Ceritasilat Novel Online

Dedemit Pintu Neraka 2

Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka Bagian 2


tenang. "Lebih baik jangan ikut campur utusan ini jika ingin
selamat!" ancam Praba Kesa marah
"Maaf, Kisanak. Aku tidak bisa digertak. Dan aku harus
membongkar, apa yang kau rahasiakan dengan Ketua
Padepokan Merak Kayangan itu " tegas Rangga.
Dedemit Pintu Neraka tampaknya memang tidak ingin
bicara lagi. Segera diberinya isyarat pada enam orang
laki-laki bertampang mengerikan untuk membunuh
pemuda berompi putih
Serentak enam batang tombak meluncur deras hendak
mencincang tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun
Rangga tidak tinggal diam. Segera dikerahkannya jurus
'Sembilan Langkah Ajaib' untuk dapat menghindari
serangan tombak. Tubuhnya berkelit lincah di antara
sambaran tombak.
Dengan penasaran, para pengeroyok berbalik. Kembali
Rangga diserang dengan kecepatan berlipat ganda. Tapi
Pendekar Rajawali Sakti terus meliuk-liukkan tubuhnya
yang ditunjang kelincahan kaki dalam menghindari setiap
serangan. Melihat kenyataan ini, membuat para
pengeroyok makin penasaran.
"Menutup Jalan Ke Neraka!" teriak salah seorang
pengeroyok. Bet! Bet! Kini pola serangan mereka benar-benar berubah.
Tidak lagi sama-sama melancarkan serangan dalam
waktu bersamaan, tapi saling susul tidak ada habishabisnya. . Rangga tampak kerepotan juga melihat serangan yang
sedemikian anehnya. Cepat tubuhnya digenjot hingga
langsung melesat ke udara. Setelah membuat putaran
beberapa kali tubuhnya meluncur deras ke bawah dalam
jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'!
Dua orang berusaha menusukkan tombaknya selagi
Pendekar Rajawali Sakti masih mengapung ke udara.
Tapi Rangga yang telah mempergunakan salah satu dari
lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' itu telah
mengebutkan tangannya untuk menangkis. Sedangkan
kakinya menghantam kepala.
Trak! Prak! Prakkk! "Aaa...!"
Kedua orang itu menjerit kesakitan. Tombak di tangan
mereka terpental, menyusul ambruknya dua sosok tubuh
dengan kepala remuk dan nyawa melayang.
-0o-dwkz-ray-novo-o05 Praba Kesa terkesima melihat kejadian yang sangat
sulit dipercaya. Sama sekali tidak disangka kalau pemuda
berompi putih ini dapat menjatuhkan dua orang
pengawalnya yang diketahuinya mempunyai kepandaian
tinggi. Untuk turun tangan, rasanya memang belum
waktunya bagi Dedemit Pintu Neraka. Karena, dia
memang punya urusan yang tidak dapat ditunda-tunda di
Kota Gede. Untuk itu, dimanfaatkan kesempatan saat
Pendekar Rajawali Sakti lengah untuk segera pergi dari
tempat ini secara diam-diam.
Sementara itu pertempuran terus berlanjut. Melihat
dua kawannya tewas hanya dalam waktu dua puluh lima
jurus, empat orang anak buah Dedemit Pintu Neraka
tampak gusar sekali.
"Hhh. Kau harus menebus darah kawan-kawanku
dengan nyawamu!" dengus laki-laki berwajah, mengerikan yang kepandaiannya paling tinggi ketimbang
yang lainnya. Begitu kata-katanya lenyap, laki-laki berwajah mengerikan itu memutar-mutar tombaknya.
Bet! Bet! "Heaaa...!"
Sambil berteriak nyaring, anak buah Dedemit Pintu
Neraka ini menerjang ke depan mendahului kawankawannya. Tombak di tangannya meluncur ke arah perut
Rangga. Pendekar Rajawali Sakti segera menggeser kakinya ke
samping kiri. Badannya agak dicondongkan pula.
Sehingga senjata itu hanya lewat sejengkal di samping
perutnya. Namun luncuran tombak yang tidak mengenai
sasaran ini tidak dibiarkan begitu saja. Rangga cepat
menjulurkan tangannya. Dan....
Tap! "Agkh!"
Pergelangan tangan orang itu berhasil dicekal
Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan cepat pula sikut Rangga
menghantam wajah. Sedangkan kakinya, menghantam
bagian perut. Diekh! Desss...!"
"Aaakh...!"
Laki-laki berbadan tegap ini walaupun kesakitan,
masih dapat melakukan serangan balasan. . Tangan
kirinya yang bebas cepat menyodok ke perut. Dan tanpa
bisa dielakkan lagi...
Buk! "Hugkh!"
Rangga mengeluh saat perutnya terhantam sodokan
telak hingga terasa mual. Dengan demikian cekalannya
pada tangan orang itu terlepas. Baik Rangga maupun
laki-laki itu sama-sama terhuyung. Pendekar Rajawali
Sakti menyeka darah yang. menetes di sudut-sudut
bibirnya. Sementara laki-laki berwajah mengerikan ini
berusaha menghentikan darah yang terus mengucur dari
bagian hidungnya yang hancur.
Bersamaan waktunya tiga serangan lain datang
bergelombang mengancam Pendekar Rajawali Sakti
Tampaknya serangan-serangan itu kali ini lebih
berbahaya. Rangga sekali lagi dibuat kewalahan.
Tapi, rupanya Pendekar Rajawali Sakti tidak mau
mengulur waktu lagi. Segera tenaga dalamnya dikempos
ke bagian telapak tangan. Kemudian sambil menghindari
tusukan maupun sodokan tombak, tangannya mengibas
ke seluruh penjuru dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh
Rajawali'. Wesss...! Dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti saat itu
juga menderu sinar merah menyala, ke arah lawanlawannya. Karena datangnya serangan begitu cepat,
maka.... Glar! Glam...! "Aaa...!"
Tiga orang langsung menjerit setinggi langit ketika
pukulan jarak jauh Pendekar Rajawali Sakti dalam jurus
'Pukulan Maut Paruh Rajawali' menghantam. Seketika
mereka jatuh terpelanting dengan tubuh hangus dan
tewas. Rangga menatap mayat-mayat itu sejenak, lalu
berpaling pada laki-laki yang tersisa. Seorang pengikut
Dedemit Pintu Neraka, yang berkepandaian di atas
teman-temannya.
"Siapa kau?" tanya laki-laki itu gugup.
"Aku Rangga yang akan menghentikan sepak terjang
Dedemit Pintu Neraka...," sahut Pendekar Rajawali Sakti,
dingin. "Kau" Hiyaaa!"
Rangga kembali mempergunakan jurus 'Sembilan
Langkah Ajaib' ketika mendapat serangan. Tubuhnya
terus meliuk-liuk menghindari setiap serangan.
"Hiyaaa...!"
Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara.
Dua kali tubuhnya berputaran lalu meluruk dengan jurus
'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya
bertubi-tubi mengibas.
Sementara laki-laki berwajah mengerikan ini tampak
terkesiap. Sebisanya dia melakukan tangkisan.
Plak! Tubuh laki-laki itu kontan bergetar dengan tangan
terasa nyeri. Dan belum juga dia bisa menguasai
keadaan, Pendekar Rajawali Sakti telah melepas
tendangan berputar disertai tenaga dalam tinggi. Dan....
Prak! "Aaa...!"
Kepala laki-laki itu langsung pecah terhantam kaki
Pendekar Rajawali Sakti. Disertai jeritan perlahan
tubuhnya ambruk bergelimang darah.
Rangga memandang ke sekeliling. Ternyata Dedemit
Pintu Neraka sudah tidak tampak lagi.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Padepokan Merak Kayangan sedang terjadi kekacauan. Murid-murid padepokan ini tampak sedang
bertarung melawan seorang laki-laki berjubah hitam.
Pertarungan tak seimbang ini berlangsung seru. Dan
ternyata laki-laki berjubah hitam itu tidak membunuhi
murid-murid padepokan itu. Mereka yang menyerang
langsung mendapat totokan, sehingga tidak mampu
menggerakkan tubuhnya sama sekali.
Sementara di sekitar Padepokan Merak Kayangan di
bagian belakangnya terlihat sesosok tubuh tinggi besar
berkelebat memasuki jendela kamar yang ditempati
Warsih, putri tunggal Ki Pandhu Wilantara.
Orang yang hanya memakai cawat dan berkulit merah
seperti darah ini nampak gembira begitu melihat sesosok
yang dicarinya tergeletak di sudut ruangan dalam
keadaan tanpa daya.
"Tidak kusangka, Pandhu mempunyai anak yang
begini cantik. Aku sekarang tidak perlu bersusah payah
mengotori tangan membunuh murid-murld Padepokan
Merak Kayangan ini, karena kebetulan ada orang yang
melakukannya. Lebih baik, aku bersenang-senang dulu
dengan gadis ini. Setelah itu, baru kucari Pandhu dan
kubunuh si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang telah
membuat resah hidupku!" desis sosok ini disertai senyum
penuh gairah. Lelaki seram yang tak lain Dedemit Pintu Neraka
kemudian menghampiri Warsih yang sejak tadi memang
sudah dilumpuhkan oleh si Jubah Hitam Bermuka Hijau
dengan beberapa totokan. Warsih yang dalam keadaan
tertotok pada urat gerak dan pita suaranya tentu saja
tidak dapat berbuat banyak, ketika Dedemit Pintu Neraka
membopong tubuhnya dan membawanya pergi meninggalkan Kota Gede.
Di bagian depan, si Jubah Hitam Bermuka Hijau terus
menjatuhkan lawan-lawannya. Serangan dan sepak
terjangnya memang 'tidak seorang pun yang dapat
menahannya. Padahal murid-murid Padepokan Merak
Kayangan telah berusaha mati-matian.
"Jangan beri dia kesempatan untuk meloloskan diri!"
teriak seorang murid utama pada dua orang saudara
seperguruannya yang tersisa.
''Kalian boleh mimpi untuk menangkapku! Tapi kalau
mimpi kalian itu tidak segera menjadi kenyataan, maka
sebentar lagi kalian akan mengalami mimpi lebih buruk
dan sangat menakutkan..!" dengus si Jubah Hitam
Bermuka Hijau. "Hiyaaa...!"
Tanpa menghiraukan ancaman, murid-murid Padepokan Merak Kayangan yang tidak takut mati,
segera mereka melakukan serangan kembali. Pedang di
tangan mereka berkelebat kian kemari, mencari sasaran.
Namun berkat jurus-jurus dari Padang Neraka yang
telah berhasil dikuasai, membuat si Jubah Hitam
Bermuka Hijau berhasil meloloskan diri dari tusukantusukan pedang.
Rupanya murid utama Padepokan Merak Kayangan
menjadi penasaran sekali.
"Terimalah jurus 'Tarian Burung Merak'! Heaaa...!"
Wuut! Wuutlt...!
Murid utama yang mengarahkan jurus 'Tarian Burung
Merak' segera memutar-mutar pedangnya sambil meliukliukan tubuhnya. Sementara dua orang saudara
seperguruannya terus berusaha menyerang dari samping
dan belakang. "Haiiit!"
Si Jubah Hitam Bermuka Hijau cepat membungkukkan
tubuhnya serendah mungkin, ketika senjata pedang
meluncur deras mengancam dadanya. Begitu serangan
itu luput, laki-laki berjubah hitam itu cepat memutar
tubuhnya sambil melepaskan totokan.
Tuk! "Ohh..!"
Murid utama padepokan itu kontan ambruk dengan
tubuh lemas tak bertenaga. Sementara begitu melepas


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

totokan, si Jubah Hitam Bermuka Hijau langsung
berkelebat sambil melepaskan pukulan dan tendangan
secara berbarengan.
Deess...! Desss...!
"Aaakh...!"
"Aaa...!"
Dua murid padepokan itu kontan ambruk begitu
serangan si Jubah Hitam Bermuka Hijau mendarat telak
di dada. Darah kontan mengucur deras dari mulut. Dan
mereka tak bangun-bangun lagi Si Jubah Hitam Bermuka
Hijau segera mengeluarkan segulung tali dadung. Lalu
murid-murid Padepokan Merak Kayangan yang dalam
keadaan tertotok itu diikat dan digantung dengan kepala
menghadap ke bawah dan kaki ke atas.
Mereka tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa,
terkecuali menjerit-jerit kesakitan ketika cambuk di
tangan laki-laki berkulit hijau ini mendera tubuh.
"Lepaskan...! Lebih baik bunuh saja kami!" teriak
murid-murid Ki Pandhu Wilantara yang sedang mendapat
siksaan ini. "Terlalu enak bagi kalian mati begitu saja. Kalian harus
menanggung dosa Guru kalian! Ha ha ha...!"
"Sungguh perbuatan keji yang tidak berperikemanusiaan. Tindakanmu benar-benar biadab!"
"Heh"!"
-0o-dwkz-ray-novo-o0Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tersentak kaget, begitu
terdengar suara makian. Langsung dia berbalik ke arah
datangnya suara. Tampak seorang laki-laki tua bersama
seorang pemuda tahu-tahu sudah berdiri tegak tidak jauh
di belakangnya.
Kedua orang yang baru datang terus tersenyum
seperti orang kurang waras. Bahkan pemuda yang berdiri
di samping laki-laki tua itu terus garuk-garuk kepala.
"Jangan coba-coba mencampuri urusanku jika ingin
selamat!" desis si Jubah Hitam Bermuka Hijau.
"Ha ha ha...! Guru! Lihatlah manusia muka hijau ini
mengancam kita. Apa yang harus kulakukan?" tanya
pemuda yang tak lain Jaka Tawang.
"Seharusnya kita main catur saja. Tapi, kurasa tidak
ada salahnya jika menjajal kepandaian orang jelek ini!"
sahut laki-laki tua yang memang Ki Sabda Gendeng.
Si Jubah Hitam Bermuka Hijau merasa panas juga
hatinya. Namun pada dasarnya dia memang tidak punya
persoalan dengan orang-orang konyol ini. Sehingga, dia
tidak begitu meladeni.
"Pergilah kalian! Sebelum kesabaranku benar-benar
habis, " perintah laki-laki berjubah hitam tidak sabar.
"Ee.... Mana bisa" Kau telah menyiksa orang secara
sewenang-wenang. Bukan mustahil kau pula yang telah
membunuh mayat-mayat yang kami temukan. Sekarang,
mengaku saja untuk menerima gebukan!" tukas Ki Sabda
Gendeng. "Orang-orang
gila! Kalian hanya menghambat pekerjaanku saja. Hiyaaa...!"
Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tanpa mengulur-ulur
waktu lagi langsung melakukan serangan. Namun murid
dan Guru yang selalu kompak itu pun tidak tinggal diam.
Mereka langsung membalas serangan.
Namun betapapun hebat serangan mereka, jurus-jurus
dari Padang Neraka yang dimiliki laki-laki berjubah hitam
itu memang tidak dapat dianggap main-main. Bahkan
pertahanan si Jubah Hitam Bermuka Hijau pun sukar
ditembus. "Melihat di antara kita tidak ada permusuhan, dan kau
sendiri tidak tahu persoalan yang sebenarnya, sebaiknya
mundur!" ujar si Jubah Hitam Bermuka Hijau setengah
mengingatkan. "Kutu busuk! Kami tidak mundur sebelum dapat
mengalahkanmu...!" desis Ki Sabda Gendeng.
"Baiklah..., kalau itu yang kau inginkan. Aku akan
menurutinya!" sahut laki-laki berjubah hitam ini.
"Heaaa...!"
Tiba-tiba, si Jubah Hitam Bermuka Hijau memasukkan
tangannya ke balik jubah dan mengibaskannya.
Set! Set! Seketika lima buah benda berwarna putih mengkilat
melesat cepat. Senjata-senjata rahasia yang berupa
bintang segi lima itu langsung meluncur deras ke arah
Jaka Tawang dan Ki Sabda Gendeng.
"Uts...!"
Tak! Laki-laki tua ini cepat melenting sambil memutar
papan catur di tangannya. Sedangkan Jaka Tawang
terpaksa menjatuhkan diri dan terus berguling-guling.
Maka senjata rahasia si Jubah Hitam Bermuka Hijau tidak
mengenai sasaran. Satu di antaranya menancap di kotak
catur Ki Sabda Gendeng.
Saat Ki Sabda Gendeng masih di udara, si Jubah Hitam
Bermuka Hijau sudah berkelebat meninggalkan tempat
ini. Begitu cepat gerakannya, sehingga sebentar saja
sudah lenyap sebelum Ki Sabda Gendeng menyadari.
"Murid tolol! Cepat bangun! Orang itu melarikan diri,"
ujar Sabda Gendeng dengan perasaan tidak puas. begitu
mendarat di tanah.
Laki-laki tua ini segera memerintahkan muridnya
untuk melepaskan murid-murid Padepokan Merak
Kayangan yang dalam keadaan sekarat Ki Sabda
Gendeng sebenarnya merasa heran melihat keganjilankeganjilan ini. Siapakah si Jubah Hitam Bermuka Hijau"
Mengapa tindakannya begitu kejam terhadap orangorang Kota Gede.
Jika Ki Sabda Gendeng heran dengan sepak laki-laki
berjubah hitam, maka si Jubah Hitam bermuka Hijau
lebih terkejut lagi ketika tidak menjumpai Warsih yang
telah ditotoknya berada dalam kamar. Padahal totokan
itu jelas sulit dibebaskan. Lalu, siapa yang telah
melarikan tawanannya"
-0o-dwkz-ray-novo-o06 Panasnya sengatan matahari tidak dihiraukan lagi oleh
Pendekar Rajawali Sakti. Dewa Bayu terus dipacu di atas
jalan berbatu, sehingga debu tampak mengepul di udara.
Padang Neraka memang sebuah tempat yang cukup
angker. Dan Rangga mengakuinya. Di mana-mana
tulang-belulang berserakan. Rasanya tidak ada tempat
yang aman di Padang Neraka.
Walaupun begitu Rangga berusaha mengesampingkan
semua ini. Baginya keselamatan Ketua Padepokan Merak
Kayangan lebih penting agar dapat mengungkap rahasia
yang terjadi akhir-akhir ini.
Setelah lama menelusuri Padang Neraka dan tidak
menemukan apa yang dicarinya, pemuda berompi putih
ini tiba-tiba menghentikan kudanya.
"Hmm.... Tempat ini, begitu luas. Dan, aku tidak
melihat ada tanda-tanda kalau Paman Pandhu Wilantara
di sini!" keluh Rangga kecewa.
Pendekar Rajawali Sakti segera mengeterapkan aji"
Netra' sebagai pilihan terakhir. Dengan ajian ini Pendekar
Rajawali Sakti bisa melihat dari jarak cukup jauh ataupun
gelap pekat. Rangga mengedarkan pandangannya.
"Heh"! Apa itu?"
Tiba-tiba di suatu tempat Rangga melihat sesuatu
tampak tergantung. Melihat wujudnya memang seperti
manusia Dan ini membuat Rangga. Apalagi setelah
melihat burung-burung pemakan bangkai melayanglayang di udara.
"Heaaa...!"
Saat itu juga Rangga memacu kudanya. Namun kirakira seratus tombak jaraknya dan tempat yang
mencurigakan tadi, Pendekar Rajawali Sakti terpaksa
turun dari kudanya. .
"Hm.... Begitu banyak jebakan yang dipasang di sini.
Kalau kurang awas, bisa-bisa jiwa melayang," gumam
Pendekar Rajawali Sakti.
Dengan hati-hati "disertai ilmu meringankan tubuhnya
yang sudah tinggi, Rangga mendekati mayat yang
tergantung di atas pohon kering. Keadaannya sungguh
mengerikan. Sebab mayat itu suda tidak utuh lagi.
Sebagian dagingnya hilang. Isi perutnya keluar. Tulang
rusuknya kelihatan. Mungkin burung-burung pemakan
bangkai itulah yang telah menyantapnya.
Walaupun bagian wajah mayat ini hanya tinggal
tengkorak saja, namun setelah melihat cabikan-cabikan
pakaian berwarna putih, Rangga segera mengenali kalau
yang tergantung menyedihkan itu tidak lain dari Ki
Pandhu Wilantara, Ketua Padepokan Merak Kayangan.
"Hm.... Si Jubah Hitam Bermuka Hijau telah
menyiksanya hingga binasa. Aku tidak mengerti, dendam
apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Tapi
tindakan yang begini biadab tidak boleh dibiarkan
berjalan terus!" desis Rangga
Pendekar Rajawali Sakti segera memeriksa keadaan
mayat. Rasanya mustahil bagi Rangga membawa mayat
Ki Pandhu Wilantara ke Kota Gede.
Sebab, hal itu hanya membuat Warsih bisa kehilangan
kendati diri. Atau bahkan menjadi gila. Jalan satusatunya adalah dengan menguburkan mayat yang sudah
tidak utuh ini di tempat ini juga.
Saat Pendekar Rajawali Sakti hendak menurunkan tali
yang menggantung mayat, terlihat selembar daun lontar
terselip di antara ikatan yang membelenggu Ki Pandhu
Wilantara. Dengan penasaran diambilnya daun lontar itu,
dan dibukanya. Ternyata di atas daun lontar tertulis pesan yang
ditandatangani langsung oleh si Jubah Hitam Bermuka
Hijau. Dengan hati-hati dan teliti sekali Rangga
membacanya. "Dendamku pada Pandhu Wilantara dan seluruh
keluarganya rasanya tidak pupus dimakan zaman.
Walaupun darah seluruh keturunannya menganak
sungai, rasanya mata pedangku tidak berhenti
meminta nyawa. Mati-matian aku berjuang
mempertahankan Kota Gede bersama adipati,
tidak tahunya dia bersekutu dengan Dedemit
Pintu Neraka. Dia berpura-pura mengasingkan diri
bersama sanak keluarganya.
Istri dan anakku diperkosa dan dibunuh.
Semuanya begitu menyedihkan. Dalam pertarungan hidup dan mati, aku terkena pukulan
beracun milik Dedemit Pintu Neraka. Perubahan
pada kulitku tidak akan tersembuhkan. Hatiku
lebih sakit lagi, karena kini seluruh kekayaan Kota
Gede jatuh ke tangan pengkhianat.
"Rana Elang"
Seakan tidak percaya, Rangga membaca ulang tulisan
yang terdapat di atas daun lontar. Kini persoalannya
mulai jelas. Secara tidak sengaja. Jadi, Rangga telah
membantu pihak yang mungkin bersalah. Namun, bila
memang tuduhan si Jubah Hitam Bermuka Hijau
memang benar. Tapi membiarkan si Jubah Hitam Bermuka Hijau
melakukan pembunuhan yang sewenang-wenang, juga
sesuatu yang mustahil. Kini satunya adalah mencari
Dedemit Pintu Neraka dan si Jubah Hitam bermuka Hijau
yang ternyata bernama asli Rana Elang.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rangga segera
menggali sebuah lubang untuk mengubur Pandhu
Wilantara. -0o-dwkz-ray-novo-o0"Lebih baik kau bunuh saja aku, Dedemit Keparat!"
Warsih memaki-maki penuh amarah, lalu tangisnya
meledak begitu menyadari kalau miliknya yang paling
berharga bagi seorang gadis telah direnggut paksa oleh
laki-laki seram berjuluk Dedemit Pintu Neraka.
Sementara, laki-laki seram itu tersenyum penuh
kepuasan memandangi gadis yang masih setengah
telanjang itu. "Ha ha ha...! seharusnya peristiwa seperti ini tidak
pernah terjadi. Tapi karena ayahmu telah mengkhianati
perjanjian lama, maka mau tak mau harus merasakan
pembalasanku!" desis Dedemit Pintu Neraka, kalem.
Sebaliknya Warsih yang memang tidak tahu antara
ayahnya dengan Dedemit Pintu Neraka punya perjanjian
tertentu jadi terheran-heran. Menurut gadis ini, mustahil
ayahnya yang sangat dikagumi menjalin hubungan atau
kerja sama dengan tokoh sesat seperti Praba Kesa.
Karena, pernah pada suatu waktu ayahnya secara
terang-terangan
menyatakan bermusuhan dengan Dedemit Pintu Neraka. Adakah semua itu hanya kepurapuraan saja"
"Kau pasti telah berdusta, Manusia Rendah! Ayahku
tidak mungkin sudi menjalin hubungan dengan manusia
sesat sepertimu!" bantah Warsih di sela-sela tangisnya.
"Hm.... Kau masih terlalu polos, Gadis Manis.


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mungkinkah selama ini Kota Gede bisa aman dalam
pimpinan ayahmu jika di antara kami tidak ada
perjanjian?" tukas Dedemit Pintu Neraka. "Agar kau tahu,
dulu antara aku dan ayahmu terjalin persahabatan
rahasia. Semua orang pasti tidak pernah tahu masalah ini
Ayahmu tidak suka pada adipati. Dan kebetulan, aku pun
bermusuhan dengan adipati pula karena telah membunuh orang tuaku. Ketika aku dan anak buahku
bermaksud mengadakan penyerbuan ke Kota Gede,
ayahmu kusuruh mengungsi dengan alasan mengasingkan diri. Semua penghalang dapat kusingkirkan. Dan ayahmu kembali ke Kota Gede dengan
segala peninggalan dan kekayaan kadipaten. Dia dapat
menikmati segala yang ada. Aku tidak pernah
mengusiknya selama itu. Tapi kemudian, muncul si Jubah
Hitam Bermuka Hijau ke tempat ini. Orang itu tidak
mungkin tahu tempat tinggalku, jika bukan karena
pengkhianatan ayahmu..!"
"Aku tidak percaya! Kau pasti mengada-ada. Ayahku
tidak pernah bersekutu dengan siapa pun! Bahkan
hingga kini sedang mencari si Jubah Hitam Bermuka
Hijau yang telah membunuh beberapa muridnya!" bantah
Warsih berapi-api, walaupun masih sesenggukan.
"Seorang Ayah biasanya menjadi contoh anaknya.
Percaya atau tidak percaya, ayahmu telah menjadi
pemimpin dan mendirikan padepokan di Kota Gede
adalah karena bantuanku!"
"Kalaupun benar, ayahku tidak pernah berkhianat!"
Gadis ini rupanya sangat kecewa, setelah mengetahui
ayahnya yang selama ini sangat dibanggakan ternyata
menjalin hubungan dengan tokoh sesat seperti Dedemit
Pintu Neraka. Jika itu memang benar; tentu tidak
mengherankan jika selama ini iblis yang telah
memperkosanya tidak pernah mengganggu ketenteraman Kota Gede.
"Kau iblis menjijikkan! Lebih baik bunuh saja aku!"
teriak Warsih putus asa.
"Ha ha ha...! Aku tidak akan membunuhmu! Kau
pantas menjadi pendampingku di sini," sahut Dedemit
Pintu Neraka seraya menelan ludah untuk membasahi
tenggorokannya yang kering. "Aku sudah telanjur
merasakan kehangatanmu. Selain itu, aku memang
sengaja memancing ayahmu kemari untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."
"Kurang ajar! Ayahku tidak pernah menjalin hubungan
dengan si Jubah Hitam Bermuka Hijau," teriak gadis itu
tetap membangkang.
"Memang benar. Karena, si Jubah Hitam Bermuka
Hijau adalah musuh ayahmu dan berarti juga musuh ku.
Tapi, aku merasa yakin ayahmu pasti telah diancam dan
dipaksa untuk memberitahukan tempat tinggalku!"
sanggah Praba Kesa dingin.
Warsih terdiam. Dia merasa muak dan benci pada
Dedemit Pintu Neraka. Dalam keadaan diam seperti itu,
tiba-tiba gadis ini teringat pada Rangga. Pemuda yang
telah dimintanya untuk menyusul orangtuanya. Betapa
malunya dia nanti jika Rangga sampai mengetahui kalau
sebenarnya Ki Pandu Wilantara adalah seorang penjahat
berkedok pahlawan"
-0o-dwkz-ray-novo-o0Sisa-sisa murid Padepokan Merak Kayangan yang
masih bertahan hidup diperintahkan Ki Sabda Gendeng
untuk melaporkan kejadian itu ke Desa Randu Doyong.
Apalagi mengingat Padepokan Kipas Sakti pimpinan Ki
Banyu Raga masih adik kandung Ki Pandhu Wilantara.
Sementara Ki Sabda Gendeng dan Jaka Tawang terus
berusaha menyembuhkan murid-murid Padepokan Merak
Kayangan yang menderita luka parah. Tentu saja
pertolongan yang diberikan sesekali diselingi permainan
catur yang konyol bersama muridnya.
Menjelang tengah hari, seorang pemuda dengan kuda
berbulu hitam memasuki padepokan yang luas. Ki Sabda
Gendeng semula menyangka kalau yang datang adalah
murid yang diutusnya untuk menjumpai Ki Banyu Raga,
Ketua Padepokan Kipas Sakti. Tapi ketika keluar betapa
terkejutnya dia, karena yang datang tidak lain Pendekar
Rajawali Sakti yang telah dikenalnya (Untuk lebih
jelasnya silakan baca: "Siluman Tengkorak Gantung").
Rangga sendiri tampak kaget juga melihat kehadiran
murid dan guru yang sama-sama gendengnya.
"Pendekar Rajawali Sakti! Panjang betul umurmu. Dulu
kita berjumpa. eh..., sekarang ketemu lagi Dasar nasib
memang sedang mujur...!" sambut Ki Sabda Gendeng
dengan perasaan kagum.
"Selamat datang, Rangga," timpal Jaka Tawang.
"Rumah ini bau bangkai. Maaf, kami tidak sempat
membersihkannya. Guruku yang gendeng ini terus
mengajakku main catur!"
Rangga tersenyum seraya turun dari punggung
kudanya. Sebaliknya Ki Sabda Gendeng memelototi
muridnya. Kini Pendekar Rajawali Sakti segera mengikuti Ki
Sabda Gendeng menuju ke ruangan dalam. Pendekar
Rajawali Sakti terkejut, ketika melihat begitu banyak
murid Padepokan Merak Kayangan yang terluka parah.
"Apa yang telah terjadi di sini?" tanya Rangga ingin
tahu. Ki Sabda Gendeng secara singkat menceritakan segala
sesuatunya yang telah terjadi di Kota Gede.
"Jadi, sekarang di mana Warsih?" tanya Rangga lagi
"Tidak seorang pun yang tahu siapa yang menculiknya. Aku hanya melihat si Jubah Hitam Bermuka
Hijau itu saja. Bahkan kami sempat terlibat perkelahian
sengit. Sayang, dia melarikan diri!" jelas Ki Sabda
Gendeng. Laki-laki tua gendeng ini menurunkan bumbung
tuaknya. Setelah meminumnya beberapa tegukan, dia
menatap Rangga.
"Menurut murid-murid di sini, kau pergi ke Padang
Neraka. Bagaimana" Apakah kau berhasil menemukan
Pandhu Wilantara?" usik Ki Sabda Gendeng.
"Sudah kutemukan," jawab Rangga dengan muka
muram. "Tapi, aku datang terlambat. Aku hanya
menjumpai kerangka mayatnya dan juga menemukan
ini." Rangga segera menyerahkan daun lontar berisi tulisan
si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Ki Sabda Gendeng dan
Jaka Tawang segera membacanya.
Selesai membaca, napas Ki Sabda Gendeng langsung
sesak. Dan tuaknya diteguk lagi.
"Jadi kita telah membela orang yang salah?" tanya Ki
Sabda Gendeng. "Benar salahnya, kita tidak tahu, jika saja Warsih bisa
ditemukan, tentu bisa ditanyai. Penjelasan sepihak
bagiku kurang begitu kuat," jawab Rangga.
Dan sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti sendiri
memang masih ragu-ragu tentang kebenaran yang ditulis
si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Tapi sepak terjangnya
tetap tak bisa dibiarkan.
-0o-dwkz-ray-novo-o0"Bagaimana, Rangga" Apa yang harus kita lakukan
sekarang?" tanya Ki Sabda Gendeng gelisah.
"Apakah kau sudah menghubungi Ketua Padepokan
Kipas Sakti, Ki?" tukas Rangga.
"Sudah. Mungkin dalam waktu dekat, mereka akan
kemari," jawab Ki Sabda Gendeng tegas.
"Kalau begitu, aku harus mencari Warsih," putus
Rangga. "Kami sendiri, bagaimana" Apakah harus menunggui
rumah ini sampai tua?" tanya Ki Sabda Gendeng.
"Tentu saja, jika kau mau. Tapi kalau tidak silakan
bantu aku dengan cara sendiri-sendiri!" sahut Rangga
sambil tersenyum.
"Lebih baik kita membantunya, Guru." tandas Jaka
Tawang. -0o-dwkz-ray-novo-o07 Dengan membawa seluruh muridnya yang berjumlah
dua belas orang, Ki Banyu Raga sudah berangkat menuju
ke Kota Gede. Laporan salah seorang murid kakangnya
benar-benar membuat Ketua Padepokan Kipas Sakti ini
menjadi marah. Apalagi dikabarkan kalau Warsih
keponakannya juga diculik.
Ki Banyu Raga harus menyelidiki, siapa sebenarnya
yang telah menculik Warsih. Maka walaupun sebenarnya
jarak Desa Randu Doyong dengan Kota Gede cukup jauh
juga, Ki Banyu Raga tidak ingin beristirahat melepas
lelah. Setengah harian mereka telah melakukan perjalanan.
Ketika jaraknya semakin dekat dengan Kota Gede, tibatiba dari tikungan muncul satu sosok tinggi besar
mengenakan cawat. Dia memanggul seorang gadis yang
dalam keadaan kaku. Sekujur pakaiannya tampak
berlumuran darah.
Sesaat masing-masing menghentikan langkah dengan
tatapan tajam. "Siapa kau"! Dan kau apakah keponakanku"!" bentak
Ki Banyu Raga berang, begitu mengenali sosok gadis di
bahu laki-laki bertampang seram.
"Ha ha ha...! Warsih memang keponakanmu. Sayang,
dia nekat bunuh diri dalam tawananku. Rupanya dia
kecewa setelah melihat kenyataan kalau ayahnya pernah
bekerja sama denganku, " tegas laki-laki tinggi besar
yang tak lain Dedemit Pintu Neraka.
"Mustahil!" bantah Ki Banyu Raga tidak percaya. "Kau
hanya memfitnah saudaraku! Kau hanya mengada-ada!"
"Aku tidak mengharap agar kau percaya padaku. Tapi,
karena akulah dia dapat memerintah Kota Gede dengan
tenang tanpa gangguan siapa pun!" jelas Praba Kesa,
enteng. "Lalu, siapa yang berjuluk si Jubah Hitam Bermuka
Hijau yang telah menyebar petaka selama ini" Apakah
bukan kau juga yang memang sengaja memakai gelar
lain?" cecar Ki Banyu Raga, curiga.
"Aku tidak akan sepengecut itu! Si Jubah Hitam
Bermuka Hijau tidak lain adalah Pendekar Rana Elang,
yang dulu membantu adipati dalam melawanku. Kini, dia
mengumbar maut dan membalas dendam. Aku sendiri
merasa dikhianati saudaramu itu Makanya aku terpaksa
menculik anaknya. Sayang, dia telah bunuh diri karena
tidak tahan mendengar penjelasanku!" jelas Praba Kesa.
"Aku tidak percaya dia bunuh diri hanya karena
mendengar penjelasanmu Aku yakin kau pasti telah
menodainya!" tuduh Ki Banyu Raga menjadi marah.
Dedemit Pintu Neraka sama sekali tidak membantah.
Sebaliknya dia malah tersenyum-senyum. Ada kepuasan
terpancar lewat tatapan matanya.
"Bangsat! Berarti sumber malapetaka semua ini, kau
juga dalangnya. Pantas si Jubah Hitam Bermuka Hijau
begitu membenci kami!" desis Ki Banyu Raga.
Sekejap saja Ketua Padepokan Kipas Sakti telah
memberi isyarat pada murid-muridnya untuk menyerang.
Sementara Dedemit Pintu Neraka langsung melempar
sosok Warsih yang telah menjadi mayat ke arah para
penyerangnya. Tap! Ki Banyu Raga langsung menangkapnya. Sementara
itu, murid-murid Padepokan Kipas Sakti terus menyerbu
ke depan. Menyadari kalau Dedemit Pintu Neraka
berkepandaian tinggi, mereka langsung mempergunakan
kipas. Bet! Bet! Dedemit Pintu Neraka tertawa dingin melihat serangan
yang datang. Seketika tubuhnya berjumpalitan dengan
gerakan sangat ringan.
Namun hujan serangan seakan tidak putus-putusnya.
Sehingga. membuat Praba Kesa jadi kerepotan juga.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang
sudah sempurna, dia mengelak ke sana ke mari.
"Hiya!"
Wut! Wut! Lima serangan murid-murid Ki Banyu Raga sekaligus
mengancam bagian-bagian mematikan. Praba Kesa
terpaksa melompat ke samping sejauh satu tombak. Tapi


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari arah belakang, datang serangan yang tidak
disangka-sangka. Maka terpaksa ditangkisnya seraya
berbalik. Trak! Kipas-kipas maut itu seperti membentur batu karang
saja. Tiga murid Ki Banyu Raga terhuyung-huyung.
Bahkan terpaksa memegangi tangan yang terasa panas
seperti tersengat api.
Kesempatan yang hanya sekejap ini tidak disia-siakan
Praba Kes. Segera dia melompat ke depan dengan
tangan meluncur dan menghantam dada tiga orang
sekaligus. Des...! Des...! Desss...!
"Akh...!"
Tiga orang kontan terjengkang disertai teriakan
kesakitan. Mereka kontan ambruk dengan dada remuk
dan kulit langsung berubah hijau. Jelas, mereka terkena
pukulan beracun yang sangat mematikan. Dari hidung
dan mulut tampak mengucur darah kental yang juga
telah berwarna hijau.
''Pukulan Pembasmi Iblis?" desis Ki Banyu Raga,
terkejut sekali.
"Ha ha ha...! Racun ini pula yang hampir membunuh
Rana Elang. Sayang, aku tidak tahu ternyata dia mampu
bertahan hidup. Dan kini, menjadi duri dalam daging!"
sahut Praba Kesa bangga.
"Bunuh...!" perintah Ketua Padepokan Kipas Sakti
pada seluruh muridnya.
Tanpa menghiraukan rasa takut sedikit pun, muridmurid Ki Banyu Raga kembali melancarkan serangan.
Namun kali ini Dedemit Pintu Neraka sudah tidak
memberi kesempatan lagi.
"Hup...!"
Tiba-tiba laki-laki tinggi besar ini melompat mundur.
Seketika kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. Maka
saat itu juga kedua tangannya berubah memerah.
Melihat perubahan in Ki Banyu Raga bermaksud
memberi peringatan pada seluruh murid-muridnya untuk
menghindar. Namun....
"Heaaa!"
Disertai teriakan menggelegar, sambil berputar.
Dedemit Pintu Neraka menghentakkan kedua tangannya.
Maka seketika kekuatan dahsyat yang berupa cahaya
merah meluncur dari tangan Praba Kesa. Hanya dalam
waktu singkat cahaya merah itu telah menghantam tepat
pada sasaran di delapan penjuru arah.
Blar! Blar! "Wuaagkh...! "
Beberapa sosok tubuh kontan terpental seperti daundaun kering yang ditiup angin dalam keadaan hangus
mengerikan. Jerit kesakitan terdengar di sana-sini
Ketua Padepokan Kipas Sakti hanya terkesima melihat
kedahsyatan pukulan beracun yang dilepaskan Dedemit
Pintu Neraka. Lebih terkejut lagi ketika melihat tidak satu
pun dari murid-muridnya yang selamat. Semuanya tewas
dengan kulit hangus dan mata melotot.
"Kau benar-benar iblis!" bentak Ki Banyu Raga kalap.
"Huh...! Sekarang, kau benar-benar membuktikannya
sendiri kalau Dedemit Pintu Neraka tidak dapat dianggap
remeh!" dengus Praba Kesa dengan senyum dingin.
"Aku ingin mengadu jiwa denganmu!" desis Ki Banyu
Raga. Saat itu juga, Ketua Padepokan Kipas Sakti
mengerahkan jurus-jurus silat yang cukup ampuh.
Namun, lawannya kali ini adalah seorang tokoh sesat
yang sulit dicari tandingannya.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Sret...! Ki Banyu Raga segera mengeluarkan kipas berwarna
kuning keemasan yang terselip di pinggang. Dengan
senjata di tangan, mulai dilancarkannya seranganserangan ganas. Dan Dedemit Pintu Neraka meladeninya
tak kalah sengit.
"Jurus 'Tarian Kipas Emas'...! Heaaa...!"
Perkelahian kedua orang ini berlangsung begitu seru.
Apalagi Ki Banyu Raga mengerahkan jurus 'Tarian Kipas
Emas'. Inilah salah satu di antara sekian jurus 'Kipas
Sakti' yang dikuasai Ki Banyu Raga.
"Heaaa...!"
Tiba-tiba sambil berteriak nyaring, Ki Banyu Raga
menghantamkan tinjunya ke wajah Dedemit Pintu
Neraka. Sedangkan kipas di tangannya yang dapat
mengembang dan menguncup menghantam dada.
Melihat serangan bertubi-tubi yang datangnya begitu
cepat dan tiba-tiba, Praba Kesa terpaksa menarik
kepalanya ke belakang. Sedangkan kipas lawan
ditangkisnya dengan ujung jubah.
Tak! "Heh"!"
Ki Banyu Raga terdorong mundur begitu jubah hitam
itu membentur kipasnya.
Saat itu juga, Praba Kesa melihat sebuah kesempatan
baik yang tak mungkin disia-siakan.
Saat itu juga dilepaskannya tendangan keras disertai
tenaga dalam tinggi.
Diegkh... ! "Hugkh!"
KI Banyu Raga mengeluh tertahan sambil memegangi
dada yang terasa nyeri. Sementara darah mengucur dari
sudut-sudut bibirnya.
Melihat lawannya terhuyung-huyung, Praba Kesa
menjadi girang. Dia bermaksud segera menyudahi
perlawanan. Seketika diterjangnya Ki Banyu Raga disertai
seluruh tenaga dalamnya.
"Hiyaaa...!"
Walaupun dalam keadaan terluka dalam, Ketua
Padepokan Kipas Sakti ketika melihat bahaya mengancam jiwanya tidak dapat tinggal diam. Secepat
kilat, kipas di tangannya digerakkan ke arah kaki
Dedemit Pintu Neraka.
Praba Kesa sama sekali tidak menyangka kalau ketua
padepokan itu masih mampu melepaskan serangan balik.
Sehingga, kakinya yang terus meluncur tidak sempat lagi
ditarik. Bret! "Aakh!"
Praba Kesa memekik kesakitan. Celana dan betisnya
robek mengucurkan darah tersambar kipas Ki Banyu
Raga. Dengan terpincang-pincang, kakinya melangkah
mundur. Mukanya yang merah semakin bertambah
merah terbakar kemarahan.
Tiba-tiba Dedemit Pintu Neraka mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu memutarnya dengan cepat
Ketua Padepokan Kipas Sakti menyadari sepenuhnya
kalau tokoh sesat itu telah bersiap-siap dengan ajian
pamungkasnya. Maka dia tidak tinggal diam. Segera pula
disiapkannya pukulan pamungkas.
"Heaaa...!"
"Hiaaa...! "
Sebentar saja teriakan-teriakan
menggelegar terdengar. Baik Ki Banyu Raga maupun Dedemit Pintu
Neraka sama-sama melompat ke depan seraya
menghentakkan kedua tangannya dalam waktu bersamaan. Wess...! Wesss...!
Saat itu juga dua pukulan sakti dan sama-sama
berbahaya meluncur deras. Lalu..
Glarr...! Sebuah ledakan dahsyat terdengar disertai guncangan
keras. Daun-daun berhamburan. Debu membubung ke
udara. Dua sosok tubuh tampak berpelantingan 'ke
belakang. Dedemit Pintu Neraka walaupun terluka dalam segera
bangkit secepatnya. Sebaliknya Ki Banyu Raga yang
menderita luka dalam cukup parah tidak dapat bangun
lagi. Dia mengerang kesakitan. Suaranya lemah pertanda
ajalnya sudah hampir tiba.
"Kini kau benar-benar telah merasakannya sendiri,
betapa aku tidak ada yang mampu menandingi!" desis
Dedemit Pintu Neraka jumawa.
Wettt...! Laki-laki bermuka merah ini kemudian bersiap hendak
mendorongkan kedua tangannya ke arah Ki Banyu Raga.
Namun niatnya urung ketika....
"Tahan...!"
Terdengar suara mencegah tanpa terlihat orang yang
mengucapkannya. ini membuktikan betapa orang itu
memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi dan sukar
dijajaki Tidak lama kemudian, barulah terlihat seorang
laki-laki berjubah hitam berdiri tidak jauh di depan
Dedemit Pintu Neraka.
"Adalah perbuatan pengecut membunuh lawan yang
sudah tidak berdaya!" cibir sosok itu disertai senyum
dingin mengejek.
Setelah memperhatikan orang yang menegurnya
barusan, sekarang Praba Kesa tahu siapa orang berjubah
hitam dan bermuka hijau ini. Tawanya pun meledak.
"Rupanya sesuai julukanmu, kau sangat menderita
selama ini, Rana Elang. Yang tidak habis ku mengerti,
bagaimana kau dapat bertahan hidup hingga sekarang"
Padahal waktu itu, selain terluka parah, kau juga telah
terkena pukulanku, 'Pukulan Racun Pembasmi Iblis' dan
'Pukulan Serat Kematian'!" desis Dedemit Pintu Neraka
setengah kagum.
Bila dalam kesehariannya tatapan mata sosok yang tak
lain si Jubah Hitam Bermuka Hijau terasa dingin dan
menyimpan duka, maka mata itu sekarang berkilat-kilat
diwarnai dendam lama yang mulai berkobar kembali.
Pada saat bicara, suaranya terasa bergetar pertanda
berusaha menahan marah.
"Praba Kesa! Aku lama mencarimu untuk menagih
hutang lama yang sampai saat ini belum kau bayar. Kini
kuketahui, anak sekutumu telah kau perkosa. Sedangkan
ayahnya mati di tanganku, menebus semua dosadosanya yang pernah diperbuat bersamamu. Banyak
orang menduga, akulah yang bersalah. Dan, bencana di
Kota Gede dulu hanya kau pelakunya bersama anak
buahmu. Tapi kebenaran tidak dapat ditutupi. Aku
mengetahui rahasia kalian berdua. Hingga hari ini atau
sampai kau mati nanti, mungkin rakyat di Kota Gede
tidak tahu kalau Ketua Padepokan Merak Kayangan
sebenarnya adalah manusia busuk berhati culas!
Kakekku, istriku, anakku, semuanya tewas di tanganmu
Dan aku tahu, di balik semua ini yang paling
bertanggung jawab adalah Pandhu Wilantara...!" kata si
Jubah Hitam Bermuka Hijau, lantang.
"Bagus! Kurasa sampai hari ini hanya kau saja yang
mengetahui rahasia yang sangat penting ini. Aku yakin,
jika aku telah membunuhmu, semua rahasia baik yang
menyangkut Pandhu Wilantara akan terkubur kembali
selama-lamanya. Penduduk Kota Gede tak akan tahu,
apa yang terjadi dulu dan sekarang. Dan aku bisa
berkuasa menggantikan Pandhu Wilantara. Kepada
penduduk Kota Gede dapat kukatakan bahwa si Jubah
Hitam Bermuka Hijau dan Dedemit Pintu Neraka cuma
satu. Yaitu, kau...!" kata Praba Kesa tenang.
"Fitnah keji! Kau memang tidak pantas hidup lebih
lama di kolong langit inif" sahut Rana Elang murka.
Seketika si Jubah Hitam Bermuka Hijau melompat ke
depan, melepaskan serangan kilat, kedua tangannya
dihentakkan, membuat angin kencang meluruk deras.
"Hup...!"
Praba Kesa berjumpalitan ke belakang. Lalu begitu
mendarat di tanah, kedua tangannya dihentakkan ke
arah angin kencang yang menderu ke arahnya.
Blam...! Dua kekuatan besar saling bertemu, sehingga
menimbulkan ledakan keras mengguncangkan tanah dan
membuat rontok daun-daun di sekitarnya.
Wajah si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang hijau
semakin bertambah hijau. Sebaliknya Dedemit Pintu
Neraka sempat bergetar juga tubuhnya. Sadarlah mereka
ini bahwa kekuatan mereka sebenarnya
sangat berimbang. Apa yang terjadi di tempat itu sesungguhnya tidak
luput dari perhatian sepasang mata. Sekarang pemilik
sepasang mata yang .tak lain Pendekar Rajawali Sakti
segera keluar dari tempat persembunyiannya. Tubuhnya
cepat berkelebat cepat untuk menolong Ki Banyu Raga
yang dalam keadaan terluka parah itu.
Tanpa menghiraukan perkelahian yang sedang seruserunya, Rangga berusaha membawa Ki Banyu Raga ke
tempat yang aman.


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

-0o-dwkz-ray-novo-o08 Rangga mulai mengurut-urut bagian tubuh Ki Banyu
Raga yang terus mengerang kesakitan. .Lama kelamaan,
jalan darah Ketua Padepokan Kipas Sakti menjadi lancar
kembali. Matanya bahkan membuka. Ki Banyu Raga
terkejut begitu melihat siapa yang telah menolongnya.
"Pendekar Rajawali Sakti!" seru laki-laki ini dengan
perasaan haru. "Jangan bergerak, Paman. Luka dalammu belum
sembuh benar," ujar Rangga mengingatkan.
Ketua Padepokan Kipas Sakti ini menggelengkan
kepala. Matanya sayu, pertanda sedang dirundung
kesedihan. "Aku sudah terlambat, Rangga. Sungguh aku tidak
tahu ulah saudaraku itu. Dia mungkin sudah mati di
Padang Neraka. Sedangkan putri satu-satunya juga
binasa di tangan Dedemit Pintu Neraka. Rasanya aku
tidak dapat hidup tenang lagi, sebelum dapat membunuh
manusia keji yang berjuluk Dedemit Pintu Neraka!"
ungkap Ki Banyu Raga dengan suara bergetar.
"Bersabarlah, Paman. Mereka kini sedang terlibat
pertempuran. Siapa pun yang jadi pemenangnya, dia
harus mempertanggungjawabkan
semua perbuatannya...," desis Rangga tenang.
"Syukurlah, Rangga. Ternyata kau mau menolongku
dari kesulitan yang kuhadapi," desah Ki Banyu Raga
pelan. "Paman tetap beristirahat saja. Kita harus menunggu!"
ujar Pendekar Rajawali Sakti, seraya mengarahkan
pandangannya pada pertarungan yang tak jauh dari
tempat ini Ketua Padepokan Kipas Sakti yang seluruh muridnya
tewas di tangan Dedemit Pintu Neraka mengangguk
setuju. Ketika mereka sedang memperhatikan jalannya
perkelahian sengit yang banyak mengumbar pukulan
maut itu, tiba-tiba...
"Ha ha ha...! Sedang terjadi pertempuran rupanya di
sini. Jaka Tawang! Lihat tidak, betapa hebatnya mereka"
Setan melawan iblis. Lihat baik-baik, Jaka! Mereka benarbenar hebat!" seru seorang laki-laki tua pada pemuda
yang dipanggil Jaka Tawang.
"Ini rupanya orang yang kita cari-cari, Guru! Melihat
cepatnya gerakan mereka, kepalaku jadi pusing, Guru!"
sahut Jaka Tawang.
"Ah..., Rangga. Rupanya kau sudah berada di sini.
Maaf, atas keterlambatan kami," ucap kakek berbaju
putih ini yang tak lain Ki Sabda Gendeng merasa serba
salah, begitu melihat Pendekar Rajawali Sakti.
"Bukannya terlambat, Pendekar Rajawali Sakti! Guru
mengajak aku main catur terus. Jadi, kami jarang
bergerak," timpal Jaka Tawang, menyudutkan.
Ki Sabda Gendeng mendelik matanya pada Jaka
Tawang. Rangga tersenyum saja melihat ulah murid dan
Guru yang konyol itu.
"Perkenalkan!
ini Paman Banyu Raga, Ketua Padepokan Kipas Sakti," kata Rangga, seraya menatap
laki-laki di sebelahnya.
"Senang sekali berjumpa denganmu, Kisanak," ucap Ki
Sabda Gendeng lalu menjura hormat. "Tampaknya kau
menderita luka berat" Apakah orang itu yang telah
melukaimu?"
Ki Banyu Raga mengangguk.
"Kalau begitu biar kami hajar mereka!" desis Ki Sabda
Gendeng geram, seraya hendak bergerak mendatangi
pertarungan. "Jangan, Ki. Bukannya aku menganggap remeh, tapi
mereka cukup tangguh. Lebih baik kau dan Jaka T awang
jaga di sini biarkan aku yang menyelesaikan urusan ini !"
cegah Rangga, mantap.
Sebentar Ki Sabda Gendeng menatap tajam Pendekar
Rajawali Sakti, lalu kembali tatapannya beralih pada
pertarungan. "Aku percaya dengan kehebatanmu, Rangga. Tapi
kusarankan agar berhati-hati menghadapi mereka. Salah
satu di antaranya saja sudah cukup berbahaya. Apalagi
kalau kedua-duanya malah berbalik menyerangmu!"
sahut Ki Sabda Gendeng, mencemaskan Pendekar
Rajawali Sakti.
"Tentu aku akan menunggu kesempatan terbaik
bagiku!" jawab Rangga.
Sementara itu pertempuran berjalan semakin seru
saja. Baik si Jubah Hitam Bermuka Hijau maupun
Dedemit Pintu Neraka sudah sama-sama mengerahkan
jurus-jurus andalan yang sangat berbahaya!
"Maut sudah menantimu, Rana Elang!" teriak Dedemit
Pintu Neraka. "Omong kosong!" dengus si Jubah Hitam Bermuka
Hijau. "Tujuh Jalan Darah!" teriak Praba Kesa. Tiba-tiba saja
Dedemit Pintu Neraka memutar tubuhnya menghadap
matahari terbit. Kedua tangannya melekat di depan
dada. Wajahnya berubah tegang. Dan rambutnya yang
tegak berdiri bagai ijuk, tampak mengeras seperti bulu
landak. Di lain waktu, kedua tangannya yang paling
melekat telah berubah hitam seperti arang. Ada asap
tipis mengepul lewat celah-celah jemarinya....
-0o-dwkz-ray-novo-o0Melihat Dedemit Pintu Neraka telah bersiap-siap
melepaskan pukulan yang sangat ampuh, si Jubah Hitam
Bermuka Hijau tidak tinggal diam. Segera tenaga
dalamnya dikerahkan, membuat kedua tangannya
berubah merah laksana bara.
"Tembang Padang Neraka!" teriak Rana Elang.
Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh
yang sudah sangat sempurna, Rana Elang melesat ke
depan sambil mendorongkan kedua tangannya.
Wut! Wut! Segelombang angin panas disertai warna merah darah
meluruk deras ke arah Praba Kesa. Sebaliknya dari ujung
jemari Dedemit Pintu Neraka yang juga sudah meluruk
pun menderu angin dingin berbau busuk. Masing-masing
telah sama-sama melesat. Dan tampaknya adu tenaga
dalam tidak dapat dihindari lagi. Lalu....
Blam...! "Aaakh...!"
Terdengar ledakan dahsyat begitu benturan yang
menciptakan percikan bunga api terjadi Disertai jerit
kesakitan, dua sosok tubuh terlempar jauh menerabas
tebaran asap dan bunga api. Tempat itu sempat
terguncang. Debu dan daun-daun kering berhamburan di
udara. Begitu jatuh di tanah, dua sosok yang terjatuh
berusaha bangkit Tampak jelas Dedemit Pintu Neraka
dalam keadaan terluka dalam. Begitu juga si Jubah Hitam
Bermuka Hijau. Namun walau pukulan Praba Kesa mengandung racun
jahat, Rana Elang sekarang tidak mempan lagi dengan.
beberapa jenis racun, berkat racun lama yang
mengendap di tubuhnya. Dia segera bangkit berdiri.
Disekanya darah yang menetes di sudut-sudut bibirnya.
Dengan penuh rasa benci dipandanginya Dedemit Pintu
Neraka. "Aku tidak pernah puas sebelum salah satu di antara
kita terkapar menjadi mayat!" desis Rana Elang marah,
seraya mencabut pedangnya.
Sring! "Hmm," gumam Dedemit Pintu Neraka tidak jelas.
"Hiyaaa...!"
Disertai jeritan tinggi melengking seakan merobek
langit, si Jubah Hitam Bermuka Hijau memutar
pedangnya dengan gerakan sedemikian cepat. Apalagi
ketika itu ia melancarkan jurus-jurus maut yang dipelajari
di Padang Neraka,
Seketika Rana Elang meluruk ke depan. Maka dalam
waktu sekejap, sinar pedangnya telah mengurung jalan
gerak Dedemit Pintu Neraka.
Namun ternyata selain cerdik, Praba Kesa licin dan
lincah sekali. Ketika pedang di tangan si Jubah Hitam
Bermuka Hijau meluncur deras menerobos bagian perut,
tubuhnya berkelit ke samping. Sehingga serangan Rana
Elang hanya mengenai tempat kosong.
Namun secepat kilat, Rana Elang membelokkan ujung
pedangnya. Wut! "Heh..."!"
Dedemit Pintu Neraka terkesiap, lalu cepat melompat
ke belakang. Tapi pedang si Jubah Hitam Bermuka Hijau
terus memburunya ke manapun dia berusaha bergerak.
Praba Kesa berusaha cari celah kosong di antara
serangan pedang yang sangat hebat itu. Maka begitu si
Jubah Hitam Bermuka Hijau menebaskan pedang ke
leher, cepat tubuhnya merunduk seraya melepaskan
tendangan ke perut
Des! "Hugkh!"
Si Jubah Hitam Bermuka Hijau terhuyung mundur
begitu tendangan Praba Kesa mendarat telak di
perutnya. Namun seakan dia tidak merasakan apa-apa.
Bahkan kembali menerjang. Kali ini serangannya semakin
menghebat. Hingga sambaran angin pedangnya saja
terasa memedihkan mata.
Dedemit Pintu Neraka benar-benar terdesak. Dia
hanya dapat mengelak, tanpa mampu melakukan
serangan balasan.
Bret! Bret! Bret!
Praba Kesa mengeluh dalam hati. Untuk menyelamatkan diri, tubuhnya terus berjumpalitan
menghindar. Namun Rana Elang berhasil menyabetkan
pedangnya. Aneh! Bagian tubuhnya yang terserempet
pedang sama sekali tidak terluka.
Hal itu tentu mengejutkan semua orang yang melihat
pertarungan. Terlebih-lebih lagi Rana Elang. Bagaimana
mungkin pedangnya yang cukup ampuh tidak dapat
melukai lawannya" Sadarlah si Jubah Hitam Bermuka
Hijau kalau ternyata Dedemit Pintu Neraka kebal senjata.
Rana Elang tidak putus asa. Kembali diserangnya
Praba Kesa dalam jarak yang cukup dekat. Pedangnya
menusuk, membabat, dan menebas ke bagian-bagian
tertentu di tubuh lawannya.
Namun kali ini Dedemit Pintu Neraka melancarkan
serangan balasan tidak kalah sengit. Ketika pedang si
Jubah Hitam Bermuka Hijau kembali meluncur deras ke
dada, Praba Kesa cepat menyampok dengan tangan
kanan. Tap! Pedang si Jubah Hitam Bermuka Hijau berhasil
ditangkap Dedemit Pintu Neraka. Rana Elang berusaha
menarik pedangnya yang berada dalam genggaman,
namun tidak berhasil. Bahkan tanpa diduga tangan kiri
Praba Kesa menghantam dadanya.
Des! 'Aaa...!" Si Jubah Hitam Bermuka Hijau kontan menjerit keras
begitu pukulan beracun Praba Kesa bagai menghancurkan isi dadanya. Tubuhnya kontan terpental
dan jatuh berdebuk di tanah, Sementara pedangnya
berhasil dirampas Dedemit Pintu Neraka.
Melihat musuh bebuyutannya dalam keadaan tidak
berdaya, Dedemit Pintu Neraka segera memutar pedang
rampasannya. Lalu....
"Hiyaaa!"
Disertai teriakan keras, Dedemit Pintu Neraka meluruk
ke depan dengan pedang terarah pada si Jubah Hitam
Bermuka Hijau yang benar-benar dalam keadaan
menderita luka dalam.
Namun pada saat yang gawat, berkelebat sebuah
bayangan memapak serangan Praba Kesa.
Trak! "Uph...!"
Dedemit Pintu Neraka langsung terlempar dan jatuh di
tanah. Pedangnya lepas dari tangan. Sedangkan
pergelangan tangannya yang terpapak terasa nyeri dan
panas bukan main.
Karena merasa khawatir, Praba Kesa bangkit berdiri.
Matanya menatap tajam pada orang yang memapak
serangannya. Tiga tombak di depannya kini telah berdiri
seorang pemuda tampan berompi putih. Di punggungnya
tersampir sebilah pedang berhulu kepala burung rajawali
"Hm.... Apa hubunganmu dengan Rana Elang?" desis
laki-laki bercawat itu.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya.
Hanya aku paling tidak suka melihat orang masih tega


Pendekar Rajawali Sakti 190 Dedemit Pintu Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membunuh lawannya yang sudah tidak berdaya!" sahut
sosok pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar
Rajawali Sakti.
"Kepalang basah! Siapa pun yang berada di sekitar
tempat ini akan kubunuh semuanya!" bentak Dedemit
Pintu Neraka. "Heaaa..!"
"Hiyaaa!"
Pertarungan sengit pun kembali terjadi. Kali ini lawan
yang dihadapi Dedemit Pintu Neraka adalah seorang
pendekar tangguh yang mempunyai kesaktian luar biasa.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Sementara itu, si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang
dalam keadaan terluka parah segera ditolong Ki Sabda
Gendeng. Dengan dibantu Jaka Tawang mereka mulai
meneliti keadaan Rana Elang.
"Coba persiapkan sebuah cawan untuk arakku, Jaka!"
perintah Ki Sabda Gendeng pada muridnya.
"Cawan" Untuk apa, Guru. Bukankah kalau Guru mau
minum cukup meneguknya saja" Tukas Jaka Tawang
tidak mengerti.
"Anak tolol! Gendeng dipelihara! Aku bukan mau
minum, Goblok! Aku mau mengobati luka dalarn orang
ini!" bentak Ki Sabda Gendeng melotot.
Jaka Tawang segera menyediakan apa yang diminta
gurunya. Sedangkan Ki Banyu Raga hanya memperhatikan dengan tatapan sulit ditafsirkan.
"Lukanya memang parah. Tapi, lebih berbahaya lagi
karena dia telah terkena racun jahat!" kata Ki Sabda
Gendeng pelan. "Lalu, bagaimana, Guru?"
"Harapan baginya untuk hidup sangat tipis...."
"Biarkan,dia mati, Kisanak!" sela' Ki Banyu Raga, tibatiba. "Dosa-dosanya bertumpuk, walaupun dia berasal
dari orang baik-baik!"
Rana Elang yang dalam sekarat membuka matanya.
Setiap kali bergerak, maka darah kental akan
menyembur dari mulutnya.
"Aku memang orang jahat. Tapi paling tidak, aku
pernah berbuat baik untuk Kota Gede. Malah,
saudaramu itu ular berkepala dua, Kepada kalian berdua
yang menolongku kuucapkan terima kasih. Aku..., tidak
mungkin dapat bertahan hidup lebih lama. Tapi
setidaknya aku merasa senang, karena di akhir
kematianku dapat pula menunjukkan pada orang lain
bahwa tidak semua kesalahan yang terjadi karena
aku:..!" kata Rana Elang tersendat-sendat.
Tidak lama, kepala si Jubah Hitam Bermuka Hijau
benar-benar terkulai. Dia tewas seketika dengan bibir
dihiasi senyum.
"He.... Dia malah mati, Guru! Padahal, Guru belum
berhasil mengobati mukanya yang hijau!" ujar Jaka
Tawang. . "Anak sableng! Mukanya memang sudah hijau," maki
Ki Sabda Gendeng, sambil garuk-garuk kepala. "Tapi,
sudahlah.... Untuk apa kita adu mulut. Toh, dia sudah
mampus. Lebih baik kita. main catur dulu! Kalau Rangga
perlu bantuan, nanti baru kita turun tangan!"
"Tidak mau! Silakan Guru main sendiri! Aku punya
tugas untuk mengubur si Jubah Hitam Bermuka Hijau
supaya tidak menderita," tolak Jaka Tawang.
"Eeh..., tunggu...!"
"Tidak!"
"Edan...! Biarkan kubantu kau menguburkan jenazah
manusia itu!" sergah Ki Sabda Gendeng sambil
memasukkan papan caturnya kembali ke balik pakaian.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Duk! Duk! "Aaakh...!"
Sementara itu dalam pertarungan, Rangga terjengkang ketika beberapa hantaman Dedemit Pintu
Neraka mendarat di dadanya. Dia jatuh terduduk. Darah
mengucur dari hidung dan mulutnya, pertanda menderita
luka dalam tidak ringan.
Melihat kejadian ini, sebenarnya Ki Sabda Gendeng
dan muridnya hendak turun membantu. Tapi hatinya
merasa tidak enak. Apalagi, mengingat kalau Rangga
adalah seorang pendekar ksatria yang tidak ingin
bertarung secara keroyokan.
"Sebentar lagi aku akan mengirimmu ke neraka,
Kisanak!" dengus Dedemit Pintu Neraka sambil tertawa
penuh kemenangan.
"Aku ingin melihat, apakah ucapanmu sesuai dengan
kemampuanmu!" balas Rangga dingin menusuk.
Secepatnya Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri
seraya menggerakkan tangannya ke punggung.
Sring...! Begitu Rangga meloloskan pedang yang selalu
tergantung di punggung, sinar biru berkilauan langsung
memendar dari mata pedang.
"Heaaa...!"
Sambil berteriak nyaring, Pendekar Rajawali Sakti
meluruk ke arah Dedemit Pintu Neraka dengan pedang
berkelebat mencari sasaran disertai jurus 'Pedang
Pemecah Sukma'. Hanya dalam berapa saat saja, Praba
Kesa telah terkepung sinar biru dari Pedang Pusaka
Rajawali Sakti.
Praba Kesa saat itu merasa ada hawa aneh keluar dari
pedang Pendekar Rajawali Sakti. Semangat bertarungnya
kontan kendor. Bahkan kini yang timbul adalah rasa takut
luar biasa. Sehingga, keringat dingin mendadak
mengucur deras.
"Hup...!"
Tiba-tiba Dedemit Pintu Neraka melompat ke
belakang. Namun pada waktu yang sama, Pendekar
Rajawali Sakti meluruk dengan sabetan pedang yang
cepat bukan main. Akibatnya, Praba Kesa yang baru
mendarat di tanah tidak sempat menghindar. Dan...
Crasss...! "Aaakh...!"
Tepat sekali Pedang Pusaka Rajawali Sakti menebas
kepala Dedemit Pintu Neraka hingga menggelinding
jatuh. Darah kontan memancur dari leher yang terputus.
Begitu ambruk, Praba Kesa tewas seketika dengan kepala
terpisah. Rupanya kekebalan tubuhnya tidak mampu
menahan ketajaman Pedang Pusaka Rajawali Sakti.
Pendekar Rajawali Sakti segera memasukkan pedang
ke dalam warangkanya. Sementara Ki Sabda Gendeng,
Jaka Tawang, dan Ki Banyu Raga datang menghampirinya.
''Rangga! Kau telah menyelesaikan segalanya dengan
baik. Aku mengucapkan banyak terima kasih padamu!"
ucap Ki Banyu Raga penuh rasa haru.
"Aku ikut sedih karena Paman kehilangan murid,"
sahut Pendekar Rajawali Sakti. "Semoga kejadian ini
tidak terulang lagi di Kota Gede. Paman dapat memimpin
kota itu mulai sekarang!"
Pendekar Rajawali Sakti kemudian berbalik. Namun
ketika baru melangkahkan kakinya....
"Hei..., tunggu!" cegah Ki Sabda Gendeng.
Rangga berbalik
"Ada apa lagi, Ki"!" tanya Rangga.
"Ah, tidak... Aku hanya ingin mengajakmu bermain
catur!" "Maaf, Ki. Aku ada urusan lain," kilah Pendekar
Rajawali Sakti terus melangkah menghampiri Dewa Bayu
yang selalu setia menunggu di tempat tersembunyi.
Ki Sabda Gendeng tampak kecewa. Tapi untuk
menahan Pendekar Rajawali Sakti lebih lama lagi, dia
tidak berani. Ketika laki-laki tua ini menoleh pada
muridnya, Jaka Tawang hanya mengangkat bahu
SELESAI Segera terbit :
KELELAWAR HIJAU
Golok Halilintar 11 Pendekar Naga Geni 7 Bara Api Di Laut Kidul Neraka Karang Hantu 2

Cari Blog Ini