Ceritasilat Novel Online

Hamukti Palapa 7

Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi Bagian 7


tak dikenali wajahnya karena tertutup topeng.
"Kamu, Maling Wiragati?" tanya nenek itu.
Nama maling Wirota Wiragati rupanya sangat terkenal sampai nenek
tua yang tinggal sendiri tanpa suami dan anak itu mengetahui sepak
Hamukti Palapa 329 terjangnya. Jika orang-orang kaya tak ingin didatangi Wirota Wiragati,
sebaliknya para penduduk miskin menganggap kedatangannya sebagai
sebuah anugerah. Poh Wangi barulah memahami setelah melihat betapa perempuan
itu berterima kasih sampai terbungkuk-bungkuk ketika Wirota Wiragati
memberinya sebuah gelang emas berharga mahal.
"Semoga bisa dimanfaatkan untuk menyambung umur, Nyai!"
ucapnya. "Terima kasih," balas perempuan tua itu dengan suara tersendat.
"Terima kasih, anak muda. Aku doakan semoga Hyang Widdi selalu
melindungimu." Doa macam itu menyebabkan Wirota Wiragati tertawa geli.
Bagaimana mungkin Hyang Widdi akan melindungi orang-orang yang
melakukan perbuatan jahat seperti dirinya" Bukankah maling adalah
perbuatan yang tak bisa dibenarkan meski hasilnya untuk dibagi-bagikan
ke orang-orang miskin yang membutuhkan"
Poh Wangi melihat demikian berterima kasihnya perempuan tua
itu, yang ditandai dengan pelukan erat dan tangisnya.
"Sudahlah, Nyai, masuklah lagi. Aku akan melanjutkan langkahku
ke rumah berikutnya."
Perempuan tua itu masuk ke dalam rumah dan bergegas menutup
pintu. Maling Wirota Wiragati tersenyum melihat Poh Wangi bingung.
Dengan isyarat tangannya, ia mengajak gadis itu kembali mengayunkan
langkah ke rumah berikutnya. Tanpa bisa mengendalikan perasaan lagi,
Poh Wangi meluap oleh pengalaman luar biasa itu.
"Kaulihat sendiri, bukan" Ada banyak orang yang hidupnya
menderita dan amat berterima kasih ketika menerima bantuan."
Poh Wangi tidak berbicara apa pun, tetapi isi dadanya menggemuruh
seiring dengan apa yang ia lihat dan rasakan.
Rumah berikutnya yang didatangi adalah rumah seorang nelayan tua
yang lagi-lagi hidup sendiri karena anak lelakinya telah berumah tangga
330 Gajah Mada dan hidup memisahkan diri dengan membuat rumah yang lebih bagus,
masih di pantai itu pula.
Ketukan di pintu tengah malam itu mengagetkannya.
"Siapa?" terdengar suara bertanya dari dalam rumah.
"Aku, Kiai," jawab Wiragati.
"Aku siapa?" "Namaku Wiragati, Kiai!"
"Maling itu?" ulangnya.
"Benar, Kiai." Sejenak setelah waktu yang dibutuhkan untuk turun dari
pembaringan, mencari bakiak,188 dan melangkah, pintu pun terbuka.
Meski sudah tua, orang itu punya pandangan mata yang awas.
Cahaya bulan membantunya memerhatikan dengan cukup jelas gadis
yang berada di depannya dan pemuda yang berdiri di sebelahnya.
"Jadi, kamu maling yang menggemparkan itu?" tanya orang itu.
"Ternyata benar apa kata orang, Maling Wiragati yang malang melintang
itu selalu menyembunyikan wajahnya di balik topeng!"
Di balik topengnya, Wirota Wiragati hanya tersenyum.
"Mana jatahku, ha?" tanya nelayan tua yang rambut brewoknya
telah memutih itu. Wirota Wiragati memberi isyarat kepada Poh Wangi untuk
menyerahkan seuntai kalung yang dipegangnya. Lelaki tua itu menimang
kalung di tangannya seolah bisa mengukur berapa berat dan berapa
nilainya. "Kamu tidak ingin menambah jatahku?" tanya lelaki tua itu. "Kalau
kautambah lagi seberat ini, aku akan terbebas dari kesulitan hidupku.
Untuk bantuan yang kauberikan, aku percaya Hyang Widdi tidak akan
menganggap budi baikmu ini tidak ada."
188 Bakiak, Jawa, sandal terbuat dari kayu
Hamukti Palapa 331 Wirota Wiragati ternyata tidak terpengaruh bujukan itu.
"Tidak!" jawabnya amat tegas. "Masih banyak orang yang memerlukan
bantuan." Pandangan mata kakek tua itu menampakkan sedikit rasa
kecewanya. "Boleh aku bertanya, rumah siapa yang kali ini kaudatangi?"
"Kenapa?" balas Wirota Wiragati.
"Tentu orang yang kaya sekali!"
"Benar, perolehanku malam ini memang banyak sekali. Rumah
yang kubobol milik seorang bangsawan yang memiliki emas perhiasan
yang banyak." Orang tua itu rupanya terkejut.
"Bangsawan?" "Ya!" "Bangsawan dari mana" Ma Panji Raung?"
Wirota Wiragati tertawa. "Kau gila, kaukuras harta orang itu?"
"Lebih dari sekadar kukuras Kiai, kaulihat gadis ini?"
Kakek tua itu memandang gadis di depannya lengkap dengan
penasarannya. "Siapa gadis ini?"
"Dia anak gadis Ma Panji Raung. Ia termasuk benda yang aku curi."
Kakek tua itu memandang dengan takjub, geleng-geleng kepala
yang dilakukan adalah dalam rangka sulit memahami.
"Apakah kamu merasa dicuri, Nduk Cah Ayu?" tanya orang itu
ditujukan kepada Poh Wangi.
Poh Wangi tidak menjawab, tetapi senyumnya tersipu malu. Lagilagi, membuat kakek tua itu menggeleng-geleng kepala.
332 Gajah Mada "Sebaiknya kamu kawini dia, anak muda! Jangan kamu perlakukan
seperti benda mati."
Pendapat kakek tua itu sangat mengena dengan isi hati Poh Wangi.
Gadis yang semula menunduk itu melirik pemuda gagah di sebelahnya
sambil berharap akan melihat laki-laki maling itu mengangguk. Namun,
Wirota Wiragati tak mengangguk, juga tidak menggeleng.
"Sudah, Kiai, aku akan melanjutkan langkahku. Silakan Kiai
beristirahat!" Seluruh rumah di sepanjang pantai itu didatangi tanpa ada satu
pun yang tertinggal. Hal itu memberikan pengalaman luar biasa bagi
Poh Wangi yang sontak tak lagi memandang buruk pada pekerjaan
yang digeluti pemuda yang benar-benar mencuri hatinya itu. Bagi para
korbannya, perbuatan maling itu memang menimbulkan kerugian,
dikutuk dan dicaci sumpah serapahi, tetapi tengoklah orang-orang yang
amat tertolong dengan bantuan yang diberikan itu, yang rata-rata mereka
adalah orang miskin. "Kakang tidak menyisakan sedikit pun untuk diri Kakang sendiri?"
tanya gadis itu ketika telah kembali berada di atas perahu.
Wirota Wiragati tidak menjawab. Bahwa semua harta curian itu
telah ia bagi habis tanpa sisa, sudah merupakan jawaban.
Perahu yang mereka naiki terus bergerak terbawa oleh dorongan
angin menuju arah barat, kembali ke wilayah Keta. Akan tetapi, bagai
diingatkan sesuatu, Wirota Wiragati tiba-tiba berbelok tajam ke kiri.
"Ada apa, Kakang?"
"Aku harus meladeni orang yang pernah menantangku," jawabnya.
"Orang menantang bagaimana?"
"Aku dulu pernah menguras hartanya, tetapi masih belum habis
benar. Pemilik rumah yang kudatangi itu kemudian mengumbar tantangan,
kalau berani, supaya aku datang lagi ke rumahnya. Tentu rumah itu telah
dijaga ketat, mungkin dikawal oleh orang-orang yang merasa amat tahu
bagaimana meredam sepak terjangku. Kita ke sana," ujarnya.
Hamukti Palapa 333 "Kakang akan melibatkan aku?" tanya Poh Wangi.
"Ya, kau harus ikut menikmati bagaimana degup jantung terjadi saat
kita harus menyelinap masuk ke rumah yang dijaga ketat."
Poh Wangi tak bisa menolak. Ia harus menuruti atau akan ketakutan
ditinggal sendiri di atas perahu.
Sebenarnyalah Kiai Wurih Wudara yang akan menjadi sasaran kali ini
adalah orang yang menyimpan dendam sundul langit kepada maling yang
pernah memasuki rumahnya beberapa bulan yang lalu. Sejak kejadian
itu, Kiai Wurih Wudara yang sejak masih muda menggeluti pekerjaan
sebagai pedagang kuda yang membawanya menjadi kaya raya, curiga
bahwa maling yang mengunjungi rumahnya itu tak hanya menguras
kekayaan yang dimilikinya. Akan tetapi, juga menjamah istrinya.
Kiai Wurih Wudara berpendapat, tubuh istrinya adalah miliknya.
Tak boleh ada lelaki lain yang menyentuhnya. Jangankan menyentuh,
bahkan melihat tubuhnya pun dianggapnya hal itu sama dengan telah
menodainya. Oleh karena harta kekayaan yang dicuri disembunyikan di
kamar tidurnya, tentu maling itu melihat banyak hal.
Gara-gara ulah maling itu kehidupan rumah tangganya yang semula
tenang berubah menjadi goyang. Hari demi hari Kiai Wurih Wudara
uring-uringan, menempatkan istrinya hanya bisa meratap.
Dendam itulah yang menyebabkan Kiai Wurih Wudara bertindak
kepalang tanggung. Dengan sisa harta yang masih dimilikinya, pedagang
kuda itu membayar sejumlah pengawal yang ditugasi menjaga rumahnya
sekaligus membayar orang-orang khusus yang memiliki kemampuan
khusus. Orang-orang itu umumnya juga maling yang mampu menggelar
kekuatan sirep. Setelah semua siap, jebakan tak mungkin bisa diterobos,
Kiai Wurih Wudara melepas tantangan yang selalu diucapkan di mana
pun ia berada, dengan harapan tantangan itu akan sampai ke kuping
maling yang telah ngilani dada nya.189
189 Ngilani dada, idiom Jawa, menyentuh harga diri. Arti harfiahnya mengukur lebar dada menggunakan jempol dan jari manis yang direntangkan.
334 Gajah Mada Tantangan untuk datang lagi kalau berani akhirnya sampai juga
ke telinga Wirota Wiragati. Kini, ketika lewat lagi di pesisir tempat
kediaman Kiai Wurih Wudara, tak ada salahnya disempatkan memenuhi
tantangan itu. Rumah Kiai Wurih Wudara masih di daerah pesisir dan cukup megah
meski tidak semegah rumah Ma Panji Raung. Akan tetapi, rumah itu tidak
berada di tepi pantai. Kiai Wurih Wudara membangun rumah barunya
di tepi jalan, berada agak ke atas bukit sehingga dari tempatnya berada
bisa menyaksikan laut luas dengan leluasa dari arah timur ke barat.
Dari balik bayangan pohon nangka yang kebetulan berbuah lebat,
Wirota Wiragati memerhatikan rumah yang akan menjadi sasarannya.
Dari pinggangnya, maling tampan berambut panjang itu mengeluarkan
seruling. "Kakang tidak mengenakan topeng lagi?" tanya Poh Wangi.
"Aku bukan maling penakut. Setiap membobol rumah orang,
aku tak mengenakan topeng. Hanya ketika mengunjungi rakyatku, aku
mengenakan topeng. Aku tidak ingin mereka mengetahui siapa aku
dan betapa tampan wajahku," Wirota Wiragati menjawab dilengkapi
senyum. Poh Wangi pun tersenyum, perhatiannya lalu tertuju pada seruling
yang berada di genggaman tangannya.
"Apakah Kakang punya kebiasaan, sebelum memasuki rumah orang
merasa perlu meniup seruling lebih dulu?" tanya Poh Wangi.
Wirota Wiragati juga mengeluarkan kapuk randu.
"Tutup telingamu dan jangan perhatikan suara serulingku," kata
Wirota Wiragati. Poh Wangi menerima kapas randu itu. Namun, belum menyumpalkan
ke telinga. "Kau akan terserang rasa kantuk kalau tidak menyumpal telingamu,
yang itu pun masih belum cukup, nanti kau akan tahu apa yang aku
maksud." Hamukti Palapa 335 Poh Wangi belum memahami, tetapi bergegas memasang kapuk
randu menutupi dua lubang telinganya. Bersamaan dengan itu, Wirota
Wiragati mulai bertindak, suara mengalun yang keluar dari serulingnya
berasal dari pemusatan pikiran berbahan baku yang diambil dari wilayah
bawah sadar. Maling itu amat menghayati apa yang dilakukan. Dengan
memejamkan mata, suara yang mengalun itu tak hanya menggetarkan
udara, tetapi bermuatan rangsangan yang akan menyebabkan siapa pun
yang mendengar tergoda ingin tidur.
Membutuhkan waktu cukup lama bagi Wirota Wiragati memusatkan
diri untuk menerobos ke wilayah bawah sadar, yang dari sana ia
membangunkan sebuah kemampuan yang tidak sembarang orang
mampu melakukan, menjadikan alunan seruling dengan nada yang indah
mendayu-dayu itu bermuatan rangsang kantuk yang akan menyebabkan
siapa pun yang menyimak ingin tidur.
Seekor burung hantu terbang melintas. Burung hantu itu sangat
tertarik pada apa yang didengar dan dilihatnya. Burung itu segera terbang
turun dan hinggap di sebuah dahan.
Dengan matanya yang lebar dan melotot serta julukan yang melekat
pada dirinya sebagai si betah melek, burung hantu itu memerhatikan apa
yang dilakukan pelantun suara yang indah itu, yang rupanya keluar dari
ruas bambu yang dipijit-pijit.
Poh Wangi yang berada dalam jarak amat dekat merasakan serangan
kantuk yang luar biasa itu. Namun, ia memiliki kesadaran atas apa yang
sedang dihadapi dan hal itulah yang justru menumbuhkan kesadaran
untuk tetap menguasai diri. Poh Wangi masih bisa bertahan, tetapi
bukannya tanpa batas. Barulah ketika Wirota Wiragati merasa telah
tuntas dan menyentuh tangannya, Poh Wangi tersadar. Seketika lenyap
pula rasa kantuknya. Wirota Wiragati dan Poh Wangi mendapati para pengawal rumah
yang didatangi bergelimpangan, tidak seorang pun yang masih tersadar.
Mereka ambruk di tempat terakhir mereka berada. Ada yang ambruk di
pelataran, ada yang tergeletak amat dekat dengan kandang kuda, beberapa
orang tidur di luar pagar dan di depan pintu.
336 Gajah Mada Wirota Wiragati membimbing Poh Wangi yang tidak mampu
menguasai degup jantungnya yang berlarian bagai dikejar maling. Di
samping rasa takut yang tak alang kepalang dirasakannya, Poh Wangi
juga sangat menikmati pengalaman luar biasa itu.
Tanpa rasa cemas secuil pun karena merasa telah menguasai keadaan,
Wirota Wiragati langsung menuju sebuah bilik tempat beberapa bulan
lalu maling itu menjarah harta dengan jumlah amat banyak. Namun,
tiba-tiba langkah kaki Wirota Wiragati terhenti. Rupanya Wiragati tak
menyangka, penyambutan yang dilakukan pemilik rumah benar-benar
akan merepotkannya. Udara yang semula tenang yang bisa digambarkan dengan garisgaris lurus itu mendadak mengombak bergelombang yang terjadi
akibat hadirnya sumber suara yang datang dengan tiba-tiba dan sangat
menyentak. Suara bende yang ditabuh amat keras dan mendadak
mengagetkannya, yang sekaligus menjadi isyarat bagi orang-orang yang
semula bergelimpangan di tempat masing-masing untuk berlompatan


Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan melakukan kepungan yang rapat.
"Kakang," bisik Poh Wangi dengan cemas.
Wirota Wiragati memerhatikan keadaan dan barulah ia merasa
cemas ketika hening malam pecah oleh suara bende yang ditabuh
sangat keras disusul oleh suara tawa yang turun berderai. Suara tawa
itu disusul oleh tawa yang lain, makin lama makin banyak orang yang
menyumbangkan tawanya. "Sial," desis Wirota Wiragati yang mulai dijalari rasa cemas.
"Bagaimana, Kakang?" tanya Poh Wangi.
Tambah sempurna kepanikan yang bakal dialami oleh Wirota
Wiragati karena tiba-tiba pintu dari mana semula ia masuk tertutup.
Jendela yang hanya satu-satunya diharapkan menjadi jalan melarikan
diri juga ditutup dari luar.
"Gila!" Wirota Wiragati meletup.
"Bagaimana, Kakang?" tanya Poh Wangi yang tak kalah gelisah.
Hamukti Palapa 337 Untuk pertanyaan itu, Wirota Wiragati merasa tak punya jawabnya.
Suara tawa yang terdengar dari luar masih berkelanjutan untuk kemudian
mereda. Kiai Wurih Wudara telah mengangkat tangannya, meminta
semua orang untuk diam. Di sebelah pemilik rumah, berdiri seorang
lelaki bertubuh kecil dan mengenakan jubah berwarna hitam. Mungkin
untuk menyempurnakan penampilannya, orang itu ke mana-mana selalu
membawa tongkat yang dipegang menggunakan tangan kanannya,
sementara di tangan kiri orang itu menggantung sebuah bende.
"Kita agaknya berhasil, Kiai?" ucap pemilik rumah.
Laki-laki berjubah itu tidak menjawab, tetapi sekali lagi ia memukul
bende yang langsung menggetarkan udara. Nada yang muncul akan
membangunkan orang yang tidur dan mencampakkannya dari dunia
mimpi. "Maling Wiragati, menyerahlah!" teriak orang itu.
Wirota Wiragati terkejut, ia merasa mengenal suara itu.
"Sial!" desisnya.
"Ayo, Maling Wiragati. Keluarlah dan menyerahlah. Kamu harus
mempertanggungjawabkan apa yang telah kaulakukan di tempat ini
beberapa bulan yang lalu. Akan aku pilihkan cara kematian yang paling
baik untukmu. Pertama melalui dipenggal kepalamu dengan hanya sekali
tebas, rasa sakitnya tidak akan terlalu lama. Atau, pilihan kedua, kalau kamu
tak mau menyerah dengan sukarela, aku sediakan kematian melalui ditarik
empat ekor kuda yang diarahkan ke empat penjuru angin, ditanggung akan
sempal tubuhmu menjadi empat bagian. Bagaimana, Maling Wiragati?"
Mendengar ancaman mengerikan itu, Wirota Wiragati tersenyum.
"Apa kabarmu, Kakang Maling Handaru Pritha?"
Para pengawal yang mengepung ruang itu menyimak dengan cermat
pembicaraan yang terjadi. Bahwa ada jawaban dari kamar yang terkepung
rapat itu menjadi pertanda benar-benar ada maling yang menyusup.
"Kabarku baik, Wiragati," jawab orang bernama Handaru Pritha
itu. "Tak pernah aku sangka malam ini kita bertemu lagi di sini dengan
338 Gajah Mada keadaan yang berbeda dengan apa yang pernah kita jalani bersama.
Kuminta kau menyerah."
"Menyerah dengan pilihan seperti yang kausampaikan tadi?"
Pertanyaan itu menyebabkan Handaru Pritha tertawa.
"Baiklah, aku akan berbelas kasihan kepadamu dengan memintakan
maaf kepada pemilik rumah ini. Kiai Wurih akan memaafkanmu dan
menganggap perbuatanmu tidak pernah terjadi asal kaukembalikan
semua harta yang kaucuri."
Wirota Wiragati tertawa pendek.
"Sayang sekali sudah habis. Semuanya telah kubagi-bagikan kepada
rakyatku, para orang miskin yang hidupnya menderita. Aku tidak
menyisakan sedikit pun untukku. Jumlah yang aku butuhkan masih
kurang. Itulah sebabnya, aku datang kemari lagi. Yang pertama untuk
memenuhi tantangan pemilik rumah ini, yang kedua mengambil hartanya
yang masih tersisa."
Handaru Pritha itu tertawa bergelak.
"Akan tetapi, siapa sangka kau seperti ikan yang masuk ke dalam
bubu karena ketanggor Handaru Pritha di tempat ini," kata lelaki kurus
berjubah itu. Handaru Pritha melengkapinya dengan tertawa bergelak. Tawanya
menulari para pengawal rumah Kiai Wurih Wudara, yang ikut-ikutan
tertawa tanpa menimbang apakah pembicaraan yang terjadi itu lucu
atau tidak. Dengan sigap, orang-orang yang menjadi pagar betis itu merapatkan
kepungan. Dengan tak ada jalan keluar, diyakini maling bernasib sial itu
akan mengangkat tangannya menyerahkan diri untuk diikat. Dengan
demikian, akan segera diketahui bagaimana wajah pemilik alunan seruling
yang membuat banyak gadis kesengsem kasmaran itu, apa karena ia
benar-benar tampan atau karena memiliki ilmu pikat.
"Siapa orang itu, Kakang?" bisik Poh Wangi yang merasa cemas.
Hamukti Palapa 339 "Dulu dia temanku, bersama-sama maling denganku. Namun,
karena perilakunya yang tidak aku sukai, aku memisahkan diri darinya.
Ia tidak segan-segan membunuh. Ia juga tak segan-segan memerkosa,"
jawab Wirota Wiragati. Poh Wangi gelisah. "Bagaimana cara kita meloloskan diri dari tempat ini?"
"Kita tunggu saja apa yang akan mereka lakukan. Kalau tertangkap
ya sudah, mungkin sudah menjadi nasibku," jawab Wirota Wiragati.
Poh Wangi tambah gelisah.
"Aku bagaimana?" tanya Poh Wangi dengan segala cemasnya.
Yang dilakukan Wirota Wiragati kemudian duduk bersandar dinding.
Ia memberi isyarat supaya Poh Wangi menempatkan diri duduk di
sebelahnya. Poh Wangi makin tidak mengerti karena Wirota Wiragati
tidak melakukan apa-apa. Duduk bersandar dinding yang dilakukan
itu seperti pasrah menunggu nasib karena tak tersedia jalan lain untuk
menyelamatkan diri. Di luar rumah, bulan telah bergeser dari semula di tengah langit kini
agak doyong ke barat. Cahayanya tetap benderang karena malam hari
adalah wilayah kekuasaannya. Terangnya tak tertandingi oleh bintang
mana pun. Rasi bima sakti boleh saja gemerlap, tetapi harus mengalah
memberi jalan ketika sasadara lewat.
Namun, apa yang terjadi di sekitar rumah Kiai Wurih Wudara
merupakan sebuah keganjilan yang jarang terjadi. Keganjilan itu bahkan
luput dari perhatian pemilik rumah dan tamunya, juga luput dari
perhatian para pengawal yang menjaga rumah itu dengan amat ketat.
Ketika Ki Wurih Wudara menyadari, sudah sedikit terlambat. Hanya
burung hantu yang mampu menandainya karena ketajaman tatapan
matanya mulai terganggu. Si burung hantu segera terbang dan pindah
mencari dahan lain. "Kabut?" desis Kiai Wurih Wudara.
340 Gajah Mada Tamunya yang dianggapnya luar biasa karena mampu mementahkan
kekuatan sirep yang dilepas ke udara ikut terkejut. Dengan saksama,
diperhatikannya kabut tebal yang melayang dan mulai menggangu
pandangan mata itu. "Gila," desisnya.
Sebagai maling yang berpengalaman, Handaru Pritha segera curiga
sesuatu sedang berlangsung.
"Wiragati, apa yang kaulakukan?" teriaknya.
Tak ada jawaban. "He, Maling Wiragati, apa yang kaulakukan itu" Ayo, keluarlah dan
menyerah," ulangnya sekali lagi.
Tak ada jawaban, sementara kabut yang datang telah bergerak lebih
cepat dan sangat terlambat untuk memahami apa yang terjadi. Gerakan
kabut itu bahkan bisa dibilang kasar karena sejenak kemudian, Handaru
Pritha mengalami kesulitan melihat benda-benda di sekitarnya.
"Apakah kabut ini wajar, Kiai?" tanya pemilik rumah dengan
cemas. Handaru Pritha tidak menjawab karena sedang bingung.
Waktu yang kemudian bergerak menggiring pemilik rumah merasa
cemas dan gelisah. Harapannya untuk membalas sakit hati sudah berada
di depan mata, tetapi tiba-tiba alam seperti berpihak kepada maling yang
telah terjebak di rumahnya. Kabut tidak mereda, tapi malah menggila.
Apa yang kemudian terjadi sungguh mengagetkan tuan rumah,
juga sangat mengagetkan Handaru Pritha yang masih menempatkan diri
berjaga-jaga di depan pintu. Dari jarak sangat jauh, tiba-tiba terdengar
suara yang menggetarkan udara, menyobek keheningan malam.
"Bende Kiai Samudra, bendeku Kiai Samudra," berteriak Handaru
Pritha amat gugup. Namun, lelaki bertubuh kurus dan berjubah itu tak bisa berbuat
apa-apa karena kabut menghalangi langkahnya. Ketika sekali lagi suara
Hamukti Palapa 341 menggelegar itu mengoyak udara, Handaru Pritha benar-benar yakin
berasal dari bende yang semula dibawanya. Itulah bende yang bukan
sembarang bende karena pernah menjadi penentu kemenangan Ken
Arok dalam peperangan paling berdarah dalam perjalanan sejarah, perang
Ganter yang meminta korban ribuan orang terbunuh.
Ketika itu, bende bernama Kiai Samudra itu dipukul bertalu-talu
untuk memberi semangat, yang menyebabkan prajurit Kutaraja yang
dipimpin Ken Arok mampu bertempur kesetanan dan mengalahkan
Kediri yang dipimpin oleh Prabu Sri Kertajaya Sang Dandang Gendis,
yang memimpin pasukan dengan jumlah kekuatan jauh lebih besar.
Sebagai maling yang mampu mengendus nilai dan harga sebuah
benda berharga, Handaru Pritha mampu menakar seberapa besar nilai
benda-benda yang dicuri, terutama benda-benda berupa perhiasan
yang terbuat dari emas berteretes berlian. Namun, untuk bende yang
dicurinya dari ruang perbendaharaan pusaka Istana Singasari, benda itu
sungguh tak ternilai. Barulah ketika kabut menyusut, jawaban dari rasa penasaran itu
diperoleh. Ruang tempat maling itu terjebak ternyata telah kosong
tanpa meninggalkan jejak dalam bentuk apa pun, atau dengan cara
bagaimana Wirota Wiragati melarikan diri. Bagi Handaru Pritha, terasa
lebih mengerikan lagi karena bende yang semula diletakkan di atas meja
telah lenyap tak ketahuan jejaknya.
Ketika sekali lagi terdengar suara menggelegar menggetarkan udara
dalam garis lurus dan tenang, menjadikannya mengombak dan carut
marut, suara itu berasal dari jarak yang makin jauh. Handaru Pritha segera
berlari dan mencoba menerka dari mana arah suara bende itu berasal,
tetapi suara yang ingin ditandai itu tidak muncul lagi.
"Bajingan keparat, aku tidak akan memaafkanmu, Maling Wiragati,"
umpatnya dengan pilihan kata yang paling kasar.
Di saat yang sama, Wirota Wiragati tengah tertawa terbahak-bahak
di bawah pandangan mata Poh Wangi yang demikian takjub. Rangkaian
peristiwa yang ia ikut terjebak dan mustahil meloloskan diri sampai
342 Gajah Mada mampu menerobos kepungan, memberi kesan pengalaman yang tidak
mungkin bisa dilupakan sampai kapan pun. Poh Wangi memandangi
pemuda di depannya dengan perasaan heran dan makin kasmaran.
Pemuda seperti yang sedang duduk di depannya itulah yang selama ini
selalu diangankan, tampan dan pilih tanding.
"Aku benar-benar mujur malam ini," ucap Wirota Wiragati.
Dan, perahu kecil bertenaga layar itu terus melaju seperti meloncatloncat ketika berhadapan dengan ombak yang mulai membesar. Meski
kecil, perahu itu cukup aman karena diberi penyeimbang di sisi kiri dan
kanannya. Berdebar-debar Poh Wangi ketika melihat kerlap-kerlip di
kejauhan. "Itu Keta?" tanya Poh Wangi.
"Ya, kita akan sampai sebelum fajar. Selanjutnya, aku akan membalas
dendam dengan tidur sepuas-puasnya."
"Lalu, aku bagaimana?" bertanya Poh Wangi yang tidak mungkin
dijawab. Tentu karena Poh Wangi hanya bertanya dalam hati.
Seiring dengan waktu yang terus bergerak membawa malam
mendekati pagi, tak ada siapa pun di tempat Wirota Wiragati merapat dan
menaikkan perahu ke daratan. Sebaliknya, sedikit ke arah barat, terlihat
sudah mulai ramai orang-orang yang berbelanja di pasar, yang kebetulan
melekat dengan pantai dan sekaligus tempat para nelayan menurunkan
ikan tangkapan di sepanjang malam.
Sebagai maling yang berasal dari Keta, Wirota Wiragati justru tak
pernah mengganggu penduduk kota Keta itu. Hal yang demikian telah
menjadi pilihan dan cara pandangnya. Mencuri boleh saja, asal jangan
di Keta. Awalnya, ia hanya maling kecil-kecilan dan untuk diri sendiri.
Namun, ketika ia tergugah untuk membantu tetangganya dengan
sembunyi-sembunyi, sejak itulah ia diberi julukan sebagai maling
budiman. Dari yang semula maling kecil, selanjutnya Wirota Wiragati
Hamukti Palapa 343 menjadi maling besar yang mulai malang melintang di wilayah yang
jauh lebih luas. Namanya disebut-sebut dari pesisir Alas Roban sampai
pesisir Bajulmati. Berlayar berhari-hari di tengah laut bukan hal yang
luar biasa baginya. Ia tempuh jarak yang jauh itu dengan menggunakan
perahu yang sekaligus menjadi cara paling mudah yang bisa digunakan
untuk melarikan diri. Perjalanan Wirota Wiragati dan Poh Wangi akhirnya sampai di halaman
sebuah rumah. "Ini rumahmu, Kakang?" tanya Poh Wangi setelah berdiri di depan
pintu. Wirota Wiragati tidak menjawab.
Dengan segera, Poh Wangi mengambil simpulan, rumah itu bukan
milik lelaki yang membawanya karena kalau miliknya, untuk apa harus
mengetuk minta dibukakan pintu.
"Tetapi, siapa tahu ini memang rumahnya, dan istrinya sedang
menunggu?" Berpikir seperti itu, Poh Wangi merasa tak nyaman.
Sejenak kemudian pintu terbuka, seorang lelaki keluar dan langsung
tersenyum. "Sepagi ini ada apa?"
"Mengantarkan anakmu!" jawab Wirota Wiragati enteng.
Pemilik rumah itulah yang kemudian terkejut sebagaimana Poh
Wangi yang juga tidak kalah terkejut. Akan tetapi, Poh Wangi memang
masih menyimpan kenangan bagaimana wujud ayahnya yang telah lama
berpisah darinya, sebagaimana pemilik rumah itu yang sangat kaget dan
terbelalak karena masih menyimpan kenangan atas anaknya. Ketika Poh
Wangi harus berpisah darinya, saat itu usianya baru lima tahun.
"Jagat Dewa Batara," desis laki-laki itu yang oleh para tetangganya
dipanggil dengan nama Jalu Para.
"Ayah," desis gadis itu.
344 Gajah Mada Jalu Para terdiam beberapa jenak seperti orang yang berusaha
meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang dialami itu benar-benar nyata
dan tak sedang bermimpi. Sejenak setelah itu, wajahnya serasa menebal
mirip disiram dengan air panas yang ditandai pula oleh bibirnya yang
bergetar. Sebaliknya, Poh Wangi tidak mampu lagi menahan air mata yang


Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mulai menggenang. Sebutir air matanya mirip berlian bergulir merambati
pipinya. "Sudah, anakmu dipeluk dulu!" kata Wirota Wiragati ringan.
Jalu Para membentangkan tangan dan memberi ruang yang sangat
lapang kepada Poh Wangi untuk menempatkan diri dipeluk. Tangis
gadis itu pun kemudian memecah keheningan pagi, mengundang para
tetangga ingin tahu apa yang terjadi.
"Ini pertemuan ayah dan anak, bukan tontonan. Ayo, pergi semua.
Nanti saja kalau kalian ingin memberi selamat," kata Wirota Wiragati.
Dengan amat takjub, Ki Jalu Para memandang wajah Wirota
Wiragati. Yang dipandang menyeringai memamerkan deretan giginya
yang indah dipandang, lalu memandang anak gadisnya yang selama ini,
telah sepuluh tahun lebih mengganggu simpul saraf kerinduannya.
"Bagaimana kau bisa membawa pulang anakku?" tanya Ki Jalu Para
dengan suara amat serak dan tersendat.
"Aku mendengar ada orang kaya raya keturunan bangsawan.
Rumahnya aku pilih untuk kudatangi dan kugerayangi. Namun, anak
gadisnya justru meminta aku menolong menyelamatkannya. Rupanya
ia bukan anak kandung bangsawan itu, Paman. Aku terkejut ketika ia
mengaku punya ayah kandung bernama Ki Jalu Para. Sebaiknya jangan
salah paham dan berburuk sangka dulu, Paman. Aku sama sekali tidak
melakukan apa pun kepada anakmu!"
Wirota Wiragati mengakhiri ucapannya dengan tersenyum
menyeringai. Ia sengaja itu agar tampak lucu. Ki Jalu Para hanya
menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah pemuda yang ugal-ugalan itu.
Untuk meyakinkan bahwa pertemuan dengan anaknya itu benar-benar
nyata, Ki Jalu Para kembali memeluk anaknya.
Hamukti Palapa 345 Lelaki tua itu kembali butuh waktu untuk membiarkan air matanya
mengalir. Amat bersusah payah Ki Jalu Para berusaha meredakan diri,
hal yang sama sedang dialami anak gadisnya.
"Waktu ibumu membawamu pergi, kamu masih berumur lima
tahun," ucap laki-laki itu serak dan terbata-bata. "Sekarang kamu sudah
remaja, sudah menjadi gadis yang jelita."
Demikian luar biasa makna pertemuan itu bagi Poh Wangi. Gadis
itu tidak mampu berbicara apa pun. Kebahagiaan yang luar biasa
membungkam mulutnya. Dengan cara luar biasa dan tak terduga,
maling yang membongkar habis rumah ayah angkatnya itu justru
telah mempertemukan dirinya dengan ayah kandungnya. Padahal,
semua kejadian itu tak direncanakan, seolah Dewa di langit mendengar
keluhan dan tangisnya, lalu menurunkan Dewa Kamajaya untuk turun
menolong. "Paman, lihat ini," kata Wirota Wiragati untuk mencuri perhatian
supaya tuan rumah tidak terlalu lama larut dalam luapan perasaannya.
Jalu Para memerhatikan apa yang dipamerkan.
"Kiai Samudra?" desisnya.
"Apa, Paman?" Wirota Wiragati terkejut.
"Kamu dapat dari mana Kiai Samudra ini?"
"Jadi, bende ini punya nama?"
Ki Jalu Para mengangguk. Keyakinannya benar karena ketika bende
itu dibalik, terdapat guratan tulisan yang menyebut namanya, Samudra,
yang berarti lautan luas.
"Dan, lihat pula ini, Paman!" lanjut Wirota Wiragati.
Ki Jalu Para makin terbelalak melihat sebuah mahkota yang
dikeluarkan dari dalam buntalannya.
"Kau dapat mahkota ini dari rumah Ma Panji Raung?"
Wirota Wiragati mengangguk.
346 Gajah Mada "Aku mendapatkan mahkota ini dari rumah Ma Panji Raung dan
kurebut bende ini dari tangan bekas temanku sesama maling, yang sayang
sekali aku tidak bisa menanyai dari mana asal bende itu."
"Ayo, kita bicara di dalam!" ucap Ki Jalu Para, "akan aku ceritakan
apa yang aku tahu tentang benda-benda itu."
Ki Jalu Para membawa anak gadisnya masuk ke dalam rumah.
Ternyata tak ada siapa pun di rumah itu. Dugaan Poh Wangi bahwa
ayahnya tentu mempunyai istri lagi ternyata tidak benar.
"Sejak ibumu meninggalkan aku, aku tidak pernah kawin lagi sampai
sekarang," kata Ki Jalu Para.
Poh Wangi mengangguk. Gadis itu memerhatikan ada beberapa bilik di rumah itu yang amat
sederhana dibandingkan semua bilik di rumah Ma Panji Raung. Akan
tetapi, Poh Wangi merasa yakin tinggal di rumah itu pasti jauh lebih
menyenangkan daripada tinggal di rumah Ma Panji Raung yang megah
bagai istana. "Lanjutkan, Paman, apa yang Paman ketahui tentang bende Kiai
Samudra, saran apa yang akan Paman berikan kepadaku?" kata Wirota
Wiragati. Ki Jalu Para kembali memeriksa bende yang dipegangnya. Bende
itu terbuat dari perunggu pilihan yang tebal dan terasa berat. Jika bende
itu ditabuh, akan geger seluruh penduduk Keta.
"Bende ini milik Singasari. Barangkali maling temanmu itu
mengambilnya dari ruang perbendaharaan pusaka di Istana Singasari.
Bende ini adalah saksi bisu yang ikut menandai perang yang terjadi antara
Tumapel dan Kediri ketika Ken Arok berusaha mendirikan wangsanya,
Girindrawangsa. Kalau mahkota ini aku tak tahu, bisa jadi milik Kediri.
Mungkin Sang Prabu Kertajaya pernah memakainya."
Penjelasan itu membungkam mulut Wirota Wiragati.
"Laku berapa benda-benda ini jika aku jual, Paman?" tanya maling
muda itu. Hamukti Palapa 347 "Kamu harus mencari tahu lebih dulu, dengan cara bagaimana
bende ini jengkar dari ruang perbendaharaan pusaka Istana Singasari.
Kalau kamu ke Ibu Kota Singasari menawarkan benda itu, kamu bisa
ditangkap. Lain lagi kalau yang kautawarkan kepada Sang Prabu adalah
mahkota ini. Benda ini jelas bukan milik Istana Singasari."
Wirota Wiragati mengarahkan tatapan matanya keluar menerobos
pintu. "Kalau begitu, agaknya telah tiba saatnya aku meluaskan wilayah
kekuasaanku hingga ke Singasari, bagaimana menurut Paman?"
Ki Jalu Para tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.
Wirota Wiragati melanjutkan, "Di Singasari tentu ada banyak sekali
orang kaya. Ke sanalah sekarang aku harus memusatkan perhatian sambil
menawarkan bende dan mahkota itu. Dua-duanya tidak ada manfaatnya
bagiku, untuk apa aku memiliki bende tanpa bisa memukulnya dan untuk
apa aku mempunyai mahkota tanpa bisa menjadi raja."
Namun, Ki Jalu Para mempunyai sebuah penilaian.
"Sampai kapan kamu akan berhenti dari kegemaranmu yang
merugikan orang itu, Wiragati?"
Wirota Wiragati yang sedang memerhatikan laut dari tempatnya
sontak berbalik. "Merugikan orang, Paman?" letupnya.
"Ya!" jawab Ki Jalu Para. "Orang-orang yang hartanya kaucuri itu
tentu merasa sedih dan kehilangan sekali."
Wirota Wiragati seperti orang yang meradang. Ia tidak sependapat
dengan apa yang disampaikan Ki Jalu Para.
"Ada berapa orang yang kudatangi tanpa permisi itu, Paman?"
meledak pemuda itu, "dan sebaliknya, lihatlah ada berapa orang yang
tertolong oleh hasil curianku" Kalau Paman memerhatikan di sepanjang
pantai dari Alas Roban di langit barat dan Bajulmati di langit timur,
dihuni oleh orang-orang yang hidupnya amat menyedihkan. Orang
348 Gajah Mada macam Ma Panji Raung yang kaya raya, mengisap habis darah penduduk
di sekitarnya. Penduduk itu makin melarat. Sebaliknya, Ma Panji Raung
makin kaya. Aku tidak bisa menerima ketidakadilan macam itu."
Ki Jalu Para akan mendebat, tetapi merasa tidak nyaman karena
berada di depan anak gadisnya. Lagi pula, Ki Jalu Para berutang budi
kepada pemuda itu, yang membawa pulang anaknya.
"Setidaknya, kapan kamu akan mulai berpikir untuk hidup dengan
tenang seperti orang lain, berkeluarga, punya istri dan anak?" pancing
Ki Jalu Para. Wirota Wiragati hanya tertawa.
Hari demi hari pun kemudian lewat, yang oleh Poh Wangi benarbenar dirasakan sangat indah dan bahagia, bukan saja karena Poh
Wangi telah bertemu kembali dengan ayah kandungnya. Poh Wangi
berbunga-bunga karena punya banyak waktu bersama laki-laki yang
disukainya. Apalagi, ayahnya sama sekali tidak keberatan Wirota
Wiragati mengajaknya berkeliling kota Keta atau menyusuri pantainya
yang menarik meski tak seindah pantai tempat sebelumnya ia tinggal.
Namun, hingga sejauh itu, Wirota Wiragati belum juga berbicara masalah
pribadi. "Aku akan pergi agak lama," kata Wirota Wiragati ketika sedang
berada di pantai tak jauh dari pasar.
Poh Wangi menoleh. "Ke mana?" "Aku akan ke Singasari. Aku ingin tahu Singasari itu seperti apa,"
jawab Wirota Wiragati. Poh Wangi menarik helaan napas amat berat.
"Berapa lama Kakang akan berada di Singasari?"
"Aku tak tahu," Wirota Wiragati menjawab. "Yang jelas bagiku,
pergi ke ibu kota negara merupakan hal yang sangat penting. Aku akan
mencoba peruntunganku di sana."
Hamukti Palapa 349 "Apakah tidak sebaiknya Kakang berhenti dari pekerjaan yang
menyimpan bahaya itu?" tanya Poh Wangi dengan gelisah.
Wirota Wiragati tidak menoleh, perhatiannya tertuju pada sebuah
perahu yang baru saja mendarat.
"Aku sedang menimbang hal itu. Aku ke Singasari untuk dua hal.
Aku akan mengunjungi rumah orang-orang kaya di sana atau melamar
menjadi prajurit. Siapa tahu aku diterima sebagai prajurit dan bisa
memberikan pengabdianku pada bangsa dan negaraku."
Wirota Wiragati bergegas melangkah menuju perahu yang baru
saja mendarat dan memerhatikan, jenis ikan apa saja muatan yang
akan diturunkan dari perahu itu. Pemilik perahu memberinya senyum
ramah. Setahun yang lalu, nelayan bertubuh gagah itu pernah berutang
budi kepada Wirota Wiragati. Oleh alasan yang tidak ia mengerti,
tetangganya itu memberinya seuntai kalung emas. Belakangan nelayan
itu tahu, Wiragati mendapatkan benda-benda berharga yang dibagikan
itu dari mencuri. "Siapa ini" Calon istrimu?" nelayan itu bertanya dengan mata
diarahkan kepada Poh Wangi.
"Anak kandung Paman Jalu Para," jawab Wirota Wiragati.
"Ooo, anak Kakang Jalu Para yang berada di bawah kekuasaan Ma
Panji Raung?" Wirota Wiragati tersenyum, demikian pula dengan Poh Wangi.
Perhatian Wimba Samekta segera tertuju kepada Poh Wangi, tetapi
Wirota Wiragati segera mengalihkan perhatian.
"Bagaimana dengan tangkapanmu hari ini, Kakang Wimba
Samekta?" Wimba Samekta tersenyum lebar sambil membentangkan tangan
memamerkan perolehannya yang memang lumayan banyak.
"Kalau kau mau, ambil sebanyak yang kaubutuhkan. Kurasa cumicumi pasti jenis ikan yang akan disukai anak Kakang Jalu Para, ayo,
silakan!" 350 Gajah Mada Ke dalam sebuah wadah, Wimba Samekta memasukkan beberapa
ekor ikan yang oleh Wirota Wiragati dianggap terlampau banyak hingga
perlu dikurangi. Di wadah yang lain, ikan cumi-cumi yang masih segar
diberikan kepada Poh Wangi. Saat mana Wirota Wiragati dan gadis itu
melambaikan tangan karena kembali melanjutkan langkahnya, Wimba
Samekta tak putus-putusnya mengagumi kecantikan anak Ki Jalu Para.
Gadis itu cantik, mewakili kecantikan ibunya, sama sekali tidak mewarisi
wujud jelek ayahnya. "Kalau Kakang menjadi prajurit, bukankah itu berarti Kakang tak
akan pulang?" "Aku tidak tahu berapa lama aku akan pergi," jawab Wirota
Wiragati. Jika hari berikutnya kemudian datang adalah hari yang berongga
karena ada yang hilang. Poh Wangi tak melihat Wirota Wiragati sejak pagi
dan petang, rumahnya ditutup rapat. Melihat anaknya bersedih, Ki Jalu
Para ikut bersedih. Ki Jalu Para senang melihat anaknya bergaul dengan
Wirota Wiragati karena ia tahu persis bagaimana watak dan perilaku
sosok anak muda itu, yang meskipun seorang maling, tidak kebablasan
suka mengganggu dan mempermainkan perempuan. Jika ada bagian
yang kurang disukainya adalah pekerjaannya sebagai maling.
"Dia pergi ke Singasari!" ucap Ki Jalu Para.
Poh Wangi membalikkan badan.
"Kakang Wiragati pamitan kepada Ayah?"
Ki Jalu Para mengangguk. Poh Wangi amat menyesalkan Wirota Wiragati yang tidak
berpamitan kepadanya. "Berapa jauh Singasari itu, Ayah?" tanya Poh Wangi
Ki Jalu Para berdiri di sebelah anaknya.
"Jauh sekali!" jawab ayahnya. "Butuh waktu berhari-hari dengan
berkuda. Dari Keta menyusur pantai terus ke barat hingga nanti akan
Hamukti Palapa 351 sampai di sebuah kota pelabuhan bernama Ujung Galuh. Dari Ujung
Galuh kemudian membelok lurus ke selatan, di sana ibu kota Singasari
berada." Poh Wangi berbalik dan memandang laut, matanya menerawang jauh
dan mulai basah oleh genangan tirtanetra,190 membuat ayahnya nelangsa.
Ketika Poh Wangi menangisi kepergian Wirota Wiragati dan merasa
amat kehilangan laki-laki yang diam-diam disukainya itu, pada saat
yang sama pemuda tampan itu sedang memacu kudanya amat kencang.
Teriakan yang terlontar dari mulutnya adalah luapan rasa gembira.
Demikian pula dengan kudanya yang memiliki kulit berwarna hitam
legam, amat senang diajak berpacu menempuh perjalanan panjang.
Kuda itu tidak merasa berat meski di kiri dan kanan pelananya
tergantung beban yang lumayan besar. Dalam buntalan yang terbuat
dari serat pohon pisang itu berisi bahan makanan dan baju. Sementara
itu, di sebelah kanan, buntalan dengan bahan yang sama berisi bende
yang bukan bende sembarangan, bende Kiai Samudra, dan mahkota
hasil curiannya di rumah Ma Panji Raung.
Sepanjang siang kuda terus dipacu menuju arah matahari terbenam.
Jika malam digunakan untuk beristirahat, atau jika di tempat itu tinggal
orang kaya, didatangi orang kaya itu dan dikuras habis hartanya. Pada
malam itu pula akan ada banyak orang yang terkejut karena di bawah
pintu ditemukan perhiasan yang mahal harganya.
Beberapa hari kemudian, Wirota Wiragati mendekati wilayah Ujung
Galuh dengan perjalanan agak tersendat karena pesisir yang dilewatinya
bertanah lembek. Tidak jarang kudanya harus dituntun untuk menembus
belukar yang lebat atau harus melalui jalan melingkar menghindari hutan
lebat yang tak mungkin ditembus.
Memperoleh petunjuk dari seorang penduduk, Wirota Wiragati


Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membelok ke selatan dan mendapatkan jalan yang amat bagus. Hal itu
karena ibu kota berkepentingan dengan pelabuhan Ujung Galuh yang
190 Tirtanetra, Jawa, gabungan dua kata tirta dan netra, yang berarti air mata. Namun, kata tirtanetra tidak lazim digunakan.
352 Gajah Mada merupakan pintu gerbang niaga dan hubungannya dengan dunia luar
hingga jauh ke negeri Tumasek. Hilir mudik pedagang dari Singasari ke
Ujung Galuh menyebabkan ruas jalan itu memperoleh perhatian dari
Prabu Kertanegara. Akhirnya, Wirota Wiragati sampai di ketinggian dan bisa melihat laut
di kejauhan meski samar dan hanya berupa garis memanjang. Tempat
itu bernama Taretes. "Ada apa, Paman?" bertanya Wirota Wiragati melihat banyak orang
pergi berbondong-bondong seperti sedang mencari selamat.
"Mameling diserbu!" jawab orang itu.
"Mameling diserbu?" ulang Wirota Wiragati. "Siapa yang menyerbu
kota itu dan mengapa diserbu?"
"Tidak tahu, anak muda, tanya saja kepada yang menyerbu."
Wirota Wiragati sigap berpikir menggunakan cara pikir maling.
Ketika kekacauan terjadi macam itu, yang berada di depan mata adalah
sebuah panen raya yang bisa dilakukan, memanen tanpa harus menanam
benihnya. Tak perlu menimbang ulang, Wirota Wiragati membalapkan
kudanya amat kencang berlawanan arah dengan orang-orang yang
berbondong-bondong mengungsi dengan membawa benda apa saja yang
dapat diselamatkan. Di antaranya ada yang berusaha menyelamatkan
ternak-ternaknya. Sekitar lima ekor sapi diikat lehernya sambungmenyambung, dituntun pemiliknya yang sudah tua yang rupanya seorang
pedagang sapi. Wirota Wiragati juga melihat seorang nenek tua harus ditandu dan
ada pula yang digendong. Seorang perempuan hamil tua amat tersiksa
dengan perjalanan yang harus ditempuh.
Mengapa Kota Mameling diserbu" Siapa penyerbunya" Rupanya
kenangan perlu diputar kembali ke waktu silam.
Penyerbuan yang dilakukan Tumapel atas Kediri rupanya masih
menjadi luka yang belum sembuh meski telah lama peristiwa itu berlalu.
Hamukti Palapa 353 Prabu Dandang Gendis atau Sri Kertajaya ditundukkan pendiri wangsa
Rajasa pada tahun saka 1144 atau Masehi 1222.191 Atas perintah Ken
Arok atau Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabhumi, diangkatlah
bangsawan Kediri yang berjasa mendukung Ken Arok menjadi Raja
Kediri. Jayasabha diangkat menjadi Raja Kediri menggantikan Sri
Kertajaya. Jayasabha memerintah sampai tahun saka 1180 atau Masehi
1258. Sebelum Prabu Kertajaya, yang menjadi raja menggelar pemerintahan
di Kediri adalah Sang Prabu Cri Sarwecwara Triwikrama Wataranindita
Crenggalancana Digjayotunggadewa.192
Prabu Sastrajaya melanjutkan pemerintahan Jayasabha hingga
tahun saka 1139 atau tahun Masehi 1271. Adalah Jayakatwang, seorang
pewaris darah bangsawan Kediri, yang semula seorang pengalasan di
Singasari. Jayakatwang diangkat menjadi pengganti Prabu Sastrajaya,
tetapi ternyata ia masih menyimpan kesumat dendam itu meski telah
ditempatkan sebagai besan karena anak laki-lakinya yang bernama
Ardaraja telah diambil menantu, dikawinkan dengan anak bungsu Prabu
Sri Kertanegara. Selama dua puluh tahun masa pemerintahan Sri Kertanegara,
barulah Raja Gelang-Gelang Kediri, Sang Prabu Jayakatwang,
memperoleh kesempatan untuk penikaman balas dendam yang sangat
berdarah. Bermula dari kekecewaan yang timbul dari hati banyak pejabat
Singasari saat Raja Sri Kertanagera melakukan pergeseran-pergeseran
kedudukan yang berbau pemecatan, di antaranya yang mengalami nasib
buruk adalah Mahapatih Raganata.193 Mahapatih Raganata diturunkan
kedudukannya menjadi seorang adyaksa di Tumapel. Hal itu dilakukan
191 Sumber berita berasal dari Negarakertagama
192 Cri Sarwecwara Triwikrama Wataranindita Crenggalancana Digjayotunggadewa, sebagaimana disebut oleh Piagam Kemulan dan Penataran.
193 Sumber berita berasal dari Kidung Panji Wijayakrama pupuh I. Mereka yang dilorot dari jabatannya selain Mahapatih Raganata adalah Wiraraja, Temenggung Wirakreti, dan Pujangga Santasmerti 354
Gajah Mada pada awal pemerintahan194 Prabu Kertanegara yang menghendaki
kedudukan dan jabatan penting diisi oleh mereka yang sepaham dengan
gagasan dan cita-citanya dalam menerjemahkan gagasan wawasan
Dwipantara. Ketika Singasari masih berada di bawah pemerintahan Batara
Narasinga, Mapatih Raganata, Demang Wiraraja, Temenggung Wirakreti,
dan Pujangga Santasmerti adalah para pengikutnya yang setia.
Hanya beberapa jenak setelah naik takhta, Sri Kertanegara yang
merasa tidak senang kepada pejabat-pejabat lamban itu melorot
kedudukan mereka. Temenggung Wirakreti dilorot menjadi Mantri
Angabhaya, Demang195 Arya Wiraraja diturunkan menjadi bupati di
Sungenep, sedangkan pujangga Santasmerti pilih mengundurkan diri
dengan menjadi pendeta biasa di asrama. Bertahun-tahun luka itu
tidak bisa sembuh, terutama di hati Arya Wiraraja yang dengan kejelian
matanya selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di Singasari.
Untuk kewibawaan dan kebesaran Singasari, Sang Prabu Kertanegara
tidak sabar ingin segera menyerbu beberapa negara yang belum tunduk
di bawah panji-panji dan bendera negara Singasari.
Pamalayu196 atau pengiriman prajurit dalam jumlah besar ke
Melayu dilakukan dengan mengabaikan nasihat yang diberikan Adyaksa
Tumapel, Raganata, yang meskipun telah dilorot dari jabatannya masih
menyimpan kecintaan pada negerinya. Adyaksa Sang Raganata merasa
cemas karena dalam beberapa kali paseban yang digelar, Jayakatwang
tidak hadir di Manguntur. Padahal, ketidakhadiran penguasa bawahan
yang dilakukan beberapa kali merupakan pertanda bawahan itu tak
lagi mengakui kekuasaan yang berada di atasnya. Akan tetapi, Prabu
Sri Kertanagera lebih percaya kepada pendapat Mahisa Anengah yang
menolak kecemasan Raganata.
194 Sumber berita berasal dari Kidung Harsa Wijaya.
195 Demang, Jawa Kuno, kedudukan demang pada zaman Singasari rupanya lebih tinggi dari bupati.
196 Pamalayu, beberapa sumber berita, di antaranya empat sumber sejarah, yaitu Negarakertagama, Kidung Panji Wijayakrama, Pararaton, dan Kidung Panji Harsa Wijaya membenarkan terjadinya Pamalayu atau pengiriman bala tentara ke Melayu ini.
Hamukti Palapa 355 "Jayakatwang tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Sang
Prabu Jayakatwang bisa menjadi raja di Kediri karena kemurahan hati
Sang Prabu yang telah mengangkatnya dari yang semula hanya seorang
pengalasan. Jayakatwang juga sudah mendapat anugerah luar biasa dengan
putranya telah Sang Prabu ambil menantu. Tidak mungkin GelangGelang berani melakukan pemberontakan," dengan lantang Mahisa
Anengah membantah pendapat yang diberikan oleh mantan Mahapatih
Raganata. Sri Kertanegara lebih menerima pendapat Mahisa Anengah karena
lebih masuk di akal. Di bawah pimpinan beberapa perwira pilih tanding,
di antaranya Lembu Anabrang, pasukan segelar sepapan dikirim ke Melayu
melalui pelabuhan Ujung Galuh. Tak hanya Melayu yang diserbu,
Bali pun harus memperoleh perhatian dengan mengirim tentaranya
menyeberang Selat Bali. Raja Bali berhasil ditundukkan dan dibawa ke
Jawa sebagai tawanan. Dalam keadaan negara kosong tanpa prajurit, rupanya Singasari
masih disibukkan meredam pemberontakan yang dilakukan orangorang yang tak puas terhadap pemecatan yang dialami mantan Mapatih
Raganata, di antaranya yang cukup melelahkan adalah meredam sepak
terjang Mahisa Rangkah. Keadaan Singasari yang kosong itu menyebabkan Arya Wiraraja
terpacu degup jantungnya. Sebuah gagasan mletik dari benaknya.
Nawala 197 segera dikirim ke Gelang-Gelang dalam kalimat berkias
penuh sandi. Wirondaya,198 salah seorang anak Wiraraja, tidak
sependapat dengan ayahnya yang menganggap Singasari tak memiliki
kekuatan karena di sana masih ada orang-orang terkemuka, seperti
Nambi, Sora, Dangdi, Gajah Pagon, dan para perwira muda lainnya
yang pilih tanding. Namun, Arya Wiraraja yang memiliki nama lain
Banyak Wide itu bersikeras mengirim Wirondaya menghadap Prabu
Jayakatwang. 197 Nawala, Jawa, surat 198 Wirondaya, salah seorang anak Arya Wiraraja
356 Gajah Mada "Hamba memberitahukan ke hadapan Sang Prabu, Paduka Nata
yang sedang berburu hendaklah waspada dalam memilih saat dan tempat
yang setepat-tepatnya. Pergunakanlah saat yang sebaik-baiknya. Sekarang
inilah saat yang paling baik dan paling tepat. Tegal sedang tandus, tak
ada rumput tidak ada ilalang. Daun-daun sedang gugur berhamburan
ke tanah. Bukitnya kecil-kecil, jurangnya tidak berbahaya, hanya didiami
harimau yang sama sekali tak menakutkan, tak ada kerbau sapi yang
bertanduk. Jika mereka sedang menyenggut, baiklah mereka itu diburu
pasti tidak berdaya. Satu-satunya harimau yang tinggal adalah harimau
guguh, sudah tua, dan renta, yakni Empu Raganata." 199
Patih Gelang-Gelang, Mahisa Mundarang, sangat mendukung
penyerbuan ke Singasari itu. Jika Singasari bisa dilumatkan, setidaknya
yang demikian akan membalaskan sakit hati Kediri yang pernah
mengalami hal yang sama ketika digilas maling dari tebalnya padang
ilalang Karautan, yang kemudian madek ratu 200 di Tumapel.
Pembicaraan riuh yang dilakukan dengan berbisik adalah dalam
rangka menyusun siasat, langkah macam apa yang harus dilakukan untuk
merobohkan pilar Istana Singasari, yang sekaligus pelunasan atas dendam
lama yang menyakitkan hati.
Pagi hari yang pecah beberapa pekan setelah itu adalah ketika bala
prajurit di bawah pimpinan Lurah Prajurit Jaran Guyang melintas melalui
bulak persawahan ke sisi utara Kotaraja Singasari dengan membawa
peralatan perang berkekuatan segelar sepapan, di antaranya kereta, bende,
dan gong. Kota Mameling dibakar, dibikin porak-poranda. Rakyat semesta
melakukan perlawanan, tetapi apalah yang bisa mereka lakukan
menghadapi para prajurit yang sangat terlatih dan terbiasa melihat
genangan darah. Penduduk kota kecil Mameling lintang pukang berlarian
semburat ke mana pun mencari selamat. Sebagian kecil ke utara, ke
199 Isi surat Arya Wiraraja sebagaimana tercatat dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsa Wijaya yang ditulis oleh Bupati Sungenep itu pada tahun saka 1214 atau Masehi 1292.
200 Madek ratu, Jawa, memproklamasikan/menyatakan diri menjadi raja
Hamukti Palapa 357 wilayah Taretes dan Ujung Galuh, sebagian lainnya mencari perlindungan
ke istana. "Wah, benar-benar sebuah tontonan yang menarik. Seumur hidupku
baru kali ini aku melihat peristiwa macam ini," berkata Wirota Wiragati
yang memerhatikan apa yang terjadi dari atas punggung kudanya.
Namun, apa yang disaksikan Wirota Wiragati bukanlah tontonan
yang bisa menyenangkan hati. Wirota Wiragati justru mendidih hatinya
melihat jarah rayah sangat kasar yang dilakukan para prajurit. Dengan
mata terbelalak, Wirota Wiragati melihat seseorang yang menilik pakaian
yang dikenakan jelas seorang prajurit, dengan tangan memegang obor
yang menyala. Prajurit itu melemparkan obornya ke atap sebuah rumah,
api yang semula kecil itu segera berkobar menjadi dahana karena atap
rumah itu terbuat dari rumbia. Pemilik rumah itu seorang perempuan
tua. Ia berteriak-teriak dan menangis melolong-lolong.
Wirota Wiragati berhenti, sebuah suara hinggap di telinganya.
"Lepaskan aku, lepaskan," teriak suara itu.
Awalnya, Wirota Wiragati yang berniat memanfaatkan keadaan
rupanya harus terlibat lebih jauh dari apa yang direncanakan. Wirota
Wiragati mustahil membiarkan pemerkosaan terjadi di depan
matanya. Maling itu terpaksa membongkar bungkusannya dan mengeluarkan
sejenis senjata yang jarang-jarang digunakan. Kuda tunggangannya yang
sudah amat mengenali pemiliknya dibiarkan bebas lepas tanpa harus
diikat. Jika ada orang yang berniat menguasainya, kuda kekar itu tahu
bagaimana cara melawannya. Dengan trengginas, Wirota Wiragati yang
telah meloncat turun itu berlari sambil merunduk menuju sumber jeritan
yang didengarnya. Wirota Wiragati melejit dengan gesit ke arah samping bangunan
tempat suara perempuan menjerit itu berasal. Dari jendela yang terbuka,
Wirota Wiragati melihat tiga orang laki-laki dalam keadaan setengah
telanjang. Semua sedang menunggu jatah menggilir seorang perempuan
yang bernasib sangat malang. Dengan terukur, Wirota Wiragati
358 Gajah Mada melepas tiga anak panah susul-menyusul yang dilakukan itu tanpa jeda.
Terjengkang laki-laki pertama, disusul terjengkang laki-laki kedua,
disusul lagi terjengkang laki-laki ketiga yang ternyata tak mengagetkan
lelaki lainnya yang agaknya mendapat giliran pertama menikmati tubuh
seorang gadis yang memiliki wajah lumayan cantik.
Laki-laki penjarah itu tidak peduli dengan apa pun. Tak peduli meski
ada petir yang meledak atau gempa yang menyebabkan terbelah tanah
tempat kakinya berpijak. Laki-laki itu begitu puas manakala berhasil
menuntaskan hasratnya. Demikian sempurna rasa puas yang diperoleh
sampai tak mampu membedakan rasa puas itu dengan rasa nyeri akibat
sebuah pisau tenggelam menerobos perutnya.
Belakangan lelaki itu merasa sakit. Manakala berbalik, ia terkejut
melihat semua temannya bergelimpangan memayat. Lebih kaget lagi
ketika ia menyadari bakal menjadi mayat pula.
"Apa yang kaulakukan?" tanya lelaki itu dengan amat tersendat.
"Kamu sendiri, perbuatan nista macam apa yang kamu lakukan?"
Wirota Wiragati membalas.
Pemerkosa itu ambruk untuk dengan segera kehilangan nyawanya
karena pisau yang menyobek perut merantaskan usus-ususnya. Apalagi,
Wirota Wiragati yang amat marah itu menyusulnya dengan tikaman
kedua yang dengan telak mengenai jantung. Mata orang itu terbelalak
nyaris lepas. Terbelalak gadis cantik yang telah menjadi korban. Wirota Wiragati
tidak membiarkan gadis itu berada dalam keadaan telanjang terlalu lama.
Maling dari wilayah Keta itu segera melemparkan selembar kain yang
ditemukan di ruangan itu. Namun, gadis malang itu tak lagi memiliki
cukup tenaga untuk menghadapi kemalangan yang demikian sempurna.
Gadis itu ambruk kehilangan kesadarannya.
Wirota Wiragati berbalik. Dengan pandangan mata menahan
amarah luar biasa, ia mendekati satu di antara para lelaki yang sedang
sekarat itu. "Siapa sebenarnya kalian dan dari mana?" tanya Wirota Wiragati.
Hamukti Palapa 359 Penjarah sekarat itu merasa lehernya kian tercekik.
"Siapa kamu dan mengapa menjarah Mameling?"
Namun, prajurit itu tidak mampu menjawab karena sejenak
kemudian ia melewati garis tarikan napas pamungkasnya.
Wirota Wiragati mengintip keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Di jalan, para penduduk berlarian dengan kepanikan dan sebagian
di antaranya harus mengalami nasib yang amat menyedihkan karena
tindakan brutal tak berperikemanusiaan. Seorang laki- laki tua, amat
tua sehingga tak memiliki tenaga untuk berlari, orang itu hanya bisa
pasrah ketika seekor kuda berderap kencang dan menabrak tubuhnya.
Lelaki tua itu terjengkang dengan darah muncrat dari kepalanya yang
terbentur batu. Tak puas dengan hasilnya, prajurit penjarah itu berbalik
dan melindasnya.

Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Menggigil Wirota Wiragati yang merasa melihat "rakyatnya"
diperlakukan dengan tindakan kejam dan semena-mena. Sebatang
anak panah segera dicabut dan hanya butuh waktu sekejap untuk
membidik. Pelaku berkuda pemilik tindakan keji itulah yang lantas bernasib
malang. Warastra yang terlepas dari busur Wirota Wiragati tenggelam di
lehernya. Ambruk tubuh itu tak segera jatuh ke tanah karena kudanya
membawanya pergi menyeretnya entah ke mana.
Siulan melengking tinggi dari mulut Wirota Wiragati adalah isyarat
untuk kuda tunggangannya. Kuda tegar berotot melingkar itu sedang
sibuk membebaskan diri dari seseorang yang mengejarnya. Mendengar
panggilan yang amat dikenalinya, kuda itu balik arah dan menerjang
orang yang mengejarnya. Ambruk orang itu, kakinya keseleo. Wirota
Wiragati yang telah duduk di atas pelana mendekatinya. Sebatang warastra
siap melesat menembus wajah orang itu yang rupanya memendam rasa
takut. "Sebenarnya siapa kalian, dari mana, dan untuk apa menyerang
Mameling?" tanya Wirota Wiragati.
"Ampun, ampuni aku, jangan bunuh aku," teriaknya ketakutan.
360 Gajah Mada Wirota Wiragati masih tetap mengarahkan anak panahnya.
"Sebut dari mana kamu berasal!" teriak Wirota Wiragati makin tak
sabar. "Aku dari Gelang-Gelang," jawab prajurit itu.
"Gelang-Gelang?" ulang Wirota Wiragati.
"Maafkan aku," prajurit Gelang-Gelang itu meratap.
Namun, Wirota Wiragati sedang tak punya persediaan rasa belas
kasihan. Gagang anak panah yang berada dalam pegangannya lepas dari
busur yang terentang dan amblas ke matanya, tenggelam ke genangan
otaknya yang sebagian muncrat ke luar. Mati yang dialami prajurit dari
Gelang-Gelang itu adalah cara mati yang harus melalui sekarat paling
mengerikan. Tubuhnya menggeliat bagai cacing kepanasan, mengagetkan
prajurit lain yang segera berdatangan.
Wirota Wiragati yang marah bukan alang kepalang itu menabur
dendang tembang kematian. Anak panahnya dilepas berhamburan
menerjang lima orang prajurit sekaligus. Lima orang prajurit itu
benar-benar tidak menyangka akan mengalami nasib buruk seperti itu,
kelimanya ambruk susul-menyusul. Wirota Wiragati mendekati mereka
dan mengambil beberapa endong yang penuh dengan anak panah. Sepak
terjang nggegirisi seorang lelaki berkuda itu mengagetkan Lurah Prajurit
Jaran Guyang yang terheran-heran.
"Hanya seorang mengurangi jumlah kita demikian banyak?" teriak
Jaran Guyang. Prajurit yang menghadap memberi laporan itu tidak mampu
menjawab. "Di mana dia sekarang?"
"Ke arah selatan."
"Kejar!" teriak Lurah Prajurit Jaran Guyang.
Lurah Prajurit Jaran Guyang menganggap laporan mengenai
perlawanan yang diberikan oleh hanya seorang laki-laki berkuda, tetapi
Hamukti Palapa 361 dengan sangat telak mengurangi jumlah bawahannya, sebagai hal yang
sangat penting. Itu sebabnya, sebuah bende segera dipukul bertalu sebagai isyarat
agar segenap prajurit yang menyebar ke segenap sudut kota Mameling
berkumpul. Perintah menggunakan gong besar itu masih harus disusul
dengan anak panah sanderan yang dilepas membubung melesat ke
langit. Lurah Prajurit Jaran Guyang menggeram marah melihat jumlah
anak buahnya telah berkurang lumayan banyak. Masing-masing memberi
laporan, pelakunya seorang penunggang kuda yang amat mahir melepas
anak panah yang dilakukan dengan gerakan susul-menyusul nyaris tanpa
jeda. "Di mana orang itu sekarang?" tanya Lurah Prajurit Jaran Guyang.
"Di selatan, Ki Lurah!" jawab seorang prajurit.
Jaran Guyang terbungkam sejenak. Pimpinan pasukan yang ditugasi
menggempur Singasari dari arah utara itu berusaha menimbang, apakah
ia dan segenap anak buahnya telah melaksanakan tugas dengan baik
atau belum. "Baik," kata Jaran Guyang, "kita kejar orang itu."
Mameling telah membara dengan rumah yang dibakar nyaris tak
terhitung jumlahnya. Asap membubung tinggi ke angkasa yang terlihat
jelas dari arah Singasari. Kekacauan yang ditimbulkan oleh para prajurit
dari Gelang-Gelang benar-benar sangat mengerikan, setidaknya ketika
cerita tentang penjarahan itu telah melalui gethok tular.
Di tengah sawah dan berdiri di atas punggung kudanya, Wirota
Wiragati memerhatikan asap itu dengan amat terpesona. Hati nuraninya
benar-benar tidak mampu menerima ulah para penjarah itu, apa pun
alasannya. "Aku harus melaporkan apa yang dilakukan orang GelangGelang itu ke Singasari. Perbuatan biadab yang mereka lakukan harus
mendapatkan hukuman."
362 Gajah Mada Akan tetapi, Wirota Wiragati tak boleh terlalu lama berdiam diri di
tengah bulak sawah itu karena sejenak kemudian serombongan prajurit
berkuda tampak keluar dari batas kota Mameling. Rupanya mereka
sedang memburunya. Wirota Wiragati segera melepas pakaian yang
dikenakan dan melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang dari
Gelang-Gelang Kediri itu.
Puas mengejek, Wirota Wiragati segera mengelus punggung
kudanya yang merupakan isyarat dan perintah supaya segera berderap
meninggalkan tempat itu. Wirota Wiragati kembali mengejek dengan
melambaikan pakaian di tangannya. Wirota Wiragati tidak merasa
cemas akan terkejar oleh rombongan prajurit berkuda yang keluar dari
Mameling itu karena merasa yakin tak ada kuda mana pun yang mampu
mengalahkan kuda tunggangannya.
"Ayo, kejar aku!" teriak maling dari Keta itu.
Pancingan itu membakar hati pasukan berkuda dari Gelang-Gelang
yang telah menjarah Mameling. Bagai kesetanan, mereka berpacu amat
kencang. Di depan sendiri, Lurah Prajurit Jaran Guyang sudah merasa
seperti terbang. Namun, kecepatan yang seperti membelah angin itu
dirasa masih kurang cepat.
Wirota Wiragati tak mempunyai pilihan lain selain melarikan diri.
Dalam keadaan yang demikian, tidak ada gunanya melepas sirep, tidak
ada gunanya mengundang tebalnya kabut.
22 H ening di bilik pribadi Ibu Suri Gayatri dengan para Prabu Putri
menyimak penuh perhatian, demikian pula dengan para suami masingHamukti Palapa 363 masing di tempat duduknya. Ibu Tribhuaneswari ikut menyimak kisah
yang terjadi dan menjadi bagian dari masa lalu itu dengan mata terpejam
seperti orang tidur. Di tempat duduknya, Mahapatih Arya Tadah menyimak sambil
mengunyah sirih lengkap dengan bumbunya. Dalam tata pergaulan
istana, sirih adalah sajian yang disediakan di istana Ibu Suri Rajapatni
Biksuni Gayatri, dan bagi siapa pun yang ingin makan sirih diperbolehkan
tanpa harus dianggap tak sopan meski melakukan di hadapan Sang
Ratu. Sebelah-menyebelahi Mahapatih Arya Tadah yang duduk di sebuah
kursi yang sederhana, Patih Gajah Mada dan Senopati Gagak Bongol
ikut menyimak penuturan yang disampaikan perempuan yang paling
dihormati di Majapahit itu.
"Ayahanda Prabu telah diperingatkan, terutama oleh Eyang Adyaksa
Raganata," kata Ibu Suri Gayatri pelan. "Tetapi, Ayahanda Prabu tak
percaya. Barulah Ayahanda Prabu Kertanagera terkejut ketika makin
banyak pengungsi yang berdatangan mencari selamat ke ibu kota.
Ayahanda Sri Kertanegara yang turun dari Tatag Rambat langsung
meninjau ke alun-alun, melihat orang-orang yang terluka, menyaksikan
secara langsung seorang perempuan hamil yang langsung melahirkan
setelah sampai di alun-alun istana. Akhirnya, Ayahanda Prabu memimpin
sendiri pemberian pertolongan yang diberikan kepada para pengungsi
itu. Pada saat demikian, Kakangmas Nararrya Sanggramawijaya, calon
suamiku, telah menyiagakan segenap pasukan dengan kekuatan jauh
dari sebutan segelar sepapan karena sebagian besar telah dikirim ke ranah
Perca." Ibu Suri Gayatri menengadah memandang garis-garis usuk beserta
belandar, tetapi sejatinya sedang menerobos masuk ke dalam kenangan
yang menjadi bagian dari masa lalu, yang sudah sangat lama kejadiannya,
tetapi bagai baru terjadi kemarin petang dan masih tersisa getar degup
jantung yang diakibatkannya.
Kegelisahan yang menyeruak dan terjadi, dengan mendadak
menggoyang Istana Singasari, menempatkan para sekar kedaton sangat
364 Gajah Mada gugup. Sri Paramesewari Dyah Dewi Tribhuaneswari pucat pasi, demikian
pula dengan ketiga adiknya, Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita,
Sri Jayendradewi Dyah Dewi Pradnya Paramita, dan Sekar Kedaton Sri
Jayendradewi Dyah Dewi Gayatri.
Adik bungsu mereka yang telah menikah dengan Ardaraja sedang
berada di istana bersama Ibunda Permaisuri Bajradewi. Bungsu yang
ketakutan mengetahui apa yang terjadi, apalagi berkaitan dengan
perbuatan yang dilakukan mertuanya, mendorongnya memilih berada
di istana bersama ibunya.
Sang Prabu Kertanagera merasa dadanya sangat sesak. Saat saling
berpandangan dengan mantan Patih Raganata, isi dadanya dijejali rasa
penyesalan. Kini, Sri Kertanegara melihat kebenaran dari apa yang
dicemaskan Sang Adyaksa Tumapel Raganata, bahwa penerus garis
keturunan Kediri amat mungkin melakukan tikaman dari belakang.
Di sebelah Raden Wijaya, yang berdiri tegap dan telah mengenakan
jenis pakaian untuk berperang, berdiri Ardaraja yang amat salah
tingkah. Ardaraja layak cemas. Sebagai menantu Sang Prabu, ia harus
menempatkan diri membela mertua dan negaranya. Namun, musuh
yang menyerbu kali ini adalah ayahnya sendiri.
Di belakang Raden Wijaya, perwira-perwira muda yang pilih tanding
siap siaga menunggu perintah. Medang Dangdi merasa tak sabar untuk
segera menuju Mameling, demikian pula dengan Nambi yang membeku
wajahnya, Gajah Pagon tangannya bergetar tanda tak sabar, begitu pula
dengan Pamandana dan Pawagal.
"Sanggramawijaya!" panggil Sri Kertanegara dengan suara parau.
Raden Wijaya yang telah menyiagakan pasukannya bergegas
menyembah. "Hamba, Paman Prabu!" jawab Raden Wijaya dengan sigap.
"Sekarang kita melihat Jayakatwang ternyata terbukti tidak tahu
diri. Entah cara bagaimana yang ia gunakan dalam memandangku. Aku
ini saudara iparnya karena Raja Kediri itu telah mengawini saudaraku
Hamukti Palapa 365 Narrarya Turuk Bali.201 Aku ini besannya karena anaknya telah aku ambil
sebagai menantu. Kuangkat Jayakatwang yang semula hanya berderajat
abdi pengalasan menjadi raja di Kediri. Sekarang lihatlah apa yang
dilakukan orang itu."
Raden Wijaya tidak menjawab. Sebaliknya, Ardaraja yang berdiri di
sebelahnya pucat pasi bagai orang yang kehabisan darah. Ardaraja hanya
bisa menunduk, tidak berani membalas tatapan mata ayah mertuanya.
Prabu Jayakatwang yang dicaci maki itu adalah ayahnya yang sangat tak
habis ia pahami mengapa menggelar makar seperti itu.
"Wijaya!" kembali Sang Prabu Kertanagera menyebut nama calon
menantunya itu dengan suara bergetar.
"Hamba, Paman Prabu!" jawab Raden Wijaya dengan suara dan
sikap sigap. "Jemput dan hancurkan musuh yang mencoba menggoyang pilar
istanaku!" Raden Wijaya tidak perlu menunggu perintah itu diulang kembali.
Suara gong terdengar menggelegar ketika anak Dyah Lembu Tal itu
mengayunkan isyarat tangannya. Bende dan genderang ditabuh berderap
menggugah semangat, ditingkah sangkakala yang ikut menggetarkan
suara ketika ditiup. Barisan berkuda yang dipimpin oleh Raden Wijaya
merapikan diri. Sementara itu, di belakangnya, barisan pasukan berjalan
kaki di bawah pimpinan Ardaraja siap menyusul dan memberi dukungan.
Namun, hati pimpinan pasukan jalan kaki itu benar-benar sedang
terbelah. Manakala perintah untuk menjemput pasukan musuh itu diberikan,
pasukan jalan kaki itu tak hanya berjalan kaki. Mereka berlari-lari seperti
takut keduluan oleh musuh yang jika telanjur masuk kotaraja pasti akan
menimbulkan kekacauan. Sebisa mungkin pasukan penjarah yang berasal
dari Gelang-Gelang itu disirnakan di luar kota, dilumat habis jangan
sampai ada sisanya. 201 Narrarya Turuk Bali, istri permaisuri Prabu Jayakatwang yang masih bersaudara dengan Prabu Kertanegara.
366 Gajah Mada Alun-alun yang semula sesak oleh prajurit itu kini kosong. Prabu
Kertanegara memandang segenap rakyatnya yang mengungsi ke istana
dengan pandangan mata nanar. Prabu Sri Kertanegara menghirup tarikan
napas panjang ketika mantan Patih Raganata dan Mantri Angabhaya
Wirakreti, mantan temenggung yang pernah dilorot jabatannya itu
datang mendekat. "Ternyata aku salah, Paman!" kata Raja Sri Kertanegara.
Raganata yang tua itu tak berbicara apa pun. Andaikata ia masih
muda dan masih memiliki tulang yang kuat serta tubuh yang liat,
akan disambutnya pasukan penyerbu itu dengan sepasang pedang
dilintangkan di dada. Namun, Raganata merasa dirinya telah tua, singa
muda boleh jadi menyimpan kegarangannya, tetapi bagaimana dengan
singa tua macam dirinya yang telah ompong tak punya gigi. Bahkan,
untuk sekadar mengaum, ia tidak mampu lagi. Demikian pula dengan
mantan Temenggung Wirakreti yang kini hanya menjabat sebagai mantri
angabhaya, tidak ada yang bisa dilakukan setelah kini berubah menjadi
macan ompong yang tidak punya siung.202
Nanar pandangan mata Sang Prabu ketika melangkah memutar,
a melihat pasukan di bawah pimpinan Raden Wijaya telah tidak
tampak bayangannya. Rasa cemas yang tiba-tiba datang menyeruak
menyebabkan Sang Prabu merasa dirambati oleh ribuan ekor semut
yang menggerayangi punggungnya.
"Anengah!" ucap Kertanegara gelisah.
Sigap Patih Mahisa Anengah yang berdiri bersebelahan dengan Patih
Angragani menempatkan diri berdiri di depan rajanya.
"Hamba, Sang Prabu!"
"Tiba-tiba hatiku menjadi tidak tenang. Aku mencemaskan
kemenakanku. Masih ada seberapa kekuatan yang tersisa yang
membentengi istana?"
202 Siung, Jawa, taring Hamukti Palapa 367 Mahisa Anengah saling pandang dengan Patih Angragani. Mereka
merasa ngeri membayangkan jumlah prajurit yang tersisa dan bertugas
menjaga istana sedikit sekali.
"Mohon ampun, Tuanku," Mantri Angabhaya Wirakreti menyela.


Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apakah Tuanku akan mengerahkan sisa pasukan yang ada, yang menjaga
keamanan istana, menyusul Anakmas Raden Wijaya?"
Sri Kertanegara menoleh menghadapinya. Sri Kertanegara merasa
sangat tidak nyaman karena kini terbukti kecemasan yang berulang kali
disampaikan oleh mantan Mahapatih Raganata dan mantan Temenggung
Wirakreti itu ternyata benar. Jayakatwang benar-benar tak tahu diri dan
tidak tahu balas budi. Setelah diangkat derajatnya dari yang semula hanya
Rakrian Pengalasan menjadi raja di Kediri, balasannya adalah kotoran
yang dicipratkan ke wajahnya.
"Sudah jelas pasukan dari Gelang-Gelang sekarang berada di
Mameling dan aku sangat mencemaskan Wijaya yang masih muda dan
belum memiliki pengalaman dalam berperang. Patih Mahisa Anengah,
kerahkan segenap pasukan yang tersisa. Susullah dan berikan dukungan
kepada anakku, Wijaya. Bantu dia melumat habis pasukan dari GelangGelang yang tidak tahu diri itu," kata Kertanegara.
Perintah yang dijatuhkan demikian jelas. Patih Mahisa Anengah yang
juga merasa cemas segera memberi isyarat kepada seorang prajurit yang
memegang tambur. Prajurit itu tanggap dengan tugas yang diterimanya.
Maka, sejenak kemudian bunyi tambur yang dipukul berderap disusul
oleh beberapa anak panah sanderan yang dilepas membubung ke langit,
menambahi ketegangan yang telah terbentuk.
Cemas dan tegang telah merata menyebar ke segala penjuru. Para
penduduk, terutama mereka yang masih muda segera mengangkat
senjata. Para orang tua tidak mencemaskan anaknya yang tergugah dan
terpanggil bela negara, bahkan mendorongnya untuk turun menjemput
kedatangan musuh. Akan tetapi, ada pula yang cemas dan memilih
menutup pintu. Derap genderang yang bersambut suara kentongan itu makin
menjadikan keadaan tidak menentu. Di alun-alun, dengan tergesa-gesa,
368 Gajah Mada Patih Mahisa Anengah memberikan taklimat kepada para prajurit yang
terkumpul dan langsung memberangkatkan mereka menuju Mameling.
Berdebar-debar Patih Mahisa Anengah melihat bala bantuan sukarela
yang menyampaikan keinginannya untuk ikut bertempur menyelamatkan
Mameling yang dijarah. Apalagi, dari ketinggian terlihat asap tebal
membubung dari Mameling. Sang Prabu Kertanegara telah meninggalkan alun-alun dan melintasi
balairung istana diikuti oleh Adyaksa Tumapel Raganata, yang entah
mengapa telah memindah letak kerisnya dari yang semula di belakang
punggung ke ke depan, contoh yang dengan segera diikuti oleh mantan
Temenggung Wirakreti. Patih Angragani yang melihat semua itu akhirnya
meniru. Dengan berlari-lari, para sekar kedaton mengikuti di belakang. Sri
Kertanegara mengayunkan langkah lebarnya menuju keputren tempat
Sang Ratu Permaisuri Bajradewi dan anak bungsunya menunggu dengan
cemas. Namun, belum sempat perbincangan terjadi dan baru seteguk Sang
Prabu minum tuak untuk menyalurkan endapan kejengkelannya, suara
titir itu terdengar bertalu-talu yang disusul dengan sorak-sorai yang
menggemuruh. "Apa itu?" tanya Sri Kertanegara yang cemas.
Seorang tandha berlari-lari datang mendekat membawa sebuah
laporan yang amat menyengat. Sri Kertanegara melihat betapa pucat pasi
wajah tandha yang tidak ikut memanggul senjata ke medan perang itu.
"Ampun, Tuanku," ucap tandha itu dengan suara terbata-bata.
"Pasukan dengan kekuatan segelar sepapan menggempur istana dari arah
selatan, dipimpin langsung oleh Prabu Jayakatwang."
Jika ada biang petir yang meledak amat keras, sama sekali belum
cukup, belum ada apa-apanya meski tanah tiba-tiba bergoyang dan
terbelah, tidak ada secuil kukunya meski seekor singa raksasa mendadak
muncul dan menghadang. Kekagetan yang timbul dan dirasakan Sang
Prabu melebihi apa pun. Hamukti Palapa 369 "Jayakatwang?" tanya Kertanegara dengan menahan muntab.
"Hamba, Tuanku," jawab tandha yang sudah tua itu.
Sorak-sorai yang terdengar dari luar dinding amat keras, gemuruh
gegap gempita. Melihat semua itu, Raganata justru tersenyum dan mulai
menarik kain wiron-nya.203
"Ayo, Wirakreti, rupanya kita punya pekerjaan. Mari jemput mereka
semata-mata karena panggilan jiwa, semata-mata inilah kehormatan yang
masih tersisa. Kita sudah tua, Wirakreti, cepat atau lambat, nantinya
kita akan mati. Marilah kita mati dengan cara yang terhormat. Mari kita
jemput pasukan musuh itu dan jangan melarikan diri menghindari. Mari
kita tiru apa yang dilakukan Kumbakarna,204 jangan karena alasan apa
pun di luar itu." Di bawah tatapan kebingungan Patih Angragani, mantan
Temenggung Wirakreti yang kini menjadi mantri angabhaya ikut
menyingsingkan kain wiron dan membalas senyuman sahabatnya yang
juga sudah sama-sama tua itu.
"Musuh yang sebenarnya telah datang, Sang Prabu," Mantri
Angabhaya Wirakreti berkata. "Sebaiknya Sang Prabu meninggalkan
keputren segera untuk menjemput mereka. Karena sungguh sangat nista
jika Raja Singasari terbunuh di keputren. Mari, Sang Prabu, kita sambut
tamu-tamu yang membawa nafsu membunuh itu."
Udara mengombak, semua dada serasa ikut berderak. Prabu
Putri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani mendekap dada
dengan tak pernah sekalipun menyela tuturan ibunya. Di sebelahnya,
Sri Kertawardhana memegang jari-jari tangan kiri istrinya untuk
203 Wiron, Jawa, sebagaimana masih terlihat jejaknya di keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon, para lelaki mengenakan kain panjang yang disebut jarik. Pada bagian depan kain panjang yang digunakan itu dilipat-lipat, lipatan itulah yang disebut diwiru atau wiron.
204 Kumbakarna, adik Raja Rahwana dalam cerita Ramayana. Dalam kisah tersebut dituturkan betapa Kumbakarna sangat tidak menyetujui apa yang dilakukan kakaknya yang telah menculik Shinta, istri Rama. Untuk itu, Kumbakarna rela meninggalkan istana. Namun, ketika negaranya berada di ambang kekalahan, Kumbakarna turun ke medan perang dengan alasan utama bela negara, bukan membela perbuatan kakaknya.
370 Gajah Mada menenteramkan hatinya. Sebagaimana Sri Gitarja yang tidak berbicara
apa pun, Sri Kertawardhana memilih diam tak menyela ucapan
mertuanya. Demikian pula dengan Prabu Putri Rajadewi Maharajasa,
memandang ibunya dengan tatapan mata tidak berkedip. Sesak gelisah
yang dirasakan Ibu Suri Gayatri yang menuturkan peristiwa paling
menyedihkan di akhir masa pemerintahan Singasari menular dengan
sempurna ke dalam kalbunya. Di sebelahnya, Wijaya Rajasa Hyang
Parameswara bersedekap tanpa suara. Namun, tak sekalimat pun dari
yang diceritakan Ibu Suri Rajapatni Biksuni Gayatri yang lolos dari
saringan pendengarannya. Datar tidak menunjukkan bagaimana warna hati yang sebenarnya,
Gajah Mada, yang duduk bersila di sebelah Mahapatih Arya Tadah,
menyimak penuturan itu dengan segumpal kebencian yang ditujukan
kepada sosok Arya Wiraraja yang dianggapnya tidak ubahnya pengadu
domba yang dengan permainan culasnya telah merobohkan Singasari.
Sosok Arya Wiraraja yang juga bernama Banyak Wide itu dianggap tak
punya pendirian, petualang dari Madura yang menganggap nyawa tak
ada harganya, nilainya hanya sebatas permainan yang dikendalikannya,
setelah merobohkan Singasari lalu berbalik menjadi dalang upaya
merobohkan Gelang-Gelang.
Dari tuturan pendahulu dan catatan sejarah, Gajah Mada tahu,
Banyak Widelah yang mengundang pasukan Mongol untuk menyerbu
Singasari yang dibelokkan ke Gelang-Gelang. Ongkos untuk petualangan
Arya Wiraraja itu seharga Lumajang yang oleh Prabu Wijaya dihadiahkan
kepadanya, yang tidak hanya sebatas Lumajang saja, tetapi ditambah
wilayah bawahan sebanyak tiga juru.205
Mahapatih Arya Tadah menyimak penuturan Ratu Biksuni Gayatri
dengan penuh perhatian tanpa mengalami kesulitan memahami urut205 Tiga juru, setelah kematian Ranggalawe, anaknya, Arya Wiraraja menghadap Raden Wijaya untuk menagih janji. Ketika ditolong oleh Bupati Sungenep itu, Raden Wijaya pernah berjanji, kelak setelah berhasil menjadi raja akan membagi dua wilayah kekuasaannya dengan Arya Wiraraja. Tiga juru dimaksud adalah tiga wilayah bawahan yang diikutsertakan sebagai bawahan Lumajang.
Hamukti Palapa 371 urutannya karena sebagai abdi tandha yang kemudian melintas menjadi
prajurit boleh dikata ia ikut terlibat dalam semua peristiwa yang terjadi.
Meski tidak sedahsyat apa yang dilakukan Mahapatih Nambi, tak sehebat
sepak terjang Wirota Wiragati, Medang Dangdi, Sora, dan sebagainya.
Meski hanya setetes, ia ikut menyumbangkan keringatnya.
Mengapit Mahapatih Amangkubumi Arya Tadah, Senopati Gagak
Bongol telah menjelma menjadi sebuah patung. Dengan duduk bersila,
Gagak Bongol menyimak apa yang disampaikan Ibu Suri Rajapatni
Gayatri dengan penuh minat, dilambari hati gelisah dan jantung
berdentang-dentang. Tiba-tiba, Ibu Suri Tribhuaneswari yang menyimak dongeng adiknya
dengan mata terpejam seperti orang tidur, itu bergerak merapikan
duduknya dan membuka mata.
"Apa yang kemudian terjadi saat itu merupakan mimpi buruk yang
tak mungkin kami lupakan entah sampai kapan pun. Ibu Permasuri
Bajradewi dan saudaraku yang lain berusaha menyelamatkan diri.
Dengan ketakutan setengah mati, aku mengikuti langkah Sang Prabu
yang menyongsong musuh, aku melihat semuanya."
Amat serak suara Ibu Suri Tribhuaneswari, menyebabkan semua
yang menyimak merasa lehernya bagai tercekik.
"Aku melihat semuanya, terjadi di depan mataku," wanita sangat
terhormat itu melanjutkan dengan suara gemetar.
Rupanya memang dendam kesumat yang dibawa Jayakatwang yang
merasakan aliran darah Kertajaya di tubuhnya, dendam lama yang dilatari
penyerbuan Ken Arok ke Kediri itu, kini diterjemahkan dengan lugas
bagaimana cara pelunasannya. Tentu Sekar Kedaton Tribhuaneswari
gemetar ketakutan melihat rob pasukan yang datang bagaikan banjir
bandang yang tak mungkin terbendung. Patih Angragani mati paling
dulu dengan tubuh ambruk ditembus ombak.
Prajurit dari Gelang-Gelang merasa segan berhadapan dengan
mantan Mahapatih Raganata, tetapi macan tua itu mengamuk berusaha
melepas simpul kematiannya. Akhirnya, sebuah tombak panjang
372 Gajah Mada tenggelam di perutnya. Barangkali mantan Mahapatih Raganata memang
telah siap menjemput kematian yang bakal dialaminya, kematian itu
disambutnya dengan tersenyum.
Rasa sakit yang muncul karena sebuah tombak telah menembus
tubuhnya diubah menjadi sesuatu yang indah penuh muatan harga diri,
mirip dengan apa yang dirasakan Bisma ketika menyongsong kematian
setelah ditembus anak panah yang dilepas Srikandi yang menjadi titisan
Amba. Pun demikian dengan mantan Temenggung Wirakreti, dengan
senjata trisula di tangan kanan dan keris yang telah ditelanjangi di
tangan kiri, kakek-kakek yang tidak mampu mengukur kekuatannya itu
mengamuk. Siapa pun musuh yang berani mendekat akan disambarnya dengan
tombak bergagang pendek, jenis senjata yang menjadi andalan dan agak
dikeramatkan. Untuk senjata itu, tiap sebulan sekali selalu diselenggarakan
pencucian menggunakan warangan206 yang masih dilengkapi dengan
persembahan sesaji. Setiap sentuhan senjata itu dijamin akan membuka
pintu gerbang kematian bagi korbannya.
Akan tetapi, orang itu ambruk sendiri. Seorang prajurit Gelang-Gelang
yang tidak mengenali siapa dirinya dengan amat tangkas mengayunkan
pedang panjangnya menebas lehernya. Ambruk tubuh Mantri Angabhaya
Wirakreti, dengan kepala terpisah dari gembung-nya.207
Yang kemudian menjadi bulan-bulanan adalah raja Sri Kertanegara
yang telah dikepung rapat, tersudut ke dinding dan tak mampu bergerak.
Di depannya, puluhan orang prajurit dengan anak panah terpasang di
langkap yang terentang, dan tinggal menunggu isyarat perintah yang akan
dijatuhkan, dijamin pasti habis riwayat Sri Kertanegara.
Para prajurit dengan anak panah siap menerjang tubuh Kertanegara
menyibak ketika seseorang mendekat dengan tertawa terbahak-bahak.
206 Warangan, Jawa, racun arsenikum
207 Gembung, Jawa, tubuh tanpa kepala
Hamukti Palapa 373 Mata Sri Kertanegara terbelalak ketika bersirobok pandang dengan orang
itu, Jayakatwang yang memegang trisula di tangan kirinya dan tangan
kanan memegang sehelai cambuk.
Mahisa Mundarang, Patih Gelang-Gelang, menyumbangkan
tatapan mata sangat tajam, melotot amat tak sabar dan oleh karenanya
mata Patih Mundarang itu serasa akan lepas dari kelopaknya. Mahisa
Mundarang merasa tangannya amat gatal dan ingin segera melepas
anak panah di tangannya. Mahisa Mundarang mengarahkan warastra itu
tepat ke jantung. Jika panah itu terlepas, pasti akan menembus tulang
rusuknya. Dengan kemarahan yang nyaris meretakkan dinding kepalanya,
Sri Kertanegara memandang penuh kebencian kepada Jayakatwang.
Jika selama ini Prabu Jayakatwang terpaksa harus menunduk dan
menyembunyikan raut muka yang sebenarnya, kini saatnya menampakkan
kebencian yang sama kepada raja berdarah Girindrawangsa itu. Kebencian
itu bagai biang api, dijamin jika ada daun kering berani melayang melintas,
akan terbakar daun kering itu. Jika sebutir telur berada di titik pandang
dua raja yang kini saling membenci itu, akan matang telur itu tanpa
harus direbus. "Apa yang kaulakukan ini, Jayakatwang?" tanya Prabu Kertanegara
dengan suara amat bergetar.
"Tidak ada yang perlu kujawab dari pertanyaanmu itu, Kakang
Kertanegara. Kau mengetahui dengan tepat alasan apa yang kupunya
dengan tindakan yang aku lakukan," jawab Jayakatwang.
Kertanegara memandang dengan lupa berkedip. Ayunan dadanya
adalah karena kebutuhan udara yang lebih banyak untuk mengimbangi
amarah yang akan menjebol dadanya. Keris di tangan Kertanegara
bergerak. Sayang keris itu hanyalah keris biasa, bukan keris buatan Empu
Gandring yang konon berkesanggupan menghadapi musuh berjumlah
berapa pun. Jayakatwang, penerus Kertajaya, merasa tak perlu berlama-lama
mengulur waktu. Ketika cambuk di tangan kirinya meledak menyambar
374 Gajah Mada wajah Raja Singasari, menyisakan jejak luka yang langsung mengeluarkan
darah, sekaligus itulah sebuah perintah yang dijatuhkan kepada segenap
prajuritnya untuk serentak melepas anak panah. Susul-menyusul warastra
melejit menghajar tubuhnya.
Jika ada lima puluhan orang yang memberikan kepungan dengan
amat rapat dan masing-masing menyumbang dua anak panah yang
dilepas beruntun, cukup sekali saja bagi Prabu Kertanegara untuk
menggeliat. Rasa sakit diabaikan karena telah dengan kesungguhan hati,
Prabu Kertanegara menyambut kematian dengan kemarahan, bukan
dengan ketakutan. Kemarahan mengabaikan kesakitan. Sebaliknya,
ketakutan akan menyebabkan kesakitan.
Dari tempat persembunyiannya dan mampu menyaksikan dengan
jelas apa yang terjadi, Sekar Kedaton Tribhuaneswari merasa lehernya
tercekik dan tak mampu bernapas. Kesakitan yang tidak dirasakan oleh
Sri Kertanegara justru dirasakan oleh Tribhuaneswari. Lebih dari seratus
anak panah yang disumbangkan oleh sekitar lima puluh prajurit yang
masing-masing menyumbangkan setidak-tidaknya dua buah anak panah
dan bahkan lebih, menusuk langsung ke pusat saraf rasa sakit yang
dimiliki Sekar Kedaton Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari.
Berkunang-kunang mata Sang Sekar Kedaton Tribhuaneswari yang
memerhatikan kejadian itu dari tempat persembunyiannya. Betapa sulit
Tribhuaneswari berusaha keras menguasai diri. Di satu sisi, gadis itu ingin
menjerit sekuat-kuatnya. Namun, pada sisi lain harus membungkam


Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mulut agar jangan sampai ketahuan. Beruntung Tribhuaneswari akhirnya
sampai pada batas kemampuan menahan diri. Tribhuaneswari tidak
sadarkan diri dan ambruk tergeletak ketika seorang prajurit melintas dan
menganggapnya sosok mayat yang menjadi korban perang amat berdarah
dan brutal itu. Prajurit itu memandangi tubuh yang telah menjadi mayat
itu. Sejenak kemudian, dengan bergegas ia mengayun langkah.
Patih Gajah Mada dan Senopati Gagak Bongol yang menyimak
penuturan itu saling lirik. Jika Gajah Mada kemudian menggelenggeleng kepala adalah karena bisa merasakan betapa luar biasa beban
yang dirasakan Ibu Suri Tribhuaneswari.
Hamukti Palapa 375 "Aku tak mungkin melupakan kejadian itu," bisik Ibu Suri
Tribhuaneswari. Air mata tampak menggenang di kelopak mata Prabu Putri
Tribhuanatunggadewi, demikian pula dengan Prabu Putri Dyah Wiyat
Rajadewi Maharajasa. Namun, ia tidak berniat mengusapnya. Prabu Putri
Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa membiarkan air mata itu bergulir di pipi.
Meskipun demikian, tidak terdengar sedu-sedan, tangisnya tanpa isak.
"Aku tidak mungkin melupakan," kembali berbisik Ibu Suri
Tribhuaneswari. "Aku tidak tahu bagaimana cara melupakan. Nyaris
sepanjang tidurku, kejadian itu selalu hadir dalam mimpi."
Bergegas bangkit Prabu Putri Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi
Jayawisnuwardhani, mendekat dan kemudian bersimpuh di depan Ibu
Suri Tribhuaneswari. Prabu Putri segera menyembah dan memegang
lutut perempuan tua yang amat dihormati di seluruh negeri itu.
Hening yang kemudian merampok ruang itu adalah dalam rangka
semua orang melarutkan perasaan masing-masing. Jantung Ibu Suri
Tribhuaneswari yang mengayun deras akhirnya kembali tenang.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, dipeluknya Prabu Putri
Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani yang meski tidak terlahir dari
gua garba-nya,208 amat dikasihi tak ubahnya anak kandung sendiri.
Perhatian kemudian diarahkan kepada Ibu Suri Gayatri yang
menengadah. Ibu Suri Gayatri siap melanjutkan kisahnya kembali.
"Ketika itu, kami, para sekar kedaton, tercerai-berai," kata Rajapatni.
"Aku tidak tahu bagaimana nasib Mbakyu Ratu Tribhuaneswari. Aku
juga tak tahu bagaimana nasib Mbakyu Ratu Narendraduhita, dan nasib
Mbakyu Ratu Dyah Dewi Pradnya Paramita. Aku mengetahui setelah
nantinya berkumpul kembali. Malang nasibku karena meski aku telah
bersembunyi, aku tertangkap."
208 Gua garba, Jawa, kandungan
376 Gajah Mada 23 K akek tua Wirora Wiragati menengadah memandang langit
yang di sana bintang-bintang gemerlapan. Namun, karena matanya
sudah berlapis warna putih, menyebabkan ia tak lagi melihat bintangbintang itu. Wirota Wiragati tertawa terkekeh, serasa ada sesuatu yang
menggelikan dalam kenangannya.
Di depannya, duduk melingkar mengelilingi api, Lanjar Manuraha,
Udan Tahun, Panji Hamuk, dan Bremoro menyimak penuturan kakek
tua itu dengan penuh minat.
"Di tengah bulak sawah terjadi kejar-kejaran. Aku dengan kuda
tungganganku yang luar biasa berpacu kencang dan tak mungkin terkejar
karena kudaku adalah kuda pilihan. Di belakangku, aku tak mampu
menghitung berapa jumlah prajurit berkuda dari Geleng-Gelang yang
mengejarku, pokoknya banyak sekali, mungkin lima puluh atau lebih,
bisa seratus dan bisa seribu. Di pelana kudaku, aku melambai-lambaikan
tangan menggoda. Makin lama aku memacu kudaku berderap makin
dekat dengan perkampungan di depanku. Aku tidak tahu, rupanya di
sana ada pasukan yang melakukan baris pendhem yang agaknya sedang
menunggu kedatangan pasukan itu."
Dengan sebatang kayu, Lanjar Manuraha mempermainkan api
yang mulai kecil. Sebaliknya, Bremoro segera meraih tumpukan kayu di
sebelahnya dan memasukkan ke api agar membesar kembali.
Kiai Wirota Wiragati menerawang kembali, menerobos wilayah
kenangan yang telah menjadi bagian dari waktu amat silam. Kakek tua itu
memerlukan memejam mata untuk bisa menerobos kembali ke wilayah
kenangan yang bahkan telah membusuk, tidak ada bagian-bagian yang
bisa diselamatkan lagi. Dengan kecepatan amat tinggi, Wirota Wiragati melecut kudanya
melesat membelah udara dengan tangan kanan terus mengayun-ayunkan
Hamukti Palapa 377 pakaian yang dilepasnya. Rambutnya yang panjang dan semula digelung
wudar berkibar-kibar. Saat Wirota Wiragati telah tuntas melewati bulak
panjang dan akan memasuki kampung berikutnya, maling dari Keta itu
tiba-tiba berhenti dan berputar dengan amat tangkas menyebabkan kedua
kaki depan kudanya terangkat. Agar kuda tunggangannya tidak menjadi
sasaran serangan, Wirota Wiragati melompat turun dan melecut kuda
itu supaya berlari mendahului memasuki perkampungan. Dengan cukat
trengginas, Wirota Wiragati mempersiapkan diri. Sebatang anak panah
telah terpasang di busur yang segera direntang, dan dengan cermat,
maling dari Keta itu mengamati sasarannya sambil menunggu saat yang
tepat untuk bertindak. Akhirnya, tiba saatnya anak panah itu melejit disusul warastra kedua
dan disusul lagi oleh warastra berikutnya. Bukan penunggangnya yang
menjadi arah sasaran bidik anak panah itu, tetapi kuda tunggangan
mereka. Terjungkal kuda paling depan akan menjadi penyebab terjungkal
pula kuda di belakangnya yang ternyata masih disusul nasib sial yang
dialami oleh para penunggang kuda berikutnya. Salang tunjang prajurit
Gelang-Gelang, terutama sekali mereka yang berada di barisan depan.
Mereka berjatuhan dan kemudian menjadi sasaran empuk anak panah
yang dilepas susul-menyusul.
Akan tetapi, jumlah prajurit berkuda dari negara Gelang-Gelang itu
tidak sedikit. Melihat teman-temannya di bagian depan berjatuhan, yang
berada jauh di belakang segera bertindak, masing-masing membelok
ke kiri dan ke kanan dan dengan segera melepas anak panah balasan.
Wiragati tak mau menjadi sasaran. Dengan berguling, pemuda dari Keta
itu berlindung di balik batu besar dan menyiapkan serangan balasan.
Lagi-lagi, beberapa prajurit terjungkal menjadi korban dari kelincahannya
yang tiada tara. Nun jauh di belakang, hampir sekitar dua ribu prajurit berjalan kaki
bergegas menyusul, apa yang terjadi di ujung bulak itu sangat menarik
perhatian mereka. Apalagi, dari tempat itu bisa dilihat dengan jelas
prajurit berkuda Gelang-Gelang yang mendahului, berjatuhan. Apa yang
378 Gajah Mada terjadi itu tidak lepas dari perhatian para prajurit Singasari yang sedang
melakukan baris pendhem. "Ada yang tahu siapa orang itu?" bertanya Sanggramawijaya.
Medang Dangdi yang berada di sebelah Raden Wijaya tak menoleh.
Perhatiannya dengan cermat diarahkan kepada pemuda berusia sebaya
dengan dirinya, yang dengan keberanian luar biasa memberikan
perlawanan. "Hebat sekali," letup Nambi.
"Siapa pun orang itu," tambah Medang Dangdi, "ia berada di pihak
kita." Sanggramawijaya atau yang juga disebut dengan nama Raden Wijaya
itu dengan penuh perhatian dan minat memerhatikan sepak terjang
seorang pemuda yang entah dengan alasan macam apa menempatkan diri
membela Singasari. Anak panahnya yang dilepas berhamburan dengan
telak, menimbulkan bencana bagi prajurit Gelang-Gelang.
"Semua baris pendhem! Pasukan anak panah siaga, jangan ada yang
melepas anak panah sebelum aku memberi aba-aba. Kita habisi mereka
setelah masuk ke pedukuhan supaya tidak terlihat oleh pasukan jalan kaki
di belakangnya itu," teriak Raden Wijaya dengan suara agak tertelan.
Segenap prajurit panah mempersiapkan diri dengan baik, termasuk
di antaranya Ardaraja, ikut merentang anak panah.
Segenap prajurit di bawah pimpinan Raden Wijaya itu memerhatikan
Ardaraja dengan sabaik-baiknya mengingat Ardaraja adalah anak musuh
yang sedang menyerbu Singasari. Akankah Ardaraja setulus hati membela
negara mertuanya dan sanggupkah menantu Sri Kertanegara itu melawan
ayahnya sendiri" Di balik rimbun pagar bambu dan pepohonan yang lebat, lebih dari
seribu lima ratus prajurit di bawah pimpinan Raden Wijaya melakukan
gerakan senyap. Tak seorang pun yang berbicara. Dengan penuh minat,
mereka memerhatikan tontonan menarik yang terjadi di bulak panjang di
depannya. Di sana, seorang pemuda entah siapa, dengan sangat tangkas
menabur warastra. Hamukti Palapa 379 Akan tetapi, jumlah prajurit dari Gelang-Gelang itu jauh lebih
banyak dan mereka bergerak menyebar ke kiri dan ke kanan sehingga
dalam waktu singkat Wirota Woragati akan bisa dijangkau. Namun,
Wirota Wiragati sudah menghitung keadaan itu dan telah mempersiapkan
diri dengan cepat. Dengan berguling sangat lincah, Wirota Wiragati berlari sekencangkencangnya menuju kuda tunggangannya yang telah kembali setelah
mendengar siulan panjang panggilannya. Prajurit berkuda Gelang-Gelang
yang bersenjata anak panah segera menghujani dengan deras. Tetapi
sambil menoleh ke belakang, Wirota Wiragati bisa menebak ke mana
arah anak panah itu dan dengan gesit menghindarinya.
Sebatang anak panah yang melesat lurus nyaris menyambar
kepalanya, tetapi Wirota Wiragati punya kesempatan untuk merunduk
menghindar. Nyaris nyawanya melayang, tetapi hanya rambut yang
berkibar yang tersambar. Sebatang lagi anak panah melesat memburunya.
Wirota Wiragati berusaha menghindarinya dengan berbelok tajam. Anak
panah itu berhasil dihindarinya, tetapi anak panah berikutnya mengarah
ke pahanya. Lagi-lagi, Wirota Wiragati kembali melakukan gerakan menghindar.
Akan tetapi, anak panah berikutnya terarah pada kudanya. Kuda itu
rupanya mujur karena di pelananya menggantung bende Kiai Samudra.
Panah itu patah karena menghunjam ke logam yang terbuat dari tembaga
yang tebal itu. Sorak-sorai prajurit berkuda Gelang-Gelang yang terus mengejar
Wiragati terdengar menggemuruh. Bagai orang yang takut kehilangan
waktu, Wiragati terus menepuk-nepuk dengan keras pantat kuda
kebanggaannya, dan dengan sekuat tenaga berusaha menerobos masuk
ke pedukuhan di depannya dengan harapan akan kian terbuka peluang
menyelamatkan diri di balik pepohonan dan bahkan melenyapkan diri.
Upaya yang dilakukan dengan sekuat tenaga itu membuahkan hasil.
Meski anak panah susul-menyusul menghujaninya, Wirota Wiragati
akhirnya berhasil masuk pedukuhan dan terus membalapkan kudanya
menyusur jalan di tengah pedukuhan yang tampak sepi itu.
380 Gajah Mada Di belakangnya, puluhan prajurit berkuda yang dipimpin langsung
oleh Lurah Prajurit Jaran Guyang terus memburunya. Teriakan
mereka yang didorong rasa tak sabar sama kerasnya dengan derap
kuda yang mereka tunggangi. Melihat itu, pimpinan pasukan Singasari,
Sanggramawijaya, menahan napas dan menunggu saat yang tepat untuk
memberi perintah. Akhirnya, Raden Wijaya merasa telah tiba saatnya, dan apa yang
kemudian terjadi mengagetkan Wirota Wiragati, yang merasa masih
belum aman dan terus memacu kudanya dengan kencang. Wirota
Wiragati segera menarik tali kekang kudanya, menyebabkan kuda kekar
itu terlonjak dan mengangkat dua kaki depannya sambil meringkik
keras. Wirota Wiragati berbalik arah untuk melihat apa yang terjadi.
Wirota Wiragati memang layak terkejut dengan takaran yang bukan
alang kepalang ketika tiba-tiba terdengar teriakan sebagai isyarat. Wirota
Wiragati amat kaget manakala menyadari di pedukuhan yang baru saja
dimasuki itu telah siaga pasukan berkekuatan segelar sepapan dan sedang
melakukan baris pendhem. Wirota Wiragati merasa jantungnya akan pecah
ketika mendengar riuh gemuruh kuda-kuda berjatuhan disambar anak
yang melesat dari balik pepohonan dan dari arah mana pun.
Lurah Prajurit Jaran Guyang yang berada di belakang benar-benar
terperanjat menghadapi keadaan yang tidak terduga itu. Dengan tangkas
ia segera mengukur jumlah lawan dan bagaimana kekuatannya.
Menilik hujan anak panah yang demikian deras, Lurah Prajurit
Jaran Guyang sampai pada simpulan, tak mungkin menyelamatkan
anak buahnya kecuali menyelamatkan diri sendiri. Lurah Prajurit Jaran
Guyang sedikit beruntung karena sebelumnya telah menyimpan rasa
curiga. Ia yang semula berada di barisan paling depan, berbalik menjadi
di belakang karena kudanya ikut terjatuh sebagai akibat ulah pengacau
luar biasa yang diburunya.
Lurah Prajurit Jaran Guyang tak punya pilihan lain kecuali berbalik
dan melarikan diri. Akan tetapi, naas nasib Jaran Guyang karena sebatang
anak panah melesat dari balik pohon dan menghunjam di leher kuda
Hamukti Palapa 381 tunggangannya. Kuda itu terlonjak dengan dua kaki depan terangkat
tinggi, menyebabkan Jaran Guyang terjatuh. Kemalangannya masih
belum sempurna karena kuda yang amat besar itu ambruk menimpa
tubuhnya. Jaran Guyang merasa perutnya nyaris meledak ditindih kuda
tunggangannya. Andaikata ada seekor kuda lagi ikut menimpanya, pastilah
perutnya akan benar-benar meledak. Mulutnya yang menggelembung
seperti penuh berjejal-jejal makanan dengan mata mendelik melotot
sejengkal dan nyaris lepas, menandakan Lurah Prajurit Jaran Guyang
mengalami rasa sakit yang luar biasa.
Lurah Prajurit Jaran Guyang berusaha membebaskan diri dan
berusaha bangkit, tetapi dengan tangkas otaknya berputar mencari
pilihan terbaik atas apa yang sebaiknya ia lakukan. Jaran Guyang memilih
tetap tertindih kuda dan menahannya dengan sekuat tenaga sambil
berharap pasukan Singasari yang telah menghadangnya menganggap ia
tak lebih dari sosok tubuh yang telah kehilangan nyawa.
Tidak seorang pun yang selamat dalam serangan dadakan itu, dan
karena terjadi di dalam pedukuhan yang terlindung oleh lebat pepohonan,
prajurit berjalan kaki yang menyusul di belakang tidak tahu sesuatu telah
menimpa teman-temannya. Namun, Raden Wijaya bukanlah jenis prajurit
yang kejam dan tak punya perasaan. Segera dijatuhkannya perintah untuk
menolong mereka yang terluka meski mereka adalah musuh dan berada
pada pihak yang menyerbu.
Sikap Narrarya Sanggramawijaya yang demikian itulah yang juga
menolong Lurah Prajurit Jaran Guyang. Lurah Prajurit Jaran Guyang
diangkat dari kuda yang menindih. Karena tak ada napas dari tubuhnya,
ia disatukan dengan mayat-mayat yang lain yang nantinya harus siap
untuk dikubur. Berdiri dengan sikap sangat bingung dan canggung, Raden Ardaraja
tak tahu apa yang harus dilakukan. Para prajurit penyerbu itu sebagian
amat ia kenal sebagai sahabat dan anak buahnya karena sebelum tinggal
di Singasari, Raden Ardaraja adalah pimpinan kelompok pasukan dengan
pangkat lurah prajurit. Selanjutnya, jabatannya diserahkan kepada Lurah
Prajurit Jaran Guyang yang ditunjuk sebagai penggantinya. Mantan para
382 Gajah Mada anak buahnya itu kini bergelimpangan di depannya. Raden Ardaraja
sama sekali tidak tahu bagaimana harus bersikap menghadapi keadaan


Hamukti Palapa Karya Langit Kresna Hariadi di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu. Sanggramawijaya belum menyiagakan kembali pasukannya. Pasti
bakal terjadi benturan yang sangat berdarah saat pasukan Singasari
harus menghadapi pasukan berjalan kaki dari Gelang-Gelang yang
akan segera tiba pula di tempat itu. Namun, perhatian Sanggramawijaya
lebih tersita pada sosok yang membuat ulah luar biasa, Wirota Wiragati.
Sanggramawijaya mendekati pemuda itu.
"Tindakanmu luar biasa, teman," sapa Raden Wijaya amat ramah.
"Kalau aku boleh tahu, siapakah dirimu dan apa yang menyebabkan
kamu menempatkan diri di pihak Singasari" Aku adalah Raden Wijaya,
anak Dyah Lembu Tal!"
Wirota Wiragati terbelalak dan dengan lugas menampakkan rasa
senang di hatinya. Berdiri di belakang Raden Wijaya, Medang Dangdi,
Nambi, Gajah Pagon, Pawagal, Lembu Sora, dan yang lain-lain menatap
pemuda di depannya dengan perasaan sewarna dengan Raden Wijaya.
"Namaku Wirota Wiragati, Raden. Pekerjaanku maling dan tempat
tinggalku di Keta. Kedatanganku ke Singasari adalah untuk mengabdikan
diri menjadi prajurit, tetapi siapa sangka sesampai di Mameling aku lihat
terjadi kekacauan yang dilakukan prajurit dari Gelang-Gelang. Aku tidak
tinggal diam melihat mereka menjarah dan melakukan pemerkosaan di
mana-mana. Dengan gerilya, aku berhasil mengurangi jumlah mereka.
Itu sebabnya, mereka sangat marah kepadaku dan berniat memburuku
sampai ke liang dhemit. Terima kasih karena Raden muncul menghadang
mereka." Jawaban yang sangat lugas, apalagi pengakuan blak-blakan bahwa
dirinya adalah seorang maling membuat Raden Wijaya tersenyum.
"Melihat sepak terjangmu, aku mewakili Sang Prabu memutuskan
menerimamu menjadi prajurit dan selamat bergabung dengan kami.
Namun, untuk selanjutnya, aku perintahkan kau untuk tidak lagi
menekuni pekerjaan sebagai maling."
Hamukti Palapa 383 Meluap isi dada Wirota Wiragati ketika dengan hangat Medang
Dangdi mengulurkan tangan dan mengajak berjabat tangan, pun
demikian dengan Nambi, Gajah Pagon, Pawagal, Lembu Sora, Kebo
Misteri Lukisan Tengkorak 7 Kisah Sepasang Rajawali Karya Kho Ping Hoo Pedang Golok Yang Menggetarkan 21

Cari Blog Ini