Ceritasilat Novel Online

Dewa Mata Maut 1

Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut Bagian 1


http://duniaabukeisel.blogspot.com
DEWA MATA MAUT oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta Penyunting: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode :
Dewa Mata Maut 128 hal. , 12 x 18 cm
1 "Oh, Kakang Rangga.... Kenapa sampai saat ini kabarmu tak juga kudengar" Sudah
sepuluh purnama kau mengembara. Dan biasanya, lewat telik sandi kau selalu
mengirimi aku kabar.
Hhh...," desah seorang gadis cantik berbaju biru yang tengah duduk di sebuah
kedai yang tak begitu ramai.
Gadis berbaju ketat warna biru ini, agaknya tidak bisa dianggap sembarangan.
Sebuah pedang bergagang kepala naga yang tersampir di punggung dan sebuah kipas
baja yang terselip di pinggang, membuktikan kalau gadis ini berasal dari rimba
persilatan. Dan memang gadis cantik berbaju ketat warna biru ini tak lain dari
Pandan Wangi. Di kalangan kaum persilatan, dia dikenal sebagai si Kipas Maut.
Keberadaan Pandan Wangi di tempat ini, sebenarnya memang untuk mencari Rangga
yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Setelah menunggu sekian lama di
Istana Karang Setra, gadis itu memutuskan mengembara untuk mencari kekasihnya
yang sampai saat ini tak jelas rimbanya. Itu bisa dimaklumi, karena Pendekar
Rajawali Sakti selain sebagai Raja Karang Setra, juga sebagai pendekar yang suka
mengembara. Pandan Wangi terus duduk termangu
menghadapi hidangan yang tersedia di depan meja. Meski perut lapar, namun
mulutnya seperti enggan membuka.
Diteguknya isi bumbung bambu sebentar, lalu mulai menyantap makanan sedikit demi
sedikit. Namun baru beberapa kali kunyahan....
"Ekhm! Ekhm...!"
"Eh"!"
Pandan Wangi langsung menoleh ke kiri mejanya. Rupanya, seorang laki-laki
berusia sekitar tiga puluh tahun telah berdiri di samping kirinya.
Tanpa mempedulikan gadis ini terus saja bersantap.
"Sendiri saja...?" tegur laki-laki berwajah kasar dengan bibir dower.
"Maaf, Kisanak. Aku tak ingin diganggu," ucap Pandan Wangi, halus,
"Bagaimana kalau kutemani?"
Belum juga Pandan Wangi menjawab, tiba-tiba laki-laki dower ini menarik kursi
dan duduk di depannya. Bahkan dengan senyum yang lebih mirip seringai, laki-laki
itu memandangi Pandan Wangi, seperti ingin menikmati kecantikannya. Kedua
tangannya diletakkan di meja. Dan perlahan-lahan, tangan itu mendekat, hendak
menggapai tangan Pandan Wangi.
Si Kipas Maut yang memang sudah kesal, tentu saja tak ingin
diperlakukan demikian. Seketika
kakinya terayun, menendang kursi yang diduduki laki-laki itu. Dan....
Brak! "Aaakh...!"
Tidak ayal lagi, laki-laki
bermuka bulat itu terjungkal ke belakang. Begitu tubuhnya menghantam lantai
kedai terdengar keluhan kesakitan dari mulut.
"Kurang ajar! Rupanya kau belum kenal Sangkuling, he"!" dengus laki-laki itu
geram, seraya bangkit berdiri.
Laki-laki yang mengaku bernama Sangkuling melangkah gusar mendekati Pandan Wangi
yang tetap melanjutkan santapan seperti tidak ada kejadian apa-apa. Begitu
mencapai setengah tombak di depan gadis itu, Sangkuling langsung mencabut
goloknya. Srang! Dan secepat itu pula golok
itu berkelebat cepat. Dan....
Brak! Meja di depan Pandan Wangi kontan hancur berantakan menumpahkan makanan dan
minuman di atasnya, terhantam golok Sangkuling. Namun entah bagaimana caranya
tahu-tahu Pandan Wangi telah hilang dari pandangan.
Sangkuling kebingungan. Dan mendadak seseorang mencoleknya dari belakang.
"Heh"!"
Saat Sangkuling berbalik....
Des! "Aaakh...!"
Tiba tiba satu sikutan keras menyodok dada Sangkuling, membuatnya terpekik
kesakitan. Tubuhnya kontan terhuyung-huyung ke belakang beberapa tindak.
"Kau, benar-benar tak punya tata krama, Kisanak!" dengus si Kipas Maut ketus
sambil berkacak pinggang.
"Kurang ajar! Gadis liar! Rupanya kau punya kepandaian juga, he" Baik!
Akan kulihat, sampai di mana kehebatanmu!" desis Sangkuling, melotot garang.
Setelah berkata, Sangkuling
kembali melompat menyerang sambil menyabetkan golok ke sana kemari, mengancam
keselamatan Pandan Wangi.
Bet! Bet! Tapi si Kipas Maut memang bukan pendekar kemarin sore. Dengan lincah tubuhnya
berkelit menghindar. Dan tiba-tiba diayunkannya satu tendangan tepat ke ulu hati
Desss...! "Aaakh...!"
Untuk kesekian kalinya,
Sangkuling menjerit kesakitan begitu tendangan Pandan Wangi tepat mendarat di
sisinya. Tubuhnya kontan terjungkal membentur tonggak ruangan kedai ini.
"Sial!" rutuk Sangkuling semakin geram. Dengan susah payah, dia berusaha bangkit
kembali. Meski perutnya sakit dan
pandangannya sedikit berkunang, tapi Sangkuling kelihatannya belum kapok.
Dengan bernafsu laki-laki itu kembali meluruk dengan sabetan goloknya.
"Rupanya kau terlalu keras kepala, Kisanak! Baiklah, kalau itu maumu!" desis
Pandan Wangi, kesal.
Secepat itu pula si Kipas Maut mengegoskan tubuhnya ke kanan, saat Sangkuling
mengayunkan golok. Dan secepat kilat ditangkapnya pergelangan tangan laki-laki
gemuk itu, kemudian dipelintir ke belakang.
Tap! Bersamaan dengan itu, sebelah kaki Pandan Wangi menghantam pinggang.
Desss...! "Aaakh...!"
Brakkk...! Tak ayal lagi, tubuh Sangkuling terjajar ke depan dan langsung menghantam meja
yang langsung ambruk bersamanya. Laki-laki gemuk itu meringis-ringis kesakitan
sambil memegangi pinggang saat bangkit berdiri. Kali ini, kelihatannya dia mulai
kapok. Dan tanpa banyak suara lagi dia meninggalkan kedai. Masih sempat matanya
melirik dengan sorot mata mengancam sebelum akhirnya keluar dari kedai ini.
"Huh...!"
Pandan Wangi mendengus sinis,
lalu kembali mencari meja kosong dan duduk dengan tenang tanpa mempedulikan
keadaan di sekitarnya. Bahkan para pengunjung kedai berdecak kagum melihat sepak
terjangnya tadi.
"Hebat sekali! Bukan main...!"
Terdengar sebuah suara bernada pujian dari belakang Pandan Wangi.
Gadis berjuluk si Kipas Maut ini menoleh. Ternyata suara tadi datangnya dari
seorang pemuda cukup tampan berpakaian kuning gading.
Dengan senyum ramah, pemuda itu menghampiri Pandan Wangi yang justru memandang
dengan sinar mata tajam.
Seakan-akan gadis ini ingin
menumpahkan kekesalannya lagi.
"Pergilah, Kisanak. Aku bisa bertindak lebih keras lagi daripada orang tadi!"
ujar Pandan Wangi, bernada mengancam.
Namun belum lagi pemuda itu
menjawab, seorang laki-laki tua yang ternyata pemilik kedai datang menghampiri.
Wajahnya tampak ragu dan bingung. Dipandangnya sejenak pemuda itu. Lalu, beralih
pada Pandan Wangi.
"Ada apa?" tanya si Kipas Maut, keras.
"Eh! Anu..., ng.... Siapa yang akan mengganti kerusakan tadi, Nisanak"
Sangkuling telah kabur begitu saja. Lagi pula, dia punya pimpinan yang menguasai
tempat ini. Mana
mungkin aku meminta ganti padanya...,"
ratap pemilik kedai, mengiba.
*** "Jangan khawatir. Biar aku yang akan menggantinya!" sahut pemuda berpakaian
kuning gading itu seraya mengeluarkan empat keping uang emas yang langsung
diberikan kepada pemilik kedai.
"Hah"!"
Bola mata pemilik kedai itu
berbinar-binar seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kenapa" Apakah jumlah itu tidak cukup?" tanya pemuda ini dengan kening
berkerut. "Cukup! Lebih dari cukup. Terima kasih, Den! Eh, mau pesan apa lagi?"
sahut pemilik kedai ini kegirangan.
"Sediakan sebumbung arak buatku.
Dan..., gadis ini terserah apa maunya!" ujar pemuda itu seraya duduk di depan.
"Nisanak, mau makan apa lagi"
Apa..., makanan yang tadi dirusak Sangkuling?" tanya pemilik kedai itu.
"Huh!"
Pandan Wangi hanya mendengus.
Lalu dia bangkit berdiri dan bergegas meninggalkan kedai.
"Eh, mau ke mana"! Tunggu dulu!
Pesananmu belum disediakan!" tanya
pemuda itu, berteriak.
Tapi percuma saja berteriakteriak. Sebab, Pandan Wangi terus saja keluar dari kedai itu. Pemuda itu agaknya
tidak cepat putus asa. Dia langsung langsung bangkit dan mengejar.
"Den! Pesanannya bagaimana"!"
tanya pemilik kedai itu berteriak mengingatkan.
"Tidak jadi!" sahut pemuda itu, langsung melangkah keluar.
"Ini..., eh! Uang ini"!"
"Tidak apa. Ambil saja semua!"
"Ohhh...!"
Pemilik kedai itu kembali
mendesah dengan wajah cerah. Baru saja dia merasa masygul karena kerusakan yang
menimpa perabotan kedainya, dan tahu-tahu seseorang mengganti dengan empat
keping emas. Jauh di atas harga kerusakan yang terjadi.
Sementara itu Pandan Wangi telah melompat ke punggung kuda putih yang tertambat
di muka kedai. Sedangkan pemuda yang mengintilnya terus melangkah, dan juga
menaiki kudanya yang berwarna coklat.
"Nisanak, maafkan aku. Namaku Pranaja. Aku sama sekali tidak bermaksud
mengganggumu...," usik pemuda yang mengaku bernama Pranaja berusaha bersikap
ramah. Namun si Kipas Maut sama sekali
tidak menghiraukannya. Bahkan gadis itu terus menggebah kudanya.
"Heaaa...!"
Dan pemuda itu ternyata memang gigih. Secepat itu pula dikejarnya Pandan Wangi,
langsung menjajari langkah kudanya sambil tersenyum-senyum.
Namun baru saja hampir tiba di ujung desa, tahu-tahu beriompatan beberapa orang
menghadang. "Berhenti kalian!"
Terdengar bentakan keras
menggelegar bernada perintah dari salah satu dari penghadang yang berjumlah
sebelas orang itu. Orang yang membentak barusan, berada paling depan. Dia adalah
laki-laki tua kurus berbaju hitam. Matanya sayu. Kedua bahunya agak tinggi.
Tampak sebilah golok panjang terselip di pinggang.
Sementara Pandan Wangi segera menghentikan laju kudanya, diikuti Pranaja.
"Siapa kalian"!" tanya si Kipas Maut tidak kalah garang.
Tapi ketika melihat kalau salah seorang penghadang adalah laki-laki yang
dicundanginya di kedai tadi, Pandan Wangi sedikit mengerti apa yang diinginkan.
"Hm, boleh juga...!" gumam laki-laki kurus berbaju hitam sambil memandang Pandan
Wangi dengan mata
menyelidik. "He he he...! Kau tengah berhadapan dengan Ki Tanggok, Cah Ayu!
Seorang anak buahku mengatakan, ada bidadari yang tengah turun ke mayapada.
Ternyata, dia benar. Telah lama aku bermimpi tidur dengan bidadari. Dan agaknya,
hari ini akan terlaksana!"
Sementara anak buah laki-laki berbaju hitam benama Ki Tanggok itu kontan
terbahak-bahak, mendengar kata-kata pimpinannya.
"Bajingan-bajingan berotak kotor!
Menyingkirlah! Aku masih bisa menahan sabarku kali ini!" kata Pandan Wangi
lantang. "Apa" Coba dengar! Tidakkah kalian lihat dia begitu garang"
Bidadari yang galak! Ah, menyenangkan sekali! Hua ha ha...!" leceh Ki Tanggok
tersenyum mengejek, sambil memandangi anak buahnya.
"Mungkin ingin cepat-cepat merasakan dekapan mesramu, Ki!" teriak seseorang yang
berdiri di belakang Ki Tanggok.
"Ya! Kenapa mesti berlama-lama"
Begitu kau perintahkan, maka kami akan menangkapnya untukmu!" timpal yang Iain.
"He he he...! Tangkaplah dia.
Dan, hati-hati! Jangan sampai sehelai rambutnya rontok!" ujar Ki Tanggok,
disertai senyum menggiriskan.
Ki Tanggok lalu memandang pemuda yang berada di samping Pandan Wangi sambil
menyipitkan mata.
"Dan singkirkan dia! Jangan sampai batang hidungnya kulihat lagi!"
dengus orang tua itu dengan tudingan sinis.
"Beres, Ki!"
Segera anak buah Ki Tanggok
membagi tugas. Enam orang meringkus Pandan Wangi. Sedang lima orang membereskan
Pranaja di sebelahnya.
"Yeaaa!"
"Kurang ajar!"
Si Kipas Maut mendengus geram.
Seketika dia melompat tinggi dari punggung kuda, lalu berjumpalitan beberapa
kali. Dan tiba-tiba kedua kakinya terentang. Lalu....
Pak! Buk! "Aaakh...!"
Dua orang yang jadi sasaran
langsung terjungkal disertai jerit kesakitan. Dada mereka terasa remuk terkena
jejakan kaki Pandan Wangi.
Sementara begitu menjejak tanah, si Kipas Maut langsung membungkuk, menghindari
terjangan salah seorang pengeroyok. Lalu seketika tubuhnya berputar melepas
sapuan kaki. Begkh! "Aaakh...!"
Terdengar pekik kesakitan saat lambung orang yang menyerang Pandan
Wangi terhajar sapuan kaki. Tubuhnya kontan terjajar dengan tangan memegangi
perut. "Heaaa...!"
Sebelum ada yang menyerang lagi, si Kipas Maut telah lebih dulu menyerang. Dua
orang yang jadi sasaran terkesiap. Sadar kalau gadis ini bukan orang
sembarangan, mereka cepat mencabut golok dan siap menghadang.
Bet! Wut! Kedua golok itu berkelebatan cepat. Sementara Pandan Wangi segera menarik
serangannya dan langsung menyelinap di antara babatan golok.
Tindakan si Kipas Maut membuat kedua pengeroyoknya terperangah, karena tak satu
golok pun yang bisa menyentuh tubuh gadis itu. Bahkan tiba tiba....


Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Des! Des! "Aaakh...!"
Tahu-tahu kedua orang itu
merasakan hantaman keras pada tengkuk masing-masing. Mereka menjerit tertahan,
dan jatuh tak sadarkan diri!
*** Pandan Wangi melirik. Agaknya pemuda bernama Pranaja pun telah selesai pula
membereskan lawan-lawannya. Begitu menoleh, pemuda itu memberi senyuman manis
padanya. Entah kenapa, meski sedikit, dibalasnya
senyuman itu. Dan Pandan Wangi tak mengerti, mendadak saja ada perasaan aneh
menyeruak di hatinya. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang lagi saat
pandangan mereka beradu.
"Eh..."!"
Si Kipas Maut tersadar. Kepalanya menggeleng-geleng, seperti berusaha
menghilangkan sesuatu yang aneh dalam kepalanya.
"Huh! Agaknya kalian memiliki kepandaian juga. Bagus! Akan kulihat, apa
kepandaian kalian bisa diandalkan di depanku!"
Kesadaran Pandan Wangi makin pulih, ketika Ki Tanggok mendengus keras. Laki-laki
tua ini benar-benar geram melihat anak buahnya tak mampu membereskan kedua anak
muda itu. Setelah berkata demikian, Ki Tanggok membuka jurus. Langsung diserangnya si
Kipas Maut. Untung saja secepat kilat Pranaja berkelebat, langsung menangkis
serangan. Wut! Plak! "Uhhh!"
Ki Tanggok terkejut begitu
terjadi benturan. Tangannya terasa kesemutan dan terasa nyeri, Bukan cuma itu.
Dia melihat gerakan pemuda ini cepat bukan main. Kalau saja tidak segera
melompat ke belakang, niscaya batok kepalanya akan jadi sasaran.
"Masih ingin melanjutkan
persoalan ini, Kisanak?" tanya Pranaja sambil tersenyum.
"Huh! Siapa kau sebenarnya"!"
tanya Ki Tanggok, mendengus.
"Bukan siapa-siapa. Dan sama sekali tidak ada urusannya denganmu,"
sahut Pranaja tenang.
"Baiklah. Kali ini kalian bisa bebas. Tapi lain kali, aku akan buat
perhitungan!"
Pranaja hanya tersenyum mendengar ancaman orang ltu.
"Terserahmu saja. Kapan dan di mana pun, aku selalu siap menyambut tantanganmu "
Ki Tanggok mendelik garang lalu bergerak melangkah. Dipandangnya beberapa anak
buahnya yang masih belum bangkit atau yang tengah kesakitan.
Kemudian ditinggalkannya kedua anak muda itu setelah memandang sinis.
Hatinya kelihatan geram betul mendapat kekalahan menyakitkan.
"Huh! Dasar bajingan teri!"
dengus si Kipas Maut, setelah para pengeroyoknya sudah tak terlihat lagi batang
hidungnya. Pranaja tersenyum seraya
melangkah mendekati.
"Ya. Orang-orang seperti mereka biasanya hanya banyak gertak. Tapi setelah tahu
siapa yang dihadapi, nyali mereka akan ciut dengan sendirinya. Oh, ya! Kau tidak
apa-apa, Nisanak?" tanya Pranaja penuh perhatian.
"Tidak.... Aku tidak apa-apa,"
sahut Pandan Wangi.
"Maafkan.... Aku jadi
merepotkanmu, Ni..., eh! Siapa namamu?"
"Aku Pandan Wangi."
"Pandan Wangi" Ah! Nama yang indah sekali!" puji Pranaja. "Cantik dan hebat!"
"Kau pun hebat, Pranaja...."
"Tidak. Itu hanya kebetulan
karena menghadapi lawan yang memang tidak punya kemampuan. Oh, ya. Kalau boleh
tahu, ke mana tujuanmu, Pandan"
Boleh kusebut begitu?"
"Tidak apa.... Eh, sebenarnya aku tengah mencari seseorang...."
"Seseorang" Siapa" Saudara"
Kerabat" Atau barangkali kekasih?"
Pandan Wangi tidak langsung
menjawab. Mulutnya seperti terkunci.
Dan hatinya berdebar tak karuan setiap kali beradu pandang dengan pemuda ini.
Sungguh Gila! Apa yang dirasakannya saat ini, rasanya memang tidak karuan.
Memang pemuda ini cukup tampan, rapi.
Dan lagi pula, tutur bahasanya santun.
Tapi tentu saja tidak mesti Pandan Wangi menyukainya. Tidak! Dan tidak akan!
"Tapi... Oh, Hyang Jagat Bhatara!" desah Pandan Wangi dalam
hati. "Kenapa, Pandan" Apa yang kau rasakan?" lanjut Pranaja, seperti bisa menduga apa
yang dipikirkan gadis itu.
Entah mengapa Pandan Wangi sama sekali tidak menolak ketika Pranaja menggenggam
jemari tangannya.
Sepertinya ada kekuatan gaib yang seakan-akan melarangnya untuk menampik
genggaman itu. Pandan Wangi terdiam.
Dipandanginya pemuda itu sekilas, lalu buru-buru menunduk. Debaran jantungnya
terasa semakin cepat, tatkala pemuda itu meremas jemari. Bahkan kini Pranaja
perlahan-lahan mendekat hampir merapat ke tubuhnya. Sebelah tangannya hendak
meraih pinggang. Dan wajah mereka nyaris bersentuhan, tatkala sebelah tangan
kiri Pranaja menaikkan dagu gadis itu.
"Kau cantik sekali, Pandan. Belum pernah kutemui gadis secantikmu selama
ini...," desah Pranaja halus.
Sesaat Pandan Wangi terpukau.
Namun ketika terasa hela napas pemuda itu mulai menyapu wajahnya....
"Oh..."!"
Gadis itu tersentak kaget.
Didorongnya keras-keras pemuda itu.
Dan nyaris, Pranaja terjungkal kalau saja tidak sigap jungkir balik dan tegak
berdiri di atas kedua kakinya.
"Kurang ajar! Apa yang coba kau
lakukan padaku, he"!" hardik Pandan Wangi garang.
Mata gadis itu melotot dengan wajah penuh amarah. Sebelah tangannya menuding
sinis. "Kalau kau coba-coba berbuat seperti itu lagi, kutebas batang lehermu!" desis si
Kipas Maut mengancam.
Dan dengan membawa kesal, Pandan Wangi melompat ke punggung kudanya.
Kemudian segera ditinggalkan tempat ini. Namun aneh. Tidak biasanya Pandan Wangi
akan meninggalkan begitu saja orang yang hendak kurang ajar. Paling tidak orang
itu akan babak belur dibuatnya. Tapi terhadap Pranaja"
Entah kenapa, ada perasaan kasihan dan tidak tega. Dia marah dan kesal. Namun
tak mampu berbuat apa-apa. Maka jalan satu-satunya adalah meninggalkannya.
Toh, meski begitu, agaknya
Pranaja tidak kapok. Sambil tersenyum-senyum pemuda itu melompat ke punggung
kudanya. Lalu dipacunya tunggangannya dengan kencang, mengikuti jejak Pandan
Wangi. *** 2 "Maafkan aku, Pandan. Aku..., aku tidak sengaja. Maaf...!" ucap Pranaja
berulang-ulang, ketika Pandan Wangi tidak berusaha menghindari dari kejarannya.
Pandan Wangi tetap diam dan tidak berpaling, di sisi pemuda itu.
"Kau tidak mau memaafkanku" Oh, alangkah hinanya aku! Semua orang memang
membenciku. Tapi..., memang sudah biasa. Orang sepertiku agaknya ditakdirkan
untuk menjadi hinaan bagi semua orang," keluh Pranaja berduka.
Pandan Wangi hanya menoleh
sekilas. Itu saja sudah cukup membuat Pranaja kembali tersenyum di atas kudanya.
"Kau tidak marah padaku, bukan?"
usik Pranaja lagi.
Gadis itu tidak menjawab. Ada perasaan jengkel di hatinya. Tapi entah kenapa,
dia tidak ingin mengungkapkannya. Sepertinya setiap pandangan pemuda itu,
membuat Pandan Wangi bagai terkena pengaruh gaib.
Pengaruh yang membawanya ke dunia lain.
"Pergilah ke tujuanmu semula, Pranaja. Dan aku akan terus mengembara
mencari...."
"Tidak!" potong Pranaja. "Aku tidak punya tujuan. Kalau tidak
keberatan, biarlah aku menemanimu saja."
Pandan Wangi bingung menjawabnya.
Ada kebimbangan di hatinya. Tapi kata-kata pemuda itu terasa memelas penuh
permohonan. Dan sorot matanya, membuat bibir Pandan Wangi tak mampu berkata,
tidak. "Bolehkan" Izinkanlah aku, Pandan?" ulang Pranaja memelas.
"Baiklah...," desah Pandan Wangi, akhirnya.
"Ah, sudah kuduga! Kau adalah gadis baik yang pernah kutemui seumur hidupku,"
seru Pranaja girang.
"Percayalah! Aku tidak akan menyusahkanmu."
Baru saja kata-kata pemuda
berbaju kuning itu selesai,
mendadak.... "Heh"!"
Kedua anak muda ini tersentak kaget, ketika terdengar derap langkah kaki kuda
dari belakang. Ketika mereka menoleh terlihat tiga penunggang kuda mengejar
kencang. Pandan Wangi menghentikan laju kudanya, seperti hendak menunggu.
"Sebaiknya kita cepat pergi saja, Pandan. Tak perlu mengurusi mereka,"
ajak Pranaja seraya menghentikan laju kudanya.
"Tidak. Aku ingin tahu apa yang mereka inginkan dari kita," sahut
Pandan Wangi mantap, seraya
membalikkan arah kudanya.
Pemuda itu hanya menarik napas.
Arah kudanya juqa dibalik, ikut menunggu.
Sementara itu ketiga laki-laki yang mengejar telah menghentikan lari
tunggangannya. Mereka berdiri di depan Pandan Wangi dan Pranaja pada jarak tujuh
langkah. Rata-rata mereka berusia antara empat puluh tahun sampai lima puluh
tahun dengan tampang sedikit kasar. Apalagi dengan sorot mata tajam. Tapi dari
gerak-gerik, Pandan Wangi bisa menilai kalau mereka bukanlah termasuk tokohtokoh sesat. "Pemuda busuk! Sekian lama dicari-cari, ternyata kau berada di sini! Bagus! Hari
ini kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!"
hardik laki-laki yang berada di tengah.
Orang itu memiliki cambang bauk tebal, jenggot serta kumis. Di pinggang kirinya
terselip sebilah golok panjang.
"Siapa kau, Kisanak" Kenapa begitu datang tiba-tiba memaki yang bukan-bukan
padaku?" tanya Pranaja heran.
"Keparat! Kenapa kau masih mungkir lagi, he"! Aku Puger, ayah Ningsih yang kau
nodai tiga bulan lalu. Kini anakku mengandung dan
menanggung malu! Anakku bunuh diri.
Dan kau akan menyusulnya di akherat!"
desis laki-laki bernama Puger itu menggeram.
"Kurasa kau salah paham, Kisanak.
Aku sama sekali tidak mengenalmu. Juga tidak mengenal perempuan bernama
Ningsih!" sahut Pranaja bersungguh-sungguh, dengan kening berkerut.
"Kurang ajar! Kau masih mau mungkir juga rupanya! Mataku belum lamur dan
ingatanku masih kuat. Tidak perlu kau menyangkal di depan gadis yang akan
menjadi mangsamu. Sekarang juga, kau akan menerima akibat perbuatanmu itu!"
Begitu lenyap gema suaranya, Ki Puger langsung mencabut golok panjangnya.
Srang! Lalu secepat kilat, laki-laki setengah baya itu mencelat dari punggung kudanya
menyerang Pranaja.
"Yeaaa...!"
"Kau terlalu memaksaku, Kisanak...!" keluh pemuda itu.
Sebelum serangan datang, Pranaja telah melompat dari punggung kuda. Dan baru
saja pemuda itu menjejak tanah, serangan Ki Puger telah meluruk deras.
"Mampus kau!" desis Ki Puger sambil menyabetkan goloknya.
Wut! Namun Sanjaya telah berkelebat
cepat bukan main, sehingga semua serangan Ki Puger luput dari sasaran.
Dan itu tidak membuat orang tua ini sadar. Bahkan dia semakin kalap menyerang.
"Kisanak! Kuharap sudahi salah paham ini!" ujar Pranaja, mengingatkan.
"Persetan! Sebelum kau mampus, hatiku tidak akan tenang. Kau penyebab kematian
putriku!" dengus Ki Puger, menuding dengan goloknya.
"Tidakkah kau mengerti bahwa aku sama sekali tidak mcngenalmu" Apalagi putrimu!"
kata Pranaja, berusaha terus meyakinkan.
"Tutup mulutmu, Pemuda Jalang!
Bukan hanya Ningsih yang kau nodai.
Tapi empat gadis di desa kami juga telah kau nodai. Apa kau hendak mungkir, he"!
Mulutmu manis merayu.
Tapi, hatimu busuk menyimpan bangkai!
Heaaat...!"
Ki Puger tak dapat menahan
kesabarannya lagi. Kembali tubuhnya meluruk dengan sabetan golok panjangnya.
Pranaja hanya menghela napas pendek. Dan mau tidak mau, dia terpaksa harus balas
menyerang. kalau ingin urusan ini cepat selesai.
Wut! "Maaf!"
Setelah berseru pendek, Pranaja.
mengelak dari tebasan senjata golok.
Dan dengan gerakan mengagumkan ditangkapnya pergelangan tangan Ki Puger.
Tap! Lalu secepat itu pula sebelah tangan Pranaja yang lain menggedor dada Ki Puger.
Des! "Aaakh...!"
Tak ayal lagi, Ki Puger
tersungkur ke belakang disertai jeritan tertahan. Sebelah tangannya mendekap
dada, merasakan sakit dan nyeri. Namun begitu matanya beringas memandang
Pranaja. Meski goloknya telah berpindah tangan, Ki Puger kelihatan tidak peduli.
Bahkan kini dia bangkit dan terus menyerang dengan tangan kosong.
"Yeaaa...!"
"Kisanak, kau hanya mempersulit dirimu sendiri...," desah Pranaja, halus.
"Tutup mulutmu, Jahanam!" bentak Ki Puger. "Hiaaat...!"
Wut! Tubuh Ki Puger meluruk dengan kibasan tangan berkali-kali, mengancam bagianbagian mematikan di tubuh Pranaja.
Namun semua serangan bisa
dihindari Pranaja dengan egosan-egosan lincah. Bahkan tiba-tiba pemuda itu
mengayunkan tendangan enteng, dan
mendarat tepat di dada laki-laki itu.
Des! "Aaakh...!"
Untuk kedua kalinya Ki Puger menjerit kesakitan. Tubuhnya terlempar ke belakang
sejauh dua tombak, lalu jatuh terduduk.
"Ki Puger! Kau tidak apa-apa"!"
tanya dua laki-laki lain seraya turun dari kuda.
Mereka langsung menghampiri dan memeriksa luka Ki Puger.
"Kurang ajar! Muri, Tukul! Kita harus membalaskan sakit hatinya!"
desis seorang dari mereka.
"Benar, Braja! Huh! Akan kutebas lehernya!" timpal yang seorang lagi dengan
sikap tidak kalah garang.
Seketika kedua laki-laki bernama Tukul dan Braja ini tegak berdiri memandang
pemuda itu. Lalu....
Srang! Masing-masing mencabut golok dan siap hendak menyerang.
"Hm.... Agaknya kalian pun sama saja. Tidakkah kalian bisa mengerti, bahwa orang
itu salah alamat"!" kata Pranaja coba meyakinkan.
'Tidak perlu kau bersusah-payah menipu kami, Bocah! Siapa pun akan sakit hati
dan terhina sekali, mengetahui aib yang menimpa. Dan kau adalah pembuat aib itu.


Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hanya satu cara untuk menghi-langkannya.
Kematianmu!" sahut orang yang bernama Tukul.
Sementara Braja agaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi.
Langsung saja diserangnya Pranaja dari sebelah kiri.
"Heaaa...!"
Tukul pun seketika mengikuti.
Diserangnya pemuda itu dari kanan.
"Orang-orang nekat!" desis Pranaja terdengar sinis.
Secepat kilat pemuda itu
meliukkan tubuhnya menghindari kedua tebasan. Dan seketika tubuhnya melenting
dengan gerakan mengagumkan.
Lalu tiba-tiba tubuhnya menukik tajam dengan kedua kaki terbentang.
Des! Duk! "Aaakh...!"
Tukul dan Braja langsung menjerit kesakitan ketika tendangan Pranaja tepat
menghantam dada masing-masing.
Tubuh mereka terpental dan jatuh mencium tanah dengan keras. Seringai kesakitan
langsung menghiasi wajah mereka.
"Kurang ajar!"
Meski terasa sakit dan sesak, namun keduanya cepat bangkit. Dan mereka siap
menyerang pemuda itu kembali dengan sabetan golok.
"Yeaaa!"
Pranaja membungkuk menghindari dua sabetan sekaligus. Kemudian
tubuhnya berputar sekali dengan sebelah kaki bergerak cepat menghantam
pergelangan tangan Tukul dan Braja.
Plak! Plak! "
"Aaakh...!"
"Aaakh...!"
Kedua orang itu menjerit tertahan Golok masing-masing terpental. Dan sebelum
sempat berbuat apa-apa, tendangan yang dilancarkan pemuda itu telah menghantam
telak dada masing-masing.
Begkh! Des! "Aaakh...!"
Tukul dan Braja kontan kembali tersungkur disertai jerit kesakitan.
Dengan tertatih-tatih, mereka bergerak bangkit. Tampak darah segar menetes dari
sudut bibir mereka. Walaupun dalam keadaan sempoyongan, mereka menghampiri Ki
Puger yang masih terduduk untuk mengumpulkan kekuatan.
Melihat ketiga orang itu tidak bermaksud menyerang, Pranaja pun tidak meneruskan
serangan. Pemuda itu berdiri tegak sambil menyungging senyum.
"Kisanak bertiga! Karena ini salah paham, maka aku tidak akan memperpanjang
urusan. Kalian yang membuat gara-gara. Dan aku sama sekali hanya sekadar membela
diri. Pergilah.
Dan, jangan ganggu kami lagi!" ujar Pranaja.
"Dewa Mata Maut! Kau memang hebat dan licik!" desis Ki Puger. "Tapi aku tidak
akan pernah melupakanmu seumur hidupku. Tunggulah saatnya, karena suatu hari
nanti aku akan kembali datang untuk menagih nyawamu!"
"Aku tidak akan menanggapi ocehanmu, Kisanak. Kau salah menuduh orang. Dan aku
sangat prihatin...!"
kata Pranaja, halus.
Ki Puger mendengus. Kemudian matanya memandang gadis yang bersama Pranaja.
"Nisanak! Kulihat kau bukan gadis sembarangan. Kenapa orang sepertimu mesti
bergaul dengan penjahat pemetik bunga seperti pemuda ini"!" tanya Ki Puger.
"Eh! Aku..., aku hanya kebetulan saja...," kata Pandan Wangi, berkilah.
"Pandan! Kau tidak perlu mempedulikan mereka!" tukas Pranaja.
"Pandan" Pandan Wangi"!" sebut Ki Puger dengan mata terbelalak. "Aku kenal. Kau
pasti si Kipas Maut.
Bukankah kau kekasih Pendekar Rajawali Sakti" Astaga! Apa yang terjadi padamu"
Apakah kau pun kepincut binatang jalang ini"!"
"Kisanak! Tutup mulutmu! Dan, jangan lagi menyebar fitnah!" umpat Pranaja geram.
"Kau adalah binatang busuk yang menjijikkan, Dewa Mata Maut!" dengus
Ki Puger. Kemudian mengajak laki-laki itu untuk segera angkat kaki. Namun sebelum itu
kepalanya masih sempat menoleh lagi pada Pandan Wangi.
"Dan kau, Pandan Wangi! Kau akan jadi wanita murahan yang tidak punya malu bila
terus bergaul dengannya!"
tambah Ki Puger, seraya naik ke atas punggung kudanya, diikuti kedua temannya.
Pandan Wangi terkesiap. Hatinya kontan panas mendengar hinaan yang dilontarkan
kepadanya. Kalau saja Pranaja tidak menahan, mungkin akan dilabraknya ketiga
laki-laki itu. "Sudahlah. Kita tidak perlu mengurusi orang-orang seperti mereka...," ujar
Pranaja sambil mengawasi kepergian tiga laki-laki yang telah menggebah kudanya
itu. "Huh!"
Pandan Wangi hanya mendengus dengan wajah bersungut-sungut.
"Mereka hanya orang-orang yang putus asa. Kita patut kasihan dan tidak perlu
menambah beban penderitaannya lagi...," tambah Pranaja.
"Tapi kulihat mereka bersungguh-sungguh...," kata Pandan Wangi, mencoba
memancing. "Apa"!" Pranaja pura-pura terperanjat. "He he he...! Rupanya
kaupun mulai termakan cerita mereka.
Cerita kosong yang dikarang orang-orang putus asa, dan akhirnya menuduh
sembarangan orang sebagai pelampiasan.
Kau sungguh-sungguh mempercayai mereka"!"
*** Pandan Wangi tidak langsung
menjawab. Dipandanginya Pranaja untuk sejurus lamanya. Dan yang dipandangi
ternyata balas memandang pula.
Kembali, setiap pandangan pemuda itu selalu me-nimbulkan perasaan aneh pada diri
Pandan Wangi. Entah bagaimana, gadis ini merasa percaya begitu saja pada
Pranaja. Padahal dalam relung hatinya yang paling dalam, dia merasa ada sesuatu
yang janggal pada pemuda di depannya.
Pada akhirnya Pandan Wangi tak ingin meneruskan dugaan-dugaan jelek pada diri
Pranaja. Baginya hal itu bukan persoalan menarik ketimbang apa yang dirasanya di
hati. Getaran-getaran aneh tatkala pertama kali bertatapan dengan pemuda ini,
membuat kegalakannya seperti sirna. Bahkan hatinya tak mampu berontak.
Pikirannya buntu. Dan saat itu, dia tidak tahu apa yang mesti dilakukan.
"Hm.... Kudengar orang tadi mengenalmu...," kata Pranaja, membuka
suara setelah sekian lama terperangkap kebisuan.
"Eh, apa"!" tanya Pandan Wangi, tersadar dari lamunannya.
"Kau si Kipas Maut, bukan?" tanya Pranaja.
"Ya."
"Berarti benar kalau kau kekasih Pendekar Rajawali Sakti?"
Pandan Wangi baru saja hendak mengiyakan, tapi entah kenapa mulutnya seperti
terkunci. Dan meski begitu, dia pun tak berusaha mengelak.
"Kalau begitu kepergianmu ini untuk mencarinya?" lanjut Pranaja tanpa mau
mendesak gadis itu pada pertanyaan sebelumnya.
Seolah-olah Pranaja begitu yakin apa yang diduga dan tidak perlu meyakinkan lagi
dengan jawaban gadis ini.
"Ya...."
Suara Pandan Wangi terdengar ragu dan pelan sekali.
"Boleh kutemani untuk
mencarinya?"
Pandan Wangi menoleh. Dan Pranaja membalasnya sambil tersenyum. Buru-buru gadis
ini memalingkan muka.
Kelihatan jengah, tapi sedikit berbunga-bunga hatinya.
"Boleh...?" ulang Pranaja.
"Tidak! Eh, maksudku..., tidak perlu mencarinya."
"Kenapa" Kau tidak ingin mencarinya?"
Kembali Pandan Wangi terdiam. Dia seperti tak mengerti kenapa sejak pertama kali
menatap Pranaja, sampai kini perasaan aneh selalu
menyergapnya. Tujuan semula yang hendak mencari Rangga, seakan sirna begitu
saja. Rasa rindunya pun sedikit demi sedikit terkikis terhadap Rangga.
Kenapa ini terjadi"
"Kau tidak rindu padanya?" usik Pranaja.
Gadis itu masih terdiam.
"Dia pun sering rindu padamu?"
Pandan Wangi masih membisu.
"Apakah dia sering
meninggalkanmu?"
"Sering juga...," sahut Pandan Wangi, akhirnya mengeluarkan suara.
"Sayang sekali. Gadis secantikmu mestinya jangan sering-sering ditinggal..,"
desah Pranaja seperti berbisik.
"Apa maksudmu?" tanya Pandan Wangi dengan kening berkerut.
"Yeaaah.... Maksudku..., mungkin dia sudah bosan dan ingin cari yang lain! Apa
hubungan kalian lama?" tukas Pranaja.
"Cukup lama juga...."
"Dan kau pernah mengikutinya atau diajaknya bepergian?"
"Sering."
"Nah, bisa jadi. Dalam
petualangannya, bisa jadi dia banyak menemukan gadis cantik. Beberapa orang dari
mereka pasti menarik
perhatiannya."
Pandan Wangi sebenarnya hendak menjerit, mendengar kata-kata Pranaja.
Dan dia juga tak suka melihat pemuda ini mengusik-usik pribadinya. Tapi entah
kenapa, dia tak mampu marah.
Bahkan bersuara pun tidak. Gadis ini terdiam. Bahkan pikirannya kini mulai
membayangi kata-kata Pranaja barusan.
Di mana Rangga saat ini" Apa yang dilakukannya" Benarkah Rangga sudah bosan"
Beribu-ribu pertanyaan menggayut di benak Pandan Wangi.
"Kau harus pikirkan baik-baik.
Bisa saja, dia berpura-pura baik di depanmu. Tapi, sesungguhnya di belakangmu
main dengan banyak gadis-gadis lain. Kau tidak akan mungkin mengawasinya terus,
bukan" Nah! Itulah kesempatan yang digunakannya!" lanjut Pranaja.
"Kenapa kau begitu peduli pada hubungan kami?" tanya Pandan Wangi akhirnya.
Pranaja terkekeh. Tapi belum lagi menjawab,mendadak mencelat sesok bayangan ke
hadapan mereka. Dan tahu-tahu, telah berdiri sesosok gadis cantik berambut
dikuncir. "Hm, bagus! Jadi inikah urusan
yang kau katakan itu, Pranaja!" dengus gadis yang baru datang pada Pranaja.
Sementara, matanya melirik tajam pada Pandan Wangi.
Semula Pranaja terkejut melihat kehadirannya. Namun secepat itu pula bisa
menguasai diri. Pemuda itu menggeleng lemah sambil tersenyum.
"Hm.... Ini pasti salah paham lagi...," gumam Pranaja.
"Kau coba menghindariku, Pranaja"!" ***
Pranaja memandang gadis berbaju kuning tua yang baru datang sambil tersenyumsenyum heran. "Siapa kau, Nisanak" Agaknya kau kenal namaku. Padahal, kita belum pernah
bertemu sebelumnya!" kata Pranaja.
"Pranaja! Kau..., kau..."!"
Gadis berbaju kuning itu
memandang Pranaja dengan wajah tak percaya.
"Nisanak, ada apa denganmu"!
Jangan merusak suasana kami. Aku sama sekali tak mengenalmu!" tandas Pranaja,
keras. Gadis itu tertegun. Lalu
perhatiannya beralih pada Pandan Wangi untuk sejurus lamanya.
"Nisanak! Siapa namamu?" tanya gadis berbaju kuning ini.
"Eh! Aku..., Pandan Wangi," sahut Pandan Wangi sedikit kaget.
"Kau kekasihnya yang baru?"
Pandan Wangi tidak sempat
menjawab karena....
"Kami tidak berurusan denganmu!"
potong Pranaja. "Maka jangan suka mengurusi orang lain. Kuperingatkan padamu,
Nisanak!" Gadis berbaju kuning itu
tersenyum. Lalu dipandangnya Pranaja dengan sorot mata sinis.
"Pranaja! Ingin kudengar jawabanmu sekarang Juga Apakah kau benar-benar kepincut
dengan gadis ini?"
"Itu bukan urusanmu!"
"Kau sungguh hendak
mencampakkanku begitu saja"!"
"Dengar baik-baik, Nisanak! Aku tidak mengenalmu! Dan aku tak mengerti apa
maumu. Jadi, jangan ganggu urusan kami!" ujar Pranaja, tandas.
"Huh! Kau takut gadis ini menolak, karena rayuan mautmu belum berhasil"!" dengus
gadis itu sinis.
"Nisanak! Kuperingatkan sekali lagi, jangan sampai hilang
kesabaranku. Pergilah. Dan, jangan ganggu kami. Atau, kau akan kuhajar!"
bentak Pranaja garang.
"Huh! Kau memang bisa kapan saja menghajarku. Tapi, ingatlah baik-baik.
Siapa yan mengangkatmu sehingga menjadi tokoh terkenal" Ingat baik-baik! Kepada
siapa kau berhutang
budi"!"
"Kurang ajar!"
Pranaja tampaknya geram sekali.
Dan seketika dia hendak bergerak untuk menghajar gadis itu.
"Tidak usah repot-repot, Pranaja!" cegah gadis itu seraya mengangkat tangan
kanannya. "Aku akan pergi sekarang juga. Cuma satu hal yang harus kau ingat! Aku
yang membuatmu jadi begini. Maka kelak aku pula yang akan menjatuhkanmu sampai
ke jurang kenistaan yang paling, dalam!"
Gadis itu berbalik lalu segera pergi dari tempat ini dengan berkelebat cepat.
"Huh! Ada-ada saja!" dengus Pranaja, begitu gadis tadi sudah tak terlihat lagi.
Pemuda itu segera menghampiri kudanya. Lalu naik ke atas
punggungnya. Sementara Pandan Wangi sendiri sudah berada di atas punggung
kudanya. "Kelihatannya gadis itu jujur.
Kenapa kau tidak mau mengakui bahwa kau mengenalnya?" tanya Pandan Wangi, sambil
menggebah kuda perlahan-lahan.
"Apakah aku harus mengakui hal yang semestinya tidak kualami" Aku tidak
mengenalnya. Dan mestikah, aku mengaku mengenalnya sekadar untuk menyenangkan
hatinya" Tidak bisa! Lagi pula akan berakibat buruk bagiku...!"
jelas Pranaja, juga menggebah kudanya perlahan-lahan.
Pemuda itu kelihatan hendak
melampiaskan jengkel. Terasa dari nada bicaranya. Tapi tidak berlangsung lama,
karena sebentar kemudian sadar dan berusaha memperbaiki sikap.
"Dia mungkin saja suruhan orang yang ingin menjatuhkan nama baikku.
Dan ketika berhasil menemuiku, langsung saja main tuduh...," kilah Pranaja.
Pandan Wangi agaknya enggan
berdebat lebih jauh soal gadis yang dibicarakan Pranaja. Makanya kini dia lebih
memilih diam. "Hm.... Ada-ada saja. Mimpi apa aku semalam" Dalam sekejap, dua kejadian telah
membuat citra buruk bagiku...," gumam Pranaja.
"Kalau memang terbukti kau tidak bersalah, tentu saja tidak seorang pun yang
beranggapan buruk padamu," hibur Pandan Wangi.
"Dalam keadaan seperti ini tampaknya akan sulit. Sebab, semua akan menuduh bahwa
aku pemuda buruk.
Rasanya sulit mencari orang yang percaya bahwa aku tidak ada sangkut-pautnya
dengan mereka!"
"Aku percaya...," kata Pandan Wangi.
"Sungguh, kau percaya"!" sahut Pranaja bernada gembira.
Pandan Wangi mengangguk.
"Oh, Hyang Jagat Bhatara! Ini sudah cukup bagiku. Tidak periu banyak orang yang
mesti percaya. Satu orang sepertimu saja, sudah lebih dari cukup!" seru Pranaja
girang. Gadis itu tersenyum-senyum
melihat kelakuan pemuda ini.
"Bagaimana kalau ternyata ada kejadian serupa yang menimpaku lagi?"
tanya Pranaja, mencoba memancing.
Pandan Wangi hanya menoleh dan tersenyum.
"Kau masih percaya bahwa aku tidak ada sangkut-paut dengan mereka?"


Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kejar Pranaja. Gadis itu tidak menjawabnya. Dan kudanya digebah semakin kencang.
"Jawablah, Pandan! Apakah kau masih percaya"!" tanya pemuda itu, langsung ikut
menggebah kudanya.
Kelihatannya dia penasaran sekali.
"Kejarlah aku. Kalau kau bisa mengejar, maka akan kujawab," sahut Pandan Wangi.
"Apa"!"
Pranaja terkesiap, sesaat dia tertegun. Tapi, cuma sekejap. Karena selanjutnya
dengan bersemangat kudanya digebah semakin kencang.
"Awas! Akan kutanggap kau!"
teriak Pranaja.
"Kau tidak akan mampu!" sahut Pandan Wangi.
"Heaaa...!"
Wajah Ki Puger yang pernah
dicundangi Pranaja, kelihatan semakin pucat. Kedua kawannya yang bernama Braja
dan Tukul merasa cemas kalau-kalau tidak bisa ke kampung halaman dengan membawa
Ki Puger dalam keadaan selamat. Padahal mereka baru sampai di Desa Sumpyuh, yang
berarti membutuhkan seharian perjalanan berkuda untuk mencapai Desa Gandekan,
tempat tinggal mereka.
"Sebaiknya kita istirahat dulu, Ki...," usul Tukul ketika melewati sebuah
perkebunan. "Yah, terserah kalian saja...,"
sahut Ki Puger lemah.
Dengan hati-hati Tukul dan Braja menurunkan Ki Puger dari punggung kudanya. Dan
mereka segera membopong ke sebuah pohon yang cukup besar di tepian perkebunan
ini. Disandarkannya tubuh Ki Puger di bawah pohon itu.
Tukul segera mencari sesuatu untuk diminum. Sedang Braja berjaga-jaga.
"Tidak usah terlalu dipikirkan soal ini, Ki. Nanti kalau kesehatanmu sudah
membaik akan kita cari jalan keluarnya...," hibur Braja. Ki Puger mengangguk
pelan. "Bagaimanapun, keparat itu harus mati, Braja!" dengus Ki Puger, agak tersengal.
"Tentu saja, Ki! Dia manusia
durjana. Dan sudah banyak kejadian, orang seperti dia tidak akan lama hidupnya!"
sahut Braja. Baru saja Ki Puger hendak buka suara lagi, mendadak terdengar derap langkah kaki
kuda yang dipacu tidak begitu cepat. Tepat ketika lewat di depan mereka,
penunggang kuda berbulu hitam mengkilat itu menoleh. Segera lari kudanya
dihentikan. Penunggang kuda yang ternyata seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan
pedang bergagang kepala burung di punggungnya itu segera melompat turun.
Langsung dihampirinya Ki Puger dan Braja.
"Apa yang terjadi dengan kalian, Kisanak" Kulihat, kalian seperti terluka?" sapa
pemuda berbaju rompi putih ini.
Ki Puger tidak langsung menjawab.
Segera diperhatikannya pemuda itu untuk sejurus lamanya. Dan dia sepertinya
teringat dengan ciri-ciri seseorang walaupun belum pernah berjumpa sebelumnya.
"Kau..., bukankah Pendekar Rajawali Sakti?" duga Ki Puger setengah yakin.
Pemuda tampan yang memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu tersenyum
seraya mengangguk.
"Oh, syukurlah! Perkenalkan, aku Puger dari Desa Gandekan Dan yang
berdiri di sisiku ini Braja, tetanggaku. Oh, tiada kusangka.
Akhirnya, aku bertemu denganmu di sini!" desah Ki Puger. "Maafkan aku, Pendekar
Rajawali Sakti. Aku tak bisa menyambutmu dengan semestinya. Aku sudah tak mampu
berdiri!" "Sudahlah, Ki. Tak perlu kau sungkan-sungkan denganku. Aku pun hanya manusia
biasa, sama sepertimu.
Jadi buanglah dulu segala
peradatan...! Dan kumohon, panggil saja aku Rangga. Begitu lebih enak
didengar...!" ujar Pendekar Rajawali Sakti dengan budi bahasa halus.
"Sudah kuduga, kalau kau pendekar besar berilmu padi. Makin banyak isinya,
kepalamu makin menunduk ke bawah. Makin banyak ilmumu, maka kau makin berusaha
untuk merendah...,"
puji Ki Puger, halus.
"Oh ya, Ki. Sebenarnya apa yang terjadi" Hm, kelihatannya kau terluka...?" tanya
Rangga, mengalihkan pembicaraan.
"Ya! Kami terluka karena berurusan dengan seseorang...," jelas Ki Puger.
"Apa persoalannya?" tanya Rangga dengan kening berkerut.
"Orang itu telah menghamili putriku, kemudian kabur begitu saja.
Putriku bunuh diri karena kecewa dan malu. Agaknya bukan hanya putriku yang
menjadi korban. Tapi juga banyak penduduk desa kami yang anak gadisnya ikut
menjadi korban," jelas Ki Puger lagi.
"Astaga! Siapa gerangan orang itu"!" desak Rangga, terkejut.
"Belakangan, dia dikenal sebagai Dewa Mata Maut. Lalu kami mencarinya ke manamana. Tapi setelah bertemu, kami tidak mampu berbuat apa-apa. Dia terlalu
tangguh. Dan kami dihajarnya habis-habisan," papar laki-laki setengah baya ini.
"Keterlaluan!" desis Rangga.
"Kisanak! Kau akan terkejut kalau mendengar berita yang satu ini!"
lanjut Ki Puger.
"Apa?"
"Bukankah Pandan Wangi yang berjuluk si Kipas Maut kekasihmu?" Ki Puger malah
balik bertanya.
"Ya. Ada apa dengannya" Apakah kalian bertemu sebelumnya dengan dia?"
desak Pendekar Rajawali Sakti. Dan mendadak jantungnya berdetak lebih kencang
lagi. "Ya."
"Di mana?"
"Dia bersama jahanam keparat itu!" desis Ki Puger.
"Apa"!"
Bagai mendengar petir di siang bolong, Pendekar Rajawali Sakti kontan terlonjak
kaget. Apa yang barusan
didengarnya, terasa aneh di
telinganya. Bahkan seakan sulit dipercaya.
"Ya! Dia bersama jahanam itu.
Kelihatannya dekat sekali. Aku bahkan semula tidak yakin. Tapi, gadis itu memang
Pandan Wangi. Karena, aku pernah melihatnya beberapa kali.
Kisanak, kelihatannya gadismu itu telah kepincut dengan jahanam terkutuk itu!"
papar Ki Puger menjelaskan lagi.
"Jangan main-main kau padaku, Kisanak!" desis Rangga mulai geram mendengar
cerita itu. "Tiada untung bagiku
mempermainkanmu! Aku malah kasihan dan turut sedih. Pergilah kau ke selatan.
Kalau beruntung, kau akan bertemu dengan mereka," tegas Ki Puger.
Kalau mau jujur, sebenarnya
Rangga ingin berteriak saat itu juga.
Amarahnya langsung terasa menggelegak dalam dada. Dan ini membuat aliran
darahnya pun ikut berjalan cepat. Hela napasnya pun terasa cepat dan kasar.
Meski begitu, dia berusaha menguasai diri. Dan tentu saja tidak ingin
menunjukkan amarahnya di depan mereka.
"Baiklah. Kalau begitu akan kubuktikan ucapanmu itu!" sahut Pendekar Rajawali
Sakti seraya berbalik menghampiri kudanya. Dan dengan gerakan ringan sekali, dia
melompat ke punggung kudanya.
Tanpa banyak bicara lagi,
Pendekar Rajawali Sakti segera menggebah kuda sekencang-kencangnya pergi dari
tempat ini. "Heaaa...!"
*** "Tidak mungkin! Pandan Wangi tidak akan berbuat seperti itu!" desis Rangga
beberapa kali untuk menghibur hatinya sendiri.
Pemuda yang merupakan kekasih Pandan Wangi ini memang terluka.
Hatinya perih mendengar berita ini, meski berusaha meyakinkan diri untuk tidak
percaya sepenuhnya dengan cerita yang dipaparkan Ki Puger.
"Heaaa...!"
Kembali Pendekar Rajawali Sakti menggebah kuda hitam bernama Dewa Bayu dengan
kencang. Dan bila bertemu seseorang, dia berhenti untuk menanyakan. Namun
hatinya jadi kecewa, karena setiap orang yang ditanya selalu menggeleng tidak
tahu-menahu. Dan ini membuatnya jengkel. Apa mungkin Ki Puger mengarang-ngarahg cerita"
"Berhenti, Dewa Bayu!"
Mendadak saja Rangga menarik tali kekang kudanya ketika bertemu dua laki-laki
berpakaian serba hitam dengan golok di pinggang. Dewa Bayu
langsung memperlambat larinya, dan berhenti sama sekali. Bergegas Pendekar
Rajawali Sakti melompat dari kudanya, dan menghampiri dua laki-laki yang berdiri
di mulut sebuah desa.
"Kisanak berdua, maaf aku hendak bertanya!" sapa Rangga, seraya menjura.
"Apa yang hendak kau tanyakan?"
sahut salah seorang yang berkumis lebat dengan mata dingin.
"Apakah kalian melihat seorang gadis berbaju biru muda, dengan pedang berkepala
naga di punggungnya lewat daerah sini?"
Kedua orang itu saling pandang sejenak.
"Yang kau maksudkan si Kipas Maut?" kali ini yang berkepala botak yang
berbicara. "Benar!" sahut Rangga buru-buru.
"Hm, ya. Kami memang
melihatnya...," kata laki-laki botak.
"Ke mana dia sekarang?" terabas Rangga.
Laki-laki botak itu tidak
langsung menjawab. Dan matanya mengerling lebih dulu pada kawannya yang berkumis
lebat sambil tersenyum sinis.
"Di sini ada peraturan. Siapa yang bertanya, maka mesti bayar!" kata si botak.
Rangga menghela napas panjang,
menahan kesal di hati.
"Berapa?" tanya Rangga.
Dalam keadaan begini, Pendekar Rajawali Sakti agaknya tidak mau banyak rebut.
"Satu pertanyaan, harganya sekeping uang perak!" kata laki-laki berkumis.
Rangga mengeluarkan kepingan uang. Dan dilemparkannya pada laki-laki berkumis.
Dan mata orang itu langsung mendelik ketika melihat jumlah uang yang terhitung
banyak. "Sekarang katakan, ke mana dia pergi?" tagih Rangga.
"Kau lurus saja ikuti jalan ini, lalu berbelok ke kiri. Dia berjalan bersama
seorang pemuda....'
"Ke mana tujuan mereka"!"
"Ini pertanyaan kedua?"
Kening Rangga jadi berkerut
dalam. Hatinya mulai kesal. Namun, dia lebih membutuhkan keterangan tentang
Pandan Wangi. Maka segera dikeluarkan sekeping uang perak lagi.
"Ini pertanyaan penting, Sobat.
Harganya pun jadi penting...," kata yang berkumis lebat, sebelum Rangga
melemparkan uang.
"Apa maksudmu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, makin berkerut keningnya.
Sementara alisnya pun bertautan.
"Harganya jadi lima kali lipat!"
"Hm, Kalian ingin memerasku, Kisanak?" desis Rangga, dingin.
"Ya, sudah.... Kalau kau tidak mau bayar, maka tidak ada jawaban.
Kami harus buru-buru, karena ada urusan lain," sahut si botak seraya mengajak
kawannya meninggalkan tempat ini.
"Tunggu!" tahan Rangga.
Kedua orang itu tersenyum sambil berbalik. Sementara, Rangga yang sudah
mengeluarkan lima kepingan perak, tersenyum kecut. Segera dilemparkannya uanguang itu. Namun....
"Aaakh...!"
Betapa terkejutnya kedua orang itu, ketika baru saja menangkap sekeping uang
perak yang dilemparkan Rangga. Tangan masing-masing tiba-tiba merasa seperti
memegang benda seberat ribuan kati. Dan mereka langsung jatuh terduduk, dengan
telapak tangan kanan tetap menggenggam uang perak. Dan tangan mereka sendiri,
seperti tidak bisa bergerak di tanah, seperti tertindih sebuah benda seberat
ribuan kati. "Bangun kalian!" desis Rangga, dingin.
"Ampun, ampuuun...!" ratap kedua orang itu berulang-ulang, tanpa mampu bangkit
berdiri. Sudah pasti mereka tidak mampu bangkit berdiri, karena tubuh mereka
seperti tertahan oleh tangan yang bagai tertindih benda ribuan kati.
Padahal, yang menindih hanyalah kepingan uang perak! Dan memang, Rangga telah
menyalurkan tenaga dalam amat tinggi pada kedua uang perak itu, hingga beratnya
bagaikan sebuah besi baja yang amat besar!
"Aku tengah tidak berselera main-main. Tapi, kalian malah membuatku jengkel!"
dengus Rangga geram.
"Katakan, ke mana mereka pergi"!"
"Kami tidak tahu...," sahut si botak.
"Jangan main-main! Atau, barangkali pelajaran ini belum cukup"!" hardik pemuda
itu geram. "Tidak, aku bersungguh-sungguh!
Aku hanya bermaksud menipumu. Aku sungguh-sungguh tidak tahu ke mana mereka
pergi. Kami memang berurusan dengan mereka. Khususnya gadis berbaju biru yang
kini kuketahui berjuluk si Kipas Maut. Salah seorang kawan kami telah
mengganggu. Tapi dia dihajarnya habis-habisan. Dan bersama seorang pemuda,
akhirnya mereka melabrak kami pula, lalu pergi begitu saja. Sungguh aku tidak
tahu tujuan mereka, Kisanak!
Ampunilah aku...!" ratap yang berkumis lebat.
Rangga mendengus geram. Hatinya percaya kalau orang itu bersungguh-sungguh.
"Kapan itu terjadi"!"
"Tadi. Kira-kira menjelang siang..."
Pemuda itu mengerling. Dan
matahari memang mulai condong ke barat. Berarti cukup lama juga.
"Kau yakin mereka melewati jalan ini?" Tanya Rangga lagi.
"Kami lihat sendiri, Kisanak!"
kata si botak. "Baik. Terima kasih."
Pendekar Rajawali Sakti segera menarik tenaga dalamnya, lalu berkelebat ke arah
Dewa Bayu. Dengan sekali melompat Pendekar Rajawali Sakti telah duduk di
punggung kudanya.
"Hieeekh...!"
Dewa Bayu meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi
ketika Pendekar Rajawali Sakti menggebahnya. Kemudian dia segera berlari kencang
bagai sapuan angin.
"Kita harus bisa menyusul sebelum mereka jauh, Dewa Bayu!" ujar Rangga seraya
menepuk-nepuk leher kuda hitam itu.
Dewa Bayu seperti mengerti apa yang diinginkan majikannya. Larinya semakin
dipercepat. Bila di sebelahnya ada kuda lain, niscaya tidak akan mampu mengejar
lari Dewa Bayu.
Sebentar saja Rangga telah
melewati pinggiran sebuah hutan yang cukup luas sambil menggebah kudanya,
Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan aji Tatar Netra' untuk meneliti jejak-jejak
yang terdapat di tanah yang dilalui. Dan bibir Rangga tersenyum, ketika melihat
dua jejak tapak kuda yang masih baru. Sehingga tidak ada kesulitan baginya untuk
mengikuti. Setelah bertemu pinggiran sebuah desa, Pendekar Rajawali Sakti mulai melihat dua
penunggang kuda yang berjalan tidak terlalu cepat di depannya.
"Ayo, Dewa Bayu! Kejar
mereka...!" ujar Pendekar Rajawali Sakti, langsung menggebah kudanya semakin
kencang. Sementara itu, kedua penunggang kuda di depan agaknya menyadari kalau seseorang
tengah mengejar. Maka mereka segera memperlambat laju kuda.
"Berhenti, Dewa Bayu!" seru Rangga, ketika telah berjarak lima tombak di
belakang buruannya yang juga telah berhenti dan berbalik.
Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat dari atas punggung Dewa Bayu.
Dipandanginya kedua orang itu bergantian. Kemudian, matanya memandang kepada
gadis berbaju biru muda yang memang Pandan Wangi.
"Pandan Wangi! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rangga.
"Aku hanya berjalan-jalan saja, Kakang!" sahut gadis itu, enteng
seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"He he he...! Jadi kaukah pendekar kesohor itu, Kisanak" Selamat bertemu
denganku. Orang-orang memanggilku Dewa Mata Maut...!" tukas pemuda yang berkuda
bersama Pandan Wangi, yang tak lain Pranaja.
"Hm.... Dewa Mata Maut Kudengar kau telah membuat onar di mana-mana, dengan
mengganggu gadis-gadis cantik.
Apakah kau tidak bisa mendapatkan gadis cantik yang masih sendiri sehingga harus
memperdaya gadis milik orang lain?" sindir Rangga, dingin.
*** 4 "Ah! Sekarang, aku tidak heran.
Sudah banyak kejadian seperti ini kualami. Dan Pandan Wangi pun tahu,"
desah Pranaja alias Dewa Mata Maut dengan senyum lebar.
"Tidak usah membawa-bawa namanya, Kisanak!" ujar Rangga, agak keras.
"Kisanak! Ada apa denganmu" Baru saja datang, tiba-tiba marah Tuduhan apa yang
hendak kau lontarkan padaku?"
tukas Pranaja "Maaf, aku bukan hendak menuduh macam-macam padamu. Tapi, pergilah kau! Dan,
tinggalkan kami berdua!"
ucap Rangga, berusaha menahan diri.
"O... Jadi kau hendak bicara penting dengan Pandan Wangi" Silakan saja. Tapi di
antara kami tidak ada hal yang disembunyikan. Pandan Wangi bebas mengetahui
persoalanku Dan sebaliknya, dia pun mengatakan begitu padaku. Jadi kau tidak
usah khawatir, Kisanak. Bicara saja padanya. Dan aku berjanji tidak akan
mengganggu pembicaraan kalian," kata Dewa Mata Maut.
Rangga berusaha menahan geram yang memuncak. Dipandanginya orang itu sejurus
lamanya. Dan yang dipandangi balas
memandang sambil tersenyum-senyum. Tak lama pandangannya dialihkan pada Pandan
Wangi. "Siapa dia yang sebenarnya, Pandan Wangi" Ingat, dia termasuk orang asing
bagimu. Dan tidak biasanya kau berbuat begini terhadap orang asing."
"Dia.... Dia kawanku, Kakang,"
sahut Pandan Wangi, pelan seraya menundukkan kepalanya.
Dan Rangga tadi sempat melihat ada tatapan aneh dalam sinar mata Pandan Wangi.
Tapi dugaannya cepat ditepisnya, mengingat Pandan Wangi masih mengenalinya.
"Tidakkah kau berdusta, Pandan?"
Pandan Wangi terdiam.
"Apakah benar berita yang
kudengar dan orang-orang itu, Pandan?"
cecar Rangga. Gadis itu tetap diam membisu.
"Hm. Kau tak ingin menjawabnya, Pandan" Baiklah.... Sekarang, begini saja.
Maukah kau kuajak kembali ke Karang Setra?"
Lagi-lagi Pandan Wangi tidak menjawab. Dan ini membuat Rangga jadi geram.
Bisa jadi Rangga jadi geram, karena dengan mengajaknya ke Karang Setra, berarti
Rangga ingin bicara baik-baik. Atau bahkan Rangga ingin menghilangkan dugaan
yang tidak-tidak terhadap gadis ini. Tapi, apa yang didapat Rangga" Sepertinya
Pandan Wangi menganggap remeh ajakannya.
"Jawab Pandan!" bentak Rangga.
Gadis itu tersentak mendengar bentakan menggeledek. Dipandangnya pemuda di
hadapannya itu dengan sinar mata tajam.
"Kisanak! Rasanya kau tidak pantas memperlakukannya begitu rupa.
Dia wanita halus budi. Dan kau sangat kasar. Tidak bisakah kau bicara lebih
lembut?" sahut Pranaja menasihati.
"Jangan campuri urusan kami!"
desis Rangga. "Hm... jika menyangkut Pandan Wangi, kurasa sekarang juga jadi urusanku," sahut
Pranaja tenang.
"O, begitu" Apa yang hendak kau
urus" Mencampuri persoalan kami"
Membelanya" Atau, barangkali kau hendak merebut hatinya"!" dengus Rangga sinis.
"Tentu saja! Kenapa tidak" Dia toh, kekasihku."
"Kekasihmu?" tukas Rangga.
"Tanyakan saja padanya."
"Hei, Pandan! Benarkah yang diucapkannya?" bentak Rangga semakin gemas saja.
Gadis itu tidak menjawab. Malah kepalanya menunduk, tak mempedulikan pertanyaan
Rangga. "Dia malu mengutarakannya di depan banyak orang...," sahut Pranaja, enteng.
"Hm, ini semakin memuakkan!"
dengus Rangga. "Pandan, ayo kita pergi!"
Namun Pandan Wangi tidak beranjak dari tempatnya.
"Pandan, ayo!" desak Rangga.
Gadis itu kelihatan bingung. Dan itu membuat Rangga gusar. Segera kakinya
melangkah bermaksud menyeret gadis itu. Namun sebelum dilakukan, Pranaja telah
menahan dengan mencekal perge-langan tangannya.
"Kisanak, usah kuperingatkan.
Berlakulah sopan dan lemah lembut padanya," ujar Pranaja, keras.
"Jangan ikut campur urusan kami!"
dengus Rangga, langsung menepis tangan
Pranaja. "Sudah kukatakan, bila urusannya menyangkut Pandan Wangi, maka itu urusanku
juga. Dan kuminta kau jangan mendesaknya. Apalagi, berbuat macam-macam
kepadanya!"
"Kurang ajar! Kau semakin membuatku muak saja. Hei! Siapa pun kau,
menyingkirlah. Dan, jangan sampai aku gelap mata menghajarmu!" ancam Rangga.
"Hm.... Apa pun yang kau katakan, jangan harap bisa menyurutkan langkahku.
Apalagi kau hendak mengusik kekasihku. Kau akan berurusan denganku, Sobat,"
desis Pranaja, tak kalah gertak.
"O, begitu" Kau bersungguh-sungguh menganggapnya kekasihmu, ya"
Apa yang telah kau perbuat kepadanya"
Kau apakan dia" Kau guna-guna" Kau sihir" Atau kau bius dengan bujuk rayu?"
Sambil berkata begitu, Rangga mendorong tubuh Pranaja beberapa kali.
Dan sampai yang keempat kali, Dewa Mata Maut menangkis. Bahkan balas melayangkan
pukulan. Wut! "Hih!"
Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti menangkis.
Plak! Namun Pranaja cepat mengirim
serangan berikut, lewat tangan yang satu lagi. Untung Rangga segera menunduk,
sehingga pukulan itu luput dari sasaran. Bahkan tiba-tiba ujung kaki kirinya
menyodok ke perut Dewa Mata Maut.
"Hup!"
Pranaja alias Dewa Mata Maut mencelat ke belakang, lalu mendarat manis pada
jarak lima langkah sambil tersenyum. Lalu seketika dia kembali bergerak cepat
menyerang. "Yeaaa...!"
*** Splak! Rangga menangkis dengan tangan kiri, kemudian melompat ke samping tepat ketika
kaki Pranaja yang sebelah lagi menyapu kepala.
"Hup!"
Begitu menjejak tanah, saat itu juga tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesat
menyerang. Wut! Wut! Dengan menggunakan jurus
'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'
kedua kakinya bergerak lincah menghajar.
Untuk sesaat Pranaja terkesiap.
Namun selanjutnya dia berhasil menghindar dengan melenting ke belakang sambil
jungkir balik beberapa
kali. "He he he...! Hebat! Benar-benar hebat!" puji Dewa Mata Maut.
Sambil tersenyum begitu berhasil membuat jarak.
"Aku tidak butuh pujian!"
"He he he...! Sebenarnya kita bisa berkawan, Sobat. Soal perempuan itu bisa
diatur. Bagaimana menurutmu"
Yang jelas, aku tidak ingin
merugikanmu," oceh Dewa Mata Maut.
"Omonganmu sudah melantur! Bahkan membuatku jengkel. Dan selamanya aku paling
benci dengan laki-laki yang tak menghargai wanita. Hm.... Kau anggap wanita apa
Pandan Wangi?"
"He he he...! Dia hanya wanita yang memang sudah antri Untuk berkawan denganku!"
sahut Dewa Mata Maut, makin kurang ajar.
"Bedebah!"
Pendekar Rajawali Sakti berpikir tidak ada gunanya berdebat omong dengan
penjahat pemetik bunga ini.
Orang sepertinya harus dihajar baru kapok.
"Heaaat...!"
Kemarahan agaknya sudah hampir meledakkan kepala Pendekar Rajawali Sakti.
Secepat itu pula Rangga meluruk ke arah Pranaja dengan satu tendangan.
"He he he...! Kau kelewat bernafsu, Sobat."
Secepat itu pula, Dewa Mata Maut
mengegos ke kanan, membuat tendangan itu luput dari sasaran.
Namun serangan Rangga tidak
berhenti sampai di situ. Tubuhnya segera berputar cepat dan kembali melakukan
tendangan. Namun, Dewa Mata Maut lebih cepat mencelat ke belakang.
Rangga tak putus asa segera
dikejarnya Pranaja dengan pukulan bertubi-tubi. Kembali Pranaja membuat gerakan
tak terduga, dengan kibasan tangan secara bertubi-tubi pula.
Plak! Plak! Baru saja terjadi benturan Rangga berbalik. Langsung dikirimkannya satu
tendangan dari jarak dekat ke ulu hati. Terpaksa, Pranaja harus kembali bergerak
menghindar dengan melenting ke belakang.
"Hiyaaa!"
Rangga agaknya tidak mau memberi kesempatan sedikit pun kepada lawan.
Begitu Pranaja baru saja mendarat di tanah, maka secepat itu pula tubuhnya
menerjang melepas tendangan terbang.
Namun meski dalam keadaan
demikian, agaknya Dewa Mata Maut masih mampu bersiaga. Secepat kilat,
ditangkisnya serangan Rangga dengan kibasan tangan.
Plak! "Heh!"
Pendekar Rajawali Sakti terkejut, melihat gerakan Dewa Mata Maut yang
tampak dalam keadaan sempoyongan setelah manangkis. Tapi selanjutnya mulai
disadari kalau Dewa Mata Maut tengah mengerahkan jurus yang membuatnya seperti
orang mabuk. Sebentar Rangga seperti berdiri terpaku, setelah melepas tendangan tadi.
"He he he...! Kenapa diam saja"
Ayo, seranglah aku lagi. Bukankah kau sangat bernafsu menghajarku?" ejek Dewa
Mata Maut seraya tersenyum mengejek.
"Kuakui, kepandaianmu cukup tinggi. Tapi sayang, kau berjalan di arah yang
salah, Kisanak!"
"He he he...! Itu urusanku, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi yang jelas,
kepandaianku memang untuk menghadapi orang sepertimu," sahut Pranaja.
"Terimalah jurus 'Dewa Mabuk'ku!"
"Baik. Buktikanlah!" tantang Rangga. Sejenak Rangga memperhatikan jurus pembuka
yang dimainkan Dewa Mata Maut. Sesuai namanya, jurus itu memang mirip gerakangerakan orang mabuk.
Namun tak lama, bibir Rangga sudah mulai tersenyum.
"Hm.... Kalau begitu akan kucoba dengan jurus 'Sembilan langkah Ajaib'
untuk menandinginya.
Jurus 'Sernbilan Langkah Ajaib'
yang lebih mengutamakan gerakangerakan gemulai dalam menghindar, agaknya memang pantas dikeluarkan untuk
menandingi jurus 'Dewa Mabuk'
Selain untuk menghindar, jurus yang dimiliki Rangga ini bisa digunakan untuk
menyerang dengan gerakan juga mirip orang mabuk.
"Hiaaa...!"
Bet! Bet! Dengan gerakan sempoyongan, Dewa Mata Maut menyerang lewat kepalan tangan secara
bertubi-tubi. "Shaaa...! Uts!"
Dan dengan gerakan sempoyongan pula, Pendekar Rajawali Sakti berusaha
menghindari setiap serangan. Maka saat itu pula terjadilah pertarungan aneh,
bagai dua orang mabuk tengah bertarung memperebutkan sebumbung arak.
Terkadang kedua orang itu
terhuyung seperti hendak jatuh, namun secepat itu pula tegak kembali dengan
kuda-kuda kokoh.
Pada satu kesempatan, Dewa Mata Maut menyorongkan satu gedoran lewat telapak
tangan ke dada Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gemulai, Rangga
mencondongkan dadanya ke belakang, sehingga pukulan itu lewat di atas dadanya.
Dan ternyata, serangan Dewa Mata Maut barusan hanya pancingan. Karena tiba-tiba
tubuhnya berputar sambil melepas sapuan kaki. Gerakannya walau
terlihat lambat, namun sesungguhnya tak dapat dilihat oleh mata biasa.
Selanjutnya....
Plak! Bruk! Tepat sekali sapuan kaki Pranaja menghantam lutut belakang Rangga, sehingga
terjerembab ke tanah. Dan secepat itu pula, Dewa Mata Maut akan menjejak kakinya
pada dada Rangga.
Namun.... "Hup!"
Rangga langsung bergulingan ke kiri, membuat injakan Pranaja hanya menghantam
tanah kosong. Namun, Dewa Mata Maut tak ingin melepas buruannya begitu saja.
Tepat ketika Rangga berusaha melenting bangkit, tubuhnya sudah melepaskan
tendangan bertubi-tubi. Begitu cepat gerakannya, sehingga....
Des! Des! "Aaakh...!"
Dua tendangan telak berturut-turut menghantam kepala serta dada Pendekar
Rajawali Sakti. Rangga menjerit tertahan. Tubuhnya kontan terjungkal beberapa
langkah ke belakang.
"He he he...! Pertunjukan yang menarik! Dan kita akan membuat pertunjukan yang
lebih menarik lagi!"
ejek Pranaja, memandangi Pendekar Rajawali Sakti yang susah payah
bangkit berdiri.
Memang, dalam keadaan marah, Pendekar Rajawali Sakti tak bisa menggunakan akal
sehatnya. Hawa marah, telah membuat jurus-jurusnya tak terarah. Tak heran kalau
dia dengan mudah bisa di-cundangi.
Sementara, Dewa Mata Maut sudah bergerak mendekati Pandan Wangi.
Seakan, dia lupa dengan lawannya. Dan ini membuat kening Rangga berkerut.
Tampak Pranaja yang kini telah berada di sebelah Pandan Wangi langsung merangkul
pundak gadis itu.
Aneh! Pandan Wangi diam saja.
Gadis itu tidak berusaha melepaskan diri. Bukan itu saja yang membuat Rangga
geram. Dengan tangan kanan merangkul Pandan Wangi, tangan kiri Dewa Mata Maut membuat
gerakan aneh. Tangan kirinya yang mengepal ditempelkan ke kening. Sementara,
mulutnya bergerak komat-kamit. Tepat ketika kepalan tangannya berputar, dari
tubuh Dewa Mata Maut keluar asap kuning. Mula-mula tipis, namun sebentar
kemudian telah menggumpal menyelimuti tubuhnya dan tubuh Pandan Wangi.
"Apa yang akan kau lakukan dengannya, Keparat"! Sehelai rambutnya rontok, maka
kepalamu akan kutebas sekarang juga!" dengus Pendekar Rajawali Sakti mengancam
sambil mendekat per-lahan-lahan.
"Sehelai" Aku bahkan mampu merontokkan semua rambutnya, tanpa kau bisa berbuat
apa-apa!" ejek Pranaja.
*** "Keparat!" dengus Pendekar Rajawali Sakti geram.
Bersamaan dengan itu, Pendekar Rajawali Sakti terus mencelat sambil meloloskan


Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pedangnya. Seketika hari yang sudah gelap, jadi terang benderang oleh cahaya
sinar biru berkilauan yang terpancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Dan
bersamaan kebutan pedangnya, Pendekar Rajawali Sakti terus meluruk. Namun untuk
sesaat Rangga agak curiga, melihat Dewa Mata Maut tidak berusaha mengelak. Atau
jangan-jangan, Pandan Wangi akan dijadikan tameng.
Secepat kilat, akal Rangga
bekerja. Dan dia telah siap dengan apa yang bakal terjadi nanti. Saat itu juga,
pedangnya menderu tajam menuju sasaran. Dan....
Wut! Tang! "Heh"!"
Pendekar Rajawali Sakti terkejut bukan main. Pedangnya seperti membentur dinding
baja yang tak nampak. Bahkan tubuhnya terjajar dan
bergetar sampai ke jantung.
"He he he..! Pertunjukan menarik, bukan"!" leceh Dewa Mata Maut terkekeh geli.
"Tertawalah sepuasmu di akherat sana, Keparat!" desis Rangga geram.
Lalu kembali pedangnya diayunkan.
Tang! "Aaah...!"
Untuk yang kedua kali, Pendekar Rajawali Sakti mengalami kejadian serupa. Asap
bercahaya kuning yang menyelubungi mereka berdua seakan berupa dinding baja tak
nampak. Pedang pusakanya sama sekali tidak berdaya untuk menembusnya.
"Hua ha ha...! Kenapa tidak mengerahkan seluruh tenaga yang kau miliki untuk
menembus aji 'Gelembung Maya' ini"! Ayo, Pendekar Rajawali Sakti! Apakah kau
akan berdiam diri saja di situ" Seranglah aku dengan pedangmu itu! Atau,
pukullah sekuat tenagamu!" teriak Pranaja mengejek.
"Huh! Kau akan menyesal karenanya!"
Pendekar Rajawali Sakti mendengus geram. Segera dibuatnya kuda-kuda kokoh dengan
telapak tangan berada di sisi pinggang. Lalu, seketika telapak tangannya
dihentakkan dengan jurus
'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
"Heaaa...!"
Seketika selarik cahaya merah menderu keras meluruk ke arah selubung
asap kuning. Rangga mengarahkan pukulannya dengan hati hati, takut melukai
Pandan Wangi. Dan....
Blam! "Ha ha ha...!"
Terdengar ledakan dahsyat, ketika cahaya merah itu berusaha menembus selubung
asap kuning. Namun di luar dugaan, cahaya merah yang dilepaskan Rangga berbalik
menghantam dirinya.
Masih untung Pendekar Rajawali Sakti cepat berkelit ke atas, sehingga pukulannya
luput dari sasaran.
Dan Pranaja tertawa terbahak-bahak mengejek, membuat Pendekar Rajawali Sakti
makin geram. "Keparat!" desis Pendekar Rajawali Sakti.
"Aku akan membuat pertunjukan bagus, Sobat! Coba lihat!" ujar Pranaja.
"Heaaat..!"
Secepat kilat Dewa Mata Maut menghentakkan tangannya. Seketika meluncur sinar
kuning dari telapaknya yang terbuka ke arah Rangga.
"Hup!"
Rangga berhasil menghindar dengan melenting ke atas. Namun itu saja cukup
membuatnya kaget.
"Kurang ajar! Ilmu apa yang digunakannya?" gumam pemuda itu tidak habis pikir.
"He he he...! Kenapa diam" Ayo, serang aku! Gunakan seluruh tenagamu
untuk menghajarku!" ejek Dewa Mata Maut.
Meski hatinya marah, namun
Pendekar Rajawali Sakti tidak kehilangan kendali. Disadari kalau apa pun yang
dilakukannya untuk menyerang tidak akan berhasil. Aji 'Gelembung Maya' kelihatan
hebat dan aneh. Dan dari dalam pun, ternyata Pranaja masih bisa menyerang. Itu
yang menguntungkan Dewa Mata Maut
Tapi Pendekar Rajawali Sakti tidak ingin beranjak dari tempatnya.
Suramnya Bayang Bayang 21 Dewa Arak 44 Tawanan Datuk Sesat Nyai Tandak Kembang 2

Cari Blog Ini