Ceritasilat Novel Online

Badai Di Lembah Tangkar 1

Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar Bagian 1


1 Dua ekor kuda berpacu cepat menyusuri
lereng Gunung Randu. Mereka adalah seorang pemuda berwajah tampan dan seorang
gadis cantik. Baju pemuda itu rompi putih.
Pedangnya yang bergagang kepala burung,
tersampir di punggung. Pemuda itu menunggang seekor kuda hitam pekat berkilat yang
gagah dan tegap. Sedangkan yang gadis berbaju biru muda ketat. Sehingga, membentuk
tubuhnya yang ramping dan padat berisi. Di
balik sabuk warna emas yang melilit pinggangnya, terselip sebuah kipas baja putih.
Dan di punggungnya tersampir sebatang pedang bergagang kepala naga hitam.
Dari pakaian dan senjata yang tersandang, sudah dapat diketahui kalau mereka
adalah Rangga dan Pandan Wangi. Mereka lebih dikenal dengan gelar Pendekar Rajawali
Sakti dan si Kipas Maut.
Mereka memacu cepat kudanya menyusuri lereng gunung yang cukup terjal dan
berbatu. Matahari yang siang itu bersinar terik, sama sekali tak dirasakan.
Padahal kuda yang mereka tunggangi tampak kelelahan, ta-pi tetap saja dipacu
cepat. Tak peduli jalan yang dilalui semakin sulit dan terjal berbatu.
"Berhenti dulu, Kakang...!" seru Pandan
Wangi saat mereka baru saja melewati sebuah tikungan yang cukup tajam.
"Hooop...!"
Rangga langsung menghentikan lari kudanya, lalu berpaling menatap gadis di sebelah kanannya. Tampak keringat
membasahi wajah yang memerah dan leher jenjang gadis
itu. Sementara matahari sudah benar-benar
berada di atas kepala. Sinarnya begitu terik, seakan-akan hendak membakar semua
yang ada di permukaan bumi ini.
"Istirahat dulu sebentar, Kakang. Aku tidak ingin kuda kita mati kelelahan," pinta Pandan Wangi seraya melompat turun
dari punggung kuda. Rangga ikut turun dari punggung kudanya. Mereka kemudian menuntun kuda
masing-masing, mendekati sebuah sungai kecil yang mengalir jernih di antara bebatuan.
Mereka juga membersihkan diri dari debu dan membasahi tenggorokan yang sudah
begitu kering mencekik leher. Sementara kuda-kuda
itu mereguk air sungai yang jernih sepuaspuasnya. "Berapa lama lagi kita sampai, Kakang?"
tanya Pandan Wangi seraya menghempaskan
tubuh di bawah pohon yang hampir habis
daunnya. "Menjelang malam nanti," sahut Rangga,
tetap berdiri di dekat kuda.
"Apa sebenarnya yang terjadi di sana,
Kakang?" tanya Pandan Wangi lagi.
"Aku sendiri tidak tahu," sahut Rangga.
"Kau sudah baca suratnya...?"
"Sudah."
"Hanya itu saja yang tertulis. Tak ada
yang lainnya."
Pandan Wangi bangkit berdiri. Tubuhnya digerak-gerakkan sedikit.
"Sudah istirahatnya?" tanya Rangga.
"Bukan aku, tapi kuda-kuda itu yang
perlu istirahat," sahut Pandan Wangi. "Seharusnya kita bisa lebih cepat kalau
menung- gang Rajawali Putih."
"Tidak ada tempat turun untuk Rajawali
Putih, Pandan Wangi. Satu-satunya tempat
yang cukup hanya lembah itu. Sedangkan di
sana terlalu banyak orang. Dan aku tidak ingin membuat kegemparan."
"Aku heran. Biasanya orang-orang tidak
suka tinggal di lembah. Tapi mereka malah
mendirikan sebuah desa...," kata Pandan
Wangi agak menggumam, seolah-olah bicara
pada diri sendiri.
"Bukan desa, tapi kota," sergah Rangga
memberitahu. "Kota..."!" Pandan Wangi makin tercengang. "Kau akan tahu nanti kalau sudah sampai di sana, Pandan."
"Aneh... Ada sebuah kota di dalam lembah. Seperti apa kota itu, ya...?"
Rangga hanya tersenyum saja melihat
Pandan Wangi tampak kebingungan mendengar ada sebuah kota berdiri di lembah. Memang sulit bisa dipercaya. Karena biasanya, sebuah desa, apalagi sudah berbentuk
kota, berada jauh dari lembah. Atau biasanya juga, berada di kaki lereng gunung atau
bukit. Tapi yang akan mereka tuju sekarang ini sebuah
kota yang terletak di lembah.
"Ayo jalan lagi, Pandan," ajak Rangga seraya naik ke punggung kudanya.
Pandan Wangi segera melompat naik ke
punggung kuda putihnya. Mereka kembali
memacu kudanya, tapi kali ini tidak secepat tadi. Dan memang, jalan yang dilalui
semakin sulit saja. Mendaki dan penuh batu. Hingga
akhirnya, mereka baru bisa memacu cepat
kudanya setelah sampai di sebuah padang
rumput yang luas bagai tak bertepi.
*** Tepat seperti yang dikatakan Rangga,
saat matahari tenggelam di ufuk barat, mere-ka telah sampai di suatu lembah yang
sangat besar dan luas. Pandan Wangi hampir tidak
percaya kalau di dalam lembah itu berdiri sebuah perkampungan yang sangat besar.
Ban- gunan-bangunannya tidak kalah padat dan
indah dari sebuah kota kadipaten.
Kedua pendekar muda itu menjalankan
kudanya perlahan-lahan memasuki lembah.
Sementara malam terus merayap turun. Kegelapan kini menyelimuti sekitarnya. Tapi, lembah itu tampak terang benderang oleh
cahaya lampu pelita yang menyala di setiap rumah.
Rangga dan Pandan Wangi mulai memasuki
lembah, lalu melewati sebuah bangunan batu
yang merupakan gerbang masuk ke dalam kota di lembah itu. Tak terlihat seorang pun di sana. Dan mereka terus memacu
kudanya perlahan-lahan, tidak ingin menarik perhatian orang yang menghuni lembah ini.
"Kok sepi, Kakang...?" tanya Pandan
Wangi ketika mereka sudah berada di antara
rumah-rumah yang rata-rata berukuran cukup besar. Memang, sejak memasuki lembah ini
melalui gerbang, tak seorang pun dijumpai.
Keadaan kota di lembah ini begitu sunyi, bagai tak berpenghuni sama sekali.
Rangga juga merasakan hal yang sama. Kesunyian yang
begitu mencekam. Sepertinya, lembah ini menyimpan suatu teka-teki yang menantang untuk diungkapkan. Bahkan tak ada suara yang
terdengar. Hanya desir angin serta jerit binatang malam yang mengganggu gendang
telin- ga. "Di mana orang itu akan menemuimu,
Kakang?" tanya Pandan Wangi memecah kesunyian. "Seharusnya dia sudah ada sewaktu kita
masuk gerbang tadi," sahut Rangga.
"Jangan-jangan ini...."
Ucapan Pandan Wangi terputus ketika
tiba-tiba saja sebatang tombak panjang melesat cepat ke arah mereka, dan
langsung me- nancap tepat di depan kuda yang ditunggangi Rangga. Akibatnya, kuda hitam yang
bernama Dewa Bayu itu meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.
Pendekar Rajawali Sakti cepat melompat turun dari atas punggung kuda hitamnya, diikuti Pandan Wangi yang juga terkejut atas
datangnya tombak secara tiba-tiba itu.
Rangga menjulurkan tangannya meraih
tombak berwarna hitam pekat berukuran
panjang itu. Sesaat diperhatikannya tombak
yang bermata keperakan itu. Kemudian, matanya menatap lurus ke depan, ke arah tombak itu datang. Tak terlihat seorang pun di sekitarnya. Begitu sunyi, bahkan
suara jeng-kerik saja tak terdengar lagi. Seakan akan binatang-binatang malam
pun ikut merasakan
ketegangan ini. Perlahan Pandan Wangi melangkah mendekati Pendekar Rajawali Sakti,
lalu berdiri di samping kanannya. Pandangannya pun ikut beredar berkeliling.
"Kau dengar sesuatu, Pandan?" tanya
Rangga setengah berbisik, tanpa berpaling
sedikit pun pada gadis di sampingnya.
"Tidak," sahut Pandan Wangi. "Kau sendiri...?" "Akan kucoba menggunakan aji 'Pembeda Gerak dan Suara'," ujar Rangga agak bergumam. Tapi belum juga Rangga mengerahkan
ajiannya untuk mencari orang yang melemparkan tombak, mendadak saja dari arah depan berkelebat cepat sebuah bayangan putih.
Tahu-tahu di depan kedua pendekar muda itu
kini sudah berdiri seorang laki-laki berusia sekitar tujuh puluh tahun.
Laki-laki tua itu mengenakan baju jubah
putih berukuran panjang, dengan ikat kepala berwarna putih juga. Sebatang
tongkat dari kayu hitam dan berlekuk tak beraturan tergenggam di tangan kanannya. Sinar matanya
begitu bening, namun menyorot sangat tajam.
Angin yang bertiup agak kencang di sekitar
lembah ini membuat jubahnya yang putih dan
panjang berkibar menyibak, seakan-akan ingin memperlihatkan sebilah pedang yang tergantung di pinggang orang tua itu. Ukuran
pedang itu panjang, dan gagangnya berbentuk kepala ular.
"Siapa kalian"! Dan untuk apa kalian
datang ke Lembah Tangkar ini?" tanya orang
tua itu. Suaranya terdengar tajam dan berat sekali, namun bernada penuh wibawa.
"Aku Rangga, dan ini Pandan Wangi,"
sahut Rangga memperkenalkan diri. "Kami
datang ke lembah ini karena mendapat surat
dari seseorang untuk datang ke sini."
"Coba kulihat suratnya," pinta orang tua
itu sambil menjulurkan tangan kanan setelah memindahkan tongkat ke tangan
kirinya. Rangga merogoh tangannya ke balik sabuk ikat pinggang, lalu mengeluarkan sebuah surat yang tersimpan dalam
selongsong dari
bambu yang dihaluskan permukaannya. Diserahkannya surat itu kepada laki-laki tua di depannya. Sebentar orang tua
berjubah putih itu menatap Rangga dan Pandan Wangi, lalu
membuka tutup selongsong surat itu. Lalu
dikeluarkannya selembar daun lontar yang
tergulung rapi, diikat pita berwarna merah
darah. Kembali orang tua itu menatap Rangga
dan Pandan Wangi setelah membaca tulisan
di dalam surat daun lontar itu, kemudian
menggulungnya kembali dan mengikat dengan pita merah. Setelah memasukkan kembali
surat itu ke dalam selongsongannya, lalu dis-erahkannya kepada Rangga. Pendekar
Raja- wali Sakti menerimanya, dan menyimpan lagi
ke dalam sabuk ikat pinggang.
"Tidak ada gunanya kalian datang ke
lembah ini. Sebaiknya segera pergi, dan jangan datang-datang lagi ke sini,"
terasa begitu dingin nada suara laki-laki tua berjubah putih itu.
"Maaf. Boleh aku bertemu pengirim surat ini dulu...?" ujar Rangga meminta dengan hormat
"Tidak ada yang bernama Sudra di Lembah Tangkar ini. Kalian salah alamat jika datang ke sini. Pergilah segera,
sebelum terjadi sesuatu yang pasti tidak kalian inginkan,"
nada suara orang tua itu terdengar mengancam. Rangga mengangkat bahunya sedikit.
Matanya melirik Pandan Wangi yang berada
di sebelah kanannya. Gadis itu hanya diam
saja, dan juga mengangkat bahunya sedikit.
"Baiklah. Kami segera pergi. Maaf jika
kedatangan kami mengganggu," ucap Rangga
tetap sopan. "Hm...," orang tua berjubah putih itu
hanya menggumam kecil.
Rangga dan Pandan Wangi segera melompat naik ke punggung kudanya, dan segera cepat menggebahnya. Mereka kini meninggalkan perkampungan dalam Lembah Tangkar ini. Sementara orang tua berjubah putih itu masih berdiri tegak di tengahtengah jalan memandangi kedua pendekar muda itu yang
semakin jauh meninggalkannya.
*** Setelah Rangga dan Pandan Wangi tidak
terlihat lagi, orang tua berjubah putih panjang itu baru memutar tubuhnya.
Kemudian kakinya melangkah menuju sebuah rumah


Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang tampak terang-benderang oleh cahaya
lampu pelita. Pintu rumah yang semula tertutup rapat, langsung terbuka begitu
kaki orang tua berjubah putih itu menginjak lantai beranda. Dari balik pintu,
bermunculan empat
orang laki-laki berusia setengah baya. Mereka menghampiri orang tua berjubah
putih yang berdiri saja di beranda depan rumah ini.
"Siapa mereka, Ki?" tanya seorang yang
mengenakan baju warna kuning.
"Rupanya Sudra bisa meloloskan surat
keluar. Hm.... Aku tidak ingin ada orang luar yang mencampuri urusan ini," tegas
laki-laki tua berjubah putih itu.
"Apa yang harus kami lakukan, Ki?"
"Aku tidak ingin mereka ada di sekitar
lembah ini. Kalian mengerti maksudku...?"
"Kami mengerti, Ki."
"Lakukanlah sekarang."
Empat orang laki-laki berusia separuh
baya itu cepat-cepat membungkuk memberi
hormat, kemudian melangkah meninggalkan
rumah berukuran cukup besar dan megah
itu. Mereka mengambil kuda-kuda yang tertambat di samping rumah ini. Dengan berkuda, mereka mengejar kedua pendekar muda
yang sudah tidak terlihat lagi di sekitar perkampungan Lembah Tangkar. Sementara
la- ki-laki tua berjubah putih itu masih tetap
berdiri, memandangi sampai keempat orang
itu lenyap ditelan kegelapan malam.
Bergegas orang tua itu melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah melewati ruangan depan yang berukuran cukup luas, dia
masuk ke dalam ruangan lain. Di dalam
ruangan itu ternyata sudah menunggu dua
orang wanita yang duduk menghadapi sebuah
meja bundar berukuran cukup besar. Mereka
menoleh, menatap laki-laki tua berjubah putih yang baru masuk itu. Kedua wanita itu
kemudian berdiri, dan baru duduk lagi setelah orang tua berjubah putih itu duduk di depan meja bundar beralas dari batu
pualam putih ini. "Keadaan semakin bertambah buruk.
Dan akan semakin buruk lagi nantinya," kata orang tua berjubah putih itu, agak
mendesah suaranya.
Kedua wanita yang rata-rata berusia sekitar empat puluh tahun itu hanya diam saja.
Satu sama lain hanya saling melemparkan
pandang saja. Mereka tahu apa yang dimaksud dari gumaman orang tua berjubah putih
ini. Kedatangan dua orang anak muda tadi
memang sudah membawa isyarat akan terjadi
sesuatu di lembah ini. Lembah Tangkar yang
benar-benar akan menjadi suatu neraka bila
yang dikatakan orang tua berjubah putih ini menjadi kenyataan.
"Kalian harus lebih waspada lagi. Aku
tak ingin seorang pun yang masuk atau keluar lembah ini," tegas orang tua itu lagi. Masih terdengar pelan suaranya.
"Apa tidak sebaiknya kita beri sedikit
ancaman yang berarti agar si keparat itu menyerah, Ki Bargala?" usul salah
seorang wani-ta yang mengenakan baju warna putih bersih.
Di punggungnya menyembul sebuah gagang pedang berbentuk bunga anggrek.
Meskipun usianya sudah mencapai empat puluh tahun, tapi raut wajahnya masih kelihatan cantik. Bentuk tubuhnya pun ramping
dan indah. Sanggup membuat mata laki-laki
tidak berkedip memandangnya.
"Tidak semudah itu, Anggrek Putih.
Meskipun semua penghuni lembah ini dibantai, dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia tetap akan menuntut agar kita
meninggalkan lembah ini, dan menyerahkan padanya,"
sanggah orang tua berjubah putih yang ternyata bernama Ki Bargala.
"Lalu, sampai kapan kita akan terus bertahan seperti ini, Ki?" tanya wanita satunya lagi, yang mengenakan baju warnamerah tua menyala. Di punggung wanita berbaju merah tua
menyala itu juga terlihat sebuah gagang pedang yang ujungnya berbentuk sekuntum
bunga mawar berwarna merah. Julukannya
Mawar Merah. Dan memang, kedua wanita ini
lebih dikenal berjuluk Iblis Bunga Penyebar Maut. Di kalangan persilatan, sepak
terjang mereka sudah terkenal. Mereka selalu me-nyebarkan maut dan malapetaka.
"Sampai Lembah Tangkar ini benarbenar jadi neraka. Bukankah tujuan kita semua datang ke sini begitu..." Namun kita jangan dulu menciptakan satu neraka
pun," kata Ki Bargala, agak mendesis suaranya.
"Aku sudah tidak sabar lagi, Ki," dengus
Anggrek Putih. "Kapan isyarat itu datang, Ki" Aku tidak
ingin menunggu lama dan berdiam diri saja di sini. Aku ingin cepat-cepat selesai
dan pergi dari sini," sambung Mawar Merah.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa sebelum si keparat itu mampus. Dan lagi, Prabu
Cantraka juga menginginkan lembah ini agar
benar-benar bersih dan tak ada satu pun
gangguan setelah kita meninggalkan lembah
ini," jelas Ki Bargala lagi.
"Hadiah yang dijanjikan memang menggiurkan. Tapi aku paling tidak suka keadaan seperti ini. Menunggu tanpa ada
kepastian sama sekali," dengus Mawar Merah.
"Sabarlah. Aku yakin, tidak lama lagi
isyarat itu datang."
"Isyarat itu yang datang, atau si keparat
itu yang lebih dulu muncul, Ki...?" desis
Anggrek Putih sinis.
"Itu lebih baik. Bisa selesai dalam sekali
tepuk," tandas Ki Bargala.
"Aku akan membuat lembah ini benarbenar menjadi neraka, kalau dalam dua hari
ini tidak juga ada isyarat, Ki," desis Mawar Merah dingin.
"Kalian tidak bisa berbuat apa-apa tanpa
ada perintah dari Prabu Cantraka. Sebaiknya kalian bersabar saja dulu. Aku akan
mena-nyakan hal itu pada Prabu Cantraka," kilah Ki Bargala menyabarkan kedua
wanita yang dijuluki Iblis Bunga Penyebar Maut itu.
Kedua wanita itu terdiam. Ki Bargala tahu kalau mereka memang tidak pernah bisa
bersabar kalau diminta menunggu. Tangan
mereka sudah begitu gatal, dan tak akan ada senyum jika tidak membuat malapetaka
sedikit pun di mana mereka berada. Mereka selalu tersenyum dan tertawa bila melihat darah dan kesengsaraan terjadi di
sekitarnya. Mereka seakan-akan memang diciptakan hanya
untuk membuat neraka di bumi ini.
"Ayo kita pergi," ajak Mawar Merah seraya bangkit berdiri.
Anggrek Putih ikut berdiri.
"Ke mana kalian akan pergi?" tanya Ki
Bargala, masih tetap duduk di kursinya.
"Kami akan mencari si keparat itu, Ki,"
sahut Mawar Merah, agak ketus suaranya.
"Ke mana kalian akan mencarinya?"
tanya Ki Bargala lagi.
"Di sekitar lembah ini. Dia pasti tidak
ada di luar lembah ini. Kami akan terus mencarinya sampai kau mendapatkan
isyarat itu, Ki," tandas Anggrek Putih.
Tanpa berkata apa-apa lagi, kedua wanita yang dikenal berjuluk Iblis Bunga Penyebar Maut itu segera melangkah
meninggalkan ruangan ini. Sementara Ki Bargala hanya bisa memandangi tanpa mampu mencegah
lagi. Sudah dikenalnya betul akan watak kedua
wanita berhati iblis itu. Dan dia tidak mau mencegahnya. Mereka datang ke sini
memang punya maksud dan tujuan tertentu. Dan tinggal menunggu isyarat perintah saja dari seseorang yang dikenal bernama Prabu Cantraka. Tapi, hanya Ki Bargala saja yang bisa berhubungan dengan orang bernama Prabu
Can- traka. Hanya saja, Ki Bargala sendiri belum pernah bertemu langsung dan melihat
orangnya. Dia hanya bisa mendengar suara orang
itu, tanpa dapat melihat orangnya sama seka-li. Atau paling tidak, hanya bisa
berhubungan dengan orang suruhan Prabu Cantraka.
"Hm... Tampaknya aku harus menemui
Prabu Cantraka sebelum terjadi sesuatu di
lembah ini. Iblis Bunga Penyebar Maut benar-benar sudah tidak bisa menahan
kesabaran lagi," gumam Ki Bargala berbicara sendiri.
***** 2 Sementara itu, tidak jauh dari Lembah
Tangkar, Rangga dan Pandan Wangi masih
berkuda perlahan-lahan meninggalkan lembah yang tampak terang tersiram cahaya peli-ta. Mereka berkuda perlahan-lahan,
tanpa berbicara sedikit pun. Sedangkan beberapa
kali Pandan Wangi melirik wajah Pendekar
Rajawali Sakti. Jelas sekali kalau kening pemuda berbaju rompi putih itu
berkerut agak dalam, seakan-akan tengah memikirkan sesuatu. "Apa yang kau pikirkan, Kakang?" tanya
Pandan Wangi ingin tahu apa yang dipikirkan Pendekar Rajawali Sakti.
"Aku merasa ada sesuatu yang aneh di
Lembah Tangkar itu, Pandan," sahut Rangga.
"Maksudmu...?" tanya Pandan Wangi ingin lebih jelas lagi.
Rangga menghentikan laju kudanya.
Pandan Wangi mengikuti, dan terus memandangi wajah Pendekar Rajawali Sakti. Bebera-pa saat mereka terdiam, lalu
melompat turun dari punggung kuda masing-masing. Mereka
berdiri membelakangi kudanya, dan menatap
ke arah lembah yang bermandikan cahaya
lampu pelita. Tampak begitu semarak, tapi
menyimpan suatu teka-teki yang sukar diungkapkan. "Surat yang kudapat jelas mengatakan
kalau aku diminta datang ke Lembah Tangkar
ini. Tapi..."
Belum juga Rangga sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja terdengar derap langkah kaki kuda dari arah
depan. Begitu jelas sekali terdengar, dan menuju ke arahnya.
Pandan Wangi segera mengarahkan pandangan ke arah derap langkah kaki kuda yang
semakin jelas terdengar dari arah depan. Dan tak berapa lama kemudian, terlihat
empat orang penunggang kuda yang berpacu cepat
menuju ke arah dua orang pendekar muda
itu. Para penunggang kuda itu langsung berlompatan turun begitu berada sekitar dua batang tombak lagi di depan Rangga dan
Pan- dan Wangi. Mereka melangkah tegap, mendekati kedua pendekar muda itu. Mereka baru
berhenti, setelah jaraknya tinggal beberapa langkah lagi.
"Kalian dua orang yang mendapat surat
dari Sudra?" salah seorang yang mengenakan
baju kuning langsung bertanya. Suaranya besar dan terdengar berat.
"Benar," sahut Rangga mantap.
"Sudra sudah mati. Dan kalian tidak
perlu lagi berada di Lembah Tangkar ini. Tak ada lagi yang bisa kalian lakukan.
Maka sebaiknya tinggalkan lembah ini jika tidak ingin mati sia-sia," ancam lakilaki separuh baya berbaju kuning itu lagi.
Rangga jadi berkerut keningnya mendengar kata-kata yang bernada ancaman seperti itu. Sudah dua kali Pendekar Rajawali Sakti mendapat ancaman selama berada
di Lembah Tangkar ini. Dan dia tidak tahu, kenapa mereka tidak menginginkan dirinya berada di lembah ini. Sedangkan surat yang di-dapat dari seseorang yang bernama
Sudra menginginkannya datang ke Lembah Tangkar
ini. "Kami tidak ingin ada seorang pun yang
datang ke lembah ini. Lembah Tangkar tertutup bagi pendatang sepertimu," tegas laki-laki berbaju kuning itu.
"Kalau boleh aku tahu, di mana kuburan
Sudra?" tanya Rangga meminta.
"Dia mati tidak ada kuburannya!" dengus laki-laki berbaju kuning itu sengit.
"Kalau begitu, aku tidak ingin pergi sebelum bertemu Sudra, atau mayatnya kalau
memang sudah mati," tegas Rangga.
"Kau tidak boleh tinggal di sini, Anak
Muda!" bentak orang berbaju kuning itu kasar. "Sayang sekali, aku ingin tetap tinggal.
Dan tak ada seorang pun yang bisa menghalangi, termasuk kalian," tegas Rangga.
"Keparat...! Kau mencari mati, Anak Muda!" geram orang berbaju kuning itu berang.
Sret! Laki-laki setengah baya yang mengenakan baju warna kuning itu segera mencabut
senjata yang berbentuk sebatang tongkat
pendek dengan bagian ujungnya berbentuk
bulan sabit. Tiga orang laki-laki lain yang berdiri di belakangnya juga segera


Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencabut senjata masing-masing. Dan senjata mereka
berbentuk sama persis. Mereka segera menggeser kaki, berdiri sejajar. Senjata masing-masing tampak sudah tersilang di
depan da- da. Sementara Rangga dan Pandan Wangi sudah menarik kakinya beberapa langkah ke belakang. Pandan Wangi segera mengeluarkan senjatanya yang berupa kipas baja putih. Dibukanya kipas itu, dan digerak-gerakkan perlahan di depan dada. Seakan-akan udara
seki- tar lembah ini jadi panas. Padahal, angin
yang bertiup agak kencang begitu terasa dingin hingga menusuk tulang. Untuk
beberapa saat lamanya, mereka tak ada yang membuka
suara. Hanya tatapan mata saja saling menyorot tajam bagai sedang mengukur tingkat
kepandaian masing-masing.
"Kau yang menginginkan kematianmu,
Anak Muda," desis laki-laki berbaju kuning
itu dingin. "Aku khawatir, yang terjadi malah sebaliknya," sambut Rangga tidak kalah dinginnya. "Keparat...! Serang dia...!" geram orang berbaju kuning itu.
Seketika itu juga, empat laki-laki separuh baya yang masing-masing menggenggam
senjata tongkat pendek berujung bulan sabit, berlompatan cepat menyerang Rangga
dan Pandan Wangi. Dua orang menyerang Pendekar Rajawali Sakti, dan dua orang lagi langsung merangsek si Kipas Maut.
Pertarungan memang tidak bisa dihindari lagi. Dan tampaknya, empat laki-laki separuh baya itu
memiliki kepandaian yang cukup tinggi juga.
Terbukti, serangan-serangannya begitu dahsyat dan berbahaya sekali.
*** Sementara Rangga bertarung menggunakan tangan kosong saja, Pandan Wangi
menghadapi dua orang lawannya dengan senjata maut yang berbentuk kipas baja putih.
Beberapa kali senjata si Kipas Maut itu saling berbenturan dengan senjata tombak
lawan yang berujung bulan sabit. Dan setiap kali
senjata mereka beradu, memercik bunga api
yang menyebar ke segala arah, disertai ledakan keras menggelegar.
"Hhh! Tenaga dalam mereka cukup tinggi juga...," dengus Pandan Wangi dalam hati.
Beberapa kali terjadi adu senjata yang
mengandung pengerahan tenaga dalam. Dan
ini sudah cukup bagi Pandan Wangi untuk
menilai tingkat kepandaian kedua lawannya
ini. Dan disadari, tidak mungkin bisa memenangkan pertarungan ini hanya menggunakan senjata kipas. Menyadari hal itu, Pandan Wangi cepat memindahkan kipasnya ke
tangan kiri. Lalu, tangan kanannya segera mencabut pedang yang bertengger di punggung.
Sret! Cring...! Bet! Secepat pedangnya tercabut, secepat kilat pula Pandan Wangi mengebutkan pedang
yang bernama Naga Geni ke arah salah seorang lawan yang berada di depan. Begitu cepatnya kebutan yang dilakukan Pandan Wangi, sehingga orang berbaju hijau daun itu jadi terkejut setengah mati. Tak ada
lagi kesempa- tan baginya untuk berkelit menghindar.
"Hih!"
Cepat-cepat tongkatnya dikebutkan,
menangkis tebasan pedang berwarna hitam
itu. Tak pelak lagi, dua senjata berpamor
dahsyat beradu keras, hingga menimbulkan
pijaran api disertai ledakan dahsyat menggelegar. "Akh...!"
Terdengar pekikan keras agak tertahan.
Tampak tongkat pendek berujung bulan sabit
berwarna kuning keemasan itu mencelat tinggi ke udara. Sementara orang berbaju hijau
daun itu terhuyung-huyung ke belakang
sambil memegangi tangan kanannya. Wajahnya seketika jadi memucat. Sementara Pandan Wangi sudah bersiap hendak melakukan
serangan. Tapi tiba-tiba saja...
"Hiyaaat...!"
Bet! Bagaikan kilat, si Kipas Maut melompat
cepat sambil mengebutkan pedang ke arah
leher laki-laki separuh baya berbaju hijau
daun yang sudah tidak bersenjata lagi. Begitu cepat serangannya, sehingga tak
ada lagi kesempatan bagi orang itu untuk bisa menghindar. Dan.... Cras! "Aaa...!"
Darah seketika muncrat keluar begitu
Pedang Naga Geni membabat dada orang berbaju hijau daun itu. Tubuhnya terhuyunghuyung ke belakang sambil mendekap dadanya yang sobek cukup lebar berlumuran
darah. Hanya sebentar dia mampu bertahan
berdiri pada kedua kakinya, tak berapa lama kemudian jatuh terguling dan
menggelepar di tanah meregang nyawa. Darah semakin banyak keluar dari dadanya
yang terbelah sangat lebar oleh Pedang Naga Geni andalan si
Kipas Maut itu.
"Keparat...!" geram laki-laki setengah
baya satunya lagi yang mengenakan baju
warna merah. Sementara Pandan Wangi sudah memutar tubuh sambil menyilangkan kedua senjata mautnya di depan dada. Tatapan mata
gadis itu demikian tajam. Dengan dua senjata maut tergenggam di tangan, Pandan Wangi
bagaikan sosok malaikat maut yang siap mencabut
nyawa. Begitu tegar dan angker tampaknya,
sehingga membuat laki-laki separuh baya
berbaju merah itu jadi bergetar hatinya. Tapi, dia jadi mendesis geram saat
melihat temannya sudah tergeletak tak bernyawa lagi dengan dada terbelah bergenang darah.
"Setan...! Kubunuh kau, Keparat...!" geram laki-laki setengah baya berbaju merah itu berang. "Hiyaaat...!"
Dengan hati yang diliputi kemarahan,
laki-laki separuh baya itu cepat melompat
menyerang Pandan Wangi. Tongkatnya dikebutkan kuat disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Namun si Kipas Maut itu masih tetap berdiri tegak, dengan mata
menyorot ta- jam memperhatikan gerakan tongkat berujung bulat sabit yang berkelebat cepat di depannya.
"Hih!"
Tring! Begitu ujung tongkat berbentuk bulan
sabit itu tepat berada di depan dada, Pandan Wangi langsung menghentakkan kedua
senja-tanya. Maka, tongkat berujung bulan sabit itu jadi terjepit. Dan secepat
itu pula kakinya bergerak menghentak ke depan. Begitu cepatnya gerakan yang
dilakukan Pandan Wangi,
sehingga laki-laki separuh baya itu tidak
sempat lagi menghindar.
Diegkh! "Aaakh...!"
Memang tendangan yang dilakukan
Pandan Wangi begitu keras, sehingga membuat lawan terpental ke belakang sekitar dua batang tombak jauhnya. Tubuhnya
jatuh terguling di tanah. Sementara Pandan Wangi sudah melompat cepat. Langsung pedangnya dibabatkan di saat laki-laki separuh baya itu bangkit berdiri. Begitu cepat
serangannya, sehingga tak ada lagi kesempatan bagi lawan untuk menghindar.
"Hiyaaat...!"
Cras! "Aaa...!"
Satu jeritan panjang melengking tinggi
kembali terdengar membelah kesunyian malam ini. Ujung pedang Pandan Wangi tepat
merobek batang leher laki-laki separuh baya itu. Seketika, darah muncrat deras
sekali. Hanya sebentar dia mampu bertahan di atas
kedua kakinya, kemudian ambruk menggelepar di tanah. Darah terus bercucuran dari
tenggorokannya. Tak berapa lama kemudian,
sudah tak terlihat lagi gerakan apa pun. Sementara Pandan Wangi berdiri tegak
menatap tajam lawan yang sudah tergeletak tak bernyawa lagi. "Pandan...!"
"Oh..."!"
*** Pandan Wangi cepat memutar tubuh ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya.
Bibirnya tersenyum melihat Rangga sudah
berdiri di depannya. Pendekar Rajawali Sakti kelihatan tenang tanpa sedikit pun
mengalami kekurangan. Gadis itu cepat mengedarkan
pandangan ke belakang Pendekar Rajawali
Sakti. Keningnya jadi berkerut dan matanya
menyipit begitu melihat wajah Rangga lagi.
"Ke mana lawanmu?" tanya Pandan
Wangi. "Pergi," sahut Rangga kalem.
"Kau biarkan mereka pergi begitu saja,
Kakang...?"
"Mereka langsung lari melihat kau berhasil menewaskan dua orang temannya," kata
Rangga memberitahu.
"Kau pasti tidak bersungguh-sungguh
bertarung tadi," nada suara Pandan Wangi
agak mendengus.
Rangga hanya tersenyum saja. Pendekar
Rajawali Sakti memang tidak bersungguhsungguh dalam pertarungan-nya tadi. Kalau
dia mau, tidak lebih dari dua jurus saja sudah bisa melumpuhkan dua orang lawan.
Ta- pi hal itu memang disengaja. Rangga memang
tidak pernah menewaskan lawan tanpa diketahui apa sebabnya. Lain halnya dengan Pandan Wangi yang selalu mengambil tindakan
tegas pada lawan-lawannya. Terlebih lagi, kalau sudah yakin jika lawannya punya
maksud buruk dan ingin membunuhnya. Gadis itu tak
segan-segan lagi mengirimkan ke neraka, jika mereka bersungguh-sungguh hendak
membunuhnya. "Dua orang saja yang tewas, rasanya sudah cukup membuat mereka berpikir tentang
kita, Pandan," kilah Rangga, terdengar lembut nada suaranya.
"Aku tidak mengerti, kenapa mereka tidak menginginkan kita berada di sini" Bahkan begitu ingin membunuh kita, Kakang?"
tanya Pandan Wangi seperti bicara pada dirinya sendiri. Sedangkan Rangga hanya diam saja
sambil mengangkat bahunya sedikit. Katakata Pandan Wangi barusan merupakan satu
pertanyaan yang belum bisa dijawabnya sendiri saat ini. "Aku yakin ada sesuatu yang terjadi di
Lembah Tangkar ini, Kakang," duga Pandan
Wangi. "Memang itu yang ada di kepalaku saat
ini, Pandan," Rangga menanggapi dugaan si
Kipas maut itu.
"Dan surat itu...?"
"Semula memang kurang jelas maksudnya. Tapi sekarang aku yakin kalau orang
yang bernama Sudra meminta bantuan pada
kita. Hanya saja, kita belum tahu bantuan
yang diinginkannya," sahut Rangga.
"Aku rasa, kita akan tahu kalau bisa
bertemu orang yang bernama Sudra, Kakang."
"Memang. Tapi tampaknya tidak mudah
untuk menemuinya," timpal Rangga.
Pandan Wangi terdiam. Disimpannya
kembali Pedang Naga Geni ke dalam warangka di punggung, dan diselipkan Kipas Maut
ke balik sabuk yang melilit pinggang rampingnya. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.
Mereka sama-sama memandang ke arah lembah yang bertaburkan cahaya lampu pelita.
"Rasanya tidak mungkin kita memasuki
lembah itu lagi, Kakang," gumam Pandan
Wangi. Rangga hanya diam saja tanpa memalingkan mukanya sedikit pun dari Lembah
Tangkar. Dari tempat mereka berada saat ini, memang cukup leluasa memandang ke
arah lembah yang berada di bawah sana. Tempat
ini memang cukup tinggi, karena berada di lereng bibir lembah, dan tidak
seberapa jauh dari bangunan batu yang merupakan sebuah
gerbang masuk ke dalam kota di Lembah
Tangkar itu. "Kakang tahu, siapa orang yang bernama Sudra itu?" tanya Pandan Wangi seraya


Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berpaling menatap pemuda tampan berbaju
rompi putih di sampingnya.
"Tidak," sahut Rangga, tetap tidak berpaling sedikit pun.
"Kau tidak kenal, tapi kenapa dia mengenal dan mengirimkan surat kepadamu, Kakang" Dari mana dia tahu namamu" Sedangkan kebanyakan orang hanya mengenalmu
sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan
di dalam surat itu, nama aslimu disebutkan,"
kata Pandan Wangi lagi menduga-duga.
Sedangkan Rangga hanya diam saja.
Terlalu sulit bagi Pandan Wangi menerka jalan pikiran Pendekar Rajawali Sakti saat ini.
"Dari mana sebenarnya kau dapatkan
surat itu, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Seorang kurir. Dia datang ke Istana Karang Setra, dan Danupaksi yang menerima
surat itu. Seorang kurir istana menyampaikannya padaku, ketika menginap di Desa Talang Gati," jelas Rangga tentang surat yang diterimanya.
"Tidak banyak orang yang mengenalmu
sebagai Raja Karang Setra, Kakang," ujar
Pandan Wangi, agak bergumam nada suaranya. Rangga berpaling perlahan menatap gadis di sebelahnya. Sedangkan Pandan Wangi
tetap memandangi Pendekar Rajawali Sakti,
seakan-akan ingin menembus jalan pikiran
Rangga dari sorot matanya. Tapi memang terlalu sulit, karena sinar mata Pendekar Rajawali Sakti demikian datar. Sepertinya tidak menyiratkan sesuatu di dalamnya.
"Apa pendapatmu tentang orang yang
bernama Sudra, Pandan?" tanya Rangga.
"Sulit menduganya, Kakang," sahut
Pandan Wangi. "Tapi mungkin juga punya
hubungan di istana, atau pernah melihatmu
di Istana Karang Setra. Sehingga dia bisa
mengetahui tentang dirimu yang sebenarnya."
"Kemungkinan itu memang ada, Pandan.
Tapi siapa orangnya yang bisa bebas keluar
masuk di Istana Karang Setra...?" Rangga seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Terlalu banyak, Kakang. Bukan hanya
para pembesar, para adipati, atau petinggipetinggi kerajaan yang bisa keluar masuk istana. Bahkan para pekerja rendahan
dan ra- kyat juga bebas keluar masuk istana. Bukankah itu peraturan yang kau berikan, agar tidak ada jurang pemisah di antara
petinggi dan rakyat..." Jadi, siapa saja bisa dan
mungkin melihatmu sedang duduk di singgasana. Bahkan mengenalimu sebagai Pendekar
Rajawali Sakti," jelas Pandan Wangi, menjabarkan keadaan di dalam Istana Karang Setra. Sedangkan Rangga hanya diam saja
membisu. Tidak dibantah sedikit pun semua
uraian yang dikemukakan gadis ini. Apalagi
menyalahi. Semua yang dikatakan Pandan
Wangi memang benar pada kenyataannya.
Dia memang tidak ingin ada jurang pemisah
di antara pembesar dan petinggi kerajaan
dengan rakyat. Jadi, tidak ada larangan bagi siapa saja, dan dari golongan mana
saja, untuk masuk ke dalam istana. Dan itu berarti
bisa siapa saja mengenali dirinya sebagai Raja Kerang Setra, juga sebagai
seorang pendekar yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti.
"Sebaiknya kita tetap berada di sekitar
Lembah Tangkar ini, Kakang. Sambil mencari
keterangan, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini," usul Pandan Wangi lagi.
"Hm...," Rangga hanya menggumam kecil saja. "Tapi yang lebih penting lagi, kita harus
bisa mengetahui siapa Sudra itu. Dan untuk
apa mengirim surat yang tidak jelas maksudnya padamu, Kakang," tambah Pandan Wangi
lagi. Rangga tetap diam membisu. Tapi kepalanya terangguk-angguk perlahan
sekali, sehingga hampir tidak terlihat gerakannya.
***** 3 Hari masih begitu gelap, meskipun rona
merah sudah membias di ufuk timur. Sementara burung-burung sudah ramai berkicau
menyambut datangnya sang mentari. Tampak
seekor kuda putih dengan belang coklat tua
pada keempat kakinya berlari cepat meninggalkan Lembah Tangkar menuju ke arah barat. Penunggang kuda itu adalah seorang lakilaki tua berjubah panjang berwarna putih
bersih. Kudanya dipacu begitu cepat, sehing-ga dalam waktu sebentar saja sudah
jauh meninggalkan Lembah Tangkar.
"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Laki-laki tua berjubah putih itu terus
cepat menggebah kudanya melintasi jalan tanah berdebu dan berbatu kerikil. Lembah
Tangkar semakin jauh ditinggalkan, sehingga tak ada satu rumah pun yang
terlihat. Hanya pepohonan dan bebatuan yang ada di sepan-jang jalan tanah
berbatu kerikil itu. Dia meninggalkan jalan itu ketika berbelok ke kanan. Lalu dimasukinya sebuah hutan yang tidak begitu lebat, sehingga masih bisa menggebah kudanya agar tetap berlari kencang.
Entah sudah berapa lama kudanya dipacu cepat, menerobos hutan yang tidak begi-tu lebat ini. Dan dia baru berhenti
saat matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling,
lalu melompat turun dari punggung kudanya.
Gerakannya begitu ringan dan indah, pertanda memiliki ilmu meringankan tubuh yang
sudah mencapai tingkat tinggi.
Perlahan kakinya terayun meninggalkan
kudanya yang ditambatkan pada sebatang
pohon jati. Dia terus melangkah perlahan,
dan baru berhenti setelah di depannya berdiri sebuah bangunan batu berbentuk
puri. Tidak begitu besar bangunan puri itu. Dan sekelilingnya terlihat sangat sunyi. Langkahnya
berhenti tepat di depan sebuah pintu masuk
ke dalam puri ini. Sebuah pintu yang tidak
memiliki penutup, sehingga terbuka lebar ba-gi siapa saja yang ingin
memasukinya. "Aku Ki Bargala datang hendak menghadap Gusti Prabu Cantraka," terdengar lantang suara laki-laki berjubah putih itu.
Tak ada sahutan yang terdengar sedikit
pun. Tapi tiba-tiba saja dari bagian atas puri, melesat sebuah bayangan merah.
Lalu, di depan laki-laki berjubah putih yang mengenalkan dirinya sebagai Ki Bargala itu sudah berdiri seseorang yang mengenakan baju
ketat berwarna merah menyala. Wajahnya sulit untuk dikenali, karena kepalanya terselubung
kain merah. Hanya dua lubang bulat sebesar
mata kucing pada bagian matanya saja untuk
penglihatannya. Namun sepasang bola mata
itu bersinar tajam, dan agak memerah di balik lubang penutup kepala dan wajahnya
itu. "Terimalah salam sembah dan hormatku," ucap Ki Bargala sambil berlutut dengan meletakkan tangan kanan di depan
dada. "Bangunlah, Ki Bargala," ujar orang itu,
terdengar berat nada suaranya.
Perlahan Ki Bargala bangkit berdiri. Badannya dibungkukkan sedikit, dengan tangan
kanan tetap berada di depan dada. Jarak di
antara mereka hanya sekitar lima langkah sa-ja. Sementara keadaan di sekitar
puri itu masih tetap sunyi. Tak terlihat seorang pun di sana, kecuali mereka
berdua. "Ada keperluan apa kau datang ke sini,
Ki Bargala?" tanya orang berbaju serba merah
menyala itu. Suaranya masih tetap terdengar berat sekali.
"Ada yang hendak kulaporkan pada Gusti Prabu Cantraka," sahut Ki Bargala dengan sikap begitu hormat.
"Katakan saja padaku. Gusti Prabu Cantraka sedang tidak berkenan menerima siapa
pun," ujar orang berbaju serba merah ini lagi.
Ki Bargala jadi terdiam. Sejak meninggalkan Lembah Tangkar tadi, memang sudah
diduga kalau tidak mungkin bisa bertemu
langsung dengan Prabu Cantraka. Dan lakilaki tua itu memang belum pernah melihat
orang yang dikenal bernama Prabu Cantraka.
Setiap kali datang ke puri ini, selalu saja orang berbaju merah menyala itu yang
menemuinya. Dan Ki Bargala tahu, orang berbaju serba merah yang selalu muncul menutupi
wajahnya itu biasa disebut Bayangan Setan
Merah. "Kemarin ada dua orang anak muda datang ke lembah. Mereka membawa surat dari
Sudra. Aku lalu mengirim empat orang pembantuku yang terbaik. Tapi, mereka sangat
tangguh, dan berhasil menewaskan dua orang
pembantuku. Sedangkan si Iblis Bunga Penyebar Maut sudah tidak sabar lagi menunggu perintah dari Gusti Prabu Cantraka," jelas Ki Bargala melaporkan kejadian di
Lembah Tangkar. "Perintah itu sudah ada. Kau dan orangorangmu sudah bisa memulainya sekarang.
Mengenai dua orang yang datang ke lembah.... Hm, siapa mereka?" masih terdengar
berat nada suara orang berbaju merah yang
berjuluk Bayangan Setan Merah.
"Mereka mengaku bernama Rangga dan
Pandan Wangi. Kedatangan mereka ke sana
dengan membawa surat dari Sudra," sahut Ki
Bargala memberitahu.
"Lalu, kenapa sampai dua orang pembantu terbaikmu tewas?"
"Aku menyuruh empat orang pembantu
terbaikku mengusir mereka dari lembah. Tapi ternyata mereka tidak mau pergi.
Maka terpaksa terjadi pertarungan, hingga dua orang pembantuku tewas di tangan
mereka." "Kau melakukan tindakan bodoh, Ki
Bargala," dengus Bayangan Setan Merah.
"Tapi surat yang mereka bawa bernada
mencurigakan.... Jadi terpaksa harus kuambil tindakan keras. Tapi tidak kusangka
kalau mereka memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pembantu-pembantuku," Ki
Bargala mencoba membela diri.
"Tapi kenyataannya kau malah kehilangan dua orang pembantumu yang terbaik.
Hhh...! Kau tahu, siapa mereka sebenarnya,
Ki Bargala?"
"Tidak."
"Merekalah yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut."
"Oh..."!" Ki Bargala tampak terkejut bukan main. Sungguh tidak disangka kalau dua
orang yang datang semalam adalah dua orang
pendekar yang sangat ternama di kalangan
persilatan. Terlebih lagi, pemuda yang berna-ma Rangga dan dijuluki Pendekar
Rajawali Sakti. Tingkat kepandaiannya sangat tinggi
dan sukar dicari tandingannya saat ini. Ki
Bargala jadi kecut hatinya begitu mengetahui siapa dua orang itu sebenarnya.
"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?" "Kembali ke Lembah Tangkar. Biar urusan Pendekar Rajawali Sakti aku yang tangani. Yang penting, sekarang kau harus bisa
mengatasi segala sesuatu yang terjadi di
Lembah Tangkar. Lembah itu harus bisa dipertahankan sampai Gusti Prabu Cantraka
menentukan, kapan kau dan orang-orangmu
boleh meninggalkan lembah."
"Baik," sahut Ki Bargala seraya membungkuk memberi hormat.
"Berangkatlah sekarang juga."
Ki Bargala kembali membungkuk memberi hormat. Dan begitu tubuhnya tegak, di
depannya sudah tidak terlihat lagi orang berbaju serba merah menyala itu. Begitu
cepat gerakannya, sehingga Ki Bargala sama sekali tidak mengetahui kapan perginya.
Laki-laki berjubah putih panjang itu bergegas berbalik dan melangkah cepat meninggalkan
puri itu. *** Ki Bargala memacu cepat kudanya keluar dari dalam hutan yang tidak begitu lebat ini. Dan ketika memasuki jalan
tanah berke- rikil, mendadak saja terlihat sebatang anak panah berukuran kecil dan berwarna
hitam melesat cepat ke arahnya.
"Hup!"
Ki Bargala cepat melentingkan tubuh ke
udara. Maka, anak panah hitam itu menghantam bagian leher kuda yang ditunggangi Ki
Bargala. Kuda putih belang coklat pada kakinya itu meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ke
udara, lalu jatuh menggelepar di tanah. Darah bercucuran dari lehernya yang


Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tertembus sebatang anak panah kecil berwarna hitam. Dan
tepat ketika Ki Bargala mendarat, kuda itu
sudah tidak bergerak-gerak lagi.
"Panah beracun...," desis Ki Bargala begitu memeriksa panah hitam berukuran kecil
yang menancap di leher kudanya.
Belum juga Ki Bargala bisa berpikir lebih
jauh lagi, tiba-tiba saja berkelebat sebuah bayangan hitam dari atas sebatang
pohon yang tidak begitu jauh dari laki-laki tua berjubah putih itu. Ki Bargala cepat
melompat ke belakang sejauh beberapa langkah. Bersamaan menjejaknya kaki Ki
Bargala ke jalan
tanah berkerikil, sosok tubuh hitam itu juga mendarat manis di dekat bangkai
kuda. "Hm...," kening Ki Bargala berkerut memandangi sosok tubuh berbaju serba hitam di depannya.
Agak lama juga Ki Bargala memandangi
laki-laki yang sukar diterka usianya itu. Karena, wajahnya begitu buruk dan
hitam pe- nuh benjolan. Sebagian pipi kanannya menggerompal, sehingga memperlihatkan tulang
pipinya sampai baris-baris gigi yang putih tak beraturan. Sorot matanya begitu
tajam, dan rambutnya teriap tak beraturan. Dia berdiri agak terbungkuk, karena di
punggungnya terdapat tonjolan seperti unta. Sebatang
tongkat dari kayu hitam tergenggam di tangan kanannya, untuk menyangga tubuhnya
yang bungkuk. "Siapa kau, Kisanak" Kenapa menghadang jalanku?" tanya Ki Bargala. Sinar matanya begitu tajam penuh selidik menatap la-ki-laki berperawakan buruk di
depannya. "Kau tidak perlu tahu siapa aku, Iblis
Jubah Putih!" sahut laki-laki bungkuk itu,
dingin nada suaranya.
"Heh..."!" Ki Bargala tersentak kaget
mendengar jawaban laki-laki bungkuk itu.
"Kau tahu julukanku..." Siapa kau sebenarnya?" "Tidak sulit mengenalimu, Iblis Jubah Putih. Dan aku juga tahu tujuanmu
berada di Lembah Tangkar ini. Kuperingatkan padamu,
Iblis Jubah Putih, sebaiknya segera angkat
kaki dari Lembah Tangkar," tegas laki-laki
bungkuk itu, bernada mengancam.
"Kau tidak bisa mengancamku, Kisanak," desis Ki Bargala dingin.
"Aku tidak pernah berkata dua kali, Iblis
Jubah Putih. Jika tetap membandel, kau
akan menyesal pada sisa-sisa umurmu!" kata
laki-laki bungkuk itu tidak kalah dinginnya.
"Ha ha ha...!" tiba-tiba saja Ki Bargala
tertawa terbahak-bahak. "Aku tahu siapa kau sekarang, Kisanak. Kau pasti si
Bongkok dari Bukit Hantu."
"Kau sudah tahu siapa aku, Iblis Jubah
Putih. Sebaiknya jangan keras kepala. Aku tidak segan-segan membuatmu menyesal
seu- mur hidup!" desis laki-laki bungkuk yang dikenal berjuluk si Bongkok itu.
"Ancamanmu tidak ada artinya bagiku,
Bongkok!" dengus Ki Bargala. "Aku khawatir, justru kau sendiri yang tidak akan
bisa melihat matahari lagi."
"Kau benar-benar keras kepala, Iblis Jubah Putih...!" desis si Bongkok dingin menggetarkan.
"Jangan banyak omong! Menyingkirlah,
atau kau rasakan tongkat mautku!" bentak Ki Bargala sengit.
"Hm...."
Bet! Ki Bargala langsung mengebutkan tongkat ke depan. Ujung tongkat yang runcing,
tertuju lurus ke dada si Bongkok. Perlahan
kakinya bergeser ke depan beberapa langkah.
Sedangkan si Bongkok sudah menyilangkan
tongkat di depan dada. Kakinya juga ditarik beberapa tindak ke kanan. Mereka
tidak lagi berbicara. Hanya tatapan mata saja yang saling menyorot tajam,
seakan-akan hendak
mengukur tingkat kepandaian masingmasing. "Mampus kau! Hiyaaat...!"
Bagaikan kilat, Ki Bargala yang berjuluk
Iblis Jubah Putih melesat cepat menyerang si Bongkok. Tongkatnya langsung
berkelebat mengarah ke kepala laki-laki bungkuk buruk
rupa itu. Tapi manis sekali si Bongkok merundukkan kepala, menghindari sabetan
tongkat Iblis Jubah Putih.
Wuk! Dan begitu tongkat Iblis Jubah Putih lewat di atas kepala, cepat sekali tongkat hitamnya dihentakkan ke arah lambung Ki
Bar- gala. Serangan balasan yang begitu cepat,
membuat laki-laki tua itu jadi tersentak tidak menyangka. Buru-buru dia melompat
ke belakang sambil berputar dua kali.
Baru saja Iblis Jubah Putih menjejakkan
kakinya di tanah, si Bongkok sudah kembali
menyerang. Tongkatnya yang berwarna hitam
pekat dikebutkan cepat ke arah dada Ki Bargala. Tak ada lagi kesempatan bagi Iblis Jubah Putih berkelit menghindar. Dan
dengan cepat tongkatnya dikebutkan menangkis serangan tongkat si Bongkok.
Bet! Trak! "Heh..."!"
Ki Bargala jadi terkejut bukan main.
Tongkatnya yang terkenal maut, seketika itu juga patah jadi dua bagian ketika
membentur tongkat hitam laki-laki bungkuk bermuka buruk itu. Maka cepat-cepat
dia melompat ke
belakang. Sejenak dipandanginya potongan
tongkatnya yang masih tergenggam di tangan
kanan. Sedangkan potongan lainnya entah
berada di mana.
"Setan...!" dengus Ki Bargala geram.
Tongkatnya dilemparkan kepada si
Bongkok. Lemparan yang disertai pengerahan
tenaga dalam itu membuat potongan tongkat
melesat bagai anak panah terlepas dari busur. Si Bongkok mengebutkan tongkatnya,
menangkis lemparan tongkat yang meluncur
deras ke arahnya. Beberapa kali tongkatnya
dikebutkan, sehingga potongan tongkat si Iblis Jubah Putih terpotong-potong
menjadi beberapa bagian kecil. Iblis Jubah Putih semakin terbeliak melihat
tongkatnya benar-benar tidak mempunyai arti.
"Keparat...!"
Sret! Ki Bargala benar-benar geram melihat
tongkatnya kini tak mempunyai arti lagi, setelah menjadi potongan-potongan kecil
yang tak lebih dari seruas jari. Maka pedangnya yang selalu tersembunyi di balik
jubahnya cepat dicabut. Sebilah pedang keperakan yang berkilat tertimpa cahaya matahari.
Wuk! Ki Bargala mengebutkan pedang beberapa kali sambil menarik kakinya hingga terpentang lebar ke samping. Sedangkan si
Bongkok telah melakukan gerakan, membuka
jurus baru yang pasti tidak kalah ampuhnya
dari jurus sebelumnya. Ki Bargala sendiri ju-ga sudah siap dengan jurus barunya.
Dan se- karang tampaknya dia begitu berhati-hati
menghadapi manusia bungkuk bermuka buruk itu. *** "Hiyaaat...!"
"Hup! Yeaaah...!"
Hampir bersamaan waktunya, mereka
saling berlompatan menyerang. Dan secara
bersamaan pula, mereka sama-sama mengebutkan senjata ke arah yang sama. Sehingga, benturan dua senjata yang diandalkan
tak dapat dihindari lagi. Dua senjata itu beradu keras di udara, di saat tubuh-tubuh
mereka melayang sekitar dua tombak dari tanah.
Trang! Glarrr...! Ledakan keras menggelegar terdengar
dahsyat membelah udara ketika dua senjata
berbentuk pedang dan tongkat itu beradu.
Terlihat bunga api memercik dari kedua senjata yang beradu keras itu. Dan pada saat
yang sama, mereka sama-sama berpentalan
ke belakang. Tubuh mereka berputaran beberapa kali di udara, dan sama-sama mendarat
manis sekali. Mereka kembali berdiri saling berhadapan, berjarak sekitar dua
batang tombak. "Hiyaaat...!"
Begitu kakinya menjejak tanah, Ki Bargala yang dikenal berjuluk Iblis Jubah Putih cepat melesat menyerang sambil
memba-batkan pedang beberapa kali dengan kecepatan luar biasa. Menerima serangan yang begitu cepat dan dahsyat, si Bongkok segera memainkan tongkatnya, sambil berlompatan lincah menghindari setiap serangan yang datang secara beruntun. Beberapa kali
senjata mereka beradu, dan saling memercikkan bunga
api. Tapi serangan-serangan Ki Bargala tidak juga berhenti sampai di situ.
Akibatnya, si Bongkok terpaksa harus berjumpalitan
menghindari serangan-serangannya.
Hanya sesekali saja si Bongkok mampu
memberikan serangan balasan, dan itu pun
cepat sekali dipatahkan Iblis Jubah Putih. Ki-ni mereka bertarung semakin
sengit. Jurus demi jurus berlalu cepat. Entah sudah berapa jurus berlalu, tapi pertarungan
tampaknya tidak juga ada tanda-tanda akan berhenti.
Bahkan pertarungan semakin meningkat
dahsyat. Kebutan-kebutan pedang dan tongkat menimbulkan suara angin menderu,
membuat kerikil dan debu jalan itu beterbangan. Bahkan beberapa pohon sudah
terlihat bertumbangan, tersambar senjata maut mereka. "Awas kaki...!" seru si Bongkok tiba-tiba.
Bet! Begitu cepatnya si Bongkok merunduk
sambil mengebutkan tongkat ke arah kaki Ki
Bargala. Tapi dengan gerakan cepat, Ki Barga-la melenting ke atas. Sehingga,
tebasan tongkat hitam itu hanya lewat di bawah telapak
kakinya. Namun tanpa diduga sama sekali, si Bongkok bergerak cepat melewati kaki
si Iblis Jubah Putih. Dia langsung melesat ke udara
sambil memberikan satu tendangan menggeledek secara berputar. Begitu cepat serangannya, sehingga Ki Bargala tidak
sempat lagi menyadari kalau serangan ke kaki tadi hanya satu tipuan. Tidak sempat dihindari
lagi tendangan laki-laki bungkuk bermuka buruk itu.
Diegkh! "Akh...!" Ki Bargala terpekik agak tertahan. Tendangan si Bongkok begitu telak
menghantam punggungnya, membuat Iblis
Jubah Putih tersungkur mencium tanah. Beberapa kali tubuhnya bergulingan di tanah,
lalu cepat melompat bangkit berdiri. Tapi, Ki Bargala jadi agak terhuyung. Pada
saat itu, si Bongkok sudah kembali melakukan serangan
cepat dengan tusukan ujung tongkatnya ke
arah dada laki-laki tua berjubah putih itu.
"Hiyaaat...!"
"Hih!"
Bet! Ki Bargala mengebutkan pedang untuk
menangkis tusukan tongkat hitam itu. Tapi
tanpa diduga sama sekali, si Bongkok cepat
memutar tongkatnya, sehingga tangkisan Iblis Jubah Putih itu jadi sia-sia. Dan
sebelum Iblis Jubah Putih menarik pulang pedangnya, si Bongkok sudah memberi
satu pukulan keras
menggeledek disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. "Yeaaah...!"
Begkh! "Akh...!" untuk kedua kalinya Ki Bargala
memekik keras. Pukulan yang dilepaskan si Bongkok tepat dan keras sekali menghantam dadanya.
Akibatnya, laki-laki tua berjubah putih itu terpental sejauh beberapa batang
tombak ke belakang. Dua batang pohon seketika hancur
berkeping-keping terlanda tubuh tua berjubah putih itu. Dan pada pohon yang ketiga,
tubuh Ki Bargala baru berhenti meluncur. Iblis Jubah Putih itu bergelimpangan di
antara kepingan reruntuhan pohon yang terlanda
tubuhnya. Dia berusaha cepat bangkit berdiri, tapi....
"Hoeeek...!"
Dari mulutnya menyembur darah kental
agak kehitaman. Ki Bargala menggelenggelengkan kepala beberapa kali. Rasa pening cepat sekali menyerang kepala,
ditambah lagi rasa sesak yang menggumpal memenuhi da-da. Ki Bargala merasakan
dadanya bagai terhimpit sebongkah batu besar, membuatnya
jadi tersengal tak terkendali.
"Kau sudah memilih jalan kematianmu
sendiri, Iblis Jubah Putih. Terimalah kematianmu! Hiyaaat...!"
Si Bongkok rupanya tidak sudi lagi
memberi kesempatan pada orang tua berjubah putih itu. Bagaikan kilat, dia melompat sambil menghunjamkan tongkat ke arah
dada

Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ki Bargala yang masih berusaha menguasai
keseimbangan diri. Serangan kilat yang dilancarkan si Bongkok tak mungkin lagi
dapat dihindari. Dan Iblis Jubah Putih hanya dapat
terbeliak, tak mampu berkelit sedikit pun.
Pukulan keras bertenaga dalam tinggi yang
mendarat di dadanya tadi telah membuatnya
seakan akan sulit bergerak.
"Mati aku...," desah Ki Bargala dalam
hati Tapi ketika ujung tongkat si Bongkok
yang berwarna hitam pekat itu hampir saja
menghunjam dada Ki Bargala, mendadak saja
sebuah bayangan merah menyambar tubuh
laki-laki tua berjubah putih itu.
Bles! "Setan..!"
Si Bongkok jadi geram setengah mati begitu tongkatnya hanya menembus sebatang
pohon. Sedangkan tubuh Ki Bargala sudah
lenyap tak berbekas lagi, bagaikan amblas
tertelan bumi. Si Bongkok cepat mencabut
tongkatnya yang menembus cukup dalam ke
batang pohon. Dan begitu tongkatnya tercabut, seketika pohon itu berasap, lalu hangus menghitam bagai terbakar. Seluruh
daunnya cepat sekali rontok berguguran dan warnanya berubah Jadi kuning.
"Phuih! Ke mana iblis tua keparat
itu..."!" dengus si Bongkok geram.
Pandangannya beredar ke sekeliling, tapi
tidak juga terlihat ada satu bayangan pun
berkelebat di sekitarnya. Iblis Jubah Putih benar-benar lenyap tak terlihat
lagi. Si Bongkok menggerutu dan memaki dalam hati. Hatinya benar-benar kesal, karena lawan yang
sudah tinggal menjelang ajal mendadak saja
lenyap tersambar bayangan merah.
"Bayangan merah.... Hm.... Apa mungkin
dia Bayangan Setan Merah...?" gumam si
Bongkok bertanya-tanya sendiri. "Kalau memang Bayangan Setan Merah, berarti bukan
hanya Iblis Jubah Putih saja yang ada di
Lembah Tangkar. Hm.... Berapa orang sebenarnya yang ada di balik semua ini...?"
Beberapa saat lamanya si Bongkok masih berdiri mematung di tepi jalan tanah berkerikil itu. Beberapa kali dia
menggumam dan bertanya-tanya sendiri. Sambil menghembuskan napas berat, lakilaki bungkuk bermuka buruk itu melangkah cepat meninggalkan jalan itu. Gerakan ayunan kakinya begitu cepat, sehingga sebentar saja sudah
jauh, dan lenyap begitu membelok ke kanan yang langsung menuju ke Lembah
Tangkar. ***** 4 Ki Bargala cepat melompat bangkit dari
pembaringan begitu matanya terbuka. Tampak seseorang yang mengenakan baju serba
merah dengan seluruh kepala terselubung
kain merah, berada di dekat pembaringan
yang tadi ditidurinya. Dia cepat-cepat berlutut, lalu meletakkan tangan kanannya
di de- pan dada. "Bangunlah, Ki Bargala," ujar orang berbaju serba merah yang dikenal berjuluk
Bayangan Setan Merah.
Perlahan Iblis Jubah Putih bangkit berdiri, sambil mencoba mengingat-ingat kejadian yang dialami ketika jauh meninggalkan
puri di tengah hutan yang bersebelahan dengan Lembah Tangkar. Di tengah jalan, dia di-hadang laki-laki bungkuk bermuka
buruk yang dikenal berjuluk si Bongkok. Masih jelas dalam ingatannya saat bertarung
dan hampir saja mati kalau tidak disambar bayangan merah. Dan tahu-tahu, dia sudah berada di dalam kamarnya, ditemani Bayangan Setan Merah. Ki Bargala cepat menyadari kalau nyawanya diselamatkan orang berbaju serba merah ini. "Terima kasih, kau telah menyelamatkan
nyawaku," ucap Ki Bargala seraya menjura
memberi hormat.
"Jangan berterima kasih padaku, Ki
Bargala. Pikirkan saja kejadian yang kau ala-mi," elak Bayangan Setan Merah,
datar nada suaranya. "Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja
Lembah Tangkar ini jadi menarik perhatian
orang-orang rimba persilatan. Belum lama
Pendekar Rajawali Sakti muncul, dan sekarang datang lagi si Bongkok yang langsung
menyerangku," desah Ki Bargala agak menggumam, seperti bicara pada diri sendiri.
"Itu berarti, kau harus cepat mendapatkan Sudra, sebelum dia bertindak lebih
jauh lagi. Terlebih lagi, mereka yang diundang Sudra bisa mencium maksud kita
berada di Lembah Tangkar ini, Ki Bargala," tegas
Bayangan Setan Merah.
"Aku sudah berusaha, tapi sampai sekarang belum juga bisa menemukan tempat
persembunyiannya," sahut Ki Bargala.
"Si Sudra keparat itu pasti masih ada di
Lembah Tangkar ini. Aku ingin kau dan semua orang-orangmu menggeledah setiap rumah yang ada di sini. Kalau perlu, gunakan
kekerasan!"
"Mereka pasti tidak mau membuka mulut." "Bunuh siapa saja yang membangkang.
Kau harus mendapatkan secepatnya, sebelum
orang-orang yang diundangnya bertambah
banyak. Ini perintah langsung Prabu Cantraka, Ki Bargala. Lagi pula, kau tidak akan
mampu menghadapi para pendekar yang berkepandaian tinggi. Terlebih lagi, Pendekar Rajawali Sakti. Bisa kau rasakan
sendiri, baru menghadapi si Bongkok saja sudah hampir
mati!" agak menggeram nada suara Bayangan
Setan Merah. "Aku akan laksanakan perintahmu,
Bayangan Setan Merah," sahut Ki Bargala seraya menjura memberi hormat.
"Hm...."
Bayangan Setan Merah tidak berkatakata lagi. Tubuhnya diputar dan seketika itu juga melesat cepat keluar dari
ruangan ini melompati jendela. Begitu cepat gerakannya, sehingga dalam sekejap mata saja
bayangan tubuhnya sudah lenyap tak terlihat lagi.
"Aku harus segera memberitahu hal ini
pada Iblis Bunga Penyebar Maut. Mereka pasti senang mendengar perintah ini," desah Ki Bargala seraya bergegas meninggalkan
ruangan itu. *** "Ha ha ha...!" Mawar Merah tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perintah Prabu Cantraka yang disampaikan Ki Bargala.
Perintah itu memang sudah lama dinantikan. Terlebih lagi, Prabu Cantraka membebaskan mereka menggunakan segala cara untuk mendapatkan orang yang bernama Sudra.
Tanpa menunggu waktu lagi, malam itu juga
kedua wanita yang dikenal berjuluk Iblis
Bunga Penyebar Maut segera mengobrakabrik perkampungan di Lembah Tangkar ini.
Sementara itu, tidak berapa jauh dari
Lembah Tangkar, tampak Rangga dan Pandan
Wangi berdiri tegak memperhatikan lembah
yang kini semakin terang benderang oleh api yang membakar beberapa rumah. Lembah
yang semula begitu sunyi dan nampak tenang, malam ini benar-benar berubah menjadi sebuah neraka. Orang-orang yang semula
tidak kelihatan, kini banyak terlihat berlarian serabutan berusaha menyelamatkan
diri dari amukan iblis Bunga Penyebar Maut dan dua
orang pembantu Iblis Jubah Putih.
"Neraka benar-benar sudah terjadi di
lembah itu, Kakang," ujar Pandan Wangi perlahan, tanpa berpaling sedikit pun dari Lembah Tangkar.
Sedangkan Rangga hanya diam saja
membisu. Api semakin terlihat membesar dari beberapa rumah yang terbakar.
Meskipun jarak dari tempat ini cukup jauh dan tinggi, ta-pi cukup jelas untuk
melihat ke arah lembah itu. Dan jeritan-jeritan melengking, serta teriakanteriakan membentak terdengar jelas
terbawa angin malam.
"Kakang, lihat...!"
Tiba-tiba Pandan Wangi menunjuk ke
satu arah. Rangga segera mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk si Kipas Maut
itu. Tampak di sana dua orang tengah bertarung melawan seorang laki-laki yang kelihatannya bertubuh bungkuk. Mereka bertarung
di antara orang-orang yang berlarian serabutan, berusaha menyelamatkan diri dari
amu- kan dua orang wanita berbaju merah dan putih yang mengamuk tidak jauh dari pertarungan itu. "Si Bongkok...," desis Rangga, langsung
mengenali orang bertubuh bungkuk yang sedang bertarung melawan dua orang pembantu
terbaik Iblis Jubah Putih.
"Hup...! Yeaaah...!"
Tanpa menunggu waktu lagi, Pendekar
Rajawali Sakti cepat melesat menuruni lereng tebing Lembah Tangkar. Pandan Wangi
juga tidak ingin ketinggalan. Gadis itu segera melesat mengikuti Pendekar Rajawali
Sakti. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki memang
sudah mencapai tingkatan yang tinggi sekali.
Sehingga mereka bisa bergerak cepat bagaikan angin. Tapak-tapak kaki mereka bagai
melayang tak menyentuh tanah.
"Hup! Yeaaah...!"
Rangga cepat melentingkan tubuh begitu
memasuki perkampungan di Lembah Tangkar
itu. Gerakannya begitu ringan dan cepat luar biasa, sehingga Pandan Wangi agak
kesulitan mengimbanginya. Dan gadis itu tertinggal cukup jauh di belakang.
Sementara Rangga berlompatan dari satu atap rumah ke atap rumah lain. Kemudian, Pendekar Rajawali Sakti langsung
meluruk turun begitu dekat dengan si Bongkok yang
tengah bertarung melawan dua orang pembantu terbaik Iblis Jubah Putih.
"Hiyaaat..!"
Tanpa menunggu waktu lagi, Rangga
langsung terjun ke dalam pertarungan itu.
Segera dikerahkannya jurus 'Sayap Rajawali
Membelah Mega'. Kedua tangannya bergerak
cepat berkelebatan menyambar dua orang laki-laki separuh baya yang pernah bertarung
dengannya beberapa waktu lalu. Kemunculan
Rangga yang begitu tiba-tiba, membuat dua
orang pembantu Iblis Jubah Putih itu jadi
terkejut. Mereka kelabakan setengah mati
menghindari serangan-serangan cepat yang
dilakukan Rangga. Begitu dahsyat, dan luar
biasa. Menyadari kalau tidak bakal unggul
menghadapi pemuda berbaju rompi putih itu,
dua orang laki-laki separuh baya ini langsung melesat kabur.
"Kau tidak apa-apa, Paman Bongkok?"
tanya Rangga begitu dua orang yang mengeroyok si Bongkok kabur.
"Tanpa campur tanganmu, aku masih
bisa mematahkan leher mereka!" dengus si
Bongkok. "Mereka...."
"Aku tahu...!" selak si Bongkok cepat
memotong ucapan Rangga. "Sebaiknya, kita
segera menghentikan kerusuhan ini. Kau usir mereka, dan aku akan menyelamatkan
orang-orang ini."
Pada saat itu, Pandan Wangi baru muncul. Rangga meminta gadis itu membantu si
Bongkok menyelamatkan penduduk Lembah
Tangkar dari amukan Iblis Bunga Penyebar
Maut. Sementara Pendekar Rajawali Sakti cepat melompat menghampiri dua orang wanita
yang masih saja mengamuk, membakar rumah-rumah, dan membantai orang-orang
yang berada dekat di sekitarnya.
"Hentikan...!" seru Rangga keras menggelegar. Anggrek Putih dan Mawar Merah yang
dikenal berjuluk Iblis Bunga Penyebar Maut
jadi terkejut mendengar teriakan Rangga yang begitu keras menggelegar. Dan
begitu mereka tahu siapa yang berteriak menghentikannya,
seketika itu juga mereka melesat pergi cepat sekali. Begitu cepatnya lesatan
kedua wanita itu, sehingga Rangga tidak sempat lagi mengejar. Terlebih lagi di sekitarnya begitu banyak orang yang berserabutan kalut,
berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
Malam itu Rangga, Pandan Wangi, dan si
Bongkok jadi sibuk menenangkan penduduk
Lembah Tangkar ini. Mereka dikumpulkan di
sebuah lapangan yang cukup luas, di tengahtengah perkampungan lembah itu. Sementara


Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

api terus berkobar melahap beberapa rumah
yang tidak sempat lagi terselamatkan dari ke-hancuran. Memang sungguh dahsyat
tinda- kan yang dilakukan Iblis Bunga Penyebar
Maut. Entah berapa rumah yang terbakar,
dan berapa puluh orang yang terbantai tewas di tangan mereka.
Untuk menjaga keselamatan mereka semua, Rangga, Pandan Wangi, dan si Bongkok
malam itu terpaksa tinggal di perkampungan
Lembah Tangkar ini. Sampai pagi hari, ketiga pendekar itu mengamankan
perkampungan dari amukan Iblis Bunga Penyebar Maut dan
orang-orangnya Iblis Jubah Putih. Mereka
yang rumahnya terbakar, terpaksa tinggal di sekitar halaman rumah tetua
perkampungan ini yang biasanya dipanggil Ki Kuwu. Dia adalah seorang laki-laki tua yang
sekarang tinggal seorang diri di rumahnya yang cukup besar dan berhalaman luas. Beberapa pondok
yang berdiri di bagian belakang rumahnya, di-relakan untuk tempat tinggal
beberapa ke- luarga yang rumahnya habis terbakar.
*** "Tidak kusangka mereka akan berbuat
seperti ini...," desah Pandan Wangi, agak
menggumam nada suaranya.
"Mereka memang sudah lama mengancam. Dan selama ini kami hidup dicekam rasa takut. Sehingga tak ada seorang pun
yang berani keluar dari rumahnya," jelas Ki Kuwu.
"Siapa sebenarnya mereka itu, Ki?"
tanya Rangga. "Mereka orang-orang suruhan Prabu
Cantraka," sahut Ki Kuwu.
"Prabu Cantraka...?"
"Benar. Dialah orang yang berada di belakang semua kekacauan ini. Sejak kedatangannya ke sini, Lembah Tangkar benar-benar
menjadi sebuah neraka bagi penduduk lembah ini. Bencana selalu datang tanpa henti.
Bahkan dia selalu mengambil anak-anak gadis kami untuk dijadikan tumbal. Kami sendi-ri tidak tahu, ke mana anak-anak
gadis kami dibawa," jelas Ki Kuwu.
"Ki, bukankah Lembah Tangkar ini masih termasuk wilayah Kerajaan Karang Jati"
Apakah Prabu Cantraka itu Raja Karang Jati?" tanya Pandan Wangi ingin memastikan.
"Bukan! Gusti Prabu Karang Jati sendiri
tidak tahu kejadian di Lembah Tangkar ini,"
sahut Ki Kuwu. "Hm.... Mengapa tidak diberi tahu, Ki?"
tanya Pandan Wangi lagi.
"Tidak ada kesempatan bagi orang untuk
keluar dari Lembah Tangkar ini. Jadi, tidak mungkin semua kejadian di sini
dilaporkan. Mereka benar-benar menutup lembah ini," lagi-lagi Ki Kuwu memberi penjelasan keadaan
di Lembah Tangkar ini.
Sementara itu si Bongkok masuk ke dalam ruangan ini, dan langsung duduk bersila di samping Pendekar Rajawali Sakti.
Diambil-nya cawan perak yang berisi arak di depan
Pendekar Rajawali Sakti, langsung diteguknya hingga tandas tak tersisa lagi.
Rangga hanya tersenyum saja minumannya ditenggak habis
tanpa bilang dulu. Dan Pendekar Rajawali
Sakti memang sudah kenal betul watak si
Bongkok ini, meskipun di antara mereka jarang sekali bertemu.
"Bagaimana keadaan di luar, Paman
Bongkok?" tanya Rangga.
"Mulai tenang," sahut si Bongkok. "Penduduk pun sudah ada yang membangun rumahnya kembali."
"Lalu, bagaimana dengan...?"
"Rumahnya kosong," si Bongkok cepat
memutuskan pertanyaan Pandan Wangi yang
belum selesai. "Kosong..."!" Pandan Wangi mendelik.
"Hm.... Itu berarti mereka sudah pergi
meninggalkan lembah ini," gumam Rangga
perlahan seperti bicara pada diri sendiri.
"Tidak. Mereka pasti akan kembali lagi
ke sini," selak Ki Kuwu cepat.
"Bagaimana mungkin kau bisa memastikan begitu, Ki?" tanya Pandan Wangi.
"Mereka belum mendapatkan yang diinginkan. Jadi tidak mungkin mereka meninggalkan lembah ini tanpa mendapatkan yang
diinginkan," jelas Ki Kuwu.
"Apa sebenarnya yang mereka inginkan
di sini, Ki?" tanya Rangga ingin tahu.
Ki Kuwu tidak langsung menjawab. Kepalanya tertunduk, seakan-akan menyimpan
sesuatu yang begitu berat dalam hatinya. Pe-rubahan wajah laki-laki tua itu
sangat menarik perhatian Rangga, Pandan Wangi, dan si
Bongkok. Mereka jadi saling berpandangan
satu sama lain. Memang sulit dimengerti perubahan sikap Ki Kuwu yang begitu tiba-tiba setelah mendapat pertanyaan dari
Pendekar Rajawali Sakti tadi.
"Apakah pertanyaanku tadi salah...?"
desah Rangga seakan-akan bertanya pada diri sendiri.
Perlahan Ki Kuwu mengangkat kepala,
langsung menatap bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Pandan Wangi dan si
Bongkok hanya diam saja memperhatikan. Di
benak mereka juga bertanya-tanya atas sikap Ki Kuwu yang begitu tiba-tiba saja
jadi berubah. Sinar mata laki-laki tua itu begitu jelas, bagai menyimpan suatu
duka yang amat dalam. Bola mata yang semula begitu bening,
kini terlihat berkaca-kaca.
"Kalian datang ke Lembah Tangkar ini
tentu karena mendapat surat dari orang yang bernama Sudra...," ujar Ki Kuwu
perlahan, seraya menatap Pendekar Rajawali Sakti.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang surat
itu, Ki?" tanya Rangga meminta penjelasan.
Bukan hanya Rangga yang terkejut
mendengar ucapan Ki Kuwu tadi, tapi juga
Pandan Wangi dan si Bongkok. Mereka sampai terlongong terkejut. Sungguh tidak disangka kalau Ki Kuwu mengetahui tentang surat yang mereka terima dari orang yang bernama Sudra. "Ki Kuwu kenal orang yang bernama Sudra?" tanya Pandan Wangi melihat Ki Kuwu
diam saja tidak menjawab pertanyaan Rangga
tadi. "Ya.... Aku kenal betul. Bahkan aku sudah mengenalnya sejak dilahirkan
oleh ibunya," sahut Ki Kuwu perlahan.
Begitu pelannya suara laki-laki tua sesepuh perkampungan Lembah Tangkar itu,
sehingga hampir tidak terdengar. Rangga,
Pandan Wangi, dan si Bongkok jadi saling melemparkan pandang. Beberapa saat
lamanya keadaan di ruangan depan rumah Ki Kuwu ini
jadi hening. Tak ada seorang pun yang membuka suara. Ketiga pendekar itu memandang
Ki Kuwu dengan sinar mata meminta penjelasan dari surat yang diterima, hingga mereka sampai ke Lembah Tangkar ini.
"Sebenarnya bukan hanya kalian saja
yang dikirimi surat. Tapi sekitar dua puluh orang pendekar. Tapi entah kenapa,
surat itu hanya sampai kepada kalian berdua saja. Sedangkan surat-surat yang
lainnya... Ah, entahlah. Sampai di mana sekarang ini," ujar Ki Kuwu masih dengan suara pelan.
"Aku mendapatkan surat ini dari seorang kurir," sela si Bongkok seraya mengeluarkan selongsong surat yang tersimpan
di balik lipatan bajunya.
"Aku juga," sambung Rangga juga mengeluarkan surat yang diterimanya.
"Aku tidak. Aku hanya ikut saja dengan
Kakang Rangga," jelas Pandan Wangi menyambung berterus terang.
"Hm.... Berarti hanya dua pucuk surat
yang sampai. Sedangkan delapan belas surat
lagi tidak sampai," gumam Ki Kuwu seraya
mengangguk-anggukkan kepala. "Itu berarti pa-ra kurir yang diutus tidak bisa
kembali lagi ke Lembah Tangkar ini. Hhh.... Malang benar na-sib mereka."
"Ki, siapa sebenarnya orang yang bernama
Sudra itu?" tanya Rangga menyelak.
"Dia anakku," sahut Ki Kuwu perlahan.
"Jadi..."!"
Ketiga pendekar itu semakin bertambah
bingung mendengar pengakuan Ki Kuwu yang
begitu jelas dan berterus terang. Sungguh tidak disangka kalau orang yang
bernama Sudra itu adalah putra Ki Kuwu. Tapi sayang, mereka tidak bisa bertemu
orangnya sekarang ini. Sedangkan Ki Kuwu sendiri tidak tahu, untuk apa Sudra mengirim surat dan meminta
mereka ke Lembah Tangkar ini. Sedangkan mereka sudah
mengalami beberapa peristiwa di lembah ini.
Bahkan peristiwa berdarah yang tidak bisa di-cegah lagi.
*** Satu pekan sudah berlalu. Dan anak
buah Iblis Jubah Putih tidak pernah lagi kelihatan. Bahkan mendengar nama mereka
saja sudah tidak pernah lagi. Tapi yang membuat
Rangga masih belum bisa tenang, sampai saat ini belum bisa bertemu orang yang
bernama Sudra. Tapi ada satu yang membuat Pendekar
Rajawali Sakti semakin tidak mengerti. Semua orang di Lembah Tangkar ini tidak ada
seorang pun yang mau membicarakan tentang orang yang bernama Sudra. Bahkan sepertinya mereka tidak ingin memberitahukan
siapa itu Sudra.
"Kapan kita akan meninggalkan Lembah
Tangkar ini, Kakang?" tanya Pandan Wangi
ketika sore itu mereka berada di tepi sungai yang mengalir di pinggir sebelah
selatan Lembah Tangkar ini. "Si Bongkok sudah dua hari yang lalu meninggalkan
Lembah Tangkar ini.
Katanya dia mau mencari si Iblis Jubah Putih yang masih punya urusan dengannya."
"Tampaknya keadaan di sini memang
sudah tenang dan kembali seperti semula.
Bahkan mereka telah mengangkat Ki Kuwu
menjadi tetua perkampungan ini, yang sederajat dengan kepala desa di daerah lain. Ta-pi...," ucapan Rangga terputus.
"Tapi kenapa, Kakang?" tanya Pandan
Wangi. "Aku merasa persoalan di sini belum
tuntas seluruhnya, Pandan."
"Maksudmu...?" Pandan Wangi tidak
mengerti jalan pikiran Pendekar Rajawali Sak-ti. "Aku belum bertemu orang yang
berna- ma Sudra. Dan ini membuatku jadi penasaran! Terlebih lagi, aku merasa kalau Iblis Jubah Putih, dan Iblis Bunga Penyebar
Maut tidak jauh dari Lembah Tangkar ini. Mereka
pasti menunggu kesempatan untuk kembali
lagi ke sini. Bisa kau bayangkan, bagaimana jadinya jika kita meninggalkan
Lembah Tangkar, sementara mereka masih mengincar lembah ini tanpa diketahui maksud yang sebenarnya," kata Rangga menguraikan jalan piki-rannya.
Pandan Wangi mengangguk-anggukkan
kepala. Bisa dimengerti semua yang dikatakan Rangga barusan. Memang kelihatannya
tidak akan terjadi sesuatu lagi di Lembah
Tangkar ini. Tapi di balik ketenangan dan kedamaian, tersembunyi suatu bara api
yang setiap waktu bisa jadi berkobar. Sehingga
membuat Lembah Tangkar menjadi sebuah
neraka yang akan menghancurkan seluruh
lembah yang indah ini.
"Lantas apa yang akan kita lakukan di
sini, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Aku punya satu rencana...," sahut
Rangga seraya bangkit berdiri.
"Apa...?" tanya Pandan Wangi ingin tahu. Rangga tidak langsung menjawab keingintahuan Pandan Wangi terhadap rencana
yang sudah tersusun di dalam kepalanya. Dipandangnya matahari yang hampir tenggelam
di balik cakrawala sebelah barat. Perlahan
kakinya terayun, diikuti Pandan Wangi yang
cepat mensejajarkan ayunan langkahnya di
samping kanan Pendekar Rajawali Sakti.
Meskipun masih merasa penasaran atas
rencana yang ada di kepala Rangga, tapi Pandan Wangi tidak mau bertanya lagi
untuk mendesaknya. Mereka berjalan perlahanlahan meninggalkan tepian sungai tanpa berbicara lagi. Sementara, senja semakin jauh
merayap turun. Beberapa rumah yang berdiri
di Lembah Tangkar ini sudah ada yang menyalakan pelita.
Saat kedua pendekar muda itu baru saja
melewati beberapa rumah, mendadak saja terlihat sebuah bayangan berkelebat cepat menyelinap di antara rumah-rumah yang berdiri di Lembah Tangkar ini.
"Kau lihat itu tadi, Pandan?" tanya
Rangga. "Ya," sahut Pandan Wangi.
"Ayo kita kejar...!"
"Hup!"


Pendekar Rajawali Sakti 60 Badai Di Lembah Tangkar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pandan Wangi segera melesat cepat begitu Rangga melompat mengejar bayangan yang
berkelebat begitu cepat di depannya tadi. Mereka melompat ke atas atap, dan
terus ber- lompatan dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya. Begitu ringan dan cepat sekali gerakan yang dilakukan, sehingga
yang terlihat hanya dua bayangan putih dan biru yang
berkelebat melompati atap rumah yang satu,
ke atap rumah lainnya.
***** 5 Rangga berhenti berlari ketika sampai di
tepi hutan agak ke luar dari Lembah Tangkar.
Di sini masih sempat terlihat bayangan merah yang berkelebat cepat tadi
menghilang. Saat itu Pandan Wangi baru sampai, dan langsung
berdiri di samping kanan Pendekar Rajawali
Sakti. Mereka mengedarkan pandangan berkeliling, tapi tidak juga melihat bayangan merah yang dikejar tadi.
"Siapa orang itu tadi, Kakang?" tanya
Pandan Wangi. Tapi belum juga Rangga membuka mulut menjawab pertanyaan Pandan Wangi,
mendadak saja matanya menangkap secercah
cahaya merah meluruk cepat bagai kilat ke
arah mereka. "Awas...! Hup...!" seru Rangga memperingatkan. Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti
melenting sambil mendorong tubuh Pandan
Bencana Pedang Asmara 2 Kisah Tiga Kerajaan Sam Kok Romance Of The Three Kingdom Karya Luo Guan Zhong Kisah Tiga Kerajaan 2

Cari Blog Ini