilahirkan."
"Tentu perutmu sudah lapar, apa yang kau inginkan?"
"Makanan apapun tidak kuinginkan, aku hanya
ingin..." berkerling matanya, katanya lebih lanjut:
"Agaknya tidak sedikit tamu-tamumu yang datang malam
ini." TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tidak banyak, sekitar dua puluh orang."
"Setiap hari kau kedatangan tamu sebanyak itu?"
"Kalau tamu tidak banyak, bagaimana aku hidup?"
Terbelalak mata Dian Susi, katanya: "Jadi tamu-tamu
yang datang semua membawa kado?"
"Mereka mau memberi, aku pun tidak enak menolak,
benar tidak?"
"Darimana saja mereka datang?"
"Darimana saja, ada..." tiba-tiba dia memicing mata,
sahutnya: "Malah hari ini aku kedatangan seorang tamu
yang amat terkenal."
"Siapa dia?" tanya Dian Susi, biji matanya bersinar.
"Apakah Cin Ko" Atau Liu Hong-kut?"
"Kau kenal mereka?"
Tertunduk kepala Dian Susi, katanya gigit bibir: "Tidak
kenal, cuma aku ingin bertemu dengan mereka, kabarnya
mereka adalah tokoh besar yang luar biasa."
Ongtoanio cekikikan, katanya sambil mencubit pipinya:
"Betapapun hebatnya tokoh kosen itu, berhadapan
dengan perempuan secantik dirimu, tanggung seketika
menjadi laki-laki pikun. Asal kau selalu ingat akan
ucapanku, kelak kau pasti hidup bahagia."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Ternyata seorang
nona cilik membawa nampan menyediakan beberapa
macam hidangan sayur mayur dan arak.
"Kenapa kita tidak makan di luar bersama para
tamumu itu?" tanya Dian Susi.
"Kau tidak merasa sebal atau jijik dengan para tamu
itu?" "Tidak banyak temanku, orang bilang lebih banyak
teman lebih baik."
"Apa kau ingin kenal banyak orang untuk memilih
calon suamimu?" goda Ong toanio dengan cekikikan,
kembali dia mencubit pipi Dian Susi.
Pipi Dian Susi terasa hangat. Mendadak Ong toanio
tempelkan pipinya ke pipi orang katanya cekikikan genit:
"Setiap hari pasti ada teman yang datang kemari, berapa
banyak teman yang ingin kau kenal semua ada di sini.
Tapi malam ini, kau adalah milikku." Kulit mukanya
ternyata begitu halus licin dan dingin segar.
Sebetulnya Dian Susi merasa risih, namun lekas sekali
dia berpikir: "Ah, sama-sama perempuan, apasih
halangannya?" Tapi entah kenapa, jantungnya tiba-tiba
berdegup semakin keras. Selamanya belum pernah ada


Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang bersikap begini intim, begitu mesra terhadap
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dirinya. Dian Sim yang dibesarkan sejak kecil belum
pernah berbuat demikian.
"Di mana Dian Sim?" tiba-tiba Dian Susi bertanya.
"Kenapa sampai sekarang tidak kelihatan bayangannya?"
"Dia masih mendengkur nyenyak," ujar Ong toanio,
"kecuali kau, selamanya tiada orang yang tidur di dalam
bilikku ini, apalagi tidur di atas ranjangku."
Hati merasa syur dan haru, tapi mukanya entah
kenapa, terasa membara.
"Lho apa kau merasa gerah" Biar kutanggalkan
pakaian luarmu."
"Tidak... tidak, tidak panas, benar-benar tidak panas."
"Tidak panas juga harus dicopot, kalau orang melihat
kau mengenakan pakaian laki-laki, orang akan mengira
aku menyimpan laki-laki liar di dalam kamar." Mulut
bicara jari-jarinya sudah mulai meraih dan membuka
kancing baju Dian Susi. Tangannya seperti seekor ular,
merayap dari pinggang ke dadanya...
Terpaksa Dian Susi harus memberi reaksi, sekujur
badannya jadi merinding. Dengan nafas tersengal,
tangannya mendorong sambil cekikikan geli, katanya:
"Jangan kau copot bajuku, di sebelah dalam aku tidak
pakai apa-apa."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mimik tawa Ong toanio menjadi aneh, katanya: "Itu
lebih baik" Masakah kau masih takut kepadaku?"
"Aku bukan takut, cuma..." kedua tangannya tiba-tiba
mendorong ke dada Ong toanio, cekikikan tawanya
seketika membeku, rona mukanya berubah hebat,
seolah-olah jari-jarinya mendadak dipagut ular. Kontan
dia berjingkrak dengan badan mengkirik ngeri, serunya
gemetar sambil melotot kepada Ong toanio: "Kau... kau
ini perempuan atau laki-laki?"
Ong toanio tertawa dengan memicing mata:
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Kau... kau... kau..." tak kuasa Dian Susi melontarkan
kata-katanya. Karena dia bingung dan tidak tahu Ong
toanio sebetulnya perempuan atau laki-laki" Yang terang
siapapun yang berhadapan dengan Ong toanio, pasti
tidak akan menganggapnya sebagai laki-laki. Orang
pikun atau gila pun pasti akan memandangnya sebagai
perempuan. Akan tetapi dadanya... Dadanya bidang dan datar
selicin kaca. Semakin aneh tawa Ong toanio, katanya: "Tidak tahu
tidak menjadi soal, yang terang besok pagi kau akan
membuktikan sendiri."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian Susi menyurut mundur, katanya tergagap: "Aku
tidak ingin tahu, aku hendak pergi saja." Begitu putar
badan mendadak dia lari hendak menerjang kebelakang,
tapi dibelakangnya tiada pintu. Waktu dia menerjang
balik Ong toanio sudah menghadang di depannya,
katanya: "Sekarang masa kau bisa pergi?"
Dian Susi menjadi gugup, teriaknya: "Kenapa tidak
bisa" Aku toh tidak menjual diri kepadamu."
"Siapa bilang kau tidak terjual kepadaku?"
"Siapa bilang aku sudah dijual kepadamu?"
"Aku yang bilang, karena aku sudah bayar tujuh ratus
tail kepada Tio lotoa," katanya tertawa, "tujuh ratus tail
bagimu terlalu murah, saying dia hanya berani memberi
harga sekian saja. Sebetulnya umpama dia minta tujuh
ribu tail, aku tetap berani membayar untuk dirimu."
Saking gusar pucat muka Dian Susi, serunya: "Apa"
Tio lotoa menjual diriku kepadamu?"
"Dari ujung rambut ke ujung kakimu, semuanya dijual
kepadaku."
Bergetar sekujur badan Dian Susi saking murka,
teriaknya: "Dia itu terhitung barang apa" Dengan hak
apa dia berani menjual aku kepadamu?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tanpa hak apa-apa, yang terang kau ini nona pikun
yang tidak tahu diri. Begitu kau masuk ke kota ini,
mereka sudah menguntit dan memperhatikan setiap
gerak-gerikmu!"
"Mereka?"
"Mereka adalah Thi Ke-po, To-pak Lo-liok, Chi It-to, si
brewok dan Tio lotoa."
"Jadi mereka sekongkol dan sekomplotan?"
"Sedikit pun tidak salah, biang keladinya adalah Tio
lotoa. Untung kau bertemu dengan aku, terhitung
nasibmu yang mujur. Asal kau menurut dan dengar
kataku, aku tidak akan menyia-nyiakan kau, malah boleh
tidak usah menerima tamu."
"Menerima tamu" Apakah maksudnya menerima
tamu?". Amarahnya sudah meledak, tapi dia berusaha
mengendalikan emosinya, karena masih banyak
persoalan yang dirinya belum tahu.
"Memang nona pikun, masakah terima tamu kok tidak
tahu. Tapi kelak pelan-pelan akan kuajarkan kepadamu,
malam ini juga mulai kuajarkan kepadamu," pelan-pelan
dia maju mendekat. Waktu berjalan tampak sesuatu
menonjol dari bagian bawah bajunya.
Muka Dian Susi yang pucat seketika merah jengah,
teriaknya: TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kau... kau laki-laki."
"Ada kalanya laki-laki, tapi bisa juga berubah jadi
perempuan, bisa berhadapan dengan manusia seperti
diriku, boleh terhitung keberuntunganmu seumur hidup."
Dian Susi tiba-tiba menjerit keras. Berbareng dia
menerjang maju sambil dorongkan kedua tangannya.
Nona pingitan ini biasanya lemah lembut, tapi kalau
sudah mengamuk segalak harimau kelaparan. Jari-jari
tangannya yang runcing-runcing kecil dan mungil itu
begitu terpelihara baik sekali, tapi sekarang kuku jarinya
itu berubah laksana cakar harimau, sekali cengkram
seolah-olah hendak bikin tenggorokan Ong toanio
berlubang. Bukan saja serangannya ganas, cepat malah
sejurus serangan ini mengandung perubahan rumit.
Jago-jago silat di dalam Kim-siu san-ceng cukup
banyak, biasanya mereka mengagulkan bahwa ilmu silat
Dian siocia sudah setaraf kelas satu. Jurus serangan ini
merupakan kepandaian andalan yang paling dia
banggakan. Tempo hari Piausu dari kota raja pernah dia
robohkan dengan jurus serangan ini sehingga cukup
lama baru kuasa merangkak bangun. Betapa bencinya
terhadap Ong toanio manusia siluman ini, maka
serangannya jauh lebih dahsyat dari biasanya, kalau Ong
toanio benar-benar tercengkram jarinya, mungkin takkan
bangun untuk selamanya.
* * * * * TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ong toanio tidak roboh.
Sebaliknya Dian Susi sendiri yang terkapar lemas.
Selama hidup belum pernah ia terpukul roboh. Maka
dapatlah dibayangkan bagaimana perasaan hatinya saat
itu. Tahu-tahu pergelangan tangan yang menyerang itu
malah tercengkram oleh orang, kontan badannya hilang
keseimbangan, tiba-tiba badannya seperti melayang di
tengah udara. Disusul kupingnya mendengar suara
bantingan badannya yang berdentam keras di lantai.
Selanjutnya tidak ingat apa-apa lagi. Entah berapa
lama, waktu perasaannya pulih kembali, dilihatnya Ong
toanio tengah berdiri mengawasi dirinya dengan
tersenyum, senyum yang begitu simpatik, mesra dan
berkata lembut: "Kau sakit tidak?"
Sudah tentu sakit. Baru sekarang Dian Susi merasa
sekujur badannya linu kemeng, seolah-olah tulangtulangnya retak dan copot, begitu sakitnya sampai mata
berkunang-kunang, hampir tak tertahan air mata hendak
bercucuran. Ong toanio geleng-geleng, katanya: "Kepandaian silat
seperti ini juga berani memukul orang, sungguh lucu
sekali." "Ilmu silatku tidak becus?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Agaknya Ong toanio kaget, tanyanya: "Kau sendiri
tidak tahu betapa memalukan ilmu silatmu?"
Sudah tentu Dian Susi tidak tahu. Tapi sekarang dia
insyaf, bila orang mengagulkan ilmu silatnya setinggi
langit, lantaran dia putri Dian toaya. Baru sekarang
benar-benar dia sadari bahwa dirinya tidaklah begitu
pintar seperti yang dia bayangkan sendiri. Ingin rasanya
dia gampar kedua pipinya sendiri.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Ong toanio.
"Tahukah kau kalau mau sembarang waktu aku bisa
memperkosa kau, masakah kau tidak takut?"
Badan Dian Susi mendadak mengkeret, "perkosa"
kedengarannya sungguh menakutkan, amat tajam dan
mengerikan. Sebesar ini belum pernah dia dengar katakata ini, memikirkan pun belum pernah. Seketika ngeri
menjadi merinding, keringat dingin gemerobyos, tapi
suhu badannya malah semakin membara. "Kau... kau...
kau ingin memperkosa aku?"
"Aku sih tidak akan memperkosa kau," ujar Ong toanio
tertawa. "Lalu... lalu apa yang akan kau lakukan atas diriku?"
"Aku ingin kau mau tunduk dan menuruti kemauanku
dengan senang hati."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku pasti tidak mau!" teriak Dian Susi. "Mati pun
tidak mau!"
"Kau kira gampang untuk mati" Kalau begitu
pikiranmu salah sekali!"
Di atas meja ada sebuah kelinting kecil. Ong toanio
mendadak jemput kelinting ini serta digoyang beberapa
kali. Baru saja kumandang kelinting yang nyaring
berbunyi, dua orang lantas melangkah masuk.
Sebetulnya dua orang ini bukan terhitung manusia,
seorang mirip anjing atau biruang, yang lain mirip orang
hutan. "Bagaimana menurut pendapatmu akan kedua orang
ini?" tanya Ong toanio tersenyum.
Dian Susi pejamkan mata, mengintip pun tidak berani
melihatnya. "Kalau kau tidak menurut kehendakku, biar kusuruh
kedua orang ini memperkosa kau."
Dian Susi menjerit histeris. Kali ini dia kerahkan
seluruh kekuatannya baru bisa mengeluarkan pekik yang
ngeri. Tapi suaranya tiba-tiba putus di tengah jalan,
tahu-tahu badannya meloso roboh lemas dan jatuh
semaput. Waktu siuman, Dian Susi tidak merasa nyaman dan
gembira seperti pertama kali datang. Tempat di mana dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
rebah, tidak harum, empuk, hangat, tapi suatu tempat
yang busuk, dingin, dia rebah di atas batu yang keras.
Begitu membuka mata yang didengaraya adalah isak
tangis serta rintihan yang menyayat hati.
Di pojok dinding sana, meringkuk bayangan orang, di
bawah penerangan sinar dian yang remang-remang
kelihatan orang itu mengenakan jubah panjang warna
merah yang sudah koyak-koyak, tampak kulit dagingnya
yang melepuh dan matang biru bekas pukulan dan
cambukan, banyak diantara luka-luka itu merembeskan
darah segar. Dian Susi amat berkesan melihat jubah merah ini,
cepat sekali dia sudah teringat akan gadis cilik yang
dibujuk balik oleh Bwe-ci itu. Ingin dia berdiri, baru
sekarang dia insyaf, jangan kata berdiri, rasa sakit pun
sudah tidak terasakan lagi olehnya, sekujur badan seolah
sudah linu kemeng dan mati rasa. Terpaksa dia meronta
dan merambat ke sana dengan kedua tangannya.
Gadis cilik itu tiba-tiba angkat kepala mengawasinya
dengan melotot, biji matanya merah membara dan liar,
mirip seekor binatang liar yang hampir gila karena
disiksa. Dian Susi amat kaget, bukan karena mata orang yang
buas, tapi adalah roman mukanya. Tadi siang dia lihat
kulit muka gadis ini begitu halus cantik, tapi sekarang
selebar mukanya penuh keriput, pipinya peot dagunya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menceng, hidungnya melesak, dari ujung mata dan
ujung bibirnya mengalir darah, roman mukanya mirip
benar dengan sebuah semangka yang dibanting pecah.
Saking ngeri dan jijik tak tertahan perutnya seperti
berontak, akhirnya dia muntah-muntah. Yang keluar
hanya air getir, air kecut.
Setelah Dian Susi berhenti muntah, gadis cilik itu baru
bersuara: "Ong toanio suruh aku bertanya sepatah kata
kepadamu."
"Dia suruh kau tanya... tanya apa?"
"Dia suruh aku tanya kau, inginkah kau berubah
seperti diriku?"
Betapa mengerikan pertanyaan ini, Dian Susi
tergagap: "Ba... bagaimana kau berubah begini rupa?"
"Karena aku tidak dengar petunjuk Ong toanio, kalau
kau meneladani perbuatanku, kau pun akan menjadi
seperti aku," suaranya dingin dan datar, seolah-olah
sedang mengisahkan pengalaman orang lain.
Melihat keadaan orang, baru Dian Susi benar-benar
tahu apa sebenarnya takut itu. Tiba-tiba dia rebah
telungkup menangis tersedu-sedan. Boleh dikata dia
sudah putus asa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Gadis itu masih mengawasinya dengan dingin,
katanya: "Apakah kau sudah mau menerima


Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

petunjuknya?"
"Aku tidak tahu... aku tidak tahu...." suara Dian Susi
serak, dengan keras dia menjambak rambutnya sendiri.
"Tidak tahu itu berarti sudah menerima, kau memang
harus tunduk kepada permintaannya," dia berpaling
muka terus merebahkan diri di atas tanah, tak bergerak
tidak bersuara lagi.
Mendadak Dian Susi menubruk maju, memeluk badan
orang, tanyanya: "Kenapa kau tidak bicara lagi?"
"Apa yang perlu kukatakan sudah habis."
"Kenapa tidak melarikan diri?"
"Aku tidak berdaya."
Dengan keras Dian Susi merenggut rambut orang,
sentaknya keras: "Pasti ada daya, kenapa kau menunggu
ajal di sini?"
Karena kepala terangkat gadis itu mengawasi Dian
Susi, mukanya mengawasi Dian Susi, mukanya dihiasi
secercah senyum manis yang aneh, katanya: "Kenapa
aku tidak boleh menunggu ajal" Kalau aku bisa mati
terhitung lebih bahagia daripada kau. Cepat atau lambat
kau akan tahu, mati, bahwasanya bukan sesuatu yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
amat menakutkan, yang menakutkan justru ingin mati
sukar mau hidup pun tidak bisa."
Sungguh terpukul sanubari Dian Susi mendengar katakata ini, pelan-pelan dia lepaskan tangannya, dengan
kertak gigi dia berdiri. Dia bersumpah untuk
mempertahankan hidup, apapun yang dialami dia harus
tetap hidup. Betapapun dia tidak sudi mati!
* * * * * Dinding kamar tahanan yang gelap dan serba hitam ini
dibangun dari batu-batu besar yang ditumpuk. Tiada
pintu, hanya ada sebuah jendela kecil lebar dua kaki,
letak jendela empat lima tombak dari tanah. Dian Susi
tahu dirinya takkan mampu loncat setinggi itu. Tapi
dengan penuh tekad dia toh mencobanya. Dengan
kerahkan seluruh tenaganya dia lompat ke atas. Berulang
kali dia jatuh bangun. Terpaksa dia merayap.
Di antara batu dan batu ada sedikit celah, dengan
kencang ujung jari kaki tangannya berpegang dan
menginjak celah-celah batu merayap ke atas. Jari-jari
tangannya sampai lecet berdarah. Maklum ujung batu
yang kasar dan runcing setajam pisau. Saking tak
tertahan lagi sakitnya, akhirnya dia terperosok jatuh dan
terbanting cukup keras.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Begitulah berulang kali dia berusaha dan selalu gagal,
tapi dia tidak menangis lagi. Dia bertekad untuk
mencobanya terus sampai jiwanya ajal.
Sekonyong-konyong dilihatnya seutas tali menjuntai
turun dari atas lubang jendela. Agaknya ada orang
hendak menolong dirinya. Siapa yang menolong" Untuk
apa menolong"
Tanpa banyak pikir lagi, lekas dia goyang-goyang
tubuh si gadis menyuruhnya melihat tali itu, tapi gadis
cilik ini hanya melirik sebentar saja, katanya rawan "Aku
tidak ingin pergi, aku rela mati di sini."
Dian Susi membanting kaki dengan gemas, tanpa
perduli mati hidup orang, segera dia tarik tali itu dan
berpegang kencang, pelan-pelan dia merambat naik.
Perawakannya yang ramping kebetulan bisa keluar dari
lubang jendela yang kecil itu.
Tidak terlihat bayangan orang di luar jendela, ujung
tali yang lain terikat di sebuah pucuk pohon yang terletak
di depan jendela. Pelan-pelan dan hati-hati Dian Susi
merangkak keluar terus merayap ke atas pohon, dari sini
dengan berpegang dahan pohon dia merosot turun.
Sekelilingnya gelap gulita, ke jurusan mana dia harus
melarikan diri" Dia tidak tahu dan tidak bisa memilih
arah. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di sebelah depan ada hutan kembang, entah kembang
apa tidak dia hiraukan, yang terang bau kembang amat
harum, segera dia menyelinap ke dalam. Cepat sekali dia
mendengar irama musik yang terbawa hembusan angin
lalu. Harus mundur atau berputar melewati bangunan
rumah di depan itu" Dian Susi menyembunyikan diri di
belakang sepucuk pohon, di saat dia hendak bergerak,
irama musik tiba-tiba berhenti, dua orang tampak
melangkah keluar pelan-pelan dari dalam rumah.
Melihat dua orang ini, serasa hampir berhenti nafas
Dian Susi. Yang di sebelah kiri adalah Ong toanio yang
bersolek laksana kembang mekar. Yang di sebelah kanan
berperawakan tinggi kekar, bersikap gagah dan kereng,
dia bukan lain adalah si hartawan royal yang membuang
uang untuk menerima tamu, yaitu Tionggoan Beng-siang
Dian Pek-sek Dian-jiya.
Ong toanio pernah mengatakan dia kedatangan tamu
agung yang tenar, kiranya yang dimaksud adalah orang
ini. Sungguh mimpi pun Dian Susi tidak pernah
membayangkan dalam keadaan seperti dirinya di tempat
ini pula melihat ayahnya. Sungguh saking girangnya
hampir tak tertahan dia bersorak. Tapi suaranya tertelan
lagi. Karena pada saat itu pula dia melihat dua orang lain
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
beranjak keluar juga dan dalam rumah di belakang
ayahnya. Kedua orang ini satu tua yang lain muda. Yang tua
bertubuh tromok pendek, mukanya bundar, rambutnya
jarang, jenggotnya sedikit, pinggangnya menyoreng
pedang, panjangnya hampir satu lipat melebihi kakinya,
sehingga kelihatannya lucu.
Yang muda kelihatannya lebih pendek dari si tua, lebih
tambun, oleh karena itu bentuk badannya lebih lucu dan
menggelikan. Dian Susi kenal si tua tromok itu adalah
teman baik ayahnya, yaitu Nyo samya dari Toa-bing-hu.
Lalu siapakah pemuda tambun itu" Apakah dia ini
putra mestika Nyo samya yang bernama Nyo Hoan itu"
"Masakah ayah suruh aku kawin sama dia?" Maka dia
bertekad tidak mau menemui ayahnya.
Terdengar Ong toanio berkata dengan tertawa:
"Malam sudah selarut ini, kenapa Dian jiya harus pergi"
Lebih baik menginap di sini saja."
"Tidak bisa, aku punya urusan penting, aku hendak
mencari orang."
"Entah siapakah yang dicari Dian jiya" Mungkin aku
bisa membantu... banyak orang pergi datang di sini,
gampang mencari tahu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dian jiya tertawa, katanya: "Kau pasti tak bisa
menemukan orang ini, dia pasti takkan datang ke
tempatmu ini," tiba-tiba dia menghela nafas,
sambungnya: "Sebetulnya aku sendiri tidak tahu ke mana
aku harus mencari dia, tapi ke ujung langit pun, aku
harus temukan dia." Sudah tentu yang hendak dia cari
adalah putri tunggalnya.
Bagian 3 Tiba-tiba tersumbat tenggorokan Dian Susi. Baru
sekarang dia insyaf, hanya ayah saja dalam dunia ini
yang paling memperhatikan dirinya, kasih sayang
kepadanya. Rasanya ingin dia menerjang keluar lari ke
dalam pelukan ayahnya. Sayang sekali dia tidak punya
kesempatan lagi.
Sekonyong-konyong terulur sebuah tangan dari
belakangnya mendekap mulutnya. Jari-jari tangan ini
amat besar dan kasar, begitu kuat dan besar pula
tenaganya. Karena didekap, bukan saja tak bisa
bersuara, bernafas pun Dian Susi amat susah. Sudah
tentu orang yang mendekapnya ini memiliki sepasang
tangan. Sebelah tangan yang lain memeluk pinggang
Dian Susi, sehingga berkutik pun dia tidak bisa. Terpaksa
dia menyepak ke belakang dengan kakinya. Menyepak
paha orang serasa seperti menyepak batu. Semakin kuat
menyepak, semakin sakit kakinya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Seperti menjinjing seekor anak ayam orang itu
menjinjing badannya mundur ke belakang, ke dalam
kegelapan. Terpaksa Dian Susi hanya mengawasi
ayahnya pergi semakin jauh.
Waktu air matanya bercucuran, orang yang menjinjing
badannya sudah putar badan berlari ke arah sana.
Langkahnya begitu lebar, dalam sekejap sudah keluar
dari lingkungan hutan kembang.
Di luar hutan pun gelap gulita. Tapi langkah orang ini
tidak berhenti, dia terus berlari menyusuri kaki tembok,
setelah belok kanan dan putar ke kiri tiga kali, tiba-tiba
dia menerobos masuk ke dalam sebuah rumah batu.
Bentuk rumah batu ini pun tinggi dan besar. Tapi isinya
hanya sebuah ranjang, sebuah meja dan sebuah kursi.
Besar ranjang itu amat mengejutkan, demikian pula
mejanya luar biasa besar. Kursinya kira-kira satu lipat
lebih besar dari meja biasa. Sementara mejanya lebih
besar dari ranjang biasanya.
Setelah merapatkan pintu, orang ini langsung
merebahkan Dian Susi ke atas ranjang. Baru sekarang
Dian Susi sempat melihat muka orang ini. Hampir saja
dia jatuh semaput lagi.
Orang ini lebih mirip lutung daripada manusia. Orang
hutan yang disuruh memperkosa dirinya oleh Ong toanio
itu. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kalau bentuk mukanya mirip manusia, tapi selebar
kulit mukanya tumbuh bulu yang tebal panjang, lebih
mengerikan bila dia menyeringai tawa. Kini orang itu pun
sedang tersenyum mengawasi Dian Susi.
Dian Susi meronta berusaha melompat hendak
menjotos congornya, tapi luput. Lekas orang itu
menggoyang tangan, katanya tertawa: "Kau tidak usah
takut kepadaku, aku menolong kau." Suaranya tidak
mirip omongan manusia.
"Kau... kau menolong aku?" tanya Dian Susi
keheranan. Orang itu tertawa lagi, dari dalam bajunya dia
merogoh keluar sesuatu benda. Yang dikeluarkan adalah
segulung tali, tali yang dibuat merambat dan meloloskan
diri oleh Dian Susi tadi.
"Jadi kau yang menaruh tali itu?"
"Kecuali aku siapa yang berani melakukannya."
"Kenapa kau menolongku?"
"Karena kau amat mungil, aku amat menyukai kau."
Seketika meringkel badan Dian Susi, meringkel seperti
trenggiling. Dilihatnya orang itu ulur tangan hendak
meraba mukanya, kontan dia kerahkan seluruh
tenaganya berteriak sekeras-kerasnya:
"Pergi! TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Menggelindinglah yang jauh! Berani kau sentuh aku, aku
mampus saja!"
Lekas orang itu menarik tangannya, tanyanya: "Kau
takut kepadaku" Kenapa kau takut kepadaku?" Biji mata
yang tersembunyi di belakang lebarnya bulu mengunjuk
rasa derita yang tak terhingga.
Perasaan sorot matanya membuat dia kelihatan mirip
manusia, tapi Dian Susi malah lebih takut, serasa hampir
tumpah-tumpah lagi. Semakin orang baik terhadap
dirinya, dia semakin muak. Ingin rasanya bisa mati saja.
Berkata orang itu: "Tampangku memang amat jelek,
tapi aku bukan orang jahat, dan lagi sedikit pun aku tidak
bermaksud jelek terhadap kau, cuma aku ingin..."
"Kau ingin apa?" tanya Dian Susi dengan suara serak.
Tertunduk kepala orang itu, katanya dengan suara
sumbang: "Tidak ingin apa-apa, asal bisa melihatmu,
hatiku lantas senang." Sebetulnya orang mengira dia
seekor binatang liar yang buas, kini dia berubah menjadi
seekor binatang peliharaan yang harus dikasihani.
Dengan tajam Dian Susi mengawasinya, rasa takut
dan muaknya menjadi berkurang, tiba-tiba bertanya
dengan kedip-kedip mata: "Kau, siapa namamu?"
Seketika terunjuk rasa senang dari sorot mata orang
ini, sahutnya: "Koko, aku bernama Koko."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Koko" terhitung nama apakah ini" Siapapun takkan
menggunakan nama selucu ini.
"Sebetulnya kau ini manusia bukan?"
Seketika terunjuk rasa gusar dan penasaran pada
mimik mata Koko, sesaat kemudian dia menunduk lalu
menjawab dengan rawan: "Sudah tentu aku ini manusia,
manusia seperti dirimu, bahwa aku berubah seperti ini,
adalah gara-gara perbuatan Ong toanio."
Semakin lega hati Dian Susi, tanyanya pula: "Kenapa
dia membuat kau begini rupa?"
Jari-jari Koko yang gede-gede itu tergenggam kencang
sampai tulang-tulangnya berbunyi, lama sekali baru dia
menjawab dengan suara tertelan dalam tenggorokan:
"Darah, obat racun, darah... setiap hari dia mencekoki
aku minum darah yang dicampur racun, dia sengaja
membuatku menjadi binatang untuk menakuti orang."
Kepalanya terangkat mengawasi Dian Susi, sorot
matanya penuh iba dan mohon belas kasihan, katanya:
"Tapi kenyataan aku masih seorang manusia... dia bisa
merubah bentuk luarku, tapi tak bisa merubah hatiku."
"Kau membencinya tidak?"
Koko tidak menjawab, genggamannya malah semakin
terkepal kencang, seolah-olah jarinya sedang mencekik
leher Ong toanio.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/


Tokoh Besar Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau kau membencinya, kenapa tidak kau berdaya
upaya untuk membunuhnya?"
Badan Koko tiba-tiba mengkeret, badannya gemetar,
kepalannya menjadi kendor.
"Jadi kau jeri menghadapinya?"
Gemeretak gigi Koko, desisnya geram: "Dia bukan
manusia... dia itu binatang benar-benar."
"Kelihatannya kau amat jeri terhadapnya, kenapa kau
berani tolong aku?"
"Karena... karena aku amat suka kepadamu."
"Kalau kau benar-benar baik terhadapku, pergilah kau
bunuh dia."
Koko menggeleng-geleng
kepala, menggeleng sekerasnya. "Umpama kau tidak berani membunuhnya, paling
tidak kau biarkan aku pergi saja."
"Tidak mungkin, kau seorang diri betapapun takkan
bisa lolos."
"Agaknya kau ini manusia yang tidak becus, orang
seperti ini siapa yang bakal suka kepadamu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Merah muka Koko, katanya tiba-tiba dengan angkat
kepala: "Tapi aku bisa bantu kau meloloskan diri."
"Apa benar?"
"Walau aku ini manusia tulen, tapi tidak mirip orang
yang pandai berbohong."
"Tapi aku tidak bisa meloloskan diri sendiri saja."
"Kenapa?"
"Aku punya adik, aku tidak bisa meninggalkan dia di
sini," berkedip-kedip mata Dian Susi, sambungnya:
"Kalau kau bisa menolongnya, bukan mustahil aku bisa
senang kepadamu."
Terpancar rasa gembira sorot mata Koko, katanya:
"Orang macam apakah adikmu?"
"Seorang anak perempuan yang elok sekali, mulutnya
kecil mungil, sering monyong, dia bernama Dian Sim."
"Baik sebentar aku pergi mencarinya... aku pasti dapat
menolongnya," belum habis katanya dia sudah
melangkah pergi, tiba di ambang pintu, tiba-tiba dia
berpaling, katanya tergagap: "Kau... kau tidak akan pergi
bukan?" "Tidak, aku tunggu kau."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Koko memburu balik berlutut di depannya,
setelah mencium kakinya, terus berlari keluar seperti
orang kesenangan mendapatlotre.
Pendekar Kelana 6 Pendekar Sakti Karya Kho Ping Hoo Harpa Iblis Jari Sakti 16

Cari Blog Ini