Ceritasilat Novel Online

Tiga Paderi Pemetik Bunga 1


Roro Centil Tiga Paderi Pemetik Bunga Bagian 1


PEPERANGAN paling besar yang dihadapi manusia adalah, peperangan bagaimana mengalahkan Hawa Nafsunya sendiri! Karena di sanalah manusia bisa memilih untuk dirinya menjadi malaikat, ataukah menjadi setan...! Kalau kau mau menjadi seorang Pendekar, jadilah yang baik! Kalau kau sudah mengetahui tujuan kehidupan ini adalah untuk mati, maka isilah jalan hidupmu dengan amal kebaikan...! Mengumbar nafsu tak lebih dari menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam api.

   Dan kalau kau sudah tahu api itu panas.

   Jangan coba kau menja-mahnya...!"

   Gadis ini manggut-manggut se-orang diri, dan terdengar ia menghela nafas seraya membuka sepasang kelopak matanya.

   Dia seorang gadis berwajah can-tik rupawan.

   Kecantikan alami yang telah dianugerahkan Tuhan padanya.

   Wajah ayunya menampilkan kesegaran setiap mata yang memandang.

   Dialah ....

   RORO CENTIL.

   Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan...! Gadis ini duduk di ujung tebing karang, menghadap ke laut lepas.

   Di bawahnya mendebur keras ombak-ombak laut Pantai Selatan.

   Sementara burung-burung camar beterbangan di atas buih-buih air dan ombak, seperti tak mengenal takut akan kena terhantam gelombang dahsyat itu.

   Gadis ini tengah duduk tafakur mengingat wejangan dari guru-gurunya.

   Yang kesemuanya menitik beratkan pada sifat-sifat kependekaran.

   Setelah si Maling Sakti alias Jarot Suradilaga.

   Kemudian Ki bayu Seta alias si Pendekar Bayangan.

   Kemudian yang terakhir adalah seorang guru yang berjulukan si Manusia Aneh Pantai Selatan.

   Yang belakangan ini adalah memang seorang yang aneh sesuai dengan julukannya...Karena sang Guru tak diketahui jelas jenis kelaminnya.

   Apakah wanita, apakah laki-laki.

   Yang jelas Guru Roro Centil adalah seorang BANCI.

   Sejak Roro Centil berhasil menumpas empat tokoh golongan hitam, yang bergelar Empat Iblis Kali Progo, gadis Pendekar yang berwatak aneh ini kembali menghilang bagai ditelan bumi.

   Tentu saja keadaan di Rimba Persilatan jadi heboh ...! Nama Roro Centil si Pendekar Wanita Pantai Selatan telah menjadi pembicaraan di mana-mana.

   Bahkan pendekar sampai ke beberapa tempat.

   Kehebatan ilmunya yang amat mengerikan, dan kemunculannya yang bagaikan menjelma di kalangan Rimba Hijau, membuat kaum penjahat mulai menjadi kebat-kebit hatinya.

   Tentu saja hal itu membuat kekhawatiran, karena periuk nasinya telah terancam kepunahan.

   Karena mereka sadar kalau periuk nasi itu mereka dapatkan dengan jalan tidak halal.

   Yaitu dengan memeras penduduk.

   Merampok, membegal dan bahkan terkadang membunuh!...

   demi keuntungan yang berlipat ganda.

   Tapi di samping itu kaum golongan Putih, juga setiap insan yang rindukan ketenteraman, merasa amat gembira dengan munculnya seorang Pendekar Pembela Keadilan.

   Bahkan ternyata di banyak tempat Roro Centil juga diam-diam mulai mengamalkan tugas kependekarannya menegakkan keadilan di Jagat Raya ini.

   Namun sejak setahun ini, tak ada terdengar beritanya mengenai sepak terjang si Pendekar Wanita itu.

   Membuat para kaum golongan penjahat mulai lagi membentangkan sayap-sayap-nya membuat kericuhan.

   Perbuatan mereka kian brutal.

   Walaupun tak kurang Kaum Pendekar lainnya yang berusaha memberantas bermacam kejahatan.

   Ke manakah gerangan lenyapnya si Pendekar wanita Pantai Selatan itu ...

   Kiranya selama itu Roro Centil kembali dalam gemblengan sang Gurunya si Manusia Aneh Pantai Selatan alias si Banci.

   Marilah sejenak kita kembali pada kisah setahun belakangan ini, di mana Roro Centil digembleng di dasar tebing pantai karang terjal itu ...

   Agaknya si Manusia Aneh Pantai Selatan itu kurang setuju dengan ilmu yang telah dipakai Roro menumpas ke Empat Iblis Kali Progo.

   Karena Roro mempergunakan jurus-jurus si Dewa Tengkorak yang keji.

   Kiranya diam-diam sang Guru selalu mengikuti sepak terjang muridnya.

   Hingga ketika Roro kembali, sang Guru sudah menegurnya.

   "Roro...! Bukan aku menyalah-kanmu untuk mempergunakan jurus-jurus si Dewa Tengkorak. Akan tetapi jurus itu memang terlalu keji. Juga dikhawatirkan orang akan menyangka kau muridnya si Dewa Tengkorak. Karena bukan mustahil manusia yang mempunyai banyak istri itu, juga memberikan ilmu itu pada istri-istrinya. Seandainya mereka yang berbuat untuk kejahatan, salah-salah kau yang dituduh melakukan kejahatan...!"

   Demikian ujar si manusia banci pada suatu hari. Roro Centil manggut-manggut mendengarkan petuah gurunya.

   "Memang sebenarnya kau belum kuizinkan untuk keluar dari tempat ini. Akan tetapi aku tengah mencoba menguji tindakanmu. Ternyata kau tidak menyelewengkan kepandaianmu untuk berbuat hal-hal yang tidak baik. Seandainya kau pergunakan untuk keja-hatan, tentu sudah siang-siang kau kukirim ke Akhirat...!"

   Kembali sang Guru berkata dengan suara dingin. Bergidik juga Roro Centil. Karena di luar sepengetahuannya, si nenek yang awet muda ini telah mengikuti sepak terjangnya.

   "Ilmu 10 Jurus Pukulan Kematian itu memang hebat. Akan tetapi banyak kelemahannya. Di samping pada jurus itu membahayakan bagi si pemakainya. Kini saatnya bagimu mempelajari jurus-jurus ciptaanku yang memang menjadi simpananku. Tentu saja akan kuwariskan padamu...! Cuma aku ingin kau membunuhku terlebih dulu dengan Ilmu Ciptaan si Dewa Tengkorak itu...!". Ujar wanita banci itu. Terkejut Roro Centil mendengarnya.... hingga sampai ia berteriak kaget.

   "Membunuhmu. Guru...?". Sentak Roro Centil hampir tak percaya. Akan tetapi si Manusia Aneh Pantai Selatan ini sudah membentak dengan keras.

   "Benar...! Kau harus membunuhku...! Dan kau harus pergunakan jurus-jurus keji si Dewa Tengkorak itu untuk menyerangku....!"

   Hening sejenak.

   Wanita Aneh itu tiba-tiba mendongak ke atas menatap langit.

   Lalu terdengar suara tertawanya yang seperti geli.

   Akan tetapi seperti juga sebuah tangisan.

   Roro Centil cuma bisa menatap dengan mulut ternganga.

   Sejuta pertanyaan memenuhi benaknya.

   Sanggupkah aku melakukannya...? Berfikir Roro.

   Serasa permintaan yang tak masuk akal.

   Aneh, dan menakutkan.

   Akan tetapi detik itu juga telah terdengar lagi bentakannya;

   "Sekarang juga kau harus melakukannya...! Kalau kau berkeberatan, silahkan kau keluar dari tempat ini. Dan jangan kau akui lagi aku Gurumu. Tapi kalau kau seorang murid yang berbakti lekas kau lakukan itu, bocah tolol... !"

   Di luar dugaan, tiba-tiba Roro Centil bangkit berdiri. Sepasang matanya menatap tajam pada gurunya. Dan ia sudah berkata dengan tegas.

   "Baik...! Aku akan turuti perintahmu untuk membunuhmu. Guru...! Cuma kumohon kau maafkan aku atas apa yang aku lakukan ini...!". Seraya berkata, Roro Centil sudah menerjang dengan ganasnya. Sebelah lengannya bergerak mencengkeram batok kepala si Banci. Dan sebelah lagi meluncur mengarah jantung. Akan tetapi dengan perdengarkan tertawa cekikikan, si Manusia Aneh ini sudah pergunakan Jurus Tarian Bidadari Mabuk Kepayang. Yang tentu saja cuma dengan gerakan seperti orang menari itu, semua terjangan Roro yang ganas itu dapat terhindar. Jurus demi jurus berlalu. Namun kesemua gerakan terjangan Roro Centil juga tak mampu menembus atau membuat tubuh si manusia Banci ini kena terhantam. Membuat Roro Centil semakin penasaran. Dan segera lakukan terjangan yang lebih dahsyat lagi. Sehingga seandainya sedikit saja si Manusia Aneh Pantai Selatan lengah tak ampun lagi nyawanya akan melayang seketika. Ternyata hal itu justru membuat Roro semakin kagum. Karena dengan mudah saja sang Guru dapat mengelakkan setiap serangan. Jurus keenam dan ketujuh telah segera dilancarkan. Roro Centil memekik keras disertai terjangan hebat. Agaknya kali ini si manusia Banci itu seperti lengah. Roro sendiri terkesiap. Namun ia tak mungkin untuk merobah serangan... Buk... ! Terjangan hebat itu tak dapat dielakkan sang Guru. Tubuhnya kena terhantam, telak. Serangan kedua dan ketiga menyusul pula. Roro sudah pejamkan mata tak tega melihat nasib sang Guru, yang jadi terhuyung-huyung mau roboh. Akan tetapi di luar dugaan tenaga pukulannya tiba-tiba telah berbalik menghantam lagi ke arah Roro Centil. Terkesiaplah gadis ini. Untunglah dengan letikkan tubuhnya bersalto beberapa kali, Roro Centil berhasil menghindar. Namun akibatnya adalah sangat mengerikan. Karena hantaman balik dari tenaganya telah membuat ambruknya karang di belakangnya. Yang segera saja terdengar suara bergemuruh ketika batu karang itu hancur. Masih beruntung Roro Centil keburu mengelak. Seandainya ia tidak waspada, maka tubuhnya sudah dapat dipastikan akan hancur luluh tak berbentuk lagi. Pada saat itulah terdengar suara tertawa mengikik dari si Manusia Aneh Pantai Selatan itu. Tertawa yang geli sekali. Sehingga terpingkal-pingkal sampai air matanya bercucuran. Roro jadi melengak heran. Ia sudah jejakkan lagi kakinya di atas batu. Dan dengan sepasang mata melotot tak berkedip, saksikan Gurunya yang bertingkah aneh itu. Terdengar lagi suaranya yang bercampur geli.

   "Hi hi hi... hi hi hi... Ternyata Ilmu si Dewa Tengkorak tak mampu membunuhku! Dan tak mampu melawan kehebatan ilmu Bidadari Mabuk Kepayangku ini. Hi hi hi... hi hi... Bagus, muridku! Kau telah penuhi permintaanku. Cukuplah sudah. Tahukah kau ilmu apa yang kupergunakan barusan...?". Tanya sang Guru dengan suara dingin. Roro Centil gelengkan kepalanya.

   "Hi hi hi... Itulah Ilmu Ikan Hiu Balikkan Ekor...! Hebat bukan...?". Roro jadi mengangguk-angguk dengan kagum, serta mengakui kehebatannya. Kembali sang Guru tertawa geli cekikikan. Seakan-akan merasa bangga sekali dengan ilmu ciptaannya. Seraya ia sudah berkata lagi;

   "Jurus-jurus si Dewa Tengkorak yang terdapat dari dalam potongan gagang Tombak itu memang hebat. Akan tetapi bila dilawan dengan jurus Ikan Hiu Balikkan Ekor, akan sama dengan membunuh dirinya sendiri. Ketahuilah Roro, aku amat puas punya murid seperti kau. Akan tetapi kuminta agar kau tidak mempergunakan ilmu-ilmuku untuk hal yang tidak amat mendesak...!". Roro manggut-manggut dengan perlihatkan senyumnya.

   "Tentu saja pesan Guru itu akan hamba junjung tinggi. Percayalah, aku tak akan mempergunakannya untuk hal yang bertentangan dengan kependekaran...!".

   "Bagus, Roro...! Kini tunggulah sebentar. Akan kutunjukkan sebuah senjata istimewa yang telah ku ciptakan sebagai pelampiasan rasa keinginanku menjadi wanita...!"

   Selesai berkata, sang Guru telah kembali berkelebat ke dalam ruangan kamar Goa.

   Roro Centil cuma bisa memperhatikan tingkah laku Gurunya, yang seperti amat sibuk sekali.

   Diam-diam ia menghela napas.

   Semoga saja sang Gurunya yang aneh ini tidak berubah lagi wataknya.

   Hingga Roro harus lebih hati-hati lagi untuk menghadapinya.

   Tak lama si Manusia Banci telah kembali lagi.

   Ternyata di tangannya membawa sepasang senjata aneh.

   Senjata itu berbentuk rantai dengan bandulnya.

   Tapi bentuk kedua bandulannya itu amat lucu, karena amat mirip dengan sepasang payudara wanita, lengkap dengan ujung putiknya.

   Sang Guru sudah berikan sepasang senjata itu pada si murid.

   Seraya berkata;

   "Roro...! Senjata ini belum pernah kupergunakan di luar. Kaum Rimba Hijau tak seorang pun yang mengetahuinya selain kau! Nah kau boleh teliti sepasang senjata itu sementara aku akan mempersiapkan jurus-jurus pelajaran yang akan kau mulai pada malam nanti... !". Selesai berkata sang Guru sudah kembali berkelebat masuk ruangan kamar goa karang itu, untuk selanjutnya tidak keluar lagi.

   "Senjata aneh...!"

   Gumam Roro.

   Seraya memperhatikan, meneliti, dan membolak-balikkan senjata itu.

   Ternyata bandulan senjata itu terbuat dari baja tipis.

   Yang aneh adalah warnanya amat mirip dengan kulit manusia.

   Sedang rantainya terdapat tujuh buah, dengan pada ujungnya terdapat gagang dari baja berkilat berwarna putih.

   Pada ujung putik itu terdapat lima buah lubang kecil.

   Roro yang tak mengetahui kegunaannya coba memutarkan senjata itu.

   Tiba-tiba terdengarlah suara berdengung tiada putusnya, seperti suara ratusan atau ribuan tawon.

   Terkejut Roro Centil.

   Ketika ia coba menyalurkan tenaga dalamnya pada sepasang senjata itu, segera membersit angin panas yang luar biasa.

   Namun Roro telah lindungi dirinya dengan aliran tenaga dalam berhawa dingin, sehingga pengaruh itu tak terasa.

   Akan tetapi bila dipakai untuk menyerang lawan amatlah berbahaya.

   Selang sesaat, Roro hentikan permainannya.

   Dan coba pegang sepasang bandulannya.

   Ternyata bandulan senjata itu tidak lagi keras melainkan lunak, mirip sebuah bola karet saja.

   Diam-diam Roro Centil menyenangi sepasang senjata itu, yang tentunya tak begitu berbahaya, jika dipergunakan untuk menghajar batok kepala sebangsa keroco.

   Paling-paling orangnya bisa pusing tujuh keliling ...

   ! "Hi hi hi...

   Senjata yang lucu ini akan kuberi nama Si Rantai Genit...!"

   Berseru Roro dengan wajah tampak girang sekali.

   Demikianlah...

   sampai setahun Roro Centil berdiam di dasar lubang tebing karang Pantai Selatan.

   Dan selama itu tiada seorang pun mengetahui kalau si Pendekar Wanita Pantai Selatan Roro Centil, kembali digembleng oleh si manusia Banci.

   Hingga suatu hari...

   "Roro...! Sebenarnya aku telah terkena pukulan beracun dari paderi-paderi Biara Welas Asih, di lereng Gunung Wilis. Pukulan itu amat menyesakkan dadaku. Akan tetapi aku inginkan kau tidak membalas dendam. Kuharap kau lupakan saja hal itu. Sebenarnya memang aku amat mencintai si Dewa Tengkorak...! Akan tetapi dia tak pernah menghiraukan diriku. Walau demikian sampai mati aku akan tetap mencintainya. Kini dia telah mati. Dan hanya wariskan tombak Hitam ini. Aku sudah cukup berbahagia bila kelak aku mati ditemani senjatanya...!". Berkata si Manusia Aneh Pantai Selatan, seraya menimang-nimang tombak hitam si Dewa Tengkorak, yang telah disambungkan kembali. Roro Centil cuma bisa menatap lalu tundukkan kepala sambil ter-cenung, walau diam-diam ia terkejut mendengar Gurunya terkena pukulan beracunnya paderi-paderi Gunung Wilis. Setelah termenung beberapa saat, si manusia banci itu tiba-tiba tertawa geli sekali... tapi kemudian menangis terisak-isak. Hingga air matanya bercucuran. Membuat Roro Centil jadi ter-paku, tapi sudah segera menghiburnya. Roro menyadari kalau sang Guru ini telah terkena penyakit cinta, yang telah dipendamnya berpuluh tahun. Sehingga terkadang membuat si manusia banci ini bersikap manis terhadapnya namun terkadang membentak kasar. Juga adat dan kelakuannya aneh-aneh. Tentu saja Roro sudah hapal dengan perilaku gurunya.

   "Sudahlah Guru...! Bukankah aku berada di sini menemanimu...! Aku akan tetap bersamamu sampai kapanpun... Kalau kau menghendaki...!."

   Ujar Roro Centil. Tapi tiba-tiba sang Guru bahkan membentak.

   "Bocah tolol! Sejak kapan kau berubah jadi tolol...? Hm, dengan kau berdiam di sini menungguiku, bukankah sama saja artinya dengan kau mengubur diri? Kalau kau mau mati baiknya matilah saja...!"

   Seraya berkata, lengan si manusia Banci sudah berkelebat menghantam kepala Roro.

   Akan tetapi sedikitpun Roro Centil tidak mengelak.

   Tentu saja hal itu membuat si Manusia Aneh jadi melengak.

   Dan dengan geram, menahan kembali serangannya.

   Ternyata si manusia aneh itu telah mendelik heran pada Roro.

   "Mengapa kau tidak menge-lak...?". Tanyanya. Roro Centil tiba-tiba tertawa geli sekali. Kini si manusia aneh itu yang menatap dengan pandangan aneh pada muridnya.

   "Kalau aku mengelak berarti aku tolol...! Makanya aku lebih baik memilih mati daripada hiduppun ternyata jadi manusia tolol.. .! Hi hi hi... Apakah pendapatku itu betul. Guru...?". Tentu saja jawaban Roro membuat si manusia banci jadi terpaku bingung. Akan tetapi selang tak lama ia sudah tertawa gelak-gelak.

   "Hi hi hi ... hi hi ...Bocah to...eh! Ya! ya ... kau memang bocah tolol ... ! Tapi cerdik...! Kalau aku menghadapimu bicara terus menerus, bisa-bisa aku yang jadi tolol...! Sebaiknya besok pagi kau boleh tinggalkan tempat ini. Dan jangan kembali lagi...!"

   Ujarnya tiba-tiba dengan tatapan tajam, dan suara dingin. Terkejut Roro mendengar kata-kata Gurunya. Akan tetapi Roro Centil sudah segera bersujud mencium kaki Gurunya seraya berkata.

   "Kalau kau menghendaki aku pergi, tentu saja aku tak dapat menolaknya. Guru...! Akan tetapi berat rasanya hatiku. Selama ini kau telah menumpahkan segala pikiranmu untuk mewariskan segenap ilmu padaku. Aku berjanji akan mempergunakan segenap kepandaian itu untuk membela panji-panji keadilan. Dan menegakkannya di atas jagat raya ini. Walaupun harus aku berkorban jiwa sekalipun. Dan kumohon kau dapat memaafkan segala kebodohanku selama ini, Guru!". Si Wanita banci ini cuma terdiam menatap langit. Lagi-lagi air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Wajahnya yang cantik itu menampilkan kesedihan yang luar biasa. Akan tetapi ia sudah berkata lirih...

   "Roro...! Kau pergilah besok sebelum matahari terbit. Dan perpisahan ini adalah saat terakhir kau bisa bicara padaku. Karena mulai hari ini aku telah menutup semua pendengaran dan penglihatanku dari dunia persilatan. Aku ingin mati terkubur di tempat ini. Karena aku sudah puas mempunyai murid semacammu. Secantikmu. Juga secerdikmu...! Nah! Kini sudah waktunya aku bersemadi. Kuharap kau takkan menggangguku lagi...!"

   Selesai berkata si Manusia Aneh Pantai Selatan segera beranjak masuk ke kamar goa tempat ia biasa bersemadi.

   Lalu menutup pintu batu, untuk selanjutnya telah tak terdengar lagi suaranya.

   Roro Centil menatap dengan pandangan mata redup.

   Tampak setetes air bening mengalir membasahi pipi.

   Roro tak dapat menahan harunya.

   Sementara suara deburan ombak terdengar lapat-lapat dari dalam rongga di dasar tebing itu.

   Pelahan-lahan Roro bangkit berdiri, lalu melangkah beberapa tindak mendekati tepi air.

   Di sana ia berhenti untuk memandang riak gelombang di bawah kakinya.

   Dan terdengarlah suara helaan napasnya.

   "Guru...! Betapa berat penderitaanmu, walau aku tak mengetahui..."

   Gadis ini menggumam lirih.

   Seraya menyeka air matanya.

   Burung-burung camar di atas langit tampak bersileweran tiada putusnya.

   Roro Centil tersenyum...

   Betapa iapun sudah merindukan untuk kembali ke alam bebas.

   Namun sebelum pergi besok Roro ingin sekali bermain gelombang...Suara debur ombak itu membuat ia ingin menikmati alunan gelombang-gelombang raksasa itu.

   Segera saja ia telah membuka pakaiannya.

   Karena tak ada seorang pun yang melihat, Roro telah bertelanjang bulat.

   Dilemparkannya pakaiannya di atas seonggok batu.

   Dan terjunkan kaki ke air.

   Dengan melangkah perlahan ke depan, semakin lama air semakin dalam, hingga sebatas dada.

   Yang akhirnya Roro menyelam.

   Gerakan di bawah air itu amat disukai Roro.

   Sepasang matanya telah menjadi biasa untuk melihat di bawah permukaan.

   Segera terlihat terowongan dari kejauhan.

   Roro hentakkan kaki dan tangannya.

   Meluncurlah tubuhnya, sekejap telah tiba di mulut terowongan di bawah air...Di sana ia mempercepat gerakannya.

   Hingga tak lama kemudian ia telah berada di luar ruangan rongga, di bawah tebing karang.

   Terlihat di atas Roro riak gelombang yang besar-besar.

   Agaknya Roro Centil memang sengaja menuju ke permukaan.

   Hempasan gelombang segera menghantam tubuhnya.

   Akan tetapi gadis ini telah kerahkan kekuatan tenaga dalamnya, dan meluncur ke permukaan ...

   Itulah salah satu jurus dari jurus Ikan Hiu mengejar Mangsa.

   Dan hebat akibatnya.

   Dalam sekejap tubuh Roro Centil telah mencelat keluar dari permukaan.

   Ketika turun lagi sepasang kakinya telah hinggap di atas gelombang.

   Aneh...! Tubuh Roro tidak tenggelam.

   Bahkan Roro seperti tengah menari-hari di atas gelombang.

   Seolah tubuhnya timbul tenggelam.

   Namun gadis ini tampak asyik menikmati alunan ombak yang membuai-buai itu.

   Sementara suara deburan-deburan keras membahana, ketika gelombang-gelombang raksasa itu menghempas di batu karang.

   Roro pejamkan matanya.

   Dan terbayanglah semua impian indahnya.

   Suka dukanya...yang telah jadi kenyataan.

   Kini ia telah menguasai ilmu yang amat langka di jagat ini.

   Semua itu berkat latihan dan bimbingan Gurunya si Manusia Aneh Pantai Selatan.

   Permainan menari-nari di atas ombak itu amatlah disukai Roro.

   Dan hal itu tak berlangsung lama.

   Karena sebentar kemudian hari sudah menjelang senja.

   Matahari telah semakin meng-gelincir di tepi cakrawala.

   Roro Centil segera melompat tinggi tujuh tombak di atas gelombang.

   Tampaklah keindahan tubuhnya yang padat berisi.

   Bentuk tubuh yang jarang dipunyai gadis-gadis lain.

   Roro memang Roro...! Walau banyak nama seperti dirinya di atas dunia ini, tapi RORO CENTIL cuma satu! Dialah si Pendekar Wanita Pantai Selatan.

   Yang berwajah ayu rupawan.

   Berwatak aneh sukar diterka.

   Lincah jenaka banyak akalnya.

   Siapa pun pemuda yang melihat, pasti akan menggandrunginya.

   Ketika tubuhnya meluncur lagi ke bawah di mana gelombang raksasa itu segera menyambutnya, tubuh gadis yang bugil itupun lenyap.

   Seperti telah ditelan ombak.

   Namun di bawah air, Roro Centil telah berenang menyibak derasnya arus.

   Tubuhnya meluncur deras bagaikan seekor ikan hiu, dan berseliweran di antara karang-karang yang menonjol.

   Selang sesaat, ia telah kembali memasuki terowongan di bawah air itu.

   Dan dengan sekali menggenjot tubuh...Roro Centil kembali tersembul di permukaan.

   Kini ia telah berada kembali di dalam ruangan rongga, di bawah tebing karang.

   Setelah menghirup napas dalam-dalam, Roro beranjak ke darat.

   Sepasang kakinya melangkah perlahan di dasar air berpasir sebatas betis.

   Lalu dengan gerakan ringan, Roro melompat ke darat.

   Sepasang kakinya melangkah perlahan di dasar air berpasir sebatas betis.

   Lalu dengan gerakan ringan, Roro melompat ke darat.

   Selanjutnya ia telah segera mengenakan lagi pakaiannya.

   Menge-ringkan rambutnya, dengan duduk di atas batu.

   Kali ini tampaknya Roro telah puas.

   Besok ia sudah tinggalkan tempat ini.

   Tempat tersembunyi yang telah menjelmakan dirinya menjadi seorang gadis Pendekar Perkasa.

   Walau diam-diam Roro Centil menghela napas.

   Karena segera terpikirkan akan banyaknya perintang kelak di Rimba Persilatan yang bakal ia hadapi.

   Tapi disanalah ia dapat mendarma buktikan ilmunya untuk memperjuangkan keadilan.

   Membela si lemah dari cengkeraman si kuat yang sewenang-wenang.

   Menegakkan panji keadilan di atas bumi ini.

   Yang semua itu adalah dengan taruhan nyawa.

   Demikianlah...

   Matahari sudah agak meninggi.

   Akan tetapi Roro Centil masih tetap duduk di atas tebing karang Pantai Selatan.

   Sepasang matanya menghadap menatap hamparan lautan luas.

   Sementara hempasan angin laut, membuat rambut dan pakaian sutera hijaunya melambai-lambai diterpa angin.

   Juga ujung ikat kepalanya yang berwarna abu-abu itu tak mau diam berkibaran.

   Sedang di dekat kakinya, tergeletak sebuah buntalan dari sutera tebal berwarna hitam.

   Adapun sepasang senjatanya terselip di kiri-kanan pada ikat pinggang, yang terbuat dari kulit ular.

   Roro Centil ternyata memakai pakaian yang singsat.

   Celana pangsinya yang berwarna hijau tua, lebih tua dari pakaiannya.

   Tampak pada ujung celananya terbelit tali sepatu rumput yang dikenakannya.

   Selang beberapa saat setelah mengenang tempat yang bakal tak disinggahinya lagi, Roro Centil segera beranjak bangun berdiri.

   Sementara lengannya sudah bergerak menyambar buntalan pakaiannya.

   Pada buntalan itu sang Guru banyak membekali bermacam pakaian, juga sekotak kecil perhiasan.

   Kesemuanya telah disediakan sang guru di muka pintu kamar.

   Bahkan ketika Roro Centil berpamit tak ada sedikitpun suara gurunya menyahuti.

   Roro cuma bisa menghela napas.

   Karena ia sudah mengenal watak gurunya yang aneh.

   Dan ia pun tak banyak buang waktu lagi, segera sambar buntalannya yang tadi baru saja dibukanya untuk dilihat isinya.

   Setelah menutup pintu lubang terowongan di atas tebing karang itu, Roro tidak segera berlalu, tapi beranjak ke tepi tebing.

   Di sana ia duduk menghadap laut.

   Dan mengingat semua wejangan dari Guru gurunya.

   Yang kesemuanya menitik beratkan pada sifat-sifat kependekan-ran.

   Betapa Roro sudah terlalu menghayati akan semua itu.

   Namun Roro Centil memang berwatak aneh.

   Dan orang akan sukar menduga isi hati yang terkandung di jiwanya.

   Namun dasar-dasar kebenaran, serta jiwa ksatria, kiranya tak mungkin terlupakan oleh si Pendekar Wanita Pantai Selatan ini.

   Karena mengharungi atau terjun ke Dunia Rimba Hijau akan banyak kemelut dan bermacam rintangan yang bakal dihadapi.

   Namun dengan jiwa yang kokoh itu, Roro Centil tidaklah menjadi manusia yang mengecewakan di mata kaum golongan Pendekar.

   Ketika itu Roro Centil sudah berkelebat meninggalkan tebing karang, dihantarkan oleh tiupan angin laut yang membersit dedaunan.

   Tubuh gadis pendekar yang cantik itu sebentar saja telah berkelebat semakin jauh, tinggalkan Pantai Selatan.

   Akan tetapi tanpa disadari sesosok tubuh yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, diam-diam terus menguntitnya.

   Sosok tubuh itu adalah seorang pemuda berbaju putih.

   Berwajah cukup tampan, dengan kumis kecil di atas bibirnya.

   Tentu saja gerakannya kalah cepat dengan Roro, sehingga sebentar saja ia telah jauh tertinggal.

   Akan tetapi di sebuah tempat, ia berhenti, dan bersuit keras.

   Tiba-tiba bergerak muncul seekor kuda berwarna hitam legam menghampiri, dengan derap langkahnya yang terdengar memijak tanah, menyibak rerumputan.

   "Antasena...! Cepatlah...!". Si laki-laki itu berseru girang melihat kudanya. Dan segera saja telah melompat ke atas punggungnya.

   "Ayo! Antasena...! Kau susullah gadis cantik itu...!". Berkata si laki-laki. Dan sekejap kemudian derap kaki-kaki kuda sudah terdengar terbawa angin, ketika si laki-laki itu memacunya dengan cepat. Agaknya Roro Centil mengetahui adanya seekor kuda dengan penunggang kudanya di belakang. Karena ia telah mendengar suara ringkik kuda serta derapnya di kejauhan.

   "Siapakah...?"

   Gumam Roro seraya berpaling, dan perlambat larinya.

   Melihat seekor kuda yang dipacu begitu cepat membuat Roro Centil ingin mengetahui ada hal apakah gerangan.

   Tapi diam-diam ia telah melompat ke balik semak dengan cepat.

   Sepasang matanya tertuju pada si penunggang kuda, yang sebentar lagi akan tiba melewatinya.

   Beberapa saat antaranya, segera saja kuda telah tiba.

   Ternyata sang kuda itu terus melewatinya.

   Sekilas Roro sudah dapat memperhatikan wajah si penunggangnya.

   Kira-kira jarak dua puluh tombak, kuda itu dihentikan.

   Terdengar suara binatang itu meringkik panjang.

   Dan terlihat si penunggangnya memutarkan kudanya ke beberapa arah.

   Tampak wajahnya menampilkan kekecewaan.

   Sepasang matanya seperti mencari jejak orang yang diburunya.

   Tentu saja hal itu membuat Roro Centil diam-diam menduga dalam hati.

   "Apakah ia mencariku...?". Desisnya perlahan. Memandang wajah orang, agaknya Roro tidak curiga kalau si penunggang kuda itu ada berniat jahat. Namun sengaja Roro tak mau menampakkan diri. Setelah berputar-putar beberapa kali, laki-laki itupun kembali memacu kudanya ke arah depan, melewati hutan bambu. Diam-diam kini Rorolah yang membuntuti. Kira-kira sepemakanan nasi si penunggang kuda itu telah berhenti di sebuah biara rusak yang sudah tak digunakan lagi. Akan tetapi pada saat itu telah berkelebat sesosok tubuh ke hadapan si penunggang kuda. Tentu saja membuat laki-laki itu terkejut. Namun si penghadang itu telah membentak keras.

   "Sentanu...! Kau tak dapat melarikan diri dariku...!". Ternyata si pendatang itu seorang pemuda tegap, berwajah gagah, tanpa kumis dan jenggot. Raut mukanya agak kasar. Berkulit kecoklatan. Laki-laki ini mengenakan baju abu-abu berlengan pendek, dengan bagian dadanya terbuka. Menampakkan dadanya yang bidang. Celananya berwarna hitam. Tanpa memakai alas kaki. Sepasang mata pemuda ini membersit tajam menatap orang di hadapannya.

   "Turunlah Sentanu...! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu..!"

   Bentaknya sekali lagi. Adapun si laki-laki berkumis kecil yang menunggang kuda itu, jadi kerutkan sepasang alisnya, dengan menatap heran. Ia sudah mengenal siapa si penghadang itu.

   "Hm! Mandra...! Apakah kesala-hanku...?". Bertanya laki-laki itu.

   "Keparat...! Kau masih juga berpura-pura? Perbuatanmu sudah tercium jelas. Apakah dengan telah kau nodainya adikku Marni, kau mau kabur begitu saja...? Kiranya peristiwa akhir-akhir ini yang melanda beberapa desa di sekitar wilayah Kadipaten Karang Sembung, adalah akibat ulah perbuatanmu...!". Bentak Mandra. Keruan saja wajah Sentanu jadi merah padam mendengar tuduhan itu.

   "Gila...! Apa-apaan kau Mandra...! Kuakui kau anak Carik Desa. Tapi tuduhanmu itu tidak beralasan, dan di luar batas! Aku manusia yang masih punya martabat dan harga diri. Mengapa datang-datang kau melakukan tuduhan sekeji itu?". Teriak Sentanu, seraya melompat dari kudanya. Akan tetapi Mandra hanya tersenyum sinis. Sepasang matanya tetap menatap Sentanu dengan berapi-api.

   "Martabat...? Harga diri...? Ha ha ha... Semuanya hanya pepesan kosong belaka. Apakah dengan dalih bahwa kau bekas seorang perwira Kerajaan Medang, lalu membuat orang lain harus menghormatimu? Ha ha ha... di mata penduduk, kau tak lebih dari seorang manusia yang kehilangan martabatnya. Mengapa kau masih menyebut-nyebut tentang martabat dan harga diri? Penduduk semua tahu kalau ayahmu mati di tiang gantungan, karena dianggap memberontak. Dan kau ... ha ha ha kau karena diketahui anak seorang Senapati yang sudah tak berharga lagi, telah dipecat dari keprajuritanmu. Makanya kau bergentayangan. Kasihan ibumu yang sudah tua itu. Dia cuma bisa mengusap dada memikirkan semua nasib yang menimpa. Dan bisa-bisa mati meleras, kalau mengetahui anaknya adalah seorang tukang pemerkosa kelas wahid...!".

   "CUKUP...! Mulutmu perlu dihajar, Mandra...! Jangan kau bawa-bawa ayahku! Jangan kau bawa-bawa kedua orang tuaku! Kau telah memfitnah orang. Demi Tuhan aku tidak melakukan apa-apa...!"

   Teriak Sentanu dengan wajah pucat. Giginya gemeletuk menahan geram. Tiba-tiba ia telah berteriak lagi dengan mengeluarkan kata-kata keras.

   "Sebutkanlah Mandra...! Siapa biang keladi yang telah memfitnahku, dan menjatuhkan martabat almarhum ayahku...? Pasti akan kurobek mulutnya. Ketahuilah olehmu. Ayahku bukanlah mati di tiang gantungan karena berkhianat, melainkan tewas dalam peperangan menumpas sisa-sisa pemberontak di utara. Dan aku memang telah sengaja keluar dari keprajuri-tanku, bukan karena aku dipecat...! Seandainya kau tidak percaya, silahkan datang menghadap Baginda Raja Medang. Beliau pasti akan membentangkan perihal ayahku itu. Sedang mengenai tuduhanmu itu, apakah kau punya bukti bahwa aku yang telah menodai adikmu Marni? Juga mengenai pemerkosaan yang melanda di beberapa desa, apakah kau punya bukti bahwa aku yang telah melakukannya...? Hm! Mandra...! Berfikir lah yang jernih. Agaknya kau terkena tenung orang. Mengapa tak hujan, tak angin tahu-tahu kau menuduh orang sem-barangan...?". Suara lantang Sentanu agaknya membuat pemuda bernama Mandra itu terhenyak seketika. Akan tetapi ia sudah berkata;

   "Bukti memang belum kudapatkan yang jelas. Akan tetapi orang desa Tambak Segoro telah menduga kau yang telah melakukannya. Karena adikku Marni berada di kamarmu. Telah dua hari ini aku mencarimu ke mana-mana. Apa lagi melihat sejak kedatanganmu, kau jarang berada di rumah. Kecurigaan penduduk tertuju padamu. Mereka punya dugaan kuat kejadian-kejadian di luar tentang pemerkosaan yang semakin santar itu dilakukan olehmu. Sebabnya... entahlah, mungkin mereka beranggapan kau anak seorang Senapati yang tak bermoral. Dan mati dalam keadaan hina, sebagai pemberontak Kerajaan. Tentu anaknya pun bukan orang baik-baik. Atas dasar itulah aku turut menuduhmu, Sentanu...! Walau pun kau adalah sahabatku, tapi itu dulu di waktu kecil. Keadaan sekarang mana aku tahu...? Aku cuma sekali sekali saja datang ke rumah. Karena sibuk dengan pekerjaanku sebagai pandai besi. Mengetahui keadaan adik kandungnya bernasib demikian, siapa yang sanggup menahan diri...?". Ujar Mandra. Sementara Sentanu jadi terce-nung. Memang ia jarang berada di rumah. Karena disebabkan para penduduk bersikap sinis padanya. Entah mengapa. Kini jelaslah sudah persoalannya. Ternyata Sentanu telah difitnah orang. Memang ia ada mendengar berita tentang adanya banyak kejadian pemerkosaan di beberapa desa. Sebenarnya ia memang berniat menyelidiki. KINI mendengar bahwa dua hari yang lalu ada bukti bahwa Marni berada di kamarnya, membuat Sentanu jadi termangu-mangu. Apakah sebenarnya yang telah terjadi? Siapakah manusia jail yang memfitnah dirinya? Tiba-tiba Sentanu sudah menatap Mandra dengan tajam, lalu berkata;

   "Mandra...! Kita pernah bersahabat, walaupun itu di waktu kita kecil. Aku sudah bentangkan yang sejujurnya tentang diriku. Juga sekaligus menceritakan yang sebenarnya tentang ayahku. Terserah kau...! Apakah kau akan mempercayaiku, ataukah mempercayai dugaan penduduk yang telah menuduh keluargaku sekeji itu. Jelasnya ada yang sengaja mengail di air keruh. Orang yang makan nangka, aku yang terkena getahnya. Baiklah! Berilah aku waktu tiga bulan untuk menyelidiki kasus ini. Seandainya aku tak berhasil membongkar siapa yang telah melibatkan diriku dalam kejahatan ini, aku rela menerima hukuman darimu. Walau aku tak bersalah...!". Selesai berkata Sentanu telah melompat kembali ke atas kudanya. Sementara Mandra cuma bisa terpaku di tempatnya. Tapi kemudian terdengar ia berkata;

   "Baik...! Aku pun akan coba menyelidiki. Kalau ternyata kau bersalah, jangan harap kau bisa meloloskan diri dariku. Tapi kalau ternyata kau tak bersalah, aku cabut lagi tuduhanku...!"

   Selesai berkata Mandra segera tinggalkan tempat itu.

   Ternyata ia juga membawa kuda yang disembunyikan tak jauh di belakang biara rusak.

   Segera tak lama kemudian terdengar derap kaki-kaki kuda yang mencong-klang cepat menuju ke arah utara.

   Sekejap antaranya telah menghilang di balik tikungan.

   Sentanu cuma menatap dengan pandangan kosong.

   Baru saja ia mau memutar kuda untuk lanjutkan perjalanan, telah berkelebat tiga sosok tubuh dari samping biara rusak.

   Belum lagi Sentanu sempat melihat tegas, salah seorang telah melesat ke arahnya.

   Dan sekaligus menghantam laki-laki ini dengan pukulan lengannya.

   Kejadian tak terduga itu membuat Sentanu tak sempat berkelit.

   Segera saja dengan perdengarkan teriakan tertahan, tubuhnya jatuh terlempar dari atas kuda.

   Kuda tunggangannya meringkik panjang beberapa kali, lalu mencongklang kabur.

   Sentanu cepat berusaha bangkit.

   Dan pada saat itu tiga sosok tubuh tampak mendekatinya dengan langkah-langkah bagai malaikat maut yang siap mencabut nyawa.

   "He he he...Kakang Kuti! Untuk mencabut nyawa si pemerkosa ini sebaiknya serahkan saja padaku...!". Berkata salah seorang yang berjubah kuning, berkulit hitam. Wajahnya kaku dan seram, tanpa kumis dan jenggot. Rambutnya panjang sebatas bahu, dan terlihat kaku. Memakai ikat kepala dari kain hitam.

   "Silahkan saja...! Tapi jangan dibunuh cepat-cepat. Kalau bisa jangan sampai mengalirkan darah...! Ha ha ha...!". Menyahuti yang bertubuh jangkung. Memakai jubah warna hitam. Orang ini berwajah kasar, dengan hidung yang melengkung. Sedang di bawah hidungnya terdapat kumis tebal yang melintang. Dagunya bekas brewok yang sudah klimis dikerok. Orang ini pun berambut gondrong, yang tampak awut-awutan. Ikat kapalanya dari kulit buaya. Sedang yang seorang lagi ternyata bertubuh pendek, bulat. Berkepala besar. Dengan rambut gondrongnya berwarna coklat. Mukanya lebar, dengan sepasang mata yang sipit. Wajahnya menampilkan senyum yang tak sedap dipandang. Di lehernya tergantung seuntai tasbih berwarna hitam. Jubah yang dipakainya berwarna ungu. Sewarna dengan ikat kepalanya yang lebar. Sentanu dengan menyeringai kesa-kitan meraba punggungnya, memandang pada ketiga manusia yang berdiri di hadapannya.

   "Siapakah kalian...? Apa kesalahanku? Mengapa kalian mau membunuhku?". Bertanya Sentanu, yang segera sudah dapat berbangkit untuk berdiri. Akan tetapi jawabannya adalah suara tertawa berbareng, yang terbahak-bahak.

   "Ha ha ha ... ha ha ... Lucu sekali pertanyaannya. Masakan perbuatanmu yang telah kau lakukan sampai tidak ingat lagi? Kemana pun kau pergi pasti akan diancam kematian. Karena semua orang sudah mengetahui siapa adanya kau? Untuk manusia tukang memperkosa wanita semacam kau sebaiknya diberi hukuman setimpal.!"

   Berkata si pendek berjubah ungu, yang berambut coklat.

   "Akulah yang pertama akan menghukummu manusia tengik...!". Seraya berkata lengan si laki-laki berjubah kuning berkulit hitam itu sudah gerakkan lengannya meluncur untuk menotok Sentanu. Akan tetapi tiba-tiba ia telah menjerit kaget, karena sebutir batu kecil telah menghantam pergelangan tangannya. Hingga tak ampun lagi lengannya jadi kesemutan tak dapat digunakan lagi. Ia sudah melompat mundur dengan wajah pias. Sementara kedua kawannya juga jadi terkejut. Pada saat itulah terdengar suara tertawa wanita, yang disusul dengan berkelebatnya sesosok tubuh berbaju hijau. Dan di hadapan mereka telah berdiri seorang gadis cantik ayu rupawan. Siapa lagi kalau bukan Roro Centil. Kiranya melihat keadaan Senanu yang walau belum dikenalnya, Roro berniat melindungi laki-laki itu, yang belum dapat dipastikan kesalahannya. Sejak bertarung mulut dengan Mandra, hingga sampai kedatangan ketiga manusia ini, Roro Centil terus mengikutinya dari tempat persembunyiannya. Dengan membuka mata dan memasang telinga mendengarkan setiap pembicaraan orang. Melihat yang muncul adalah seorang gadis cantik, laki-laki bertubuh tinggi jangkung berjubah hitam itu segera menjura.

   "Oh, selamat berjumpa nona...! Gerangan siapakah anda? Kami Tiga Paderi dari Lereng Gunung Wilis merasa terkejut, karena nona menghalangi kami membunuh manusia durjana ini...!". Berkata si jangkung berkumis tebal, seraya perkenalkan diri. Akan tetapi hal itu membuat Roro Centil jadi melengak, dan naikkan alisnya.

   "Kalian Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis?". Tanya Roro heran.

   "Setahuku paderi berkepala gundul plontos. Mengapa kalian berambut gondrong menakutkan? Aneh...! Apa aku tak salah dengar...?!". Ujar Roro selanjutnya. Tampaknya wajah Kuti si jangkung itu jadi agak berubah. Seperti ada kesalahan yang perlu diralat. Sementara kedua orang kawannya saling berpandangan. Namun Kuti tiba-tiba telah tertawa terbahak-bahak, seraya ujarnya;

   "Ha ha ha...Kami memang tengah menyaru dengan menggunakan rambut palsu...! Maaf, nona. Anda boleh lihat sendiri kepala kami...!". Seraya berkata Kuti telah menjambak rambut kepalanya, hingga terlepas. Benarlah! Ternyata kepala Kuti memang tak berambut sama sekali, alias gundul plontos. Hal tersebut diikuti kedua kawannya, yang segera menjambak rambutnya masing-masing. Hingga ter-lihatlah ketiganya adalah benar-benar tiga orang paderi.

   "Nah...! Apakah anda kini percaya kalau kami tiga orang paderi...?". Tanya Kuti. Roro jadi tersenyum, dan berkata;

   "Baik...! baik...! Aku percaya kalau kalian adalah paderi. Akan tetapi menghukum seseorang yang belum jelas kesalahannya adalah tidak dibenarkan..."

   Melengak ketiga paderi itu. Akan tetapi Kuti si paderi tertua di antara kedua kawannya telah kembali buka suara;

   "Dia telah memperkosa, lalu pergi menghilang. Bagaimana kami bisa jelas-jelas menangkapnya? Kalau saksinya adalah semua penduduk sedesa, apakah anda mau mengatakan bahwa manusia ini belum juga jelas kesalahannya ... ?". Termenung sejenak Roro Centil. Akan tetapi ia sudah berkata;

   "Aku memang belum mengetahui jelas duduk perkaranya. Tapi yang berhak memberi hukuman adalah yang berwenang. Kalau di desa, tempat ia dituduh ada seorang Carik, dialah yang wajib menghukumnya. Mengapa harus anda yang memberi hukuman...? Setahuku, tadi anak Carik desa yang bernama Mandra, telah membuat keputusan. Yaitu memberi kesempatan pada orang ini selama tiga bulan, untuk dia mencari orang yang memfitnah nya. Jadi hal itu adalah suatu keputusan yang sudah disetujui. Karena korban pemerkosaan adalah adiknya sendiri yang bernama Marni. Nah...! Berdasarkan hal itu aku mohon anda tidak lagi mengganggu pemuda ini. Dan biarkan ia berurusan dengan anak Carik Desa itu sendiri...!". Kata-kata Roro terdengar lantang dan tandas. Sehingga ketiga paderi ini cuma bisa tercenung.

   "Baiklah! Kalau begitu, nona. Sebenarnya kami Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis merasa harus melenyapkan setiap kekotoran di dunia. Karena melenyapkan kekotoran itu merupakan amal kebaikan ... !". Berkata Kuti.

   "Benar...! Tapi apakah harus selalu dengan membunuh...? Bagaimana kalau ternyata yang berbuat itu bukanlah si orang yang tertuduh ini? Bukankah akan menambah dosa?". Ujar Roro Centil dengan tandas. Agaknya untuk bertarung bicara, Kuti harus mengalah. Segera ia membungkuk menjura lagi.

   "Terima kasih atas penjelasan nona. Kami sungguh amat bergirang hati dapat berkenalan dengan nona yang ternyata berpandangan luas. Sayang kami tiada mendengar akan keputusan laki-laki anak carik desa itu. Yang memberikan kesempatan padanya untuk membela diri dengan mencari orang yang memfitnahnya. Walau hal itu belum tentu benar, tapi anak carik desa itu telah berlalu bijaksana...! Bolehkah kiranya kami mengetahui siapa gerang-an nona...?". Bertanya Kuti.

   "Ah, aku orang biasa yang tak ternama. Namaku Roro Centil...!". Sahut Roro. Akan tetapi penjelasan itu membuat si ketiga paderi jadi terkejut. Tanpa terasa mereka telah segera berseru hampir berbareng.

   "Ha...? Jadi andakah si Pendekar Wanita Pantai Selatan . .. ?".

   "Oh, beruntung sekali kami dapat berjumpa dengan nona pendekar. Mengenai masalah ini kami yakin, nona Pendekar dapat membantu menyelesai-kannya...!". Ujar Kuti. Roro Centil cuma tersenyum, dan manggut-manggut. Adapun Kuti segera memberi isyarat pada kedua paderi kawannya, dan ia mendahului berkata;

   "Baiklah, nona Pendekar Roro Centil. Kami mohon diri. Dan tentu saja mengenai urusan laki-laki ini kami tak berniat mencampurinya lagi...!". Selesai berkata, kembali ketiga paderi itu menjura. Dan selanjutnya telah berkelebat pergi dengan cepat. Roro segera palingkan kepala pada Sentanu, yang tengah menatapnya, dengan pandangan kagum juga terpesona. Segera ia sudah menjura pada Roro, seraya berkata;

   "Terima kasih atas pertolongan anda; nona Pendekar...! Sungguh tak mengira kalau aku dapat berjumpa dan berkenalan dengan seorang Pendekar Wanita, yang namanya telah dikenal di kalangan Rimba Hijau . .. !".

   "Hi hi hi ....Sudahlah, jangan terlalu berbasa-basi, sobat ... eh, kau bernama Sentanu, bukan?". Tanya Roro dengan menatap tajam wajah orang. Yang ditatap jadi kikuk, tapi segera menjawab;

   "Benar...! Sebenarnya aku memang tengah mencari nona Pendekar yang khabarnya berada di pantai Selatan. Entah sudah beberapa tempat aku kunjungi di Pantai Selatan ini, Akan tetapi ketika aku melihat anda duduk di ujung tebing karang itu, entah mengapa aku jadi ragu...!". Roro jadi kerutkan alisnya.

   "Jadi kau telah sejak lama mengetahui aku duduk di atas tebing...? Dan mengapa kau jadi ragu...?"

   Tanya Roro dengan lagi-lagi menatap tajam pada Sentanu. Laki-laki berkumis kecil ini, jadi tersipu-sipu dan tampak gugup.

   "Apakah kau ragu kalau aku bukan orang yang kau cari?". Ulang Roro.

   "Be...benar, nona Pendekar ...! Karena hampir lebih dari setahun ini tak ada khabar berita di mana adanya nona Pendekar...". Tampaknya Sentanu seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi tak berani mengatakannya. Padahal, Sentanu telah melihat tanpa sengaja dengan mata kepala sendiri, di mana ketika senja itu Roro Centil tengah bermain gelombang di bawah tebing karang, dengan menari-nari bagaikan seorang dewi lautan. Sentanu telah menyangka Roro adalah Nyai Roro Kidul, yang ada dalam dongeng rakyat. Karena mustahil bila hal semacam itu dilakukan oleh seorang manusia. Dengan nekat, Sentanu segera menuruni tebing karang untuk melihat lebih dekat. Gerakan tubuh semampai tanpa busana itu membuat Sentanu bagaikan melihat seorang bidadari yang sedang mandi. Hingga ia benar-benar terpesona dibuatnya. Sayang waktu itu tak berlangsung lama ... Dan sang bidadari telah kembali lenyap seperti ditelan gelombang. Laki-laki ini jadi penasaran. Semalam-malaman ia tak bisa tidur. Ternyata ia belum pergi jauh dari tebing karang itu. Esoknya, pagi-pagi sekali ia telah kembali naik ke atas tebing karang. Dan di sanalah ia melihat Roro Centil sedang termangu-mangu. Jelas dan tak mungkin salah dengan apa yang telah dilihatnya senja kemarin. Wajah dan potongan tubuh gadis itu amat serupa dengan sang bidadari yang bermain di atas gelombang. Sehingga diam-diam ia terus mengintai...Dan tatkala Roro beranjak untuk meninggalkan Pantai Selatan. Sentanu segera bergegas mengikuti. Beruntung Roro melewati tempat kudanya dilepas mencari rumput. Sehingga Sentanu dapat cepat memanggil sang kuda tunggangan. Dan memacunya cepat untuk menyusul Roro. Hingga akhirnya ia berjumpa dengan Mandra. Dan hampir saja ia jadi korban dibunuh si tiga orang paderi, kalau tak datang Roro yang membelanya.

   "Ada hal apakah kau mencari diriku...?". Tanya Roro tiba-tiba. Membuat Sentanu yang sedang termenung jadi terkejut. Segera ia menyahuti dengan suara tergagap;

   "Anu... nona Pendekar ... Eh, ma-rilah kita bicara sambil duduk di sana, agar dapat leluasa kita bercakap-cakap...!". Berkata Sentanu seraya menunjuk ke lantai biara. Roro Centil mengangguk. Dan segera keduanya beranjak ke sisi biara rusak itu. Selanjutnya sudah duduk berhadapan. Ternyata Sentanu telah mengeluarkan sebuah benda, yang telah lama disimpannya. Benda itu adalah sebuah kalung, dengan rantai terbuat dari baja putih. Sedang bandulannya terbuat dari gading berbentuk hati. Pada bagian tengah gading itu, terukir sebuah huruf "R". Benda itu diperlihatkan pada Roro. Tampaknya Roro Centil jadi terkejut. Segera ia raih benda itu dari tangan Sentanu. Sepasang matanya menatap tajam dan meneliti benda dan bandulannya itu. Segera saja ia telah berkata setengah berteriak;

   "Benda ini milikku...Dari mana kau menemukannya ... ?". Tanya Roro.

   "Ceritanya panjang sekali...! Kalau nona Pendekar mau mendengarkannya, aku pasti akan menceritakannya...!"

   Ujar Sentanu.

   Seraya menghela nafas lega.

   Kini keyakinannya semakin jelas, bahwa benarlah kalung yang ditemukannya kurang lebih dua belas tahun yang lalu itu pasti pemiliknya seorang anak perempuan.

   Diam-diam wajah Sentanu menam-pilkan kegembiraan.

   Akhirnya ia dapat mengetahui siapa pemilik kalung bertuliskan huruf "R"

   Itu.

   Segera Sentanu menceritakan asal penemuan kalung itu.

   Yaitu yang ditemukannya ketika ia masih menjadi Perwira Kerajaan.

   Dalam pengejaran mencari jejak si Maling Sakti yang menjadi buronan Kerajaan.

   Rombongannya melewati sebuah jalan desa, yang telah bergabung dengan rombongan Tumenggung Wira Pati.

   Tumenggung Wira Pati adalah pamannya.

   Dari jauh ia sudah melihat adanya beberapa ekor kambing tergeletak di jalan sunyi itu.

   Ia bersama empat orang Prajurit berkuda berada di bagian belakang Rombongan berkuda pamannya.

   Karena Sentanu memang tadi tidak melalui jalan itu, jadi tak hapal akan jalannya.

   Sedangkan rombongan berkuda Tumenggung Wira Pati ternyata tidak berhenti, bahkan terus menerjang beberapa ekor kambing yang bergelimpangan itu.

   Sekaligus Sentanu dapat melihat adanya seorang bocah tertelungkup memeluk seekor kambing yang telah tak berkutik.

   Namun mana ia bisa menahan rombongan di hadapannya.

   Sedang yang paling depan adalah pamannya, alias Tumenggung Wira Pati.

   Sentanu berada di tengah pasukan berkuda.

   Terpaksa iapun melewati di mana kambing-kambing itu terkapar.

   Hingga sekejap saja rombongan mereka pun telah jauh dari jalan desa yang sunyi itu.

   Akan tetapi Sentanu tak lama kembali lagi bersama keempat prajurit bawahannya.

   Memang ia agak penasaran, apakah penglihatannya sekilas tadi itu hanya fatamorghana saja, ataukah sesungguhnya.

   Sehingga ia dengan keempat orang bawahannya sengaja memisahkan diri, dari pasukan Tumenggung Wira Pati.

   Dan kembali lagi untuk melihat keadaan di jalan desa itu.

   Seandainya benar di sana tergeletak seorang bocah, pastilah tak akan membuat Sentanu penasaran.

   Akan tetapi Sentanu dan keempat prajurit bawahannya tidak mendapatkan ada seorang anak manusia di tempat kambing-kambing yang telah tergeletak tak bernyawa itu.

   Bahkan keempat prajurit diperintahkan memeriksa keadaan sekitarnya.

   Namun tak dijumpai siapa-siapa.

   Demikianlah, akhirnya Sentanu beranggapan kambing-kambing yang mati itu adalah beberapa ekor kambing yang kebetulan lewat di jalan desa yang sempit itu.

   Akan tetapi, terkejut Sentanu ketika melihat sebuah benda berkilat tak jauh dari kaki-kaki kambing yang mati.

   Ia segera turun dari kudanya.

   Dan meraih benda itu...

   Ternyata benda itu adalah kalung berbentuk hati dan dengan bertuliskan huruf "R"

   Di tengah bandulannya.

   Sentanu telah menyimpan benda itu.

   Akan tetapi ia telah berkeyakinan bahwa benarlah apa yang telah dilihatnya bahwa adanya seorang bocah yang tertelungkup memeluk seekor kambing, yang telah diterjang terus oleh Tumenggung Wira Pati.

   Bertambah gusar dan mendongkolnya Sentanu, ketika setelah berfikir keras dengan masalah itu, punya dugaan kuat bahwa rombongan berkuda sang paman telah menerjang dua kali di tempat kambing-kambing itu berserakan.

   Mustahil bila baru pertama kali, karena ketika Sentanu dan rombongannya yang memang baru sekali melewati tempat itu, telah melihat bahwa kambing-kambing itu telah tergeletak berserakan.

   Berarti ketika rombongan Tumenggung lewat yang pertama, telah menerjang sekumpulan kambing dengan seorang bocah penggembalanya.

   Dan yang kedua kalinya, ketika kembali, telah menerjangnya lagi tanpa menghiraukan nyawa orang, apa lagi binatang.

   Mengingat demikian Sentanu jadi membenci sang paman, alias Tumenggung Wira Pati.

   Namun anehnya, kalungnya dikete-mukan, tapi bocah si penggembalanya tak ada.

   Sentanu punya dugaan kuat kalau si bocah penggembala kambing itu seorang bocah perempuan.

   Dan Sentanu berpendapat, bahwa bocah penggembala itu pasti telah ada yang menolong.

   Namun itu cuma dugaan.

   Dan entah mengenai hidup dan matinya si bocah pengembala itu.

   Sentanu tak mengetahui.

   Namun sampai lebih dari dua belas tahun ternyata Sentanu masih menyimpan benda itu.

   Dengan harapan dapat menemukan si pemiliknya kelak...

   Demikianlah Sentanu mengakhiri penutu-rannya.

   Adapun Roro Centil mendengar-kannya dengan termangu-mangu.

   Tiba-tiba ia telah membuka ikat kapalanya.

   Dan meraba sebuah bekas luka di sudut dahi dekat rambutnya.

   Luka itu adalah bekas terkena terjangan kaki-kaki kuda, menurut Gurunya atau paman angkatnya, yaitu si Maling Sakti.

   Dengan sepasang mata masih menatap kosong, Roro berkata;

   "Aku punya luka kecil di dahiku ini, menurut mendiang guruku dahulu, adalah bekas kena terjangan kaki-kaki kuda...!".

   "Kalau benar benda itu adalah milikmu, berarti kaulah si bocah penggembala kambing pada dua belas tahun lebih yang silam...!"

   Ujar Sentanu dengan wajah girang. Tampaknya Roro sulit mengingat-ingat kisah lalu itu. Namun setelah beberapa saat terdiam, terdengarlah Roro menghela napas, dan ujarnya...

   "Benar, sobat Sentanu...! Aku mulai ingat. Kala itu aku menggemba-lakan kambing-kambing pamanku. Dan saat itu ada sepasukan berkuda yang datang, dan tahu-tahu sudah berada di hadapanku. Aku sempat melompat ke parit. Namun kambing-kambingku telah berserakan dengan keadaan menyedihkan. Cuma dua ekor saja yang tinggal hidup. Itupun dalam keadaan patah kaki. Aku memang tak mampu mengingat berapa jumlah semua kambing-kambingku. Namun yang kuingat adalah kematian si Putih, kambing kesayanganku yang belum lama dibelikan ayah. Yaitu sebelum ada berita gugurnya ayahku di medan perang. Bahkan mayatnya saja aku tak mengetahui...!"

   Sampai di sini Roro Centil menyeka air matanya yang telah meleleh turun membasahi kedua pipinya.

   "Ketika pasukan berkuda itu lewat, aku bangkit dari dalam parit, dan menangis memeluki si Putih. Kulihat kedua anaknya yang masih kecil dan lucu, telah mati dengan menyedihkan...! Si Putih kudekap erat. Binatang tak berdosa itu megap-megap. Lidahnya terjulur penuh darah. Tulang-tulang tubuhnya telah remuk di dalam. Aku tak kuasa menahan kesedihanku. Hingga aku tak sadarkan diri lagi, ketika si putih melepaskan nyawanya. Selanjutnya aku tak ingat apa-apa lagi. Cuma yang kuingat ada suara gemuruh yang datang. Dan aku terguling-guling di antara derap kaki-kaki kuda. Kurasakan mataku jadi gelap, karena kepalaku terantuk benda keras. Dan selanjutnya aku sudah tak tahu apa-apa lagi". Tutur Roro. Dan melanjutkan lagi...

   "Belakangan baru aku mengetahui, yaitu setelah aku dewasa. Guruku si Maling Sakti alias Jarot Suradilaga itulah yang telah menolongku. Dan mengangkatku sebagai murid. Aku pun telah menganggap beliau pamanku sendiri. Sayang...kurang lebih tiga tahun berselang, guruku tewas oleh si Dewa Tengkorak, juga mertua guruku, kakek Bayu Seta alias si Pendekar bayangan. Selanjutnya aku berguru dengan seorang tokoh aneh di Pantai Selatan. Setahun yang lalu memang aku telah terjunkan diri ke Rimba Persilatan, membantu kaum pendekar melenyapkan kejahatan. Akan tetapi aku kembali harus menjalani gemblengan selama lebih dari setahun. Dan baru hari ini aku keluar dari tempat perguruanku...!". Demikian tutur Roro Centil panjang lebar. Sementara Sentanu cuma manggut-manggut mendengarkan dengan penuh perhatian. Kini jelaslah bahwa kalung yang ditemukan itu milik Roro. Dan diam-diam Sentanu bersyukur juga kagum, yang ternyata si pemilik kalung yang ditemukan itu, adalah seorang Pendekar Wanita yang dikaguminya.

   "Aku pun baru mengetahui kalau si Maling Sakti itu ternyata adalah seorang Pendekar Pejuang tanpa pamrih. Dan juga Ketua dari Partai Kaum Pengemis, yang banyak berjasa pada Kerajaan. Bahkan ternyata orang-orang atau Pembesar Kerajaan diam-diam hanya mencari pangkat atau kedudukan terhormat. Yang biasanya asal main tuduh saja. Bahkan tipu daya dan fitnah keji pun tega ia lontarkan, demi untuk kelanggengannya duduk di kursi terhormat...!". Ujar Sentanu. Karena seketika ia pun teringat pada Tumenggung Wira Pati, yang sekarang telah menjabat sebagai Senapati Kerajaan Medang. Sentanu memang ada menduga yang menggembar-gemborkan desas-desus kematian ayahnya ada hubungannya dengan Senapati (pamannya) itu. Karena sebagai perwira Kerajaan, Sentanu sedikit banyak mengetahui akan sepak terjang dan perbuatan Wira Pati. Namun untuk menjaga agar tidak menjadi kekacauan yang dapat mencemarkan nama Kerajaan, sengaja Sentanu tutup mulut. Dan ia mengundurkan diri dari keprajuritan. Cuma yang aneh, adalah ia dituduh oleh banyak penduduk desa sebagai seorang yang membuat kericuhan. Dengan mengkambing hitamkan dirinya sebagai seorang pemerkosa, dan penculik gadis. Hal ini membuat Sentanu jadi bertekad menyelidiki biang keladi kericuhan yang telah mengadu dombakan ia dengan Mandra, sahabatnya. Juga menjadikan penduduk di desanya sendiri bersikap sinis terhadapnya. Apa lagi kini dengan munculnya Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis, yang telah turut campur. Sentanu merasa harus berhati-hati. Karena bukan mustahil akan banyak musuh yang tanpa sebab akan memusuhinya ... Oleh sebab itulah Roro Centil bersedia membantu Sentanu menjernihkan keadaan di beberapa desa yang tengah dilanda kemelut itu. Juga melindungi Sentanu dari kejahatannya manusia yang sengaja berniat memfitnahnya. Bahkan juga berniat melenyapkan laki-laki tak bersalah itu. Akhirnya sedikit banyak, Roro Centil dapat mengetahui kisah riwayat hidup Sentanu. Yang ternyata banyak liku-liku kehidupan yang dialaminya. Selang tak berapa lama, tampak Sentanu bangkit berdiri, dan keluarkan suara suitan panjang. Suara suitan itu adalah untuk memanggil sang kuda tunggangannya. Tak berapa lama, terdengar suara derap kaki kuda menghampiri, disusul suara ringkikannya. Dan segera saja muncul seekor kuda hitam, yang tadi melarikan diri. Sentanu segera menghampirinya, dan menepuk-nepuk lehernya, seraya berkata;

   "Antasena! Marilah kita tinggalkan tempat ini, aku harus kembali pulang dulu. Perasaanku tak enak. Aku akan menemui ibuku. Tentu beliau mengharapkan kedatanganku...!". Sang kuda meringkik panjang seperti mengerti akan kata-kata sang majikan. Sementara Roro Centil cuma tersenyum saja memperhatikan Sentanu.

   "Aku tak dapat menemanimu, kembali ke desa. Tapi tak usah khawatir. Si tiga paderi itu telah berjanji tak akan mencampuri urusan ini. Silahkan kau berangkat. Aku masih ada sedikit urusan yang akan kuselesaikan. Mungkin besok, atau malam nanti aku akan menyelidiki situasi di sekitar tiga desa terdekat. Kuharap kau jangan tinggalkan rumahmu. Kelak aku pasti mencarimu di desa tempat kau berada. Atau kau dapat tanyakan pada Carik Desa di wilayah Kadipaten Karang Sembung...!". Sentanu anggukkan kepalanya, seraya melompat ke atas punggung kudanya.

   "Aku harus segera kembali, nona Pendekar, Roro Centil. Dan sekali lagi terima kasih atas bantuan anda...!". Dan setelah berpamit, Sentanu sudah hentakkan kakinya ke perut kuda. Selanjutnya sang kuda telah mencongklang lari dengan cepat. Roro menatapnya hingga sampai punggung Sentanu tak kelihatan lagi. Terdengar si gadis ini menghela napas, seraya lengannya meraba bandulan kalungnya yang berbentuk hati dan bertulisan huruf "R"

   Pada bagian tengahnya.

   Bibir gadis ini sunggingkan senyum senang.

   Tak lama kemudian, ia telah berkelebat pergi tinggalkan biara rusak itu.

   Matahari semakin tinggi dengan panasnya yang amat terik ...

   Rumah gedung besar milik Bupati Daeng Panuluh itu tampak sunyi.

   Di luar cuma ada dua orang penjaga, yang tampaknya amat mengantuk.

   Sementara di ruang dalam, tampak Ki Ageng Daeng Panuluh tengah asyik duduk di kursi goyang dengan mata meram melek.

   Tubuhnya yang agak gemuk dan tanpa mengenakan pakaian pada bagian atasnya itu, terlihat mengeluarkan keringat.

   Sebentar-sebentar ia mengipasi tubuhnya dengan kipas dari bulu burung yang selalu tergenggam di tangannya.

   Sementara di ruang kamarnya terdengar suara isak tersendat.

   Suara isak dari seorang gadis yang telah mengalami kenyataan hidup yang amat getir.

   Lolos dari lubang buaya, terperangkap di sarang macan.

   Dia seorang gadis yang masih muda.

   Dengan paras cantik.

   Berkulit kuning langsat.

   Tubuhnya dalam keadaan tertotok.

   Sehingga ia tak dapat berbuat apa-apa selain terlentang di pembaringan.

   Malam tadi sesosok tubuh telah membawanya melalui jalan rahasia di belakang gedung bupati Daeng Panuluh ini.

   Dan malam tadi seperti juga malam kemarin, ia telah menghadapi hadirnya sang harimau jantan.

   Yang dengan mendenguskan napasnya telah merencah tubuhnya hingga seperti lumat.

   Kini ia tengah menunggu nasib apa selanjutnya yang akan menimpa.

   Tengah ia termenung dengan terisak-isak, pintu kamar kembali terbuka lebar.

   Lalu kembali menutup perlahan.

   Sepasang mata teduh wanita muda ini kembali membersitkan sinar gemerlapan di antara derai air matanya.

   Dilihatnya sang harimau jantan yang tampaknya belum puas melahap tubuhnya itu telah mendekatinya kembali.

   Kain selimut penutup tubuhnya itu telah kembali disingkapkan.

   Dan sepasang mata jalang laki-laki bertubuh agak gemuk itu menatap wajahnya serta merayapi sekujur tubuhnya.

   Terdengar ia tertawa menyeringai senang, seraya lengannya menelusuri setiap lekuk liku tubuh wanita.

   Sementara sang wanita telah menggigit bibirnya menahan geram.

   Tiba-tiba ia telah semburkan ludahnya hingga membasahi wajah laki-laki itu.

   "Fuah...! Kau meludahiku, manis...? He he...ha ha ha...

   ". Daeng Panuluh tertawa terbahak-bahak. Sementara si wanita itu sudah membuang mukanya ke samping.

   "Belum puaskah kau, binatang...? Mengapa tidak segera kau bunuh aku?"

   Desis wanita itu disela isaknya. Daeng Panuluh menyeka air ludah yang melekat di wajahnya.

   "Kau katakan aku binatang...? Ha ha he he he he...mungkin juga benar, tapi mungkin juga tidak. Aku berikan kelembutan padamu, mengapa kau tolak? Kau diantar kemari sudah bukan gadis lagi...! Kalau kau marah padaku itu salah besar, sayang ...! Tapi tak apalah ...! Sebentar kau akan menjadi jinak...!". Berkata laki-laki itu. Tiba-tiba ia telah beranjak mendekati meja di sudut kamar itu. Lengannya bergerak mengambil cawan berisi air yang telah disediakan. Tiba-tiba dengan sebelah lengannya laki-laki itu telah menjambak rambut sang wanita, seraya berkata;

   "Bukalah mulutmu sayang...! Kau minumlah air pelepas dahaga ini...!". Tentu saja sang wanita itu berteriak tertahan menahan sakit. Akan tetapi ketika mulutnya terbuka, cawan berisi air ramuan itu telah dicekokkan padanya. Walaupun ia berusaha meronta, namun tak urung air ramuan itu telah masuk juga ke dalam tenggorokannya. Terdengar si laki-laki tertawa terbahak-bahak. Dan lepaskan jambakan pada rambutnya. Wanita muda itu terengah-engah kembali tergolek di pembaringan. Ia berusaha mengangkat lengannya tapi totokan pada tubuhnya tak mampu ia membukanya.

   "Keparat...! Bunuhlah aku, mengapa kau siksa aku terus menerus...?".

   "Aku tidak menyiksamu, manis...! Sebentar tenagamu akan kembali pulih. Dan kau akan bertenaga seperti seekor harimau betina...! Ha ha he he he..."

   Namun wanita itu sudah tak mendengarkan ocehan laki-laki itu.

   Sepasang matanya telah dipejamkan.

   Karena ia rasakan kepalanya menjadi pusing.

   Sepasang matanya berkunang-kunang, dan menjadi gelap.

   Dan ada hawa panas bergolak dalam perutnya.

   Tubuh wanita itu menggelinjang menahan hawa panas itu.

   Entah berapa saat ia tak tahu.

   Ketika samar-samar ia melihat laki-laki itu tengah meneguk arak di hadapannya, ketika ia membuka sedikit kelopak matanya.

   Aneh...! Hawa kemarahannya seperti lenyap.

   Totokan pada tubuhnya seperti telah punah...

   Akan tetapi tak ada niat ia untuk melepaskan diri dari tempat itu.

   Ia seperti mengharapkan sesuatu yang menggebu dalam jiwanya.

   Sepasang matanya yang redup itu seperti telah menjadi tatapan mata liar dan jalang.

   Lengannya menggapai seperti mencari pegangan.

   Disertai rintihan aneh, yang mendesis dari mulutnya.

   Kini ia merasa seolah benar-benar menjadi seekor harimau betina yang sedang berahi.

   Terdengar samar-samar suara tertawa yang membuat ia seperti seorang buta yang mencari-cari tongkat.

   Dan ia sudah segera dapatkan tongkat itu, untuk segera selanjutnya berjalan menyusuri relung-relung kenikmatan, yang penuh misteri.

   Bagaikan seekor binatang buas, yang membaui daging mentah, harimau betina itu melumat apa yang ada di hadapannya.

   Desah napasnya memburu.

   Seperti berpacu dengan desah-desah angin yang tak diketahui dari mana datangnya.

   Daeng Panuluh perlahan bangkit untuk duduk.

   Napasnya terengah.

   Ia terlalu banyak menenggak arak.

   Selang tak lama ia telah keluar dari kamarnya.

   Dan kembali lemparkan tubuhnya ke kursi goyang.

   Di sana ia duduk dengan kaki terjuntai, dengan pejamkan mata.

   Segera tubuh laki-laki agak gemuk itu terayun-ayun membawanya ke alam mimpi di balik awan.

   Sesaat antaranya telah terdengar suara dengkurnya menggeros.

   Saat malam menjelang datang, rumah gedung Bupati Daeng Panuluh seperti semakin sunyi...

   Namun sesosok tubuh bagaikan bayangan hantu tampak berkelebat keluar dari belakang gedung.

   Sosok tubuh itu seperti memondong sesuatu yang dibawa berkelebat dengan cepat.

   Dan sesaat antaranya kembali kesunyian mencekam malam yang gelap gulita...

   Esok paginya, seorang penduduk desa yang akan pergi ke sawah di ujung desa, jadi terkejut, karena menjumpai sesosok tubuh telah menjadi mayat, terperosok di pematang sawah.

   Terkesiap seketika orang itu.

   Segera saja ia telah berlari sipat kuping.

   Paculnya telah dilemparkan dan ditinggalkannya begitu saja.

   Ternyata ia berlari ke arah desa.

   Seraya terdengar suaranya berteriak-teriak;

   "Toloooong...! Ada pembunuhan..! Ada mayat! Ada mayat di pematang sawah ...!"

   Serentak saja orang-orang desa segera keluar. Tiga orang laki-laki telah melompat mendekatinya seraya bertanya;

   "Mayat siapa...! Laki-laki atau perempuan...?"

   Tanya salah seorang.

   "Pe...perempuan...!", Sahut si petani itu dengan gagap. Ketiga laki-laki itu tersentak. Sementara beberapa orang segera berkerumun.

   "Di mana...! Di pematang sawah sebelah mana...!", Tanya lagi laki-laki itu.

   "Mari aku tunjukkan...!"

   Ujar si petani. Pada saat itu muncul pak Carik Desa.

   "Ada apa lagi pagi-pagi sudah ribut...?". Tanya laki-laki berusia 50 tahun itu. Segera si petani menceritakan apa yang telah dilihatnya... Pak Carik tampak kerutkan alisnya.

   "Hm...! Lagi-lagi korban pemerkosaan...! Mari kita lihat ... !"

   Ujarnya.

   Dan serentak mereka sudah bergegas mengikuti si petani yang berjalan terlebih dulu.

   TIDAK semua yang berkerumun itu pergi untuk melihat.

   Terutama wanita, mereka cuma silih perbincangkan dengan sesama tetangga.

   Tapi seorang wanita ternyata telah bergegas menyusul rombongan yang berlarian itu.

   Dia bukan penduduk tempat itu.

   Tapi secara kebetulan ketika sedang menghirup udara pagi, telah mendengar suara ribut-ribut.

   Ternyata di seberang jalan adalah sebuah penginapan.

   Agaknya ia seorang pendatang yang telah menginap di penginapan yang cukup besar itu.

   Memang desa ramai itu pada bagian belakangnya adalah terbentang kebun dan sawah penduduk yang luas.

   Wanita itu berbaju merah, dengan rambutnya dikepang dua.

   Ternyata ia punya gerakan lincah.

   Dalam beberapa saat saja ia telah dapat menyusul rombongan yang telah jauh itu.

   Bahkan tak lama rombongan di hadapannya telah berhenti.

   Dan tampak mereka jadi sibuk, silih berdesakan untuk melihat mayat yang terbujur di pematang sawah.

   Ternyata mayat itu benar seorang wanita.

   Keadaannya amat mengenaskan sekali, karena tubuhnya matang biru.

   Dan tak mengenakan selembarpun pakaian, hanya sehelai kain yang membungkus tubuhnya.

   Beberapa orang yang melihat tidak mengenali siapa adanya wanita muda itu.

   Akan tetapi tiba-tiba si gadis berbaju merah yang tadi menyusul belakangan itu, telah terpekik kaget, seraya menubruk mayat wanita malang itu.

   "Surti..!Surtiiiii..!"

   Teriaknya histeris, dan ia sudah memeluki mayat yang sudah kaku di pematang sawah itu, dengan air mata bercucuran.

   Semua yang memandang cuma terpaku melihatnya.

   Pak Carik menghela napas.

   Sementara tiga laki-laki tadi cuma bisa tundukkan kepala dengan hati trenyuh mendengar suara tangis si wanita yang menyayat hati.

   Di antara ketiga laki-laki itu ternyata terdapat Mandra, anak pak Carik.

   Pemuda itu memandang pada ayahnya.

   Sementara laki-laki berusia 50 tahun itu sunggingkan senyum sinis padanya seraya berkata;

   "Heh...! Apakah pendapatmu dengan korban kali ini ... ? Apa kau tak juga yakin kalau semua ini perbuatan si Sentanu itu ... ?". Mandra menatap tajam pada ayahnya. Alisnya bergerak menyatu. Dan dengan nada tegas ia telah menjawab pertanyaan sang ayah.

   "Aku telah memberinya waktu selama tiga bulan. Dan hal itu adalah suatu kebijaksanaan yang mutlak bagi kita untuk memberinya kesempatan si pelaku sebenarnya. Kita tak dapat menuduh orang dengan semena-mena, ayah...! Kalau seandainya ia benar-benar tak bersalah, akan kita taruh di mana muka kita...? Apa lagi ayah adalah seorang Carik. Yang tentunya akan disorot tajam oleh mata semua penduduk...!". Laki-laki tua yang masih bertubuh kekar ini cuma mendengus, dan berkata;

   "Terserah dengan keputusanmu, Mandra. Segeralah kau bantu mengurus jenazah itu! Aku akan menemui Bupati...!".

   "Baik, ayah...!"

   Menjawab Mandra seraya palingkan kepala pada si gadis baju merah yang masih terbenam dalam tangis.

   Pak Carik Desa bernama Sengkuti ini, segera putar tubuhnya, dan berlalu meninggalkan kerumunan orang, yang kian bertambah saja.

   Ternyata di antara kerumunan orang itu ada terdapat seorang pemuda berwajah pucat yang menyandang buntalan di punggungnya.

   Ketika laki-laki Carik Desa itu bergegas tinggalkan tempat itu si pemuda diam-diam telah mengikutinya.

   Hingga tak lama sudah berada di luar desa.

   Terkejut juga pemuda berwajah pucat itu, ketika melihat laki-laki yang sudah diketahuinya Carik Desa itu ternyata mempergunakan ilmu lari cepat.

   Kiranya ia punya gerakan gesit.

   Entah apa maksudnya si pemuda itu membuntuti laki-laki itu.

   Tapi ketika di tebuah tikungan, si pemuda itu telah kehilangan jejak.

   "He...? Kemana gerangan ia perginya...?"

   Desis suara si pemuda.

   Sementara ia sudah putar tubuh, dan palingkan kepala ke sana-kemari, namun tak juga dilihatnya orang yang sedang dibuntutinya.

   Tahu-tahu telah berdesir angin di belakang tubuhnya.

   Terkejut pemuda ini, namun dengan sebat ia sudah melompat ke samping dengan gerakan kilat.

   Ternyata adalah serangkum jarum senjata rahasia, yang nyaris saja mengenai punggungnya.

   Pemuda ini sudah keluarkan bentakan keras...

   ketika dilihatnya sebuah bayangan berkelebat melarikan diri.

   "Heii...! Berhenti pengecut...!"

   Teriaknya santar. Dan ia sudah kelebatkan tubuhnya menyusul bayangan itu. Akan tetapi bayangan itu pun lenyap. Namun si pemuda sudah dapat menduga si penyerangnya ...

   "Potongan tubuhnya mirip si Carik Desa itu cuma kepalanya terbungkus kain hitam. Tentu ia menggunakan topeng... agar tak dapat dikenali...!". Desis suara si pemuda. Diam-diam si pemuda itu semakin mencurigai orang yang dibuntuti. Tiba-tiba tiga sosok tubuh telah bersembulan dari tiga penjuru. Terkejut pemuda ini, karena ia telah mengenali siapa adanya ketiga orang yang telah mengurungnya itu. Namun tanpa bisa berfikir panjang lagi ia harus mengelakkan terjangan salah seorang yang menyerang dengan kipas baja berujung runcing. Si penyerang ini memakai tasbih hitam yang tergantung di lehernya. Rambutnya gondrong berwarna coklat. Dua serangan beruntun menerjang mengarah leher, dan dada. Membersit angin keras, ketika senjata itu lewat beberapa senti dari kulit lehernya. Sedang serangan pukulan selanjutnya yang mengarah ke dada, telah ia sambuti dengan hantaman telapak tangannya. Terdengar si penyerang yang bertubuh pendek itu berteriak tertahan, dan tubuhnya terlempar ke belakang tiga tombak. Namun dengan sebat ia telah bangkit berdiri lagi. Tampak ketiganya saling pandang. Tiba-tiba si laki-laki berjubah hitam yang bertubuh jangkung dan berkumis tebal itu telah melompat ke hadapannya.

   "Ha ha ha...boleh juga ilmu tenaga dalammu anak muda...! Gerakan tubuhmu amat gemulai. Membuat aku ingin mencicipi kehebatan anda ...!". Berkata ia dengan wajah tertawa menyeringai. Ternyata orang ini adalah Kuti, si paderi Ketua dari Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis. Seraya berkata, ia telah tarik keluar secarik kain sutra berwarna hijau dari balik jubahnya. Dan dengan sebat ia telah menerjang dengan senjata yang tiba-tiba berubah menjadi kaku. Terkejut pemuda itu, karena ia baru melihat senjata aneh itu. Terjangan ke arah dada dapat ia hindarkan dengan lengkungan tubuhnya ke belakang, akan tetapi benda itu mendadak telah berubah kembali menjadi lemas, dan tahu-tahu telah menyambar ke arah kepala. Terkejut si pemuda. Namun sudah terlambat. Walaupun ia berhasil melindungi kepalanya, namun ikat kepalanya telah menjadi terlepas... Segera saja rambutnya terjuntai, karena tanpa ikat kepala lagi. Hal mana membuat si ketiga manusia di hadapannya jadi tertawa terbahak-bahak.

   "Ayo, telanjangi lagi pakaiannya, biar tinggal kulit dan bulu...baru kita bikin sate...!". Teriak si laki-laki berjubah kuning yang bertubuh pendek. Tapi ketiganya jadi ternganga, karena tahu-tahu tubuh si pemuda berambut panjang itu telah berkelebat cepat sekali, dan sekejap saja telah lenyap.

   "Kurang ajar...! Dia bisa meloloskan diri...!". Teriak si laki-laki jubah ungu.

   "Ayo, cepat kejar...!"

   Teriak Kuti.

   Akan tetapi harus mengejar ke mana, karena yang mau dikejar sudah tak kelihatan lagi.

   Kedua kawannya cuma bisa terpaku di tempat dengan kesima.

   Tampak Kuti seperti agak mendongkol karena tak dapat menangkap pemuda itu.

   Terdengar ia berkata;

   "Aku menduga dia seorang wanita...! Suara dan gerak-geraknya tak dapat aku dikelabuhi. Sayang aku tak dapat menangkapnya...!".

   "Eh...!? Jangan-jangan dia si Pendekar Wanita Pantai Selatan yang menyaru..."

   Desis si laki-laki pendek. Tampak Kuti mengerutkan alisnya.

   "Heh! Entahlah...! Tapi kalau benar dia, akan bisa membahayakan diri kita... Namun jangan khawatir adik Lembu Alas, dan Kebo Ireng...! Justru aku menginginkan sekali untuk bisa menawannya. Ha ha ha...

   "

   Ujar Kuti, dengan tertawa.

   Tak berapa lama ketiga paderi yang menyamar itu sudah berkelebatan pergi.

   Beberapa hari kemudian...

   Sebuah gedung kuno yang tampaknya bekas peninggalan dari Kerajaan itu terlihat sunyi.

   Tapi dua orang bujang tua tampak tengah menyapu halaman, Salah seorang melihat ke pintu gedung yang tertutup.

   Lalu mendekati kawannya.

   "Apakah ketiga pendeta ada di dalam...?". Tanya laki-laki jongos itu. Sang kawan hentikan menyapu seraya berpaling pada kawannya, dan melirik ke arah pintu gedung. Lalu menjawab pelahan.

   "Tampaknya mereka pergi...! Ada apakah kau tanyakan mereka...?". Tanya sang kawan.

   "Eh! Ahu... Tadi sebelum kau bangun, aku telah lebih dulu membersihkan lantai, tiba-tiba datang seseorang yang memanggilku dari halaman. Aku segera menghampiri...!".

   "Laki-laki atau wanita orang itu...?". Menyela si jongos kawannya.

   "Seorang wanita tua. Tapi tampaknya bukan wanita sembarangan. Karena ia membawa tongkat berkepala naga. Ia menanyakan siapa penghuni gedung ini...! Aku mengatakan penghuninya tiga orang paderi atau pendeta. Orang tua itu manggut-manggut, lalu berangkat pergi setelah mengucapkan terima kasih ...!".

   "Kau tidak tanyakan ia mencari siapa...?". Tanya sang kawan. Laki-laki jongos itu cuma menggelengkan kepala.

   "Cuma anehnya sepasang matanya tampak berkilatan tajam. Seperti ia tengah menyelidiki si penghuni gedung ini ...!". Sambungnya lagi.

   "Jangan-jangan ia bakal kembali lagi ...!". Berkata sang kawan.

   "Entahlah..."

   Menyahuti ia, seraya beranjak untuk meneruskan lagi pekerjaannya.

   Tapi tiba-tiba sepasang mata kacung ini jadi terbelalak lebar, karena dilihatnya wanita bertongkat yang tadi pagi datang itu ternyata sedang berdiri di bawah pohon tak jauh di luar halaman.

   Dengan sepasang matanya menatap ke arah gedung.

   Tampak si kacung ini cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.

   Lalu buru-buru masuk ke samping emperan gedung kuno itu.

   Sang kawanpun telah selesai dengan pekerjaannya.

   Dan tak lama beranjak masuk berselang tiga orang paderi itu telah kembali.

   Hati si kacung ini jadi kebat-kebit.

   Tampaknya bakal terjadi sesuatu ...

   Pikirnya.

   Benarlah! Baru saja ketiga paderi itu memasuki halaman.

   Si wanita bertongkat naga itu telah berkelebat dari tempat ia berdiri seraya perdengarkan bentakan keras.

   "Tunggu pencuri-pencuri busuk..! Kiranya kalian berada di sini ...!". Dan sekelebat si wanita itu telah melompat di hadapan si tiga paderi. Ternyata Kuti, Kebo Ireng dan Lembu Alas. Mereka tidak lagi mengenakan rambut palsu. Akan tetapi dengan kepala yang licin, alias gundul plontos.

   "Siapakah kau, perempuan tua...? Kami tak mengenalmu. Mengapa tiba-tiba kau tuduh kami sebagai pencuri...?". Bertanya Kuti. Akan tetapi diam-diam ia terkejut karena ia segera mengetahui siapa adanya wanita tua itu.

   "Heh...! Paderi-paderi palsu...! Kau kira dengan penyamaranmu itu, bisa kau sembunyi dari mata tuaku...? Kembalikan Kitab Ular yang kau curi itu...!".

   "Kitab Ular yang manakah...? Jangan-jangan kau orang sinting! Kami adalah orang-orang yang berjalan di atas kesucian. Mengapa kau tuduh kami sebagai pencuri?". Akan tetapi si wanita itu telah gerakkan tongkatnya, seraya membentak...

   "Setan Keparat...! Manusia manusia tengik semacam kalian memang seharusnya mampus siang-siang...!"

   WUT! WUT! WUT...! Si wanita telah menerjang dengan tongkat berkepala Naganya.

   Hebat sambaran tongkat itu, karena di samping serangannya amat ganas, dari ujung tongkat itu membersit keluar asap tipis yang mengandung racun.

   Kiranya memanglah wanita itu yang berjulukan si Tongkat Seribu Racun.

   Dengan menghindari serangan ganas itu, Kuti membentak.

   Kali ini ia sudah tak lagi menutupi rahasia dirinya.

   "Bagus...! Tongkat Seribu Racun! Agaknya kau jauh-jauh dari lereng Merapi cuma untuk mengejar kitab itu? Akan kuberikan kalau kau sudah tinggalkan nyawamu, dan berangkat ke Akhirat...!"

   Seraya berkata, Kuti telah mengirim pukulan telapak tangannya. WUT...! Si wanita cepat menghindar, seraya mendengus.

   "Setan Keparat...! Akhirnya kau mengakui juga! Paderi-paderi semacammu bisa mencemarkan nama baik paderi yang lainnya...! Apa lagi Kitab Ular itu berada padamu...!"

   Berkata si Tongkat Seribu Racun, seraya mengibaskan lengan jubahnya.

   Dan dibarengi bentakan, ia telah menerjang lagi dengan tongkatnya.

   Kuti yang dicecar terus, memberikan perlawanannya.

   Dengan gerakan jungkir-balik di udara, ia telah mampu mengelakkan serangan-serangan dahsyat itu.

   Akan tetapi ia harus menahan napas, karena asap tipis yang mengandung racun itu bila tersedot bisa membahayakan dirinya.

   Sementara Lembu Alas dan Kebo Ireng telah segera mempersiapkan diri untuk menerjang.

   Akan tetapi pada saat itu berkelebat sebuah bayangan merah disertai bentakan...! "Paderi-paderi keparat...! Jangan main kerubutan! Sungguh tak tahu malu...!".

   Suara bentakan itu disusul dengan serangan mendadak pada si pendek Lembu Alas, yang sudah akan menerjang dengan tasbih dan kipas bajanya.

   Ternyata yang datang dan menyerang adalah seorang gadis berbaju merah.

   Yaitu gadis yang beberapa hari yang lalu menangisi kematian seorang wanita muda di pematang sawah.

   Yang tewas itu adalah adik seperguruannya.

   Melihat kedatangan gadis berbaju merah itu, si wanita bertongkat berseru girang.

   "Bagus, muridku...! Ternyata kau kiranya! Bantulah aku menghajar paderi-paderi palsu ini...! Mereka adalah si pencuri Kitab Ular dari biara Welas Asih, di lereng Gunung Wilis.".

   "Mereka juga biang keladi penculikan gadis-gadis, Guru. Kita harus membalas dendam. Surti adikku telah tewas beberapa hari yang lalu...! Perbuatan siapa lagi kalau bukan perbuatan tiga manusia licik ini...!". Teriak si wanita baju merah.

   "Hah...!?"

   Seketika si wanita ini jadi tersentak kaget. Akan tetapi sudah terdengar bentakan.

   "Kurang ajar...!". Dari mana kau bisa menuduh kami penculik gadis-gadis,...! dan membunuh adikmu... !?". Bentak Kuti geram. Sementara ia sudah melompat mundur tiga tombak, diikuti kedua paderi lainnya.

   "Aku yang memberitahukan...!"

   Tiba-tiba terdengar suara di belakang.

   Ketika mereka menoleh, ternyata telah berdiri entah sejak kapan, seorang gadis cantik rupawan berbaju hijau.

   Piaslah wajah si tiga paderi itu.

   Karena ia segera dapat mengetahui kalau orang itu adalah si Pendekar Wanita Pantai Selatan, Roro Centil.

   Tiba-tiba Kuti telah memberi isyarat, dan sekejap kemudian mereka telah melesat kabur dengan memasuki Gedung kuno itu lewat jendela.

   Terkejut si wanita bertongkat Naga, dan muridnya.

   Mereka sudah segera akan bergerak mengejar, namun Roro Centil sudah berkata menghalangi.

   "Biarkanlah ketiga tikus-tikus busuk itu, bibi...! Mereka tak akan lari jauh. Karena kitab Ularnya telah berada di tanganku...!". Tentu saja kata-kata Roro itu membuat si Tongkat Naga Seribu Racun jadi melengak.

   "Benarkah, bocah manis...! Dan siapakah kau...? Kau mengenal dengan muridku?". Tanya si wanita itu.

   "Guru...! Dia bernama Roro Centil, yang dikenal di kalangan Rimba Hijau, dijuluki si Pendekar Wanita Pantai Selatan ...!". Tiba-tiba si gadis baju merah telah mendahului menyahuti. Terkejut juga si Tongkat Naga Seribu Racun. Tapi ia telah segera tertawa gelak-gelak.

   "Bagus...! bagus...! Sungguh pertemuan yang tidak terduga. Tapi aku masih penasaran dengan kata-katamu yang mengatakan bahwa Kitab Ular ada di tanganmu! Dapatkah kau menunjuk-kannya padaku ... ?". Tanya si wanita. Roro Centil tersenyum manis, seraya ujarnya;

   "Sabarlah, bibi...! Marilah kau singgah ke tempatku. Banyak yang akan kuceritakan. Sekalian mengenai kematian muridmu...!". Agaknya wanita ini baru sadar akan hal itu. Ia sudah menyahuti dengan tergopoh-gopoh.

   "Baik...! baik...! Tentu aku bersedia...! Heh! Manusia-manusia binatang itu tak akan lepas dari tanganku kelak. Tunggulah...!". Seraya berkata ia sudah palingkan kepala pada gedung kuno itu dengan tatapan tajam. Sinar matanya seperti membersit bagai sepasang mata serigala liar. Tak berapa lama tampak ketiga wanita itu telah berkelebat pergi dari halaman gedung kuno itu. Yang kembali jadi sunyi. Sementara itu si paderi bernama Kuti di dalam gedung, jadi kelabakan, ketika mengetahui kitab yang tak pernah ketinggalan, dan selalu berada di saku jubahnya, ternyata telah lenyap. Tentu saja semua pembicaraan di luar, telah di dengarnya. Hingga ketika ketiga wanita itu berlalu, dengan diam-diam Kuti telah berkelebat membuntuti. Kira-kira sepeminuman teh, segera ia dapat melihat ketiga wanita itu memasuki sebuah penginapan yang telah dikenalnya. Tampak ia tersenyum sinis. Lalu berkelebat lagi menjauhi tempat itu, kembali ke gedung kuno. Lembu Alas dan Kebo Ireng masih duduk bersila di lantai ruangan tengah. Ketika didengarnya suara orang masuk. Yang tak lama kemudian segera muncul sang kakak tertuanya.

   "Hm! Mereka menginap di penginapan Sugih Waras...!. Gila! Kita harus cari akal untuk merebut kembali kitab itu...!". Berkata Kuti. Tampak wajahnya menampilkan kemendongkolan luar biasa.

   "Mengapa kitab curian itu bisa berada di tangan si wanita Pendekar itu...?". Bertanya Lembu Alas, si paderi pendek.

   "Benar, kakang Kuti...! Mengapa bisa demikian? Bukankah kau telah menotoknya? Aneh...! Mengapa bisa dia membebaskan diri...?". Tanya Kebo Ireng dengan penasaran.

   "Ah, dasar aku yang lagi sial...! Wanita Pendekar itu telah menipuku...! Tapi dia memang gadis yang punya keberanian luar biasa...!". Mengutuk Kuti, tapi juga ia memuji akan kecerdikan lawan. Segera Kuti menceritakan pengalamannya, yang ternyata hanya Kuti saja yang tahu. Kiranya peristiwanya adalah demikian ... Seperti diketahui, ketika beberapa hari yang lalu, seorang pemuda berhasil meloloskan diri dari tangan ketiga paderi itu. Mereka segera pergi ke tempat yang memang telah menjadi periuk nasinya. Yaitu tempat kediaman sang Bupati Daeng Panuluh. Bupati Daeng Panuluh ternyata telah bersahabat baik dengan mereka ketiga paderi. Sebenarnya boleh dikatakan sang bupati yang bergelar Ki Ageng Panuluh itu bukanlah seorang bupati. Dia baru beberapa bulan di tempat itu, sejak Bupati yang lama meninggal secara mendadak. Dia kesempatan menjadi pengganti Bupati itu diperoleh dari seorang Senapati Wira Pati. Senapati Wira Pati telah dikenal Ki Ageng Panuluh, yang sebenarnya bernama panggilan Daeng itu, sejak sang Senapati masih menjabat Tumenggung. Daeng adalah bekas seorang perompak laut, yang meminta perlindungan pada Wira Pati. Tentu saja Wira Pati yang masih menjabat Tumenggung itu, tak menolaknya. Karena di samping Daeng punya banyak harta benda hasil rampokan, juga seorang yang royal. Bagi Wira Pati, menyembunyikan seorang penjahat, yang banyak menguntungkan adalah kesempatan baik yang tak boleh disia-siakan. Demikianlah... hingga beberapa tahun kemudian, ketika Wira Pati naik pangkat menjadi Senapati, Daeng telah diangkat menjadi Bupati dengan izinnya, yaitu untuk mengisi kekosongan Gedung Bupati lama di daerah wilayah Kadipaten Karang Sembung. Karena dengan kematian mendadak sang bupati lama itu. Hubungan baik sang Bupati yang bergelar Ki Ageng Panuluh itu dengan si Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis, ternyata berkisar antara perampokan dan pemerkosaan. Yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Karena si Tiga Paderi itu adalah sebenarnya paderi samaran yang dalam pelarian. Ternyata Kuti telah berhasil merebut sebuah kitab Pusaka dari Biara Welas Asih di lereng Gunung Wilis. Kitab pusaka itu adalah kitab titipan seseorang bernama Gurnamh Singh, seorang dari Nepal. Kuti sendiri adalah seorang keturunan Nepal. Setelah merampas kitab itu dari tangan paderi-paderi Biara Welas Asih, mereka melarikan diri, hingga tiba di kawasan Kadipaten Karang Sembung. Di sini ia menyamar sebagai tiga orang paderi. Demikianlah... kedatangan mereka menemui Daeng Panuluh beberapa hari yang lalu, adalah untuk merundingkan sesuatu dengan pekerjaan jahat yang mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Sekalian melaporkan tentang munculnya tokoh persilatan Pendekar Wanita Roro Centil pada sang Bupati Daeng Panuluh. Ternyata di sana mereka, telah mendengar kericuhan dengan munculnya seorang pemuda berbaju putih, yang diam-diam telah menyelidiki ulah tingkah sang Bupati. Pemuda itu cuma memberikan ancaman saja, lalu menghilang. Oleh sebab itu kedua paderi Kebo Ireng dan Lembu Alas sengaja diperintahkan sang bupati Daeng untuk menjaga Gedungnya. Dikhawatirkan ada sesuatu yang bakal terjadi di luar dugaan. Sementara Kuti kembali beroperasi. Ternyata Kuti mengambil keuntungan lain dari pekarjaan jahat, atas kerja sama dengan Daeng. Yaitu memperkosa wanita untuk kepentingan kepuasan nafsu bejatnya. Juga karena ia mempelajari suatu ilmu aneh dari Kitab Pusaka yang dicurinya. Rambut aslinya memang telah dicukur gundul, dalam rangka penyamarannya. Tapi ia mempergunakan rambut palsu, dan menggunakan topeng, ketika melakukan kejahatan. Demikianlah... dua hari yang lalu ketika ia beroperasi sendiri, ia berhasil menculik seorang gadis dari satu keluarga yang cukup berada. Terpaksa ia membunuh ayah gadis itu, serta beberapa orang pengawal gedung. Dan melarikan diri di tengah malam buta. Tentu saja tak lupa menguras harta benda si pemilik gedung. Namun ia telah dikejar oleh seseorang, hingga terjadi pertarungan. Dengan menggunakan kelicikannya menyandra gadis itu, ia berhasil melarikan diri. Lalu sembunyi di sebuah makam kuno. Di sana ia bebas berbuat semuanya. Karena makam kuno itu adalah peninggalan dari Kerajaan, yang banyak terdapat lubang rahasia. Di bawah makam ternyata ada sebuah lubang yang menuju ke ruangan rahasia di bawah tanah. Di sanalah ia melampiaskan nafsu bejatnya. Di samping mempelajari ilmu sesat dari Kitab Ular yang dirampasnya. Sementara si laki-laki berbaju putih yang mengejarnya, telah kehilangan jejak. Ternyata laki-laki berbaju putih itu Ginanjar adanya. Yaitu murid si Pendekar Bayangan Ki Bayu Seta. Tanpa sengaja Ginanjar dapat berjumpa dengan Roro Centil, yang menyamar sebagai seorang pemuda berwajah pucat. Tentu saja hal itu membuat mereka jadi amat bergirang hati. Terlebih-lebih pemuda itu. Karena memang Ginanjar telah memenuhi undangan Roro Centil untuk datang pada tahun ini, sejak pertemuannya setahun belakangan. Tujuannya ke Pantai Selatan, jadi tertunda, karena ia terlibat dalam penyelidikan kejadian-kejadian di wilayah Kadipaten Karang Sembung. Lenyapnya si paderi palsu di makam kuno, membuat Roro Centil berhasrat untuk menyelidiki. Hingga ia berhasil menjebak Kuti keluar dari tempat persebunyiannya. Roro memang berotak cerdas, walaupun terkadang suka kumat penyakit ugal-ugalannya, yang disebabkan ia pernah cidera pada bagian kepalanya terkena terjangan kaki-kaki kuda pada usia kanak-kanaknya. Dan ditambah gemblengan keras dari Gurunya si Manusia Aneh Pantai Selatan alias si manusia Banci. Sehingga Roro berwatak aneh. Yang terkadang orang sulit menerkanya. Suara-suara rintihan di malam gelap, di dalam makam yang banyak berjajar kuburan-kuburan lama itu, bukannya membuat Roro jadi takut. Bahkan semakin penasaran untuk mengetahui setan apakah yang berada di situ, untuk menakut-nakuti orang. Terpaksa ia mendekam di sisi makam, dengan memandang tajam ke arah setiap tempat. Kembali terdengar suara rintihan yang terkadang samar-samar, namun terkadang agak keras. Walaupun bulu kuduk Roro Centil agak bergidik seram, tetap penasaran. Dan mendekari suara yang samar-samar itu, dengan beringsut perlahan. Akhirnya ia mengetahui suara itu berasal dari dalam gundukan kuburan yang cungkupnya terbuat dari batu.


Rajawali Emas Raja Lihai Langit Bumi Ibu Hantu Karya Ang Yung Sian Pendekar Mabuk Darah Asmara Gila

Cari Blog Ini