Ceritasilat Novel Online

Pangeran Iblis 2

Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis Bagian 2


Rangga memberi tanda dengan tangannya. Ternyata,
ilmu meringankan tubuh yang dimiliki laki-laki berusia lebih dari separuh baya
itu cukup tinggi juga. Hanya sekali lesatan dan beberapa kali putaran tubuh, kakinya berhasil menjejak tepat di sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti.
"Kau tidak salah, Paman..." Bukankah ini taman
kaputren...," tanya Rangga.
"Memang. Tapi hanya melalui jalan inilah yang teraman, Rangga. Tidak ada jalan lain lagi. Kau lihat sendiri. Tidak ada seorang
penjaga pun di sana. Taman kaputren memang terlarang bagi orang luar. Khusus
untuk keluarga adipati saja," sahut Arya Sempana
menjelaskan keadaan dalam lingkungan kadipatenan
ini. Sebentar Rangga mengamati keadaan sekitarnya.
Memang, tidak terlihat seorang penjaga pun berkeliaran di dalam taman ini. Dan
keadaannya juga cukup
gelap. Sehingga, mereka tentu dengan mudah bisa masuk ke sana. Tapi Rangga tidak mau bertindak gegabah. Walaupun keadaan memungkinkan, tetap saja
semuanya dipelajari secermat mungkin.
"Ayo, Rangga. Jangan buang-buang waktu," ajak
Arya Sempana. "Tunggu...!" cegah Rangga cepat, seraya mencekal
pergelangan tangan Arya Sempana.
Laki-laki berusia lebih dari separuh baya itu tidak jadi melompat turun. Rangga
segera melepaskan ceka-lan tangannya. Dan pada saat itu, terlihat sesosok tubuh
mengendap-endap di antara gerumbul tanaman
bunga. "Rupanya bukan hanya kita berdua yang ada di sini, Paman," bisik Rangga perlahan.
Begitu pelannya, sampai hampir tidak terdengar di
telinga Arya Sempana. Dan laki-laki berusia lebih dari separuh baya itu hanya
menganggukkan kepala saja
sedikit. Dia juga melihat sosok tubuh berpakaian serba hitam tengah mengendapendap di antara gerumbul
semak pohon bunga.
Tampak jelas kalau sosok tubuh itu sedang mendekati pintu masuk ke dalam taman ini. Dia berhenti sebentar. Lalu, tubuhnya
berlindung di balik sebatang pohon beringin yang cukup besar, tidak jauh dari
pin- tu yang tertutup rapat Dari bentuk tubuhnya yang
tinggi tegap, jelas sekali kalau sosok tubuh itu seorang laki-laki.
Sebilah pedang berukuran panjang, tersampir di
pinggangnya yang cukup ramping. Tampak pandangannya beredar ke sekeliling, seakan-akan tengah
mengamati keadaan sekitarnya. Kemudian tatapan
matanya tertuju lurus ke arah pintu masuk ke dalam
taman yang tetap tertutup rapat. Sementara dari atas tembok benteng, Rangga dan
Arya Sempana terus
memperhatikan tanpa berkedip sedikit pun juga. Memang cukup sulit untuk bisa melihat wajah orang itu.
Apalagi, malam ini langit tertutup awan hitam cukup tebal. Sehingga, sinar bulan
tidak bisa memancarkan cahayanya sampai ke bumi.
"Kau tunggu dulu di sini, Paman. Aku ingin tahu,
siapa orang itu. Juga, apa maksudnya berada di taman kaputren ini," ujar Rangga.
Belum lagi Arya Sempana bisa membuka suaranya,
Pendekar Rajawali Sakti sudah melesat cepat bagai kilat. Gerakannya juga sangat
ringan, seperti kapas. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya, sehingga
sedikit pun tidak terdengar suara saat kedua kakinya menjejak tanah berumput
tebal dan terawat rapi ini.
"Hup...!"
Kembali Rangga melesat ringan dengan kecepatan
luar biasa sekali. Dan tahu-tahu dia sudah berada dekat di belakang orang
berpakaian serba hitam yang ketat ini.
"Kisanak...."
"Heh..."!"
Orang itu tampak terkejut sekali, begitu mendengar
teguran dari belakangnya. Bagaikan kilat, tubuhnya
berputar sambil mengibaskan tangan kirinya. Seketika
itu juga, dari telapak tangan kirinya yang terbuka melesat deras secercah cahaya
kilat keperakan.
"Haiiit!"
Untung saja Rangga cepat mengegoskan tubuhnya,
menghindari serangan orang berpakaian serba hitam
ini. Dan bagaikan kilat, kedua kakinya bergerak ke depan, sambil menghentakkan
tangan kanannya ke arah
dada orang berpakaian serba hitam ini.
"Hap!"
Tapi orang berpakaian serba hitam itu malah menerima serangan balasan Rangga dengan hentakan tangannya pula. Hingga....
Plak! "Hup!"
"Hap...!"
Mereka sama-sama berlompatan ke belakang, sejauh lima langkah. Untung saja, Rangga tadi tidak
mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Sehingga, orang berpakaian serba hitam itu hanya terhuyung sedikit sambil memegangi sebelah tangannya
yang beradu dengan tangan Rangga tadi.
Tapi orang berpakaian serba hitam itu sudah cepat
bersiap hendak melakukan serangan. Tangan kanannya sudah menggenggam gagang pedang. Bahkan
hampir saja tercabut, kalau Rangga tidak segera mencegahnya.
"Tunggu, Kisanak...!"
Kelopak mata Rangga jadi menyipit, melihat seluruh
kepala dan wajah orang itu terbungkus kain hitam.
Hanya bagian kedua bola matanya saja yang terlihat.
Dan tampak jelas sekali dari sinar bola matanya, kalau orang berpakaian serba
hitam itu terkejut melihat
Pendekar Rajawali Sakti yang ada di depannya.
"Hup...!"
Tiba-tiba saja orang berpakaian serba hitam itu melesat cepat meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti.
"Eh, tung...."
Tidak ada lagi kesempatan bagi Rangga untuk mencegah. Begitu cepat orang berpakaian serba hitam itu melesat. Sehingga dalam
sekejapan mata saja dia sudah lenyap, setelah melewati tembok pagar yang cukup
tinggi di bagian belakang istana kadipatenan ini.
"Hm.... Siapa dia" Lalu kenapa mesti lari...?" gumam Rangga bertanya pada diri sendiri.
Saat itu terlihat Arya Sempana melompat turun dari
atas tembok pagar. Dan langsung dihampirinya Rangga yang berdiri mematung di bawah pohon beringin,
menatap lurus ke arah kepergian orang berpakaian
serba hitam tadi.
"Kau kenali siapa dia, Rangga?" tanya Arya Sempana langsung. "Tidak," sahut Rangga pelan.
"Hm...."
"Dia memakai topeng kain," Rangga menjelaskan,
mendengar gumaman yang bernada tidak puas.
Beberapa saat mereka terdiam.
"Ayo, Rangga. Kita terus saja," ajak Arya Sempana.
"Ayolah...."
*** Arya Sempana memang hafal betul seluk-beluk
bangunan istana kadipatenan ini. Mereka melewati
tempat-tempat yang tidak ada penjaganya, sehingga
dengan mudah bisa sampai di bagian samping sebuah
kamar yang kelihatannya cukup terang di dalam. Jendela kamar itu terlihat sedikit terbuka. Mereka mengendap-endap, merapatkan
punggungnya mendekati
jendela kamar itu.
"Itu kamar Gusti Adipati, Rangga. Tapi sekarang ditempati Pangeran Iblis," jelas Arya Sempana.
Rangga hanya diam saja. Kini mereka berhenti setelah dekat dengan jendela kamar yang sedikit terbuka.
Cahaya pelita dari dalam menerobos ke luar. Namun
sesaat kemudian, kening kedua laki- laki itu jadi berkerut seraya saling
melemparkan pandang.
"Iblis...!" desis Arya Sempana dengan wajah memerah seketika. Jelas sekali terdengar kalau di dalam kamar itu seseorang tengah memaksa melampiaskan nafsu binatangnya pada seorang wanita. Erangan dan rintihan li-rih terdengar jelas
menggiris hati, disertai dengusan napas berat dan memburu.
Tampak wajah Rangga jadi memerah. Dan nafasnya
pun terdengar memburu. Kedua tangannya juga sudah
terkepal erat. Sementara, di dalam kamar terdengar suara rintihan dan tangisan
terisak dari seorang wanita. Dan tak berapa lama kemudian, terdengar tawa
seorang laki-laki terkekeh.
"Pengawal...!"
Terdengar suara keras dari dalam kamar.
"Seret perempuan ini keluar. Aku tidak sudi lagi
melihat wajahnya. Kau mengerti maksudku...?"
"Mengerti, Gusti Pangeran."
"Buang dia ke dalam jurang sekarang juga."
"Baik, Gusti Pangeran."
Sesaat, tidak lagi terdengar suara dari dalam kamar itu. Dan terlihat sepasang
tangan menjulur ke luar meraih daun jendela, lalu menutupnya rapat-rapat.
Sementara, Rangga dan Arya Sempana lebih merapatkan
tubuh ke dinding.
"Iblis...!" desis Arya Sempana berang.
Rangga melirik sedikit pada laki-laki berusia lebih
dari separuh baya ini.
"Apakah dia Pangeran Iblis, Paman?" tanya Rangga.
Suaranya terdengar sangat pelan, dan hampir saja tidak terdengar.
"Tidak ada lagi iblis cabul keparat selain dia, Rang-ga. Huh! Aku belum puas
kalau belum bisa memenggal
kepalanya," sahut Arya Sempana mendengus berang.
"Nanti bisa dilakukan, Paman. Yang penting sekarang, kita harus selamatkan dulu Gusti Adipati Utayasena dari kurungan," kata
Rangga berusaha meredakan amarah laki-laki itu. "Kau tahu, di mana tempatnya kan, Paman...?"
"Ikuti aku," ajak Arya Sempana.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka segera
bergerak menyusuri bagian belakang dinding tembok
bangunan istana kadipatenan ini. Rangga sengaja berjalan di belakang, mengikuti
Arya Sempana. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menjaga kalau-kalau
ada prajurit penjaga lewat.
Beberapa jendela kamar dilewati. Hingga akhirnya,
mereka sampai di sebuah pintu yang terbuat dari jeruji besi berwarna hitam
pekat. Sebentar Arya Sempana
mengamati keadaan di balik pintu berjeruji itu.
"Hanya ada dua orang penjaga, Rangga. Tepat di
depan pintu masuk ke dalam kamar tahanan," jelas
Arya Sempana. "Kau bisa bereskan mereka, Paman?"
"Anak kecil pun bisa, Rangga."
Rangga hanya tersenyum saja. Memang jelas kalau
tingkat kepandaian yang dimiliki Arya Sempana tentu jauh lebih tinggi daripada
para prajurit di Kadipaten Wurungga ini.
"Kau tunggu saja dulu di sini, Rangga. Aku masih
bisa bebas keluar masuk di dalam istana kadipaten ini.
Selama ini, aku berpura-pura mematuhi perintah Pangeran Iblis," kata Arya Sempana.
Rangga hanya menganggukkan kepala saja. Sementara, Arya Sempana mendekati pintu berjeruji besi itu.
Dia berdiri tegak di depan pintu dengan sikap dibuat angkuh sekali, begitu
melihat dua orang prajurit penjaga bergegas menghampiri.
"Gusti..., ada perlu apa malam-malam datang ke sini?" tanya salah seorang prajurit.
"Bukakan pintu!" perintah Arya Sempana tegas.
"Tapi...."
"Buka kataku, cepat..!"
Kedua prajurit itu tampak bimbang. Mereka saling
berpandangan sejenak, kemudian salah seorang membuka pintu berjeruji besi itu. Arya Sempana melangkah masuk dengan ayunan kaki
begitu tenang. Dan ketika
berada di antara dua orang prajurit yang masih berusia muda, mendadak saja....
"Hih! Yeaaah...!"
Bet! Wuk! "Akh!"
"Hegkh...!"
Tidak ada lagi suara yang terdengar. Begitu cepat
Arya Sempana mengibaskan goloknya. Akibatnya, dua
orang prajurit penjaga itu langsung terkapar tewas
dengan darah berhamburan dari dadanya yang terbelah. Arya Sempana segera memanggil Rangga. Kemudian, disingkirkannya tubuh dua orang penjaga itu,
dan disembunyikan di balik lekukan dinding batu.
"Ayo, Rangga. Cepat kita bebaskan Gusti Adipati,"
ajak Arya Sempana.
Tanpa berbicara lagi, mereka bergegas menyusuri
lorong yang tidak begitu panjang, tapi sangat gelap.
Hanya ada beberapa buah obor terpancang di dinding, sehingga tidak memberikan
cahaya yang cukup untuk
menerangi lorong ini. Mereka lalu berhenti tepat di depan sebuah pintu yang
terbuat dari besi baja. Dan
tampaknya hanya ada sedikit lubang kotak pada bagian tengah atas pintu itu.
"Oh..."!"
"Ada apa, Paman...?"
*** Arya Sempana tidak bisa menjawab. Wajahnya kelihatan pucat sekali. Malah keringat juga sudah mengucur deras membasahi wajahnya
yang jadi seperti mayat itu. Rangga jadi heran tidak mengerti. Bergegas
disingkirkannya laki-laki berusia lebih dari separuh baya itu.
Kemudian, Pendekar Rajawali Sakti mengintip ke dalam dari lubang di pintu.
"Oh, tidak...," desis Rangga hampir tidak percaya
dengan apa yang dilihatnya di balik pintu besi.
Pendekar Rajawali Sakti melangkah mundur beberapa tindak. Sementara, Arya Sempana berdiri menyandarkan punggungnya di dinding samping pintu.
Wajahnya masih kelihatan pucat pasi. Saat itu, Rangga sudah mengepalkan kedua
tangannya di samping
pinggang. Dan....
"Hup...! Yeaaah...!"
Bet!

Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sambil menghembuskan napas panjang, Rangga
menghentakkan kedua tangannya. Dan kedua telapak
tangannya yang terbuka begitu menghentak ke depan
tadi, langsung menyentuh daun pintu besi ini. Maka
seketika itu juga, pintu yang terbuat dari besi baja tebal itu jebol.
Brak! "Hup!"
Rangga cepat-cepat menerobos masuk ke dalam, di
antara debu-debu yang menghalangi pandangannya
sesaat. Kemudian kakinya bergegas melangkah menghampiri sesosok tubuh gemuk yang tergantung di tengah-tengah ruangan berukuran tidak begitu besar ini.
Seluruh dinding ruangan terbuat dari batu, dan tidak ada jendela satu pun.
"Paman, bantu aku. Cepat..!" seru Rangga.
Arya Sempana bergegas masuk. Tanpa diminta dua
kali, dibantunya Rangga menurunkan sosok tubuh laki-laki tua bertubuh gemuk yang tergantung dengan
rantai besi. Tidak terlalu sulit untuk menurunkannya.
Tapi tubuh yang gemuk itu memang berat. Bahkan,
Arya Sempana sendiri hampir-hampir terjatuh saat
menahannya. Dan mereka lalu membaringkan tubuh
yang sudah tidak bernyawa itu di lantai batu yang dingin dan kotor berdebu ini.
"Gusti..., kenapa kau lakukan ini...?" keluh Arya
Sempana tidak bisa menahan kesedihan, melihat adipatinya sudah tidak bernyawa lagi dalam keadaan gantung diri.
"Sudahlah, Paman. Tidak perlu disesali. Mungkin
Gusti Adipati tidak kuat lagi menahan penderitaan.
Sebaiknya, kita bawa jasadnya dan dikebumikan sebagaimana layaknya," hibur Rangga, mencoba menenangkan perasaan Arya Sempana.
"Oh...."
Rangga ingin mengangkat tubuh adipati itu, tapi
Arya Sempana sudah lebih dulu mencegahnya. Dan
laki-laki tua itu sendiri yang memondongnya, walaupun tubuhnya lebih kecil. Tapi dengan pengerahan tenaga dalam, tubuh yang gemuk
itu bagaikan segumpal
kapas saja berada di dalam pondongannya. Mereka segera keluar dari dalam kamar tahanan ini, tanpa
membuang-buang waktu lagi.
Rangga sengaja berjalan paling depan, sambil mengawasi kalau-kalau ada penjaga yang lewat. Mereka
langsung saja menuju bagian belakang istana kadipaten ini, dan terus menuju taman kaputren yang berada di bagian halaman belakang.
Tidak ada seorang penjaga pun dijumpai. Rupanya, Pangeran Iblis mengkhususkan para penjaganya di depan, sehingga mengabaikan bagian belakang bangunan besar yang dikelilingi pagar tembok bagal benteng
ini. Tanpa mendapatkan halangan apa-apa, mereka tiba
di taman kaputren, dan langsung keluar dengan melompati pagar tembok yang tingginya sekitar dua batang tombak. "Biar kugantikan, Paman," pinta Rangga, setelah
berada di luar.
Arya Sempana memandangi Pendekar Rajawali Sakti sejenak, kemudian menyerahkan tubuh Adipati
Utayasena yang sudah tidak bernyawa. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat sempurna, Pendekar Rajawali Sakti langsung berlari cepat menuju
rumah penginapan. Sementara, Arya Sempana mengikuti dari arah belakang. Dia juga mengerahkan ilmu
meringankan tubuh, tapi tetap saja tidak bisa menyamai kecepatan lari Pendekar
Rajawali Sakti.
Sebentar saja, mereka sudah tiba di depan jendela
kamar rumah penginapan. Pandan Wangi yang sejak
tadi menunggu, jadi terkejut melihat kedatangan
Rangga dan Arya Sempana. Bahkan, Pendekar Rajawali Sakti tengah membawa seorang laki-laki bertubuh
gemuk dalam pondongannya. Segera dibukanya jendela kamar penginapan itu lebar-lebar. Lalu dibiarkannya
Rangga melompat masuk ke dalam. Sedangkan Arya
Sempana mengikuti Pendekar Rajawali Sakti.,
"Siapa dia, Kakang?" tanya Pandan Wangi setelah
Rangga membaringkan tubuh adipati itu di atas pembaringan. "Adipati Utayasena," sahut Rangga.
"Adipati.." Kenapa dia, Kakang?" tanya Pandan
Wangi lagi. Rangga tidak bisa menjawab. Malah tubuhnya dihenyakkan di kursi sambil menghembuskan napas
panjang. Terasa begitu berat hembusan nafasnya. Sementara, Arya Sempana berdiri
saja membelakangi
jendela sambil memandangi tubuh Adipati Utayasena
yang terbujur kaku tak bernyawa lagi. Terlihat jelas sekali pada lehernya,
guratan merah bekas rantai yang menggantungnya di dalam kamar tahanan.
"Terlalu berat penderitaan yang harus ditanggungnya. Mungkin Gusti Adipati sudah tidak kuat lagi.
Gusti Adipati bunuh diri di dalam kamar tahanannya,
" jelas Arya Sempana dengan nada suara sendu.
"Oh...," Pandan Wangi hanya bisa mendesah saja.
Mereka semua jadi terdiam, tidak bicara lagi. Entah apa yang ada dalam pikiran
masing-masing. Sementara, Arya Sempana sudah duduk di tepi pembaringan.
Pandangan matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah Adipati Wurungga.
Kelihatan sekali kalau hatinya begitu sedih atas kematian penguasa kadipaten
yang begitu mengenaskan ini. Gantung diri di saat seluruh rakyatnya membutuhkan
seorang pemimpin yang bisa
mengusir pengaruh jahat yang disebarkan Pangeran
Iblis. "Aku tidak tahu lagi, bagaimana nasib kadipaten ini tanpa pemimpin. Semua rakyat
belum tahu kalau adipatinya...," Arya Sempana tidak melanjutkan katakatanya. Memang sulit sekali bagi laki-laki tua itu untuk
mengungkapkan perasaan hatinya dengan kata- kata.
Sementara, Rangga dan Pandan Wangi hanya diam saja. Mereka juga tidak bisa lagi membuka suara. Mereka tahu, apa yang bakal
terjadi bila seluruh rakyat tahu kalau adipatinya tewas gantung diri dalam kamar
tahanan. Maka sudah barang tentu, tidak ada seorang
pun yang sudi mempunyai pemimpin yang tidak dapat
menanggung penderitaan.
Mereka semua membutuhkan seorang pemimpin
yang kuat dan mampu menghadapi segala macam rintangan dan tantangan. Bahkan harus mampu mengusir pengacau seperti Pangeran Iblis. Kematian adipati yang bisa dikatakan
sebagai sesuatu yang sangat me-malukan ini, sudah barang tentu tidak mungkin
dis- ebarluaskan di seluruh wilayah Kadipaten Wurungga.
Karena akibatnya, martabat keluarga adipati akan
hancur. "Paman, apa masih ada keluarga adipati yang berada di luar kadipatenan?" tanya Rangga membuka suara, setelah cukup lama membisu.
"Hanya Gordan yang ada. Sedangkan seluruh keluarganya sudah tewas di tangan Pangeran Iblis. Tapi aku tidak tahu lagi, di
mana Gordan sekarang berada,"
sahut Arya Sempana.
"Apa sebaiknya kita kebumikan saja dulu, Kakang...," usul Pandan Wangi.
"Bagaimana, Paman?" Rangga malah melontarkan
pertanyaan pada Arya Sempana.
"Aku akan menyimpannya dulu di kuil. Aku tahu,
kuil yang belum terjamah Pangeran Iblis," sahut Arya Sempana. "Setelah itu, aku
akan membuat perhitun-gan terhadap Pangeran Iblis."
"Kami berdua pasti bersamamu, Paman," ujar Pandan Wangi. "Terima kasih," ucap Arya Sempana, terharu.
*** 6 Rangga terpaksa membiarkan Arya Sempana membawa jasad Adipati Utayasena malam ini juga. Sedangkan laki-laki tua itu tidak
mau ditemani. Padahal,
Rangga sudah menyediakan diri untuk mengawalnya.
Maka dengan perasaan berat, Pendekar Rajawali Sakti mengantarkan, walaupun hanya
sampai di perbatasan
kota. Sedangkan Pandan Wangi tetap menunggu di dalam kamar penginapan.
Setelah mengantarkan Arya Sempana sampai di
perbatasan kota, Rangga tidak langsung ke rumah
penginapannya. Sengaja diambilnya jalan memutar
melalui tanah perkebunan rakyat kadipaten ini. Tidak ada seorang pun yang
dijumpainya, hingga tiba di bagian belakang istana kadipatenan. Keadaan di
sekitar istana itu masih tetap kelihatan sunyi. Tak ada seorang pun yang
terlihat. Sinar mata Pendekar Rajawali Sakti begitu tajam,
mengamati keadaan sekitarnya. Sebentar kepalanya
menengadah ke atas, menatap langit yang kelihatan
begitu hitam, tertutup awan tebal. Angin pun bertiup cukup kencang, menebarkan
udara dingin yang menggigilkan tubuh. Tapi, udara yang begitu dingin sama sekali
tidak dirasakan Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan kakinya terayun mendekati
dinding pagar belakang yang terbuat dari batu setinggi dua batang tombak lebih itu.
Namun begitu berada dekat dengan dinding tembok
batu ini, tiba-tiba saja....
Srak! "Heh..."!"
Rangga jadi tersentak kaget setengah mati, begitu
tiba-tiba di sekelilingnya bermunculan orang-orang
berpakaian seragam prajurit. Mereka muncul dari balik pepohonan dan semak
belukar yang banyak tubuh di
sekitar bagian belakang bangunan istana kadipatenan ini. Dan sebentar saja
Pendekar Rajawali Sakti sudah terkepung. Tidak ada lagi celah baginya untuk bisa
meloloskan diri, ketika sudah terkepung oleh tidak kurang dari lima puluh orang
berseragam prajurit kadipaten bersenjatakan tombak dan pedang terhunus.
"Ha ha ha...!"
"Hm...."
Rangga hanya menggumam kecil saja, ketika tibatiba saja terdengar tawa yang begitu keras menggelegar. Kepalanya mendongak
sedikit, maka, tampaklah
di bibir atas tembok pagar batu ini sudah berdiri seorang pemuda berwajah
dingin, dan kelihatan pucat seperti mayat. Pakaiannya putih bersih dan agak
ketat, dengan ikat pinggang dari kain berwarna kuning kee-masan. Sebilah pedang
tampak tergantung di pinggangnya yang cukup ramping.
Rambutnya yang hitam lebat, terikat agak tergelung
ke atas. Sementara bagian sampingnya dibiarkan meriap dipermainkan angin. Dia berdiri congkak sekali sambil berkacak pinggang.
Sedikit Rangga menggeser
kakinya, merenggangkan jarak dengan dinding tembok
pagar batu ini. Matanya terus menatap tajam pada
pemuda berbaju putih yang wajahnya pucat seperti
mayat. Dan pemuda itu juga membalasnya tidak kalah
tajam. Matanya memancarkan cahaya kebengisan, seperti harimau yang tengah kelaparan melihat seekor
domba gemuk. Rangga menaksir kalau usia pemuda
itu sekitar dua puluh lima tahun, sebaya dengan dirinya. "Tikus busuk..! Apa yang kau lakukan di sini,
heh"!" lantang sekali nada suara pemuda berwajah
pucat seperti mayat itu.
"Aku sedang jalan-jalan mencari udara segar," sahut Rangga kalem. Namun, nada suaranya terdengar
agak ditekan. "Kau bawa pedang. Aku tidak percaya kalau kau
hanya berjalan-jalan saja mencari angin," dengus pemuda itu ketus. "Katakan yang
benar, apa yang kau
lakukan di tengah malam begini...?"
"Sudah kukatakan, aku...."
"Keparat..! Hih!"
Wusss! "Heh..."! Hup!"
Rangga jadi terkejut setengah mati, begitu tiba-tiba saja tangan pemuda bermuka
pucat itu menghentak ke
arahnya. Dan dari telapak tangan kanannya yang terbuka, melesat deras secercah cahaya kemerahan bagai api ke arah Pendekar
Rajawali Sakti.
Rangga cepat melenting ke udara menghindari serangan lawan, cahaya merah bagai api itu lewat tanpa menyentuh tubuhnya sedikit
pun juga. Dan cahaya itu langsung menghantam tanah tepat di belakangnya.
Maka seketika satu ledakan keras pun terdengar
menggelegar, begitu cahaya merah menghantam tanah.
"Bagus...! Sudah kuduga, kau pasti punya maksud
tertentu berada tengah malam di sini," dengus pemuda bermuka pucat itu dingin.
"Hm...," Rangga hanya menggumam perlahan saja.
"Heh...! Kau tahu siapa aku, hah..."! Aku Gagak
Gumilang yang menguasai seluruh wilayah Kadipaten
Wurungga ini. Dan kau berada di wilayah kekuasaanku tanpa izin. Jadi, harus mendapat hukuman yang
setimpal!"
"O.... Rupanya kau yang bernama Pangeran Iblis
itu...," desis Rangga, terdengar sinis sekali nada suaranya.
"Nah, sekarang kau sudah tahu siapa aku. Cepat
berlutut, dan sembah aku...!" perintah Gagak Gumilang lantang menggelegar.
"Hanya satu yang kusembah. Dan yang pasti, bukan manusia iblis sepertimu, Pangeran," tegas Rangga.
"Keparat..! Kau harus mampus...!" geram Gagak
Gumilang berang, melihat sikap Rangga yang jelasjelas menantangnya.
Wajahnya yang sudah pucat seperti mayat, semakin
terlihat pucat. Dan sorot matanya begitu tajam memerah, bagai sepasang bola api
yang hendak membakar
habis seluruh tubuh Rangga. Terdengar suara gerahamnya bergemeletuk menahan geram. Perlahan tangan kanannya bergerak, dengan jari telunjuk menuding lurus ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Bunuh tikus keparat itu...!"
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
"Hup!"
Belum lagi hilang teriakan perintah Pangeran Iblis, pemuda-pemuda berpakaian
seragam prajurit kadipaten yang memang sudah mengepung, langsung saja


Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berlompatan menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan kecepatan bagai kilat Pendekar Rajawali
Sakti melesat tinggi ke udara. Dan belum juga tubuhnya bisa diputar, mendadak
saja.... Wusss...! "Ikh! Hap...!"
Cepat-cepat Rangga melenting dan berjumpalitan di
udara, begitu tiba-tiba saja Pangeran Iblis menyerangnya dengan pukulan jarak
jauh yang memancarkan
cahaya merah bagai api itu.
*** Kilatan cahaya merah itu lewat sedikit saja di dalam
putaran tubuh Rangga. Lalu dengan cepat sekali tubuhnya meluruk turun. Dan sebelum terdengar ledakan keras menggelegar dari sebatang pohon yang hancur terhantam cahaya merah itu, kedua kaki Pendekar Rajawali Sakti sudah
menjejak tanah.
"Hiyaaat..!"
Langsung saja Rangga berlompatan sambil melepaskan beberapa pukulan beruntun yang sangat cepat
dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Walaupun
jurusnya dikerahkan hanya tingkat pertama, tapi mengandung pengerahan tenaga
dalam yang sudah mencapai tingkatan sempurna. Dan gerakannya begitu cepat, sehingga sulit untuk diikuti pandangan mata biasa.
"Menyingkir kalian, kalau tidak mau mati sia-sia...!"
seru Rangga lantang menggelegar. "Yeaaah...!"
Namun, tak ada yang menggubris peringatan Rangga. Maka.... Buk! "Akh...!"
Salah seorang prajurit yang berada paling dekat,
seketika terpental begitu terkena pukulan yang dilepaskan Rangga. Begitu
kerasnya, sehingga prajurit berusia muda itu langsung tewas, setelah tubuhnya
menghantam tanah. Tapi, prajurit-prajurit lain sudah cepat merangseknya tanpa
kenal ampun. Terpaksa
Rangga harus berjumpalitan menghindari setiap serangan. Dan cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti selalu dapat membalas dengan
melepaskan pukulanpukulan dahsyat bertenaga dalam sempurna.
Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi sudah sejak tadi terdengar saling susul, disusul tubuh-tubuh tak bernyawa yang ambruk
bergelimpangan. Satu per-satu para prajurit itu terpental, dan jatuh keras di
tanah tanpa nyawa.
"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Agaknya Rangga tidak mau lagi memperlambat pertarungan yang tidak diinginkannya. Dengan kecepatan bagai kilat, Pendekar
Rajawali Sakti berlompatan sambil melepaskan beberapa kali pukulan keras dan beruntun. Maka jeritan-jeritan panjang melengking tinggi pun
semakin sering terdengar, disusul ambruknya tubuhtubuh yang tidak bernyawa lagi. Hingga dalam waktu
tidak berapa lama saja, sudah lebih dari separuh jumlah prajurit yang
bergelimpangan.
"Munduuur...!"
Prajurit-prajurit berusia muda itu langsung berlompatan mundur, begitu terdengar teriakan keras menggelegar bernada memerintah. Dan belum lagi suara
yang keras menggelegar itu menghilang dari pendengaran, dari atas dinding tembok
pagar batu ini melesat sebuah bayangan putih. Dan tahu-tahu, di depan
Rangga sudah berdiri Pangeran Iblis. Begitu cepat dan sangat ringan gerakannya,
sehingga Rangga sendiri
hampir tidak mendengar kedatangannya.
"Kau jelas bukan orang sembarangan, Kisanak. Katakan, siapa namamu"! Dan, apa tujuanmu datang ke
sini malam-malam?" terdengar dalam sekali nada suara Pangeran Iblis.
"'Namaku Rangga. Kedatanganku ke sini memang
sengaja untuk bertemu denganmu, Pangeran Iblis. Kau tentu sudah tahu, apa maksud
kedatanganku malam-malam begini," sahut Rangga kalem, namun bernada
tegas sekali. "Ha ha ha...!" Gagak Gumilang tertawa terbahakbahak. Suara tawa laki-laki berjuluk Pangeran Iblis itu begitu menggelegar terdengar.
Jelas sekali kalau suara itu disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah tinggi
tingkatannya. Bahkan daun-daun pepohonan yang
banyak tumbuh di sekitar bagian luar tembok benteng istana kadipatenan, langsung
berguguran. Demikian
pula prajurit-prajurit yang ada di sekitar tempat itu, yang juga langsung
menutup telinga.
"Kau akan mampus di sini, Kutu busuk!" bentak
Gagak Gumilang geram mendengar tantangan Rangga
yang terbuka tadi.
"Lihat saja nanti. Kau atau aku yang akan mengisi
lubang kubur," dengus Rangga, menanggapi dengan
sikap dingin. "Phuih! Bersiaplah...!"
Pangeran Iblis langsung saja menyilangkan kedua
tangannya di depan dada, bersiap-siap membuka serangan. Sorot matanya terlihat begitu tajam, menusuk langsung ke bola mata
Rangga. Sedangkan Pendekar
Rajawali Sakti masih kelihatan berdiri tegak dengan tenang. Tubuhnya belum
bergerak sedikit pun. Bahkan kedua kakinya bagaikan tertanam kuat di atas
permukaan tanah yang sedikit berumput ini.
Beberapa saat lamanya mereka saling berpandangan dengan sinar mata yang sangat tajam, seakanakan tengah mengukur tingkat kepandaian masingmasing. Saat itu, Pangeran Iblis sudah menggeser kakinya ke kanan perlahan-lahan menyusuri tanah. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sehingga sedikit pun tidak
terdengar suara saat kakinya bergerak.
Namun belum juga ada yang bergerak melakukan
serangan, tiba-tiba saja ...
"Hiyaaat..!"
"Heh..."!"
"Hah! Hup...!"
Bukan hanya Gagak Gumilang yang tersentak, begitu tiba-tiba saja terlihat sebuah bayangan hitam melesat begitu cepat bagai
kilat menuju ke arahnya. Bahkan Rangga juga jadi kaget setengah mati. Cepatcepat Pendekar Rajawali Sakti melompat mundur sejauh tiga langkah. Dan pada saat
yang bersamaan, Pangeran Iblis membanting tubuhnya ke tanah. Lalu tubuhnya
bergulingan beberapa kali, tepat di saat terlihat sebuah kilatan cahaya
keperakan yang begitu cepat menyambar ke arah kepalanya tadi.
"Hup!"
Dengan gerakan yang sangat manis dan ringan,
Pangeran Iblis melenting. Tubuhnya berputaran sejenak, lalu kembali berdiri dengan kedua kakinya yang kokoh di atas permukaan
tanah. Namun belum juga
bisa menarik napas, kembali terlihat sosok bayangan hitam berkelebat begitu
cepat menerjang ke arahnya.
Bahkan gerakannya disertai kilatan cahaya keperakan yang berkelebat begitu
cepat, hingga arahnya sulit diikuti pandangan mata biasa.
"Hiyaaat..!"
"Hup! Yeaaah...!"
Sedikit sekali Pangeran Iblis mengegoskan kepala,
hingga kilatan cahaya keperakan yang ternyata dari
sebilah pedang itu lewat di depan wajahnya. Dan pada
saat yang bersamaan, tangan kirinya menghentak ke
depan, melepaskan satu pukulan lurus yang begitu
cepat dan disertai pengerahan tenaga dalam tingkat
tinggi. "Haiiit..!"
Namun sosok tubuh berpakaian serba hitam itu lebih cepat lagi melenting ke atas. Dan tahu-tahu, tubuhnya sudah meluruk deras,
sambil mengebutkan
pedang beberapa kali ke arah kepala Pangeran Iblis.
"Setan! Phuih...!"
*** Gagak Gumilang jadi geram setengah mati. Terpaksa tubuhnya harus berjumpalitan menghindari setiap
serangan yang datang begitu gencar bagaikan air hujan yang ditumpahkan dari langit. Beberapa kali ujung pedang bercahaya keperakan
itu hampir menebas kepalanya, namun masih bisa dihindari. Walaupun, dengan hati geram dan terus menyumpah serapah.
"Hiyaaat..!"
Begitu mendapatkan satu kesempatan yang sangat
sedikit Pangeran Iblis tidak menyia-nyiakannya. Secepat kilat tubuhnya melenting
ke belakang, dan langsung melesat tinggi ke atas. Dan pada saat itu juga, tangan kanannya berkelebat
dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Sret! Wuk! Begitu cepat gerakan tangan Pangeran Iblis, sehingga sulit sekali diikuti pandangan mata biasa. Dan ta-hu-tahu, di dalam genggaman
tangannya sudah tergenggam sebilah pedang yang memancarkan cahaya
merah bagai kobaran api. Pemuda berwajah pucat seperti mayat itu langsung mengebutkan pedangnya ke
arah sosok berpakaian serba hitam yang tiba-tiba menyerangnya.
"Yeaaah...!"
Bet! "Hih!"
Wuk! Trang...! Kilatan bunga api seketika terlihat memijar ke sega-la arah, begitu dua pedang
berada di udara. Tampak
mereka sama-sama melompat ke belakang sambil berputaran di udara beberapa kali. Dan hampir bersamaan, mereka menjejak di tanah. Namun....
"Ha ha ha...!"
Suara tawa Gagak Gumilang yang selama ini disebut Pangeran Iblis seketika terdengar meledak keras, begitu melihat pedang di
tangan orang berpakaian serba hitam sudah terpenggal, tinggal gagangnya saja.
Entah ke mana mata pedang orang berbaju serba hitam itu. "Tikus-tikus busuk...! Kalian datang ke sini hanya
mencari mampus saja! Huh...!" dengus Gagak Gumilang dingin. Bet! Indah sekali gerakan tangan Pangeran Iblis saat
mengebutkan pedangnya hingga tersilang di depan dada. Dan perlahan-lahan kakinya bergegas ke depan.
Sorot matanya begitu tajam, menusuk langsung ke bola mata orang berpakaian serba hitam yang menutupi
seluruh wajah dan kepalanya dengan kain hitam pula.
Hanya bagian matanya saja yang terlihat.
Dan pada saat itu, terlihat puluhan orang berlarilari menghampiri tempat ini. Pangeran Iblis tersenyum setelah tahu kalau yang
datang adalah prajurit-prajurit yang berpihak kepadanya. Tampak berlari paling
de- pan seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun, sebaya dengan pemuda
berwajah pucat seperti
mayat itu. "Gusti! Biarkan mereka aku yang bereskan," pinta
pemuda itu setelah dekat dengan Pangeran Ibis.
"Hm..., Barada. Kau habisi saja orang tidak tahu di-ri itu!" dengus Gagak
Gumilang sambil menunjuk ke
arah orang berpakaian serba hitam yang seluruh kepa-la dan wajahnya terselubung
kain hitam pula.
"Baik, Gusti Pangeran," sahut pemuda yang ternyata memang Barada. "Hup...!"
Setelah membungkuk memberi hormat, Barada
langsung saja melompat mendekati orang berpakaian
serba hitam yang kini sudah tidak memiliki senjata la-gi. Begitu indah dan
ringan gerakannya, sehingga
hampir tidak terdengar suara saat kakinya mendarat
tepat lima langkah lagi di depan orang berpakaian serba hitam yang belum
diketahui siapa sebenarnya.
"Kau lawanku, Orang Hitam!" dengus Barada dibuat
dingin nada suaranya.
Srat! Langsung saja pemuda itu mencabut pedangnya
yang berukuran cukup panjang, dan menyilangkannya
di depan dada. Sorot matanya terlihat begitu tajam, menembus langsung ke bola
mata orang berpakaian
serba hitam di depannya. Dan perlahan-lahan, kedua
kakinya bergerak menyilang ke samping, sambil tetap menyilangkan pedangnya.
Tapi, kini pedangnya sudah
berada tepat di depan ujung hidungnya.
"Yeaaat..!"
"Yeaaah...!"
*** 7 Pertarungan pun tidak dapat dihindari lagi Barada
langsung memberikan serangan-serangan yang begitu
cepat dengan permainan pedang yang sudah mencapai
tingkat tinggi sekali. Sementara orang berpakaian serba hitam itu terpaksa harus
berjumpalitan, menghindari setiap serangan yang datang beruntun itu.
Dan memang, kelihatannya Barada tidak sudi
memberi kesempatan lawannya untuk membalas serangan. Dia terus saja mencecar menggunakan jurusjurus tingkat tinggi yang gerakannya sangat cepat dan berbahaya sekali. Sedikit
saja kelengahan, bisa men-gakibatkan kematian bagi lawannya. Tapi gerakangerakan tubuh orang berpakaian serba hitam itu memang tidak bisa dikatakan ringan lagi. Begitu cepat, hingga sangat sulit bagi
Barada untuk bisa mendesak-nya.
Dalam waktu tidak berapa lama saja, pertarungan
sudah berjalan sepuluh jurus. Tapi sedikit, pun belum ada tanda-tanda kalau
Barada bisa mengalahkan lawan. Bahkan untuk mendesak saja, masih mengalami
kesulitan. Dan ini tentu saja membuat pemuda itu jadi bertambah berang setengah
mati. "Setan keparat! Kubunuh kau. Hiyaaat..!"
Barada benar-benar geram setengah mati, melihat
lawannya begitu tangguh. Padahal, lawannya tidak
menggunakan senjata apa-apa. Sedangkan dia sendiri
memegang pedang. Tapi sudah lebih dari sepuluh jurus, belum juga bisa dirobohkannya. Mendesak saja,
terasa sulit sekali. Gerakan-gerakan orang berpakaian serba hitam itu memang


Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

cepat luar biasa, sehingga sulit bagi Barada untuk bisa memasukkan serangan.
"Cukup untuk bermain-main, Barada! Yeaaah...!"
Sambil berteriak keras menggelegar, orang berpakaian serba hitam itu melesat tinggi ke udara, tepat di saat Barada menusukkan
pedangnya ke depan dada
lagi. Dan lesatannya ternyata membuat Barada jadi
kebingungan. Namun belum juga bisa berbuat sesuatu, mendadak....
"Yeaaah...!"
"Oh..."!"
Barada hanya bisa terlongong. Dan saat itu juga....
Prak! "Aaa...!"
Satu hantaman yang sangat keras mendarat tepat
di atas kepala Barada. Akibatnya, pemuda itu menjerit melengking tinggi. Tampak
kepalanya pecah dengan
darah mengucur deras. Hanya sebentar saja Barada
masih mampu berdiri, kemudian tubuhnya limbung
dan ambruk ke tanah tak bernyawa lagi. Sedikit pun
tidak ada gerakan pada tubuhnya. Pemuda itu telah
tewas sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Sementara orang berpakaian serba hitam yang belum bisa dikenali wajahnya, sudah menjejak kembali
di tanah. Perlahan tubuhnya berputar dan kembali
berhadapan dengan Gagak Gumilang yang selama ini
dijuluki Pangeran Iblis.
Phuih!" Sambil menyemburkan ludahnya, Gagak Gumilang
melangkah perlahan-lahan menghampiri orang berpakaian serba hitam yang seluruh wajah dan kepalanya
masih ditutupi kain hitam. Sorot matanya terlihat begitu tajam, seakan hendak
menembus langsung ke bola
mata orang berpakaian serba hitam itu.
Sementara, Rangga yang tidak mendapat kesempatan bertarung, hanya diam saja memperhatikan. Tapi
sesekali pandangannya beredar ke sekeliling, menjaga kalau-kalau para pemuda
yang berpakaian seragam
prajurit kadipaten berbuat curang.
Dan tampaknya para prajurit tidak ada yang bertindak, tanpa menunggu perintah dari Pangeran Iblis.
Mereka hanya diam saja, tapi tetap membentuk lingkaran mengepung rapat tempat
ini. Cukup banyak juga
jumlahnya. Dan kalau mereka dikerahkan untuk menyerang, sudah barang tentu akan sulit dihadapi. Tapi bagi Pendekar Rajawali
Sakti, jumlah seperti itu tidak-lah menjadi persoalan. Dengan hanya mengerahkan
aji 'Bayu Bajra', mereka bisa dihalau dengan mudah.
Hanya saja, Rangga tidak akan ingin menggunakannya. Pendekar Rajawali Sakti tidak ingin bangunan istana kadipaten yang megah
itu hancur terkena ajian
yang sangat dahsyat. Sebuah aji kesaktian yang bisa menimbulkan bencana angin
topan sangat dahsyat
Sementara, Gagak Gumilang sudah berada sekitar
lima langkah lagi di depan orang berpakaian serba hitam ini. Pedangnya yang
memancarkan cahaya merah
membara bagai api, masih tergenggam menjulur lurus
di samping tubuhnya. Dan perlahan-lahan pedangnya
diangkat lurus-lurus ke depan, hingga ujungnya tertu-ju langsung ke dada orang
berpakaian serba hitam di depannya.
"Kau harus mampus, Keparat! Sudah terlalu banyak kerugian yang kuderita...!" desis Gagak Gumilang dingin menggetarkan.
Tapi orang berpakaian serba hitam itu hanya menggumam kecil saja. Sedikit kakinya bergeser ke kiri. Ta-pi Gagak Gumilang kembali
mengarahkan ujung pedang tepat ke dada.
"Bersiaplah, Setan Keparat!" desis Gagak Gumilang
masih tetap terdengar dingin sekali nada suaranya.
"Hm...."
"Hiyaaa...!"
"Hup! Yeaaah...!"
*** Kembali pertarungan berlangsung. Dan kali ini, Gagak Gumilang yang dikenal berjuluk Pangeran Iblis
melakukan serangan-serangan dengan jurus tingkat
tinggi yang sangat dahsyat. Pedangnya berkelebatan begitu cepat, hingga
bentuknya lenyap tak terlihat lagi.
Dan yang terlihat hanya kilatan cahaya merah saja
yang berkelebatan di sekitar tubuh orang berpakaian serba hitam itu.
Pada saat pertarungan sudah berjalan beberapa jurus, Rangga memalingkan mukanya sedikit ke kanan.
Dan saat itu, Pandan Wangi tampak tengah berdiri di atas tembok pagar batu
berupa benteng yang mengeli-lingi bangunan istana kadipaten. Gadis itu berdiri
tegak mengawasi jalannya pertarungan. Entah sudah berapa lama gadis yang berjuluk si Kipas maut itu bera-da di sana. Sementara di
sebelah kanannya, berdiri
Arya Sempana. Di lain tempat pertarungan antara Pangeran Iblis
melawan orang berpakaian serba hitam yang belum diketahui siapa sebenarnya terus berjalan semakin sengit saja. Teriakan-teriakan
keras menggelegar terdengar bagaikan hendak meruntuhkan langit. Dan malam
pun terus berjalan terasa lambat. Udara dingin yang bertiup agak kencang sama
sekali tidak dirasakan lagi, tertimpa suasana yang begitu panas membakar dada.
"Hiyaaat..!"
Tiba-tiba saja Gagak Gumilang memutar tubuhnya
ke bawah, begitu berada di udara. Dan bagaikan kilat, pedangnya disabetkan tepat
mengarah ke kaki lawan.
Tapi dengan kecepatan yang sangat mengagumkan,
orang berpakaian serba hitam itu melesat ke atas. Ma-ka sabetan pedang yang
memancarkan cahaya merah
bagai api itu masih bisa dihindarinya.
Dan pada saat yang bersamaan, mendadak saja
Pangeran Iblis cepat memutar tubuhnya kembali. Lalu bagaikan kilat dilepaskannya
satu pukulan menggele-dek dengan tangan kiri. Begitu cepat serangan susulannya sehingga orang berbaju serba hitam ini jadi tersentak kaget setengah
mati. "Hap!"
Tidak ada lagi kesempatan bagi orang berbaju serba
hitam itu untuk menghindar. Maka cepat-cepat kedua
tangannya disilangkan di depan dada. Sehingga, pukulan tangan kiri Gagak
Gumilang hanya menghantam
keras pergelangan tangannya.
Prak! "Akh...!"
Tampak orang berpakaian serba hitam itu terpental
sejauh enam langkah ke belakang, sambil mengeluarkan pekikan agak tertahan. Meskipun kakinya masih
bisa menjejak manis, tapi tak urung tubuhnya terhuyung-huyung juga ke belakang beberapa langkah.
"Ukh...!"
Terdengar keluhan yang pendek. Tampak orang
berpakaian serba hitam itu memegangi pergelangan
tangan kirinya. Jelas sekali kalau tulang pergelangan tangan kirinya remuk
akibat menahan pukulan Pangeran Iblis tadi.
"Mampus kau sekarang! Hiyaaat..!"
Sambil berteriak keras menggelegar, Gagak Gumilang melesat cepat sambil membabatkan pedang ke
arah kepala lawannya. Tapi begitu mata pedang yang
memancarkan cahaya merah hampir membelah kepala
orang berpakaian serba hitam, mendadak saja terlihat satu bayangan putih
berkelebat begitu cepat. Langsung disambarnya tubuh orang berpakaian serba hitam itu sambil melontarkan sebuah benda seperti batu kerikil ke arah Pangeran
Iblis. "Aih...!"
Gagak Gumilang jadi terperanjat setengah mati. Cepat-cepat tubuhnya melenting dan berputaran dua kali ke belakang. Kedua bola
matanya jadi terbelalak, begitu melihat benda yang berhasil ditangkapnya tadi
hanya sebuah kerikil kecil.
"Setan...!"
Sementara itu, orang berpakaian serba hitam yang
diselamatkan dari ancaman ke matian, tahu-tahu sudah berada di atas tembok benteng bersama Pandan
Wangi dan Arya Sempana. Tampak Rangga berdiri di
samping orang berpakaian serba hitam itu. Rupanya
Pendekar Rajawali Sakti yang menyelamatkan kepala
orang berpakaian serba hitam itu dari tebasan pedang Pangeran Iblis.
"Setan keparat..! Turun kalian semua...!" teriak Gagak Gumilang lantang
menggelegar. Pangeran Iblis kelihatan geram sekali atas tindakan Rangga yang menyelamatkan
lawannya. Sambil men-gacungkan pedang ke arah para pendekar itu, dia berteriak
keras menggelegar. Dan....
"Yaaah...!"
Wuk! "Awaaas...!"
Begitu Gagak Gumilang menghentakkan pedangnya, seketika itu juga dari ujungnya memancar dua
bola api yang langsung meluncur deras ke arah mereka yang berada di atas bibir tembok tebing.
Namun dengan gerakan yang sangat indah dan cepat mereka berlompatan turun menghindar. Dan seketika itu juga, terdengar satu ledakan dahsyat menggelegar. Tampak pagar tembok
yang tebal itu hancur
berkeping-keping terlanda bola api yang memancar keluar dari ujung pedang
Pangeran Iblis.
"Hiyaaa...!"
Gagak Gumilang rupanya sudah benar-benar marah tak tertahankan lagi. Begitu kaki Rangga menjejak tanah, kembali tangan
kanan Pangeran Iblis menghentak ke depan, setelah memindahkan pedang ke tangan
kiri. Dan dari telapak tangannya yang terkembang lebar, meluncur secercah cahaya
merah ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup! Hiyaaa...!"
*** Hanya dengan satu lesatan yang ringan sekali,
Rangga berhasil menghindari serangan Gagak Gumilang. Lalu kembali terdengar ledakan dahsyat menggelegar, ketika dinding pagar
tembok batu terkena hajaran cahaya merah dari telapak tangan Pangeran Iblis.
"Serang mereka...!" seru Gagak Gumilang lantang
menggelegar. "Hiyaaa...!"
"Yeaaa...!"
Seketika itu juga, para prajurit yang memang sejak
tadi sudah siap menunggu perintah, langsung berlompatan menyerang. Pandan Wangi, Arya Sempana, dan
orang berpakaian serba hitam segera berlompatan
dengan senjata masing-masing. Sementara, senjata
pedang orang berpakaian serba hitam itu dipungutnya dari seorang prajurit yang
tergeletak tewas tidak jauh dari kakinya. Dengan pedang itu, dia kembali mengamuk menghajar para prajurit yang menyerangnya.
Malam yang seharusnya hening, kembali dipecahkan oleh teriakan-teriakan keras menggelegar, disertai raungan dan jerit
melengking mengiringi kematian.
Saat itu juga, angin yang bertiup cukup kencang malam ini menyebarkan aroma anyir darah yang mengalir dari tubuh-tubuh
bergelimpangan tak bernyawa.
Sebentar saja, sudah tidak terhitung lagi prajurit
kadipaten itu yang ambruk tanpa nyawa. Sementara,
Rangga masih tetap menghadapi Gagak Gumilang yang
selama ini dikenal sebagai Pangeran Iblis yang ditakuti seluruh rakyat Kadipaten
Wurungga. Mereka masih
berdiri berhadapan, dan belum melakukan pertarungan. "Setan...!"
Gagak Gumilang jadi berang setengah mati, ketika
melihat para prajuritnya tidak ada yang bisa mendesak lawan-lawannya. Padahal,
lawan hanya tiga orang saja.
Tapi setiap gerakan tangan dan tubuh mereka selalu
menimbulkan jatuh korban di pihak prajurit.
"Kau harus mengganti semua nyawa para prajuritku, Setan Keparat..!" geram Gagak Gumilang, sambil menudingkan ujung pedang
ke arah dada Rangga.
"Nyawa orang sepertimu tidak ada harganya sama
sekali. Bahkan kau tidak lagi pantas hidup di dunia ini, Pangeran Iblis," desis
Rangga dingin menggetarkan.
"Phuih! Kau harus mampus di tanganku, Rangga!
"Lihat saja...."
"Phuih! Hiyaaat..!"
Sambil menyemburkan ludah dan berteriak keras
menggelegar, Pangeran Iblis melompat cepat bagai kilat menerjang Pendekar
Rajawali Sakti. Pedangnya yang
memancarkan cahaya merah bagai api, berkelebat begitu cepat di sekitar tubuh pemuda berbaju rompi putih ini. Tapi hanya menggunakan jurus 'Sembilan
Langkah Ajaib', Pendekar Rajawali Sakti berhasil
menghindarinya.
Bahkan beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti mematahkan serangan Pangeran Iblis, sebelum sampai di tujuannya. Dan ini tentu
saja membuat Pangeran Iblis jadi semakin geram. Maka jurus- jurusnya semakin diperhebat ke tingkatan yang sangat tinggi.
"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
Bet! Wuk! "Haiiit..!"
Beberapa kali Rangga terpaksa harus berjumpalitan
di udara, menghindari serangan-serangan Pangeran Iblis yang begitu gencar dan
tidak ada hentinya. Dan semakin lama, serangan-serangan yang dilancarkan
semakin bertambah dahsyat. Rangga cepat menyadari
kalau tidak akan mungkin bisa terus bertahan bila
hanya menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'.
"Hup! Hiyaaat..!"
"Sambil berteriak keras, Rangga melenting ke atas, tepat di saat Gagak Gumilang
membabatkan pedang ke
arah kaki. Dan beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti berputaran di udara. Lalu
dengan kecepatan yang sangat mengagumkan, tubuhnya meluruk deras. Dan pada saat yang sama, kedua kakinya berputaran cepat
sekali. Dari gerakannya itu, bisa diketahui kalau
Rangga mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.
Jurus itu sangat cepat dan dahsyat, sehingga Pangeran Iblis jadi terhenyak kaget sesaat. Namun cepat-cepat pedangnya diputar ke
atas kepala, hingga Rang-ga harus segera pula menarik serangannya kembali.


Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dan sebelum Pangeran Iblis bisa menurunkan pedangnya lagi, Pendekar Rajawali Sakti sudah cepat
memutar tubuhnya. Lalu bagaikan kilat, dilepaskannya satu pukulan keras dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat pertama, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.
"Hiyaaa...!"
Wuk! "Heh..."!"
Pangeran Iblis jadi tersentak kaget setengah mati,
melihat serangan yang begitu cepat dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti. Dan....
"Uts...!"
Sambil mengegoskan tubuh sedikit ke kanan, cepatcepat Pangeran Iblis membabatkan pedang dengan gerakan melintang ke arah depan tubuhnya. Dia memang berusaha melindungi diri dari incaran pukulan
tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti.
Wuk! "Hap!"
Cepat-cepat Rangga menarik pulang pukulannya,
lalu melompat ke belakang sejauh lima langkah. Sementara, Gagak Gumilang juga melompat tiga langkah
ke belakang. Kini, mereka berdiri berhadapan sambil mengatur pernapasan.
Sementara, pertarungan di tempat lain masih terus
berlangsung. Hanya saja sudah jelas bisa dipastikan, kalau prajurit-prajurit
kadipaten tidak mampu lagi
menghadapi tiga orang yang berkepandaian sangat
tinggi. Namun, ternyata mereka tidak juga merasa gentar. Bahkan terus saja
merangsek maju, walaupun sudah lebih dari separuhnya yang tewas.
*** "Hhh...!"
Pangeran Iblis mendengus sambil menghembuskan
napas panjang, begitu mengetahui kekuatan prajuritnya semakin berkurang saja.
Sedangkan dia sendiri,
begitu sulit menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. Dan sudah beberapa jurus
pertarungan berlangsung, pemuda berbaju rompi putih itu belum juga bisa didesaknya. "Huh! Biarkan mereka semua mampus! Sebaiknya,
aku pergi saja dari sini. Aku harus mencari kekuatan baru. Huh...! Kau tidak
akan bisa lolos dariku, Rangga...!" dengus Gagak Gumilang dalam hati.
Pangeran Iblis itu memang sudah merasa tidak
akan mungkin bisa bertahan lebih lama lagi. Apalagi menghadapi Pendekar Rajawali
Sakti seorang diri. Sedangkan kekuatan yang ada sekarang, sudah cukup
terkuras menghadapi Pendekar Rajawali Sakti.
"Awas...!" tiba-tiba saja Gagak Gumilang berseru
lantang. Dan seketika itu juga, tangan kanannya dikebutkan
cepat beberapa kali. Saat itu, terlihat beberapa bola api meluncur deras ke arah
Rangga. "Hup! Hiyaaa...!"
Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti harus melenting
ke atas, dan berjumpalitan beberapa kali menghindari serangan-serangan yang
dilancarkan Pangeran Iblis.
Dan pada saat Rangga sibuk menghadapi lontaran bola-bola api itu, cepat sekali Gagak Gumilang melesat meninggalkan tempat ini.
"Hei...! Jangan lari kau...!" seru Rangga terkejut.
Tapi Gagak Gumilang sudah begitu cepat melesat
pergi. Hingga dalam sekejapan mata saja, bayangan
tubuhnya sudah lenyap tertelan gelapnya malam.
"Hup! Hiyaaat..!"
Rangga tidak sudi membuang-buang waktu lagi.
Dengan cepat tubuhnya melesat mengejar, begitu bisa menghindari bola api yang
terakhir menyerangnya.
Dan pada saat yang bersamaan, orang berpakaian serba hitam itu melihat Pendekar Rajawali Sakti tengah melesat pergi mengejar
Pangeran Iblis.
"Hup! Hiyaaat..!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera melenting ke udara sambil cepat membabatkan
pedang beberapa kali. Maka lima orang lawannya seketika menjerit melengking
terbabat pedang. Sambil
mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah
mencapai tingkat tinggi, orang berbaju serba hitam itu terus melesat berlari
cepat mengejar Pendekar Rajawali Sakti.
"Pangeran Iblis itu pergi, Paman...!"
Rupanya Pandan Wangi juga melihat kepergian
Pangeran Iblis yang dikejar Rangga dan orang berpakaian serba hitam tadi.
"Apa..."!" seni Arya Sempana kurang jelas mendengar. "Pangeran Iblis kabur...!" Pandan Wangi mengulangi
dengan suara dikeraskan.
"Keparat..! Ayo kita kejar!" balas Arya Sempana.
"Hiyaaat..!"
Tanpa menghiraukan para prajurit yang menjadi
lawannya, Arya Sempana langsung saja melesat pergi, begitu Pandan Wangi juga
melesat cepat meninggalkan lawan-lawannya. Sementara prajurit-prajurit yang
jumlahnya tinggal sedikit itu jadi terlongong bengong.
Mereka tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukan, begitu melihat lawan-lawannya
lari dengan kecepatan
bagai kilat. Hingga dalam waktu sekejap mata saja, mereka sudah lenyap dari
pandangan. Sementara itu, Rangga yang mengejar Pangeran Iblis terus berlari dengan kecepatan penuh, menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai
pada tingkat kesempurnaan. Begitu sempurna ilmu
meringankan tubuh yang dikuasainya, sehingga kedua
kakinya bagaikan tidak menjejak tanah lagi. Dan di dalam kegelapan malam itu,
hanya bayangan tubuhnya
saja yang terlihat berkelebatan begitu cepat menuju utara.
"Hup! Hiyaaat..!"
Rangga mengempos seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuhnya. Dan saat itu juga, tubuhnya melesat tinggi ke angkasa. Lalu dengan ringan sekali, ujung jari kakinya menjejak
puncak pohon yang tertinggi.
"Hup!"
Sambil terus mengerahkan ilmu meringankan tubuh, Pendekar Rajawali Sakti berlompatan dari satu
pucuk pohon ke pucuk pohon lain. Memang hanya
dengan jalan inilah gerakannya bisa lebih cepat lagi, tanpa khawatir menabrak
pohon yang semakin rapat
saja tumbuh, setelah berada di luar perbatasan kota.
"Hup! Yeaaah...!"
*** 8 Begitu melihat bayangan putih berkelebat di antara
pepohonan, bagaikan seekor burung rajawali Rangga
melesat turun ke bawah dengan kecepatan luar biasa
sekali. Gerakannya begitu indah dan ringan, sehingga langsung saja berlari cepat
begitu kakinya menyentuh tanah.
"Hiyaaa...!"
Sambil mengempos tenaganya, Pendekar Rajawali
Sakti melesat begitu cepat, meluncur bagaikan sebatang anak panah lepas dari busur. Begitu cepatnya,
hingga pemuda berbaju rompi putih itu melesat melewati kepala Pangeran Iblis yang masih saja berlari dengan kecepatan tinggi.
"Heh..."!"
Gagak Gumilang yang lebih dikenal berjuluk Pangeran Iblis jadi tersentak setengah mati, begitu merasakan adanya hembusan angin
panas melewati bagian
atas kepalanya. Dan belum lagi hilang rasa terkejutnya, kembali dikejutkan oleh
munculnya Pendekar Rajawali Sakti. Dan tahu-tahu, pemuda berbaju rompi
putih itu sudah berdiri sekitar dua batang tombak di depannya.
"Jangan harap bisa lari dariku, Pangeran Iblis!
Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" terasa dingin sekali nada suara Rangga.
"Phuih...!"
Pangeran Iblis hanya menyemburkan ludahnya saja, menanggapi kata-kata Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan kakinya bergeser ke
kanan, dan segera mencabut kembali pedangnya yang tadi sudah tersimpan dalam warangka yang tergantung di pinggang.
Pedang bercahaya merah bagai memancarkan api
itu bergerak-gerak perlahan, melintang di depan dada.
Sementara Rangga tetap berdiri tegak, sambil melipat kedua tangannya di depan
dada. Namun sorot matanya terlihat begitu tajam, tanpa berkedip sedikit pun
memperhatikan setiap gerak yang dilakukan Pangeran
Iblis. "Kau hanya bermimpi bisa mengalahkan aku, Rangga," desis Gagak Gumilang dingin.
Rangga hanya diam saja, tanpa bergeming sedikit
pun juga. Sorot matanya masih tetap memancar dendam, memperhatikan setiap gerak yang dilakukan
Pangeran Iblis. Perlahan-lahan namun pasti, Gagak
Gumilang sudah semakin dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan pedangnya sudah terulur lurus ke depan. Mulutnya sedikit
menyeringai, bagai hendak
meruntuhkan nyali pemuda berbaju rompi putih ini.
"Mampus kau sekarang, Tikus Keparat! Yeaaah...!"
Bet! Cepat sekali Gagak Gumilang mengebutkan pedang
ke arah dada. Namun hanya sedikit mengegoskan tubuhnya, Rangga berhasil menghindari tebasan pedang
yang memancarkan cahaya merah dan berhawa panas
itu. "Yeaaah...!"
Gagak Gumilang terus menyerang dengan kebutan
pedang yang begitu cepat dan sangat dahsyat! Mau tak mau, Rangga terpaksa
menarik diri ke belakang sambil meliuk, menghindari setiap serangan yang sangat
cepat luar biasa itu.
"Hap...!"
Sambil melenting berputar, Pendekar Rajawali Sakti
melesat ke belakang sejauh satu batang tombak. Dan
begitu kakinya menjejak tanah, tangan kanannya sudah menggenggam gagang pedangnya.
"Hap!"
Sret! Cring...! "Heh..."!"
Gagak Gumilang jadi terbeliak, begitu melihat Pedang Pusaka Rajawali Sakti tercabut dari warangka.
Sungguh dahsyat pamor pedang itu. Seluruh mata pedangnya bersinar biru terang, sangat menyilaukan ma-ta. Sehingga, keadaan dalam
hutan di pinggiran Kota
Kadipaten Wurungga itu jadi terang benderang, seperti siang hari.
Wuk! Wuk...! Rangga mengayun-ayunkan pedangnya di depan
dada, sehingga menimbulkan suara bagaikan angin
topan yang menderu sangat dahsyat. Dan lagi, siapa saja yang mendengar, akan
membuat jantung bergetar.
Bahkan Gagak Gumilang sendiri jadi melangkah mundur beberapa tindak. Cahaya biru yang memancar dari pedang itu membuat
pandangannya jadi terhalang.
Bahkan matanya pun mulai terasa pedih.
"Phuih...!"
"Majulah, Pangeran Iblis. Kau akan merasakan kehebatan pedangku ini," tantang Rangga, langsung.
Begitu datar dan dingin nada suara Pendekar Rajawali Sakti, membuat hati Pangeran Iblis jadi agak bergetar juga mendengarnya.
Namun pemuda berwajah
pucat seperti mayat itu memang bukan orang sembarangan. Walaupun disadari akan menghadapi sebuah
senjata pusaka yang berpamor sangat dahsyat dengan
cepat kegentarannya bisa diusir. Bahkan sorot matanya semakin terlihat tajam. Wajahnya yang pucat
pasi seperti tak pernah teralirkan darah, jadi kelihatan semakin meregang kaku.
"Phuih!"
Gagak Gumilang kembali menyemburkan ludahnya.
Kemudian.... "Hiyaaat..!"
*** Sambil berteriak keras menggelegar, Pangeran Iblis
melompat seraya mengangkat pedang tinggi- tinggi ke atas kepala. Dan begitu
cepat sekali pedang kebang-gaannya dibabatkan ke atas kepala Rangga.
"Hiyaaa...!"
Aneh, Pendekar Rajawali Sakti tidak menggeser kakinya sedikit pun juga. Padahal, pedang Pangeran Iblis sudah hampir membelah
kepalanya! Untung pada saat
yang tepat, pedangnya cepat sekali dikebutkan secara menyilang di atas kepalanya
sendiri. Betapa terkejutnya Gagak Gumilang melihat tindakan Rangga. Apalagi, pedangnya tidak sempat lagi ditarik pulang. Sehingga....
Trang! "Ikh...!"
Gagak Gumilang terpekik kecil agak tertahan, begitu pedangnya beradu dengan Pedang Pusaka Rajawali
Sakti. Saat itu juga, tubuhnya terpental balik ke belakang dan berputaran
beberapa kali di udara. Tapi Pangeran Iblis cepat bisa menguasai keseimbangan
tu- buhnya, seraya menjejakkan kakinya kembali di tanah.
"Eh..."!"
Namun sesaat kemudian, kedua kelopak mata Pangeran Iblis jadi terbeliak lebar. Sulit dipercayai, kalau pedang yang selalu
dibanggakan kini tinggi sepotong!
Jelas pedang itu terpenggal buntung saat berbenturan dengan pedang milik
Pendekar Rajawali Sakti tadi.
"Keparat! Hiyaaat..!"
Amarah Gagak Gumilang sudah tidak tertahankan
lagi. Walaupun pedangnya tinggal sepotong lagi, laki-laki berjuluk Pangeran
Iblis itu langsung saja melompat menyerang. Dan pada saat itu, Rangga cepat mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Gerakangerakan tubuhnya begitu indah, seakan-akan sedang
menari. Pedangnya meliuk-liuk bagaikan seekor naga, mengimbangi gerakan-gerakan
pedang Pangeran Iblis
yang tinggal sepotong.
"Ukh...!"
Namun baru saja pertarungan itu berlangsung beberapa jurus, Pangeran Iblis sudah mengeluh. Entah
kenapa, kepalanya jadi terasa pening sekali. Dan pandangan matanya juga jadi
berkunang-kunang. Perha

Pendekar Rajawali Sakti 95 Pangeran Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tiannya langsung terpecah, hingga sulit sekali untuk mengerahkan jurus-jurusnya
dengan sempurna. Akibatnya, serangan-serangannya jadi berantakan tidak
teratur. Sementara, Rangga hanya berlompatan saja sambil
meliuk-liukkan tubuhnya, menghindari setiap serangan yang dilancarkan Pangeran Iblis. Tapi dari gerakannya, justru sebenarnya
bukan menghindar, melainkan mengikuti arah serangan pemuda berwajah
pucat itu. "Setan keparat! Phuih...!"
Beberapa kali Gagak Gumilang memaki dan menyemburkan ludahnya. Tapi semakin berusaha keras
mengerahkan jurus-jurusnya, semakin sulit saja dirinya dikendalikan. Bahkan perhatiannya pun semakin terasa terpecah.
"Setan...! Hiyaaat..!"
Gagak Gumilang melenting tinggi-tinggi ke udara,
lalu cepat sekali menukik turun sambil memutar pedangnya yang tinggal sepenggal.
"Hap!"
Namun, lagi-lagi Rangga tidak berpindah sedikit
pun juga. Pendekar Rajawali Sakti hanya menarik pedangnya ke atas kepala, sambil mengerahkan seluruh
kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat
terakhir. "Yeaaah...!"
Trang! "Akh...!"
Kembali dua pedang beradu keras di atas kepala
Pendekar Rajawali Sakti. Dan pada saat itu juga, terdengar pekikan keras agak
tertahan. Tampak Pangeran Iblis terpental cukup jauh ke belakang. Tubuhnya
langsung terhuyung-huyung sedikit, begitu kakinya
menjejak tanah.
"Setan keparat! Phuih...!"
Semakin bertambah geram saja Pangeran Iblis melihat pedangnya terpenggal sampai ke pangkal batang pegangan. Kini, tidak
mungkin lagi senjata kebang-gaannya bisa digunakan. Sambil mendengus menyemburkan ludah, Pangeran Iblis membuang senjata yang
tinggal gagangnya.
"Hap...!"
Pangeran Iblis cepat bersiap kembali melakukan
pertarungan, walaupun kini hanya tinggal mengandalkan tangan kosong saja. Namun melihat lawannya tidak lagi memegang senjata, Rangga pun segera memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung. Sehingga, keadaan di tempat pertarungan itu kembali terselimut kegelapan.
Memang, pantang bagi Pendekar Rajawali Sakti menggunakan senjata, setelah melihat lawannya tidak
menggunakan senjata lagi.
"Hm.... Rupanya dia akan mengerahkan ilmu kesaktian. Baik..., aku akan melayaninya dengan aji 'Cakra Buana Sukma'," gumam
Rangga dalam hati.
Pendekar Rajawali Sakti segera merapatkan kedua
telapak tangannya di depan dada. Dan perlahan-lahan, tubuhnya ditarik hingga
miring ke kanan. Kemudian
tubuhnya bergerak ke kiri, lalu berputar ke depan
hingga tegak kembali. Perlahan kemudian, kakinya di-rentangkan lebar-lebar,
hingga kedua lututnya tertekuk membentuk sudut runcing.
Sementara, Pangeran Iblis juga sudah bersiap hendak menyerang dengan pengerahan ilmu kesaktian
andalan. "Tahan serangan aji pamungkasku, Rangga...!" desis
Gagak Gumilang, dingin menggetarkan.
"Hm...," Rangga hanya menggumam saja sedikit.
Saat itu, pada kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti yang masih merapat di depan dada sudah terlihat secercah cahaya
biru yang menggumpal, seakan-akan hendak meledak ke luar. Sementara, Gagak
Gumilang sudah mulai menggeser kakinya ke depan
beberapa langkah. Gerakannya tampak begitu halus
dan ringan. Dan pada saat jaraknya tinggal sekitar tujuh langkah lagi dari
Pencakar Rajawali Sakti, tiba-tiba saja kedua tangannya dihentakkan ke depan
sambil berteriak keras menggelegar bagai guntur membelah
angkasa. "Hiyaaa...!"
Dan pada saat yang bersamaan....
"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaa....!"
Rangga juga menghentakkan kedua tangannya ke
depan, sambil berteriak keras menggelegar. Seketika itu juga, dari kedua telapak
tangannya memancar cahaya biru terang berkilau yang meluruk deras ke arah
Pangeran Iblis. Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali
Sakti. Padahal, dari kedua telapak tangan Gagak Gumilang yang sudah berwarna
merah belum memancarkan cahaya merahnya!
Cahaya biru yang keluar dari telapak tangan Rangga, cepat sekali menggulung seluruh tubuh Gagak
Gumilang. Akibatnya, Pangeran Iblis itu jadi tersentak kaget setengah mati.
"Hih! Yeaaah...!"
Gagak Gumilang cepat-cepat menghentakkan kedua
tangannya ke samping, tapi kembali tersentak kaget
setengah mati. Ternyata aji pamungkas yang dibanggakannya seakan tidak berarti sama sekali. Laki-laki berwajah pucat itu benarbenar tidak dapat lagi mengerahkan satu aji kesaktian pun, dengan tubuh
terselubung cahaya biru berkilauan menyilaukan mata ini.
"Ukh! Apa ini..."!"
Pangeran Iblis semakin terperanjat, begitu merasakan adanya satu tarikan yang begitu kuat menguras
tenaganya. Pangeran Iblis berusaha menahan menggunakan pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi. Tapi sungguh di luar dugaan, semakin kuat berusaha
melawan, semakin besar pula
kekuatannya terbuang keluar. Hingga akhirnya, kekuatan yang terus tersedot keluar tidak bisa dikendalikan lagi.
Pada saat pertarungan aji kesaktian itu berlangsung, terlihat orang berpakaian serba hitam muncul.
Kemudian disusul Pandan Wangi, lalu Arya Sempana
yang mengikuti dari belakang.
"Jangan didekati...!" seru Pandan Wangi langsung
mencegah, begitu melihat orang berpakaian serba hitam melangkah hendak menghampiri Gagak Gumilang.
Orang berpakaian serba hitam itu menghentikan
ayunan langkahnya. Dan kepalanya cepat berpaling,
menatap Pandan Wangi yang berdiri tidak jauh di belakangnya, didampingi Arya Sempana.
"Kenapa kau mencegahku, Pandan?" tanya orang
berpakaian serba hitam itu.
"Heh..."! Kau mengenal namaku...?" Pandan Wangi
jadi terkejut, mendengar orang berpakaian serba hitam yang belum diketahui
wajahnya sudah mengenal namanya.
"Kenapa aku tidak boleh mendekatinya, Pandan?"
orang berpakaian serba hitam itu tidak mempedulikan
keterkejutan Pandan Wangi.
"Kau akan celaka sendiri. Kakang Rangga tengah
mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma' yang sangat
dahsyat dan belum ada tandingannya," jelas Pandan
Wangi singkat. Walaupun hatinya masih merasa heran
pada orang berpakaian serba hitam itu.
Saat itu, tampak Rangga sudah mulai menggerakkan kakinya. Perlahan-lahan, dihampirinya Pangeran
Iblis. Dan begitu jaraknya tinggal sekitar dua langkah lagi....
"Hap...! Cepat sekali kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti
terangkat ke atas kepala. Dan begitu cahaya biru yang memancar dari kedua
telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti lenyap, seketika tubuh Gagak Gumilang
jatuh telentang di atas tanah berumput tebal ini.
"Ah...! Bunuh aku, Keparat..! Bunuh aku...!" bentak Gagak Gumilang putus asa.
Memang Pangeran Iblis merasa tidak ada lagi gunanya hidup dalam keadaan seluruh tubuh lumpuh,
akibat terkena aji 'Cakra Buana Sukma' tadi. Sedikit pun tubuhnya tidak bisa
lagi digerakkan. Tak terkecu-ali jari-jari tangannya!
Saat itu, Pandan Wangi, Arya Sempana, dan orang
berpakaian serba hitam sudah datang menghampiri.
Pandan Wangi langsung saja memeluk lengan kanan
Rangga dengan sikap manja dan penuh kasih.
"Dia sudah tidak lagi berbahaya, Paman. Kau bisa
mengadili dan memberinya hukuman yang setimpal
atas segala perbuatannya," kata Rangga, sebelum ada yang sempat membuka suara.
"Terima kasih, Rangga. Tapi hukuman yang pantas
untuknya nanti, tergantung keputusan rakyat," sahut Arya Sempana gembira.
Dan pada saat itu, orang berpakaian serba hitam
yang berdiri tepat di sebelah kanan Arya Sempana,
membuka selubung kain hitam yang menyelubungi
kepalanya sendiri.
"Gordan...!"
Bukan hanya Pandan Wangi saja yang terpekik kaget, tapi juga Rangga dan Arya Sempana. Ternyata
orang berpakaian serba hitam ini Gordan, pemuda
yang hampir mati kedinginan dan kelaparan kalau saja tidak ditolong Rangga
keluar dari perangkap batu yang ada di tepi jurang.
"Sebaiknya kita segera bawa saja iblis keparat ini ke kota, Paman. Biar rakyat
yang menentukan hukuman-nya," kata Gordan tegas.
"Baiklah. Tapi aku akan mengambil kuda dulu," sahut Arya Sempana.
Tanpa meminta persetujuan lagi, laki-laki tua itu
bergegas pergi meninggalkan tempat ini. Sementara,
Rangga dan Pandan Wangi sudah duduk berdampingan di atas sebatang pohon yang tumbang. Sedangkan
Gordan menjaga Pangeran Iblis yang sudah tidak berdaya sama sekali. Seluruh tubuhnya lumpuh, akibat
terkena serangan aji kesaktian Pendekar Rajawali Sakti tadi!
SELESAI Tukang Scan: Clickers
Juru Edit: Lovely Peace
PDF: Abu Keisel
https://www.facebook.com/pages/DuniaAbu-Keisel/511652568860978
Document Outline
*** *** *** 2 *** *** 3 *** *** *** 4 *** *** *** 5 *** *** *** 6 *** *** *** 7 *** *** *** *** 8 *** SELESAI Nenek Bongkok 1 Dewi Ular 65 Misteri Gerhana Bercinta Dendam Empu Bharada 29

Cari Blog Ini