Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Pedang Buntung 6

Kisah Si Pedang Buntung Lanjutan Ratu Wandansari Karya Widi Widayat Bagian 6


"Engkau puteri Mataram. Engkau musuhku dan musuh perguruanku ."
Mendengar bentakan Subinem itu, Sindu marah dan akan bertindak menghajar. Tetapi Ratu Wandansari memberi isyarat. Maka pengawal ini lalu bersikap seperti yang lain. duduk tidak perduli.
Sebaliknya Ratu Wandansari yang dibentak tidak marah. Bibirnya tetap menyungging senyum,
'Mbakyu Subinem, hemmm..... . aku tahu engkau sudah tidak diakui sebagai murid Tuban. Mengapa engkau masih berani mengaku, sebagai murid Tuban?"
Subinem yang wataknya berangasan itu mendelik,
"Bukan urusanmu! Tetapi siapa bisa membantah aku seorang murid Tuban?"
"Tidak seorangpun bisa membantah, mbakyu! Dan engkau diusir dari perguruan, bukan oleh gurumu, tetapi oleh Rara Inten. Bukankah begitu? Hemmm.... aku tahu! Aku tahu sejak lama engkau ingin menduduki jabatan Ketua Perguruan Tuban. Untuk maksud itu engkau jangan khawatir. Aku bersama empat orang pengawalku itu. akan sanggup membantu engkau, merebut kedudukan itu. Maukah engkau?"
Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ratu Wandansari itu. Sudah sejak lama sekali, ia amat ingin menduduki jabatan Ketua Perguruan Tuban itu. Akan tetapi ketika itu, hati perempuan ini menjadi amat kecewa dan masgul sekali. ketika gurunya, mendiang Anjani telah memilih dan mencalonkan Endang Bratajaya. Ia amat penasaran sekali. Untung baginya bahwa ketika itu. ia mengetahui rahasia hubungan antara Endang Bratajaya dengan Yoga Swara, sehingga melahirkan seorang bayi perempuan. Rahasia ini kemudian dibongkar dan dilaporkan kepada Anjani. Dan sebagai akibatnya, Endang Bratajaya dipukul kepalanya oleh Anjani, tewas saat itu juga. Tewasnya Endang Bratajaya, menimbulkan harapannya untuk menduduki jabatan Ketua Perguruan Tuban. Akan tetapi ternyata, gurunya tidak dapat menyelami maksud hati Subinem. Ternyata pilihan dan yang dicalonkan sebagai ketua oleh gurunya bukanlah dirinya. Melainkan Rara Inten!
Namun ia tidak mau menyerah mentah-mentah. Ia menghasut dan mempengaruhi saudara-saudara seperguruannya. agar tidak mau mengakui Rara Inten sebagai ketua. Banyak di antara murid-murid Tuban terpengaruh dan terhasut. Akan tetapi sayang, ketika diselenggarakan pertandingan seorang lawan seorang untuk menentukan siapa yang lebih tinggi ilmu kepandaiannya, Subinem dikalahkan oleh Rara Inten. Sudah dikalahkan. masih diusir dan dipecat sebagai murid 'Tuban. Hati Subinem kecewa, dendam dan penasaran sekali, maka setelah meninggalkan Tuban ia menggembleng diri untuk menuntut balas pada kemudian hari. (Untuk terangnya, silahkan baca "Jaka Pekik" oleh penerbit dan pengarang yang sama).
Sekarang, diingatkan oleh Ratu Wandansari ini, dan mendengar kesediaannya untuk membantu, semangatnya tergugah lagi!
Ia telah menyaksikan sendiri, bahwa empat orang pengawal itu, dalam waktu singkat sudah dapat mengalahkan empatbelas orang lawan yang tadi hampir membunuhnya. Maka timbullah kepercayaannya, dengan bantuan Ratu Wandansari ini, dirinya akan dengan mudah dapat merebut kedudukan Ketua Perguruan Tuban itu. Oleh pengaruh keinginannya yang selama ini. Subinem lupa akan sikapnya tadi yang kasar dan tak sopan,
"Apakah janji Gusti Windansari dapat aku percaya?"
"Mengapa tidak? Engkau ingin menduduki jabatan Ketua Perguruan Tuban itu, bukan?"
Subinem mengangguk sambil menyarungkan pedangnya.
"Marilah kita duduk di atas batu itu. Kita bicara dari hati ke hati. Percayalah, aku bermaksud baik. Dan tahukah engkau akan perkembangan Perguruan Tuban sekarang ini?"
"Apa maksudmu? Telah lama aku hidup mengasingkan diri, dan telah lama pula aku tidak mendengar mengenai keadaan perguruanku."
Ratu Windansari tidak menjawab, tetapi menarik Subinem. kemudian diajak duduk berdampingan.
"Tahukah engkau akan terjadinya perubahan dalam Perguruan Tuban? Sekarang Rara Inten sudah bukan ketua lagi."
'Hai! Mengapa begitu?" Subinem berjingkrak kaget
'Itulah sebabnya maka timbul niatku untuk membantumu menduduki jabatan sebagai Ketua Perguruan Tuban."
""Siapakah ketuanya sekarang?" tanya Subinem tidak sabar.
'Jaka Pekik."
"Aihh... mana bisa jadi?! Jaka Pekik bukan-murid Tuban. Apakah memang Jaka Pekik mengandalkan kesaktiannya merebut kedudukan itu?"
"Tidak! Inten sendiri yang telah menyerahkan kedudukan itu kepada Pekik."
"Kurangajar! Murid murtad. Murid khianat! Apakah .. apakah Inten menjadi isteri Pekik?"
Ratu Wandansari menggeleng kepala.
"Tidak! Rara Inten dengan kemauannya sendiri menyerahkan kedudukan itu kepada Jaka Pekik."
"Aku berkewajiban untuk membela Tuban dan meluruskan jalan yang telah'bengkok. Aku harus merebut kedudukan Ketua Perguruan Tuban itu. guna membela kewibawaan Tuban dan guru. Pekik adalah musuh. Pekik Raja Gagak Rimang yang menjadi musuh Tuban sejak lama. Kalau aku berpangku tangan. arwah guruku akan marah. Huh, huh, pengkhianatan yang tidak tanggung-tanggung!"
"Dan tahukah siapa Pekik itu sebenarnya '!"
Subinem menggeleng kepala.
"Pekik adalah putera Adipati Surabaya!"
Subinem berjingkrak saking kaget.
"Putera Adipati Surabaya?" . '
Ratu Wandansari mengangguk. Tiba tiba Subinem tertawa terkekeh. Sambil menatap Ratu Wandansari, katanya.
"Hi-hik..... aku tahu sekarang. Aku tahu akan sebabnya. Engkau ingin membantu aku, berdasar saling menguntungkan bukan? Engkau menghendaki agar Tuban membantu Mataram guna menghadapi Surabaya?" ' Ratu Wandansari memegang lengan Subinem sambil tertawa.
' Engkau, memang cerdik!"
"Bagiku, Pekik itu adalah musuh besar. Dia sebagai Raja Gagak Rimang. Maka putera Adipati Surabaya atau bukan, tetap saja aku menganggap sebagai musuh!"
"Aku memang tahu perasaan hatimu. mbakyu. Itulah sebabnya aku ingin mengulurkan tangan membantu kepentinganmu merebut kedudukan itu. Dengan kerja sama yang baik antara Tuban dengan Mataram, percayalah engkau bahwa Perguruan Tuban akan menjadi perguruan yang lebih harum namanya dan jauh lebih maju. Sebab Perguruan Tuban yang telah berjasa bagi Mataram itu, akan memperoleh hak hidup sesuai dengan bantuan yang telah diberikan."
Subinem berpikir. Memang amatlah sulit dirinya bisa merebut kedudukan Ketua Parguruan'Tuban itu, kalau hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Dengan kedudukan Jaka Pekik sebagai Ketua Perguruan Tuban. sudah tentu Perguruan Tuban itu sekarang selalu diawasi oleh tokoh-tokoh Gagak Rimang. Sebaliknya apabila ia sekarang menerima kebaikan hati Ratu Wandansari untuk menyelenggarakan kerja sama dengan Mataram, segalanya akan dapat berjalan dengan lancar. Hemm, biarlah untuk permulaan usaha ini, aku bekerja sama dengan Mataram. Harihari kemudian sesudah aku menduduki ketua Tuban, aku mempunyai hak dan kedaulatan sendiri tanpa pengaruh siapapun.
Setelah memutuskan demikian. katanya,
"Baiklah. Kita selenggarakan kerjasama berdasar saling menguntungkan. Engkau mengulurkan tangan membantu tercapainya maksudku. Tetapi sebaliknya engkaupun tentu minta bantuanku, bukan? Baik untuk menundukkan Tuban sendiri maupun Surabaya?"
Demikianlah, akhirnya antara dua orang perempuan ini terjadilah perjanjian saling menguntungkan. Subinem dengan pengawalan Sindu dan Sawungrana langsung menuju ke Perguruan Tuban, guna merebut kedudukan ketua itu. sedang Ratu Wandansari sendiri dengan pengawalan Ki Reksogati dan Hestiwiro, meneruskan perjalanan. Di tengah jalan, ia memperoleh keterangan bahwa sebagian pasukan menuju utara untuk memukul Tuban. Mendengar berita itu, Wandansari khawatir. Maka cepat cepat bersama dua orang pengawalnya .Ratu Wandansari mengejar rombongan itu.
Ratu Wandansari tiba di tempat pasukan Mataram istirahat pada waktu malam, dan secara kebetulan sedang terjadi pengacauan yang dilakukan oleh musuh. Ratu Wandansari dan dua pengawalnya tak mau berpangku tangan. lalu langsung terjun ikut menghalau. Demikianlah sedikit ungkapan, mengapa secara tiba-tiba Ratu Wandansari telah muncul di tepi Bengawan Sala itu.
Ketika Subinem bersama dua orang laki-laki yang belum dikenal para murid Tuban muncul, para murid Tuban yang bertugas di pintu gerbang cepat melompat dan menghadang. Sindu dan Sawungrana berdiri di belakang Subinem dengan sikapnya yang tak acuh. Sedang Subinem mengamati para murid Tuban itu dengan tersenyum dingin,
"Heran!. apakah matamu sudah buta dan tidak mengenal aku lagi? Aku mau masuk. Siapa yang melarang?"
"Engkau murid murtad dan sudah diusir dari pintu perguruan. Apakah maksudmu datang kemari?!" bentak salah seorang murid laki-laki yang bertugas jaga itu.
"Hi-hik, kamu ini murid-murid tingkat berapa berani menuduh aku murtad? Huh-huh, siapa yang murtad? Rara Inten ataukah aku?! "
Murid murid Tuban yang menjaga pintu gerbang ini justeru hanya terdiri dari murid-murid kemenakan Subinem. Oleh karena itu sebenarnya tingkat kedudukannya dalam Perguruan Tuban, mereka di bawah kedudukan Subinem. Dalam pada itu, tentang penyerahan Rara Inten, yang menempatkan Tuban di bawah pengaruh Jaka Pekik dan Gagak Rmang, tidak sedikit murid-murid Tuban yang diam-diam tidak setuju dan menentang. Hanya karena mereka takut saja, mereka tidak berani berbuat sesuatu. Sekarang memperoleh bentakan Subinem sebagai bibi perguruan mereka itu. murid murid yang berjaga ini tidak dapat membuka mulut.
"Tahukah kamu, bahwa kedatanganku sekarang ini untuk mengurus pengkhianatan Rara Inten itu. baik terhadap perguruan sendiri, maupun terhadap Ibu Anjani sebagai nenek gurumu? Beliau telah tiada lagi. Tetapi arwahnya tentu marah melihat apa yang terjadi disini Katakanlah, siapa yang dipercaya oleh bangsat Jaka Pekik itu, untuk memimpin Perguruan Tuban?"
"Bibi guru Telasih dan_bibi Sarni!" sahut salah seorang dari mereka.
"Janganlah menghalangi aku masuk. Sekarang beritahukan kepada adi Telasih dan adi Sarni. Katakan bahwa aku datang untuk bertemu dan bicara."
Tiba-tiba tampak seorang murid laki-laki yang berlarian cepat dari arah pendapa perguruan. Begitu tiba di pintu gerbang, murid itu membungkuk dan memberi hormat kepada Subinem. Katanya penuh sopan,
"Saya di perintahkan oleh ibu guru Sarni, menyambut kedatangan bibi. Sekarang baik ibu guru Sarni maupun ibu pejabat ketua telah menunggu di pendapa."
Tanpa berani membantah lagi. murid-murid yang tadi menutup pintu gerbang itu menyingkir memberi jalan sambil memberi hormat. Dan tanpa membuang waktu lagi Subinem dengan dua orang pengawalnya, segera masuk ke dalam lewat halaman yang luas dan bersih.
Di dalam pendapa, Telasih yang ditunjuk oleh Jaka Pekik memimpin Perguruan Tuban, telah duduk berdampingan dengan Sarni sebagai wakilnya. Puluhan murid Tuban laki-laki dan perempuan, dengan sikapnya yang angker mengawal keselamatan dua orang pemimpin itu. Murid-murid yang laki --laki berdiri di sebelah kiri, sedang murid-murid perempuan berdiri di bagian kanan. Petugas yang diperintahkan menyambut telah mempersilahkan Subinem dan dua orang laki-laki yang tak dikenal itu. langsung masuk ke dalam pendapa.
Kalau Subinem masih diakui sebagai murid Tuban, sebenarnya kedudukan Subinem sebagai mbakyu perguruan Telasih maupun Sarni Sesuai dengan urutan kedudukan ini, sesuai dengan tata santun. Telasih maupun Sarni baru berdiri dari tempat duduknya dan menyambut tamu itu. Akan tetapi sekarang, Subinem telah di pecat dan tidak diakui sebagai murid. Maka dengan sendirinya Subinem merupakan orang luar. Maka Subinem memperoleh perlakuan yang sama dengan tamu biasa.
Orang yang menduduki jabatan sebagai ketua maupun wakilnya, adalah merupakan orang-orang yang tertinggi kedudukannya di dalam rumah perguruan Itu sendiri. Maka adalah sudah layak kalau pemimpin itu hanya berdiri dari tempat duduknya dan memberi hormat, setelah tamu itu dalam jarak dekat, sambil mempersilahkan duduk. Hal ini bukanlah merupakan sikap yang angkuh. Tetapi sudah sesuai dengan tata santun perguruan. Sikap ini guna menjaga kewibawaan dan keangkeran perguruan di mata orang lain. Dengan hadirnya ketua dan wakil ketua menyambut tamu itu sendiri. sesungguhnya sudah merupakan suatu kehormatan yang tinggi bagi tamu, sebab pada biasanya, apabila tidak sangat penting, seorang tamu hanya disambut oleh petugas-petugas yang dipercaya.
Setelah Subinem dan dua orang laki-laki yang tak dikenal itu duduk, dengan ramah Telasih bertanya,
"Perkenankanlah aku bertanya, apakah maksud kedatanganmu kemari bersama dua orang laki-laki yang belum aku kenal?" '
Walaupun tampaknya pertanyaan itu ramah, tetapi wajah Subinem menjadi merah. Ia merasa disindir terang terangan. Akan tetapi Subinem dasar sudah luas pengalaman di samping licin. Ia tertawa.
"Hi-hik. janganlah engkau terlalu curiga. Dua orang temanku ini bernama Sindu dan Sawungrana. Mereka adalah kakak kakak angkatku! Kakak angkat yang baik, yang tidak tenang pula melihat Perguruan Tuban dikotori orangorang yang tidak bertanggungjawab. Huh-huh kalau saja ibu guru masih hidup, dapatkah ibu guru Anjani membiarkan penyelewengan dan pengkhianatan ini ?"
Sarni mendelik marah sekali. Tetapi Telasih waspada. memberi isyarat kepada adik seperguruannya itu supaya bersikap sabar dalam menghadapi bekas mbakyu seperguruannya ini. Telasih memang seorang yang berwatak keras, namun demikian juga seorang yang teliti. Sekali pandang saja ia dapat menduga, bahwa dua orang teman Subinem ini bukanlah orang sembarangan. ia sebagai penanggung jawab perguruan, tidak menginginkan terjadinya keributan. Ia ingin menghadapi Subinem yang datang mengacau ini, sedapat bisa menghindarkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia bersikap sabar,
"Subinem! Aku mengharap agar engkau dapat menempatkan dirimu pada tempat dan batas wewenangmu sendiri. sudahkah engkau berkaca kepada dirimu sendiri. Adakah baik bagimu untuk bicara urusan dalam Perguruan Tuban. setelah engkau dipecat dan diusir dari rumah perguruan ini? Maka aku mengharap pengertianmu, agar engkau tidak mengacau ketenteraman perguruan kami."
Subinem tertawa terkekeh,
"Heh-heh-heh, siapa yang mengacau? Aku datang kemari sesuai dengan tanggung jaWabku kepada ibu guru Anjani yang telah tiada. Hihik, aku ingin bertanya kcpadamu. Siapakah sesungguhnya yang mengacau Perguruan Tuban ini?"
"Apa maksudmu?" Sarni membentak tidak sabar lagi.
"Janganlah engkau asal bisa membuka mulut, dan memutarbalikkan kenyataan. Yang jelas. engkaulah murid murtad dan pengacau itu. Maka engkau telah dipecat dan diusir oleh ketua."
"Hi-hik, gajah di pelupuk mata sendiri tidak nampak. Hayo katakanlah terus terang. Apakah yang telah terjadi sekarang? Tuban diselewengkan orang orang yang tidak bertanggung jawab. Sejak puluhan tahun yang lalu, sejak aku masih kecil dan baru menginjakkan kaki di rumah Perguruan Tuban ini, antara Tuban dengan Gagak Rimang merupakan musuh bebuyutan. Berapa jumlah korban yang jatuh di antara saudara-saudara oleh keganasan siluman-siluman Gagak Rimang? Dan lupakah engkau berapakah jumlah Siluman-siluman Gagak Rimang yang jatuh di tangan ibu guru Anjani ketika masih hidup? Hi-hik, siapakah yang dapat menghapus sejarah itu? Katakanlah! Ibu guru ketika itu memilih mati dari pada harus menerima pertolongan siluman-siluman Gagak Rimang. Tetapi mengapa begitu ibu Anjani menutup mata, Tuban lalu dipaksa bergandengan tangan dengan siluman-siluman itu? "
Ternyata kata-kata Subinem ini amat besar sekali pengaruhnya. baik terhadap Telasih dan Sarni maupun terhadap semua murid-murid Tuban yang hadir. Di antara banyak murid Tuban, sebenarnya memang tidak setuju sikap Rara Inten yang menyerahkan kekuasaan kepada Jaka Pekik. Kalau selama ini mereka berdiam diri, bukan lain karena takut. Sekarang begitu mendengar seorang mengangkat kembali peristiwa itu, mereka segera berisik.
Untung Telasih segera sadar akan kedudukannya sebagai penguasa Perguruan Tuban. Ia menggerakkan tangan memberi isyarat kepada murid-murid Tuban itu agar berdiam dan tenang kembali. Setelah keadaan kembali tenang, Telasih menatap tajam kepada Subine-m,
' Hemm . .. engkau boleh bicara menurut jalan pikiranmu sendiri. Tetapi engkau bicara sebagai orang luar. Engkau tiada hak untuk mencampuri urusan dalam perguruan kami!"
Ia berhenti dan menebarkan pandang matanya kepada semua murid Tuban untuk mencari kesan. Kemudian lanjutnya,
"Biarlah saat sekarang ini, aku ingin mendudukkan engkau sebagai tamu, walaupun Sesungguhnya aku tidak pernah mengundang kehadiranmu. Apakah dasarmu mengganggu gugat urusan rumah tangga Perguruan Tuban yang sekarang bekerja sama dengan Gagak Rimang? Orang pandai akan selalu mengimbangi suasana dan gelegat. Benar bahwa waktu-waktu yang lalu otak kita dipengaruhi oleh racun hasutan. yang menganggap bahwa Gagak Rimang itu musuh yang harus dihancurkan. Akan tetapi perubahan telah terjadi.ternyata Gagak Rimang di bawah pimpinan Jaka Pekik adalah berlainan dengan Gagak Rimang yang dahulu. Kalau dahulu semua golongan beranggapan bahwa Gagak Rimang merupakan siluman yang harus dihancurkan, sekarang Gagak Rimang merupakan golongan yang baik. Golongan yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi memperhatikan pula kepentingan golongan lain. Ternyata Gagak Rimang telah menunjukkan kelapangan dadanya, keagungan jiwanya, dan sikapnya yang jantan gagah perwira. Gagak Rimang dimusuhi oleh semua golongan dan akan dihancurkan. Namun ternyata Gagak Rimang tidak membalas dengan kejahatan, malahan membalas dengan kebaikan. Sebagai bukti adalah tindakan Gagak Rimang yang telah berhasil menolong semua tokoh yang semula ditawan dan dipenjarakan di Mataram. Bukan hanya itu. Sikap perwira dan kejantanan Gagak Rimang di Pondok Bligo. yang melindungi dan menyelamatkan pondok itu dari serangan Mataram, tidak seorangpun dapat membantah! Malah, langsung maupun tidak langsung, Perguruan Tuban pun memperoleh perlindungannya pula. Sebab dengan terpukul mundurnya. pasukan Mataram, berarti pula murid-murid Perguruan Tuban yang ketika itu hadir di sana, terhindar dari kehancuran. Nah, mengingat akan semua itu, adalah tepat dan sudah pada tempatnya, kalau adi Rara Inten kemudian menyerahkan Perguruan Tuban di tangan Jaka Pekik. Adi Rara Inten yang berpemandangan luas, dapat melihat, bahwa perguruan Tuban akan mencapai puncak kemasyhuran dengan jalan itu!"
Telasih berhenti. Sesaat kemudian ia melanjutkan,
'Dan engkau harus tahu dan sadar. Perguruan Tuban termasuk pejuang yang gigih menentang Mataram, Kalau bicara tentang musuh, saat sekarang ini bukanlah Gagak Rimang. Tetapi adalah Mataram itu !"
"Bagus, heh-heh-heh...! Alasanmu bagus sekali!" Subinem tertawa mengejek.
"Sekarang makin jelaslah bahwa dugaanku benar. Setelah Ibu Guru Anjani menutup mata, dalam Perguruan Tuban terjadi perebutan kekuasaan. Hik-hik, karena sejak dahulu aku selalu setia dan membela secara gigih Perguruan Tuban, maka orang berusaha menyingkirkan aku dengan dalih "murtad" dan "berkhianat"! Dalih yang bagus tetapi memuakkan!"
Sarni tidak dapat sabar lagi dan membentak marah.
"Subinem! Hati-hatilah kau bicara. Kami menerima kedatanganmu dengan hormat. mengingat hubungan kita dahulu sebagai saudara seperguruan. Tetapi sekarang, engkau bukan murid Tuban lagi. Engkau tidak berhak bicara seenakmu sendiri. Huhhuh. jika engkau tidak bisa menempatkan diri sebagai tamu, menyesal sekali aku harus mengusirmu dengan pedangku ini......!"
Sarni bangkit dari tempat duduknya dan meraba gagang pedang. Akan tetapi Telasih cepat mencegah dan menarik adik seperguruannya itu kembali duduk.
Subinem sedikitpun tidak gentar, dan tertawa terkekeh kekeh. Ia tidak takut menghadapi kekerasan. Sebab ia amat percaya akan ketangguhan dan kesaktian Sindu maupun Sawungrana.
"Heh-heh-heh, barang siapa merasa bersalah tentu setengah mati membela diri untuk menyembunyikan dosa perbuatannya. Barang siapa tidak suci. tentu bermulut besar mencari pengaruh, aku inilah seorang yang paling suci di dunia. Hi-hik... tak tahu malu! Sangkamu aku tidak tahu akal busukmu untuk mencapai cita-cita dan keserakahanmu ?"
'Apa?! Siapa yang engkau maksudkan dengan akal busuk itu? Aku dan mbakyu Telasih?" bentak Sarni dengan sepasang mata yang berapi.
"Hi-hik. belum juga ditunjuk sudah mengaku sendiri." Subinem mengejek. Perempuan ini kemudian menebarkan pandang matanya ke sekeliling, menyapu wajah wajah murid Tuban yang hati dan pikirannya mulai ragu oleh pengaruh katakatanya.
"Hai, dengarlah kamu murid murid Tuban semuanya. Aku datang kemari sesuai dengan tanggung jawabku sebagai murid Tuban........"
"Siapa sudi mengakui engkau sebagai murid Tuban?" bentak Sarni nyaring penuh amarah.
Subinem tertawa mengejek,
"Hi-hik......... baiklah bekas murid Tuban. Siapakah orang yang bisa membantah bahwa aku salah seorang murid Ibu Anjani?"
Semua orang terbungkam. Mereka tidak bisa membantah bahwa Subinem memang murid Anjani. Subinem bukan dipecat dan diusir oleh mendiang Anjani. Tetapi dipecat dan diusir oleh Rara Inten.
"Sesuai dengan tanggung jawabku sebagai murid Ibu Guru Anjani itulah, maka aku tidak menginginkan arwah Ibu Anjani panasaran, melihat sepak terjang beberapa orang muridnya yang melanggar sumpah dan tanggung jawabnya itu. Lupakah kalian, peristiwa Yang terjadi dengan pengusiran terhadap diriku ketika itu? Siapa yang mendukung secara gigih terhadap putusan itu ?"
Tidak seorangpun murid Tuban itu membuka mulut. Namun dalam hati mereka telah tahu siapakah yang di maksud oleh Sabinem ini. Dalam pada itu, baik Telasih maupun Sarni wajahnya merah padam saking marah. Namun masih bersabar diri untuk mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh perempuan jelek ini.
"Diakui atau tidak, aku adalah murid Tuban! Hi hik...... maka aku berkewajiban meluruskan yang bengkok, dan mengembalikan mana yang menyeleweng. Dan sudah saatnya pula aku harus membeberkan peristiwa busuk yang telah terjadi di rumah Perguruan Tuban ini!" Dengan tidak memperdulikan sikap Telasih dan Sarni,
Perempuan berwajah jelek Subinem ini menyebar racun mencari pengaruh.
"Ada dua orang murid perguruan kita ini, yang udah sejak lama menginginkan kedudukan tertinggi di dalam pandangan mata sekalian murid. Untuk merebut secara terang terangan merasa tidak mampu! Maka digunakanlah akal yang licin melebihi belut. Untuk tercapainya maksud busuk itu, kemudian merongrong adi Rara Inten dengan segala macam alasan dan dalih. Celakanya adi Rara Inten terpengaruh. Terjadilah kemudian penyerahan kekuasaan Perguruan Tuban ini kepada siluman Jaka Pekik, seorang pentolan musuh besar kita, seperti yang telah diatur dan direncanakan oleh dua orang itu. Kemudian tanpa kesulitan lagi. dua orang itu berhasil menduduki jabatan ketua dan wakil ketua.......! Siuutt... wer, wer......! "
Kata-kata Subinem itu terputus oleh menyambarnya beberapa batang pisau terbang dari tangan Telasih dan Sarni yang sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Terkejut juga Subinem oleh serangan senjata rahasia yang tiba-tiba ini dan dalam jarak dekat pula.
Akan tetapi kehadiran Subinem di tempat ini, dilindungi oleh dua orang pengawal sakti Mataram. Sejak mau berangkat, Ratu Wandansari justeru sudah menjanjikan terjaminnya keselamatan oleh perlindungan Sindu dan Sawungrana. Dan sebaliknya pula, baik Sindu maupun Sawungrana telah memperoleh perintah langsung dari Ratu Wandansari. harus waspada setiap waktu. melindungi keselamatan Subinem ini. Kegagalan tugas yang dibebankan ini pengaruhnya akan luas. Bukan saja Sindu dan Sawungrana akan memperoleh hukuman berat, tetapi juga keluarga yang tak tahu apa-apa bisa memikul dosa kesalahannya. Sejak tadi baik Sindu maupun Sawungrana selalu siap siaga menghadapi segala kemungkinan, dan pandang matanya tidak lepas dari dua orang perempuan itu. Maka begitu melihat gerakan pundak Telasih dan Sarni, dua orang sakti ini sudah bisa menduga apa yang akan terjadi. Maka begitu melihat berkelebatnya sinar-sinar putih dari tangan dua orang perempuan itu. hampir berbareng Sindu dan Sawungrana terkekeh. Tanpa berdiri dari tempat duduknya, dua orang ini menggerakkan tangan kanan.
Aneh bin ajaib! Beberapa batang pisau terbang itu seperti bernyawa. Begitu tangan dua orang tersebut melambai, pisau-pisau terbang itu arahnya berubah ke arah dua orang ini dengan gerakan yang lambat. Kemudian dengan mudahnya, semua pisau terbang itu diterima oleh tangan kiri berturut turut.
Baik Telasih, Sarni maupun seluruh murid Tuban terbelalak kaget dan heran menyaksikan peristiwa itu. Dugaan Telasih ternyata benar. Dua orang laki-laki teman Subinem ini bukan sembarang orang. Apa yang telah terjadi. adalah merupakan pameran kekuatan dan ketinggian tenaga sakti dua orang laki-laki itu. Kenyataan Ini membuat Telasih dan Sarat sadar, bahwa tidak boleh sembrono menghadapi Subinem. Mereka tidak takut menghadapi ancaman maut dalam membela Perguruan Tuban. Namun kalau bisa. apakah salahnya berusaha dengan jalan lain yang lebih selamat?
Dalam pada itu Subinem menjadi besar hati. Ia sekarang makin percaya akan kekuatan dua orang pembantunya ini. Ia tertawa terkekeh mengejek,
"Heh-heh-heh, orang yang terbuka kedoknya dan tidak bisa membela diri, berusaha melenyapkan orang yang mengetahui rahasianya."
Para murid Tuban yang berdiri dan mengikuti seluruh peristiwa itu, hatinya berdebar dan tegang. Tetapi dengan melihat sikap Telasih dan Sarni yang melakukan serangan curang itu, rasa keraguannya terhadap pejabat ketua dan wakil ketua ini semakin kuat, dan pengaruh kata-kata dan aikap Subinem makin merebut hati. Kenyataannya memang, penyerahan kedudukan ketua sesuatu perguruan terhadap orang luar, baru sekarang ini terjadi. Padahal jabatan tertinggi di dalam suatu perguruan itu, harus kepada anak murid sendiri. Mengapa Rara Inten menyerahkannya kepada Jaka Pekik?
Benar bahwa kemudian kekuasaan itu diwakilkan kepada Telasih dan Sarni. Namun dengan terjadinya peristiwa itu, mereka menduga bahwa tuduhan Subinem ini benar.
Subinem yang berbesar hati itu, dengan wajah berseri berkata lagi,
"Hayo, katakanlah sekarang siapakah sesungguhnya yang berhati busuk dan khianat? Setidaknya aku dahulu menghadapi adi Rara lnten dengan sikap blak-blakan, dan diselesaikan secara baik pula. Tetapi.... huh huh, katakanlah sekarang, cara yang kamu pergunakan itu, bukankah terkutuk dan pengkhianatan yang memuakkan dan sengaja menempatkan Perguruan Tuban di tempat yang ternoda?!"
"Tutup mulutmu yang busuk dan beracun!" bentak Telasih mendelik marah.Engkau manusia rendah dan memuakkan. Engkau telah sengaja menghina dan menodai nama adi Rara Inten maupun Jaka Pekik."
"Hi-hik, mana orang yang mulutnya busuk? Aku ataukah engkau? Dengan bukti-buku yang tak terbantah ini. mata semua orang akan terbuka dan dapat menilai sendiri. Hi-hik....... siapa tidak tahu bahwa siluman kecil Jaka Pekik itu mempunyai hubungan rahasia dengan dia ?"
"Bangsat busuk beracun! Jangan mengumbar mulut busuk dan mengotori rumah perguruan kami!" teriak Sarni sambil bangkit.
"Tidak lekas enyah dari sini, menunggu apa lagi?"
"Hi-hik, kalau aku tak mau, kau bisa berbuat apa ?" tantang Subinem.
"Akan kutampar mulutmu yang busuk!" terdengar suara laki-laki dan wut.... plak! Sawungrana yang waspada telah melompat menyambut pukulan ke arah Subinem. Perlindungan Sawungrana ini menyelamatkan Subinem dari bahaya. Namun sekalipun demikian keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dan wajahnya agak pucat.
Ternyata secara tiba-tiba di pendapa ini telah muncul dua orang yang gerakannya cepat dan gesit luar biasa. Seakan-akan dua orang itu muncul dari dalam lantai. Para murid Tuban yang berdiri di sisi kanan tadi, hanya merasakan sambaran angin yang halus. Kemudian berkelebat bayangan putih.
Orang yang bertemu tangan dengan Sawangrana tadi terhuyung mundur selangkah. Namun sebaliknya Sawungranapun mundur selangkah pula.
Orang itu kaget!
Sejenak memandang ke arah Sawungrana, kemudian tertawa. Hampir berbareng dua orang itu membalikkan tubuh membungkuk memberikan hormatnya kepada Telasih dan Sarni, yang dibalas penuh hormat pula.
Dua orang ini mengenakan jubah putih, dan pada lengan tangan dihias oleh lukisan obor menyala. Kehadiran dua orang yang tak tersangka sangka ini membuat Telasih dan Sarni berbesar hati. Dua orang tokoh Gagak Rimang yang sudah mereka kenal kesaktian dan ketangguhannya. Lawa Ijo dan Jalatunda. Dan tadi yang pukulannya disambut oleh Sawungrana, adalah Lawa Ijo
"Silahkan duduk saudara, dan kami mengucapkan selamat datang," kata Telasih dengan ramah.
"Heh-heh, terima kasih. Aku datang kemari sangat kebetulan. Sempat menyaksikan seorang pengkhianat yang berusaha mengacau Perguruan Tuban!" sambut Lawa Ijo dengan wajah berseri.
"Heh-heh, adi Telasih dan adi Sarni, aku datang ke mari melaksanakan perintah paduka Raja Pekik. Paduka raja menyampaikan salam kepadamu, dan berpesan pula agar kalian lebih berhati' hati menghadapi kegawatan suasana sekarang ini."
"Terima kasih atas perhatian ketua terhadap kami." jawab Telasih.
"Beberapa hari yang lalu saudara Kebo Jalu telah datang ke mari, dan sekarang telah melaksanakan tugas bersama-sama murid kami."
"Bagus! Hal-hal lain biarlah kita bicarakan nanti.Sekarang. terangkanlah. Apakah kemauan tiga orang tamu yang tak sopan ini?" Lawa Ijo mengamati Sawungrana dan Sindu, seakan sedang menaksir.
Sarni yang sejak tadi berdiam diri cepat menyahut,
"Murid murtad yang sudah diusir dari rumah perguruan ini, berusaha mengacau dan menyebarkan racun busuk. Jelas bahwa kedatangannya sekarang ini bermaksud merebut kekuasaan."
"Heh-heh-heh. manakah mungkin?! Lawa Ijo dan Jalatunda membawa wewenang penuh dari paduka raja untuk melindungi keselamatan Tuban!" Sambil berkata Lawa Ijo melirik ke arah Sawungrana dan Sindu yang masih duduk dengan sikap tenang.
Jalatunda memandang pula dua orang itu penuh selidik. Katanya.
"Adi Lawa Ijo! Hadiah apakah yang pantas untuk orang-orang yang lancang dan menyombongkan diri mengacau kedaulatan orang lain ?"
"Sayang, heh heh...... sayang bahwa oleh larangan paduka raja, aku telah menghentikan kebiasaanku menghisap darah manusia. Kalau saja masih "
"Hemm...." Sindu mendengus dingin. Kemudian terdengar katanya ditujukan kepada Sawungrana,
"Kakang Sawungrana! Bagaimanakah bunyi tong kosong ?"
"Ha-ha-ha. tentu saja aku tahu, adi Sindu!" sahut Sawungrana sambil tertawa
"tentu saja tong kosong itu bunyinya nyaring !"
Kata-kata yang diucapkan oleh Sindu dan Sawungrana ini di samping menyindir dan merendahkan, sekaligus telah memperkenalkan diri. Namun karena dua orang pengawal rahasia Mataram ini hampir tidak pernah muncul di setiap peristiwa, maka baik nama Sindu maupun Sawungrana ini. tidak banyak dikenal orang. Lebih lagi Lawa Ijo dan Jalatunda baru sekali ini bertemu muka dengan dua orang ini. Maka baik nama Sindu maupun nama Sawungrana itu tidak mempunyai pengaruh apaapa. .
(bersambung jilid 6)
Kisah Si Pedang Buntung
Lanjutan Ratu Wandansari
Karya : Widi Widayat
Jilid : 6
Pelukis : Janes
Penerbit "GEMA"
Metrokusuman 761 Rt 17
SOLO Ijin Penerbitan
Ijin : No Pol /3/26 aa-54/0-73
Surakarta tanggal 17 januari 1973
Cetakan Pertama 1973
**** Buku koleksi ; Aditya Indra Jaya
Juru Potret : Awie Dermawan
Edit teks & pdf : Saiful Bahri Situbondo
(KOLEKTOR E-BOOK)
******
TETAPI sindiran itu membuat Jalatunda menjadi marah. Ia mendelik,
"Apa _katamu? Tong kosong? Walaupun kosong, tanganku masih sanggup memecahkan kepala manusia yang sombong! Ingin mencoba? Majulah! Baik secara kasar maupun halus, Jalatunda tidak pernah menolaknya!"
Sindu melirik kepada kakak seperguruannya. Ketika melihat bahwa Sawungrana mengangguk, Sindu bangkit dari tempat duduknya.
"Bagus! Marilah kita coba!"
"Tahan!" teriak Telasih tiba-tiba.
Jalatunda berpaling dan menatap Telasih. Tanyanya.
"Apakah maksudmu? Menghadapi pengacau kita tidak boleh bersikap lunak dan mengalah. Agar mata orang terbuka. bahwa baik Tuban maupun Gagak Rimang tidak boleh dihina dan direndahkan?!"
"Terima kasih atas kesediaan saudara membela Tuban. Namun saya mengharap kesabaran saudara. agar aku bisa bicara dulu dengan mereka." Tanpa menunggu jawaban Jalatunda, ia menatap Subinem tajam.
"Hai Subinem! Bukan aku yang sengaja mencari keributan, tetapi engkau sendiri yang datang mengacau. Aku masih memberi kesempatan kepadamu. Lekaslah engkau meninggalkan tempat ini, sebelum aku menggunakan kekerasan mengusirmu !" .
Sejak tadi diam-diam Subinem telah memperhitungkan segala sesuatunya, baik untung maupun ruginya. Pada pihaknya hanya terdiri dari tiga orang. Sedang di pihak Telasih, jumlahnya tidak terhitung. Tadi sebelum muncul Lawa Ijo dan Jalutunda, walaupun harus menghadapi jumlah banyak ia tidak gentar sedikitpun. Ia telah mengenal baik tingkat kepandaian para murid Tuban. Semua murid Tuban. tingkat kepandaiaanya masih di bawah kepandaiannya sendiri. Di antara murid Tuban yang agak menonjol kepandaiannya hanyalah Telasih, Sarni dan seorang lagi bernama Markamah. Tetapi sejak lengan Markamah buntung oleh Jaka Pekik, murid ini tidak pernah muncul lagi, dan ditugaskan sebagai pengurus dapur. Namun toh kalau Markamah muncul pula, dengan lengannya yang tinggal sebelah itu tidak perlu masuk hitungan lagi.
Akan tetapi sekarang, dengan munculnya Lawa Ijo dan Jalatunda, keadaannya berubah. Dua orang tokoh Gagak Rimang itu, ia telah mengenal, merupakan tokoh tokoh sakti mandraguna pilih tanding. Dengan demikian, ia belum bisa memastikan, apakah Sindu dan Sawungrana sanggup mengalahkan dua orang itu. Pada pihaknya tinggal dirinya sendiri yang harus berhadapan dengan Telasih dan Sarni, dan belum terhitung pula murid-murid Tuban yang jumlahnya banyak itu. Dan kalau toh tidak memperhitungkan murid-murid Tuban, sanggupkah dirinya menghadapi Telasih dan Sarni?
Namun keadaan sudah sedemikian rupa. Ia sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. Sudah kepalang tanggung. Kalau harus mundur, ke manakah ia harus menyembunyikan mukanya?
Ia tidak menyesalkan Ratu Wandansari. yang telah membujuk dirinya untuk merebut kedudukan ketua Perguruan Tuban. Ratu Wandansari telah bersungguh membantu dirinya dengan menyertakan sindu dan Sawungrana. Kalau sekarang harus menghadapi keadaan ini adalah di luar dugaan siapapun. Mengingat bahwa ia sudah kepalang tanggung itu, timbullah kenekadannya. Ia tertawa terkekeh,
'Heh-heh-heh, sangkamu aku takut menghadapi tindakan kekerasanmu? Hi-hik, engkau tentu mengandalkan kekuatanmu dengan jumlah yang banyak."
"Bangsat busuk! Siapa mengandalkan kekuatan dan jumlah? Aku dan mbakyu Telasih masih sanggup untuk mengenyahkan engkau!" bentak Sarni marah. Tanpa di sadari ia telah terpancing oleh siasat Subinem.
Jawaban itu menggembirakan Subinem.
"Bagus, hehheh, kamu baru bisa mengusir aku, setelah aku tak bernyawa. Hi hik ........."
"Halaman depan itu cukup luas untuk menentukan siapa yang berhak berkuasa dalam Perguruan Tuban ini!"
"Engkau sendiri yang menjanjikan, heh-heh !"sambut Subinem dengan gembira.
Semua murid Tuban berisik. Dengan hati tegang dan berdebar, secara teratur mereka menuju halaman depan. Mereka berisik, tanggapan mereka bermacam-macam dalam menghadapi peristiwa ini. Di antara mereka ada yang berbalik arahnya membenarkan Subinem, tetapi ada pula yang lain menyokong sikap Telasih dan Sarni. Dengan demikian, diam-diam, antara para murid Tuban itu sendiri telah terjadi perpecahan. Namun walaupun diam-diam terjadi perpecahan, mereka semua menuju halaman depan. Kemudian mereka membentuk lingkaran memagari tempat pertandingan itu.
Begitu tiba di halaman depan, mereka segera saling berhadapan. Pada pihak Subinem hanya tiga orang, pada pihak Telasih empat orang. Namun sedikitpun Subinem tidak nampak gentar. Bibirnya selalu tersenyum dan wajahnya berseri-seri. Akan tetapi karena wajahnya memang jelek. maka sekalipun bibirnya tersenyum-senyum, mereka yang melihat tidak tertarik.
Hari itu telah hampir tengah hari. Udara cerah dan sinar matahari amat terik. Namun demikian di halaman itu agak sejuk. Sebab di samping angin terus berhembus perlahan, juga pada halaman itu penuh dengan pohon-pohon besar yang rindang.
Namun walaupun udara pada halaman itu agak sejuk. saat sekarang ini keadaannya lebih panas dibanding dengan di pendapa tadi. Bukan panasnya matahari. melainkan oleh panasnya hati yang dibakar oleh rasa marah dan penasaran. .
Subinem tertawa mengejek,
"Heh-heh-heh, engkau sendiri yang berjanji, hanya yang kuatlah yang berhak menguasai Perguruan Tuban. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Bertanding secara ksatriya. satu persatu, ataukah maju bersama tiga lawan empat?"
"Sombong!" bentak Lawa Ijo marah.
"Pada saatnya nanti, aku tentu bisa menampar mulutmu yang buruk itu. Huh-huh!"
Jalatunda tak sabar lagi. Ia telah melompat ke depan dan menantang,
"Akulah orang pertama yang maju! Siapa di antara kamu yang akan menemani aku bermainmain?"
"Aku! " sambut Sindu sambil melompat pula ke tengah gelanggang. Dua orang itu sekarang saling berhadapan. Saling pandang dan saling taksir. Seakan dua ekor jago yang mau bersabung. Masing-masing sudah bersiap diri dengan kuda-kuda yang kuat. Tetapi masih belum ada yang memulai. Agaknya masing-masing berpegang pada prinsip, bahwa siapa yang memulai dengan serangannya, apabila tatarannya setingkat, pertahanannya akan kalah kuat dengan lawan.yang tidak memulai.
"Hiaaaaat,.wut-wut.....plak.....!" Dua telapak tangan bertemu di udara. Kemudian dua-duanya terhuyung satu langkah. Ternyata pada saat yang bersamaan dua orang itu sudah melesat ke depan. Kemudian bertemulah dua telapak tangan.
Akan tetapi begitu telapak tangan bertemu, Jalatunda kaget. Ia merasakan tangannya amat panas seperti dibakar dalam api. Menyusul kemudian dadanya agak panas dan sesak.
Itulah akibat dari pukulan Aji "Dahana Muncar", Semua murid Ki Ageng Lodoyong memang memiliki Aji "Dahana Muncar" yang amat ampuh, dan amat berbahaya bagi lawan.Murid Ki Ageng Lodoyong memang hanya tiga orang, ialah Ki Reksogati, Sawungrana dan Sindu. Bagi orang yang tingkatnya masih rendah, sekalipun tangan tidak menyentuh dan hanya terserang oleh hawa pukulan saja. tubuhnya bisa menjadi hangus dan tewas saat itu juga. Untung Jalatunda seorang sakti pula maka walaupun pengaruh pukulan itu membuat lengannya panas dan dada sesak, akan tetapi tidak membahayakan jiwanya.
Pengalaman ini menyadarkan dirinya agar bertindak lebih hati-hati. Ia harus selalu menghindari pertemuan tangan. Dengan demikian ia akan bisa mencegah pengaruh Aji "Dahana Muncar" menyusup ke dalam tubuhnya.
Namun Sindu tidak mau memberi kesempatan lawan berpikir dan bersiap diri. Begitu terhuyung mundur, ia kembali melompat ke depan melancarkan serangan-serangannya yang kuat dan cepat luar biasa. Dalam waktu singkat dua orang itu telah terlibat dalam pertempuran yang amat seru. Gerakan mereka amat cepat sekali, bayangan mereka saling berkelebat cepat, ada kalanya dua bayangan itu saling merapat, dan ada kalanya pula dua bayangan itu terpisah dan berjauhan. Tetapi murid-murid Tuban yang masih rendah tingkatnya, tidak bisa mengikuti jalannya pertempuran sengit ini. Gerakan mereka terlalu cepat. sehingga pandang mata mereka menjadi kabur dan kepalanya pening.
Akan tetapi betapapun juga, tingkat kepandaian Jalatunda masih setingkat di bawah Sindu. Ditambah pula Jalatunda selalu didesak dan ditekan oleh hawa panas yang membuat makin lama dadanya semakin sesak. Ia sulit untuk bisa membalas dan lebih banyak membela diri.
Melihat kesulitan Jalatunda itu, Lawa Ijo tak dapat menahan sabarnya lagi. Kakinya tidak nampak bergerak, Namun tahu-tahu tubuhnya telah melesat ke depan ringan sekali seperti bersayap. Ia memang ,terkenal dengan keringanan tubuhnya dan sebagai jago lari. Maka serangan Lawa Ijo yang ingin membantu Jalatunda ini tidak terduga-duga.
Akan tetapi keceliklah apabila merendahkan Sawungrana. Walaupun ia tidak dapat bergerak secepat Lawa IJo. namun tindak-tanduknya ia seorang sakti pula. Sejak tadi ia selalu siap siaga. Perhatiannya bukan ditujukan ke arah dua orang yang sedang berkelahi, tetapi kepada Lawa Ijo.
Sejak semula ia memang sudah curiga, bahwa tokoh Gagak Rimang ini tentu bertindak apabila kawannya terdesak. Ternyata dugaannya tidak meleset. Maka begitu melihat berkelebatnya bayangan putih seperti tatit cepatnya, Sawungrana telah meloncat pula dan menyambut keras lawan keras.
Wut...... plak! Dua telapak tangan bertemu dan melekat. Mereka berdiri tegak dan tidak bergerak. Mereka saling dorong dengan lengan.
Tampaknya pertempuran yang berlangsung antara LaWa Ijo dan Sawungrana ini, seperti dua orang anak yang sedang bermain-main saling dorong. Akan tetapi yang benar tidaklah demikian. Pertempuran semacam ini merupakan pertempuran perorangan yang paling berbahaya. Sebab mereka secara langsung telah mengadu kekuatan tenaga sakti. Karena langsung mengadu tenaga sakti ini, maka yang kalah sulit ditolong lagi jiwanya.
Sesungguhnya, Lawa Ijo sendiri tidak menghendaki perkelahian dengan cara ini. Ia seorang yang terkenal dapat bergerak kilat, sehingga kekurangannya bisa ditutup dengan gerakan kilatnya yang bisa membingungkan lawan.
Celakanya ia berhadapan dengan pengawal rahasia Mataram, yang sebelum melakukan tugas telah memperoleh bekal keterangan-keterangan yang berharga dari Ratu Wandansari. Ia masih ingat benar akan pesan Ratu Wandansari yang mengatakan,
"Aku telah banyak mengenal tokoh-tokoh sakti. Maka kalian harus mengerti, bahwa sekalipun masih muda, orang yang bernama Jaka Pekik adalah lawan yang paling berbahaya. Tidak terhitung jumlahnya orang sakti mandraguna yang tidak malu mengaku takluk kepada dia. Maka apabila kalian berhadapan dengan bocah itu. janganlah kalian sembrono. Tokoh Gagak Rmang yang tingkatnya di bawah sedikit dengan Jaka Pekik, adalah Yoga Swara dan Madubala.Adapun tokoh yang lain hanyalah biasa saja, dan kiranya kalian akan mampu menghadapinya. Namun ada seorang tokoh Gagak Rimang yang perlu kauingat namanya. Dia bernama Lawa Ijo! Dia seorang yang memiliki gerak kilat, dan juga mempunyai ilmu pukulan atau aji bernama "Kapas Adem". Ilmu pukulan itu beracun, sehingga orang yang terkena pukulannya sulit ditolong jiwanya. Tetapi walaupun ilmu pukulan itu amat berbahaya kiranya kalian masih mampu menyambut dan mengimbangi! Yang perlu kalian selalu ingat dan cegah, adalah gerak kilatnya itu. Maka begitu berhadapan, paksa dan ikatlah orang itu, supaya tidak dapat menggunakan kecepatannya bergerak. Dengan cara demikian, aku percaya apabila kalian menghadapinya tidak akan kesulitan."
Ratu Wandansari justru luas pengalaman dan cerdik. Maka para pengawal itu percaya dan memperhatikan pesan tersebut. Sesuai dengan pesan Ratu Wandansari itu, maka begitu berhadapan, Sawungrana langsung mengikat Lawa Ijo dengan mengadu tenaga sakti.
Betapapun juga Sawungrana memperoleh keuntungan. Ia telah tahu bahwa lawan memiliki ilmu pukulan yang bernama Aji "Kapas Adem". Maka guna menghadapi sarangan aji tersebut, Sawungrana sudah dapat bersiap diri lebih dahulu. Tetapi sebaliknya Lawa Ijo masih buta tentang pengetahuannya terhadap musuh. Bagaimanakah mungkin ia bisa mengenal justeru bertemu baru sekarang ini?
Lawa Ijo tidak tahu bahwa lawannya memiliki aji yang sifatnya berlawanan dengan miliknya. Kalau Aji "Kapas Adem" itu bisa menyebabkan orang yang terserang menderita kedinginan luarbiasa dan darahnya keracunan, sebaliknya Aji "Dahana Muncar" sifatnya panas luarbiasa. Orang yang terserang isi perutnya hancur dan tubuhnya hangus.
Karena Lawa Ijo tidak menyadari keadaan lawannya ini.Begitu telapak tangannya melekat ke telapak tangan lawan ia tidak gentar sedikitpun, sebaliknya malah tenang.
"Hemm._.... orang ini .sengaja mencari mampus", pikirnya. Maka ia cepat mengerahkan tenaga saktinya, mendorong pengaruh Aji "Kapas Adem", disalurkan lewat tangannya, ke arah tubuh lawan. Akan tetapi betapa terkejut tokoh Gagak Rimang ini, ketika merasa bahwa aliran tenaga sakti yang sifatnya dingin itu, disambut oleh tenaga sakti yang sifatnya panas luar biasa. Dua macam tenaga sakti yang sifatnya berlawanan itu saling dorong dan saling desak. Kalau tenaga Lawa Ijo terdesak mundur, tokoh Gagak Rimang ini merasa tersiksa sekali. Sebab dalam tubuhnya mengalir hawa yang panas luar biasa, sehingga rasa tubuhnya seperti direbus. Sebaliknya apabila tenaga Sawungrana terdesak mundur kemudian tenaga dingin menyelundup masuk ke dalam tubuhnya, ia tersiksa karena menderita kedinginan. Keadaan yang demikian ini menginsyafknn hati dan pikiran masing masing. Sedikit saja lengah, nyawa sendiri tak mungkin tertolong.
Sadar akan keadaan ini, maka masing -masing mengerahkan kekuatan dan kemauannya, untuk menundukkan lawan. Namun dengan terjadinya benturan tenaga sakti yang sifatnya berlawanan ini, bagaimanapun pula menyiksa dua orang yang sedang bertempur itu. Masing masing merasakan tubuhnya seperti direbus dalam air yang mendidih. Peluh yang keluar dari tubuh mereka sebesar biji kacang tanah menetes ke tanah, dan membasahi pakaian mereka. Wajah masing-masing berubah merah seperti udang direbus. Dan dari ubun-ubun mengepulkan asap tipis yang tak pernah putus. Asap tipis yang mengepul di atas kepala Lawa Ijo agak hitam cepat buyar. Sebaliknya asap tipis yang mengepul di atas kepala Sawungrana agak merah, berkelompok dan baru buyar setelah membubung agak tinggi.
Melihat keadaan Lawa Ijo dan Sawungrana yang berdiri tegak seperti patung itu, diam diam semua murid Tuban yang menonton hatinya tegang dan berdebar. Walaupun tingkat murid-murid itu belum begitu tinggi, namun mereka cukup tahu akan akibat pertempuran semacam itu. Dalam pada itu Jalatunda yang makin terdesak oleh hawa pukulan yang amat panas itu, diam diam mengeluh juga!
Satu-satunya orang yang diharapkan dapat memberikan bantuannya, hanyalah Lawa Ijo. Tetapi ternyata kawan satu-satunya itu sekarang sedang berjuang antara hidup dan mati. Ia dihadapkan oleh kesulitanl!
Lari? Tidak!
Dirinya termasuk pimpinan Barisan Berani Mati. Kalau para anak buahnya tidak takut mati, rela mengorbankan nyawanya yang selembar itu, mengapa dirinya harus lari?
Sebagai seorang pemimpin ia harus bisa dijadikan tauladan. Kalau toh ia harus kalah melawan musuh ini, pilihan yang paling tepat adalah mati!
Mati sebagai seorang pahlawan, jauh lebih berharga dibanding' seorang yang mati sebagai pengecut.
Ingat akan keadaannya itu, tiba-tiba saja ia menjadi nekad. Terdengar kemudian suara yang melengking nyaring memekakkan telinga. Belum juga lenyap suara lengking yang tajam itu, tubuhnya melesat ke depan. Dua tangannya bergerak ke depan. Yang sungguh mengejutkan. gerakan Jalatunda itu tidak lagi ingat akan penjagaan diri. Melihat cara bergerak lawan itu, Sindu terkejut juga. Ia bisa menduga maksud lawan untuk mengadu jiwa. Sebenarnya ia tidak menghendaki, tetapi ia tidak bisa berbuat lain, kecuali harus keras lawan keras.
"Plak.......!_ Buk"... bukk.....!" Tubuh dua orang itu seperti layang layang putus. Terhuyung beberapa langkah ke belakang, kemudian roboh terguling. Namun dengan cepat Sindu bangkit duduk. Lalu tanpa memperdulikan apa-apa lagi. orang ini duduk bersila mengatur pernapasannya. Darah dalam tubuhnya bergolak dan napasnya sesak. Di pihak lain, begitu roboh terguling. Jalatunda muntah darah segar dan berusaha bangkit. Namun usahanya tidak pernah berhasil, seakan tangannya tidak kuat dipergunakan menopang tubuhnya untuk bangkit. Setelah tiga kali berusaha bangkit tak berhasil, akhirnya Jalatunda roboh miring. Matanya terpejam, sedang napasnya sesak terengah-engah, '
Tadi begitu Jalatunda menyerang dengan mengadu jiwa, Sindu menggunakan tangan kirinya untuk menyambut tangan kanan. Namun Jalatunda menurunkan serangannya memukul menggunakan tangan kiri, sebaliknya Sindu menggunakan tangannya yang kanan memukul juga. Maka hampir berbareng dada masing-masing terpukul.
Melihat itu Sarni amat marah sekali. Dengan pedang terhunus, ia melompat sambil menyabetkan pedangnya ke arah leher Subinem yang diam tak bergerak dengan mata terpejam. Untung Subinem waspada. Bentaknya marah,
"Bangsat curang !" sambil menggerakkan pedangnya untuk menangkis.
"Tranggg...... !" Pedang Subinem ternyata bukannya berbenturan dengan pedang Sarni, melainkan ditangkis oleh pedang Telasih. Perempuan ini tidak memberi kesempatan Subinem bernapas dan menghalangi Sarni. Ia cepat melihat Subinem dengan serangan-serangannya yang amat berbahaya.
Subinem penasaran dan amat marah sekali, di samping mengkhawatirkan keselamatan Sindu. Namun ia tidak dapat membagi perhatian. Ia harus melayani serangan serangan Telasih yang cepat sekali. Diam-diam Subinem kaget berbareng heran melihat berkelebatnya sinar pedang Telasih ini. Melihat dasar gerakannya, ilmu pedang yang dipergunakan Telasih itu adalah aseli ajaran Perguruan Tuban yang bernama Ilmu Pedang Janur Kuning. Akan tetapi gerak perkembangannya sudah banyak yang berubah. Kecuali tidak terduga-duga juga amat luar biasa. Setiap sambaran pedang itu menerbitkan angin yang dahsyat dan berbahaya.
Subinem tidak tahu. bahwa Ilmu Pedang Janur Kuning yang dipergunakan Telasih sekarang ini. adalah hasil penyempurnaan Rara Inten setelah berhasil menemukan catatan ilmu sakti di dalam pedang Jati Sari. Berkat kesungguhan Telasih berlatih, maka sekalipun belum bisa dikatakan sempurna. gerakan pedangnya sudah lebih berbahaya dibanding dengan sebelumnya.
Namun demikian Subinem tidak menjadi gentar. Selama ini, setelah ia diusir dan meninggalkan Perguruan Tuban, ia tak pernah bermalas-malasan dan berpeluk tangan menghabiskan waktu untuk tidur dan mimpi indah. Ia menggunakan setiap waktu guna melatih diri, meyakinkan ilmu dan menambah luasnya pengetahuan dan ilmu kesaktian dari tokoh-tokoh sakti yang sudi mengulurkan' tangan dan membimbingnya.
Keinginan, nafsu dan cita-citanya yang ingin merebut kedudukan sebagai ketua Perguruan Tuban, tidak pernah padam. Ia penuh kepercayaan bahwa sekali waktu, setelah ilmunya bertambah, ia tentu bisa mengalahkan Rara Inten, dan sekaligus menebus kekalahannya. Berkat ketekunan dan kesungguhannya melatih diri, ia memang telah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Oleh karena itu sedikitpun ia tidak gentar menghadapi Telasih yang gerakan pedangnya cepat seperti kilat itu. Satu-satunya yang mempengaruhi hatinya sekarang ini, adalah Sarni yang menyerang Sindu yang sudah tidak berdaya. Ia tidak mampu melindungi keselamatan pembantunya itu. dan apabila sampai terjadi Sindu mati di tangan Sarni, sungguh merupakan peristiwa yang selama hidup akan di sesalkan.
Namun karena desakan serangan Telasih, ia tidak boleh memecah perhatian. Pedangnyapun segera bergerak mengimbangi lawan. Dalam waktu yang singkat telah terjadi pertempuran yang seru dan sengit sekali.
Apabila bekas saudara seperguruan bertempur, maka jalannya pertempuran itu akan lebih cepat, seru dan sengit. Sebab pada dasarnya masing-masing telah mengenal ilmu yang dipergunakan. Yang lain hanyalah perkembangannya. Telasih telah memperoleh gemblengan Rara Inten. Sebaliknya Subinem yang telah berkelana itu, telah diperkaya oleh ilmu-ilmu lain yang dipelajari. Dalam arti kata lain. kedudukan Subinemlah yang lebih untung. Sebab dengan mencampuradukkan ilmu pedang Perguruan Tuban dengan ilmu pedang dari aliran lain, tidak sedikit yang tidak dikenal oleh Telasih.
Semua murid Tuban yang berdiri membentuk lingkaran memagari arena pertempuran itu, berdebar dan tegang. Mereka dihadapkan kepada kedudukan yang sulit. Untuk maju membantu dan mengeroyok Subinem, belum ada perintah dari Telasih. Tetapi untuk berdiam diri, mereka merasa seperti berdiri di atas bara api. Hanya para murid Tuban yang diam -diam tidak puas dengan tindakan Rara Inten yang menempatkan Perguruan Tuban di bawah pengaruh Gagak Rimang saja. sekalipun hatinya tegang dan cemas, diam-diam mengharapkan kemenangan pada pihak Subinem. Oleh sebab itu di antara murid yang tidak puas ini telah bersepakat, apabila terjadi tawuran, telah bertekad untuk membantu dan melindungi Subinem.
Demikianlah diam-diam diantara para murid Tuban itu telah terjadi perpecahan dan perang dingin. Setiap saat bisa terjadi saling gempur di antara saudara seperguruan sendiri.
Perhatian para murid Tuban lebih ditujukan kepada Subinem dan Telasih yang bertempur sengit. Memang bagi mereka pertandingan antara Telasih dan Subinem yang menggunakan kelincahan, kecekatan dan ilmu tata kelahi ini, lebih menarik dibanding dengan pertempuran antara Lawa ljo dan Sawungrana yang hanya berdiri tidak bergerak. Malah seakan merekapun tidak melihat perbuatan curang Sarni yang menyerang Sindu!
Mereka tidak sadar bahwa Sindu yang terluka dalam dan tidak berdaya itu, nyawanya terancam oleh Sarni. Sedang di samping itu, merekapun tidak tahu bahwa pertempuran antara Sawungrana dan Lawa Ijo sudah menginjak keadaan yang amat berbahaya. Asap bersemu hitam di atas kepala Lawa Ijo maupun asap bersemu merah di atas kepala Sawungrana sekarang makin tebal. Dan kalau tadi wajah dua orang itu merah seperti udang direbus, sekarang wajah itu sudah berubah pucat. Peluh yang mengucur dari tubuh dua orang itu sekarang makin berkurang. Hal ini disebabkan masing-masing ibarat lampu yang hampir kehabisan minyak. Tenaga sudah mereka peras dan kerahkan, sehingga sisa-sisa tenaga mereka tinggal sebagian kecil.
Lawa Ijo juga melihat robohnya Jalatunda yang kemudian roboh miring tidak bangkit lagi. Melihat itu ia kaget dan hatinya terguncang. Tetapi mendadak ia merasakan serangan hawa panas seperti membakar lengan dan tubuhnya. ia sadar, bahwa ia harus memusatkan kemauan dan tenaga guna melawan musuh ini. Begitu perhatiannya tak terpecah lagi, ia kembali bisa mengimbangi keadaan. Namun bagaimanapun pula Lawa ijo sudah menderita kerugian. Terpecahnya perhatian yang hanya beberapa detik itu, dan serangan hawa yang amat panas ke dalam tubuhnya, menyebabkan ia sudah menderita luka dalam. Oleh luka yang diderita itu, setelah ia dapat bertahan beberapa lama, ia merasa tenaganya dari sedikit terdesak, dan gelombang serangan lawan makin menghebat. Namun demikian ia mengerahkan tenaga yang masih ada guna memulihkan kedudukan. Sayang maksudnya ini tidak terujut, dan desakan lawan makin lama dirasakan makin kuat dan berat.
Baru sekarang ini sajalah selama hidupnya melawan musuh berat, dan Lawa Ijo tak dapat berkutik. Menghadapi saat-saat yang kritik ini, diam-diam ia menyesali kebodohannya yang terpancing oleh siasat lawan. Kalau ia tadi bisa menggunakan kelincahannya bergerak seperti yang biasa dilakukan, tidaklah mungkin ia menderita kesulitan seperti sekarang ini.
Makin kacau pikirannya dan tergoda oleh penyesalan atas perbuatannya sendiri, membuat pertahanannya semakin bobol. Hawa yang panas menerobos masuk lewat tangannya menyerang tubuh bagian dalam.
Tiba tiba terdengarlah suara ahh . seperti orang mengeluh. tubuh Lawa Ijo seperti tanpa tulang, roboh terguling miring di atas tanah. Sawungrana sendiri terhuyung huyung. Tetapi ia tidak roboh, hanya jatuh terduduk. Kakinya bersila, tangannya bersedakap dan sepasang matanya terpejam, guna meredakan kembali guncangan yang terjadi dalam tubuh sambil memulihkan tenaga yang terbuang dalam pertempuran antara hidup dan mati ini.
Agaknya suara ahh.... seperti orang mengeluh yang keluar dari mulut Lawa Ijo tadi, menyadarkan semua murid yang tadi asyik menonton pertempuran yang terjadi antara Subinem dan Telasih.
Mendadak mereka kaget ketika menyaksikan Lawa Ijo yang roboh miring. Muka tokoh Gagak Rimang itu sekarang hitam seperti pantat kuali. Murid-murid Tuban ini tidak tahu bahwa sesungguhnya muka Lawa Ijo itu sudah hangus terbakar dan nyawanya telah melayang.
Ketika melihat Sarni mereka semakin menjadi keberanan. Mereka merasa mimpi dan tidak percaya akan penglihatannya. Akan tetapi nyatanya mereka tidak seorangpun merasa tidur. Tetapi mengapakah Sarni itu?
Sarni tampak berdiri dalam sikap menikamkan pedangnya ke arah Sindu, dari arah belakang. Tangan kiri terangkat di atas kepala, jari telunjuk dan jari tengah mencuat ke atas. tetapi jari yang lain ditekuk. Tangan kanan dengan pedang menikam Sindo, dan ujung pedang itu hampir menyentuh punggung. Kaki kanan di depan dengan lutut sedikit ditekuk. kaki kiri di belakang. Tampaknya dalam usahanya menikam Sindu itu, Sarni menggunakan tenaganya yang ada. Perlunya, sekali tikam punggung dan dada akan ditembus oleh pedang.
Akan tetapi ternyata Sarni berubah bagai arca. Tidak bergerak, kaku namun pedangnya tak pernah dapat menyentuh punggung Sindu. Melihat keadaan itu, akhirnya murid-murid Tuban itu insyaf.
Ah, kiranya Sarni sudah berdiri kaku karena serangan seorang sakti yang belum mau menampakkan diri, membantu Sindu.
Seorang murid Tuban yang langsung merupakan murid Sarni, menjadi penasaran melihat gurunya dalam keadaan seperti itu. Ia seorang perempuan muda, kira-kira berusia sembilanbelas tahun, berwajah manis, bernama Sukinah. Ia mencabut pedang, diacungkan di atas kepala, lalu berteriak nyaring,
"Hai saudara-saudara. Keadaan sudah sedemikian rupa. Mengapa kalian hanya menonton? Hayo, kita bantu ibu ketua, keroyok!"
Murid murid Tuban yang setia kepada Telasih dan Sarni, segera menyambut dengan suara riuh dan sring sring-sing.. masing masing telah mencabut senjatanya. Namun tiba-tiba terdengarlah suara nyaring perempuan,
"Tahan! Tahan!"
Dari barisan sebelah utara meloncat maju seorang perempuan setengah baya. Perempuan ini kira-kira berusia empatpuluh tahun, bertubuh kurus, berkulit hitam gelap, wajahnya tidak cantik, sedang matanya sipit. Dia bernama Mirah. Murid langsung dari ketua lama yang telah meninggal, Nenek Anjani. Mirah ini merupakan saudara seperguruan Subinem, Telasih, Sarni maupun Rara Inten. Malah merupakan mbakyu perguruan apabila dibanding dengan Telasih dan Sarni. Sesungguhnya perempuan ini penasaran dan amat tidak puas sekali, mengapa justeru kedudukan ketua dan wakilnya diserahkan kepada Telasih dan Sarni, dan tidak kepada dirinya. Akan tetapi perasaannya itu selama ini disimpan dalam hati, karena takut kepada Telasih dan Sarni yang memperoleh perlindungan Gagak Rimang. Maka ia tidak berani berbuat apa -apa.
Akan tetapi sekarang ia merasa memperoleh kesempatan yang amat bagus, demi mencapai maksudnya. Ia ingin menunjukkan jasa untuk Subinem, dengan harapan apabila menang, dirinya bisa dipilih menjadi wakilnya. Ia tadi telah berhasil menghasut sekelompok murid Tuban, dan setuju kepada maksudnya membantu lawan. Kesempatan yang ditunggu-tunggu sejak tadi telah datang. Ia yakin bahwa di belakang Subinem masih ada seorang sakti yang belum menampakkan diri. Terbukti Sarni yang bermaksud bertindak curang, sekarang berdiri sebagai patung. Entah senjata apa yang dipergunakan, namun membuktikan bahwa yang melakukannya tentu seorang sakti mandraguna.
Gerakan murid murid Tuban atas anjuran Sukinah itu berhenti dan menahan senjata masing-masing sambil mengamati Mirah dengan wajah tegang dan heran. Mereka tidak mengerti maksudnya. mengapa menahan maksud mereka untuk bertindak membela ketua, mengeroyok lawan. Adalah Sakinah yang menjadi penasaran dan berteriak nyaring,
"Hai! Apakah maksudmu?"
Mirah tertawa terkekeh. Kemudian ia memandang murid-murid Tuban yang sudah sependapat dengan dirinya,
"Heh-heh-heh, kautanyakan maksudku? Hemmm, jelas! Kami tidak setuju dengan apa yang akan kamu lakukan. Jika kamu nekad akan membela ketua yang jahat itu, baik! Tetapi jangan sesalkan kami yang mempunyai pendirian sendiri. Kami berpihak kepada mbakyu Subinem."
"Akur........ akur !" sambut murid-murid Tuban yang berada di bagian timur.
"Setuju! Setuju!" sambut beberapa murid yang lain, yang terdengar dari segala penjuru. Agaknya begitu sependapat. murid-murid itu segera berpindah tempat guna mempengaruhi keadaan dan suasana.
Sakinah menjadi sangat marah sekali. Ia berteriak nyaring dengan pedangnya tetap teracung di atas kepalanya.
"Mirah! Engkau berkhianat?!"
"Hehhehheh. siapa yang berkhianat? Kamu ataukah kami?" jawab Mirah dengan nada yang mengejek.
'Hai, semua murid Tuban. Lupakah kamu kepada pesan terakhir mendiang guru besar kita, ibu Anjani? Kalau lupa, baiklah pada saat sekarang ini, perlu kamu kami ingatkan. Ibn Anjani ketika di Karta dahulu, lebih sudi gugur dari pada harus menerima pertolongan iblis Pekik. Bagaimanapun alasannya, Tuban tak bila berdampingan dengan Gagak Rimang. Kamu tahu?"


Kisah Si Pedang Buntung Lanjutan Ratu Wandansari Karya Widi Widayat di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mirah menebarkan pandang matanya ke seluruh penjuru, dengan pandang matanya yang amat tajam. Perempuan ini seperti sedang mencari kesan, apakah mereka mendengarkan apa yang sedang ia bicarakan. Ketika jelas tiada orang yang memberikan reaksi, Mirah melanjutkan makin lantang,
"Ingatkah kamu? Guru besar kita ibu Anjani telah mengorbankan nyawa, guna membela dan mempertahankan nama baik dan keagungan Tuban. Namun, apakah yang berlaku dan terjadi di perguruan kita ini sekarang? Ketua Rara Inten yang memperoleh kepercayaan kita, malah berkhianat. Lupa kepada pengorbanan guru besar kita. dan secara tak tahu malu menempatkan perguruan kita ini sebagai budak Gerombolan Siluman Gagak Rimang. Sesudah melakukan pengkhianatan dan menempatkan perguruan kita ditempat yang amat hina, Rara Inten tak bertanggung jawab dan pergi, tidak seorangpun tahu di mana dia. Sebagai akibatnya, Telasih dari Sarni dipilih oleh iblis Pekik untuk memimpin kita. Huh kita dipaksa menerimanya dengan ancaman dan tekanan. Tetapi sekarang, setelah mbakyu Subinem datang dan ingin menegakkan kewibawaan Tuban kembali, bagi murid Tuban yang baik tiada pilihan lagi kecuali mendukung sepenuhnya."
"Mbakyu Mirah benar!" sambut seorang wanita bertubuh denok yang berdiri berseberangan dengan Sukinah.
"Kita harus berdiri di belakang mbakyu Subinem, yang telah kita kenal secara baik pengabdiannya sebagai murid Tuban. Siapapun yang berani membantu Telasih dan Sarni, harus berhadapan dengan kami!"
Terjadilah kemudian suara yang hiruk-pikuk, berteriak-teriak keras saling mengatasi, karena suara dan pendirian murid-murid Tuban ini telah terpecah menjadi dua. membela pendirian masing-masing.
Tentu saja Sakinah menjadi amat marah dan penasaran sekali. Katanya marah dan giginya gemeretak. Saking marahnya, kakinya sampai agak menggigil. Teriaknya lantang,
"Saudara-saudaraku yang setia. Hayo serbu dan bunuh pengkhianat itu!"
Ia mendahului meloncat langsung menghampiri Sindu dengan maksud untuk membunuh. Puluhan orang yang lain mengikuti gerakannya dengan senjata masing-masing. menyerbu saudara -saudara perguruannya sendiri, yang dianggap berkhianat.
Hiruk-pikuk segera terjadi. Murid_ murid Tuban itu tawuran sendiri, senjata berdencingan dan di sana sini terdengar jerit ngeri kesakitan. Sungguh amat menyedihkan sekali. Mereka bertempur dan saling bunuh diantara saudara seperguraan sendiri. sebagai akibat perpecahan pendirian. sehingga masing-masing pihak merasa membela nama perguruannya, dan menganggap pihak lain telah berkhianat.
Di tengah keributan yang sedang terjadi itu, tiba-tiba terdengar pekik nyaring, pekik kesakitan dari mulut Telasih. Ternyata keributan itu telah menyebabkan ketua Perguruan Tuban yang diangkat Jaka Pekik ini menjadi gugup. Ia lengah, sehingga pedang Subinem yang ganas itu telah menancap di dadanya. Seketika itu juga Telasih roboh mandi darah dengan nyawa melayang.
Hampir berbareng dengan tewasnya Telasih itu, Sukinah menjerit roboh pula. Sebab tepat pada saat Sukinah mau menikamkan pedangnya pada dada Sindu, pengawal sakti dari Mataram ini telah membuka matanya, Sindu mengangkat tangan kiri, menggunakan dua jari untuk menjepit pedang yang meluncur ke dadanya. Tetapi tidak hanya sampai di situ. Sindu yang marah dan penasaran oleh kecurangan perempuan ini, menarik ujung pedang itu ke samping. Karena Sakinah ingin mempertahankan pedangnya, perempuan ini terhuyung, dan pada saat itu tangan kanan Sindu memukul.
Prak! Kepala Sakinah pecah seketika.
Ternyata ketika itu Sawungrana telah pula meloncat berdiri. Walaupun wajah orang itu masih pucat. dalam tubuhnya masih terluka, namun apabila hanya menghadapi para murid Tuban yang ilmunya belum begitu tinggi, tidak akan kesulitan.
Ketika Sindu melihat sikap Sarni yang kaku di belakangnya, Sindu insyaf bahwa hampir saja nyawanya melayang oleh kecurangan orang. Jelas bahwa pada saat dirinya sedang memulihkan tenaga, ada seorang yang menolong. Tentu saja gampang bagi Sindu untuk menerka, siapakah kiranya yang menolong pada saat dirinya dalam bahaya. Teriaknya nyaring.
"Kakang Reksogati! Mengapa engkau tidak cepat muncul ?"
"Huh heh heh!" terdengar suara orang yang terkekeh dari atas pohon. Dan sesaat kemudian laki-laki tua yang berkumis dan berjenggot lebat itu, telah melayang turun dari pohon. dengan gerakannya yang indah. Kakinya tidak bersuara ketika menginjak bumi, seperti seekor burung raksasa yang bersayap.
Melihat munculnya Ki Reksogati, hati Subinem semakin menjadi besar dan mantap. Sambil membabatkan pedangnya untuk menangkis senjata lawan, ia berteriak amat lantang dan nyaring.
"Hai, murid-murid Tuban, dengarlah! Yang menyerah, buanglah senjatamu dan akan diampuni. Yang melawan, kami tak akan memberikan ampun lagi!"
Teriakan Subinem ini amat besar sekali pengaruhnya. Orang yang sepaham dengan Mirah, segera berloncatan mundur sambil membuang senjatanya. Sedang bagi mereka yang tidak berpihak, tentu saja lebih suka hidup dan menyerah. Merekapun cepat-cepat membuang senjata, meloncat mundur berkumpul dengan yang lain.
Akan tetapi murid yang sependapat dengan Sukinah, dan setia kepada Telasihpun belasan orang jumlahnya. Murid-murid ini dengan dipimpin oleh Parti, masih terus menyerang ke sana ke mari, sehingga murid yang telah tidak bersenjata itu, ada beberapa orang yang menderita luka ringan. '
Sikap membandel Parti dan kawan-kawannya ini, meledakkan kemarahan Subinem. Ia berteriak nyaring sekali. Tahu-tahu tubuhnya telah melesat ke depan. pedangnya yang sudah bernoda darah itu, amat ganas sekali untuk mencari korban baru. Akan tetapi Ki Reksogati dan Sindu tidak menghendaki korban yang lain makin banyak.
"Anak Subinem. jangan!" Ki Reksogati berteriak, dan tahu-tahu hampir berbareng tubuh kakek itu bersama Sindu telah melesat ke depan, seperti anak panah lepas dari busur.
"Wut-wut-plak....... aihhh!" Subinem menjerit lirih karena tahu-tahu lengan kanannya lumpuh, dan hampir saja pedangnya lepas dari tangan. Kemudian ia memandang ke depan dengan mata terbelalak. Entah bagaimana cara Sindu dan Reksogati bergerak. Tahu-tahu belasan murid Tuban yang bermaksud melawan itu, semua sudah roboh tetapi tidak terluka dan tidak tewas. Meskipun agak mendongkol, tetapi Subinem menjadi puas. Sekarang, apa yang menjadi cita-citanya, merebut kedudukan sebagai ketua Perguruan Tuban, telah terujut berkat bantuan Ratu Wandansari. Maka perempuan ini segera menebarkan pandang matanya. Dada tua yang masih membusung itu dibusungkan lagi, sambil berdiri tegak. Teriaknya,
"Hai murid-murid Tuban yang setia. Lekas rawat mereka yang tewas, obati mereka yang terluka. Sedang pengkhianat-pengkhianat ini, cepatlah kalian masukkan dalam kamar tahanan!"
Mirah cepat berteriak.
"Saudara-saudara semua. berlututlah!"
Teriakan itu cepat diturut oleh ratusan murid Tuban.Mereka berlutut guna memberi hormat kepada Subinem, sebagai ketua perguruan yang baru. Namun meskipun berlutut, belum tentu murid-murid ini semuanya benar-benar tunduk. Pendirian mereka terpecah menjadi tiga. Pihak pertama. benar-benar tunduk dan mengakui Subinem sebagai ketua yang baru. Pihak kedua, sekalipun tampaknya tunduk, namun diam-diam dalam hatinya menyimpan rasa dendam dan penasaran. Mereka tunduk karena terpaksa. Dan pihak yang ketiga, merupakan kelompok orang-orang yang tidak mempunyai pendirian teguh. Yang penting bagi pihak ketiga ini, siapapun menjadi ketua di terimanya, asal masih tetap dapat hidup.
Demikianlah akhirnya, setelah murid-murid Tuban itu berlutut memberikan hormatnya kepada Subinem sebagai ketua yang baru. segera membagi tugas. Mirah memimpin dan yang menentukan tugas bagi sekalian murid Tuban, mana yang harus merawat mereka yang sakit, mana yang harus merawat mereka yang tewas untuk di kuburkan. Kemudian bersama belasan murid yang terpilih. Mirah memimpin murid-murid ini mengiringkan "sang ketua baru" menuju ke pendapa, bersama Ki Reksogati, Sindu dan Sawungrana. Di dalam pendapa yang luas ini, setelah sang ketua dan tiga orang pembantunya itu duduk, kemudian keluarlah hidangan guna penyegar tubuh.
Mirah yang amat ingin sekali dapat menjadi salah seorang kepercayaan sang ketua baru ini, selalu berusaha mengambil hati Subinem. Apa saja yang diperintahkan Subinem. ia selalu berada di depan.
Di dalam pendapa ini, antara Subinem, Ki Reksogati, Sindu dan Sawungrana segera menyelenggarakan perundingan seperti yang telah direncanakan Ratu Wandansari.
"Adi Sindu, Sawungrana dan kau anak Subinem. Tentunya kalian merasa heran. mengapa tiba-tiba akupun muncul di sini?" kata Reksogati sambil mengelus-elus jenggotnya.
"Itu bukan lain oleh kecerdikan dan kewaspadaan Gusti Kangjeng Ratu Wandansari. Ah, memang sulit mencari seorang cerdik seperti beliau, di samping seorang puteri yang amat berani. Beliau memang amat mengkhawatirkan keselamatan kalian. Itulah sebabnya aku segera diperintahkan supaya menyusul. Ternyata perhitungan dan dugaan Gusti Kanjeng Ratu Wandansari itu tidak meleset sedikitpun. Hampir saja usaha kita gagal. apabila aku tidak datang pada saatnya yang tepat."
"Benar!" Sindu mengangguk.
"Mungkin nyawaku sudah melayang oleh kecurangan lawan."
"Akupun hampir mampus di tangan Lawa Ijo!"
Sawungrana mengakui tanpa tedeng aling-aling.
"Ah, kalau saja tidak memperoleh bekal nasihat dari Gusti Wandansari, manakah mungkin aku bisa menang melawan Lawa Ijo?"
Dan Subinempun tidak bisa membantah bahwa kehadiran Reksogati yang tepat itu, menolong keadaan. Namun dasar Subinem seorang perempuan yang angkuh, lagi pula dalam kedudukannya yang sekarang, sebagai ketua perguruan yang besar, kurang pantaslah apabila menunjukkan kelemahannya di depan orang. Walaupun benar tiga orang ini merupakan orang-orang yang telah berjasa membantu tercapainya cita-cita.
"Tetapi yang penting, sekarang kita harus cepat melaksanakan perintah dan rencana Gusti Wandansari"kata Reksogati.
"Dan dalam hal ini. anak Subinemlah yang kita minta bantuannya. Sebab, pasukan Mataram yang tertahan di seberang sungai itu, harus secepatnya bisa menyeberang. Untuk itu, Perguruan Tuban harus mengutus orang yang bisa dipercaya ke sana. Orang-orang Gagak Rimang yang memperkuat pertahanan di sana, harus dibunuh mati dengan racun. Sedang bagi murid-murid Tuban, cukup dibuat lumpuh sementara agar tak bisa memberikan perlawanan. Setelah semua rencana selesai,barulah murid-murid Tuban itu ditolong, dan diberi tahu akan sebabnya."
Subinem menganggukkan kepalanya dan diam-diam ia memuji akan kecerdikan puteri Mataram itu.
"Tak sulitlah untuk melaksanakan rencana itu. Sejak tadi, sudah jelas kulihat, tidak sedikit murid Tuban yang berpihak kepadaku. Murid-murid itulah yang dapat aku percaya melaksanakan tugas. Kapan harus kita lakukan '.'"
"Lebih cepat lebih baik!"
"Baik. Sekarang juga murid-murid tepercaya itu dapat berangkat. Tetapi, yang bertugas di seberang sungai itu bukan melulu murid-murid 'Tuban dan Gagak Rimang. Lalu bagaimana dengan para perajurit Tuban sendiri?" '
"Perajurit-perajurit Tuban itu cukup dilumpuhkan saja. Siapa tahu ada gunanya bagi penyerbuan kita ke Tuban? Menurut rencana Gusti Wandansari, Tuban harus segera menyerah. Dengan demikian akan mempengaruhi keadaan, sehingga Surabaya kehilangan lagi kawan perjuangannya."
"Baiklah!" Subinem bertepuk tiga kali. Seorang murid Tuban segera datang, berlutut di depan Subinem penuh hormat.
"Panggillah Mirah kemari. Cepat!"
"Murid laksanakan." sahut murid itu sambil memberi hormat lagi, kemudian mundur.
Tak lama kemudian datanglah Mirah menghadap. Tanya sang ketua,
"Tahukah engkau, siapakah murid Tuban yang memimpin di seberang Bengawan Sala itu?"
"Pemimpin yang ditunjuk ketika itu, bernama Mardilah. Dia merupakan orang kepercayaan Telasih. Sedang pihak Gagak Rimang yang membantu bernama Kebo Jalu, bersama sejumlah pasukan Gagak Rimang." Mirah menerangkan.
"Ada apakah dengan mereka?"
'Hemm....... kita tak boleh bertindak kepalang tanggung. mengerti engkau ?" kata Subinem dengan nada ketus dan angkuh.
"Kita merupakan murid-murid Perguruan Tuban yang setia kepada pesan ibu Anjani sebelum meninggal. Maka segala sesuatu yang berbau Gagak Rimang harus dihancurkan, harus dimusnakan."
'Jadi.... mereka harus kita bunuh?"
"Mengapa engkau masih bertanya lagi? Dan tahukah engkau, bahwa Sekalipun murid Tuban sendiri, kalau memang membahayakan harus disingkirkan pula."
Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Namun ada sesuatu yang membuat perempuan ini regu-ragu.
"Tetapi mereka di sana bertugas, guna mempertahankan Tuban dari penyerbuan Mataram. Kalau sampai pihak Mataram berhasil mengalahkan Tuban, bukankah Perguruan Tuban sendiri dalam bahaya?"
'Hi-hi-hik... ternyata engkau bodoh'sekali, Mirah. Hemm. biarlah engkau ketahui sejelasnya, agar engkau tidak bingung." Subinem tersenyum, dengan menggunakan matanya ia minta persetujuan Reksogati dan yang lain. Ketika tiga orang itu menganggukkan kepala tanda setuju, Subinem mulai menerangkan,
"Mirah, engkau seorang murid setia, dan pula telah berjasa dalam usahaku menyingkirkan Telasih yang menjadi kakitangan iblis Pekik. Maka kepadamu, tiada rahasia yang perlu aku sembunyikan. Begini, Mirah. tiga orang tamu kita ini bernama Ki Reksogati, Sindu dan Sawungrana. Tiga orang tamu kita atau beliau-beliau inilah sesungguhnya yang telah menolong kita. Tanpa bantuan beliau bertiga, manakah mung kin kaki-tangan Gagak Rimang itu bisa kita hancurkan? Tetapi yang jelas tiga orang beliau yang tidak bisa kita sangsikan kesaktiannya ini, tidaklah mungkin sedia mambantu kita; tanpa uluran tangan Gusti Wandansari."
"Ohhh......!" Mirah terkejut dan mendadak wajahnya pucat.
'Manakah... mungkin....n?"
"Mirah!" bentak Subinem sambil mendelik.
"Siapa bilang tidak mungkin, terjalinnya kerjasama antara Tuban dengan Mataram. untuk menghadapi musuh besar kita Gagak Rmang? Hayo katakanlah! Sanggupkah kita berdiri sendirian menghadapi dua orang musuh? Satu pihak Mataram yang amat kuat, sedang di pihak lain. Gigak Rimang yang sekarang dibantu Surabaya? Apakah perguru an kita ingin mati konyol tanpa mau memilih salah satu pihak yang menguntungkan kita ?" '
"Oh ahhh...... mbakyu benar!" kata Mirah kemudian sambil memukul pahanya sendiri.
"Tindakan mbakyu ketua amat cerdik, dan saya percaya bakal membawa kebesaran Perguruan Tuban. Ahh. benar. Kita lebih untung bersahabat dengan Mataram yang jaya. Dengan demikian, kita akan bisa menghancurkan Gagak Rimang dengan gampang."
Ternyata bahwa Mirah ini merupakan salah seorang murid Tuban yang licik dan tiada pendirian. Buktinya, tadi ia mengemukakan manakah mungkin, sekarang dalam waktu singkat sudah berubah. Mendukung keputusan dan siasat Subinem. Tentu saja sikap ini sikap penjilat, yang hanya mencari keuntungan untuk diri pribadi.
"Bagus! Engkau bisa mengerti apa yang aku maksudkan." Subinem memuji.
"Nah, sesudah engkau tahu keadaan yang sebenarnya, engkau harus bisa melaksanakan tugasmu dengan baik. Gusti Wandansari telah memberi kepercayaan kepada kita. maka beliau sedia mengulurkan tangan dengan mengirimkan tiga orang beliau yang sakti ini. Itulah sebabnya, maka kita harus menggunakan seluruh tenaga dan pikiran, guna membalas budi kebaikan Gusti Wandansari."
'Baik," sahut Mirah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seperti seekor burung beo,
"Jadi pendeknya pertahanan Tuban di sana harus kita hancurkan. Kemudian memberi kesempatan kepada pasukan Mataram menyeberang Bengawan Sala, untuk menyerbu dan menghancurkan Tuban?"
'Bagus, engkau cerdik. Itulah balas budi pertama yang harus kita haturkan kepada Gusti Wandansari. Dan engkau tidak perlu khawatir. Sebab beliau bertiga ini akan melindungi keselamatanmu. Sudah jelas?"
"Sudah jelas! " sahut Mirah mantap.
"Bawalah duapuluh orang saudaramu yang bisa di perCaya." Perintah Subinem.
"Hati-hatilah kamu bekerja, jangan sampai gagal. Apabila gagal. tahu sendiri hukuman apa yang harus kamu terima!"
Mirah menganggukkan kepala tanda mengerti.Kemudian Sawungrana memberikan dua bungkus obat. Sebungkus obat yang bungkusnya merah, merupakan bubuk obat yang membuat orang mengantuk, kemudian tertidur, Sedang yang bungkusnya putih, berisi racun yang ampuh. Setiap orang yang makan racun telah dicampurkan dalam makanan, sulit bisa ditolong lagi. Racun yang mematikan itu melulu untuk orang-orang Gagak Rimang, sedang racun yang membuat orang tidur itu, adalah bagi murid-murid Perguruan Tuban dan pasukun Kabupaten Tuban.
Dengan cepat Mirah segera mempersiapkan sandara'saudaranya untuk melaksanakan tugas. Murid-murid Tuban ini berangkat lebih dahulu. Sedang Reksogati, Sindu dari Sawungrana menyusul kemudian. untuk membayangi dan melindungi keselamatan murid Tuban yang bertugas itu.
Subinem sendiri segera meninggalkan pendapa, masuk ke dalam rumah besar. diiringkan oleh beberapa orang murid Tuban laki-laki dan perempuan yang bertindak sebagai pengawal. Ia melihat bahwa keadaan dalam rumah itu. tidak terjadi sesuatu perubahan. Baik warna dinding maupun hiasan rumah itu, maSih seperti dulu ketika ia belum diusir dari rumah ini.
Ia berkeliling untuk memeriksa seluruh bagian rumah perguruan. Kemudian yang terakhir, ia masuk ke dalam kamar penyimpanan pusaka. '
Kamar itu tiada perubahan. Beberapa macam senjata masih tetap pada tempatnya. bergantungan pada dinding kayu dalam kamar itu. Akan tetapi Subinem menjadi bertanya-tanya dalam hati. Ke manakah sekarang, pedang Jati Sari yang ditakuti orang itu?
Tadi Telasih tidak menggunakan pedang itu. Namun mengapa dalam kamar pusaka tidak ada?
Mungkinkah pedang pusaka Jati Sari itu masih di tangan Rara Inten?
Ia cepat memerintahkan tiga orang murid supaya datang ke tempat tahanan, untuk memanggil Sarni. Tiga orang murid yang diperintah itupun negera berangkat. Tak lama kemudian, Sarni telah dibawa menghadap ketua dengan tangan dibelenggu, dan dikawal oleh dua belas murid Tuban yang bersenjata pedang telanjang.
Begitu tiba di depan Subinem yang duduk di atas kursi besar terbuat dari gading gajah, yang dahulu merupakan tempat duduk Nenek Anjani, dua belas orang murid yang mengawal itu segera berlutut memberikan hormatnya. Akan tetapi Sarni tidak mau berlutut. Ia berdiri tegak dengan dada membusung, sepasang matanya berkilat kilat penuh kemarahan memandang Subinem. Agaknya bekas wakil ketua ini masih amat penasaran terhadap apa yang baru saja terjadi, sehingga Telasih terbunuh mati. sedang dirinya ditawan, tangannya dibelenggu dan tidak bisa bergerak bebas.
Subinem mendelik.Bentaknya.
"Kau tak mau berlutut '!"
Sarni tersenyum mengejek. Sahutnya ketus,
"Huh huh, siapa sudi berlutut di depanmu ?" Engkau bukanlah ketua yang sah. Engkau pengkhianat perguruan yang telah diusir dari pintu perguruan. Tetapi huh-huh. tak tahu malu engkau datang kembali dan memberontak."
Kalau menurutkan wataknya, sebenarnya ia ingin menghunus pedang, kemudian memancung leher Sarni ini biar kepala putus dari badan. Akan tetapi Subinem ingat akan pesan Ki Reksogati, bahwa guna menarik'perhatian semua murid dan menanamkan pengaruhnya, sebaiknya tidak digunakan kekerasan. Sebab kekerasan hanyalah membuat orang mendendam dan penasaran, yang sewaktu waktu bisa meletus menjadi pemberontakan. Untuk itu, maka oleh Reksogati dipesankan agar Subinem dapat menanamkan pengaruh kepada murid-murid Tuban, agar menjadi murid-murid setia yang bakal menjadi pembela dan pelindung kedudukannya sebagai Ketua Perguruan Tuban.
Teringat'akan nasihat Reksogati itu, maka Subinem tidak menjadi marah, malah tertawa _terkekeh.
"Baik! Boleh engkau tidak berlutut di depanku. Dan kalau sekarang engkau aku panggil, aku Ingin mengajukan pertanyaan, dan kuharap engkau menjawab secara jujur."
"Huh-huh, engkau akan menanyakan soal apa? Tetapi janganlah engkau mencoba untuk menanyakan tentang adi Rara Inten. Sebab kalau aku tahu tempat tinggalnya, dan dia tahu pengkhianatanmu ini, huh-huh, apakah engkau sanggup menghadapinya? Hi-hi-hik... aku khawatirkan apabila engkau lari ketakutan seperti waktu itu !' sahut Sarni dengan mengejek dan merendahkan Subinem.
Panas juga perut Subinem mendengar ejekan itu. Namun kemendongkolan dan penasarannya itu ditahan dalam hati. Perempuan ini telah menjadi tawanannya. Kalau ia mau, tiada halangannya untuk menyiksa maupun membunuhnya. _
"Dengarlah pertanyaanku. Aku tadi telah memeriksa kamar pusaka. Namun ternyata pusaka pedang Jati Sari tidak tampak. Engkau sembunyikan di manakah pedang itu ?"
"Aku tidak tahu !' sahut Sarni ketus.
"Apa ? Jawablah yang benar. Di mana pedang pusaka itu ?"
"Kalau aku bilang tidak tahu, engkau mau apa? Tanyakan sendiri kepada adi Rara Inten." Sarni mendelik.
"Aku hanya tahu, bahwa pedang pusaka Jati Sari maupun pedang Jati Ngarang telah patah menjadi dua."
"Apa? Patah. menjadi dua? Siapa yang telah mematahkan.........?" Subinem kaget.
Memang peristiwa tentang patahnya pedang pusaka Jati Ngarang maupun pedang Jati Sari itu belum didengar oleh Subinem. Sebab selama ini, ia selalu menghindarkan diri pertemuan dengan siapapun.
Sarni tertawa mengejek,
"Hi-hi-hik....t.. engkau menjadi kecewa? Aku tahu, aku tahu bahwa sesungguhnya engkau sangat berharap dapat menguasai baik 'pedang Jati Ngarang maupun pedang Jati Sari. Karena engkaupun tahu akan rahasia pedang itu. Engkau jangan mimpi, hi-hik, hanya adi Inten seorang yang beruntung memperoleh ilmu kesaktian itu."
Kata-kata Sarni itu secara tepat membuka rahasia hatinya. Akibatnya ia menjadi marah. Bentaknya,
"Tutup mulutmu! Jika engkau tak ingin dibunuh atau diusir dari pintu perguruan. engkau harus pandai menyesuaikan diri. Tahu? Menganggap atau tidak, sekarang aku ketua Perguruan Tuban. Akulah yang berhak menentukan segala sesuatunya !" ' '
Walaupun tangannya dibelenggu, Sarni tidak perduli. Ia tertawa terkekeh mengejek. Jawabnya tetap ketus dan angkuh. Sama sekali ia tidak takut akan ancaman Subinem.
'Hik-hik-hik......engkau bisa mengancam orang, tetapi aku, huh-huh, jangan engkau mimpi! Dengan dalih apapun engkau adalah murid yang telah diusir dari perguruan. Engkau murid murtad! Engkau boleh menyiksa aku, boleh membunuh, siapa yang takut? Aku telah menjadi tawananmu! Jika engkau memang seorang ketua yang ingin menegakkan perguruan. bunuhlah aku yang melawan engkau sebagai ketua!"
Sepasang mata Subinem seperti memancarkan api saking marahnya, mendengar tantangan Sarni yang terang terangan itu. Namun ia menyabarkan hati dan menekan perasaan. Tetapi bagaimanapun juga, sebagai "seorang pemimpin", ia tak mau direndahkan orang. Bentaknya nyaring sambil mendelik,
"Bangsat busuk! Kau berani menantang aku! Huh-huh. kalau saja aku tidak ingat hubunganmu dengan aku sebagai murid-murid ibu Anjani, apakah sangkakan aku tak tega membunuhmu?"
Subinem menatap Sarni dengan sepasang matanya yang berapi-api. Namun sama sekali Sarni tidak takut. Pendirian Sarni. ia lebih baik mati daripada harus tunduk kepada Subinem. Maka iapun menatap Subinem dengan sepasang mata yang memancarkan kebencian dan kemarahan. Tantangnya sambil membusungkan dada.
"Mau bunuh, bunuhlah! Siapa takut? Aku amat muak sekali melihat tampang pengkhianat seperti engkau!"
Memuncak kemarahan Subinem oleh sikap Sarni yang amat menantang dan menghina itu. Dan kalau saja tidak dilarang oleh Reksogati, tangan Subinem sudah gatal untuk memancung leher perempuan ini. Akan tetapi Subinem masih menyabarkan diri dan menekan 'perasaannya. Tanyanya dengan agak sabar.
"Sarni! Mau membunuh engkau apa sulitnya? Siapa yang berani melawan perintahku? Tetapi aku tidak ingin berbuat sewenang wenang. Aku ingin mendengar jawaban dan keteranganmu. Dan aku berharap, engkau mau menerangkan terus -terang. Jawablah pertanyaanku, di manakah pedang pusaka Jati Sari yang telah patah menjadi dua itu? Di tangan adi Inten, Jaka Pekik, ataukah engkau simpan? Tentunya sebagai murid Tuban engkau tahu juga arti penting pedang pusaka itu yang merupakan pedang pusaka dari para leluhur pendiri perguruan kita."
"Hemm... sejak semula aku sudah menduga. akhirnya engkau akan menanyakan soal ini. Hihi-hik," sahut Sarni masih dengan sikapnya yang merendahkan Subinem.
"Sejak dahulu kala, setiap ketua Perguruan Tuban, tidak pernah terpisah dengan pedang Jati Sari. Jadi......... jika engkau sekarang merasa dirimu sebagai pemimpin Perguruan Tuban, engkau merasa kurang gagah tanpa pedang itu, bukan? Hi -hihik . tak perlu engkau......"
"Sarni" bentak Subinem memotong kata-kata Sarni yang membuat telinganya merah itu.
"Jangan engkau asal bisa membuka mulut. Lekas katakan, di mana pedang Jati Sari itu sekarang?"
"_Engkau tak bisa menggertak aku! Hi-hi-hik........ sekalipun kaubunuh dan kausiksa...... tak akan mungkin aku membuka mulut tentang itu.....!"
Sejak tadi Subinem sudah menekan kemarahannya dan menyabarkan diri. Pada hal sebenarnya ia seorang perempuan yang gampang tersinggung dan pemarah. Maka jawaban Sarni itu membuat Subinem tak lagi dapat menguasai kemarahannya. Bagi Subinem yang sekarang dalam kedudukannya sebagai ketua Perguruan Tuban, tentang pedang Jati Sari itu penting sekali kedudukannya. sekalipun sudah patah menjadi dua. Setidaknya pedang itu, jika tak dapat disambung kembali, masih akan bisa memberikan wibawa dalam kedudukannya. Maka Sarni harus mau menerangkan terusterang, di manakah, pedang itu sekarang. '
Akan tetapi sebaliknya ia tahu, bahwa Sarni akan tetap kukuh pendiriannya. Dia tak akan mau mengaku sekalipun disiksa maupun dibunuh. Dan kalau Sarni di bunuhnya, berarti tentang urusan pedang itu akan tetap gelap, dan berarti pula melanggar pesan Reksogati. Untung sekali Subinem seorang perempuan yang cerdik dan licik pula. Sebagai seorang perempuan, tentu saja tahu benar akan kelemahan perempuan yang lain. Lebih lagi bagi murid perempuan Perguruan Tuban. Apabila menghendaki memperoleh penghargaan dari setiap murid Tuban yang lain, harus tetap sebagai gadis suci, sekalipun usia makin bertambah. Tetapi tidak berarti murid perempuan tidak boleh kawin. Boleh! Akan tetapi setiap murid yang telah kawin, walaupun masih tetap merupakan murid Perguruan Tuban, dilarang menginjakkan kaki di rumah perguruan lagi. Resminya tidak dipecat, akan tetapi sama pula tidak diakui sebagai murid lagi. Jadi bagi seorang murid perempuan yang bercita-cita tinggi ingin memperoleh kedudukan. sebagai ketua perguruan maupun jabatan pengurus perguruan, setiap murid perempuan harus tetap sebagai gadis suci selama hidupnya. Syarat ini cukup berat, namun hampir semua murid perempuan patuh terhadap peraturan perguruan ini.
Dan Sarni ini, walaupun usianya sudah lebih tiga puluh tahun, namun merupakan seorang gadis suci pula. Subinem tertawa terkekeh. Ia sudah memperoleh cara untuk menundukkan "murid" yang bandel dan keras kepala ini.
"Bagus! Aku ingin melihat, apakah engkau masih tetap keras kepala dan membantah perintahku. Hihi-hik! Akan tetapi mengingat hubunganku denganmu, dan mengingat pula jasamu kepada perguruan, sekali lagi aku peringatkan kepadamu. Berilah jawaban terus terang segala pertanyaanku, sebelum aku menjadi marah!"
Sarni mendengus dingin.
"Hemm.......... engkau boleh menggertak orang lain, tetapi tak mungkin engkau bisa menggertak padaku! Siksalah dan bunuhlah, siapa takut? Tetapi jangan engkau mengharapkan aku menjadi seorang pengkhianat perguruan seperti engkau!"
Subinem tak kuasa menahan kemarahannya lagi. Ia menyemburkan ludahnya, sehingga wajah Sarni seperti disemprot air. Wajahnya terasa panas dan pedas. Sarni amat terhina sekali dan mencaci-maki.
"Bangsat busuk! Biadab! Bunuhlah, jangan berbuat pengecut seperti ini! Hayo, bunuh sajalah aku......"
Subinem tertawa mengejek, tidak menjawab caci-maki Sarni. Setelah itu, memerintahkan kepada murid-murid perempuan yang bertindak sebagai pengawal, supaya membawa Sarni ke dalam sebuah kamar. Subinem mengikuti di belakangnya. Murid-murid perempuan itu segera diperintahkan meninggalkan kamar. Pintu ditutup, lalu hardik Subinem dengan mendelik,
"Sarni! Sekali lagi aku berikan kesempatan kepadamu, terangkanlah dimana sekarang pedang Pusaka Jati Sari yang telah patah itu. Jika tidak. jangan sesalkan aku berbuat keterlaluan!"
"Lebih baik aku mati dari pada harus berkhianat! " sahut Sarni dengan lantang dan tegas.
"Baik! Engkau sendiri yang membuat aku habis sabar." Subinem bertepuk tangan tiga kali. Masuklah dua orang murid perempuan, dan memberikan hormatnya dengan berlutut. Kemudian perintahnya,
"Panggil sepuluh orang murid laki-laki angkatan kelima. Cepat!"
Murid perempuan itu menyanggupkan diri sambil memberikan hormatnya. Akan tetapi sambil melangkah melaksanakan perintah, diam-diam dua orang murid ini heran dan bertanya tanya. Apakah maksud ketua baru ini memanggil murid laki-laki angkatan kelima?
Murid murid yang dimaksud, rata-rata masih amat muda. Usia mereka baru sekitar duapuluh tahun saja. Apakah "ketua baru" ini ingin menyiksa bekas wakil ketua itu, menggunakan murid-murid yang tingkatnya paling rendah, agar Sarni terhina?
Demikian pula Sarni yang berdiri dengan tangan dibelenggu itu dalam hatinya bertanya tanya. Apakah maksud Subinem?
Sebagai seorang saudara perguruan. ia telah mengenal betul watak tabiat Subinem yang licik, kejam dan tak segan mencelakakan orang lain demi keuntungan sendiri.
. Ia masih ingat nasib Endang Bratajaya. Dahulu, Endang Bratajaya merupakan murid terpandai, tercantik dan terkasih. Nenek Anjani amat sayang kepada murid itu. Endang Bratajaya sejak lama telah dicalonkan untuk menduduki ketua Perguruan Tuban. Pilihan Anjani ini bagi para murid Tuban dianggap tepat sekali. Sebab, di samping Endang Bratajaya seorang cantik, sabar, baik hati dan bijaksana, adalah juga tunangan Jaka Lambang murid Perguruan Kemuning. Dengan terikatnya perkawinan antara Endang Bratajaya dengan Jaka Lambang itu, dapat diharapkan akan membawa kemajuan bagi Perguruan Tuban.
Memang ketika itu terjadi persoalan pula, mungkinkah Endang BrataJaya setelah kawin dengan Jaka Lambang masih mempunyai hak menjadi ketua perguruan? Anjani menyatakan berhak dan tidak menyalahi peraturan perguruan. Asal saja perkawinan Endang Bratajaya itu berlangsung setelah Endang Bratajaya menduduki jabatan ketua.
Pilihan Anjani yang jatuh kepada Endang Bratajaya ini membuat Subinem tidak senang. Hanya karena takut kepada guru, ia tidak berani berbuat apa-apa. Hanya secara diam-diam, Subinem selalu berusaha menggagalkan Endang Bratajaya sebagai ketua. Secara kebetulan Subinem ditugaskan bersama Endang Bratajaya. Subinem mengetahui bahwa selama bertugas itu, Endang Bratajaya tertawan oleh Yoga Swara, seorang tokoh sakti dari Gagak Rimang. Dalam kekuasaan Yoga Swara inilah kemudian Endang Bratajaya diperkosa. Subinem mengetahui rahasia ini. ketika secara tak sengaja ia dapat melihat bahwa tanda "mustikaning wanodya" pada lengan Endang Bratajaya telah lenyap. Hal itu merupakan pertanda. bahwa kegadisannya telah hilang. .
Peristiwa ini kemudian dilaporkan oleh Subinem kepada gurunya. Maksudnya tiada lain agar kemudian dirinya memperoleh kesempatan menduduki calon ketua. Sebagai akibat laporan Subinem ini, Endang Bratajaya terpaksa harus melarikan diri, sebab akibat perkosaan Yoga Swara itu Endang Bratajaya harus melahirkan anaknya. Namun ternyata kemudian Endang Bratajaya tak dapat menyelamatkan diri dari kejaran maut. Endang Bratajaya meninggal oleh tangan gurunya sendiri. (Agar dapat mengikuti secara jelas peristiwa ini, silahkan anda membaca cerita. "Jaka Pekik" dan "Ratu Wandansari", oleh pengarang dan penerbit yang sama).
Teringat akan watak Subinem yang demikian ini, khawatir juga Sarni yang tak berdaya ini. Apakah maksud Subinem memanggil murid-murid yang masih muda itu?
Mungkinkah Subinem akan menghina dirinya dengan para murid-murid itu?
Hatinya berdebar dan tegang. Ia menunggu tindakan Subinem dengan hati yang amat gelisah.
"Mengapa engkau memanggil murid laki-laki? Dan apa pula maksudmu?"
Subinem ketawa terkekeh mengejek.
"Tunggu saja apa yang akan kulakukan. Aku akan melihat, apakah engkau akan tetap keras kepala ataukah tidak."
"Katakan!" desak Sarni.
"Apakah yang akan kaulakukan?"
"Hi-hik-hik. engkau sudah khawatir dan takut?" ejek Subinem.
'Jika engkau memang takut. katakan terus terang di mana pedang pusaka Jati Sari itu sekarang"
'Aku tak sudi! Sekalipun engkau bunuh, silahkan!"
'Hi-hi-hik, siapa yang akan membunuh dan menyiksamu? Tidak! Aku kasihan padamu. Maka nanti, setelah murid-murid yang masih muda itu datang, hanya akan kuperintahkan membuatmu senang. Biarlah murid murid itu mencopot seluruh pakaianmu! Hi-hi-hik......... kau takut dan ngeri?"
subinem senang sekali melihat wajah Sarni yang mendadak pucat. tubuhnya menggigil dan matanya terbelalak kaget. Dalam hatinya Subinem sudah amat senang sekali. Ia percaya, bahwa sekali ini Sarni takkan berani keras kepala lagi. Sarni tentu lebih suka memberitahukan di mana pedang pusaka Jati Sari yang telah patah itu disimpan, daripada harus menelan penghinaan sedemikian rupa. Bagi seorang wanita yang tahu akan kedudukannya sebagai wanita, penghinaan itu hanya bisa ditebus dengan nyawanya. Lebih baik mati daripada harus hidup tiada harga lagi.
Ancaman itu benar-benar membuat Sarni kaget setengah mati, dan hampir pingsan karenanya. Sarni cukup mengenal watak tabiat Subinem. Kalau ia tetap membandel dan keras kepala, ancaman itu tentu bukanlah ancaman kosong. Subinem akan sanggup melakukan benar-benar. Ahh, ia dapat membayangkan dengan hati ngeri, apa yang akan dialaminya setelah murid-murid itu diperintah. Murid-murid itu walaupun hatinya terasa berat, tentu melaksanakan perintah "sang ketua".
Tetapi dalam keadaan takut dan ngeri akan akibat yang akan menimpa dirinya, Sarni masih mencoba membela diri.
"Subinem! Benarkah engkau akan melaksanakan niatmu yang amat jahat itu guna menuruti kemauanmu?"
'Hi hik. mengapa tidak? Aku ingin melihat keadaanmu, apakah tetap keras kepala ataukah tidak, setelah engkau tanpa pakaian dihadapi oleh laki-laki muda."
"Biadab! Manusia busuk! Manusia berhati iblis!" Sarni yang tak kuasa menahan kengerian itu mulai mencaci maki kalang kabut. .
"Caci makilah aku sesuka hatimu. Huh . huh tetapi awas! Aku mempunyai wewenang tak terbatas! Sebagai ketua aku dapat memerintahkan apa saja kepada semua murid Tuban." "
Sami terbelalak.
"Akan engkau perintahkan apalagi? Manusia busuk .....!" . '
Subinem tertawa nyaring.
"Bukan hanya mencopot pakaianmu. jika kau tetap keras kepala. Biarlah mereka nanti menggagahimu.. hi-hik"
"Apa?!" lengking Sarni terbelalak. Tubuhnya makin gemetaran menggigil, sekalipun ia berusaha menguatkan hati.
'Hai, Subinem, manusia biadab! Apakah engkau sengaja akan merusak peraturan perguruan, membuat perguruan tanpa hukum, dan hancur berantakan? Hai.... manusia busuk... sudahkah engkau pikirkan soal ini...?"
Dalam ketakutan dan kengeriannya, Sarni masih berusaha menyelamatkan diri dari ancaman hinaan, dengan mengingatkan Subinem tentang peraturan perguruan yang ada. Maksudnya, apabila Subinem ingat, takkan sanggup lagi melaksanakan kebiadaban itu.
Memang, dalam Perguruan Tuban ada peraturan yang amat keras sekali dalam soal hubungan laki-laki dan wanita. Peraturan itu dibuat oleh perguruan, mengingat bahwa jumlah murid Tuban amat banyak,dan terdiri dari lakilaki serta perempuan pula. Dalam peraturan itu disebutkan, bahwa barang siapa yang berani melakukan perbuatan tak senonoh antara murid Perguruan Tuban, pelanggaran susila itu diancam dengan hukuman "bunuh mati"!
Akan tetapi apabila kesalahan itu tidak begitu berat, hukumannya diperingati sedikit, berarti masih hidup. Murid itu hanya akan dipecat dari Perguruan Tuban ditambah dengan dimusnakannya seluruh kepandaian ilmu tatakelahi, yang sudah diperoleh selama belajar.
Hukuman dimusnahkannya semua ilmu yang sudah di peroleh selama belajar itu, walaupun manusianya sendiri masih hidup. namun pada hakekatnya malah akan lebih menderita selama hidupnya. Sebab yang bersangkutan akan menjadi seorang cacat jasmani, seorang yang lemah tanpa tenaga lagi, dan hidupnya memerlukan pertolongan orang lain.
Akan tetapi walaupun peraturan itu dipegang amat keras sekali. masih pula dikhawatirkan terjadinya pelanggaran susila itu. Maka dahulu, ketika Nenek Anjani masih hidup, Anjani selalu memeriksa dengan teliti kepada lengan setiap murid perempuan, setahun sekali. Apabila titik merah pada lengan di atas siku itu masih ada, berarti murid itu masih tetap suci. Benda yang dinamakan "mustikaning wanodya" dan merupakan tanda keperawanan itu, secara ajaib menghilang sendiri apabila gadis itu sudah bukan perawan lagi.
Dalam pada itu, mengingat bahwa terjadinya hubungan pelanggaran susila lebih banyak dimulai oleh pihak laki: .laki, maka Perguruan Tuban-pun membuat ketentuan khusus. Bahwa tingkat pendidikan maupun ilmu kepandaian yang diberikan kepada murid laki-laki, selalu lebih rendah dari murid perempuan. Perlunya, murid lakilaki tidak akan berani sembrono kepada murid wanita_
Kalau Sarni sekarang memperingatkan Subinem tentang peraturan perguruan, adalah tepat. Sekarang, bagai manapun pula, Subinem merupakan "ketua". Bukankah Subinem sengaja merusak peraturan perguruan itu sendiri. kalau melakukannya?
Dan apabila "ketua" sendiri telah memulai. sama artinya sengaja menghancurkan perguruan.
Sarni memang seorang murid wanita Perguruan tuban yang amat setia. Itulah sebabnya walaupun sekarang dirinya terancam oleh bahaya mengerikan", ia masih dapat memikirkan keselamatan perguruan dari kehancuran.
Tetapi di pihak lain, Subinempun bukan seorang bodoh dan tolol. Tentu saja setelah ia berhasil merebut kedudukan Ketua Perguruan Tuban, takkan merusak dan menghancurkan apa-apa yang telah baik. Malah kalau perlu ia akan menambah peraturan yang lebih keras lagi, guna menjamin keselamatannya sebagai ketua perguruan. Kalau sekarang ia mengancam untuk menghina Sarni dengan cara ini. bukan lain ia telah memperhitungkan secara tepat. Ia merasa pasti tak akan sampai terjadi. Sebab Sarni tentu menjadi ketakutan dan menyerah.
"Hi-hi-hik........ kalau perlu biarlah Perguruan Tuban hancur! Siapa yang mau perduli?" kata Subinem.
"Huhhuh, biarlah Perguruan Tuban hancur berbareng dengan kehancuran hatimu, yang digagahi oleh beberapa orang laki-laki. Tetapi aku tidak rugi, hi-hi-hik........"
Tentu saja. Sarni menjadi ngeri bukan main. Terpaksa ia sekarang harus mau berpikir dan menimbang-nimbang. Kalau ia kokoh pada pendiriannya. ancaman Subinem ini tentu dilakukan, dan benar-benar mengerikan. Bagi dirinya. sesungguhnya lebih baik mati dari pada dihina. Akan tetapi apakah daya?
Subinempun akan kukuh pada pendiriannya. Apakah yang harus dilakukan?
Ketika itu murid Tuban yang tadi diperintah telah datang melapor. Bahwa murid laki-laki yang dipanggil telah siap di luar kamar. Subinem mengangguk sambil tersenyum. Murid itu diperintahkan keluar, sedang murid laki-laki yang dipanggil disuruh menunggu panggilan. Subinem kemudian menatap Sarni.
"Sarni! Masih ada kesempatan untukmu berpikir sedikit waktu lagi. Jika engkau mau terus-terang, aku tak akan mempersulit dirimu. Tetapi jika tetap keras kepala, tahu sendiri. diluar telah siap para murid yang akan segera kuperintahkan menghina engkau. Hi-hi-hik, puluhan tahun engkau berusaha mempertahankan kegadisanmu. Tetapi, hari ini engkau akan ternoda dan tiada harganya lagi sebagai wanita." '
Hampir saja meledak tangis Sarni membayangkan ancaman Subinem ini. Dirinya telah terpojok dan tak dapat berkutik lagi. Dan akhirnya dengan nada yung amat sedih, jawabnya,
"Baiklah, aku menyerah kalah. Ya, walau berat hatiku untuk membuka rahasia ini, akan kuterangkan juga. Asal saja engkau tak menggunakan kesewenanganmu, menghina aku yang sudah tak berdaya."
"Hi-hi-hik, ternyata engkau seorang perempuan yang bisa mempertahankan kedudukanmu sebagai wanita baik baik. Jangan khawatir, akupun tak akan sampai hari mencemarkan engkau, asal saja engkau menurut perintahku. Tetapi hemmm.......... awas! Apabila engkau berusaha menipu aku, tahu sendiri. Aku tak akan mau perduli kepadamu lagi. Engkau bakal menemui ajalmu di dalam hinaan laki-laki. Mengerti? Hayo terangkanlah sekarang secara jujur. Di manakah pedang pusaka yang telah patah itu?" .
Sarni menjatuhkan pandang matanya ke lantai. Di dalam hatinya terjadi pertentangan yang hebat. Ia sadar bahwa Subinem ini seorang perempuan jahat. Perguruan Tuban tentu akan mundur atau hancur, apabila tetap di kuasai oleh perempuan ini. Akan tetapi ia tak berdaya. Maka yang bisa dilakukan hanyalah mohon perlindungan Tuhan Yang Maha Asih, agar segera mengirim seorang sakti untuk menyelamatkan Perguruan Tuban yang diancam keruntuhan itu. Sekarang Subinem menuntut pedang Jati Sari. Pedang pusaka yang banyak diperebutkan orang. Walaupun benar pedang itu telah patah menjadi dua, ketajamannya tetap tidak berkurang. Apa pula jika berhasil disambung kembali seperti pedang pusaka Jati Ngarang. ibarat Subinem akan menjadi seekor harimau betina yang tumbuh sayap. Oleh sebab itu, bibirnya terasa amat berat sekali digerakkan. _
"Sarni!"bentak Subinem, setelah menunggu beberapa saat lamanya, dari mulut perempuan itu tidak terucapkan sepatah katapun.
"Lekas katakan! Apakah engkau mengira bahwa aku hanya menggertak kosong? Apabila aku bertepuk tangan tiga kali, engkau akan mengalami penghinaan seperti bukan terhadap manusia lagi !"
Sarni mengangkat kepalanya, memandang Subinem dengan mata yang berkaca-kaca. Bibirnya gemetaran, namun tak juga ada kata-kata keluar. Tetapi akhirnya terdengar suara Sarni yang menggeletar.
"Subinem.... engkau tahu, betapa berat hatiku untuk memberi keterangan padamu secara jujur. Hemm.. engkau boleh membunuh aku! Tetapi..... aku tak dapat menahan hati... menyimpan perasaanku. Engkau memang perempuan buruk, jahat dan liCik! Kejam dari tidak kenal budi! Huh-huh.... sebelum aku membuka rahasia ini, aku harus mencaci maki engkau lebih dahulu...... biar hatiku puas......"
Akan tetapi Subinem hanya tertawa terkekeh. Caci maki Sarni itu seperti tidak didengarnya. Seperti angin lalu yang lewat dari telinga kanan keluar ke telinga kiri. Ia bersikap demikian. mungkin terpengaruh oleh pentingnya keterangan yang bakal didengar dari mulut Sarni, tentang pedang pusaka Jati Sari yang amat diinginkan itu.
"Subinem! Sebelum aku menerangkan rahasia pedang Jati Sari ini, perkenankanlah aku mohon padamu."
"Engkau minta apa? Minta dibebaskan? Hi-hi-hik, terlalu enak! Janganlah engkau mimpi aku sedia membebaskanmn sebagai tawananku."
"Siapa perduli tentang diriku? Aku tidak mohon belas kasihanmu. Yang aku minta pengertianmu, adalah sehubungan dengan Perguruan Tuban. Setelah engkau menduduki jabatan ketua, dan sesudah engkau memiliki pedang Jati Sari yang telah patah itu, hendaknya engkau pandai menjaga nama baik Perguruan Tuban. Usahakan kemajuannya, keharuman namanya, dengan tingkah lakumu yang patut djadikan contoh dan sari tauladan....."
"Tutup mulutmu, perempuan busuk!" bentak Subinem mendelik.
"Aku tidak membutuhkan khotbahmu. Tidak membutuhkan nasihat dan saranmu. Lekas! Terangkanlah secara jujur tentang pedang Jati Sari itu!"
Sarni menghela napas berat.
"Hmmm.... baiklah. aku akan menerangkan tentang itu. Pedang Jati Sari yang sudah patah menjadi dua itu, tersimpan dalam kamar pusaka........."
Mahesa Kelud - Noda Iblis Fear Street - Bayangan Maut Sunburn Anne Of Green Gables Karya Lucy M . Montgomery

Cari Blog Ini