Ceritasilat Novel Online

Rahasia Kunci Wasiat 5

Rahasia Kunci Wasiat Karya Khu Lung Bagian 5


Simanusia lima racun Ong Kiam yang melihat kejadian itu segera mengerutkan alisnya
rapat-rapat, tangan kirinya membalik dengan cepat dia terus mengerahkan tenaga
murninya yang amat dahsyat dia menahan datangnya daya putaran kartu tersebut.
"Haaa, haaa, gerakan yang amat bagus!"
Tangan kanan dari sisegulung angin Thio Ping mendadak menyambar ke depan
merebut datang kartu tersebut.
Kartu nama yang semula melayang dengan disertai tekanan daya tahan dari pukulan
Ong Kiam walau tidak seluruh kekuatan tersebut berhasil dipunahkan tetapi tenaganya
sudah amat lemah, karena itu sewaktu Thio Ping menyambar kartu tersebut dengan amat
mudahnya dia berhasil menangkapnya.
Sirembulan di tengah telaga yang baru saja menemui kepahitan saat ini jari tangannya
secara samar-samar merasa amat sakit, kini lihat kartu nama kedua meluncur datang dia
orang tidak berani berlaku ayal lagi, tangan kanannya dengan cepat berputar dan
melancarkan satu pukulan dahsyat menahan datangnya sambaran kartu itu kemudian lima
jari tangan kirinya mencengkeram ke depan.
Siapa sangka kartu nama tersebut setelah kena ditahan oleh pukulannya ini mendadak
berputar setinggi tiga depa ke atas kemudian dengan kecepatan luar biasa melayang
kembali ke tempat semula.
Sienam bulan salju Lie Poo segera mendengus dingin, telapak tangan kanannya
diayunkan ke depan melancarkan satu pukulan yang amat aneh dan sangat dahsyat.
Dia bermaksud dengan daya pukulan itu hendak memukul kartu tersebut hingga miring
kesamping dan melayang keluar pendopo.
Im Yang Cu yang melihat maksud hatinya itu lantas kebutkan ujung jubahnya ke
depan. Segulung angin pukulan dengan amat cepatnya menghajar kartu nama tersebut
sehingga tertahan balik. Coe Koen San segera tertawa terbahak-bahak, telapak tangannya dipentangkan ke
depan mengirim satu pukulan yang amat tajam menerjang kartu yang melayang ke
arahnya. Orang lain melancarkan pukulan dengan menggunakan ujung jubah sedang angin
pukulanpun amat halus sehingga hampir-hampir boleh dikata tak bersuara sebaliknya dia
orang ternyata melancarkan pukulan dengan telapak bahkan menimbulkan suara menderu
keras. Kartu nama yang terkena hantaman serta hajaran dari tenaga pukulan beberapa orang
itu dengan cacatnya berputar dan menyambar di tengah udara kini setelah terkena hawa
pukulan yang menderu-deru dari Koen San laksana dedaunan kering yang terkena tiupan
angin taupan denga cepatnya berputar menjauh.
Bu Wie Tootiang dengan cepat menggapai tangannya ke depan.
"Haaa, haaa, haaa, sudah cukup bukan permainan diantara kalian!" serunya.
Bagaimana burung walet yang kembali ke dalam sarang kartu nama tersebut dengan
menuruti gapaian dari Bu Wie Tootiang berkelebat kembali ketangannya.
Adu tenaga dalam yang terjadi baru-baru ini walaupun semua orang tidak berbocara
namaun dihati pada megerti bila pertandingannya kali ini adalah Bu Wie Tootiang yang
sudah memperoleh kemenangan.
Bu Wie Tootiang yang berhasil menangkan kembali kartu nama itu segera
meletakkannya ke atas meja di sampingnya sedang dia sendiri duduk tidak bercakap lagi.
Sisegulung angin Thio Ping walaupun berhasil merebut selembar kartu nama tetapi
dikarenakan sambaran kartu yang kedua berhasil melukai ketiga orang saudaranya dan dia
sendiri harus turun tangan pula untuk memberi pertolongan kepada saudara-saudaranya
membuat dia orang tak sempat untuk melihat kartu tersebut.
Kini setelah Bu Wie Tootiang menarik kembali kartu nama yang kedua baru punya
waktu membuka kartu nama itu.
Terlihatlah di atas kertas tersebut bertuliskan beberapa patah kata "Ie Bun Han To dari
daerah Ci Kiang mohon bertemu!"
Tulisan ini laksana menggelegarnya geledek disiang hari bolong seketika itu juga
membuat sisegulung angin Thio Ping tak dapat mengucapkan sepatah katapun.
"Toako, siapa yang sudah datang?" tanya simanusia lima racun Ong Kiam sambil
kerutkan alisnya rapat-rapat.
Sienam bulan salju Lie Poo, sirembulan di tengah Cau Kuang segera pada merubung
datang tetapi sebentar kemudian Kang Lam Su Kongcu sudah terjerumus di dalam
keadaan termangu-mangu. Pada saat itulah tampak sesosok Toosu cilik dengan membawa dua orang
berdandankan siucay berjalan masuk ke dalam pendopo.
Bu Wie Tootiang segera tersenyum dan merangkap tangannya memberi hormat, si
siucay berjalan paling depan.
"Yang datang tentunya Ie Bun heng bukan" lama seklai pinto mengagumi nama
besarmu." "Too heng sendiri tentunya Bu Wie Tootiang!" sahut siucay berusia pertengahan itu
sambil mengangguk. "Gangguan dari cayhe kali ini mengharapkan Too heng suka memaafkan!"
Orang ini memakai jubah berwarna biru langit dengan jenggot hitam terurai sepanjang
dada wajahnya merah bercahaya laksana seorang bocah cilik, sikapnya gagah dan keren.
Ditangnnya membawa sebuah peti emas yang panjangnya tiga depa dengan lebar dua
depa. Dibelakangnya ikut datang seorang sincay berwajah bersih tanpa kumis, dialah si "Pek
so suseng" atau sisastrawan bertangan seratus Jan Ing adanya.
"Jan heng! Sungguh cepat sekali kedatanganmu," sapa Im Yang Cu sambil tertawa
dingin. Pek So suseng menyapu sekejap ke arah Kang Lam Su Kongcu serta Coe Koen San
setelah itu tertawa keras.
"Hahahaha" boleh dikata begitu, boleh dikata begitu, cuma cayhe tetap kalah satu
langkah dengan orang lain."
Dengan perlahan-lahan Ie Bun Han To meletakkan kotak emas tersebut ke atas tanah.
"Cayhe sudah lama berdiam diperkampungan Sian Khie Su Lok dan jarang sekali
berkelana di dalam Bulim," ujarnya sambil tertawa. "Ini hari datang berkunjung kekuil dari
Too heng boleh dikata merupakan perjalananku yang pertama kali sejak sepuluh tahun
yang lalu." "Perjalanan pertama dari Ie Bun heng meninggalkan Sang Yang adalah menuju kekuil
pinto hal ini membuat pinto benar-benar merasa amat bangga."
"Perkataan Bu Wie Tootiang terlalu beraT," ujar Ie Bun Han To sambil tertawa. "Aku Ie
Bun Han To tidak lebih cuma seorang siucay miskin dari tanah pegunungan. Nama serta
kedudukanku sukar untuk ditandingkan dengan jago-jago berkepandaian tinggi lainnya.
Apalagi Tootiang adalah seorang ciangbunjien dari satu partai besar."
Dia berhenti sebentar untuk kemudian membuka kotak emasnya dan mengambil
sebuah kotak pualam sambungnya, "Untuk itu cayhe merasa amat berterima kasih, sedikit
kado harap Kongcu suka menerimanya!"
Bu Wie Tootiang yang mendengar perkataannya itu segera mengerutkan alisnya.
"Tentang soal ini pinto tidak berani menerimanya," jawabnya sambil merangkap tangan
memberi hormat. "Kunjungan dari sicu sudah terlebih dari cukup bagaimana."
"Tak usah sungkan-sungkan lagi!" potong Ie Bun Han To sambil tertawa. "Bilamana
Tooheng tidak suka menerimanya hal ini sama saja dengan tidak pandang sebelah mata
terhadap diriku." Pada sepuluh tahun yang lalu orang itu pernah munculkan dirinya di dalam dunia
persilatan tidak kurang dari setengah tahun lamanya, tetapi nama besarnya sudah tersiar
luas sehingga diketahui oleh semua jagoan baik dari kalangan Hek to maupun dari
kalangan Pek to, siapa saja yang mendengar namanya itu kepalanya tentu akan dibuat
pusing tujuh keliling. Walaupun sudah lewat sepuluh tahun lamanya tetapi nama serta kejayaannya masih
ada di dalam dunia kangouw, karenanya sewaktu Kang Lam Su Kongcu dapa melihat
nama di dalam kartu nama itu dalam hati lantas merasa rada bergetar.
Walaupun Bu Wie Tootiang sendiri tidak pernah melakukan perjalanan di dalam dunia
kangouw tetapi terhadap nama besar dari Ie Bun Han To sudah pernah mendengar.
Kini melihat itu mengangsurkan sebuah kotak pualam kepada dirinya dia jadi serba
susah, bilamana tak menerima hal ini tak ada kesopanan tetapi sewaktu teringat akan
sempitnya pikiran orang tersebut dalam hati Tootiang bukan barang yang biasa.
Terpakasa sambil kerahkan hawa murninya diam-diam mengadakan persiapan, dia
menerima juga pemberian kotak pualam tersebut.
Begitu kotak pualam itu diterima terasa olehnya dari dalam kotak sesuatu yang sedang
bergoyang dalam hati Bu Wie Tootiang lantas mengetahui kalau di dalam kotak tersebut
tentu sudah disimpan seekor binatang yang masih hidup membuat hatinya semakin
waspada lagi. Tenaga murninya dengan cepat disalurkan ketangan siap-siap menghadapi sesuatu.
Ie Bun Han To yang melihat Bu Wie Tootiang sudah menerima kotak pualam itu
wajahnya segera berubah keren.
"Ing jie!" serunya kemudian sambil menoleh ke arah Pek So Suseng ada di sampingnya.
"Coba kau katakanlah maksud kedatangan kita kali ini."
Dengan amat hormatnya si Pek So Suseng Jang Ing menyahut, "Terima perintah dari
susiok!" serunya. Dengan cepat kepalanya didongakkan menyapu sekejap ke arah ruangan kemudian
sambil tertawa ujarnya, "Kali ini cayhe bersama-sama dengan Ie Bun susiok datang
mengunjungi Bu-tong san sebenarnya ingin merundingkan satu urursan besar dengan
ciangbunjien serta Im Yang Tooheng."
Bu Wie Tootiang yang lagi memegang kotak pualam itu sepasang matanya dipejamkan
rapat-rapat agaknya dia sedang mendengarkan dengan seluruh perhatiannya tetapi apa
yang diucapkan oleh Jan Ing tadi tak sepatah katapun yang bisa didengar olehnya saat ini
dia orang sedang duduk pusatkan tenaga menghadapi sesuatu.
Ie Bun Han To dengan dinginnya mendengus, belum sempat dia mengucapkan sesuatu
mendadak terdengarlah Im Yang Cu sudah berkata, "Ooouw" kiranya Jan heng adalah
keponakan murid dari Bun heng, maaf, maaf pinto kurang berlaku hormat."
"Heee" heee, apakah di dalam hati kecil Im Yang Tooheng merasa kurang puas
terhadap cayhe?" seru Jan Ing sambil tertawa dingin.
"Tidak berani, tidak berani, pinto cuma merasa heran Jan heng yang tak bisa kalahlan
Ciu ceng serta Fan Kay bagaimana bisa alihkan perhatian ini ke gunung Bu-tong san
kami." Baru saja Jan Ing siap membalas makian tersebut mendadak terdengar Ie Bun Han To
sudah berkata dengan suara yang dingin.
"Ing jie, selesaikan dulu perkataanmu, orang lain boleh tidak menerima asalkan
perkataan sudah kita ucapkan dengan jelas."
Dengan amat hormatnya Jan Ing bungkukkan diri memberi hormat.
"Kalau memangnya Tootiang berdua tidak suka mendengar perkataan dari cayhe ini
maka biarlah cayhe perpendek saja perkataanku maksud hati dari susiokku adalah ingin
bekerja sama dengan Bu-tong-pay untuk mencari dapat anak kunci Cing Kong Ci Yau
tersebut." "Haaa, haaa, aku rasa urusan ini tidak terlalu mudah" sela Coe Koen San sambil tertawa
terbahak-bahak. "Bagaimana" Apakah Coe heng ingin ikut ambil bagian di dalam urusan ini?"
"Hmmm, masih ada kami empat bersaudara," timbrung sisegulung angin Thio Ping.
Jan Ing segera tertawa dingin, sinar matanya dialihkan ke atas tubuh Im Yang Cu.
"Im Yang Tooheng, apa kau sudah dengar jelas?" tanyanya. "Manusia-manusia rakus
yang ada di dalam dunia kangouw tak ternilai jumlahnya. Bilamana partai Bu-tong-pay
tidak suka bekerja sama dengan susiokku, cayhe rasa?"
Mendadak Bu Wie Tootiang mementangkan matanya lebar-lebar, dua rentetan sinar
yang amat dingin bagaikan listrik dengan cepatnya menembusi wajah Jan Ing.
"Cuma sayang partai Bu-tong-pay kami sama sekali tidak memiliki anak kunci Cing Kong
Ci Yau tersebut," ujarnya dengan tawar. "Maksud baik dari kalian berdua biarlah pinto
terima dihati saja."
Sinar mata Jan Ing yang amat seram segera menyapu sekejap ke arah Siauw Ling yang
ada disisi si Toosu tua tersebut.
"Bocah yang ada di samping tubuh Tootiang bukankah merupakan suatu barang
jaminan yang amat bagus" Asalkan orang ini dikata tahan terus disini maka Gak Siauw-cha
pasti akan antarkan dirinya sendiri kemari!"
"Apakah terhadap seorang bocah cilik yang tidak mengerti ilmu silatpun kalian tidak
suka melepaskannya?" seru Bu Wie Tootiang dengan amat dingin.
"Demi berhasilnya tujuan kita untuk pancing Gak Siauw-cha sehingga termasuk ke
dalam perangkap dan menyerahkan anak kunci Cing Kong Ci Yau tersebut mau tidak
mau?" Mendadak" "Haaa" haaa" haaaa" siapa yang ingin memperoleh anak kunci Cing Kong Ci Yau"
Cuma sayang barang itu sudah kami pesan terlebih dulu!" terdengar suara yang amat
keras diselingi suara tertawa terbahak-bahak berkumandang masuk dari luar pendopo.
Begitu perkataan tersbut selesai diucapkan dari pintu depan pendopo berjalanlah masuk
seorang lelaki yang gemuk pendek dengan wajah yang bulat dan perut yang besar. Saat
ini dia orang memakai jubah berwarna hijau dengan gaya yang amat lucu berjalan masuk
ke dalam pendopo. Orang itu bukan lain adalah lootoa dari Tiong Cho Siang-ku. si Kiem Siepoa Sang Pat
adanya. Di belakang tubuh Snag pat dengan kencangnya mengikuti seorang lelaki
berperawakan kurus kering dengan topi bulu yang dipakai rendah-rendah, orang itu bukan
lain adalah si Leng Bian Thiat Hit Tu Kiu.
Dengan menggunakan matanya yang sebelah kanannya Tu Kiu menyapu sekejap
kesekeliling tempat itu, lalu ujarnya dingin, "Heeee" heeee" kawan-kawan Bulim sudah
pada berkumpul disini, selamat bertemu! Selamat bertemu!"
Tidak menanti orang lain berbicara Sang Pat sudah melanjutkan kembali perkataannya
sambil merangkap tangannya memberi hormat.
"Kedatangan cayhe terlalu cepat satu langkah sehingga berbuat suatu kesalahan harap
saudara-saudara suka memaafkan."
Siauw Ling yang melihat munculnya Tiong Cho Siang-ku hatinya merasa bergolak amat
kerasnya. "Heeei kalian sudah membawa enci Gak ku pergi kemana?" teriaknya dengan keras.
Sang Pat segera tertawa terbahak-bahak.
"Saudara cilik, kau tidak usah cemas" sahutnya. "Encimu sekarang lagi bersembunyi
disuatu tempat yang aman dan rahasia untuk mengobati lukanya. Dihati dia selalu
merindukan dirimu karena itu saat ini sengaja ia kirim kami untuk menyambut
kedatanganmu." "Kenapa enci Gak ku terluka?" tanya si bocah dengan sangat terkejut.
"Sedikit luka ringan tidak sampai menggangggu keselamatannya, cukup beristirahat
beberapa hari akan jadi sembuh dengan sendirinya."
"Heeee, heeee, kalau begitu dagangan dari tauke berdua sangat laris sekali bukan?"
ejek Pek So Suseng sambil tertawa dingin.
Jilid 10 Sinar mata Sang Pat dengan cepat berputar melirik sekejap ke arah Jan Ing, baru saja
dia bermaksud untuk mengejek dengan beberapa patah kata yang tajam mendadak
matanya sudah duduk seorang siucay berusia pertengahan dengan jenggot hitam terurai
sepanjang dada, wajahnya menyerupai bocah dan berwarna merah bercahaya.
Melihat hal itu Sang Pat yang mempunyai pengetahuan amat luas segera mengetahui
kalau tenaga dalam dari orang sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf
kesempurnaan. Sewaktu dilihatnya pula peti dari emas uang ada disampignya mendadak pikirannya
berkelebat akan satu ingatan cuma saja dia tidak ingat siapakah dia orang.
Karenanya sambil mendehem beberapa kali, ujarnya, "Jan heng terlalu memuji,
dagangan dari cayhe saja yaa pokoknya sehari tiga kali makan!"
Si Leng Biam Thiat Pit Tu Kiu paling tidak sabaran melihat mereka beribut tiada
hentinya dengan suara yang amat dingin lantas menegur diri Siauw Ling.
"Heei ayo cepat kemari sebentar lagi kita akan berangkat."
Walaupun Bu Wie Tootiang sangat jarang berkelana di dalam dunia kangouw tetapi
dengan kedudukannya sebagai seorang ciangbunjien sebuah partai besar yang namanya
telah menggetarkan seluruh sungai telaga memaksa Tu Kiu yang bersifat dinginpun tidak
berani berbuat terlalu gegabah dihadapannya.
Kini sekalipun melihat Siauw Ling ada disisinya dia tidak berani datang menarik
tangannya. Siauw Ling yang memangnya selalu merindukan diri Gak Siauw-cha, mendengar ajakan
tersebut hatinya lantas berdebar.
"Apakah aku boleh ikut mereka pergi dari sini?" tanyanya sambil melirik sekejap ke arah
Bu Wie Tootiang. Bu Wie Tootiang yang berkedudukan sebagai seorang ciangbunjien suatu partai besar
sudah tentu tidak bisa memberi jawaban maupun menahannya terpaksa dia cuma
pejamkan matanya sambil pura-pura tidak mendengar.
Terdengar Im Yang Cu tertawa tawar.
"Bilamana encimu benar-benar merindukan dirimu, kenapa dia tidak datang sendiri
untuk menjemput kedatanganmu?" katanya.
Beberapa perkataan ini kedengarannya amat tawar padahal keadaan yang
sesungguhnya mengandung arti menaruh rasa curiga terhadap perkataan dari Tiong Cho
Siang-ku tersebut. Siauw Ling yang mendengar perkataan itu hatinya jadi rada tergerak, pikirnya, "Enci
Gak selamanya paling benci dengan Tiong Cho Siang-ku, bagaimana dia dapat merasa
begitu tega suruh mereka yang mencari diriku?"
Berpikiran hal ini dia lantas gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kecuali enci Gak ku datang sendiri perkataan siapapun aku tidak suka
mempercayainya!" jawabnya kemudian.
"Kami dua bersaudara sudah datang kemari sudah tentu tidak akan mengundurkan diri


Rahasia Kunci Wasiat Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan tangan kosong, kau percaya atau tidak harus ikut juga dengan kami untuk pulang"
seru Tu Kiu sambil tertawa dingin.
Siauw Ling yang selamanya tidak pernah menaruh rasa simpatik terhadap dirinya
mendengar perkataan itu jadi gusar.
"Aku justru sengaja tidak mau turun gunung kau mau apa?" tanyanya.
"Saudara cilik" hibur Sang Pat terburu-buru. "Kau jangan salah paham dulu, kami
datang atas permintaan dari encimu."
"Lalu kenapa enci Gak tidak sekalian ikut datang?"
"Pertama lukanya masih belum sembuh sehingga harus membutuhkan waktu yang
lama untuk beristirahat, kedua pada saat ini incaran para jago Bulim terletak pada dirinya.
Bilamana dia munculkan dirinya kembali di dalam dunia kangouw bukanlah hanya
memancing datangnya berbagai kesulitan saja."
Siauw Ling segera memutarkan biji matanya.
"Kalau memangnya enci Gak ku suruh kalian datang menjemput diriku, lalu manakah
surat pribadinya?" "Dengan merek emas dari Tiong Cho Siang-ku buat apa butuhkan surat kepercayaan
segala?" Ie Bun Han To yang sudah lama tidak mengucapkan sepatah katapun mendadak
tertawa dingin. "Merek emas dari kalian berdua ada kemungkinan ini hari akan hancur berantakan."
"Hmm! Sungguh besar omonganmu!" seru Tu Kiu sambil dengan perlahan menoleh ke
arahnya. "Apakah kalian berdua tidak percaya?" tantang Ie Bun Han To sambil tertawa tawar.
Sepasang matanya yang amat tajam dari Sang Pat dengan tiada hentinya
memperhatikan terus diri si siucay berusia pertengahan itu. Di dalam ingatannya dia rasa
seperti pernah mengerti akan orang ini.
"Hmm! Selama cayhe paling tidak takut keanehan, siapakah namanya?"" tanya Tu Kiu
kembali. "Perkampungan Siang Yang Ping, Ie Bun Han To adanya!"
Mendengar disebutnya nama tersebut Kiem Siepoa Sang Pat segera merasakan hatinya
bergetar. Tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Ooow" kiranya Ie Bun heng, maaf?"
"Tidak usah sungkan-sungkan lagi, bilamana kalian berdua sudah mengerti akan nama
dari cayhe masih mengharapkan kalian berdua suka sekalian memberi tahu jejak dari Gak
Siauw-cha." "Haa, haa, manusia mati karena harta, burung mati karena makanan, kami Tiong Cho
Siang-ku." "Kegemaran saudara untuk mengumpulkan harta kekayaan sudah aku dengar sejak
dahulu," potong Ie Bun Han To dengan cepat. "Didalama perkampungankupun masih ada
beberapa macam barang pusaka, cayhe suka menyerahkan barang-barang tersebut
kepada kalian." Kang Lam Su Kongcu yang melihat Ie Bun Han To sedang menggunakan akal hendak
bekerja sama dengan Tiong Cho Siang-ku dalam hati merasa rada cemas, mereka tahu
cukup Tiong Cho Siang-ku saja sukar untuk dihadapi apalagi bilamana mereka suka
bekerja sama. Baru saja mereka hendak mengucapkan sesuatu mendadak terdengar Bu Wie Tootiang
sudah tertawa terbahak-bahak.
Suara tertawa itu amat nyaring laksana lengkingan naga pekikan rajawali membuat
para jago dengan cepat kerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan.
Dengan perlahan Bu Wie Tootiang menarik kembali suara tertawanya, lalu ujarnya
dengan perlahan, "Kedatangan saudara-saudara sekalian pada ini hari benar-benar
membuat pinto merasa amat gembira, tetapi kuil Sam Yuan Koan dari partai Bu-tong ini
bukanlah suatu kalangan tempat berebut, maka itu pinto merasa keberatan untuk kalian
gunakan sebagai tempat bertempur."
Sinar matanya dengan perlahan dialihkan Ke atas tubuh Ie Bun Han To, lalu
sambungnya, "apalagi sumbangan dari Ie Bun Han To ini benar-benar membuat pinto
merasa tidak enak." "Haa, haa sedikit hadiah buat apa kongcu pikirkan dihati?"
"Banyaknya benda pusaka di dalam perkampunganmu pinto sudah lama mendengar,"
ujar Bu Wie Tootiang dengan wajah serius.
"Pinto rasa barang yang ada di dalam kotak pualam inipun merupakan satu benda yang
sangat berharga sekali, pinto ingin membukakan dihadapan umum agar semua orang bisa
ikut mengetahui, entah Ie Bun heng merasa setuju tidak?""
"Haaa, haa, aku rasa barang yang tak berharga itu malah mendatangkan tertawakan
dari orang lain." "Ie Bun heng terlalu merendah."
Dia berhenti sejak lama tiba-tiba dengan serius bentaknya, "Saudara-saudara harap
berhati-hati." Dengan tangan kirinya memegang kotak tangan kanannya membuka penutup tersebut
dengan perlahan. Seluruh perhatian para jago ditujukan ke atas jari tangan dari Bu Wie Tootiang yang
sudah berubah memerah itu.
Tampaklah Bu Wie Tootiang dengan sepasang mata terpentang lebar-lebar
memandang tajam kotak pualam yang ada ditangannya tanpa berkedip, tenaga dalamnya
siap-siap disalurkan menghadapi sesuatu.
Sewaktu kotak itu terbuka, tampaklah dua titik sinar hijau yang berkilauan memancar
keluar dari balik kotak tersebut dengan perlahan muncullah kepala seekor kelabang yang
berwarnakan keemas-emasan.
"Haaa" Kelabang emas?" teriak Kiem Siepoa Sang Pat dengan sangat terkejut.
"Haa, ha, ha tidak salah, kelabang emas!" sahut Ie Bun Han To sambil tertawa
terbahak-bahak. Seluruh perhatian para jago segera dicurahkan kesatu titik, tanpa berkedip mereka
memandang tajam kotak tersebut.
Tampaklah kelabang emas itu dengan perlahan menentangkan sayapnya lalu dengan
diserupai suara desiran yang amat tajam mulai terbang keangkasa.
"Ie Bun heng, sungguh berharga sekali hadiahmu ini!" seru Bu Wie Tootiang dengan
amat dingin, dengan perlahan dia meletakkan kembali kotak tersebut ke atas meja.
"Aaah, terlalu memuji," jawab Ie Bun Han To sambil tertawa.
"Walaupun kelabang emas ini cuma ada di daerah Biauw Cing tetapi jarang sekali
ditemui, cayhe punya hubungan persahabatan yang agak erat dengan seorang manusia
aneh yang kegemarannya mencari binatang-binatang beracun di daerah Biauw tempo hari
dia sudah hadiahkan seekor buat cayhe, menurut perkataannya kelabang emas adalah
satu binatang berbisa yang sukar sekali untuk ditemui!"
"Simanusia aneh dari daerah Biauw yang baru saja Ie Bun heng maksudkan apakah
Kiem Hoa Hujin adanya?"
"Sedikitpun tak slah, memang dia orang apakah kau kenal dengan dia orang?" tanya Ie
Bun Han To dengan wajah berubah amat serius.
"Orang lain adalah manusia agung, kami sebagai kaum pedagang mana punya jodoh
untuk berkenalan dengan dirinya heeeheee kami cuma mendengar namanya saja," jawab
Sang Pat sambil tertawa. Ie Bun Han To segera mendengus dingin, mendadak tangannya bertepuk dua kali
sedangkan dari mulutnya mengeluarkan suara suitan yang rendah dan sangat berat.
Secara samar-samar di dalam suara suitan itu mengandung nada yang mengartikan
sesuatu. Begitu suara suitan itu bergema memenuhi angaksa mendadak kelabang emas itupun
terbang semakin lama semakin cepat mengitari seluruh ruangan pendopo, hanya di dalam
sekejap saja cuma kelihatan sinar keemas-emasan yang terbang memenuhi angkasa
sehingga terasa menyilaukan mata.
Dengan pandangan yang amat tajam Bu Wie Tootiang memperhatikan terus sinar
keemas-emasan yang terbang mengelilingi seluruh ruangan itu.
"Kelabang emas merupakan binatang beracun yang sangat berbahaya, harp kalian
berjaga-jaga!" teriaknya dengan keras.
Mendadak Ie Bun Han To bersuit panjang kembali lalu angkat lengan kirinya ke atas,
dengan mengikuti suara suitan tersebut kelabang emas lantas menutup sayapnya kembali
dan hinggap di atas pundaknya tak bergerak lagi.
Melihat kejadian itu sudah berakhir Bu Wie Tootiang baru menggapai ke arah luar
tampaklah seorang Toosu cilik berjubah hijau segera berlari mendatang.
"Menanti perintah dari suhu," ujarnya dengan sangat hormat.
Bu Wie Tootiang melirik sekejap ke arah kelabang emas yang ada di atas pundak Ie
Bun Han To lalu baru ujarnya, "Sediakan perjamuan!"
Toosu cilik itu menyahut dan berlalu dari sana dengan langkah tergesa-gesa.
"Haa" haha" kami tidak berani mengganggu Too heng terlalu banyak" seru Ie Bun
Han To cepat-cepat sambil tertawa tawar.
"Inilah keharusan dari pinto sebagai tuan rumah."
"Too heng suka mengasingkan diri di tempat yang sunyi tanpa ikut campur di dalam
urusan apapun bahkan memerintahkan pula seluruh anak murid untuk tidak bentork
dengan orang lain, hal ini aku rasa rada sedikit berbeda dengan diri cayhe."
"Pinto harus berbuat bagaimana untuk menandingi Ie Bun heng?" tanya Bu Wie
Tootiang tertawa dingin. "Bilamana orang-orang Bulim yang tidak tahu akan sifat dari Tootiang yang suka
menyendiri ini ada kemungkinan sudah mengecap Tootiang takut banyak urusan haaa"
haaa" hal ini membuat cayhe merasa amat disayangkan!"
"Urusan di dalam kolonh langit mengutamakan budi dan pikiran, pinto cuma
menginginkan tidak berbuat jahat saja, bilamana ada orang yang ingin mengatakan
sesuatu terhadap diri pinto soal itu tak terpikirkan dihatiku."
"Haaa"haaa perkataan dari Tooheng ini benar-benar membuat pandangan cayhe jadi
rada terbuka..," ujar Ie Bun Han sambil tertawa.
Sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah Kang Lam Su Kongcu serta
Tiong Cho Siang-ku, lalu dengan nada-nada yang amat dingin sambungnya lagi,
"Walaupun Too heng lapang dada ditepi di dalam dunia kangouw masih banyak terdapat
manusia-manusia laknat yang berhati licik, cuma bisa beberapa jurus kembangan dan
memiliki sedikit nama saja sudah memandang hina semua orang, mereka tidak mau tahu
tingginya langit dan tebalnya bumi" jika dilihat keadaan saat ini cayhe rasa perkataan dari
Tooheng itu ada baiknya?"
"Hmmm"! Hmmm! Sungguh besar omonganmu," dengus si Leng Bian Thiat Pit Tu Lioe
dengan amat dinginnya. Ie Bun Han To sama sekali tidak melirik sekejappun ke arah Tu Kiu, sambungnya
kembali katanya, "Walau Tooheng belum pernah berbuat nama dengan orang-orang lain
tetapi soal anak kunci Cing Kong Ci Yau ini sangat luar biasa sekali."
"Walaupun imamku tidak dapat setenang apa yang Too heng latih selama puluhan
tahun inipun belum pernah meninggalkan perkampungan Sian Khie Su Lu."
"Tetapi kini persoalan anak kunci Cing Kong Ci Yau sudah semakin santar, mau aku
harus terjun kembali ke dalam dunia kangouw untuk melakukan pemeriksaan, siapa
sangka dimana saja aku berada dimana tentu ada banyangan setan dari manusia-manusia
rakus, heeei" terpaksa aku harus ikut campur di dalam urusan ini, dan kedatangan kali ini
justru ingin mengajak Too heng untuk bekerja sama dan bersama-sama melindungi anak
kunci Cing Kong Ci Yau itu dari rebutan manusia-manusia rendah dari kolong langit."
Sungguh bersemangat"! Sungguh gagah!" puji Thio Ping sisegulung angin sambil
tertawa terbahak-bahak. "Haaa" haaa" benar, bersaudara memang manusia rendah, manusia yang cuma bisa
sedikit kembangan dan nama kosong haa" haa" makan ini sungguh luar biasa
ganasnya," sambung simanusia lima racun Ong Kiam dengan cepat.
"Hati Suma Cay siapapun tahu," ujar Lie Poo pula dengan dingin.
"Justru dia ingin menggunakan sepasang mata menutupi mata para jago, bukankah hal
ini sangat menggelikan sekali."
"Tempat ini tempat" maaf saat ini waktu apa" bilamana bisa menggerakkan hati Bu
Wie Tootiang sehingga suka bantu dia jadi pembuka jalannya hal inilah yang benar-benar
dinamakan manusia laknat," ujar sirembulan di tengah telaga Cau Kuang dengan dingin.
Kang Lam Su Kongcu berturut-turut saling berbicara mengeluarkan pendapatnya
membuat Ie Bun Han To yang berhati licikpun jadi marah juga dibuatnya, dengan amat
dinginnya dia melirik sekejap ke arah keempat orang kongcu tersebut.
"Nama kalian berempat sudah terkenal akan kejelekannya, dosa yang kalian
perbuatpun sudah bertumpuk-tumpuk, ada seharusnya cepat-cepat dibasmi dari muka
bumi." "Aaakh terlalu sungkan, terlalu sungkan. Kami masih belum cukup bermain lebih lama
masih ingin hidup tiga, lima puluh tahun lagi!" ejek sisegulung angin Thio Ping sambil
tertawa. "Tetapi sayang sekali nama kalian berempat sudah kena didaftar oleh raja Giam Loo
Ong mungkin tidak bisa hidup lebih lama lagi," ejek Ie Bun Han To sambil tertawa.
Tangan kanannya dengan cepat menepuk tangan kirinya, kelabang emas itu mendadak
terbang ke atas udara lalu dengan cepatnya menerjang ke arah sisegulung angin Thio
Ping. Kang Lam Su Kongcu sudah lama berkelana di dalam dunia kangouw, pengetahuanpun
amat luas sejak semula mereka sudah memperhatikan terus kelabang emas yang ada di
tangan Ie Bun Han To tersebut.
Kini melihat dia menepuk terbang kelabang emas tersebut dengan cepat pedang
panjangnya pada dicabut keluar.
Kecepatan terbang dari kelabang emas itu benar-benar luar biasa sekali, begitu
sayapnya dipentangkan bagaikan sambaran kilat cepatnya sudah terbang meluncur ke
arah tubuh sisegulung angin Thio Ping.
Belum sempat Thio Ping mencabut keluar pedangnya kelabang emas tersebut sudah
menyambar kehadapannya. Thio Ping jadi benar-benar sangat terperanjat pikirnya, "Hmm! Sungguh cepat sekali
gerakannya." Pedangnya dengan cepat digerakkan, dengan membentuk berpuluh-puluh bahkan
beratus-ratus bunga perak yang amat tajam dia melindungi seluruh tubuhnya dari
serangan kelabang emas tersebut.
"Brraakk"!" laksana menubruk batu cadas saja, sinar emas yang baru saja menerjang
datang mendadak mundur ke belakang, agaknya dia sudah terkena serangan pedang dari
Thio Ping itu. Melihat serangan kelabang emas itu gagal, Thio Ping segera tertawa dingin.
"Aku tidak percaya cuma seekor kelabang emas saja bisa mau nyawa dari aku orang
she Thio." Tetapi belum habis perkataannya diucapkan mendadak dia menutup mulutnya kembali.
Kiranya kelabang emas yang menurut pikirannya terdiri dari daging dan darah
walaupun merupakan binatang yang sangat beracun, tapi binatang terkena serangan
pedangnya pasti akan mati, atau sedikit-dikitnya terluka parah.
Siapa sangka begitu rubuh ke atas tanah sinar keemas-emasan itu kembali berkelebat
mendatang membuat pandangannya jadi kabur.
Hatinya jadi tergetar amat keras, pikirnya, "Tusukan pedangku tadi paling sedikit ada
seratus kali beratnya, bagaimana, bagaimana seekor kelabang emas yang demikian
kecilnya tak sampai dibikin mati" Apakah kelabang itu terbuat dari besi ataukah kelabang
itu terbuat dari baja?"
Padahal bukan cuma Thio Ping seorang saja yang merasa kaget, bahkan seluruh orang
yang berada dalam ruangan pendopo itupun dibuat benar-benar amat tercengang.
Mereka sama sekali tidak menduga kalau seekor kelabang emas begitu kecil bisa kuat
menahan serangan pedang yang begitu dahsyat tanpa mengalami cedera sedikitpun.
Tampaklah kelabang emas itu semakin terbang semakin cepat, hanya di dalam sekejap
saja berubah menjadi sinar keemas-emasan yang disertai suara dengusan serta suitan
tajam. Sinar emas memenuhi angkasa membuat pandangan jadi kabur, diantara lewatnya
sinar yang menyilaukan mata tersebut segera tersebarlah asap hitam yang amat tipis
berbau amis menusuk hidung.
Para jago yang hadir di dalam ruangan tersebut kebanyakan merupakan jago-jago
kawakan. Begitu melihat adanya hawa hitam yang tersebar memenuhi angkasa dalam hati
lantas menaruh rasa curiga, apalagi kini tercium bau busuk yang menusuk hidung mereka
cepat-cepat pada menutup pernapasan dan kerahkan tenaga dalam dan siap-siap
menghadapi sesuatu. Simanusia lima racun Ong Kiam, sienam bulan salju Lie Poo serta sirembulan di tengah
sungai Cau Kuang yang melihat badan kelabang emas itu amat kuat laksana baja dalam
hati merasa amat kuatir sekali atas keselamatan dari Thio Ping. Masing-masing orang
lantas pada mencabut keluar pedangnya dan berdiri sejajar di samping Thio Ping
membentuk satu barisan pedang yang berbentuk sebuah lingkaran.
Sebenarnya barisan ini adalah barisan pedang yang digunakan Kang Lam Su Kongcu
untuk menghadapi musuh tangguh. Kini mereka terpaksa harus menggunakannya pula
untuk menghadapi seekor kelabang, hal ini membuktikan tinggi serangan dari kelabang
itu. Tampaklah hawa hitam yang disebarkan oleh kelabang emas itu semakin lama semakin
banyak dan dari tipis semakin menebal, bau amis semakin menusuk hidung.
Dengan wajah yang amat serius sekali Ie Bun Han To berdiri tak bergerak, sepasang
matanya melotot lebar-lebar tidak berkedip sedang air mukanya berubah amat tegang.
Mendadak terdengar Siauw Ling berteriak keras.
"Aduuuh" kepalaku amat pening?"
Dengan menimbulkan suara yang amat keras tubuhnya segera terjatuh ke atas tanah.
Kiranya para jago yang ada disana pada memikirkan dirinya sendiri untuk kerahkan
tenaga dalam berjaga sedang perhatianpun sudah dicurahkan ke atas tubuh kelabang
emas itu, sehingga hampir boleh dikata mereka telah melupakan Siauw Ling yang tak
mengerti ilmu silat. Menanti setelah mendengar suara jeritan dari Siauw Ling semua orang baru menaruh
perhatian terdengar suara tersampoknya ujung kayu terkena angin. Beberapa sosok


Rahasia Kunci Wasiat Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bayangan manusia dengan amat cepatnya menubruk kerah Siauw Ling yang rubuh ke atas
tanah itu. Bu Wie Tootiang segera tertawa dingin mendadak dia bangun berdiri ujung jubahnya
yang mebar dikebut ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang amat keras
melanda ke arah depan. Para jago yang lagi menubruk ke arah Siauw Ling terpaksa menahan kembali tubuhnya.
Masing-masing orang mengayunkan sebuah pukulan menahan datangnya angin pukulan
tersebut kemudian tubuhnya meloncat ke belakang kembali ke tempatnya semula.
Orang yang menubruk ke arah Siauw Ling bukan lain adalah sitangan sakti peluru besi
Coe Koen San, si Pit besi berwajah dingin Tu Kiu serta sisastrawan bertangan seratus Jan
Ing. Karena itu tanpa sepakat lagi mereka berdua dengan gerakan yang amat cepat lantas
menubruk maju ke depan. Sebaliknya sitangan sakti peluru besi Coe Koen San yang berhati polos dan jujur,
dikarenakan tempo hari sewaktu ada di atas puncak perbah bercakap-cakap dengan amat
senangnya dengan Siauw Ling dia merasa hatinya cocok dengan bocah itu.
Kini melihat ada musuh yang hendak merampas dirinya, dalam hati jadi merasa sangat
cemas, tanpa pikir panjang lagi diapun lantas menubruk ke depan untuk menolongnya.
Tetapi mereka bertiga dengan amat cepatnya sudah berhasil kena dihajar oleh Bu Wie
Tootiang sehingga tergetar mendur ke belakang, karena tahu kepandaian silat dari Toosu
tua ini sangat lihay maka tanpa terasa lagi merekapun balik kembali ke tempat semula.
Bu Wie Tootiang yang di dalam satu jurus berhasil mengundurkan tiga orang musuhmusuhnya
segera menyumbar tubuh Siauw Ling dan jejalkan sebutir pil ke dalam
mulutnya. "Ie Bun heng! Sungguh kejam perbuatanmu!" seru Kiem Siepoa Sang Pat dengan suara
yang amat keras. "Diluarnya kau lagi menghadapi Kang Lam Su kongcu padahal yanga
sebenarnya kau bermaksud hendak mencelakai seluruh orang yang ada di dalam seluruh
pendopo ini, kau ingin kami mati karena keracun sehingga mudah bagi dirimu untuk
tangan menjajal. Heeee" heee" sungguh bagus sekali siasatmu itu!"
"Ha" ha" Sang heng terlalu menaruh curiga kepadaku," sahut Ie Bun Han To sambil
tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana mungkin aku bisa bermaksud untuk melukai semua
orang?" Mendadak dia mengeluarkan satu suitan rendah yang amat aneh sekali.
Secara mendadak kelabang emas itu terbang kembali ke atas pundak kiri dari Ie Bun
Han To dan tidak bergerak lagi.
Tetapi sebentar kemudian" tampak kembali dia ayunkan tangan kanannya dan ditepuk
ketangannya yang sebelah kiri, bagaikan kilat cepatnya sekali lagi kelabang emas itu
menerjang ke arah Kang Lam Su Kongcu dengan amat ganas.
Haruslah diketahui kelabang emas walaupun merupakan binatang beracun yang amat
cerdik tetapi dia bukanlah manusia sehingga untuk menggunakan akal tak mungkin bisa.
Simanusia lima racun Ong Kiam sewaktu melihat kelabang emas itu menubruk datang
dengan amat dahsyatnya dia lantas tertawa dingin.
"Hee, hee, hee" aku tidak percaya, kalau binatang ini benar-benar terbuat dari baja
yang tidak bisa mempan senjata, pedang pusaka pasti bisa menebas putus badannya."
Dengan dipimpin sendiri olehnya dia membabatkan pedangnya ke depan dengan amat
dahsyat menyambut datangnya serangan tersebut.
Siapa tahu mendadak kelabang emas itu menarik kembali sayapnya sehingga sang
tubuh merendah ke bawah, dengan menempel permukaan tanah dia menubruk ke arah
Ong Kiam. Diluar dugaan dari Kang Lam Su Kongcu mereka sama sekali tidak menyangka kalau
binatang itu dapat bergerak demikian gesitnya.
Yang tak pernah mereka pikirkan adalah binatang itu setelah terkena ganjaran yang
pahit kini malah bisa mengerti cara untuk menghindarkan diri dari serangan pedang.
Saat ini bagaikan kilat cepatnya kelabang emas itu sudah menubruk ke arah tubuh Ong
Kiam. Padahal gerakan pedang dari keempat orang Kongcu inipun hanya ditujukan pada
dua jurusan yaitu atas dan tengah, kini melihat serangan tersebut datangnya dari bawah
seketika juga semua orang dibuat kelabakan.
Sienam bulan salju Lie Poo dengan cepat melancarkan satu pukulan dahsyat
menggetarkan tubuh kelabang emas itu hingga miring kesamping. Dengan mengambil
kesempatan itulah Ong Kiam meloncat maju ke depan bergeser sejauh tiga depa dari
tempat semula. Sirembulan di tengah telaga Cau KUang yang berada disisi Ong Kiam dengan cepat
membabatkan tangannya ke depan tetapi mendadak kelabang emas itu miring kesamping
dan menerjang terus ketubuhnya.
Dalam hati Cau Kuang merasa amat terperanjat, dia tidak menyangka kalau kelabang
emas itu bisa menghajar pergelangan tangan kanannya yang lagi mencekal pedang.
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat Cau Kuang yang memiliki
kepandaian silat amat tinggipun dibuat kelabakan dia tidak sempat menarik kembali
pedangnya di dalam keadaan tergesa-gesa telapak tangannya yang sebelah segera
melancarkan satu pukulan ke depan.
"Plaaak?" dengan amat tepat pukulan tersebut bersarang di atas tubuh kelabang emas
itu. Pukulan yang dilancarkan dalam keadaan tidak bersiap itu malah kelihatan amat
dahsyat, kelabang emas yang kena hajaran tersebut segera terpental sejauh tujuh delapan
depa ke depan. Tetapi sebentar kemudian sudah terpentangkan sayapnya terbang kembali menerjang
ke arah depan. Sisegulung angin Thio Ping serta sienam bulan salju Lie Poo bersama-sama lantas
menggerakkan sepasang pedangnya membentuk satu barisan pedang untuk menghalangi
jalan maju dari kelabang emas tersebut.
"Saudara, sungguh cepat pukulanmu tadi?" simanusia lima racun Ong Kiam dengan
suara yang lirih. Tetapi sebentar kemudian matanya bisa menangkap kalau di atas jari kelingking serta
jari manis dari Cau Kuang sudah jadi hitam menggelap bahkan semakin lama
membengkak semakin besar tidak terasa dia jadi melengak dibuatnya.
"Aaa" aku" aku sudah terkena racun?"" seru si rembulan di tengah telaga Cau
Kuang dengan gugup. "Tidak salah memang sudah terkena racun," sambung Ie Bun Han To sambil
tersenyum! Haruslah kau ketahui kelabang emas ini adalah seekor binatang yang sangat
beracun bahkan seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu tajam yang kuat laksana baja.
Tangannya sudah menyampok badannya dan itu salahmu sendiri inilah yang dinamakan
mencari gara-gara buat dirinya sendiri."
Ong Kiam yang melihat hawa hitam yang ada dikedua belah jari tangan Cau Kuang
semakin lama semakin menjalar sehingga menggetarkan seluruh tangannya dia lantas
berseru keras. "Racun aneh yang amat lihay!"
Pedang panjangnya dengan cepat berkelebat, darah segar muncrat mengotori seluruh
lantai" kedua buah jari tangan Cau Kuang yang terkena racun tadi sudah dibabat putus
keakar-akarnya. Saking sakitnya sirembulan di tengah telaga mendengus dingin.
"Terima kasih Ong heng sudah bantu Siauw te ubtuk tebas putus jari tangan yang
terkena racun," serunya.
Baru saja Ong Kiam bermaksud untuk menjawab, kelabang emas itu ternyata sudah
berhasil menerobos bayangan hawa pedang yang dibentuk oleh tenaga gabungan antara
Thio Ping serta Lie Poo dan kini menubruk mendatang.
Ong Kiam tidak sempat untuk berbicara lagi, pedangnya dengan cepat digoyangkan
membentuk sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata menghadang tubrukan diri
kelabang emas tersebut. Sisegulung angin Thio Ping yang sudah terbebas dari serangan kelabang emas matanya
lantas memandang dan sekejap ke atas jari-jari tangan yang terpapas putus di atas tanah
itu, kini jari-jari itu sudah mulai berubah menghitam, hatinya jadi amat terperanjat.
Pedang panjang di tangan kanannya diperkencang lagi membentuk sinar pedang yang
menyilaukan mata sedang tubuhnya mulai bergeser mendekati kesisi Cau Kuang.
"Cepat balut bekas luka tersebut," ujarnya dengan suara yang perlahan.
Lie Poo pun dengan cepat menggeserkan kedudukannya bersama-sama dengan Thio
Ping serta Ong Kiam membentuk satu barisan segitiga yang amat kuat.
Tiga bilah pedang berkelebat tiada hentinya memenuhi seluruh angkasa dan
membentuk satu jaringan hawa pedang yang amat kuat melindungi diri Cau Kuang yang
terluka. Sirembulan di tengah segera mengambil keluar obat luka dan dibubuhkan ke atas mulut
luka lalu membalutnya dengan kencang.
"Saudara bertiga, silahkan sedikit bergeser untuk kasih aku satu tempat kedudukan!"
serunya kemudian sambil getarkan pedang yang ada di tangan kanannya.
"Tidak mengganggu?" tanya Thio Ping kuatir.
"Sedikit luka dijari tidaklah terlalu penting."
Ong Kiam lantas geserkan badannya kesamping memberikan satu tempat kedudukan
buat Cau Kuang. Mereka berempat segera bersatu padu dan sama-sama menggerakkan pedangnya
menghajar kelabang emas tersebut.
Terasalah hawa pedang memenuhi angkasa, sinar keemas-emasan menyilaukan mata"
temapt seluas satu lie sudah terjerumus ke dalam kurungan sambaran pedang yang amat
tajam itu. Tetapi memang emas itupun semakin cepat, hanya terlihat satu titik sinar yang
berputar dan menyambar tiada hentinya diantara sinar pedang keempat orang itu.
Para jago yang ada di dalam ruangan pendopo sewaktu melihat kejadian ini pada
merasa terkejut, mereka tidak menyangka kalau kelabang emas itu sangat beracun dan
merupakan seekor binatang yang gesit lincah dan bisa bergerak cepat, bahkan sampai
Kang Lam Su Kongcu yang namanya telah menggetarkan seluruh Bulim pun bisa dibuat
kalang kabut dan kelabakan oleh serangannya.
Saat ini hawa yang memenuhi ruangan pendopo dengan perlahan mulai lenyap sedang
bau amis yang menusuk hidungpun dengan perlahan mulai menjadi tawar dan hilang
lenyap di tengah angkasa.
Dengan perlahan Bu Wie Tootiang menundukkan kepalanya sekejap ke arah Siauw
Ling. Tampaklah diantara alis matanya secara samar-samar sudah timbul hawa hitam yang
tebal, hatinya jadi terasa amat cemas.
"Kelihatannya bocah ini sudah terkena racun amat berat" pikirnya.
"Aku harus cepat-cepat berusaha untuk menyembuhkannya."
Sinar matanya kembali berputar memandang ke arah Ie Bun Han To yang lagi
menonton pertempuran antara Kang Lam Su Kongcu dengan kelabang emas itu sambil
bergendong tangan, sedang wajahnya tetap dingin tak berperasaan.
"Orang ini berhati kejam bertindak telengas dan jauh lebih ganas dari pada Kang Lam
Su Kongcu," pikirnya kembali. "Bilamana pertempuran lebih lama lagi maka Kang Lam Su
Kongcu pasti akan terluka atau menemui kematian di tangan dia orang, aku tidak akan
terluka atau menemui ajalnya di tangan dia orang, aku tidak akan membiarkan dia
sembarangan melukai orang lain di atas gunung Bu-tong san ini."
Berpikir sampai disitu tidak tertahan lagi mendadak bentaknya keras, "Ie Bun heng
harap cepat-cepat tarik kembali kelabang emas itu, pinto ada perkataan yang hendak
diucapkan." "Too heng ada petunjuk apa silahkan berbicara cayhe akan mendengarkannya dengan
penuh perhatian," sahut Ie Bun Han To ketus.
"Kedahsyatan dari racun yang ada di tubuh kelabang emas milik Ie Bun heng itu
sungguh luar biasa sekali, pinto benar-benar merasa kagum."
"Jadi maksud Too heng meminta aku orang supaya suka mengampuni keempat orang
manusia sombong itu?"" sambung Ie Bun Han To dengan cepat.
"Ehhmmmm! pertama pinto ada urusan yang hendak dibicarakan. Kedua setiap orang
yang mendatangi gunung Bu-tong san kami adalah tetamu pinto tidak ingin menimbulkan
banjir darah di dalam kuil Sam Yuan Koan ini."
"Perintah dari Tooheng pasti akan cayhe lakanakan!" jawab Ie Bun Han To kemudian
sambil tertawa. Dia lantas bersuit rendah, kelabang emas yang lagi berputar dan menyambar-nyambar
diantara berkelebatnya sinar pedang itu dengan cepat menarik kembali serangannya dan
terbang kembali ke atas pundak kirinya.
"Saat kematian kalian berempat sudah ada diambang pintu," ujarnya kembali.
"Walaupun ini hari ada Bu Wie Tootiang yang buka mulut mintakan ampun buat kalian hal
itu juga percuma saja, kalian tidak lebih bakal hidup beberapa jam lagi sesata kalian
berempat meninggalkan gunung Bu-tong san ini waktu itulah saat kematian buat kalian."
Nama besar dari Kang Lam Su Kongcu di dalam Bulim tidaklah kecil, siapa disangka
untuk menghadapi seekor kelabang emas yang kecil harus mengakibatkan terpapas
putusnya kedua jari tangan sirembulan di tengah telaga. Hal ini membuat keberanian dari
mereka berempat benar-benar terpukul.
Tetapi mereka berempat yang selama puluhan tahun berkelana di dalam Bulim belum
pernah mendapatkan malu. Ini hari mana suka menerima penghinaan tersebut dengan
begitu saja. Mendadak terdengar sisegulung angin Thio Ping tertawa terbahak-bahak dengan amat
kerasnya. "Haa" haaa, sejak kami berempat terjunkan diri ke dalam dunia kangouw selamanya
belum pernah menerima penghinaan seperti ini hari, dendam dan hutang ini kami
bersaudara tidak bakal melupakan untuk selamanya!"
"Apalagi mencari kemenangan dengan menggunakan binatang beracun juga, bukan
merupakan satu pekerjaan yang gemilang" sambung simanusia lima racun Ong Kiam
dengan cepat. "Kami empat bersaudara sangat mengharapkan bisa minta beberapa
petunjuk dari ilmu silat yang sebenarnya dari majikan Sian Lhie Su Lu!"
Mendengar perkataan itu Ie Bun Han To segera tertawa dingin.
"Bilamana kalian berempat masih tidak suka menyerah juga sudah tentu akan cayhe
layani. Pokoknya aku akan membuat kalian benar-benar puas dan mati dengan hati
tenang" katanya. Saat itulah emapt orang Toosu berbaju hijau sudah berjalan masuk dan
menghidangkan sayur dan arak di atas meja.
Bu Wie Tootiang menoleh memandang sekejap ke arah diri Siauw Ling, tampak
sepasang mata bocah itu dipejamkan rapat-rapat agaknya dia sudah terkena racun terlalu
mendalam. Tetapi dia orang yang beriman tebal walaupun menemui urusan yang menguatirkan
tetapi wajahnya masih tetap tenang-tenang saja.
Mendadak dia tersenyum dan ujarnya, "saudara-saudara sekalian bilamana bukannya
jagoan dari satu daerah sedikit-dikitnya adalah jago kelana di dunia kangouw, ini hari
datang berkunjung kekuil pinto membuat aku sebagai majikan harus baik-baik menjamu
kalian, mulai saat ini pinto harap saudara-saudara suka melenyapkan ganjalan hati untuk
sementara waktu bilamana hendak bergebrak nanti saja dibicarakan kembali, dan
sekarang silahkan bersahabat!"
Tampaklah beberapa orang Toosu cilik berbaju hijau berjalan hilir mudik tiada hentinya
mempersiapkan meja perjamuan. Sewaktu Bu Wie Tootiang selesai berbicara maka meja
perjamuanpun sudah selesai dipersiapkan.
Mendadak tampaklah Ie Bun Han To meninggalkan tempat duduknya dan berjalan
mendekati. "Tadi Toohengkatanya hendak membicarakan sesuatu ada petunjuk apa yang
sebenarnya?"?" tanyanya sambil tersenyum.
Walaupun mulutnya lagi berbicara dengan Bu Wie Tootiang tetapi sepasang matanya
terus menerus memperhatikan wajah Siauw Ling.
Bu Wie Tootiang yang takut secara diam-diam dia orang turun tangan jahat melukai
Siauw Ling dengan cepat kerahkan tenaga dalamnya membentuk satu perisai tak terwujud
dihadapan tubuhnya untuk melindungi sang bocah.
"Pinto kepingin meminta petunjuk akan satu persoalan," jawabnya.
Ie Bun Han To yang baru saja berjalan kehadapannya segera terasalah olehnya
segulung hawa khi kang yang amat kuat laksana sebuah tembok baja, hal ini membuat
hatinya jadi terperanjat.
"Hmm! Sihidung kerbau ini sungguh memiliki kemampuan yang mengejutkan hati,"
pikirnya. "Kiranya dia berhasil kumpulkan tenaga khi kangnya untuk melindungi tubuh."
Dengan cepat diapun kerahkan hawa murninya yang disalurkan ketelapak tangan.
"Tootiang ada petunjuk apa silahkan dibicarakan," ujarnya sambil secara tiba-tiba
menjura."Asalkan cayhe kuat untuk melaksanakannya sudah tentu cayhe lakukan tanpa
membantah." Dengan meminjam kesempatan sewaktu menjura itulah diam-diam dia kerahkan hawa
murninya melalui lima jari bagaikan lima batang anak panah tidak berwujud dengan
jujurnya menghantam ke depan.
Bu Wie Tootiang lantas merasakan adanya lima gulung hawa pukulan jari yang maha
dahsyat mendesak datang hatinyapun diam-diam merasa kaget.
"Kelihatannya majikan Sian Khie Su Lo ini adalah manusia yang benar-benar lihay. Aku
tak boleh terlalu pandang rendah dirinya," pikirnya dihati.
Dengan cepat ujung jubahnya dikebutkan ke depan menambahi dengan dua bagian
tenaga dalam lagi. "Pinto ingin menanyakan kepad diri Ie Bun heng bagaimanakah caranya untuk
memusnakan racun dari kelabang emas ini?"?" tanyanya.
Masing-masing orang dengan menggunakan kebutan ujung baju mauoun menjura
untuk saling mengadu tenaga dalam hal ini benar-benar kelihatnnya amat dahsyat sekali.
Tenaga dalam mereka berdua sudah pada dilatih sehingga mencapai pada taraf yang
tinggi sudah tentu pertandingan ini terjadi dengan amat serunya.
Tampak seluruh jubah yang dipakai oleh Bu Wie Tootiang sudah berubah menjadi
gelembung-gelembung besar kecil laksana ombak tapi wajahnya masih tersenyum dan
berdiri tak bergerak di tempat semula.


Rahasia Kunci Wasiat Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sebaliknya air muka Ie Bun Han To berubah sangat hebat, jenggot di depan dadanya
bergoyang-goyang tak kuasa lagi sudah mundur dua langkah ke belakang.
Masing-masing lantas saling menarik kembali tenaga dalamnya tetapi dengan demikian
dihati kedua orang itupun sudah mempunyai perhitungan sendiri.
Terdengar Ie Bun Han itu menghembuskan napas panjang dan tertawa.
"Apakah Tooheng hendak pula bebaskan racun yang bersarang di dalam tubuh saudara
cilik ini?" tanyanya.
Sembari berkata dia memungut kembali kotak pualam yang ada disisi tubuh Bu Wie
Tootiang lalu bersuit dua kali dengan suara yang rendah.
Kelabang emas yang ada dipundaknya pun dengan cepat segera terbang kembali ke
dalam kotak pualam tersebut.
"Pinto tidak berani merepotkan Ie Bun heng untuk turun tangan sendiri, asalkan Ie Bun
heng suka memberitahukan cara untuk memusnakan racun tersebut pinto sudah merasa
sangat berterima kasih sekali," kata Bu Wie Tootiang lagi.
Dengan termangu-mangu Ie Bun Han To termenung berpikir beberapa saat lamanya,
setelah itu dia baru mengangguk.
"Menurut sahabat karib dari cayhe yang ada di daerah Biauw Hiang itu dia bilang
kelabang emas adalah seekor binatang yang sangat beracun sekali di dalam dunia pada
saat ini." "Walaupun cayhe sedikit mengerti tentang cara untuk memusnahkan racun tersebut
tetapi terhadap binatang beracun yang amat ganas ini cayhe akui bukanlah suatu
pekerjaan yang mudah."
"Untung saja sewaktu kawan karibku yang ada di daerah Biauw tersebut menyerahkan
kelabang emas itu kepada cayhe sekalian sudah memberi juga tiga butir pil pemusnahnya,
tetapi sewaktu cayhe melatih kelabang emas ini tidak untung kena digigit sekali sehingga
pil itu kini tinggal dua butir saja."
"Baiklah demikan saja! bersama-sama dengan kelabang emas ini aku sekalian
hadiahkan buat Too heng sebagai tanda mata dari cayhe."
Sehabis berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah botol porselen yang
kecil lalu diletakkan di samping kotak yang berisikan kelabang emas tadi.
Bu Wie Tootiang lantas menerima botol porselen itu dan mengambil keluar sebutir pil.
"Terima kasih atas pemberianmu itu, pinto cukup mengambil sebutir saja buat saudara
cilik ini, sedang sisa yang sebutir bersama-sama dengan kelabang emas itu pinto tidak
berani untuk menerima, lebih baik Ie Bun Kiam menyimpannya sendiri," katanya sambil
tertawa. Para jago yang ada di dalam ruangan itu sewaktu melihat kelihayan dari kelabang emas
tersebut dalam hati pada merasa kagum, tetapi setelah mendengar Bu Wie Tootiang
menolak pemberian tersebut tidak kuasa merekapun ikut merasa sayang.
Sampai Im Yang Cu sendiripun rada merasa keheranan, dengan bingungnya dia
memandang sekejap ke arah suhengnya.
"Sekalipun kau tidak suka dengan binatang yang demikian beracunnya juga tidak
seharusnya mengembalikannya kembali kepada dia orang, bagaimana kalau Ie Bun Han
To menggunakannya lagi untuk melukai orang?" omelnya diam-diam dihati.
"Tootiang sebagai seorang pemuda dari satu partai besar dengan hati yang welas kasih
sudah tentu tidak akan menyukai binatang beracun seperti ini." Terdengar Ie Bun Han To
berkata sambil tertawa. "Kalau memangnya begitu cayhepun tak akan memaksa lebih jauh
lagi." Dengan langkah yang perlahan dia mengundurkan dirinya ke belakang membuka peti
emas itu dan memasukkan kembali kotak pualam tersebut ke dalam peti emas itu.
Sedangkan Bu Wie Tootiang dengan perlahan bangkit berdiri dengan sepasang
telapaknya disilangkan di depan dada dia mengambil temapt duduk dimeja perjamuan
tersebut, Walaupun Kang Lam Su Kongcu baru saja mendapatkan kerugian yang amat besar
sehingga mendapat malu tetapi kerakusannya belum hilang juga, dengan tebalkan muka
mereka ikut mengambil tempat duduk pula di sekeliling meja perjamuan tersebut.
di tengah perjamuan itu Tiong Cho Siang-ku tiada hentinya memperhatikan diri Siauw
Ling terus menerus, ketika dilihatnya bocah itu pejamkan matanya terus menerus dalam
keadaan tidak sadar diri hatinya mulai merasa amat kuatir.
Mereka mulai merasa cemas melihat keadaan Siauw Ling yang berada di dalam pelukan
Bu Wie Tootiang tetapi sama sekali tidak melihat Toosu tua itu turun tangan
menyembuhkan sakitnya. Setelah meneguk tiga cawan arak akhirnya si pit besi berwajah dingin Tu Kiu tidak
dapat menahan sabar lagi.
"Tootiang! bilamana kau orang tidak suka menyembuhkan luka dari bocah cilik itu,
bagaimana kalau serahkan saja kepada cayhe untuk dibawa pergi?"" ujarnya dengan
dingin. "Apa kalian berdua mempunyai kepercayaan untuk dapat menyembuhkan racun yang
bersarang di dalam tubuhnya itu?" ejek Ie Bun Han To sambil tertawa.
"Hmm! Soal ini tidak perlu saudara kuatirkan," jawab si pit besi berwajah dingin Tu Kiu
sambil mendengus. Tiba0tiba tampaklah Bu Wie Tootiang dengan wajah yang berubah amat serius bangkit
berdiri, ujarnya perlahan, "Saudara-saudara datang dari tempat kejauhan pinto sebagai
ketua partai Bu-tong-pay cuma bisa mengadakan sedikit perjamuan saja buat saudarasaudara
sekalian." "Haa, haa, bagaimana?" Tootiang mau mengusir para tetamu?"" Timbrung Sang Pat si
Siepoa emas sambil tertawa terbahak-bahak.
"Pinto masih ada urusan yang harus diselesaikan setelah kalian kenyang bersantap
sudah seharusnya cepat-cepat turun gunung."
Si pit besi berwajah dingin Tu Kiu lantas tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee" hee" apa kau kira kedatangan kami dua bersaudara dari tempat kejauhan
hanya dikarenakan untuk bersantap nasi serta arakmu?" teriaknya.
"Entah saudara ini mempunyai petunujk apa lagi?" sela Im Yang Cu dari samping.
"Nama besar partai Bu-tong-pay sudah amat cemerlang sekali di dalam dunia persilatan
sudah tentu kalian tidak ingin bukan kalau di belakang nama Bu-tong-pay ditambahi
dengan partai tukang merebut barang milik orang lain?" sindir si Kiem Siepoa Sang PAt
dengan ketus. "Kami dua bersaudara mendapat titipan dari orang lain untuk memapak
Siauw Ling pulang." "Kalian sudah menerima titipan dari siapa?" sambung Im Yang Cu tidak menanti dia
menyelesaikan kata-katanya.
"Gak Siauw-cha! kami dua bersaudara mempunyai perjanjian dengan dua orang
mengharuskan kami mencari kembali diri Siauw Lung" kata Tu Kiu dengan dingin.
"Bilamana Tooheng benar-benar tidak bermaksud untuk ikut memperebutkan barang milik
orang lain maka cayhe rasa terhadap perkataanku inipun kalian akan mampercayainya!"
"Heeey tauke berdua!" tiba-tiba Ie Bun Gan To menimbrung dari samping mereka.
"Apakah janji kalian dengan Siauw-cha adalah hendak menolong bocah cilik ini?" haa"
haaahh tidak kusangka" tidak kusangka Tiong Cho Siang-ku pun sudah menjadi pedagang
manusia" haaahh" haahh."
"Soal ini kau orang tidak usah ikut campur" Sang Pat dengan suara yang ketus. "Kami
sebagai kaum pedagang cuma mengerti cara untung yang sebanyak-banyaknya,
selamanya tidak pernah membicarakan macam barang dagangan tersebut."
Sebenarnya Ie Bun Han To bermaksud hendak menyindir lagi dengan beberapa
perkataan yang tajam untuk menimbulkan hawa amarah mereka berdua dengan pihak Butongpay, tetapi sewaktu teringat kalau mereka berduapun merupakan kalangan yang
telah lama berkelana di dalam dunia kangouw dan pengetahuan mereka-mereka luar biasa
hatinya jadi ragu-ragu, ia perkataannya membuat berdua jadi marah terhadap dirinya dan
menyerang dia sendiri terlebih dahulu. Bilamana demikian adanya bukankah sebaliknya
pihak Bu-tong-pay yang bakal menerima keuntungan"
Sebetulnya dia adalah seorang yang berpikir tajam teringat akan hal tersebut dialantas
mendehem beberapa kali dan tidak becakap-cakap lagi.
Sie Siepoa emas Sang Pat melirik sekejap ke arah Bu Wie Tootiang, lalu ujarnya,
"Cayhe sangat mengharapkan Too heng bisa memandang pada wajah kami Tiong Cho
bersaudara untuk serahkan Siauw Ling si bocah cilik itu untuk kami bawa pergi."
"Sekalipun Sang heng benar-benar mempunyai janji dengan diri Gak Siauw-cha tetap
perkataanmu itu bukankah terlalu enteng?" seru Im Yang Cu.
"Haaahh" haaahh" kami orang kaum pedagang sudah tentu mengerti akan
keuntungan, bilamana partai kalian suka serahkan orang tanpa memperoleh sedikit
keterlaluan" jangan kuatir" jangan kuatir, sudah tentu kami akan membagi bagian
kepada partai kalian," ujar Sang Pat sambil tertawa terbahak."
Bu Wie Tootiang yang mendengar perkataan itu agak mengerutkan alisnya tetapi masih
bisa menahan pergolakan dihatinya.
Dari dalam sakunya Sang Pat segera mengambil keluar kentongan yang terbuat dari
sutera sambungnya, "Di dalam kentongan ini berisikan sedikit hadiah dari kami berdua,
barang yang tidak berharga ini harap Tootiang menerimanya."
Im Yang Cu yang melihat diantara kening suhengnya sudah dikerutkan rapat-rapat
mana berani menerima barang itu lagi. Dia segera mendengus dingin.
"Pinto dengan saudara sekalian tidak berjalan disatu jalan yang sama, maaf kami tidak
berani menerima barang tersebut."
"Loo toa!" tiba-tiba terdengar si pit besi berwajah dingin Tu Kiu berteriak sambil
mendorong meja perjamuan itu kesamping.
"Perundingan tidak berhasil terpaksa kita harus menggunakan kekerasan untuk
merebut barang tersebut"! Hmmm! Bilamana kalian berdua punya kekuatan untuk
merebutnya kenapa tidak dicoba?" seru Bu Wie Tootiang dengan dingin.
"Akh" tidak bisa jadi," ujar Sang Pat sambil menggoyang-goyangkan tangannya
berulang kali. "Kami bersaudara naik gunung dengan mengirim kartu nama terlebih dulu sedang
Tootiang menerima dengan hormat, sekalipun misalnya hendak menggunakan kekerasan
saat ini rasanya masih belum waktunya untuk bergerak."
"Bagus sekali, setiap saat pinto pasti akan melayani kemauan kalian, tidak saja kalian
berdua pokoknya barang siapa yang naik ke gunung pada ini hari bilamana merasa punya
pegangan untuk rebut pergi bocah cilik ini boleh turun tangan untuk mencobanya."
"Kalau begitu kami bersaudara mohon pamit dulu!" ujar si Kiem Siepoa kemudian
sambil menarik tangan Tu Kiu.
Mereka lantas putar tubuh berjalan keluar dari ruangan pendopo dan berlalu dengan
langkah lebar. Kang Lam Su Kongcu pada bangkit berdiri untuk menjura.
"Terima kasih atas pelajaran dari Tootiang" serunya berbareng.
"Mana" mana" kelihatannya kalian berempatpun mempunyai kesenangan untuk
mencoba-coba akukan?" ujar Im Yang Cu.
"Kang Lam Su Kongcu selamanya tidak pernah ketinggalan!" jawab si Bu Wie Tootiang
lantas mengangguk. "Kalian berempat selamat jalan, pinto tidak menghantar lagi!" serunya.
"Tidak berani mengganggu!"
Mereka berempat bersama-sama lantas meninggalkan ruangan pendopo itu dan berlalu.
Setelah semuanya pergi Ie Bun Han To naru melirik sekejap ke arah sitangan sakti
peluru besi Coe Koen San.
"Hey orang tua! kaupun sudah kenyang bersantap dan minum arak, apa yang kau
tunggu lagi di tempat ini?""
"Kau berani mengurusi loohu?"" teriak Coe Koen San dengan gusar.
"Apa kau rada tidak percaya?" ejek Ie Bun Han To sambil tertawa.
Mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan, dengan kecepatan dahsyat tangannya
melancarkan serangan menotok tubuh Coe Koen San.
Sitangan sakti peluru besi Coe Koen San sama sekali tak menduga kalau dia berkata
hendak menyerang lantas datang menyerang bahkan kecepatannya luar biasa, untuk
beberapa saat lamanya dia dibuat kelabakan juga sehingga terdesak mundur sejauh lima
langkah ke belakang. Ie Bun Han To yang melancarkan satu serangan dan berhasil mendesak mundur Coe
Koen san ke belakang mana suka membiarkan dia balas menyerang dirinya.
Dengan cepat tubuhnya meloncat ke belakang dan kembali ke tempat semula.
Saking kekinya Coe Koen San lantas berteriak dan berkaok-kaok tiada hentinya, telapak
tangan kanannya diayunkan ke depan menerima datangnya pukulan itu.
"Hmm! hanya dengan mengandalkan sedikit kepandaian silat ini kau bermaksud hendak
berkelahi dengan susiokku" lebih baik cayhe saja yang melayani beberapa jurus dengan
dirimu!" ejeknya dengan dingin. Kakinya dengan cepat melancarkan satu tendangan ke
depan. Coe Koen San semakin dibuat gusar telapak tangannya dimiringkan kesamping laksana
sebilah golok dengan cepatnya dibabat ke depan.
Jan Ing tertawa dingin, tubuhnya meloncat ke atas sedang kakinya berturut-turut
melancarkan tiga kali tendangan kilat memaksa Coe Koen San harus mundur dua langkah
ke belakang. Bu Wie Tootiang yang melihat diantara mereka berdua terjadi pertempuran hatinya jadi
kurang senang, ujung jubahnya segera dikebutkan ke depan mendorongkan satu pukulan
yang maha dahsyat mendesak mundur dari Jan Ing.
"Bilamana kalian berdua sungguh-sungguh mau berkelahi lebih baik cepat-cepat
tinggalkan kuil Sam Yuan Koan ini saja!" usirnya.
Ie Bun Han To lantas tersenyum.
"Cayhe masih ada beberapa perkataan penting yang hendak dibicarakan dengan Too
heng," ujarnya perlahan. "Bilamana ada si orang tua disini malah ada kemungkinan
mengganggu pembicaraan kita saja lebih baik biarkanlah dia bermain-main beberapa jurus
dengan Ing jie." "Bagus!" Teriak Coe Koen San dengan gusarnya setelah mendengar suara ejekan
tersebut. Kau berani begitu menghina diri Loohu!"
Tubuhnya miring kesamping loalu meloncat ke tengah udara dan menubruk ke arah diri
Ie Bun Han To. Pada saat yang bersamaan Bu Wie Tootiang segera mengirim satu kebutan ke depan
segulung hawa murni yang amat dahysat dengan cepatnya mengalir ke depan
menghalangi perjalanan selanjutnya dari Coe Koen San, lalu dengan menggunakan ilmu
untuk menyampaikan suara, ujarnya, Coe Thay hiap bukannya pinto memandang hina
dirimu terus terang saja pinto katakan kalau dirimu masih bukan tandingan dari Ie Bun
Han itu, dia lambat-lambat tidak turun tangan jahat terhadap dirimu hal ini bukanlah
karena dalam hati menaruh rasa jeri terhadapmu, di dalam keadaan dan situasi seperti ini
harap kau orang suka sedikit bersabar."
Haruslah diketahui nama besar dari Coe Koen San amat terkenal di dalam Bulim karena
kebajikannya walaupun Bu Wie Tootiang jarang sekali turun gunung tetapi urusan tentang
dunia kangouw dia sering sekali memperoleh laporan dari anak buahnya, karena itu
terhadap bagaimana sikap serta sifat dari setiap jago dia mengetahuinya dengan amat
jelas. Saat ini walaupun di dalam hati Coe Koen San merasa sangat tidak puas tetapi diapun
tidak mau menyia nyiakan maksud baik dari Bu Wie Tootiang itu karenanya dia orang
lantas merangkap tangannya menjura
"Kalau begitu Loolap mohon diri dulu," ujarnya kemudian setelah itu dengan langkah
lebar dia berjalan keluar dari ruangan pendopo tersebut.
Saat ini yang ada di dalam ruangan pendopo tinggal Bu Wie Tootiang, Im Yang Cu, Ie
Bun Han To serta Jan Ing empat orang.
Bu Wie Tootiang menoleh dan memandang sekejab ke atas tubuh Siauw Ling yang ada
di dalam pelukannya lalu ujarnya, "Luka yang diderita bocah sangat parah sekali dan tidak
bisa mengulur waktu lebih banyak lagi, bilamana Ie Bun heng ada petunjuk silahkan
dibicarakan selekasnya."
"Cayhe ingin bertanya kepada Tooheng apakah Tooheng percaya dengan kekuatan
partai Bu-tong-pay bisa mempertahankan keselamatan dari anak kunci Cing Kong Ci Yau
tersebut?" ujar Ie Bun Han To dengan dingin.
"Kau orang jangan salah paha," seru Bu Wie Tootiang sambil tersenyum ramah "Partai
Bu-tong-pay kami sama sekali tidak menyimpan anak kunci Cing Kong Ci Yau tersebut,
tetapi bilamana memangnya para jago dikolong langit sudah salah paham kalau anak
kunci tersebut ada di tangan kami pihak Bu-tong-pay, pinto pun tidak bisa berbuat apa
apa lagi." "Perjalanan cayhe kali ini meninggalkan daerah Sang Yang Peng perkampungan Sian
Khie Su Lu sebenarnya masih ada satu urusan yang jauh lebih penting lagi," ujar Ie Bun
Han TO sambil tertawa. "Dan di dalam urusan ini cayhe ingin sekali mengajak Tootiang untuk berunding. Terus
terang saja soal anak kunci Cing Kong Ci Yau tersebut tidak lebih cuma topeng yang cayhe
gunakan untuk menipu orang lain sehingga rasa curiga dari para jago Bulim lainnya bisa
dihindari." Mendengar perkataan tersebut air muka Bu Wie Tootiang segera berubah jadi amat
keren. "Pinto paling tidak terbiasa dengan cara main kayu, lebih baik Ie Bun heng bicara
urusan ini dengan terus terang saja!" ujarnya perlahan.
Ie Bun Han To lantas kirim satu senyuman yang amat misterius sambungnya perlahan,
"Seluruh jago Bulim pada saat ini kebanyakan memuji dan mengagumi partai Siauw lim
pay sebagai pimpinan dari sembilan partai besar lainnya tetapi cayhe sebaliknya malah
mengagumi atas ilmu silat dari partai Tootiang yang lebih mengutamakan kelunakan dan
tenaga dalam yang dahsyat.
"Ie Bun heng terlalu memuji, partai kami tidak kuat untuk memikul pujian tersebut."
Air muka Ie Bun Han To dengan perlahan berubah jadi amat keren, tiba-tiba dia
bungkukkan badannya menjura kepada Bu Wie Tootiang.
"Kali ini cayhe menerima titipan dari seorang untuk mengajak Tooheng mengadakan
satu pertemuan puncak para jago," katanya sambil tertawa.
"Pertemuan puncak apa?" tanya Bu Wie Tootiang keheranan.
"Bilamana Tooheng menyetujuinya cayhe baru berani bicara langsung"
Bu Wie Tootiang termenung berpikir sebentar, lama sekali dia baru menjawab, "Lebih
baik Ie Bun heng bicarakan dulu soal ini, sehingga pinto pun bisa menimbang nimbang


Rahasia Kunci Wasiat Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dulu" "Urusan ini menyangkut satu peristiwa yang amat besar, bilamana Tooheng tidak
menyetujuinya cayhe pun tidak akan berani berbicara sembarangan"
Dia berhenti sebentar, sambungnya, "Tetapi cayhe bisa memberi sedikit keterangan
buat Tootiang, bila Tooheng setuju untuk memimpin pertemuan itu, tidak sampai setahun
keadaan di dunia kangouw bakal terjadi satu perubahan besar.
Mendengar kata itu Bu Wie Tootiang tak mengucapkan sepatah katapun, matanya
memandang keluar pendopo, agaknya dia memikirkan satu peristiwa maha penting.
"Urusan ini besar dan berat, lebih baik Tooheng pikirkan beberapa hari untuk didengar
jawaban," ujar Ie Bun Han To tiba-tiba lalu berdiri dan menjura.
Setelah itu sambil senyum dia berlalu,
Si Pek So Suseng Jan Ing dengan cepat mengikuti dari belakang Ie Bun Han To.
Im Yang Cu memperhatikan hingga mereka lenyap, lalu tanyanya perlahan, "Suheng,
tahukah apa yang diucapkannya?"
"Agaknya menyangkut satu siasat yang besar dan berat, aku sendiri tak mengerti,"
katanya. Jilid 11 Dia menoleh dan memandang sekejap keatas tubuh bocah tersebut, lalu dengan wajah
berubah amat serius katanya, "Coba kau kirim perintah, dua tiga ratus orang anak murid
dari dua angkatan harus digerakan semua untuk baik-baik menjaga di sekeliling kuil,
malam ini ada kemungkinan musuh tangguh bakal menyerang gunung."
Im Yang Cu sangat jarang melihat wajah yang serius dan berat seperti suhengnya hari
ini, dalam hati walaupun diliputi oleh pelbagai urusan yang mencurigakan dia tidak berani
banyak bertanya. Dia lantas menyahut dan dengan langkah yang tergesa-gesa berjalan keluar ruangan
pendopo tersebut. Bu Wie Tootiang pun segera ikut berjalan keluar dari ruangan pendopo itu dan kembali
keruangan belakang. Dia mengambil keluar pil pemusnah racun pemberian dari Ie Bun Han To itu lalu
ditelitinya dengan tajam, walaupun di dalam keadaan kepepet dia tidak berani
menggunakannya. Akhirnya dengan hati berat dia meletakkan diri Siauw Ling keatas
pembaringan dan menotok beberapa buah jalan darahnya, setelah itu gumamnya seorang
diri, "Bocah kau sungguh amat kasihan sekali, sekarang beristirahatlah kau sebentar. Pinto
tidak berani menggunakan pil pemusnah racun ini untuk dengan perlahan-lahan memaksa
racun dibadanmu mengalir keluar."
"Suheng!" tiba-tiba terdengar suara yang berat berkumandang masuk dari luar
ruangan. "Terhadap seorang bocah cilik saja kenapa kau begitu murung. Janganlah
berbuat keterlaluan."
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu dari luar ruangan berjalan masuk seorang
pemuda tampan berbaju biru dengan gagahnya.
"Kepandaian silatmu sungguh mendapatkan kemajuan yang amat pesat," ujar Bu Wie
Tootiang sambil tertawa-tawa. "Kau kapan tiba di depan ruangan" Kenapa aku sama sekali
tidak mendengarnya?"
"Baru saja siauwte bertemu muka dengan Jie suheng," ujar pemuda berbaju biru itu
lagi sambil tertawa tawar. "Dan melihat pula dia membawa anak murid dari kuil untuk
diatur disetiap tempat yang strategis, keadaannya sangat repot sekali. Apakah di dalam
kuil Sam Yuan Kuan kita sudah terjadi suatu perubahan?"
Dengan perlahan-lahan Bu Wie Tootiang mengangguk.
"Kali ini kau tutup pintu berlatih diri sudah mendapatkan kemajuan seberapa banyak?"
"Akh, Cuma tujuh bagian kesempurnaan saja, masih mengharapkan bimbingan dari
suheng." Sikap Bu Wie Tootiang terhadap sutenya yang gagah dan tampan ini bukan saja amat
ramah bahkan sangat menghormat. Dengan kedudukannya sebagai ciangbunjien boleh
dikata merupakan satu peristiwa yang amat mengherankan.
Tampak dia tersenyum, lalu katanya, "Kau bisa melatih tenaga dalammu mencapai
tujuh bagian kesempurnaan. Hal ini sudah lebih dari cukup."
Pemuda berbaju biru itu tersenyum, kepalanya dengan perlahan ditoleh memandang
sekelap keatas tubuh Siauw Ling yang menggeletak di atas pembaringan.
"Apakah bocah ini sudah keracunan?" tanyanya.
"Tidak salah, tetapi untung saja racunnya tidak terlalu berat sekalipun tidak usah
menggunakan obat pemusnahnya juga bisa ditolong."
"Menggunakan tenaga dalam untuk mengusir racun yang bersarang di tubuh walaupun
hal ini bisa dilakukan tetapi suheng bakal banyak kehilangan tenaga, sekalipun tenaga
dalam dari suheng amat tinggi lebih baik jangan dicoba dengan sembarangan."
"Sebelum dalam hati aku merasa rada ragu-ragu, tetapi sekarang hatiku malah jauh
lebih mantap lagi. Aku pasti akan mencobanya," sambung Bu Wie Tootiang dengan cepat.
"Kenapa hari ini setiap saat ada kemungkinan musuh tangguh menyerang gunung. Aku
lagi merasa kuatir dengan kekuatan Im Yang suhengmu dia tidak bakal kuat menerima
seluruh penjagaan ini kini sudah ada kau yang muncul hatiku jadi lega."
"Entah jagoan dari mana yang hendak mengacau gunung" tiba-tiba tanya pemuda
berbaju biru itu sambil tertawa nyaring.
"Heeeei, itulah jago-jago berkepandaian tinggi yang sudah lama memiliki nama besar di
dalam Bulim, sute selamanya tidak pernah terjun diri ke dalam dunia kangouw sekalipun
aku beritahukan kepadamu juga percuma saja."
Pemuda berbaju biru itu masih belum kehilangan sikap yang polos dan kekanakkanakan.
Setelah termenung beberapa saat lamanya mendadak tanyanya, "Eeei tahun ini
aku umur berapa?" Bu Wie Tootiang yang ditanya begitu jadi melengak. Dia termenung berpikir beberapa
saat lamanya. "Tahun ini kau berusia dua puluh tiga tahun," sahutnya kemudian.
"Lalu aku sudah berlatih ilmu silat selama berapa tahun?"
"Sejak umur tiga tahun?" mendadak ia mengubah kata-katanya.
"Sedikitpun tidak kurang dari dua puluh tahun lamanya."
"Dua puluh tahun bukanlah satu waktu yang pendek tetapi entah bagaimana dengan
kepandaian silat yang aku miliki pada saat ini?"
"Kau sejak kecil berlatih ilmu silat pikiran tidak dikacaukan dengan berbagai urusan,
gemblengan dan susah payah selama tiga tahun ditambah lagi setiap tahun menutup diri
tiga kali kecuali kekurangan pengalaman sewaktu menghadapi musuh tangguh
kedahsyatanmu sudah jauh berada di atas Jie suhengmu itu!"
Agaknya secara tiba-tiba pemuda berbaju biru itu sudah teringat akan sesuatu urusan
yang penting. Alisnya dikerutkan rapat-rapat.
"Toa suheng! Siauw te ada beberapa perkataan yang selama ini selalu tersembunyi di
dalam hati belum pernah dinyatakn pada ciangbun suheng. Entah bolehkah siauw te
menanyakan?" "Asalkan aku mengetahui tentu akan aku jawab sekuruh pertanyaanmu itu," jawab Bu
Wie Tootiang sambil tertawa.
"Sejak kematian suhu hingga saat ini sudah ada berapa tahun lamanya?"
"Delapan belas tahun!"
"Jumlah total aku Cuma belajar ilmu silat selama dua puluh tahun lamanya sedang suhu
sudah mati selama delapan belas tahun waktu itu walaupun aku masih seorang bocah
yang berumur lima enam tahun tetapi perbuatan suhu yang memberi pelajaran ilmu silat
kepadaku seharusnya masih ada sebagian besar teringat di dalam benakku. Tetapi kenapa
sekarang aku tidak mengingatnya semua" Menurut rasa-rasaku Toa suhenglah yang selalu
memberi pelajaran kepadaku."
Mendengar perkataan itu Bu Wie Tootiang lantas tertawa.
"Aku tidak lebih Cuma mewakili suhu untuk memberi pelajaran ilmu silat kepadamu,
waktu itu suhu lagi sakit dan tidak bisa bangun sehingga tidak mungkin bagi beliau untuk
turunkan sendiri kepandaian silatnya kepadamu."
"Justru yang membuat aku jadi keheranan adalah persoalan ini, kalau memangnya Toa
suheng yang memberi pelajaran ilmu silat kepadaku bagaimana aku bisa angkat suhu
sebagai guru?" Haruslah diketahui dengan usianya pada saat ini sekalipun menjadi anak murid dari Bu
Wie Tootiang juga tidak terhitung besar, karena anak murid dari Toosu tua ini kebanyakan
sudah berusia tiga puluh tahunan. Jadi bilamana dibandingkan dengan usianya masih ada
terpaut puluhan tahun. Bu Wie Tootiang kembali tertawa tawar.
"Peratuaran di dalam Bulim paling mengutamakan soal tingkatan, kau adalah suhu yang
menyanggupi untuk terima sebagai murid Bu-tong-pay. Sekalipun dikemudian hari akulah
yang memberi pelajaran ilmu silat kepadamu tetapi akupun tidak dapat memandang
rendah soal tingkatanmu."
Agaknya pemuda berbaju biru itu masih tidak demikian mengerti soal perkataan itu,
baru saja dia bermaksud untuk berbicara mendadak maksud itu dibatalkan kembali. Sambil
dongakkan kepalanya dia menghela napas panjang.
"Toa suheng!" ujarnya. "Kalau memangnya aku orang tak berpengalaman di dalam
menghadapi musuh, kalau begitu akupun harus berlatih terus menerus?"
"Soal itu sudah tentu."
Semangat pemuda tersebut jadi timbul kembali. "Siauwte yang sudah ada dua puluh
tahun lamanya belum pernah berkelahi dengan orang lain, ini hari saja aku keluar dengan
pengasingan dan di dalam kuil Sam Yuan Koan tadi ada urusan, inilah satu kesempatan
yang sangat baik buat diriku. Entah maukah ciangbunjien suheng memberi ijin kepada
Siauwte untuk menggunakan kepandaian silat dari musuh."
"Bagus kalau begitu kau harus bertanggung jawab untuk melindungi ruanganku ini,"
sahut Bu Wie Tootiang sambil tertawa.
Agaknya pemuda berbaju biru rada tidak mau. "Tapi suheng, ruangan ini adalah tempat
terlarang. Orang lain tidak mungkin akan menyerbu kemari."
"Bilamana dugaanku tak salah maka kecuali ruangan ini tidak ada tempat yang lebih
penting lagi. Justru bagian para jago naik ke gunung Bu tong san adalah bertujuan pada
ruangan ini." "Kalau demikian adanya hal ini amat bagus sekali!" teriak pemuda berbaju biru ini
kegirangan. "Biarlah aku pergi dulu ke dalam gua di belakang gunung untuk mengambil
sedikit barang setelah itu baru kemari lagi."
Tidak menanti jawaban dari Bu Wie Tootiang lagi dia lantas putar tubuh dan meloncat
pergi sejauh dua tiga kali kemudian hanya di dalam sekejap saja ia sudah lenyap ditelan
gerumbulan bunga. Gerakannya amat cepat laksana kilat yang menyambar.
Bu Wie Tootiang segera menghembuskan napas panjang. Dia membimbing tubuh
Siauw Ling untuk bersandar pada dinding sedang dirinya bangkit berdiri dan jalan bolak
balik di dalam ruangan tersebut.
Hanya dalam beberapa saat saja dari atas batok kepalanya sudah mulai mengepul asap
putih yang makin lama semakin menebal, jelas dengan menggunakan gerakan jalan
pulang pergi itu dia lagi menyalurkan hawa murninya.
Mendadak ia menghentikan tubuhnya dan angkat jarinya menotok keatas tubuh Siauw
Ling yang menggeletak di atas pembaringan. Segulung asap putih yang tawar dengan
mengikuti arah yang dituding menyambar ke depan menghajar jalan darah "Tiong Khiek
Hiat" diurat nadinya.
Tubuh Siauw Ling yang bersandar pada dinding segera gemetar dengan amat keras,
agaknya ada segulung tenaga pukulan yang keras tepat bersarang ke dalam tubuhnya lalu
mengikuti aliran darah dibadannya berputar mengelilingi seluruh tubuh.
Dengan kejadian itulah tubuhnya jadi gemetar dan bergoyang tiada hentinya Cuma saja
tempat kedudukan masih tetap pada keadaan semula.
Setelah Bu Wie Tootiang melancarkan totokan tersebut, uap putih yang mengepul dari
atas batok kepalanya mulai membuyar. Air mukanya kelihatan amat lelah dan murung,
dengan perlahan ia berjalan mendekati pembaringan, membaringkan tubuh Siauw Ling
lalu dia sendiri duduk bersila untuk mengatur pernapasan.
Kurang lebih satu jam kemudian rasa kesal dan kecapaian yang meliputi Bu Wie
Tootiang mulai kelihatan luntur.
Saat ini cuaca sudah mulai menggelap, sewaktu Bu Wie Tootiang membuka matanya
kembali tampaklah di depan pintu ruangan sudah berdiri berjajar dua orang.
Mereka adalah Im Yang Cu serta pemuda berbaju biru.
Im Yang Cu segera maju ke depan menjura ujarnya, "Anak murid angkatan kedua dan
ketiga dari kuil sudah digerakkan semua. Setiap tempat yang penting sudah dipasangi
barisan pedang Ngo Heng Kiam Tio untuk menghalangi serbuan musuh. Apakah suheng
bermaksud untuk memeriksanya sendiri?"
"Tidak perlu," kata Bu Wie Tootiang sambil tertawa tawar.
"Coba kau sampaikan lagi perintahku, sebelum menerima perintah suara genta emas
tetap anak murid yang berjaga-jaga dilarang meninggalkan tempat tugasnya untuk
mengejar musuh. Mereka cukup berjaga ditempatnya masing-masing untuk menahan
serangan dari pihak musuh."
"Jadi maksud ciangbun suheng, bilamana ada musuh yang berhasil meloloskan diri dari
penjagaan biarkan mereka masuk kedalam?" seru Im Yang Cu sambil mengerutkan alisnya
rapat-rapat. Dengan perlahan Bu Wie Tootiang lantas mengengguk.
"Kebanyakan orang-orang yang datang bakal menyerbu gunung pada malam ini adalah
jago-jago dari seluruh dunia kangouw. Walau sejak aku menerima jabatan sebagai
ciangbunjien pernah memerintahkan setiap anak murid untuk tidak mengikat permusuhan
dengan orang lain. Tapi nama besar serta kewibawaan dari Bu-tong-pay yang sudah
dipupuk sejak ratusan tahun yang lalu harus tetap dijaga. Aku rasa jikalau bukannya
orang-orang tidak tahu diri tidak bakal mereka mencari gara-gara buat dirinya sendiri."
"Orang-orang itu kebanyakan adalah jago-jago kenamaan dari Bulim dan macamnyapun
amat banyak terdiri dari pelbagai partai maupun aliran sedangkan anak murid dari kuil
Sam Yuan Koan kebanyakan tak berpengalaman dalam pertempuran daripada keadaan
nanti jadi kacau lebih baik kau orang pilihkan lima belas orang jagoan yang berkepandaian
tinggi untuk membentuk jadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok membentuk
barisan Ngo Heng Tin khusus menghadapi musuh-musuh tangguh."
"Uraian dari suheng memang benar. Biarlah siauwte segera pergi melaksanakannya,"
jawab Im Yang Cu kemudian. Dia lantas silangkan telapak tangannya di depan dada untuk
memberi hormat dan mengundurkan diri dari sana.
Sedang pemuda berbaju biru itu masih tetap memakai jubahnya yang berwarna biru. Di
tangan kanannya sudah mencekal sebilah pedang pada tangan kirinya mencekal sebuah
sabuk yang pada ujungnya terdapat tujuh buah sarung yang masing-masing tersoren
sebilah pedang pendek sepanjang delapan koma dua coen.
Bu Wie Tootiang memandang sekejap keatas sabuk yang tersorenkan tujuh bilah
pedang pendek itu. Air mukanya berubah jadi amat keren dan serius sekali.
"Sute! Tahukah kau orang pedang pendek yang ada di dalam sarung tersebut dari apa?"
"Aku tahu, pedang itu terbuat dari besi baja yang sudah berusia ribuan tahun."
"Kalau kau sudah tahu itulah teramat bagus, pedang itu amat tajam sekali bahkan
emaspun bisa ditembusi dengan mudah ditambahi lagi pada setiap ujung pedang itu
terdapat dua buah ujung yang amat runcing khusus digunakan untuk memecahkan hawa
khie kang tidak perduli bagaimana tingginya kepandaian silat dari orang itu mereka tidak
bakal bisa bertahan terhadap serangan tersebut. Benda ini sangat dahsyat sekali, lebih
baik kau jangan menggunakannya sembarangan."
"Siauwte akan mengingat-ingatnya selalu," sahut pemuda berbaju biru itu
mengangguk. Bu Wie Tootiang segera tersenyum.
"Apakah kau mengetahui juga nama ketujuh bilah pedang pendek tersebut?" tanyanya.
"Menurut ingatan siauwte agaknya pedang ini bernama Chiet Siu Kiam!"
"Lalu tahukah kau kenapa pedang tersebut dinamakan Chiet Siu?" Tanya Bu Wie
Tootiang lagi dengan wajah serius.
Kiranya pemuda berbaju biru bukan saja dengan rajinnya belajar ilmu silat bahkan
terhadap ilmu sastrapun memahami dengan amat pasih.
Tampak dia termenung berpikir sebentar, lalu ujarnya, "Jika ditinjau dari perkataan
Chiet Siu dua kata ini agaknya mengandung tujuh buah arti yang berlainan. Agaknya baik
tujuh rasa cinta maupun enam nafsu bilamana bertemu dengan pedang ini pasti akan jadi
lenyap dengan sendirinya, entah penjelasan dari siauwte benar atau tidak?"
"Kau Cuma berhasil menerangkan separuh saja, pedang ini dinamakan Chiet Siu kecuali
mengartikan kekejaman dari pedang tersebut. Bahkan mempunyai arti untuk
memperingatkan setiap orang."
"Sewaktu suhu menjelang kematiannya dia pernah memberi pesanan agar pedang
Chiet Siu Kiam ini diserahkan buat sute untuk menggunakannya. Aku rasa tentunya dia
orang tua ada maksud tertentu. Pesan terakhir suhu bagaimana aku berani melanggar.
Tapi benda itu amat ganas, harap sute suka menggunakannya dengan sangat berhatihati?"
"Siauwte akan selalu mengingat perkataan dari suheng" sahut pemuda berbaju biru itu
dengan sangat hormat. "Bilamana bukannya bertemu dengan orang yang benar-benar
ganas dan kejam, siauwte pasti tidak akan menggunakan pedang ini."
Mendengar perkataan itu Bu Wie Tootiang lantas mengangguk.
"Bilamana kau bisa demikian mencintai barang peninggalan suhu, aku sudah tentu bisa
berlega hati?" katanya.
Mendadak dia mengulapkan tangannya mengundurkan dia orang dan katanya lagi, "Kau
bantulah aku untuk menjaga keselamatan diriku?"
Sehabis berkata kembali dia berjalan kembali mengitari seluruh ruangan. Beberapa saat
kemudian dari atas kepala toosu tua itu mulai mengepul uap putih yang semakin lama
semakin menebal. Setelah berjalan bolak balik beberapa kali akhirnya dia menghentikan langkahnya lalu
mengayunkan jari tangannya ke depan.
Segulung asap putih dengan mengikuti gerakan tersebut menghajar tubuh Siauw Ling.
Serangannya kali ini ternyata sudah menghajar jalan darah Sia Khek Hiat di bawah
jalan darah semula. Haruslah diketahui dua urat nadi penting di dalam tubuh manusia adalah Im hiat dan
Yang hiat yang saling bersambungan dengan jalan darah Tiong Khek, Cing Kwan Yuan Sik
Bun, Khie Hay, Im Ci, Sin Kwan, Swie Hun, Shia Wan, Ci Kong, Hoa Kay dua puluh empat
jalan darah.

Rahasia Kunci Wasiat Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sedang bagian atas tubuh manusia menghubungkan jalan darah pusat dengan jalan
darah Shia Khek Cing Ming Bun, Uang Kwan, Lek Coe, Cian Tiong, Tiong An, Kauw Cuang
dua puluh jalan darah. Terlihatlah seluruh tubuh Siauw Ling kembali terjadi pergolakan yang ringan, sedang
uap putih yang berkumpul di atas kepala Bu Wie Tootiang pun secara mendadak lenyap
tak berbekas. Kali ini jelas kelihatan dia jauh lebih lelah, di atas batok kepalanya sudah dipenuhi
dengan keringat sebesar butiran kedelai.
Melihat akan keadaan dari suhengnya pemuda berbaju biru itu segera mengerutkan
alisnya. "Bocah jangan bergerak dulu, biarlah pinto bantu kau untuk paksa keluar racun yang
bersarang di dalam tubuhmu. Bilamana kau merasa tubuhmu tak enak cepatlah
beritahukan kepada pinto."
Secara samar-samar Siauw Ling masih teringat akan bau amis yang amat keras
sewaktu ada diruangan pendopo dan setelah itu dia jatuh tak sadarkan diri dan apapun
tidak mengetahui. Kini mendengar pertanyaan dari Bu Wie Tootiang dia lantas menyahut, "Aku merasa
didadaku amat sumpek dan sesak untuk bernapas, rasanya ingin muntah!"
"Kalau begitu sangat bagus sekali. Bilamana kau ingin muntah maka biarkanlah muntah
keluar, jangan sekali0kali ditahan!"
Diam-diam lantas menyalurkan hawa murninya keatas telapak tangan lalu dengan
melalui jalan darah Sian Khie Hiai dia salurkan hawa murninya ke dalam tubuh dan
menerjang keseluruh urat nadi.
"Semoga saja pinto berhasil gunakan kekuatan dari tenaga kweekang ini untuk sekalian
menerjang bobol ketiga buah jalan darah kematianmu," katanya perlahan.
Siauw Ling tidak mengerti apa yang dimaksud sebagai tiga jalan kematian tersebut itu
tetapi pemuda berbaju biru itu segera melirik sekejap ke arah Bu Wie Tootiang yang lagi
bersemedi di atas pembaringan lalu bisiknya dengan suara yang amat lirih, "Bilamana ada
bahaya cepat beritahu kepadaku."
Kedua orang toosu cilik itu segera menyahut dan mengundurkan diri dari ruangan.
Api tungku di dalam ruangan berkobar-kobar memancarkan cahaya kehijau-hijauan
yang amat menyeramkan. Walaupun pemuda berbaju biru itu berusaha untuk menggunakan kesempatan sebelum
terjadinya angin taupan serta hujan badai untuk memikirkan cara-cara sewaktu
menghadapi musuh tetapi hatinya tidak berhasil juga untuk menjadi tenang.
Di tengah suasana pikiran kacau tidak terasa lagi waktupun menunjukkan kentongan
kedua tengah malam. Mendadak di tengah kesunyian malam itulah terdengarlah suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Dalam hati pemuda berbaju biru itu segera mengetahui kalau kuil Sam Yuan Koan
sudah kedatangan musuh tangguh.
Dengan cepat dia meloncat bangun mengikat pedang Chiet Siu Kiam itu baik-baik dan
sambil menenteng pedang berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Di tengah tiupan angin malam yang menderu-deru serta goyangan pohon serta
dedaunan secara samar-samar di tengah kegelapan tampaklah berkelebatnya sinar pedang
yang menyilaukan mata. Terdengar suara genta kembali berbunyi bertalu-talu sebanyak tujuh kali, inilah tanda
dari kuil Sam Yuan Koan yang mengerti keadaan sangat genting dan pihak musuh sudah
menerjang masuk ke dalam kuil Sam Yuan Koan.
Siauw Ling sibocah cilik yang lagi berbaring di atas pembaringan setelah memperoleh
bantuan tenaga murninya dari Bu Wie Tootiang untuk menerjang Jie serta Tok. Dua buah
urat nadinya saat ini aliran darah ditumbuhi sudah lancar kembali sedang jalan darah yang
tertotokpun telah terbebas.
Mendadak dia pentangkan matanya lebar-lebar lalu meronta untuk bangun duduk.
Melihat gerak-gerik dari sang bocah, Bu Wie Tootiang dengan cepat mengulur tangan
kirinya menekan jalan darah Sian Khie di atas tubuh Siauw Ling rapat-rapat, mendadak ia
maju satu langkah ke depan dan menempelkan telapak tangannya keatas punggung dari
Bu Wie Tootiang. "Mari, biarlah siauwte bantu suheng!"
"Tidak perlu bantu diriku lagi!" cegah Bu Wie Tootiang dengan suaranya yang rendah
dan berat. "Malam ini kau masih harus bersiap sedia untuk menghadapi musuh tangguh."
Dengan perlahan pemuda berbaju biru itu menghela napas panjang lalu menarik
telapak tangannya yang menempel di atas punggung Bu Wie Tootiang itu.
Sedang Bu Wie Tootiang dengan perlahan berjalan kesamping pembaringan lalu duduk
bersemedi dan pejamkan matanya rapat-rapat.
Sang pemuda berbaju biru yang pertama kalinya hendak bertemu dengan musuh
tangguh dalam hati rada merasa tegang juga, tangannya dengan cepat digape ke depan
ruangan. Dua orang toosu cilik dengan cepat berlari mendatang.
"susiok ada perintah apa?" tanya mereka berbareng sambil luruskan tangannya ke
bawah. Siauw Ling merasakan di dalam tubuhnya ada dua tempat yang terasa sakit dan linu
seperti ada jalan darah yang mengumpul jadi satu sehingga sukar untuk ditembusi.
Penyakit itu sejak dia mengerti akan urusan sudah begitu bahkan sakit tersebut
selamanya belum pernah dipikirkan dihati.
Tetapi sejak memperoleh cara untuk mengatur pernapasan dari Gak Im Kauw agaknya
urusan semakin memberat. Setiap kali dia mengadakan semedi satu kali maka tempat
yang amat sakit itu pasti kembuh kembali selama seperminum teh lamanya.
Tetapi aliran hawa panas menerjang keluar dari telapak tangan Bu Wie Tootiang
bukannya semakin lemah bahkan semakin mengeras menembusi seluruh jalan darahnya
dan mengasahi keempat buah anggota badannya.
Sebentar kemudian ia sudah merasa adanya satu hawa yang bertentangan yang
mengalir keluar menahan datangnya aliran hawa panas menerjang masuk ke dalam
tubuhnya itu. Bu Wie Tootiang jadi melengak.
"Bocah, apakah kau pernah belajar ilmu silat?"
"Tidak! Heee, sebenarnya bibi Im hendak wariskan aku ilmu silat tidak disangka dia
sudah menemui ajalnya."
Baru bicara sampai disitu agaknya merasa dirinya sudah ketelanjur berbicara dengan
terburu-buru lantas menutupi mulutnya kembali.
Dengan perlahan-lahan Bu Wie Tootiang menarik telapak tangan kanannya dari jalan
darah Sian Khie Hiat paha tubuh Siauw Ling.
"Bocah sekarang apakah kau ingin muntah?" tanyanya dengan penuh perhatian.
"Tidak, aku Cuma merasa bau amis yang memualkan di dalam dada kini sudah lenyap
dengan sendirinya." "Heeeei" bocah! Ketiga buah urat nadi kematianmu sudah hampir membeku, bilamana
seluruhnya jadi keras maka sekalipun ada jin berumur seribu tahun tiada gunanya lagi
untuk menyuembuhkan lukamu itu?"
Dengan menggunakan tangan kanan menekan pinggiran pembaringan Siauw Ling
segera bangun duduk. "Aku sejak kecil sudah memperoleh nasehat dari Tia," katanya dengan cepat.
"Sekalipun aku sukar untuk hidup lebih lama lagi tetapi walaupun seratus tahun lagi
manusiapun akan mati, mati sekarang atau mati kemudian sebenarnya bukan satu soal
yang penting." Bu Wie Tootiangjadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau bocah yang baru
berusia sangat muda ini ternyata sudah dapat memandang kematian bagai pulang saja,
tak kuasa lagi dia lantas mengangguk.
"Tetapi ketiga buah jalan darah kematian itu belum sampai membeku benar-benar,"
ujarnya sambil tertawa. "Sudah tentu untuk menolongnya masih ada cara, tapi bilamana
harus menggunakan tenaga dalam dari pinto saja hal ini membutuhkan waktu yang amat
lama setelah melewati hujan badai malam ini biarlah pinto gunakan tusukan jarum saja
untuk menyembuhkan lukamu itu, coba kita lihat, apakah berhasil atau tidak. Baru saja
dengan menggunakan tenaga dalam aku sudah mendesak racun itu untuk berkumpul jadi
satu dala dua belas jam ini tak bakal dapat terjadi perubahan apapun."
"Malam ini akan terjadi hujan badai?" tanya Siauw Ling keheranan.
"Oouw" ada banyak jagoan Bulim yang datang kemari untuk memperebutkan dirimu!"
"Apakah orang-orang yang kita temui tadi siang" Hmm! Aku tahu, mereka bukannya
lagi memperebutkan aku. Mereka Cuma ingin menggunakan diriku untuk paksa supaya tak
menyerahkan anak kunci Cing Kong Ci Yau tersebut."
Bu Wie Tootiang lantas tertawa tawar.
"Pinto sudah sanggupi untuk melindungi dirimu sekalipun ada jagoan yang bagaimana
lihaynya pun pada berkumpul digunung Bu tong san ini pinto juga bakal melanggar janji."
Dia berhenti sebentar, lalu tambahnya, "Bocah apakah Gak Im Kauw benar-benar
sudah mati!" "Ehmm! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia memang benar-benar sudah
mati!" "Kau bilang dia binasa karena terluka tahukah kau dia orang terluka di tangan siapa?"
"Soal ini aku tidak tahu," jawab Siauw Ling sambil gelengkan kepalanya.
Baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengarlah suara tertawa panjang yang
menusuk telinga bergema datang.
Suara tertawa ini agaknya berasal dari tempat kejauhan tetapi amat menusuk telinga
membuat Siauw Ling yang mendengar suara tersebut tidak terasa lagi sudah bergidik.
"Bocah, kau harus ingat, baik-baiklah berada di tempat ini. Sebelum memperoleh ijin
dari pinto janganlah meninggalkan ruangan itu sembarangan!" kata Bu Wie Tootiang
dengan suara perlahan. Dengan mata kepala sendiri Siauw Ling sudah melihat bagaimana dahsyat dan serunya
pertempuran, di bawah berkelebatnya bayangan goloj mati hidup setiap saat bisa
ditentukan, dan dalam sekejap mata itu pula seseorang yang tidak mengerti ilmu silat ikut
campur bukan saja tidak membantu sebaliknya hanya akan menyeret orang lain saja.
Karenanya dia lantas mengangguk.
"Boanpwee pasti akan mengingat-ingatnya terus!"
Ketika mendongakkan kepalanya terlihatlah seorang pemuda berbaju biru dengan
mencekal pedang berjalan masuk dengan langkah lebar. Air mukanya amat keren dan
serius. Begitu masuk ke dalam ruangan pemuda itu lantas menjura kepada Bu Wie Tootiang.
"Suheng apakah mendengar suara tertawa panjang tadi?"
"Ehmm, kepandaian silat orang itu sangat tinggi."
Mendadak kembali terdengar suara bentakan orang amat keras berkumandang datang.
Pemuda berbaju biru itu dengan cepat putar tubuhnyalaksana menggulungnya asap dia
sudah meloncat keluar dari ruangan tersebut.
Walaupun bocah ini tak berkepandaian silat serta badannya lemah tetapi nyalinya
benar-benar sangat mengagumkan, ia tidak takut menghadapi kematian.
Tampaklah dua orang menoleh ke arah Bu Wie Tootiang kemudian ujarnya, "Aku ingin
menonton orang lagi berkelahi boleh bukan?"
"Pertempuran hanya mendatangkan bahaya apa yang baik untuk dilihat?" seru Bu Wie
Tootiang sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.
"Aku bisa bersembunyi dibalik pintu, aku tak akan meninggalkan ruangan barang
selangkahpun." "Siapa?" tiba-tiba terdengar suara bentakan yang amat keras memecahkan keheningan
yang mencekam dimalam buta. "Kurang ajar siapa yang menyerbu kuil Sam Yuan Koan"
Bilamana sungguh-sungguh bernyali ayo cepat unjukkan diri, buat apa main sembunyi
seperti anak kura-kura?"
"Heee, heee, Cuma mengandalkan usiamu yang masih begitu muda berani juga
menanyakan nama loohu?" sahut seseorang.
Siauw Ling memandang sekejap ke arah Bu Wie Tootiang, sewaktu dilihatnya dia orang
tidak turun tangan mencegah dengan tebalkan nyali dia meloncat turun dari atas
pembaringan dan melongok keluar.
Di tengah malam buta terlihatlah dua orang Toosu cilik itu sambil mencekal pedangnya
erat-erat berdiri sejajar menghalangi seorang lelaki berbaju hitam yang berperawakan
tinggi besar. Orang itu menggunakan secarik kain hitam membungkus wajahnya sehingga hanya
tampaklah sepasang matanya yang memancarkan sinar berkilauan.
Saat ini orang lagi berbicara dengan orang berbaju hitam itu bukan lain adalah
sipemuda berbaju biru. Agaknya pemuda berbaju biru itu sudah dibuat gusar oleh perkataan orang itu,
terdengar dia tertawa dingin tiada hentinya.
"Saudara bisa menghentikan penghalang-penghalang di depan boleh dikata
kepandaianmu tidak lemah, cayhe ingin minta beberapa petunjuk dari dirimu."
Tangan kanannya dengan cepat berkelebat mencabut keluar pedang pusaka yang ada
disarungnya. "Heeei" kau masih tidak memadai untuk berbicara dengan loohu, lebih baik suruh Bu
Wie Tootiang saja untuk keluar menemui diriku," ujar orang berbaju hitam itu tetap
dengan suaranya yang amat dingin kaku.
"Kalian cepat menyingkir!" bentak pemuda berbaju biru itu dengan amat gusar.
Pedangnya dengan cepat ditebaskan ke depan membentuk dua kuntum bunga pedang.
"Bilamana saudara bisa menangkan pedangku nantipun belum terlambat untuk bertemu
muka dengan suhengku!"
Selama ini Bu Wie Tootiang duduk bersila terus menerus tanpa mengucapkan sepatah
katapun, terhadap kegaduhan serta ketegangan yang terjadi di tempat luaran sama sekali
tidak mangambil gubris. "Apa" Kau adalah sute dari Bu Wie Tootiang. Kenapa loohu belum mendengar kalau
Cing Jan sitoosu tua itu mempunyai ahli waris macam kau?"
Cing Jan Tootiang adalah suhu dari Bu Wie Tootiang dan merupakan ciangbunjien dari
angkatan yang terdahulu, perkataan dari orang ini sangat tidak sopan dan tidak
menghormat suhunya, membuat sipemuda berbaju biru itu semakin gusar sekali.
"Kau berani menghina suhuku?" teriaknya.
?"?"?"?"http://ecersildejavu.wordpress.com/?"?"?"?""
Di tengah suara suitan yang amat keras pedangnya dengan amat dahsyat melancarkan
tusukan kedep. Di tengah kegelapan malam terlihatlah sinar keperak-perakan menembusi angakas
membentuk bunga-gunga pedang yang amat banyak.
"Jurus Thian Li San Hoa yang amat bagus" puji orang yang berbaju hitam itu.
Ujung bajunya segera dikebutkan ke depan menimbulkan segulung angin pukulan yang
amat dahsyat menghalangi datangnya serangan dari pedang tersebut. Diikuti tanyanya,
"Hei bocah cilik, siapakah namamu?"
"Can Jap Cing! Terimalah kembali seranganku," ujar pemuda tersebut.
Sembari berbicara pedang ditangannya berturut-turut berkelebat ke depan melancarkan
delapan serangan sekaligus. Terlihatlah sinar yang menyilaukan mata segera memenuhi
angkasa. Ujung jubah orang berbaju hitam itu kembali berkelebat dan menotok tiada hentinya
delapan buah serangan yang dilancarkan dengan amat dahsyat itu seketika itu juga
terhadang kembali. Can Yap Cing yang untuk pertama kalinya menghadapi musuh sudah menemui lawan
yang demikian tangguhnya dalam hati merasa terkejut bercampur gusar dengan
menggunakan seluruh tenaganya dia kembali melancarkan serangan gencar.
Mendadak orang berbaju hitam itu meloncat mundur lima langkah ke belakang.
"Tenaga dalam, kelincahan semuanya tak berada di bawah Jie suhengmu Cuma sayang
pengalaman di dalam menghadapi musuh masih terlalu cetek," ujarnya.
Perkataannya amat halus dan sedikitpun tidak membawa nada permusuhan.
Pada saat itulah terdengar suara dari Bu Wie Tootiang sudah berkumandang keluar.
"Sute jangan berlaku kurang ajar lagi terhadap Tiam Thay hiap. Cepat tarik kembali
pedangmu." Sembari berkata dia sudah berjalan keluar dari ruangan untuk menyambut kedatangan
orang itu. Dengan tangan kanannya dirangkap ke depan dada Bu Wie Tootiang tersenyum.
"Angin apa yang sudah meniup saudara datang kemari" Kita sudah ada puluhan tahun
tidak bertemu muka bukan?" katanya.
"Bagus" bagus sekali!" seru orang berbaju hitam itu pula sambil menuding ke arah Bu
Wie Tootiang. "Kau ternyata masih enak-enakan saja, musuh tangguh sudah di depan
mata kau masih enak-enakan duduk di dalam ruangan saja."
"Haaa, haaa, pinto sudah tahu kalau Tiam heng pasti akan datang maka urusan tidak
bakal jadi kacau lagi."
"Hmmm. Kau tidak usah melolohi aku dengan kuah pemabok, aki Tiam Loo jie
selamanya tidak suka dengan kuah tersebut." seru orang berbaju hitam itu sambil
mendengus dingin. Sembari berkata dengan langkah lebar dia berjalan masuk ke dalam ruangan.
Can Jap Cing yang melihat sikap sombong dari orang itu lantas mengerutkan keningnya
rapat-rapat, pikirnya, "Orang itu amat jumawa sekali. Terhadap ciangbun suhengpun
bertindak begitu kurang ajar. Hmm! Ada satu hari aku harus kasih hajaran kepadanya."
Haruslah diketahui kedudukan seorang ciangbunjien partai Bu tong adalah sangat tinggi
sekali dan dihormati oleh setiap jago yang ada di dalam dunia kangouw.
Walaupun Bu Wie Tootiang jadi orang amat ramah dan sabar tetapi setiap anak murid
partai Bu-tong-pay memandangnya sebagai dewa yang dipuja-puja.
Kini sikap orang berbaju hitam itu ternyata tidak memandang kesopanan dan sama
sekali tidak menaruh hormat kepada Bu Wie Tootiang, melihat hal ini walaupun dalam hati
Can Jap Cing merasa tidak puas tetapi mulutnya dia mengikuti dari belakang tubuh Bu Wie
Tootiang untuk berjalan masuk ke dalam ruangan.
Orang yang berbaju hitam tersebut tidaj menanti Bu Wie Tootiang mempersilahkan dia
untuk mengambil tempat duduk, pantatnya sudah dijatuhkan keatas sebuah kursi.
"Aku Tiam Loo jie sewaktu melakukan perjalanan lewat daerah Ang si dengan mata
kepala sendiri sudah melihat banyak orang Bulim yang berduyun-duyun mendatangi
gunung Bu tong san," katanya. "Waktu itu aku tidak tahu sudah terjadi peristiwa apa di


Rahasia Kunci Wasiat Karya Khu Lung di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tempat ini. Karenanya dengan tergesa-gesa aku lantas berangkat kemari. Tetapi tidak
kusangka maksud hatiku kali inipun bakal mendapatkan hasil yang sia-sia belaka."
Bu Wie Tootiang tersenyum.
"Sepuluh tahun tidak bertemu sifat dari Tiam heng masih saja berangasan, sedikitpun
tidak berubah" katanya.
"Haaa, haaa, selamanya aku tidak berubah."
Dia berhenti sejenak untuk kemudian sambungnya lagi, "Hei, loosu tua hidung kerbau,
kau jangan terlalu memandang enteng urusan, bilamana manusia yang datang hanya
kucing kecil atau anjing kecil yang tidak berguna aku Tiam Loo Jien tidak bakal melakukan
perjalanan cepat untuk memberitahukan urusan ini kepadamu, haruslah kau ketahui bukan
saja mereka adalah para jago Bulim yang berkepandaian tinggi bahkan diantaranya
terdapat pula beberapa orang iblis tua yang telah mengasingkan diri. Jika dibicarakan soal
nama serta kepandaian silatnya ada kemungkinan tidak berada di bawah kepandaian kau
si toosu tua hidung kerbau. Heee, heee, bilamana kau berani berlaku gegabah maka
urusan akan jadi runyam. Hmm, waktu itu walupun kau menyesal juga tak berguna."
"Ada kau, Tiam Thay hiap disini sudah tentu aku tidak perlu murung lagi," sambung Bu
Wie Tootiang dengan wajah masih diliputi oleh senyuman.
Dengan lemasnya orang berbaju hitam itu lantas menggelengkan kepalanya berulang
kali. "Hm, kau sihidung kerbau selamanya seperti Loo toa saja, sekalipun dunia mau ambruk
hatinya masih tenang-tenang saja."
Bu Wie Tootiang segera mengulapkan tangannya, segera terlihatlah dua orang toosu
cilik berlari masuk dengan membawa sebuah nampan berisikan teh harum.
Orang berbaju hitam lantas menarik lepas kain hitam yang membungkus mukanya, lalu
mengambil cawan air teh itu dan diteguknya sampai habis.
Dengan mengambil kesempatan itulah Siauw Ling alihkan pandangannya ke arah orang
itu. Terlihatlah olehnya wajah orang berbaju hitam itu penuh ditumbuhi cabang, matanya
besar bulat dengan wajah persegi, alisnya tebal hidungnya mancung kelihatannya sangat
angker dan berwibawa sekali.
Bilamana dibandingkan dengan perawakan tubuhnya jelas rada tidak sesuai.
Bu Wie Tootiang segera menoleh ke arah Can Jap Cing dan tertawa.
"Sute cepat kau datang memberi hormat, dialah Tiam Jie hiap dari Tiong Lam Jie Hiap
yang namanya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan!"
"Kepandaian silat dari Tiam heng benar-benar sangat luar biasa, siauwte merasa amat
kagum!" ujar Can Jap Cing kemudian sambil menjura.
"Tak usah banyak adat" cegah Tiam Loo jie sambil goyangkan tangannya berulang kali.
"Aku, Tiam Loo jie paling takut soal beginian, kalau suheng hidung kerbaumu ini
keadaannya persis seperti keadaan Loo toa kami, kalau bertemu muka, waaah" apapun
dibicarakan sehingga tiga hari tiga malam tak ada hentinya, dikarenakan sikap kecut
mereka yang sedikit keterlaluan, aku Tiam Loo jie sudah ada sepuluh tahun lamanya tidak
pernah menaiki gunung Bu tong san kalian?"
Dengan pandangan yang tajam dia memperlihatkan diri Can Yap Cing lalu sambungnya,
"Hey! Toosu tua" sejak kapan kau mempunyai seorang sute yang demikian mudanya"
Kenapa sedikitpun aku tidak tahu?"
Bu Wie Tootiang tersenyum.
"Menurut pesan terakhir dari suhu dia harus melihat lagi beberapa macam ilmu silat
sehingga selama itu selalu tinggal di belakang gunung dan jarang unjukkan muka bukan
saja kau yang tidak kenal bahkan anak murid Bu-tong-pay sendiri tak mengetahui mereka
masih mempunyai seorang Sam Susiok."
Cah Yap Cing yang mendengar perkataan dari Tiam Loo jie mulai pembukaan sampai
akhirnya pembicaraan selalu saja menyebut suhengnya dengan sebutan sihidung kerbau,
sitoosu tua hatinya merasa tidak senang, pikirnya, "Suhengku bagaimana adalah seorang
Pedang 3 Dimensi 10 Kesatria Baju Putih Pek In Sin Hiap Karya Chin Yung Petualang Asmara 10

Cari Blog Ini