Ceritasilat Novel Online

Pemburu Darah 1

Pendekar Rajawali Sakti 130 Pemburu Darah Bagian 1


. 130. Pemburu Darah Bag. 1
9. Oktober 2014 um 10:56
? Pendekar Rajawali Sakti
episode: PEMBURU DARAH Oleh Teguh S. Penerbit Cintamedia, Jakarta
? 1 ? ? "Aaa...!"
"Ha ha ha...!"
Suatu jeritan panjang melengking tinggi terde-ngar menyayat, memecah kesunyian malam gelap tanpa sedikit pun cahaya bintang maupun rembulan di langit. Dan jeritan itu ditingkahi tawa yang begitu keras menggelegar.
Suara-suara itu rupanya sempat pula memba-ngunkan seluruh penduduk Desa Galibang yang sedang tertidur dibuai mimpi. Hingga seketika itu juga, desa yang semula sunyi kini jadi ramai oleh orang-orang yang keluar dari dalam rumahnya sambil membawa obor serta berbagai senjata.
Namun, tidak ada seorang pun yang bergerak meninggalkan rumahnya. Mereka hanya berdiri saja di depan rumah masing-masing, menyaksi-kan sesosok tubuh berjubah hitam tengah menca-bik-cabik seorang laki-laki setengah baya dengan buasnya di tengah jalan. Dan saat itu juga, orang-orang yang telah berada di depan rumahnya, segera tenggelam kembali ke dalam. Tidak terlihat ada seorang pun yang berada di depan rumahnya lagi.
Sementara, sosok tubuh berjubah hitam itu terus mengoyak tubuh laki-laki setengah baya di tengah jalan dengan buas. Seakan keadaan di se-keliling tidak dipedulikannya. Dan setelah tubuh korbannya tercabik-cabik dengan lumuran darah segar, dia baru berdiri tegak sambil mendongakkan kepala ke atas. Seakan, sosok berjubah hitam itu ingin menatap rembulan yang bersembunyi di balik awan hitam tebal menggumpal.
"Ha ha ha...!"
Kembali terdengar tawa keras menggelegar, memecah kesunyian malam di Desa Galibang ini. Sejenak orang berjubah hitam yang wajahnya tidak kelihatan ini memandangi sekitarnya yang sunyi. Kemudian tubuhnya berkelebat begitu cepat, sehingga dalam waktu sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap, tidak terlihat lagi sedikit pun juga. Hanya suara tawanya saja yang masih terdengar nyaring, semakin jauh terbawa angin yang bertiup cukup kencang malam ini.
Beberapa saat suasana masih sunyi, tanpa seorang pun terlihat di luar rumahnya. Namun setelah cukup lama keadaan sunyi itu berlangsung, sebuah pintu rumah yang paling dekat dengan sosok tubuh yang tergeletak di tengah jalan itu tampak bergerak terbuka. Dan dari balik pintu yang terbuka perlahan, muncul seorang laki-laki tua berjubah putih. Sebuah obor tampak tergenggam di tangan kanannya.
Laki-laki tua itu mengedarkan pandangan ke sekeliling sesaat, kemudian bergegas menghampiri sosok tubuh yang sudah hancur dan tergeletak di tengah jalan. Seketika kedua bola matanya jadi terbeliak dengan seluruh tubuh bergetar seperti terserang demam, melihat sosok tubuh yang sudah hancur tidak berbentuk lagi. Hanya bagian wajah dan kepalanya saja yang masih bisa dikenali. Sedangkan tubuh lain, sudah tidak karuan lagi. Bahkan kedua tangan dan kakinya terpisah cukup jauh.
"Hih...!"
Laki-laki tua itu jadi bergidik. Bergegas tubuhnya berbalik, dan langsung berlari-lari mendekati rumahnya. Cepat-cepat dia masuk ke dalam, sambil mematikan obomya. Dengan tangan gemetaran, ditutup pintu rumahnya kembali, dan dikuncinya dengan kayu palang. Di dalam rumahnya yang tidak begitu besar ini, dua orang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun dan tiga puluh tahun sudah menanti, bersama seorang perempuan tua yang duduk memeluk lutut di sebuah balai-balai bambu beralaskan tikar busuk dari daun pandan. Mereka memandangi orang tua berjubah putih yang tubuhnya masih gemetaran ini dengan wajah memucat ketakutan.
"Hih...!"
"Ada apa, Ki" Apa yang terjadi di luar...?" tanya perempuan tua yang duduk di balai-balai bambu, ingin tahu.
"Hih! Ngeri...," desis laki-laki tua itu seraya bergidik.
"Apa yang terjadi di luar, Kek..?" tanya pemu-da yang berbaju warna merah muda.
"Iblis itu.... Dia membunuh Kohar, dengan mencabik-cabik seluruh tubuhnya...," sahut laki-laki tua ini masih ketakutan.
Tidak ada lagi yang berbicara. Dan mereka se-mua juga tidak ada yang berani keluar dari dalam rumah. Sementara, malam terus merayap semakin larut. Kesunyian terus menyelimuti seluruh Desa Galibang.
Kesunyian yang begitu mencekam, membuat seluruh penduduk desa itu dicekam rasa takut teramat sangat. Dan ketakutan mereka itu dikarenakan munculnya seseorang yang bertindak seperti iblis. Membunuh siapa saja yang berada di luar tanpa peduli dengan mencabik seluruh tubuh tanpa ampun, seperti iblis haus darah!
? *** ? Hentakan-hentakan langkah dua ekor kaki kuda seakan hendak membangunkan penduduk Desa Galibang dari mimpi buruk yang teramat panjang. Beberapa kepala terlihat menyembul keluar dari balik pintu dan jendela di setiap rumah yang berjajar di sepanjang jalan. Mereka semua memandangi dua orang penunggang kuda yang melintasi jalan tanah berdebu dan kotor oleh daun-daun dan rerumputan kering. Memang, sudah lama desa itu tidak dilintasi orang. Sehingga begitu ada dua orang penunggang kuda, para penduduk Desa Galibang seperti mendapat hiburan saja, setelah selama ini dicekam rasa ketakutan.
Kedua anak muda penunggang kuda itu ber-henti tepat di dekat sesosok tubuh yang tergeletak di tengah jalan dalam keadaan hancur. Hanya ba-gian kepalanya saja yang kelihatan masih utuh. Tampak pemuda tampan berbaju rompi putih yang menunggang kuda hitam itu melompat turun dari punggung tunggangannya, dengan gerakan yang sangat indah dan ringan. Sedikit pun tidak terdengar suara saat kedua kakinya menjejak tanah.
Tidak lama pemuda berbaju rompi putih itu mengamati sosok tubuh yang sudah hancur itu, kemudian menghampiri kudanya kembali. Tapi, dia tidak melompat naik. Sementara, penunggang kuda lainnya yang ternyata seorang gadis cantik berbaju biru muda agak ketat, memandangi dengan sinar mata begitu sulit diartikan.
"Aku rasa kita punya pekerjaan di sini, Pan-dan," ujar pemuda berbaju rompi putih itu.
Gadis cantik berbaju biru yang masih tetap duduk di punggung kuda putihnya hanya mengang-angukkan kepala saja. Gadis dengan sebuah kipas putih keperakan terselip di balik ikat pinggangnya ini memang Pandan Wangi. Dan dia lebih dikenal sebagai si Kipas Maut. Sedangkan pemuda tampan berbaju rompi putih, dengan sebilah pedang bergagang kepala burung di punggung itu tidak lain dari Rangga. Dia lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Kedua anak muda inilah yang selalu disebut sebagai Sepasang Pendekar Muda dari Karang Setra.
"Hup!"
Pandan Wangi melompat turun dari punggung kudanya. Gerakannya begitu manis dan ringan. Hingga tidak terdengar suara sedikit pun saat kedua kakinya menjejak tanah, tepat di depan Pendekar Rajawali Sakti.
"Sepi sekali di sini, Kakang. Apa tidak ada lagi orang di sini...?" ujar Pandan Wangi pelan, seperti bicara pada diri sendiri.
"Desa ini masih dihuni, Pandan. Hanya saja mereka tidak ada yang keluar," kata Rangga sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Hm...," Pandan Wangi menggumam pelan. Kepalanya juga bergerak perlahan, mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Dan sesaat mereka terdiam, tanpa ada yang bersuara sedikit pun juga. Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu sama-sama mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun tidak ada seorang pun yang terlihat. Tapi mereka bisa mendengar tarikan-tarikan napas tertahan dari setiap rumah yang ada di sepanjang jalan tanah berdebu dan kotor ini.
"Kakang! Aku rasa kuda-kuda ini tidak aman kalau terus berada di sini. Kau lihat... Begitu banyak bangkai binatang di sini," ujar Pandan Wangi, agak mendesis pelan suaranya.
"Hm...."
Rangga menggumam kecil. Memang, sepanjang jalan memasuki desa ini sudah terlihat begitu banyak bangkai binatang bergeletakan. Bahkan mayat orang ini bukan yang pertama ditemukan. Sudah ada delapan mayat yang didapati sepanjang perjalanan ke Desa Galibang ini. Dan mayat-mayat itu dalam keadaan rusak terkoyak, seperti terserang binatang buas saja. Rangga melangkah mendekati kuda hitam tunggangannya.
"Dewa Bayu, bawa si Putih pulang ke Karang Setra," pinta Rangga pada kuda hitam tunggangannya.
"Hieeegkh...!"
Kuda hitam bernama Dewa Bayu itu meringkik keras, sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Kemudian Dewa Bayu mendengus dengan kepala terangguk beberapa kali. Sebentar kemudian, kedua ekor kuda itu sudah berpacu cepat sekali, keluar dari Desa Galibang ini. Dan kini kedua kuda tunggangan pendekar-pendekar muda ini sudah lenyap tak terlihat lagi. Hanya debu saja yang masih terlihat membubung di angkasa semakin menjauh.
Sementara, Rangga dan Pandan Wangi masih tetap berdiri di tengah-tengah jalan Desa Galibang ini. Tidak ada seorang pun yang membuka suara lebih dahulu. Hanya pandangan mereka saja yang terlihat begitu tajam, beredar ke sekeliling.
"Ayo, Pandan. Kita cari rumah kepala desa. Mungkin kita bisa memperoleh keterangan dari-nya," ajak Rangga.
Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Dan mereka kemudian melangkah menelusuri jalan tanah berdebu yang sangat kotor, penuh noda-noda darah ini. Angin yang berhembus membawa udara yang terasa tidak sedap tercium hidung. Bau busuk dari bangkai binatang dan mayat manusia begitu jelas tercium, menyeruak ke dalam hidung.
Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu terus mengayunkan kakinya perlahan-lahan, tanpa bersuara sedikit pun juga. Tidak ada yang berbicara. Namun sepasang bola mata mereka terus beredar ke sekeliling, merayapi sekitarnya. Tidak terlihat seorang pun di sepanjang jalan yang dilalui. Bahkan seekor binatang pun tidak terlihat berkeliaran. Begitu sunyi bagai sebuah desa mati yang sudah tidak berpenghuni lagi.
Dan mereka baru berhenti melangkah, setelah tiba di depan sebuah rumah yang paling besar di desa ini. Halamannya yang luas, berpagar bambu. Tapi, agaknya rumah itu seperti sudah tidak berpenghuni lagi. Bahkan halamannya begitu kotor, tak terawat. Daun-daun kering berserakan hampir memenuhi halaman yang luas ini. Malah beberapa bagian sudah terlihat menyemak. Rerumputan liar tumbuh tidak teratur, hampir memenuhi seluruh halaman luas ini. Sesaat Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan.
Namun belum juga kedua pendekar muda dari Karang Setra itu bisa bersuara, tiba-tiba saja dari arah belakang sudah terdengar sebuah suara yang bernada berat.
"Apa yang kalian cari di sini, Anak-anak Muda...?"
"Heh..."!"
"Oh..."!"
Kedua pendekar itu jadi tersentak kaget, dan cepat berbalik. Saat itu, terlihat seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk terbungkus baju jubah panjang warna putih yang sudah memudar, sudah berada di depan mereka. Entah dari mana dan kapan datangnya, sama sekali kedua pendekar itu tidak tahu.
"Maaf, Ki. Apakah kedatangan kami di sini mengganggu..?" ujar Rangga sopan.
"Hm...."
Orang tua berwajah kurus yang menampakkan benyolan tulang pipinya itu hanya menggumam saja perlahan. Kedua bola matanya yang merah, menatap Rangga dengan sinar cukup tajam. Dengan pandangan matanya yang tajam, Pendekar Rajawali Sakti tengah dinilainya. Matanya terus memperhatikan dari ujung kepala hingga ke ujung jari kaki Rangga.
"Siapa kalian?" tanya orang tua itu, masih dengan nada suara begitu datar.
"Aku Rangga. Dan ini adikku. Namanya, Pandan Wangi," sahut Rangga memperkenalkan diri-nya, dan Pandan Wangi yang selalu diakui sebagai adiknya.
"Hm.... Lalu, apa tujuan kalian datang ke sini?"
'Terus terang, Ki. Aku heran melihat keadaan di desa ini. Sepanjang jalan, yang kutemui hanya bangkai binatang dan mayat-mayat manusia yang tidak terurus. Juga, keadaan di sini. Berantakan, tidak terurus sama sekali. Sepertinya sudah tidak lagi dihuni," sahut Rangga berterus terang.
"Kuperingatkan padamu, Anak Muda. Sebaik-nya jangan mengurusi persoalan yang bukan urusanmu. Pergi saja kalian dari sini. Biarkan semuanya berlangsung. Dan jangan korbankan dirimu hanya untuk orang-orang bodoh seperti mereka," ujar orang tua itu lagi.
Seketika kening Rangga jadi berkerut. Malah kelopak matanya terlihat menyipit, mendengar kata-kata orang tua aneh yang jelas bernada geram itu. Seakan ada sesuatu yang sedang dirasakannya, dan sedang dipikulnya dengan berat. Sejenak Pendekar Rajawali Sakti berpaling, menatap Pandan Wangi yang sejak tadi diam saja. Gadis itu juga tampak terkejut, mendengar kata-kata orang tua ini tadi. Dan mereka kemudian memandangi orang tua itu dengan sinar mata meminta penjelasan.
? *** ? "Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini, Ki?" tanya Rangga, ingin tahu.
"Sebaiknya kau tidak perlu tahu, Anak Muda. Kalau kalian berdua masih sayang dengan nyawa sendiri, sebaiknya segera pergi dari sini. Dan jangan kembali lagi untuk selamanya," tegas orang tua itu.
Kening Rangga semakin terlihat berkerut.
"Maaf, Ki. Kalau bolah tahu, kau ini siapa" Dan, kenapa meminta kami meninggalkan desa ini...?" selak Pandan Wangi bertanya dengan ramah.
"Aku Ki Randata. Dan dulu adalah kepala desa ini. Tapi sekarang, desa ini tidak lagi memerlukan pemimpin. Desa ini sudah mati. Hm.... Tidak perlu lagi aku banyak bicara. Sebaiknya, cepat tinggalkan desa ini sebelum malam. Selamatkan saja nyawa kalian. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini...," kata orang tua itu masih dengan suara berat, seraya hendak memutar tubuhnya.
"Sebentar, Ki..," cegah Rangga cepat.
Orang tua yang mengenalkan dirinya sebagai Ki Randata itu tidak jadi memutar tubuhnya. Dan kembali dipandanginya pemuda tampan berbaju rompi putih yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Pandangan mata orang tua itu dibalas Rangga dengan sinar mata lembut.
"Kami ini dua orang pendekar kelana, Ki. Kalau kau sudi memberi sedikit penjelasan tentang keadaan di desamu ini, mungkin kami berdua bisa membantu menyelesaikannya," kata Rangga mencoba memberi pengertian.
"Entah sudah berapa orang pendekar mencoba mengembalikan napas kehidupan di sini. Tapi, tidak ada seorang pun yang berhasil. Bahkan keadaan semakin bertambah parah saja. Sebaiknya, kalian jangan mencari mati di sini. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh. Biarkan kami seperti ini, sampai semuanya berakhir dengan sendirinya," desah Ki Randata, seperti enggan untuk menjelaskan.
"Jelaskan saja, Ki. Tidak perlu takut. Aku dan Kakang Rangga pasti akan membantu semua penduduk di sini, menyelesaikan persoalan yang ada," desak Pandan Wangi, mencoba meyakinkan.
Ki Randata terdiam membisu. Dipandanginya kedua pendekar muda itu bergantian. Seakan, benaknya sedang mempertimbangkan kata-kata Pandan Wangi barusan. Sebentar kemudian pandangannya beredar ke sekeliling, seakan takut ada orang lain yang melihatnya berbicara dengan kedua pendekar pengembara ini.
"Mari, kita bicara di rumahku," ajak Ki Randata kemudian.
"Ini bukan rumahmu, Ki...?" tanya Rangga, seraya berpaling sedikit ke belakang.
Ki Randata tidak menjawab, tapi malah lang-sung memutar tubuhnya berbalik. Kemudian kakinya melangkah dengan ayunan terlihat agak tergesa-gesa. Sementara Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan sejenak, kemudian melangkah mengikuti orang tua itu.
Tidak ada seorang pun yang berbicara. Mereka berjalan menelusuri jalan tanah berdebu yang kotor penuh noda-noda darah kering serta serpihan daging yang sudah membusuk, menyebarkan bau tidak sedap. Rangga dan Pandan Wangi terus berjalan mengikuti Ki Randata yang berjalan di depan, dengan bantuan tongkat kayunya. Walaupun usia laki-laki tua ini mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun, tapi ayunan kakinya masih tetap mantap. Malah, terlihat begitu ringan.
Hingga setiap hentakan langkah kakinya, tidak menimbulkan suara sedikit pun juga. Rangga yang sejak tadi terus memperhatikan, sudah bisa mengetahui kalau kepandaian orang tua ini tidak bisa dikatakan rendah. Bahkan kemunculannya tadi sampai tidak diketahuinya. Sudah barang tentu, Ki Randata memiliki ilmu meringankan tubuh yang tingkatannya sudah tinggi sekali.
"Masih jauh rumahmu, Ki?" tanya Rangga, setelah merasakan sudah cukup jauh berjalan, tapi belum juga tiba ke rumah orang tua ini.
"Sebentar lagi sampai," sahut Ki Randata tanpa berpaling sedikit pun.
Rangga tidak bertanya lagi. Kakinya terus ter-ayun mengikuti orang tua itu. Sedangkan Pandan Wangi juga tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga. Dan ayunan tangkah kakinya disejajarkan di samping Pendekar Rajawali Sakti. Sesekali gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu berpaling ke belakang. Masih tetap sunyi, dan tidak terlihat seorang pun di belakang mereka. Suasana begitu mencekam, sehingga membuat segudang pertanyaan yang menari-nari di dalam benak kedua pendekar muda dari Karang Setra ini.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 130. Pemburu Darah Bag. 2
9. Oktober 2014 um 10:57
2 ? Tidak seperti yang ada dalam bayangan Rangga, Ternyata rumah Ki Randata begitu kecil. Bahkan lebih pantas bila dikatakan gubuk yang sudah hampir roboh. Tidak ada satu kamar pun di dalam gubuk kecil ini. Dan tidak ada perabotan yang dapat dilihat, kecuali sebuah balai-balai bambu yang sudah lapuk beralaskan selembar tikar yang sudah lusuh dan pudar. Lantainya juga hanya dari tanah yang sudah dikeraskan. Namun keadaannya cukup bersih. Dan mereka kini duduk di lantai tanah beralaska hanya selembar tikar, yang diambil Ki Randata dari balai-balai bambu di sudut ruangan dalam gubuk ini.
"Aku tinggal di sini sendiri. Jadi maaf, kalau tidak bisa memberi suguhan yang layak pada kalian berdua," kata Ki Randata dengan suara terdengar pelan.
"Ah! Tidak mengapa, Ki," ujar Rangga, mak-lum.
"Biar aku yang membuat minum," kata Pandan Wangi seraya bangkit berdiri.
"Semua yang diperlukan, ada di belakang, Ni-ni," kata Ki Randata tersenyum senang, melihatPandan Wangi langsung bangkit berdiri dan melangkah ke belakang.
Pandan Wangi hanya mengangguk saja sedikit. Gadis itu terus berjalan ke belakang, lantas menghilang di balik pintu yang langsung menuju keluar, di belakang gubuk ini. Sementara Rangga dan Ki Randata masih tetap duduk bersila saling berhadapan, di dalam ruangan gubuk yang tidak begitu besar ini. Dan saat ini, senja sudah mulai merayap turun, membuat keadaan di luar terlihat mulai meremang.
"Kau berasal dari mana, Anak Muda?" tanya Ki Randata, setelah beberapa saat terdiam.
"Karang Setra," sahut Rangga.
Ki Randata mengangguk-angguk dengan ge-rakan perlahan. Saat itu Pandan Wangi kembali datang, membawa sebuah baki kayu dengan tiga buah cangkir bambu yang mengepulkan uap hangat. Pandan Wangi meletakkan baki itu di antara mereka berdua. Kemudian dia sendiri mengambil tempat di samping Pendekar Rajawali Sakti.
"Maaf, aku membuatmu repot, Nini," ujar Ki Randata.
"Ah.... Tidak apa, Ki," sahut Pandan Wangi, seraya tersenyum.
Mereka bertiga kini menikmati minuman hangat yang dibuat si Kipas Maut. Harum sekali baunya. Dan rasanya juga nikmat, membuat tenggorokan terasa jadi hangat. Pandan Wangi tersenyum melihat kepala Ki Randata terangguk-angguk.
"Dari mana kau dapatkan jahe ini?" tanya Ki Randata sambil meletakkan cangkir bambunya di atas baki.
"Banyak tanaman jahe di belakang rumah ini, Ki," sahut Pandan Wangi.
"Ah! Aku malah tidak pernah memperhatikan-nya," desah Ki Randata.
"Malah aku mencabut beberapa ubi talas. Se-bentar lagi juga matang. Sedang kurebus," kata Pandan Wangi memberi tahu.
"Oh..."!"
Ki Randata tampak terperangah mendengar-nya.
"Di belakang rumah ini banyak sekali tanaman yang bisa dimakan, Ki. Apa kau yang menanam-nya?" tanya Pandan Wangi.
Ki Randata hanya diam saja. Kepalanya jadi tertunduk, menekuri anyaman tikar lusuh, yang menjadi alas mereka duduk sekarang ini. Peru-bahan sikap orang tua itu langsung mendapat perhatian Rangga. Matanya lantas melirik sedikit pada Papdan Wangi yang juga memperhatikan orang tua itu dengan kelopak mata agak menyipit.
"Maaf, Ki. Aku tidak bermaksud menying-gungmu tadi...," ucap Pandan Wangi, takut kata-katanya salah, sehingga menyinggung perasaan hati orang tua ini.
"Ah," Ki Randata hanya mendesah saja, seraya mengangkat kepala.
Tampak jelas kemurungan tergambar pada wajah yang sudah keriput ini. Sejenak Ki Randata memandangi Rangga dan Pandan Wangi berganti-an. Lalu sedikit dia menarik napas, dan menghembuskannya kuat-kuat. Sedangkan pendekar muda dari Karang Setra itu hanya diam saja memperhatikan. Mereka merasakan kalau ada suatu ganjalan yang begitu berat menghimpit rongga dada orang tua ini. Sebuah ganjalan yang terasa begitu sulit untuk diutarakan.
Rangga sendiri sebenarnya ingin mengetahui, tapi tidak ingin membuat kemurungan yang menyelimuti wajah orang tua itu semakin mendalam. Hingga diputuskannya untuk tetap diam, dan me-nunggu sampai Ki Randata sendiri yang mengata-kannya. Sedangkan Pandan Wangi juga tetap diam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga. Hanya dipandanginya saja wajah penuh keriput yang terlihat berselimut mendung itu.
? *** ? Malam sudah datang menyelimuti seluruh wilayah di Desa Galibang. Malam yang begitu pekat, tanpa diterangi secercah cahaya bintang maupun bulan di langit. Kegelapan yang menyelimuti desa ini semakin bertambah pekat, dengan turunnya kabut tebal.
Sementara, Rangga dan Pandan Wangi masih belum juga memejamkan mata di beranda depan gubuk Ki Randata. Sedangkan orang tua itu sudah sejak tadi mendengkur, melingkar di atas dipan bambu di sudut ruangan gubuk kecil ini. Hanya selembar tikar lusuh saja yang menjadi alas tidurnya. Dan kedua pendekar muda dari Karang Setra itu duduk pada kursi panjang dari bambu di beranda depan gubuk ini.
Mereka berdua merasakan kesunyian yang begitu mendalam, hingga nyanyian serangga malam pun nyaris tidak terdengar di telinga. Hanya tarikan napas mereka saja yang terdengar saling mendahului. Entah, sudah berapa lama mereka terdiam membisu, tanpa berbicara-sedikit pun.
"Sunyi sekali di sini...," desah Pandan Wangi, mengisi kebisuan yang cukup lama menyelimuti mereka berdua.
"Ya.... Aku merasa akan ada sesuatu yang ter-jadi...," desah Rangga, juga pelan suaranya.
Dan belum juga kata-kata Pendekar Rajawali Sakti hilang dari pendengaran, tiba-tiba saja....
"Aaa...!"
"Heh..."!"
"Apa itu...?"
Rangga langsung melesat bangkit berdiri, begitu tiba-tiba terdengar jeritan begitu panjang melengking tinggi, memecah kesunyian malam ini. Jeritan itu terdengar begitu dekat, seakan-akan datang tidak begitu jauh dari gubuk ini. Sejenak kedua pendekar muda itu saling berpandangan. Kemudian....
"Kau tunggu di sini, Pandan," ujar Rangga. "Hup...!"
"Heh..."! Tunggu...!"
Tapi Rangga sudah lenyap, begitu Pandan Wangi akan mencegahnya. Bergegas gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu melompat bangkit berdiri. Tapi baru saja akan melesat mengejar Pendekar Rajawali Sakti, mendadak saja pergelangan tangannya sudah dicekal seseorang dari belakang. Cepat Pandan Wangi berbalik.
"Oh, Ki..."!" desah Pandan Wangi, langsung hilang keterkejutannya.
Memang Ki Randatalah yang mencekal pergelangan tangan si Kipas Maut itu. Rupanya orang tua ini langsung terbangun, begitu terdengar jeritan melengking tadi. Dan dia sempat mencegah Pandan Wangi yang hampir saja pergi mengikuti Pendekar Rajawali Sakti.
"Mana kakakmu?" tanya Ki Randata langsung.
"Pergi," sahut Pandan Wangi.
"Ke mana?"
Pandan Wangi hanya menggeleng saja. Ki Randata melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan gadis ini. Dan Pandan Wangi mengurut sedikit pergelangannya. Dirasakannya cekalan orang tua itu demikian keras, hingga pergelangan tangannya jadi terasa nyeri.
"Kenapa tidak dicegah, Pandan?"
Jelas sekali kalau nada suara Ki Randata seperti menyesali kepergian Rangga yang terpengaruh jeritan tadi. Sedangkan Pandan Wangi hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Ke arah mana perginya?" tanya Ki Randatalagi.
"Ke sana," sahut Pandan Wangi seraya me-nunjuk arah kepergian Rangga tadi.
"Ayo! Kita harus selamatkan dia," ajak Ki Randata langsung.
"Memangnya kenapa, Ki...?" tanya Pandan Wangi, seraya bergegas melangkah mengikuti Ki Randata yang sudah berjalan lebih dulu dengan ayunan kaki cepat-cepat.
Ki Randata seperti tidak mendengar pertanyaan si Kipas Maut tadi. Kakinya terus saja melangkah cepat. Sementara Pandan Wangi sudah mensejajarkan langkahnya di samping kiri orang tua ini. Tapi belum juga mereka jauh berjalan meninggalkan gubuk orang tua ini, sudah terlihat seseorang berjalan dari depan.
"Itu Kakang Rangga, Ki..!" seru Pandan Wangi, langsung mengenali. Padahal, kabut yang menyelimuti desa ini begitu tebal.
Dari pakaian yang dikenakan, Pandan Wangi sudah bisa mengenali Pendekar Rajawali Sakti walaupun dalam keadaan berkabut dan jarak yang masih cukup jauh. Bergegas gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu menghampiri. Dan memang benar. Orang yang terlihat adalah Rangga. Pemuda berbaju rompi putih itu berhenti melangkah, menunggu Pandan Wangi dan Ki Randata dekat.
"Ada apa, Kakang" Apa yang terjadi...?" Pandan Wangi langsung bertanya, begitu berada dekat Pendekar Rajawali Sakti.
Namun Rangga tidak langsung menjawab. Malah ditatapnya Ki Randata yang baru saja datang di belakang si Kipas Maut ini. Tatapan matanya begitu tajam, seakan meminta penjelasan dari apa yang baru saja terjadi malam ini. Sedangkan yang dipandangi hanya tertunduk saja, seakan tidak kuasa menentang sorot mata yang begitu tajam dari Pendekar Rajawali Sakti.
Suasana yang tiba-tiba saja menjadi kaku ini, membuat Pandan Wangi jadi kebingungan tidak mengerti. Dipandanginya kedua laki-laki itu secara bergantian dengan kelopak mata agak menyipit dan kening sedikit berkerut.
"Ada apa, Kakang" Apa yang terjadi...?" Tanya Pandan Wangi lagi, semakin penasaran.
"Kau tanyakan saja pada Ki Randata, Pandan," ujar Rangga seraya melangkah meninggalkan gadis itu.
Pandan Wangi jadi tidak mengerti. Sebentar dipandangnya punggung Pendekar Rajawali Sakti, dan sebentar kemudian menatap Ki Randata yang kelihatannya begitu gundah dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan pemuda berbaju rompi putih itu. Entah sudah berapa kali orang tua itu menarik napas panjang, dan menghembuskannya kuat-kuat. Sedangkan Pandan Wangi sendiri seakan sulit mengeluarkan kata-kata.
"Ada apa, Ki" Kenapa Kakang Rangga jadi begitu...?" tanya Pandan Wangi, setelah cukup lama saling berdiam diri membisu.
"Hhh...!"
Ki Randata menjawab pertanyaan gadis itu hanya dengan hembusan napas panjang saja. Malah tubuhnya berbalik, dan langsung saja melangkah kembali ke gubuknya. Sedangkan Pandan Wangi jadi termangu beberapa saat, berdiri diam memandangi punggung orang tua itu. Dan saat itu Rangga sudah sejak tadi tidak terlihat lagi.
"Ada apa ini..." Kenapa sikap mereka jadi aneh begitu...?" desis Pandan Wangi bertanya-tanya pada diri sendiri.
? *** ? Sejak semalam, sampai matahari sekarang sudah berada di atas kepala, Pandan Wangi tidak juga melihat Rangga di gubuk ini. Sedangkan Ki Randata sendiri kelihatan tidak ingin bicara padanya sejak kejadian malam itu. Dan ini membuat Pandan Wangi jadi semakin tidak mengerti, Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, tapi tidak satu pun yang bisa terjawab. Dan Pandan Wangi sendiri tidak tahu, ke mana harus mencari tahu semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terlintas memenuhi benaknya.
Sejak pagi tadi, Pandan Wangi terus mencari Rangga. Bahkan seluruh pelosok Desa Galibang ini sudah dikelilingi, tapi Pendekar Rajawali Sakti tidak juga ditemukannya. Dan sampai matahari berada tepat di atas kepala, Pandan Wangi belum juga bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Pendekar Rajawali Sakti. Seakan-akan, Rangga lenyap begitu saja tertelan bumi.
Dan kecemasan mulai menghinggapi gadis itu. Sampai dia kembali ke gubuk yang ditempati Ki Randata, tidak juga melihat Rangga di sana. Hanya orang tua itu saja yang didapatinya sedang duduk bersila di balai-balai bambu, yang hanya satu-satunya di dalam ruangan kecil gubuk ini.
Ki Randata mengangkat kepala, ketika pintu gubuknya terbuka dari luar. Pandangannya langsung menangkap tubuh ramping si Kipas Maut yang muncul dari balik pintu. Gadis cantik berbaju ketat warna biru itu berdiri saja di ambang pintu dengan wajah memerah terbakar matahari.
"Kakang Rangga sudah pulang, Ki?" tanya Pandan Wangi langsung.
Ki Randata hanya menggeleng saja.
"Hhh...!"
Berat sekali Pandan Wangi menghembuskan napasnya. Gadis ini sudah mengelilingi desa, tapi tidak juga menemukan Pendekar Rajawali Sakti. Sejak semalam, Rangga memang tidak kelihatan setelah mencoba mencari asal jeritan melengking, namun gagal. Mereka memang sempat bertemu, namun Pendekar Rajawali Sakti langsung pergi lagi. Pandan Wangi menyandarkan tubuhnya di tiang pintu. Sedangkan Ki Randata hanya memandangi saja, tidak dapat berbuat sesuatu untuk menghiburnya.
"Kalian berdua sudah kuperingatkan. Tapi kau dan kakakmu itu tidak mau mendengarkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu, Pandan Wangi...," kata Ki Randata dengan suara terdengar begitu pelan.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Ki?" tanya Pandan Wangi pelan, meminta penjelasan.
"Neraka...," sahut Ki Randata pelan. ???
"Apa maksudmu, Ki...?" desak Pandan Wangi, minta penjelasan.
"Desa ini, Pandan Wangi.... Desa ini sudah jadi neraka. Semua orang di sini tinggal menunggu saat datangnya kematian saja" Dan tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya. Aku yakin, kakakmu sudah menjadi korbannya..," terasa begitu berat saat Ki Randata mencoba menjelaskan.
"Tidak...!" sentak Pandan Wangi keras. "Tidak semudah itu Kakang Rangga bisa mati...!"
"Kau harus bisa menerima semua kenyataan ini, Pandan. Sejak semalam, kakakmu sudah tidak terlihat lagi. Bahkan sampai sekarang juga tidak jelas, di mana adanya. Sudah pasti dia menjadi korban iblis itu," kata Ki Randata lagi.
"Tidak... Aku tidak percaya...," desis Pandan Wangi seraya menggeleng-geleng kepala.
"Untuk keselamatanmu, sebaiknya turuti saja kata-kataku, Pandan Wangi. Pergilah dari desa ini, selagi ada kesempatan," ujar Ki Randata menasihati. "Aku tidak ingin dirimu menjadi korban iblis itu, seperti kakakmu..."
"Tidak, Ki...!" sentak Pandan Wangi lantang. "Aku tidak percaya Kakang Rangga sudah mati. Aku kenal betul, siapa dia. Kakang Rangga tidak semudah itu bisa dikalahkan. Kepandaiannya terlalu tinggi untuk bisa dikalahkan begitu saja. Aku yakin, Kakang Rangga belum mati!"
Ki Randata menggeleng-gelengkan kepala dengan gerakan perlahan. Sementara, Pandan Wangi kelihatan lemas seluruh tubuhnya. Walaupun hati kecilnya masih belum bisa menerima semua penjelasan Ki Randata barusan, tapi dia memang harus bisa melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Sejak semalam Rangga memang tidak kelihatan lagi. Bahkan sudah dicari sampai ke pelosok Desa Galibang ini, tapi tetap nihil.
Pandan Wangi juga tidak peraya kalau sampai begitu tega Rangga pergi meninggalkannya seorang diri di desa ini. Gadis ini tahu betul watak Pendekar Rajawali Sakti. Dan dia berusaha keras untuk meyakinkan diri, kalau Rangga sedang mengerjakan sesuatu seorang diri. Sesuatu yang dianggap sangat berbahaya bila Pandan Wangi menyertainya.
"Aku akan menunggunya di sini, Ki," kata Pandan Wangi mantap.
"Jangan, Pandan...!" sentak Ki Randata.
"Kenapa..." Kau tidak ingin aku menunggu Kakang Rangga di sini?"
"Bukannya tidak mau, Pandan. Tapi aku tidak ingin melihatmu jadi korban iblis itu lagi, Sedangkan kakakmu sudah menjadi korbannya semalam. Sebaiknya kembali saja pulang ke tanah kelahiranmu, di Karang Setra...," ujar Ki Randata, terus membujuk si Kipas Maut itu untuk pergi meninggalkan desa ini.
"Tidak, Ki. Apa pun yang terjadi, aku tetap tinggal di desa ini sampai Kakang Rangga kembali," tolak Pandan Wangi tegas.
Ki Randata jadi tertegun. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukan untuk meyakinkan Pandan Wangi kalau desa ini sangat berbahaya. Apalagi, untuk pendatang seperti dirinya yang tidak tahu apa-apa atas semua yang tengah terjadi di desa ini. Sesuatu yang sudah meminta korban nyawa manusia begitu banyak. Bahkan tidak ada seorang pendekar pun yang sanggup mengembalikan kehidupan desa ini kembali seperti semula.
Sementara, Pandan Wangi sudah kembali keluar dan duduk di kursi kayu yang berada di beranda depan gubuk ini. Ki Randata bergegas turun dari balai-balai bambu itu. Dengan bantuan tongkat kayunya, laki-laki tua itu berjalan keluar. Di situ dia mendapati Pandan Wangi sedang duduk sendiri di kursi kayu. Ki Randata berdiri di ambang pintu sebentar, kemudian menghampiri gadis itu dan duduk di sebelah kirinya. Pandan Wangi hanya melirik sedikit saja pada orang tua ini.
"Kau ingin tahu, apa yang sedang terjadi di desa ini, Pandan...?" ujar Ki Randata. Suaranya terdengar pelan, setelah beberapa saat terdiam membisu.
Pandan Wangi tidak menjawab. Kepalanya berpaling sedikit, dan menatap wajah keriput di sebelahnya. Kemudian pandangannya kembali menerawang jauh ke depan, seolah tidak mempedulikan orang tua itu lagi. Pikirannya terus tertuju pada Pendekar Rajawali Sakti yang sampai saat ini belum juga kembali.
"Aku akan menceritakan keadaan yang sebe-narnya. Tapi, setelah itu kau harus pergi dari sini, Pandan," kata Ki Randata lagi.
"Ceritakan saja, Ki," pinta Pandan Wangi, seperti tidak bersemangat nada suaranya.
"Kau harus berjanji dulu untuk pergi, setelah kuceritakan, Pandan," kata Ki Randata meminta dengan tegas.
"Kalau aku tetap tidak mau pergi...?" Pandan Wangi menawarkan pilihan.
Ki Randata tidak menjawab. Dan orang tua itu jadi terdiam memandangi wajah cantik gadis ini. Sedangkan yang dipandangi terus menatap lurus ke depan.
"Hhh...!"
Terasa berat sekali hembusan napas Ki Randata.
"Baik, aku akan pergi dari sini," kata Pandan Wangi akhirnya mengalah juga.
Kembali Ki Randata menghembuskan napas panjang-panjang. Kali ini rongga dadanya terasakan longgar, setelah mendengar kesediaan Pandan Wangi untuk meninggalkan desa ini demi keselamatannya sendiri.
"Aku janji, Ki...," kata Pandan Wangi meyakinkan. "Sekarang ceritakan, apa yang terjadi pada desa ini."
Sebentar Ki Randata terdiam, lalu kembali me-narik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Sementara, Pandan Wangi menunggu dengan sabar. Tapi pandangannya tetap tertuju lurus ke depan, dengan kelopak mata tidak berkedip sedikit pun.
Memang tidak terlihat ada seorang pun yang keluar dari rumah-rumah yang ada di depan gubuk ini. Semua rumah di desa ini dalam keadaan tertutup pintu dan jendelanya. Sepertinya tidak ada lagi yang menghuni rumah-rumah itu. Dan angin yang bertiup menyebarkan bau tidak sedap, memualkan perut. Sementara, Ki Randata masih juga belum memulai ceritanya. Pandan Wangi melirik sedikit pada orang tua itu. Keningnya kelihatan sedikit berkerut, melihat Ki Randata masih saja tetap membisu.
"Ceritakan saja, Ki," pinta Pandan Wangi mulai tidak sabar.
"Pandan.... Kau pernah mendengar ada manusia iblis yang senang membunuh...?" Ki Randata masih melontarkan pertanyaan.
"Sering," sahut Pandan Wangi.
"Nah! Desa ini sekarang dikuasai manusia iblis seperti itu. Setiap malam dia keluar mencari korban. Satu persatu penduduk desa ini menjadi korban kebiadabannya. Bahkan sudah beberapa pendekar datang ke desa ini, mencoba menghadapi manusia iblis itu. Tapi, tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya. Malah mereka semua yang menjadi korban iblis itu...," Ki Randata memulai menceritakan keadaan di Desa Galibang ini.
"Siapa manusia iblis itu, Ki?" tanya Pandan Wangi.
"Entah siapa dia dan dari mana datangnya, aku sendiri tidak tahu. Tapi keadaan seperti ini sudah berlangsung lebih dari tiga purnama," sahut Ki Randata dengan suara pelan.
Pandan Wangi terdiam, memikirkan kata-kata orang tua itu. Sedangkan Ki Randata terus menceritakan keadaan Desa Galibang ini dengan suara pelan dan sesekali terputus. Sepertinya, dia berusaha menghimpun kekuatan untuk mengatakan semua yang tengah terjadi di sekitarnya. Sedangkan Pandan Wangi terus mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 130. Pemburu Darah Bag. 3
9. Oktober 2014 um 11:00
3 ? Pandan Wangi terpaksa harus menepati janji-nya pada Ki Randata. Ditinggalkannya gubuk orang tua itu, setelah tahu apa yang sedang terjadi di Desa Galibang ini. Dengan ayunan kaki perlahan, gadis itu berjalan menelusuri jalan tanah berdebu yang penuh bercak-bercak darah yang sudah mengering. Bau busuk dari mayat-mayat manusia dan bangkai binatang yang ditemui di sepanjang jalan ini, semakin memualkan perutnya. Tapi dia terus berjalan semakin jauh, meninggalkan gubuk kecil yang dihuni Ki Randata.
Tapi setelah sampai di perbatasan desa itu, Pandan Wangi menghentikan langkah kakinya. Dan tubuhnya langsung berbalik, kembali memandang desa yang seperti sudah tidak berpenghuni lagi itu. Sementara, matahari mulai terlihat condong ke arah barat. Cahayanya tidak lagi terik membakar seperti tadi. Dan kini terasa begitu lembut menyapu kulit. Entah, apa yang ada dalam benak gadis itu saat ini. Tapi, dia tetap tidak beranjak pergi dari sana. Terus dipandanginya desa itu, seperti ada yang sedang ditunggunya.
"Aku yakin, Kakang Rangga masih ada disana.
Tidak mungkin Kakang Rangga bisa dikalahkan begitu saja. Hhh! Aku jadi penasaran. Seperti apa rupa iblis itu..," desah Pandan Wangi, bicara pada diri sendiri.


Pendekar Rajawali Sakti 130 Pemburu Darah di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rasa penasaran yang timbul dalam hatinya, membuat Pandan Wangi tidak ingin meninggalkan Desa Galibang. Dia ingin tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sana. Terlebih lagi saat ini belum bisa bertemu Rangga yang sejak semalam pergi entah ke mana.
Sementara senja terus merayap semakin turun. Matahari hampir tenggelam di balik bukit sebelah timur. Cahayanya terlihat begitu indah, memercik dari puncak pepohonan yang merapat di belakang Desa Galibang. Namun semua keindahan alam sore ini sama sekali tidak bisa dinikmati Pandan Wangi, karena seluruh perhatiannya terus terpusat pada kesunyian Desa Galibang.
Dan ketika Pandan Wangi mengarahkan pandangan pada sebuah rumah yang terletak paling dekat dengan tempatnya berada saat ini, menda-dak saja kedua bola matanya jadi terbeliak lebar dengan mulut ternganga....
"Oh..."!"
Dan bersamaan dengan itu, terdengar jeritan panjang yang melengking tinggi, memecah kesunyian senja ini. Seketika Pandan Wangi semakin terperangah. Maka tanpa berpikir panjang lagi, gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu langsung melesat. Seluruh ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna langsung dikerahkannya.
"Hiyaaa...!"
Begitu cepat lesatan gadis cantik ini, hingga bentuk tubuhnya lenyap. Dan yang terlihat kini hanya bayangan biru berkelebat begitu cepat bagai kilat menuju rumah kecil yang sudah hampir roboh itu.
"Hup!"
Sekali dia melesat, kedua kakinya langsung menjejak tanah, tepat di depan pintu rumah yang terbuka lebar dalam keadaan hancur itu. Dan pada saat itu juga....
Slap! "Heh..."! Hup!"
Cepat-cepat Pandan Wangi melenting dan ber-putaran ke samping kanan, ketika tiba-tiba saja dari dalam rumah itu melesat sebuah bayangan hitam yahg hampir saja menerjangnya. Dua kali si Kipas Maut itu berputaran di udara, lalu dengan gerakan indah sekali kakinya menjejak tanah kembali. Cepat tubuhnya berbalik.
Dan saat itu juga di depan Pandan Wangi kini sudah berdiri seorang laki-laki tua berbaju jubah panjang warna hitam pekat yang sudah lusuh dan kotor berlumur darah. Seluruh wajahnya yang berkeriput, kelihatan merah penuh bintik-bintik seperti bisul yang pecah mengeluarkan cairan kental berbau amis. Rambutnya panjang tidak beraturan. Bahkan pada bagian tengah kepalanya tidak berambut. Tidak ada satu senjata pun terlihat tersandang di tubuhnya. Jari-jari tangannya kelihatan merah berlumur darah yang masih segar menetes. Mulutnya juga penuh gumpalan darah segar. Dia menyeringai, melihat Pandan Wangi berdiri sekitar satu batang tombak di depannya.
"He he he...!"
Sedikit Pandan Wangi bergidik, mendengar orang tua aneh ini. Tengkuknya juga meremang melihat wajah yang seperti sosok mayat baru bangkit dari dalam kubur itu. Dari dengus napasnya, tersebar bau busuk seperti bangkai. Dan ini membuat semua isi perut si Kipas Maut itu jadi bergolak bagai hendak muntah. Pandan Wangi menggeser kakinya beberapa langkah ke belakang, sambil menghembuskan napas kencang. Dia berusaha menahan bau busuk yang begitu menyengat menyeruak ke dalam hidungnya.
"Siapa kau"! Apa yang kau lakukan di rumah ini..."!" tanya Pandan Wangi, tidak bisa lagi meng-hilangkan getaran suaranya.
Tapi orang tua aneh itu tidak menjawab. Kedua bola matanya yang merah menatap dengan sinar begitu tajam menusuk, membuat Pandan Wangi jadi bergidik. Tapi, bukanlah si Kipas Maut namanya kalau tidak bisa cepat mengendalikan diri.
Pandan Wangi langsung bisa menyadari, siapa yang sedang dihadapinya sekarang. Dialah orang tua yang diceritakan Ki Randata, dan selama ini disebut manusia iblis yang meminta begitu banyak korban. Bahkan baru saja tadi mengambil korban penghuni rumah itu.
"Kau berhadapan dengan Kipas Maut, Iblis...," desis Pandan Wangi dingin menggetarkan.
Bet! Cepat sekali kipas Pandan Wangi tercabut, dan langsung dikembangkan di depan dada. Lalu perlahan kakinya bergeser ke kanan. Namun pada saat itu juga, tiba-tiba....
"Iblis keparat! Kubunuh kau! Hiyaaat..!"
"Hey..."!"
Pandan Wangi jadi terpekik kaget, ketika tiba-tiba saja dari dalam rumah kecil yang sudah hampir roboh itu berlari seorang anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun, bersenjatakan sebuah parang yang cukup panjang. Anak perempuan berbaju kumal itu langsung menghambur, dan mengibaskan parangnya ke tubuh orang tua ini. Tapi....
Begkh! "Hah..."!"
"He he he...!"
Kedua bola mata Pandan Wangi jadi terbeliak lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Jelas sekali parang di tangan anak perempuan itu menebas pinggang. Tapi orang tua berwajah buruk dan aneh itu hanya terkekeh saja. Dan dengan parang masih menancap di pinggangnya, tangan kirinya cepat dikebutkan, sambil mendengus berat. Dan....
Plak! "Akh...!"
? *** ? Anak perempuan itu terpekik dan langsung jatuh bergulingan ke tanah, ketika tamparan tangan kiri orang tua ini menghantam kepalanya. Sambil mengeluarkan tawa terkekah kering, orang tua itu mengambil parang yang menancap di pinggangnya. Dan ternyata sedikit pun dari pinggangnya tidak mengeluarkan darah. Bahkan tidak ada luka yang terlihat. Parang itu digenggam kuat di tangan kanannya. Sorot matanya terlihat begitu liar, penuh nafsu membunuh pada anak perempuan yang masih menggeletak di tanah dengan wajah merah ketakutan.
"Mampus kau! Yeaaackh...!"
Bet! Sambil menggereng dingin, orang tua berjubah hitam itu melangkah cepat sambil mengayunkan parang di tangan kanannya. Tapi ketika parang hampir menebas tubuh anak perempuan yang sudah tidak berdaya ini, cepat sekali Pandan Wangi melompat sambil mengibaskan senjata kipasnya. Langsung dihantamnya parang di tangan kanan orang tua ini.
Trang! "Phuaaah..."!"
Orang tua itu tampak tersentak kaget, ketika parang di tangannya terpetal ke atas. Kejadian itu berlangsung, bersamaan dengan terlihatnya bayangan biru dari baju yang dikenakan Pandan Wangi yang berkelebat tepat di depannya. Saat itu juga, Pandan Wangi menyambar anak perempuan itu. Dan tubuhnya langsung melesat dengan kece-patan kilat, membawa anak perempuan itu jauh dari orang tua ini.
"Kau di sini saja," kata Pandan Wangi setelah menurunkan anak perempuan itu dari gendongannya.
Anak perempuan itu hanya menganggukkan kepala saja. Namun wajahnya tetap memancarkan kebingungan, melihat Pandan Wangi tahu-tahu sudah membawanya pergi menjauhi orang tua berjubah hitam yang sangat buruk wajahnya. Hanya dipandanginya Pandan Wangi yang sudah melangkah mendekati kembali orang tua berjubah hitam ini. Senjatanya yang berbentuk kipas terkembang di depan dada. Pandan Wangi kini menatap lurus ke bola mata yang memerah bagai darah menggumpal itu.
"Kau iblis pengecut...! Beraninya hanya pada orang-orang lemah. Kipas Maut lawanmu sekarang, Iblis Jelek...!" desis Pandan Wangi memanasi.
"Ghrrr"!"
Orang tua berjubah hitam yang wajahnya merah penuh benjolan bernanah itu hanya menggereng saja, mendengar umpatan yang membuat hati panas ini. Sorot matanya semakin tajam berapi-api, penuh nafsu membunuh yang meluap-luap. Seakan, seluruh tubuh si Kipas Maut itu hendak dibakar hangus hanya dengan sorotan matanya saja. Namun, semua dibalas Pandan Wangi dengan tatapan yang tidak kalah tajam.
"Yeaaackh...!"
Tiba-tiba saja orang tua itu membentak keras menggelegar. Dan dengan kecepatan kilat dia melompat menerjang gadis cantik berbaju biru yang sudah menggenggam senjata kipasnya. Tapi serangan yang memang sudah dinantikan Pandan Wangi, dapat dihindari dengan mengegoskan tubuh begitu indah.
"Hap!"
Pandan Wangi cepat melompat ke kanan. Langsung tubuhnya berputar sambil mengebutkan senjata kipas maut andalannya.
Bet! Tapi gerakan tubuh orang tua itu demikian cepat, hingga kibasan kipas gadis itu tidak sampai mengenainya. Lalu begitu cepat tubuhnya berbalik, dan langsung melompat menyerang kembali dengan kecepatan sukar sekali diikuti pandangan mata biasa.
"Hap!"
Cepat-cepat Pandan Wangi membanting tubuhnya ke tanah. Lalu di saat tubuh orang tua itu tepat berada di atasnya, seluruh kekuatan tenaga dalamnya yang sudah hampir sempurna tingkatannya dikerahkan. Langsung dilepaskannya satu tendangan kaki kanan ke atas.
"Yeaaah...!"
Begkh! "Argkh...!"
Begitu cepat tendangan gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu, sehingga orang tua berjubah hitam ini tidak dapat lagi menghindarinya. Dan tendangan itu tepat menghantam dada, membuatnya meraung keras seperti seekor binatang buas yang terkena tombak.
Tampak tubuh tua berjubah hitam itu terpental tinggi ke atas. Namun dengan gerakan berputar yang begitu indah, keseimbangan tubuhnya bisa terkuasai kembali.
Sementara Pandan Wangi sudah cepat melompat bangkit dengan gerakan indah sekali. Dan tepat di saat kedua kakinya menjejak tanah, dari atas meluruk deras sosok tubuh tua berjubah hitam itu dengan raungan begitu keras menggetarkan jantung, seperti seekor binatang buas yang sedang marah.
"Ghraaaugkh...!"
"Haiiit..!"
Bet! Kembali Pandan Wangi meliukkan tubuhnya, menghindari terjangan orang tua ini. Dan dengan cepat senjata kipasnya dikebutkan agak ke atas. Begitu cepat kebutannya, sehingga orang tua berjubah hitam itu tidak bisa lagi menghindarinya. Dan....
Bret! "Heh..."!"
Tapi Pandan Wangi jadi terbeliak lebar. Cepat si Kipas Maut ini melompat ke belakang sambil memutar tubuhnya beberapa kali, hingga berjarak sekitar satu setengah batang tombak dengan orang tua berwajah-buruk itu. Pandan Wangi hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jelas sekali kalau kebutan kipasnya tadi mengenai sasaran. Tapi, sedikit pun tidak terlihat luka di tubuh orang tua ini. Bahkan tidak ada setetes darah pun yang terlihat mengalir.
"Gila...! Iblis dari mana dia...?" dengus Pandan Wangi tidak percaya dengan penglihatannya.
"Ha ha ha...!"
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak, melihat gadis cantik yang menjadi lawannya ini terlongong bengong. Sedangkan Pandan Wangi perlahan menarik kakinya beberapa langkah ke belakang. Seakan masih belum dipercayai kalau tubuh orang tua ini kebal senjata Kipas Maut-nya!
Sedikit Pandan Wangi melirik anak perempuan yang tadi diselamatkan nyawanya dari iblis tua yang kebal senjata ini. Anak perempuan itu tampak menggeletar seluruh tubuhnya. Dan wajahnya terlihat pucat ketakutan, melihat laki-laki tua itu mulai melangkah maju mendekati Pandan Wangi sambil terkekeh mengerikan.
"Keluarkan semua kepandaianmu, Bocah. Kau tidak akan mampu membunuhku...," desis orang tua itu, dingin menggetarkan.
Pandan Wangi hanya diam saja. Dibuatnya beberapa gerakan pelan dengan Kipas Mautnya yang masih terkembang di tangan kanan. Walau-pun masih dihinggapi ketidakpercayaan akan kekebalan tubuh lawannya, tapi di dalam hatinya justru tumbuh rasa penasaran yang begitu kuat. Dan memang, sudah menjadi watak si Kipas Maut yang tidak mudah menyerah begitu saja! Si Kipas Maut tidak akan mundur setapak pun, meski harus berhadapan dengan lawan yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi.
? *** ? "Ayo...! Maju kau, Iblis...!" desis Pandan Wangi memanasi.
Pandan Wangi sengaja memasang sikap me-nantang, untuk memancing kemarahan lawannya. Gadis ini ingin mencari kelemahan lawan dengan cara demikian. Dan ini sering dilakukannya pada lawan-lawannya yang dianggap lebih tangguh. Hasilnya memang terbukti, hingga setiap lawan tangguhnya bisa diperdayai. Kendati demikian, dia juga harus memeras seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Tapi, tampaknya orang tua berwajah menye-ramkan ini tidak terpancing. Bahkan malah tertawa terkekeh, memandang rendah pada gadis cantik yang terus memanasi dan menantangnya. Kini, kakinya malah melangkah menghampiri dengan ayunan begitu ringan. Dan Pandan Wangi jadi tertegun sesaat, melihat ketenangan orang tua berjubah hitam itu.
Sementara malam sudah menyelimuti Desa Galibang ini. Kegelapan begitu terasa, tanpa sedikit pun ada cahaya yang menerangi ajang pertarungan. Bahkan langit terlihat gelap, tersaput awan hitam yang tebal berguhmg-gulung. Angin bertiup cukup kencang, menebarkan udara dingin yang membuat tubuh menggigil. Namun semua keadaan alam yang tampaknya tidak ramah ini, sama sekali tidak mengusik dua orang yang saling berhadapan dengan sorot mata tajam memancarkan permusuhan.
"Yeaaackh...!"
Der! Tiba-tiba saja orang tua berjubah hitam itu menghentakkan kaki kanannya ke tanah keras sekali, membuat bumi jadi bergetar bagai diguncang gempa. Dan saat itu tanah di depannya jadi merekah terbelah memanjang dengan cepat ke arah Pandan Wangi.
"Hup!"
Namun cepat gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu melenting ke atas. Dan tubuhnya langsung berputaran beberapa kali di udara ke arah kanan. Lalu, manis sekali kakinya menjejak di tanah kembali. Hampir Pandan Wangi tidak percaya melihat tak jauh di sebelahnya, tanah terbelah membentuk sebuah jurang yang dalam, akibat gedoran kaki kanan orang tua bermuka buruk itu. Walaupun panjangnya hanya sekitar satu setengah batang tombak, tapi dalamnya sukar diukur. Namun Pandan Wangi tidak ingin terpaku lama. Cepat ditatapnya orang tua berjubah hitam yang wajahnya memerah penuh benjolan bemanah itu.
"Kau memang hebat, Iblis Tua. Tapi kau belum mampu menghadapiku...," desis Pandan Wangi kembali memanasi.
"Phuih...!"
Orang tua itu menyemburkan ludahnya dengan sengit. Sorot matanya semakin terlihat memerah dan berapi-api, memandangi Pandan Wangi yang berada sekitar satu batang tombak di depannya. Dia berdiri tegak dengan jari-jari tangan terkembang, meregang kaku seperti cakar burung elang yang siap menerkam mangsa.
"Yaaackh...!"
Kembali orang tua berwajah buruk itu berteriak keras menggelegar. Dan saat itu juga, tubuhnya melesat cepat bagai kilat, menerjang Pandan Wangi yang sudah siap menerima serangan. Kedua tangannya menjulur ke depan dengan jari-jari terkembang kaku, seperti hendak mengoyak seluruh tubuh si Kipas Maut!
"Hup! Hiyaaa...!"
Cepat sekali Pandan Wangi melesat ke atas. Sehingga, serangan orang tua berjubah hitam itu tidak menemui sasaran. Dan pada saat tubuh orang tua itu berada di bawahnya, Pandan Wangi langsung berputar dengan kecepatan tinggi. Lalu secepat kilat, senjata kipasnya dikebutkan, tepat mengarah ke bagian atas kepala orang tua yang botak itu.
Bet! Pletak! "Ikh...!"
Pandan Wangi jadi terpekik kaget setengah mati, begitu ujung-ujung kipasnya yang runcing seperti mata anak panah menyabet batok kepala orang tua ini. Namun tangannya terasa jadi bergetar dan panas, hingga kipasnya hampir saja terlepas. Untung saja kipasnya cepat dipindahkan ke tangan kiri.
"Hup!"
Cepat-cepat Pandan Wangi melenting ke atas, dan berputaran beberapa kali sebelum kedua kakinya kembali menjejak tanah. Dipandanginya ujung kipasnya sebentar. Lalu terdengar tarikan napasnya yang panjang, begitu mengetahui tidak ada yang gompal pada senjata kesayangannya. Sementara, orang tua berjubah hitam itu terkekeh, semakin memandang rendah gadis yang menjadi lawannya.
"He he he...!"
"Huh!"
Pandan Wangi mendengus sedikit. Kakinya digeser perlahan ke kanan. Titik-titik keringat mulai terlihat merembes membasahi kening dan lehernya yang putih jenjang. Getaran dan hawa panas di tangan kanannya sudah hilang, setelah menyalurkan hawa murni. Perlahan tangan kanan si Kipas Maut terangkat naik, lalu menggenggam gagang pedang berbentuk kepala naga berwarna hitam pekat yang tersampir di punggungnya.
"Hhh! Terpaksa Pedang Naga Geni kuguna-kaa?" desah Pandan Wangi dalam hati.
Sret! Cring...! Entah kenapa, mendadak saja kedua bola mata orang tua berjubah hitam itu jadi terbeliak lebar, ketika Pandan Wangi mencabut Pedang Naga Geni yang memancarkan api pada seluruh mata pedang itu. Keadaan yang gelap, jadi agak terang oleh cahaya api yang memancar dari pedang di tangan si Kipas Maut. Tampak orang tua berjubah hitam dengan wajah buruk penuh benjolan bernanah itu menarik kakinya ke belakang beberapa langkah.
Sementara, Pandan Wangi sudah membuat beberapa gerakan dengan pedangnya yang berpamor dahsyat. Gerakannya halus, namun mengandung pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi. Pedang yang memancarkan api itu membuat wajah Pandan Wangi jadi memerah seperti terbakar. Seakan-akan gadis itu berubah menjadi sosok malaikat maut yang hendak mencabut nyawa. Begitu angker dan mengerikan....
"Kita lanjutkan pertarungan ini sampai mati, Iblis...!" desis Pandan Wangi dingin menggetarkan.
Tapi orang tua itu hanya diam saja. Dan wajah yang memerah berangsur memudar, seakan terse-rap cahaya api yang memancar dari Pedang Naga Geni yang tergenggam di tangan kanan si Kipas Maut. Dan ketika Pandan Wangi mengebutkan pedangnya ke depan, tiba-tiba saja....
"Hup! Hiyaaa...!"
"Hey..."!"
Pandan Wangi jadi memekik kaget! Karena ti-ba-tiba saja orang tua berjubah hitam itu cepat memutar tubuhnya, dan langsung melesat cepat bagai kilat meninggalkan ajang pertarungan. Begitu cepatnya, sehingga belum juga Pandan Wangi bisa berbuat sesuatu, bayangan orang tua berjubah hitam itu sudah lenyap dari pandangan.
"Setan...! Iblis pengecut..!" geram Pandan Wangi kesal.
Cring! Sambil mendengus kesal, Pandan Wangi memasukkan kembali Pedang Naga Geni ke dalam warangka di punggung. Sebentar gadis itu masih berdiri tegak memandang ke arah perginya orang tua aneh berjubah hitam tadi. Kemudian tubuhnya berbalik, dan melangkah menghampiri anak perempuan yang sejak tadi terduduk diam menyaksikan semua pertarungan di depan rumahnya. Dipandangnya Pandan Wangi yang menghampiri seperti melihat sosok malaikat pelindung dirinya.
"Kau terluka...?" tanya Pandan Wangi lembut, begitu dekat di depan gadis ini.
Gadis kecil itu hanya menggeleng saja.
"Siapa namamu?" tanya Pandan Wangi lagi.
"Samirah," sahut gadis tanggung itu, menyebutkan namanya.
"Apa yang dilakukan orang tadi di dalam rumahmu?" tanya Pandan Wangi lagi, masih bernada lembut.
"Dia..., dia membunuh ibuku...," sahut Samirah, langsung menangis sesenggukan.
Pandan Wangi tidak dapat lagi menahan perasaannya. Cepat direngkuhnya gadis ini dan dibawanya ke dalam pelukan. Tangis Samirah semakin keras, begitu berada dalam pelukan hangat si Kipas Maut yang seperti melindunginya.
Lama juga mereka berpelukan. Perlahan-lahan Pandan Wangi melepaskan pelukan, dan mengajak gadis tanggung itu masuk ke dalam rumahnya. Di sana, Pandan Wangi sampai menggeletar tubuhnya, melihat mayat seorang perempuan tua tergeletak di lantai. Tubuhnya hancur, seperti tercabik binatang buas. Tampak darah menggenang di sekitar tubuhnya yang sudah hampir tidak berbentuk lagi. Sementara, Samirah hanya dapat menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dan Pandan Wangi sendiri hanya bisa terpaku diam, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan gadis tanggung ini.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 ?"?"?"?"?"
?"?"?"?"?"?""
?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?""
?" alt + / ?"?"?"?"?"?"?"?"
?"?""
?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"" ?"?"?"?"?"?"?"?"?"" ?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"" ?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"" ?"?"?"?"?"?"" ?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"": ?"?"?"?"?"?"
?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"" "
?"?"?"?"?"?"?"?""
?"?"?"?"
?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"
?"?"?"?"?""
?"?"?"?"?"?"?"?"?"?"" ?"?"?""
?"?"?"?"?""
?"?"?"?"?""
130. Pemburu Darah Bag. 4
9 ?"?"?" 2014 ?"?" 11:01 ".
4 ? Malam itu juga, Pandan Wangi menguburkan jasad ibunya Samirah yang mati terbunuh oleh iblis tua yang belakangan dijuluki Iblis Pemburu Darah di belakang rumahnya. Sedangkan Samirah sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa untuk membantu. Gadis ini hanya bisa menangis, sampai Pandan Wangi selesai menguburkan jasad ibunya.
Pandan Wangi kembali membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya yang gelap, tanpa satu pelita pun yang dinyalakan. Dengan pemantik api, dinyalakannya lampu pelita, dan ditaruhnya di tengah-tengah ruangan gubuk kecil yang sudah reyot dan hampir roboh ini. Kemudian kembali didekatinya Samirah yang duduk memeluk lutut di balai-balai bambu yang beralaskan selembar tikar lusuh. Sesekali masih terdengar isak tangisnya yang tertahan.
"Kau hanya tinggal dengan ibumu saja, Samirah?" tanya Pandan Wangi.
Samirah hanya mengangguk saja.
"Lalu, ayahmu di mana?"
"Sudah meninggal. Dibunuh iblis itu...," sahut Samirah tersendat.
"Kau tidak punya saudara?"
"Semua sudah mati."
Pandan Wangi menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Bisa dirasakannya begitu berat beban yang diderita gadis berusia tiga belas tahun im. Ayah-Ibu, serta semua saudaranya sudah mati dibunuh si Iblis Pemburu Darah itu. Dan entah, berapa anak lagi di desa ini yang mengalami nasib serupa dengan Samirah.
"Oh, ya.... Namaku, Pandan Wangi. Kau boleh memanggilku Kak Pandan," ujar Pandan Wangi memperkenalkan diri, setelah beberapa saat terdiam membisu.??????
Samirah tersenyum sedikit, tapi terasa begitu hambar dan amat dipaksakan. Dan Pandan Wangi membalasnya dengan senyum kecil, tapi terasa begitu lembut dan manis dalam pandangan mata Samirah. Dan untuk beberapa saat mereka kembali terdiam.
Sementara, malam terus merayap semakin bertambah larut. Kesunyian begitu terasa. Sedikit pun tidak terdengar suara di luar. Begitu sunyinya, hingga jerit serangga malam pun tidak terdengar. Hanya hembusan angin saja yang terdengar meng-usik telinga, menyebarkan udara begitu dingin menusuk kulit.
"Sudah malam. Tidurlah...," ujar Pandan Wangi sambil mengusap lembut kepala gadis itu.
"Kak Pandan tidak tidur...?"
"Aku akan menjagamu, agar tidak diganggu orang tua itu lagi," sahut Pandan Wangi, seraya tersenyum.
"Dia bukan manusia, Kak. Dia setan yang bangkit dari kuburnya," kata Samirah, dengan suara agak ditahan.
Kening Pandan Wangi langsung berkerut. Sungguh si Kipas Maut jadi terkejut mendengar kata-kata Samirah barusan. Dipandanginya gadis tanggung itu dengan kelopak mata agak menyipit. Sedangkan Samirah mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan kanan. Dan kembali, kebisuan menyelimuti mereka untuk beberapa saat.
"Kau tahu siapa dia, Samirah...?" tanya Pandan Wangi jadi penasaran.
"Semua orang di desa ini tahu, Kak. Dia du-lunya seorang dukun yang ditakuti. Ilmu-ilmunya sangat jahat, dan sering digunakan untuk mence-lakakan orang lain. Kira-kira tiga purnama yang lalu, dia membuat anak kepala desa ini jadi gila. Bahkan sampai mati gantung diri...."
"Ki Randata...?" potong Pandan Wangi.
"Benar, Kak," sahut Samirah.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Pandan Wangi semakin ingin tahu.
"Kepala desa ini marah. Lalu dibawanya semua penduduk untuk menghukum orang itu. Rumahnya dibakar. Dan seluruh penduduk mencincangnya sampai mati. Mayatnya dibuang ke dalam hutan. Tapi sehari setelah kejadian itu, dia muncul lagi. Dan...," Samirah tidak meneruskan.
Sepertinya Samirah tidak sanggup melanjutkan ceritanya, Tapi, Pandan Wangi sudah bisa mengerti semua yang diceritakan Samirah barusan. Dan kini dia sudah tahu, orang yang selama ini meresahkan seluruh penduduk Desa Galibang sebenarnya adalah orang yang sudah mati. Dan orang itu bangkit kembali untuk membalas dendam, dengan membantai penduduk desa ini tanpa ampun. Pandan Wangi langsung menyadari, perbuatan orang tua itu tidak akan berhenti. Walaupun, semua penduduk Desa Galibang sudah dibunuh habis tanpa sisa. Dia pasti akan terus mencari korban ke desa-desa lain.
"Siapa namanya, Samirah?" tanya Pandan Wangi.
"Ki Lawung."
Pandan Wangi mengangguk-angguk. Entah, apa arti anggukan kepalanya. Dan dia juga tidak bersuara lagi. Sedangkan Samirah juga tidak berbicara lagi. Dipandanginya si Kipas Maut itu beberapa saat, kemudian merebahkan diri di samping gadis pendekar dari Karang Setra ini. Pandan Wangi melirik sedikit, dan tersenyum kecil pada gadis tanggung ini. Senyuman si Kipas Maut itu dibalas Samirah, namun terasa begitu hambar.
"Tidurlah.... Kau aman bersamaku," ujar Pandan Wangi lembut.
Samirah tersenyum dan menganggukkan kepala. Sedangkan Pandan Wangi hanya menarik napas saja dalam-dalam. Walaupun penderitaan beruntun datang menimpa, tapi pada wajah Samirah masih terlihat ada semangat dan kecerahan hidup. Penderitaan membuat gadis tanggung ini jadi tabah. Malah begitu cepat bisa melupakan semua yang telah terjadi pada dirinya. Kembali Pandan Wangi menghembuskan napas panjang, melihat Samirah sudah jatuh tertidur di sampingnya.
Sementara, malam terus merayap semakin la-rut. Dan kesunyian semakin terus menyelimuti seluruh wilayah Desa Galibang ini. Tidak ada lagi suara yang terdengar. Hanya tiupan angin saja mengusik gendang telinga, menerobos dari lubang-lubang di dinding bilik rumah gubuk ini.
Sementara Samirah tertidur lelap, Pandan Wangi perlahan-lahan beranjak turun dari balai-balai bambu. Terus dipandanginya wajah polos dan kelihatan tenang dalam tidurnya itu. Perlahan Pandan Wangi melangkah keluar dari dalam gubuk reyot yang sudah hampir roboh ini. Hati-hati sekali pintu dibuka dan ditutupnya kembali setelah berada di luar.
Perlahan-lahan Pandan Wangi mengayunkan kakinya, meninggalkan gubuk kecil yang dihuni gadis tanggung itu. Angin malam yang terasa begitu dingin, menyebarkan bau busuk yang tidak sedap menusuk lubang hidung. Bau dari mayat-mayat dan bangkai binatang yang terlalu lama tidak dikuburkan. Memang, semua penduduk Desa Galibang ini tidak ada yang sempat menguburkan mayat-mayat. Padahal, di antara mayat-mayat itu ada sanak saudaranya, bahkan orangtuanya. Mereka semua memang terlalu takut oleh si Iblis Pemburu Darah.
Pandan Wangi terus melangkah perlahan-la-han, kembali memasuki Desa Galibang yang begitu sunyi, seperti sebuah perkampungan hantu yang tidak lagi berpenghuni. Tidak ada satu rumah pun yang terlihat menyalakan lampu. Keadaan di desa ini begitu gelap. Terlebih lagi, langit malam ini terselimut awan hitam sangat tebal. Sehingga, sang Dewi Malam tidak mampu meneroboskan cahayanya menerangi desa ini.
? *** ? Tanpa terasa, Pandan Wangi tiba di depan gubuk yang ditempati Ki Randata. Ayunan langkahnya langsung terhenti, melihat gubuk itu tampak gelap, tanpa sedikit pun ada cahaya yang meneranginya. Keadaan itu membuat kening Pandan Wangi jadi berkerut. Namun belum juga bisa berpikir lebih jauh lagi, tiba-tiba saja....
Bruk! "Heh..."!"
Pandan Wangi jadi terlonjak kaget, begitu tiba-tiba dari dalam gubuk itu meluncur sesosok tubuh menjebol dinding bilik yang sudah rapuh itu. Sosok tubuh itu jatuh keras sekali menghantam tanah, dan bergulingan beberapa kali mendekati si Kipas Maut ini.
"Ki Randata...," desis Pandan Wangi terkejut, begitu mengenali orang yang terlempar keluar dari dalam gubuk.
Laki-laki tua yang terlempar keluar dari dalam gubuk itu memang Ki Randata. Seluruh tubuhnya sudah berlumur darah, tapi masih bergerak. Dia berusaha merayap mendekati Pandan Wangi yang masih diam berdiri memandangi seperti tersihir. Begitu tersadar dari keterpanaannya, bergegas gadis itu menghampiri kepala desa ini.
"Apa yang terjadi denganmu, Ki?" tanya Pandan Wangi langsung.
'Pandan...," desis Ki Randata bergetar pelan.
"Ya.... Aku Pandan Wangi, Ki...."
"Cepat pergi, Pandan. Selamatkan dirimu... Iblis itu ada di sini...," pelan sekali suara Ki Randata.
"Ki...."
Suara Pandan Wangi langsung terputus, begitu dari dalam gubuk itu tiba-tiba melesat keluar sebuah bayangan hitam dengan gerakan begitu cepat bagai kilat. Dan tahu-tahu, di depan mereka sudah berdiri seorang laki-laki tua berjubah hitam. Wajahnya merah penuh benjolan mengeluarkan cairan kental berbau busuk seperti bangkai.
Tampak jelas dari raut wajahnya yang merah, kalau laki-laki tua itu terkejut sekali melihat Pandan Wangi ada di tempat ini. Tangannya yang sudah terangkat, perlahan bergerak turun. Dan tatapan matanya begitu tajam menyorot langsung ke wajah cantik gadis ini.
Sementara, Ki Randata terus merayap, beru-saha mencari perlindungan di belakang si Kipas Maut. Sedangkan Pandan Wangi sendiri sudah menggenggam gagang pedangnya di punggung, walaupun belum mencabutnya,
"Kau lagi...," desis Pandan Wangi dingin meng-getarkan.
"Phuih!"
Laki-laki tua aneh yang sudah diketahui Pandan Wangi bernama Ki Lawung dan berjuluk si Iblis Pemburu Darah itu menyemburkan ludah dengan sengit. Tapi entah kenapa, dia tidak juga mau menyerang. Seakan, ada yang ditakuti pada diri si Kipas Maut ini. Dan perlahan kakinya ditarik ke belakang beberapa langkah. Sementara, Ki Randata sudah berada di belakang Pandan Wangi. Kini dia terduduk di tanah dengan napas tersengal, seperti ada yang mengganjal dalam dadanya.
"Urusan kita belum selesai, Iblis...! Kau ting-galkan desa ini, atau akan terus berurusan de-nganku," desis Pandan Wangi dingin menggetar-kan, bernada mengancam.
"Phuih!"
Lagi-lagi Ki Lawung menyemburkan ludahnya. Hatinya begitu geram melihat gadis cantik yang berjuluk si Kipas Maut itu. Tapi, tetap saja dia tidak mau melakukan serangan. Hanya tatapan matanya saja yang menyorot tajam, penuh kebencian dan nafsu membunuh.
"Suatu saat kau akan menyesal mencampuri urusanku, Bocah...!" dengus Ki Lawung dingin menggetarkan.
Setelah berkata demikian, Iblis Pemburu Darah berbalik cepat. Dan saat itu juga tubuhnya melesat pergi dengan kecepatan bagai kilat. Sehingga dalam waktu sekejapan mata saja, bayangannya sudah le-nyap dari pandangan mata si Kipas Maut.
Sebentar Pandan Wangi masih berdiri meman-dang ke arah perginya si Iblis Pemburu Darah itu, kemudian berbalik. Bergegas dihampirinya Ki Randata yang masih tetap terduduk di tanah, dengan punggung bersandar pada sebatang kayu pohon yang sudah mati. Tarikan napasnya begitu lemah, seakan sedang menunggu malaikat maut yang akan mencabut selembar nyawanya.
"Kenapa kau kembali lagi, Pandan" Untuk apa menyerahkan nyawa di sini...?" pelan sekali suara Ki Randata.
"Sudah, Ki. Jangan banyak bicara dulu. Biar kurawat dulu lukamu," kata Pandan Wangi.
Gadis itu langsung membantu Ki Randata berdiri, kemudian memapahnya masuk ke dalam gubuk reyot yang gelap ini. Dibaringkannya orang tua ini di atas balai-balai bambu. Pandan Wangi menyalakan pelita, hingga keadaan gubuk itu jadi terang benderang. Lalu. bergegas dia keluar. Tapi baru saja sampai di ambang pintu....
"Kau mau, ke mana, Pandan...?" tegur Ki Randata.
"Aku akan membawa Samirah ke sini, Ki. Dia kutinggalkan di rumahnya sendirian," sahut Pandan Wangi seraya berpaling sedikit.
"Siapa Samirah?" tanya Ki Randata.
"Nanti kau akan tahu, Ki. Sebaiknya kau isti-rahat saja. Jangan banyak bergerak dulu," ujar Pandan Wangi.
Dan sebelum orang tua itu banyak bicara lagi, Pandan Wangi sudah cepat melesat meninggalkannya. Gadis itu langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatannya. Dia kembali menuju gubuk kecil, tempat Samirah ditinggalkan seorang diri di sana.
Begitu cepatnya Pandan Wangi berlari, hingga dalam waktu sebentar saja sudah tiba di gubuk kecil yang sudah reyot dan hampir roboh itu. Langsung dia menarik napas lega, begitu melihat Samirah masih terlelap tidur. Tanpa membangunkan gadis kecil itu, Pandan Wangi langsung memondongnya. Langsung dibawanya Samirah keluar, dan kembali berlari cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang tingkatannya sudah tinggi. Dan Samirah yang masih tidur lelap langsung dibawa ke gubuk tempat tinggal Ki Randata.
*** ? Malam ini Pandan Wangi terpaksa tidak tidur, dan terus mengelilingi Desa Galibang. Dia menjaga kalau-kalau si Iblis Pemburu Darah itu kembali mengambil korban, Tapi sampai matahari terbit di ufuk timur, orang tua berwajah buruk itu tidak berkeliaran lagi di desa ini.
Pandan Wangi kembali ke gubuk yang ditem-pati Ki Randata. Dan Samirah yang sedang berbincang-bincang dengan kepala desa tua itu langsung menyambutnya. Pandan Wangi langsung menghempaskan diri di samping Ki Randata yang duduk bersila di atas balai-balai bambu beralaskan selembar tikar pandan ini. Sementara, Samirah menyediakan makanan dan minuman untuk gadis pendekar yang digdaya ini.
"Kau tidak tidur semalam, Pandan. Ke manasaja kau...?" tegur Ki Randata yang kesehatannya kelihatan sudah mulai membaik lagi.
"Mengejar iblis itu, Ki," sahut Pandan Wangi.
"Mengejar..."!"
Ki Randata jadi terbeliak mendengarnya. Rasa keterkejutannya tidak dapat lagi disembunyikan mendengar Pandan Wangi semalam mengejar si Iblis Pemburu Darah. Padahal, semua orang di desa ini tidak ada yang berani dengannya. Melihat saja, orang akan langsung mengambil langkah seribu. Tapi, Pandan Wangi malah mengejarnya!
"Untuk apa kau mengejar iblis itu, Pandan" Sebaiknya selamatkan saja dirimu! Jangan sampai kau menjadi korbannya, seperti yang dialami kakakmu," kata Ki Randata, mencoba menasihati.
Pendekar Pedang Dari Bu Tong 14 Sembilan Pusaka Wasiat Dewa Pengelana Tangan Sakti Karya Lovely Dear Misteri Rumah Berdarah 3

Cari Blog Ini