Ceritasilat Novel Online

Keris Iblis 2

Pendekar Rajawali Sakti 160 Keris Iblis Bagian 2


Para pengejarnya tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan mereka tak sempat melihat ciri-ciri orang yang mengintip lewat jendela tadi. Sambil memaki-maki kesal mereka langsung mengurus mayat perempuan di kamar itu.
Pendekar Rajawali Sakti sendiri kemudian mengejar dua sosok bayangan yang sempat dilihatnya tadi berlari ke luar desa. Selang beberapa saat terlihat sesosok bayangan yang pertama masih terus berlari seperti mengejar sesuatu. Rangga mengerahkan ilmu Tatar Netranya untuk melihat lebih jelas. Namun tak terlihat sesuatu yang mencurigakan selain sosok bayangan itu. Sambil menggeram kesal tubuhnya melayang tinggi dan bersalto beberapa kali kemudian menjejakkan kaki di hadapan orang itu pada jarak kira-kira lima tombak.
"Berhenti...!" bentaknya keras.
Sesosok bayangan itu berhenti. Mereka saling berpandangan sesaat, kemudian terlihat Pendekar Rajawali Sakti mendengus sinis.
"Huh! Tak sangka gadis secantik kau tega berbuat begitu."
"Apa maksudmu"!"
"Hmm... kau masih berpura-pura juga setelah melakukan perbuatanmu yang biadab?"
"Jangan ngaco kau pemuda ceriwis! Kau pikir aku yang melakukan perbuatan itu" Huh, kalau kau ingin tahu justru aku sedang mencari bajingan keparat itu!"
"Siapa yang kau cari" Kulihat kau cuma sendirian di sini?"
"Kalau aku sampai tak bertemu dengannya, maka kaulah yang harus bertanggung jawab atas kematian perempuan itu!"
"Sial! He, Nisanak. Jangan sembarangan kau bicara! Siapa yang kau kejar" Kau pikir mataku buta" Tak ada seorang pun di sekitar sini pada jarak lima belas tombak. Orang yang kau kejar telah kabur dengan cepat!"
"Itu salahmu! Kalau kau tak menahanku tentu aku telah berhasil mengejarnya!"
"Huh! Kau pikir kau memiliki kemampuan untuk mengejar orang itu" Meski gurumu sekalipun belum tentu mampu mengejarnya. Orang itu memiliki ilmu lari yang cepat, bahkan sulit untuk dilihat dengan pandangan mata kau sekalipun!"
Tapi gadis yang memang keras kepala itu tetap menyalahkan Rangga. Si Pendekar Rajawali Sakti jadi gemas sendiri. Sejak berada di kedai tadi dia memang sudah menyadari bahwa selain galak gadis itu memang keras kepala. Tak ada gunanya dia meladeninya lagi. Maka tanpa mempedulikannya lagi, Rangga langsung memutar tubuh dan bermaksud meninggalkan tempat itu.
"Bagus! Kau meninggalkan tanggung jawab begitu saja!" kata gadis itu sinis.
"Tanggungjawab apa?"
"Tidakkah hatimu tergerak untuk menghajar orang itu" Atau memang kau orang segolongan dengan si keparat itu"!"
"Kau sendiri untuk apa mengejar-ngejar orang itu" Melihat kelakuanmu pastilah tak jauh berbeda dengan orang yang tadi kau kejar," sahut Rangga mengejek.
"Brengsek! Kau pikir aku orang seperti itu!"
"Hmm... siapa yang tahu hati orang?" sahut Rangga santai seperti ditujukan pada dirinya sendiri.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 "Entfernn . 160. Keris Iblis Bag. 5, 6, 7 dan 8 (Selesai)
11. Januar 2015 um 09:07
5 ? Rangga dapat merasakan bahwa walaupun terlihat enggan, tapi gadis itu menguntitnya dari belakang. Dia cuma mendiamkannya saja sambil tersenyum kecil.
"Kenapa kau malah tak kembali ke pelukan perempuan itu" Bukankah enak dalam suasana dingin seperti malam ini?"
"Apa"!" Rangga menoleh dengan wajah merah.
"Huh!"
Pendekar Rajawali Sakti menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Untunglah saat ini agak gelap hingga terlihat wajahnya yang bersemu merah tak kelihatan.
"Terserah kau mau bicara apa, tapi aku betul-betul tak mengerti ke mana arah pembicaraanmu," sahut Rangga merasa tak bersalah.
"Huh! Laki-laki memang pandai berpura-pura padahal dalam hatinya penuh dengan tipu muslihat!"
"Nisanak, kau bukan saudara bukan pula kawanku. Kenapa kau mencelaku begitu?"
"Siapa yang mencelamu?"
"Itu tadi!"
"Aku cuma berkata laki-laki bukan berarti dirimu saja."
"Hmm... kalau kau memang tak suka padaku, kau boleh pergi sesuka hatimu. Kenapa terus menguntitku?" sahut Rangga kesal.
"Siapa yang menguntitmu" Aku memang bermaksud akan mengejar si Keparat itu!"
"Kalau begitu biarlah aku mengambil jalan lain," sahut Rangga sambil melesat cepat dengan menggunakan ilmu larinya.
Sebentar saja pemuda itu telah hilang dari pandangan si gadis yang terpaku takjub beberapa saat lamanya. Tapi kemudian dia melangkah dengan sikap tak peduli. Namun baru berjalan kira-kira beberapa tindak, tiba-tiba melesat dua sosok bayangan yang mencegatnya.
"Ha-ha-ha...! Tak disangka malam-malam dingin seperti ini akan bertemu dengan seorang gadis cantik yang kesasar. Apa gerangan yang membuatnya berwajah sedih begini, Cangkala?" tanya seorang yang berwajah lebar pada kawannya yang memikul sebuah tongkat dengan ujungnya terdapat pengait melengkung seperti arit.
"Pastilah sedang merindukanmu, Cangkring!"
"Ha-ha-ha...! Kau benar, Cangkala. Siapa gadis yang tak merindukan wajahku yang tampan begini," sahut Cangkring sambil tertawa lebar.
"Dua monyet buduk! Minggatlah kalian dari hadapanku. Melihat tampang kalian saja ingin muntah rasanya!" bentak gadis itu galak.
"Ha-ha-ha...! Kau dengar Cangkala" Agaknya dia sudah tak sabar lagi untuk buru-buru jatuh dalam pelukanku!" sahut Cangkring terkekeh-kekeh.
"Sudahlah. Kenapa kau musti berlama-lama lagi" Mungkin pun benar dia sudah tak sabaran lagi."
"He-he-he...! Kau benar, Cangkala! Kau benar!"
"Puiih! Kalau kalian betul-betul tak mau minggat jangan salahkan kalau Tuan Besarmu mencongkel biji mata kalian satu persatu!" bentak gadis itu lagi.
Tanpa mempedulikan keadaan lagi, gadis yang hatinya sedang kesal itu langsung mencabut pedang dan menyerang kedua orang itu dengan hebat.
"Yeaaa...!"
"Oh, galak sekali! Betul-betul membuat hatiku semakin bernafsu saja!" sahut Cangkring berseru kaget sambil menghindari serangan gadis itu dengan mudah.
"Ah, akupun merasakan hal itu, Cangkring. Biarlah kau lebih dulu bersamanya sementara aku akan menunggu bagianku!" timpal Cangkala bergerak ringan menghindari sabetan pedang gadis itu.
Tentu saja ejekan-ejekan itu membuat hati gadis itu semakin murka saja. Dalam kekalapannya itu dia menyerang lawan dengan ganas dan ingin secepatnya menjatuhkan kedua orang yang dianggapnya, bermulut kotor itu. Namun sampai sejauh itu ujung pedangnya tak sedikit pun mampu menggores kulit tubuh lawan. Bahkan dengan gerakan yang cepat tak terduga, tangan-tangan nakal Cangkala dan Cangkring mencolek bagian-bagian tubuhnya yang terlarang.
"Amboi! Masih terasa kenyal dan padat. Tentulah dia masih perawan tulen!" teriak Cangkring kegirangan ketika jari-jarinya berhasil menyentuh dada gadis itu.
"Bajingan keparat! Kubunuh kalian! Kubunuh kalian...!" teriak gadis itu semakin kalap saja.
"Hiyaaat!"
"Uts!"
"Ouw...!"
Kembali gadis itu terpekik kaget ketika tangan Cangkala menepuk pinggul dan meremasnya sambil mendecah dan menggeleng-gelengkan kepala.
"He-he-he...! Betul-betul perawan tulen. Ayolah, Cangkring. Kenapa musti berlama-lama segala?"
"Baiklah, baiklah...."
"Hiyaaat...!"
"Uts!"
"Plak! Tuk!"
"Ohh...!"
Dengan gerakan yang cepat tubuh Cangkring melesat cepat memapaki serangan gadis itu. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara tangan kirinya menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang pedang, kemudian jari-jari tangan kanannya menotok tubuh gadis itu hingga jatuh lemas tak berdaya.
"Ha-ha-ha...! Kau pikir bisa berbuat apa pada Iblis Gunung Kembar" Meski gurumu sekalipun belum tentu mampu mengalahkan kami," kata Cangkring sambil melotot lebar.
Tangan kanannya dengan penuh nafsu merayap di tubuh gadis itu perlahan-lahan.
"Bajingan keparat! Lepaskan aku! Lepaskan! Aku masih sanggup bertarung seribu jurus lagi denganmu!"
"He-he-he...! Bagus. Simpanlah tenagamu untuk meladeni kami berdua," sahut Cangkala sambil terkekeh girang.
Cangkring sendiri tampak tak mempedulikan teriakan-teriakan gadis itu. Dengan gemas dirobeknya baju gadis itu hingga bagian dadanya tersingkap jelas. Gadis itu menjerit-jerit sambil memaki-maki tak karuan.
"Hmm... dada bagus! Dada bagus...!" gumam Cangkring sambil meremas pelan buah dada yang membusung dengan bentuk menantang.
Matanya melotot lebar, dan urat-urat syarafnya menegang kaku. Air liurnya seperti hendak jatuh membayangi hawa nafsunya yang mulai bergejolak. Begitu juga halnya dengan Cangkala. Mereka tak lagi mempedulikan gadis itu yang terus memaki-maki sambil berteriak-teriak.
"Apakah kau akan menontonku di sini, Cangkala" Tunggulah di sana!" perintah Cangkring sambil melepaskan bajunya.
"Baiklah...." sahut Cangkala sambil meninggalkan tempat itu dan menunggu agak jauh pada jarak sepuluh langkah.
Cangkring sendiri dengan gemas melucuti semua pakaian gadis itu sambil mendengus dengan nafas memburu. Kemudian dengan gemas digumulnya gadis itu dengan penuh nafsu.
Air mala gadis itu sudah meleleh di pipinya. Percuma saja dia berteriak-teriak memaki, namun tak sedikit pun mampu menyurutkan nafsu setan laki-laki itu. Bahkan sepertinya teriakan gadis itu menambah gairah nafsunya semakin menggebu.
Namun pada saat-saat itulah tiba-tiba terdengar bentakan nyaring yang membuat kedua orang itu terkejut, dan Cangkring terhenti dari niatnya untuk menodai gadis itu.
"Bajingan keparat! Apakah kebisaan kalian cuma mengganggu gadis-gadis tak berdaya"!"
? *** Di tempat itu telah berdiri gagah seorang pemuda tampan berambut panjang terurai mengenakan rompi putih. Dari belakang punggungnya tersembul pedang berhulu kepala burung. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Rangga alias si Pendekar Rajawali Sakti.
"Bocah brengsek! Apa kau mau mampus mengganggu kesenangan Iblis Gunung Kembar"!" bentak Cangkala garang.
Sementara itu Cangkring buru-buru mengenakan pakaiannya kembali dan sudah berada di sebelah Cangkala.
"Hmm.... Iblis Gunung Kembar. Pernah kudengar nama itu. Khabarnya cuma seorang tokoh rendah yang keberaniannya cuma memperkosa perempuan-perempuan tak berdaya!" ejek Rangga dengan mengeluarkan suara di hidung.
"Keparat! Kau pikir kau siapa berani bicara begitu di hadapan kami. Hei, bocah! Agaknya kau orang yang baru belajar silat dan sudah begitu yakin akan kemampuanmu. Sebaiknya kau pulang dan tanyakan pada gurumu agar tak sembarangan kau pentang bacot!" sahut Cangkring.
"Kenapa aku musti bersusah payah menanyakan hal kalian pada guruku" Beliau bahkan sama sekali tak mengenal kalian sedikit pun. Akupun cukup berbaik hati karena bisa mengingat nama kalian yang menggelikan itu," kata Rangga terus mengejek.
"Sial! Bocah, rupanya mulutmu perlu dirobek agar tak sembarangan kau buka bacot!" teriak Cangkala sudah terus menyerang pemuda itu.
Namun dengan gerakan manis Rangga berkelit dan melesat cepat ke atas sambil mengayunkan kaki kanannya ke muka lawan.
"Hiyaaat...!"
"Yeaaa...!"
Cangkala terkejut. Gerakan lawan cepat bukan main, dan mengandung tenaga dalam hebat. Kalau saja dia tak buru-buru menghindar sudah barang tentu mukanya akan hancur dihantam tendangan lawan. Tapi senjatanya yang berupa tongkat berujung arit itu langsung menyambar pinggang Pendekar Rajawali Sakti.
"Yeaaa...!"
"Uts!" Tubuh Rangga meliuk-liuk menghindari seperti orang yang sedang menari.
"Modar!"
"Belum, Sobat! Kau masih perlu belajar dua puluh tahun lagi untuk bisa melukaiku!" ejek Rangga sambil terkekeh.
Serangan yang dilakukan Cangkala sebenarnya bukan sembarangan. Dan nama Iblis Gunung Kembar pun bukannya tak diperhitungkan oleh tokoh-tokoh persilatan. Mereka dikenal sebagai pentolan golongan hitam berkelakuan aneh. Ilmu olah kanuragannya terbilang cukup tinggi dan sulit mencari tandingannya. Meski belum tergolong dalam datuk sesat, tak sembarangan orang bisa mengalahkan mereka. Apalagi dalam kemarahannya ini, Cangkala betul-betul menyerang lawan habis-habisan.
Tapi kali ini dia kena batunya. Lawan yang dihadapinya bukanlah tokoh sembarangan. Dari caranya mereka bergerak terlihat bahwa ilmu meringankan Pendekar Rajawali Sakti lebih tinggi dua tingkat dibanding lawan, sehingga terlihat dengan mudah dia mengecoh Cangkala.
"Cangkala, agaknya kau begitu memberi hati pada lawanmu. Biarlah aku turut campur untuk menggebuknya!" teriak Cangkring sudah langsung melesat membantu Cangkala sambil meloloskan senjatanya berupa arit berbentuk besar dan tajam yang biasanya dililitkan di punggungnya.
"Hmm... kenapa bukan sejak tadi kau membantunya" Kalau kalian turun berdua akan lebih mudah bagiku untuk belajar lebih banyak, dan sekaligus menghajar kalian!"
"Bedebah!"
"Yeaaa...!"
"Sriing!"
Rangga meloloskan pedang dan menangkis serangan lawan sambil menggunakan jurus Sembilan Langkah Ajaib. Pada jurus pertama tampak dia mengamati gerakan-gerakan lawan sambil terus menghindar, namun ketika memasuki pertengahan jurus kedua dia mulai menekan dan merubah jurus dengan menggunakan jurus pertama dari lima jurus Rajawali Sakti.
"Hiyaaa...!"
"Hei"!"
"Traaak!"
"Cras!"
"Aakh...!"
Kejadian itu begitu cepat berlangsung, dan tiba-tiba senjata di tangan Iblis Gunung Kembar terpental diiringi pekik kesakitan.
Cangkala dan Cangkring melihat dada mereka tergores lebar. Barulah terbuka mata keduanya bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang tokoh yang berkepandaian tinggi. Tapi sebenarnya ketika pemuda itu merubah jurus, Cangkring telah lebih dulu mengetahui dan serasa mengenalnya. Tapi gerakan pemuda itu lebih cepat lagi membuyarkan ingatannya.
"Hmm... jurus Rajawali Sakti. Apakah kau orang yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Cangkring dengan sikap hati-hati.
? *** "Tak salah. Begitulah orang-orang memanggilku," sahut Rangga tenang.
"Tak sangka hari ini kami bisa bertemu muka dengan pendekar yang namanya telah kesohor di delapan penjuru angin. Kisanak, maafkan kami yang buta tak melihat Gunung Semeru terbentang di depan mata," sahut Cangkring memberi salam penghormatan.
"Kisanak, kau terlalu berlebihan. Aku sama sekali bukan orang hebat. Cuma seorang pengembara biasa yang tak memiliki kepandaian apa-apa. Segala yang ada di diriku hanya berguna untuk mempertahankan diri dan menyelamatkan orang, lain dari marabahaya bila kumampu. Apakah dengan begitu kalian bermaksud memperpanjang urusan ini?"
"Sudilah kiranya menyudahi persoalan ini sampai di sini. Maaf, kami permisi...." sahut Cangkring sambil mengajak Cangkala meninggalkan tempat itu.
Pada dasarnya Rangga tak ingin membuat persoalan lebih panjang lagi. Sempat terlihat dan terdengar olehnya dengan menggunakan ilmu Tatar Netra dan Pembeda Gerak dan Suara bahwa orang itu tak sampai melakukan perbuatan terkutuk itu pada diri si gadis. Maka ketika melihat keduanya bermaksud menyudahi persoalan, Pendekar Rajawali Sakti membiarkan mereka pergi begitu saja.
"Keparat! Kenapa kau melepaskan mereka begitu saja"!" maki si gadis sambil mengenakan bajunya ketika Rangga baru saja melepaskan totokannya.
"Kalau kau bermaksud menghajar mereka susullah. Aku tak mau peduli kalau sekali lagi mereka bertemu denganmu, pastilah mereka dengan mulus melakukan niatnya," sahut Rangga tak peduli.
Gadis itu cuma diam saja sambil mendengus sinis. Melihat bahwa kedua orang tadi dengan mudah mengalahkannya, sudah barang tentu dia tak akan mampu membalaskan sakit hatinya. Padahal isi dadanya seperti meledak-ledak oleh rasa jengkel dan amarah.
Karena tak kuat merasa kesalnya, gadis itu merasa tak berdaya dan baru kali ini dia merasa begitu kecil dan lemah. Tanpa sadar sifat aslinya keluar ketika dia menangis tersedu-sedu sambil duduk di atas sebuah batang pohon yang tumbang.
Rangga bingung sendiri melihat kelakuan gadis itu. Baru saja sebentar bersikap galak, kini malah menangis tersedu-sedu. Dihampirinya gadis itu, dan mematung sesaat sebelum bertanya dengan suara pelan.
"Nisanak, kenapa kau malah menangis" Apa... apa mereka sempat menodaimu...?"
"Pergi kau dari sini! Pergii...!"
"Baiklah. Kalau kau tak menyukai kehadiranku di sini, aku akan pergi," sahut Rangga sambil membalikkan tubuh dan melangkah pelan.
"Brengsek!"
Rangga menghentikan langkah ketika gadis itu memaki keras. Sempat dia menoleh. Terlihat gadis itu berhenti menangis dan menatapnya sekilas sebelum memalingkan wajah ke arah lain. Melihat itu Pendekar Rajawali Sakti kembali melangkah lagi.
"Brengsek! Apakah kau akan meninggalkan aku sendiri di sini"!" bentak gadis itu dengan suara nyaring.
"Bukankah kau muak melihat tampangku?" sahut Rangga tanpa menoleh.
"Iya, aku muak melihat tampangmu! Pergilah kau cepat dari sini!" bentak gadis itu dengan suara kesal.
Dari nada suara gadis itu Rangga bisa menyadari bahwa dia seorang yang tinggi hati, dan tak mau menunjukkan kelemahannya. Meski sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti yakin bahwa gadis itu tak menginginkan dia pergi dari tempat itu. Rangga kemudian mengalah dan kembali menghampiri gadis itu.
"Aku mau kembali ke desa itu lagi. Kalau kau mau aku suka sekali kau temani," kata pemuda itu dengan wajah datar sambil tersenyum.
Gadis itu cuma diam sambil memalingkan wajah, dan tak menyahut sepatah katapun dengan nada cemburu.
"Kau ingin berada di sini sendiri?"
"Apakah kau tak merasa diganggu olehku" Kasihan perempuan itu nantinya akan cemburu," sahut gadis itu sambil memalingkan wajah.
Rangga cuma diam sambil tersenyum-senyum kecil.
"Terserahlah kalau kau menganggap begitu...." sahut Rangga lemah sambil berjalan pelan.
Gadis itu mengikuti dari belakang. Sesaat mereka saling berdiam diri sebelum gadis itu kembali membuka suara.
"Terima kasih atas pertolonganmu...."
"Hmmm...."
"Kalau tak ada kau entah apa yang terjadi padaku...."
Pendekar Rajawali Sakti hanya berdiam diri tanpa menyahut sepatah kata pun.
"Maaf atas kekasaranku tadi. Aku tak bermaksud begitu sebenarnya. Namaku Puspita Sari...."
"Aku Rangga...."
"Kaukah orangnya yang dijuluki Pendekar Rajawali Sakti?"
"Begitulah orang-orang menyebutku."
"Hmm... guruku pernah bercerita banyak tentangmu serta sepak terjangmu. Tak sangka hari ini aku bertemu dengan pendekar hebat."
"Ah, itu hanya nama yang dibesar-besarkan orang saja. Aku tak sehebat apa yang sering kau dengar. Kepandaianku pun tak seberapa." sahut Pendekar Rajawali Sakti merendah.
Gadis itu cuma tersenyum. Rangga membalasnya dengan tersenyum kecil. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu dengan langkah ringan. Baru kali ini dia melihat gadis itu tersenyum dan bersikap ramah. Kelihatan manis dan tak kalah menarik dengan putri raja yang tadi dilihatnya di kereta kencana.
*** ? 6 ? Rangga baru mengetahui bahwa gadis itu pun ternyata menginap di tempat yang sama dengannya. Kamar mereka cuma berselang dua pintu. Tak heran kalau tadi dia sempat melihatnya masuk bersama seorang perempuan. Dan ketika kembali ke tempat itu pun ternyata perempuan yang tadi berada di kamarnya sudah tak ada. Laki-laki berperut buncit serta bermata sipit yang merupakan pemilik rumah penginapan itu cuma mengangguk sambil tersenyum ketika Rangga mengatakan agar perempuan itu jangan berada di kamarnya.
"Sudah bawa sendiri. Den?" tanyanya sambil tersenyum dan melirik Puspita Sari.
"Hus! Jangan sembarangan bicara kau!"
Si pemilik rumah penginapan itu terkekeh kecil.
"Kudengar tadi ada keributan di sini. Apa yang terjadi?"
"Orang misterius itu muncul kembali, dan mengambil korban salah seorang perempuan yang bekerja di tempat ini...." jelas pemilik rumah penginapan itu dengan suara geram.
Rangga mengangguk-anggukkan kepala.
"Apakah tak ada orang yang mengetahui siapa dia?"
"Tidak ada. Dia datang seperti angin saja. Tak seorang pun mengetahui siapa dirinya. Tapi menurut beberapa orang, pastilah dia salah seorang tamu yang menginap di sini."
"Hmmm...."
"Aden tadi tak melihatnya?" tanya pemilik rumah penginapan itu lagi.
Dia berpikir, jika tamunya ini membawa-bawa pedang di punggungnya paling tidak pastilah berasal dari orang-orang persilatan dan sedikit banyak bisa bertindak cepat dan gesit untuk mengetahui apa yang terjadi tadi.
"Tidak. Saya tidak melihatnya...."
"Orang itu memang selalu membuat bencana. Entahlah, rasanya tak ada orang yang mampu menemukannya...."
"Setiap kejahatan pasti selalu akan berakhir dengan kekalahan karena kebenaran pasti akan muncul. Kami turut prihatin, dan mudah-mudahan bisa membantu sedikit nantinya...."
"Oh, syukurlah kalau kalian memang berniat begitu. Paling tidak ada orang yang mau memperhatikan nasib orang lain yang malang. Syukur kalau orang misterius itu cepat tertangkap dan bisa diadili secepatnya...."
Puspita Sari bosan juga mendengar percakapan mereka. Dia buru-buru meninggalkan mereka. Rangga pun kemudian mengikuti dari belakang. Gadis itu tak langsung masuk ke dalam kamarnya, malah duduk di sebuah bangku yang berada di tingkat atas. Rangga berdiri dekat palang kayu dan memperhatikan keadaan di bawah.
"Tidak langsung tidur?" tanyanya pelan.
"Mataku belum ngantuk, lagipula banyak hal yang kupikirkan saat ini...."
"Kau tentu rindu pada orangtuamu...?"
Puspita Sari tersenyum kecil.
"Ya, mereka pasti cemas akan kepergianku. Tapi bukan hal itu yang amat mengganggu...."
"Tentang kedua orang tadi" Kau masih mendendam pada mereka?"
"Mungkin...."
"Hmmm...."
"Orang misterius itu harus kudapatkan!"
"Ada persoalan pribadi dengannya?"
"Ceritanya panjang. Kau pasti bosan mendengarnya...."
"Mataku belum mengantuk, dan saat ini tak ada yang bisa kulakukan. Kalau kau mau bercerita tentu aku suka sekali mendengarnya."
Puspita Sari menghela nafas panjang sebelum berucap lirih.
"Dia telah membunuh tunanganku...."
"Hmm... begitu?"
"Saat itu hari perkawinan kami kurang dari seminggu ketika dia tewas dengan tubuh keriput dan pucat. Darahnya seperti tersedot habis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Rasanya hidupku sudah tak berarti lagi."
"Dan kau pergi mencarinya untuk membalas dendam?"
"Kakek yang sekaligus guruku melarang dan mengatakan bahwa orang itu bukan tandinganku. Tapi aku tak peduli. Dalam benakku ilmu olah kanuragan yang diajarkan kakek sudah lebih dari cukup. Apalagi mengetahui bahwa kakek termasuk tokoh yang disegani di dunia persilatan. Kemudian aku pergi diam-diam tanpa diketahui mereka. Tapi akhirnya aku mengetahui bahwa dunia ini tak sesempit apa yang kukira. Baru beberapa hari mengadakan perjalanan, sudah banyak tokoh-tokoh sakti yang kutemui dan memiliki kepandaian yang lebih tinggi dariku..." ucap gadis itu masghul.
"Ilmu silatmu sebenarnya cukup bagus, hanya gerakanmu masih kaku dan kurang latihan."
"Tapi tetap saja hal itu belum cukup untuk membalaskan sakit hatiku."
"Memang. Kalau kau bermaksud membalaskan sakit hati pada orang itu kau akan sia-sia. Kalau benar orang yang tadi kau kejar adalah dia, tentulah ilmu kepandaian orang itu sangat tinggi dan bukan tandinganmu."
"Entahlah... saat ini aku tak tahu harus berbuat apa," sahut Puspita Sari gelisah.
"Orang itu membuat bencana di mana-mana, meski dia berilmu tinggi tapi musti ada orang yang harus menghentikannya. Aku bermaksud mencari orang itu...."
"Kau sungguh-sungguh"!"
Pendekar Rajawali Sakti mengangguk.
"Oh, terima kasih! Dengan adanya kau ikut turun tangan tentu segalanya akan menjadi mudah!"
"Jangan berharap terlalu banyak. Aku sendiri tak yakin apakah bisa mengalahkannya atau tidak...."
"Kau pasti mampu mengalahkannya!" seru Puspita Sari yakin.
Rangga tersenyum.
"Besok kau boleh pulang ke rumahmu. Tenangkanlah hatimu, biarlah hitung-hitung aku yang membalaskan sakit hatimu padanya."
"Tidak! Aku harus melihat bajingan itu mati di depan mataku!"
"Hmm... dendammu pastilah sedalam lautan."
"Rangga, apakah kau pernah punya kekasih" Kemudian dengan tiba-tiba kekasih yang kau cintai tewas. Padahal sebentar lagi kau akan membina rumah tangga?" tanya gadis itu tiba-tiba.
"Aku tak tahu, tapi bisa merasakan apa yang sedang kau rasakan saat ini. Yang pasti memang aku mendendam, namun bila dendamku tak terbalas biarlah itu menjadi takdir dan Gusti Allah yang akan membalaskannya nanti. Bagaimanapun aku percaya bahwa hidup dan mati bukan ditentukan oleh manusia."
"Kau bisa bicara begitu karena kau tak mengalaminya sendiri!"
"Puspita, di dunia ini masih banyak yang harus kita kerjakan untuk mengisi hidup, bukan sekedar menangisi sesuatu yang telah hilang dari kehidupan. Kau harus merelakan kepergian kekasihmu dan mengisi hari-harimu dengan penuh keriangan."
Puspita Sari terdiam beberapa lama. Suasana terasa sepi, dan sepertinya mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Kemudian terdengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti lirih.
"Maaf, aku tak bermaksud mengajarimu begitu. Tak ada hakku untuk mengatakan apapun padamu. Kau boleh melakukan apa saja yang kau suka. Kalau kau tak suka dengan kata-kataku tadi, kau boleh menganggapnya tak pernah ada...."
"Tidak apa. Sebagian besar kau benar. Hanya bagiku sedikit sulit karena ini merupakan soal yang pelik buatku. Mudah-mudahan seiring dengan perjalanan hari ini aku bisa melupakan dan menyadari apa yang sebaiknya harus kulakukan...."
"Syukurlah kalau kau berpikiran begitu...."
"Hmm.... Rangga, ada yang ingin kutanyakan."
"Apa?"
"Bila kekasih yang kau cintai telah tiada, kemudian kau bertemu dengan seorang gadis yang memikat hatimu. Apakah salah bila akhirnya kau jatuh cinta lagi pada gadis itu?"
Rangga tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Jawablah Rangga...."
"Bagaimana ya" Tentu saja aku beranggapan tak salah."
"Jadi cintamu pada kekasihmu yang pertama tidak begitu mendalam?"
"Tidak begitu. Tapi untuk apa aku harus berlarut-larut dalam kesedihan bila orang yang kita cintai toh telah tiada" Lalu apa salahnya jika ada gadis lain yang memikat hati. Apalagi kalau gadis itu pun ternyata suka padaku. Aku menganggap hal itu tak salah."
"Hmm...." gumam Puspita Sari sambil tersenyum kecil.
Tanpa berkata apa-apa dia masuk ke dalam kamarnya. Rangga bengong sendiri melihat kelakuan gadis itu. Perlahan-lahan dia pun melangkah ke kamarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala bingung.
"Dasar gadis aneh...!" gumamnya pelan.
? *** Pemuda berambut gondrong dengan tubuh agak kurus itu tersenyum kecil ketika gadis di sebelahnya bergelayutan manja di pundaknya. Padahal kedua orangtuanya masih ada di ruang tamu itu.
"Parmi, jangan begitu. Malu dilihat kedua orangtuamu," bisiknya pelan.
"Biarkan saja. Bukankah mereka sudah merestui hubungan kita" Lagipula apa yang musti dimalukan, bukankah sebentar lagi kita akan kawin?" sahut si gadis tak peduli.
"Paling tidak menjaga sopan santun di depan mereka...."
"Ah, Kakang Layang Seta, kau ini terlalu kuno sekali. Apakah kalau aku berdekatan denganmu berarti berbuat tidak sopan di hadapan mereka?"
"Bukan begitu, tapi...."
"Sudahlah. Kalau demikian sebaiknya kita ke belakang saja agar tak terlihat oleh mereka!" potong gadis itu sambil menggamit lengan pemuda itu.
Layang Seta seperti kerbau dicocok hidungnya, cuma bisa menurut saja. Mereka permisi dengan kedua orangtua si gadis dan menuju halaman belakang yang luas dan ditumbuhi pepohonan yang rindang. Di dekat dua buah pohon kelapa terdapat sebuah kolam yang agak lebar. Di bawah sebatang pohon mangga yang beberapa bagian cabangnya melintang di atas kolam itu, Parmi mengajak Layang Seta untuk meneduh.
"Nah, apakah kalau berada di sini kau akan tetap malu juga, Kakang Layang Seta?"
"Kalau di sini siapa yang kumalukan" Justru aku yang khawatir kau akan malu."
"Huh, dasar lelaki!" sahut gadis itu sambil merebahkan diri di pangkuan kekasihnya dan menarik hidung pemuda itu sesaat.


Pendekar Rajawali Sakti 160 Keris Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Layang Seta bergerak cepat dan menangkap pergelangan tangan gadis itu. Kemudian dengan sekali sentak, wajah gadis itu telah berada di dekatnya. Dengan gemas dilumatnya bibir gadis itu hingga gelagapan. Tapi kemudian gadis itu pun membalasnya dengan hangat.
"Selain pemalu ternyata kaupun nakal!" ejek Parmi ketika Layang Seta menyudahi perbuatannya.
"Kau yang membuatku nakal."
"Tak apa-apa, asal kau tidak main serong di belakangku!"
"Hmm... untuk gadis secantikmu buat apa aku main serong?"
"Laki-laki biasanya suka berbohong."
. "Apakah kau tak percaya padaku?"
"Aku percaya padamu, Kakang. Kau tak ada bakat untuk menjadi penipu. Tapi...."
"Tapi kenapa?"
Gadis itu memalingkan wajah, dan menatap pemuda itu agak lama.
"Kakang, hubungan kita meski belum berjalan lama tapi aku merasa dekat denganmu. Aku tak ingin berpisah darimu. Makin cepat kita melangsungkan perkawinan, makin baik kurasa. Tapi setelah sekian lama, apakah kau tak ingin memperkenalkan aku dengan kedua orangtuamu?"
"Bukankah aku sudah katakan pada orangtuamu, bahwa kedua orangtuaku telah tewas dalam kecelakaan di desa kami. Hidupku kini sebatang kara...."
"Jangan bersedih, Kakang. Aku berjanji akan selalu setia dan mendampingi selalu," bujuk gadis itu lirih.
"Dengan adanya kau di sampingku sangat membahagiakan hatiku. Kau mampu mengisi kekosongan hidupku yang selama ini hampa. Mudah-mudahan hal ini akan terus berlangsung selamanya...."
"Aku berjanji, Kakang...."
"Hmmm...."
"Kakang, kulihat kau selalu membawa-bawa keris ini. Tentulah kau sedikit banyak memiliki kepandaian ilmu silat?" tanya Parmi sambil menunjuk pada keris yang terselip di pinggang pemuda itu.
"Hanya sekedar untuk membela diri...."
"Aku jadi teringat cerita orang. Belakangan ini muncul seorang tokoh misterius yang banyak menimbulkan korban yang tewas dengan cara yang mengerikan. Bahkan diantaranya terdapat gadis-gadis. Kasihan mereka. Mendengar cerita itu aku takut sekali, Kakang. Kenapa ada orang yang begitu sadis perbuatannya...."
Layang Seta terdiam beberapa saat mendengar cerita itu.
"Kakang...?"
"Hmmm..."
"Kau berjanji akan melindungiku, bukan?"
"Tentu saja...." sahut Layang Seta dengan suara sedikit bergetar.
Tubuhnya mendadak mulai panas dan terasa sakit seperti ditusuk belasan jarum. Pemuda itu meregang sesaat untuk menahannya.
"Kakang, kau kenapa"!" tanya Parmi kaget.
"Parmi, pergilah dari sini! Pergi tinggalkan aku, cepat!"
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu! Kakang, kau kenapa" Apakah kau sakit?"
"Akh...!"
Layang Seta berteriak kesakitan. Sekujur tubuhnya mulai panas membara dan rasa sakit yang dideritanya semakin tak tertahankan lagi. Pemuda itu bangkit dan mencoba menahannya, tapi rasa sakit itu terus membelenggu dirinya. Pemuda itu mulai berteriak-teriak dan tiba-tiba mencabut keris yang terselip di pinggangnya.
"Kakang...!" jerit Parmi mulai ketakutan bercampur cemas melihat keadaan kekasihnya itu.
"Pergi, Parmi! Cepat tinggalkan aku...!" teriak Layang Seta parau.
Perlahan-lahan dari kulit tubuhnya timbul gelembung-gelembung berisi darah dan nanah. Parmi tak tahan melihat itu dan merangkul pemuda itu dengan wajah cemas.
"Kakang, kau kenapa" Katakanlah padaku, apa yang terjadi padamu"! Kakang, katakanlah! Ka... aaa...!"
"Blesss!"
Gadis itu terpekik kaget ketika keris di tangan Layang Seta menghunjam ke dadanya. Darahnya seperti tersirap dan bergerak cepat mengalir menuju keris itu. Tubuhnya menggelepar dengan sepasang mata melotot seperti menahan ajal.
"Layang Seta keparat! Rupanya kaulah iblis yang selama ini berkeliaran!" bentak seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di tempat itu sambil mengayunkan golok di tangannya.
Orang itu tak lain dari bapak si gadis. Mendengar teriakan yang disusul dengan lolong kesakitan anaknya, buru-buru dia melihat ke halaman belakang dan menyaksikan pemuda yang selama ini dipercaya akan menjadi menantunya ternyata sedang membunuh putrinya dengan cara keji.
Melihat keadaan itu istrinya terpekik kaget. Tapi masih untung dia bisa menguasai diri dan buru-buru membunyikan kentongan. Dalam sekejapan saja terdengar bunyi kentongan yang saling bersahutan dan disusul oleh keluarnya beberapa orang penduduk sambil membawa senjata-senjata tajam.
*** ? 7 ? Layang Seta yang mengetahui perbuatannya diketahui orang, tersentak kaget. Namun lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa gadis di hadapannya ambruk dengan tubuh pucat dan kulit kering keriput. Rasa sakit di tubuhnya berangsur-angsur hilang, dan gelembung-gelembung berisi nanah dan darah perlahan-lahan kembali seperti semula.
"Yeaaa...!"
"Huh!" Layang Seta mendengus garang.
"Crab!"
"Aaa...!"
Laki-laki itu terpekik ketika dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, keris di tangan Layang Seta menghunjam ke perutnya. Tubuhnya menggeletar dan sepasang matanya melotot lebar. Tubuhnya ambruk dalam keadaan sama seperti putrinya. Namun sebelum Layang Seta sempat kabur dari situ, sekonyong-konyong puluhan orang telah mengepung tempat itu dengan rapat.
"Itu dia iblisnya."
"Kepuuung...!"
"Jangan biarkan dia lolos!"
Beberapa orang pemuda desa yang geram dan marah melihat kelakuan Layang Seta, sudah langsung menyerang dengan ganas.
"Yeaaa...!"
"Crab! Crab!"
"Aaaa...!"
"Bajingan keparat! Minggir semua!" bentak seorang laki-laki berkumis tebal menyibak beberapa orang penduduk desa yang terperanjat melihat tiga orang pemuda desa yang menyerang Layang Seta ambruk bermandikan darah ditikam keris di tangannya.
Layang Seta menatap wajah orang itu dengan sikap sinis. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hanya, sepasang matanya yang berkilat tajam seperti harimau akan menerkam mangsa.
"Iblis keparat! Rupanya kau bersembunyi di sini dan berpura-pura menjadi orang baik. Hari ini riwayatmu akan tamat di tangan si Gembong!" dengus laki-laki berkumis tebal itu.
Orang bernama Gembong itu memang terkenal sebagai jagoan desa ini. Meskipun tingkahnya terkadang suka ugal-ugalan, tapi dia tak pernah membuat keonaran. Bahkan tak jarang dia membantu mereka yang kesulitan akibat pemerasan yang dilakukan oleh tuan tanah-tuan tanah di desa ini dengan menghajar centeng-centeng yang suka menghajar para penduduk.
"Hiyaaat...!"
Tubuh Gembong telah mencelat sambil menyabetkan golok ke leher lawan. Namun dengan sedikit memiringkan tubuh, serangannya dengan mudah dielakkan Layang Seta. Bahkan tangan pemuda itu sempat melayang ke tengkuknya setelah kaki kanannya menyikut sebelah kaki lawan. Tak ayal lagi, tubuh Gembong tersungkur mencium tanah.
"Bangsaaat...!" maki Gembong sambil berdiri cepat.
Laki-laki berkumis tebal itu berputar-putar mengelilingi Layang Seta seperti hendak mencari kelemahan lawan. Kemudian dengan satu teriakan nyaring, kembali dia bergerak menyabetkan goloknya dengan gerakan lincah.
"Yeaaa...!"
"Bet!"
"Plak!"
"Aaakh...!"
Gembong kembali menjerit keras. Layang Seta menundukkan kepala menghindari sabetan goloknya. Tangan kanannya menghantam pergelangan tangan lawan, namun dengan gerakan yang gesit Gembong mengibaskan lengan. Tapi tubuh Layang Seta telah berbalik cepat, dan kedua kakinya terangkat tinggi menghantam pergelangan tangan dan dadanya. Untuk kedua kalinya Gembong tersungkur. Tapi kali ini dia agak susah untuk segera bangkit. Goloknya terlepas dari pegangan dan dadanya terasa nyeri akibat tendangan lawan.
"Huh! Tak peduli nyawaku jadi taruhan, tapi orang sepertimu harus lenyap dari muka bumi. Kalau tidak akan lebih banyak lagi korban yang jatuh. Yeaaa...!" dengus Gembong sambil kembali menyerang lawan dengan tenaga penuh.
"Plak!"
"Crab!"
"Aaa...!"
Jagoan desa itu melolong setinggi langit ketika dengan satu gerakan manis. Layang Seta berhasil menghindari kepalan tangannya. Keris di tangannya langsung menghunjam ke jantung lawan tanpa bisa dicegah lagi. Tubuh Gembong menggeletar dan kedua biji matanya melotot seperti hendak keluar. Laki-laki berkumis tebal itu kemudian ambruk dan tak berkutik lagi.
"Biadab! Bunuh si keparat itu beramai-ramai!"
"Cincaaaang...!"
Sambil berteriak-teriak garang beberapa orang penduduk desa itu langsung menyerang Layang Seta dengan kalap. Tapi pemuda itu agaknya masih terpengaruh oleh sifat dari keris yang dipegangnya. Nafsu membunuhnya seperti bergejolak hebat. Dan dengan sekali berkelebat, penduduk desa yang tak memiliki kepandaian ilmu silat itu tewas satu demi satu.
"Cras! Crab!"
"Aaaa...!"
Jerit kesakitan dan pekik kematian bercampur menjadi satu ketika beberapa tubuh ambruk ke tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi. Tapi hal itu bukan membuat orang-orang itu menjadi surut nyalinya, bahkan membuat kemarahan mereka semakin memuncak.
Sementara itu kentong masih berbunyi bertalu-talu dan sambung menyambung hingga ke desa-desa terdekat. Keriuhan terjadi di mana-mana, dan cerita dari mulut ke mulut dari orang-orang yang mengungsi karena takut dengan ancaman pemuda berjiwa iblis itu, seperti hembusan angin yang menyebar ke pelbagai tempat dalam waktu singkat.
Bukan hanya penduduk desa itu saja yang berkerumun dan mengeroyok Layang Seta. Tapi juga penduduk desa lain yang beberapa orang warganya pernah menjadi korban pemuda itu. Mereka berduyun-duyun ingin menyaksikan sekaligus ingin menghajar pemuda itu untuk membalaskan sakit hati.
Beberapa orang jawara-jawara desa telah turun tangan mengeroyok Layang Seta, namun semuanya tewas menemui ajal. Tak seorang pun di antara mereka yang mampu menandingi kehebatan ilmu olah kanuragan pemuda itu. Selain gerakannya yang lincah dan gesit, tenaganya pun kuat seperti tenaga sepuluh ekor banteng liar.
Dalam pada itu tiba-tiba melesat sosok bayangan yang langsung menghadang Layang Seta.
"Iblis jahanam! Berhari-hari kami mencarimu tak sangka akhirnya kau bersembunyi di tempat ini!" bentak salah seorang di antara kelima orang yang baru muncul itu.
? *** Layang Seta cuma memperhatikan mereka satu persatu tanpa menyahut sepatah kata pun. Wajahnya tampak sadis, dan hawa pembunuhan menyatu dalam jiwanya.
Sementara itu melihat kelima sosok tubuh itu agaknya memiliki dendam juga terhadap pemuda itu, penduduk desa yang tadi mengeroyoknya serentak mundur teratur dalam posisi masih mengepung pemuda itu rapat-rapat.
"Bocah, masih ingatkah kau padaku" Beberapa minggu lalu putriku kau bunuh dengan keji. Aku Ki Manuk Srengseng tak bisa menerima begitu saja perlakuanmu. Hari ini kau musti mampus!" dengus seorang laki-laki tua berpakaian putih dengan rambut digelung ke atas.
"Jangan serakah, Ki Manuk Srengseng! Aku pun punya kepentingan dengan nyawa si keparat ini. Dia musti mampus di tanganku!" dengus perempuan tua berpakaian warna-warni di sebelahnya yang memegang sebuah tongkat berhulu kepala ular.
Dalam dunia persilatan perempuan tua ini dikenal sebagai Iblis Cantik Penabur Darah. Meski usianya telah lebih dari tujuh puluh tahun, namun parasnya seperti perempuan berusia empat puluh tahun saja. Wajahnya masih mengguratkan kecantikan di masa mudanya. Tak heran bila dia mendapat julukan seperti itu. Karena selain cantik, dia juga sangat kejam terhadap musuh-musuhnya.
"Nyi Loyang Kuring, dan Ki Manuk Srengseng. Kita tak perlu bertengkar soal manusia satu ini. Sudah jelas perbuatannya yang biadab dan merugikan kita semua. Kita mempunyai urusan yang sama dengannya dan harus diselesaikan bersama-sama pula," ujar seorang laki-laki bertubuh besar dengan janggut panjang seperti kambing.
"Betul apa yang dikatakan Ki Padmo Sasongko. Kita tak perlu bertengkar. Sebaiknya mari diselesaikan secepatnya selagi Iblis Biadab ini masih berada di sini!" sahut salah seorang yang bertubuh kecil dan kurus.
Orang di sebelahnya memiliki bentuk tubuh dan wajah yang sama, karena sesungguhnya mereka bersaudara kembar yang bernama Kurbala dan Kurbali. Orang-orang persilatan mengenal mereka sebagai Sepasang Penari Bukit Kemukus.
Melihat kelima tokoh itu telah berada di sini, pastilah persoalan tidak akan menjadi sederhana. Mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh kosen dunia persilatan. Yang sedikit membingungkan hanya, diantara mereka seperti terjalin kekompakan. Padahal Nyai Loyang Kuring yang dikenal sebagai Iblis Cantik Penabur Darah, serta Sepasang Penari Bukit Kemukus adalah tokoh-tokoh golongan hitam yang selama ini tak pernah mau berkompromi dengan tokoh-tokoh golongan putih seperti Ki Manuk Srengseng dan Ki Padmo Sasongko.
"Apa lagi yang ditunggu" Biarlah aku lebih dulu mengemplang bocah iblis ini!" teriak Nyai Loyang Kuring sambil melesat cepat dan mengayunkan tongkat di tangannya ke arah Layang Seta dengan pengerahan tenaga dalam kuat.
"Yeaaa...!"
Tubuh Layang Seta berputar bagai gasing sambil bergerak ke sana ke mari menghindari serangan lawan. Pemuda itu agaknya mengetahui bahwa lawannya bermaksud menghajarnya dengan cepat. Itulah sebabnya dia tak tanggung-tanggung lagi meladeninya.
"Trak!"
"Plak!"
"Uuuhhh...!"
Nyai Loyang Kuring tersentak kaget. Tongkat di tangannya terbabat kutung menjadi tiga bagian ditebas keris lawan. Belum lagi dia menyadari apa yang telah terjadi, satu tamparan keras menghantam dadanya. Tubuh perempuan tua itu terjungkal sambil mengeluarkan jerit tertahan.
"Hiyaaat...!"
"Bocah keparat, terima seranganku!" teriak Ki Manuk Srengseng sudah terus melompat memapaki serangan lawan ketika Layang Seta bermaksud menghabisi nyawa perempuan tua itu.
"Huh!"
"Yeaaa...!"
"Tras!"
"Bet!"
Ki Manuk Srengseng terkejut setengah mati. Pedangnya terbabat kutung dipapas keris lawan. Masih untung dia cepat menghindar ketika ujung keris lawan sudah terus mengirim serangan susulan. Tapi dia merasa tubuhnya bergoyang terkena angin sambaran serangan lawan. Laki-laki tua itu mendecah kagum mengetahui tenaga dalam lawan yang luar biasa hebatnya.
"Hiyaaat...!"
"Plak!"
"Des!"
"Akh...!"
Ki Manuk Srengseng menjerit kesakitan ketika tubuhnya seperti dihantam sebongkah batu besar. Isi perutnya seperti mau pecah ketika serangannya dapat ditangkis dengan mudah oleh pemuda itu, dan tahu-tahu satu tendangan menyodok perutnya.
"Hmm... hebat kau. Bocah. Tapi jangan kira kau bisa tertawa setelah menjatuhkan kedua orang itu. Meski setinggi apa pun ilmu yang, kau miliki, kami tak akan mundur," dengus salah seorang Sepasang Penari Bukit Kemukus geram.
Bersama dengan saudaranya, serta Ki Padmo Sasongko, mereka bersiap akan menyerang lawan dengan sikap hati-hati sekali. Dua orang berilmu tinggi seperti Ki Manuk Srengseng dan Nyai Loyang Kuring, dengan mudah dijatuhkan pemuda itu. "Yeaaa...!"
Sepasang Penari Bukit Kemukus telah lebih dulu menyerang tanpa canggung lagi menggunakan senjata unik mereka berupa kebutan yang terbuat dari serat halus yang kuat dan tajam. Sementara tubuh Ki Padmo Sasongko mengikuti dari belakang.
"Huh!"
Layang Seta mendengus sinis. Tubuhnya mencelat ke atas sambil bersalto beberapa kali. Namun dua buah kebutan Sepasang Penari Bukit Kemukus mengurungnya dari berbagai arah. Serangan mereka berdua tampak kompak. Belum lagi Layang Seta lepas dari kejaran mereka serangan Ki Padmo Sasongko dengan pedang pendeknya amat merepotkan gerak pemuda itu sesaat.
Tapi sejak awal tadi terlihat bahwa Layang Seta tak pernah mau berlama-lama dengan lawannya. Gerakannya cepat dan terarah dengan mantap. Jurus-jurusnya pun berkesan singkat, namun amat mematikan. Belum lagi tenaga dalamnya yang kuat hingga mampu mendesak lawan habis-habisan.
Lewat empat jurus sudah-mereka menyerang Layang Seta, namun tak sedikit pun mampu melukainya. Bahkan serangan mendadak dari pemuda itu membuat ketiganya terkejut. Keris di tangan Layang Seta bergerak cepat memapas kebutan di tangan Sepasang Penari Bukit Kemukus, serta membuat kutung pedang pendek Ki Padmo Sasongko. Belum lagi mereka menyadari apa yang terjadi, kepalan tangan Layang Seta menyodok keras dada Ki Padmo Sasongko, dan membuat tubuh orang tua itu terpental dua tombak sambil menjerit keras dan menyemburkan darah segar dari mulutnya.
Bersamaan itu pula Sepasang Penari Bukit Kemukus mendapat bagian yang sama ketika tubuh pemuda itu berbalik dan mengayunkan kedua kakinya pada dada lawan dengan telak. Seperti lawan sebelumnya, kedua orang itu terpekik nyaring dengan tubuh terpental jauh.
"Hiyaaat...!"
Layang Seta berteriak nyaring dan mengejar mereka dengan maksud menghabisi nyawa ketiganya dengan segera. Namun pada saat itulah melesat sesosok bayangan yang terus menghantamkan satu pukulan jarak jauh dari arah depan.
"Keparat laknat! Hentikan perbuatanmu!"
*** ? 8 ? Layang Seta terpaksa mengalihkan perhatian dan mengangsurkan telapak tangannya pada sosok bayangan yang muncul itu.
"Yeaaa...!"
Sosok bayangan itu berputar menghindari seperti mengikuti irama gerak Layang Seta yang bersalto menghindari pukulan lawan. Keduanya kemudian menjejakkan kaki pada jarak dua tombak dan waktu yang bersamaan.
"Hmm... kau rupanya!" dengus Layang Seta sinis begitu melihat seorang pemuda tampan berambut panjang terurai memakai baju rompi putih.
"Tak salah dugaanku. Ternyata memang kaulah orangnya," sahut pemuda yang tak lain dari Rangga, alias si Pendekar Rajawali Sakti.
Bersamanya tampak Puspita Sari yang berlari kecil menyusul. Gadis itu menjerit cemas ketika melihat salah seorang di antara kelima orang penyerang Layang Seta terluka cukup parah. Orang itu tak lain dari Ki Padmo Sasongko.
"Kakeeeek...!"
"Cucuku Puspita Sari..." seru Ki Padmo Sasongko lemah dengan nafas megap-megap dan menahan rasa nyeri di dadanya.
"Kek, kenapa kau berada di sini?" tanya Puspita Sari cemas sambil memangku laki-laki tua yang tak lain dari kakeknya itu.
"Aku tak bisa membiarkan kau pergi sendiri...."
"Kek, aku sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri!"
"Puspita, kau adalah cucuku satu-satunya. Kesedihanmu adalah kesedihanku juga. Aku tak bisa membiarkanmu pergi sendiri untuk membalaskan sakit hatimu pada orang itu. Tapi percuma, orang itu ternyata berilmu tinggi. Kau lihat" Kami berlima saja dapat dikalahkannya dengan mudah," keluh Ki Padmo Sasongko lirih.
"Kek, tenangkanlah hatimu. Hari ini si Keparat itu musti mampus. Kakek tahu siapa orang yang datang bersamaku?" tanya Puspita Sari sambil tersenyum kecil.
"Siapa...?" tanya Ki Padmo Sasongko dengan wajah bingung dan dahi berkerut.
"Pendekar yang sering kau ceritakan padaku!"
Wajah Puspita Sari tampak berseri ketika menjelaskan hal itu. Namun dilihatnya wajah orang tua itu tetap berkerut dengan tatapan bingung.
"Pendekar Rajawali Sakti!" lanjut Puspita Sari dengan wajah cemberut karena kakeknya tak mengerti juga arah pembicaraannya.
"Hmm... benarkah"!" tanya Ki Padmo Sasongko seperti tak percaya pada pendengarannya sendiri.
Puspita Sari cuma mengangguk tak bergairah. Niatnya untuk mengejutkan kakeknya itu terputus karena tadi orang tua itu tak cepat tanggap pada perubahan raut wajahnya.
Sementara itu Rangga, alias Pendekar Rajawali Sakti tampak bersiap menghadapi Layang Seta yang menganggap rendah pada pemuda berbaju rompi putih itu.
"Huh! Apakah kau mempunyai niat yang sama dengan mereka"!" tanya Layang Seta mendengus sinis.
"Kisanak, kulihat kepandaianmu cukup hebat, tapi sayang semua itu menjadi bencana bagi orang lain. Meski aku memiliki kepandaian sedikit biarlah kucoba untuk menghentikan bencana yang kau tebar ke mana-mana," sahut Rangga santai.
"Ha-ha-ha...! Pintar kau bicara. Sobat. Pergilah kau dari sini dan jangan mencampuri urusanku. Mengingat di antara kita tak ada permusuhan aku sungkan bertarung denganmu!"
"Kisanak, aku akan pergi setelah kau berhenti membuat bencana. Tapi jangan harap aku pergi kalau belum memastikan hal itu."
"Sial! Rupanya kau tak bisa diajak berbaik-baik segala. Kalau kau ingin mampus majulah cepat!" dengus Layang Seta mulai naik darahnya.
Melihat hal itu Pendekar Rajawali Sakti tersenyum tipis. Dia menyadari bahwa pemuda itu sedang dibakar amarahnya sendiri.
"Hmm... kenapa aku yang musti mampus" Kaulah yang sudah sepatutnya mampus. Aku pasti akan hidup seribu tahun lagi."
"Keparat! Mestinya sejak tempo hari kupecahkan kepalamu!"
"Akulah yang waktu itu berbaik hati padamu. Saat kau sedang bertarung dengan gadis itu mestinya aku sudah bisa membokong dan membunuhmu. Juga saat kau terlena dalam dekapan dua orang perempuan penghibur di rumah penginapan itu, mestinya sudah kubunuh saja sebelum kau mendapatkan korbanmu gadis yang malang itu," sahut Rangga terus membakar amarah Layang Seta.
"Tutup bacotmu, Kisanak! Kau akan kubuat kojor seperti yang lainnya."
"Yeaaa...!" teriak Layang Seta sudah langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan sengit dan mengerahkan tenaga dalam kuat.
Agaknya dia menginginkan dalam sekali serang pemuda berbaju rompi putih itu akan tewas, atau paling tidak cidera berat. Namun dengan gerakan yang gesit. Rangga menghindar sambil bersalto beberapa kali ke belakang punggung lawan. Layang Seta terus mengejar sambil membalikkan tubuh. Kepalan tangan dan tendangan kakinya bergerak seiring menghantam tubuh lawan.
"Yeaaat...!"
"Plak!"
"Uts!"
Pendekar Rajawali Sakti terkejut. Angin serangan lawan hebat luar biasa dan sempat membuat tubuhnya bergetar. Belum lagi serangan keris di tangannya yang membuat kulit tubuhnya seperti diiris-iris.
Rangga menyadari bahwa ilmu silat lawan mempunyai gerakan yang cepat dan terarah langsung pada tujuan tanpa adanya bunga-bunga untuk mengecoh lawan. Hal itu sebenarnya mudah ditebak. Tapi yang terjadi justru membuat dia sedikit kecewa karena gerakan Layang Seta sulit diterka.
Dalam waktu sejurus lagi kalau dia terus menggunakan tangan kosong untuk menghadapi lawan, pastilah dia akan tewas atau paling tidak terkena senjata lawan yang mengerikan seperti hendak menyedot darahnya ketika berdekatan. Mau tak mau Pendekar Rajawali Sakti terpaksa mencabut pedang pusakanya.
"Sriiing!"
*** "Hiyaaat...!"
Bersamaan dengan itu Layang Seta menjerit keras sambil mengayunkan keris sakti ke arah Pendekar Rajawali.
Seberkas cahaya biru yang ke luar dari pedang pusaka di tangan Rangga berkelebat cepat memapaki.
"Trang!"
Keduanya tersentak kaget ketika senjata itu beradu. Percikan bunga api mengiringi suara berdenting kencang. Tubuh keduanya bergetar hebat. Tapi Layang Seta sudah langsung menyerang lawan kembali ketika Pendekar Rajawali Sakti bersiap menggunakan jurus Sembilan Langkah Ajaib untuk menghindari serangan lawan.
"Yeaaa...!"
Pada saat Rangga mencabut pedangnya tadi, barulah kelima tokoh persilatan yang berada di situ tersentak kaget.
"Pendekar Rajawali Sakti!" desis Ki Manuk Srengseng.
"Sial! Kukira dia sudah berusia lanjut. Rupanya masih bocah! Tapi kurang ajar sekali bocah sepertinya sudah memiliki ilmu silat setinggi itu!" maki Nyai Loyang Kuring tak karuan seperti pada dirinya sendiri.
"Kenapa rupanya. Nyai" Apakah kalau dia sebaya denganmu kau akan jatuh cinta?" ejek salah seorang dari Sepasang Penari Bukit Kemukus sambil tersenyum.
"Diam kau, Banci! Siapa yang bertanya padamu"!" bentak Nyai Loyang Kuring galak.
Orang itu langsung membungkam mulutnya mendengar bentakan Nyi Loyang Kuring.
Sementara itu pertarungan antara Layang Seta dan Pendekar Rajawali Sakti terus berlangsung alot. Layang Seta yang sebenarnya cuma memiliki tiga jurus ilmu silat yang berasal dari tulisan yang ada di badan keris itu, mampu mengembangkannya menjadi beberapa gerakan lain yang sama kuatnya dengan gerakan inti. Kali ini dia telah menggunakan jurus ketiga untuk mendesak lawan.
Pendekar Rajawali Sakti bukannya tak menyadari tekanan lawan. Berkali-kali nyaris tubuhnya disambar keris lawan yang bergerak bagai iblis dan mempunyai kekuatan hitam dan bersifat menyedot darah manusia.
"Kisanak, terimalah kematianmu!" teriak Layang Seta sambil menyorongkan telapak tangannya ketika Pendekar Rajawali Sakti sibuk menghindari serangannya yang tadi beruntun.
Dari telapak tangannya itu melesat seberkas sinar berwarna hitam pekat bercampur merah. Itulah pukulan maut Layang Seta yang diberi nama Sinar Maut Warisan Setan. Siapa pun yang terkena pukulan itu tak akan selamat. Bukan saja tubuhnya akan hancur tanpa bentuk, tapi meski benda sekeras apapun selagi makhluk bernyawa tak akan luput dari racun maut pukulan itu.
"Semua menjauh! Awas, pukulan ini beracun...!" teriak Rangga memperingatkan orang-orang yang berada di situ sambil melompat menghindari pukulan lawan.
Bersamaan dengan orang-orang yang lari serabutan menyelamatkan diri, termasuk kelima tokoh persilatan dan Puspita Sari, saat itu juga terdengar ledakan keras yang disusul sebatang pohon besar tumbang terkena hajaran pukulan Layang Seta.
"Huh! Keparat! Memang kau bisa meloloskan diri tapi kali ini tidak lagi. Tubuhmu akan hancur tanpa bentuk. Kalaupun kau mampu menahannya, umurmu tak akan lama!" desis Layang Seta garang.
Bersamaan dengan itu wajah Layang Seta tampak berkerut. Tangan kanannya disorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka. Pendekar Rajawali Sakti mengetahui bahwa lawan akan mengerahkan pukulan seperti tadi, maka dia pun telah bersiap-siap sejak tadi.
Dari telapak tangan sampai siku Pendekar Rajawali Sakti tampak bayangan halus seberkas sinar berwarna biru yang menyelubunginya. Agaknya dia telah bersiap menghadapi lawan dengan menggunakan aji Cakra Buana Sukma, dan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk menandingi serangan lawan.
"Yeaaa...!"
"Hiyaaaat...!"
Sambil berteriak nyaring tubuh Layang Seta mencelat cepat bagaikan kilat sambil menghantamkan pukulan ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
Tubuh Rangga bersalto beberapa kali menghindari. Kemudian sambil membentak nyaring kedua telapak tangannya disorongkan ke depan sambil bergerak cepat ke arah lawan. Layang Seta tak sempat menghindar lagi. Satu-satunya jalan adalah menangkis sambil menyambut serangan lawan.
"Tap!"
Kedua telapak tangan mereka bertemu. Pendekar Rajawali Sakti kemudian meremas jari-jari tangan lawan dengan wajah berkerut menahan geram.
Sebaliknya Layang Seta terus mengerahkan tenaga dalamnya untuk menekan hawa dorongan yang terpancar dari kedua telapak tangan lawan. Namun alangkah terkejutnya dia manakala merasakan rasa sakit mulai menyerang tubuhnya akibat pengaruh hawa panas yang datang dari aji Cakra Buana Sukma. Kemudian hawa panas itu seperti berputar-putar di bawah pusarnya dengan leluasa. Layang Seta dengan sekuat tenaga berusaha menghentikan gerakan hawa itu, namun sepertinya dia tak mempunyai kekuatan dan daya sama sekali. Perlahan-tahan hawa panas itu kembali keluar lewat telapak tangannya dan mengalir kencang ke tubuh lawan.
"Heh"!" Layang Seta berseru kaget.
Tenaga dalamnya seperti terus tersedot seiring dengan hawa panas yang tadi melesat cepat keluar dari bawah pusarnya. Sekuat tenaga dia berusaha mencegah. Tapi makin keras dia menahan agar tenaga dalamnya jangan sampai tersedot, semakin deras hawa murninya terus berpindah ke tubuh Pendekar Rajawali Sakti.
"Keparat! Hentikan! Hentikaaaan...!" teriaknya kalap.
Namun cengkeraman kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti seperti tak tergoyahkan walaupun dia berusaha berontak sekuat tenaganya.
"Aaah...!"
Layang Seta terpekik nyaring. Tubuhnya terasa lemas, namun Pendekar Rajawali Sakti seperti tak berhenti melepaskannya meski lawan telah memekik kesakitan. Sampai ketika terjadi ledakan hebat, barulah tubuh Pendekar Rajawali Sakti melompat sambil membuat beberapa lompatan.
"Glaaaar...!"
"Hiyaaaat...!"
*** Orang-orang yang berada di situ terperanjat kaget seperti tak percaya pada apa yang mereka lihat. Tubuh Layang Seta hancur seperti terkena ledakan hebat. Tak jauh dari situ tampak Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak sambil memandang tajam ke arah tubuh lawan yang telah tercerai berai.
"Rangga! Kau tak apa-apa?" jerit Puspita Sari cemas sambil berlari kecil menghampiri pemuda itu.
"Aku tak apa-apa...."
"Aku cemas sekali. Kukira kau tak akan mampu menghadapi si Keparat itu. Syukurlah dia sudah mampus. Dia telah mendapat ganjaran yang setimpal atas perbuatannya," sahut Puspita Sari sambil menggeram puas.
Gadis itu belum lagi sempat menumpahkan kecemasannya ketika beberapa orang penduduk desa mengerubungi Pendekar Rajawali Sakti. Mereka mengucapkan terima kasih dan memuji-muji kehebatan pemuda itu. Tapi hal itu malah membuat Rangga menjadi jengah. Dengan berbagai alasan akhirnya dia berhasil menghindar dari mereka dan meninggalkan tempat itu diiringi Puspita Sari.
"Lho, kau tak pulang bersama kakekmu?"
"Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa pulang sendiri nantinya."
"Bukankah beliau berkelana ingin mencari mu?"
"Ya, tapi kakek ada sedikit keperluan dulu di desa itu. Kebetulan ada salah seorang kenalannya yang mengundang beliau. Sedang yang lainnya telah meninggalkan tempat itu ketika mereka merasa yakin bahwa kau mampu mengalahkan lawanmu," sahut Puspita Sari.
"Sekarang kau mau ke mana?"
"Aku akan mengembara lagi!"
Rangga menggelengkan kepala sambil mendecah.
"Tidakkah kau belajar banyak dari pengalamanmu sekarang?"
"Apa?"
"Banyak orang jahat yang berkepandaian tinggi di dunia ini. Kalau kau tak pintar dan membawa perasaan sendiri, maka kau akan menjadi mangsa yang empuk!"
"Tapi dengan adanya kau, mana mungkin ada orang yang berani menggangguku."
"Apa maksudmu"!" tanya Pendekar Rajawali Sakti kaget.
"Aku mau ikut kau ke mana saja berkelana!"
"Tidak bisa!"
"Aku tak peduli kau mau mengajakku atau tidak. Aku akan terus menguntitmu dari belakang."
"Bandel! Aku tetap tak bisa mengajak siapa-siapa untuk berkelana. Tak peduli kau mau mengikuti atau tidak. Aku pergi!" sahut Pendekar Rajawali Sakti sambil melesat cepat dengan menggunakan ilmu lari cepatnya.
Tapi Puspita Sari sudah menduga hal itu. Makanya dia pun langsung sigap dan melesat cepat mengikuti pemuda itu dari belakang. Tapi setelah beberapa lama dia musti mengakui bahwa ilmu lari cepat pemuda itu sungguh luar biasa. Beberapa saat saja dia telah kehilangan jejak. Namun ketika telinganya tiba-tiba mendengar suara suitan sayup-sayup di kejauhan, dia langsung memburu ke sana.
Gadis itu dibuat kecewa dan kesal habis-habisan. Tak ada siapa-siapa di tempat itu. Yang ada cuma seekor rajawali raksasa yang terbang semakin tinggi membumbung angkasa. Dia memandang agak lama seolah ingin meyakinkan bahwa hewan itu peliharaan pemuda yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Kalau benar, pastilah dia telah melayang entah ke mana.
Dengan wajah masghul dan langkah ragu, gadis itu meninggalkan tempat itu dan kembali ke desa tadi menemui kakeknya.
? SELESAI ? ? Scanned by Clickers
Edited by Lovely Peace
Pdf by Abu Keisel
? www.duniaabukeisel.blogspot.com
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017

Pendekar Rajawali Sakti 160 Keris Iblis di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tragedi Berdarah Diponorogo 2 Dewa Arak 85 Golok Kilat Petualangan Manusia Harimau 2

Cari Blog Ini