Ceritasilat Novel Online

Dewa Mata Maut 2

Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut Bagian 2


Karena, berarti harus meninggalkan Pandan Wangi. Dan Rangga tetap berdiri di
tempat "Pandan Wangi! Apakah kau bersungguh-sungguh akan mengikuti jahanam bermulut
manis ini"!" teriak Rangga, bergetar.
"Kau tidak perlu menjawabnya!"
tukas Pranaja, seraya menoleh kepada gadis itu.
"Pandan, dengar kataku! Jangan pedulikan dia! Dia akan
menjerumuskanmu!" lanjut Rangga.
Pranaja hanya terkekeh. Namun kekehannya dialiri tenaga dalam. Bukan tanpa
alasan Dewa Mata Maut berbuat begitu, karena mengetahui kalau Pendekar Rajawali
Sakti pun bermaksud menggugah gadis itu lewat pengerahan tenaga batin.
"Ha ha ha...! Kau tidak akan
berhasil mengelabuinya. Percuma saja.
Lebih baik lupakan, karena gadis ini ada dalam genggamanku!"
"Terkutuk kau, Jahanam! Aku bersumpah akan membunuhmu!" bentak Rangga.
"Ha ha ha...! Dengan kepandaianmu yang cuma seujung kuku itu"! Lupakan saja. Kau
tidak akan bisa mencapaiku!"
sahut Pranaja, mengejek. "Nah! Kita sudah terialu lama bertemu. Kini saatnya
telah tiba untuk berpisah.
Selamat tinggal!"
Blep! Blep! "Hei"!"
Rangga terkesiap. Tiba-tiba saja Pranaja dan Pandan Wangi lenyap bersama kudakuda mereka laksana asap disapu angin. Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti
menghampiri tempat mereka tadi sambil berteriak-teriak memanggil.
"Pandan! Pandan Wangi! Dengar kata-kataku! Apakah kau masih mendengarnya..."!
Jangan pergi dengan keparat itu! Kau bisa melawannya. Ayo, berusahalah sekuat
tenaga! Pandan Wangi, dengar kata-kataku...!"
Berulang-ulang Pendekar Rajawali Sakti berteriak sambil menyapu pandangannya ke
sekeliling. Namun tidak juga terdengar jawaban. Rangga tidak putus asa.
Bagaimanapun sebagai tokoh yang
memiliki banyak pengalaman, Rangga tidak percaya kalau Pranaja dan Pandan Wangi
bisa menghilang begitu saja.
Dugaannya, Dewa Mata Maut hanya mengecoh melalui ilmu sihir!
"Pandaaan...! Dengar kata-kataku.
Kau tidak boleh pergi bersamanya! Kau tidak boleh pergi bersamanyaaa...!'"
teriak Pendekar Rajawali Sakti kembali.
*** 5 Sampai sinar matahari mulai
menerangi persada ini, Pendekar Rajawali Sakti masih terduduk lesu di bawah
sebatang pohon besar di tepi Hutan Banyuasin ini. Wajah pucat dan kuyu. Matanya
kosong memandang jauh ke depan seperti tiada bertepi. Entah berapa lama dia
mencari. Namun, jejak Pandan Wangi dan Dewa Mata Maut tidak juga ditemui.
"Pandan..., apa yang terjadi denganmu" Kuharap kau baik-baik saja.
Aku tak tahu, apa yang mesti kuperbuat untuk menyelamatkanmu...," keluh Rangga
dengan nada getir. "Kalau kau dengar suara hatiku ini, maka gerakkan jiwamu
untuk berontak. Kau harus melepaskan diri darinya...."
"Hm... Inikah laki-laki perkasa
yang pernah menggetarkan jagat?"
"Heh"!"
Rangga tersentak kaget, ketika terdengar dari belakangnya. Seketika dia bangkit
berdiri dan berbalik. Dan ternyata seorang gadis telah tegak berdiri di
depannya. Seorang gadis cantik berbaju kuning tua, memakai gelang dalam jumlah
banyak di kedua tangan.
"Siapa kau, Nisanak?" sapa Pendekar Rajawali Sakti.
"Namaku Anggraeni," sahut gadis berbaju kuning yang mengaku bernama Anggraeni.
"Apa yang kau cari di sini?"
tanya Rangga malas-malasan "Kalau sekadar ingin mempermainkan, maka saat ini aku
sedang tak berselera."
"Hi hi hi...! Kau seperti ayam sayur yang siap dipotong!" sahut Anggraeni
mengejek. Namun dalam keadaan begini pemuda itu tidak terlalu menghiraukannya.
Rangga segera berbalik, hendak menghampiri Dewa Bayu yang masih merumput dua
tombak dari tempatnya berdiri.
"Apakah di dunia ini tidak ada wanita lain, sehingga mesti meratapi gadis itu?"
usik Anggraeni.
Kata-kata itu menarik perhatian Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga langkahnya
berhenti seketika. Tubuhnya
berbalik, langsung ditatapnya gadis itu tajam-tajam.
"Apa yang kau tahu soal diriku?"
tanya Rangga. "Banyak! Kau pemuda yang tengah patah hati, karena gadismu pergi bersama pemuda
Iain. Kasihan..."
Padahal, kau cukup tampan untuk mendapatkan sepuluh gadis sepertinya,"
jawab Anggraeni, seenaknya.
Rangga tersenyum pahit.
"Kini kau tersenyum. Padahal, semalam kau berteriak-teriak seperti orang
kesurupan!" usik Anggraeni lagi.
"Kau rnendengarnya juga?" tanya Rangga.
"Tentu saja! Kau mirip orang gila yang mengagetkan semua hewan serta orang-orang
yang berada di sekitar hutan ini. Dan baru pagi ini kutemukan kalau orang yang
berteriak ternyata seorang pemuda tampan yang patah hati"
Kembali Rangga tersenyum. Dan Rangga jadi malu sendiri, karena berarti sejak
semula gadis ini mendengar ocehannya. Kalau dibiarkan gadis ini pasti akan
mengoceh terus.
Maka, kembali Rangga berbalik dan melangkah menghampiri Dewa Bayu.
"Hei, mau ke mana kau"!" teriak Anggraeni mengikutinya dari belakang.
"Apakah aku harus seharian mendengarkan ocehanmu" Aku tidak mengenalmu. Juga aku
tidak tahu apa maumu. Lalu untuk apa harus di sini?"
Rangga balik bertanya.
"Apakah kau tidak berpikir bahwa aku bisa membantumu?" tukas gadis itu seraya
tersenyum manis.
"Tentang apa?" tanya Rangga, seraya melompat dan duduk di atas punggung Dewa
Bayu. "Banyak hal. Umpamanya, menyiapkan makanan atau menjadi kawan ngobrol. Hm....
Apakah kekasihmu seorang gadis yang bernama Pandan Wangi?"
"Dari mana kau tahu?" tanya Rangga dengan tatapan tajam. Seakan dengan
tatapannya, dia ingin menembus dada gadis itu untuk mengorek segala keterangan.
"Dari teriakanmu semalam, dan dari pertemuanku dengannya beberapa hari lalu,"
jelas Anggraeni, kalem.
"Terus terang, aku pemah bertemu Pandan Wangi bersama si keparat Pranaja itu.
Waktu itu, aku memang tengah mencari Pranaja. Ketika bertemu, Pranaja memanggil
gadis berbaju biru di sampingnya dengan sebutan Pandan. Maka mudah saja aku
menduga demikian.
Dada Pendekar Rajawali Sakti makin bergemuruh keras. Ingin rasanya saat itu dia
berteriak, kalau tak ingat ada seorang gadis di depannya.
"Yah, mungkin saja dengan
bantuanku, kau bisa bertemu kembali dengan Pandan Wangi," cetus Anggraeni lagi.
"Apa"!"
Seketika Rangga melompat kembali dari atas punggung kudanya. Langsung
dicengkeramnya kedua pundak gadis itu.
"Kau tahu di mana Pandan Wangi"!
Katakan padaku! Katakan padaku sekarang juga!" berondong Pendekar Rajawali
Sakti. "Tunggu! Aduuuh...! Kau menyakitiku. Aku tidak mau begini caranya!" dengus gadis
itu dengan wajah cemberut. Langsung ditepisnya cengkeraman pemuda itu.
"Aku mohon padamu, Nisanak!
Tunjukkan padaku, di mana Pandan Wangi berada"!" pinta pemuda itu, memelas.
"Namaku bukan Nisanak!" sentak Anggraeni masih dengan wajah cemberut.
"Eh, lya! Ng...," Rangga coba mengingat-ingat "O, iya! Namamu Anggraeni, bukan?"
Gadis itu senang karena Rangga tidak lupa dengan namanya. Dan bibirnya tersenyum
manis. "Sekarang katakanlah padaku di mana Pandan Wangi berada?" desak Pendekar
Rajawali Sakti.
"Apakah kau mencintainya?"
Anggraeni malah batik bertanya.
"Nisanak, eh! Anggraeni.... Itu, eh! Maksudku, itu soal pribadi...,"
tukas Pendekar Rajawali Sakti.
"Kau mencintainya atau tidak"!"
tekan gadis itu.
"Tentu saja! Akan kupertaruhkan segalanya, asal Pandan Wangi bisa kutemukan dan
kuselamatkan!" sahut Rangga dengan nada tinggi.
"Bagus! Itu baru namanya sikap tegas," sahut Anggraeni dengan tersenyum.
"Sekarang katakan, di mana bisa kutemukan Pandan Wangi?" desak Rangga lagi.
"Tidak semudah itu," sahut Anggraeni kalem.
"Apa lagi yang kau inginkan"!"
sentak Rangga, agak keras.
"Hei, jangan marah-marah dulu!
Kalaupun gadis itu kau temukan, apa yang bisa kau perbuat terhadap Pranaja yang
berjuluk Dewa Mata Maut" Gadis itu ada dalam pengaruhnya. Dan tidak seorang pun
yang bisa menyelamatkannya."
"Lalu, bagaimana caranya?"
"Kau harus menghadap Ratu Dewi Kunir."
"Ratu Dewi Kunir" Siapa dia?"
*** "Sabarlah dulu.... Semuanya akan jelas. Dan jangan lupa, bahwa itu pun
tergantung dari kesungguhan hatimu.
Lalu, ada satu hal yang mesti kau penuhi setelah berhasil mendapatkan gadis
itu." "Apa?"
"Kau tidak boleh membunuh Pranaja!"
Rangga terdiam. Disadari, dia memang tak akan membunuh siapa pun kalau tidak
terpaksa. Atau paling tidak, orang itu memang pantas dilenyapkan, karena sepak
terjangnya sudah di luar takaran. Tapi yang jelas, buat Rangga adalah bagaimana
nanti. Kalau orang itu memang pantas untuk dilenyapkan dengan terpaksa harus
dilakukan. "Apa sebenarnya yang kau inginkan, sehingga melarangku untuk tidak membunuhnya?"
tanya Rangga mencoba memancing.
"Itu bukan urusanmu. Yang jelas, serahkan saja Pranaja padaku."
"Kalau tidak kubunuh, jangan-jangan dia akan berusaha mempengaruhi Pandan
Wangi?" pancing Rangga lagi.
"Dia tidak akan mempengaruhi siapa pun setelah ini!" tandas Anggraeni.
Dan Rangga merasa yakin kalau gadis di depannya ini pasti ada hubungan erat
dengan Pranaja alias Dewa Mata Maut. Entah hubungan apa, yang jelas agaknya
gadis itu amat mendendam. Atau mungkin malah
mencintainya"
"Kau tidak usah repot-repot memikirkannya," lanjut gadis itu, seperti mengerti
jalan pikiran Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga memandangnya takjub. Dan gadis itu tersenyum.
"Aku memang punya sedikit urusan dengannya. Dan kalaupun aku secara tidak
langsung minta bantuanmu, bukan berarti tidak bisa membereskannya.
Tapi ada sesuatu yang tidak bisa kuhadapi. Yaitu Ratu Dewi Kunir yang berdiri di
belakang pemuda itu,"
sambung Anggraeni kembali, sedikit mulai menceritakan persoalannya.
"Siapakah sebenarnya Ratu Dewi Kunir itu?" tanya Rangga.
"Dia seorang wanita yang setengah manusia setengah siluman. Wajahnya cantik. Ada
satu hal yang selalu membuatnya senang, yaitu berhubungan dengan laki-laki,"
jelas Anggraeni, gamblang.
"Apa maksudmu?"
"Ya! Ratu Dewi Kunir senang berhubungan, seperti layaknya suami istri. Kau
mengerti, bukan?" jelas Anggraeni enteng.
"Tapi apa hubungannya dengan semua ini?"
"Dewi Kunir amat sakti. Dan akan murah hati memberikan sedikit kesaktiannya,
namun hanya untuk orang
yang disukainya. Salah seorang di antaranya Pranaja."
"Lalu?"
"Pranaja memiliki beberapa ajian seperti 'Gelembung Maya' yang membuat dirinya
dilindungi suatu kekuatan gaib yang tidak bisa ditembus apa pun. Dia pun
memiliki ajian 'Menghilang Rupa'
yang bisa membuatnya menghilang. Kalau kau tidak tahu bagaimana menghadapi kedua
ajiannya itu, maka tidak usah berharap menemukan kekasihmu!" papar gadis itu.
"Bagaimana cara menghadapi kedua ajiannya itu?" desak Rangga, penuh harap.
"Kau harus minta pada Ratu Dewi Kunir yang merupakan pemilik ajian itu. Tapi,
perlu diingat. Dia pun amat kikir memberikannya. Cuma dua hal yang bisa
memaksanya. Pertama mengancamnya.
Dan kedua, memenuhi keinginannya.
Jalan pertama agak sulit. Sebab, sampai saat ini tak seorang pun yang mampu
mengalahkannya. Maka satu-satunya cara adalah jalan kedua,"
papar Anggraeni lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, pura-pura bodoh.
"Yah, mengertilah maksudku. Kau harus memohon. Dan itu akan berhasil kalau
keinginannya dipenuhi. Dia suka laki-laki tampan. Maka pergunakanlah itu."
"Apakah tidak ada jalan lain?"
"Apakah kau ingin menempuh jalan pertama" Mengancamnya" Itu tidak mungkin!"
"Bagimana kalau mencari kelemahannya?" .
Anggraeni terdiam untuk sejurus lamanya. Dari paras mukanya kelihatan kalau
tengah berpikir. Seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Hm, ya. Kukira, kau benar. Aku ingat sesuatu...!"
Rangga tersenyum senang
mendengarnya. "Tapi, ini pun cukup sulit,"
jelas Anggraeni.
"Katakanlah, bagaimana?" tagih Rangga.
"Ratu Dewi Kunir memiliki dua helai rambut emas. Kalau kau berhasil mencabutnya,
maka dia tidak akan berdaya. Ilmunya lumpuh!" jelas Anggraeni lagi. "Tapi untuk
mencabutnya, bukan persoalan gampang. Bahkan lebih sulit. Paling tidak, kau
harus berdekatan dalam keadaan bercengkerama dengannya. Sehingga, dia lupa dan
tak was-pada."
Rangga terdiam.
"Kenapa" Kau tidak mampu" Apakah sulit bagimu untuk meladeninya"
Padahal, kurasa semua laki-laki tidak akan menolaknya. Tapi kau malah memilih
jalan menghindarinya. Apakah
kau sudah tidak jantan lagi?" sindir Anggraeni.
"Bukan itu. Tapi...."
"Aku tahu!" potong Anggraeni dengan senyum geli. "Kau pasti belum pernah
mencoba, sehingga belum apa-apa sudah gemetar!"
"Ada hal yang menjadi pikiranku,"
kata Rangga, langsung mengalihkan percakapan. "Dari mana kau tahu banyak soal
Dewa Mata Maut dan Ratu Dewi Kunir" Jangan-jangan kau musuh dalam selimut yang
akan menjerumuskanku!"
"Jadi, kau tak percaya setelah semuanya kubeberkan?" Anggraeni balik bertanya
dengan tatapan tajam.
"Aku tidak bilang begitu. Tapi setidaknya, katakan padaku. Apa alasannya
sehingga kau bersedia membantuku?" kilah Pendekar Rajawali Sakti.
"Karena aku juga butuh
bantuanmu!" jelas gadis. ini.
"Hanya itu?"
Anggraeni menghela napas panjang.
"Kenapa kau banyak tanya segala?"
"Aku tidak ingin terjerumus...,"
sahut Rangga, kalem.
"Kau kira aku akan
menjerumuskanmu?" cibir Anggraeni.
"Kau tahu banyak soal mereka. Dan itu menunjukkan, bahwa kau kenal baik.
Lalu, bagaimana aku bisa percaya kalau sekarang kau mengkhianati mereka?"
tukas Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Baiklah. Pranaja adalah kekasihku. Aku tidak suka dia berhubungan dengan
kekasihmu. Karena Pandan Wangi seperti menyita perhatiannya, sehingga dia tega
mempermalukanku. Padahal, Pranaja belum pernah memperlakukanku begitu, meski
sering serong dengan wanita lain," tutur Anggraeni.
Jelas sudah bagi Rangga, mengapa Anggraeni memberi syarat padanya untuk tidak
membunuh Pranaja.
Permasalahannya hanya satu. Cinta!
Cinta memang bisa mengalahkan segala-galanya walaupun orang yang dicintai
.adalah penjahat besar!
"Sedangkan Ratu Dewi Kunir adalah majikanku. Secara tak sengaja, aku
memperkenalkan Pranaja pada majikanku.
Tapi yang terjadi sungguh menyakitkan, karena akhirnya Pranaja menjadi kekasih
gelap majikanku," jelas Anggraeni, panjang lebar.
Rangga terdiam seperti coba
meyakini kebenaran cerita gadis ini.
"Sekarang kau percaya padaku?"
usik gadis itu.
"Baiklah. Aku percaya...," desah Rangga.
"Bagus! Kita berangkat sekarang,"
ujar Anggraeni. "Hal-hal selanjutnya akan kita bicarakan di tengah perjalanan!"
Rangga mengangguk setuju.
*** Tak seorang pun yang pernah
menduga kalau di dasar Telaga Tujuh Warna yang permukaannya kelihatan keruh,
terdapat sebuah istana yang cukup megah. Dinamakan demikian, karena pada
malammalam tertentu telaga itu akan memancarkan sinar berwarna tujuh rupa. Dan
itu tandanya, di istana dalam telaga penghuninya yang bernama Ratu Dewi Kunir
tengah mengadakan pertemuan dengan seorang pemuda tampan.
Rangga sendiri semula ragu. Namun Anggraeni terus meyakinkannya. Setelah
menyelam sebentar, mereka bertemu sebuah lorong pendek di kedalaman dua puluh
tombak. Begitu masuk lorong itu, mereka tahu-tahu telah berada di permukaan
tanah datar yang terdapat lima buah terowongan.
"Orang mungkin saja bisa menemukan tempat ini. Tapi, tidak akan tahu jalan mana
yang dipilih. Salah jalan, maka kematianlah bagi mereka,"
jelas Anggraeni seraya mengajak Rangga ke terowongan yang berada di tengahtengah. "Apa yang ada di ujung
terowongan-terowongan itu?" tanya Rangga, ingin tahu.
"Perangkap!"
Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa membayangkan, perangkap apa yang dimaksudkan
gadis ini. Tapi dengan jaminan mati, jelas sudah bisa dipikirkan perangkap
seperti apa yang ada di terowongan-terowongan itu.
Tepat di ujung lorong, mulut Rangga kontan ternganga. Betapa tidak"
Di depannya kini tampak sebuah istana megah, walaupun tidak terlalu besar.
Di tiap sudut-sudut istana, terdapat tiang penyangga yang dibuat dari batu
marmer. Pintu gerbangnya terukir indah dari kayu cendana yang mengambarkan aroma
harum. Dinding-dindingnya berwarna putih mengkilat, dengan hiasan batu-batu
permata. Begitu berkilauan!
Di depan pintu gerbang berdiri dua orang prajurit wanita dengan senjata tombak.
Dan Anggraeni segera menghampiri, lalu berbicara dengan mereka. Baru kemudian
dipanggilnya Rangga dengan lambaian tangan.
Pendekar Rajawali Sakti bergerak menghampiri. Dan bersama Anggraeni dimasukinya
pintu gerbang. Sebentar saja, mereka telah tiba di sebuah ruangan terbuka yang
cukup luas yang diterangi puluhan obor. Ruangan ini terlihat indah dan tertata
cukup apik. Kemudian dari salah satu pintu ruangan ini, muncul seorang prajurit wanita.
"Silakan. Kanjeng Dewi telah menunggu...," ujar prajurit ini.
"Terima kasih...," ucap Anggraeni, mengangguk.
"Dia tahu kedatangan kita?" tanya Rangga heran.
"Dia tahu sejak kita berada di sekitar telaga itu. Sekarang mari kita masuki
pintu di depan itu," ajak Anggraeni, sambil menunjuk sebuah pintu tepat di depan
mereka. Mereka kembali melangkah, dan masuk pintu. Kini Rangga dan Anggraeni tiba di
sebuah ruangan yang beralas permadani merah. Ada tiang-tiang besar berukir,
serta dinding ruangan yang dipenuhi obor. Sehingga, menambah maraknya suasana.
Di ujung ruangan terlihat seorang wanita muda berambut panjang tergolek di
sebuah pembaringan. Kepalanya bertopang pada sebelah sikut tangan.
Pakaiannya tipis. Sehingga siapa pun leluasa melihat lekuk-lekuk tubuhnya.
Dua penjaga yang terdiri dari wanita muda berparas manis, berjaga-jaga di kanan
dan kirinya. "Kanjeng Ratu Dewi, hamba menghadap...!" seru Anggraeni seraya membungkuk
hormat. Rangga mengikuti saja semua
gerak-gerik gadis itu.
"Hm. Kau membawa sesuatu untukku, Anggraeni?" tanya wanita yang tak lain
Ratu Dewi Kunir dengan suara merdu tanpa merubah sikap duduknya.
"Benar, Kanjeng Dewi...!" tambah Anggraeni.
"Kau memang abdiku yang setia!
Bocah ini bagus sekali. Siapa namanya?" tanya Ratu Dewi Kunir seraya menatap
penuh hasrat pada Rangga.
"Nama hamba Rangga, Kanjeng Ratu Dewi!" sahut Pendekar Rajawali Sakti dengan
kepala tertunduk.
"Bagus!" puji Ratu Dewi Kunir sambil tersenyum lebar.
Suasana sejenak hening.
"Apa yang kau inginkan dariku, Anggraeni?" tanya Ratu Dewi Kunir seraya
berpaling pada gadis itu.
"Apakah Kanjeng Ratu Dewi berkenan dengan persembahan hamba ini?" Anggraeni
balik bertanya.
"Kenapa tidak" Bocah bagus. Dan, lebih bagus ketimbang semua yang pemah kau bawa
untukku! Tentu saja aku berkenan menerimanya," sahut Ratu Dewi Kunir gembira.
"Syukurlah kalau demikian, Kanjeng Ratu Dewi. Hamba senang kalau memang
berkenan...," desah Anggraeni.
"Nah! Katakanlah, apa yang kau inginkan?" ujar wanita cantik di pembaringan itu.
"Hamba rasa tak pantas, Kanjeng Ratu Dewi...," sahut Anggraeni ragu.
"Tidak. Saat ini aku tengah
gembira. Apalagi dengan persembahanmu ini. Katakanlah, apa keinginanmu?"
"Baiklah kalau memang Kanjeng Ratu Dewi memaksa. Hamba
menginginkan.... Pisau Pusaka Kembang Sanur," sahut Anggraeni, agak ragu-ragu.
"Hei"! Untuk apa kau menginginkan benda itu"!" tanya Ratu Dewi Kunir dengan
tatapan heran. "Maafkan hamba, Kanjeng Ratu Dewi! Kalau memang permintaan itu keterlaluan,
hamba membatalkannya,"
ucap Anggraeni buru-buru.
"Tidak. Aku pasti akan
memberikannya padamu!"
Setelah berkata begitu, Ratu Dewi Kunir bertepuk tangan. Tak lama, seorang
penjaga masuk dan langsung menjura hormat.
"Berikan Pisau Pusaka Kembang Sanur kepadanya!" perintah Ratu Dewi Kunir.
"Baik, Kanjeng Ratu Dewi!"
Anggraeni segera mengikuri
penjaga itu, setelah menjura memberi hormat.
Sementara itu terlihat Ratu Dewi Kunir tersenyum-senyum kecil. Lalu tangannya
bertepuk dua kali. Kedua penjaga yang menyertainya segera menjura hormat,
kemudian meninggalkan tempat ini,
"Sekarang hanya kita berdua di
sini. Adakah sesuatu yang hendak kau katakan padaku?" tanya Ratu Dewi Kunir,
ketika di tempat ini tak ada orang lain lagi kecuali dirinya dan Pendekar
Rajawali Sakti. "
"Tidak..."
"Apa maksudmu tidak" Apakah kau kira aku orang bodoh?" tegur Ratu Dewi Kunir.
"Hamba tidak berani menduga begitu, Kanjeng Ratu Dewi," kilah Pendekar Rajawali
Sakti. "Kalau begitu, angkatlah wajahmu.
Dan, tataplah aku!" ujar Ratu Dewi Kunir.
"Kanjeng Ratu Dewi, hamba adalah persembahan. Mana berani hamba berbuat
selancang itu...."
Ratu Dewi Kunir tersenyum kecil.
Suaranya seperti keluar dari hidung.
Dan kedengarannya amat merdu.
"Kau bukan bocah tolol. Dan kau beda dengan yang lain. Kau tidak terpengaruh
Anggraeni, karena tenaga batinmu kuat. Apakah orang seperti itu yang datang dan
hendak mengelabuiku"
Kau punya maksud datang ke sini. Sebab kalau tidak, mana mungkin akan mengikuti
Anggraeni. Apa" Sekadar melampiaskan nafsu birahi. Atau, hal-hal lain" Kulihat
kau bukan orang jahat. Dan kau pun tidak termasuk laki-laki hidung belang.
Katakan sebelum membuatku marah!"
Kata-kata Ratu Dewi Kunir ini benar-benar di luar dugaan Pendekar Rajawali
Sakti. *** 6 Rangga terdiam. Meski begitu, tatapannya tidak ingin langsung terarah pada
wanita ini. Pikirannya bekerja cepat. Amat berbahaya baginya berada di sini. Dia
tidak tahu, sampai berapa dahsyat kesak-tian wanita ini.
Tapi kalau saja Dewa Mata Maut yang sedikit mendapat kesaktian darinya sudah
demikian tangguh, maka bagaimana pula Ratu Dewi Kunir itu sendiri"
Lebih dari itu, daerah ini adalah kekuasaannya. Entah perangkap atau apa pun
yang tersembunyi, bisa saja menjebaknya. Dan Rangga benar-benar tidak
menghendaki bentrokan dengan wanita ini!
"Memang, aku menginginkan sesuatu. Tapi...."
Rangga tampak ragu-ragu
mengutarakannya.
"Bicaralah yang tegas!" ujar Ratu Dewi Kunir, agak keras.
"Aku tengah mencari seseorang..."
Pemuda itu berhenti sebentar.
Sementara wanita itu memandang dengan sorot mata tajam.
"Lanjutkan!" perintah Ratu Dewi Kunir.
"Dan aku yakin, hanya Kanjeng Ratu Dewi yang tahu tempatnya...."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Karena Kanjeng Ratu Dewi sedikit mempunyai sangkut-paut...," sahut Rangga,
mulai terbuka. "Siapa yang kau cari?" tanya Ratu Dewi Kunir, dengan kening berkerut.
"Kekasihku...."
"Kenapa dia" Melarikan diri darimu?"
"Kanjeng Ratu Dewi.... Kekasihku tidak akan melarikan diri dariku. Dia dilarikan
seseorang."
"Siapa yang melarikannya?"
"Pranaja alias Dewa Mara Maut."
"Lalu, apa hubungannya denganku?"
"Kanjeng Ratu Dewi.... Kudengar dia murid-mu....
Wanita itu tertawa kecil.
"Aku tidak pernah punya murid seorang pun!" tegas Ratu Dewi Kunir.
"Kalau demikian, apa namanya" Dia memiliki kesaktian seperti yang Kanjeng Ratu
Dewi miliki?"
"Dari mana kau tahu kalau kesaktiannya berasal dariku" Kau baru bertemu sekali
ini denganku. Dan tahu-tahu merasa bahwa kau tahu banyak tentangku!"
"Maaf, Kanjeng Ratu Dewi. Tentu saja aku tidak mengetahui sedikit pun
mengenai dirimu kalau saja Anggraeni tidak cerita," ucap Rangga, buru-buru
menjelaskan. "Apa saja yang diceritakannya padamu?"
"Katanya, kau bisa menolongku dari kesulitan yang kuhadapi."
"Lalu?"
"Lalu..., aku berada di sini!"
Wanita itu kembali tertawa kecil.
Dipandanginya pemuda itu untuk sejurus lamanya.
"Kau hendak meminta
pertolonganku" Apa imbalan yang hendak kau berikan?" tanya Ratu Dewi Kunir.
"Aku tidak bisa mengatakannya, Kanjeng Ratu Dewi. Kalau kubayar dengan emas,
kurasa kau tidak kekurangan. Boleh jadi kau akan merasa tersinggung," sahut
Rangga. "Kau bisa membayarnya dengan yang lain...."
"Kanjeng Ratu Dewi yang menentukan. Lalu kupertimbangkan, apakah bisa kupenuhi
atau tidak...,"
sahut pemuda itu dengan jantung berdetak semakin kencang.
"Apakah kau percaya bahwa aku bisa menolongmu?"
"Hamba percaya sepenuhnya, Kanjeng Ratu Dewi!"
"Kalau begitu, bangkitlah! Ayo ikut denganku. Dan, jangan banyak membantah!".
Rangga terkejut mendengarnya.
Untuk sesaat dia terpaku dan tak tahu harus berbuat apa. Inikah saatnya"
Inikah saat yang dikatakan Anggraeni"
"Ayo ikut aku! Apakah kau akan di situ sampai kiamat"!" ulang wanita itu seraya
beranjak ke luar.
"Eh! Ba..., baiklah.
*** Wajah Anggraeni tampak berseri-seri. Dan sejak tadi tidak henti-hentinya
memandangi sebilah pisau bergagang gading dan sarung terbuat dari perak. Pisau
itu kelihatan sederhana namun entah kenapa seolah-olah begitu menarik
perhatiannya. "Apakah telah lama kau
menginginkan pisau itu?" tanya Rangga, mengusik.
"Eh, apa" Oh, iya...!" sahut Anggraeni, tergagap.
"Apa kehebatannya?"
"Ini" Hm..., tidak ada."
Rangga tidak berhasrat mendesak, meski sadar kalau gadis ini
menyembunyikan sesuatu.
"Bagaimana" Apa hasil pertemuan dengan beliau?" tanya gadis itu seperti sadar
kalau belum bertanya pada Pendekar Rajawali Sakti.
"Biasa saja...," sahut Rangga, kalem.
"Kau berhasil memperdayainya?"
desak gadis itu.
"Apakah kau kira semudah itu?"
Anggraeni tersenyum.
"Kulihat kau tidak bodoh. Pasti ada sesuatu yang berhasil kau dapatkan," duga
Anggraeni. "Maksudmu di tempat tidur?"
Rangga balik bertanya.
Gadis itu tertawa geli.
"Jadi..., kau mau memenuhi.
keinginannya" Bagaimana" Hebat, bukan"!" tebak Anggraeni bersemangat.
"Bagaimana menurut beliau?"
Rangga malah bertanya.
"Puas! Beliau sangat puas," sahut Anggraeni, mantap.
"Syukurlah...."
"Kalau berniat menemuinya, maka datanglah. Tapi, ingat. Tempat itu rahasia.
Kalau kau coba berbuat macam-macam, maka pintu masuk akan tertutup dengan
sendirinya dan rata dengan tanah," jelas gadis itu mengingatkan.
"Ya. Aku tahu...," jawab Rangga, singkat.
"Kanjeng Ratu Dewi telah bercerita banyak tentunya...?"
"Tidak. Beliau hanya cerita yang penting-penting saja."
"Apakah beliau tidak mengatakan, ke mana tujuan kita?"
"Kukira, kau sudah tahu...!"
"Apakah kau tidak menanyakan
kepada beliau?"
Rangga tersenyum.
"Sudah "
"Kau sengaja mengejutkan, he"!"
Wajah Anggraeni kelihatan
cemberut, mendengar jawaban Rangga yang terdengar bertele-tele. Rangga kembali
tersenyum. "Di mana?"

Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Di kaki Gunung Bromo...."
"Hm.... Tiada kusangka, akhirnya tempat itu yang dipilihnya," gumam Anggraeni.
"Kenapa" Kau pernah ke sana?"
tanya Rangga 'Tentu saja! Itu tempat pertama kali pertemuanku dengannya. Kurang ajar!" dengus
gadis itu geram.
"Kau kelihatan begitu mendendam,"
pancing Rangga. "Huh!"
Anggraeni tak menjawab, melainkan mendengus kecil. Mukanya ditekuk sedemikian
rupa. Sehingga siapa pun yang melihatnya akan mengetahui kalau dia tengah
menahan perasaan geram dan amarah.
"Sebentar lagi hujan. Langit telah gelap. Kita harus mencari tempat
berteduh...," ujar pemuda itu, mengalihkan perhatian.
Gadis itu diam saja tak menjawab.
Memang, saat ini mereka sudah begitu jauh meninggalkan Telaga Tujuh Warna. Atas
pertunjuk Ratu Dewi Kunir,
mereka diharuskan untuk menuju kaki Gunung Bromo. Rangga sendiri, saat ini tidak
menunggang kuda. Dewa Bayu telah ditinggalkannya di sekitar Telaga Tujuh Warna.
Rangga melirik Anggraeni sekilas, kemudian mencari-cari tempat berteduh di
sekitar tempat itu. Sebentar saja matanya melihat sebuah gubuk kecil tak jauh di
depan. "Coba lihat! Beruntung sekali kita menemukan tempat berteduh!"
tunjuk Rangga. Gadis itu melirik sekilas, lalu mengikuti derap langkah pemuda itu.
Sebentar kemudian, mereka sudah tiba di gubuk kecil yang kelihatan sudah lama
ditinggalkan pemiliknya.
Sebagian tiang penyangga kelihatan sudah rapuh. Dan di beberapa bagian atapnya
banyak yang bocor. Dindingnya pun banyak yang bolong. Namun begitu masih cukup
lumayan untuk sekadar menghindari diri dari terpaan hujan.
Apa yang dikatakan Rangga memang benar. Baru saja pemuda ini
mengumpulkan ranting kering di sekitar gubuk, mendadak hujan turun perlahanlahan namun berubah cepat. Dan dalam sekejap, terasa angin kencang menyertai
hujan lebat di sore ini.
"Hhh...!"
Anggraeni menggigil kedinginan.
Dan tubuhnya beringsut mendekati
perapian yang baru saja dibuat Rangga.
Lidah-lidah api tampak bergerak-gerak seperti hendak padam diterpa angin
kencang. "Apakah kau tidak merasa kedinginan"!" cibir gadis itu dengan wajah cemberut
ketika melihat Rangga tenang-tenang saja duduk bersila di depan perapian.
Rangga membuka kelopak matanya.
Dipandangnya gadis itu dengan tatapan heran.
"Kenapa" Apakah kau tidak berusaha menghangatkan diri?" tanya Pendekar Rajawali
Sakti. Anggraeni menggeleng pelan.
"Aku tidak biasa hidup seperti ini...," sahut gadis itu lemah.
"O, pantas...! Nah! Mulai sekarang, cobalah berusaha. Kau harus bisa menolong
dirimu sendiri. Pusatkan pikiran pada satu titik. Kemudian, kosongkan pikiran
seolah-olah tidak merasakan apa pun. Jadikan desau angin di sekelilingmu seperti
irama merdu yang menyejukkan hati," ujar pemuda itu mengajari.
"Ah! Aku sungguh bodoh! Hal seperti itu saja tidak ingat!" umpat Anggraeni pada
diri sendiri. Namun baru saja Anggraeni duduk bersila, tiba-tiba....
Brues...! Mendadak saja dinding gubuk ini
jebol. Dan dari dinding yang bolong meluncur satu sosok tubuh yang langsung
berdiri di hadapan mereka berdua.
"Kurang ajar! Tikus mana yang berani menempati istanaku, he"!"
Belum sempat Rangga dan Anggraeni berbuat apa-apa, sosok itu telah menyambarkan
senjata golok besarnya ke leher.
"Uts!"
Kedua anak muda itu cepat
menjatuhkan tubuhnya, membuat beberapa bagian tiang penyangga gubuk yang memang
sudah rapuh hancur berantakan terhantam sambaran golok besar yang nyasar.
Secepat kilat, Pendekar Rajawali Sakti dan Anggraeni bangkit dan lagnsung
melompat keluar. Sementara, sosok itu ikut mengejar dengan acungan golok
besarnya, lalu berhenti ketika Rangga mengangkat tangannya.
Pendekar Rajawali Sakti memandang nyalang pada seorang laki-laki bertubuh besar
berambut panjang awut-awutan yang berdiri di depannya.
Jenggot dan kumis serta cambang kelihatan tumbuh liar tak terurus.
Bertelanjang dada. Dan dia hanya mengenakan penutup bagian bawah perut terbuat
dari kain lusuh yang sudah lapuk. Golok besar di tangannya kini diputar-putar.
"Kisanak, apa maksudmu" Kenapa tiba-tiba saja kau menyerang kami?"
tanya Rangga berusaha bersikap ramah di antara deru hujan dan petir yang mulai
menderu sambung-menyambung.
"Wueeeh! Masih mau membela diri dan pura-pura tak bersalah"! Kubunuh kalian
berdua!" bentak sosok bertubuh besar itu.
Belum juga gema suara itu lenyap, secepat kilat senjatanya sudah menyambar
Rangga dan Anggraeni.
Wut! Bet! "Orang tua sinting! Tidak tahu adat! Barangkali kau memang perlu dihajar!" umpat
Anggraeni geram, karena menjadi sasaran golok besar.
"Apa katamu"! Bocah lancang!
Buktikan ocehanmu!" dengus laki-laki itu seraya mencecar Anggraeni.
Melihat gerakan laki-laki
bertubuh besar itu, Rangga langsung tersenyum. Sudah bisa ditebak kalau orang
itu hanya mengandalkan tenaga kasar saja, dengan sedikit ilmu olah kanuragan.
Maka ketika Anggraeni jadi sasaran, hatinya tidak begitu khawatir. Dibiarkannya
saja gadis itu, karena yakin akan mampu
mengalahkannya.
"Huh! Apa sulitnya menghajar orang sinting sepertimu!" balas Anggraeni.
"Kurang ajar! Bocah tak tahu
diri. Kaulah yang akan kuhajar!" desis orang itu geram.
Senjata di tangan sosok bertubuh besar ini bergerak ke sana kemari menyambarnyambar seperti tak pernah berhenti. Namun Anggraeni pun mampu berkelit dengan
gesit. "Yeaaa...!"
Tiba-tiba Anggraeni membentak nyaring, kemudian berkelebat menyerang dengan
sebuah tendangan menggeledek.
Begkh! "Aaakh!"
Tahu-tahu tendangan telak
mendarat di dada laki-laki itu, hingga membuatnya terjungkal di tanah becek.
"Bocah edan! Kutebas batang lehermu, he"!" dengus laki-laki itu seraya cepat
bangkit tanpa menghiraukan sakit serta lumpur yang membasahi sekujur tubuhnya.
"Ayo maju dan kuberi kau hajaran lagi!" tantang Anggraeni.
"Heaaa...!"
Dengan bernafsu, laki-laki itu kembali menyerang. Senjatanya kini bergerak cepat
tak beraturan, membabat ke mana saja Anggraeni bergerak.
"Kau akan mampus di tangan Suromenggolo! Kau akan mampus di tanganku, bocah tak
tahu diri...!"
teriak laki-laki yang mengaku bernama Suromenggolo geram.
"Huh!"
Anggraeni hanya mendengus sinis.
Meski berusaha sekuat tenaga untuk melukainya, tapi usaha Suromenggolo agaknya
sia-sia saja. Karena gadis itu agaknya mampu menguasai jalannya pertarungan.
Sedikit pun tak ada kesulitan baginya untuk menghindari serangan-serangan
Suromenggolo. Bahkan satu ketika....
"Hih!"
Dengan kecepatan kilat, Anggraeni melepaskan sodokan tangan sambil merunduk,
ketika Suromenggolo membabatkan golok besarnya ke leher.
Sehingga... Des! "Aaakh...!"
Dan kembali sekali lagi gadis itu berhasil menghajar Suromenggolo. Lalu secepat
itu pula Anggraeni mencelat sedikit ke atas sambil berbalik. Seketika ujung
kakinya berhasil menghantam senjata laki-laki itu.
Tak! Tepat ketika senjata Suromenggolo terpental, tendangan Anggraeni meluncur ke
dada Desss...! "Aaakh...!"
Suromenggolo terjungkal. Dan sebelum dia bangkit, kaki gadis itu telah
menghimpit dadanya kuat-kuat.
"Aduuuh, sakiiit...! Lepaskan kakimu! Lepaskan! Anak celaka! Kuhajar kau nanti!"
teriak Suromenggolo marah.
"Ayo, hajarlah kalau bisa!
Sebelum kau menghajarku, akan kuremukkan dadamu!" ancam gadis itu tak kalah
geram. "Aaakh...! Aduh, sakiiit..!
Tolooong...! Tolooong...!"
"Berteriaklah sekuat tenagamu.
Dan, tidak ada seorang pun yang akan menolongmu!"
"Hei, Bocah! Tolong aku! Tolong aku cepaaat..!" teriak Suromenggolo sambil
menggapai-gapai kepada Pendekar Rajawali Sakti.
"Dia tidak akan menolongmu!"
sergah Anggraeni.
Dan kenyataannya memang begitu.
Rangga hanya diam saja memperhatikan mereka.
"Kenapa kau diam saja" Tolong aku cepat! Cepaaat..! Dasar bocah tolol!"
umpat Suromenggolo.
"Orang tua sinring! Kenapa aku harus menolongmu" Kau toh hampir saja membunuh
kami berdua. Apakah kau memang tidak sadar atau gila betulan?"
sahut Rangga tenang.
"Oh, jadi kau pun tak mau menolongku"! Ya, Jagat Dewa Bhatara!
Kini tak seorang pun yang sudi menolongku. Kenapa masih kau hidupkan aku" Aku
telah menjadi manusia tak berguna. Alangkah baiknya bila kau cabut nyawaku...,"
keluh Suromenggolo lirih. "Ayo, bunuhlah aku. Bunuhlah
aku, Anak Manis. Aku tidak takut mati.
Ayo, bunuhlah aku...!"
Dahi Anggraeni jadi berkerut.
Laki-laki ini sungguh aneh.
Kelakuannya seperti orang tak waras.
Apakah dia hanya berpura-pura untuk menyelamatkan diri dari hajarannya"
"Pergilah kau! Aku muak melihatmu. Kalau kau mengganggu lagi, maka betul-betul
akan kupatahkan lehermu!" dengus gadis itu seraya melepaskan injakan kakinya.
Suromenggolo bangkit perlahan-lahan. Badannya penuh lumpur. Namun, sama sekali
tidak dipedulikannya.
Sambil tertawa-tawa kecil dia memandang mereka berdua bergantian.
"He he he...! Kalian memang baik sekali. Kalian pantas menjadi abdiku yang
setia. Tapi, sayang. Aku bukan raja lagi seperti dulu. Maka kalian tidak bisa
bekerja. padaku," kata Suromenggolo seraya meninggalkan tempat ini sambil
terkekeh-kekeh.
"Dasar sinting!" umpat Anggraeni.
"Ya. Dia mungkin pernah mengalami kejadian yang mengejutkan hati.
Kejadian hebat yang tidak bisa diterimanya, sehingga membuatnya jadi begitu...,"
timpal Rangga. "Tapi gara-gara dia pula kita kehujanan!" dengus gadis itu dengan muka cemberut.
"Tapi, kau tidak begitu
kedinginan lagi, bukan?"
"Huh!"
Anggraeni hanya mendengus pelan seraya mencari sisa-sisa gubuk yang bisa dipakai
untuk berlindung.
Rangga mengikutinya.
Hanya sedikit tempat yang
tersisa. Itu pun tidak memadai, karena air hujan sesekali menerpa. Api yang tadi
menyala telah padam. Satu-satunya penerangan hanyalah, bila cahaya kilat
membelah Malam semakin larut Dan hujan seperti tak mau berhenti.
*** 7 Rangga terjaga dari tidurnya.
Pagi belum terlalu terang. Namun, hujan telah reda. Dari jauh terdengar ayam
jantan hutan berkokok saling bersahutan.
Dan Rangga jadi jengah sendiri melihat sikap tidur Anggraeni yang betul-betul
tidak bisa membuatnya bergerak. Sebelah tangan gadis itu melingkar di
pinggangnya. Demikian juga sebelah kakinya menindih kedua pahanya. Pemuda itu
hendak menepiskannya. Namun melihat gadis ini yang begitu pulas terlelap, dia tidak
sampai hati mengusik.
"Ehhh...!"
Anggraeni menggeliat ketika
pemuda itu coba mengangkat tangan dan kakirnya perlahan-lahan. Kelopak matanya
mengerjap beberapa kali. Dan seketika gadis itu bangkit tatkala pemuda itu
berdiri dan melangkah keluar gubuk.
"Mau ke mana kau?" tegur Anggraeni sambil menggeliatkan tubuhnya kembali.
"Aku harus cepat mencari mereka,"
sahut Rangga, kalem.
"Hm.... Kelihatannya kau tidak sabar. Kita belum sarapan, dan perutku sudah
lapar. Apa tidak sebaiknya cari sarapan dulu?" usul Anggraeni.
Rangga memandang sekilas, lalu menggeleng lemah.
"Aku belum lapar, sebelum mereka kutemukan!"
"Tenang saja. Mereka pasti kita temukan!"
"Iya...! Tapi, aku
mengkhawatirkan Pandan Wangi. Dia berada di bawah pengaruh. Aku tidak mau
terjadi sesuatu yang buruk padanya!"
Suara Rangga terdengar meninggi.
Dan hal itu agaknya dirasa betul oleh gadis ini. Dia tertegun sebentar, lalu
mengikuti pemuda itu.
"Baiklah...," sahut Anggraeni pendek.
"Heaaa...!"
Rangga langsung melangkah
meninggalkan gubuk, diikuti Anggraeni.
Sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Sepertinya, ada yang mengusik
hati pemuda itu. Rangga terus memandang lurus ke depan seperti tengah melakukan
perjalanan seorang diri saja. Bahkan Rangga seperti tak sadar kalau saat
berjalan, ilmu meringankan tubuhnya yang telah sangat tinggi tersalurkan. Dan
ini membuat Anggraeni terkadang tertinggal jauh.
"Hei!" Rangga baru sadar ketika Anggraeni berteriak. Walaupun pemuda itu sama
sekali tidak menoleh, namun segera menghentikan langkahnya.
Ditunggunya gadis itu, hingga dekat.
"Ada apa?" tanya Rangga.
"Kau mengkhawatirkan kekasihmu?"
Anggraeni balik bertanya.
"Kau tahu itu."
"Apa yang kau khawatirkan?"
"Entah kau pura-pura tak tahu, atau sengaja bercanda!" sahut pemuda itu kesal.
"Kau takut Pranaja
memperkosanya?" duga gadis itu tanpa basa-basi.
Rangga menoleh sekilas padanya.
"Itu salah satunya...!" sahut Rangga, mendesis.
"Dia tidak akan melakukan hal itu!" sentak Anggraeni.
"Tidak usah menghiburku!"
"Aku bersungguh-sungguh! Dia tidak akan melakukan hal itu!"
Rangga memandang tajam gadis itu.
"Apa maksudmu?" tanya Rangga.
"Kalau kau khawatir Pranaja akan memperkosa kekasihmu, maka hilangkan
kekhawatiran itu. Dia tidak akan pernah melakukannya bila Pandan Wangi menolak,"
Anggraeni memberi alasan.


Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tapi Pandan Wangi dalam pengaruhnya!"
"Apakah kekasihmu itu tidak mencintaimu?"
"Tentu saja!" "Sebesar apa?"
"Tidak bisa kukatakan. Tapi...
ya, tentu saja besar!"
"Kalau begitu, dia bisa menjaga diri."
"Apa maksudmu?"
Kelihatan kalau Rangga semakin bingung.
"Dia tentu bisa melawan pengaruh Pranaja, kalau pada dasamya tidak menyukai. Dia
tidak akan terkena bujukan begitu saja. Rasa cintanya kepadamu, adalah perisai
yang cukup kuat," jelas Anggraeni.
"Benarkah?"
Sebaris senyum terhias di bibir Rangga. Senyum yang menggambarkan sebuah
harapan. 'Tentu saja. Apa untungnya aku berbohong padamu!" tandas Anggraeni.
"Kalau begitu, kita harus bergegas!" seru pemuda itu seraya mencekal pergelangan
tangan Anggraeni.
"Hei!"
Anggraeni berteriak ketika
tubuhnya diajak melesat kencang.
Rangga memang langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling tinggi.
*** Di kaki Gunung Bromo yang
menghadap ke arah padang rumput luas, banyak yang tak tahu kalau di situ
terdapat sebuah gua. Karena, memang kawasan ini jarang dilalui.
Sesungguhnya gua itu tidak begitu terlihat dari luar, karena dihalangi semaksemak cukup tebal. Namun kalau saja ada yang berani masuk ke dalamnya, maka akan
bertemu sebuah ruangan yang cukup luas dan ditata apik. Di kiri dan kanan
terdapat penyekat dari kayu, membentuk dua buah kamar.
Sementara di mulut gua, berdiri seorang gadis berbaju ketat berwarna biru.
Pandangan matanya lurus ke depan, menerawang kosong. Sementara di sebelahnya
berdiri seorang pemuda berpakaian rapi warna kuning gading.
"Tinggallah di sini, Pandan.
Maka, kau akan kujadikan ratuku...,"
bujuk pemuda itu.
"Aku merasa bahwa di sini bukan tempatku, Pranaja," kata gadis berbaju biru yang
tak lain Pandan Wangi alias si Kipas Maut.
"Tak ada seorang pun yang suka sebelum menjalaninya dalam waktu cukup lama. Dan
kau terhitung amat baru.
Wajar bila kau merasa bahwa ini bukan tempatmu," kilah pemuda yang memang
Pranaja yang berjuluk si Dewa Mata Maut.
"Tempat ini gersang...," desah Pandan Wangi.
"Itu tidak benar. Perhatikan rerumputan hijau bak permadani di luar sana.
Pepohonan dengan ranting-ranting berdaun lebat. Bukankah itu
pemandangan amat indah" Dan tak seorang pun yang bisa mengusik kita.
Kawanan serigala yang patuh pada perintahku itu, senantiasa menjaga kita dari
tamu-tamu yang tidak diundang," jelas Pranaja.
Gadis itu terdiam. Desahan keluar lirih dari bibirya, pertanda hatinya galau.
"Tidak sukakah kau dengan segala yang kupersembahkan untukmu" Kau membuatku
sedih, karena aku telah berusaha sebisaku...," keluh Pranaja.
"Atau barangkali kau membenciku?"
"Kau salah mengerti, Pranaja. Aku tidak membencimu. Hanya saja..."
"Hanya apa, Pandan Wangi" Apakah kau tidak mencintaiku" Lihatlah! Kalau kau
belah dadaku, maka akan terlihat rasa cintaku sedemikian besar kepadamu!" desak
Dewa Mata Maut.
Pandan Wangi menoleh dan
memandang pemuda itu lekat-lekat, kemudian perlahan-lahan tertunduk.
Lagi-lagi, tiap kali pemuda itu menatap, dadanya terasa bergetar keras.
Perasaannya bagai terbuai ke awang-awang. Namun di hati kecilnya, terasa gaung
suara Rangga memanggil-manggilnya.
"Coba pandanglah aku. Lihatlah!
Betapa demikian besar rasa cintaku kepadamu!" ujar pemuda itu.
Sambil berkata begitu, Pranaja merengkuh kedua pundak Pandan Wangi.
Sementara tangannya perlahan-lahan mengangkat dagu gadis ini.
"Pandan...," panggil Pranaja, mendesah.
"Hm...."
Gadis itu menggumam lirih. Dan dia tak mampu mengelak dari pandangan mesra
Pranaja. Sementara wajah pemuda itu kelihatan semakin dekat dengan wajahnya. Dan
jantungnya kontan seperti berhenti berdetak, ketika Pranaja hendak mengulum
bibirnya. Dan... "Uhhh...!"
Pemuda itu pun terperanjat,
karena tiba-tiba Pandan Wangi
mendorongnya kuat-kuat sehingga nyaris membentur dinding mulut gua.
"Oh, maaf! Aku..., aku tidak bermaksud membuatmu celaka!" seru gadis itu ikut
kaget atas perbuatannya. "Lupakanlah...!" ujar Dewa Mata Maut, seraya bangkit.
Pranaja mengibas-ngibaskan debu di pakaiannya. Wajahnya kelihatan jengkel
sekali. "Kau marah padaku...?" tanya gadis itu perlahan menghampirinya.
Pemuda itu melirik Pandan Wangi sekilas.
"lnikah bukti cintamu padaku" Kau sama sekali tidak menyukaiku!" sentak Pranaja.
"Aku..., aku...."
"Sudahlah! Aku tahu. Bayangan pemuda berompi putih itu melekat kuat di hatimu.
Kau sulit melupakannya!"
tukas Pranaja. "Tapi, aku tidak akan pernah membuatnya lega. Dia akan merana
seumur hidupnya!"
"Kau bicara apa?" tanya Pandan Wangi dengan kening berkerut.
"Ah, tidak. Tidak apa-apa!"
sergah Pranaja buru-buru.
"Masih marah padaku?"
Pranaja terdiam sejurus lamanya sambil memandang gadis itu lekat-lekat. Kemudian
kepalanya menggeleng lemah.
"Tidak," sahut Pranaja singkat.
"Kalau begitu, antarkan aku pulang...," pinta Pandan Wangi. "
"Kau berada di rumahmu sendiri, Pandan," tandas Pranaja, meyakinkan.
"Aku tidak suka di sini. Lagi pula, tempat ini bukan rumahku!"
"Setelah kau betah, akan jadi rumahmu."
Si Kipas Maut terdiam seraya beranjak ke pintu gua. Sedang Dewa Mata Maut
bergerak mendekati. Namun ketika baru saja hendak membelai pipi si gadis,
mendadak pendengarannya yang terlatih menangkap sesuatu yang mencurigakan.
"Ssst!"
Dewa Mata Maut memberi isyarat dengan telunjuk menempel di bibir.
Kini keduanya terdiam, dan tidak membuat suatu gerakan. apa pun yang bisa
terdengar. Baru saja Pranaja melangkah lima tindak dari mulut gua, mendadak berkelebat
sosok tubuh melayang turun dari atas tebing gua.
"Heh"!"
*** Salah satu bayangan langsung menyerang Dewa Mata Maut. Terpaksa, pemuda itu
melompat ke belakang dan
semakin menjauhi pintu gua.
Sementara bayangan satu lagi langsung meluruk ke arah Pandan Wangi dengan
gerakan cepat bagai kilat.
Bahkan seketika tangannya meluncur, melepaskan totokan di punggung gadis itu.
Dan.... Tuk! Tuk! "Aaa...!"
Pandan Wangi langsung roboh tak berdaya, terkena dua totokan di punggung.
"Bagus! Kau dapatkan bagianmu, Pendekar Rajawali Sakti. Dan aku mendapat
bagianku. Kini kita tidak punya urusan lagi!" seru sosok bayangan kuning yang
ternyata seorang gadis berbaju kuning.
"Anggraeni! Apa-apaan kau ini"!"
teriak Pranaja ketika melihat orang yang muncul tiba-tiba.
Mereka tidak lain dari Pendekar Rajawali Sakti dan Anggraeni.
"Hm.... Hebat. Kini kau kenal denganku lagi, Pranaja"! Hi hi hi...!
Bagus. Tidak kusangka kau akan setolol itu. Kau lupa kalau aku bisa menirukan
suara beberapa ekor hewan. Sengaja kutiru suara serigala agar kawanan serigala
itu pergi jauh dari tempat ini!" jelas Anggraeni sambil berkacak pinggang.
Pranaja memang terkejut sehingga tanpa sadar, dia menyebut nama
Anggraeni. Padahal, sebelumnya di depan Pandan Wangi dia menyangkal kalau pernah
kenal dengan Anggraeni.
Namun pemuda itu tidak mau menunjukkan lewat paras mukanya. Dia bahkan berusaha
tersenyum, seolah hal ini tidak berarti apa-apa.
"Hebat betul! Kemajuanmu sungguh pesat. Apakah ini berarti kau memusiihiku,
sehingga perlu bersekutu dengan bocah dungu itu?" tunjuk Pranaja pada Rangga.
"Boleh jadi dia dungu. Tapi, dia lebih pintar ketimbang kau!" batas Anggraeni.
"Kalau dia lebih pintar, tidak mungkin kehilangan kekasihnya!" ejek Pranaja.
"Dan kalau dia bodoh, tidak semudah itu merebut kekasihnya.
Padahal, kau bersusah-payah merebut hati gadis itu,'' sahut Anggraeni.
"Sudahlah. Tidak perlu kita perpanjang persolaan ini. Apa maksud kedatanganmu ke
sini" Apakah ingin mengulang kisah kasih" kita seperti dahulu?" kata Pranaja,
menjengkelkan. "Simpan saja rayuanmu itu, Pranaja. Kau mungkin lupa pada sumpahku tempo hari.
Tapi, jangan harap aku melupakannya!" sergah Anggraeni.
"Kau ingin membunuhku?" leceh Pranaja.
"Lebih dari itu! Kau akan tersiksa antara hidup dan mati!" desis Anggraeni.
"Ha ha ha...! Hebat! Sungguh hebat ancamanmu!"
"Aku bersungguh-sungguh, Pranaja!
Kau lihat apa yang ada di tanganku ini!" dengus Anggraeni, seraya menunjukkan
pisau pemberian Ratu Dewi Kunir.
Melihat pisau itu seketika
Pranaja terkesiap.
"Pisau Kembang Sanur"!" sentak pemuda itu.
"Ya, kau benar. Dengan pisau ini kau tidak akan berdaya menghadapiku!"
Dan sekali ini pemuda itu tidak bisa lagi tersenyum. Wajahnya mendadak pucat.
Dan sikapnya jadi salah tingkah.
"Eh! Ng..., Anggraeni, tunggu dulu. Kita masih bisa berdamai, bukan?" bujuk
Pranaja, tergagap.
"Perdamaian yang bagaimana lagi?"
"Tentu saja yang menguntungkan bagi kita berdua!"
"Aku tidak mengerti!" dengus gadis itu seraya mendekati Pranaja perlahan-lahan.
"Eh! Maksudku..., kita bisa membina hubungan seperti dulu lagi!"
"Kau akan membohongiku lagi, Pranaja. Entah berapa kali kau lakukan hal itu. Dan
aku selalu percaya."
"Kali ini aku bersungguh-sungguh!" tandas Pranaja, coba meyakinkan.
"Dulu juga kau berkata begitu,"
sergah Anggraeni.
"Tidak! Aku bersumpah. Tahukah bahwa selama ini kaulah yang selalu ada di
hatiku." "Jangan coba merayuku, Pranaja!"
"Kenapa" Kau adalah kekasihku dulu, sampai kapan pun. Aku tidak perlu merayu.
Yang kukatakan adalah hal yang sebenarnya!" tegas Pranaja.
"Kau menyukai gadis itu!" tuding Anggraeni pada Pandan Wangi.
"Kau salah duga. Gadis itu sama sekali tidak berarti bagiku!" kilah Pranaja.
"Huh! Kau mulai lagi mulut manismu!"
"Aku berkata yang sebenarnya.
Kalau tidak, untuk apa dia kubawa ke sini" Tempat ini adalah tempat kenangan,
sekaligus tempat bersejarah bagi kita. Kupilih tempat ini, karena aku selalu
mengenang dan merindukanmu!"
"Lalu, kenapa tidak kau pedulikan aku saat bersama gadis itu"!"
"Kau salah paham, Anggraeni!"
"Jelaskan padaku!"
"Aku hanya sekadar menguji kesetiaanmu. Selama ini, kau jarang sekali cemburu
padaku. Dan itu
membuatku kesal!"
Anggraeni tertegun.
"Percayalah, Anggraeni. Mana mungkin aku mencampakkan begitu saja.
Kau adalah kekasihku yang pertama dan terakhir. Aku menyadari sepenuhnya akan
pengorbanan yang begitu besar padaku. Apakah kau kira aku tidak menyadarinya?"
rayu Pranaja, tak patah semangat.
Gadis itu kembali tertegun. Dan hatinya berdetak aneh. Keraguan mulai
menyelimuti perasaan. Pada saat itulah Rangga yang telah meletakkan Pandan Wangi
di tempat yang aman sudah kembali ke tempat ini. Dan kini, dia melangkah
mendekati. "Anggraeni, maaf. Persoalan kita telah selesai seperti yang kau katakan. Aku
telah mendapatkan Pandan Wangi. Maka, uruslah pemuda ini. Aku tidak ikut campur.
Kami akan segera pergi. Permisi. Dan, terima kasih atas pertolonganmu," ucap
Pendekar Rajawali Sakti.
Gadis itu mengangguk lemah. Namun tiba-tiba secara tak terduga tangan Pendekar
Rajawali Sakti berkelebat ke punggungnya. Dan....
Tuk! Tuk! Terlambat bagi Anggraeni untuk menangkis. Tubuhnya langsung jatuh lemas tak
berdaya begitu Rangga berhasil mendaratkan dua totokan di punggungnya. Saat itu
juga Pisau Pusaka Kembang Sanur di tangannya telah berpindah ke dalam genggaman Rangga.
*** 8 "Apa-apaan ini"!" dengus Anggraeni geram.
"Maaf, aku terpaksa
melakukannya...," ucap Rangga, perlahan.
"Mau apa kau"!" desak gadis ini.
"Perjanjian kita berubah. Aku harus membunuhnya!" sahut Rangga dingin.
"Kau..., kau! Bukankah kita sudah sepakat dalam perjanjian itu" Kau tidak boleh
mengusiknya!" tuntut Anggraeni, kalap. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Memang. Selamanya aku akan memegang janjiku kalau saja tidak ada sesuatu yang
membatalkannya. Dan itu lebih penting, karena me-nyangkut kedamaian rimba
persilatan!" jelas Rangga, tenang.
"Apa maksudmu" Tidak usah bertele-tele. Katakan saja!"
"Ini perintah Kanjeng Ratu Dewi Kunir! Menurut beliau Dewa Mata Maut akan terus
membuat keresahan dengan
ilmu-ilmunya. Itulah alasannya!"
"Bohong!" desis gadis itu marah.
"Kau boleh percaya atau tidak.
Tapi, aku diperintahkan demikian!"
"Tidak! Tidak mungkin! Kau hanya mencari-cari alasan!"
"Aku bersungguh-sungguh, Anggraeni. Kalau tidak, untuk apa pisau ini kuambil
darimu?" "Kau mendengar pembicaraanku dengan Pranaja. Dan kau tahu kalau Pranaja takut
dengan pisau itu," tuduh Anggraeni.
"Begitukah menurutmu" Baiklah, kita lihat saja nanti," sahut Rangga tenang
seraya menghampiri Dewa Mata Maut.
"Hei, tunggu! Kau telah menyalahi perjanjian kita! Dia bagianku! Kau tidak boleh
mencampurinya!" teriak Anggraeni.
Tapi percuma saja gadis itu
berteriak-teriak, sebab Pendekar Rajawali Sakti tidak surut selangkah pun.
"Dewa Mata Maut! Maaf, dengan terpaksa aku harus melenyapkanmu,"
ucap Rangga, seperti berat untuk mengatakannya.
"He he he...! Kau masih penasaran padaku" Kasihan. Tapi mestinya membuatmu
kapok. Karena kali ini pun aku akan mengecewakanmu."
Bukannya kaget, Pranaja malah
tertawa terkekeh. Dan itu memang sudah wataknya. Sikapnya berusaha dibuat
setenang mungkin. Jelas, dia tidak ingin Pendekar Rajawali Sakti mengira bahwa
dia takut. "Begitukah menurutmu" Dan kau bersiap akan kabur lewat aji 'Mangling Rupa'"
Cobalah kalau mampu," kata Pendekar Rajawali Sakti, mulai geram melihat Pranaja
seperti tak pernah menyesal atas perbuatannya.


Pendekar Rajawali Sakti 169 Dewa Mata Maut di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"He he he...! Kau telah berbekal sesuatu rupanya, sehingga telah percaya diri
menghadapiku. Siapa yang memberitahumu" Gadis itu" Kusarankan, sebaiknya pergi
saja dari sini. Dan, jangan cari penyakit. Aku bisa membunuhmu. Dan kau sama
sekali tidak mampu berbuat apa pun!" ujar Dewa Mata Maut, setenang mungkin.
"Hm. Agaknya kau sama sekali tidak pernah menyesali segala perbuatanmu. Silakan
serang aku, Dewa Mata Maut!" kata Pendekar Rajawali Sakti, membuka tantangan
walau dengan terpaksa.
"Baiklah. Kau akan mampus di depan mata kekasihmu!" desis Pranaja.
Dewa Mata Maut segera merapal aji
'Gelembung Maya'. Dengan kuda-kuda kokoh, dia menggerakkan tangannya yang
terkepal ke atas. Lalu, ditempatkannya di depan kening. Maka seketika dari
tubuhnya mengepul asap berwama kuning
yang langsung membungkus tubuhnya.
Sementara, Rangga mendekati Dewa Mata Maut perlahan-lahan. Dan tiba-tiba Rangga
mengangsurkan Pisau Pusaka Kembang Sanur ke atas dengan bagian ujungnya
menghadap Dewa Mata Maut.
Sementara mulutnya berkomat-kamit sebentar. Lalu...
Siut...! Tepat ketika Rangga berhenti komat-kamit, secepat kilat mata pisau itu terlepas
dari gagangnya dan melesat menyambar Dewa Mata Maut.
"Eh, kurang ajar! Ternyata kau mengerti cara menggunakan pisau keparat itu!"
desis Pranaja terkejut.
Dan seketika Dewa Mata Maut
melompat menghindar. Namun seperti terkendali, mata pisau itu terus melesat
mengejar ke mana pun dia bergerak.
"Percuma saja aji 'Gelembung Maya' serta aji 'Mangling Rupa' yang kau miliki!
Kalau saja kuinginkan, maka kau akan tersiksa selamanya datam keadaan begini.
Tapi, aku punya tujuan lain. Yaitu, membunuhmu. Ini perintah dari Kanjeng Ratu
Dewi Kunir."
Begitu selesai kata-katanya, tangan Rangga bergerak ke punggung.
Lalu.... Sring! Tepat ketika Pedang Pusaka
Rajawali Sakti keluar dari warangka,
sinar biru berkilauan dari batang pedangnya seperti membungkus tubuhnya.
"Tidak! Kau tidak boleh membunuhnya! Kau tidak boleh membunuhnya...!" teriak
Anggraeni berulang-ulang.
"Maaf, Anggraeni. Aku terpaksa melakukannya...," desah Rangga, lirih.
Secepat kilat Rangga mencelat menyerang.
"Hiyaaa!"
Pranaja yang saat itu tengah kerepotan bergerak ke sana kemari menghiridari
serangan Pisau Pusaka Kembang Sanur, kini semakin waswas ketika Pendekar
Rajawali Sakti ikut menyerang pula.
Bet! Wut! Dua sambaran pedang berhasil dihindari Dewa Mata Maut. Namun hawa panas yang
ditimbulkan pedang Pendekar Rajawali Sakti terasa mengganggu perhatiannya.
Sehingga akibatnya....
Des! "Aaakh...!"
Satu tendangan Rangga yang cepat tak dapat dihindari Dewa Mata Maut yang baru
saja menghindari terjangan Pisau Pusaka Kembang Sanur.
Pranaja terjungkal roboh. Namun sebelum dia bangkit, saat itu juga Pisau Kembang
Sanur melesat. "Uts..."
Pisau itu menancap di tanah,
karena Dewa Mata Maut sempat bergulingan. Namun seketika pisau itu bergerak
kembali, dan mengejar buruannya. Sedangkan pada saat yang sama, Pendekar
Rajawali Sakti telah menunggu Pranaja yang berusaha bangkit lewat tendangan
geledek. Sehingga....
Begkh! "Aaakh...!"
*** Kembali Pranaja memekik
kesakitan, dengan lubuh terhuyung-huyung. Dan belum juga keseimbangannya pulih,
Pedang Pusaka Rajawali Sakti telah berkelebat memapas sebelah kakinya.
Cras! "Aaa...!"
Tidak ampun lagi, Pranaja
terjungkal roboh. Aneh! Kakinya yang buntung sampai ke paha, sama sekali tidak
mengucurkan darah! Wajahnya meringis ketakutan. Sepasang matanya mendelik
garang. Dan dia kembali terpaksa bergulingan menghindari sambaran Pisau Pusaka
Kembang Sanur. "Hentikan pisau keparat itu!
Hentikan seranganmu! Aku menyerah kalah! Aku menyeraaah...!" teriak Dewa Mata
Maut ketakutan, sambil terus menghindar walau dengan susah payah.
"Dia telah menyerah! Kau harus
melepaskannya, Rangga! Kau harus melepaskannya! Ingat! Kau berhutang budi
padaku. Kau berhutang budi padaku! Tidakkah kau ingat itu"! Mana perasaanmu"
Apakah kau tidak tahu malu"!" teriak Anggraeni, mencoba menyadarkan Rangga.
Namun Rangga hanya menoleh
sekilas. Bukannya Pendekar Rajawali Sakti tidak berperasaan ataupun tega.
Walaupun bukan berarti untuk tidak melenyapkannya. Maka....
"Heaaa...!"
Disertai bentakan keras
menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti berkelebat sambil mengibaskan pedangnya.
Begitu cepat gerakannya, sehingga Dewa Mata Maut yang tengah sibuk menghindari
Pisau Pusaka Kembang Sanur tak sempat menyadari. Dan....
Cras! "Aaakh...!"
Disertai lolongan, kepala Pranaja kontan terpenggal dari lehernya begitu Pedang
Pusaka Rajawali Sakti memapaknya. Namun anehnya tubuhnya masih tetap berdiri.
Bahkan dari lehemya sama sekali tidak menyemburkan darah.
Dalam keadaan demikian, tentu saja Dewa Mata Maut tak mampu menghindar pada saat
Pisau Pusaka Kembang Sanur melesat cepat ke arahnya. Dan....
Crep! "Aaa...!"
Pranaja terpekik menyayat ketika pisau itu tepat menghujam jantungnya.
Dan tubuhnya baru ambruk dengan mata mendelik garang. Mulutnya tampak ternganga
lebar menggambarkan rasa penasaran. Sekujur tubuhnya perlahan-lahan berubah
pucat kekuning-kuningan.
Setelah meregang nyawa, dia tewas tak lama kemudian.
Trek! Setelah menyarungkan pedangnya, Rangga menghampiri mayat Dewa Mata Maut Lalu
dicabutnya pisau itu. Rangga sedikit terkejut karena tidak melihat darah sedikit
pun. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti menatapi pisau itu, lalu melangkah
m"nghamplri Anggraeni.
"Maaf, aku terpaksa melakukannya...," ucap Pendekar Rajawali Sakti lemah seraya
meletakkan pisau itu ke dekat gadis itu.
Anggraeni diam terpekur dan tidak berusaha menyahut.
"Aku memang tak berbudi, Anggraeni. Tapi itu terpaksa kulakukan. Terus terang,
kau terlalu lemah dengan kata-kata manis Pranaja.
Kau telah terjebak dalam rayuannya, Anggraeni. Dan itulah yang kukatakan.
Dan hal itu juga dikhawatirkan Kanjeng Ratu Dewi Kunir. Terus terang, waktu
itu di antara kami sebenamya tidak terjadi apa-apa seperti yang kau
bayangkan...," papar Rangga, halus.
"Apa maksudmu?" tanya gadis itu lirih.
"Kanjeng Ratu Dewi Kunir telah mengetahui semua peristiwa ini. Dia memerintahkan aku
untuk melenyapkan Pranaja karena banyak membuat resah di luaran. Dan aku kagum
pada junjunganmu. Walau suka dengan laki-laki jantan, tapi dia tak sudi bila
ilmu yang diturunkan digunakan untuk mengacau dunia persilatan. Apalagi, ilmu
itu tak ada tandingannya. Bahkan aku sendiri, tak mampu me-ngalahkan Pranaja
kalau tidak diberi rapalan oleh Kanjeng Ratu Dewi Kunir. Dan yang terpenting,
ada satu hal yang tak mungkin kulakukan," papar Rangga.
"Apa?" tanya Anggraeni dengan kening berkerut.
"Beliau ingin agar aku harus melenyapkanmu." "Melenyapkanku" Tidak mungkin! Kau
berdusta!"
"Percayalah. Aku berkata yang sesungguhnya..."
"Apa alasannya?"
"Kau telah membuka rahasia kelemahan ratumu sendiri padaku. Itu sama artinya kau
menusuk majikanmu dari belakang lewat perantaraku.
Beliau amat murka padamu. Tapi, dia tidak ingin menghu-kummu saat itu.
Mengingat, jasa-jasamu yang demikian banyak padanya. Kau hanya mendapat hukuman,
yaitu tidak bisa kembali ke sana. Pintu terowongan itu telah tertutup bagimu.
Dan dengan mantera apa pun, kau tidak akan bisa membukanya," jelas Rangga.
"Tidak. Kau hanya berdusta! Aku tidak percaya padamu!" tukas gadis itu.
"Percayalah, Anggraeni. Aku berkata yang sesungguhnya. Kau boleh mencoba ke
sana, kalau memang aku berdusta. Tapi demi kebaikan kita bersama, sebaiknya kau
jangan ke sana."
"Kenapa?"
"Karena aku tak mampu
melaksanakan perintah Kanjeng Ratu Dewi Kunir yang ingin agar aku membunuhmu!
Kau berjasa padaku. Dan aku ingin membalas jasamu itu. Nah, selamat tinggal.
Mudah-mudahan di lain waktu kita bisa bertemu kembali," ucap Rangga.
Setelah berkata begitu Rangga segera berbalik hendak melangkah.
Namun.... "Hei, mau ke mana kau"! Kau harus melepaskan totokan ini!" teriak Anggraeni.
"Oh, hampir saja aku lupa!"
Rangga berbalik kembali, lalu menghampiri Anggraeni. Segera
dilepaskan totokannya, namun tidak keseluruhan. Dan itu membuat Anggraeni geram.
"Apa-apaan kau ini"!" desis Anggraeni.
"Aku yakin kau belum bisa terima kematian Pranaja. Dan aku tidak mau kau kalap,
lalu menyerangku. Totokan itu lemah. Tidak lama setelah aku meninggalkanmu, maka
kau akan segera bebas. Dan ingat pesanku tadi, Anggraeni. Jangan coba-coba pergi
ke telaga itu. Bila mereka tahu aku gagal membunuh, maka Kanjeng Ratu Dewi Kunir
akan mengutus yang lain untuk membunuhmu! Selamat tinggal!"
Setelah itu secepat kilat
Pendekar Rajawali Sakti berkelebat meninggalkan tempat ini menuju tempat Pandan
Wangi yang telah diamankannya di suatu tempat Tidak dipedulikannya teriakanteriakan Anggraeni yang geram bukan main melihat perlakuannya.
*** Rangga menghela napas lega.
Sementara Pandan Wangi memandang dengan mata berbinar-binar. Lalu..., memeluknya
erat-erat sambil
menumpahkan perasaan rindu yang demikian memuncak di hati.
"Kakang Rangga...!" panggil Pandan Wangi.
"Oh, syukurlah kau selamat, Pandan...," desah pemuda itu lembut.
"Selamat" Apa maksudmu" Selamat dari apa?" tanya gadis itu heran seraya
melepaskan rangkulannya.
"Apakah kau tidak mengingatnya?"
Pandan Wangi menggeleng lemah.
Diperhatikannya wajah kekasihnya secara seksama.
"Kakang, kau kelihatan pucat. Ada apa" Kau seperti habis bertarung mati-matian.
Apakah kau sakit?" tanya gadis itu cemas.
"Tidak. Aku hanya sedikit
lelah...."
"Ada apa, Kakang" Jangan membuatku cemas. Katakanlah!" tuntut Pandan Wangi.
"Aku baru saja menyalurkan tenaga batinku untuk mengusir daya sihir Dewa Mata
Maut...," jelas pemuda itu singkat.
"Dewa Mata Maut" Siapa dia"!"
"Kau tidak ingat" Cobalah berusaha mengingat-ingat!"
Rangga segera menggambarkan ciri-ciri Dewa Mata Maut Dan seketika gadis itu
teringat. "Astaga! Ya, aku ingat Pemuda itu bertemu denganku di sebuah kedai!"
"Lalu...?" tanya Rangga.
"Lalu dia mengajakku jalan bersama. Aku berusaha menghindar, namun setelah itu
aku tidak ingat apaapa lagi. Padahal di hati kecilku aku berusaha menolak...!"
Pandan Wangi tidak melanjutkan cerita. Dipandangnya Pendekar Rajawali Sakti
dengan seksama. Tatapan mata Rangga tampak merasa curiga. Padahal pemuda itu
hanya tersenyum.
"Kakang, maafkan. Aku..., aku sama sekali tidak bermaksud buruk.
Aku..., aku...."
Pandan Wangi tidak kuasa
meneruskan kata-katanya.
Kepalanya tertunduk lesu. Dan sesaat, terdengar isak tangisnya.
"Kenapa kau menangis, Pandan"
Teruskan ceritamu. Aku mendengarkannya sampai selesai."
"Kau menuduhku telah
mengkhianatimu, Kakang...?" duga Pandan Wangi.
"Aku tidak katakan begitu,"
sangat Rangga. "Kau bohong! Padahal hatimu menuduhku demikian!" tukas gadis ini.
Rangga menghela napas panjang.
Kemudian, dibelainya rambut gadis itu perlahan-lahan.
"Aku tidak menuduhmu
mengkhianatiku, Pandan. Kau tidak sadar apa yang kau alami bersamanya...," ujar
Rangga memberi keyakinan.
"Apa yang kualami bersamanya?"
tanya Pandan Wangi.
"Aku tak tahu!"
"Kakang tidak berusaha mencari tahu?"
"Tentu saja aku berusaha sekuat tenaga."
"Apa buktinya"!"
Dan terpaksa Rangga menceritakan sedikit secara ringkas apa yang dialami gadis
itu. Dan, apa yang ditempuhnya untuk membebaskan Pandan Wangi dari cengkeraman
Pranaja. Pandan Wangi terkesiap. Dia
terdiam untuk sejurus lamanya, setelah Rangga selesai bercerita. Kemudian
dipandangnya pemuda itu dengan tajam.
"Kakang! Kau tidak akan menuduhku berbuat serong dengannya, kan?" tanya Pandan
Wangi bernada tuntutan.
"Apakah kau merasa berbuat serong?" Rangga balik bertanya.
"Entahlah..., aku tak tahu..."
"Apakah ada sesuatu yang kurang darimu?"
"Kurasa aku baik-baik saja."
"Kalau memang begitu tidak ada masalah."
"Kalau seandainya.... "
"Sudahlah! Jangan berpikir yang macam-macam!" tukas Rangga.
"Yang penting kau telah selamat.
Itu saja!"
Pandan Wangi tidak berkata-kata lagi. Langsung dipeluknya Rangga erat-erat,
seperti tak ingin melepaskannya.
Sementara Pendekar Rajawali Sakti sendiri hanya tersenyum lega. Dan dia yakin
tak ada sesuatu pun yang terjadi terhadap Pandan Wangi.
SELESAI Serial Pendekar Rajawali Sakti selanjutnya:
SILUMAN BUKIT TENGGER Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: lovelypeace
http://duniaabukeisel.blogspot.com
Mustika Lidah Naga 7 2 Jaka Sembung 15 Raja Sihir Dari Kolepom Pukulan Naga Sakti 25

Cari Blog Ini