Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Pedang Buntung 5

Kisah Si Pedang Buntung Lanjutan Ratu Wandansari Karya Widi Widayat Bagian 5


"Terima kasih, Gusti. uluran tangan paduka amat membesarkan hati seluruh penghuni Bligo," sahut Kyai Abubakar;
"Akan tetapi kami tak dapat mendahului kehendak paman Abu Jali dan yang lain."
Yang dimaksud Kyai Abu Jali dan yang lain itu, sebenarnya berjumlah tiga orang. Ialah Kyai Abu Jali, Kyai Dasuki dan Kyai Samsuri. Tiga orang Kyai tua ini merupakan paman-paman perguruan yang berkedudukan sebagai pinisepuh dan penasehat. Walaupun seluruh kekuasaan dan seluruh urusan Perguruan Bligo di tangan Kyai Makhmud dan Kyai Abubakar namun dua orang Kyai ini tidak akan berbuat sesuatu sebelum memperoleh persetujuan tiga orang ketua dan sekaligus pcnasehat itu.
Demikianlah. pada akhirnya semua orang meninggalkan Pondok Bligo menuju ke tempat tinggal masing-masing. Hanya rombongan Gagak Rimang. Tuban dan Surabaya sekarang menjadi satu. menuju ke Perguruan Kemuning.
Perguruan Kemuning letaknya di pinggang Gunung Lawu. Oleh karena itu jarak antara Kemuning dengan Pondok Bligo tidak begitu jauh. Dalam perjalanan ini yang hatinya merasa paling gembira adalah Adipati Surabaya. Di Kemuning nanti, ia akan dapat mengumumkan dirinya sebagai ayah kandung Jaka Pekik. Ia akan minta bantuan Wisnu Murti untuk memberi penjelasan. Sebaliknya Jaka Pekikpun amat gembira. Sesudah kedatangannya ke Kemuning dua tahun yang lalu, ia belum pernah bertemu kembali dengan kakek gurunya. Ia justeru sudah amat rindu sekali kepada kakek yang amat besar jasanya kepada dirinya itu. Ia akan menumpahkan rasa rindunya itu, apabila ia sudah berhadapan.
Di pihak lain, Parang Kusumo, Jaka Lambang dan Suwondo Geni sebagai murid-murid Kemuning, hatinya diliputi ketegangan yang amat sangat. Tiga orang bersaudara seperguruan ini sadar bahwa setiba mereka di Kemuning, akan segera terjadi sesuatu yang menentukan. dalam hubungan dengan dosa Iskandar yang sudah sengaja membunuh Fajar Prana. Sesungguhnya apabila mengingat akan hubungan mereka dengan Iskandar tiada bedanya dengan anak sendiri, merasa tidak tega pula apabila nanti Iskandar harus memperoleh hukuman. Akan tetapi apabila mengingat perbuatannya yang terkutuk, sanggup membunuh paman perguruannya sendiri, hal itu sungguh tidak dapat diampuni lagi. Mereka sadar bahwa Wisnu Murti merupakan seorang tua yang amat kokoh dalam menegakkan peraturan perguruan. Maka mereka sudah menduga, bahwa akhirnya nanti Iskandar akan dihukum mati oleh kakek gurunya sendiri. Sebab hanya hukuman mati itulah yang setimpal dengan perbuatan Iskandar sendiri.
Begitu tiba di Kamuning, Jaka Pekik. Parang Kusumo, Jaka Lambang langsung masuk ke dalam padepokan. Sedang Suwondo Geni menyibukkan diri untuk menerima semua tamu. Saking banyaknya tamu yang datang, maka pendapa padepokan itu tak sanggup menampung, menyebabkan di antara tamu itu duduk bergerombolan di bawah pohon-pohon rindang di halaman depan. Didepan padepokan ini banyak tumbuh pohon jeruk keprok yang buahnya lebat dan di antara buah itu ada yang kuning sudah masak. Namun tidak seorangpun tamu berani mengambil buah itu. Sekalipun hati ingin menikmati buah jeruk yang segar itu.
Dalam pada itu. begitu mendengar bahwa Iskandar yang berdosa itu ikut pula datang. Banjaran Sari amat marah sekali. Sebagai seorang ayah ia amat malu sekali mempunyai serang putera sanggup berkhianat dan membunuh paman perguruannya sendiri. Maka dengan membawa pedang telanjang Banjaran Sari memburu ke luar. Melihat itu. Jaka Pekik dan yang lain kaget dan kuatir. Namun mereka tidak berani mencegah apa yang akan dilakukan oleh Banjaran Sari. Maka yang bisa mereka lakukan hanya mengikuti Banjaran Sari ke luar menuju pendapa padepokan.
"Mana bangsat durhaka itu?" teriak Banjaran Sari setalah tiba di pendapa padepokan. Akan tetapi setelah ia melihat Iskandar yang tak bergerak-gerak di atas tandu, dan seluruh tubuhnya dibalut dengan kain putih, tiba tiba saja tangan Banjaran Sari lemas. Pedang yang telah siap menikam Iskandar itu tak jadi menusuk.
Orang yang menyaksikan, bisa menduga sebabnya terjadi demikian. Sebagai seorang ayah, sekalipua Banjaran Sari amat malu dan marah oleh perbuatan puteranya, namun tak tega juga untuk menghukum dengan tangannya sendiri.
Dengan wajah yang pucat dan tubuh gemetaran, Banjaran Sari menebarkan pandangan mata ke sekeliling. Ia melihat beberapa orang saudara seperguruannya hadir lengkap di pendapa padepokan ini, kecuali Fajar Prana yang telah mati terbunuh oleh Iskandar. Hatinya merasa amat menyesal sekali dengan tiada kehadiran Fajar Prana yang sudah terbunuh oleh anaknya itu. Saking menyesal. tiba-tiba saja orang tua ini membalikkan pedangnya. lalu ditusukkan ke perutnya sendiri.
Untung Jaka Pekik selalu waspada akan gerak-gerik uwa perguruannya ini. Dengan kecepatan dan ketangkasannya yang tidak lumrah manusia, ia telah berhasil merampas pedang itu, sehingga maksud Banjaran Sari gagal total. Banjaran Sari yang berhasil direbut pedangnya terbelalak heran. Demikian pula orang yang melihatnya. Jarak antara Jaka Pekik dengan Banjaran Sari lebih knrang dua tombak. Sesungguhnya tidaklah mungkin orang bisa merebut pedang yang akan ditusukkan ke perut sendiri. Di samping itu Banjaran Sari adalah murid tertua Perguruan Kemuning. Ketinggian ilmunya setiap orang sudah mengetahui, Justeru Banjaran Sari kerap kali mewakili gurunya untuk memberi pelajaran kepada adik adik seperguruannya. Maka dapat dibayangkan betapa cepatnya gerakan Banjaran Sari yang mau menusuk perutnya sendiri itu.
Tetapi sekalipun masih muda usia, Jaka Pekik seorang sakti mandraguna. Seorang muda yang beruntung memperoleh ilmu-ilmu tinggi di luar kehendaknya. ilmu ilmu tinggi warisan Kangjeng Sunan Kalijogo dan Kangjeng Sunan Kudus, di samping pula telah memperoleh ilmu tinggi dari Wisnu Murti. Maka kecepatan gerakannya tak dapat diikuti oleh pandangan mata orang. Tahu tahu Jaka Pekik telah berhasil merebut pedang Banjaran Sari itu, kemudian pemuda ini berdiri di samping Banjaran Sari sambil membungkuk memberikan hormatnya.
"Paman, sudilah engkau bersabar dan jangan bertindak sendiri," kata Jaka Pekik dengan nadanya penuh hormat dan sabar.
"Segala sesuatu yang menyangkut kakang Iskandar, kakek guru akan bisa memberi keputusan seadil-adilnya." '
Wisnu Murti menghela napas panjang. Diam-diam orang tua ini menyesal, mengapa setelah usianya semakin tua dan mendekati akhir hayatnya, ia harus bernadapan dengan peristiwa pengkhianatan yang dilakukan oleh cucu muridnya sendiri. Setelah kakek ini mengamati Iskandar yang tak bergerak terlentang di atas tandu itu beberapa aaat lamanya, ia berkata dengan penuh nada penyesalan,
"Hemm, memang sungguh menyedihkan peristiwa yang menimpa Perguruan Kemuning. Dan sungguh menyedihkan sekali bahwa Kemuning harus mempunyai seorang cucu murid seperti bocah ini."
Kakek ini memandang kepada muridnya yang tertua itu, sambil menghela napas panjang lagi. Banjaran Sari yang ditatap oleh gurunya menundukkan muka, tidak berani bertatap pandang dengan gurunya. Dan sesaat kemudian kakek yang usianya sudah hampir seratus tahun ini, berkata menghibur kepada muridnya yang tertua itu,
"Banjaran Sari. Janganlah engkau bersedih hati. Sebab bukan hanya engkau seorang yang menyesal dan sedih berhadapan dengan peristiwa ini. Dan kalau engkau merasa tidak bahagia, aku sebagai gurumu dan juga semua saudara perguruanmu. tentu pula merasa tidak bahagia. Memang agaknya Tuhan telah menghendaki keadaan demikian. Tidak seorangpun manusia dapat membantah kehendak Tuhan. Oleh karena itu, kiranya lebih baik apabila bocah yang durhaka seperti ini selekasnya tidak ada!"
Setelah berkata, tangan Wisnu Murti bergerak ke depan. Tampaknya gerakan tangan kakek itu perlahan saja. Namun menyusul kemudian terdengar suara "plak! '! yang cukup nyaring. Dada pemuda pengkhianat Iskandar telah amblong. Dan napas itu putus pada saat itu juga. meninggal oleh tangan kakek gurunya sendiri.
"Guru!" seru Banjaran Sari tertahan, sambil berlutut didepan gurunya.
"Karena kesalahan murid memanjakan anak, berakibat adi Fajar Prana terbunuh mati oleh tangan bocah itu. Bagaimanapun pula. murid amat menyesal dan merasa amat berdosa sekali."
Wisnu Murti menghela napas panjang, sambil membangunkan muridnya yang tertua itu.
"Sudahlah, anakku. Janganlah engkau terlalu merasa berdosa dalam perkara ini.Anggaplah bahwa apa yang terjadi atas anakmu sudah kehendak Tuhan dan tak mungkin terbantah oleh manusia. Akan tetapi anakku, demi menjaga nama baik Perguruan kita sendiri, dan agar nama anakmu tidak mencemarkan nama Kemuning. maka sejak hari ini juga hakmu sebagai wakilku aku cabut dan serahkanlah kepada adikmu Parang Kusumo. Untuk selanjutnya aku harapkan agar engkau mencurahkan tenaga dan perhatianmu. terhadap Ilmu Samudra Rob. Dengan demikian. kelak kemudian hari engkau bakal dapat mengabdikan dirimu kepada masyarakat dan membela kebenaran. Anakku. engkau harus dapat mengerti apa yang aku pikir dan aku putuskan ini. Semua itu demi nama baikmu sendiri dan nama baik perguruanmu. Orang yang mengabdikan diri membela si lemah dan membela kebenaran tidaklah tergantung akan kedudukan. Mudah-mudahan engkau akan tetap menempatkan dirimu sebagai orang tertua bagi sekalian saudaramu."
Banjaran Sari mengangguk-angguk dan tidak bisa membantah keputusan gurunya yang amat dihormati itu. Sebaliknya orang-orang yang hadir di pendapa padepokan ini, dan menyaksikan betapa kerasnya Wisnu Murti mengatur rumah tangga perguruannya, hanya dapat menghela napas panjang. Sebab tidak seorangpun di antara mereka ini berhak mencampuri urusan dalam ini. Hanya diam-diam mereka merasa kasihan juga kepada Banjaran Sari, yang harus menyerahkan kedudukan calon ketua kepada Parang Kusumo.
Sesudah ia melaksanakan hukuman kepada Iskandar, dan mengumumkan bahwa calon pengganti kedudukannya kelak adalah muridnya yang kedua Parang Kusumo, barulah kakek ini ingat bahwa semenjak tadi kurang memperhatikan para tamu yang hadir memenuhi pendapa. Setelah ia mempersilahkan semua tamu supaya duduk dengan enak, kemudian kakek ini memalingkan muka, mengamati Jaka Pekik dengan wajah berseri dan bibir tersenyum, Ia mendengar pula tentang apa yang terjadi di Pondok Bligo. Bahwa jasa Jaka Pekik dan Gagak Rimang dipuji-puji banyak orang. Diam-diam kakek ini merasa amat bangga sekali, bahwa mempunyai seorang cucu perguruan yang perbuatannya terpuji di samping juga kesaktiannya sulit dicari tandingnya lagi di dunia ini.
Di saat Wisnu Murti memuji-muji akan tepak terjang Jaka Pekik ini, orang-orang Kemuning sudah menggotong jenazah Iskandar dibawa ke belakang untuk dirawat seperlunya. Akan tetapi sesudah jenazah Iskandar dirawat, tiba-tiba semua orang kaget menyaksikan Wisnu Murti menghunus pedang Banjaran Sari, kemudian Ujung pedang itu ditujukan kepada Rara Inten sambil berkata,
"Anak Rara Inten, engkau sekarang berkedudukan sebagai ketua Perguruan Tuban. Maka timbullah keinginanku untuk bisa menyaksikan sampai di manakah ilmu pedang Anjani yang sudah berhasil kaupelajari?'
Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan halus dan ramah, namun orang yang mendengar maklum, bahwa ucapan Wisnu Murti itu merupakan tantangan halus. Di antara sekalian orang yang hadir di pendapa ini, hampir semuanya tahu terlibatnya Rara Inten dalam urusan Iskandar. Maka timbullah dugaan yang hadir, bahwa tantangan halus ini berhubungan erat dengan urusan Iskandar yang berkhianat itu.
Namun Rara Inten tidak menampakkan kegugupannya. Ia menghadapi Wisnu Murti dengan sikapnya yang amat tenang. Sahutnya kemudian,
"Apa yang dapat saya pahami dan yakinkan, baru sedikit sekali. Kira-kira belum mencapai sepertiga kepandaian ibu guru."
"Hamm, setahuku, setiap orang yang menduduki jabatan ketua Perguruan Tuban. selalu dituntut oleh kuwajiban yang tidak ringan. Disamping harus mendidik seluruh murid supaya menjadi murid yang perwira, harus pula memikul tugas mengharumkan nama Perguruan Tuban. Tetapi engkau mengakui belum cukup sepertiga kepandaian adi Anjani. Lalu dengan bekal apa engkau akan mendidik semua murid Tuban dan memperkembangkan perguruan ? "
Kakek ini berhenti. Sesaat kemudian ia melanjutkan,
"Akupun sudah mendengar akan semua sepak terjangmu di Pondok Bligo. Bahkan katanya engkau berhasil menjagoi gelanggang pertandingan dengan ilmu kepandaianmu yang keji itu. Dengan demikian apakah engkau bermaksud akan membawa semua murid Tuban untuk belajar dan meyakinkan ilmu keji itu? Hemm.....hubungan antara Kemuning dengan Tuban ibarat "dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan" (bukan saudara bukan sahabat, tetapi jika mati ikut kehilangan). Aku tak dapat membiarkan Tuban hancur oleh salah didik, sebagai akibat kekuranganmu"
"Benar dan tepat sekali pendapat kakek tentang kekurangan saya ini," sahut Rara Inten dengan sikapnya yang tetap tenang.
"Itulah sebabnya maka sejak beberapa hari ini, aku sudah mempunyai rencana baik untuk mengatasi dan menolong Perguruan Tuban. Apabila rencana ini terkabul, bukan saja murid-murid Tuban bakal dapat menunaikan kewajibannya baik-baik, tetapi nama Perguruan Tuban pun akan makin menjadi harum."
"Bagaimanakah rencanamu itu ?"
Rara Inten tidak menjawab. Ia malah mengalihkan perhatiannya kepada Jaka Pekik,
"Kakang Pekik.... apakah engkau masih ingat akan pernyataanmu sendiri ketika di Arjuna? Waktu engkau melawan jago-jago yang mewakili enam perguruan. engkau menyatakan bukan sebagai murid Perguruan Kemuning. Apakah pernyataanmu itu masih berlaku sampai sekarang ?"
Yang dimaksudkan oleh Rara Inten, ialah peristiwa yang terjadi lebih dua tahun yang lalu. Ketika itu, Gagak Rimang dianggap orang sebagai perkumpulan sesat dan membahayakan pihak-pihak lain apabila dibiarkan hidup. Oleh karena itu, antara Perguruan Tuban, Kemuning, Pondok Bligo, Sumbing, Lodaya dan Semeru telah bersepakat menyerbu bersama-sama menghancurkan Gagak Rimang. Maka kemudian enam pihak ini menyerbu ke Markas Besar Gagak Rimang, di Gunung Arjuna.
Perlu diketahui, bahwa kecuali Perguruan Kemuning, perguruan perguruan itu merasa pernah dirugikan oleh Kreti Windu. Pada hal Kreti Windu adalah salah seorang Raja Muda Gagak Rimang. Mereka ingin menghukum Kreti Windu, namun Kreti Windu telah menyembunyikan diri dan tidak diketahui di mana bersembunyi. Mereka menduga bahwa pihak yang tahu di mana Kreti Windu bersembunyi, hanyalah Gagak Rimang. Akan tetapi karena Gagak Rimang kokoh pendapatnya bahwa tidak tahu di mana Kreti Windu berada, diserbulah Markas Besar Gagak Rimang itu. _
Para penyerbu itu justeru terdiri dari tokoh tokoh sakti mandraguna yang banyak jumlahnya pula. Padahal tokoh-tokoh Gagak Rimang, beberapa hari sebelumnya telah menderita luka, sebagai akibat kecurangan Kasim atau Cinde Amoh. Maka di dalam pertempuran secara kesatria seorang lawan seorang di Arjuna itu, Gagak Rimang menderita kekalahan hebat. Hampir saja Gagak Rimang hancur, kalau saja tidak memperoleh pertolongan Jaka Pekik yang tiba-tiba. Jaka Pekik sesungguhnya tidak ingin melibatkan diri dalam pertempuran itu. Akan tetapi karena ia menyaksikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh Anjani (guru Rara Inten) dan murid muridnya terhadap orang-orang Gagak Rimang yang tak berdosa, pemuda ini menjadi tidak senang. Maka kemudian ia memilih berdiri dan berfihak kepada Gagak Rimang. Oleh jasa dan kegagahan Jaka Pekik, akhirnya semua tokoh dikalahkannya tanpa terluka. Penyerbu kemudian mundur, dan dengan suara bulat dari para tokoh Gagak Rimang, akhirnya Jaka Pekik dipilih sebagai Raja Gagak Rimang.
Sekarang, begitu Jaka Pekik mendengar pertanyaan Rara Inten, timbullah rasa herannya. Ia tidak tahu ke mana tujuan pertanyaan perempuan ini. Maka jawabnya kemudian,
"Ayah Wijaya almarhum adalah murid Kemuning. Kemudian kakek guru juga pernah memberi pelajaran Ilmu Pedang Samodra Rob kepadaku. Mengingat semua itu, kiranya tidak salah apabila aku mengaku sebagai anak murid Perguruan Kemuning."
Rara Inten tersenyum,
"Tetapi, bukankah engkau pernah menyatakan sendiri, bahwa engkau memperoleh gemblengan Ilmu dari paman Kreti Windu? Padahal paman Kreti Windu adalah murid Cinde Amoh yang berkhianat dan sekarang sudah mati. Kemudian secara tidak sengaja engkau telah menemukan kitab Sabda Jati Ngesti Rahayu peninggalan Kangjeng Sunan Kalijaga.kemudian engkau mempelajari pula Ilmu Bajra Sayuta, warisan Kangjeng sunan Kudus, dan merupakan pula Ilmu rahasia dari Setiap Raja Gagak Rimang. Ilmu yang engkau miliki merupakan Ilmu campur baur tidak keruan macamnya. Padahal setiap orang gagah harus dapat menentukan dirinya sendiri, termasuk sebagai anak perguruan manakah dirinya itu!"
Jaka Pekik menghela napas. Ia tak cepat bisa menjawab. Kenyataannya memang dirinya menguasai macam macam ilmu yang berbeda-beda alirannya. Sulit untuk bisa menentukan dirinya termasuk dari aliran mana. Mengingat keadaannya sendiri itu, kemudian jawabnya,
'Apa yang telah aku pelajari memang ruwet dan membingungkan diriku sendiri. Kalau bicara secara jujur, diriku ini memang bisa dikatakan tidak termasuk dalam salah satu aliran dari perguruan."
Rara Inten memalingkan mukanya mengamati Wisnu Murti. Kemudian ia bertanya dengan nada minta pertimbangan,
"Bagaimanakah menurut pendapat kakek terhadap kakang Pekik ini?"
Wisnu Murti mengangguk. Katanya kemudian,
"Ya, apabila bicara jujur memang demikianlah keadaan Jaka Pekik. Apa yang terjadi dan dialami oleh Pekik. memang merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Ya, memang Pekik seorang yang amat beruntung, secara tak sengaja telah menemukan ilmu-ilmu tataran tinggi."
"Bagus" kata Rara Inten dengan tersenyum. Lalu katanya tertuju kepada Jaka Pekik,
"Kakang Pekik..... bukankah engkau sudah berjanji kepada diriku, akan mengabulkan permintaanku ?"
"Ya," Jaka Pekik agak gugup,
"tapi....."
"Tetapi asal tidak melanggar kesusilaan dan mengingkari sifat-sifat ksatria, serta tidak merugikan perjuangan melawan Mataram, bukan ?" Rara Inten menjelaskan.
"Ya, begitulah. Dan apabila apa yang kauminta sesuai dengan syarat-syarat itu, percayalah bahwa aku akan mengabulkannya."
"Terima kasih. Aku percaya bahwa engkau tidak akan ingkar akan janjimu sendiri. Lebih-lebih saat sekarang ini kakek gurumu sendiri hadir dan menyaksikan. Juga semua paman guru dan tokoh-tokoh Gagak Rimang berdiri sebagai saksi pula."
Mendengar kata-kata Rara Inten yang diucapkan dengan nada yang sungguh-sungguh. diam-diam hati pemuda ini terharu dan percaya,
"Baiklah, sekarang ajukan permintaanmu itu!"
Rara Inten tersenyum manis sekali. Kemudian dua orang muda ini berhadapan dalam Jarak amat dekat. Rara Inten melepaskan cincin tanda jabatan Ketua Perguruan Tuban. Kemudian terdengarlah katanya yang nyaring,
'Semua yang hadir memenuhi pendapa padepokan Kemuning ini menjadi saksi. Mulai hari ini, aku yang semula dipercaya untuk menjabat sebagai ketua Perguruan Tuban, menyerahkan jabatan ini kepada Jaka Pekik !"
Semua yang mendengar di samping kaget juga gempar. Apa yang terjadi justeru diluar dugaan semua orang. Bahkan Jaka Pekik sendiripun berdiri tegak seperti patung. saking kaget di samping heran menghadapi peristiwa yang tak pernah diharapkan ini. Sebelum Jaka Pekik sempat berkata, terdengar Rara Inten berkata lagi,
"Dalam menjabat sebagai ketua Perguruan Tuban ini, engkau tidak perlu melepaskan jabatan sebagai Raja Gagak Rimang. Sebab jabatan itu bisa kaurangkap dengan baik. Malah aku berharap, dengan satu tangan dan satu pimpinan ini, engkau akan dapat memimpin dan memajukan Tuban dan Gagak Rimang secara pesat dan baik. Di bawah pimpinanmu aku percaya Tuban akan mencapai perkembangan pesat, sedang seluruh anak murid akan tunduk atas perintah dan pimpinanmu. Di samping itu, dengan jalan ini, akan bersatulah antara Gagak Rimang dan Tuban yang selama ini bermusuhan. Dan dengan tergalangnya persatuan antara Tuban dengan _Gagak Rimang ini, makin sentosalah barisan pejuang dalam usahanya menentang Mataram."
Mendengar pernyataan Rara Inten yang tak terduga duga ini, sudah .tentu semua yang hadir kaget. Namun diam-diam juga memuji keputusan Rara Inten ini, yang merubah keadaan dari bermusuhan menjadi satu pimpinan, dan merupakan kawan seperjuangan. Dalam persoalan ini sesungguhnya yang paling bahagia hatinya, adalah Adipati Surabaya. Sebab dengan bersatunya Gagak Rimang dan Tuban, Surabaya akan makin menjadi kuat lagi! Maka diam-diam ia amat mengharapkan agar Jaka Pekik tanpa rewel lagi sedia menerima penyerahan Rara Inten itu.
Akan tetapi watak Jaka Pekik tidaklah serakah dan suka menonjolkan diri. Ia merupakan seorang muda sakti yang sederhana, rendah hati dan jujur. Ia menganggap bahwa penyerahan Perguruan Tuban kepada dirinya ini, tidaklah pada tempatnya. Maka jawabnya gugup,
'Tidak! Mana......... mana bisa jadi? Jangan membuat aku menjadi bingung........" Sambil berkata demikian. Jaka Pekik menggoyangkan kedua tangannya, sedang kepalanya digeleng-gelengkan.
"Pekik, engkau tahu bahwa Tuban dahulu didirikan oleh Eyang Adipati Ronggolawe. Dalam sejarah, Eyang Adipati Ronggolawe merupakan salah seorang pendukung gigih yang berjasa bagi Majapahit. Namun kemudian ternyata jasa itu diabaikan oleh raja yang didukung dan dibelanya. Maka kemudian beliau gugur dalam medan perang, karena kecurangan Kebo Anabrang yang menantang berkelahi didalam sungai. Nasib Eyang Adipati Ronggolawe tidak jauh bedanya dengan nasib Raden Harya Penangsang yang dibela dan dihormati oleh Gagak Rimang. Raden Harya Penangsang sesungguhnya merupakan ahli waris Kerajaan Demak yang syah. Kalau saja Pangeran Sekar Seda Lepen, ayah Raden Harya Penangsang tidak dibunuh secara curang, tentunya Pangeran Sekar Seda Lepenlah sebagai pengganti Sultan Bintoro."
Rara Inten berhenti dan menebarkan pandang matanya ke sekeliling, untuk mencari kesan. Kemudian lanjutnya dengan sikap yang lebih sungguh-sungguh,
"Apabila kita melihat kepada sejarah, berarti Gagak Rimang dan Tuban bernasib sama. Merupakan pihak-pihak yang dirugikan dan merupakan pihak-pihak yang disia-siakan. Lebih dari itu merupakan pihak yang sakit hati. Mataram merupakan kerajaan yang tidak sah, yang tidak memperoleh restu dari Kangjeng Sunan Giri. Maka betapa hebatnya, apabila dua pihak yang sakit hati ini bersatu, di bawah satu pimpinan, melawan penguasa dan berjuang demi tegaknya keadilan!"
Suasana menjadi gempar. Di sana sini terdengar suara berisik, yang nadanya membenarkan dan mendukung pendapat Rara Inten. Mereka memuji akan sikap Rara Inten, di samping pula memuji akan keagungan jiwa perempuan ini. Menurut kenyataan, di antara sekian banyak orang, selalu saling bersaing dan saling berebut dalam usaha menduduki jabatan Ketua Perguruan. Malah tidak kurang-kurang pula orang yang berbuat curang guna mencapai cita-cita itu. Akan tetapi ternyata sekarang, Rara Inten yang telah menduduki jabatan sebagai Ketua Perguruan Tuban. sedang di samping itu seluruh murid tuban juga tidak seorangpun yang menentang, namun ternyata Rara Inten malah dengan iklas menyerahkan jabatan tinggi ini kepada Jaka Pekik! Sungguh merupakan peristiwa yang amat jarang sekali bisa terjadi. Merupakan peristiwa yang menggemparkan.
Di pihak para murid Tuhan, tidak seorangpun berani membuka mulut. Mereka hanya ternganga keheranan, mendengar pernyataan sang ketua itu. Akan tetapi sekali pun demikian, para murid Tuban itu diam-diam juga berbesar hati. Bukankah pada saat sekarang ini, Jaka Pekik merupakan seorang muda sakti mandraguna pilih tanding? Di bawah pimpinan seorang ketua yang sakti mandraguna seperti Jaka Pekik ini, Perguruan Tuban tentu menjadi makin maju, menjadi makin harum dan terkenal di seluruh penjuru dunia ini.
Adapun Jaka Pekik sendiri menjadi kebingungan dan merasa serba salah. Ia tidak dapat memutuskan sesuatu malah kemudian memandang Wisnu Murti. Pemuda ini minta pertolongan kepada kakak gurunya, bagaimana harus menjawab dan memutuskan persoalan ini.
Rara Inten bersikap tenang sekali. Apa yang diucapkannya ini, memang sudah merupakan keputusan yang keluar dari dasar hati bersih. Mengapa secara mendadak perempuan ini memutuskan demikian? Alasan yang membuat ia bersikap demikian, adalah sumpahnya kepada almarhumah Nenek Anjani tidak terujud. Ia merasa bersalah kepada gurunya yang sudah tiada. Dan sebagai akibat kegagalannya itu, maka merasa tidak pantas lagi bertahan dalam kedudukannya sebagai Ketua Perguruan Tuban. .
(Bersambung jilid 5)
Kisah Si Pedang Buntung
Lanjutan Ratu Wandansari
Karya : Widi Widayat
Jilid : 5
Pelukis : Janes
Penerbit "GEMA"
Metrokusuman 761 Rt 17
SOLO Ijin Penerbitan
Ijin : No Pol /3/26 aa-54/0-73
Surakarta tanggal 17 januari 1973
Cetakan Pertama 1973
**** Buku koleksi ; Aditya Indra Jaya
Juru Potret : Awie Dermawan
Edit teks & pdf : Saiful Bahri Situbondo
(KOLEKTOR E-BOOK)
******
SUMPAHNYA di depan Nenek Anjani yang hampir mendekati ajalnya ketika itu ialah, pertama, Rara Inten harus dapat merebut sepasang pedang kembar, Jati Ngarang dan Jati Sari. Sesudah berhasil, pedang itu harus dipatahkan. Rara Inten harus tekun mempelajari dan meyakinkan ilmu warisan Ki Ageng Selo Katon yang tersimpan di dalam pedang Jati Sari. Yang kedua, dengan ilmu tinggi yang diperoleh dari dalam pedang itu, Rara Inten harus membimbing Tuban menjadi perguruan yang paling tinggi kedudukannya, dan semua perguruan yang lain tunduk kepada Tuban. Yang ke tiga, ia harus dapat memikat Jaka Pekik bukan untuk jatuh cinta. Tetapi hanya memancing agar pemuda itu dapat "dibunuhnya' dan Gagak Rimang harus dihancurkan. Waktu itu sebenarnya Rara Inten merasa berat sekali harus melaksanakan sumpahnya itu. Sebab hatinya merasa tidak mungkin bisa membunuh Jaka Pekik, justeru ia mencintai pemuda itu. Namun karena dipaksa oleh Nenek Anjani, maka walaupun berat. tugas itu dilaksanakan juga. Ternyata kemudian semua itu yang diperoleh hanya kegagalan. Ia telah menimbulkan korban beberapa pihak membuat Iskandar lupa daratan, berkhianat dan mambunuh Fajar Prana, membuat Kreti Windu menderita, akan tetapi buah hasil yang dapat dipetik hanyalah penyesalan.
Terdorong oleh rasa sesal dan merasa bersalah ini dan, ia merasa tak ada gunanya lagi terus memimpin perguruan Tuban. Dan sebaliknya, ia merasa malu pula kepada Jaka Pekik dan kepada dunia ini. Rasa ini timbul setelah ia melihat kenyataan, bahwa sekalipun ia telah berbuat amat jahat terhadap Jaka Pekik, namun pemuda itu tidak membalas dengan kejahatan, malah selalu bersikap baik dan memaafkan. Kalau kejahatannya dibalas dengan kekerasan, tentu saja ia akan melawan sampai titik darah penghabisan.
Akan tetapi karena sikap Jaka Pekik tidak seperti yang diharapkan, membuat ia merasa tersiksa seumur hidup. Pada mulanya ia beranggapan bahwa sikap Jaka Pekik yang selalu baik itu, karena pemuda itu mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Ialah cinta!
Namun ternyata bahwa dugaannya inipun salah. Ternyata bahwa Jaka Pekik tidak mencintai dirinya, sabaliknya pilihan hati pemuda itu jatuh kepada Ratu Wandansari. Setelah mendengar bahwa pilihan hati pemuda itu jatuh kepada Ratu Wandansari, pada lahirnya ia memang dapat menerima kenyataan itu, merelakan Jaka Pekik kepada Ratu Wandansari.
Akan tetapi dalam hati, rasa kecewanya itu menyebabkan timbulnya pikiran untuk berusaha mencegah perpaduan kasih antara Jaka Pekik dengan Ratu Wandansari. Setiap orang justeru tahu bahwa Ratu Wandansari adalah Puteri Mataram, adik Sultan Agung. Berarti puteri musuh pula!
Sekarang dalam kedudukannya sebagai ketua Perguruan Tuban dan sebagai Raja Gagak Rimang pula, akan menempatkan Jaka Pekik dalam kedudukan yang sulit apabila meneruskan hubungannya dengan gigih melawan Mataram, mengapa pemimpin itu malah rukun dengan puteri musuh, yang dahulu pernah menawan para pejuang dengan racun ?
Suasana di dalam pendapa Padepokan Kemuning ini masih berisik dan saling bicara sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara Wisnu Murti yang tertawa terkekeh-kekeh, tetapi suara yang terkandung di dalam tawa itu nadanya amat gembira sekali. Orang-orang yang semula berisik mendadak berhenti. Lalu terdengar kata-kata Wisnu Murti,
"Bagus, anak Inten memang seorang muda yang amat baik! Engkau memang seorang yang amat bijaksana dan pantas dijadikan contoh oleh yang lain. Tidak. sia sialah adi Anjani menjelang akhir hayatnya mempercayakan Tuban kepadamu! Ha-haaha....... memang Jaka Pekik tepat apabila diserahi tugas memimpin Tuban.Dalam waktu singkat, perkembangan Tuban akan mengejutkan semua orang." ,
Jaka Pekik terbungkam dan berdiri seperti patung mendengar dukungan kakek gurunya dengan maksud Rara Inten itu. Sesungguhnya ia ingin sekali membantah. Tetapi ia merasa tidak enak hati harus berbantah dengan kakek gurunya. yang telah berjasa besar sekali terhadap dirinya itu. Jaka Pekik memang seorang pemuda yang selalu mencatat dalam hati,
Setiap kebaikan orang. Ia tidak bisa melupakannya dan akan selalu berusaha membalasnya. Walaupun benar ia tahu bahwa budi itu tidak bisa diperhutangkan, dan menolong seseorang dengan sesuatu pamrih bukan merupakan pertolongan lagi. akan tetapi ia selalu tidak ingin berhutang budi kepada siapapun.
Rara Inten yang memperoleh dukungan Wisnu Murti itu, bibirnya tersenyum manis penuh rasa bangga. Kemudian ia mengeluarkan dua potong pedang Jati Sari yang telah patah dan sebuah kitab yang kemudian diserahkan kepada Jaka Pekik. Katanya,
"Kakang Pekik,
kitab kuno ini adalah intisari Ilmu Tuban, warisan dan hasil karya Eyang Guru Adipati Ronggolawe. Aku harapkan dengan pedoman ini. engkau dapat membawa kemajuan Tuban seperti yang kita harapkan!"
Jaka Pekik menerima barang dari Rara Inten itu dengan Perasaannya yang tidak keruan. Hatinya amat terharu. teringatlah ia akan hubungannya selama ini. Melihat itu, Wisnu Murti yang bisa menduga perasaan Jaka Pekik cepat berkata,
"Pekik apabila engkau benar-benar pernah berjanji kepada anak Inten dan sedia meluluskannya, engkau tak boleh ingkar janji dan harus kaulaksanakan sesuai dengan janji itu. Manusia hidup bibirlah yang dihargakan orang. Sekali engkau ingkar janji, selama hidup tidak seorangpun mau percaya kepada janji janjimu lagi!"
Diingatkan akan janji yang sudah diucapkan, Jaka Pekik sudah tak dapat menoleh lagi. Ia menyerahkan jari manisnya, dan cincin tanda jabatan Ketua Perguruan Tuban dipakainya. Setelah itu dilakukan upacara pengesahan sebagai Ketua Perguruan Tuban, yang menerima penghormatan dari seluruh anak murid Tuban. Baru setelah semua murid Tuban selesai memberikan hormat, menyusul orang-orang lain yang hadir di tempat itu.
Begitu upacara selesai, Rara Inten minta diri. Jaka Pekik kaget. Memegang lengan perempuan itu sambil bertanya, suaranya menggeletar,
'Inten! Engkau akan kemana?"
"Aku akan memenuhi tuntutan hatiku," sahut Rara Inten sambil menahan air mata yang akan meloncat keluar dari pelupuk matanya.
"Aku akan mengasingkan diri dan bertapa....!"
"Tidak! Aku bermaksud mengangkat engkau sebagai wakilku dalam Perguruan Tuban. Tenagamu masih amat dibutuhkan oleh perjuangan."
Rara Inten menggeleng kepala, memandang Jaka Pekik dengan sinar matanya yang sayu.
"Tidak, kakang! Keputusanku sudah tak dapat dirubah lagi. Aku akan mengasingkan diri bertapa, mensucikan diri dan menebus semua kesalahanku. Aku sudah tidak ingin lagi mencampuri urusan tetek bengek yang terjadi di dunia ini."
Semua orang jadi terharu mendengar tekad Rara Inten itu. Dan Wisnu Murti yang sudah pikun itu tertawa, katanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya,
"Bagus! Keputusan yang tepat sekali. Seorang yang merasa sudah banyak melakukan kesalahan, harus berani menderita dan bertobat kepada Tuhan. Jalan itu merupakan jalan yang paling utama dan tepat! Tetapi, Inten. katakanlah di mana tempat yang kaupilih itu?"
Rara Inten menggelengkan kepalanya,
"Aku belum tahu, manakah tempat yang aku pilih. Aku baru akan mencari, tempat manakah yang mungkin cocok dengan cita-citaku.'
Rara Inten cepat cepat membalikkan tubuh dengan perlahan-lahan. Tetapi begitu ke luar dari pintu gerbang Padepokan Kemuning, air mata yang ditahannya itu ambrol. Rara Inten menangis sambil berlarian cepat sekali. Dalam waktu yang tidak lama, bayangan perempuan muda ini sudah tidak ada lagi. Sejak itu Rara Inten tidak pernah muncul lagi dan tidak seorangpun tahu di manakah perempuan itu mengasingkan diri.
Tak lama kemudian. hidangan telah di keluarkan. Semua tamu dipersilahkan makan dan minum. Hari ini yang paling merata bahagia adalah orang orang Gagak Rimang. Kalau semula orang -orang Gagak Rimang digolongkan oleh para tokoh sakti sebagai golongan sesat, dengan diangkatnya Jaka Pekik sebagai Ketua Perguruan Tuban ini, menjadi terangkat ke tempat yang wajar. Sekarang antara Tuban dengan Gagak Rimaag merupakan berdiri satu tekad dan satu pimpinan.
Pada saat orang makan dan minum ini, Adipati Surabaya tampak saling berbisik dengan Wisnu Murti. Beberapa kali Kakek Wisnu Murti ini mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia memberi isyarat kepada Parang Kusumo supaya mengambil sesuatu. Parang Kusumo cepat masuk ke dalam padepokan. Tak lama kemudian. Calon Ketua Perguruan Kemuning itu sudah keluar kembali sambil membawa bungkusan kecil dari kain sutera kuning. Bungkusan itu kemudian diserahkan kepada Wisnu Murti.
"Hari ini masih ada suatu peristiwa penting lagi yang perlu kalian ketahui," kata Wisnu Murti setelah semua orang selesai makan dan minum, dan sisa hidangan diundurkan. Semua orang yang mendengar mengangkat muka dan perhatian orang ditujukan kepada Wisnu Murti dengan hati berdebar tegang.
"Peristiwa penting ini masih mempunyai sangkutpaut dengan Jaka Pekik!" Semua orang berbisik lagi ketika mendengar peristiwa penting ini mempunyai sangkut-paut dengan Jaka Pekik.
Apalagi dengan pemuda perkasa sakti mandraguna ini?
Wisnu Murti menunggu sesudah semua orang kembali tenang. Lalu ia berkata.
"Anak Pekik, aku ingin bertanya kepadamu. Almarhum Wijaya adalah muridku, dan apakah kedudukannya terhadap engkau?"
Mendengar pertanyaan itu Jaka Pekik heran. Kemudian terbayanglah peristiwa yang sudah lama silam. Di pendapa padepokan Kemuning ini, Wijaya dan isterinya. mati bersama-sama membunuh diri, di depan hidung para tokoh sakti. Suami isteri itu membunuh diri dalam usahanya menutup mulut dan menutup rahasia persembunyian Kreti Windu yang dicari cari orang. Teringat akan nasib orang tua angkatnya itu, tiba-tiba saja wajah Jaka Pekik pucat, tubuhnya gemetaran. lalu katanya tidak lancar,
"Eyang...... eyang. apakah maksud eyang mengingatkan ayah Wijaya? Disini......di pendapa ini beliau mengakhiri hayatnya bersama ibu......"
"Pekik. bukan maksudku mengingatkan peristiwa itu," kata Wisnu Murti dengan sabar,
"Biarkanlah yang telah pulang dan sudah memperoleh tempat layak. Wijaya dan Sita Resmi, ya......mereka itu siapa?"
"Baliau.,.... beliau adalah guruku. Tetapi...juga orang tuaku angkat, yang amat kasih dan sayang tiada bedanya dengan orang tuaku kandung sendiri." Jaka Pekik menjawab dengan jujur. Memang terhadap Wijaya maupun terhadap Kreti Windu, ia menganggap sebagai ayah kandung sendiri. Itulah sebabnya maka dalam usahanya membela dan menyelamatkan Kreti Windu ketika ditawan oleh Pondok Bligo, ia tidak takut mati.
Wisnu Murti mengangguk-angguk,
"Benar. Itulah anak baik. Jika baik Wijaya maupun Kreti Windu hanya ayah angkatmu. maka aku bertanya kepadamu, siapakah orang tuamu yang sesungguhnya?"
Orang yang hadir dan mendengar pertanyaan itu, kecuali beberapa orang yang sudah tahu, terbelalak heran dan bertanya-tanya. Akan tetapi sebaliknya Adipati Surabaya dan Jaka Pekik hatinya tegang dan berdebar, Kemudian tampak Jaka Pekik menggeleng. lalu menjawab.
"Eyang, maafkanlah aku. Aku..... tidak Ingat lagi siapakah orang tuaku....."
Wisnu Murti mengambil bungkusan kain sutera kuning. Diletakkan di atas meja, kemudian dibuka. Dalam bungkusan itu tampaklah pakaian kanak-kanak yang terbuat dari bahan sutera, disulam oleh benang emas. Di antara pakaian itu tampak benda yang berkilauan. terbuat dari emas bermata berlian. Benda itu bentuknya bulan sabit. yang diikat oleh rantai emas pula.
Itulah kalung!
Kalung yang biasa dikenakan oleh putera atau puteri bangsawan. Kalung itu diangkat rantainya oleh Wisnu Murti kemudian ditunjukkan kepada Jaka Pekik, dengan maksud untuk bisa mengingatkan Jaka Pekik pada masa kecilnya. Melihat itu mata Jaka Pekik berkedip-kedip. Dan beberapa saat kemudian ia melangkah maju, meminjam benda itu untuk dipegang dan diamat-amati.
Di antara yang hadir, yang paling cepat bisa mengenal benda tersebut adalah Ratu Wandansari dan sebagai seorang bangsawan, kalung yang demikian tidak asing lagi. Sebab itu merupakan ciri kedudukan bagi si pemakai. Melihat itu Wandansari terbelalak dan jantungnya tegang. Kalau Jaka Pekik ketika kanak-kanak menggunakan kalung seperti itu, jelas sekali bahwa sesungguhnya Jaka Pekik seorang bangsawan.
Lalu putera siapakah pemuda yang sudah mencuri hatinya itu?
Diam-diam ia amat gembira sekali. Apabila Jaka Pekik seorang bangsawan pula, pilihannya tidak salah. Dengan demikian, ia percaya bahwa Sultan Agung tidak akan merasa malu mengawinkan dirinya dengan Jaka Pekik.
"Benar eyang, ketika kanak kanak dahulu aku ini memang mengenakan kalung ini. Ya, dan pakaian ini, benar. Pakaianku! Oh ..."
Jaka Pekik berhenti dan mengamati lebih teliti lagi. sesudah itu ia menatap Wisnu Muni sambil bertanya.
"Dari manakah eyang memperoleh barang-barang ini?"
Wisnu Murti tersenyum, jawabnya.
"Benda ini dahulu ibumu Sita Resmi yang menitipkan kepadaku. Dengan pesan, sesudah engkau dewasa supaya aku berikan kepadamu. Sekarang engkau telah dewasa, dan engkau wajib mengenal dirimu sendiri dan mengenai orang tuamu sendiri. Apakah engkau ingat. siapakah orang tuamu itu?"
Jaka Pekik mengerutkan alisnya berpikir. Beberapa saat kemudian jawabnya,
"Eyang, aku sekarang ingat sedikit masa kecilku! Dahulu..... ya dahulu, aku bertempat tinggal di dalam rumah yang luas dan indah. Keluargaku jumlahnya banyak sekali. Aku diasuh dan dilayani oleh beberapa orang perempuan. Ohh.. pengasuhku itu kalau menyebut aku bendara Pekik. Ayahku ...... amat dihargakan orang, dan sikap orang selalu menghormat " .
Ia berhenti, dan agak lama ia tidak membuka mulut. Wisnu Murti mencoba untuk menuntun ingatan Jaka Pekik ketika kanak-kanak. Katanya,
"Pernahkah engkau dahulu pesiar keluar rumah? Dan adakah tempat-tempat yang masih terkenang dalam ingatanmu?"
"Dahulu.., ahh......aku ingat. Aku sering pesiar ke luar rumah bersama para pengasuhku. naik kereta. Lalu. ......ohh, laut! Ya, aku pernah pergi ke laut! Rumah besar itu tak jauh dari laut......!"
"Anakku.....!" Adipati Surabaya melompat, kemudian memeluk Jaka Pekik erat sekali sambil mengucurkan airmata. Adipati Surabaya yang telah lama menahan rindu ini, sekarang tak kuasa menahan lagi, dan saking bahagia. ia menangis.
"Apa......? Ohh...bagaimana......ini?"
Jaka Pekik gugup, tetapi ia tidak berani meronta.
Wisnu Murti tertawa, tertawa lepas saking hatinya bahagia sekali. dapat mempertemukan Jaka Pekik dengan ayahnya.
"Anak Pekik... engkau memang putera Gusti Adipati Surabaya. Beliau dahulu menitipkan engkau kepadaku. dan dari tanganku, engkau aku percayakan kepada Wijaya. Ha-ha-ha, Tuhan Maha Adil. Jaka Pekik yang menjadi Raja Gagak Rimang dan Ketua Perguruan Tuban. ternyata adalah putera Adipati Surabaya. Putera pemimpin besar wilayah timur, yang gigih berjuang dan melawan Mataram. Bagus! Surabaya akan makin kuat dan sentosa. Selamat...... selamat kepada Gusti Adipati Surabaya yang memiliki seorang putera gagah perkasa!"
Orang-orang yang hadir di tempat itu menjadi gempar. Tetapi mereka menjadi amat gembira eekali. Jika benar Jaka Pekik ini putera Adipati Surabaya, maka perjuangan Gagak Rimang akan lebih mantap. Di pihak lain, para murid Tubanpun menjadi lebih gembira lagi. Ternyata orang yang dipilih menjadi ketua, bukan orang sembarangan.
Karena keterangan dan bukti-bukti kuat sekali bahwa dirinya memang putera Adipati Surabaya, maka Jaka Pekik berlutut memeluk kaki Adipati Surabaya sambil mengucurkan air mata. Sungguh pemuda ini tidak pernah menduga, bahwa dirinya yang ketika kecil amat menderita dan selalu diancam maut itu putera Adipati yang amat terkenal di wilayah timur.
Adalah pada saat perhatian semua orang tertuju kepada Jaka Pekik dan Adipati Surabaya ini, Ratu Wandansari dengan gerakan yang perlahan dan hati-hati telah pergi meninggalkan Padepokan Kemuning. Puteri Mataram ini meninggalkan Kemuning dengan hati yang perih dan sedih. Hatirya amat kecewa sekali, dan harapannya buyar!
Jaka Pekik adalah putera Adipati Surabaya, musuh Mataram!
Manakah mungkin dirinya bisa kawin dengan musuh besar itu?
Maka puteri ini berlarian cepat sekali, agar bisa menjauhi Kemuning cepat-cepat. Ia akan melaporkan kegagalan tugasnya. Dan ia akan minta kepada Sultan Agung agar secepatnya memukul Surabaya. Karena apabila Surabaya diberi kesempatan menyusun kekuatan, akan sulitlah bagi Mataram menaklukkan Adipati yang dibela oleh banyak orang sakti mandraguna itu
"Anakku ohh, anakku. Betapa rinduku kepadamu, sulit dilukiskan." Adipati Surabaya berkata perlahan.
"Anakku, dengarlah! Dahulu, ketika engkau lenyap dari rumah Tabib Wesi Aji, dan kakek gurumu tidak bisa memberi keterangan di mana engkau berada, aku dan ibumu menjadi amat sedih sekali. Karena menduga engkau telah mati. Namun ternyata Tuhan masih melindungimu. Dan engkau bisa bertemu dengan aku. dalam keadaan yang amat menyenangkan."
Jaka Pekik menatap ayahnya dengan mata yang masih basah air mata. Kemudian terdengar ia bertanya,
"Ayah, tetapi....... mengapa sebabnya anak dalam asuhan ayah Wijaya? Apakah memang ayah sengaja membuang anakmu yang tak berharga ini ?"
"Tidak ! Bukan begitu, anakku! Tetapi demi memikirkan kebahagiaanmu kemudian hari."
Adipati Surabaya menerangkan.
"Anakku, ketahuilah bahwa sejak engkau masih kecil, Surabaya tidak mau tunduk lagi kepada Mataram. Berarti Surabaya menghadapi musuh yang amat kuat bersama para Bupati dan Adipati yang mendukung Surabaya. Keadaan itu menyebabkan aku yang selalu memikirkan perang, tidak sempat untuk mengasuh dan mendidik engkau sebagaimana mestinya. Di samping itu ada maksud yang lain pula anakku, ialah untuk menyelamatkan keturunan Surabaya, apabila sampai terjadi Surabaya runtuh oleh Mataram."
Adipati Surabaya berhenti, mengusap-usap rambut Jaka Pekik penuh kasih, dan kemudian lanjutnya,
"Untuk menyelamatkan engkau apabila terjadi sesuatu itulah maka terpikir olehku untuk menyerahkan engkau, kepada sahabat yang terpercaya. Setelah aku pikir dengan masak-masak dan pertimbangan-pertimbangan yang teliti, akhirnya pilihanku terarah kepada perguruan Kemuning, maka kemudian engkau aku serahkan kepada kakek gurumu ini. Dahulu ayahmu Wijaya adalah seorang murid Kemuning terpandai dan telah dicalonkan untuk pengganti pemimpin Perguruan Kemuning. Itulah sebabnya untuk mendidik dan mengasuhmu, engkau dipercayakan kepada Wijaya. Namun ternyata perjalanan hidupmu tidak sesuai dengan rencana. Manusia bisa bercita, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Engkau harus melalui jalan yang berliku-liku dan penuh bahaya. Namun segala kesulitan itu, malah membawa engkau ke tempat yang tidak pernah diduga orang. Begitulah anakku, mengapa sebabnya ayah terpisah dengan engkau. Tetapi namun itu adalah demi kemuliaanmu sendiri."
Banyak yang dibicarakan antara Jaka Pekik, Adipati Surabaya, dan Wisnu Murti dalam suasana yang monggembirakan. Semua orang memang amat gembira hari itu. sesudah mengetahui bahwa Jaka Pekik putera Adipati Surabaya, Akan tetapi betapa terkejut hati Jaka Pekik ketika melihat Ratu Wandansari sudah tidak di tempat duduknya lagi. Telah pergi dengan diam-diam.
Kepergian Ratu Wandansari yang diam-diam Itu, Ia dapat menduga, bahwa kiranya yang menyebabkan adalah setelah dirinya diketahui seorang putera Adipati Surabaya. Diam-diam ia menyesalkan terjadinya peristiwa ini. Hatinya amat sedih dan amat masygul sekali, justeru hatinya sudah terlanjur mencintai puteri Mataram itu. Kalau ia tahu bahwa keadaan akan menjadi demikian, lebih baik dirinya tetap seperti sebelumnya, merupakan Raja Gagak Rimang dan tidak diketahui siapa orang tuanya. Sebab dengan kedudukannya itu, dirinya masih mungkin dapat mempersunting gadis cantik itu. Sebaliknya sekarang, sulitlah bagi dirinya untuk bisa mendekati gadis itu, karena dirinya adalah putera musuh besar Mataram yang telah lama akan dihancurkan.
Akan tetapi. apa harus dikata?
Garis hidupnya memang sudah harus demikian. Menyesalpun tiada gunanya lagi. Maka setelah menginap semalam di Kemuning, Jaka Pekik bersama Adipati Surabaya, juga rombongan murid Tuban, Gagak Rimang dan perajurit Surabaya minta diri. Namun mengingat akan beban kewajibannya sebagai pemimpin Gagak Rimang dan sebagai Ketua Perguruan Tuban, ia menugaskan Yoga Swara untuk pulang ke Arjuna guna mengumumkan tentang dirinya yang sekarang sebagai Ketua Perguruan Tuban, di samping pula merupakan putera Adipati Surabaya. Mengingat akan bahaya penyerbuan dari Mataram, maka seluruh orang Gagak Rimang penghuni Arjuna, diperintahkan mempersatukan diri. memperkuat Surabaya.
Adapun dirinya sendiri, bersama Adipati Surabaya, anak murid Tuban dan perajurit Surabaya lebih dahulu pergi ke Tuban untuk mengurus hal-hal yang menyangkut Perguruan Tuban. Di samping itu, atas nasehat ayahnya, Tuban harus dijadikan benteng depan bagi Surabaya, Kecuali dipertahankan oleh anak murid Tuban, akan dikirim bala bantuan dari Surabaya.
Apabila Jaka Pekik bersama ayahnya bergerak meninggalkan Kemuning menuju Tuban. sebaliknya Ratu Wandansari yang hatinya kecewa dan masygul itu, tak mengenal kesulitan dan lelah, menuju ke Madiun. Namun ternyata kemudian, setiba di Madiun, ia tidak bisa bertemu dengan Pangeran Kajoran. Pangeran itu setelah penyerbuannya ke Pondok Bligo gagal, bersama seluruh panglima telah pulang ke Mataram. Ia hanya bisa bertemu dengan Bupati Madiun, yang diterima oleh Bupati itu penuh kehormatan. Kepada Bupati_Madiun, Ratu Wandansari memberitahukan keadaan dan apa yang terjadi sekarang ini. Tidak lupa pula diceritakan tentang Gagak Rimang yang sekarang telah mempersatukan diri dengan Tuban dan Surabaya. Ia sengaja tidak menyebut-nyebut nama Jaka Pekik. Karena bagaimanapun pula, ia tidak bisa menyebut sebagai musuh.
Keterangan itu membuat Bupati Madiun amat terkejut sekali. Surabaya merupakan musuh terkuat, dan selama ini. Mataram belum pernah dapat memukul Surabaya. Kalau sekarang Gagak Rimang yang amat terkenal mampunyai banyak orang sakti itu bersatu dengan Surabaya dan Tuban, merupakan bahaya besar.
"Itu memang sudah terpikir olehku, paman," kata Ratu Wandansari.
"Maka aku minta bantuanmu. berilah aku sepasukan perajurit untuk mengawal ke Mataram. Aku akan menghadap kakanda Sultan."
"Gusti benar! "dukung Bupati Madiun,
"Paduka Ingkang Sinuhun Sultan Agung akan lebih percaya, apabila Gusti sendiri yang melaporkan."
"Itulah sebabnya aku harus pulang secepatnya. Telapi paman, janganlah engkau lengah. Siapkan pasukan yang besar dan kuat. Bupati Ponorogo dan Magetan harus diberitahu urusan besar ini. Pondok Bligo masalah yang amat kacil. dan tidak perlu diperhatikan. Seluruh perhatian dan kekuatan harus diarahkan ke Surabaya."
"Sandika Gusti, akan hamba laksanakan."
Demikianlah. dengan pengawalan sepasukan perajurit Madiun, Ratu Wandansari pulang ke Mataram.
Laporan Ratu Wandansari itu amat mengejutkan Sultan Agung,
"Surabaya dan Tuban harus dipukul secepatnya. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan!"
"Paduka sendiri?' Ratu Wandansari kaget.
"Apakah engkau lupa, menyerbu Pondok Bligo saja gagal? Sekali ini maka kita memukul Surabaya harus berhasil. Itulah sebabnya aku sendiri yang harus memimpin pasukan itu."
Sesungguhnya Ratu Wandansari kurang setuju, namun untuk membantah tidak berani. Ia telah mengenal watak Sultan Agung yang keras dan kukuh. Dan akhirnya seminggu kemudian pasukan yang jumlahnya besar, bergerak menuju Surabaya lewat Madiun. Di tempat ini pasukan Ponorogo, Magetan dan Madiun bergabung, sehingga jumlah pasukan itu makin menjadi besar.
Ketika itu. sudah akhir tahun 1618. Seperti telah diceritakan dibagian dapan cerita ini, bahwa atas laporan Ratu Wandansari. Sultan Agung memimpin sendiri pasukan yang amat besar. untuk memukul Surabaya. Sultan Agung memang amat khawatir, bahwa sebelum Surabaya dapat ditundukkan, akan membahayakan Mataram.
Lebih-lebih Mataram justru menghadapi Kompeni Belanda yang semakin kurangajar. Dan cita-cita yang terkandung, dalam hati untuk mempersatukan Jawa, tidak akan bisa terujutkan! itulah sebabnya, Sultan Agung tidak ingin menunda-nunda waktu!
Di lain pihak, setelah Jaka Pekik tahu bahwa dirinya putera Adipati Surabaya, ia merasa bahwa tanggung jawabnya lebih berat lagi. Bukan saja ia sebagai putera Adipati Surabaya, tetapi ia juga sebagai Raja Gagak Rimang di samping sebagai Ketua Perguruan Tuban. Namun sekalipun tugasnya semakin bertambah berat, pemuda ini gembira juga. Sebab dengan persekutuan antara Surabaya, Gagak Rimang dan Perguruan Tuban. maka pertahanan Surabaya akan lebih kuat. Malah berkat banyaknya pasukan Gagak Rimang itu, dalam waktu singkat Jaka Pekik telah menerima laporan cukup lengkap. Bahwa bukan saja pasukan Mataram itu dipimpin langsung oleh Sultan Agung, tetapi juga dibantu oleh beberapa orang panglima sakti mandraguna. Ialah Tumenggung Suro Agul agul, Ki Juru Kiting, Ki Bahurekso. Adipati Mandurorejo dan Adipati Uposonto. Di Kertosono, pasukan itu terpecah menjadi dua. Sebagian bergerak ke utara menuju Tuban, dipimpin oleh senopati Adipati Mandurorejo, Adipati Uposonto dan Pangeran Kajoran. Sedang pasukan yang lebih besar langsung menuju ke timur. dipimpin oleh Sultan Agung.
"Hemm, Surabaya harus menunjukkan kekuatan. Biarlah aku sendiri yang akan memimpin pasukan. menyambut Sultan Agung !" kata Jaka Pekik penuh nafsu.
"Tidak!" Adipati Surabaya menggelengkan kepalanya
'Engkau tidak boleh meninggalkan Surabaya, anakku !'
"Mengapa!" Jaka Pekik penasaran.
"Pasukan Mataram itu harus kita hancurkan. ayah! Sebelum 'mereka sempat menginjakkan kaki di Wilayah kita!"
"Benar. pasukan Mataram harus hancur secepatnya! Tetapi, janganlah engkau meninggalkan Surabaya. Amat berbahaya!"
"Berbahaya? Sultan Agung memimpin sendiri pasukan itu. Mengapa aku tidak? Aku akan menantang Raja Mataram itu berkelahi secara ksatriya. Seorang lawan seorang, agar tidak terlalu banyak mengorbankan nyawa perajurit yang tak berdosa."
Adipati Surabaya menghela napas,
"Hemm...... Pekik, engkau harus berpikir secara dewasa. Biarlah Raja Mataram itu memimpin langsung perajuritnya. Engkau banyak mempunyai pembantu sakti mandraguna."
"Gusti Adipati benar," kata Yoga Swara cepat.
"Kalau kami masih hidup, mengapa harus paduka raja sendiri yang akan menghalau orang Mataram itu ?"
"Ha-ha ha ha ha! Aku setuju dengan pendapat saudara Swara!" Kebo Jalu yang terkenal paling sembrono bagi para tokoh Gagak Rimang tak mau ketinggalan.
"Tugaskan diriku ini menghancurkan musuh! Ha-ha-ha! Biarlah mata Sultan Agung terbuka, bahwa Gagak Rimang tidak boleh dianggap sepele!"
Kalau Kebo Jalu berkata demikian, adalah berdasar kenyataan. bahwa beberapa tahun yang lalu Gagak Rimang telah berhasil menyelamatkan tokoh-tokoh yang ditawan di Mataram.
"Huh-huh, agaknya Sultan Agung sudah lupa peristiwa penyerbuan Gagak Rimang. Semua tokoh yang ditawan dapat diselamatkan Gagak Rimang tanpa kesulitan."
"Jangan bicara tanpa pikir!" cela Lawa Ijo dengan mendelik.
"Apa yang dahulu terjadi bukanlah mengadu kekuatan dalam medan perang. Dan semua itu bukan lain jasa Paduka Raja Pekik."
"Tetapi nyatanya toh berhasil tanpa menimbulkan korban." Kebo Jalu membela diri.
"Memang berhasil! Namun engkau tidak boleh sembrono menghadapi penyerbuan Mataram sekarang ini!' Lawa Ijo menatap kepada Adipati Surabaya dan Jaka Pekik.
"Menurut pendapat saya. yang terpenting Gusti Adipati dan Paduka Raja Pekik memperkuat pertahanan guna menahan gerak maju musuh, serta memilih pasukan pilihan dan berani mati, guna mengacau musuh. Untuk pasukan Berani Mati itu, akulah orang pertama yang mencalonkan diri."
"Akupun sanggup mati untuk membela Surabaya!" sambut Kebo Jalu.
Adipati Surabaya tertawa.
"Aku tidak menghendaki kalian mengorbankan nyawa dalam mempertahankan Surabaya. Ha-ha-ha-ha! Kita harus menang dan tidak timbul banyak korban. Namun, memang perlu sekali kita membentuk pasukan pilihan dan berani mati ini. Di samping bisa menimbulkan kerugian bagi musuh, juga pengaruhnya sangat besar. Dapat mempengaruhi pendapat dan semangat musuh, bahwa Surabaya memang kuat."
Dalam hati sebenarnya Jaka Pekik tidak senang dirinya sendiri bertopang kaki, sedang orang -orang sebawahannya harus mengangkat senjata menyabung nyawa. Akan tetapi ia seorang anak yang berbakti. Ia tidak ingin mengecewakan ayah bundanya, yang sudah terpisah belasan tahun lamanya. Ia merasa kasihan apabila harus meninggalkan ibunya. Maka ia hanya menyerah atas kebijaksanaan ayahnya, Adipati Surabaya.
Akhirnya diputuskan untuk memperkuat pertahanan di Mojokerto yang dilakukan oleh pasukan Gagak Rimang bersama pasukan Surabaya. Untuk benteng terdepan guna menahan gerak maju musuh ini, pimpinan dipercayakan kepada Yoga Swara. Sebelah selatan, benteng pertahanan dipercayakan kepada Madu Bala. Bagian utara. Indrajit dan Mandaraka memperoleh kepercayaan untuk memimpin. Kebo Jalu terpilih sebagai pemimpin pasukan yang membantu memperkuat pertahanan Tuban. Sedang Lawa Ijo ditunjuk sebagai panglima pasukan Berani Mati, dibantu oleh Jalatunda dan Luwih Wadi. Tugas dari pasukan Berani Mati ini, yang terpenting adalah mengacau musuh baik dengan jalan terang-terangan maupun menggunakan tipu muslihat atau siasat licin. Apabila Lawa Ijo. Jalatunda dan Luwih Wadi ini dipilih sebagai pimpinan pasukan Berani mati, memang amat tepat. Mereka adalah tokoh-tokoh Gagak Rimang yang sakti mandraguna di samping cerdik dan pandai bersiasat. Di dalam Gagak Rimang, tokoh yang paling sakti sesudah Jaka Pekik, adalah Yoga Swara dan Madubala. Di bawah mereka ini adalah Lawa Ijo. Jalatunda, Luwih Wadi, Indrajit, Mandaraka dan Kebo Jalu. Kesaktian enam orang ini, bisa dikatakan seimbang. Yang berbeda hanyalah keistimewaan masing_masing.
Para tokoh Gagak Rimang ini amat setia kepada cita-cita. Sejak Jaka Pekik belum diangkat sebagai pemimpin mereka, Gagak Rimang secara gigih menentang Mataram. Apa pula sekarang, antara Gagak Rimang dan Surabaya telah di bawah satu pimpinan. Maka semangat para tokoh Gagak Rimang ini menyala-nyala, dan mereka rela mengorbankan nyawa guna kejayaan Surabaya. Sedang bantuan kekuatan yang diberikan untuk Tuban adalah sudah semestinya, Jaka Pekik yang telah menerima penyerahan dari Rara Inten, menggantikan kedudukan sebagai ketua Perguruan Tuban, bertanggung-jawab atas keselamatan wilayah itu. Akan tetapi mengingat bahwa saat sekarang ini Jaka Pekik tidak bisa menetap di Tuban, maka segala urusan Perguruan Tuban itu, dipercayakan kepada Telasih dan Sarni.
Hadirnya Kebo Jalu dengan pasukannya yang cukup besar di Tuban. amat menggembirakan Telasih dan Sarni serta seluruh murid Perguruan Tuban.
"Kehadiran kalian amat membesarkan hati kami," kata Telasih,
"Kami telah menerima laporan tentang bergeraknya pasukan Mataram yang besar, menuju Tuban. Maka bantuan saudara ini amat besar artinya bagi pertahanan Tuban. Kami mengucapkan terima kasih."
"Ha-ha-ha-ha, mengapa kalian sungkan?" sahut Kebo Jalu sambil tertawa.
"Antara Tuban dan Gagak Rimang dahulu memang berdiri berseberangan, sebagai musuh! Tetapi berkat pandangan bekas ketuamu Rara Inten yang luas, sekarang kita telah menjadi saudara. Apa yang dirasakan Tuban juga dirasakan oleh Gagak Rimang. Mengapa kalian mengucapkan terimakasih? Lebih lebih ketahuilah, bahwa sesungguhnya Surabaya mempunyai kepentingan pula atas Tuban."
"Mempunyai kepentingan?" Sarni agak kaget,
"Apakah maksudmu?"
"Ha-ha ha-ha. mengapa engkau heran? Tuban adalah wilayah yang berdekatan dengan Surabaya, dan termasuk kabupaten yang belum tunduk. kepada Mataram. Berarti Tuban merupakan kawan seperjuangan. Tuban merupakan benteng pertahanan Surabaya. Runtuhnya Tuban berarti meringkihkan Surabaya. Itulah sebabnya Paduka Raja Pekik menugaskan aku memperkuat Tuban.'
Mendengar penjelasan Kebo Jalu ini, Sarni dan Telasih lega Walaupun sikap dan cara berkata Kebo Jalu kasar. namun jujur. Memang tidaklah pantas apabila murid-murid Tuban masih kurang percaya kepada orang orang Gagak Rimang, setelah Jaka Pekik Ketua Tuban.
"Tetapi Surabaya sendiri menghadapi ancaman Mataram. Apakah dengan tindakan ini, tidak meringkihkan Surabaya sendiri?" tanya Telasih.
"Ha-ha ha-ha, mengapa harus dikhawatirkan? Surabaya sendiri cukup kuat. sedang di samping itu seluruh anggauta' Gagak Rimang sekarang, telah berkumpul di Surabaya."
"Jadi Gunung Arjuna sekarang ditinggalkan ?" tanya Sarni setengah tidak percaya.
"Ditinggalkan seluruhnya sih tidak! Engkau tahu bahwa Gunung Arjuna merupakan tempat bersejarah. Dahulu semenjak Raden Harya Panangsang gugur, para pengikutnya yang setia memilih Gunung Arjuna sebagai tempat tinggal. Telah puluhan tahun lamanya Gunung Arjuna berjasa bagi Gagak Rimang. Inilah sebabnya, adi Celeng Kemaduh dengan sedikit saudara masih di sana. Untuk menjaga agar tempat bersejarah itu, tidak dirusak oleh tangan-tangan yang tak bertanggungjawab."
Sarni dan Telasih mengangguk-angguk. Diam-diam mereka setuju dengan sikap Gagak Rimang yang dapat menghargai tempat bersejarah itu. Hanya bangsa yang dapat menghargai pahlawan dan sejarah saja, bangsa itu akan menjadi bangsa yang besar dan bahagia.
Penyambutan para murid Tuban yang meriah itu amat menggembirakan Kebo Jalu dan seluruh pasukan Gagak Rimang, Komandan pasukan yang kedudukannya sebagai wakil Kebo Jalu ini, bukan lain Gumbreg. Seorang komandan yang telah berpengalaman di medan perang. Ia bersama pasukannya bersenda-gurau dan berkelakar dengan para murid laki laki Tuban. Nama Gumbreg justeru telah dikenal oleh murid-murid Tuban. Maka bantuan pasukan ini, membuat murid-murid Tuban terbangun semangatnya.
Setelah mengaso semalam, pasukan Gagak Rimang ini bergerak bersama murid-murid Tuban menuju ke selatan. Kemudian pasukan ini bertahan di tepi Bengawan Sala sebelah utara. Mereka berlindung pada semak-semak yang tumbuh lebat di tepi sungai. Di seberang Bengawan Sala keadaan sepi-sepi saja, dan hutan yang besar dan lebat tidak terdengar suara manusia.
Meskipun demikian pasukan yang terdiri dari murid-murid Tuban dan orang -orang Gagak Rimang itu penuh disiplin di tempat masing-masing. Tiada yang bergerak, tiada bicara, pandang mata terpusat ke seberang sungai, dan senjata masing-masing siap di tangan. Mereka siap sedia menyerang pasukan musuh yang menyeberang Bengawan Sala dengan perahu.
Beberapa orang petugas memanjat pohon tinggi. Mereka bertugas mengamati gerakan pasukan Mataram, sehingga meskipun masih cukup jauh. akan sudah bisa di ketahui gerak-geriknya. Di samping beberapa orang bertugas memanjat pohon tinggi sebagai pengawas, telah siap sedia pula pasukan penyelam yang terdiri dari orang orang Gagak Rimang. Mereka merupakan pasukan yang sudah terlatih benar. Mereka dapat menyelam di dalam air berjam-jam lamanya, di samping pandai pula berkelahi di dalam air. Oleh karena itu bisa dibayangkan bahwa setiap perahu pasukan musuh yang menyeberang akan diserang dari darat dan dari dalam air.
Akan tetapi hari itu pasukan ini tetap menganggur. Pasukan Mataram yang diharapkan itu tidak kunjung muncul. Sekalipun demikian. pasukan yang penuh disiplin ini tidak mengeluh, dan mereka hanya berani mengaso setelah tugas mereka digantikan oleh yang lain. Ketika malam tiba. tempat itu gelap pekat. Tiada penerangan. dan tidak seorangpun diijinkan merokok. Orang hanya diijinkan merokok setelah selesai tugas. kemudian mundur di tempat yang agak jauh, berlindung pada semak dan daun pohon.
Kebo Jalu maupun Gumbreg memang keras dalam memimpin pasukan. Tetapi sebaliknya walaupun kasar dan sembrono jika bicara. Kebo Jalu sendiri seorang yang penuh tanggung jawab dan disiplin. Kalau anak buahnya tidak boleh melakukan, ia sendiri lebih-lebih lagi. Ia memberi contoh. Ia dapat menempatkan dirinya'sebagai pemimpin. Sebagai seorang yang selalu jadi sasaran pandang mata anak buahnya. Ia bukan mencari kesempatan untuk memenuhi kehendak dan kepentingan diri sendiri. Ia mendahulukan kepentingan anak buahnya, sedang dirinya sendiri jatuh di belakang. Sikap Kebo Jalu ini berpengaruh dan menimbulkan rasa kagum dan tunduk bagi murid-murid Tuban. Mata mereka terbuka, bahwa golongan yang selama ini dianggap musuh oleh Tuban, dan digolongkan sebagai manusia-manusia sesat itu, ternyata merupakan manusia-manusia yang patuh, bisa dijadikan contoh dan penuh disiplin.
Dan malam ini. seluruh pasukan diperintahkan mengaso dan tidur, kecuali mereka yang bertugas menjaga keamanan dan sebagai pengamat di atas dahan pohon. Gumbreg diperintahkan tidur. Sedang dirinya sendiri memanjat pohon tinggi, untuk mengamati seberang bengawan.
suasana di tempat itu maupun di seberang sepi, dan yang terdengar hanyalah suara binatang hutan, bersahutan dengan suara dengkur pasukan yang tidur pulas agak jauh di belakang. Kebo Jalu terus menggunakan ketajaman matanya memandang ke seberang. Tiba-tiba terdengar suara gemeresak, disusul benda yang berat jatuh berdebuk!
Sesaat kemudian terdengar suara orang mengerang kesakitan. Hampir saja Kebo Jalu tertawa. Untung ia ingat keadaan. Ia menahan ketawanya, dan malah timbullah rasa kasihannya. Terang bahwa orang yang jatuh dari pohon itu mengantuk dan tertidur sehingga lepas pegangannya. Untung bahwa orang yang terjatuh ini salah seorang murid Tuban.Kalau saja yang terjatuh itu salah seorang anggauta Gagak Rimang, ia tentu marah karena merasa malu.
Perhatian Kebo Jalu kembali tertuju ke arah hutan sebelah depan, di seberang Bengawan Sala. Tiba-tiba ia menangkap kilatan cahaya api yang menembus rimbun daun dan kegelapan malam. Tidak jauh di belakang sinar api itu muncul lagi sinar api yang lain. Setelah diperhatikan, ia tahu bahwa sinar api itu adalah sinar obor kayu. Dari celah-celah daun dan sela pohon itu, tampak olehnya banyak orang menerobos gelap hutan. Di antara mereka nampak pula yang menunggang kuda, dan ada pula yang menghela dan mendorong benda berat. Tahulah Kebo Jalu bahwa benda yang berat itu adalah meriam!
Hati tokoh Gagak Rimang ini tegang dan berdebar. Jelas bahwa orang-orang yang bergerak menerobos gelap malam ini bukan lain pasukan Mataram yang bergerak menuju Tuban. Dan melihat jumlahnya obor yang dijadikan suluh itu, jelas bahwa pasukan Mataram itu dalam jumlah besar. Sungguh cerdik. pikirnya. Mereka bergerak di waktu malam. ia tahu akan maksud gerakan musuh ini. Agar kehadirannya tidak diketahui pihak Tuhan, dan tahu tahu pagi harinya sudah menyerbu secara mendadak.
Setelah cukup lama Kebo Jalu mengetahui gerakan pasukan Mataram ini, baru kemudian terdengar suara semacam burung hantu yang memecah sepi malam. Suara yang mirip burung hantu ini adalah tanda sandi yang diberitahukan oleh pengawal di atas pohon. kepada penghubung di bawah. Kemudian suara semacam burung hantu ini terdengar sahut-menyahut, sehingga dalam waktu singkat semua anggauta pasukan yang belum tidur sudah tahu adanya gerakan pasukan musuh itu.


Kisah Si Pedang Buntung Lanjutan Ratu Wandansari Karya Widi Widayat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kebo Jalu masih tetap di tempatnya. Perhatiannya tetap tertuju kepada sinar-sinar obor pasukan Mataram itu. Yang makin lama jaraknya menjadi makin dekat. Agaknya pasukan Mataram itu tidak tahu telah dihadang oleh pasukan Tuban di seberang bengawan. Mereka bergerak terus dengan obor-obor kayu yang menyala. Dan setelah jarak mereka lebih dekat lagi, terdengarlah suara mereka yang asyik bicara. Di samping pula suara ringkik kuda.
Pasukan Mataram itu kemudian berhenti di seberang sungai. Obor-obor kayu tidak dipadamkan untuk penerangan, malah kemudian dinyalakanlah api unggun. Mereka mengaso, dan malah tidak sedikit pula yang cepat melepaskan pakaiannya untuk mandi. Pasukan yang bertugas menyediakan makan segera sibuk menanak nasi dengan kuali tembaga yang amat besar. Agaknya dalam perjalanan tadi pasukan Mataram itu sambil berburu. Buktinya di antara juru masak itu, sekarang sibuk menyembelih dan menguliti tiga ekor babi hutan dan lima ekor kijang. Dan dengan melihat sikap pasukan Mataram di seberang sungai ini, jelas sekali bahwa mereka tidak sadar telah berhadapan dengan bahaya, oleh pasukan lawan yang telah siap sedia di seberang. Kalau pasukan Mataram ini tidak menduga telah dihadang musuh, memang tidak mustahil. Jarak antara Tuban dengan Bengawan Sala itu masih amat jauh. Kalau sekarang pasukan Gagak Rimang dan murid murid Tuban itu telah berbaris pendam di tepi bengawan adalah di luar perhitungan mereka.
Keadaan ini membuat hati pasukan Gagak Rimang maupun hati para murid Tuban tegang dan berdebar. Mereka siap dengan senjata masing-masing. Namun mereka tidak berani bergerak dan bertindak, tanpa perintah Gumbreg atau Kebo Jalu yang bertindak sebagai pimpinan.
Ketika itu dengan gerakannya yang hati-hati dan ringan Kebo Jalu telah turun dari pohon. Secara beranting kemudian Kebo Jalu memberi perintah, agar tidak menyerang. Perintah ini mempunyai dua alasan. Pertama, jumlah pasukan Mataram jauh lebih besar. Dan yang ke dua, dengan serangan itu sama artinya dengan memberitahukan kepada musuh akan kehadirannya. Benar serangan di waktu malam ini akan memperoleh hasil juga. Namun apabila kemudian pasukan Mataram itu mengundurkan diri, pihak Tuban sendiri yang akan menderita rugi. Ia telah menetapkan siasat yang labih menguntungkan. Pasukan musuh diberi kesempatan membuat rakit rakit dan menyeberang. Ia percaya bahwa penyeberangan itu tidak bisa dilakukan sekaligus. Kalau penyeberangan yang pertama dan kedua dibiarkan tanpa diganggu, pasukan Mataram itu akan menduga bahwa daerah ini aman. Kalau pasukan yang menyeberang tanpa gangguan itu sudah berjumlah kira-kira dua atau tigaratus orang, maka penyeberangan selanjutnya mulai diserang oleh pasukan penyelam. Sementara itu pasukan yang telah berada di seberang, telah dikurung secara ketat. dan akan menumpas pasukan musuh itu dengan tidak usah banyak membuang waktu dan tenaga. Akan terjadilah penjagalan manusia yang amat menggembirakan.
Tetapi sekalipun rencana dan siaaat sudah ditetapkan oleh Kebo Jalu, pasukan Gagak Rimang dan murid-murid Tuban itu, mengamati keadaan pasukan Mataram dengan hati tegang dan berdebar. Tiba-tiba di antara perajurit Mataram yang mandi di sungai itu ada dua orang yang berenang menuju ke seberang. Entah apa maksud mereka menyeberang, hal itu justru dapat menimbulkan bahaya. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan itu. Kebo Jalu dan Gumbreg bertindak cepat tetapi tertib. Masing-masing melepaskan senjata rahasia, dan tepat mengenakan kepala langsung menembus otak. Tanpa sambat lagi dua orang parajurit itu kelelap dan dihanyutkan arus air.
Lenyapnya dua orang perajurit itu kemudian menimbulkan kesibukan bagi perajurit Mataram. Beberapa orang memanggil-manggil dan mencari-cari dengan obor kayu. Tetapi usaha mereka ternyata tidak memberi hasil. Lalu orang memberi kesimpulan, bahwa Bengawan Sala ini dihuni buaya, dan orang yang hilang itu masuk perut buaya. Kesimpulan dan pendapat itu, membuat pasukan Mataram hati-hati. Pada pagi harinya tidak berani sembarangan mencebur dan mandi di sungai.
Pagi hari itu, pasukan Mataram nampak amat sibuk. Puluhan orang menebang pohon-pohon besar dan dipotong-potong untuk dijadikan rakit-rakit. Jumlah yang bekerja amat banyak sekali, maka sebelum matahari sepenggalan tingginya empat buah rakit-rakit yang cukup memuat duapuluh lima orang tiap buah, telah siap. Tetapi jumlah pasukan Mataram itu sekitar empatribu orang. Maka rakit yang diperlukan sedikitnya sepuluh buah. Pasukan Gagak Rimang dan murid-murid Tuban yang bersembunyi di seberang mengintai dan menunggu dengan hati tegang. Tidak seorangpun berani membuka mulut dan bergerak. Mereka tetap berlindung dan bersembunyi, sambil menahan perutnya yang berkeruyuk minta Isi.
Akhirnya ketika matahari sudah hampir di tengah jagad, sepuluh buah rakit yang diperlukan telah siap. Sepuluh buah rakit itu bergerak hampir berbareng dari seberang. masing-masing membawa tigapuluh orang lebih. Sementara pasukan itu menyeberang dengan rakit, pasukan pemanah dan senjata api siap di tepi sungai, untuk melindungi keselamatan pasukan yang menyeberang.
Tetapi sesuai dengan rencana Kebo Jalu. penyeberangan pertama ini tidak diganggu. Begitu turun di seberang pasukan pelopor Mataram itu siap dengan senjata masing-masing, membelakangi sungai dan membentuk barisan kipas. Agaknya sekalipun keadaan aman, pasukan Mataram itu sudah terlatih, di manapun berada selalu siaga untuk bertempur.
Penyeberangan yang ke dua seperti yang pertama, selamat tak kurang suatu apa.
Keadaan ini membuat Pimpinan dan pasukan Mataram menganggap bahwa wilayah ini aman. Kesiapsiagaan mereka berkurang, sehingga pasukan yang ke dua ini begitu tiba di seberang lalu duduk di pinggir kali. dan tidak sedikit pula yang bersenda gurau menghibur diri. Melihat keadaan kawan kawannya ini pasukan yang pertama menyeberang hilang kewaspadaannya. Mereka kemudian menyimpan senjata masing-masing dan ikut pula bersenda-gurau di tepian sungai.
Pasukan yang ke tiga kemudian menyeberang. Di antara pasukan ini, terdapat pula sepucuk meriam dan prajurit prajurit yang bersenjata api. Semula keadaan rakit-rakit itu tenang-tenang saja, Akan tetapi setelah rakit tiba di tengah sungai, mendadak terjadi keributan. Secara tiba-tiba tiga buah rakit miring. dan beberapa orang terperosok masuk ke sungai. Sebagian besar pasukan Mataram tidak depat berenang. Maka begitu terperosok masuk keair segera tenggelam dan tewas. Akan tetapi walaupun pandai berenang sekalipun, kiranya tidak mungkin bisa melepaskan diri dari maut. Karena penyelam penyelam Gagak Rimang telah siap-sedia dengan senjata belati yang terhunus di bawah permukaan air.
Apa yang terjadi sesungguhnya?
Semua itu adalah hasil kerja para penyelam Gagak Rimang. Mereka menyelam di bawah rakit-rakit. Kemudian secara tiba-tiba dan berbareng, beberapa orang telah menarik sisi rakit rakit itu kuat-kuat. Sebagai akibatnya rakit miring dan beberapa orang terperosok ke dalam air. Peristiwa yang tak terduga-duga ini membuat perajurit-perajurit Mataram itu kaget. Orang-orang yang naik rakit mulai ribut dan panik, sedang perajurit-perajurit Mataram yang berada di tepi sungai berteriak ramai sekali saling khawatir. Mereka yang berdiri di dua sisi sungai itu tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak dapat memberi pertolongan. Sedang orang-orang yang naik rakit yang lainpun juga sulit untuk bisa memberi pertolongan kepada penumpang rakit yang tiba-tiba miring itu.
Memang sementara prajurit yang tangkas dapat melompat pindah ke rakit yang terdekat. Namun belum juga mereka berdiri tegak dan debaran jantungnya mereda, rakit itupun menyusul miring kemudian tenggelam. Penumpangnya saling berteriak dan ribut, berusaha menyelamatkan diri. Tetapi bagaimanapun usaha mereka. semua rakit-rakit itu akhirnya tenggelam. Mayat-mayat perajurit yang ratusan jumlahnya itu hanyut. dan air bengawan yang agak merah itu bertambah merah oleh darah manusia.
Semula tenggelamnya rakit-rakit itu, diduga oleh gangguan ikan-ikan penghuni sungai, atau mungkin oleh buaya. Akan tetapi setelah melihat bahwa semua rakit mula-mula miring lalu tenggelam. Kemudian semua perajurit tewas, dan air sungai berubah menjadi merah. orang orang Mataram itu baru sadar bahwa apa yang terjadi adalah serangan musuh dari dalam air.
Dengan kemarahan yang meluap-luap, Adipati Mandurorejo cepat memerintahkan pasukan pemanah, untuk menghujani anak panah ke dalam air. Melihat pasukan pemanah yang belum menyeberang menghujani sungai dengan anak panah, maka pasukan yang telah menyeberang itupun ikut-ikutan menghujankan anak panah ke sungai. Akan tetapi sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu, hanyalah membuang tenaga sia-sia. dan membuang senjata yang berharga. Para penyelam Gagak Rimang itu Justeru merupakan orang-orang yang telah berpengalaman dan cerdik. Anak panah yang menghujani sungai itu, tidak sebuahpun yang berhasil melukai para penyelam itu. Sebab sesudah mereka berhasil usahanya, mereka kemudian melindungkan diri dibawah rakit-rakit yang hanyut itu. .
Pada saat perhatian orang-orang Mataram tertuju ke sungai ini, Kebo Jalu memberikan tanda penyerbuan. Begitu Kebo Jalu memberikan tanda dengan bersuit, pasukan Gagak Rimang dan murid-murid Tuban itu, cepat muncul dari tempat perlindungan masing-masing dan menyerbu. Terjadilah kemudian keributan, teriakan riuh bercampur dengan jeritan ngeri dari mulut perajurit Mataram yang sekarat!
Perlawanan perajurit Mataram yang dalam keadaan lengah itu kurang berarti. Mereka telah terkurung rapat dan diterjang dari segala jurusan. Untuk mendesak maju sulit, sedang apabila mundur hanya satu pilihan, harus masuk ke sungai dan tenggelam.
Pasukan Gagak Rimang dan murid-murid Tuban yang menyerbu itu penuh semangat sambil bersorak-sorak. Keadaan ini membuat semangat pasukan Mataram itu makin turun, dan perlawanan mereka tidak berarti. Jerit jerit ngeri pasukan Mataram yang terluka dan sekarat itu makin riuh terdengar. Dan di antara mereka yang melompat mundur menghindarkan diri, akhirnya harus mati pula tenggelam di sungai.
Apa yang terjadi di seberang itu. di samping mengejutkan juga menimbulkan kemarahan yang amat sangat bagi seluruh orang Mataram. Lebih-lebih Adipati Mandurorejo, Adipati Uposonto dan Pangeran Kajoran yang merasa bertanggungjawab terhadap pasukannya. Sayang sekali bahwa lebar Bengawan Sala ini tidak bisa dicapai dergan peluru senjata api dan anak panah. Kecuali kalau anak panah itu dibidikkan oleh seorang sakti mandraguna, barulah anak panah itu bisa sampai di seberang. Satu-satunya senjata yang bisa mencapai seberang hanyalah meriam. Namun untuk menggunakan meriam tidak berani. Mereka telah diperintahkan menghemat peluru meriam. Apabila tidak amat memerlukan.
Tiga orang pemimpin pasukan Mataram ini. seperti cacing kepanasan. Mereka tidak tega melihat anak buah dijagal oleh lawan. Namun untuk membantu dengan pengiriman bala bantuan, tidak mungkin. Rakit-rakit yang jumlahnya sepuluh buah semuanya sudah rusak, tenggelam dan hanyut bersama ratusan orang perajurit.
Jerit jerit ngeri dari mulut perajurit-perajurit Mataram yang terluka dan sekarat terus terdengar, campur aduk dengan bentakan dan sorak pasukan musuh yang berpestapora. Melihat nasib yang buruk bagi pasukannya itu, Pangeran Kajoran tak dapat menahan sabarnya lagi. Ia cepat mengambil sebatang busur dari seorang prajurit Mataram. Anak panah yang lepas dari busur berdesing keras dan melesat seperti kilat cepatnya. Ternyata anak panah itu bisa mencapai seberang, mengenakan tepat seorang murid Tuban. Orang ini menjerit ngeri kemudian roboh tewas. Melihat hasil Pangeran Kajoran ini, kemudian Adipati UpOsonto dan Mandurorejo tak mau ketinggalan. Dua orang panglima ini cepat pula mengambil busur dari perajurit yang berdiri di dekatnya. Kemudian anak panah-anak panah yang lepas dari busur tiga orang panglima ini melesat seperti kilat cepatnya ke seberang. Baik pasukan Gagak Rimang maupun murid Tuban yang terkena anak panah ini, tentu terjungkal dan mati. Menyaksikan hasil dari tindakan tiga orang panglima ini, semangat perajurit Mataram yang sudah menyeberang dan terdesak itu, timbul dan menyala kembali. Mereka mengamuk dengan hebat!
Sedang perajurit-perajurit Mataram yang belum menyeberang. segera bersorak untuk memberi semangat kepada kawan kawan di seberang yang terkepung dan terdesak. Mereka berharap agar kawan kawan itu berhasil menghalau musuh-musuh itu.
Peristiwa jatuhnya beberapa orang murid Tuban dan Gagak Rimang oleh anak panah itu. di samping mengejutkan Juga membuat Kebo Jalu dan Gumbreg amat marah sekali. Dua orang ini cepat melompat mundur dari gelanggang pertempuran. Mereka mengambil busur dan anak panah dari pasukan pemanah. Kemudian hampir berbareng mereka melepaskan anak panah yang dilambari tenaga sakti. Dua anak panah itu melesat seperti kilat dan berdesing keras. Menyambar ke arah Pangeran Kajoran dan Adipati Mandurorejo. Dua orang ini kaget dan cepat menggunakan busur untuk menangkis
Prak! Dua batang anak panah itu patah. Namun dua orang ini kaget!
Tangan mereka tergetar hebat. Belum juga lenyap kagetnya dua orang ini, Adipati Uposonto menangkis anak panah yang menyambar dirinya dengan busur. Tetapi segera menyusul jerit nyaring seorang perajurit di dekatnya. Ternyata dada perajurit itu tertembus anak panah dan tewas seketika.
Tiga orang panglima Mataram ini, Pangeran Kajoran Adipati Mandurorejo dan Adipati Uposonto menjadi amat marah sekali dengan cekatan mereka melepaskan anak-anak panah kearah musuh di seberang. Akan tetapi sebaliknya dari pihak musuhpun menyambar-nyambar anak panah ke arah pasukan Mataram. Beberapa orang perajurit Mataram roboh tewas terpanggang anak panah. Sebaliknya anak-anak panah yang lepas dari busur tiga orang panglima Mataram ini membuat korban korban baru. Hanya sayang tidak semua anak panah itu mengenakan musuh, tetapi ada kalanya membunuh perajurit Mataram sendiri, yang terpancing, kemudian menjadi mangsa anak panah.
"Mundur, semua pasukan mundur!" teriak Adipati Uposonto memperingatkan kepada perajurit Mataram. Agar tidak dicapai oleh anak panah musuh .
Pasukan yang diperintahkan mundur itu dengan cepat dan hiruk pikuk mundur menjauhkan diri dari tepi sungai. Kemudian tiga orang panglima ini sambil berlindung pada batang pohon besar, melepaskan anak panah ke arah lawan.
Namun walaupun tiga orang panglima Mataram ini telah berusaha membantu dengan anak panah pasukan Mataram yang telah terkurung rapat dan terdesak itu, tak juga bisa tertolong. Sebelum senja datang, perajurit Mataram yang jumlahnya enamratus orang itu, semuanya sudah roboh mati dan setengah mati. Sesudah musuh habis, pasukan Gagak Rimang itu menjadi gatal tangan. Beberapa orang perajurit Mataram yang telah tewas itu, pakaiannya dilucuti. diganti dengan pakaian perajurit Gagak Rimang. Sebanyak duapuluh orang perajurit Mataram yang telah mati itu, kemudan secara tiba-tiba muncul di tepi sungai dengan sikap mengejek.
"Kurang ajar!" Adipati Mandurorejo bersungut-sungut.
"Mereka mengejek dan menghina! Hayo mereka kita kerocok dengan anak panah!"
Adipati Mandurorejo mendahului melepaskan anak panah. Kemudian disusul oleh lepasnya anak panah dari busur Pangeran Kajoran dan Adipati Uposonto. Crak. crak, crak! Tiga batang anak panah itu semuanya mengenakan secara tepat ke sasarannya. Menancap pada dahi! Akan tetapi tiga orang panglima Mataram ini terbelalak. Tiga orang yang dahinya terpanggang anak panah itu tidak menjerit kesakitan dan tidak bergerak. Melihat itu tiga orang panglima ini penasaran. Berturut-turut kemudian mereka melepaskan anak panah. Delapan belas orang dahinya sudah tertancap anak panah. Akan tetapi tidak seorangpun menjerit dan tidak seorangpun roboh. Pada saat tiga orang ini masih terbelalak heran. terdengarlah sorak sorai ejekan dari pasukan musuh.
"Horeee.... .. horeee....... panahmu tidak ampuh! "
"Hayo.. habiskan anak panahmu melawan pasukan siluman kami"
"Hura... hura.. tak mampu merobohkan orang yang tak melawan!"
' Ha-ha-ha-hu .. lucu...... lucu!"
Mendengar sorak dan ejekan itu, barulah tiga orang panglima Mataram ini sadar telah tertipu. Anak panah anak panah itu menancap di dahi. Tetapi dari-dahi orang itu tidak keluar setetespun darah. Jadi orang yang berdiri dengan sikap mengejek itu, semuanya sudah mati. Pangeran Kajoran membanting banting kakinya saking amat marah. Kemudian ia memalingkan mukanya kepada pasukan meriam. Ia memerintahkan supaya menembak dengan meriam. Perintah itu cepat dilaksanakan. Petugas cepat mengisi peluru dan bubuk mesiu. Setelah selesai, kemudian seorang petugas menyalakan api, membakar sumbu meriam.
Dar........!
Peluru meriam lepas dari laras. lalu pecah di seberang sungai.
Akan tetapi peluru meriam itu tidak menghasilkan apa-apa, kecuali menghanguskan pohon-pohon dan mayat perajurit perajurit Mataram yang telah tewas. Hal itu bisa terjadi oleh ketangkasan Kebo Jalu yang memerintahkan pasukannya menyingkir, ketika ia melihat kesibukan orang mengisi'bubuk mesiu dan peluru pada laras meriam. Lima kali berturut -turut perajurit Mataram menembak dengan meriam. Tetapi tembakan itu disambut oleh pasukan Gagak Rimang dan murid Tuban dengan sorak dan ejekan. Pangeran Kajoran memerintahkan pasukan meriam berhenti menembak, dengan dada seperti mau meledak saking marah dan penasaran. Untung senja datang, maka perajurit Mataram diperintahkan mengaso.
"Sial!"gerutu Pangeran Kajoran sambil membanting pantatnya di atas rumput.
"Belum apa-apa kita sudah harus mengorbankan ratusan perajurit sia-sia. Bagaimanakah agar kita bisa membalas kerugian ini?"
"Kesulitan satu-satunya bagi kita, hanyalah sungai ini. Asal saja kita telah berhasil menyeberang, dengan mudah Tuban akan kita hancurkan!" kata Adipati Uposonto.
"Maka menurut pikiran hamba, Gusti, kita harus menyeberang Bengawan Sala ini dengan cara lain."
Pangeran Kajoran dan Adipati Mandurorejo amat tertarik. Tanya Pangeran itu,
"Bagaimanakah maksud paman ?"
"Esok pagi kita perintahkan menebang kayu untuk kita buat jembatan terapung!" sahut panglima tua itu.
"Hamba percaya,bahwa dengan adanya Jembatan terapung itu, kita bisa melakukan penyeberangan dengan selamat. Sebab disaat menyeberang. apabila musuh menyerang kita bisa memberikan perlawanan." .
"Engkau lupa kepada penyelam-penyelam musuh itu!" Adipati Mandurorejo tidak setuju.
"Usaha kita akan siasia belaka, karena begitu jembatan terapung kita luncurkan ke sungai, akan segera dihancurkan oleh penyelam penyelam musuh itu. Tidak! Kita harus mencegah jatuhnya korban sia-aia untuk ke dua kalinya."
Adipati Mandurorejo menatap Pangeran Kajoran. Lalu katanya bersungguh-sungguh,
"Hanya ada sebuah cara yang amat bagus, Gusti! Musuh kita pancing perhatiannya agar menyangka bahwa kita mengaso di tempat ini, seakan menunggu bala bantuan. Tidak kita usahakan penyeberangan, dan sebaliknya musuhpun tidak akan berani menyeberang. Akan tetapi secara diam-diam kita telah mempersiapkan rakit-rakit dalam jumlah yang cukup.Rakit rakit itu kemudian kita bagi dua. Sebagian kita bawa ke timur tak jauh dari Babat. Sedang sebagian yang lain kita bawa ke barat, tak Jauh dari pertemuan Kali Pacal dengan Bengawan Sala. Kemudian pasukan kita bagi menjadi tiga bagian. Gusti bersama sepertiga pasukan tetap berada di tempat ini, sedang para perajurit paduka perintahkan berbuat sesuatu, yang bisa mengikat perhatian musuh. Apabila musuh terikat perhatiannya kepada Gusti dan pasukan, tentu musuh akan kehilangan kewaspadaan. Pada saat musuh lengah dan hilang kewaspadaan ini, secara diam-diam kakang Uposonto telah menyeberang sungai dari timur. Sedang hamba dengan pasukan menyeberang dari arah barat. .Setelah hamba dan kakang Uposonto berhasil menyeberang. lalu bergerak untuk menjepit lawan dari timur dan barat. Tidaklah akan sulit kita menghancurkan lawan. Dan selanjutnya paduka dengan pasukan akan berhasil menyeberang dengan aman."
"Bagus! Siasatmu amat bagus. paman. Baiklah esok pagi pasukan kita perintahkan mempersiapkan rakit rakit secara diam-diam." Pangeran Kajoran itu gembira sekali, lalu tertawa terkekeh-kekeh.
"Ya, ya, dengan siasat ini kesulitan akan teratasi."
Panglima-panglima Mataram ini kemudian bisa mengaso dengan hati lapang dan merasa enak makan. Tetapi ketika mendekati tengah malam, Pangeran Kajoran dan dua orang panglima ini terbangun kaget. Mereka mendengar suara gaduh bercampur dengan suara benturan senjata dan teriakan-teriakan kesakitan. Sebat luar biasa Pangeran Kajoran bersama Adipati Uposonto, Adipati Mandurorejo dan beberapa puluh perajurit telah berlarian menuju ke tempat kegaduhan, sambil membawa obor kayu. Dan betapa marah Pangeran Kajoran dan dua orang panglima itu, setelah tahu apa yang terjadi. Lebih tiga puluh orang peraiurit Mataram telah menggeletak, ada yang sudah tidak bergerak lagi, dan ada pula yang masih merintih-rintih kesakitan.
Puluhan perajurit Mataram masih sibuk mengeroyok belasan orang laki-laki yang hanya mengenakan cawat, yang melawan dengan hebat. Dan di antara perajurit perajurit Mataram yang perang campuh (tawuran) itu, tampak bayangan tiga orang laki-laki yang gerakkannya amat gesit sekali. Dua orang adalah kakek. kakek kurus, sedang yang seorang masih muda dan bertubuh ramping. Setiap Orang yang hanya mengenakan cawat itu berhadapan dengan tiga orang ini, dalam waktu yang singkat tentu segera roboh dan tidak bernyawa lagi.
Melihat tiga orang itu, Pangeran Kajoran kaget berbareng heran. Dua orang kakek itu adalah pengawal rahasia Mataram. Yang berjenggot dan berkumis lebat tetapi sudah putih itu, adalah Ki Reksogati. Sedang kakek yang seorang lagi, yang berkumis tetapi tidak berjenggot adalah Ki Hestiwiro. Walaupun tampaknya kakek Hestiwiro ini tubuhnya kurus, tetapi tenaganya sekuat gajah, sesuai dengan namanya Hesti yang artinya gajah!
Dan pemuda itu, adiknya sendiri. Ratu Wandansari yang mengenakan pakaian laki-laki.
"Semua perajurit mundur! Tiga orang itu sudah cukup mampu untuk menghancurkan musuh!" teriak Pangeran Kajoran nyaring.
Pada mulanya para perajurit yang tadi mengeroyok itu ragu-ragu. Tetapi sebagai perajurit tak bisa membantah perinrah atasannya. Dan dalam pada itu melihat sepak terjang tiga orang tersebut, yang tanpa senjata dapat merobohkan beberapa orang musuh, maka lebih enak kalau sekarang menonton saja. Memang tidak setiap perajurit mengenal Ki Hestiwiro dan Ki Reksogati. Dalam kedudukannya sebagai pengawal-pengawal rahasia hanyalah hadir pada saat saat penting dan diperlukan tenaganya. Sedang Ratu Wandansaripun, walaupun banyak bergerak di luar keraton, tidak setiap perajurit mengenalnya. Apa pula sekarang mengenakan pakaian lakilaki. Maka puteri ini berubah menjadi seorang pemuda yang amat tampan.
setelah semua perajurit yang tadi mengeroyok mundur dan mengurung kemudian menonton, maka terbentuklah sebuah gelanggang pertempuran. Di dalam gelanggang itu hanya terdapat tiga orang yang sedang menghadapi keroyokan belasan orang laki-laki yang hanya mengenakan cawat. Bagaimanapun pula, Ratu Wandansari adalah seorang puteri. Menghadapi musuh yang hanya mengenakan cawat itu puteri ini menjadi malu. teriaknya kepada dua pengawal itu.
"Bereskan mereka, tetapi usahakan beberapa orang masih hidup. Kita perlu mengorek keterangan ! "
Ratu Wandansari meloncat dengan gesit, kemudian menghampiri Pangeran Kajoran dengan bibir tersenyum amat manis.
Pengeran Kajoran mengamati adiknya itu dengan alis berkerut. Tegurnya halus,
"Diajeng. apakah kerjamu di sini ? "
Puteri yang ditegur ini tidak marah. Ia tertawa lirih. kemudian katanya singkat,
"Setelah Ki Reksogati dan Ki Hestiwiro membereskan semua musuh, kangmas akan tahu sendiri apa kerjaku."
"Tetapi....... kangmas Sultan bisa marah. Bukankah kangmas melarang engkau meninggalkan Karta?"
"mengapa kangmas ribut sendiri? Kalau kangmas Sultan marah, toh bukan kangmas Kajoran yang memperoleh marah itu. tetapi aku sendiri." Ratu Wandansari menjawab dengan sikapnya yang manja.
"Ah......... dasar engkau terlalu bandel, diajeng...... Hmm, ,namun jasamu memang amat besar bagi Mataram..... "
Mendengar pujian itu, hati puteri ini amat bangga. Namun perhatiannya kemudian diarahkan ke gelanggang pertempuran. Tetapi sesungguhnya apa yang terjadi di gelanggang pertempuran itu, tidak menarik sama sekali. Dua orang kakek itu seperti dua ekor kucing yang sedang mempermainkan belasan ekor tikus. Walaupun jumlahnya banyak, tak akan dapat menang melawan kucing, dan akhirnya nanti akan mati sendiri kehabisan tenaga. Senjata-senjata perajurit musuh itu tidak pernah berhasil menyentuh ujung baju dua orang kakek itu.
"Cukup !' teriak Wandansari nyaring.
Dan perintah Ratu Wandansari itu cepat dilaksanakan oleh Ki'Reksogati dan Ki Hestiwiro. Tiba-tiba tubuh dua orang kakek itu berkelebatan seperti kilat cepatnya. Dalam waktu yang hanya beberapa detik saja, belasan orang laki laki yang hanya mengenakan cawat itu telah roboh tak berkutik di atas tanah, tetapi tidak mati!
"Tawanlah mereka !" perintah Pangeran Kajoran kepada perajurit Mataram, yang cepat dilaksanakan pula.
Sesudah diadakan penelitian, ternyata korban perajurit Mataram yang jatuh sebanyak lebih tigapuluh orang. Penyerbu yang jumlahnya tigapuluh tiga orang itu. yang sembilan belas tertawan hidup-hidup sedang yang empat belas tewas dan terluka.
Malam itu juga, musuh yang dapat ditawan ini diperiksa dan diminta keterangan keterangannya. Akan tetapi orang-orang yang mengenakan cawat itu, dan yang menyeberang sungai dengan berenang, adalah anggauta anggauta Pasukan Berani Mati Gagak Rimang. Mereka telah' bersumpah setia untuk mengorbankan nyawa guna kemenangan Surabaya. Walaupun mereka disiksa setengah mati, orangorang itu tetap tidak mau memberikan keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh Mataram. Dan kalau toh mau membuka mulut, orang-orang ini hanya mencaci maki atau memberikan keterangan yang tidak masuk akal. Sudah tentu sikap mereka yang bandel ini membuat Pangeran Kajoran habis sabar.
Dengan dalih apapun, setiap terjadinya peperangan adalah kotor. Batin manusia diracuni oleh hasutan-hasutan demi keuntungan beberapa gelintir manusia lain. Manusia dilatih dan dididik menjadi buas, kejam dan bengis terhadap manusia lain, yang disebut sebagai musuh. Mereka lupa bahwa manusia yang dikatakan sebagai musuh itu, sesungguhnya dikenalpun belum, tiada kesalahan dan tiada dendam. Sebagai akibatnya, nyawa manusia tidak memperoleh penghargaan selayaknya sebagai nyawa manusia, seakan nyawa semut!
Bahkan ini menjadi kenyataan bahwa di dalam peperangan nyawa manusia tidak ada harganya. Anggauta-anggauta Gagak Rimang yang tertawan hidup-hidup dan bandel ini, pada akhirnya semua menemui ajalnya, setelah lebih dahulu menderita siksaan yang cukup kejam dan mendirikan bulu roma.
Setelah semua pasukan yang tidak bertugas jaga tidur maka Pangeran Kajoran, Ratu Wandansari, dua orang panglima dan dua orang pengawal rahasia itu, duduk berkerumun di dekat api unggun sambil berbicara.
"Diajeng, katakan terus terang apa alasanmu meninggalkan keraton dan menyusul ke mari?" tanya Pangeran Kajoran. Sambil menatap adiknya tajam tajam.
"Apakah sangka kangmas, perempuan itu tidak barharga dalam peperangan?" jawab Ratu Wandansari yang memancing,
"Tentu saja perempuan berguna," sahut Pangeran Kajoran sambil tersenyum.
'Dan dalam hal ini, engkau merupakan perempuan yang sudah banyak jasanya bagi kesentausaan Mataram."
"Nah. itulah sebabnya aku tak sanggup berdiam di keraton, hihik," sahut Ratu Wandansari sambil tertawa merdu.
"Dan kangmas tak usah khawatir. Kali ini pun aku akan mendirikan jasa lagi untuk Mataram. Dan percayalah, bahwa aku akan melicinkan jalan bagi pasukan Mataram yang menyerbu Tuban ini." .
"Apa? Apa katamu?" Pangeran Kajoran membelalakkan mata dan kurang percaya.
"Apa yang kaumaksudkan melicinkan jalan itu? Huh, jangan kau main-main. Kita telah kehilangan ratusan orang perajurit, dan gagal melakukan penyeberangan. Apakah sangkamu gampang kita menyeberangi Bengawan Sala ini?"
"Dan itulah sebabnya hamba tadi sudah mengusulkan siasat dari jalan yang hamba anggap paling menguntungkan," sambut Adipati Mandurorejo. Kemudian panglima tua ini membeberkan segala rencananya. Panglima tua ini' membeberkan rencana itu dengan hati yang bangga. Sebab ia merasa pasti bahwa dengan siasat ini tentu berhasil dengan gemilang. dan puteri Mataram yang terkenal kecerdikannya ini, tentu akan memberikan persetujuannya.
Namun ternyata Ratu Wandansari menggeleng kepala tanda tidak setuju. Membuat Pangeran Kajoran dan dua orang panglima itu terbelalak heran. Pangeran Kajoran penasaran,
"Kau.......kau tidak setuju kepada rencana yang amat bagus ini?"
'Rencana itu sesungguhnya bagus. Tetapi masih harus melewati rintangan dan pertempuran dahsyat. Masih harus mengorbankan nyawa perajurit kita bila perlu. Hi hik....... lebih baik rencana itu jangan dilakukan." Ratu Wandansari tersenyum. Dan baik Pangeran Kajoran maupun dua orang panglima itu saling pandang tak mengerti. Akhirnya Pangeran Kajoran bertanya,
"Apakah engkau telah mempunyai rencana yang lebih baik? Diajeng..... jangan kau main-main......."
"Ya, aku memang telah mempunyai rencana yang lain. Mudah-mudahan rencana itu bisa terlaksana tanpa rintangan. Percayalah, kangmas, bahwa dalam persoalan ini aku tidak main main. Kita tunggu saja dua atau tiga hari ini. Apabila rencana itu dapat terlaksana seperti rencana, kehancuran Tuban tinggal menunggu saatnya saja. Gampangnya seperti membalik tangan sendiri!" jawab Ratu Wandansari dengan bibir yang tersenyum amat manis.
"Seperti membalik tangan sendiri?" Adipati Mandurorejo kurang yakin.
"Kalau baru akan menyeberang sungai ini saja kita harus sudah mengorbankan nyawa perajurit yang ratusan jumlahnya, benarkah runtuhnya Tuban tinggal menunggu saat saja?"
"Mengapa tidak?' sahut Ratu Wandansari dengan sungguh-sungguh.'
"Kalau siang tadi kita sampai harus mengorbankan ratusan perajurit, bukan lain kesalahan kita sendiri yang kurang kewaspadaan. Paman Adipati telah luas pengalaman di dalam setiap peperangan. Salahkah apabila aku mengatakan demikian? "
'Hemm...... ya. kenyataannya memang demikian." Adipati Mandurorejo mengakui.
"Kita memang kurang teliti menilik keadaan. Kita beranggapan bahwa daerah ini masih jauh dengan Tuban, sehingga kita menjadi lengah. Tetapi Gusti, sekarang hamba amat berbesar hati. Hamba percaya bahwa Gusti telah merencanakan siasat yang jitu dan hebat!"
Ratu Wandansari tersenyum, jawabnya.
"Hamm, paman jangan memuji dulu sebelum memperoleh bukti. Aku tidak bisa memberitahukan tentang apakah rencana yang sudah aku rintis itu. Kita tunggu saja dua atau tiga hari ini. apa yang akan terjadi. Untuk itu baiklah kita menetap di sini, sambil mengaso dan menghilangkan lelah. Apabila rencana yang telah kurintis itu sampai gagal, belum terlambat kita bertindak."
"Eh,eh, apakah engkau tidak percaya kepadaku dan kepada paman Mandurorejo maupun paman Uposonto?" tegur Pangeran Kajoran agak penasaran.
'Beberkanlah rencanamu itu, agar kita sekalian mengetahui dan lebih mantap."
"Kalau aku tak mau?" goda Ratu Wandansari.
"Apa? Sejak kapan engkau tidak mau percaya kepada saudara tuamu sendiri?" Pangeran Kajoran mendelik.
"Pendeknya tunggu saja rencana yang sudah kuatur dan aku tetapkan. Sekalipun kalian memaksa, aku akan tetap bungkam mulut!"
Mendengar jawaban Ratu Wandansari yang bandel Itu Pangeran Kajoran tidak dapat berbuat lain. Ia harus puas dengan janji yang diberikan oleh adiknya itu. Namun diam-diam iapun mengakui bahwa adik perempuannya ini seorang gadis yang amat cerdik. Apa yang dipikirkan dan apa yang direncanakan, jarang sekali menemui kegagalan.
'Janganlah kangmas mengijinkan orang melakukan sesuatu yang dapat memancing kecurigaan musuh." Ratu Wandansari memberi pesan.
"Asal saja musuh tidak menyeberang dan menyerang kemari, kita gunakan seluruh waktu untuk istirahat dengan tenang. Tetapi harap kangmas memerintahkan para perajurit mengamati keadaan di seberang. Apabila di seberang ,berkibar bendera hijau, esok pagi atau lusa, sukalah kangmas cepat memberitahukan kepadaku."
Pangeran Kajoran tak dapat berbuat lain kecuali mengiakan. Namun demikian, diam-diam baik pangeran ini maupun dua orang panglima itu merasa penasaran. Sebab puteri ini menyembunyikan sesuatu yang tak dapat mereka duga dan perkirakan.
Ketika itu malam telah amat larut dan menjelang dinihari. Mereka telah bubar dan masuk tidur ke tempat masing-masing yang telah ditentukan. Tetapi sesudah memisahkan diri, Ratu Wandansari tidak lekas tidur, dan bertanya kepada Ki Reksogati,
"Kakek Gati! Percayakah engkau bahwa dua orang adik perguruanmu itu akan dapat mengatasi keadaan, apabila terjadi sesuatu di luar rencana?"
Yang dimaksud Ratu Wandansari, dua orang adik seperguruan Ki Reksogati ini, adalah bernama Sawungrana dan Sindu. Dua orang inipun merupakan pengawal pengawal tepercaya bagi Mataram, dan sudah banyak jasa-jasa yang diperuntukkan kepada junjungannya.
"Bagi hamba, Gusti, tiada alasan untuk tidak percaya kepada mereka. Bukannya hamba ingin membesarkan hati Gusti, tetapi mengukur kemampuan mereka!" sahut Ki Reksogati dengan mantap.
"Dalam hal kecerdikan. adi Sindu jauh di atas hamba. Apabila bicara tentang kesaktian, hanya Sedikit di bawah. Karena itu menurut perkiraan hamba, tidak gampang orang bisa mengalahkan mereka."
'Akupun berpendapat demikian, kakek.Tidak gampang orang dapat mengalahkan Sawungrana dan Sindu. Tetapi........" Ratu Wandansari berhenti dan tampak berpikir.
'.......dalam menghadapi sesuatu yang amat penting, salahlah kita kalau hanya mempercaya dan main duga. Sebab, siapa tahu kalau di sana Sindu dan Sawungrana menghadapi lawan berat dan dikeroyok! Mengingat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi itu, apakah tidak lebih tepat apabila engkau dan kakek Hestiwira menyusul ke sana? Janganlah kalian muncul apabila keadaan tidak memaksa! Tugasmu hanyalah membayangi dan memberi bantuan."
"Kalau Gusti memang menghendaki, malam ini juga hamba akan berangkat!" sambut Ki Hestiwiro.
"Apabila kalian bersedia!"
"Mengapa tidak, Gusti!"
"Baiklah jika begitu! Tetapi ingat, kalian hanya bertugas mengatasi keadaan yang memaksa. Kalau ternyata tanpa bantuanmu Sindu dan Sawungrana dapat melaksanakan tugas dengan baik, cepatlah engkau kembali, guna persiapan rencana lebih lanjut."
Dua orang pengawal itu memberikan sembahnya. Kemudian hampir berbareng mereka melompat, berkelebat seperti tatit, dalam waktu singkat sudah tidak tampak bayangannya lagi.
Mengapa secara tiba-tiba Ratu Wandansari muncul di tempat ini dengan pengawalan orang-orang kuat Mataram?
Untuk memberi gambaran yang lebih jelas bagi anda sekalian. baiklah kita mundur sejenak.
Seperti diketahui. bahwa oleh laporan Ratu Wandansari, Sultan Agung mengerahkan pasukan dan memimpin sendiri gerakannya memukul Surabaya. Dalam pada itu, setelah Sultan Agung mendengar laporan-laporan kisah perjalanan dan pengalamannya selama melaksanakan tugas yang banyak kali berhadapan dengan bahaya. maka Sultan Agung melarang Ratu Wandansari pergi meninggalkan keraton. Larangan itu bermaksud baik, demi kepentingan Ratu Wandansari ini. Akan tetapi darah perajurit yang mengalir di dalam tubuh puteri ini, membuat ia tidak kerasan hidup di dalam lingkungan tembok keraton. Ia puteri perajurit. ia merasa bertanggung jawab pula atas kejayaan dan kesentosaan Mataram. Ia tidak sedia untuk menganggur dan berpangku tangan. Ia ingin bisa menyumbangkan tenaga dan fikirannya bagi Mataram. Walaupun seorang perempuan, ia telah luas pengalaman dan mengenal banyak tokoh sakti dan situasi setiap perguruan. Maka timbullah niatnya untuk berjuang dengan cara lain. Kalau saudara-saudara tuanya bergerak menundukkan Wilayah yang membangkang dengan kekuatan perajurit, ia akan menggunakan kecerdikan dan akal. Setelah bulat tekadnya, akhirnya pada suatu malam Ratu Wandansari meninggalkan Keraton Karta, dikawal oleh empat orang pengawal sakti, Ki Reksogati, Ki Hestiwiro, Sawungrana dan Sindu. Ratu Wandansari mengenakan pakaian laki-laki. Maka tampaknya ia seorang pemuda yang amat tampan, amat gagah di atas pelana kuda.
Seminggu yang lalu, Ratu Wandansari bersama empat orang pengawalnya, melepaskan lelah di tepi Sungai Widas, sambil memberi kesempatan kepada kuda untuk makan rumput segar. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bentakan-bentakan nyaring, dan suara orang yang saling berkejaran. Ternyata yang dikejar-kejar orang itu seorang perempuan berusia kira-kira tigapuluh lima tahun. Perempuan ini pakaiannya sudah robek di sana sini. malah bernoda darah pula, agaknya memang sudah menderita luka. Rambut perempuan itu yang kusut telah lepas sanggulnya, dan awut-awutan di atas pundak dan di punggung. Perempuan ini wajahnya jelek, hidung pesek dan berkulit hitam. Namun demikian, dengan melihat keringanan gerakannya, membuktikan bahwa perempuan ini bukanlah perempuan sembarangan. Hanyalah karena ia menghadapi keroyokan banyak orang, maka perempuan ini terdesak dan melarikan diri.
Melihat perempuan jelek ini, Ratu Wandansari cepat mengenalnya. Tak salah lagi, perempuan yang sudah terluka ini bernama Subinem,
Seorang murid Tuban yang telah diusir dari pintu perguruan. Melihat Subinem ini, Ratu Wandansari yang cerdik cepat memperoleh sesuatu yang akan dapat memberi keuntungan bagi Mataram. Ratu Wandansari cepat memberi isyarat, kepada empat orang pengawalnya, sedang dirinya sendiripun cepat berteriak,
"Hai . . . . . . mbakyu Subinem. Jangan takut! Kami bantu untuk membereskan tikus tikus itu!"
Empat orang pengawal itu dengan gesitnya telah menghadang para pengejar itu. Mereka terdiri dari belasan orang, berpakaian aneka ragam dan senjatanyapun campuran. Mereka menerjang berbareng dengan senjata masing-masing dengan kemarahan yang meluap-luap. Gerakan orang -orang ini cukup cepat dan tangguh. Akan tetapi dalam pandangan empat orang pengawal sakti Mataram ini amat lambat. Maka dengan sikap yang tenang empat orang pengawal Mataram ini menggunakan kaki dan menggerakkan tangan.
"Wut wut....e.. trang-trang-trang.. .. aughhh .......!" Hanya membutuhkan waktu yang singkat empat orang ini telah berhasil mementalkan dan mematahkan senjata orang-orang itu, kemudian disusul oleh robohnya tubuh-tubuh mereka. Empatbelas orang itu semuanya roboh tidak berkutik di atas tanah. tetapi tidak mati. Meskipun demikian. karena mereka semua menderita luka dalam yang cukup parah, salah-salah nyawa mereka tak dapat tertolong lagi.
Dan empat orang pengawal ini, setelah merobohkan empatbelas orang tersebut, seperti tidak terjadi apa-apa, kembali menuju ke tempat duduk mereka semula. Subinem menyaksikan apa yang baru terjadi dengan mata terbelalak penuh kagum.
Ratu Wandansari menghampiri Subinem dengan bibir tersenyum. Tetapi Subinem kaget, pipinya menjadi kemerahan dan mala-malu. melangkah mundur. Benar usianya sudah tigapuluh lima tahun. Akan tetapi ia masih merupakan seorang gadis. Wajahnya memang jelek, sehingga tiada laki-laki yang tertarik kepadanya. Oleh sebab itu begitu melihat seorang pemuda tampan mendekati, ia kaget dan jantungnya terguncang keras. Untung bahwa Ratu Wandansari cepat menyadari keadaannya. Ia melepas ikat kepalanya. menyingkap rambut yang menutupi subang pada telinganya, dan berubahlah ia menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
"Kau.... kan..... Gusti Wandansari....?" Subinem bertanya tidak lancar.
Ratu Wandansari tersenyum lebar,
"Ya, akulah Wandansari. Apakah engkau tidak ingat lagi?"
Subinem yang masih menggenggam hulu pedang telanjang itu. dilintangkan di depan dada, siap sedia menghadapi kemungkinan.
"Apa... apa maksudmu menolong aku? "
Ratu Wandansari tersenyum manis,
"Sarungkan pedangmu, dan marilah kita duduk yang enak sambil bicara. Percayalah bahwa aku tidak mempunyai maksud jahat terhadap engkau!"
"Huh-huh, engkau bisa membujuk dan menipu yang lain, tetapi aku tidak!" bentak Subinem.
Gelang Perasa Serial Tujuh Senjata (4) Karya Gu Long Sherlock Holmes - Pegawai Kantor Bursa Ternyata Tidak Mudah Menemukanmu Karya Raspcake

Cari Blog Ini