Ceritasilat Novel Online

Ratu Wajah Maya 1

Pendekar Rajawali Sakti 156 Ratu Wajah Maya Bagian 1


" . 156. Ratu Wajah Maya Bag. 1
14. Februar 2014 um 07:57
? Pendekar Rajawali Sakti
episode: RATU WAJAH MAYA
Oleh Teguh S. Penerbit Cintamedia, Jakarta
? ? 1 ? Telah lama Rangga yang juga Raja Karang Setra tidak kembali mengunjungi kerajaannya. Pendekar Rajawali Sakti ini hanya berharap mudah-mudahan keadaan di sana aman dan tenteram. Dari sini memang akan memakan waktu dua hari perjalanan berkuda bila ingin ke Karang Setra. Dan niatnya sudah bulat kalau Rangga akan pulang serta beristirahat untuk beberapa saat, sebelum melakukan perjalanan kembali. Telah lama negerinya ditinggalkan. Dan rasa rindu di hati semakin menyentak-nyentak saja.
Memikirkan semua itu, Pendekar Rajawali Sakti segera menggebah kudanya kencang-kencang.
"Ayo, Dewa Bayu! Kita harus secepatnya tiba di Karang Setra. Kau pun tentu sudah rindu, bukan"!" ujar Pendekar Rajawali Sakti.
Hewan itu meringkik, kemudian mendengus kasar. Baru saja kuda itu berlari kencang...
Wesss...! Mendadak pendengaran Pendekar Rajawali Sakti yang tajam menangkap angin berdesir di belakang, Rangga terkesiap. Disadari, ada sesuatu yang mengancam di belakangnya.
"Hup!"
Pemuda itu melompat dari punggung kudanya. Lalu tubuhnya berputaran beberapa kali untuk menghindari sesuatu yang mengancam keselamatannya.
Begitu Rangga menjejakkan kaki di tanah, ternyata tidak ada serangan lain. Dan pemuda itu segera mengamati keadaan sekelilingnya. Setelah merasa yakin kalau penyerang gelap itu tidak berada di sini lagi, perlahan-lahan kepalanya menoleh pada benda yang tadi hendak menyambarnya. Ternyata, sebuah anak panah menancap pada sebatang pohon. Dan pada batang anak panah terlilit selembar kulit tipis yang biasa digunakan sebagai kertas surat.
"Hm... Perbuatan iseng siapa pula kali ini?" gumam pemuda itu seraya mengambil anak panah dan membuka isi surat di dalam gulungan.
? Pendekar Rajawali Sakti! Apakah kau tidak bisa menemukanku" Atau barangkali aku yang mesti menemukanmu" Tapi bila hal itu terjadi, maka kebinasaanmu semakin dekat!
? Ratu Wajah Maya
? "Sial! Sudah dua kali dia memperdayaiku dengan mengirim surat seperti ini. Siapa Ratu Wajah Maya ini sebenarnya" Dan, apa yang diinginkannya dariku?" keluh Pendekar Rajawali Sakti dengan hati mendongkol sambil menghampiri Dewa Bayu.
Setelah menyimpan surat itu, Rangga melompat ke punggung kudanya. Matanya kembali beredar ke sekeliling. Dahinya berkerut seperti sedang berpikir. Dan sebenarnya, isi surat ini memang sempat membuatnya kembali berpikir.
Kemarin, ketika niat di hatinya begitu keras ingin kembali ke Karang Setra, di dekat sebuah kedai yang berada di dalam desa pertama yang dilalui, seorang bocah perempuan mendekat dan menyodorkan sepucuk surat pada Rangga. Ketika ditanya, siapa yang menitipkan surat itu, si bocah menunjuk seorang nenek. Tapi, si nenek yang ditunjuknya telah lenyap entah ke mana. Isi surat itu sama seperti surat yang baru saja diterimanya.
Pendekar Rajawali Sakti berusaha mengingat, apakah memiliki musuh bernama Ratu Wajah Maya" Namun setelah berpikir lama, tidak juga ditemukannya. Kemudian, disimpulkannya kalau orang itu adalah salah seorang kerabat dari tokoh yang pernah tewas di tangannya. Mungkin ingin balas dendam atau menuntut balas.
Namun bila dugaannya benar demikian, kenapa sosok itu tidak langsung muncul saja" Bukankah dia telah menemukan dirinya" Kenapa harus bersembunyi" Atau barangkali menunggu saat yang tepat"
Seribu pertanyaan mulai bergayut di benak Rangga. Ketika menerima surat yang pertama, hatinya tidak terlalu terusik. Hanya saja Pendekar Rajawali Sakti mulai waspada, sebab seseorang telah mengancamnya. Namun setelah menerima surat kedua ini, mau tidak mau pikirannya kembali bertambah. Dan demikian pula kewaspadaannya. Pemuda itu merasa tidak bisa lagi bepergian dengan santai. Malah kini segala panca inderanya dikerahkan setiap saat agar musuh tidak membokong dari belakang.
Sebelum habis pikiran Rangga tentang surat itu, mendadak....
"Tolong...! Tolooong...!"
"Heh"!"
Rangga terkesiap ketika mendengar jeritan seseorang, di tengah kesunyian hari bolong ini.
"Ayo, Dewa Bayu! Coba kita lihat, apa yang terjadi!" seru Pendekar Rajawali Sakti seraya menggebah kudanya ke kanan, asal teriakan itu.
? *** Jeritan itu memang berasal dari seorang wanita yang tengah dikerubuti empat orang laki-laki berwajah kasar. Seorang memegangi tangan kanannya. Seorang lagi menarik tangan kiri. Sementara seorang memeluk pinggangnya dari belakang. Sedang orang keempat tengah menyeringai lebar di depan wajahnya.
Gadis itu berusaha berontak. Namun cekalan laki-laki itu begitu kuat sehingga dia sama sekali tidak mampu melepaskan diri.
"Oh, tolong! Tolooong...!"
"He he he...! Berteriaklah sepuasmu. Di tempat sepi ini, mana ada yang bersedia menolongmu" Kau akan tetap di sini dan meladeni kami, Cah Ayu," sahut laki-laki di depannya disertai tawa lebar penuh kebuasan.
"Bajingan keparat! Enyahlah dari hadapanku! Melihat mukamu saja sudah jijik. Apalagi berdekatan denganmu!" maki gadis itu, garang.
"Hua ha ha...! Kau kira bisa berbuat apa terhadap kami, Cah Ayu" Lebih baik menurut, dan jangan bertingkah."
"Setan! Huh! Aku lebih suka mati ketimbang disentuh kalian! Enyah kataku! Pergi...!" teriak gadis berbaju kuning gading ini seraya memandang ke sekeliling tempat ini. Dan dia berharap seseorang lewat untuk menolongnya.
"Huh! Kau hanya membuang kesabaranku saja, Anak Manis! Aku tidak bisa bertahan lebih lama. Kau boleh berteriak sesuka hatimu. Tapi, ingat! Tidak akan ada yang menolongmu"!" dengus laki-laki di hadapannya.
"Huh, Bajingan Busuk! Kau memang bisa berbuat apa saja. Tapi begitu ada kesempatan, aku akan bunuh diri daripada hidup menanggung aib!" balas gadis cantik ini dengan sikap tidak kalah garang.
"Persetan dengan ocehanmu itu...!" desis laki-laki itu. Dan dia bersiap menerkam si gadis.
Namun belum lagi niatnya terlaksana, mendadak....
"Kuharap hentikan perbuatan busuk kalian!"
Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar yang diiringi berkelebatnya satu bayangan putih ke arah para pemerkosa.
"Heh"!"
Belum sempat hilang rasa terkejut keempat lelaki itu, bayangan tadi sudah mendarat ringan di depan mereka. Rupanya, sosok bayangan itu adalah seorang pemuda tampan berompi putih, dengan pedang bergagang kepala burung di punggung.
"Bocah lancang! Siapa kau, he"!" bentak laki-laki yang tadi berdiri di depan gadis berbaju kuning gading.
Laki-laki itu berusia empat puluh tahun. Biji mata kirinya mendelik keluar. Dan agaknya, dialah pemimpin dari ketiga kawannya. Dia berkacak pinggang sambil meludah dengan wajah geram.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Lepaskanlah gadis itu. Dan, pergilah kalian dari sini!" sahut pemuda berbaju rompi putih itu datar.
"Phuih! Anak kemarin sore mau memerintah Empat Gandrik Setan"! Hei, Bocah! Pulang dan minta netek pada ibumu! Minggat cepat sebelum kupotes batok kepalamu!" bentak laki-laki itu. Matanya melotot lebar hendak menakut-nakuti.
"Hm.... Empat Gandrik Setan. Mestinya kalian tidak usah menakut-nakuti begitu. Aku memang mau pulang, tapi beserta kepala kalian berempat," sahut pemuda yang tidak lain Pendekar Rajawali Sakti kalem.
"Kurang ajar...!" mata orang tertua dari Empat Gandrik Setan makin lebar membelalak mendengar jawaban Pendekar Rajawali Sakti.
Demikian pula tiga dari Empat Gandrik Setan lainnya yang berusia tidak jauh berbeda. Pemuda itu sungguh lancang dan tidak tahu diri. Bahkan ucapannya tadi membuat mereka marah bukan main!
"Bedebah! Biar kuhabisi sekalian!" desis salah satu dari Empat Gandrik Setan yang bernama Gandarwoto. Goloknya sudah dicabut, dan siap menebas leher Pendekar Rajawali Sakti.
Gandarwoto memiliki tubuh besar dan kumis tebal melintang. Adatnya memang penaik darah. Sehingga tanpa menunggu perintah orang tertua dari Empat Gandrik Setan, langsung diterjangnya pemuda ini.
"Modar kowe, Bocah Kunyuk!" bentak Gandarwoto geram.
"Uts!"
Rangga cepat bagai kilat melompat ke kiri. Sehingga golok laki-laki berkumis hanya menebas angin.
"Kurang ajar! Punya kepandaian juga rupanya kau"! Huh, baik! Kau rasakan yang satu ini!" bentak Gandawoto semakin geram.
Laki-laki berkumis melintang itu kembali melompat sambil menebaskan golok beberapa kali ke arah Rangga. Gerakannya cepat dan dari angin tajam yang bersiur kencang, nyata terasa kalau seluruh tenaga dalamnya dikerahkan untuk menghabisi pemuda itu secepatnya.
"Yeaaat! Yaaap...!"
"Haiiit...!"
Namun hanya menggunakan jurus "Sembilan Langkah Ajaib", Pendekar Rajawali Sakti mampu menghindari setiap serangan dengan mudah. Saat golok menebas perut, tubuhnya bergerak sedikit ke belakang sambil miring ke kanan. Dan ketika senjata itu menyambar leher pemuda itu menunduk. Kemudian tubuhnya bersalto sambil melepaskan satu tendangan keras mengancam dada.
"Hiiih!"
"Uhhh...!"
Gandarwoto terkesiap. Buru-buru dia berusaha memapas tendangan pemuda itu dengan goloknya. Namun Pendekar Rajawali Sakti cepat menarik kakinya. Kemudian seperti menjatuhkan diri, kakinya menyambar pinggang. Dan ini tidak bisa dielakkan, apalagi ditangkis Gandarwoto.
Des! "Aaakh...!"
*** Gandarwoto jatuh terjerembab. Namun dia cepat bangkit kembali dengan amarah makin meluap.
"Kunyuk sial!" Kupotes batang lehermu, Keparat..!" dengus laki-laki berkumis melintang ini.
"Huh, cecunguk seperti kalian hanya bisa menggertak!" sahut Rangga kalem.
"Haram jadah...! Mampus...!"
Bet! Wut! Rangga memiringkan kepala ke kiri ketika golok Gandarwoto kembali menyambar. Lalu tubuhnya membungkuk, saat senjata itu menyambar ke dada. Dan tahu-tahu, pemuda itu melayangkan kepalan tangan ke perut Namun, dengan sigap Gandarwoto mengibaskan golok. Dengan sekali tebas, dia bermaksud memenggal tangan dan leher Pendekar Rajawali Sakti.
Wuk! "Uts! Heaaa...!"
Dengan pengalaman yang sudah sangat matang Pendekar Rajawali Sakti menjatuhkan diri, tepat di bawah selangkangan Gandarwoto. Kemudian kedua kakinya terayun gesit menghantam perut.
Des! "Aaakh...!"
Gandarwoto menjerit lebih keras ketika tubuhnya kembali terjungkal.
"Hup!"
Pendekar Rajawali Sakti melompat, dan kembali tegak berdiri sambil tersenyum dingin.
"Tidak perlu kita lanjutkan urusan ini lebih lama. Pergilah. Dan, tinggalkan gadis itu...," ujar Rangga datar.
"Meninggalkan gadis ini dan membiarkannya bersamamu"!"
Orang tertua dari Empat Gandrik Setan membelalakkan mata dengan suara nyaring.
"Kenapa tidak?"
"Ha ha ha...! Bocah kunyuk! Kau kira aku tidak tahu akal bulus yang kau pakai" Huh! Setelah kami tinggalkan, maka kau akan leluasa menggagahi gadis ini seorang diri!" kata pemimpin gerombolan ini, yang sebenarnya bernama Turangga.
"Bisa jadi. Maka, pergilah kalian!" kata Rangga makin kesal.
"Phuih! Apa pangkatmu berani mengusirku"!" dengus Turangga.
"Untuk mengusir orang-orang seperti kalian, tidak perlu pangkat tinggi-tinggi. Orang sepertiku, sudah cukup melakukannya."
"Bocah sombong! Biar kusobek mulutmu biar tidak sembarangan bicara!" desis seorang anak buah Turangga yang bernama Ragawi.
"Tidak! Biar aku saja yang memberi pelajaran padanya!" seru seorang lagi dengan sikap tidak kalah garangnya. Dia bernama Jaladri.
"Tidak usah saling rebutan!" bentak Turangga.
Ragawi dan Jaladri terdiam saat Turangga memandang dengan tajam. Juga ketika Gandarwoto menghampiri dengan langkah tertatih. Mukanya pucat dan tangan kiri mendekap perut, seperti masih merasakan sakit yang tidak kunjung sirna.
"Kita beri bocah itu pelajaran yang tidak terlupakan! Ayo, cepat!" lanjut orang pertama Empat Gandrik Setan.
"Baik! Kita bagi tugas. Dan masing-masing, akan mendapat anggota tubuhnya yang berbeda. Aku ingin tengkorak kepalanya!" seru Jaladri dengan wajah gembira, penuh semangat.
Mereka segera mengepung Pendekar Rajawali Sakti. Sementara itu gadis yang menjadi calon korban Empat Gandrik Setan telah bersembunyi di balik pohon dan memandang dengan wajah cemas. Disadari kalau keempat laki-laki itu akan mengeroyok pemuda yang menjadi penolongnya. Wajahnya cemas, mungkin memikirkan jika penolongnya celaka di tangan keempat orang jahat itu.
"Huh! Kali ini aku tidak akan memberi ampun lagi padamu!" dengus Turangga, geram.
Laki-laki itu menyipitkan mata sebelum memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyergap.
Srak! Set! Serentak Ragawi dan Jaladri mencabut golok. Sementara Gandarwoto telah bersiap pula dengan senjatanya. Dia mencoba membokong Pendekar Rajawali Sakti dari belakang.
"Habisi bocah kunyuk ini!" bentak Turangga seraya mengacungkan golok ke atas sebagai isyarat.
"Heaaa...!"
"Hup!"
Begitu tiga orang menyergap bersamaan, Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke atas. Sehingga serangan itu kandas. Bahkan mereka satu sama lain nyaris mencelakakan kawan sendiri. Namun, tidak demikian Turangga. Kepandaiannya sedikit di atas ketiga kawannya. Sehingga saat Rangga melompat ke atas, dia langsung melompat sambil menyabetkan golok ke arah perut.
Wuk! Rangga cepat menarik perutnya. Dengan demikian senjata golok itu hanya menyambar angin. Bahkan Pendekar Rajawali Sakti cepat melakukan serangan balasan. Ujung kaki kanannya menyambar ke perut. Namun, dapat ditangkis oleh Turangga. Sayang, gerakan pemuda itu cepat dan sulit diikuti. Baru saja tangannya menangkis, maka kaki Pendekar Rajawali Sakti itu telah melayang ke pelipis. Dan....
Des! "Akh...!"
Orang tertua dari Empat Gandrik Setan mengeluh tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Ketiga kawannya coba kembali menyergap, saat Pendekar Rajawali Sakti baru saja menjejakkan kedua kakinya di tanah.
"Heaaa...!"
"Huh...!"
Pendekar Rajawali Sakti mendengus geram. Tahu-tahu tubuhnya telah berkelebat. Dan....
Duk! Begkh! "Aaakh...!"
Tiba-tiba terasa angin kencang menyapu tiga orang kawan Turangga. Sebelum disadari apa yang akan menimpa, kembali terasa hantaman keras menimpa dada serta perut ketiganya. Mereka memekik keras dan jatuh terjerembab.
Rangga tidak berhenti sampai di situ. Begitu Turangga akan membokongnya dari belakang, tubuhnya berputar seraya mengayunkan tendangan.
Plak! Begkh! "Aaakh...!"
Golok di tangan Turangga terpental begitu tendangan Pendekar Rajawali Sakti terus menghantam dadanya.
Turangga jatuh terjungkal. Sementara Pendekar Rajawali Sakti menangkap goloknya, lalu langsung menempelkannya ke leher Turangga sebelum sempat bangkit.
"Bawa kawan-kawanmu pergi dari sini! Kalau tidak..., mereka akan melihat kepalamu berpisah dari tempatnya!" desis Rangga mengancam.
"Eh! Baik..., baik...," sahut Turangga dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Cepaaat!" bentak Rangga seraya melompat, membiarkan laki-laki itu berdiri.
Empat Gandrik Setan agaknya benar-benar ketakutan. Dan mereka segera lari terbirit-birit tanpa berani menoleh lagi.
?????? "Huh!"
Rangga mendengus sinis. Golok di tangannya dibuang, sedangkan keempat orang itu sudah tidak terlihat lagi.
? *** ? 2 ? "Kisanak.... Oh, terima kasih atas pertolongan-mu. Kalau kau tidak lewat, entah apa jadinya diriku
ini!" ucap seorang gadis berpakaian kuning gading pa-da Rangga yang baru saja menolongnya.
"Sudahlah.... Kini kau aman...," sahut Rangga.
"Tapi..., aku masih takut...," ujar si gadis se-raya menunduk dan memalingkan muka.
"Takut kenapa?"
"Mereka pasti akan menggangguku lagi...," sa-hut gadis itu dengan nada cemas.
"Mereka tidak akan berani mengganggumu!" te-gas Rangga, meyakinkan.
"Kau tidak kenal, siapa mereka!" keluh gadis itu
lagi. "Huh! Aku banyak kenal penjahat tengik seperti
mereka. Orang seperti mereka akan lari terbirit-birit bi-la telah dicundangi."
"Empat Gandrik Setan tidak seperti itu...."
"Apakah kau kenal mereka, Ni...," ucap Rangga
terputus. "Panggil saja aku Endang Sari," potong gadis
berpakaian kuning gading itu.
"Hm. ya.... Endang Sari.... Apakah kau kenal
mereka?" Rangga mengulangi pertanyaannya.
"Mereka sering merampok desa kami," sahut
Endang Sari. "Telah lama aku ingin membalas den-dam. Namun, selalu tidak pernah tersampaikan. Bah-kan akhirnya mereka yang hendak melakukan perbua-tan nista terhadapku."
"Ingin balas dendam" Bukankah, itu sama saja
cari penyakit?"
"Aku tahu! Tapi, masih banyak cara untuk
membunuh mereka."
"Dengan cara apa?"
"Yaaah, kubuntuti mereka. Lalu menunggu saat
lengah. Kemudian, baru kubunuh mereka dari bela-kang," sahut Endang Sari, enteng.
Rangga menggeleng lemah disertai senyum ke-di.
"Kau memang gadis pemberani. Tapi harus in-gat, bahwa tidak selamanya rencana itu berjalan mu-lus."
Endang Sari hanya mendengus sinis dengan
wajah ditekuk. Kelihatan kalau hatinya belum merasa
puas dengan kejadian tadi.
"Kenapa kau biarkan mereka pergi begitu saja"
Orang seperti itu harusnya dibunuh agar tidak meng-ganggu orang lain!" cibir gadis itu.
"Kita tidak boleh membunuh sembarang orang
sebelum mengetahui jelas siapa dan apa kesalahan-nya...."
"Kenapa tidak" Aku tahu kesalahannya! Mereka
rampok, dan pembunuh. Itu sudah cukup alasan ka-lau mereka sepatutnya mendapat hukuman!" sahut
Endang Sari garang.
Rangga terdiam. Dia menghela napas panjang.
"Sudahlah.... Tidak usah membicarakan mere-ka lagi. Sebaiknya, kembalilah ke desamu...," lanjut
Pendekar Rajawali Sakti dengan nada datar.
"Kau mengusirku...?" tanya Endang Sari, tak
suka dengan suara pelan. Wajahnya tampak memelas,
sehingga membuat Rangga merasa iba bercampur lu-cu.
"Tidak. Tapi kini kau telah aman dari mereka.
Dan di antara kita tidak ada urusan lagi. Oleh sebab
itu, sebaiknya kau kembali ke desamu. Kedua orang-tua mu tentu tengah mencemaskanmu."
"Aku bukan anak kecil yang harus dikhawatir-kan lagi!" sahut Endang Sari ketus.
"Memang kau bukan anak kecil. Tapi, kau seo-rang wanita. Dan, tidak baik bila wanita keluyuran
jauh dari rumah. Banyak bahaya mengancam yang ti-dak disadari. Pulanglah segera," bujuk Rangga.
Gadis itu terdiam, dan kembali menunduk.
"Kenapa" Apalagi yang kau tunggu?" tanya
Rangga. "Aku tidak tahu, ke mana harus pulang...," sa-hut gadis itu sedih.
"Ya tentunya dari mana kau berasal!"
"Rumahku sudah rata dengan tanah. Bahkan
kedua orang tua serta saudara-saudaraku telah tia-da...," lanjut Endang Sari lirih.
Kali ini Rangga yang terdiam. Dipandanginya
gadis itu barang sesaat. Wajahnya manis. Usianya se-kitar dua puluh tahun. Sepasang matanya bening dan
seperti bercahaya saat memandang lawan bicaranya.
"Musibah apa yang menimpamu, sehingga kau
kehilangan semuanya...?" tanya Rangga.
"Banjir. Desa kami dilanda banjir hebat. Dan
semua rumah penduduk rata oleh tanah, terbawa air.
Entah ke mana. Saat itu, aku tengah ke sawah men-gantar makanan untuk ayah. Dia terkejut, dan ber-maksud pulang untuk menyelamatkan ibu dan adik-adikku. Tapi, pada akhirnya beliau pun hanyut terba-wa air yang bukan main derasnya saat itu...," jelas En-dang Sari dengan mata berkaca-kaca. Dan kepalanya
segera berpaling ketika pemuda itu coba berdiri di ha-dapannya.
Rangga terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.
Cerita yang baru saja didengarnya membuat hatinya
terhanyut rasa pilu.
"Apakah tidak ada lagi sanak-saudaramu di
tempat lain...?" tanya Rangga setelah melihat kesedi-han Endang Sari mulai berkurang.
"Tidak...."
"Hm.... Lalu apa rencanamu saat ini?"
"Entahlah...," sahut gadis itu lemah.
Endang Sari menoleh, memandang Pendekar
Rajawali Sakti beberapa saat.
"Kau telah menolongku. Dan aku terikat hutang
budi padamu. Apakah boleh kalau aku mengabdi pa-damu...?"
? *** ? "Apa"!" Rangga terkesiap mendengar kata-kata
gadis itu. Endang Sari mengulang permintaannya dengan
wajah memelas. Dia tampak lugu. Malah sama sekali
tidak berpikir jauh ke depan. Padahal hal seperti itu
yang dipikirkan Rangga. Tidak mungkin dia membawa
gadis ini ke mana-mana!
"Tidak! Aku tidak bisa...."
"Kenapa" Kau malu memiliki abdi sepertiku?"
tanya gadis itu dengan wajah memohon.
"Bukan begitu. Tapi, banyak hal yang harus
kau ketahui. Aku seorang pengembara. Dan rasanya,
tidak pantas berjalan dengan seorang gadis yang be-lum kukenal. Apa jadinya bila orang-orang mencerita-kan kita. Itu aib."
"Katakan saja aku budakmu. Atau, apamu. Lagi
pula peduli amat dengan ocehan orang," desak Endang
Sari. "Tidak! Tidak bisa...!" tegas Rangga seraya melompat ke punggung kudanya.
"Kalau kau tidak mau menerimaku sebagai ab-dimu, maka aku akan tetap duduk di sini memohon
sampai kau mengabulkannya!" ancam gadis ini seraya
berlutut dengan kepala menunduk.
Rangga menghela napas. Matanya melirik seki-las, lalu menggebah kudanya pelan.


Pendekar Rajawali Sakti 156 Ratu Wajah Maya di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Maaf, aku tetap tidak bisa...," ucap Rangga be-gitu Dewa Bayu melangkah.
Gadis itu tetap tidak beranjak dari tempatnya
bersimpuh. Bahkan saat jarak mereka telah terpaut
jauh. Rangga sesekali menoleh. Dan tampak gadis itu
masih bersikap seperti saat ditinggalkannya. Dia
menggerutu kesal, lalu berbalik cepat menghampiri
kembali. "Endang Sari, bila kau berkeras mengikutiku
sebagai apa pun, aku tidak bisa mengabulkannya. Ti-dak layak rasanya. Dan lebih dari itu, aku tidak tahu
kau harus bawa ke mana. Bila ke tempat tinggalku, ti-dak mungkin. Aku telah memiliki kekasih. Dan aku ti-dak mau dia salah paham atas kehadiranmu!" Rangga
mencoba memberi pengertian.
"Aku berjanji tidak akan merusak hubungan
kalian..."
"Mungkin saja. Tapi secara tidak langsung, te-tap saja kau akan membuatnya cemburu."
"Aku bisa menjelaskan padanya..."
Rangga menghela napas panjang seraya meng-geleng kesal.
"Mungkin kau sudah kutolong. Tapi, aku sama
sekali tidak mengharapkan apa-apa sebagai imbalan-nya. "
"Itu tidak mungkin. Kau tahu, dalam adat keluarga kami, telah tertanam dalam kebiasaan untuk
membalas setiap kebaikan seseorang. Aku tidak punya
sesuatu untuk membalasnya. Maka kuserahkan diriku
menjadi abdimu," sahut Endang Sari mantap.
Pemuda itu berpikir sejenak, kemudian terse-nyum kecil.
"Baiklah. Kalau begitu, kuterima usulmu...."
"Jadi kau mengabulkannya"! Oh, terima kasih!
Terima kasih...!" sahut Endang Sari seraya meman-dang Rangga dengan wajah berseri-seri.
"Eh, bukan begitu maksudku...!" potong Rang-ga cepat.
Gadis itu menghentikan senyumnya. Kemudian
dipandangnya Rangga dengan wajah bingung.
"Lalu..., apa maksudmu?"
"Bukankah kau ingin balas budi padaku?"
Endang Sari mengangguk.
"Nah! Aku akan meminta sesuatu, dan kau ha-rus mengabulkannya."
Endang Sari terdiam, menunggu pemuda itu
meneruskan kata-katanya.
"Keinginanku adalah..., kau tidak boleh menja-di abdiku. Kau bebas pergi ke mana saja!"
"Aku tidak bisa mengabulkannya," sahut gadis
itu cepat. "Kenapa tidak?"
"Karena persoalan pertama belum lagi tuntas.
Aku telah bersedia menawarkan diri. Dan suka mau-pun tidak, kau harus menerimaku menjadi abdimu,"
sahut Endang Sari gamblang.
Lagi-lagi Rangga menghela napas panjang. Kini
hatinya terasa kesal. Senyum kemenangan yang tadi
tersungging di bibir, kembali sirna. Bahkan berganti
dengan raut wajah penuh kejengkelan. Gadis ini betulbetul keras kepala, dan tidak mau beringsut dari pen-diriannya. Dan kalau tidak dikabulkan, tentu akan ne-kat untuk terus bersimpuh di sini.
"Tahukah kau, siapa aku?" tanya Rangga.
Rangga bermaksud memancing. Dia ingin me-nakut-nakuti gadis itu, kalau dirinya bukan orang
baik-baik, melainkan tidak kalah bejat dengan keem-pat orang tadi.
"Tahu, tapi sedikit...."
"Bagus! Kalau demikian, kau tahu pula betapa
berbahaya bila berjalan denganku. Bisa saja aku ber-buat lebih bejat dibanding keempat orang tadi!" gertak
Rangga. Endang Sari mengangkat wajah. Dipandangnya
pemuda itu sambil tersenyum kecil.
"Kenapa aku harus berpikir begitu" Kau tidak
ada bakat seperti mereka. Sebab, aku tahu siapa diri-mu. Lagi pula, seseorang yang berniat jahat tidak akan
mengatakan sebelumnya. Tapi, kau telah mengatakan-nya. Dan itu pertanda kalau kau sekadar menakut-nakutiku," sahut Endang Sari dengan bola mata me-mancarkan kecerdikan.
Rangga menggerutu sendiri mendengar jawaban
gadis itu. "Sudah! Aku tidak peduli apa pun yang terjadi
denganmu. Yang jelas, kau tidak boleh mengikutiku!"
sentak Rangga kesal.
Baru saja Rangga hendak menggebah ku-danya...
"Kau tidak peduli pada siapa pun" Apakah ter-masuk kepada Pandan Wangi...?"
"Heh"!"
Betapa terkejutnya Rangga. Niatnya seketika
dihentikan. Kepalanya menoleh dan memandang gadis
itu dengan wajah heran.
"Apa yang kau katakan" Dari mana kau tahu
soal Pandan Wangi segala"!" tanya Pendekar Rajawali
Sakti. "Kenapa tidak" Karena aku tahu siapa kau,
maka kenapa tidak bisa mengetahui siapa kekasih-mu...?" sahut Endang Sari, enteng.
"Tidak banyak orang mengetahuinya. Lantas
dari mana kau tahu?" desak pemuda itu, memandang
curiga. "Sudah kukatakan. Dan kau tidak mempeduli-kannya. Apakah kau ingin memperdebatkan hal ini,
atau menolong Pandan Wangi?"
"Apa maksudmu"!" sentak Rangga semakin ka-get.
"Orang-orang itu menculik kekasihmu...."
"Huh! Ocehanmu semakin ngawur! Kau coba
mengelabuiku!" desis Rangga, berusaha menepis
bayangan buruk yang tiba-tiba merasuk benaknya.
"Terserah pendapatmu. Tapi, aku melihat sen-diri dia ditangkap dan diseret beberapa orang laki-laki.
Kepandaian mereka hebat, sehingga kekasihmu berha-sil diringkus. Aku bermaksud menolong, tapi apalah
daya" Sebab, aku tidak memiliki kemampuan. Maka
kuputuskan untuk mencarimu dan memberitahukan-nya," sahut Endang Sari, menjelaskan.
Rangga terdiam beberapa saat, kemudian me-mandang tajam pada gadis itu.
"Tunjukkan padaku, di mana mereka menyekap
Pandan Wangi!"
"Boleh saja. Tapi, kau harus berjanji menga-bulkan permintaanku tadi."
"Hm, baiklah. Nah! Naik ke belakangku!"
Gadis itu segera melompat ke belakang Pendekar Rajawali Sakti. Dan mereka pun segera berlalu dari
sini. ? *** ? Sebenarnya salah satu yang membuat niat
Rangga kembali ke Karang Setra adalah juga karena
rindu kepada Pandan Wangi. Dan kini, Pendekar Raja-wali Sakti mendengar gadis itu tertangkap! Maka bu-kan main terkejutnya dia. Apa yang menyebabkannya
tertangkap" Apakah Pandan Wangi hendak mencari di-rinya karena telah lama tidak pulang ke Karang Setra"
Dengan perasaan tidak sabar, Pendekar Raja-wali Sakti memacu kudanya kencang-kencang agar bi-sa tiba di tujuan secepat mungkin.
"Masih jauhkah tempatnya?" tanya pemuda itu
di sela-sela desir angin kencang yang membuat gadis
di belakangnya kalang-kabut membenahi rambutnya.
"Tidak. Sebentar lagi!" sahut Endang Sari ber-getar, karena rasa takut. Memang seumur hidup, baru
kali ini dia menunggangi kuda yang bisa berlari bagai
kecepatan kilat.
"Sejak tadi kau mengatakan sebentar lagi. Lalu,
tidak lama lagi. Kemudian tidak jauh lagi! Yang mana
bisa kupercaya"!" ujar pemuda itu bernada kesal.
"Sabarlah... Sebentar lagi pun kita akan tiba...."
Rangga hanya mendengus dalam hati. Namun
tidak berapa lama gadis itu menunjuk ke suatu tem-pat.
"Di sana! Sebaiknya kita berhenti di sini. Mere-ka bukan orang sembarangan. Dan sedikit saja ada
suara ribut, mereka akan mengetahui kehadiran orang
asing!" gadis itu memperingatkan.
Rangga segera menghentikan laju kudanya. Se-telah turun dari punggung Dewa Bayu. Pendekar Rajawali Sakti menuntunnya, berjalan bersama Endang
Sari yang telah lebih dulu turun. Kini, Rangga mema-sang indera pendengarannya tajam-tajam sambil berja-lan mengikuti Endang Sari yang telah mengendap-endap di depannya.
"Kau lihat rumah panggung di sana?" tunjuk
gadis itu ketika mereka menyelinap di balik pohon
yang di bawahnya banyak ditumbuhi semak-semak le-bat.
Rangga mengangguk seraya memperhatikan
keadaan sekitarnya. Tampak sebuah rumah panggung
berukuran besar dan terbuat dari jalinan kayu-kayu
yang tersusun rapi. Di teras depan serta di bawahnya,
terlihat banyak orang berjaga-jaga. Pakaian yang me-reka kenakan amat aneh, dan hanya sekadar menutu-pi aurat belaka. Wajah mereka penuh coreng-moreng
warna hitam, putih, dan kuning. Masing-masing mem-bawa sebatang tombak.
"Mereka seperti sekelompok suku pedala-man...!" gumam Rangga.
"Memang! Tapi jangan anggap enteng. Sebab,
aku telah melihat kemampuan mereka beberapa kali,"
Endang Sari kembali mengingatkan.
"Hm.... Kau sepertinya tahu banyak. Sangat ti-dak pantas bagi wanita desa...."
"He"! Bukankah aku telah katakan" Meski wa-nita desa, namun demi mencari Empat Gandrik Setan
atau telah banyak berkelana dan banyak pula melihat
kejadian aneh. Apa hebatnya" Kaupun tentu bisa
mengetahuinya karena pengetahuanmu hasil penga-laman selama berkelana," potong gadis ini cepat.
"Eee, sudah diam! Jangan cerewet...!"
Endang Sari menunjukkan wajah cemberut
mendengar pemuda itu menyentak begitu rupa.
"Kau punya akal, apa yang harus kita lakukan
sekarang?" tanya Rangga.
Gadis itu diam tidak menjawab.
"Hm, baiklah. Kalau begitu biar kutanya lang-sung pada mereka," sahut pemuda ini, menjawab sen-diri pertanyaannya.
Rangga bangkit, bermaksud menghampiri
orang-orang yang ada di depan. Melihat itu, Endang
Sari buru-buru menarik tangan Pendekar Rajawali
Sakti, dan membawanya kembali merunduk.
"Gila! Apa kau mau mati konyol" Bukan begitu
caranya!" desis gadis itu melotot.
"Lalu bagaimana?"
Gadis itu memandang Rangga sesaat.
"Kau bisa bergerak cepat, bukan?"
Pendekar Rajawali Sakti mengangguk.
"Nah! Aku akan mengalihkan perhatian para
penjaga. Setelah mereka beranjak, maka cepatlah ma-suk ke dalam dan bebaskan kekasihmu," sahut gadis
itu. Rangga ingin menanyakan akal apa yang diper-gunakan untuk memancing agar para penjaga berpin-dah dari tempatnya, namun Endang Sari telah pergi
dan tidak mengindahkan panggilannya. Sehingga ter-paksa dia menunggu sambil memandang ke arah le-nyapnya Endang Sari. Lalu kepalanya kembali berpal-ing mengawasi orang-orang di depannya.
"Heh"!"
Pendekar Rajawali Sakti terkesiap ketika ter-dengar ribut-ribut di depan sana. Dan ketika berpaling
ke satu arah, terlihat nyala api yang merambat cepat
menuju ke arah rumah di depannya, melalap apa saja
yang menghalangi.
Para penjaga terkejut, langsung lari kalangkabut. Ada yang berusaha mencari air untuk mema-damkan api, ada juga yang berlari ke dalam rumah.
Sementara, ada yang memukul kentongan. Namun ke-banyakan dari mereka kalang-kabut untuk memadam-kan nyala api.
"Ini barangkali yang dilakukan gadis itu!" gu-mam Rangga, langsung melompat dan mengerahkan
ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi.
Tubuhnya berkelebat cepat, menyelinap ke rumah
panggung di depannya.
"Hup!"
Rangga melompat ke samping, lalu mencelat ke
atas. Disibaknya atap rumbia rumah ini. Dan setelah
melihat ke dalam kalau keadaan aman, pemuda itu
melompat turun.
Ruangan ini sepi. Mata Pendekar Rajawali Sakti
menyelidik ke segala penjuru dengan sorot tajam. Lalu
sambil berjingkat, ditelusurinya kamar demi kamar
yang lain. Begitu memasuki sebuah kamar yang cukup
besar, pemuda itu terkejut melihat pemandangan yang
ada di depannya.
"Pandan Wangi..."!" seru Rangga kaget.
? *** Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . Notice Melde dich an, um fortzufahren.
Bei anmelden Neues Konto erstellen
info ? 2017 " 156. Ratu Wajah Maya Bag. 3
14 ?"?"?"" 2014 ". " 7:59
?3 ? Pendekar Rajawali Sakti melihat sebuah kayu berbentuk lingkaran yang melekat di dinding dan bisa berputar. Di kayu itu tampak seorang gadis berbaju biru dengan kedua tangan dan kaki terkembang, masing-masing terikat tambang yang amat liat. Mulutnya pun tersumbat. Bola matanya tampak bercahaya, begitu melihat siapa yang muncul di ambang pintu. Namun kegembiraannya segera berganti, tatkala gadis itu mendelik garang. Sepertinya dia hendak memberitahu sesuatu pada pemuda itu.
"Hmhf...! Hemmff...!"
"Ada apa"
Rangga terkesiap. Namun segera disadari bahaya yang mengancam jiwanya, ketika terasa angin berkesiur di belakangnya.
Set! "Hup!"
Dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti melompat ke samping, begitu menyadari bahwa yang mengincarnya ternyata sebatang tombak. Dan baru saja kakinya menjejak tanah beberapa buah anak panah kembali menyambar dengan kecepatan kilat
"Hup! Yeaaat..!"
Crab! Pendekar Rajawali Sakti kembali melenting tinggi. Setelah berputaran beberapa kali, tubuhnya melesat menerjang beberapa sosok bertelanjang dada yang berada di belakangnya. Salah seorang dari mereka bukannya menghindar, malah langsung memapaki serangan Pendekar Rajawali Sakti.
Plak! Duk! Tendangan Rangga dapat ditangkis. Demikian pula pukulannya. Bahkan saat tubuhnya berbalik dan kembali berusaha menyodok ke arah dada, orang-orang bermuka coreng-moreng itu berhasil menangkis. Dari tangkisan tadi, Rangga bisa merasakan kalau tenaga dalam lawan-lawannya cukup hebat.
"Heaaa...!"
Kini tiga orang balas menyerang. Mereka langsung menghunuskan tombak ke arah Rangga. Cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti melambung ke atas menembus atap yang tadi dikuaknya. Sementara orang-orang bertelanjang dada itu tak sudi membiarkan buruannya lolos. Mereka mengejar keluar dengan kecepatan kilat.
"Hiyaaat!"
Baru saja Pendekar Rajawali Sakti mendaratkan kakinya di tanah, orang-orang yang lebih mirip suku pedalaman ini telah menyerangnya kembali.
"Heaaa...!"
Disertai bentakan keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti membalas serangan menggunakan jurus-jurus dari lima rangkaian jurus "Rajawali Sakti" tingkat menengah. Tapi serangan Rangga dihadapi dengan tenang. Mereka mampu bergerak menghindar dengan gesit, saat merasakan pemuda itu mengerahkan tenaga dalam untuk menyerang.
Sementara, tiga orang berwajah coreng-moreng yang lain mengancam lewat serangan tombak. Serangan mereka memang tidak bisa dibuat main-main. Sebab jurus-jurus yang digunakan nyatanya bukan jurus sembarangan. Tak heran kalau Rangga merasa kerepotan juga dibuatnya.
"Kurang ajar...!" dengus Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga melompat ke belakang, bermaksud mendekati gubuk tempat Pandan Wangi terikat. Bila ada kesempatan, dia akan membebaskannya secepat mungkin. Namun rencananya tidak berjalan mulus, sebab beberapa orang telah melompat dan berdiri tegak di depan Rangga dengan sikap mengancam.
"Sial!" pemuda itu kembali memaki.
Pelataran di sekitar rumah-rumah itu telah di penuhi orang-orang yang berwajah penuh coreng-moreng. Mereka bersenjata pedang serta tombak. Dan rasanya tiada kesempatan bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk lolos. Rangga sendiri berada persis di tengah-tengah mereka, dan orang-orang ini siap merencahnya. Apa yang dikatakan Endang Sari ternyata bukan isapan jempol belaka. Mereka memiliki kepandaian hebat dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Padahal, bila melihat keadaannya, orang-orang ini seperti suku yang tidak memiliki keahlian khusus dalam ilmu kanuragan.
"Jangan coba-coba menghalangiku! Gadis yang kalian tawan adalah kawan dekatku. Dan tidak seorang pun yang kubiarkan mencelakainya!" dengus Pendekar Rajawali Sakti seraya memandang orang-orang itu sambil memutar tubuhnya.
"Kau boleh mengambilnya bila mampu!"
Mendadak satu suara menyahut. Nadanya terdengar dingin seperti mengejek.
Pendekar Rajawali Sakti cepat menoleh ke arah asal suara. Dan dia melihat yang berbicara tadi ternyata seorang wanita berpakaian amat menyolok. Wajahnya ditutupi topeng kayu agak lebar berwarna-warni. Tubuhnya langsing dan pinggulnya besar. Pada bagian atas tubuhnya yang tertutup hanya payudaranya saja. Dan di bagian bawah, dari perut sampai bagian paha, hanya ditutupi sekadarnya.
"Kaukah kepala suku mereka?" tanya Rangga.
"Bisa dikatakan begitu...!"
"Kenapa kau menangkap kawanku?"


Pendekar Rajawali Sakti 156 Ratu Wajah Maya di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aku melakukan apa saja yang kusuka. Dan tak ada seorang pun yang boleh menghalangi!"
"Kali ini kau melakukannya pada orang yang salah. Lepaskan gadis itu. Atau, kalian akan terima akibatnya!" ancam Pendekar Rajawali Sakti.
Mendengar ancaman itu, mereka yang berada di tempat ini langsung tertawa lebar. Demikian pula wanita bertopeng itu.
"Hi hi hi...! Kau hendak mengancam kami" Boleh coba bila mampu! Tunggu apa lagi" Ayo, bebaskan kekasihmu itu. Atau, barangkali kau ingin lebih dulu membantai kami"!" sahut gadis bertopeng itu dengan sikap menantang sambil berkacak pinggang.
"Kurang ajar! Agaknya kalian tidak bisa dikasih hati. Aku telah cukup memberi peringatan. Maka jangan salahkan bila aku bertindak kasar!" dengus pemuda itu seraya mencabut pedangnya.
Sring! "Ah...! Sebilah pedang yang bagus!" seru gadis bertopeng ini tatkala melihat cahaya biru terpancar dari batang pedang Pendekar Rajawali Sakti.
Yang lainnya ikut berdecak sambil menggelengkan kepala. Namun seruan kaget mereka lebih terasa sebagai pujian belaka, bukan sebagai pertanda ketakutan!
*** Sementara itu, beberapa orang telah mengeluarkan Pandan Wangi dari gubuk. Di bawah todongan senjata, dan dalam keadaan tertotok pada pinggulnya, gadis berjuluk si Kipas Maut berjalan membelah kepungan. Karena yang ditotok bagian pinggul, gadis itu hanya mampu berjalan tanpa mampu menggerakkan anggota tubuhnya yang lain.
"Aku tidak peduli, apakah kalian mengerti atau tidak isyarat ini! Masih ada kesempatan untuk berbaik bila kalian melepaskan gadis itu," lanjut Rangga sambil memandang kasihan pada Pandan Wangi yang berada di bawah ancaman senjata.
"Melepaskannya" Hi hi hi...! Tidak! Sekali-sekali tidak! Apa yang telah kuperoleh tidak pernah kulepas begitu saja. Dan kau sendiri, apa yang hendak kau lakukan" Membunuh kami" Atau sekadar mengancam...?" ejek wanita bertopeng ini.
"Nisanak, percayalah. Aku akan berbuat apa saja untuk membebaskan gadis itu. Harap kalian mengerti dan tidak mengajakku untuk bertindak keras," sekali lagi Rangga mengancam dengan nada datar.
"Hi hi hi...! Lucu. Sangat lucu! Siapa yang bertindak keras dan siapa yang memulai"!" ejek kepala suku orang-orang pedalaman ini.
"Kalian telah menangkap gadis itu. Bahkan menahannya seperti hewan!" dengus Rangga kesal.
"Itu salahnya sendiri. Dia memasuki kawasan kami tanpa izin. Dan menurut peraturan, dia harus mati. Tapi kami punya kebijaksanaan yang tidak main hantam saja...."
"Apa maksudmu?"
"Dia telah kami beri kesempatan untuk minta maaf. Tapi, ternyata dia keras kepala. Sehingga hukuman mati lebih tepat baginya," jelas wanita bertopeng.
Rangga menoleh kembali pada Pandan Wangi yang tengah tertotok.
"Benarkah begitu, Pandan?" tanya Rangga.
"Huh! Kenapa Kakang mesti percaya ocehan mereka"! Orang-orang ini tidak beradab. Mana mereka mengerti sopan-santun segala!" sahut Pandan Wangi. Saat itu, sumpalan pada mulutnya telah dilepas.
"Tapi tidak ada salahnya bila kau meminta maaf, bukan?" desak Rangga.
"Aku tidak sudi! Bila aku salah, mungkin saja akan minta maaf lebih dulu. Tapi dalam hal ini, aku tidak bersalah. Maka untuk apa minta maaf segala"!" dengus si Kipas Maut semakin geram.
"Pandan.... Aku ingin persoalan ini diselesaikan secara baik-baik. Minta maaflah pada mereka. Dan mungkin persoalan akan selesai..."
"Huh! Tidak semudah itu!" sahut gadis bertopeng itu memotong ucapan Rangga.
"Lalu, apa maumu sebenarnya?" tanya Rangga, menatap tajam pada gadis bertopeng.
"Bagi kami, kesempatan meminta maaf hanya sekali. Dan gadis itu telah diberi kesempatan namun ditolak. Maka dia harus menemui kematiannya!" jelas gadis bertopeng, menegaskan. Nada suaranya terdengar ketus.
"Nisanak, ternyata kalian memang tidak bisa diajak berbicara baik-baik. Bahkan sengaja mencari urusan...," sahut Rangga dingin.
Kemarahan Pendekar Rajawali Sakti yang mulai reda, kini bangkit kembali perlahan-lahan.
"Tidak usah berlagak di sini! Kau masuk wilayah kami. Dan kini, seenaknya pula memasuki rumah ini. Kau adalah tawanan kami. Dan kau lebih pantas mendapat hukuman mati!" dengus gadis bertopeng lantang seraya mengetuk tongkat ke tanah.
Dua orang berwajah coreng-moreng yang berada di dekat Pandan Wangi bergerak cepat. Yang seorang kembali menyumbat mulut si Kipas Maut kembali. Sementara yang seorang lagi menyeretnya menuju gubuk tempat gadis itu disekap.
Darah Rangga seketika menggelegak. Jelas, mereka tahu kalau gadis itu kekasihnya. Dan mereka juga tahu kalau dia tengah mengancam. Tapi ancamannya sama sekali tidak diindahkan. Bahkan mereka berani berbuat seperti itu di depannya"
"Kurang ajar...!"
Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke arah Pandan Wangi sambil mengibaskan pedang untuk menghalau orang-orang yang coba menghalangi niatnya. Sinar biru berkilauan berkelebat laksana sapuan kilat.
"Heaaa...!"
Rangga langsung menyambar kepala dua orang berwajah coreng-moreng dengan pedangnya Namun kedua orang ini cukup tangkas dalam menangkis dengan tongkatnya.
Trak...! "Heh"!"
Pendekar Rajawali Sakti terkesiap. Tongkat yang digunakan orang-orang berwajah coreng-moreng untuk menangkis, seperti tongkat biasa saja. Bahkan sama sekali tidak istimewa. Namun, tongkat itu ternyata mampu menahan pedangnya. Apalagi sampai patah. Bahkan saat pedangnya berusaha menyambar leher, kedua lawannya bergerak gesit untuk menghindar.
"Heaaat!"
Rangga menjadi penasaran. Tubuhnya kemudian berputar lalu menghantam dengan satu tendangan kilat. Namun, dua laki-laki berwajah coreng-moreng itu telah mencelat ke atas. Sehingga serangan Pendekar Rajawali Sakti mampu dihindari dengan gerakan gesit. Bahkan saat pedang Rangga kembali menyambar, keduanya bergerak ke samping dengan arah berlawanan.
"Sial!" dengus pemuda itu geram.
"Hi hi hi...! Jadi inilah Pendekar Rajawali Sakti yang kesohor itu" Hi hi hi...! Ternyata kepandaiannya hanya seujung kuku. Bahkan pedangnya yang tersohor itu tidak lebih dari barang rongsokan belaka!" ejek gadis bertopeng itu, tertawa cekikikan.
Bukan main geramnya Pendekar Rajawali Sakti mendengar ejekan lawannya. Rahangnya sampai bergemelutuk dan mendengus geram. Kini, Rangga kembali bersiap hendak menyerang. Kali ini, sasarannya jelas tertuju pada gadis bertopeng itu. Pendekar Rajawali Sakti mempunyai suatu rencana. Yaitu bila gadis ini bisa dijatuhkannya dalam waktu singkat, maka yang lain tentu akan segera menyerah.
"Heaaat..!"
Wuk! Trang! Gerakan Rangga cepat sekali. Bahkan bagi mereka yang berkepandaian tinggi sekalipun, belum tentu mampu mengimbanginya. Namun ternyata gadis bertopeng ini mampu mengelak ke samping.
Dan saat Pendekar Rajawali Sakti membabat leher dan terus bergerak cepat ke pinggang, gadis itu mencelat ke atas. Rangga tidak mempedulikannya, dan langsung mengejar.
*** "Jangan coba-coba lari dariku!" dengus Pendekar Rajawali Sakti.
"Lari"! Hi hi hi...! Aku bahkan ingin tahu, sampai di mana kehebatanmu yang sering digembar-gemborkan orang," sahut gadis bertopeng sambil tertawa nyaring.
"Hiyaaat!"
Kembali Pendekar Rajawali Sakti menerjang dengan kecepatan tinggi. Gerakannya sangat beragam. Sehingga sepertinya gadis bertopeng itu tidak akan luput dari serangannya. Apalagi untuk bisa meloloskan diri. Namun....
Slap! "Heh"!"
Pendekar Rajawali Sakti terkesiap, begitu gadis bertopeng lawannya menghilang dari pandangan! Kepalanya sampai celingukan ke sana kemari.
"Menghilang" Mustahil! Rasanya jarang ada orang mampu lolos dari seranganku!" gumam Rangga dengan dahi berkerut.
"Hi hi hi...! Kebingungan, he" Aku masih di sini, menanti seranganmu selanjutnya. Ayo, keluarkan seluruh jurus ampuh yang kau miliki!" teriak gadis bertopeng, nyaring.
Rangga berbalik. Tampak wanita bertopeng itu tengah duduk tenang-tenang pada sebuah cabang pohon yang berada di belakangnya. Padahal, tadi dia telah melihat ke sana. Dan nyatanya tak ada siapa-siapa!
"Sial! Hei, Perempuan Licik! Turun kau dari situ!" teriak Rangga geram.
"Licik" Kau sebut aku licik" He he he...! Lucu! Sungguh lucu! Tapi, tidak apa. Barangkali julukan itu ada gunanya suatu saat. Tapi kalau memang kau begitu bernafsu untuk bertarung denganku, maka naiklah ke atas. Apakah Pendekar Rajawali Sakti tidak mampu ke sini?" ejek wanita bertopeng itu, keterlaluan.
Rangga kembali mendengus. Disertai bentakan nyaring, Pendekar Rajawali Sakti melompat mengejar dan langsung mengayunkan pedang.
"Heaaa...!"
Wut! Tras! Gadis itu hanya tersenyum-senyum. Bahkan sama sekali tidak berusaha menghindar. Namun sesaat lagi pedang Rangga menyambarnya, tubuhnya kembali menghilang. Sehingga Pendekar Rajawali Sakti hanya menebas cabang pohon.
"Hup!"
Dia kembali melompat ke bawah dan berdiri tegak seraya memandang berkeliling tempat ini dengan wajah penasaran.
"Sial! Hei"! Apakah kau ingin bertarung atau mengajakmu main-main"! Ayo keluar! Tunjukkan dirimu...!" bentak Pendekar Rajawali Sakti menggelegar.
"Hi hi hi...!"
"Heh"!"
Mendadak terdengar suara tawa melengking. Pemuda itu cepat berpaling ke arah sumber suara. Namun, tidak seorang pun terlihat. Dan suara itu kembali muncul dari belakangnya. Dan saat kepalanya berpaling, kembali tidak juga terlihat ada orang di sana. Suara tawa itu semakin nyaring memekakkan telinga dan datang dari segala penjuru.
"Uhhh...!"
Rangga cepat menutupi kedua lubang telinga dan jatuh terduduk. Wajahnya berkerut seperti menahan rasa sakit yang hebat. Dia berusaha melawan, dengan mengerahkan segenap kemampuan. Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak, namun kedua tangannya tetap menutupi kedua lubang telinga.
"Hi hi hi...! Pendekar Rajawali Sakti yang malang. Apakah harus begini nasibmu" Sahabat para pendekar pembela kebenaran, dan tokoh yang amat dikagumi semua orang. Apakah nasibmu akan berakhir seperti ini" Atau, barangkali kau hanya memiliki kemampuan seujung kuku, sehingga tidak mampu menolong dirimu sendiri..."!"
Suara itu terdengar berulang-ulang melengking dan menyakitkan gendang telinga. Bahkan sampai menusuk sumsum tulang pendengarannya. Rangga mengempos tenaga dan membentak nyaring untuk melawan pengaruh kekuatan suara.
"Heaaa...!"
Suara tawa itu kontan berhenti. Sementara pemuda itu jadi terengah-engah mengendalikan jalan nafasnya yang kalang kabut.
"Boleh juga. Tapi lain kali akan kuperkenalkan dengan yang lebih bagus ketimbang ini! Hi hi hi...! Sampai ketemu lagi, Pendekar Rajawali Sakti...!"
Suara gadis itu kembali terdengar. Hanya saja, kali ini tidak menyakitkan gendang telinga. Namun tetap saja orangnya tidak terlihat
Suara tawa itu berhenti. Dan Rangga tidak mempedulikannya. Kepalanya segera menoleh ke rumah tadi, dan bermaksud menyelamatkan Pandan Wangi. Namun saat berbalik, bola matanya melotot lebar.
"Apa"! Tidak mungkin! Ke mana rumah itu"!" desis Rangga kaget. Segera kakinya melangkah ke sekitar tempat ini. Pandangan matanya mencari-cari ke sekeliling.
Apa yang dilihat Pendekar Rajawali Sakti memang mengherankan. Betapa tidak" Rumah tadi hilang tidak berbekas. Tak ada seorang pun yang berada di sini selain dirinya. Bahkan halaman rumah yang tadi kelihatan bersih dan hanya sedikit ditumbuhi rumput, kali ini terlihat penuh pepohonan besar serta semak-semak.
Rangga mundur ke belakang dengan wajah kaget. Bola matanya tak lepas mengawasi keadaan tempat ini. Tiba-tiba, dia teringat akan kudanya. Dan segera pemuda itu bersuit nyaring.
"Hieee...!"
"Dewa Bayu! Ah, syukur kau masih ada...!" seru Pendekar Rajawali Sakti girang ketika kuda kesayangannya meringkik keras dan menghampiri dari balik semak-semak.
Rangga cepat melompat ke punggung Dewa Bayu. Segera kudanya digebah pelan berlalu dari sini dengan wajah penasaran. Sesekali kepalanya menoleh, dan berharap kalau dia akan salah lihat. Namun apa yang terlihat masih tetap sama. Hanya pepohonan hutan serta semak-semak yang lebat!
? *** Pendekar Rajawali Sakti
?"?"?"" Pendekar Rajawali Sakti
? 2017 " 156. Ratu Wajah Maya Bag. 4
February 14, 2014 at 8:00am
4 ? Sepanjang perjalanan, kejadian aneh yang menimpa Pendekar Rajawali Sakti terus bergayut di benaknya. Antara kenyataan dan mimpi. Yang lebih gila adalah, dia tidak juga bisa menemukan jawaban dari kejadian itu. Siapa mereka" Dan, benarkah Pandan Wangi diculik" Mimpi ataukah kenyataan yang tadi terjadi" Lalu, ke mana perginya Endang Sari" Kalau ini akal-akalan seseorang, siapakah dia" Belum tuntas pertanyaan dalam benak Rangga, mendadak....
Twang! Wes...! Pendekar Rajawali Sakti seketika merasakan ada angin mendesir di belakangnya.
"Uts!"
Cepat bagai kilat, Rangga melenting ke atas. Rupanya, sebatang anak panah nyaris menyambar tubuhnya. Setelah berputaran beberapa kali, kakinya mendarat dua setengah tombak dari kudanya.
"Ratu Wajah Maya...!" seru Rangga menduga.
Rangga menoleh. Namun tidak seperti biasanya, kali ini dia menemukan seorang gadis cantik berambut panjang dengan ikat kepala warna kuning. Warna pakaiannya sama dengan ikat kepalanya. Di tangannya tergenggam sebuah busur. Dan di pinggang kirinya terlihat lebih dari sepuluh batang anak panah di dalam tempatnya.
"Jadi kau yang bernama Ratu Wajah Maya...?" tuding pemuda itu disertai senyum kecil.
"Huh, dasar edan! Jangan sembarangan bicara. Kau kira, siapa dirimu sehingga sok tahu menebak seseorang"!" sahut gadis itu dengan raut muka galak.
Rangga kemudian mengalihkan perhatiannya pada sebatang pohon, tempat menancapnya anak panah yang mengancam dirinya. Tidak ada surat yang disisipkan di situ. Dia menghela napas, dan kembali menoleh ke arah gadis itu.
"Hm.... Jadi, siapa kau sebenarnya...?"
"Huh! Apa urusannya kau ingin tahu diriku!"
"Nisanak! Kau hampir saja merenggut nyawaku!"
"????? Itu salahmu sendiri! Aku hendak memanah seekor kijang. Dan tiba-tiba saja kau lewat persis di depan sasaran anak panahku. Dan sekarang, seenaknya saja kau bicara yang bukan-bukan!"
Rangga menghela napas mendengar gadis galak ini bicara. Sikapnya angkuh. Mulutnya judes, kata-katanya pedas.
"Baiklah. Tidak usah kita perpanjang urusan ini. Kau boleh teruskan buruanmu. Dan aku akan teruskan perjalananku...," lanjut Rangga mengalah, dan hendak menghampiri kudanya.
"Hei, enak betul...!" desis gadis itu seraya mencibir sinis.
"Apa maksudmu, Nisanak?"
"Seharusnya tadi aku memperoleh seekor kijang. Tapi gara-gara kehadiranmu, maka kijang itu pergi entah ke mana. Aku kehilangan buruanku. Dan sekarang, kau enak-enakan akan pergi begitu saja. Kau harus bertanggung jawab!" cecar gadis ini.
"Nisanak! Jangan mengada-ada. Aku sama sekali tidak melihat seekor kijang pun di sekitar sini!"
"Eee! Sekarang kau malah hendak mungkir! Dasar bajingan! Aku tidak akan membiarkan kau pergi begitu saja sebelum mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" sentak gadis ini, seraya berkacak pinggang dengan mata melotot lebar.
Rangga menghela napas sesak. Kejengkelannya mulai meluap, namun berusaha ditahan.
"Nisanak! Aku tidak ingin memperpanjang urusan denganmu. Ada urusan yang hendak kuselesaikan secepatnya. Oleh sebab itu, aku harus segera pergi. Kuharap kau bisa mengerti," kilah Rangga.
"Hm.... Sedemikian besarkah urusanmu, sehingga tidak bisa ditunda?"
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama...!" sahut Rangga tidak mempedulikan pertanyaan gadis itu.
Rangga segera menaiki kudanya dan bermaksud meninggalkan tempat ini secepatnya. Namun mendadak....
Set! "Sial!"
Pendekar Rajawali Sakti mendegus geram ketika tiga batang anak panah kembali melesat. Satu mengarah ke tengkuk, satu lagi ke punggung kiri, dan sebatang lagi mengarah ke pinggang. Rangga melompat ke atas. Tubuhnya segera berputar beberapa kali, lalu mendarat empuk di punggung kudanya seperti semula.
"Hup!"
Rangga kemudian menarik tali kekang kudanya. Lalu Dewa Bayu dipalingkan hingga berbalik. Sinar mata Pendekar Rajawali Sakti kini memandang penuh kejengkelan kepada gadis itu.
"Nisanak! Kau betul-betul menjengkelkan! Apa maumu sebenarnya" Atau, barangkali kau sengaja hendak mencari urusan denganku?"
"Aku paling tidak suka dianggap rendah oleh siapa pun. Makanya, jangan salahkan bila aku terpaksa menggunakan cara kekerasan untuk memaksamu!"
"Tidak usah berbelit-belit! Katakan saja, apa maumu"!" potong Rangga semakin kesal.
"Aku ingin kau bertanggung jawab atas perbuatanmu. Dan ternyata kau seorang pengecut. Aku bertanya padamu, tapi kau malah menganggap sepi. Seharusnya aku yang bertanya, apa maumu"! Apakah aku harus menggunakan kekerasan agar kau tahu sopan-santun"!" sahut gadis ini dengan sikap garang.
"Nisanak! Aku tidak ada waktu untuk bermain-main. Kuperingatkan padamu! Bila kau coba membokong, maka terpaksa aku harus memberi pelajaran terhadapmu!" dengus Rangga.
"Tidak perlu menunggu. Sekarang pun, aku siap menerima pelajaran darimu!" sahut gadis itu disertai senyum sinis.
Bersamaan dengan itu, gadis ini mengambil tiga batang anak panah yang langsung dipasangkan ke busur. Lalu dia membidikkan tepat ke arah pemuda berompi putih itu.
***? Rangga terkesiap melihat tindakan gadis itu. Bukannya berpikir mendengar ancamannya, tapi malah semakin mencari gara-gara. Kejengkelannya semakin memuncak menjadi kemarahan.
"Kau boleh lakukan apa yang kau suka. Tapi, ingat! Kesabaran orang ada batasnya!" ancam Rangga.
Sebagai jawabannya, gadis itu betul-betul menahannya!
Set! Set...! "Hup!"
Cepat bagai kilat, Rangga mencelat ke atas. Sehingga ketiga anak panah yang mengancam luput dari sasaran. Begitu berada di udara, Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan jurus "Rajawali Menukik Menyambar Mangsa", menerjang. Namun, gadis itu agaknya telah siap pula. Busurnya dikibaskan untuk menghalau serangan hantaman tangan pemuda itu.
Tak! "Uhhh...!"
Pendekar Rajawali Sakti mengeluh tertahan. Dalam perhitungannya, busur itu hanyalah senjata biasa. Sehingga dengan sekali hantaman pukulan tangannya, tentu akan remuk. Namun yang terjadi sungguh membuatnya kaget. Tangannya justru seperti menghantam tembok baja yang bukan main tebalnya. Dan bukan hanya itu. Bahkan tenaga pukulan Pendekar Rajawali Sakti seperti berbalik.
"Hm.... Jadi hanya segitukah kemampuan Pendekar Rajawali Sakti yang tersohor itu...?"
"Heh"! Kau mengenalku?" Rangga terhenyak, mendengar gadis itu menyebutkan julukannya.
"Siapa yang tidak mengenal tokoh nomor satu dalam dunia persilatan saat ini" Namun, masih banyak kekurangan yang harus kau perbaiki. Sebab dengan kemampuan yang seperti itu, mudah sekali aku bisa mengalahkanmu. Nah! Masih banyak waktu bagimu untuk memperbaiki diri," sahut gadis itu membuat kening Rangga berkerut.
Setelah berkata demikian, gadis itu melesat ke atas cabang-cabang pohon. Lalu tubuhnya menghilang dari pandangan Pendekar Rajawali Sakti.
"Hei, tunggu...!"
Rangga berteriak memanggil. Dan dia bermaksud mencegah kepergian gadis itu. Namun teriakannya sama sekali tidak dipedulikan. Gadis itu telah lebih cepat menghilang dalam sekejapan mata.
Pendekar Rajawali Sakti termangu-mangu. Tidak habis pikir, siapa gadis itu sebenarnya" Usianya kelihatan masih amat muda, namun kepandaiannya sulit diukur. Banyak kejadian aneh yang ditemuinya belakangan ini. Dan ini membuat teka-teki yang membingungkan!
*** Pendekar Rajawali Sakti meneruskan perjalanan kembali. Hutan ini sepertinya luas sekali. Hampir setengah harian Rangga mencoba mencari jalan keluar, namun selalu buntu. Bukan jalan keluar yang ditemui, melainkan hutan yang semakin lebat. Pepohonan yang besar dan berbaris rapat semak belukar, serta tanah lembab yang menandakan sinar matahari jarang menembus tempat ini. Kegelapan mulai menyelimuti, karena begitu rapatnya ranting-ranting pepohonan yang saling bertemu! Sehingga, tempat ini seperti dikungkungi payung raksasa saja.
Rangga berhenti dan mengamati keadaan sekitarnya.
"Hm.... Ke mana arah yang kutuju sebenarnya" Kenapa bisa jadi begini" Setiap jalan yang kulihat luas dan dari kejauhan terlihat pepohonannya jarang, kukira jalan keluar. Tapi yang kutemui ternyata seperti ini...," gumam Rangga dengan dahi berkerut.
Apa yang dipikirkan Pendekar Rajawali Sakti memang begitu kenyataannya. Sejak tadi pemuda ini bermaksud keluar dari hutan. Namun jalan keluar tidak juga ditemui. Menurut perhitungannya, bila ada tempat yang pepohonannya jarang, maka di situlah jalan keluar. Namun setiba di sana, pepohonan semakin banyak. Dan akhirnya semakin rapat. Lalu ketika mencoba menembus hutan lebat ini, tidak juga membawa hasil. Hutan ini seperti tiada bertepi. Dan ke mana pun arah yang dituju selalu saja berputar-putar.
"Dewa Bayu apakah kau tidak salah jalan" Cobalah kau cari jalan. Gunakan nalurimu," ujar pemuda itu seraya menepuk-nepuk leher kudanya.
"Hieee...!"
Dewa Bayu meringkik pelan seperti mengerti kata-kata Rangga. Lalu ke empat kakinya melangkah ke kiri dan berlari kecil menembus semak belukar. Bila tadi Rangga yang mengendalikan, kini kuda berbulu hitam itu dibiarkan mencari jalan keluar bagi mereka berdua.
"Hooop...!"
Rangga menghentikan laju kudanya, ketika tidak jauh di depan berjalan tertatih-tatih seorang laki-laki tua.
Laki-laki tua itu berpakaian penuh tambal. Punggungnya menggendong seikat besar ranting kayu. Tubuhnya kurus dan kulitnya sedikit keriput ditutupi pakaian yang besar dan longgar. Pinggangnya terlihat genting, tatkala terbungkuk-bungkuk membawa bebannya.
"Hup!"
Pemuda itu melompat dari kudanya dan segera menghampiri.
"Mari kutolong kakek membawakan kayu-kayu ini...," kata Rangga, menawarkan.
"Eee, sial betul! Apa kau kira aku tidak mampu membawanya, he"! Kurang ajar...!" maki kakek ini dengan mata melotot lebar.
"Oh, maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud menghina. Kulihat kau begitu keberatan mengangkatnya. Dan aku tidak bermaksud menghina. Aku hanya ingin menolongmu...," sahut Rangga buru-buru.
"Tidak perlu! Huh! Anak muda zaman sekarang, apa hebatnya" Kalian hanya bisa bermain dan bersenang-senang. Tidak seperti di zamanku dulu. Kami selalu bekerja keras, sehingga tenaga kami kuat dan mampu bertahan walau di usia tua. Kalau kalian..., huh! Mana mungkin!" dengus kakek ini, mencibir.
Rangga menggeleng lemah seraya menghela napas panjang.
"Baiklah.... Kalau memang kau tidak mau dibantu, ya sudah. Aku akan melanjutkan perjalanan...," sahut Rangga, beranjak dari situ. Dan dia bermaksud naik ke punggung kudanya kembali.
"Hei, tunggu dulu!" bentak kakek itu garang.
"Ada apa lagi, Kek...?"
"Kurang ajar! Dasar anak muda tidak tahu sopan-santun. Apa kau kira bisa pergi begitu saja, he"!"
Bola mata orang tua itu mendelik garang.
Rangga jadi salah tingkah, dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tidak mengerti kenapa orang tua ini marah-marah.
"Aku tidak mengerti, apa yang Kakek inginkan" Kutawarkan bantuan, kau menolak dan marah-marah. Sekarang aku akan pergi, kau malah lebih marah...," gumam Rangga.
"Pada zamanku, setiap anak muda yang bertemu orang tua, dia harus hormat. Cium tangan, atau berlutut... terserah. Demikian pula bila hendak berlalu, juga harus melakukan hal yang sama. Bila tidak dilakukan, maka anak muda itu pasti kurang ajar! Tidak tahu sopan-santun. Dan biasanya, harus dihukum cambuk!" sahut kakek ini, menjelaskan, dengan nada marah.
"Kek! Ini bukan zamanmu lagi. Dan pula, kau bukan siapa-siapa ku. Sehingga, aku tidak mesti bersikap hormat seperti yang kau katakan. Aku menghormatimu, terbukti aku menahan sabar atas kelakuanmu yang aneh ini...."
"Apa kau katakan"! Aku aneh"! Anak kurang ajar! Seenaknya saja mulutmu bicara. Apa kau tidak pernah diajar sopan-santun, he"!" desis kakek itu bertambah garang.
Buru-buru kakek peyot ini menjatuhkan tumpukan ranting. Langsung dicabutnya ranting, kemudian melompat menyerang si pemuda.
"Kau rasakan hajaranku ini, bocah kurang ajar!" dengus si kakek.
"He, apa-apaan ini"!" seru Rangga kaget.
Pendekar Rajawali Sakti terpaksa menghindar karena tidak menyangka orang tua ini akan menyerang. Tubuhnya melenting ke atas.
Wut! Tapi baru saja Pendekar Rajawali Sakti bermaksud jungkir balik melewati kepala, saat itu juga ranting di tangan si kakek menghantam punggung.
Wut! Pak! "Aaakh...!"
Rangga menjerit tertahan. Sama sekali tidak disangka, kalau orang tua ini mampu berbuat demikian.
"Menganggap enteng, he?" ejek kakek itu sambil terkekeh kecil.
*** Pendekar Rajawali Sakti
Notes by Pendekar Rajawali Sakti
s ? 2017 " . 156. Ratu Wajah Maya Bag. 5
14. Februar 2014 um 08:01
5 ? Pemuda itu mengusap-usap punggungnya, setelah tadi sempat tersuruk. Dia mencoba bangkit berdiri dengan wajah masih meringis menahan rasa nyeri.
"Siapa sebenarnya kau orang tua" Dan, apa maksudmu atas semua ini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti dengan nada curiga.
"Apa maksudmu" Sontoloyo! Seharusnya kau sudah tahu, karena telah kukatakan. Sikapmu tidak sopan. Bahkan kurang ajar. Kusuruh kau menghormat sebagaimana mestinya, eh, malah menolak. Kau kira aku tidak bisa menghukummu"!" sahut orang tua itu seraya menyeringai lebar.
"Bukan begitu maksudku. Tapi, gerakan silatmu sedikit mirip dengan yang kumiliki...."
"Sial! Kau kira aku menirumu" Phuih! Apa hebatnya" Aku memiliki ilmu olah kanuragan yang bahkan lebih hebat daripada kepandaianmu, atau dari siapa pun di muka bumi ini!" sahut si kakek jengkel, langsung meludah beberapa kali.
"Maaf, aku tidak bermaksud menghinamu. Tapi, kukira kau adalah...."
"Aku tidak peduli apa yang kau kira! Kau baru saja menghinaku. Dan..., camkan baik-baik! Aku tidak pernah dihina seumur hidupku. Siapa yang menghinaku, harus menerima akibatnya!" potong kakek itu cepat dengan wajah semakin geram.
"Tapi...."
?"Tutup mulutmu! Sekarang berlutut! Dan, cium kakiku serta segera minta maaf. Dengan begitu, kesalahanmu akan kuampuni!" bentak si kakek garang.
Rangga terhenyak. Perintah kakek ini tidak mungkin dilakukannya. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Dan si kakek ini mencak-mencak sendiri.
"Orang tua, maaf. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu...."
"Kalau begitu, kau memilih yang kedua. Bersiaplah! Akan kutunjukkan padamu, bagaimana caranya bersikap sopan terhadap orang tua!" sahut si kakek seraya mengayun-ayunkan ranting di tangannya.
Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak, mengawasi kakek ini dengan mata tidak berkedip. Tentu saja, tidak sudi kecolongan seperti tadi.
"Yeaaat...!"
Mendadak kakek aneh itu melompat Langsung diserangnya Rangga dengan kebutan ranting di tangan.
"Uts! Hup...!"
Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke samping, lalu balik ke tempat semula dengan lompatan agak tinggi. Sehingga kelebatan ranting yang menyambar ke dadanya, dapat dihindari. Namun Rangga sempat terkesiap menyaksikan gerakan si kakek yang cepat luar biasa. Nyaris ranting kayu itu menghujam perutnya, kalau saja tidak cepat mencelat ke belakang.
Rahasia Dara Ayu 1 Joko Sableng 42 Rahasia Darah Kutukan Hina Kelana 27

Cari Blog Ini