Ceritasilat Novel Online

Harpa Neraka 1

Pendekar Rajawali Sakti 211 Harpa Neraka Bagian 1


" 211. Harpa Neraka ~ Bag. 1-3
2 ao?t 2015, 08:55
1 ? Udara sore ini terasa sejuk. Matahari berkali-kali tertutup awan kelabu. Suasana lengang. Tak ditingkahi suara petir. Seekor burung melintas agak pendek, lewat di depan seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung. Pemuda ini memandang sambil tersenyum, kemudian bangkit berdiri. Diusap-usapnya kuda hitam berbulu hitam mengkilap di sisinya.
"Sudah lama kita berada di sini, Dewa Bayu.... Dan kelihatannya orang itu belum juga muncul. Entah dia akan datang atau sekadar mempermainkan ku...," desah pemuda yang tak lain Rangga. Di kalangan persilatan kiprahnya begitu menggetarkan. Tak seorang pun tokoh yang tak pernah mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti!
Hewan berbulu hitam itu meringkik halus dan menggetarkan bulunya. Kepalanya terangguk-ang?guk, seolah mengerti apa yang dikatakan Rangga.
"Baiklah. Kita tunggu dia sebentar lagi. Kalau tak muncul juga berarti dia sengaja mempermainkan ku...," lanjut Pendekar Rajawali Sakti, seraya kembali melangkah ke tempat semula.
Pemuda itu kembali bersandar di bawah pohon. Duduk seenaknya dengan sebatang rumput di antara bibirnya. Meski begitu, telinganya tetap dipertajam. Dan saat itu juga lapat-lapat telinganya mendengar gesekan rebab dari kejauhan. Seketika bibirnya tersenyum.
"Nah! Akhirnya datang juga dia...!" desah Rangga seraya bangkit berdiri.
? Dari jauh ku datang Membawa janji yang malang
Ternyata sia-sia,
sebab yang ditunggu tak kunjung datang
Aduhai hatiku yang tak tenang
Karena cintaku terhalang oleh selubung awan
Adakah dia akan mengenang
meski cuma sebatas angan"
? Orang yang ditunggu Pendekar Rajawali Sakti muncul sambil melantunkan syair. Lengkap dengan ciri khasnya. Wajahnya diselubungi topeng berbentuk wajah perempuan. Rambutnya panjang terurai. Dia membawa sebuah rebab yang digesek halus menimbulkan irama syahdu. Jalannya lambat. Suaranya halus seperti perempuan. Tapi dadanya kelihatan rata. Jarak antara dua pundak sedikit lebar dari yang dimiliki perempuan pada umumnya.
Langkah orang bertopeng itu terhenti ketika tiba di depan Rangga. Kedengaran suara tawanya yang cempreng dan nyaring.
"Hi hi hi...! Kasihan.... Apakah kau sudah lama menunggu?" tanya sosok aneh ini. Nada suaranya terdengar seenaknya.
"Belum! Belum lama, Raja Penyair. Tapi cukup untuk menimbulkan rasa kantuk dan bosan. Kenapa kau lama sekali baru muncul?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, sedikit mangkel.
"Ada urusan yang mesti kuselesaikan...," sahut sosok bertopeng yang tak lain Raja Penyair.
"Meski banyak urusan, tapi masih sempat nyanyi segala!"
Raja Penyair tertawa halus.
"Tapi mestinya gelarmu mulai sekarang dicopot!" lanjut Rangga.
"He, kenapa begitu"!" tukas Raja Penyair, tak mengerti.
"Syair mu kacau!" ejek Rangga.
"Kau katakan yang ditunggu-tunggu tak datang. Padahal bukan kau yang menunggu. Tapi, aku!"
Suara Raja Penyair yang tadi kaget, kembali berubah. Dan kini, terdengar tawanya yang berderai.
"Hi hi hi..! Syair bisa ditafsirkan macam-macam. Dan itu boleh saja sesuai selera. Kaupun kelihatan girang, padahal kekasihmu digondol maling," kilah Raja Penyair, seenaknya.
"Kekasih" Siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan yang telah mempengaruhi tenagamu, setelah kau diberi minuman yang telah diberi ajian 'Pelumpuh Raga'?"
"O, Malini"!" seru Rangga. Dan kesudahannya, pemuda ini terkekeh. "Cantik ya" Kalau dia mau jadi kekasihku, berarti tampangku hebat betul!"
"Huh! Jangan merasa paling tampan! Siapa bilang tampangmu hebat?" dengus Raja Penyair.
"Eeee, jangan sewot" Memang ada yang melarang memuji diri sendiri?"
"Sudah, sudah! Kita jangan melantur!"
"Baiklah. Kau kirim pesan supaya aku datang ke sini untuk membalas budimu. Nah! Sekarang katakan, apa yang bisa kulakukan untuk membalas budimu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, setelah terkekeh.
"Aku butuh pertolonganmu...," desah Raja Penyair.
"Pertolongan apa?"
"Kekasihku diculik orang...."
Tawa Rangga meledak mendengar kata-kata Raja Penyair.
"Diam dulu! Aku belum selesai bicara!" hardik Raja Penyair kesal. "Kenapa tertawa"!"
Rangga kontan menghentikan tawanya dengan napas terengah-engah.
"Maaf, Raja Penyair. Aku ini sebenarnya tidak tahu, kau laki-laki atau perempuan" Kalau gelarmu Raja Penyair, mestinya laki-laki. Tapi suara dan lagakmu seperti perempuan. Dan kenapa kau mesti pakai topeng segala" Dan..., melihat keadaanmu yang demikian, bagaimana pula kekasihmu" Lalu, siapa pula yang menculiknya?" cerocos Rangga.
Raja Penyair diam membisu. Dadanya beberapa kali membusung mengikuti gerakan kedua pundaknya. Kelihatan hatinya kesal sekali.
"Sudah selesai bicaramu?" tanya Raja Penyair, begitu Pendekar Rajawali Sakti selesai mengoceh.
"Sudah, sudah...! Ceritakanlah! Pertolongan apa yang bisa kuberikan untukmu?" sahut Rangga.
"Bukan hanya kekasihku. Tapi, orangtua ku pun diculik. Kau harus membantuku membebaskan mereka!" tegas Raja Penyair.
"He, kudengar kepandaianmu hebat! Apakah orang sepertimu masih memerlukan orang sepertiku yang tak bisa apa-apa?" tukas Rangga, merendah.
"Mereka berjumlah banyak. Dan rata-rata berkepandaian hebat. Aku tak mau usaha penyelamatan ini gagal!"
Rangga mengangguk mengerti.
"Sebenarnya urusan apa sehingga mereka di?culik" Minta tebusan atau kau punya kesalahan terhadap mereka" Dan..., siapa sebenarnya penculik yang kau maksudkan itu?"
"Aku lupa mengatakan satu hal!"
"Hmm!"
"Tolong, jangan banyak tanya soal itu! Kau cukup membantuku!"
Rangga angkat bahu.
"Yaaah, terserahmulah...!" desah Pendekar Rajawali Sakti.
"Kita akan berangkat sekarang!" ajak Raja Pe?nyair.
"Ke mana?"
"Ke Cadas Pangeran."
"Bagaimana kalau kita makan dulu?" sahut Rangga, memberi usul.
"Usul yang baik, Ayo!" sambut Raja Penyair..
Namun sebelum itu, Pendekar Rajawali Sakti menghampiri kudanya. Kepalanya didekatkan ke telinga Dewa Bayu. Berbisik. Seperti mengerti, kuda hitam mengkilat ini mengangguk-angguk lalu berlari meninggalkan tempat ini.
*** ? Rangga dan Raja Penyair terus berjalan ke arah utara, setelah mengisi perut masing-masing. Dan baru saja mereka berbelok ke kanan, terlihat dua sosok tubuh. tegak berdiri dengan sikap menghadang. Dan Rangga mengenali salah seorang dari mereka.
"Golok Terbang! Kebetulan sekali!" kata Rang?ga
"Kau punya kesempatan melampiaskan perasaan jengkelmu padanya, Rangga!" ingat Raja Pe?nyair. "Tapi, hati-hati terhadap laki-laki yang berdiri di atas bambu enggrang itu, meski bukan tokoh kelas satu, tapi tak bisa dipandang rendah."
"O, begitu! Siapa namanya?" tanya Rangga.
"Ki Gering alias si Mayat Hidup!" sahut Raja Penyair.
Rangga tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Raja Penyair, tak senang.
"Yang namanya mayat itu mati, Raja Penyair! Mengapa orang mati malah berkeliaran?" seloroh Rangga.
"Berhenti kalian!" bentak si Golok Terbang, sebelum Raja Penyair sempat menanggapi kata-kata Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga dan Raja Penyair berhenti pada jarak lima tombak. Kening mereka berkerut dengan sorot mata tajam.
"Ada apa, Golok Terbang! Mengapa kau menahan langkah kami?" tanya Rangga halus.
"Jangan berlagak kau, Pendekar Rajawali Sak?ti! Mestinya kau tahu, mengapa aku menahan langkahmu!"
"Maaf, aku tak mau cari gara-gara," elak Rangga masih halus.
"Bocah busuk! Jangan banyak tingkah kau se?karang. Ajalmu sudah dekat, tahu"!"
"Hm.... Rupanya kau menyesal, mengapa waktu itu tidak membunuhku. Sebetulnya, akulah yang mesti mencarimu untuk melampiaskan dendam. Ta?pi apa gunanya" Dan sekarang kau malah muncul di depanku. Mau mengancam segala! Sekarang, ku hitung sampai tiga. Bila kau belum juga minggat, jangan salahkan aku!" gertak Rangga, kali ini tak kalah garang.
"Bocah banyak lagak! Masih untung saat itu kuampuni nyawamu. Kalau tidak, saat ini kau telah jadi santapan cacing-cacing tanah, tahu"!"
"Hm.... Jangan terlalu jumawa, Golok Ter?bang. Di atas langit masih ada langit."
"Huh! Akan kita lihat sekarang, siapa sebenar?nya yang akan jadi pecundang!" dengus si Golok Terbang seraya mencabut golok besarnya.
Sret! "Jangan terlalu cepat bermain senjata, Golok Terbang. Salah-salah, kau sendiri yang termakan senjatamu," kata Rangga, kalem tapi mengandung perbawa kuat
"Yeaaa...!"
Si Golok Terbang langsung menyerang. Goloknya berkelebatan mengancam keselamatan Pen?dekar Rajawali Sakti. Namun dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Mudah saja Rangga menghindar. Tubuhnya meliuk-liuk di antara kelebatan go?lok. Kadang condong ke kanan, kadang condong ke kiri. Semuanya ditunjang oleh gerakan kaki yang lincah bukan main.
"Uh! Hebat juga dia!" puji Rangga diam-diam. "Kalau dia rajin berlatih rasanya sepuluh tahun lagi bakal mampu menandingi ku!"
Melihat serangannya selalu menemui tempat kosong, si Golok Terbang jadi murka sekaligus penasaran. Seketika serangannya makin ditingkatkan.
"Setan! Rupanya kebisaan mu hanya menghindar saja! Ayo serang aku!" teriak si Golok Terbang yang merasa kesal melihat serangannya selalu kandas.
"Belum waktunya aku mengeluarkan pedang, kalau dengan sebatang cabang pohon pun aku bisa mengalahkanmu!" sahut Pendekar Rajawali Sakti enteng.
Seketika Rangga mengempos tubuhnya ke atas.
"Hup!"
Pras! Tubuh Rangga meluncur ke sebuah pohon. Langsung diambilnya sebatang ranting yang masih dipenuhi oleh daun-daunnya. Kemudian tubuhnya berputaran di udara, lalu meluncur ke arah si Golok Terbang. Gerakan yang dilakukannya cepat bukan main.
"Ayo, aku siap meladeni jurus golokmu!" teriak Pendekar Rajawali Sakti. "Kurang ajar!"
Bukan main geramnya si Golok Terbang meli?hat Pendekar Rajawali Sakti hendak menahan se?rangannya hanya dengan sepotong ranting! Pa?dahal goloknya selama ini sudah menjadi senjata kebanggaannya.
"Heaaa...!"
Ketika golok si Golok Terbang berkelebat, Rangga menahannya dengan ranting di tangan yang telah dialiri tenaga dalam tinggi.
"Jahanam!"
Si Golok Terbang memaki ketika tubuhnya terjajar beberapa langkah. Dia bukan marah karena tubuhnya terjajar. Tapi, karena goloknya ditahan hanya dengan sebatang ranting!
"Lihat! Golokmu ternyata hanya dari kerupuk udang. Berbenturan dengan ranting saja sudah gompal!" kata Rangga, menunjuk golok lawannya.
Jantung si Golok Terbang berdebar kencang ketika perlahan-lahan melirik goloknya. Dan dia jadi tercekat melihat senjatanya tahu-tahu telah buntung!
"Setan! Aku masih sanggup memotes lehermu dengan tanganku!" rutuk si Golok Terbang seraya membuang senjata kebanggaannya.
"Kau kelewat banyak membual. Sejak tadi ocehanmu terus begitu, tapi selalu saja tak terbukti," sahut Rangga, enteng.
Si Golok Terbang bukan alang kepalang ma?rah. Hatinya tak kuat menahan ledakan dahsyat di dada. Kalau saja mampu maka akan dilumatnya Rangga hingga menjadi debu.
"Hiyaaa...!"??? "
Saat itu juga si Golok Terbang melesat dengan hantaman tangan bertubi-tubi. Dan dengan enaknya, Pendekar Rajawali Sakti bergeser ke samping. Lalu tanpa disangka, ranting di tangannya mengibas sambil memutar tubuhnya.
Pratt! "Aaakh...!"
? ? *** 2 ? Tak ampun lagi, si Golok Terbang terpental ke belakang sejauh beberapa langkah, setelah tersambar ranting kayu di dadanya. Seketika nafasnya terasa sesak. Dadanya yang tersambar tadi panas bu?kan main.
"Uhh...!"
"Benar 'kan kubilang" Dengan ranting ini su?dah cukup untuk...!"
Wusss...! "Heh"!"
Kata-kata Rangga terpenggal oleh serangkum angin kencang yang bergerak cepat ke arahnya. Secepatnya Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas, sehingga serangan itu hanya menghantam sebatang pohon sampai tumbang.
Begitu mendarat, Pendekar Rajawali Sakti lang?sung menatap tajam ke arah Ki Gering. Memang serangan tadi berasal dari laki-laki berjuluk si Mayat Hidup.
"Aku paling muak dengan orang yang suka membokong!" desis Rangga, menggetarkan.
"Bocah edan! Kau kira bisa bertingkah di depanku seenak perutmu"!" bentak si Mayat Hidup dengan mata mendelik.
"Apa ada larangan kalau aku bertingkah" Kalau kau merasa tersinggung, ya silakan pergi dari tempat ini," sahut Rangga, kalem.
"Bangsaaat!"
Si Mayat Hidup yang menggunakan enggrang bambu sepanjang dua tombak menggeram. Dengan sekali melangkah, bambu yang seolah menjadi penyambung kakinya berkelebat menyambar Pende?kar Rajawali Sakti.
Rangga melenting ke belakang dan berputar dua kali. Ujung bambu Ki Gering yang digunakan sebagai kaki untuk melangkah, menyerangnya dalam jarak jauh. Sehingga, sulit bagi Pendekar Ra?jawali Sakti untuk mendekat. Sambil menyerang begitu, tubuh si Mayat Hidup seolah telah berayun-ayun dengan penyangga bambu satunya.
"Hm.... Tenaga dalamnya hebat bukan main. Angin serangan bambu itu terasa panas. Ranting ini tak akan cukup untuk menghentikannya!" gumam Rangga, sambil menatap tajam lawannya.
"Yiaaah...!"
"Hup!"
Rangga melompat ke atas ketika serangan bambu datang kembali. Sengaja dipilihnya tempat berlindung yang dekat dengan tempat Raja Penyair nangkring. Sehingga....
Prak! Prasss! "Kampret!" maki Raja Penyair ketika batang bambu si Mayat Hidup bergerak cepat memapas dahan yang digunakan untuk nangkring. Untungnya, dia telah melompat ke udara.
"Hati-hati, Raja Penyair! Rupanya dia tertarik denganmu!" teriak Rangga, sedikit meledek.
"Diam kau, Anak Muda!" umpat Raja Penyair, begitu mendarat.
"Ah! Jangan begitu, Sahabat. Maafkan aku...," sahut Rangga seraya bergerak cepat menghampiri.
Baru saja Rangga tiba di samping Raja Penyair, saat itu juga bambu panjang yang bisa digunakan sebagai senjata oleh si Mayat Hidup, bergerak cepat menyambar.
Wutt! Siasat Rangga yang menuju ke arah Raja Pe?nyair mengena. Pemuda itu agaknya sengaja melibatkan Raja Penyair dalam pertarungan.
"Iblis licik!" umpat Raja Penyair seraya melen?ting ke belakang menjauhi. Begitu mendarat, tubuh?nya berkelebat cepat meninggalkan tempat ini.
"Hei! Mau ke mana kau"! Bukankah kita kawan seperjalanan"! Kalau kau pergi, aku pun ikut!" teriak Rangga, juga mengikuti gerakan Raja Pe?nyair.
"Bangsat! Jangan dikira kalian bisa pergi se?enaknya setelah mempermainkan ku!" teriak si Ma?yat Hidup sambil mengejar.
"Siapa yang pergi" Aku mau mengejar kawanku dulu!" sahut Rangga, langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling tinggi.
Karena tak mampu mengejar, si Mayat Hidup kesal bukan main. Kekesalannya langsung dilampiaskan pada pohon-pohon di sekitarnya yang men?jadi korban babatan enggrangnya.
Rangga dan Raja Penyair bukan takut mengha?dapi si Mayat Hidup. Pada saat ini mereka tengah diburu waktu. Bertarung dengan tokoh sesat tadi, sama saja membuang-buang waktu. Makanya me?reka merasa lebih baik menunda pertarungan.
? *** ? Cadas Pangeran yang mereka tuju lumayan jauh. Namun dengan kelebatan tubuh yang disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh, menjelang te?ngah malam Rangga dan Raja Penyair tiba di pegunungan sekitar Cadas Pangeran.
"Tempat ini bernama Wadah Karangka. Hati-hati! Salah-salah kau bisa pulang tinggal nama...!" ingat Raja Penyair.
"Kenapa?"
"Di sini tempat tinggalnya si Setan Belang Pemakan Tulang!"
"Wuih! Nama yang seram!" Rangga pura-pura bergidik ketakutan. "Kenapa kau memilih jalan yang berbahaya?"
"Ini jalan terdekat menuju Cadas Pangeran. Dengan lewat sini, perjalanan kita semakin dekat."
"Semakin dekat ke neraka"!"
Raja Penyair tertawa dan terus melangkah memasuki semak belukar.
Tempat ini masih asing bagi Rangga meski telah sering mendengar keangkerannya. Alam yang tidak bersahabat dan binatang buas yang banyak berkeliaran semakin membuat orang enggan mengunjunginya. Kecuali, mereka yang memang hendak bunuh diri.
"Kita berhenti di sini dulu...," usul Rangga dengan suara agak keras.
"Ssst! Pelankan suaramu. Kau mau kehadiran kita diketahui"!" seru Raja Penyair.
"Diketahui siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan si Setan Belang Pema?kan Tulang!"
"Oh...!" Rangga pura-pura pilon. "Kau takut padanya?"
"Aku hanya tak ingin cari gara-gara!" desis Raja Penyair.
"Kalau dia yang cari gara-gara lebih dulu?"
"Dia tak akan can gara-gara kalau kita tak memulainya!"
"O, begitu! Misalnya bagaimana?"
"Dengan suaramu yang keras, berarti menyinggung perasaannya. Kalau kita bersuara keras sama artinya kita tak takut padanya. Dan itu diartikan sebagai mencari gara-gara!" jelas Raja Penyair.
"Tapi kita 'kan tak bermaksud cari gara-gara"!" tukas Rangga. Entah kenapa suaranya dikeraskan.
"Ssst! Sudah kuperingatkan. Jangan bicara keras-keras!"
"Oh! Maaf...!"
Sesaat mereka terus berjalan tanpa saling bi?cara. Keadaan jalan mulai sulit. Kadang menurun, dan kemudian menaik melewati celah-celah sempit di lereng bukit. Terpeleset sedikit saja, maka jurang menganga akan siap menelan.
"Kita istirahat saja dulu...," usul Rangga.
"Sebentar lagi sampai. Kita harus menyergap, sebelum orang-orang itu bersiaga!"
"Kau hendak menggunakan siasat itu?" tanya Rangga.
"Apa kau kira aku akan datang terang-terang lalu mengutarakan maksud dan menantang mereka bertarung"!" cibir Raja Penyair.
"Bukan begitu maksudku. Kalau ingin mengagetkan mereka, tunggu waktu beberapa saat lagi...."
"Apa maksudmu?"
"Berapa lama lagi tiba di sana?"
"Kita akan melalui jalan di sebelah kanan yang menurun dan bertebing tidak terlalu curam. Kalau mau sedikit saja mengerahkan ilmu meringankan tubuh, kita akan tiba di bawah tidak sampai sepenanakan nasi."
"Kita istirahat. Dan kira-kira dua kali penanakan nasi sebelum subuh, kita menyergap ke sana. Biasanya suasana seperti itu sedang enak-enaknya tidur. Kalau sekarang ke sana, kemungkinan satu dua orang masih ada yang berjaga-jaga. Dan..., katamu tak mau mengalami kesulitan seandainya me?reka mengetahui kehadiran kita!" papar Rangga.
"Encer juga otakmu!" puji Raja Penyair.
Rangga tersenyum.
*** ? "Kau boleh tidur di sini kalau suka...," ajak Rangga, menawarkan.
"Huh! Aku tak sudi tidur di dekatmu!" dengus Raja Penyair seraya mencari tempat lain. "Hei, awas! Jangan tidur kau!"
Tapi terlambat, Rangga kini sudah memperdengarkan dengkuran halus dengan napas halus turun naik.
"Brengsek!" umpat Raja Penyair kesal.
Kalau tidak ingat bahwa Raja Penyair membutuhkan Pendekar Rajawali Sakti, sudah sejak tadi ditinggalkannya. Raja Penyair memang bukanlah jenis orang penyabar. Itu sebabnya hatinya kesal saat Rangga mengajaknya beristirahat.
Pelan-pelan laki-laki bertopeng ini merebahkan diri. Hela nafasnya terasa panjang. Tubuhnya di selonjorkan untuk mengendurkan otot-otot yang kaku selama di perjalanan. Rasa kantuk mulai menguasai matanya yang sesekali terpejam. Sesekali diliriknya pemuda itu. Terlihat Rangga tidur pulas. Dan baru saja perhatiannya beralih ke tempat lain....
Swing! "Heh"!"
Raja Penyair terkesiap saat terdengar bunyi mendesing halus. Belum sempat bisa menduga apa yang terjadi, beberapa helai daun tampak rontok dalam keadaan terpotong!
"Jangan-jangan si Setan Belang Pemakan Tu?lang mengetahui kehadiranku di sini...!" desis Raja Penyair, seraya bangkit. Segera dicarinya tempat yang tersembunyi. Tak dipedulikan lagi Pendekar Rajawali Sakti yang masih terlelap. Dan baru saja dia bersembunyi....
"Heaaa...!"
"Haahhh...!"
Beberapa saat kemudian terdengar teriakan-teriakan keras yang disusul terpentalnya beberapa buah batu sebesar kepalan tangan.
"Ini yang ingin ku hindari. Dasar bocah breng?sek! Tak mau diatur! Baru rasa dia!" umpat Raja Penyair di tempat persembunyiannya.
Dengan segan, Raja Penyair keluar dari persembunyian. Segera dihampirinya suara ribut-ribut tadi. Tampak dua orang tengah bertempur seru. Yang seorang memakai rompi putih. Di pung?gungnya tersandang sebilah pedang. Siapa lagi ka?lau bukan Pendekar Rajawali Sakti" Sedangkan lawannya bertubuh agak besar dengan kepalan ta?ngan sebesar semangka. Gerakannya gesit dengan tenaga kuat. Terasa dari desir angin kencang yang ditimbulkannya. Di samping itu beberapa buah senjata rahasia terbuat dari lempengan baja tajam berbentuk bulan sabit tampak berseliweran menyerang Pendekar Rajawali Sakti.
Seketika Raja Penyair menggesek rebab, se?hingga mengeluarkan irama tajam laksana sengatan seekor lebah. Terasa di telinga lalu terus menusuk jantung.
"Setan alas!"
Orang yang bertarung melawan Pendekar Raja?wali Sakti memaki geram. Telinganya seperti ditusuk-tusuk.
"Hiih!"
Siiuut! Begitu tangan kanan orang bertubuh besar itu mengibas, maka beberapa buah senjata rahasia melesat ke arah Raja Penyair.
Raja Penyair mengibaskan penggesek.
Tang! Tang! Beberapa buah senjata rahasia itu terpental, terhantam penggesek rebab Raja Penyair.
"Bangsat keparat! Rupanya kau masih berani menampakkan diri lagi di depanku, heh"!"
Saat itu juga terdengar bentakan keras menggelegar.
"Raksasa goblok! Buat apa aku mesti takut segala padamu"!" sahut Raja Penyair.
"Setan! Akan kulumat batok kepalamu!"
Suara gemuruh yang keluar dari amarah meledak-ledak dalam dada, tertumpah dalam serangan kilat yang diiringi desir angin kencang laksana badai topan dari sosok tinggi besar itu.
"Hup!"
Raja Penyair terkejut. Cepat dia melompat ke samping, mendekati Pendekar Rajawali Sakti.
"Hei! Mau ke mana kau, Buto Ijo"!" teriak Pen?dekar Rajawali Sakti.
Tapi laki-laki tinggi besar itu tak menghiraukannya. Kini perhatiannya tertuju pada Raja Penyair.
? *** ? 3 ? Namun pada saat yang sama Raja Penyair pun telah bergerak menyerang. Tubuhnya meluruk ce?pat sambil memutar-mutar penggesek rebab di tangannya. Sehingga bentuknya berubah bagaikan senjata pedang bermata dua.
Bet! Bet! "Hup!"
Laki-laki bertubuh besar ini membatalkan se?rangannya. Cepat dia melompat ke belakang menghindari. Namun Raja Penyair tak memberi kesempatan. Dia lompat lebih tinggi seraya mengayunkan penggesek rebabnya.
Wut! Wut! Dengan gerakan cepat, orang bertubuh tinggi besar itu menjatuhkan diri seraya berguling-gulingan. Namun saat dia melenting bangkit, Raja Penyair sudah meluncur ke arahnya dengan satu tendangan menggeledek.
Des! "Aduuuh!"
Manusia bertubuh besar itu terhuyung-huyung ke belakang sambil mengeluh kesakitan. Sebelum orang itu bisa berbuat banyak, Raja Penyair kembali melepas tendangan silang sambil berputar.
Jdaaag! "Wuaaakh...!"
"Orang sepertimu lebih baik mampus!" dengus Raja Penyair, sambil menatap orang tinggi besar yang terjungkal sampai dua tombak disertai pekikan tertahan.
Namun tanpa diduga, orang tinggi besar itu ma?sih sempat mengibaskan tangannya yang begitu ce?pat
Set! Set! Seketika meluruk sinar keperakan yang ti?dak lain senjata-senjata rahasia ke arah Raja Penya?ir.
"Heit! Kurang ajar!"
Raja Penyair terkesiap. Buru-buru dia menja?tuhkan diri ke samping, langsung berguling-guling. Senjata-senjata rahasia itu memang berhasil dihindari. Namun, salah satunya tepat menghantam sebuah tali.
Tas! Broil! Begitu tali putus, saat itu juga sebatang pohon kecil sebesar lengan menyambar dari arah samping ke arah Raja Penyair. Bahkan diikuti oleh longsoran batu-batu sebesar kepala kerbau dari tebing di atas mereka.


Pendekar Rajawali Sakti 211 Harpa Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Manusia terkutuk! Kulumat tubuhmu nanti!" umpat Raja Penyair, seraya melompat tinggi menghindari sambaran pohon.
Begitu Raja Penyair mendarat, harus pula menghindar setiap batu yang mengancamnya. Dia berlompatan ke sana kemari.
Setelah serangan bebatuan reda, Raja Penyair langsung meluruk melakukan serangan. Terpaksa orang bertubuh besar itu bermain mundur. Selain telah terluka dalam, serangan Raja Penyair memang hebat sekali. Apalagi laki-laki bertopeng itu sudah marah bukan main.
Tanpa disadari, orang bertubuh besar itu terus melangkah mundur sambil menahan serangan. Dan berarti itu mendekati bibir jurang. Selanjutnya.... "Aaa...!"
Orang bertubuh tinggi besar itu terperosok, ketika Raja Penyair menggertak dengan sebuah ten?dangan menggeledek. Tubuhnya langsung jadi santapan mulut jurang yang menganga. Sementara di bawahnya telah menanti batu-batu runcing yang tajam.
? *** "Diakah yang kau sebut Setan Belang Pemakan Tulang?" tanya Rangga tersenyum, memuji da?lam hati kehebatan Raja Penyair. "Kepandaiannya ternyata tak terlalu tinggi."
"Kau salah! Kalau Setan Belang Pemakan Tu?lang yang muncul, riwayat kita akan sampai di sini. Itu salah seorang muridnya!" sergah Raja Penya?ir.
"Muridnya?" Rangga melongo takjub.
Ya! Dia punya tiga belas murid yang berkepandaian berbeda-beda. Kalau tadi adalah murid?nya yang keenam. Kalau sampai kita bertemu murid kelima, keempat, dan seterusnya, maka keadaan kita tidak menguntungkan. Karena itu jangan tunda lagi! Ayo, lekas tinggalkan tempat ini buru-buru!" jelas Raja Penyair.
"Baiklah," desah Pendekar Rajawali Sakti.
Tanpa membuang waktu lagi mereka segera menuruni lereng yang tidak terlalu curam. Dan dalam beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah dataran yang agak luas. Dari situ terlihat beberapa buah obor terpasang di depan tiap-tiap rumah.
"Perkampungan inikah yang kau maksud?" tanya Rangga setengah berbisik.
Raja Penyair mengangguk.
"Namanya perkampungan Kidung Bahana."
Rangga mengangguk. Dalam hati dia membenarkan ketika mendengar irama gending mengalun tenang, meningkahi suara unggas malam yang hampir berakhir. Karena akan berganti subuh. Udara dingin pada saat ini betul-betul dingin menggigit
"Kita ke sana sekarang! Ingat! Jangan berisik dan jangan membuat gerakan-gerakan mencurigakan!"
'Tenang saja, Raja Penyair!"
Dengan gaya pencuri kawakan, keduanya menyelinap di antara rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bilik bambu. Beberapa kali bola mata mereka memandang ke sekeliling tempat, kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan.
"Di mana mereka menyekapnya?"
"Di samping bangunan paling besar itu!" tunjuk Raja Penyair.
Rangga melihat sebuah bangunan paling besar yang tidak dijaga oleh seorang pun. Kelihatan sepi dan lengang. Tapi bangunan di sebelahnya justru dijaga ketat. Bangunan itulah yang ditunjuk Raja Penyair.
"Bangunan utama yang besar itu tempat tinggal kepala kampung. Sedangkan yang di sebelahnya itu penjara!" jelas Raja Penyair.
"Siapa kepala kampung di sini?" tanya Rangga.
"Mana ku tahu"!"
"Lalu, kenapa kau hafal jalan ke sini" Tempat ini terpencil. Dan aku pun heran kalau di sini ada perkampungan. Jalan masuknya susah. Bahkan ja?lan keluarnya pun sama sulitnya. Orang-orang biasa rasanya tak akan mau tinggal di sini."
"Aku berhasil menguntit salah seorang. Dan ketika hendak membebaskan orangtua serta keka?sihku, mereka memergokinya. Saat mereka berusaha menangkap, untung aku berhasil kabur!"
"Ooo...!" Pendekar Rajawali Sakti mengangguk kecil.
"Sudahlah! Jangan bicarakan soal itu. Seka?rang tujuan kita sudah jelas. Ada kurang lebih dua belas yang berjaga di sana. Kita lewat samping. Dan kukira, di situ cuma ada empat orang. Kita bagi tugas. Jadi, satu orang menghadapi dua penjaga. Kau mampu membungkam keduanya sekaligus tanpa menimbulkan suara berarti?" ujar Raja Penyair.
"Kita coba!" sahut Rangga, tak ingin menjanjikan.
Mereka segera memutar melewati jalan sam?ping. Dan sejauh ini tak seorang pun yang terlihat. Sehingga keduanya bergerak dengan leluasa.
"Hup!"
Raja Penyair lompat ke atas pagar tembok setinggi satu tombak. Begitu mendarat matanya mengamati keadaan di bawah. Lalu tatapannya beralih pada Rangga sambil mengembangkan kelima jari tangan. Dengan bahasa isyarat dia menunjuk bagiannya tiga orang. Sedangkan Rangga sisanya.
"Hup!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas. Setelah Raja Pe?nyair memberi isyarat, keduanya melompat turun tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sasaran me?reka adalah lima penjaga yang tengah terkantuk-kantuk. Tapi dua di antaranya tegak berdiri dengan sikap waspada.
"Hei"!"
"Hiih!"
Kedua penjaga itu tersentak ketika dua sosok bayangan berkelebat. Dan sebelum mereka berbuat sesuatu...
Dess! Desss! "Aaakh...!"
Kedua penjaga itu kontan ambruk disertai keluhan tertahan. Dan suara keluhan itu rupanya ter?dengar oleh tiga penjaga yang terkantuk-kantuk. Namun sebelum mereka benar-benar tersadar, Raja Penyair dan Rangga segera membereskan de?ngan cepat.
? *** ? "Hup!"
Selesai membereskan kelima penjaga itu, Raja Penyair melompat ke atas atap. Sambil merebahkan diri, dibukanya atap terbuat dari genteng. Lalu tubuhnya masuk ke dalamnya.
Sementara Pendekar Rajawali Sakti menunggu di bawah dengan mata nyalang mengawasi keadaan sekitarnya. Raja Penyair agak lama di dalam. Entah dia berhasil atau tidak. Tapi sesaat kemudian terdengar suara ribut-ribut.
"Heh"!"
Rangga cepat melompat ke atas genteng. Na?mun begitu mendarat, sesosok tubuh tampak keluar dari atap.
"Hei"!"
"Wah, barabe!" seru Rangga ketika orang menoleh. Terlihat seraut wajah marah dari seorang la?ki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun.
"Ini malingnya! Tangkaaap...!" teriak laki-laki itu.
Selesai berteriak orang itu langsung melenting dan menyerang. Bahkan kemudian tak lama berlompatan beberapa sosok tubuh ke atap genteng, langsung membentuk lingkaran seperti tak memberi jalan keluar sedikit pun pada Pendekar Rajawali Sakti. Dari cara melayang dan hinggap tanpa memecahkan genteng, bisa ditaksir kalau ilmu meringankan tubuh mereka tidak bisa dipandang enteng.
"Yeaaa!"
Plak! Wut! Serangan yang datang begitu gencar dan bertenaga kuat. Namun, Rangga masih mampu menghindar dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Bahkan segera balas menyerang cepat dengan se?buah tendangan ke dada.
"Hiih!"
Orang yang jadi sasaran menghindari dengan mencelat ke atas. Seketika Pendekar Rajawali Sakti berjungkir balik dengan kedua telapak tangan bertumpu permukaan genteng. Dan mendadak kedua kakinya menghantam ke arah perut, saat orang itu mendarat.
Duk! Des! "Wuaaakh...!"
Begitu salah seorang terpental roboh dan ambruk ke bawah, saat itu juga dua orang lainnya me?nyerang Pendekar Rajawali Sakti.
"Heaaa...!"
Seperti orang pertama tadi, mereka tidak menggunakan senjata apa pun. Namun begitu, serangan-serangan mereka tak bisa dipandang enteng. Bersamaan dengan serangan yang dilakukan, yang lain pun membunyikan bunyi-bunyian berupa suling, harpa, rebab, kecapi, gending dan sebagainya.
Saat itu juga suasana di subuh yang gelap ini benar-benar hiruk-pikuk saling sambung-menyam?bung satu sama lain. Kalau saja terdengar seperti biasa, maka segalanya akan terasa indah. Namun tidak demikian yang dialami Rangga. Irama itu bu?kan sembarangan, karena disertai tenaga dalam dahsyat.
"Aaakh...!"
Pendekar Rajawali Sakti mengeluh sambil menutup kedua telinga. Namun irama itu seperti menyentak-nyentak seluruh urat syarafnya.
"Hup!"
Seketika Pendekar Rajawali Sakti mulai mengerahkan tenaga dalamnya sambil menangkis serang?an-serangan dengan kedua kaki.
"Hiih!"
Plak! Plak! Anehnya, suara-suara merdu itu sama sekali tidak mempengaruhi kedua lawan-lawannya. Dan itulah yang membuat Pendekar Rajawali Sakti takjub bukan main.
"Suatu pengerahan tenaga dalam yang hebat! Suara-suara itu sampai mampu mempengaruhi ku, namun sama sekali tidak mengusik mereka!"
Sementara alunan bunyi-bunyian masih terus dimainkan. Dan lambat tapi pasti, keadaan Pende?kar Rajawali Sakti semakin terdesak hebat.
"Kurang ajar! Ke mana Raja Penyair"! Apakah dia tertangkap atau melarikan diri"!"
Tak banyak waktu bagi Pendekar Rajawali Sak?ti untuk bertanya. Karena saat itu juga kedua lawannya telah meluruk menyerang. Secepatnya Rangga membuat kuda-kuda rendah. Begitu se?rangan mendekat, langsung dibukanya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. "Heaaa...!"
Dengan mengerahkan tenaga dalam di kedua telinga untuk menahan serangan suara, serta untuk melepas serangan, Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas sambil berputaran di udara. Dan pada jarak tertentu, kedua tangannya mengibas dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang begitu cepat. Dan....
"Heaaa...!"
Wuusss! Prak! Prak! "Aaa...!"
Kedua lawan Pendekar Rajawali Sakti kontan terjungkal dengan kepala pecah berlumuran darah. Suara lengkingan menyayat mengiringi saat tubuh mereka menggelinding ke bawah.
Sementara Pendekar Rajawali Sakti yang merasa sudah kepalang basah segera meluruk ke bawah. Namun baru saja mendarat"..
"Ha ha ha...!"
"Hmm...!"
*** ? Selanjutnya Bagian 4-6
? Harpa Neraka Pendekar Rajawali Sakti
Articles de Pendekar Rajawali Sakti
Bahasa Indonesia
s ? 2017 . 211. Harpa Neraka Bag. 4-6
2. August 2015 um 08:56
4 ? "Rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.... Hm, hebat sekali! Aku pernah mendengar jurus-jurus itu, Anak Muda! Kaukah yang belakangan ini dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti?"
Rangga memperhatikan laki-laki berusia sekitar tujuh puluh tahun di hadapannya dengan kening berkerut. Laki-laki tua itu berbaju putih agak kemerahan. Dandanannya resik. Rambut panjangnya yang telah memutih disanggul ke belakang de?ngan menyisakan sedikit untuk menutupi tengkuknya. Hal yang paling menarik darinya adalah sebuah harpa di tangan kirinya.
"Sungguh jeli matamu melihat seseorang, Ki. Kalau boleh tahu, siapa kau sebenarnya?" tanya Rangga, kalem.
"Aku Ki Niti Sabdo. Dan orang-orang mengenalku sebagai Harpa Neraka!"
"Harpa Neraka"!" ulang Rangga, agak terkejut. "Hm.... Nama besarmu memang pernah kudengar...."
Puluhan tahun lalu nama itu memang pernah menggetarkan rimba persilatan. Dan semua orang lebih baik menyingkir bila bertemu dengannya. Orang ini pun terkenal berwatak kejam. Selama malang melintang di dunia persilatan, entah berapa ratus nyawa yang melayang di tangannya.
"Telah lama dia menghilang. Dan kukira tokoh ini telah mati. Tapi siapa nyana aku akan bertemu di sini?" gumam Rangga dalam hati.
"Sungguh membuatku kagum, karena bocah sepertimu kenal denganku. Padahal, ketika aku ma?lang melintang di dunia persilatan, kurasa kau be?lum nongol di jagat ini!" puji laki-laki tua bernama Ki Niti Sabdo yang dikenal sebagai Harpa Neraka.
"Merupakan suatu kehormatan buatku, bisa berjumpa denganmu, Harpa Neraka," kata Rangga, tanpa menghilangkan kewaspadaannya.
Harpa Neraka terkekeh. "Mestinya aku suka padamu, Bocah. Dalam usia seperti sekarang namamu betul-betul membuatku iri. Tapi mengingat kelakuanmu, betul-betul membuatku muak! Dan un?tuk itu aku tak bisa membiarkannya!"
"Setiap orang punya tujuan hidup yang diyakini. Kalau dia menyimpang dari tujuannya, maka tak akan pernah berhasil mencapai cita-cita."
"Apakah tujuan hidupmu menjadi pencuri ulung"!" sindir Harpa Neraka.
"Tentu saja tidak! Tapi kurasa itu yang menjadi tujuan hidupmu! Kau culik kekasih orang. Lalu, kau culik kedua orangtuanya. Dan aku punya kewajiban membebaskan mereka!" kilah Rangga.
"Aku menculik seseorang"!" Ki Niti Sabdo terkejut. Dahinya langsung berkerut. "Ha ha ha...! Sungguh kurang ajar kau, Bocah! Berani-beraninya malah balik menuduhku sebagai penculik!"
"Ki Niti Sabdo! Boleh jadi namamu menggetarkan setiap orang. Tapi kau tak bisa berbuat seenak perutmu! Kau harus bebaskan mereka se?karang juga!"
"Aku akan bebaskan mereka. Tapi, tunjukkan padaku satu bukti kalau aku menculik seseorang?" tukas Ki Niti Sabdo.
Rangga terdiam. Isi kepalanya bingung karena memang tak punya bukti kalau orangtua ini mencu?lik seseorang. Satu-satunya saksi hanyalah Raja Penyair. Tapi orang itu kini entah ke mana"
"Sial! Ke mana dia pergi"!" rutuk Rangga geram, di dalam hati.
"Bagaimana" Apakah kau bisa menunjukkannya padaku?" usik Harpa Neraka.
"Kalau bukti itu memang tak ada. Tapi ada saksi yang memberatkan mu!"
"Siapa?"
"Raja Penyair!"
"Raja Penyair?" Ki Niti Sabdo terkekeh geli. "Jadi bocah nakal itu yang kau jadikan saksi?"
"Ya! Kekasih dan orangtuanya yang kau culik!"
"Dan kau percaya?"
"Kenapa tidak"! Kau terkenal karena kekejamanmu. Dan, bisa berbuat apa saja yang kau suka!"
"Ha ha ha...! Aku memang kejam, Bocah. Tapi aku tak pernah menculik siapa pun seumur hidupku! Orang-orang yang datang ke perkampungan ini dengan susah-payah. Tidak pernah ku paksa dan kuculik. Mereka datang dengan suka rela. Sebagian malah kutolak, karena aku tidak berkenan. Bagai?mana mungkin aku menculik seseorang?"
"Semua orang bisa bicara untuk berdalih. Ke?napa aku mesti percaya omongan mu?"
"Baiklah, baiklah...! Ada beberapa hal yang mungkin akan meyakinkanmu. Sudah berapa lama kau mengenal bocah bernama Raja Penyair itu?"
"Itu bukan urusanmu!"
"Apa cukup untuk mengetahui kalau dia ditinggal mati ibu bapaknya sejak bayi" Apa cukup untuk kau ketahui, kalau dia tak punya sanak saudara"!"
"Kau cuma mengada-ada, Ki Niti Sabdo! Percuma untuk mempengaruhiku!"
"Bocah itu kupungut sejak bayi di sebuah per?kampungan! Kubesarkan dengan kasih sayang, kudidik seperti cucuku sendiri. Dan sebagai rasa terima kasih, dia kabur. Kemudian dia mencuri benda pusaka yang dimiliki perkampungan ini! Apakah kau mempercayai orang seperti itu"!" sentak Ki Niti Sabdo, lantang. "Kau pendekar muda yang kudengar harum namanya. Apakah hatimu membenarkan tindakannya"! Tidak malukah kau pada dirimu sendiri"!'
? *** ? Rangga terdiam mendengar tangkisan Harpa Neraka yang menggugah kesadarannya. Hatinya betul-betul malu karena telah berburuk sangka terhadap Harpa Neraka tanpa ada bukti. Dan untuk saat ini dia tak tahu mesti berbuat apa.
"Apakah kau betul-betul mengenalnya...?" ta?nya Rangga dalam kebimbangan.
"Masuklah ke pondokku. Akan kuperlihatkan padamu bahwa aku tak berdusta soal ini...," ajak Ki Niti Sabdo, langsung berubah ramah.
Pendekar Rajawali Sakti bimbang untuk mengikuti. Tapi ketika melihat sinar kesungguhan pada pancaran mata laki-laki tua itu, dia pun segera melangkah.
"Silakan masuk! Kau menjadi tamu kami saat ini!" ucap Ki Niti Sabdo seraya menjajari langkah pemuda itu ke bangunan utama. Sementara yang lain mengiringi dari belakang.
"Siapa namamu?" tanya Ki Niti Sabdo, halus.
"Rangga," sahut Pendekar Rajawali Sakti.
"Jangan malu-malu! Anggap saja di tempat sendiri!"
"Terima kasih!"
Ki Niti Sabdo mengajak tamunya ke sebuah ruangan. Begitu sampai, dia memanggil seorang anak buahnya.
"Panggil Nyai Senah kemari!" perintah laki-laki tua ini, saat salah seorang anak buahnya mendekat.
"Baik, Ki!" sahut pemuda anak buah Harpa Neraka seraya berlari.
Rangga dan Ki Niti Sabdo memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu kecil. Di situ terdapat se?buah tempat tidur, lemari, dan meja.
"Di sini dia dibesarkan. Ini kamarnya...," jelas Harpa Neraka.
"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.
"Saraswati...."
"Saraswati"!"
"Orang yang kau sebut sebagai Raja Penyair."
"Jadi..., jadi dia betul-betul perempuan"!" Rangga melengak, tak menyangka kalau Raja Pe?nyair seorang perempuan.
Ki Niti Sabdo tersenyum. "Kau bahkan tidak mengetahui kalau dia perempuan."
Mendengar itu Rangga jadi malu hati.
Pada saat itu muncul seorang wanita setengah baya ke dalam ruangan. Sejenak dia memberi hormat dengan merapatkan tangan di depan hidung.
"Hamba menghadap, Ki...!" ucap perempuan itu.
"Nyai Senah! Tahukah kau, kamar siapa ini?" tanya Ki Niti Sabdo, langsung.
"Tentu saja hamba mengetahuinya, Ki. Ini adalah kamar Saraswati...," sahut perempuan bernama Nyai Senah.
"Katakanlah pada tamu kita ini, bagaimana aku mendidik dan membesarkannya dengan kasih sayang. Lalu, katakanlah. Apa balasan yang kuterima darinya," ujar Harpa Neraka.
"Ki Niti Sabdo memungutnya dari bayi. Lalu, mendidiknya dengan baik hingga menjadi gadis dewasa. Tapi suatu hari, Saraswati tiba-tiba saja kabur dan berusaha mencuri benda pusaka yang dimiliki Ki Niti Sabdo. Aku mengetahui sejak kecil kalau dia memang berwatak nakal dan tidak tahu memba?las budi. Aku tahu semua wataknya, karena menga?suhnya sejak kecil," jelas Nyai Senah.
"Nah! Telah kau dengar, bukan" Kini akan kutunjukkan padamu, benda apa yang dicuri oleh Saraswati. Mari!"
Ki Niti Sabdo beranjak dari ruangan itu, dan Rangga mengikutinya.
*** ? "Di sini aku menyimpan benda-benda pusaka yang kumiliki sejak aku masih muda...," jelas Ki Niti Sabdo, begitu memasuki ruangan dari bangun?an yang tadi dimasuki Raja Penyair.
Rangga meneliti dengan seksama benda-benda pusaka yang terpajang di dinding atau di dalam peti-peti berukir. Rata-rata merupakan alat-alat seperti harpa, rebab, kenong, siding, dan lain sebagainya.
"Jadi pusaka apa yang dicuri Saraswati?" tanya Rangga.
"Sebuah pusaka langka. Dan ada di antara pusaka-pusaka yang ku rawat dengan baik. Mari!" ajak laki-laki tua itu, membawa Rangga ke dalam sebuah ruangan.
Mereka tiba di sebuah ruangan yang di depan pintunya tertulis nama benda pusaka yang dimaksud.
"Di situ! Kau bisa melihatnya!" tunjuk Ki Niti Sabdo.
"Rebab Swara Buana!" baca Rangga di depan pintu ruangan tempat penyimpanan pusaka-pusaka langka.
"Ya! Sejak dulu dia amat menginginkannya. Namun aku tak memberikan. Alasannya sederhana. Karena aku tak pernah memberikan pusaka-pusaka ini kepada siapa pun!" jelas Harpa Neraka.
Ki Niti Sabdo menyuruh seorang anak buahnya membuka pintu. Begitu pintu terbuka Harpa Nera?ka mengantar Rangga memasuki sebuah ruangan kecil yang terdapat sebuah peti coklat berukir. Anak buah Harpa Neraka segera membukanya. Ternyata, di dalam peti itu tidak terlihat apa pun.
"Kau lihat, bukan?"
Rangga mendekat untuk memastikannya lebih jauh tanpa rasa curiga sedikit pun. Justru pada saat itu Ki Niti Sabdo bersama anak buahnya menjauhi pintu. Lalu....
Drr...! Jreg! "Hei"!"
Rangga menoleh dan terkejut bukan main saat pintu yang diiringi kerangkeng besi bergerak menutup.
"Ki Niti Sabdo, buka pintu ini! Jangan main-main kau...!" bentak Rangga, garang.
"Aku tak main-main! Siapa pun yang masuk ke tempatku dengan niat buruk, atau membantu seseorang yang berniat buruk, maka akan menanggung akibatnya. Tidak terkecuali kau!" sahut Ki Niti Sabdo dari balik pintu.
"Kurang ajar!"
Rangga berniat akan menghancurkan pintu besi itu. Tapi sebelum bergerak, mendadak telinganya mendengar petikan suara harpa yang begitu menusuk-nusuk perasaannya. Sejenak Pendekar Ra?jawali Sakti tersentak namun selanjutnya kepalanya jadi berdenyut-denyut. Tubuhnya terhuyung-huyung ke sana kemari. Sambil menutup telinganya. Dicobanya untuk mengerahkan tenaga dalam, namun tetap saja suara petikan harpa itu terus menyiksanya!
"Oh.... Kenapa aku jadi bodoh begini" Kenapa aku gampang percaya padanya..."!" keluh Rangga.
"Pendekar Rajawali Sakti! Boleh jadi kau pen?dekar tersohor! Tapi jangan dikira bisa mengalahkan aji 'Petikan Harpa Neraka'ku. Bahkan sampai tenaga dalammu terkuras habis, kau tak akan mampu bertahan!" teriak Ki Niti Sabdo dari balik pintu, sambil memainkan harpanya.
"Licik!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Rangga.
"Ha ha ha...! Sampai kapan kau akan berta?han, Bocah" Ayo, kerahkan seluruh kemampuanmu!" teriak Ki Niti Sabdo lagi.
"Hukh...!"
Rangga terhuyung-huyung ke pojok ruangan. Lalu duduk bersila. Diambilnya sikap bersemadi un?tuk mengerahkan hawa murni. Dengan seluruh ke?kuatan yang ada dia berusaha menahan getaran te?naga dalam yang disalurkan lewat suara petikan harpa itu.
Ohh...! Aku harus bisa mengatasi suara harpa ini!" desis pemuda itu, mantap.
Tapi saat Rangga akan berhasil mengatasi suara harpa, kembali terdengar suara-suara lain yang berirama teratur, namun mengandung getaran tena?ga dalam.
"Uhh...!"
Tubuh Pendekar Rajawali Sakti kini menggigil. Dari hidungnya mulai mengucur darah segar. Na?mun begitu, pemuda ini masih terus berusaha bertahan.
"Hoeekh. ,!"
Tapi saat itu juga menyembur darah kental merah kehitam-hitaman dari mulut Pendekar Raja?wali Sakti. Dan tubuhnya semakin bergetar seperti diserang demam hebat. Menahan denting harpa yang dimainkan Ki Niti Sabdo saja, dia sudah kewalahan. Apalagi, ada suara-suara lain yang memenuhi ruangan ini. Lambat laun tenaganya terkuras habis. Dan sampai pada suatu titik, Rangga benar?-benar tak kuat menahan getaran tenaga dalam le?wat permainan harpa dan bebunyian lain.
Ki Niti Sabdo masih duduk bersila di atas se?buah batu. Di belakangnya berdiri rapi beberapa orang anak buahnya yang juga memegang alat-alat bebunyian.
"Hmm...!"
Beberapa saat kemudian Ki Niti Sabdo menghentikan permainannya yang diikuti anak buahnya. Lalu kepalanya menoleh pada salah seorang anak buahnya.
"Buka pintunya!" perintah Harpa Neraka.
"Baik, Ki!"
Seseorang maju ke depan dan membuka pintu, tempat Pendekar Rajawali Sakti terkurung.
Yang terlihat kini adalah seorang pemuda berompi putih yang terkulai lesu tak berdaya dengan sekujur tubuh pucat bagai mayat. Dua orang menyeretnya ke hadapan Ki Niti Sabdo.
"Hm! Daya tahan pemuda ini benar-benar me?ngagumkan. Belum pernah ada yang sanggup bertahan dari aji 'Petikan Harpa Neraka' lebih dari lima kali hitungan. Benar-benar istimewa...!" puji Harpa Neraka sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa yang kita lakukan terhadapnya, Ki?" tanya seorang anak buahnya.
Tapi sebelum orang tua itu memutuskan sesuatu, sekonyong-konyong terdengar ribut-ribut da?ri luar. Saat itu juga muncul dua gadis tanggung. Yang di depan dikejar gadis yang ada di belakangnya. Tapi gadis yang di depan segera berlindung di balik tubuh Ki Niti Sabdo.
"Kakek, Kakek...! Kakak Sangkawangi mau memukulku...!" lapor gadis yang dikejar.
"Lulur Herang! Kemari kau!" bentak gadis yang mengejar, dan bernama Sangkawangi.
"Tidak mau!" sahut gadis yang dipanggil Lulur Herang.
"Kemari!" bentak Sangkawangi.
Tapi Lulur Herang tak kalah keras kepala.
"Tidak!"
"Dasar anak bandel. Kuhajar kau nanti!" ben?tak Sangkawangi.
Sangkawangi sudah mau melangkah dan menjambret baju gadis yang dikejarnya, namun....
"Sangkawangi, ada apa ini" Kenapa kau begitu galak pada adikmu?" cegah Ki Niti Sabdo, mena?han langkah Sangkawangi.
"Kakek tidak tahu masalahnya! Dia selalu membuatku jengkel!" kilah Sangkawangi.
"Apa yang diperbuatnya?" tanya Ki Niti Sabdo.
"Dia menumpahkan air ke mukaku, saat aku tengah tertidur pulas!"
Laki-laki tua itu menoleh pada Lulur Herang yang merapatkan tubuh padanya. Gadis itu yang tadi berani mengejek kakaknya, kini tertunduk. Tak berani dia menentang pandangan Ki Niti Sabdo.
"Benar apa yang dikatakan kakakmu, Lulur Herang?" tanya laki-laki tua itu.
"Habis..., Kakak Sangkawangi tak mau mengajariku bermain harpa. Dia selalu menunda dan terus menunda...!" gerutu Lulur Herang.
"Bukankah kau bisa berlatih dengan Kakek?"
"Kakek selalu sibuk dengan urusan sendiri!"
? *** ? 5 ? Ki Niti Sabdo terdiam. Ditariknya napas panjang dan dihembuskannya perlahan-lahan. Ucapan serta sikapnya terhadap Lulur Herang begitu lembut menandakan amat menyayangi gadis usia enam belas tahun itu. Dan gadis itu pun agaknya tahu betul kalau kakeknya amat sayang padanya. Sehingga setiap bicara tidak canggung-canggung lagi. Tidak seperti Sangkawangi yang masih menaruh perasaan segan. Sebaliknya, Lulur Herang selalu bicara ceplas-ceplos apa adanya.
"Sangkawangi, kembalilah ke tempatmu. Biar urusan ini Kakek selesaikan...," ujar Harpa Neraka, penuh wibawa.
"Baik, Kek!" sahut Sangkawangi.
Sebelum meninggalkan tempat itu, gadis ini masih sempat melirik pada adiknya. Dan Lulur Herang memencongkan mulut, mengejek kakaknya. Sehingga, semakin membuat Sangkawangi be?rang. Namun dalam keadaan seperti ini, dia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah kakeknya.
Setelah Sangkawangi berlalu, Ki Niti Sabdo memandang tajam pada Lulur Herang.
"Berapa kali Kakek harus memperingatkan padamu" Kalian tidak boleh mengganggu kalau Ka?kek sedang punya urusan...," desah Ki Niti Sabdo.
"Tapi kalau aku tidak ke sini, Kakak Sangka?wangi pasti akan memukulku, Kek!" kilah gadis itu.
"Itu karena kau salah!" tuding laki-laki itu.
"Habiiis...! Aku telah meminta padanya berkali-kali supaya mau mengajari. Tapi jawabannya selalu saja nanti, nanti, nantiii! Bosan mendengarnya!"
"Kau memang tidak sabaran. Mestinya kau ha?rus belajar bersabar."
Lulur Herang menunjukkan wajah cemberut mendengar nasihat kakeknya. Tapi perhatiannya tiba-tiba tertarik pada pemuda yang tergolek di lantai, tepat di depan kaki kakeknya.
"Astaga! Apa yang terjadi, Kek" Kenapa de?ngan pemuda ini"!" sentak gadis ini.
"Nah, nah...! Kau mulai mengacau urusan Kakek, bukan?" sergah Ki Niti Sabdo.


Pendekar Rajawali Sakti 211 Harpa Neraka di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tapi, Kek...."
"Ayo, lekas pergi dari sini! Jangan ganggu urus?an kakek!" tukas Ki Niti Sabdo dengan suara agak keras.
"Kakek membunuh pemuda ini"!" tanya Lulur Herang, ingin tahu.
"Tidak! Dia hanya seorang pencuri yang patut mendapat hukuman."
"Tapi dari mulut dan hidungnya keluar da?rah...?"
"Lulur Herang! Kau tak mau dengar kata-kata Kakek?"
"Tapi, Kek...."
"Lekas pergi!" bentak Ki Niti Sabdo, memenggal kalimat gadis itu.
"Ohh!" desah Lulur Herang.
Gadis itu terperanjat kaget mendengar bentakan kakeknya. Seumur hidung, belum pernah dia dibentak begitu oleh kakeknya. Apalagi di depan orang-orang. Tak heran kalau wajahnya langsung pucat Sorot matanya tajam memandang penuh kebencian terhadap laki-laki tua itu.
"Aku benci padamu! Aku benciii...!" teriak Lulur Herang nyaring sambil berbalik, lalu lari kencang dan menangis sesenggukan.
Ki Niti Sabdo menghela napas panjang sambil memandangi kepergian cucunya. Dia sadar apa yang dilakukannya. Seketika timbul penyesalan di hati. Tapi kalau tidak begitu, pertanyaan Lulur Herang akan terus memojokkannya.
"Ki...."
Seseorang laki-laki berusia tiga puluh dua tahun membuyarkan lamunan Harpa Neraka.
"Eh, ng..., ya!" sahut Ki Niti Sabdo tergagap.
"Pemuda ini...?" tanya laki-laki itu.
"O, ya! Bawa dia ke ruang tahanan dan beri perlakuan khusus. Ingat! Aku tak mau dia kabur," ujar Ki Niti Sabdo, tegas.
"Baik, Ki!"
Setelah anak buahnya pergi membawa Pende?kar Rajawali Sakti, laki-laki tua itu merenung. Na?mun sebentar kemudian dia bangkit, lalu keluar dari ruangan itu. Dengan langkah lebar Ki Niti Sabdo kembali ke ruangan utama, menuju ke sebuah ka?mar. Dari luar. masih terdengar isak tangis seorang gadis dari dalam.
"Lulur Herang, buka pintu...," pinta Ki Nib" Sabdo halus.
"Pergi! Pergiii...! Aku tak mau bertemu Kakek!" sahut gadis yang memang Lulur Herang.
"Lulur Herang.... Buka dulu pintunya. Kakek akan menjelaskannya padamu...," desak Ki Nib Sabdo, membujuk.
"Tidak! Aku tidak mau ketemu Kakek! Kakek jahat! Kakek tidak sayang lagi pada Lulur...!"
"Bukan begitu, tapi...."
"Pergiii...! Pergiii...!" bentak gadis itu dari dalam.
Buk! Jder! Teriakan itu disusul hantaman benda-benda ke arah pintu, membuat hati orang tua itu trenyuh. Ki Niti Sabdo masih berdiri mematung di depan pintu dengan kepala tertunduk. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, ketika meninggalkan pintu kamar itu perlahan-lahan.
Lulur Herang memang keras kepala. Adatnya seperti anak-anak nakal. Kemauannya mesti dituruti. Dan kalau tidak, maka hal-hal seperti tadi akan terjadi. Ki Niti Sabdo hanya bisa mengurut dada. Sama sekali tidak ada niat untuk menghukum tingkah cucunya meski terkadang amat kelewatan!
? *** ? "Uhh...!"
Rangga terjaga. Bukan karena tamparan atau siraman air, melainkan karena sengatan nada-nada harpa yang dimainkan Ki Niti Sabdo.
"Apa kabar, Bocah" Mudah-mudahan tidurmu nyenyak hari ini...," sapa Harpa Neraka sambil tersenyum dan menghentikan permainan harpa.
"Kau menang, Orang Tua! Tapi ingatlah! Kar?ma akan membalasmu. Kalaupun aku mati, tak nantinya orang-orang persilatan akan berdiam diri!" desis Rangga geram sambil berusaha melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya.
Kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti saat ini memang terbelenggu rantai besi yang dilekatkan erat-erat ke dinding ruangan. Demikian pula kedua kakinya.
"Lebih baik simpan tenagamu. Karena, kau akan banyak memerlukannya nanti," ujar Ki Niti Sabdo, tersenyum mengejek.
"Kenapa kau tidak langsung saja membunuhku?" desis Rangga, setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang marah.
"Membunuhmu" Kenapa aku mesti membunuhmu?" tukas Ki Niti Sabdo.
"Jadi apa maumu sebenarnya?"
"Kau terkena ajian ku, Bocah. Dan di dunia ini hanya aku yang memiliki pemunahnya. Hidupmu tergantung padaku...."
"Tidak perlu menakut-nakutiku, Tua Bangka Licik!"
Ki Niti Sabdo tersenyum tipis.
"Aku bukan menakut-nakuti. Tapi hidup ini ha?nya sekali. Dan mestinya kita habiskan untuk hal-hal yang indah dan bermanfaat. Kalau kau mati, hilanglah kesempatanmu itu...," kata laki-laki tua ini. Nada bicaranya benar-benar membuat muak Pendekar Rajawali Sakti.
"Tidak usah berbelit-belit! Katakan saja maksud tujuanmu!" sergah Rangga, keras suaranya.
"Sudah kuduga kau memang pemuda cerdas. Kau cepat menangkap maksudku. Aku ingin agar kau melakukan satu hal bagiku," jelas Harpa Ne?raka.
"Apa itu?" tanya Rangga.
"Can Saraswati. Dan rebut kembali Rebab Swara Buana. Bawa keduanya kemari! Kedua, tolong carikan sebuah angkin sakti bernama Angkin Naga yang dicuri Ki Bogatama alias Manusia Tanpa Rupa Tanpa Rasa. Bawa benda itu ke sini. Juga, orangnya. Kalau kau sanggup melakukannya untukku, maka kuberikan pemunah ajian 'Petikan Harpa Neraka'. Dan kau bebas pergi dari tempat ini," papar Ki Niti Sabdo.
Renjana Pendekar 4 Jago Kelana Karya Tjan I D Misteri Malaikat Palsu 2

Cari Blog Ini