Ceritasilat Novel Online

Dedemit Pintu Neraka 1

Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka Bagian 1


Ser i al Pe ndeka r Raj awal i Sak t i Epi s ode Dedemit Pintu Neraka
Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Novo
Convert & Editor : Raynold
(www.tagtag.com/tamanbacaan)
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
PENDEKAR RAJAWALI SAKTI :
DEDEMIT PINTU NERAKA
oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode: Dedemit Pintu Neraka
128 hal. ; 12 x 18 cm
Djvu oleh : Novo (Catutsana-sini.blogspot.com)
Edit teks oleh :
Raynold (www.tagtag.com/tamanbacaan)
Final Edit & Ebook pdf : Dewi KZ
http://kangzusi.com/
1 Matahari sudah rebah di kaki langit. Sinarnya telah
pudar, membuat lereng Gunung Simeru berubah menjadi
gelap. Dari bagian utara lereng, dua sosok tampak
menggebah kuda masing-masing melintasi jalan setapak.
Kuda-kuda itu tampak telah mendengus-dengus dengan
lidah terjulur, tanda telah kelelahan. Kulitnya berkeringat.
Jelas binatang-binatang itu baru saja melakukan
perjalanan jauh.
"Hiya..."
"Hiyaaa....!"
Walaupun kedua orang itu telah menggebah sekuatkuatnya, namun kuda-kuda yang sudah sangat
kelelahan tetap bergerak lambat dengan sisa-sisa
tenaganya. "Suiiiittt...!"
Belum hilang gema suara mereka, tiba-tiba terdengar
siulan yang tidak beraturan. Kedua ekor kuda berbulu
hitam itu entah mengapa berubah liar dan marah. Kaki
depannya terangkat tinggi-tinggi ke udara. Dua
penunggangnya nyaris terpelanting dari pelana kuda
masing-masing, kalau tidak cepat mengendalikannya.
"Ha ha ha.... !"
Belum hilang rasa terkejut mereka, suara siulan tibatiba berganti suara tawa panjang yang disusul
berkelebatnya tiga buah benda berwarna hitam dari
kegelapan ke arah dua penunggang kuda ini.
"Awas, Bayu Tirta...!"
teriak salah seorang penunggang kuda.
Set! Set! Crab! Crab! "Heieekh...!"
Beruntung, kedua penunggang kuda itu cepat
melenting, sehingga kuda-kuda mereka yang menjadi
sasaran. Kuda-kuda itu kontan melonjak dan meringkik keras.
Hanya sebentar saja, kedua binatang itu tergelimpang
mati dengan mulut mengeluarkan darah. Sementara
kedua penunggang kuda berhasil mendarat. Namun
seketika wajah mereka berubah pucat seperti mayat.
"Cabut senjatamu, Narata!" ujar penunggang kuda
yang dipanggil Bayu Tirta.
Kedua orang yang bernama Bayu Tirta dan Narata
segera bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.
Wusss... ! Baru saja mereka bersiap, kembali meluruk desir angin
tajam, satu sosok bayangan hitam berjubah panjang
yang langsung mengibaskan tangannya. Maka seketika
meluruk dua buah sinar keperakan ke arah mereka.
Dengan gerakan cepat, Bayu Tirta dan Narata
mengebutkan pedangnya.
Wut! Wut! Tring! Tring! Dua sinar keperakan ternyata senjata rahasia berupa
bintang segi lima membentur pedang di tangan Bayu
Tirta dan Narata. Namun bersamaan itu sosok berjubah
hitam itu kembali mengibaskan tangannya.
Set! Set! Kali ini kedua orang yang jadi sasaran harus
membuang diri ke kanan dan kiri, membuat bintang segi
lima itu hanya merabas angin kosong.
"Huh..! Ternyata kau, si Jubah Hitam Bermuka Hijau!
Pantas, kekejamanmu sama dengan Dedemit Pintu
Neraka! Akan kulaporkan kejadian ini pada Guru kami, Ki
Pandhu Wilantara...!" desis laki-laki yang bernama Bayu
Tirta geram, begitu bangkit berdiri. Sementara Narata
pun telah bersiap kembali.
"Usaha kalian hanya sia-sia! Karena, kalian segera
kukirim ke neraka!" sahut laki-laki berjubah hitam yang
dipanggil si Jubah Hitam Bermuka Hijau, dingin.
Dalam kegelapan itu Bayu Tirta dan Narata memang
tidak dapat melihat bagaimana rupa si Jubah Hitam
Bermuka Hijau. Tapi dari gerakan dan cara menyerangnya, sudah dapat diduga siapa orang itu
"Hiyaaa!"
Bet! Bet! Bayu Tirta dan Narata segera memutar pedang ketika
kembali melesat sinar putih keperakan.
Trang! Trang! "Heh..."!"
Kedua laki-laki berbaju putih ini terkejut setengah
mati. Karena baru saja menangkis, bintang-bintang segi
lima Itu kembali meluruk Bukan main cepat serangan ini.
Sehingga.... Crep! Crep! "Aa...!"
Bayu Tirta dan Narata kontan terlempar, saat senjatasenjata rahasia itu menembus tenggorokkan. Jeritan
segera lenyap ketika mereka ambruk dan menggelepar
sesaat kemudian. mereka terdiam untuk selamalamanya. -0o-dwkz-ray-novo-o0"Bayu Tirta...! Narata...! Ohh..."!"
Seorang laki-laki tua berambut putih keperakan kontan
terbangun dari tidurnya dengan peluh membasahi wajah.
"Oh..." aku bermimpi" Tapi.., mimpi itu begitu
jelas...?"desah laki-laki tua ini. "Mungkinkah Bayu Tirta
dan Narata telah tewas...?"
"Ayah...! kau tidak apa-apa"!"
Mendadak dari pintu kamar menerobos masuk seorang
gadis cantik berpakaian serba putih. Gadis itu langsung
menghampiri laki-laki tua yang baru saja mengalami
mimpi buruk. "Aku tidak apa-apa, Warsih. Hanya mimpi... Tapi..."
"Tapi apa, Ayah?" potong gadis bernama Warsih ini
seperti penasaran.
"Mimpi itu seperti dekat, Warsih. Mengerikan sekali.
Rasanya, benar-benar terjadi...," ujar laki-laki tua ini.
"Iya..., tapi mimpi apa?" desak Warsih tak sabar.
"Aku mimpi, Bayu Tirta dan Narata tewas dibantai
sosok berjubah hitam. Kau tahu bukan kalau malam ini
kedua murid kesayanganku kutugaskan untuk mencari
beberapa muridku yang hilang tak tentu rimbanya, ketika
tengah menyelidiki sepak terjang Si Jubah Hitam
Bermuka Hijau?" tutur laki-laki tua yang tak lain Ki
Pandhu Wilantara.
"Tapi itu kan hanya mimpi, Ayah...?" tukas Warsih.
"Kurasa bukan, Anakku. Sebelum kematian itu yang
secara aneh, aku juga sering mendapat firasat seperti
itu.... Dan kenyataannya..." Ibumu tewas. Murid-muridku
pun hilang tak tentu rimbanya. Dan kini....?"
Ki Pandhu Wilantara seperti tak kuasa meneruskan
kata-katanya. Hatinya seperti terpukul.
"Tapi kuharap, Ayah tidak perlu menceritakan hal ini
pada murid-murid yang lain. Aku khawatir mereka akan
cemas...," ujar Warsih.
"Tentu, Anakku.... "
Sejenak suasana jadi hening, ketika belum lagi ada
yang bersuara. "Untuk membuktikan kebenaran mimpi itu, bagaimana
jika kita minta bantuan Paman Banyu Raga, Ayah?" usul
gadis berpakaian putih itu seraya memandang ayahnya
dengan sinar mata tajam dan penuh perhatian.
"Pamanmu juga selalu sibuk mengurusi padepokannya. Mana punya waktu datang kemari," sahut
Ki Pandhu Wilantara tegas.
"Kita belum mencobanya. Kalau Ayah mau dan
mengizinkan, besok pagi-pagi sekali aku berangkat ke
Desa Randu Doyong untuk menjumpai Paman Banyu
Raga." "Niatmu memang bagus, Warsih. Sebagai orang tua,
Ayah tidak mau kehilangan anak satu-satunya. Kita
belum tahu, siapa yang bunuh murid-muridku. Apa benar
Si Jubah Hitam Bermuka Hijau atau Dedemit Pintu
Neraka" A pa tujuannya, kita pun tidak tahu. Orang-orang
sesat itu hingga saat itu tetap berkeliaran. Sedangkan
kita tidak mampu berbuat apa-apa!" tukas laki-laki
berusia hampir enam puluh tahun itu.
"Ayah belum berbuat apa-apa! Mengapa sekarang
bersikap seperti orang lemah" !" tegur Warsih tidak
senang. "Bukannya begitu, Warsih. Aku hanya menganggap
pembunuh dan penyebar petaka itu adalah manusia
pengecut! Jika dia memang punya persoalan denganku,
mengapa tidak muncul secara terang-terangan..."!"
dengus Ki Pandhu Wilantara kesal. "Sudahlah.... Jangan
kita memanjangkan persoalan. Sekarang sudah larut
malam. Istirahatlah, Warsih! Biarkan Ayah mengawasi
para penjaga di luar sana. "
Gadis cantik berkulit kuning langsat ini menganggukkan kepala. Tidak lama, ditinggalkannya
kamar pribadi ayahnya dengan sikap gagah.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Rupanya, sepak terjang si Jubah Hitam Bermuka Hijau
dalam membuat petaka di rimba persilatan makin liar
saja. Begitu melihat ada beberapa murid padepokan
terkenal, langsung dibantai. Maka begitu melihat
serombongan pemuda berpakaian serba ungu dengan
lambang bergambar kipas di dada, si Jubah Hitam
Bermuka Hijau langsung menyerang. Laki-laki berjubah
hitam ini tahu kalau para pemuda itu berasal dari
Padepokan Kipas Sakti yang di kalangan persilatan cukup
terkenal. "Serang! Jangan biarkan si Jubah Hitam Bermuka
Hijau lolos!" teriak seorang pemuda berpakaian serba
ungu. "Baik, Kakang Wiranata...!"
Dan, benar saja. Belasan murid-murid Padepokan
Kipas Sakti langsung menyerang orang berjubah hitam
dengan senjata kipas.
"Kalian hanya keroco-keroco. Tapi aku senang hati
bersedia mengirim kalian ke neraka!" desis laki-laki
berjubah hitam itu, seraya mengibaskan tangannya.
Set! Set! Beberapa sinar putih berkilauan melesat ke arah
murid-murid perguruan itu.


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Heaaa!"
Namun penyerang tentu saja tidak tinggal diam.
Senjata kipas mereka mengebut cepat, melakukan
tangkisan Trak! Trak! "Aaaghh...!"
Kendati demikian, tetap saja ada beberapa yang tak
tertangkis kontan tertembus senjata rahasia berupa
bintang segi lima yang ternyata sangat beracun.
Sedangkan lainnya masih mampu memukul balik.
"Uts!"
Secepatnya laki-laki berjubah hitam itu melompat ke
samping. Dalam hati dia memaki, sekaligus memuji
kehebatan lawan-lawannya.
"Aku telah memberi kesempatan pada kalian untuk
melapor pada Banyu Raga. Tapi, rupanya kalian lebih
suka mati! Kuberi kalian hidup, malah minta racun!" desis
si Jubah Hitam Bermuka Hijau dingin menggidikkan.
"Kurang ajar! Kedatanganmu tahu-tahu sudah membuat onar. Dan kami tidak bisa tinggal diam!" sahut
seorang murid. Maka semakin bertambah marahlah laki-laki berjubah
hitam itu. Begitu dia melengos, tampak seluruh wajahnya
berwarna hijau.
Sambil melengos, si Jubah Hitam Bermuka Hijau
mengibaskan tangannya kembali setelah tadi berada di
balik jubahnya.
Set! Set! Kali ini beberapa benda sepanjang sejengkal berwarna
hitam meluncur deras. Bukan main cepat luncuran
benda-benda itu. Sehingga, hampir semua murid
Padepokan Kipas Sakti tidak sempat lagi menghindarinya.
Dan.... "Aaa...!"
Jerit kematian terdengar di sana-sini. Hampir semua
murid jatuh bergelimpangan dengan wajah dan sekujur
kulit langsung berubah hangus.
"Ha ha ha...! Tidak percuma! Ternyata kelabang hitam
yang selalu menemaniku dalam penderitaan dan
kesengsaraan, kini dapat dijadikan senjata andalan.
Buktinya, mampu membunuh mereka hanya sekedipan
mata!" kata si Jubah Hitam Bermuka Hijau, puas.
Kini yang tertinggal hanya seorang pemuda berpakaian serba ungu yang tadi memberi perintah.
Dialah Wiranata. Nampaknya, pemuda ini menjadi
berang atas kematian kawan-kawannya. Sehingga...
Sring! "Aku bersumpah akan membunuhmu Bangsat keji!"
teriak Wiranata penuh amarah, seraya mencabut senjata
andalannya yang berupa pedang.
"Huh...!" dengus si Jubah Hitam Bermuka Hijau. "Kau
boleh bicara sombong. Tapi kurasa, kau tidak dapat
bertahan lebih dari satu jurus!"
"Hiyaaa....!"
Bet! Bet! Tanpa menghiraukan ucapan laki-laki berjubah hitam
itu, Wiranata melompat menerjang. Pedang di tangannya
meluruk deras, mengincar bagian-bagian yang mematikan. Tapi lawan yang dihadapi adalah si Jubah Hitam
Bermuka Hijau yang tak bisa dianggap sembarangan.
Selain gerakannya cepat seperti setan juga dapat
melakukan serangan-serangan balik yang berbahaya.
Apalagi ketika pedangnya yang tipis dan berwarna hitam
dicabut "Uts...!"
Sambil berkelit ke samping menghindari pedang
Wiranata, si Jubah Hitam Bermuka Hijau mengebutkan
pedang tipisnya dengan gerakan cepat
"Hiih!"
Crasss! "Aaa...!"
Laksana kilat, pedang si Jubah Hitam Bermuka Hijau
telah membabat putus tangan kanan Wiranata. Pemuda
itu kontan menjerit kesakitan. Darah mengucur deras
dari luka-luka di pangkal lengannya.
Dengan cepat pemuda itu menotok urat untuk
menghentikan darah pada bagian lukanya ini, Sementara,
laki-laki berjubah hitam itu memandangi dengan sinar
mata dingin menusuk
"Pergilah kau dari hadapanku! Sampaikan salamku
pada Banyu Raga, bahwa kematian kawan-kawanmu
hanya kejadian kecil yang tidak ada artinya! Katakan
padanya, suatu waktu aku akan menjemput nyawanya...!" ujar si Jubah Hitam Bermuka Hijau,
sombong. Wiranata yang memang merasa tidak akan unggul,
tanpa menoleh-noleh lagi langsung meninggalkan mayatmayat kawannya di tengah jalan.
-0o-dwkz-ray-novo-o0"Wiranata"!"
Seorang laki-laki berjubah ungu berseru kaget, ketika
melihat pemuda yang dipanggil Wiranata muncul dan
jatuh terduduk di hadapannya.
Laki-laki berusia sekitar lima puluh lima itu tak lain dari
Ki Banyu Raga, Ketua Padepokan Kipas Sakti.
"Apa yang telah terjadi padamu...?" lanjut KI Banyu
Raga. Wiranata merintih. Sementara, Ki Banyu Raga segera
menghampiri. Segera dibopongnya Wiranata ke pembaringan sekaligus untuk mengobati tangan kanannya yang buntung.
Ki Banyu Raga cepat mengambil ramuan yang selalu
tersimpan di lemari kamar pribadinya. Setelah minum
ramuan pembelian gurunya, barulah Wiranata bisa
menceritakan segala apa yang terjadi di tengah jalan.
Ki Banyu Raga jadi terdiam mendengarkan semua,
sampai selesai. Dia heran, karena sama sekali tidak
punya persoalan terhadap orang-orang dengan ciri-ciri
seperti yang disebutkan muridnya. Dan seingatnya pula,
Dedemit Pintu Neraka yang pernah menyerang Kota
Gede delapan tahun lalu, ciri-cirinya tidak seperti yang
diterangkan Wiranata.
"Jadi kau belum sampai ke Kota Gede untuk memberi
kabar pada Ki Pandhu Wilantara uwak gurunya?" tanya Ki
Banyu Raga. Laki-laki berjubah ungu ini, seperti tidak sabar
menunggu jawaban muridnya. Namun dia jadi merasa
maklum dengan kesehatan Wiranata yang sangat
memprihatinkan.
"Aku dan saudara-saudara seperguruan yang lain
sama sekali belum sampai di Kota Gede. Kami baru
berada di perbatasan. ketika si Jubah Hitam Bermuka
Hijau menyerang kami!"
"Singkatnya, jika dia menginginkan nyawamu, tentu
kau tewas bersama saudara-saudaramu yang lain saat itu
juga" Begitu"!" tukas Ki Banyu Raga menandaskan.
Mukanya berubah merah menahan marah.
"Kurasa Guru lebih tahu artinya!" sahut Wiranata,
pelan. Memang, Ketua Padepokan Kipas Sakti ini tahu arti
yang dituturkan muridnya. Tapi yang tidak dimengerti,
mengapa orang-orang bermuka hijau itu memusuhinya"
Padahal, dia merasa tidak pernah mengenalnya sama
sekali. A palagi untuk bersilang sengketa.
Bahkan kini yang lebih mengherankan lagi, si Jubah
Hitam Bermuka Hijau mengancam ingin membunuh Ki
Banyu Raga" Siapakah si Jubah Hitam bermuka Hijau itu"
Apakah dia musuh Ki Pandhu Wilantara, saudaranya
yang kini mengetuai Padepokan Merak Kayangan di Kota
Gede" Sekali lagi Ki Banyu tidak tahu apa yang sedang
terjadi. Bagaimanapun, bahaya ini harus dibicarakan
pada Ki Pandhu Wilantara.
Namun untuk. berangkat malam begini rasanya tidak
mungkin. Terlalu berbahaya meninggalkan Padepokan
Kipas Sakti pada saat-saat genting seperti sekarang ini.
Ketika Ki Banyu Raga sedang bingung memikirkan
jalan terbaik yang harus diambil....
"Jangan biarkan lolos! Bunuh dia...!"
Saat itu pula di bagian depan terdengar teriakanteriakan murid-murid penjaga.
Secepat kilat, Ki Banyu Raga berkelebat dari kamar
pribadinya, menuju halaman depan. Begitu sampai, dia
melihat beberapa muridnya tengah mengurung seorang
pemuda tampan berbaju rompi putih. Sebilah pedang
bergagang kepala burung tampak tersampir di punggung. "Heaaa...!"
"Serang...!" teriak seorang murid Padepokan Kipas
Sakti sambil memutar kipas.
Dan secara serentak, murid-murid itu menyerang.
Namun dengan ringannya, pemuda itu menghindari
setiap serangan yang cukup mematikan. Bahkan tidak
lama setelah itu, dia melompat ke atas pagar kayu yang
mengelilingi bangunan besar perguruan ini
"Siapapun kau, kami harap lebih baik menyerah
daripada mati sia-sia!" teriak seorang murid utama
Padepokan Kipas Sakti penuh semangat.
Namun pemuda itu malah tersenyum. Sikapnya
tenang. Bahkan tatapan matanya berkesan penuh
wibawa. "Aku datang kemari ingin menemui ketua Padepokan
ini, Kisanak semua! Tapi kalau kalian tidak mengizinkan,
tentu aku tidak akan memaksa!" jelas pemuda berompi
putih itu kalem.
Pemuda itu segera berbalik. Namun baru saja hendak
melompat... "Siapa yang ingin berjumpa denganku" Harap datang
kemari!" Terdengar suara teguran yang berasal dari mulut Ki
Banyu Raga. Tanpa merasa curiga sedikit pun Ketua
Padepokan Kipas Sakti ini melangkah menuju halaman.
Lain halnya para murid-muridnya yang terus bersiaga.
"Huup!"
Dengan gerakan sangat mengagumkan, pemuda
tampan berompi putih itu melesat dan berjumpalitan di
udara. Cepat bukan main gerakannya, sehingga tahutahu telah berdiri di depan Ki Banyu Raga
"Jelaskan siapa namamu!" ujar Ketua Padepokan Kipas
Sakti. Pemuda berompi putih ini menjura hormat. Sikapnya
gagah dan berwibawa sekali.
"Aku Rangga. Apakah aku sedang berhadapan dengan
Ketua Padepokan Kipas Sakti?" tanya pemuda yang tak
lain Pendekar Rajawali Sakti.
"Tidak salah," sahut Ki Banyu Raga. "Kau datang pada
malam-malam begini. Ada keperluan apakah?"
"Aku sedang melakukan perjalanan menuju Kota
Gede. Di tengah perjalanan, aku melihat murid-murid
sebuah padepokan tewas bergelimpangan. Apakah kau
tahu tentang ini Paman?" tanya Rangga. Matanya
menatap tuan rumah yang berumur sekitar lima puluh
lima tahun ini dengan tatapan menyelidik.
"Apakah mereka tanda-tanda tertentu" Senjata
misalnya" "
"Mereka berpakaian putih, bersenjata pedang!" jelas
Rangga. "Celaka...!" desis Ki Banyu Raga dengan raut wajah
sulit dilukiskan.
"Ada apa, Paman?" tanya pemuda berompi putih, ini
terheran-heran.
Ki Banyu Raga segera memerintahkan pada muridmuridnya untuk tetap bersiaga pada tempat masingmasing. Kemudian kepalanya berpaling pada Rangga.
"Sebaiknya masalah ini dibicarakan di dalam saja!"
ajak Ketua Padepokan Kipas Sakti, sambil mempersilakan
tamunya berjalan memasuki bangunan padepokan. Dan
Ki Banyu Raga langsung mengajak ke sebuah ruangan
khusus.

Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jika kau bermaksud pergi ke Kota Gede, sebaiknya
bermalam di sini dulu! Akhir-akhir ini, keadaan semakin
rawan. Kulihat kau orang baik-baik," ujar Ki Banyu Raga.
"Apa sebenarnya yang terjadi di sini?" tanya Rangga,
penuh perhatian.
Ki Banyu Raga menggelengkan kepala berulang-ulang.
Dihembuskannya napas dalam-dalam, seakan ingin
membuang beban berat yang menyesakkan dada.
"Begitu banyak kelainan yang terjadi. Sampai saat ini
pun, aku belum tahu siapa yang telah melakukan
pembunuhan keji itu. Dia menamakan dirinya Si Jubah
Hitam Bermuka Hijau. Kemunculannya tiba-tiba, dan
melakukan pembunuhan terhadap murid-murid padepokan dengan sebab-sebab tidak jelas!" keluh Ki
Banyu Raga, menjelaskan.
Melihat nada ucapan itu, Rangga dapat menduga telah
terjadi sesuatu yang tidak beres di sekitar Padepokan
Kipas Sakti. "Dapatkah Paman cerita pada ku, siapa si Jubah Hitam
Bermuka Hijau?" tanya Rangga pelan.
"Sulit mengatakannya! Yang diketahui selama ini,
memang ada gembong tokoh sesat berjuluk Dedemit
Pintu Neraka! Mereka tinggal di sebelah barat lereng
Gunung Simeru! Orang ini pernah memporak-porandakan
Kota Gede dan membunuh adipatinya. Sekarang Kota
Gede dipimpin saudaraku yang bernama Pandhu
Wilantara. Dia juga mendirikan sebuah padepokan di
sana. Mungkin mayat-mayat yang kau temui adalah
murid-murid Kakang Pandhu Wilantara, " Jelas Ki Banyu
Raga panjang lebar.
"Jadi, Paman tidak tahu siapa si Jubah Hitam Bermuka
Hijau itu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, ingin
kepastian. "Hingga sampai sekarang, aku sendiri belum
mengetahuinya, secara pasti. Boleh jadi, dia adalah
Dedemit Pintu Neraka yang merubah julukan dengan si
Jubah Hitam Bermuka Hijau.
"Kalau begitu sulit menentukannya," desah Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti seperti kehilangan arah untuk
menentukan sikap. Rangga tidak ingin terlibat begitu
saja, sebelum jelas benar persoalannya.
"Satu-satunya yang dapat kukatakan padamu, seperti
penuturan muridku yang selamat, si pembunuh itu
mempunyai senjata rahasia berupa kelabang hitam dan
juga bintang persegi lima. Dia juga mempunyai jurusjurus pedang sangat hebat. Kecepatannya dalam
mempergunakan senjata, sama dengan kedipan mata.
Sedangkan Dedemi Pintu Neraka tidak pernah mempergunakan pukulan beracun!" jelas Ki Banyu Raga,
lagi -0o-dwkz-ray-novo-o0Kemarahan Ketua Padepokan Kipas Sakti ini meluap
kembali bila teringat pada peristiwa delapan tahun lalu.
Ketika itu, Dedemit Pintu Neraka melakukan pembantaian
besar-besaran di Kota Gede. Sangat disayangkan,
kedatangannya terlambat. Sementara pada waktu itu, Ki
Pandhu Wilantara dan istrinya sedang mengasingkan diri
di tempat lain.
Menurut kabar yang didengarnya ketika itu, ada
seorang pendekar yang berusaha mati-matian melawan
Dedemit Pintu Neraka bersama anak buahnya. Tapi
perlawanannya kandas setelah mendapat pukulan
beracun. Seluruh keluarga pendekar itu terbantai.
Bahkan istri dan anak gadisnya diperkosa, lalu dibunuh
secara keji di depan matanya. Pendekar ini kabarnya
tewas, setelah mati-matian menyelamatkan keluarganya.
"Apa yang Paman pikirkan?" tanya Rangga, setelah
melihat Ketua Padepokan Kipas Sakti hanya diam saja.
"Masalah ini sebenarnya menyangkut keluargaku.
Dedemit Pintu Neraka dulu adalah penduduk Kota Gede
juga. Orangtuanya gembong perampok yang berhasil
mendirikan kerajaan kecil. Karena selalu mengancam
kehidupan orang banyak, maka Adipati Kota Gede
bersama orang-orang persilatan menghancurkan kerajaan gembong ini. Sayang, salah seorang putranya
yang berusia dua puluh dua tahun berhasil menyelamatkan diri. Beberapa tahun kemudian, anak itu
menyerang Kota Gede. Dialah Dedemit Pintu Neraka!"
jelas Ki Banyu Raga secara panjang lebar.
"Jadi siapa si Jubah Hitam Bermuka Hijau, tidak
seorang pun yang tahu?" tebak Rangga.
"Benar," jawab Ketua Padepokan Kipas Sakti
mengakui. "Apa rencana Paman selanjutnya?" tanya Pendekar
Rajawali Sakti.
Rupanya pemuda ini sangat tertarik untuk terlibat di
dalam masalah rumit yang sedang dihadapi Ki Banyu
Raga. Sehingga dia tidak berpikir lagi bahwa sebenarnya
baik si Jubah Hitam Bermuka Hijau maupun Dedemit
Pintu Neraka sama berbahayanya.
"Aku sebenarnya ingin ke Kota Gede, untuk memberi
kabar pada kakangku. Tapi dalam keadaan seperti
sekarang ini, mustahil padepokan ini kutinggalkan. Aku
takut, si Jubah Hitam Bermuka Hijau datang dan
membunuhi semua muridku. Sekarang, kebetulan kau
datang. Dan kalau kau mau, aku ingin minta tolong agar
mewakiliku menyampaikan kabar buruk ini pada
kakangku," pinta Ki Banyu Raga penuh permohonan.
Rangga tentu saja tidak merasa keberatan. Apalagi
memang hendak pergi ke Kota Gede pula.
"Pesan apa yang akan Paman sampaikan?"
"Seperti yang kukatakan tadi, aku ingin menyampaikan masalah gawat ini pada Pandhu
Wilantara jika tidak keberatan, aku mohon padamu untuk
menyelidiki masalah ini hingga tuntas!"
"Aku tidak keberatan. Selama aku mampu memikulnya, maka aku bersedia membantumu dari
kesulitan ini. Tapi, aku tidak dapat menjanjikan yang
muluk-muluk. Kita lihat saja nanti, bagaimana hasilnya...!" jawab Rangga, merendah.
"Aku memahami dan menghormati jasa baikmu. Aku
sendiri tidak mungkin berpangku tangan menunggu
nasib. Mungkin, aku akan berusaha menyingkap tabir ini
dengan caraku sendiri!" tegas Ki Banyu Raga dengan
wajah muram. Malam itu Rangga terpaksa menginap di tempat
padepokan milik Ki Banyu Raga. Keesokan paginya dia
akan menuju Kota Gede.
-0o-dwkz-ray-novo-o02 Seorang pemuda terus berlari tanpa menghiraukan
caci maki seorang laki-laki tua yang juga berlari di
belakangnya. Terkadang pemuda itu bersembunyi untuk
mengecoh. Namun ke mana pun dia bersembunyi, lakilaki tua berambut putih ini selalu menemukannya.
"Hei..., bocah edan, Joko Tawang! Kau mau ke mana"
Berhenti!" teriak laki-laki tua itu dengan suara keras.
Pemuda bernama Joko Tawang tetap tidak mau
berhenti. Bahkan malah mempercepat langkahnya.
Hingga membuat laki-laki tua itu garuk-garuk kepala
kehilangan akal.
"Jadi kau tetap tidak mau melayani aku bermain
catur?" "Tidak!" sahut Jaka Tawang, tegas. "Aku sudah letih memikirkan teka-teki catur.
Memusingkan. Bahkan
membuat kepala Guru sendiri menjadi botak. Aku tidak
mau berkepala botak gara-gara catur. Mana ada nanti
gadis yang sudi padaku!"
"Ah.... Sebentar saja. Sebentar saja! Aku pasti keluar
sebagai pemenang!" sahut kakek berambut putih itu
yang dikalangan persilatan dikenal sebagai KI Sabda
Gendeng. Tokoh ini memang paling keranjingan dengan
permainan catur.
"Guru...! Mana pernah kau mau mengalah! Setiap
main, selalu maunya menang melulu. Itu tidak adil
namanya!" seru Jaka Tawang sambil cemberut.
"Ha ha ha...! Apakah kau mau kupecat jadi muridku"
Kalau sudah bosan menjadi murid, memang lebih baik
membangkang perintah Guru. Nanti biar kucari murid
yang lebih baik dan penurut!" ancam Ki Sabda Gendeng.
Murid dan guru yang sama konyolnya ini kemudian
sama-sama menyeringai. Lalu, sama-sama pula menggaruk kepala.
"Siapa sudi menjadi murid orang gila catur sepertimu.
Orang tolol pun pasti tidak sudi!" sahut Jaka Tawang,
tidak mau kalah.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Ki Sabda Gendeng malah tertawa. Diambilnya papan
catur dari balik pakaian. Tanpa menghiraukan ocehan
Jaka Tawang, papan catur itu mulai digelarnya. Bahkan
seenaknya dia duduk berselonjor di bawah sebatang
pohon rindang, mengangkangi papan caturnya. Segera
disusun bidak-bidak catur di atas papan.
"Hei..., Jaka Tawang murid gendeng! Cepat kemari
temani gurumu ini main catur. Setelah itu, baru nanti
kuajari jurus-jurus baru yang hebat!" panggil laki-laki tua
ini. "Sudah dua minggu Guru janji melulu. Sampai kapan
Guru akan mengajari aku jurus baru" Mana mungkin
ilmuku bertambah bila diajak main catur melulu!
Sudahlah, Guru! Aku ingin istirahat!" tolak pemuda yang
sama konyol dengan gurunya .ini, sambil mencari tempat
teduh. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Jaka
Tawang merebahkan badannya di atas rerumputan hijau
di bawah pohon rindang. Sama sekali tidak dipedulikannya oleh Jaka Tawang. Kedua telinganya
ditutup rapat-rapat agar suara gurunya tidak mendengar.
Jaka Tawang menarik napas dalam-dalam, sambil
bangkit dari berbaringnya. Pada saat itu pula, hidungnya
mengendus bau sesuatu yang sangat busuk.
"Aku seperti mencium bau bangkai!" gumam Jaka
Tawang. Pemuda: ini mencari-cari. Sampai kemudian
matanya melihat lembah yang tidak begitu dalam di
bawahnya, Semakin terkejut Jaka Tawang ketika melihat
ada beberapa sosok tubuh bergelimpangan.
"Apakah bau busuk berasal dari sana?" gumam Jaka
Tawang lagi, bertanya pada diri sendiri. Tanpa
sepengetahuan gurunya yang terus sibuk dengan anakanak caturnya, pemuda ini segera menuruni bukit
Gerakannya sangat hati-hati, pertanda berusaha bersikap
waspada. "Jaka! Kau jangan membuatku kesal, ya..." Sekarang
bidak-bidak catur telah siap dijalankan. Kau tunggu apa
lagi kalau tidak bergabung dengan gurumu" Ayo,
kalahkan aku.... Ayo, murid gendeng...!" ajak Ki Sabda
Gendeng tanpa pernah mengalihkan perhatian dari
papan caturnya yang mementang di depan mata.
Karena ucapannya tidak mendapat jawaban dari Jaka
Tawang, Ki Sabda Gendeng jadi uring-uringan.
"Anak edan! Pergi ke mana lagi kau?" teriak laki-laki
gila catur itu dengan suara keras.
Jaka Tawang yang sudah berada di bawah lembah itu
sebenarnya mendengar panggilan gurunya. Namun
sudah tidak digubrisnya sama sekali.
Kini perhatian Jaka Tawang sepenuhnya tertuju pada
mayat-mayat yang telah membusuk di depannya. Sambil
memencet hidung untuk menghindari bau busuk yang


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyengat, pemuda ini berusaha memikirkan apa yang
telah terjadi pada mayat-mayat itu sebelumnya. Bukan
karena apa-apa, sebab ini adalah kedua kalinya mereka
menemukan mayat-mayat seperti itu dalam perjalanan.
Begitu sibuknya Jaka Tawang memikirkan kematian
orang lain, sampai-sampai tidak melihat kedatangan
gurunya. Ki Sabd.a Gendeng langsung menjewer telinga
dan menyeretnya kembali naik ke atas bukit.
Jaka Tawang mencoba meronta. Tapi, usahanya
hanya membuat daun telinganya menjadi semakin
bertambah sakit.
"Apa saja kerjamu di bawah sana. Orang mati diurusi!
Aku teriak-teriak mengajak main, malah tidak digubris
sama sekali...!" maki Ki Sabda Gendeng bersungutsungut. "Aku mau dibawa ke mana, Guru?" tanya Jaka
Tawang. "Pasti main catur lagi, bukan" Apakah Guru
tidak ingin tahu mengapa orang-orang itu dibunuh. Dan,
siapa yang membunuh mereka?"
"Orang mati biarkan mati itu berarti takdir dan
nasibnya sedang apes. Kita yang hidup harus teruskan
pertandingan!" sergah Ki Sabda Gendeng tidak mau
peduli "Seharusnya Guru mengajari aku jurus baru. Sewaktuwaktu jika kepandaianku sudah hebat, aku tidak akan
mendapat nasib seperti mereka!"
"Hhh.... Mati saja ditakutkan...! Sudahlah.... Coba
kalahkan aku. Bila menang, hadiahnya aku akan
mengajarimu jurus baru yang bernama' Anak Kepompong Keluar Sarang'," ujar Ki Sabda Gendeng,
seenaknya. Tentu saja hal ini membuat jengkel Jaka Tawang.
Gurunya jelas-jelas mau menang sendiri dan tidak sudi
dikalahkan. Walau Jaka Tawang punya peluang untuk
menang, tapi terpaksa mengalah. Karena kalau tidak
begitu, dia tidak akan mendapat jurus-jurus baru.
"Nanti kalau sudah selesai main catur kita berangkat
ke Kota Gede. Kita selidiki, siapa yang telah melakukan
pembunuhan itu" Kurasa mayat-mayat itu murid-murid
itu dari sebuah padepokan. Ayolah.... Sekarang temani
aku main catur," desak Ki Sabda Gendeng.
Mau tak mau, pemuda itu menuruti kata-kata gurunya.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Ki Sabda Gendeng dan muridnya terus menelusuri
jalan menuju Kota Gede. Sementara Ki Sabda Gendeng
tidak henti-hentinya mengajak Jaka Tawang untuk
melanjutkan permainan catur yang selalu tertunda.
"Aku tidak mau main dulu, Guru," tolak Jaka Tawang
yang sama gendengnya. "Main catur aku disuruh
mengalah melulu!"
"Aku tidak menyuruhmu mengalah. Kalau mau
menang..., ya menang saja. Ha ha ha...!" bantah Ki
Sabda Gendeng seenaknya.
"Memang.... Tapi kalau aku yang menang, Guru
berhenti menurunkan jurus-jurus terbaru!" sahut Jaka
Tawang serba salah.
Watak Ki Sabda Gendeng yang angin-anginan itu
memang mau menangnya sendiri. Kalau sudah
berhadapan dengan papan catur, seharian dia tahan.
Lupa makan dan lupa pada kewajibannya yang
seharusnya mengajari muridnya dengan jurus-jurus
baru. Sebaliknya Jaka Tawang juga murid sableng. Kalau
sudah kesal, dimainkannya bidak-bidak catur seenaknya.
Dan tentu saja tanpa sepengetahuan gurunya.
"Di depan kita dapat istirahat dan melanjutkan
permainan kita. Aku yakin, kali ini kau kalah lagi!" usik Ki
Sabda Gendeng lagi sambil tersenyum-senyum.
"Aku sudah lapar, Guru. Sebaiknya jangan bicarakan
soal catur. Bukankah kita datang ke Kota Gede ini untuk
mencari tahu tentang pembunuhan-pembunuhan itu?"
Jaka Tawang mengingatkan.
Ki Sabda Gendeng hanya tertawa.
"Persetan dengan orang-orang yang mati Buat kita,
yang penting urusan catur harus dilanjutkan. Setelah itu,
baru kita urusi orang yang telah melakukan pembunuhan
itu," sahut laki-laki tua ini tetap ngotot.
Jaka Tawang memang selalu merasa kehabisan akal
bila bicara dengan gurunya. Ada saja cara Ki Sabda
Gendeng untuk menarik perhatian Jaka Tawang dalam
bermain catur. Tapi bukan tak jarang pemuda itu juga
mengerjai gurunya. Dasarnya memang sama-sama
sableng, maka tak heran kalau punya kecocokan satu
sama lain. -0o-dwkz-ray-novo-o03 Glar! Glar! Ledakan-ledakan dahsyat terdengar menggelegar dari
puncak Gunung Simeru, membuat tempat di sekelilingnya seakan-akan bergetar. Bukan dari kawah
gunung itu sumber ledakan, tapi dari sebuah telaga
berwarna merah yang terdapat di dalam gua bawah
tanah yang tak jauh dari puncak gunung itu.
Bersama ledakan yang membuat air telaga berhamburan ke segala arah, tersentak satu sosok.
Sementara beberapa orang yang menunggu di sekitar
telaga segera berlarian, mencari pelindungan.
"Aku bebas! Bebas, sebebas-bebasnya! Ha ha ha...!"
teriak sosok lelaki yang ternyata tak memakai pakaian,
kecuali sebuah cawat disertai tawa menggiriskan. "Dua
tahun berada di telaga api darah, akan membuat musuhmusuhku menjadi bingung. "
Lelaki ini bermuka angker. Matanya besar dan
nyalang. Rambutnya kaku bagai ijuk. Mulutnya lebar.
Tubuhnya besar dengan otot-otot bertonjolan. Waktu
mendarat di pinggir kolam tadi, kaki-kakinya yang kokoh
bagai ingin meruntuhkan gua ini
"Selamat datang kembali di dunia nyata, Pangeran
Kegelapan Dedemit Pintu Neraka! Kami adalah pengikutmu. Dan kami siap menjalankan perintah apa
saja!" Saat itu juga orang-orang bersembunyi tadi menampakkan diri. Mereka langsung bersujud, menyambut kedatangan sosok seram berjuluk Dedemit
Pintu Neraka. "Kuterima bakti kalian! Hm...! Aku mendapat firasat
kalau kita kedatangan musuh besar. Namanya, si Jubah
Hitam Bermuka Hijau. Dia berjubah hitam dan berwajah
hijau. Hadang dia. Dan, bunuh...!" perintah Dedemit
Pintu Neraka tegas.
Sebagian dari belasan laki-laki yang ternyata berwajah
rusak itu langsung menunduk. Setelah itu mereka
berbalik meninggalkan gua pualam ini
-0o-dwkz-ray-novo-o0Suara ledakan-ledakan dari telaga di dalam perut
Gunung Simeru terus terdengar walaupun sudah mulai
mereda. Pada bagian lereng gunung, tampak berkelebat
satu sosok bayangan hitam. Gerakannya cepat bagai
kilat. Bibirnya yang berwarna hijau tersenyum-senyum
yang justru mirip seringai.
Tidak lama kemudian, entah mengapa sosok berjubah
hitam ini yang ternyata seorang laki-laki bermuka hijau
itu menghentikan langkahnya. Hulu pedang yang selalu
berada dalam genggaman tangan diperhatikan sejenak.
''Hm.... Dedemit Pintu Neraka pasti telah berhasil
menguasai ajian 'Telaga Geni'. Artinya aku harus
mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengalahkannya!"
gumam sosok berjubah hitam ini.
Sosok berjubah hitam itu tetap diam di tempatnya
berdiri. Telinganya sejenak dimiringkan ke kiri dan kanan.
"Hm.... Aku mendengar sesuatu yang mencurigakan.
Huh...! Aku jadi ingin tahu, sampai di mana
kehebatannya!" gumam sosok ini lagi penuh kegeraman.
Seperti dugaan dan firasat laki-laki berjubah hitam.
Tidak lama berlompatan beberapa sosok tubuh dari
semak-semak di sekelilingnya yang langsung mengurungnya. "Hmm.... Kaukah yang bergelar si Jubah Hitam
Bermuka Hijau?" tegur salah satu sosok penghadang,
begitu mengenali ciri-cirinya.
"Ha ha ha...! Apa aku tak salah" Ternyata yang
kuhadapi cecunguk-cecunguk busuk!" sahut sosok yang
tak lain si Jubah Hitam Bermuka Hijau, sombong.
"Katakan pada Dedemit Pintu Neraka. Aku telah datang!"
Rupanya si Jubah Hitam Bermuka Hijau tahu kalau
para penghadangnya adalah pengikut-pengikut Dedemit
Pintu Neraka. Karena memang firasatnya berkata
demikian. "Bangsat rendah! Bunuh dia!" perintah penghadang
yang berbadan gemuk tinggi pada ketiga kawannya.
"Hiyaaa..!"
Wut! Wut! Wut! Dalam gebrakan pertama saja para pengikut Dedemit
Pintu Neraka sudah mempergunakan senjata berbentuk
cakram yang bergerigi seperti mata gergaji. Begitu
kompaknya serangan mereka, sehingga secara serentak
terdengar deru angin dari tempat penjuru mengancam
keselamatan si Jubah Hitam Bermuka Hijau.
"Hup...!"
Walau demikian, laki-laki berjubah hitam itu sama
sekali tidak gugup. Seketika tubuhnya melenting ke
udara. Sambil berputaran dirogohnya benda-benda putih
berbentuk bintang segi lima dari balik jubahnya. Dan saat
tubuhnya meluncur deras ke bawah, tangannya
dikibaskan. Set! Set! Tring! Tring! Namun senjata-senjata rahasia itu berpentalan
tertangkis senjata berbentuk seperti cakram milik para
pengikut Dedemit Pintu Neraka.
"Hmm " gumam si Jubah Hitam Bermuka Hijau tidak
jelas, begitu mendarat di tanah. Laki-laki berjubah hitam
ini menatap tajam ke arah para pengeroyoknya. Otaknya
berputar, mencari Jalan untuk merobohkan pengikutpengikut Dedemit Pintu Neraka yang ternyata cukup
tangguh. "Kau tidak bakal unggul menghadapi kami, Jubah
Hitam Bermuka Hijau...!" desis salah seorang pengeroyok
disertai senyum mengejek.
"Takdir kalian mati di tanganku, seperti halnya
Dedemit Pintu Neraka!" gertak si Jubah Hitam Bermuka
Hijau. Saat berkata demikian, laki-laki berjubah hitam ini
menerjang. Kali ini gerakannya benar-benar cepat luar
biasa. Langsung dilepaskannya tendangan dahsyat
Wuuttt...! Namun pada saat itu. salah satu senjata seorang
pengeroyok meluruk deras ke bagian leher. Maka mau
tak mau si Jubah Hitam Bermuka Hijau langsung menarik
balik serangan. Cepat kepalanya dimiringkan ke kiri,
sehingga senjata itu lewat di atas kepalanya.
Pada saat itu, si Jubah Hitam Bermuka Hijau melihat
sebuah kesempatan baik. Tanpa disia-siakan, langsung
saja tangannya menyodok dada salah satu lawan yang
berada paling dekat
Desss... ! Krak! "Aaa...!"
Terdengar jerit kematian disertai bunyi berderaknya
tulang dada orang itu. Darah kontan menyembur dari
mulut Tubuhnya terpelanting, dan tidak bangun untuk
selama-lamanya Melihat kematian kawannya, para pengikut Dedemit
Pintu Neraka lainnya bukan menjadi takut sebaliknya
sambil berteriak penuh kemarahan, mereka kembali
melancarkan serangan gencar.
Kini ini serangan mereka benar-benar hebat luar biasa.
Senjata-senjata


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berbentuk cakram terus melesat membelah udara mencari sasaran, begitu dikibaskan. Hal
ini membuat si Jubah Hitam Bermuka Hijau tampak
kewalahan juga menghindarinya. Tapi keadaan ini tidak
berlangsung lama.
"Heaaa!"
Mendadak, si Jubah Hitam Bermuka Hijau berteriak
melengking tinggi. Suaranya menggetarkan tanah dan
mengguncang isi dada: Bersamaan dengan itu pula
dikerahkannya jurus andalan. Hanya dalam waktu
singkat, tubuhnya telah berkelebat lenyap, membuat
serangan-serangan para pengeroyok tidak mengenai
sasaran. Rupanya para pengikut Dedemit Pintu Neraka merasa
penasaran. Seketika, satu sama lain segera memberi
isyarat. "Jala Pintu Neraka!" teriak para pengikut Dedemit
Pintu Neraka, hampir berbarengan. Saat itu juga, tiga
buah tangan bergandengan saling menyatu. Selanjutnya,
terlihat cahaya merah laksana bara memancar dari
bagian telapak tangan mereka.
Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tahu benar arti semua
ini. Jika mereka telah menyatukan tenaga dan pikiran,
berarti tidak ada jalan untuk menghancurkan mereka.
Dan bukan mustahil dia segera binasa terkena pukulan
salah satu lawannya.
"Hanya Pedang Kala Hitam yang dapat menghancurkan mereka!" desis si laki-laki berjubah
hitam dengan wajah beringas.
Sring! "Hiya!"
Sambil berteriak keras, si Jubah Hitam Bermuka Hijau
langsung melompat ke depan. Pedang Kala Hitam di
tangannya meluncur deras ke arah tiga tangan para
pengikut Dedemit Pintu Neraka yang masih saling
berpegangan. Cepat sekali gerakannya. Sehingga, orangorang itu tidak sempat lagi menghindar dan menarik
tangan yang saling menempel.
Cras! Cras! Crasss... !
"Aaagkh!"
Tiga tangan kontan terbabat putus dan jatuh di bawah
kaki. Para pengikut Dedemit Pintu Neraka berteriak
kesakitan, dan berusaha menotok bagian-bagian sekitar
luka untuk menghentikan darah yang terus mengucur
keluar. Selagi mereka sibuk menghentikan darah si Jubah
Hitam Bermuka Hijau yang berdarah dingin kembali
menyerang. Hanya sekedipan
mata saja ujung pedangnya telah menembus perut tiga orang lawannya.
Crab! Crab! Crab!
"Aaa...!"
Kembali terdengar jerit kematian saling susul,
memecah keheningan malam. Mereka jatuh bergelimpangan tanpa nyawa.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Si Jubah Hitam Bermuka Hijau memandang nyalang ke
atas puncak Gunung Simeru. Tidak ada cahaya di sana.
Kesunyian terasa sangat mencekam.
"Dedemit Pintu Neraka!" teriak si Jubah Hitam
Bermuka Hijau dengan suara lantang. "Apakah kau
begitu pengecut untuk berhadapan denganku"! Berapa
banyak kesalahan yang telah kau lakukan terhadapku"!
Keluarlah kau dan singgasana busukmu itu!"
"Ha ha ha...! Para pengawalku rata-rata mempunyai
kepandaian tinggi. Tapi, rupanya kau dapat merobohkan
mereka dalam waktu singkat. Kuakui, kau sangat hebat!
Tapi, bukan berarti sudah pantas berhadapan denganku!" sahut sebuah suara dan celah puncak
gunung. Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tahu itu adalah
suara Dedemit Pintu Neraka.
"Praba Kesa.... Aku datang menghendaki nyawamu
Mengapa kau tidak berani muncul menemuiku"! " teriak
si Jubah Hitam Bermuka Hijau, memanggil nama asli
Dedemit Pintu Neraka.
"Hhh...! Rupanya kau kenal namaku. Baiklah kalau kau
memang menginginkan nyawaku Sekarang, bersiapsiaplah untuk menerimanya! " balas Praba Kesa yang
berjuluk Dedemit Pintu Neraka.
Tanpa diduga-duga oleh si Jubah Hitam Bermuka
Hijau, saat itu juga melayang puluhan batu besar berapi
ke arah si Jubah Hitam Bermuka Hijau.
Laki-laki berjubah hitam ini sempat terkesiap. Dengan
gesit, dia menghindari serangan sambil terus berkelebat
menuju puncak. Namun batu-batu menyala yang datang
seakan tidak pernah ada habis-habisnya.
"Ha ha ha...! Mengapa kau malah menghindarinya,
Jubah Hitam Bermuka Hijau" Bukankah kau menghendaki nyawaku?" ejek Praba Kesa, penuh
kemenangan. "Sekarang belum saatnya bagiku turun
tangan menghadapimu! Pergilah dari sini!"
Sementara batu berapi terus menghujani si Jubah
Hitam Bermuka Hijau. Namun sambil terus berkelebat,
kini laki-laki berjubah hitam ini tak tinggal diam. Secepat
kilat tangannya mengibas ke arah batu-batu itu.
Set..! Set..! Seleret sinar putih laksana perak disertai desiran halus
meluncur ke arah batu-batu menyala. Lalu....
Glar! Glar...! Batu-batu itu kontan hancur dan menjadi serpihan
bola api yang membuat terang kegelapan di sekitarnya.
Praba Kesa terkejut melihat kehebatan si Jubah Hitam
Bermuka Hijau yang kini berada tak jauh lagi dari gua
yang ditempatinya. Maka segera diperintahnya para
pengikutnya untuk menutup jalan utama masuk gua ini.
Dan pintu batu itu pun menutup bersamaan waktunya
dengan si Jubah Hitam Bermuka Hijau sampai di
depannya pada jarak dua tombak.
"Hiya!"
Sambil berteriak si Jubah Hitam Bermuka Hijau
menghentakkan kedua tangannya disertai tenaga dalam
tinggi untuk menghancurkan pintu batu.
Wuuttt! Blam...! Namun usaha yang dilakukan si Jubah Hitam Bermuka
Hijau hanya sia-sia saja, karena pintu batu hanya
bergetar saja. Berkali-kali dia melepaskan pukulan, tapi
tetap tidak memiliki arti sama sekali.
"Dedemit Pintu Neraka!" teriak si Jubah Hitam
Bermuka Hijau marah. "Hari ini kau lolos dari kematian.
Tapi kelak bila urusanku telah selesai aku akan kembali
untuk memenggal kepalamu!" '
Tidak terdengar suara apa-apa. Begitu gema suara
laki-laki berjubah hitam lenyap, suasana berubah menjadi
sunyi kembali. Dengan perasaan jengkel, si Jubah Hitam
Bermuka Hijau melangkah pergi menuruti Gunung
Simeru. -0o-dwkz-ray-novo-o0Sesampainya di Kota Gede, Rangga ternyata tidak
berhasil menjumpai Ketua Padepokan Merak Kayangan.
Tapi kehadirannya disambut seorang gadis cantik berbaju
putih berambut panjang yang tak lain Warsih putri satusatunya Ki Pandhu Wilantara.
"Apa tujuanmu ingin menemui ayahku?" tanya gadis
berbaju putih itu, ramah namun berkesan tegas.
"Namaku, Rangga. Kedatanganku kemari ingin
menyampaikan pesan yang dititipkan Paman Banyu Raga
padaku, " sahut Rangga, ramah pula.
Dalam hati Rangga mengakui bahwa putri Ketua
Padepokan Merak Kayangan ini memang cantik dan
ramah. "Rangga.... Rasanya, aku pernah mendengar nama
itu. Tapi aku lupa kapan dan di mana?" desah Warsih.
"Aku, Warsih. Sekarang ini, Ayah sedang pergi. Kalau ada
perlu apa-apa, kau boleh menyampaikannya. Sebab saat
ini, Ayah tidak berada di tempat Mungkin beberapa hari
lagi baru pulang!" jelas gadis itu, bersahabat
"Tapi apa yang ingin kusampaikan ini sangat penting,
Warsih. Semuanya menyangkut masalah Kota Gede,"
tandas Rangga. "Apakah itu berhubungan dengan sepak terjang si
Jubah Hitam Bermuka Hijau?" tanya Warsih.
Pendekar Rajawali Sakti cepat menganggukkan
kepala. Dan berhubung gadis ini sudah mengetahui
persoalan yang ingin disampaikan, maka Pendekar
Rajawali Sakti langsung saja menceritakan pesan yang
dititipkan Ki Banyu Raga.
Warsih mendengarkan penuh perhatian. Kiranya si
Jubah Hitam Bermuka Hijau yang tidak jelas asal usulnya
dan telah membunuh murid-murid Padepokan Merak
Kayangan ini juga mulai membunuh murid-murid
Padepokan Kipas Sakti yang dipimpin Ki Banyu Raga. Hal
ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus segera
diambil tindakan.
Namun pada siapa Warsih harus membicarakannya"
Ayahnya hingga sampai kini belum kembali. Apakah
pemuda berompi putih ini bisa dipercaya"
"Hm..., si keparat itu juga telah membunuhi muridmurid ayahku!" desis Warsih.
"Bagaimana ceritanya, Warsih?" tanya Rangga.
Secara singkat pula putri Ki Pandhu Wilantara
menceritakan tentang hilangnya murid-murid padepokan
yang mengadakan penyelidikan. Sampai akhirnya,
ayahnya sendiri terpaksa turun tangan untuk melakukan
penyelidikan. "Hm," gumam Rangga tidak jelas.
"Apa yang kau pikirkan, Rangga?" usik gadis ini.
Warsih rupanya gampang akrab dan mudah bergaul
dengan siapa saja. Sehingga, Pendekar Rajawali Sakti
tidak merasa canggung lagi.
"Ayahmu sekarang ini terancam bahaya...," tukas
Rangga, khawatir.
"Bagaimana kau tahu?" tanya gadis baju putih merasa
perasaan cemas.
"Aku melihat korban-korban akibat ulah si Jubah
Hitam Bermuka Hijau adalah murid-murid padepokan
yang ada hubungannya dengan ayahmu. Terutama
padepokan di Kota Gede ini. Dan kurasa, si Jubah Hitam
Bermuka Hijau atau siapa pun dia, punya dendam
kesumat pada ayahmu dan rakyat Kota Gede ini!"
"Lalu apa yang harus kulakukan! Menyusul ayahku
bisa saja kulakukan. Tapi, bagaimana dengan perguruan
ini" Mustahil kutinggalkan begitu saja," tukas Warsih
bingung. "Serahkan itu padaku! Sekarang, katakan ke mana
arah perginya ayahmu?" tanya Rangga.
"Dia menuju Padang Neraka. Tempat itu terletak di
sebelah selatan Gunung Simeru. Aku yakin, dia sekarang
berada di sana," jelas Warsih, yakin.
"Baiklah. Sekarang aku harus mengejar waktu
menyusul orangtuamu Mudah-mudahan, aku belum
terlambat," desah Pendekar Rajawali Sakti.
"Mengapa harus tergesa-gesa" Sekarang hari sudah
sore. Kau bisa kemalaman di perjalanan?" tanya Warsih.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Keselamatan
ayahmu termasuk sangat penting artinya bagiku!" sahut
Pendekar Rajawali Sakti. "Sekarang aku mohon diri...."
-0o-dwkz-ray-novo-o04 Seorang laki-laki tua menghentikan kudanya di sebuah
padang tandus berbukit-bukit Tidak ada kehidupan di
tanah ini, terkecuali kegersangan dan tulang, belulang
manusia yang bertebaran di mana-mana.
Di tengah-tengah suasana panas menyengat siang
hari, laki-laki berpakaian serba putih ini mengedarkan
pandangan ke sekeliling. Lalu kudanya digebah kembali
menapaki bukit-bukit di sekitarnya. Entah apa yang
dicarinya di tempat itu. Namun, sikapnya sangat
waspada. Sampai di punggung bukit, kembali laki-laki tua ini
menarik tali kekang kudanya hingga berhenti seketika.
Matanya kembali memperhatikan sekelilingnya. Sejauhjauh mata memandang hanya kegersangan saja yang
terlihat. Namun baru saja dia hendak menjalankan
kudanya....

Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ha ha ha...!"
Laki-laki tua ini tersentak ketika mendengar tawa yang
disertai pengerahan tenaga dalam. Bahkan tak lama
berhembus angin kencang menebarkan bau bangkai.
"Akhirnya kau datang juga, Pandhu Wilantara. Kau
tentu saja merasa senang bisa mendirikan padepokan,
sekaligus memerintah Kota Gede. Kau hanya tinggal
menikmati hasilnya. Sementara ketika Dedemit Pintu
Neraka melakukan penyerbuan ke kota itu, kau malah
berpura-pura mengasingkan diri!" lanjut suara yang
belum jelas jasadnya, kuat menggelegar.
Laki-laki tua yang ternyata Ki Pandhu Wilantara ini
malah mengerahkan tenaga dalam untuk menolak
guncangan pada dadanya akibat serangan tawa itu. Dan
dia terkejut juga, karena tidak mengira kalau orang yang
barusan bicara tadi kenal namanya. Bahkan tahu betul
ketika Dedemit Pintu Neraka mengadakan penyerbuan ke
Kota Gede. "Siapa kau"!" teriak Ketua Padepokan Merak Kayangan
ini. Blam...! Sebelum ada jawaban, tiba-tiba terdengar ledakan
dahsyat sepuluh tombak di depan Ki Pandhu Wilantara.
menimbulkan asap pekat Ledakan itu disertai munculnya
sosok tubuh berjubah hitam.
Laki-laki berpakaian serba putih ini terbelalak. Dia
terkejut ketika melihat wajah laki-laki berjubah hitam ini.
"Turunlah dari kudamu. Pandhu Wilantara! Kau
sekarang telah berada dalam genggamanku! Hidupmu
berada di tanganku!" perintah sosok yang tak lain si
Jubah Hitam Bermuka Hijau, dingin.
Sebagai tokoh persilatan yang cukup disegani, tentu
Ketua Padepokan Merak Kayangan ini tidak mau patuh
begitu saja. Laksana kilat diambilnya sesuatu dari balik
pakaiannya. Namun pada saat yang bersamaan, si Jubah
Hitam Bermuka Hijau menjejak permukaan tanah di
sebelahnya yang terdapat sebuah tombak kayu
sepanjang setengah tongkat
Bruuuk! "Heh"!"
"Hieeekh...!"
Saat itu juga, tanah tempat kuda tunggangan, KI
Pandhu Wilantara berdiri amblas, terperosok ke dalam
lubang rahasia yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Kuda itu kontan meringkik terkejut. Apalagi di dasar
lubang besar ini terdapat bambu-bambu runcing yang
siap menembus perut kuda.
Creb...! "Heekh...!"
Sebelum kuda itu tertancap bambu-bambu runcing
sehingga menimbulkan ringkikan memelas, Ki Pandhu
Wilantara telah melenting ke atas disertai ilmu
meringankan tubuhnya yang sudah sangat sempurna.
"Haiiit!"
Setelah berputaran beberapa kali, dengan gerakan
manis Ketua Padepokan Merak Kayangan itu menjejakkan kedua kakinya dua tombak di depan si
Jubah Hitam Bermuka Hitam.
"Kepandaianmu lumayan juga, Pandhu. Namun tidak
cukup berarti bagiku. Ketahuilah.... Dulu aku mati-matian
menyelamatkan Kota Gede dari kehancuran. Anak istriku
tewas. Dan aku kehilangan segala-galanya. Kau yang kini
memimpin Kota Gede dulu hanya melihat penderitaanku.
Kalian tidak berbuat apa-apa. Sekarang, pantaskah kau
menamakan dirimu sebagai pelindung dan pendekar di
Kota Gede" Padahal, akulah yang berjuang bersama
adipati. Tapi meski aku hidup sampai sekarang, meski
nasibku tidak sebaik nasibmu!"
"Kau siapa" Aku tidak mengenalmu sama sekali!"
bantah Ki Pandhu Wilantara terheran-heran.
"Kau tidak usah berpura-pura. Hasil yang kau nikmati
adalah hasil tetesan darah keluargaku Sekarang, aku
meminta untuk membubarkan padepokan yang kau
pimpin. Dan kuharap, kau dan anakmu segera
meninggalkan Kota Gede!" tukas si Jubah Hitam Bermuka
Hijau. Ketua Padepokan Merak Kayangan ini benar-benar
kaget. Dia berusaha mengingat kejadian yang telah
berlalu. Tapi rasanya, memang tidak pernah mengenal
orang bermuka hijau ini.
"Sungguh.... Aku sama sekali tidak mengenalmu.
Sekarang katakan padaku, Kisanak! Benarkah kau
berjuluk si Jubah Hitam Bermuka Hijau?" tanya laki-laki
berbaju putih ini tegas.
"Iya.... Akulah orangnya," sahut laki-laki berjubah
hitam itu, tegas.
Seketika marahlah Ki Pandhu Wilantara. Kiranya orang
bermuka hijau ini yang telah membunuh beberapa orang
muridnya. Rasanya, dia tidak perlu lagi bicara lebih
banyak. "Kau membunuh secara membabi-buta, Dendammu
telah berkarat tanpa sebab. Sekarang kau harus
menyerah untuk diadili di Kota Gede!" ujar Ki Pandhu
Wilantara keras sambil menghunus pedangnya.
Kata-kata Ketua Padepokan Merak Kayangan itu hanya
membuat si Jubah Hitam Bermuka Hijau tertawa.
Rupanya, Ki Pandhu Wilantara tidak sadar kalau tempat
yang dikenal sebagai Padang Neraka ini seribu jebakan
yang dibuat laki-laki bermuka hijau itu.
"Kupersiapkan kuburmu di sini! Rahasiamu ada di
tanganku Dan suatu saat kelak, aku akan menceritakannya di depan orang-orang yang sangat
mencintai keadilan!"
"Omong kosong! Heaaa...!"
Disertai jeritan melengking, Ki Pandhu Wilantara
menerjang dengan pedang terhunus. Namun sebelum
serangannya sampai, si Jubah Hitam Bermuka Hijau telah
mengibaskan tangannya dengan kecepatan sulit diikuti
mata. Set! Set! Ki Pandhu Wilantara terkesiap ketika merasakan
desiran angin halus dan berkelebatnya tiga buah benda
hitam ke arahnya. Cepat pedangnya diputar untuk
menghindari serangan benda-benda hitam yang tak lain
kelabang hitam.
Tes! Satu dari tiga ekor kelabang hitam berbisa yang
mematikan berhasil ditebas pedang Ki Pandhu Wilantara
hingga putus. Sedangkan dua lainnya terus meluncur
menuju leher dan mata. Untuk menangkisnya dengan
pedang lagi, sudah tidak ada kesempatan.
Demi keselamatan diri, terpaksa Ketua Padepokan
Merak Kayangan ini melempar tubuhnya ke samping
sambil berguling-guling. Maka dua ekor kelabang hitam
lewat sejengkal di atas kepalanya.
Brosss... ! "Heh..."!"
Tapi baru saja Ki Pandhu Wilantara selamat, tanah
yang dijadikan tempat berguling-gulingan amblas. Tidak
ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan diri. Dia
berusaha bangkit, namun tubuhnya sudah terus
meluncur turun ke dalam lubang perangkap.
Sret! Sret! "Akh!"
Di dalam lubang itu ternyata ada jaring yang dapat
bekerja dengan sendiri. Sehingga begitu tubuh Ki Pandhu
Wilantara masuk ke dalamnya telah terjerat begitu kuat.
Dia meronta dan berusaha membebaskan diri dengan
mengerahkan tenaga dalamnya, hingga tingkat tinggi.
Namun usahanya hanya sia-sia. Karena jaring-jaring itu
pun agaknya terbuat dari bahan khusus dan juga telah
dilapisi kekuatan dahsyat
"Ha ha ha...! Percuma kau berontak, Pandhu
Wilantara. Jaring-jaring itu telah kulapisi ajianku yang
bernama aji 'Urat Dewa'. Nikmatilah perangkapku. Dan
kalau kau punya seribu murid, maka seribu perangkap
telah menanti kalian. Padang Neraka adalah padang
kematian bagi orang-orang berjiwa serakah seperti kau!"
kata si Jubah Hitam Bermuka Hijau lantang.
"Manusia rendah! Aku tidak tahu menahu dengan
segala ocehanmu. Bebas aku! Mari kita bertarung seribu
jurus!" teriak Ki Pandhu Wilantara penuh tantangan.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Si Jubah Hitam Bermuka Hijau sama sekali tidak
menghiraukan ocehan Ketua Padepokan Merak Kayangan
yang sudah dikeluarkan dari jaring dalam keadaan
tertotok. Diseretnya Ki Pandhu Wilantara. Dan, segera
dibawanya ke salah satu pohon kering berumur puluhan
tahun dalam keadaan kaki dan tangan terikat
Tanpa mengenal belas kasihan, si Jubah Hitam
Bermuka Hijau langsung menggantung Ki Pandhu
Wilantara dengan kaki di atas dan kepala ke bawah.
"Lepaskan aku, Bangsat! " maki Ki Pandhu Wilantara
tanpa mampu menggerakkan tubuhnya.
"Kau manusia biadab yang tak akan kulupakan seumur
hidup...!"
"Kau bebas bicara sesukamu, Pandhu. Walaupun
dunia tidak mengetahui kebusukanmu, tapi kebenaran
dapat melihat walaupun dalam kegelapan. Kau sekarang
harus menerima buah dari apa yang kau tanam dahulu.
Seperti halnya, Dedemit Pintu Neraka! Dia juga tidak
akan lolos dari kematian!" dengus si Jubah Hitam
Bermuka Hijau. Apa yang diucapkan laki-laki berjubah hitam hanya Ki
Pandhu Wilantara saja yang mengetahui salah dan
benarnya. Namun mulutnya tetap bungkam, walaupun
ketika itu si Jubah Hitam Bermuka Hijau mulai
mencambuki tubuhnya,
Ctar...! Ctarr... !
"Aaakh...!"
Pakaian Ketua Padepokan Merak Kayangan ini hanya
dalam waktu sekejap telah tercabik-cabik. Sekujur
tubuhnya mulai mengalirkan darah. Ki Pandhu Wilantara
terus menjerit dan meronta-ronta, tapi si Jubah Hitam
Bermuka Hijau rupanya lelah menulikan hati dan
telinganya. Bahkan kemudian dikeluarkannya beberapa
ekor kelabang hitam yang sangat berbisa.
Binatang-binatang itu langsung menyengat Ki Pandhu
Wilantara. Dan akibatnya, sungguh sangat mengerikan.
Kulit Ketua Padepokan Merak Kayangan itu berubah
menghitam. Wajahnya nyaris tidak dapat dikenali lagi.
Tubuhnya menggelepar sekarat. Dan pada waktu itulah
si Jubah Hitam Bermuka Hijau menghentikan siksaannya.
"Penderitaan yang kau rasakan belum seberapa,
Pandhu! Jika nasibmu baik, kau akan berhadapan dengan
burung pemakan bangkai. Dan riwayatmu tidak akan
berbeda dengan tengkorak-tengkorak yang bertebaran
di atas tanah ini...!" desis laki-laki berjubah hitam itu.
Laki-laki bermuka hijau ini kemudian meninggalkan
Ketua Padepokan Merak Kayangan begitu saja. Dengan
mantap, kakinya melangkah menuju Kota Gede. Di dalam
benaknya terkandung niat, bahwa Padepokan Merak
Kayangan yang sangat disegani akan diporak- porandakan. -0o-dwkz-ray-novo-o0"Hieekh...!"
Seekor kuda berbulu hitam mengkilat yang berlari
seperti dikejar setan, tiba-tiba saja mengangkat kakinya
tinggi-tinggi ke udara. Sementara penunggangnya yang
ternyata seorang pemuda berbaju rompi putih dengan
pedang bergagang kepala burung hampir terpental, kalau
tak cepat menguasai diri.
"Hei.... Tenanglah, Dewa Bayu...!" ujar pemuda yang
tak lain Pendekar Rajawali Sakti, berusaha mengendalikan kudanya yang berubah liar.
Wusss...! Baru saja Rangga bisa mengendalikan Dewa Bayu
terasa ada suara desiran halus membelah angin. Seketika
kepalanya berpaling ke arah datangnya suara.
"Hup...!"
Dengan cepat, Pendekar Rajawali Sakti melompat dari
punggung kuda ketika melihat sinar merah meluncur
deras ke arahnya.
Jdar! "Heh"!"
Pendekar Rajawali Sakti terkejut melihat sinar merah
itu menghantam sebuah

Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pohon hingga hancur berantakan. Dan sebelum keterkejutannya hilang,
seketika berlompatan tujuh orang laki-laki berwajah
mengerikan dengan senjata tombak. Sementara hanya
ada seorang yang wajah dan tubuhnya lebih mengerikan.
Tubuhnya tinggi besar. Kepalanya berambut seperti ijuk
dengan kedua mata besar. Mulutnya lebar.
"Mengapa kau menahan perjalananku?" tegur Rangga,
kalem. Enam orang yang bertampang mengerikan hanya
diam. Hanya mata mereka saja tampak liar mengawasi
dengan sikap siap menyerang. Sedangkan laki-laki
berpenampilan seram yang hanya menggunakan cawat
melompat ke depan sambil memperhatikan Rangga
dengan sorot mata menyelidik.
"Melihat arahmu, kau seperti baru meninggalkan Kota
Gede! Apa hubunganmu dengan Pandhu Wilantara?"
tanya laki-laki seram ini.
"Kisanak sendiri siapa?" Rangga balik bertanya.
Laki-laki bercawat ini tampak merah mukanya. Belum
pernah dia merasa diremehkan orang lain. Apalagi oleh
seorang pemuda.
"Aku Dedemit Pintu Neraka," desis laki-laki yang tak
lain Dedemit Pintu Neraka menggertak. "Sekarang
katakan siapa kau. Dan, apakah benar dari Kota Gede?"
"Aku Rangga! Memang benar dari Kota Gede. Aku
tidak punya hubungan apa-apa dengan Pandhu
Wilantara. Aku baru saja mengenalnya!" sahut Rangga
dengan sikap tenang.
"Kau pasti berusaha membantunya, bukan?" tebak
Dedemit Pintu Neraka yang bernama asli Praba Kesa.
"Kalau benar kenapa, dan kalau tidak kenapa?"desis
Rangga penuh tantangan.
"Ha ha ha...! Ketua Padepokan Merak Kayangan
adalah manusia bunglon. Dia pasti akan mengkhianatimu,
sebagaimana mengkhianati aku sekarang! Menyesal aku telah membiarkannya menikmati
kemakmuran selama bertahun-tahun. Tapi sekarang, dia
akan membayar mahal pengkhianatannya! Kota Gede
akan kuhancurkan kembali seperti waktu dulu!" teriak
Dedemit Pintu Neraka sambil tertawa.
Sebenarnya Rangga terkejut juga mendengar katakata Praba Kesa. Dia tidak tahu, rahasia apa yang ada di
antara Dedemit Pintu Neraka dengan Ki Pandhu
Wilantara. Siapa yang salah dan siapa yang benar"
Apakah si Jubah Hitam Bermuka Hijau juga berada di
pihak yang salah" Atau dia malah berada di pihak yang
benar" Mengapa Warsih tidak menceritakan segala
sesuatunya secara jujur"
Mengapa Dedemit Pintu Neraka mengatakan kalau Ki
Pandhu Wilantara adalah manusia bunglon" Pengkhianat
pula" Rangga jadi semaki tidak mengerti saja.
-0o-dwkz-ray-novo-o0"Kau tidak dapat menghancurkan Kota Gede Karena,.
aku akan menghalangimu," kata Pendekar Rajawali Sakti,
Memanah Burung Rajawali 35 Pendekar Bayangan Sukma 10 Gadis Dari Alam Kubur Pendekar Kembar 7

Cari Blog Ini