Ceritasilat Novel Online

Pertarungan Di Bukit Setan 3

Pendekar Rajawali Sakti 7 Pertarungan Di Bukit Setan Bagian 3


"Setan...!" geram Kakek Tangan Seribu.
Sebelum tubuhnya ambruk, mendadak dia mengebutkan tangannya dengan cepat Sinar-sinar keperakan bertebaran, meluncur deras ke arah
Nenek Jubah Merah. Kakek Tangan Seribu melontarkan bintang peraknya sambil
berlompatan dengan sisa-sisa kekuatannya.
Nenek Jubah Merah pun juga berlompatan mengibaskan tongkat pendek, menyampok
bintang-bintang perak yang mencecar tubuhnya bagai hujan. Jarak antara dua tokoh
itu makin dekat saja. Sementara bintang perak terus bertebaran mengurung Nenek
Jubah Merah dari segala arah.
"Hiya...!" seketika Kakek Tangan Seribu berteriak nyaring.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya meluncur menerjang Nenek Jubah Merah. Tentu saja
perempuan tua itu menjadi kaget setengah mati melihat kenekatan lawannya. Tidak
ada pilihan lain lagi, kecuali
mendorong ujung tongkatnya ke depan. Crab!
Tongkat Nenek Jubah Merah menancap dalam, tepat di jantung Kakek Tangan Seribu.
Darah segera muncrat keluar. Namun, sebelum menemui ajal, kakek tua itu sempat
melontarkan bintang peraknya beberapa kali. Melihat hal itu, Nenek Jubah Merah
yang tongkatnya masih tertanam di dada Kakek Tangan Seribu, menjadi terkejut.
Buru-buru dilepaskan genggaman pada tongkatnya, lalu melenting menghindari
bintang-bintang perak. Tapi terlambat. Satu bintang perak menancap dalam di
bagian paha kiri.
"Akh!" Nenek Jubah Merah memekik tertahan. Begitu tubuh Nenek Jubah Merah
meluncur jatuh, dengan cepat Pandan Wangi melenting sambil mengibaskan kipasnya
ke arah leher Nenek Jubah Merah. "Akh!"
kembali Nenek Jubah Merah memekik. Nenek Jubah Merah memang tidak mungkin lagi
mengelak. Tanpa ampun lagi lehernya terbabat ujung kipas Pandan Wangi. Dia jatuh
bergulingan dl tanah. Darah mengucur deras dari leher yang koyak lebar. Hanya
sebentar perempuan tua berhati iblis itu kelonjotan, kemudian diam tidak
bergerak-gerak lagi.
"Kakek...!" seru Pandan Wangi. Segera gadis itu berlari menubruk kakeknya yang
menggeletak dengan beberapa jarum tertanam dl tubuhnya. Tongkat pendek Nenek
Jubah Merah masih tertanam dalam di dadanya. Kakek Tangan Seribu diam tak
bergerak lagi. Nyawa satu-satunya telah melayang, bersamaan dengan terlontarnya
bintang bintang perak dari balik lengan bajunya.
"Kakek...," rintih Pandan Wangi sambi! memeluk tubuh kakeknya.
Pandan Wangi tak kuasa lagi menahan air mata yang meluncur deras membasahi pipi
yang putih kemerahan. Bibir yang merah alami bergetar menyebut-nyebut nama
kakeknya. Pandan Wangi menv
bopong tubuh kurus tua yang telah menjadi mayaiJ Langkahnya lesu meninggalkan
tepian Sungai Banyu Biru.
Sambil membopong tubuh kakeknya, Pandan Wangi melangkah
pelan menuju pondok yang tidaM jauh dari hulu S ungai Banyu Biru. Air matanya
terus mengalir bagai anak s ungai. Pandan Wangi terus melangkah memasuki rumah
kecil itu, kemudian meletakkan tubuh laki-laki tua yang telah menjadi mayat itu
di dipan. Sebentar dipandanginya orang yang telah menjadi payung dan tiang utama
kehidupannya. "Maafkan Pandan, Kek," rintihnya lirih. "Pandan janji tidak akan membuat ulah
lagi Pandan akan menjadi pendekar pilih tanding, dan memberantas segala macam
kejahatan."
Pandan Wangi berlutut di depan mayat kakeknya Kemudian dia berdiri dan melangkah
mundur. Matanya basah bersimbah air mata, menatap sayu tubuh kurus yang terbujur
di dipan kayu. Pandan Wangi terus melangkah mundur sampai ke luar pondok.
"Selamat jalan, Kek. Hanya aku yang bisa melaksanakan keinginanmu," bisik Pandan
Wangi lirih. Tangannya bergetar mengambil obor yang tertanam di depan
pondok. Sebentar dia berdiri mematung memandangi ke dalam pondok yang terbuka
pintunya. Dengan hati berat, gadis itu melemparkan obor ke atap rumah.
Dilaksanakan pesan kakeknya agar membakar pondok ini beserta mayatnya.
Pandan Wangi mundur beberapa langkah ketika api makin besar melahap pondok itu.
Bunyi kayu terbakar meletup, menambah
kepedihan hati gadis itu. Api terus merambat melahap kayu-kayu pondok. Letupanletupannya memercikkan bunga-bunga api yang membumbung tinggi ke angkasa.
"Kakek...," rinrih Pandan Wangi.
*** Bukit Setan tampak angker menjulang menantang langit. Seluruh permukaannya
ditumbuhi pohon-pohon besar dan kecil yang rapat. Sulit untuk mencapai puncak
bukit yang penuh oleh pepohonan dan batu-batuan yang besar, membentuk lembah dan
jurang-jurang terjal.
Keadaan yang sulit dijamah ini, menjadi tidak mengherankan kalau penduduk Desa
Banyu Biru yang berada dekat bukit itu enggan untuk memasukinya.
Sebenarnya bukit ini tidak seseram seperti namanya. Bukit ini tampak begitu
indah dan sejuk udaranya Mungkin karena memiliki banyak jurang dan lembah yang
dalam serta pepohonan yang rapat, sehingga tampak menyeramkan. Belum lagi batubatuan yang mudah gugur dan lumpur-lumpur hidup yang siap memangsa apa saja yang
masuk ke dalamnya.
Rangga yang sudah mencapai puncak Bukit Setan itu, berdiri mematung memandangi
sekitarnya. Tampak di sebelah Timur, Desa Banyu Biru terlihat indah dengan
sungainya yang meliuk-liuk melingkari lereng bukit.
"Hm, di mana letak goa yang didiami pertapa itu?" tanya Rangga dalam hari.
Kembali matanya beredar ke sekeliling. Yang tampak hanya
pepohonan dan batu-batuan. Sedikit pun tak nampak tanda-tanda kalau di puncak
Bukit Setan ini pernah terjadi kehidupan. Bahkan, sepertinya binatang pun enggan
hidup di sini. Sejak tadi Rangga tidak menemukan seekor cacing pun di puncak
bukit ini. Benar-benar senyap dan mati suasananya.
Ketika Pendekar Rajawali Sakti itu dalam kebingungan, mendadak telinganya yang
tajam mendengar suara mencurigakan dari arah Barat.
Rangga segera mengarahkan pandangannya ke sana. Tampak
gerumbul semak bergoyang-goyang seperti terlanda sesuatu yang berjalan mendaki
puncak bukit ini.
"Hup!"
Seketika Pendekar Rajawali Sakti itu melenting tinggi ke angkasa.
Sedikit kakinya menjejak ranting pohon, lalu melenting lebih tinggi lagi.
Sampai pada tempat yang paling tinggi di pohon besar, Rangga duduk mengawasi
keadaan di bawahnya. Matanya yang tajam bagai mata elang, langsung melihat empat
orang sedang berjalan merambah semak belukar menuju puncak.
Rangga kenal betul terhadap empat orang itu. Mereka adalah Empat Setan Jagal.
Golok mereka berkelebatan menebas semak yang menghalangi langkah mereka. Rangga
segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Seorang tokoh sakti sekali pun,
masih cukup sulit untuk mengetahui keberadaannya kalau dia sudah mengerahkan
ilmu ini. Sementara itu Empat Setan Jagal telah mencapai puncak. Mereka berhenti tepat di
bawah pohon, tempat Pendekar Rajawali Sakti bertengger di atasnya. Bagi Pendekar
Rajawali Sakti, tidak terlalu sulit menangkap pembicaraan mereka. Lebih-lebih
setelah ia mengerahkan ilmu pemecah suara dan pembeda gerak.
"Huh! Gara-gara Kipas Maut, kita yang sulit jadinya," dengus Jagal Merah.
"Iya. Kalau saja tidak ada Pendekar Rajawali Sakti, telah kutebas leher gadis
liar itu!" sambung Jagal Biru.
"He he he..., paling-paling kau nikmati dulu tubuh nya," olok Jagal Kuning.
"Bukan aku, tapi kita!" rungut Jagal Biru.
Ketiga jagal itu tertawa gelak, kecuali Jagal Hitam. Dia berdiri tegak menatap
ke arah Desa Banyu Biru. Mulutnya terkatup rapat,
menampakkan wajah tegang.
Tawa ketiga jagal berhenti saat melihat Jagal Hitam tidak berkedip memandang ke
arah Desa Banyu Biru Memang, dari tempat itu mereka bisa memandang dengan jelas
ke arah desa dan lereng.
"Apa yang kau pikirkan, Jagal Hitam?" tanya Jagal Merah.
"Hm...," Jagal Hitam hanya menggumam tidak jelas.
Jagal Merah mengarahkan pandangannya pula ke sana. Keningnya berkerut begitu
melihat titik merah bergerak ke arah yang sama. Wajah mereka langsung menegang
melihat titik merah yang kini makin nyata menjadi sebuah bayangan yang bergerak
cepat seperti melayang dari puncak pohon yang satu ke puncak pohon yang lain.
"Aku tidak mengerti, mengapa mereka jadi beralih
ke Bukit Setan?" Jagal Hitam bergumam seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Pendekar Rajawali Sakti telah menyebar kabar kalau kitab dan pedang pusaka itu
ada di sini," jawab Jagal Kuning.
"Gila! Dari mana kau tahu?" dengus Jagal Hitam.
"Semua orang telah tahu. Hampir setiap hari Desa Banyu Biru menjadi ajang
pertarungan orang-orang yang mencari benda pusaka itu," sahut Jagal Kuning.
"Phuih! Bukit Setan bakal jadi ajang pertarungan!" dengus Jagal Hitam geram.
'Tempat pembantaian tokoh-tokoh sakti rimba persilatan,"
sambung Jagal Biru.
"Mau tidak mau, kita harus mempertahankan tempat ini," kata Jagal Merah.
"Mustahil. Kita tidak mungkin bisa menghadapi mereka," sahut Jagal Hitam yang
menyadari kalau yang akan dihadapi mereka adalah tokoh-tokoh sakti berkemampuan
tinggi "Lantas, apa tindakan kita?" tanya Jagal Kuning.
"Biarkan mereka saling bunuh di sini. Aku tidak peduli tempat ini akan banjir
darah dan mayat," sahut Jagal Hitam.
Sementara itu bayangan merah yang bergerak cepat mendaki bukit sudah semakin
jelas terlihat. Jagal Hitam mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu memberi
isyarat agar yang lainnya bersembunyi di balik sebuah batu besar tidak jauh dari
tempat ini. Bergegas mereka berlompatan ke arah yang ditunjuk Jagal Hitam.
Sedangkan Rangga yang menyaksikan sejak tadi di atas pohon, hanya tersenyum
tipis. Rencananya sudah kelihatan berjalan. Dia juga sudah melihat bayangan
merah semakin mendekati puncak Bukit Setaa Rangga tersenyum ketika mengenali
bayangan merah yang ternyata adalah wanita cantik yang ditemuinya di kedai
Wanita yang berjuluk Pisau Terbang, dan yang telah membunuh Iblis Kembar Hitam.
Rupanya Pisau Terbang tertarik juga dengan kabar tentang adanya Kitab Naga Sewu
dan Pedang Naga Geni di Bukit Setan.
"Sayang, cantik-cantik serakah," gumam Rangga dalam hati.
*** "Ah, ada empat monyet bersembunyi di sini," gumam Pisau Terbang ketika tiba di
puncak Bukil Setan.
Gumaman yang disertai pengerahan tenaga dalam itu menggema ke seluruh puncak
bukit ini. Empat Setan Jagal saling Dandang karena gumaman itu jelas-jelas
tertuju kepada mereka. Jagal Merah yang s ulit mengendalikan emosi, jadi geram
mendengar penghinaan itu. Langsung
saja dia melompat keluar dari balik batu.
Setan Jagal Iainnya ikut belompatan keluar me-nyusul Jagal Merah.
Mereka berdiri sejajar sekitar tiga tombak jaraknya dari Pisau Terbang.
Begitu melihat paras cantik berada di depannya, Jagal Biru jadi terpikat.
Jagal Kuning yang memang suka wanita-wanita cantik, menelan ludahnya membasahi
tenggorok-an yang terasa kering mendadak.
"Empat Setan Jagal..., nama kalian sudah terkenal sebagai penguasa Bukit Setan
ini. Namun tidak disangka bisa kecolongan oleh gadis ingusan," lagi-lagi Pisau
Terbang bergumam. Kata-katanya terdengar Iembut dan merdu, namun sangat
menyakitkan telinga.
"Apa maks udmu datang ke sini, Pisau Terbang?" tanya Jagal Hitam kasar.
"Apakah aku harus menjawab?" Pisau Terbang malah balik bertanya.
"Kau pasti mencari Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni," kata Jagal Biru
tersenyum sinis.
"Mungkin," sahut Pisau Terbang kalem.
"Sebaiknya urungkan saja niatmu. Sayang kalau wajahmu yang cantik dan kulitmu
yang halus menjadi rusak oleh golok kami," kata Jagal Merah. Matanya liar
merayapi wajah cantik di depannya.
"Mungkin anak kecil takut melihat golok rongsokan kalian. Apakah mungkin bisa
menandingi pisau-pisau terbangku?"
"Setan! Kurobek mulutmu!" geram Jagal Merah tidak dapat lagi menahan emosinya.
Selesai berkata demikian, secepat kilat Jagal Merah melompat seraya mengibaskan
goloknya. Pisau Terbang hanya memiringkan tubuhnya sedikit, lalu begitu golok
Jagal Merah lewat di samping tubuhnya, dengan cepat diayunkan kakinya.
"Uts!" Jagal Merah langsung menarik dirinya ke belakang.
Tendangan menyamping Pisau Terbang luput Jagal Merah kembali mengayunkan
goloknya mengarah ke kepala wanita cantik itu. Sabetan golok besar disertai
tenaga dalam itu, menimbulkan suara angin menderu. Pisau Terbang menundukkan
kepalanya sedikit, lalu tangan kanannya terangkat ke atas.
"Setan!" dengus Jagal Merah cepat menarik tangannya.
Hampir saja tangan kanan Pisau Terbang menotok pergelagnan tangan Jagal Merah.
Pertarungan terus berlanjut sampai lima jurus, tapi sampai sejauh itu tidak
sedikit pun Pisau Terbang menggeser kakinya.
Tampaknya dia menganggap enteng lawannya ini. Sedangkan Jagal Merah semakin
bernafsu menyerang dengan jurus-jurus mautnya yang cepat dan berbahaya.
"Bantu dia, Jagal Biru," perintah Jagal Hitam yang melihat Jagal
Merah sudah kewalahan.
Jagal Biru segera melompat membantu Jagal Merah menyerang
Pisau Terbang. Mendapat bantuan dari Jagal Biru, semangat Jagal Merah seperti
terpompa kembali. Serangan-serangan goloknya semakin cepat dan berbahaya.
"Bagus!" dengus Pisau Terbang. "Kenapa tidak semuanya saja turun?"
"Sombong! Kurobek mulutmu, perempuan setan!" geram Jagal Merah.
"Ah, mulutmu besar sekali. Aku suka kalau kau punya mulut lebih lebar lagi."
"Mampus kau, perempuan setaaan!" teriak Jagal Merah.
Seketika diayunkan goloknya ke arah kepala Pisau Terbang.
Sedangkan Jagal Biru mengincar kakinya. Pisau Terbang melenting ke belakang, dan
dua serangan sekaligus itu lewat begitu saja tanpa mengenai sasaran. Dengan jari
kaki menjejak batang pohon, Pisau Terbang meluruk cepat ke arah Jagal Merah.
Jari-jari tangan perempuan cantik itu terkembang bagai cakar elang. Jagal Merah
terperanjat sekali, buru-buru dijatuhkan dirinya ke tanah. Tapi kaki Pisau
Terbang dengan cepat menyampok.
Buk! "Uhk!" Jagal Merah mengeluh setelah merasakan pinggangnya kena sampok kaki Pisau
Terbang. Melihat temannya terguling, Jagal Biru langsung melompat sambil mengibaskan
goloknya. Pisau Terbang, yang baru menjejakkan kakinya di tanah, mengebutkan
tangan kanannya, maka dua bilah pisau pun melunc ur deras ke arah Jagal Biru.
"Aaakh...!" Jagal Biru menjerit melengking.
Sungguh tidak diduga sama sekali kalau Pisau Terbang dengan cepat menggunakan
senjata tersembunyi. Padahal, dia dalam posisi yang sulit sekali. Dua bilah
pisau tertancap dalam di dada Jagal Biru.
Pisau Terbang langsung melenting ke arah Jagal Biru. Tangannya pun segera
mencabut pisau di dada laki-laki itu, seraya dengan cepat kakinya menendang. T
ubuh Jagal Biru melayang deras ke arah Jagal Hitam dan Jagal Kuning.
"Bangsat...!" geram Jagal Hitam melihat tubuh Jagal Biru jatuh, sudah jadi mayat
di depannya. "Perempuan setan! Kau harus bayar nyawa sauda-raku!" geram Jagal Merah yang
sudah bangkit lagi.
"Kalian semua akan segera menyusul ke neraka," kata Pisau Terbang dingin.
"Mampus kau, perempuan liar...!"
Jagal Merah makin meluap kemarahannya. Goloknya berkelebatan cepat mengincar
tubuh Pisau T erbang. Sedangkan Jagal Hitam dan Jagal Kuning juga sudah melompat
merangsek perempuan cantik itu.
Pisau Terbang melayaninya dengan kedua tangan menggenggam pisau yang panjangnya
hanya satu jengkal.
Tring, tring! Dua kali Pisau Terbang menangkis serangan golok yang
mengurung dirinya dari tiga arah. Sedangkan kakinya melayang deras ke arah dada
Jagal Kuning Dan.... Buk!
"Uhk!" Jagal Kuning terjajar ke belakang.
Telak sekali kaki Pisau Terbang mendarat di dadanya. Seketika Jagal Kuning
merasakan napasnya sesak, dan matanya berkunang-kunang. Belum sempat mengatur
napasnya, tangan kiri Pisau Terbang bergerak cepat mengibas.
"Aaakh...!" Jagal Kuning menjerit keras.
Pisau di tangan kiri Pisau Terbang begitu cepat meluruk, sehingga Jagal Kuning
tidak bisa lagi mengelak. Jagal Kuning langsung ambruk dengan dada tertembus


Pendekar Rajawali Sakti 7 Pertarungan Di Bukit Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pisau. Dua dari Empat Setan Jagal sudah tewas dalam waktu yang tidak terlalu
lama. Sedangkan yang Iainnya sudah merasa gentar. Gerakan-gerakan mereka tampak
tidak teratur lagi.
Jurus-jurusnya ngawur, dan hal ini membuat Pisau Terbang jadi makin enak
menghadapinya. "Lepas!" tiba-tiba Pisau Terbang berseru keras.
Cepat sekali tangan kirinya menepak pergelangan tangan Jagal Merah. Golok besar
Jagal Merah meluncur, lepas dari genggaman.
Belum hilang rasa terkejut nya, mendadak kaki Pisau Terbang sudah melayang
menghantam dada. Jagal Merah terhuyung-huyung ke
belakang. Dari mulut dan hidungnya mengucur darah segar.
Pisau Terbang langsung memutar tubuhnya, dan tangan kanan
yang menggenggam pisau berkelebat cepat mengibas. Pisau di tangan wanita cantik
itu meluncur deras ke arah Jagal Hitam.
Tring! Jagal Hitam menangkis pisau itu, namun tidak bisa lagi mengelak dari serangan
kaki Pisau Terbang yang datang hampir bersamaan.
"Uhk!" Jagal Hitam mengeluh, dadanya sesak kena tendangan geledek Pisau Terbang.
Saat tubuh Jagal Hitam terhuyung-huyung ke belakang, kembali kaki kanan Pisau
Terbang melayang cepat. Jagal Hitam kembali mengaduh keras, karena pergelangan
tangan kanannya seperti remuk terhajar kaki wanita itu. Goloknya terlepas, dan
Pisau Terbang dengan cepat mencelat menyambar golok itu.
"Hiya...!"
"Aaakh...!" Jagal Hitam menjerit melengking.
Pisau Terbang menggunakan golok Jagal Hitam untuk menebas
leher pemiliknya sendiri. Kepala Jagal Hitam terguling lepas dari lehernya.
Pisau Terbang menghampiri mayat Jagal Kuning dan Jagal Biru. Dicabutnya pisau
yang tertancap di tubuh mereka. Kemudian berbalik dan melangkah menghampiri
Jagal Merah yang sudah pucat-pasi mukanya.
Wanita cantik bertubuh indah itu bagaikan iblis pencabut nyawa di mata Jagal
Merah. Pelan tapi pasti, Pisau Terbang mendekati Jagal Merah yang kelihatannya
sudah putus asa. Kedua bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seakan-akan
mencari celah untuk dapat meloloskan diri.
"Giliranmu sudah tiba, monyet jelek," dengus Pisau Terbang dingin suaranya.
"iblis! Yeaaah...!" Jagal Merah berteriak keras.
Sambil mengayun-ayunkan goloknya yang besar, dia berlalu
menerjang Pisau Terbang. Jagal Merah sudah nekad, meskipun tahu dirinya tidak
mungkin bisa menang menghadapi perempuan cantik ini.
Pisau Terbang memiringkan tubuhnya ke kanan dan golok Jagal Merah menyambar
angin di samping kiri tubuh Pisau Terbang. Secepat kilat kaki kiri Pisau Terbang
tertekuk dan terangkat ke atas.
"Huk!" Jagal Merah melenguh pendek saat lutut Fisau Terbang bersarang tepat di
ulu hatinya. Belum lagi bisa berpikir, tangan kiri wanita itu menghajar wajahnya
dengan telak. Jagal Merah terdongak, terjajar ke belakang. Pisau Terbang tidak mau membuangbuang waktu dan tenaga percuma. Pisaunya langsung berkelebat cepat merobek mulut
Jagal Merah. Dibuktikan ucapannya untuk memperbesar mulut laki-laki ini. Jagal
Merah meraung keras sambil memegangi mulutnya yang sobek sampai ke pipi. Darah
mengucur deras di sela-sela jarinya.
"Hiya...!"
"Aaa...!" Jagal Merah menjerit melengking.
Si Pisau Terbang menghunjam dada Jagal Merah dengan pisaunya.
Darah langsung muncrat begitu pisau ditarik ke luar. Wanita cantik itu menendang
tubuh Jagal Merah yang sudah bermandikan darah. Tubuh laki-laki tinggi besar itu
jatuh bergulingan di tanah. Fisau Terbang membersihkan darah yang melekat di
kedua senjatanya dengan baju Jagal Merah, kemudian diselipkan kembali di
pinggangnya. Sementara Rangga yang memperhatikan pertarungan itu dari atas pohon, menggelenggelengkan kepalanya. Pisau Terbang memang cantik dan menggairahkan, tapi sangat
buas dan ganas. Membunuh lawan tanpa memicingkan mata sedikit pun juga. Darah
mulai membasahi puncak Bukit Setan. Entah berapa mayat lagi yang akan jatuh
bergelimpangan. Awal pertarungan tokoh-tokoh sakti rimba persilatan sudah
dimulai. Empat Setan Jagal jadi korban pertama di Bukit Setan ini.
*** Matahari bersinar semakin terik. Satu per satu tokoh-tokoh rimba persilatan
berdatangan ke puncak Bukit Setan. Satu per satu pula nyawa melayang sia-sia.
Bagi yang bemyali kecil,
langsung membatalkan niatnya. Hanya tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian tinggi saja yang
masih bertahan di puncak Bukit Setan ini.
Udara di sekitar pucak bukit ini sudah dipenuhi bau anyir darah dari mayat-mayat
yang bergelimpangan. Sementara Rangga yang sejak semula
memperhatikan dari puncak pohon, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia terkejut begitu melihat Pandan Wangi berlarilari merambah kelebatan Hutan Bukit Setan.
"Pandan Wangi! Mau apa dia ke sini?" kata Rangga dalam hati.
Rangga mengalihkan pandangannya pada Pisau Terbang, Iblis
Wajah Seribu, Iblis Bayangan Merah, Tongkat Baja Hitam, serta beberapa tokoh
lain yang berkumpul di puncak Bukit Setan ini. Mereka adalah tokoh-tokoh rimba
persilatan yang sangat sakti.
"Celaka...!" desah Rangga.
Secepat kilat dia melompat dari satu pucuk pohon ke pucuk pohon lainnya tanpa
menimbulkan suara sedikit pun. Gerakannya ringan bagai kapas tertiup angin.
Begitu dekat dengan Pandan Wangi, tubuhnya melenting turun dengan ringannya.
Pandan Wangi terkejut, karena tiba-tiba saja di depannya Rangga sudah
menghadang. 'Pandan Wangi, kenapa kau ke sini?" tanya Rangga.
"Kakang...," Pandan Wangi langsung menghambur dan memeluk pemuda itu.
Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti itu jadi kaget, Iebih-lebih melihat Pandan
Wangi menangis dalam pelukannya. Pelan-pelan Rangga melepaskan pelukan itu, lalu
mengajak Pandan Wangi ke sebuah pohon yang besar. Pandan Wangi menghapus air
matanya dengan ujung lengan bajunya. Rangga menunggu sampai gadis itu tenang.
"Pandan Wangi, kenapa kau ke sini?" tanya Rang?ga lembut.
"Aku harus mencegah pertumpahan darah ini, Kakang," sahut Pandan Wangi.
"Gila! Mana mungkin" Mereka telah saling bunuh! Bahkan telah banyak korban. Apa
kau ingin tubuhmu dicincang mereka?"
"Hidup juga percuma, Kakang," desah Pandan Wangi seperti putus asa. Rangga
terkejut mendengar nada putus asa dalam suara Pandan Wangi. Matanya menatap
lurus wajah lesu yang tanpa gairah itu.
Mendadak dia jadi teringat Kakek Tangan Seribu. Apakah orang tua itu tahu kalau
cucunya datang ke sini"
"Kakek tahu kau ke sini?" tanya Rangga. Pandan Wangi hanya menatap wajah pemuda
itu. Bibirnya bergerak seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak sedikit
pun suara yang ke luar.
"Kau harus pulang, Pandan Wangi. Kakek tentu cemas
memikirkanmu," kata Rangga lembut.
'Tidak..., Kakek telah tiada," lirih dan tersendat suara Pandan Wangi.
"Apa...!?" Rangga bagaikan disambar petir di siang hari bolong.
Pendekar Rajawali Sakti itu menatap wajah Pandan Wangi, seolah-olah tidak
percaya dengan berita yang baru didengarnya. Gadis itu membalas tatapan Rangga
dengan mata merah bengkak karena terlalu banyak menangis. Mungkin sejak malam
tadi, dia terus-menerus menangis hingga di Bukit Setan ini.
"Kakek bertarung dengan Nenek Jubah Merah. Nenek Jubah Merah tewas! Tapi Kakek
juga tewas," cerita Pandan Wangi. Kemudian dikisahkannya semua peristiwa yang
terjadi. Rangga tertunduk lemas setelah mendengarkan semuanya sampai selesai. Memang
tidak ada pilihan lain bagi gadis ini. Dia sekarang tidak punya lagi tempat
beriindung dan mengadu Kakek satu-satunya yang tersisa dalam keluarga sudah
meninggal semalam.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan" Mereka sekarang ada di puncak Bukit Setan.
Mereka tokoh-tokoh sakti yang haus akan ilmu dan benda pusaka. Mereka bukan anak
kecil yang bisa percaya begitu saja dengan omongan. Mereka baru percaya kalau
sudah menemukan apa yang dicari," kata Rangga pelan suaranya.
"Mereka pasti percaya kalau sudah melihat ini," sahut Pandan Wangi seraya
mengeluarkan sebuah kitab dari balik bajunya.
"Kitab Naga Sewu...!" Rangga terkejut melihat kitab itu berada di tangan Pandan
Wangi. Pendekar Rajawali Sakti itu makin terbeliak melihat di pinggang Pandan Wangi
telah tergantung sebilah pedang bergagang ular naga.
Dia hampir-hampir tidak percaya kalau gadis ini benar-benar memiliki benda-benda
yang kini sedang diperebutkan, bahkan telah jatuh banyak korban.
"Jadi...," suara Rangga terputus di kerongkongan.
"Sudah lama aku menyimpan benda-benda pusaka ini. Tidak
seorangpun yang tahu, juga Kakek Tangan Seribu," kata Pandan Wangi, sudah tenang
suaranya. "Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Rangga.
"Benda ini sebenarnya kudapatkan sejak Eyang Abiyasa masih hidup. Aku dan Eyang
Abiyasa pernah ke puncak Bukit Setan, dan secara tidak sengaja aku melihat
seberkas sinar keluar dari sebuah goa. Ternyata sinar itu berasal dari Kitab
Naga Sewu dan Pedang Naga Geni. Kata Eyang Abiyasa, tidak sembarang orang bisa
memilikinya. Kalau aku yang mendapatkannya, berarti pertapa itu memang
memberikannya padaku. Tentu saja aku gembira mendapatkan sebuah ilmu dan senjata
pusaka. Hanya saja aku tidak menyangka kalau akhirnya jadi begini. Sungguh, aku
tidak bermaksud menyombongkan diri bisa memiliki dua benda pusaka ini," Pandan
Wangi menceritakan dengan lancar.
"Bagaimana orang-orang rimba persilatan bisa tahu kalau kau memiliki benda-benda
itu?" tanya Rangga.
"Semua memang salahku, Kakang. Aku bicara keceplosan," jawab Pandan Wangi
mengakui. "Maksudmu?"
"Waktu itu, tanpa sengaja aku memergoki Empat Setan Jagal membegal seorang
saudagar dan rombongannya saat melintasi lereng Bukit Setan. Aku mencoba
membela, tapi Empat Setan Jagal terlalu tangguh buatku. Untuk mengecilkan nyali
mereka, aku mengatakan kalau akulah pewaris tunggal Kitab Naga Sewu. Waktu itu
aku seolah-olah ingin mengeluarkan aji 'Naga Sewu'. Memang berhasil, Empat Setan
Jagal lari kocar-kacir."
"Dan sejak itu kau dikejar-kejar, 'kan?"
"Iya. Eyang Abiyasa juga tewas akibat membelaku."
"Hhh..., semuanya sudah terjadi. Sekarang apa yang akan kau lakukan dengan
benda-benda ini?"
"Entahlah, Kakang. Aku sendiri tidak tahu haru berbuat apa?"
desah Pandan Wangi lemah.
"Kau sudah baca kitab itu?" tanya Rangga.
"Sudah, dua kali. Tapi aku tidak mengerti isinya."
Rangga tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri. Mata nya menatap ke puncak Bukit
Setan tempat para tok rimba persilatan tengah memperebutkan benda-benda yang
sudah berada di tangan Pandan Wangi. Sedangkan gadis itu juga sudah berdiri di
samping Rangga. Dia juga menatap ke arah yang sama.
"Kau tahu, Pandan. Tidak kurang dari dua puluh tokoh sakti berkumpul di sana,"
kata Rangga. Pandan Wangi diam saja.
"Simpan saja kitab itu baik-baik Jangan kau perlihatkan pada mereka."
"Baik, Kakang," Pandan Wangi menurut. Di memang tidak bisa berbuat lain kecuali
mengikuti saja perintah Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga seketika mencegah tangan Pandan Wangi yang akan
menyimpan kembali Kitab Naga Sewu ke dalam balik bajunya. Pendekar Rajawali
Sakti itu mendadak punya rencana yang harus dilaksanakan.
Rencana yang memang sudah disusun, tapi kini dirubahnya sedikit
"Berikan kitab itu, aku akan menghadapi mereka," kata Rangga.
Pandan Wangi menatap Rangga lekat-lekat. "Percayalah padaku, Pandan. Aku akan
memberikannya kembali padamu. Kitab itu milikmu, aku tidak berhak memilikinya,"
Rangga bisa mengerti arti tatapan mata Pandan Wangi.
Pandan Wangi masih kelihatan ragu-ragu.
"Kitab itu tidak akan berguna sama sekali tanpa Pedang Naga Geni. Lain halnya
dengan pedang itu. Kau masih bisa menggunakannya dengan jurus-jurus pedang
biasa, meskipun tidak sedahsyat jika menggunakan ilmu 'Naga Sewu'!"
Kata-kata Rangga mengingatkan Pandan Wangi pada ucapan
Eyang Abiyasa. Kata-kata itu pernah diucapkan Eyang Abiyasa. Kakek Tangan Seribu
pun juga pemah mengucapkan kata-kata seperti itu kepadanya.
"Kau harus janji, Kakang," kata Pandan Wangi.
"Percayalah. Kalau ada sedikit saja niatan di hatiku untuk menguasi kitab ini,
aku akan mati di tangan mereka," janji Rangga.
Pandan Wangi tersenyum, lalu menyerahkan kitab itu pada
Pendekar Rajawali Sakti. Sebenarnya dia memang sudah percaya penuh pada pemuda
ini. Hanya karena kitab itu jadi rebutan para tokoh rimba persilatan, sikapnya
jadi harus waspada pada siapa saja.
Meskipun juga pada orang yang telah mengobarkan api cinta di hatinya.
Rangga menerima buku itu dan menyelipkan di balik bajunya.
Kemudian digenggamnya pundak Pandan Wangi, seraya menatap gadis itu lekat-lekat.
"Kau tunggu di sini," kata Rangga.
"Hati-hati, Kakang," balas Pandan Wangi.
Rangga tersenyum, lalu secepat kilat melenting meninggalkan Pandan Wangi. Dalam
sekejap mata saja bayangan tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu sudah hilang dari
pandangan. Pandan Wangi mendesah panjang. Hatinya sudah mulai tenang kembali.
semakin percaya penuh pada pendekar muda tampan yang telah mencabik-cabik
sekeping hatinya. Pendekar yang telah membakar api cintanya.
"Semoga Yang Maha Kuasa melindungimu, Kakang," desah Pandan Wangi.
*** 8 "Berhenti...!"
Tiba-tiba terdengar suara keras menggema ke seluruh puncak Bukit Setan. Tongkat
Baja Hitam dan Iblis Wajah Seribu yang tengah bertarung, langsung berhenti
seketika. Semua orang yang ada menoleh ke arah s uara hentakan tadi datang. T
ampak Rangga berdiri angker di atas sebuah batu besar.
Ringan sekali Pendekar Rajawali Sakti itu melenting turun dan menjejak tanah
tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Rangga langsung berdiri di tengah-tengah.
Pandangan matanya tajam menatap wajah-wajah yang berdiri dengan sikap
bermusuhan. "Kalian datang ke sini hanya untuk mengantarkan nyawa sia-sia.
Percuma kalian saling bunuh, apa yang kalian cari tidak mungkin bisa
didapatkan!" suara Rangga terdengar lantang dan tegas.
"Anak muda! Siapa kau" Apa maksudmu berkata begitu?" bentak Tongkat Baja Hitam
keras. "Aku Pendekar Rajawali Sakti!" sahut Rangga lantang.
Suara-suara menggumam terdengar bagai dengungan ribuan lebah memenuhi puncak
Bukit Setan ini. Beberapa di antaranya tampak terkejut setelah tahu kalau yang
datang adalah Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan yang merasa dirinya memiliki
kemampuan tinggi, tetap bertahan. Lebih-lebih yang sama sekali belum pernah
mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti, memandang Rangga sebelah mata saja.
Rangga melirik Iblis Wajah Seribu. Meskipun kini wajahnya lain, tapi di mata
Rangga Iblis Wajah Seribu itu tidak ada bedanya sama sekali.
Wanita cantik itulah yang hampir saja menjebaknya untuk berbuat mesum Sedangkan
Iblis Wajah Seribu tersenyum-senyum saja
mengenali wajah tampan yang membuatnya sempat kecewa.
"Jika kalian menginginkan Kitab Naga Sewu, ini Ambil dari tanganku kalau kalian
mampu!" Rangga mengeluarkan Kitab Naga Sewu dari balik bajunya. Diangkatnya
tinggi-tinggi kitab itu ke atas.
Semua orang yang masih tersisa membelalak lebar melihat kitab yang diperebutkan,
berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Memang, mereka rata-rata sudah
mendengar kabar kalau kitab pusaka itu sudah dikuasai seorang pendekar. Tapi
tidak ada yang menyangka kalau pendekar itu masih muda, gagah, dan tampan.
"He he he..., kau jangan menipuku, bocah. Kitab Naga Sewu tidak akan terpisah
dari Pedang Naga Geni," Tongkat Baja Hitam terkekeh.
"Kalau kukeluarkan pedang itu, apa kau akan me-nyingkir?"
tantang Rangga.
"He he he..., aku akan percaya jika telah melihat Pedang Naga Geni. Aku yang tua


Pendekar Rajawali Sakti 7 Pertarungan Di Bukit Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ini tidak akan memungkiri janji," sahut Tongkat Baja Hitam.
"Baiklah! Siapa yang akan mengikuti jejak suci Paman Tongkat Baja Hitam?"
tantang Rangga lagi.
"Bocah! Jangan umbar bacot di sini. Tunjukkan pedang itu, baru aku bersedia
menyingkir!" bentak Pisau Terbang.
Hampir semua yang hadir mengeluarkan pernyataan itu. Hanya Iblis Bayangan Merah
dan Iblis Wajah Seribu saja yang tidak mau memenuhi permintaan Rangga. Lebihlebih Iblis Wajah Seribu. Dia masih penasaran karena belum dapat menaklukkan
pemuda tampan yang menarik hatinya ini. Apalagi setelah mengetahui pemuda ini
memiliki kitab dan pedang pusaka.
"Lihat!" seru Rangga tiba-tiba.
Seketika itu juga, Rangga mencabut Pedang Rajawali Sakti dari warangkanya.
Mendadak puncak Bukit Setan terang-benderang karena pamor Pedang Rajawali Sakti
yang memancarkan sinar biru berkilauan.
Meskipun dalam keadaan siang hari, sinar biru yang memancar masih tetap
menampakkan pamornya yang dahsyat.
Rangga melintangkan pedangnya di depan dada, kemudian
dimasukkan Kitab Naga Sewu ke balik baju. Lalu tangan kirinya mengusap mata
pedang dari pangkal tangkai sampai ke ujung, lalu balik lagi dan berhenti di
tengah-tengah. Rangga sengaja mengeluarkan ilmu 'Pedang Pemecah Sukma' untuk
menggetarkan hati orang-orang yang haus ilmu ini.
Sinar biru berkilau mengggumpal jadi satu. Dan ketika Rangga menunjuk sebuah
batu besar tempatnya berdiri tadi, sinar biru berkilau itu meluncur deras. Suara
ledakan terjadi bersamaan dengan hancurnya batu sebesar rumah setelah terkena
sinar biru dari pedang pusaka Rajawali Sakti. Rangga segera memasukkan pedang
itu ke dalam warangkanya.
"Nah! Siapa yang ingin mencoba?" tantang RanggaSunyi, tidak ada seorang pun yang menjawab tantangan itu.
Mereka hanya sating pandang, lalu satu persatu meninggalkan puncak Bukit Setan.
Mereka tidak tahu kalau pedang yang dikeluarkan Rangga bukan Pedang Naga Geni,
tapi Pedang Rajawali Sakti. Hanya pamornya yang dahsyat saja, sehingga mampu
melunturkan niat mereka memiliki pedang dan kitab pusaka itu dari Pendekar
Rajawali Sakti "Pendekar Rajawali Sakti, aku yang tua ini mohon diri," kata Tongkat Baja Hitam
seraya menjura.
'Terima kasih," sahut Rangga membalas menjura pula.
Tongkat Baja Hitam berbalik dan melangkah meninggalkan puncak
Bukit Setan. Sebagai tokoh tua, dia harus menepati ucapannya.
Pantang baginya menjilat kembali ludah yang sudah keluar.
Setelah Tongkat Baja Hitam pergi, Pisau Terbang melangkah
mendekati Rangga. Dia berdiri dengan tegak dengan jarak sekitar tiga langkah
lagi. Matanya tajam menatap wajah pendekar muda itu.
"Suatu saat, kita bertarung sampai mati," dingin suara Pisau Terbang.
"Aku tunggu," sahut Rangga kalem. Pisau Terbang berbalik dan melangkah pergi.
Kemudian disusul beberapa tokoh lain. Mereka ada yang meninggalkan tempat itu
dengan rela, tapi ada pula yang sempat mengeluarkan tantangan seperti Pisau
Terbang. Namun semuanya ditanggapi Rangga dengan bibir tersungging senyuman.
Mereka adalah tokoh sakti yang selalu hormat akan kata-kata dan janji yang
terucapkan. Padahal kebanyakan dari mereka, adalah tokoh aliran hitam. Sikap
mereka dalam rimba persilatan, memang patut diacungi jempol.
Kini tinggal Iblis Wajah Seribu dan Iblis Bayangan Merah saja yang belum
meninggalkan tempat. Mereka masih berdiri di tempat masing-masing. Rangga memandangi kedua orang itu. Sangat kontras sekali.
Yang satu berwajah cantik, sedangkan satunya sudah tua keriput.
*** "Kau boleh senang karena bisa membodohi mereka, bocah," kata Iblis Bayangan
Merah dengan suaranya yang serak.
Rangga mengernyitkan dahinya. Sudah bisa ditebak arah
pembicaraan Iblis Bayangan Merah tadi.
"Mata tuaku masih bisa membedakan benda pusaka. Kau berjuluk Pendekar Rajawali
Sakti, dan pedangmu bernama Pedang Rajawali Sakti. Bukan Pedang Naga Geni. He he
he.... Pedang Naga Geni tidak memancarkan sinar biru, juga tidak bergagang
kepala burung. Sungguh bodoh mereka! Mau saja ditipu bocah ingusan!"
Dalam hati Rangga mengakui kecerdikan nenek tua keriput ini.
Memang, dengan rencananya ia berharap bisa menghalau sebagian besar, bahkan
hampir semua orang dari puncak Bukit Setan ini. Sengaja dia memamerkan jurus
'Pedang Pemecah Sukma'. Tapi rupanya ada juga yang bermata jeli da tidak mudah
percaya begitu saja. Sekarang mau tidak mau Rangga harus berhadapan dengan Iblis
Bayangan Merah.
"Keluarkan permainanmu tadi, bocah. Aku ingin tahu apakah ilmumu sanggup
menandingi aji 'Tapa Wisa Merah'ku tantang Iblis Bayangan Merah.
"Maaf, aku tidak ingin mengotori tangan dengan darah," sergah Rangga.
"He he he..., kau takut, bocah?" ejek Iblis Bayangan Merah.
Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Jurus 'Pedang Pemecah Sukma' sangat
dahsyat Dia enggan mengeluarkan kalau tidak karena terpaksa sekali. Bukan
menganggap enteng lawannya, tapi pantang baginya menurunkan tangan kejam dengan
langsu menggunakan ajian dahsyat.
"Bersiaplah, bocah. Jangan katakan aku kejam, kalau sampai menurunkan tangan
maut padamu!' dengus Iblis Bayangan Merah,
"Kalau itu yang kau inginkan, baiklah!" jawa Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti langsung membuka juru 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Dia
tahu kalau lawannya kali ini bukanlah lawan yang enteng. Makanya langsung
dibukanya jurus ke empat dari rangkaian lima jurus 'Rajawali Sakti'.
Melihat Rangga membuka jurus tangan kosong, Iblis Bayangan Merah juga segara
membuka jurus tangan kosong. Dia juga tidak menganggap enteng Pendekar Rajawali
Sakti. Sudah didengarnya sepak-terjang pendekar muda itu. Iblis Bayangan Merah
langsung membuka jurus andalannya. Jurus 'Pukulan Maut'.
"Hiya!"
"Yeaaah!"
Hampir bersamaan mereka berteriak dan melompat saling terjang.
Pertarungan jurus tangan kosong pun segera berlangsung sengit. Iblis Bayangan
Merah terkejut ketika merasakan angin pukulan Pendekar Rajawali Sakti mengandung
hawa panas yang luar biasa. Lebih-lebih saat tangannya beradu dengan Pendekar
Rajawali Sakti. Seluruh tangannya terasa panas bagai terbakar, dan nyeri sampai
mengilukan tulang.
Baru beberapa gebrakan saja, tampak Pendekar Rajawali Sakti sudah di atas angin.
Pukulan-pukulan mautnya yang menyebarkan hawa panas, membuat pertahanan Iblis
Bayangan Merah jadi kacau. Jarang sekali didapat kesempatan untuk balas
menyerang. Setiap kali kesempatan itu diperoleh, selalu kandas di tengah jalan.
Iblis Bayangan Merah sepertinya selalu menghindari benturan tangan dengan
Pendekar Rajawali Sakti. Rasanya dua kali sudah cukup merasakan dahsyatnya,
jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
"Hih!"
Rangga mendorong tangan kirinya dengan tiba-tiba ke arah dada.
IbBs Bayangan Merah segera melompat mundur, tapi Pendekar
Rajawali Sakti itu malah melenting sambil mengibaskan tangan kanannya. Tentu
saja Iblis Bayangan Merah jadi terkejut setengah mati.
Buru-buru dijatuhkan dirinya ke tanah. Namun.... Buk!
Kaki Rangga masih sempat mendarat di perut Iblis Bayangan
Merah. Perempuan tua itu mengeluh pendek, dan tubuhnya bergulingan di tanah.
Segera dia melenting bangun. Langsung dikerahkan aji 'Tapak Wisa Merah'.
Seketika saja seluruh telapak tangannya berubah jadi merah membara.
Rangga juga segera merubah jurusnya. Dikeluarkannya jurus
'Seribu Rajawali'. Iblis Bayangan Merah jadi kelabakan. Tubuh Pendekar Rajawali
Sakti itu seakan-akan berubah banyak jumlahnya. Iblis Bayangan Merah melepaskan
aji 'Tapak Wisa Merah' beberapa kali, tapi begitu menyentuh salah satu tubuh
Pendekar Rajawali Sakti, langsung lenyap. Sedangkan yang Iainnya masih banyak
mengurung dirinya.
Iblis Bayangan Merah menjadi kalang-kabut sendiri. Dilepaskan ajiannya dengan
tak tentu arah. Tiba-tiba tubuh Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas, dan
dengan satu pukulan dahsyat, tangannya menghantam kepala Iblis Bayangan Merah.
Prak! "Aaakh...!" Iblis Bayangan Merah menjerit melengking tinggi.
Kepalanya pecah kena hantam tangan Pendekar Rajawali Sakti.
Tanpa suara apa-apa lagi, tubuh Iblis Bayangan Merah
menggelosor di tanah. Darah mengucur deras dari batok kepalanya yang hancur.
Rangga berdiri tegak dengan mata menatap perempu tua yang judah jadi mayat.
Kemudian matanya beralih menatap Iblis Wajah Seribu.
Iblis Wajah Seribu yang menyadari kemampuannya masih satu
tingkat di bawah Iblis Bayangan Merah, jadi gentar juga. Dia pernah dikalahkan
Iblis Bayangan Merah beberapa waktu yang lalu. Masih untung perempuan tua itu
tidak menjatuhkan tangan kejam, sehingga dia masih hidup sampai sekarang.
Rasanya tidak mungkin Iblis Wajah Seribu bisa mengalahkan
Pendekar Rajawali Sakti dalam satu ilmu silat Apalagi adu ilmu kesaktian. Iblis
Wajah Seribu segera merapalkan ajian yang pernah dipakainya, saat hampir
menundukkan pendekar ini di atas ranjang.
Belum pernah aji 'Pelebur Jiwa' meleset dari sasaran. Tapi untuk sesama wanita,
aji 'Pelebur Jiwa' tidak akan berarti apa-apa.
Pengaruh aji Pelebur Jiwa' mulai terasa meskipun tidak berujud sama sekali.
Daiam waktu sekejap saja seluruh tubuh Iblis Wajah Seribu memancarkan bau harum
semerbak. Wajahnya kelihatan bertambah cantik bercahaya.
"Uh!" Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam pandangan Pendekar Rajawali
Sakti, wajah dan tubuh IbHs Wajah Seribu atau Klenting Kuning sangat mempesona
dan membangkitkan gairah
kejantanannya. Rangga berusaha mengusir gejolak gairah yang
mendadak menggelegak di dalam dadanya. Sama sekali tidak
disadarinya kalau Iblis Wajah Seribu menggunakan aji 'Pelebur Jiwa'.
Suatu ajian yang dapat membangkitkan gairah kejantanan laki-laki.
"Marilah, Kakang. Mendekatlah! Biarkan mayat-mayat bergelimpangan. Kita masih punya waktu untuk berc umbu. Nikmati hidup ini dengan
segala keindahan," suara Klenting Kuning atau Iblis Wajah Seribu terdengar merdu
merayu. "Ah, kenapa aku jadi begini?" Rangga bergumam dalam hati.
Semakin memandang Klenting Kuning, gairahnya semakin kuat saja menggempur dada.
Rangga merasakan kepalanya jadi pening, dan matanya berkunang-kunang. Beberapa
kali dia menelan ludah
membasahi tenggorokannya yang kering mendadak. Tanpa disadari, kakinya melangkah
mendekati Klenting Kuning.
"Ayolah, Kakang...," desah Klenting Kuning.
Rangga terus melangkah semakin dekat. Seluruh jiwanya benar-benar terpengaruh
oleh ajian 'Pelebur Jiwa' yang dilepaskan Iblis Wajah Seribu. Ketika tinggal
tiga langkah lagi untuk mencapai wanita cantik penuh daya pesona itu, tiba-tiba
terdengar bentakan keras.
"Kakang Rangga!"
*** Rangga menoleh ketika mendengar bentakan keras dari arah
samping kanan. Tampak Pandan Wangi berdiri tegak, tidak jauh darinya.
Klenting Kuning juga terkejut mendengar bentakan itu yang disertai pengerahan
tenaga dalam. Gerahamnya bergemelutuk melihat Pandan Wangi tiba-tiba muncul.
Pandan Wangi menghampiri Rangga dan menarik tangan pemuda
itu untuk menjauh dari Klenting Kuning. Rangga seperti orang tolol, tidak bisa
berbuat apa-apa. Pengaruh aji 'Pelebur Jiwa' benar-benar telah merusak jiwanya.
Sepertinya Rangga tidak tahu siapa dirinya lagi.
"Kakang, dia Iblis Wajah Seribu! Jangan mau dipengaruhi jlwamu!
Sadar, Kakang! Dia mempengaruhimu!" kata Pandan Wangi.
Rangga menatap Pandan Wangi sejenak, kemudian matanya
beralih menatap Klenting Kuning. Dia tampak kebingungan melihat dua wanita
cantik berada di dekatnya. Sementara rasa gairah birahi masih menyelimuti
dadanya. "Kakang..., sadar. Aku Pandan, Kakang...," Pandan Wangi terus mencoba
menyadarkan Rangga dari pengaruh aji 'Pelebur Jiwa'.
'Pandan...," desah Rangga.
Tiba-tiba saja Rangga merangkul Pandan Wangi Tentu saja gadis itu menjadi
kelabakan. Pandan Wangi meronta-ronta mencoba
melepaskan rangkulan ketat itu. Rontaan Pandan Wangi malah membuat Rangga
semakin bergairah. Dia berusaha mencium wajah dan leher gadis itu.
"Kakang..., lepaskan!" pekik Pandan Wangi.
"Pandan, kau cantik sekali," desah Rangga.
"Lepaskan!" Pandan Wangi mendorong tubuh Rangga sekuat-kuatnya.
Rangga terdorong dan jatuh di tanah. Pandan Wangi langsung melompat menjauh.
Rangga kembali bangkit berdiri. Matanya sayu menatap Pandan Wangi yang ketakutan
melihat sinar mata Rangga yang dipenuhi nafsu birahi. Pandan Wangi berpaling
pada Klenting Kuning yang tersenyum penuh kemenangan karena aji 'Pelebur
Jiwa'nya berhasil mempengaruhi pendekar muda tampan itu.
"Iblis! Kau apakan Kakangku!" bentak Pandan Wangi geram.
"Hi hi hi..., dia ingin bercinta denganmu, manis," Klenting Kuning tertawa
kesenangan. "Mampus kau, iblis!" geram Pandan Wangi.
Seketika gadis yang berjuluk Kipas Maut itu segera melompat menerjang Klenting
Kuning. Terjangan Pandan Wangi dengan mudah dapat dielakkan. Tapi gadis itu
dengan cepat mengirimkan serangan yang saling susul. Iblis Wajah Seribu itu
berkelit, berlompatan menghindari
serangan-serangan
Pandan Wangi yang diliputi kemarahan. Rasa cemburunya membuat gadis ini menjadi memuncak amarahnya.
Sret! Pandan Wangi mengeluarkan kipas baja saktinya. Kembali
diserangnya Klenting Kuning dengan senjata andalan di tangan.
Serangan-serangan Pandan Wangi semakin cepat dan hebat. Terlihat Klenting Kuning
mulai kewalahan dalam beberapa jurus saja. Dalam hal ilmu olah kanuragan,
Klenting Kuning atau yang bergelar Iblis Wajah Seribu memang kurang menguasai.
Tidak heran ketika memasuki jurus ke sepuluh, posisinya semakin terdesak.
"Jebol!" seru Pandan Wangi tiba-tiba.
Seketika itu juga, dikibaskan kipasnya ke perut Klenting Kuning.
Iblis Wajah Seribu itu menarik perutnya ke belakang. Tapi ujung kipas Pandan
Wangi masih bisa merobek baju Klenting Kuning.
"Ih!" Klenting Kuning terkejut dan memekik kecil.
Cepat-cepat dia melompat mundur, lalu dengan cepat pula
mencabut kalung yang dikenakannya. Dengan kalung di tangan, Klenting Kuning bisa
mengimbangi lagi permainan kipas Pandan Wangi.
Pertarungan dua wanita cantik itu kembali berlangsung seimbang.
Masing-masing mengirimkan serangan-serangan berbahaya. Masingmasing pula bisa menghindar dengan cepat.
Saat Klenting Kuning mengebutkan kalung mutiaranya, Pandan Wangi menangkis
sambil mengerahkan tenaga dalamnya dengan
penuh. Dua senjata beradu keras. Klenting Kuning cepat melompat mundur.
Tangannya seketika bergetar hebat ketika kalung mutiaranya beradu dengan kipas
Pandan Wangi. Jelas kalau tenaga dalam Klenting Kuning masih di bawah Pandan
Wangi. Menyadari hal ini, Pandan Wangi makin bemafsu untuk menyudahi
pertarungan. "Mampus kau, iblis!" teriak Pandan Wangi sambil melompat mengirimkan serangan.
"Akh!" Klenting Kuning terpekik kaget.
Buru-buru diayunkan kalungnya menangkis kipas yang berkelebat cepat mengancam
lehernya. Klenting Kuning kembali terpekik keras begitu senjatanya beradu. Dia
tidak bisa lagi menguasai senjatanya.
Saat itu juga Pandan Wangi mengatupkan kipasnya sehingga kalung mutiara Klenting
Kuning terjepit Dengan mengerahkan tenaga dalam, Pandan Wangi membetot kalung
itu. "Setan!" dengus Klenting Kuning ketika kalung mutiaranya berhasil dirampas
Pandan Wangi. Pada saat yang hampir bersamaan, kaki Pandan Wangi melayang deras ke arah dada.
Klenting Kuning segera menjatuhkan tubuhnya ke tanah, tapi Pandan Wangi lebih
cepat mengebutkan kipasnya sebelum tubuh Iblis Wajah Seribu itu berhasil


Pendekar Rajawali Sakti 7 Pertarungan Di Bukit Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencapai tanah.
Bret! "Akh!"
Klenting Kuning bergulingan di tanah, lalu buru-buru bangun.
Bibirnya yang merah dan selalu menggoda tampak meringis. Kipas Pandan Wangi
berhasil merobek bahu kanannya. Klenting Kuning menekap luka di bahu kanannya
dengan tangan kiri.
"Tunggu pembalasanku, Pandan Wangi!" ancam Klenting Kuning.
Selesai mengancam, Iblis Wajah Seribu itu langsung melompat kabur. Klenting
Kuning dalam sekejap saja telah hilang dari pandangan mata, lenyap di balik
lebatnya pepohonan. Pandan Wangi membalikkan tubuhnya, seraya melihat Rangga
tengah duduk dengan sikap
bersemadi. "Kakang...," panggil Pandan Wangi seraya melangkah mendekat.
Perlahan-Iahan kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti terbuka.
Bibirnya langsung menyunggingkan senyum saat melihat Pandan Wangi berdiri di
depannya. Rangga merogoh ke balik bajunya mengambil Kitab Naga Sewu untuk
diserahakan kepada Pandan Wangi.
"Ini milikmu," kata Rangga seraya bangkit.
"Oh! Kakang..., kau sudah sadar?" Pandan Wangi gembira melihat
Rangga tidak lagi dipengaruhi oleh aji 'Pelebur Jiwa'.
"Ya. Terima kasih, kau telah menolongku," sahut Rangga.
"Bukan aku, Kakang. Tapi dirimu sendiri," Pandan Wangi mengelak.
Rangga tersenyum sambil tetap menyodorkan Kitab Naga Sewu.
Pandan Wangi menerima kitab itu dan menyimpannya di balik baju.
Sesaat mereka hanya saling pandang saja. Pelan-pelan Rangga mendekat dan
meletakkan tangannya di pundak gadis itu.
"Kau harus menguasai isi kitab itu, Pandan," kata Rangga lembut
"Tapi...."
Rangga tahu apa yang akan diucapkan Pandan Wangi.
"Aku akan membimbingmu sementara," kata Rangga.
"Mengapa sementara?" protes Pandan Wangi
"Seorang pendekar sejati, tidak selamanya membutuhkan bantuan dan pertolongan.
Ingat Pandan. Lebih baik tangan di atas dari pada di bawah. Kau mengerti
maksudku, 'kan?"
Pandan Wangi mengangguk.
"Mari kita tinggalkan Bukit Setan," ajak Rangga
"Ke mana?" tanya Pandan Wangi sambil melangkah di samping Pendekar Rajawali
Sakti. Rangga hanya tersenyum, tanpa memberikan jawaban Dan
jawaban itu dapat Anda temui dalam kisah....
IBLIS WAJAH SERIBU
SELESAI Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel
Convert : Abu Keisel
Editor : Deeemart86
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/
Kisah Si Rase Terbang 6 Hikmah Pedang Hijau Karya Gu Long Ancaman Iblis Betina 2

Cari Blog Ini