Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pantai Selatan 1

Pendekar Rajawali Sakti 115 Pusaka Pantai Selatan Bagian 1


PUSAKA PANTAI SELATAN
oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode 115 :
Pusaka Pantai Selatan
128 hal ; 12 x 18 cm
1 "Khraaagkh...!"
"Lebih rendah lagi, Rajawali...!"
Rajawali Putih menukik deras dan terus melayang di angkasa. Semakin dekat
terbangnya, sehingga pemuda berbaju rompi putih itu bisa melihat ke bawah dari
punggung burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan ini. Kedua bola mata
pemuda yang seperti Pendekar Rajawali Sakti itu terpentang lebar, menyusuri
pesisir pantai yang berpasir putih bagai hamparan kerikil perak memanjang.
"Sebelah selatan, Rajawali...!" seru Rangga, menunjuk ke arah selatan. Dan di
sana merupakan sebuah hutan kecil yang tidak begitu lebat.
"Khraaagkh...!"
Wus! Hanya sekali mengepakkan sayap saja, burung rajawali raksasa berbulu putih
keperakan itu sudah melesat cepat bagai kilat menuju arah yang diinginkan
penunggangnya. Dan dalam waktu sekejap mata saja, sudah berada di atas hutan
kecil, tidak jauh dari pantai ini. Burung itu terus melayang berputar-putar di
atas hutan yang tidak begitu lebat ini. Sementara Rangga terus mengarahkan
pandangan ke bawah, tanpa berkedip sedikit pun juga. Seperti ada sesuatu yang
sedang dicari. "Turun di balik hutan bakau itu, Rajawali!" seru Rangga sambil menunjuk ke arah
hutan bakau yang
cukup lebar di pantai ini.
"Khraaagkh...!"
Tanpa diminta dua kali, Rajawali Putih meluruk deras ke arah yang diinginkan,
lalu menukik bagai kilat. Tentu saja Rangga yang berada di punggungnya harus
berpegangan erat-erat ke leher burung raksasa ini. Dan sebentar saja burung
rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah mendarat di balik hutan bakau
yang sangat lebat.
"Hup!"
Rangga yang dalam rimba persilatan dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti
segera melompat turun dari punggung burung rajawali raksasa itu.
Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling, mengamati keadaan sekitarnya. Tidak
terlihat seorang pun di sekitar hutan bakau ini. Bahkan sama sekali tidak
terlihat tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Begitu sunyi, sampai debur ombak
di pantai terdengar jelas menggemuruh.
"Khrrrkh...!"
Tiba-tiba saja Rajawali Putih mengkirik kecil, kemudian berteriak nyaring.
Suaranya sampai-sampai membuat telinga Rangga jadi terasa nyeri. Pendekar
Rajawali Sakti menengadahkan kepalanya, memandang kepala burung yang besar dan
mendongak ke atas.
"Ada apa, Rajawali?" tanya Rangga heran.
Tapi belum juga Rajawali Putih bisa memberi jawaban, kepala Rangga sudah
bergerak agak miring ke kiri. Telinganya yang setajam elang langsung bisa
mendengar adanya langkah-langkah kaki yang begitu ringan menuju tempat ini.
Rangga langsung menatap Rajawali Putih yang juga sedang memandangnya.
"Naiklah ke atas, Rajawali. Aku tidak mau ada
orang lain melihatmu di sini. Bisa gempar nanti jadinya," pinta Rangga halus.
"Khraaagkh...!"
Maka sekali mengepakkan sayapnya saja, Rajawali Putih langsung membumbung tinggi
ke angkasa. Dan sebentar saja, burung rajawali raksasa itu udah tidak terlihat
lagi, tertutup awan yang cukup tebal di sekitar Pantai Selatan siang ini.
Sementara, Rangga mencoba mencari arah datangnya suara langkah kaki yang semakin
jelas terdengar. Dan sebentar saja Pendekar Rajawali Sakti itu sudah bisa
menebak kalau suara-suara langkah yang didengarnya ini datang dari depan. Dan
juga sudah bisa diduga kalau yang sedang menuju ke arahnya ini bukan hanya satu
orang, tapi empat orang. Semua ini bisa diketahuinya melalui pendengaran yang
sangat tajam. "Aku harus sembunyi dulu. Hm, hup...!"
Sekali lesat saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah lenyap di balik lebatnya
rerimbunan pohon bakau.
Memang sungguh sempurna ilmu meringankan
tubuhnya, sehingga sulit diketahui arah kepergiannya.
Tahu-tahu, tubuhnya sudah lenyap bagai tertelan bumi.
*** Rangga yang kini sudah bersembunyi, terus memperhatikan ke arah suara langkah
kaki yang semakin jelas terdengar dan terus mendekat ke arahnya. Dan tidak
berapa lama kemudian, terlihat empat orang berjalan tergesa-gesa menerobos
lebatnya hutan bakau ini. Salah seorang dari mereka adalah wanita berusia hampir
separo baya yang masih kelihatan cantik. Bentuk tubuhnya ramping dan
cukup indah. Sedangkan yang tiga orang lainnya adalah laki-laki yang usianya sudah lebih dari
separo baya. Mereka sama-sama mengenakan baju biru yang potongannya sama persis.
Hanya pakaian wanita itu saja yang lain.
Baik bentuk pakaian yang dikenakan, maupun warnanya. Wanita itu mengenakan baju
yang cukup ketat berwarna merah muda. Tampak sebilah pedang tergantung di
pinggangnya yang ramping. Mereka berhenti di tempat Pendekar Rajawali Sakti tadi
berada. Sementara, Rangga sendiri tetap berlindung di tempat persembunyiannya,
memperhatikan mereka yang tampak saling berpandangan satu sama lain.
"Kenapa berhenti di sini...?" tiba-tiba salah seorang dari mereka melontarkan
pertanyaan. Tapi tidak ada seorang pun yang menjawab.
Mereka masih terdiam beberapa saat.
"Kalian tunggu dulu di sini. Aku akan melihat ke belakang," ujar salah seorang
lagi. Dia membawa sebatang tombak pendek, dengan bagian ujungnya berbentuk
bintang berwarna keperakan.
Tanpa menunggu jawaban lagi, laki-laki yang usianya sekitar enam puluh lima
tahun itu langsung saja melesat cepat sekali. Hingga dalam sekejap saja sudah
lenyap tertelan lebatnya hutan bakau ini.
Sementara, tiga orang lainnya terpaksa menunggu.
Mereka mengambil tempat masing-masing untuk melepaskan lelah. Sedangkan tidak
jauh dari situ, Rangga masih tetap diam memperhatikan tanpa bergeming sedikit
pun. Cukup dekat jarak mereka.
Sedikit saja Rangga bergerak, pasti akan ketahuan.
Rangga tahu, kesemua orang itu pasti memiliki kepandaian tinggi. Ini bisa
dilihat dari cara mereka
berjalan tadi. Begitu ringan malah salah seorang yang pergi tadi, dari
lesatannya pun sudah menandakan tingkat kepandaiannya cukup tinggi.
Tidak lama orang yang pergi tadi sudah kembali.
Dan mereka yang tadi duduk beristirahat, segera bangkit berdiri menghampiri.
Dari sorot mata, jelas mereka mengharapkan berita apa yang dibawa orang itu.
"Bagaimana" Apa ada yang mengejar kita, Kakang Nambu?" tanya wanita berbaju
merah muda itu tidak sabar.
"Ya, mereka dekat sekali dari sini," sahut orang yang dipanggil Nambu.
"Oh! Lalu, bagaimana sekarang...?" desah wanita itu terdengar agak cemas nada
suaranya. "Tenanglah, Randini. Mereka tidak akan cepat sampai ke sini. Hutan bakau ini
cukup lebat dan sulit dilalui. Dan lagi, mereka semua menunggang kuda.
Jadi tidak mungkin bisa terus sampai ke sini dengan menunggang kuda," sahut
Nambu mencoba menenangkan wanita yang dipanggil Randini.
Dan untuk beberapa saat mereka semua terdiam.
"Huh...!" tiba-tiba salah seorang mendengus berat.
"Ada apa, Jaraba?" tegur Nambu.
"Aku tidak suka terus-terusan begini, Kakang Nambu. Seperti buronan saja. Kenapa
mereka semua tidak kita hancurkan saja. Aku rasa kita berempat sanggup
menghancurkan mereka yang hanya cacing-cacing lemah, Kakang Nambu," terdengar
kesal suara laki-laki bernama Jaraba itu.
"Benar, Kakang Nambu. Tanganku sejak tadi sudah gatal. Dan rasanya golokku ini
juga sudah ingin minum darah mereka," sambung seorang lagi sambil mengangkat
goloknya ke depan.
"Tenanglah, Balika. Aku tahu, kita tidak akan mungkin mendapat kesulitan dari
mereka. Tapi kalian harus ingat, bukan itu yang diinginkan Gusti Putri. Aku juga
sudah tidak tahan terus menerus dikejar seperti binatang buruan. Tapi, kita
tidak bisa berbuat apa-apa sebelum mendapat perintah Gusti Putri," jelas Nambu
lagi, mencoba menenangkan yang lain.
"Huh! Kapan perintah itu datang, Kakang Nambu?"
dengus Jaraba masih bernada kesal suaranya.
"Secepatnya, setelah kita sampai di pesisir pantai,"
sahut Nambu. "Lalu, apa yang akan kita lakukan kalau Gusti Putri sudah memberi perintah?"
sela Randini. "Kita lihat saja nanti, apa perintahnya," sahut Nambu kalem.
Mereka kembali terdiam membisu.
"Ayo, kita lanjutkan berjalan lagi. Pesisir pantai sudah tidak seberapa jauh
lagi. Kita harus sampai lebih dulu, sebelum mereka," ajak Nambu.
Tanpa ada yang membantah sedikit pun, mereka segera melangkah cepat meninggalkan
tempat itu. Sementara Rangga masih tetap berada dalam persembunyiannya. Dan Pendekar
Rajawali Sakti baru keluar setelah keempat orang itu sudah tidak terlihat lagi
dari pandangan. Sebentar Rangga menatap ke arah orang-orang itu pergi, dan
sebentar kemudian pandangannya beralih ke arah yang berlawanan.
"Hm..., mungkinkah tujuan mereka datang ke sini juga sama denganku...?" gumam
Rangga bertanya pada diri sendiri.
Beberapa saat Pendekar Rajawali Sakti terdiam.
Dan pandangannya tertuju lurus ke arah empat orang tadi pergi. Entah apa yang
ada dalam kepala pemuda itu saat ini. Dan entah, sudah berapa kali ditariknya
napas panjang, lalu dihembuskannya kuat-kuat.
"Hm.... Ke mana dulu Pandan Wangi..." Seharusnya sudah sejak tadi dia muncul di
sini," gumam Rangga pada diri sendiri lagi sambil mengedarkan pandangan ke
sekeliling. Tapi saat itu, kembali telinganya yang tajam mendengar suara langkah-langkah
kaki yang terdengar berat menghentak bumi. Sejenak Pendekar Rajawali Sakti
tertegun, tapi cepat melesat dan kembali ke tempat persembunyiannya tadi. Dan
tidak berapa lama kemudian, terlihat serombongan orang berpakaian serba hitam
yang semuanya menuntun kuda.
Mereka bergerak cepat, searah dengan empat orang tua yang lewat belum lama tadi.
Tidak ada seorang pun yang bersuara. Jumlah mereka cukup banyak, seperti satu
pasukan prajurit yang hendak menuju medan laga. Sedikit pun mereka tidak
berhenti. Hingga sebentar saja, mereka sudah jauh meninggalkan tempat ini, dan
terus menghilang ditelan lebatnya hutan bakau ini. Rangga kembali keluar dari
tempat persembunyiannya, dan ia langsung menghenyakkan tubuhnya ke atas akar
pohon bakau yang bersembulan dari dalam tanah.
"Hhh, baiklah.... Aku tunggu sampai senja nanti Kalau Pandan Wangi tidak datang
juga, terpaksa aku harus menyusul ke Desa Peringgi," gumam Rangga lagi, bicara
pada diri sendiri.
*** Waktu terasa begitu lambat berlalu. Sementara, Rangga sudah mulai gelisah.
Apalagi setelah melihat matahari sudah mulai condong ke arah barat. Tapi,
ternyata gadis yang ditunggunya belum juga tampak batang hidungnya. Sebentar
kemudian, dia kembali duduk mencangkung di atas akar pohon bakau yang terasa
lembab bagai berembun ini. Kegelisahan Pendekar Rajawali Sakti itu semakin
bertambah, saat matahari sudah hampir tenggelam di sebelah barat.
Memang, Pandan Wangi yang ditunggunya belum juga kelihatan.
"Ada apa lagi ini..." Kenapa belum juga...?"
Belum lagi habis pertanyaan yang terlintas dalam benak Pendekar Rajawali Sakti,
tiba-tiba saja terdengar ringkikan seekor kuda dari kejauhan. Rangga yang sedang
duduk mencangkung di atas akar, langsung melompat bangkit berdiri. Dan
pandangannya cepat ditujukan ke arah terdengamya ringkikan kuda tadi.
Tidak lama berselang, terdengar suara hentakan-hentakan kaki kuda yang dipacu
cepat di atas tanah berpasir yang lembab dan sedikit berair ini.
Sementara, Rangga tetap menunggu dengan mata tidak berkedip sedikit pun.
"Hieeekh...!"
Ringkikan kuda kembali terdengar, yang kemudian disusul munculnya seorang gadis
cantik berbaju biru muda yang menunggang seekor kuda putih yang tinggi dan
tegap. Tampak juga seekor kuda hitam membuntuti dari belakangnya. Gadis itu
segera melompat turun, begitu kudanya berhenti berlari.
Dihampirinya Rangga yang sejak tadi sudah menunggu dengan tidak sabar.
"Kenapa kau lama sekali, Pandan" Apa ada yang menghalangimu ke sini?" tegur
Rangga langsung saja.
"Ada sedikit halangan, Kakang," sahut Pandan Wangi kalem.
"Mereka sudah mendahului kita sejak tengah hari tadi, Pandan," kata Rangga
langsung memberi tahu.
"Kenapa harus terburu-buru...?" kalem sekali suara Pandan Wangi.
"Heh..."! Kenapa kau jadi begini, Pandan"
Bukankah kau sendiri yang memintaku ke sini...?"
Rangga jadi mendelik melihat sikap Pandan Wangi yang seolah-olah tidak peduli.
Sedangkan gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu malah tersenyum-senyum
saja. Dengan sikap enak sekali, tubuhnya dihenyakkan di atas sebatang akar pohon
bakau yang menyembul keluar dari dalam tanah berpasir.
Sedangkan Rangga semakin mendelik saja melihat sikap kekasihnya.
"Pandan! Terus terang aku tidak mengerti semua ini. Permainan apa yang sedang
kau lakukan sekarang...?" Rangga langsung saja meminta penjelasan.
Sikap Pendekar Rajawali Sakti yang begitu sungguh-sungguh, kelihatan tidak
mendapat tanggapan dari Pandan Wangi. Malah diambilnya sejumput pasir, dan
dilemparkannya begitu saja ke samping. Sedangkan Rangga semakin tidak mengerti
saja melihat sikap gadis ini. Kedatangannya yang cepat-cepat ke daerah pesisir
pantai ini, karena memang atas permintaan Pandan Wangi. Dalam suratnya yang
dikirimkan melalui seorang telik sandi dari Karang Setra, Pandan Wangi meminta
Pendekar Rajawali Sakti cepat datang ke pesisir Pantai Selatan ini. Dan katanya,
ada persoalan penting, yang harus segera ditangani.
Tapi setelah berada di sini, Rangga jadi heran melihat sikap Pandan Wangi yang
sepertinya tidak sedang menghadapi persoalan apa-apa, seperti yang
dituliskannya melalui surat. Gadis itu seperti tidak peduli. Bahkan seakan-akan
tidak ada sesuatu yang sedang dihadapinya.
"Tenang saja, Kakang. Tidak perlu terburu-buru.
Waktu masih panjang buat kita," kata Pandan Wangi tetap kalem.
"Kau jangan mempermainkan aku, Pandan."
Pandan Wangi malah tertawa ringan mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti.
Tapi tawanya tidak lama, dan kembali melangkah menghampiri kudanya.
Tanpa bicara sedikit pun juga, gadis itu melompat naik ke punggung kuda
putihnya. Sementara, Rangga masih tetap berdiri berkacak pinggang, memandangi
kekasihnya dengan sinar mata sulit diartikan. Pandan Wangi membalas tatapan mata
pemuda itu. Dan bibirnya jadi tersenyum melihat kedua bola mata Rangga mendelik.
"Ayo, Kakang. Malam ini kita harus menemui Ki Patungga di Desa Bahar Arum," ajak
Pandan Wangi. "Siapa itu Ki Patungga?" tanya Rangga seraya melangkah menghampiri kudanya.
Sebelum Pandan Wangi sempat menjawab,
Rangga sudah melompat naik ke punggung Dewa Bayu. Gerakannya begitu ringan dan
indah dilihat. "Nanti kau juga akan tahu, Kakang," sahut Pandan Wangi seraya melirik sedikit
pada Pendekar Rajawali Sakti.
Gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu langsung saja menggebah,
tapi kudanya tidak bisa dipacu kencang, karena hutan bakau ini begitu Iebat.
Sedangkan Rangga hanya membuntuti dari belakang.
Dan benaknya masih terus bertanya-tanya. Persoalan apa sebenarnya yang sedang
dihadapi Pandan Wangi, hingga harus memintanya datang cepat-cepat ke


Pendekar Rajawali Sakti 115 Pusaka Pantai Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

daerah pesisir Pantai Selatan ini.
Mereka terus berkuda tidak terlalu cepat menerobos lebatnya hutan bakau. Dan
begitu sekelilingnya menjadi gelap, kedua pendekar muda dari Karang Setra itu
baru keluar dari hutan ini. Mereka terus memacu cepat kudanya menyusuri pantai
yang berpasir putih. Rangga menjajarkan lari kudanya di samping kuda putih yang
ditunggangi Pandan Wangi.
Sekilas matanya melirik wajah cantik gadis di sebelahnya. Tapi sepertinya,
Pandan Wangi sama sekali tidak peduli.
"Kau tidak salah arah, Pandan...?" tegur Rangga, begitu menyadari kalau arah
yang dituju Pandan Wangi bukannya ke Desa Bahar Arum.
Rangga memang mengenal betul daerah pesisir Pantai Selatan ini. Karena, pantai
ini masih termasuk wilayah Kerajaan Karang Setra. Dan dia juga tahu, Desa Bahar
Arum ada di sebelah timur. Tapi, Pandan Wangi malah menuju selatan.
"Kita ambil jalan memutar sedikit, Kakang," sahut Pandan Wangi kalem.
"Tapi kalau melalui jalan ini, bisa tengah malam baru sampai, Pandan."
"Memang lewat tengah malam nanti, kita baru bisa menemui Ki Patungga. Dan tidak
ada seorang pun yang mengira jalan ini bisa sampai ke Desa Bahar Arum. Ki
Patungga sendiri yang memilih jalannya, Kakang. Dia akan menunggu dari sebelah
selatan desa," jelas Pandan Wangi, tetap kalem.
"Sejak tadi kau bicarakan Ki Patungga. Siapa dia sebenarnya, Pandan?"
Pandan Wangi tidak menjawab, tapi hanya tersenyum saja sambil menatap sebentar
pada wajah tampan yang berkuda di sebelahnya. Sedangkan
Rangga tidak bertanya lagi. Dia tahu, Pandan Wangi tidak akan mau menjawab
pertanyaannya barusan.
Dan mereka terus berkuda dengan cepat tanpa bicara lagi. Sementara, angin yang
berhembus di sepanjang pantai ini semakin terasa dingin. Bahkan lebih kencang
dari semula. Tapi kedua pendekar muda itu terus memacu kencang kudanya.
*** 2 Memang benar apa yang dikatakan Pendekar
Rajawali Sakti. Mereka baru tiba di perbatasan Desa Bahar Arum, saat malam sudah
sampai peng-hujungnya. Pandan Wangi segera menghentikan lari kudanya. Langsung
gadis itu melompat turun dengan gerakan indah dan ringan sekali. Rangga juga
bergegas melompat turun dari punggung kudanya, lalu melangkah menghampiri Pandan
Wangi. Dan kudanya dibiarkan melenggang menjauhi. Kuda putih tunggangan Pandan
Wangi juga menjauh, mengikuti kuda hitam tunggangan Rangga yang bernama Dewa
Bayu. "Di sinikah kau akan menemui Ki Patungga, Pandan?" tanya Rangga seperti tidak
sabar. "Tidak," sahut Pandan Wangi singkat.
"Lalu, kenapa berhenti di sini?" tanya Rangga lagi semakin tidak mengerti.
"Akan ada utusan yang membawa kita ke sana nanti, Kakang," jelas Pandan Wangi.
Rangga diam. Sementara Pandan Wangi juga tidak bicara lagi. Saat ini memang
sudah tengah malam.
Sekeliling mereka yang tampak hanya kegelapan saja. Sementara agak jauh di
sebelah selatan, terlihat kerlip cahaya pelita dari rumah-rumah yang berdiri di
Desa Bahar Arum.
Sunyi sekali di tempat ini. Hanya desir angin saja yang terdengar mempermainkan
dedaunan. Dan sesekali terdengar gerit serangga malam. Rangga
mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak terlihat seorang pun di
sekitarnya. Bahkan tidak diperoleh tanda-tanda adanya manusia di sini.
Sementara, Pandan Wangi tetap berdiri tegak dengan pandangan tertuju ke satu
arah. "Menunggu berapa lama lagi, Pandan?" tanya Rangga tidak sabar.
"Utusan itu sudah datang, Kakang," sahut Pandan Wangi kalem.
"Hm... hanya satu orang utusan itu, Pandan?"
tanya Rangga bernada ingin memastikan.
"Benar!" sahut Pandan Wangi singkat.
Kening Rangga agak berkerut juga. Sebentar dipandanginya wajah cantik Pandan
Wangi yang terus saja memandang jauh ke depan. Sepertinya gadis itu tidak
mempedulikan keheranan Pendekar Rajawali Sakti.
Dan tidak berapa lama mereka menunggu, terlihat seorang yang memacu kudanya
cepat sekali menuju ke arah kedua pendekar muda dari Karang Setra ini.
Penunggang kuda itu langsung melompat turun, begitu tali kekangnya ditarik.
Sehingga kuda yang ditungganginya berhenti seketika, dan langsung meringkik
keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.
Sejenak Rangga mengamati penunggang kuda
yang kini sudah berada tidak jauh di depannya ini.
Ternyata, dia seorang anak laki-laki yang masih berusia sekitar lima belas
tahun, tapi sudah begitu pandai menunggang kuda. Dan gerakannya dalam melompat
turun juga sudah menunjukkan kalau anak muda belia ini menguasai ilmu kepandaian
yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata saja. Pemuda itu langsung
membungkuk memberi salam penghormatan pada kedua pendekar ini. Tapi,
pandangannya terus tertuju pada Pandan Wangi.
Sedangkan si Kipas Maut hanya tersenyum-senyum saja sambil membalas salam
penghormatan itu hanya dengan mengangguk sedikit.
"Maaf, mungkin kedatanganku terlambat, Nini Pandan," ucap anak muda itu sopan.
"Tidak. Kau datang tepat pada waktunya, Gopala,"
sahut Pandan Wangi lembut.
Anak muda yang dipanggil Gopala oleh Pandan Wangi itu jadi tersenyum. Tapi,
senyumnya mendadak saja lenyap, begitu pandangan matanya bertemu sorotan mata
Rangga yang sejak tadi diam saja berada di samping kiri Pandan Wangi.
"Oh, ya. Maaf.... Aku sampai lupa memperkenalkan kalian berdua," ujar Pandan
Wangi cepat-cepat.
"Kakang, ini utusan yang kumaksudkan tadi.
Namanya, Gopala. Dan ini Kakang Rangga yang pernah kuceritakan, Gopala."
"Oh! Jadi, inikah Pendekar Rajawali Sakti yang terkenal itu, Nini Pandan...?"
ujar Gopala langsung berbinar cerah wajahnya.
Entah kenapa, Rangga jadi tertawa kecil dan menggeleng-geleng. Tapi, matanya
cepat mendelik pada Pandan Wangi. Sedangkan si Kipas Maut seperti tidak peduli.
Malah pandangannya diarahkan ke tempat lain. Sedangkan Gopala menjura beberapa
kali, memberi salam penghormatan yang berlebihan.
Dan ini membuat Rangga merasa jengah. Maka cepat ditahannya bahu anak muda itu
dengan lembut. "Sudahlah, Gopala. Tidak perlu bersikap seperti itu padaku. Aku manusia biasa,
sama sepertimu juga,"
ujar Rangga lembut dan merendahkan diri.
"Maaf atas segala sikapku yang tidak mengenal
adat dan kesopanan tadi, Pendekar Rajawali Sakti,"
ucap Gopala sopan.
"Sebaiknya, panggil saja aku Rangga. Dan tidak perlu terus bersikap seperti itu
padaku," pinta Rangga sekali lagi.
"Ah...," Gopala hanya mendesah saja.
Gopala seakan-akan merasa berat untuk
memenuhi keinginan Pendekar Rajawali Sakti.
Bagaimanapun juga, dia sudah cukup banyak mendengar kehebatan dan sepak-terjang
Pendekar Rajawali Sakti dalam menumpas keangkaramurkaan di atas bumi ini. Dan
ketangguhan Pendekar Rajawali Sakti yang tanpa tanding itu, membuat anak muda
ini begitu mengaguminya. Bahkan sampai ia merasa sungkan untuk langsung saja
menerima keinginan Pendekar Rajawali Sakti ini.
"Panggil saja Kakang Rangga, Gopala. Seperti juga aku bila memanggilnya," selak
Pandan Wangi cepat merasakan kesungkanan anak muda itu.
Beberapa saat, Gopala tampak bimbang. Tapi kemudian kepalanya terangguk. Dan
Rangga memberi senyuman lebar. Ditepuknya lembut pundak anak muda itu. Kemudian kakinya
melangkah menghampiri kudanya. Lalu, Pendekar Rajawali Sakti menuntun dua ekor
kuda, menghampiri Pandan Wangi yang tengah berbicara dengan anak muda itu.
Sebentar saja, diserahkannya kuda putih pada Pandan Wangi yang langsung
diterima. "Sebaiknya kita berangkat sekarang saja, Nini Pandan. Ki Patungga sudah menunggu
sejak tadi,"
ajak Gopala. "Baiklah," sambut Pandan Wangi langsung saja melompat naik ke punggung kudanya.
"Hup!"
Rangga dan Gopala juga bergegas naik ke
punggung kuda masing-masing. Dan tidak lama kemudian, mereka sudah memacu cepat
kudanya meninggalkan tempat itu. Tapi, Rangga sempat mendongakkan kepala ke
atas. Tampak Rajawali Putih bagai sebuah titik melayang di angkasa.
Rupanya, burung rajawali raksasa tunggangan Pendekar Rajawali Sakti itu masih
terus mengikuti dari angkasa. Dan memang, Rangga sendiri yang meminta agar
Rajawali Putih tetap mengikutinya terus ke mana pun dia pergi, selama berada di
wilayah pesisir Pantai Selatan ini. Sebentar saja, mereka sudah lenyap ditelan
gelapnya malam yang
menyelimuti seluruh wilayah pesisir Pantai Selatan ini.
*** Dugaan Rangga semula tentang Ki Patungga,
adalah seorang pertapa yang sudah lanjut usianya.
Tapi nyatanya sama sekali tidak tepat. Ternyata, Ki Patungga masih cukup gagah,
walaupun usianya sudah mencapai setengah abad lebih. Tubuhnya masih tegap dan
kekar. Sorot matanya terlihat tajam, namun memiliki kelembutan serta
kebijaksanaan yang begitu mendalam.
Walaupun baru kali ini bertemu, tapi Rangga sudah mempunyai kesan mendalam pada
orang tua ini. Tutur katanya begitu lembut. Dan memang, Ki Patungga jarang sekali mengeluarkan
suaranya, kalau tidak dipandang perlu. Rangga benar-benar terkesan pada sikap
dan tingkah-laku yang ditunjuk-kan Ki Patungga. Dan kesan yang begitu mendalam
ini, sempat diutarakannya pada Pandan Wangi, saat
mereka diberi kesempatan beristirahat, setelah semalaman tidak memicingkan mata
sedikit pun juga.
Tapi, sebenarnya masih ada ganjalan pertanyaan dalam kepala Pendekar Rajawali
Sakti. Sampai saat ini Rangga belum tahu, persoalan apa yang sedang dihadapi Ki
Patungga, hingga meminta bantuan Pandan Wangi. Sedangkan Pandan Wangi sendiri
merasa tidak mampu menyelesaikannya seorang diri, hingga rasanya memang perlu
meminta bantuan Pendekar Rajawali Sakti.
Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu berjalan-jalan di halaman belakang
rumah Ki Patungga, yang sekaligus juga dijadikan padepokan untuk menempa anakanak muda dalam ilmu olah kanuragan dan kedigdayaan. Bukan hanya Rangga yang
terkesan melihat keindahan penataan taman halaman belakang ini. Tapi, Pandan
Wangi juga mengaguminya. Kelelahan dan rasa kantuk karena tidak beristirahat
semalaman, seakan lenyap begitu berada di dalam taman yang sangat indah ini.
"Pandan.... Sebenarnya apa yang menjadi persoalan di sini...?" tanya Rangga
akhirnya mengemukakan juga ganjalan dalam hatinya sejak tadi.
"Aku tidak bisa mengatakannya, Kakang. Nanti, biar Ki Patungga sendiri yang
menjelaskannya padamu," sahut Pandan Wangi terdengar ragu-ragu nada suaranya.
"Sejak kapan kau menyimpan rahasia padaku, Pandan...?" tegur Rangga bernada
curiga. "Jangan curiga dulu, Kakang," ujar Pandan Wangi langsung bisa mengerti arti
kata-kata Pendekar Rajawali Sakti. 'Terus terang, sebenarnya aku sendiri tidak
tahu." "Kau juga tidak tahu..."!" Rangga agak terperanjat juga mendengar ucapan Pandan
Wangi barusan. "Lalu, apa maksudmu memintaku datang ke sini, Pandan?"
"Bukan aku yang menginginkannya," sahut Pandan Wangi.
"Lalu siapa...?" desak Rangga, terus meminta penjelasan.
"Ki Patungga."
"Edan...! Apa arti semua ini...?" dengus Rangga semakin bingung tidak mengerti.
Melihat Rangga mendengus kebingungan, Pandan Wangi malah jadi tersenyum sendiri.
Dan ini membuat Rangga jadi mendelik, merasa dipermainkan terus-menerus. Tapi,
senyum Pandan Wangi malah semakin kelihatan lebar.
"Kenapa kau tersenyum, Pandan?" tegur Rangga.
"Tidak apa-apa," sahut Pandan Wangi seenaknya, seraya mengangkat bahunya
sedikit. "Kau jangan main-main, Pandan," terdengar agak dalam suara Rangga kali ini.
"Siapa yang main-main...?"
Rangga jadi kesal juga melihat sikap Pandan Wangi, tapi tidak mungkin lagi bisa
mendesak, dia tahu watak Pandan Wangi yang tidak mungkin bisa membuka mulut,
kalau sudah menyimpan rahasia.
Dan memang, selama ini Rangga tidak pernah tahu kelemahan Pandan Wangi dalam
menyimpan rahasia.
Tapi Pendekar Rajawali Sakti tahu, ada sesuatu yang disembunyikan si Kipas Maut
itu. "Baiklah, Pandan. Kalau kau terus-menerus begitu, aku tidak akan bertanya lagi
padamu," kata Rangga, dibuat ketus suaranya.
Setelah berkata demikian, Rangga bergegas melangkah cepat meninggalkan Pandan Wangi seorang diri. Tapi gadis cantik yang
dikenal berjuluk si Kipas Maut itu malah tertawa kecil. Dan semakin lama,
tawanya semakin terlepas. Rangga yang berjalan belum begitu jauh, langsung
menghentikan ayunan kakinya. Perlahan tubuhnya berbalik. Ditatapnya Pandan Wangi
dengan sinar mata tajam sekali.
"Kunyuk! Kau mau mempermainkan aku, ya" Awas kau...!" gerutu Rangga.
"Ha ha ha...!"
Pandan Wangi terus saja tertawa terbahak-bahak, melihat wajah Pendekar Rajawali
Sakti jadi memerah.
Dan tubuhnya cepat diputar berbalik, Ialu gadis itu berlari kencang begitu
melihat Rangga sudah melompat hendak menunjukkan kegusarannya.
Pandan Wangi terus berlari sambil tertawa-tawa.
Sengaja dia berlari melewati pepohonan, hingga cukup menyulitkan Rangga untuk
bisa mengejarnya.
Tapi mendadak saja Pandan Wangi berhenti
berlari, begitu di depannya tahu-tahu sudah berdiri Ki Patungga. Rangga yang
mengejar di belakang juga cepat berhenti. Dan Pendekar Rajawali Sakti segera
melangkah menghampiri Pandan Wangi, lalu berdiri di sebelah kanannya. Bersamaan
mereka membungkuk memberi salam penghormatan. Sedangkan Ki
Patungga membalas dengan mengangkat tangan kanannya sedikit.
"Ada apa" Kenapa kalian kejar-kejaran seperti bocah saja...?" tegur Ki Patungga
suaranya terdengar lembut.
"Kakang Rangga marah, Ki," sahut Pandan Wangi langsung, sambil menggeser kakinya
menjauhi Pendekar Rajawali Sakti.
Jawaban Pandan Wangi membuat kedua bola
mata Rangga jadi mendelik. Ki Patungga hanya tersenyum melihat tingkah sepasang
kekasih ini. "Sudah..., sudah. Ayo duduk di sini," ujar Ki Patungga mengajak, seraya duduk
bersila di rerumputan taman belakang yang cukup tebal dan lembut bagai
permadani. Kedua pendekar dari Karang Setra itu juga ikut duduk bersila di depan orang tua
ini. Tapi, Pandan Wangi sengaja masih menjaga jarak dengan Rangga.
Dia duduk agak ke pinggir, sebelah kiri Ki Patungga.
"Sebenarnya kalian tidur beristirahat, bukannya malah bermain kejar-kejaran,"
kata Ki Patungga, membuka suara.
"Maaf, Ki. Pandan Wangi yang memulai," ucap Rangga seraya melirik tajam pada
Pandan Wangi. "Ya, sudah.... Hanya kelakuan kalian seperti bocah saja. Masih suka kejarkejaran," lagi-lagi Ki Patungga menengahi.
Rangga hanya melirik Pandan Wangi sedikit.
Sedangkan yang dilirik hanya diam, dan terus senyum-senyum. Sedikit dibalasnya
lirikan Pendekar Rajawali Sakti. Dan kini perhatian mereka kembali terpusat pada
orang tua yang duduk bersila di depan ini.
"Aku tahu, apa yang membuat kalian seperti anak-anak tadi," kata Ki Patungga
lagi, masih dengan suara lembut.
Rangga dan Pandan Wangi hanya diam saja.
"Rangga! Kau sudah tidak sabar ingin tahu, kenapa aku memintamu datang ke sini,
bukan...?"
"Maafkan aku, Ki," ucap Rangga agak tersipu.
"Dan kau, Pandan. Kenapa kau mempermain-kannya" Seharusnya kau bisa memberitahu
walau pun tidak seluruhnya."
"Aku senang membuatnya gusar, Ki," sahut Pandan Wangi seenaknya.
"Kenapa?"
"Kakang Rangga sulit dibuat marah."
Ki Patungga jadi tersenyum mendengar jawaban langsung yang begitu polos dari


Pendekar Rajawali Sakti 115 Pusaka Pantai Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pandan Wangi. Memang tentang Pendekar Rajawali Sakti sudah banyak didengarnya, walaupun baru
kali ini saling berjumpa dan bertatapan muka. Apa yang dikatakan Pandan Wangi
memang benar. Pendekar Rajawali Sakti memang sulit sekali dipancing
kemarahannya. Bahkan walaupun dalam keadaan bertarung, sekali pun. Sehingga setiap gerak dan
langkahnya selalu dapat terkendali dengan baik dan sempurna.
Memang, seharusnya seperti itu sifat dan watak seorang pendekar sejati. Tidak
mudah terpancing segala bentuk nafsu yang bisa mengguncangkan kepercayaan diri.
Dan apa yang dilakukan Pandan Wangi tadi, memang bukan hanya sekali ini saja.
Sudah beberapa kali Rangga dipermainkan hanya untuk dipancing rasa
kemanusiaannya saja, tanpa harus dibebani watak dan jiwa kependekaran yang tidak
mudah ditemukan pada diri orang biasa.
Tapi memang, segala gerak langkah, jiwa dan alam pikiran Pendekar Rajawali Sakti
sudah terbentuk untuk menjadi seorang pendekar sejati yang tidak mudah
terpancing. Hanya saja, entah apa sebabnya, Pandan Wangi selalu saja bisa
membuat Pendekar Rajawali Sakti jadi penasaran. Walaupun, hal itu tidak pernah
berlangsung lama. Dan sikap Rangga pun sudah kembali seperti biasa. Seperti
sekarang ini, tidak terlihat lagi kegusaran pada sorot matanya.
Perhatiannya pun sudah kembali tertuju pada Ki Patungga.
"Maaf, Ki. Apakah sekarang ini kau sedang mengalami kesulitan, hingga
membutuhkan aku untuk datang ke sini..." Atau ada sesuatu yang ingin kau ketahui
dariku, Ki...?" tanya Rangga langsung.
"Sebenarnya bukan persoalan yang sangat pelik, Rangga. Aku hanya kehilangan
sebuah benda saja,"
sahut Ki Patungga, tetap lembut dan kalem nada suaranya.
"Benda..."! Aku tidak mengerti maksudmu, Ki."
"Kalau itu hanya benda biasa, aku tidak akan segelisah ini, Rangga. Tapi benda
yang hilang itu adalah titipan yang harus kujaga, agar jangan sampai jatuh ke
tangan orang lain. Tapi sekarang, benda itu sudah lenyap dari tempat
penyimpanannya. Aku sendiri tidak tahu, bagaimana pencuri itu bisa mengambilnya.
Sedangkan yang tahu tempat
penyimpanannya hanya aku sendiri saja," Ki Patungga mulai menjelaskan.
"Hm.... Itu benda pusaka, Ki?" tanya Rangga, agak menggumam.
"Bisa dikatakan begitu," sahut Ki Patungga.
"Berupa senjata?"
"Aku tidak tahu, apa bentuknya. Benda itu tidak pernah keluar dari tempatnya."
"Aneh...," gumam Rangga merasa keheranan sendiri.
"Sejak pertama kali berada di tanganku, tidak pernah aku membuka tutup peti
penyimpan benda itu, Rangga. Dan sampai hilang pun, aku tidak pernah tahu
bentuknya. Tapi...," Ki Patungga tidak melanjutkan.
'Tapi kenapa, Ki?"
"Aku pernah membawa kotak kayu itu ke bukit batu di belakang padepokanku ini,"
jelas Ki Patungga
seraya menunjuk ke arah bukit batu yang terlihat jelas dari taman ini.
Rangga mengarahkan pandangan ke bukit itu sebentar, kemudian kembali menatap Ki
Patungga. "Aku sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ingin ke sana membawa kotak benda
itu. Dan sampai di sana, sebuah batu tiba-tiba saja jatuh dari atas, tepat di
atas kepalaku. Terus terang, aku tidak sempat lagi menghindarinya. Dan batu yang
sebesar kerbau itu langsung menghantam kepalaku. Tapi, aneh.... Batu itu hancur
seketika. Bahkan aku tidak merasakan apa-apa sama sekali. Waktu itu, aku sempat
melihat tubuhku seperti diselubungi cahaya, ketika batu itu menghantam
kepalaku," sambung Ki Patungga.
"Hm...," gumam Rangga perlahan.
"Bukan itu saja kejadian aneh yang menimpaku, Rangga. Bahkan sejak ada benda itu
di sini, aku merasakan kekuatanku semakin berlipat dan terus bertambah. Bahkan
tidak ada seorang pun dari muridku yang merasa lelah dalam berlatih.
Kemampuan mereka juga begitu pesat. Tapi setelah benda itu hilang, semangat
berlatih muridku pun langsung mengendur. Bahkan aku sendiri sampai tidak
mengerti terhadap perubahan yang terjadi pada diriku sendiri."
"Perubahan apa, Ki?" tanya Rangga.
"Sama sekali aku tidak bisa lagi menggunakan tenaga dalam. Dan semua ilmu yang
kukuasai, juga seperti hilang begitu saja. Aku merasa benar-benar kosong...."
Rangga jadi terperanjat mendengarnya. Sungguh tidak disangka kalau Ki Patungga
akan menceritakan semuanya begitu gamblang, tanpa ada yang ditutupi sedikit pun
juga. Bahkan keadaan dirinya sendiri
diceritakan begitu jelas. Tapi, Rangga seperti tidak percaya.
Memang sulit untuk bisa diterima akal sehat.
Sebuah benda bisa membuat kekuatan seseorang bertambah, dan bisa juga membuat
orang itu melemah tanpa daya. Memang terdengar aneh sekali.
Tapi apa yang dialami Ki Patungga tidak bisa dibantah.
"Rangga! Terus terang saja, aku sangat mengharapkan bantuanmu untuk menemukan
kembali benda itu, dan membawanya kembali padaku," ujar Ki Patungga pelan.
Tapi entah kenapa, Rangga hanya membisu saja.
Namun keningnya kelihatan berkerut, seolah sedang memikirkan sesuatu. Mungkin
semua cerita yang disampaikan Ki Patungga tengah tercerna dalam benaknya.
Sementara, Pandan Wangi juga terdiam membisu memandangi wajah Rangga yang
kelihatan berkerut.
*** 3 Pendekar Rajawali Sakti kini sudah melangkah pergi, meninggalkan padepokan Ki
Patungga. Rangga terus berjalan, semakin jauh. Sedangkan Pandan Wangi terus
membuntuti sambil menuntun kudanya. Dan di belakang kuda putihnya berjalan kuda
hitam tunggangan Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga baru berhenti melangkah, setelah tiba di tepi sungai kecil yang berair
jernih. Pendekar Rajawali Sakti langsung menghempaskan tubuhnya duduk di tepian
sungai sambil menghembuskan napas
panjang. Sementara Pandan Wangi hanya memperhatikan saja dari belakang.
Dibiarkannya kuda-kuda itu melepas dahaga di sungai ini. Rangga berpaling
sedikit ke belakang, lalu meminta Pandan Wangi mendekat lewat egosan kepalanya.
Pandan Wangi bergegas mendekati, dan langsung duduk di sebelah kiri Pendekar
Rajawali Sakti.
"Kembalilah ke sana, Pandan. Jaga Ki Patungga...,"
ujar Rangga perlahan.
"Lalu, kau sendiri...?" tanya Pandan Wangi.
"Biar aku coba menyelidikinya sendiri," sahut Rangga seraya berusaha memberi
senyum. "Kau kelihatannya seperti tak bersemangat, Kakang."
"Tidak. Aku hanya berusaha memikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk
memecahkan masalah ini."
Pandan Wangi terdiam, memandangi wajah
tampan yang kelihatan sedikit kusut itu. Sedangkan, Rangga sudah duduk bersila
menghadap ke arah sungai kecil yang mengalir di depannya. Kini Pendekar Rajawali
Sakti sudah mengambil sikap bersemadi. Dan ini biasa dilakukan untuk menjaga
kelancaran aliran darahnya.
"Pergilah, Pandan. Kembalilah ke sana," ujar Pendekar Rajawali Sakti.
Pandan Wangi masih diam sebentar, kemudian bangkit berdiri untuk menghampiri
kudanya. Sebentar dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti yang sudah mulai
bersemadi. Kemudian melompat naik ke punggung kuda putih tunggangannya.
"Hiyaaa...!"
Pandan Wangi langsung cepat menggebah kuda putihnya. Debu seketika mengepul
membumbung tinggi tersepak kaki-kaki kuda yang dipacu cepat itu.
Sementara, Rangga terus duduk bersila dengan sikap bersemadi. Dan matanya sudah
terpejam rapat.
Sementara tidak jauh, kuda hitam Dewa Bayu menungguinya. Sedangkan di angkasa,
terlihat Rajawali Putih melayang-layang menjaga pemuda ini.
Kesunyian pun terasa melanda tepian sungai ini.
Tidak lagi terdengar suara apa-apa. Bahkan angin pun seakan berhenti berhembus.
Dan Rangga terus bersemadi untuk melancarkan aliran darahnya.
*** Seharian penuh Rangga bersemadi di tepi sungai.
Dan saat matahari mulai menenggelamkan diri di ufuk barat, Pendekar Rajawali
Sakti baru bangkit dari semadinya. Sebentar pemuda berbaju rompi putih itu masih
duduk bersila, kemudian bergerak bangkit
berdiri. Wajahnya yang tadi kelihatan kusut, kini sudah kembali segar. Dan
tubuhnya juga sudah kelihatan pulih seperti semula, setelah aliran darahnya
terasa lancar Rangga menggeliatkan tubuhnya beberapa kali, lalu menghembuskan
napas panjang. Dicobanya untuk mengusir rasa penat akibat seharian penuh duduk bersila tanpa
bergeming sedikit pun juga. Dan bibirnya lalu tersenyum melihat Dewa Bayu masih
berada tidak jauh darinya. Kuda hitam itu menghampiri setelah Rangga memanggil
dengan isyarat tangan.
"Kita akan menghadapi persoalan rumit yang tidak kecil, Dewa Bayu," ujar Rangga
seraya membelai kepala kuda hitam itu.
Dewa Bayu hanya mendengus sedikit sambil
mengangguk-anggukkan kepala, seakan bisa
mengerti semua yang diucapkan Pendekar Rajawali Sakti.
"Aku tidak tahu, benda apa yang dimaksudkan Ki Patungga. Tapi pengaruhnya
dahsyat luar biasa. Kita harus bisa menemukan benda itu kembali, sebelum
digunakan untuk menghancurkan dunia ini, Dewa Bayu," kata Rangga lagi.
Dewa Bayu kembali mendengus kecil. Kaki
depannya langsung dihentakkan beberapa kali ke tanah. Rangga tersenyum melihat
tingkah kuda tunggangannya, kemudian mengambil tali kekangnya.
Dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti melompat naik dengan gerakan indah dan
ringan sekali. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti belum juga menghentakkan tali
kekang kuda ini. Dan pandangannya segera beredar ke sekeliling. Tampak
pemandangan di sekitarnya begitu indah, dengan bias-bias sang mentari yang
hampir tenggelam menjadi latar
belakangnya. Begitu indah warnanya yang memerah jingga, dan terasa lembut
membelai kulit.
"Ayo, Dewa Bayu. Kita cari makanan dulu di desa Bahar Arum," ujar Rangga.
"Yeaaah...!"
Sekali gebah saja, kuda hitam bernama Dewa Bayu itu sudah melesat kencang
membawa Pendekar Rajawali Sakti di punggungnya. Memang sungguh luar biasa
kecepatan lari kuda ini. Bahkan tidak ada bandingannya di dunia ini. Begitu
cepatnya, sehingga bagaikan berlari di atas permukaan tanah saja. Debu tampak
berhamburan dan beterbangan tersepak kaki-kaki kuda yang dipacu cepat sangat
luar biasa. Sebentar saja mereka sudah tiba di perbatasan Desa Bahar Arum yang terletak
tidak seberapa jauh dari pinggiran pantai. Angin yang bertiup di desa ini
membawa aroma laut yang tidak akan ditemui di daerah lain. Rangga memperlambat
laju kudanya setelah mulai memasuki mulut desa yang tidak begitu besar ini. Dan
rumah-rumahnya pun terlihat agak berjauhan, antara yang satu dengan yang
lainnya. Beberapa penduduk yang melihat kedatangan Pendekar Rajawali Sakti hanya
memandangi sekilas saja. Tapi, cukup terasa kalau pandangan mereka mengandung
kecurigaan. Rangga merasakan adanya sesuatu yang ganjil di desa ini. Dan
perasaan yang berkembang menjadi dugaan itu, tidak bertahan lama dalam benaknya.
Begitu berada di tengah-tengah desa ini, terlihat sekitar lima orang berjajar di
tengah jalan. Sikap mereka seolah-olah menghadang Pendekar Rajawali Sakti.
"Hm...," Rangga jadi menggumam sedikit.
Pendekar Rajawali Sakti semakin memperlambat jalan kudanya. Sedangkan matanya
terus memperhatikan lima orang yang berdiri jelas menghadang
jalannya. Tampak orang yang berada paling tengah, berusia sekitar tujuh puluh
tahun lebih. Sementara empat orang yang mendampinginya masih muda-muda. Dan
mungkin berusia belum mencapai tiga puluh tahun. Gagang golok tampak bersembulan
di balik ikat pinggang masing-masing. Hanya orang tua itu saja yang tidak
kelihatan membawa golok, kecuali sebatang tongkat kayu yang tergenggam di tangan
kanannya. Seakan, tongkat itu cukup membantunya untuk bisa berdiri tegak.
Rangga, segera menghentikan langkah kudanya setelah jaraknya tinggal sekitar
satu batang tombak lagi. Sementara, penduduk yang tadi hilir-mudik di jalan ini,
tampak bergegas menyingkir seperti sudah bisa mengerti apa yang akan terjadi.
"Hup!"
Dengan gerakan ringan sekali, Rangga melompat turun dari punggung kudanya.
Kakinya melangkah beberapa tindak ke depan dengan tangan kiri masih menggenggam
tali kekang, sehingga kuda hitamnya mengikuti dari belakang. Sebentar langkahnya
berhenti, kemudian kembali bergerak lagi. Dan Pendekar Rajawali Sakti kembali
berhenti setelah jaraknya tinggal beberapa langkah dari lima orang laki-laki
yang menghadangnya di tengah jalan ini.
"Maaf, boleh aku lewat...?" sapa Rangga dengan senyum ramah terkembang di bibir.
"Siapa kau" Dan, apa maksud kedatanganmu ke desa ini...?" laki-laki tua yang
berada paling tengah malah melontarkan pertanyaan dengan nada ketus.
"Aku pengembara yang kebetulan lewat. Aku hanya mencari tempat beristirahat,"
sahut Rangga, tetap bersikap ramah.
"Ketahuilah, Anak Muda. Desa ini sudah tertutup
bagi orang asing sepertimu. Dan tidak ada tempat untuk beristirahat di sini.
Sebaiknya, cepat pergi sebelum penduduk desa ini merajammu!"
"Oh..."!"
Rangga agak terkejut juga mendengar kata-kata yang sangat ketus dan tidak
bersahabat itu.
Dipandanginya orang tua berjubah putih di depannya ini. Sungguh tidak disangka
akan seperti ini sambutan yang diperoleh di Desa Bahar Arum.
Sambutan yang sama sekali tidak menyenangkan bagi siapa pun juga. Saat itu,
empat orang anak muda yang mendampingi orang tua itu sudah mencabut golok
masing-masing. Rangga hanya melirik sedikit saja, tanpa memberi tindakan apaapa. Pandangan matanya kembali tertuju pada orang tua yang berada tepat di
depannya ini. "Maaf, Ki. Kedatanganku ke sini tidak ada niat jahat sedikit pun juga. Aku hanya
ingin bermalam.
Dan besok pagi sudah pergi lagi dari sini," kata Rangga, mencoba menjelaskan.
"Kau tidak perlu banyak bicara, Anak Muda. Siapa pun kau adanya, cepat
tinggalkan desa ini!" sentak orang tua itu, kasar.
"Hm.... Kalau boleh tahu, kenapa desa ini tertutup bagi pendatang, Ki...?" tanya
Rangga ingin tahu.
"Semua orang yang datang ke sini, hanya membuat kesengsaraan saja. Dan
kedatanganmu, pasti sama dengan yang lainnya. Cepatlah pergi, sebelum muridmuridku kuperintahkan mengusirmu secara kasar!"
"Aku tidak pernah membuat keributan, Ki. Apa lagi menyengsarakan orang lain."
"Sudah, jangan banyak omong! Cepat pergi kataku...!" bentak orang tua itu dengan
mata mendelik. Rangga tidak bisa lagi memaksa, dan hanya mengangkat pundaknya sedikit. Kemudian
tubuhnya berbalik, dan kembali melompat naik ke punggung kudanya. Tanpa
mengeluarkan satu kata pun juga, Pendekar Rajawali Sakti menarik tali kekang
kudanya. Segera saja ditinggalkannya jalan desa itu, dan kembali ke arah semula.
Sementara orang tua dan empat orang muridnya itu terus memandangi kepergian
pemuda berbaju rompi putih ini.
*** Rangga menghentikan langkah kudanya setelah
melewati perbatasan Desa Bahar Arum. Pendekar Rajawali Sakti lalu melompat turun
dari punggung kudanya dengan gerakan ringan sekali. Dipandanginya Desa Bahar
Arum yang sudah mulai bermandikan cahaya pelita. Dan memang, malam sudah datang
menyelimuti sebagian permukaan bumi ini
Rangga benar-benar tidak mengerti melihat keadaan di desa itu, sehingga para
penduduknya tidak menginginkan ada seorang pun pendatang yang memasukinya.
Berbagai macam pertanyaan langsung berkecamuk dalam kepalanya. Pertanyaanpertanyaan yang belum bisa terjawab sampai saat ini.
"Hhh...! Aneh.... Kenapa mereka menutup desanya dari orang luar...?" gumam
Rangga bertanya pada diri sendiri sambil menghembuskan napas panjang.
Pendekar Rajawali Sakti melangkah mendekati sebuah pohon yang cukup besar,
kemudian duduk bersila di bawahnya. Sedangkan Dewa Bayu berada tidak jauh dari
pemuda ini. Tampak pandangan Rangga tidak berkedip, terus tertuju ke arah Desa
Bahar Arum. Namun tiba-tiba saja kelopak matanya jadi menyipit, begitu melihat
seseorang berjalan tergesa-gesa menuju ke arahnya. Rangga tetap diam menunggu
dan terus memperhatikan.
Agak terkejut juga kening Pendekar Rajawali Sakti setelah mengetahui kalau orang
yang dating menghampirinya ini ternyata seorang gadis muda. Di bawah siraman
cahaya rembulan, jelas sekali terlihat kalau gadis itu masih sangat muda.
Paling-paling usianya baru sekitar tujuh belas tahun. Pakaiannya serba hitam dan


Pendekar Rajawali Sakti 115 Pusaka Pantai Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

cukup ketat, sebagaimana layaknya orang-orang dari kalangan persilatan. Tampak
sebuah pedang berukuran pendek tergantung di pinggangnya yang ramping. Gadis itu
berhenti melangkah, setelah jaraknya sudah dekat di depan Rangga yang masih
tetap duduk bersila di bawah pohon.
"Maaf, apakah kedatanganku mengganggu istirahatmu...?" ucap gadis itu lembut.
"Tidak," sahut Rangga tetap duduk di bawah pohon ini.
"Kau yang tadi datang ke Desa Bahar Arum?" tanya gadis itu, seperti ingin
memastikan. "Benar," sahut Rangga seraya mengangguk sedikit.
"Boleh aku duduk di sini?"
"Silakan."
Gadis itu mengambil tempat tidak jauh di depan Pendekar Rajawali Sakti. Malah,
seperti dibiarkan saja kedua bola mata pemuda itu merayapi wajah dan tubuhnya.
Dan memang, Rangga sedang
mengamati gadis yang sama sekali tidak dikenalnya ini. Tapi Pendekar Rajawali
Sakti sudah bisa menduga kalau gadis ini memiliki kepandaian. Hanya saja, sukar
untuk mengukur tingkatannya. Tapi dari sikapnya yang lembut dan sopan, Rangga
tidak mau menduga buruk padanya.
"Maaf, apa keperluanmu menemuiku di sini, Nisanak...?" tanya Rangga, juga dengan
sikap dan tutur kata ramah.
"Aku tahu, kedatanganmu ke Desa Bahar Arum membawa maksud baik. Tapi memang
sangat disayangkan, Ki Jarokamin memandang lain pada semua orang yang datang ke sana,"
tutur gadis itu dengan suara tetap lembut. "Oh, ya. Namaku Rukmini."
"Rangga," sambut Rangga juga memperkenalkan diri.
Sesaat mereka terdiam dan saling melontarkan senyum, setelah sama-sama
memperkenalkan diri masing-masing.
"Boleh aku memanggilmu, Kakang..." Aku yakin kau lebih tua dariku," pinta gadis
berwajah cukup cantik yang tadi memperkenalkan diri bernama Rukmini.
"Dengan senang hati," sambut Rangga diiringi senyum cukup lebar.
"Begini, Kakang. Sejak kau datang ke desa tadi, aku memang sudah ingin
menemuimu. Tapi, rupanya Ki Jarokamin sudah lebih dulu menghadangmu, sehingga
aku tidak bisa langsung menemuimu. Dan aku harus mencari saat yang tepat," kata
Rukmini. "Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Rangga.
"Ayahku yang menyuruh."
"Ayahmu...?"
"Ya, ayahku kepala desa di Desa Bahar Arum.'
"Hmmm...."
"Kau pasti merasa aneh. Memang, meskipun menjadi kepala desa, tapi ayahku tidak
punya kuasa apa-apa di sana. Semuanya sudah dipegang Ki
Jarokamin. Dia bukan saja orang yang tertua di Desa Bahar Arum, tapi juga
menguasai desa itu dengan murid-muridnya. Tidak ada seorang pun yang berani
membantah semua yang diperintahkan. Semua penduduk Desa Bahar Arum takut
padanya. Tapi, Ki Jarokamin tidak pernah angkuh dan merasa dirinya paling
ditakuti. Entah kenapa dalam beberapa hari ini dia jadi berubah. Dan...,"
Rukmini tidak melanjutkan.
"Kenapa, Rukmini?" tanya Rangga, meminta diteruskan.
"Semua sikapnya jadi berubah garang, setelah menghilang sekitar satu purnama.
Baru beberapa hari ini dia kelihatan lagi di desa. Tapi, semua sikapnya sudah
sangat jauh berubah. Bahkan sepertinya bukan lagi Ki Jarokamin, tapi kepala
perampok yang sudah bisa menguasai Desa Bahar Arum,' sambung Rukmini.
"Hmmm...," kembali Rangga menggumam dengan kepala terangguk-angguk.
*** 4 Malam terus merayap semakin larut. Sementara Rangga lebih banyak mendengarkan
semua yang dikatakan Rukmini tentang Desa Bahar Arum yang kini sudah berubah
begitu jauh, akibat perubahan sikap dan tindakan Ki Jarokamin. Gadis itu sendiri
tidak tahu, apa yang menyebabkannya. Dan
kebingungan gadis ini seperti menyiratkan ketidak mengertian seluruh penduduk di
Desa Bahar Arum.
Sampai Rukmini kehabisan bahan pembicaraan, Rangga masih tetap diam membisu
dengan kening kelihatan berkerut. Jelas sekali ada sesuatu yang tengah
dipikirkan Pendekar Rajawali Sakti. Dan sesekali terdengar tarikan napasnya yang
dalam, dan hembusannya yang kuat. Cukup lama mereka
membisu. Kembali Rangga menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuatkuat. "Rukmini, kenapa ayahmu menyuruh kau menemuiku malam-malam begini" Apa tidak
khawatir kalau aku punya maksud buruk padamu...?"
pertanyaan Rangga jelas bernada memancing.
"Ayahku tidak pernah salah dalam menilai seseorang, Kakang. Dan kenyataannya,
memang benar. Kau bukan orang jahat. Ayahku mengatakan, kau seorang pendekar
digdaya yang akan
mengembalikan Desa Bahar Arum seperti sediakala,"
sahut Rukmini, kalem.
"Kalau ternyata dugaan ayahmu salah...?" pancing Rangga lagi.
"Mungkin malam ini aku terpaksa mengeluarkan sedikit keringat," sahut Rukmini
tersenyum. Entah kenapa, Rangga jadi ikut tersenyum.
Jawaban Rukmini yang singkat dan ringan itulah yang membuat Rangga jadi
tersenyum sendiri. Sudah jelas gadis ini memiliki simpanan. Tapi apa mungkin
bisa menghadapi orang-orang yang sudah berpengalaman dalam mengarungi ganasnya
rimba persilatan..." Dan lagi, entah sampai di mana tingkat kepandaiannya.
Atau mungkin hanya sekadar bisa untuk menjaga diri dari keisengan laki-laki.
Entahlah. Yang jelas, Rangga mulai menyukai sikap Rukmini yang polos ini.
"Sudah terlalu malam. Kau tidak pulang, Rukmini?"
tegur Rangga halus.
"Aku akan menemanimu di sini sampai pagi,"
jawab Rukmini kalem.
"Heh..."!" Rangga jadi terkejut.
"Kenapa" Kau tidak suka?"
"Bukan.... Bukannya aku tidak senang. Tapi ini sudah terlalu malam, Rukmini. Aku
khawatir...,"
Rangga tidak meneruskan.
"Kau tidak perlu khawatir, Kakang. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Justru
kalau sampai besok pagi, kita bisa ke desa sama-sama. Mereka tidak akan berani
menegur jika kau berjalan bersamaku, Kakang," jelas Rukmini.
"Hm...," Rangga hanya menggumam sedikit
"Kau tidak percaya padaku, Kakang?"
"Aku percaya."
"Kalau begitu, hilangkan semua keraguanmu. Lagi pula, mana mungkin aku
memperkosamu...?"
Rangga jadi tersenyum kecut mendengar gurauan gadis ini. Walaupun kelihatannya
masih muda, tapi Rukmini seperti sudah pengalaman saja dalam
menghadapi laki-laki. Dan memang, tidak mungkin seorang wanita memperkosa lakilaki. Kecuali, kalau wanita itu sudah gila.
"Ya, sudah. Aku ingin tidur dulu," ujar Rangga seraya menyandarkan punggungnya
ke pohon. Tapi belum juga Pendekar Rajawali Sakti memejamkan matanya, mendadak saja
terlihat kilatan seperti bola api yang berkelebat begitu cepat ke arah mereka.
Rangga cepat melompat bangkit, dan langsung mendorong tubuh Rukmini ke belakang
hingga jatuh terguling. Dan tepat pada saat itu, bola api yang meluncur dari
angkasa itu jatuh menghantam tanah, tempat mereka duduk tadi.
Glarrr...! Suatu ledakan dahsyat pun seketika terdengar menggelegar, hingga menggetarkan
tanah. Dan saat itu juga, terlihat pohon tempat Rangga duduk di bawahnya tadi,
langsung tumbang seperti terhantam satu pukulan yang begitu keras mengandung
pengerahan tenaga dalam tinggi. Sementara itu, Rangga cepat melompat mendekati
Rukmini yang sudah bangkit berdiri.
Belum lagi terlintas satu pertanyaan dalam benak, mendadak saja melesat sebuah
bayangan hitam yang begitu cepat, langsung menyambar ke arah Pendekar Rajawali
Sakti. "Upths! Yeaaah...!"
Cepat-cepat Rangga meliukkan tubuhnya. Dan seketika dia langsung melompat ke
belakang, menghindari sambaran bayangan hitam itu. Dan pada saat yang sama,
Rangga melepaskan satu pukulan cukup keras disertai sedikit pengerahan tenaga
dalam. Tapi pukulannya hanya menyambar angin saja, karena bayangan hitam itu
cepat sekali menghindar. Bahkan
terus melesat menjauhi pemuda berbaju rompi putih ini.
Tepat di saat bayangan hitam itu mendarat, terlihat beberapa tubuh berpakaian
serba hitam berlompatan dari balik semak dan pepohonan di sekitar tempat ini.
Dan sebentar saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah terkepung tidak kurang dari
sepuluh orang yang semuanya berpakaian serba hitam. Rangga cepat menggeser
kakinya, mendekati Rukmini yang sudah menggenggam pedang.
*** Cukup sulit untuk dapat mengenali, karena wajah mereka mengenakan kain penutup
yang juga berwarna hitam pekat. Hanya kedua matanya saja yang terlihat menyorot tajam,
menatap Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu, Rangga bisa melihat kalau mereka
tidak menghiraukan adanya Rukmini di tempat ini. Seakan-akan, gadis itu tidak
masuk dalam hitungan mereka. Rangga jadi berpikir juga, apakah memang dirinya
yang diincar..."
"Siapa kalian" Mengapa kalian menyerangku...?"
agak keras suara Rangga.
"Seraaang...!"
Tapi jawaban yang diberikan justru teriakan berupa perintah untuk menyerang
Pendekar Rajawali Sakti.
Dan seketika itu juga, orang berbaju serba hitam yang berjumlah sepuluh orang
ini langsung berlompatan menyerang pemuda berbaju rompi putih itu. Dan mereka
sama sekali tidak menghiraukan Rukmini.
Dan ini tentu saja membuat gadis itu jadi kebingungan sendiri.
"Hup! Hiyaaa...!"
Sementara Rangga sudah harus berjumpalitan menghindari setiap serangan yang
datang dari segala arah. Gerakan orang-orang berpakaian serba hitam ini sungguh
luar biasa cepatnya. Hingga, Rangga jadi agak kelabakan juga dibuat mereka. Tapi
dalam waktu tidak terlalu lama, Pendekar Rajawali Sakti sudah bisa menguasai
keadaan. "Hap! Yeaaah...!"
Sambil berteriak keras menggelegar, Rangga cepat memutar tubuhnya. Dan dengan
kecepatan yang begitu sukar diikuti pandangan mata biasa, Pendekar Rajawali
Sakti melepaskan satu pukulan keras disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.
Pukulan yang begitu cepat dan sempurna ini, tepat menghantam dada salah seorang
lawannya. Diegkh! "Akh...!"
Satu pekikan yang agak tertahan pun terdengar, disusul terpentalnya satu orang
berpakaian serba hitam. Sementara, Rangga tidak sempat lagi melihat keadaan
lawannya, karena harus cepat merunduk.
Memang, dari arah belakang berkelebat sebuah golok yang berkilatan tajam!
Wusss...! Golok itu lewat sedikit saja di atas kepala Pendekar Rajawali Sakti. Dan saat
itu, kaki kiri Rangga menghentak ke belakang, tepat menghantam perut penyerang
dari belakang ini. Kembali terdengar jeritan tertahan dari belakang Pendekar
Rajawali Sakti. Dan terlihat lagi seorang ambruk ke tanah sambil mengerang
kesakitan. "Hap!"
Rangga cepat menegakkan tubuhnya kembali.
Namun pada saat itu juga satu orang penyerang
membabatkan goloknya dari arah sebelah kiri. Maka Rangga cepat menarik tubuhnya
ke belakang. Dan tangan kirinya langsung bergerak cepat, menghantam pergelangan
tangan yang memegang golok itu.
Plak! "Akh...!"
"Yeaaah...!"
Dan seketika satu sodokan yang begitu keras diberikan Rangga, tepat menghantam
perut. Akibatnya, orang itu terbungkuk. Maka saat itu juga, Rangga melepaskan satu
pukulan ke wajah, sehingga tidak dapat dielakkan lagi. Orang berpakaian serba
hitam itu kontan meraung keras dengan kepala terdongak ke atas. Tampak dari kain
hitam yang membungkus wajahnya, darah muncrat keluar akibat pukulan yang
mendarat telak di wajah terselus bung kain hitam itu.
"Hiyaaa...!"
Satu tendangan yang cepat diberikan Pendekar Rajawali Sakti, membuat orang
berpakaian serba hitam itu terpental cukup jauh ke belakang. Dan keras sekali
tubuhnya ambruk ke tanah. Hanya sebentar dia menggeliat, kemudian diam tidak
bergerak-gerak lagi. Dalam beberapa gebrakan saja, sudah tiga orang yang
tergeletak tidak bernyawa lagi.
Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti sudah cepat memutar tubuhnya, begitu
merasakan ada seragan datang dari belakangnya.
"Hiyaaa...!"
Sambil berputar demikian, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan satu tendangan yang
sangat keras, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Begitu cepat
tendangannya, sehingga orang berpakaian serba hitam yang hendak membokong itu
tidak dapat lagi
menghindarinya. Dan tendangan itu pun tepat menghantam dadanya.
Des! "Akgh...!"
"Yeaaah...!"
Begitu orang itu terjajar ke belakang, Rangga kembali memberi satu pukulan keras
dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Akibatnya pukulan itu kembali menghantam dada
orang ini, hingga kembali menjerit keras dengan tubuh terpental jauh ke
belakang. Bruk! Keras sekali orang itu menghantam tanah sekitar dua batang tombak di depan
Pendekar Rajawali Sakti. Hanya sebentar saja tubuhnya menggeliat, kemudian
mengejang beberapa saat dan diam tidak bergerak-gerak lagi. Saat itu, Pendekar
Rajawali Sakti sudah berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal erat. Tapi
orang-orang berpakaian serba hitam yang tinggal enam orang lagi, tidak melakukan
serangan. Mereka hanya mengepung dengan golok berkilatan melintang di depan dada.
Dan tiba-tiba saja, mereka cepat berlompatan pergi. Begitu cepat lesatan mereka,
hingga dalam waktu singkat saja sudah lenyap tertelan kegelapan malam. Dan
mereka pergi dengan arah yang
berlawanan, membuat Rangga tidak mungkin bisa mengejar lagi. Sebentar Pendekar
Rajawali Sakti terdiam, kemudian melangkah menghampiri salah seorang yang
tergeletak tidak bernyawa lagi.
"Hhh!"
Sambil mendengus, Rangga melepaskan kain
hitam yang menutupi wajah orang itu. Dan keningnya agak berkerut memandangi
wajah seorang laki-laki
berusia muda yang sudah tidak bernyawa lagi ini. Lalu cepat dihampiri yang
lainnya, dan dibukanya topeng lawannya satu persatu. Ternyata mereka semua masih
berusia muda, dan mungkin belum ada delapan belas tahun umurnya.
"Hmmm...," Rangga jadi menggumam sendiri.
Ada satu keanehan terasa dalam hati Pendekar Rajawali Sakti. Keanehan yang
kemudian berkembang menjadi sebuah pertanyaan yang begitu sulit dijawab. Rangga
memutar tubuhnya, saat mendengar langkah kaki dari arah belakang. Tampak Rukmini
menghampiri dengan pedang masih tergenggam di tangan kanan. Gadis itu memasukkan
pedangnya ke dalam warangka di pinggang, setelah dekat dengan Pendekar Rajawali
Sakti. "Kau kenal mereka, Rukmini?" tanya Rangga langsung.
"Rukmini memandangi empat orang berpakaian serba hitam yang bergelimpangan di
sekitarnya tanpa nyawa lagi. Sebentar kemudian, kembali ditatapnya wajah tampan
di depannya ini. Sedangkan Rangga sendiri terus memandangi gadis itu dengan mata
tidak berkedip sedikit pun. Perlahan Rukmini menggelengkan kepala.
"Kau putri kepala desa. Masak tidak mengenali mereka sama sekali, Rukmini...?"
Rangga seperti tidak percaya pada gadis itu.
"Aku tidak kenal," sahut Rukmini meyakinkan.


Pendekar Rajawali Sakti 115 Pusaka Pantai Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Mereka bukan warga Desa Bahar Arum?" desak Rangga lagi.
"Hampir semua penduduk Desa Bahar Arum aku kenal, Kakang. Tapi, aku tidak kenal
mereka semua. Bahkan melihatnya saja belum pernah," sahut Rukmini meyakinkan lagi.
"Apa mereka bukan murid-murid Ki Jarokamin?"
tanya Rangga menduga.
"Entahlah...," desak Rukmini. Kali ini suaranya terdengar seperti ragu-ragu.
Rangga memandang dengan sinar mata begitu dalam, langsung ke bola mata gadis
itu. "Di Desa Bahar Arum, hanya murid-murid Ki Jarokamin saja yang tidak kukenal,
Kakang. Mereka jarang sekali keluar dari padepokan, kecuali pada waktu-waktu
tertentu. Jadi, sulit untuk mengenal mereka satu persatu. Sedangkan ayahku saja
tidak bisa mengenalinya. Dan lagi, murid-murid Ki Jarokamin bukan pemuda-pemuda
Desa Bahar Arum.
Entah dari mana mereka datang," jelas Rukmini.
"Tidak ada seorang pun pemuda Desa Bahar Arum yang belajar padanya?" tanya
Rangga seperti tak percaya.
"Ki Jarokamin tidak mau menerima. Dan pemuda-pemuda Desa Bahar Arum belajar ilmu
olah kanuragan dari ayahku saja. Tapi, itu juga tidak secara tetap. Karena mereka
harus bekerja di ladang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari."
"Hm...," Rangga menggumam kembali.
*** Dari keterangan yang diutarakan Rukmini, jelas sekali kalau mereka bukanlah
anak-anak muda Desa Bahar Arum. Kalau hanya mempelajari ilmu olah kanuragan
setengah-setengah saja, tidak mungkin mereka bisa setangguh itu. Dan gerakan
mereka juga begitu cepat, sehingga hampir tak dapat diikuti pandangan mata
biasa. Tapi kalau dilihat dari usia yang masih begitu
muda, rasanya sulit bisa diterima kalau kepandaian mereka sudah begitu tinggi.
Tiba-tiba saja Rangga jadi teringat ucapan Ki Patungga di pertapaannya. Orang
tua itu mengatakan kalau benda yang hilang dari pertapaannya, memiliki keampuhan
yang sukar dipercaya. Benda itu bisa membuat orang jadi berlipat ganda
kekuatannya, tapi juga bisa membuat orang jadi tidak berdaya seperti bayi.
"Apakah orang-orang berpakaian serba hitam ini sudah terkena pengaruh benda
pusaka milik Ki Patungga...?" pertanyaan seperti ini terus mengganggu benak
Rangga. Dan kalau memang benar, dunia ini bisa hancur dibuatnya. Mereka yang
tidak pernah mengenal ilmu olah kanuragan pun, dalam sekejap bisa berubah
menjadi seorang yang tangguh dan sangat berbahaya.
"Apa yang kau pikirkan, Kang?" tegur Rukmini.
"Oh, tidak...," sahut Rangga agak tergagap.
Pendekar Rajawali Sakti lalu melangkah menjauhi tempat ini. Sementara, Rukmini
mengikuti dari belakang. Dan kini, Rangga sudah berada di samping kudanya, lalu
terus melangkah sambil menuntun Dewa Bayu. Setelah cukup jauh dari tempat
pertarungan tadi, Pendekar Rajawali Sakti baru berhenti melangkah. Dan kudanya
ditambatkan pada sebatang pohon. Sementara, Rukmini hanya diam saja
memperhatikan pemuda yang kini sedang mengumpulkan ranting-ranting kering untuk
api unggun. Kini nyala api mulai melahap ranting-ranting kering, Sehingga
membuat udara di sekitarnya jadi terasa lebih hangat. Rukmini mendekati, dan
duduk tidak jauh di sebelah kanan pemuda berbaju rompi putih yang tampan dan
gagah ini. "Kakang, mungkin mereka musuh-musuhmu," kata
Rukmini membuka suara lagi.
"Kenapa kau berpikir seperti itu, Rukmini?" tanya Rangga seraya berpaling
menatap gadis di sebelahnya.
"Perhatian mereka hanya tertuju padamu saja.
Sama sekali aku tidak diusik," sahut Rukmini.
Rangga jadi terdiam lagi. Memang benar yang dikatakan Rukmini barusan. Orangorang berpakaian serba hitam itu hanya menyerang Pendekar Rajawali Sakti saja.
Keanehan itu juga sebenarnya sudah sejak tadi berada dalam kepala Rangga. Dan
saat itu juga terlintas sedikit pikiran buruk dalam benaknya. Tapi Rangga tidak
ingin menduga kalau Rukmini salah seorang dari penyerang-penyerangnya.
"Tidurlah. Besok pagi kita temui ayahmu," ujar Rangga.
"Kau sendiri...?"
"Aku akan berjaga-jaga, kalau-kalau mereka datang lagi," sahut Rangga.
"Sebaiknya di antara kita memang tidak ada yang tidur, Kakang. Aku sudah
terbiasa tidak tidur malam,"
kata Rukmini menolak permintaan Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga tidak mau memaksa. Walaupun baru
beberapa saat mengenal, tapi watak gadis ini sudah bisa ditelusurinya. Dia.
tahu, Rukmini tidak bisa dipaksa. Apa yang menjadi keinginannya, tidak bisa
dihalangi oleh siapa pun. Watak yang begitu mirip Pandan Wangi.
"Kalau begitu, kau saja yang berjaga, Rukmini. Aku ingin tidur dulu," kata
Rangga. "Silakan...," ringan sekali Rukmini menyahuti.
Rangga langsung saja merebahkan tubuhnya.
Sedangkan Rukmini tetap duduk di depat api yang
menyala cukup besar ini. Dan cukup lama juga Rangga berbaring, namun matanya
tidak juga mau terpejam. Dan matanya terus menerawang jauh, merayapi langit
kelam penuh bintang yang bermandikan cahaya bulan ini. Entah, apa yang ada dalam
Kepala Pendekar Rajawali Sakti, hingga terasa sulit sekali untuk memejamkan
matanya. *** 5 Pagi-pagi sekali, di saat matahari baru saja menampakkan cahaya di ufuk timur,
Rangga dan Rukmini sudah berada di Desa Bahar Arum. Hanya beberapa orang saja
yang terlihat sudah keluar dari dalam rumahnya. Dan mereka seakan tidak peduli
terhadap dua anak muda yang menyusuri, jalan tanah berdebu membelah desa ini.
Mereka berjalan bersisian tanpa bicara sedikit pun juga. Dan Rangga membiarkan
Dewa Bayu mengikuti dari belakang.
Dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar, berhalaman
sangat luas, dan berpagar bambu. Mereka langsung saja menye-berangi halaman
rumah itu. Dan Rukmini juga langsung masuk ke dalam beranda depan. Dibukanya
pintu yang tidak terkunci itu. Sementara, Rangga menunggu di depan beranda.
Hanya sebentar saja Rukmini menghilang di dalam rumah ini, tak lama sudah
kembali lagi bersama seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Bajunya
warna biru berkilat dan agak ketat, hingga membentuk tubuhnya yang tegap dan
berotot. "Mari silakan masuk. Aku Baruka, orangtua Rukmini," laki-laki separo baya itu
langsung mempersilakan Rangga dengan ramah.
"Terima kasih," ucap Rangga.
"Biarkan saja kudamu, Anak Muda. Nanti ada yang mengurus."
Rangga hanya tersenyum saja, lalu melangkah
menaiki anak-anak tangga yang berjumlah tujuh undakan ini. Kemudian mereka semua
masuk ke dalam. Cukup luas juga ruangan depan rumah kepala desa ini. Kini mereka
duduk di kursi kayu, melingkari sebuah meja bundar yang kosong. Ki Baruka
membesarkan pelita, karena jendela rumah ini belum ada yang terbuka. Dan
matahari juga belum sepenuhnya menampakkan diri. Hanya cahayanya saja yang
membias di kaki langit sebelah timur. Dari pintu yang sedikit terbuka, Rangga
melihat seorang laki-laki tua mengambil Dewa Bayu dan membawanya ke samping
rumah. "Sejak semalam, aku menunggu. Kupikir, Rukmini gagal membawamu ke sini," kata Ki
Baruka. "Oh, ya.
Siapa namamu, Anak Muda?"
"Rangga," jawab Rangga singkat.
"Semalaman kalian bersama-sama. Tentu Rukmini sudah banyak cerita padamu," kata
Ki Baruka lagi.
"Begitulah," sahut Rangga tetap singkat.
'Tapi aku yakin, pasti ada satu yang belum dia diceritakan Rukmini padamu,
Rangga." "Hm..., apa itu?" tanya Rangga, agak menggumam.
"Tentang perubahan Ki Jarokamin," sahut Ki Baruka.
"Rukmini hanya mengatakannya sedikit," ujar Rangga.
"Yang pasti, anakku ini tidak mengatakan sebab-sebabnya, bukan...?"
Rangga mengangguk saja.
"Ki Jarokamin bisa berubah begitu, setelah pergi selama satu purnama. Tidak ada
seorang pun yang tahu, ke mana perginya, kecuali aku," jelas Ki Baruka.
"Boleh aku tahu, ke mana perginya, Ki...?" pinta Rangga.
"Tentu saja, Anak Muda. Justru aku memintamu datang ke sini karena persoalan
itu," sahut Ki Baruka.
Orang itu melirik sedikit pada anak gadisnya ini.
Dan Rukmini langsung bisa mengerti. Gadis itu segera berdiri dan meninggalkan
ruangan ini, setelah memberi senyum sedikit pada Pendekar Rajawali Sakti.
Maka sebentar saja tubuhnya sudah menghilang di balik dinding penyekat ruangan
depan dengan ruangan tengah rumah ini.
"Sebenarnya, Ki Jarokamin tidak pergi jauh. Dia pergi ke Bukit Batu sebelah
selatan desa ini," Jelas Ki Baruka lagi.
Rangga jadi tertegun mendengarnya.
"Kau tahu letak bukit itu, Rangga...?"
Rangga hanya menganggukkan kepala saja. Tentu Pendekar Rajawali Sakti tahu,
karena di balik bukit itu letak pertapaan Ki Patungga yang juga menjadi tempat
tinggal serta untuk menempa murid-muridnya.
Dan di sana juga Pandan Wangi sekarang ditinggalkannya untuk menjaga Ki Patungga
yang kini sudah menjadi lemah tanpa daya lagi. Dari sana juga awalnya, hingga
sekarang ini, Pendekar Rajawali Sakti berada di Desa Bahar Arum.
"Aku tidak tahu, apa yang dilakukannya di sana.
Tapi sepulangnya dari sana, dia menunjukkan sesuatu padaku. Sebuah benda yang
sama sekali tidak menarik bagiku. Tapi, Ki Jarokamin tampaknya begitu bangga
memilikinya," sambung Ki Baruka.
"Benda..."!" Rangga agak terperanjat mendengarnya. "Benda apa itu, Ki?"
"Hanya sebuah batu karang yang tidak ada artinya sama sekali bagi orang lain.
Dan semula, memang aku juga mengira begitu. Tapi setelah melihat dengan mata
kepalaku sendiri keanehan benda itu, aku
jadi...," Ki Baruka tidak melanjutkan.
Saat itu, Rukmini datang lagi sambil membawa sebuah baki berisi dua gelas bambu
yang mengepulkan uap hangat, ditambah singkong rebus yang ditumpuk di atas piring
kayu. Gadis itu menyediakannya di atas meja yang ada di depan Rangga dan Ki
Baruka. Dan Rukmini kembali masuk ke dalam, setelah melihat lirikan mata
ayahnya. "Batu karang itu berada dalam kotak kayu yang sudah usang dan lapuk, Rangga,"
sambung Ki Baruka, setelah mereka sama-sama menghirup kopi hangat yang
disediakan Rukmini.
"Keanehan apa yang kau lihat, Ki?" tanya Rangga.
Kisah Si Bangau Putih 5 Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Giok Bun Kiam Lu Karya Chin Yung Pendekar Sadis 19

Cari Blog Ini