Ceritasilat Novel Online

Setan Pedang Perak 2

Pendekar Rajawali Sakti 44 Setan Pedang Perak Bagian 2


pukulan pemuda bermuka codet itu, sehingga....
Blarrr! Dinding batu yang tebal hitam berlumut itu hancur
terkena pukulan bertenaga dalam tinggi. Suara ledakan
terdengar memekakkan telinga. Debu mengepul menambah sesaknya udara di ruangan
yang memang sudah
pengap ini. Dinding batu itu berlubang cukup besar.
"Buang dia ke hutan!" dengus Sangaji berang.
Pemuda berbaju putih ketat yang pipi kanannya terdapat
luka codet itu, langsung melangkah keluar sambil menghentakkan kaki saat
melangkah. Sedangkan Eyang
Bangkal masih tertegun sejenak. Walaupun dirinya termasuk tokoh tua yang berilmu
tinggi, tapi masih juga terkagum-kagum melihat kekuatan pukulan Sangaji tadi.
Dinding batu yang begitu tebal dan kuat itu, langsung
hancur berkeping-keping hanya sekali pukul saja.
"Lepaskan dia," perintah Eyang Bangkal pada anak
buahnya. Tanpa banyak bicara, empat orang berpakaian serbah
putih, langsung bergerak maju. Mereka melepaskan rantai
yang membelenggu seluruh tubuh Rangga, kemudian
menggotongnya. Eyang Bangkal berjalan paling depan,
diikuti empat orang berpakaian serba putih yang menggotong tubuh Pendekar
Rajawali Sakti. Masih ada sekitar
lima belas orang lagi mengikuti dari belakang. Mereka
semua mengenakan pakaian serba putih dengan golok
terselip di pinggang.
Mereka langsung keluar menyusuri lorong yang tidak
begitu panjang. Ketika tiba di luar, hutan lebat langsung
menghadang. Eyang Bangkal berjalan paling depan diikuti
anak buahnya menembus kelebatan hutan. Empat orang
masih menggotong tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang
kelihatan pucat dan terkulai.
"Ayo, cepat..!" Eyang Bangkal memerintah anak buahnya
untuk bergerak lebih cepat
Mereka bergerak cepat menerobos hutan, hingga
akhirnya sampai di tepi sebuah sungai. Di sinilah beberapa
hari yang lalu mereka menjebak Rangga dengan menaburkan ramuan yang membuat
orang tidak sadarkan diri,
hanya dengan menyentuh air sungai itu saja. Bahkan jika
tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat, bisa langsung
tewas seketika. Apalagi bila meminumnya. Tapi air sungai
ini bisa normal apabila ditaburkan obat penangkalnya yang
berbentuk bulatan sebesar kepalan tangan bayi berwarna
keperakan. "Ceburkan dia ke sungai, biar disantap buaya liar,"
perintah Eyang Bangkal.
Empat orang yang menggotong Pendekar Rajawali Sakti
itu, segera mendekati sungai. Tubuh Rangga diayunayunkan, lalu dilemparkan
dengan kekuatan penuh. Tubuh
pemuda berbaju rompi putih itu melayang ke tengah
sungai. Namun sebelum tubuhnya menyentuh air, mendadak saja kembali terangkat
naik dan melayang ke tepi.
"Heh..."!" Eyang Bangkal terbeliak kaget. Demikian pula
orang-orang berpakaian serba putih yang berjumlah hampir
dua puluh orang itu. Mereka seketika terpaku dengan mata
membeliak lebar tidak berkedip. Tubuh Pendekar Rajawali
Sakti itu terus melayang perlahan-lahan menuju ke tepi,
kemudian mendarat di tepian sungai.
Perlahan Rangga membuka mata, lalu menyunggingkan
senyuman tipis. Wajahnya tidak lagi memucat. Dan tubuhnya juga tidak membiru.
Pendekar Rajawali Sakti langsung
mengayunkan kakinya ke depan beberapa langkah,
kemudian berhenti setelah jaraknya dengan Eyang Bangkal
tinggal dua batang tombak lagi.
"Heh..."! Bagaimana mungkin kau bisa hidup lagi..."!"
agak bergetar suara Eyang Bangkal.
"Bukannya hidup lagi, Eyang Bangkal. Tapi aku memang
belum mati," jawab Rangga kalem. Bibirnya tetap menyunggingkan senyuman tipis.
"Tidak...! Mustahil jika belum mati!"
"Seharusnya kau mengetahui apa yang kulakukan,
Eyang Bangkal. Dengan menghentikan aliran darah dan
menyumbatnya dengan hawa murni, ditambah pengaturan
pernapasan melalui perut, maka orang akan seperti mati.
Kau pun bisa melakukannya. Tapi sayang, kau dan Sangaji
tidak bisa berpikir jernih. Bahkan malah cepat panik dan
tidak tenang menghadapi persoalan," Ranga menjelaskan.
"Setan...! Kau menipuku!" geram Eyang Bangkal baru
menyadari. Memang apa yang dikatakan Rangga barusan benar
adanya. Setiap orang yang berkecimpung dalam rimba persilatan pasti bisa
melakukannya. Terlebih lagi jika sudah
menguasai pengerahan hawa murni secara sempurna. Tak
akan sulit mengelabui orang hingga tampak seperti sudah
mati. "Aku tidak menipu, Eyang Bangkal!" tegas Rangga sambil
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan
terjadi. Bukan main geramnya Eyang Bangkal karena merasa
dirinya terpedaya. Sebagai tokoh rimba persilatan, lebih
baik kalah dalam pertarungan daripada terpedaya oleh
akal cerdik seperti ini. Sesuatu yang sangat memalukan.
Terlebih lagi yang memperdaya adalah seorang tokoh
rimba persilatan yang tergolong muda dibandingkan
dengan dirinya yang sudah banyak pengalaman.
"Kau harus mampus, Bocah Setan! Hiyaaat..!"
"Hap...!"
*** 6 Kemarahan Eyang Bangkal benar-benar meluap kali ini.
Dengan satu lesatan cepat, diterjangnya Pendekar Rajawali
Sakti. Namun serangan-serangan yang dilancarkan laki-laki
tua setengah bungkuk itu, mampu diredam Rangga.
Sekarang, beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti itu
memberi serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.
Setiap kali Rangga balas menyerang, Eyang Bangkal
tampak kewalahan menghindarinya. Beberapa kali
serangan balik yang dilancarkan Rangga nyaris mengenai
sasaran. Namun rupanya laki-laki tua berjubah kuning
gading itu masih mampu menghindari. Malah kecepatannya sungguh luar biasa.
"Hup...!"
Eyang Bangkal melompat ke belakang, tepat ketika
Rangga memberi satu pukulan keras ke arah dada. Lakilaki tua berjubah kuning
gading itu berputar beberapa kali
di udara, kemudian dengan manis mendarat dekat anak
buahnya. Eyang Bangkal merebut tongkat yang dipegang
salah seorang anak buahnya. Tongkat yang berkeluk tidak
beraturan itu langsung diputar-putar, membelah-belah
udara kosong. Wuk! Wuk! Wuk...!
Suara putaran tongkat itu demikian dahsyat, menimbulkan hembusan angin yang
cukup kencang. Daun-daun
pohon di sekitar Eyang Bangkal berguguran terkena hembusan anginnya. Saat itu
juga, Rangga menggerakkan
kedua tangannya di depan dada.
"Hiyaaa...!" Eyang Bangkal berteriak nyaring.
"Yeaaah...!" pada saat yang sama, Rangga juga memekik
keras. Kedua tokoh persilatan itu sama-sama melompat
menyerang. Cepat sekali Eyang Bangkal mengebutkan tongkat ke
arah dada Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan tenang
Rangga berhasil menghindari tebasan tongkat itu. Dan
tanpa diduga sama sekali, tangannya menghentak ke
depan. Bet! "Ufs...!"
Eyang Bangkal buru-buru melentingkan tubuhnya, lalu
beberapa kali berputaran di udara. Namun pada saat yang
sama, Rangga juga melentingkan tubuhnya seraya memberi satu tebasan tangan kanan
lewat pengerahan jurus
'Sayap Rajawali Membelah Mega'.
Eyang Bangkal terkejut setengah mati. Tak ada
kesempatan lagi untuk berkelit. Buru-buru diangkat
tongkatnya, guna menangkis tebasan tangan Pendekar
Rajawali Sakti itu.
Trak! Kedua orang itu berpentalan ke belakang begitu tangan
dan tongkat beradu keras. Beberapa kali mereka
berjumpalitan di udara sebelum mendarat di tanah.
"Heh..."!"
Eyang Bangkal terkejut setengah mati begitu melihat
tongkatnya tinggal sepotong. Sedangkan potongan lainnya
berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan sebelum
lenyap rasa terkejutnya, tiba-tiba Rangga melemparkan
potongan tongkat itu disertai pengerahan tenaga dalam
tinggi. Wus! Potongan tongkat itu meluncur deras ke arah Eyang
Bangkal. Buru-buru laki-laki tua bungkuk itu memiringkan
tubuhnya menghindari potongan tongkatnya sendiri. Maka
potongan tongkat itu terus meluncur, lewat di samping
tubuh Eyang Bangkal.
"Aaa...!"
Tiba-tiba saja terdengar jeritan panjang menyayat.
Tampak salah seorang anak buah Eyang Bangkal ambruk
di tanah. Dadanya tertembus potongan tongkat yang
dilemparkan Pendekar Rajawali Sakti tadi.
"Edan...!" dengus Eyang Bangkal marah.
Eyang Bangkal membuang potongan tongkatnya.
Dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak
dengan tenangnya.
"Serang! Bunuh dia...!" seru Eyang Bangkal lantang.
Seketika itu juga orang-orang berjubah putih,
berlompatan menerjang Pendekar Rajawali Sakti sambil
berteriak-teriak dan mengayun-ayunkan goloknya.
Namun sebelum sampai, mendadak saja orang-orang
berjubah putih itu menjerit melengking tinggi. Dan tahutahu mereka telah
bergelimpangan sambil mengerang.
Tampak pada tubuh, kepala, serta leher mereka, tertancap
ranting-ranting kering. Tidak kurang dari enam orang yang
menggelepar di tanah sambil merintih dan mengerang
kesakitan. Sedangkan yang lainnya jadi terbeliak,
menghentikan terjangannya pada Pendekar Rajawali Sakti.
"Kakang...!" tiba-tiba terdengar seruan keras.
Rangga langsung berpaling ke arah datangnya suara itu.
"Cempaka...."
Seorang gadis mengenakan baju merah muda, tampak
berlari-lari menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Di
belakangnya mengikuti seorang pemuda berbaju biru tua,
dengan buntalan kain pada bahu kirinya. Gadis yang
ternyata Cempaka itu, berhenti setelah dekat dengan
Rangga. "Jangan bengong, Kakang. Bajingan-bajingan itu harus
dihabisi," Cempaka memperingatkan.
Dan belum juga Rangga sempat membuka suara,
Cempaka sudah melompat menerjang orang-orang berjubah putih itu. Gerakannya
cepat, dan tak terbendung lagi.
Langsung saja dilepaskannya beberapa pukulan keras
secara beruntun.
Seketika itu juga terdengar jeritan-jeritan panjang
melengking tinggi. Sementara itu Rangga belum berbuat
apa-apa. Sebentar dipandanginya Cempaka yang tengah
mengamuk menghajar orang-orang berpakaian serba putih
itu. Kemudian perhatiannya dialihkan pada Eyang Bangkal.
Rupanya laki-laki tua berjubah kuning gading itu hendak
kabur. Melihat gelagat kepengecutan Eyang Bangkal,
secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat.
"Hiyaaat..!"
Tahu-tahu Rangga sudah berdiri di depan Eyang
Bangkal, sehingga laki-laki tua itu terkejut setengah mati.
Namun belum hilang rasa terkejutnya, mendadak saja
Rangga sudah memberi satu pukulan lurus disertai
pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai
kesempurnaan ke arah dada. Serangan yang dilancarkan
Pendekar Rajawali Sakti sangat cepat sehingga tak bisa
dihindari lagi.
Deghk! "Akh...!" Eyang Bangkal memekik keras.
Pukulan Rangga tepat menghajar dadanya. Akibatnya
laki-laki tua berjubah kuning gading itu terpental ke
belakang sejauh lima tombak. Namun sebelum tubuhnya
menghantam tanah, Pendekar Rajawali Sakti sudah
kembali melompat cepat. Seketika dikerahkannya jurus
'Pukulan Maut Paruh Rajawali'
"Yeaaah...!" teriak Rangga menggelegar.
Des! "Aaa...!" untuk kedua kalinya Eyang Bangkal menjerit
keras melengking tinggi.
Tubuh laki-laki tua berjubah kuning gading itu langsung
menghantam tanah ketika pukulan Rangga telak
menghajar dadanya kembali. Laki-laki tua itu kini
mengerang dan menggeliat menahan sakit. Namun hanya
sebentar saja mampu menggeliat, kemudian Eyang
Bangkal langsung diam tak bernyawa lagi. Dadanya
melesak masuk dan hancur. Tampak dari mulutnya
mengalir darah segar.
"Hehhh...!" Rangga menghembuskan napas panjang.
Pendekar Rajawali Sakti itu memalingkan kepalanya
pada Cempaka. Dan rupanya pedang gadis itu baru saja
membabat lawan terakhir hingga tewas seketika. Sambil
menyarungkan pedangnya kembali, Cempaka bergegas
menghampiri pemuda berbaju rompi putih itu. Dia berhenti
setelah jaraknya hingga dua langkah lagi. Rangga sempat
melirik pemuda yang datang bersama adik tirinya ini.
"Kau tidak apa-apa, Kakang...?" agak terengah suara
Cempaka. "Tidak," sahut Rangga.
"Tapi wajahmu kelihatan agak pucat."
Rangga hanya tersenyum saja. Ditepuknya bahu gadis


Pendekar Rajawali Sakti 44 Setan Pedang Perak di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu, lembut sekali. Wajahnya memang masih terlihat sedikit
memucat, karena aliran darahnya belum begitu sempurna.
Masalahnya, cukup lama aliran darahnya tertahan.
Mungkin kalau tidak segera dibawa ke luar, Pendekar
Rajawali Sakti itu tidak akan bisa terselamatkan lagi.
Apalagi hambatan pada jalan darahnya tidak segera
dibuka. "Apa yang kau lakukan di sini, Cempaka?" tanya Rangga
seraya melirik pemuda yang berdiri agak jauh.
"Mencari Kakang," sahut Cempaka agak manja.
"Untuk apa mencariku" Aku bukan anak kecil lagi,
Cempaka...."
"Aku tahu. Tapi, kau tiba-tiba saja menghilang,
sementara Kuda Dewa Bayu pulang sendiri dan langsung
meringkik-ringkik terus. Dialah yang membawaku ke sini,"
jelas Cempaka. "Hm...." Pendekar Rajawali Sakti hanya bergumam kecil.
Kembali Rangga melirik pemuda yang masih berdiri di
tempatnya. "Siapa dia?" tanya Rangga jadi ingin tahu.
"Oh, iya.... Aku sampai lupa," sentak Cempaka, langsung
ingat dengan pemuda yang bersamanya ke tempat ini.
Cempaka melambaikan tangannya memanggil pemuda
berbaju biru tua itu. Maka pemuda yang bernama Palaka
itu berjalan menghampiri. Cempaka langsung memperkenalkan begitu Palaka sudah
dekat Rangga menyalami
pemuda itu diiringi senyuman penuh persahabatan.
"Kakang Palaka sengaja datang ke sini karena ingin
bertemu denganmu, Kakang," kata Cempaka memberi
tahu. "O.... Kau datang dari mana?" tanya Rangga.
"Lembah Teratai," sahut Palaka.
"Lembah Teratai..."!" Rangga mengerutkan keningnya.
Pendekar Rajawali Sakti itu langsung teringat kepada
sahabatnya yang tinggal di lembah itu. Di situ terdapat
sebuah padepokan silat yang bernama Padepokan
Guruwatu. Memang sudah lama Rangga tidak singgah ke
lembah itu, terutama ke Padepokan Guruwatu.
"Kau murid Padepokan Guruwatu?" tanya Rangga ingin
memastikan. "Benar," sahut Palaka.
"Bagaimana keadaan Eyang...?" Rangga tidak
meneruskan pertanyaannya saat melihat ada perubahan
pada air muka Palaka.
Beberapa saat Rangga memperhatikan wajah Palaka
yang kini tertunduk terselimut duka. Pendekar Rajawali
Sakti jadi keheranan. Berbagai pikiran dan dugaan
langsung memenuhi benaknya.
"Apa yang terjadi dengan Padepokan Guruwatu?" tanya
Rangga langsung menduga.
"Eyang Guru tewas. Dan...," Palaka tidak melanjutkan.
"Ada apa, Palaka" Apa yang telah terjadi..."!" desak
Rangga. Sebentar Palaka terdiam sambil menarik napas dalamdalam. Kemudian kepalanya
terangkat seraya menghembuskan napas perlahan-lahan. Dipandanginya Pendekar
Rajawali Sakti itu. Rangga kemudian membawa Palaka ke
tempat yang lebih teduh dan nyaman. Sedangkan
Cempaka hanya mengikuti saja tanpa membuka suara
sedikit pun. "Ceritakan, apa yang telah terjadi, Palaka...?" pinta
Rangga. Tanpa diminta dua kali, Palaka langsung menceritakan
apa yang telah dijumpainya di sana. Juga, diserahkannya
cincin yang diberikan Paman Tirta pada Pendekar Rajawali
Sakti. Rangga menerima cincin itu dan menggenggamnya
erat-erat. Kini baru dipercayainya cerita Palaka. Dia tahu
kalau Paman Tirta tidak akan pernah melepaskan cincin ini
kalau belum meninggal.
Dan sekarang cincin ini telah terlepas dari jari tangannya. Itu berarti, Paman
Tirta memang telah meninggal.
Hanya sayangnya, Palaka tidak mengetahui, siapa yang
menghancurkan Padepokan Guruwatu itu. Karena pada
saat kejadian itu, dia sedang ditugaskan untuk menumpas
para perampok yang dipimpin Guritan. Pemuda berbaju
biru tua itu juga menceritakan pertemuannya dengan
seorang pemuda yang pipi kanannya dibelah oleh luka
memanjang, pada saat dirinya sedang diserang oleh
Guritan dan anak buahnya.
"Sangaji...," desis Rangga dalam hati. Dikenalinya betul
pemuda yang disebutkan ciri-cirinya oleh Palaka. "Lalu
berhasilkah kau menumpas gerombolan perampok itu?"
"Tidak. Mereka terlalu tangguh dan banyak jumlahnya.
Malah aku hampir tewas kalau tidak ditolong pemuda
berwajah codet itu."
"Kau ditolong olehnya?" tanya Rangga heran. "Hm... dia
pasti sudah merencanakan semua ini dan sengaja
menolong agar kau bisa melaporkannya padaku!"
Pendekar Rajawali Sakti langsung mengetahui, siapa
yang menghancurkan padepokan milik sahabatnya.
Memang bukan hanya Palaka yang melaporkan tentang
kehancuran sebuah padepokan silat. Seingat Rangga
sudah tiga kali, dan ini yang keempat dia mendapatkan
laporan yang sama. Dan padepokan-padepokan yang
hancur itu adalah milik sahabatnya. Rangga jadi geram.
Ternyata Sangaji dan para begundalnya bukan saja mendendam, tapi juga
menghancurkan sahabat-sahabat
Pendekar Rajawali Sakti.
Dan ini tentu saja tidak bisa didiamkan begitu saja.
Seluruh aliran darah di tubuh Pendekar Rajawali Sakti
mendidih seketika. Terlebih lagi Sangaji ternyata telah
berhasil mempengaruhi Pandan Wangi agar membenciya.
Dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya terhadap gadis itu.
Tidak mungkin Pandan Wangi bisa marah hanya karena
cemburu. Tapi sekarang Rangga tidak tahu, ke mana
kekasihnya pergi dalam keadaan terguncang jiwanya. Yang
dia tahu, Pandan Wangi telah menyadari kesalahannya.
Terbukti dari tindakan gadis itu melawan para pengikut
Sangaji di saat terbelenggu.
*** Cempaka memandangi bangunan tua yang kelihatan
begitu angker tak terurus. Pepohonan rambat hampir
menutupi dinding-dindingnya. Sementara Rangga membuka pintu bangunan yang
seluruhnya terbuat dari batu itu.
Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam dengan
hati-hati sekali.
Keadaan di dalam bangunan ini sangat kotor. Debu
tebal bertebaran di lantai. Hampir seluruh dindingnya
dipenuhi sarang laba-laba. Bahkan tidak jarang mereka
menemukan bangkai binatang maupun kotorannya. Udara
dalam sini memang begitu pengap, membuat dada terasa
sesak. Mereka terus masuk lebih ke dalam lagi. Kemudian
melewati sebuah lorong pendek yang di kanan kirinya
terdapat pintu yang sudah hancur. Tapi ada beberapa pintu
yang terbuat dari besi baja hitam, dan semuanya dalam
keadaan tertutup. Rangga membuka setiap pintu yang
tertutup itu. Pendekar Rajawali Sakti berhenti di depan sebuah pintu
kamar. Beberapa saat dia tertegun. Di kamar inilah dirinya
dikurung oleh Sangaji dan para begundalnya. Tapi
Cempaka justru memandangi kamar yang berada di
sebelahnya. Gadis itu ingat, karena juga pernah dikurung di
dalam kamar ini beberapa hari yang lalu.
"Kelihatannya mereka sudah tidak ada lagi di sini,
Kakang," tegas Cempaka.
"Ya.... Mari kita keluar," ajak Rangga, agak mendesah
suaranya. Mereka kembali berjalan keluar dari bangunan tua itu.
Cempaka langsung menari napas dalam-dalam begitu
berada di luar bangunan yang pengap dan kotor itu.
Sementara Palaka yang sejak tadi menunggu di luar, bergegas menghampiri.
"Ada yang kau lihat, Palaka?" tanya Rangga langsung
begitu Palaka dekat.
"Aku menemukan jejak-jejak kaki kuda," jawab Palaka.
"Dan kelihatannya menuju Selatan."
"Mereka ke Karang Setra, Kakang...," desis Cempaka,
agak bergetar suaranya.
"Mereka harus dicegah sebelum sampai ke kota!" desis
Rangga, terdengar dalam suaranya.
Pendekar Rajawali Sakti itu langsung saja melesat pergi
tanpa berkata-kata lagi. Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki, sehingga dalam sekejap
mata, bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.
"Kakang, tunggu...!" seru Cempaka.
Tapi teriakan gadis itu hanya terbawa angin saja.
Rangga tidak kelihatan lagi bayangannya, lenyap ditelan
lebatnya hutan ini. Cempaka mengarahkan pandangannya
pada Palaka yang masih berada di sampingnya. Tapi, yang
dipandangi hanya mengangkat bahu saja.
Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka langsung berlari
cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Karena
hutan ini begini lebat, tentu saja kecepatan lari mereka
terhambat. Bahkan beberapa kali harus menyibakkan
pohon rambat yang begitu tebal dan rapat.
"Ikuti aku, Cempaka!" seru Palaka.
Pemuda yang memakai baju biru itu langsung melesat
ke atas. Dengan ringan kakinya hinggap di atas dahan
pohon. Lalu tubuhnya kembali dilentingkan, dan hinggap
lagi di dahan pohon lainnya.
"Hup...!"
Cempaka langsung melompat mengikuti Palaka. Ringan
juga gerakan gadis itu yang berkelebat dari satu cabang, ke
cabang pohon lainnya. Dan gadis itu tidak mau kalah. Dia
malah berlompatan di puncak pohon. Melihat itu, Palaka
langsung mengikuti. Mereka bagaikan dua burung yang
saling berkejaran di atas pohon.
Gerakan mereka sungguh cepat dan ringan, sehingga
yang terlihat hanya dua bayangan berkelebatan dari satu
pohon ke pohon lain.
"Palaka, tunggu...!" teriak Cempaka tiba-tiba.
Palaka langsung berhenti dan berpaling. Pada saat itu,
Cempaka melesat turun. Tanpa membuang waktu lagi,
Palaka segera mengikuti. Cepat sekali gerakan pemuda itu.
Tidak heran dalam sekejap sudah berada di samping
Cempaka yang telah mendarat lebih dahulu. Palaka
sempat tertegun begitu melihat gadis berbaju biru muda
tengah bertarung sengit melawan lima orang.
"Itu Kak Pandan. Kita harus membantunya, Palaka,"
tegas Cempaka. "Siapa dia?" tanya Palaka.
Tapi pertanyaan itu tidak terjawab, karena Cempaka
sudah melompat cepat dan langsung terjun dalam kancah
pertempuran. Pedang gadis itu segera dicabut, dan
langsung dikibaskan ke salah seorang yang mengeroyok
Pandan Wangi. Ikutnya Cempaka dalam pertarungan ini, membuat
empat orang yang mengeroyok Pandan Wangi jadi terpecah. Tentu saja hal ini
membuat keuntungan bagi si
Kipas Maut itu. Dengan padang di tangan kanan dan kipas
baja putih yang menjadi ciri khasnya di tangan kiri, Pandan
Wangi semakin meningkatkan tempo pertarungan begitu
melihat kehadiran Cempaka yang langsung membantunya.
Sementara itu, Palaka masih berdiri menyaksikan
pertarungan. Dia tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja
Cempaka membantu gadis berbaju biru muda itu.
"Palaka..., cepat bantu aku...!" teriak Cempaka selagi
bisa melirik ke arah Palaka.
"Baik...!" sahut Palaka keras. "Hiyaaat..!"
Palaka langsung melompat ke dalam kancah
pertempuran. Hal ini semakin membuat empat orang itu
jadi kalang kabut. Menghadapi Pandan Wangi sendirian
saja, mereka sudah mendapatkan kesulitan. Apalagi
dengan adanya bantuan dari dua orang yang memiliki
tingkat kepandaian cukup tinggi. Maka empat orang itu
semakin kewalahan saja.
"Lari...!"
Tiba-tiba salah seorang berteriak keras. Seketika itu
juga, empat orang itu berhamburan melarikan diri. Namun
Cempaka sempat mengibaskan pedangnya cepat ke arah
salah seorang lawan dan tak bisa dihindari lagi. Ujung
pedang Cempaka menghantam bahu kanan orang itu.
Cras! "Aaa...!" orang yang memakai baju warna putih itu
menjerit keras.
Darah langsung mengucur dari luka di bahunya. Dan
pada saat tubuh lawan limbung, Cempaka melompat
sambil berteriak nyaring. Seketika pedangnya ditusukkan
ke arah dada orang itu.
"Cempaka, jangan...!" seru Pandan Wangi.
Crab! "Aaa...!"
Peringatan Pandan Wangi terlambat datangnya. Atau
mungkin Cempaka tidak menghiraukannya. Sehingga
pedang gadis itu menembus dada orang berbaju putih itu
hingga tembus ke punggung. Sambil melirik Pandan Wangi,
Cempaka mencabut pedangnya dan langsung disarungkan
kembali ke warangkanya di punggung.
"Tidak seharusnya kau membunuh setiap lawanmu,
Cempaka," dengus Pandan Wangi mengomel.
"Maaf, Kak," sahut Cempaka menyadari kekeliruannya.
Pandan Wangi menghampiri adik tiri Pendekar Rajawali
Sakti itu. Sedangkan Palaka masih saja berdiri tidak
seberapa jauh di samping Cempaka.
"Siapa mereka tadi, Kak?" tanya Cempaka.
"Seharusnya aku yang tanya padamu. Untuk apa kau
berkeliaran di tempat ini...?" Pandan Wangi malah balik
bertanya. "Aku mencari Kakang Rangga," sahut Cempaka. "Kak
Pandan sendiri, kenapa berada di sini...?"
"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sini."
"Hm..., Kak Pandan lihat Kakang Rangga lewat sini?"


Pendekar Rajawali Sakti 44 Setan Pedang Perak di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tanya Cempaka lagi.
"Tidak," sahut Pandan Wangi singkat.
"Padahal Kakang Rangga menuju Karang Setra
mengejar seseorang. Dan pasti tadi lewat sini," kata
Cempaka agak bergumam, seperti bicara pada dirinya
sendiri. Wajah Pandan Wangi sedikit berubah, namun cepatcepat disembunyikannya. Ada
perasaan bersalah di dalam
hati gadis itu yang kelewat cemburu, sehingga hampir saja
mencelakakan Pendekar Rajawali Sakti. Namun ada
kegembiraan, karena ternyata Rangga berhasil mengelabui
Sangaji dan lolos dari sana. Rasa bersalah, kegembiraan,
dan juga keheranan bercampur menjadi satu di dalam
hatinya. "Ada apa, Kak...?" tegur Cempaka.
"Oh! Tidak ada apa-apa," buru-buru Pandan Wangi
menyahuti. "Oh, iya. Ke arah mana Kakang Rangga pergi?"
"Selatan," sahut Cempaka. "Palaka menemukan jejak
kaki kuda, dan Kakang Rangga langsung mengikuti."
"Jejak kaki kuda...?" Pandan Wangi mengernyitkan
alisnya. "Iya. Memangnya, kenapa...?"
"Tidak apa-apa. Ayo, Cempaka. Sebaiknya kita susul
sebelum terlambat."
Tanpa membuang-buang waktu, mereka langsung
berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Pandan Wangi mengimbangi ilmu meringankan tubuh
Cempaka yang masih satu tingkat di bawahnya. Dia berlari
di samping gadis itu. Sementara Palaka mengikuti saja dari
belakang. "Siapa dia, Cempaka?" tanya Pandan Wangi setengah
berbisik sambil terus berlari di sampingnya.
"Murid Padepokan Guruwatu yang hendak menemui
Kakang Rangga," sahut Cempaka.
"Apa keperluannya murid Padepokan Guruwatu ke sini?"
Pandan Wangi seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya, Kak. Aku
juga tidak begitu paham," sahut Cempaka.
"Nanti saja," desah Pandan Wangi.
"Atau tanyakan pada Kakang Rangga nanti," balas
Cempaka lagi. Pandan Wangi langsung terdiam. Dia sendiri masih
bingung, apakah berani bertemu muka lagi dengan Rangga
atau tidak. Kesalahan yang diperbuatnya kali ini cukup
besar. Pandan Wangi tidak tahu, apa yang akan dikatakannya jika bertemu Rangga.
Pandan Wangi benar-benar menyesal karena tidak bisa
mengendalikan diri dari kecemburuan. Dia begitu mudah
terbawa emosi. Padahal mungkin Rangga sedang membicarakan hal yang penting
dengan Bidadari Bintang Emas!
Ah, semoga lain kali dia tidak membuat kesalahan lagi. Dia
harus percaya sepenuhnya pada Rangga.
Sementara mereka terus bergerak cepat menuju Karang
Setra. Kedua gadis itu masih tetap berlari di depan.
Sedangkan Palaka hanya mengikuti dari belakang sambil
mengimbangi ilmu meringankan tubuh yang digunakan
kedua gadis itu.
*** 7 Rangga berdiri tegak di puncak bukit. Pandangannya
lurus ke arah Kerajaan Karang Setra. Matanya tidak
berkedip meneliti setiap sudut kota yang selalu ramai itu.
Dari ketinggian puncak bukit ini, Pendekar Rajawali Sakti
dapat melihat jelas setiap sudut kota. Bahkan bangunan
istana yang megah itu pun terlihat jelas bagian-bagiannya.
"Tidak ada tanda-tanda kalau Sangaji akan menyerang
Kota Karang Setra," gumam Rangga dalam hati.
Memang suasana kota kelihatan tenang dan damai. Tak
terlihat sedikit pun tanda-tanda kalau akan terjadi sesuatu.
Rangga jadi ragu-ragu juga. Terlebih, sikap Sangaji yang
dinilainya begitu jantan dan ksatria. Rasanya tidak
mungkin kalau Sangaji akan melakukan tindakan bodoh
menyerang kota. Karena, paling tidak membutuhkan
angkatan perang yang tidak sedikit jumlahnya dan harus
terlatih baik untuk bisa meruntuhkan Kerajaan Karang
Setra. Angkatan Perang Karang Setra memang terkenal
kuat dan tangkas.
Mendapat pikiran seperti itu, Pendekar Rajawali Sakti
langsung menuruni bukit. Gerakannya cepat dan ringan
sekali meskipun tidak mempergunakan ilmu meringankan
tubuh. Bahkan kakinya seolah-olah tidak menyentuh tanah
saat melangkah.
"Sudah diperoleh yang kau cari, Rangga...?" tiba-tiba
terdengar teguran lembut.
Rangga langsung menghentikan ayunan kakinya. Tubuhnya diputar sedikit dan
kepalanya berpaling ke arah suara
tadi. Tampak seorang gadis berwajah cantik bagai bidadari
turun dari kahyangan, sedang duduk menyendiri di bawah
pohon yang cukup rindang.
"Bidadari Bintang Emas...?" gumam Rangga mengenali
gadis cantik yang selalu mengenakan baju kuning warna
emas. Sementara ciri lain gadis itu adalah selalu membawa
senjata yang berbentuk bintang berwarna kuning
keemasan. Wanita inilah yang membuat Pandan Wangi
cemburu bukan main. Sebab sudah beberapa kali Rangga
bertemu dengannya.
Pendekar Rajawali Sakti menghampiri, kemudian duduk
di atas sebatang pohon yang tumbang tidak jauh di depan
Bidadari Bintang Emas. Untuk beberapa saat lamanya,
mereka tidak berbicara. Rangga memandangi sekelilingnya, kemudian beralih pada
gadis cantik di depannya.
"Kau tahu apa yang sedang kucari, Bidadari Bintang
Emas?" tanya Rangga bernada memancing.
Bidadari Bintang Emas tertawa renyah. Merdu sekali
suara tawanya, sehingga membuat hati siapa saja yang
mendengarnya akan terhibur. Rangga sampai menelan
ludahnya sendiri saat melihat baris-baris gigi yang rapi dan
putih bagai mutiara.
"Tak ada seorang pun yang bisa rnenyembunyikan
sesuatu dariku, Pendekar Rajawali Sakti," kata Bidadari
Bintang Emas. Memang tokoh satu ini terkenal banyak
tahu hal-hal rahasia.
Rangga hanya tersenyum saja.
"Hanya membuang-buang waktu saja jika masih tetap
berada di sini, Pendekar Rajawali Sakti," kata Bidadari
Bintang Emas lagi. Masih tetap lembut dan merdu sekali
suaranya. "Aku memang sudah menduga kalau dia tidak mungkin
datang ke kota," tegas Rangga pelan. Rangga sudah
menduga sebelumnya kalau Bidadari Bintang Emas pun
pasti tahu persoalan yang sedang dihadapinya.
"Kenapa kau tidak mencarinya di tempat lain?"
"Sudah. Tapi dia seperti lenyap begitu saja."
"Kau akan menghadapi kesulitan besar, Rangga. Dan
harus hati-hati menghadapinya. Bisa saja kecerdikanmu
akan mengelabuinya. Tapi jangan disangka kalau Sangaji
itu orang pandir. Tipu dayanya banyak sekali untuk
mengelabui dan mempermainkan orang lain. Bahkan
mampu merebut tahta tanpa sedikit pun meneteskan
darah orang lain."
"Ooo.... Ck ck ck...," Rangga berdecak kagum mendengar
keterangan tentang Sangaji dari gadis cantik ini.
Keistimewaan Bidadari Bintang Emas ini memang sukar
dicari tandingannya. Dia bisa mengetahui persis tentang
pribadi orang. Bahkan sampai hal yang terkecil sekalipun!
Di samping itu, Bidadari Bintang Emas juga memiliki
kemampuan ilmu olah kanuragan dan kesaktian yang
tinggi. Jadi tidak mudah pula menaklukkan gadis ini.
"Rupanya kau tahu banyak tentang Sangaji, Bintang
Emas," kata Rangga setengah bergumam.
"Tidak juga. Aku hanya sedikit mengenalnya," sahut
Bidadari Bintang Emas, agak sedikit ditahan pada katakata yang terakhir.
Meskipun hanya sebentar, namun Pendekar Rajawali
Sakti bisa menangkap adanya perubahan pada wajah
gadis yang selalu mengenakan baju berwarna kuning
keemasan itu. Namun Rangga tidak ingin mengungkitungkit lebih jauh lagi,
meskipun memang ada sesuatu yang
disembunyikan Bidadari Bintang Emas. Apalagi tidak
seperti biasanya gadis ini begitu memperhatikan dan
mengikuti terus perkembangan sesuatu persoalan yang
bukan menyangkut dirinya. Suatu hal yang belum pernah
dilakukan oleh Bidadari Bintang Emas pada orang lain.
Apalagi orang itu dianggap sebagai musuhnya.
Meskipun belum pernah bentrok secara langsung, tapi
Rangga pernah mendengar kalau Bidadari Bintang Emas
pernah menantangnya. Menurutnya, Pendekar Rajawali
Sakti adalah salah satu musuhnya yang harus bertarung
dengannya. Hal ini untuk menentukan siapa di antara
mereka yang lebih tinggi kepandaian dan kedigdayaannya
dalam ilmu olah kanuragan maupun ilmu kesaktian.
"Rangga! Mungkin Sangaji sudah tidak ada lagi di
wilayah Karang Setra ini. Sebaiknya lupakan saja persoalan
ini," ujar Bidadari Bintang Emas setelah cukup lama berdiam diri.
Rangga hanya tersenyum saja mendengar peringatan
gadis ini. Tapi kali ini, Pendekar Rajawali Sakti bisa
menangkap adanya nada permintaan, meskipun tidak
diucapkan secara langsung.
"Dia memang tidak akan diam dan puas sebelum
maksudnya tercapai. Tapi aku khawatir jika apa yang
diinginkannya tercapai, maka seluruh rimba persilatan
akan merasa kehilangan sekali," sambung Bidadari Bintang
Emas. "Ah! Kenapa kau berkata seperti itu, Bintang Emas?"
"Karena kau akan sukar menghadapinya. Dia bukan lagi
Sangaji yang dulu, tapi sekarang dia adalah si Setan
Pedang Perak," Bidadari Bintang Emas memberi tahu.
"Ha... ha... ha...!" Rangga tertawa terbahak-bahak.
"Kau bisa saja tertawa, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi
jangan menyesal nantinya," agak dingin nada suara
Bidadari Bintang Emas kali ini.
"Maaf. Bukannya aku ingin merendahkan dan
meremehkanmu, Bintang Emas. Tapi hatiku merasa
tergelitik mendengar kalau Sangaji adalah si Setan Pedang
Perak," jelas Rangga.
Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti itu tergelitik.
Memang, dia tahu siapa si Setan Pedang Perak yang
sesungguhnya. Karena, tokoh itu sudah tewas dalam
pertarungan dengannya beberapa purnama yang lalu. Dan
dia juga tahu kalau si Setan Pedang Perak tidak mempunyai keturunan.
Tapi, mendadak saja Pendekar Rajawali Sakti itu jadi
tertegun. Kini baru diingat, ternyata pemuda yang memiliki
dendam di hatinya itu mengenakan pakaian yang sama
persis dengan si Setan Pedang Perak. Bahkan bukan hanya
warnanya, tapi juga potongan serta bentuk pakaian. Dan
yang tidak pernah diperhatikannya, pemuda yang ada luka
codet di pipi kanannya itu juga memiliki sepasang pedang
yang menyembul di balik punggung. Rangga menepak
keningnya sendiri. Kini baru disadari kalau Sangaji
membawa pedang yang sama persis bentuknya dengan
pedang si Setan Pedang Perak. Dan...
"Aaah...,"
Rangga mendesah panjang seraya mendongakkan kepalanya memandang langit.
Kemudian kepalanya digeleng-gelengkan disertai
hembusan napas panjang dari terasa berat sekali.
Sedangkan Bidadari Bintang Emas hanya memperhatikan,
disertai senyuman manis di bibir. Dia sepertinya
mengetahui semua yang sedang dipikirkan Rangga saat ini.
Pendekar Rajawali Sakti memandangi Bidadari Bintang
Emas dalam-dalam.
"Siapa sebenarnya Sangaji itu...?" tanya Rangga seperti
bertanya pada dirinya sendiri.
Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti itu bertanya-tanya
pada dirinya sendiri, karena baru sadar kalau waktu itu
sempat terkena ramuan racun Setan Pedang Perak yang
sudah terkenal keampuhannya. Dan dikenali betul jenis
racun itu walaupun tidak berarti banyak bagi dirinya yang
kebal terhadap segala jenis racun. Memang, racun itu tidak
mematikan, dan hanya membuat orang yang terkena jadi
tidak sadarkan diri. Paling tidak, untuk waktu dua atau tiga
hari lamanya. Dan tentu saja racun itu milik si Setan
Pedang Perak. Tak ada seorang pun yang bisa memiliki dan
menguasai, baik cara membuatnya maupun menggunakannya dengan tepat
"Sangaji adalah si Setan Pedang Perak," tegas Bidadari
Bintang Emas, pelan suaranya.
Rangga semakin dalam memandangi gadis berbaju
kuning keemasan itu. Kalau Sangaji benar si Setan Pedang
Perak, lalu siapa yang bertarung dengannya tiga purnama
yang lalu,.." Rangga semakin tidak mengerti dengan situasi
yang dihadapinya sekarang. Herannya lagi, kenapa Sangaji
tidak memberi perlawanan ketika Rangga melukai pipinya
hingga membekas dan membuat wajahnya jadi kelihatan
menyeramkan. Terlalu banyak pertanyaan yang sukar
dijawab yang muncul dalam kepala Pendekar Rajawali
Sakti. Pada saat itu Bidadari Bintang Emas bangkit berdiri.
Sebentar tubuhnya digeliat-geliatkan, menimbulkan
gerakan-gerakan indah yang membuat Rangga sempat
tidak berkedip memperhatikannya. Wajah dan bentuk
tubuh gadis itu memang luar biasa cantiknya. Bahkan
seorang laki-laki yang kuat mentalnya, tentu atinya akan
bergetar juga bila menatap gadis berbaju kuning keemasan
itu. Rasanya sulit untuk menyamai kecantikan Bidadari
Bintang Emas. Gadis ini benar-benar bagai seorang
bidadari. Selain memiliki wajah cantik, bentuk tubuhnya
indah menggiurkan.
"Kenapa kau memandangku begitu?" tegur Bidadari


Pendekar Rajawali Sakti 44 Setan Pedang Perak di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bintang Emas agak ketus.
"Ah, tidak...," sahut Rangga buru-buru memalingkan
mukanya ke arah lain, sehingga tidak bisa mengetahui
senyuman tipis yang tersungging di bibir indah gadis itu.
"Kau memang tampan dan berkemampuan tinggi,
Rangga. Tapi ingatlah, kalau kau sudah memiliki kekasih,"
kata Bidadari Bintang Emas seperti bisa membaca pikiran
Rangga. Kata-kata Bidadari Bintang Emas barusan, membuat
Rangga tersentak seperti diingatkan. Bukan saja diingatkan pada Pandan Wangi,
tapi juga diingatkan karena
sempat mempunyai pikiran kotor pada diri gadis itu.
Rangga langsung berpaling memandang ke arah Bidadari
Bintang Emas. Namun betapa terperanjatnya begitu
mengetahui kalau gadis berbaju kuning keemasan itu
sudah tidak ada lagi. Entah ke mana perginya.
Memang tidak ada yang tahu kalau Bidadari Bintang
Emas pernah punya hubungan dengan Sangaji. Dan karena
kepandaian pemuda itu masih di bawahnya, mau tak mau
Sangaji merasa minder. Tapi setelah memakai julukan si
Setan Pedang Perak, Bidadari bintang Emas berniat
menyambung kembali hubungannya dengan Sangaji.
"Gadis yang aneh...," desah Rangga pelan.
*** Rangga memandangi Puncak Gunung Gadakan yang
selalu terselimut kabut tebal. Seakan-akan, kabut itu
merupakan tabir misteri yang menantang siapa saja untuk
mengungkapnya. Di puncak gunung yang berkabut itulah
dia pernah bertemu Sangaji yang kata Bidadari Bintang
Emas adalah si Setan Pedang Perak yang asli. Namun
Pendekar Rajawali Sakti tidak mau mempercayai begitu
saja, karena yakin kalau si Setan Pedang Perak sudah
tewas dalam pertarungan dengannya.
Meskipun begitu, Pendekar Rajawali Sakti jadi
penasaran juga. Dia ingin mengetahui lebih jauh lagi, siapa
sebenarnya Sangaji itu..." Apakah memang benar dia
adalah si Setan Pedang Perak" Kalau memang benar,
siapa sebenarnya yang tewas tiga purnama yang lalu"
Terlalu banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran
Rangga saat ini. Dan semua pertanyaan itu merupakan
tantangan yang menarik baginya. Rangga bertekad untuk
bisa membongkar semua misteri yang kini menghadangnya.
Trang! Tring! "Heh..."!"
Rangga tersentak ketika tiba-tiba saja terdengar suara
senjata beradu tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Malah, kadang-kadang diwarnai oleh teriakan-teriakan
keras sebuah pertarungan.
"Hup...!"
Rangga melesat cepat bagai kilat. Begitu cepatnya,
sehingga yang terlihat hanya bayangan putih berkelebatan
menuju ke sumber suara pertarungan yang didengarnya.
Hanya beberapa kali lesatan dan lari yang disertai
pengerahan tenaga dalam tinggi, Rangga bisa mencapai
tempat pertarungan dalam waktu sebentar saja.
Hampir saja Pendekar Rajawali Sakti terbeliak begitu
melihat Pandan Wangi, Cempaka, dan Palaka tengah
bertarung sengit. Lawan mereka adalah empat orang tokoh
persilatan yang bergabung dengan Sangaji, dalam
usahanya membalas dendam pada Pendekar Rajawali
Sakti. Mereka juga dibantu orang-orang berpakaian serba
putih. Rangga tahu kalau mereka yang berpakaian serba
putih dan bersenjata golok itu adalah murid Eyang Bangkal.
Sedangkan Eyang Bangkal sendiri sudah tewas.
Rangga memandangi Pandan Wangi yang bertarung
mempergunakan senjata pusakanya berupa kipas baja
putih yang bagian ujungnya runcing. Perhatian pemuda
berompi putih itu beralih pada Cempaka. Gadis itu
bertarung mempergunakan sebilah pedang, yang memang
ahli mempermainkan senjatanya. Lain lagi dengan Palaka.
Murid dari Padepokan Guruwatu itu hanya bertarung
dengan tangan kosong saja. Pemuda itu berhadapan
dengan orang-orang berpakaian serba putih. Namun
meskipun dikeroyok sekitar sepuluh orang, Palaka masih
mampu bertahan. Bahkan serangan balasan yang berupa
pukulan serta tendangan, membuat lawan lawannya
kerepotan juga.
Pendekar Rajawali Sakti hanya memperhatikan saja
jalannya pertarungan dari jarak yang tidak seberapa jauh.
Dia memang tidak ingin terjun dalam pertarungan itu,
karena Pandan Wangi, Cempaka, dan Palaka masih bisa
mengatasi lawan-lawannya.
"Akh...!"
Tiba-tiba saja Rangga dikejutkan satu teriakan keras
agak tertahan. Pendekar Rajawali Sakti langsung
melayangkan pandangan ke arah datangnya suara tadi.
Tampak Pandan Wangi terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya. Pada saat itu
terlihat salah seorang
lawannya yang mengenakan baju putih dan celana putih
sebatas lutus, sudah melompat cepat. Senjatanya berupa
kapak yang bagian ujungnya berbentuk seperti mata
tombak, terayun ke arah gadis itu.
"Hiyaaa...!"
Wut! Ketika kapak itu menyambar, cepat sekali gadis berbaju
biru muda itu mengegoskan kepalanya ke samping. Maka
tebasan kapak itu lewat sedikit di depan mukanya. Namun
sebelum gadis itu bisa melakukan sesuatu, dari arah
samping kanannya sudah melesat orang lainnya yang
mengenakan baju merah. Tombak panjangnya yang
bermata tiga diayunkan, dan langsung ditusukkan ke arah
dada Pandan Wangi.
Untuk kali ini, Pandan Wangi tak mungkin bisa menghindar lagi. Karena pada saat
yang sama, dari arah
depannya juga berkelebat sebilah pedang. Sementara
pada saat itu, perhatian Pandan Wangi tengah terpusat
pada penyerangnya yang berada di depan. Maka, mana
mungkin sempat memperhatikan adanya serangan gelap
yang datang dari arah samping.
"Yeaaah...!"
Melihat keselamatan Pandan Wangi terancam, Rangga
langsung melompat. Dan seketika itu juga ujung jarinya
dijentikkan pada mata tombak yang sedikit lagi menancap
di dada si Kipas Maut itu.
Tring! "Heh...!"
Orang berbaju merah yang menggunakan senjata
tombak itu, terkejut setengah mati. Tombaknya terpental
balik dan dirinya terjajar sekitar tiga langkah ke belakang.
Laki-laki berusia sekitar enam puluhan tahun yang dikenal
berjuluk si Tombak Mayat itu langsung melompat mundur,
ketika melihat Pendekar Rajawali Sakti tahu-tahu sudah
berdiri di samping Pandan Wangi.
Bahkan dua orang lainnya yang juga bertarung melawan
si Kipas Maut itu juga langsung berlompatan mundur
beberapa tindak. Demikian pula sekitar delapan orang
berpakaian serba putih yang membantu mengeroyok gadis
berbaju biru itu. Seketika mereka menghentikan serangannya.
"Berhenti...!" teriak Rangga keras dan tiba-tiba.
Bentakan Pendekar Rajawali Sakti yang dike-uarkan
lewat pengerahan tenaga dalam tinggi itu sangat luar biasa
akibatnya. Seketika pertarungan yang berlangsung
terhenti. Bahkan seorang tokoh persilatan yang sedang
bertarung melawan Cempaka juga bergegas melompat
mundur mendekati temannya yang lain. Mereka saling
berpandangan satu sama lainnya untuk beberapa saat.
Sementara Palaka dan Cempaka juga bergegas bergabung
dengan Pandan Wangi dan Rangga. Sedangkan orangorang berbaju putih, sudah bergerak membuat lingkaran
mengurung mereka semua. "Untung kau cepat datang,
Kakang," ujar Cempaka yang sudah berada di samping
kakak tirinya itu.
Rangga hanya melirik saja sedikit pada Cempaka,
kemudian melangkah maju dua tindak. Pandangan
matanya tajam menusuk ke arah empat orang laki-laki
yang memiliki dendam pribadi pada Pendekar Rajawali
Sakti. Rangga mengenali betul satu persatu. Mereka
memang pernah bentrok dengannya, tapi tak ada satu pun
yang memiliki kepandaian tinggi untuk bisa menandingi
Pendekar Rajawali Sakti.
"Sebenarnya aku sudah enggan berurusan dengan
kalian. Tapi rupanya kalian tidak bisa menerima kebaikan,
dan selalu mencari kesempatan untuk menghabisiku...!"
terdengar dingin sekali nada suara Rangga.
Empat orang laki-laki yang rata-rata usianya sudah
hampir setengah baya, bahkan ada yang lebih itu, saling
berpandangan satu sama lain. Mereka memang menyadari
sudah beberapa kali berusaha, namun selalu gagal.
Bahkan Pendekar Rajawali Sakti masih memberi ampunan
padanya. "Sekarang aku tidak ingin banyak bicara lagi, dan
kuserahkan nasib pada kalian sendiri untuk menentukannya!" tegas Rangga bernada
mengancam. Dua orang segera bergerak mundur, tapi dua orang lagi
masih tetap berdiri pada tempatnya. Mereka adalah si
Tombak Mayat dan si Kapak Iblis yang kemudian saling
berpandangan sejenak dengan sudut ekor mata masingmasing.
"Dulu kau boleh berbangga, Pendekar Rajawali Sakti.
Tapi sekarang, jangan harap bisa mengalahkanku!" bentak
si Tombak Mayat lantang.
"Hari ini kau akan jadi santapan cacing tanah, Pendekar
Rajawali Sakti...!" sambung si Kapak Iblis menggeram.
"Majulah, jika hal itu membuat kalian puas," sambut
Rangga seraya merentangkan tangannya ke samping.
"Hiyaaat..!"
"Yiaaah...!"
Kedua orang itu langsung berlompatan menyerang
Pendekar Rajawali Sakti. Senjata mereka dikebutkan
dengan cepat, mengarah ke beberapa bagian tubuh
Rangga. Namun rupanya pemuda berbaju rompi putih itu
sudah siap menerima serangan. Begitu dua senjata
mengarah ke tubuhnya, dengan manis sekali badannya
mehuk menghindari serangan dahsyat itu. Rangga
langsung menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'
yang seringkali digunakan dalam menghadapi lawan.
Serangan yang dilancarkan kedua orang itu sungguh
cepat dan dahsyat Rangga memang merasakan adanya
suatu kemajuan yang dicapai kedua orang itu Tebasan dan
tusukan senjatanya mengandung pengerahan tenaga
dalam tinggi, sehingga menimbulkan deru angin.
"Hup...!"
Mendadak saja tubuh Rangga melenting ke atas ketika
tombak bermata tiga mengibas ke arah kaki. Lalu cepat
sekali Pendekar Rajawali Sakti itu menukik seraya
mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar
Mangsa'. Dua kali tubuhnya berputaran di udara, lalu
kakinya cepat diarahkan ke kepala si Tombak Mayat.
"Hiyaaa...!"
Prak! "Aaakh...!" si Tombak Mayat menjerit melengking tinggi
begitu kaki Pendekar Rajawali Sakti menghantam keras
kepalanya. Dan sebelum jeritan melengking tinggi itu hilang,
seketika itu juga Rangga merubah jurusnya menjadi
'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Satu pukulannya langsung
diarahkan ke arah si Kapak Iblis. Serangan Rangga yang
begitu cepat dan tidak terduga itu tak dapat terhindarkan
lagi. Sehingga....
Des! "Aaa...!" si Kapak Iblis menjerit keras.
Dalam waktu hampir bersamaan, kedua orang itu
menggelepar di tanah. Si Tombak Mayat menggelepar
sambil memegangi kepalanya yang pecah. Tampak darah
merembes keluar dari sela-sela jari tangannya yang
memegangi kepala. Sedangkan si Kapak Iblis hanya
sebentar saja menggelepar, kemudian nyawanya melayang. Tampak dadanya memerah
dan melesak ke dalam
akibat terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Kedua tokoh
persilatan yang menyimpan dendam di hati itu kini
tergeletak tak bernyawa lagi.
Melihat dua orang berkepandaian cukup tinggi itu tewas
dengan mudah, orang-orang berpakaian serba putih
seketika itu juga berlarian kabur sambil membuang
goloknya. Sementara dua orang lagi masih berdiri terpaku,
kemudian juga segera pergi dengan cepat.
*** 8 "Kakang...."
Cempaka langsung menghambur, memeluk Pendekar
Rajawali Sakti. Sedangkan yang dipeluk malah menatap
Pandan Wangi yang tengah menundukkan kepalanya.
Seakan-akan tidak sanggup membalas sorot mata pemuda
yang sangat dicintainya itu.
Dengan halus sekali, Rangga melepaskan pelukan
Cempaka, kemudian menghampiri Pandan Wangi yang
masih menundukkan kepalanya. Rangga berdiri sekitar dua
langkah di depan gadis berbaju biru itu. Sementara
Cempaka menghampiri Palaka, dan langsung menarik
tangan pemuda itu untuk diajak menjauh.
Pandan Wangi memang sudah menceritakan semuanya
pada Cempaka. Dan gadis itu ikut prihatin dengan apa
yang telah terjadi. Bahkan Cempaka menganjurkan agar
Pandan Wangi mengakui saja kesalahannya pada Rangga.
Memang tidak mudah, tapi hanya itu satu-satunya cara
yang harus dilakukan Pandan Wangi.
"Pandan," terdengar lembut suara Rangga memanggil
nama si Kipas Maut.
Perlahan-lahan kepala Pandan Wangi terangkat.
Mereka langsung bertatapan. Namun gadis itu kembali


Pendekar Rajawali Sakti 44 Setan Pedang Perak di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menundukkan kepalanya begitu sorot mata Pendekar
Rajawali Sakti menatap tajam kepadanya. Dan sebelum
kepala si Kipas Maut itu tertunduk benar, Rangga sudah
menyentuh dagu gadis itu dengan ujung jari. Lalu dengan
lembut dagu berbentuk indah itu diangkatnya. Maka mau
tak mau, Pandan Wangi harus menatap bola mata pemuda
itu. "Kau tidak perlu mengatakan apa-apa padaku, Pandan.
Aku tahu semuanya. Anggaplah semua ini sebagai satu
pelajaran yang baik untuk kita semua," ujar Rangga dengan
suara lembut sekali.
Pandan Wangi masih terdiam membisu. Bibirnya
bergetar seakan-akan hendak mengatakan sesuatu.
Namun tak ada sepatah kata pun yang terucapkan. Pandan
Wangi tidak tahu, apa yang harus diucapkan-nya. Terlalu
banyak kata-kata terlintas di benaknya, namun tak satu
pun bisa diungkapkan. Lidahnya mendadak jadi kaku
seketika. "Aku menyadari kalau di antara kita ada perbedaan. Tapi
itu bukanlah suatu persoalan yang perlu dibesar-besarkan.
Tidak ada dua makhluk hidup yang sama dan serupa di
dunia ini. Paling tidak, pasti ada perbedaannya walau
hanya sedikit sekali. Dan perbedaan itulah yang membuat
manusia bisa bersatu hingga memperbanyak keturunan
untuk memenuhi bumi ini," jelas Rangga lagi.
"Maafkan aku, Kakang. Aku mengaku bersalah," ucap
Pandan Wangi, lirih dan agak bergetar suaranya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pandan. Bukan hanya
kau yang memiliki kesalahan. Tapi aku juga," ungkap
Rangga. "Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi jika saja aku bisa
menahan diri," kata Pandan Wangi menyesal.
"Kau tidak usah menyesali apa yang telah terjadi,
Pandan. Semua yang terjadi sudah digariskan Hyang Widi.
Jadi kita tidak boleh menghindarinya, terlebih menyesali,"
Rangga menasihati.
"Yaaah..., memang apa yang telah terjadi di dunia ini
sudah kehendak Hyang Widi," desah Pandan Wangi.
"Dan yang pasti, dari semua kejadian ini, kita bisa
memetik hikmahnya,"
sambung Rangga seraya memberikan senyum.
Pandan Wangi jadi ikut tersenyum. Seketika hilang
sudah perasaan cemas dan keraguannya akan sikap
Rangga yang diduga akan membencinya. Ternyata dugaannya selama ini meleset jauh.
Rangga yang sekarang, masih
seperti Rangga yang dulu. Bahkan sekarang lebih matang
dan lebih bijaksana. Baik dalam sikap, sifat, dan
perbuatannya. Pandan Wangi semakin merasa kecil dan
tak berarti di hadapan Pendekar Rajawali Sakti ini.
Seketika itu pula, rasa cintanya semakin bertambah besar.
Entah ada dorongan apa, tiba-tiba saja Pandan Wangi
memeluk Pendekar Rajawali Sakti. Langsung diberikannya
kecupan hangat di pipi Rangga dan juga di bibir pemuda
itu. Rangga jadi gelagapan. Buru-buru pelukan gadis itu
dilepaskan. Matanya sempat melirik Cempaka dan Palaka
yang berada tidak seberapa jauh. Tampak sekali kalau
Cempaka langsung memalingkan muka begitu Pandan
Wangi memeluk Rangga.
"Ada Cempaka, Pandan," bisik Rangga.
"Oh...!" Pandan Wangi tersentak.
Seketika wajah Pandan Wangi memerah begitu sadar
kalau di tempat ini bukan hanya mereka berdua saja, tapi
juga ada Cempaka dan Palaka. Buru-buru Pandan Wangi
menjauhkan diri. Wajahnya segera dipalingkan untuk
menyembunyikan rasa malu akibat tidak bisa menahan
luapan kegembiraan yang menyelimuti perasaannya.
"Yuk...?" ajak Rangga seraya menggamit lengan Pandan
Wangi. "Ke mana?" tanya Pandan Wangi seraya menepiskan
tangan Rangga dengan halus.
"Tidak enak membiarkan mereka di sana," sahut Rangga
seraya ekor matanya menunjuk Cempaka dan Palaka.
Pandan Wangi seperti tak sanggup melihat Cempaka.
Ada terselip rasa malu karena luapan kegembiraan tadi.
Sungguh tidak disadari ada orang lain di tempat ini selain
mereka berdua. Dan ini baru pertama kali gadis itu mencium Rangga di depan orang
lain. Kalau saja bisa, ingin
rasanya Pandan Wangi menyembunyikan wajah di balik
bajunya. Pandan Wangi mengikuti ayunan kaki Pendekar Rajawali
Sakti yang menghampiri adik tirinya dan Palaka. Si Kipas
Maut itu masih menundukkan kepalanya begitu berada di
samping Cempaka. Sementara itu Rangga menghampiri
Palaka dan mengajaknya berjalan. Pandan Wangi bergegas
mengikuti, dan sepertinya tidak ingin tertinggal jauh dari
Pendekar Rajawali Sakti. Atau mungkin juga ingin menghindari ledekan Cempaka,
karena tahu kalau gadis itu
paling pintar menggoda.
"Kak Pandan...."
Pandan Wangi agak tersentak ketika Cempaka tiba-tiba
memanggilnya. Bahkan Cempaka menarik tangannya agar
tidak terlalu cepat berjalan. Sepertinya gadis itu memang
sengaja agar Pandan Wangi tidak terlalu dekat dengan
Pendekar Rajawali Sakti.
"Ada apa?" tanya Pandan Wangi, berdebar.
"Tidak apa-apa," sahut Cempaka.
Pandan Wangi sempat melirik gadis itu, dan tampak
Cempaka tersenyum-senyum dikulum. Seketika itu juga
wajah Pandan Wangi langsung memerah bagai kepiting
rebus. Gadis itu buru-buru memalingkan mukanya,
memandang ke arah lain. Jantungnya semakin keras berdebar. Dia tahu kalau
Cempaka mulai melancarkan aksi
untuk menggoda. Dan ini yang sejak tadi dicemaskan
Pandan Wangi. "Kak.... Rasanya ciuman itu bagaimana sih?" tanya
Cempaka. Suaranya terdengar pelan setengah berbisik.
Seketika itu juga Pandan Wangi merasakan jantungnya
copot. Tidak mungkin pertanyaan konyol itu dijawab. Dan
dia tahu kalau itu merupakan awal malapetaka kecil yang
akan dihadapinya. Memang, dulu dirinya seorang gadis
yang nakal dan agak liar. Tapi Pandan Wangi yang
sekarang bukanlah Pandan Wangi yang dulu. Kalau saja
gadis ini masih seperti dulu, tentu pertanyaan konyol itu
akan dijawab konyol juga.
"Kapan-kapan ajari aku ya, Kak?" kata Cempaka lagi
semakin lebar senyumannya.
"Edan...!" dengus Pandan Wangi dalam hati.
Cempaka tersenyum lebar melihat wajah Pandan Wangi
memerah. Bahkan jadi tidak bisa menahan tawanya lagi
saat melihat Pandan Wangi menggerutu kecil.
"Sudahlah, Cempaka. Nanti kau juga akan merasakannya sendiri," Pandan Wangi
mulai meledek. "Sama siapa...."
"Tuuuh...," Pandan Wangi menunjuk Palaka yang berjalan di depan bersama Rangga.
"Edan!" dengus Cempaka seraya meninju bahu Pandan
Wangi. Pandan Wangi jadi tertawa terbahak-bahak karena bisa
membalas godaan gadis itu. Dan Cempaka juga ikut
tertawa, membuat Rangga dan Palaka jadi berpaling. Tapi
mendadak saja kedua gads itu berhenti tertawa.
*** Baru saja Rangga menghenyakkan tubuhnya di kursi
kamar pribadinya di Istana Karang Setra, mendadak
terdengar ketukan di pintu. Rangga mendengus seraya
memandang ke arah pintu yang tertutup rapat tapi tidak
terkunci itu. Memang sukar bila berada di istana ini untuk
beristirahat. Makanya Rangga lebih senang mengembara,
dibanding berada dalam istana yang megah ini.
"Masuk...!" seru Rangga.
Pintu kamar yang terbuat dari kayu jati tebal dan berukir
itu, perlahan-lahan terbuka. Ternyata Danupaksi yang
muncul. Terlihat dua orang prajurit penjaga berada di
samping kiri dan kanan pintu. Rangga memberi isyarat
untuk menutup pintu kembali. Danupaksi bergegas
menutup pintu, kemudian menghampiri Raja Karang Setra
itu. "Ada apa?" tanya Rangga tanpa beranjak dari kursinya.
"Ampun, Kakang Prabu...."
"Yang wajar saja!" sentak Rangga melihat Danupaksi
memberi sembah padanya dengan merapatkan kedua
tangan di depan hidung.
"Tapi ini di...."
"Aku tahu, kau boleh bersikap begitu di depan orang
lain. Tapi di sini tidak ada siapa-siapa," potong Rangga
cepat. "Maaf, Kakang."
"Katakan, apa yang hendak kau sampaikan?"
"Hanya ingin menyampaikan ini"
Danupaksi mengeluarkan sebuah gulungan daun lontar
dari balik lipatan bajunya. Langsung diserahkannya pada
Pendekar Rajawali Sakti, Rangga cepat menerimanya.
Segera dibukanya pita merah tua yang mengikat gulungan
daun lontar itu. Matanya tidak berkedip memandangi daun
lontar itu. Kemudian daun lontar itu digulung kembali, dan
langsung ditatapnya Danupaksi. Sedangkan yang ditatap
hanya sedikit tertunduk.
"Kau sudah tahu isinya, Danupaksi?" tanya Rangga.
Danupaksi hanya menggelengkan kepala.
"Siapa yang membawa surat ini?" tanya Rangga.
"Seorang rakyat biasa yang sehari-harinya mencari kayu
bakar di hutan," sahut Danupaksi.
Rangga bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan
menuju jendela yang dibuka lebar. Dia berdiri tegak di
depan jendela itu sambil memandang lurus ke depan.
Sedangkan Danupaksi hanya memperhatikan dengan
benak diliputi berbagai macam pertanyaan. Karena sikap
Pendekar Rajawali Sakti mendadak berubah begitu selesai
membaca surat itu.
"Apa isi surat itu, Kakang?" tanya Danupaksi seraya
menghampiri Rangga yang sudah berdiri di depan jendela
yang dibuka lebar-lebar.
"Tantangan," sahut Rangga seraya memberi gulungan
surat daun lontar itu.
Danupaksi menerima gulungan surat itu, kemudian
membukanya. Sebentar dibacanya surat yang hanya berisi
beberapa kalimat saja. Kemudian, matanya tertuju pada
Rangga yang tengah mengarahkan pandangan ke arah
Puncak Gunung Gadakan. Dari jendela kamar ini, memang
bisa terlihat pemandangan indah di puncak gunung yang
selalu terselimut kabut itu.
"Kau mengenali orang yang mengirim surat itu,
Danupaksi?" tanya Rangga lagi.
Kini Pendekar Rajawali Sakti tahu, kalau sekarang ini
Sangaji hanya seorang diri. Para pengikutnya sudah kabur
entah ke mana, dan tidak sedikit yang tewas di dalam
pertarungan. Dan Rangga sendiri masih belum yakin kalau
Sangaji adalah si Setan Pedang Perak.
"Dia masih muda. Tubuhnya kotor serta pakaiannya
lusuh. Ada bekas luka di pipi kanannya. Juga...."
"Sangaji...," desis Rangga memutuskan ucapan
Danupaksi. Desisan yang seperti tidak sadar terucapkan, membuat
Danupaksi memandangi Pendekar Rajawali Sakti dalamdalam. Sedangkan Rangga
langsung memutar cepat tubuhnya. Kembali wajahnya mengalami perubahan. Kemudian
adik tirinya itu dipandangi dalam-dalam. Tiba-tiba saja
Rangga memberi beberapa totokan pada dada Danupaksi
Akibatnya pemuda itu tersentak kaget dan memekik
tertahan. "He...?"
Dan sebelum Danupaksi sadar akan apa yang baru saja
dilakukan Pendekar Rajawali Sakti itu, tiba-tiba saja
seluruh tubuhnya terasa jadi panas. Dan semakin lama
semakin panas bagai terbakar. Seluruh tubuh Danupaksi
memerah, dan mengepulkan asap tipis berwarna
kemerahan. "Hih!"
Tiba-tiba saja Rangga menghentakkan telapak tangan
kanannya yang terbuka.
Deghk! Telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti itu langsung
menghantam dada Danupaksi. Akibatnya, pemuda itu
terpental ke belakang dan menghantam dinding. Seluruh
dinding ruangan ini bergetar begitu punggung Danupaksi
menghantamnya. Pemuda berbaju putih dan bercelana biru
itu langsung melorot jatuh ke lantai.
"Hoeeekh...!"
Danupaksi berdahak dan memuntahkan darah kental
bercampur cairan merah kehijauan yang mengepulkan uap
tipis. Tiga kali pemuda itu memuntahkan darah disertai
cairan kental, kemudian pada muntahan yang keempat,
baru keluar darah segar.
"Hih...!"
Kembali Rangga memberi totokan di dada pemuda itu.
Danupaksi tidak lagi bisa bersuara, karena sudah begitu
lemas. Pandangan matanya sayu terarah pada Pendekar
Rajawali Sakti yang berdiri tegak di depannya. Seluruh
tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya jadi pening. Namun
panas yang tadi dirasakan, mendadak saja lenyap.
"Apa yang kau lakukan padaku, Kakang?" tanya
Danupaksi, lemah suaranya.
"Kau terkena hawa racun yang disebarkan Sangaji,"
sahut Rangga. "Ohhh...," Danupaksi mendesah panjang dan lirih.
"Siapa saja yang bertemu dengannya?" tanya Rangga.
Danupaksi menyebutkan beberapa nama.
"Setelah kau sehat, lakukan apa yang baru saja
kulakukan padamu. Minta bantuan Ki Lintuk dan beberapa


Pendekar Rajawali Sakti 44 Setan Pedang Perak di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

patih yang bertenaga dalam tinggi. Jelaskan pada mereka
sebelum kau melakukannya," jelas Rangga seraya melangkah keluar dari kamar ini.
Danupaksi hanya bisa mengangguk saja. Masih belum
dipercayai apa yang baru dalaminya. Tapi melihat cairan
yang keluar dari dalam perutnya, pemuda itu harus bisa
mempercayai kata-kata Pendekar Rajawali Sakti. Perlahanlahan Danupaksi bangkit
berdiri setelah Rangga lenyap di
balik pintu. Tangannya digerak-gerakkan untuk menyalurkan tenaga dalam dan hawa
murni. Tubuhnya kini mulai
terasa segar kembali. Bergegas pemuda itu keluar dari
kamar kakak tirinya. Langkahnya cepat, karena harus
melaksanakan perintah Rangga secepatnya sebelum
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
*** "Ha... ha... ha...!"
Rangga hanya menggumam kecil ketika suara tawa
keras menggelegar itu tiba-tiba saja terdengar. Padahal
dirinya baru saja tiba di Puncak Gunung Gadakan. Suara
tawa itu menggema, seakan-akan datang dari segala
penjuru mata angin. Namun pandangan Pendekar Rajawali
Sakti diarahkan ke satu arah, tempat terdapatnya sebuah
dinding batu yang cukup tinggi dengan sebuah lubang
berada pada tengah-tengahnya.
Pendekar Rajawali Sakti menepuk-nepuk leher kuda
hitamnya yang bertubuh tinggi tegap berotot. Dan seperti
bisa mengetahui keinginan Pendekar Rajawali Sakti, kuda
itu melangkah menjauh. Sepertinya kuda yang bernama
Dewa Bayu itu bisa juga merasakan situasi yang tengah
terjadi di puncak gunung yang selalu terselimut kabut ini.
Sementara itu, jauh di belakang Rangga, terlihat Pandan
Wangi dan Cempaka serta Palaka yang berdiri di samping
kuda masing-masing. Mereka sengaja ikut untuk melihat
pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan si
Setan Pedang Perak.
Pada saat itu tampak berkelebat sebuah bayangan putih
memotong di depan Pendekar Rajawali Sakti. Dan tahutahu di depan pemuda berbaju
rompi putih itu sudah
berdiri seorang laki-laki muda. Pakaiannya serba putih dan
ketat Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai pada
bagian belakangnya. Sedangkan rambut atas kepalanya
digelung, dihiasi pita putih. Tampak dua gagang pedang
menonjol keluar dari balik punggungnya. Dia berdiri tegak
sambil menatap tajam Pendekar Rajawali Sakti.
"Sangaji, apa maksudmu memakai julukan Setan
Pedang Perak?" tanya Rangga langsung.
"Akulah Setan Pedang Perak, Pendekar Rajawali Sakti,"
sahut Sangaji tegas. Bahkan nada suaranya terdengar
dingin sekali. "Kau pikir aku tidak tahu siapa Setan Pedang Perak,
Sangaji," terdengar sinis nada suara Rangga.
"Ha... ha... ha...! Baiklah! Aku mengaku sebagai Setan
Pedang Perak, karena akulah pewaris tunggalnya. Kau
tahu, Setan Pedang Perak adalah pamanku! Dan kini aku
sudah menguasai lebih baik dari pemiliknya sendiri.
Sekarang aku akan menagih nyawa pamanku...!" geram
Sangaji. "Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan
yang tepat, Sangaji. Pamanmu adalah tokoh sesat yang
harus dilenyapkan!"
"Aku tidak peduli apa alasanmu! Sekarang kita tentukan,
siapa di antara kita yang paling berarti di dunia ini!"
Setelah berkata demikian, Sangaji langsung merentangkan tangannya seraya
menggeser kaki kanan sedikit ke
depan. Lalu cepat sekali, pemuda itu menggerakkan
tangannya ke atas dan ke bawah, seperti kepakan sayap
seekor burung. Dan Rangga tahu kalau itu merupakan
jurus andalan si Setan Pedang Perak. Pendekar Rajawali
Sakti yang sudah bertarung melawan si Setan Pedang
Perak sesungguhnya, tidak akan menganggap enteng
Sangaji. Segera disiapkannya jurus andalan yang pertama
kali didapatkan dalam penguasaan ilmu olah kanuragan.
"Hiyaaat..!"
"Yeaaah...!"
Kedua pemuda yang sudah bersiap dengan jurus
masing-masing, langsung berlompatan saling menerjang.
Dan mereka bertemu di udara pada satu titik. Cepat sekali
tangan mereka bergerak saling menyerang dan menangkis.
Suatu pertarungan di udara yang sangat cepat dan luar
biasa. Hingga pada suatu ketika, masing-masing melepaskan satu pukulan lurus ke
arah dada. Tak ada seorang pun
yang berusaha menangkis, sehingga langsung telak
mengenai sasaran masing-masing.
Des! Beghk! Tak ada pekikan yang terdengar. Tubuh kedua pemuda
itu sama-sama terpental ke belakang, dan berputaran
beberapa kali di udara. Lalu dengan manis, mereka
menjejakkan kaki di tanah. Dan seketika, Sangaji
mencabut kedua pedang peraknya.
Tring! Pemuda berbaju putih ketat itu, mengadukan
pedangnya hingga menimbulkan percikan bunga api.
Melihat pedang yang pernah dihadapinya tiga purnama
yang lalu, Rangga tidak ingin mengambil risiko terlalu
tinggi. Sret! Pendekar Rajawali Sakti itu pun langsung saja mencabut
senjata pusakanya. Seketika itu juga cahaya biru berkilauan menyemburat begitu
Pedang Rajawali Sakti keluar
dari warangkanya.
"Hiyaaat..!"
Kembali Sangaji melompat menyerang cepat bagai kilat.
"Hap! Yeaaah...!"
Rangga langsung mengebutkan pedangnya begitu dua
pedang Sangaji berkelebatan di depan wajah dan dadanya.
Dua benturan senjata terdengar menimbulkan ledakan
dahsyat. Namun mereka masih terus mempergunakan
jurus-jurus mautnya yang terkenal dahsyat serta ampuh itu.
Jurus demi jurus berlalu cepat Dan semakin lama pertarungan berjalan semakin
seru dan seimbang. Sementara
tiga orang yang menyaksikan, beberapa kali menarik napas
panjang. Mereka tentu saja mengharapkan agar Rangga
bisa memenangkan pertarungan itu. Namun mereka juga
menyadari kalau lawan Pendekar Rajawali Sakti itu juga
memiliki kepandaian tinggi. Dan yang pasti Rangga akan
mengalami kesukaran untuk menyudahi pertarungan ini.
Tanpa terasa, pertarungan sudah berjalan lebih dari tiga
puluh jurus. Namun masing-masing masih kelihatan
tangguh. Belum ada tanda-tanda kalau pertarungan akan
berakhir. Waktu terus berjalan tanpa mempedulikan
peristiwa yang sedang berlangsung di puncak gunung itu.
Tak terasa, siang pun berganti senja, dan terus berganti
malam. Namun pertarungan antara Pendekar Rajawali
Sakti dan Sangaji, masih terus berlangsung. Memang tak
ada yang menghentikan pertarungan itu. Sementara
Palaka sudah membuat api unggun untuk menghangatkan
udara dingin yang membekukan tubuh.
Sudah satu hari satu malam, namun pertarungan itu
belum juga berakhir. Entah sudah berapa ratus jurus
dikeluarkan. Malam yang dingin, kembali berganti pagi.
Hingga matahari sampai sepenggalan, pertarungan itu
masih terus berlangsung sengit. Sedangkan tiga orang
yang menyaksikan malah kelihatan lelah, karena tidak
memicingkan mata sekejap pun. Mereka tidak ingin
tertinggal meski hanya satu jurus saja. Baru kali ini
disaksikan satu pertarungan yang berlangsung begitu lama
tanpa mengenal lelah atau istirahat.
"Hup!"
"Haps...!"
Tepat di saat matahari hampir tenggelam di balik
cakrawala belahan Barat, kedua pemuda yang tengah
bertarung sengit itu melompat mundur beberapa tindak.
Tring! Sangaji membuang kedua pedangnya ke belakang.
Melihat lawannya melemparkan senjata, Rangga segera
memasukkan pedang pusaka ke dalam warangkanya, lalu
melepaskannya dari punggung. Segera dilemparkannya
pedang itu ke belakang. Pada saat itu, Pandan Wangi
melesat bagaikan kilat.
Tap! Gadis itu menangkap pedang yang dilemparkan Rangga,
lalu melesat ke arah dua orang yang menunggunya.
Pandan Wangi memegangi pedang Pendekar Rajawali
Sakti. Sementara kedua pemuda yang saling berdiri
berhadapan, sudah mempersiapkan ilmu pamungkas.
Tampak sekali kalau Rangga mengeluarkan aji 'Cakra
Buana Sukma' tanpa menggunakan pedang sebagai
sarananya. Karena, ajian itu memang sudah dikuasainya
dengan sempuma.
"Hiyaaa...!" tiba-tiba Sangaji berteriak menggelegar
sambil melompat deras. Kedua tangannya terbuka lurus ke
depan. "Aji 'Cakra Buana Sukma'...! Yeaaah...!" pekik Rangga
keras menggelegar.
Blarrr! Ledakan dahsyat terdengar menggelegar begitu tangantangan mereka yang terbuka lebar, saling berbenturan.
Namun tak ada seorang pun yang terpental. Kedua telapak
tangan mereka saling menyatu rapat dengan kaki agak
merentang berpijak pada tanah. Tampak cahaya biru mulai
menjalar dari tangan Pendekar Rajawali Sakti ke tangan
Sangaji. Perlahan namun pasti, sinar biru itu terus merayap. Dan
Sangaji mulai berkeringat. Tubuhnya agak bergetar
merasakan ajian yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti.
Wajah pemuda itu mulai memerah. Tampak jelas kalau dia
tengah berusaha mengeluarkan seluruh tenaganya untuk
menahan gempuran aji 'Cakra Buana Sukma' yang dahsyat.
"Akh...!" tiba-tiba saja Sangaji menjerit keras.
Pemuda berpipi codet itu menggeliat-geliat dan
berusaha melepaskan tangannya dari telapak tangan
Pendekar Rajawali Sakti. Namun semakin keras berusaha,
semakin sukar untuk melepaskan diri. Bahkan tenaganya
terasa tersedot keluar tanpa dapat dikendalikan lagi.
Sementara cahaya biru semakin menyelimuti dirinya.
"Aaa...!" Sangaji memekik keras melengking.
"Yeaaah...!" tiba-tiba saja Rangga berteriak keras
menggelegar. Dan seketika itu juga tangannya ditarik. Dan dengan
cepat sekali, tangannya dihentakkan, tepat menghantam
kepala pewaris si Setan Pedang Perak itu.
Glarrr! Seketika itu juga tubuh Sangaji hancur berkepingkeping. Pada saat yang sama,
Rangga melompat mundur.
Dipandanginya kepingan tubuh Sangaji yang sudah tidak
berbentuk lagi. Rangga menarik napas panjang sambil
mundur beberapa tindak. Kepalanya menoleh ketika
mendengar seruan memanggil namanya.
"Kakang...."
Rangga tersenyum, dan tidak bisa menolak ketika
Pandan Wangi dan Cempaka berebut memeluknya.
Pendekar Rajawali Sakti hanya merentangkan tangannya
saat dipeluk dua orang gadis yang sangat dicintainya itu.
Sementara Palaka hanya memandangi dengan bibir
tersenyum. Sungguh senang hatinya melihat Pendekar
Rajawali Sakti bisa memenangkan pertarungan panjang
dan mendebarkan ini. Hatinya juga begitu haru melihat
adanya kasih sayang dan cinta pada keluarga pendekar itu.
"Palaka, untuk sementara kau tinggal saja di istana.
Bahkan untuk selamanya pun tidak apa-apa," kata Rangga
seraya melepaskan pelukan kedua gadis yang sedang
dilanda kegembiraan itu.
"Terima kasih," ucap Palaka sambil menyambut uluran
tangan Rangga, disertai senyuman lebar dan penuh
persaudaraan. "Terima saja, Palaka," desak Pandan Wangi seraya
melirik Cempaka.
Sedangkan yang dilirik hanya mencibir saja. Palaka tak
mungkin menolak permintaan itu. Matanya juga sempat
melirik Cempaka, namun kemudian kepalanya mengangguk.
"Ayo, kita kembali ke istana," ajak Rangga.
SELESAI Rahasia Hiolo Kumala 22 Kisah Si Bangau Putih Bu Kek Sian Su 14 Karya Kho Ping Hoo Utusan Dari Neraka 2

Cari Blog Ini