Ceritasilat Novel Online

Sabuk Penawar Racun 1

Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun Bagian 1


SABUK PENAWAR RACUN
Oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S. Gambar sampul oleh Soeryadi Hak cipta pada Penerbit
1 Pagi baru saja menyingsing. Matahari masih enggan menampakkan dirinya. Hanya
rona merah jingga yang membias dari balik gunung sebelah Timur. Namun di pagi
yang masih tertutup kabut itu terlihat seorang pemuda berwajah tampan dan
berkulit kuning langsat, tengah duduk bersila di atas sebongkah batu besar yang
hitam berkilat.
Titik-titik keringat mengucur membasahi wajah dan badannya yang telanjang. Otototot bersembulan keluar, menambah ketegapan tubuhnya. Kedua tangannya terus
melakukan gerakan-gerakan jurus pengerahan hawa mumi dari pusat tubuhnya. Tidak
jauh dari pemuda itu, tampak seorang laki-laki tua mengenakan baju jubah panjang
berwarna merah.
Laki-laki tua itu tidak berkedip memandangi pemuda yang tengah melatih tenaga
dalamnya. Sebatang tongkat berkeluk berbentuk ular, diketuk-ketukkan ke tanah
dekat ujung jari kakinya. Bibirnya yang hampir tertutup kumis putih, bergerakgerak seperti membaca sesuatu. Pelahan-lahan diangkat tongkatnya, lalu ujung
tongkat yang berbentuk kepala ular itu diarahkan pada pemuda di atas batu.
"Hih! Hiyaaa...!" laki-laki tua berjubah merah itu menghentakkan tongkatnya
kuat-kuat Dan dari mata ular yang berwarna merah itu memancarlah seleret cahaya merah,
langsung meluruk deras ke arah pemuda itu, sehingga membuat pemuda tersebut
terperangah sesaat Tapi dengan kecepatan luar biasa, dia melompat dengan posisi
masih tetap duduk bersila.
Glarrr! Sebongkah batu sebesar kerbau, hancur berkeping-keping begitu sinar merah yang
meluncur dari mata tongkat ular itu menghantam batu tempat pemuda tampan tadi
duduk bersila di atasnya. Suara ledakannya begitu dahsyat Debu dan kepingan batu
beterbangan di udara, bercampur kabut tebal.
Di antara kepulan debu dan reruntuhan batu itu terlihat seorang pemuda
berjumpalitan beberapa kali, kemudian dengan manis kakinya menjejak tanah. Namun
dia langsung duduk bersila kembali dengan telapak tangan merapat di depan dada.
Kepalanya tetap tertunduk menekuri tanah di depannya.
"He he he...! Bagus! Bagus..., Kalaban. Tenaga dalammu kini telah pulih
kembali," laki-laki tua berjubah merah itu terkekeh seraya menghentak-hentakkan
ujung tongkatnya ke tanah.
Namun pemuda yang memang adalah Kalaban itu tetap duduk bersila menekuri tanah
di depannya. Laki-laki tua berjubah merah itu melangkah menghampiri, kemudian
duduk bersila di depan Kalaban.
"Cukup, Kalaban. Tidak perlu kau teruskan sema-illmu," kata laki-laki tua
berjubah merah itu.
"Eyang...," ujar Kalaban seraya mengangkat kepalanya.
"Kau sudah kembali sempurna seperti semula, Kalaban.
Tidak ada lagi bekas-bekas luka dalam di lubuhmu. Hanya saja, latihlah jurusjurusmu saja agar lebih mantap dan sempurna.
Hm..., kau akan kubim-blng untuk menyempurnakan jurus-jurusmu," ujar laki-laki
tua berjubah merah itu
"Terima kasih, Eyang Girindra," ucap Kalaban seraya memberi hormat.
"He he he.... Kau anak yang baik, Kalaban. Hhh...!" ujar laki-laki tua yang
ternyata bernama Eyang Girindra, seraya menarik napas panjang.
"Ada apa, Eyang?" tanya Kalaban sambil memperhatikan raut wajah Eyang Girindra
yang mendadak saja jadi berubah mendung.
"Tidak ada apa-apa, Kalaban. Oh, ya..., bagaimana kau sampai bentrok dengan
orang-orang Kerajaan Galung?" tanya Eyang Girindra, tanpa menghiraukan
pertanyaan Kalaban.
"Aku hanya menuntut hak, Eyang," sahut Kalaban.
"Hak...!" Hak apa?"
"Intan Kemuning, putri tunggal Patih Giling Wesi mengadakan sayembara. Isi
sayembara itu, siapa yang berhasil mengalahkannya, maka berhak atas Kerajaan
Galung. Dan aku berhasil mengalahkannya. Tapi semua perjanjian yang dibuatnya
itu diingkari sendiri. Eyang. Aku dan guru-guruku terpaksa merebutnya secara
paksa dengan menduduki Istana Galung lalu mengusir Prabu Galung dan semua
pembesar istana. Sebenarnya yang kuinginkan hanya Intan Kemuning saja, Eyang.
Dia harus jadi istriku. Hanya itu...," jelas Kalaban.
"Hm.... Lalu, siapa pemuda yang hampir membunuhnya itu?"
tanya Eyang Girindra lagi.
"Aku baru sekali bentrok dengannya, Eyang. Dia berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.
Aku tidak tahu, siapa dia sebenarnya.
Tiba-tiba saja muncul bersama pasangannya lalu menghancurkan orang-orangku,"
sahut Kalaban. "Pasangannya..."!" Eyang Girindra mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Benar, Eyang. Pendekar Rajawali Sakti menunggang seekor burung rajawafi raksasa
yang sangat dahsyat Demikian pula dengan pasangannya. Aku tidak tahu pasti,
siapa pasangannya itu."
"Hm...," Eyang Girindra bergumam tidak jelas.
"Ada apa, Eyang?" tanya Kalaban.
"Tidak..., tidak apa-apa," sahut Eyang Girindra cepat.
Tapi raut wajah laki-laki tua itu kelihatan mendung.
Kemudian dia bangkit berdiri dan melangkah pelahan-lahan.
Kalaban juga berdiri. Diperhatikannya wajah laki-laki tua itu yang juga guru
dari Empat Bayangan Iblis Neraka. Jelas sekali kalau laki-laki tua berjubah
merah itu jadi gundah mendengar penjelasan Kalaban. Entah apa yang membuat hati
Eyang Girindra jadi gundah!
*** Sementara itu jauh dari Gunung Sendir, tepatnya di sebelah Barat, terdapat suatu
lembah yang cukup dalam dan luas yang dinamakan Lembah Neraka. Suasana di dalam
lembah itu memang bagai di dalam neraka. Seluruh batu dan tanahnya berwarna
merah bagai terbakar. Bahkan pohon dan rerumputan pun berwarna merah. Udaranya
sangat panas menyengat.
Tidak ada seorang pun yang sanggup hidup di dalam lembah itu. Bahkan semut pun
enggan untuk memijakkan kakinya di sana. Sebuah lembah yang tidak memiliki
sumber air sedikit pun! Tidak ada daun atau buah-buahan yang dapat dimakan.
Semua buah dan daun yang ada di Lembah Neraka
mengandung racun yang sangat mematikan. Di situ pun juga terdapat suatu danau
berwarna merah yang airnya juga mengandung racun. Tidak ada seekor ikan pun yang
hidup di danau itu.
Tapi di tengah-tengah danau itu terdapat sebuah bangunan yang sangat megah bagai
istana. Bangunan besar itu seperti ditopang oleh tiang-tiang yang sangat besar
dan kokoh. Pintu dan jendelanya juga sangat besar. Bangunan itu seperti istana
raksasa. Ukurannya sepuluh kali lipat dari bangunan istana di mana pun juga.
Namun anehnya, seluruh bangunan itu berwarna merah.
Sinar matahari yang memancar terik, membuat seluruh bangunan istana itu bagai
terbakar. Bahkan seluruh lembah pun seperti terpanggang api. Udara di sekitarnya
semakin terasa panas menyengat Benar-benar suatu tempat bagai neraka.
"Khraghk...!" tiba-tiba saja terdengar suara keras menggelegar di angkasa.
Dan sebentar kemudian, terlihat sebuah bayangan hitam pekat yang sangat besar
meluncur turun dari angkasa.
Bayangan hitam itu terus menukik deras menuju bangunan istana berwarna merah di
tengah-tengah danau, lalu meluruk masuk melalui pintu depan yang sangat besar.
"Khraghk...!"
Kini di dalam ruangan yang sangat besar dan tinggi, terlihat seekor burung
rajawali hitam raksasa. Burung itu berjalan gontai menghampiri sebuah ranjang
yang sangat besar ukurannya. Di atas ranjang beralaskan kain merah muda dari
bahan sutra halus itu tergolek seorang wanita berbaju hitam.
Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai. Wajahnya yang cantik dan putih
mulus itu terlihat pucat
Gadis itu membuka kelopak matanya sedikit, menampakkan bola matanya yang redup
dan tanpa gairah. Bibirnya yang pucat, bergetar membentuk senyuman yang teramat
dipaksakan. Wanita itu memang tidak lain dari Putri Rajawali Hitam. Sedangkan
burung rajawali hitam raksasa, mendekam di samping pembaringan. Kepalanya
diletakkan di samping wanita Itu.
"Khrrrk...!" Rajawali Hitam mengkirik lirih. Sepasang bola matanya memandang
sayu pada Putri Rajawali Hitam.
"Jangan sedih, Hitam. Aku pasti sembuh," lemah sekali suara Putri Rajawali
Hitam. "Khraghk!"
"Tidak, Hitam. Kau tidak boleh meminta bantuan pada Rajawali Putih. Aku tidak
ingin bertemu lagi dengan Pendekar Rajawali Sakti. Kau harus bisa merasakan
perasaanku, Hitam,"
ada nada kesenduan pada suara Putri Rajawali Hitam.
Setetes air bening menggulir dari sudut mata yang sayu Itu.
Putri Rajawali Hitam buru-buru menghapus air matanya. Dia tidak ingin mengenang
masa-masa manisnya bersama Pendekar Rajawali Sakti. Masa-masa yang sebenarnya
sangat dirindukannya untuk terulang kembali.
Rajawali Hitam menggosok-gosokkan kepalanya di dada wanita itu. Sedangkan Putri
Rajawali Hitam memeluknya dengan perasaan haru. Dia tahu kalau Rajawali Hitam
juga terkenang dengan pasangannya.
Dan perasaan mereka memang sama. Tapi Putri Raja' wali Hitam tidak ingin
memanjakan perasaannya, meskipun saat ini sebenarnya membutuhkan pertolongan
untuk menyembuhkan luka-luka dalam d] tubuhnya. Luka yang mengandung racun
lemah, namun dapat membuatnya tewas pelahan-Iahan.
"Ya! Aku tahu, Hiiam. Tapi aku tidak ingin mereka mengetahui tentang diriku,"
pelan suara Putri Rajawali Hitam.
"Krrrkh...!"
"Aku akan berusaha menyembuhkan diriku sendiri. Jangan khawatir, Hitam. Aku
pasti bisa sehat kembali seperti semula."
Putri Rajawali Hitam berusaha bangkit, tapi hanya mampu untuk duduk saja. Itu
pun sudah membuatnya banjir keringat Belum lagi tubuhnya yang terasa begitu
panas. Kepalanya pening, dan matanya berkunang-kunang. Tapi Putri Rajawali Hitam
memaksakan diri untuk bersemadi
Baru saja Putri Rajawali Hitam menyalurkan hawa mumi, mendadak seluruh tubuhnya
bagai terbakar! Tiba-tiba saja dia memuntahkan darah kental kehitaman dua kali.
Putri Rajawali Hitam tidak bisa lagi mengendalikan dirinya, lalu ambruk terkulai
di atas pembaringan. Dadanya bergerak cepat dengan napas tersengal. Keringat
semakin banyak membasah: seluruh tubuhnya.
"Oh..., aku tidak mampu lagi. Racun ini sudah menguasai seluruh aliran
darahku...," keluh Putri Rajawali Hitam lirih.
"Khrrrkh...!" Rajawali Hitam mengkirik lirih.
Putri Rajawali Hitam hanya bisa mengeluh panjang. Matanya semakin sayu menatap
burung raksasa Mu. Tapi tiba-tiba burung itu bergerak keluar. Dia ingin mencegah
Rajawali Hitam pergi, tapi seluruh tubuhnya terasa lemas dan lidahnya jadi kaku.
Rajawali Hitam sudah melesat pergi meninggalkan suara berkaokan keras memekakkan
telinga. "Apakah aku harus bertemu lagi dengan Rangga..." Ah...!
Tidak, dia tidak boleh tahu siapa diriku," desah Putri Rajawali Hitam lirih.
Pada saat yang sama, Rajawali Putih tengah melayang terbang di angkasa bersama
Rangga yang berada di punggungnya. Setiap hari mereka mengangkasa untuk mencari
Rajawali Hitam yang pergi membawa wanita berbaju hitam bernama Putri Rajawali
Hitam. Di samping itu, dia juga berharap bisa bertemu dengan Kalaban.
Rangga telah merasakan hebatnya ilmu olah kanuragan yang dimiliki Kalaban ketika
bentrok dengan laki-laki itu. Setiap pukulan, apalagi tongkat peraknya,
mengandung hawa racun yang bekerja lambat, tapi sangat berbahaya dan dapat
mematikan. Waktu itu Putri Rajawali Hitam beberapa kali terkena pukulan dan
sabetan tongkat Kalaban (Untuk lebih jelasnya, silakan baca serial Pendekar
Rajawali Sakti dalam kisah "Sepasang Rajawali"). Dan Rangga sudah dapat menduga
kalau saat ini Putri Rajawali Hitam pasti membutuhkan bantuan untuk mengeluarkan
racun yang mengendap di dalam tubuhnya.
"Rajawali Putih, ke mana lagi kita harus mencari?" tanya Rangga. Ada nada
keputusasaan di dalam suaranya.
"Khraghk!" Rajawali Putih menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kita turun dulu di sana!" usul Rangga.
Rajawali Putih segera meluruk turun ke arah sebuah bukit kecil yang ditunjuk
Pendekar Rajawali Sakti Itu. Sebentar dia berputar mengelilingi bukit itu,
kemudian mendarat lunak di sebelah Selatan. Tempat yang tidak curam dan
terlindung oleh lebatnya pepohonan. Rangga melompat turun dari punggung rajawali
raksasa itu. Sebentar dia menggeliat-geliatkan tubuhnya, mengusir rasa pegal
karena hampir setengah harian duduk di punggung Rajawali Putih. Pinggangnya
seperti mau patah saja.
"Rajawali, sebaiknya kau kembali saja ke Lembah Bangkai.
Biar aku sendiri saja yang mencari pasanganmu Itu," kata Rangga mengusulkan.
"Khraghk...!"
'Tidak. Aku tidak mungkin melukainya. Aku hanya ingin meminta agar dia
menjauhimu," kata Rangga bisa mengerti perasaan Rajawali Putih.
"Krrrhk...!"
"Iya, aku janji."
Rajawali Putih mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah memekik keras, dia
melesat tinggi ke angkasa. Sebentar saja sudah jauh membumbung, kemudian lenyap
tak berbekas ditelan gumpalan awan. Sementara Rangga masih berdiri memandang
sekitarnya. Pandangan Pendekar Rajawali Saku itu tertuju langsung ke arah kaki bukit sebelah
Selatan. Tampak sebuah perkampungan kecil dan kelihatan sepi. Rangga mengayunkan
kakinya menuruni bukit menuju ke perkampungan itu. Langkahnya tenang, tidak
terburu-buru. Namun bola matanya tidak lepas mengamari keadaan sekitarnya.
"Hm..., ada perambah hutan di sana." gumam Rangga begitu melihat seorang lakilaki tua dan seorang anak gadis kecil sedang memunguti ranting-ranting kering
yang kemudian ditumpuk dan dikumpulkan di situ.
Rangga menghampiri perambah hutan itu. Di situ sudah ada dua ikat ranting kering
yang sudah berdiri, dan masih banyak lagi yang bertumpuk. Gadis kecil itu
mengikat ranting-ranting dengan kulit kayu, ataupun dengan sulur yang banyak
terdapat di sekitar hutan bukit ini. Laki-laki tua bertubuh kurus itu mengangkat
kepalanya setelah Rangga dekat
"Banyak perolehannya, Pak?" tegur Rangga ramah.
"Oh! Lumayan, Den. Hari ini cerah, jadi cukup lumayan juga mendapatkan kayu
bakar," sahut laki-laki tua itu.
"Hm..., boleh aku tanya, Pak?"
"Tentu saja, Den."
"Apa nama bukit ini?"
"Bukit Kiambang, Den...," sahut perambah hutan itu.
"Rangga, Pak. Namaku Rangga," Rangga memperkenalkan diri mendengar nada suara
perambah hutan itu seperti ingin tahu.
"O..., Den Rangga h mau ke mana?" tanya perambah hutan itu.
"Aku seorang pengembara, Pak. Jadi tidak ada tujuan yang pasti."
Perambah hutan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bola matanya yang kecil mengaman Pendekar Rajawali Sakti dari ujung kepala
sampai ke ujung kaki. Sepertinya sedang menilai penampilan pemuda di depannya
ini. Sedangkan gadis kecil yang mengikat ranting, menghampiri perambah hutan
itu. "Sudah banyak, Yah. Pulang yuk...?" ajak gadis kecil itu.
"Oh, iya..., iya. Permisi, Den," ucap perambah hutan itu.
"Sebentar, Pak. Mari kubantu," kata Rangga.
"Tidak usah, Den."
Tapi Rangga tidak peduli dengan penolakan itu.
Langsung saja diangkat dua ikat ranting yang cukup besar, dan dipanggulnya di
pundak. Sedangkan laki-laki tua itu
memanggul yang seikat lagi. Gadis kecil itu menenteng bekal makanan yang
terbungkus kain kumal.
"Wah, Den Rangga ini kuat sekali. Bapak jadi tidak enak,"
ujar perambah hutan itu yang berjalan di samping Rangga.
"Tidak apa-apa, Pak. Pekerjaan ini sering kulakukan," kata Rangga seraya
memberikan senyum. "Adik kecil ini, siapa namanya?" tangan Pendekar Rajawali
Saka itu mengusap kepala gadis kecil yang berjalan di depannya.
"Namaku Seruni, Kang," jawab gadis kecil itu polos.
"Seruni...!" rungut perambah hutan itu.
'Tidak apa-apa, Pak. Aku suka dipanggil Kakang, daripada sebutan untuk orang
bangsawan."
"Tapi, Den...."
."Panggil saja Rangga, Pak," pinta Rangga ramah.


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ah...," perambah hutan itu hanya mendesah. "Kalau begitu kau bisa memanggilku
Ki Biran."
Rangga tersenyum lebar dan mengangguk sedikit, lalu menggamit tangan gadis kecil
itu dan menggandengnya. Gadis Itu kelihatan senang, seraya melangkah lincah di
samping Pendekar Rajawali Sakti. Meskipun memanggul dua ikat ranting yang cukup
banyak, tapi Rangga tidak kelihatan lelah. Bahkan mampu mengikuti Seruni yang
berlari-lari menuju desa di Kakll Bukit Kiambang ini.
"Hm..., pemuda itu begitu sopan. Pasti seorang pendekar golongan putih...,"
gumam Ki Biran dalam hati.
*** 2 Ayam jantan berkokok saling bersahutan menyambut datangnya sang mentari pagi.
Desa Kiambang yang semalam lelap terselimut kabut, mulai bangkit dan hidup
kembali. Di depan rumah Ki Biran, terlihat Rangga sibuk membelah kayu bakar.
Sejak Rangga tinggal di pondok kecil itu, persediaan kayu bakar Ki Biran tidak
pernah kurang, bahkan sepetak ladang di belakang rumah sudah dipaculi, dan
ditanami tanaman palawija.
"Kang Rangga! Istirahatlah dulu...!" terdengar suara kecil dari arah belakang.
Rangga menoleh, tampak Seruni menghampiri sambil membawa kendi dan sepiring
pisang goreng. Rangga menerimanya dengan bibir tersungging senyuman. Dia
mengambil satu dan minum air langsung dari dalam kendi tanah liat itu. Seruni
tampak tersenyum senang.
"Kau yang buat sendiri pisang goreng ini, Seruni?" tanya Rangga.
"Habis, siapa lagi" Setiap hari aku yang masak, mencuci, dan membersihkan
rumah," Seruni menyombong.
"Bagus! Pisang gorengnya enak. Boleh minta satu lagi?"
"Nih!" Seruni menyodorkan piring kayu. Rangga mengambil sebuah pisang goreng
lagi yang masit mengepulkan uap panas.
"Semua juga tidak apa-apa. Kang."
"Jangan ah! Nanti ayahmu tidak kebagian."
"Jangan khawatir, Kang. Buat Ayah, sudah ku siapkan, kok."
"Kau sendiri?"
"Ini...!"
Rangga tertawa melihat Seruni mengambil sepotong pisang goreng dan langsung
memasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Pipi gadis kecil itu jadi menggembung,
sehingga kelihatan wajahnya lucu. Mereka tidak tahu kalau dari balik jendela, Ki
Biran memperhatikan sejak tadi. Namun terlihat sepasang bola matanya merembang
berkaca-kaca. Tiga hari Rangga berada di rumah ini, dan selama itu pula hubungannya dengan
Seruni bertambah akrab. Dan tampaknya Seruni begitu menyukai Rangga, bahkan
menganggapnya seperti kakak kandung sendiri. Seperti pagi ini, mereka bersenda
gurau dan bercanda begitu riangnya. Diam-diam Rangga sekilas menangkap adanya
seseorang di balik jendela rumah itu.
"Sebentar, Seruni," kata Rangga, seraya menurunkan gadis kecil itu dari
pangkuannya. Seruni hanya bisa memandang tanpa berkata-kata lagi.
Sementara Rangga melangkah menghampiri jendela yang terbuka lebar. Ki Biran yang
tidak menyadari akan kedatangan Rangga, buru-buru menghapus air matanya. Rangga
agak terkejut juga melihat laki-laki tua itu seperti habis menangis.
Dia kini berdiri di depan Jendela.
"Ada apa, Ki" Mengapa' menangis?" tanya Rangga.
"Tidak..., tidak apa-apa. Aku hanya terkenang saja," sahut Ki Biran agak
tergagap. "Terkenang...?" Rangga melirik Seruni yang telah asyik bermain boneka kayunya.
"Ah, sudahlah. Lupakan saja, Rangga," Ki Kran mengelak.
Rangga ingin bertanya lagi, tapi laki-laki tua itu sudah berbalik dan
meninggalkannya. Sesaat Pendekar Rajawali Sakti itu berdiri termangu menatap ke
dalam rumah melalui depan jendela. Hatinya berkata, pasti ada sesuatu yang
tersembunyi di dalam diri Ki Biran, Mustahil laki-laki tua itu menangis tanpa
sebab. Rangga mengalihkan pandangannya pada Seruni, dan gadis kecil itu
kebetulan menoleh padanya.
"Ayo kita main lagi, Kakang...!"ajakSeruniriang.
Rangga tersenyum dan melangkah menghampiri. Seruni berlari-lari kecil menuju ke
bagian samping kanan pondok ini.
Rangga mengikuti, namun pikirannya masih tertuju pada Ki Biran. Tapi begitu
berada di samping kanan rumah, pendengarannya yang tajam mendengar suara
pertengkaran di samping kiri rumah.
"Hm.... Sepertinya suara Ki Biran...," gumam Rangga dalam hati.
Belum sempat Pendekar Rajawali Sakti itu berpikir lebih jauh, mendadak terdengar
suara jeritan melengking. Seketika itu juga Rangga melompat melewati atap rumah,
langsung meluruk turun ke samping kiri rumah itu Dan pada saat yang bersamaan,
terlihat sebuah bayangan merah berkelebat cepat, langsung menghilang di balik
lebatnya pepohonan.
"Ki...!" Rangga terkesiap begitu melihat Ki Biran telah tergeletak. Darah
mengucur deras dari dadanya.
"Ayah...!" tiba-tiba saja Seruni muncul.
Rangga menoleh, dan menggamit tubuh gadis kecil itu.
Seruni berusaha berontak sambil menjerit-jerit memanggil ayahnya. Agak kewalahan
juga Pendekar Rajawali Sakti menghadapi Seruni yang histeris. Tidak ada jalan
lain lagi buat Rangga. Ditotoknya jalan darah gadis kecil itu, sehingga Seruni jatuh terkulai
tak berdaya. "Ki...!" Rangga bergegas menghampiri Ki Biran setelah merebahkan Seruni di
tempat yang teduh.
Ki Biran masih bisa bernapas, meskipun darah semakin banyak keluar dari dadanya
yang berlubang. Rangga berusaha menghentikan darah dengan meno-tok jalan darah
di sekitar luka Itu. Tampak wajah Ki Biran demikian pucat: Dipindahkannya lakilaki tua itu ke tempat yang teduh, dan dibaringkan di balai-balai bambu.
"Ki...," pelan suara Rangga.
"Rangga..., tolong selamatkan Seruni...," ucap Ki Biran lirih.
"Bertahanlah, Ki. Aku akan berusaha menyelamatkanmu,"
ujar Rangga. "Percuma. Rasanya aku tak kuat lagi. Jaga Seruni.... Bawa dia pergi jauh-jauh
dari sini. Tolong, Rangga. Antarkan pada bibinya yang tinggal dekat Lembah
Neraka...."
"Ki...!"
Rangga menarik napas panjang. Sedangkan Ki Biran langsung menghembuskan napasnya
yang terakhir. Darah yang keluar begitu banyak, dan totokan Rangga hanya
sementara saja sifatnya. Darah kembali mengucur tidak tertahankan lagi.
Sebentar dipandangi-tubuh Ki Biran yang dingin, tidak bernyawa lagi, kemudian
dihampirinya Seruni yang masih tergolek tidak sadarkan diri akibat totokan pada
jalan darahnya.
"Ayah...!" Seruni kontan melompat begitu Rangga membuka totokan ya.
Gadis kecil itu menangis menggerung-gerung memeluk mayat laki-laki tua yang
selama ini merawat dan
membesarkannya. Sementara Rangga hanya terpaku memandang. Sebentar menarik napas
panjang dan berat, lalu memandang ke sekelilingnya. Mendadak keningnya jadi
berkerut melihat beberapa penduduk desa ini hanya menonton dari jarak yang cukup
jauh. Tidak ada seorang pun yang datang menghampiri.
"Hm..., aneh! Mereka seperti ketakutan," gumam Rangga dalam hati.
Orang-orang yang berada di kejauhan itu memang menyiratkan wajah ketakutan.
Jumlah mereka semakin banyak, tapi tidak ada seorang pun yang menghampiri.
Bahkan tidak ada kata-kata yang terdengar. Keadaan yang aneh ini membuat Rangga
jadi bertanya-tanya dalam hati. Sementara Seruni masih menangisi kema-tian
ayahnya. "Kakang...," lirih suara Seruni. Gadis itu menoleh memandang Rangga.
Seruni berlari dan memeluk Pendekar Rajawali Sakti itu.
Tidak ada yang dapat dilakukan Rangga selain membalas pelukan itu. Dibiarkan
saja gadis kecil itu menumpahkan air matanya dalam pelukannya. Entah kenapa,
seketika saja dia jadi kehilangan kata-kata. Lidahnya terasa kelu, sulit untuk
digerakkan. Hanya tangannya saja membelai lembut kepala Seruni.
*** "Kita akan ke mana, Kakang?" tanya Seruni yang berjalan di samping Rangga.
"Ke Lembah Neraka," sahut Rangga.
Saat itu mereka sudah jauh meninggalkan Desa Kiambang.
Hampir satu harian berjalan, tapi hanya sekali mereka berhenti
untuk beristirahat sambil mengisi perut Dan kelihatannya Seruni sudah teramat
letih. Keringat mengucur deras dari wajahnya yang kemerahan.
Rangga mengajak gadis kecil itu berhenti setelah tiba di tepi sebuah sungai
kecil. "Kakang...," pelan suara Seruni. Kakinya sengaja dimasukkan ke dalam air sungai.
"Ada apa, Seruni?" tanya Rangga seraya duduk di samping gadis kecil itu. Batu
yang mereka duduki cukup besar, dan agak menjorok ke dalam sungai
"Mau apa kita ke Lembah Neraka?" tanya Seruni polos.
"Entahlah. Aku hanya menuruti pesan ayahmu, yang mengatakan bahwa tempat tinggal
bibimu tidak jauh dari lembah itu," sahut Rangga.
"Bibi...!?" Seruni mengerutkan keningnya. Tampaknya terkejut mendengar dirinya
masih mempunyai seorang bibi.
"Iya, kenapa?" tanya Rangga.
"Ayah tidak pernah bilang kalau aku punya Bibi. Di mana letaknya Lembah Neraka
itu, Kakang?"
Rangga tidak segera menjawab, karena bingung harus menjawab apa. Sedangkan dia
sendiri belum tahu, di mana letak Lembah Neraka. Mendengar namanya saja baru
kali ini. Dan sebelum berangkat, dia memang sudah bertanya pada penduduk Desa Kiambang.
Tapi tidak ada seorang pun yang bersedia mengatakan letak Lembah Neraka. Dan
setiap kali Rangga bertanya, kelihatannya mereka malah ketakutan.
Rangga sendiri jadi heran akan sikap para penduduk desa itu.
"Masih jauh letaknya, Kakang?" tanya Seruni lag setelah melihat Rangga diam
saja. "Mudah-mudahan tidak," sahut Rangga pelan.
"Kakang kok tidak yakin?"
"Seruni... Aku sendiri tidak tahu di mana letak Lembah Neraka itu. Mendengar
namanya saja baru kali ini. Itu pun dari ayahmu sebelum meninggal," jelas Rangga
terpaksa berterus terang.
"Ayah tidak mengatakan letaknya?" Seruni jadi penasaran.
"Tidak," sahut Rangga. "Ayahmu hanya berpesan saja agar aku membawamu ke sana.
Hanya itu."
Seruni terdiam menunduk. Gadis kecil itu seperti tengah berpikir. Sementara
Rangga segera membasuh mukanya dengan air sungai. Setelah dirasakan cukup segar,
dia mengangkat wajahnya, dan langsung menatap Seruni yang masih merenung.
"Ada apa, Seruni?" tanya Rangga lembut.
"Tidak ada apa-apa, Kakang. Aku hanya...," Seruni memutuskan ucapannya.
"Hanya apa?" desak Rangga.
"Aku hanya sedikit heran akan sikap Ayah," pelan sekali suara gadis kecil itu.
"Heran kenapa?" Rangga semakin ingin tahu.
Meskipun Seruni masih berusia sekitar delapan atau sembilan tahun, tapi
kelihatan sangat cerdik. Cara berpikirnya seperti sudah berusia belasan tahun
saja. Mungkin dari cara hidup yang menuntutnya harus berpikir lebih dewasa dari usia
sebenarnya. Dan Rangga bisa menangkap ada sesuatu di dalam diri gadis kecil ini.
"Selama ini aku tidak tahu siapa ibuku. Dan setiap kali kutanyakan tentang Ibu,
Ayah selalu mengelak. Bahkan Ayah tidak pernah menceritakan kalau punya saudara.
Dalam sehari-hari, aku dilarang bermain-main bersama teman sebayaku.
Setiap hari harus ikut Ayah mencari kayu bakar ke hutan, berburu, menyediakan
makanan, dan berlatih ilmu silat Aku tidak punya teman seorang pun, Kakang,"
Seruni seperti mengeluh.
Rangga agak terkejut juga mendengar keluhan gadis kecil ini. Dirapatkan
duduknya, lalu dipeluknya Seruni dengan hangat Hatinya tersentuh mendengar
cerita Seruni. Sama sekali tidak disangka kalau kehidupan gadis kecil ini begitu
keras! Jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak seusianya. Bahkan sepertinya
terlalu dipaksakan untuk lebih cepat dewasa.
Memang beberapa kali Rangga melihat Ki Biran mengajarkan jurus-jurus ilmu olah
kanuragan pada gadis kecil ini. Dan menurutnya, Ki Biran terlalu keras dalam
mendidik Seruni.
Memang patut diakui kalau cara berpikir dan segala tindakan Seruni tidak seperti
bocah kecil lagi. Seharusnya dia belum bisa dibebani dengan segala macam
kewajiban yang tidak semestinya. Namun demikian, ilmu olah kanuragan yang
dimiliki Seruni, sudah cukup untuk melawan sepuluh orang anak seusianya. Bahkan
yang lebih besar darinya sekalipun belum tentu dapat mengalahkannya. Di dalam
tubuh gadis kecil ini memang mengalir suatu tenaga dalam murni yang jarang
dimiliki oleh anak-anak lainnya. Dan ini memang harus dikembangkan.
"Ayo, jalan lagi," ajak Rangga setelah cukup lama mereka beristirahat "Mudahmudahan kita menemukan desa sehingga bisa bertanya, jalan menuju ke Lembah
Neraka." Seruni mengangguk, dan mereka kembali meneruskan perjalanan. Dalam hari, Rangga
bertekad untuk menemukan
Lembah Neraka, dan menyerahkan Seruni pada bibinya di sana.
Dia ingat, masih ada satu pekerjaan lagi yang belum terselesaikan.
*** Tiga hari Rangga dan Seruni berjalan keluar masuk hutan, akhirnya baru hari ini
menemukan sebuah perkampungan yang cukup besar dan ramal Melihat keadaannya,
tidak pantas kalau perkampungan ini disebut desa. Tempat ini lebih pantas kalau
dinamakan sebuah kota kecil Suasananya begitu ramai, dan rumah-rumahnya juga
bagus-bagus. Rangga memutuskan untuk tinggal beberapa hari di desa yang bernama Desa Sendir
ini. Letaknya memang persis di Kaki Gunung Sendir. Pendekar Rajawali Sakti itu
memilih penginapan yang tidak begitu besar.
Dia mendapatkan sebuah kamar yang jendelanya langsung menghadap ke jalan.
Pemilik rumah penginapan ini seorang perempuan setengah baya bertubuh gemuk,
sehingga menampakkan lehernya yang berlipat-lipat
Rumah penginapan ini tidak begitu ramai. Ada sekitar sepuluh kamar yang
disewakan. Tapi hanya tiga kamar saja yang terisi. Seruni kelihatan senang
karena bisa tidur di pembaringan lagi, setelah selama tiga hari terpaksa harus
tidur di alam terbuka. Bahkan pemah Juga tidur di dalam goa yang mereka temukan
dalam perjalanan. Gadis kecil itu segera naik ke pembaringan. Mungkin perjalanan
yang panjang ini sangat melelahkan, sehingga dia langsung jatuh tertidur begitu
naik ke pembaringan.
"Kasihan..., kelihatannya dia letih sekali," gumam Rangga memandangi gadis kecil
itu. Rangga baru saja menyelimuti Seruni ketika pintu kamar sewaannya diketuk dari
luar. Sebentar dia menoleh ke arah pintu, kemudian melangkah mendekati. Seorang
wanita muda berwajah cantik telah berdiri di depan pintu ketika Rangga
membukanya. Wanita itu memberikan senyum seraya menganggukkan kepalanya sedikit
Rangga membalasnya dengan anggukan kepala juga, tapi sempat pula memperhatikan
wanita Itu. "Ada keperluan apa?" tanya Rangga ramah.
"Tidak," sahut wanita itu kalem.
Kening Rangga berkerut juga mendapat jawaban seperti itu.
Mau apa wanita ini mengetuk pintu kalau tidak ada perlunya"
Dan belum lagi Rangga bisa menjawab pertanyaan yang terbetik dalam hatinya,
wanita berbaju biru muda itu telah melangkah masuk. Rangga! hanya dapat
menggeser kakinya ke samping. Namun matanya tak berkedip memperhatikan tingkahlaku wanita itu.
"Kudengar di sini ada seorang pemuda menyewa kamar dengan seorang gadis kecil,"
kata wanita itu seraya memandang Seruni yang tetap pulas.
"Siapa kau?" tanya Rangga mulai curiga melihat pedang yang tergantung di
pinggang gadis itu.
"Namaku Gita Raka," wanita itu memperkenalkan diri dengan sikap tenang.
"Aku, Rangga. Apa maksudmu datang ke sini?"
Sekarang, wanita yang mengaku bernama Gita Raka itu hanya tersenyum saja,
kemudian duduk di tepi pembaringan.
Tangannya yang berjari lentik, mengusap-usap kening Seruni.
Bibirnya yang selalu merah, tidak lepas menyunggingkan
senyuman manis, kemudian beralih pada Pendekar Rajawali Sakti.
"Siapa nama anakmu?" Gita Raka malah bertanya.
"Seruni," sahut Rangga tidak keberatan wanita itu menyangka Seruni adalah
anaknya. "Nama yang cantik, secantik orangnya. Kau tentu bahagia mempunyai anak secantik


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu " 'Terima kasih," ucap Rangga. "Aku selalu iri melihat kebahagiaan orang lain,
tapi tidak pernah membenci orang yang berbahagia. Yah..., kebahagiaan memang
bisa datang dengan cepat, tapi juga bisa hilang secepat datangnya kebahagiaan
itu sendiri," kata Gita Raka seraya bangkit dan melangkah ke jendela.
'Nisanak, apa maksudmu berkata demikian?" kecurigaan Rangga semakin mendalam.
Rangga jadi teringat akan kelebatan bayangan merah bersamaan dengan terlukanya
Ki Biran yang nenyebabkan kematiannya. Sampai saat ini dia tidak tahu, siapa
pembunuh laki-laki tua yang baik hati itu. Dan sekarang muncul seorang wanita
yang bersikap mencurigakan sekali. Wanita yang mengaku bernama Gita Raka ini
juga mengenakan baju merah, meskipun warnanya merah muda. Sedangkan Rangga saat
Itu tidak melihat jelas bayangan yang berkelebat cepat itu.
"Aku tidak bermaksud buruk padamu. Lebih-lebih pada gadis kecilmu itu. Aku hanya
ingin memperingatkanmu saja," masih terdengar tenang kata-kata Gita Raka.
"Nisanak...."
Belum iagi Rangga dapat meneruskan kata-katanya, mendadak sebatang tongkat
berwarna keperakan melesat
masuk dari jendela. Kalau saja Gita Raka tidak cepat-cepat berkelit, tongkat itu
pasti bisa menembus ke tubuhnya. Tongkat keperakan itu menancap tepat di dinding
kamar sewaan ini.
Rangga bergegas melompat. Dia ingin keluar, tapi niatnya diurungkan mengingat
keselamatan Seruni
Gita Raka melompat menghampiri tongkat kecil keperakan itu, lalu mencabutnya
dari dinding. Ada gulungan daun lontar terikat pita merah pada tongkat perak
itu. Gita Raka menyerahkannya pada Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu
menerimanya, dan segera membuka ikatan pita merahnya.
"Jangan campuri urusanku. Serahkan gadis cilik itu!"
Rangga membaca sebaris kalimat yang tertulis pada daun lontar itu.
Pendekar Rajawali Sakti itu memandang ke luar melalui jendela yang terbuka.
Tidak ada yang patut dicurigai di luar sana. Begitu banyak orang di depan rumah
penginapan ini, hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing. Pandangan pemuda
itu beralih pada Gita Raka.
"Penderitaan mulai datang. Hati-hatilah," kata Gita Raka kalem.
"Heh...!" Rangga terperanjat
Tapi belum sempat Pendekar Rajawali Sakti itu minta penjelasan, Gita Raka sudah
melesat keluar lewat jendela kamar yang terbuka lebar. Rangga tidak bisa
mencegah lagi Wanita misterius itu sudah lenyap, bercampur dengan orang yang
memadati jalan di depan sana.
"Aneh.... Siapa dia...?" Rangga bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Kembali dibacanya tulisan bernada mengancam pada daun lontar, kemudian
dipandangi tongkat pendek sepanjang jengkal jari tangan itu. Rangga semakin
tidak mengerti dengan persoalan yang sedang dihadapinya sekarang. Semua kejadian
begitu cepat datangnya, dan tidak sempat disadari. Sebentar kemudian
pandangannya beralih pada Seruni Gadis kecil itu masih tidur lelap.
"Hm..., ada apa dengan Seruni" Siapa yang menginginkannya" Untuk apa...?" macammacam pertanyaan bergalut di benak Rangga. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak
mudah untuk dijawab. Kini Rangga sadar. Bukan saja sukar menemukan Lembah
Neraka, tapi juga harus menjaga keselamatan Seruni. Kini hanya satu keterangan.
Ada orang yang menginginkan Seruni. Tapi, siapa" Dan untuk apa..."
*** 3 Hanya satu hari Rangga berada di Desa Sendir yang keadaannya sudah menyerupai
sebuah kota. Memang sengaja ditinggalkan desa itu secepatnya, karena sudah
dirasakan tidak aman lagi untuk Seruni, gadis kecil yang harus diselamatkan dari
incaran seseorang. Rangga sendiri belum tahu, untuk apa orang itu menginginkan
Seruni. Pagi-pagi sekali, di saat matahari belum terbit penuh, Rangga sudah mengajak
Seruni meninggalkan rumah penginapan itu. Mereka berjalan menuju ke arah Gunung
Sendir bagian Selatan. Dalam keremang-an cahaya matahari, Gunung Sendir terlihat
begitu angker. Kabut tebal pun menyelimuti seluruh puncaknya. Belum begitu
banyak orang yang terlihat kecuali beberapa saja yang sudah berada di depan
rumahnya. Mereka hanya melirik saja pada dua orang yang berjalan di pagi buta
itu "Kakang, katanya akan lama di sini. Kok sudah pergi lagi?"
tanya Seruni polos.
"Kita harus cepat sampai di Lembah Neraka, Seruni," sahut Rangga lembut-. Dia
kasihan juga melihat gadis kecil ini begitu lelah dan masih mengantuk.
"Apa Bibi mengenaliku, Kakang?" tanya Seruni, ragu-ragu nada suaranya.
"Tentu! Bibimu pasti mengenali dan bersedia menerimamu,"
jawab Rangga membesarkan hati gadis kecil itu
"Benarkah itu, Kakang?" Seruni meminta kepastian.
Rangga hanya tersenyum dan mengusap kepala gadis kecil itu. Tapi kelihatannya
Seruni belum puas, dan masih ragu-ragu apakah bibinya bersedia menerimanya.
Sedangkan selama ini dia belum pernah tahu, apalagi melihatnya. Baru sekarang
Seruni tahu kalau masih punya saudara.
Mereka terus berjalan tanpa berbicara lagi Sementara matahari semakin terik
memancarkan sinarnya. Mereka semakin jauh meninggalkan Desa Sendir, dan kini
sudah memasuki hutan di Lereng Gunung Sendir. Hutan yang tidak begitu lebat,
sehingga tidak menyulitkan Rangga untuk mengajak jalan Seruni. Sepanjang
perjalanan, perhatian Rangga tidak lepas ke wajah gadis kecil yang berjalan di
sampingnya. Jelas sekali kalau Seruni tidak menikmati perjalanan ini.
Wajahnya selalu mendung, tidak memancarkan sinar kegairahan. Ayunan kakinya
lambat, dan selalu menundukkan kepalanya. Rangga yang tidak tahan melihat
kemurungan gadis
kecil itu, segera berhenti melangkah dan menggamit pundak Seruni.
"Kau sedih, Seruni?" tanya Rangga lembut
'Tidak," sahut Seruni seraya menggeleng lemah.
Dicobanya menatap bo!a mata Rangga, tapi sinar matanya begitu redup tak
bercahaya. "Wajahmu begitu murung. Aku tahu kau menyimpan sesuatu. Katakanlah, Adik Manis.
Apa yang kau pikirkan...?"
bujuk Rangga lembut.
Seruni hanya menggeleng saja, kemudian melangkah lagi.
Rangga hanya memperhatikan saja dengan hati diliputi berbagai macam perasaan dan
pertanyaan. Sejak meninggalkan rumah penginapan tadi, Seruni kelihatan murung
dan tidak bersemangat lagi menempuh perjalanan ini. Rangga yakin kalau gadis
kecil itu memiliki suatu beban yang membuatnya murung.
"Seruni...," panggil Rangga seraya mengejar.
Seruni menghentikan langkahnya, tapi tidak membalikkan tubuhnya. Rangga berdiri
di depan gadis kecil itu, kemudian berlutut dan menggenggam pundak Seruni
Ditatapnya dalam-dalam gadis kecil itu, tapi yang ditatap malah menundukkan
muka. "Ada apa, Seruni..?" desak Rangga lembut.
Seruni tidak langsung menjawab, tapi malah mengangkat mukanya dan langsung
menatap ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu. Bibirnya yang kecil masih
terkatup rapat, namun bola matanya terlihat merembang. Setitik air bening
menggulir di pipinya yang halus kemerahan. Rangga tersentak
kaget melihat Seruni menangis. Dihapusnya air mata yang menggulir itu dengan
ujung jarinya. "Kakang..," suara Seruni tercekat di tenggorokan Rangga semakin tidak mengerti.
Dibiarkan saja gadis kecil itu memeluk dan menangis sesenggukan di bahunya.
Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Tidak tahu, apa yang
mesti dilakukan. Baru kali ini dia mendapatkan seorang bocah kecil yang begitu
malang. Dan kini bocah itu menangis dalam pelukannya, tanpa diketahui apa
sebabnya. "Seruni...," halus sekali Rangga melepaskan pelukan gadis kecil itu
Lembut sekali Pendekar Rajawali Sakti itu menghapus titik-titik air bening di
pipi yang halus kemerahan. Namun Seruni masih sesenggukan, sedangkan air matanya
terus berlinang tidak henti-hentinya. Rangga mengajaknya duduk di sebuah pohon
tumbang. Sebuah pohon besar menaungi mereka dari sengatan terik matahari. Agak
lama juga Seruni baru bisa tenang. Namun sesekali masih terdengar isaknya.
*** Untuk beberapa saat lamanya Rangga masih belum bisa menemukan kata-kata yang
tepat untuk mengungkap sikap Seruni yang aneh. Menangis tanpa lelas penyebabnya.
Sementara gadis kecil itu masih terdiam. Sesekali masih terdengar isaknya.
Dengan punggung tangannya, dihapus sisa-sisa air mata yang membekas di pipinya.
"Kau sudah tenang, Seruni?" tanya Rangga Iembut Seruni tidak menjawab, tapi
malah menoleh dar menatap pemuda di sampingnya. Sepasang bola matanya masih
terlihat merembang. Raut wajahnya masih terlihat mendung.
"Ada apa...?" tanya Rangga lembut
"Kakang! Benarkah aku punya Bibi di dekat Lembah Neraka?" tanya Seruni seraya
menatap dalam ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.
"Ayahmu yang mengatakan begitu," sahut Rangga ragu-ragu.
"Kakang percaya?" tatapan mata Seruni semakin dalam.
Rangga benar-benar terperanjat mendengar pertanyaan itu, sehingga membuatnya
berdiri dan menatap tajam ke bola mata gadis kecil itu. Pertanyaan Seruni
barusan mengisyaratkan kalau gadis kecil itu mengetahui letak Lembah Neraka, dan
ingin kejelasan maksud ayahnya mengirimkannya ke sana.
Rangga semakin tidak mengerti akan gadis kecil ini. Macam-macam pertanyaan
berkecamuk di benaknya.
"Seruni, apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Rangga.
"Sejak kecil aku tidak tahu siapa ibuku. Aku diperlakukan Ayah seperti seorang
tawanan saja. Tidak boleh bermain bersama anak-anak lain, tidak boleh pergi
sendirian. Bahkan diharuskan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat dan berlatih
ilmu olah kanuragan setiap hari. Setiap orang yang melihatku, selalu memandang
penuh kebencian. Apa Kakang tidak memperhatikan sikap penduduk Desa Kiambang
ketika Ayah meninggal?"
Untuk kesekian kalinya Rangga tersentak Kata-kata Seruni begitu lancar, bagaikan
air sungai mengalir. Kata-kata Itu seolah-olah membangunkan Pendekar Rajawali
Sakti dari tidur panjangnya. Terus terang, dia memang memperhatikan sikap para
penduduk Desa Kiambang, tapi tidak pernah berpikir sampai ke situ. Dan rupanya
Seruni lebih jeli dan tajam perasaannya.
"Seruni, ceritakan semuanya tentang diri dan ayahmu," pinta Rangga lembut
membujuk. "Sudah kuceritakan semuanya," sahut Seruni polos.
"Benar. Tapi, ada yang kau sembunyikan, bukan?" tebak Rangga langsung.
Gadis kecil itu masih juga diam.
"Katakan, Seruni. Kenapa berpura-pura tidak tahu" Katakan saja yang menjadi
ganjalan di hatimu sekarang. Aku pasti akan membantumu," desak Rangga berjanji.
"Benar Kakang bersedia membantuku?" Seruni ingin meyakinkan.
"Aku janji," mantap suara Rangga.
Gadis kecil itu kembali diam. Sepertinya sedang mempertimbangkan janji Rangga
padanya. Sebentar dia menarik napas panjang, kemudian berdiri dan melangkah
perlahan-lahan. Rangga masih tetap diam memperhatikan
"Ayo, Kakang. Kita ke Lembah Neraka " ajak Seruni tanpa menoleh. Kakinya yang
kecil terus terayun melangkah.
Rangga mengangkat bahunya, kemudian men-sejajarkan ayunan kakinya di samping
kanan gadis kecil itu. Namun ketika mereka berjalan tidak seberapa jauh,
mendadak sebuah cahaya keperakan berkelebat cepat bagai kilat ke arah pemuda
itu. "Hup!"
Rangga langsung melompat cepat seraya menggamit tubuh Seruni. Begitu indahnya
gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu, sehingga cahaya keperakan itu melesat
mengenai sasaran yang kosong. Rangga berjumpalitan dua kali di udara sebelum
kakinya menjejak tanah dengan indahnya. Diturunkan gadis kecil yang berada di
ketiaknya. "Berlindung di sana," perintah Rangga seraya menunjuk sebongkah batu besar.
Seruni segera berlari menuju ke batu yang ditunjuk Pendekar Rajawali Sakti.
Namun belum juga mencapai batu itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan merah
ke arah Seruni. Sesaat Rangga terperangah, namun bagaikan kilat melesat hendak
menyambar tubuh gadis kecil itu.
Namun gerakan Rangga terlambat hanya sekejapan mata saja. Tiba-tiba saja tubuh
Seruni sudah lenyap, bersamaan dengan lenyapnya bayangan merah itu Sekilas
Rangga masih melihat bayangan merah itu melesat masuk ke dalam hutan.
"Hup, hiyaaa...!"
Seketika itu juga Rangga melesat mengejar disertai pengerahan ilmu meringankan
tubuh. Ilmunya sudah mencapai taraf kesempurnaan, sehingga tubuhnya bergerak
bagaikan kilat saja. Namun sayangnya, bayangan merah itu tetap tidak terlihat
lagi. Rangga menghentikan pengejarannya. Sebentar dia mendongak ke atas, lalu
tubuhnya melenting tinggi ke atas.
Manis sekali kakinya hinggap di salah satu cabang pohon yang paling tinggi.
Sambil mengerahkan aji 'Tatar Netra', Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan
pandangannya berkeliling. Namun sejauh mata memandang, hanya kehijauan dan
kelebatan hutan yang tampak. Tidak sedikit pun terlihat adanya kelebatan
bayangan merah. Bayangan merah itu bagaikan lenyap ditelan bumi.
Baru saja Rangga akan melompat turun, mendadak terlihat gerumbul semak bergerakgerak tidak jauh darinya. Dengan mengerahkan aji 'Tatar Netra', diperhatikan
gerumbul semak itu. Dan terlihatlah sesosok tubuh mengendap-endap di antara
gerumbul semak belukar Itu.
"Gita Raka...," desis Rangga, ketika mengenali orang yang mengendap-endap di
gerumbul semak itu. "Ha.., apa yang dikerjakannya di sini...?"
Rasa penasaran yang meliputi dirinya, membual Pendekar Rajawali Sakti itu
melesat turun ke bawah. Tubuhnya melayang cepat bagai seekor burung rajawali,
langsung menuju ke arah gerumbul semak itu.
"Oh...!"
"Gita...!"
*** Gita Raka terkejut sekali begitu tiba-tiba Rangga muncul di depannya, sehingga
sampai terlonjak ke belakang beberapa langkah. Wajahnya pucat bercampur merah.
Namun begitu mengenali siapa yang tiba-tiba muncul, wajahnya langsung berubah
biasa kembali. Bahkan dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Apa yang kau kerjakan di sini?" tanya Rangga langsung.
"Kau sendiri,..?" Gita Raka malah balik bertanya.
"Aku bertanya padamu, Gita!" rungut Rangga sengit.
Gita Raka tidak menggubris rungutan bernada membentak itu, tapi malah
mengedarkan pandangannya berkeliling.
Keningnya agak berkerut, kemudian menatap langsung ke bola mata pemuda di
depannya. "Mana Seruni?" tanya Gita Raka lagi.
"Jangan berlagak bodoh, Nisanak! Seharusnya akulah yang bertanya seperti itu
padamu!" bentak Rangga semakin sengit.
Rasa curiga pada wanita berbaju merah muda itu membuat dirinya berkeyakinan
bahwa Gita Raka-lah yang membawa kabur Seruni ladi.
"Apa yang terjadi terhadap Seruni?" Gita Raka malah bertanya tajam. Tatapan
matanya begitu menusuk.
Rangga terhenyak mendengar pertanyaan bernada ketus bercampur kecemasan Itu.
Kelopak matanya agak menyipit melihat tatapan mata yang begitu tajam menusuk ke
arahnya. "Aku tidak percaya kalau kau tidak tahu apa yang terjadi,"
nada suara Rangga masih terdengar penuh kecurigaan, meskipun dalam hatinya mulai
diliputi kebimbangan dengan wanita berbaju biru muda itu.
"Aku tidak main-main, Rangga. Apa yang terjadi pada Seruni?" agak membentak
suara Gita Raka.
"He...!?" Rangga terkejut
"Oh, Dewata Yang Agung.... Ternyata apa yang selama ini kucemaskan akan terjadi
juga. Seruni..., maafkan aku...," keluh Gita Raka seraya mendongak ke atas.
Rangga semakin terhenyak tidak mengerti akan sikap Gita Raka. Mendadak saja
wanita itu berubah, dan mengeluh lirih.
Siapa sebenarnya wanita berbaju merah muda ini" Dan apa hubungannya dengan
Seruni" Kelihatannya Gita Raka begitu menyesali akan kejadian yang telah menimpa
diri gadis kecil itu.
Dan belum lagi Rangga dapat menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk dalam
benaknya, Gita Raka tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan menangis
sesenggukan. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Sedangkan Rangga hanya
terpaku tidak mengerti terhadap sikap wanita itu. Saat ini rasanya dia tengah
dihadapkan pada satu kejadian yang sukar untuk dipahami.
Semua yang terjadi dan dilihatnya sungguh sulit dimengerti.
Semua orang yang ditemui menyimpan sesuatu, dan sikapnya
pun sungguh aneh! Sebentar marah, sebentar sedih, dan sebentar kemudian sudah


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bergembira lagi. Pertama Rangga sudah bingung akan sikap Seruni. Dan kini, dia
juga harus menghadapi sikap Gita Raka yang sama sekali tidak dimengerti.
Apa sebenarnya yang tengah terjadi" Rangga menepuk lembut pundak Gita Raka.
Kepala wanita itu pelahan-lahan terangkat naik. Tampak air mata berlinangan
membasahi seluruh wajahnya.
"Ada apa ini..." Kenapa semua orang yang kujumpai menjadi aneh begini?" Rangga
mengeluh agak kesal
"Rangga, tolong katakan di mana Seruni" Katakan, apa yang terjadi pada anak
itu?" pinta Gita Raka setelah dapat menenangkan diri.
"Katakan dulu, siapa kau sebenarnya" Mengapa begitu mencemaskan Seruni?" Rangga
balik mendesak.
'Tolonglah aku, Rangga. Apa yang terjadi pada Seruni" Di mana dia...?"
Rangga menarik napas panjang-panjang. Gita Raka benar-benar mencemaskan keadaan
Seruni. Bahkan terus mendesak tanpa bersedia mengatakan siapa dirinya yang
sebenarnya, meskipun Rangga sudah mendesaknya"Baiklah...," desah Rangga mengalah. "Saat ini, aku tidak tahu di mana Seruni
berada. Dia tiba-tiba saja menghilang. Aku sudah berusaha mengejar dan
mencarinya, tapi Seruni dan bayangan merah itu seperti lenyap ditelan bumi."
"Oh...," Gita Raka mengeluh panjang.
"Sekarang katakan, siapa kau sebenarnya, dan ada hubungan apa dengan Seruni?"
kini berbalik Rangga yang mendesak.
Gita Raka tidak langsung menjawab, tapi malah beranjak bangkit dan berbalik.
Pelahan-lahan kakinya terayun melangkah menuju ke sebuah batu yang tidak begitu
besar, kemudian duduk menjuntai di atas situ. Rangga masih berdiri memperhatikan
dengan sikap menunggu tidak sabar.
"Hhh...!" lagi-lagi Gita Raka menarik napas panjang dan berat.
*** "Sembilan tahun aku menunggu...," Gita Raka mulai membuka suara. "Waktu yang
tidak pendek. Sekarang, setelah semua yang kutunggu hampir terlaksana, kini
malah berentakan. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mereka sudah
mendapatkannya lebih dahulu, dan tidak mungkin aku dapat melihatnya lagi," ada
nada keluhan pada suara Gita Raka.
Rangga serius mendengarkan, kemudian duduk di sebatang pohon yang miring hampir
rubuh. Pandangannya tidak terlepas pada wanita berbaju merah muda di depannya.
Sementara Gita Raka menghapus air matanya yang masih menitik.
"Aku sangat menyayanginya, tapi tidak kuasa untuk memilikinya. Dan sekarang
mereka telah memilikinya secara paksa. Tidak ada harapan lagi untukku melihat
Seruni...," Gita Raka kembali menangis.
"Gita..., apakah kau ibunya Seruni?" tanya Rangga menebak.
Gita Raka menggeleng lemah. Kembali dihapus air matanya.
Dia mencoba menenangkan diri kembali dengan menarik napas dalam-dalam,
"Lantas, siapa kau sebenarnya?" desak Rangga.
"Aku adik kandung ibunya," sahut Gita Raka pelan, hampir tidak terdengar
suaranya. "Jadi...!" suara Rangga terputus di tenggorokan.
"Kedua orang tua Seruni sudah tiada, dan sejak bayi Ki Biran-lah yang
mengasuhnya. Aku tidak menduga kalau laki-laki tua itu sangat mengasihi Seruni,
bahkan mengangkatnya sebagai anak," ujar Gita Raka, mulai tenang nada suaranya.
"Kau sudah tahu itu, mengapa tidak mengambil dan merawatnya?" tanya Rangga.
'Tidak semudah itu, Rangga. Ki Biran adalah saudara sepupu Eyang Girindra,
seorang tokoh tua yang sangat digdaya dan tinggal di Puncak Gunung Sendir. Ki
Biran memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan aku tidak bisa menandinginya.
Lebih-lebih harus menandingi Eyang Girindra. Tidak ada seorang pun yang mampu,
Rangga." "Hm..., aneh juga.... Kenapa sebelum dia meninggal justru ingin agar aku
memberikan Seruni pada bibinya yang tinggal di dekat Lembah Neraka?" Rangga
seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Ki Biran menyadari kalau selama ini hanya diperbudak kakak sepupunya. Dia tahu
kalau Eyang Girindra adalah tokoh beraliran hitam, makanya Seruni berusaha
dipertahankannya.
Tapi dia tidak mampu menandingi kepandaian sepupunya itu."
"Jadi..., kau tahu kejadian di rumah Ki Biran?" agak terkejut juga Rangga
mendengarnya. "Benar! Saat itu aku berada tidak jauh dari rumah itu Dan memang sudah beberapa
hari ini aku mengamatinya. Ya..., sejak kau datang. Maaf, Rangga. Semula
kusangka kau adalah orang suruhan Eyang Girindra untuk menculik Seruni. Itulah
sebabnya kenapa kau kubuntuti terus hingga sampai ke sini.
Sekarang aku yakin kalau kau tidak bermaksud jahat pada Seruni setelah anak itu
mengatakannya padaku."
Untuk kesekian kalinya Rangga terperangah kaget.
Sama sekali tidak disangka kalau Seruni pernah ber hubungan dengan Gita Raka.
Rangga mencoba meng ingat-ingat saat Seruni tidak berada dalam pengawasannya.
Ya..., dia ingat! Saat di rumah penginapan!! Ketika itu tengah malam Seruni
terbangun dan minta diantarkan ke belakang. Katanya, akan buang air. Rangga
mengantarkannya sampai di pintu belakangi rumah penginapan.
Hanya di situ saja dia terpisah dari Seruni, dan waktunya pun tidak terlalu
lama. Dan rupanya kesempatan itu digunakan Gita Raka untuk menemuinya. Itu
berarti Seruni memang sudah mengenal wanita ini. Sekarang Rangga jadi mengerti,
mengapa Seruni menangis tanpa diketahui sebabnya. Rupanya gadis kecil itu sudah
menyadari kalau dirinya dalam keadaan bahaya, dan tidak yakin dapat sampai ke
Lembah Neraka. "Kenapa saat itu kau tidak membawanya saja, Gita?" tanya Rangga ingin tahu.
"Tidak! Aku tidak mungkin bisa membawa Seruni ke tempat tinggalku di dekat
Lembah Neraka. Di sana bukan tempatku lagi. Ada orang lain yang kini menguasai
tempat itu. Bahkan telah membunuh guruku."
'Tapi kau bisa membawa Seruni ke mana saja kau suka, bukan?"
'Terlalu berbahaya, Rangga. Aku harus menemukan suatu tempat yang aman lebih
dahulu, dan sementara itu aku juga harus membuntutimu sambil mencari tempat
untuk tinggal kami. Ada tiga orang anak buahku yang kini sedang mencari tempat
tinggal vang aman dari tidak pernah dimasuki orang."
"Aneh juga kau ini, Gita. Kau belum mengenal betul siapa diriku, tapi sudah
begitu mempercayaiku,' kembali Rangga bergumam seperti bicara pada dirinya
sendiri. 'Tidak aneh, Rangga. Aku tahu, kau seorang pendekar digdaya tanpa tanding yang
sudah sangat ternama. Kau bergelar Pendekar Rajawali Sakti...."
"He! Dari mana kau tahu?" Rangga terlonjak kaget.
"Semua orang yang bergelimang dalam rimba persilatan pasti sudah bisa
mengenalimu, meskipun belum pernah melihatnya secara langsung. Pendekar Rajawali
Sakti selalu memakai baju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di
punggung. Masih muda, gagah, dan selalu berkata lembut bagai seorang bangsawan.
Semua itu ada pada dirimu, Rangga. Meskipun kau memperkenalkan dirimu pada
diriku dengan nama Rangga, tapi aku sudah tahu siapa kau sebenarnya."
Rangga hanya bisa mengangkat bahunya. Memang
disadarinya kalau nama Pendekar Rajawali Sakti sudah demikian kondang. Hampir
semua orang sudah pernah mendengar sepak terjangnya dalam dunia persilatan.
Namun begitu, dia masih juga merasa kaget kalau masih ada orang yang
mengenalinya. Padahal, Rangga belum memperkenalkan dirl
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rangga.
"Aku tidak tahu. Sekarang aku tidak lagi punya tempat tinggal, sedangkan Seruni
juga sudah terlepas lagi dari tangan...," ada nada keluhan dalam suara Gita
Raka. "Kenapa tidak kau coba untuk merebut kembali"' usul Rangga.
"Percuma...," Gita Raka menggeleng-gelengkatn kepalanya.
"Percuma..."! Kenapa?"
"Aku tahu siapa yang mengambil Seruni. Mustahil untuk dapat memperolehnya
kembali," ujar Gita Raka, putus asa.
"Kau sayang pada Seruni, Gita?"
"Ya, tentu saja aku sangat menyayanginya," sahut Gita Raka cepat. "Sejak dulu
diam-diam aku selalu menemui Seruni Bahkan gadis itu selalu mengharapkan agar
aku bisa membawanya pergi. Tapi...."
"Kenapa?"
"Kalaupun Seruni bisa kudapatkan kembali, Eyang Girindra pasti tidak akan
tinggal diam. Kalau bukan dia yang turun sendiri untuk merebutnya, pasti muridmuridnya. Hhh..., guru dan murid sama-sama bejad!"
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah mengerti sekarang persoalannya.
Hanya saja yang belum bisa dipahami, untuk apa mereka saling memperebutkan
Seruni" Dan selagi mendapat pertanyaan itu dalam benaknya, mendadak di angkasa terdengar
suara mendesir yang begitu cepat, dan disusul berkelebatnya sebuah bayangan
hitam besar. Ketika Rangga mendongak ke atas, sekelebatan, terlihat sebuah benda hitam besar
melayang di angkasa. Keningnya jadi berkerut melihat benda hitam itu melesat
cepat bagaikan kilat Meskipun hanya sekejapan mata saja, namun Pendekar Rajawali
Sakti itu sudah bisa menangkap jelas bentuk bayangan hitam itu.
"Rajawali Hitam...," desisnya dalam hati.
*** 4 "Gita, kembalilah ke Desa Kiambang atau ke Desa Sendir.
Akan kubawa Seruni kembali padamu. Maaf, aku tidak punya waktu lagi...!" kata
Rangga cepat-cepat.
"Heh...!"
Belum lagi Gita Raka sempat berkata, Rangga sudah melesat cepat meninggalkannya.
Begitu cepatnya Pendekar Rajawali Sakti itu pergi, sehingga dalam sekejap saja
bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki Rangga memang sudah mencapai taraf kesempurnaan, sehingga kecepatan
berlarinya untuk diikuti mata biasa.
Rangga berlompatan dari satu puncak pohon ke puncak pohon lain. Sedangkan
pandangan matanya tidak lepas ke arah bayangan hitam yang melayang tinggi di
angkasa. Dengan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya, Pendekar Rajawali
Sakti itu berusaha mengikuti benda hitam yang dilihatnya, dan dikenalinya
sebagai Rajawali Hitam, pasangan Rajawali Putih tunggangannya.
"Hm..., dia terbang sendirian. Di mana Putri Rajawali Hitam...?" gumam Rangga
bertanya dalam hatinya sendiri.
Dengan menggunakan aji 'Tatar Netra', Rangga mampu melihat jelas Rajawali Hitam.
Memang, di punggung burung rajawali raksasa itu tidak ada penunggangnya.
Pendekar Rajawali Sakti itu terus berlompatan dengan kecepatan penuh, mengikuti
arah yang dituju Rajawali Hitam.
"Khraghk...!"
Rajawali Hitam rupanya mengetahui kalau dirinya diikuti Dia menoleh dan langsung
berbalik dengan cepat. Bagaikan kilat,
burung raksasa itu meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Tentu saja hal
ini membuat Rangga terkejut setengah mati. Namun dengan sigap dia melentingkan
tubuhnya, meluruk ke bawah sambil berlompatan menghindari terjangan burung
raksasa itu. "Hup...!"
Manis sekali Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya di tanah. Kalau saja
tidak cepat-cepat menghindar tadi, pasti tubuhnya remuk terlanda burung raksasa
itu. Namun kini Rangga jadi tertegun karena Rajawali Hitam malah mendekam dengan
kepala hampir merunduk menyentuh tanah.
"Khrrrk...!" Rajawali Hitam mengkirik pelahan.
"Hm.... Apa yang kau inginkan dariku, Rajawali Hitam?"
tanya Rangga bergumam. Namun kedengarannya seperti bertanya pada dirinya
sendiri. "Khrrr...!" kembali Rajawali Hitam mengkirik lirih.
Rangga memperhatikan kepala burung raksasa yang bergerak-gerak ke atas dan ke
bawah secara pelahan, lalu menoleh ke belakang dan kembali menjulur ke depan.
Sepasang sayapnya dikepak-kepakkan, sehingga menimbulkan suara angin menderu
keras. "Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi kalau kau bermaksud tidak baik padaku, jangan
harap aku akan diam saja, Rajawali Hitam," kata Rangga setengah mengancam.
"Grahk...!" Rajawali Hitam menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rangga kembali memperhatikan gerak-gerak kepala burung raksasa itu. Keningnya
agak berkerut, berusaha untuk dapat menangkap maksudnya. Agak sukar juga untuk
memahaminya. Tapi, sedikit banyak, setiap gerakan dan suara yang dikeluarkan hampir mirip
dengan Rajawali Putih. Tentu saja Rangga sedikit demi sedikit bisa memahaminya.
"Hm..., kau membutuhkan pertolonganku. Apa ini bukan hanya jebakan saja?" Rangga
masih tetap curiga.
"Khraghk!"
"Baiklah. Tapi kalau kau berniat buruk, aku tidak segan-segan membunuhmu,
Rajawali Hitam."
"Grahk...!"
"Pergilah dulu, aku akan mengikutimu."
Rajawali Hitam mengegoskan kepalanya ke belakang, dan mematuki punggungnya
sendiri. Rangga bisa mengerti kalau burung raksasa itu menginginkan agar dirinya
naik ke punggungnya. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu berpikir, tapi
kemudian melompat juga ke punggung Rajawali Hitam.
"Khraghk...!"
Dengan beberapa kali kepakan sayap saja, Rajawali Hitam sudah membumbung tinggi
ke angkasa. Dan Rangga terpaksa berpegangan erat pada leher burung raksasa itu.
Kalau biasanya dia menunggang burung Rajawali Putih, tapi kali ini menunggang
pasangannya, Rajawali Hitam! Rangga tidak mau lagi banyak bicara. Rajawali Hitam
terus terbang dengan cepat menuju ke satu arah yang belum pernah dikenalnya.
Kecepatan terbang Rajawali Hitam sungguh luar biasa.
Dalam waktu yang tidak berapa lama, sudah berada di atas sebuah lembah yang
sangat aneh. Lembah itu seluruhnya berwarna merah bagai terbakar. Pohon, batu,
dan tanah di lembah itu semuanya berwarna merah! Udaranya pun sangat panas
menyengat. Rangga tidak tahu, apa nama lembah itu.
Lembah yang sangat aneh. Di sekelilingnya tidak ida kejanggalan. Pohon-pohon
tetap berwarna hijau pada daunnya.
Bahkan begitu subur dan rapat. Hanya lembah itu saja yang berwarna merah bagai
terbakar. Kening Rangga agak berkerut begitu merasakan Rajawali Hitam menukik
turun, dan makin berkerut lagi begitu melihat sebuah bangunan besar dan megah.
Letaknya di tengah-tengah sebuah danau yang ada di lembah itu.
*** "Khraghk...!" Rajawali Hitam berkaokan keras.
"Hup!" Rangga melompat turun sebelum kaki R jawali Hitam menyentuh dasar lembah
itu. Sejenak Pendekar Rajawali Sakti itu memandangi bangunan di depannya. Sebuah
bangunan yang sangat besar dengan daun pintu dan jendela yang juga besal
ukurannya. Bangunan yang seluruhnya berwarna merah ini bagaikan sebuah istana
yang dihun raksasal Dan anehnya, letaknya tepat berada di tengah-tengah danau
yang airnya juga berwarna merah. Asap tipis mengepul dari permukaan danau itu.
Kreeek...! Rangga sempat menahan napas juga saat pintu berukuran sangat besar di depannya
terbuka sendiri Rajawali Hitam segera melenggang masuk ke dalam. Sementara
Pendekar Rajawali Sakti itu masih tetap berdiri tak bergeming. Dan baru saja
kakinya akan melangkah, terdengar suara dari dalam.
Suara yang lembut dan begitu halus.
"Kau sudah datang, Rajawali Hitam?"
"Khrrr...!"
"Sudah kukatakan, tidak ada gunanya mencari Pendekar Rajawali Sakti. Dia tidak
akan bisa menyembuhkan lukaku ini...."
Sementara Rangga yang masih berada di luar, hanya mendengarkan saja. Dia kini
tahu kalau Putri Rajawali Hitam ada di dalam, dan dalam keadaan terluka.
Dugaannya sudah pasti, wanita itu membutuhkan pertolongan untuk menyembuhkan
lukanya. Tapi ini membuat Rangga ragu-ragu, karena belum yakin kalau Putri
Rajawali Hitam berada di dalam golongan putih.
Namun Rangga segera teringat dengan salah satu ajaran Pendekar Rajawali, yang
dibacanya dari buku peninggalan tokoh besar yang hidup seratus tahun lalu "u.
Sebagai seorang pendekar, menolong orang lemah adalah satu kewajiban.
Lebih-lebih jika orang itu dalam keadaan terluka dan benar-benar membutuhkan
pertolongan. Dalam menolong tidak boleh memandang apakah dia itu orang jahat
atau orang baik, apakah itu orang berada atau orang tidak punya.
Setiap pertolongan, pasti mendapatkan balasan. Dan tidak boleh menyesal jika
tidak menerima balasannya. Pendekar sejati tidak selayaknya mengeluh akan
balasan. Ada satu kalimat yang tidak pernah terlupakan Rangga sampai saat ini.
"Jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.
Membantu seseorang bukan untuk mengharapkan imbalan...."
Mengingat semua itu, hati Rangga menjadi mantap. Maka diayunkan kakinya memasuki


Pendekar Rajawali Sakti 22 Sabuk Penawar Racun di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bangunan besar bagai istana raksasa itu. Sejenak dia tertegun begitu melewati
ambang pintu. Tampak Rajawali Hitam mendekam di samping sebuah ranjang besar dan
indah. Di atas ranjang itu tergolek lemah seorang wanita berwajah cantik dan
pucat. Wanita itu masih mengenakan baju hitam ketat. Sebuah cadar hitam tipis
tergolek di sampingnya. Rangga mengenali wanita Itu, dan ini yang membuatnya
terpaku. "Intan Kemuning...," tanpa sadar Rangga mendesis.
"Oh...!" wanita cantik
yang tergolek di atas
pembaringan itu terkejut
Buru-buru diambil
cadar hitam di sampingnya, tapi Rangga
sudah menghampiri dan
keburu mengenali
wajahnya. Wanita yang
memang Intan Kemuning
Itu tidak jadi menutupi
wajahnya dengan cadar
hitam. Kini Rangga
sudah berdiri di samping
pembaringan besar itu.
Hampir tidak dipercaya
dengan apa yang dilihatnya kini.
Sukar untuk dipercaya. Wanita yang selama ini menjadi beban pikirannya, ternyata
amat dikenalnya. Dia itu putri seorang patih yang telah membuat suasana Kerajaan
Galung jadi porak-poranda (Untuk lebih jelasnya, bacalah serial Pendekar
Rajawali Sakti, dalam
aw kisah "Sepasang Raj
ali"). "Kakang...," lemah sekali suara Intan Kemuning.
Gadis itu berusaha bangkit rapi keadaan rubuhnya demikian lemah. Rangga buruburu mencegah, lalu duduk di tepi pembaringan. Tanpa diketahui, Rajawali Hitam
menyingkir ke luar. Mungkin burung raksasa ingin memberi kesempatan pada dua
manusia itu untuk berdua saja.
"Kau terluka, Intan?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.
"Ya...," lirih sekali jawaban Intan Kemuning. Rangga menjulurkan tangannya, dan
memeriksa tubuh gadis itu.
Keningnya agak berkerut setelah mengetahui kalau di dalam tubuh Intan Kemuning
telah menjalar sejenis racun yang sangat lambat kerjanya, namun mematikan! Hanya
saja yang membuat Rangga sukar untuk mengerti, racun yang mengendap di dalam
aliran darah gadis itu sukar dicari obatnya. Rangga yang mengerti akan segala
macam jenis racun dan kebal pada segala racun, bisa cepat mengetahui jenis racun
itu. Tapi, dia tidak berani mengobati lewat penyaluran hawa murni atau
pengobatan lain yang biasa digunakan untuk mengeluarkan racun dari tubuh
seseorang. Racun jenis ini hanya bisa punah oleh orang yang melepaskannya.
Obatnya pun hanya satu! Itu pun hanya dimiliki oleh orang yang memiliki jenis
racun mi juga. "Apakah yang melukaimu Kalaban, Intan?" tanya Rangga yang sebenarnya sudah tahu
kalau gadis itu luka akibat pukulan Kalaban.
"Benar, Kakang," sahut Intan Kemuning pelan. Rangga menarik napas panjang. Dia
tahu siapa orang yang disebutkan Intan kemuning. Pendekar Rajawali Sakti itu
juga pernah bentrok dengannya. (Memang saat itu Kalaban mengeluarkan suatu jurus
lyang mengandung hawa racun lemah, namun sangat dahsyat akibatnya. Saat itu
Rangga belum menyadari kalau Kalaban sempat melontarkan racun itu pada Intan
Kemuning yang menggunakan nama Putri Rajawali Hitam.
"Maafkan aku, Intan. Aku tidak bisa mengeluarkan racun di dalam tubuhmu. Hanya
Kalaban yang bisa, karena hanya dia yang mempunyai penawarnya. Tapi kau masih
mampu bertahan untuk beberapa hari," jelas Rangga.
"Oh...," Intan Kemuning mendesah lirih.
"Jangan khawatir. Intan. Akan kucari Kalaban dan meminta obat penawarnya. Kalau
perlu dengan cara paksa!" janji Rangga.
"Oh, Kakang.... Aku tidak tahu lagi harus berkata apa kepadamu. Aku selalu
membuatmu repot," keluh Intan Kemuning.
"Ah, sudahlah. Yang penting sekarang kau tetap berada di sini. Aku pasti kembali
membawa obat penawar itu.
Percayalah," Rangga meyakinkan.
"Terima kasih, Kakang. Seandainya kau gagal, aku sudah pasrah," ucap Intan
Kemuning. "Jangan putus asa, Intan. Kau bukan lagi Intan yang dulu kukenal. Kau sekarang
seorang pendekar wanita yang tangguh dan digdaya," Rangga membesarkan hati gadis
itu. "Aku bukan pendekar, Kakang. Jiwaku masih kotor. Aku menyesal telah berlaku
bodoh, sehingga membuat banyak orang menderita."
"Tapi apa yang kau perbuat juga tepat, Intan. Meskipun harus membayarnya dengan
mahal sekali. Aku kagum padamu."
"Oh, Kakang...."
Intan Kemuning tidak kuasa membendung rasa harunya.
Sejak meninggalkan Kerajaan Galung dan menetap di sini bersama Rajawali Hitam,
baru kali ini dia mendengar kata-kata lembut dan menyanjung. Biasanya yang
selalu didengar hanya caci maki dan sumpah serapah orang-orang yang menyesali
perbuatannya. Mengundang tokoh-tokoh rimba persilatan dan
mengajaknya bertarung dengan hadiah yang sebenarnya tidak perlu diucapkan.
Saat itu Intan Kemuning memang terlalu jumawa akan dirinya yang katanya telah
menguasai berbagai macam ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Dia jadi tinggi hati
dan menganggap kecil semua orang di matanya, sehingga berani mempertaruhkan
Istana Kerajaan Galung untuk sekedar memuaskan hatinya. Tapi semua kesombongan
itu terhenti saat mendapatkan lawan yang sangat tangguh dan akhirnya berhasil
mengalahkannya. Dia ingin mengingkari janjinya, dan melarikan diri sampai
dikejar-kejar anak buah Empat Bayangan Iblis Neraka dan Kalaban yang begitu
ingin memperistrinya.
Suatu saat, Intan Kemuning tidak bisa lagi lari dari kejaran Empat Bayangan
Iblis Neraka dan tokoh-tokoh hitam rimba persilatan yang pernah dikalahkannya
dalam pertarungan.
Terpaksa dihadapinya lawan-lawannya itu, namun dia kalah dalam pertarungan. Intan lebih memilih mati daripada harus menjadi istri
Kalaban, murid Empat Bayangan Iblis Neraka.
Gadis itu menceburkan diri ke dalam Lembah Ular Berbisa yang sangat ditakuti
semua orang. Namun maut rupanya belum menginginkan gadis itu. Seekor burung rajawali raksasa
menyelamatkan dan membawanya ke Lembah Neraka ini. Di lembah ini dia
menyembuhkan luka-lukanya dan memulihkan keadaan tubuhnya. Bahkan Rajawali Hitam
juga memberi jurus-jurus dan ilmu kesaktian yang cukup tinggi dan tangguh,
sehingga Intan Kemuning semakin tinggi tingkat kepandaiannya.
Sejak itulah selalu dikenakannya baju hitam dengan cadar menutupi wajahnya.
Intan Kemuning kemudian menggunakan nama Putri Rajawali Hitam. Dia kembali ke
Kerajaan Galung untuk membalas kekalahannya yang menyakitkan. Tapi rupanya hari
sial masih membuntutinya. Dia dapat dikalahkan
Kalaban, dan kini menderita dan dibayangi maut. Di Lembah Neraka ini Intan
Kemuning bisa mengetahui asal-usul burung Rajawali Hitam yang menolong dan
memberikannya ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Bahkan dia juga tahu kalau ada
rajawali raksasa lain di dunia ini. Semua itu diketahuinya dari buku-buku yang
dia sendiri tidak tahu siapa penulisnya. Semua buku itu didapatkan di dalam
bangunan istana megah ini
*** Kini Rangga sudah tahu siapa sebenarnya Putri Rajawali Hitam itu. Tokoh yang
sempat menggetarkan rimba persilatan bersama burung rajawali raksasa
tunggangannya. Seorang gadis cantik yang dulu dikenali dan sempat ditolongnya
dari cengkeraman Bidadari Sungai Ular. Namun sekarang gadis itu tengah
menghadapi maut yang jelas akan merenggut nyawanya secara pelahan-lahan. Tidak
ada pilihan lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti selain mencari Kalaban untuk
meminta obat penawar, akibat racun yang dilepaskannya pada Intan Kemuning atau
Putri Rajawali Hitam.
"Aku pergi dulu, Intan. Kau jangan kemana-mana sampai aku kembali," kata Rangga
berpamitan. "Kau akan ke mana, Kakang?" tanya Intan Kemuning.
"Mencari obat penawar racun untukmu," sahut Rangga.
"Jangan, Kakang! Terlalu berbahaya! Kau bisa celaka nanti,"
cegah Intan Kemuning. Dia tahu, siapa Kalaban itu. Lebih-lebih bila menghadapi
Eyang Girindra, guru dari Empat Bayangan Iblis Neraka, sekaligus gurunya Kalaban
yang tentu saja tingkat kepandaiannya sukar diukur.
Rangga hanya tersenyum saja dan menepuk punggung tangan gadis itu. Intan
Kemuning menggamit tangan Rangga dan menggenggamnya erat-erat, seakan-akan tidak
ingin dilepaskan lagi. Dengan sinar mata yang redup, ditatapnya langsung bola mata
Pendekar Rajawali Sakti. Terlalu banyak kata-kata yang terucapkan dari matanya,
namun sukar untuk dikeluarkan.
"Kakang...," pelan suara Intan Kemuning.
"Ya, ada apa?" lembut suara Rangga.
"Dulu Kakang pernah mengatakan kalau aku akan mendapatkan seorang pangeran.
Apakah itu benar, Kakang?"
ujar Intan tetap menggenggam tangan Rangga.
"Tentu. Kau tentu akan mendapatkannya," sahut Rangga seraya menelan ludahnya.
Rangga jadi ingat dengan kata-katanya sendiri pada gadis itu. Suatu kalimat yang
sebenarnya diucapkan hanya untuk menghibur, tapi malah membuat Intan Kemuning
berharap banyak padanya. Kini gadis itu seakan-akan menagih kata-kata yang
pernah diucapkan Pendekar Rajawali Sakti.
"Aku berharap pangeran itu ada di dekatku saat ini," kata Intan Kemuning pelan.
Lagi-lagi Rangga hanya mampu menelan ludahnya. Intan Kemuning memang cantik, dan
memiliki ilmu yang cukup tinggi.
Tapi bukan karena itu Rangga tidak dapat merjawab. Dia masih sulit untuk
melupakan Pandan Wangi, yang tewas di pelukannya. Gadis yang pertama kali
membuka pintu harinya.
Dan sekarang Rangga tidak bisa memberi harapan pada setiap gadis. Hatinya
seakan-akan telah tertutup rapat untuk gadis mana pun juga!
"Kau masih terlalu lemah, Intan. Istirahatlah dulu. Aku pasti kembali membawa
obat penawar racun itu," hanya itu yang bisa diucapkan Rangga.
"Kakang..."
"Ssst..., jangan terlalu banyak bicara. Kau harus menghemat tenaga," potong
Rangga cepat-cepat.
Intan Kemuning diam. Didekatkan tangan Pendekar Rajawali Sakti ke bibirnya.
Dengan lembut dikecup jari-jari tangan pemuda itu. Rangga membiarkan saja.
Apalagi ketika Intan Kemuning memekik tangannya erat-erat ke dada. Tidak
dipungkiri lagi, saat itu aliran darah Rangga seperti berbalik.
Dan jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Rangga tidak ingin berlarutlarut Dilepaskan tangannya dengan halus, lalu beranjak berdiri
"Aku pergi dulu, Intan," bisik Rangga lembut.
Intan Kemuning tidak menyahut. Namun dari sinar matanya yang redup, dia berharap
banyak pada Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga bergegas berbalik dan melangkah
keluar. Rajawali Hitam sudah menunggu di depan pintu bangunan megah bagai istana
raksasa itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi. Rangga bergegas melompat naik ke punggung
Rajawali Hitam. Tanpa diperintah lagi, burung raksasa itu melesat tinggi ke
angkasa. Namun baru saja melewati tepian Lembah Neraka, mendadak dia menukik
turun dengan deras. Rangga terkejut karena sayap Rajawali Hitam terkatup rapat.
Buru-buru dia melompat turun sebelum Rajawali Hitam mencapai tanah. Lalu, dengan
mengerahkan jurus 'Ekor Naga Melibat Gunung', disangganya tubuh Rajawali Hitam
sehingga tidak jatuh keras ke tanah.
"Khrrrhk...!" Rajawali Hitam mengkirik lirih. Rangga segera memeriksa tubuh
burung raksasa itu. Telihat ada luka memar pada bagian sayap kanannya. Dan luka
itu berwarna merah kebiruan. Rangga tahu kalau Rajawali Hitam juga terkena
pukulan beracun milik Kalaban.
"Kau juga terluka, Rajawali Hitam," desis Rangga.
"Khrrrkh...!"
"Sebaiknya kau kembali saja. Aku bisa memanggil Rajawali Putih," kata Rangga
lagi. Rajawali Hitam berusaha menggerakkan sayapnya, namun gerakannya sangat lemah dan
tidak bisa lagi membumbung ke angkasa. Rangga tahu kalau racun yang mengendap di
dalam tubuh Rajawali Hitam sudah meluas ke jaringan syarafnya.
Pedang Medali Naga 8 Pendekar Gila 1 Seruling Naga Sakti Bangau Sakti 36

Cari Blog Ini