Ceritasilat Novel Online

Rahasia Kalung Keramat 2

Pendekar Rajawali Sakti 16 Rahasia Kalung Keramat Bagian 2


Di depannya tampak seorang pemuda
yang sudah dia kenal, walau hanya beberapa saat. Tidak jauh dari tempat duduk
pemuda itu, ada seekor kuda hitam yang tinggi dan kekar sedang merumput. Pemuda
yang tak lain adalah Pendekar Rajawali Sakti itu, segera menoleh begitu merasa
ada orang yang menghampirinya. Kemudian dia langsung tersenyum begitu melihat
Dewi Cempaka menghampirinya setelah turun dari kudanya.
"Kau tampak tergesa-gesa sekali, ada apa?" sapa Rangga lebih dulu.
"Ah tidak. Apakah Gusti Prabu melihat Danupaksi lewat sini?" Dewi Cempaka segera
menjura hormat.
"Janganlah bersikap begitu, Cempaka. Marilah kita ngobrol seperti seorang teman
saja," ajak Rangga ramah.
Dewi Cempaka hanya diam.
"Panggil saja aku dengan sebutan kakang," saran Rangga.
"Baiklah, Kakang," Dewi Cempaka menurut.
"Apakah yang ingin kau tanyakan tadi?"
"Kakang tidak melihat Danupaksi,"
Dewi Cempaka mengulangi pertanyaannya.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Ada yang ingin aku tanyakan padanya."
"Kalau boleh aku tahu, tentang apa?" tanya Rangga penasaran.
Tanpa ragu-ragu lagi Dewi Cempaka segera menceritakan semuanya dengan singkat
dan jelas. Sedangkan Rangga mendengarkannya dengan penuh
perhatian. Sejenak dia agak kaget, setelah mendengar cerita itu. Dia segera
mengolah kata-kata yang
diucapkan Dewi Cempaka. Di benaknya segera timbul macam-macam dugaan yang selama
ini juga dia pikirkan.
"Jadi, mereka belum yakin kalau kalian bersaudara?" tanya Rangga setelah Dewi
Cempaka selesai bercerita. "Itulah yang ingin kuketahui, Kakang," sahut Dewi Cempaka.
"Lalu, kenapa kau ingin
menanyakan hal itu pada Danupaksi?"
tanya Rangga penasaran.
"Kata Eyang Resi Wanapati,
Danupaksi umurnya lebih tua satu tahun dariku. Siapa tahu dia bisa mengingat
sesuatu," sahut Dewi Cempaka memberikan alasan.
"Umur satu tahun belum bisa mengingat apa-apa, Cempaka."
"Lalu, aku harus bagaimana?"
keluh Dewi Cempaka kebingungan.
Rangga pun jadi bingung untuk
menjawab. Dia hanya bisa menarik napas panjang, mendesah! Da lam hatinya dia
sudah merasakan bahwa perjalanannya bakal tertunda lagi. Dia jadi tertarik untuk
mengetahui permasalahan ini
sampai tuntas dan jelas. Apalagi dia tahu, bahwa Danupaksi juga memiliki kalung
segitiga dengan beberapa
lingkaran di tengahnya. Sebuah kalung yang menjadi tanda, bahwa pemiliknya masih
keturunan Adipati Arya Permadi.
Dan berarti saudaranya satu ayah.
Kalung itu juga dimiliki Wira
Permadi yang sudah tewas karena
tabiatnya yang kurang baik dan
mementingkan diri sendiri. Rangga menyadari, bahwa ayahnya bukannya tidak
mungkin mempunyai anak lain yang diperoleh dari selir-selirnya, dan membekali
dengan satu benda sebagai tanda persaudaraan.
"Apakah kau pernah mendengar cerita tentang rombongan Adipati Karang Setra yang
dibegal?" tanya Rangga.
"Ya, Ayahanda Resi Balung Gading pernah menceritakan hal itu semuanya padaku,"
sahut Dewi Cempaka.
"Semuanya..."!" Rangga mengerutkan keningnya.
"Iya, bahkan tentang dirimu."
"Hm..., dari mana dia tahu semua itu?"
gumam Rangga. "Aku juga tidak tahu. Ayahanda Balung Gading tidak pernah
menceritakan asal-usulnya."
Beberapa saat kemudian Pendekar
Rajawali Sakti itu bangkit dari
duduknya. "Kakang Rangga mau ke mana?"
tanya Dewi Cempaka begitu melihat Rangga naik ke punggung kuda hitamnya.
"Makan. Mau ikut?"
"Boleh."
"Ayo, cepat!"
*** 5 Tampak Danupaksi dan Pangkeng
sudah berada di depan pintu gerbang Kerajaan Karang Setra. Saat itu hari sudah
hampir senja, sedangkan di ufuk Barat sana, matahari sudah hampir menenggelamkan
diri di pembaringannya.
Mereka langsung dihadang oleh dua orang prajurit yang menjaga pintu gerbang
kerajaan. Tapi belum sempat dua prajurit itu
menanyakan perihalnya, mereka langsung terkejut begitu melihat kalung yang dipakai
Danupaksi. Kemudian tanpa berkata apa-apa, salah seorang prajurit itu
langsung membawa tamunya untuk
menghadap pembesar kerajaan, yaitu Ki Lintuk dan Bayan Sudira.
Danupaksi sendiri jadi keheranan, kenapa dia dihadapkan pada pembesar kerajaan
yang sangat dihormati itu.
Dia juga tidak mengerti, bahwa kalung yang dikenakannya bakal menjadi
persoalan. "Siapa namamu, Anak Muda?" tanya Ki Lintuk.
"Hamba bernama Danupaksi, Gusti.
Dan ini teman hamba, namanya
Pangkeng," Danupaksi memperkenalkan diri dengan hormat.
"Dari mana kalian berasal?" tanya Bayan Sudira.
"Hamba berasal dari Gunung
Puting, Gusti," jawab Danupaksi.
"Lalu apa maksud kedatangan kalian di Karang Setra ini?" tanya Ki Lintuk lagi.
"Hamba hanya menjalankan perintah guru hamba, Eyang Resi Wanapati.
Beliau mengatakan, bahwa di Kerajaan Karang Setra ini hamba bisa menemukan orang
tua hamba, Gusti."
Ki Lintuk segera menoleh ke arah Bayan Sudira. Sejenak mereka saling
berpandangan. "Bagaimana ceritanya, sehingga kau ingin mencari orang tuamu di sini?" tanya
Bayan Sudira. Tanpa diminta dua kali, Danupaksi segera menceritakan semua yang
didengarnya dari Resi Wanapati.
"Ketahuilah, Danupaksi. Bahwa kalung yang kau pakai itu merupakan tanda pengenal
dari keturunan Adipati Arya Permadi. Tapi kami belum bisa begitu saja percaya,
bahwa kau masih keturunan beliau, sebelum membuktikan dulu kebenarannya," kata
Ki Lintuk. "Maaf, Gusti. Hamba sama sekali tidak tahu menahu tentang masalah itu.
Lebih-lebih tentang kalung ini. Hamba baru mengenakan setelah Eyang Resi
Wanapati memberikannya beberapa hari yang lalu. Dan kata beliau, bahwa kalung
ini milik hamba. Hanya itu, Gusti," kata Danupaksi.
"Kau tidak perlu khawatir,
Danupaksi. Para pembesar kerajaan di sini memang sedang berusaha
mengumpulkan kembali keluarga kerajaan yang terpisah-pisah," kata Ki Lintuk
lagi. "Bukan itu saja, Danupaksi. Saat ini pun raja kami sedang mengembara juga untuk
tujuan itu," sambung Bayan Sudira.
"Ya, bahkan sampai sekarang Gusti Prabu Rangga Pati Permadi belum juga kembali,"
Ki Lintuk menimpali.
"Rangga...?" Danupaksi terkejut mendengar nama itu.
"Iya, kenapa?"
"Sebentar, Gusti. Apakah beliau seorang pemuda yang mengenakan baju rompi putih
dan bersenjata pedang yang gagangnya berbentuk kepala burung" Dan bergelar
Pendekar Rajawali Sakti?"
tanya Danupaksi ingin memastikan.
"Benar, dari mana kau tahu?"
tanya Ki Lintuk penasaran.
"Hamba pernah bertemu dengan beliau, Gusti."
"Di mana?" Bayan Sudira tak sabar.
"Di Padepokan Baja Hitam."
"Kakang, sebaiknya kita kirimkan satu pasukan untuk menjemputnya," kata Bayan
Sudira. "Benar, Adi Bayan Sudira.
Pencarian beliau akan sia-sia,"
sambung Ki Lintuk. "Cepat kita siapkan segalanya."
"Tunggu!" cegah Danupaksi begitu melihat Bayan Sudira bangkit.
"Ada apa?"
"Sebaiknya hamba ikut, Gusti.
Kalau memang beliau saudara hamba, maka dengan senang hati hamba akan
mengabdikan diri pada Kerajaan Karang Setra," kata Danupaksi.
"Bagaimana, Kakang?" tanya Bayan Sudira.
"Baiklah, sekalian kau selidiki siapa sebenarnya Eyang Resi Wanapati,"
sahut Ki Lintuk. "Aku curiga, jangan-jangan dia adalah punggawa yang berhasil
lolos." "Baik, Kakang. Aku akan
berangkat"
*** Tampak Ki Lintuk sedang memacu
kudanya dengan cepat menuju ke Utara.
Dia sungguh-sungguh penasaran dengan kalung yang ada pada Danupaksi, hingga
semalaman dia tidak dapat tidur lan-taran begitu gelisahnya. Bagaimana mungkin
kalung seperti itu lebih dari satu" Untunglah dia segera sadar dan ingat pada
seseorang yang mungkin bisa menjawab segala pertanyaan yang
berkecamuk di dalam benaknya.
Tidak berapa lama kemudian
sampailah dia pada sebuah pondok kecil dan kumuh yang berdiri di antara
Belum juga Ki Lintuk sampai di pintu pondok, tampak seorang nenek tua dengan
tongkat berlekuk-lekuk seperti ular telah berdiri menyongsongnya.
"Hik hik hik... Pasti ada persoalan penting sehingga kau sudi datang kemari,
Lintuk," Nyai Pirih terkikik. "Soal kalung itu lagi, ya"!"
kerimbunan pohon. Sebuah pondok kecil milik Nyai Pirih! Setelah turun dari
kudanya, tampak Ki Lintuk segera mempercepat langkah kakinya menuju pintu pondok
Nyai Pirih. Tapi belum juga dia mencapai pintu pondok,
seorang perempuan tua bungkuk dan kurus sudah ke luar dari dalam pondok.
Dia segera berdiri di depan pondok dibantu tongkat yang berkeluk-keluk seperti
ular. "Sudah lama sekali kau tidak datang ke sini lagi, Lintuk," kata perempuan itu
sebelum Ki Lintuk sempat permisi. Suaranya terdengar serak dan pa-rau.
"Maaf, Nyai. Aku sibuk sekali, lebih-lebih sekarang ini tampuk
pemerintahan berada di pundakku.
Bagaimana kabarmu, Nyai Pirih?"
"Aku baik-baik saja, ayo masuk."
"Terima kasih, Nyai. Aku hanya ada keperluan sebentar kok."
"Kelihatannya ada sesuatu yang
penting...," gumam Nyai Pirih.
"Benar, dan ini menyangkut
keluarga Gusti Adipati Arya Permadi."
"Aaah..., ada persoalan apa lagi?"
"Tentang kalung itu, Nyai," Ki Lintuk langsung pada tujuannya.
"Hik hik hik... Sudah kuduga, kalung itu pasti akan membawa
persoalan baru lagi," Nyai Pirih terkikik.
"Ini persoalan penting, Nyai. Dan rasanya hanya kau saja yang mampu
mengatasinya," kata Ki Lintuk.
"Kenapa aku?" tanya Nyai Pirih dengan me-ngerutkan keningnya.
"Karena Nyai-lah pembuat kalung itu," jawab Ki Lintuk tegas.
Lagi-lagi Nyai Pirih tertawa
terkikik. "Nyai membuat kalung seperti itu berapa?" tanya Ki Lintuk lagi tanpa
mempedulikan ketawa Nyi Pirih.
"Dulu, sebenarnya Gusti Arya Permadi memesan empat. Tapi baru tiga yang aku
berikan. Dari ketiga kalung itu hanya satu yang asli. Dan orang yang memegang
yang aslilah yang berhak atas Karang Setra, sedangkan yang tiga lagi hanya
berhak sebagai pendamping,"
jelas Nyai Pirih.
"Untuk apa beliau memesan empat?"
Ki Lintuk tidak mengerti.
"Beliau mempunyai tiga putra,
tapi yang syah hanya satu, Gusti Rangga Pati Permadi! Sedangkan yang lainnya,
yaitu putra-putra yang
diperoleh dari selir-selirnya, tanpa sepengetahuan istri beliau, Tunjung Melur."
"Hm.." jadi beliau juga
memberikan kalung yang sama kepada putra-putranya itu," gumam Ki Lintuk.
"Benar! Tapi sayang, ada satu kalung yang belum sempat aku berikan, karena waktu
itu bayi tersebut belum lahir."
Ki Lintuk lantas termenung
beberapa saat. "Ada apa, Lintuk" Apakah ada yang mengenakan kalung itu selain Gusti Prabu
Rangga dan si anak durhaka, Wira Permadi?" tanya Nyai Pirih.
"Benar, Nyai. Orang itu bernama Danupaksi," sahut Ki Lintuk.
"Tidak salah!" seru Nyai Pirih.
"Maksud Nyai!" Ki Lintuk heran juga.
"Dialah putra Gusti Arya Permadi yang diperoleh dari salah seorang dayang.
Bagaimana yang satunya lagi?"
"Aku tidak tahu. Hanya Danupaksi yang aku tahu. Dia baru saja datang ke istana,"
sahut Ki Lintuk
"Hm..., apakah saat itu ada dayang yang sedang hamil ketika
terjadi perebutan kekuasaan di Istana Karang Setra?" tanya Nyi Pirih.
"Mengenai hal itu saya tidak tahu pasti, tapi menurut saksi mata, ada yang
melihat dua orang lelaki membawa seorang wanita hamil dan seorang bocah ke luar
dari istana!"
"Hm, mungkin wanita tersebut selirnya Gusti Arya Permadi, sedangkan bocah itu
adalah anaknya dari selir yang lain. Sekarang, kau harus mencari yang satunya
lagi. Kalau sudah ketemu, berikan kalung ini padanya," kata Nyi Pirih sambil
menyerahkan seuntai kalung segitiga dengan
beberapa lingkaran di tengahnya.
*** Ki Lintuk tidak langsung kembali ke istana. Dia memacu kudanya dengan cepat
menyusul Bayan Sudira dan
Danupaksi beserta satu regu pasukan pilihan yang sedang menuju Gunung Puting.
Dia yakin, kalau rombongan itu belum begitu jauh meninggalkan Karang Setra.
Dugaan Ki Lintuk memang benar.
Tak lama kemudian, dia menemukan rombongan itu sedang bermalam di sebuah hutan.
Tampak tenda-tenda untuk bermalam telah didirikan, sedangkan obor-obor pun telah
memancarkan sinarnya. Kedatangan Ki Lintuk yang mendadak itu, tentu saja mengejut-kan Bayan
Sudira. Maka dengan segera dia
langsung membawa Ki Lintuk masuk ke dalam tenda yang paling besar.
"Ada apa, Kakang. Kelihatannya kau begitu tergesa-gesa. Apa ada sesuatu yang
sangat penting," tanya Bayan Sudira agak tegang.
"Benar, Adi Bayan Sudira. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kusampaikan
padamu," sahut Ki Lintuk setelah mengatur napasnya seben-tar.
"Tentang apa?" Bayan Sudira penasaran.
"Aku baru saja menemui Nyai Pirih." "Ya..., ya..., terus?"


Pendekar Rajawali Sakti 16 Rahasia Kalung Keramat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Menurut dia, dulu Gusti Arya Permadi memesan empat buah kalung dalam bentuk dan
ukuran yang sama.
Tapi hanya satu yang asli, dan yang memegangnya pertanda bahwa dia pewaris syah
Karang Setra."
'Terus?" Bayan Sudira mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Tapi dia baru sempat memberikan tiga kalung, karena calon putra yang ke empat
belum lahir. Dan dia minta padaku untuk memberikan kalung ini, kalau aku
menemukan putra yang ke empat Gusti Arya Permadi," Ki Lintuk memberikan kalung
yang diberikan Nyai Pirih.
Bayan Sudira segera mengamari
kalung itu. "Jadi kalau begitu, Danupaksi jelas-jelas putra Gusti Arya Permadi
yang diperoleh dari seorang dayang,"
gumam Bayan Sudira sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Begitulah yang dikatakan Nyai Pirih," sahut Ki Lintuk.
"Kau harus menemukannya, Bayan Sudira. Aku yakin, kedua resi itu adalah dua
orang lelaki yang telah menyelamatkan seorang wanita hamil dan seorang bocah
dari Istana Karang Setra. Mereka pasti mengetahui semua persoalannya."
Bayan Sudira tercenung beberapa
saat. "Terserah kau, bagaimana caranya memberi
tahukan hal ini pada
Danupaksi," kata Ki Lintuk lagi.
Bayan Sudira mendesah panjang.
"Rasanya tidak ada lagi yang perlu aku sampaikan. Malam ini juga aku akan
kembali ke istana," kata Ki Lintuk berpamitan.
"Malam sudah terlalu larut, Kakang. Sebaiknya menginap saja di sini dulu," cegah
Bayan Sudira. "Terima kasih, aku harus kembali sekarang," tolak Ki Lintuk.
Bayan Sudira tidak dapat mencegah lagi. Dia segera memerintahkan dua orang
prajurit untuk mengawal Ki Lintuk.
Setelah kepergian Ki Lintuk,
tampak Bayan Sudira masih saja
termenung di luar tenda. Berbagai
macam pikiran sedang berkecamuk di benaknya.
"Gusti...."
"Oh...," Bayan Sudira langsung tersentak mendengar panggilan dari belakangnya.
"Maaf kalau hamba mengagetkan,"
kata Danupaksi.
"Oh, tidak Tidak apa-apa," sahut Bayan Sudira masih gelagapan.
"Tadi hamba lihat Gusti Lintuk datang Ada apa?" tanya Danupaksi.
"Tidak apa-apa. Beliau hanya menyampaikan pesan saja," sahut Bayan Sudira.
Laki-laki tua itu segera mengajak Danupaksi untuk berjalan-jalan
menghirup udara malam di sekitar perkemahan. Dan dia bercerita perihal asal-usul
kadipaten dan peristiwa-peristiwa yang terjadi hingga menjadi sebuah kerajaan
seperti sekarang ini.
Sedangkan Danupaksi mendengarkannya dengan penuh perhatian.
Sampai sejauh itu Bayan Sudira
belum menceritakan perihal Danupaksi sebenarnya. Dia masih menunggu saat-saat
yang tepat! *** Pagi-pagi sekali Bayan Sudira
sudah memerintahkan pada para
prajuritnya untuk membongkar tenda,
dan bersiap-siap melanjutkan
perjalanannya. Tidak banyak mengalami kesukaran untuk membongkar tenda-tenda
yang jumlahnya tidak banyak tersebut.
Hanya beberapa saat saja semuanya telah beres dan sudah siap kembali untuk
melanjutkan perjalanan.
"Kira-kira berapa lama kita akan sampai di Gunung Puting?" tanya Bayan Sudira.
Kalau tidak ada hambatan, mungkin dua atau tiga pekan lagi baru sampai, Gusti,"
sahut Danupaksi.
"Ah, kau lupa lagi, jangan
panggil aku Gusti. Panggil saja
Paman," pinta Bayan Sudira. Dia jadi merasa jengah dipanggil dengan Gusti
setelah mendengar penuturan Ki Lintuk semalam.
"Kalau itu yang Gusti inginkan, baiklah. Mulai saat ini, aku akan memanggil
Gusti dengan sebutan Paman,"
gumam Danupaksi.
Beberapa saat mereka hanya
terdiam. Sementara kuda-kuda
yang mereka tunggangi terus berjalan cepat melintasi hutan yang tidak begitu lebat.
"Apa tujuanmu setelah mengetahui siapa orang tuamu?" pancing Bayan Sudira.
"Kalau aku memang berasal dari Karang Setra, aku berjanji akan
membaktikan diri pada Gusti Prabu,
Paman," sahut Danupaksi.
"Kau kan sudah tahu, kalau
pemilik kalung segitiga dengan
beberapa lingkaran di tengahnya adalah keturunan dari Gusti Arya Permadi. Dan
itu berarti ada kemungkinan, bahwa kau adalah adik dari Gusti Prabu Rangga Pati
Permadi," kata Bayan Sudira lagi.
"Ah, Paman jangan berolok-olok Mana mungkin aku yang hina ini adik dari Gusti
Prabu," sergah Danupaksi tidak percaya.
"Sesuatu yang tidak mungkin, bisa saja terjadi bila Tuhan menghendaki."
"Tapi...," Danupaksi jadi tidak menentu perasaannya.
"Semalam kau kan lihat sendiri, ketika Ki Lintuk datang dengan
tergesa-gesa," kata Bayan Sudira.
"Ya," Danupaksi semakin tidak menentu pe-rasaannya.
Kau tahu" Bahwa pembuat kalung
itu hanya satu orang. Dan dia tahu betul riwayat Gusti Adipati Arya Permadi,
sampai masalah pribadinya yang tidak diketahui oleh orang lain.
Dulu, Gusti Arya Permadi telah memesan empat kalung dengan bentuk dan ukuran
yang sama. Dan kalung yang pertama dibuat, beliau berikan pada putranya yang
pertama, yaitu Gusti Prabu Rangga Pati Permadi. Dan yang kedua diberikan pada
putranya yang dari selir, yaitu Gusti Wira Permadi yang sudah tewas
karena ingin menguasai apa yang bukan haknya. Sedangkan yang dua lagi, belum
diketahui diberikan pada siapa. Tapi kini setelah kau datang dengan membawa
kalung itu, kami semua berpendapat, bahwa kau adalah salah satu putra dari Gusti
Arya Permadi dari salah satu selirnya."
Danupaksi rasanya bagai disambar petir di siang hari kerika mendengar penuturan
itu. Dia sampai menghentikan langkah kaki kudanya dan menoleh ke arah Bayan
Sudira dengan tak berkedip.
"Tapi semua itu masih perlu dibuktikan lagi, karena pembuat kalung itu belum
sempat memberikan kalung yang keempat. Dan satu-satunya bukti yang akan
memperjelas kalau kau adalah putra beliau adalah menemui dua orang lelaki yang
telah menyelamatkan
seorang wanita hamil dan seorang bocah dari Istana Karang Setra. Itu pun kalau
kedua orang lelaki itu masih hidup. Tapi kalau sudah meninggal, harapan hanya
ada pada pembuat kalung itu, karena dialah satu-satunya saksi hidup yang akan
mengenalimu."
"Rasanya mustahil, Paman. Eyang Resi Wanapati mengatakan, kalau kalung itu
diserahkan pada beliau oleh
seorang yang terluka parah. Tapi...."
"Teruskan," pinta Bayan Sudira.
"Katanya laki-laki itu mengenakan seragam seorang punggawa dari
Kadipaten Karang Setra," lanjut Danupaksi pelan.
"Kalau memang benar demikian, pastilah dia punggawa yang berhasil menyelamatkan
diri dari keganasan Iblis Lembah Tengkorak," sentak Bayan Sudira.
Danupaksi terdiam. Dia mencoba
untuk mengkait-kaitkan semua cerita dan keterangan yang diperolehnya selama ini.
Dari apa yang sudah dia dapatkan, rasanya memang ada
kemungkinan kalau dia masih bersaudara dengan Pendekar Rajawali Sakti,
meskipun lain ibu. Namun dia masih belum percaya kalau belum mendapatkan bukti
yang lebih nyata lagi!
*** 6 Sementara itu di lereng Gunung
Puting, tepatnya di Desa Salapan, Rangga tampak berada di sana bersama Dewi
Cempaka. Mereka sedang berusaha mencari tahu keberadaan Pandan Wangi, karena
mereka mendapat kabar bahwa di sana ada seorang anak kecil yang ahli dalam
bidang pengobatan. Dan Rangga menduga kalau anak laki-laki itu pastilah bocah
yang selalu bersama dengan Pandan Wangi. Di samping itu, Rangga juga membantu
Dewi Cempaka yang
sedang bingung mengenai asal-usulnya.
Tapi yang diperoleh Rangga hanya kekecewaan belaka, sebab ahli
pengobatan itu ternyata orang tua yang tubuhnya kecil, mirip tubuh seorang
bocah. "Bagaimana, Kakang?" tanya Dewi Cempaka setelah meninggalkan pondok tempat
tinggal tabib kerdil itu.
"Entahlah," desah Rangga lesu.
"Apa tidak sebaiknya kalau kita ke Karang Setra saja?" usul Dewi Cempaka. "Siapa
tahu Kak Pandan ada di sana, sekalian kita bisa menemui Danupaksi yang katanya
pergi ke sana."
"Aku juga sedang berpikir ke sana, Cempaka. Rasanya sudah terlalu lama aku
meninggalkan istana," sahut Rangga pelan.
"Jarak dari sini ke Karang Setra cukup jauh, dan di perjalanan nanti kita bisa
meminta keterangan dari siapa saja tentang keberadaan Kak Pandan. Aku yakin, Kak
Pandan pasti sudah mendengar tentang penobatan Kakang jadi raja di Karang Setra.
Dan kalau dia mencintai Kakang, pasti dia akan segera menyusul ke sana," Dewi
Cempaka membesarkan hati Rangga.
Rangga hanya mendesah. Dia memang sudah menceritakan segalanya pada Dewi
Cempaka, dan rupanya gadis itu mau mengerti pada kesulitan yang sedang
dihadapinya. Terlihat dari bersedianya
dia mengikuti Rangga dalam mencari kekasihnya yang hilang itu.
Tiba-tiba dari tempat mereka,
terlihat asap hitam mengepul
bergulung-gulung di udara. Rangga yang melihat itu sangat kaget, karena asap itu
muncul dari arah Padepokan Baja Hitam.
"Cempaka, bukankah Padepokan Baja Hitam ada di sana?"
"Benar,"
sahut Dewi Cempaka
segera mengarahkan pandangannya ke arah Padepokan Baja Hitam. Seketika itu juga
dia terkesiap! "Ayah...!"
*** Suara jeritan dan teriakan
terdengar saling bersahutan dengan suara senjata beradu. Tampak beberapa pondok
yang berdiri di dalam pagar Padepokan Baja Hitam sudah terbakar hebat! Sementara
mayat-mayat banyak bergelimpangan di halaman padepokan itu. Sedangkan para murid
padepokan yang masih bisa bertahan, sedang menghadapi serbuan tokoh-tokoh rimba
persilatan dan beberapa partai yang bergabung jadi satu.
Pada saat itu, Dewi Cempaka
melompat masuk dan langsung terjun ke dalam kancah pertempuran. Tidak lama
setelah itu, Rangga pun menyusul, dan
langsung mendekati Resi Balung Gading yang sedang menghadapi empat orang.
Dengan menggunakan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', Pendekar Rajawali Sakti
segera menggebrak empat orang itu!
"Gusti Prabu...," Resi Balung Gading tampak terkejut melihat
kedatangan Rangga.
"Siapa mereka, Resi?" tanya Rangga sambil tetap bertarung.
"Orang-orang yang sakit hati padaku," sahut Resi Balung Gading.
"Mereka sakit hati karena gagal memenangkan sayembaraku." , Rangga segera
tersenyum getir
mendengar penjelasan itu. Satu resiko yang harus dihadapi jika mengadakan
sayembara yang melibatkan tokoh-tokoh rimba persilatan.
Sangat mudah membedakan antara
lawan dan kawan. Murid-murid Padepokan Baja Hitam semuanya memakai seragam.
Sedangkan mereka yang menggempur, mengenakan pakaian macam-macam bentuk dan
warnanya. Kedatangan Rangga dan Dewi
Cempaka langsung menumbuhkan semangat murid-murid padepokan yang semula sudah
mulai kendor. Keadaan yang semula terdesak, kini berbalik! Tampak orang-orang
rimba persilatan golongan hitam itu terus terdesak.
"Mundur...!" tiba-tiba satu
teriakan keras terdengar.
Seketika itu juga orang-orang
yang menggempur padepokan segera bergerak mundur.
"Cukup!"
Resi Balung Gading
segera mencegah murid-muridnya yang mau mengejar.
"Ayah...!" Dewi Cempaka langsung menghampiri Resi Balung Gading. "Ayah tidak
apa-apa?" "Tidak. Syukurlah kalian datang tepat pada waktunya," sahut Resi Balung Gading
bersyukur. "Kenapa mereka menyerang
padepokan ini, Ayah?" tanya Dewi Cempaka.
"Mereka ingin merampasmu, Anakku.
Mereka sakit hati karena gagal dalam sayembara."
"Huh! Pengecut!" dengus Dewi Cempaka menggeram.
"Itu memang sudah watak dari orang-orang golongan hitam."
"Mereka ternyata juga mengepung sekitar padepokan, Resi," kata Rangga
memberitahu. "Sudah kuduga," dengus Resi Balung Gading.
Sementara itu para murid yang
masih hidup, segera menguburkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Sedangkan yang
lainnya berusaha memadamkan api serta menyelamatkan barang-barang yang belum
tersentuh api. Resi Balung
Gading segera mengajak Rangga dan Dewi Cempaka duduk di beranda depan
bangunan utama yang belum dilalap api.
"Kekuatan mereka sangat banyak, Resi. Bahkan ada kemungkinan bertambah lagi.
Sebaiknya Resi mengutus salah seorang untuk minta bantuan pada Resi Wanapati,"
Rangga mengusulkan
"Tidak! Apa pun yang terjadi aku tidak akan meminta bantuan kepada Wanapati,"
tolak Resi Balung Gading.
"Aku mengerti perasaanmu, Resi.
Cempaka telah menceritakan semuanya padaku. Rasanya kalau Resi terus
mempertahankan sikap itu, Padepokan Baja Hitam akan hancur," desak Rangga.
"Tidak ada gunanya, Gusti. Murid-murid Wanapati tidak ada sepertiganya dari
murid-muridku," sahut Resi Balung Gading tetap tegas pendiriannya.
"Ayah...."
"Jangan memaksa, Cempaka.
Sebaiknya kau tinggalkan saja
padepokan ini," potong Resi Balung Gading cepat.
Rangga dan Dewi Cempaka makin
tidak mengerti dengan sikap Resi Balung Gading. Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu
tidak akan membiarkan
padepokan ini hancur begitu saja. Apa pun yang akan terjadi, dia harus membela
padepokan yang beraliran putih ini.
Saat ini Resi Balung Gading tidak
lagi memiliki murid yang patut
diandalkan. Semua yang ada rata-rata baru belajar tiga atau empat tahun.
Jadi kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk menghadapi tokoh-tokoh rimba
persilatan golongan hitam yang sudah berpengalaman dalam pertempuran.
*** Suasana pagi yang seharusnya
masih sepi dan tenang, mendadak jadi hingar-bingar oleh pekik dan teriakan serta
dentingan senjata yang berbaur jadi satu di luar pagar Padepokan Baja Hitam.
Sementara Rangga yang sejak
semalam tidak memicingkan mata sedikit pun, langsung ke luar dan melompat ke


Pendekar Rajawali Sakti 16 Rahasia Kalung Keramat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

atas pagar. Betapa terkejutnya dia, begitu melihat orang-orang rimba persilatan
yang kemarin mengepung Padepokan Baja Hitam ini, tengah bertempur melawan satu
regu pasukan prajurit. Dia makin terkejut manakala mengetahui, bahwa pasukan itu
berasal dari Kerajaan Karang Setra.
"Ada apa, Kakang," tanya Dewi Cempaka yang tahu-tahu sudah berada di samping
Rangga. "Prajurit Karang Setra...," jawab Rangga singkat.
"Hah!"
Rangga tidak sempat Iagi
menjelaskan, karena Resi Balung Gading
sudah memerintahkan murid-muridnya ke luar. Saat itu juga Rangga langsung
melompat seraya mengerahkan jurus
'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Matanya yang tajam, segera dapat melihat Bayan
Sudira sedang bertarung dengan
didampingi Danupaksi dan Pangkeng.
Pendekar Rajawali Sakti itu langsung meluruk mendekati pembesar Kerajaan Karang
Setra itu. "Gusti Prabu...!" seru Bayan Sudira begitu melihat Rangga.
"Kenapa Paman ke sini?" tanya Rangga sambil terus bertarung.
"Ada persoalan yang harus segera saya selesaikan," jawab Bayan Sudira.
Rangga tidak sempat lagi
mendengar jawaban itu. Dia keburu sibuk menghadapi serangan yang
bertubi-tubi dan sangat berbahaya. Dia yang tidak mau mengulur-ulur waktu lagi
menghadapi orang-orang tersebut, segera mencabut pedang pusakanya Dan dengan
pedang Rajawali Sakti ditangan, Rangga langsung mengamuk bagai banteng yang
terluka. Setiap kibasan pedang yang
memancarkan warna biru itu, selalu meminta korban paling sedikit tiga nyawa.
Sementara itu para prajurit Karang Setra jadi bertambah
semangatnya melihat raja mereka
bertarung bagai malaikat pencabut nyawa! Dalam waktu yang tidak begitu
lama, Rangga sudah menewaskan lebih dari separuh gerombolan lawannya.
Belum lagi matahari sampai di
atas kepala, seluruh orang-orang yang mengepung Padepokan Baja Hitam
tersebut, tewas semua tanpa
terkecuali! Bau anyir darah segera menyebar dari tubuh mayat-mayat" yang
bergelimpangan saling tumpang tindih tersebut.
Beberapa saat kemudian, setelah
semuanya beres, Bayan Sudira dan para prajuritnya segera mendekati Rangga dan
memberi hormat "Jelaskan, kenapa Paman sampai ke sini?" tanya Rangga.
"Ampunkan hamba, Gusti Prabu.
Hamba datang membawa persoalan yang sangat pribadi sifatnya, menyangkut keluarga
Gusti Prabu sendiri." sahut Bayan Sudira.
"Hm..., sebaiknya kita bicarakan di dalam saja," kata Rangga bijaksana.
"Paman Bayan Sudira," kata Rangga penuh wibawa.
"Hamba, Gusti Prabu," sahut Bayan Sudira memberi hormat.
"Jelaskan maksud kedatanganmu ke sini," kata Rangga tanpa basa-basi lagi.
"Ampun, Gusti Prabu. Hamba datang ke sini karena ada suatu persoalan yang
menyangkut Ananda Danupaksi."
"Hm...," Rangga bergumam tidak
jelas. Sudut ekor matanya melirik Danupaksi yang duduk di samping Bayan Sudira.
"Beberapa hari yang lalu, Ananda Danupaksi datang ke Kerajaan Karang Setra
dengan membawa kalung pertanda keluarga kerajaan, Gusti. Itulah sebabnya hamba
datang ke sini, tidak lain hanya untuk mencari kepastian, karena Ananda
Danupaksi mengatakan berasal dari Gunung Puting," Bayan Sudira mencoba
menjelaskan. "Coba kulihat kalungmu," pinta Rangga pada Danupaksi
"Silakan, Gusti Prabu," kata Danupaksi seraya menyerahkan
kalungnya. Rangga segera mengamati seuntai
kalung yang sangat dikenalnya itu.
Beberapa saat kemudian, dia juga mengeluarkan kalungnya sendiri dari balik ikat
pinggangnya. Pelan-pelan dia menyatukan kedua benda tersebut.
Sejenak bibirnya tersenyum, sebelum mengembalikan kalung itu pada
Danupaksi. "Dari mana kau dapatkan kalung itu?" tanya Rangga.
"Hamba mendapatkan kalung ini dari Eyang Resi Wanapati, Gusti
Prabu," sahut Danupaksi hormat.
"Gurumu?"
"Benar, Gusti Prabu."
"Pernahkah dia bercerita tentang
kalung itu padamu?"
Danupaksi mengangguk, kemudian
dia segera menceritakan apa yang pernah dia dengar dari Resi Wanapati.
Dan apa yang diceritakan sekarang, sama persis dengan yang diceritakannya pada
Bayan Sudira dan Ki Lintuk ketika di Kerajaan Karang Setra. Tidak
dilebihkan atau dikurangi sedikit pun!
Rangga sempat melirik sejenak
pada Dewi Cempaka yang duduk di
sebelahnya. Gadis itu tampak
menggigit-gigit bibirnya sendiri.
Rangga juga sempat memperhatikan Resi Balung Gading yang menundukkan kepala
dengan wajah dan leher berkeringat, padahal udara di Gunung Puting ini sangat
sejuk. "Paman Bayan Sudira..., kau dan Pangkeng jemput Resi Wanapati sekarang juga,"
perintah Rangga.
"Segala titah Gusti Prabu, segera hamba laksanakan," sahut Bayan Sudira dan
Pangkeng hampir bersamaan.
Kemudian mereka berdua segera bangkit dan memberi hormat.
Setelah kedua orang itu pergi
meninggalkan tempat itu, Rangga
kembali memandangi wajah-wajah di sekelilingnya.
"Perlu kalian ketahui, aku
sendiri tidak akan memungkiri kalau Ayahanda Arya Permadi mempunyai putra lagi
selain diriku. Dan aku akan
sangat bahagia sekali, seandainya dapat berkumpul dengan saudara-saudaraku,
meskipun lain Ibu," kata Rangga penuh wibawa.
Danupaksi dan Dewi Cempaka segera memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak
tangannya di depan hidung.
"Danupaksi..., dan kau,
Cempaka...."
"Hamba, Gusti Prabu," sahut Danupaksi dan Dewi Cempaka
berbarengan. "Jika kalian terbukti adalah saudara-saudaraku, aku berharap kalian tidak
melupakan asal-usul kalian dibesarkan. Terutama sekali pada orang yang telah
membesarkan, mendidik, dan merawat kalian sejak dari kecil."
"Hamba mengerti, Gusti Prabu,"
kembali Danupaksi dan Dewi Cempaka menjawab bersamaan.
"Bagus, aku senang jika kalian mau mengerti," sambung Rangga tersenyum.
"Mohon ampun,
Gusti Prabu. Sebaiknya Gusti Prabu istirahat dulu,"
usul Resi Balung Gading menyela
pembicaraan. "Terima kasih," ucap Rangga.
"Mari hamba antarkan, Gusti Prabu," kata Dewi Cempaka seraya bangkit dari
duduknya. *** 7 Betapa terkejutnya Bayan Sudira
dan Pangkeng begitu sampai di
padepokan yang dipimpin oleh Resi Wanapati. Tampak padepokan itu berantakan dan
hancur lebur dibakar api yang mengganas bagai neraka. Mayat-mayat bergelimpangan
tumpang-tindih tak karuan di sekitar padepokan. Pangkeng begitu terpukul melihat
mayat-mayat yang sangat dikenalnya itu.
"Gusti...!" teriak Pangkeng memanggil. Begitu melihat Pangkeng sedang berjongkok
di samping sesosok tubuh, Bayan Sudira langsung melompat menghampiri.
"Eyang Resi..., Gusti," rintih Pangkeng tidak dapat menahan
tangisnya. Bayan Sudira segera memeriksa
keadaan tubuh laki-laki tua yang ternyata Resi Wanapati. Dia
menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat keadaan tubuh Resi Wanapati yang
sangat menyedihkan!
"Masih hidup...," desah Bayan Sudira. "Oh...," Resi Wanapati mengeluh lirih.
"Eyang..., Eyang Resi," panggil Pangkeng agak tersendat.
"Kau..., kau kembali, Pang...
keng," ucap Resi Wanapati terbata-bata.
"Iya, Eyang. Bersama Gusti Bayan Sudira," sahut Pangkeng.
"Mereka terlalu tangguh,
Pangkeng. Mereka menginginkan kalung itu," semakin lemah suara Resi Wanapati,
"Gusti...."
"Iya, Eyang," sahut Bayan Sudira.
"Terimalah Danupaksi, dia putra dari Gusti Arya Permadi dari Ibu Dayang Endang
Witarsih. Sedangkan Dewi Cempaka dari Ibu Dayang Kunti
Sulistya. Mereka masih satu ayah dengan Gusti Rangga..."
"Eyang...," panggil Bayan Sudira ketika melihat Resi Wanapati terbatuk-batuk
"Mereka... berhasil ku...
selamatkan bersama Bal..."
"Eyang...," panggil Bayan Sudira lagi. Dia mendekatkan telinganya ke mulut Resi
Wanapati, tapi orang tua itu telah tak bernapas lagi!
Melihat itu, Pangkeng langsung
meraung-raung bagai anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Lama dia
menangis seperti itu, sedangkan Bayan Sudira mendiamkan saja. Dia memaklumi,
betapa terpukulnya jiwa Pangkeng.
Beberapa saat kemudian, Pangkeng mengha-pus air mata dengan punggung tangannya,
tapi isaknya yang pelan masih tetap terdengar.
"Tahukah kau, siapa yang
melakukan semua ini, Pangkeng?" tanya Bayan Sudira setelah menarik napas
panjang. Belum lagi Pangkeng menjawab,
tiba-tiba.... "Tolong...," terdengar suara rintihan lirih.
Bayan Sudira segera memburu dan
mengeluarkan sesosok tubuh dari semak-semak dengan dibantu oleh Pangkeng.
Dia terkejut melihat kedua tangan orang itu telah buntung dari pangkal
lengannya. Sedangkan di dadanya
tertancap sebatang anak panah yang hampir tembus ke punggungnya.
"Gandul...," panggil Pangkeng yang mengenali orang itu.
"Kau..., kau, Pangkeng..."!"
lemah suara Gandul terdengar.
"Iya, ini aku. Apa yang telah terjadi di sini?"
"Mereka..., mereka datang lagi.
Mereka ingin merebut kalung itu, Pangkeng," sahut Gandul lirih.
Bibirnya meringis menahan sakit.
"Siapa mereka?" tanya Pangkeng.
"Partai Tengkorak.... Mereka dibantu oleh...."
"Gandul.... Gandul...!"
Bayan Sudira segera menepuk
pundak Pangkeng, setelah yakin bahwa Gandul telah tak bernya-wa lagi.
"Partai Tengkorak.... Kubunuh kalian semua!" teriak Pangkeng keras
seraya bangkit.
"Pangkeng...," panggil Bayan Sudira lembut.
"Sudah lama mereka menginginkan kalung itu, Gusti. Partai Tengkorak harus
kubasmi, Gusti. Harus...!"
"Tenanglah,
Pangkeng. Tenangkan
dirimu, jangan menuruti hawa nafsu,"
Bayan Sudira mencoba menenangkan Pangkeng.
"Gusti...," rintih Pangkeng langsung menjatuhkan diri memeluk lutut Bayan
Sudira. "Bangunlah, Pangkeng. Tidak patut kau berlaku seperti itu padaku.
Bangunlah, tegarlah sebagai murid Eyang Resi Wanapati!" Bayan Sudira
membangkitkan semangat laki-laki gundul dan gemuk itu.
"Maafkan hamba, Gusti. Hamba..., hamba...," suara Pangkeng tersekat di
tenggorokan. "Sudahlah, Pangkeng. Sebaiknya kita segera kembali ke Padepokan Baja Hitam. Kita
harus melaporkan semua ini pada Gusti Prabu Rangga."
Pangkeng menuruti kata-kata Bayan Sudira, walaupun di hatinya dia berat
meninggalkan tempat itu.
"Pangkeng...," Bayan Sudira memanggil pelan di tengah-tengah perjalanan.
"Hamba, Gusti," sahut Pangkeng.
"Siapa Partai Tengkorak itu?"
tanya Bayan Sudira ketika melihat Pangkeng sudah agak tenang.
"Gerombolan yang tinggal di Rimba Tengkorak, Gusti. Mereka sangat kejam dan
selalu meresahkan masyarakat."
"Kalung apa yang mereka
inginkan?" tanya Bayan Sudira ingin tahu.
"Kalung segitiga dengan beberapa Iingkaran di tengahnya."
"Maksudmu kalung kebesaran
Kerajaan Karang Setra?" tanya Bayan Sudira terkejut.
"Benar, Gusti.
Ketua partai mereka tahu, kalau Eyang Resi
menyimpan kalung itu, dan mereka juga tahu kalau Danupaksi putra dari selir
Gusti Arya Permadi."
"Untuk apa mereka menginginkan kalung itu?"
"Ketua partai itu mempunyai anak yang usianya sama dengan Den
Danupaksi, Gusti. Dia ingin putranya menyamar sebagai putra Gusti Arya Permadi.
Hanya itu yang hamba ketahui,"
jelas Pangkeng Bayan Sudira hanya menganggukanggukkan kepalanya.
*** Kebahagiaan yang sudah hampir
mendatangi mereka, tiba-tiba pupus oleh berita yang dibawa Bayan Sudira dan
Pangkeng. Suasana yang seharusnya penuh kebahagiaan, kini berubah jadi rasa duka
dan marah. "Maafkan hamba, Gusti Prabu.
Seharusnya hamba tidak menyampaikan berita ini sekarang," sesal Bayan Sudira.
"Tidak apa-apa, Paman," sahut Rangga mendesah panjang.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Gusti Prabu" Mereka pasti sudah tahu
kalau Danupaksi berada di sini," Resi Balung Gading meminta pendapat.
Rangga tidak segera menjawab. Dia malah bangkit dan berjalan ke luar dengan
kening berkerut dalam. Semua yang ada di ruangan utama itu
memandang dengan tidak mengerti.
Pangkeng yang berada di ujung tangga samping, langsung memberi hormat begitu
Rangga lewat. "Pangkeng, sini," panggil Rangga.
"Ada apa, Gusti Prabu," Pangkeng segera mendekat.
"Kau tahu di mana Rimba Tengkorak itu?" tanya Rangga setengah berbisik.
"Tidak, Gusti Prabu," sahut Pangkeng dengan suara bergetar.
"Aku hanya tanya, bukan memintamu untuk mengantar!" Rangga langsung tahu
kalau Pangkeng berbohong.
"Hamba..., hamba.... Jangan Gusti Prabu, jangan ke sana. Terlalu
berbahaya. Jangan, Gusti Prabu,"
rintih Pangkeng memohon.
"Kau tahu Rimba Tengkorak,


Pendekar Rajawali Sakti 16 Rahasia Kalung Keramat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pangkeng?" desak Rangga.
"Di..., di sebelah Selatan Desa Batu Ceper, Gusti," sahut Pangkeng takut-takut.
"Hm..., bukankah itu dekat Hutan Jati Jarak?" tanya Rangga meyakinkan ucapannya.
"Benar, Gusti. Di hutan itulah mereka bersarang. Tepatnya di dalam Lembah
Kemukus." "Baiklah, aku akan menyelidiki ke sana!"
"Gusti Prabu...."
Pangkeng tidak bisa mencegah
lagi. Dia langsung berlari masuk ke ruangan utama.
Laki-laki gemuk berkepala gundul itu langsung menjatuhkan diri di depan kaki
Bayan Sudira. "Ampun, Gusti.... Ampunkan hamba, Gusti," kata Pangkeng.
"Pangkeng, ada apa?" tanya Bayan Sudira terkejut.
"Hamba terpaksa, Gusti. Ampunkan hamba...," rintih Pangkeng.
"Pangkeng, katakan! Ada apa?"
sergah Danupaksi tak sabar.
"Hamba..., hamba telah mengatakan
letak Rimba Tengkorak pada Gusti Prabu. Dan.., dan...."
"Celaka! Aku harus segera
menyusul ke sana!" sentak Danupaksi langsung bangkit.
"Kakang, tunggu!" teriak Dewi Cempaka.
"Kau di sini saja, Dinda Cempaka.
Aku akan segera kembali!" kata Danupaksi terus saja me-langkah ke luar.
"Gusti...!" Bayan Sudira segera mengejar.
"Maaf, Paman. Tidak ada waktu lagi, aku harus segera mencegah Kakang Prabu pergi
ke sana. Mereka sangat kejam dan mempunyai kepandaian yang sangat tinggi."
Danupaksi segera melompat ke
punggung kudanya dan langsung pergi!
Tiba-tiba Dewi Cempaka juga langsung melompat ke punggung kudanya diikuti
Pangkeng. Sedangkan Resi Balung Gading tampak berdiri tertegun menyaksikan
kejadian yang begitu cepat tersebut.
"Apakah Gusti Bayan Sudira juga akan meninggalkan padepokan ini juga?"
tanya Resi Balung Gading pada Bayan Sudira.
Bayan Sudira tidak langsung
menjawab. Dia hanya mengedarkan
pandangannya berkeliling. Tampak murid-murid Padepokan Baja Hitam sudah
berkurang hampir setengahnya. Bisa
dibayangkan kalau Partai Tengkorak menyerangnya pasti tidak akan bisa lagi
bertahan. "Prajurit...!" panggil Bayan Sudira.
"Hamba, Gusti," salah seorang prajurit menghampiri.
"Kembalilah kau ke Karang Setra.
Katakan pada Gusti Lintuk, bahwa aku membutuhkan dua regu pasukan pilihan di
sini," perintah Bayan Sudira.
"Hamba laksanakan, Gusti,"
prajurit itu langsung pergi.
Sedangkan Bayan Sudira segera
berbalik lagi menghadapi Resi Balung Gading.
"Aku dan para prajuritku akan menjaga padepokan ini, Resi," kata Bayan Sudira.
"Ah, terima kasih, Gusti."
*** Bagaikan seekor burung, Pendekar Rajawali Sakti melentingkan tubuhnya dari
cabang pohon yang satu ke cabang pohon lainnya. Begitu ringan dan indah sekali
gerakannya, sehingga pohon yang dihinggapi, tidak sedikit pun
mengeluarkan bunyi.
"Heh...! Hup!"
Tiba-tiba matanya yang setajam
mata elang melihat secercah sinar yang meluruk deras ke arahnya. Secepat
kilat dia menggenjot tubuhnya bersalto beberapa kali di udara. Sinar itu
langsung lewat di dalam putaran
tubuhnya! Dan Rangga kemudian hinggap di pucuk pohon yang paling tinggi.
Sejenak dia mengedarkan
pandangannya berkeliling. Tidak ada gerak yang mencurigakan sedikit pun!
Tapi belum lagi dia sempat berpikir banyak, mendadak terlihat lagi
secercah sinar meluruk kearahnya.
Secepat kilat dia melenting ke atas.
Dan segera terdengar suara ledakan keras bersamaan dengan hancurnya pohon yang
tadi diduduki Rangga. Merasa terus-menerus terdesak, tiba-tiba...,
"Hiya...!"
Seketika itu juga tangan Pendekar Rajawali Sakti meluncurkan beberapa sinar
merah untuk menangkis sinar-sinar kekuningan yang mengincar
tubuhnya. Suara-suara ledakan terjadi secara beruntun!
"Hup!" Rangga segera turun dengan manis di tanah. "Hm..., apakah mereka orangorang dari Partai Tengkorak?"
gumamnya dalam hati.
Belum sempat dia menjawab
pertanyaannya sendiri, mendadak dari arah depan kembali meluncur secercah sinar
kekuningan ke arahnya. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu meloncat ke
udara, dan pada saat yang bersamaan, dia juga melontarkan
pukulan dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang dahsyat.
"Hiyaaa...!"
Tiba-tiba sinar merah yang ke
luar dari telapak tangan Rangga
menghantam semak, seketika itu juga muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi
tegap tanpa pakaian atas. Dia hanya mengenakan celana sebatas lutut saja! Tampak
rantai berwarna keperak an terlilit di tubuhnya. Sedangkan wajahnya penuh dengan
cambang dan kumis.
"Grrr...!" orang itu menggeram.
"Phuih! Ini manusia apa
gorilla...?" dengus Rangga setengah bergumam.
"Siapa kau, Monyet Cilik?" tanya orang itu. Suaranya berat dan besar sekali.
"Kau sendiri siapa, Monyet
Besar?" Rangga balik bertanya.
"Grrr! Edan! Aku bertanya padamu, goblok!"
"Aku juga bertanya padamu," balas Rangga kalem.
"Nyalimu besar juga, Monyet Cilik!"
"Mana yang lainnya" Kenapa
temanmu yang dua lagi, tidak muncul"
Takut?" ejek Rangga memanasi.
Belum lagi kering kata-kata
Rangga, tiba-tiba dari kanan kirinya muncul dua orang yang sama persis
dengan yang pertama tadi.
"Monyet ini sudah melanggar daerah kita, hukuman apa yang pantas untuknya?" kata
salah seorang dari mereka.
"Mati!" sahut yang lainnya Bersamaan.
"Grrr.... Bagus! Monyet kecil ini memang harus mati!"
Hampir bersamaan mereka langsung melepaskan rantai yang melilit di tubuh mereka
masing-masing. Rantai itu panjangnya kira-kira tiga kali lipat dari panjang
tubuh mereka. Tampak pada ujungnya terdapat bandulan bola besi sebesar kepala
manusia dewasa dan penuh dengan duri-duri tajam.
"Hup...!"
Dua orang yang berada di kanan
kiri, langsung melompat dan melebar ke samping. Tidak berapa lama kemudian,
tahu-tahu mereka sudah mengurung Rangga dari tiga jurusan. Tampak Pendekar
Rajawali Sakti sedikit
menyipitkan matanya, memperhatikan gerak-gerik mereka.
Wut, wut, wut! Tiba-tiba terdengar suara angin
yang menderu-deru begitu secara
bersamaan ketiga orang itu memutar-mutarkan rantainya. Mendadak Pendekar
Rajawali Sakti itu merasakan udara di sekitarnya jadi panas, dan semakin lama
rasa panas itu semakin menyengat!
"Hait!"
Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat ketika salah satu rantai meluruk ke
arahnya. Dan belum lagi tubuhnya menjejak tanah, satu rantai lagi sudah
menyambar ke arah kepala.
Secepat kilat Rangga menunduk, tapi satu rantai lagi segera meluruk ke arah
perutnya. Posisi Pendekar
Rajawali Sakti itu benar-benar dalam keadaan yang terjepit sekali!
Tap! Dengan nekat dia segera menangkap rantai yang mengarah ke perut, lalu tubuhnya
melenting kembali ke udara, dan segera menangkap rantai yang satu lagi. Setelah
itu Rangga segera
meluruk ke bawah dengan tiga rantai di tangan. Tentu saja
gerakan tarik menarik antara mereka terjadi dengan sengitnya.
"Graaagh...!"
Tiba-tiba saja salah seorang
melompat cepat ke udara. Kemudian disusul kedua temannya secara
bergantian. Terus-menerus mereka melakukan hal seperti itu. Sementara Rangga
yang sudah biasa menghadapi taktik semacam itu, langsung
melentingkan tubuh dan berputar
beberapa kali di udara. Cepat sekali tangannya bergerak melepaskan rantai yang
berada di tangannya. Begitu cepat dan kuatnya dia menghentakkan
tangannya, sehingga ketiga orang yang berlompatan itu tersentak kaget. Dan pada
saat itu Rangga langsung
mengeluarkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'
Des! Des! Des...!
"Aaargh...!"
*** "Cukup!" tiba-tiba terdengar suara yang nada-nya berat.
Rangga yang sudah akan meneruskan serangannya, langsung berhenti dan membalikkan
tubuhnya menghadap ke arah datangnya suara itu. Tiba-tiba di depannya telah
berdiri seorang laki-laki tua mengenakan jubah hitam yang bergambar kepala
tengkorak berwarna putih di dadanya. Laki-laki itu juga mengenakan tongkat yang
pada ujung gagangnya berbentuk kepala tengkorak.
Sejenak Rangga menoleh ke arah musuh-musuhnya yang kini tergeletak tak sadarkan
diri. "Kau telah melumpuhkan tiga orang pembantuku, hebat...," kata laki-laki tua itu
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mereka yang menyerangku lebih dulu," sahut Rangga.
"Siapa kau, Anak Muda?" tanya laki-laki tua itu.
"Aku Rangga. Kau sendiri, siapa?"
"Aku Tengkorak Putih. Mau apa kau datang ke tempatku?"
"Aku datang untuk mencari Partai Tengkorak!" jawab Rangga tegas.
"Untuk apa kau mencari partai itu?" tanya* Tengkorak Putih.
"Mereka harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
sahut Rangga. "Mereka telah menghancurkan Padepokan Gunung Puting pimpinan Resi
Wanapati!"
"Ha ha ha...! Rupanya si Wanapati mengkambinghitamkan Partai Tengkorak yang
kupimpin! Huh! Dasar laki-laki tak tahu diri, sudah ditolong malah berlaku
licik!" "Jangan coba-coba mencuci tangan, Tengkorak Putih!"
"Anak muda, ada hubungan apa sehingga kau membela si Tua Bangka licik itu?"
"Kau tidak perlu tahu!" bentak Rangga.
"Baiklah, tapi perlu kau ketahui, bahwa Partai Tengkorak tidak pernah
menghancurkan Padepokan Gunung
Puting," kata Tengkorak Putih.
"Bisa kupercaya kata-katamu?"
tanya Rangga memastikan.
"Kau bisa menanyakan pada
sahabatnya yang aneh," ada nada sinis pada suara Tengkorak Putih.
"Maksudmu, Resi Balung Gading?"
"Benar. Dia pasti tahu, siapa
yang telah menghancurkan padepokan itu. Hm..., tapi aku yakin, dia pun akan
menuduh Partai Tengkorak yang menghancurkannya...."
"Untuk kali ini aku bisa
mempercayaimu, Tengkorak Putih. Tapi kalau ternyata partaimu yang
melakukannya, kau akan berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti.'" kata Rangga
tegas. "Ha ha ha.... Aku akan
mempertanggungjawabkan, bila memang partaiku yang telah berbuat," sahut
Tengkorak Putih.
Sejenak Rangga memandangi tiga
orang yang tergeletak tak sadarkan diri itu.
"Sudahlah, jangan kau hiraukan manusia-manusia goblok itu!" kata Tengkorak
Putih. "Jika kau tidak senang...," kata Rangga tak diteruskan.
"Aku tahu, kau melakukannya karena untuk membela diri," potong Tengkorak Putih.
"Rupanya watakmu sangat berbeda dengan namamu serta nama partaimu,"
Rangga tersenyum kecut.
"He he he...," Tengkorak Putih hanya terkekeh.
"Maaf, aku telah melumpuhkan mereka, tapi urusan kita belum
selesai," kata Rangga.
Setelah berkata begitu, Pendekar
Rajawali Sakti segera melangkah
meninggalkan tempat tersebut.
*** 8 "Kakang...!" teriak Danupaksi begitu melihat Rangga sedang berlari cepat di
antara pohon-pohon.
Mendengar suara panggilan yang
keras tersebut, Rangga langsung
menoleh dan menghentikan larinya. Agak kaget juga dia, begitu melihat
Danupaksi berlari-lari menghampirinya.
"Kenapa kau menyusulku?" tanya Rangga.
"Aku cemas, Partai Tengkorak sangat tangguh!"
sahut Danupaksi
setelah mengatur napasnya.
"Kau sendirian?"
"Iya."
Rangga segera mengedarkan
pandangannya melewati bahu Danupaksi.
Memang tidak ada seorang pun yang mengikuti. Hanya tampak seekor kuda putih yang
sedang merumput di
kejauhan. "Kelihatannya kau mau kembali, Kakang. Apa sarang mereka sudah kau temui?" tanya
Danupaksi. Rangga hanya tersenyum, kemudian melangkah pergi.
"Kakang hendak ke mana?" tanya
Danupaksi sambil berjalan mengejar Rangga.
"Ke Padepokan Baja Hitam," jawab Rangga singkat.
Danupaksi segera memanggil
kudanya dengan siulan. Kuda itu
langsung meringkik dan menghampiri.
Beberapa saat kemudian Danupaksi telah berjalan di samping kakaknya,
sedangkan kuda itu membuntuti dari belakang.
"Kakang Rangga sudah menemukan mereka?" tanya Danupaksi mengulang.
"Sudah," sahut Rangga sambil terus berjalan pelan.
"Lalu?"
"Aku tidak dapat memutuskan, apakah mereka bersalah atau tidak?"
"Kenapa begitu?"
"Mereka sendiri terkejut
men- dengar padepokan milik Resi Wanapati hancur."
"Mereka menyangkal?"
" Tidak."
Danupaksi tidak mengerti. Dia


Pendekar Rajawali Sakti 16 Rahasia Kalung Keramat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jadi bingung dengan jawaban Rangga.
"Kau murid Resi Wanapati, pasti tahu. Ada hubungan apa antara gurumu dengan
Partai Tengkorak," kata Rangga bernada menyelidik.
"Selama di padepokan, aku tidak diijinkan ke luar. Eyang Resi Wanapati tidak
memperbolehkan muridnya ke luar dari padepokan sebelum menamatkan
pelajarannya."
"Apa Resi Wanapati tidak pernah bercerita tentang Partai Tengkorak?"
"Tidak."
*** Dalam perjalanan kembali ke
Padepokan Baja Hitam, Rangga dan Danupaksi bertemu dengan Dewi Cempaka serta
Pangkeng yang juga sedang
menyusul Rangga. Gadis itu tidak mengerti, kenapa Rangga tidak menjawab setiap
pertanyaannya. Bahkan Rangga malah mengajukan pertanyaan yang nadanya
menyelidik. Begitu sampai di Padepokan Baja
Hitam, Rangga langsung mencari Resi Balung Gading. Tak berapa lama
kemudian dia menemukannya di dalam kamar khusus untuk bersemadi. Rangga segera
masuk dan menemui Resi Balung Gading.
"Tundalah semedimu, Resi," kata Rangga segera duduk bersila di depan laki-laki
tua itu. "Oh, Gusti Prabu...!" Resi Balung Gading buru-buru menghormat.
"Sudahlah, aku tahu kalau kau tidak bersemadi," kata Rangga datar suaranya.
Resi Balung Gading hanya
menundukkan kepalanya.
"Aku minta Resi menjawab dengan
jujur pertanyaanku," kata Rangga menatap tajam.
"Apa yang harus hamba katakan, Gusli Prabu?"
"Siapa sebenarnya kau dan
Wanapati?" tanya Rangga langsung.
"Hamba dan Wanapati sebenarnya bersaudara, Gusti Prabu," jawab Resi Balung
Gading membuka rahasia dirinya.
"Hm.... Kau tahu apa yang terjadi di Danau Cubung dua puluh tahun yang lalu?"
tanya Rangga lagi.
"Benar, Gusti. Hamba menyaksikan-nya sendiri bersama Kakang Wanapati.
Saat itu hamba dan Wanapati sedang mencari kayu bakar. Dan hamba
menyaksikan pembantaian yang dilakukan oleh gerombolan perampok pada
rombongan Gusti Arya Permadi. Saat itu kami belum memiliki tingkai kepandaian
yang tinggi."
"Hm..., teruskan."
"Kami melihat prajurit Kadipaten Karang Setra dibunuh. Juga Gusti Adipati dan
keluarganya. Dan kami lihat Gusti terlempar di jurang Lembah Bangkai."
"Apakah kau melihat seorang punggawa melarikan diri?"
"Ya, Gusti Prabu. Punggawa itu dalam keadaan terluka parah. Kemudian setelah
orang-orang yang membantai keluarga Gusti itu pergi, kami
menolongnya. Tapi karena keadaan
lukanya yang parah, ia tidak dapat bertahan hidup lebih lama."
"Apakah ia sempat berbicara kepada kalian berdua?" tanya Rangga lagi.
"Sempat, Gusti Prabu. Bahkan dia memberikan seuntai kalung kepada Kakang
Wanapati untuk kemudian harus diberikan kepada seorang bocah yang bernama
Danupaksi di Istana Kadipaten Karang Setra. Kemudian kami berdua segera
berangkat menuju ke kadipaten itu. Tapi sesampainya di sana, kami mendapatkan
kadipaten itu sedang dalam keadaan kacau-balau, di sana sedang terjadi perebutan
kekuasaan antara adik tiri Gusti Adipati Arya Permadi dengan Ratih Komala, selir
Gusti Adipati yang menginginkan anaknya Wira Permadi kelak menjadi adipati di
Karang Setra."
"Lalu apa yang kalian lakukan?"
tanya Rangga yang sudah tahu tentang perebutan kekuasaan itu.
"Kemudian kami berdua segera menyusup ke dalam istana kadipaten dengan menyamar
menjadi tukang merawat kuda. Di sana akhirnya kami menemui anak bernama
Danupaksi itu, tepat ketika ibunya yang bernama Endang Witarsih dibunuh oleh
orang-orangnya Ratih Komala. Untung kami sempat menolong anak itu bersama
seorang selir Gusti Adipati lainnya yang
sedang mengandung, namanya Kunti Sulistya."
"Hm, kemudian kalian membawa anak itu beserta Ibu Kunti Sulistya ke Gunung
Puting?" tebak Rangga.
"Benar, Gusti. Tapi dalam
perjalanan menuju ke Gunung Puting, Ibu Kunti Sulistya meninggal dunia setelah
melahirkan seorang bocah perempuan. Anak itu kemudian kami beri nama Dewi
Cempaka," ucap Resi Balung Gading dengan mimik sedih, karena ia teringat akan
nasib Dewi Cempaka yang sangat menyedihkan.
"Kemudian kalian bersepakat untuk mendidik kedua anak itu?" tanya Rangga lagi.
"Iya, Gusti. Dan sejak saat itulah kami berdua bersepakat untuk menjadi resi dan
membangun padepokan,"
jelas Resi Balung Gading.
"Lalu kenapa, kalian sampai mempunyai perjanjian aneh?"
"Satu bulan setelah kami merawat anak-anak tersebut, datang gerombolan yang
menamakan dirinya Partai
Tengkorak. Mereka datang untuk merebut anak yang kami asuh, Gusti Prabu.
Sejak itu kami berpisah untuk
menyelamatkan kedua bocah itu. Karena kami merasa berkewajiban untuk merawat dan
membesarkan mereka."
"Teruskan," pinta Rangga lagi.
"Demi keselamatan Gusti
Danupaksi, Kakang Wanapati mengadakan perjanjian dengan ketua Partai
Tengkorak. Isi perjanjian itu,
Danupaksi harus turun gunung setelah usianya dua puluh tahun, dan Kakang
Wanapati harus menyerahkan kalung tanda kebesaran Karang Setra. Tapi rupanya
Kakang Wanapati mengingkari janjinya, dan hamba tahu maksud dari Kakang
Wanapati, dia tidak ingin Karang Setra jatuh ke tangan mereka."
"Kau berkata sebenarnya Resi Balung Gading?" tanya Rangga yang belum mau percaya
begitu saja. "Hamba masih menyimpan barang-barang temuan dua puluh tahun yang lalu Gusti,"
Resi Balung Gading mencoba meyakinkan Rangga.
Resi Balung Gading segera bangkit dan menghampiri sebuah lemari yang ada di
pojok kamar itu. Kemudian dia membuka pintunya dan mengambil sebuah kotak kayu
berukir. Setelah menutup pintu lemari itu, Resi Balung Gading segera menyerahkan
barang itu kepada Rangga.
Rangga langsung membuka kotak
itu. Segera tampak satu perangkat pakaian seorang punggawa dengan tanda pangkat
dan tanda-tanda jasa yang masih lengkap. Selain itu masih ada selembar kain
sutra biru muda dengan sulaman segitiga dengan beberapa lingkaran di tengahnya.
Juga terdapat barang-barang lain yang menunjukkan semuanya berasal dari Karang Setra dua puluh
tahun yang lalu.
"Aku merasa, barang-barang itu nantinya pasti akan ada gunanya, jadi aku
menyimpannya dengan rapi. Tak ada seorang pun yang tahu. Bahkan Dewi Cempaka
sendiri pun tidak tahu tentang ini," kata Resi Balung Gading.
"Jadi siapa sebenarnya yang menghancurkan
Padepokan Resi Wanapati?" gumam Rangga
seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Hamba sendiri tidak bisa
memastikan, Gusti. Kalau memang Partai Tengkorak yang melakukannya, mereka pasti
juga mencari Gusti Danupaksi untuk merebut kalung itu," sahut Resi Balung
Gading. "Kenapa mereka menginginkan kalung itu?" tanya Rangga ingin tahu.
"Mereka ingin menyusupkan salah seorang anggotanya ke Kerajaan Karang Setra,
tapi hamba cenderung
berpendapat, bahwa putra si Tengkorak Putihlah yang akan disusupkan, karena
usianya sama dengan Gusti Danupaksi.
Dan kemungkinan mereka akan
menghancurkan Kerajaan Karang Setra dari dalam."
Padepokan Baja Hitam bisa luput
dari incaran Partai Tengkorak karena mereka tahu, bahwa Resi Balung Gading tidak
memiliki kalung itu. Hal itu
bisa saja terjadi, karena Dewi Cempaka tidak mempunyai bukti kuat untuk masuk
dalam keluarga Kerajaan Karang Setra.
Dan bagi Rangga, barang-barang
yang ditunjukkan oleh Resi Balung Gading sudah cukup kuat untuk
mempercayai, kalau Dewi Cempaka adalah adiknya dari lain ibu. Dalam satu sisi,
Rangga begitu bahagia karena bisa berkumpul dengan saudaranya, tapi dalam sisi
lainnya, dia masih
memikirkan rencana Partai Tengkorak yang ingin menghancurkan Karang Setra.
"Resi Balung Gading, Karang Setra masih membutuhkan seorang yang berilmu tinggi
untuk memperkuat barisan
keamanan. Aku menawarkan padamu untuk pindah ke Karang Setra, dan melatih
prajurit agar lebih tangguh dalam ilmu olah kanuragan," kata Rangga saat
semuanya berkumpul di ruangan utama Padepokan Baja Hitam.
"Ah, suatu anugerah yang begitu besar bagi hamba," desah Resi Balung Gading.
"Dan semua murid-muridmu bisa menjadi prajurit pilihan di Karang Setra," lanjut
Rangga. Resi Balung Gading memandang Dewi Cempaka yang duduk di samping Rangga.
Gadis itu segera tersenyum manis dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian pandangan Resi Balung Gading beralih kepada Danupaksi, pemuda itu
juga menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, hamba terima tawaran Gusti Prabu," kata Resi Balung Gading akhirnya.
"Terima kasih, Resi," ucap Rangga tersenyum.
"Tapi, bagaimana dengan padepokan ini?" tanya Resi Balung Gading.
"Tempat ini sudah tidak aman lagi, Resi. Suatu
saat Partai Tengkorak pasti mengalihkan
perhatiannya ke sini," sahut Rangga.
"Ya, mereka juga tahu tentang diriku. 1ebih-lebih tentang Gusti Ayu Dewi
Cempaka," desah Resi Balung Gading yang kini memanggil Dewi
Cempaka dengan sebutan Gusti Ayu.
"Nah! Kalau begitu, besok pagi kita bisa langsung berangkat," kata Rangga
menyambung. "Gusti Prabu...."
"Ada apa, Paman Bayan Sudira?"
"Maaf, Gusti Prabu. Hamba telah lancang mendahului. Hamba telah
mengutus lima orang prajurit untuk meminta bantuan ke Kerajaan Karang Setra.
Tadinya hamba menilai...."
"Sudahlah, Paman Bayan Sudira.
Aku tahu apa yang menjadi keputusanmu.
Kalaulah mereka datang kemari, nanti bisa ketemu di perjalanan," sela Rangga
cepat. "Terima kasih, Gusti. Maafkan atas kelancangan hamba."
"Tidak apa-apa."
Beberapa saat kemudian, Rangga
beranjak ke luar. Dia melangkah pelan-pelan melintasi halaman depan
padepokan. Tampak beberapa prajurit dan juga murid-murid padepokan itu masih
terlihat berjaga-jaga secara bergiliran
"Kakang...."
"Oh!" Rangga tersentak ketika mendengar suara halus dari belakang.
"Kakang melamun?" tanya Dewi Cempaka yang tahu-tahu sudah berada di sampingnya.
"Tidak,"
sahut Rangga seraya
menghenyakkan tubuhnya di balai-balai yang terletak di bawah pohon yang rindang.
"Kakang masih memikirkan Kak
Pandan Wangi?" tebak Dewi Cempaka.
Rangga hanya tersenyum.
"Tadinya aku cemburu ketika Kakang menceritakan tentang Kak
Pandan," kata Dewi Cempaka pelan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Cuma merasa kalah cantik saja," gurau Dewi Cempaka manja.
"Kau cantik, kok. Malah tadinya aku sempat lupa," Rangga menimpali gurauan itu.
"Wah...! Kakakku mata keranjang juga rupanya."
"Tidak juga, buktinya aku tidak
ikut sayembara itu kan?"
Dewi Cempaka tersenyum getir.
"Kakang tetap mau mencari Kak Pandan?"
"Ya," sahut Rangga mendesah.
"Tidak kembali dulu ke kerajaan?"
"Mungkin tidak."
"Aku ikut, ya?"
"Jangan, kau lebih dibutuhkan di sana "
"Tapi...."
"Cempaka..,, perjalananku tidak menentu. Dan aku sendiri belum yakin akan
bertemu dengan Pandan Wangi lagi!" ucap Rangga ragu-ragu.
*** Pagi-pagi sekali seluruh murid
Padepokan Baja Hitam sudah bergerak pelahan meninggalkan padepokan itu.
Mereka semua berkuda menuju Kerajaan Karang Setra. Tampak Bayan Sudira dan Resi
Balung Gading berada di jajaran paling depan. Sedangkan di belakangnya Danupaksi
dan Pangkeng membuntuti.
Urutan berikutnya adalah murid-murid Padepokan Baja Hitam, yang disusul oleh
satu regu pasukan prajurit yang dipimpin oleh seorang punggawa
menengah. Sedangkan yang paling
belakang sekali adalah Rangga dan Dewi Cempaka.
"Aku sampai di sini saja,
Cempaka," kata Rangga setelah rombongan itu sudah sampai di
perbatasan Desa Salapan.
"Kenapa tidak sampai di
perbatasan Karang Setra?" tanya Dewi Cempaka.
"Tidak, aku telah mendengar kabar, bahwa ada seorang tabib kecil bersama seorang
gadis di pesisir Selatan. Dari sini tidak terlalu jauh jaraknya," tolak Rangga.
"Kau yakin, kalau mereka adalah Kak Pandan dan anak yang ahli
pengobatan itu?"
"Entahlah."
"Kenapa tidak ke Utara saja" Aku dengar di sana ada seorang pendekar wanita yang
tengah menghadapi para bajak sungai."
"Mungkin setelah dari pesisir Selatan, aku langsung ke Utara. Yang jelas, seriap
ada berita, aku pasti akan ke sana."
"Tapi ingat, Kakang. Kerajaan Karang Setra sangat membutuhkanmu, kau tidak boleh
larut terus-menerus."
"Aku tahu, Cempaka. Aku tidak mungkin melupakan kewajiban utamaku.
Aku janji, satu purnama tidak juga berhasil, aku pasti kembali ke Karang Setra."
"Kau akan tinggalkan dunia
persilatan?"
"Tidak semuanya."
Dewi Cempaka hanya diam.
"Pergilah, sampai ketemu lagi di Karang Setra," kata Rangga sedikit mendesah.
"Aku harap, kau berhasil
menemukan Kak Pandan," kata Dewi Cempaka.
"Kau baik sekali, Cempaka."
"Kakang...."
"Ada apa?"
"Sebenarnya aku ingin ikut
bersamamu...."
"Suatu saat nanti, aku akan mengajakmu berkelana," janji Rangga.
"Sungguh?"
"Percayalah, Cempaka. Tugasku sebagai pendekar belum selesai. Dan aku tidak akan
meninggalkannya sebelum dunia ini benar-benar bersih dari orang-orang yang
berhati iblis!"
Sebelum Dewi Cempaka membuka
mulutnya, Rangga sudah menggebah kuda hitamnya dengan kencang. Dalam sekejap
mata saja Pendekar Rajawali Sakti itu sudah hilang di balik kerimbunan pe

Pendekar Rajawali Sakti 16 Rahasia Kalung Keramat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pohonan. "Cempaka...!"
Dewi Cempaka tersentak! Tampak
Danupaksi melambaikan tangannya jauh di depan. Tanpa membuang-buang waktu lagi,
gadis itu langsung menggebah kudanya dan menyusul rombongan yang sudah berada
jauh di depannya. Hanya beberapa saat, dia sudah mensejajarkan
langkah kaki kudanya dengan kuda Danupaksi. Wajahnya tampak sedikit murung,
meskipun sinar matanya
bercahaya. Ada rasa haru, senang, sedih dan berbagai macam perasaan lain
berkecamuk di dalam dadanya.
"Kakang Rangga pasti segera kembali lagi, Dinda Cempaka," kata Danupaksi seperti
mengetahui jalan pikiran Dewi Cempaka.
"Ya," desah Dewi Cempaka.
Kemudian mereka saling berdiam
diri. Mereka terus saja berjalan
bersama rombongan Padepokan Baja Hitam dan prajurit Kerajaan Karang Setra yang
telah bergabung menjadi satu.
Sebenarnya kapan Rangga akan kembali lagi" Kalau dia akan kembali lagi setelah
menemukan Pandan Wangi, lalu kapan dia akan menemukannya"
Ikutilah kisah petualangan
Pendekar Rajawali Sakti berikutnya, dalam serial PERAWAN RIMBA TENGKORAK.
SELESAI Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: lovelypeace
http://duniaabukeisel.blogspot.com/
Bangkitnya Ki Rawa Rontek 2 Pendekar Mabuk 056 Pembantai Raksasa Si Kumbang Merah 9

Cari Blog Ini