Ceritasilat Novel Online

Dewi Mawar Selatan 1

Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan Bagian 1


Serial Pendekar Rajawali Sakti
Episode 197 Dewi Mawar Selatan
Pembuat Ebook :
Scan buku ke djvu : Abu Keisel, Syaugy, Novo
Convert & Editor : Raynold
(www.tagtag.com/tamanbacaan)
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
PENDEKAR RAJAWALI SAKTI
DEWI MAWAR SELATAN
oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode :
Dewi Mawar Selatan
128 hal. ; 12 x 18 cm
Djvu oleh : Novo (Catutsana-sini.blogspot.com)
Edit teks oleh :
Raynold (www.tagtag.com/tamanbacaan)
Final Edit & PDF : Dewi KZ
http://kangzusi.com/
1 Danau Singkarak membentang memanjang menghias
persada bagaikan alis Dewi Kayangan. Begitu indah dan
menyimpan kedamaian. Matahari yang baru sepenggalah, membiaskan sinarnya, membuat permukaan danau bagai ditaburi intan kemilau. Angin
berhembus tak terlalu kencang, menciptakan yang halus
dan hilang di tepinya. Kehijauan bukit-bukit yang
terdapat di sisi kanan danau, seperti sepasukan
pengawal yang menjaga keindahan sang Dewi Kayangan.
Hari ini tak nampak ada seorang nelayan pun yang
mencari ikan, sebagai mata pencaharian mereka. Kendati
demikian, sebenarnya di tengah-tengah danau nampak
sebuah sampan kecil yang terombang-ambing di
permainkan ombak. Di atas sampan duduk mencangkung seorang perempuan berpakaian putih
kusam, dan nampak buruk sekali. Wajahnya lebih buruk
lagi daripada pakaian yang dikenakannya. Hidungnya
agak bengkok dengan lubang yang besar. Matanya
mencuat keluar. Pipinya keriput dan dipenuhi luka-luka
yang telah membusuk. Tidak heran bila di sekitar
sampannya, tercium bau busuk.
Sementara itu dari arah matahari terbit dua buah
sampan tampak meluncur deras ke tengah-tengah
danau. Di salah satu sampan yang berukuran cukup
besar, tidak kurang lima orang laki-laki bersenjata
pedang berdiri dengan sikap siaga. Sementara sampan
satunya berisi satu orang laki-laki gagah dengan pakaian
serba merah. Pinggangnya dililit sarung sampai ke paha.
Tampaknya mereka ini adalah orang-orang rimba
persilatan yang memiliki ilmu meringankan tubuh cukup
baik Terbukti, walaupun dalam keadaan berdiri, sampan
yang dinaiki sedikit pun tidak oleng.
Semakin mendekati sampan kecil di tengah danau,
para penumpang sampan besar itu semakin meningkatkan kewaspadaan. Kelihatannya kedatangan
mereka membawa maksud-maksud yang tidak baik.
Sementara itu perempuan renta berbaju putih kusam
tampak tenang-tenang saja. Malah perhatiannya tertuju
ke air danau. Sedangkan mulutnya tidak pernah berhenti
mengunyah sirih.
Tiba-tiba perempuan ini melihat ikan besar berenang
mendekati sampannya. Seketika disemburkannya air sirih
dari mulutnya ke arah ikan besar.
"Chuiiihhh...!"
Air sirih berwarna merah darah itu meluncur secepat
kilat, menembus air danau. Tampak asap tipis berwarna
merah mengepul ke udara. Dan air di samping sampan
bergolak sebentar, kemudian tampaklah seekor ikan
tawes sebesar nampan mengambang dengan mata
berlubang dan kepala hancur!
Sukar dilukiskan betapa hebatnya semburan air sirih
tadi. Jelas, nenek buruk rupa ini memiliki kesaktian yang
tidak terukur dengan tenaga dalam tinggi. Tenang saja,
perempuan tua itu mengambil ikan. Bahkan langsung
dimakannya mentah-mentah.
"Kalau tidak salah, kami sekarang sedang berhadapan
dengan Etek Petaka. Kalau memang betul, berarti kau
telah begitu berani melanggar peraturan!"
Terdengar bentakan keras, namun nenek buruk rupa'
yang sekujur tubuhnya menebar bau bangkai itu sedikit
pun tidak menghiraukan. Malah dia terus melahap hasil
tangkapannya dengan rakus.
"Tidak perlu banyak tanya! Memang dialah orangnya!
Sekarang, tunggu apalagi" Mari kita laksanakan!" kata
laki-laki gagah berpakaian serba merah yang berada
sendiri di atas sampannya.
Sementara perempuan tua yang tengah dibicarakan
kini mengangkat kepalanya perlahan. Sehingga tampaklah seluruh wajahnya yang mengerikan, dipenuhi
luka-luka membusuk Ketika perempuan tua yang
bernama Etek Petako menyeringai, maka tampaklah
giginya yang berwarna hitam dan berlumuran darah.
Mengerikan sekali.
"Tamu datang tidak diundang... Berbisik-bisik mengganggu ketenangan orang. Persetan dengan
pantangan! Apakah kalian tahu, dunia ini punya siapa"!"
desis Etek Petako dengan suara serak, seperti dicekik
setan. "Kurasa tanah Minah ini hanya milik Datuk Gadang
seorang. Semua rakyat negeri harus patuh serta tunduk
pada perintahnya!" sahut laki-laki gagah berbaju serba
merah yang menjadi pimpinan tegas.
Seulas senyum tampak mengembang di bibir keriput
penuh luka membusuk milik Etek Petako.
"Kelihatannya, Datuk kalian ini seperti Tuhan" Apakah
datukmu bisa melarang jika aku menginginkan badan
dan nyawa orang?" cibir Etek Petako dingin.
Sedikit banyaknya para laki-laki yang berada di atas
sampan ini mengetahui maksud ucapan Etek Petaka.
Sehingga, serentak mereka mencabut pedang.
Sret! Srettt! "Serbuuu...!" teriak laki-laki gagah berbaju serba
merah. Dua sampan langsung bergerak mendekati sampan
kecil Sedangkan Etek Petako tampak acuh tak acuh. Saat
senjata-senjata
pedang menebas leher, tiba-tiba sampannya meluncur deras meninggalkan lawanlawannya. Apa yang dilakukan Etek Petako sangat mengejutkan,
karena sampan kecil itu sama sekali tidak didayung!
Kakinya tetap diam. Begitu pula tangannya. Hanya
mulutnya saja yang bergerak-gerak mengunyah sirih.
"Kurang ajar! Rupanya kau hendak pamer kehebatan
di sini!" kata laki-laki berbaju serba merah.
"Hik..u Hik.... Hik...! Jika kematian menyambangi
seseorang, tidak usah bertanya! Apalagi basa-basi
Contohnya, seperti ini...!"
Crottt.. .! Begitu habis kata-katanya, Etek Petako menyemburkan sirihnya ketiga arah. Hanya dalam waktu
sangat singkat, air sirih yang menebarkan asap tipis ini
telah mengenai salah satu lawan. Bahkan ada yang
sampai melubangi badan sampan, sampai bocor.
Sedangkan orang yang terkena terlempar dari sampan
dengan perut berlubang tembus hingga ke punggung.
Byuurrr....! Air danau bergolak ketika laki-laki malang itu
tenggelam. Sedangkan empat orang lainnya sibuk
menyelamatkan diri karena sampan hampir tenggelam.
"Huh...! Kalau kubiarkan, kalian tentu mati kekenyangan minum air. Aku tidak mau kalian sengsara.
Maka aku akan mempercepat kematian kalian," dengus
Etek Petako. "Fruhhh...!
Kembali mulut perempuan tua itu menyembur. Tentu
saja orang-orang yang sedang berenang di dalam danau
sulit sekali menghindar. Sehingga luncuran air sirih tepat
mengenai sasaran.
"Aaa...!"
Mereka menjerit keras, saat semburan air sirih
menembus batok kepala. Tubuh mereka berkelojotan,
lalu tenggelam perlahan-lahan.
Perempuan tua itu lantas melengos ke arah laki-laki
gagah berpakaian serba merah. Matanya menyorot
tajam, siap menebar hawa kematian.
"Sekarang tinggal kau saja, manusia bermulut besar!
Kau ingin mati secara enak, atau mati sengsara?" cibir
wanita buruk rupa ini dengan mata mendelik.
"Bangsat! Manusia rendah! Hiyaaa...!" teriak laki-laki
berbaju merah yang jadi pimpinan rombongan, seraya
melesat ke udara. Sedangkan pedang di tangannya
meluncur deras menebas kepala Etek Petako.
Namun hanya sedikit menggerakkan sampan, luputlah
wanita buruk rupa ini dari kematian. Bahkan Etek Peta ko
langsung melepaskan tinjunya ke dada.
Dalam keadaan melayang di udara, sulitlah bagi lakilaki itu untuk menghindar! serangan. Sehingga...
Desss... ! Krak! "Aaa...!"
Tidak ayal lagi, laki-laki berbaju serba merah itu
terpental ke udara disertai pekik kematian. Dadanya
hancur. Sedangkan pada permukaan kulitnya terlihat
menghitam, pertanda pukulan Etek Petako mengandung
racun ganas. Byurrr...! Laki-laki itu langsung tenggelam ke danau, dan tidak
pernah timbul untuk selama-lamanya.
Tanpa beban Etek Petako tertawa mengikik. Dan
begitu mengegoskan badannya, maka sampan kecil itu
meluncur deras menuju tepi danau.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Siapa yang tidak kenal Datuk Gadang" Dialah orang
terkaya di tanah Minang yang mempunyai kebun dan
ladang luas. Harta bendanya tidak habis dimakan tujuh
turunan Istrinya hampir selusin. Di mata orang, Datuk
Gadang dikenal sangat santun dan dermawan.
Datuk Gadang mempunyai pengaruh yang sangat luas
di tanah Dalas, terutama di tanah Minang. Anak buahnya
cukup banyak Dia cukup disegani sekaligus ditakuti,
karena ilmu harimau yang hebat. Dan di tanah Minang
ilmu itu dikenal dengan nama ilmu 'Cindaku'.
Walaupun Datuk Gadang sangat berkecukupan dalam
hidupnya, namun sepanjang hari-hari hidupnya tidak
pernah tenang. Memang sebagai tokoh persilatan, musuh
datuk ini tersebar di mana-mana.
Matahari senja telah tenggelam di ufuk barat Rumah
besar milik. Datuk Gadang halamannya sangat luas
tampak sepi. Hanya seorang penjaga yang terkantukkantuk di depan pintu utama. Umurnya sekitar empat
puluh tahun. Wajahnya bengis terkesan menyimpan


Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kekejaman. Baru beberapa tarikan napas terlelap, laki-laki
berpakaian sederhana ini tersentak kaget ketika
mendengar suara ringkik kuda di luar tembok rumah
besar Ini. Dengan cekatan, dia mengintip ke luar dari
sebuah lubang di pintu utama.
Ternyata, yang datang adalah sebuah kereta kuda.
Dan yang membuat penjaga ini terheran-heran, ternyata
kereta kuda itu tidak ada yang mengendalikannya.
Namun, dia hafal betul kalau kereta kuda itu masih milik
Datuk Gadang. itu lah sebabnya, walau hatinya diwarnai
keheranan, namun tetap membuka pintu utama.
Setelah pintu terbuka, kereta kuda. itu langsung
menerobos masuk Dan penjaga ini langsung menutup
pintu kembali Ketika kereta kuda berhenti tepat di depan
halaman bangunan, penjaga itu langsung menghampiri
untuk dibawa ke belakang. Namun, langkahnya tiba-tiba
saja terhenti ketika terlihat ceceran darah yang menetes
dari dalam kereta kuda.
Dengan tergesa-gesa, penjaga ini membuka pintu
kereta. Betapa terkejutnya dia ketika menyaksikan di
dalamnya tergeletak mayat seorang perempuan.
''Tuan Putri Halipah..."!" desah penjaga ini, begitu
mengenali mayat yang tergolek Yang dilihatnya memang
tak lain mayat istri pertama Datuk Gadang.
Mayat itu sudah dalam keadaan tidak utuh lagi.
tubuhnya seperti habis dicabik-cabik binatang buas.
Penjaga ini ketakutan setengah mati. Dia bermaksud
segera melapor pada majikannya, namun secarik kain
merah yang tersembul di sela-sela dada mayat itu
menarik perhatiannya.
Dengan cepat penjaga itu mengambil kain merah itu.
Begitu dibuka. ternyata isinya sebuah pesan yang ditulis
dengan tinta emas. Tulisan tidak dibacanya, melainkan
terus dibawa ke dalam bangunan besar ini.
Laki-laki ini langsung menelusuri lorong-lorong
ruangan panjang. Hingga kemudian, dia sampai di depan
sebuah pintu. Setelah mengetuk beberapa kali, maka
pintu pun terbuka dengan sendirinya.
Tampak seorang laki-laki berbadan gemuk tinggi di
bungkus pakaian kuning gading, berusia sekitar lima
puluh tahun tengah duduk dengan angkuh menghadap
ke arah penjaga. Matanya melotot melihat kehadiran
penjaga yang langsung masuk ke kamar pribadi ini.
"Apa yang kau bawa pada ku, Bujang Rancak" Sudah
kukatakan padamu, jangan ganggu aku! Apakah
telingamu tuli"!" sentak laki-laki berbadan gemuk itu.
''Hamba punya telinga tidak tuli Datuk Hamba hanya
ingin menyampaikan kabar buruk pada Datuk, bahwa
istri pertama Datuk meninggal di dalam kereta kuda...!
"lapor laki-laki penjaga bernama Bujang Rancak dengan
suara pelan. "Apa..."!"
Datuk Gadang terkejut sekali mendengar ucapan
penjaganya. Tubuhnya sampai terlonjak dari tempat
duduknya. Seakan, ada binatang berbisa yang menggigitnya. "Tidak mungkin...! Istriku Halipah tengah pergi ke
rumah orangtuanya di Solok Dia baru akan pulang besok
pagi. Sekarang kau katakan dia tewas" Bujang Rancak!
Jangan mengolokku kalau tidak mau kepalamu kubuat
pajangan penghias dinding kamarku!" bentak Datuk
Gadang, dengan mata mendelik
Bujang Rancak jadi gemetar tubuhnya. Dia ketakutan
setengah mati mendengar ancaman Datuk Gadang.
Bahkan keringat sebesar-besar jagung telah menetes
deras di tubuhnya.
"Hamba tidak berbohong, Datuk. Hamba malah
menemukan pesan di dalam kereta kuda yang membawa
mayat istri Datuk!"
"Coba bawa kemari!" perintah Datuk Gadang.
Dengan cepat Bujang Rancak menyerahkan kain
merah yang dibawanya. Datuk Gadang segera menyambar kain merah, dan membaca pesan yang
ditulis dengan tinta emas.
"Datuk Gadang!
Sekarang kami melihat kau terlalu sibuk dengan segala
macam harta benda yang bertumpuk. Suatu hari, kau
tidak dapat melupakan kami begitu saja. Ingatkah kau
pada dosa-dosamu di masa lalu" Kuharap kau
membayarnya di suatu saat kelak. Sekarang sebagai
peringatan, kami minta nyawa istrimu dengan cara lama.
Datuk Gadang! Taring dan kukuku ternyata masih cukup
tajam untuk menyelesaikan hutang piutang kita.
Tiga Datuk"
"Bangsat! Bukankan mereka telah tewas di Ngarai
Sianok"!" maki Datuk Gadang setelah membaca pesa
dengan hati geram. Bagaimanapun, ancaman ini tidak
dapat dianggap main-main. Padahal disangkanya Tiga
Datuk telah mati di Ngarai Sianok. Sehingga urusan lama
tidak terkatung-katung sampai sekarang ini. dia sadar
betul, bagaimana sikap Tiga Datuk yang masih saudara
seperguruannya bisa sudah disakiti. Apalagi, mengingat
dulu Datuk Gadang bermaksud membunuh mereka
dalam sebuah urusan memalukan.
"Bujang Rancak!" panggil Datuk Gadang.
"Hamba, Datuk," sahut laki-laki itu sambil membungkukkan badannya.
"Perintahkan pada seluruh anak buahku untuk kembali
ke sini Tinggalkan Bangko secepatnya. Katakan bahwa
mereka harus menjaga gedung ini dari rongrongan siapa
saja!" perintah Datuk Gadang, tegas.
"Baik, Datuk!" jawab Bujang Rancak
Tanpa basa basi lagi, penjaga ini segera mengundurkan diri dari ruangan pribadi Datuk Gadang.
Kepergiannya diantar tatapan mata Datuk Gadang yang
tampak gelisah.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Pagi menyapa alam. Kabut bergerak-gerak perlahan.
Burung berkicau riang, siap terbang jauh mencari makan
buat anak-anaknya. Begitu ceria, seceria seorang gadis
yang berjalan melenggang memasuki sebuah gubuk di
sebuah lembah yang diapit Pegunungan Bukit Barisan.
Usia gadis itu menginjak sembilan belas tahun.
Penampilannya cukup memikat Wajahnya cantik. Berbaju
putih bersulam setangkai bunga mawar di punggung
tampak jelas dengan warna kulitnya. Di bagian rambut
di atas telinganya, tampak terselip bunga mawar yang
tidak pernah layu.
"Ada apa, Guru" Tadi kudengar Guru memanggilku?"
tanya gadis ini begitu berada di dalam.
Gadis ini lantas duduk bersila di depan seorang
perempuan tua berpakaian putih kusam yang tak hentihentinya mengunyah sirih. Wajahnya buruk, dipenuhi
luka-luka membusuk.
"Banyak persoalan yang akan kubicarakan denganmu,
Dewi! Dan semua ini, menyangkut tentang dirimu dan
juga kematian kedua orangtuamu...! ujar nenek
berwajah buruk yang tak lain Etek Petako.
"Sembilan belas tahun aku berada di sini, Guru. Dan
selama itu pula, kau telah memberikan segala-galanya
padaku. Hari ini aku ingin mengucapkan rasa kasih yang
tidak terhingga padamu!" ucap gadis berambut panjang
yang dipanggil Dewi.
"Tidak usah berterima kasih, Dewi. Gurumu bukan
hanya aku saja. Masih ada Nenek Sekato yang juga tidak
kecil artinya dalam mendidikmu. Kau harus menjumpainya, sebelum meninggalkan Lembah Penyesalan ini !" sergah Nenek. Petako.
Entah mengapa, gadis itu hanya diam saja. Sama
sekali kepalanya tidak mengangguk atau menggelengkan
kepala. "Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Dewi?"
tanya perempuan tua berwajah buruk menebar bau
busuk ini heran.
"Ya... Memang ada beberapa hal yang mengganjal
hatiku. Pertama, Guru tidak pernah mengatakan siapa
yang telah membunuh kedua orangtuaku. Yang kedua,
sejak dulu Guru tidak pernah berusaha mencari tahu di
mana para pembunuh itu...?" kata Dewi, bersungutsungut "Sekarang, sudah waktunya mengatakan padamu.
Yang membunuh ibumu adalah Datuk Aku kurang jelas,
Datuk apa namanya. Sedangkan yang membunuh
ayahmu, aku hanya menemukan senjata ini sebagai
petunjuknya...!"
Etek Petako segera menunjukkan sebuah tusuk konde
emas yang ujungnya berbentuk seekor burung merak
Kemudian diberikannya benda itu pada Dewi.
Gadis cantik berambut panjang ini menerima dan
langsung memperhatikan tusuk konde itu. Kemudian
disimpannya di balik pakaian.
"Hanya itu bukti-bukti yang dapat mengantarmu pada
pembunuh kedua orangtuamu. Seperti biasanya, aku
hanya memberimu bekal satu bumbung bambu tuak
keras," jelas Etek Petako.
"Aku mengucapkan terima kasih padamu, Guru.
Semoga semua urusanku cepat selesai, sehingga kita
dapat berkumpul kembali," ucap Dewi.
"Pergilah... Sekarang sudah saatnya bagimu!" tegas
Etek Petako. Dewi sadar betul dengan sikap gurunya yang anginanginan. Untuk itu segera dia pergi meninggalkan
Lembah Penyesalan. Hanya dalam waktu yang demikian
singkat, tubuhnya telah lenyap dari pandangan Etek
Petako. -0o-dwkz-ray-novo-o0Setelah berada jauh di sudut Lembah Penyesalan Dewi
membelok ke arah sebuah rumah yang seluruh
dindingnya dari kulit harimau. Diperhatikannya pintu
rumah yang tertutup. .
"Nenek Sekato akhir-akhir ini seperti enggan bertemu
denganku. Dan sekarang ini, tampaknya dia tidak berada
di rumah pula," gumam Dewi.
Dewi mendorong pintu. Kepalanya langsung melongok. Ternyata, di dalam rumah gubuk itu tidak ada
siapa-siapa. Tapi dia tetap memasuki gubuk ini.
"Nenek Sekato! Di manakah kau" Aku ingin berjumpa
denganmu untuk mengucapkan salam p erpisahan. Nenek
Sekato jawablah...!" teriak Dewi lantang.
Sekejap kemudian, terdengar suara raungan harimau
disusul suara desir angin yang begitu deras. Sesudahnya
suasana berubah sunyi kembali.
"Nenek Sekato telah berada jauh dari sini rupanya,"
gumam Dewi. Gadis ini bermaksud keluar dari pondok, namun
matanya melihat selembar daun lontar tergeletak di atas
balai-balai bambu. Tidak jauh dari daun lontar terlihat
sebuah jangkar berwarna hitam yang disambung dengan
tali dari oyot kuat
"Dia meninggalkan pesan untukku!" kata batin gadis
berambut panjang ini. Kemudian dibacanya pesan
singkat di atas daun lontar itu.
"Dewi muridku...
Sesuatu yang paling tidak kusuka adalah perpisahan.
Aku telah memberikan semua yang kumiliki. Aku yakin,
kau dapat mencari pembunuh orangtuamu. Aku punya
Jangkar butut untukmu. Kau dapat mempergunakannya
bila dalam keadaan sangat terpaksa. Pergilah,... Semoga
Tuhan selalu menyertaimu!
Gurumu Sekato Manangi"
Dewi tercenung setelah membaca pesan di atas daun
lontar. Tidak dapat dipungkiri bahwa Nenek Sekato
adalah orang yang paling dekat dengannya. Jika gurunya
Etek Peta ko memiliki wajah rusak mengerikan, maka
gurunya yang satu ini sangat jarang bicara. Wajahnya


Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

selalu muram dan sedih. Sedangkan tatapan matanya
menyimpan penyesalan yang dalam.
"Seumur hidup, mustahil aku dapat membalas semua
kebaikan kalian, wahai guru-guruku!" kata Dewi, bicara
sendiri. Gadis berambut panjang ini lantas menyambar jangkar
yang tergeletak di atas balai-balai. Kemudian dia segera
memulai perjalanannya untuk mencari orang-orango
yang telah membunuh kedua orangtuanya.
-0o-dwkz-ray-novo-o02 "Aaa...!"
Bukit Siguntang yang semula hening, mendadak pecah
oleh teriakan berbau kematian yang saling sambut. Asal
suara adalah dari sebuah rumah besar di lereng bukit,
yang dipagari bambu sepanjang satu setengah tombak.
Suasana di halaman rumah besar itu mendadak
menjadi hiruk-pikuk. Dua orang kedapatan tewas dengan
leher luka seperti terbakar dan masih mengepulkan asap.
Belum. hilang keterkejutan beberapa laki-laki yang ada
di tempat itu, tahu-tahu sudah berkelebat satu bayangan
putih dari atas pagar. Setelah berputaran beberapa. kali,
sosok bayangan putih itu mendarat manis di tengahtengah halaman yang baru saja dijadikan tempat
berlatih. Beberapa laki-laki langsung mengurung sosok bayangan putih, yang ternyata seorang gadis berpakaian
serba putih. Di punggungnya terdapat sulaman bunga
mawar berukuran cukup besar. Sementara di pinggangnya menggantung sebuah bumbung bambu
yang dari aroma baunya berisi tuak sangat keras.
Walaupun sudah terkepung, gadis ini malah mengikik.
"Siapa kau"! Mengapa membuat keonaran di tempat
ini"!" bentak salah seorang pengepung, geram.
"Hi hi hi! Kalian anak buahnya Datuk Panglima Hitam,
bukan?" tanya gadis berbaju putih.
"Tidak salah!" jawab laki-laki berbadan tegap yang
tadi membentak.
"Huh! Bunuh dia!" seru laki-laki itu pada para
pengepung lainnya.
Perintah laki-laki berbaju biru kiranya cukup berpengaruh bagi yang lainnya. Terbukti, para pengepung langsung menerjang Dewi Mawar Selatan
dari delapan penjuru.
"Hiyaaa...!"
Sembilan laki-laki yang merupakan anak buah Datuk
Panglima Hitam langsung melancarkan seranganserangan dahsyat. Dewi Mawar Selatan tentu saa tidak
tinggal diam. Dengan kepandaiannya, sampai sejauh ini
tak satu serangan pun yang berhasil mendarat di
tubuhnya yang meliuk-liuk indah.
Melihat gadis itu mampu menghindari serangan, maka
laki-laki berbaju biru yang menjadi pimpinan menjadi
sangat marah. Langsung senjatanya yang berbentuk
ganco dicabut dan diputar-putarkan. Dan saat tubuhnya
menerjang, senjata di tangannya meluncur deras terarah
ke bagian lambung Dewi Mawar Selatan.
"Hiyaa..."
Dengan cepat gadis itu berjumpalitan ke belakang.
Begitu menjejak tanah dicabutnya bumbung bambu di
pinggang. Seketika bibir bumbung bambu ditempelkan ke
bibirnya. Cairan tuak langsung tertampung di mulutnya.
Tidak diteguk, melainkan langsung disemburkan ke arah
lawan-lawannya.
"Fruhhh__.!"
"Aaagkh...!"
Empat orang anak buah Datuk Panglima Hitam kontan
terpelanting roboh terkena semburan tuak. Wajah
mereka langsung hancur dan tampak mengepulkan asap
putih sama seperti dua orang sebelumnya yang tewas
pertama kali. Dengan cepat segera tercium bau daging
terbakar. Betapa kerasnya tuak yang disemburkan Dewi
Mawar Selatan! Laki-laki berbaju biru terkejut sekali melihat kenyataan
ini. Disertai teriakan keras, tubuhnya meluruk melakukan
serangan kembali. Kali ini serangannya lebih hebat.
Tubuhnya berkelebatan cepat. Sehingga dalam waktu
singkat yang terlihat hanya bayang-bayang saja
bersambar kelebatan senjata ganconya.
Wuuut! "Uts!"
Begitu senjata ganco meluncur ke bagian kepala, Dewi
Mawar Selatan cepat-cepat menunduk sambil menggeser
kakinya selangkah ke belakang, membuat ganco hanya
menebas angin. Tetapi di luar dugaan, laki-laki berbaju biru berputar
dengan kaki secepat kilat meluncur deras ke bagian
perut. Buk! "Huugkh...!"
Dewi Mawar Selatan kontan terhuyung-huyung.
Mulutnya meneteskan darah. Tangan kirinya langsung
memegangi perut yang terasa mual.
Melihat hal ini, laki-laki berbaju biru makin bernafsu
untuk menghabisinya.
"Heaaaa...!"
Melihat kenyataan ini, Dewi Mawar Selatan segera
semburkan tuaknya.
"Fruhhh...!"
Kiranya laki-laki ini telah mengetahui apa yang akan
dilakukannya. Seketika ganconya diputar bagai balingbaling, coba menangkis serangan tuak.
Tes! Tes! Tes! "Heh...!"
Laki-laki itu terkejut sekali melihat senjata di
pegangnya patah jadi empat bagian terkena serangan
itu. Seketika dia berusaha menghindar ke belakang.
Namun gerakannya terlambat. Semburan tua Dewi
Mawar Selatan yang datang susul-menyusul sudah tidak
terelakkan lagi. Dan...
Creess! "Aaa...!"
Laki-laki berbaju biru menjerit keras. Tubuhnya kontan
terlempar dan menggelepar. Tampak beberapa bagian
tubuhnya berlubang-lubang, tertembus tuak yang
disemburkan gadis baju putih itu.
Melihat kematian pemimpinnya, empat orang anak
buah Datuk Panglima Hitam lainnya segera berlari
menyelamatkan diri.
Dewi Mawar Selatan merasa tidak perlu melakukan
pengejaran. Siasat yang sedang dijalankan dianggapnya
cukup sampai di sini dulu.
"Hm.... Untung saja Datuk Panglima Hitam tidak ada
di tempat Kalau ada, bisa gagal rencanaku. Dan jika
antara para datuk telah saling bertarung, nantinya aku
hanya tinggal membunuh pemenangnya," gumam Dewi
Mawar Selatan sambil melangkah pergi.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Seorang laki-laki tua berbaju hitam terus memandangi
permukaan air sungai yang mengalir jernih. Sesekali
tampak senyumnya mengembang sehingga giginya yang
tinggal beberapa buah terlihat putih seperti mutiara.
"Jika ikan mengenal kasih sayang! Mengapa manusia
tidak" He he he...'' gumam laki-laki tua ini sambil
terkekeh. Laki-laki tua ini lantas mengambil tempurung kelapa
yang sudah berwarna hitam di sebelahnya. Diciduknya
air sungai dengan tempurung. Sementara tangan
satunya bergerak cepat ke dalam air.
Pyarr...! Tap! Tap! Dua ekor ikan kecil tahu-tahu telah terjepit di sela-sela
jemari, ketika laki-laki tua itu mengangkat tangannya.
Dimasukkannya ikan-ikan itu ke dalam tempurung kelapa
sambil terkekeh-kekeh.
"Kalian hidup penuh kedamaian, tanpa angkara murka.
Tidak seperti manusia yang suka menebar darah di
mana-mana. Hik hik hik...!"
Kakek berpakaian hitam penuh tambalan yang
berwatak aneh ini tampak sibuk dengan ikan-ikan itu.
Terkadang terdengar suara tawanya. Namun, tak jarang
menangis tersedu-sedu seperti anak kecil !
Semua tingkah laku kakek itu kiranya tidak lepas dari
perhatian seorang pemuda tampan berbaju rompi putih.
Di punggungnya tersampir sebilah pedang bergagang
kepala burung rajawali. Sambil memperhatikan, pemuda
itu geleng-geleng kepala.
"Pikiran orang tua satu ini benar-benar miring.
Tertawa dan menangis sendirian!" bisik pemuda tampan
berbaju rompi putih yang tidak lain Rangga sang
Pendekar Rajawali Sakti.
Pendekar Rajawali Sakti terus memperhatikan gerakgerik kakek itu. Sampai kemudian...
"Hey, orang usil yang bersembunyi di balik pohon!
Harap keluar! Tunjukkan dirimu...!" teriak laki-laki tua
berbaju hitam tambal-tambalan.
"Heh..."!"
Rangga terkejut karena tidak menyangka kalau kakek
berwatak aneh ini mengetahui kehadirannya. Merasa
tidak ada pilihan lain, segera dia keluar dari tempat
persembunyiannya.
Kakek berpakaian hitam penuh tambalan ini memperhatikan Rangga sekilas, lalu berdiri sambil
memainkan ikan-ikan kecil yang terdapat di dalam
tempurung. "Kau ini siapa, Kek?" tanya Rangga ramah sambil
menjura hormat "K..kek" Kapan aku kawin dengan nenekmu! Dasar
pemuda tidak tahu aturan! Hiyaaa...!"
Disertai bentakan keras, kakek bertabiat aneh ini
langsung menyerang dengan jurus-jurus aneh dan kocak
Rangga tentu saja sangat terkejut.
"Hei"! Mengapa kau menyerangku, Kek?" tukas
Rangga lak senang sambil menghindari serangan.
"Jangan banyak mulut, Pemuda usilan!" dengus kakek
berbaju tambal-tambalan ini
Serangan kakek ini semakin menghebat. Aneh nya
sambil menyerang tempurung di tangannya yang berisi
air dan ikan dipergunakan sebagai senjata. Hal ini
membuat Pendekar Rajawali Saku terkagum-kagum.
Apalagi melihat air di dalam tempurung tidak tumpah
barang setetes pun. .
Rangga terus menghindari serangan dengan jurus
'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya meliuk-liuk indah
bagai orang mabuk, ditunjang oleh gerakan kaki yang
lincah. Kadang tubuhnya tegak, kadang condong ke
samping atau ke belakang, seperti hendak jatuh. Itulah
kelebihan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'.
Di luar sepengetahuan Rangga, kakek bertabiat aneh
ini kiranya cukup terkejut juga melihat tak satu pun
serangannya yang mendarat di sasaran. Padahal dia
telah mengeluarkan jurus-jurus mautnya yang cepat
bukan main. "Pandai juga kau mengejekku, Anak Muda! Tapi coba
hadapi jurus 'Bidadari Menari Dewa Menangis' ini. kau
segera mampus di tanganku! Heaaa...!" dengus kakek
ini. "Maaf, kek. Di antara kita tidak ada permusuhan.
Mengapa kau menyerangku mati-matian?" tanya Rangga
sambil melompat mundur ke belakang.
"Ada persoalan atau tidak, sekarang ototku sedang
pegal-pegal. A pa salahnya jika aku mau menyerang siapa
pun yang mengganggu ketenangan!" sahut kakek itu
dingin. Setelah Pendekar Rajawali Sakti kalau orang tua yang
dihadapinya memang sulit diajak bicara baik-baik. Kini
Rangga merasa harus bersikap tegas.
Ketika melihat tempurung kelapa di tangan kakek itu
hendak menghantam wajahnya, secepat kilat dia
melompat ke samping. Kemudian tangannya bergerak
cepat meluncur ke pergelangan tangan kakek itu.
Plak! Rangga terjajar ke belakang dengan wajah pucat dan
badan bergetar. Sedangkan kakek ini hanya meringis
saja. Yang lebih mengherankan, air di dalam tempurung
setetes pun tidak ada yang tumpah.
"Kau boleh juga, Anak Muda!" puji kakek ini.


Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ah...! Aku bukanlah apa-apa dibandingkan dirimu..!"
jawab Rangga merendah.
"Kurang ajar! Kau tidak memandang muka padaku!
Mukamu di mana, heh..."! Hiaaa...!"
Dengan konyol kakek berpakaian tambal-tambalan ini
kembali menyerang Pendekar Rajawali Sakti.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Rangga sadar betul kalau kakek ini hanya mengujinya.
Tak heran kalau dia tidak berani turun tangan lebih
kejam kepada orang tua ini. Maka apa yang dilakukannya
tidak lebih hanya memapak, menghindari
saja. Tindakannya Ini jelas membual lawannya lebih leluasa
menyerang. "Hei..."! Apa kau memilih mati"! Kau menghindar terus
seperti seekor monyet kudisan!" teriak kakek itu.
Diejek begitu, Rangga hanya tersenyum kecil saja.
Namun dia mulai bersikap sungguh-sungguh dalam
menghadapi serangan.
Kakek berbaju hitam penuh tambal-tambalan ini
kembali menerjang. Tangan kirinya menghantam perut.
Sementara tempurung kelapa di tangan menghantam
dada. Namun Pendekar Rajawali Sakti dapat mengangkat
kaki kanannya untuk melindungi perut. Sedangkan
tangan kirinya cepat memapak tempurung kelapa yang
mengarah ke dada.
Plak! Plak! Bukan main kerasnya benturan barusan, sehingga
kedua-duanya tampak terhuyung. Air di dalam tempurung kelapa tumpah, sehingga ikannya melompat
jatuh ke bawah. Rangga merasa tangannya seperti
patah, menimbulkan rasa sakit mendenyut-denyut.
"Ah, ikanku... Ikan kedamaian. Pemuda jelek ini tega
membuangmu. Hu hu hu...!" rintih kakek itu tak
melanjutkan serangan.
Kemudian kakek ini berbalik dan melangkah ke arah
batu cadas. Dia duduk di atas. Sedangkan Rangga hanya
melongo melihat tingkah kakek tua yang seperti anak
kecil itu. "Maafkan aku, Kek. Aku tidak sengaja menumpahkan
ikan-ikanmu," ucap Rangga membela diri.
"Huh! Kau tahu apa dengan ikan-ikan. yang tidak
berdosa ini" Tapi, tidak mengapa. Kesalahanmu
kumaafkan. Kemarilah! Aku ingin mengatakan sesuatu
yang tidak pernah dikatakan orang, malaikat ataupun
dewa!" ujar kakek ini.
Rangga sebenarnya kurang begitu tertarik dengan
kakek yang bicaranya terkesan seperti orang gila ini.
Namun mengingat kakek itu memiliki kepandaian sangat
tinggi, akhirnya Pendekar Rajawali Sakti memutuskan
untuk menghampirinya.
"Aku ini berjuluk Penyair Gila. Untuk mengenal siapa
dirimu, coba ulurkan telapak tanganmu!" pinta kakek
berbaju tambal-tambalan ini yang mengaku berjuluk
Penyair Gila. Dengan ragu-ragu Rangga menjulurkan tangannya.
Penyair Gila cepat membuka telapak tangan Rangga.
Beberapa saat diperhatikannya telapak tangan pemuda
tampan ini. Sampai kemudian dia tersentak kaget dengan
mata melotot. "Ada apa, Kek?" tanya Rangga dengan kening
berkerut. "Kiranya sekarang ini aku sedang berhadapan dengan
seorang raja, tidak kusangka! Kau rela meninggalkan
kerajaan, dan memilih hidup mengikuti jiwa kependekaranmu!" desis Penyair Gila.
Rangga sendiri sebenarnya sangat terkejut.
Tidak disangka bahwa Penyair Gila sebenarnya se
orang ahli ramal juga. namun rasa terkejutnya segera
ditutupinya. "Mataku melotot, tetapi aku tidak melihat. Kau
seorang pendekar besar. Julukanmu pasti Pendekar
Rajawali Sakti. Mana burung rajawalimu" Bukankan kau
juga punya kuda tunggangan bernama Dewa Bayu"
Melihat garis tanganmu, hidupmu selalu dihadang
bahaya. Aku turut sedih, hu hu hu...!"
Dan Penyair Gila pun benar-benar menangis dengan
air mata berlinang membasahi pipi! Benar-benar aneh!
"Dalam usiaku yang sudah sangat tua ini, aku tidak
tahu harus berbuat apa. Ingin membantu seorang gadis
bingung, tapi aku sendiri sedang kebingungan," tutur
Penyair Gila, setelah tangisnya reda.
Pendekar Rajawali Sakti menjadi tidak sabar.
"Tadi kau hendak mengatakan sesuatu padaku, segera
katakan. Aku tidak mengerti arti ucapanmu, Kek. Itulah
sebabnya, hendaknya kau suka terus terang kalau
bicara!" pinta Rangga.
"Sudah begini bodohnyakah aku" Bicaraku pun orang
tidak tahu. Pendekar Rajawali Sakti! Maukah kau
menolongku?" pinta Penyair Gila berkata.
Rangga menjadi heran. Mengapa orang tua berjuluk
Penyair Gila masih hendak minta tolong kepadanya"
"Huhhu.! Tidak seharusnya aku minta tolong padamu.
Namun berhubung kau orang luar, kurasa kau dapat
menjernihkan persoalan yang sedang terjadi di tanah
Andalas ini, "lanjut Penyair Gila seperti mengerti apa
yang sedang dipikirkan Pendekar Rajawali Sakti.
"Persoalan apa, Kek?" tanya Rangga.
"Aku sebenarnya bernama Lebai Penyadi. Adikku
bernama Ledai Nan Rancak Sayang orangnya sudah
meninggal. Dia punya empat murid. Tiga di antaranya
tidak dapat diharapkan lagi. Sedangkan satunya lagi yang
bernama Datuk Putih, sekarang telah pergi entah ke
mana. Padahal, Datuk Panglima Hitam, Datuk Merah, dan
Datuk Gadang, masih saja selalu berseteru...!"
"Mengapa saudara seperguruan bisa begitu, Kek?"
tanya Rangga. "Rambut bisa sama hitam, tapi isi kepala jelas
berlainan. Persoalannya waktu itu hanya siapa yang
pantas menggantikan guru mereka yang telah meninggal. Persoalan kemudian ditengahi oleh Datuk
Putih, murid bungsu di Perguruan Sangga Langit milik
adikku itu, yang tak pernah memihak siapa pun. Akhirnya
dibuat keputusan, bahwa perguruan kemudian dibubarkan. Namun setelah Datuk Putih pergi entah ke
mana, ketiga datuk yang ternyata menyimpan dendam di
hati masing-masing kembali terlibat silang sengketa. Dan
sekarang, persoalannya sudah lain. Mereka terlibat
persaingan kekuasaan dan saling ingin menunjukkan
siapa yang paling hebat. Mereka orang-orang besar dan
sangat berpengaruh di tanah Andalas ini. jika terjadi
perselisihan, maka korbannya tidak sedikit. Suasana
semakin bertambah kacau, oleh kemunculan seorang
gadi berjuluk Dewi Mawar Selatan. Gadis ini ternyata
murid Etek Petako itu mempergunakan kecerdikannya
untuk mencari datuk yang telah membunuh ibunya,"
papar Penyair Gila panjang lebar.
"Lalu, apa yang hendak dilakukan gadis itu?" tanya
Rangga. "Secara pasti tidak tahu. Mungkin hendak menuntut
balas pada salah satu murid adikku itu. Pokoknya tahutahu dengan membabi-buta, dia mengadu domba antara
datuk dengan datuk!"
"Kalau begitu, pasti dia tahu persoalan antara datuk
yang satu dengan datuk lainnya," tebak Rangga.
"Memang! Dia telah mempelajari kelemahan itu
dengan kecerdikannya. Aku tidak bisa berpihak pada
murid-murid keponakanku, karena tindakan mereka
memang telah melampaui batas. Seakan-akan mereka
tidak mau kembali ke jalan yang benar. Aku tidak dapat
melarangmu berbuat apa-apa," kata Penyair Gila Pasrah.
"Apakah kau ingin aku menangkap gadis yang berjuluk
Dewi Mawar Selatan itu?" tanya Rangga.
"Tidak perlu begitu. Dia punya hak untuk membalas
sakit hati. Malah suatu saat, kau harus membantunya di
saat harus berhadapan dengan orang-orang yang telah
membunuh ayahnya," saran Lebai Penyadi mendukung.
"Tentu kau tidak dapat memaksaku, bukan?" sergah
Rangga. "Hik hik hik...! tentu saja semua terpulang padamu.
Aku malah khawatir, kau jatuh cinta padanya...!" ejek
Penyair Gila. Bersamaan dengan ucapannya itu, Lebai Penyadi
berkelebat pergi meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti
sendirian. "Dasar orang sinting! Kata-katanya pun entah benar
entah tidak," gumam Rangga lirih.
-0o-dwkz-ray-novo-o03 Sepak terjang gadis murid Etek Petako yang berjuluk
Dewi Mawar Selatan ternyata telah merebak sampai ke
kota Gadang. Tempat jual beli terbesar dan masih
merupakan milik Datuk Gadang ini pun dibakarnya pada
malam hari. Dengan sepak terjangnya, namanya pun
cepat dikenal di tanah Andalas bagian barat.
Kerugian yang diderita Datuk Gadang tidak sedikit.
Dan sampai sejauh ini, Datuk Gadang tetap menyangka
kalau gadis itu adalah orang upahan Datuk Panglima
Hitam! Siang itu di tempat tinggalnya yang besar dan mewah,
Datuk Gadang memanggil dua orang kepercayaannya.
Kedua orang itu memiliki ilmu olah kanuragan cukup
tinggi. Namun sifat mereka congkak, di samping sangat
gemar melakukan tindakan-tindakan menyimpang. itu
terlihat dari sorot mata mereka yang menyiratkan
keculasan dan kelicikan.
"Adakah sesuatu yang mesti kami selesaikan sehingga
Datuk memanggil kami berdua?" tanya laki-laki berbadan
kurus berambut kurus seperti duri landak, begitu
menghadap Datuk Gadang.
"Menda! Pekerjaan kalian kuanggap beres selama ini.
Tempat-tempat perjudian yang kubangun juga aman dari
gangguan tangan-tangan jahil. Satu hal yang membuatku
marah, malam tadi tempat usahaku di kota Gadang telah
dibakar seseorang," jelas Datuk Gadang dengan wajah
cemberut. "Huh! Lancang sekali orang itu. Dapatkah Datuk
katakan pada kami, siapa orang yang telah melakukan
pembakaran itu?" tanya laki-laki yang berbadan gemuk
pendek Di punggungnya tampak sebuah benda persegi
panjang yang memiliki tiga tali. Yang terpasang seperti
senar. "Menurut laporan yang kudengar dari orang-orang kita
yang bertugas di sana, orang itu mengaku sebagai kaki
tangan Datuk Panglima Hitam!" sahut Datuk Gadang.
"Kalau begitu, kita serang saja Bukit Siguntang. Aku
jadi ingin tahu, apa yang diandalkan oleh Datuk Panglima
Hitam, sehingga begitu berani bertindak gegabah!" saran
laki-laki gemuk pendek
"Persoalannya tidak semudah itu, Prabangkara....!"
"Datuk takut padanya?" potong laki-laki kurus
berambut pendek yang bernama Menda.
"Huh! Pada setan belang pun aku tak takut! Hanya
saja, aku tidak dapat menuduh secara gegabah, karena
belum melihat dengan kepala mala sendiri apakah benar
gadis berbaju putih itu bekerja sama dengan Datuk
Panglima Hitam!" tukas Datuk Gadang.
"Siapa pun gadis itu, kalau urusan perempuan, biarkan
kami yang mengatasinya. Dan Datuk tidak usah
membayar kami! Karena kami jelas akan mendapat
keuntungan juga, " tandas yang berbadan gemuk pendek
bernama Prabangkara.
Datuk Gadang mengerti betul makna ucapan
Prabangkara. Apalagi mengingat kedua tangan kanannya
sangat suka mempermainkan perempuan.
Jangan gadis-gadis. Perempuan yang sudah bersuami
pun, asal berwajah cantik, tidak luput menjadi mangsa!
"Baiklah... Kalian kuberi kebebasan untuk menangkap
begundal Datuk Panglima Hitam itu. Kalau gadis itu
tertangkap, terserah mau kalian apakan! " kata Datuk
Gadang memutuskan.
"Kalau memang itu keputusan Datuk, maka kami
dengan senang hati akan melaksanakan tugas ini,"
sambut Prabangkara dan Menda hampir bersamaan.
"Sekarang, pergilah kalian! Jangan kembali jika tugas
belum berhasil," ujar Datuk Gadang.
"Bolehkah kami membawa serta beberapa orang anak
buah untuk menemani, Datuk?" tanya Menda


Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ha ha ha...! Tentu saja tidak ada yang melarang
walaupun kau membawa seluruh anak buahku. Eeeh...,
jangan semuanya. Setengah saja. Sedangkan yang
lainnya biar tinggal di sini!" sahut Datuk Gadang.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Disertai lima orang anak buah yang rata-rata memiliki
kepandaian lumayan, Menda dan Prabangkara meninggalkan rumah Datuk Gadang, menuju kota
Gadang yang memakan waktu lebih kurang setengah
hari. Mereka menunggang kuda-kuda pilihan yang dapat
berlari cepat. Di sepanjang perjalanan, mereka sebenarnya tidak
menemui hambatan apa-apa. Namun ketika melewati
seorang pemuda berbaju rompi putih...
"Panas yang terik ini menjadi semakin tidak
menyenangkan oleh kehadiran seekor monyet berompi
putih yang tidak dikenal, Prabangkara...!" celetuk Menda,
mendengus tidak senang.
"Biarkan saja. Toh dia tidak mengganggu perjalanan
kita!" sahut Prabangkara, acuh tak acuh.
"Ini daerah kekuasaan kita! Seekor tikus comberan
pun tidak ada yang berani bertingkah di sini!" sergah
Menda yang disambut tawa para pengikut-pengikutnya
yang berada di belakang.
Kata-kata yang diucapkan Menda, tentu sempat
didengar pemuda berbaju rompi putih itu. Terus terang
hatinya menjadi jengkel juga.
Tepat ketika kuda yang ditungangi Menda melintas di
sampingnya, pemuda itu melihat sebuah kerikil.
Langsung dicungkilnya kerikil itu dengan kaki kanan
disertai tenaga dalam lumayan. Dan....
Tak! "Hiekh...!"
Batu sebesar ibu jari kaki itu langsung menghantam
kaki kuda yang ditunggangi Menda, hingga langsung
tersungkur disertai ringkikan panjang.
Jika Menda tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh
sempurna, tentu sudah tersungkur bersama kuda yang
ditungganginya. Menda melakukan salto beberapa kali,
lalu menjejakkan kedua kakinya dengan suatu gerakan
sangat manis. Prabangkara dan anak buahnya langsung menghentikan kudanya, mereka kemudian berlompatan
dengan sikap siaga. Sedangkan Menda sendiri langsung
mendekati pemuda berbaju rompi putih yang lak lain
Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.
"Pemuda keparat! Berani benar kau mengganggu
perjalanan kami dengan kepandaian picisanmu!" bentak
Menda, kasar. Rangga tersenyum dingin. Diperhatikannya orangorang yang mengepungnya satu demi satu. Tatapan
matanya dingin, menusuk
ke bola mata para pengepungnya. "Bicaramu jauh dari sopan santun, Kisanak. Apakah
kau merasa berkuasa atas semua orang?" tukas
Pendekar Rajawali Sakti, kalem.
"Kalau aku mau bicara, siapa yang bisa melarang"
Kalau kubunuh sekali pun kau di sini, tidak ada orang
yang menanyakanmu! Apalagi kulihat kau bukan orang
dari daerah sini!" bentak Menda garang.
Rangga merasa tidak ada gunanya bersilat lidah
dengan laki-laki berwajah telengas ini Namun sebagai
pendekar berkepandaian tinggi, Pendekar Rajawali Sakti
merasa tak ada gunanya meladeni mereka. Maka segera
dia berjalan kembali.
Namun baru beberapa langkah, lima orang anak buah
Menda sudah mencabut golok panjang yang melengkung
pada bagian ujungnya. Bahkan telah menghadang
langkah Rangga.
"Seraaang...!" teriak Menda.
Begitu mendapat perintah, lima orang pengepung
langsung menebaskan senjatanya. Namun Pendekar
Rajawali Sakti cepat meliuk-liukkan tubuhnya, sehingga
serangan lima buah senjata itu luput Bahkan tiba-tiba
Rangga memutar badannya, sekaligus melepaskan
tendangan beruntun.
Mereka yang sempat melihat serangan, cepat
melompat ke belakang. Namun salah seorang terlambat
menyadari. Maka tidak ampun lagi...
Buk! "Wuaagkh...!"
Disertai jeritan tertahan, salah satu anak buah Menda
terpental sejauh satu batang tombak. Tampak jelas
orang ini kesakitan. Bahkan dari hidungnya mengucurkan
darah, pertanda menderita luka dalam yang tidak ringan.
"Rupanya punya mainan juga kau, Monyet! Pantas
berani jual tingkah di depan utusan Datuk Gadang!
Huh...! Aku tidak akan puas sebelum mencincang
tubuhmu!" dengus Prabangkara.
"Kepandaianku yang tak seberapa hanya untuk
membela diri dari tindakan orang-orang telengas macam
kalian...!" desis Rangga, dingin.
Dikatakan orang telengas, membuat Prabangkara
marah. Tanpa bicara lagi segera dia memberi isyarat
pada keempat anak buahnya untuk menyerang:
"Hiyaaa...!"
Keempat anak buah Prabangkara dan Menda segera
melesat ke arah pemuda berbaju rompi putih. Golok
melengkung di tangan mereka berkelebat-kelebat,
menyambar ke bagian-bagian tubuh Pendekar Rajawali
Sakti. Rangga menghembuskan napas kesal lalu berkelit
sambil memutar tubuhnya. Kaki kanan digeser sedikit
Sedangkan kedua tangannya menghantam ke dada salah
seorang yang jaraknya paling dekat
Desss... ! "Aaa....!"
Kembali salah seorang pengeroyok jatuh ke
tanah disertai keluhan tertahan. Dia berusaha bangkit,
namun kembali jatuh. Dari mulutnya langsung memuntahkan darah.
Melihat salah seorang kembali dijatuhkan, tiga orang
sisanya secepatnya mengibaskan golok.
Pendekar Rajawali Sakti mendadak melompat ke
udara. Setelah berjumpalitan beberapa kali, badannya
meluncur cepat ke bawah dengan kaki melakukan
tendangan ke bagian kepala. Inilah jurus 'Rajawali
Menukik Menyambar Mangsa', salah satu jurus dari lima
rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Tidak dapat dihindari
lagi, tendangan itu tepat menghantam dua buah kepala.
Prak! Prak! "Aaa...!"
Jeritan keras terdengar disertai jatuhnya dua anak
buah Menda dan Prabangkara. Mereka jatuh terpelanting
dengan kepala hancur bergelimpang darah. Nyawa
mereka lepas dari badan saat itu juga.
"Hehu."!" desis Menda.
Mata laki-laki kurus ini melotot melihat kematian anak
buahnya. Sungguh tidak disangka kalau pemuda berbaju
rompi putih memiliki kepandaian hebat. Namun untuk
mundur, bukan kebiasaan baginya. Lagi pula, kematian
dua orang anak buahnya harus ditebus.
"Mundur kalian!" teriak Menda.
Sisa orang anak' buah Menda serentak berlompatan
mundur. Laki-laki kurus ini yang selalu mengawali
pertarungan dengan jurus-jurus tangan kosong segera
menerjang Rangga.
Namun Pendekar Rajawali Sakti dengan satu gerakan
sangat manis melenting ke udara. Tubuhnya berputaran
beberapa kali, lalu meluruk cepat dengan jurus 'Sayap
Rajawali Membelah Mega'. Tangan kanannya cepat
dikibaskan dengan pengerahan tenaga dalam lumayan.
Dan... Duk! "Huaagkh...!"
Menda kontan menjerit kesakitan begitu danya
terhantam pukulan telak Pendekar Rajawali Sakti.
Tubuhnya terlempar, namun cepat bangkit berdiri. Dan
secepat itu pula dia memasang kuda-kuda. Tepat ketika
Pendekar Rajawali Sakti mendarat di tanah, Menda
menghentakkan kedua tangannya melepaskan pukulan
jarak jauh. Wuusss... ! Segelombang angin kencang menerjang. Namun
Pendekar Rajawali Sakti secepat kilat melompat ke
samping kanan, seraya menghimpun tenaga dalam.
Dan.... "Heaaa__.!" teriak Rangga sambil mengerahkan aji
'Guntur Geni'nya dengan menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Seleret sinar merah menyala melesat cepat bagai kilat
dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Menda
berusaha menahan bahaya besar yang sedang mengancam jiwanya. Maka segera tangannya dihentakkan kembali.
Wuuut! Glam! Dua pukulan bertenaga dalam bertemu di udara.
Rangga terdorong mundur. Sedangkan Menda sambil
berteriak kesakitan. Tubuhnya terpelanting roboh, tanpa
mampu bangun-bangun lagi dalam keadaan menghitam.
Melihat tubuh Menda dalam keadaan hangus, nyali
Prabangkara menjadi ciut. Bahkan benda persegi panjang
di punggung yang tak lain .adalah sebuah kecapi itu, tak
digunakannya sebagai senjata. Karena dia yakin, pemuda
tampan berbaju rompi putih ini memiliki kepandaian
amat tinggi. Maka, akhirnya sikapnya jadi seperti orang
pengkhianat. "Anak muda! Aku tidak mau mencampuri urusanmu
dengan kawanku. Karena urusanku sendiri masih banyak
Mungkin di suatu saat, jika urusanku telah selesai, aku
akan mencarimu!" kata Prabangkara, seraya berbalik
menghampiri kudanya.
Rangga sedikit pun tidak menghiraukan ucapan
Prabangkara. Tubuhnya juga berbalik dan langsung
melanjutkan perjalanannya kembali.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Prabangkara dan sisa anak buahnya berniat kembali
ke kota Gadang. Namun di tengah jalan langkah kuda
mereka terhenti kembali. Di tengah jalan yang akan
dilewati, tampak seorang gadis berbaju putih berambut
panjang menghadang.
"Kaukah utusan Datuk Panglima Hitam?" tanya
Prabangkara, begitu melihat penampilan gadis yang tak
lain Dewi Mawar Selatan.
"Tidak salah! Dan kalian tentu kaki tangan Datuk
Gadang keparat itu, bukan?" sahut gadis yang pada
bagian punggungnya terdapat sulaman bunga mawar.
"Huh! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kami jadi tak
susah-susah mencarimu. Tidak kusangka aku harus
berhadapan dengan gadis secantikmu. Aku gembira jika
dapat menangkapmu hidup-hidup...!"
dengus Prabangkara. "Banyak mulut! Buktikanlah..!" dengus Dewi Mawar
Selatan penuh tantangan.
Prabangkara segera memberi isyarat pada kedua anak
buahnya untuk menangkap Dewi Mawar Selatan. Kedua
laki-laki muda berpakaian hitam ini segera melompat dari
atas punggung kuda masing-masing, lalu langsung
menerjang gadis itu disertai tendangan kilat yang
mematikan. Namun indah sekali Dewi Mawar Selatan berkelit
sambil meliukkan tubuhnya beberapa kali. Bahkan tibatiba kedua tangannya mendorong.
Gerakannya tampak begitu lembut, menimbulkan
desiran halus. Namun akibatnya...
Des! Desss!

Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kedua anak buah Prapang kara kontan jatuh tergulingguling. Seakan, ada suatu kekuatan yang tidak tampak
telah menghempas tubuh mereka.
Secepatnya mereka mencoba bangkit berdiri dengan
wajah pucat dan tegang. Namun hal itu tidak
berlangsung lama. Sekejab kemudian, mereka telah
mencabut golok melengkung yang tergantung di
pinggang. "Hiaaat...!"
Secepat kilat mereka menebas golok. Senjata
berbentuk aneh ini meluncur deras ke bagian leher dan
pinggang Dewi Mawar Selatan.
"Hiyaaa...!"
Secepatnya Dewi Mawar Selatan melenting ke udara.
Disambarnya bumbung tuak yang tersampir di pinggang
kiri. Dan isinya langsung diteguknya. Lalu...
"Fruhhh...!"
Tes! Tes! "Aaa...!"
Kedua laki-laki itu langsung mendekap wajah yang
hancur mengepulkan asap, bercampur bau daging
terbakar. Mereka langsung ambruk menggelepar di atas
tanah. Berkelojotan sebentar, kemudian terdiam untuk
selamanya! " Bangsat' betul! Tindakanmu begini keji. Aku
bersumpah untuk membunuhmu!" teriak Prabangkara
murka. Dewi Mawar Selatan begitu mendarat hanya
tersenyum dingin. Sedangkan Prabangkara sendiri segera
melompat dari kudanya. Langsung dilancarkannya
serangan gencar.
-0o-dwkz-ray-novo-o0Tidak dapat dihindari lagi, pertarungan sengit pun
terjadi. Sampai pertarungan berlangsung empat puluh
jurus, masih belum kelihatan siapa yang keluar sebagai
pemenang. Dan tiba-tiba Prabangkara melepas senjata
aneh berbentuk kecapi yang tersandar di balik punggung.
Tiung! Tiung..!
"Heh"! Kecapi Setan...!" sentak Dewi Mawar Selatan
dengan mata melotot.
Begitu Prabangkara menarik senar kecapi yang
berjumlah tiga buah, maka Dewi Mawar Selatan tersurut
mundur sejauh tiga langkah. Suara senar kecapi ini
terasa memekakkan telinga dan membuat kepalanya
berdenyut-denyut! Hebatnya lagi, suara itu makin lama
kian meninggi. Sehingga, membuat gadis ini terpaksa
mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk menghilangkan pengaruh getaran suara yang ditimbulkan
senar senjata bernama Kecapi Setan.
Tubuh Dewi Mawar Selatan sama sekali tidak bergerak
Wajahnya telah berubah merah padam. Pertempuran adu
tenaga dalam seperti ini memang sangat jarang terjadi.
Dan biasanya, bagi lawan yang mempunyai tenaga dalam
lebih rendah, akan segera tewas dengan hidung dan
telinga mengucurkan darah!
Inilah pertarungan yang menyangkut hidup mati
seseorang. sementara Prabangkara sendiri terus memetik
senar kecapinya. Tanah yang dipijak tampak bergetar.
Bahkan kedua kaki Prabangkara amblas sampai sedalam
mata kaki. Dewi Mawar Selatan walaupun kedua gendang
telinganya tidak sampai pecah, tetapi bagian dalam
tubuhnya sempat terguncang. Sampai kemudian diputuskannya untuk mengambil tindakan nekat
"Heaaa...!"
Dalam keadaan seperti itu, Dewi Mawar Selatan
segera mengibaskan kedua tangannya ke arah Prabangkara. Dua sinar biru langsung meluncur deras
dari kedua telapak tangannya.
Dalam keadaan seperti itu, tentu laki-laki berwajah
bengis ini tidak mungkin menghindar. Maka tanpa dapat
dicegahnya, pukulan Dewi Mawar Selatan menghantam
tubuh Prabangkara.
Glam! "Huaagkh...!"
Prabangkara kontan terlempar dengan tubuh hangus.
Begitu jatuh di tanah, dia tidak dapat bergerak-gerak
lagi. Entah mati, entah masih hidup. Dewi Mawar Selatan
tidak menghiraukan Prabangkara. Segera ditinggalkannya
tempat itu sambil mengerahkan ilmu lari cepatnya.
Hanya dalam waktu sekejap saja, tubuhnya telah begitu
jauh. Ternyata, Prabangkara. tidak mati. Tubuhnya tak lama
menggeliat, lalu bangkit berdiri. Laki-laki yangg sekujur
tubuhnya telah menghitam akibat terkena pukulan Dewi
Mawar Selatan segera mengambil kecapi miliknya yang
terlempar. Kemudian menghampiri kudanya untuk
melaporkan kejadian ini pada Datuk Gadang.
-0o-dwkz-ray-novo-o04 Satu kenyataan yang paling sulit diterima Datuk
Gadang adalah sebuah kegagalan. Demikian pula yang
terjadi ketika Prabangkara melaporkan apa yang dialami.
Setelah melihat keadaan tangan kanan Prabangkara
yang hangus, laki-laki gemuk tinggi itu sudah dapat
menduga kalau lawan yang dihadapi orang andalannya
ini pastilah memiliki kepandaian lebih tinggi. Dia tidak
pernah berpikir bahwa ternyata Datuk Panglima Hitam
mempunyai anak buah yang memiliki kepandaian tinggi.
Datuk Gadang bisa menduga begitu, karena tahu betul
kehebatan yang dimiliki Prabangkara. Dengan Kecapi
Setan di tangannya, jasa-jasa Prabangkara tidak sedikit
terhadap apa yang telah dicapai Datuk Gadang.
"Jadi Menda tewas di tangan gadis itu?" tanya Datuk
Gadang, setelah lama terdiam.
"Benar, Datuk!" sahut Prabangkara, berbohong.
Padahal, Menda tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti.
"Kami sebenarnya sudah hampir sama-sama mati. Tetapi
Dewi Mawar Selatan cukup cerdik Dia melepaskan
pukulan dahsyat di saat kami sama-sama mengadu
tenaga dalam. Inilah akibatnya...!" jawab Prabangkara.
"Mengapa kau tidak mampus saja sekalian"!" dengus
Datuk Gadang, ketus, .
"Kalau aku mati, tentu tidak ada yang melaporkan
kejadian ini pada Datuk. Lagi pula aku telah bertekad
untuk membalaskan segala sakit hati pada gadis itu!"
geram Prabangkara.
"Bagus! Mudah-mudahan gurumu mendengar kekalahanmu, sehingga aku tidak perlu susah payah
mengundang kakek berangasan itu!" sambut Datuk
Gadang, penuh harap.
"Aku malah berharap semoga Guru tidak mendengarnya, Datuk. Sebab, nanti beliau menghukumku!"
"Bodoh! Jika gurumu Dura Seta datang membantu,
tentu kita tidak akan begitu berat dalam menghadapi
lawan!" bentak Datuk Gadang.
"Terserah bagaimana pendapat Datuk yang penting,
aku akan mematuhi perintah Datuk!" sahut Prabangkara,
yang tampaknya memang tidak suka berdebat dengan
majikannya. "Sekarang sudah hampir larut malam Sebaiknya kau
istirahat. Mudah-mudahan malam ini tidak seekor kecoa
pun yang datang ke sini!"
Ucapan Datuk Gadang sama sekali tidak ditanggapi
Prabangkara, karena kakinya sudah melangkah menuju
ke kamarnya. Namun ketika melewati salah satu kamar yang
ditempati istri Datuk Gadang, Prabangkara jadi kaget Dia
melihat ceceran darah di depan pintu.
Dengan tangan gemetaran didorongnya pintu yang
sedikit terbuka.
Begitu pintu terbuka, tubuh Prabangkara mengejang.
Matanya melotot seperti melihat hantu. Di dalam kamar
ternyata sembilan istri Datuk Gadang telah menjadi
mayat dalam keadaan bertumpuk
"Datuuukkk... !"
Teriak Prabangkara membuat Datuk Gadang yang
baru saja masuk ke dalam kamar pribadinya tersentak
Laki-laki tinggi besar ini langsung berbalik, memburu ke
arah datangnya suara.
"Ada apa, Prabangkara?" tanya Datuk Gadang begitu
sampai di depan tangan kanannya.
"Lihatlah ke dalam, Datuk Semua istri Datuk telah
tewas secara mengenaskan...!" seru Prabangkara.
Tanpa membuang-buang waktu Datuk Gadang
langsung menerobos ke dalam ruangan. Dan dia jadi
terkesima, melihat darah menggenangi lantai, membanjiri mayat-mayat istrinya yang berserakan
tumpang tindih.
"Keparaaattt...!"
Datuk Gadang meraung seperti harimau terluka. Tidak
terkirakan betapa terpukulnya hati laki-laki ini. Setelah
cukup lama memandangi mayat kesembilan istrinya,
matanya yang telah berubah memerah tampak
memandang ke langit-langit kamar.
"Setelah melihat luka-luka di tubuh mereka aku tahu
ini bukan perbuatan Dewi Mawar Selatan! Rupanya kau
telah datang sendiri kemari, Datuk Panglima Hitam!"
desis laki-laki berbaju kuning ini geram.
"Apa yang harus kulakukan, Datuk?" tanya Prabangkara cemas.
"Kumpulkan seluruh penjaga yang berada di dekat
sana. Malam ini, kita sambut tamu paling istimewa
selama hidupku!" perintah Datuk Gadang tegas.
Prabangkara segera melaksanakan perintah majikanya. Dia berlari cepat ke depan. Namun setelah
sampai, Prabangkara langsung tercekat. Karena, ternyata
tiga puluh orang anak buah majikannya telah terkapar
menjadi mayat! "Datuuukk..!" teriak Prabangkara kembali tanpa sadar.
Datuk Gadang jelas mendengar jeritan anak buahnya.
Tubuh laki-laki ini langsung berkelebat ke depan. Setelah
sampai di halaman depan dia tertegun. Ternyata, semua
anak buahnya sudah tewas dibantai secara mengerikan
pula. "Heaaa...!"
Dalam puncak amarahnya, Datuk Gadang berteriak
keras. Suaranya membelah kesunyian malam yang
sedemikian mencekam.
"Kau rupanya telah datang, Datuk Panglima Hitam.
Satu hal yang paling sangat kusesali, mengapa harus
membunuh orang-orang yang kucintai"!"
Sejenak suasana berubah sunyi. Ucapan Datuk
Gadang tidak ada seorang pun yang menjawabnya.
Hanya sebagai orang yang menganut ilmu 'Cindaku'
Datuk Gadang tahu kalau lawannya berada di sekitar
situ. Namun, entah mengapa orang yang dimaksud tidak
kunjung datang juga. Atau karena lawan ingin
menghabisinya secara sembunyi-sembunyi"
-0o-dwkz-ray-novo-o0Pertanyaan Datuk Gadang tak lama terjawab, ketika
tiba-tiba saja berkelebat satu sosok bayangan merah.
Dan tahu-tahu di depannya telah berdiri satu sosok tinggi
besar berpakaian merah. Datuk Gadang jelas terkejut
Sebab, Datuk Panglima Hitam tidak pernah berpakaian
merah. "Datuk Merah"!" seru Datuk Gadang terkejut, karena
salah duga. Pikirnya, yang akan datang adalah Datuk
Panglima Hitam. Tak tahunya, Datuk Merah.
"Benar! Aku Datuk Merah," sahut laki-laki berkumis
serta berjenggot panjang ini dingin.


Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Untuk beberapa saat mereka hanya saling berpandang, seakan-akan mencoba menjajaki kepandaian masing-masing setelah terpisah selama
bertahun-tahun.
"Apa kesalahanku padamu, Datuk Merah" Mengapa
kau begitu tega membunuh orang-orang yang sangat
dekat denganku?" tanya Datuk Gadang, memecah
kebisuan. "Kesalahanmu" Apakah kau lupa sejak kematian Guru
Lebai Nan Rancak, kita memang sudah berseteru" Aku
secara pribadi memang mencoba melupakan masa lalu.
Juga, kekalahanku waktu itu. Tapi tindakan anak buahmu
yang bernama Dewi Mawar Selatan, sungguh keterlaluan
dengan membakar hidup-hidup seluruh muridku! Jika aku
kehilangan orang yang sangat kusayang, apakah tidak
cukup adil kalau kau juga harus kehilangan orang yang
sangat kau sayangi?" tukas Datuk Merah.
Sadar atau tidak, sebenarnya telah terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Namun, Datuk
Gadang malah menganggap kalau Datuk Merah hanya
menutupi kesalahan Datuk Panglima Hitam. Karena dia
tahu, antara kedua orang itu masih terjalin hubungan
sangat baik "Kau hanya menutupi kesalahanmu sendiri, atau
mungkin juga kesalahan Datuk Panglima Hitam. Menurut
sepengetahuanku, Dewi Mawar Selatan adalah orang
yang berada di pihak Datuk Panglima Hitam. Kau tentu
memutarbalikkan kenyataan dan bersikap pura-pura!"
sergah Datuk Gadang.
"Seribu kata, dapat kau ucapkan, Datuk Gadang!
Sangat jarang orang yang mau mengakui kesalahannya
di dunia ini. Tahukah kau, sebenarnya aku muak bicara
denganmu!" sambar Datuk Merah, sengit "Kepalang
basah! Aku akan mengabulkan apa pun keinginanmu!"
Mendengar kata-kata bernada tantangan, Prabangkara
tentu tidak tinggal diam. Segera dihadang Datuk Merah.
"Biarkan aku yang menghadapi Datuk Merah! Aku
ingin tahu sampai di mana kehebatannya!" kata
Prabangkara tanpa menoleh pada Datuk Gadang.
Sementara matanya menatap tajam pada Datuk Merah.
"Bagus! Sekarang saatnya kau tunjukkan kesetiaanmu
padaku!" sambut Datuk Gadang.
"Aku segera membunuhmu, tidak sampai lima jurus!"
leceh Datuk Merah.
"Manusia bermulut besar! Rasakanlah! Hiyaaa...!"
teriak Prabangkara disertai satu lompatan ganas.
Kecapi Setan yang sudah dilepas, langsung meluncur
deras ke bagian kepala Datuk Merah. Namun kakek
berbaju merah ini cepat melenting ke udara sambil
berjumpalitan beberapa kali.
Melihat sabetan Kecapi Setan miliknya tidak mengenai
sasaran, Prabangkara segera mencabik tali kecapinya.
Seketika terdengar gelombang suara yang menyakitkan
gendang-gendang telinga.
Datuk Merah yang seharusnya akan melepaskan
tendangan ke dada, terpaksa diurungkan. Segera indera
pendengarannya ditutup setelah mengerahkan tenaga
dalam yang dimiliki.
Twing! Twing! Twing!
Dengan demikian, pengaruh petikan kecapi yang
dapat menghancurkan gendang-gendang telinga lenyap.
Prabangkara kiranya tidak menyadari kalau Datuk Merah
telah mampu mengatasi serangan melalui suara ini.
Sehingga kecapinya terus dipetik.
"Aku akan merobek-robek tubuhmu!" teriak Datuk
Merah. . Seiring kata-kata yang diucapkannya Datuk Merah
mengerahkan jurus 'Harimau Keluarkan Kuku, salah satu
jurus dari rangkaian jurus 'Harimau' yang dimiliki
"Heaaa...!"
Set! Set! Set! Kedua tangan Datuk
Merah yang terpentang membentuk cakar meluncur deras ke arah Prabangkara.
Laki-laki yang sekujur tubuhnya hangus ini mempergunakan Kecapi Setan di tangannya untuk
menangkis serangan.
Twing! Trang! Prak! Kecapi Setan Prabangkara kontan hancur tercabikcabik. Akibat pecahnya senjata aneh itu, timbul asap
hitam yang menebar memenuhi sekitarnya. Asap hitam
yang semakin menebal perlahan-lahan membentuk
sesosok tubuh berwarna hitam. Wajah sosok itu tampak
angker dan lonjong. Alisnya tebal. Sedangkan pada
sudut-sudut bibirnya, tampak dua pasang taring mencuat
panjang! "Iblis!" desis Datuk Merah.
Datuk Merah terpaksa menarik kepalanya ke belakang
saat sosok hitam yang terbentuk dari gumpalan asap
menjulurkan tangan ke bagian leher. Ternyata tangan
makhluk jejadian itu dapat memanjang. Bahkan semakin
lama bertambah panjang. Tubuhnya terus bertambah
tinggi, seakan ingin menggapai langit
-0o-dwkz-ray-novo-o0Datuk Merah tidak kehilangan akal. Disadari betul
kalau sosok tinggi hitam yang jadi lawannya sekarang
hanya penjelmaan dari kepingan Kecapi Setan yang telah
dihancurkannya. Untuk mengatasinya, segera kedua
tangannya dirangkapkan dan digosok-gosokkan satu
sama lain. Semakin lama, mulai mengepul kabut tipis
berwarna putih. Kabut itu kemudian membubung tinggi
ke udara. Bersamaan dengan itu pula, terbentuk sesosok
makhluk yang sama-sama mengerikan. Sosok jejadian
berwarna putih ini langsung menyerang sosok jejadian
yang berasal dari kepingan Kecapi Setan.
Datuk Merah kini berdiri tegak dengan tangan terlipat
di depan dada. Demikian juga Prabangkara. tampaknya
masing-masing sedang mengadu kekuatan hitam.
Sosok hitam yang menjulang tinggi terus bertarung
dengan sosok putih yang diciptakan Datuk Merah. Seiring
terdesaknya sosok hitam tubuh Prabangkara pun
tergetar. Dan tiba-tiba...
Glarrr! Bersamaan terdengarnya ledakan, tubuh Prabangkara
terlempar dan terguling-guling. Sekujur tubuhnya tampak
meneteskan darah. Sedangkan sosok hitam miliknya
meraung keras lalu lenyap.
Datuk Merah yang hanya jatuh terduduk segera
bangkit berdiri. Sosok yang diciptakannya pun telah
lenyap. Sementara, Datuk Gadang tidak menyangka kalau
lawannya telah memiliki kepandaian yang sedemikian
pesat dan mengagumkan.
"Jika kau mempergunakan ilmu sihirmu untuk
menghadapi aku, maka kematianlah bagimu!" desis
Datuk Gadang. "Aku dapat berbuat apa saja untuk membunuh musuh
besarku!" ejek Datuk Merah.
"Manusia busuk!" maki Datuk Gadang.
"Kau pun jauh lebih busuk dariku!" balas Datuk Merah,
tidak kalah sengit.
Mereka tampaknya tidak perlu bertegang leher . lagi.
Datuk Gadang segera mengerahkan jurus andalan.
Kedua kakinya melakukan gerakan-gerakan cukup aneh.
Sedangkan tubuhnya terhuyung ke kiri, lalu seperti rubuh
ke kanan. Setelah itu tubuhnya melesat ke arah Datuk
Merah. Tangannya yang terkembang meluncur deras ke
arah perut lawannya.
"Hm... Dia mengerahkan jurus 'Harimau Keluar
Kandang'. Baik! Akan kutandingi dengan jurus 'Harimau
Merobek Mangsa'.
Datuk Merah yang memang mengetahui dasar-dasar
jurus lawannya karena memang berasal dari satu guru,
langsung bisa membaca setiap gerakan lawan. Maka tak
heran kalau dia langsung mengerahkan jurus andalan,
'Harimau Merobek Mangsa'.
Datuk Merah sama sekali tidak menghindari serangan.
Malah kedua tangannya telah terpentang. Dan dari setiap
ujung jemari tangannya mencuat kuku-kuku berwarna
hitam beracun. Datuk Gadang menggeram. Masih dalam keadaan
melayang, serangannya dicobanya untuk ditarik kembali.
Tetapi, tangan kiri Datuk Merah lebih cepat merobek
pergelangan tangannya.
Crasss! "Aaarkh...!"
Datuk Gadang menjerit keras sambil memegangi
tangannya yang hancur, namun cepat membuat salto ke
belakang. Dengan cepat ditotoknya urat besar di
tangannya untuk mencegah agar darah tidak banyak
keluar. Begitu darah berhenti mengalir, dibuatnya
beberapa gerakan aneh.
Zeb! Zeb! "Huup...!"
Datuk Gadang tiba-tiba berguling-guling. Inilah
serangan paling berbahaya dibanding serangan pertama
tadi "Jurus 'Harimau Kehilangan Anak'! Huh! Aku tidak
akan mundur!" dengus Datuk Merah.
Saat itu juga laki-laki berbaju merah ini pun
mempergunakan jurus yang sama, untuk menahan
serangan. Karena mereka sama-sama mempergunakan
jurus-jurus tingkat tinggi, maka tidak heran jika
pertempuran berlangsung semakin seru.
Dalam keadaan terguling-guling
itu, mereka melakukan serangan-serangan gencar. Tidak jarang kaki
mereka saling membentur. Namun tiba-tiba Datuk
Gadang melompat. Dan kakinya sekuat tenaga menginjak
badan Datuk Merah.
Duuk! "Huugkh...!"
Datuk Merah mengeluh. Sudut-sudut bibirnya tampak
meneteskan darah, pertanda bagian perutnya mengalami
luka dalam. "Grauuung...!"
Untuk pertama kalinya Datuk Merah meraung dahsyat.
Mulutnya yang meneteskan darah tampak berkemakkemik. Inilah saat yang paling menegangkan. Karena,
Datuk Merah memang tengah membaca mantra-mantra
ilmu 'Cindaku' untuk menjadikan dirinya sebagai harimau
siluman. Datuk Gadang bukan tidak menyadari betapa
berbahayanya bila Datuk Merah telah berganti wujud
menjadi harimau siluman. Namun tampaknya dia terlalu
yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.
-0o-dwkz-ray-novo-o0"Grauung... !"
Auman panjang disertai berjumpalitannya tubuh Datuk
Merah sebanyak tujuh kali, mengawali serangan. Ketika
kakinya menjejak tanah, Datuk Merah telah berganti
wujud menjadi seekor harimau besar berwarna merah
belang-belang hitam.
Binatang jelmaan Datuk Merah itu dengan sangat
buasnya menerkam Datuk Gadang. Gerakannya yang
cepat disertai desiran angin halus. Kuku-kuku yang
panjang menyambar tengkuk Datuk Gadang. Sedangkan
taringnya mengarah pada bagian tengkuk
Dua serangan yang datangnya, secara bersamaan ini
tentu membuat Datuk Gadang menjadi terdesak Secepat
kilat tubuhnya dilempar ke samping.
"Pukulan 'Raungan Harimau Senja Hari'!" teriak Datuk
Gadang sambil mengibaskan tangannya.
Wuuut! Blarrr! "Graung!"
Pukulan keras mengandung hawa dingin ini hanya
membuat harimau penjelmaan Datuk Merah terbanting.
Namun agaknya pukulan barusan tidak membawa akibat
apa-apa. Terbukti, harimau siluman itu sudah bangkit
berdiri. Bahkan kini menerkam kembali dengan
kecepatan berlipat ganda!
Datuk Gadang tidak sempat berkelit menghindar.
Terpaksa dipapaknya serangan.
Ternyata walaupun Datuk Merah telah berubah
menjadi harimau siluman, namun tidak mudah untukk
membunuh lawannya. Kiranya di luar sepengetahuan


Pendekar Rajawali Sakti 197 Dewi Mawar Selatan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Datuk Merah, Datuk Gadang sekarang telah memiliki ilmu
kebal yang entah didapat dari mana.
Pertarungan jarak rapat ini terus berlanjut, sampai
kemudian Datuk Gadang tampaknya mulai terdesak juga.
Seketika tubuhnya melenting ke belakang untuk
membuat jarak. Dan setelah terbebas dari cengkeraman
lawan, mulutnya komat-kamit. Tidak lama, seperti yang
dilakukan Datuk Merah, Datuk Gadang juga berjumpalitan beberapa kali.
Ketika Datuk Gadang menjejakkan kakinya kembali,
wujudnya telah berubah menjadi seekor harimau kuning
belang-belang hitam.
Harimau kuning ini sama besarnya dengan harimau
merah yang sekarang telah menyerang kembali. Saat itu
juga suara-suara raungan keras pun mewarnai perkelahian kedua ekor harimau jadi-jadian ini.
Setelah wujud mereka sama-sama berubah, maka cara
berkelahi pun tidak bedanya binatang lainnya. Maka
saling terjang, saling pukul, saling cakar, dan sesekali
melakukan gigitan mematikan.
Kini harimau merah tampaknya kehilangan cara untuk
menghadapi harimau kuning. Cakaran kukunya tidak
membuat harimau kuning terluka. Taring-taringnya yang
sempat menghujam ke tengkuk, tidak membuat harimau
penjelmaan Datuk Gadang binasa.
"Grauung!"
Disertai auman keras, sekarang giliran harimau kuning
melakukan serangan balasan. Namun, harimau merah
juga tidak ingin menyerah begitu saja
Berulang kali binatang siluman berwarna merah itu
berkelit. Namun, satu lompatan yang dilakukan harimau
Pedang Pembunuh Naga 3 Pendekar Hina Kelana 7 Majikan Gagak Hitam Siluman Hutan Waringin 3

Cari Blog Ini