Ceritasilat Novel Online

Titah Sang Ratu 2

Pendekar Rajawali Sakti 204 Titah Sang Ratu Bagian 2


Gandasari semakin geram, karena serangannya selalu kandas. Serangannya makin ditingkatkan. Kali ini, kakinya bergerak menyapu ke kepala Pendekar Rajawali Sakti.
Namun dengan perhitungan matang, Rangga meliukkan tubuhnya sambil merendah. Sehingga, sapuan kaki gadis itu lewat di atas kepalanya. Dan dengan gerakan tak terduga, Pendekar Rajawali Sakti menyodokkan sikutnya ke perut.
Desss...! "Ahh...!"
Gandasari terhuyung-huyung ke belakang. Belum sempat dia berbuat sesuatu, Rangga telah memapas kakinya dengan sebuah sapuan kaki sambil memutar tubuhnya.
Pak! Bruk! "Oh...!"
Tepat ketika gadis itu jatuh terguling-guling, Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat meninggalkannya. Begitu cepat gerakan tubuhnya, sehingga ketika gadis itu bangkit, Rangga tak terlihat lagi.
"Heh" Ke mana dia"! Tak mungkin bisa kabur secepat itu"!" desis Gandasari geram seraya mencari-cari.
Hasilnya nihil. Pendekar Rajawali Sakti raib seperti ditelan bumi.
"Kurang ajar! Ke mana perginya"!" maki gadis ini seraya melangkah menuju kudanya sendiri.
Gandasari melompat ke punggung kudanya. Dan berkeliling di sekitar tempat itu, sampai matahari tenggelam di ufuk barat. Hari mulai gelap. Namun yang dicarinya tak kunjung terlihat batang hidungnya. Dengan kesal ditinggalkannya tempat itu.
Sepeninggal gadis itu dari atas sebuah pohon melesat turun sesosok pemuda rompi putih yang cengar-cengir penuh kemenangan.
"Kau kira bisa memperdayaiku, heh"!" dengus pemuda yang memang Rangga halus. "Tapi..., uh! Mau pecah juga rasanya dadaku menahan napas selama itu."
Rangga lantas bersuit nyaring.
"Suiiittt...!"
Tak berapa lama muncul Dewa Bayu yang tadi melarikan diri. Kuda hitam ini mendengus kasar seraya mengusap-usapkan kepalanya ke dada Rangga.
"Tak apa, Sobat. Sekarang aman. Tak akan kubiarkan orang lain mencelakaimu...."
*** ? Rangga sengaja tidak mengambil jalan yang searah dengan Gandasari melainkan sebaliknya. Dengan begitu, dia berharap tidak akan bertemu lagi dengannya.
Hari sudah malam ketika Pendekar Rajawali Sakti tiba di Desa Karangkates. Suasana telah sunyi senyap. Tak terlihat seorang pun yang berkeliaran di luar.
Rangga perlahan turun dari kudanya. Perlahan-lahan kakinya melangkah sambil menuntun Dewa Bayu di jalan utama desa ini.
"Tidak kelihatan seorang pun. Hm.... Bagaimana aku bisa bermalam di sini!" gumam Pendekar Rajawali Sakti, pertehan.
Tengah berjalan begitu, mendadak....
"Heh"!"
Terdengar siulan pelan yang berirama, membuat Pendekar Rajawali Sakti tersentak. Langkahnya langsung berhenti. Matanya tajam terarah ke sebuah rumah yang gelap. Samar-samar terlihat sesosok tubuh ramping duduk tenang di depan rumah. Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti kembali melangkah, menghampiri.
Siulan itu berhenti ketika Rangga mendekat.
"Jadi kau orangnya?" tuding sosok ramping.
Rangga tertegun sejenak. Dan sosok tubuh itu beranjak dari duduknya. Didekatinya Rangga pelan-pelan. Kini Pendekar Rajawali Sakti bisa jelas melihat sosok ramping itu. Seorang gadis cantik berbaju ketat warna putih.
Menilik dari wajah, Rangga yakin gadis ini adalah seorang bangsawan. Penampilannya terlihat anggun dan terpelajar. Pakaian ketatnya pun terbuat dari bahan bagus dan mahal. Tapi..., mau apa malam-malam di sini"
"Hei! Kenapa diam"! Kaukah orang yang dibangga-banggakan orang desa ini"!" bentak gadis berbaju putih dan berikat kepala putih.
"Aku tak mengerti maksudmu, Nisanak. Aku hanya seorang pengembara, dan baru saja menginjakkan kaki di desa ini. Maksudku untuk menumpang menginap...," kilah Pendekar Rajawali Sakti.
"Jangan berpura-pura! Kau harus menghadapiku malam ini juga!" sentak gadis ini.
"Siapa kau ini, Nisanak" Dan aku harus menghadapimu bagaimana?" tanya Rangga.
"Aku Harum Sari. Yang akan menantangmu bertarung!" sahut gadis yang tak lain Harum Sari, tegas.
"Bertarung denganmu" Gila! Aku tak ada urusan denganmu, kenapa mesti berkelahi?" tukas Rangga dengan kening berkerut.
"Agar kau bisa mengalahkanku," sahut Harum Sari.
"Hm.... Ini benar-benar sinting! Baru tadi, kutemui gadis yang ingin berkelahi denganku. Dan sekarang, kutemui lagi gadis berwatak aneh. Sama anehnya dengan gadis tadi..," gumam Rangga sambil menggeleng lemah.
"Bersiaplah!"
"Eh, bersiap apa...?"
Tanpa menjawab, gadis itu telah menyiapkan jurus. Langsung diserangnya Pendekar Rajawali Sakti.
"Heaaa...!"
"Uts! Brengsek...!"
Terpaksa Rangga melompat ke belakang menghindari serangan. Tapi seperti gadis yang tadi ditemui sebelumnya, Harum Sari pun memiliki gerakan gesit dan cepat. Belum lagi Pendekar Rajawali Sakti menjejak tanah, telah kembali datang serangan.
"Hup...!"
Cepat Rangga menjatuhkan diri, menghindari tendangan menggeledek.
"Heaaat...!"
Harum Sari seperti tak ingin memberi kesempatan. Kembali diterjangnya Rangga yang baru saja bangkit.
"Nisanak, hentikan seranganmu!" cegah Rangga, berteriak.
"Jadi kau memilih untuk kuhajar?"
"Bukankah kita bisa bicara baik-baik?"
"Tunjuk saja kehebatanmu seperti yang mereka katakan."
"Gila! Ini benar-benar sinting!"
"Jangan mengomel! Lawan aku!" bentak Harum Sari, kembali melancarkan serangan dahsyat.
Pendekar Rajawali Sakti segera mengerahkan jurus "Sembilan Langkah Ajaib" untuk menghindari serangan-serangan. Kemampuan jurusnya benar-benar terusik kali ini. Beberapa kali nyaris serangan gadis itu menghajarnya. Serangan itu tidak sekadar cepat, tapi juga bertenaga kuat.
?"Bagus! Ternyata apa yang mereka katakan tidak sekadar omong kosong! Kehebatanmu bisa diandalkan!" puji Harum Sari, cepat menarik serangannya. Diperhatikannya Rangga dengan seksama.
"Terima kasih," ucap Rangga.
"Nah! Keluarkan lagi semua kepandaianmu agar aku tak mesti menghajarmu!"
"Kenapa tidak kau saja" Keluarkan seluruh kemampuanmu agar aku tidak begitu mudah meringkusmu. "
"Hi hi hi...! Kau kira begitu mudah meringkusku?"
"Ya, begitulah...."
"Lihat serangan!"
Mendadak Harum Sari menghentakkan telapak kakinya. Seketika meluruk angin panas kuat ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Uts!"
Rangga melenting ke atas, sehingga pukulan itu menghantam sebuah rumah. Bagian depan rumah itu kontan hancur berantakan, menghitam seperti arang. Penghuninya menjerit ketakutan, buru-buru keluar menyelamatkan diri.
Agaknya bukan hanya mereka yang sejak tadi keluar rumah. Bahkan penduduk lain pun telah keluar sejak tadi. Selain ingin mengikuti jalannya pertarungan, mereka merasa keluar dari rumah akan lebih aman, agar tidak menjadi sasaran pukulan nyasar seperti tadi.
"Nisanak! Kau merusak rumah penduduk yang...."
Belum selesai kata-kata Rangga, mendadak telapak dan kaki gadis itu telah menyambar dada dan perut dengan cepat. Rangga mencelat ke samping seraya berputar. Kedua tangannya berkelebat, menepis pukulan dan tendangan.
Plak! Plak! "Kenapa kau tak melawan" Ayo, serang aku! Seraaang...!" bentak Harum Sari geram.
"Aku tak ada urusan denganmu, Nisanak...."
"Tapi aku berurusan denganmu!"
"Itu urusanmu."
"Dan kini menjadi urusanmu pula!"
Rangga tersenyum hambar. Seperti gadis yang tadi ditemuinya, gadis ini pun nekat terus menyerangnya. Padahal, dia tak punya alasan untuk bertarung. Kini Pendekar Rajawali Sakti menunggu kesempatan kabur. Bukannya takut, tapi sekadar menghindar dari perselisihan yang tak berujung pangkal.
Tapi niat Rangga tak mudah dilaksanakan.
Selama dia terus berhadapan, maka tak akan lepas dari pengawasan gadis ini.
"Berhenti...!"
"Heh"!"
Mendadak terdengar bentakan keras, membuat Rangga dan Harum Sari terkejut. Mereka langsung menghentikan pertarungan. Di dekat mereka, tampak seorang pemuda tegap berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Di pinggang kirinya terselip sebilah golok.
"Siapa kalian"! Berani-beraninya mengacau di desaku"!" bentak pemuda itu sambil berkacak pinggang.
"O, jadi kau jagoan desa ini, he"!" sahut gadis itu balik bertanya dengan suara penuh kegeraman.
"Mau apa kau sebenarnya"!" sahut pemuda desa itu. "Kudengar ada seorang gadis yang mengajakku berkelahi. Kaukah orangnya?"
*** ? Harum Sari baru saja hendak menyahut, namun tiba-tiba teringat akan lawannya tadi. Namun ketika menoleh, Pendekar Rajawali Sakti telah lenyap entah ke mana.
?"Kurang ajar! Ke mana dia"!" dengus gadis ini geram, seraya hendak berkelebat.
"Hei, tunggu dulu! Kau tidak bisa pergi begitu saja dari hadapan Jagabaya!" bentak pemuda bersenjata golok yang mengaku bemama Jagabaya.
Wut! Pemuda itu melenting ringan, lalu mendarat di depan Harum Sari.
"Setelah mengacau di sini, kau kira bisa pergi seenaknya"!" dengus Jagabaya.
"Huh! Lumayan juga. Tapi aku tak yakin orang sepertimu mempunyai kepandaian hebat," cibir gadis itu.
"Kau boleh mencobanya, Nisanak."
Gadis itu menjawabnya dengan sebuah serangan. Satu kibasan tangan dilepaskan dengan tenaga dalam kuat.
Sambil mengegos, Jagabaya menahan kibasan tangan itu dengan tangan kanannya.
Plak! "Heh"!"
Bukan main kagetnya Jagabaya ketika tangannya beradu dengan tangan Harum Sari. Terasa tulangnya remuk. Meski begitu, dia masih sempat melepas sodokan dengan tangan kiri. Tapi gerakannya kalah cepat, karena Harum Sari telah lebih dulu melepas hantaman ke dada. Hingga....
Duk! "Aaakh...!"
Pemuda itu kontan terjajar disertai jerit kesakitan. Belum lagi bisa menguasai keseimbangan, kepalan tangan kanan gadis itu kembali meluruk.
Des! "Aaakh...!"
Tak ampun lagi, Jagabaya terhempas, memuntahkan darah segar. Sambil menekap dadanya, dia berusaha bangkit.
Hal ini amat mengejutkan penduduk Desa Karangkates yang menyaksikannya. Mereka tahu, pemuda itu berilmu tinggi. Bahkan amat disegani di desa ini. Tapi dengan beberapa kali hajaran, dia menjadi bulan-bulanan gadis itu. Maka mereka menjadi berpikir, bagaimana pula kehebatan gadis itu"
"Aku tak bermaksud melukaimu. Tapi, kau terlalu angkuh. Itu perlu untuk menyadarkan diri kalau di dunia ini bukan hanya kau yang berilmu hebat!" cibir Harum Sari.
"Setan! Aku belum kalah!" dengus Jagabaya geram, langsung bangkit seraya meraba gagang goloknya.
Srak! Begitu golok tercabut, Jagabaya mengacungkannya pada Harum Sari.
"Hm, bandel!" desis gadis ini.
"Bersiaplah!"
Dengan satu lompatan gesit, Jagabaya menyerang. Goloknya langsung disabetkan.
Gadis itu hanya sedikit bergeser. Tangan kirinya cepat menangkap pergelangan tangan pemuda itu.
Tap! Dan sebelum tangan Jagabaya yang satu lagi menghantam, lutut kanan Harum Sari telah menyodok ke ulu hati sambil merampas golok.
Plak! Duk! "Aaakh...!"
Untuk yang kedua kalinya, Jagabaya terjungkal. Kali ini jeritannya lebih keras ketimbang yang pertama.
"Aku tak bermaksud melukaimu. Tapi kalau kau penasaran, aku bisa membunuhmu!" desis Harum Sari, tegas.
Wajah cantik gadis ini berubah garang. Bola matanya memandang ganas. Golok di tangan kanannya ditudingkan pada Jagabaya.
Melihat itu, bergetar juga hati pemuda ini.
"Kau ingin mampus sekarang juga"!" bentak Harum Sari.
"Eh, tidak. Tentu saja tidak...," sahut Jagabaya, tercekat.
"Bagus! Sebaiknya jangan coba-coba. Karena, akibatnya buruk bagimu."
Pemuda itu mengangguk pelan.
"Kau kenal pemuda tadi?" tanya Harum Sari, agak merendahkan suaranya.
"Eh, pemuda yang mana?" Jagabaya malah balik bertanya.
"Yang tadi bertarung denganku."
"Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya!"
"Jadi, dia bukan penduduk desa ini?"
"Nisanak! Aku lahir dan dibesarkan di sini. Semua penduduk desa ini kukenal. Dan bisa kuyakini, bahwa pemuda itu sama sekali bukan penduduk desa ini," tandas Jagabaya. "Hm...."
Dahi Harum Sari berkerut. Dia berpikir sebentar, lalu berpaling pada pemuda itu.
"Kalau begitu siapa dia" Apakah kau pernah mengenalnya?" lanjut gadis ini bertanya.
"Aku tak yakin...."
"Meskipun tidak begitu yakin, katakan saja siapa dia?"
"Nisanak! Kau orang persilatan. Pasti kenal siapa dia...."
"Tidak. Aku tidak mengenalnya."
Kali ini dahi pemuda itu yang mengerut. Kalau gadis ini bisa menjatuhkannya, maka pasti bukan orang sembarangan. Paling tidak, tokoh yang cukup disegani di kalangan persilatan.
. "Hm.... Melihat ciri-cirinya, mungkin dia yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Tapi tadi aku kurang begitu memperhatikan. Yang kutahu, dia memakai baju rompi putih itu saja. Mungkinkah dia Pendekar Rajawali Sakti...?" gumam Jagabaya seperti tak yakin dengan dugaannya sendiri.
"Aku tak peduli dugaanmu. Yang penting, apakah orang yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu hebat?" sergah Harum Sari.
"Sepanjang pengetahuanku, Pendekar Rajawali Sakti saat ini satu-satunya pendekar yang paling diandalkan dunia persilatan...."
"Hm.... Kalau begitu, aku mesti mencarinya sampai ketemu!"
"Hei"!"
Jagabaya serta penduduk desa itu terkejut. Harum Sari yang terlihat berbalik dan berjalan pelan, tapi tiba-tiba melesat bagai anak panah lepas dari busur. Lalu, secepatnya menghilang dari pandangan.
*** ? 6 ? "Heaaat..!"
"Chiaaat...!"
Suara-suara pertarungan terdengar keras membahana, seperti hendak meruntuhkan isi alam ini. Seorang gadis berbaju merah yang tak bersenjata, berusaha mengimbangi permainan tongkat seorang laki-laki setengah baya berpakaian serba putih. Beberapa kali tongkat itu mengancam keselamatannya. Namun tak satu pun yang mampu menyentuhnya. Bahkan dengan satu kelebatan gesit, gadis itu berhasil menyarangkan tendangan ke perut.
Duk! "Aaakh!"
Laki-laki setengah baya itu terjajar beberapa langkah, setelah mengeluh tertahan. Namun, gadis lawannya seperti tak memberi kesempatan.
Desss! Sebelum laki-laki itu terjengkang, gadis ini cepat merampas tongkatnya. Langsung dipatahkannya tongkat itu dengan mengadukannya pada pangkal paha.
Krak! "Siapa lagi sekarang?" tantang gadis ini, sambil menatap lawannya yang terpental sejauh lima langkah dengan mulut meringis.
Kemudian matanya memandang dua laki-laki lain yang juga berusia setengah baya, mereka sejak tadi mengawasi pertarungan.
"Biar aku yang meladenimu!"
Salah seorang laki-laki yang bertubuh agak gemuk, melompat ke hadapan gadis itu.
"Sebutkan namamu, Cah Ayu! Aku, Jumeneng, siap melayanimu dengan senjata atau tanpa senjata!" ujar laki-laki gemuk ini, tegas.
"Aku Sekartaji. Bertangan kosong atau bersenjata, terserah!" sahut gadis yang tak lain Sekartaji, lantang.
"Aku bertangan kosong," kata laki-laki bernama Ki Jumeneng.
"Baik. Kalau begitu bersiaplah. Lihat serangan!"
Tanpa basa-basi, gadis berbaju merah itu menyerang. Kepalan kanannya menghantam ke muka. Sedangkan telapak tangan kirinya mengincar dada.
Ki Jumeneng coba menangkis dengan mengibaskan tangannya ke kiri dan kanan.
Plak! Plak! "Gila! Semuda ini tenaga dalamnya luar biasa! Pantas saja Kakang Bangira begitu mudah dikalahkannya!" keluh Ki Jumeneng membatin.
"Heaaa...!"
Serangan gadis itu gencar tak berhenti, seperti ombak di lautan. Sampai-sampai, Ki Jumeneng kalang kabut dibuatnya. Bahkan sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan jurus-jurusnya. Apalagi untuk balas menyerang.
Lewat dua jurus, keadaan Ki Jumeneng kian terdesak. Satu tendangan Sekartaji yang sempat ditangkis membuatnya sempoyongan. Gadis itu tidak memberi kesempatan. Tubuhnya meluncur deras. Seketika tendangan beruntunnya menghujani laki-laki setengah baya itu tanpa henti.
Desss...! "Aaakh...!"
Ki Jumeneng menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal beberapa langkah ke belakang.
"Cukup, Nisanak!"
Terdengar bentakan keras, yang disusul berkelebatnya satu sosok tubuh sambil menyabetkan tombaknya ke perut Sekartaji yang terpaksa menghentikan serangannya pada Ki Jumeneng.
"Hup!"
Dengan gesit, gadis ini melenting ke atas dan bersalto beberapa kali di udara menghindari kejaran ujung tombak. Begitu mendarat, tubuhnya melesat ke arah laki-laki bersenjata tombak yang kini menjadi lawannya.
"Uhh...!"
Laki-laki itu terkesiap. Tombaknya tidak sempat menghalau serangan. Maka dengan nekat dipapakinya serangan itu dengan telapak tangan kiri.
Plak! "Aaakh...!"
Laki-laki itu pun mengeluh tertahan, ketika menahan pukulan Sekartaji. Cepat dia melompat ke belakang menghindari serangan berikut sambil mengibaskan tombak.
Kaki kanan Sekartaji bergerak secepat kilat menahan serangan tombak.
Krakkk...! "Heh"!"
Laki-laki itu terkejut melihat tombaknya patah jadi dua. Belum juga keterkejutannya hilang, Sekartaji telah berkelebat sambil menghantamkan kepalan tangannya ke dada!
Desss...! "Aaakh...!"
Laki-laki bersenjata tombak itu kontan terjengkang ke tanah. Mulutnya meringis menahan sakit. Kedua tangannya mendekap dada yang terasa nyeri.
"Hm.... Kalau masih penasaran, kau boleh melawanku lagi!" tantang Sekartaji.
"Tidak! Kami menyerah kalah padamu, Nisanak...," sahut laki-laki itu, lemah.
Gadis itu agaknya tidak puas. Tapi, tak bermaksud menghajar mereka.
"Dapatkah kalian tunjukkan padaku, siapa di wilayah ini yang berilmu tinggi?" tanya Sekartaji, bernada sedikit pongah.
"Nisanak! Apakah hal itu amat penting bagimu?" tanya laki-laki bernama Ki Bangira, orang pertama yang berhasil dijatuhkan gadis itu.
"Itu bukan urusanmu! Katakan saja, siapa tokoh-tokoh silat yang kalian kenal" Orang itu mesti hebat!" sentak gadis ini.
"Di wilayah ini banyak sekali, Nisanak. Kami tak bisa menyebutkannya satu persatu."
"Kau bisa sebutkan beberapa orang. Mereka mesti tokoh papan atas!"
"Hm, mungkin..., si Toya Maut. Dia guru kami. Atau, si Pedang Kilat, dan Ki Baladewa. Mereka tokoh angkatan tua yang berilmu tinggi."
"Di mana mereka tinggal?" tanya Sekartaji bersemangat. "Siapa di antara mereka yang paling tangguh?"
"Nisanak.... Kami tak bisa mengatakan, siapa yang paling hebat...," kali ini yang menyahuti Ki Jumeneng.
"Hm.... Aku ada pertanyaan. Dan kuharap, kalian bisa menjawab. Siapa saat ini tokoh persilatan yang paling menonjol" Tidak peduli dia tokoh jahat ataupun tokoh baik," tanya Sekartaji.
"Kau sungguh-sungguh hendak menantang mereka?" tukas Ki Bangira.
"Itu urusanku!" sahut gadis ini ketus. "Jawab saja pertanyaanku!"
"Mungkin tak banyak. Tapi tokoh terkenal belakangan ini, salah seorang adalah yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti," jelas Ki Bangira.
"Di mana bisa kutemui dia?" cecar Sekartaji.
"Dia mengembara ke mana-mana, sehingga sulit ditemui."
"Tunggu dulu...!" sela Ki Jumeneng ketika melihat seseorang melintasi tempat itu.
Tampak seorang pemuda berbaju rompi putih dengan pedang berhulu kepala burung rajawali tersandang di punggung tengah menunggang kuda menuju tempat itu.
"Agaknya kau amat beruntung, Nisanak. Orang yang kita bicarakan ada di sini...," kata Ki Jumeneng.
"Apa maksudmu?" tanya Sekartaji.
"Pemuda itulah yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti."
"Hmm!"
*** ? Begitu melintas pemuda yang tak lain Rangga tersenyum sambil mengangguk pelan. Laju kudanya segera dilambatkan. Dia sama sekali tidak bermaksud berhenti, tapi Sekartaji telah menghadang sambil berkacak pinggang. Mau tak mau, terpaksa Pendekar Rajawali Sakti menghentikan laju Dewa Bayu. Lalu dia turun dari kudanya.
"Nisanak! Ada apa ini" Kenapa kau menghalangi langkah kudaku?" tanya Rangga dengan kening berkerut.
"Aku ingin tahu, apakah kau yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Sekartaji, langsung.
"Ah..., itu hanya julukan kosong belaka," sahut Rangga, merendah.
"Kudengar kau seorang pendekar digdaya" Aku ingin mengujimu!" tukas Sekartaji.
Rangga menarik napas sesak sambil menggeleng lemah.
"Satu lagi perempuan, aneh!" keluh Pendekar Rajawali Sakti di hati. "Ada berapa banyak perempuan aneh di jagat ini?"
"Kenapa kau diam?" kejar gadis itu.
"Eh, maaf! Nisanak, kukira kau salah alamat," kelit Rangga.
"Bukankah kau Pendekar Rajawali Sakti?"
"Ah, itu tidak benar! Aku hanya ingin gagah-gagahan saja memakai nama itu," Rangga berdusta.
"Anak muda! Aku pernah melihatmu beberapa minggu lalu. Dan kurasa, aku tak mudah lupa begitu saja. Kau adalah Pendekar Rajawali Sakti!" cetus Ki Jumeneng.
"Orang sinting!" maki Rangga dalam hati.
Namun begitu Pendekar Rajawali Sakti coba tersenyum dan berusaha bersikap wajar.
"Kurasa kau salah mengenali orang Ki. Aku sama sekali bukan Pendekar Rajawali Sakti. Tahukah kalian, mengapa aku menggunakan namanya" Ya, karena orang sering keliru mengenaliku. Makanya, kugunakan kesempatan ini untuk membonceng namanya buat gagah-gagahan," lanjut Rangga terus berdusta.
"Tapi..., tapi wajahmu mirip sekali...," kata Ki Jumeneng, sedikit ragu meski batinnya masih tak percaya.
"Orang sepertimu mestinya dapat hukuman! Memakai nama orang lain untuk gagah-gagahan!" dengus Sekartaji siap menyerang.
"Brengsek!" maki Rangga, membatin. "Kenapa tadi aku mesti lewat sini" Dasar nasib apes!"
"Hiih!"
Gadis itu langsung melayangkan tangan ke pipi. Mulanya Rangga pasrah. Tapi merasakan angin serangan kuat yang bisa merontokkan gigi-gigi, mau tak mau dia mesti menghindar. "Hmm!"
Tinggal seujung rambut lagi jaraknya, Pendekar Rajawali Sakti melengos cepat.
Wuuuttt! Plas! Angin serangan itu terasa menampar pipi Rangga kuat sekali. Tapi, itu sudah cukup membuat gadis ini kagum. Demikian pula tiga laki-laki setengah baya yang berada di situ.
"Orang biasa tak mampu berkelit begitu gesit...," kata Ki Bangira.
"Aku yakin, dia memang Pendekar Rajawali Sakti!" tandas Ki Jumeneng.
"Tapi kenapa dia mesti berbohong?" tanya laki-laki setengah baya yang satu lagi, seperti bertanya untuk diri sendiri.
"Mungkin dia tak ingin terlibat perkelahian, Purwaka!" jawab Ki Bangira menduga.
"Mungkin juga. Tapi sekarang telah terlambat...," desah laki-laki bernama Purwaka.
"Mereka kini terlibat perkelahian seru, sungguh suatu pertunjukan yang tak mungkin kita lewatkan...," tunjuk Ki Jumeneng.
Apa yang mereka katakan memang benar. Melihat tamparannya luput. Gadis itu melanjutkan serangan. Kepalan kirinya maju ke dada. Tapi pemuda itu telah melompat ke udara, sehingga pukulan itu menghantam angin.


Pendekar Rajawali Sakti 204 Titah Sang Ratu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Huh! Ternyata kau hanya bisa menghindar saja! Ayo serang aku!" bentak Sekartaji garang, karena tak satu pun serangannya yang berhasil.
"Aku tak bermaksud begitu, Nisanak. Tapi berkelahi tanpa alasan kuat bukanlah sifatku," tolak Rangga halus.
"Aku tak peduli sifatmu. Kau harus bisa mengalahkanku!" desah gadis ini.
"Itu lebih tak mungkin! Untuk urusan apa sehingga aku mesti mengalahkanmu" Bertemu pun baru hari ini," Rangga memberi alasan.
"Aku tak peduli!" sentak Sekartaji.
"Kalau begitu kita tak perlu bertarung! Aku tak mau melawanmu!" tandas Rangga.
"Kalau begitu aku akan menghajarmu! Heaaa...!"
*** ? Sekartaji menghentakkan kedua tangannya, melepaskan pukulan jarak jauh. Seketika selarik sinar merah meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup!"
Blarrr...! Rangga melenting ke atas, membuat sinar merah itu menghantam sebuah pohon hingga tumbang dan hangus seketika.
"Kisanak! Aku tak ingin di antara kita ada yang terluka!"
Kali ini Rangga mengeluarkan suara keras setelah mendarat di tanah. Hatinya benar-benar kesal menghadapi gadis seperti yang pernah ditemuinya dua kali. Tanpa ada masalah apa-apa, langsung mengajaknya bertarung.
"Aku tak peduli!" sahut Sekartaji.
"Kalau sekadar ada yang kalah, aku punya usul," ujar Pendekar Rajawali Sakti.
Gadis itu memandang tajam pada Pendekar Rajawali Sakti.
"Apa maksudmu?" tanya Sekartaji.
"Bukankah yang kau inginkan hanya kekalahan atau kemenangan?"
"Ya."
"Kalau begitu tak perlu kita saling melukai. Bagaimana kalau diadakan adu kecepatan, atau sejenisnya. Umpamanya, bila aku berhasil mengambil ikat kepalamu yang berwarna merah itu, maka aku yang menang. Sebaliknya, bila kau berhasil menyentuh kepalaku saja kau yang menang. Bagaimana" Kau setuju?"
Sekartaji berpikir sebentar, sebelum akhirnya menyetujui.
"Baiklah. Kuberi kau kesempatan lima jurus, untuk mengambil ikat kepalaku. Kalau gagal, kau kalah. Dan bila berhasil, kau menang," ujar Sekartaji.
"Begitu memang lebih adil."
"Silakan dimulai!"
"Hmm."
Rangga menatap tajam ke arah ikat kepala gadis itu, lalu secepatnya bergerak. Namun Sekartaji bergerak begitu gesit. Sambil menghindar ke samping, ditepis tangan Rangga.
Plak! Beberapa kali Rangga mencoba, namun hal itu tak mudah. Selain gesit, gadis itu pun melindungi ikat kepalanya dengan baik. Dan sampai tiga jurus berlalu, ikat kepala itu belum juga berhasil direbut Pendekar Rajawali Sakti.
"Tinggal dua jurus lagi. Dan kau mesti mempertaruhkan kesempatan itu," kata Sekartaji, mengingatkan.
"Tenang saja. aku pasti berhasil merampasnya," ujar Pendekar Rajawali Sakti, kalem.
Lalu dengan sigap Rangga kembali melompat menerkam. Sasarannya tetap tertuju ke arah ikat kepala. Sementara Sekartaji pun semakin apik melindunginya.
"Heaaa...!"
Tapi mendadak pemuda itu melayangkan tendangan ke arah perut. Dengan wajah terkejut Sekartaji cepat mencelat ke belakang.
"Hiaaa...!"
Rangga mengejarnya gesit sambil melepas pukulan beruntun berisi tenaga dalam kuat
Dengan sigap, Sekartaji membuat pertahanan dengan kedua tangannya.
Plak! Plak! "Hmm!"
Gadis itu menggeram ketika tubuhnya terjajar beberapa langkah. Dahinya berkerut. Serangan pemuda itu mulai terasa berat. Sedangkan dia tak punya kesempatan untuk balas menyerang.
Pendekar Rajawali Sakti agaknya tak mau memberi sedikit pun kesempatan. Belum juga sempurna Sekartaji berdiri, Rangga telah berkelebat cepat bagai kilat mengerahkan jurus "Seribu Rajawali".
Ketika Rangga mengitari gadis itu, tubuhnya jadi berubah bagai puluhan jumlahnya. Dan ini membuat Sekartaji bingung setengah mati. Dia berusaha memperhatikan, mana Pendekar Rajawali Sakti yang asli. Tapi semakin lama memperhatikan, dia semakin bingung saja.
"Heaaa...!"
Ketika perhatian Sekartaji tertuju pada salah satu bayangan Pendekar Rajawali Sakti, tahu-tahu dari arah belakangnya terdengar teriakan keras di sertai desir angin halus. Dan....
Siap! "Oh..."!"
Sekartaji tercekat, karena tahu-tahu ada yang aneh di kepalanya. Ketika tangannya bergerak meraba kepala...."
"Kau mencari ikat kepalamu, Nisanak" Ini, ada di tanganku...!"
"Heh..."!"
Gadis itu menoleh ke kiri dengan wajah terkejut.
*** ? 7 ? Rangga mengibar-ngibarkan ikat kepala dari kain berwarna merah yang dirampasnya dari rambut Sekartaji.
"Huh! Itu pertarungan tidak adil! Kau curang!" bentak gadis itu, tak puas.
"Curang bagaimana" Aku tidak menyalahi aturan?" tukas Pendekar Rajawali Sakti.
"Perjanjian kita hanya merebut kain ikat kepala. Tapi, kau menyerangku dengan-hebat. Apakah kau hendak membunuhku"!" kilah Sekartaji.
Rangga tersenyum.
"Yang terpenting, aku tidak menyalahi aturan. Kita tidak membuat perjanjian bagaimana caranya merampas ikat kepalamu. Itu terserahku. Dan nyatanya, ikat kepalamu kudapatkan. Kau kalah, Nisanak!" balas Rangga.
"Aku tidak terima caramu! Kau curang! Akan kulihat sampai di mana kehebatanmu!"
Gadis itu menggeram marah. Secepat kilat dia meluruk menyerang Rangga dengan hantaman ta-ngan bertubi-tubi dan silih berganti.
"Eee, apa-apaan ini"! Tunggu dulu!"
Percuma saja Rangga berteriak karena Sekartaji tak bakal hentikan serangan. Buru-buru dia menghindar dengan melompat ke sana kemari kalau tak mau babak belur.
"Uh! Urusan jadi runyam!" gerutu Rangga.
"Itu salahmu sendiri!"
"Ya, ya.... Semua salahku."
"Lihat serangan!"
Gadis ini benar-benar kalap. Dia sakit hati karena merasa tertipu. Maka serangannya berbau maut. Lengah sedikit, maka kepala Pendekar Rajawali Sakti bakal remuk. Atau barangkali tulang-tulang rusuknya yang patah digedor pukulan bertenaga dalam tinggi.
"Aku tidak bisa terus begini. Heaaa...!"
Disertai teriakan keras membahana, Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas dengan jurus "Sayap Rajawali Membelah Mega". Begitu meluruk, kedua kakinya mengincar batok kepala Sekartaji.
"Eh..."!"
Gadis itu terkejut, namun cepat menggeser tubuhnya ke kanan. Tendangan Pendekar Rajawali Sakti lewat begitu dekat di depan matanya. Meski berhasil mengelak, namun serangan pemuda itu berikutnya menyusul cepat. Dan yang lebih membuatnya gemas, gerakan-gerakan yang diciptakan Pendekar Rajawali Sakti agak membingungkannya.
Ketika kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti menyabet ke bawah, maka kaki kirinya menyusul ke atas menyambar kepala. Sekartaji hanya bisa mundur. Dan sebelum gadis ini mampu balas menyerang, Rangga bersalto di udara. Lalu tiba-tiba kakinya mencuat ke tubuh gadis ini begitu cepat gerakannya. Sehingga....
Des! Begkh! "Aaakh...!"
Dua tendangan berturut-turut mendarat mulus di perut dan dada Sekartaji yang kontan terpekik. Dengan terhuyung-huyung, dia coba memantapkan kuda-kuda.
"Hiyaaat...!"
Rangga tak memberi kesempatan. Tubuhnya kembali melesat langsung menyerang.
"Hup!"
Gadis itu merapatkan kedua telapak tangan di depan dada. Tubuhnya berputar seperti gasing. Sebelum serangan Pendekar Rajawali Sakti tiba, tubuhnya telah amblas ke tanah.
Pras! "Heh"!"
Rangga terperangah kaget. Tubuhnya berbalik, menatap ke arah tanah tempat Sekartaji tadi amblas. Dan sebelum keterkejutannya hilang....
Tap! Tap! Tiba-tiba saja Sekartaji muncul tepat di bawah Rangga berdiri. Pemuda itu yang sempat tercekat, tak kuasa mengelak. Kedua pergelangan kakinya kena dicengkeram.
"Hup!"
Seketika, Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas, tapi gadis itu keburu membantingnya kuat-kuat.
"Hiaaah...!"
Pendekar Rajawali Sakti berhasil mematahkan bantingan dengan bersalto tiga kali. Lalu, kakinya mendarat mulus. Kini bola matanya mencari-cari. Ternyata gadis tadi telah amblas kembali ke tanah.
"Hmm!"
Rangga seketika mengeterapkan aji "Pembeda Gerak Dan Suara" untuk mengetahui gerakan yang dibuat gadis itu.
"Yeaaa...!"
Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke atas, dan hinggap pada salah satu cabang pohon. Di tempatnya tadi berdiri, sekilas terlihat dua tangan menyembul. Dan secepat kilat, kembali masuk ke tanah.
Krak! "Hei"!"
Belum sempat Pendekar Rajawali Sakti menarik napas lega, pohon yang dihinggapinya bergoyang. Lalu, roboh dengan deras seperti dihantam banteng mengamuk.
"Gila! Kalau begini caranya bisa sinting aku!" rutuk Pendekar Rajawali Sakti.
Dengan ringan, Rangga melompat turun. Seketika tubuhnya melesat sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu.
"Maaf, Nisanak! Aku tak bisa meladenimu main kucing-kucingan begini...!" teriak Pendekar Rajawali Sakti.
Dalam keadaan seperti itu, rasanya tak masuk di akal bila Sekartaji mampu mengejarnya. Bahkan tokoh-tokoh tingkat tinggi pun akan sukar menandingi ilmu meringankan tubuhnya. Rangga bisa bernapas lega, tapi tak menghentikan larinya.
"Kurasa ini sudah cukup jauh. Hhh...! Mau pecah rasanya dadaku...," desah Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga berhenti setelah dirasa cukup jauh. Napasnya diatur sebentar, lalu perjalanannya dilanjutkan. Tapi baru beberapa langkah berjalan, seseorang tegak berdiri menghadang. Seorang gadis berbaju merah yang membuatnya kaget.
"Gila! Bagaimana mungkin kau bisa di sini"!" sentak Rangga, penuh keheranan.
*** ? Sekartaji tersenyum, lalu melangkah mendekati.
"Kau kira bisa pergi begitu mudah dariku?" cibir gadis itu.
"Ini benar-benar tak masuk akal!"
Rangga memukul kepalanya, pelan. Dan nyatanya terasa sakit.
"Berarti aku tidak mimpi! Tapi..., bagaimana mungkin dia bisa menyusulku secepat ini?"
"Bagaimana kau bisa tiba di sini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti setelah batinnya tak yakin bisa menemukan jawaban.
"Itu urusanku!" sahut Sekartaji, seenaknya.
"Ya, sudahlah. Barangkali kau memang keturunan siluman...."
Gadis itu tersenyum, penuh arti.
"Urusan kita belum selesai. Kau harus bisa mengalahkanku. Kalau tidak..., aku akan menghajarmu!" desis Sekartaji.
"Aku telah mengalahkanmu. Kenapa kau tak mau mengakuinya?" tukas Rangga.
"Kau belum pernah mengalahkanku!"
"Dalam rebutan ikat kepala tadi?"
"Kau curang. Aku tak mengakuinya!"
"Itu karena kau licik dan mengagungkan kehebatanmu. Sehingga, kau tidak mau berpikir terang. Kalau kau mau saja sedikit jujur, maka pasti mau mengakui kalau aku telah mengalahkanmu. Kita toh, tak mesti saling hajar sampai salah seorang terluka parah. Atau, barangkali itu yang kau inginkan" Atau..., kau mengincar nyawaku?"
Gadis itu terdiam sejurus lamanya.
"Entah kau sinting atau kurang kerjaan. Orang berkelahi mestinya punya tujuan jelas...," desah Rangga, sambil mengangkat bahunya.
"Aku punya tujuan jelas!" tandas Sekartaji.
"Tujuan apa" Katakan padaku!" tuntut Pendekar Rajawali Sakti.
"Itu urusanku!"
"Orang berkelahi mesti ada alasan. Entah karena dendam, marah, mencari ketenaran, atau sekadar melampiaskan kegembiraan. Yang mana alasanmu?" tanya Rangga.
"Bukan salah satu di antaranya," sahut gadis itu terus terang.
"Hm.... Jadi apa tujuanmu?"
"Aku tak bisa mengatakannya padamu...."
"Baiklah.... Mungkin itu urusanmu. Aku tidak berhak tahu. Tapi, kau juga tak berhak memaksakan tujuanmu pada orang lain. Kau ini manusia yang berperasaan atau tidak"! Aku tak mau berkelahi tanpa alasan kuat. Dan kau mesti mengerti hal itu!"
Sekartaji kembali terdiam.
"Kita tak saling kenal. Aku bahkan tak tahu namamu. Dan di antara kita, tak pernah ada masalah. Jadi tak ada urusan yang mesti membuat kita berkelahi!" lanjut Rangga.
"Namaku Sekartaji. Dan aku hanya ingin mencari orang yang bisa mengalahkanku," sahut Sekartaji perlahan.
"Untuk apa?" kejar Rangga.
"Melaksanakan titah Sang Ratu...."
"Ratu siapa?"
"Ratu kami...."
"Hm.... Aku mulai sedikit mengerti. Tapi, apa maksud ratumu menyuruhmu bertarung denganku sampai aku bisa mengalahkanmu?" tanya Rangga lagi, semakin tertarik.
"Bukan hanya kau.... Beliau hanya ingin agar aku mencari seseorang yang bisa mengalahkanku...," jelas Sekartaji.
"Untuk apa?" cecar Pendekar Rajawali Sakti.
"Menjadi suamiku."
"Apa" Hm.... Ratumu pasti orang tak waras. Bagaimana mungkin dia mencampuri urusan jodoh orang lain dengan cara begitu?" kata Rangga seperti bertanya pada diri sendiri.
"Hush! Jangan bicara keras-keras. Aku khawatir beliau mendengarnya!" ujar Sekartaji.
Gadis itu menempelkan telunjuk ke bibir. Matanya liar memandang ke sekelilingnya.
"Ada apa" Apakah ratumu selalu mengikuti ke mana saja kau pergi?" tanya Rangga, berbisik.
Tak sadar, gadis itu mengira Rangga mengerti isyaratnya. Padahal lewat air mukanya, Rangga tengah mengejeknya. Sejak tadi dia mengerahkan aji "Pembeda Gerak Dan Suara". Dan Rangga tahu tak ada orang lain di sekitar tempat ini, selain mereka. Jadi gadis itu pasti mengada-ada jika mengatakan ratunya tengah mengintai.
"Bukan. Tapi para prajurit...," jelas Sekartaji.
"O.... Prajurit, ya?"
"Mereka tak terlihat pandangan matamu."
Dahi Rangga berkerut. Lalu dikerahkannya ilmu "Tatar Netra" untuk memandang ke sekeliling tempat.
"Percuma! Meski kau punya pandangan tajam, tak akan mampu menembus jasad mereka," jelas Sekartaji, seperti mengerti apa yang tengah dilakukan Rangga.
"Apa maksudmu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.
"Mereka kaum siluman," sahut Sekartaji.
"Hei"!"
Rangga tercekat. Benarkah" Atau, gadis ini tengah mengada-ada untuk menakut-nakutinya.
"O.... Kaum siluman, ya?" Rangga mengangguk kecil. "Jadi..., kau pun termasuk kaum mereka?"
"Aku tak memaksamu untuk percaya."
"Eh! Aku percaya...."
Plas! "Eh"!"
Kata-kata Rangga terpenggal dan berganti keterkejutan ketika tiba-tiba gadis berbaju merah itu lenyap dari pandangannya. Semula dia menyangsikan kata-kata Sekartaji. Tapi kini..."
"Gila! Ke mana dia" Apa benar-benar menghilang" Atau barangkali mataku yang sudah lamur"!"
Rangga mengucek-ngucek matanya sesaat. Lalu dia memandang ke tempat gadis itu berdiri. Tetap saja tak ada. Begitu juga ketika mengedar pandangan ke sekeliling.
"Aku di sini...!"
"Ehh...!"
Mendadak saja jantung Pendekar Rajawali Sakti seperti mau copot, ketika gadis itu tegak berdiri di belakang. Hela napasnya terasa dekat menghembus tengkuk. Buru-buru Rangga meloncat. Sementara Sekartaji tersenyum-senyum melihat ulahnya.
"Kini masih belum percaya?" tanya Sekartaji.
"Eh, iya. Tapi sedikit...," sahut Rangga, masih juga menyangsikan.
"Berarti kau belum yakin kalau aku ini siluman?" tukas gadis ini.
"Aku pernah dengar, konon siluman bisa menjelma menjadi apa saja, seperti..., singa berkepala manusia, atau...."
"Kau sungguh-sungguh ingin melihat aku menjelma seperti itu?" potong Sekartaji.
"Paling tidak..., untuk membuatku percaya," sahut Rangga.
"Lalu setelah itu?"
"Setelah itu... ya, tidak apa-apa!"
"Itu bukan tujuan utamaku. Aku tak peduli, kau percaya atau tidak. Titah ratuku tak bisa dibantah. Dan aku mesti melaksanakannya!"
"Kenapa dia begitu ikut campur soal jodohmu?"
"Karena dia ibuku!"
*** ? "O...!"
Rangga terdiam. Kepalanya mengangguk-angguk, kemudian tersenyum malu.
"Maaf, aku tak tahu...," ucap Rangga, perlahan.
"Tak apa...."
"Kau bisa mencari orang lain, Sekartaji," kata Rangga, sudah memanggil gadis itu dengan namanya.
"Telah banyak tokoh yang kudatangi. Namun mereka semua tak memenuhi syarat. Menurut apa yang kudengar, mereka tokoh-tokoh hebat. Tapi, nyatanya bisa kukalahkan."
"Kalau kau mampu menghilang, lalu muncul tiba-tiba di belakang mereka, jelas siapa pun tak bisa mengalahkanmu. Apalagi, kau mampu bergerak cepat."
"Aku tak menggunakan ilmu gaib, ketika melawan mereka. Demikian pula ketika tadi melawanmu. Juga, saat kau merebut ikat kepalaku...," jelas Sekartaji.
"Untuk apa" Padahal kau bisa mengalahkan mereka dengan mudah?" tanya Rangga.
"Aku ingin manusia mengalahkanku dengan kemampuan apa adanya. Bukan dengan bantuan ilmu-ilmu gaib," sahut gadis itu menjelaskan. "Ini juga perintah Sang Ratu. Kalau tidak, kami tidak akan dikirim ke dunia kasar untuk mencari seorang suami dari kaum manusia."
"Untuk apa?" tanya Rangga lagi.
"Aku tidak tahu...."
"Apa di kalangan siluman tak ada yang berilmu tinggi. Atau, yang berwajah menarik?"
"Banyak. Dan bagi kami, soal wajah bukan masalah. Kaum siluman bisa saja menyerupai wajah siapa pun yang disukainya."
"Lalu, apa masalahnya?"
"Aku tak tahu. Kami hanya diwajibkan patuh pada Sang Ratu."
"Kepatuhan yang menakjubkan. Seandainya Sang Ratu memberi perintah untuk memenggal kepala, apakah kalian mau mematuhinya?" pancing Rangga.
"Ya!" sahut Sekartaji, singkat.
Rangga mendesah sambil menggeleng takjub.
"Makanya, kau mesti bertarung denganku!" gadis itu kembali mengingatkan.
"Tapi kau sudah kalah, bukan?" kelit Rangga.
"Itu tidak bisa dijadikan ukuran," tangkis Sekartaji.
"Kenapa" Toh sama saja! Kita sudah membuat perjanjian."
"Bagaimana bisa kau menghadapi calon-calon suami kakakku dengan cara begitu?"
"Ee..., tunggu dulu! Apa maksudmu" Calon-calon suami kakakmu?" Rangga malah balik tanya, menuntut jawaban.
"Benar. Mereka pun sepertiku, dan mengemban tugas yang sama."
"Di antara mereka memakai baju biru, dan putih?" tanya Pendekar Rajawali Sakti lagi seraya menyebutkan ciri-ciri kedua gadis yang pernah ditemuinya.
"Benar! Dari mana kau mengetahuinya"!" seru Sekartaji dengan wajah berbinar. "Mereka adalah Kakak Gandasari dan Kakak Harum Sari!"
"Hm, pantas!" gumam Pendekar Rajawali Sakti.
"Kau bertemu mereka?" tanya Sekartaji.
"Ya."
"Lalu?"
"Ya, seperti keinginanmu yang aneh, mereka pun mengajakku bertarung tanpa alasan jelas.
"Lalu"!"
"Lalu..., ya, aku berhasil mengecoh mereka!"
"Dasar jahat!"
"Eee, sembarangan menuduh orang! Yang jahat itu aku atau kalian"!"
"Kenapa kau tega mengecoh mereka" Padahal, toh kau bisa meladeni tantangan mereka."
"Aku tak suka berkelahi tanpa alasan kuat. Apalagi, hanya soal sepele."
"Ini bukan soal sepele. Ini soal hidup dan mati!"
"Jangan membesar-besarkan persoalan."
"Kalau gagal membawa calon suami, maka kami mendapat hukuman mati!"
"Aku tak percaya."
"Ikutlah dengan kami. Maka kau akan lihat, berapa orang dari kami yang mendapat hukuman mati."
Rangga tertegun. Dipikirkannya kata-kata gadis itu.
"Luar biasa tega ibunda kalian itu!" desis Rangga. "Apakah dia tak punya perasaan?"
"Aku tak tahu...," desah Sekartaji.
"Apakah kau suka mencari jodoh dengan cara seperti itu?" tanya Rangga, memancing.
Gadis ini tak menjawab.
"Tak ingin sekali-sekali kau berontak?" desak Rangga.
"Itu tak mungkin. Sang Ratu akan menghukum kami dengan berat...," desah Sekartaji, lirih.
"Kenapa tidak melarikan diri?"
"Seluruh tempat akan mereka cari untuk menemukanku. Tak ada yang bisa lolos begitu saja."
"Tapi, aku bisa lolos dari kedua kakakmu" Itu berarti, kau pun bisa."
"Untuk sementara, mungkin. Tapi, tidak selamanya. Coba kau lihat ke belakang."
Rangga menoleh. Dan wajahnya kontan terkejut melihat dua sosok tubuh tegak berdiri di belakangnya pada jarak sekitar tujuh langkah. Dua gadis yang pernah dikenalnya. Satu berbaju biru, dan seorang lagi berbaju putih.
*** 8 ? "Eh! Kalian pun ternyata ada di sini" Apa kabar?" tegur Pendekar Rajawali Sakti, pura-pura seperti tak terjadi masalah sebelumnya.
"Tidak usah tersenyum-senyum. Kali ini, kau tidak bisa kabur lagi," kata gadis berbaju biru yang bernama Gandasari.
"Sekartaji! Agaknya kau lebih beruntung dari kami. Kau berhasil menjinakkannya!" seru gadis berbaju putih.
"Terima kasih, Kakak Harum Sari."
"Tapi kau mesti tahu, aku yang pertama kali bertemu dengannya!" sentak Harum Sari, tiba-tiba.
"Jangan serakah, Harum Sari. Aku juga lebih dulu bertemu dengannya ketimbang Sekartaji."
"Eee, tunggu dulu! Apa-apaan ini" Apa yang kalian bicarakan?" tukas Rangga.
"Kami membicarakanmu, Sayang. Tidakkah kau mengerti" Atau barangkali kau mau berlagak pilon?" ujar Harum Sari.
"Aku masih belum mengerti...."
"Mereka bermaksud memilikimu juga...," tambah Sekartaji menjelaskan.


Pendekar Rajawali Sakti 204 Titah Sang Ratu di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Memilikiku" Gila! Memangnya aku apa"!" sentak Rangga.
"Kau adalah calon suamiku, Sayang."
"Harum Sari! Agaknya kau betul-betul tak mengalah, he"!" dengus Gandasari.
"Diam kalian semua! Dialah milikku. Karena hanya denganku dia betul-betul bertarung!" bentak Sekartaji, tak mau kalah.
"Hi hi hi...! Sekartaji! Apakah kau tidak tahu" Dia pun bertarung denganku!" kata Harum Sari.
"Tidak! Dia bertarung denganku!" terabas Gandasari.
"Hei! Hei, berhenti! Berhenti...! Apa-apaan kalian ini"! Aku memang bertarung dengan kalian semua. Tapi bukan berarti kalian bisa berbuat seenaknya padaku. Aku yang akan menentukan, apa yang mesti kulakukan!" bentak Rangga, tak suka.
Ketiga gadis itu terdiam. Mereka memandang pemuda itu dengan sorot mata tajam
Untuk sesaat Rangga pun ikut terdiam. Dibalasnya tatapan mereka sambil menyeringai kesal.
"Kalian tidak berhak apa-apa atas diriku...," desah Rangga.
"Benarkah?" tukas Harum Sari seraya melangkah mendekati.
"Aku adalah milik diriku sendiri! Kalian harus ingat itu!" tandas Rangga.
"Kau adalah milikku!" tukas Gandasari.
"Dia milikku!" dengus Sekartaji.
"Tidak! Aku bukan milik siapa pun dari kalian!"
"Kau tidak bisa membantah, Pendekar Rajawali Sakti," ujar Harum Sari.
"Aku bisa berbuat apa saja yang kusuka!"
"Apakah kau kira mampu menghalangi niat kami?"
"Apa mau kalian"!"
"Kami bisa meringkusmu!"
"Kalau begitu, terpaksa aku akan melawan!"
"Kau tak akan mampu menandingi salah seorang dari kami sedikit pun!"
"Kalau begitu, aku tak memenuhi syarat. Lalu kenapa kalian masih berkeras ingin meringkusku?"
"Kau salah! Kau justru memenuhi syarat. Tapi soal meringkusmu, tidak termasuk dalam acara pertarungan kita. Dan bila kau bermaksud menolak, maka kami terpaksa menggunakan kekerasan," tegas Gandasari.
"Aku tetap tidak bisa memenuhi permintaan kalian. Apa pun akibatnya!" tandas Rangga.
"Pendekar Rajawali Sakti! Jangan bertindak bodoh!" seru Sekartaji.
Pendekar Rajawali Sakti tersenyum sinis.
"Aku sudah siap!" tegas Rangga, dengan nada rendah.
"Dasar keras kepala!" umpat Sekartaji kesal.
"Biar aku yang meringkusnya!"
Gandasari mendadak mengibaskan tangan. Seketika, serangkum angin kencang menerpa Pendekar Rajawali Sakti.
Wuuusss! "Uhh...!"
Rangga berusaha bertahan dengan pengerahan tenaga dalam. Tapi, tubuhnya terasa seringan kapas, melayang diterpa badai topan ciptaan Gandasari. Sia-sia saja dia bertahan. Apalagi balas,menyerang. Tubuhnya terasa lemas dan pegal-pegal.
"Keparat! Ilmu apa yang digunakannya" Tubuhku terasa lemah tak berdaya!" rutuk Rangga. "Hiih!"
Gandasari menjentikkan tangan kanan.
Duk! "Ughh!"
Rangga kontan terlempar beberapa langkah ke belakang seperti dihantam pukulan keras. Pemuda itu betul-betul tak kuasa menghindar atau menangkis. Pukulan itu terjadi demikian cepat serta tak terlihat!
"Ayo, lawanlah! Bukankah kau telah siap" Lawanlah dengan semua kekuatan yang kau miliki!" teriak Gandasari sambil tertawa kegirangan.
"Kenapa kau, Rangga" Kudengar kau pendekar digdaya di masa ini" Tapi nyatanya hanya seorang pecundang! timpal Harum Sari.
"Uhh. Rangga berusaha bangkit sambil menahan nyeri di dada. Tubuhnya semakin parah saja. Dan kekuatannya saat ini betul-betul hilang entah kenapa.
"Hiih!"
Gandasari menyerang kembali. Dengan membawa kesal di hati, dihajarnya pemuda itu berkali-kali.
Des! Des! "Aaakh...!"
"Cukup, Kakak! Hentikan! Kau menyiksanya...!" bentak Sekartaji.
*** ? Sekartaji melompat, tegak berdiri di depan Rangga untuk menghalangi serangan Gandasari selanjutnya.
"Kau tak boleh menyiksanya. Dia akan mati!" sentak Sekartaji.
"Kenapa, Sekartaji" Kau kasihan padanya" Padahal, dia coba menentang kita?" tanya Gandasari.
Sekartaji tak langsung menjawab. Diliriknya Pendekar Rajawali Sakti. Dari mulut dan hidung pemuda itu tampak menetes darah segar. Sambil mendengus kasar gadis itu memandang kedua kakaknya.
"Kau telah mengunci ilmunya. Sehingga saat menghajarnya, sama saja menghajar orang yang tak memiliki kehebatan apa-apa!" bela Sekartaji.
"Orang sepertinya harus mendapat hukuman, Sekartaji," sahut Gandasari kalem.
"Kenapa kau, Adikku" Kau mulai jatuh cinta padanya" Hi hi hi...! Kalau begitu, kita pun sama. Tapi, Sang Ratu tak akan mau mengerti hal itu. Beliau hanya menginginkan masing-masing dari kita membawa pasangannya. Dan pemuda itu milikku. Kenapa kau tidak tahu diri, lalu membiarkan agar kubawa?" tukas Harum Sari.
"Jangan sembarangan bicara kau, Harum Sari!" bentak Gandasari.
"Eh! Maksudku..., tentu saja untuk kita," ralat Harum Sari.
"Dia milikku!" bentak Gandasari.
"Eh, iya. Maksudku pun begitu!" kata Harum Sari, cengar-cengir.
"Huh!"
Gandasari mendengus sinis. Kepalanya berpaling pada Pendekar Rajawali Sakti, lalu beralih pada Sekartaji yang tengah menghapus darah yang berlepotan di wajah pemuda itu.
"Sekartaji, minggir kau!" bentak Gandasari.
"Kakak Gandasari...?"
"Minggir kataku!"
"Kau tak boleh menyiksanya lagi...."
Gandasari tak peduli. Dengan geram, ditangkapnya pergelangan tangan adiknya. Lalu dihempaskannya.
"Hiih!"
Sekartaji terlempar jauh. Namun dengan gerakan indah kakinya mendarat mantap. Lalu tubuhnya kembali mencelat ke dekat kakaknya.
Tepat saat itu Gandasari telah melepaskan dua tendangan beruntun menghajar dada Pendekar Rajawali Sakti.
Desss...! Desss...!
"Ayo, lawanlah! Bukankah kau katakan mampu menghadapi kami" Ayo, lawan!" teriak Gandasari.
"Kakak, sudah! Kau tak boleh menyiksanya lagi!" teriak Sekartaji.
Dengan nekat, Sekartaji menangkap pergelangan tangan kakaknya. Dan ini membuat Gandasari menggeram dan menyentaknya kuat-kuat. Namun, kali ini Sekartaji tidak diam saja. Dia terus bertahan.
Melihat hal ini, Gandasari malah semakin geram.
"Kurang ajar! Kau berani melawanku, he"!" bentak Gandasari.
"Kakak! Aku tak bermaksud begitu...," sahut Sekartaji, tak kalah keras.
"Tapi nyatanya begitu, kan"! Kuhajar kau, Sekartaji! Kuhajar kau!"
Sekartaji jadi salah tingkah. Dia tak biasa melawan kakaknya. Dan, tak pernah sekalipun dilakukannya. Tapi nyatanya hal itu kini terjadi. Dia hanya tak ingin kakaknya melukai pemuda itu dengan menghajarnya sampai babak belur. Dan memang, agaknya sulit sekali mengingatkan kakaknya.
"Rangga, larilah cepat! Larilah sekuat tenagamu...!"
"Uhh...!"
Rangga seperti tersengat. Dadanya terasa nyeri. Apalagi di dalamnya. Tapi, dia tak mau mati konyol di tempat ini. Maka begitu mendengar teriakan, dia segera kumpulkan sisa tenaga yang dimilikinya untuk segera kabur.
"Cepat lari! Lari...! Larilah cepat...!" teriak Sekartaji, ketika Pendekar Rajawali Sakti berkelebat kabur.
"Adik kurang ajar! Kau rela mengkhianatiku untuk seseorang yang baru saja kau kenal!" maki Gandasari.
"Kakak! Aku tak bermaksud begitu. Tapi, kau keterlaluan sekali menghukumnya...," kilah Sekartaji.
"Tutup mulutmu! Tahukah kau, hukuman apa yang akan dijatuhkan padamu seandainya hal ini kulaporkan kepada Sang Ratu"!" bentak Gandasari.
"Kakak..."!"
"Kau akan mendapat ganjaran setimpal, Sekartaji! Hukuman akan berlipat ganda karena berani melawanku."
"Kakak! Kau tentu tidak akan berbuat sekejam itu pada adikmu sendiri, bukan?"
"Aku akan melakukannya! Tak seorang pun lolos dari hukuman meski orang dekat sekalipun. Itulah sabda Sang Ratu!"
"Kakak, kau..., kau"!"
"Sekartaji! Kau tak bakal lolos dari hukuman. Sia-sia saja usahamu, karena pemuda itu pun tidak akan lari ke mana-mana."
Gandasari berpaling pada Harum Sari.
"Kejar! Dan tangkap dia kembali!"
"Baik, Kak!" sahut Harum Sari, seraya berkelebat.
Sementara Harum Sari mengejar Rangga, Gandasari menyerang Sekartaji dengan gencar.
Kepandaian ilmu mereka seimbang satu sama lain. Sehingga sulit menentukan siapa yang paling hebat. Maka mesti Gandasari menyerang gencar, Sekartaji tidak berusaha balas menyerang. Dia hanya menghindar atau menangkis sebisanya.
"Kau tidak mau menyerah juga, Sekartaji"!" desis Gandasari, terus menyerang.
"Kakak! Jangan paksa aku...," sahut Sekartaji, lirih sambil terus bermain mundur.
"Baik. Kalau begitu terpaksa aku mesti meringkusmu seperti tawanan!"
"Kakak, kumohon! Jangan memaksaku untuk melawanmu."
"Adik kurang ajar! Kau kira aku takut kalau kau melawanku" Ayo, lawanlah! Balas serangan-serangankui"
"Kakak...!"
"Jangan panggil aku sebagai kakakmu! Ayo, anggap saja aku musuh besarmu!"
"Aku, ah...! Kakak, tolonglah...!"
"Tutup mulutmu! Kalau kau tetap tak mau melawan, jangan salahkan kalau aku tetap akan menghajarmu!"
Sekartaji tetap merasa bersalah dan bingung. Kalau dia melawan, maka Sang Ratu pasti akan menghukumnya dengan berat. Tapi kalau tak dilawan, bisa-bisa dirinya akan celaka.
"Hei, ada apa di sini..."!"
Mendadak terdengar teriakan, membuat pertarungan itu segera berhenti. Tampak empat sosok tubuh muncul. Dua gadis berbaju hijau dan kuning bersama dua orang laki-laki berusia setengah baya.
"Arimbi, Kakak Sriwangi!" seru Gandasari, begitu mengetahui siapa yang datang.
"Ada apa" Kenapa kalian berkelahi sehebat ini?" tanya gadis berbaju kuning yang bernama Sriwangi seraya menghampiri.
"Tahukah kau" Aku tengah memberi pelajaran pada seorang pengkhianat!" sahut Gandasari, sengit.
"Kakak! Jangan sembarangan menuduh!" tukas Sekartaji.
"Diam kau!" bentak Gandasari.
"Hei! Hei! Tenanglah dulu. Ada apa ini" Apa yang terjadi, Gandasari?" lerai Sriwangi.
*** ? Gandasari segera menceritakan duduk persoalannya. Tentu saja dengan membawa segala amarah di hatinya. Sampai-sampai, Sekartaji tidak sedikit pun bisa membela diri.
"Dia pengkhianat! Dan kini malah berani melawanku!" tuding Gandasari, geram.
"Kakak! Itu tidak benar! Aku hanya tak ingin kau menghajarnya. Dia punya batas daya tahan. Apalagi, Kakak Gandasari telah mengunci ilmu-ilmunya. Dia tak akan bertahan lama menerima hajaran begitu keras," kilah Sekartaji.
"Aku bermaksud membawanya. Maka, mana mungkin aku akan membunuhnya!"
"Tapi..., Kakak Gandasari dalam keadaan kalap..."
"Jangan membela diri, Sekartaji! Katakan saja kau berusaha merebutnya dariku dengan mengambil hatinya."
"Kakak! Aku tak bermaksud begitu...!"
"Alaaah, tutup mulutmu!" bentak Gandasari. Dia kemudian memandang pada kedua saudaranya yang baru muncul. "Kalian bantu aku menangkap pengkhianat ini! Kita akan menyerahkannya pada Sang Ratu untuk mendapat hukuman setimpal!"
"Tapi, Kakak...," Arimbi sedikit keberatan, namun tidak demikian halnya Sriwangi. Dia langsung melompat menyerang Sekartaji.
"Sekartaji! Lebih baik kau menyerah. Atau, kami akan meringkusmu dengan paksa!" bentak Sriwangi.
"Kakak, jangan memaksaku...!"
"Huh! Dari dulu kau memang selalu saja membantah. Tapi hari ini, kau sudah keterlaluan!"
Sementara Sriwangi menyerang Sekartaji, Arimbi masih ragu-ragu. Di antara saudara-saudaranya, memang hubungan Arimbi dengan Sekartaji memang lebih baik ketimbang yang lainnya. Maka, dia tak sampai hati ikut mengerubuti. Tapi, Gandasari terus memaksa sambil mengancam. Kalau dia tak membantu, maka akan dianggap bersekutu dengan Sekartaji. Bahkan melaporkan hal itu pada Sang Ratu. Dengan terpaksa akhirnya Arimbi ikut mengerubuti adik bungsunya.
Menghadapi kepandaian mereka bertiga, Sekartaji tak kuasa bertahan. Dalam waktu singkat, dia berhasil diringkus.
"Kini kau tak bisa ke mana-mana lagi, Sekartaji! Ilmumu telah kami kunci!" dengus Sriwangi.
Sekartaji diam tertunduk. Diliriknya Arimbi. Tapi kakaknya pura-pura tak melihat. Gadis itu tertunduk kembali. Pasrah!
*** ? Harum Sari telah kembali dengan Rangga yang berada di salah satu pundaknya.
"Bagus! Ternyata kau mampu meringkusnya!" puji Gandasari.
"Apa sulitnya" Dia seperti bayi yang tak berdaya," kata Harum Sari, bangga.
"Mana pasanganmu, Kakak Harum Sari?" tanya Arimbi.
"Aku..., aku belum mendapatkannya. Dan kau sendiri?" sahut Harum Sari.
"Kau lihat laki-laki kurus itu" Dia calon suamiku!" tunjuk Arimbi bangga.
"Laki-laki itu"!" Harum Sari terkikik geli.
Yang dilihatnya adalah seorang laki-laki tua bertubuh kurus dan berkulit hitam. Rambutnya sebagian telah memutih, dipotong pendek dengan dahi lebar.
"Kenapa tertawa" Meski begitu dia seorang tokoh hebat yang ditakuti banyak orang," bela Arimbi.
"Kau tak jadi menaklukkan si Kera Hitam Bertangan Besi?"
"Orang itu tak punya kemampuan apa-apa. Calon suamiku ini, adalah gurunya. Ilmunya hebat. Dan kurasa, saat ini tak seorang pun yang mampu menandinginya!" Lagi-lagi Arimbi menjelaskannya dengan bangga.
"Ya, ya. Itu terserahrhu kalau mau kawin dengan tua bangka bau tanah itu," cibir Gandasari.
"Kakak sendiri bagaimana" Sudah menemukan yang cocok?"
"Sebentar lagi!"
"Kakak Sriwangi pun punya calon suami yang tak kalah tua dariku."
Gandasari melirik sekilas. Laki-laki tua yang ditunjukkan Arimbi itu pun tidak kalah buruk ketimbang calon suami Arimbi sendiri. Dia tertawa kecil.
"Kalian ingin berangkat sekarang?" tanya Gandasari.
"Ya!" jawab Sriwangi.
"Baiklah, silakan kalian berangkat. Aku tak bisa menyertai sebelum mendapatkan pasanganku," ujar Harum Sari.
Setelah itu, Harum Sari menyerahkan Rangga pada Gandasari. Sedangkan Sekartaji yang telah dilumpuhkan, digendong Arimbi.
"Hati-hati kau di sini! Jaga dirimu baik-baik...!" pesan Gandasari.
"Jangan khawatir. Kau kira ada orang yang mampu menandingiku?" tukas Harum Sari pongah.
"Jangan gegabah, Harum Sari! Dunia penuh hal tak terduga."
Gadis itu hanya tertawa, menganggap enteng. Sementara saudari-saudarinya meninggalkannya ke arah selatan bersama dua laki-laki setengah baya yang akan menjadi suami Arimbi dan Sriwangi.
Harum Sari tegak berdiri mengawasi mereka untuk sejurus lamanya, lalu mengambil arah yang berlawanan setelah mereka menghilang dari pandangan.
? SELESAI ? Ikutilah kelanjutan cerita ini dalam episode :
ASMARA GILA DI LOKANANTA
? ? ? ? ? Scan by Clickers
Edited by Lovely Peace
Pdf by Abu Keisel
? www.duniaabukeisel.blogspot.com
Pendekar Rajawali Sakti
Notizen von Pendekar Rajawali Sakti
info ? 2017 Misteri Bencana Kiamat 1 Pendekar Mata Keranjang 21 Prahara Dendam Leluhur Petualang Asmara 7

Cari Blog Ini