Ceritasilat Novel Online

Pembunuh Misterius 3

Pendekar Rajawali Sakti 56 Pembunuh Misterius Bagian 3


Pandan Wangi dengan si Anggrek Hitam semalam.
"Hup!"
Ringan sekali gerakan Pendekar Rajawali
Sakti saat melompat keluar dari kamar ini,
melalui jendela yang terbuka. Begitu kakinya
menjejak tanah, langsung berlari cepat ke tempat Pandan Wangi bertarung semalam.
Sementara Ki Anggarasana hanya memperhatikan saja,
sedangkan Candraka ikut melompat ke luar dan
menghampiri Rangga yang berjongkok memungut
sebuah bunga anggrek hitam dari tanah.
Rangga berpaling memandang Candraka
yang sudah berada di sampingnya. Di sekitar
mereka, terdapat belasan, bahkan mungkin
puluhan bunga anggrek hitam yang bertebaran di
tanah. Bahkan tidak sedikit yang menancap di
pepohonan. Melihat banyaknya benda yang
mengandung racun mematikan itu, sudah dapat
dipastikan kalau Pandan Wangi pasti telah
digempur habis-habisan. Masih untung gadis itu
tidak terkena satu pun dari benda-benda
mematikan ini. "Benda-benda ini mengandung racun.
Sebaiknya segera disingkirkan. Sangat berbahaya
kalau sampai mengenai orang," jelas Rangga.
"Akan kuperintahkan pekerja di sini untuk
menguburkan benda-benda ini," sambut
Candraka. Rangga memandang jendela kamar Salaya
yang masih terbuka lebar. Di sana, Ki
Anggarasana masih berdiri memperhatikan.
Pendekar Rajawali Sakti kemudian kembali
menatap Candraka.
"Adikmu bisa ilmu kedigdayaan?" tanya
Rangga hati-hati, takut menyinggung perasaan
pemuda ini. "Dia tidak pernah bersungguh-sungguh
mempelajarinya. Aku sendiri hanya belajar dari
ayah," sahut Candraka. "Kenapa kau bertanya seperti itu" Kau mencurigai
Salaya...?"
"Tidak," sahut Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti melangkah kembali
menuju kamar Salaya. Candraka mengikuti, dan
mensejajarkan langkahnya di samping kiri
pemuda berbaju rompi putih itu. Sementara itu
Rangga teringat cerita Pandan Wangi. Saat itu
mereka mempunyai kesempatan berdua di dalam
kamar, pagi-pagi sekali tadi. Pandan Wangi
menyatakan kalau si Anggrek Hitam bertubuh
ramping seperti wanita, tapi suaranya besar dan
seperti dibuat-buat.
"Aku akan pergi sebentar," pamit Rangga setelah dekat dengan jendela kamar
Salaya. Tanpa menunggu jawaban lagi, Pendekar
Rajawali Sakti bergegas melangkah ke depan
rumah besar ini. Sementara Ki Anggarasana dan
Candraka hanya memandangi kepergian pemuda
berbaju rompi putih itu, sampai lenyap di balik
dinding bagian depan. Tak berapa lama
kemudian, terdengar derap langkah kaki kuda
yang dipacu cepat.
"Dia meminta benda-benda itu disingkirkan
dari sana," jelas Candraka. "Aku juga akan pergi dulu, Ayah."
Candraka juga tidak menunggu jawaban dari
ayahnya, dan bergegas melangkah pergi. Ki
Anggarasana memandangi punggung anaknya itu
sebentar, kemudian menuju jendela kamar.
*** Candraka memacu cepat kudanya melintasi
jalan tanah berdebu. Pandangannya lurus ke
depan, menatap langsung ke sebuah rumah kecil
yang agak menyendiri dari rumah-rumah lain.
Tampak seorang laki-laki tua tengah berdiri
memandangi di depan rumah itu. Dia kemudian
bergegas menghampiri, begitu Candraka dekat
Pemuda tampan itu cepat melompat turun dari
punggung kudanya, begitu dekat di depan rumah
kecil yang tampak cantik ini.
"Andira ada, Ki Rasut?" tanya Candraka.
"Oh...! A..., ada! Di dalam," sahut Ki Rasut tergagap.
Candraka memandangi laki-laki tua itu
dengan kening berkerut
"Kenapa kau gugup, Ki Rasut?" tegur
Candraka. "Tidak.... Tidak apa-apa, Den. Sebentar Nyai
Andira ku kasih tahu dulu," sahut Ki Rasut sambil berpegas melangkah masuk ke
dalam rumah itu. Kening Candraka semakin dalam berkerut.
Tidak biasanya Ki Rasut tergagap begitu.
Sebentar dipandanginya laki-laki tua itu yang
sudah lenyap ke dalam rumah. Sedangkan
kudanya sudah ditambatkan di sebatang pohon
yang ada di depan rumah itu. Dia kemudian
melangkah menuju pintu yang masih sedikit
terbuka. Belum juga Candraka mendorong, pintu
itu sudah terbuka lebar. Seketika muncul wanita
cantik yang mengenakan baju hijau ketat. Dia
tersenyum manis menyambut kedatangan
Candraka. "Aku tidak mengira kau akan datang hari
ini, Candraka," ujar wanita itu lembut "Yuk, masuk...."
Candraka melangkah masuk mengikuti
wanita cantik berbaju hijau itu. Sebentar
pandangannya beredar mengitari ruangan depan
rumah ini. Dia berdiri saja tidak jauh dari pintu.
Sementara wanita cantik bernama Andira itu
memandanginya. "Ada apa, Candraka" Kau seperti baru sekali ini datang ke sini," tegur Andira.
"Ada orang lain di sini?" tanya Candraka, bernada curiga.
"Pertanyaanmu aneh, Candraka. Tidak ada
siapa-siapa di sini selain aku dan Ki Rasut,"
sahut Andira seraya memberi senyum manisnya.
Baru saja Candraka hendak membuka
mulutnya, tiba-tiba saja terdengar derap kaki
kuda yang dipacu cepat menjauh. Bagaikan kilat,
pemuda itu melesat ke luar menerobos pintu.
Manis sekali kakinya menjejak tanah di depan
beranda rumah ini. Candraka masih sempat
melihat seekor kuda yang dipacu cepat, berbelok
dari jalan yang menuju ke arah sungai.
Candraka membalikkan tubuh, lalu bergegas
masuk kembali. Mukanya memerah, menatap
tajam wanita cantik yang masih menunggunya
dengan bibir menyungging senyuman manis
menggoda. Perlahan Candraka menghampiri, lalu
dengan kasar didorongnya tubuh wanita itu.
"Auh...!" Andira terpekik kaget.
Wanita itu jatuh tersuruk ke lantai. Bibirnya
meringis begitu punggungnya menghantam lantai
papan yang keras. Candraka menghampiri sambil
menggertakkan rahangnya. Perlahan-lahan
Andira bangkit berdiri. Senyumnya langsung
menghilang dari bibirnya yang selalu merah,
indah, dan menggiurkan itu.
"Keluar kau dari rumahku!" bentak Andira jadi kalap, diperlakukan kasar begitu.
"Dasar pelacur! Perempuan rendah...! Berani benar menyembunyikan laki-laki lain
di rumah ini!" geram Candraka memaki.
Plak! "Akh...!" lagi-lagi Andira memekik begitu satu tamparan keras mendarat di
wajahnya. Wanita cantik berbaju hijau itu melintir
beberapa kali. Dia terjatuh menabrak kursi,
hingga hancur berantakan. Mulutnya mendesis
geram bagaikan ular. Wajahnya memerah bagai
besi terbakar. Cepat dia bangkit berdiri. Saat itu juga, kecantikan wajahnya
hilang. Bola matanya
kini berapi-api, menyimpan amarah membara.
Kata-kata Candraka dan perlakuan kasar pemuda
itu, membuat hatinya bagai tertusuk sebilah
pedang! "Aku memang pelacur! Tidak ada seorang
pun yang bisa melarangku menerima laki-laki ke
sini! Pergi kau! Pergi...!" jerit Andira kalap.
Candraka sempat terhenyak melihat Andira
jadi kalap begitu. Tubuhnya cepat dimiringkan
ketika sebuah jambangan bunga tiba-tiba
dilemparkan wanita itu ke arahnya. Jambangan
itu hancur menghantam dinding. Andira kini
mengamuk sejadi-jadinya. Diraihnya apa saja
yang bisa terjangkau, dan dilemparkannya ke
arah Candraka. Akibatnya pemuda itu jadi sibuk
menghindarinya.
"Pergi kau, Jahanam! Pergi...!" jerit Andira semakin kalap.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Candraka
bergegas memutar tubuhnya dan melompat
keluar dari dalam rumah ini. Andira langsung
berhenti mengamuk. Dipandanginya pemuda
yang cepat lenyap dari balik pintu itu. Tak berapa
lama kemudian, terdengar suara derap kaki kuda
dipacu cepat "Huh! Dasar laki-laki...! Mau menangnya
sendiri!" dengus Andira.
Saat itu Ki Rasut datang tergopoh-gopoh,
dan langsung tertegun melihat keadaan ruangan
depan yang berantakan seperti baru saja terjadi
perang. Andira melirik sedikit pada laki-laki tua itu, lalu menghempaskan
tubuhnya di kursi.
Napasnya tersengal dan memburu, seperti baru
saja mendaki bukit yang tinggi sekali.
"Ada apa, Nyai" Kenapa berantakan begini?"
tanya Ki Rasut "Anak itu telah menghinaku, Ki," sahut Andira masih tersengal.
"Dia menyakitimu?"
Ki Rasut menghampiri dan mengamati pipi
kanan Andira yang memerah, bergambar lima jari
tangan. Tangannya terulur, membelai lembut pipi
yang memerah itu. Andira diam saja. Dia masih
sibuk mengatur pernapasannya yang jadi sesak,
akibat kemarahan meluap setelah mendapat
hinaan begitu menyakitkan.
"Sudah kukatakan, tidak ada gunanya
semua ini, Nyai. Hal ini hanya akan membuat
hatimu sakit," hibur Ki Rasut lembut.
Andira diam saja. Pernapasannya sudah bisa
dikendalikan. Namun warna merah di pipi
kanannya belum juga hilang. Sakit yang
dirasakan akibat tamparan tidak sebanding
dengan sakit yang diderita hatinya.
"Aku kasihan padamu, Nyai. Seumur hidup
kau hanya jadi bahan permainan laki-laki.
Seharusnya, kau bisa melawan anak itu. Aku
yakin, dengan mudah kau dapat membunuhnya,
semudah membalikkan telapak tangan. Tapi terus
terang, sebenarnya aku tidak setuju dengan
rencanamu. Buat apa kau mengacukan Desa
Ragasari, sedangkan kau tidak mempunyai
masalah di sini" Tapi kau tetap nekat. Bahkan
mengorbankan perasaanmu sendiri. Sebaiknya,
hentikan saja, Nyai Tidak ada gunanya
rencanamu ini diteruskan," bujuk Ki Rasut lagi.
"Aku tidak akan berhenti, sebelum yang
kuinginkan tercapai," dengus Andira.
"Bukankah yang kau inginkan sudah
tercapai, Nyai?"
"Belum!"
"Semua orang yang...."
"Ki...," potong Andira cepat "Lima tahun aku merencanakan semua ini. Lima tahun
aku bekerja keras. Aku tidak ingin semuanya
berantakan gara-gara Candraka. Toh, dia hanya
cemburu buta saja. Aku yakin, dia tidak tahu
apa-apa. Dan ini masih bisa diteruskan.
Percayalah! Kalau semua sudah berhasil, aku
akan meninggalkan desa ini. Aku tidak akan
kembali lagi ke sini."
"Aku hanya khawatir, Nyai..."
"Apa yang kau khawatirkan, Ki?"
"Cerita Salaya semalam," sahut Ki Rasut.
Andira jadi terdiam, dan langsung teringat
cerita Salaya semalam. Jika mengingat hal itu,
ada sedikit kekhawatiran di hatinya. Tapi dia
yakin, utusan dari Karang Setra yang dikatakan
Salaya semalam, pasti belum tahu keberadaannya
di desa ini. Hanya saja kalau diingat tentang ciri-ciri utusan itu, rasa
kekhawatiran langsung
datang menyelinap di harinya.
Dia yakin kalau utusan itu pastilah Rangga,
yang dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti
dan juga Raja Karang Setra. Dan gadis itu,
pastilah Pandan Wangi si Kipas Maut. Andira
mendesah panjang, mencoba menghilangkan
kekhawatiran yang menyelinap di hatinya.
"Kita akan segera pergi setelah tujuan utama kita di sini tercapai, Ki. Yang
penting, Candraka dan Salaya harus diadu domba dahulu.
Kemudian..., Ki Anggarasana harus dibunuh.
Lalu, kita tempatkan Salaya menjadi kepala desa.
Dengan demikian, desa ini bisa berada dalam


Pendekar Rajawali Sakti 56 Pembunuh Misterius di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kekuasaanku. Dan kita kendalikan dari jauh.
Sebab, kita juga harus melumpuhkan desa-desa
lain yang berada di bawah Kerajaan Karang
Setra," tegas Andira setelah terdiam beberapa saat lamanya.
"Terserahlah, Nyai. Tapi kau harus hati-hati.
Aku yakin, mereka adalah Pendekar Rajawali
Sakti dan si Kipas Maut. Mungkin kau bisa
menandingi si Kipas Maut. Tapi rasanya kau tidak akan dapat menandingi Pendekar
Rajawali Sakti.
Kau harus menghindar dan jangan sampai
bentrok dengannya," ujar Ki Rasut
memperingatkan.
"Itu tidak akan terjadi, Ki. Percayalah,"
Andira meyakinkan laki-laki tua itu.
"Aku percaya padamu, Nyai."
"Sebaiknya kau bersiap-siap, Ki. Dua hari
lagi semuanya akan selesai. Jangan lupa, harta
pusaka itu jangan sampai tertinggal. Kita sangat membutuhkannya," tegas Andira
lagi. "Aku selalu menjaganya baik-baik, Nyai"
Ki Rasut beranjak meninggalkan ruangan
itu. Tapi sebelum menghilang, Andira sudah
memanggil lagi. Laki-laki tua itu berhenti
melangkah, dan memutar tubuhnya.
"Apa Salaya yang pergi tadi, Ki?" tanya Andira.
"Hanya kudanya saja. Anak itu masih ada di
kamar belakang," sahut Ki Rasut.
"Aku akan ke sana."
Andira bergegas beranjak bangkit berdiri. Ki
Rasut hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
Cepat sekali Andira melupakan kemarahan dan
sakit hatinya atas hinaan Candraka tadi.
Sementara Ki Rasut masih berada di ruangan itu,
Andira sudah lenyap tidak terlihat lagi.
*** 7 Sementara itu, Candraka terus memacu
kudanya menuju sungai. Pemuda itu ingin tahu,
siapa yang tadi pergi dari rumah Andira.
Kecemburuan telah menghimpit dadanya.
Meskipun dia tahu kalau Andira bukan wanita
baik-baik, tapi sudah begitu disukainya. Tidak
heran kalau kecemburuan nya sering timbul jika
melihat ada laki-laki lain yang datang atau keluar dari rumah itu.
Tapi tadi, dia tidak dapat menahan diri. Dan
semuanya terjadi begitu saja, bagai tak disadari.
Candraka menghentikan lari kudanya begitu
sampai di tepi sungai. Hatinya tertegun melihat
Rangga sudah ada di sana bersama kudanya. Dan
lebih terkejut lagi, karena di situ juga ada seekor kuda yang dikenalinya.
"Rangga...," panggil Candraka seraya
melompat turun dari punggung kudanya.
Rangga berpaling menatap putra kepala desa
itu. Candraka bergegas menghampiri. Sebentar
dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti,
kemudian diamatinya kuda putih dengan kaki
belang coklat di belakang pemuda berbaju rompi
putih itu. "Kau kenal kuda ini, Candraka?" tanya
Rangga. "Milik adikku," sahut Candraka.
"Kuda ini tiba-tiba datang dari arah
kedatanganmu tadi, Candraka," jelas Rangga.
"Tidak bersama Salaya?" tanya Candraka.
Rangga hanya menggelengkan kepala saja. Sedangkan Candraka mengamati kuda yang sangat
dikenalinya ini. Dihampirinya kuda itu. Sejenak
terlintas di kepalanya, saat melihat selintas
seekor kuda berbelok dan terus menghilang dari
rumah Andira. Kuda itu memang berwarna putih.
Tapi tidak pernah sedikit pun terlintas dalam
pikirannya kalau.... Candraka tidak meneruskan.
Dia tidak yakin kalau kuda ini yang tadi
dilihatnya. Dia tahu betul, siapa Salaya. Adiknya tidak
pernah main perempuan. Salaya selalu merasa
takut bila berdekatan dengan wanita. Demikian
pula bila bergaul dengan laki-laki. Kebenciannya seketika timbul. Karena, setiap
pemuda seusianya di desa ini selalu mengejek dan mencemoohkan
nya. Bahkan tidak sedikit orang-orang tua yang
melarang anaknya bergaul dengan Salaya.
Katanya, takut ketularan. Entah ketularan apa!
Mungkin mereka takut anak laki-lakinya
mengikuti jejak Salaya yang bersikap seperti
wanita. "Candraka, apa Salaya sering meninggalkan
kudanya begitu saja?" tanya Rangga.
"Salaya begitu menyukai kuda itu. Dia tidak pernah meninggalkannya begitu saja.
Apalagi membiarkannya pergi sendiri," sahut Candraka.
"Sebaiknya kita cari adikmu. Barangkali dia mengalami sesuatu, dan menyuruh kuda
itu pulang untuk memberi tahu," Rangga mendugaduga. "Kuda ini sudah terlatih. Dia bisa
menunjukkan, di mana Salaya berada," jelas
Candraka. "Itu lebih bagus," sambut Rangga.
Candraka mengambil tali kekang kuda
adiknya ini, kemudian menuntun mendekati
kudanya sendiri. Pemuda itu melompat naik ke
punggung kudanya. Rangga juga bergegas naik ke
punggung kudanya. Kemudian mereka bergerak
meninggalkan tepian sungai itu. Candraka
membiarkan kuda putih berkaki belang coklat itu
berjalan di depan. Dia hanya memegangi ujung
tali kekangnya saja, dan mengikuti dari belakang.
Sementara Rangga mensejajarkan langkah
kudanya di samping kanan putra kepala desa itu.
"Ada apa, Candraka?" tanya Rangga melihat kening pemuda itu berkerut.
"Ah! Tidak apa-apa," sahut Candraka buru-buru.
Candraka tadi sempat tertegun, karena jalan
yang dilaluinya kini menuju rumah Andira. Hanya
satu jalan ini yang menuju ke sana dari sungai.
Tikungan jalan yang menuju ke perkampungan
padat, sudah terlewati. Dan Candraka yakin
sekali, kalau tidak ada tujuan lain jika melalui jalan ini. Dia jadi bertanyatanya dalam hati,
mungkinkah Salaya sekarang ada di rumah
Andira..." Namun Candraka tidak ingin menduga
terlalu jauh. Hatinya tidak yakin kalau adiknya
bermain-main dengan perempuan pelacur itu.
Candraka cepat menghentikan kuda itu saat
berbelok menuju rumah Andira. Dari tikungan
jalan ini, rumah itu sudah terlihat jelas sekali.
Rangga ikut menghentikan ayunan kaki kudanya.
Sebentar matanya memandang ke arah rumah
yang menyendiri dan jauh dari pemukiman
penduduk itu. Sebentar kemudian ditatapnya
Candraka yang berada di sampingnya.
"Ada apa, Candraka?" tanya Rangga.
"Sebaiknya kau saja yang ke sana sendiri,
Rangga. Aku akan mengawasi dari sini," ujar Candraka tanpa menjawab pertanyaan
Pendekar Rajawali Sakti.
"Kenapa" Siapa pemilik rumah itu?" tanya Rangga jadi heran.
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku tidak
mau ke sana. Kau saja yang ke sana, Rangga,"
Candraka tidak mau mengatakan alasannya.
"Baiklah. Mudah-mudahan saja adikmu ada
di sana," Rangga menyerah.
Pendekar Rajawali Sakti menggebah
kudanya perlahan, mendekati rumah itu.
Sementara Candraka menyembunyikan kuda
miliknya sendiri dan kuda adiknya ke dalam
semak di belokan jalan. Dia sendiri
menyembunyikan diri, sambil terus
memperhatikan Rangga yang semakin dekat
dengan rumah Andira.
*** Rangga tidak jadi mengetuk, karena pintu
itu sudah terbuka. Dari dalam, muncul seorang
laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun.
Dia tersenyum ramah, seraya menganggukkan
kepala dalam-dalam ketika menyambut
kedatangan Pendekar Rajawali Sakti. Rangga
melangkah masuk begitu dipersilakan.
Dipandanginya keadaan ruangan yang agak
berantakan. "Ada yang bisa kubantu, Den?" tanya lakilaki tua yang ternyata adalah Ki Rasut.
"Kau pemilik rumah ini?" Rangga malah
balik bertanya.
"Bukan, Aku hanya pelayan di sini," sahut Ki Rasut.
"Aku ingin bertemu pemiliknya," kata
Rangga. "O, tentu.... Semua yang datang ke sini pasti ingin menemui pemilik rumah ini.
Jangan khawatir, Den. Pelayanan majikanku sangat luar
biasa. Raden pasti betah dan selalu teringat akan kecantikan dan kemolekan
tubuhnya," jelas Ki Rasut seraya tersenyum menyeringai.
Rangga jadi tertegun mendengar ucapan
laki-laki tua ini. Tapi belum sempat mulutnya
terbuka, Ki Rasut sudah meninggalkan ruangan
itu. Sementara Rangga mengedarkan pandangan
ke sekeliling, mengamati keadaan ruangan yang
agak berantakan ini.
Sementara Ki Rasut sudah berada di dalam
sebuah kamar belakang yang berukuran tidak
begitu besar. Bergegas ditutupnya pintu kamar
itu. Dia sedikit meringis melihat di atas
pembaringan, Andira tergolek hanya ditutupi
selembar kain tipis. Di sampingnya terbaring
seorang pemuda yang tidak bisa dikatakan
tampan, tapi lebih tepat kalau disebut cantik.
Karena, wajah, bentuk tubuh, serta kulitnya,
lebih mirip wanita daripada laki-laki.
"Maaf, Nyai Andira. Ada sesuatu yang
penting," ujar Ki Rasut. "Katakan saja," pinta Andira.
Ki Rasut melirik pemuda yang tak lain
Salaya. Sedangkan pemuda itu seakan-akan tidak
peduli, tapi malah melingkarkan tangannya ke
pinggang Andira yang ramping dan indah. Andira
melepaskan pelukan itu. Pakaiannya kemudian
diraih, dan cepat dikenakannya. Lalu wanita itu
beranjak turun dan pembaringan.
"Jangan ke mana-mana, Salaya. Aku segera
kembali," ujar Andira berpesan seraya memberi satu kecupan lembut di bibir
pemuda itu. Salaya hanya mengangguk saja. Andira
bergegas menghampiri Ki Rasut Mereka kemudian
melangkah keluar dari kamar itu. Ki Rasut
menutup pintu kembali. Digamitnya tangan
Andira dan dibawanya mendekati pintu Iain.
Sedikit dibukanya pintu itu, lalu meminta Andira untuk mengintip dari celah
pintu. Andira langsung tersentak. Kedua matanya
terbeliak setelah mengintip dari celah pintu yang langsung berhubungan dengan
ruangan depan rumah ini. Di ruangan yang agak berantakan itu,
tampak Rangga sedang mengamati keadaan
sekelilingnya. Hati-hati sekali Andira menutup
pintu itu kembali, lalu melangkah menjauhinya.
Ki Rasut mengikuti. Mereka masuk ke dalam
kamar lain. "Apa maksudnya dia ke sini...?" tanya Andira setengah berbisik, setelah berada
di dalam kamar lain. Hanya ada sebuah pembaringan dan dua
buah kursi di dalam kamar yang berukuran tidak
terlalu besar ini. Tapi, keadaannya cukup rapi
dan bersih. "Aku tidak tahu. Dia ingin bertemu pemilik
rumah ini," sahut Ki Rasut.
"Kau katakan ada pemiliknya?" tanya Andira lagi. Ki Rasut mengangguk.
"Kau sebutkan namaku?"
"Tidak."
"Ahhh...," Andira mendesah panjang.
"Untung dia tidak mengenal rupamu, Ki. Tapi dia mengenalku. Dan itu jangan
sampai terjadi."
"Lantas, apa yang harus kulakukan?" tanya Ki Rasut jadi bingung.
"Katakan kalau aku sedang keluar," sahut Andira.
"Kalau dia menunggu?"
'Terserah kau, bagaimana caranya agar dia
cepat-cepat pergi."
Ki Rasut bergegas keluar dari kamar itu.
Sementara Andira menghembuskan napas
panjang seraya menyandarkan punggungnya ke
dinding. Di luar sana, Ki Rasut kemudian
menggunakan caranya agar Pendekar Rajawali
Sakti pergi dari situ. Dan memang, tak lama
kemudian Rangga berlalu.
"Dari mana dia tahu rumah ini...?" Andira bertanya-tanya sendiri.
Bergegas wanita itu keluar dari kamar ini,
dan kembali ke kamar. Di situ, Salaya seperti tak sabar menunggu. Wanita itu
memberi senyuman
manis begitu berada di kamar. Salaya
membalasnya dengan senyuman manis pula.
Pemuda itu sudah berpakaian kembali.
"Ada apa Ki Rasut memanggilmu?" tanya
Salaya.

Pendekar Rajawali Sakti 56 Pembunuh Misterius di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ada persoalan sedikit," sahut Andira.
"Persoalan apa?"
"Tamu ayahmu datang ke sini."
Salaya tersentak kaget. Dipandanginya
Andira dalam-dalam.
"Jangan khawatir, Salaya. Dia tidak tahu
kalau kau ada di sini," hibur Andira lembut.
"Bukan itu yang kucemaskan. Tapi untuk
apa dia datang ke sini...?"
"Mencariku," tenang sekali suara Andira.
"Mencarimu" Untuk apa, Andira...?"
"Kau tahu bukan, maksud kedatangannya
ke desa ini?" Andira malah batik bertanya.
"Ya! Tapi apa hubungannya denganmu,
Andira?" "Akulah yang dicarinya."
"Kau...?" Salaya memandangi wanita itu tidak percaya.
"Sekarang kau sudah tahu, siapa aku
sebenarnya, Salaya. Aku adalah buronan Karang
Setra. Dan tamu ayahmu itu sebenarnya Raja
Karang Setra. Dia juga bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Dan gadis yang semalam
bertarung denganmu adalah Pandan Wangi yang berjuluk si
Kipas Maut," tenang sekali suara Andira
menjelaskan siapa dirinya pada pemuda itu.
"Tidak mungkin.... Kau pasti bergurau,
Andira,' Salaya masih belum percaya kalau
wanita secantik Andira adalah seorang buronan.
"Aku tidak bergurau. Memang itulah
kenyataannya."
"Tapi..., untuk apa kau lakukan itu?"
"Sama sepertimu. Semua ini kulakukan
karena dendam dan sakit hati yang
berkepanjangan. Ibuku seorang selir di Karang
Setra. Dan begitu jabatan Adipati Karang Setra
jatuh ke tangan Rangga, semuanya berubah.
Ibuku sengsara, Lalu aku jadi permainan lakilaki. Tak sedikit pun kekayaan Karang Setra yang bisa ku nikmati. Aku hanya
mengambil sedikit
hakku, hak ibuku yang mati merana karena
kemiskinan yang berkepanjangan. Dua purnama
yang lalu, aku pergi ke Karang Setra. Aku hanya
mengambil barang-barang berharga dari Istana
Karang Setra. Memang semua itu terbuat dari
emas murni yang tentu mahal sekali harganya.
Aku bisa jadi kaya dengan benda-benda itu,
Salaya. bahkan bisa memperkuat diri untuk
membalas dendam pada keluarga Adipati Arya
Permadi, ayah kandung Rangga," jelas Andira, panjang lebar.
"Andira, aku tidak ingin mempercayai
ceritamu. Tapi kenapa semua dendammu kau
lampiaskan di desa ini?"
"Desa Ragasari termasuk wilayah Kerajaan
Karang Setra. Ini sebagian dari rencanaku,
Salaya. Sedikit demi sedikit, aku akan
melemahkan dan mengacaukan desa-desa di
seluruh Karang Setra. Maaf, aku harus
melibatkan dan menjadikanmu seorang yang
ditakuti di desa ini. Tapi perlu kau ketahui,
semua itu kulakukan untuk membalas dendam.
Juga, membantu membalaskan sakit hatimu pada
mereka yang menghina dan mengejekmu selama
ini" "Aku tidak tahu, apa yang harus kukatakan.
Hanya kau yang menganggapku Laki-laki.
Bahkan ayahku, dan kakakku sendiri tidak
pernah memandangku sebagai laki-laki. Sudah
terlalu banyak yang kau lakukan untukku,
Andira. Selama lima tahun ini, kau dan Ki Rasut
menggemblengku dengan ilmu-ilmu kedigdayaan,
tanpa seorang pun tahu. Hingga, aku dapat
membalas sakit hatiku pada mereka. Andira...,
izinkan aku terus bersamamu. Ke mana kau
pergi, dan apa yang kau lakukan, aku harus
selalu di sisimu. Hanya kau yang bisa mengerti
tentang diriku," kata Salaya berharap.
"Aku seorang buronan, Salaya," kata Andira.
"Aku tidak peduli."
"Aku ini pelacur, seperti yang dituduhkan
kakakmu padaku."
"Siapa pun dirimu, aku tidak peduli," tegas Salaya.
"Kau bersungguh-sungguh, Salaya?"
"Apa yang harus kulakukan untuk
membuktikan kesungguhanku, Andira?"
Andira menjatuhkan diri ke dalam pelukan
pemuda itu. Dengan lembut, dikecupnya bibir
Salaya, dan dikulum nya dalam-dalam. Perlahan
bibirnya dilepaskan dari bibir pemuda itu.
Kemudian, dipandangnya wajah itu lekat-lekat.
"Malam nanti, kita bumi hanguskan Desa
Ragasari. Lalu, kita pergi dari sini sejauhjauhnya, sampai tak seorang pun yang bisa
menemukan kita, Salaya," tegas Andira, lembut.
"Apakah setelah itu si Anggrek Hitam tidak
ada lagi?"
"Rupanya kau sudah begitu lekat dengan
Anggrek Hitam, Salaya."
"Rasanya aku tidak bisa lagi dipisahkan
dengan Anggrek Hitam."
"Kau akan menjadi pendampingku, sekaligus
pelindungku yang paling perkasa, Salaya."
"Ya! Dan kau adalah permaisuriku yang
paling cantik."
Salaya mengangkat tubuh ramping wanita
itu, dan berputaran beberapa kali. Andira tertawa terkikik manja. Tangannya
dilingkarkan di leher
pemuda itu. Mereka sama-sama terpekik begitu
jatuh ke pembaringan. Salaya langsung melumat
bibir wanita itu dalam-dalam, dan mengulumnya
penuh gairah yang menggelora.
"Ah! Kau nakal, Salaya," desah Andira seraya menggeliat dari himpitan pemuda
itu. "Kau cantik."
"Auwh...!"
"Ha ha ha...!"
*** 8 Waktu memang terus berputar. Siang pun
berganti malam. Dan tugas sang mentari kini
sudah digantikan sang dewi malam, dengan
sinarnya yang lembut dan anggun. Namun
suasana di Desa Ragasari tidak juga berubah.
Tetap sunyi lengang bagaikan tak berpenghuni. Di antara kesunyian itu, terlihat
tiga sosok tubuh
hitam berkelebatan cepat melintasi jalan tanah
berdebu. Dari gerakan mereka yang cepat dan ringan,
sudah dapat dipastikan kalau rata-rata memiliki
kepandaian yang cukup tinggi. Ketiga sosok itu
berhenti tepat di tengah-tengah jalan, di antara rumah-rumah penduduk. Mereka
terdiri dari seorang laki-laki tua, seorang wanita cantik, dan seorang lagi yang mengenakan
topeng tengkorak
"Ingat, jangan terpisah. Begitu api berkobar, cepat tinggalkan desa ini," jelas
wanita cantik yang tak lain adalah Andira.
Wanita yang kini mengenakan baju hitam
ketat itu, menatap manusia bertopeng tengkorak.
Seluruh penduduk Desa Ragasari mengenalnya
dengan julukan si Anggrek Hitam. Karena, senjata mautnya berupa anggrek berwarna
hitam. "Kau sudah siap, Salaya?" tanya Andira.
"Jangan ragukan lagi diriku, Andira," sahut si Anggrek Hitam itu.
"Ini desa kelahiranmu, Salaya."
"Aku tidak peduli, sekali pun harus
membakar rumah ayahku sendiri. Laksanakan
saja, akan kuhadang siapa saja yang berani
menghalangi," mantap sekali nada suara si
Anggrek Hitam yang dipanggil Salaya oleh Andira.
"Ki Rasut..," Andira menatap Laki-laki tua di sampingnya.
Tanpa banyak cakap lagi, Ki Rasut
menyalakan obor. Langsung dilemparkannya ke
atas atap salah satu rumah di dekatnya. Si
Anggrek Hitam yang sebenarnya adalah Salaya
juga segera menyalakan obor, lalu
melemparkannya ke atap rumah lain. Begitu juga
Andira, melakukan hal yang sama.
Sebentar saja api sudah berkobar cepat,
melahap rumah-rumah di Desa Ragasari itu.
Namun ada sesuatu kejanggalan yang terjadi.
Dan ini cepat diperhatikan Andira.
"Tunggu...!" seru Andira tiba-tiba.
Ki Rasut dan Anggrek Hitam tidak jadi
melemparkan obor yang sudah menyala di
tangannya. Mereka berbarengan berpaling,
menatap wanita cantik itu.
"Apa kalian tidak melihat ada keanehan di
sini...?" tanya Andira.
Anggrek Hitam dan Ki Rasut saling
berpandangan. Mereka tidak mengerti pertanyaan
Andira barusan. Kedua orang itu tidak merasakan
adanya sesuatu, tapi Andira justru merasakan
adanya kejanggalan di sekitar desa ini.
"Ada apa, Andira" Kenapa kau hentikan?"
tanya Anggrek Hitam.
"Kalian perhatikan. Hampir semua rumah
sudah terbakar, tapi tak seorang pun terlihat
keluar dari rumahnya. Apa kalian tidak melihat
kejanggalan ini?"
"Celaka...!" sentak Anggrek Hitam mendesis.
"Cepat kita pergi dari sini!" seru Andira memberi perintah.
Belum juga mereka bergerak meninggalkan
desa yang terbakar itu, mendadak saja beberapa
tubuh berkelebatan, seakan-akan keluar dari api
yang berkobar besar membakar rumah-rumah
itu. Tampak, Rangga, Pandan Wangi, Candraka,
dan Ki Anggarasana, serta empat orang pengawal
khusus kepala desa itu sudah berdiri
menghadang. Sebenarnya, Candraka terkejut sekali
melihat keterlibatan Andira dengan Anggrek
Hitam dalam masalah ini. Tapi mengingat
kecintaannya pada desa kelahiran, ditambah rasa
cemburu yang mendera dadanya, membuat
pemuda itu harus menyingkirkan jauh-jauh rasa
cintanya terhadap Andira. Apalagi setelah melihat kenyataan ini. Ternyata Andira
bersekongkol dengan Anggrek Hitam.
"Kalian tidak bisa pergi begitu saja. Kalian harus bertanggung jawab!" desis Ki
Anggarasana dingin, meskipun udara di sekitarnya terasa
panas oleh api yang semakin besar berkobar.
"Bunuh mereka semua, Anggrek Hitam!"
perintah Andira lantang.
Tanpa diperintah dua kali, Anggrek Hitam
mengibaskan tangan kanannya ke depan, sambil
memiringkan tubuh ke kiri. Seketika itu juga,
bunga-bunga anggrek hitam berhamburan dari
telapak tangan kanannya.
"Awas...!" seru Rangga memperingatkan.
"Hiyaaat..!"
Pandan Wangi cepat mencabut kipas baja
putihnya, dan mengebutkannya begitu terbuka
mengembang. Si Kipas Maut cepat berlompatan
menyampok bunga-bunga anggrek hitam itu.
Candraka dan Ki Anggarasana juga cepat
mencabut pedangnya. Mereka berlompatan
sambil memutar pedangnya dengan cepat.
Candraka sengaja tidak mau berhadapan
dengan Andira, karena biar bagaimanapun,
perasaan cinta masih terselip di hatinya. Maka
dia lebih memilih mengeroyok Anggrek Hitam.
Apalagi sosok berbaju hitam dan bertopeng
tengkorak itu adalah biang kerusuhan di desanya.
Pada saat itu terdengar beberapa jeritan
panjang melengking tinggi yang saling susul.
Terlihat empat orang yang berada di belakang Ki
Anggarasana bergelimpangan tersambar bungabunga anggrek hitam yang dilontarkan si Anggrek
Hitam itu. "Kau sudah cukup merepotkan aku, Andira,"
desis Rangga begitu mendarat sekitar lima
langkah di depan Andira dan Ki Rasut.
"Serang dia, Ki Rasut!" perintah Andira.
"Hiyaaat..!"
Tanpa menunggu perintah dua kali, Ki Rasut
cepat melompat menyerang Pendekar Rajawali
Sakti. Sret! Bet! Laki-laki tua itu langsung mencabut
goloknya, dan secepat kilat mengibaskannya ke
arah leher pemuda berbaju rompi putih itu.
Namun hanya dengan menarik sedikit kepala ke
belakang, Rangga berhasil mengelakkan tebasan
golok itu. Hanya sedikit saja ujung golok yang
cukup besar itu lewat di depan lehernya.
*** Beberapa kali Ki Rasut menebaskan
goloknya ke tubuh Rangga. Namun Pendekar
Rajawali Sakti selalu berhasil mengelak dengan
manis sekali. Tak satu pun serangan Ki Rasut
yang berhasil mengenai sasaran. Bahkan sudah


Pendekar Rajawali Sakti 56 Pembunuh Misterius di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

beberapa kali laki-laki tua itu terpaksa menerima pukulan dan tendangan keras
Pendekar Rajawali
Sakti. Sementara di tempat lain, Anggrek Hitam
terus melancarkan serangannya. Bunga-bunga
anggrek hitamnya dilontarkan, menghujani
Pandan Wangi, Ki Anggarasana, dan Candraka.
Sementara semua pengawal Ki Anggarasana
sudah tidak ada lagi yang hidup. Mereka sudah
tergeletak tak bernyawa, tertembus senjata
beracun itu. Sedangkan di lain tempat, tampak
Andira memperhatikan jalannya pertarungan
antara Ki Rasut melawan Pendekar Rajawali
Sakti. Wanita berwajah cantik itu tampak cemas
melihat Ki Rasut terus terdesak, tak mampu lagi
mengimbangi pendekar muda berbaju rompi putih
itu. "Kesempatan.... Aku harus pergi dari sini.
Masa bodoh dengan mereka!" dengus Andira
menggumam perlahan.
Saat itu, memang banyak sekali kesempatan
bagi Andira untuk meninggalkan desa ini. Dan
rupanya kesempatan baik ini tidak ingin disiasiakan. Tanpa mempedulikan Ki Rasut dan
Anggrek Hitam, wanita itu cepat melesat pergi.
Namun, kepergiannya diketahui Pandan Wangi.
"Setan! Jangan lari kau...! Hiyaaat..!" teriak
Pandan Wangi lantang.
Bagaikan kilat, si Kipas Maut melentingkan
tubuh ke udara, sambil mengibaskan kipas baja
putihnya beberapa kali untuk menangkis bungabunga anggrek hitam yang dilontarkan manusia
bertopeng tengkorak itu.
Cepat sekali gerakan gadis itu. Dia langsung
meluruk deras mengejar Andira yang terus berlari cepat mempergunakan ilmu
meringankan tubuh.
Dan begitu kakinya menjejak tanah, tubuhnya
kembali melesat cepat disertai pengerahan ilmu
meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat
tinggi. "Hiyaaat..!"
Beberapa kali Pandan Wangi berputaran di
udara, dan kini berhasil melewati kepala Andira.
Setelah melakukan putaran dua kali lagi, gadis
itu mendarat. Langsung dihadangnya Andira,
sehingga membuat wanita cantik berbaju hitam
itu terkejut. Sungguh tidak disangka kalau
Pandan Wangi berhasil mengejarnya. Bahkan kini
berdiri menghadang. Andira cepat menghentikan
larinya. Dan seketika itu juga, tangan kanannya
dikibaskan cepat ke depan.
"Yeaaah...!"
"Huh!"
Pandan Wangi kembali cepat melentingkan
tubuh ke udara, begitu beberapa buah benda
berwarna hitam terlihat meluncur deras dari
tangan wanita itu. Benda-benda hitam itu
melesat, lewat di bawah tubuh si Kipas Maut. Dan
dengan manis sekali Pandan Wangi kembali
mendarat di tanah, tepat sekitar tiga langkah lagi di depan Andira.
Bet! Pandan Wangi langsung mengebutkan
kipasnya ke arah dada Andira. Namun wanita
berbaju hitam itu berhasil menghindar dengan
menarik tubuhnya sedikit ke belakang. Dan
sebelum Pandan Wangi bisa menarik tangan
kembali, Andira sudah melepaskan satu sodokan
keras dengan tangan kirinya.
"Hih!"
"Uts...!"
Cepat sekali Pandan Wangi memiringkan
tubuh ke kanan, dan secepat itu pula kipasnya
ditebaskan ke tangan Andira. Namun wanita
berbaju hitam itu sudah menarik pulang
tangannya. Dan tanpa diduga sama sekali, dia
melompat ke atas sambil memutar tubuh. Satu
tendangan keras menggeledek dilepaskan Andira
dengan cepat. "Yeaaah...!"
Pandan Wangi terhenyak kaget, karena tidak
menyangka kalau Andira mampu melakukan
gerakan begitu cepat luar biasa. Buru-buru si
Kipas Maut itu merundukkan kepala,
menghindari tendangan Andira. Desir angin keras
terasa, begitu kaki Andira melewati ujung kepala Pandan Wangi. Bergegas gadis
berbaju biru itu
menarik kakinya ke belakang. Saat itu
dirasakannya ada aliran hawa panas di
sekitarnya. "Huh! Jurus-jurusnya sama persis dengan si
Anggrek Hitam. Tapi ini lebih dahsyat" dengus Pandan Wangi di dalam hati.
Pandan Wangi jadi berpikir, apakah si
Anggrek Hitam itu adalah Andira" Tapi yang
sedang dihadapi Ki Anggarasana dan Candraka
sekarang juga si Anggrek Hitam. Pandan Wangi
tidak sempat lagi berpikir jauh, karena Andira
sudah menyerang kembali. Dan kali ini seranganserangan yang dilancarkan wanita berbaju hitam
itu lebih dahsyat dari yang sebelumnya.
"Modar! Yeaaah...!" teriak Andira tiba-tiba.
Seketika itu juga, Andira melentingkan
tubuhnya ke udara. Tangan kanannya langsung
dikebutkan cepat beberapa kali. Beberapa buah
benda berwarna hitam, seketika berhamburan
menghujani Pandan Wangi. Dan selagi si Kipas
Maut itu sibuk menghindari serangan bendabenda hitam, mendadak saja Andira meluruk
deras. Langsung dilepaskannya satu pukulan
keras menggeledek yang mengandung pengerahan
tenaga dalam sepenuhnya.
"Hiyaaa...!"
Diegkh! "Akh...!" Pandan Wangi memekik agak
tertahan. Pukulan yang dilepaskan Andira, tepat
menghantam dada gadis itu. Seketika Pandan
Wangi terjengkang ke belakang, sejauh lima
langkah. Dan begitu tubuh Pandan Wangi
menghantam tanah, cepat sekali Andira
mengebutkan tangan kanannya kembali. Maka
dua buah benda berwarna hitam berbentuk bulat
sebesar mata kucing seketika terlontar. Pandan
Wangi hanya mampu terbeliak. Memang tak ada
kesempatan lagi baginya untuk menghindar.
Namun tinggal sejengkal lagi benda-benda itu
menghantam dadanya, mendadak saja....
Trang! Secercah cahaya biru berkilau, berkelebat
cepat di depan dada Pandan Wangi. Seketika dua
buah benda bulat berwarna hitam itu terpental
jauh ke angkasa. Entah bagaimana mulanya,
tahu-tahu di depan Pandan Wangi sudah berdiri
Pendekar Rajawali Sakti dengan pedang bersinar
biru menyilaukan tersilang di depan dada.
Cring! Pendekar Rajawali Sake memasukkan
kembali pedangnya ke dalam warangka di
punggung. Seketika cahaya biru terang
menyilaukan Lenyap, bersamaan dengan
masuknya pedang itu ke dalam warangka.
Kedatangan Rangga yang begitu tiba-tiba,
membuat Andira terkejut setengah mati.
Wajahnya sempat berpaling, memandang ke
tempat Rangga bertarung dengan Ki Rasut tadi.
Tampak laki-laki tua itu sudah tergeletak tak
bernyawa lagi, dengan darah mengucur dari
dadanya. *** "Sebaiknya menyerah saja, Andira. Tidak
ada gunanya tetap bertahan," bujuk Rangga.
"Kau boleh bangga bisa membunuh Ki
Rasut! Tapi jangan harap dapat menyentuhku,
Rangga!" dengus Andira membentak.
"Baiklah! aku akan memberi keringanan
padamu, Andira. Kau boleh pergi ke mana saja
kau suka. Tapi, kau harus mengembalikan
benda-benda yang kau curi dari istana," kata Rangga kembali membujuk.
"Kembalikan..." Heh! Itu milikku, tahu! Aku hanya mengambil hakku. Dan itu tidak
ada artinya dibandingkan kekayaan yang kau kuasai
sekarang ini, Rangga. Malah, seharusnya aku
berhak sepertiga atas kekayaan Karang Setra!"
agak keras nada suara Andira.
Ibumu sudah memperoleh haknya, Andira.
Kalau sampai habis, dan kau tidak memperoleh
sedikit pun, itu kesalahan ibumu sendiri yang
menghambur-hamburkannya di meja judi," jelas Rangga, membeberkan yang
sebenarnya. "Ibu kecewa karena kau membagi secara
tidak adil! Kau pilih kasih. Bahkan mengusir aku dan ibuku dari istana,
sementara yang lain kau
izinkan tinggal di istana!"
"Itu tidak benar, Andira. Ibumu sendiri yang
menginginkan keluar dari istana. Aku sudah
memberinya tempat tinggal yang layak, harta
yang cukup. Bahkan sebenarnya kau masih
mempunyai hak untuk tinggal di istana. Kau
masih memiliki tunjangan seperti putra-putra
selir lainnya. Tapi, kau tidak pernah sudi datang ke istana. Bahkan beberapa
kali aku mengutus
orang untuk memintamu dan ibumu datang, tapi
ibumu malah menolak dan mengusir setiap
utusan yang datang."
"Kau dusta! Bohong...! Kau harus mati di
tanganku, Rangga! Hiyaaat..!" Andira jadi kalap.
"Andira, tunggu...!" sentak Rangga. "Di mana harta benda yang kau curi itu?"
"Ha ha ha...! Jangan mimpi dulu, Rangga!
Kau tidak akan pernah sampai ke rumahku yang
kau datangi tadi siang. Karena kau akan mati di
tanganku! Hiyaaat..!"
Tapi Andira tidak peduli lagi. Dia sudah
melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti.
Dua pukulan bertenaga dalam tinggi dilepaskan
Andira secara beruntun. Tubuh Rangga cepat
meliuk menghindari serangan itu. Kemudian
Pendekar Rajawali Sakti cepat melompat mundur
beberapa langkah. Namun Andira segera
melakukan serangan kembali. Beberapa pukulan
dilontarkan tanpa henti, membuat Pendekar Rajawali Sakti sedikit kerepotan juga menghindarinya.
Terpaksa Rangga menggunakan jurus
'Sembilan Langkah Ajaib', sehingga membuat
serangan-serangan yang dilancarkan Andira jadi
mentah. Tak satu pun yang berhasil bersarang di
tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Hal ini membuat
wanita cantik itu semakin berang, karena Rangga
seperti enggan bertarung. Gerakan-gerakannya
bagaikan seorang peminum yang kebanyakan
arak. Tidak beraturan sama sekali. Namun sukar
bagi Andira untuk menyarangkan pukulannya.
"Jangan membabi buta, Andira. Hentikan...!"
sentak Rangga keras.
"Kau harus mampus, Rangga! Hiyaaat..!"
"Uts...!"
Hampir saja satu pukulan keras
menghantam dada, kalau saja Pendekar Rajawali
Sakti tidak segera menarik tubuh ke kanan. Dan
begitu tangan Andira lewat di depan dada, cepat
Rangga memberi satu sodokan ke bagian lambung
wanita itu. Gerakan Rangga begitu cepat,
diimbangi liukan tubuh yang indah. Akibatnya
Andira tak sempat lagi menghindar.
"Begkh! "Ugkh...!" Andira mengeluh pelan.
Tubuh wanita itu terhuyung-huyung ke
belakang, agak membungkuk. Seketika Adira
merasakan perutnya jadi mual, terkena sodokan
tangan Rangga yang begitu keras. Namun, wanita
itu cepat mengibaskan tangan kanannya, sambil
melentingkan tubuh berputar ke belakang.
Sebuah benda bulat berwarna hitam pekat
melesat cepat ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Hap!"
Rangga bergegas miring ke kiri, maka benda
hitam itu lewat di samping tubuhnya. Bagaikan
kilat, Pendekar Rajawali Sakti melompat
menerjang Andira yang masih menguasai
keseimbangan tubuhnya. Satu pukulan keras
dilontarkannya ke arah dada.
"Hiyaaat..!"
"Ufs!"
Andira cepat membanting tubuh ke tanah
dan bergulingan beberapa kali. Namun begitu
melompat bangkit berdiri, mendadak saja Rangga
sudah melepaskan satu tendangan keras tanpa
disertai pengerahan tenaga dalam sedikit pun
juga. Gerakan kakinya memang begitu cepat,
sehingga Andira tak sempat lagi menghindar.
Akibatnya, tendangan Rangga berhasil
menghantam dada wanita berbaju hitam itu.
Des! "Akh...!" Andira terpekik agak tertahan.


Pendekar Rajawali Sakti 56 Pembunuh Misterius di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Meskipun tendangan Rangga tidak disertai
pengerahan tenaga dalam, namun keras sekali.
Akibatnya Andira terpental ke belakang beberapa
langkah. Pada saat itu, Pandan Wangi sudah
melesat mendahului Rangga.
"Biar kubereskan, Kakang! Hiyaaat..!" seru Pandan Wangi lantang.
"Pandan, jangan...!" sentak Rangga terkejut.
Namun Pandan Wangi sudah cepat
mengibaskan kipasnya. Dalam keadaan tubuh
tidak seimbang, Andira tidak mampu bergerak
menghindari serangan Pandan Wangi yang begitu
cepat dan mendadak.
Bret! "Akh...!" lagi-lagi Andira terpekik keras agak tertahan.
Ujung kipas Pandan Wangi berhasil merobek
perut Andira. Seketika, darah mengucur deras
dari luka di bagian perut wanita itu. Andira
bergegas melompat kebelakang, namun sedikit
terhuyung begitu kakinya menjejak tanah. Darah
terus bercucuran dari luka di perutnya.
"Manusia tidak tahu diuntung! Mampus
kau, hiyaaat..!" geram Pandan Wangi seraya
berteriak nyaring.
Si Kipas Maut itu kembali melancarkan
serangan cepat dan dahsyat Gadis itu memang
sudah muak atas kelakuan Andira. Semenjak di
Karang Setra, Pandan Wangi memang sudah tidak
menyukai tingkah laku gadis ini, yang begitu
bebas dan tak terkendali.
Bet! Cepat sekali Pandan Wangi mengebutkan
kipasnya ke arah leher Andira. Namun sebelum
kipas maut itu merobek leher yang putih jenjang
itu, mendadak saja....
Takkk! "Heh..."!" Pandan Wangi tersentak kaget.
Tiba-tiba saja kipasnya terpental balik. Dan lebih terkejut lagi, setelah
mengetahui kalau yang
menghalangi serangannya ternyata Pendekar
Rajawali Sakti yang tahu-tahu sudah berdiri di
antara kedua wanita ini.
"Kau tidak perlu membunuhnya, Pandan,"
desis Rangga mengingatkan.
"Perempuan iblis ini tidak pantas lagi hidup, Kakang!" dengus Pandan Wangi.
"Kendalikan dirimu, Pandan."
"Huh...!" Pandan Wangi mendengus kesal.
Rangga tahu, kemarahan Pandan Wangi
diakibatkan api cemburu. Gadis itu memang
sempat marah, ketika untuk pertama kalinya
Andira datang memenuhi undangan Rangga.
Sikapnya sangat memuakkan, dan selalu mencari
perhatian Pendekar Rajawali Sakti dengan katakata rayuan yang tidak pantas diucapkan seorang
wanita baik-baik. Tapi, semua itu akhirnya dapat diatasi oleh Rangga.
"Awas, Kakang...!" seru Pandan Wangi tiba-tiba. "Uts...!" Rangga segera merunduk
ketika tiba-tiba saja merasakan desiran angin yang kuat menyambar ke arahnya.
Saat itu, Pandan Wangi sudah melompat
cepat bagaikan kilat. Langsung dilewatinya kepala Pendekar Rajawali Sakti. Kipas
mautnya segera dikebutkan ke arah dada Andira yang pada saat
itu baru saja me-lontarkan sebuah senjata
berbentuk bulatan hitam sebesar mata kucing ke
arah Rangga. Serangan Pandan Wangi yang begitu cepat
dan tidak terduga, tak dapat dihindari lagi.
Terlebih-lebih keadaan Andira memang sudah
melemah, akibat terlalu banyak kehilangan
darah. Meskipun sudah berusaha menghindar,
namun tebasan kipas Pandan Wangi masih juga
merobek lehernya.
Crasss! "Aaa...!" Andira memekik melengking tinggi.
Sebentar wanita itu masih mampu berdiri, kemudian terhuyung-huyung dan ambruk
menggelepar di tanah. Darah muncrat dengan
deras dari lehernya yang koyak tersabet senjata maut Pandan Wangi. Rangga
bergegas menghampiri wanita itu. Dan begitu tubuhnya
disentak, Andira langsung mengejang. Kemudian,
tergolek tak bernyawa lagi.
Rangga menghembuskan napasnya kuatkuat. Wajahnya berpaling menatap Pandan
Wangi. Sedangkan yang ditatap jadi tertunduk.
Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti bangkit
berdiri, dan menghampiri Pandan Wangi yang
terus tertunduk.
"Maaf, Kakang. Aku tidak bisa
mengendalikan diri," ucap Pandan Wangi.
"Sudahlah.... Semua sudah terjadi," ujar Rangga agak mendesah.
Pada saat itu, Ki Anggarasana dan Candraka
datang menghampiri. Rangga dan Pandan Wangi
berpaling hampir bersamaan. Seluruh tubuh Ki
Anggarasana dan putranya telah dibasahi
keringat Napas mereka juga tersengal begitu
dekat di depan kedua pendekar muda dari Karang
Setra. "Dia kabur...," kata Candraka dengan napas yang masih terengah-engah.
Mata pemuda itu agak melirik ke sosok
mayat wanita yang memang Andira. Hatinya terus
terang agak tercekat. Namun, hal itu harus
disembunyikan, mengingat di sini ada ayahnya
yang jelas-jelas memusuhi Andira.
"Siapa?" tanya Pandan Wangi.
"Anggrek Hitam," Ki Anggarasana yang
menyahuti. "Sebaiknya dibiarkan saja, Ki. Aku yakin, dia tidak akan kembali lagi ke desa
ini," ujar Rangga.
"Sebab, biang keladi semua ini sebenarnya adalah Andira."
"Aku hanya berharap agar dia tidak kembali
lagi, Rangga," sahut Ki Anggarasana masih agak terengah-engah.
"Ini yang kedua kali, Ayah. Dia pasti kembali lagi," selak Candraka.
"Kalau kembali lagi, kau bisa meminta
menghubungi kami di Istana Karang Setra,
Candraka."
"Terima kasih," ucap Ki Anggarasana yang
masih belum tahu kalau yang dihadapinya adalah
Raja Karang Setra. Padahal, desa yang dipimpinnya masih di bawah kekuasaan Kerajaan
Karang Setra. "Sebaiknya cepat beri tahu penduduk untuk
memadamkan api. Jangan terlalu lama dibiarkan,
bisa habis semua rumah di desa ini," kata Rangga mengingatkan.
"Oh, iya.... Cepat beri tahu mereka,
Candraka," perintah Ki Anggarasana.
Tanpa membantah sedikit pun, Candraka
bergegas berlari untuk memberi tahu penduduk
yang sudah diungsikan ke rumah kepala desa
yang besar dan luas itu. Ki Anggarasana juga
bergegas melangkah pergi. Tinggallah Rangga dan
Pandan Wangi yang masih tetap berada di
tempatnya. "Apakah kau sudah tahu kalau si Anggrek
Hitam itu adalah Salaya, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Sebenarnya, aku memang menduga
demikian. Tapi, dari mana kau tahu kalau Salaya
adalah si Anggrek Hitam?" tanya Pendekar
Rajawali Sakti.
"Lho" Apa kau tidak ingat ketika sehabis
pertarunganku dengan si Anggrek Hitam, Salaya
tidak ada di kamarnya" Dan sebelum pertarungan
itu, si Anggrek Hitam menghilang, tepat di depan jendela Salaya. Bukti satu
lagi, di kamarnya kau menemukan banyak anggrek hitam yang
merupakan senjata rahasianya."
Pendekar Rajawali Sakti hanya menganggukanggukkan kepala. Dalam hati, diakui kecerdikan
Pandan Wangi. "Sekarang, apa tidak sebaiknya kita katakan pada Ki Anggarasana kalau si Anggrek
Hitam adalah Salaya, anaknya sendiri, Kakang?" usul Pandan Wangi.
"Lihat keadaannya dulu, Pandan," sahut Rangga.
"Maksudmu...?" Pandan Wangi tidak
mengerti. "Aku tahu, ke mana Salaya pergi. Akan
kucoba menyadarkannya. Kalau dia menyadari
kesalahannya, rasanya tidak perlu Ki
Anggarasana mengetahui. Sudah terlalu banyak
beban yang ditanggungnya."
"Kalau tidak sadar juga?"
"Ya, harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya."
"Kau akan menghukumnya?"
"Pengadilan desa ini"
"O, ya..., kapan kau akan mengambil harta
di rumah Andira dan mengembalikannya ke
Istana Karang Setra?" tanya Pandan Wangi tiba-tiba teringat pada harta yang
cukup berharga itu.
"Setelah kobaran api ini padam, Pandan,"
jawab Rangga sambil memandangi jilatan api
yang masih cukup besar.
Pada saat semua penduduk yang diungsikan
mulai berdatangan. Mereka langsung bekerja
memadamkan kobaran api. Dan Pendekar
Rajawali Sakti tidak segan-segan turun tangan
membantu. Sementara malam terus beranjak
semakin larut. Malam yang seharusnya dingin
dan tenang, kini jadi panas oleh kobaran api dan hiruk pikuk orang-orang yang
mencoba memadamkannya. Sementara Pandan Wangi
hanya memperhatikan saja dari kejauhan.
Diam-diam Candraka datang kembali ke
tempat pertarungan tadi berlangsung tanpa
sepengetahuan Pendekar Rajawali Sakti, Pandan
Wangi, dan Ki Anggarasana. Kemudian,
dipondongnya mayat Andira. Tubuh pemuda itu
melesat cepat sambil membawa mayat bekas
kekasihnya, lalu hilang di kegelapan.
SELESAI Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Lovelypeace
Pendekar Sakti Im Yang 5 Joko Sableng 35 Wasiat Darah Di Bukit Toyongga Jodoh Si Naga Langit 5

Cari Blog Ini