Ceritasilat Novel Online

Pangeran Iblis 1

Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis Bagian 1


PANGERAN IBLIS Oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode: Pangeran Iblis 128 hal. ; 12 x 18 cm
https://www.facebook.com/pages/DuniaAbu-Keisel/511652568860978
1 Pagi baru saja datang menjelang. Matahari belum
lagi penuh menampakkan dirinya. Hanya cahayanya
saja yang kuning kemerahan dari balik puncak Gunung Jungkun, di sebelah timur. Kabut tebal pun masih terlihat menyelimuti puncaknya.
Saat burung-burung ramai berkicauan, terlihat seorang pemuda berjalan tertatih-tatih. Semak belukar
yang lebat disibaknya. Juga kerapatan pepohonan di
kaki lereng Gunung Jungkun ditembusnya. Pakaiannya terlihat koyak, penuh noda darah yang telah kering. Bekas-bekas luka
terlihat hampir di sekujur tubuhnya. Sesekali dia jatuh terguling, tersangkut
akar. Tapi, pemuda itu cepat bangkit berdiri, dan terus melangkah terseok-seok.
"Oh..."!"
Tiba-tiba saja kedua bola mata pemuda itu jadi terbeliak lebar. Kepalanya terangkat ke atas dengan mulut ternganga. Seakan-akan,
di depannya terlihat sesosok hantu. Tapi sebentar kemudian, kepalanya berpaling
ke belakang. Saat itu, terdengar derap langkah ka-ki-kaki kuda yang dipacu cepat
dari arah belakangnya.
Suara teriakan orang- orang menggebah kuda pun terdengar, menimpali hentakan kaki-kaki kuda yang dipacu cepat. "Celaka...! Ke mana lagi aku harus pergi...?" desis pemuda itu, dengan wajah
pucat pasi. Jelas sekali terpancar dari raut wajahnya, kalau
pemuda itu tengah kebingungan dan ketakutan setengah mati. Beberapa saat pandangannya beredar ke sekeliling, kemudian kembali melangkah tergesa-gesa
dengan kaki terseret. Dari gerakan kakinya, jelas sekali
kalau luka yang dideritanya cukup parah.
"Ugkh...!"
Bruk! "Sial...! Sebatang akar pohon yang menyembul dari dalam
tanah menghantuk kakinya. Akibatnya, pemuda itu jatuh terguling. Setelah sedikit mengumpat, dia bergegas bangkit berdiri lagi dan
terus saja melangkah tertatih-tatih. Sementara suara hentakan kaki-kaki kuda semakin jelas terdengar.
"Heh..."! Jurang...," pemuda itu mendesis tertahan.
Kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu di
depannya terlihat sebuah jurang dalam menganga.
Dan ketika wajahnya berpaling ke belakang, tampak
debu mengepul tidak jauh di balik lebatnya pepohonan. Kecemasan semakin jelas membayang di wajahnya. "Apa akalku sekarang...?" desis pemuda itu bertanya pada diri sendiri.
Kembali pemuda itu mengedarkan pandangan ke
sekeliling. Kemudian kakinya bergegas melangkah
menghampiri sebongkah batu yang sangat besar. Lalu
dengan susah payah, bongkahan batu itu dinaikinya.
Kemudian tubuhnya bergulir turun ke baliknya. Tapi
saat itu juga, bola matanya jadi terbeliak lebar. Ternyata di balik batu ini
menganga jurang yang sangat dalam. Sementara tanah yang menjadi pijakan kakinya
hanya sedikit saja.
"Dewata Yang Agung ... Tolonglah lepaskan aku dari
kejaran mereka...," desah pemuda itu, bernada putus asa.
Sementara, suara orang-orang yang mengejarnya
semakin terdengar dekat saja. Dan pemuda itu tidak
berani bergerak sedikit pun juga. Sedikit kepalanya
mendongak ke atas, menatap bagian atas bongkahan
batu ini. Ada sedikit rasa lega di dalam hati, begitu mengetahui dirinya
terlindung batu yang sangat besar ini. Jadi, tidak akan mungkin ada orang yang
bisa melihat ke balik batu ini dari atas sana.
Saat itu, tidak terdengar lagi derap kaki kuda. Yang terdengar kini hanya suarasuara beberapa orang bernada kasar. Terdengar jelas sekali suara orang-orang
berbicara keras itu. Seakan-akan, tepat di balik bongkahan batu ini. Maka,
pemuda itu semakin tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Bahkan untuk bernapas
pun, seakan-akan tidak berani dilakukannya.
Seluruh tubuh pemuda itu sudah bersimbah keringat yang bercampur noda darah kering. Sementara geletar tubuhnya semakin bertambah keras, ketika seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berkumis melintang tebal tampak tengah
berdiri tegak di atas bongkahan batu ini. Pandangannya beredar ke sekeliling,
lalu kepalanya dijulurkan ke bawah.
*** "Kau lihat dia, Rakada...?" terdengar teriakan seseorang dari balik batu itu.
"Tidak! Hanya jurang yang terlihat..!" sahut laki-laki berusia separuh baya yang
berdiri di atas batu. Dialah yang bernama Rakada.
Beberapa saat, Rakada masih berdiri di atas batu
itu. Pandangannya terus beredar ke sekeliling. Tapi memang, pemuda yang
bersembunyi di bawahnya sa-ma sekali tidak bisa terlihat lagi, karena terlindung
ba-tu yang sedikit menjorok ke dalam jurang.
"Hup...!"
Dengan gerakan yang begitu ringan, laki-laki bertubuh tegap dan berotot itu melompat turun dari atas
bongkahan batu. Begitu ringan kakinya menjejak tanah berumput cukup tebal ini. Jelas, kepandaiannya
tidak bisa dikatakan rendah lagi. Lalu, bergegas dihampirinya teman-temannya
yang berjumlah tujuh
orang. Mereka semuanya laki-laki, bertubuh tegap dan berotot. Pakaian yang mereka kenakan warna biru muda, dengan potongan dan bentuk
sama persis. Masing-masing di pinggang, tersandang sebilah pedang yang
bagian ujung tangkainya berbentuk kepala seekor ular tengah menjulurkan
lidahnya. Dan rata-rata, usia mereka sudah berada di atas empat puluh tahun.
Hanya satu orang saja yang tampak masih muda. Mungkin
baru dua puluh lima tahun. Tapi, pakaiannya lebih
bagus dari yang lain.
"Huh! Mustahil kalau bisa menghilang begitu saja...!" dengus pemuda berwajah cukup tampan itu.
"Mungkin sudah jatuh ke dalam jurang, Barada,"
kata Rakada menduga-duga. "Jurangnya dalam sekali.
Bahkan aku sendiri sulit untuk melihat dasarnya."
"Mungkin juga, Den Barada. Jejaknya saja terputus
sampai di sini," sambung laki-laki yang bertubuh kurus.
"Kalaupun dia tidak jatuh ke dalam jurang, mana
mungkin bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti
itu" Dia pasti mati kehabisan darah," sambung yang
lain. "Aku belum puas, kalau belum bisa membawa kepalanya pada junjungan!" dengus pemuda berwajah
cukup tampan yang bernama Barada.
"Lalu...?" tanya Rakada terputus.
"Cari sampai ketemu. Aku tidak akan kembali, sebelum kepalanya berada dalam genggaman tanganku!"
tegur Barada sambil mengepalkan tangannya erat-erat.
Mereka semua jadi saling berpandangan satu sama
lain. Dan memang, di antara mereka berdelapan, Baradalah yang paling tinggi tingkat kepandaiannya. Padahal usianya jauh lebih
muda dari mereka. Apalagi
Barada juga junjungan mereka. Hingga tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa membantah katakatanya. Terlebih lagi, mereka tahu betul watak Bara-da. Dia tidak akan segansegan memenggal kepala
orang yang membuatnya jadi susah. Memang, Barada
cepat sekali naik darah, sehingga gampang meloloskan pedangnya.
Tanpa diperintah dua kali, tujuh orang yang bersama Barada segera berpencar di sekitar jurang yang berada di kaki lereng Gunung
Jungkun ini. Sedangkan
Barada kembali meneliti tanah di sekitarnya. Jelas sekali terlihat di atas
rerumputan, jejak-jejak kaki serta tetesan noda darah yang sudah hampir
mengering. Di-ikutinya jejak-jejak yang tertera jelas, dan berakhir tepat di
atas bongkahan batu sebesar kerbau ini. Barada berdiri tegak di atas bongkahan
batu itu. "Hm.... Mungkinkah dia jatuh ke dalam jurang...?"
gumam Barada bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Jejak-jejak yang ada memang berakhir di atas batu
ini. Tapi, tampaknya Barada tidak mau percaya begitu saja kalau buruannya
terjerumus ke dalam jurang.
Maka, kepalanya segera dijulurkan, mencoba menembus kabut tebal yang menutupi dasar jurang di depannya. Tapi kabut begitu tebal,
sehingga sulit ditembus dengan pandangan mata biasa.
"Hm...," tiba-tiba saja Barada menggumam kecil.
Dan kelopak mata pemuda itu jadi menyipit. Keningnya juga terlihat berkerut. Perlahan tubuhnya direbahkan di atas batu itu.
Lalu sedikit demi sedikit, tubuhnya bergeser. Hingga akhirnya, kepalanya menjulur ke jurang. Dan saat itu juga....
"Ha ha ha...!"
"Oh..."!"
Pemuda yang masih berada di balik batu itu jadi
tersentak kaget setengah mati, begitu melihat kepala Barada menjulur ke bawah
sambil tertawa keras terbahak-bahak. Begitu terkejutnya, sampai tangan kanannya tanpa sadar meraih sebuah batu sebesar kepalan tangan. Lalu dengan sisa-sisa kekuatan tenaga
yang masih ada, batu itu dilemparkannya ke arah kepala Barada. "Hih! Pergi kau, Iblis Busuk...!"
Wusss! "Upsss...!"
Untung saja Barada cepat menarik kepalanya kembali, sehingga lemparan batu itu tidak sampai menge-nainya.
"Setan...!" geram Barada berang.
Dia cepat berdiri tegak di atas batu itu.
"Rakada! Kalian semua ke sini! Cepat..!" seru Barada lantang menggelegar.
Rakada dan enam orang lainnya bergegas datang
menghampiri, begitu mendengar teriakan Barada yang
begitu keras menggelegar. Sebentar saja, mereka sudah berada di sekitar bongkahan batu sebesar kerbau itu. "Tikus busuk itu ada di
sini. Di balik batu ini," jelas Barada.
Wajah Barada kelihatan berseri-seri. Tidak memerah seperti tadi, ketika kehilangan buruannya. Dan tujuh orang yang bersamanya
juga jadi gembira mendengar buruannya masih ada. Maka mereka bergegas naik
ke atas batu, dan menjulurkan kepala ke bawah. Tapi setiap kali menjulurkan
kepala, dari balik batu itu terlempar batu-batu sebesar kepalan tangan. Untung saja, mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Sehingga, lemparan batu itu bisa cepat dihindari.
"Setan keparat..! Dia mulai berani pada kita, Den
Barada!" geram Rakada gusar.
"Kalian tangkap dia. Ingin sekali kepalanya kupenggal dengan pedangku sendiri!" perintah Barada.
Tanpa menghiraukan yang lain, Barada bergegas
melompat turun dari atas batu itu. Sedangkan tujuh
orang anak buahnya, jadi saling berpandangan. Tentu saja sulit bagi mereka untuk
menangkap pemuda itu.
Sedangkan batu ini berada tepat di bibir jurang. Bisa-bisa, malah mereka sendiri
yang terjerumus ke dalam jurang ini. Padahal, tidak ada jalan lain lagi, selain
melalui bagian atas batu ini
"Huh! Mau enaknya sendiri...!" gerutu salah seorang kesal.
"Sudah. .. Kalau dia sampai dengar, bisa celaka
kau," seorang lagi memperingatkan.
"Huh...!"
*** Tujuh orang laki-laki bertubuh tegap dan berotot itu
segera memeras otak, memikirkan cara untuk menangkap pemuda yang masih berada di balik batu ini.
Memang sulit untuk mencapai ke sana. Terlebih lagi, di tempat itu banyak batu
kerikil sebesar kepalan tangan yang bisa digunakan pemuda itu sebagai senjata
untuk menghalau.
"'Gordan.... Ini aku, Rakada. Kau dengar suaraku,
Gordan..."!" teriak Rakada agak dikeraskan suaranya.
"Jangan coba-coba membujukku, Paman Rakada.
Pergi kau, bersama iblis-iblis keparat itu!" sahut pemuda yang dipanggil Gordan,
dan masih tetap berada
di balik batu. "Dengar, Gordan. Kalau kau mau keluar, aku berjanji akan melindungimu. Percayalah. Kau tidak akan apa-apa," bujuk Rakada lagi.
"Pergi kau, Setan Keparat..!" jerit Gordan.
Rakada menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Sedikit matanya melirik Barada, yang tengah duduk bersandar pada pohon, melindungi dirinya dari sengatan sinar matahari.
"Aku akan turun, Gordan...!" seru Rakada lagi. "Aku turun tidak membawa
senjata...!"
"Jangan! Jangan lakukan itu, Paman Rakada. Kau
akan jatuh ke dalam jurang. Aku tidak main-main.
Kau akan jatuh...!" teriak Gordan sekuat-kuatnya.
Saat itu, terlihat batu-batu kerikil berjatuhan dari atas. Gordan cepat-cepat
menjulurkan kepalanya,
mendongak ke atas. Hatinya jadi terkesiap juga, begitu melihat Rakada berusaha
turun menggunakan seutas
tambang kulit. Tidak satu pun terlihat senjata tersandang di tubuhnya.
"Paman, naik cepat..! Kau akan jatuh nanti...!" seru Gordan memperingatkan.
Tapi, Rakada tetap saja bergerak turun. Bahkan
semakin dekat saja dengan pemuda itu. Dan begitu
sudah dekat, Rakada melompat dengan gerakan sangat


Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ringan, jatuh tepat di depan Gordan. Pemuda itu bergegas melangkah mundur. Namun
di tangan kanannya
sudah tergenggam sebongkah batu yang cukup besar.
"Jangan mendekat, Paman Radaka," sentak Gordan
agak mendesis. "Dengar, Gordan. Tidak ada gunanya terus bertahan
di sini. Ingat, Barada terus menungguimu. Sebaiknya, keluar saja. Serahkan
dirimu padanya," bujuk Rakada.
"Tidak! Aku tidak akan menyerah pada iblis itu!"
sentak Gordan tegas.
"Gordan..."
"Kuperingatkan sekali lagi, Paman Rakada. Cepat
tinggalkan tempat ini. Atau, kau akan mati di dasar jurang sana," desis Gordan
memotong cepat Tapi, Rakada tampaknya tidak menghiraukan peringatan pemuda itu. Malah, kakinya melangkah mendekati dengan gerakan hati-hati sekali. Sementara,
punggung Gordan sudah begitu merapat ke dinding
batu. Tidak ada lagi tempat baginya untuk menghindar. Dan begitu tangan Rakada menjulur hendak meraihnya, mendadak saja ...
"Hih...!"
"Heh..."!"
Rakada jadi kaget setengah mati, begitu tiba- tiba saja Gordan menghentakkan
tangan kanannya yang
menggenggam batu sebesar kepalan tangan.
Begitu cepat dan tidak terduga sama sekali tindakannya, membuat Rakada jadi tersentak kaget.
"Uts...!"
Cepat-cepat Rakada meliukkan tubuhnya, menghindari lemparan batu Gordan. Tapi belum juga tubuhnya bisa ditegakkan kembali, Gordan sudah membungkuk. Lalu cepat sekali tangannya menyambar sepotong kayu yang kebetulan ada di situ. Dan tanpa
membuang-buang waktu lagi, potongan kayu cukup
besar itu langsung saja dikibaskannya ke arah kaki
Rakada. "lkh...!"
Tuk! "Aaa...!"
"Paman Rakada..."!"
Gordan jadi menjerit, ketika tiba-tiba saja Rakada
terhantam kayu pada kakinya. Dia terpeleset. Bahkan
tubuhnya langsung meluncur deras ke dalam jurang
disertai jeritan panjang melengking tinggi terdengar menyayat. Tampak di atas
bongkahan batu ini, menyembul kepala-kepala yang menjulur ke bawah. Jeritan yang begitu keras rupanya sampai menggegerkan
juga. "Ada apa..."!" seru Barada juga terkejut mendengar
jeritan melengking tadi.
"Rakada.... Dia jatuh ke dalam jurang," sahut salah seorang.
"Apa..."!"
Barada begitu terkejut mendengar Rakada tercebur
ke dalam jurang. Begitu terkejutnya, sampai-sampai dia terlompat bangkit
berdiri. Bergegas dihampirinya bongkahan batu di pinggiran jurang itu. Begitu
cepat gerakannya, sehingga tahu-tahu sudah berada di atas batu. Lalu kepalanya
langsung dijulurkan ke bawah.
"Setan keparat kau, Gordan! Kubunuh kau...!" teriak Barada berang setengah mati.
Tapi, Gordan hanya diam saja. Kepalanya menengadah ke atas, menatap Barada yang menjulurkan kepalanya ke balik batu ini. Begitu tajam sinar matanya, seakan-akan hendak
menelan bulat-bulat.
Sementara, Barada kembali berdiri tegak di atas batu. Tampak jelas sekali dari sinar matanya yang tajam, kalau hatinya begitu
gusar atas keadaan ini. Salah seorang pembantu kepercayaannya sudah tewas
tercebur jurang. Sedangkan Gordan masih tetap berada di
balik batu di pinggiran jurang ini.
"Ayo pergi. Biar dia mampus kelaparan di situ!"
dengus Barada kesal.
Memang tidak ada lagi yang bisa diperbuat, karena
terlalu sulit untuk bisa mencapai ke balik batu itu. Sedangkan bagi Gordan
sendiri, juga tidak mudah untuk
bisa keluar. Enam orang yang mengikuti Barada segera berlompatan turun dari bongkahan batu sebesar kerbau itu.
Sementara, Barada sudah berada di atas punggung
kudanya. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah
meninggalkan tepi jurang itu.
*** 2 Waktu terus berjalan, sesuai bergulirnya mentari ke arah barat. Di balik
bongkahan batu besar yang berada tepat di bibir jurang, Gordan masih tetap duduk
memeluk lutut. Dia berusaha berlindung dari sengatan matahari yang begitu terik.
Pandangannya turus, tanpa berkedip sedikit pun merayapi dalamnya jurang di
depannya. Walaupun matahari bersinar begitu terik,
tapi kabut yang menyelimuti dasar jurang itu masih
saja terlihat tebal. Sehingga, sulit sekali untuk bisa melihat jelas ke dasar
jurang yang sangat dalam ini.
"Paman.... Kenapa kau rela mengorbankan nyawa
untuk iblis-iblis keparat itu...?" desah Gordan perlahan.
Begitu pelan suara pemuda itu, hampir-hampir tidak terdengar. Sementara, matahari terus bergerak ke arah barat. Dan Gordan
sudah merasakan perutnya
bergolak minta diisi. Tapi, mana mungkin bisa mendapatkan makanan di tempat
seperti ini. Sedangkan untuk bergerak saja, terasa sulit sekali. Begitu kecil tempat ini, sehingga tidak
ada lagi ruang baginya untuk bisa keluar dari balik bongkahan batu ini. Gordan
jadi mengeluh. Sungguh tidak terpikirkan oleh Gordan tadi. Yang
ada dalam pikirannya hanya menyelamatkan diri dari
keangkaramurkaan Barada. Sementara, angin yang
bertiup dari dalam jurang sudah mulai terasa dingin menusuk kulit. Gordan
semakin merapatkan pelukan-nya ke lutut, berusaha mengurangi rasa dingin yang
mulai menggigilkan. Sedikit kepalanya mendongak ke
atas. Tampak matahari sudah condong ke arah barat.
Tidak terasa, hampir satu harian penuh dia berada di balik batu di tepi jurang
ini. "Oh! Apa yang harus kuperbuat..?" desah Gordan
bertanya pada diri sendiri.
Nada suaranya jelas sekali terdengar seperti putus
asa. Dan memang sedikit sekali harapan untuk bisa
keluar dari balik bongkahan batu ini. Bahkan Gordan merasakan tidak mungkin
punya harapan lagi. Walaupun tadi mendengar Barada dan para pembantunya
sudah pergi, tapi dia tidak yakin kalau mereka pergi begitu saja. Dia yakin,
mereka pasti masih mengawasi dari tempat yang jauh. Dan kalaupun bisa keluar,
pasti Gordan akan mati di ujung pedang Barada.
"Uh...;' Gordan mengeluh kecil.
Di saat Gordan sedang memikirkan cara yang tepat
untuk bisa keluar, terdengar suara langkah kaki kuda mendekati jurang di balik
batu sebesar kerbau tem-patnya sekarang ini. Gordan jadi tersentak kaget. Cepatcepat dia berdiri dan merapatkan punggungnya ke dinding batu yang agak cekung
ini. Telinganya dipasang tajam-tajam, mencoba mendengarkan suara yang
ada di balik batu ini.
"Sudah sore, Kakang. Sebaiknya kita bermalam saja
di sini. Kelihatannya, tempat ini cukup baik untuk
bermalam...."
Terdengar suara yang sangat halus seorang wanita.
Tak lama, suara langkah kaki kuda pun terhenti. Begi-tu dekat suaranya di balik
bongkahan batu ini. Sementara, Gordan tetap diam. Dia seperti tidak berani
membuka suaranya sedikit pun juga. Namun pendengarannya tetap dipasang tajam-tajam.
"Berapa jauh lagi Desa Jungkun, Kakang?"
Terdengar lagi suara halus seorang wanita, diikuti
terdengarnya suara kaki menjejak tanah yang begitu
ringan. Jelas sekali dalam pendengaran Gordan, kalau ada dua orang di balik batu
ini. Dan dari suara yang didengarnya, mereka terdiri dari seorang wanita dan
seorang laki-laki. Tapi yang jelas, Gordan tidak kenal mereka. Namun demikian,
telinganya terus dipasang
lebar-lebar, agar bisa lebih jelas lagi mendengar. Dan di dalam hatinya, dia
berharap bukan orang jahat seperti Barada yang datang, dan bisa mengeluarkannya
dari sini. Bahkan tidak mungkin, perutnya yang sudah sejak tadi kosong bisa
diisi. "Ini sudah berada di kaki lereng Gunung Jungkun.
Tidak begitu jauh lagi dari tempat ini. Pandan."
Terdengar suara sahutan seorang laki-laki yang
bernada begitu lembut, seperti suara seorang putra
mahkota. "Tapi, sebaiknya kita bermalam saja di sini, Kakang.
Biar perjalanan diteruskan besok pagi saja.."
"Begitu juga boleh. Biar kuda-kuda kita istirahat
dulu. Kasihan, seharian penuh terus berjalan."
Sementara Gordan dari balik batu, terus mendengarkan pembicaraan itu. Dia menduga-duga, siapa kedua orang ini..." Dan rasanya, suara itu belum pernah didengar sebelumnya.
Gordan jadi ragu-ragu juga untuk meminta pertolongan. Dia khawatir, kalau kedua
orang itu sama saja seperti Barada yang ingin memenggal kepalanya.
Cukup lama juga Gordan berpikir mempertimbangkan kehadiran dua orang yang tidak dikenalnya. Hatinya jadi semakin gelisah saja. Dia masih terlihat ra-gu-ragu. Tapi
akhirnya.... "Kisanak dan Nisanak...." .
"Heh..."!"
Terdengar nada suara terkejut dari balik batu.
"Siapakah kalian berdua" Apakah kalian bukan
orang jahat..?" tanya Gordan. Suaranya dibuat dalam sekali, seakan tidak ingin
bisa diketahui arahnya.
"Siapa itu yang berbicara.. ?" terdengar pertanyaan seorang wanita dari balik
bongkahan batu ini.
"Aku. Dan kalian siapa...?"
"Kami dua orang pengembara yang hendak ke Desa
Jungkun," terdengar lagi suara sahutan dari seorang wanita.,
"Apakah kalian ada hubungannya dengan Barada?"
"Siapa itu Barada..." Kami tidak pernah mendengar
namanya." "Kalian bukan orang jahat?"
Kali ini tidak terdengar sahutan. Dan untuk beberapa saat keadaan jadi sunyi.
"Kami hanya pengembara. Dan bukan orang jahat"
"Bagaimana aku bisa percaya kalau kalian bukan
orang jahat..?"
"Kalau kau menunjukkan diri, akan tahu sendiri."
Kini Gordan yang tidak bisa menyahuti. Dia terdiam
memikirkan kata-kata wanita di balik batu itu. Dari nada suara dan kata-kata
mereka, memang sepertinya
bukan orang jahat. Terlebih lagi, mereka tidak mengenal orang yang bernama
Barada. Dan juga, mengaku
sebagai pengembara.
Gordan jadi termenung beberapa saat lamanya. Dalam rimba persilatan, dia tahu kalau seorang pengembara belum tentu orang jahat. Bahkan kebanyakan
adalah pendekar tangguh berilmu tinggi yang selalu
membasmi keangkaramurkaan. Tapi tidak sedikit juga
yang berwatak jahat, selalu membuat keonaran di mana saja berada.
"Kisanak! Di mana kau berada" Keluarlah...!" terdengar suara agak keras seorang laki-laki dari balik bongkahan batu di tepi
jurang ini. Gordan masih belum juga menjawab. Kepalanya didongakkan sedikit ke atas, menatap matahari yang sudah hampir tenggelam di ufuk
barat Sinarnya tidak la-gi terik seperti tadi. Bahkan terasa begitu lembut menyapu kulit. Cahaya merah jingga menyemburat begitu indah, tapi tidak seindah
hati dan pikiran Gordan yang terus gelisah.
*** Cukup lama juga Gordan tidak bersuara sedikit
pun. Sementara, dari balik bongkahan batu ini juga tidak terdengar suara sama
sekali. Sedangkan matahari sudah benar-benar tenggelam di peraduannya. Kegelapan
menyelimuti seluruh daerah di kaki lereng Gunung Jungkun. Selagi Barada berpikir, tiba-tiba dikejutkan oleh
berkelebatnya sebuah bayangan putih yang begitu cepat bagai kilat. Dan tahu-tahu, di depannya sudah
berdiri seorang pemuda berusia sebaya dengannya.
Wajahnya begitu tampan, bagaikan seorang pangeran.
Dan pemuda itu berbaju rompi warna putih bersih,
dengan sebilah pedang bergagang kepala burung ber-tengger di punggung.
Gordan cepat melompat bangkit berdiri, dan merapatkan punggungnya ke bongkahan batu itu. Tampak
jelas dalam keremangan cahaya bulan, wajahnya kelihatan pucat dan tubuhnya menggeletar kedinginan.
Memang, angin yang bertiup dari dalam jurang ini begitu kencang menyebarkan
udara dingin menggigilkan.
"Sss..., siapa kau..."! Mau apa kau ke sini?" terdengar tergagap suara Gordan.
"Tenang..., jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu," kata pemuda berbaju rompi putih itu lembut.
Gordan memandangi pemuda berbaju rompi putih
yang datang bagaikan angin, dari ujung kepala hingga ujung jari kaki. Seakan
sedang dinilainya, apakah pemuda itu bermaksud baik atau buruk. Sedangkan
yang dipandangi hanya tersenyum saja, membiarkan
dirinya dinilai dengan cermat.
"Namaku Rangga. Kedatanganku ke sini tidak sendiri. Ada adikku yang menunggu di balik batu ini," jelas pemuda berbaju rompi
putih itu memperkenalkan
diri, tetap dengan nada lembut.
Pemuda berbaju rompi putih dengan sebilah pedang
tersampir di punggung itu memang Rangga. Dan dia
lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Gordan tampaknya tidak
mengenal sama sekali.
Dan memang, dia belum pernah bertemu Pendekar Rajawali Sakti sebelumnya. Tak heran kalau dia masih
tetap saja diam, dengan sorot mata begitu tajam bernada menyelidik. Seakan,
hatinya masih belum percaya kalau pemuda yang memperkenalkan diri dengan
nama Rangga itu berniat baik padanya.
"Kisanak! Kalau boleh aku tahu, siapa namamu..."
Kenapa kau berada di sini?" tanya Rangga, masih dengan nada suara lembut sekali.
"Aku.... Namaku Gordan. Aku...," Gordan tidak bisa
meneruskan kata-katanya.
Tubuh Gordan jadi bergidik menggigil, saat hembu

Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

san angin yang cukup kencang menerpa. Memang sangat dingin angin yang datang dari dalam jurang di depannya.
"Kau terperosok..?" sambung Rangga menduga.
Gordan hanya menganggukkan kepala saja. Memang hanya itu yang bisa dilakukan untuk menjawab
pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan untuk menceritakan kejadian yang
sesungguhnya, kelihatan
sangat sungkan. Apalagi, antara mereka baru sekali ini bertemu. Gordan khawatir,
pemuda berbaju rompi putih itu orang suruhan Barada.
Tapi rasa kecemasan dalam hatinya jadi terombangambing oleh sikap dan tutur kata Rangga yang begitu lembut. Sedikit pun tidak
terlihat adanya tanda-tanda kalau pemuda berbaju rompi putih itu menampakkan
kebengisan. Bahkan terasa begitu lembut dan sangat
bersahabat. "Sejak kapan kau berada di sini?" tanya Rangga lagi. "Pagi tadi," sahut Gordan pelan.
"Kalau kau mau, aku bersedia membantumu keluar
dari sini," kata Rangga menawarkan jasa.
"Kau..., kau akan mengeluarkan aku dari sini..."
Untuk apa"
"Sejak pagi, kau terperosok ke sini. Untung saja tidak masuk ke dalam jurang.
Kau tentu sangat lapar.
Dan kebetulan, aku ada makanan sedikit. Dan lagi,
kau kelihatannya terluka. Kau tentu tidak mau mati di sini, bukan...?"
Gordan hanya diam saja.
"Marilah. Aku akan menolongmu keluar dari sini."
Gordan masih saja diam, meskipun Rangga sudah
melangkah mendekati. Entah kenapa, Gordan jadi lunak. Dibiarkannya saja Pendekar Rajawali Sakti memeluk pinggangnya. Lalu, tibatiba saja.... "Hup!"
"Eh..."!"
Wusss...! Bagaikan seekor burung, Pendekar Rajawali Sakti
melesat begitu cepat ke atas. Dan Gordan jadi tersentak kaget setengah mati.
Maka cepat matanya dipejamkan. Tapi tidak berapa lama kemudian, Gordan sudah
merasakan kakinya menjejak tanah kembali. Dan pelukan tangan Rangga di pinggangnya juga sudah terlepas. Perlahan kelopak matanya
dibuka. Sungguh dia
jadi terlongong bengong, menyadari dirinya kini sudah berada di tempat yang
cukup lapang, tidak jauh dari tepi jurang. Dan di depannya kini bukan hanya
Rangga yang ada, tapi ada pula seorang gadis berwajah cantik jelita. Bajunya
warna biru yang cukup ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya begitu nyata
terlihat. "Kau sudah aman sekarang, Kisanak," ujar Rangga,
tetap lembut sekali.
"Oh...," desah Gordan panjang.
"Mari, duduklah dekat api. Agar tubuhmu terasa lebih hangat," ajak Rangga ramah.
Tanpa menoleh sedikit pun juga, Gordan mengikuti
Pendekar Rajawali Sakti mendekati api. Kemudian dia duduk bersila, tidak jauh
dari api yang menyala cukup besar. Sementara gadis cantik berbaju biru muda itu,
sudah sibuk memutar-mutar panggangan daging. Kelihatannya, seperti daging
kelinci. Bau harum daging kelinci panggang, membuat perut Gordan jadi berontak minta segera diisi. Tapi dia tetap saja diam, walaupun
rasa lapar yang menghantam perutnya sudah hampir tidak tertahankan lagi.
Dia tidak ingat lagi, kapan terakhir kali perutnya terisi makanan.
"Ini...."
Gadis cantik yang memang Pandan Wangi menyodorkan satu panggangan kelinci yang sudah matang.
Gordan kelihatan ragu-ragu sejenak. Matanya melirik sedikit pada Rangga. Baru
kelinci panggang itu diambil setelah melihat kepala Rangga terangguk, sambil
memberi senyum manis sekali. Pendekar Rajawali Sakti juga mengambil kelinci panggang ini, kemudian mereka makan tanpa berbicara
lagi. *** Gordan diam saja ketika Rangga memperhatikan
dan memeriksa seluruh tubuhnya dengan cermat sekali. Tampak jelas, dalam siraman cahaya api kalau
kening Pendekar Rajawali Sakti berkerut. Sedangkan Pandan Wangi hanya
memperhatikan saja. Gadis yang
berjuluk si Kipas Maut itu sudah merebahkan diri, tidak jauh di samping kanan
Pendekar Rajawali Sakti.
"Maaf. Kelihatannya kau seperti baru saja habis
mendapat siksaan. Luka-luka di tubuhmu jelas bekas
cambukan," kata Rangga bernada ragu-ragu.
Gordan masih saja tetap membisu. Di dalam hatinya, dikaguminya pengamatan Rangga yang begitu
cermat, sehingga bisa mengetahui jenis luka. Dan memang, luka-luka yang
dideritanya bekas deraan cambuk. Bahkan luka-luka memar di tubuhnya akibat
mendapat pukulan serta tendangan.
"Siapa yang menyiksamu sampai seperti ini, Gordan?" tanya Rangga.
"Hhh...!" Gordan hanya menghembuskan napas saja. Seakan, Gordan begitu berat untuk mengatakan
yang sebenarnya. Baru beberapa saat mereka saling
mengenal, tapi sikap Rangga terlihat begitu memperhatikan. Dan hal ini membuat hati Gordan jadi tidak ten-teram. Entah apa yang
menyebabkannya. Dia sendiri
tidak tahu. Sikap Rangga yang begitu lembut dan penuh perhatian, membuatnya jadi sulit membuka suara. Lidahnya seakan-akan jadi kelu, sulit digerakkan.
"Ceritakan saja, Gordan. Kalau kau punya persoalan yang bisa membahayakan nyawamu, kami berdua
tidak segan-segan membantu. Asalkan, kau berada di
pihak yang benar," selak Pandan Wangi.
Gordan menatap gadis yang berjuluk si Kipas Maut
itu, kemudian beralih pada wajah tampan Pendekar
Rajawali Sakti. Kembali ditariknya napas dalam-dalam, dan dihembuskannya kuatkuat. Seakan, dia sedang
mencari kekuatan untuk membuka suara. Tapi itu
masih saja terasa sulit dilakukan. Dan lidahnya terasa begitu kelu.
"Siapa yang menyiksamu, Gordan...?" tanya Pandan
Wangi lagi, terus mendesak.
Gadis itu bangun, dan duduk di samping kanan
Pendekar Rajawali Sakti. Tatapan matanya terlihat begitu tajam, langsung
menembus sepasang mata Gordan yang redup. Tapi pemuda itu malah mengalihkan
pandangan ke arah lain, seakan tidak sanggup membalas tatapan mata Pandan Wangi yang menyorot sangat tajam. "Sudahlah.... Mungkin kau tidak ingin kami berdua
ikut campur dalam persoalanmu," elak Rangga menengahi. "Sebaiknya kau tidur saja, Gordan. Mudahmudahan saja besok pagi tubuhmu sudah segar kembali." Gordan hanya menganggukkan kepala saja, kemudian menggeser duduknya. Lalu, tubuhnya direbahkan
tidak jauh dari api unggun. Sementara, Rangga bangkit berdiri. Kakinya kemudian melangkah menjauhi
pemuda itu. Pandan Wangi bergegas mengikuti. Mereka kemudian duduk di atas sebatang akar yang menyembul keluar dari dalam tanah. Namun, perhatian
mereka masih terus tertuju pada Gordan yang tampaknya sudah jatuh tertidur. Begitu cepat pemuda itu jatuh tertidur. Mungkin
karena memang sudah begitu
lelah. Sementara, Rangga masih tetap duduk diam sambil
memeluk sebelah lutut kanannya. Sedangkan Pandan
Wangi sudah kembali merebahkan diri, dengan punggung bersandar pada akar yang menyembul dari dalam
tanah ini. Dan malam pun terus merayap semakin bertambah larut Udara di sekitar tepian jurang kaki lereng Gunung Jungkun ini
semakin terasa dingin menggigilkan tulang. Api yang menyala cukup besar, seakan
tidak mampu mengusir udara dingin ini.
"Kakang...."
"Hm...."
"Aku yakin kalau Gordan punya persoalan, Kakang.
Jadi mana mungkin bisa terperosok ke dalam jurang
itu, kalau tidak ada sebabnya. Dan lagi, di tubuhnya penuh luka bekas
penyiksaan," kata Pandan Wangi pelan setengah berbisik.
"Kalau memang benar, lalu...?"
"Apa salahnya kalau kita mencoba menolong, Kakang." "Tapi, Gordan sendiri seperti enggan ditolong orang lain. Sedangkan kita...,
tidak mungkin bisa berbuat sesuatu kalau orangnya sendiri tidak menginginkannya.
" "Barangkali dia masih sulit mengungkapkannya,
Kakang. Tunggu saja sampai besok pagi," kata Pandan Wangi bersabar.
Rangga hanya mengangkat bahunya saja sedikit.
Kemudian tubuhnya direbahkan tidak jauh dari api
unggun yang tetap menyala besar. Sedangkan Pandan
Wangi masih tetap duduk sambil memeluk lutut memperhatikan Gordan yang sejak tadi sudah mendengkur.
Matanya melirik sedikit pada Rangga yang sudah memejamkan matanya. Terlihat gerakan di dadanya begitu halus dan teratur.
"Hhh...!"
Pandan Wangi menghembuskan nafasnya yang berat sekali. Entah kenapa, perasaannya mengatakan kalau pemuda yang ditemuinya
berada di balik batu harus ditolong. Tapi dia sama sekali tidak tahu, persoalan apa yang sedang
dihadapi pemuda itu sehingga
hampir saja tercebur ke dalam jurang sangat dalam.
Sedangkan untuk menanyakannya, sudah tidak
mungkin lagi. Gordan memang tidak menginginkan
bantuan siapa pun juga, seperti yang dikatakan Rang-ga tadi. Dan tampaknya,
pemuda itu merahasiakan
persoalannya. Pandan Wangi melihat kalau tidur pemuda itu gelisah sekali. Entah, sudah berapa kali Gordan menggelimpangkan
tubuhnya. Dan, beberapa kali
pula terdengar hembusan nafasnya yang begitu berat dan keras.
"Akh...!"
"Oh..."!"
Pandan Wangi jadi terkejut. Dan gadis itu langsung
terlompat bangkit berdiri, begitu tiba-tiba saja Gordan memekik seraya terbangun
duduk dari kursinya. Sementara, Pandan Wangi sudah berada di depan pemuda itu. Tampak seluruh wajah dan tubuh Gordan bersimbah keringat dengan napas tersengal-sengal tak be-raturan.
"Ada apa, Gordan...?" tanya Pandan Wangi, dengan
kelopak mata agak menyipit memperhatikan wajah
pemuda yang bersimbah keringat itu.
"Ohhh...," Gordan hanya menghembuskan napas
panjang-panjang saja.
Sebentar Gordan seperti baru terjaga dari tidur dan mimpi buruknya, kemudian
pandangannya ditujukan
lurus ke wajah cantik Pandan Wangi. Beberapa kali
nafasnya ditarik dalam-dalam, lalu dihembuskannya
kuat-kuat. Seakan-akan rongga dadanya yang mendadak saja jadi terasa sesak ingin dilonggarkan. Sementara Pandan Wangi masih
bersabar menunggu, seraya
memperhatikan wajah yang berkeringat itu.
"Ada apa, Gordan" Kau bermimpi...?" tanya Pandan
Wangi lagi. "Hhh...!"
*** 3 Semalaman penuh Pandan Wangi tidak bisa memejamkan matanya. Sedangkan Gordan tidak juga ingin
menceritakan mimpi buruk yang dialaminya semalam,
hingga matanya juga tidak bisa dipejamkan lagi. Gordan hanya mengatakan kalau
habis bermimpi. Hanya
itu saja yang dikatakannya.
Dan pada pagi harinya, Pandan Wangi menceritakan tentang mimpi Gordan semalam pada Pendekar
Rajawali Sakti. Tapi begitu ditanyakan tentang mimpinya, Pandan Wangi tidak bisa menjawab. Dan memang, dia tidak tahu apa mimpi yang dialami Gordan
semalam. Pendekar Rajawali Sakti jadi penasaran juga.
Dihampirinya Gordan yang duduk terpisah dari mereka. Kemudian, Pendekar Rajawali Sakti menemaninya
duduk di sebelah kanan.
"Kau bermimpi buruk semalam, Gordan?" tanya
Rangga langsung.
Gordan hanya menganggukkan kepala sedikit.
"Kau mau menceritakannya padaku...?" pinta Rangga lembut. Gordan masih tetap diam. Perlahan wajahnya berpaling, menatap langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Kemudian pandangannya beralih lurus ke depan. Sekali ditariknya
napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya kuat-kuat. Sementara Rangga masih
sabar menunggu. Saat itu, Pandan Wangi datang
menghampiri, setelah menyiapkan kuda-kuda. Gadis
yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu kemudian duduk di sebelah Pendekar
Rajawali Sakti.
"Aku tahu, kau sedang mengalami kesulitan, Gordan. Kau bisa mengurangi beban yang menghimpitmu
kalau mau menceritakan sedikit persoalanmu padaku," kata Rangga lagi mendesak.
"Terima kasih atas perhatian kalian berdua. Aku
memang punya persoalan. Tapi sungguh..., aku tidak
ingin kalian terlibat dalam persoalanku ini," kata Gordan setelah cukup lama
berdiam diri membisu.
"Kalau kau tidak ingin kami terlibat kami juga tidak ingin melibatkan diri. Kami
hanya ingin mengurangi
beban yang kau derita," kata Rangga terus membujuk.
"Hhh...!"
Lagi-lagi Gordan menghembuskan napas panjang.
"Katakan saja, Gordan," desak Pandan Wangi.
"Kalau kukatakan, sudah pasti kalian tidak akan
bisa menghindari. Kalian pasti akan terlibat walaupun berusaha menghindar.
Sungguh! Aku tidak ingin ada
korban lagi. Biarlah aku saja yang menderita, asalkan jangan orang lain yang
ikut merasakannya," kata Gordan masih dengan suara pelan.
"Kalaupun terlibat, kami akan mengatasinya sendiri. Percayalah...," ujar Rangga meyakinkan.
"Kalian tidak akan melibatkan aku lagi...?"


Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tidak," sahut Rangga mantap.
"Sungguh...?"
Rangga mengangguk mantap.
"Terus terang, aku tidak sudi lagi melihat mereka.
Apalagi berurusan dengan mereka. Aku akan pergi sejauh mungkin, ke tempat yang tidak bisa dijangkau
mereka...," kata Gordan, terdengar terputus nada suaranya.
"Siapa mereka, Gordan?" tanya Rangga.
"Mereka yang menyiksamu?" sambung Pandan
Wangi, bertanya.
Gordan hanya menganggukkan kepala saja. Kemudian.... "Pangeran Iblis...."
"Pangeran Iblis..."!" desis Pandan Wangi dengan
kening berkerut.
"Ya! Dia kejam sekali. Dia bukan lagi manusia, tapi iblis dari neraka."
"Hm, siapa dia itu...?" gumam Rangga seperti bertanya pada diri sendiri.
"Aku tidak tahu, siapa dia sesungguhnya.
Tahu-tahu, dia sudah ada dan langsung menguasai
seluruh wilayah Kadipaten Wurungga. Dia datang seorang diri, tapi sudah bisa menguasai semua orang di kota kadipaten itu. Bahkan
kini, sudah banyak desa
yang dikuasainya. Aku sendiri tidak mengerti, sampai orang-orang begitu memuja.
Sepertinya, dia dewa sa-ja," Gordan mulai menceritakannya.
Sementara, Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan. Sedangkan Gordan terdiam, mengumpulkan kata-kata yang akan diutarakannya pada kedua
pendekar muda yang diketahuinya hanya dua orang
pengembara saja, yang kebetulan lewat di tempat ini.
Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu tahu,
Gunung Jangkun ini juga masih termasuk Kadipaten
Wurungga. Dan kota kadipaten itu tidak jauh lagi dari Desa Jungkun yang berada
di kaki lereng gunung ini.
Jaraknya pun tidak seberapa jauh Lagi dari sini. Tapi, kedua pendekar itu sama
sekali tidak tahu keadaan
sekarang di sana. Dan tampaknya, mereka terkejut
mendengar Kadipaten Wurungga sudah dikuasai manusia iblis yang disebut Pangeran Iblis.
"Sudah banyak pendekar sakti dan digdaya yang
berusaha untuk mengenyahkan Pangeran Iblis itu. Tapi, justru yang terjadi malah sulit diterima akal...,"
sambung Gordan terputus nada suaranya.
"Apa maksudmu, Gordan?" Pandan Wangi meminta
penjelasan. "Seperti pamanku..., Paman Rakada. Semula, Paman Rakada mengajakku untuk mengusir Pangeran
Iblis dari Kadipaten Wurungga. Tapi entah kenapa, justru paman jadi berbalik.
Bahkan kini begitu patuh
pada perintah Pangeran Iblis. Hingga, dia begitu tega hendak membunuhku," sahut
Gordan menjelaskan
keadaan yang sebenarnya.
"Hm.... Jadi, itu sebabnya sampai kau berada di balik batu itu kemarin...?" gumam Rangga seperti bicara pada diri sendiri.
"Benar. Bahkan Paman Rakada terjerumus masuk
ke dalam jurang karena berusaha mengeluarkan aku
dari sana."
"Kenapa kau tidak keluar?"
"Tidak mungkin, Nini. Saat itu, Paman Rakada masih dipengaruhi pikirannya. Dia bukannya ingin mengeluarkan, tapi justru ingin menyerahkan aku pada
orang kepercayaan Pangeran Iblis. Kalian tahu, kalau aku keluar kemarin, sudah
pasti kalian hanya akan
menemukan tubuhku saja. Sedangkan kepalaku akan
dibawa pada Pangeran Iblis," sahut Gordan.
"Untuk apa...?" tanya Pandan Wangi agak mendesis
terkejut. "Sebagai peringatan bagi siapa saja yang berani menentang kehendak Pangeran Iblis," sahut Gordan.
"Edan..!" desis Rangga.
"Kejam sekali...!" dengus Pandan Wangi jadi geram.
"Aku sebenarnya sudah menjadi tawanan mereka.
Tapi, aku bisa meloloskan diri dan terus kabur dari kadipatenan. Hingga aku
sampai ke tempat ini, mereka terus mengejarku sampai di sini. Tapi setelah Paman
Rakada tewas tercebur ke dalam jurang, mereka me-ninggalkanku begitu saja.
Mereka berharap, aku mati kedinginan dan kelaparan di bibir jurang itu," kata
Gordan lagi. "Hm...," Rangga menggumam kecil.
"Mereka pasti tidak akan melepaskanku begitu saja.
Mereka pasti akan kembali lagi ke sini untuk mengambil mayatku. Kalau tahu aku
masih hidup, pasti mere-ka akan terus mengejar walaupun sampai ke ujung
langit" sambung Gordan.
Mereka kemudian terdiam membisu. Cukup lama
juga tidak ada yang membuka suara lagi. Entah apa
yang ada di dalam pikiran masing-masing. Sementara, Rangga sudah bangkit berdiri
tegak. Matanya terus
menatap lurus ke arah Desa Jungkun yang sudah terlihat dari tempat ini. Desa itu kelihatan sunyi, seperti tidak berpenghuni lagi.
Dan tidak jauh di sebelah sela-tan desa, terletak Kota Kadipaten Wurungga.
Memang, tidak bisa terlihat dari lereng gunung ini, karena terhalang hutan kecil
yang membatasi antara Kota Kadipaten Wurungga dengan Desa Jungkun. Tapi, ada jalan
membelah hutan kecil itu yang menghubungkan ke kota kadipaten. *** "Rasanya kita tidak mungkin bisa tinggal diam begitu saja, Kakang," ujar Pandan Wangi, setelah berdiri dan berada di samping
Pendekar Rajawali Sakti.
"Eh..."!" Gordan jadi tersentak kaget mendengar kata-kata gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu.
Bukan hanya Rangga yang berpaling, tapi juga Pandan Wangi. Sementara, Gordan bergegas bangkit berdi-ri dari duduknya. Dan
kakinya melangkah beberapa
tindak, lalu berdiri tepat di depan kedua pendekar
muda dari Karang Setra itu. Gordan memang tidak tahu, siapa sebenarnya kedua anak muda yang telah
menyelamatkan nyawanya dari mati kelaparan dan kedinginan di balik batu yang berada di bibir jurang.
Dia memang tidak mungkin lagi bisa keluar dari sana dalam keadaan hidup, kalau tidak ditolong pemuda yang selalu mengenakan baju
rompi putih ini. Terlebih lagi, tenaganya memang sudah tidak ada lagi. Bahkan
dirinya dalam keadaan terluka akibat mendapat penyiksaan yang cukup berat dari
para pengikut Pangeran Iblis. "Tidak...! Kalian tidak boleh ke sana. Kalian, akan sia-sia, dan hanya
menyerahkan nyawa saja kalau
sampai ke sana," cegah Gordan.
Sejenak Rangga menatap Pandan Wangi yang juga
tengah menatapnya. Kemudian, bibir Pendekar Rajawali Sakti bergerak membentuk sebuah senyuman
yang sangat manis. Ditepuknya pundak Gordan, masih
dengan bibir tersenyum.
"Kau tidak perlu mencemaskan kami berdua, Gordan...," kata Rangga, terputus suaranya.
"Kau tahu, siapa kami berdua, Gordan...?" ujar
Pandan Wangi bernada bertanya.
Gordan hanya diam saja memandangi kedua pendekar muda itu. Sejak kemarin, mereka berdua ini
memang belum dikenalnya betul. Walaupun sudah
memperkenalkan nama masing-masing, tapi yang sesungguhnya Gordan memang tidak tahu. Dan tanpa
disadari kepalanya bergerak menggeleng.
"Kami pendekar-pendekar muda dari Karang Setra.
Dan kalau ada persoalan seperti ini, sudah barang tentu tidak bisa tinggal diam
begitu saja. Memang, sudah menjadi tugas para pendekar untuk membasmi
keangkaramurkaan," kata Pandan Wangi.
"Pendekar dari Karang Setra...?" desis Gordan seperti tidak percaya nada suaranya.
"Benar! Kami memang berasal dari sana," kata Pandan Wangi lagi.
"Apakah..., apakah kalian yang dijuluki Sepasang
Pendekar Karang Setra...?"
Rangga dan Pandan Wangi hanya diam saja, tapi
disertai senyum lembut. Memang, julukan itu sudah pernah didengarnya dari orangorang kalangan rimba
persilatan. Kedua pendekar itu memang selalu mengatakan berasal dari Karang Setra. Sedangkan mereka
selalu pergi mengembara berdua, menunaikan tugas
kependekaran. Hingga, orang-orang dari kalangan rim-ba persilatan selalu
menjuluki mereka Sepasang Pendekar Karang Setra.
"Dan kau..., kau pasti Pendekar Rajawali Sakti," tebak Gordan lagi, seraya
menatap Rangga dalam-dalam.
Pendekar Rajawali Sakti hanya tersenyum saja.
"Kau..., si Kipas Maut..?" ujar Gordan lagi, berpindah menatap Pandan Wangi.
"Tidak salah lagi, Gordan," sahut Pandan Wangi,
tanpa sedikit pun ada nada menyombongkan diri.
Sengaja gadis itu mengatakan hal yang sebenarnya,
agar Gordan tidak lagi mencegah dan merasa cemas
kalau mereka ingin ke Kadipaten Wurungga.
"Oh...," Gordan mendesah panjang, seraya menghembuskan nafasnya.
Tiba-tiba saja, pemuda itu jatuh berlutut. Lalu dipeluknya kedua kaki Rangga
erat-erat. Dan hal ini membuat Pendekar Rajawali Sakti jadi tersentak kaget.
Demikian pula Pandan Wangi yang terkejut melihat sikap Gordan seperti itu.
"Bangunlah, Gordan. Tidak pantas kalau sikapmu
begitu padaku," kata Rangga seraya menarik tubuh
pemuda itu hingga kembali berdiri.
"Maafkan aku.... Maafkan aku yang buta dan tidak
mengenal kalian berdua para pendekar digdaya...,"
ujar Gordan, agak terbata suaranya.
"Ah, sudahlah.... Kami juga manusia biasa sepertimu," kata Rangga merendah.
"Sungguh, aku tidak tahu kau adalah Pendekar Rajawali Sakti. Oh..., sungguh bodoh aku yang tidak
mengenali pendekar digdaya seperti kalian berdua."
Gordan membungkukkan tubuhnya, menjura memberi hormat pada kedua pendekar muda dari Karang
Setra yang sudah dikenal sebagai Sepasang Pendekar
Karang Setra. Sikap hormat yang diberikan Gordan,
membuat Rangga dan Pandan Wangi jadi merasa rikuh
juga. Tapi, mereka sudah tidak bisa lagi menghilangkan rasa hormat pemuda itu.
Maka kini terlihat rasa penyesalan di dalam sinar mata Pandan Wangi, karena
mengatakan diri mereka berdua yang sesungguhnya.
Tapi, apa boleh buat" Semua sudah telanjur, dan kata-kata yang sudah terucapkan
tidak mungkin bisa ditarik kembali. Ibarat ludah yang sudah keluar, tidak
mungkin dijilat lagi.
"Kalian sungguh-sungguh ingin pergi ke kota?"
tanya Gordan, seakan ingin menegaskan.
"Benar, Gordan. Kami tidak mungkin bisa diam diri
begitu saja setelah mendengar penuturanmu," Pandan
Wangi yang menyahuti, sebelum Rangga bisa membuka suara. "Oh! Kalau kalian yang datang, aku yakin Pangeran
iblis pasti bisa ditumpas," kata Gordan mantap.
"Semua tergantung dari Hyang Widhi, Gordan. Jika
sang Hyang Widhi menghendaki, kami tentu bisa
menghentikannya," kata Rangga merendah lagi.
"Nama kalian berdua sudah seringkali kudengar.
Dan...," Gordan tidak melanjutkan.
"Dan apa, Gordan?" Pandan Wangi meminta meneruskan. *** "Terus terang, sebenarnya aku berusaha kabur dari
mereka juga, untuk pergi ke Karang Setra. Dan aku ingin meminta bantuan para
pendekar Karang Setra.
Kudengar, Karang Setra memiliki pendekar-pendekar
tangguh dan digdaya. Bahkan rajanya juga seorang
yang sangat digdaya," kata Gordan melanjutkan.
Rangga hanya tersenyum saja. Sudah barang tentu
Gordan tidak tahu kalau sekarang ini sedang berhadapan dengan Raja Karang Setra.
Dan Pandan Wangi juga hanya tersenyum saja. Matanya langsung melirik
Pendekar Rajawali Sakti. Memang, tidak banyak orang yang tahu kalau Pendekar
Rajawali Sakti adalah juga Raja Karang Setra. Dan kebanyakan orang hanya
mengenal kalau pemuda itu hanya seorang pendekar yang
berasal dari Karang Setra, yang terkenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.
"Pendekar tangguh bisa didapatkan di mana saja,
Gordan. Tidak harus di Karang Setra," kata Rangga
masih merendahkan diri.
"Tapi yang kudengar, Karang Setra memiliki begitu
banyak pendekar tangguh dan digdaya. Seperti kalian ini. Begitu banyak orang
yang membicarakan ketang-guhan kalian berdua. Bahkan begitu banyak orang dari kalangan persilatan yang harus berpikir seribu kali jika ingin menantang
kalian bertarung. Terutama sekali kau, Pendekar Rajawali Sakti. Kesaktian yang
kau miliki memang tidak ada duanya di jagat raya ini," lagi-lagi Gordan memuji.
"Ah, sudahlah. Tidak akan ada habisnya kalau terus membicarakan hal itu," kata Rangga tidak ingin
melanjutkan. "Sudah terlalu siang, Kakang. Apa sebaiknya kita
berangkat saja sekarang..." Dan sebelum malam tiba
kurasa kita sudah bisa sampai di kota kadipaten," kata Pandan Wangi mengusulkan.
"Baiklah," sahut Rangga menyetujui. 'Tapi. .."
Pendekar Rajawali Sakti menatap Gordan. Di sini
hanya ada dua ekor kuda. Sedangkan mereka semua
ada tiga orang. Rasanya, tidak mungkin kalau kedua
pendekar muda itu meninggalkan Gordan seorang diri
saja. "Kau bersamaku, Gordan. Di Desa Jungkun nanti,
aku akan membelikanmu kuda," kata Rangga
"Oh, terima kasih.... Aku senang sekali bisa berkuda bersamamu, Pendekar Rajawali Sakti," sambung
Gordan, gembira.
"Ayolah. Jangan membuang-buang waktu lagi," ajak
Rangga. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah berkuda
meninggalkan kaki lereng Gunung Jungkun itu. Dan
jelas sekali kalau tujuan mereka ke Desa Jungkun


Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang terletak tidak jauh lagi dari tepian jurang itu.
Rangga menunggang kudanya yang dikenal bernama Kuda Dewa Bayu. Di belakangnya duduk Gordan.
Dipeluknya erat-erat pinggang Rangga. Hatinya agak
ngeri juga dengan kecepatan lari kuda hitam tunggangan Pendekar Rajawali Sakti.
Sedangkan Pandan Wangi menunggang kuda putih miliknya.
Begitu cepatnya kuda itu berlari, hingga seakanakan keempat kakinya tidak lagi menepak tanah. Debu begitu tebal mengepul tinggi
ke angkasa, diterjang ka-ki-kaki kuda. Sedangkan Pandan Wangi sudah mulai
tertinggal sekitar lima batang tombak jauhnya di belakang. Gadis itu memang
sulit untuk bisa menyamai
kecepatan lari Kuda Dewa Bayu dengan kuda putihnya
yang hanya seekor kuda biasa. Jelas saja, karena kuda tunggangan Pendekar
Rajawali Sakti adalah kuda
pemberian dewa yang langsung diturunkan ke bumi
dari kahyangan.
"Kakang, tunggu...!" teriak Pandan Wangi, begitu
merasakan semakin jauh saja tertinggal.
Rangga berpaling ke belakang sebentar, kemudian
memperlambat lari kudanya. Sehingga, dengan cepat
Pandan Wangi bisa menyamai kuda hitam itu lagi. Dan kudanya terus dipacu cepat
di samping Kuda Dewa
Bayu. Kali ini, Rangga mengendalikan lari kudanya,
agar Pandan Wangi tidak tertinggal lagi.
Kini mereka tiba di Desa Jungkun, namun hanya
singgah sebentar. Di desa ini, mereka mendapatkan
seekor kuda yang bagus dan tegap untuk Gordan. Demikian pula pakaian yang bersih untuk mengganti baju Gordan yang sudah koyak bernoda darah. Memang
masih ada luka-luka di tubuhnya, tapi sudah tidak lagi
mengeluarkan darah. Dan hanya luka-luka kering saja yang tinggal menunggu
kesembuhan. Mereka terus melanjutkan perjalanan di atas kuda
masing-masing, membelah hutan kecil yang menjadi
pembatas antara Desa Jungkun dengan Kota Kadipaten Wurungga. Dan ternyata Gordan pandai sekali menunggang kuda. Hingga, dia tidak perlu takut tertinggal. Dan hanya Rangga saja
yang bisa mengendalikan
kecepatan lari kudanya, agar tidak meninggalkan yang lainnya.
Sementara matahari terus merayap ke arah barat,
sesuai perjalanan waktu. Ketiga anak muda itu terus memacu kudanya dengan
kecepatan tinggi, membelah
jalan tanah di dalam hutan kecil ini. Debu terus mengepul membubung tinggi ke
angkasa, tersepak kakikaki kuda yang dipacu cepat.
"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Gerbang perbatasan Kota Kadipaten Wurungga sudah terlihat Rangga memperlambat lari kudanya, diikuti Pandan Wangi dan Gordan. Tampak gerbang perbatasan yang terbuat dari batu itu dijaga enam orang berpakaian seragam prajurit
kadipaten. Mereka masing-masing menggenggam sebatang tombak yang panjangnya dua kali dari tubuh mereka.
"Berhenti...!"
"Hooop...!"
Ketiga anak muda itu langsung menghentikan langkah kaki kudanya, begitu salah seorang prajurit kadipaten penjaga gerbang
memintanya berhenti. Lalu prajurit yang berteriak keras tadi menghampiri Rangga
segera melompat turun dari punggung kudanya, diikuti
Pandan Wangi. Sementara, Gordan masih tetap duduk
di atas punggung kudanya. Sebuah caping bambu
yang cukup besar, memang cukup untuk melindungi
wajahnya agar tidak dikenali di Kota Kadipaten Wurungga ini. "Siapa kalian"! Dan, mau apa datang ke Kota Kadipaten Wurungga ini?" tanya prajurit yang masih berusia sekitar dua puluh lima
tahun itu. Sikapnya begitu angkuh. Bahkan sedikit membusungkan dadanya. Tapi sorot matanya justru tidak
berpindah dari wajah cantik Pandan Wangi yang berdi-ri tidak jauh di samping
kanan Pendekar Rajawali Sak-ti. Sementara, lima orang prajurit lain mulai
melangkah menghampiri. Mereka menyeringai begitu melihat
wajah Pandan Wangi yang begitu cantik.
"Kami bertiga datang dari jauh. Dan hanya ingin lewat saja di kota kadipaten ini," sahut Rangga memberi tahu "Boleh kami lewat..?"
"Hm...,' prajurit itu menggumam.
Kakinya lalu melangkah menghampiri Pandan Wangi. Diperhatikannya gadis itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, seperti
sedang menilai suatu barang yang sangat indah. Dan perlahan tangannya menjulur
hendak menyentuh wajah si Kipas Maut itu. Tapi begi-tu jari tangannya hampir
menyentuh pipi yang putih
dan halus itu, mendadak saja....
"Hih!"
Plak! "Aduhhh...!"
Prajurit itu kontan terpekik kaget, dan langsung
menarik tangannya yang tiba-tiba saja terasa panas
bagai terbakar. Cepat kakinya ditarik ke belakang dua langkah. Wajahnya langsung
memerah, menatap tajam
Pandan Wangi. "Kurang ajar...! Hih"
Bet! Cepat sekali prajurit itu mengebutkan tombaknya,
menyodok langsung ke arah lambung Pandan Wangi.
Tapi hanya sedikit saja gadis ini mengegoskan tubuhnya, tombak yang cukup
panjang itu lewat di samping tubuhnya. Dan tanpa dapat dilihat dengan mata
biasa, si Kipas Maut itu sudah cepat menghentakkan kaki kirinya.
"Yeaaah...!"
Diegkh! "Akh...!"
Kembali prajurit muda itu terpekik, dan langsung
terpental sejauh tiga batang tombak ke belakang. Tendangan Pandan Wangi yang
begitu keras, tepat mendarat di dadanya. Akibatnya, prajurit itu hanya bisa
menggelepar sedikit begitu jatuh di tanah, lalu menge-jang kaku. Dia tewas
seketika itu juga dengan tulang-tulang dada remuk, terkena tendangan yang begitu
keras dan mengandung pengerahan tenaga dalam tadi.
Sementara itu lima orang prajurit lain jadi terkejut setengah mati, melihat
temannya tewas seketika,
hanya sekali mendapat tendangan saja. Dan seperti
ada yang memberi perintah, mereka langsung saja berlompatan cepat menerjang ke
arah Pandan Wangi. Tapi belum juga melakukan serangan, mendadak saja....
"Hup! Hiyaaa...!"
Gordan yang sejak tadi duduk saja di punggung
kudanya, langsung cepat melompat. Dan seketika pukulannya terlontar begitu cepat menghajar kelima prajurit itu. Begitu cepat
gerakan-gerakannya, hingga
membuat lima orang prajurit itu tidak dapat lagi men-getahuinya. Dan tahu-tahu,
mereka sudah berpentalan sambil menjerit keras melengking tinggi.
Hanya dalam waktu sekejapan mata saja, Gordan
sudah membuat lima orang prajurit itu terkapar tanpa dapat bangun-bangun lagi.
Mereka seketika tewas
dengan dada remuk, akibat terkena pukulan keras bertenaga dalam tinggi yang
dilepaskan Gordan tadi.
"Seharusnya kalian tidak perlu membunuh mereka...," desah Rangga menyesalkan.
"Maaf, Kakang. Mereka yang memulai," Pandan
Wangi membela diri.
"Gordan! Kenapa kau begitu tega membunuh mereka?" Rangga menatap Gordan yang sudah membuka
caping bambunya.
"Mereka bukan para prajurit, Kakang," sahut Gordan, yang kini sudah menyebut kakang pada Rangga,
mengikuti Pandan Wangi. Dan memang, Rangga sendiri yang menghendakinya.
"Hm, lalu siapa mereka?"
"Iblis pengikut Pangeran Iblis," sahut Gordan lagi.
"Hhh..., sudahlah. Ayo kita teruskan, sebelum ada
orang lain yang melihat," ajak Rangga tidak ingin
memperpanjang lagi.
Mereka kembali berlompatan naik ke atas punggung
kuda masing-masing, dan terus memacu cepat meninggalkan gerbang perbatasan itu. Kini mereka langsung menuju Kota Kadipaten
Wurungga. Dan saat itu,
matahari sudah hampir tenggelam di balik belahan
bumi bagian barat
*** 4 Kota Kadipaten Wurungga memang sangat indah di
waktu malam. Hampir di setiap sudut kota itu bermandikan cahaya lampu pelita yang berwarna-warni.
Tapi, suasananya memang terasa tidak nyaman. Di
mana-mana selalu terlihat prajurit bersenjata tombak
dan pedang tengah berjaga-jaga. Seakan-akan, kota itu sedang menghadapi perang
saja. Rangga memilih sebuah rumah penginapan yang
cukup besar dan apik di kota itu, tidak jauh dari bangunan kadipatenan yang
dijaga puluhan prajurit berusia muda. Dari jendela kamar penginapannya, bisa
terlihat langsung pintu gerbang masuk bagian depan kadipatenan. Ada sekitar sepuluh orang berpakaian prajurit tengah berjaga-jaga di
sana yang menyandang
senjata lengkap.
"Kelihatannya penjagaan sangat ketat, Kakang. Seperti sedang menghadapi perang saja...."
Rangga berpaling, lalu tersenyum melihat Pandan
Wangi sudah berada di sampingnya. Gadis itu juga rupanya memperhatikan penjagaan
di sekitar bangunan
tempat tinggal Adipati Wurungga ini. Dan di dalam ha-ti, Rangga memang
membenarkan ucapan Pandan
Wangi. Rasanya, cukup sulit juga untuk bisa menembusnya. "Kalau kalian ingin masuk ke dalam, aku tahu jalan
rahasia yang teraman."
Kedua pendekar dari Karang Setra itu agak terkejut
juga, ketika tiba-tiba saja terdengar suara dari belakang. Mereka cepat
berbalik. Dan kening mereka langsung berkerut begitu melihat seorang laki-laki
berusia sekitar enam puluh lima tahun, tahu-tahu sudah berada di dalam kamar
penginapan ini.
Laki-laki itu mengenakan baju warna biru muda
yang sangat halus. Dan pasti terbuat dari bahan sute-ra yang sangat mahal
harganya. Pada bagian dadanya
terdapat sulaman benang emas bergambar bungabunga. Walaupun sudah berusia lebih dari separuh
baya, tapi wajahnya yang bersih masih terlihat tampan. Rambutnya yang masih hitam pun tertata rapi,
tergelung ke atas. Dari penampilannya, Rangga bisa
menebak kalau laki-laki yang tahu-tahu sudah ada di dalam kamar penginapan ini
pasti seorang pembesar
kadipaten. "Maaf kalau kedatanganku mengejutkan kalian,"
ucap laki-laki separuh baya itu seraya membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi penghormatan.
Rangga segera membalas salam penghormatan itu.
dengan membungkukkan tubuhnya juga. Pandan
Wangi juga mengikuti sikap Pendekar Rajawali Sakti.
Kemudian Rangga mempersilakan tamunya ini duduk
dengan sikap ramah, walaupun dari sorot matanya
masih memancarkan rasa curiga.
"Maaf, siapakah Paman ini..." Rasanya kami belum
pernah mengenal," ucap Rangga, lembut dan penuh
rasa hormat. "Memang kita belum saling mengenal. Tapi terus terang saja, aku sudah mengenalmu, Rangga," sahut laki-laki tua itu kalem.
"Oh..."!" Rangga kembali terkejut.
"Namaku Arya Sempana," laki-laki berusia lebih dari separuh baya itu memperkenalkan diri.
Rangga mengangguk sedikit, menerima perkenalan
itu. Sementara, Pandan Wangi tetap berdiri saja membelakangi jendela. Dan di
dalam kamar penginapan ini memang hanya ada dua buah kursi yang mengapit sebuah
meja kayu, di samping sebuah ranjang berukuran besar. Namun, tidak ada perabotan lainnya di dalam kamar itu.
"Jangan heran, kenapa aku bisa tahu namamu,
Rangga. Juga kedatangan kalian berdua di kadipaten ini," lanjut Arya Sempana.
"Hm...," Rangga hanya menggumam sedikit saja.
"Gordan yang memberitahukan tentang kalian padaku." "Gordan..."!"
Kembali Rangga terkejut. Sungguh tidak di sangka
kalau Gordan sudah menceritakan kedatangannya pada orang lain, tanpa diketahui sama sekali. Tapi tidak ada waktu lagi bagi
Pendekar Rajawali Sakti untuk
bertanya-tanya. Dia hanya diam saja dengan kepala
dipenuhi segudang pertanyaan yang sulit dijawab saat ini. "Gordan bukan saja
keponakanku. Tapi, juga putra Gusti Adipati Utayasena," jelas Arya Sempana.
"Ohhh...," Rangga hanya bisa mendesah panjang saja. "Dia sudah bercerita banyak tentang kalian berdua.
Terus terang, kuucapkan terima kasih karena kalian
telah menyelamatkan nyawanya. Kalau tidak ada kalian berdua, entah apa yang terjadi terhadap Gordan.
Mungkin saja, sekarang ini aku hanya bisa menerima
kabar tentang nasibnya, tanpa dapat lagi bertemu
orangnya," lanjut Arya Sempana.
Kini Pendekar Rajawali Sakti baru tahu, ternyata
Gordan putra adipati. Pantas saja dia tidak mau berjalan bersama-sama, setelah
memasuki kota kadipaten
ini. Pemuda itu lalu meminta untuk berpisah. Dan sekarang pun Rangga tidak tahu,
di mana Gordan berada. "Maaf, Paman. Boleh aku bertanya sedikit..," pinta Rangga menyelak.
"Silakan," sahut Arya Sempana ramah.
"Di mana Gordan sekarang berada?" tanya Rangga
langsung. "Keselamatannya sangat terancam kalau keberadaannya di Kadipaten Wurungga ini diketahui, Rangga.
Dia langsung pergi setelah menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Juga tentang kalian berdua,"
sahut Arya Sempana.
"Paman tahu, ke mana perginya?" selak Pandan
Wangi bertanya.
"Dia tidak mau mengatakannya, walaupun sudah


Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kudesak. Tapi memang, itu lebih baik untuk menjaga
keselamatan dirinya," sahut Arya Sempana lagi.
Rangga dan Pandan Wangi terdiam seraya saling
melemparkan pandangan satu sama lain. Sementara,
Arya Sempana juga terdiam. Hanya dipandanginya saja kedua pendekar muda itu
bergantian. Sikapnya masih
terlihat sopan.
"Kalau boleh kutahu, apa sebenarnya yang sedang
terjadi di Kadipaten Wurungga ini, Paman?" tanya
Rangga setelah cukup lama membisu.
"Sulit untuk menjelaskannya, Rangga. Kadipaten
Wurungga ini benar-benar telah menjadi neraka. Di si-ni, sudah tidak ada lagi
saling percaya. Masing-masing saling curiga. Bahkan pembunuhan terjadi di manamana. Sulit sekali untuk mengendalikan keadaan kacau ini. Bahkan dalam satu keluarga pun sulit menemui orang yang bisa dipercaya. Tidak ada lagi tempat aman dan damai di kadipaten
ini." "Kenapa bisa begitu, Paman?" tanya Pandan Wangi,
jadi ingin tahu lebih banyak lagi.
"Semua ini terjadi karena ulah Pangeran Iblis," sahut Arya Sempana, agak gusar nadanya.
Sementara, Rangga hanya diam saja sambil mendengarkan semua penuturan laki-laki tua berbaju sutera halus yang sangat indah itu. Dicobanya untuk
membandingkan antara cerita yang didengarnya dari
Gordan, dengan cerita yang dituturkan Arya Sempana.
Di saat mereka semua tengah terdiam, tiba-tiba saja terdengar jeritan seorang
wanita, disertai makian dan
sumpah serapah. Pendekar Rajawali Sakti bergegas
bangkit berdiri, dan melangkah ke jendela. Sementara, Pandan Wangi juga cepat
memutar tubuhnya. Sedangkan Arya Sempana segera menghampiri jendela kamar
penginapan yang sejak tadi terbuka lebar itu.
*** Tampak di luar sana terlihat seorang gadis muda
tengah meronta-ronta diseret empat orang berpakaian prajurit. Kedua tangan gadis
itu terikat tambang yang dipegangi empat orang prajurit berusia muda.
Banyak orang di jalan itu, tapi tak seorang pun
yang berusaha menolongnya. Dan baru saja Rangga
hendak bergerak melompat keluar dari jendela, Arya
Sempana sudah lebih cepat mencekal pergelangan tangannya. "Jangan...!" cegah Arya Sempana.
"Tapi, Paman...."
"Biarkan saja. Jangan ikut campur dulu urusan
mereka. Biarkan gadis itu dibawa. Kau akan celaka
nantinya bila menolongnya," kata Arya Sempana memperingatkan. Rangga jadi terdiam dengan kening berkerut, dan
kelopak mata agak menyipit. Sungguh sulit dimengerti sikap Arya yang mencegahnya
menolong gadis muda
itu dari tangan-tangan kasar para prajurit. Gadis itu diseret dengan tambang
yang mengikat kedua tangannya. Dia jatuh bangun sambil menjerit-jerit dan memaki-maki. Namun tidak ada seorang pun yang mau
menolongnya. Bahkan Arya Sempana sendiri mencegah Rangga yang hendak menolong. Dan inilah yang
membuat Rangga jadi semakin tidak mengerti tentang
keadaan di Kadipaten Wurungga ini.
Apa yang terjadi benar-benar membuat Pendekar
Rajawali Sakti bingung tidak mengerti. Sementara, gadis itu sudah dibawa masuk
ke dalam lingkungan kadipaten yang dijaga ketat puluhan prajurit bersenjata lengkap. Dan suara
teriakannya pun lenyap, setelah
melewati pintu gerbang masuk ke kadipatenan itu.
Perlahan Rangga berbalik, dan pandangan matanya
langsung menembus bola mata Arya Sempana. Sedangkan laki-laki separuh baya itu hanya menghembuskan napas panjang yang terasa berat sekali.
"Kelak kau akan mengerti sikapku tadi, Rangga,"
ujar Arya Sempana perlahan.
Laki-laki tua itu membalikkan tubuhnya, dan melangkah mendekati kursi dari rotan. Sambil menghembuskan napas panjang, tubuhnya dihempaskan di
kursi. Sementara, Rangga dan Pandan Wangi masih tetap berdiri membelakangi jendela, memandang ke wajah Arya Sempana yang tampak terselimut kabut tebal.
"Akan diapakan gadis itu, Paman?" tanya Pandan
Wangi. Terdengar agak dalam nada suara si Kipas Maut Sorot matanya terlihat begitu dalam, tidak berkedip menatap mata Arya Sempana.
"Untuk pemuas nafsu pangeran," sahut Arya Sempana pelan. "Maksudmu...?"
Pandan Wangi jadi bergidik juga mendengar penjelasan Arya Sempana barusan. Sungguh tidak disangka
kalau prajurit-prajurit Kadipaten Wurungga bisa berbuat seperti itu. Mereka
mengambil paksa gadis-gadis untuk dipersembahkan pada Pangeran Iblis sebagai
pemuas nafsu. Maka seketika darah si Kipas Maut itu jadi bergolak mendidih.
"Apa lagi yang dilakukan iblis itu selain memperkosa gadis-gadis?" tanya Pandan Wangi lagi.
Jelas sekali, kali ini nada suara Pandan Wangi terdengar begitu geram. Seakan-akan, dirinya sendirilah yang terkoyak saat itu.
Sementara, Rangga hanya memandangi saja gadis yang berjuluk si Kipas Maut ini.
Dia tahu betul watak Pandan Wangi. Bila mendengar
ada orang yang menginjak-injak martabat kaumnya,
darahnya langsung bergolak mendidih. Tapi, inilah
yang dikhawatirkan Pendekar Rajawali Sakti.
Pandan Wangi akan bertindak lebih beringas lagi,
jika memang benar Pangeran Iblis menumpahkan nafsunya pada gadis-gadis secara paksa. Maka tidak ada seorang pun yang bisa
membendung amarah si Kipas
Maut itu, kalau sampai ada martabat kaumnya yang
terinjak-injak. Bahkan Rangga sendiri agak kewalahan juga bila menahan luapan
amarah gadis itu.
"Sudah terlalu banyak keangkaramurkaan yang ditimbulkannya di kadipaten ini. Entah ilmu apa yang
dipakai, sehingga banyak orang berhasil dipengaruhi untuk menjadi pengikutnya.
Termasuk, adikku sendiri yang juga pamannya Gordan. Dia juga terpengaruh
Pangeran Iblis, hingga tega hendak memenggal leher
keponakannya sendiri," kembali Arya Sempana menjelaskan keadaan di Kadipaten Wurungga ini.
"Hhh! Aku jadi penasaran. Seperti apa sih, tampang
Pangeran Iblis itu...?" desis Pandan Wangi agak mendengus.
*** Kedatangan Arya Sempana siang tadi, tentu saja
membuat Rangga dan Pandan Wangi jadi semakin penasaran. Mereka ingin tahu, seperti apa Pangeran Iblis yang kini menguasai
seluruh wilayah Kadipaten Wurungga ini. Banyak sekali yang diceritakan Arya
Sempana tentang Pangeran Iblis. Termasuk, segala tindak
perbuatannya yang sangat tercela itu. Dan kini membuat kedua pendekar dari Karang Setra itu semakin
geram. Sampai jauh malam, Arya Sempana berada di kamar penginapan yang disewa Rangga. Dan tepat tengah malam, laki-laki berusia lebih dari separuh baya itu baru meninggalkan kamar
penginapan. Sementara,
Pandan Wangi belum juga beranjak ke kamarnya sendiri. Gadis itu masih saja tetap duduk di kursi yang dipindahkan ke dekat
jendela. Sedangkan Rangga
hanya berdiri saja memandang ke luar, mengamati sekitar bagian depan bangunan kadipatenan yang dijaga ketat sekali. Bahkan malam
ini, penjagaan semakin
bertambah ketat saja.
"Kau akan menyelidiki malam ini, Kakang?" tanya
Pandan Wangi, seraya berpaling menatap wajah Pandan Wangi. "Ya! Aku ingin tahu, apa yang dilakukannya di dalam sana," sahut Rangga, agak mendesah nada suaranya. "Aku ikut, Kakang," pinta Pandan Wangi.
Rangga menoleh, menatap tajam bola mata gadis
yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu. Sedangkan yang ditatap, malah membalas
dengan sinar mata yang tidak kalah tajam. Jelas sekali dari sorot matanya, kalau
Pandan Wangi begitu ingin ikut menyelidiki Pangeran Iblis malam ini.
"Kau tunggu aku saja di sini dulu, Pandan. Kita belum tahu keadaannya. Nanti kalau aku sudah tahu seluk-beluk kadipatenan ini, baru kau ikut," tolak Rangga secara halus.
"Tapi, Kakang...."
"Dengar, Pandan.... Harus ada orang yang mengawasi dari sini. Kamar ini sangat cocok untuk mengawasi ke sana," potong Rangga.
"Hhh...!" Pandan Wangi hanya menarik napas dalam-dalam. Sedikit gadis itu mengangkat bahunya. Dia tahu,
kalau Rangga sudah bilang tidak, selamanya tidak.
Memang sulit untuk bisa merubah pendirian Pendekar
Rajawali Sakti. Maka terpaksa Pandan Wangi harus
mengalah. "Aku pergi dulu, Pandan," pamit Rangga, "Paman
Arya Sempana sudah menungguku di sana."
Pandan Wangi menjulurkan kepalanya sedikit Tampak Arya Sempana berlindung di balik sebatang pohon beringin yang sangat besar,
tidak jauh dari tembok
samping pagar kadipatenan.
"Hati-hati, Kakang..."
"Hup!"
Belum lagi hilang suara Pandan Wangi, Rangga sudah melesat begitu cepat keluar melalui jendela kamar penginapan ini. Begitu
sempurna ilmu meringankan
tubuhnya, sehingga gerakannya bagai angin saja. Dan dalam sekejapan saja,
bayangan tubuhnya sudah lenyap tertelan gelapnya malam. Pandan Wangi bergegas
menggeser kursinya, semakin dekat ke jendela. Bangunan istana kadipaten itu
harus terus diawasi.
Saat itu, Rangga sudah berada di samping Arya
Sempana. Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti sampai di sana. Bahkan Pandan
Wangi sendiri belum juga duduk di kursinya. Entah kenapa, gadis itu jadi
tersenyum melihat Rangga sudah bersama Arya Sempana.
Entah apa yang mereka percakapkan di sana. Dan rasanya terlalu jauh bagi Pandan Wangi untuk bisa men-curi dengar percakapan kedua
laki-laki itu. "Huh! Kalau saja aku bisa menguasai aji 'Pembeda
Gerak dan Suara' seperti Kakang Rangga, akan kusadap pembicaraan mereka. Sayang..., Kakang Rangga
tidak mau mengajarkannya padaku," keluh Pandan
Wangi. *** 5 Saat itu, Rangga dan Arya Sempana sudah berada
di bagian belakang tembok istana Kadipaten Wurungga yang tingginya sekitar dua
batang tombak. Hanya sebentar saja Rangga mengamati keadaan sekitarnya,
kemudian dengan gerakan indah dan ringan sekali sudah melompat naik. Beberapa kali Pendekar Rajawali
Sakti berputaran di udara. Kemudian tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kedua kakinya menjejak bibir tembok yang tebal itu.
Rangga menjulurkan kepalanya sedikit ke bagian
dalam. Tidak ada seorang penjaga pun terlihat di bagian belakang ini. Ternyata
pada bagian dalam dinding tembok pagar ini adalah sebuah taman yang sangat
indah. Pendekar Rajawali Sakti berpaling ke belakang.
Tampak Arya Sempana masih tetap menunggu di bawah sambil mendongak ke atas, memandang padanya.
"Hup!"
Arya Sempana langsung saja melompat naik, begitu
Pendekar Latah 5 Dewa Arak 12 Jamur Sisik Naga Pohon Kramat 3

Cari Blog Ini