Ceritasilat Novel Online

Lima Golok Setan 1

Pendekar Rajawali Sakti 181 Lima Golok Setan Bagian 1


" . 181. Lima Golok Setan Bag. 1 - 4
22. M?rz 2015 um 09:13
? Pendekar Rajawali Sakti
episode: Lima Golok Setan
Oleh Teguh S. Penerbit Cintamedia, Jakarta
? 1 ? "Palguna! Keluar kau!" Suara sentakan menggelegar, memecah keheningan pagi di Desa Sakapitu. Teriakan itu berasal dari mulut seorang pemuda berwajah pas-pasan, pakaiannya ketat berwarna biru tua. Di pinggangnya, terselip sebuah golok. Pemuda itu didampingi oleh empat orang pemuda yang masing-masing berpakaian merah, hijau, kuning, dan coklat. Mereka semua berdiri dengan sikap petantang-petenteng di depan sebuah rumah cukup besar yang dikenali penduduk adalah rumah Kepala Desa Sakapitu.
Beberapa saat dari dalam rumah muncul seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun, didampingi wanita berusia tiga puluh sembilan tahun dan dua anak perempuan yang berusia belasan tahun.
Teriakan itu memang mengejutkan. Karena selama menjabat sebagai kepala desa, belum ada seorang pun yang memanggilnya dengan suara keras seperti itu. Bahkan dengan panggilan yang tak disertai rasa hormat.
Laki-laki setengah baya yang memang berna-ma Palguna ini memandang kelima pemuda itu satu persatu dengan dahi berkerut.
"Kisanak berlima, ada apa sebenarnya sampai berteriak-teriak seperti itu?" tanya Ki Palguna dengan nada datar.
"Masih ingat padaku, Palguna!" dengus pemuda berbaju biru tua.
Ki Palguna memandang pemuda berambut panjang sebahu itu untuk beberapa saat dengan kening berkerut. Dicobanya mengingat-ingat apa-kah pernah bertemu pemuda itu sebelumnya.
"Kau seperti..., Wisesa...," duga Ki Palguna, ragu.
"Ya! Aku memang Wisesa!" sahut pemuda berbaju biru tua yang bernama Wisesa.
"Hm, Wisesa yang dulu berpenyakit kulit di se-kujur tubuhnya itu?"
Kata-kata Ki Palguna sebenarnya hanya untuk meyakinkannya saja. Namun bagi Wisesa terasa menyakitkan. Karena justru hal itulah dia datang ke sini.
"Palguna terkutuk! Hari ini aku akan membuat pembalasan atas pengusiranmu dari desa ini dulu terhadapku!" desis Wisesa dengan suara bergetar menahan marah.
"Wisesa! Kau harus ingat. Keputusan itu bukan kemauanku sendiri, tapi atas desakan penduduk yang tidak menginginkan kehadiranmu. Sebagai kepala desa, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kehendak mereka," kilah Ki Palguna.
"Aku tidak peduli! Kalian semua akan men-dapat balasan setimpal!"
"Huh! Kalau memang itu kehendakmu, aku tidak akan mundur!" dengus Ki Palguna merasa di-desak terus.
"Kita tentukan persoalan ini di ujung golok! Ambil senjatamu!" bentak Wisesa.
Sebagai kepala desa yang dihormati penduduk, tentu saja Ki Palguna merasa tertantang mendengar ancaman Wisesa.
"Sekar! Cepat ambil golok Ayah di lemari," ujar Ki Palguna pada salah seorang gadis yang ternyata putrinya.
"Tapi, Ayah...."
"Cepat!" hardik Ki Palguna ketika anaknya yang dipanggil Sekar belum juga beranjak.
"Ba..., baik, Ayah...," sahut Sekar seraya bergegas ke dalam.
Tidak lama kemudian gadis itu telah kembali membawa sebilah golok bergagang perak. Ki Pal-guna cepat menyambar dengan mata tak berkedip memandang para pemuda yang menantinya ber-tarung.
"Silakan. Mau satu lawan satu, atau berlima sekaligus?" tanya Ki Palguna, menganggap remeh. Laki-laki setengah baya ini segera melangkah ke tengah halaman.
"Huh! Menghadapimu kenapa mesti main ke-royok. Aku saja sudah cukup untuk mengirimmu ke akherat!" dengus Wisesa, ikut melangkah dan berhenti kira-kira dua tombak di hadapan Ki Palguna.
"Kakang! Biar kubereskan saja dia!" seru pemuda yang berbaju coklat.
"Jangan, Cakra! Ini urusan pribadiku. Kita telah sepakat untuk mengurus urusan pribadi masing-masing, bukan" Nah! Biarkan aku membereskannya seorang diri!" tolak Wisesa, tegas tanpa menoleh.
Pemuda berbaju coklat yang dipanggil Cakra mengangguk mengerti. Dan dia tak banyak bicara lagi. Meski tak melihat, namun Cakra tahu kalau mereka yang berdiri berhadapan itu telah siap saling serang.
Sebelum menjabat sebagai kepala desa dulu, Ki Palguna adalah seorang tokoh persilatan ber-kepandaian cukup tinggi. Justru karena itulah maka penduduk mengangkatnya sebagai kepala desa. Mereka berharap Ki Palguna bisa menggayomi masyarakat dan melindungi dari gangguan pihak luar yang ingin mengacau.
Sementara itu Ki Palguna berputar mengelilingi Wisesa tatkala keempat pemuda lain telah mundur beberapa langkah seperti memberi ruang gerak pada mereka.
"Yeaaa...!"
Wisesa lebih dulu melompat menyerang sambil membabatkan goloknya.
Bet! "Uts!"
Ki Palguna cepat mengegoskan tubuhnya. Be-gitu sambaran Wisesa yang mengebutkan goloknya ke arah leher. Namun, Wisesa telah memperhitungkannya. Dengan gerakan kilat tubuhnya merunduk, seraya menusukkan goloknya yang bermata tajam.
"Hup!"
Ki Palguna cepat membuang dirinya ke tanah seraya bergulingan.
"Huh! Kematianmu sudah dekat, Palguna! Mudah-mudahan kau masih sempat berdoa!" dengus Wisesa mengejek.
"Kita lihat saja. Kau atau aku yang akan mam-pus!" sahut Ki Palguna begitu bangkit berdiri.
"Banyak bacot! Terima seranganku!" bentak Wisesa seraya melompat kembali menyergap.
Gerakan pemuda ini cepat bukan main, se-hingga membuat Ki Palguna terkesiap. Namun se-bagai tokoh silat yang cukup berpengalaman, dia tahu bagaimana cara menghindarkan diri yang terbaik. Maka kembali dia menjatuhkan diri dan merapatkan tubuh dengan permukaan tanah.
Sayang, kepala desa itu salah duga. Justru pada saat Ki Palguna bergulingan menjauh, Wisesa melenting ke atas. Setelah membuat putaran beberapa kali, goloknya cepat dilemparkan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Wuuuttt...! Ki Palguna yang baru saja melenting bangkit, kontan terperanjat. Belum lagi dia sempat berbuat apa-apa, golok itu telah meluncur dekat. Lalu.....
Crab! "Eah!"
Tubuh Ki Palguna terhuyung-huyung ke be-lakang sambil memegangi lehemya yang tertancap golok dengan kedua tangannya. Darah mengucur deras dari lehernya yang nyaris putus. Begitu tubuhnya ambruk, nyawanya putus.
"Kakang...!" jerit wanita istri Ki Palguna.
"Ayah...!"
Seperti tak mau kalah, kedua gadis belia ini berteriak seraya menghambur ke arah jasad orang yang dicintainya.
"Huh! Mau ke mana kalian!" dengus Wisesa seraya menangkap salah seorang putri Ki Palguna yang baru saja menghambur.
Pada saat yang bersamaan, salah seorang pemuda yang berbaju kuning bertindak tak kalah cepat. Segera ditangkapnya putri Ki Palguna yang lain.
"Oh! Tolong...! Lepaskan! Tolooong...!"
Kedua gadis itu berteriak-teriak ketakutan sambil berusaha melepaskan diri. Tapi kedua pemuda itu mencengkeram erat-erat. Sementara tiga pemuda lain hanya tertawa mengekeh.
"He he he...! Siapa sangka rejeki kalian sedang terang. Belum apa-apa sudah dapat dua gadis cantik!" seru pemuda berbaju kuning.
"Brengsek! Mana bagianku"!" teriak pemuda yang berbaju merah.
"Cari sendiri, Sukma! Apa kau tidak punya mata?" ujar Wisesa.
"He he he...! Betul juga kau, Kakang Wisesa. Masa' di seluruh desa ini tidak ada gadis-gadis lain yang lebih cantik. Aku pergi dulu mencari mereka!" kata pemuda berbaju merah yang dipanggil Sukma.
Dan dalam sekejapan mata saja Sukma telah berkelebat ke tengah-tengah desa.
Sementara itu istri Ki Palguna yang tengah bersimpuh di depan mayat suaminya, terkesiap mendengar jeritan kedua putrinya. Serta merta dia bangkit, dengan mata melotot.
"Brandal terkutuk, lepaskan mereka! Lepaskan mereka!" teriak perempuan itu.
"Cakra! Bereskan wanita celaka ini!" teriak Wisesa ketika melihat wanita itu bergerak cepat mendatanginya.
"Beres, Kang! Jangan khawatir!" sahut Cakra.
Pemuda Itu bergerak cepat. Golok di tangannya menyabet perut wanita itu secepat kilat.
Bret! "Aaakh...!"
Karuan saja, wanita yang tidak mengerti soal ilmu olah kanuragan itu terpekik. Isi perutnya langsung terburai keluar tersabet golok Cakra.
Darah mengucur deras dari lukanya. Wajahnya tampak terkejut dengan mata melotot lebar memandang kelima pemuda itu penuh dendam. Lalu tubuhnya ambruk tak berdaya.
"Ibuuu...!" teriak kedua gadis dalam ceng-keraman Wisesa dan pemuda berbaju kuning.
"He he he...! Ibumu sudah mampus. Jangan pikirkan lagi. Sekarang lebih baik kita bersenang-senang!"
Wisesa terkekeh. Langsung diseretnya gadis dalam rangkulannya ke dalam rumah. Sementara, pemuda berbaju kuning menyusul. Tak peduli kedua gadis itu meronta-ronta sambil berteriak-teriak ketakutan.
Beberapa penduduk yang melihat kejadian itu berusaha menolong. Namun apalah daya mereka yang tak punya kepandaian apa-apa. Mereka yang nekat itu hanya membuang nyawa secara percuma. Ujung golok Cakra dan golok pemuda berbaju hijau telah berkelebat menebas mereka.
"He he he...! Cari penyakit!" ejek pemuda berbaju hijau seraya memandangi mayat-mayat yang tergeletak di tanah.
"Kakang Sembada! Kau urusi mereka! Aku akan menyusul Sukma mencari perempuan-perempuan cantik di desa ini!" teriak Cakra seraya berkelebat dari tempat itu.
"Enak saja kau! Kalau soal urusan satu itu, aku Jagonya. Aku akan mendapatkan semuanya. He he he...!" sambut pemuda berbaju hijau yang dipanggil Sembada, langsung ikut berkelebat.
Dalam sekejap mereka telah bergerak cepat masuk ke dalam rumah-rumah penduduk untuk mengobrak-abrik isinya. Saat itu juga jerit ketakutan dan kematian berkumandang saling sambung-menyambung. Tiga pemuda itu tidak peduli melihat penderitaan penduduk. Mereka hanya memikirkan hawa nafsu saja. Maka siapa pun yang menghalangi, akan tertebas golok.
Beberapa penduduk desa melarikan diri lewat jalan belakang, karena ketakutan. Di antara mereka pun ada yang berhasil membawa anak perempuannya, sehingga selamat dari incaran kelima pemuda itu. Sementara yang kurang beruntung terpaksa merelakan anak gadis mereka digarap kelima pemuda itu. Bagi yang penakut, hanya bisa menangis dan merintih pilu melihat anak perempuannya diperlakukan semena-mena. Tapi bagi mereka yang punya keberanian, akan binasa di tangan kelima pemuda itu.
? *** ? Kejadian di Desa Sakapitu merebak ke mana-mana, terutama bagi desa-desa yang berada di se-kitar lereng Gunung Pucung. Karena Desa Sakapitu memang terletak di lereng gunung itu.
Namun, tak urung kabar itu sampai pula di Desa Kayu Asem yang jaraknya lebih kurang setengah hari perjalanan berkuda dari Desa Sakapitu, menuju arah timur. Desa Kayu Asem dekat dengan kota Kadipaten Bayu Mubal yang cukup ramai.
Kabar yang dibawa oleh seorang penduduk Desa Sakapitu, langsung disampaikan pada Kepala Desa Kayu Asem, yang telah sepuluh tahun memimpin desa ini. Sampai sekarang dia tetap dipercaya penduduk. Karena di bawah kepempimpinannya, Desa Kayu Asem menjadi aman sentosa, gemah ripah loh jinawi. Namun kejadian yang menimpa Desa Sakapitu tak urung sempat mengusik pikirannya. Makanya, dia segera mengundang sesepuh-sesepuh desa untuk diajak tukar pikiran, membahas masalah itu.
"Mungkin hanya kawanan rampok saja, Ba-luran," cetus salah seorang sesepuh desa.
"Kurasa tidak, Ki Pajang...," sanggah Kepala Desa bernama Ki Baluran.
"Maksudmu bagaimana, Baluran?" tanya seorang sesepuh lain.
"Aku khawatir ini akan berlanjut ke desa kita, Ki Jarot," sahut Ki Baluran hati-hati.
"Desa kita banyak memiliki pendekar tangguh. Mereka akan berpikir seribu kali untuk mengacau di sini!" tandas sesepuh yang tadi dipanggil Ki Jarot
"Memang benar apa yang dikatakan Ki Jarot Tapi menurut penduduk Desa Sakapitu yang mengungsi ke sini, kelima pemuda berandalan itu memiliki kesaktian laksana iblis," kata Ki Baluran.
"Tapi, Baluran! Kita telah teruji menghadapi iblis licik sekali pun," timpal orang sesepuh lain.
"Apa maksud Ki Gandara?" tanya Ki Baluran dengan dahi berkerut.
"Ingatkah kau pada peristiwa sepuluh tahun lalu?" laki-laki berusia enam puluh tahun yang dipanggil Ki Gandara malah balik bertanya.
"Dukun santet itu?"
"Ya! Konon katanya, dia tidak bisa mati dan kebal segala jenis senjata dan pukulan. Toh, nyatanya kita berhasil membinasakannya."
"Ya! Tapi dalam usaha membunuh Ki Rungkut dan istrinya, timbul banyak korban di pihak kita...," sahut Ki Baluran masygul, mengingat peristiwa berdarah sepuluh tahun lalu.
"Tapi itu membuktikan bahwa kejahatan bisa dikalahkan kalau kita bersatu!" timpal sesepuh yang bernama Ki Pajang. "Bukan begitu, Nyi Girah?"
Ki Pajang menoleh ke arah satu-satunya wanita di ruangan ini.
"Aku yakin kita bisa menggalang persatuan dari semua penduduk desa ini!" kata wanita berusia enam puluh tahun yang dipanggil Nyi Girah.
"Tapi yang terpenting, apakah hal itu akan terjadi?" tanya Ki Gandara. "Siapa tahu, itu hanya ulah perampok seperti yang dikatakan Ki Pajang."
"Tapi kita mesti waspada. Siapa tahu, peristiwa sepuluh tahun lalu terulang kembali," sahut Ki Jarot.
"Ki Rungkut sudah mati. Demikian pula istrinya...."
"Kita jangan melupakan sesuatu, Baluran!" tukas Ki Jarot.
"Apa maksud Ki Jarot?"
"Mereka punya anak laki-laki yang saat itu berusia sekitar lima belas tahun. Ketika orangtuanya tewas, anak itu tidak ada di dalam rumah. Kita coba mencarinya ke mana-mana, namun tidak bertemu. Dia hilang seperti ditelan bumi."
"Ya! Aku khawatir anak itu akan membalas dendam kepada kita semua...," timpral Ki Pajang.
"Bibitnya buruk. Maka mana mungkin akantumbuh baik...," gumam Ki Gandara seperti men-dukung sikap Ki Pajang.
"Hal itu sudah kupikirkan. Tapi, kita sudah cukup berusaha mencarinya...," sahut Ki Baluran.
"Kita hanya kurang giat, Ki," sambung Nyi Girah. "Saat itu aku yakin, dia melarikan diri ke Hutan Pucung. Namun, tak seorang pun di antara kita yang mau mengejarnya ke sana."
"Hutan Pucung bukan tempat yang ramah, Nyi Girah," bela Gandara. "Aku bisa memakluminya. Di sana banyak perangkap dan binatang buas. Tidak seorang pun yang bisa keluar hidup-hidup setelah masuk ke sana."
"Kalau demikian, bocah itu pun...."
"Mati"!" potong Ki Jarot, terhadap ucapan Ki Baluran.
"Tidak juga," sahut Gandara.
"Baru saja kau katakan tidak ada seorang pun yang bisa selamat bila masuk ke hutan itu. Dan sekarang...?" tukas Nyi Girah.
"Kalau seseorang tidak menolongnya," sambung Gandara.
"Siapa yang kau maksudkan, Ki Gandara?" tanya Ki Pajang.
"Iblis Rambut Panjang."
"Iblis Rambut Panjang"!"
Semua orang yang berada di ruangan itu berseru kaget, mendengar nama yang disebutkan Ki Gandara. Memang, nama itu amat terkenal di rimba persilatan, milik seorang datuk sesat yang kesaktiannya tiada tara. Kekejamannya memang luar biasa. Dan belakangan, ada anggapan bahwa iblis itu berdiam di dalam Hutan Pucung, tempat yang jarang dimasuki orang.
? *** ? 2 ? Ki Baluran masih termenung dalam ruangan depan dalam rumahnya. Matanya lurus meman-dang ke depan melalu jeruji jendela. Meski tamu-tamunya telah kembali ke rumah masing-masing, namun dalam benaknya masih ada tamu lain yang enggan pergi. Yaitu, pikirannya yang ruwet.
"Apakah dia salah seorang di antara kelima pemuda itu?" gumam laki-laki Kepala Desa Kayu Asem ini di hati.
Benak Ki Baluran langsung melayang pada peristiwa sepuluh tahun silam. Saat itu, desa ini dikuasai sepasang suami istri Ki dan Nyi Rungkut yang amat ditakuti semua penduduk. Mereka adalah dukun santet yang memiliki kesaktian hebat. Satu persatu penduduk tewas di tangan mereka.
Pada saat itu tidak ada seorang pun yang berani menentang, karena takut oleh ancaman maut yang dijanjikan kedua suami istri itu Ki Baluran yang pada saat itu baru pulang berguru di sebuah padepokan ternama di wilayah utara, kemudian menggerakkan penduduk untuk perlawanan. Dan akhirnya, suami istri itu terbunuh. Dia pula yang mendorong masyarakat untuk menghabisi semua keluar dukun santet itu.
"Belum tidur, Kang?"
Terdengar sapaan halus dari belakang. Ki Baluran menoleh. Dan, bibirnya langsung tersenyum melihat kehadiran seorang wanita setengah baya yang menghampirinya. Namun laki-laki itu tak bisa menipu diii sendiri kalau senyumnya terasa dipaksakan.
"Kau sendiri kenapa belum tidur, Nyi?" Ki Baluran malah balik bertanya.
"Aku belum mengantuk...," sahut wanita yang tak lain istri Ki Baluran.
"Sama.... Aku juga belum...."
"Wajah Kakang kelihatan kusut. Apa yang tengah dipikirkan?" usik Nyi Baluran.
"Tidak. Tidak ada apa-apa!" sahut Ki Baluran berusaha menyembunyikan apa yang tengah dipi-kirkannya.
"Tidak usah berbohong, Kang."
"Apa maksudmu" Aku memang tidak memikirkan apa-apa."
"Aku mendengar pertemuan Kakang tadi sore. Kalian membicarakan tentang kemungkinan ancaman dari dukun santet itu, bukan?" desak Nyi Baluran.
"Untuk apa" Mereka toh sudah mati!" sahut Ki Baluran sambil memaksakan diri tersenyum agar istrinya percaya.
"Tapi anak tertuanya sempat meloloskan diri. Dan..., apakah dia yang Kakang khawatirkan?"
Ki Baluran tidak menjawab. Wajahnya yang te-gang dipalingkan disertai hembusan napas sesak.
"Berterus-teranglah padaku, Kang! Aku istrimu. Dan aku berhak tahu apa yang tengah kau pikirkan!" desak wanita itu seraya melangkah ke depan suaminya. Sehingga, kini mereka saling berhadapan lagi.
"Aku tidak tahu, Nyi...," ucap laki-laki ini lirih, kemudian beranjak keluar.
"Mau ke mana, Kang?"
"Mau cari udara segar."
Wanita setengah baya itu hanya menarik napas sesak, ketika suaminya berjalan menuju istal. Dan sebentar saja, laki-laki itu telah menuntun seekor, kuda berwarna coklat. Dengan gerakan ringan, dia naik ke punggung kuda. Ditinggalkannya halaman depan rumah setelah menggebah kudanya pelan-pelan.
Apa yang dikatakan istrinya mungkin saja benar. Tapi..., apakah dia mesti takut bila kelak bocah itu balas dendam" Kepandaiannya cukup hebat. Dan di desa ini pun, terdapat tokoh-tokoh hebat yang siap membantunya. Juga, siap melindungi keamanan desa.
Belum tuntas Ki Baluran memikirkan hal itu, mendadak dari kejauhan terdengar derap langkah kuda ke arahnya. Cepat kudanya dihentikan.
"Hooop..!" penunggang kuda itu juga menarik tali kekang kudanya.
"Ki Jarot! Ada apa malam-malam begini seperti dikejar setan"!" tanya Ki Baluran, begitu bisa mengenali siapa penunggang kuda itiu. Kebetulan, bulan bersinar penuh, sehingga cahayanya bisa membantu penglihatan Ki Baluran.
"Ah, kebetulan sekali! Aku memang hendak ke rumahmu, Baluran!" desak Ki Jarot seraya mengatur jalan napasnya.
"Ada kejadian apa?" tanya Ki Baluran.
"Kita mesti menerima pengungsi lagi, Baluran!"
"Pengungsi dari mana lagi?"
"Dari Desa Gelugur!"
"Astaga! Apa yang terjadi di sana"!" seru Ki Baluran kaget.
"Sama seperti yang menimpa Desa Sakapitu."
"Maksudmu, diserang kelima pemuda itu lagi?"
"Ya! Dan kali ini sebagian penduduk menge-tahui siapa mereka sebenarnya."
"Siapa?"
"Mereka menamakan diri, sebagai Lima Golok Setan. Dan kabarnya, mereka dari Hutan Pucung."
"Lima Golok Setan" Dari Hutan Pucung?"
"Mungkin itu hanya sekadar nama saja, Baluran."
"Mungkin juga... Eh, apakah Ki Jarot tidak mendapat berita lain" Umpamanya nama-nama mereka satu persatu?"
"Baru dua. Mereka Wisesa yang berasal dari Desa Sakapitu, dan Cakra dari Desa Gelugur," jelas Ki Jarot.
"Hhh...!"
Ki Baluran menghela napas berat dengan dahi berkerut.
"Kenapa, Baluran?"
"Ah, tidak apa! Lalu, siapa yang menjaga mereka?"
"Mereka siapa?"
"Pengungsi-pengungsi itu?"
"O, mereka bersama Ki Pajang serta beberapa orang pemuda desa yang tengah meronda," jelas-nya.
"Baiklah. Tolong diatur agar mereka dapat ber-malam di desa kita, Ki Jarot. Di tempatku masih ada dua kamar kosong yang cukup besar. Bisa menampung dua puluh orang. Bagi mereka yang punya kamar-kamar kosong di rumahnya, kuharap bisa membantu yang lain," ujar Ki Baluran.
"Baik!"
"Eh! Aku juga ingin ngobrol-ngobrol sebentar dengan mereka...."
"Jadi, Kau ingin ikut juga?"
Kepala desa itu mengangguk.
"Baiklah. Mari kita ke sana!" ajak Ki Jarot.
? *** ? Seorang pemuda tampan berbaju rompi putih menjalankan kuda hitamnya perlahan-lahan di jalan setapak yang menuju sebuah desa sambil menikmati pemandangan di sekitarnya. Angin lembut bertiup, mempermainkan rambutnya. Nun jauh di sebelah barat, terlihat Gunung Pucung menjulang dengan gagah.
"Hei"!"
Mendadak ketenangan pemuda itu terusik ketika beberapa orang berlari serabutan ke arahnya sambil membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.
"Ada apa gerangan" Mereka sepertinya penduduk desa" Apakah ada bencana alam?" gumam pemuda ini dengan dahi berkerut.
Pemuda berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti ini segera menghentikan kudanya. Ditunggunya salah seorang yang berlari.
"Sebentar, Kisanak! Ada kejadian apa sehingga berlari ketakutan seperti dikejar setan?" tanya. Rangga sambil merendahkan tubuhnya.
Laki-laki berusia sekitar lima puluh lima tahun bertubuh kurus yang tengah menggamit seorang bocah perempuan itu menghentikan larinya. Dipandangnya pemuda ini untuk sesaat.
"Lima Golok Setan tengah mengamuk!" sahut laki-laki ini dengan dendam terpendam.
"Di mana?" kejar Pendekar Rajawali Sakti.
"Desa kami. Desa Jeram yang ada di sana!" tunjuk orang tua itu ke arah belakangnya.
Pendekar Rajawali Sakti mengarahkan pan-dangannya pada arah yang ditunjuk orang tua itu.
"Lebih baik kau menyelamatkan diri, Anak Muda! Mereka ganas dan tak kenal ampun!" ujar orang tua ini memperingatkan seraya pergi mengejar rombongannya.
"Terima kasih, Ki!" sahut Rangga seraya menggebah kudanya ke arah yang ditunjuk orang tua tadi.
"Hhh! Anak muda keras kepala!" gumam orang tua ini ketika berbalik dan melihat pemuda itu tidak menuruti kata-katanya.
Sementara itu, dengan kecepatan dahsyat, sebentar saja Dewa Bayu telah membawa Rangga tiba di Desa Jeram yang keadaannya begitu menyedihkan. Beberapa mayat tergeletak tak berdaya. Rumah-rumah hancur seperti diamuk banteng liar.
"Hhh...! Rampok mana lagi yang mencari korban di sini?" gumam Pendekar Rajawali Sakti seraya turun dari punggung Dewa Bayu. Kakinya lantas melangkah pelan memasuki mulut desa.
"Ha ha ha...! Kau sungguh hebat, Nisanak! He-bat sekali!"
"Hm...!"
Pendekar Rajawali Sakti menggumam tak jelas ketika mendengar suara tawa dari dalam sebuah rumah. Dan ini menimbulkan perasaan ingin tahu di hatinya. Maka dengan sengaja Rangga menunggu di depan pintu rumah tempat asal suara tawa tadi.
Tidak berapa lama, terlihat seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun keluar dari dalam rumah sambil tertawa-tawa. Dibetulkannya letak celananya yang belum beres.
"Mau apa kau di situ"!" bentak pemuda itu galak ketika melihat kehadiran pemuda berbaju rompi putih.
"Apa pula yang kau lakukan di dalam?" sahut Rangga, datar.
"Kurang ajar! Besar juga nyalimu, he!" dengus pemuda itu geram. "Yeaaa...!"
Tiba-tiba pemuda itu melompat langsung melepaskan tendangan menggeledek ke arah dada Pendekar Rajawali Sakti.
Tendangan keras itu diperhitungkan akan menghancurkan tulang dada Pendekar Rajawali Sakti. Tapi....
Plak! "Uhh...!"
Pemuda itu menelan kekecewaan karena, se-rangannya kandas terkibas tangan kiri Rangga. Tubuhnya kontan terjajar beberapa langkah, untung saja tak sampai terpelanting. Bahkan sebelum dia berbuat sesuatu, kepalan tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti balik menyodok ke dadanya.
Karuan saja pemuda itu terkesiap. Sebisa-bi-sanya tubuhnya melejit ke atas. Namun Rangga tak melepaskan begitu saja. Seketika tubuhnya berputar sambil melepas tendangan terbang berputar.
Des! "Aakh!"
Pemuda itu menjerit kesakitan dengan tubuh terlempar beberapa langkah ke belakang, lalu jatuh berdebam di tanah. Begitu bangkit, dia terhuyung-huyung mendekap perut yang terasa mual bukan main, terhantam tendangan Pendekar Rajawali Sakti.
"Keparat! Kau akan menerima pembalasanku!" desis pemuda itu geram sambil menarik napas panjang.
"Silakan saja. Karena aku pun tak akan mem-biarkan kau berbuat keangkaramurkaan," sahut Rangga tersenyum dingin.
"Kau belum kenal aku rupanya. Akulah Bawor, salah satu dari Lima Golok Setan!" gertak pemuda yang di pinggangnya terselip sebilah golok panjang dan mengaku bernama Bawor.
"O, jadi kau rupanya yang sering menakut-nakuti penduduk desa?" tukas Rangga, kalem.
"Kami bukan sekadar menakut-nakuti. Tapi, membunuh orang-orang tengil sepertimu!" desis Bawor seraya kembali melompat menyerang. Kedua tangannya terjulur, seperti hendak mencengkeram.
Namun dengan mengegoskan tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti berhasil menghindari cengkeraman tangan Bawor.
"Hih...!"
Sebelum Bawor menyerang kembali, mendadak Rangga menyodokkan sikunya, keras sekali ke arah dada.
Begkh! "Wuaaa...!"
Bawor kontan terjajar beberapa langkah sambil mendekap dadanya yang terasa sesak. Telak sekali sodokan Rangga bersarang di dadanya.
"Aku bisa membunuhmu, Kisanak!" kata Rangga dingin. "Jangan terlalu gegabah. Tinggal-kan saja tempat ini. Dan bertobatlah...!"
"Huh!"
Bawor mendengus geram. Meski isi dadanya terasa nyeri, namun dia berusaha untuk tidak mempedulikannya. Sorot matanya tajam, tatkala membentur pandangan Rangga. Lalu, tangannya bergerak ke pinggang.
Sret! "Hari ini kau akan mampus, Keparat!" desis Bawor, setelah mencabut golok.
"Jangan kelewat nafsu. Salah-salah nyawamu sendiri yang akan melayang oleh golokmu sendiri," ujar Rangga, memperingatkan.????
'Tidak akan! Terima kasih! Heaaa...!"
"Uts!"
Golok di tangan Bawor berputar cepat menyambar leher Rangga. Untuk sesaat Pendekar Ra-jawali Sakti terkesiap. Tapi secepat itu pula tubuhnya melenting ke belakang untuk mengatur jarak.
"Yeaaah!"
Begitu golok Bawor mendekat, Pendekar Raja-wali Sakti segera memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Melihat serangannya selalu gagal, Bawor semakin menggeram penuh amarah. Seketika serangannya ditingkatkan dengan menambah kekuatan tenaga dalam. Dan tubuhnya langsung meluruk sambil menebas dengan goloknya.
"Uts...!"
Sedikit saja Rangga meliukkan tubuhnya, lalu tiba-tiba saja melakukan tendangan ke dada. Begitu cepat gerakannya, sehingga.


Pendekar Rajawali Sakti 181 Lima Golok Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Duk! "Aakh...!"
? *** ? Bawor kembali terjungkal ke belakang disertai jerit kesakitan. Tendangan itu sama sekali tidak disangka-sangkanya, sehingga membuatnya tidak sempat mengelak. Kalaupun sempat disadari, ra-sanya pun tidak akan mampu mengimbangi gerakan Rangga yang kelewat cepat.
"Apakah kau masih penasaran?" Bangunlah. Dan, serang aku lagi," tantang Rangga, dingin.
Bawor mendengus dingin sambil mengusap darah yang menetesdari sudut bibirnya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Bawor penasaran.
"Aku Rangga," sahut Rangga.
"Huh! Ternyata kau bukan orang hebat! Aku belum pernah mendengar namamu," leceh Bawor.
"Apalah arti sebuah nama" Dikenal orang ataupun tidak, sama sekali aku tidak peduli."
"Ingatlah. Kau telah berurusan dengan Lima Golok Setan. Dan kawan-kawanku tidak akanmembiarkanmu berbuat seenaknya!"
"Lalu, apa maumu" Membalas dendam padaku" Jangan terlalu lama menyimpan dendam. Tuntaskan saja sekarang. Panggil kawan-kawanmu. Dengan senang hati aku akan menunggu...."
"Huh!"
Bawor mendengus dingin. Lalu secepatnya tubuhnya berbalik dan kabur dari tempat itu.
Rangga tidak berusaha mengejar. Dipandangi-nya Bawor sampai hilang dari pandangan sampai perhatiannya terusik oleh suara erangan dari dalam rumah yang tadi dimasuki Bawor.
Dengan langkah lebar Pendekar Rajawali Sakti memasuki rumah itu.
"Oh, maaf!" ucap Rangga seraya berpaling, ketika melihat seorang gadis berusaha bangkit berdiri dengan tubuh lemah tanpa benang sehelai pun menutupinya. "Itu. Pakailah pakaianmu, Nisanak!"
Tanpa menoleh Pendekar Rajawali Sakti me-lemparkan baju gadis itu yang tergeletak di dekat-nya, untuk menutupi tubuhnya yang halus putih dan mulus itu.
Sesaat Rangga menunggu.
"Sudah kau kenakan pakaianmu?" Tanya Rangga.
Gadis itu tak menjawab. Sementara Rangga hanya mendengar isak tangis yang membuatnya berbalik. Tampak gadis ini tertunduk lesu di tepi pembaringan.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Rangga pelan.
"Aku..., aku telah dinodainya...," sahut gadis ini lirih tanpa memandang Rangga. Tangisnya kini sudah tak terdengar lagi, setelah marnpu menguasai perasaannya.
"Kurang ajar!" desis Rangga dengan kedua tangan terkepal. Sungguh menyesal dia tadi tak mengejar Bawor. "Siapa mereka sebenarnya" Apa yang diinginkannya dari penduduk desa ini" Kulihat tadi beberapa orang penduduk melarikan diri ketakutan."
"Mereka tidak membunuhmu?"
Tiba-tiba gadis itu ingat sesuatu. Dagunya se-geta terangkat. Bola matanya yang basah oleh airmata memandang pemuda itu dengan heran.
"Tidak...."
"Kau beruntung. Biasanya mereka akan membunuh siapa saja yang mendekatinya!"
"Mereka memang berusaha membunuhku. Eh, maksudku, salah seorang dari mereka."
"Siapa?"
"Kalau tidak salah. Namanya Bawor."
"Bangsat terkutuk itu! Huh!" dengus gadis ini dengan wajah geram penuh dendam.
"Kau kenal dengannya?"
"Dialah yang menodaiku! Akan kucincang tubuhnya bila bertemu lagi dengannya!"
Rangga terdiam beberapa saat seperti bisa merasakan penderitaan yang dialami gadis ini.
"Mereka harus membalas atas semua kejadian ini!" tandas gadis itu.
"Tentu saja. Setiap kejahatan tentu akan mendapatkan ganjarannya."
Mendadak gadis itu teringat sesuatu. Dan secepatnya dia melompat keluar rumahnya.
"Ayah...! Ibuuu...!"
Rangga mengikuti dari belakang tanpa mampu berbuat apa-apa. Gadis itu agaknya tengah mengalami penderitaan berat dalam hidupnya. Dia berlarian ke sana kemari di antara tumpukan mayat. Kemudian tatapannya tertumpu pada dua mayat yang agak berjauhan. Satu lelaki setengah baya dan seorang lagi wanita berusia empat puluh tahun.
"Ayah... Ibuuu.... Jangan tinggalkan Arum...!" jerit gadis ini sambil menangis dengan suara me-lengking, seraya menghambur ke arah mayat ibu-nya.
"Hhh...!"
Rangga menghela napas panjang seraya meng-hampiri gadis bernama Arum perlahan-lahan, yang tengah bersimpuh dekat mayat ibunya.
"Kematian mereka sudah takdir. Kau harus merelakannya...," hibur Rangga lirih, begitu dekat.
"Ayah.... Ibu...."
Arum kembali menangis dengan suara berge-tar. Sama sekali tak dipedulikannya ocehan pemuda itu.
"Lebih baik kita kumpulkan mereka, lalu me-nguburkannya esok hari...," lanjut Pendekar Raja-wali Sakti.
Gadis itu tetap tidak peduli. Dan dia tidak beringsut dari tempatnya semula.
"Hari telah sore. Dan sebentar lagi malam...."
Arum masih terdiam.
"Kau mesti istirahat...," usik Rangga lagi.
'Tinggalkan aku sendiri di sini!" sergah Arum, tajam.
"Tapi...."
"Kumohon, tinggalkan aku sendiri!" ulang gadis ini menegaskan.
"Baiklah. Kalau itu keinginanmu..., terserah saja."
Rangga melangkah gontai meninggalkan gadis itu. Sesaat dia terhenti, lalu menoleh. Tampak Arum tetap menunduk memandangi mayat kedua orangtuanya.
"Hhh...."
Rangga menghela napas, kemudian melompat ke punggung Dewa Bayu. Bergegas digebahnya kuda berbulu hitam ini, meninggalkan desa itu.
? *** ? 3 ? Langkah Bawor tersaruk-saruk ketika memasuki pinggiran Hutan Pucung. Meski dadanya terasa nyeri, namun ada yang lebih nyeri ketimbang itu. Yaitu, rasa dendam di hatinya.
"Keparat! Dia harus mati di tanganku!" desis pemuda berbaju kuning itu berulang-ulang.
Belum habis rasa kesal Bawor, mendadak berkelebat satu bayangan merah ke hadapannya. Dan tahu-tahu telah berdiri di hadapan Bawor.
Bawor melompat gesit. Langsung diayunkan-nya sebelah kakinya.
"Hiih!"
"Uts! Sabar, Bawor. Ini aku Sukma!" seru so-sok bayangan merah yang baru muncul, seraya melompat ke samping menghindari tendangan.
"Sial! Kukira siapa. Kau rupanya, Sukma."
"Kenapa kau ini, Bawor"! Kukira kau senang. Nyatanya tampangmu malah kusut bukan main," tanya sosok bayangan merah yang ternyata pemuda berbaju merah. Dialah Sukma, satu dari Lima Golok Setan.
"Sudahlah! Mana yang lain?" elak Bawor.
"Tengah bersantap. Ada apa?"
"Nanti saja kuceritakan."????
Sukma mengikuti langkah Bawor yang terburu-buru menuju sebuah pondok kecil yang hampir roboh. Di sana, telah menunggu tiga kawannya yang lain.
"Lihat! Bisa kalian tebak apa yang terjadi pa-danya"!" seru Sukma sambil tersenyum lebar ketika Bawor menghempaskan tubuhnya di atas dipan disertai helaan napas sesak.
"Kukira dia kekenyangan sampai lemas begitu!" sahut pemuda berbaju biru tua yang tak lain Wisesa.
"Mana mungkin kekenyangan sampai lemas begitu...," timpal pemuda berbaju coklat, yang bernama Cakra.
"Kenapa tidak" Dia kekenyangan perempuan!" sanggah pemuda yang bernama Sembada. Mendengar itu mereka tertawa bersama.
"Berapa perempuan yang kau sikat, Bawor"!" lanjut Sukma.
"Sudah! Sudah! Aku sedang tidak suka bercanda!" bentak Bawor, berang.
"Hei, kenapa kau ini" Bukankah ini pestamu"
Mestinya kau bangga. Karena semua penduduk desa itu yang dulu pernah menghina dan meremehkanmu, kalang kabut ketakutan!" tukas Sukma.
"Aku sedang pusing!" keluh Bawor bersungut-sungut.
Wisesa beringsut dari tempatnya. Didekatinya Bawor, sahabatnya itu. Kemudian dia menepuk pundaknya pelan.
"Apa yang tengah kau pikirkan, Bawor. Cerita-kanlah. Kami bukan sekadar kawanmu. Tapi juga saudaramu yang siap membantu segala kesulitanmu," ujar Wisesa.
Bawor menarik napas panjang. Sulit baginya menceritakan persoalan yang tengah dihadapinya.
"Ayo, katakanlah!" ulang Tukijan.
"Betul, Kakang. Ceritakanlah, apa kesulitanmu. Bukankah guru telah berpesan agar kita selalu bersatu dan saling bahu-membahu dalam mengatasi kesulitan?" desak Cakra.
"Benar, Bawor! Ceritakanlah, apa kesulitan yang tengah kau alami! Tidak biasa-biasanya kau pusing memikirkan sesuatu!" timpal Sukma.
"Guru pasti akan marah besar padaku...," gumam Bawor lirih.
"Apa maksudmu?" tanya Wisesa.
"Setelah kalian pergi lebih dulu, aku sempat bermain-main dengan seorang wanita. Dan setelahnya..., tiba-tiba saja seorang pemuda berbaju rompi putih telah berdiri di depan pintu...," tutur Bawor.
"Lalu?" selak Sukma semaldn tertarik mende-ngarkan cerita kawannya.
"Aku menganggap remeh padanya. Dan...."
"Dia menjatuhkanmu?" tebak Wisesa.
Bawor mengangguk.
"Kurang ajar! Di mana dia sekarang" Biar ku-hajar orang itu!" dengus Sukma.
"Jangan bertindak sembrono, Sukma. Dia bukan orang sembarangan...," ingat Bawor.
"Huh! Di dunia ini hanya guru kita yang ter-hebat! Tak seorang pun yang bisa mengalahkan-nya. Dan sebagai murid-muridnya, maka kita pun menjadi orang yang tidak terkalahkan!" dengus Sukma seraya membusungkan dada.
'Tapi buktinya dia memang hebat, Sukma...."
"Kau hanya lengah, Bawor. Percayalah.... Apa yang dikatakan Sukma benar. Guru orang terhebat sejagad. Dan kita muridnya pun mewarisi kehebatannya!" ujar Wisesa coba menyadarkan saudara seperguruannya.
"Aku telah menyerangnya dengan bersungguh-sungguh. Tapi, tetap saja dia berhasil menjatuh-kanku dengan mudah...," ulang Bawor.
"Kenapa kau malah mengagung-agungkan mu-suh dan tidak percaya pada kemampuan sendiri?" tukas Sembada, tak suka.
Bawor tidak lagi menjawab. Rasanya percuma saja mendebat mereka. Lagi pula, mungkin saja mereka benar. Karena saat menghadapi lawan, dia dalam keadaan marah. Sehingga, tidak mampu mengendalikan diri.
"Kita cari dia untuk membalaskan sakit hati Kakang Bawor!" desis Cakra.
"Ya!" sambut yang lain cepat.
"Di mana terakhir kau bertemu dengannya?" tanya Sembada.
"Di Desa Jeram...."
"Kita berangkat ke sana sekarang juga!" seru Sembada.
Tekad itu langsung disambut yang lain dengan bersemangat. Namun, tidak buat Bawor.
"Kenapa kau diam saja" Ayo bangkit dan tun-jukkan semangatmu!" seru Wisesa, melihat Bawor masih terpaku.
"Tapi, kalian.... Kalian tidak akan melaporkan kekalahanku itu pada guru, bukan?" tanya Bawor takut-takut.
"Kau tidak kalah, hanya lengah. Jadi, tak ada yang mesti dilaporkan!" sahut Sembada menegaskan. "Sekarang mari kita berangkat ke sana!"
"Baiklah...."
? *** ? Lepas senja Rangga baru tiba di pinggiran Desa Kayu Asem. Suasana terlihat sepi. Namun begitu lebih ke dalam, maka mulai terlihat keramaian. Suara orang bercakap-cakap terdengar ribut sekali. Barang-barang peralatan rumah tangga yang centang-perentang di depan beberapa buah rumah, serta bocah-bocah yang menangis atau tengah berkejaran dengan kawan-kawannya, membuat dahi Rangga sedildt berkerut.
"Hm.... Banyak sekali orang-orang mengungsi ke sini" Apakah mereka berasal dari desa yang tadi kulewati?" gumam Pendekar Rajawali Sakti lirih.
Rangga mendekati salah seorang wanita setengah baya yang tengah bercakap-cakap dengan beberapa wanita lain di depan sebuah rumah,
"Permisi, Nyisanak. Apa yang terjadi di sini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.
"Kami mengungsi...," jelas wanita ini.
"Mengungsi" Apakah Nyisanak dari Desa Jeram?"
Wanita itu mengangguk. Dipandanginya pemuda tampan berbaju rompi putih itu sejurus la-manya.
"Kau bukan penduduk Desa Jeram. Dan aku kenal semua penduduk di sana. Apakah kau pen-duduk desa ini?" tanya wanita itu dengan pandangan menyelidik.
Rangga menggeleng sambil tersenyum.
"Desa Kandis barangkali?" duga wanita itu.
"Bukan. Aku hanya seorang pengembara...."
"Pengembara?"
Dahi wanita itu berkerut. Namun ketika melihat gagang pedang yang menyembul di balik punggungnya, dia maklum kalau pemuda ini bukan orang biasa.
"Kisanak! Apakah kau seorang pendekar?" tanya wanita ini.
"Mungkin begitu...," sahut Rangga ragu.
"Lalu kenapa kau diam saja" tidakkah kau tahu bahwa belakangan ini Lima Golok Setan tengah mengganas. Banyak yang telah menjadi korbannya. Coba lihat kami semua! Ini hanya sebagian kecil dari korban yang ditimbulkannya. Kami kehilangan rumah, harta benda, serta keluarga!" lanjut wanita itu dengan suara berapi-api, sehingga menarik perhatian orang-orang yang ada di dekatnya.
"Maaf, Nyi. Aku memang tengah mencari mereka...," sahut Rangga, buru-buru beranjak dari tempat itu untuk tidak menjadi perhatian yang lainnya.
Setelah agak jauh dari wanita tadi, Pendekar Rajawali Sakti mendekati beberapa orang lagi yang tengah berdiri dan mengatur beberapa orang pengungsi.
"Maaf, mana aku bisa bertemu Ki Baluran?" tanya Rangga pada seorang pemuda yang hampir sebaya dengannya.
"Kisanak...!"
Belum sempat pemuda itu menjawab, terdengar panggilan dari samping kanan. Rangga menoleh, langsung melihat, seorang laki-laki tua menghampirinya.
"Kalau kau hendak mencari tempat, bersabar-lah. Kami mesti mengatur mereka dulu. Terutama, wanita dan anak-anak...," lanjut laki-laki tua itu.
"Kedatanganku ke sini bukan untuk meng-ungsi, kisanak," jelas Rangga.
Laki-laki tua itu memandang Rangga dengan seksama.
"Lalu, apa maksud kedatanganmu?" tanya la-ki-laki ini dengan dahi berkerut.
"Aku menerima undangan dari Ki Baluran," sahut Rangga, kalem.
"Siapa kau, eh, maksudku siapa namamu?"
"Rangga..."
"Rangga" Jadi, kau" Pendekar Rajawali Sakti"!" seru laki-laki tua itu dengan mata terbelalak, seperti tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
'Ya, begitulah orang-orang memanggilku," sahut Rangga merendah.
"Oh, maafkan aku, Pendekar Rajawali Sakti. Kalau begitu mari kuantarkan padanya!" ucap la-ki-laki tua itu.
"Jangan terlalu berlebih. Panggil saja aku Rangga, Ki...."
"Aku Pajang. Kebetulan aku menjadi sesepuh di desa ini...."
Laki-laki yang tak lain Ki Pajang segera meng-ajak Rangga pada seorang laki-laki setengah baya yang berada di depan sebuah rumah cukup besar.
"Baluran! Aku membawakan seseorang untuk-mu...!" kata Ki Pajang, begitu tiba di halaman rumah cukup besar itu.
"Oh, Ki Pajang! Ada apa" Siapa pemuda ini?" tanya laki-laki setengah baya yang ternyata Ki Baluran, segera menghampiri.
"Apakah kau tidak mengenalinya, Baluran?" tanya Ki Pajang heran.
Ki Baluran memandang pemuda berbaju rompi putih itu untuk sejurus lamanya.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ki Baluran.
"Belum. Seseorang bernama Ki Tambak Rejo menjumpaiku di Bagir. Katanya, kau ingin bertemu denganku...," jelas Rangga.
"Jadi..., jadi benar yang diceritakannya"! Kau..., kau Pendekar Rajawali Sakti"!" seru Ki Baluran dengan wajah gembira.
Rangga mengangguk.
Ki Baluran langsung merangkul pemuda itu. Langsung ditepuk-tepuk punggung Rangga.
"Syukurlah kau mau datang memenuhi un-danganku. Kukira orang sepertimu tidak akan mau menjumpai orang-orang seperti kami," ucap Ki Baluran.
"Jangan berkata begitu, Ki. Aku juga sama dengan kalian. Mana mungkin aku menolak bila seseorang memerlukan bantuanku," sahut Rangga bijaksana.
"Kalau begitu, mari kita bicara di dalam!" sahut Ki Baluran seraya mengajak tamunya masuk. "Ki Pajang.... Tolong urus mereka dahulu. Tunjukkan saja kamar-kamar yang ada di ruang belakang rumahku!"
*** ? "Kelihatannya kau sibuk sekali, Ki?" tanya Rangga berbasa-basi setelah dipersilakan duduk.
"Inilah yang menimbulkan persoalan itu, Pendekar Rajawali Sakti...," sahut Ki Baluran seraya menghela napas panjang.
"Maaf, Ki. Panggil saja aku Rangga. Oh, ya..., maksudmu bagaimana, Ki...."
"Mereka orang-orang yang tidak bertanggung jawab, Pendekar Rajawali Sakti..., eh, Rangga," sahut Ki Baluran dengan wajah geram. "Orang-orang yang hanya menuruti hawa nafsunya saja."
"Siapa yang Ki Baluran maksudkan?"
"Mereka menamakan dirinya Lima Golok Setan."
"Lima Golok Setan" Rasanya aku pun pernah mendengar nama itu!"
"Ah! Mereka tentu telah menyebarkan petaka di mana-mana!" dengus Ki Baluran geram. "Di mana kau bertemu dengannya, Rangga?"
"Di Desa Jeram."
"Desa Jeram" Para pengungsi itu semua berasal dari Desa Jeram. Beberapa hari lalu, bahkan desa ini dipenuhi pengungsi dari Desa Gelugur dan Desa Sakapatu," jelas Ki Baluran.
"Aku bahkan bertemu salah seorang dari mereka, Ki...."
"Lantas?"
"Kami bertarung. Dan dia dapat kukalahkan. Tapi, orang itu kubiarkan melarikan diri," jelas Rangga, sejujurnya.
"Sayang sekali. Mestinya mereka ditangkap dan langsung dibunuh saja!" dengus Ki Baluran geram.
? *** ? "Apakah untuk urusan ini Ki Baluran mengundangku ke sini?" tanya Rangga
"Ya. Begitulah, Rangga...," sahut Ki Baluran, mendesah.
"Mereka memang hebat. Tapi kudengar di desa ini pun tidak kurang orang-orang hebat pula."
"Namun dibandingkan mereka berlima, rasanya kami ragu. Lagi pula, tidak hanya mereka yang kami khawatirkan," ungkap Ki Baluran.
"Hm... Lalu, siapa?"
"Orang yang berada di belakang mereka."
"Maksud Ki Baluran?"
"Mereka berasal dari Hutan Pucung. Sedang-kan di sana, bercokol seorang datuk sesat yang berjuluk Iblis Rambut Panjang."
"Apa hubungannya antara mereka?"
"Itulah yang belum kami ketahui. Tapi se-tidaknya, mereka berasal dari tempat yang sama. Dan secara tak langsung, pasti berhubungan satu sama lain."
"Mengapa Ki Baluran mengira demikian?"
"Selama ini, tak seorang pun yang bisa selamat kalau masuk ke hutan itu. Mereka pasti tidak akan kembali lagi," jelas Ki Baluran. "Aku punya keyakinan kalau mereka adalah murid Iblis Rambut Panjang."
"Iblis Rambut Panjang" Hm, pernah kudengar nama itu. Dia memang seorang tokoh sesat berilmu tinggi gumam Rangga.
"Selama ini, dia bersembunyi di Hutan Pucung.
Dan pasti ada sesuatu yang tengah dikerjakannya."
"Mungkin juga...."
"Kembali ke soal lima pemuda itu. Apakah, kau punya cara untuk menghadapi mereka. Rangga?"
Rangga berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Siapa kira-kira yang kepandaiannya bisa diandalkan di desa ini?" tanya Rangga.
"Ada beberapa orang selain aku sendiri. Ki Pajang, yang tadi mengantarkanmu, lalu ada Ki Jarot, Nyi Girah, dan Ki Gandara yang memimpin sebuah padepokan di desa ini beserta murid-muridnya," jelas Ki Baluran.
"Hm, itu suatu kekuatan yang cukup hebat!" puji Rangga.
"Tapi dibandingkan mereka, rasanya tidak ber-arti...."
"Jangan patah semangat dulu! Kita coba kekuatan mereka berlima dengan kekuatan kita!"
"Dengan adanya kau di sini, kujamin mereka pasti akan lebih percaya diri!" tegas Ki Baluran.
"Jangan suka begitu, Ki. Aku juga manusia biasa seperti kalian semua," sahut Rangga merendah.
"Nama Pendekar Rajawali Sakti sudah tersohor di mana-mana. Dan mereka mempercayai kehebatannya!" puji Ki Baluran lagi.
"Aku tidak keberatan kalian memuji setinggi langit, meski aku sendiri merasa malu. Tapi seti-daknya ada hikmah yang baik di dalamnya. Dan bila hal itu bisa menimbulkan rasa percaya diri, maka biarlah kutahan rasa malu itu," sahut Rangga seraya tersenyum.
"Itu memang kenyataan, Rangga. Tidak perlu malu!"
"Sudahlah.... Kita kembali pada pokok per-masalahannya. Apakah Ki Baluran punya rencana menghadapi mereka?" tukas Rangga, mengalihkan perhatian.
"Aku sendiri tidak bisa memastikan, apakah mereka akan ke sini atau tidak. Tapi setelah tiga desa di sekitar kaki Gunung Pucung diporak-porandakan, maka aku yakin mereka akan ke sini juga."
"Lalu?"
"Aku hanya bisa memberi perintah agar semua penduduk bersiaga dan melaporkan siapa saja orang asing yang masuk ke desa ini. Mereka juga kuperintahkan untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk," papar Ki Baluran.
"Hm, itu bagus. Tapi kalau Ki Baluran tidak keberatan, aku ada sedikit usul.
"Apa itu?"
"Pengungsi di luar itu. Hendaknya kita jangan terlena sekadar mengurus mereka."
"Maksudmu?"
"Ajak mereka untuk sama-sama melindungi desa ini dari serangan Lima Golok Setan," papar Rangga.
'Tapi mereka amat ketakutan, Rangga. Kita tidak mungkin mengandalkan mereka...," sahut Ki Baluran ragu.
"Apakah penduduk asli desa ini pun tidak ketakutan" Mereka punya ketakutan sama. Yang jadi persoalan adalah, bagaimana menjadikan ketakutan itu sebagai kekuatan untuk menumbangkan musuh," jelas Rangga.
Dahi Ki Baluran berkerut bingung mendengar penjelasan pemuda itu. Bagaimana mungkin mengandalkan orang-orang yang tengah ketakutan untuk menghalau musuh" Barangkali sebelum melihat kehadiran musuh mereka telah kabur tunggang-langgang.
"Maaf, Rangga. Aku tidak mengerti dengan uraianmu," ucap Ki Baluran jujur.
Rangga menarik napas panjang, lalu tersenyum.
"Ki Baluran.... Bila seekor babi terdesak karena dikejar-kejar pemburu, maka apa yang dilakukannya?" tanya Rangga, memberi perbandingan.
"Dia akan nekat menyerang pemburu itu," Jawab Ki Baluran.
"Nah! Bila hewan punya naluri untuk memper-tahankan diri, mengapa manusia tidak" Manusia makhluk istimewa karena dikaruniai akal. Yang perlu adalah, menyadarkan kedudukan mereka sekarang. Apakah mereka akan terus-terusan lari, atau bertahan dan melawan" Hidup dikejar-kejar tidak akan merasa aman. Tapi kalau melawan, kita masih punya pilihan. Yaitu, menang," papar Rangga, panjang lebar.
"Dan kalau kalah, mereka tahu akan mati...."
"Setiap perjuangan membutuhkan pengorban-an. Manakah yang lebih baik mati sia-sia, atau mati karena mempertahankan hak dan martabat?"
Ki Baluran mengangguk, membenarkan kata-kata Pendekar Rajawali Sakti.
"Aku akan coba memberi pengertian pada mereka, Rangga."
"Terima kasih, Ki. Aku akan membantumu!"
"Terima kasih juga untukmu, Rangga.
? *** ? 4 ? Apa yang dikatakan Ki Baluran memang benar. Sejak penduduk mengetahui kehadiran Pendekar Rajawali Sakti di Desa Kayu Asem ini, maka semangat mereka bangkit. Orang-orang yang semula ketakutan, nyalinya mulai tumbuh. Mereka yang tadi jalan terbungkuk-bungkuk dengan muka pucat dan pandangan takut-takut, kini berani berjalan tegap. Seolah, masalah apa pun yang menghadang di depan akan mudah dibereskan.
"Dengan adanya Pendekar Rajawali Sakti, maka kelima pemuda itu akan kusikat habis!" tandas seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun pada kawannya.
"Jangan gegabah, Seta! Lima Golok Setan tidak bisa dipandang sebelah mata," ujar pemuda bertubuh kurus.
"Hei" Apa kau tak percaya dengan kehebatan Pendekar Rajawali Sakti, Ragil"!" tanya pemuda yang dipanggil Seta, tak senang.
"Aku percaya, Seta. Tapi kalau kau mampu menghadapi mereka, itu yang aku kurang percaya," sahut pemuda bernama Ragil sambil tersenyum kecil.
"Jelek-jelek begini aku murid Ki Gandara!" sahut Seta menepuk dada. "Ki Gandara orang hebat. Dan kurasa..., kehebatannya tidak kalah dengan Pendekar Rajawali Sakti!"
"Huh! Jangan gegabah kau, Seta!" ujar Ragil memperingatkan.
"Kenapa kau rupanya" Apa kau anggap guruku tidak hebat?"
"Bukan begitu. Ki Gandara memang hebat Tapi menyamakannya dengan Pendekar Rajawali Sakti adalah keterlaluan!"


Pendekar Rajawali Sakti 181 Lima Golok Setan di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Itu karena kau tidak melihat sendiri kehebatan beliau! He, tahukah kau, kalau Ki Gandara mampu melompat setinggi dua tombak" Beliau juga mampu melompat ke cabang pohon dengan gesit tanpa terjatuh. Apa kau pernah melihat Ki Jarot melakukannya?" tukas Seta, juga kurang suka bila Ragil juga sepert merendahkan gurunya. Nada bicaranya terdengar sengit.
Ragil memang murid Ki Jarot. Tidak seperti Ki Gandara yang memiliki padepokan dan punya murid banyak, Ki Jarot tidak punya padepokan khusus. Muridnya pun sedikit, tidak lebih dari sepuluh orang. Salah satunya adalah Ragil. Meski begitu, mereka percaya kalau kehebatan Ki Jarot tidak kalah dengan Ki Gandara. Dan ketika mendengar nada bicara Seta yang sepertinya meremehkan Ki Jarot, tentu saja Ragil tidak bisa menerimanya.
"Mungkin saja Ki Jarot tidak mampu melakukannya. Tapi, beliau mampu meremukkan seekor banteng yang kuat. Atau juga meremukkan kepala seekor gajah liar yang tengah mengamuk," sahut Ragil, tak kalah sengit.
"Mana mungkin!" cibir Seta.
"Kalau begitu, aku pun bisa mengatakan mana mungkin terhadap kemampuan Ki Gandara yang tadi kau katakan!" sahut Ragil tak kalah.
"Kau boleh datang dan menyaksikannya sendiri saat kami latihan!"
"Kau juga boleh datangkan banteng atau gajah liar untuk diremukkan guruku!"
"Hm, kenapa susah-susah" Kalau begitu mengapa kita tidak saling coba?" desis Seta seraya berhenti, dan langsung berhadapan dengan Ragil pada jarak dua langkah.
"Apa maksudmu?"
"Kita uji kemampuan kita untuk membuktikan, mana yang lebih hebat. Gurumu, atau guruku!"
"Boleh! Silakan mulai!" kata Ragil menyambuttantangan Seta. Baru saja mereka hendak ber-gebrak, dari kejauhan terdengar derap langkah berlari beberapa orang. Seta dan Ragil langsung melihat ke arah datangnya suara. Tampak beberapa pemuda lari tergopoh-gopoh menghampiri.
"Rimang! Balung! Parwa! Ada apa"!" tanya Seta heran.
"Celaka, Seta!" sahut pemuda yang bernama Parwa.
"Uts! Tenang dulu. Tarik napas dalam-dalam, lalu ceritakan apa yang terjadi," ujar Seta.
"Tidak sempat. Kita harus secepatnya membe-ritahukan ini pada Ki Baluran dan Pendekar Raja-Sakti" tukas Rimang.
"Memangnya ada apa?" tanya Ragil.
"Lima Golok Setan muncul. Mereka membunuh lima orang peronda. Kami terpaksa melarikan diri untuk mengabarkan hal ini," jelas Rimang.
"Apa"! Mereka telah muncul" Celaka! Kita mesti memberitahukan orang-orang tua di desa ini!" seru Seta seraya mengajak ketiga kawannya.
"Kenapa tidak kita tahan saja mereka di sini" Mereka berlima dan kita pun berlima. Bukankah itu adil?" tahan Ragil.
"Ini bukan saatnya kita jadi pahlawan. Mereka orang gila berilmu tinggi. Kita tidak mungkin meladeninya!" sergah Seta.
"Daripada kita bergebrak berdua, bukankah lebih baik menghadapi mereka untuk membuktikan siapa yang lebih hebat?" tukas Ragil.
Mau tidak mau terbakar juga hati Seta mendengar kata-kata itu. Semula, dia coba melupakan persoalan mereka barusan, karena yang penting, menyelamatkan diri dulu. Tapi siapa kira rupanya Ragil masih penasaran untuk membuktikan kesempatan ini dalam mencoba kedigdayaan.
"Baik! Kita buktikan dengan menghadapi mereka!" sambut Seta.
"Seta! Apa-apaan ini" Ayo, lekas kita beritahukan yang lain!" seru pemuda yang bernama Balung.
"Benar! Jangan sok mau jadi pahlawan!" timpal Parwa.
"Kita akan celaka sendiri!" tambah Rimang.
"Aku dan Ragil telah sepakat untuk membuktikan mana yang lebih hebat antara guru kita atau gurunya. Tadinya kami akan bertarung. Tapi dengan munculnya Lima Golok Setan, maka mereka yang akan kami jadikan sasaran," jelas Seta. "Kalau kalian mau pergi silakan!"
"Seta! Kau tahu hal itu tidak perlu. Bahkan sama sekali tidak ada gunanya!" ujar Parwa menasihati.
"Dan kau, Ragil! Apakah hal itu lebih utama ketimbang persoalan yang kita hadapi bersama-sama?" tukas Rimang. "Kita perlu bersatu dan jangan berpecah-belah. Juga jangan bertindak sendiri-sendiri. Ki Baluran telah mengingatkan hal itu."
"Seta yang memulai. Aku menyambut tantang-annya saja," sanggah Ragil.
"Tapi kau juga sebetulnya memang hendak membuktikan kehebatan pamor gurumu!" tangkis Seta.
"Itu karena kau yang lebih dulu memanas-manasi!" balas Ragil.
Sudah! Sudah! Ttdak perlu bertengkar. Kalau persoalan siapa yang lebih hebat, maka di dunia ini tidak ada yang hebat!" tukas Rimang. "Sekarang lebih baik kita pergi dan memberitahukan hal ini pada Ki Baluran."
"He he he...! Enak saja bacotmu bicara! Lima Gdok Setan lebih hebat dari segalanya!"
"Heh"!"
? *** ? Sebuah suara yang mendadak saja menyahuti kata-kata Rimang, membuat semua yang ada di tempat ini tersentak kaget. Dan belum sempat mereka berbuat apa-apa berlompatan lima sosok, langsung mengurung lima pemuda itu dengan senjata golok panjang.
"Celaka! Itulah mereka!" desis Rimang. Kelima orang yang baru muncul itu tidak lain dari Lima Golok Setan. Salah seorang dari mereka yang bemama Sukma maju dua langkah ke depan dengan tatapan dingin.
"Hm.... Kalian orang-orang Desa Kayu Asem, bukan" Tentu kenal siapa kawanku ini"!" tunjuk Sukma pada kawannya yang bernama Bawor.
Kelima pemuda Desa Kayu Asem memperha-tikan seksama. Empat dari Lima Golok Setan me-mang tidak dikenal. Namun yang seorang rasanya pemah dilihat.
"Seperti anak dukun Rungkut!" desis Balung yang dulu rumahnya agak berdekatan dengan du-kun santet di Desa Kayu Asem.
"Kau yakin?" tanya Seta.
Balung mengangguk.
"Siapa, Balung?" tanya Rimang.
"Bawor...!"
"Ha ha ha...! Kau memang pintar, Balung!" sahut Bawor sambil tertawa bergelak. "Aku memang Bawor putra Ki Rungkut yang dibunuh oleh orang-orang tua kalian. Hari ini, aku menuntut balas atas kematian mereka!"
"Bawor! Jadi, kau salah seorang dari Lima Golok Setan"!" bentak Balung.
"Ha ha ha...! Syukurlah kau telah tahu, Sobat. Dan untuk itu, kau harus mati di tanganku!"
"Huh! Jangan dikira aku takut padamu!" dengus Balung. "Dulu aku tidak takut padamu. Dan sekarang pun tetap sama."
"Bagus! Nah, matilah kau sekarang! Yeaaat...!"
Begitu selesai ucapannya, secepat itu pula Bawor mencelat menyerang disertai teriakan menggelegar.
"Hup!"
Balung cepat membuat kuda-kuda mantap untuk menangkis serangan. Begitu Bawor menga-yunkan tendangan kaki kanan, secepat itu pula tangan kirinya mengibas ke samping.
Plak! Sungguh tidak diduga kalau Bawor menggu-nakan tenaga tangkisan tadi sebagai tumpuan untuk kaki kirinya yang terayun cepat menghantam dada.
Duk! "Aaakh...!"
Disertai jerit kesakitan, Balung kontan terjungkal ke belakang sejauh dua tombak. Wajahya berkerut menahan sakit.
"Yeaaah!"
Sebelum Balung bangkit, Bawor telah me-nerkamnya secepat kilat.
Balung menyadari bahaya yang menimpanya. Maka jalan satu-satunya adalah bergulingan menyelamatkan diri.
Balung berusaha dengan melenting tanpa menyadari kalau Bawor telah berkelebat menung-gunya. Maka ketika baru saja menjejakkan kaki, maka tendangan Bawor langsung meluruk deras. Dan....
Desss! "Aaakh"!"
Telak sekali tendangan itu mendarat di dada. Balung kontan kesakitan, dan kembali terlempar ke belakang. Dari mulutnya mengucur darah segar sepanjang luncuran tubuhnya.
"Kau kira bisa lolos dari seranganku" Huh! Kini, terima kematianmu'," desis Bawor, begitu melihat Balung jatuh berdebam di tanah.
Pemuda ini bermaksud menghabisi Balung. Tapi...
"Yeaaa...."
Saat itu juga kawan-kawan Balung bergerak membantu.
"Jangan khawatir, Bawor. Biar kami bereskan yang lain!" teriak Sukma.
Saat itu juga, pertarungan di antara mereka tidak dapat dielakkan lagi. Kalau Parwa dan Rimang bertarung sekadar mempertahankan diri, maka bagi Seta dan Ragil, ajang pertarungan ini dianggap sebagai uji coba bagi ketangguhan ilmu olah kanuraga yang mereka miliki.
Namun yang dihadapi bukanlah tokoh kemarin sore. Lima Golok Setan memiliki kepandaian jauh di atas mereka. Meski berusaha bertahan dan melawan mati-matian, sia-sia saja. Karena dengan mudah lima tokoh sesat itu menjatuhkan mereka.
Duk! "Aaakh...!"
Pertama Rimang yang terjungkal roboh. Lalu secepatnya menyusul Parwa. Dan berikutnya Seta serta Ragil secara bersamaan. Kesemuanya tidak lewat dari dua jurus.
"Bagaimana, Bawor" Kau ingin agar mereka dibereskan?" tanya Sukma.
"Bereskan saja! Mereka toh bukan sanak sau-daraku!" sahut Bawor, mantap.
"Ha ha ha...! Kalian dengar itu" Ayo, berdoalah sebelum leher kalian putus!" teriak Sukma sambil tertawa cekakakan.
"Huh! Jangan dikira kami takut! Meski kalian bunuh sekalipun, kami rela mati ketimbang diinjak-injak!" dengus Seta seraya menyeka darah yang menetes dari sudut bibir.
"Bajingan keparat! Kalian kira akan semudah itu membunuh kami" Huh! Aku akan melawan sampai titik darah penghabisan!" timpal Ragil ga-rang.
Pendekar Bayangan Setan 8 Pendekar Gila 4 Duel Di Puncak Lawu Kisah Bangsa Petualang 1

Cari Blog Ini