Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Pedang Buntung 14

Kisah Si Pedang Buntung Lanjutan Ratu Wandansari Karya Widi Widayat Bagian 14


"Kek, aku tahu. Dan akupun mempunyai pendapat yang sama. Ya, benar! memang orang yang berbuat baik. tak boleh dikotori oleh sesuatu harapan. Sebab dengan demikian mengandung pamrih. Perbuatan baik tak perlu diadakan penilaian. Baik tetap baik. Dan menurut kata kakek yang selalu aku ingat, bahwa manusia yang dilahirkan dan hidup di dunia ini memang mengemban kewajiban dan janji, harus melakukan perbuatan baik. Bukankah begitu. kek ? "
Sindu mengangguk-angguk dengan bibir tersenyum. Kakek ini gembira sekali, bahwa sekalipun kecil, Titiek Sariningsih telah pandai menangkap apa yang dikatakan. Perjalanan dua orang saudara seperguruan ini amat cepat. Sebab berkat ketekunan berlatih, dan berkat ilmu tinggi yang dipelajari, gerakan Titiek Sariningsih amat gesit dan ringan. Namun sebenarnya antara Sindu dan Titiek Sariningsih ini merupakan saudara seperguruan yang aneh. Dan mungkin takkan terjadi pada diri manusia yang lain. Keanehan itu ialah bahwa Sindu adalah seorang kakek berumur limapuluh tahun lebih, dan Titiek Sariningsih baru berusia tigabelas tahun. Seorang anak yang belum dewasa.
Tiba-tiba Titiek Sariningsih menoleh kepada Sindu dan bertanya.
"Kek, bolehkah aku bertanya?"
"Apakah yang akan kautanyakan? Tak perlu takut."
"Tetapi aku memang khawatir kek, khawatir kalau kakek menjadi tak senang atas pertanyaanku. Itulah sebabnya walaupun sudah tiga tahun lamanya, selalu kusimpan dalam hati. Dan setiap mulutku akan bertanya, selalu kucegah."
Mau tak mau Sindu terkekeh geli mendengar ucapan gadis cilik ini.
"Tanyakan saja apa adanya. Tiada alasan khawatir dan takut. Bukankah telah tiga tahun lamanya kau berkumpul dengan aku, dan tahu pula watak dan tabiatku?"
"Tetapi apa yang akan aku tanyakan sekarang, menyangkut langsung pribadi kakek."
"Pribadiku? Heh-heh-heh, boleh saja. Dan jangan khawatir aku tersinggung dan marah. Terhadap engkau. Titiek, tiada yang perlu aku sembunyikan."
Titiek Sariningsih memandang Sindu dengan ragu. Namun kemudian bertanya juga,
"Kek, kau mau mengantarkan aku ke Tuban untuk bertemu dengan ayah bundaku. Kemudian engkau mengatakan akan ke rumah Perguruan Tuban, guna menyerahkan kembali pedang Pusaka Jati Sari. Tetapi mengapa kakek tidak merencanakan untuk pulang? Bukankah kakek sama dengan aku menjadi rindu kepada keluarga ?"
Mendadak Wajah Sindu berubah. Namun ia cepat Menguasai perasaan, sehingga perubahan itu hanya sesaat dan tak tertangkap oleh Titiek Sariningsih. Ia menghela napas pendek. Kemudian katanya.
"Panjang ceritanya. cucuku. Dan baiklah kita sekarang berhenti mengaso dulu sambil aku bercerita. Setujukah engkau ?"
Titiek Sariningsih mengangguk. Kemudian mereka berhenti dan duduk di bawah pohon rindang di tepi sebuah hutan. Mereka duduk menghadap ke arah ladang jagung yang subur.
"Titiek, dengan pertanyaanmu itu, kakek harus mengungkap sejarah hidupnya yang telah lama dilalui. Begini."
Sindu segera bercerita. Ia dilahirkan oleh keluarga petani di Desa Kretek. Desa yang letaknya di pinggir Kali Opak. Sindu menceritakan bahwa saudaranya seayah dan seibu sebanyak delapan orang. Keluarganya hidup dengan tenteram dan bahagia menggantungkan hasil bumi dan sawahnya. Namun kemudian. malapetaka terjadi. Kali Opak yang biasanya banjir setiap tahun, air hanya menggenang sampai pinggir desa. pada hari naas ini adalah lain. Bukan saja air bah ini menggenang seluruh desa, tetapi juga mengamuk. Air setinggi rumah, dan isi desa itu disapu bersih. Rumah-rumah roboh dan hanyut, pohon tumbang dan penduduk dihanyutkan air bah. Hanya para penduduk yang saat itu tidak berada di desa saja yang selamat, termasuk Sindu.
"Ahhh......"
Titiek Sariningsih kaget.
"Lalu bagaimana kek, nasib para penduduk itu, dan juga keluarga kakek?"
Sindu menghela napas panjang. Sedih juga jika terkenang akan malapetaka ini. Namun ia cepat dapat menekan perasaannya, dan menjawab,
"Ketika itu aku sedang menggembala kambing, jauh dari desa. Ketika mau pulang. terhalang air bah yang mengganas. Aku mendengar desaku telah disapu air bah. Ketika itu aku baru berumur sepuluh tahun, presis sama dengan umurmu ketika engkau pergi bersama aku. Tentu saja aku menjadi bingung. Untung ada orang yang menaruh belas kasihan padaku. dan sedia memberi tempat untuk mengaso dan menempatkan semua kambingku. Begitu baiknya orang itu, sehingga aku diberi makan. Dari pembicaraan orang yang aku dengar, menyatakan bahwa seluruh penduduk desaku tiada yang selamat dari mengamuknya banjir itu. Tentunya sudah hanyut bersama air dan benda miliknya..."
"Ahh....."
Titiek Sariningsih mengeluh.
"Jadi seluruh keluarga kakek sudah habis?"
Sindu mengangguk. Sama pula dengan nasibmu, Titiek, demikian kira-kira apabila Sindu mau mengucapkannya.
"Dan ternyata nasib malang yang kuderita belum cukup. Ternyata orang yang kuanggap berbaik hati, suka memberi tempat mengaao bersama semua kambing milikku tadi, bermaksud jahat....."
"Ahhh....." untuk kesekian kalinya Titiek Sariningsih mengucapkan kata "ahh" saking terharu.
"Apa yang dilakukan orang itu?"
'Esok paginya aku diajak pergi orang itu. Dia mengatakan, hari itu aku mau diajak pergi ke sebuah desa. Sebab menurut khabar, ayah dan ibuku berhasil ditolong dan semua di sana. Sudah tentu aku gembira sekali, dan tanpa curiga aku mengikuti dengan senang hati. Namun ternyata aku ditipu......."
"Ahhh......." lagi-lagi Titiek Sariningsih berseru ahh....
"Agaknya orang itu bukan saja ingin menguasai semua kambingku, tetapi juga ingin menghilangkan jejak kejahatannya. Ketika aku dan dia tiba di tempat yang sepi tiba-tiba orang itu memukul aku dan aku roboh....tak Ingat diri lagi....."
"Ahh......"
Titiek Sariningsih berseru "ahh" lagi. Titiek kemudian cepat bertanya,
"Maksudnya mau membunuh kakek?"
"Kiranya begitu. Tetapi agaknya Tuhan masih belum mengijinkan aku mati."
"Siapa yang menolong kakek ?"
"Semula aku tak tahu siapa yang telah menyelamatkan aku. Tetapi kemudian aku tahu, yang menolong bernama Ki Ageng Watu Kencana, tetapi lebih terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lodoyong. Karena rumahnya di Desa Lodoyong."
"Aneh nama desa itu. Mengapa Lodoyong?"
"Mungkin dari pohon Elo yang hidupnya tidak lurus atau doyong. Dari cerita Ki Ageng Lodoyong ini, aku baru tahu bahwa aku, sesudah dipukul dan jatuh pingsan, semula aku mau dibunuh. Tetapi perbuatan orang itu tak keburu dan dapat dicegah penolongku. Dalam keadaan pingsan itu, aku dibawa pulang ke rumah. Yang kemudian di samping penolongku, dia juga menjadi guruku. Titiek, aku mempunyai dua orang kakak seperguruan Bernama Reksogati dan Sawungrana."
"Di mana mereka sekarang?'
"Tentunya mereka di Mataram. Sebab mereka menghamba kepada Ratu Wandansari. Demikian pula aku."
"Ohhh, jadinya kakak dulu menghamba Mataram? Mengapa sekarang kakek tidak di sana?"
"Aku sudah tak senang lagi dengan pekerjaan itu, cucuku. Aku tak mau lagi dijadikan jago aduan."
"Eh, jago aduan? Maksud kakek ?"
Titiek Sariningsih heran.
"Hemm, kau tak tahu, Titiek, bahwa pekerjaan kami tiga orang saudara seperguruan itu, merupakan pengawal rahasia, yang harus selalu melindungi keselamatan Ratu Wandansari. Karena pekerjaan itulah, maka pekerjaan kami berkelahi dan membunuh orang........"
"Ahh tak baik membunuh orang .."
"Itulah sebabnya aku bosan dan pergi diam-diam."
"Lalu bersama Titiek, bertempat tinggal di Banyubiru?"
"Ya. Itulah yang terjadi."
"Tetapi.......... keluarga kakek? Bukankah kakek beristeri dan beranak juga?"
"Hemmm.. sudahlah, cucuku yang manis, tak perlu kiranya aku harus menceritakan tentang keluargaku. Memang nasib kakekmu ini kurang baik......"
Melihat bahwa Sindu menghela napas panjang. Titiek Sariningsih tidak mau mendesak lagi, malah menghibur,
"Sudahlah. kek. jika hal itu membuat kau sedih, tak usah kaupikirkan dan ceritakan. Tapi sekarang Titiek sebagai cucumu. Dan tentu saja ayah bundaku menjadi anak dan keluargamu pula. Bukankah begitu ?'
"Tentu saja!"
Sindu menjawab cepat, dalam usahanya menyimpan rahasia keluarga gadis cilik ini. Ia telah memutuskan, takkan membuka rahasia sebelum sampai di Tuban.
"Kek, engkau bakal hidup tenteram dan senang di tengah keluargaku. Dalam keluarga seorang Tumenggung........."
"Heh heh heh........"
Kata kata Titiek Sariningsih yang belum selesai terputus dan kaget mendengar suara ketawa orang yang terkekeh nyaring. Sindu dan Titiek Sariningsih telah berdiri sambil mengamati ke arah datangnya suara. Yang mereka tunggu tak lama muncul. Dua orarg kakek melangkah dengan mantap, ke arah Sindu dan Titiek Sariningsih.
"Ahh...... kakang Sawungrana dan kakang Reksogati," seru Sindu sambil membungkuk memberi hormat.
Kemudian kepada Titiek Sariningsih ia berkata.
"Titiek. berlututlah dan beri hormat. Mereka inilah kakak seperguruanku yang sudah aku ceritakan padamu."
Titiek Sariningsih berlutut memberi hormat juga sekalipun agak ragu-ragu. Reksogati dan Sawungrana mengamati Titiek Sariningsih penuh perhatian. Kemudian Reksogati bertanya,
"Sindu. Siapakah bocah ini?"
"Dia bernama Titiek Sariningsih. muridku," sahut Sindu penuh rasa hormat.
"Hem, bagus! Itukah sebabnya kau bersembunyi selama tiga tahun, dan mengabaikan kuwajibanmu?" kata Reksogati bernada menyindir dan menegur.
"Maafkanlah, kakang... sesungguhnya bukan begitu maksudku."
Sindu membantah.
"Aku sudah berusaha mencari kakang berdua untuk membicarakan maksudku mengundurkan diri dari tugas kewajibanku. Namun ternyata aku tak bisa menemukan kalian.'
Reksogati mendengus dingin. Lalu terdengar katanya lagi dengan nada angkuh.
"Sindu! Apakah engkau lupa bahwa seseorang yang lari dari kewajiban tanpa alasan, berarti melawan Gusti Kangjeng Ratu Wandansari dan Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Agung? Dan apakah engkau lupa bahwa orang yang berani melawan raja, menjadi musuh negara?" _
"Begitulah memang, kebiasaan yang berlaku kakang, sahut Sindu tenang.
"Tetapi, seseorang bekerja tak bisa ditekan dan dipaksa. Maka aku berpendapat, tiada salahnya seseorang berhenti dari pekerjaannya. kalau memang sudah tidak disukai lagi. Aku sudah tidak senang lagi dengan kerjaanku. Aku sudah tidak senang lagi dijadikan jago jago aduan. Itulah sebabnya. aku pergi setelah berusaha menemui kalian dan bicara tak bisa terujud."
"Sindu! Jangan bicara sembarangan!" bentak Sawungrana mendelik.
"Apakah engkau sudah lupa akan tata kesopanan, hingga berani kurangajar kepada kakak perguruan?"
Sindu heran.
"Apa salahku?"
"Salahmu? Kau tak merasa akan kesalahanmu? Baru saja kauucapkan engkau sudah mungkir! Kaubilang bahwa pekerjaanku dan pekerjaan kakang Reksogati, tiada bedanya dengan ayam jago aduan. Apakah itu tidak kurangajar kepada saudara tua'!"
'Tetapi kenyataannya demikian, kakang, mengapa engkau menjadi marah dan tersinggung? Pekerjaan pengawal rahasia tak lain berkelahi. Mengapa bukan jago aduan?" bantah Sindu tenang.
"Dan aku tak menyukai pekerjaan demikian. Yang kerjanya berkelahi dan membunuh orang."
"Huh-huh, engkau pandai berdalih sekarang. Apakah yang menyebabkan engkau berubah seperti ini, Sindu? Bocah itukah?"
Sawungrana menjadi marah dan mendelik ke arah Titiek Sariningsih yang sejak tadi berdiam diri. Akan tetapi diamnya Titiek Sariningsih bukan karena takut. Titiek Sariningsih berdiam diri. karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Maka ia tidak perlu ikut bicara. Akan tetapi begitu mendengar ucapan orang yang menyinggung namanya, ia menjadi heran. Ketika Sawungrana mendelik ke arah dirinya, gadis cilik ini sama sekali tidak takut, dan membalas mendelik pula.
Pikir gadis cilik ini. kalau orang mendelik kepadanya, apakah salahnya kalau dirinya membalas mendelik pula?
"Kakang Sawungrana.....!" kata Sindu masih bernada sabar.
"Janganlah kakang menyangkutkan persoalanku dengan orang yang tak tahu masalahnya. Benar dia muridku, tetapi dia tak tahu apa apa. Semua ini aku sendiri yang menentukan. Aku sudah tak senang lagi dengan Pekerjaan itu. Apakah orang berhenti dari pekerjaannya salah?"
"Orang boleh berhenti dari pekerjaan, tetapi harus tahu aturan dan kesopanan!" bentak Sawungrana yang wajahnya telah berubah merah.
Walaupun usianya sudah tua, tetapi watak Sawungrana memang tak berubah. Masih tetap berangasan seperti ketika muda.
"Hemm, baiklah kalau aku disebut salah."
Sindu kemudian mengalah, karena sesungguhnya ia merasa segan untuk berbantahan dengan kakak seperguruan yang amat dihormati.
"Hemm, kalau kausudah merasa bersalah, engkau harus menyerah menjadi tahananku," kata Reksogati.
"Kau akan kubawa kepada Gusti Wandansari untuk memperoleh pengadilan selayaknya. Sindu. sesungguhnya betapa berat hatiku untuk melaksanakan tugas ini. Tetapi engkau harus mengerti, bahwa lebih baik aku dan Sawungrana yang melaksanakan tugas ini dari pada orang lain. Dengan demikian,' berarti engkau menyelamatkan kakak seperguruanmu dari noda dan tidak melibatkan pula nama guru kita."
Mendengar kakeknya dipersalahkan orang karena meninggalkan pekerjaan itu, Titiek Sariningsih menjadi tidak senang.
Mengapa ada aturan begitu?
Kakeknya bukanlah perajurit yang diatur oleh disiplin.
Siapa yang melarang berhenti dari pekerjaan kalau memang tak disukai lagi?
Orang berhak berganti pekerjaan. Kesalahan satu-satunya, hanya tidak minta ijin. Namun gadis cilik ini masih menahan diri untuk ikut bicara. Ia hanya mengharap,agar kakeknya membalas kata-kata orang yang tak pada tempatnya itu.
Ternyata harapan Titiek Sariningsih terkabul. Sindu tak mau mengalah begitu saja. sekalipun berhadapan dengan kakak seperguruannya sendiri. Ia merasa pada pihak yang benar. Merasa berhak berganti pekerjaan apapun, kalau sudah tak senang kepada pekerjaannya. Jawab Sindu dengan tenang dan tegas,
"Kakang, manusia yang hidup di dunia ini semuanya mempunyai hak yang sama. Memperoleh kesempatan hidup dengan cara dan kemauan sendiri, asal saja tidak menimbulkan gangguan umum. Tak ada yang boleh memaksa dan tiada yang boleh membatasi. Tetapi kalau kakang memang menganggap aku bersalah, baik. Ya, aku bersalah dan maafkan kesalahanku itu."
"Huh, enak saja kau minta maaf!" bentak Sawungrana nyaring.
"Begitukah Sikap saudara muda terhadap saudara tua? Tak dapat menghargai dan menghormati?"
"Kakang, janganlah kakang Cepat menjadi salah paham," sahut Sindu dengan tenang.
"Aku merasa telah dapat menempatkan diriku sebagai saudara muda terhadap saudara tua. Manakah yang kurang? Akan tetapi tentang mana yang menurut perasaanku bener, mengapa aku harus mengalah? Orang'yang merasa benar tetapi mengalah, karena tekanan adat, tata krama, pangkat, jabatan, berarti menipu dirinya sendiri. Berarti orang itu munafik, Aku tak dapat menjadi seorang demikian, kakang, aku menjadi orang yang hidup dengan kewajaran. Tanpa pura-pura!"
"Heh-heh-heh!"
Sawungrana terkekeh saking marahnya mendengar jawaban Sindu itu. Ia kukuh pada kedudukannya sebagai saudara tua, Sebagai saudara berhak mengatur dan menentukan adik seperguruannya, manakah jalan yang harus dilalui. Dan kalau sebagai adik seperguruan berani membandel. kakak seperguruan berhak memberi hukumannya.
"Bagus, bagus! Engkau seorang muda yang menganggap lebih pandai dari kakak seperguruanmu sendiri. Hai, Sindu! Apakah kau lupa kepada pesan terakhir guru kita ?"
"Tentu saja aku selalu ingat."
Sindu menyahut cepat.
"Bahwa sekali guru tiada. saudara tua seperguruan merupakan pengganti guru."
"Bagus! Tapi apakah sikapmu sekarang ini patut?" bentak Sawungrana dengan mendelik.
"Bagaimana sikapku? Bukankah aku sudah bersikap wajar? Bersikap menghormati dan terus terang? Apakah orang yang berterus terang sesuai dengan kata hati itu salah? Aku tak menyukai pekerjaan itu lagi. Apa salah ku? Kalau begitu, kau menyalahgunakan pesan terakhir guru kita, yang amat kita hargai dan kita junjung tinggi. Pengertian sebagai pengganti guru, bukanlah saudara tua menentukan jalan hidup seseorang. Pengganti guru yang dimaksudkan. adalah yang sesuai dengan kedudukannya sebagai orang tua saja. Tidak harus menentukan dalam segala hal."
Sikap Sindu yang wajar tanpa pura-pura dan apa adanya ini, diterima salah oleh dua orang kakak seperguruannya. Dua orang itu menjadi amat marah sekali. Akan tetapi Sindu bersikap tenang aja. Sikap Sindu ini bukan karena merasa dirinya sekarang lain, setelah memperoleh ilmu sakti warisan Ki Ageng Kebo Kanigoro.
Tidak!
Sikap Sindu sekarang ini tiada bubungan sama sekali dengan ilmu dan kesaktian. Sikap Sindu Ini, merupakan sikap yang wajar setelah ia dapat menyelami tentang hidup manusia di dunia ini.
Sebagai hasilnya ia sekarang sudah terbebas dari rasa takut, rasa benci, irihati, dan pura-pura. Ia hidup sewajarnya. Hidup dengan keyakinan bahwa manusia di dunia ini mempunyai derajad dan kedudukan yang sama sebagai manusia. Sedang dalam kedudukannya sekarang ini, ia merasa benar. Kalau sudah merasa benar, kebenaran itu harus dikukuhi. Bukan karena membandel. Tetapi ia memang sudah berterus terang tak suka lagi kepada pekerjaan itu.
Apakah salahnya orang berhenti dari pekerjaan kalau tak suka?
Kalau orang yang tak suka akan pekerjaan masih diteruskan, Sikap yang demikian inilah yang salah. Karena berpura-pura. Orang yang ber sikap pura-pura, tidak wajar, tentu didorong oeeh sesuatu yang mengikatnya. Sindu tak mau harus bersikap seperti itu.
' Sindu !' teriak Sawungrana nyaring, saking tak kuasa menahan kemarahannya lagi.
"Katakan saja terus terang. Apakah dengan sikapmu ini, berarti engkau membandel dan tak mau tunduk lagi kepada kakak seperguruanmu sendiri?"
"Kakang, jangan kau campuradukkan beberapa soal menjadi satu."
Sindu menyahut dengan tenang, berusaha melempangkan kesalahpahaman Sawungrana.
"Sikapku ini, adalah sikap seorang hidup yang wajar. Yang tidak pura-pura. Jadi sudah pada tempatnya, kakang. Kemudian tentang apa yang kausebut membandel, tiada kamus dalam sanubariku sebutan membandel itu. Aku hanya mengatakan terus-terang sesuai dengan kata hatiku. Aku tak senang lagi kepada pekerjaan itu. Itu saja, tanpa tambahan apa-apa. Dan tentang apa yang kausebut tunduk? Tunduk dalam hal apa? Kalau dalam hal ikatan tatakrama dan kesopanan, jelas aku sudah menempatkan diri sebagai saudara muda, yang menghormati orangtua.
Tetapi kalau tunduk itu diartikan harus menurut segala kehendak saudara tua, nanti dulu. Hal ini perlu kita bicarakan. Siapakah yang berhak menentukan hidup orang lain? Katakan saja seorang ayah atau ibu. Sekalipun terhadap anaknya sendiri tak mempunyai hak menentukan hidupnya. Orang tua takkan bisa menentukan anak harus begini. Harus begitu! Karena tiap manusia sudah mempunyai pola hidup masing masing. sesuai dengan kewajaran hidup manusia ini yang telah digariskan oleh Penguasa Tertinggi. Orang yang ingin menentukan orang lain, sama halnya akan menyamai Yang Maha Tinggi. Apakah itu benar?"
"Sudahlah, tak perlu banyak mulut. Aku dan kakang Reksogati sekarang ini, sebagai petugas negara untuk menangkap seseorang yang berdosa, telah 'ingkar dari kewajiban. Engkau menyerah atau melawan?" bentak Sawungrana yang sudah amat marah.
"Hemm, aku tak merasa bersalah. Dan aku tak menghendaki permusuhan dengan siapapun. Mengapa kakang Sawungrana mau memaksa ?" sahut Sindu masih dengan sikapnya yang tetap tenang, tidak berubah.
Titiek Sariningsih yang mendengarkan percakapan mereka, dan melihat sikap Sawungrana. diam-diam menjadi tegang dan khawatir sekali. Diam-diam ia sudah meraba pedang Si Buntung yang tersimpan di balik bajunya. Kalau perlu ia akan membantu kakeknya.
"Mulai saat sekarang, putuslah hubungan perguruan kami dengan kau!" bentak Sawungrana nyaring.
"Sekarang. aku berhadapan dengan seorang buruan negara. Nah, terimalah!" .
"Tunggu!"
Reksogati yang sejak tadi berdiam diri, menahan gerakan Sawungrana,
"Sabarkan dulu hatimu, Sawungrana. Jangan kau hanya menurutkan kemarahanmu!"
Reksogati kemudian menatap sindu. Katanya lagi,
"Sindu. pertimbangkan dahulu masak-masak sikapmu. Aku nasehatkan padamu. menurutlah aku ajak menghadap Gusti Wandansari. Jangan khawatir, setelah kau berhadapan dengan Kangjeng Ratu Wandansari aku tentu membelamu guna meringankan hukuman karena kedosaanmu. Marilah, jangan engkau membandel. Percayalah padaku! "
"Tentang bertemu dengan Ratu Wandansari. aku bisa datang sendiri tanpa perantara kakang," sahut Sindu.
"Tetapi kalau kakang beranggapan pula aku berdosa, aku menolak. Aku tidak berdosa kepada siapapun. Yang berhak menentukan aku berdosa atau tidak, hanya Yang Maha' Tinggi. DIA sendiri yang bisa menentukan manusia berdosa atau tidak. Bukan antara manusia sendiri."
"Sindu!"
Reksogati menjadi penasaran pula mendengar jawaban Sindu. Ia beranggapan bahwa Sindu terang-terang sikapnya menantang.
"Kalau kau bersikap keras, jangan salahkan aku menggunakan kekerasan."
"Kakang. engkau saudara seperguruanku yang tertua."
Sindu menjawab tetap dengan sikap tenang.
"Tetapi mengapa kakang tak dapat membedakan apa yang disebut kebenaran sejati. dan kebenaran bikinan manusia oleh kekuasaan ? Kakang...."
"Tutup mulutmu!" bentak Reksogati marah memotong.
"Dalam usia dan kedudukan dalam perguruan, semuanya aku lebih menang dibanding engkau. Mengapa engkau akan memberi khotbah? Jahanam. Engkau orang muda yang tak dapat menempatkan diri."
"Kakang, usia dan kedudukan sebagai orang tua bukanlah sebagai ukuran kemenangan dalam segala hal, dan harus menang......."
'Jahanam" potong Sawungrana.
"Semua kata-katamu membuktikan engkau melawan kami. Nih, makanlah!"
Sawungrana tak dapat dicegah lagi sudah menerjang maju menggunakan tinjunya memukul.
"Bukk...... aihhh......"
Saking kaget Titiek Sariningsih menjerit nyaring, memburu ke arah Sindu yang terhuyung-huyung ke belakang, lalu menyemburkan darah.
Sawungrana sendiri terbelalak kaget. Ia tak pernah menduga sama sekali, bahwa Sindu menerima pukulannya tadi dengan dada. Padahal tadi ia mengira, bahwa Sindu tentu akan menghindarkan diri dipukul. Diam-diam ia menjadi heran.
Mengapa bisa terjadi demikian?
Sindu memang tidak berusaha menghindarkan diri ketika tinju Sawungrana melayang. Pukulan itu cukup keras. Kontan Sindu muntah darah. Akan tetapi Sindu sudah cukup penjagaan dirinya. Maka walaupun pukulan itu membuat ia muntah darah, tetapi tidak terluka. Muntahnya darah oleh guncangan isi dada saja, tetapi tidak membahayakan jiwanya.
Akan tetapi Titiek Sariningsih menjadi kaget dan khawatir. Gadis cilik ini menjadi marah. Tegurnya kepada Sindu,
"Kakek! Mengapa kau tak menghindarkan diri? Mengapa kau tak melawan? Bukankah kakek pada pihak yang benar? Dan bukankah kebenaran harus dipertahankan dan dibela? Jika kakek tak mau melawan. Titiek yang akan melawan."
"Sringgg...!" tercabutnya pedang lemas Si Buntung dari sarungnya menerbitkan suara yang mendengung bening.
Sinar yang putih kemilau terpancar dari pedang yang ujungnya buntung.
Reksogati dan Sawungrana terbelalak kaget melihat sinar sedang yang bersinar kemilauan itu. Tak terasa lagi Sawangrana berseru kaget,
"Ha......pedang pusaka... !'
Ia menerjang maju, bermaksud menyambar dan merebut pedang itu.
"Tahan........ plak........ aihhhh........!"
Sindu berteriak dan menggerakkan tangan kanan menangkis sambaran tangan Sawungrana. Dan akibat benturan telapak tangan ini. sungguh mengejutkan. Hingga tak tercegah dari mulut Sawungrana keluar seruan "ahh" saking kaget. Tubuh Sawungrana terlempar ke belakang sampai dua tombak. Dan dia tentu masih terhuyung terus kalau Reksogati tak bertindak cepat menyambar tubuh Sawungrana. Sebaliknya, Sindu hanya terhuyung selangkah ke belakang saja.
Sindu seperti bangun dari tidur, mendengar kata-kata Titiek Sariningsih. Ketika tangan Sawungrana tadi menyambar dadanya ia tak melawan, karena merasa dirinya tak bersalah dan tegas untuk melawan kakak seperguruannya sendiri. Tetapi begitu mendengar kata-kata Titiek Sariningsih yang sesungguhnya hanya menirukan kata' katanya sendiri sebagai nasehat bagi Titiek Sariningsih jika bersikap membela kebenaran, ia menjadi sadar. Sadar bahwa sikapnya tadi salah. Sikap itu tadi merupakan sikap yang tak wajar dan berpura-pura. Karena sadar, maka begitu melihat Sawungrana menerjang ke depan menyerang Titiek Sariningsih, Sindu telah berteriak dan menggerakkan tangannya menangkis. Hasil tangkisannya sungguh di luar dugaannya sendiri. Sebab sesuai dengan kedudukannya sebagai saudara perguruan yang termuda, dalam segala hal. dahulu ia takkan bisa menang melawan Sawungrana dan Reksogati. Karena dahulu dua kakak seperguruannya itu yang bertindak mewakili gurunya melatih ilmu.
Baru sadarlah Sindu sekarang, bahwa terjadinya perubahan pada dirinya sekarang ini, bukan lain sebagai hasil latihannya di Sendang Sanga, setelah menemukan warisan ilmu sakti dari Ki Ageng Purwoto Sidik atau Ki Ageng Kebo Kanigoro. ingat akan keadaannya ia menjadi makin mantap. Dirinya merasa membela kebenaran. Membela kebenaran tidak harus memandang siapakah yang dihadapi. Dua orang kakak seperguruannya ingin memaksakan kehendak sendiri dengan kekerasan. Maka untuk menyelamatkan nyawa, tak boleh mundur dan ragu -ragu.
Sindu memalingkan mukanya kepada Titiek Sariningsih. Ia tersenyum kemudian katanya,
"Terima kasih, Titiek, atas peringatanmu. Sudahlah, sarungkan pedangmu, dan minggirlah. Jangan khawatir. Kakekmu akan mempertahankan kebenaran."
Titiek Sariningsih lega mendengar ucapan kakeknya itu. Namun ia masih belum menyarungkan pedangnya. Jawabnya,
"Kakek, Titiek takkan mau melihat kakek di hina orang. Titiek baru sedia menyarungkan Si Buntung ini, apabila kakek mau berjanji."
Sindu terbelalak.
"Janji apa?"
"Mereka telah memutuskan hubungan saudara seperguruan dengan kakek. Mereka sendiri yang sudah memulai. Kakek sekarang tiada hubungan saudara lagi. Berarti mereka merupakan pihak yang mau memaksakan kehendak sendiri. Apakah kakek mau saja dihina orang? Tentunya tidak, bukan? Nah, kalau demikian halnya dalam membela kebenaran ini kakek tidak boleh ragu ragu!"
Sindu terbelalak kagum mendengar kata kata Titiek Sariningsih ini. Membuktikan bahwa semua nasihat dan petunjuk petunjuknya, amat diperhatikan dan dicamkan benar-benar oleh muridnya ini. Sindu merasa bahagia mempunyai seorang murid seperti ini. Tidaklah hilang begitu saya jerih payahnya menggembleng Titiek Sariningsih selama tiga tahun. Sekarang saja sudah terbukti kegagahan Titiek Sariningsih.
'Jangan khawatir, cucuku !" sahut Sindu membujuk.
"Sekarang kau minggirlah dan sarungkan pedangmu !"
'Tidak, kek! Titiek akan tetap memegang Si Buntung. selama kakek masih ditekan orang!" bantah Titiek Sariningsih
Sindu tak mempunyai waktu lagi untuk berbantahan dengan Titiek Sariningsih. Karena saat itu Sawungrana yang marah sekali dan penasaran telah melompat maju sambil membentak,
"Bagus! Kiranya engkau sudah maju pesat dalam ilmu dan kesaktianmu. Maka kau tak memandang mata kepada kami. Huh-huh, kau berani melawan saudara tua. Tiada salahnya kalau hari ini aku mencabut nyawamu!"
Terjangan Sawungrana yang telah penasaran sekarang ini hebat sekali. Ia telah lupa daratan. Begitu menyerang ia telah menggunakan Aji "Dahana Muncar". Karena itu begitu tangan menyambar ke depan. angin yang panas sekali segera menyambar ke arah Sindu. .
Akan tetapi Sindu sekarang, bukan Sindu tiga tahun yang lalu. Berkat latihannya di Sendang Sanga. ia telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Sambaran Aji "Dahana Muncar" itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa bagi Sindu. Sebab kecuali Sindu memiliki juga Aji "Dahana Muncar" itu, sekarang tubuh Sindu telah dilindungi oleh hawa sakti berkat Ilmu Sakti "Gelap Ngampar"; Dalam pada itu. sebagai saudara seperguruan, tentu saja Sindu sangat paham akan gerak dan serangan Sawangrana. Bukan hanya itu. Juga menurut pandangan Sindu sekarang, tiba-tiba gerakan kakak seperguruannya ini terlalu lambat.
Mula-mula Sindu merasa heran, mengapa gerakan Sawungrana begitu lambat?
Padahal dahulu, ia selalu kagum akan gerak cepat kakak seperguruannya Ini.
Namun rasa keheranannya itu tiba-tiba menjadi lenyap, setelah ingat akan keadaan dirinya. Apa yang terjadi sekarang ini, tentu pengaruh Ilmu sakti yang dimiliki sekarang. Jadi bukan karena Sawungrana mundur, tetapi dirinya sekarang sudah lebih tinggi tingkatnya dari Sawungrana.
Ketika tangan kanan Sawungrana melayang ke depan ke arah uluhati, sedang tangan kiri menyusuli serangan untuk memukul ubun-uban kepala, Sindu tenang-tenang saja. Gerakan Sawungrana itu amat lambat. Maka hanya dengan menggeser kaki semua serangan kakak seperguruannya telah luput. Kemudian tangan kanan Sindu bergerak mendorong.
Sindu memang tidak mau balas memukul. Bagaimanapun pula, masih membekasnya hubungan saudara seperguruan mempengaruhi perasaannya. Di samping tak tega kepada kakak seperguruannya, sikap dan pendirian Sindu sekarang telah jauh dengan yang telah dilalui. Ia telah memperoleh penerangan bathin dan kesadaran hidup. Pembunuhan bukanlah jalan terbaik, sekalipun berhadapan dengan musuh. Tetapi "kasih" yang tulus akan memberi kesadaran bagi siapapun yang tersesat. Dengan demikian. ada kesempatan bagi pihak yang kegelapan dan tersesat itu memperbaiki diri ke jalan benar.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan Sindu sendiri. Dorongannya tadi membuat Sawungrana terjerembab. Walaupun Sawungrana telah mengerahkan kepandaiannya untuk mempertahankan diri, tak berhasil. Untung ia tangkas. Untuk mematahkan dorongan yang tak terlawan itu, ia berjungkir-balik sampai tigi kali.
Begitu berhasil meloncat dan berdiri tegak. wajah Sawungrana merah padam saking malu dan marahnya.
"Bagus. heh-heh-heh! Engkau membanggakan ilmu barumu dari guru yang baru. Maka kau menjadi besar kepala dan sombong. Huh, sekarang makin kuat alasanku untuk membunuhmu! Kau sudah berkhianat terhadap guru, mempelajari ilmu lain. Mampuslah!"
Sawungrana meloncat ke depan melancarkan serangan serangan dahsyat. Angin yang panas sekali segera menyambar dari dua belah tangannya. Namun sekarang gerakan Sawungrana sudah berubah. Ia telah merubah gerak serangannya. Ia tak mau lagi menggunakan ilmu tata kelahi yang sudah dikenal Sindu. sebagai saudara seperguruan. Namun demikian. Sawungrana masih tetap menggunakan Ilmu ajaran gurunya. Ilmu rahasia yang hanya dikenal oleh Sawungrana dan Reksogati saja.
Hal ini terjadi, bukanlah karena Ki Ageng Lodoyong dahulu pilih kasih terhadap murid-muridnya. Kalau Sindu tidak mengenal ilmu rahasia ini adalah akibat keserakahan Sawungrana dan Reksogati. Dahulu ketika Ki Ageng Lodoyong meninggal dunia, Sindu baru belajar lima tahun, di bawah asuhan dan bimbingan dua orang kakak seperguruannya itu. Akan tetapi sebelum meninggal. Ki Ageng Lodoyong telah memberikan wasiatnya. Agar kepada Sindupun, harus diajarkan pula ilmu simpanan tersebut. Namun yang terjadi di luar harapan gurunya. Dua orang kakak seperguruan ini telah bersepakat untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut.
Mengapa begitu?
Dengan maksud agar saudara seperguruan yang paling muda ini, selalu tunduk dan menurut segala kehendak mereka. '
Dahulu masuknya Sindu menjadi pengawal rahasia Mataram bukan lain setengah dipaksa oleh Sawungrana dan Reksogati. Karena tekanan yang tak terbantah itu. terpaksa Sindu menurut. Keluarga terpaksa ditinggalkan di desa. karena isterinya tak setuju dengan pekerjaan itu. Karena tekanan ini, terpaksa Sindu meninggalkan isteri dan dua orang anaknya yang tak berdosa. Baru setahun menjadi pengawal rahasia itu. ia memperoleh khabar isterinya meninggal karena sedih. Akan tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Dan membiarkan dua orang anaknya diasuh oleh mertuanya. Namun ternyata kemudian dua orang anaknya itu tak berumur panjang. Dua-duanya meninggal dunia, karena kelelap dalam sungai, ketika sedang mandi.
Semua merupakan pukulan batin yang hebat bagi Sindu. Karena tak mau teringat kepada keluarganya itu, maka ketika Titiek Sariningsih ingin mendengar keluarganya. Sindu tak mau bercerita.
Namun kemudian Sindu yang merasa tertekan dan tak senang kepada pekerjaan itu, akhirnya menang. Ia nekad menghentikan pekerjaannya tanpa sepengetahuan Reksogati dan Sawungrana. Maka bisa dikatakan pula lari dari tugas kewajiban. Dan oleh persoalan Inilah maka Reksogati dan Sawungrana bersikeras untuk menangkap sendiri. Mereka merasa memiliki ilmu simpanan yang dapat dipergunakan menundukkan Sindu. Maka tak mengherankan pula kalau sikap Sawungrana dan Reksogati mau menang sendiri.
Kaget juga Sindu ketika diserang dengan ilmu yang tak dikenal, dan angin yang sangat panas menyambar ke arah dadanya. Begitu melihat gerakan Sawungrana belum ia kenal, segera ingatlah ia akan ilmu simpanan yang belum pernah dipelajari. Kalau peristiwa ini terjadi tiga tahun yang lalu. Sindu tentu menjadi marah dan mancaci maki serta menuduh Sawungrana curang dan pengecut. Akan tetapi sekarang, peristiwa curang itu diterima seperti tak terjadi apa-apa. Diterima secara wajar bahwa demikianlah garis yang harus terjadi, sesuai dengan kehendak Yang Maha Tinggi. Ia tak menjadi iri hati, marah atau benci. Ia menerima dengan wajar. Buktinya, kalau sudah sesuai dengan garis Yang Maha Tinggi, dirinya sekarang malah memperoleh ganti ilmu sakti yang lebih hebat lagi. Walaupun ia tak mengenal ilmu yang dipergunakan Sawungrana, namun gerakannya cukup mudah dilihat, tampak lambat. dan gampang pula dipelajari sambil melayani serangan itu.
Sawungrana yang sudah marah sekali, gerakannya tidak tanggung-tanggung. Semua serangan diarahkan pada bagian tubuh yang mematikan. Makin lama serangan serangannya makin dahsyat, dan perkelahian semakin sengit pula.
Sesabar-sabarnya manusia, masih ada batasnya. Walaupun Sindu menghadapi kakak seperguruannya ini dengan kesadaran dan kesabaran, akhirnya menjadi tak senang pula melihat tingkah Sawungrana yang berusaha membunuhnya. Mendadak Sindu memekik nyaring menggunakan Aji "Gelap Ngampar".
"Enyahlah!"
Deru lengkingan Sindu yang menggunakan Aji "Gelap Ngampar" saja sesungguhnya sudah amat hebat sekali pengaruhnya. Orang yang belum mahir dalam tenaga sakti, isi dadanya akan terguncang dan terluka dalam. Paling tidak orang akan muntah darah segar. Padahal di samping melengking menggunakan Aji "Gelap Ngampar' ini, Sindu juga mendorong dengan tangan kanan.
Akibatnya hebat !
Sawungrana terpental sampai beberapa meter jauhnya. Sawungrana masih berusaha mematahkan dorongan tersebut dengan berjungkir balik. Namun ternyata Sawungrana masih terbanting keras dan muntah darah segar banyak sekali. Pakaiannya menjadi kotor oleh darah. Wajahnyapun terkena percikan darahnya sendiri, sehingga tampak menyeramkan.
Sawungrana berusaha meloncat bangkit. Tetapi kepalanya pening sekali mata gelap dan seakan dunia berputar cepat. Akibatnya Sawungrana kembali jatuh terguling. Sawungrana memang menderita cukup parah.
Begitu mendengar lengkingan Sindu yang berpengaruh tadi, Sawungrana sudah mengerahkan hawa sakti untuk melawan. karena segera merasa dadanya terguncang hebat. Gerakannya menghindar menjadi lambat. Belum juga lenyap rasa kagetnya oleh serangan lewat suara itu, tiba tiba angin halus menyambar dadanya. Napasnya menjadi aeaak. Pengerahan hawa saktinya terganggu. Akibatnya Sawungrana yang berusaha melawan itu terlempar cukup Jauh. Kontan ia muntah darah segar cukup banyak, dan menderita luka cukup parah.
Reksogati yang sejak tadi belum bertindak kepada Sindu. diam-diam kaget.ketika mendengar lengkingan suara adik seperguruannya, yang pengaruhnya hebat sekali. Dadanya terguncang sedang jantungnya serasa ditusuk tusuk oleh jarum. Ia heran berbareng takjub. Sebab ia terpaksa harus mengerahkan hawa sakti untuk melawan. Kemudian, begitu melihat tubuh Sawungrana terlempar seperti layang-layang putus talinya. Ia kaget sekali.
Hampir matanya tidak percaya akan penglihatannya sendiri, mengapa Sawungrana tak bisa berbuat apa apa terhadap Sindu?
Sebenarnya pengaruh lengkingan Sindu yang menggunakan Aji "Gelap Ngampar" tersebut, tidak pandang bulu. Setiap telinga orang yang tidak tuli, akan terpengaruh oleh lengkingan itu, sehingga isi dada terguncang keras. Akan tetapi ternyata, Titiek Sariningsih hanya berdiri tenang-tenang dengan pedang Si Buntung maSih di tangan. Ternyata pengaruh lengkingan guru dan kakak 'seperguruannya itu tidak membuat Titiek Sariningsih terpengaruh.
Mengapa bisa terjadi kelainan?
Titiek Sariningiih memang seorang gadis yang cerdik. Ia sudah menduga, bahwa apabila Sindu bisa dibangkitkan kemarahannya. tak urung akan menggunakan Aji "Gelap Ngampar'. Karena sudah menduga lebih dulu maka gadis cilik ini sudah mengadakan persiapan. Lubang telinga kiri dan kanan sudah ditumbuk rapat-rapat menggunakan kapas. Itulah rahasianya, mengapa gadis cilik itu tidak terpengaruh. Padahal dalam hal tenaga sakti dalam tubuh, Titiek SariningSih masih kalah beberapa tingkat dibanding dengan Sawungrana maupun Reksogati.
Reksogati mengerutkan alis yang sudah hampir putih. Ia heran sekali mengapa demikian yang terjadi.
Mengapa Sawungrana roboh di tangan Sindu?
Biasanya kakek ini seorang yang teliti dan luas cara berpikirnya. Akan tetapi sekarang ini, keadaan Reksogati lain. Ia bukannya mau sadar bahwa Sindu sekarang sudah menjadi lain. Ia bukannya mau mengerti, bahwa robohnya Sawungrana adalah wajar karena kalah sakti. Sebaliknya kakek ini menganggap bahwa Sawungrana terlalu sembrono.
Mata kakek Reksogati merah menyala. Kumisnya yang sudah hampir putih itu bergerak-gerak. Tanpa berkedip Reksogati menatap Sindu. Kemudian terdengar suaranya yang menggeledek.
"Hai Sindu! Engkau berani memberontak terhadap Gusti Ratu Wandansari, dan berani melukai kakak seperguruanmu Sendiri? Bangsat rendah, apakah engkau sudah lupa akan kebaikan kakak kakak seperguruanmu? Sebelum aku marah, berlututlah dan minta ampun. Aku masih bisa berpikir. mengingat pesan guru almarhum, bahwa kita tiga orang saudara harus rukun. Tetapi huh, Jika engkau membandel, jangan kau salahkan aku terpaksa harus menghajarmu!"
"Kakang, jangan engkau terlalu mendesak aku," sahut Sindu dengan sabar.
'Orang, bebas memilih jalan yang disukai kakang. Maka aku berharap agar soal ini selesai sampai di sini, dan maafkan pula kesalahanku."
"Huh-huh, enak saja kau membuka mulut!" bentak Reksogati.
"Sudah berani memberontak kepada Gusti Ratu Wandansari, lari dari tugas. kemudian melawan petugas negara dan melukai, sekarang begitu enak minta maaf. Sindu! Begitukah caramu berhadapan dengan saudara tua perguruanmu dan sebagai wakil guru almarhum? Berlututlah dahulu di depanku, barulah aku dapat mempertimbangkan apa yang harus aku lakukan terhadap engkau."
Panas perut gadis cilik Titiek Sariningsih ini, mendengar kata kata Reksogati yang mau menang sendiri itu.
Apakah orang yang kebetulan menjadi saudara perguruan termuda, harus selalu bersalah dalam segala soal?
Dan apakah saudara tua perguruan harus seperti dewa yang tak pernah bersalah?
Ia melihat dengan mata kepala sendiri dan mendengar pula dari telinganya sendiri.
Guru dan kakak perguruannya sejak tadi sudah bersikap mengalah. Baik dalam sikap, maupun ketika pertama kali diserang oleh Sawungrana. Maka dalam perkara ini di samping ia amat marah, juga ia menjadi amat khawatir kalau Sindu lagi-lagi mengalah dan membahayakan keselamatan sendiri.
"Kakek tua yang tak tahu aturan!" teriak Titiek Sariningsih sambil mendelik.
'Jangan engkau asal dapat membuka mulut dan selalu minta menang sendiri, huhhuh ! Sebagai orang tua, engkau tak pantas bicara sebagai saudara seperguruan, dan kakekku memang bukan saudara perguruanmu. Hayo mau apa ?"
Kaget juga Sindu mendengar katakata Titiek Sariningsih yang nadanya amat keras itu. Akan tetapi kata sudah diucapkan, tak dapat ditarik kembali. Dalam pada itu sebagai guru dan kakak seperguruannya. ia sudah mengenal sifat dan watak gadis cilik itu yang tak kenal takut apabila merasa benar. Ia akan membuka mulut dengan maksud menyabarkan Reksogati. Akan tetapi ia 'kalah dulu dengan sambungan Titiek Sariningsih.
"Kakek tua! Pihakmu sendiri yang tadi sudah memutuskan hubungan perguruan dengan kakek!" teriak Titiek Sariningsih tetap lantang, tanpa gentar sedikitpun.
"Karena itu akulah yang lebih berhak dari kalian. Sebab dia kakekku. Dia guruku, huh-huh! Orang mempunyai hak dan kebebasan menentukan hidup sendiri. Mengapa kakek mau kau paksa menurut kehendakmu ?"
Menyala sepasang mata Reksogati, menatap tajam kepada Titiek Sariningsih. seakan ia ingin menelan mentah-mentah gadis cilik yang lancang mulut ini. Sejenak kemudian pandang matanya beralih kepada Sindu dan menegur dengan nada geram.
"Hai Sindu! Apakah engkau tak dapat menghajar adat dan kesopanan kepada muridmu sendiri yang lancang mulut dan kurang ajar itu?"
Sindu tersenyum. Ia memang tak dapat menyalahkan Titiek Sariningsih yang cepat menjadi marah, dan mengucapkan kata-kata yang keras itu. Apa yang terjadi atas diri Titiek hanyalah merupakan akibat. Takkan ada akibat tanpa sebab. Kalau saja dua orang kakak seperguruannya tidak memulai, dan Sawungrana tadi tidak menyerang dirinya, tentu saja bocah itu takkan marah. Kebenaran bukanlah hak dan monopoli orang yang menyebut dirinya lebih tua. Dan tiap kesalahan bukanlah harus di timpakan kepada yang muda.
Kenyataan yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat, memang yang muda selalu merupakan gudang kesalahan. Dan yang tua seakan dewa, tak pernah menjadi tempat kesalahan. Sindu tak sudi terhanyut oleh pendapat usang dan pendapat yang keliru itu. Ia tak mau ikut-ikutan, hanya membebek. Ia mempunyai pendirian sendiri.
Kalau ternyata yang tua bersalah. mengapa harus membela yang tua dan menyalahkan yang muda?
Pendapat seperti itu adalah munafik. Pendapat yang pura-pura, takut disebut orang sebagai seorang yang menyendiri.
Apa salahnya, dan apakah ruginya disebut tidak umum kalau toh benar?
Kebenaran sejati, pada saatnya takkan terbantah oleh siapapun.
"Hemm....." dengus Sndu,
".....sebagai gurunya, tentu saja aku sudah cukup memberi bakal tentang perkara kesopanan dan tata krama. Akan tetapi kalau bocah itu memang benar, mengapa aku harus menyalahkan?"
Kumis Reksogati yang sudah memutih bergerak-gerak saking marahnya. Sebagai seorang pengawal rahasia Ratu Wandansari yang amat terpercaya di Mataram kedudukannya sangat tinggi. Tak pernah ada orang yang berani membantah perintah dan kata-katanya. Dan dahulu. ketika Sindu masih menjadi pengawal rahasia, selalu patuh dan selalu hormat kepada dirinya. Tetapi mengapa sekarang begitu bertemu adik seperguruannya ini beruban seratus delapan puluh derajat. Saking marah ia ketawa terkekeh. Kemudian katanya menggeledek.
"Sindu, bagus. heh heh heh. sejak saat ini putuslah hubungan saudara seperguruan. Engkau orang buruan negara, dan aku petugas negara. Jika engkau keras kepala dan membandel, tentu saja akan kugunakan kekerasan sesuai dengan wewenangku sebagai petugas negara. Huh-huh!"
Reksogati agak terengah karena dadanya penuh hawa marah. Ia berhenti sejenak, lalu terusnya.
"Sindu! Agaknya engkau menjadi besar kepala, dapat merobohkan adikku sawungrana. Huh. aku ingin mencoba sampai dimana ketangguhan yang engkau sombongkan itu?"
Hampir berbareng dengan suaranya yang terakhir. Reksogati sudah mengebut dengan telapak tangan kanan. Tampaknya kebutan kakek itu hanya perlahan saja. Akan tetapi sesungguhnya kebutan yang mengandung Aji "Dahana Muncar" itu amat berbahaya. Sebagai murid tertua, Reksogati dahulu menerima Aji tersebut langsung dari tangan pertama, dari gurunya sendiri. Dan dalam pada itu, ia sudah menggembleng diri puluhan tahun lamanya, sehingga baik ilmu saktinya maupun AJi "Dahana Muncar" sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Tentu saja dalam segala hal ia lebih mahir dibanding dengan Sawungrana. Maka begitu tangan Reksogati berkelebat mengebut, Sindupun tidak berani lengah dan sembrono.
Angin yang halus tetapi sangat panas, segera menyambar ke arah Sindu. Akan tetapi Sindu yang sudah siap siaga, melesat ke samping sambil mengebut pula untuk mengembalikan tenaga yang dikirim lawan. Apa boleh buat, pikirnya. Ia tadi sudah berusaha menghindari terjadinya perkelahian. Akan tetapi Reksogati dan Sawungrana tak mau mengerti, dan memaksakan kehendaknya. Dalam pada itu iapun sadar, bahwa Reksogati tak bisa disamakan dengan Sawungrana. Apabila dirinya mengalah dirinya sendiri yang akan celaka dan menjadi korban.
Sesungguhnya tentang dirinya sendiri, ia tidak begitu memikirkan. Akan tetapi setelah ia merupakan guru dan kakak seperguruan Titiek Sariningsih, ia sekarang memikul beban untuk keselamatan dan kemajuan bocah itu. Demi kepentingan bocah itu, ia sedia berkorban apapun juga. Sadar akan kedudukannya sekarang, maka sambil menghindar dan mengembalikan tenaga serangan Reksogati itu, ia memperingatkan muridnya,
"Titiek, mundurlah agak jauh. Sekali ini engkau tak boleh membantah!"
Dan bocah itu sekalipun sikapnya selalu manja kepada Sindu. namun ia seorang gadis cilik yang cerdik. Dari nada suara Sindu, ia menangkap kesungguhan dan perintah yang tak boleh dibantah lagi. Maka sekalipun tak membuka mulut dan menjawab, gadis yang masih tetap memegang Pedang Pusaka Si Buntung yang telanjang itu, sudah meloncat mundur menjauhi gelanggang pertempuran. Sebab gadis cilik inipun sesungguhnya, sudah merasakan pula sambaran tenaga tidak tampak yang amat panas.
Reksogati agak terkejut begitu merasa tenaga kebutan yang dikirim membalik dan hawa panas menyambar dirinya. Maklumlah ia sekarang bahwa Sindu sekarang memang sudah jauh maju. Pantas sekarang menjadi sombong dan besar kepala. Tangannya kembali mengebut dan mengerahkan tenaga. Sekali lagi ia ingin mencoba kekuatan lawan. Sambaran tenaga yang tak tampak itu, segera menyerang ke arah Sindu. Namun Sindupun tak mau mengalah. Merasakan sambaran tenaga yang lebih kuat, iapun segera menambah tenaganya. Sekarang bukan saja ia menyalurkan Aji Dahana Muncar. tetapi di rangkapi pula oleh tenaga Aji Gelap Ngampar.
Perlu diketahui bahwa Aji Gelap Ngampar memang mempunyai "dwiguna" atau kegunaan yang rangkap. Di samping bisa digunakan menyerang orang dengan suara. ketawa atau bentakannya, juga dapat disalurkan lewat pukulan. Maka tenaga halus yang keluar dari telapak tangan Sindu bertambah kuat. Tenaga Reksogati dapat di punahkan dan dikembalikan kepada lawan.
Betapa kaget Reksogati ketika merasa dadanya di sambar oleh hawa yang sangat panas dan kuat. Terpaksa kakek ini harus meloncat ke samping menghindarkan diri.
Untuk sejenak dua orang kakek ini berdiri tak bergerak. Akan tetapi sepasang mata masing-masing tak berkedip penuh kewaspadaan. Masing-masing menyadari bahwa lawan yang dihadapi amat berbahaya. Maka sedikit lengah saja akan roboh dan nyawa putus.


Kisah Si Pedang Buntung Lanjutan Ratu Wandansari Karya Widi Widayat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tetapi sesungguhnya, apa yang terjadi sekarang ini, karena Sindu masih merasa segan kepada kakak seperguruannya itu. Rasa segan ini bukan karena takut. Akan tetapi karena merasa bahwa Reksogati dahulu pernah menyayang dirinya, sebagai wakil gurunya dalam memberi pendidikan. Karena itu dalam persoalan ini ia berjanji kepada dirinya sendiri takkan berusaha menyulitkan kakak seperguruannya ini. Namun sebaliknya ia pun tak ingin Reksogati menekan memaksa dan mau menang sendiri. Untuk menghargai kakak seperguruannya ini. ia takkan memulai sebelum Reksogati menyerang.
Tetapi Reksogatipun tidak gegabah menyerang. Pandang mata kakek ini tak berkedip akan tetapi kakinya bergerak perlahan lahan. Bukannya langsung maju ke depan, tetapi memutar ke kanan. Sindu kenal akan bahaya gerakan kakak seperguruannya yang menggunakan siasat seperti ini. Maka iapun mengimbangi gerakan Reksogati, ikut begerak pula mengitari' ke kanan. Masing-masing waspada penuh dengan sepasang mata yang tak berkedip.
Melihat itu, Titiek Sariningsih yang belum mempunyai pengalaman, dan belum pernah pula bertempur sungguh-sungguh menjadi heran.
Mengapa dua orang kakek itu tak lekas saling gebrak. sebaliknya malah saling mengisar seperti ayam aduan?
Gadis cilik ini tidak tahu, bahwa sikap seperti ini adalah sikap tokoh sakti yang hati-hati dalam menghadapi lawan. Dan dengan sikap ini pula, akan memberi pengaruh dalam perkelahian selanjutnya.
Dua orang kakek ini saling bergerak ke kanan dan berputaran. Akan tetapi gerakan yang pada mulanya perlahan itu, makin lama menjadi semakin cepat. Kemudian mereka tidak melangkah lagi, melainkan berlari larian cepat.
Titiek Sariningsih menonton tingkah dua orang kakek itu dengan heran. Kalau mereka hanya terus berputar seperti ini kapan bisa rampung?
Gadis cilik ini memegang pedang Si Buntung semakin erat dan hatinya amat tegang. Diam-diam timbullah keinginan gadis ini untuk meloncat dan menyerang Reksogati. Akan tetapi sebelum gadis cilik ini lancang meloncat. mendadak lubang telinganya mendengar suara yang amat halus.
"Titiek. jangan kau sembrono. aku bukan bergurau. Apa yang terjadi sekarang ini harus engkau perhatikan, dapat engkau jadikan pengalaman di kemudian hari."
Kaget Titiek Sariningsih mendengar suara yang halus itu. Ia bisa menduga secara tepat, bahwa gurunyalah yang telah mengirim peringatan lewat Aji Pameling. Diam-diam gadis cilik ini kagum juga. Bahwa gurunya yang sedang menghadapi lawan itu, masih dapat menduga apa yang akan ia lakukan. Ia tunduk kepada peringatan dan nasihat gurunya. Kemudian gadis ini menonton penuh perhatian.
Ternyata kemudian bahwa gerakan cepat yang saling berputaran itu, lingkarannya makin lama semakin menjadi sempit. Dan tak lama kemudian terdengar lengking nyaring Reksogati. Lengking nyaring yang dibarengi oleh serangan berbahaya. Tubuh Reksogati melesat cukup tinggi, kemudian berjungkir balik. Kepala di bawah dan kaki di atas. Laksana seekor garuda, Reksogati menukik dengan dua belah tangan mengembang, jari-jari tangannya terbuka. Tangan kiri bergerak lebih dahulu dengan jari terpentang, sedang tangan kanan menyusul dengan gerakan untuk menusuk ubun ubun kepala.
Ternyata dalam menyerang ini. Reksogati tidak tanggung-tanggung. Ia sudah menggunakan ilmu simpanan perguruannya, yang tidak dikenal oleh Sindu ialah ilmu Garuda Sakti. Sesuai dengan nama ilmu yang mengambil nama burung, maka gerak serangannya lebih tepat apabila dari sebelah atas menyerang ke bawah. Tampaknya hanya sederhana saja jurus-jurus Ilmu Garuda Sakti ini. Dari atas menyambar ke bawah. Akan tetapi dari jurus yang sederhana itu, perubahannya amat banyak sehingga lawan tidak menduganya.
Sindu juga tidak berani gegabah menghadapi serangan kakak seperguruannya ini. Sebab baru sambaran anginnya saja sudah kuat sekali yang bisa membuat dada seakan tertindih tenaga dahsyat yang tidak nampak. Akan tetapi bagi Sindu sekarang ini, sambaran tenaga itu tak menyebabkan sesuatu. Ia cepat melesat ke samping menghindarkan diri tanpa membalas. Memang Sindu sudah berjanji kepada dirinya sendiri. Ia akan mengalah tiga kali, diserang tanpa membalas. Perbuatannya ini bermaksud sebagai penghargaan kepada Reksogati, yang dahulu pernah memimpin dan menggembleng dirinya, sebagai wakil gurunya.
Sekalipun masih muda, Titiek Sariningsih sudah menguasai ilmu tinggi. Maka ia dapat melihat Jelas apa yang dilakukan Sindu. Gadis cilik ini diam-diam tidak puas dengan sikap Sindu itu.
Mengapa harus mengalah kepada seorang yang dianggapnya sombong dan sewenangwenang itu?
Tetapi walaupun mendongkol dan tidak puas, gadis cilik ini tidak mau mencela, dan menonton penuh perhatian. Dan tidak lama kemudian, hati bocah ini menjadi lega. ketika melihat bahwa Sindu sudah mulai pula membalas serangan lawan. Sekarang dua orang itu bergerak amat cepat dan angin halus menyambar-nyambar sekitar gelanggang perkelahian. Daun-daun pohon 'rontok seperti dilanda lesus, dan ranting-ranting kecil patah. Sambaran angin pukulan itu sampai juga di tempat Titiek Sariningsih berdiri. Namun sambaran angin itu sudah lemah sehingga tidak menyebabkan apa-apa.
Sindu yang melayani Reksogati ini. memang sengaja tidak ingin lekas berusaha menang. Selama menyembunyikan diri dan melatih ilmu warisan Ki Ageng Purwoto Sidik atau Ki Ageng Kebo Kanigoro ia tidak pernah memperoleh pasangan berlatih maupun musuh berkelahi. Maka sekarang ini merupakan kesempatan bagus sekali guna mencoba ilmu tata kelahi bernama Cleret Tahun itu. Namun ternyata makin lama Sindu menjadi kagum sendiri akan ilmu tangan kosong yang digunakan sekarang. Ternyata di samping dapat memberi perlawanan amat baik serangan balasannyapun banyak sekali membuat Reksogati berseru tertahan, saking kaget dan kagumnya. Selama menjadi salah seorang pengawal rahasia yang amat dihormati orang di Mataram. ia belum pernah berhadapan dengan musuh, sampai menggunakan ilmu khusus seperti sekarang ini. Namun ternyata sekarang, dalam menghadapi bekas adik seperguruannya ini.
ia telah mengerahkan kemampuannya, masih tak juga dapat menekan Sindu.
Akan tetapi Reksogati bukannya menyadari keadaan, sebaliknya malah menjadi penasaran. Dalam serangan-serangan selanjutnya. di samping gerakan serangannya makin menjadi ganas, ia juga memekik-mekik seperti seekor burung yang sedang marah. Kakek ini dalam hati bersumpah ia harus dapat menunjukkan keunggulannya sesuai dengan kedudukannya sebagai murid tertua, pemegang hukum pada perguruannya, supaya adik seperguruannya yang mau berkhianat ini dapat ia tundukkan.
Gerakan dua orang itu menjadi makin cepat. Angin dahsyat menyambar-nyambar, dan tubuh mereka sekarang lenyap tinggal sebagai segulung sinar yang berpindah-pindah cepat sekali. sesuai dengan warna pakaian mereka. Perkelahian yang semakin sengit dan cepat ini, membuat Titiek Sariningsih yang menonton penuh perhatian itu sekarang tak dapat mengikuti, pandang matanya kabur dan kepalanya agak pening. Akan tetapi gadis ini seorang yang keras hati. Ia tak cepat mau tunduk oleh keadaan. Gadis ini segera mengerahkan kemauan dan hawa sakti dari dalam tubuhnya. Berkat kerasnya kemauan ini.maka apabila semula kepalanya pening dan pandang matanya kabur sekarang dapat menonton perkelahian yang sengit itu, dengan penuh rasa kagum.
Memang sungguh beruntung, bahwa semuda usia Titiek Sariningsih, telah berhasil mempelajari ilmu sakti yang tinggi nilainya itu. Maka walaupun yang terjadi sekarang ini dilakukan oleh dua orang sakti mandraguna, ia masih bisa mengikuti, sekalipun agak susah. Dan diam diam gadis cilik ini menjadi terbuka mata hatinya bahwa di dunia ini tidak terhitung jumlahnya manusia sakti mandraguna. Kakek Sindu yang semula ia anggap paling sakti di dunia ini, ternyata tidak segampang ketika merobohkan Sawungrana.
Tiba-tiba Titiek Sariningsih kaget mendengar suara melengking tajam, dan membuat tubuhnya terhuyung. Kemudian menyusul terdengar suara
"plak-plak buk-buk ..." dan gadis cilik ini terbelalak.
Kiranya suara yang didengarnya tadi dua orang kakek saling pukul. Tubuh Sindu tampak terhuyung ke belakang beberapa langkah. tetapi tidak apa-apa. Sebaliknya Reksogati terhuyung ke belakang beberapa langkah, kemudian muntah darah segar, lalu jatuh terduduk.
Sebagai akibat saling pukul tadi, terbukti bahwa Sindu hanya merasa dadanya agak sesak. Darah dalam dadanya bergolak. Akan tetapi setelah mengatur pernapasannya rasa tersebut dalam waktu singkat hilang. Di pihak lain. Reksogati harus duduk mengatur pernapasannya, guna menghentikan darah yang mau keluar dari mulut. Kakek ini menderita luka dalam yang cukup parah. Terpukul oleh Sindu yang menggunakan Aji Gelap Ngampar.
Titiek Sariningsih cepat melompat dan berlarian menghampiri Sindu. Gadis ini memeluk pinggang Sindu dan bertanya agak gugup.
"Kakek...... kau... kau tak apa apa?"
Bibir Sindu tersenyum dan sepasang matanya mengamati Titiek Sariningsih penuh kasih.
"Tidak. Titiek,"
"Hanya......"
"Hanya apa....." desak Titiek Sariningsih.
"Hanya aku...... agak menyesal terjadinya peristiwa ini,"
Sindu menyahut sambil menghela napas panjang.
Gadis cilik ini merengut, sebab ia sudah dapat menduga maksud gurunya. Maka katanya setengah menegur,
"Kakek. engkau ini bagaimana? Orang berkelahi, tentu berusaha memperoleh kemenangan. Mengapa engkau menjadi menyesal setelah menang? Kalau kakek menyesal karena yang kaukalahkan itu bekas kakak seperguruan sendiri. mengapa harus begitu? Sejak tadi kakek sudah menyadarkan, sudah berusaha mengalah. Akan tetapi kalau orang ingin memaksakan kehendak sendiri dan sewenang-wenang, mengapa harus kakek sesalkan? Apakah kakek memang sengaja membunuh diri ? "
Sindu tetap tersenyum mendengar teguran muridnya sendiri ini. Kemudian sahutnya,
"Titiek. maksudku, mengapa harus terjadi peristiwa semacam ini?"
"Hi-hik "
Titiek Sariningsih tertawa.
"Apakah kakek ingin melawan takdir dan garis yang sudah ditetapkan oleh Yang Maha Tinggi? Bukankah kakek sendiri sudah mengajarkan kepada Titiek, tak benar manusia menyesalkan sesuatu yang telah sesuai dengan garis Tuhan. Sebab manusia yang hidup di dunia ini. ibarat wayang dalam kotak. Dan bukankah kakek juga memberi nasihat kepada Titiek agar berhati-hati dalam menghadapi permainan pikiran kita sendiri? Yang semua itu kakek sendiri bilang agar kita ini tidak hidup dipermainkan oleh macam-macam perasaan yang dikenal manusia ialah berci, tak puas, menyesal, iri, dendam dan sebagainya? Nah, kalau kakek selalu menanamkan pengertian semacam itu kepada Tiiiek. mengapa kakek sendiri tak dapat menghadapi?"
Terbelalak sesaat Sindu mendengar teguran muridnya sendiri ini. Namun ia tidak marah, karena teguran muridnya ini benar belaka.
Tidak terbantah!
Dan ia malah merasa malu sendiri, mengapa ia tadi sudah dipermainkan oleh pikirannya sendiri. Karena itu sambil tertawa lirih. kakek ini menjawab,
"Terima kasih, cucuku, hemm ., benar. Ya. mengapa harus disesalkan kalau kehendak Tuhan harus begini ?"
Kemudian Sindu melangkah ke depan menghampiri Reksogati. Ia berhenti pada antara enam meter. Lalu katanya,
"Kakang........maafkan aku! Kita memang berselisih jalan. Apa harus dikata?" ,
Reksogati membuka matanya, tetapi tidak menjawab. Hanya tampak pandang mata kakek itu menyala, menbuktikan bahwa kakek itu marah. Melihat itu Titiek Sariningsih tidak senang. Jari tangannya menyentuh Sindu sambil berbisik.
"Kakek, hayo lekas kita pergi saja........"
Sindu tak lekas menjawab. Ia mengamati dua orang kakak seperguruannya itu. Ia melihat bahwa sekalipun Sawungrana menderita luka berat, tetapi tak membahayakan jiwanya. Demikian pula Reksogati. sekalipun luka berat pula, tak lama kemudian akan dapat bergerak lagi.
"Kakang Reksogati dan kakang Sawungrana," kata Sindu lagi.
"Bagaimanapun pula aku merasa sebagai saudara seperguruanmu yang termuda. Terjadinya peristiwa ini sungguh amat memalukan. maka aku mohon agar terjadinya peristiwa ini, anggaplah seperti tidak pernah terjadi. Kakang, kepadamu berdua aku mohon agar sudi menyampaikan permohonan ampun untuk diriku, baik kepada Gusti Ratu Wandansari. Gusti Pangeran Kajoran maupun Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Agung. Dan sekarang, perkenankanlah saya mohon diri."
Sindu segera melompat pergi, diikuti oleh Titiek Sariningsih. Dan dalam waktu singkat telah lenyap di balik rimbun daun dan pohon-pohonan. Sindu sudah berusaha menekan perasaannya. Namun tetap Juga amat terharu, mengapa jalan hidupnya harus melalui perselisihan dengan dua orang kakak seperguruannya, yang sudah mempunyai jasa pula bagi dirinya.
Dalam pada itu sulit digambarkan betapa perasaan Reksogati dan Sawungrana. yang sedang berusaha meringankan penderitaannya. akibat terluka dalam yang amat parah. Dua orang kakek ini amat penasaran, mengapa mereka harus roboh oleh adik seperguruan sendiri, yang dahulu mereka pimpin dan mereka latih dalam ilmu kesaktian maupun tata kelahi. Rasa penasaran dalam hati Reksogati dan Sawungrana ini, bukan melulu karena di kalahkan oleh Sindu. Tetapi juga karena merasa malu. mengapa sekali ini mereka berdua tak pandai melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada mereka berdua. Mereka merupakan jago nomor satu dan nomor tiga. dalam kelompok pengawal rahasia.
Bukankah dengan gagalnya tugas ini, akan membuat mereka turun derajat di mata Sultan Agung, Pangeran Kajoran maupun Ratu Wandansari?
( Bersambung jilid 14 )
Kisah Si Pedang Buntung
Lanjutan Ratu Wandansari
Karya : Widi Widayat
Jilid : 14
Pelukis : Janes
Penerbit "GEMA"
Metrokusuman 761 Rt 17
SOLO Ijin Penerbitan
Ijin : No Pol /3/26 aa-54/0-73
Surakarta tanggal 17 januari 1973
Cetakan Pertama 1973
**** Buku koleksi ; Aditya Indra Jaya
Juru Potret : Awie Dermawan
Edit teks & pdf : Saiful Bahri Situbondo
(KOLEKTOR E-BOOK)
******
KARENA mereka menjadi malu oleh karena gagal melakukan tugas ini dalam hati masing-masing timbul pendapat lebih baik tidak kembali ke Mataram. Mereka akan menyembunyikan diri dan menggembleng diri. Untuk kemudian hari membalas sakit hati ini kepada Sindu. Pada saatnya nanti mereka harus dapat merobohkan dan kalau perlu membunuh Sindu, guna mengembalikan derajat dan martabat mereka.
Demikianlah, Reksogati bangkit lebih dahulu, sekalipun wajahnya masih pucat. Ia lalu menghampiri Sawungrana dan menolong adik seperguruannya ini untuk bangkit berdiri. Sawungrana yang terluka amat parah itu, terpaksa dipapah oleh Reksogati meninggalkan tempat itu. Kata Reksogati.
"Adi Sawungrana, nama kita sudah hancur! Kita harus pergi dan bersembunyi. Kita menggembleng diri bersama, kemudian hari kita membalas sakit hati ini."
Sawungrana tak membuka mulut, hanya mengangguk lemah. Ia takut membuka mulut. khawatir kalau muntah darah lagi. Namun demikian Reksogati sudah puas.
Kalau Reksogati dan Sawungrana sudah sependapat tidak kembali lagi ke Mataram, adalah Sindu dan Titiek Sariningsih berlarian cukup cepat dengan maksud dapat menjauhi tempat yang membuat Sindu menyesal bukan main harus berkelahi dengan kakak seperguruannya sendiri. Karena hatinya masih juga diliputi oleh rasa sesal ini, maka Sindu berlarian tanpa membuka mulut.
Titiek Sariningsih dapat menduga perasaan gurunya ini. Bocah ini tidak puas oleh sikap Sindu. Ia menghentikan larinya, dan Sindu heran. Kakek inipun kemudian menghentikan larinya. bertanya sambil memandang Titiek,
"Mengapa engkau, cucuku?"
"Huh, sebal aku."
Titiek Sariningsih bersungut-sungut dan bibirnya cemberut.
Sindu tersenyum.
"Apa yang membuat kau sebal?"
"Sikap kakek!"
Sahut Titiek Sariningsih singkat.
Sindu tertawa. Entah mengapa terhadap Titiek Sariningsih yang sikapnya manja ini, ia tidak bisa marah.
"Sikapku yang mana?'
"Huh, kakek mau mungkir?"
Hardik Titiek Sariningsih sambil membuang 'muka.
"Kalau orang berusaha berbuat jahat. mengapa kakek harus mengalah? Walaupun orang itu bekas kakak seperguruan sendiri, mengapa kakek biarkan sewenang-wenang dan memaksakan kehendak sendiri ?"
Sindu terbelalak heran tak mengerti. Tanyanya.
"Titiek, mengapa kau bersikap seperti ini?"
"Hemm, kalau aku, kek, orang macam itu harus aku lenyapkan dari dunia ini. Sebab kemudian hari dua orang itu hanya akan membuat kakek repot dan banyak urusan."
"Mengapa?"
"Mana mungkin dua orang itu menerima begitu saja kaukalahkan? Setidaknya mereka akan lapor kepada Raja Mataram. Oleh laporan itu, tentu Raja Mataram menjadi marah dan berusaha mengerahkan kekuatan untuk menangkap kakek. Bukankah itu hanya akan membuat kakek sendiri repot dan banyak urusan? Berbeda kalau kakek tadi mau bertindak tidak kepalang tanggung. Segala urusan akan selesai sekarang juga."
Mendengar ucapan gadis cilik ini, sekali ini Sindu tidak tertawa. Ia bersungguh-sungguh. Jawabnya.
"Titiek, kakek mengharapkan agar engkau mengerti pendapat dan pendirianku. Dan malah, aku minta pula padamu, agar pendirianku ini kautanamkan dalam sanubarimu. dan menjadi pula pegangan hidupmu. Tiada sikap yang lebih utama bagi kita yang hidup di dunia ini. selalu memberikan kasihnya kepada sesama hidup. Kasih yang tulus, tanpa mengharapkan pamrih untuk keuntungan diri. Sikap kasih ini dapat berbentuk macam-macam perbuatan dan sikap. Dapat pula berujud sesuluh bagi mereka yang gelap pikiran, dapat pula berupa makanan kepada mereka yang kelaparan, dapat menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat dan masih banyak macam lagi. Demikian pula apa yang sudah aku lakukan kepada mereka tadi. Aku berusaha menyadarkan mereka, dan memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan kekeliruan mereka. Aku percaya bahwa setelah mereka memperoleh kesadaran, mereka akan menyesal dengan perbuatan mereka sendiri."
"Tetapi bagaimanakah kalau mereka tak mau mengerti, dan tak pula mau memperbaiki diri ?" bantah Titiek.
"Hem........ tentu saja kita tak dapat berbuat apa-apa, dan semua itu kita kembalikan kepada DIA yang menentukan segala corak kehidupan di dunia ini. Pendeknya manusia berusaha dan berikhtiar. Dan segala ketentuan di tangan DIA sendiri. Titiek. bukankah berkali-kali aku sudah menasihatkan padamu, sesuai pula dengan pesan guru kita? Hindarkan pembunuhan terhadap sesama manusia. Lebih-lebih engkau sekarang telah menguasai pedang pusaka Si Buntung. Usahakan segala sikap dan tingkahmu, agar tidak bertentangan dengan amanat guru kita. Hanya dalam keadaan yang amat memaksa saja, apa boleh buat. guna menolong nyawa kita sendiri dari ancaman lawan."
Diingatkan akan amanat gurunya yang sudah meninggal lebih seratus tahun itu, Titiek Sariningsih menjadi sadar dan mengerti akan sikap Sindu. Ia tadi memang tidak senang. karena gadis cilik ini menduga bahwa sikap Sindu itu, tentu berhubungan dengan kedudukannya sebagai saudara seperguruan. Terbawa oleh perasaan seperti itu maka Titiek Sariningsih mencela sikap gurunya. Ia menjadi lupa akan amanat Ki Ageng Purwoto Sidik yang memberi warisan pedang pusaka Si Buntung. Akan tetapi gadis cilik ini memang seorang gadis yang jujur, maka setelah merasa dirinya bersalah ia cepat minta maaf.
"Ya, aku yang salah. kek, maka mohon kakek sudi momaafkan Titiek. Hemm..aku tadi terbakar oleh perasaan curiga."
Sindu tertawa. Memang sikap Titiek Sariningsih yang selalu jujur ini besar sekali pengaruhnya. sehingga sikap Sindu seperti seorang kakek terhadap cucunya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan seenaknya, sambil terus bicara, menuju Tuban.
Tetapi ketika mereka mulai menginjakkan kaki di wilayah Madiun, Sindu dan Titiek Sariningsih agak heran. Ia melihat kesibukan para penduduk yang menghias balai desa masing-masing nampaknya para penduduk itu sedang menyambut sesuatu peristiwa yang penting.
'Kakek, agaknya para penduduk desa ini sedang merayakan sesuatu .Mari kita tanyakan. mereka merayakan apa?"
Kata Titiek Sariningsih yang tertarik.
Tentu saja Sindu mengerti perasaan bocah ini. Sejak ia selamatkan dan ia bawa ke tempat persembunyiannya .
Titiek Sariningsih tidak dapat mengalami masa kanak kanaknya, karena harus tekun berlatih dan menekuni pelajaran ilmu kesaktian dan tata kelahi. Karena hidupnya selalu terasing dari pergaulan dan terpisah dengan kanak -kanak yang sebaya, maka gadis cilik yang baru berusia duabelas tahun ini, tentu saja rindu akan keramaian.
"Baiklah, cu, mari kita masuk dalam warung itu," sahut Sindu.
"Sambil mengisi perut. kita bisa menanyakan kepada mereka."
Dengan sikap seperti dua orang yang sedang mengadakan perjalanan jauh, artinya mereka menyembunyikan kepandaian, mereka masuk ke dalam sebuah warung yang cukup luas. Warung itu walaupun terletak agak jauh dengan kota Madiun, tetapi menyediakan macam-macam masakan sehingga tak mengembalikan pesanan orang. Letaknya di pinggir jalan yang besar, dan tak jauh dari warung itu terdapat puluhan buah kereta kuda dan pedati yang ditarik lembu. Agaknya memang merupakan tempat pemberhentian para sais pedati dan kereta yang sedang mengadakan pengangkutan.
Ketika mereka masuk, di dalam warung itu terdapat lebih duapuluh orang laki-laki sedang jajan. Pada sudut terdapat sebuah meja panjang dikelilingi oleh beberapa bangku panjang. Delapan orang laki-laki duduk menggerombol dan asyik bicara. Melihat cara mereka berpakaian jelas bahwa delapan orang itu adalah para sais pedati dan kereta yang sedang jajan. Mereka bicara sambil bergurau diseling pula minum tuak.
Pada meja lain, terdapat sembilan orang laki-laki tua dan muda. Bentuk tubuhnya aneka macam, demikian pula pakaian mereka. Ada yang berewok, ada yang hanya berkumis dan ada pula yang tak berkumis dan tak berJenggot. Mereka duduk seenaknya sendiri, tak mengenal sopan. Ada pula yang berjongkok di atas bangku dengan kakinya yang kotor penuh debu. Bicara mereka keras dan kasar, tanpa peduli orang lain terganggu oleh bicara mereka yang keras itu. Sekali pandang dan melihat cara mereka duduk dan bicara. Sindu sebagai seorang kakek yang sudah luas pengalaman, sudah tahu bahwa kelompok laki-laki ini terdiri dari orang kasar yang suka membawa kemauan sendiri tanpa memperdulikan orang lain terganggu. Sindu sudah terlalu biasa menghadapi orang-orang macam ini maka ia tak terkejut dan segera mengambil tempat duduk tanpa memperhatikan lagi.
Titiek Sariningsih duduk di sampingnya. Akan tetapi gadis cilik ini agaknya tidak senang dengan Sikap kelompok laki laki yang kasar itu. Terbukti pandang matanya tidak senang dan bibirnya cemberut. Melihat itu Sindu berbisik,
"Titiek. orang mempunyai kebebasan bersikap dan berbuat. Maka biarkanlah mereka memuaskan hati mereka."?
"Tetapi kek, di sini adalah warung dan banyak orang jajan. Mengapa mereka bicara kasar dan kotor macam itu?"
Titiek Sariningsih kurang Senang.
Sebabnya Titiek Sariningsih menjadi tak senang oleh sikap mereka itu, karena bicara orang-orang itu kotor. Mereka membicarakan soal perempuan, keras dan tak malu didengar orang. Sudah tentu sebagai seorang gadis cilik, ia merasa tersinggung.
Sindu tersenyum. Ia melirik ke arah meja lain, di mana terdapat tiga orang duduk berdiam diri, sambil makan dengan perlahan-lahan. Mereka itu terdiri dari dua orang pemuda dan seorang gadis. Usia mereka baru belasan tahun dan sekalipun bukan terlalu cantik, akan tetapi gadis muda itu cukup manis.
Sebagai seorang yang luas pengalaman, Sindu tahu bahwa sasaran mereka bicara itu, adalah tiga orang ini. Jelas bahwa kelompok laki-laki kasar itu sedang mengganggu gadis tersebut dengan cara mereka sendiri. Namun diam-diam Sindu kagum akan sikap tiga orang muda ini yang nampak tenang, tidak memperdulikan orang bicara dan tetap mengisi perut dengan perlahan. Melihat sikap tenang dari mereka itu, dan melihat pula keadaan tiga orang muda ini, Sindu sudah bisa memastikan bahwa tiga orang muda ini bukanlah orang muda sembarangan.
"Titiek,"
Sahut Sindu dengan perlahan setengah berbiSik,
"manusia di dunia ini memang semacam badut-badut yang beraksi diatas panggung. Maka tidak perlu engkau heran dan kaget. Biarkan mereka memuaskan kehendak sendiri, dan kita lihat saja apa yang akan terjadi."
"Mungkinkah mereka sengaja mencari perkara dengan dua orang pemuda dan seorang gadis itu, kek?"
"Mungkin! Tetapi kita tak punya urusan apa-apa. Biarkan mereka mengurus diri masing-masing."
Mendengar kata-kata Sindu ini, Titiek Sariningsih berdiam diri. Ia tahu maksud Sindu, bahwa dirinya dilarang mencampuri urusan orang lain. Oleh karena itu setelah pesanan mereka datang, Sindu dan Titiek segera menghirup kopi panas, kemudian mulai mengisi perut.
Dugaan Sindu itu memang tepat. Tiga orang muda itu memang bukan orang orang muda sembarangan. Mereka merupakan murid dua orang sakti dari Perguruan Sumbing, yang bernama Bimo dan Kunting. Seperti pernah diceritakan dalam cerita "JAKA PEKIK". dua orang tokoh Perguruan Sumbing yang bernama Bimo dan Kunting ini, merupakan dua tokoh aneh. Kakak beradik. Akan tetapi yang seorang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dan bernama Bimo. sedang yang seorang tubuhnya kerdil muka bernama Kunting. Keanehan dari dua orang tokoh ini, adalah selalu maju berbareng apabila berkelahi. Kalau sudah maju bertarung mengeroyok, mereka merupakan orang sakti pilih tanding. Akan tetapi apabila maju satu-persatu, kesaktiannya merosot jauh sekali, ibarat rujak tanpa lombok.
Dahulu, dalam cerita "JAKA PEKIK", tokoh yang bernama Bimo dan Kunting ini, pernah pula mengeroyok Jaka Pekik seperti puluhan tokoh sakti yang lain, ketika terjadi penyerbuan di sarang Gagak Rimang, yang terletak di Gunung Arjuna. Tetapi seperti juga tokoh-tokoh sakti yang lain, Bimo dan Kunting ini akhirnya harus tunduk kepada Jaka Pekik.
Karena Bimo dan Kunting ibarat "dwitunggal" yang tak dapat dipisahkan maka di dalam mendidik tiga orang muridnya inipun dilakukan bersama sama. Ilmu masing masing digabungkan menjadi satu, dan diajarkan kepada tiga orang murid ini. Adapun tiga orang murid ini. bernama Danardono, Danang dan Nuryanti. Antara Danardono dan Nuryanti, merupakan kakak beradik. Sedang Danang, sesuai dengan kehendak gurunya dan juga sudah saling cinta, merupakan tunangan Nuryanti. Mereka sekarang ini sesungguhnya sedang mengemban tugas guru mereka. Sedang dalam perjalanan menuju Surabaya, untuk bertemu dengan Jaka Pekik.
Mereka berhenti dan jajan di warung ini, karena haus dan lapar. Tetapi di luar harapan mereka, datanglah kelompok orang kasar yang jumlahnya sembilan orang. Begitu rombongan itu masuk, keadaan dalam warung menjadi lain. Kalau semula tenang, keadaannya sekarang menjadi agak ribut. Karena sembilan orang kasar itu duduk tak keruan, bicara keras dan kasar di samping pula sering terdengar suara yang nadanya kotor menyinggung kehalusan perasaan wanita baik-baik.
Dan sesungguhnya, sejak tadi Nuryanti sudah panas perutnya. Tak kuat rasanya terlalu lama mendengar ocehan tak sopan, dan tingkah laku sembilan orang tersebut yang memuakkan. Akan tetapi Danardono dan Danang selalu waspada. Mereka membujuk dan menyabarkan hati Nuryanti, menulikan telinga dan membutakan mata, tak perlu menanggapi. Namun apabila mereka sudah bersikap sabar, dan gerombolan orang-orang tersebut masih nekad dan tak tahu diri, kalau perlu barulah bertindak.
Akan tetapi agaknya gerombolan orang kasar itu seperti gerombolan katak di musim hujan. Begitu orang yang mereka jadikan sasaran berdiam diri, mereka menjadi seperti mabuk, beranggapan bahwa tiga orang muda itu takut. Maka mereka menjadi semakin berani dan lebih kurang ajar lagi. Kalau semula mereka hanya menyindir-nyindir dan sasaran bicara mereka samar-samar, makin lama menjadi terang-terangan.
Terdengar si brewok yang berkulit hitam, bertubuh kekar, bermulut lebar dengan gigi merongos, berkata setengah berteriak. Ia sekarang terang-terangan menggunakan Nuryanti sebagai sasaran bicara dan perhatiannya.
"Heh heh-heh, siapa yang tak menjadi ngiler jika melihat gadis semanis dia itu? Rela aku menceraikan tiga orang isteriku sekaligus untuk memperoleh si dia, heh-heh-heh!"
"Kakang Sembiring,"
Sahut si kurus pucat, dan ia bernama Sulipan.
"Jangan engkau serakah kepada perempuan. Sebaliknya engkau mengalah saja padaku, justeru isteriku baru seorang."
"heh-heh heh. yang punya tiga mau cerai dan yang punya satu masih kurang. Lalu, bagaimanakah dengan aku ini yang belum punya seorangpun ?"
Sambut yang bertubuh kerempeng dan muka pucat penyakitan. Perutnya buncit. maka ia dikenal dengan nama Dul Cempli.
"Ho ho-ho. heh-heh-heh, kamu semua bicara tak keruan. Mengapa kamu hanya memikirkan diri masing masing?" tegur orang yang paling tua di antara mereka.
Tetapi walaupun ia sudah tua, ia tak mau kalah dengan yang muda. Ia tak malu ikut bicara dan membuktikan bahwa orang yang bernama Wiro Blendung ini, tua-tua keladi. Sejenak ia berhenti, lalu katanya,
"Kita semua sembilan orang. Maka untuk adilnya. yang satu dapat yang lainpun harus memperoleh."
Lima orang! laki-laki yang lain, dengan riuh segera menyambut.
"Betul. seharusnya memang begitu. Satu dapat, yang lainpun harus dapat."
"Tetapi bagaimanakah dengan dua ekor anjing yang menjaganya?"
tanya Sembiring.
"Hemm, apa sulitnya menggebuk anjing cacingan itu?"
sambut Sulipan yang kurus pucat.
Panas sekali perut Nuryanti, dan kedua tangannyapun menjadi gatal mendengar kata-kata mereka yang kurang ajar itu. Namun Danardono dan Danang masih cukup sabar dan melarang Nuryanti membuat keributan. Menurut jalan pikiran dua orang pemuda ini, sudah lumrah apabila orang lakilaki yang kasar dan kurang pendidikan, suka membuka mulut kasar dan sembarangan. Dan dua orang pemuda ini berpendapat pula, apabila mereka segera pergi meninggalkan warung ini, semua soal akan selesai.
Karena calon suaminya dan kakaknya melarang. Nuryanti terpaksa tunduk dan menekan perasaannya, sekali pun sebenarnya sudah ingin sekali menghajar sembilan orang kasar itu. Akan tetapi karena ia harus menekan perasaan, maka tenggorokannya sekarang menjadi seperti menyempit, sulit untuk menelan nasi.
Di saat tiga orang saudara seperguruan itu ingin cepat menyelesaikan makan tanpa memperdulikan orangorang kasar itu, tiba-tiba orang yang paling muda bernama Dur Kempo mengalihkan pandang matanya ke meja Sindu dan Titiek Sariningsih. Mata pemuda ini mendadak bersinar-sinar dan hidungnya kembang-kempis. Walaupun masih kecil, tetapi kecantikannya tak kalah dengan gadis yang sudah masak dan sedang mereka bicarakan. Maka Dur Kempo menjadi amat tertarik. Kalau boleh memilih, ia lebih suka gadis cilik ini daripada gadis hitam manis itu. Dul Kempo memperhatikan kakek Sindu yang duduk di samping Titiek Sariningsih. Ketika melihat bahwa kakek itu nampaknya hanya seperti seorang kakek penduduk dusun biasa, yang tidak menunjukkan sesuatu keistimewaan, pemuda ini tak kuasa menahan mulutnya. Katanya setengah berteriak sambil berdiri.
"Jika begitu, aku memilih yang lain saja. Sekalipun masih kecil, tetapi dia lebih cantik dan menyenangkan."
Sambil berkata dan bangkit berdiri, Dur Kempo tidak menyembunyikan rasa tertariknya kepada Titiek Sariningsih. Ia memandang tak berkedip. Mendengar itu, kawan-kawannya menjadi tertarik dan memalingkan muka. Mendadak yang lain tertawa, dan mata mereka bersinar sinar. Gadis cilik yang masuknya kewarung tanpa mereka ketahui ini, justeru lebih cantik dan menarik. Maka kontan mereka menjadi ribut. Seakan mereka melihat dua buah mangga masak, mereka berebut ingin memperoleh. Kata-kata kotor segera berlompatan dari mulut mereka. .
Sejak tadi, sebenarnya Titiek Sariningsih sudah amat muak melihat sikap tingkah laku dan bicaranya gerombolan orang-orang itu. Hanya karena dilarang oleh Sindu dan merasa tidak mempunyai urusan ia tadi menurut dan menahan diri. Akan tetapi ternyata sekarang, gerombolan orang kasar itu tidak tahu gelagat dan tahu diri. Sekarang dirinya dijadikan sasaran pula. Ia menjadi marah dan penasaran sekali. Sekarang tanpa memperdulikan isyarat Sindu, gadis cilik ini berdiri dan membentak,
"Haii! Tikus-tikus busuk yang tak tahu diri. Janganlah Kamu asal dapat membuka mulut dan tanpa aturan."
Sambil berkata ini sepasang mata Titiek Sariningsih menyala marah. Untuk sejenak gerombolan orang orang kasar itu kaget dan berhenti tertawa, Akan tetapi hanya sejenak saja. kemudian meledaklah ketawa mereka riuh rendah. Mereka geli melihat sikap dan mendengar katakata gadis cilik itu yang sombong. Lalu terdengar Sembiring yang berewok itu menyahut sambil terkekeh.
"Heh. heh, heh, nona cilik yang cantik. engkau marah? Apakah kami kurang berharga bagi engkau dan nona hitam manis itu?"
Sambil mengucapkan kata-katanya ini, si berewok melirik ke arah Nuryanti. Tampak sekali bahwa si berewok ini ingin menarik perhatian gadis itu.
Tiga orang saudara seperguruan itu kaget dengan terjadinya perubahan suasana. Mereka tadi masih cukup bersabar, sekalipun sembilan orang itu sengaja menggoda Nuryanti. Akan tetapi ternyata, begitu menyinggung gadis cilik tersebut, segera disambut dengan sikap gadis cilik itu yang marah. Diam-diam tiga orang bersaudara ini khawatir Juga, jika terjadi perkelahian. Sebab mereka melihat bahwa kakek yang masih tetap duduk itu tidak tampak mempunyai keistimewaan. Maka mereka segera menduga, bahwa kakek itu hanyalah seorang petani yang lemah.
Tentu saja mereka menjadi salah duga terhadap Sindu. Sebagai seorang sakti mandraguna seperti dia, gampang saja untuk menyembunyikan keadaannya. Namun apabila orang mau memperhatikan sepasang mata Sindu yang lain daripada yang lain, orang akan segera tahu keadaannya yang sebenarnya. Sepasang mata Sindu itu, di tengah-tengah mata, terdapat semacam kristal yang bersinar-sinar bening akan tetapi redup. Tanda seperti ini, hanya diperolah oleh seorang yang telah mencapai tingkat tenaga sakti yang sempurna. Dan kalau sekarang ini Sindu bersikap tenang, bersikap seperti seorang yang bodoh, bukan lain karena ia sudah bisa menduga secara tepat, bahwa sembilan orang itu hanyalah orangorang kasar saja. Mereka mempunyai kepandaian yang lumayan, namun merupakan ilmu tata kelahi tingkat rendah saja. Maka Sindu tak mengkhawatirkan keadaan Titiek. Malah kemudian timbullah niatnya untuk memberi pengalaman kepada muridnya ini, dalam menghadapi musuh yang sebenarnya.
Kalau harus menghadapi sembilan orang sekaligus, yang hanya terdiri dari orang -orang kasar macam itu .Titiek Sariningsth takkan kalah, sekalipun dalam usaha mengalahkannya memerlukan waktu cukup lama. Akan tetapi kalau benar terjadi perkelahian, Sindu percaya bahwa tiga orang muda itu tak akan tinggal diam. Terutama si gadis hitam manis itu, tentu akan membantu cucunya.
Di saat itu terdengarlah suara si bopeng Dur Kempo yang menyambut kata-kata Sembiring dengan garang,
"Ha, agaknya nona cilik yang cantik ini belum tahu siapakah kita ini, berani lancang mulut. Huh, rasakan nanti apabila kamu jatuh ke tangan kami, heh, heh, heh!"
Ucapan si bopeng ini segera disambut oleh kawan kawannya dengan mulut yang tertawa lebar, sehingga tampaklah gigi mereka yang kuning tidak pernah mengenal sikat gigi. Sikap mereka yang memuakkan itu, membuat Nuryanti tak kuasa lagi menahan hati. Dengan gerakannya yang amat gesit, ia sudah merahup beberapa butir onde-onde. Begitu lengan gadis hitam manis bergerak, segera menyambarlah onde-onde itu berturut-turut ke arah mereka yang sedang tertawa. Dan ternyata sambitan Nuryanti ini tepat sekali. Mulut yang masih tertawa lebar itu kemudian disumbat onde-onde.
"Haepp.... buk...."
Lima orang di antara mereka yang tak sempat menghindar, telah tersumbat oleh onde-onde, kaget dan mendelik tak bisa bernapas. Empat orang yang lain tidak menderita, karena sempat melihat dan memiringkan kepala, menghindari sambitan onde-onde itu.
Titiek Sariningsih ketawa cekikikan saking geli, melihat lima orang itu tersumbat mulutnya oleh onde-onde, sehingga tak dapat bernapas.
"Hi, hi, hiikk..... itulah upahmu tikus-tikus tak aturan. Jika kurang, nih makanlah !"
Titiek Sariningsih yang penasaran itu, tak mau ketinggalan dan beraksi, memamerkan kepandaiannya menyambit. Beberapa butir kacang goreng segera menyambit ke arah mereka. Orang-orang itu berusaha menghindarkan diri sambil melompat. Namun tak urung mereka meringis juga, karena bagian tubuh yang terkena sambitan kacang goreng itu terasa pedas dan panas. Lebih
lebih pada bagian tubuh yang tidak terlindung oleh pakaian. di samping panas Juga terasa pedih.
Titiek Sariningsih makin terkekeh geli. Ia senang sekali melihat mereka kesakitan. Sebaliknya tiga orang saudara seperguruan Sumbing itu terbelalak. Sekarang baru terbukalah mata mereka, bahwa sekalipun kecil gadis itu bukanlah bocah sembarangan. Sambitannya dengan kacang goreng tadi membuktikan keadaan gadis itu sendiri. Mereka menjadi gembira. Kalau gadis yang masih cilik itu saja bukan sembarangan, tentu kakek yang tampaknya ketololan itupun bukan kakek sembarangan pula. Agaknya memang kakek itu sengaja menyembunyikan kepandaiannya.
Sementara ini para sais pedati dan kereta yang tadi bergerombol sambil minum tuak, menjadi kaget dan khawatir. Mereka cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Dua orang yang sudah mabok, segera diseret dan dipaksa kawan-kawannya keluar dari warung. Mereka khawatir ikut terlibat dalam keributan ini. Apalagi bagi para sais ini, sudah cukup kenal siapakah adanya sembilan orang kasar itu. Mereka merupakan sebagian dari orang-orang Gerombolan Kendeng yang memang terbiasa berbuat sewenang wenang terhadap penduduk yang lemah.
Takut akan akibat-akibat yang mengerikan itulah maka orang-orang yang semula jajan dalam warung itu cepat menyingkir. Meskipun demikian mereka tidak cepat pergi. Mereka ingin menonton akhir dari keributan yang terjadi sekarang ini.
Sementara itu pemilik warung dengan setengah meratap segera menghampiri dan membujuk Titiek Sariningsih dan Nuryanti.
"Nona...ah.....ampun.....saya harap nona jangan membikin ribut dalam warung ini. Celaka..ah, bisa hancur berantakan perabot warung ini....."
Nuryanti dan Titiek Sariningsih saling pandang sesaat. Walaupun mereka belum saling kenal bibir mereka tersenyum dan kemudian saling mengangguk. Mereka segera sependapat untuk keluar dari warung Ini. Kata Nuryanti,
"Baiklah! Biarlah tikus-tikus busuk itu kami hajar di luar warung."
Hampir berbareng Nuryanti dan Titiek Sariningsih sudah bergerak ke luar warung. Danardono dan Danang Cepat pula menyusul ke luar, karena hati dua orang pemuda ini terasa tegang juga. Sebaliknya Sindu tenang-tenang saja bangkit dari tempat duduknya dan melangkah perlahan keluar Warung. '
"Jangan lari!"
Teriak si berewok Sembiring sambil mendahului melompat keluar. Yang lainpun tak mau ketinggalan cepat menyusul keluar warung.
Di luar warung, Nuryanti dan Titiek Sariningsih sudah berdiri berdekatan menghadap ke warung. Sedang Danardono dan Danang berdiri ditempat agak jauh. Demikian pula Sindu, berdiri bersandar pada batang pohon dengan sikap yang tak acuh. Sebabnya Danardono dan Danang agak menjauhi. karena mereka dilarang oleh Nuryanti ikut Campur. Mereka tak berani membantah, namun diam diam mereka siap-siaga untuk bertindak apabila Nuryanti dan gadis cilik yang belum mereka kenal itu dalam bahaya.
Demikianlah, dalam waktu singkat Sembiring dengan kawan-kawannya itu sudah keluar semua dari warung dengan sikapnya yang bergegas. Sembilan orang itu berdiri berjajar dengan bentuk seperti kipas. Jelas bahwa mereka siap untuk melakukan kerOyokan. Mereka bersikap seperti ini, adalah karena khawatir kalah. Maka bagi anggauta-anggauta Gerombolan Kendeng anak buah Kirtaji ini, tak pernah segan berbuat apapun. justeru yang penting bagi mereka adalah kemenangan. Tetapi sekalipun demikian. Wiro Blendung yang merupakan orang tertua di antara mereka, dan merupakan pimpinan pula. masih berusaha menunjukkan kegarangannya. Bentaknya,
"Hai, bocah! Apa yang kamu andalkan berani bertingkah dan sombong di hadapan kami? Huh, sebelum terlanjur kami marah, berlututlah dan mohon ampun. Kami orang-orang Kendeng masih bisa bersikap murah kepada pihak yang pandai mengenal adat dan gelagat."
Mendengar disebutnya Kendeng agak terkejut juga Danardono, Danang dan Nuryanti.
Sebelum mereka berangkat menunaikan tugas dari guru mereka sudah memperoleh pesan agar dalam perjalanan selalu bersikap hati hati. Lebih-lebih apabila berhadapan dengan orang-orang Kendeng. Sebab kecuali Gerombolan Kendeng itu anggotanya berjumlah banyak, juga dipimpin oleh seorang sakti mandraguna, yang bernama Kirtaji. Ternyata sekarang tanpa mereka duga, berhadapan juga dengan orang orang Kendeng. Dan benar seperti apa yang sudah dikatakan oleh guru mereka, bahwa orang orang Kendeng memang suka membawa kemauan sendiri, dan suka membuat keributan.
Akan tetapi sebaliknya Titiek Sariningsih tidak menjadi terkejut maupun gentar, mendengar disebutnya nama Kendeng itu. Di samping gadis cilik ini merasa mampu menghadapi orang orang itu,juga sekarang inipun gurunya hadir.
Apa yang harus ia takutkan ?
"Hi-hi-hiiiik, apa sih gagahnya orang Kendeng, sehingga begitu sombong dan sewenang-wenang terhadap sesama Orang?"
Ejek Titiek Sariningsih sambil terkekeh.
"Orang lain boleh takut kepada gerombolanmu yang jahat dan liar. Akan tetapi aku Titiek Sariningsih tidak takut berhadapan dengan tikus tikus busuk macam kamu. Hayo, ingin maju satu satu ataukah mau mengeroyok? Mari kita buktikan. Siapakah yang harus berlutut minta ampun dan meratap-ratap?"
Sebenarnya Nuryanti agak khawatir setelah mendengar bahwa sembilan orang itu anggauta-anggauta Gerombolan Kendeng. Akan tetapi untuk mencela ia tak berani, karena belum kenal. Ia takut kalau gadis cilik yang belum dikenalnya menjadi marah dan salah paham. Oleh karena itu ia hanya berdiri dengan sikap yang waspada.
"Kurang ajar!" bentak si bopeng Dur Kempo sambil mendelik.
"Benar-benarkah kamu berani melawan kami? Huh. orang yang berani melawan kami akan tahu akibatnya nanti. Yang perempuan akan kami jadikan permainan sebagai bukan manusia lagi. Sadang yang laki-laki akan kami siksa sampai setengah mampus! "
Mendengar ucapan Orang yang demikian merendahkan dan menghina serta menunjukkan keliaran dan kesewenangan itu, Titiek Sariningsih sudah tak kuasa menahan sabarnya lagi. Ia sudah berteriak nyaring sambil menerjang maju.
"Bangsat busuk. Tutup mulutmu! Akulah yang berani melawan kamu. baik satu persatu maupun kamu keroyok."
Sindu yang merasa khawatir kalau Titiek Sariningsih tak kuasa menahan perasaan dan membunuh orang cepat-cepat memperingatkan lewat Aji Pameling,
'Cucuku Titiek, ingatlah. Engkau tak boleh membunuh sesama manusia. Boleh mereka kauhajar biar kapok, tetapi jangan sampai mati terbunuh."
Mendengar peringatan halus yang menyusup ke dalam telinganya itu, Titiek Sariningsih tersenyum. Tubuh yang kecil itu sudah melesat dengan amat ringannya menerjang maju. Tangan yang kecil itu, yang kiri bergerak lebih dahulu dengan cengkeraman, sedang tangan kanan membentuk tinju untuk memukul lawan.
Yang dijadikan sasaran serangannya, adalah si bopeng Dur Kempo. Karena orang inilah yang paling menjengkelkan dan mengucapkan kata kata yang menyinggung kehalusan perasaannya.
Sebaliknya Dur Kempo juga tidak takut.
Ia berpendapat, mana mungkin hanya berhadapan dengan bocah sekecil itu sampai kalah?
Maka dengan garangnya pemuda yang berwajah bopeng ini melompat maju. Giginya yang kuning tak pernah berkenalan dengan sikat gigi meringis. Diam diam ia memastikan sekali gebrak akan dapat menangkap, memeluk dan menggerayangi gadis ini. Kalau dirinya merasa pasti bakal menang, memang tidak terlalu sombong. Dalam kelompoknya ia seorang yang paling mahir berkelahi dengan ilmu tangan kosong. Lebih lebih tentang ilmu tata kelahi yang dicampur dengan gaya gulat. Lawan yang kurang hati-hati, begitu tertangkap oleh lengannya yang kuat sulit bisa lepas lagi.
Begitu melihat tangan kiri gadis itu bergerak mencengkeram kepala, Dur Kempo cepat merendahkan kepalanya setengah membungkuk. Pukulan tangan kanan Titiek Sariningsih ia tangkap, dan apabila berhasil akan segara ia dekap tidak berkutik lagi.
Titiek Sariningsih justeru belum mempunyai pengalaman. Maka walaupun gadis ini dapat bergerak selincah burung walet dan cepat pula gerakannya, hampir juga lengan kanannya berhasil ditangkap lawan. Dalam kagetnya gadis ini memekik tertahan. Tubuhnya dengan amat ringannya sudah melenting ke udara sehingga tangkapan lawan luput. Di udara gadis ini berjungkir balik. Kaki di atas kepala di bawah. Jari tangannya berkembang membentuk cakar garuda. Tangan kiri siap untuk mencengkeram kepala lawan, sedang tangan kanan yang akan bergerak mendahului untuk menusuk mata. Dengan serangan macam ini apabila lawan menghindarkan matanya dari serangan, tangan kirinya akan segera mencengkeram leher atau kepala lawan.
Dur Kempo yang tadi sudah merasa pasti dapat menangkap Titiek Sariningsih terbelalak heran ketika tiba tiba lawannya lenyap. Namun ia segera mendongak ketika mendengar teriakan kawan-kawannya, yang memperingatkan "awas serangan dari atas". Maka dengan sikap kaki terpentang, lutut agak ditekuk sedikit dengan kuda kuda kuat, ia segera siap menghadapi sambaran tangan lawan. Tangan kanan lawan yang menyambar ia tangkis dengan tangan kiri, kemudian tangan kiri yang bermaksud mencengkeram. ia sambut dengan cengkeraman pula untuk menangkapnya.
"Aduhh.......!"
Tetapi tiba-tiba terdengar pekik Dur Kempo yang nyaring, lalu tubuhnya bergulingan di atas tanah. Orang kasar yang mengandalkan kepandaiannya bergulat ini tertipu. Begitu serangannya disambut lawan, Titiek Sariningsih menggunakan kesempatan tak terduga-duga kakinya yang kecil sudah menendang, lalu meloncat turun ke tanah. Tendangan Titiek Sarinngsih yang tak terduga-duga itu telah mengenakan tepat di bagian uluhati. Maka sesudah tubuh Dur Kempo bergulingan beberapa saat, orang bopeng itu tak bergerak lagi karena pingsan.
Dua orang kawannya segera menolong. Sedang yang lain berteriak marah sambil melompat maju. Ternyata begitu seorang kawannya dirobohkan lawan, mereka menjadi penasaran dan berusaha mengeroyok. Akan tetapi Titiek Sariningsih yang percaya akan kemampuannya dan di samping itu kakeknya hadir, ia menyambut majunya delapan orang itu dengan cekikikan mengejek.
"Hi. hi, hiiik...... bagus. Memang begitulah seharusnya, jangan maju satu persatu. Orang-orang macam kamu yang suka berbuat sewenang-wenang, memang perlu dihajar biar tahu adat sedikit."
Ucapan ini sesungguhnya berbau sombong bagi gadis sekecil Titiek Sariningsih. Sebab walaupun mereka ini merupakan orang orang kasar dan hanya mengenal ilmu tata kelahi murahan, namun mereka sudah banyak pengalaman. Di samping gabungan tenaga mereka juga tak bisa diabaikan. Tentu saja ejekan gadis cilik ini membuat mereka marah sekali. Maka sambil menggeram marah, delapan orang itu segera bergerak mengurung. Wiro Blendung sebagai pemimpin memberikan aba-aba penyerangan secara teratur. Jika Titiek Sariningsih menyambut serangan dari arah depan, dari bagian yang lain segera menolong dan menyerang.
Tetapi sekalipun masih kecil, Titiek Sariningsih adalah seorang gadis yang tabah, di samping pula dapat bergerak ringan seperti burung walet. Begitu merasa dari belakang, kiri dan kanan menyambar angin serangan ia sudah melenting ke atas dengan mendadak. Akibatnya delapan orang pengeroyok itu tak menduga dan mereka pun terlalu bernafsu, mereka tak kuasa menarik tangan masing masing dan terjadilah mereka saling tabrak dan saling pukul sendiri.
Titiek Sariningsih yang sudah berdiri di belakang mereka tertawa cekikikan saking geli. Ejeknya,
"Hi-hihik, jangan berebut di situ. Lihatlah aku di sini!"
Wajah delapan orang itu menjadi merah dan makin penasaran. Mereka segera kembali mengurung gadis cilik itu. Kemudian Wiro Blendung mendahului untuk membuka serangan lagi. Namun seperti yang tadi terjadi. Mereka seperti menyerang bayangan. Malah beberapa di antara mereka harus meringis menahan sakit, karena gadis cilik itu dengan kecepatan tak terduga sudah membagi hadiah tinju dan tendangan. Yang paling banyak memperoleh hadiah adalah si berewok Sembiring. Kecuali dadanya terasa sesak oleh tendangan gadis itu, juga pipi kanan dan pipi kirinya sekarang terasa panas dan matang biru oleh pukulan tinju Titiek Sariningsih.
Saking marah dan malunya. si berewok Sembiring menjadi lupa daratan. Bukan saja tidak malu mengeroyok gadis Cilik, namun ia kemudian mendahului yang lain mencabut goloknya.
"Sring!"
Golok mengkilap tajam telah terpegang tangan kanan. Bentaknya.
"Karena engkau membandel dan tak tahu adat, terpaksa kami bicara dengan senjata!"
"Sring, sring. sring....!'
Yang lainpun sudah mengikuti jejak Sembiring menghunus senjatanya pula. Ternyata senjata mereka serupa. Berujut golok yang putih mengkilap tajam.
Melihat lawan sudah memegang senjata. Titiek Sariningsih menjadi gembira, ia sudah menggerakkan tangan untuk mencabut pedang pusaka Si Buntung. Akan tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya begitu mendengar bisikan dari kakeknya lewat Aji Pameling.
"Titiek, jangan engkau menghunus pedang. Tampaknya mereka garang, tetapi bagimu tak membahayakan. Gunakan Ilmu Tangan Kosong Cleret Tahun. Hanya dengan tangan dan kakimu, engkau tentu dapat mengatasi. Tetapi Titiek, engkau jangan terburu nafsu. Engkau harus menggunakan kewaspadaanmu. karena golok tak bermata."
Sekalipun hatinya agak ragu harus menghadapi lawan yang mengeroyok dengan senjata namun Titiek SariningSih tidak gentar. Ia percaya akan bisikan gurunya. Bahwa dengan ilmu tangan kosongnya, akan dapat mengatasi lawan. Maka kata gadis cilik ini mengejek,
"Hi, hi, hik, pisau dapur alat menyembelih tikus itu engkau pamerkan di depanku? Mari kita buktikan, mampu atau tidak aku melawan kamu dengan tangan kosong?"
"Siut, wut, sing......!"
Delapan orang anggauta Kendeng itu sudah mulai menerjang maju dengan golok. Mereka sungguh penasaran menghadapi bocah ini, sudah harus mengeroyok belum juga dapat mengatasi. Maka dengan mengandalkan ketajaman golok ini, mereka berusaha memperoleh kemenangan. Tidak perduli lagi apakah gadis cilik yang cantik itu terpaksa menderita luka parah atau mampus oleh golok mereka.
"Tring-tring-tring.... plak-buk..... aduhhh........!"jari tangan Titiek Sariningsih dapat menyentil punggung golok lawan yang menyerang berturut-turut, sehingga menyeleweng atau terpental.
Di saat itu dengan kecepatan luar biasa, kaki tangannya sudah bergerak membalas. Sembiring dan Dul Cempli malah tak kuasa lagi menahan mulutnya berteriak karena kesakitan. Hidung Sembiring terpukul dan keluar kecapnya, sedang perut Dul Cempli yang buncit penuh cacing itu, telah tertendang telak sekali, dan terpaksa orang buncit ini membuang goloknya mendekap perutnya sambil berjingkrakan.
Tetapi peristiwa ini makin membuat Wiro Blendung penasaran. Sambil berteriak memberi semangat kepada kawan-kawannya. ia memimpin penyerangan. Namun Titiek Sariningsih dapat bergerak seperti bayangan setan, sehingga semua golok itu tak pernah berhasil menyentuh ujung bajunya.
Akan tetapi karena Titiek Sariningsih tetap melayani para pengeroyok itu dengan tangan kosong, hal ini membuat Nuryanti amat khawatir. Sejak tadi ia memang berdiri menonton penuh rasa kagum, melihat cara Titiek Sariningsih memberi perlawanan. Diam-diam iapun mengakui, bahwa sekalipun kecil, tingkat gadis cilik itu malah di atas tingkat kepandaiannya sendiri. Akibatnya Nuryanti tak kuasa menahan hatinya. ia sudah melompat ke depan sambil berteriak ditujukan kepada Titiek Sariningsih,
"Maafkan aku, adik Cilik ! Aku tak kuasa berdiam diri dan menonton, setelah mereka tanpa malu lagi mengeroyok engkau dengan senjata!"
Begitu melompat ke depan sambil menggerakkan pedangnya, segera terdengar suara benturan senjata yang nyaring. Ternyata oleh sambaran pedang Nuryanti yang kuat, tak tercegah lagi golok dua orang pengeroyok sudah terpental terbang. Kemudian tanpa dapat dicegah lagi, Nuryanti sudah melompat dan berdiri di dekat Titiek Sariningsih, disambut oleh senyum manis yang menyungging bibir. Kata Titiek,
"Terimakasih, mbakyu."
"Mengapa adik tak bersenjata ?"
Tanya Nuryanti setengah menegur, karena gadis ini khawatir.
"Aku tak punya senjata, mbakyu, tetapi dengan dua tangan dan dua kaki, aku tak takut menghadapi mereka." sahut Titiek Sariningsih.
Jawaban ini terdengar seperti sombong. Seakan Titiek Sariningsih membanggakan kepandaiannya. Akan tetapi yang benar, Titiek Sariningsih menjawab sejujurnya. Hal itu karena ia sudah dilarang oleh Sindu menggunakan senjata Si Buntung, maka dengan demikian ia benar-benar tidak mempunyai senjata. Karena tiada senjata, maka tak ada jalan lain lagi kecuali harus mengandalkan kepada kekuatan dua tangan dan dua kakinya.
Akan tetapi ketika itu para pengeroyok sambil berteriak sudah kembali menerjang maju dengan gemas. Maka Nuryanti tak sempat membuka mulut. Untuk memberi perlawanan yang menguntungkan! Nuryanti segera mengambil tempat di belakang Titiek Sariningsih, dan beradu punggung.
"Siut, wut. tring, tring, cring..... ahhh......!"
Serangan delapan batang golok lawan itu dapat dihalau oleh dua gadis ini dengan gampang. Golok yang disentil oleh Titiek Sariningsih segera terpental dan menyeleweng, disusul tendangan kilat yang tak terduga. Si kurus pucat cacingan dengan perut buncit yang bernama Dul Cempli itu, untuk kedua kalinya menderita kesakitan. Kalau tadi perutnya yang buncit kena tendangan kaki Titiek Sariningsih, sekarang harus terpental beberapa meter jauhnya, berteriak-teriak kesakitan sambil mendekap perutnya. Sebab dengan bantuan Nuryanti, maka Titiek Sariningsih menjadi berkurang lawannya. Tendangan pada perut yang dikirim Titiek Sariningsih lebih keras lagi, dan membual Dul Cempli tak kuasa-berdiri lagi! ,
Sebaliknya Nuryanti yang menangkis dengan pedang, berhasil menerbangkan dua golok lawan dan memberi hadiah tendangan yang membuat si kurus pucat Sulipan berteriak kesakitan, perutnya mual dan muntah, sedang matanya gelap. Celakanya Sulipan terhuyung mundur ke arah selokan yang berair.
"Kecopak."
Sulipan terpaksa masuk selokan hingga basah kuyup. Kemudian orang ini merangkak sambil meringis untuk menghindarkan diri mati terendam air,
Karena yang mengeroyok sekarang tinggal enam orang maka Titiek Sariningsih dan Nuryanti menjadi lebih garang. Dalam dua gebrakan menyusul, Wiro Blendung memekik nyaring sambil mendekap pundaknya dengan tangan kiri. Dari pundak itu membanjirlah darah merah akibat tertikam pedang Nuryanti. Sebaliknya si berewok Sembiring terpental beberapa meter jauhnya oleh tendangan Titiek SariningSih lalu muntah darah segar.
Karena kehabisan kawan dan merasa gentar, empat orang yang lain cepat melompat dan bersuit nyaring. Dur Kempo yang masih menggeletak segera disambar oleh seorang kawannya. sedang yang lain lari jatuh bangun saking ketakutan.
Nuryanti yang masih penasaran, melompat ke depan untuk mengejar, masih memegang pedangnya yang bernoda darah Wiro Blendung. Akan tetapi gadis itu segera berhenti ketika mendengar teriakan Danang yang mencegah.
"Yanti! Jangan! Biarkan mereka pergi."
Melihat semua musuh sudah lari terbirit-birit. Titiek Sariningsih gembira dan menghampiri Nuryanti.
"Hi-hik. kau hebat, mbakyu. Siapa namamu? Kalau aku eh....namaku Titiek Sariningsih."
"Aku Nuryanti,"


Kisah Si Pedang Buntung Lanjutan Ratu Wandansari Karya Widi Widayat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sahut Nuryanti sambil tersenyum pula. Ia penuh rasa kagum. Kemudian sambil menuding kearah Sindu ia bertanya.
'Dan siapa orang tua itu?"
"Oh........ dia kakekku......."
Sahut Titiek Sariningsih.
Dua orang gadis ini kemudian sambil bergandengan tangan menuju ke arah Sindu berdiri. Nuryanti memanggil Danang dan Danardono, maka kemudian dua orang pemuda itupun melangkah menuju ke tempat Sindu.
"Mari kita meninggalkan tempat ini, mencari tempat yang lebih tenang,"
Kata Sindu sambil melangkah sehingga empat orang muda-mudi itu terpaksa harus mengikuti.
Bukan tiada maksud Sindu mengajak mereka pergi. Pertama ia tak menginginkan peristiwa yang baru terjadi membawa akibat yang buruk bagi penduduk desa itu. Yang ke dua, sebagai seorang tua yang luas pengalaman, tentu saja sudah tahu tentang Gerombolan Kendeng di bawah pimpinan Kirtaji. Tentu mereka yang baru saja kalah itu dalam waktu singkat akan kembali sambil mengundang tenaga bantuan. Sindu tak ingin peristiwa ini berlarut-larut. Maka jalan yang terbaik apabila secepatnya meninggalkan tempat terjadinya peristiwa.
Dalam pada itu diam-diam Sindu juga tertarik kepada tiga orang muda ini.
Ia ingin bertanya, murid siapakah mereka ini, dan mau pergi ke mana?
Mereka kemudian tiba di sebuah hutan kecil. Sindu mendahului duduk di atas rumput tebal. Empat orang muda itupun mengikuti jejaknya, duduk di depan kakek itu.Setelah lebih dahulu memberikan hormatnya. sesuai dengan kedudukan orang-orang muda itu. Sindu mengangguk-angguk sambil tersenyum memperoleh penghormatan orang muda itu. Dalam hati memuji, bahwa tiga orang muda yang belum dikenalnya ini, pandai menempatkan diri sebagai orang muda.
"Duduklah yang enak, anak-anak, dan bolehkah aku yang tua ini bertanya kepada kalian, tentang nama dan gurumu?"
Sembilan Pembawa Cincin The Lord Of The Rings Buku Satu Karya J.r Tolkien Sapta Siaga 15 Menerima Tanda Jasa Ranah Tiga Warna Buku 2 Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi

Cari Blog Ini