Ceritasilat Novel Online

Kaum Pemuja Setan 1

Pendekar Rajawali Sakti 31 Kaum Pemuja Setan Bagian 1


Abu Keisel KAUM PEMUJA SETAN
Olch Teguh Suprlanto
Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S.
Gambar sampul oleh Tony G.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode: Kaum Pemuja Setan
128 hal. ; 12 x 18 cm
Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert : Abu Keisel
Editor : Dhee_mart
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/
1 Pemandangan di Gunung Antang sungguh
indah, dihiasi kabut tipis yang menyelimuti
puncaknya. Cahaya matahari pagi menyemburat dari balik gunung, membuat suasana
pagi ini terasa lebih indah. Suasana itu semakin semarak oleh kicauan
burung bernyanyi, menggugah seluruh isi alam.
Namun semua keindahan itu tiba-tiba dirusak oleh suara-suara teriakan keras dan
ledakan dahsyat
yang mengguncangkan bumi.
Sepertinya suara-suara itu datang dari sebelah
Barat Gunung Antang, yang berbatu dan dipenuhi
jurang serta tebing-tebing terjal yang rapuh.
Tampak debu mengepul, membumbung "tinggi ke udara, membuat pemandangan indah
gunung itu agak terganggu. Dari kepulan debu itu terlihat dua orang yang berkelebat saling
sambar bagai dua ekor burung elang berebut bangkai seekor kelinci.
"Modar...!"
"tiba-tiba saja salah seorang yang mengenakan baju biru ketat menghentakkan
tangan kanannya ke depan. Dan hampir bersamaan waktunya, lawannya
yang mengenakan baju merah menyala Juga
mengibaskan tangannya ke depan. Tak pelak lagj,
dua pasang tangan beradu keras. Maka, terjadilah suatu ledakan dahsyat bagai
letusan gunung.
Glarr! "Akh!" orang yang mengenakan baju biru terpekik tertahan.
Tubuhnya terpental ke belakang sejauh tiga
batang tombak. Sebongkah batu cadas yang cukup
besar, hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya yang besar dan tegap berotot
itu. Sedangkan orang yang mengenakan baju merah bergambar seekor
naga pada punggungnya, tampak berdiri tegak
sambil bertolak plnggang.
Orang yang mengenakan baju biru itu berusaha
bangkit berdiri. Tapi belum juga bisa bangkit, orang yang mengenakan baju merah
sudah melompat sambil berteriak keras menggelegar.
"Hiyaaat..!"
Des! Satu pukulan keras mendarat telak di dada
orang berpakaian biru itu, sehingga kembali
terjungkal keras ke tanah berbatu. Beberapa kali dia bergulingan. Sedangkan
lawannya langsung
memburu cepat Sebelah kaki kanannya mendarat
tepat di dada Bres! "Aaa...!"
Satu jeritan panjang melengking tinggi menyertai orang berbaju biru itu terbang
ke akhirat Hanya
sebentar tubuhnya mampu menggelinjang, sesaat
kemudian nyawanya telah melayang dari tubuhnya.
Tampak dadanya remuk terinjak. Darah mengalir
keluar dari mulut yang terbuka lebar. Sedangkan
orang yang berbaju merah melompat mundur.
Dipandangi mayat lawannya dengan sinar mata liar.
"Ha ha ha...!"
Sambil meninggalkan suara tawa lepas menggelegar, orang berbaju merah bergambar naga
pada punggungnya itu melesat cepat bagai kilat
meninggalkan Lereng Gunung Antang sebelah
Barat. Sungguh luar biasa! Dalam waktu sekejap
saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Hanya suara tawanya saja yang masih terdengar,
dan lambat laun mulai menghilang terbawa angin
pagi.Tak ada yang menyaksikan kejadian itu, kecuali seorang gadis kecil yang
melihat semuanya dari balik batu sebesar kerbau. Gadis berusia sekitar sepuluh
tahun itu tidak bergerak sedikit pun. Matanya lidak berkedip memandangi sosok
tubuh yang tergeletak
tidak bergerak-gerak lagi. Baru saja gadis itu akan keluar dari tempat
persembunyiannya, mendadak
orang berbaju merah itu muncul kembali. Entah
dari mana datangnya, yang jelas kini sudah berada di samping mayat yang
tergeletak di antara
bebatuaa "Huh! Hampir aku lupa...!" dengus orang itu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, digeledahnya
seluruh tubuh lawannya yang sudah tergeletak jadi mayat Tapi mendadak saja
wajahnya jadi berubah.
Kemudian dia berdiri sambil bertolak pinggang.
Sambil mendengus berat, ditendangnya mayat itu
hingga menggelinding masuk ke dalam jurang
berbatu yang tidak seberapa dalam.
"Setan keparat..!" umpatnya geram.
Laki-laki berbaju merah yang wajahnya cukuptampan itu, memandang ke sekeliling. Sorot
matanya terlihat memancarkan kekerasan. Pandangannya kemudian terpusat pada sebongkah
batu besar, di mana di situ terdapat seorang gadis cilik yang tengah
bersembunyi. "Huh! Ternyata ada monyet busuk bersembunyi di sini!" dengusnya menggeram.
Dan belum lagi laki-laki berbaju merah dan
bergambar naga pada punggungnya itu bergerak,
gadis kecil yang sejak tadi bersembunyi, mendadak berlari cepat Tentu saja lakilaki berbaju merah itu jadi berang, dan langsung melompat cepat
mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang
tinggi. Jleg! Tahu-tahu orang berbaju merah itu sudah
berdiri menghadang di depan gadis kecil itu.
"Ah...!" gadis itu memekik kecil.
Seketika wajahnya pucat pasi, dan seluruh
tubuhnya bergetar hebat Kedua bola matanya
membeliak lebar. Tapi..., mendadak saja gadis kecil itu berdiri tegak, bersikap
menantang. Tidak ada lagi gemetar ketakutan di tubuhnya, tak ada lagi rona pucat
membias di wajahnya yang polos Bibirnya yang mungil, malah terkatuprapat Matanya
tidak berkedip, menatap tajam laki-laki di depannya.
"He he he.... Ingin lari ke mana kau, bocah setan?" laki-laki itu tertawa
terkekeh. "Kau yang setan!" bentak gadis itu.
"He...!" laki-laki itu terhenyak mendengar bentakan yang begitu berani dari
seorang gadis cilik.Tapi hanya sebentar terpana, dan selanjutnya laki-laki itu sudah bergerak
cepat hendak menerkam. Namun sungguh tidak diduga, gadis cilik yang kelihatan polos itu mampu
berkelit begitu
manis. Lalu secepat mungkin dia berlari menuruni lereng gunung yang berbatu.
Gerak kakinya begitu lincah, seakan-akan sudah terbiasa di daerah
berbatu terjal dan rapuh ini.
"Bocah setan! Keparat...!" geram laki-laki itu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya
melesat cepat bagai kilat mengejar, dan sekejap saja sudah kembali menghadang.
Kemudian tangannya
mengibas cepat hendak menyambar tubuh kecil
mungil itu. Namun lagi lagi dia terjebak. Temyata gadis itu bisa berkelit dengan
manis. Hal ini membuat orang itu menggeram gusar.
"Mampus kau! Hih...!"
Dengan kemarahan yang meluap dalam dada,
orang itu melompat sambil melepaskan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi.
Sungguh luar biasa akibatnya! Gadis kecil itu tidak mampu lagi berkelit, dan
dengan telak dadanya terhantam pukulan yang
mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi itu.
Tak dapat dihindari lagi, tubuh kecil itu terlontar jauh ke belakang.
"Aaa...!" satu jeritan melengking terdengar.
Tubuh kecil itu meluruk deras masuk ke dalam
jurang yang sangat besar dan dalam. Kenyataan ini membuat laki-laki berbaju
merah itu terperanjat.
Semula dia tidak bermaksud sampai sejauh itu, dan hanya ingin melukai saja.
Bergegas laki-laki itu memburu. namun tubuh kecil itu demikian deras
meluruk ke dasar jurang yang dalam dan berbatu
keras. *** "Sial! Kadal buduk...!" seorang laki-laki berbaju merah
bergambar naga pada punggungnya mengumpat dan memaki habis-habisan.
Diedarkan pandangannya ke sekeliling. Jurang
ini memang besar dan dalam, sehingga cukup sukar untuk bisa melihat dasarnya
dari atas. Tapi diyakini kalau gadis itu tadi meluncur dalam jurang ini. Tapi
sekarang setelah laki-laki itu berada di dasar jurang, tidak ada satu pun mayat
teronggok. Apa lagi mayat gadis kecil itu....
"Mustahil bisa hilang begitu saja!" dengusnya kesal.
Ketika laki-laki itu mendongak ke atas, tampak
matahari sudah cukup tinggi. Sinarnya yang hangat, cukup untuk menerangi bibir
jurang ini sehingga
terlihat dari bawah. Dia begitu yakin kalau gadis kecil tadi jatuh dari bibir
jurang di atasnya. Dan kalau demikian, tentu mayatnya ada di tempat dia berdiri
sekarang ini. Tapi di sini tidak ditemukan satu mayat pun.
Kembali laki-laki berbaju merah itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seketika kedua matanya menyipit begitu
melihat salah satu tebing jurang. Ternyata di situ terdapat mulut gua kecil yang
hampirtertutup sebongkah batu cadas
hitam. "Hup!"
Hanya sekali lesatan saja, orang itu sudah
mencapai mulut gua. Sebentar diamati keadaan gua itu, kemudian melangkah masuk
dengan hati-hati.
Agak berkerut juga keningnya begitu berada di
dalam gua. Ternyata perut gua in! cukup besar, dan nampaknya panjang sekali.
Dengan sikap masih
berhati-hati, kakinya melangkah menyusuri gua itu.
Semakin jauh masuk ke dalam, udara semakin
lembab. Dan keadaannya juga bertambah gelap.
Laki-laki berbaju merah ketat itu harus berjalan dengan merapat ke dinding gua.
Cukup sukar berjalan di dalam gelap pekat seperti ini. Gua ini sangat panjang dan berliku.
Tapi belum ada cabang satu pun yang ditemul
"Hmmm.... Gua ini seperti melingkar dan
menanjak," laki-laki muda itu bergumam.
Orang berbaju merah itu terus berjalan pelahan
dan hati-hati sekali. Tapi mendadak langkahnya
berhenti. Di depan sana terlihat seberkas cahaya menyemburat dari sebuah celah.
Sebentar diamati
keadaan. Kemudian dengan sekali lesatan yang
cepat dan ringan, dia sudah tiba di depan celah itu.
Temyata itu merupakan sebuah pintu yang tidak
begitu besar, berbentuk garis memanjang. Cukup
lebat semak belukar yang menutupi.
Srek! Hati-hati sekali disibakkan semak itu. Sebentar
diamati keadaan di luar. Hanya sebuah hutan yang tidakbegitu rapat, ditumbuhi
pohon-pohon kayu
yang tidak beraturan letaknya. Laki-laki muda
berbaju merah itu melompat keluar. Ringan sekali sepasang kakinya menjejak tanah
yang tebal oleh
daun kering. Kembali diedarkan pandangannya
berkeliling. Dan perhatiannya kini terpaku pada
sebuah perkampungan yang berada tidak seberapa
jauh dari tempat ini. Yang ternyata adalah lereng sebelah Utara Gunung Antang.
Laki-laki muda berbaju merah itu mengayunkan
kakinya menuju perkampungan yang kelihatannya
tidak jauh. Tapi belum juga berjalan jauh, tiba-tiba saja bermunculan orangorang bersenjata golok dan tombak. Sepuluh orang itu langsung mengepung
sambil menghunus senjata.
"Hmmm..., siapa kalian" Dan mengapa mengepungku?" tanya laki-laki berbaju merah itu.


Pendekar Rajawali Sakti 31 Kaum Pemuja Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jangan banyak tanya! Pergi kau dari kampung ini, iblis!" bentak salah seorang
yang kelihatan bertubuh kekar. Tangannya menggenggam sebilah
golok besar, yang salah satu matanya bergerigi.
"Heh..."! Aku tidak tahu siapa kalian. Apa...."
"Cerewet! Serang...!"
"Hyaaa...!"
"Yeaaah...!"
Sepuluh orang itu langsung berlompatan
menyerang demikian ganasnya. Laki-laki muda
berbaju merah ketat itu tidak mempunyai
kesempatan lagi untuk bertanya. Terpaksa dia
berlompatan, menghindari setiap serangan yang
datang dari segala penjuru. Cukup repot juga,
karena tidak diberi kesempatan sedikit pununtuk
balas menyerang Bahkan untuk mengambil napas
saja rasanya tidak ada kesempatan lagi. Serangan-serangan itu datang bagai
hujan. Gencar, dan
sangat berbahaya.
"Kalian bersungguh-sungguh rupanya! Baik...
Terima balasanku!" geram laki-laki itu sengit Setelah
melontarkan kata-kata, tubuhnya langsung melesat ke udara, tepat ketika sebatang tombak mengibas ke arah
kakinya. Dengan menotok
sedikit ujung tombak itu, dipinjam tenaga untuk
melesat. Dua kali tubuhnya berputar di udara, lalu meluruk deras sambil
melontarkan dua pukulan
beruntun. Buk! Buk! Dua jeritan melengking terdengar, disusul
ambruknya dua orang pengeroyok itu. Dan belum
lagi hilang jeritan tadi, kembali disusul jeritan yang melengking tinggi.
Sungguh cepat luar biasa gerakan orang berbaju merah itu. Cepat, dan tidak
terduga sama sekali. Sebentar saja lima orang tergeletak tak bernyawa lagi.
Melihat tingkat kepandaian lawan yang sangat
tinggi, mereka yang masih hidup mencoba melarikan diri. Namun orang berbaju
merah itu tidak
membiarkannya. Langsung dilepaskan beberapa
buah senjata kecil Derbentuk bintang segi delapan.
Bintang berwarna merah itu meluncur deras
menghajar mereka yang mencoba melarikan diri.
Jeritan-jeritan melengking terdengar saling susul.
Kembali tubuh-tubuh bergelimpangan berlumuran
darah. "Sial...!" rutuknya begitu melihat salah seorang berhasil melarikan diri.Orang
yang memegang golok besar bergerigi itu demikian cepat berlari. Jelas, ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki cukup tinggi.
Dan orang berbaju merah itu hanya bisa
mengumpat Kakinya menyepak salah satu mayat
hingga terguling sejauh beberapa tombak. Kemudian kakinya melangkah cepat menuju
perkampungan di Kaki Lereng Gunung Antang ini.
*** Desa Antang memang tidak begitu besar,
namun berpenduduk cukup padat juga. Letak
rumah-rumahnya hampir berdempetan, sehingga
penduduknya tidak memiliki halaman yang cukup.
Hanya sebuah alun-alun yang berada di tengahtengah desa menjadi tempat bermain anak-anak.
Tapi ternyata ada salah satu rumah yang paling
besar dan memiliki halaman luas di sekelilingnya.
Halaman itu dikelilingi pagar bambu yang tidak
begitu tinggi. Tapi nampaknya, sebagian besar
sudah rapuh dimakan rayap.
Suasana di desa itu cukup tenang dan damai.
Anak-anak bermain riang gembira di alun-alun yang beradadi tengah-tengah desa.
Alun-alun itu sering dijadikan tempat pertemuan dan segala macam
kegiatan. Tiba-tiba ketenangan itu terusik ketika seorang laki-laki memakai baju
kotor dan penuh
keringat, berlari cepat menuju rumah yang paling besar. Rumah besar itu memang
satu-satunya di
Desa Antang itu.
"Ki...! Ki Bawung...!" laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berotot itu
berteriak-teriak sambil terus berlaricepat
Seluruh penduduk desa itu perhatiannya
kontan tertumpah pada orang yang berlari sambil
menghunus goloknya. Dan laki-laki itu terjatuh di anak tangga beranda depan
rumah besar. Seorang
laki-laki tua mengenakan baju putih panjang keluar dari dalam. Bergegas
dihampiri, dan dibantunya laki-laki muda itu berdiri. Segera dibawanya ke
beranda. "Jala Driya..., ada apa?" tanya laki-laki tua yang dikenal bemama Ki Bawung itu.
"Celaka, Ki.... Celaka...!" suara Jala Driya tersendat.
"Minum.... Minum dulu, tenangkan dirimu." Ki Bawung memberikan kendi yang
langsung diterima
Jala Driya. Air dingin dari kendi itu seketika
berpindah ke tenggorokan Jala Driya. Sebentar
diatur jalan napasnya. Keringat masih bercucuran deras membasahi wajah dan
tubuhnya. Ki Bawung
memandangi penduduk yang tahu-tahu sudah
berkumpul memadati halaman rumahnya.
"Tidak ada apa-apa, kalian bubar saja!" agak ke?ras suara Ki Bawung.
Dengan wajah masih menyiratkan rasa penasaran dan Keingintahuan, para penduduk itu
meninggalkan rumah Ki Bawung. Tampak sekali dari sikap mereka yang begitu
menghormati laki-laki tua itu. Ki Bawung kembali memandang Jala Driya yang
kelihatan sudah tenang kembali.
"Ceritakan, apa yang terjadi?" tanya Ki Bawung.
"Dia, Ki... Iblis itu datang ke sini," sahut Jala Driya masih juga tersendat
suaranya. "Siapa?"
"Manusia ibris itu, Ki. Dia telah membunuh
sembilan orang teman-temanku di Hutan Lorong
Angin," sudah agak tenang suara Jala Driya.
"Siapa manusia iblis itu, Jala Driya" Bicaralah yang jelas!" agak membentak
suara Ki Bawung.
"Dia, Ki... Dia...."
Belum juga Jala Driya bisa melanjutkan
kalimatnya, tlba-tiba saja terdengar tawa terbahak-bahak yang menggelegar.
"Ha ha ha...!"
Ki Bawung membalikkan tubuhnya. Entah dari
mana datangnya, tahu-tahu di tengah-tengah
halaman rumahnya telah berdiri seorang pemuda
mengenakan baju merah menyala, sambil bertolak
plnggang. Sikap-nya begitu menantang. Sementara
Jala Driya bergegas bangkit, dan berlindung di balik punggung Ki Bawung.
Sedangkan laki-laki tua itu
melangkah menuruni anak-anak tangga beranda
rumahnya, dan baru berhenti setelah sampai di
ujung anak tangga.
"Siapa Kisanak, dan apa keperluannya datang ke Desa Antang ini?" tanya Ki
Bawung. Suaranya dibuat seramah mungkin.
"Hm.... Untuk apa kau tahu namaku, Orang
Tua"! Monyet jelek itu pasti sudah menceritakan
yang buruk-buruk tentang diriku!" dengus laki-laki berbaju merah itu seraya
menuding Jala Driya.
Yang dituding semakin bertambah pucat
wajahnya, namun sebentar kemudian berubah
memerah. Sementara Ki Bawung masih kelihatan tenang
dengan senyuman tersungging di bibimya yang
hampir tertutup kumis putih panjang Pada saat itu entah dari mana datangnya,
tahu-tahu di sekitar
halaman rumah Ki Bawung sudah dikelilingi laki-laki tua dan muda bersenjata
beraneka macam.
"Hmmm..., penyambutan yang meriah!" gumam laki-laki muda berbaju merah,
bergambar naga pada punggungnya, agak mendesis.
"Mereka hanya tertarik atas kedatangan
Kisanak yang begitu tiba-tiba," ujar Ki Bawung kalem.
"Bagus juga. Aku senang mendapat sambutan
seperti Ini. Dan itu berarti lebih banyak mempunyai kesempatan melatih jurus,"
agak sinis nada suara pemuda berbaju merah itu,
"Kisanak. Apa sebenarnya tujuanmu datang ke desa kami ini?" tanya Ki Bawung.
Nada suaranya sudah terdengar kalau tengah menahan geram.
"Aku datang ingin mengambil gadis kecilku!"
lantang jawaban pemuda berbaju merah dengan
gambar naga di punggungnya itu.
"Gadis kecil..." Desa ini memang banyak gadis kecilnya. Tapi mereka sudah
memiliki orang tua dan saudara. Gadis kecil mana yang dimaksud, Kisanak?"
"Percuma saja bersandiwara, Orang Tua. Di
sekitar Gunung Antang ini, hanya ada satu desa
yang ter-dekat. Cepat, serahkan dia padaku!"
bentak pemuda itu sengit
"Aku tidak mengerti. Gadis mana yang kau
ingjnkan, Kisanak?"
"Tua bangka bodoh!" geram pemuda itu merasa dipermainkan.
"Hmmm.... Kau mulai kurang ajar, Anak Muda.
Rupanya kau kurang diberi pelajaran rata krama
untuk menghadapi orang tua...!" desis Ki Bawung mulai kehilangan kesabarannya.
"Ha ha ha.... Aku ingin kau memberiku sedikit tata krama itu, Orang Tua!"
tantang pemuda berbaju merah itu.
"Kau terlalu angkuh, Anak Muda. lngat, kau
tidak bisa mengukur tingginya gunung dan dalamnya lautan!" desis Ki Bawung
sengit. "Banyak omong! Terimalah seranganku ini, tua bangka keparat! Hiyaaat..!"
Pemuda berbaju merah bergambar naga pada
punggungnya itu langsung melompat menyerang,
menggunakan jurus-jurus pendek yang cepat luar
biasa. Sedangkan Ki Bawung menghadapinya dengan
gerakan yang manis sekali. Tubuhnya digerakgerakkan bagai seekor belut. Begitu licin dan sukar untuk didekati.
*** 2 Pertarungan antara Ki Bawung melawan
pemuda berbaju merah yang tidak dikenal itu
berlangsung sengit. Masing-masing mengeluarkan
jurus-jurus yang cepat dan sangat berbahaya. Tidak terasa, sudah dikeluarkan
lebih dari dua puluh
jurus, namun belum ada seorang pun yang kelihatan terdesak.
Mereka sama-sama tangguh dan berkepandaian tinggi.
Jurus demi jurus berlalu cepat Dan pertarungan terus berlangsung sengit. Semua orang yang berada di pinggir halaman
rumah yang luas itu, hanya bisa menonton sambil menahan napas.
Mereka semua berharap agar Ki Bawung dapat
memenangkan pertarungan, dan mengusir pemuda
edan itu. Di antara para penduduk yang tengah
menonton, terlihat seorang pemuda berambut
panjang sebatas bahu, berada di bawah pohon
kemuning. Pemuda berbaju rompi putih itu tanpa berkedip
mengamati jalannya pertarungan. Sedikit pun tidak didengarkan celotehan beberapa
orang yang berada di dekatnya. Perhatian pemuda itu beralih ke arah jendela
rumah yang terbuka. Di sana terlihat
seorang gadis muda mengenakan baju biru langit
yang tidak berkedip menyaksikan pertarungan.
Wajahnya kelihatan begitu tegang. Demikian pula
wanita setengah baya yang berada di sebelahnya.
Wajahnya juga kelihatan tegang dan pucat.
Sementara pertarungan masih terus berlangsung sengit Bahkan kini, dua orang yang
bertarung itu sama-sama mengeluarkan jurus-jurus andalan yang maut dan
berbahaya. Bukan hanya
teriakan yang terdengar, tapi juga deru angin dari lontaran pukulan serta
ledakan keras. Setiap kali tangan beradu, terdengar suara ledakan dahsyat
Jelas, pertarungan mereka menggunakan ilmu
tenaga dalam tjngkat tinggi.
"Hup! Hiyaaa...!"
Tiba-tiba saja pemuda berbaju merah itu
melesat ke atas agak ke belakang. Tubuhnya
berputar dua kali, lalu cepat sekali dikibaskan
tangan kanannya. Tiga buah benda berbentuk
bintang berwarna merah meluncur deras ke arah Ki Bawung.
"Curang!" dengus Ki Bawung.
Cepat sekali laki-laki tua itu berjumpalitan
menghindari terjangan senjata berbentuk bintang
itu. Tapi pada saat sibuk menghindari serangan
senjata rahasia itu, mendadak saja pemuda berbaju merah itu meluruk sambil
melontarkan satu pukulan keras mengandung tenaga dalam tinggi ke arahnya.
"Hiyaaat...!"
Ki Bawung tidak sempat lagi mengelak. Dan....
Buk! "Heghk!" Ki Bawung melenguh pendek.
Pukulan bertenaga dalam tinggi itu tepat
menghantam dadanya. Seketika itu juga Ki Bawung
terlontar ke belakang sejauh tiga batang tombak, namun cepatmelompat berdiri.
Tampak kedua kakinya bergetar, dan tubuhnya limbung. Dari
sudut bibirnya mengucur darah kental.


Pendekar Rajawali Sakti 31 Kaum Pemuja Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ha ha ha...!" pemuda itu tertawa terbahak-bahak, sambil berdiri angkuh.
Tangannya bertolak pinggang, bersikap penuh kemenangan.
"Phuih!" Ki Bawung menyemburkan ludahnya yang bercampur darah.
'Tidak ada yang bisa menandingi lblis Cakar
Naga! Ha ha ha...!" ujar pemuda berbaju merah yang menyebut dirinya, lblis Cakar
Naga. Suaranya begitu lantang.
Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu
menjadi terpana. Sungguh tidak disangka kalau Ki Bawung dapat ditaklukkan dengan
mudah oleh seorang pemuda asing berbaju merah yang mengaku
bernama lblis Cakar Naga itu. Tak ada seorang pun yang beranl membuka suara!
Bahkan pelahan-lahan
mereka bergerak mundur.
"Hayo! Siapa yang berani menantangku, maju...!"
tantang lblis Cakar Naga.
Mendengar tantangan itu, para penduduk yang
berada di sekeliling halaman rumah Ki Bawung,
kontan berlartan meninggalkan tempat itu. Seketika hati mereka ciut menyaksikan
orang yang selalu
dihormati dan ditakuti dapat ditundukkan. Hanya
Ki Bawung yang memiliki kepandaian tinggi di Desa Antang ini, dan itu disadari
betul oleh seluruh
penduduk desa ini
"Ha ha ha...!" lblis Cakar Naga tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan melihat
orang-orang disekelilingnya lari terbirit-birit
Sementara itu Ki Bawung tengah berusaha
mengurangi rasa sakjt pada dada dengan mengerahkan hawa murni dari pusat tubuhnya.
Sedangkan lblis Cakar Naga sudah bersiap-siap
hendak menyerang kem?bali. Tidak dipedulikan lagi keadaan lawannya yang sudah
tidak berdaya, dan
ldni tengah menyembuhkan diri dari luka dalam di dadanya.
"Kematianmu sudah
dekat, tua bangka! Hiyaaat..!" seru lblis Cakar Naga lantang.
Dengan jari-jari tangan mengembang kaku,
pemuda berbaju merah itu melompat menerjang Ki
Bawung kembali. Tampak jari-jari tangan pemuda
itu berubah berwarna merah bagai terbakar.
"Awas, Ki...!" seru Jala Driya memperingatkan.
"Hup!"
Buru-buru Ki Bawung membanting dirinya ke
tanah, lalu bergulingan beberapa kali se belum
melompat bangkit berdiri. Serangan lblis Cakar
Naga hanya menghantam sebatang pohon beringin
yang berdiri di tengah-tengah halaman.
Khraaakh...! Bruk!
Sungguh dahsyat pukulan lblis Cakar Naga.
Beringin yang begitu besar kontan roboh sekerika.
Dan yang lebih menakjubkan lagi, beringin itu
seperti hangus terbakar! Daun-daunnya kering
berguguran, dan seluruh batangnya menghitam jadi arang.
"Ghrrr...!" lblis Cakar Naga menggeram.
Sepasang bola matanya merah menatap tajam
Jala Driya yang berada tidak jauh dari tangga
berandadepan rumah. Sedangkan Jala Driya jadi
bergetar hatinya, lalu pelahan bergerak ke samping.
"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Sambil berteriak keras, lblis Cakar Naga
mengibaskan tangan kanannya ke arah Jala Driya.
Maka meluncurlah tiga buah bintang merah segi
delapan ke arah tubuh Jala Driya. Laki-laki
bertubuh tinggi tegap itu menjadi terpana disertai beliakan mata yang lebar.
Na?mun belum juga
senjata-senjata rahasia itu sampai pada sasaran, mendadak saja....
Tring! Tring! Tring...!
Tiga buah bintang merah itu langsung rontok
jatuh ke tanah, tepat di ujung kaki Jala Driya.
Bukan hanya Jala Driya yang keheranan, bahkan si lblis Cakar Naga serta Ki
Bawung menjadi mendelik hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi
barusan. Tiga senjata rahasia itu rontok pada saat hampir menembus tubuh Jala
Driya. "Setan alas...!" geram lblis Cakar Naga.
Perhatian pemuda berbaju merah dengan
gambar naga pada bagian punggungnya itu langsung terpusat ke arah sebuah pohon
kemuning. Di bawahnya, nampak seorang pemuda berbaju rompi
putih dengan gagang pedang berbentuk kepala
burung menyembul dari balik punggungnya. Ki
Bawung dan Jala Driya juga menatap pemuda itu.
Sepertinya mereka begitu yakin kalau pemuda itulah yang telah menggagalkan
serangan si lblis Cakar
Naga. *** "Phuih! Rupanya di sini banyak monyet keparat yang bisanya cuma main belakang!"
dengus si lblis Cakar Naga.
Kata-kata itu jelas ditujukan untuk pemuda
berbaju rompi putih yang tetap kelihatan tenang di bawah pohon kemuning.
Sementara itu Jala Driya
sudah meng-geser kakinya mendekati Ki Bawung.
Sedangkan dari dalam rumah, terlihat dua orang
wanita muncul. Yang seorang masih muda,
sedangkan seorang lagi sudah berusia separuh
abad. Mereka berdiri saja di ambang pintu depan.
Saat itu Jala Driya sudah berada di samping Ki
Bawung "Hup! Hiyaaa...!"
Tiba-tiba lblis Cakar Naga berseru keras, dan
seketika itu juga melesat ke arah beranda depan.
Begitu cepat lompatannya, sehingga sukar untuk
cepat disadari. Namun pada- saat yang sama,
melesat sebuah bayangan putih memotong laju
lesatan si lblis Cakar Naga.
"Uts!"
lblis Cakar Naga melenrjngkan tubuhnya ke
belakang, lalu berputaran dua kali sebelum
menjejakkan kakinya dengan manis di tanah.
Pemuda itu melirik ke arah pohon kemuning, tapi
tidak ada lagi pemuda berbaju rompi putih di sana.
Dan saat menoleh ke arah beranda, terlihat
pemuda itu telah duduk di tangga beranda depan
rumah Ki Bawung.
"Setan alas...!" geram lblis Cakar Naga gusar.
Pemuda berbaju merah itu merasa dirinya
dipermainkan. Kegeramannya jadi tidak bisa ditahan lagi.
Digeser kakinya ke kanan beberapa tindak.
Tatapan matanya begitu tajam menusuk ke arah
pemuda berbaju rompi putih yang masih tetap
duduk seperti tidak mempedulikannya, bahkan
malah asyik menggigit-gigit sebatang ranting kering di sudut bibirnya.
"Mampus kau! Hiyaaat..!" Mendadak, lblis Cakar Naga menghentakkan kedua
tangannya ke depan.
Dari telapak tangannya meluncur secercah cahaya
merah. Sinar merah itu terus meluruk deras ke arah pemuda berbaju rompi putih
itu. Ledakan dahsyat
sekerika terdengar saat sinar merah itu menghantam tangga beranda. Tak ada seorang pun
yang melihat kalau pemuda berbaju rompi putih itu berusaha menghindar. Semua
pasri menyangka kalau pemuda itu pasti hancur berkeping-keping bersama anak
tangga yang berantakan dan tanah yang
berlubang cukup besar.
Tapi semua mata jadi membeliak. Pada anak
tangga lainnya, terlihat pemuda berbaju rompi putih itu masih tetap duduk
tenang. Debu dan asap yang mengepul tebal memang menghalangi pandangan
untuk beberapa saat Namun setelah semuanya
memudar, baru terlihat jelas kalau, pemuda itu
tidak mengalami satu 'apa pun. Bahkan kelihatannya begitu tenang dengan sikap
seperti semula, duduk pada anak tangga di atasnya.
"Monyet buduk...!" umpat lblis Cakar Naga.
"Siapa dia, Ki?" tanya Jala Driya setengah berbisik.
"Entahlah, aku baru melihatnya," sahut Ki Bawung.
"Kelihatannya bukan pemuda desa ini, Ki,"
tebak Jala Driya.
"Hmmm...," gumam Ki Bawung lidak jelas.
Sementara itu lblis Cakar Naga sudah kembali bersiap-siap hendak menyerang.
Digerak-gerakkan
kedua tangannya di depan dada. Kedua kakinya
dipentang lebar ke samping, dan lututnya agak
sedikit tertekuk. Pandangan matanya tajam,
menusuk langsung ke arah pemuda berbaju rompi
putih yang masih tetap duduk di anak tangga.
"Hooop...! Hiyaaa...!"
Blarrr...! Suatu ledakan dahsyat kembali menggelegar
ketika sinar merah meluruk bagai kilat menghantam anak tangga yang diduduki
pemuda berbaju rompi
putih itu. Tiga leret sinar merah menghantam
berturut-turut, membuat seluruh tangga beranda
depan itu hancur be rantakan. Bangunan yang
cukup besar dan tersusun dari belahan papan itu
menjadi bergetar hebat
Debu mengepul tebal, bercampur asap kemerahan menghalangi pandangan mata. Ki
Bawung dan Jala Driya menahan napas disertai
pandangan tidak berkedip ke arah beranda depan
rumah itu. Sedangkan lblis Cakar Naga berdiri
tegak, bersikap penuh waspada. Wajahnya memerah, dan rahangnya terkatup rapat
Sedikit demi sedikit, debu dan asap yang
berkepul mulai memudar. Dan di sana tidak lagi
terlihat seorang pun. Bahkan dua wanita yang tadi berada di ambang pintu, tidak
terlihat lagi. Kedua wanita itu sudah masuk ke dalam saat lblis Cakar Naga
melakukan serangan hendak menerkam
mereka, dan berhasil digagalkan pemuda berbaju
rompi putih. Kini pemuda itu juga tidak tampak
lagi. "Ha ha ha...!" lblis Cakar Naga tertawa terbahak-bahak.
Dugaannya, serangan kali ini mendapatkan hasil
yang memuaskan. Memang, terlalu sukar untuk
menghindari serangan beruntun dan dahsyat itu.
Hanya keajaiban saja yang bisa menyelamatkan
pemuda berbaju rompi putih itu. Tapi mendadak
saja tawa lblis Cakar Naga berhenti.
Tiba-tiba dari atas atap rumah Ki Bawung
meluruk turun pemuda berbaju rompi putih.
Sungguh ringan gerakannya, sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun saat kakinya
mendarat sekitar tiga batang tombak di depan lblis Cakar Naga. Pemuda berbaju
merah itu sampai
terlonjak kaget, dan melompat mundur tiga
langkah. Wajahnya langsung menyemburat merah,
dan gerahamnya bergemeletuk menahan amarah
yang meluap dalam dada.
"Keparat..!" lblis Cakar Naga menggeram marah.
"Sudah cukup kau pamerkan ilmu murahan padaku, Kisanak. Pergilah sebelum aku
menjatuhkan tangan padamu!" usir pemuda berbaju rompi putih itu.
Nada suaranya begitu dingin.
"Phuih! Kau yang harus enyah dari hadapanku!"
dengus lblis Cakar Naga.
"Dengar, Kisanak. Aku tahu, apa yang kau can.
Gadis kecil itu tidak ada di sini Dan kau salah
sangka karena mereka tidak menyembunyikannya,"
kata pemuda itu lagi lebih tegas.
"Ha ha ha...! Kau pikir aku bodoh, heh"! Aku bukan bocah kecil yang bisa
dikibuli" bentak lblis Cakar Naga.
"Tidak ada yang membohongimu, Kisanak."
"Phuih! Lagakmu memuakkan!"
"Kesabaranku ada batasnya, Kisanak!" dingin dan datar nada suara pemuda berbaju
rompi putih itu."Dan kesabaranku sudah habis, kadal buduk!"
balas lblis Cakar Naga.
"Hmmm..., rupanya aku terpaksa harus memaksamu keluar dari desa'ini."
Setelah berkata demikian, pemuda berbaju
rompi putih itu langsung melompat menyerang
menggunakan jurus-jurus pendek yang sangat cepat.
Hal ini membuat Ibbs Cakar Naga agak kelabakan
sesaat, namun dengan cepat bisa menguasai
keadaan. Pertarungan pun tidak dapat dihindari
lagi. Tampak sekali kalau pemuda berbaju rompi
putih itu hanya berusaha agar orang berbaju merah itu agak menyingkir dari desa


Pendekar Rajawali Sakti 31 Kaum Pemuja Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ini. Serangan-serangannya memang sangat berbahaya, namun
sama sekali tidak diarahkan pada sasaran yang tepat Beberapa kali lblis Cakar
Naga harus menerima
pukulan, namun tidak merasakan akibat apa-apa
dari pukulan itu. Dan lblisCakar Naga tahu kalau lawannya ini tidak mengerahkan
tenaga dalam pada setiap serangan-serangannya. Walaupun demikian,
agak kerepotan juga, bahkan sukar baginya untuk
menempatkan satu pukulan saja.
Gerakan-gerakan tubuh pemuda berbaju rompi
putih itu sukar untuk ditebak. Bahkan sepertinya hanya gerakan-gerakan biasa
saja yang begitu
lamban dan tidak beraturan sama sekali. Kadangkadang tubuhnya terlalu miring ke kanan atau ke
kiri, dan juga terlalu membungkuk. Malah
terkadang hampir jatuh. Juga gerakan kakinya
terasa begitu lamban, namun sangat ringan dan
sukar ditebak arahnya.
"Edan! Jurus apa yang dipakainya...?" rutuk lblis Cakar Naga dalam hati.
lblis Cakar Naga berusaha untuk mendesak
dengan meningkatkan pola serangannya Bahkan
dikerahkan seluruh tenaga dalamnya. Setiap kali
melontarkan pukulan, terdengar suara angin
menderu bagai badai. Sungguh dahsyat pukulannya, dan berbahaya sekali. Namun
pemuda berbaju rompi putih itu belum juga merubah gerakangerakannya. "Kadal! Cacing tanah...!" lblis Cakar Naga mengumpat habis-habisan.
lblis Cakar Naga seperti kehilangan akal
mengha-dapi jurus yang aneh dari lawannya kali ini.
Sungguh sukar baginya mendaratkan satu pukulan
saja Setiap kali pukulan yang dilepaskannya hampir mencapai sasaran, entah
bagaimana menjadi meleset hanya sedikit saja Hal ini membuatnya semakin
geram. Bahkan mungkin bisa gila kalau beglni terus.
"Hup...!"
Tiba-tiba saja lblis Cakar Naga melompat
mundur sejauh dua batang tombak lebih. Dan
secepat kilat di-kibaskan tangan kanannya beberapa kali. Bintang-bintang
berwarna merah segi delapan, meluncur deras bagai hujan ke arah pemuda
berbaju rompi putih itu. Namun hanya dengan
meliuk-liukkan tubuhnya serta menggeser kakinya
ke kiri dan ke kanan, serbuan bintang merah segi delapan itu berhasil dihindari
pemuda berbaju rompi putih itu.
"Nih! Terima jurus 'Seribu Bintang Merah ku'!"
geram lblis Cakar Naga.
Laki-laki muda berbaju merah dan bergambar
naga pada punggungnya itu segera merubah pola
serangan. Dia berlompatan cepat memutari tubuh
lawan sambil melontarkan bintang-bintang merah
dengan cepat Sungguh luar biasa! -Bintang-bintang itu berhamburan dari segala
arah. Dan pemuda
berbaju rompi putih itu terpaksa berjumpalitan
menghindarinya.
Namun tidak lama hal itu terjadi, karena tibatiba saja pemuda berbaju rompi putih itu berteriak keras. Sekerika tubuhnya
berputar cepat bagai
gasing sambil merentangkan lebar kedua tangannya ke samping. Sekerika itu juga,
entah dari mana
datangnya, tiba-tiba saja bertiup angin kencang
bagai terjadi topan. Maka bintang-bintang merah
itu kontan berguguran, bahkan beterbangan
tersapu angin. "Hiyaaa...!"
Mendadak pemuda berbaju rompi putih itu
berhenti berputar. Bagai kilat, dihentakkan kedua tangannya ke arah lblis Cakar
Naga. Satu hembusan angin yang sangat kuat menghantam tubuh lblis
Cakar Naga yang tidak sempat menghindar lagi. Dia begitu terpana karena bintangbintang merahnya
berguguran. "Akh...!" lblis Cakar Naga terpekik keras agak tertahan.
Tubuhnya terlontar jauh ke belakang, lalu
menghantam sebuah pohon besar hingga hancur
berantakan. Namun dia cepat melompat bangkit
berdiri. Tapi belum juga tubuhnya seimbang,
pemuda berbaju rompi putih itu sudah menerjang
sambil melepaskan dua pukulan beruntun. lblis
Cakar Naga tidak bisa mengelak lagi. Kembali
tubuhnya terlontar ke belakang begitu dua pukulan beruntun menghantam dada dan
perut "Hughk!"
lblis Cakar Naga memuntahkan darah kental
dari mulutnya, dan sambil terhuyung-huyung
berusaha bangkit berdiri. Seluruh rongga dadanya terasa sesak, dan perutnya mual
bukan main. Saat itu dirasakan seperti tengah terbang ke akhirat
Pandangan matanya jadi mengabur berkunangkunang. Digeleng-gelengkan kepalanya, berusaha
untuk menghilangkan pening yangmenyerang kepalanya akibat mual yang tidak tertahankan.
"Ughk! Kali ini kau boleh menang, monyet
keparat! Ughk...!" dengus lblis Cakar Naga.
Setelah berkata demikian, lblis Cakar Naga
melesat pergi. Cepat sekali lesatannya. Walau dalam keadaan terluka, masih juga
mampu dikerahkan ilmu meringankan
tubuhnya. Dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan
mata. Ki Bawung dan Jala Driya bergegas menghampiri pemuda berbaju rompi putih yang
sudah akan melangkah pergi. Terpaksa diurungkan
langkahnya, karena Ki Bawung dan Jala Driya sudah lebih dahulu menghadang di
depan. "Kisanak, aku mohon jangan pergi duki," ucap Ki Bawung meminta.
"Hm..," pemuda berbaju rompi putih itu menggumam tidak jelas.
"Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan Kisanak. Jika tidak keberatan, singgahlah sebentar," lanjut Ki Bawung.
"Sebenamya aku masih harus melanjutkan perjalanan. Tapi baiklah...," sahut
pemuda berbaju rompi putih itu tidak bisa menolak undangan ramah ini
"Ah..., terima kasih. Mari, Kisanak."
Ki Bawung begjtu gembira karena pemuda yang
telah menyelamatkan nyawanya bersedia menerima
undangan untuk singgah. Mereka kemudian
berjalan menghampiri rumah yang tangga berandanya hancur berantakan digempur si lblis
Cakar Naga. Tampak dari tiap jehdela rumah
penduduk Desa Antang, bersembulan kepala-kepala
yang hendak melihat pemuda yang telah menyelamatkan desa ini dari kehancuran.
3 Ki Bawung duduk bersila di ruangan depan
rumahnya. Di belakangnya, duduk istri dan anak
gadisnya. Sedangkan di sebelah kanan, duduk Jala Driya. Di depan mereka bersila
seorang pemuda berwajah tampan, dan berambut gondrong sebatas
bahu. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih
tanpa lengan. Sebilah pedang bergagang kepala
burung tersampir di punggungnya.
"Hmmm.... Jadi Ki Bawung sendiri tidak tahu siapa dia, dan maksud
kedatangannya...?" tanya pemuda itu setengah bergumam. Pertanyaan itu
seperti untuk dirinya sendiri.
"Sama sekali aku tidak tahu, Nak Rangga,"
sahutKi Bawung.
Mereka memang sudah saling memperkenalkan
diri satu sama lain, dan sudah cukup lama
memperbincangkan perisuwa yang tadi terjadi di
halaman depan rumah ini. Pemuda berbaju rompi
putih itu memang tidak lain dari Rangga yang lebih dikenal
berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Keberadaannya di Desa Antang ini memang secara
kebetulan saja.
"Apakah Nak Rangga juga tidak tahu siapa dia?"
tanya Ki Bawung.
"Tidak," sahut Rangga.
'Tapi, mengapa Nak Rangga mengatakan kalau
gadis kecil yang dicarinya tidak berada di sini"
Apakah Nak Rangga mengetahui di mana gadis kecil yang dicarinya?" pertanyaan Ki
Bawung seperti menyelidik
"Aku tadi hanya bersiasat saja, KI Sebenarnya aku sendiri tidak tahu persis
permasalahannya Tadi aku hanya mendengar saat dia menyebut-nyebut
gadis kecil," sahut Rangga bisa memaklumi nada menyelidik dari pertanyaan Ki
Bawung. "Dia memang menyebut-nyebut gadis kecil yang dicarinya di sini. Tapi..., siapa
gadis kecil yang dicarinya..?" Ki Bawung seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Mungkin anaknya. Ayah," celetuk gadis yang berada di belakang Ki Bawung.
"Ya, mungkin juga," desah Ki Bawung. Beberapa saat kemudian suasana menjadi
hening. Sedangkan
kepala Rangga tertunduk menekuri tikar pandan
yang menjadi alas duduknya. Demikian pula Ki
Bawung yang seperti tengah berpikir keras.
Kemunculan orang yang mengaku bernama lblis
Cakar Naga siang tadi memang membuat gempar
seluruh penduduk Desa Antang ini. Bahkan
sekarang menjadi bahan pemikiran serius dari orang-orang yang tadi sempat
bertarung dengannya
Kemunculan yang tiba-tiba dan terasa aneh.
Alasan yang dikemukakannya pun terasa aneh. lblis Cakar Naga mencari seorang
gadis kecil. Padahal, gadis kecil itu tidak ada di sini. Dan semua orang tidak
ada yang tahu, siapa gadis kecil yang dicarinya itu. Hanya dugaan-dugaan saja
yang muncul di benak mereka semua.
"Jala Driya...," Ki Bawung menatap Jala Driya yang sejak tadi hanya diam saja.
"Oh.... Ada apa, Ki," Jala Driya langsung mengangkat kepalanya
"Kau yang pertama kali bertemu dengannya,
bagaimana dia sampai bisa menyangka kalau gadis
kecil yang dicarinya ada di sini?" tanya Ki Bawung.
"Aku tidak tahu, Ki. Dia muncul dari dalam
Gua Lorong Angin. Seperti yang Ki Bawung
perintahkan, jika ada orang yang keluar dari Gua Lorong Angin, harus dibunuh.
Kami semua melaksanakan perintah itu, Ki. Tapi akibatnya
sembilan orang temanku malah tewas," jelas Jala Driya.
"Lorong Angin..."!" Rangga nampak terkejut mendengar nama Lorong Angin disebutsebut "Benar, Den Rangga" sahut Jala Driya. "Kau seperti terkejut mendengarnya, Nak
Rangga?" selidik Ki Bawung.
"Ah, tidak. Hanya saja, aku seperti pemah
mendengar nama itu. Apakah dekat dari tempat
ini?" Tidak seberapa jauh," Jala Driya yang menyahut
"Mengapa kau memberi perintah untuk membu-nuh siapa saja yang keluar dari Lorong
Angin, Ki?" tanya Rangga ingin tahu.
"Perintah itu sudah lama ada, Nak Rangga
Mungkin sudah lebih sepuluh tahun. Dan kami
selalu menjaganya, baik siang maupun malam..:," Ki Bawung mencoba menjelaskan.
"Kau yang memerintahkan itu, Ki?"
"Bukan! Kepala desa yang terdahululah yang
memerintahkan," sahut Ki Bawung. "Aku hanya meneruskan amanatnya saja. Semua itu
dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketentraman Desa
Antang "Kenapa bisa begitu?" tanya Rangga semakin ingin tahu.
"Ceritanya sangat panjang, Nak Rangga. Tapi..., apakah kau bukan pendatang dari
Lorong Angin?"
nada suara Ki Bawung terdengar curiga.
'Tidak, Ki. Aku datang melewati sungai sebelah
Utara Desa Antang ini," sahut Rangga.
"Dari Desa Muara?" Ki Bawung ingin kejelasaa
"Benar," sahut Rangga.
"Oh.... Apakah kau datang ke sini karena diutus Ki Randung" Kepala Desa Muara
itu...," tanya Ki Bawung lagi disertai tarikan napas panjang.
Rangga tidak menjawab, dan hanya tersenyum
saja. "Syukurlah kalau kau memang utusan dari Desa Muara. Sudah lama sekali aku
meminta seorang
murid utama dari Padepokan Muara. Rupanya
permohonanku dikabulkan juga," agak mendesah suara Ki Bawung.
Rangga hanya diam saja. Dia merasa kalau di
Desa Antang ini juga tengah terjadi sesuatu.
Padahal, sama sekali Pendekar Rajawali Sakti itu tidak mengenal Ki Randung yang
menjadi Kepala

Pendekar Rajawali Sakti 31 Kaum Pemuja Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Desa Muara itu. Dan yang lebih penting lagi,
Rangga bukan berasal dari Padepokan Muara.
Pendekar Rajawali Sakti itu memang mengetahui
kalau di Desa Muara ada sebuah padepokan yang
cukup besar dan sangat terkenal, karena sering
menciptakan pendekar tangguh berkepandaian
tinggi. Rangga sendiri hanya beberapa hari saja
berada di desa itu.
Hanya saja Pendekar Rajawali Sakti itu tidak
ingin mengecewakan Ki Bawung yang nampaknya
begitu gembira karena mengira Rangga utusan dari Desa Muara. Memang seorang
pendekar dari Padepokan Muara yang sudah lama dinantikannya.
Dan ini tentu dapat menguntungkan, karena
Rangga mempunyai beberapa tanda tanya begitu
mendengar Ki Bawung memerintahkan untuk
membunuh siapa saja yang keluar dari dalam Gua
Lorong Angin. "Nak Rangga. Kau diutus ke sini, tentu gurumu sudah menceritakan perihal Desa
Antang ini," kata Ki Bawung.
'Tidak, Ki," sahut Rangga.
"Juga tentang Gua Lorong Angin?" Ki Bawung seperti tidak percaya.
Rangga menggelengkan kepalanya. "Ah..., mengapa mereka begitu ceroboh" Seharusnya
memberitahukan lebih dahulu kepadamu. Atau...,
ah mungkin mereka berharap agar aku yang
menceritakan semuanya."
Rangga tersenyum. Dan memang ini kesempatan
yang dinantikannya. Dengan begitu bisa didapatkan keterangan perihal Gua Lorong
Angin. Terus terang, kedatangannya ke sini memang ingin ke Gua Lorong Angin itu. Tujuan yang
tidak pasti dan
masih menjadi beban pertanyaan di benaknya. Ini
tentu saja menjadirahasia pribadinya. Dan tidak
mungkin diceritakan hal sebenamya, mengapa dia
datang ke Desa Antang ini kepada Ki Bawung.
Sementara laki-laki tua ini, sudah begitu percaya kalau dirinya adalah utusan
dari Desa Muara.
Mereka kini jadi melupakan lblis Cakar Naga.
Dan Ki Bawung mulai menceritakan, mengapa
kepala desa yang terdahulu memerintahkan untuk
mengenyahkan siapa saja yang keluar dari dalam
Gua Lorong Angin. Sedangkan Rangga mendengarkan penuh perhatian. Disimaknya setiap
kata yang terucapkan dari bibir Ki Bawung. Sesekali Pendekar Rajawali Sakti itu
bertanya kalau ada
yang kurang jelas. Maka, Ki Bawung pun
menjelaskannya dengan terperinci sekali.
*** Rangga memaridangi mulut gua yang hanya
kelihatan seperti garis memanjang saja. Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan
pandangannya ke
sekeliling. Tak ada seorang pun yang terlihat di sekitar tempat ini. Dari
ketinggian seperti ini, memang bisa memandang ke segala arah. Desa
Antang terlihat jelas, dan nampak sunyi tenang.
Rangga mendongakkan kepalanya ke atas. Saat itu
terlihat sebuah bayangan hitam keperakan melayang-layang di angkasa. Pendekar Rajawali Sakti itu tersenyum.
"Kemarilah, Rajawali Putih...!" seru Rangga sambil melambaikan tangan.
"Khraghk...!"
Dari angkasa meluruk turun seekor rajawali
raksasa berbulu putih keperakan. Rajawali Putih
mendarat lunak di depan rangga. Dianggukanggukkan kepalanya dengan sayap setengah
terentang. Rangga menghampiri dan menepuknepuk leher burung raksasa itu.
"Hm..., jadi gua ini tembus ke sebelah Barat?"
gumam Rangga seperti mengerti setiap isyarat yang digerakkan burung rajawali
raksasa itu. "Khrrrghk...!" Rajawali PuBh mengkirik seraya menganggukkan kepalanya.
"Apa saja yang ada di sana?" tanya Rangga.
Rajawali Putih menggelengkan kepalanya. kemudian mengembangkan sayap kanannya
hingga menyampir
menutupi tanah. Rangga memperhatikan sejenak,
kemudian menatap bola mata burung raksasa itu.
"Berapa?" tanya Rangga. Rajawali Putih mematuk tanah di depannya satukali.
"Laki-laki atau perempuan?" Rajawali Putih mengangkat sebelah kaki kanannya,
kemudian dengan paruh dipatuknya jari kaki yang paling
tengah. Rangga memperhatikan setiap gerakan
yangdilakukan Rajawali Putih dengan seksama.
Diangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti
semua yang diisyaratkan burung rajawali raksasa
itu."Kita lihat kesana, Rajawali Putih. Hup...!"
Ringan sekali gerakan Rangga. Tubuhnya melayang
naik ke punggung Rajawali Putih. Setelah menepuk leher burung raksasa itu tiga
kali, secepat kilat Rajawali Putih mengepakkan sayapnya, melesat
naikdan membumbung tinggi ke angkasa. Sebentar
saja Rajawali Putih sudah melayang di angkasa, dan Rangga berada di punggungnya.
Rangga mengarahkan pandangannya ke bawah.
Setiap jengkal tanah diperhatikan dengan teliti.
Sementara Rajawali Putih terus melayang menuju
arah Barat Burung raksasa itu menukik setelah
sampai pada bagian Gunung Antang yang bertebing
curam dan berbatu. Banyak jurang terdapat di
tempat ini. Rajawali Putih mendarat pada salah
satu dataran berbatu yang agak rapuh. Rangga
melompat turun dengan gerakan yang indah dan
ringan sekali. "Hmmm...," gumam Pendekar Rajawali Sakti itu.
Tatapan matanya langsung tertuju pada sesosok
tubuh yang tergolek di antara bebatuan. Darah
yang melumuri tubuhnya.sudah mengering. Pelahan
Rangga menghampiri mayat laki-laki berbaju agak
ketat, berwama biru itu. Sebentar diperiksanya
mayat itu, kemudian berdiri dan memandang
berkeliling. "Sayang sekali, dia sudah tewas. Hhh...! Siapa yang membunuhnya" Dan...!" Rangga
tersentak, dan gumamannya seketika terhenti.
Pendekar Rajawali Sakti itu melompat ke tepi
jurang yang tidak jauh dari tempat ini. Kakinya
berdiri tegak di bibir jurang yang cukup besar dan dalam. Sukar untuk melihat
dasar jurang yang gelap tertutup kabut itu. Matanya tajam meneliti sekitar bibir
jurang ini. Kembali mulutnya bergumam dan
kakinya berlutut mengambil pecahan batu.
"Batu ini seperti sengaja dipecahkan. Hmmm..,mudah-mudahan
Ayu Nerang tidak tercebur dalam jurang ini," kembali Rangga
bergumam. Pendekar Rajawali Sakti itu berpaling, menoleh
pada Rajawali Putih yang masih tetap mendekam di tempat pertama kali mendarat
Burung rajawali
raksasa itu juga menatap Rangga.
"Rajawali Putih, kemarilah!" panggil Rangga.
"Khraghk!"
Hanya. sekali lesatan saja, Rajawali Putih sudah berada di samping Rangga.
"Kita turun ke sana, tapi hati-hati," kata Rangga.
"Khrrrk...," Rajawali Putih mengkirik
Rangga melompat naik ke punggung burung
rajawali raksasa itu. Sebentar kemudian Rajawali Putih sudah melayang di atas
jurang yang menganga lebar. Setelah berputar tiga kali, kemudian pelahan-lahan
bergerak turun, masuk ke dalam jurang.
Rangga mengamati setiap tebing jurang yang terdiri dari batu-batu cadas berlumut
tebal. Kelopak matanya sedikit menyipit saat melihat ada bekas
jejak kaki yang tertera jelas pada lumut di tebing batu jurang ini
'Terus turun, Rajawali Putih," pinta Rangga.
Khrrrk..!"
Rajawali Putih terus mengepakkan sayapnya
perlahan-lahan, lalu bergerak turun semakin jauh ke dalam jurang. Mata Rangga
tidak lepas mengamati
jejak kaki yang tertera pada tebing berbatu yang berlumut tebal itu. Jelas
sekali kalau jejak kaki itu mengarah ke dasar jurang.
"Hup!"
Rangga melompat turun begitu sudah dekat ke
dasar jurang. Jejak kaki masih nampak. Dan
Pendekar Rajawali Sakti itu pun mengikuti jejak
kaki yang terlihat Kakinya berhenti melangkah saat jejak kaki itu memasuki
sebuah celah batu yang
merupakan sebuah mulut gua. Dengan mengerahkan aji 'Tatar Netra', Pendekar Rajawali Sakti itu dengan leluasa dapat
melihat ke dalam gua yang gelap.
"Hmmm..., gua ini panjang dan melingkar. Aku yakin kalau gua ini tembusan dari
Gua Lorong Angin," gumam Rangga.
Rangga melangkah mundur tiga tindak. Kembali
diamati sekeliling dasar jurang ini. Kabut yang
demikian tebal menyulitkannya untuk bisa melihat jauh. Untung saja segera
dipergunakan aji 'Tatar Netra*. Tiba-tiba saja Rangga dikejutkan oleh suara
menggerung yang keras mengge'tarkan.
"Ghrauuughk...!"
*** Rangga terkejut bukan main, begitu tiba-tiba
muncul sesosok makhluk mengerikan. Makhluk itu
berbulu hitam pekat bagai seekor gorilla, tapi
wajahnya lebih mirip seekor anjing hutan liar.
Sepasang bola matanya bulat menyala bagai bola api.
Makhluk itu menggerung-gerung, memamerkan
baris-baris giginya yang bertaring tajam mengerikan.
Rangga melompat mundur beberapa tindak.
Sedangkan makhluk yang tidak mungkin disebut
manusia itu melangkah mendekatpelahan-lahan.
"Grhhh...!"
"Jika kau bukan makhluk buas, aku tidak
bermaksud jahat padamu," jelas Rangga.
"Ghraughk...!" makhluk aneh bertubuh besar dan berbulu hitam itu menggerung
keras. Dan tiba-tiba saja makhluk itu melompat cepat
sambil merentangkan tangan ke depan, siap hendak menerkam. Cepat sekali dia
menerjang. Untuk
sesaat Rangga terpana, namun cepat-cepat melompat ke samping dan menjatuhkan diri serta
bergulingan di tanah berbatu lembab.
"Hup!"
Bergegas Rangga melompat bangkit berdiri.
Namun belum juga bisa menguasai keseimbangan
tubuhnya, makhluk bertubuh macam gorilla dan
bermuka seperti anjing hutan itu sudah kembali
melompat menerjang ganas. Mulutnya menggerung
dahsyat, membuat seluruh tebing jurang ini
bergetar bagai hendak runtuh.
"Uts! Hiyaaa...!"
Rangga kembali melompat ke samping, dan
secepat kilat melayangkan satu tendangan geledek disertai pengerahan tenaga
dalam yang tidak begitu tinggi.
Buk! Tendangan Pendekar Rajawali Sakti itu tepat
menghantam bagian samping kiri dada makhluk itu.'
Namun Rangga jadi terkejut, karena seperti
menendang sebongkah batu cadas yang sangat
keras bagai baja. Tulang-tulang kakinya menjadi
nyeri bagai hendak patah. Buru-buru Pendekar
Rajawali Sakti itu melompat mundur. Sementara
itu, makhluk aneh mengerikan kembali berbalik,
langsung melompat menerjang sambil meraung
keras. "Gilal Makhluk apa ini...?" rungut Rangga dalamhati.
Rangga langsung melompat kembali ke samping
begitu makhluk aneh mengerikan itu kembali
menerjangnya. Sungguh luar biasa terjangan
makhluk aneh itu! Sebongkah batu yang besarnya
dua kali lipat dari besar badan kerbau, hancur
berkeping-keping terlanda tubuhnya yang berbulu
hitam pekat. Kelihatan sekali kalau Pendekar Rajawali Sakti
itu kewalahan menghadapi makhluk yang begitu
kebal dan tidak mempan pukulan bertenaga dalam
tinggi sekalipun. Sementara makhluk yang seluruh tubuhnya berbulu hitam itu
terus menyerang
Rangga dengan ganas. Sedikit pun lawannya tidak
diberi kesempatan untuk balas menyerang. Rangga
hanya bisa berkelit mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajalb".
Sementara di lain tempat, terlihat Burung
Rajawali

Pendekar Rajawali Sakti 31 Kaum Pemuja Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Putih Raksasa hanya mendekam memperhatikan jalannya pertarungan aneh itu.
Pendekar Pemanah Rajawali 25 Gento Guyon 18 Iblis Edan Dendam Dalam Darah 1

Cari Blog Ini