Ceritasilat Novel Online

Penghuni Kuil Emas 1

Pendekar Rajawali Sakti 187 Penghuni Kuil Emas Bagian 1


" . 187. Penghuni Kuil Emas ~ Bag. 1-3
12. April 2015 um 03:53
1 Dua sosok tubuh berkelebat cepat, seperti sedang berlomba. Yang paling depan bertubuh aneh. Seorang pemuda bertubuh pendek dan bulat. Namun larinya cepat luar biasa. Sementara di belakangnya adalah sosok yang tak kalah semangat mengejar.
"Ha ha ha...! Kau tak akan bisa mengejarku, Ratmi...!" ejek sosok cebol pada gadis cantik berusia lima belas tahun yang menjadi saingannya.
"Tunggu saja, Joko Wereng. Apa susahnya mengalahkanmu"!" dengus gadis cantik yang saat itu juga mengerahkan tenaga dan berusaha mengejar. Karena lari laki-laki cebol bernama Joko Wereng kencang sekali, maka gadis itu masih belum mampu juga mengejar.
"Ayo, Ratmi! Mana tenagamu" Larimu seperti kura-kura!" teriak Joko Wereng, kembali mengejek.
"Awas kau!" gumam Ratmi menahan geram.
Mata gadis ini berhenti sejenak. Lalu matanya jelalatan mencari-cari sesuatu. Dan ketika melihat sepotong kayu, buru-buru disambarnya.
"Hiih!"
Dengan gemas Ratmi melemparkan potongan kayu itu tepat di antara kedua kaki Joko Wereng.
Tak! "Ahhh!"
Gubrak! Tak ayal lagi, Joko Wereng tersungkur ke depan disertai keluhan kesakitan. Sementara Ratmi kembali melanjutkan larinya, melewati pemuda bertubuh cebol.
"Hi hi hi...! Lihat! Sekarang aku yang di depan, bukan" Larimu seperti siput, Joko!"
Ratmi tertawa girang sambil menjulurkan lidah mengejek pemuda cebol itu.
"Sial! Kau curang, Ratmi!" umpat Joko Wereng.
"Segalanya boleh saja! Yang penting menang!"
"Huh! Kalau begitu, aku pun bisa!" dengus Joko Wereng.
Setelah itu pemuda cebol ini melenting ke atas. Tubuhnya bersalto dua kali. Lalu bagai anak panah lepas dari busur, dia melesat cepat mengejar Ratmi.
"Hm.... Dia menggunakan aji "Walet Hitam". Aku mesti mencegahnya. Bagaimanapun, dia tak boleh menang!" gumam Ratmi, ketika menoleh sejenak ke belakang.
Seketika gadis itu berbalik Dan tahu-tahu telapak tangan kanannya menghentak, melepas pukulan jarak jauh ke arah pemuda cebol itu.
Wusss...! "Hei"!"
Bukan main kagetnya Joko Wereng melihat serangan yang membawa desir angin menderu tajam. Cepat-cepat dia menjatuhkan diri, sehingga tubuhnya merapat ke permukaan tanah. Maka....
Jder! Bruak! Seketika pukulan jarak jauh yang dilepaskan Ratmi menghantam sebatang pohon hingga roboh. Pada saat itu juga, Ratmi kembali melesat cepat.
"Aku menaaang...!" teriak gadis itu kegirangan ketika telah mencapai garis akhir yang telah disepakati bersama.
"Ratmi.... Apa-apaan kau ini"! Tahukah kau bahwa perbuatanmu tadi bisa mencelakakanku"!" bentak Joko Wereng kesal begitu bangkit berdiri.
"Itu hanya salah satu cara. Dan yang jelas, kau tak bisa mengalahkanku!" kilah Ratmi.
"Menang dengan kecurangan yang membahayakan jiwaku"!" sungut Joko Wereng.
"Sudahlah.... Jangan marah-marah. Kita kan hanya bersenang-senang. Lagi pula aku tahu kau bisa menghindar," kilah Ratmi.
"Bagaimana kalau tidak?"
"Aku akan minta pada Ayah agar mencabut saja semua ilmu yang diajarkannya padamu. Memalukan nama Ayah saja! Hanya dengan serangan begitu, kau tak mampu menghindarinya."
Mendengar kata-kata Ratmi, Joko Wereng tak bisa marah-marah lagi.
"Eh, coba lihat!" tunjuk gadis itu sambil berseru girang.
"Apa?"
"Itu!" bisik Ratmi.
"Hm!"
Tidak jauh dari mereka, terdapat sebuah sungai agar lebar. Dari balik rerimbunan semak, mereka melihat seorang tengah terkantuk menunggu pancingannya dimakan ikan.
"Lihat!" ujar Ratmi seraya memungut batu dan melemparkannya.
Siuuut! Tak! Batu yang dilempar Ratmi tepat menyentuh ujung jeram, hingga tertekuk seperti ditarik ikan.
Plung! "Eee...!"
Laki-laki setengah baya yang tengah terkantuk terkejut bukan main, langsung menyentak jorannya. Namun, tidak seekor ikan pun yang terkait di kailnya. Ketika merasakan wajahnya basah oleh cipratan air, dan air sungai di depannya bergelombang besar, meski untuk beberapa saat, dia mengerti apa yang terjadi. Terlebih, ketika mendengar cekikikan dari balik semak-semak.
"Bocah kurang ajar! Awas kau, ya!" teriak laki-laki itu gemas, begitu melihat ke arah sumber suara cekikikan.
"Eh, lari! Ayo lari! Dia ngamuk!" cetus Ratmi seraya melompat dari persembunyiannya sambil cekikikan.
Joko Wereng pun mengikuti dari belakang, dan ikut tertawa geli melihat laki-laki setengah baya itu berteriak-teriak geram mengejar.
"Awas kalian! Kalau dapat akan kujitak masing-masing sepuluh kali! Hei, berhenti! Berhenti...!"
"Hi hi hi...! Dasar orang tua pikun. Siapa yang mau berhenti untuk dijitak"! Ayo, kejar kalau bisa!" sahut Ratmi dengan suara nyaring.
"Dasar anak-anak nakal!" umpat laki-laki setengah baya itu, seraya berhenti untuk mengatur napasnya yang tersengal.
"Kau memang keterlaluan sekali, Ratmi!" umpat Joko Wereng setelah mereka agak jauh dari laki-laki setengah baya tadi.
"Kenapa" Aku hanya menolongnya."
"Itu bukan menolong, tapi menyusahkannya! Coba kalau kehidupannya dari mengail ikan dan kita telah mengganggu, siapa tahu anak dan istrinya di rumah tengah menanti kedatangannya dengan membawa hasil yang banyak?"
"Aku justru membantunya. Coba dengar! Kalau memancing sambil tidur-tiduran begitu, mana mungkin dapat hasil" Nah! Karenanya, kukejutkan dia dengan batu tadi, supaya bersungguh-sungguh agar mendapat hasil banyak!" tangkis Ratmi.
"Mana bisa begitu"!" tukas Joko Wereng.
"Bisa saja!"
"Tapi, Rat...."
"Sudahlah!" potong Ratmi, menukas dengan galak. "Kalau tak suka dengan kelakuanku, kau boleh pulang! Aku tak pernah mengajak-ajakmu untuk ikut!"
Kalau sudah begitu, Joko Wereng tak bisa menjawab lagi. Dan dia diam membisu.
"Ke mana tujuan kita sekarang?" tanya pemuda cebol ini setelah mereka membisu untuk sesaat lamanya.
"Ke mana saja kakiku melangkah!" sahut Ratmi acuh tak acuh.
Kalau sudah menghadapi sikap Ratmi seperti itu, Joko Wereng jadi salah tingkah dan kehabisan kata. Matanya melirik, tapi tak bicara apa-apa. Begitu saja sampai beberapa kali.
Sedangkan gadis itu sendiri terus melangkah riang. Bola matanya jelalatan ke mana-mana mencari sesuatu yang bisa untuk mengusuli lagi.
"Tolooong...!"
"Heh"!"
Kedua anak muda ini tersentak, ketika mendadak terdengar teriakan dari kejauhan. Walau agak samar, namun masih tertangkap telinga-telinga mereka.
"Apa itu"!" tanya Joko Wereng.
Ratmi tak menyahut, tapi langsung menggenjot tubuhnya mendatangi arah suara. Sementara Joko Wereng mau tak mau terpaksa mengikuti.
*** Begitu tiba di tempat sumber suara, Ratmi dan Joko Wereng melihat seorang gadis tengah dipondong seorang laki-laki bungkuk. Seluruh wajah laki-laki bungkuk itu tertutup kain hitam, kecuali sepasang matanya yang terdapat dua lubang untuk melihat. Sementara gadis dalam pondongan tak kuasa melepaskan diri, dan hanya mampu berteriak-teriak.
"Berhenti!" bentak Ratmi garang langsung menghadang, karena laki-laki bungkuk itu memang menuju ke arahnya.
"Hm!" gumam laki-laki bungkuk itu tak jelas.
"Hati-hati, Ratmi!" ingat Joko Wereng.
"Lepaskan gadis itu!" bentak Ratmi, mendengus sinis.
"Bocah busuk! Menyingkirlah kau dari hadapanku!" bentak laki-laki bungkuk itu, dingin.
"Lepaskan gadis itu kataku. Atau, kupatahkan kedua tanganmu!"
"Huh! Dasar bocah bosan hidup! Rasakan ini!"
Tiba-tiba saja telapak tangan kiri laki-laki bungkuk ini menghantam ke depan. Maka serangkum angin kencang berhawa panas langsung meluruk ke arah Ratmi.
"Uts! Kurang ajar!"
Ratmi berkelit gesit dengan melompat ke samping sambil menyumpah-nyumpah tak karuan. Dan kemarahannya semakin menjadi ketika laki-laki bungkuk itu coba melarikan diri.
"Berhenti kau, Bungkuk! Kau kira bisa melarikan diri seenak perutmu, heh"!" bentak gadis ini garang seraya menghentakkan tangannya ke depan, melepas pukulan jarak jauh.
"Hiyaaap!"
Wut! Laki-laki bungkuk itu sama sekali tak menoleh ketika deru angin keras menyambar ke arahnya, tubuhnya hanya mengegos sedikit, sehingga pukulan gadis itu luput.
"Kurang ajar!" dengus Ratmi menggeram. Dan secepat kilat senjata andalannya dikeluarkan. Sebuah ketapel!
"Hup!"
Sambil berlari mengejar, gadis itu menyambar beberapa butir kerikil.
"Dengan pukulan mungkin kau luput. Tapi, boleh coba senjataku ini! Hiih!"
Sehabis berkata demikian, Ratmi menjepretkan ketapelnya.
Siuuut! Wut! Wut! Tiga buah kerikil sebesar telur puyuh melesat cepat. Yang dua luput. Namun....
Tak! "Akh!"
Kerikil ketiga tepat mengenai kepala laki-laki bungkuk, sampai terdengar jerit kesakitannya.
"Nah, apa kataku!" dengus Ratmi sambil berkacak pinggang ketika melihat laki-laki bungkuk itu berhenti dan berbalik menghadapinya.
"Gadis bengal! Rupanya kau ingin mampus, he"!" dengus laki-laki itu geram seraya meletakkan pondongannya. Lalu secepat kilat dia melompat menyerang Ratmi.
"Selamatkan gadis itu, biar kuhadapi dia!" bisik Ratmi pada Joko Wereng.
"Tapi, itu sangat berbahaya..."!" tolak Joko Wereng.
"Jangan membantah!" bentak Ratmi sambil melompat menghindari serangan.
Joko Wereng kebingungan sendiri. Tapi akhirnya dengan terpaksa diturutinya kehendak Ratmi. Buru-buru disambarnya gadis yang tadi dipondong laki-laki bungkuk itu.
"Oh, Tuan. Tolong selamatkan aku...!"
"Jangan khawatir, Nisanak. Aku akan menyelamatkanmu. Tapi pertama-tama aku harus melepaskan totokanmu dulu," ujar Joko Wereng.
Pemuda cebol ini berusaha melepaskan totokan gadis desa itu. Tapi tak berhasil juga. Dan meski telah mencoba beberapa kali, tetap tidak berhasil.
"Gila! Totokan seperti apa ini"!" desis Joko Wereng heran.
"Jangan ganggu dia, Cebol!" bentak laki-laki bungkuk itu tiba-tiba, seraya meluruk ke arah Joko Wereng.
"Heits!"
Joko Wereng terkejut, namun segera melompat ke samping.
"Belum juga kau bawa kabur gadis itu"!" bentak Ratmi marah, kembali menyerang laki-laki bungkuk itu dengan ketapelnya.
"Aku berusaha melepaskan totokannya tapi tak bisa!" kilah Joko Wereng.
"Dasar tolol! Kenapa tidak kau larikan saja dia dulu"!"
"He he he...! Kalian berdua memang tolol. Mana mungkin mampu melepaskan totokanku pada gadis itu!" ejek laki-laki bungkuk sambil mencelat ke belakang ketika menghujaninya dengan peluru ketapel.
Siuuut! Wut! "Hup!"
Laki-laki bungkuk itu melenting ke atas, langsung membuat putaran beberapa kali. Tapi baru saja mendarat....
"Kau boleh merasa hebat. Tapi, makan seranganku ini! Hiih!"
Melihat senjatanya gagal mencari mangsa maka secepat kilat gadis itu menghentakkan tangan kanannya melepaskan pukulan jarak jauh kembali.
"Uts!"
Laki-laki bungkuk ini mencelat ke belakang, ketika melihat sekelebatan cahaya laksana nyala api melesat menyambarnya.
"Gila! Apa hubunganmu dengan si Dewa Api, Bocah"!" desis laki-laki bungkuk.
"Dia ayahku. Kau mau apa"!" sahut Ratmi sambil berkacak pinggang.
"Bagus! Sungguh kebetulan!"
Laki-laki bungkuk bertopeng mendengus. Dan tiba-tiba saja gadis itu diserangnya laksana seekor harimau kelaparan tengah menerkam mangsa.
"Eit!"
Ratmi terkesiap. Cepat tangan kirinya mengibas untuk menangkis.
Plak! Wuttt! Namun, laki-laki bungkuk itu langsung melanjutkan serangan lewat tendangan kaki kiri. Dan dengan gerakan manis, gadis itu mencelat ke samping.
Melihat serangannya gagal, laki-laki bungkuk bertopeng ini segera mengejar cepat, membuat gadis itu kelabakan.
"Jangan takut, Ratmi! Aku datang membantumu!" teriak Joko Wereng. "Heaaat...!"
Laki-laki bungkuk itu mendengus dingin. Dan secepatnya dia berbalik, melayani serangan Joko Wereng.
"Eits!"
Joko Wereng terkejut. Sungguh tak disangka secepat itu laki-laki bungkuk ini berbalik. Bukan saja menangkis serangannya, tapi sebelah kakinya meluruk deras ke dada. Sehingga....
Plak! Des...! "Aduhhh...!"
Pemuda cebol itu mengeluh kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke belakang. Namun masih mampu menguasai diri. Sambil jungkir balik, dia mendarat manis.
"Kurang ajar! Aku akan membalasmu, Bungkuk!" dengus Joko Wereng geram.
Tapi laki-laki bungkuk bertopeng itu sudah melanjutkan serangannya ke pada Ratmi.
"Hiaaat!"
"Huh! Terima ini!" desis Ratmi seraya menyambut serangan dengan ketapelnya.
Siuuut! Dua kerikil melayang deras, namun laki-laki bungkuk itu berkelit gesit. Bahkan salah satu kerikil itu berhasil ditangkapnya.
Tapi, Ratmi tidak membiarkannya begitu saja. Begitu peluru ketapelnya melesat, maka saat itu pula tubuhnya mencelat menyerang dengan kedua kaki menyilang seperti hendak menggunting.
Secepat kilat laki-laki bungkuk itu berkelit ke samping seraya memapak dengan tangan kirinya. Bahkan tangan kanannya langsung bergerak mencengkeram.
Plak! Tap! "Kena kau!" seru laki-laki bungkuk ini ketika berhasil menangkap salah satu pergelangan kaki Ratmi.
Wut! "Hiih!"
Tapi Ratmi tidak kehabisan akal. Tubuhnya meliuk ke bawah. Dan ketika laki-laki itu berusaha menyentak, sebelah kepalan tangannya diayunkan ke bagian barang yang dibangga-banggakan kaum laki-laki.
Duk! "Aaakh...!"
Laki-laki bungkuk ini kontan memekik setinggi langit sambil memegangi burungnya yang terasa mau "pecah". Sementara Ratmi sendiri langsung membuat putaran ke belakang.
"Tahu rasa kau!" dengus Ratmi. Begitu mendarat dengan berkacak pinggang.
"Bocah liar! Kubunuh kau!" maki laki-laki bungkuk.
Baru saja laki-laki bungkuk itu hendak menyerang dengan kedua tangan yang membentuk cakar....
"Itu dia! Itu dia! Kejar...! Jangan biarkan dia lolos...!"
Mendadak pada saat itu muncul beberapa orang laki-laki bersenjata, menunjuk-nunjuk ke arah laki-laki bungkuk. Mereka langsung menghambur, hendak mengurungnya.
"Bocah liar! Hari ini kau selamat. Tapi lain kali, hati-hati! Aku akan mengejarmu!" dengus laki-laki bungkuk seraya mencelat kabur dari tempat itu.
"Bungkuk busuk! Aku tak takut ancamanmu! Huh!" balas Ratmi sambil mendengus geram.
"Dia berusaha kabur! Ayo kejar...!" teriak orang-orang yang baru muncul itu.
Jumlah mereka sekitar dua puluh lima orang. Dan semuanya meluruk mengejar laki-laki bungkuk bertopeng tadi.
*** 2 Joko Wereng dan Ratmi saling berpandangan tak mengerti melihat laki-laki bungkuk tadi diburu beberapa orang, seperti maling jemuran.
"Ada apa?" tanya Joko Wereng.
"Dasar tolol! Sudah jelas mereka tengah memburu si bungkuk!" rutuk Ratmi.
"Kenapa?"
"Ya, mungkin saja gadis itu warga desa mereka!"
"Lalu, kenapa kau juga ikut-ikutan bengong?"
"Aku bengong bukan memikirkan soal itu. Tapi, bingung kenapa bungkuk-bungkuk seperti orang itu masih juga punya pikiran soal nafsu segala!" dengus Ratmi.
"Mungkin dia orang suruhan...," duga Joko Wereng.
"Suruhan siapa"!"
"Mungkin saja dia punya majikan...."
"Ah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan soal itu. Lebih baik coba lihat, bagaimana keadaan gadis itu," ujar Ratmi, jadi kesal sendiri.
"Dia tertotok. Aku coba membebaskannya, tapi tak bisa," jelas Joko Wereng.
"Segalanya memang kau tak bisa! Coba lihat, nih!"
Ratmi berjongkok. Dicobanya membebaskan totokan pada gadis yang tadi hendak menjadi korban si bungkuk.
"Hiih...!"
Tuk! Tuk! Ratmi melepas dua totokan. Sekali di dada, dan sekali di dekat pinggang kiri. Tapi, gadis itu belum juga mampu menggerakkan tubuhnya. Dicobanya sekali lagi. Tapi tidak juga berhasil.
"Gila!" umpat Ratmi kesal.
"Makanya..., jangan sok tahu!" Joko Wereng tersenyum mengejek.
Ratmi garuk-garuk kepalanya dengan dahi berkerut. Dia berpikir keras, bagaimana caranya membebaskan totokan gadis itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ratmi pada gadis yang masih terbaring.
"TL., tidak...."
"Si bungkuk itu sempat..., ng..., menodaimu?"
"Ti..., tidak. Tapi aku..., aku takut sekali...."
"Tenanglah. Sekarang kau aman. Tapi, kami bingung bagaimana cara membebaskan totokanmu," ujar Ratmi.
"Jadi..., jadi aku akan terus begini?" tanya gadis itu dengan suara tersendat.
"Tenanglah dulu. Kami tengah berpikir, bagaimana caranya menolongmu. Ng..., di mana si bungkuk tadi menotokmu?"
"Entahlah. Aku lupa. Saat itu, aku takut sekali. Aku sudah berusaha melepaskan diri, tapi tiba-tiba saja tubuhku lemas dan tak bisa digerakkan...."
"Coba ingat-ingat!" ujar Ratmi setengah memaksa.
"Kalau tak salah di..., bagian pinggang belakang."
"Pinggang belakang" Coba berbalik!"
"Ratmi.... Dia tengah tertotok. Mana bisa bergerak...," ingat Joko Wereng.
Gadis itu tertawa dalam hati karena menyadari kekeliruannya. Tapi mana mau kesalahannya ditunjukkan di depan mereka"
"Aku juga tahu! Hanya sekadar menguji, apakah dia sudah bebas dari totokan atau belum. Siapa tahu yang tadi ada hasilnya. Jadi, tidak capek-capek lagi!" tukas Ratmi dengan nada tinggi, seraya membalikkan tubuh gadis yang hendak ditolongnya. Dia lantas menduga bagian mana yang mesti ditotoknya.
"Bagaimana, Nisanak?" tanya Joko Wereng, ketika Ratmi telah menotoknya.
"Anggota tubuhku masih belum bisa digerakkan...," keluh gadis ini lemah.
"Aduuh! Mesti bagaimana lagi?" keluh Ratmi sambil memukul-mukul jidatnya pelan.
Tapi saat tengah kebingungan begitu....
"Wagni...! Wagni anakku! Kau tak apa-apa"!"
Mendadak muncul laki-laki setengah baya bersama seorang wanita yang juga setengah baya disertai seruan bernada penuh kekhawatiran. Mereka langsung memburu gadis yang hendak ditolong Ratmi.
"Ibu...! Wagni takut, Bu! Ayah..., aku takut...!" rintih gadis yang bernama Wagni.
Tengah mereka berpelukan, mendadak laki-laki setengah baya yang ternyata ayahnya Wagni berdiri. Dia langsung berkacak pinggang sambil melotot garang.
"Weiih, Bocah! Apa yang telah kalian perbuat pada anakku" Katakan! Atau, golokku ini akan bicara!" dengus laki-laki itu.
Srak! Golok yang terselip di pinggang langsung dicabut dan langsung diayun-ayunkan di hadapan Ratmi dan Joko Wereng.
"Uts! Dasar orang sinting!" dengus Ratmi sambil melompat ke belakang.
"Hei, apa katamu"! Kurang ajar...!"
Bukan main marahnya laki-laki itu mendengar makian Ratmi. Maka tanpa pikir panjang lagi, dia langsung melompat sambil menyabetkan goloknya pada gadis itu.
"Uts! Betul-betul sinting. Hei, Orang Tua! Kenapa kau ini" Menyerang tanpa alasan!"
"Jangan banyak bacot! Apa yang telah kau perbuat terhadap putriku"!"
"Kau kira apa" Menodai putrimu" Gila! Aku bahkan berusaha menyelamatkannya!"
"Dusta! Apa yang hendak kau perbuat padanya tadi"!" desak laki-laki itu.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja putrimu?" tukas Ratmi.
Laki-laki itu menghentikan serangannya. Matanya memandang sekilas dengan sorot tajam, kemudian melangkah mendekati putrinya.
"Wagni, katakan! Apakah gadis itu telah mencelakaimu?" tanya laki-laki setengah baya itu.
"Ohh!"
Wanita setengah baya yang tak lain ibunya Wagni melepaskan pelukan pada anaknya. Sementara Wagni sendiri langsung memandang ayahnya.
"Ayah.... Mereka..., mereka justru yang menolongku," jelas Wagni.
"Oh! Kalau begitu, aku telah salah paham...," gumam laki-laki setengah baya ini seraya berpaling memandang Ratmi dan Joko Wereng. Wajahnya langsung berubah pucat, menahan malu.
"Nisanak.... Dan kau, Kisanak. Aku si tua bernama Ki Jawul meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas sikapku tadi. Juga menyatakan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan yang kalian berikan pada putriku!" ucap laki-laki setengah baya bernama Ki Jawul, dengan kepala tertunduk.
"Huh, enak saja! Setelah mencoba mencelakakan kami kini kau cuma meminta maaf!" dengus Ratmi sambil membuang muka.
"Jadi..., jadi kalian tak mau memaafkanku...?" Ki Jawul mengangkat kepalanya dengan wajah makin pucat.
"Ratmi, jangan begitu! Dia telah meminta maaf. Dan kita wajib memaafkannya. Tindakannya tadi karena bermaksud melindungi putrinya," bujuk Joko Wereng.
Lalu pemuda tolol itu mendahului, membalas salam hormat Ki Jawul.
"Ki Jawul, aku Joko Wereng telah bersedia memaafkanmu!"
"Tapi aku tidak!" cibir Ratmi, tetap dengan nada sinis.
"Ratmi, jangan begitu...!"
"Apa"! Kau berani mengajariku"!" bentak gadis itu dengan mata melotot garang.
"Bukan begitu. Tapi..., tapi...."
"Tapi apa"!" potong Ratmi, garang. "Kalau goloknya tadi sempat memisahkan batok kepala sehingga nyawamu melayang, apakah kau bisa hidup lagi hanya dengan permintaan maaf"!" sergah Ratmi, seenaknya.
"Tapi..., tapi kepalaku kan masih utuh...," tukas Joko Wereng.
"Ah, sudahlah! Itu urusanmu. Kau boleh saja memaafkannya. Tapi, aku tidak puas kalau belum membalasnya!"
"Nisanak! Kalau itu maumu, aku bersedia melakukan apa saja asal kau memaafkan kesalahanku tadi!" sahut Ki Jawul cepat.
"Sungguh?" tanya Ratmi, minta penegasan.
Laki-laki itu mengangguk cepat.
Ratmi mengerutkan dahi, berpikir sebentar. Tapi Joko Wereng yang tahu betul watak gadis itu jadi merasa cemas. Jangan-jangan dia akan memberi hukuman berat.
"Ratmi, kali ini cukuplah. Mereka sudah cukup menderita karena cemas memikirkan putrinya yang diculik. Jangan tambah lagi beban mereka...," bujuk pemuda cebol itu.


Pendekar Rajawali Sakti 187 Penghuni Kuil Emas di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Diamlah kau. Jangan campuri urusanku!" sentak Ratmi.
"Tapi..."
Joko Wereng tak meneruskan kata-katanya. Nyalinya mengkeret melihat bola mata gadis itu mendelik garang padanya.
"Kau harus berlari kira-kira seratus langkah jauhnya dari sini, dan kembali ke sini dengan cepat!" jelas gadis itu menyebutkan hukumannya.
"Cuma itu?" tanya Ki Jawul sambil tersenyum kecil, karena merasa hal itu tidak terlalu sulit dilakukan.
"Hanya syaratnya, kau berlari dengan kedua tangan diikat ke belakang dan mata ditutupi kain," lanjut Ratmi, memperjelas hukumannya.
"Ohhh!"
"Ratmi, kau..."!"
Ki Jawul terkejut. Demikian pula Joko Wereng. Kalau medan yang dilaluinya padang rumput, tidak begitu sulit. Tapi di sekitar tempat ini banyak ditumbuhi semak. Dan yang tidak kalah repot, banyak pohon berbatang besar ataupun kecil yang tumbuh di sekitarnya. Maka apa yang diinginkan gadis itu sama artinya siksaan hebat. Mungkin belum lagi berlari lima langkah, Ki Jawul akan terbentur batang pohon Lalu bangkit dan berlari lagi, maka terbentur batang pohon yang lain.
"Bagaimana" Mudah, bukan"!" tanya Ratmi sambil tersenyum-senyum.
"Nisanak.... Kalau hendak memukulku, pukullah! Aku rela. Bahkan kalau hendak membunuhku, bunuhlah! Tapi jangan perlakukan aku seperti itu," pinta laki-laki itu, lirih.
"He, jangan macam-macam kau! Tadi kau sendiri yang telah menyanggupi untuk melakukan apa saja, asal aku memaafkanmu. Sekarang akan kumaafkan, asal kau melakukan apa yang kuminta tadi!" bentak Ratmi.
Sementara rombongan orang-orang desa yang tadi mengejar laki-laki bungkuk telah kembali dengan membawa gerutu berkepanjangan dan caci-maki tak karuan. Mereka bertegur sapa sebentar dengan Ki Jawul. Sebagian dari mereka mengatakan pada laki-laki itu kalau Ratmi dan Joko Wereng yang telah menyelamatkan putrinya.
"Kenapa, Ki" Kau sepertinya tidak gembira setelah putrimu ditemukan dalam keadaan selamat?" tanya salah seorang penduduk.
"Tidak, Rambat! Aku gembira sekali!" elak Ki Jawul.
"Tapi..., wajahmu kelihatan kusut. Ada apa, Ki?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa!"
Tapi laki-laki yang dipanggil Rambat agaknya tidak puas dengan jawaban Ki Jawul. Lantas kepalanya menoleh memandang pada Ratmi.
"Adik kecil.... Ada apa sebenarnya di antara kalian?" tanya Rambat.
Ratmi menceritakan persoalan mereka.
"Begitulah. Dia mesti menjalani hukumannya. Dan dengan begitu, baru aku bisa memaafkannya," kata Ratmi, setelah menjelaskan apa yang terjadi.
"Tapi itu sama artinya kau menyiksanya, Adik Kecil?" tukas Rambat.
"Aku tak peduli! Lagi pula, aku bukan adik kecilmu!" bentak Ratmi sewot.
Mendengar bentakan itu, Rambat terdiam. Demikian pula yang lain. Mereka memahami duduk persoalannya. Dan mereka tahu kalau Ki Jawul telah berbuat gegabah pada gadis itu. Tapi, hukuman yang mesti dijalaninya terasa berat bagi orang seperti Ki Jawul yang tak mengerti apa-apa soal ilmu olah kanuragan. Kalaupun dia mengerti sejurus dua jurus, belum tentu jidatnya aman dari benturan. Bahkan mereka yang berada di tempat itu tidak mampu melakukannya dengan mulus. Tiga atau lima langkah pasti akan terjadi benturan dengan batang pohon. Malah mungkin saja lebih.
"Aku tidak bisa menunggu lama!" teriak gadis itu kesal. "Jalani hukumanmu. Atau semua orang akan melihatmu sebagai manusia tak berbudi"!"
"Kalau memang itu keinginanmu, baiklah. Silakan ikat kedua tanganku dan tutup pula mataku!" sahut Ki Jawul setelah menarik napas panjang.
"Ayah! Ohh...!" teriak Wagni cemas, seraya memandang Ratmi dengan tatapan iba. "Nisanak, aku mohon padamu. Maafkanlah ayahku. Jangan perlakukan dia seperti itu!"
"Tidak bisa! Dia hampir saja membunuhku. Maka dia mesti dapat balasan setimpal!" sentak Ratmi.
"Sudahlah, Wagni. Ayah memang salah. Biarkan Ayah menjalani apa yang dimintanya," sahut Ki Jawul.
"Tapi..., Ayah bisa celaka...?"
"Biarlah kuwakili orang tua ini, Nisanak."
"Hei"!"
Tahu-tahu terdengar suara bernada menawarkan diri, membuat semua yang ada di tempat itu tersentak, dan menoleh. Tahu-tahu di tempat itu, berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Di balik punggungnya, bersandar sebilah pedang bergagang kepala burung.
"Anak muda! Jangan mencari celaka. Biarlah aku yang akan melakukannya. Ini memang salahku," tolak Ki Jawul, tegas.
"Aku bermaksud menolongmu. Dan tidak minta imbalan sedikit pun atas pertolonganku. Semua yang ada di sini menjadi saksinya," sambung pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti.
Mulanya Ki Jawul akan menampik niat baik pemuda itu. Tapi....
"Baik! Kau akan menggantikannya!" kata Ratmi sinis.
Ikut campurnya Pendekar Rajawali Sakti dalam persoalannya membuat gadis itu kesal. Apalagi, seolah Rangga meremehkan hukuman yang diberikannya tadi. Meski menyandang pedang dan diduga memiliki ilmu silat, belum tentu pemuda itu akan selamat. Begitu pikiran gadis ini. Kalau sudah kena batunya, baru tahu rasa!
"Tapi, Nisanak! ini salahku! Ini persoalan kita! Orang lain tak berhak ikut campur!" tukas Ki Jawul.
"Diamlah kau! Seharusnya kau senang karena, dia mau mewakilimu. Kalau kau banyak bicara, maka hukuman akan kulipatgandakan!" sentak gadis itu galak, seraya melirik Rangga.
Hati Ki Jawul jadi miris. Juga merasa kasihan kalau pemuda yang tak dikenalnya itu menjadi korban karena kesalahannya.
"Sudah siap?" tanya Ratmi.
"Silakan."
"Hm...!"
Ratmi menunjukkan muka manis saat melewati Ki Jawul.
"Pinjam ikat kepalamu!"
Dengan ragu Ki Jawul memberikan ikat kepalanya yang agak lebar.
"Huu, bau!" leceh gadis ini sambil memonyongkan mulut dan menarik hidungnya ketika mencium ikat kepala itu sekilas.
Ki Jawul mesem-mesem. Sementara yang lainnya nyengir kuda.
Bret! Ikat kepala itu dirobek jadi dua bagian yang sama panjang. Satu mengikat kedua tangan pemuda itu ke belakang, dan satu lagi untuk menutupi mata.
"Joko.... Kau jalan seratus langkah dari sini! Pastikan dia sampai di tempatmu!" perintah Ratmi.
"Baik."
Setelah segala sesuatunya beres, gadis itu memberi aba-aba.
"Kumulai hitungan tiga. Dan sampai hitungan ke sepuluh, kau harus tiba lagi di sini!"
"Nisanak... Syarat itu terlalu berat!" sela Ki Jawul.
Gadis itu mendengus sinis, sehingga laki-laki itu tak mampu melanjutkan ungkapan ketidaksetujuannya.
"Yak...!" teriak Ratmi setelah menghitung sampai tiga.
Rangga mulai berlari kencang. Langsung dikerahkannya aji "Pembeda Gerak dan Suara". Kedua tangannya dikibas-kibaskan ke depan. Dan dari situ terasa angin kencang bertiup. Bila angin pukulan itu membentur batang pohon, maka sebagian memantul menerpa mukanya. Dengan demikian pemuda itu mengetahui kalau di depannya ada batang pohon. Maka segera tubuhnya mengegos ke samping. Begitu seterusnya. Semua itu dilakukan dalam waktu singkat dan kecepatan hebat.
"Gila! Bagaimana mungkin dia dapat melakukan hal itu"!" desis seorang penduduk desa sambil mendecah kagum.
"Pemuda itu mungkin punya tiga mata. Dua mata tertutup, tapi satu mata masih melihat!" sambung yang lain.
"Hus, ada-ada saja kau! Yang jelas dia memang sakti."
Sementara itu, Ratmi baru menghitung sampai angka tujuh. Dan ternyata Pendekar Rajawali Sakti telah kembali. Itu membuatnya tidak senang. Maka ketika pemuda itu hampir tiba, secepatnya ketapelnya dikeluarkan. Dan disambarnya beberapa buah kerikil, lalu dijepretkannya.
"Hiih!"
Tiga buah kerikil melayang ke arah Rangga. Namun Pendekar Rajawali Sakti cepat menangkap dua buah.
Tap! Tap! "Hup!"
Sedangkan sebuah lagi luput mengenai sasaran, karena Rangga melompat ke atas dan berjumpalitan beberapa kali seraya mengebutkan tangannya. Maka dua kerikil yang berhasil ditangkap, kembali meluncur deras ke arah semula datang.
"Sial! Uhh!"
Ratmi menggerutu geram. Sebuah kerikil berhasil dihindarinya dengan menjatuhkan diri dan bergulingan. Tapi, kerikil yang satu lagi tepat mengenai pinggang bagian belakang, saat tubuhnya bergulingan.
Tuk! "Aduuuh...!"
Ratmi menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan tak berdaya, seperti dicopoti tulang-belulangnya. Dan..., tak mampu bangkit lagi!
Tentu saja kejadian itu membuat mereka yang menyaksikan menjadi terkejut. Kalau tadi mereka sempat menahan dongkol melihat kecurangan gadis itu, kini di hati mereka ada terbersit perasaan senang. Mungkin sekadar melampiaskan kekesalan, melihat tingkah polah Ratmi.
*** 3 "Kisanak.... Kini kau terbebas dari hutang budi kepadanya," kata Rangga.
"Oh.... Terima kasih, Anak Muda! Tapi..., bagaimana dengan gadis itu?" tunjuk Ki Jawul.
"O, dia" Tidak apa. Gadis itu akan pulih dengan sendirinya sebentar lagi," sahut Rangga kalem.
"Anak muda.... Aku tak tahu harus bagaimana berterima kasih. Kita tak saling kenal. Tapi, kau bersedia berkorban untuk membantuku. Aku si tua bernama Ki Jawul betul-betul amat berterima kasih atas segala pertolonganmu!" ucap Ki Jawul.
"Sudahlah, Ki. Tidak usah begitu. Bukankah sudah jadi kewajiban setiap umat manusia untuk saling tolong-menolong?"
"Ya, kau benar."
"Kang...!" sela Nyi Jawul dengan wajah tampak murung.
Wanita istri Ki Jawul membisikkan sesuatu. Dan wajahnya masih tampak murung ketika berpaling pada putrinya yang masih berbaring lesu.
"Anak muda.... Kami..., kami...," Ki Jawul jadi sungkan untuk meminta pertolongan pemuda itu lagi.
"Ada apa, Ki" Apa yang bisa kubantu lagi?" tanya Rangga.
Untuk sesaat lidahnya terasa kelu. Tapi mengingat hal ini demi kebaikan putrinya, maka diberanikannya untuk memohon.
"Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi, putriku kaku dan tak bisa bergerak...," jelas Ki Jawul.
"Hm, coba kuperiksa."
Rangga melangkah lebar mendekati. Diamat-amatinya Wagni dengan seksama. Lalu dua buah jari tangannya bergerak menyambar bagian pinggang agak ke atas.
Tuk! Tuk! "Putrimu tertotok. Dan kini telah kubebaskan. Sebentar lagi dia akan mampu bergerak. Urat-uratnya agak lemas karena terlalu lama kena totok," jelas Rangga.
"Wagni.... Kau tak apa-apa, Nak...?" tanya Nyi Jawul, khawatir.
"Tidak, Bu...."
Perlahan-lahan gadis itu berusaha bangkit, dan langsung memeluk ibunya.
"Bu..., Wagni takut.... Takut, Bu...."
"Hm.... Apa sebenarnya yang terjadi, Ki" Kenapa putrimu bisa jadi begini?" tanya Rangga.
"Seseorang menculiknya ketika kami berada di sawah. Kemudian seorang penduduk yang mengetahuinya segera membunyikan kentongan untuk memanggil penduduk desa lainnya," jelas Ki Jawul, singkat.
"Hm.... Di mana-mana memang selalu saja ada yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan!" gumam Rangga pelan, namun menyiratkan kegeraman. "Siapa penculik itu?"
Sementara itu Joko Wereng telah kembali. Dan dia kaget melihat apa yang terjadi terhadap Ratmi.
"Ratmi...! Ada apa" Apa yang terjadi padamu"!" tanya pemuda cebol itu.
"Pemuda sial itu! Dia telah menotokku! Lepaskan totokan ini, Joko! Aku mesti menghajarnya!" rutuk Ratmi, panjang-pendek.
"Baik. Baik! Sebentar...!"
Tuk! Totokan yang dilakukan Rangga memang tidak kuat. Karena, memang disengaja untuk memberi pelajaran pada gadis itu. Sehingga, Joko Wereng tidak kesulitan melepaskannya.
"Hup!"
Dengan sigap Ratmi bangkit ketika telah terbebas dari totokan. Lalu dia cepat melompat ke hadapan Rangga. Di belakangnya, Joko Wereng mengikuti.
"Pemuda kurang ajar! Apa yang kau perbuat padaku, he"! Kau hendak berbuat curang dengan coba mencelakakanku"!" hardik Ratmi garang.
"Eh, ada apa ini" Kenapa tiba-tiba marah?" tanya Rangga, tenang.
"Jangan pura-pura bodoh! Kau telah melemparku dengan batu!"
"Melemparmu dengan batu" Mana mungkin" Kedua tanganku terikat dan mataku terkatup"!" kilah Rangga, pura-pura.
Ratmi mendongkol setengah mati. Dia tadi sampai tidak memperhatikan, bagaimana pemuda itu melepaskan ikatan, lalu menangkap kedua batu dan balas melempar ke arahnya. Kejadian itu begitu cepat dan singkat.
Hal itu memang tidak mengherankan kalau Ratmi mau jeli. Ketika mulai berlari, tubuh Rangga yang kadang berputar, melompat ke atas beberapa kali. Kesempatan itu digunakannya untuk melepaskan diri dari ikatan. Karena gerakannya cepat, demikian pula larinya, sehingga Ratmi tidak sempat memperhatikannya.
"Jelas kau yang melakukannya!" tuding gadis itu, kehabisan kata untuk menuduh Pendekar Rajawali Sakti.
"Nisanak.... Kau tak punya bukti. Aku tidak bisa menyambitmu dengan batu. Maka jangan suka mengada-ada," sahut Rangga tenang.
Pemuda itu menoleh pada Ki Jawul.
"Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku mampir ke rumahmu, Ki" Barangkali ada seteguk atau dua teguk air putih untuk membasahi tenggorokanku," lanjut Rangga.
"Oh, ada! Ada! Mari, Anak Muda...!" sahut Ki Jawul cepat.
Tanpa banyak tanya lagi, Pendekar Rajawali Sakti segera mengikuti langkah Ki Jawul. Demikian pula semua warga desa yang berada di tempat itu.
"Persoalan ini belum selesai! Suatu saat kau akan menerima pembalasanku!" dengus Ratmi dengan wajah cemberut, kesal.
*** Permintaan Rangga tadi sebenarnya hanya pengalih perhatian, agar tidak berurusan dengan gadis bengal bernama Ratmi. Maka setelah jarak mereka jauh, dia bermaksud mohon diri. Tapi, pemuda itu terpaksa menundanya ketika dalam perjalanan menangkap cerita yang menarik dari warga desa itu. Khususnya, dari Ki Jawul.
"Seringkah penculikan itu terjadi?" tanya Rangga.
"Belakangan ini memang sering," sahut Ki Jawul, menjelaskan.
"Apakah sudah ada yang tahu, siapa penculik itu?"
"Tidak. Wajahnya selalu ditutupi topeng hitam. Tapi kami tahu ciri-cirinya yang utama. Dia bertubuh bungkuk."
"Belum pernah ada yang berhasil melucutinya?"
Ki Jawul menggeleng lemah.
"Apakah tidak ada yang membuntuti ke mana dia pergi?"
"Orang itu memilik kesaktian hebat. Dan, tidak mungkin bagi kami menahannya seorang diri. Sedangkan beramai-ramai saja, dia masih berani melawan. Bahkan membunuh beberapa orang desa," jelas Ki Jawul.
"Sudah sebulan belakangan ini, telah tujuh gadis yang menjadi korbannya. Wagni menjadi korban ke delapan, kalau tidak lekas ditolong."
"Hm.... Orang itu tidak bisa didiamkan!" desis Rangga, geram.
"Tapi apa daya kami" Dia kuat dan sakti. Sedangkan orang-orang desa umumnya lemah dan tak mengerti apa-apa soal ilmu olah kanuragan."
"Tak perlu risau, Ki. Aku akan membantu kalian!" sahut Rangga bersemangat.
"Tapi..., oh, ya siapa namamu, Anak Muda?" tanya Ki Jawul tidak meneruskan ucapannya.
"Oh ya perkenalkan namaku Rangga.... Namun orang-orang persilatan memanggilku Pendekar Rajawali Sakti!" ucap Pendekar Rajawali Sakti tidak bermaksud menonjolkan diri.
"Oh.... Kaukah pendekar muda yang terkenal itu, beruntung sekali kami dapat bertemu denganmu, Tuan Pendekar!" ucap Ki Jawul gembira. "Kalau begitu, nanti akan kami bicarakan pada Ki Senggono, Kepala Desa Sabrang Lor!"
"Baiklah!" kata Pendekar Rajawali Sakti.
Maka terpaksa Rangga mengurungkan niat untuk segera angkat kaki dari rombongan itu. Dia bertekad akan menyelesaikan persoalan ini sampai tuntas.
*** Setiba di Desa Sabrang Lor, segera diadakan acara mendadak. Mereka berkumpul di rumah Ki Senggono, yang menjabat sebagai kepala desa.
"Orang ini amat licin dan berilmu tinggi. Kami telah berusaha menangkapnya, namun selalu saja luput. Demikian pula tadi," ungkap Ki Senggono, membuka percakapan.
"Apakah hanya desa ini yang dijadikan korbannya, Ki?" tanya Rangga.
"Tidak. Dia pun pernah mencari korban di desa tetangga. Tapi terbanyak memang di desa ini," jelas Ki Senggono.
"Apakah pernah terjadi sesuatu di desa ini yang berhubungan dengan tokoh bertubuh bungkuk itu?" kejar Rangga.
"Maksudnya?" tukas Ki Senggono.
"Mungkin dulu pernah ada tokoh bungkuk di desa ini yang merasa terhina oleh semua penduduk, sehingga ketika dia merasa kuat, maka niatnya adalah membalas dendam pada semua penduduk desa di sini. Khususnya, para wanita."
"Tidak! Seingat kami tidak pernah ada kejadian-kejadian seperti itu."
"Hm? Kalau begitu, ada dua kemungkinan...," gumam Rangga.
"Maksudmu?"
"Orang itu pasti memiliki nafsu amat besar. Dan untuk melampiaskannya, dia mencari daerah lemah. Artinya jika dia mencari korban, maka akan didapat dengan mudah dengan akibat yang tak terlalu parah."
"Lalu yang kedua?"
"Seseorang mengutusnya untuk melakukan keonaran. Bisa karena dendam pribadi, untuk kepentingan sendiri, dan lain sebagainya."
"Kami bingung, Rangga. Cara apa yang mesti digunakan untuk menangkap orang ini," ungkap Ki Senggono yang sejak semula diminta Pendekar Rajawali Sakti untuk memanggil nama saja.
"Betul, Rangga. Entah kapan semua ini akan berakhir," sambung yang lain, mengeluh.
"Sekarang, tenanglah. Dan, jangan terlalu dirisaukan. Aku akan membantu untuk menangkap penculik itu. Semua harus dibuat tenang! Meski begitu, kewaspadaan jangan dilupakan. Dan sebaiknya ditingkatkan," ujar Pendekar Rajawali Sakti.
"Benar! Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Rangga, aku ada sedikit permintaan. Dan mudah-mudahan, kau sudi mengabulkannya," kata Ki Senggono.
"Permintaan apa itu, Ki?" tanya Rangga.
"Maukah kau melatih para pemuda di desa ini?" jelas Ki Senggono.
"Melatih apa?" Rangga malah balik bertanya.
"Melatih kedigdayaan dan ilmu olah kanuragan, agar mereka mampu menghadapi penculik itu."
"Ilmu kedigdayaan dan kanuragan itu tidak mudah, Ki. Butuh waktu lama. Padahal, aku tidak bisa berlama-lama di satu tempat."
Wajah Ki Senggono tampak kecewa. Demikian pula yang lain.
"Kecuali...," sambung Rangga sambil tersenyum kecil.
"Kecuali apa, Rangga?"
"Kecuali mengajarkan ilmu-ilmu dasar saja. Karena itu hanya memakan waktu sehari atau dua hari. Selanjutnya, mereka bisa terus berlatih sendiri. Paling tidak, untuk kesehatan tubuh dan meningkatkan kecepatan gerak."
"Ya, begitu juga tak apa! Kapan kira-kira bisa dilaksanakan?"
"Setelah sore nanti pun bisa."
"Baiklah. Aku akan mengumpulkan pemuda desa. Kita latihan di halaman depan rumahku. Mungkin tempat itu cukup luas."
"Ya, tidak apa."
*** Satu sosok tubuh ramping dengan wajah tertutup topeng kain mengendap-endap. Gerakannya gesit, seperti seekor harimau mengincar mangsa.
Tidak jauh darinya terlihat tiga pemuda tengah berjalan sambil bercakap-cakap.
"Uh.... Badanku terasa pegal-pegal!" keluh pemuda yang bertubuh kurus.
"Aku juga!" sahut pemuda yang bertubuh kekar.
"Dasar kalian memang tak pernah olahraga! Makanya sekali latihan begitu sudah pegal-pegal!" ejek pemuda bertubuh pendek.
"Tapi senang juga rasanya. Sebentar lagi aku akan menjadi tokoh persilatan hebat, Jenap!" cetus yang berbadan kurus.
"Gila! Mana mungkin. Jangan mimpi kau, Karsa! Kita cuma belajar gerak-gerak dasar. Mana bisa menjadi tokoh silat hebat!" tukas pemuda bertubuh kekar yang dipanggil Jenap.
"Siapa tahu Pendekar Rajawali Sakti mau mengajari sampai seterusnya!"
"Pendekar Rajawali Sakti tidak lama di sini. Setelah menangkap penculik itu, dia akan pergi."
"Selama menunggu penculik itu tertangkap, maka dia punya waktu banyak," bantah Karsa.
"Pendekar Rajawali Sakti tokoh hebat. Karsa. Mungkin dia tidak perlu waktu lama untuk menangkap penculik itu. Sebentar lagi pun, dia akan meronda. Setelah menemukan jejaknya, pasti penculik itu akan ditangkapnya. Urusan selesai. Dan dia segera angkat kaki. Pendekar Rajawali Sakti seorang pengelana. Dia tidak betah berlama-lama di satu tempat."
"Sayang sekali. Padahal aku masih bersemangat belajar ilmu silat...."
Baru saja kata-kata Jenap habis....
"Hei"!"
Mendadak ketiga pemuda itu berseru kaget, ketika tahu-tahu di depan mereka menghadang sesosok tubuh ramping dengan wajah tertutup topeng kain.
"Kalau ingin hebat, kenapa tidak belajar padaku saja?" kata sosok ramping bertopeng itu sambil berkacak pinggang.
"Benarkah"!"
Bola mata Karsa membulat lebar. Bibirnya menyungging senyum. Tapi tidak demikian halnya kedua kawannya. Mereka memandang orang bertopeng itu dengan sorot mata penuh selidik.
"Jangan mudah percaya, Karsa! Kita tidak kenal siapa dia!" kata yang bertubuh pendek yang dikenal bernama Gambit.
"Siapa kau sebenarnya"!" timpal Jenap.
"Hi hi hi...! Aku guru silat kalian yang baru," sahut sosok bertopeng itu seenaknya.
Suara sosok itu cempreng dan nyaring, seperti suara perempuan yang baru melewati masa kanak-kanak. Jelas, dia memang seorang perempuan.
"Jangan main-main kau! Kepung!" dengus Jenap.
Karsa dan Gambit langsung melompat ke kiri dan kanan wanita bertopeng itu. Sementara Jenap berada di depan. Mereka dalam keadaan siap untuk meringkus.
"Hi hi hi...! Kalian ingin menangkapku" Bagus! Ayo, tangkaplah! Pergunakan kepandaian yang diajarkan bocah berompi putih itu. Tunjukkan kalau kalian adalah murid-murid pintar!" tantang wanita bertopeng ini.
"Yiaaat!"
Serentak ketiga pemuda itu menyerang. Hitung-hitung sebagai penerapan atas hasil latihan tadi.
Wanita bertopeng itu mengegos ke samping. Sehingga tendangan Gambit luput dari sasaran. Kemudian secepat kilat dia mencelat ke atas, sehingga kepalan tangan kanan Karsa hanya menghantam angin. Dan seketika dia melepas tendangan keras ke dada Karsa.
Duk! "Aaakh!"
Karsa menjerit keras dan roboh kesakitan. Pada saat yang sama, tendangan Jenap meluruk deras. Cepat wanita bertopeng itu merunduk seraya menangkap pergelangan kaki Jenap. Lalu....
"Hiih!"
Gabruk! Wanita bertopeng ini mendorong Jenap ke depan sampai terpelanting.
"Hi hi hi...! Hanya segitukah ilmu silat yang diajarkannya pada kalian?" ejek wanita bertopeng.
"Keparat! Apa maumu sebenarnya"!" bentak Jenap, seraya bangkit dengan mulut meringis.
"Mauku" Aku hanya ingin menunjukkan bahwa ilmu silat bocah berompi putih itu tak ada gunanya," sahut wanita ini, merendahkan.
"Kami memang murid tak becus. Dan, baru belajar sejurus atau dua jurus. Mana bisa disamakan denganmu" Tapi meski begitu jangan kira kami takut menghadapimu!" desis Jenap.
"Oh! Jadi kau berani" Ayo, tunjukkan lagi nyalimu!"
"Huh!"
Jenap mendengus sinis. Bahkan Karsa dan Gambit langsung merangsek dengan nekat.
"Yeaaat!"
Tapi wanita bertopeng itu langsung menangkis dengan kibasan tangannya.
Plak! Plak! Lalu sebelah kaki wanita itu menghajar dada Karsa dan Gambit dengan gerakan cepat dan beruntun.
Duk! Duk! "Wuaaa...!"
Kedua pemuda itu kontan terpental disertai jerit kesakitan.
"Heaaat!"
Keadaan itu tidak membuat Jenap jerih. Dia langsung melompat menerkam dari depan.
Plak! Sodokan tangan Jenap ditepis dengan tangan kiri wanita itu. Bahkan tiba-tiba perutnya mendapat sodokan kepalan tangan kanan.
Desss! "Aaakh...!"
Jenap kontan terjungkal dan menjerit tertahan.
"Huh! Percuma saja kalian capek-capek latihan kalau tak ada hasil!" ejek orang bertopeng itu.
"Kami belum kalah!" dengus Karsa, geram.
"Kalau begitu, buktikan keperkasaanmu," tantang wanita itu.
"Baik! Kau rasakan hajaranku!"
Karsa memang amat bernafsu untuk balas menghajar. Tapi sebelum dia bertindak, satu sosok bayangan putih berkelebat ke arahnya dengan cepat. Dan tahu-tahu lengannya telah tercekal.
"Kenapa mesti merepotkan diri" Biarlah aku yang menghadapinya kalau sekadar ingin menjajal kepandaian," kata sosok bayangan itu.
"Pendekar Rajawali Sakti! Oh! Kami..., kami...."
"Sudahlah. Aku mengerti. Kalian tidak bermaksud mempermalukan aku. Tapi, orang ini memang sengaja ingin mencari gara-gara," ujar sosok yang ternyata Rangga.
"Hei, Bocah! Kaukah guru mereka"!" bentak orang bertopeng itu, garang.
Rangga memandang sosok bertopeng itu sambil tersenyum kecil.
"Kalau iya, kenapa" Apakah kau keberatan?"
"Huh! Aku ingin lihat, sampai di mana kehebatanmu!"
"Kalau itu maumu, silakan saja."
"Bersiaplah kau."
Baru saja selesai kata-katanya, orang bertopeng itu meluruk dengan satu tendangan maut.
"Heaaat...!"
*** ? Bagian 4-6 ? Penghuni Kuil Emas>
? Daftar Isi Pendekar Rajawali Sakti


Pendekar Rajawali Sakti 187 Penghuni Kuil Emas di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 . 187. Penghuni Kuil Emas ~ Bag. 4-6
12. April 2015 um 03:54
4 "Uts!"
Rangga mengegos ke samping dengan lengan kiri menangkis gesit.
Plak! Namun orang bertopeng itu melanjutkan serangan lewat sodokan kepalan lengan kiri ke dada. Rangga mengembangkan tangan kanan dan kembali menangkis dengan tenang.
Plak! Tapi, orang bertopeng itu kemudian memiringkan tubuh dan agak rendah. Kaki kirinya menyodok ke ulu hati. Cepat bagai kilat Rangga melompat ke samping. Tiba-tiba tubuhnya berputar dalam sikap agak rendah. Dan kaki kirinya pun menyikut lutut kiri orang bertopeng itu pada bagian belakang.
Siuuut! Gabruk! "Sialan!" maki orang bertopeng dengan bersungut-sungut ketika tubuhnya ambruk.
Tapi hanya sesaat, karena selanjutnya orang bertopeng itu cepat bergulingan Begitu bangkit, dia menyerang lagi.
"Hiih!"
Rangga bergerak cepat. Sedikit dia memiringkan tubuhnya, lalu tangannya bergerak memapak.
Plak! Kepalan tangan orang bertopeng terasa bergetar saat ditangkis Rangga. Namun tangannya yang sebelah kiri menghantam ke wajah, membuat Pendekar Rajawali Sakti terpaksa melompat ke belakang Sepertinya orang bertopeng itu tidak akan memberi kesempatan sedikit pun. Dia terus mencelat, mengejar Pendekar Rajawali Sakti.
"Ohh...!"
Namun sama sekali tidak terduga kalau Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba berbalik cepat. Tangannya mengibas, menyambar topeng orang itu.
Brettt...! "Hm.... Kini aku tahu, siapa orangnya yang amat penasaran itu!"
Rangga tersenyum seraya mengacung-acungkan topeng kain yang berhasil disambarnya dari wajah orang itu.
Ternyata orang bertopeng itu adalah gadis belia berparas cantik. Tapi saat ini paras cantik itu berubah menjadi kerut-kerut kebencian. Matanya yang indah berubah nyalang memandang Pendekar Rajawali Sakti.
"Huh! Kau memang hebat. Tapi suatu saat akan kau rasakan pembalasanku!" dengus wajah cantik yang tidak lain Ratmi.
"Di antara kita tidak ada permusuhan. Kenapa kau kelihatan begitu membenciku, Nisanak?" tanya Rangga.
"Huh! Jangan bermain-main denganku. Aku tahu watak laki-laki sepertimu!"
"Galak juga! Sayang, cantik-cantik galak. Orang sepertimu biasanya jadi perawan tua."
"Itu bukan urusanmu!"
"Tentu saja. Mana aku mau berurusan dengan seorang calon perawan tua," sahut Rangga sekenanya.
"Kurang ajar! Kurobek mulutmu yang ceriwis itu!"
Ratmi baru saja akan menggebrak, tapi....
"Penculiiik...! Tangkap penculiiik...!"
"Hei"!"
Mendadak dari arah selatan, terdengar teriakan membahana. Semua yang ada di tempat itu langsung tersentak, dan memandang ke segala arah.
"Pendekar Rajawali Sakti! Kita mesti ke sana! Eh, ke mana dia?"
Jenap jadi celingukan sendiri, ketika melihat Pendekar Rajawali Sakti telah raib dari sini.
"Gila! Bagaimana dia bisa menghilang secepat itu"!" desis Gambit.
"Mungkin dia punya sayap!" cetus Karsa. "Hush! Memangnya dia burung"!"
"Eh! Bukan hanya burung yang punya sayap!"
"Lalu, apa maksudmu?"
"Kalong juga punya sayap. Dan..., setan barangkali!"
"He, jadi kau menyamakan Pendekar Rajawali Sakti dengan setan"!" tukas Gambit mendelik lebar pada kawannya.
"Bukan! Tapi..., mungkin saja turunannya."
"Kau kira setan punya turunan"! Setan hanya punya kawan, ya contohnya sepertimu!" ejek Gambit.
"Sialan kau!" umpat Karsa.
Karsa bermaksud menjitak kepala kawannya, tapi Gambit telah buru-buru menghindar menyusul Jenap yang telah lebih dulu melompat setelah melihat Rangga tak ada di tempatnya.
Sedangkan Ratmi menyusul tak lama setelah kepergian Jenap.
Sementara Rangga yang telah lebih dulu di tempat kejadian, melihat beberapa orang kelihatan tengah mengejar seseorang yang melompat dengan mengendap-endap. Gerakannya ringan, menandakan kalau orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh cukup lumayan.
"Hup!"
Pendekar Rajawali Sakti mengambil jalan memotong. Meski saat itu malam mulai tiba dan daerahnya penuh pepohonan, tapi Rangga bisa melihat kalau penculik yang tengah memondong seorang gadis itu bertubuh bungkuk.
Orang-orang Desa Sabrang Lor itu boleh terkecoh karena tak mampu mengejar. Tapi Rangga terus mengikutinya dengan seksama. Sementara itu, jarak antara penculik bertubuh bungkuk dengan orang-orang desa yang mengejarnya sudah cukup jauh.
Penculik bungkuk itu menghentikan larinya. Kepalanya menoleh ke belakang, ke arah para pengejarnya yang kini tak terlihat seorang pun. Dia tersenyum-senyum ketika membuka topeng hitam yang menutupi wajahnya.
"Dasar kerbau-kerbau tolol! Apa yang bisa mereka perbuat padaku"!" leceh penculik bungkuk itu.
"Mereka mungkin tolol!"
"Hei"!"
Si bungkuk terkejut mendengar sebuah suara sahutan. Ketika pandangannya tertuju ke depan, tahu-tahu di tempat itu telah berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang tersandang di punggung.
Dahi orang bungkuk ini berkerut. Langsung disadari kalau saat ini tengah berhadapan dengan salah seorang tokoh persilatan.
"Siapa kau?" tanya laki-laki bungkuk itu datar. Nada suaranya dibuat berat. Dan tatapan matanya setajam sembilu dengan sikap mengancam.
"Aku Rangga...," sahut pemuda yang tak lain Rangga, alias Pendekar Rajawali Sakti.
"Kau tokoh yang disewa mereka untuk menangkapku?" tanya orang bungkuk itu lagi.
"Apakah kau kira mereka mampu menyewaku?" tukas Rangga.
"Jangan banyak mulut! Katakan saja, ya atau tidak"!"
"Aku tak peduli! Yang jelas, hari ini jangan harap kau bisa lolos dari tanganku!"
"Ha ha ha...! Kelewat gegabah kau, Bocah. Buktikan kemampuanmu!" bentak lelaki bungkuk seraya meletakkan calon korbannya ke tanah.
Laki-laki itu kemudian memasang kuda-kuda, siap menyerang Pendekar Rajawali Sakti.
"Heaaat...!"
"Hm...!"
Dengan satu lompatan gesit, laki-laki bungkuk melesat bagaikan kilat menyerang. Tapi Rangga dengan sigap mengegos ke samping. Begitu kaki kanan lawannya menyambar ke perut. Rangga terus mencelat ke atas. Seketika tubuhnya berputaran, lalu meluruk dan balas menyerang dengan menyodok tengkuk lewat satu tendangan maut.
"Hiih!"
Si bungkuk tidak kalah sigap. Tubuhnya berbalik ke kiri, seraya menangkis dengan tangan kiri.
Plak! Bahkan tiba-tiba kepalan tangan kanan laki-laki ini menyodok ke bawah perut Rangga.
"Uh, serangan keji!" desis Rangga seraya menangkis dengan telapak tangan yang dihantamkan ke bawah.
Plak! Dan dengan cepat sikut Pendekar Rajawali Sakti bergerak menghantam ke muka.
Des! "Argkh!"
Laki-laki bungkuk itu menjerit tertahan. Rahang kirinya terasa mau lepas dari persendian setelah menerima hantaman barusan.
"Ayo! Ke sini, Bungkuk!"
"Keparat!"
Laki-laki bungkuk mendengus geram. Kembali dibuatnya kuda-kuda, siap menyerang kembali.
"Kali ini akan kupatahkan lehermu, Bocah!" dengus laki-laki bungkuk mengancam.
"Kau terlalu banyak gertak, Bungkuk!"
"Setan! Heaaat...!"
Saat itu juga, laki-laki bungkuk menghentakkan telapak tangan kirinya ke depan. Dan dari telapaknya mendesir angin kencang.
"Uts...!"
Seketika Pendekar Rajawali Sakti mengegos ke samping. Dan secepat kilat kaki kanannya menyodok ke jantung.
"Hiih!"
"Uts!"
Tendangan Rangga menghantam angin karena lawannya cepat mundur selangkah. Sementara Pendekar Rajawali Sakti langsung mencelat ke atas. Tubuhnya berjungkir balik mendekati laki-laki bungkuk dengan tangan kanan membentuk cakar burung. Jelas, dia telah mengerahkan jurus "Sayap Rajawali Membelah Mega".
"Hiaaat!"
Laki-laki bungkuk itu coba menangkis. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti malah menangkap pergelangan tangannya.
Tap! Sambil menyentak tangan yang ditangkap, Rangga melepas sodokan sikut ke wajah.
Diegkh! "Aaakh...!"
Kemudian disusul tendangan kaki kiri menghantam dada.
Dess...! "Aaakh...!"
Kembali laki-laki bungkuk menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terjungkal ke belakang.
"Masih ingin lagi" Ayo! Bangkit cepat!" tantang Rangga.
Pelan-pelan penculik bungkuk itu bangkit. Wajahnya kelihatan pucat, ketakutan. Dia bermaksud mundur teratur.
"Hup!"
Ketika laki-laki bungkuk itu berusaha kabur, Pendekar Rajawali Sakti melompat mengejar.
Tap! Tahu-tahu tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti telah mencengkeram leher orang itu.
"Kuberi kesempatan untuk berdoa sebelum lehermu patah!"
"Okhh...!"
Laki-laki bungkuk itu terkejut. Semangatnya terbang. Dan wajahnya pucat ketakutan mendengar ancaman Rangga.
"Ampun. Ampuni aku, Kisanak...," ucapnya lirih dengan suara tercekat di tenggorokan. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengucur dari seluruh pori-porinya.
"Manusia telengas sepertimu kalau dibiarkan hidup akan membuat petaka di mana-mana!" desis Rangga. "Sudahkah kau berdoa?"
"Kisanak, aku bersungguh-sungguh. Ampuni jiwaku...," ratap laki-laki bungkuk.
"Hiih!"
"Aekh...!"
Penculik bungkuk ini berteriak tertahan ketika Rangga memperkuat cengkeraman tangannya.
"Ampun, Kisanak! Aku..., aku terpaksa melakukan semua ini!" jeritnya untuk menggugah perhatian Rangga.
Rangga mengendorkan cekalannya, membuat laki-laki bungkuk itu bernapas agak lega.
"Apa maksudmu?"
"Kau memang tidak suka akan apa yang kulakukan selama ini. Tapi, percayalah. Semua ini kulakukan dengan terpaksa!" lanjut laki-laki bungkuk itu.
"Hmm...!"
"Aku diancam seseorang untuk melakukan perbuatan terkutuk ini."
"Siapa?"
"Penghuni Kuil Emas."
"Kuil Emas?"
"Ya! Kalau tidak, nyawa anak dan istriku bakal terancam! Tolonglah aku, Kisanak! Tolong ampuni...!" ratap si bungkuk.
Belum habis kata-kata penculik bungkuk itu berkelebat sesosok bayangan dari belakang Pendekar Rajawali Sakti.
"Heh"!"
Rangga terkesiap. Tubuhnya berbalik cepat seraya mengibaskan tangan kiri.
Plak! Sesaat lengan Rangga membentur sesuatu. Tapi satu sodokan keras tahu-tahu menghantam dadanya.
Duk! "Aaakh!"
Pendekar Rajawali Sakti terhuyung-huyung ke belakang merasakan satu sodokan bertenaga dalam tinggi. Belum juga Rangga bisa menguasai diri....
"Hup!"
Laki-laki bungkuk ini telah berusaha melarikan diri bersama bayangan hitam yang telah membantunya. Dalam waktu singkat, mereka menghilang ditelan kegelapan malam dan rerimbunan pepohonan.
Rangga bergumam pelan, dan sengaja tidak mengejar. Diperhatikannya mereka sekilas sebelum orang-orang desa yang membawa-bawa obor mengusik lamunannya yang cuma sesaat.
"Rangga! Rangga...!"
"Ya, aku di sini...!" sahut Pendekar Rajawali Sakti.
"Kau tak apa-apa?" tanya Ki Senggono yang memimpin rombongan, begitu tiba di tempat ini.
Rangga menggeleng dan tersenyum.
"Kau bertemu penculik itu?"
"Padmi! Oh.... Syukurlah kau selamat, Nak!"
Rangga belum sempat menjawab ketika salah seorang penduduk berseru haru. Dia hanya menatap orang itu, lalu berbalik pada Ki Senggono seperti meminta penjelasan.
"Putri Pak Jamud...," jelas Ki Senggono.
Rangga mengangguk.
"Bagaimana dengan penculik itu, Rangga?" ulang kepala desa itu penasaran.
"Akan kuceritakan sambil kita kembali ke desa," kata Rangga.
Ki Senggono mengajak yang lain untuk kembali ke desa. Dan sepanjang perjalanan, Rangga menceritakan ciri-ciri penculik itu.
"Hm.... Rasanya aku belum pernah melihat orang itu sebelumnya," gumam Ki Senggono.
"Coba ingat-ingat! Barangkali kawan di waktu kecil, atau seseorang yang dulu pernah tinggal di sini," ujar Pendekar Rajawali Sakti.
"Tidak. Aku memang tidak mengenalnya!"
"Kau yakin, Ki?"
"Aku lahir dan dibesarkan di sini. Jadi aku kenal betul semua penduduk desa ini. Meskipun, mereka yang berusia sepuluh atau dua puluh tahun di atasku. Bahkan yang berusia tiga atau empat puluh tahun di atasku. Apalagi orang bungkuk yang menurut perkiraanmu berusia dua puluh lima tahun. Tidak! Dia bukan penduduk desa ini. Aku yakin betul!"
Rangga bergumam sebentar, setelah mengangguk.
"Tahukah kau tentang Kuil Emas, Ki?" tanya Rangga, mencoba membuka pikiran Ki Senggono.
"Kuil Emas" Semua orang di wilayah ini tahu, di mana tempat itu. Ada apa dengan tempat itu, Rangga?" tukas Ki Senggono.
"Penculik itu mengatakan kalau dia diperintah seseorang yang berasal dari kuil itu...," jelas Rangga.
"Mustahil! Itu tidak mungkin!" bantah Ki Senggono.
"Mengapa tidak?"
"Nyai Pucuk Cemara tidak akan melakukan perbuatan seperti itu, ataupun menyuruh salah seorang muridnya melakukan perbuatan terkutuk itu!"
"Nyai Pucuk Cemara!" tanya Rangga dengan kening berkerut.
"Ya! Dia pemimpin di kuil itu," sahut Ki Senggono, menjelaskan.
"Sudah lamakah dia berada di kuil itu?"
"Kurang lebih lima belas tahun. Dan selama ini, dia selalu baik kepada penduduk di desa-desa sekitar wilayah ini. Beliau sering menyantuni kaum miskin, mengobati orang sakit, dan lain sebagainya. Dia bagai dewi. Dan semua orang menghormatinya."
Rangga kembali mengangguk.
"Berapa orang muridnya yang berada di kuil itu?"
"Sekitar dua puluh orang. Atau..., mungkin juga lebih. Sudah lama kami tidak ke sana."
"Perempuan dan laki-laki?"
"Perempuan. Nyai Pucuk Cemara tidak menerima murid laki-laki."
"Jadi, tidak ada laki-laki seorang pun di kuil itu?"
"Aku tidak tahu pasti."
"Kalau seandainya aku hendak berkunjung ke sana, maukah Ki Senggono menemaninya?"
"Tentu saja! Dengan senang hati."
"Terima kasih. Kalau begitu, kita ke sana esok pagi."
"Rangga...."
"Ada apa, Ki?"
"Sebaiknya hilangkan saja dugaan buruk itu. Aku tetap tidak yakin kalau pihak mereka pelaku penculikan itu...."
"Aku juga berharap begitu. Tapi, persoalan ini mesti dibuat terang. Dan saat ini, petunjuk hanya mengarah ke situ."
Ki Senggono terdiam, sikapnya serba salah. Di satu pihak, dia tak yakin atau boleh dikatakan membantah kecurigaan Rangga kalau pelaku penculikan itu adalah orang-orang Kuil Emas. Tapi seperti yang dikatakan pemuda itu, persoalan ini mesti dibuat terang. Kalau tidak, maka selamanya akan terus terjadi penculikan terhadap gadis-gadis desa. Entah kapan berakhir. Kalaupun ada yang mesti disesalkan, kenapa petunjuk itu mengarah ke Kuil Emas"
"Jangan khawatir, Ki." Rangga menepuk pundak laki-laki itu. "Aku mengerti perasaan penduduk desa ini. Kita sekadar waspada. Bukan menuduh. Kalau ternyata mereka bersih, itu lebih baik. Tapi kalau tidak, maka itu pun lebih baik. Kalian tak akan tertipu lagi oleh kebusukan mereka yang bertopeng kebaikan."
"Ya.... Mungkin apa yang kau katakan benar...." Laki-laki itu mengangguk dan menjawab dengan suara lirih.
"Maaf kalau ini terasa berat di hatimu, Ki...."
"Tidak apa. Tidak apa, Rangga. Persoalan ini memang pasti dibuat terang."
"Syukurlah."
*** 5 Dua sosok tubuh berkelebat cepat. Dan ketika merasa telah cukup jauh, mereka menghentikan larinya.
"Hm. Bagaimana hasil kerjamu. Denawa?" tanya salah seorang yang bertubuh ramping semampai. Suaranya datar, seperti dikeluarkan dari hidung.
"Kurasa dia termakan pancingan itu, Nyai," sahut sosok satunya yang bertubuh bungkuk. Namanya, Denawa.
"Kau yakin?" tanya sosok ramping, yang pasti seorang wanita berpakaian serba hitam.
"Setelah sekian lama gagal mencari jati diriku, tentu petunjuk itu amat berharga bagi mereka," kata Denawa.
"Hm!"
"Apalagi yang harus kukerjakan, Nyai?"
"Kau tetap harus mengawasi mereka."
"Baiklah kalau demikian kehendak Nyai."
"Jangan sampai mereka berhasil menangkapmu!"
"Orang-orang tolol itu tak akan berhasil menangkapku, Nyai!"
"Jangan gegabah! Pemuda berbaju rompi putih itu tidak bisa dipandang enteng," desis wanita berbaju serba hitam itu.
"Hm, ya. Memang. Tahukah Nyai, siapa dia sebenarnya" Kelihatannya dia bukan penduduk desa itu?" tanya Denawa.
"Memang. Dia bukan penduduk desa itu. Pemuda itu hanya kebetulan lewat. Tapi, agaknya dia akan lama singgah di desa itu untuk membenahi persoalan ini. Justru itu yang kuharapkan. Dia tidak bisa dipandang sebelah mata."
"Nyai kenal dengannya?"
"Aku tidak pernah bertegur sapa. Tapi, semua tokoh persilatan kurasa kenal dengannya."
"Siapa dia, Nyai?"
"Pendekar Rajawali Sakti."
"Hm, hebatkah dia" Nyai tidak biasanya memuji orang kalau tokoh itu tidak hebat."
"Dia memang hebat. Oleh karena itu, sebaiknya kau hindari bentrokan dengannya."
"Baiklah Akan kuingat pesan itu."
"Hm...!"
"Nyai sendiri akan ke mana lagi sekarang?" tanya Denawa, ketika wanita itu berbalik.
"Aku akan ke desa itu untuk melihat-lihat keadaan."
Pendekar Pemetik Harpa 20 Pendekar Mabuk 054 Kipas Dewi Murka Pedang Angin Berbisik 11

Cari Blog Ini