Ceritasilat Novel Online

Kemelut Cinta Berdarah 1

Pendekar Rajawali Sakti 119 Kemelut Cinta Berdarah Bagian 1


. 119. Kemelut Cinta Berdarah Bag. 1 - 3
16. August 2015 um 08:05
? Pendekar Rajawali Sakti
episode: Kemelut Cinta Berdarah
Oleh Teguh S. Penerbit Cintamedia, Jakarta
? 1 ? ? Alunan suara tembang lagu mengalun merdu, menyambut datangnya sang mentari di pagi ini. Alunan suara tembang seorang gadis yang tengah sibuk mencuci di pinggir kali. Tak ada seorangpun yang terlihat di sana, kecuali gadis muda berkulit kuning langsat, yang membiarkan rambutnya teriap panjang hingga menyentuh pinggulnya yang padat berisi.
"Sari...!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang me-manggil. Gadis itu menghentikan pekerjaannya. Kepalanya terangkat naik, dan berpaling ke belakang. Tangannya langsung melambai begitu melihat di atas tebing berdiri seorang pemuda bertelanjang dada melambai-lambaikan tangannya. Sebuah cangkul terpanggul di pundaknya. Pemuda itu berlari-lari kecil menuruni tebing menuju ke sungai kecil ini.
"Pagi sekali kau sudah ke sungai, Sari," kata pemuda itu setelah dekat dengan gadis di tepian sungai ini.
"Sengaja," sahut gadis cantik yang dipanggil dengan nama Sari.
Senyumnya terkembang merekah begitu ma-nis sekali. Dan pemuda yang berwajah cukup tampan dengan tubuh tegap berotot ini mem-balas senyuman gadis itu dengan manis pula. Dia kemudian duduk di atas batu, menenggelamkan kedua kakinya di air sungai yang jernih ini. Sari kembali meneruskan pekerjaannya mencuci pa-kaian yang tadi sempat tertunda sebentar.
"Kalau aku tidak pagi-pagi ke sungai, mana sempat bertemu denganmu, Kakang," kata Sari agak tersipu.
"Yaaaaah..., kita memang hanya bisa bertemu sembunyi-sembunyi begini," desah pemuda ini perlahan. Seakan ada sesuatu yang disesalkan.
"Sudan nasib. Kakang," balas Sari juga men-desah.
Mereka terdiam beberapa saat. Kabut masih terlihat cukup tebal menyelimuti sekitar sungai ini. Belum ada seorangpun yang datang ke sungai ini selain mereka berdua. Karena memang masih terlalu pagi sekali. Mataharipun belum terlihat menampakkan diri. Hanya cahayanya saja yang membersit di ufuk timur.
"Kakang Jaka...," lembut sekali suara Sari.
"Hmmm...." pemuda yang bernama Jaka ini hanya menggumam saja perlahan.
Dia berpaling sedikit menatap wajah cantik gadis itu. Sedangkan yang ditatap malah menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang mendadak saja jadi bersemu merah dadu. Jaka menggeser duduknya lebih mendekat lagi. Ragu-ragu dia ingin mengulurkan tangannya. Tapi akhirnya terulur juga, dan menyentuh pun-dak yang berkulit kuning halus dan terbuka ini. Ada getaran halus saat kulit mereka bersen-tuhan.
"Sampai kapan kita akan terus sembunyi-sembunyi begini, Kakang?" terdengar pelan sekali suara Sari.
"Hhhh, entahlah...." Sahut Jaka mendesah.
"Kenapa kau tidak langsung saja menemui orang tuaku, Kakang?"
"Tidak mungkin, Sari. Kau tahu sendiri, aku ini apa...?" hanya petani kecil yang tidak punya apa-apa. Sedangkan kau, putri seorang saudagar kaya."
"Kau selalu saja berkata begitu, Kakang. Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak me-mandang harta dan kedudukan. Aku hanya ingin-kan kau, Kakang. Bukan yang lain-lainnya," tegas Sari sambil memberengut manja.
Jaka hanya diam saja. Memang terlalu besar dan dalam jurang pemisah diantara mereka berdua. Dan jalinan cinta mereka terlalu sulit untuk bisa bersatu. Meskipun hubungan cinta mereka sudah diketahui semua orang di Desa Galagang, tapi memang mereka menyadari akan kesulitan yang harus di hadapi untuk menyatukan cinta mereka kejenjang yang lebih jauh lagi.
Sudah barang tentu halangan terbesar yang harus dihadapi Jaka adalah orang tua gadis ini. Dia merasa tidak ada apa-apanya bila dibanding-kan dengan keadaan Sari. Orang tuanya adalah orang terkaya di Desa Galagang. Sedangkan dia sendiri, hanya petani kecil yang sudah tidak lagi memiliki orang tua. Dan hanya sepetak ladang kecil saja yang dimiliki. Itupun tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari, walaupun hanya seorang diri.
"Kakang, apa sebaiknya kita lari saja...?" usul Sari tiba-tiba.
"Edan...?" sentak Jaka terkejut. Ditatapnya gadis itu dalam-dalam. Dan Sari membalasnya dengan tajam pula. Perlahan kepala Jaka bergerak menggeleng beberapa kali. Kata-kata Sari barusan seakan sebuah ledakan guntur di pagi hari ini. Begitu dahsyat, hingga napasnya jadi tersengal karena terkejut. Sukar untuk dipercaya kalau gadis cantik dan selembut ini bisa berkata begitu.
"Kau jangan main-main, Sari. Kita mau lari kemana..." orang tuamu pasti tidak akan mem-biarkan begitu saja," ujar Jaka seraya meng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kemana saja. Asal bisa bersama dengamu, Kakang," sahut Sari bersungguh-sungguh.
"Tidak, Sari. Itu bukan jalan yang terbaik," tegas jaka menolak.
"Tapi, Kakang...."
"Aku akan datang melamarmu," kata Jaka tegas.
"Ayah pasti tidak akan menerimamu, Kakang."
"Apapun yang akan terjadi, aku akan me-minangmu."
"Kakang..."
Tidak ada lagi yang bisa diucapkan Sari. Dia begitu terharu sekali mendengar tekad kekasih-nya ini. Walaupun mereka berdua menyadari, tidak akan mungkin bisa terlaksana. Tanpa di-sadari, setetes air bening mengalir di pipi yang putih kemerahan itu. Lembut sekali Jaka meng-usapnya sambil menatap lurus ke bola mata gadis ini.
"Aku akan datang malam ini. Percayalah, aku pasti akan melamarmu," ujar Jaka lembut.
"Kakang...," hanya itu yang bisa keluar dari bibir Sari.
Sulit bagi Sari untuk bisa meredam pe-rasaanya. Dia langsung menghambur, dan men-jatuhkan diri ke dalam pelukan kekasihnya ini. Sesaat Jaka tergagap. Tapi kemudian dia mera-balas pelukan ini dengan penuh cinta yang mera-bara di dada. Mereka berpelukan cukup lama.
"Sariii...!"
"Oh..?"
Sari buru-buru melepaskan pelukannya, begitu terdengar suara keras memanggilnya. DanJaka cepat melompat berdiri sambil menyambar cangkulnya. Sebentar mereka tampak kebi-ngungan. Tapi belum terlihat seorangpun dari tepian sungai ini.
"Aku pergi dulu, Sari," pamit Jaka.
"Itu Ibu, Kakang," kata Sari mencoba men-cegah.
"Nanti malam saja kita bertemu lagi," kata Jaka.
Sari tidak dapat lagi mencegah kepergian pemuda itu. Dan pada saat Jaka menghilang dari pandangannya, muncul seorang perempuan hampir separuh baya yang masih kelihatan cantik menghampiri gadis ini. Sari langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Seakan dia tidak mengetahui kedatangan wanita separuh baya yang ternyata adalah ibunya ini.
? * *? * ? Bukan karena udara malam ini terasa panas, yang membuat Sari jadi gelisah sendiri di dalam kamarnya. Tapi karena malam ini Jaka sudah berjanji hendak datang melamarnya. Entah sudah berapa kali dia memutari kamarnya. Detak jan-tungnya seakan berhenti, ketika terdengar suara ketukan halus di luar pintu.
Matanya langsung tertuju ke pintu yang sejak tadi tertutup rapat itu. Terdengar suara tarikan napas yang panjang dan berat. Suara ketukan di pintu kembali terdengar beberapa kali. Sari masih tetap diam memandangi pintu kamarnya ini. Beberapa kali ketukan itu terdengar, tapi dia tetap saja diam memandangi, dengan dada berdebar menggemuruh.
"Tok! Tok! Tok!
"Sari...!"
Seluruh tubuh gadis itu jadi menggeletar ketika terdengar suara memanggilnya. Suara yang sudah teramat dikenal. Suara wanita yang me-ngandung dan melahirkannya. Bergegas gadis itu melangkah menghampiri pintu, kemudian mem-bukanya dengan tangan masih bergetar. Dia me-narik napas panjang, dan menghembuskannya dengan kuat, begitu melihat seorang wanita ber-usia hampir separuh baya berdiri di depan pintu.
"Ibu...," desah Sari hampir tertelan suaranya.
Wanita separuh baya yang selalu di panggil dengan sebutan Nyai Ranta ini tersenyum. Dia dipanggil dengan nama itu, karena suaminya ber-nama Ki Ranta. Hingga tak ada lagi seorangpun yang mengingat nama sebenarnya. Kakinya ter-ayun melangkah masuk, begitu Sari menyingkir ke tepi. Walaupun usianya sudah berkepala em-pat, tapi wajahnya masih tetap kelihatan cantik. Dan bentuk tubuhnya juga masih bisa membuat mata laki-laki tak berkedip memandangnya. Nyai Ranta duduk di tepi pembaringan. Sementara Sari tetap berdiri di samping pintu yang masih dibiarkan tetap terbuka setengah.
"Sejak sore tadi kau mengurung diri terus di kamar. Kenapa...?" terdengar lembut sekali suara Nyai Ranta.
"Tidak apa-apa," sahut Sari pelan.
Kepala gadis itu jadi tertunduk dipandangi dengan lembut. Dia jadi serba salah. Sesekali ma-tanya melirik ke arah ibunya yang terus memandangi dengan bibir menyunggingkan senyuman lembut, penuh cinta kasih. Perlahan dia bangkit berdiri dan melangkah menghampiri anak gadis tunggalnya ini. Lembut sekali tangannya menyentuh pundak Sari. Membuat gadis itu semakin tidak menentu hatinya. Entah kenapa, Sari me-rasakan seakan-akan dirinya tengah ditelanjangi.
"Ada yang ingin bertemu denganmu, Sari," kata Nyai Ranta memberi tahu.
"Siapa...?" tanya Sari terperanjat.
Seketika jantungnya berdetak kencang, bagai gunung yang hendak memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia langsung menatap ke bola mata ibunya ini. Tapi cepat dia tertunduk kembali. Tak sanggup menentahg sorot matanya yang begitu lembut, seakan hendak menembus langsung ke relung hatinya yang paling dalam.
"Kau lihat saja sendiri," sahut Nyai Ranta tetap terdengar lembut suaranya.
Perlahan Sari mengangkat kepalanya. Tatap-annya langsung bertemu dengan sorot mata lembut ibunya. Kemudian dia melangkah mundur satu tindak, dan memutar tubuhnya berbalik.
Tapi kakinya tidak jadi terayun melangkah ke luar. Dia kembali memutar tubuhnya, dan memandangi wajah ibunya masih terlihat lembut, dengan senyumannya yang selalu manis penuh kasih dan cinta.
"Siapa, Bu?" tanya Sari agak bergetar suaranya.
"Sutawijaya," sahut Nyai Ranta.
Kali ini senyuman di bibirnya menghilang, saat menyebutkan nama itu. Dan Sari pun men-desah panjang. Sinar matanya langsung meredup. Semula dia berharap kalau Jaka yang datang dan hendak bertemu dengannya. Tapi ternyata bukan pemuda yang dicintainya. Dia tahu siapa itu Sutawijaya. Seorang pemuda, putra seorang saudagar kaya dari kota.
Memang sudah lama Ki Ranta ingin men-jodohkan Sari dengan Sutawijaya. Tapi tidak per-nah Sari mau menuruti kehendak ayahnya. Dia tahu kalau perangai Sutawijaya yang congkak dan angkuh. Selalu memanfaatkan kekayaan dan kedudukan ayahnya yang saudagar, juga mem-punyai hubungan cukup erat dengan kalangan pembesar istana kerajaan. Ini yang membuat Sari tidak pernah mau memenuhi keinginan ayahnya.
"Sudah temui dulu sana. Jangan sampai ayah-mu marah lagi, kata Nyai Ranta.
"Tapi, Bu...." Sari ingin menolak. Tapi lidah-nya mendadak jadi terasa begitu kelu.
Dia jadi bimbang. Dia tahu kalau tidak mung-kin untuk tidak menemui Sutawijaya. Ayahnya pasti akan memarahinya habis-habisan. Sari jadi kebingungan sendiri. Dia benar-benar tidak tahu lagi, apa yang harus diperbuat. Sedangkan malam ini Jaka juga akan datang untuk melamarnya. Dan sekarang di rumah ini sudah menunggu Sutawijaya. Pemuda pilihan Ki Ranta untuk anak gadisnya ini.
"Temui dulu sana," bujuk Nyai Ranta lagi.
Sari tidak bisa lagi menolak. Meskipun hatinya tidak ingin, tapi kakinya terayun juga melangkah keluar. Tapi baru saja dia berada tiga langkah di depan pintu kamarnya, ayunan kakinya terhenti. Kepalanya berpaling menatap ibunya yang masih tetap berdiri di dalam kamar itu.
"Bu...," terdengar tersekat suara Sari.
"Jangan sampai ayahmu menunggu, Sari," kata Nyai Ranta memaksa.
Sari tidak bisa lagi berkata. Kebimbangan se-makin jelas membayang di wajahnya. Beberapa saat lamanya dia hanya berdiri diam saja me-matung. Beberapa kali pula dia melirik pada ibunya. Kemudian kakinya terayun juga melangkah menuju ke ruangan depan. Sedangkan Nyai Ranta masih tetap berada di dalam kamar itu, memandangi putrinya dengan sinar mata yang sukar untuk diartikan saat ini.
Sedangkan Sari sudah menghilang di balik sekat dinding yang menuju langsung ke ruangan depan rumah yang berukuran sangat besar ini. Nyai Ranta baru ke luar dari kamar itu setelah
Sari benar-benar tidak terlihat lagi. Dia langsung menuju ke bagian belakang. Sebentar dia berhenti dan berpaling, kemudian terus melangkah sambil menghembuskan napas panjang.
? * * ?* ? Hampir berhenti detak jantung Sari ketika matanya menangkap sosok Jaka di depan pintu pagar rumahnya. Sedangkan tidak jauh di sebelahnya duduk pemuda lain yang sama sekali tidak disukainya. Wajah gadis itu langsung memucat begitu melihat ayahnya keluar dari pintu samping, langsung menghampiri Jaka yang baru saja melangkah melewati pintu pagar yang cukup tinggi itu. Sedikitpun Sari tidak mengedipkan kelopak matanya.
Jelas sekali terlihat salam hormat Jaka tidak dibalas sedikitpun juga. Bahkan Ki Ranta ber-kacak pinggang di depan pemuda ini. Cukup sulit bagi Sari untuk bisa mendengar semua yang di-bicarakan mereka. Karena memang jaraknya terlalu jauh. Namun dia bisa melihat dengan jelas raut wajah Jaka yang kelihatan kecewa dengan pcnerimaan Ki Ranta.
Tidak lama terlihat Jaka memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan gontai. Hampir saja Sari menitikkan air matanya, kalau saja tidak ce-pat menahan. Dipalingkan mukanya ke arah lain, tidak sanggup dia melihat kepergian kekasihnya yang tidak sempat lagi menemuinya.
"Kepalaku pening. Maaf...," ujar Sari langsung bangkit berdiri.
"Sari...."
Sutawijaya ingin mencegah, tapi Sari sudah keburu menghilang di balik dinding yang mem-batasi ruangan depan ini dengan ruangan tengah. Walaupun dia juga sudah bangkit berdiri, tapi tidak mungkin mengejar. Pemuda yang berwajah cukup tampan itu hanya bisa berdiri terpaku.
Saat itu Ki Ranta masuk. Dia jadi tertegun melihat Sutawijaya berada sendirian di dalam ruangan ini. Sutawijaya cepat-cepat memutar tubuhnya dan membungkuk sedikit begitu mengetahui ada Ki Ranta.
"Mana Sari?" tanya Ki Ranta langsung.
"Sakit katanya, Paman," sahut Sutawijaya.
Ki Ranta mendengus keras. Dia hendak me-nyusul Sari yang entah berada dimana sekarang ini. Tapi Sutawijaya sudah keburu mencegah laki-laki berusia separuh baya ini, tapi masih kelihatan gagah dan tegap tubuhnya.
"Biarkan saja, Paman. Aku mohon pamit dulu," kata Sutawijaya.
"Baiklah, Nak. Besok kau bisa datang lagi ke sini," kata Ki Ranta merasa tidak enak.
Terima kasih, Paman," ucap Sutawijaya se-raya membungkukkan badannya sedikit memberi hormat.
Ki Ranta mengantarkan pemuda itu sampai ke halaman. Dan dia baru masuk kembali ke dalam rumahnya setelah Sutawijaya tidak terlihat lagi, pergi dengan dikawal empat orang tukang pukulnya. Laki-laki tua itu langsung menuju ke kamar Sari yang tertutup rapat pintunya. Dengan kasar sekali dia menggedor pintu kamar anak gadisnya ini. Saat itu muncul Nyai Ranta dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Ada apa ini...?" tanya Nyai Ranta sambil memandangi suaminya dengan tajam.
"Anak kurang ajar itu telah meninggalkan Sutawijaya!" sahut Ki Ranta mendengus berang.
"Sari sakit. Kepalanya pening," kata Nyai Ranta membela anak gadisnya.
"Huh! Alasan...!" dengus Ki Ranta. "Aku tahu, kenapa dia tiba-tiba sakit!"
"Memangnya kenapa?" tanya Nyai Ranta ingin tahu,
"Tadi anak muda gembel itu datang. Aku ya-kin kalau Sari melihatnya," kata Ki Ranta masih dengan nada suara berang.
"Pemuda siapa?" tanya Nyai Ranta seperti tidak tahu.
"Jaka."
"Oooo... lalu?"
"Aku usir dia."
"Kenapa...?" tanya Nyai Ranta agak tersentak kaget.
"Berani-beraninya dia mau melamar anak kita! Huh..." punya apa dia mau melamar Sari."
"Kenapa kau tidak rundingkan dulu" Se-harusnya kau jangan langsung mengusirnya," kata Nyai Ranta menyesali perbuatan suaminya.
"Ah, sudah...!" sentak Ki Ranta kesal. "Kau katakan pada anakmu. Jangan coba-coba menemui anak gembel itu lagi. Hari perkawinannya sudah kutentukan!"
Nyai Ranta tidak bisa lagi berkata-kata. Ki Ranta sudah langsung meninggalkannya dengan cepat. Membuat perempuan yang hampir separuh baya usianya itu hanya bisa terlongong bengong memandangi. Saat itu pintu kamar terbuka. Nyai Ranta langsung memutar tubuhnya berbalik. Dari dalam kamar, Sari menerobos ke luar. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya, dan menangis di dadanya.
"Sudahlah, Sari. Ayo masuk...," ajak Nyai Ranta lembut.
Sambil berpelukan, mereka masuk ke dalam kamar. Nyai Ranta langsung menutup pintunya, dan mengunci dari dalam. Tak ada lagi suara yang terdengar. Hanya isakan kecil dan tertahan saja yang terdengar dari dalam kamar itu. Sementara malam terus merambat semakin larut. Anginpun berhembus kencang menyebarkan udara yang dingin menggigilkan tubuh. Suasana di dalam rumah besar itu pun jadi sunyi. Hanya gerit binatang malam saja yang terdengar.
* *? * ? 2 ? Rona merah jingga membias dari balik bukit, membuat pemandangan yang begitu indah di Desa Galagang ini. Burung-burungpun ramai berkicau, menambah suasana pagi ini begitu se-marak dan ceria. Namun semua keindahan dan keceriaan itu tidak ternikmati sedikitpun oleh seorang pemuda yang berdiri mematung di kaki tepian sungai yang mengalir bagai memisahkan Desa Galagang dengan bukit kecil ini.
Entah sudah berapa lama pemuda itu berdiri mematung di sana. Pandangannya lurus, tak ber-kedip sedikitpun menatap ke seberang sungai. Hanya pepohonan saja yang terlihat di seberang sana. Sesekali terlihat binatang yang hendak me-lepas dahaga di tepi sungai ini. Pemuda berwajah cukup tampan yang tak lain adalah Jaka ini, tidak menyadari kalau beberapa pasang mata mengawasinya sejak tadi dari balik semak dan pepohonan.
"Trek!"
"Eh..."!"
Belum juga hilang rasa terkejutnya saat terdengar suara ranting kering terinjak, tiba-tiba saja Jaka kembali dikejutkan dengan bermun-culannya orang-orang bertampang kasar dari balik semak dan pepohonan. Dari pakaian yang mereka kenakan, sudah bisa dipastikan kalau mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Sebentar saja dia sudah terkepung tidak kurang dari sepuluh orang, yang semuanya menghunus golok.
"Siapa kalian" Mau apa...?"
Belum juga pertanyaan Jaka selesai, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka sudah melompat menyerang sambil membabatkan goloknya ke-arah leher pemuda ini.
"Hait!"
Cepat-cepat Jaka merundukkan kepalanya menghindari tebasan golok yang berkilat tajam itu. Hanya sedikit saja golok itu berlalu di atas kepalanya. Jaka jadi tersentak kaget, dan cepat-cepat dia melompat ke belakang begitu merasa-kan angin tebasan golok itu demikian kuat, hing-ga menerbangkan ikat kepalanya.
"Hap!"
"Yeaaaah...!"
Tapi baru saja kakinya menjejak tanah, satu orang lagi sudah melepaskan sebuah pukulan ke-ras yang menggeledek dari arah kanan. Bergegas Jaka menarik tubuhnya ke belakang, menghindari pukulan keras yang mengandung pengerah-an tenaga dalam tinggi itu. Satu langkah dia menarik kakinya ke belakang. Demikian kerasnya pukulan orang itu, hingga angin pukulannya saja sudah membuat tubuh pemuda desa ini jadi sedikit terhuyung.
"Hiyaaaa...!"
"Hah..."!"
Bukan main terkejutnya pemuda desa ini, ke-tika dengan cepat sekali empat orang langsung berlompatan menyerang dari empat penjuru mata angin. Dan bersamaan dengan itu empat buah golok berkelebatan dengan kecepatan sangat tinggi kearah bagian-bagian tubuhnya yang nangat rawan dan mematikan.
"Hap! Hiyaaa...!"
Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh, Jaka cepat-cepat melentingkan tubuhnya ke udara, mengindari serangan serentak dari empat jurusan itu. Tapi begitu dia berada di udara, salah seorang pengeroyoknya sudah melenting dengan kecepatan bagai kilat sambil melepaskan satu tendangan keras menggeledek, yang mengandung pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.
"Yeaaaa...!"
Begitu cepatnya serangan orang itu, hingga Jaka tidak sempat lagi berkelit menghindar. Ter-lebih lagi saat itu dia sedang berada di udara. Dan....
"Plak!"
"Akh...!"
Seketika Jaka terpental, dan jatuh dengan keras sekali ke tanah. Beberapa kali dia bergelim-pangan di atas tanah berumput basah ini. Dan saat itu beberapa golok berhamburan menghan-tam ke arah tubuhnya. Membuat pemuda desa itu terpaksa harus bergelimpangan menghindarinya.
"Hap!"
Begitu ada kesempatan, cepat-cepat dia; bangkit berdiri. Namun belum juga dia bisa menjejakkan kakinya dengan sempurna, satu sambar-an golok sudah melayang ke arah dadanya.
"Hait!"
"Cras!"
"Akh!"
Meskipun sudah berusaha menghindar, tapi gerakannya masih juga terlambat, sehingga ujung golok yang berkilat tajam itu sempat merobek bahu kanannya. Jaka terhuyung-huyung ke be-lakang sambil mendekap bahu kanannya yang ro-bek mengucurkan darah.
"Ugkh! Setan...!" umpat Jaka geram.
Cepat dia melakukan beberapa gerakan dengan kedua tangannya. Kemudian menotok beberapa kali di sekitar luka. Saat itu juga darah berhenti mengalir dari bahunya yang sobek ter-kena sabetan golok tadi.
"Suiiiit...!"
Tiba-tiba saja terdengar suara siulan yang sa-ngat nyaring melengking tinggi. Membuat telinga siapa saja yang mendengar jadi berdenging sakit. Saat itu juga sepuluh orang yang mengeroyok
Jaka langsung berlompatan mundur. Tapi mereka masih tetap mengepung dengan sikap siap untuk menyerang.
"Hmmm..." Jaka menggumam perlahan.
"Wusss!"
Sebuah bayangan terlihat berkelebat begitu cepat sekali di depan pemuda desa ini. Dan tahu-tahu sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan, dengan sorot mata yang tajam dan bengis sekitar enam langkah lagi di depan pemuda desa ini.
"Hmmmm...," kembali Jaka menggumam per-lahan.
? * *?? * ? "Kau yang bernama Jaka?" tanya pemuda tampan berpakaian sangat mewah itu.
Suaranya terdengar sangat dingin dan datar sekali. Tak terdengar sedikitpun tekanan pada nada suaranya. Dan sorot matanya juga begitu tajam, menusuk langsung ke bola mata pemuda desa di depannya ini. Sedangkan yang dipandangi membalasnya dengan tidak kalah tajamnya.
Jaka sendiri memandangi dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Seakan dia tengah meng-amati pemuda tampan berwajah bengis di depannya ini. Memang sangat mewah sekali pakaiannya. Bahkan gagang pedang yang menyembul keluar dari balik punggungnyapun seperti terbuat dari emas. Tapi sama sekali Jaka belum pernah mengenalnya. Bahkan baru kali ini dia melihatnya. Dan dia tidak tahu siapa pemuda ini. Tapi yang jelas pemuda itu pemimpin dari sepuluh orang yang mengeroyoknya tadi.
"Aku bertanya padamu, Gembel!" bentak pe- muda itu kasar, karena pertanyaannya tidak di-jawab sedikitpun juga.
"Benar," sahut Jaka sedikit mendengus.
Dia benar-benar tidak suka dengan sikap pemuda angkuh berwajah bengis ini. Namun semua itu tetap saja tersimpan di dalam hati. Walaupunsorot matanya memancar begitu tajam sekali, menusuk langsung ke bola mata pemuda di depannya ini.
"Aku peringatkan padamu. Jangan coba-coba mendekati Sari lagi," kata pemuda itu masih tetap dengan suaranya yang dingin dan datar mengge-tarkan hati.
"Hh!"
Jaka malah tersenyum sinis mendengar per-ingatan yang bernada mengancam itu. Kini dia tahu siapa pemuda berpakaian mewah di depan- nya ini. Dari kata-kata peringatan bernada mengancam tadi, dia langsung bisa menebak kalau pemuda ini tentu Sutawijaya. Pemuda pilihan Ki Ranta, yang akan dijodohkan pada Sari. Tapi Jaka begitu yakin kalau Sari tidak mungkin mengkhianati cintanya. Dia tahu kalau Sari tidak mau menerima pemuda ini. Dan cintanya sudah tertumpah pada pemuda desa yang tidak disetujui ayahnya.
"Ada hak apa kau melarangku berhubungan dengan Sari?" desis Jaka dingin.
"Dia calon istriku!" sahut pemuda itu agak menyentak.
"Oooo..., begitukah" Tapi rasanya Sari tidak menyukaimu," sinis sekali nada suara Jaka.
"Setan!" geram pemuda tampan berpakaian mewah yang ternyata memang Sutawijaya marah, mendengar kata-kata bernada sinis itu.
Dia melangkah dua tindak mendekati Jaka. Sorot matanya begitu tajam, menentang sorot mata Jaka yang tidak kalah tajamnya. Beberapa saat mereka saling bertatapan dengan tajam. Seakan tengah mengukur tingkat kepandaian ma-ling-masing. Tampak Sutawijaya menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kuat. Seakan dia tidak menyangka kalau pemuda desa yang di anggapnya tidak memiliki kepandaian apa-apa ini, ternyata mampu menghadapi sepuluh orang tukang pukulnya, walaupun men-dapat cedera di bahu kanan.
Tapi cedera yang diderita Jaka tidaklah ber-arti. Hanya luka luar yang tidak berpengaruh apa-apa bagi seorang yang memiliki kepandaian ilmu olah kanuragan. Terlebih, luka di bahu kanan itu kini sudah tersumbat aliran darahnya.
"Dengar, Anak Gembel! Aku tidak mau lagimelihat kau bertemu dengan Sari. Kalau sampa aku sempat melihat atau mendengar, aku tidak akan segan-segan memenggal kepalamu!" desis Sutawijaya dingin mengancam.
"Kau juga harus dengar, Sutawijaya. Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangiku. Dan kau tidak akan bisa memiliki Sari," balas Jaka tidak kalah dinginnya.
"Setan keparat..! Kau mau mampus rupanya heh...?" bentak Sutawijaya semakin bertambal geram.
"Kau bisa coba. Siapa diantara kita yang lebih dulu masuk ke lubang kubur," tantang Jaka langsung.
"Keparat...!" geram Sutawijaya tidak dapat lagi menahan kemarahannya.
"Trek!"
Begitu jari tangannya beradu, seketika itu juga empat orang yang sejak tadi mengepung tempat ini langsung berlompatan sambil berteriak keras menggelegar. Golok mereka pun begitu cepat sekali berkelebatan membabat ke arah tubuh Jaka.
"Haiiiit....!"
Cepat sekali Jaka melentingkan tubuhnya ke udara, dan berputaran beberapa kali menghindari serangan cepat dari empat arah ini. Dan begitu kakinya kembali menjejak tanah, tiba-tiba saja Sutawijaya sudah melepaskan satu pukulan keras menggeledek yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi, tepat ke arah dada pemuda desa ini.
"Hiyaaa...!"
"Hap!"
Tidak ada lagi kesempatan bagi Jaka untuk menghindari serangan yang begitu cepat dan dah-syat ini. Dia langsung menghentakkan tangan ki-rinya ke samping, menangkis pukulan yang di-lepaskan Sutawijaya. Hingga benturan dua tangan yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi itu pun tidak dapat lagi dielakkan.
"Plak!"
"Ikh"
"Hup!"
Kedua pemuda ini sama-sama berlompatan mundur begitu tangan mereka saling beradu. Tampak Sutawijaya meringis sambil memegangi pergelangan tangan kanannya. Sedangkan Jaka langsung mengurut tangan kirinya. Wajah pemuda desa itu pun kelihatan merah, menahan rasa sakit pada pergelangan tangan kirinya.
"Hiyaaaat...!"
"Wuk!"
Saat itu salah seorang tukang pukul Sutawijaya yang berada di belakang, cepat sekali melompat membokong Jaka dari belakang. Golok-nya yang tajam berkilat, langsung dibabatkan ke arah kepala pemuda desa ini.
"Hih...!"
Cepat-cepat Jaka merundukkan tubuhnya ke depan. Dan begitu golok pembokongnya lewat di atas kepalanya, dengan cepat sekali dia menghentakkan sebelah kaki kirinya ke belakang. Tepat disaat pembokongnya baru saja menarik kembali goloknya. Dan dia tidak dapat lagi menghindari sepakan kaki pemuda desa ini.
"Begkh!"
"Ugkh!"
"Hiyaaaat...!"
Jaka langsung memutar tubuhnya dengan cepat sekali, setelah kakinya berhasil mendarat di dada pembokong itu. Dan begitu cepat sekali dia menghentakkan kaki kanannya, dengan tubuh setengah berputar dengan kecepatan yang sungguh luar biasa sekali. Begitu cepatnya, hingga orang itu tidak dapat lagi menghindar. Terlebih lagi dia baru saja mendapat dupakan yang keras pada dadanya. Dan...
"Plak! "Akh...!"
Satu pekikan keras agak tertahan terdengar begitu sepakan kaki Jaka menghantam kepala orang itu. Membuatnya terpental beberapa langkah ke samping. Dan dia terhuyung-huyung sambil memegangi kepalanya. Tampak darah meng-alir ke luar dari sela-sela jari tangannya. Sedangkan goloknya terpental cukup tinggi ke udara.
"Hiyaaaat..!"
Sambil berteriak keras, Jaka melompat tinggi ke udara mengejar golok penyerangnya yang terpental tadi. Dan begitu dia berhasil menyambar golok itu, langsung saja dilemparkan ke arah pe-miliknya, disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkatan cukup tinggi.
"Yeaaaah...!"
"Wut!"
Bagaikan kilat, golok itu meluncur deras ke arah pemiliknya. Dan tepat menancap di dadanya yang sudah tidak terlindungi lagi. Jeritan panjang melengkingpun terdengar nyaring menyayat. Hanya sebentar saja orang itu masih mampu berdiri limbung. Kemudian ambruk menggelepar di tanah dengan kepala retak dan goloknya sendiri tertancap di dada. Darah bercucuran deras mem-basahi rerumputan yang masih basah oleh embun ini. Sementara Jaka sudah kembali menjejakkan kakinya di tanah dengan manis dan ringan sekali. Sedangkan pembokongnya itu sudah menggele-tak kaku tak bernyawa lagi.
"Phuih!"
? * *?? * ? "Setan...!" geram Sutawijaya melihat salah seorang tukang pukulnya tewas tertikam goloknya sendiri.
Dengan kemarahan yang meluap, dia langsung melompat menerjang Jaka yang baru saja menjejakkan kakinya kembali di tanah. Beberapa pukulan keras disertai dengan pengerahan tenaga dalam tinggi dilepaskan secara beruntun. Membuat Jaka terpaksa harus berjumpalitan menghindarinya. Dan tampaknya Sutawijaya benar-benar ingin mengirim pemuda desa ini ke-liang kubur.
"Suiiit...!"
Sambil mencecar lawannya, Sutawijaya masih Sempat memberikan siulan yang panjang. Hingga seketika itu juga, sembilan orang tukang pukul-nya berlompatan mengeroyok pemuda dari Desa Galagang ini.
"Hiyaaaat...!"
"Yeaaah...!"
"Shaaaat...!"
Serangan-serangan cepat dan dahsyatpun berdatangan dari segala arah. Membuat Jaka se-makin kerepotan saja menghindarinya. Beberapa kali tebasan golok dan pukulan bertenaga dalam cukup tinggi berhasil dihindarinya. Tapi meng-hadapi keroyokan seperti ini, Jaka kelihatan mulai kewalahan juga.
Setelah beberapa jurus berlalu, pemuda dari Desa Galagang itu mulai kelihatan kewalahan. Dan beberapa kali dia harus menerima pukulan serta tendangan yang sangat keras, dan mengandung pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Hingga pertahanannyapun semakin goyah saja.
"Hiyaaat....!"
Begitu cepat sekali Sutawijaya melompat sambil melepaskan satu pukulan keras, yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Tepat disaat Jaka baru saja menghindari sabetan golok salah seorang pemuda berpakaian mewah itu. Hingga serangan Sutawijaya yang begitu cepat, tidak dapat lagi dihindari. Dan...
"Des!"
"Akh...!"
Jaka terpekik begitu pukulan yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi itu men-darat telak di dadanya. Begitu kerasnya pukulan yang dilepaskan Sutawijaya, sehingga membuat tubuh pemuda desa itu terpental sejauh dua ba-tang tombak ke belakang. Dan belum juga tubuhnya bisa menyentuh tanah, satu tendangan keras menggeledek sudah mendarat lagi di tubuhnya.
"Begkh!"
"Aaaakh...!"
Kembali Jaka terpekik keras. Dan tubuhnya kembali terpental ke depan dengan keras sekali, setelah menerima tendangan keras yang mengandung pengerahan tenaga dalam itu. Kali ini dia jatuh dengan keras sekali ke tanah, dan bergulingan beberapa kali menghindari hujaman golok yang datang begitu cepat sekali, begitu tubuhnya menghantam tanah.
"Hiyaaat...!"
Namun disaat Jaka tengah kewalahan menghadapi serangan beruntun itu, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan keras menggelegar bagai guntur di siang hari. Dan tahu-tahu orang-orang yang tengah membabatkan goloknya ke tubuh Jaka sudah berpentalan ke belakang sambil men-jerit kesakitan.
Hal ini tentu saja membuat Jaka jadi terlo-ngong bengong. Apalagi saat itu dia benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk menghindar terus. Namun menyadari kalau ini merupakan kesem-patan yang sangat baik, cepat-cepat dia melompat bangkit berdiri. Namun kakinya tidak lagi mantap menjejak tanah. Dan tubuhnyapun sedikit limbung. Tapi pemuda itu bisa dengan cepat menguasai keseimbangan tubuhnya, walaupun terasa seluruh tulangnya bagai berpatahan di dalam tubuh.
Walau dengan mata sedikit berkunang-ku-nang, dia masih sempat melihat bayangan merah berkelebatan begitu cepat sekali menghajar sem-bilan orang tukang pukul Sutawijaya, hingga mereka berpelantingan tidak mampu lagi bertahan. Jeritan-jeritan panjang kesakitan terus terdengar saling susul. Sementara Sutawijaya juga jadi terlongong bengong melihat orang-orangnya berpelantingan dihajar bayangan merah yang berkelebatan begitu cepat sekali bagai kilat itu.
Hingga dalam waktu yang sangat singkat sekali, tidak ada seorangpun dari sembilan tukang pukul Sutawijaya itu yang bisa bangkit lagi. Mereka semua bergelimpangan sambil merintih kesakitan. Wajah mereka babak belur dan biru lebam. Serta golok-golok mereka berpatahan tidak berbentuk lagi, walaupun dari rintihannya sudah bisa dipastikan kalau tak ada seorangpun yang tewas.
Sementara bayangan merah yang muncul begitu tiba-tiba itu, kini lenyap tak terlihat lagi. Entah kemana perginya. Bagaikan hilang ditelan bumi saja. Sedangkan Sutawijaya masih terlo-ngong bengong tidak mengerti dengan kejadian yang begitu cepat tadi. Dan dia hanya bisa memandangi orang-orangnya yang mulai bergerak bangkit sambil merintih kesakitan.
Sedangkan Jaka masih tetap berdiri pada tempatnya, memandangi Sutawijaya dan sembilan orang tukang pukulnya yang mulai bangkit berdiri lagi. Rasanya sudah tidak mungkin lagi mereka bisa meneruskan pertarungannya menge-royok Jaka. Keadaan mereka kelihatan payah sekali, setelah dihajar bayangan merah misterius tadi.
"Hm, Siapa dia..." kenapa menolongku...?" gumam Jaka bertanya sendiri di dalam hati.
Saat itu Sutawijaya melangkah menghampiri pemuda Desa Galagang ini. Dia kemudian berdiri sekitar tujuh langkah lagi di depan Jaka. Walaupun masih diliputi rasa heran bercampur ketidak mengertian, tapi sorot matanya memancar begitu tajam sekali, menusuk langsung ke bola mata Jaka.


Pendekar Rajawali Sakti 119 Kemelut Cinta Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Urusan ini belum selesai, Jaka. Satu saat aku pasti akan memenggal lehermu!?" desis Sutawijaya dingin.
Dia langsung memutar tubuhnya berbalik, dan melangkah pergi dengan ayunan kaki yang cepat dan lebar-lebar. Sementara Jaka masih tetap berdiri memandangi tak berkedip sedikitpun juga. Sementara sembilan orang tukang pukul itu mengikuti Sutawijaya, pergi meninggalkan tempat ini. Tak ada seorangpun lagi yang mengeluarkan suara. Mereka terus berjalan pergi dengan langkah yang cepat. Hingga sebentar saja mereka semua sudah tidak terlihat lagi, setelah melewati tikungan jalan setapak yang langsung menuju ke Desa Galagang.
"Hmmm..., dia pasti tidak akan bisa diam se-belum membunuhku," gumam Jaka perlahan.
Tatapan matanya masih tetap tertuju ke arah tikungan jalan. Meskipun Sutawijaya dan sembilan orang tukang pukulnya sudah tidak terlihat lagi di sana.
"Tapi, siapa orang yang telah menolongku tadi...?" gumam Jaka lagi, bertanya pada dirinya sendiri.
Memang begitu cepat sekali kejadiannya, hingga tak ada seorangpun yang bisa mengetahui, siapa orang yang ada di balik bayangan merah itu tadi. Dan pertanyaan itu terus menggelantung di dalam benak Jaka. Namun begitu, dia masih bisa bersyukur, karena masih ada orang yang mau menolongnya disaat sedang terdesak tadi. Kalau saja tidak ditolong orang misterius itu tadi, mungkin saat ini nyawanya sudah tidak melekat lagi di badan.
"Siapapun dia, aku harus mengucapkan te-rima kasih," desah Jaka perlahan.
Dan perlahan pula dia mengayunkan kakinya meninggalkan tempat ini.
? * *? * ? 3 Jaka terpaku bengong, begitu melihat rumah-nya sudah hancur jadi debu. Asap masih berkepul dari puing-puing rumahnya yang hitam bekas terbakar. Tak ada lagi yang tersisa sedikitpun juga. Bahkan dua ekor kerbau dan binatang peliharaannya yang lain sudah menggeletak jadi bangkai di sekitar puing-puing rumahnya yang hancur terbakar.
Begitu hanyak orang berkerumun disekitar rumah itu, tapi tak ada seorangpun yang men-dekatinya. Apalagi menegurnya. Mereka seakan takut untuk mendekati pemuda ini. Sedangkan Jaka seperti tidak peduli. Dia melangkah menghampiri puing-puing rumahnya yang hangus bekas terbakar.
"Ohhh..."
Tiba-tiba saja pandangannya jadi mengabur berkunang-kunang. Kepalanya terasa begitu be-rat, bagai dibebani sebongkah batu yang teramat besar dan berat. Langkahnyapun jadi gontai. Dia cepat-cepat menyandarkan punggungnya ke pohon yang sudah kering seluruh daunnya. Seben-tar matanya terpejam, lalu perlahan terbuka lagi. Semua orang yang berada di sekitarnya hanya bisa memandangi dengan sorot mata yang begitu sukar untuk bisa diartikan.
"Jaka..."
"Oh..."!"
Jaka tersentak kaget, begitu tiba-tiba mendengar suara memanggil namanya, disusul dengan tepukan halus dipundaknya. Cepat dia me-malingkan mukanya, dan langsung berputar membungkukkan tubuhnya, begitu melihat seorang laki-laki tua berjubah putih sudah berada didekatnya.
"Eyang Waskita...," desah Jaka perlahan me-nyebut nama orang tua itu.
"Kapan semua ini terjadi?" tanya Eyang Waskita dengan suara yang sedikit bergetar termakan usia.
"Aku tidak tahu, Eyang," sahut Jaka seraya menarik tubuhnya tegak kembali. "Mungkin se-malam."
Dipandanginya laki-laki berusia lanjut yang mengenakan baju jubah putih panjang dan long-gar ini. Dari kerut-kerut diwajahnya, mungkin usianya sudah mencapai lebih dari tujuh puluh tahun. Tapi sorot matanya masih terlihat meman-car tajam. Meskipun rambutnya sudah berwarna putih semua. Sepotong tongkat kayu berwarna hitam tergenggam di tangan kanan, menyanggatubuhnya yang sedikit bungkuk.
Semua orang di Desa Galagang ini tahu siapa Eyang Waskita. Seorang tua yang paling disegani dan ditakuti. Bukan hanya dia seorang guru besar pada padepokan yang ada disebelah selatan pinggiran Desa Galagang ini. Tapi juga dia bekas kepala desa, dan juga orang tertua di Desa Galagang. Bahkan pengaruhnya sampai melebihi dari kepala desa yang sekarang. Dari Eyang Waskita ini Jaka mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, walaupun belum sampai pada tahap ilmu kedigdayaan. Tapi apa yang dimiliki sudah cukup untuk membela diri.
"Kau tahu siapa yang membakar rumahmu?" tanya Eyang Waskita lagi.
Jaka hanya menggeleng saja. Dipandanginya kedua bola mata laki-laki tua ini, yang juga menatapnya. dengan sorot mata penuh selidik. Seakan dia tidak percaya kalau Jaka tidak tahu, ?kenapa rumahnya sampai bisa habis terbakar. Bahkan semua binatang peliharaannya ikut mati tak tersisa lagi.
"Semalaman aku tidak ada dirumah, Eyang," kata Jaka memberitahu tanpa diminta lagi.
"Hm, jadi kau benar-benar tidak tahu?"
Jaka menggelengkan kepalanya.
"Ayo ikut aku," ajak Eyang Waskita.
"Kemana, Eyang?" tanya Jaka.
Tapi Eyang Waskita tidak menjawab. Dia sudah memutar tubuhnya dan berjalan dengan langkah agak terseret, dibantu tongkat kayunya. Jaka bergegas mengikuti dari belakang. Beberapa orang yang berkerumun, segera menyingkir mem-beri jalan. Mereka hanya bisa memandangi, tanpa membuka suara sedikitpun juga.
Sementara Jaka terus melangkah mengikuti laki-laki tua ini. Dia juga tidak peduli dengan pandangan orang-orang disekitarnya. Tapi di-dalam hatinya, terus bertanya-tanya dengan sikap mereka semua. Seakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Sedangkan sikap Eyang Waskita sendiri membuat pemuda itu jadi bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia tidak mengerti, untuk apa Eyang Waskita mengajaknya pergi. Tapi Jaka tidak berani banyak bertanya. Dan dia terus saja mengikuti ayunan kaki orang tua yang sangat di-segani dan merupakan gurunya ini.
? * *?? * ? Jaka duduk bersimpuh di beranda depan rumah Eyang Waskita. Kepalanya tertunduk me-rayapi tikar daun pandan yang sudah agak lusuh. Sedangkan didepannya, duduk Eyang Waskita yang terus memandanginya dengan sinar mata yang begitu sukar untuk bisa diartikan. Entah sudah berapa lama mereka duduk berhadapan, dan tidak berbicara sedikitpun juga.
"Jaka"," terdengar pelan sekali suara EyangWaskita.
Perlahan Jaka mengangkat kepalanya. Dan pandangannya langsung bertemu dengan pandangan mata laki-laki tua berjubah putih yang duduk bersila juga didepannya ini. Beberapa saat mereka saling berpandangan. Tampak Eyang Waskita menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Begitu halus sekali hembusan napasnya, hingga tidak terdengar sedikitpun ditelinga pemuda didepannya ini.
"Sudah berapa lama kau menuntut ilmu di-sini," tanya Eyang Waskita dengan suara yang terdengar datar sekali.
"Sepuluh tahun," sahut Jaka agak heran mendengar pertanyaan orang tua itu. ?
"Kau masih ingat dengan nasihat-nasihatku?"
Jaka hanya mengangguk saja.
"Rasanya sudah terlalu sering aku melarang-mu mencari-perkara. Dan aku lebih senang jika kau tidak menunjukkan kepandaianmu," kata Eyang Waskita terdengar terputus nada suaranya.
"Selama ini aku selalu mematuhi nasihatmu, Eyang," selak Jaka membela diri.
"Tapi kenapa sampai ada orang yang tega membakar rumahmu?"
Kali ini Jaka tidak bisa menjawab. Kembali dia tertunduk menekuri anyaman tikar yang menjadi alas duduknya. Memang selama sepuluh tahun dia menuntut ilmu dari Eyang Waskita, tidak pernah satu kalipun dia menunjukkan kepandaianya. Dan baru pagi tadi dia terpaksa dan hanya untuk membela diri.
"Kau habis bertarung?" tanya Eyang Waskita lagi.
Jaka tersentak kaget. Langsung dia menya-dari kalau bahu kanannya masih terluka. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain mengangguk membenarkan. Kemudian dia menceritakan semua peristiwanya tanpa diminta lagi. Sedangkan Eyang Waskita mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Sungguh, Eyang. Aku hanya membela diri saja. Mereka tiba-tiba saja menyerangku dengan curang," kata Jaka mencoba meyakinkan, setelah dia menceritakan seluruh pertarungannya.
"Kau tahu siapa Sutawijaya itu, Jaka?" tanya Eyang Waskita dengan suara yang terdengar begitu perlahan sekali.
Seakan dia menyesali perselisihan muridnya ini dengan Sutawijaya. Sedangkan Jaka hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia memang tidak begitu banyak mengetahui tentang diri Sutawijaya. Dan dia hanya tahu sedikit. Itupun diperoleh dari Sari. Dia hanya tahu Sutawijaya putra seorang saudagar kaya dan berpengaruh dari kota. Dan ayahnya memiliki hubungan luas dengan para pembesar kerajaan serta memiliki darah keturunan dari adipati. Hingga dia bisa bertindak sewenang-wenang. Bahkan segala tindakannya melebihi dari kekuasaan seorang adi pati. Hanya itu saja yang diketahui Jaka tentan diri Sutawijaya. Dan selebihnya, dia sama sekali tidak tahu.
"Terus terang, aku lebih senang kalau kau menghindar dan mengalah saja, Jaka. Dan jangan kau teruskan perselisihanmu dengan Sutawijaya," kata Eyang Waskita menasihatkan.
Jaka hanya diam saja, tidak menjawab sedikitpun juga.
"Tanpa kau ceritakan, aku sudah tahu. Apa saja yang menjadi penyebab perselisihanmu dengan Sutawijaya," kata Eyang Waskita lagi.
"Eyang..."
"Tidak perlu kau jelaskan, Jaka," potong Eyang Waskita cepat.
Jaka langsung terdiam, tidak jadi menerus-kan ucapannya. Dia hanya memandangi saja ke-dua bola mata tua didepannya ini.
"Aku percaya kau hanya membela diri saja. Tapi sebaiknya kau menghindar. Dan lebih baik lagi kalau untuk sementara waktu ini kau ting-galkan Desa Galagang," kata Eyang Waskita lagi.
"Kenapa aku harus pergi, Eyang?" tanya Jaka bernada tidak menerima saran gurunya ini.
"Demi keselamatanmu sendiri, Jaka. Juga untuk ketentraman desa ini," sahut Eyang Waskita lembut.
Jaka kembali terdiam. Entah apa yang ada didalam kepalanya sekarang ini. Sedangkan sorot matanya terlihat begitu datar sekali, hingga Eyang Waskita sendiri sulit untuk bisa menerka, semua yang ada didalam bola mata pemuda itu. Cukup lama juga Jaka terdiam membisu. Entah apa yang ada didalam kepalanya saat ini. Begitu sukar sekali untuk diterka dengan sorot mata yang begitu datar.
"Eyang, boleh aku bertanya sedikit...?" pinta Jaka.
"Katakan, apa saja yang ingin kau tanyakan," tahut Eyang Waskita.
"Kenapa Eyang begitu takut pada Sutawijaya?" tanya Jaka langsung.
"Dia memiliki pengaruh dan kekuatan yang sangat besar, Jaka. Terlebih lagi ayahnya. Tidak ada seorangpun yang mau berurusan dengannya. Dan tidak ada seorangpun yang bisa menentang kehendaknya, kecuali Gusti Prabu sendiri," Sahut Eyang Waskita menjelaskan.
"Bagaimana kalau aku tetap berada disini, Eyang?" tanya Jaka lagi.
"Kau ingin Desa Galagang hancur, Jaka...?"
Jaka terdiam. Sungguh dia tidak menyangka kalau akibatnya akan sebesar itu. Dan dia benar-benar tidak tahu kalau telah membuka perkara dengan orang kuat yang memiliki pengaruh besar di Desa Galagang ini. Bahkan sampai keseluruh kadipaten dan kota raja. Eyang Waskita sendiri merasa tidak ada artinya sama sekali. Dan me-minta muridnya ini untuk mencari selamat.
"Aku minta dengan sangat padamu, Jaka. Se. lamatkan dirimu, juga seluruh penduduk Desa Galagang ini dari kemurkaan Sutawijaya," kata Eyang Waskita lagi.
"Kemana aku harus pergi, Eyang?" tanya Jaka.
"Kemana saja, asal kau tidak terlihat lagi di desa ini," sahut Eyang Waskita.
Kembali Jaka terdiam dengan kepala tertunduk. Terasa begitu berat sekali harus mening- galkan tanah kelahirannya. Dan semua ini me- mang harus dilakukan demi keselamatan seluruh penduduk Desa Galagang dari kemurkaan Suta- wijaya. Memang tidak ada pilihan lain lagi bagi Jaka.
Namun tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Sari. Darahnya seketika bergolak mendidih. Hatinya tidak rela kalau sampai gadis itu jatuh ke tangan Sutawijaya. Perlahan dia mengangkat kepalanya, dan menatap lurus kebola mata Eyang Waskita. Kemudian dia bangkit berdiri dan mem-bungkuk sedikit memberi hormat pada orang tua itu.
"Aku akan pergi, Eyang. Tapi tidak sekarang," kata Jaka mantap nada suaranya.
"Kenapa?" tanya Eyang Waskita agak terpe-ranjat. "Lebih cepat kau pergi, itu akan lebih baik lagi, Jaka. Sebaiknya kau pergi sekarang juga."
"Tidak, Eyang. Sebelum...," Jaka tidak me-neruskan.
"Sebelum apa, Jaka?" desak Eyang Waskita seraya bangkit bediri.
"Aku akan pergi bersama Sari," kata Jaka mantap.
"Jaka...!"
Eyang Waskita tersentak kaget setengah mati. Sungguh dia tidak menyangka kalau pemuda ini bisa berkata begitu. Sedangkan semua orang di Desa Galagang sudah tahu kalau Sari akan dijodohkan dengan Sutawijaya. Dan memang semua orang sudah tahu kalau antara Jaka dan Sari menjalin hubungan asmara. Dan itu bukan menjadi rahasia lagi. Tapi sungguh Eyang Waskita tidak menduga sama sekali kalau ada keinginan di hati Jaka untuk membawa Sari pergi.
"Maafkan aku, Eyang. Ini sudah menjadi keputusanku. Biar aku yang akan menghadapi scmuanya sendiri," kata Jaka mantap.
Sebelum Eyang Waskita bisa berkata, Jaka sudah menjura memberi hormat. Kemudian dia bergegas pergi meninggalkan beranda depan rumah orang tua itu. Sedangkan Eyang Waskita hanya bisa memandangi, tanpa dapat berkata-kata lagi sedikitpun, untuk mencegah keinginan Jaka membawa Sari dalam kepergiannya mening-galkan Desa Galagang ini.
"Dewata Yang Agung...beri dia perlindungan," desah Eyang Waskita pelan.
Sementara Jaka sudah jauh meninggalkan rumah Eyang Waskita yang juga dijadikan pade pokan. Beberapa pemuda yang menjadi murid orang tua itu juga hanya dapat memandangi ke pergian Jaka. Tidak ada seorangpun yang bisa berbuat sesuatu. Sedangkan Eyang Waskita sen- diri hanya bisa memandangi sampai pemuda itu lenyap di tikungan jalan.
"Malapetaka apa yang akan terjadi kalau Jaka sampai melakukan perbuatan nekad itu...?" desah Eyang Waskita lagi.
Memang sulit untuk bisa diterka. Sedangkan tak ada seorangpun yang bisa membaca isi hati orang lain. Namun Eyang Waskita hanya bisa ber-harap muridnya itu tidak meneruskan keinginannya membawa Sari pergi dari Desa Galagang ini. Dia tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi kalau Jaka benar-benar melaksanakan tekadnya.
? * *?? * ? Malam sudah demikian larut menyelimuti seluruh Desa Galagang. Kesunyian begitu terasa sekali. Tak terlihat seorangpun di jalan-jalan desa yang sunyi dan lenggang ini. Sesekali terdengar suara lolongan anjing hutan yang panjang dan memilukan. Bagai jeritan hati yang sedang dirundung duka.
Malam itu langit tampak kelam. Tak terlihat sedikitpun cahaya bintang maupun bulan. Begitu gelapnya, hingga hampir tidak menampakkan se-sosok tubuh yang berdiri di bawah pohon beri-ngin yang sangat besar. Seseorang yang sejak tadi mengamati rumah Ki Ranta. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana. Dan pandangannya tidak pcrnah berkedip sedikitpun dari para penjaga yang ada disekitar rumah besar berhalaman sangat luas itu.
"Hmmm...."
Terdengar suara gumam kecil dan perlahan. Kemudian dia mulai bergerak meninggalkan pohon beringin itu. Pandangannya tidak terlepas dari para penjaga disekitar rumah besar itu. Dia terus melangkah perlahan menuju kesamping rumah. Dan baru berhenti setelah berada tidak jauh dari sebuah jendela yang tertutup rapat. Dari sela-sela celah jendela, membersit cahaya pelita"
"Hup!"
Dengan gerakan yang begitu ringan sekali, dia melompat mendekati jendela itu. Tubuhnya langsung merunduk, merapat di bawah jendela begitu kakinya kembali menjejak tanah. Matanya beredar ke kanan dan ke kiri. Tak ada seorangpun dari para penjaga yang melihatnya. Perlahan dia menjulurkan kepalanya ke dekat jendela, dan menempelkan telinganya. Seperti ingin mencuri dengar sesuatu dari balik jendela ini.
"Sari..."
Pelan sekali dia memanggil sebuah nama. Se-bentar dia menunggu. Kemudian kembali memanggil dengan suara yang terdengar pelan dan hati-hati sekali. Tapi tak ada jawaban sedikitpun dari balik jendela yang tampak terang ini. Hati-hati sekali kemudian dia mengetuk jendela itu, sambil terus memanggil-manggil dengan suara yang begitu hati-hati sekali.
"Siapa...?"
Setelah cukup lama, baru terdengar suara dari dalam. Suara seorang wanita yang nadanya seperti agak tertahan.
"Ini aku, Sari. Jaka...."
Dari balik jendela itu terdengar suara langkah kaki terseret yang tergesa-gesa. Tak berapa lama kemudian jendela itu terbuka sedikit. Orang yang berada di bawah jendela itu menjulurkan kepalanya. Cahaya pelita langsung menyorot wa-jahnya. Ternyata memang benar, dia adalah Jaka. Dari balik jendela menyembul wajah cantik se-orang gadis muda. Jelas sekali terlihat kalau dia begitu terkejut sekali melihat Jaka berada di de-kat jendela kamarnya.
"Oh..." Mau apa kau datang kesini?" tanya Sari terkejut.
"Aku ingin membawamu pergi dari sini," kata Jaka dengan suara yang setengah berbisik.
"Pergi..."!"
"Iya," mantap sekali jawaban Jaka.
Sari tampak kebingungan. Dia mengedarkanpandangannya berkeliling. Seakan dia takut ?penjaga yang melihat kehadiran kekasihnya disini malam-malam. Tapi tak ada seorangpun penjaga yang tahu. Sedangkan Jaka memang terlindung dari pepohonan yang tumbuh menyema di bawah jendela kamar gadis itu. Sari kembali menatap begitu dalam pada kekasihnya ini. Sedangkan sejak tadi Jaka terus memandanginya. Hingga pandangan mata mereka bertemu pada satu titik. Beberapa saat mereka saling berpandangan, berbicara dengan hati masing-masing.
"Cepatlah kau berkemas. Ini saat yang tepat Sari," kata Jaka setengah memaksa.
"Tapi,"
Sari tampak ragu-ragu.
"Apa lagi yang kau ragukan, Sari" Bukankah kau juga pernah memintaku untuk membawamu pergi...?" selak Jaka cepat.
Sari terdiam, Tampak dia sedang memper-timbangkan ajakan kekasihnya ini. Memang benar dia pernah mengajak Jaka untuk lari. Tapi sekarang ini dia seperti bimbang, dan harus ber- pikir dua kali untuk pergi bersama pemuda desa ini. Entah apa yang membuat gadis itu jadi ragu-ragu.
"Ayolah, Sari. Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama. Aku rela mati demi kau. Sari," kata Jaka mendesak.
"Kita akan kemana?" tanya Sari.
"Kemana saja, asal jauh dari desa ini," sahutJaka tegas.
Beberapa saat Sari berpikir. Kemudian dia mengangguk sambil memberikan senyuman yang manis sekali. Jaka membalasnya dengan senyuman gembira. Cepat dia mengulurkan tangannya, dan membantu gadis ini keluar. Setelah itu dia menutup jendela itu hingga rapat kembali.
"Aku gendong, ya...?" ujar Jaka.
Sari hanya mengangguk saja sambil ter-senyum.
"Hup!"
Tanpa menunggu lagi, Jaka langsung memon-dong tubuh ramping gadis itu. Kemudian cepat dia melompat dengan mempergunakan ilmu me-ringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi. Sebentar saja dia sudah jauh meninggalkan rumah besar itu. Dia terus berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh sambil memondong kekasihnya. Dan terus berlari tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.
Hingga dia tidak tahu kalau sejak tadi selalu diikuti oleh sepasang mata yang bersembunyi. Sepasang mata yang terus mengikuti kemana dia pasangan kekasih itu pergi. Jaka baru me-nurunkan Sari setelah sampai di tepi hutan yang membatasi Desa Galagang ini. Mereka berhenti sebentar, kemudian berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Tak ada seorangpun yang berbicara. Hanya hati mereka saja yang terus berbicara.
"Kemana, Kakang?" tanya Sari, setelah cukup lama berdiam diri.
Ketakutan mulai menghinggapi dirinya. Jelas sekali terlihat dari nada suara yang bergetar. Matanya terus menatap berkeliling. Tapi hanya kegelapan dan pepohonan yang menghitam saja terlihat disekitarnya. Sesekali terdengar lolongan anjing hutan dikejauhan. Membuat seluruh bulu- bulu halus ditubuhnya meremang berdiri.
"Ada pondok kecil tidak jauh dari sini," kata Jaka memberitahu.
"Punyamu?" tanya Sari.
"Bukan. Pondok itu sering digunakan para pemburu yang kemalaman dihutan. Siapa saja boleh menggunakan pondok itu," sahut Jaka memberitahu.
"Kalau ada orang di sana?" tanya Sari khawatir.
"Jangan cemas, Sari. Kebanyakan dari pemburu itu datang dari luar Desa Galagang. Kalau-pun ada orang, tidak mungkin mereka mengenali kita," kata Jaka menenangkan.
Sari terdiam. Walaupun kecemasan masih menyelimuti hatinya, tapi dia begitu percaya pada kekasihnya ini. Dan dia tidak mau bertanya lagi. Dia mengikuti saja, kemana Jaka membawanya pergi. Dan dari kejauhan, sudah terlihat sebuah pondok yang tidak begitu besar. Kerlip cahaya pelita sudah terlihat menggantung di beranda pondok itu. Mereka langsung menuju ke sana.
Dan memang hanya ada dua orang pemburu saja yang bermalam di pondok itu. Mereka dengan ramah mempersilahkan Jaka dan Sari masuk, lalu menyediakan sebuah kamar untuk pa-sangan muda ini. Sedangkan kedua pemburu itu tetap bermalam di ruangan depan. Tapi Jaka jus-tru bergabung dengan mereka. Meninggalkan Sari beristirahat didalam kamar.
? * *?? * Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " 119. Kemelut Cinta Berdarah Bag. 4 - 6
16 ?"?"?"" 2015 ". " 8:09
? 4 ? Hilangnya Sari membuat Ki Ranta jadi berang setengah mati. Dia memerintahkan seluruh orang-orangnya untuk mencari anak gadisnya itu. Bahkan Sutawijaya yang mengetahui kalau Sari hilang dari rumahnya, tidak mau tinggal diam be-gitu saja. Terlebih lagi setelah dia tahu kalau Jaka juga menghilang dari Desa Galagang. Dan dia sudah langsung menduga kalau Sari pasti pergi dengan kekasihnya itu.
Sutawijaya yang tahu kalau Jaka mempelajari ilmu olah kanuragan pada Eyang? Waskita, langsung menemui orang tua itu. Bahkan dia membawa serta empat orang pengawal utamanya, ditambah dengan tiga puluh orang tukang pukul- nya. Kedatangan Sutawijaya dan tukang-tukang pukulnya, tidak lagi membuat Eyang Waskita ter-kejut. Dia memang sudah menduga kalau hal ini bakal terjadi, setelah Jaka menyatakan tekadnya untuk membawa lari Sari padanya. Namun tetap saja orang tua itu menyambutnya dengan ramah. Walaupun dia sempat berpesan pada murid-muridnya untuk berwaspada jika terjadi sesuatu.
"Aku minta kau kembalikan Sari sekarang juga, Eyang Waskita," desis Sutawijaya dingin.
Tatapan matanya begitu tajam, bersorot langsung pada kedua bola mata orang tua yang berada sekitar enam langkah didepannya. Sedangkan yang dipandanginya kelihatan tenang sekali. Bahkan senyumannya tersungging meng-hiasi bibir yang hampir tertutup oleh kumis putih.
"Sari tidak ada disini," sahut Eyang Waskita kalem.
"Bohong!" bentak Sutawijaya kasar.
"Sejak kapan kau tidak lagi percaya kata-kataku, Sutawijaya?"
"Huh! Aku memang pernah menjadi murid-mu, Eyang. Tapi aku tahu kalau kau lebih me-nyayangi Jaka dari padaku. Sekarang dia telah melarikan calon istriku. Dan kau jangan coba-coba melindunginya, Eyang. Aku bisa tidak lagi memandangmu guru!" tegas Sutawijaya. Suaranya terdengar lantang bercampur berang.
"Calon istrimu...?" terdengar agak sinis nada suara Eyang Waskita.
"Sari calon istriku, Eyang!" bentak Sutawijaya tidak bisa menahan berangnya.
"Apakah Sari mencintaimu?" tanya Eyang Waskita seperti menguji.
"Itu bukan urusanmu, Eyang!" bentak Sutawijaya kasar. "Cepat, katakan! Dimana Sari...?"
"Sudah aku katakan, Sari tidak ada disini.
Kenapa kau masih juga menyangka aku menyemibunyikan gadis itu...?"
"Jangan paksa aku bertindak kasar, Eyang" ancam Sutawijaya mendesis dingin."
"Hmmm...."
Eyang Waskita jadi menyipit kelopak matanya, begitu mendengar ancaman pemuda yang pernah menjadi muridnya ini. Sungguh dia tidak menyangka kalau Sutawijaya bisa menjadi congkak begitu. Bahkan sama sekali tidak memandang kalau yang ada didepannya ini dulu adalah gurunya.
Dan memang sudah lama Sutawijaya tidak lagi belajar ilmu olah kanuragan pada Eyang Waskita, setelah mendapatkan seorang guru yang dipandang ilmunya lebih tinggi dari orang tua ini. Perlahan laki-laki tua berjubah putih itu menarik kakinya ke belakang dua langkah. Sorot matanya terlihat begitu tajam, menusuk langsung kebola mata pemuda didepannya ini. Seakan dia tidak percaya kalau bekas muridnya ini bisa bersikap kasar begitu. Walaupun selama ini dia sudah ba-nyak mendengar tentang sepak terjang Sutawijaya yang tidak patut diteladani.
"Trek!"
Sutawijaya menjentikkan dua ujung jari ta-ngannya. Seketika itu juga, orang-orang yang di-bawanya langsung bergerak berlompatan hendak mengepung orang tua itu. Namun belum juga mereka bisa mengepung, semua murid-murid Eyang Waskita yang memang sejak tadi sudah bersiaga, langsung berlompatan menghadang. Kini dua kelompok kekuatan sudah saling ber-hadapan dengan sikap yang sudah siap bertarung. Dan mereka tinggal menunggu perintah saja.
"Ini peringatanku yang terakhir, Eyang. Aku harap kau tidak membuat kesulitan bagi dirimu sendiri," desis Sutawijaya dingin bernada mengancam.
"Jangan turuti bisikan setan, Sutawijaya. Kendalikan hatimu," ujar Eyang Waskita, masih mencoba menyabarkan pemuda itu.
"Aku datang bukan untuk meminta nasihat-mu, Eyang!" bentak Sutawijaya kasar. "Aku datang untuk membawa Sari pulang!"
Eyang Waskita menggeleng-gelengkan kepala- nya. Dia tahu kalau marah Sutawijaya tidak bisa lagi dibendung. Dan dia sudah bisa membaca apa yang bakal terjadi. Memang semua ini sudah menjadi perhitungannya, sejak Jaka mengatakan padanya ingin membawa Sari pergi dari Desa Galagang ini.
"Dimana kau sembunyikan Sari, Eyang Waskita...?" desis Sutawijaya. bertanya dingin.
"Dia tidak ada disini," sahut Eyang Waskita tegas.
"Phuih! Kau memaksaku bertindak keras, Eyang!" dengus Sutawijaya langsung kalap.
"Hmmm...," Eyang Waskita hanya menggumam saja perlahan.
"Beri dia pelajaran! Supaya tahu siapa aku...!" bentak Sutawijaya memberi perintah.
Suaranya yang lantang menggelegar, langsung menggerakkan orang-orangnya yang memang sejak tadi sudah siap menerima perintah, Tanpa menunggu diperintah dua kali lagi, tiga puluh orang yang menyertainya langsung berlompatan menyerang Eyang Waskita.
"Hiyaaaa...!"
"Yeaaaah...!"
Tapi belum juga mereka sampai, sekitar lima belas orang murid laki-laki tua itu sudah berlompatan menghadang. Hingga pertarunganpun tidak dapat lagi dihindarkan. Seketika itu juga, jeritan-jeritan panjang dan teriakan-teriakan pertempuran membahana menjadi satu dengan dentingan senjata beradu. Memang tidak mungkin lagi untuk bisa mencegah pertarungan ini.
Sementara Eyang Waskita jadi gemas juga melihat murid-muridnya yang berjumlah sedikit itu langsung terdesak. Dan mereka memang bu-kan tandingan orang-orangnya Sutawijaya yang sudah lebih berpengalaman didalam medan pertempuran. Bahkan tingkat kepandaiannyapun lebih tinggi dari murid-murid Eyang Waskita. Di-samping jumlah mereka juga lebih banyak.
Hingga tidak heran lagi, kalau dalam waktu sebentar saja, tidak ada lagi murid-murid Eyang Waskita yang masih mampu bertahan. Jeritan-jeritan panjang melengking yang memilukan se-makin terdengar. Satu per satu murid-murid Eyang Waskita terjungkal berlumuran darah. Dan orang-orangnya Sutawijaya semakin bernapsu melihat darah berhamburan dan tubuh-tubuh mulai bergelimpangan dimana-mana. Seperti ke-sctanan, mereka membantai murid-murid Eyang Waskita yang sudah tidak mampu lagi bertahan.
"Hentikan pertarungan ini...!" seru Eyang Waskita lantang.
Namun begitu pertarungan berhenti, tinggal lima orang lagi muridnya yang tersisa. Dan ini membuat wajah Eyang Waskita jadi merah pa-dam. Kedua bola matanya berputaran liar me-rayapi murid-muridnya yang bergelimpangan berlumuran darah tak bernyawa lagi. Kemudian dia menatap tajam Sutawijaya yang tersenyum-se-nyum penuh kemenangan.
"Aku sudah memperingatkanmu, Eyang. Ka-lau-kalau kehilangan banyak murid-muridmu, itu kesalahanmu sendiri," kata Sutawijaya sinis.
"Hh!" Eyang Waskita mendengus geram.
Dia melangkah beberapa tindak mendekati Sutawijaya yang masih didampingi empat orang pengawalnya. Empat orang laki-laki bertubuh tinggi besar, dengan tampang-tampang yang kasar dan sorot mata memancarkan kebengisan. Gagang golok berwarna hitam legam, terlihat me-nyembul keluar di pinggang masing-masing. Dan begitu Eyang Waskita sudah tinggal beberapa langkah lagi jaraknya, mereka secara bersamaan memegang gagang goloknya masing-masing. Wa-lau belum ada seorangpun yang mencabutnya.
? * *? * ? "Kau sudah keterlaluan, Sutawijaya. Kau korbankan orang-orang tidak berdosa hanya untul menuruti napsu setan yang ada diotakmu...! desis Eyang Waskita geram.
Sutawijaya hanya tersenyum sinis. Kemudian dia menggerakkan tangan kanannya sedikit. Saat itu juga, empat orang pengawalnya langsung bergerak ke depan, menghadang laki-laki tua yang mengenakan baju jubah putih ini.
"Hh! Iblis benar-benar telah menguasai diri mu, Sutawijaya," dengus Eyang Waskita.
"Habisi orang tua itu!" perintah Sutawijaya lantang.
"Hiyaaaaa..!"
"Yeaaah...!"
Seketika itu juga empat orang yang mengawal Sutawijaya langsung berlompatan menyerang Eyang Waskita. Mereka bersamaan menyerang dari empat jurusan. Tapi hanya dengan meliukkan tubuhnya saja, pukulan-pukulan yang dilepaskan empat orang berwajah bengis itu berhasil dielakkan dengan manis sekali.
"Hup!"
Cepat-cepat Eyang Waskita melompat ke belakang, begitu dia berhasil mengelakkan serangan pertama keempat orang itu. Tapi begitu kakinya menjejakkan tanah, salah seorang sudah me-nyerangnya kembali. Begitu cepat sekali dia melompat, langsung mencabut goloknya yang di-kebutkan kearah kaki orang tua ini.
"Wuk!"
"Hat!"
Hanya dengan sedikit melompat saja, tebasan golok itu lewat di bawah telapak kaki orang tua ini. Dan pada saat itu, satu orang lagi sudah melompat keatas sambil membabatkan goloknya ke arah kepala.
"Hih!"
Kali ini Eyang Waskita tidak berusaha menghindar sedikitpun juga. Dan begitu golok penyerangnya sudah dekat, dengan cepat sekali dia me-rapatkan kedua tangannya. Dan....
"Hap"!"
"Tap!"
"Ikh...!"
Orang itu terpekik kecil. Dia langsung mem-betot goloknya yang terjepit kedua telapak tangan laki-laki tua ini. Tapi begitu kuat sekali jepitan tangan Eyang Waskita, hingga sukar bagi orang itu untuk melepaskan goloknya.
"Hiyaaat...!"
Pada saat itu juga, salah seorang yang berada disebelah kanan, melakukan serangan dengan membabatkan goloknya ke tangan Eyang Waskita yang menjepit golok lawannya ini.
"Hih!"
Cepat sekali Eyang Waskita menghentakkan tangannya sambil melepaskan jepitannya pada golok itu. Hingga orangyang memegang golok itu terpental jauh kebelakang. Dan bersamaan de-ngan itu, dia memutar tubuhnya dengan cepat, sambil melepaskan satu tendangan keras menggeledek yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi. Tepat terarah ke perut penyerangnya.
Namun belum juga tendangan orang tua itu sampai pada sasaran, mendadak saja....
"Hiyaaat...!"
"Bet!"
"Heh..."
Eyang Waskita jadi terperanjat setengah matibegitu tiba-tiba Sutawijaya mengebutkan tangan kanannya dengan cepat sekali. Dan dari telapak tangannya, meluncur beberapa buah benda halus berwarna hitam. Benda-benda itu meluncur bagai kilat menuju laki-laki tua ini. Begitu cepatnya, hingga Eyang Waskita yang sedang melakukan serangan balik tidak sempat lagi menghindar. Dan....
"Crab!"
"Jleb!"
"Akh...!"
"Bruk!"
Seketika tubuh Eyang Waskita jatuh terje-rembab ke tanah, setelah beberapa benda kecil berwarna hitam menembus bagian dadanya. Laki-laki tua berjubah putih itu menggelepar sambil mengerang. Dari mulutnya terlihat darah kental kehitaman mengalir ke luar. Bahkan seluruh pori-pori tubuhnya mengeluarkan cairan merah agak kehitaman.
Sebentar kemudian, orang tua itu meng-geletak kaku tak bergerak-gerak lagi. Darah keluar dari setiap lubang yang ada di tubuhnya. Darah yang berwarna agak kehitaman, menan-dakan kalau benda-benda kecil berwarna hitam yang menembus dadanya itu mengandung racun yang sangat mematikan.
"Ha ha ha ha...!" Sutawijaya tertawa terba-hak-bahak melihat orang tua itu tergeletak tak bernyawa lagi.
Suara tawanya langsung berhenti, begitu melihat lima orang murid Eyang Waskita yang berdiri terpaku melihat gurunya tewas, setelah dadanya tertembus senjata rahasia yang mengandung racun dahsyat dan mematikan itu.
"Bunuh mereka semua!" perintah Sutawijaya lantang.
"Hiyaaa...!"
"Yeaaaah..!"
Empat orang pengawal pemuda itu langsung berlompatan. Mereka membabatkan golok-go-loknya kearah lima orang murid Eyang Waskita yangtersisa. Seketika itu juga jeritan-jeritan panjang melengking tinggi terdengar, memancarkan hawa kematian dari lima orang itu. Dalam waktu sebentar saja, sudah tidak ada lagi yang tersisa. Mereka tewas dengan darah berhamburanmem-basahi tanah.
"Ha ha ha ha...!" Sutawijaya kembali tertawa terbahak-bahak.
Suara tawanya yang keras menggelegar, di sambut para pengikutnya dengan tawa yang terbahak-bahak pula. Kemudian mereka semua terdiam. Sutawijaya memandangi bangunan besa yang merupakan bangunan padepokan yang di dirikan Eyang Waskita.
"Bakar!" perintah Sutawijaya.
Tanpa diperintah dua kali, empat orang pengikutnya langsung menyalakan obor. Dan melem- parkannya ke atap bangunan itu. Api langsung berkobar membakar bangunan padepokan ini. Kembali terdengar suara tawa Sutawijaya yang keras menggelegar. Sementara api semakin membesar menghanguskan bangunan berukuran besar itu.
"Ayo, kita pergi," ajak Sutawijaya.
Sebentar kemudian mereka sudah bergerak meninggalkan padepokan silat itu. Mereka terus bergerak cepat dengan menunggang kuda menuju ke Desa Galagang.
? * *?? * ? Siang terus merayap berganti dengan senja. Matahari yang semula bersinar terik, kini terasa begitu lembut sekali. Angin yang berhembus perlahan, menyebarkan bau anyir darah dari per-guruan silat Eyang Waskita. Tampak dari arah timur, terlihat dua orang penunggang kuda menuju ke arah perguruan silat itu.
Seorang pemuda tampan yang menunggang kuda hitam, mengenakan baju rompi berwarna putih. Sebuah gagang pedang berbentuk kepala burung bertengger di pinggangnya. Di sebelah kirinya adalah seorang gadis cantik yang mengenakan baju warna biru ketat. Dia menunggang kuda berkulit putih bersih yang tinggi dan tegap. Mereka begitu terkejut sekali setelah sampai di-depan perguruan silat Eyang Waskita itu. Ter-lebih lagi setelah mengetahui disana banyak bergelimpangan mayat-mayat. Bau anyir darah begitu menyengat, menusuk hidung.
"Hup!"
"Hap!"


Pendekar Rajawali Sakti 119 Kemelut Cinta Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kedua anak muda itu langsung berlompatan turun dari punggung kudanya masing-masing. Dan bergegas melangkah mendekati mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Mereka memeriksa mayat-mayat itu satu per satu.
"Kakang, ini Eyang Waskita...!" teriak gadis cantik berbaju biru keras suaranya.
Pemuda tampan yang mengenakan baju rompi putih, cepat melompat menghampiri. Kedua kelopak matanya langsung menyipit, begitu melihat keadaan Eyang Waskita yang menggeletak tak bernyawa lagi. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Tapi hanya luka-luka kecil saja yang terlihat didadanya.
"Racun...," desis pemuda itu setengah menggumam.
"Siapa yang melakukan semua ini, Kakang?" tanya gadis cantik berbaju biru yang berdiri di-sebelah kiri pemuda tampan berbaju rompi putih itu. Seakan pertanyaannya ditujukan pada diri-nya sendiri.
"Siapa orangnya, dia pasti melakukan cara licik," desis pemuda itu bernada geram.
Mereka terdiam dan memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan disekitarnya. Tak ada lagi seorangpun yang kelihatan masih hidup. Bau anyir darah begitu terasa sekali menusuk hidung. Terbawa oleh hembusan angin senja yang lembut mengusap kulit. Saat itu, tiba-tiba saja....
"Keparat...!"
"Heh...?"
"Hah...?"
Kedua anak muda itu jadi terkejut, begitu tiba-tiba terdengar suara bentakan keras yang bernada geram. Cepat mereka memutar tubuhnya berbalik. Dan sekitar tiga batang tombak di depan mereka sekarang, sudah berdiri seorang pemuda berwajah cukup tampan, mengenakan baju warna putih yang agak ketat. Sehingga hampir membentuk tubuhnya yang tegap dan berotot.
Kisah Sepasang Rajawali 5 Pedang Inti Es Peng Pok Han Kong Kiam Karya Okt Naga Pembunuh 8

Cari Blog Ini