Ceritasilat Novel Online

Dukun Dari Tibet 1

Pendekar Rajawali Sakti 118 Dukun Dari Tibet Bagian 1


. 118. Dukun Dari Tibet ~ Bag. 1-3
9. August 2015 um 08:59
1 ? Udara bertambah dingin dan angin bertiup semakin kencang. Sementara gerimis yang sejak tadi mengguyur Desa Waringin Pitu berubah menjadi hujan deras. Rumah-rumah penduduk terlihat tertutup rapat. Dalam cuaca seperti ini membuat mereka malas untuk keluar rumah. Rasanya lebih betah berada di dalam, menikmati singkong rebus sambil menghirup kopi! Lagi pula di luar keadaan sudah semakin gelap. Mendung tebal yang mendekati senja ini membuat perbedaan antara siang dan malam jadi tak jelas. Semua terlihat kelam.
Jauh sebelum mencapai mulut desa, seorang laki-laki memakai topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu, tampak berjalan dengan tenang seperti tak terganggu dengan tetesan air hujan yang telah membasahi bahu dan punggungnya. Wajahnya tak jelas terlihat karena orang itu berjalan sambil menunduk. Agaknya dia sangat tak peduli dengan keadaan di sekelilingnya. Juga tak terlihat bahwa dia sedang tergesa-gesa.
"Berhenti...!!"
Beberapa sosok bayangan tiba-tiba saja me-ngurungnya. Orang itu menghentikan langkah. Kepalanya masih tertunduk tanpa menoleh se-dikitpun. Ketika secercah kilat menerangi tempat itu, sempat tertangkap oleh matanya golok-golok yang tajam berkilat di tangan orang-orang yang kini mengurungnya itu.
"Tinggalkan barang-barangmu yang berharga, dan kau boleh pergi dari sini dengan selamat!" Terdengar kembali suara membentak.
"Kalau tidak...?" sahut si orang bertopi lebar itu dingin.
"Huh, kau akan mampus!"
"Hebat! Sebelum kuserahkan barang-barang berharga yang kumiliki, bolehkah aku menge-tahui sedang berhadapan dengan siapa saat ini?"
"Huh, kau tak perlu tahu! Ayo, cepat serah-kan barang-barangmu!"
"Kisanak, akan sengsaralah aku karena tak mengetahui kepada siapa barang-barangku ini di-berikan. Dan aku punya sikap meski kalian bunuh sekalipun, tak akan kuberikan barang-barangku sebelum mengetahui siapa kalian adanya," sahut orang bertopi lebar itu tenang.
"Bangsat! Banyak bicara lagi. Sudah, cepat habisi dia! Teriak salah seorang yang agaknya sudah tidak sabaran lagi mendengar kata-kata orang itu.
Yang lain sudah mulai bergerak hendak menghajar, namun salah seorang yang agaknya bertindak sebagai pemimpin mereka mencegah-nya.
"Sebentar! Tak ada salahnya kalau dia mengetahui siapa kita!"
"Tapi, Kala Ireng..., orang ini cerewet sekali. Kalau kau melayani sikapnya, dia akan lebih cerewet lagi nantinya!" bantah salah seorang anak buahnya.
"Betul! Sebaiknya tak usah kita ladeni dan sikat saja barang-barangnya kemudian tinggalkan saja di sini. Mau mampus atau bagaimana, ter-serah kita saja!" dukung seorang kawannya yang sebelah kakinya timpang.
"Tidak!" sahut Kala Ireng tegas. Orang ber-kulit hitam dan berkumis tipis itu kemudian me-langkah mendekati si topi lebar yang memakai baju kuning. Kemudian terdengar suaranya yang pelan, namun jelas terdengar.
"Nah, kau sudah dengar siapa aku. Kala Ireng, pemimpin Rampok Lembah Maut!"
"Hmmm..., Rampok Lembah Maut" Hebatkah kalian...?" tanya orang itu lagi.
Pertanyaannya itu memang aneh dan lucu. Tentu saja menggelikan bagi Kala Ireng. Kenapa tidak" Karena sejauh lima desa nama mereka sa-ngat ditakuti. Dan kalau sampai orang ini tak mengenalnya, sudah pasti dia pendatang baru di tempat ini. Dan hal itu. amat menggembirakan baginya. Tapi kawan-kawannya sudah tak sabaran dan mulai ribut melihat Kala Ireng agaknya masih saja meladeni pertanyaan-pertanyaan orang asing itu yang menurut mereka sama sekali tak berguna.
"Orang asing, agaknya kau tak mengenal kami sebelumnya. Pantas kelihatannya kau menganggap enteng. Nah, kuperingatkan sekali lagi. Berikan semua barang-barang berharga yang kau miliki dan kau boleh pergi dengan selamat. Kalau tidak, kau boleh mampus!"
"Ha ha ha ha...! Kukira siapa yang bicara seperti itu ternyata cuma tikus-tikus got yang kelaparan...!"
"He, setaan!"
"Bangsat! Hajar dia!" maki Kala Ireng.
Pada mulanya dia menganggap orang itu te-lah gentar ketakutan begitu mengetahui siapa mereka. Tapi siapa sangka orang bertopi lebar itu malah ketawa keras. Bahkan dari nada suaranya terkesan meremehkan dan sama sekali tak me-mandang sebelah mata kepada mereka. Salah seorang anak buah Kala Ireng langsung memaki, dan sebelum diberi perintah, dia sudah mencabut golok dan menyerang orang itu dengan geram.
"Yeaaa...!"
Hup! Plak! "Uhk!"
"Kepuuung! Jangan biarkan lolos!"
"Yeaaa...!"
Orang yang pertama menyerang tadi mengeluh kesakitan ketika dengan cepat serangannya dihindari lawan. Bahkan tahu-tahu dia merasa pergelangan tangannya seperti dihantam besi dan goloknya terpental ke atas. Tentu saja hal ini membuat kawan-kawannya semakin geram saja. Mereka menyerang lawan dengan penuh nafsu.
Plak! Duk! Des!
"Aaaakh...!"
"Heh"!"
? * *? * ? Kala Ireng tersentak kaget. Betapa tidak" Dalam sekali gebrak saja empat orang anak buah-nya dibuat jungkir balik dan tak berdaya. Padahal mereka bukanlah orang sembarangan. Sadarlah dia kini bahwa si topi lebar itu bukan orang biasa yang mudah mereka taklukkan. Dia memandang tajam sambil melangkah berputar.
"Siapa kau sebenarnya"! Gerakanmu aneh dan sama sekali tak menunjukkan bahwa ilmu silatmu berasal dari negri ini!"
"Hm, apakah hal itu berarti?" sahut orang itu dingin penuh ejekan.
"Pfuiih! Kau boleh menyombongkan diri di hadapan mereka. Tapi menghadapi Kala Ireng jangan coba-coba!"
"Jangan bisanya hanya memaki. He, majulah kalau memang kau memiliki kepandaian hebat!"
"Mundur kalian semua!" bentak Kala Ireng.
Beberapa orang anak buahnya agak ragu me-matuhi perintah ketuanya itu. Disamping mereka masih penasaran dan dendam dengan orang asing itu, mereka juga tak yakin Kala Ireng mampu menghadapinya seorang diri. Yang pasti kepandaian Kala Ireng memang hebat, tapi sebatas satu tingkat di atas kepandaian mereka. Dan kalau orang asing itu mampu menjatuhkan mereka dalam satu gebrakan, berapa jurus yang digunakan untuk menjatuhkan Kala Ireng" Mereka tampak yakin bahwa Kala Ireng bukan tandingan orang asing ini, tapi Kala Ireng sendiri begitu yakin kalau dia mampu mengatasi lawannya. Buktinya dia membentak sekali lagi ketika dilihatnya anak buahnya tetap bersikap hendak mengeroyok orang asing itu.
"Kurang ajar! He, apa telinga kalian tuli"! Mundur kalian. Menghadapi kutu busuk begini saja tak becus, huh!"
Mendengar Kala Ireng kelihatan bersikeras sekali untuk menghadapi orang asing itu sen-dirian, anak buahnya terpaksa mematuhi. Namun dengan sikap waspada dan menjaga segala ke-mungkinan buruk yang akan menimpa ketuanya.
"Yeaaa...!"
"Huh!"
Dengan suatu teriakan keras, Kala Ireng me-lompat sambil mengerahkan segenap kemampuan bergerak. Dia berharap dalam sekali gebrak lawan akan jungkir balik dibuatnya. Oleh sebab itu tak heran kalau dia telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Bahkan tak kepalang tanggung dia menggunakan jurus andalannya untuk menjatuhkan lawan secepatnya.
Orang asing itu cuma mendengus sinis. Tu-buhnya bergerak lincah menghindari serangan lawan. Kemudian mendadak dia melompat sambil melakukan satu tendangan kilat yang mengarah dagu Kala Ireng.
"Heh"!"
Kala Ireng terlonjak kaget. Kalau saja dia tak cepat membuang diri ke samping, niscaya rahang-nya akan remuk dihantam tendangan lawan yang sangat keras. Angin serangannya saja mampu membuatnya terdorong. Bertambah sadarlah dia bahwa lawan memang bukan orang sembarangan. Tenaga dalamnya hebat, dan kecepatan berge-raknya luar biasa. Dia mulai tak yakin bisa meng-unggulinya. Berpikir begitu diam-diam nyalinya mulai ciut, dan kekhawatirannya semakin me-muncak.
Entah hal itu yang membuatnya lengah dari serangan lawan, atau karena lawan yang mampu mendikte serangannya. Mendadak Kala Ireng merasakan sambaran angin kencang yang mener-pa. Buru-buru dia bergulingan menghindari diri karena mengira lawan tengah menyerangnya dengan cepat. Tapi....
Begkh! "Akh..."
Crab! Jeritan Kala Ireng berhenti ketika sebuah benda tajam yang datangnya entah dari mana, menancap di dada sebelah kirinya. Anak buahnya tersentak kaget dan baru menyadari ketika tubuh ketua mereka terlempar.
"Heh"!"
"Keparat! Orang ini mestinya mampus sejak tadi!" maki salah seorang anak buah Kala Ireng.
"Bunuh dia, dan jangan beri ampun!"
Serentak tujuh orang anak buah Kala Ireng menyerbu dan menyerang lawan dengan ganas. Golok mereka berhamburan mengejar orang bertopi lebar itu yang bergerak lincah sekali.
"He he he he...! Tikus busuk yang tak ber-guna, kalian bukanlah tandinganku. Percuma saja aku membuang tenaga menghadapi kalian!"
"Huh, sombong! Kau pikir bisa luput dari kematianmu saat ini"!" sahut salah seorang anak buah Kala Ireng kala mendengar ocehan lawan yang merendahkan mereka.
"Apalagi orang yang hanya punya mulut besar sepertimu!"
"Setan!"
"Yeaaa...!"
"Hup!"
"Ayo, buktikan mulut besarmu sekarang juga!"
"Ha ha ha ha...! Kenapa musti buru-buru" Tapi kalau kalian memang sudah tak sabaran me-nemui ketuamu, baiklah. Yeaaa...!"
Trak! Begkh! Crab!
"Aaaa...!"
"Hiiih!"
Praak! Apa yang dilakukan si topi lebar itu sungguh luar biasa. Dia betul-betul membuktikan kata-katanya. Ketika tubuhnya melompat ke atas, para pengeroyoknya itu bermaksud mengejar. Namun mereka tak keburu bergerak sebab dengan tiba-tiba orang itu melempar topi lebarnya ke arah lawan-lawannya. Mereka terkesiap dan buru-buru menangkis dengan golok yang dipegangnya. Tapi siapa duga kejadiannya akan lain" Topi lebar itu menderu kencang menimbulkan kekuatan yang mampu menghantam golok-golok di tangan mereka terpental. Belum lagi habis rasa kaget, mendadak satu hantaman keras menerpa. Orang-orang itu memekik kesakitan dengan tubuh ter-jungkal bermandikan darah. Orang asing itu mengamuk dengan hebat dan gerakan sangat cepat. Ketika tinggal dua orang yang tersisa, te-lapak kirinya bergerak tanpa bisa ditangkis menghantam batok kepala salah seorang. Orang itu langsung ambruk tak bernyawa lagi.
"Hm, sekarang tinggal kau sendiri. Kau ten-tukan nasibmu...." kata orang asing itu menyeri-ngai buas.
Anak buah Kala Ireng yang tinggal seorang itu mulai gemetar tubuhnya ketika lawan men-dekatinya perlahan-lahan. Kini dia bisa melihat dengan jelas rupa orang itu. Sepasang alisnya tajam miring ke atas dengan mata sipit. Kumisnya kecil dan panjang pada kedua ujungnya. Rambut-nya yang panjang terlihat dikepang dan dikalung-kan ke leher. Pada ujungnya terlihat sebuah pisau yang diikat. Agaknya senjata inilah yang tadi merenggut nyawa Kala Ireng dan beberapa orang anak buahnya.
"Eh, aa... a...!"
"Ha ha ha ha! Kau boleh pergi dari sini dengan selamat. Katakan pada semua jago persilatan di negri ini, aku U Than Kyung akan menantang mereka!" kata orang asing itu sambil terkekeh penuh kemenangan.
Mendengar kesempatan itu, orang tersebut langsung lari terbirit-birit diiringi gelak tawa U Than Kyung yang tak putus-putusnya.
? * *? * ? Juragan Sumantri tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir di beranda depan rumahnya. Wajahriya tampak kusut dan gelisah. Beberapa orang centengnya diam mematung, tak tahu apa yang harus dilakukan. Laki-laki berperawakan besar dengan perut sedikit gendut itu berhenti melangkah. Sambil menghisap tembakau yang berada di dalam cangklong gading, dia. meman-dang tajam pada mereka satu persatu.
"Apakah tak ada diantara kalian yang ber-usaha mencari dukun hebat untuk menyembuh-kan putriku?"
"Maaf, Juragan. Segalanya sudah kami usaha-kan, dan Juragan melihat sendiri hasilnya. Mereka semua tak mampu mengobati Neng Purwasih...," sahut salah seorang centengnya yang bernama Giman.
Juragan Sumantri menghela nafas berat. Pi-kirannya kusut sekali memikirkan putri satu-sa-tunya. Sudah satu purnama ini Purwasih men-derita penyakit aneh. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh kudis-kudis kecil yang sulit diobati. Bukan hanya itu, namun dia juga menderita demam ber-kepanjangan. Panas tubuhnya dalam sehari cuma normal kira-kira dua kali penanakan nasi saja, untuk kemudian kembali diserang demam. Sudah beberapa orang dukun yang berusaha mengobati namun tak satupun yang membawa hasil. Purwasih terus menggigil sambil merintih kesakitan. Tubuhnya sudah kurus kering tinggal kulit pem-balut tulang. Wajahnya yang dulu cantik, berubah bagai mayat hidup yang menjijikkan.
"Gan..., Juragan...."
"Eh, hm"! Ada apa..."!" Juragan Sumantri tersentak kaget ketika salah seorang anak buahnya menepuk pundaknya. Lamunannya buyar, dan di pintu gerbang terlihat seorang centeng tengah bercakap-cakap dengan seseorang yang ?tak dikenalnya.
"Orang itu hendak bertemu, Juragan...," kata centeng yang tadi membangunkannya.
"Siapa dia?"
"Katanya dia hendak menyembuhkan Neng Purwasih...."
"Apa"!" Juragan Sumantri cepat bangkit dari kursinya dan memandang pada laki-laki berbaju kuning di depan sana.
"Suruh dia masuk!" lanjutnya.
Laki-laki itu perawakannya sedang saja. Matanya sipit dengan sepasang alis yang miring dan tajam. Kumisnya tipis dengan kedua ujungnya panjang hampir sedagu. Rambutnya yang panjang dikepang dan dililitkan pada lehernya. Sepintas saja Juragan Sumantri bisa menduga bahwa laki-laki yang menebak dari wajahnya berusia sekitar tiga puluh tahun lebih ini bukan penduduk negri melainkan orang asing. Apalagi cara berpakaiannya yang tak sama dengan kebanyakan orang-orang di negri ini. Tapi mendengar niatnya hendak menyembuhkan putrinya, Juragan Sumantri tak mempersoalkan itu.
"Betulkah Ki sanak bermaksud menyembuhkan putriku?" tanyanya girang.
"Juragan, aku mendengar dari orang-orang bahwa putrimu sedang sakit. Kalau memang di-perkenankan aku bermaksud untuk mencoba mengobatinya...," sahut orang asing itu sambil memberi hormat. Nada suaranya terdengar halus dan sopan.
Bukan main girangnya Juragan Sumantri mendengar hal itu. Dia sendiri yang mengantar-kan tamunya itu ke kamar putrinya. Istrinya yang setiap hari selalu menunggui putrinya terlihat wajahnya sedikit cerah ketika diberitahu bahwa orang asing itu bermaksud mengobati putrinya.
"Mudah-mudahan dia berhasil...," gumam Juragan Sumantri sambil berdo'a di hati.
"Orang mana, Pak?" tanya istrinya serasa ber-bisik.
Juragan Sumantri menggelengkan kepala. Wajah istrinya tampak heran dengan dahi berkerut.
"Yang penting dia mampu mengobati anak kita," jelas Juragan Sumantri agar istrinya tak mempersoalkan hal itu.
Saking girang dan bersemangatnya, Juragan Sumantri sendiri yang mengambil dan mencari-kan ramuan obat yang diminta oleh orang asing itu. Hal itu tak terlalu sulit, sebab selain mudah didapat di dapurnya, Juragan Sumantri pun me-miliki kebun yang ditanami tumbuh-tumbuhan yang selama ini berguna sebagai obat-obatan di belakang rumahnya.
"Ng... eh, Kisanak terganggu dengan ke-hadiran kami di sini?" tanya Juragan Sumantri.
Orang asing itu tersenyum sambil menoleh sekilas.
"Tidak. Kenapa musti terganggu" Bahkan dengan kehadiran bapak dan ibunya, dia akan lebih tabah dan kuat," sahut orang asing itu simpatik.
Juragan Sumantri tersenyum kecil. Demikian juga istrinya. Mereka memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan orang asing itu. Di-. urut-urutnya beberapa bagian di tubuh Purwasih. Gadis itu menjerit untuk beberapa saat. Namun dengan telaten orang asing itu membujuknya, se-hingga terlihat Purwasih agak sedikit tenang mes-kipun wajahnya berkerut menahan sakit.
"Nanti setelah ramuan obatnya mendidih, di-nginkan sebentar baru diminumkan kepada-nya...," kata orang asing itu sambil bangkit dan memandang kepada Juragan Sumantri dan istrinya.
"Eh, apakah ada kemungkinan putri kami sembuh kembali?" tanya Juragan Sumantri.
Orang asing itu tersenyum. "Mudah-mudah-an...."
"Oh, terima kasih, Ki sanak! Terima kasih...!"
"Kalau demikian saya permisi dulu...."
"Eh, tunggu dulu!" Juragan Sumantri menahan sambil merogoh saku bajunya dan menye-lipkan beberapa keping uang emas ke tangan orang asing itu.
"Oh, terima kasih...."
"Dimana kami dapat menghubungi Kisanak bila belum ada perkembangan baik pada putri kami?"
Orang asing itu terdiam sambil tersenyum kecil. Kemudian katanya lirih.
"Saya baru datang di negri ini dan tak mem-punyai tempat tinggal...."
"Astaga, sampai lupa menanyakan kepada Ki sanak! Silahkan duduk lebih dulu!" sahut Juragan Sumantri mengajak orang asing itu ke ruang tamu.
Mereka berbincang-bincang untuk beberapa saat lamanya. Nama orang asing ini sulit diucap-kan oleh Juragan Sumantri. Demikian pula bagi centeng-centengnya. Hal itu memang tak meng-herankan sebab namanya memang asing di teli-nga mereka. Namun yang jelas mereka mengetahui bahwa orang ini berasal dari suatu negri yang cukup jauh dari tempat ini. Bahkan di seberang lautan sana. Suatu negri yang bernama Tibet!
"Oh, jadi demikian" Kalau begitu Ki sanak boleh menempati rumah di ujung desa ini. Itu kepunyaan kami. Nanti salah seorang centeng saya akan mengantarkannya," kata Juragan Sumantri menawarkan jasa baiknya.
"Terima kasih, Juragan...."
Setelah berbincang-bincang beberapa saat lamanya, Juragan Sumantri memberi perintah salah seorang centengnya untuk mengantarkan tamunya itu ke sebuah rumah di ujung desa. Rumah itu memang sudah lama kosong tiada dihuni. Pemiliknya meninggalkan begitu saja karena merasa bahwa rumah itu banyak dihuni mahluk halus. Tak ada seorang pun di desa ini yang berani berada dekat-dekat di situ. Tapi Juragan Sumantri tak mempercayai hal itu. Dengan harga murah dibelinya rumah itu dari pemiliknya. Meski tak ditempati, tapi sebagian penduduk desa merasa yakin bahwa sakitnya Purwasih berkaitan erat dengan ketidak percayaan Juragan Sumantri kepada hantu-hantu yang bersemayam di rumah itu. Hal ini didasari bahwa Juragan Sumantri pernah berniat merobohkan rumah itu dan membuatnya menjadi perkebunan. Namun karena putrinya keburu sakit akhirnya rencana itu diundurkan.
Apa yang dikatakan orang asing itu memang terbukti. Selang satu hari demam yang diderita Purwasih berhenti. Kemudian berangsur-angsur kudis-kudis kecil di seluruh tubuhnya mengering. Juragan Sumantri begitu telaten membalur seluruh tubuh anaknya dengan ramuan obat yang diberikan orang asing itu. Sehingga lebih kurang seminggu kemudian tubuh Purwasih telah sem-buh seperti sedia kala. Bahkan kudis-kudis yang dideritanya tak meninggalkan bercak sama sekali. Bukan main gembiranya Juragan Sumantri melihat hal itu. Dia pun menjadi royal membagi-bagikan hadiah kepada orang asing itu untuk mengungkapkan perasaan senang dan syukurnya.
Orang asing itu sendiri sejak peristiwa itu banyak dimintai pertolongannya untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Dari mulai di desa ini namanya semakin terkenal ke desa-desa lainnya karena kemanjuran penyembuhannya yang tiada tara meski tak begitu tahu namanya, tapi orang-orang lebih banyak mengenalnya sebagai Dukun dari Tibet.
* *? * 2 ? Kedua penunggang kuda itu memacu kuda-nya lambat-lambat. Sepertinya mereka tak hendak buru-buru mencapai tujuannya. Angin senja yang berhembus sepoi-sepoi dengan pemandang-an alam yang cukup indah, membuat keduanya seakan terlena. Bila melihat dari dekat, nyata terlihat bahwa kedua penunggang kuda itu adalah sepasang muda-mudi yang amat rupawan. Yang pemuda berwajah tampan dengan rambut panjang terurai dan mengenakan baju rompi putih. Sedangkan yang wanita adalah gadis berwajah cantik berbaju biru muda. Kuda-kuda yang mereka naiki pun serasi sekali. Yang ditunggangi si gadis berbulu putih, sedangkan yang ditunggangi si pemuda berbulu hitam. Namun melihat bahwa pemuda itu membawa sebuah pedang bet-hulu kepala burung di punggungnya, dan yang wanita membawa pedang serta kipas berwarna keperakan di pinggangnya, akan segera diketahui bahwa mereka bukanlah orang sembarangan. Paling tidak mereka berasal dari dunia persilatan.
"Kakang Rangga...," panggil gadis itu dengan suara bergumam.
"Hm...."
"Tidakkah sekali waktu kau berhenti ber-tualang?"
Pemuda yang dipanggil Rangga, yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti itu tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?"
"Karena aku tak tahu harus menjawab apa...."
"Bukankah pertanyaanku itu mempunyai ja-waban yang mudah" Kakang cuma menjawab satu dari dua pilihan, ya atau tidak."
"Tapi tak semudah mengatakannya. Kalau aku berhenti bertualang, bagaimana mungkin aku bisa mengamalkan segala kepandaian yang kumiliki" Kalau tidak...," suara Rangga terhenti.
"Kalau tidak kenapa Kakang?"
Rangga memandang kepada gadis itu, kemudian kembali tersenyum kecil.
"Kau tahu aku mencintaimu, bukan" Akupun mengerti apa yang harus kulakukan. Tapi...."
"Takut aku menghalangi segala gerakanmu, bukan?"
"Pandan, kenapa kau selalu curiga padaku?" tanya Rangga sambil mengerutkan dahi mendengar gadis itu memotong pembicaraannya dengan nada ketus.
"Kenapa tidak" Bukankah memang hal itu yang sebenarnya mengganjal di hatimu tentang aku?"
"Aku tak pernah berpikir bahwa kau akan menghalangi segala gerak dan kebebasanku...."
"Lalu apa namanya kalau bukan itu?"
"Banyak hal yang harus kau mengerti...."
"Coba sebutkan satu persatu biar aku mendengar dan bisa mengerti!" tantang gadis itu yang tak lain dari Pandan Wangi, alias si Kipas Maut.
"Itu berhubungan dengan perasaan dan tekad yang ada di hatiku. Aku tak bisa menjelaskannya begitu saja selama kau mudah tersinggung, mu-dah curiga, dan gampang menuduh."
"Huh, katakan saja bahwa Kakang hanya me-ngemukakan hal itu sebagai alasan!" dengus Pan-dan Wangi sambil memasang wajah cemberut.
"Apakah itu berarti kau tak percaya bahwa aku mencintaimu sepenuh hati?"
Pandan Wangi diam tak mau menjawab per-tanyaan Rangga itu.
"Ayolah, coba jawab!"
"Baik, aku akan jawab. Tapi sebelumnya coba jawab dulu pertanyaanku. Apa yang telah kau lakukan sehingga aku harus mempercayai bahwa kau mencintaiku sepenuh hati.
"Banyak!"
"Coba sebutkan satu persatu."
"Hm, kau tak akan cemburu?" Rangga tersenyum simpul.
"Tidak!" sahut Pandan Wangi ketus.
"Baiklah. Berapa lama kita berpisah" Hampir enam bulan, bukan" Nah, dalam jangka waktu itu banyak kejadian yang kutemui. Yang bersang-kutan dalam persoalan kita adalah, aku bertemu beberapa gadis cantik, dan diantara mereka ada yang jatuh cinta dan mengharapkan aku mencin-tainya pula. Kau boleh percaya atau tidak bahwa aku tak pernah mencoba untuk menyeleweng. Kenapa" Karena aku yakin bahwa kau mencintaiku meskipun aku tak berada di depanmu. Lalu kenapa aku mesti menyia-nyiakan kepercayaan-mu kepadaku" Tidak. Aku tak mau meng-khianatinya...," jelas Rangga singkat.
Dia memandang Pandan Wangi beberapa saat lamanya. Gadis itu membalas tatapan pemuda itu, kemudian memalingkan wajah ke arah lain dengan pandangan jengah.
"Nah, aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang jawablah pertanyaanku tadi," desak Rangga.
Pandan Wangi diam tak menjawab.
Rangga menunggu sesaat lamanya sebelum kembali mendesak gadis itu sambil tersenyum kecil.
"Iya, iya!" sahut Pandan Wangi kesal.
"Lho, kok jawabnya begitu?"
"Lalu aku harus jawab bagaimana?"
"Yang betul atas dasar menyadari...."
"Dan membuatmu senang karena berhasil mengecohku?"
Rangga ketawa kecil. "Kenapa kau selalu beranggapan buruk padaku?"
"Karena kau licik dan tak mau mengalah. Maunya menang sendiri, dan tak memikirkan persoalan orang lain!" ketus Pandan Wangi.
"Hm, begitu" Lalu apa namanya kalau setiap hari aku selalu memikirkanmu" Bahkan lebih be-sar ketimbang aku memikirkan diriku sendiri."
"Bohong!"
"Nah, mulai lagi. Kau selalu tak mau percaya omonganku."
Pandan Wangi diam dan tak mengacuhkan godaan pemuda itu.
Mendadak berkelebat tiga sosok tubuh dari sebuah cabang pohon dan mencegat perjalanan mereka
"Berhenti!"
? * *? * ? Serentak Rangga dan Pandan Wangi meng-hentikan langkah kudanya. Mereka memandang dengan dahi berkerut pada tiga sosok laki-laki bertampang kasar yang berdiri di depan. Salah seorang maju kedepan sambil mengacungkan go-loknya yang tajam berkilat.
"Siapa diantara kalian yang bernama U Than Kyung"!" tanya orang itu dengan suara kasar mengancam.
"Ki sanak, kau salah alamat. Tak ada yang bernama itu di sini...."
"Setan! Jangan coba membohongi Sawung Kebo."
"Hm, jadi namamu Sawung Kebo" Nah, Sa-wung Kebo aku telah menjawab pertanyaanmu. Sekarang biarlah kami kembali berlalu," sahut Rangga dengan suara datar.
"Keparat! Lagakmu angkuh sekali, Bocah. Rupanya kau belum merasakan ketajaman golokku, he"! Tak seorang pun boleh berkata begitu selagi aku bertanya. Kau pikir dirimu sudah hebat bila sudah mampu menyandang pedang" Huh!"
Sambil mendengus begitu, Sawung Kebo langsung mengayunkan golok dan bermaksud menebas leher kuda Dewa Bayu yang sedang di-tunggangi Pendekar Rajawali Sakti.
"Hieeeeeh...!!"
Tak! "Aakh...!"
Sawung Kebo menjerit kesakitan ketika kuda itu tiba-tiba mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi dan menghantam pergelangan ta-ngan laki-laki itu. Goloknya terpental jauh. Dia sendiri memegangi pergelangan tangannya yang patah. Pandan Wangi yang telah lebih dulu lom-pat dari punggung kudanya, tersenyum kecil.
"Ki sanak, kau terlalu kasar memperlakukan kudaku hingga membuatnya marah. Biarlah ku-wakili dia untuk mengucapkan maaf padamu."
"Keparat! Cincang kuda itu!" Sawung Kebo berteriak keras sambil memberi perintah pada kedua kawannya.
"Yeaaa...!"
Kedua kawannya itu langsung melompat sambil mengayunkan golok menghajar Pendekar Rajawali Sakti. Namun pemuda itu masih diam di tempatnya sambil tersenyum meremehkan. Se-saat lagi ujung golok-golok itu akan menebas le-her dan pinggangnya, mendadak tubuh pemuda itu bergerak ke atas sambil berputar meliuk-liuk menghindari sambaran senjata lawan.
"Hiyaaat...!"
Plak! Duk! "Hugkh!"
Kedua orang itu tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba kedua kaki lawan menghajar pergelangan tangannya. Keduanya menjerit kesakitan, dan golok di tangan mereka terpental ke tanah.
"Bangsat!"
"He, masih penasaran" Ayo, ke sinilah cepat!" ejek Rangga.
"Yeaaa...!"
"Kakang, biar kuhajar tikus-tikus busuk yang tak tahu diri ini!" Pandan Wangi berteriak dan sudah langsung mencelat dari punggung kudanya ketika kedua orang itu melompat hendak menyerang Rangga kembali.
Begkh! Duk! "Aaaakh...!"
Apa yang dilakukan Pandan Wangi lebih keras ketimbang Rangga. Hatinya memang sedang kesal, dan ketiga orang ini hanya membuat ke-kesalannya semakin bertambah saja. Tak ampun lagi bagi mereka ketika kepalan tangan gadis itu menyodok iga seorang lawan, dan tendangan sebuah kakinya menghantam perut hingga berbunyi seperti nangka busuk. Kedua orang itu kontan menjerit kesakitan sambil berguling-gulingan di tanah.
"Ayo, ke sini kalau kau mau kuhajar juga!" bentak Pandan Wangi pada Sawung Kebo yang mulai ketakutan melihat sepak terjang kedua muda-mudi itu.
"Eh... ng..., maafkan kami, Ni sanak...."
"Maaf, maaf... kepalamu! Ayo, ke sini kau! Atau mau kupecahkan kepalamu"!" bentak gadis itu dengan mata melotot dan wajah garang.
Sawung Kebo menelan ludah berkali-kali. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Jan-tungnya berdetak lebih keras, dan kedua kakinya seperti terpaku erat pada bumi yang dipijaknya.
"Kurang ajar! Rupanya betul-betul ingin kupecahkan batok kepalamu, he"!"
"A" ampun,Ni sanak. Aku... aa... aku...."
"Aaah, banyak bacot! Lebih baik kau mampus saja!
Bersamaan dengan itu tubuh Pandan Wangi melompat dan bersiap hendak mengayunkan te-lapak tangannya ke arah batok kepala lawan. Dalam keadaan geram dan kesal yang memuncak begini, bukan tak jadi dia akan melakukan ancamannya kepada orang itu.
"Hup!"
Tap! Tahan, Pandan!" Rangga bergerak cepat dan menangkap pergelangan tangan gadis itu untuk menghalangi niatnya.
"Lepaskan, Kakang! Orang ini hanya mem-buatku jengkel saja!"
"Untuk apa kau membunuhnya" Apakah dia penjahat kakap" Perusuh masyarakat" Sering membuat keonaran, atau mengganggu keten-traman setiap orang" Belum tentu, bukan" Alangkah baiknya kita tanyai lebih dulu. Siapa tahu dia punya alasan melakukan hal itu pada kita," jawab Rangga
"Huh, Kakang memang selalu lemah terhadap lawan! Itulah salah satu kelemahanmu yang suatu saat dipergunakan lawan-lawanmu untuk membinasakanmu!" dengus Pandan Wangi jengkel.
Rangga cuma tersenyum kecil. Kemudian melangkah mendekati laki-laki bernama Sawung Kebo itu. Sempat dia melirik sekilas pada kedua orang kawannya, namun kedua orang itu tampak tak berani lagi mencoba berbuat macam-macam pada mereka. Apalagi dengan sikap Pandan Wangi yang galak dan siap menghajar mereka kalau berani membuat yang macam-macam.
"Ki sanak, katakan kenapa kau begitu bernafsu hendak menghajar kami" Lalu siapa orang yang kau maksud bernama U Than Kyung itu?" tanya Rangga.
"Eh, sebelum kujawab pertanyaanmu itu, bo-lehkah aku tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini?" tanya Sawung Kebo dengan suara sedikit gagap. Dia amat khawatir, jangan-jangan kedua muda-mudi ini kaki tangan orang yang te-ngah dicari-carinya.
"He, orang yang sedang di mukamu itulah yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti!" sahut Pandan Wangi cepat sebelum Rangga buka suara.
Mendengar kata-kata gadis itu, Sawung Kebo terperanjat kaget. Dipandanginya pemuda itu dengan seksama. Mendadak dia menjura hormat.
"Ki sanak, maafkan aku yang bodoh tak bisa membedakan gunung Mahameru dihadapanku. Sekali lagi maaf. Aku betul-betul tak tahu kalau Ki sanak kau adalah pendekar mashyur itu. Kukira kalian adalah U Than Kyung, atau paling tidak kaki tangannya," kata Sawung Kebo.
"Ki sanak, sejak tadi kau mempersoalkan orang itu. Apakah yang terjadi sebenarnya?"
"Dia membunuh tiga orang kawanku. Namun sayang, aku tak tahu persis bagaimana rupa orang itu. Namun beberapa orang yang melihat kejadian itu mengatakan bahwa pembunuh itu bernama U Than Kyung, pendekar dari negri asing yang kini berada di negri ini...," sahut Sawung Kebo menjelaskan.
Rangga mengangguk-anggukkan kepala. Sawung Kebo juga sempat menjelaskan sepak ter-jang orang asing itu belakangan ini. Banyak sudah tokoh-tokoh persilatan di negri ini yang te-was di tangannya. Dan nama orang asing itu semakin santer saja, menimbulkan ketakutan se-kaligus geram.
Setelah bercerita beberapa saat lamanya, ke-tiga orang itu kemudian berlalu. Rangga dan Pandan Wangi pun melanjutkan perjalanannya.
? * *? * ? Tatang Senjaya berdiri tegak di depan pintu rumahnya. Beberapa orang muridnya berdiri me-matung di dekatnya. Sementara istrinya telah ke-hilangan akal untuk membujuk suaminya agar tidak pergi. Tapi sebagai pendekar yang terpan-dang, tentu saja dia tak mau harga dirinya jatuh sekedar menyenangkan perasaan istrinya. Pe-rempuan itu menundukkan kepala, dan terdengar isak tangisnya halus.
"Diamlah Ningsih. Kalau kau terus menangis hanya akan membuat hatiku tak tentram...."
"Kakang hendak pergi menjemput maut, ba-gaimana mungkin aku bisa diam dalam ketenang-an"! sahut istrinya kesal.
"Kata siapa aku pergi menjemput maut. Justru aku pergi hendak membereskan persoalan."
"Orang itu berilmu tinggi, Kakang. Kau pasti akan dikalahkannya. Sudah berapa banyak tokoh persilatan yang tewas di tangannya. Rata-rata mereka berilmu tinggi.
Tatang Senjaya memandang istrinya dengan wajah tak senang.
"Kau meremehkan kemampuanku, Ningsih...?"
"Bukan begitu, tapi...."
"Sudahlah, berdo'a saja untukku. Aku be-rangkat sekarang!" potong Tatang Senjaya cepat.
Dia memerintahkan pada salah seorang anak muridnya untuk menyiapkan seekor kuda. Kemudian setelah memberi beberapa pengarahan, laki-laki berperawakan tegap dan berusia sekitar tiga puluh tahun itu memacu kudanya dengan kencang tanpa menoleh lagi kebelakang.


Pendekar Rajawali Sakti 118 Dukun Dari Tibet di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tatang Senjaya adalah seorang tokoh persilatan yang namanya belakangan ini mulai dikenal berbagai kalangan semenjak dia menumpas suatu gerombolan perampok yang sering mengganggu para pedagang yang melewati jalan menuju desa mereka. Padahal selama ini gerombolan perampok itu sangat ditakuti, karena selain ganas dan kejam, mereka juga sulit ditaklukkan sebab rata-rata memiliki kepandaian ilmu silat yang hebat. Tatang Senjaya sendiri salah seorang pedagang yang baru bermukim di tempat ini dan sudah langsung berurusan dengan gerombolan perampok itu. Masih untung dia beserta beberapa orang anak buahnya dapat menyelamatkan diri, bahkan berhasil memukul mundur gerombolan perampok itu. Sejak saat itu namanya mulai dikenal, dan banyak para pemuda di desanya yang ingin belajar ilmu silat kepadanya.
Namun beberapa hari lalu seorang bernama U Than Kyung meninggalkan sepucuk surat kepadanya yang berisi tantangan di suatu tempat. Dia tak mengenal orang itu, bahkan nama itu pun sangat asing di telinganya. Namun seorang pendekar sejati seperti dirinya mana mungkin me-nolak tantangan itu. Sebab orang yang menan-tangnya itu belakangan ini namanya hangat di-bicarakan sehubungan dengan sepak terjangnya yang mulai meresahkan rimba persilatan di negri ini. Dia telah banyak membunuh tokoh-tokoh persilatan berilmu tinggi.
Waktu tiba di tempat yang telah ditentukan, matahari bersinar cerah di pagi yang sejuk ini. Sinarnya membuat bayangan menjadi panjang-panjang. Dia menunggu beberapa saat lamanya sebelum orang yang dinantinya muncul.
"Bagus! Akhirnya kau muncul juga...."
Tatang Senjaya memandang tajam pada se-sosok tubuh berbaju kuning yang mengenakan topi lebar sebagai penutup kepalanya. Kedua tangannya menyatu di balik pinggang belakang. Se-saat dia tak menangkap jelas roman wajah penan-tangnya itu.
"Kaukah yang bernama U Than Kyung?"
"Benar, kau tak salah duga. Nah, bisa kita mulai?"
"Silahkan...," sahut Tatang Senjaya mantap sembari turun dari kudanya.
Keduanya mengambil kesempatan sambil berputar-putar pelan seolah mengintip kelemahan lawan masing-masing. Kemudian dengan satu teriakan keras, tubuh Tatang Senjaya melompat bagai harimau ganas menyerang lawan.
"Yeaaa...!"
Wut! Wut! "Uts!"
Ujung pedang Tatang Senjaya bergerak cepat menyambar-nyambar semua titik kelemahan di tubuh lawan. Namun si baju kuning bernama U Than Kyung dengan tenang dan tanpa kesulitan sedikit pun menghindari serangan lawan dengan gerakan-gerakan indah serta sangat cepat. Se-hingga tak satupun dari serangan lawan yang mampu mengenai dirinya.
Pertarungan mereka agaknya tak berlangsung lama, sebab ketika pada suatu kesempatan, U Than Kyung bergerak amat cepat dan sulit diikuti oleh lawan. Agaknya dia sudah tahu betul kelemahan lawan dan tak mau berlama-lama ber-tarung dengannya.
"Yeaaa...!"
Plak! Plak! Begkh! Crab! "Aaaa...!"
Tatang Senjaya hanya mampu mengeluh pe-lan. Tubuhnya terlempar sejauh dua tombak ba-gai selembar daun kering tertiup angin. Sekujur tubuhnya membiru terkena hantaman lawan. Pada dada sebelah kirinya masih terlihat bekas tusukan senjata tajam. Begitu tubuhnya menyen-tuh tanah langsung ambruk tak bernyawa lagi. U Than Kyung memandang sinis.
"Huh, kepandaianmu ternyata tak seberapa! Kau hanya membuatku kecewa saja," dengusnya sambil berlalu dari situ dengan cepat setelah me-naikkan mayat Tatang Senjaya ke punggung kudanya dan menepuk pantat hewan itu hingga berlari kencang.
* *? * ? 3 ? Sepanjang jalan yang mereka lalui banyak terdengar berita tentang sepak terjang orang asing itu. Hal ini membuat Pendekar Rajawali Sakti tergelitik untuk mengetahui siapa orang itu sebenarnya. Apalagi dia mendapatkan dukungan dari Pandan Wangi. Gadis itu tampak geram dan geregetan sekali begitu mendengar berita tentang keangkuhan orang yang belakangan ini namanya menggegerkan dunia persilatan.
"Kakang, apakah tidak ada baiknya kita men-cari orang itu?"
"Kenapa?"
"Kok kenapa"! Orang itu begitu sombongnya dengan menantang dan membunuh tokoh-tokoh persilatan di negri ini. Sepertinya dia menganggap bahwa dirinya hebat tiada tertandingi. Orang itu sangat berbahaya dan musti diberi pelajaran!" sahut Pandan Wangi kesal.
Rangga tersenyum kecil. Langkah kuda mereka memasuki suatu desa yang cukup ramai. Dia mencari-cari sebuah kedai makanan yang agak sepi. Namun di tempat itu hanya terdapat sebuah kedai, dan cukup ramai dikunjungi orang. Padahal Rangga kurang menyukai suasana yang ramai. Apalagi di dekatnya kini ada Pandan Wangi. Namun karena perutnya yang sudah keroncongan, mau tak mau dia tak punya pilihan lain.
"Kita makan dulu, Pandan..."
Keduanya menambatkan kuda-kudanya di depan kedai itu. Kemudian dengan langkah tenang memasukinya. Di dalam terlihat pengunjung ramai sekali dan sulit melihat bahwa ada sebuah meja untuk mereka. Apalagi ruangan kedai itu memang cukup luas dan di belakangnya terdapat sebuah bangunan bertingkat dua yang dijadikan sebagai rumah penginapan.
"Silahkan, masih ada sebuah meja untuk kalian...," kata salah seorang pelayan kedai dengan sikap dan wajah yang ramah.
"Terima kasih...."
Kedua orang itu mengikuti pelayan kedai itu dari belakang sambil memandang ke kiri dan ka-nan. Lebih-lebih bagi Pandan Wangi. Gadis itu terlihat kesal dan geram sekali.
"Pandan, jangan perlihatkan sikap ber-musuhan begitu...," bisik Rangga pelan ketika melihat sekilas raut wajah kekasihnya itu.
"Huh, semua laki-laki sama saja!" sahutnya ketus.
"Lho, kenapa?"
"Apakah Kakang tak memperhatikan" Sejak di pintu tadi mereka memperhatikanku dengan rakus sekali. Seolah-olah mereka ingin menelanku hidup-hidup. Ingin rasanya kucongkel mata mereka satu persatu!" desis Pandan Wangi sambil bersungut-sungut.
Baru saja Pandan Wangi selesai berkata demikian, salah seorang pengunjung kedai yang amat dekat dengannya langsung mencolek pan-tatnya dengan gemas. Gadis itu menjerit dan reflek mengibaskan tangannya dengan keras ke arah orang itu.
Plak! Gubrak! Beberapa pengunjung kedai yang lain terlihat terkejut ketika orang itu terpelanting meng-hantam meja. Pandan Wangi tak berhenti sampai di situ. Dengan cepat tubuhnya melompat dengan wajah gusar ke arah orang tadi. Sambil berkacak pinggang dia melotot garang.
"Kurang ajar! Ayo, bangun!"
"He he he he...! Tak kusangka gadis secantik-mu ternyata galak dan berilmu. Boleh juga, boleh juga... he he he he...!" sahut orang itu sambil terkekeh kecil dan meraih sebumbung tuak di lantai.
Begkh! "Aaaakh...!"
Orang itu memekik kesakitan ketika dengan tiba-tiba ujung kaki Pandan Wangi menghantam perutnya hingga membuatnya terjengkang keras.
Agaknya orang itu memang sedang mabuk dan hanya besar mulut saja. Tapi mana Pandan Wangi memperdulikannya. Dia bahkan akan bergerak untuk kembali memberi pelajaran. Disentaknya tangan Rangga yang bermaksud hendak me-nahannya.
"Lepaskan, Kakang! Biar kuhajar sampai mampus orang yang kurang ajar itu!"
"Gadis cantik yang galak, hm, boleh juga...!" salah seorang kawan semeja dari orang yang di-hajarnya tadi berdiri tegak menghalangi gadis itu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Se-nyumnya sinis dan sangat merendahkan sekali.
"Siapa kau"! Apa mau kuhajar juga seperti monyet busuk itu!"
"Ha ha ha ha...! Kau boleh melakukannya kalau kau mampu, Ni sanak. Aku tentu tak akan keberatan asal nanti ada imbalannya," sahut orang yang berbaju serba hitam itu tertawa kecil.
"Cuih! Mulutmu memang pantas dirobek!"
"Uts, belum kena!"
"Setan! Hiyaaa...!"
Dengan sangat bernafsu sekali, Pandan Wangi menghajar lawannya bertubi-tubi. Namun laki-laki berwajah kelimis yang berusia sekitar dua puluh lima tahun itu dengan tenang me-ladeninya. Bahkan dengan gerakan yang amat ge-sit dan lincah, dia mampu menghindari setiap serangan gadis itu dengan manis. Hal itu tentu saja membuat Pandan Wangi semakin penasaran saja. Dia nyaris tak percaya bahwa kepandaian-nya tak mampu menjatuhkan lawannya kali ini.
"Ruangan ini terlalu sempit, Ni sanak. Ada baiknya kita bermain-main di luar sana. Kau boleh ajak kawanmu itu kalau dia suka. Atau me-nonton saja kalau dia ingin begitu!" sahut pemuda berbaju serba hitam itu sambil melompat ke luar kedai.
"Hiyaaat...!" Pandan Wangi berteriak keras sambil tubuhnya melenting mengikuti lawan keluar kedai.
Dengan menggeleng-gelengkan kepala Rangga terpaksa membatalkan niatnya untuk mengisi perut dan melangkah kesal keluar dari kedai itu. Bersamaan dengan itu beberapa pengunjung kedai satu-persatu keluar pula dari kedai untuk me-nyaksikan pertarungan yang seru itu.
"Siapakah pemuda itu sebenarnya?" tanya Rangga pada orang yang berada di sebelahnya.
"Wah, apakah kau tak tahu" Dialah si Ke-lelawar Hitam yang kesohor itu. Ilmunya tinggi dan sulit dicari tandingannya. Pacarmu itu pasti akan dikalahkannya, dan...," Orang itu tersenyum kecil.
"Kenapa?"
"Pacarmu itu pasti tak akan selamat darinya."
"Tak selamat bagaimana?"
"Apakah kau betul-betul tak tahu kelakuan si Kelelawar Hitam itu selama ini?" tanya orang itu heran.
Rangga tersenyum kecil. Dia sebenarnya mengetahui tentang sepak terjang si Kelelawar Hitam meski melihat rupanya baru sekali ini. Dia seorang tokoh muda persilatan yang namanya belakangan ini mulai ramai di bicarakan orang. Si-kapnya ugal-ugalan dan sulit ditebak. Kadang dia suka membantu mereka yang sedang kesulitan, ditindas oleh perampok dan tuan-tuan tanah yang kejam, atau banyak menyelamatkan orang-orang dari tindasan sewenang-wenang beberapa tokoh persilatan beraliran sesat. Namun di sam-ping itu ada sifatnya yang sedikit banyak me-resahkan masyarakat, yaitu, dia paling suka mempermainkan gadis-gadis cantik yang ditemuinya. Tak peduli istri orang lain namun kalau disukainya, maka dia akan terus merayunya.
Sementara itu pertarungan antara Pandan Wangi dan si Kelelawar Hitam berlangsung semakin seru saja. Kali ini gadis itu telah me-ngeluarkan kipas mautnya sebagai senjata an-dalan. Dalam dua jurus terlihat si Kelelawar Hi-tam mulai terdesak. Namun dalam satu kesempatan dia melompat tinggi dan kemudian berbalik menyerang Pandan Wangi dengan cepat meng-gunakan pedang yang sejak tadi belum dipergunakannya.
"He he he he...! Ternyata senjatamu memang sangat berbahaya, Ni sanak. Terpaksa aku harus menggunakan pedangku ini. Nah, hati-hatilah kau sekarang sebab ujung pedangku ini tak ber-mata. Dia tak bisa membedakan mana yang se-harusnya dilukai dan mana yang tidak," kata si Kelelawar Hitam masih terus pamer senyum.
"Huh, kau boleh mengoceh sesuka hatimu. Sebentar lagi mulutmu akan dirobek dengan kipas mautku ini!" dengus Pandan Wangi semakin berang saja.
"Hiyaaat...!"
"Yeaaa...!"
Si Kelelawar Hitam berteriak nyaring. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat menyambar lawan dengan tak terduga. Pandan Wangi tergagap untuk beberapa saat, namun dia cepat bertindak. Sambil melentingkan tubuh, dia menghindari serangan lawan. Namun ujung pedang si Kelelawar Hitam lebih cepat lagi menyambar ke arah leher-nya. Terpaksa Pandan Wangi menangkis dengan senjatanya.
Tak! "Uhh...!"
Gadis itu mengeluh kesakitan. Sejak tadi dia sudah bisa merasakan bahwa tenaga dalam lawan lebih tinggi satu tingkat dibandingkan dengan-nya. Dan kalau dihitung-hitung pun memang ge-rakan si Kelelawar Hitam memang lebih cepatsedikit ketimbang dirinya. Tak heran bila gadis itu merasakan telapak tangannya kesemutan ketika senjata mereka beradu. Dan belum sempat dia menguasai diri, ujung senjata lawan kembali menyambar kearah dadanya dalam gerakan mem-belah diri dari atas ke bawah. Pandan Wangi men-cekat kaget. Tak ada waktu lagi untuk menghin-dar. Lawan benar-benar hendak mencelakai dirinya.
"Yeaaa...!"
Trang! "Heh"!
Pada saat yang kritis bagi Pandan Wangi, mendadak melesat sebuah bayangan yang sangat cepat dan langsung menangkis pedang di tangan si Kelelawar Hitam. Orang itu tersentak kaget dan merasakan tangannya bergetar hebat. Namun ketika melihat siapa yang melakukan hal itu, kembali dia menunjukkan senyumnya yang tadi sempat hilang beberapa saat.
"Hm, kukira siapa, ternyata kau. Bagus, meski sebenarnya aku mengharapkan kau turun sejak tadi...."
Orang yang menyelamatkan Pandan Wangi itu tak lain dari Rangga. Ketika tubuhnya ber-kelebat, dia sempat menyambar sebuah golok mi-lik seorang yang berada dekat dengannya. Dengan golok itulah dia menangkis pedang di tangan si Kelelawar Hitam.
"Ki sanak, kelakuanmu sungguh keterlaluan. Kau boleh saja mencelakakannya, tapi hendak mempermalukannya di muka orang banyak, mana bisa aku tinggal diam saja?" sahut Rangga tenang.
Dia memang mengetahui betul bahwa serangan terakhir yang dilakukan si Kelelawar Hitam tadi sama sekali tak bermaksud hendak men-celakai Pandan Wangi melainkan hendak mem-permalukan gadis itu, sekaligus dia hendak me-mamerkan kehebatan ilmu pedang yang di-milikinya. Dan bila hal itu tak dicegah, maka bisa jadi baju yang dikenakan Pandan Wangi terkoyak dari atas ke bawah!
"Ha ha ha ha...! Matamu sungguh jeli, Ki sanak. Hebat, sungguh hebat!" puji si Kelelawar Hitam sambil tertawa lebar.
"Kakang, menepilah kau! Biar kuhajar ma-nusia keparat ini!" bentak Pandan Wangi gusar.
"Pandan, biar orang ini menjadi urusanku. Kau sudah cukup lama bermain-main dengannya, maka sekarang biarlah aku menggantikanmu. Lagipula bukan kau sebenarnya yang diinginkan-nya melainkan aku. Hendaknya kau menyadari hal itu," sahut Rangga tenang. Dia sengaja ber-kata begitu agar Pandan Wangi tak merasa malu di depan orang banyak begitu. Bicara sejujurnya, Rangga menyadari bahwa pemuda itu bukan tan-dingan Pandan Wangi. Kalau diteruskan hanya akan membuat gadis itu semakin dipermalukan lawan.
"He, Ni sanak aku memang tak perlu deganmu! Harap kau mengerti. Tapi dengan kekasihmu ini dia punya persoalan pribadi denganku. Maka kalau urusanku sudah selesai dengannya, kau boleh meneruskan urusan kita tadi!" sahut si Kelelawar Hitam menimpali sambil tertawa kecil.
Mendengar itu Pandan Wangi tak bisa bicara apa-apa lagi. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa menahan kesal dan geram yang memuncak.
"Silahkan, Ki sanak...," kata si Kelelawar Hitam tersenyum tipis.
Rangga membalas senyumannya, kemudian memandang ke arah Pandan Wangi.
"Pandan, coba kupinjam barang sebentar pe-dangmu itu. Kasihan si empunya golok ini. Dia pasti kehilangan sekali!" katanya sambil melem-parkan golok di tangannya kepada pemiliknya yang menangkapnya dengan gelagapan. Pada saat yang bersamaan, Pandan Wangi melemparkan pedangnya ke arah Rangga, dan ditangkap pemuda itu tanpa menoleh lagi.
"Silahkan...," lanjutnya.
Si Kelelawar Hitam memandang tajam ke arah Rangga. Kali ini terlihat senyumnya hilang dan berganti dengan raut wajah yang menyeramkan. Dia berputar beberapa langkah, kemudian melompat dengan gerakan cepat.
"Yeaaa...!"
"Hup!"
Trang! "Uh!"
Tubuh Rangga merunduk sedikit sambil mengayunkan pedang di tangannya untuk menangkis senjata lawan. Terdengar bunyi berdentang ketika kedua senjata itu beradu. Percikkan bunga api kecil menandakan bahwa keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam yang kuat. Namun terlihat wajah si Kelelawar Hitam berkerut menahan sakit setelah kedua senjata mereka beradu. Ketika keduanya kembali menyentuh tanah dalam keadaan saling membelakangi, barulah pemuda berbaju hitam itu menyadari bahwa baju di dada sebelah kirinya robek sedikit. Dan itu pasti karena sabetan pedang lawan. Dia membalikkan tubuh dan memandang pemuda berbaju rompi putih itu dengan wajah terheran-heran.
"Siapa kau sebenarnya"!"
"Lariii...! Lariii...!"
"Gerombolan Badik Merah menyerbu!"
"Heh"!"
? * *? * ? Rangga belum sempat menjawab ketika beberapa orang yang menyaksikan pertarungan itu berteriak-teriak panik. Di kejauhan terlihat debu mengepul tebal karena derap puluhan kaki kuda yang melaju kencang menggilas jalan utama di tempat itu. Orang-orang yang berada di tempat itu lari serabutan menyelamatkan diri. Teriakan panik mulai menggema di sana-sini, yang disusul pekik kematian dan tangis wanita dan bocah yang memilukan hati.
"Astaga, siapa setan itu sebenarnya"!" seru Rangga kaget. Buru-buru dia mencekal pergelangan tangan Pandan Wangi dan menyeretnya ke tepi agar tak tergilas kuda-kuda yang berlari kencang itu.
Tapi gerombolan itu bukan hanya sekedar lewat melainkan memang tempat inilah tujuan mereka. Persis di tengah-tengah desa mereka berhenti dan turun dari kuda-kudanya, kemudian dengan langkah lebar memasuki tiap rumah sambil mengacungkan senjata. "He, tangkap perem-puan itu!"
"He he he he...! Ayo, cepaat!"
Lima orang dari gerombolan itu mendekati Rangga dan Pandan Wangi. Wajah mereka tam-pak bengis dan garang dengan baju seragam serba merah.
"Hentikan langkah kalian!" bentak Rangga garang.
"Kurang ajar! He, minggir kau bocah kalau mau selamat. Kami tak memerlukanmu!" sahut salah seorang dengan suara serak. Dengan kasar dia menarik lengan pemuda itu dan bermaksud membantingnya.
"Aaaakh...!"
Mendadak orang itu terjungkal sambil menjerit keras. Tubuhnya jatuh berdebum di tanah. Keempat orang kawannya bertindak dengan menyerang Rangga.
"Kurang ajar! Cincang bocah ini!"
"Yeaaa...!"
Plak! Begkh! "Aakh!"
Dua orang kembali memekik ketika satu so-dokan kaki pemuda itu menyambar dada mereka dengan cepat. Sementara pada saat yang ber-samaan, Pandan Wangi pun bertindak cepat dan mengayunkan kepalan tangannya pada salah seorang lawan. Orang itu memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa mau remuk. Yang seorang lagi dengan bengis mengayunkan senjatanya berupa badik yang berukuran agak panjang menyerupai pedang.
Trak! Breet! "Aaaa...!"
Buru-buru Pandan Wangi menangkis dengan Kipas Mautnya, dan ketika dia kembali mengibas-kan tangan, lawan memekik perlahan dengan tubuh sempoyongan dan memegangi lehernya yang disambar ujung senjata Pandan Wangi.
"Kakang, mari kita hajar setan-setan kelapar-an itu!" teriak Pandan Wangi sambil melompat memasuki sebuah rumah.
Rangga bermaksud mencegah Pandan Wangi tak bertindak ceroboh, namun gadis itu tak memperdulikannya. Dia sudah menyelinap masuk. Sambil menggelengkan kepala, mau tak mau Rangga mengikutinya dari belakang. Dia tak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap gadis itu.
Pandan Wangi memang tak bisa melihat ke-kejaman dan penindasan berada di depannya. Dia pasti akan bertindak meski terkadang ceroboh karena terbawa hawa nafsunya sendiri yang menggebu-gebu. Dan ketika melihat gerombolan itu dengan seenaknya merampas harta benda penduduk, kemudian menyeret-nyeret beberapa orang wanita-wanita cantik, dia sudah langsung hendak melabraknya.
Dan ketika kedua orang itu mulai mengamuk, terlihat satu persatu gerombolan berbaju serba merah dengan bersenjatakan badik panjang, menjadi korban mereka. Diantara mereka ada yang terluka ringan sampai tak bisa bangun. Bahkan beberapa orang terlihat tewas dengan luka-luka di tubuhnya terkena sambaran senjata lawan. Tentu saja hal ini membuat pimpinannya menjadi gusar bukan main. Dengan segera dia memacu kudanya ke arah gerombolan anak buahnya yang kacau-balau, kemudian dia melompat turun dan berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu sebuah rumah.
"He, siapa yang berani menantang Gerombolan Badik Merah, silahkan keluar agar bisa kulihat tampang kalian!" teriaknya dengan suara keras.
Orang itu bertubuh agak pendek dan besar. Brewoknya lebat dan warna kulitnya terlihat pu-tih kemerah-merahan. Kepalanya mengenakan destar merah dan sebuah badik panjang terselip di pinggangnya.
Perlahan-lahan dari dalam rumah itu me-layang dua sosok tubuh berbaju merah yang menyambar ke orang itu. Dengan cepat tangannya terkibas dan kedua sosok tubuh anak buahnya yang telah menjadi mayat itu jatuh di tanah dengan kepala remuk.
Dari pintu rumah itu sendiri keluar sepasang muda-mudi berwajah rupawan yang amat me-ngejutkan orang bertubuh pendek itu. Dalam sangkaannya pastilah seorang tokoh berkepan-daian tinggi dan telah berusia lanjut. Dan paling tidak berjumlah sekitar lima orang. Tapi he, siapa yang menduga demikian"
? * *? * ? Selanjutnya Bagian 4-6
? Dukun Dari Tibet
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 118. Dukun Dari Tibet ~ Bag. 4-6
9. August 2015 um 09:04
4 ? "Setan! Siapa kalian, he"!" bentak orang itu dengan suara menggelegar seolah gemuruh petir membelah angkasa.
"Dan siapa pula kau"!" sahut si wanita yang tak lain dari Pandan Wangi dengan nada ketus.
"He, bocah betina! Berani kau bicara begitu di hadapan Klambi Abang. Sudah bosan hidup, he"!" bentak orang berbaju merah dengan mata melotot.
"Hm, jadi kau bernama Klambi Abang" Bagus! Nah, perintahkan anak buahmu angkat kaki dari tempat ini, cepaaat!" bentak Pandan Wangi sambil bertolak pinggang dan sepasang matanya melotot garang.
"Kurang ajar!" Klambi Abang memaki dengan wajah gusar. Dengan satu lompatan ringan. Tubuhnya telah mencelat ke arah Pandan Wangi dan bermaksud menghajar gadis itu.
"Pandan Wangi, menepi cepat!" bentak Rangga sambil mendorong tubuh gadis itu ke samping.
Pemuda itu menyadari bahwa dari angin serangan lawan, nyata bahwa dia memiliki tenaga dalam yang kuat. Bahkan lebih kuat dibanding-kan dengan si Kelelawar Hitam yang kini lenyap entah ke mana. Lagipula dalam keadaan amarah yang memuncak begitu, dia justru khawatir bahwa orang itu akan menghajar Pandan Wangi tanpa kepalang tanggung.
Bruaaakk...! "Heh"!"
Apa yang diduga pemuda itu memang tak salah. Begitu dia mendorong tubuh Pandan Wangi, maka dia sendiri melompat ke samping untuk menghindari serangan lawan. Akibatnya rumah di belakang mereka menjadi sasaran serangan lawan sampai ambruk berantakan dengan tiang-tiang penyanggahnya hancur.
"Bagus! Ternyata kau punya kepandaian juga. Pantas berani bertingkah di depanku. Tapi kematianmu cuma menunggu waktu saja!" geram Klambi Abang sambil mendengus dan menyeri-ngai buas pada Rangga.
"Rampok hina, majulah kau! Jangan banyak mulut!" ejek Rangga semakin membuat ke-marahan lawan memuncak.
"Yeaaa...!"
"Hup!"
Wut! Wut! Klambi Abang semakin penasaran saja ketika semua serangannya dapat dihindari Rangga dengan mudah. Dia meningkatkan serangannya, dan mengeluarkan satu jurus handalnya yang bernama Menebas Lalang Mencabut Rumput.
Jurus itu memang hebat dan tak menge-cewakan karena beberapa saat kemudian terlihat lawan terdesak hebat. Rangga pun betul-betul merasakan tekanan yang dilakukan Klambi Abang. Kalau saja dia tak mengerahkan jurus Sembilan Langkah Ajaib, niscaya sudah sejak tadi serangan lawan akan melukainya. Tapi dia tak bisa terus menerus bertahan dengan jurus itu. Sebagaimana diketahui, jurus Sembilan Langkah Ajaib adalah suatu jurus yang mengandalkan ke-lincahan bergerak untuk menghindari serangan-serangan lawan, maka pada satu kesempatan, pemuda itu melompat cepat sambil melakukan beberapa kali gerakan bersalto. Sementara Klambi Abang sama sekali tak ingin memberi kesempatan sedikit pun kepada lawan. Dia terus memburu sambil menyerang lawan dengan gencar.
"Yeaaa...!"
"Hiyaaat...!"
Tubuh Rangga meliuk-liuk dengan lincahnya dan kedua kakinya menyambar-nyambar kepala lawan dengan gencar. Klambi Abang tercekat kaget dan buru-buru menjatuhkan diri ke tanah. Namun Rangga terus mengejarnya tiada henti sambil memainkan jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa.
Plak! Plak! "Uhh!"
Dalam satu kesempatan Klambi Abang mem-beranikan diri menangkis tendangan lawan dengan sapuan kakinya. Tapi dia mengeluh sendiri sambil menahan rasa sakit. Sadarlah dia bahwa lawan memiliki tenaga dalam yang lebih tinggi satu tingkat di atasnya. Lagipula dibandingkan kecepatan bergerak, terlihat pemuda itu lebih unggul pula darinya. Tanpa sadar dia mengeluh sendiri, meski hal itu tak ditunjukkannya lewat sikap.
"Hm, boleh juga permainanmu, Bocah. Siapa gurumu?" tanya Klambi Abang setelah melompat agak jauh dari serangan lawan. Rangga sendiri tak meneruskan serangannya.
"Untuk apa kau tahu guruku?"
"Ha ha ha ha...! Siapa tahu aku dan gurumu punya pertalian saudara, dan kalau melihat kau berani mengganggu urusanku maka kau akan kena hukuman berat darinya!"
Kali ini Rangga yang tertawa kecil mendengar kata-kata Klambi Abang.
"Ha ha ha ha...! Kau tahu Klambi Abang" Kalau sampai beliau tahu perbuatanku, dia malah akan bertepuk tangan saking gembiranya. Malah beliau akan marah-marah karena aku lama sekali memotes kepalamu!"
Ketawa Klambi Abang seketika sirna. Wajah-nya kembali menyiratkan kemarahan yang tak terkendali lagi. Ditatapnya pemuda itu tajam-tajam, kemudian perlahan-lahan mencabut badik panjang yang terselip di pinggang.
"Kau akan mampus di tanganku, Bocah...!" geramnya dengan suara ditekan sedemikian rupa.
Rangga telah bersiaga menghadapi segala ke-mungkinan. Namun sebelum keduanya kembali terlibat dalam pertarungan, terdengar jerit dan pekik kematian beberapa anak buah Klambi Abang yang berada di ujung jalan.
"Gerombolan Badik Merah, menyerahlah kalian! Tempat ini telah dikepung oleh tentara kerajaan...!"
"He, keparat!" Klambi Abang memaki geram mendengar teriakan mengancam itu.
? * *?? * ? Tapi ancaman itu memang beralasan sebab di setiap pelosok desa terlihat prajurit-prajurit kerajaan dengan senjata terhunus dan siap menyerang mereka. Klambi Abang mengumpulkan seluruh anak buahnya. Mereka terlihat bingung dan salah tingkah. Namun dengan tabah Klambi Abang berteriak pelan kepada mereka.
"Kalian tak perlu takut. Kita akan melawan mereka!"
"Tapi jumlah mereka lebih banyak daripada kita, Klambi!" sahut salah seorang anak buahnya.
"Huh, mereka pikir bisa menangkapku! Jangan harap!" dengus Klambi Abang geram. Dia memberi semangat dan ancaman kepada anak buahnya yang ragu-ragu dan takut. Kemudian setelah bersiap akan menempur tentara kerajaan, dia memandang tajam ke arah Rangga.
"Bocah, lain kali kita selesaikan urusan kita. Coba sebutkan kau punya julukan agar bisa ku-ingat-ingat kelak!"
Rangga terharu. Meskipun jahat dan memiliki sifat yang buruk, namun Klambi Abang berjiwa ksatria dan pantang menyerah. Lebih dari itu dia seorang pemimpin yang tangguh dan tegas kepada anak buahnya. Tak ada salahnya dia menghormatinya dengan menyebutkan siapa dirinya.
"Hm, jadi kau rupanya Pendekar Rajawali Sakti"
Klambi Abang hanya berkata begitu, tanpa rasa heran ataupun nada datar. Kesannya biasa saja mendengar Rangga menyebutkan julukan-nya. Itu berarti dia memang pernah mendengar namanya, tapi merasa bahwa pemuda itu sama sekali tak mengejutkan bagi dirinya. Kemudian setelah itu dia dan anak buahnya menggempur tentara kerajaan pada satu jurusan, dengan se-ngit dan semangat yang berapi-api.
Apa yang dilakukan Klambi Abang memang bukanlah taktik bunuh diri, namun suatu siasat penyelamatan diri yang jitu dan tak mengambil banyak korban. Dengan menekan pada satu jurusan, maka mereka bisa dengan leluasa menghadapi prajurit-prajurit kerajaan yang jumlahnya hampir sama. Dan ketika prajurit-prajurit kerajaan dari jurusan lain bermaksud memberi ban-tuan, Gerombolan Badik Merah telah berlalu dari tempat itu. Meninggalkan beberapa korban yang terjadi di kedua belah pihak. Tapi niatnya untuk tidak tertangkap oleh pihak kerajaan telah terlaksana.
"Ki sanak, siapa kalian ini?" tanya salah seorang prajurit kerajaan yang mendekati Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi.
"Kami cuma pengembara biasa. Namaku Rangga dan ini kawanku, Pandan Wangi," sahut Rangga.
"Ada urusan apa sehingga kau bentrok dengan Gerombolan Badik Merah" Dan tahukah kau bahwa orang itu tengah dicari-cari pihak kerajaan?"
"Hm, aku sungguh baru mendengar hal itu. Benarkah demikian" Sebab apa dia cari-cari pihak kerajaan.
"Mereka sering merampok dan meresahkan penduduk di wilayah kerajaan. Telah lama kami mencari jejaknya dan baru kali ini kembali ber-temu. Tahukah kau kira-kira di mana sarang mereka berada?"
Rangga tersenyum kecil. "Ki sanak mungkin tadi kau sempat melihat bahwa diantara kami bermusuhan. Bagaimana mungkin aku tahu dimana sarang Gerombolan Badik Merah. Kalau aku tahu, sudah sejak dulu kusatroni."
"Oh, begitu" Memang tadi kami sempat melihat perkelahian kalian berdua. Ki sanak, pihak kerajaan akan sangat berterima kasih sekali kalau suatu saat kau bertemu mereka dan mem-beritahukannya kepada kami."
"Oh, pasti akan kuberitahukan!" sahut Rangga cepat.
"Satu lagi...."
"Apa itu?"
"Sebagai orang yang berkecimpung dalam du-nia persilatan, tahukah kau siapa tokoh yang sering mencuri?"
"Suka mencuri" Siapa yang kalian maksud-kan?" tanya Rangga aneh bercampur bingung. Tokoh seperti itu memang banyak terdapat, tapi baru kali ini pihak kerajaan menaruh perhatian.
"Belakangan ini banyak terdapat laporan yang mengatakan bahwa seorang tokoh persilatan sering mencuri benda-benda berharga dari para saudagar-saudagar kaya. Orang itu tak mempunyai tujuan untuk membunuh, namun kebanyakan korban-korban yang ditimbulkannya adalah mereka yang hendak menghalangi niatnya. Banyak sudah jago-jago silat yang disewa oleh saudagar-saudagar kaya untuk melindungi harta benda mereka, namun tak satupun yang mampu menangkap pencuri itu. Bahkan kebanyakan dari mereka kedapatan tewas...." jelas prajurit kerajaan itu.
Rangga tersenyum-senyum kecil. Demikian pula Pandan Wangi. Sampai para prajurit kerajaan meninggalkan tempat ini dan mereka pun berlalu, Rangga masih juga tersenyum.
"Kenapa Kakang tersenyum-senyum begitu?" tanya Pandan Wangi heran.
"Aku teringat cerita kawan. Dia seorang ma-ling, namun hasilnya selalu dibagikan kepada rakyat yang tak mampu. Siapakah orang itu dan apa yang diinginkannya" Kita juga tak tahu, ke mana hasil curiannya itu digunakan. Bukan tak mungkin bahwa dia membagikannya kepada rakyat jelata. Lalu... he, buat apa aku musti me-laporkannya kepada mereka kalau suatu saat kita bertemu dengan orang itu?" tanya Rangga seperti pada dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau barang curian itu untuk dirinya sendiri?"
"Itu suatu kejahatan yang musti secepatnya diberantas!"
"Kakang, kau tak akan bisa menjadi raja yang bijaksana bila berpikiran begitu!" cela Pandan Wangi.
"Lho, kenapa tidak?"
"Kejahatan tetap kejahatan apapun yang di-lakukannya dari hasil kejahatannya itu, dan se-muanya musti diberantas!"
Rangga ketawa kecil. "Kalau seorang raja selalu bertindak begitu, itu suatu tanda bahwa sang raja kurang bijaksana. Seorang raja yang bijak-sana harus bisa berpikir panjang dan meneliti persoalan dengan mencari setiap celah yang bisa digunakan untuk mengetahui kebaikan dan ke-burukan suatu perkara. Bila kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya, bukanlah hal itu termasuk dalam kebaikan pula?"
"Kakang, jangan suka berpikir yang sulit-su-lit. Suatu saat kau akan terjebak sendiri ke dalamnya!" ujar Pandan Wangi menasehati.
Rangga hanya tertawa mendengar kata-kata gadis itu.
"Apakah kau anggap hal seperti itu terlalu sulit?"
"Apakah Kakang kira hal itu mudah dipahami orang banyak?"
"Eh, siapa yang mengatakan bahwa hal itu untuk dipahami oleh orang banyak" Akukan hanya bicara tentang seorang raja yang harus bersikap bijaksana...?"
"Sudahlah. Kakang kalau bicara selalu tak mau kalah!" sahut gadis itu ketus dengan wajah cemberut.
Kembali Rangga hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Pandan Wangi yang sedang me-rajuk. Namun ketawanya tiba-tiba berhenti ketika mereka melewati sebuah rumah yang ramai dipenuhi oleh orang-orang.
"Hm, ada apa di situ" Apa yang terjadi?" seru Rangga heran bercampur penasaran.
Dia membelokkan arah lari kudanya tanpa mengajak gadis itu. Hal itu tentu saja menambah perasaan kesal di hati Pandan Wangi. Namun dia terpaksa mengikuti pemuda itu.
"Apa yang telah terjadi di sini, Pak?" tanya Rangga ramah pada salah seorang yang berada didekatnya.
Orang itu memandang sekilas kepada Rangga sebelum menjawab.
"Mereka terkena musibah..."
"Musibah apa?"
"Setelah suaminya pergi, tak berapa lama mereka dirampok dan segala harta bendanya habis semua. Beberapa saat kemudian orang-orang membawa suaminya yang telah menjadi mayat...."
? * *? * ? "Siapa keluarga ini dan kenapa suaminya te-was" Lalu adakah yang mengetahui siapa orang yang merampok itu?" tanya Rangga lebih lanjut.
"Suaminya yang meninggal bernama Tatang Senjaya...," jelas orang itu kemudian mencerita-kan sedikit yang diketahuinya dari murid-murid Tatang Senjaya sendiri.
Seperti diketahui, Tatang Senjaya tewas di tangan pendekar dari negri asing yang bernama U Than Kyung. Kemudian mayatnya ditemukan orang-orang di desa ini dan membawanya pulang.
Namun setiba dirumah ternyata ada musibah yang menimpa pula. Beberapa orang muridnya didapati telah tewas. Yang tersisa hanya mereka yang kebetulan tak berada di tempat kejadian saja. Sementara anak dan istri Tatang Senjaya sendiri selamat.
"Hm, jadi tak ada yang mengetahui siapa perampok itu?" tanya Rangga setelah mendengar penuturan orang itu.
"Menurut keterangannya, orang itu menge-nakan topeng. Ilmunya tinggi dan semua murid Tatang Senjaya tak mampu melawannya."
Rangga merenung beberapa saat lamanya mendengar penuturan orang tersebut. Betulkah ini ada hubungannya dengan seorang tokoh yang diceritakan prajurit kerajaan tadi padanya" Kalau benar demikian, apakah pantas dia disebut baik" Seorang maling budiman jarang membunuh korbannya jika tak terpaksa sekali. Tapi beberapa orang murid Tatang Senjaya tewas dengan cara yang mengerikan. Dan jelas hal itu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati yang sadis.
"Bagaimana, Kakang" Apakah kau masih beranggapan bahwa pencuri itu orang baik?" tanya Pandan Wangi sinis seperti mengerti apa yang dipikirkan pemuda itu.
Rangga diam saja sambil menaiki kudanya dan berlalu dari tempat itu. Kali ini terlihat wajah Pandan Wangi selalu tersenyum penuh kemenangan.


Pendekar Rajawali Sakti 118 Dukun Dari Tibet di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau membenarkan kata-kataku, bukan?" ulang Pandan Wangi sambil tersenyum meng-goda.
"Kau boleh benar, tapi tentu tidak dengan pencuri itu. Siapa tahu dia bukan mencuri yang masuk dalam hitungan seperti yang kuceritakan tadi. Dia betul-betul pencuri yang melakukan kejahatan dan pantas mendapat hukuman yang se-timpal!" sahut Rangga tenang.
"Huuu, Kakang memang tak pernah me-ngalah. Merasa benar sendiri, dan tak mau mendengar pendapat orang lain!" gerutu Pandan Wangi dengan kesal.
"Lho... kenapa jadi kesal sendiri" Ah, sudahlah. Lebih baik kita tak membicarakan hal itu lagi...."
Pandan Wangi diam saja tak menyahut. Rangga meliriknya berkali-kali dan berusaha menggodanya. Namun gadis itu tetap cemberut dan tak mau berpaling sedikitpun.
Kedua muda-mudi itu terus berlalu hingga tiba di tepi sebuah pantai di dekat perkampungan nelayan.
"Lho, kenapa jadi melantur. Apa yang akan kita kerjakan di sini?" tanya Rangga pada diri sendiri.
"Kakang, apakah kau merasa bahwa kita tak punya tujuan" Kalau begitu untuk apa kita ber-leha-leha segala" Lebih baik kita pulang ke Karang Setra dan beristirahat barang beberapa bulan...," kata Pandan Wangi dengan suara datar.
"Ya, aku juga bingung. Tapi bukan soal tu-juan kita, melainkan ada sesuatu yang terjadi di daerah ini dan menjadi teka-teki bagi kita. Pen-curian, kemudian tokoh asing yang menantang pendekar-pendekar negri ini, dan nanti entah apa lagi...."
Kata-kata Rangga terpotong ketika melihat suatu perkelahian yang kelihatannya tak seim-bang. Seorang laki-laki tengah dikeroyok oleh sepuluh orang lawannya yang bertubuh besar-besar. Laki-laki itu sendiri bertubuh sedang dan agak kurus.
"Coba kita ke sana!" ajak Rangga.
"Kakang mau mencampuri urusan orang?"
"Kita hanya melihat-lihat saja. Kalaupun sesuatu terjadi pada kita, itu soal nanti," sahut Rangga seenaknya sambil memacu kudanya men-dekati tempat perkelahian itu.
Sambil bersungut-sungut kesal Pandan Wangi terpaksa mengikuti dari belakang.
Dari dekat mereka dapat melihat dengan jelas. Laki-laki yang tengah dikeroyok itu mengenakan baju putih terbuat dari sutera. Namun caranya berpakaian berbeda sekali dengan penduduk kebanyakan di negri ini. Rambutnya yang panjang digelung ke belakang, dan orang ini pun memakai sepatu panjang yang menutupi celananya. Sepasang alisnya agak miring menaungi kelopak matanya yang sipit. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya klimis. Laki-laki ini paling-paling berusia sekitar tiga puluh lima tahun atau lebih sedikit. Dengan bertangan kosong dia mampu bergerak lincah menghindari sambaran-sambar-an senjata lawan-lawannya.
"Kakang, laki-laki itu pastilah orang asing di sini. Apakah tak mungkin dia yang belakangan ini ramai dibicarakan orang"!" seru Pandan Wangi curiga.
"Nah, betulkan Kakang akan mencampuri urusan orang"!"
Rangga tak menyahuti ucapan Pandan Wangi, sebaiknya malah berteriak dengan suara nyaring.
"Ki sanak, apakah yang tengah terjadi di sini"!"
? * *?? * ? 5 ? Serentak orang-orang itu menghentikan perkelahian. Salah seorang dari pengeroyok itu membentak nyaring dengan suara gusar.
"Siapa kau berani mencampuri urusan orang"!!"
Satria Terkutuk Kaki Tunggal 2 Naga Naga Kecil Kisah Para Naga Di Pusaran Badai Karya Marshall Darah Dan Cinta Di Kota Medang 2

Cari Blog Ini