Ceritasilat Novel Online

Tujuh Mata Dewa 2

Pendekar Rajawali Sakti 84 Tujuh Mata Dewa Bagian 2


untuk menghindari pukulan jarak jauh yang memancarkan
sinar merah dari jurus "Pukulan Maut Paruh
Rajawali" yang dilepaskan Pendekar Rajawali
Sakti. "Ghrrrk...!"
"Hm...."
Rangga menghentikan serangan setelah
Siluman Muka Kodok berhasil membuat jarak
sekitar dua batang tombak darinya. Memang
sangat dahsyat serangan-serangan dari rangkaian tiga jurus maut yang dilancarkan Rangga.
Akibatnya, napas Siluman Muka Kodok jadi mendengus-dengus, memperdengarkan suara menggorok yang sangat keras dan menyebarkan bau
busuk. Menyerang secara terus-menerus dan beruntun, ternyata juga membuat Pendekar Rajawali
Sakti harus mengatur jalan pernapasannya.
Secara jujur, diakui kalau lawannya kali ini benar-benar tangguh. Rangga sudah
mencoba meng- gabungkan tiga jurus dari rangkaian lima jurus
"Rajawali Sakti" sekaligus, tapi Siluman Muka Kodok masih bisa menandingi.
Bahkan tidak satu pun serangannya mencapai sasaran.
Gerakan-gerakan yang dilakukan Siluman
Muka Kodok memang cepat luar biasa. Apalagi,
Rangga memang belum pernah bertemu lawan
yang jurus-jurusnya sangat aneh seperti itu. Tapi, seluruh kemampuan yang
dimilikinya memang
belum dikeluarkan. Malah Pendekar Rajawali
Sakti juga belum menggunakan pedang pusaka
yang sudah terkenal keampuhannya.
Trek! Cring...!
Rangga langsung melompat mundur tiga
langkah ke belakang ketika Siluman Muka Kodok mematahkan tongkatnya jadi dua
bagian. Dan dari ujung patahan tongkat itu keluar rantai
hitam dengan bandulan bulat berduri, juga berwarna hitam pekat.
Wuk! Bet! Siluman Muka Kodok mengebutkan senjatanya yang kini menjadi dua bagian. Rantai dan
bandulan berduri di ujungnya tampak mengeluarkan api berkobar-kobar, memancarkan
hawa panas luar biasa. Begitu panasnya, sampaisampai Rangga menarik kakinya ke belakang beberapa langkah lagi.
"Ghrogk...!"
Wuk! Cepat sekali Siluman Muka Kodok mengebutkan senjatanya. Dan seketika itu juga, dari rantai berbandul bola besar berduri
memancar api yang meluruk deras ke arah Rangga.
"Hup!"
Cepat Rangga melenting ke atas, sehingga
pijaran api yang sangat panas membakar itu
lewat di bawah telapak kakinya. Tapi pada saat yang bersamaan, Siluman Muka
Kodok sudah mengebutkan ke atas satu senjatanya lagi yang berada di tangan kiri. Maka, api
kembali meluruk sangat cepat ke arah Pendekar Rajawali Sakti
yang berada di udara.
"Hat!"
Sret! "Yeaaah...!"
Memang tidak ada pilihan lagi bagi Rangga,
kecuali cepat-cepat mencabut Pedang Pusaka
Rajawali Sakti dari warangka di punggung. Dan secepat itu pula, pedangnya
dikebutkan ke depan untuk menyampok ujung lidah api yang
meluruk begitu cepat ke arahnya.
Glarrr...! Satu ledakan keras menggelegar seketika terjadi, begitu pedang di tangan Rangga yang memancarkan cahaya biru berkilau berbenturan
dengan ujung lidah api yang keluar dari senjata Siluman Muka Kodok.
Tampak Rangga terpental ke belakang sejauh
tiga batang tombak. Tapi, keseimbangan tubuhnya cepat bisa dikuasai dengan berputaran
beberapa kali di udara. Lalu, manis sekali kakinya kembali menjejak tanah.
Sementara, Siluman Muka Kodok juga terpental ke belakang sejauh dua batang tombak.
Dan keseimbangan tubuhnya juga cepat bisa
dikuasai. Dia lalu melakukan beberapa gerakan dengan kedua senjatanya yang
tergenggam di tangan kiri dan kanan. Keras sekali Siluman
Muka Kodok mendengus, sampai mengeluarkan
suara menggorok yang dapat menggetarkan
jantung siapa saja yang mendengarnya.
"Hap!"
*** Rangga cepat menyilangkan pedangnya di
depan dada. Sedangkan telapak tangan kirinya
sudah menempel pada mata pedang yang
memancarkan cahaya biru berkilauan, tepat di
bagian ujung dekat gagang. Tapi, Pendekar
Rajawali Sakti tidak jadi menggosok untuk
mengerahkan aji "Cakra Buana Sukma"nya. Hal
itu terjadi begitu melihat Siluman Muka Kodok menyatukan lagi senjatanya, hingga
kembali berbentuk sebatang tongkat dengan dua bandulan
pada kedua ujungnya. Sedangkan kedua bulatan
di ujung tongkat itu kembali berwarna merah
bagai besi yang terbakar di dalam sebuah
tungku. "Aku akan kembali lagi, Pendekar Rajawali Sakti. Ghrooogkh...!"
Setelah berkata demikian, Siluman Muka
Kodok langsung memutar tubuhnya cepat sekali.
Dan seketika itu juga, seluruh tubuhnya terselimut asap tebal. Sesaat Rangga tersentak. Dia tahu, Siluman Muka Kodok akan
menghilang dengan cara yang sama, ketika berhadapan
dengannya di depan.Istana Ringgading.
"Hei, tunggu...!" Wusss!
Belum juga Rangga bisa bergerak mencegah,
asap tebal itu sudah menghilang begitu cepat.
Dan Siluman Muka Kodok seketika lenyap tak
terlihat lagi, tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Sementara, Rangga sudah
melompat hendak mencegah, tapi benar-benar sudah terlambat. Kini Siluman Muka Kodok sudah lenyap
tak berbekas lagi.
"Keparat..!" maki Rangga kesal.
Begitu geramnya, sampai-sampai Pendekar
Rajawali Sakti menghentak tanah, tepat tempat Siluman Muka Kodok tadi
menghilang. Saat itu, dari atas tembok benteng Pandan Wangi meluncur turun.
Begitu indah dan ringan gerakannya. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun,
kakinya menjejak tanah dengan manis sekali.
Tapi Rangga sempat mendengar dan berpaling
sedikit. Pandan Wangi melangkah menghampiri,
lalu berhenti tepat di samping kanan Pendekar Rajawali Sakti.
Sementara, Rangga masih bersungut-sungut
kesal sambil menghentakkan kakinya beberapa
kali. Dipandanginya tanah tempat Siluman Muka Kodok tadi menghilang. Bahkan sama
sekali tidak bisa diketahui lagi, ke mana arah perginya.
Inilah yang membuat Pendekar Rajawali Sakti
jadi kesal dan terus menggerutu dalam hati.
"Kau gagal lagi, Kakang...," kata Pandan Wangi.
"Hhh! Aku tidak tahu, ilmu apa yang digunakan sampai bisa menghilang begitu...!"
dengus Rangga, masih merasa kesal.
"Dia pasti akan datang lagi, Kakang. Dan pasti akan semakin bertambah
kekuatannya," duga Pandan Wangi.
"Ya! Dia memang berkata seperti tadi sebelum menghilang," sahut Rangga, agak
perlahan suaranya.
"Tampaknya dia sangat mendendam padamu,
Kakang," kata Pandan Wangi lagi.
Rangga hanya tersenyum saja. Jelas sekali
dari nada suara Pandan Wangi tadi, kalau begitu mencemaskan ancaman yang
diberikan Siluman
Muka Kodok. Walaupun tidak ikut bertarung, tapi Pandan Wangi sudah bisa
mengetahui kalau
orang itu tidak bisa dianggap main-main. Tingkat kepandaiannya sangat tinggi.
Bahkan Pendekar
Rajawali Sakti sendiri sampai saat ini belum
mampu menundukkannya.
Pandan Wangi juga tahu, Rangga tadi sudah
hampir menguras habis seluruh kepandaiannya.
Dan Siluman Muka Kodok sepertinya bisa cepat
meraba kalau dirinya sudah terdesak, dan tidak mampu lagi menghadapi Pendekar
Rajawali Sakti. Maka diambilnya langkah menghilang,
sebelum Pendekar Rajawali Sakti berbuat lebih banyak lagi. Ilmu yang bisa
menghilang itulah yang kini selalu mengganggu pikiran Rangga.
"Kalau bertemu lagi, apakah kau akan kembali membiarkannya pergi, Kakang?" tanya
Pandan Wangi. "Tidak," tegas Rangga.
"Lalu, dengan apa kau akan menghadapi ilmu menghilangnya nanti?" tanya Pandan
Wangi lagi, seakan-akan ingin tahu cara Pendekar Rajawali Sakti dalam menghadapi
ilmu langka Siluman
Muka Kodok. Rangga hanya mendengus kesal saja. Sedikit
kakinya dihentakkan ke tanah. Saat itu, pintu gerbang istana terbuka. Tak lama,
muncul Danupaksi yang disusul Cempaka. Sekitar sepuluh
orang prajurit berpangkat punggawa menjaga di kiri dan kanan pintu yang
dibiarkan terbuka
sedikit. Kedua adik tiri Rangga itu melangkah cepat menghampiri Rangga dan
Pandan Wangi. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti sudah
memutar tubuhnya berbalik, menghadap ke arah
Danupaksi dan Cempaka.
"Apa yang terjadi, Kakang?" Danupaksi langsung melontarkan pertanyaan begitu
dekat di depan Pendekar Rajawali Sakti.
"Tidak ada apa-apa," sahut Rangga masih terdengar mendengus kesal.
Pendekar Rajawali Sakti langsung saja mengayunkan kakinya menuju ke pintu gerbang yang
masih terbuka sedikit, dijaga sekitar sepuluh orang prajurit berpangkat
punggawa. Sementara, Danupaksi dan Cempaka memandangi Pandan
Wangi. Si Kipas Maut itu tahu, kedua adik tiri Pendekar Rajawali Sakti ini
meminta penjelasan padanya. Karena, memang dia tadi melihat jelas semua yang
terjadi di luar benteng istana ini.
"Kenapa Kakang Rangga kelihatan begitu
kesal, Kak Pandan?" tanya Cempaka, tidak sabar ingin tahu.
"Nanti kuceritakan," sahut Pandan Wangi.
"Sebaiknya kita segera masuk."
Tanpa menunggu jawaban lagi, gadis cantik
berjuluk si Kipas Maut itu langsung saja melangkah menuju pintu gerbang benteng istana
yang masih terbuka sedikit. Sementara, Rangga sudah tidak terlihat lagi, setelah
melewati pintu gerbang itu. Danupaksi dan Cempaka saling
melempar pandang sebentar, lalu sama-sama
mengangkat pundaknya sedikit. Kini, mereka
melangkah mengikuti Pandan Wangi yang sudah
berjalan lebih dulu mendekati pintu gerbang
benteng Istana Karang Setra.
*** Tiga hari sudah berlalu. Tapi tidak ada satu
peristiwa pun yang terjadi. Para prajurit dan semua penduduk kota yang mengungsi
ke dalam benteng istana pun sudah kelihatan jemu.
Mereka sudah mulai gelisah, karena sudah
beberapa hari hidup terkurung. Sedangkan,
belum ada sedikit pun ada tanda-tanda orangorang Tujuh Mata Dewa sudah dihalau pergi dari kerajaan tempat kelahiran
Pendekar Rajawali
Sakti. Sedangkan Siluman Muka Kodok sendiri tidak
lagi terdengar namanya. Seakan-akan, orang
yang berwajah mirip kodok itu sudah pergi jauh entah ke mana. Dan Rangga yang
masih tetap berada di istana, juga sudah mulai jemu. Tapi, istana tidak bisa ditinggalkan
dalam keadaan seperti ini. Bagaimanapun juga, persoalan ini harus bisa diselesaikan secepatcepatnya. Pendekar Rajawali Sakti tentu saja tidak ingin
istananya jadi tempat pengungsian yang berlarut-larut.
Pagi ini, udara di atas bumi Karang Setra
kelihatan cerah sekali. Langit tampak bening, tanpa awan sedikit pun menggantung
di langit. Dan matahari bersinar penuh, memancarkan
cahayanya yang hangat. Dan sepagi itu Rangga
sudah berada di depan kandang kuda. Dieluselusnya leher kuda hitam Dewa Bayu. Sedikit
matanya melirik saat telinganya mendengar
langkah kaki menghampiri. Tampak Pandan
Wangi, Danupaksi, dan Cempaka datang menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.
"Kau jadi pergi, Kakang?" tanya Danupaksi begitu dekat dengan Pendekar Rajawali
Sakti. "Tentu! Aku harus bisa mengenyahkan mereka dari negeri ini," tegas Rangga,
walaupun suaranya terdengar agak mendesah.
"Sebaiknya, bawalah sejumlah prajurit,
Kakang," saran Cempaka bernada khawatir.
Rangga hanya menggelengkan kepala saja.
Dan bibirnya juga terlihat menyunggingkan
senyuman. Sebentar ditatapnya Cempaka, lalu
berpindah pada Danupaksi. Dan terakhir,
dipandangnya Pandan Wangi yang berdiri di
sebelah kiri Cempaka. Perlahan Pendekar
Rajawali Sakti menarik napas, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Disadari kalau
persoalan yang sedang dihadapi sekarang ini
terasa sangat berat. Dan semua ini harus segera diselesaikan.


Pendekar Rajawali Sakti 84 Tujuh Mata Dewa di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sementara, penduduk yang mengungsi ke
dalam benteng istana ini sudah mulai terserang kejemuan. Dan tentu saja itu bisa
menimbulkan persoalan baru kalau orang-orang Tujuh Mata
Dewa tidak segera dienyahkan. Tapi yang paling penting, adalah Siluman Muka
Kodok itu. Mengingat orang berwajah mirip kodok itu,
geraham Rangga jadi bergemeletuk. Kedua
tangannya terkepal erat, hingga urat-uratnya
yang membiru terlihat bersembulan keluar, bagai hendak merobek kulit yang
berkeringat dan
berkilat. "Kau tidak apa-apa, Kakang...?" tegur Pandan Wangi agak cemas nada suaranya,
melihat raut wajah Pendekar Rajawali Sakti menegang.
"Tidak.... Aku tidak apa-apa," sahut Rangga sambil mencoba memberi senyum.
Tanpa bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti
melompat naik ke punggung Dewa Bayu.
Sebentar diamatinya wajah Pandan Wangi dan
kedua adik tirinya. Kemudian dihentakkannya tali kekang kudanya sedikit. Maka,
kuda hitam bernama Dewa Bayu itu mulai melangkah perlahan-lahan, menuju pintu rahasia yang terletak di bagian belakang istana ini.
Sementara itu, dua orang prajurit bersenjata
tombak dan pedang yang menjaga pintu rahasia
bergegas membuka pintu, begitu melihat Rangga akan melewati bersama kuda
hitamnya. Pendekar Rajawali Sakti hanya menganggukkan
kepala sedikit saat kedua prajurit membungkuk, memberi hormat.
Tali kekang kudanya terus saja dihentakkan,
agar Dewa Bayu terus berjalan perlahan-lahan.
Pintu rahasia di bagian belakang istana itu
kembali tertutup rapat, setelah Rangga melewatinya. Dan Pendekar Rajawali Sakti terus
menjalankan kudanya perlahan-lahan. Sesekali
kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri,
mengamati keadaan sekitarnya yang begitu sunyi tanpa terlihat seorang pun.
"Hiyaaa! Hiyaaa...!"
Dewa Bayu meringkik keras begitu Rangga
menghentakkan tali kekangnya kuat-kuat, sambil berteriak keras beberapa kali.
Kemudian, kuda hitam bertubuh tegap itu melesat cepat bagaikan kilat, membuat
debu membumbung tinggi ke
angkasa. Begitu cepatnya kuda itu berpacu,
sehingga dalam waktu sebentar saja sudah tidak terlihat lagi bentuk tubuhnya.
Hanya kepulan debu saja yang terlihat membubung tinggi ke
angkasa. Sementara itu, Pandan Wangi, Danupaksi, dan
Cempaka masih tetap berdiri diam di depan
kandang kuda istana yang terletak tidak jauh dari pintu rahasia. Mereka seperti
tengah bermimpi, membiarkan Pendekar Rajawali Sakti pergi
seorang diri menghadapi Siluman Muka Kodok
dan Tujuh Mata Dewa yang begitu banyak
pengikutnya. "Aku khawatir akan terjadi sesuatu pada diri Kakang Rangga...," desah Cempaka.
Jelas sekali, nada suaranya mengandung kecemasan yang
tidak bisa ditutupi.
"Seharusnya, kita bisa mencegahnya. Paling tidak, harus ada yang
mendampinginya," sahut Danupaksi, juga terdengar pelan suaranya.
"Sulit," sahut Pandan Wangi. "Kakang Rangga berwatak keras. Apa yang menjadi
keputusannya, pasti sudah dipikirkan matang-matang. Aku
yakin, Kakang Rangga bisa mengatasi mereka
semua." "Kelihatannya kau begitu yakin, Kak
Pandan...," ujar Cempaka seraya menatap si Kipas Maut dalam-dalam.
"Aku sudah bersama-sama sebelum bertemu
kalian. Dan aku tahu betul wataknya. Aku tidak pernah menyangsikan kemampuan
Kakang Rangga sedikit pun juga. Dan yang pasti, mereka semua bisa diatasi," sahut
Pandan Wangi kalem.
Memang di antara mereka bertiga, hanya
Pandan Wangi saja yang kelihatan begitu tenang.
Sedikit pun tidak tersirat kecemasan pada raut wajahnya. Seakan-akan dia begitu
yakin kalau Rangga pasti bisa menghadapi Siluman Muka
Kqdok dan Tujuh Mata Dewa serta para pengikutnya yang berjumlah sangat besar.
Meskipun sudah dua kali Rangga bertemu,
dan sudah dua kali pula Siluman Muka Kodok itu berhasil lolos, tapi bukan
berarti Rangga tidak bisa menandingi kepandaiannya. Dan Pandan
Wangi begitu yakin kalau Pendekar Rajawali
Sakti sudah memiliki satu rencana untuk
mengenyahkan mereka semua dari Kerajaan
Karang Setra. "Bagaimana, Kakang...?" tanya Cempaka menatap Danupaksi.
"Aku percaya, kalau Kak Pandan sudah berkata demikian," sahut Danupaksi.
Pandan Wangi tersenyum. Sedangkan
Cempaka mengangkat bahunya sedikit. Mereka
memang tidak pernah menyangsikan kemampuan Pendekar Rajawali Sakti dalam menghadapi
lawan yang bagaimanapun tangguhnya. Namun,
tetap saja di hati mereka masih terselip rasa khawatir. Dan semua kecemasan itu
bisa terusir oleh kepercayaan yang sangat besar dan men-dalam pada diri Pendekar
Rajawali Sakti.
*** 6 Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti yang
menunggang Dewa Bayu sudah sampai di kaki
Gunung Lanjaran. Dugaannya, di kaki gunung
inilah pusat dari semua peristiwa yang terjadi di Karang Setra. Pertama kali
gerombolan Tujuh
Mata Dewa terlihat memang di kaki Gunung
Lanjaran ini. Tapi waktu itu, Pendekar Rajawali Sakti memang belum tahu kalau
mereka adalah para gerombolan Tujuh Mata Dewa.
"Hup!"
Begitu ringan gerakan Pendekar Rajawali
Sakti, sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun ketika melompat turun dari
punggung kudanya. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Namun, sedikit pun tak terlihat adanya tanda kehidupan. Bahkan
sepertinya tidak terdengar suara binatang. Seakan-akan semua
kehidupan yang ada di sekitar kaki Gunung
Lanjaran ini sudah musnah. Begitu sunyi, hingga desir angin yang sangat halus
terdengar jelas mengusik telinga.
"Hm...."
Sambil menggumam perlahan, kaki Pendekar
Rajawali Sakti terayun pelan-pelan meninggalkan kudanya. Mata dan pendengarannya
terus dipasang tajam-tajam. Tapi, belum juga didapatkan satu suara sedikit pun
juga. Bahkan keadaan di dalam hutan kaki Gunung Lanjaran ini begitu
sunyi. Rangga terus berjalan perlahan-lahan, dan mulai mendaki lereng gunung
yang sunyi ini.
Sementara, Dewa Bayu tetap menunggu di kaki
gunung. Seperti tidak peduli pada keadaan
sekitarnya, kuda hitam itu menikmati rerumputan segar yang banyak tumbuh di
sekitarnya. Ayunan kaki Pendekar Rajawali Sakti baru berhenti, setelah sampai di lereng gunung yang ber-batu. Sebentar kepalanya
mendongak ke atas.
Seketika bibirnya terlihat menyunggingkan
senyum saat melihat seekor burung rajawali berbulu putih keperakan melayanglayang berputar di atas kepalanya. Begitu tinggi burung rajawali raksasa berbulu
putih keperakan itu terbang,
sehingga bagaikan terlihat seperti seekor merpati biasa.
Dan baru saja Rangga menurunkan kepalanya
kembali, mendadak saja....
Srak! "Hap...!"
Cepat Rangga melompat ke belakang, begitu
tiba-tiba muncul dua orang berpakaian serba
hitam yang telah menghunus pedang. Tanpa
bicara lagi, kedua orang berpakaian serba hitam yang seluruh wajah dan kepalanya
terselubung kain hitam itu, langsung saja menyerang
Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup! Hiyaaa...!"
Namun, cepat sekali Rangga melesat sambil
mengibaskan kedua tangannya yang terentang
lebar ke samping. Begitu cepat gerakannya sehingga sulit sekali diikuti pandangan mata biasa.
Dan belum juga kedua orang berpakaian serba
hitam itu bisa berbuat lebih banyak lagi, tahu-tahu sudah terdengar jeritan
panjang yang sangat menyayat dan saling sambung.
Tepat di saat kaki Pendekar Rajawali Sakti
menjejak tanah, kedua orang berpakaian serba
hitam itu sudah ambruk menggelepar dengan
dada robek mengucurkan darah. Sedikit pun tak ada gerakan lagi. Kedua orang
berpakaian serba hitam itu langsung tewas seketika.
Memang sangat dahsyat gerakan dari jurus
"Sayap Rajawali Membelah Mega". Gerakannya
pun terlalu sulit dilihat mata biasa. Dan bagi mereka yang memiliki kepandaian
tanggung, rasanya tidak akan mampu bisa berbuat banyak.
Sementara, Rangga hanya melirik sedikit pada
dua orang penyerangnya ini. Kemudian kembali
kakinya terayun mendaki lereng Gunung
Lanjaran ini. Rangga terus melangkah mantap dan sangat
tenang. Pandangan matanya tertuju lurus tak
berkedip ke depan. Sedangkan telinganya tetap dipasang tajam-tajam,
mempergunakan ilmu
"Pembeda Gerak dan Suara". Hingga suara yang
kecil sekalipun dapat ditangkap jelas.
"Hup!"
Baru saja Rangga berjalan beberapa langkah,
kembali sudah harus melesat ke atas. Karena
tiba-tiba saja, dari arah depan meluncur sebatang tombak berwarna hitam pekat. Tombak
itu meluncur deras, lewat di bawah telapak kaki pemuda yang selalu berbaju rompi
putih ini. Beberapa kali Rangga berputaran di udara.
Dan dengan gerakan manis sekali, kembali kakinya dijejakkan di tanah berumput
tebal ini. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya, sehingga
sedikit pun tidak menimbulkan suara saat mendarat di tanah.
"Hhh...!"
Namun baru saja Pendekar Rajawali Sakti
menghembuskan napas panjang, dari arah
depannya sudah berlompatan sekitar delapan
orang berpakaian serba hitam. Dan mereka
semua menggenggam senjata pedang, masingmasing di tangan kanan. Seketika itu juga
pemuda tampan berbaju rompi putih ini sudah
terkepung oleh delapan orang dengan pedang
terhunus. Rupanya, orang-orang Tujuh Mata
Dewa semuanya menggunakan senjata pedang.
Namun, Pendekar Rajawali Sakti tidak menghiraukan sama sekali, kendati pedang-pedang
mereka yang berkilatan tajam sudah tersilang di depan dada. Hanya dengan sorot
mata tajam, diamatinya setiap gerakan kaki kedelapan orang pengepungnya.
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
"Hup! Hiyaaa...!"
Begitu kedelapan orang ini berlompatan
menyerang, dengan cepat sekali Pendekar
Rajawali Sakti melenting ke udara. Dan kedua
tangannya langsung dikembangkan ke samping,
mengerahkan jurus "Sayap Rajawali Membelah
Mega". "Hiyaaat..!"
Bet! Wuk! "Akh!"
"Aaakh...!"
Dua kali Rangga mengebutkan tangannya.
Maka seketika itu juga terdengar jeritan panjang, disusul ambruknya dua orang
penyerang berbaju serba hitam itu dengan dada terbelah lebar
mengeluarkan darah.
"Hap! Yeaaah...!"
Sedikit pun Rangga tidak berhenti. Tubuhnya
langsung kembali melompat, begitu kakinya menjejak tanah. Dan seketika itu juga,
dilepaskannya satu pukulan dahsyat menggeledek menggunakan jurus "Pukulan Maut
Paruh Rajawali" yang
terarah pada seorang penyerang terdepan.
Begitu cepat serangannya, sehingga orang berbaju serba hitam itu tidak sempat berkelit lagi.
Maka, pukulan yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti itu tepat dan telak menghantam dadanya.
Desss! "Aaakh...!"
Seketika, orang itu terpental jauh ke belakang sambil menjerit melengking.
Sebatang pohon yang terlanda tubuhnya, seketika tumbang.
Kemudian orang berbaju serba hitam itu ambruk di tanah. Hanya sedikit saja dia
mampu menggeliat, lalu diam tidak bergerak-gerak lagi. Dadanya tampak remuk
melesak ke dalam.
"Hih!"
Rangga cepat berbalik, membuat dua orang
yang hendak membokongnya dari belakang
langsung berhenti melangkah. Kini tinggal lima orang lagi yang mengepung. Dan
tampaknya, mereka mulai diliputi kegentaran menghadapi
Pendekar Rajawali Sakti yang gerakannya begitu cepat. Sehingga dalam dua kali
gebrakan saja, tiga orang sudah menggeletak jadi mayat. Dan
Rangga kali ini memang sudah tidak tanggungtanggung lagi. Kemarahannya sudah memuncak,
melihat keadaan tanah kelahirannya jadi seperti neraka. Akibatnya, seluruh
rakyatnya tidak ada lagi yang berani keluar dari dalam lingkungan benteng
istana. Dan memang, baru kali ini
Karang Setra mendapat serangan dari luar. Hal itu membuat kemarahan Pendekar
Rajawali Sakti jadi memuncak.
***

Pendekar Rajawali Sakti 84 Tujuh Mata Dewa di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ayo, maju kalian semua, Keparat..!" bentak Rangga geram.
Tapi, tak ada seorang pun dari mereka yang
berani mendekat. Dan kelima orang itu hanya
bisa mengepung sambil bergerak. Berputar,
seperti tengah mencari kelemahan Pendekar
Rajawali Sakti. Pedang mereka semua melintang di depan dada. Matahari yang
bersinar penuh siang ini, membuat pedang-pedang kelima orang berpakaian serba hitam itu
berkilatan menunjukkan ketajamannya. Namun, sedikit pun tidak
membuat Rangga gentar.
"Mundur kalian semua...!"
Tiba-tiba terdengar bentakan yang sangat
keras dan menggelegar. Dan begitu kelima orang berpakaian serba hitam itu
berlompatan mundur, dari balik semak belukar bermunculan tujuh
orang yang juga berbaju warna hitam pekat yang cukup ketat.
"Hm...," Rangga menggumam sedikit.
Pendekar Rajawali Sakti pernah melihat tujuh
orang laki-laki berpakaian serba hitam ini, ketika belum bisa masuk ke dalam
Istana Karang Setra.
Dan dari keterangan Danupaksi, Pendekar
Rajawali Sakti tahu kalau ketujuh orang inilah yang dijuluki Tujuh Mata Dewa.
Meskipun sama-sama mengenakan baju
warna hitam, tapi ketujuh orang ini tidak
mengenakan tutup kepala. Sehingga, wajah
mereka bisa terlihat jelas. Mereka rata-rata
sudah mencapai usia separuh baya. Dan di
pinggang masing-masing, tergantung sebilah
pedang berukuran cukup panjang, lebih panjang dari pedang biasa.
"Kaliankah yang dijuluki Tujuh Mata Dewa?"
tanya Rangga dengan nada suara yang sangat
dingin. "Benar. Kami adalah Tujuh Mata Dewa," sahut salah seorang yang berdiri paling
kanan. "Dan aku adalah si Mata Dewa Kesatu."
"Hm...," lagi-lagi Rangga hanya menggumam perlahan.
Pendekar Rajawali Sakti langsung bisa menebak, kalau keenam orang lainnya tentu disebut menurut urutannya. Dan mungkin
saja urutan itu digunakan dari perbedaan usia, atau dari ting-katan kepandaian.
Tapi yang jelas, mereka menggunakan nama Tujuh Mata Dewa.
"Kau siapa, Anak Muda?" tanya si Mata Dewa Keenam.
"Namaku Rangga," sahut Rangga tegas.
Tujuh Mata Dewa mengamati Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Sedangkan yang
diamati tetap berdiri tenang, namun tidak mengurangi kewaspadaannya. Dan pada
saat pandangannya diedarkan
ke sekeliling, hatinya jadi terkesiap. Sungguh tidak diketahuinya kalau di
sekelilingnya sekarang sudah dikepung oleh puluhan orang
berpakaian serba hitam yang seluruhnya mengenakan tutup kepala dan wajah dari kain hitam.
Hanya bagian mata dan mulut saja yang terlihat.
Bahkan mereka semua sudah menghunus
pedang di tangan kanan masing-masing.
Rangga mendongakkan kepala sedikit ke atas.
Di angkasa masih terlihat burung rajawali
raksasa yang saat ini kelihatan kecil, seperti burung biasa. Memang, Rajawali
Putih terbang begitu tinggi, hingga berada di atas awan.
Pandangan Pendekar Rajawali Sakti kembali tertuju pada tujuh orang berpakaian
serba hitam yang dijuluki Tujuh Mata Dewa.
"Anak muda! Kaukah yang dikenal sebagai
Pendekar Rajawali Sakti?" tanya si Mata Dewa Kelima.
Rangga tidak menjawab, tapi malah tersenyum
saja. Sementara sorot matanya tertuju langsung ke arah si Mata Dewa Kelima yang
menatapnya dengan sinar mata tajam sekali.
"Kau pasti Raja Karang Setra," kata si Mata Dewa Kelima lagi.
Kali ini nada suaranya terdengar sangat
dingin. Dan jelas suara itu dikeluarkannya agak ditahan.
Sedangkan Rangga tetap tersenyum, seperti
tidak menghiraukan kata-kata si Mata Dewa
Kelima barusan.
Sret! Wuk! Seketika itu juga, Tujuh Mata Dewa mencabut
pedang masing-masing. Gerakan yang dilakukan
begitu indah dan bersamaan waktunya. Seakanakan, ada yang memberi perintah sebelumnya.
Dan mereka juga secara bersamaan mengebutkan pedang hingga menyilang di depan dada.
Sementara, Rangga tetap berdiri tenang dengan senyum masih tersungging di bibir.
Sebenarnya, dalam hati Rangga memuji keindahan gerakan
Tujuh Mata Dewa dalam mencabut senjata tadi.
"Kau tulang punggung Kerajaan Karang Setra.
Maka, kau harus mati sekarang juga, Pendekar
Rajawali Sakti!" desis si Mata Dewa Kesatu.
"Kedatanganku ke sini memang ingin bertemu kalian semua. Dan perlu diketahui,
tidak akan mudah kalian bisa menguasai Karang Setra,"
balas Rangga dengan suara tidak kalah dingin.
"Ha ha ha...!"
Tujuh orang berpakaian hitam yang dijuluki
Tujuh Mata Dewa itu tertawa terbahak-bahak
mendengar kata-kata Rangga yang begitu tenang tadi. Sedangkan Rangga hanya diam
saja dengan sikap sangat tenang. Sedikit kepalanya mendongak ke atas. Sedangkan
bibirnya terus menyunggingkan senyum saat melihat Rajawali
Putih masih melayang-layang berputaran di atas kepalanya. Burung rajawali itu
memang tidak ingin meninggalkan Rangga dalam menghadapi
Tujuh Mata Dewa dan para pengikutnya yang berjumlah sangat besar ini.
"Seraaang...!"
"Bunuh dia!"
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
"Hup! Hiyaaa...!"
*** Cepat sekali Rangga melenting ke udara,
begitu si Mata Dewa Ketujuh dan si Mata Dewa
Keenam memberi perintah dengan suara lantang
menggelegar. Saat itu juga, para pengikut ketujuh orang itu langsung berlompatan sambil
berteriak-teriak dan mengangkat pedang tinggi-tinggi ke atas kepala. Mereka
langsung meluruk, merangsek Pendekar Rajawali Sakti.
"Hiyaaat..!"
Menghadapi keroyokan yang begitu banyak,
Pendekar Rajawali Sakti tidak mau main-main
lagi. Terlebih lagi, hatinya memang sudah begitu geram melihat mereka yang
mengacau ke-tenangan Kotaraja Karang Setra. Begitu kakinya menjejak tanah, cepat
sekali kedua telapak
tangannya dirapatkan di depan dada. Dan sambil cepat memutar kaki, kedua
tangannya dihentakkan hingga melebar ke samping sambil berseru
lantang menggelegar.
"Aji "Bayu Bajra". Yeaaah...!"
Wusss...! Seketika itu juga, dan kedua telapak tangan
Pendekar Rajawali Sakti keluar hembusan angin yang sangat keras. Begitu keras
hembusannya, sehingga menimbulkan suara menderu bagai
terjadi badai yang sangat dahsyat. Dan mereka yang sudah berlompatan menyerang,
seketika berpentalan terhempas angin badai yang diciptakan Pendekar Rajawali Sakti.
Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi,
seketika terdengar saling susul. Tubuh-tubuh be-terbangan bagai daun-daun kering
tertiup angin. Begitu dahsyatnya aji "Bayu Bajra" yang dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti,
sampai-sampai banyak pepohonan bertumbangan, dan batu-batu
berhamburan bagai segumpal kapas tertiup
angin. Sementara, Tujuh Mata Dewa segera mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menahan gempuran aji "Bayu Bajra" yang dikeluarkan Pendekar Rajawali Sakti. Namun,
sedikit demi sedikit kaki mereka mulai terdorong ke
belakang. Dan para pengikutnya yang hanya
memiliki kepandaian rendah, tidak ada yang
sanggup menghadapi gempuran angin badai
topan ini. "Hap!"
Begitu Rangga merapatkan kembali kedua
telapak tangan di depan dada, seketika itu juga angin badai yang terjadi karena
ciptaannya berhenti. Deru angin badai pun tidak terdengar lagi. Tapi, sudah tidak ada
seorang pun pengikut Tujuh Mata Dewa yang terlihat berdiri.
"Hhh...!"
Panjang sekali Rangga menghembuskan
napasnya, begitu pandangannya beredar ke sekeliling. Hutan di lereng Gunung Lanjaran yang semula terlihat indah, Kini sudah
porak-poranda bagai diamuk ribuan ekor gajah. Tidak terhitung lagi, berapa
banyak pepohonan yang tumbang
tercabut sampai ke akar-akarnya. Dan mayatmayat terlihat bergelimpangan di mana-mana.
Tidak sedikit mayat yang tertindih pohon maupun bebatuan. Juga, tidak sedikit
pun yang tubuhnya tertancap kayu, atau kepalanya pecah terbentur batu.
Pandangan Pendekar Rajawali Sakti kemudian
tertuju pada tujuh orang berpakaian serba hitam yang dikenal sebagai Tujuh Mata
Dewa. Mereka juga seakan-akan masih terpana melihat kedahsyatan ilmu kesaktian yang diperlihatkan
Pendekar Rajawali Sakti. Begitu banyak jumlah pengikutnya tadi, tapi sekarang
tak ada seorang pun yang terlihat lagi. Mereka semua musnah
hanya dengan satu pengerahan ilmu saja.
Perlahan Rangga mengayunkan kakinya,
menghampiri Tujuh Mata Dewa yang masih
terpana. Dan ayunan kaki pemuda berbaju rompi putih ini berhenti setelah
jaraknya tinggal sekitar satu batang tombak lagi. Jelas terlihat pada sorot
mata, kalau Pendekar Rajawali Sakti mengagumi ilmu tenaga dalam yang dimiliki
tujuh orang yang dijuluki Tujuh Mata Dewa dalam menghadapi aji"
Bayu Bajra" tadi. Meskipun tempatnya berdiri
tergeser sampai sejauh tiga batang tombak,
namun itu sudah menjadi pegangan.
"Sebenarnya bukan kalian yang menjadi
sasaranku, Kisanak. Tapi perbuatan kalian pada rakyat Karang Setra sudah
memancing ke-marahanku," kata Rangga dengan suara terdengar dingin sekali.
"Kau sudah menghancurkan seluruh pengikut kami, Pendekar Rajawali Sakti. Kau
harus membayar semua nyawa mereka!" dengus si Mata Dewa Kesatu, geram.
"Kalau kau tidak memerintahkan mereka
menyerang, tidak bakalan aku bertindak, Kisanak," sahut Rangga membela diri.
"Setan! Kau harus membayar nyawa mereka!
Hiyaaat..!"
Si Mata Dewa Kesatu rupanya tidak bisa lagi
menahan kemarahan melihat orang-orangnya
sudah musnah terkena aji kesaktian yang
dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti tadi. Dengan kecepatan bagai kilat, dia
melompat menyerang.
Langsung pedangnya dikebutkan, tepat terarah
ke leher pemuda yang selalu mengenakan baju
rompi putih ini.
Wuk! "Hait..!"
Namun dengan hanya sedikit mengegoskan
kepala saja, tebasan pedang si Mata Dewa
Kesatu berhasil dielakkan Rangga dengan manis sekali. Tapi, si Mata Dewa Kesatu
tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu pedangnya tidak
mengenai sasaran, cepat sekali pedangnya diputar berbalik, dan langsung dibabatkan ke arah perut
"Ups...!"
Cepat Rangga menarik perutnya ke belakang,
hingga tubuhnya agak terbungkuk. Dan ujung
pedang si Mata Dewa Kesatu lewat sedikit saja di depan perut Pendekar Rajawali
Sakti. Cepat-cepat Rangga menarik kakinya ke belakang tiga langkah, dan langsung
menarik tubuhnya agar
tegak kembali. Namun pada saat itu, si Mata
Dewa Kesatu sudah melepaskan satu tendangan
keras menggeledek yang begitu cepat. Sehingga membuat Pendekar Rajawali Sakti
jadi terbeliak sesaat.
"Hap!"
Tidak ada lagi kesempatan bagi Rangga untuk
menghindari tendangan itu. Maka terpaksa
tangan kanannya diayunkan, menangkis tendangan yang sudah melayang mengarah cepat
ke kepalanya. Hingga tak pelak lagi, bagian ujung kaki si Mata Dewa Kesatu
berbenturan keras
dengan tangan Pendekar Rajawali Sakti yang
mengandung pengerahan kekuatan tenaga
dalam yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Plak! Terdengar benturan keras ketika ujung
kaki si Mata Dewa Kesatu berbenturan dengan
tangan Pendekar Rajawali Sakti.
Plak! "Akh...!"
Si Mata Dewa Kesatu cepat melompat ke
belakang sambil memekik keras agak tertahan.
Namun tubuhnya jadi terhuyung begitu menjejakkan kakinya di tanah. Hampir saja dia jatuh menggelimpang, kalau saja si
Mata Dewa Keempat tidak segera menangkapnya.
"Ukh...!"
Si Mata Dewa Kesatu jadi mengeluh pendek.
Dirasakan kalau tulang kakinya saat itu pasti remuk, akibat berbenturan dengan
tangan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga
terlihat berdiri tegak dengan kedua tangan
terlipat di depan dada. Saat itu, Mata Dewa
Keenam dan Mata Dewa Kelima sudah melompat maju dengan pedang tersilang di depan
dada. Sorot mata mereka begitu tajam, tertuju langsung ke wajah tampan Rangga.
"Kubunuh kau, Bocah! Hiyaaat...!"
"Yeaaah...!"
***

Pendekar Rajawali Sakti 84 Tujuh Mata Dewa di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

7 Cepat sekali dua orang dari Tujuh Mata Dewa itu melompat menyerang Pendekar
Rajawali Sakti.
Namun begitu pedang mereka berkelebat, tanpa
dapat dilihat oleh mata biasa, tahu-tahu pemuda tampan yang selalu mengenakan
baju rompi putih itu sudah melesat tinggi ke angkasa. Dan hal ini membuat dua orang
berpakaian serba
hitam itu jadi kebingungan, karena Rangga tahu-tahu sudah berada di atas
sebongkah batu sebesar kerbau.
"Keparat..!" geram si Mata Dewa Keenam sengit.
"Hiyaaat..!"
Si Mata Dewa Kelima sudah langsung melompat lagi mengejar Pendekar Rajawali Sakti.
Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga
dalam, pedangnya dibabatkan ke arah kaki. Tapi begitu mata pedang hampir saja
membabat kaki, dengan kecepatan bagai kilat Rangga melompat
ke atas. Dan pada saat itu juga, kaki kanannya dihentakkan. Langsung
diberikannya satu tendangan keras menggeledek yang disertai pengerahan tenaga dalam.
"Yeaaah...!"
Begitu cepat sekali tendangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga membuat si Mata Dewa Kelima tidak sempat
lagi menghindar. Terlebih lagi, saat itu tengah melakukan serangan. Hingga....
Plak! "Akh...!"
Laki-laki berusia separuh baya berbaju warna
hitam pekat agak ketat itu berteriak keras, begitu wajahnya terkena tendangan
menggeledek yang
mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna dari Pendekar Rajawali Sakti. Begitu keras tendangan itu, sampai membuat
si Mata Dewa Kelima terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak.
Bruk! Keras sekali tubuh si Mata Dewa Kelima terbanting ke tanah, dan bergulingan beberapa kali.
Tubuhnya menggeliat sambil menutupi wajah
dengan kedua tangannya. Tampak darah merembes keluar dari sela-sela jari tangannya. Tapi, tidak berapa lama kemudian
seluruh tubuh si
Mata Dewa Kelima sudah mengejang kaku dan
diam tak bergerak-gerak lagi, begitu kedua
tangannya terentang ke samping. Tampak
seluruh wajahnya sudah hancur berlumur darah, akibat mendapat tendangan sangat
keras dari Pendekar Rajawali Sakti.
Sementara, Rangga sudah berdiri tegak di
tanah dengan kedua tangan terlipat di depan
dada. Kematian si Mata Dewa Kelima, tentu saja
membuat enam orang lainnya jadi geram. Terlebih lagi, si Mata Dewa Kesatu yang tadi sempat merasakan tingginya tenaga
dalam yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti. Meskipun kakinya
masih terasa sakit, dia langsung saja melompat sambil membabatkan pedangnya
beberapa kali, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
"Hiyaaa...!"
Bet! Wuk! "Hup! Yeaaah...!"
Namun tebasan-tebasan pedang itu manis
sekali dapat dielakkan Pendekar Rajawali Sakti dengan meliuk-liukkan tubuh
sambil berlompatan beberapa kali. Dan melihat si Mata Dewa Kesatu sudah kembali
menyerang, lima orang lainnya
yang semuanya mengenakan baju warna hitam
pekat langsung saja ikut berlompatan mengeroyok pemuda berbaju rompi putih ini.
"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
Bet! Wuk! Pedang-pedang yang berkilat tajam berkelebatan begitu cepat di sekeliling tubuh
Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepatnya
serangan-serangan yang dilakukan Tujuh Mata
Dewa yang kini jumlahnya tinggal enam orang,
sehingga membuat Pendekar Rajawali Sakti
terpaksa harus berjumpalitan.
Serangan-serangan yang datang begitu cepat
dan gencar ini, tidak memberi kesempatan
sedikit pun pada Pendekar Rajawali Sakti untuk menyerang. Bahkan untuk mencabut
pedang saja sama sekali tidak ada kesempatan. Dan ini membuat pemuda itu terpaksa harus
berjumpalitan menghindar. Beberapa kali tebasan
pedang Tujuh Mata Dewa hampir menyambar
tubuhnya, tapi masih bisa dihindari dengan
gerakan tubuh manis sekali.
Di saat mendapat serangan yang begitu
gencar, Rangga sempat melihat ke atas begitu
merasakan adanya bayangan melewati tubuhnya.
Tampak Rajawali Putih sudah lebih dekat lagi, hingga tubuhnya yang besar bagai
bukit bisa terlihat jelas. Dan tanpa diminta lagi, burung raksasa itu langsung menukik
begitu melihat Rangga mulai agak kewalahan menghadapi
serangan lawan-lawannya.
"Khraaagkh...!"
*** Suara Rajawali Putih yang sangat keras memekakkan telinga itu membuat enam orang
berpakaian serba hitam yang tengah mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti jadi
terkejut setengah mati. Begitu terkejutnya, sampai sampai mereka terlompat ke
belakang beberapa langkah.
Sementara, Rangga langsung mendongakkan
kepala ke atas. Dan bibirnya langsung tersenyum begitu melihat Rajawali Putih
berada tidak jauh di atas kepalanya.
Sementara, Tujuh Mata Dewa yang kini tinggal
enam orang lagi jadi terlongong. Mulut mereka ternganga dan mata tidak berkedip
memandang burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan di atas kepala pemuda berbaju
rompi putih ini.
"Kau datang tepat pada waktunya, Rajawali,"
ujar Rangga senang.
"Khraaagkh...!"
Rajawali Putih menjulurkan kepala ke arah
enam orang berpakaian serba hitam. Sementara, Rangga melangkah menghampiri
mereka. Kedua tangannya terlipat di depan dada, setelah berhenti dalam jarak sekitar empat
langkah lagi di depan Tujuh Mata Dewa yang kini tinggal enam
orang lagi. "Aku akan mengampuni, kalau kalian bisa menunjukkan di mana Siluman Muka Kodok
se- karang berada," desis Rangga dingin.
Enam orang yang dijuluki Tujuh Mata Dewa itu
tidak langsung menjawab. Mereka saling berpandangan satu sama lain, kemudian samasama mengarahkan pandangan pada Rajawali
Putih yang masih melayang tidak jauh dari tanah.
Sayapnya yang lebar, terus bergerak mengepak.
Sehingga, menimbulkan hempasan angin kencang menderu bagai badai.
Seumur hidup, belum pernah mereka melihat
seekor burung raksasa sebesar ini. Bahkan kelihatan sangat jinak pada Rangga, sehingga
membuat hati mereka langsung bergetar. Saat
ini, mereka seakan-akan berhadapan dengan
dewa yang turun dari kahyangan dan menjelma
menjadi manusia. Tidak akan mungkin mereka
bisa melawan dewa, meski memakai julukan
dewa sekalipun.
"Katakan, di mana Siluman Muka Kodok
berada...?" desis Rangga bertanya lagi, dengan suara dibuat sangat dingin.
"Untuk apa kau tanyakan dia?" si Mata Dewa Kesatu malah balik bertanya.
Suaranya terdengar agak bergetar. Dan matanya sedikit melirik pada Rajawali Putih yang kini sudah mendarat, mendekam tidak
jauh di belakang Rangga. Agak bergetar juga hatinya
saat pandangannya bertemu sorot mata burung
rajawali raksasa itu. Maka cepat-cepat pandangannya dialihkan pada Rangga.
"Aku punya urusan dengannya," tegas Rangga.
Kembali Tujuh Mata Dewa yang kini tinggal
enam orang itu saling berpandangan.
"Dengar! Kalian boleh meninggalkan tempat ini. Keselamatan kalian kujamin, jika
mau menunjukkan tempat persembunyian Siluman
Muka Kodok," kata Rangga lebih menekan.
"Kau tidak akan bisa menandingi kesaktiannya, Pendekar Rajawali Sakti," ujar si
Mata Dewa Ketujuh.
Rangga hanya tersenyum saja mendengar
kata-kata itu. Matanya melirik sedikit ke belakang pada Rajawali Putih. Dan burung rajawali raksasa itu mengkirik perlahan,
sambil menyo-rongkan kepalanya ke depan sampai melewati
bahu kanan Rangga. Dan pemuda tampan yang
selalu mengenakan baju rompi putih itu segera memeluk kepala burung ini sambil
memperhatikan enam orang di depannya. Mereka jadi
terlongong bengong melihat burung rajawali
raksasa yang kelihatan menyeramkan itu sangat manja pada pemuda ini.
"Mungkin saja aku tidak bisa menandingi kesaktiannya. Tapi rajawaliku ini tidak
ada tan-dingannya. Dan kalau aku menghendaki, kalian
bisa dibuat bubur olehnya," kata Rangga sedikit mengancam.
Jelas sekali, terlihat enam orang berbaju serba hitam itu jadi bergidik
mendengar ancaman
Pendekar Rajawali Sakti barusan. Melihat bentuk tubuhnya saja, burung rajawali
raksasa itu sudah mengerikan sekali. Apalagi kalau sampai bertindak. Sulit
dibayangkan, kalau sampai terkena sabetan sayapnya yang besar itu. Keenam orang
yang berjuluk Tujuh Mata Dewa itu menarik kaki ke belakang beberapa langkah.
Tapi, Rangga terus mendekatinya, diikuti Rajawali Putih.
Hingga, jarak mereka tetap berada sekitar empat langkah saja.
"Apa yang akan kau lakukan pada Siluman
Muka Kodok, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya si Mata Dewa Ketujuh ingin tahu.
"Itu urusanku," sahut Rangga tegas, seraya tersenyum.
"Baiklah, Pendekar Rajawali Sakti. Kami akan menunjukkan tempatnya. Tapi dengan
satu syarat..." kata si Mata Dewa Ketujuh, terdengar terputus suaranya.
"Katakan," sahut Rangga kalem.
"Izinkan kami melihat pertarunganmu dengannya. Dan kami tidak akan ikut campur
nanti," pinta si Mata Dewa Ketujuh, mengajukan syarat.
Tanpa berpikir lagi, Rangga menganggukkan
kepalanya, menyetujui usul yang diajukan si
Mata Dewa Ketujuh.
"Aku mengizinkan kalian. Tapi jika ada yang main curang, Rajawali Putih akan
mengambil tindakan. Dan aku tidak akan bertanggung jawab kalau tubuh kalian hancur
olehnya," kata Rangga memberi ancaman lagi.
"Kami hanya ingin melihat pertarunganmu
saja, Pendekar Rajawali Sakti," kata si Mata Dewa Ketujuh menegaskan.
"Baik. Dan setelah itu, kalian semua harus meninggalkan Gunung Lanjaran ini.
Terserah akan pergi ke mana, asal aku tidak lagi mendengar nama kalian semua," tegas Rangga.
Tujuh Mata Dewa yang kini tinggal enam orang
itu mengangguk berbarengan, menyetujui permintaan Pendekar Rajawali Sakti. Memang, tidak ada pilihan lain lagi bagi
mereka. Dan tentunya, ancaman itu disetujui karena di belakang
pemuda itu ada seekor burung rajawali raksasa yang membuat hati langsung
bergetar. "Hup!"
Dengan gerakan ringan sekali, Rangga melompat naik ke punggung Rajawali Putih.
Perbuatan pemuda berbaju rompi putih itu tentu saja membuat keenam orang yang
dikenal berjuluk Tujuh Mata Dewa itu jadi terbeliak.
"Cepat kalian jalan!" seru Rangga.
Begitu menepuk leher Rajawali Putih tiga kali, burung raksasa itu langsung
melesat ke angkasa.
Begitu cepatnya, hingga dalam sekejapan mata
saja sudah melambung tinggi sekali. Bahkan
sampai tidak terlihat lagi. Sementara enam orang berpakaian serba hitam itu
bergegas meninggalkan tempat yang sudah porak-poranda. Mereka
terus bergerak cepat mendaki lereng gunung ini.
Sementara, Rangga terus memperhatikan dari
angkasa. *** Tujuh Mata Dewa yang tinggal enam orang itu
baru berhenti setelah tiba di puncak Gunung
Lanjaran yang ternyata merupakan sebuah
padang rumput yang cukup luas dan berselimut
kabut. Dan begitu mereka mendongakkan kepala
ke atas, Rajawali Putih tampak meluncur turun dengan kecepatan bagai kilat.
Sebentar saja, burung raksasa itu sudah mendarat tidak jauh
dari enam orang yang mengenakan baju serba
hitam ini. "Hup!"
Rangga segera melompat turun dari punggung
Rajawali Putih. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya, sehingga tidak
menimbulkan suara sedikit pun saat kakinya menjejak tanah.
"Awasi aku dari atas, Rajawali," pinta Rangga sambil menepuk leher burung
rajawali raksasa
itu. "Khraaagkh...!"
Wusss...! Hanya sekali saja Rajawali Putih mengepakkan sayap, maka sudah terbang melambung
tinggi sampai menembus awan. Sementara,
Rangga sudah melangkah menghampiri enam
orang berpakaian serba hitam yang terus me

Pendekar Rajawali Sakti 84 Tujuh Mata Dewa di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mandangi Rajawali Piitih di angkasa. Mereka
baru memandang Rangga, setelah pemuda itu
berada sekitar lima langkah lagi di depan.
"Di mana tempat tinggalnya?" tanya Rangga langsung.
"Di balik batu itu," sahut si Mata Dewa Kesatu sambil menunjuk dua buah batu
besar yang bentuk dan ukurannya sama.
Rangga berpaling menatap batu yang ditunjukkan si Mata Dewa Kesatu, lalu perlahan tubuhnya berbalik. Keningnya agak berkerut melihat batu yang berdiri bagai sebuah
pintu gerbang itu.
Kemudian wajahnya berpaling lagi, dan menatap enam orang berbaju serba hitam
yang masih berada di belakangnya.
"Tadinya, itu tempat tinggal kami. Tapi, sekarang telah dikuasai Siluman Muka
Kodok," jelas si Mata Dewa Ketiga, tanpa diminta.
"Terus terang, sebenarnya kami juga tidak
suka padanya. Tapi dia terlalu sakti, dan sulit dilawan. Kami dibiarkan tetap
hidup, asalkan selalu menyediakan makanannya," sambung si Mata Dewa Kedua.
"Hm...," Rangga hanya menggumam saja.
Pendekar Rajawali Sakti tahu, makanan
Siluman Muka Kodok adalah manusia. Dan kini
juga baru diketahuinya kalau Tujuh Mata Dewa
dan orang-orangnya berada dalam cengkeraman
Siluman Muka Kodok. Tapi, memang gerombolan
Tujuh Mata Dewa sudah terkenal kebiadabannya.
Seluruh daerah Gunung Lanjaran ini dikuasai.
Dan siapa saja yang melewati, tidak akan pernah terdengar beritanya lagi.
Meskipun Gunung Lanjaran letaknya tidak
berapa jauh dari Karang Setra, tapi selama ini kerajaan itu belum pernah
dijamah. Dan baru
sekarang ini mereka membuat kekacauan di
sana, karena desakan Siluman Muka Kodok yang
memang menaruh dendam pada Pendekar
Rajawali Sakti.
"Kalian menyingkirlah," kata Rangga sambil berpaling lagi.
Tanpa diminta dua kali, enam orang yang
dikenal berjuluk Tujuh Mata Dewa bergegas
menjauhi Pendekar Rajawali Sakti. Mereka mencari tempat aman untuk bersembunyi, tapi juga cukup leluasa untuk melihat semua
yang akan terjadi nanti di puncak Gunung Lanjaran ini.
Perlahan Rangga mengayunkan kakinya menghampiri dua batu kembar itu. Sebentar kepalanya mendongak ke atas, melihat
Rajawali Putih masih terbang berputaran di atas puncak gunung ini. Kabut yang turun agak tebal
di sekitar puncak gunung ini membuat pandangan Pendekar
Rajawali Sakti agak terhalang. Tapi, kakinya terus saja melangkah perlahan-lahan
mendekati dua batu kembar yang ditunjuk si Mata Dewa Kesatu sebagai tempat tinggal Siluman
Muka Kodok. Rangga baru berhenti melangkah setelah
dekat dengan dua batu kembar itu. Kini, jaraknya tinggal sekitar dua batang
tombak lagi. Sebentar diamatinya kedua batu yang bentuk dan ukurannya persis
itu. Seakan, memang sengaja dibuat seperti sebuah gerbang masuk. Tapi,
sebenarnya kedua batu itu memang dibentuk oleh alam.
"Siluman Muka Kodok! Keluar kau...!" seru Rangga lantang menggelegar.
Suara yang dikeluarkan Pendekar Rajawali
Sakti dengan disertai pengerahan tenaga itu
menggema bagai hendak meruntuhkan puncak
gunung ini Sebentar Pendekar Rajawali Sakti terdiam menunggu, namun tak
terdengar sahutan
sedikit pun. Dan hanya terdengar gema suaranya saja yang memantul.
"Hm..., Aku harus memancingnya keluar,"
gumam Rangga dalam hati.
Pendekar Rajawali Sakti menarik kakinya ke
belakang tiga langkah, kemudian merapatkan
kedua telapak tangannya di depan dada. Lalu
kakinya ditarik hingga terpentang lebar ke samping, dan pcrlahan-lahan
merendahkan tubuhnya. Kini, kedua lututnya sudah tertekuk.
Saat itu, Rangga telah menyiapkan jurus "Pukulan Maut Paruh Rajawali" tingkat terakhir. Dan tampaknya, pukulan itu hendak
dilancarkan dari jarak jauh. Tampak kedua tangannya yang sudah terkepal, mulai
kelihatan merah bagai besi terbakar di dalam tungku. Sebentar kemudian....
"Hup...! Yeaaah...!"
Tepat ketika kedua tangan Pendekar Rajawali
Sakti terhentak ke depan dengan telapak terbuka, seketika itu juga meluncur sinar merah
bagai api Sinar merah yang keluar dari telapak tangan itu meluruk deras ke arah
dua batu kembar. Sinar merah itu meluncur cepat, melewati
rongga di antara kedua batu yang berbentuk
bagai gerbang perbatasan itu. Dan sesaat
kemudian.... Glarrr...! Seketika ledakan dahsyat terdengar menggelegar, membuat seluruh puncak gunung ini jadi bergetar bagai diguncang gempa.
Tampak api menyemburat tinggi ke angkasa dari balik batu kembar itu, disusul kepulan asap
hitam yang sangat tebal. Belum lagi hilang asap hitam itu dari angkasa, tiba-tiba terdengar
raungan sangat keras. Hingga menggetarkan seluruh puncak
Gunung Lanjaran ini.
"Ghraaaugkh...!"
"Hup!"
Rangga melompat ke belakang sejauh lima
langkah. Dan begitu kakinya menjejak tanah, dari balik batu kembar itu terlihat
sebuah bayangan berkelebat cepat bagai kilat. Dan bayangan
hitam itu langsung meluruk deras ke arah
Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup! Yeaaah...!"
Cepat-cepat Rangga melenting ke udara, sehingga bayangan hitam itu terus meluruk lewat di bawah kakinya. Tapi belum juga
Pendekar Rajawali Sakti bisa menjejak tanah kembali,
bayangan hitam itu sudah cepat berbalik, dan
langsung meluruk secepat kilat ke arahnya.
"Hap!"
Tidak ada pilihan lain lagi bagi Rangga, kecuali menjejakkan kakinya di tanah
dan menghentakkan kedua tangannya dengan telapak
tangan terbuka. Dan begitu kedua telapak
tangan Pendekar Rajawali Sakti sudah berwarna merah membara, bayangan hitam itu
sudah menabrak dengan kecepatan luar biasa sekali.
Seketika itu juga, terdengar ledakan yang sangat keras menggelegar.
"Hup!"
Begitu kerasnya benturan yang terjadi, sehingga membuat Rangga terpental ke
belakang. Tapi Pendekar Rajawali Sakti cepat dapat
menguasai keseimbangan tubuhnya. Dan dengan
ringan sekali kakinya berhasil menjejak tanah kembali. Sementara, bayangan hitam
itu terpental sejauh dua batang tombak ke belakang.
Tampak beberapa kali tubuhnya bergulingan di
tanah. "Ghrogkh...!"
Bersamaan terdengarnya suara menggorok
keras, tampak bayangan hitam itu melesat ke
udara dan berputaran beberapa kali. Lalu manis sekali kakinya mendarat di tanah,
tepat sekitar empat batang tombak dari Pendekar Rajawali
Sakti. "Hm...."
Rangga menggumam sedikit saat melihat di
depannya kini sudah berdiri Siluman Muka
Kodok. Laki-laki berwajah mirip seekor kodok
dan berbaju warna hitam pekat yang ketat.
Bukan hanya wajahnya saja yang mirip kodok,
tapi seluruh kulit tubuhnya juga tidak beda jauh dengan kodok. Begitu miripnya,
sampai dengusan napasnya pun terdengar bagaikan
kodok di malam hari.
"Akhirnya kau keluar juga, Siluman Muka
Kodok," desis Rangga dingin.
"Ghrooogkh...!"
Siluman Muka Kodok kelihatan tidak senang
melihat Rangga berada di puncak Gunung
Lanjaran ini. Manusia aneh ini mendengusdengus memperdengarkan suara menggorok
yang menyakitkan telinga. Sementara, Rangga
sudah mengayunkan kakinya mendekati laki-laki bermuka kodok ini. Ayunan kakinya
baru berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar tujuh langkah lagi.
"Hari ini aku menantangmu, Siluman Muka
Kodok. Kita bertarung sampai salah satu di
antara kita masuk lubang kubur," kata Rangga lagi, dengan suara terdengar sangat
dingin. "Ghrogkh...!"
*** 8 Tantangan yang dibuka Rangga, membuat
Siluman Muka Kodok jadi berang setengah mati.
Wajahnya yang memang sudah hitam, semakin
kelihatan kelam dan mengerikan. Kedua bola
matanya terlihat semakin nyalang dan merah,
bagai sepasang bola api yang akan menghanguskan Pendekar Rajawali Sakti.
"Ghrooogkh...!"
Sambil memperdengarkan suara menggorok
keras, Siluman Muka Kodok merendahkan
tubuhnya sampai kedua tangannya menyentuh
tanah. Wajahnya terangkat naik. Langsung ditatapnya Rangga dengan sinar mata memerah
tajam. Mulutnya terus mendengus-dengus memperdengarkan suara menggorok menyakitkan
telinga. "Ghraaaugkh...!"
Tiba-tiba saja Siluman Muka Kodok melompat
sambil meraung keras bagai guntur. Begitu cepat lompatannya, sehingga membuat
Rangga jadi terkesiap sesaat. Sungguh tidak disangka kalau orang berwajah seperti kodok itu
melakukan serangan begitu cepat bagai kilat.
"Hait..!"
Cepat-cepat Rangga melompat ke samping,
menghindari terjangan Siluman Muka Kodok.
Dan pada saat yang bersamaan, kakinya
dihentakkan. Langsung diberikannya satu tendangan tanpa disertai pengerahan tenaga dalam.
Namun tanpa diduga sama sekali, Siluman Muka
Kodok tidak berusaha menghindar. Bahkan
tangan kirinya dihentakkan untuk menyambut
kaki Pendekar Rajawali Sakti. Tentu saja tindakan Siluman Muka Kodok itu membuat
Rangga jadi terseritak kaget.
"Hap...!"
Cepat-cepat Rangga menarik pulang kakinya,
tidak mau mengambil akibat menyakitkan. Hal ini karena tendangannya tadi tanpa
disertai pengerahan tenaga dalam. Padahal, tadi
maksudnya hanya untuk mengejutkan Siluman
Muka Kodok. Tapi kenyataannya, orang berwajah mirip kodok itu malah
menyambutnya. Seakan,
dia tahu kalau serangan balasan Pendekar
Rajawali Sakti hanya tipuan belaka.
"Hap!"
Beberapa kali Rangga berputar di udara, lalu
manis sekali kembali menjejakkan kakinya di
tanah. Pada saat yang bersamaan, Siluman
Muka Kodok sudah kembali bersiap hendak
menyerang lagi. Kedua tangannya sudah
menyentuh tanah, dengan tubuh terbungkuk.
Tatapan matanya begitu tajam, terarah ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.
Seakan-akan tingkat kepandaian yang dimiliki
pemuda itu ingin diukurnya.
"Ghrooogkh...!"
Dengan kecepatan lebih dahsyat dari pertama,
Siluman Muka Kodok kembali menyerang
Rangga. Dan saat itu juga, tongkatnya diambil dari balik ikat pinggang. Langsung
tongkat yang kedua ujungnya bulat sebesar kepalan tangan itu dikebutkan ke arah
kepala Pendekar Rajawali
Sakti. Maka, dari kedua bulatan pada ujung
tongkat itu langsung memancarkan cahaya
kuning kemerahan.
"Hup! Hiyaaa...!"
Dengan kecepatan yang tidak kalah dahsyat,
Rangga segera melenting ke udara. Sehingga,
serangan Siluman Muka Kodok kembali tidak
menemui sasaran. Beberapa kali Pendekar
Rajawali Sakti berputaran di udara, seraya
mengerahkan jurus "Rajawali Menukik
Menyambar Mangsa". Begitu cepat sekali tubuhnya meluruk dengan kedua kaki bergerak sangat ecpat, sukar diikuti pandangan
mata biasa. "Ghrogkh...!"
Siluman Muka Kodok segera menghentakkan
tongkatnya ke atas kepala. Namun, Rangga
sudah lebih dulu memutar tubuhnya hingga
kepalanya berada di atas. Dan pada saat itu juga, tangan kanannya dikibaskan
disertai pengerahan jurus "Sayap Rajawali Membelah Mega".
"Yeaaah...!"
"Ghraaagkh...!"
Bet! Tapi tanpa diduga sama sekali, Siluman Muka
Kodok bisa memutar tongkatnya. Kecepatannya
sulit sekali diikuti mata biasa. Langsung
ditangkisnya kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti yang mengarah ke dadanya.
"Hait..!"
Cepat-cepat Rangga menarik tangannya


Pendekar Rajawali Sakti 84 Tujuh Mata Dewa di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pulang. Dan tubuhnya langsung melenting ke
belakang, lalu mendarat manis sekali sekitar
satu batang tombak jauhnya dari Siluman Muka
Kodok. "Ghrogkh...!"
Baru saja Rangga menjejak tanah, Siluman
Muka Kodok sudah melompat lagi menyerang.
Tongkat yang memancarkan cahaya kuning
kemerahan pada kedua ujungnya dikebutkan
beberapa kali dengan cepat dan beruntun.
Akibatnya, Pendekar Rajawali Sakti terpaksa
hams berjumpalitan menghindari.
Dan kali ini, rupanya Siluman Muka Kodok
tidak ingin memberi kesempatan lagi pada
Pendekar Rajawali Sakti untuk balas menyerang.
Lewat jurus-jurus yang cepat dan dahsyat, tokoh berwajah aneh itu terus
menyerang Pendekar
Rajawali Sakti. Begitu cepatnya, hingga tubuh-tubuh mereka jadi lenyap. Dan yang
terlihat kini hanya bayang-bayang berkelebatan di antara
sinar-sinar kuning kemerahan.
*** Puluhan jurus sudah berlalu, tapi pertarungan
masih terus berlangsung sengit dan cepat.
Sementara, enam orang berjuluk Tujuh Mata
Dewa yang memperhatikan pertarungan dari
balik tempat persembunyian, jadi terlongong
bengong. Mereka benar-benar kagum melihat
pertarungan tingkat tinggi yang sangat dahsyat luar biasa itu. Kalau saja tidak
mengerti ilmu-ilmu kedigdayaan, pasti mata mereka sudah ber-kunang-kunang.
Dan tampaknya, pertarungan masih akan
terus berlangsung sengit. Sedikit pun belum ada tanda-tanda kalau pertarungan
bakal berakhir.
Sementara, baik Rangga maupun Siluman Muka
Kodok sudah mengerahkan jurus-jurus dahsyatnya. Kendati demikian, Pendekar Rajawali Sakti belum juga mencabut pedang pusaka
yang sudah terkenal kedahsyatannya.
Bukan hanya jurus-jurus yang sudah dikeluarkan. Tapi ilmu-ilmu kesaktian juga sudah
dikerahkan. Namun belum bisa dipastikan,
kapan pertarungan ini bakal berakhir. Mereka
masih sama-sama tanggguh. Sementara, matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat. Dari angkasa, terlihat Rajawali
Putih sudah mulai
gelisah saat melihat pertarungan belum juga ada tanda-tanda akan berakhir.
Beberapa kali Rajawali Putih, berkaokan dengan suara serak
dan keras menggelegar. Seakan-akan, dia tengah memberikan petunjuk pada Rangga.
Tapi, tampaknya pemuda itu seperti tidak mendengar.
Dan memang, suara Rajawali Putih tertelan
teriakan-teriakan pertarungan yang sesekali
diseling ledakan keras, setiap kali mereka
beradu pukulan yang mengandung pengerahan
tenaga dalam. Rupanya, tingkat tenaga dalam
yang dimiliki seimbang. Sehingga, beberapa kali mereka beradu tenaga dalam,
masih tetap bisa
melanjutkan pertarungan.
"Ghrogkh...!"
"Hup!"
Hingga pada satu saat, mereka sama-sama
berlompatan ke belakang. Dan secara bersamaan pula, menjejakkan kaki di tanah. Sesaat mereka berdiri saling berhadapan
berjarak sekitar satu batang tombak. Sorot mata masing-masing terlihat begitu tajam,
menembus ke bola mata satu sama lain.
Sret! Perlahan Rangga mencabut Pedang Rajawali
Sakti dari dalam warangka di punggung. Seketika itu juga, sekeliling puncak
Gunung Lanjaran ini jadi bermandikan cahaya biru berkilauan yang
menyilaukan mata. Siluman Muka Kodok
menutup matanya dengan punggung tangan kiri,
seakan tidak sanggup menentang cahaya yang
memancar dari pedang di tangan Pendekar
Rajawali Sakti.
Wut! Manis sekali gerakan Rangga saat mengebutkan pedangnya, hingga tersilang di depan dada.
Lalu telapak tangan kirinya ditempelkan tepat pada pangkal mata pedang dekat
tangkainya. Sedangkan kedua kakinya sudah dipentang lebar ke samping, dengan lutut sedikit
tertekuk ke depan. "Ghrogkh!"
Siluman Muka Kodok perlahan-lahan menggeser kakinya ke samping, tepat di saat Rangga mulai menggosok mata pedang
dengan telapak tangan kiri. Dan begitu telapak tangan kirinya kembali bergerak sampai ke
pangkal pedang,
cahaya biru yang menyebar di seluruh mata
pedang itu langsung membentuk bulatan tepat di ujungnya.
"Hap!"
Bet! Cepat sekali Rangga mengebutkan pedangnya
ke depan. Dan seketika itu juga, bulatan sinar biru di ujung pedangnya meluncur
cepat bagai kilat ke arah Siluman Muka Kodok.
"Ghrogkh!"
Wuk! Siluman Muka Kodok langsung mengebutkan
tongkatnya, menyambut sinar biru yang meluncur deras ke arahnya. Hingga, ujung
tongkatnya yang memancarkan cahaya merah bagai api itu mem-bentur bulatan biru
yang memancar dari pedang Pendekar Rajawali Sakti.
Glarrr...! Seketika satu ledakan dahsyat terjadi, begitu ujung tongkat Siluman Muka Kodok
menghantam bulatan sinar biru yang memancar dari ujung
pedang Pendekar Rajawali Sakti.
"Argkh...!"
Siluman Muka Kodok tampak terkejut, karena
bulatan sinar biru itu tidak menghilang sedikit pun juga. Bahkan malah
menyelubungi seluruh
tongkat yang tergenggam di tangan kanannya.
"Ghrrrk!"
Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga
dalamnya, tokoh berwajah aneh itu berusaha
menghentakkan tangannya ke belakang. Tapi
pada saat yang sama, Rangga sudah mengerahkan seluruh kekuatannya. Maka sinar biru yang memancar dari pedangnya mengikuti
arah tarikan tangan Siluman Muka Kodok. Dan tentu
saja, ini membuat orang berwajah seperti kodok itu jadi terperanjat setengah
mati. Sementara, sinar biru yang memancar dari
Pedang Rajawali Sakti itu semakin jauh menyelubungi tangan Siluman Muka Kodok. Bahkan
sudah mulai merayap ke tubuhnya. Tampak
Siluman Muka Kodok berusaha melepaskan diri
dari belenggu cahaya biru terang yang tampaknya seperti hidup itu.
"Ghroaaagkh...!"
Sambil meraung dahsyat, Siluman Muka
Kodok melenting ke atas. Dan bersamaan
dengan itu, Rangga menghentakkan pedangnya
ke atas. Sehingga, cahaya biru yang memancar
dari ujung pedangnya tidak terputus, dan terus merayap menyelubungi tubuh
Siluman Muka Kodok. Berkali-kali Siluman Muka Kodok berusaha
melepaskan diri dari selubung cahaya biru yang semakin banyak menyelimuti
tubuhnya. Tapi setiap kali kekuatannya dikerahkan, setiap kali pula dirasakan adanya kekuatan
yang sangat dahsyat menarik keluar tenaganya lebih banyak lagi.
"Ghraaagkh...!"
Siluman Muka Kodok mulai menggerunggerung sambil menggeliat di dalam selubung
sinar biru yang semakin banyak memancar dari
ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti. Namun
akhirnya, Siluman Muka Kodok diam tak bergerak sedikit pun juga, seperti sudah pasrah.
Bahkan sedikit pun tidak mengerahkan tenaga.
"Gila! Apa yang dilakukannya...?" desis Rangga tersentak kaget.
Pendekar Rajawali Sakti berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyedot
habis tenaga yang dimiliki Siluman Muka Kodok.
Tapi karena Siluman Muka Kodok tidak mengadakan perlawanan, sangat sulit bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk
melumpuhkannya.
"Ugkh! Dia tahu kelemahan aji "Cakra Buana Sukma". Edan...! Aku tidak boleh
mengikuti kemauannya," dengus Rangga dalam hati.
Cepat Pendekar Rajawali Sakti mencabut
kembali aji "Cakra Buana Sukma". Dan seketika itu juga, cahaya biru terlepas
dari tubuh Siluman Muka Kodok. Tampak Siluman Muka Kodok jadi
limbung. Begitu Rangga mencabut aji "Cakra
Buana Sukma". Tapi, keseimbangan tubuhnya
cepat dikuasai. Tampak dari lubang hidung dan sudut bibirnya mengalirkan darah.
"Ghrogkh...!"
"Hei..."!"
Rangga jadi tersentak kaget, begitu tiba-tiba Siluman Muka Kodok cepat memutar
tubuhnya. Dia tahu, orang berwajah seperti kodok itu
hendak kabur dengan cara menghilang. Dan....
"Hiyaaat..!"
Sambil berteriak keras, Rangga melompat
cepat bagai kilat. Dan secepat itu pula,
pedangnya dibabatkan, tepat di saat seluruh
tubuh Siluman Muka Kodok diselubungi asap
hitam tebal. Bet! "Grrooogkh...!"
"Heh..."!"
Rangga jadi tersentak kaget setengah mati.
Ternyata sama sekali tidak dirasakannya ada
benturan pada mata pedangnya. Padahal tadi
jelas sekali pedangnya membabat, hingga masuk dalam ke asap hitam yang
menggumpal menyelimuti seluruh tubuh Siluman Muka Kodok.
Belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa
berbuat sesuatu, asap hitam itu sudah lenyap
dengan cepat. Padahal, sedikit pun tidak terasa adanya tiupan angin. Dan, kening
Rangga jadi berkerut, begitu melihat adanya tetesan darah di atas rerumputan, di tempat
Siluman Muka Kodok tadi berada.
"Hm...."
Jelas sekali kalau tebasan pedang Rangga tadi menyabet tubuh Siluman Muka Kodok.
Tapi memang, Siluman Muka Kodok sudah cepat
menghilang. Sehingga, Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa memastikan, apakah lakilaki berwajah seperti seekor kodok itu sudah tewas atau masih hidup. Sedangkan
untuk mengejar, sudah tidak
mungkin lagi. Dia tidak tahu, ke mana arah
perginya Siluman Muka Kodok tadi.
Cring! Rangga memasukkan Pedang Pusaka Rajawali
Sakti ke dalam warangka di punggung, kemudian mendongakkan kepalanya ke atas.
Saat itu, Rajawali Putih menukik turun dari angkasa.
Begitu cepat burung rajawali raksasa itu
bergerak, sehingga dalam waktu sebentar saja
sudah mendarat di depan pemuda ini.
Sementara dari balik persembunyian, enam
orang yang berjuluk Tujuh Mata Dewa sudah
melarikan diri, sebelum Pendekar Rajawali Sakti menyadari.
"Kau lihat ke mana perginya Siluman Muka Kodok, Rajawali?" tanya Rangga.
"Khrrrk...!"
Rajawali Putih menggelengkan kepala sambil
mengkirik pelan. Meskipun terus memperhatikan dari angkasa, tapi burung rajawali
raksasa itu sama sekali tidak melihat arah menghilangnya
Siluman Muka Kodok, kecuali hanya bisa melihat gumpalan asap hitam saja.
"Pedang Rajawali Sakti sudah berhasil me-lukainya. Pasti membutuhkan waktu lama
untuk menyembuhkannya," gumam Rangga seperti
bicara pada diri sendiri.
"Khrrrk...!"
"Ayo, rajawali. Kita kembali ke istana," ajak Rangga.
"Khragkh...!"
"Heh..."! Apa...?"
Rangga langsung memutar tubuhnya berbalik.
Saat itu sempat terlihat enam tubuh berpakaian serba hitam berlarian cepat
menuruni lereng
Gunung Lanjaran ini. Dia tahu, itu adalah enam orang yang berjuluk Tujuh Mata
Dewa. "Biarkan saja mereka pergi, Rajawali," kata Rangga sambil tersenyum.
Entah apa arti senyuman Pendekar Rajawali
Sakti kali ini. Mungkin merasa geli melihat Tujuh Mata Dewa yang tinggal enam
orang itu melarikan diri menghindarinya. Kemudian dengan
gerakan ringan sekali, Pendekar Rajawali Sakti melompat naik ke punggung
Rajawali Putih.
"Ke istana, Rajawali," pinta Rangga.
Khraaagkh...! SELESAI Created ebook by
Scanning & Convert to Pdf (syauqy_arr)
Edit teks (fujidenkikagawa)
Tapak Tapak Jejak Gajahmada 2 Pahlawan Dan Kaisar Karya Zhang Fu Makam Bunga Mawar 33

Cari Blog Ini