Ceritasilat Novel Online

Kemelut Cinta Berdarah 2

Pendekar Rajawali Sakti 119 Kemelut Cinta Berdarah Bagian 2


Namun ketampanannya hampir lenyap dengan raut wajah yang memerah tegang. Kedua bola matanya berapi-api, menatap tajam pada dua orang yang kini berdiri membelakangi jasad Eyang Waskita. Pemuda yang tak lain adalah Jaka itu melangkah perlahan mendekati. Terdengar gerahamnya bergemeletuk menahan? amarah yang meluap, melihat gurunya dan semua saudara-saudara seperguruannya sudah tewas. Bahkan bangunan padepokan ini juga hancur terbakar. Tinggal puing-puing saja yang teronggok hitam mengepulkan asap.
"Iblis, kalian! Hiyaaat...!"
Jaka tidak bisa lagi membendung kemarahan-nya yang meluap bagai gunung hendak meletus memuntahkan laharnya. Tanpa bertanya lagi, dia langsung melompat kesamping menyerang pemuda berbaju rompi putih. Saat itu juga gadis cantik berbaju biru yang berada disebelahnya langsung melompat kesamping. Sedangkan pemuda tampan berbaju rompi putih itu bergegas melompat ke belakang, menghindari serangan Jaka yang begitu cepat bagai kilat.
"Tunggu....!"
"Hiyaaaat...!"
Tapi Jaka tidak mendengarkan cegahan pemuda itu. Dia kembali melompat menyerang, melepaskan pukulan-pukulan keras yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Hingga membuat pemuda berbaju rompi putih itu harus berjumpalitan menghindarinya. Gerakan tubuhnya juga begitu indah dan lentur sekali bagai karet. Meliuk-liuk menghindari setiap pukulan yang datang terarah padanya.
"Hup! Yeaaaah...!"
Hingga satu saat, begitu ada kesempatan. Dengan cepat sekali pemuda berbaju rompi putih itu melentingkan tubuhnya ke belakang. Dan saat itu juga dia menghentakkan kakinya dengan cepat sekali, hingga dada Jaka yang lowong tidak bisa lagi terlindungi. Dan...
"Duk!"
"Akh...!" Jaka terpekik tertahan.
Dia langsung terpental kebelakang, begitu menerima tendangan yang cukup keras dari pemuda berbaju rompi putih itu. Meskipun tidak disertai dengan pengerahan tenaga dalam, tapi tendangan itu sudah membuat Jaka terbanting cukup keras ke tanah. Namun dia cepat bisa bangkit berdiri lagi. Dan bersiap hendak melakukan serangan kembali. Tapi pemuda tampan berbaju rompi putih itu sudah lebih cepat mencegah.
"Tunggu...!" sentaknya sambil menghentakkan tangan kanan ke depan. "Kenapa kau me-nyerangku?"
"Phuih! Jangan berlagak kau, iblis keparat! Berapa kau dibayar Sutawijaya untuk membantai padepokan ini?" dengus Jaka masih berang.
"Kau salah paham, Kisanak. Justru kami datang semuanya sudah begini," kata pemuda itu lagi.
"Hmmm...," Jaka menggumam kecil.
Dia mengamati pemuda berwajah tampan yang berdiri sekitar sepuluh langkah didepannya. Kemudian pandangannya beralih pada gadis cantik yang kini sudah berada di sebelah kanan pemuda berbaju rompi putih itu. Dari pakaian dan senjata yang disandang, jelas kalau mereka bukan orang sembarangan.
"Siapa kalian?" tanya Jaka dengan nada suara yang tidak bersahabat.
"Aku Rangga, dan ini Pandan Wangi," sahut pemuda berbaju rompi putih itu memperkenal-kan diri.
Memang dia adalah Rangga yang dikalangan kaum persilatan dikenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan gadis cantik berbaju biru yang sejak tadi mendampinginya memang Pandan Wangi. Gadis itu yang dikenal dengan julukan si Kipas Maut. Karena senjata yang sering digunakan didalam pertarungan berupa sebuah kipas baja putih yang berwarna keperakan. Sebuah kipas maut yang sulit dicari tandingannya.
"Benar bukan kalian yang melakukan semua ini?" tanya Jaka ingin memastikan.
Rangga tersenyum dan melangkah menghampiri. Dia berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar tiga langkah lagi didepan pemuda dari Desa Galagang itu.
"Bukan," sahut Jaka diiringi dengan senyuman yang lembut penuh persahabatan.
? * *?? * ? 5 ? Setelah memperkenalkan diri, dan mengata-kan diri yang sebenarnya, baru Jaka bisa lunak hatinya. Bahkan dia meminta maaf, karena telah menyangka buruk dan menyerangnya tanpa ber-tanya dulu. Tapi Rangga dan Pandan Wangi bisa memaklumi, setelah mereka tahu kalau Jaka adalah murid Eyang Waskita.
"Kau tahu siapa pelaku dari semua ini, Jaka?" tanya Pandan Wangi setelah suasana mereda.
"Pasti Sutawijaya," sahut Jaka agak mendengus nada suaranya.
"Siapa itu Sutawijaya?" tanya Rangga ingin tahu.
Kali ini Jaka tidak langsung menjawab. Dipan-danginya Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Rasanya memang berat untuk mengatakan per-soalan yang sesungguhnya. Yang sebenarnya adalah persoalan pribadinya sendiri, tapi kini guru dan saudara-saudara seperguruannya telah tewas akibat perbuatannya, membawa lari Sari dari rumahnya.
Di dalam hati, Jaka benar-benar menyesal. Kalau saja dia mau menuruti nasehat Eyang Waskita, tentu hal ini tidak akan terjadi. Tapi se-muanya sudah terlambat. Sutawijaya benar-benar tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Dan semua itu memang sudah ada dalam perhitungan Eyang Waskita. Tapi Jaka tidak pernah mau mempedulikan, walaupun dia sudah diberitahu akibatnya kalau tetap bertekad melaksanakan keinginannya. Dan sekarang semua sudah terjadi. Kini Sari berada di suatu tempat yang hanya dia sendiri yang tahu.
Sementara Rangga dan Pandan Wangi saling melemparkan pandangan. Mereka sama-sama menduga kalau Jaka memiliki persoalan yang tidak kecil. Hingga Eyang Waskita dan semua murid-muridnya tewas, sampai tak ada seorangpun yang tersisa hidup. Tapi mereka tidak mau mendesak. Terlebih lagi melihat Jaka yang tampaknya tidak ingin persoalannya diketahui orang lain.
"Sebaiknya kita urus dulu mereka," kata Rangga mengalihkan perhatian.
"Ya, mereka harus segera dikuburkan. Sebelum hari gelap," sambut Jaka langsung.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera membuat lubang dan menguburkan mayat-mayat itu satu per satu. Hingga hari benar-benar menjadi gelap, mereka baru selesai menguburkan semua mayat yang ada di padepokan itu. Sementara Jaka masih saja terdiam di depan kuburan Eyang Waskita. Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi hanya memandangi saja dari kejauhan. Mereka tidak mau mengusik pemuda itu.
? * *?? * ? "Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Jaka, Kakang," kata Pandan Wangi berbisik pelan. Seperti takut terdengar orang lain. "Kau lihat saja sendiri. Sejak tadi dia berdiri saja di sana."
Rangga hanya diam saja. Seperti tidak men-dengar kata-kata si Kipas Maut itu barusan. Namun matanya tidak berkedip memandang lurus pada Jaka yang masih saja berdiri mematung di samping makam Eyang Waskita. Sedangkan malam sudah merayap cukup larut. Bulanpun sudah berada tepat di atas kepala.
"Sebaiknya kau tanyakan saja padanya, Kakang. Tidak mungkin Eyang Waskita mengirim surat padamu, dan memintamu datang menemui-nya kalau tidak ada persoalan," kata Pandan Wangi lagi.
"Waktunya belum tepat, Pandan," halus sekali Rangga menolak saran si Kipas Maut itu.
Memang benar apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti itu barusan. Waktunya memang belum tepat untuk mengajak bicara Jaka saat ini. Pemuda itu tengah dirundung duka yang teramat dalam, dengan kematian Eyang Waskita yang juga gurunya. Hingga kedua pendekar muda dari Karang Setra itu harus menunggu sampai Jaka bisa menghilangkan dukanya.
Namun belum juga Rangga dan Pandan Wangi bisa berbuat sesuatu yang bisa menghibur pemuda itu, mendadak saja...
"Slap!"
"Heh..."!"
"Dia lari, Kakang...!" seru Pandan Wangi sambil menunjuk ke arah kuburan Eyang Waskita.
"Jangan dikejar," kata Rangga cepat mencekal tangan Pandan Wangi yang sudah mau me-ngejar.
Pandan Wangi tidak jadi melompat mengejar. Dia hanya bisa memandangi Pendekar Rajawali Sakti itu dengan sinar mata penuh ketidak-mengertian. Sudah jelas Jaka lari begitu saja dengan kecepatan tinggi. Tapi Rangga malah tidak mau mencegahnya.
"Kenapa kau biarkan saja dia pergi, Kakang?" tanya Pandan Wangi meminta penjelasan.
"Tidak perlu kau kejar, Pandan. Biarkan saja dia menuruti keinginan hatinya," kata Rangga kalem.
"Tapi...."
"Ayo, sebaiknya kita cari rumah penginapan di Desa Galagang," ajak Rangga tidak meng-hiraukan gadis itu.
Pendekar Rajawali Sakti itu langsung saja melangkah pergi, menuju ke Desa Galagang. Sedangkan Pandan Wangi hanya memandangi saja beberapa saat. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Rangga yang membiarkan Jaka pergi begitu saja. Sedangkan saat ini mereka begitu memerlukan keterangan dari pemuda itu. Pandan Wangi terpaksa menyusul Rangga yang sudah berjalan cukup jauh meninggalkannya. Sebentar saja dia sudah mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Dan mereka terus berjalan memasuki Desa Galagang tanpa ada yang bicara sedikitpun juga.
? * *? * ? "Kau dengar itu, Pandan...?" Pandan Wangi langsung menghentikan langkah kakinya. Dia langsung menatap pada Pendekar Rajawali Sakti begitu telinganya mendengar suara orang mengaduh kesakitan, disertai suara bentakan dan pukulan bertubi-tubi. Begitu jelas sekali terdengar. Dan hanya terhalang oleh tiga rumah di depan mereka.
"Apa itu, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Hup!"
Rangga tidak menjawab. Dia langsung melompat dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan sempurna. Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti itu, hingga dalam satu kali lompatan saja dia bisa melewati tiga atap rumah sekaligus. Pandan Wangi pun tidak mau ketinggalan. Dengan cepat sekali dia melesat mengikuti Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Berhenti...!"
Bentakan Rangga yang begitu keras dan menggelegar, langsung menghentikan empat orang laki-laki bertubuh kekar, yang tengah menganiaya seorang laki-laki tua. Sedangkan seorang pemuda tampan tampak memeluk pinggang seorang gadis muda yang memberontak mencoba melepaskan diri. Gadis itu langsung berlari menghambur pada laki-laki tua yang menggeletak di tanah sambil merintih kesakitan, begitu pelukan pemuda tampan berpakaian mewah itu jadi longgar karena bentakan Rangga yang begitu keras dan menggelegar tadi.
Saat itu Pandan Wangi sudah sampai di sana. Dia langsung menghampiri Rangga, dan berdiri di sebelah kanannya. Dan tanpa diminta lagi, Pandan Wangi segera menghampiri laki-laki tua yang ditangisi anak gadisnya. Hanya sebentar saja si Kipas Maut itu memeriksa luka-luka di tubuh laki-laki tua itu. Kemudian dia menghampiri Rangga kembali, dan berdiri di sebelah kanannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya? Rangga langsung.
"Hanya luka luar," sahut Pandan Wangi.
"Kau bawa mereka ke tempat yang lebih aman, Pandan," pinta Rangga.
Pandan Wangi mengangguk, dan kembali dia menghampiri laki-laki tua itu. Dibantu dengan anak gadisnya, laki-laki tua yang tidak mengenakan baju itu dipapah Pandan Wangi ke tempat yang lebih aman. Mereka menuju ke beranda belakang sebuah rumah yang kelihatannya sudah reyot. Pandan Wangi merebahkan laki-laki tua itu di atas balai bambu yang hanya beralaskan selembar tikar daun pandan lusuh. Sementara itu empat orang yang menganiaya laki-laki tua itu sudah menghampiri Rangga.
Dan mereka menyingkir sedikit begitu pemuda tampan berpakaian mewah yang tak lain adalah Sutawijaya juga melangkah mendekati Pendekar Rajawali Sakti itu. Kini Rangga berhadapan dengan lima orang yang menatapnya dengan sorot mata sangat tajam penuh amarah.
"Kisanak, siapa kau?" Beraninya kau meng-usikku!" bentak Sutawijaya dingin.
"Aku tidak akan mengganggu kalau kalian tidak menganiaya orang tua yang lemah," tidak kalah dinginnya sambutan Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti itu memang paling tidak suka jika melihat ada orang yang lemah teraniaya. Terlebih lagi penganiayaan itu terjadi di depan matanya. Dia tidak akan begitu saja tinggal diam, berpangku tangan melihatnya. Apa pun alasannya, Rangga tidak pernah menyukai adanya penganiayaannya pada yang lemah.
"Phuih! Apanya dia kau heh...?" dengus Sutawijaya sinis, seraya melirik pada laki-laki tua yang berbaring di balai, didampingi Pandan Wangi dan anak gadisnya.
"Aku memang bukan apa-apanya. Tapi aku tidak akan membiarkan kau dan begundal-begun-dalmu itu menganiaya orang tua itu," tegas Rangga.
"Bedebah...! Mau berlagak didepanku, heh"!"
Rangga jadi berkerut keningnya dengan sikap pemuda congkak ini. Sementara itu empat orang pengawal Sutawijaya sudah mulai bergerak menyebar, hendak mengurung Pendekar Rajawali Sakti ini. Mereka langsung saja mencabut goloknya masing-masing yang bergagang hitam pekat, bagai terbuat dari tanduk kerbau. Golok-golok itu berkilatan tertimpa cahaya bulan yang menggantung di langit.
"Hmmm...."
Rangga mengamati empat orang yang me-main-mainkan goloknya di depan sana. Seakan mereka hendak menakut-nakuti Pendekar Rajawali Sakti ini dengan kilatan cahaya goloknya. Tapi pemuda tampan berbaju rompi putih itu hanya tersenyum saja. Sedikitpun dia tidak ter-pengaruh oleh kilatan cahaya golok yang ber-gerak-gerak membentuk kembangan jurus itu.
"Hajar dia sampai mampus!" perintah Sutawijaya lantang menggelegar.
"Hiyaaaat...!"
"Hiyaaaa...!"
Tanpa menunggu perintah dua kali, empat orang bertubuh tinggi tegap dan berotot kuat itu langsung? berlompatan? menyerang? Pendekar Rajawali Sakti. Namun hanya dengan mengegoskan tubuhnya saja Rangga berhasil menghindar serangan dari empat jurusan itu. Indah sekal gerakan-gerakan yang dilakukan Rangga. Sehingga tidak mudah bagi keempat orang itu untuk mengalahkannya. Bahkan untuk mendesak saja terasa begitu sulit sekali.
Menghadapi empat orang lawan bersenjata golok seperti ini, Rangga hanya menggunakan jurus Sembilan Langkah Ajaib. Sebuah jurus yang memang hanya digunakan untuk menghindari serangan-serangan lawan. Dan bukan meru-pakan jurus menyerang. Tapi memang tidak mudah bagi lawan untuk memecahkan jurus itu.
"Hup! Yeaaaah...!"
Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti me-lesat tinggi ke udara. Begitu cepat sekali hingga sukar sekali diikuti dengan pandangan mata biasa. Tahu-tahu dia sudah menukik begitu cepat sekali bagai kilat. Dan kedua kakinya bergerak sangat cepat terarah langsung ke kepala empat orang itu. Saat itu Rangga mengerahkan jurus. Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Namun belum juga serangan itu sampai pada sasaran, mendadak saja Sutawijaya sudah menghentakkan tangan kanannya ke arah Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Hiyaaaa...!"
"Wussss!"
"Utfs!"
? * *? * ? Cepat-cepat Rangga melentingkan tubuhnya ke udara, menghindari benda-benda kecil berwarna hitam yang dilepaskan Sutawijaya. Benda-benda kecil berbentuk jarum itu meluncur deras di bawah telapak kaki Pendekar Rajawali Sakti. Begitu manis sekali gerakan menghindar yang dilakukan Rangga. Dan manis pula dia kembali menjejakkan kakinya di tanah. Tatapan matanya begitu tajam, tertuju langsung pada kedua bola mata Sutawijaya.
"Curang...!" dengus Rangga mendesis geram.
Tapi justru Sutawijaya malah tertawa ter-bahak-bahak. Dan tiba-tiba saja dia melompat secepat kilat, lalu berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi. Dan pada saat itu juga, terlihat benda-benda hitam yang halus berbentuk jarum, bertebaran dari segala arah, meluruk deras mengancam nyawaPendekar Rajawali Sakti.
"Hup! Hiyaaa...!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga cepat-cepat melentingkan tubuhnya ke udara. Lalu berputaran menghindari serangan jarum-jarum beracun itu. Sementara Sutawijaya terus berlarian mengelilingi dengan kecepatan yang begitu tinggi sekali, sambil melontarkan senjata-senjata mautnya itu. Hawa beracun langsung terasa mengelilingi Pendekar Rajawali Sakti, me-nyebar dari jarum-jarum halus berwarna hitam yang menyebar disekitarnya.
Entah berapa ribu jarum-jarum beracun yang ditebarkan Sutawijaya. Tapi belum ada satupun yang berhasil menyentuh tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu. Dan ini membuat Sutawijaya jadi geram setengah mati. Dia juga penasaran, karena sudah mengeluarkan jurus mautnya dalam menyebarkan jarum-jarum beracun itu. Tapi tidak juga berhasil melumpuhkan pemuda asing yang belum dikenalnya ini.
"Hap!"
Tiba-tiba saja Sutawijaya melompat ke belakang, dan menghentikan serangannya. Sementara itu Rangga dengan manis sekali menjejakkan kakinya kembali ke tanah, saat merasakan tidak lagi mendapatkan serangan jarum-jarum beracun secara beruntun. Tatapan matanya langsung ber-sorot tajam, tertuju lurus pada kedua bola mata Sutawijaya.
"Hup! Yeaaah...!"
Mendadak Sutawijaya melompat cepat bagai kilat, lalu berlari secepat angin meninggalkan tempat itu. Empat orang pengawalnya langsung berlarian mengikuti dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi. Sementara Rangga hanya berdiri tegak memandangi, tanpa bermaksud mengejar sedikitpun juga.
Setelah Sutawijaya dan empat orang pengawalnya tidak terlihat lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu baru melangkah menghampiri Pandan Wangi yang masih mengurus laki-laki tua yang tadi dianiaya empat orang pengawal Sutawijaya. Sedangkan anak gadis orang tua itu hanya bisa diam memandangi dengan air mata bercucuran membasahi pipinya.
Rangga berdiri di belakang Pandan Wangi. Pandangan matanya langsung merayapi seluruh tubuh laki-laki tua yang tidak mengenakan baju itu. Celana hitam sebatas lutut yang dikenakan-nya tampak kotor, berlumur debu dan darah. Dari gerakan halus didadanya, bisa menandakan kalau orang tua yang usianya sudah mencapai kepala tujuh itu masih hidup.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rangga halus.
"Tidak terlalu parah. Hanya luka luar saja," sahut Pandan Wangi seraya berpaling menatap wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti itu. "Be-sok pagi, mungkin baru bisa sadar dari pingsan-nya. Aku sudah memberikan sedikit pertolongan untuk mengurangi rasa sakitnya saja."
Rangga tersenyum, kemudian dia duduk sebelah anak gadis orang tua itu. Dia menepuk pundaknya dengan lembut, mencoba memberi ketenangan. Sementara malam terus merayap semakin bertambah larut. Rumah-rumah yang ada disekitar rumah ini tidak ada satupun yang menyalakan lampu. Apa lagi membuka pintu. Semua penghuni rumah itu seakan tidak ingin terlibat dengan urusan ini. Dan Rangga tahu kalau dari balik pintu dan jendela rumah-rumah di sekitar-nya, bersembunyi orang-orang yang mengintipnya. Tapi tak ada seorangpun yang keluar.
"Dia ayahmu?" tanya Rangga lembut, pada gadis manis berusia sekitar delapan belas tahun yang duduk disebelahnya.
Gadis itu hanya mengangguk saja, sambil menyusut air matanya.
"Namamu siapa?" tanya Rangga tetap dengan suara yang lembut.
"Arini," sahut gadis itu memperkenalkan diri. "Ayahku biasanya dipanggil Ki Langkap."
"Kenapa orang-orang itu menganiaya ayahmu?" tanya Rangga lagi.
"Mereka menuduh kalau ayah menyem-bunyikan Sari dan melindungi Jaka," sahut Arini dengan suara yang tersendat, diselingi suara isak-nya yang tertahan.
Rangga sedikit melirik pada Pandan Wangi.
Saat itu Pandan Wangi juga tengah menatapnya. Mereka tahu siapa itu Jaka. Tapi mereka tidak tahu persoalan apa yang tengah melanda diri anak muda itu. Dan sekarang Arini menyebut satu nama lagi. Nama yang tidak mereka kenal. Tapi kedua pendekar dari Karang Setra itu sudah menduga kalau semua ini tentu ada hubungannya dengan Jaka. Anak muda menyerang Rangga dengan tiba-tiba karena kesalah pahaman di padepokan yang dipimpin Ki Waskita. Tapi memang sangat disayangkan, Jaka tidak bercerita banyak.
"Jaka itu kakak sepupuku. Dan Sari adalah kekasihnya. Tapi orang tua Sari telah menjodoh-kannya pada Sutawijaya..." kata Arini memberi-tahu dengan suara yang terputus. Tapi nadanya kelihatan sudah lebih tenang.
"Hm, lalu...?" selak Pandan Wangi ingin tahu lebih jauh lagi.
"Jaka membawa lari Sari," sambung Arini.
Saat itu juga Rangga dan Pandan Wangi langsung bisa menangkap semua yang terjadi. Dan mereka juga tahu, kenapa Sutawijaya sampai bisa berbuat sekejam itu. Tentu saja Sutawijaya tidak akan tinggal diam begitu saja. Dan. yang pasti Jaka juga tidak akan rela melepaskan kekasihnya jatuh ke dalam pelukan pemuda lain. Satu per-soalan yang sangat sulit, dan tidak mudah untuk berdiri pada satu pihak. Beberapa kali Rangga dan Pandan Wangi saling melemparkan pandang.
Seakan mereka sama-sama bertanya tentang persoalan itu. Tapi tampaknya kedua pendekar muda itu tidak bisa menentukan sikap saat ini juga. Dan pada akhirnya mereka sama-sama saling mengangkat bahu.
? * *?? * ? 6 ? "Brak!"
"Heh..."!"
Rangga langsung terlompat bangun dari tidurnya. Dan saat itu terlihat sebuah bayangan berkelebat begitu cepat sekali bagai kilat, me-nerobos masuk dari pintu yang terdobrak hancur. Dan belum juga Pendekar Rajawali Sakti itu bisa berbuat sesuatu, dia sudah merasakan sebuah benda dingin, tepat pada tenggorokannya. Dan seorang laki-laki tua mengenakan baju dari kulit binatang sudah berdiri tegak di depannya.
Pandan Wangi yang tidur di kamar lain ber-sama Arini juga terkejut. Tapi begitu keluar, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Di rumah kecil dan reyot itu sudah penuh oleh orang-orang yang menghunus senjata. Dan tiga orang menempelkan ujung senjata di leher Rangga. Di ambang pintu yang sudah hancur, tampak berdiri angkuh Sutawijaya. Dari pintu lain, muncul Ki Langkap. Orang tua itu juga terkejut, karena begitu keluar dari dalam kamar, dua orang langsung menem-pelkan golok di leher. Dan enam orang juga menghunuskan goloknya pada Pandan Wangi dan Arini. Hingga kedua gadis itu benar-benar tidak dapat berbuat sesuatu.
"Sutawijaya.... Sudah aku katakan, aku tidak tahu dimana Jaka dan Sari. Kenapa kau masih saja memaksaku?" desis Ki Langkap ketus.
"Diam kau, Tua Bangka!" bentak Sutawijaya garang.
Ki Langkap langsung terdiam. Sementara Su-tawijaya sudah melangkah menghampiri Rangga yang tidak berdaya dengan ujung golok menem-pel di tenggorokanya. Dan dua orang juga me-nempelkan goloknya dari belakang. Empat orang lagi mengepung dengan golok terhunus. Rangga merasakan keadaannya benar-benar tidak meng-untungkan. Dan dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tapi otaknya terus bekerja mencari jalan untuk melepaskan diri. Namun menyadari keadaan Pandan Wangi, Ki Langkap dan Arini juga tidak jauh berbeda, tidak mungkin bagi Rangga untuk bertindak. Dia harus memikirkan keselamatan mereka juga.
"Sret!"
"Cring!"
Sutawijaya mencabut pedangnya, begitu dekat dengan Rangga. Langsung dia menempelkan ujung pedangnya di tenggorokan Pendekar Rajawali Sakti itu, menggantikan golok yang kini sudah tertarik menjauh. Dan orang yang memegang golokpun menggeser kakinya menyingkir dengan sikap yang hormat walaupun usianya jauh lebih tua dari pemuda kota yang congkak ini.
"Siapa kau sebenarnya" Kenapa kau men-campuri urusanku?" dingin sekali nada suara Sutawijaya.
"Aku Rangga. Hanya kebetulan saja semalam aku lewat, dan melihat kau menganiaya orang tua itu," kalem sekali jawaban Rangga.
"Kau mau jadi pahlawan di desa ini, heh...?" desis Sutawijaya dingin.
"Tidak," sahut Rangga tetap tenang.
"O... lalu apa maumu?"
Rangga tidak langsung menjawab. Sambil ter-senyum, dia menarik kakinya ke belakang dua langkah. Lalu dengan ujung jari tangannya dia. menjentik ujung pedang Sutawijaya yang kini sudah agak longgar dari tenggorokannya. Tapi jentikan ujung jari yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tingkat sempurna itu, membuat pedang Sutawijaya jadi terpental.
"Utfs...!"
Cepat-cepat Sutawijaya memutar pedangnya. Bukan main terkejutnya dia, karena tidak me-nyangka kalau pemuda berbaju rompi putih itu bertindak demikian cepat, tanpa dapat disadari lebih dahulu. Dan belum juga ada yang sempat menyadari tindakan Pendekar Rajawali Sakti itu barusan, mendadak saja pemuda berbaju rompi putih itu sudah melesat cepat bagai kilat.
"Hiyaaa...!"
"Bet!"
Satu pukulan yang keras dan mengandung pengerahan tenaga dalam tingkat sempurna, dilepaskan tepat pada orang yang menghunuskan goloknya ke tubuh Pandan Wangi. Dan orang itu tidak dapat lagi menyadari apa yang terjadi. Hing-ga tahu-tahu dia sudah melayang sambil menjerit panjang dan melengking tinggi.
"Hup! Yeaaah...!"
Mendapat kesempatan yang begitu baik, Pandan Wangi tidak mau menyia-nyiakan begitu saja. Dengan cepat sekali dia memutar tubuhnya sambil melepaskan beberapa kali pukulan keras dan beruntun, disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkatan sangat tinggi sekali.
Pukulan-pukulan yang dilepaskan si Kipas Maut itu langsung menghantam orang-orang yang berada di dekatnya. Dan beberapa orang yang menghunuskan senjatanya ke tubuh Arini. Mereka langsung berpentalan sambil mengeluar-kan jeritan panjang melengking tinggi.
"Hiyaaaa..!"
Sementara itu Rangga sudah melesat begitu cepat sekali bagai kilat. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung meluruk deras ke arah Ki Langkap. Mereka yang menghunuskan goloknya ke tubuh laki-laki tua itu, seketika berpentalan menjebol dinding anyaman bambu rumah ini, hingga tembus ke luar begitu terkena pukulan-pukulan keras dan beruntun yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Hup! Hiyaaaa...!'
"Yeaaaah...!"
Hampir bersamaan, Rangga dan Pandan Wangi berlompatan sambil menyambar Ki Lang-kap dan Arini. Dan begitu cepatnya, hingga Suta wijaya yang didampingi para pengikutnya jadi terpana bengong. Seakan mereka tengah berhadapan dengan dua siluman yang bergerak begitu cepat sekali bagai angin. Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu melesat ke luar dari rumah itu dengan menjebol atap sambil membawa Ki Langkap dan Arini.
"Setan keparat! Kejar mereka...!" perintah Sutawijaya dengan kemarahan yang langsung me-muncak.
Empat orang pengawal utama pemuda itu langsung berlompatan mengejar dengan menjebol atap, mengikuti Rangga dan Pandan Wangi. Sedangkan yang lainya bergegas berlompatan keluar dari rumah itu, tanpa menunggu perintah lagi. Sementara Sutawijaya bergegas berlari-lari keluar melalui pintu yang sudah hancur berkeping-keping. Tapi begitu sampai diluar, tidak ada seorangpun yang melihat Rangga dan Pandan Wangi lagi. Kedua pendekar muda itu benar-benar lenyap bagai ditelan bumi dengan membawa Ki Langkap dan anak gadisnya.
"Keparat...!" dengus Sutawijaya menggeram berang.
Semua pengikutnya juga jadi kebingungan. Tidak tahu lagi kemana perginya kedua pendekar muda itu yang membawa Ki Langkap dan anak gadisnya. Sementara Sutawijaya terus mengedar-kan pandangannya berkeliling sambil menyum-pah serapah tidak ada hentinya. Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi benar-benar lenyap tak meninggalkan bekas sedikitpun juga. Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki, hingga sulit sekali untuk diikuti dengan pandangan mata biasa. Dan itu sudah membuktikan kalau tingkat kepandaian yang dimiliki kedua pendekar muda itu sangat tinggi sekali, sukar untuk dicari tandingannya.
"Phuih! Cari keparat-keparat itu sampai dapat! Penggal kepala mereka semua...!" perintah Sutawijaya dengan suara yang lantang menggelegar.
Mereka semua yang ada di halaman rumah itu langsung berhamburan ke segala arah, mencari Rangga dan Pandan Wangi yang menghilang entah kemana, membawa Ki Langkap dan anak gadisnya. Sementara Sutawijaya masih tetap berdiri di tengah-tengah halaman rumah Ki Langkap yang tidak begitu besar itu. Dia masih meng-edarkan pandangannya berkeliling. Seakan tidak percaya kalau Rangga dan Pandan Wangi sudahpergi jauh. Pada saat itu, tiba-tiba saja....
"Sutawijaya...."
"Okh...?"
? * *? * ? Sutawijaya jadi terkejut setengah mati, begitu tiba-tiba terdengar suara menyebut namanya dari arah belakang. Cepat dia memutar tubuhnya. Dan langsung terlompat ke belakang beberapa langkah, begitu terlihat Jaka tahu-tahu sudah ada dihalaman depan rumah Ki Langkap ini.
"Jaka..." desis Sutawijaya hampir tidak terdengar suaranya.
"Iblis kau, Sutawijaya. Kau berurusan denganku. Kenapa kau bawa-bawa orang lain yang tidak tahu apa-apa...?" terdengar dingin dan lan-tang sekali suara Jaka.
"Akhirnya kau muncul juga, setan keparat!" desis Sutawijaya, langsung diiringi dengan tawa-nya yang keras menggelegar dan terbahak-bahak.
Sedangkan Jaka hanya mendesis kecil dengan geraham bergemeletuk menahan geram. Dia benar-benar sudah muak dengan perbuatan pemuda kota itu. Yang semena-mena memper-lakukan orang lemah, hanya untuk memuaskan napsu dan kehendak hatinya saja. Perlahan Jaka mengayunkan kakinya mendekati Sutawijaya yang masih tertawa terbahak-bahak, dengan sikap meremehkan pemuda desa ini. Sedikitpun dia tidak memandang sebelah mata, walaupun wajah Jaka sudah menegang memerah menahan kemarahan yang sudah memuncak bagai tak ter-tahankan lagi.
"Suiiiit...!" tiba-tiba saja Sutawijaya bersiul nyaring.
Dan belum lagi suara siulan itu menghilang dari pendengaran, mendadak bermunculan orang-orang yang menghunus senjata golok dari balik semak dan pepohonan. Sebentar saja tempat itu sudah kembali terkepung tidak kurang tiga puluh orang yang semuanya menghunus golok di tangan kanan.
"Iblis....!" desis Jaka semakin bertambah geram dengan kelicikan pemuda kota itu.
"Ha ha ha ha...!" Sutawijaya terbahak-bahak, melihat musuh utamanya sudah terkepung, dan tak mungkin bisa lolos lagi. "Habisi monyet busuk itu!"
"Hiyaaaa...!"
"Yeaaaah...!"
Belum juga hilang teriakan perintah Sutawijaya dari pendengaran, orang-orang yang mengepung Jaka sudah berlompatan sambil ber-teriak keras menggetarkan jantung. Kilatan-ki-latan cahaya golok langsung berkelebatan disekitar tubuh pemuda desa itu. Tapi dengan gerakan yang sangat cepat dan gesit sekali, Jaka masih bisa mengelakkan tebasan-tebasan golok yang mengarah ke tubuhnya.
Hap! Yeah...!"
Namun serangan yang datang dari segala arah itu demikian beruntun sekali. Membuat Jaka terpaksa harus berjumpalitan menghindarinya. Dan dia benar-benar tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk balas menyerang. Serangan-serangan golok itu terus berkelebatan disekitar tubuhnya dengan cepat dan beruntun.
"Mampus kau! Hih...!"
"Bet!"
"Utfs!"
Jaka cepat memiringkan tubuhnya, ketika sebuah golok melayang deras dari arah kanan. Tapi belum sempat dia menarik tubuhnya tegak kembali, sebuah tendangan yang begitu keras dan menggeledek sudah melayang deras dari arah be-lakang. Dibarengi dengan satu sabetan golok yang datang dari sebelah kirinya. Dan kali ini Jaka benar-benar kelabakan setengah mati.
"Hup!"
Cepat-cepat dia mengegoskan tubuhnya, menghindari tebasan golok dari sebelah kirinya. Tapi dia tidak dapat lagi menghindari tendangan yang datang dari arah belakang. Dan tendangan keras bertenaga dalam cukup tinggi itu tepat menghantam punggungnya dengan telak sekali.
"Dugkh!"
"Akh....!"
Jaka terpelanting dan tersuruk mencium tanah. Saat itu juga dua orang sudah melompat sambil membabatkan goloknya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali ke arah tubuh pemuda itu. Namun dengan sisa kegesitan yang masih ada, Jaka cepat-cepat menggulingkan tubuhnya, menghindari hunjaman dua buah golok yang datang secara bersamaan itu.
"Crab!"
"Jleb!"
"Hap!"
Begitu bisa menghindari babatan golok-golok itu, Jaka cepat-cepat melompat bangkit berdiri. Dan kedua golok itu hanya bisa menghantam tanah yang kosong. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Jaka langsung melepaskan satu tendangan kilat sambil memutar tubuhnya, disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi tingkatannya.
"Hiyaaaa...!"
Begitu cepatnya tendangan berputar yang dilakukan Jaka, sehingga salah seorang dari pe-nyerangnya tadi tidak dapat lagi berkelit menghindarinya. Dan....
"Des!"
"Akh...!"
Orang itu langsung terpental begitu dadanya terkena tendangan keras bertenaga dalam cukup tinggi itu. Sementara Jaka tidak mau lagi membuang-buang kesempatan ini. Begitu cepat sekali dia mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang. Dan dengan kecepatan bagai kilat pula di melompat sambil membabatkan pedangnya ke arah salah seorang pengeroyoknya yang berada di sebelah kanan.
"Yeaaaaah...!"
"Wuk!"
"Cras!"
"Aaaaakh...!"
? * *?? * ? Begitu cepat sekali tebasan pedang Jaka, se-hingga orang itu tidak dapat lagi menghindar. Dan lehernya hampir buntung terbabat pedang yang tajam berkilatan itu. Hanya sebentar saja orang itu masih mampu berdiri. Kemudian tubuhnya limbung, lalu ambruk menggelepar dengan darah bercucuran deras dari lehernya yang hampir buntung terbabat pedang tadi. Sesaat kemudian dia mengejang, lalu diam kaku tak bernyawa lagi.
"Hap! Hiyaaaa!"
Sambil berteriak keras menggelegar, Jaka kembali melentingkan tubuhnya sambil membabatkan pedangnya ke arah orang-orang yang me-ngeroyoknya ini. Namun kali ini mereka berhasil ?menghindari tebasan pedang pemuda itu. Bahkan beberapa diantaranya berhasil menangkis tebas- an pedang Jaka dengan goloknya. Suara denting senjata beradupun langsung terdengar beberapa kali secara beruntun.
"Hiyaaaaa...!"
Saat itu tampak Sutawijaya mengebutkan tangan kanannya ke arah Jaka. Dan dari telapak tangan kanan itu meluncur jarum-jarum halus berwarna hitam dengan deras sekali.
"Setan! Hiyaaa...!"
Jaka yang mengetahui senjata rahasia Sutawijaya, langsung melentingkan tubuhnya ke udara, dan melakukan beberapa kali putaran dengan kecepatan yang tinggi, sambil memutar pedang melindungi dirinya dari serangan jarum-jarum hitam beracun itu. Jarum-jarum hitam beracun itu berpentalan balik terkena putaran pedang Jaka yang begitu cepat bagai kincir tertiup angin.
Lontaran jarum-jarum itu tentu saja membuat orang-orangnya Sutawijaya jadi kalang kabut. Dan mereka segera berlompatan menyelamatkan diri. Namun ada beberapa orang yang terlambat menghindar, hingga tubuh mereka menjadi sasaran empuk dari jarum-jarum hitam beracun itu.
Jeritan-jeritan panjang melengking tinggipun seketika terdengar saling susul dan menyayat. Tampak beberapa tubuh langsung bergelimpangan dan menggelepar terkena jarum-jarum beracun yang berhamburan terkena tangkisan pedang Jaka yang berputar cepat bagai kincir angin itu.
"Hap!"
Sutawijaya yang melihat beberapa orangnya jadi terkena sasaran senjata mautnya itu, langsung menghentikan serangannya. Dan dia cepat-cepat melompat ke belakang sejauh satu batang tombak. Saat itu juga Jaka menjejakkan kakinya kembali di tanah dengan manis sekali. Dan dia berdiri tegak dengan pedang tersilang di depan dada. Sorot matanya begitu tajam sekali, menembus langsung ke bola mata Sutawijaya. Terdengar gerahamnya bergemeletuk menahan kebencian yang amat sangat pada pemuda kota itu. Sementara Sutawijaya seakan tidak percaya kalau Jaka mampu menghalau jarum-jarum beracunnya.
"Suiiiit...!"
Sutawijaya kembali membunyikan siulannya yang nyaring melengking tinggi. Saat itu juga ber-munculan dua puluh orang yang semuanya me-megang tambang kulit berwarna hitam pekat, dengan ujungnya berbandul sebuah bola besi baja berwarna putih keperakan. Mereka langsung berlompatan mengurung Jaka. Sementara mereka yang tadi bertarung dengan pemuda desa itu, segera menyingkir ke luar dari arena pertarungan itu. Sedangkan Sutawijaya tetap berdiri pada tempatnya,?? memperhatikan?? gerakan-gerakan kaki Jaka, mengimbangi gerakan berputar dari orang-orang yang mengepungnya dengan tambang berputar-putar memperdengarkan suara deru angin yang menggetarkan jantung.
"Seraaang...!" seru Sutawijaya memberi perintah dengan suara yang lantang menggelegar.
"Hiyaaaa...!"
"Yeaaaaah...!"
"Wut!"
"Wusss!"
Dua puluh orang itu langsung berlompatan saling menyilang melewati atas kepala Jaka. Dan saat itu juga mereka saling melemparkan tam-bang-tambang kulitnya yang berbandul bola besi baja putih itu. Secara bersamaan pula, mereka menangkap ujung-ujung tambang yang berbandul bola besi baja itu dengan tangkas sekali. Lalu hampir bersamaan mereka meluruk turun dengan posisi yang sudah bergantian.
"Rrrrrt!"
"Heh..."!" Jaka jadi terperanjat setengah mati.
Dan belum juga dia bisa berbuat sesuatu, kedua puluh orang itu sudah berlarian cepat me-mutari tubuhnya. Lalu dengan cepat sekali mereka menyebar sambil menarik ujung tambangnya masing-masing. Sehingga tambang-tambang yang sudah membuat simpul bagai jala itu jadi mengecil. Dan tak pelak lagi, tubuh Jaka langsung terjerat tambang-tambang itu, tanpa dia dapat menyadarinya lebih dahulu.
"Bruk!"
"Ugkh!"
Pemuda desa itu seketika jatuh terguling dengan tubuh terikat tambang yang sudah memben-tuk simpul bagai jala yang sangat kuat itu. Sedangkan dua puluh orang tetap memegangi ujung-ujung tambangnya dengan erat, membuat tambang-tambang itu terus meregang, dan tidak-memberikan kesempatan bagi Jaka untuk bisa melepaskan diri dari jeratan ini.
"Ha ha ha ha...!"
Sutawijaya tertawa terbahak-bahak melihat Jaka menggeliat-geliat, berusaha melepaskan diri dari jeratan tambang-tambang kulit yang sangat cukup kuat ini. Sedangkan pedangnya sudah terpental cukup jauh darinya. Memang tidak mungkin lagi bagi Jaka untuk bisa melepaskan diri. Dan saat dia menyadari itu, tidak lagi mencoba melepaskan diri. Kini dia diam, dan hanya bisa memandang tajam pada Sutawijaya yang kini sudah dekat sekali dengannya.
"Seret dia. Bawa ke rumah Ki Ranta!" perintah Sutawijaya.
Tanpa membantah sedikitpun juga, dua puluh orang yang memegangi tambang kulit itu langsung bergerak menyeret Jaka. Sementara Sutawijaya terus terbahak-bahak sambil mengikuti dari belakang. Dan para pengikutnya segera mengikuti pemuda itu. Sementara Jaka terombang-ambing diseret sepanjang jalan tanah berdebu dan berbatu menuju ke rumah Ki Ranta. Sebentar saja baju yang dikenakannya sudah koyak. Dan kulitnyapun mulai mengelupas mengeluarkan darah, terantuk batu-batu kerikil tajam yang banyak tersebar disepanjang jalan desa ini. Tapi tak ada sedikitpun terdengar suara keluhan dari bibir pemuda itu. Walaupun saat itu dia merasakan seluruh tulangnya bagai remuk terantuk batu-batu kerikil. Sedangkan mereka terus saja menyeretnya tanpa ampun.
Beberapa orang penduduk yang kebetulan berada di luar rumahnya, hanya dapat melihat saja dengan pandangan iba. Tapi tak ada seorangpun yang berani berbuat sesuatu untuk me-nolong Jaka. Karena mereka tahu, siapa pemuda yang berjalan mengikuti dari belakang sambil ter-tawa-tawa itu. Dan semakin dekat ke rumah Ki Ranta, semakin banyak pula orang-orang yang melihatnya. Tapi tak satupun dari mereka yang bertindak. Sedangkan Sutawijaya semakin po-ngah saja, melihat para penduduk desa hanya bisa memandangi tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menolong Jaka.
"Gantung dia di sana!" perintah Sutawijaya, setelah sampai di depan rumah Ki Ranta yang cukup luas ini sambil menunjuk ke arah pohon yang cukup besar.
? * *?? * Pendekar Rajawali Sakti
?"?"?"" Pendekar Rajawali Sakti
Bahasa Indonesia


Pendekar Rajawali Sakti 119 Kemelut Cinta Berdarah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

? 2017 " . 119. Kemelut Cinta Berdarah Bag. 7 - 8 (Selesai)
16. August 2015 um 08:11
? 7 ? Seharian penuh Jaka terikat terbaring menelentang di tengah-tengah halaman depan rumah Ki Ranta. Kedua tangan dan kakinya Jer-paku pada tonggak-tonggak kayu. Seharian penuh dia terbakar matahari tanpa ada setetespun air yang mengalir melalui tenggorokannya. Dan ini membuat bibirnya jadi pecah-pecah. Sedangkan saat itu matahari sudah tenggelam di balik peraduannya. Dan embun yang turun membuat. luka-luka di tubuh pemuda itu jadi terasa sangat perih sekali.
Namun Jaka hanya dapat merintih lirih. Dia benar-benar tidak punya daya lagi untuk dapat membebaskan diri dari belenggu ini. Seluruh tenaga yang dimilikinya benar-benar terkuras ha- bis, dengan siksaan yang tidak pernah terbayang- kan selama hidupnya. Siang tadi, entah sudah berapa cambukan diterimanya. Sutawijaya benar- benar melampiaskan kemarahannya, karena Jaka tetap bungkam tidak mau memberitahu dimana kini Sari berada. Walaupun dia harus menerimasiksaan yang begitu pedih.
"Tuk!"
Ugkh!" Tiba-tiba Saja Jaka merasakan ada sesuatu yang menghantam pelipisnya. Dan belum lagi dia bisa mengetahui benda apa yang menghantam pelipisnya, kembali dia merasakan hantaman yang serupa secara beruntun pada beberapa bagian tubuhnya yang tertentu. Dan seketika itu juga, Jaka merasakan tubuhnya jadi lemas, benar-benar tidak dapat digerakan lagi. Tapi saat itu juga dia tidak lagi merasakan perih pada luka-lukanya. Seakan tubuhnya tidak mendapat luka sedikitpun juga.
"Jaka...!"
"Eh..."!"
Jaka tersentak kaget ketika tiba-tiba dia mendengar bisikan yang sangat halus sekali, tapi terdengar begitu dekat ditelinganya. Dia mencoba menggerakkan kepalanya. Perlahan kepalanya bisa bergerak ke kiri, lalu kembali bergerak ke kanan. Tapi tak ada seorangpun yaug dilihatnya, kecuali para penjaga yang duduk melingkari api unggun agak jauh darinya.
"Jaka..."
Suara bisikan itu kembali terdengar. Tepat dari sebelah kiri. Jaka kembali berpaling ke kiri. Tapi tetap saja dia tidak melihat ada orang lain didekatnya. Padahal suara bisikan itu demikian jelas sekali terdengar. Suara bisikan yang sangat halus sekali, namun sangat jelas terdengar di telinganya.
"Siapa itu?" tanya Jaka dengan suara yang berbisik perlahan. Tidak ingin didengar para pen- jaga yang duduk melingkari api unggun.
"Bertahanlah sebentar. Aku akan membebas- kanmu," kata suara itu lagi, masih terdengar sa-ngat halus sekali.
Belum juga Jaka membuka suara lagi, tiba-tiba saja terdengar suara seperti benda-benda yang sangat berat berjatuhan. Suara itu datang dari arah api unggun. Dan begitu Jaka memalingkan mukanya, dia jadi terperanjat setengah mati. Karena para penjaga yang tadi duduk me-lingkari api unggun, kini sudah bergelimpangan berlumuran darah tak bernyawa lagi.
Dan belum lagi hilang keterkejutan pemuda itu, kembali dia dikejutkan dengan berdesirnya hembusan angin dingin di tubuhnya. saat itu juga terlihat sebuah bayangan merah berkelebatan sangat cepat sekali memutari tubuh pemuda ini. Tahu-tahu semua ikatan tangan dan kaki Jaka pada tonggak kayu, sudah terlepas semua. Cepat-cepat Jaka menggerakkan tubuhnya. Lalu dia bergegas bangkit berdiri. Tapi baru saja dia melangkah beberapa tindak hendak pergi, men-dadak saja....
"Mau kemana kau, monyet busuk!"
"Oh...?"
Jaka jadi tersentak kaget, begitu mendengar suara bentakan yang sangat keras sekali dari belakang. Namun belum juga dia bisa memutar tubuhnya berbalik, pemuda itu merasakan desiran angin yang halus dari arah belakangnya. Tapi pada saat itu juga....
"Dugkh!"
"Ugkh...!"
"Heh..."!"
Kembali Jaka terkejut, dan cepat-cepat memutar tubuhnya berbalik. Kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu melihat Sutawijaya menggeletak di tanah sambil mengerang memegangi kepalan tangannya. Dan tidak jauh di depan pemuda itu, berdiri sesosok tubuh ramping, mengenakan baju berwarna merah menyala yang sangat ketat.
"Hup!"
Dengan gerakan yang sangat indah sekali, Sutawijaya melenting bangkit berdiri. Langsung dia melakukan beberapa gerakan cepat dengan kedua tangannya di depan dada. Dan kakinya menggeser ke belakang beberapa langkah. Sorot matanya terlihat begitu tajam sekali, tertuju lurus ke wajah sosok tubuh ramping berbaju merah menyala yang sangat ketat itu. Sebilah pedang dengan ujung gagangnya berbentuk bunga melati tersampir di pinggangnya yang kecil dan ramping. Sosok tubuh berbaju merah menyala itu tetap berdiri tegak, tak bergeming sedikitpun. Sedangkan tepat di belakangnya Jaka berdiri mematung.
Seakan dia tengah bermimpi saat ini.
"Siapa kau...?" bentak Sutawijaya dengan suara yang terdengar agak bergetar.
"Tidak perlu kau tahu siapa aku, Sutawijaya! Hanya satu yang perlu kau ketahui..." terdengar sangat dingin dan datar sekali nada suara sosok tubuh berbaju merah itu. "Kau tidak pantas lagi ?hidup di Mayapada ini, Sutawijaya. Bersiaplah menerima kematianmu!"
"Keparat...!" desis Sutawijaya jadi geram.
"Sret!"???????
Sutawijaya langsung mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang. Tapi baru saja pedang itu tercabut dari warangkanya, mendadak saja...
"Cring!"
"Bet!"
"Heh..."!"
"Trang!"???
Bukan main terkejutnya pemuda itu. Karena begitu cepat sekali sosok tubuh berbaju serba merah itu mencabut pedangnya, dan dengan kecepatan bagai kilat pula dia mengebutkan pedang itu ke arah leher Sutawijaya. Namun dengan gerakan yang cepat pula Sutawijaya segera mengebutkan pedangnya, melindungi lehernya dari tebasan pedang itu.
"Hap!"
Bergegas Sutawijaya melompat ke belakang beberapa langkah. Sungguh dia sangat terkejutsekali merasakan tangannya bergetar karena ber-adu pedang tadi. Dan kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, saat melihat ujung pedangnya gompal. Namun rasa keterkejutannya langsung lenyap. Dan dia menatap tajam pada sosok tubuh ramping berbaju serba merah itu.
"Setan keparat...! Kubunuh kau! Hiyaaaat...!"
"Bet!"
"Haiiiit...!"
? * *?? * ? Hanya dengan sedikit saja mengegoskan tubuhnya, wanita berbaju serba merah yang me-nyelubungi seluruh kepalanya dengan kain merah itu berhasil menghindari tebasan pedang Sutawijaya. Bahkan dengan kecepatan yang begitu tinggi sekali, dia membalas serangan pemuda itu dengan sabetan pedangnya pula.
"Ikh!"
"Tring!"
Namun Sutawijaya masih bisa menangkis serangan balik itu dengan pedangnya, walaupun dia harus terpekik kecil, dan hampir saja pedangnya terpental lepas dari genggaman tangannya. Saat itu juga Sutawijaya menyadari kalau kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya masih kalah tinggi dibandingkan lawannya ini. Cepat-cepat dia melompat ke belakang sejauh beberapa langkah.
Tapi baru saja Sutawijaya menjejakkan kakinya kembali di tanah, wanita berbaju serba merah itu sudah melesat cepat bagai kilat, dan langsung melepaskan satu pukulan keras yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi sekali. Begitu cepatnya serangan yang dilakukan wanita misterius itu, hingga Sutawijaya tidak sempat lagi berkelit menghindari. Terlebih lagi saat itu keseimbangan tubuhnya memang belum semipurna. Hingga....
"Hiyaaaa!"
"Begkh!"
"Akh...!"
Sutawijaya terpental ke belakang sambil menjerit, begitu dadanya terkena pukulan keras menggeledek yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi dari wanita misterius berbaju merah menyala itu.
"Saat kematianmu sudah tiba, Sutawijaya! Hiyaaat...!"
Bagaikan kilat wanita itu meluruk deras tanpa memberi kesempatan sedikitpun pada Sutawijaya untuk bangkit berdiri kembali. Pedangnya yang berkilatan tajam, diarahkan langsung ke leher pemuda itu. Namun begitu pedang itu terayun hendak memenggal leher Sutawijaya, mendadak saja sebuah bayangan hitam berkelebat sangat cepat sekali memotong arus wanita misterius berbaju merah menyala itu.
"Ikh...!"
Cepat-cepat wanita bertubuh ramping yang mengenakan baju warna merah menyala itu memutar tubuhnya ke belakang, menghindari ter-jangan bayangan hitam. Beberapa kali dia ber-jumpalitan di udara. Kemudian dengan manis sekali dia menjejakkan kakinya kembali di tanah. Dan pada saat matanya menatap ke arah Sutawijaya, tahu-tahu di depan pemuda yang masih terlentang itu sudah berdiri seorang laki-laki tua yang mengenakan baju jubah panjang berwarna hitam pekat. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat yang juga berwarna hitam.
"Ki Jarak..." desis wanita itu pelan, hampir tidak terdengar suaranya.
"He he he he...! Tidak perlu kau menutupi wajahmu di depanku, Ritani," ujar laki-laki tua berjubah hitam itu diiringi suara tawanya yang terkekeh serak.
"Heh...?" Bagaimana kau tahu...?" wanita itu tampak terkejut.
"Tidak ada seorangpun yang bisa mengguna-kan jurus Pukulan kelelawar Hitam selain murid Eyang Waskita," sahut Ki Jarak terus diikuti dengan suara tawanya yang terkekeh kering.
Sementara Jaka yang mendengar semua per-cakapan itu jadi terlongong bengong. Dia benar- benar tidak menyangka kalau orang misterius yang selama ini selalu menolongnya ternyata Ritani. Dia tahu kalau gadis itu bukan hanya murid
Eyang Waskita yang juga gurunya. Tapi Ritani adalah putri tunggal Eyang Waskita. Dan selama ini semua orang tahu kalau Ritani sedang pergi mencari bibinya. Dan itu juga atas perintah Eyang Waskita sendiri. Tapi siapa yang akan me-nyangka kalau Ritani ada di desa ini.
Jaka bergegas menghampiri Ritani yang kini sudah membuka kain merah yang menyelubungi kepala dan wajahnya, bersamaan dengan ber-dirinya Sutawijaya. Pemuda itu mengambil tempat di samping sebelah kanan Ki Jarak. Dan se- mua orang tahu kalau Ki Jarak adalah guru Sutawijaya, setelah pemuda itu mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan dari Eyang Waskita juga. Tapi memang tidak terlalu lama Sutawijaya ber-guru pada Eyang Waskita. Karena dia mendapat-kan guru yang dianggapnya lebih tinggi ilmunya dari Eyang Waskita. Dan memang tingkat kepandaian yang dimiliki Ki Jarak berada dua tingkat di atas Eyang Waskita.
"Bunuh saja mereka berdua, Ki!" dengus Sutawijaya dengan napas memburu menahan berang.
"Kalian dengar permintaan muridku ini..." Sudah lama aku ingin melihat kematian ayahmu, Ritani. Dan ternyata muridku ini sudah melak-sanakannya lebih dulu. Dan sekarang dia memin-taku untuk melenyapkan kalian juga. He he he he... pekerjaan yang sangat mudah," ujar Ki Jarak memandang remeh. ?
"Bet!"
"Awas....!" Seru Ritani.
"Hup! Yeaaaah...!"
"Hap!"
Ritani dan Jaka langsung berlompatan me-nyebar ke samping, begitu Ki Jarak mengebutkan tongkatnya ke depan. Tepat disaat dari ujung tongkat itu meluncur secercah cahaya kuning ke-emasan yang meluruk deras bagai kilat. Tapi cahaya kuning keemasan itu hanya mengenai tempat yang kosong, dan menyambar sebuah pohon beringin hingga hancur berkeping-keping, mem-perdengarkan suara ledakan yang sangat dahsyat menggelegar memekakkan telinga.
"Hiyaaat...!"
Ki Jarak tidak mau memberi kesempatan lagi. Dengan kecepatan yang sangat luar biasa sekali, dia melompat menerjang Ritani yang baru saja menjejakkan kakinya di tanah. Laki-laki tua yang menjadi musuh bebuyutan ayahnya itu langsung melepaskan pukulan-pukulan dahsyat bertenaga dalam tinggi secara beruntun dengan kecepatan yang sangat dahsyat luar biasa.
"Haiiiit...!"
Tapi Ritani memang bukan gadis sembarang-an. Gerakan-gerakannya sungguh indah dan cepat sekali. Tubuhnya meliuk-liuk bagai ular, menghindari serangan beruntun yang dilancar-kan musuh ayahnya ini. Hingga pertarungan tidak dapat dihindarkan lagi. Pertarungan yang sangat cepat dan dahsyat sekali.
Sementara Sutawijaya juga sudah mendesak Jaka. Hingga di halaman depan rumah Ki Ranta menjadi ajang pertarungan, dan membuat tempat itu bagai diamuk puluhan banteng liar. Sebentar saja sudah tidak terhitung lagi, berapa pohon yang tumbang dan hancur terkena pukulan-pukulan dahsyat bertenaga dalam tinggi. Semen-tara debu mengepul membumbung tinggi ke ang-kasa. Teriakan-teriakan pertarungan yang di-iringi denting suara senjata beradu, membuat penduduk Desa Galagang ke luar dari rumahnya. Tapi tak ada seorangpun yang berani mendekat. Apa lagi ikut campur dalam persoalan itu. Mereka hanya bisa menyaksikan dari jarak jauh. Dan dari dalam rumahpun Ki Ranta bersama istrinya ke luar dari dalam rumahnya. Mereka tampak cemas melihat pertarungan dalam tingkat tinggi itu.
? * *? * ? Pertarungan di halaman depan rumah Ki Ranta masih terus berlangsung dengan sengit. Tampak sekali terlihat kalau Ki Jarak sudah me-nguasai jalannya pertarungan. Bahkan jurus Pukulan Kelelawar Hitam yang dikeluarkan Ritani, tidak berarti sama sekali dalam menghadapi laki-laki tua itu. Hingga gadis itu benar-benar tidak dapat lagi mengimbangi jurus-jurus yang dilancarkan lawannya ini. Dan kini dia hanya dapat berkelit menghindar, tanpa mampu lagi membalas serangan-serangan yang dilancarkan Ki Jarak.
"Yeaaah...!"
Begitu cepat sekali Ki Jarak melesat ke udara. Dan langsung dia menukik dengan kecepatan tinggi, sambil melepaskan satu pukulan menggeledek yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Tepat mengarah ke kepala Ritani.
"Hap!"
Namun dengan gerakan yang sangat manis sekali, Ritani berhasil menghindari serangan itu. Tapi tanpa diduga sama sekali, Ki Jarak memutar tubuhnya di udara dengan kecepatan yang sulit sekali diikuti dengan pandangan mata biasa. Dan tahu-tahu laki-laki tua berjubah hitam itu sudah melepaskan satu tendangan keras menggeledek. Begitu cepatnya serangan susulan yang dilakukan Ki Jarak, sehingga Ritani tidak sempat lagi menghindarinya. Dan....
"Begkh!"
"Akh...!"
Ritani menjerit keras, begitu dadanya terkena tendangan dahsyat bertenaga dalam tinggi yang dilepaskan Ki Jarak. Gadis itu seketika terpental ke belakang tanpa dapat dikuasai lagi ke-seimbangan tubuhnya. Dan baru berhenti setelah menghantam sebuah pohon berukuran cukup besar. "Hoeeeeekh...!"
Darah kental berwarna merah agak kehitaman, langsung muncrat ke luar dari mulut gadis itu. Dia berusaha bangkit berdiri. Tapi tendangan yang mendarat di dadanya, membuat napasnya jadi sesak dan terasa nyeri sekali. Pandangannyapun jadi mengabur berkunang-kunang,
Saat itu Ki Jarak sudah melangkah mengham- piri. Ujung tongkatnya yang runcing, tertuju lurus ke arah gadis itu. Dan pandangannyapun tidak berkedip, bersorot tajam mengamati Ritani yang masih berusaha untuk bangkit berdiri, walaupun napasnya semakin sesak. Bahkan seluruh rongga dadanya bagaikan hancur, akibat terkena tendangan dahsyat bertenaga dalam sangat tinggi tadi.
"Bersiaplah menerima kematianmu, Ritani," desis Ki Jarak dingin menggetarkan.
"Ugkh!"
Ritani hanya bisa mengeluh pendek. Dia benar-benar sudah tidak memiliki daya lagi. Bahkan untuk mengangkat tubuhnya saja, terasa sudah tidak mampu lagi.
"Oh, matilah aku...." desah Ritani mengeluh dalam hati.
Sementara itu, di lain tempat, pertarungan antara Sutawijaya dan Jaka masih berlangsung dengan sengit. Dan tampaknya kedua pemuda itu memiliki tingkat kepandaian yang cukup seim-bang. Sehingga pertarungan mereka masih terus berlangsung. Belum ada tanda-tanda sedikitpun kalau pertarungan akan berakhir. Meskipun mereka sudah sama-sama mengeluarkan jurus-jurus andalannya yang cukup dahsyat. Tapi mereka masih terus saling menyerang dengan sengit.
Sedangkan Ki Jarak sendiri melangkah per-lahan-lahan menghampiri Ritani yang kelihatan-nya sudah pasrah menerima kematiannya di tangan laki-laki tua musuh bebuyutan ayahnya ini. Gadis itu sudah tidak mampu lagi berbuat sesuatu.
"Mampus kau, Ritani! Hiyaaat...!"
Sambil berteriak lantang menggelegar, bagaikan kilat Ki Jarak melompat sambil mengebut-kan tongkatnya ke arah leher Ritani. Sedangkan gadis itu hanya bisa terbeliak dengan mulut ter-nganga, tak mampu lagi bergerak untuk menghindari serangan laki-laki tua berjubah hitam itu.
Tapi, tepat ketika ujung tombak yang runcing itu hampir memenggal leher Ritani, mendadak saja....
"Slap!"
"Wus!"
"Tak!"
"Heh...?"
? * *?? * ? 8 ? Ki Jarak jadi terkejut setengah mati, begitu dia merasakan tongkatnya bagai membentur batu karang yang sangat keras, hingga tangannya jadi nyeri. Dan hampir saja tongkatnya terlepas dari genggaman, kalau dia tidak cepat-cepat melesat mundur sambil berputaran beberapa kali di udara.
Kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu kakinya menjejak tanah sekitar tiga batang tombak jauhnya dari Ritani. Tepat di sebelah gadis cantik berbaju merah menyala yang masih terduduk lemah diantara pecahan pohon itu, berdiri seorang pemuda tampan, mengenakan baju tanpa lengan berwarna putih. Sebuah gagang pedang berbentuk kepala burung, terlihat menyembul dari balik punggungnya. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sorot matanya begitu tajam sekali, tertuju lurus ke bola mata Ki Jarak yang berada sekitar tiga batang tombak di depannya.
"Pendekar Rajawali Sakti..." desis Ki Jarakdengan nada suara seakan tidak percaya dengan penglihatannya.
Saat itu muncul dua orang gadis cantik yang langsung menghampiri pemuda tampan berbaju rompi putih yang ternyata memang Pendekar Rajawali Sakti, yang nama sebenarnya adalah Rangga. Dan tak lama kemudian, datang pula Ki Langkap dan anak gadisnya. Gadis cantik yang mengenakan baju biru ketat dengan sebuah kipas berwarna putih keperakan di depan perutnya, langsung menghampiri Ritani. Dan tanpa berkata sedikitpun juga, dia segera memeriksa keadaan gadis itu. Sedangkan gadis satunya lagi yang tak lain adalah Sari, mengambil tempat di sebelah kanan Pendekar Rajawali Sakti.
Pada saat itu juga, pertarungan antara Jaka dan Sutawijaya seketika terhenti, begitu Sari muncul bersama gadis cantik berbaju biru yang tak lain adalah Pandan Wangi, yang lebih dikenal dengan julukan si Kipas Maut. Jaka yang melihat Sari muncul bergegas melompat menghampiri. Sedangkan Sutawijaya yang juga hendak mendekati gadis itu, jadi menghentikan keinginannya, karena Ki Jarak sudah keburu mencegah dengan merentangkan sebelah tangannya. Pemuda itu pun hanya menggeser kakinya ke sebelah kiri gurunya ini.
"Mau apa kau ke sini, Pendekar Rajawali Sakti?" desis Ki Jarak dingin.
Jelas sekali kalau nada suaranya terdengar tidak menyukai kehadiran Rangga di Desa Galagang ini. Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu hanya menatapnya saja dengan sorot mata yang begitu tajam sekali. Dia melangkah mendekati dan baru berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar satu batang tombak lagi dari laki-laki tua ber-jubah hitam itu.
"Hanya kebetulan saja aku lewat di desa ini, Ki Jarak. Dan aku tidak tahu kalau kau ada di sini. Hhhh...! Dimana kau tinggal, selalu saja terjadi kekacauan. Aku benar-benar tidak mengerti, apa tujuanmu sebenarnya selalu membuat kekacauan...?" terdengar tenang sekali suara Rangga.
"Itu bukan urusanmu, Pendekar Rajawali Sakti!" bentak Ki Jarak ketus.
"Seharusnya kau tahu, Ki Jarak. Aku tidak pernah menyukai adanya kekacauan. Terlebih lagi kalau terjadi di dalam wilayah kerajaan-kerajaan sahabatku. Dan kau selalu saja muncul hanya untuk membuat keributan," tegas Rangga. "Aku ingin tahu, apa tujuanmu sebenarnya, Ki Jarak?"
Ki Jarak tidak menjawab sedikitpun juga. Hanya gerahamnya saja yang terdengar bergeme-letuk menahan geram. Perlahan kakinya bergerak terayun beberapa langkah. Dan sorot matanya begitu tajam sekali, menembus langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan yang ditatap, membalasnya dengan sinar mata yang tidak kalah tajamnya. Beberapa saat mereka terdiam, dan hanya saling tatap saja dengan sorot mata yang sangat tajam sekali. Saat itu tak ada seorangpun yang mengeluarkan suara. Mereka yang ada di sekitar halaman rumah Ki Ranta itu pandangannya tertuju pada Pendekar Rajawali Sakti dan Ki Jarak yang berdiri saling ber-hadapan, dan bertatapan dengan tajam.
"Hiyaaaat...!"
Tiba-tiba saja Ki Jarak berteriak lantang menggelegar. Dan seketika itu juga dia melompat cepat bagai kilat sambil mengebutkan tongkat ke arah kepala Pendekar Rajawali Sakti.
"Bet!"
"Haiiiit...!"
Namun dengan gerakan yang sangat indah sekali, Rangga berhasil menghindari sabetan tongkat berujung runcing itu. Tapi belum juga Pendekar Rajawali Sakti itu menarik kepalanya tegak kembali, Ki Jarak sudah melancarkan satu tendangan keras yang sangat cepat sekali, tanpa menarik lagi tongkatnya yang tidak mengenai sasaran itu.
"Hih!"
"Hap!"
Rangga segera menarik kakinya ke belakang satu langkah. Dan tendangan Ki Jarak bisa dihin-dari dengan mudah. Dua kali Ki Jarak melakukan serangan dengan cepat. Tapi dengan mudah sekali Rangga berhasil menghindari serangan itu.
Ki Jarak jadi tersentak kaget setengah mati begitu tongkatnya beradu dengan pedang Rajawali Sakti yang memancarkan sinar biru berkilauan menyilaukan mata itu. Cepat-cepat dia melompat mundur beberapa langkah. Dan kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu melihat tongkatnya sudah terpenggal buntung jadi dua bagian. Lebih terkejut lagi, karena potongan tongkatnya kini berada di dalam genggaman tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan tangan kanannya tetap memegang pedang yang bersinar biru menyilaukan mata itu.
"Cring!"
Dengan gerakan yang sangat indah sekali, Rangga menyarungkan kembali pedang pusaka-nya ke dalam warangkanya di punggung. Dan seketika itu juga, cahaya terang yang memancar dari pedang itu lenyap. Kini keadaan kembali menjadi gelap. Sedangkan Ki Jarak masih berdiri terpaku, seakan tidak percaya kalau tongkat yang selalu dibanggakannya dengan mudah sekali terpenggal buntung menjadi dua bagian. Hanya dengan satu benturan saja dengan pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti.
"Keparat...!" geram Ki Jarak berang.
"Hih! Yeaaah...!"
Sambil membuang potongan tongkatnya, Ki Jarak menghentakkan kedua tangannya ke depan. Dan seketika itu juga, dari kedua telapak tangannya meluncur segumpal asap hitam ke arah Pendekar Rajawali Sakti.???
"Aji Cakra Buana Sukma! Yeaaaah...!"
Rangga yang mengetahui kalau serangan Ki Jarak kali ini tidak bisa dianggap main-main, langsung saja mengerahkan aji kesaktiannya yang sangat dahsyat, dan belum ada tandingannya sampai saat ini. Begitu dia mendorongkan kedua tangannya ke depan, dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti itu meluncur sinar biru yang menyilaukan mata. Hingga tak dapat dihin-darkan lagi, asap hitam beradu tepat di tengah-tengah dengan sinar biru yang memancar dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti.
"Glaaar...!"
Suara ledakan dahsyat terdengar menggelegar seketika itu juga. Tampak Ki Jarak terpental ke belakang sambil mengeluarkan suara jeritan yang panjang melengking. Sedangkan sinar biru yang memancar dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti, terus meluncur memburu tubuh Ki Jarak.
"Aaaaakh...!"
Jeritan melengking tinggi kembali terdengar begitu tubuh. Ki Jarak terbungkus sinar biru itu. Tampak Ki Jarak menggeliat-geliat terbungkus sinar biru yang semakin banyak memancar dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Namun tak berapa lama kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat se-kali, membuat bumi jadi bergetar bagai diguncang gempa. Tampak tubuh Ki Jarak berserakan ?hancur jadi debu.
"Hap!"
Rangga langsung mencabut Aji Cakra Buana ?Sukma, setelah tubuh Ki Jarak benar-benar han- cur jadi tepung. Pendekar Rajawali Sakti itu me-lompat ke belakang beberapa langkah.
Sementara Sutawijaya yang melihat gurunya hancur jadi debu, hanya bisa terlongong diam dengan mata terbeliak lebar dan mulut ternga-nga. Belum pernah dia melihat sebuah aji kesak-tian yang begitu dahsyat, menjadikan tubuh la-wannya hancur tak berbentuk lagi. Seluruh tubuhnya jadi bergetar. Keringat sebesar-besar butiran jagung menitik deras membasahi wajahnya. Hatinya langsung bergetar melihat kedigdayaan Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan-lahan dia beringsut mundur. Dan begitu memutar tubuhnya berbalik hendak pergi, Jaka sudah melompat cepat menghadang.
"Mau kemana kau keparat!" bentak Jaka langsung menghunuskan pedangnya ke tenggorokan Sutawijaya.
"Okh...?"
Sutawijaya jadi melenguh tersekat. Wajahnya seketika memucat melihat ujung pedang sudah menempel di tenggorokannya. Seluruh tubuhnya bergetaran bagai terserang demam. Di depan matanya, kali ini Jaka bagaikan malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya.
"Saat kematianmu sudah tiba, Sutawijaya. Kau tidak pantas lagi hidup di dunia ini," terasa sangat dingin sekali nada suara Jaka.
Sutawijaya tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Bahkan untuk mengangkat tangannya saja, dia merasakan sudah tidak mampu lagi. Hanya kedua bola matanya saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Dia melihat orang-orang yang sejak tadi me-nyaksikan kejadian itu sudah mulai bergerak berdatangan. Sorot mata mereka jelas sekali memancarkan kebencian yang amat sangat pada pemuda ini. Dan Sutawijaya merasa dirinya bagaikan sudah mati saat ini. Seluruh kekuatan dan keangkuhannya seketika lenyap. Hingga yang tersisa sekarang hanya rasa takut menghadapi kematian.
"Kakang...."
Jaka berpaling sedikit saat mendengar suara halus memanggilnya. Sutawijaya juga berpaling. Dan kedua anak muda itu melihat Sari datang menghampiri. Gadis cantik itu mendekati Jaka, dan berdiri di sebelah kanannya. Pandangannya langsung tertuju pada bola mata Sutawijaya yang sudah redup bagai tak memiliki lagi gairah ke-hidupan. Kemudian pandangannya berpindah pada Jaka, lalu pada kedua orang tuanya yang masih tetap berada di depan rumahnya.
"Kakang, aku minta kau jangan mengotori tanganmu dengan darahnya. Biarkan dia pergi," kata Sari memohon.
"Si bangsat keparat ini bukan saja menyusah-kanmu, Sari. Tapi semua orang di desa ini ikut merasakan kebiadabannya," tolak Jaka tegas.
"Dewata pasti akan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, Kakang. Aku tidak ingin kau mengotori tanganmu dengan darahnya. Biarkan dia pergi," kata Sari lagi, tetap meminta kekasihnya membebaskan Sutawijaya pergi.
"Kau dengar apa katanya, Sutawijaya," dingin sekali nada suara Jaka. "Kalau bukan Sari yang meminta, sudah kupenggal kepalamu."
"Ohhh..." Sutawijaya mendesah panjang.
Mungkin dia merasa lega, karena nyawanya masih bisa terselamatkan. Pandangan matanyalangsung tertuju pada wajah cantik yang selama ini selalu dirindukannya. Tapi Sari malah me-malingkan mukanya dan menatap pada kedua orang tuanya yang masih tetap saja berada di depan rumahnya, tanpa mampu lagi berbuat sesuatu.
"Pergilah kau, dan jangan coba-coba kembali lagi ke sini," usir Jaka agak kasar suaranya.
Tanpa menunggu waktu lagi, Sutawijaya langsung mengambil langkah cepat hendak meninggalkan tempat itu. Sedikitpun dia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri. Dia berjalan cepat menghampiri kudanya yang tertambat di pohon kenanga. Dengan tergesa-gesa, pemuda itu melompat naik ke punggung kudanya, langsung menggebahnya hingga kuda itu meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ke udara. Lalu dengan cepat sekali kuda itu melesat bagai anak panah terlepas dari busurnya.
Kepergian Sutawijaya yang sudah jadi pecun-dang itu, langsung disambut sorak-sorai yang gegap gempita oleh seluruh penduduk Desa Galagang ini. Dan mereka memang tertekan sekali, sejak Sutawijaya berada di desa ini. Tindakan Sutawijaya sudah membuat mereka begitu menderita. Dan kini semuanya sudah berakhir, walaupun Sutawijaya dibiarkan pergi dari desa ini.
"Heh...?" Mana mereka...?" sentak Jaka tiba-tiba.
"Mereka siapa, Kakang?" tanya Sari, juga mengedarkan pandangannya mengikuti kekasihnya itu.
"Mereka.... Pendekar-pendekar itu...." kata Jaka dengan suara terputus.
"Oh..."
Sari baru tersadar. Tapi mereka memang tidak lagi melihat Rangga, Pandan Wangi dan Ritani yang entah pergi sejak kapan. Mereka benar-benar telah pergi entah kemana. Tak ada seorangpun yang mengetahuinya. Bahkan baik Jaka maupun Sari tidak menyadari sedikitpun dengan kepergian pendekar-pendekar muda yang digdaya itu.
"Mereka benar-benar pendekar sejati, Kakang," ujar Sari mendesah perlahan.
"Ya... tapi seharusnya Ritani tidak pergi," sahut Jaka juga mendesah pelan.
"Siapa Ritani?" tanya Sari.
"Putri Eyang Waskita," sahut Jaka pelan.
"Hhhh.... mungkin dia memburu Sutawijaya, karena telah membunuh ayahnya dan menghancurkan padepokannya hingga tak ada seorangpun yang tersisa hidup."
"Oh..." Sari mendesah panjang.
Saat itu terdengar suara jeritan yang sangat panjang melengking dan menyayat dari kejauhan. Tepat dari arah mana Sutawijaya pergi. Jeritan panjang dan melengking itu sangat mengejutkan semua orang yang malam ini jadi berada di luar rumahnya, dan berkumpul di halaman depan ru-mah Ki Ranta yang luas. Dan mereka semua tahu kalau itu suara jeritan Sutawijaya.
"Hhhh...!" Jaka menghembuskan napas panjang.
Dugaannya ternyata langsung terbukti. Ritani tidak mau melepaskan pembunuh ayahnya begitu saja. Dan dia menghabisi Sutawijaya di luar Desa Galagang ini. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut sudah pergi entah kemana. Jaka menggamit tangan Sari, dan mengajaknya melangkah menghampiri kedua orang tuanya yang masih menunggu di depan rumahnya. Mereka berjalan berdampingan dengan ayunan langkah yang mantap. Semantap hati mereka untuk menyongsong lembaran hidup baru.
? ? TAMAT ? www.duniaabukeisel.blogspot.com
www.jagatsatria.com
? Daftar Isi Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Kisah Tiga Kerajaan 7 Jodoh Rajawali 06 Sumur Perut Setan Istana Yang Suram 6

Cari Blog Ini