Ceritasilat Novel Online

Teror Manusia Bangkai 1

Pendekar Rajawali Sakti 149 Teror Manusia Bangkai Bagian 1


. 149. TEROR MANUSIA BANGKAI Bagian 1-3
14. Dezember 2014 um 07:29
1 ? Satu sosok bayangan melesat cepat, bagai tiupan angjn topan. Tubuhnya berkelebat di tengah-tengah Hutan Prewangan yang terkenal sangat luas dan angker. Hanya dalam waktu singkat, dia telah keluar dari hutan itu. Kemudian perjalanannya terus dilanjutkan ke arah utara.
Tidak sampai sepemakan sirih, sosok ber-pakaian serba coklat ini tiba di pinggir sebuah lembah. Matanya yang berkilatan memandang ke tengah-tengah lembah bertebing sangat curam itu.
"Hm.... Seharusnya dia ada di batu-batu itu. Di sanalah aku mengikat dan mementang tubuhnya di tengah-tengah terik matahari! Sebaiknya, aku periksa dulu!" gumam sosok berbaju coklat berkepala gundul. Pada pinggangnya tersampir sebilah golok besar.
Di lain saat, laki-iaki itu telah bergerak lagi Tubuhnya melesat laksana kilat. Tebing curam yang cukup tinggi dilompatinya begitu saja. Dari sini bisa dilihat kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai taraf tinggi.
Begitu sampai di dasar lembah, laki-laki bersenjata golok besar ini terkejut bukan main. Apa yang harus diawasinya dalam waktu sebulan sekali, sekarang telah lenyap. Ada empat rantai baja yang digunakan untuk membelenggu tangan dan kaki. Tapi benda itu seperti meleleh. Lebih mengherankan lagi, pohon-pohon yang terdapat di lembah itu bertumbangan seperti bekas diporak-porandakan badai topan.
"Batu Kumbara adalah manusia yang sudah hampir mampus akibat perbuatannya sendiri. Tapi mengapa sekarang dapat hilang begitu saja" Atau..., mungkinkah ada orang lain yang telah memuruskan rantai-rantai yang membelenggu tubuhnya?" kata laki-laki itu dalam hati.
Kemudian laki-laki berbaju serba coklat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling lembah. Rasa keheranan di hatinya semakin menjadi-jadi, ketika melihat batu-batu besar di sebelah kirinya, juga dalam keadaan hancur berkeping-keping.
"Gila! Benar-benar gila...! Bagaimana mungkin batu yang sedemikian besar dapat hancur begitu saja" Pasti ada yang tidak beres telah terjadi di sini" Batu Kumbara tidak mungkin dapat meloloskan diri setelah bertahun-tahun mendapat hukuman sedemikian rupa di tempat ini...."
Belum selesai ucapannya. Tiba-tiba saja wajah laki-laki itu berubah ketika melihat kilatan cahaya yang datang dari sebelah kiri. Dan mendadak saja, ada perasaan tidak enak menyelinap ke dalam hatinya. Namun di samping rasa herannya, rupanya hatinya juga menjadi sangat penasaran. Maka segera didekatinya tempat di mana cahaya tadi berasal.
Sampai di tempat, kilatan cahaya yang terlihat tadi sekarang lenyap begitu saja. Sebagai gantinya, matanya melihat saru pemandangan lain. Di atas batu cadas, tampak beberapa baris tulisan yang tampaknya dirulis dengan goresan ujung kuku. Dapat dibayangkan, betapa tingginya tenaga dalam yang dimilikinya. Tulisan di atas batu itu berbunyi:
Batu Umbaro bukan batu. Sekujur tubuhnya telah dirusak dan disiksa selama bertahun-tahun di panas matahari. Sampai-sampai tidak seekor laat pun berani mendekat, karena baunya yang sangat busuk! Tapi siapa sangka kalau Makhluk Kegelapan dengan sinar matanya yang menghanguskan mau bersahabat" Bahkan bersedia menurunkan semua ilmu kesaktian yang dimilikinya. Sekarang hari pembalasan sudah tiba. Celakalah bagi orang yang pernah menghukuumnya....!
Selesai membaca tulisan itu, laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun ini melangkah mundur. Dari sekujur tubuhnya keluar keringat dingin. Wajahnya yang hampir tertutup bulu-bulu halus, berubah pucat seputih kapas.
"Gila! Siapa kira bajingan dari Blambangan sekarang telah mampu menghancurkan rantai baja dan membebaskan diri! Aku harus memberi kabar pada guru secepatnya. Terlambat sedikit saja...!" dengus laki-laki setengah baya itu.
Belum selesai kata-kata laki-laki berbaju coklat itu, tiba-tiba....
"Ha ha ha...!"
Mendadak terdengar suara tawa tergelak-gelak disertai suara menderu angin kencang bergulung-gulung ke arah laki-laki itu. Seketika hatinya ter-cekat begitu tercium bau busuk. Langkahnya tersurut dengan sekujur tubuh terasa menggigil. Secepatnya dikerahkan tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin membekukan yang tiba-tiba menyerangnya.
"Hm.... Bau busuk ini pastilah berasal dari manusia itu! Tidak mungkin ada bangkai di sekitar sini..." kata laki-laki setengah baya itu dalam hati.
"Ha ha ha...! Bebaslah aku sebebas-bebasnya! Semua orang-orang akan celaka, karena dulu per-nah menyakiti aku! Termasuk, manusia yang ber-nama Sapta Renggi...!"
"Eeeh...! Dia menyebut namaku! Berarti, dia juga menghendaki kematianku!" ujar laki-laki yang ternyata bernama Sapta Renggi.
Sapta Renggi belum dapat berbuat apa-apa ke-tika melihat satu bayangan berkelebat cepat ke arahnya. Dan tahu-tahu, matanya telah melihat seorang laki-laki berwajah angker telah berdiri di depannya. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka membusuk.
Laki-laki itu berbadan tinggi besar. Rambutnya yang acak-acakan dan menebarkan bau busuk, tampak tegak berdiri. Sementara matanya yang berkilat-kilat aneh, terus memperhatikan Sapta Renggi tanpa pernah berkedip.
"Batu Kumbara...! Kau harus kembali menja-lani hukuman! Manusia durjana sepertimu tidak layak berkeliaran di dunia ramai," tegas Sapta Renggi, berwibawa.
"Hm. Apakah hanya manusia seperti kalian saja yang pantas hidup di dunia ini" Tidakkah kau rasakan, betapa pedihnya penderitaanku selama disiksa di tempat ini?" balas laki-laki tinggi besar berwajah angker yang bernama Batu Kumbara.
"Apa yang kau jalani sudah sepantasnya dite-rima. Karena kejahatanmu telah melampaui batas!" dengus Sapta Renggi.
"Ha ha ha...! Begitukah" Tiga tahun bukan masa yang singkat untuk menerima penghinaan yang sangat menyakitkan! Sepantasnya jika sekarang aku harus mengambil nyawamu!" kata Batu Kumbara, dingin menggetarkan.
Laki-laki berwajah angker itu kemudian meng-geram. Suaranya keras menggetarkan jantung Sapta Renggi. Sekejap saja kedua tangannya telah bergerak-gerak secara aneh. Sepasang matanya yang berkilat-kilat tajam, kini telah benabah merah laksana bara. Kini mata Batu Kumbara benar-benar telah berubah menjadi sepasang mata iblis yang sangat mengerikan!
"Bersiap-siaplah kau untuk mampus!" teriak Batu Kumbara dengan suara melengking dahsyat.
Sapta Renggi terkesiap. Terlebih-lebih setelah melihat mata Batu Kumbara telah berubah seperti mata iblis. Maka langsung golok besar yang terselip di pinggangnya dicabut. Senjata berwarna putih mengkilat karena ketajamannya, langsung diputar secepat kilat. Bisa diduga kalau Sapta Renggi sedang mengerahkan jurus golok 'Menghalau Bayangan Iblis'.
Bukan main hebatnya jurus yang satu ini. Karena begitu golok diputar, maka menderulah angin kencang disertai menebarnya hawa dingin ke empat penjuru arah. Tapi anehnya, Batu Kumbara hanya tertawa ganda.
"Bawalah golokmu ke neraka! Barangkali dapat kau pergunakan di sana...!" dengus Batu Kumbara.
Laki-laki yang sekujur tubuhnya dalam ke-adaan rusak dan menebar bau busuk bangkai ini mengedipkan matanya. Maka seketika dua leret sinar langsung melesat ke arah Sapta Renggi. Sinar merah menghanguskan ini cepat melabrak ke arah Sapta Renggi berada.
Laki-laki berbaju coklat ini terkesiap. Namun dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, Sapta Renggi langsung melom-pat ke samping kiri sejauh tiga batang tombak. Hasilnya, serangan yang dilakukan Batu Kumbara luput. Sementara sinar merah menghanguskan itu terus melesat menghantam batu sebesar kerbau yang berada tidak jauh di belakang Sapta Renggi.
Blarrr! Batu itu kontan hancur berkeping-keping, me-ngobarkan api di mana-mana.
"Gila...!" desis Sapta Renggi.
Bulu tengkuk laki-laki itu meremang berdiri. Dengan cepat golok besar di tangannya kembali diputar. Sementara sambil terus tertawa-tawa seperti iblis, Batu Kumbara kembali mengedipkan matanya. Maka seketika seleret sinar melesat ke arah Sapta Renggi kembali. Begitu cepatnya lesatan sinar itu, sehingga Sapta Renggi tak mampu meng-hindarinya. Dan...
Glarrr...! "Aaa...!"
Sapta Renggi terjungkal ke tanah disertai jeritan sehnggi langit pada saat tubuhnya terhantam sinar yang dilepaskan Batu Kumbara. Golok di tangannya meleleh. Sedangkan tubuhnya yang dalam keadaan hangus berkelojotan di tanah tanpa mampu bangkit kembali.
"Ha ha ha...! Satu korban telah jatuh! Seperti inilah nasib yang harus diterima seluruh padepokan yang dulu secara beramai-ramai menghukumku di lembah celaka ini!" teriak Batu Kumbara sambil terus tertawa-tawa seperti orang gila
Mata Batu Kumbara yang telah kembali berubah ke warna aslinya, memandangi tubuh korbannya yang sudah tidak bernyawa lagi. Ada sedikit rasa puas terpancar lewat tatapan matanya.
"Aku harus meninggalkan tempat ini! Aku harus membuat perhitungan pada mereka!" desis Batu Kumbara tajam.
? *** ? Padepokan Merak Emas terletak di lereng Gu-nung Dieng. Padepokan ini dipimpin seorang gadis cantik bernama Dewi Palasari. Seluruh murid Padepokan Merak Emas terdiri dari gadis-gadis berusia muda. Pada masa ini, padepokan itu termasuk padepokan besar yang sangat disegani banyak padepokan silat yang bertebaran di tanah Jawa ini. Tidak heran, karena padepokan ini memiliki pamor yang tinggi dalam hal jurus ilmu pedangnya.
Malam itu, suasana di halaman depan padepokan sangat sepi. Hanya terlihat beberapa orang murid Padepokan Merak Emas tampak yang berjaga-jaga di depan gardu.
Sementara itu, di dalam ruangan terlihat ketua padepokan sedang berhadapan dengan murid tertua yang bernama Seruni. Agak lama mereka saling diam. Dewi Palasari sendiri menundukkan kepala dengan mata terpejam.
Tidak lama kemudian, wajah cantik Dewi Palasari yang tertunduk itu terangkat. Maka, tampaklah wajahnya yang cantik dengan tahi lalat di dagu. Perempuan yang di bagian kepalanya memakai ikat kepala warna kuning bergambar merak emas di tengah-tengah, memandang lama pada gadis berbaju sutera kuning yang duduk bersimpuh di depannya.
"Murid seperti biasa datang menghadap. Guru...!" lapor Seruni, gadis berbadan ramping yang memiliki wajah tidak kalah cantik ini dibanding gurunya.
"Bagaimana keadaan saudara seperguruanmu yang lain?" tanya Ketua Padepokan Merak Emas ini, bijaksana.
"Mereka dalam keadaan baik-baik dan selalu bersiap siaga," sahut Seruni sambil menunduk.
"Hm, bagus. Memang dalam keadaan menje-lang pemilihan Pimpinan Partai Aliran Putih ini, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Bukan hal yang baru jika dalam suasana hangat seperti ini, sering terjadi kericuhan maupun kekejian yang dilakukan golongan lain, maupun kalangan sendiri!"
"Bukankah pemilihan pimpinan partai masih satu purnama lagi, Guru. Menurut pengamatanku, keadaan di mana-mana aman-aman saja. Padepokan Naga Merah sebagai pimpinan lama, juga tampaknya seperti tidak merisaukan masalah pergantian partai ini. Dan....!"
Seruni menghentikan ucapannya ketika Dewi Palasari memberi isyarat.
"Bagaimana kau bisa tahu, Seruni?" tanya Dewi Palasari.
Paras Seruni berubah memerah. Gadis itu terdiam agak lama dengan perasaan serba salah.
"Katakan saja! Mengapa harus malu-malu?" desak Dewi Palasari.
"Anu, Guru... Ah, malu rasanya aku menga-takannya pada Guru...!" desah Seruni, tersipu.
"Apakah kau mendengar semua itu dari Les-mana?" pancing Ketua Padepokan Merak Emas sambil tersenyum samar.
Semakin bertambah memerah wajah Seruni. Namun kepalanya tetap mengangguk.
"Apakah Guru marah?" tanya Seruni. Nada suaranya terdengar begitu lirih.
Senyum Dewi Palasari semakin melebar. Di-am-diam rupanya Dewi Palasari sudah mengetahui hubungan cinta muridnya dengan salah satu murid Padepokan Naga Merah yang bernama Lesmana. Seruni, bagaimanapun, adalah murid tertuanya. Dan, merupakan murid utama yang memiliki kepandaian empat tingkat di bawahnya. Gadis itu pula yang selalu mewakili melatih murid-murid padepokan yang lain bila Ketua Padepokan Merak Emas berhalangan. Tidak heran jika Dewi Palasari sangat sayang padanya. Bahkan menganggap Seruni sebagai adik sendiri. Kendati demikian, perhatiannya terhadap murid yang lain tidak terlewat.
"Aku tidak akan marah, Seruni!" tandas Dewi Palasari sambil memperhatikan wajah Seruni yang telah berubah cerah. "Rasanya tertarik antara wanita dengan lawan jenisnya adalah sesuatu yang wajar dan merupakan kodrat Tuhan. Tidak ada seorang pun yang dapat melarangnya. Hanya.... kau harus sadar dengan tugasmu di padepokan ini. Untuk itu, kuharap kau dapat bersabar untuk melanjutkan hubungan kalian sampai ke jenjang perkawinan. Purnama depan, kau juga harus berhadapan dengan murid nomor satu dari setiap padepokan di gelanggang uji coba. Siapa pun yang bakal dihadapi, jangan sampai membuat malu padepokan ini!"
"Aku akan selalu mengingatnya, Guru!"
"Bagus! Perlu kau ingat, aku sendiri sebenar-nya tidak pernah berniat menjadi ketua seluruh partai persilatan golongan putih. Hanya karena uji kepandaian itu memang merupakan satu kebiasaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Maka, mau tidak mau kita harus mematuhi aturan, demi menghormati golongan kita sendiri!"
"Aku selalu berjanji untuk tidak mengecewakan Guru dan seluruh murid Padepokan Merak Emas ini!" tegas Seruni, mantap.
Ketua Padepokan Merak Emas ini sangat per-caya dengan ucapan murid tertuanya. Untuk itu, kepalanya mengangguk sambil tersenyum. Dan baru saja Seruni hendak memohon undur diri pada ketuanya...
"Aaa...!"
Terdengar jeritan serta pekik kesakitan di luar sana. Keduanya tampak terkesiap.
"Ada apa...?" tanya Dewi Palasari sambil me-mandang tajam murid utamanya. Belum sempat Seruni menjawab apa-apa, tiba-tiba pintu ruangan semadi didorong dari luar dengan paksa. Tak lama, dari balik pintu muncul salah seorang murid penjaga dengan tubuh hampir telanjang dan perut tertembus mata pedang.
"Ada apa, Sentika?" tanya Ketua Padepokan Merak Emas, seraya cepat-cepat mendukung muridnya yang terluka parah.
"Ibl..., iblis... iblis berbau busuk itu... Akh...!" kata murid bernama Sentika.
Gadis itu tidak dapat meneruskan kata-katanya. Ajal telah menjemputnya lebih cepat. Tubuhnya yang hampir telanjang, terkulai di pangkuan Dewi Palasari.
"Cepat keluar, Seruni...!" teriak Dewi Palasari memberi perintah.
Wanita itu sendiri kemudian mengambil sebilah pedang bergagang kepala burung merak yang tergantung di sudut ruangan. Hanya dalam waktu sekejap, tubuhnya telah lenyap dari ruangan itu.
Ketika Ketua Padepokan Merak Emas sampai di halaman padepokan, Seruni sedang berusaha membebaskan adik seperguruannya yang sedang diperkosa sosok hitam berbau busuk luar biasa.
"Manusia terkutuk!" teriak Dewi Palasari marah bukan kepalang. Langsung pedangnya dicabut. Dan segera diserangnya laki-laki berwajah rusak yang sedang menggagahi salah seorang muridnya.
Wusss! Tanpa disangka-sangka, laki-laki berbau busuk itu mengibaskan tangan ke arah Dewi Palasari. Seketika menderulah segelombang angin yang menebarkan bau busuk menyesakkan dada.
Dewi Palasari cepat menepis serangan itu de-ngan memutar pedang di tangannya. Melihat se-rangannya gagal, laki-laki yang sedang menindih tubuh salah satu murid Padepokan Merak Emas itu tersentak kaget. Cepat dia bangkit berdiri dan langsung tersenyum mengerikan.
Gadis yang dalam keadaan tertotok itu merintih kesakitan. Rupanya, laki-laki berwajah hancur dan menebarkan bau busuk itu telah berhasil menodainya. Sehingga, membuat bagian pangkal paha gadis itu mengeluarkan darah.
"Bangsat! Manusia iblis!" dengus Dewi Palasari. Segera dia memerintahkan Seruni untuk membebaskan totokan di tubuh muridnya. Untung saja laki-laki itu membiarkan saja. Tapi setelah bebas dari pengaruh totokan, tanpa diduga-duga murid itu langsung menyerang pemerkosanya dengan tusukan menyilang.
Apa yang dilakukan murid itu bukan semba-rang tusukan. Malah jurus 'Merak Kepakkan Sayap' langsung dikerahkannya. Sebuah jurus andalan yang dimiliki Padepokan Merak Emas.
Namun, rupanya laki-laki berbau busuk itu sempat merasakan sambaran angin senjata yang menderu ke bagian pangkal lehernya. Maka dengan gerakan sangat cepat, dia melompat ke samping kiri. Lalu seketika tubuhnya berbalik disertai hantaman satu pukulan ke bagian dada telanjang gadis itu.
Sama sekali gadis malang itu tidak pernah menduga kalau laki-laki berbau busuk ini dapat menghindari serangannya. Bahkan sekarang dapat pula melakukan serangan balik secepat itu. Dan....
Buk! "Aaa...!"
Gadis malang itu jaruh terguling-guling disertai jerit kesakitan. Bagian dadanya yang terkena pukulan tampak hangus. Dia tewas seketika tanpa mampu melampiaskan dendamnya.
"Ha ha ha...! Diberi kesenangan, malah pilih mati!" teriak laki-laki bertampang rusak sambil tertawa-tawa.
Suara tawa itu disertai pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi. Sehingga, membuat Dewi Palasari dan muridnya terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi.
? *** ? 2 ? Murid-murid Padepokan Merak Emas kini telah mengepung laki-laki bertampang mengerikan berbau busuk yang tak lain dari Batu Kumbara. Mereka telah mencabut senjata, dan bersiap-siap melakukan serangan.
Sementara Dewi Palasari memberi isyarat pada mereka agar menahan diri. Sedangkan dia sendiri kemudian langsung berhadapan dengan Batu Kumbara dengan kemarahan tertahan-tahan.
"Siapa kau, Kisanak?" tanya Dewi Palasari penuh wibawa.
"Aku..." Ha ha ha...!"
Laki-laki bertelanjang dada yang di sekujur tubuhnya terdapat banyak luka yang belum mengering itu tertawa mengejek. Diperhatikannya Dewi Palasari yang cantik menggiurkan dengan tatapan menyiratkan nafsu berkobar. Sambil berdecak penuh kekaguman, matanya menjilati wajah, dada, dan perut Dewi Palasari. Pandangan kurang ajar itu tentu saja membuat Dewi Palasari menjadi berang.
"Manusia Bangkai! Kuharap kau mau menjawab pertanyaanku, sebelum aku membunuhmu!" bentak wanita itu dengan wajah bersemu merah karena malu bercampur geram.
"Aku Manusia Bangkai"! Mungkin itulah nama yang pantas buatku!" jawab Batu Kumbara. "Apakah Nisanak Ketua Padepokan Merak Emas?""
"Kalau benar, kau mau apa"!" jawab Dewi Palasari sengit.
"Ha ha ha... Pucuk dicinta ulam tiba! Tidak kusangka Ketua Padepokan Merak Emas masih begini muda dan sangat cantik. Mimpi apa aku semalam" Sungguh kalian bidadari-bidadari canrik yang menyenangkan."
"Bangsat! Manusia ini terlalu kurang ajar, Guru! Biarkan aku yang membunuhnya!" teriak Seruni yang berdiri tegak di samping gurunya.
"Ah! Kau juga rupanya sangat cantik. Kalian berdua memang pantas menjadi pendampingku!" celetuk Batu Kumbara, sebelum Ketua Padepokan Merak Emas berkata apa-apa.
"Rupanya, mulut laki-laki ini sama busuknya dengan tubuhnya! Serang dan bunuh dia...!" teriak Dewi Palasari tidak dapat lagi menahan kemarahannya.
Tanpa menunggu diperintah dua kali, murid-murid Padepokan Merak Emas langsung menye-rang Batu Kumbara dari delapan penjuru. Hanya dalam waktu sangat singkat pedang di tangan mereka menderu menimbulkan suara angin bersiuran.
Sedangkan Batu Kumbara hanya tertawa gan-da sambil menghindari serangan maupun tusukan pedang yang datang menggebu-gebu. Disadari betul, betapa berbahayanya jurus-jurus pedang lawan-lawannya. Tapi dia tidak merasa khawatir karena memiliki jurus-jurus simpanan yang diturunkan Makhluk Kegelapan.
Untuk beberapa jurus, Batu Kumbara sengaja menghindari seriap serangan yang datang. Tapi dalam gebrakan-gebrakan selanjutnya, dia melakukan serangan balik. Maka caci maki dan sumpah serapah mulai terdengar di sana sini, ketika tangan manusia bangkai ini secara kurang ajar meremas buah dada lawan-lawannya.
"Manusia kotor! Mampuslah...!" teriak salah seorang murid Padepokan Merak Emas yang ikut ambil bagian dalam serangan.
"Huuup!"
Batu Kumbara melompat ke belakang sejauh tiga tombak. Matanya yang berkilat-kilat seketika berubah merah menggidikkan ketika tenaga dalamnya dikerahkan. Semua langkah lawannya tersurut. Mereka tampak sama-sama terkejut. Tidak terkecuali, Dewi Palasari yang terus mengawasi jalannya pertempuran.
Belum lagi rasa terkejut hilang, Batu Kumbara telah mengedipkan matanya. Maka dua leret sinar merah menghanguskan langsung menderu dan menghantam tubuh dua murid Padepokan Merak Emas.
"Aaa...!"
"Aaakh...!"
Jerit kematjan terdengar, ketika mata manusia iblis itu secara terus menerus berkedip-kedip. Hingga dalam waktu singkat belasan gadis malang itu tergelimpang roboh dengan keadaan tubuh hangus dan jiwa melayang.
Murka Dewi Palasari bukan alang kepalang. Namun sebelum sempat berbuat sesuatu, Batu Kumbara laksana setan telah bergerak ke arahnya. Langsung ditotoknya tubuh Dewi Palasari dan Seruni. Seketika kedua tokoh Padepokan Merak Emas itu lemas tak berdaya lagi. Mereka ambruk tanpa mampu menggerakkan tubuhnya lagi.
"Kurang ajar! Bangsat pengecut! Lepaskan totokan ini! Mari kita bertarung sampai seribu jurus!" teriak Dewi Palasari marah bukan main.
Tanpa menghiraukan jeritan Dewi Palasari dan Seruni, laki-laki bermental bejad ini langsung mendukung keduanya. Kemudian, dia membawa pergi dengan kecepatan sangat sulit dipercaya.
"Guru...!." teriak beberapa orang murid pade-pokan yang masih tersisa.
Tapi teriakan mereka hanya sia-sia saja. Karena, Batu Kumbara yang melarikan gurunya dan saudara seperguruan tertua itu sudah menghilang di kegelapan malam.
? *** ? Seekor kuda berbulu hitam lebat dipacu cepat ke arah selatan laksana terbang. Sesekali terdengar suara ringkikan keras yang disertai teriakan teriakan penunggangnya, seorang pemuda gagah berompi putih. Di punggung pemuda itu tersandang sebilah pedang bergagang kepala burung rajawali. Tidak salah lagi. Dialah Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti yang mengendarai kuda tunggangannya, Dewa Bayu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Rangga tiba di daerah selatan. Pemuda tampan yang selalu mengenakan baju rompi putih ini tiba-tiba menarik tali kekang, membuat kuda tunggangan itu berhenti seketika. Rangga segera memperhatikan sekelilingnya. Sejauh mata memandang, hanya hutan-hutan yang menghijau saja yang terlihat.
"Hm.... Dalam mimpiku, aku seharusnya bertemu seorang tokoh sakti yang bernama Ki Kambaya. Tapi, di mana aku harus menemuinya" Di dalam mimpi itu, aku seperti melihat sebuah pohon beringin putih yang sangat besar. Tapi pohon beringin itu tak terlihat ada di sini!" kata Rangga dalam hati.
Tanpa berpikir panjang lagi Pendekar Rajawali Sakti menggebah kudanya menuju bukit yang ter-letak tidak jauh di sebelahnya. Matanya kembali berputar putar memperhatikan tempat di seke-lilingnya.
"Eeeh! Itu dia pohon yang kulihat dalam mimpi!" kata Rangga, pelan.
Kemudian Dewa Bayu diarahkan pada pohon beringin putih yang terdapat di samping kiri.
"Huuup...!"
Rangga dengan gerakan ringan melompat tu-run. Lalu, ditepuknya punggung kuda berbulu hitam yang terus meringkik-ringkik seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Ada apa, Dewa Bayu" Tenanglah. Kau dalam keadaan aman di sini! Tunggulah aku kembali. Jangan ke mana-mana. Kalau ada apa-apa, meringkiklah sekeras-kerasnya," pesan Rangga.
Dewa Bayu menganggukkan kepala, seakan mengerti apa yang diucapkan Pendekar Rajawali Sakti.
"Bagus. Sekarang kau kutinggal dulu!" kata Rangga sambil tersenyum.
Sejenak kemudian, tubuh Pendekar RajawaliSakti telah berkelebat mempergunakan ilmu meri-ngankan tubuh mendekati pohon beringin putih berjarak seratus batang tombak di depannya. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh yang dikuasai Pendekar Rajawali Sakti, hingga sebentar saja telah tiba di bawah pohon beringin putih itu. Rangga mulai mencari-cari. Sesekali diperhatikannya akar-akar gantung yang bergoyang-goyang ditiup angin. Tapi sampai mengelilingi pohon beringin yang sebesar lima pelukan orang dewasa, juga tidak terlihat seorang pun.
Rangga menarik napas dalam-dalam. Hatinya mulai merasa ragu dengan mimpi-mimpinya.
"Mungkinkah yang kualami hanya sekadar mimpi belaka" Rasanya sangat sulit dipercaya" Padepokan Merak Emas seperti yang pernah ku-dengar, memang berada di lereng Gunung Kelut. Dan pohon beringin putih seperti yang kulihat dalam mimpi, memang benar-benar ada. Tapi, ke mana perginya orang buta yang kujumpai dalam mimpi?"
Keraguan di hati Rangga belum juga sirna, ketika terdengar suara menderu di belakangnya. Pendekar Rajawali Sakti terkesiap. Dan seketika itu juga, badannya berbalik. Maka dilihatnya beberapa benda hitam berbentuk ular meluncur deras ke arahnya. Tanpa berpikir panjang lagi dilepaskannya pukulan dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang mengeluarkan sinar kemerahan. Begitu panasnya pukulan Rangga itu sehingga udara di sekelilingnya menjadi panas luar biasa.
Glarrr...! Terdengar satu ledakan dahsyat ketika sinar merah dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' menghantam ular-ular yang menyerbu ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Kontan saja, binatang-binatang yang sangat berbisa itu hancur berkeping-keping.
"Hm...!" gumam Rangga tidak jelas.
"Ha ha ha...! 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' memang sungguh hebat! Tidak salah! Pasti kaulah orang yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti...!"
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar disertai pujian. Suara itu selain terdengar serak, juga disertai pengerahan tenaga dalam sangat tinggi. Sehingga, Rangga sendiri merasakan gendang telinganya sakit bukan main. Maka dengan cepat dikerahkannya tenaga dalam untuk menahan pengaruh tawa orang itu.
Suara tawa tiba-tiba terhenti. Suasana di sekeliling Pendekar Rajawali Sakti berubah sepi. Tanpa menoleh-noleh lagi, Rangga sudah tahu keberadaan orang yang tertawa barusan.
"Alangkah baiknya menyambut tamu dengan cara seperti itu. Terlambat sedikit, nyawaku pasti melayang!" desis Rangga.
"Hm, Anak Muda! Untuk membuktikan agar aku tidak bicara pada orang yang salah, bukankah jalan satu-satunya harus menguji kemampuan"!" sahut sebuah suara yang berasal dari atas salah satu cabang pohon beringin. Rupanya orang itu adalah laki-laki tua berpakaian serba putih.
"Apakah aku sedang berhadapan dengan Pera-mal Tuna Netra, Kisanak?" tanya Rangga langsung.
Laki-laki tua di atas pohon tidak menjawab. Malah tanpa diduga-duga, dengan gerakan ringan sekali tubuhnya melayang turun. Kemudian kakinya yang hanya sebelah menjejak tanah, tepat di depan Rangga.
"Astaga" Selain buta, kau juga hanya mem-punyai sebelah kaki dan sebelah tangan. Sungguh mengenaskan keadaanmu, Ki!" kata Rangga, dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan, Pendekar Rajawali Sakti" Memikirkan tentang keadaanku yang cacat?" tanya kakek berjuluk Peramal Tuna Netra, seperti mampu membaca pikiran Rangga.
"Eeeh...!"
Rangga terkejut dibuatnya. Sama sekali tidak disangka kalau laki-laki berbaju putih tambal-tambalan ini, mengetahui apa yang ada dalam be-naknya.
"Tidak! Aku hanya tidak mengerti, bagaimana cara kau menghubungiku" Padahal, sebelumnya kita belum pernah bertemu!" kilah Rangga jadi tak enak hati. Keterkejutannya langsung disimpan dalam perutnya.
"Ha ha ha...! Hatiku seputih rompimu," sahut kakek itu.
Untuk yang kedua kalinya, Rangga dibuat terkejut. Laki-laki tua di depannya yang berjalan mengandalkan bantuan tongkat hitam, jelas dalam keadaan buta matanya. Bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya memakai rompi putih"
"Sudah kukatakan, jangan mengherankan se-suatu yang kumiliki. Karena, semua itu hanya pemberian dan titipan Tuhan semata. Aku telah mempergunakan kekuatan batinku, untuk menghubungi seorang pendekar yang benar-benar dapat menolong. Mata hatiku mengatakan, kaulah orangnya yang paling tepat untuk mengemban satu tugas yang cukup berat, tapi mulia," jelas Ki Karnbaya alias peramal Tuna Netra.
Kening Rangga berkerut dalam. Sama sekali tidak dimengerti, ke mana arah ucapan kakek yang berdiri tegak di hadapannya.
"Apa maksudmu dengan tugas berat itu, Ki?" tanya Rangga langsung pada pokok persoalan.
Peramal Tuna Netra terdiam sejenak. Bibirnya yang hampir tertutup kumis berwarna putih, tampak menggerimit seperti orang mengigau.
"Begini!" kata Ki Kambaya kemudian sambil menarik napas dalam dalam". Tidak sampai satu purnama di depan, di puncak Gunung Kelud akan diadakan pemilihan ketua baru untuk menggantikan ketua, maupun pimpinan lama dari seluruh aliran putih yang tergabung di tanah Jawa. Mungkin kau pernah mendengar kebiasaan semacam itu."
"Aku memang pernah mendengamya. Dan bukankah semua ini dalam keadaan yang wajar-wajar saja?" ujar Rangga, tenang.
"Memang! Tapi menurut penglihatan hatiku, ada satu ketidakberesan yang bakal terjadi dalam pemilihan pimpinan seluruh partai aliran putih yang akan berlangsung sekali ini!" tukas Ki Kambaya.
Dada Rangga tiba-tiba berdegup keras mendengar penjelasan Peramal Tuna Netra.
"Apa maksudmu, Ki" Apakah di antara mereka akan ada yang berlaku curang?" tanya Rangga, pelan.
Kakek buta itu menggelengkan kepala.
"Tentu saja tidak! Rupanya kau belum tahu satu rahasia besar yang bakal menjadi duri dalam rimba persilatan, jika tidak secepatnya turun tangan!"
"Sama sekali aku belum tahu."
"Begini, Rangga!" jelas Peramal Tuna Netra, memulai sambil menarik napas dalam-dalam. "Tiga tahun yang lalu, ada gembong perampok yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Karena kepandaiannya dia berani membunuhi orang-orang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi. Tak heran kalau dia dimusuhi hampir semua padepokan silat yang di tanah Jawa ini. Setelah bertahun-tahun merajalela, akhirnya seluruh padepokan ada baik yang beraliran hitam maupun yang beraliran lurus saling bahu membahu untuk menangkap Batu Kumbara hidup-hidup. Tindakan kaum persilatan itu, rupanya mendatangkan hasil. Batu Kumbara berhasil diringkus, kemudian menjalani hukuman yang sangat berat di Lembah Batang. Di sekujur tubuhnya dibuat cacat dan rusak. Tangan dan kakinya terantai di atas batu. Bertahun-tahun Batu Kumbara menjalani hukuman berat itu. Namun di luar pengetahuan seluruh pimpinan partai yang ikut memutuskan dalam penjatuhan hukuman terhadap Batu Kumbara, rupanya dia berguru pada Makhluk Kegelapan! Tahukah kau, siapa Makhluk Kegelapan itu, Rangga?"
Rangga menggeleng periahan.
"Makhluk penghuni kegelapan itu adalah sosok yang memiliki wujud setengah manusia dan setengah iblis!" Ki Kambaya menjawab sendiri pertanyaannya.
"Hm, aku mengerti!" sahut Rangga, sambil menatap kakek buta di depannya.
"Bagus kalau kau sudah mengerti!"
Peramal Tuna Netra mengusap-usap jenggot-nya yang juga sudah berwarna putih.
"Sekarang yang menjadi tugasmu adalah, mencari Batu Kumbara alias Manusia Bangkai yang telah mencelakai beberapa murid Padepokan Merak Emas. Malah dia juga menculik ketua dan murid tertua padepokan itu," tambah Ki Kambaya.
"Bagaimana kau dapat tahu bahwa Ketua Padepokan Merak Emas telah diculik manusia iblis itu" Padahal, rimba persilatan sama sekali belum kau ketahui?"
"Kau kira, karena mataku buta, aku tidak tahu" Pendekar Rajawali Sakti! Sudah kukatakan, bahwa mata hatiku dapat melihat ke depan dengan baik Nasib ketua dan murid tertua Padepokan Merak Emas sekarang ini tidak jauh bedanya dengan telur di ujung tanduk! Terlambat sedikit, maka mereka akan menerima penghinaan yang sangat memalukan"!"
"Ah, malang sekali nasib mereka?"
Rangga merasa hatinya tersentuh. Dia pernah mendengar, betapa Ketua Padepokan Merak Emas merupakan seorang gadis yang memiliki kecantikan seperti bidadari. Batu Kumbara tidak jauh bedanya mendapatkan durian runtuh. Kurang ajar sekali manusia busuk itu!
"Rangga...!" panggil Ki Kambaya.
"Ada apa, Ki...?" sahut pemuda berompi putih itu.
"Jika kau bertemu manusia yang satu itu, harap bertindak hati-hati. Aku bukan meremehkan kepandaianmu Tapi, ketahuilah. Manusia Bangkai yang satu ini benar-benar sangat berbahaya. Sepasang mata iblisnya dapat menghancurkan dan menghanguskan benda apa saja yang dikehendakinya...!"
Untuk pertama kalinya, pemuda tampan berompi putih ini tercengang. Ada seorang tokoh dapat mempergunakan kedua matanya untuk menghanguskan lawan-lawannya" Selama malang melintang di rimba persilatan, baru kali ini Rangga mendengarnya. Kalau tidak memiliki kepandaian setara dengan kepandaian iblis, mana mungkin orang itu dapat melakukannya.
"Ki Kambaya... Kalau boleh tahu, di mana ki-ra-kira Batu Kumbara sekarang ini berada?"
Peramal Tuna Netra terdiam. Tongkat hitam-nya diketuk-ketuk di atas tanah sebanyak tiga kali. Secara aneh, tiba-tiba tongkat hitam itu bergerak dan menunjuk ke satu arah.
"Ha ha ha...! Matahari terbit! Tidak salah! Dia sekarang telah berada searah dengan matahari terbit! Tepatnya, di sebelah selatan Padepokan Merak Emas."
Rangga mengangguk-anggukkan kepala.
"Baiklah, Ki Kambaya. Jika sudah tidak ada lagi yang akan disampaikan, aku mohon pamit," kata Rangga, pelan.
Baru saja pemuda ini memutar langkahnya....
"Tunggu...!"
Pendekar Rajawali Sakti menghentikan langkahnya begitu mendengar seruan Ki Kambaya. Kemudian, ditatapnya Peramal Tuna Netra.
"Ada apa, Ki?"
"Ha ha ha...! Begini, Rangga. Jika urusanmu dalam membebaskan Ketua Padepokan Merak Emas telah selesai, jangan lupa datang pula ke Partai Giling Wesi, Padepokan Naga Merah, dan juga Padepokan Kapak Sakti. Kabarkan tentang berita buruk ini pada mereka. Agar, orang-orang itu bersikap waspada," pesan Peramal Tuna Netra.
"Hanya itu saja?" tanya Rangga sudah tidak sabar untuk melakukan pengejaran.
Kakek buta menggaruk kepalanya berulang-ulang.
"Oh...! Ada..., ada.... Jika umurmu panjang, menjelang akhir purnama hendaknya kau pergi ke Gunung Kelud. Karena, di sana kita akan sama-sama melihat, apakah ramalanku akan menjadi kenyataan atau tidak," kata Ki Kambaya mengucek-ngucek matanya yang buta.
Setelah itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, Rangga segera berlari mendapatkan kuda tung-gangannya Dewa Bayu. Sebentar saja, terdengar ringkikan keras disusul derap langkah kaki kuda yang semakin lama semakin menjauh.
Peramal Tuna Netra menggelengkan kepala berulang-ulang.
"Sungguh Pendekar Rajawali Sakti bukan na-ma kosong belaka!" gumam laki-laki buta itu, langsung melesat ke atas cabang pohon kembali.
? *** ? 3 ? "Ha ha ha...! Hebat Benar-benar hebat! Ter-nyata kau masih murni. Aku tidak kecewa...!"
Suara tawa penuh kepuasan terdengar dari seorang laki-laki bertampang menjijikkan, sambil memandangi sosok tubuh ramping dalam keadaan polos yang terkulai layu di atas tanah beralaskan daun-daun kering.
Air mata sosok yang ternyata seorang gadis itu semakin deras menetes.
Kini laki-laki berwajah rusak itu secara perlahan bergerak menjauhi. Sekarang, perhatiannya beralih pada sosok ramping lain yang duduk mematung tersandar di batang pohon, tanpa mampu berbuat apa-apa karena tubuhnya tertotok.
"Sudah kau saksikan Dewi Palasari. Muridmu benar-benar hebat melayaniku!" kata laki-laki yang tak lain dari Batu Kumbara, seraya memegang dagu wanita yang memang Ketua Padepokan Merak Emas. Kemudian tangannya yang dipenuhi luka membusuk itu bergerak meremas buah dada Dewi Palasari.
"Setan laknat! Phuih!" maki Dewi Palasari, langsung meludahi wajah laki-laki di depannya.
Batu Kumbara hanya menyeringai.
"Bau ludahmu sangat harum. Pasti tubuhmu lebih menyenangkan lagi!" desis laki-laki berjuluk Manusia Bangkai ini. Dan tiba-tiba tangannya yang kokoh bergerak cepat.
Bret! "Auuu...!"
Dewi Palasari terpekik kaget ketika baju di bagian dadanya robek besar. Sehingga. terlihatlah sepasang bukit kembarnya yang putih sekal me-nantang. Mata Batu Kumbara berbinar-binar, dengan nafsu bergelora.
"Ha ha ha...!" Batu Kumbara tergelak dengan tangan mulai bermain-main di dada gadis itu! "Sekarang tiba saatnya giliranmu...!"
Namun sebelum niatnya tersampaikan, dari arah lain melesat dua buah benda berwarna hitam. Yang satu langsung menuju ke arah Seruni yang terkapar di atas tanah, sedangkan yang lain langsung menghantam punggung Dewi Palasari.
Tanpa diketahui Manusia Bangkai yang tengah dikuasai hawa nafsu, rupanya benda-benda tadi langsung membebaskan totokan di tubuh Dewi Palasari dan Seruni. Maka ketika laki-laki itu bermaksud membaringkan calon mangsanya, mendadak satu tendangan Dewi Palasari yang sangat keras menghantam selangkangannya.
Buk! "Huargkh...!"
Batu Kumbara menjerit kesakitan. Tubuhnya terpelantjng dan jatuh di samping Seruni.
Sementara, Seruni laksana kilat bangkit. Langsung dihantamnya perut Batu Kumbara dengan tendangan yang dialiri tenaga dalam tinggi.
Batu Kumbara menggerung. Rasa sakit di bagian perutnya tidak sebanding dengan sakit yang merejam di selangkangannya. Anehnya, dia masih mampu berdiri. Sementara itu, Seruni segera mengenakan pakaiannya kembali. Sedangkan Dewi Palasari cepat-cepat merapikan pakaiannya.
"Bangsat siluman! Aku akan mencincang tu-buhmu!" teriak Dewi Palasari.
"Manusia-manusia tidak berguna. Dikasih ke-senangan malah menyakiti aku!" bentak laki-laki berwajah mengerikan itu, sambil menghindari serangan gencar yang datang menderu-deru dari dua penjuru.
Serangan-serangan gencar ketua maupun murid Padepokan Merak Emas itu bukan serangan biasa. Mereka kini telah mengerahkan jurus pedang 'Merak Mengepakkan Sayap' yang sangat dahsyat.
Hanya dalam waktu tidak sampai lima belas jurus, Batu Kumbara telah terdesak hebat. Bahkan pada satu kesempatan, pedang di tangan Dewi Palasari menyambar perutnya.
Crak! "Eeeh...!"
Tapi Dewi Palasari mendadak terkejut setengah mati. Tangannya yang memegang gagang pedang seperti kesemutan. Ujung pedang di tangannya terasa seperti membentur batu cadas yang sangat keras. Temyata, Batu Kumbara kebal terhadap serangan senjata tajam.
Manusia Bangkai itu tergelak-gelak. Sambil berkacak pinggang, dia tidak lagi menghindari tusukan maupun babatan pedang. Dan hebatnya, tidak satu serangan pun berhasil melukai tubuhnya.
"Hm.... Sekarang baru kalian tahu, siapa aku! Dan karena kalian telah mengecewakan, maka kalian harus kubunuh!" dengus Batu Kumbara.
Kemudian laki-laki berwajah dan bertubuh mengerikan itu mengerahkan tenaga dalamnya. Hanya dalam waktu singkat, kedua matanya telah berubah merah seperti bara.
Dewi Palasari dan Seruni sama-sama tercekat. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba saja Seruni nekat meluruk ke depan. Padahal, pada saat yang sama, Batu Kumbara mengedipkan matanya.
Seketika dua sinar merah membara laksana kilat menderu ke arah Seruni. Gadis ini sama sekali tidak menduga akan mendapat serangan mematikan sedemikian rupa. Sehingga, tidak ada kesempatan baginya untuk menghindari, terkecuali memutar pedang di tangannya membentuk perisai diri.
Glarrr...! "Aaa...!"
Terdengar satu ledakan dahsyat yang disertai jeritan menyayat hati. Pedang di tangan Seruni yang terlepas, langsung meleleh. Sedangkan Seruni sendiri jatuh terhempas dengan jiwa melayang.
Dewi Palasari tercekat melihat tubuh muridnya dalam keadaan hangus bagai arang.
"Seruni!" pekik Dewi Palasari tertahan tahan.
Wajah wanita ini yang pucat, seketika berubah memerah. Hatinya benar-benar murka setelah melihat keadaan murid utamanya.


Pendekar Rajawali Sakti 149 Teror Manusia Bangkai di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Manusia iblis! Aku akan mengadu jiwa de-nganmu!" dengus ketua Padepokan Merak Emas ini berapi-api.
Batu Kumbara menyeringai sinis.
"Kalaupun kau memiliki seribu senjata pusaka, tidak nantinya dapat melukai aku. Sekarang, masih ada kesempatan bagimu untuk menyerahkan diri secara baik baik kalau tidak, kau benar-benar akan menyesal...!"
"Bangsat! Hiyaaa...!"
Dewi Palasari segera mengerahkan jurus 'Merak Menggapai Bulan' dalam menggempur lawannya kali ini. Pedang di tangannya berkelebat dengan cepatnya, sehingga menimbulkan deru angin bergulung-gulung. Hanya dalam waktu singkat, tubuh Dewi Palasari telah tergulung sinar putih yang sangat menyilaukan mata.
Batu Kumbara menggumam aneh. Dalam hatinya, diakuinya kehebatan jurus pedang yang di-mainkan lawannya. Manusia Bangkai ini kemudian menggeser langkahnya ke samping kiri. Tangan kanannya menghantam ke depan.
Bersamaan dengan itu, Dewi Palasari meng-hantamkan senjata di tangannya ke bagian kepala Batu Kumbara. Namun dengan gerakan sangat manis, Batu Kumbara berkelit. Sedangkan tangan kanannya bagaikan patukan ular, menyelinap ke bawah ketiak wanita itu.
Crak! Tuk! "Aaa...!"
Celaka bagi Dewi Palasari. Totokan yang telak itu tidak dapat dihindari lagi sehingga seketika itu juga, tubuhnya berubah kaku dan sangat sulit di-gerakkan.
Batu Kumbara alias si Manusia Bangkai tertawa melengking. Matanya yang telah berubah merah seperti mata iblis, memperhatikan lawannya dengan penuh kemenangan.
Namun sebelum Batu Kumbara sempat berbu-at sesuatu, dari arah lain di kegelapan malam berkelebat bayangan putih. Dan tahu-tahu telah berdiri seorang pemuda berompi putih tidak jauh di depan Batu Kumbara dan Dewi Palasari.
Si Manusia Bangkai memperhatikan pemuda yang tidak dikenalnya ini dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya yang telah kembali seperti semula, memandang dengan tajam.
"Siapa kau, Kisanak...?" tanya Batu Kumbara, menggiriskan.
"Namaku, Rangga. Dan aku bukan iblis seper-timu!" dengus pemuda yang ternyata Pendekar Rajawali Sakti, bersikap waspada.
"Bangsat betul! Kau begitu berani menghi-naku"!" bentak Batu Kumbara sengit.
"Aku bukan menghinamu, Batu Kumbara! Tapi memang pada kenyataannya, kau manusia iblis!" desis Rangga tenang.
Batu Kumbara tersentak kaget. Selama ini, dia belum pernah bertemu pemuda berompi putih ini. Tapi yang membuatnya heran, bagaimana mungkin pemuda ini mengenali namanya"
"Jangan heran. Manusia sepertimu tentu saja dalam waktu singkat dikenal orang karena ke-jahatan-kejahatan yang dilakukan...!" kata Rangga, seperti bisa membaca pikiran Batu Kumbara.
"Kisanak! Mengapa hanya mengajak bicara manusia sesat ini! Dia sangat berbahaya. Lebih baik, kita bunuh bersama-sama!" Dewi Palasari yang sejak tadi hanya diam saja, ikut bicara.
"Benar, Nisanak! Tapi kuharap kau tidak ikut campur! Biar aku sendiri yang menghadapinya." sahut Rangga.
"Eiiit... Tidak bisa..., tidak bisa...! Dia telah membunuh beberapa orang muridku. Dan dia juga telah memperkosa murid utamaku yang bernama Seruni. Masa' aku hanya diam sebagai penonton!" balas Dewi Palasari, tidak mau kalah.
Rangga menjadi serba salah. Rasanya mustahil baginya untuk bertarung secara keroyokan. Jika sampai diketahui golongan hitam, tentu Rangga akan ditertawakan. Tapi gadis yang satu ini tentu saja tidak mudah dibujuk! Bagaimana caranya"
"Katanya kalian mau mengeroyokku" Sekarang, mengapa hanya diam saja..." Ayolah maju bersama-sama!" tantang Batu Kumbara tersenyum mengejek.
"Manusia iblis! Makanlah pedangku...!" teriak Dewi Palasari.
Tubuh wanita itu segera melesat ke depan. Pedang Merak di tangannya menderu, menimbulkan angin bersiuran.
Tapi, Batu Kumbara yang sudah tahu kepandaian lawannya hanya tertawa ganda. Dan hanya mempergunakan jurus 'Penghuni Kegelapan' ting-kat ketiga, maka serangan ganas yang menderu ke arahnya dapat dihindari. Serangan Dewi Palasari menemui sasaran kosong saja.
"Terimalah ini...!"
Terdengar bentakan Batu Kumbara. Tangan nya yang telah berubah menghitam menghantam dada Dewi Palasari.
Sementara, gadis itu sudah tidak mungkin dapat menghindarinya. Tangan Batu Kumbara yang telah teraliri setengah dari seluruh tenaga dalam menghantam telak dadanya.
Desss! Dewi Palasari berteriak kesakitan. Tubuhnya kontan jatuh terguling-guling. Dari mulut dan hidungnya mengucur darah kental, pertanda Dewi Palasari mengalami luka dalam yang cukup parah.
"Sekarang mampuslah kau!" teriak Batu Kumbara.
Seketika laki-laki mengerikan itu melompat ke depan memburu lawannya. Langsung dilepaskan-nya satu pukulan yang sangat mematikan.
Dewi Palasari terkesiap. Rasanya tidak mungkin lagi dapat menghindari pukulan ganas yang dilepas-kan Batu Kumbara. Tapi pada saat-saat yang sangat menegangkan, tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti melepaskan pukulan jarak jauh dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali, untuk memapak. Maka terdengarlah suara menggemuruh yang disertai melesatnya sinar merah menghanguskan melesat ke arah Batu Kumbara.
"Eee...!"
Batu Kumbara terkesiap. Buru-buru pukulan yang diarahkan kepada Dewi Palasan ditarik balik. Lalu, tangannya pun berkelebat, memapak sinar merah yang menderu ke arahnya.
Wusss! Mendadak seleret sinar hitam melesat dari te-lapak tangan Batu Kumbara. Satu dentuman menggelegar terjadi, begitu dua sinar yang berbeda, berbenturan. Tanah yang dipijak bergetar hebat. Pohon-pohon yang terhantam angin pukulan berterbangan.
Sementara itu kaki Pendekar Rajawali Sakti amblas ke dalam tanah sampai sebatas mata kaki. Sedangkan tubuh lawannya hanya bergetar saja. Walaupun, patut diakui kalau bagian dada Batu Kumbara terasa sakit berdenyut-denyut.
"Ha ha ha...! Ternyata kau memiliki kepandaian yang mengagumkan juga. Siapakah kau, Kisanak?"
"Orang-orang rimba piersilatan menyebutkuPendekar Rajawali Sakti!" sahut Rangga, tanpa maksud menyombongkan diri.
Wajah Batu Kumbara yang kelam berubah se-bentar. Tapi kemudian telah kembali seperti se-mula. Malah sekarang, matanya tampak berbinar-binar aneh.
"Pendekar Rajawali Sakti! Pernah kudengar ke-hebatan julukanmu. Tidak disangka-sangka, hari ini aku berhadapan langsung dengan orangnya. Kalau kulenyapkan nyawamu, pasti dalam waktu singkat Manusia Bangkai sepertiku akan terkenal di seluruh penjuru persilatan!"
"Simpanlah mimpi-mimpimu itu!" dengus Rangga.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Batu Kumbara mengedipkan matanya dua kali. Dan Rangga langsung melirik ke arah Dewi Palasari yang dalam keadaan pingsan. Ketika pukulan yang dilepaskan Batu Kumbara semakin bertambah dekat...
"Aji 'Bayu Bajra'!" teriak Rangga, langsung menghentakkan kedua tangannya ke arah Batu Kumbara.
Angin kencang laksana topan seketika menderu dan langsung menyambar, dua leret sinar yang menerjang ke arah Rangga. Tapi sungguh aneh, sinar merah yang melesat dari mata Batu Kumbara mampu menembus gulungan angin kencang dari aji 'Bayu Bajra' yang dilepaskan Rangga.
Pemuda berompi putih itu tersentak kaget. Tanpa menunggu lebih lama lagi, langsung disambarnya tubuh Dewi Palasari yang tidak sadarkan diri. Kemudian dengan kecepatan laksana kilat, tubuhnya menghilang di kegelapan malam.
"Kurang ajar! Manusia pengecut!" maki Batu Kumbara sambil mengejar ke arah menghilangnya Rangga.
Tapi, pemuda itu telah lenyap dari pandangan matanya.
? *** ? Selanjutnya Bagian 4-6
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 " . 149. TEROR MANUSIA BANGKAI Bagian 4-6
14. Dezember 2014 um 07:30
4 ? Di atas punggung Dewa Bayu, Rangga terus melesat menuju ke arah timur. Ketika sampai di sebuah tempat yang sangat luas, hari telah men-jelang pagi. Rangga mgnarik kekang kuda. Sehingga terdengar ringkikan keras Dewa Bayu.
Kuda itu berhenti. Dan Rangoa melompat dari punggung kudanya. Setelah itu, dia menurunkan Dewi Palasari dari punggung kudanya. Ternyata. Ketua Padepokan Merak Emas itu masih belum sadarkan diri. Dan Rangga segera membawanya ke bawah pohon berdaun rindang. Kemudian, ditelungkupkannya tubuh Dewi Palasari di situ.
Rangga duduk bersila di samping Dewi Palasari yang masih tertelungkup. Lalu, kedua telapak tangannya diletakkan di punggung wanita ini. Tidak lama kemudian, mata Rangga terpejam. Kini mulai dikerahkannya hawa murni ke bagian telapak tangan.
Terasa ada hawa hangat menjalari sekujur tubuh Dewi Palasari. Sebentar saja, terdengar suara erangan lirih dari mulut gadis itu. Rangga terus mengerahkan hawa murninya. Sekujur tubuhnya telah bersimbah keringat. Tidak sampai sepemakan sirih, Rangga menarik tangannya dari punggung Dewi Palasari.
Segera Rangga berbalik ke arah lain. Masih dalam keadaan bersila, jalan napasnya diatur.
"Mudah-mudahan pukulan Manusia Bangkai itu tidak mengandung racun. Luka dalam yang di-derita ternyata tidak ringan. Seharusnya dia tidak nekat seperti itu...!" gumam Rangga, pelan.
Pendekar Rajawali Sakti menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Ingatannya menerawang pada pertempuran yang terjadi tadi malam.
"Aku belum pernah melihat mata manusia dapat mencelakakan orang lain seperti itu. Manusia iblis itu benar-benar sakti. Tubuhnya pun tidak mempan senjata. Hm...!" gumam pemuda berompi putih ini seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Seandainya aku tidak menghiraukan keselamatan Ketua Padepokan Merak Emas, sebenarnya aku ingin terus bertarung sampai titik darah yang penghabisan. Sekarang, dia punya kesempatan menghancurkan perguruan-perguruan lain, seperti yang pernah dikatakan Peramal Tuna Netra padaku..."
"Uuuh... Di manakah aku .?" rintih Dewi Palasari yang rupanya mulai siuman kembali.
Gadis itu segera bangkit duduk. Dia merasa bagian dadanya yang semula seperti remuk, seka-rang sudah tidak sakit lagi. Ketika kepalanya ber-paling memperhatikan sekelilingnya, dia langsung terkejut. Di bawah pohon, tampak bersandar seorang pemuda tampan berompi putih. Dewi Palasari mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ingatannya timbul kembali. Pemuda itulah yang telah menolongnya dari kematian, ketika Batu Kumbara melepaskan pukulan yang sangat dahsyat ke arahnya.
"Kisanak..!" panggil Ketua Padepokan Merak Emas ini, ragu-ragu.
"Namaku, Rangga. Panggil saja begitu. Dan kurasa, umur kita tidak terpaut jauh. Jadi, aku akan memanggilmu Dewi saja...!" tegas Rangga berusaha bersikap ramah.
"Kaukah yang telah menolongku...?" tanya gadis itu dengan wajah bersemu merah.
Rangga tersenyum.
"Aku hanya memindahkan kau ke tempat yang lebih aman."
"Terima kasih atas pertolonganmu! Tapi..., bagaimana dengan manusia durjana itu?" tanya Dewi Palasari ingin tahu.
"Dengan terpaksa aku meninggalkannya dalam keadaan penasaran!" sahut Rangga, kalem.
"Kau telah melarikan diri dari pertempuran?" Dewi Palasari membelalakkan matanya.
"Aku ingin menyelamatkanmu! Kurasa, masih ada waktu untuk mencarinya...!"
'Tapi dengan begitu, dia akan punya banyak kesempatan membunuh tokoh-tokoh persilatan yang tidak berdosa. Tidakkah kau lihat, bagaimana murid-muridku yang terbantai, bahkan diperkosa olehnya?" kata Dewi Palasari dengan nada meninggi.
"Aku telah melihat salah satu kekejaman dan kebuasannya. Tapi, kau juga harus ingat kalau Batu Kumbara kebal terhadap senjata. Selain itu, matanya juga sangat berbahaya. Bertindak tanpa perhitungan dan pertimbangan, adalah konyol. Lagi pula...!"
Rangga tiba-tiba saja menjadi ragu.
"Lagi pula apa?" desak Dewi Palasari penasaran.
Pendekar Rajawali Sakti terdiam sejenak. Dia teringat pesan Peramal Tuna Netra.
"Sebenarnya, aku mengemban tugas yang di-berikan seseorang," ujar pemuda itu, pelan saja suaranya.
"Maksudmu?" Ketua Padepokan Merak Emas semakin tertarik.
Kemudian secara panjang lebar Pendekar Rajawali Sakti menceritakan pertemuannya dengan Ki Kambaya di daerah selatan. Sementara Dewi Palasari mendengarkan penuh perhatian.
"Jadi, Peramal Tuna Netra yang menyuruh Ka-kang menolongku...?" tanya Dewi Palasari begitu Rangga menyelesaikan ceritanya.
Rangga tertegun. Tanpa diminta, rupanya gadis ini telah memanggilnya 'Kakang'. Tapi kemudian sikap Rangga biasa-biasa saja.
"Benar! Apa kau mengenalnya?" tanya Rangga balik bertanya.
Ketua Padepokan Merak Emas menggelengkan kepalanya.
"Aku memang pernah mendengar nama peramal buta itu disebut-sebut orang. Tapi, jumpa secara langsung belum pernah. Kalau memang benar apa yang dikatakannya, berarti Batu Kumbara sekarang telah pergi ke padepokan lain untuk mengadakan kekacauan dan pembunuhan. Lalu, apa tindakan kita?" kata Dewi Palasari, meminta pendapat.
"Kita tidak tahu, padepokan mana yang menjadi sasaran berikutnya. Tapi menurutku, tentulah padepokan terdekat dari sini!"
"Padepokan terdekat hanya Padepokan Kapak Sakti yang terletak di daerah Gunung Kidul!" jelas Dewi Palasari.
"Kalau begitu, aku harus ke sana!" kata Rangga sambil bangkit berdiri.
"Kakang! Apakah kau keberatan jika aku ikut denganmu?" tanya Dewi Palasari sambil meman-dang tajam kepada Rangga.
Saat itu, rupanya Rangga juga sedang meman-danginya. Sehingga pandangan mereka saling ber-temu. Seketika bergetar hati Dewi Palasari.
Tanpa disadari, Rangga pun sempat merasakan getaran itu. Wanita ini memang sangat canrik. Tapi ketika pemuda ini teringat Pandan Wangi, bayangan Dewi Palasari segera ditepisnya.
"Kakang...!"
Suara lembut Dewi Palasari telah membu-yarkan lamunan Rangga.
"Hm...!" gumam Rangga tidak jelas.
"Bolehkah aku menyertaimu?"
'Tentu saja. Mari kita berangkat...!" kata Rangga.
Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, ketika kedua anak muda ini menelusuri padang rumput yang sangat luas. Sementara itu, Dewa Bayu terus mengiringi mereka tidak jauh di belakang Rangga dan Dewi Palasari.
? *** ? Gunung Kidul sejak dulu memang merupakan daerah gersang yang sangat tandus dan kering. Sangat jarang tumbuh tumbuhan hidup di daerah ini.
Batu-batu berserakan di mana-mana. Tidak heran jika para penduduk enggan berlama-lama tinggal di sana.
Sungguhpun begitu, ada sebuah tempat yang tidak pernah ditinggalkan para penghuninya, yaitu sebuah padepokan yang sudah tua. Namanya, Padepokan Kapak Sakti. Padepokan itu dipimpin seorang laki-laki berusia lanjut bernama Bagas Salaya.
Di padepokan yang terletak di daerah terpencil ini, setiap hari selalu terdengar suara hiruk-pikuk dari murid-murid yang sedang berlatih ilmu olah kanuragan.
Sebagaimana biasanya, setiap pagi murid tertua Ki Bagas Salaya yang bernama Droma Hang-kara selalu melaporkan perkembangan silat saudara-saudara seperguruannya.
Matahari sudah mulai meninggi, ketika Droma Hangkara menghampiri Ki Bagas Salaya yang sedang duduk di atas batu cadas bundar berpakaian pangsi hitam. Tubuhnya yang hitam legam karena selalu terjemur matahari, tampak kokoh. Bisa ditebak kalau laki-laki tua ini selalu melakukan olah badan.
"Murid datang menghadap, Guru!" lapor Droma Hangkara sambil menghaturkan sembah.
Mata keriput yang tertutupi alis serba putih itu membuka perlahan. Tatapan matanya yang berwibawa memandang tajam Droma Hangkara.
"Bagaimana dengan saudara-saudara sepergu-ruanmu?" tanya Ki Bagas Salaya, pelan sekali suaranya.
"Hari demi hari mereka mengalami kemajuan yang sangat menggembirakan, Guru," jawab Droma Hangkara.
Ki Bagas Salaya mengelus-elus jenggot pan-jangnya yang sudah memutih seluruhnya.
"Dua puluh hari lagi, kita sudah harus be-rangkat ke Gunung Kelud. Di sanalah kau dapat menunjukkan kehebatan ilmu olah kanuragan yang telah kau peroleh dariku! Pergantian ketua partai aliran putih, sudah dekat waktunya. Jika saja kita berhasil memenangkan pertandingan, maka berhak menggantikan kedudukan pimpinan partai yang sekarang dipegang Naga Merah." jelas Ki Bagas Salaya.
"Asal kita berusaha keras untuk mendapatkannya, kukira usaha kita akan mendatangkan hasil, Guru!" tegas Droma Hangkara penuh keyakinan.
"Kupikir juga demikian, Muridku! Kesempatan memimpin partai aliran putih adalah satu kehormatan. Jika kesempatan itu didapatkan, akan membuat pamor kita semakin tinggi di kalangan rimba persilatan. "
"Itulah yang selalu kutunggu-tunggu."
"Sebagaimana halnya kita, semua ketua persilatan juga menunggu kesempatan yang datangnya hanya sekali dalam empat tahun ini. Nah... Sekarang, kembalilah kau ke tempat latihan. Tingkatkan kemampuan mereka dengan semua kemampuan yang kau miliki!" ujar Ki Bagas Salaya.
"Aku akan melaksanakannya, Guru," sahut Droma Hangkara sambil menjura penuh rasa hor-rhat.
Laki-laki berusia tiga puluh tahun ini baru saja bangkit berdiri, ketika dari arah puncak bukit terdengar suara tawa tergelak-gelak. Kemudian disusul terciumnya bau busuk bangkai yang menebar memenuhi tempat ini.
Droma Hangkara tersentak kaget. Semetara Ki Bagas Salaya langsung memandang ke arah da-tangnya suara tawa tadi. Mereka berdua melihat seorang laki-laki bertelanjang dada berdiri berkacak pinggang tidak jauh di belakang bangunan padepokan ini. Sambil terus tertawa-tawa seperti orang gila, laki-laki bertampang seperti iblis ini bergerak cepat ke arah mereka. Langsung dilompatinya atap padepokan, dan mendarat di hadapan Ki Bagas Salaya.
Melihat gelagat yang tidak baik ini, Droma Hangkara segera meraba pinggangnya yang terselip sebilah kapak berbenruk pipih dan berkilat-kilat tajam.
"Ha ha ha...! Aku ingin bertemu Ketua Padepokan Kapak Sakti ini...!" kata Batu Kumbara sambil berkacak pinggang.
"Apa maksudmu ingin menemui Ketua Padepokan Kapak Sakti?" tanya Ki Bagas Salaya sambil memperhatikan orang di depannya dengan tatapan penuh curiga.
"Tujuanku sudah sangat jelas. Tiga tahun yang lalu, dia hutang penderitaan padaku!"
Kening Ki Bagas Salaya berkerut dalam. Tiga tahun yang lalu" Batin laki-laki tua itu bertanya-tanya, sambil berusaha mengingat-ingat.
Sekarang barulah dia ingat. Tiga tahun yang lalu, dia bersama Ketua Padepokan Golok Perak dan juga ketua padepokan-padepokan lainnya, meringkus seorang manusia durjana yang telah melakukan perampokan dan pembunuhan semena-mena. Orang itu mereka rantai di Lembah Batang. Hampir setiap hari orang-orang datang dari berbagai daerah untuk menyiksanya.
"Apakah kau mengingatnya, Kisanak?" tanya Batu Kumbara setelah memperhatikan laki-laki tua di depannya dalam waktu cukup lama.
"Hm. Kaukah yang bernama Batu Kumbara, manusia durjana yang telah menjalani siksa di Lembah Batang?" dengus Ki Bagas Salaya. Sementara, hatinya terkejut juga melihat kehadiransosok yang sangat rusak itu.
"Bagus, kalau kau mengingatnya. Berarti tidak perlu kujelaskan padamu jika hari ini aku meminta nyawa Ketua Padepokan Kapak Sakti!"
"Hei, Manusia Buruk Rupa!" bentak Droma Hangkara yang merasa tersinggung karena sikap Batu Kumbara yang tidak memandang sebelah mata pada gurunya." Mulutmu kelewat lancang! Tidak sadarkah, kau dengan siapa berhadapan?"
Batu Kumbara melirik ke arah Droma Hangkara sekilas saja. Bibirnya tersenyum mengejek.
"Hei, Anak Ingusan! Aku tahu, aku sedang berhadapan dengan Ketua Padepokan Kapak Sakti. Makanya, kau jangan mencampuri urusanku!" desis Batu Kumbara.
Wajah pemuda itu berubah merah padam. Belum pernah ada orang yang berani menghinanya sedemikian rupa. Tapi laki-laki jelek bertampang iblis dan berbau busuk itu berkata seenak perutnya saja. Maka dengan sangat marah, dia bermaksud menyerang Batu Kumbara.
Tapi gerakan Droma Hangkara terhenti tiba-tiba, ketika melihat gurunya memberi isyarat padanya untuk menahan serangan. Dengan perasaan kecewa, serangan ditarik kembali. Sementara, tawa Batu Kumbara semakin bertambah keras.
"Ternyata gurumu lebih tahu, bagaimana cara menghormati seorang tamu...."
"Batu Kumbara! Seharusnya manusia busuk sepertimu sudah mampus di Lembah Batang. Tapi, ternyata kau masih mampu bertahan. Bahkan kini dapat meloloskan diri," kata Ki Bagas Salaya, menyelidik.
"Tentu saja kau heran, Kakek Renta. Semula, pasti kau dan kawan-kawanmu menyangka saat ini aku hanya tinggal tulang-belulang saja di Lembah Batang. Ternyata, dugaan kalian salah besar. Dan sekarang, lihatlah ke arah batu itu!" ujar Batu Kumbara sambil menunjuk ke arah sebongkah batu sebesar kerbau yang berada sepuluh batang tombak di depan mereka.
Dengan perasaan heran, guru dan murid itu memandang ke arah batu yang ditunjuk Manusia Bangkai. Sementara itu, tubuh Batu Kumbara tampak bergetar hebat. Selanjutnya mata iblisnya telah berubah memerah laksana bara!
Begitu laki-laki berwajah mengerikan ini me-ngedipkan matanya, maka dua leret sinar berwarna merah membara melesat laksana kilat ke arah batu besar itu. Dan sebentar saja, terdengar ledakan dahsyat yang terasa seperti mengguncang daerah di sekitarnya. Batu sebesar gajah itu hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Debu seketaka membubung tinggi ke angkasa.
Baik Droma Hangkara maupun Ki Bagas Salaya sama-sama terkesiap melihat kehebatan yang dimiliki manusia iblis itu.
Setelah menunjukkan kehebatannya, Batu Kumbara berbalik.
"Kalau tubuhmu yang tua itu sehebat batu yang hancur di depan sana, mungkin kau dapat selamat dari kematian. Tapi..., itu pun harus melihat peruntunganmu!" ancam Batu Kumbara, menggeram.
"Kau pikir setelah melihat permainanmu itu, aku takut"!" teriak Droma Hangkara marah sekali.
"Ha ha ha...! Lagi-lagi kau bertindak sebagai pahlawan. Aku ingin melihat, sampai sejauh mana kehebatan murid tertua Padepokan Kapak Sakti...!" dengus Batu Kumbara sengit.
Tiba-tiba Batu Kumbara mengibaskan tangannya ke arah Droma Hangkara. Melihat hal itu murid tertua Padepokan Kapak Sakti dengan gesit menghindari serangan hawa dingin yang dilancarkan Batu Kumbara.
? *** ? Serangan gencar Manusia Bangkai mencapai tempat kosong. Laki-laki ini menggeram marah. Dan begitu tubuhnya berbalik, dia telah bersiap-siap melepaskan pukulan 'Iblis Gentayangan'.
"Hiaaa...!"
Disertai teriakan keras menggelegar, Manusia Bangkai langsung menghentakkan kedua tangannya ke depan. Maka dari kedua telapak tangannya, meluncur dua sinar hitam yang berkesiuran tajam mengandung kekuatan dahsyat. Selain mengandung racun yang sangat keji, luncuran angin itu dapat mematikan lawannya dengan seketika.
Melihat kenyataan ini, Droma Hangkara terkesiap. Tapi segera disadari ada bahaya yang mengancam. Maka segera dikerahkannya jurus-jurus Padepokan Kapak Sakti yang sangat hebat.
Wusss! Dua leret sinar hitam hampir Aba, Droma Hangkara segera memutar kapak di tangannya. Sementara tangan kiri melepaskan pukulan Inti Sukma untuk menghalau serangan.
Glar! Glar! Dua kali ledakan berturut-turut terdengar. De-bu-debu beterbangan. Tubuh Batu Kumbara bergetar hebat. Sementara, Droma Hangkara sendiri terpelanting roboh. Lebih mengenaskan lagi, tubuhnya berubah menghitam. Mata kapak yang berada dalam genggaman telapak tangannya juga berubah hitam!
Ki Bagas Salaya yang terus memperhatikan ja-lannya pertempuran tampak terkejut. Sama sekali tidak disangka dalam beberapa kali gebrakan saja, murid utamanya telah teriengkang dengan jiwa melayang.
"Manusia iblis! Tindakanmu sangat kejam!" bentak Ki Bagas Salaya.
Laki-laki tua itu segera melompat ke depan. Dan tahu-tahu, dia telah berdiri di depan Batu Kumbara.
Sementara itu, murid-murid Padepokan Kapak Sakti lainnya yang telah mendengar keributan telah berada di sekitar tempat pertempuran. Mereka langsung mengurung Batu Kumbara dari segenap penjuru arah.
Sedangkan laki-laki bertelanjang dada dan berwajah angker ini memperhatikan mereka satu demi satu.
"Kalian benar-benar menghendaki kematian, telah berani mengurungku begini rupa!" bentak Batu Kumbara.
Tiba-tiba laki-laki menggiriskan ini menggerakkan kedua tangannya ke delapan penjuru. Maka seketika beberapa leret sinar hitam pekat melesat dari telapak tangan Manusia Bangkai. Hanya dalam waktu sangat singkat, udara di sekitamya telah berubah menjadi dingin menggidikkan, Kemudian, terdengar jerit kematian di sana-sini. Beberapa sosok tubuh berpelantingan roboh. Tubuh mereka telah berubah menghitam. Sementara, dari mulut dan hidung mereka mengucur darah yang telah berubah hitam pula.
? *** ? 5 ? Jeritan-jeritan terus terdengar dan saling susul-menyusul. Korban pun semakin banyak berjatuhan. Ki Bagas Salaya yang melihat semua kejadian ini, menjadi terkejut bukan kepalang.
"Mundur kalian semua...!" teriak Ketua Padepokan Kapak Sakti memberi aba-aba pada murid nya.
Sisa murid Padepokan Kapak Sakti yang hanya tinggal beberapa orang segera menjauh dari pertempuran Ki Bagas Salaya melompat ke depan sambil melintangkan kapaknya di depan dada.
"Tindakanmu benar benar sangat keji, Batu Kumbara! Kau bunuh murid-muridku yang tidak berdosa!" gerem Ki Bagas Salaya dengan wajah berubah merah padam.
"Ha ha ha." Tidak perlu gusar, Kakek Renta. Anggap saja kau membayar semua hutangmu berikut bunganya. Kau pun tidak perlu merasa berkecil hati. Karena, sebentar lagi akan mendapat giliran yang sama!"
"Bangsat! Aku tidak akan pernah merasa puas sebelum mencincang tubuhmu"!"
Bergetar sekujur tubuh Ki Bagas Salaya. Diam-diam, tenaga dalamnya mulai dikerahkan ke bagian telapak tangannya. Tangan itu selanjutnya telah berubah putih berkilauan.
Sambil membentak lantang, Ketua Padepokan Kapak Sakti ini mengibaskan tangan kirinya ke depan, mempergunakan tiga perempat dari seluruh tenaga dalamnya.
Batu Kumbara sama sekali tidak menduga ka-lau lawannya melepaskan pukulan 'Inti Surya'. Sehingga ketika pukulan berhawa panas luar biasa itu menderu ke arahnya, dia sudah tidak sempat menghindarinya. Akibatnya, dengan telak pukulan itu menghantam tubuhnya.
Glar! Glar! Terdengar ledakan dahsyat dua kali berturut-turut. Tampak Batu Kumbara jatuh terguling-guling. Dari sudut-sudut bibirnya menetes darah kental. Tapi anehnya dia sudah bangkit kembali. Bibirnya langsung menyeringai, membayangkan kekejamannya.
Sementara Batu Kumbara memandang lawannya dengan sinar mata seakan tidak percaya.
"Hm.... Sekarang kau telah mengerti, siapa aku yang sebenarnya. Tiga tahun yang lalu, kalian bisa berbuat seenaknya. Tapi tidak untuk hari ini. Kau akan merasakan, betapa pedihnya pembalasanku!" dengus Manusia Bangkai.
Hanya dalam waktu sekejap saja kedua mata Batu Kumbara yang tajam berkilat-kilat telah berubah menjadi merah membara. Tak sampai di situ saja. Batu Kumbara juga mulai mengerahkan jurus 'Hantu Gentayangan' dalam menggempur lawannya.
Dua leret sinar merah yang melesat dari kedua mata Batu Kumbara melesat ke arah Ki Bagas Sa-laya. Namun Ketua Padepokan Kapak Sakti ini, dengan mengandalkan jurus 'Bayang-bayang Menerjang' sudah bergerak menghindar. Sinar merah yang melesat dari mata Batu Kumbara hanya menghantam batu besar di belakang Ki Bagas Salaya, sehingga menimbulkan ledakan menggelegar.
Kisah Para Penggetar Langit 2 Pendekar Gila 39 Ajian Canda Birawa Pedang Semerah Darah 2

Cari Blog Ini