Ceritasilat Novel Online

Iblis Lembah Tengkorak 2


Pendekar Rajawali Sakti Iblis Lembah Tengkorak Bagian 2



Geram Kala Srenggi.

   "Berapa harga kudamu?"

   Tanya Langlang Pari acuh.

   "Setan! Nyawa kalian berlima belum cukup mengganti kudaku!"

   "Apakah kudamu lebih berharga dari nyawamu sendiri?"

   Kala Srenggi tidak dapat lagi menahan amarahnya. Segera dicabutnya pedang kembarnya. Sret! "Keluarkan senjata kalian!"

   Bentak Kala Srenggi lalu membuka jurus 'Pedang Kembar'.

   Tiga Serangkai Rantai Baja pun telah siap dengan.

   senjata masing-masing, berupa rantai baja murni berkepala bola berduri.

   Mereka berlompatan mengurung Lima Pari Emas.

   Hanya Saka Lintang saja yang tetap tenang berada di tempatnya.

   Matanya malah mengamati ruyung di tangannya.

   "Mampus kau!"

   Bentak Kala Srenggi seraya menyerang Langlang Pari dengan jurus 'Pedang Kembar'.

   Langlang Pari berkelit menghindari serangan dahsyat itu.

   Bersamaan dengan itu, Tiga Serangkai Rantai Baja pun telah menyerang tiga dari Lima Pari Emas.

   Pertempuran satu lawan satu berlangsung sengit di dalam kedai.

   Dalam sekejap saja keadaan kedai menjadi berantakan.

   Masing-masing menggunakan jurus andalan dan berusaha menjatuhkan lawan secepatnya.

   Tetapi mereka semua adalah tokoh-tokoh yang punya nama dalam rimba persilatan.

   Yang terlihat kini hanya bayang-bayang yang berkelebat ke setiap arah.

   Saka Lintang yang tengah mengamati ruyung kecil tiba-tiba terkejut.

   Dia merasakan sambaran angin melesat ke arahnya.

   Dengan sigap gadis ini melenting ke udara sehingga desiran angin hanya lewat di bawah kakinya.

   Ternyata desiran itu berasal dari sebuah ruyung yang dilepaskan oleh Tatra Pari yang belum kebagian lawan.

   "Pengecut!"

   Dengus Saka Lintang geram.

   Secepat kilat ruyung yang berada di tangannya dilemparkan ke arah Tatra Pari.

   Dengan sigap pula Tatra Pari menangkap kembali ruyung yang meluncur deras itu dengan jari dan memasukkannya ke dalam jubah.

   Tatra Pari segera melesat menerjang Saka Lintang.

   Rupanya Tatra Pari tidak main-main lagi.

   Dia pun melompat sambil mencabut pedang yang menempel di punggungnya.

   Pedang terhunus itu telah mengarah ke arah Saka Lintang, tiba-tiba....

   Tring! Betapa terkejutnya Tatra Pari ketika merasakan pedangnya membentur benteng baja yang kokoh.

   Tangannya terasa kesemutan.

   Didaratkan kakinya ke tanah.

   Tanpa diketahui dari mana datangnya, tiba-tiba di depan Saka Lintang telah berdiri seorang laki-laki berkepala gundul berjubah kuning.

   "Biar aku yang memberi pelajaran pada bocah telengas ini, Saka Lintang,"

   Kata laki-laki gemuk berkepala gundul yang tak lain Pendeta Murtad dari Selatan.

   Saka Lintang hanya mengangguk.

   Sebagai putri Ketua Panji Tengkorak, dia harus bisa bersikap sebagai pemimpin yang dapat menunjukkan kewibawaan diri agar disegani lawan maupun kawan.

   "Hm, rupanya Pendeta Murtad dari Selatan sudah jadi anjing Geti Ireng,"

   Dengus Tatra Pari bergumam.

   "Jangan banyak omong, bocah setan! Keluarkan seluruh kesaktianmu!"

   Balas Pendeta itu yang mempunyai nama asli, Pradya Dagma.

   "Menghadapimu cukup dengan ini!"

   Kata Tatra Pari sambil mengepalkan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memasukkan pedang ke dalam sarungnya di punggung.

   "Sombong! Jangan katakan aku kejam membunuh tanpa senjata!"

   Geram Pradya Dagma merasa terhina.

   "Silakan." ' *** Pradya Dagma atau Pendeta Murtad dari Selatan mengebutkan tasbih mutiaranya. Setiap kebutan menimbulkan suara mendem bagai angin topan. Tatra Pari yang sudah merasakan sabetan tasbih mutiara itu tak sungkan-sungkan lagi. Dicabut pedangnya kembali, lalu diserangnya lawan ke bagian-bagian yang mematikan. Namun pendeta cebol itu dengan gesit dapat menghindar dari sabetan dan tusukan pedang lawannya. Bahkan dibalasnya serangan-serangan Tatra Pari dengan tasbih mutiaranya. Dalam waktu singkat mereka telah melampaui sepuluh jurus. Sementara itu pertarungan lain masih terus ber-langsung sengit. Pertarungan antara Kala Srenggi dengan Langlang Pari telah berlangsung di luar kedai. Disusul oleh Kanta Pari, Dadap Pari, dan Baga Pari yang bertarung melawan Tiga Serangkai Rantai Baja.

   "Jangan lari, Pendeta Murtad!"

   Seru Tatra Pari melihat Pradya Dagma melompat menembus atap kedai.

   Tatra Pari mengikutinya.

   Di atas atap kedai mereka kembali bertarung.

   Saka Lintang yang kini sudah berada di luar kedai, mengawasi pertarungan tanpa mengedipkan mata.

   Hatinya agak khawatir melihat salah seorang dari Tiga Serangkai Rantai Baja terpojok melawan Baga Pari.

   Hingga tiba-tiba....

   "Crab!"

   Pedang Baga Pari menembus lawannya.

   Darah muncrat bersamaan dengan limbungnya salah satu dari Tiga Serangkai Rantai Baja.

   Tanpa bersuara sedikit pun, orang itu ambruk tidak bergerak lagi Baga Pari berdiri tegang dengan pedang tergenggam erat di tangan kanannya.

   Ujung mata pedangnya berlumuran darah.

   Saat matanya melihat Tatra Pari bertempur melawan pendeta cebol itu, hatinya terkesiap.

   Pendeta Murtad dari Selatan bukan tandingan Tatra Pari.

   Kecuali jika mereka berlima bersama-sama menghadapi pendeta itu.

   Namun sebagai pendekar sejati, Baga Pari tidak mau berlaku curang Dia hanya memperhatikan saja setiap gerakan lawan.

   Bibirnya tersungging melihat saudaranya masih mampu menandingi pendeta cebol itu.

   "Aaaakh...!"

   Tiba-tiba terdengar jerit melengking disusul ambruknya seorang lagi dari Tiga Serangkai Rantai Baja yang melawan Dadap Pari.

   Dari dadanya yang koyak, menyembur darah segar.

   Dadap Pari melompat menghampiri saudaranya yang lebih dulu menyelesaikan pertarungannya.

   Mereka berdiri berdampingan dengan dada bergerak turun naik Pedang berlumuran darah masih tergenggam.

   Dilihat dari tingkatannya, memang Lima Pari Emas bukanlah tandingan Tiga Serangkai Rantai Baja.

   Tidak sampai sepuluh jurus, dua dari Tiga Serangkai itu telah tewas.

   Dan kini....

   "Mampus!"

   "Akh!"

   Kanta Pari segera melompat mendekati dua saudaranya setelah menyelesaikan pertarungannya.

   Tuntas sudah Tiga Serangkai Rantai Baja! Kini hanya Langlang Pari yang berhadapan dengan Kala Srenggi, dan Tatra Pari yang bertarung di atas atap melawan Pendeta Murtad dari Selatan.

   Pertarungan mereka telah sampai pada tingkat yang paling genting.

   Langlang Pari telah mengeluarkan jurus Jurus andalannya.

   Kala Srenggi tak kalah dengan mengeluarkan jurus 'Pedang Kembar' nya.

   Tubuh mereka telah tergulung oleh sinar pedang sehingga seperti tak nampak lagi.

   Tiba-tiba Kala Srenggi mencelat ke atas.

   Setelah bersalto tiga kali di udara, dijejakkan kakinya di tanah sejauh dua tombak.

   Dengan sigap tangannya memasukkan pedang kembar ke dalam sarungnya.

   Segera dinaikkan tangannya ke atas, lalu turun perlahan-lahan, dan berhenrj sejajar di ketiak.

   "Racun Merah...,"

   Desis Langlang Pari.

   Tiga saudara Langlang Pari yang tengah memperhatikan, terkejut melihat Kala Srenggi mengeluarkan jurus 'Aji Racun Merah'.

   Langlang Pari segera memasukkan pedangnya.

   Bergegas dirapatkan kedua telapak tangannya ke depan dada.

   Sesaat kemudian tubuhnya telah menggigil seperti orang kedinginan.

   Langlang Pari mengeluarkan aji pamungkasnya.

   Suatu ajian yang jarang dikeluarkan kecuali terpaksa.

   Melihat Kala Srenggi mengeluarkan 'Aji Racun Merah'nya, tiga dari Lima Pari Emas segera berpegangan tangan.

   Ujung pedang mereka satukan, lalu diarahkan ke Langlang Pari.

   Dari ujung pedang yang menyatu, keluar cahaya kuning keemasan.

   Cahaya itu segera menerpa Langlang Pari.

   Tiba-tiba tubuh Langlang Pari bergetar, dan secara perlahan-lahan bembah menjadi keemasan.

   Setelah tubuh Langlang Pari bembah warna, segera tiga saudaranya itu menurunkan pedangnya.

   Bukan hanya Kala Srenggi yang terkejut.

   Saka Lintang pun terkesiap melihat ilmu yang djkeluarkan Lima Pari Emas.

   Sementara itu telapak tangan Kala Srenggi juga telah bembah merah.

   Disalurkan seluruh tenaga dalamnya setelah dia tahu kalau lawan mengerahkan 'Ajian Pari Emas' yang sangat dahsyat.

   Kejadian itu tak luput dari perhatian Pradya Dagma dan Tatra Pari sehingga pertarungan mereka terhenti dengan seketika.

   Pradya Dagma segera meleompat tumn dan mendarat di samping Saka Lintang.

   Sementara Tatra Pari telah berdiri di antara saudara-saudaranya.

   "Hiyaaa...!"

   Dengan satu teriakan melengking, Kala Srenggi melompat bagai kilat menyambar menerjang' Langlang Pari.

   Bersamaan dengan itu Langlang Pari pun tak kalah gesitnya.

   Tubuhnya melompat menerjang.

   Dalam sekejap mereka bertemu di udara.

   Ledakan dahsyat pun terjadi ketika dua telapak tangan mereka bertemu.

   Tubuh Kala Srenggi terlontar ke belakang dengan keras.

   Dia lalu dengan cepat bangkit.

   Lain halnya dengan Langlang Pari.

   Tubuhnya hanya terdorong-sedikit, dan dengan mulus kakinya terjejak di tanah.

   "Edan!"

   Dengus Kala Srenggi melihat lawannya masih segar bugar.

   "Keluarkan seluruh kesaktianmu, Kala Srenggi!"

   Ejek Langlang Pari.

   Mendengar hal itu, muka Kala Srenggi merah padam.

   Ilmu andalannya ternyata tidak berarti apa-apa bagi Langlang Pari.

   Bahkan hampir saja dirinya sendiri yang roboh.

   Baru kali ini ditemukan lawan yang begitu tangguh dan mampu menandingi 'Aji Racun Merah' yang sangat dibangga-banggakannya.

   "Kala Srenggi, mundur!"

   Bentak Pradya Dagma tiba-tiba. Kala Srenggi yang kembali bersiap-siap akan menyerang lagi, menoleh kepada pendeta cebol yang telah melangkah ke depan.

   "Ajianmu tak dapat menandingi 'Pari Emas',"

   Kata Pradya Dagma hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Kala Srenggi "Huh!"

   Kala Srenggi mendengus sengit "Aku datang untuk memanggilmu, Kala Srenggi. Geti Ireng ingin bertemu dengan kau,"

   Kata pendeta cebol itu lagi.

   "Aku selesaikan dulu setan keparat ini!"

   Dengus Kala Srenggi.

   "Tidak ada waktu. Kau bisa celaka mengabaikan perintah Geti Ireng!"

   Sambil bersungut-sungut, Kala Srenggi mundur dua tindak.

   Tanpa bicara lagi, dia langsung melompat ke atas kuda entah milik siapa.

   Yang jelas Kala Srenggi segera memacu kuda itu meninggalkan tempat itu.

   'Pari Emas, di antara kita belum pernah punya urusan.

   Mengapa kalian memusuhi kami?"

   Tanya Pradya Dagma setelah Kala Srenggi tidak terlihat lagi.

   "Lima Pari Emas selalu punya urusan dengan kejahatan. Siapa pun orangnya, berarti musuh kami!"

   Lantang suara Langlang Pari menyahut.

   "Hm..., kau cari perkara dengan Panji Tengkorak!"

   Gumam Pradya Dagma.

   "Pari Emas memang ingin membasmi Panji Tengkorak!"

   "Setan kutul! Kau tahu siapa Panji Tengkorak!"

   Panas telinga Saka Lintang. 'Tak peduli siapa, yang jelas Panji Tengkorak harus lenyap dari muka bumi!"

   Tegas suara Langlang Pari.

   "Setan alas! Mulutmu harus dibungkam!"

   Dengus Pradya Dagma.

   "Aku ingin memotong lidahmu yang busuk!"

   Ejek Tatra Pari yang masih penasaran.

   "Jaga seranganku, bocah-bocah edan!"

   Geram Pradya Dagma.

   Setelah berkata demlkian, pendeta cebol itu segera menyerang Lima Pari Emas sekaligus.

   Dia tak sungkan-sungkan lag! mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

   Lima Pari Emas harus hati-hati menghadapi Pendeta Murtad inl.

   Dengan segera mereka menggunakan jurus 'Barlsan Dewa Pari' yang mengandaikan kekompakan dan kerja sama yang balk.

   Pradya Dagma diserang dari lima penjuru dengan arah yang mematikan.

   Serangan datang bagai gelombang laut, silih berganti tanpa hentl.

   Sungguh hebat jurus 'Barisan Dewa Pari'.

   Satu serangan belum tuntas, sudah disusul dengan serangan lain.

   Begitu seterusnya.

   Pendeta cebol itu terlihat kewalahan menghadapi serangan yang saling susul menyusul itu.

   Beberapa kali dia harus jatuh bangun menghindari serangan yang beruntun.

   Keringat membasahi wajah dan tubuhnya.

   Tidak ada kesempatan untuk ke luar dari kepungan yang rapat itu.

   Seakan-akan setiap celah telah tertutup rapat.

   Hati pendeta cebol itu mulai getir.

   Dalam waktu yang tidak lama, dua puluh jurus berlalu.

   Namun demikian Pradya Dagma belum bisa menyentuh lawannya.

   Bahkan selalu saja datang serangan dari arah lain.

   Pradya Dagma benar-benar kewalahan.

   Dia kuras seluruh tenaga dan kepandaiannya.

   Kini digunakannya jurus 'Tasbih Sakti Memecah Gunung'.

   Ternyata jurus itu juga tidak menolong banyak Semua serangan Pradya Dagma patah sebelum mencapai tujuan.

   Dia segera menggantinya dengan jurus andalan lain yang lebih dahsyat.

   Tetapi juga tidak berarti apa-apa.

   Pradya Dagma hampir putus asa.

   Lima Pari Emas seakan-akan dapat mengetahui kelemahan jurus-jurusnya.

   "Setan! Ilmu apa yang mereka gunakan!"

   Rungut Pradya Dagma dalam hati.

   Di tengah keputusasaan Pradya Dagma, tiba-tiba saja serangan-serangan Lima Pari Emas mendadak ngawur.

   Hal ini membuat pendeta cebol itu keheranan.

   Matanya sempat melirik Saka Lintang.

   Gadis itu juga tengah keheranan tak mengerti.

   Rasa heran juga menghinggapi Lima Pari Emas.

   Setiap gerakan yang dilancarkan ke arah Pradya Dagma, seperti terhalang oleh benteng kokoh yang tidak teriihat.

   "Mundur!"

   Teriak Langlang Pari tiba-tiba.

   Seketika Lima Pari Emas berlompatan mundur.

   Pedang mereka tetap melintang di depan dada dengan kedua kaki tetap kokoh menjejak tanah.

   Pradya Dagma tiba-tiba terkejut melihat seorang anak muda telah berdiri di sampingnya.

   Anak muda itu mengenakan baju tanpa lengan dengan baglan dada terbuka.

   Rambutnya yang panjang diikat ke belakang.

   Sebuah pedang bertengger di punggungnya.

   Celananya hanya sebatas lutut.

   Kumal sekali keadaannya, namun berwajah tampan dan kulit putih bagai pualam.

   Pemuda itu adalah Rangga yang telah menyelesaikan semedinya di Gunung Kapur.

   Hati Rangga merasa tidak tega melihat laki-laki tua dikeroyok lima orang bersenjata pedang.

   Dia tidak tahu kalau laki-laki tua itu adalah seorang tokoh dari golongan hitam.

   Hati Rangga.

   yang masih polos belum bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.

   "Kenapa mereka sampai mengeroyok kakek?"

   Tanya Rangga dengan sopan dan lembut.

   "Mereka ingin membunuhku!"

   Sahut Pradya Dagma. Sekejap saja dia mampu mengukur kepandaian anak muda ini. Otaknya yang dipenuhi akal licik, segera memanfaatkan kehadiran Rangga yang polos itu.."Apa salah kakek?"

   Tanya Rangga tidak menyadari kalau dirinya diperalat "Mereka ingin mengambit putriku!"

   Pandangan Rangga segera terarah pada Saka Lintang yang berdiri agak jauh.

   Harinya tergetar ketika melihat gadis itu.

   Saka Lintang yang mendengar pembicaraan itu hanya tersenyum dalam hati.

   Sudah dapat ditebak maksud Pradya Dagma.

   Diam-diam hatinya tergetar juga melihat ketampanan Rangga.

   "Sebaiknya kakek pulang saja, biar saya urus orang-orang jahat Ini,"

   Kata Rangga. 'Terima kasih, tapi ini urusanku. Biar kuselesaikan sendiri,"

   Pradya Dagma pura-pura.

   "Anak muda! Minggir! Aku tidak ada urusan denganmu!"

   Bentak Langlang Pari geram.

   "Maaf, aku tidak bisa membiarkan kekejaman dan kejahatan berlangsung di depan mataku!' sahut Rangga kalem.

   "Siapa yang jahat, siapa yang kejam?"

   Dengus Langlang Pari gusar. Dia sudah dapat menebak akal bulus Pradya Dagma. Rangga menatap lurus pada Langlang Pari dan adik-adiknya. Kemudian ditatapnya pendeta cebol yang masih berdiri di sampingnya.

   "Saka Lintang, cepat pulang. Nanti ayah menyusul!"

   Kata Pradya Dagma meneruskan sandiwaranya. Dia tidak ingin kedoknya terbongkar. Baginya ini kesempatan untuk dapat meloloskan diri dari Lima Pari Emas. Bagaimanapun dia sadar tidak akan mampu menghadapi Lima Pari Emas sekaligus.

   "Baik, Ayah!"

   Sahut Saka Lintang segera melompat ke atas kudanya.

   Rangga kagum melihat ketangkasan gadis itu dari caranya melompat dan melarikan kudanya dengan cepat.

   Saka Lintang tahu kalau perintah itu hanya siasat saja, makanya dia menuruti saja perintah itu.

   Dan lagi dia memang tahu kalau pendeta cebol tidak sanggup lagi melawan Lima Pari Emas.

   Perintah itu juga bisa jadi suatu tanda kalau dia harus segera melapor pada ayahnya, Geti Ireng.

   "Pendeta licik, hadapi aku!"

   Geram Langlang Pari. Dia sudah bisa membaca maksud yang terkandung di benak Pradya Dagma.

   "Anak muda, jangan terpancing dengan kelicikannya! Dia Pendeta Murtad dari Selatan"

   Seru Dadap Pari. Matanya yang jeli bisa melihat kalau Rangga belum mengerti tentang rimba persilatan.

   "Ah, Anak Muda. Saya mohon diri. Terima kasih, telah menolongku,"

   Kata Pradya Dagma terburu-buru. Rangga belum sempat mengeluarkan sepatah kata pun, tetapi Pradya Dagma telah melompat ke punggung kuda dan langsung menggepraknya. Kuda tinggi besar itu meluncur cepat. Sebentar saja sudah jauh meninggalkan tempat itu.

   "Setan ! Licik!"

   Umpat Langlang Pari kesal.

   "Anak Muda, siapa kau sebenarnya? Kenapa membantu Pendeta Murtad itu?"

   Tanya Dadap Pari yang lebih besar dari lainnya.

   "Aku Rangga,"

   Sahut Rangga memperkenalkan diri.

   "Aku tidak bisa melihat kekejaman berlangsung di depan hidungku!"

   Dadap Pari tersenyum mendengar kata-kata polos itu.

   Dia memasukkan pedang ke dalam sarungnya.

   Dihampirinya Rangga yang tetap berdiri di tempatnya.

   Senyum masih terkembang di bibir Dadap Pari.

   Dia bisa maklum kalau anak muda ini masih hijau dalam dunia persilataa Rangga mengernyitkan alisnya.

   Dia tidak mengerti kenapa orang yang semula dikira jahat justru berkata lemah lembut dan tidak menunjukkan permusuhan.

   Bahkan mereka semua memasukkan pedangnya kembali.

   Apakah salah penilaiannya? "Kami lima bersaudara dengan julukan Lima Pari Emas.

   Kami berasal dari Gunung Cupu.

   Sedangkan pendeta gundul itu bergelar Pendeta Murtad dari Selatan.

   Sudah lama dia kami cari untuk kami hentikan sepak terjangnya yang tidak berperikemanusiaan,"

   Kata Dadap Pari menjelaskan.

   Rangga menatap lima orang yang berdiri di depan-nya satu persatu.

   Seakan-akan ingin memastikan kalau dia tadi salah menilai.

   Julukan Pendeta Murtad dari Selatan pernah dibacanya dari salah satu buku yang di goa Lembah Bangkai Nama itu tercantum berikut nama-nama lain yang termasuk dalam golongan hitam.

   Tetapi Rangga belum yakin.

   Sebab nama Pendeta Murtad dari Selatan sudah lenyap di tangan Pendekar Rajawali Sakti seratus tahun yang lalu.

   Apakah orang tua gundul cebol itu muridnya yang kini malang melintang di rimba persilatan dengan nama yang sama? "Dadap Pari, sebaiknya kita bicara di tempat lain saja !"

   Usul Langlang Pari Dadap Pari mengangguk. Dia mengerti maksud saudaranya. Sebentar lagi tentu kelompok Panji Tengkorak akan datang. Tanpa banyak bicara, Lima Pari Emas berlompatan ke atas punggung kuda masing-masing.

   "Ayo, Rangga! Kita pergi dari sini,"

   Ajak Dadap Pari.

   "Terima kasih!"

   Sahut Rangga.

   Ketika Dadap Pari akan membuka mulutnya, Rangga telah lebih dulu mencelat dan lenyap seketika dari pandangannya.

   Begitu cepatnya sehingga Lima Pari Emas terkesiap.

   Ke mana Rangga pergi? *** Senja telah merayap menjadi malam.

   Udara dingin.

   Angin berhembus agak kencang.

   Dinginnya udara malam menjadi tak terasa di dalam sebuah ruangan yang terang benderang oleh cahaya obor.

   Sebuah kedai makan yang telah penuh oleh orang-orang dari berbagai golongan masing-masing di mejanya.

   Di salah satu sudut yang remang-remang, duduk Rangga menghadapi meja kecil.

   Hanya ada sebuah guci arak di atas mejanya.

   Matanya selalu mengawasi orang-orang yang ke luar masuk kedai makan ini.

   Di kedai ini pun menyediakan kamar-kamar untuk menginap.

   Mata Rangga tertumbuk pada salah satu meja yang jauh di depannya.

   Tampak Saka Lintang duduk dikelilingi empat orang laki-laki.

   Rangga sama sekali tak tahu kalau keempat laki-laki itu dari golongan hitam.

   Mereka adalah Kalingga, atau berjuluk Kakek Merah Bermata Elang.

   Duduk di sampingnya adalah Kala Srenggi.

   Di samping kanan Saka Lintang duduk seorang wanita dengan dandanan menor, persis badut.

   Wanita itu dijuluki Dewi Asmara Dara.

   Sebenarnya wanita ini cantik.

   Tubuhnya pun menggiurkan.

   Karena dandanannya yang berlebihan maka wanita ini jadi kurang simpatik.

   Kemudian yang seorang lagi wanita tua.

   Rambutnya yang putih digulung ke atas.

   Sebagian rambutnya dibiarkan jatuh menjuntai.

   Walau kulitnya telah keriput, tapi sorot matanya masih menyimpan ketegaran.

   Dia dijuluki Dewi, Jerangkong, karena tubuhnya yang kurus kering bagai tulang berbalut kulit.

   Keadaan kedai tenang.

   Semua orang menikmati hidangan sambil bersenda gurau.

   Namun ketenangan itu tiba-tiba lenyap, ketika seorang laki-laki tersuruk-suruk masuk dengan tubuh berlumuran darah.

   Laki-laki itu menghampiri meja Saka Lintang.

   "Hey! Ada apa?"

   Pekik Saka Lintang kaget. 'Teratai Putih...,"

   Laki-laki itu tidak meneruskan kalimatnya.

   Dia telah ambruk tak bernyawa.

   Belum lagi hilang rasa terkejut, tiba-tiba dari pintu bermunculan orang-orang berpakaian serba putih dengan suiaman bunga teratai di dada.

   Bahkan beberapa orang muncul dari atas atap ruangan ini.

   Jumlah mereka semua tak lebih dari dua puluh orang.

   Beberapa pengunjung segera berhamburan keluar menyeiamatkan diri.

   Keadaan di kedai makan kian bembah panas dan tegang.

   Saka Lintang segera berdiri diikuri yang lainnya.

   "Kalian datang langsung membuat onar. Apa maksud kalian?"

   Dingin suara Saka Lintang. Matanya menatap tajam pada orang yang berdiri paling depan.

   "Kami ingin menuntut balas atas kematian saudara-saudara kami!"

   Sahut laki-laki yang berdiri paling depan. 'Pragola, kenapa bukan Pasopati saja yang datang ke sini?!"

   Dengus Dewi Asmara Dara.

   "Guruku terlalu suci berhadapan denganmu, perempuan liar!"

   Sahut Pragola sinis.

   Merah padam muka Dewi Asmara Dara.

   Bukan rahasia lagi kalau antara dia dengan Begawan Pasopati pernah terjadi hubungan asmara sekian puluh tahun yang lalu, waktu mereka masih remaja.

   Sekarang mereka bermusuhan.

   Dewi Asmara Dara yang dahulu bemama Sutiragen memang bukan gadis baik-baik.

   Dalam usia yang masih belia, Sutiragen telah berpengalaman menghadapi laki-laki.

   Tentu saja Pasopati kecewa setelah mengetahui kelakuan Sutiragen.

   Pasopati sendiri telah kalap membunuh orang tua Sutiragen karena merasa ditipu.

   Kedua orang tua Sutiragen telah menjebaknya untuk menikahi Sutiragen yang kedapatan telah mengandung.

   Dari peristiwa itulah bibit permusuhan tumbuh subur.

   Mereka telah bersumpah akan membabat habis semua keturunan masing-masing.

   Oleh sebab itulah mereka tidak menikah lagi sampai sekarang.

   Sutiragen sendiri makin liar, terlebih setelah dia mendapat gemblengan dari seorang pertapa tua yang sakti.

   Mungkin otaknya memang telah dirasuki iblis, Sutiragen yang semula berjanji akan hidup baik-baik, telah membunuh pertapa itu dengan licik setelah dia menguasai seluruh ilmunya.

   "Bocah sombong! Kau tahu, dengan siapa kau berhadapan!"

   Geram Dewi Asmara Dara.

   "Nenek-nenek tak tahu diri yang merasa masih muda!"

   Ejek Pragola. Dewi Asmara Dara tidak dapat lagi menguasai amarahnya yang memuncak sampai ke ubun-ubun. Dengan sigap dia melompat dan menerjang Pragola. Anak muda itu berkelit sedikit, bahkan melayangkan kakinya ke perut Dewi Asmara Dara.

   "Monyet jelek!"

   Rungut Dewi Asmara Dara sambil melentingkan tubuhnya menghindari tendangan lanjutan Pragola.

   Amarah yang meluap membuat Dewi Asmara Dara jadi lengah.

   Meskipun masih muda, Pragola tidak dapat dianggap enteng.

   Ilmunya sudah hampir menyamai gurunya sendiri.

   Dia memang masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyempurnakannya.

   Jurus-jurus Pragola sangat dahsyat dan sulit diterka arahnya, membuat lawan harus hati-hati mengha-dapinya.

   Lawan yang dihadapi Pragpla pun bukan tokoh sembarangan.

   Dia seorang tokoh tingkat tinggi yang sudah kenyang makan asam garam rimba persilatan.

   Pragola tahu siapa Dewi Asmara Dara.

   Oleh karena itu, dilayaninya lawan dengan tenang dan penuh perhitungan.

   "Awas kepalamu!"

   Teriak Dewi Asmara Dara. Pragola tak mempedulikan peringatan lawannya. Tangannya yang dialiri tenaga dalam ditebaskan ke arah perut lawan. Dan memang benar, teriakan tadi hanya tipuan belaka. Justru sasaran sebenarnya adalah perut.

   "Ih!"

   Dewi Asmara Dara terperanjat, cepat-cepat ditarik tangannya.

   Sungguh tak disangka kalau Pragola mengetahui gerak silatnya, sehingga dapat ditebak arah mana yang dituju.

   Belum hilang rasa herannya, tiba-tiba Pragola menyerang secara beruntun.

   Wanita ini makin terkesiap.

   Dengan cepat dilentingkan tubuhnya mundur satu tombak.

   "Kalau takut, sebaiknya kau menyingkir!"

   Ejek Pragola.

   "Suruh si Pasopati ke sini! Biar dia tahu bagaimana mengajar muridnya yang ceriwis!"

   Geram Dewi Asmara Dara atau Sutiragen ini.

   "Jangan kau bawa-bawa nama guruku. Aku masih sanggup membeset mulutmu!"

   Dengus Pragola tidak senang gurunya dihina.

   "Bocah setan! Terima seranganku!"

   Teriak Sutiragen geram.

   Wuuut! Dengan kecepatan yang luar biasa, Sutiragen mengeluarkan senjatanya yang berupa selendang berwarna merah darah.

   Ujung selendang itu segera meluncur rneliuk-liuk bagai ular naga ke arah Pragola.

   Ke mana Pragola menghindar, pasti selendang itu mengejar.

   Sungguh luar biasa selendang itu.

   Meja, kursi, dan barang-barang di sekitar situ hancur berantakan terkena sambarannya.

   Dewi Asmara Dara memainkan jari-jari tangannya dengan lincah membuat selendang itu seperti mempunyai nyawa.

   Pragola terlihat kewalahan menghadapi serangan Dewi Asmara Dara kali ini.

   Dia hanya bisa menghindar dan bersalto tanpa mampu mengirimkan serangan balasan.

   "Perhatikan jari tangannya, gunakan senjata, cari bagian tengah!"

   Pragola terkejut mendengar bisikan di telinganya.

   Dia tak mau berpikir panjang.

   Siapa pun orangnya, pasti ingin mem bantu.

   Pragola segera meloloskan pedangnya yang tergantung di pinggang.

   Sret! Kali ini dihiraukan ujung selendang yang mengincar tubuhnya.

   Matanya menatap jari-jari tangan Dewi Asmara Dara.

   Benar! Arah selendang dapat diketahuinya dari jari-jari tangan yang bergerak lincah.

   Dengan mudah Pragola dapat menghindari ujung selendang tanpa melihatnya.

   Bahkan pedangnya beberapa kali hampir menebas selendang itu.

   Tapi sepertinya dia menebas sebongkah batu cadas yang sangat keras.

   "Jangan buang tenaga! Pusatkan perhatian pada titik tengah!"

   Terdengar lagi bisikan di telinga Pragola.

   Bisikan itu membuatnya bingUng.

   Dia tidak tahu titik tengah mana yang dimaksud.

   Pragola tidak lagi membabatkan pedangnya pada selendang merah yang masih mengancam dirinya.

   Matanya tetap tidak lepas menatap jari-jari tangan Dewi Asmara Dara.

   Otaknya terus bekerja memecahkan maksud bisikan tadi.

   Tiba-tiba Pragola berteriak nyaring.

   Tubuhnya mencelat ke udara.

   Dengan kecepatan yang luar biasa, dia menukik tepat di tengah-tengah selendang.

   Dewi Asmara Dara terkejut, cepat-cepat ditarik selendang nya.

   Terlambat! Ujung pedang Pragola telah membabat tepat di tengah-tengah selendang merah itu.

   "Setan!"

   Maka Dewi Asmara Dara melihat selendang pusakanya terpotong jadi dua.

   Dewi Asmara Dara mencampakkan selendangnya.

   Dia segera menggerakkan tangannya, mengembang ke samping.

   Lalu dengan gerakan yang cepat, kedua tangannya melintang di depan muka.

   Pragola terkejut.

   Tiba-tiba saja mata Dewi Asmara Dara berubah merah.

   Belum hilang rasa terkejutnya, dari mata itu meluncur seberkas sinar merah mengarah dirinya.

   Dengan cepat Pragola mencelat menghindar.

   Satu berkas sinar lagi terpaksa ditangkisnya dengan pedang.

   Trak! Pragola terlempar sejauh dua tombak.

   Pedangnya patah menjadi dua bagian.

   Belum sempat bangun, dua berkas sinar merah kembali menyerang dirinya.

   Dengan cepat Pragola menggulingkan tubuhnya ke samping.

   Sinar merah itu menghantam lantai kedai makan.

   Suara menggelegar terdengar disertai berlubangnya lantai yang keras itu.

   "Mati aku!"

   Dengus Pragola.

   Dia tahu kalau Dewi Asmara Dara mengeluarkan ilmu 'Seribu Mata Dewi'.

   Ilmu andalan yang sangat jarang digunakan Dewi Asmara Dara.

   Kemarahan yang memuncak karena selendang andalannya putus memancingnya untuk mengeluarkan ilmu 'Seribu Mata Dewi'.

   "Jangan panik!"

   Terdengar lagi bisikan halus di telinga Pragola.

   "Hindari tatapan matanya. Gunakan ilmu peringan tubuh, putari tubuhnya."

   Pragola segera bangkit dan berlari-lari memutari tubuh Dewi Asmara Dara dengan menggunakan ilmu peringan tubuh.

   Tentu saja Dewi Asmara Dara jadi kelabakan.

   Sinar-sinar merah yang dilontarkan selalu mengenai tempat kosong.

   Beberapa orang yang masih berada di kedai itu segera menyingkir, menghindari sinar merah yang tidak mustahil nyasar ke tubuh mereka.

   "Gunakan senjata kecil, arahkan ke kaki,"

   Bisikan halus kembali terdengar.

   Pragola kebingungan.

   Dia tidak memiliki senjata rahasia satu pun juga.

   Gurunya tak pemah membekali senjata rahasia.

   Menurut gurunya, senjata rahasia hanya digunakan oleh orang-orang berhati telengas dan licik Mereka tidak pantas disebut pendekar.

   Di saat otaknya berpikir keras, mendadak matanya menangkap reruntuhan meja dan kursi.

   Bibirnya segera tersenyum.

   Sambil terus mengarahkan tenaga dalam dan ilmu peringan tubuh, Pragola meraih beberapa potongan kayu.

   Diremasnya potongan kayu itu hingga menjadi serpihan.

   Sementara itu Dewi Asmara Dara makin geram karena setiap serangannya selalu luput.

   Setiap kali dia memaksa Pragola untuk menatap matanya, pemuda itu selalu memalingkan mukanya.

   Dewi Asmara Dara semakin sulit karena pengaruh ilmu 'Seribu Mata Dewi' tidak mempengaruhi Pragola.

   "Awas kaki!"

   Teriak Pragola tiba-tiba. Dewi Asmara Dara terkejut. Kayu-kayu kecil berterbangan mengarah kakinya.

   "Setan belang! Monyet buduk!"

   Dewi Asmara Dara mengumpat habis-habisan.

   Kayu-kayu kecil yang dilemparkan Pragola dengan pengerahan tenaga dalam membuat wanita itu sibuk berlompatan ke sana kemari.

   Lebih-lebih Pragola melemparkannya sambil berlarian mengitari tubuhnya.

   Konsentrasi Dewi Asmara Dara terpecah.

   Pada saat Dewi Asmara Dara tengah repot dengan serangan itu, tiba-tiba meluncur sebuah bayangan merah menahan arah lari Pragola.

   Seketika kayu-kayu kecil yang terlontar ke kaki Dewi Asmara Dara terhenti bersamaan dengan terhentinya lari Pragola.

   Di depan anak muda itu sudah berdiri seorang kakek tua berjubah merah.

   "Kakek Merah Mata Elang!"

   Bentak Pragola gusar.

   "Kau melanggar aturan!"

   "He he he...! Tidak ada aturan dalam rimba persilatan,"

   Kakek Merah Bermata Elang terkekeh menyeringai. Matanya yang merah bagai mata elang menatap tajam Pragola.

   "Biar aku yang menghadapi orang tua tidak tahu diri ini, Kakang!"

   Tiba-tiba melompat seorang pemuda ke tengah-tengah arena pertempuran. Seorang anak muda berkulit putih dan bertubuh ramping. Garis-garis kejantanan tergambar jelas pada raut wajah yang halus dan tampan itu.

   "Hati-hati Adik Barada, orang ini sangat kejam dan sakti,"

   Pragola mengingatkan.

   Barada hanya tersenyum.

   Dilangkahkan kakinya dua tindak ke depan.

   Dia sudah tahu kehebatan Kakek Merah Bermata Elang.

   Makanya dia harus beriindak hati-hati dan penuh perhitungan.

   Dalam perkumpulan Teratai Putih, Barada hanya satu tingkat di bawah Pragola.

   Jadi dia juga tak bisa dianggap remeh.

   "Majulah, Kakek tua!"

   Seru Barada lantang dan tenang. Setenang sikapnya.

   "He he he.... Anak kemarin sore ingin menantangku. Apakah Teratai Putih tidak memiliki jago-jago andalan sehingga mengutus anak bau kencur ke sini?"

   Kakek Merah Bermata Elang mengejek. 'Teratai Putih tidak perlu mengeluarkan jago-jagonya untuk membasmi Panji Tengkorak!"

   Tenang dan lembut suara Barada,namun menyakitkan di telinga.

   "Bocah sombong! Jangan menyesal kalau aku memberi pelajaran padamu!"

   Geram Kakek Merah Bermata Bang.

   "Silakan kalau kau mampu!"

   "Setan! Mampus kau!"

   Pertempuran antara Kakek Merah Bermata Elang dengan Barada berlangsung sengit.

   Masing-masing menggunakan jurus-jurus silat tingkat tinggi.

   Pragola pun sudah sibuk lagi melayani Dewi Asmara Dara.

   Di lain pihak, Kala Srenggi, dan Dewi Jerangkong juga telah menghajar orang-orang Teratai Putih lainnya.

   Kedai makan bembah menjadi ajang pertempuran.

   Memang kelihatannya tidak seimbang.

   Dua puluh dari Teratai Putih melawan empat orang dari Panji Tengkorak.

   Namun keempat orang-orang itu bukanlah orang-orang sembarangan.

   Malah kini terlihat dua orang anggota Teratai Putih sudah terjungkal.

   Kepalanya remuk terhajar tongkat Dewi Jerangkong.

   Seorang lagi roboh di tangan Kala Srenggi.

   Lalu menyusul satu demi satu....

   Pragola yang melihat kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa.

   Dia sendiri sibuk menahan gempuran Dewi Asmara Dara.

   Wanita itu sangat bernafsu ingin cepat membunuh lawannya.

   Dia merasa sudah dipermalukan oleh Pragola di muka umum.

   'Tahan!"

   Tiba-tiba suara menggeledek terdengar bagai petir di slang bolong.

   Seketika pertempuran itu terhenti.

   Anggota Teratai Putih tinggal enam orang saja.

   Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana.

   Darah berceceran menyebarkan bau amis menusuk hidung.

   Semua mata segera terarah pada Rangga yang duduk tenang di pojok.

   Tangannya memain-mainkan kendi arak.

   Lagaknya acuh dengan suasana kedai makan yang berantakan akibat pertamngan dua kelom-pok itu.

   "Orang asing! Berani benar kau campuri urusan kami!"

   Bentak Dewi Asmara Dara gusar. Seperti orang tolol, Rangga celingukan mencari cari sesuatu. Pelan-pelan dia bangkit dan berjalan melangkahi mayat-mayat yang bergelimpangan. Kepalanya menggeleng-geleng dengan mulut berdecak-decak seperti keheranan.

   "Ck ck ck..., kasihan sekali. Nyawa satu-satunya dibuang percuma,"

   Gumam Rangga. Rangga berhenti melangkah ketika di depannya berdiri menghadang Kakek Merah Bermata Elang. Rangga mengamati jari-jari tangan kakek tua itu yang penuh darah.

   "Kenapa tangan Kakek? Luka?"

   Tanya Rangga seperti anak kecil.

   "Luka tanganku bisa diobati oleh darahmu!"

   Dengus Kalingga atau Kakek Merah Bermata Elang geram.

   "Wah, hebat!"

   Seru Rangga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

   "Kisanak, apakah kau yang memberiku petunjuk tadi?"

   Tanya Pragola sopan dan lembut. Dia merasa yakin kalau bisikan-bisikan halus datang dari pemuda ini.

   "Ah, aku hanya bicara sendiri tadi,"

   Sahut Rangga merendah.

   "Setan! Jadi kau yang membantu bocah edan ini!"

   Dengus Dewi Asmara Dara geram. Giginya gemelutuk dan tangannya mengepal erat.

   "Siapa yang membantu? Sejak tadi aku duduk di sana,"

   Sahut Rangga kalem.

   "Kau harus mampus!"

   Geram Dewi Asmara Dara.

   Setelah berkata demikian Dewi Asmara Dara segera melompat menerjang dengan jurus andalannya.

   Rangga hanya berkelit sedikit dengan meliukkan tubuhnya.

   Serangan Dewi Asmara Dara hanya mengenai angin kosong.

   Kala Srenggi yang mengenai jurus-jurus Dewi Asmara Dara, terkesima melihat cara Rangga menghindari serangan.

   Merasa lawan hanya menghindar tanpa melangkah sedikit pun, Dewi Asmara Dara berang bercampur maiu.

   "Terima aji pamungkasku!"

   Teriak Dewi Asmara Dara. Seketika seluruh tangan Dewi Asmara Dara mengeluarkan asap kekuningan, lalu secepat kilat menyerang Rangga. Semua mata yang memandang menahan napas menyaksikan Rangga hanya tenang-tenang saja.

   "Hiyaaa...!"

   Dewi Asmara Dara melengking keras dengan kedua tangan menjulur ke depan.

   Saat jari-jari tangan Dewi Asmara Dara yang mengepulkan asap tepat di depan mata Rangga, anak muda itu hanya memiringkan kepalanya sedikit.

   Dengan menggunakan jurus 'Cakar Rajawali' dipapaknya punggung Dewi Asmara Dara.

   "Akh!"

   Dewi Asmara Dara memekik tertahan.

   Tubuhnya limbung sebentar lalu ambruk tidak bangun lagi.

   Semua mata terbelalak lebar seakan tidak percaya.

   Hanya satu jurus.

   saja Dewi Asmara Dara telah ambruk tak bernyawa! Sulit diukur tingginya ilmu anak muda ini.

   "Bocah setan! Sebutkan namamu sebelum kukirim kau ke neraka!"

   Bentak Kakek Merah Bermata Elang dengan geram.

   "Aku Pendekar Rajawali Sakti!"

   Jawab Rangga. Suaranya tenang namun menggema ke seluruh ruangan. 'Tidak mungkin!"

   Sentak Dewi Jerangkong sambil melompat ke depan. Semua mata menatap nenek tua yang berdiri dengan tongkat saktinya.

   "Jangan coba-coba menggertak kami dengan menyebut nama tokoh seratus tahun lalu!"

   Dengus Dewi Jerangkong.

   "Kalau tidak percaya, lihat saja dia!"

   Rangga menunjuk mayat Dewi Asmara yang tengkurap kaku.

   Dewi Jerangkong mendelik.

   Punggung Dewi Asmara Dara hangus! Ada goresan hitarn di punggung yang membentuk cakar burung rajawali.

   Jelas, itu adalah salah satu hantaman jurus 'Cakar Rajawali'.

   Dan kini jurus maut itu dimiliki seorang pemuda yang mengaku sebagai Pendekar Rajawali Sakti! "Bagaimana, Nenek tua? Percaya?"

   Kalem dan tenang suara Rangga.

   "Mustahil...,"

   Gumam Dewi Jerangkong seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

   Bukan hanya Dewi Jerangkong yang tidak percaya.

   Kakek Merah Bermata Elang pun demikian.

   Dua tokoh tua ini pemah mendengar sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti meski pada saat itu mereka belum dilahirkan.

   Kehebatan dan kesaktian Pendekar Rajawali Sakti pernah menjadi buah bibir di mana-mana.

   Semua orang selalu mengharapkan kemunculannya jika terjadi kerusuhan dan kejahatan.

   Kini Pendekar Rajawali Sakti muncul kembali di tengah dunia persilatan yang goncang.

   Apakah ini pertanda Panji Tengkorak akan menghadapi sandungan? "Dewi Jerangkong, mart kita hadapi bocah dungu ini!"

   Seru Kakek Merah Bermata Elang atau Kalingga.

   Setelah selesai kata-katanya, Kalingga segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus mautnya, diikuti oleh Dewi Jerangkong dengan jurus-jurus andalannya.

   Nyali Rangga tak gentar sama sekali dikeroyok oleh dua tokoh sakti itu.

   Dia kelihatan tenang-tenang saja berkelit menghindari serangan-serangan dahsyat dan beruntun.

   Gerakan-gerakan Rangga memang cepat dan luar biasa sehingga membingungkan lawan.

   Serangan-serangan dua tokoh sakti itu selalu menemui tempat kosong.

   "Maaf!"

   Ucap Rangga kalem. Bersamaan dengan itu, tangan Rangga berkelebat cepat dan tepat mendarat di dada Dewi Jerangkong dan Kalingga.

   "Akh!"

   Dewi Jerangkong hanya mengeluh pelan.

   "Ugh!"

   Kakek Merah Bermata Elang pun melenguh hampir bersamaan.

   Secara bersamaan pula dua tubuh tokoh itu ambruk dan tak berkutik lagi.

   Di dada mereka tergambar sebuah cakar berwarna hitam.

   Cakar seekor burung rajawali.

   Sekali lagi Rangga berhasil merobohkan dua tokoh sakti sekaligus hanya dalam satu jurus saja.

   Kala Srenggi yang sejak tadi hatinya sudah ciut, diam-diam kabur ketika melihat dua tokoh sakti itu limbung hanya dalam satu jurus saja.

   Saka Lintang pun tak nampak batang hidungnya lagi.

   Entah sejak kapan dia minggat.

   'Terima kasih, Tuan Pendekar telah menolong kami,"

   Pragola segera menghormat diikuti Barada dan empat anggota Teratai Putih yang tersisa. Rangga hanya tersenyum lalu menepuk pundak Pragola. 'Tuan Pendekar sangat hebat Panji Tengkorak pasti bisa ditumpas,"

   Ujar Barada penuh harapan.

   "Boleh saya tahu, siapakah saudara-saudara semua?"

   Tanya Rangga yang telah berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.

   "Kami murid-murid perguruan Teratai Putih. Kami ditugaskan untuk membendung gerakan liar Panji Tengkorak,"

   Sahut Pragola menjelaskan.

   "Siapa Panji Tengkorak?"

   Tanya Rangga lagi.

   "Gerombolan liar dan jahat. Mereka membunuh siapa saja yang menentangnya. Sudah banyak tokoh aliran hitam yang bergabung dengan mereka. Saat ini Panji Tengkorak boleh dikatakan hampir menguasai rimba persilatan,"

   Jelas Pragola rinci. Sejak tadi dia telah kagum dengan kehebatan Pendekar Rajawali Sakti.

   "Pemimpinnya seorang tokoh sakti yang sulit dicari tandingannya,"

   Barada menambahkan.

   "Pemimpinnya bernama Geti Ireng yang lebih dikenal dengan julukan Iblis Lembah Tengkorak."

   "Iblis Lembah Tengkorak..,"

   Gumam Rangga pelan.

   Seketika itu pula teriintas dalam benaknya peristiwa dua puluh tahun lalu.

   Peristiwa yang menyakitkan hati.

   Rangga juga masih ingat ketika ayahnya menyebut orang itu Iblis Lembah Tengkorak Orang itukah yang membunuh kedua orang tuanya? "Geti Ireng tinggal di Lembah Tengkorak bersama gerombolannya,"

   Pragola menambahkan.

   "Apakah orang itu bersenjata tongkat berkepala tengkorak?"

   Tanya Rangga memastikan.

   "Benar, Tuan Pendekar,"

   Sahut Barada cepat.

   Rangga tersenyum.

   Matanya berbinar-binar.

   Dia telah digodok selama dua puluh tahun di Lembah Bangkai, ditambah bersemedi dan berpuasa selama tujuh hari tujuh malam di Gunung Kapur.

   Dengan demikian seluruh jiwanya sudah bersih dari rasa dendam dan angkara murka.

   Telah nyata bahwa Iblis Lembah Tengkorak atau Geti Ireng yang membunuh orang tuanya, tetapi hati Rangga sedikit pun tidak terbakar api dendam.

   Jiwanya sudah bersih dari nafsu duniawi.

   Ingin disatroninya Lembah Tengkorak, tetapi tidak untuk balas dendam.

   Niatnya semata-mata hanya untuk membasmi segala bentuk kejahatan.

   "Tuan Pendekar...,"

   Pragola mencegah langkah Rangga. Rangga menghentikan langkahnya yang telah sampai pada pintu keluar kedai. Dia menoleh seraya tersenyum melihat Pragola menghampirinya.

   "Kami merasa mendapat kehormatan bila Tuan Pendekar berkenan singgah di Perguruan Teratai Putih,"

   Ajak Pragola ramah. Rangga berpikir sebentar.

   "Eyang Guru Begawan Pasopati pasti gembira jika Tuan Pendekar berkenan mengunjunginya. Dari beliau nanti, Tuan Pendekar dapat mengetahui lebih banyak tentang Iblis Lembah Tengkorak,"

   Kata Pragola setengah membujuk.

   "Benarkah?"

   Tanya Rangga dengan polos tanpa pemah curiga terhadap siapa pun. Dalam hati sebenarnya Rangga senang memenuhi undangan itu yang tentu segalanya terjamin.

   "Eyang Begawan Pasopati seorang yang bijak. Beliau pasti senang jika penolong kami berkenan singgah barang sebentar."

   "Baiklah, aku pun senang mendapat sahabat."

   Betapa gembiranya Pragola karena pendekar yang dikaguminya berkenan menerima undangannya.

   Segera diperintahkan adik-adik seperguruannya menyiap-kan kuda.

   Sebentar kemudian tujuh ekor kuda sudah dipacu meninggalkan kedai, menembus kegelapan malam.

   Rangga yang tidak pemah menunggang kuda, sedikit grogi.

   Namun ketika agak jauh meninggalkan kedai, dia sudah mulai terbiasa.

   Bibir Rangga tersenyum-senyum.

   Pragola selalu memacu kudanya di samping kiri Rangga, dan Barada di samping kanannya.

   Rangga bagai pembesar saja diapit kiri kanan.

   Empat kuda lain mengiringi dari belakang.

   Rangga cerdas.

   Sebentar saja dia telah mampu menunggang kuda dengan baik.

   Pada akhirnya dirasakannya bahwa menunggang kuda hampir tidak ada bedanya dengan menunggang burung rajawali putih.

   "Masih jauh?"

   Tanya Rangga.

   "Menjelang pagi baru sampai,"

   Sahut Pragola.

   Rangga mengeluh dalam hati.

   Sebabnya dia harus menunggang kuda semalaman.

   Namun keluhan itu tidak ditampakkannya.

   Dia tetap saja tersenyum sambil bertanya macam-macam.

   Banyak yang ditanyakannya terutama tentang seluk beluk dunia persilatan yang masih asing baginya.

   Pragola dengan senang hati menjawab.

   Dijelaskannya setiap pertanyaan Rangga dengan lemah lembut.

   Sesekali Barada menambahkan jika penjelasan kakak seperguruannya dirasakan belum lengkap.

   Semakin banyak Rangga bertanya, semakin banyak yang diketahui tentang gambaran rimba persilatan sekarang ini.

   Rangga bagaikan seorang bayi yang baru lahir ke dunia.

   Dia masih perlu belajar banyak mengenai dunia bertualang sambil bertanya pada siapa saja yang berbaik hati memberi keterangan kepadanya seperti layaknya murid-murid Perguruan Teratai Putih.

   *** Dalam pengembaraannya mencari sarang gerombolan Panji Tengkorak, Rangga beberapa kali harus bentrok dengan tokoh-tokoh berilmu tinggi anggota gerombolan itu.

   Nama Pendekar Rajawali Sakti makin dikenal.

   Di samping itu dia juga jadi momok yang menakutkan bagi orang-orang rimba persilatan beraliran hitam.

   Kini Pendekar Rajawali Sakti bagaikan sebuah pelita yang menerangi tokoh-tokoh aliran putih.

   Dalam waktu singkat, nama Pendekar Rajawali Sakti sudah terpatri erat di hati semua orang.

   Bahkan Saka Lintang sendiri tidak pemah melupakan pendekar tampan itu.

   Dalam pandangan pertamanya, dia merasa sedikit kasmaran.

   Makanya setiap kali Pendekar Rajawali Sakti bentrok dengan orang-orang Panji Tengkorak, dia tidak ingin melibatkan diri.

   Dia seperti menghindar dari kemungkinan bentrok.

   Rangga menarik tali kekang kudanya ketika melewati pinggir hutan Dadakan.

   Telinganya yang tajam tiba-tiba mendengar denting senjata beradu.

   Nyata bahwa suara itu berasal dari suatu pertarungan.

   Rangga segera melompat dari kudanya.

   Dengan menggunakan ilmu 'Sayap Rajawali Membelah Mega' tingkat pertama, tubuhnya telah melayang di udara menuju arah datangnya suara pertempuran.

   Bagai rajawali mengintai mangsa, Rangga dari atas telah melihat seorang wanita dikeroyok tiga laki-laki bersenjata tongkat.

   Rangga bergegas turun dan berdiri di pinggir arena pertarungan.

   Segera dikenalinya wanita itu yang ternyata adalah Saka Lintang.

   Tapi, siapakah tiga laki-laki yang mengeroyoknya? Melihat kedatangan Rangga, Saka Lintang cepat melompat ke luar arena pertandingan.

   Dihampirinya Rangga, dan berlindung di belakang tubuh pemuda itu."Tolong, mereka dari Panjj Tengkorak,"

   Kata Saka Lintang dengan suara dibuat memelas.

   Mendengar ketiga orang itu dari Panji Tengkorak, Rangga segera menerjang ketiga orang itu yang masih bingung tidak mengerti.

   Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

   Sekejap saja ketiga orang itu telah bergelimpangan akibat jurus 'Cakar Rajawali'.

   'Terima kasih, kau telah menolongku,"

   Kata Saka Lintang langsung menghampiri.

   "Kenapa kau bisa bentrok dengan mereka?"

   Tanya Rangga.

   "Aku merasa tertipu masuk gerombolan Panji Tengkorak! Aku ingin keluar, tapi mereka malah ingin membunuhku!"

   Cerita Saka Lintang bersandiwara.

   Dalam hatinya tersenyum karena rencananya berjalan mulus.

   Terpaksa dikorbankannya tiga anggota Panji Tengkorak demi mencapai keinginan merebut hati pendekar tampan ini.

   Setiap hari dia selalu terbayang wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti ini.

   Hati Saka Lintang makin hari makin tersiksa bila Kala Srenggi selalu mencari muka di depan ayahnya untuk mendapatkan dirinya.

   "Siapakah ketiga orang itu?"

   Tanya Rangga.

   "Mereka Tiga Pendekar Toya dari Utara. Tadi mereka mencoba memperkosaku,"

   Saka Lintang makin menjejali Rangga dengan cerita kosong.

   "Binatang!"

   Geram Rangga.

   "Untung kau cepat datang, kalau tidak.... Mungkin aku sudah mati.

   "Hm, kau akan ke mana sekarang?"

   Aku tidak tahu. Sejak kecil aku hidup sendirian."

   Rangga menarik napas panjang.

   Dirasakan ada persamaan nasib dengan gadis ini.

   Namun Rangga tidak menyadari kalau dia tengah masuk dalam perangkap yang dibuat Saka Lintang.

   Bukan perangkap nyawa, tapi perangkap asmara.

   Rangga memang polos.

   Dia memang belum banyak mengalami liku-liku kehidupan yang mungkin dapat menjeratnya.

   Apa lagi Saka Lintang memang cantik.

   "Aku ikut kamu, ya?"

   Saka Lintang memohon sambil menggayut-gayutkan tangannya dengan manja ke lengan Rangga.

   "Eh, jangan!"

   Rangga gugup. Matanya jelalatan. Seumur hidupnya, baru kali ini dia disentuh wanita. Seketika jantungnya berdetak keras.

   "Kenapa?"

   Tanya Saka Lintang semakin manja. Dia bahkan sudah melingkarkan tangannya ke leher Rangga.

   "Aku...,aku...,"

   Rangga benar-benar gugup.

   Saka Lintang yang berpengalaman menghadapi laki-laki, segera memanfaatkan kegugupan Rangga.

   Dengan cepat dipagutnya bibir Rangga.

   Tentu saja pemuda ini gelagapan.

   Keringat dingin mengucur deras.

   Inilah rasa takutnya yang pertama.

   Cepat-cepat dilepaskan pelukan Saka Lintang, dan.

   lompat dua tindak ke belakang.

   Saka Lintang memandang dengan senyum menggoda.

   "Kau pendekar gagah dan tampan. Aku tertarik saat pertama kali melihatmu,"

   Saka Lintang tidak malu-malu lagi.

   "Kau memang cantik. Aku juga suka, tapi...,"

   Rangga tidak meneruskan kata-katanya.

   "Kenapa kita tidak bercinta?"

   "Bercinta...?!"

   Rangga meneguk ludahnya sendiri.

   Mendadak tenggorokannya terasa kering.

   Saka Lintang tersenyum melihat kegugupan Rangga.

   Diletakkannya pedang yang bertengger di punggungnya.

   Dengan gerakan yang indah, tangannya melolosi pakaian satu persatu.

   Rangga kian tidak menentu perasaannya.

   "Celaka!"

   Sentak Rangga tiba-tiba.

   Tercecer sudah seluruh pakaian Saka Lintang di rerumputan.

   Tubuh indah dan putih mulus itu kini terbuka tanpa sehelai benang pun menutupi! Kakinya terayun mendekati Rangga.

   Namun mendadak pemuda itu mencelat ke belakang, lalu beriari sekencang-kencangnya menggunakan ilmu peringan tubuh.

   "Hey, tunggu!"

   Teriak Saka Lintang terkejut.

   Rangga telah lebih cepat menghilang di balik rimbunan pohon.

   Saka Lintang menghentakkan kakinya dengan kesal.

   Bergegas dikenakan kembali pakaiannya, lalu beriari cepat ke arah Rangga pergi.

   *** Di bangsal mmah yang paling besar di Lembah Bangkai, Saka Lintang tengah hanyut oleh perasaan malu dan marah.

   Dia benar-benar kecewa dengan sikap Rangga.

   Namun rasa cintanya yang menggebu dapat mengalahkan amarah dan rasa malunya.

   Dalam hati dia bertekad akan memiliki Rangga sepenuhnya.

   Ketampanan dan kegagahan Rangga membuat Saka Lintang mabuk kepayang.

   Dia tidak peduli lagi dengan kedudukannya sebagai orang kedua di Panji Tengkorak.

   Pikirannya selalu tertuju pada pendekar tampan yang telah menancapkan panah cinta di hatinya.

   "Lintang...."

   Saka Lintang menoleh setelah mendengar suara panggilan dari belakang. Kala Srenggi sudah berdiri di balik punggungnya. Saka Lintang menjauh dan ber-balik.

   "Mau apa kau ke sini?"

   Tanya Saka Lintang ketus. Dia tahu kalau Kala Srenggi selalu berusaha men-dekatinya.

   "Aku ingin bicara padamu,"

   Sahut Kala Srenggi memasang senyum yang menawan.

   "Tentang apa?"

   "Tentang kita."

   Saka Lintang mengemtkan keningnya.

   Bagi Saka Lintang, senyum Kala Srenggi seperti seringai serigala liar kelaparan.

   Sedang bagi Kala Srenggi, melihat Saka Lintang bagai melihat bidadari turun dari kahyangan.

   Bukan rasa cinta yang ada di hati, tetapi nafsu birahi yang berkobar-kobar.

   "Sejak pertama aku melihatmu, rasanya aku tidak bisa hidup tanpa kau, Lintang,"

   Kala Srenggi mengobral rayuannya.

   "O..., apakah kau pantas denganku?"

   Cibir Saka Lintang.

   "Kenapa tidak? Aku toh tidak terlalu jelek untukmu.

   "Tapi kau tidak bisa menandingiku!"

   "Lintang!"

   Merah padam wajah Kala Srenggi.

   "Kalahkan aku dulu, baru kau boleh berkata begitu padaku!"

   Kala Srenggi menelan ludahnya.

   Terasa pahit.

   Mana mungkin Saka Lintang dapat dikalahkannya.

   Ilmu silatnya di bawah gadis ini.

   Kala Srenggi pernah merasakan jurus 'Tarian Bidadari' dan dia tak ingin merasakannya lagL "Bukankah cinta tidak mengenal tingkat kepandaian, Lintang,"

   Kata Kala Srenggi lagi.

   "Siapa bilang? Bagiku, laki-laki yang ingin memilikiku, tingkat kepandaiannya harus lebih daripada aku!"

   Tetap ketus suara Saka Lintang.

   "Seperti Pendekar Rajawali Sakti itu?!"

   Kala Srenggi mendongkol.

   Saka Lintang terkejut.

   Dia tidak menyangka kalau Kala Srenggi tahu dirinya tengah kasmaran.

   Nada suara Kala Srenggi memberi isyarat kalau dia tengah cemburu.

   'Pendekar Rajawali Sakti musuh ayahmu, musuh Panji Tengkorak.

   Berarti juga musuhmu, Lintang.

   Bagaimana mungkin kau bisa mengharapkan dia!"

   Kala Srenggi coba beri pengertian.

   "Dia bukan musjuhku. Aku tidak pernah bermusuhan dengan Pendekar Rajawali Sakti!"

   Dengus Saka Lintang.

   "Mana mungkin dia bukan musuhmu, sedang kau putri ketua Panji Tengkorak."

   "Apa urusanmu?"

   "Jelas ada urusannya denganku. Geti Ireng mengijinkan aku untuk menikahimu. Dan aku tidak rela jika Pendekar Rajawali Sakti merebutmu dari tanganku!"

   "Gila! Siapa sudi menikah denganmu? Kau boleh merangkak di bawah kakiku, tapi jangan harap aku dapat jadi milikmu!"

   Kala Srenggi makin merah mukanya. Kata-kata Saka Lintang telah menghina dan merendahkan dirinya. Sungguh panas telinga Kala Srenggi mendengar ucapan Saka Lintang itu. Darahnya segera mendidih, bergolak penuh kemarahan.

   "Dengar, Saka Lintang. Penghinaanmu tidak akan kulupakan. Sekarang kedudukanmu masih kuat. Tapi nanti, setelah kau lepas dari Geti Ireng.... Kau akan menyesal!"

   Kala Srenggi mengancam penuh kemarahan.

   "Heh, main ancam segala rupanya,"

   Cibir Saka Lintang mengejek.

   "Huh! Dasar anak pungut tidak tahu diri!"

   Dengus Kala Srenggi geram. Setelah berkata demikian, Kala Srenggi melompat ke luar dari bangsal rumah besar.

   "Hey!"

   Saka Lintang terkejut setengah mati mendengar kata-kata terakhir Kala Srenggi.

   Saka Lintang segera melompat ke luar, namun Kala Srenggi sudah tak terlihat lagi.

   Saka Lintang celingukan, lalu melompat ke atap.

   Matanya yang tajam memandang ke sekeliling, namun Kala Srenggi benar-benar tidak terlihat lagi.

   "Anak pungut...,"

   GumamSaka Lintang berulang-ulang.

   Benarkah dia anak pungut? Anak pungut Geti Ireng? Lalu siapa orang tuanya yang sebenarnya? *** Setelah didesak, Emban Girika akhirnya menceritakan asal usul Saka Lintang.

   Wanita gemuk itulah yang mengurus Saka Lintang sejak kecil.

   "Saya diperintah merawat Nini Lintang ketika masih berusia satu tahun. Waktu itu Panji Tengkorak masih partai kecil. Gusti Geti Ireng masih mencari pengaruh dan kekuatan. Dia mengembara dari satu dusun ke dusun yang lain. Beliau tidak bisa mengurus Nini Lintang, maka sayalah yang diperintah merawat Nini di lembah ini,"

   Kata Emban Girika.

   "Lalu siapa orang tua saya sebenarnya?"

   Tanya Saka Lintang tidak sabar.

   "Sabar dulu, Nini. Saya akan ceritakan dari awalnya,"

   Emban Girika menarik napas panjang sebentar."

   "Ketika itu Gusti Geti Ireng memasuki desa Kali Anget. Di desa itu beliau mendapat perlawanan sengit dari Kepala Desa. Namun Kepala Desa itu akhirnya terbunuh bersama istri dan anak-anaknya. Hanya satu yang selamat, seorang bocah perempuan berumur satu tahun."

   "Anak perempuan itu saya 'kan, Bi?"

   Celetuk Saka Lintang makin tidak sabar.

   "Benar. Gusti Geti Ireng membawa anak perempuan itu, karena kedua istrinya tidak mempunyai anak sampai meninggal!"

   "Apakah dibunuh ayah juga?"

   "Ya, kedua istri Gusti Geti Ireng ingin melarikan diri. Mereka tidak tahan melihat Gusti Geti Ireng begitu kejam membunuh siapa saja yang berani menentangnya."

   Saka Lintang gemetar seluruh tubuhnya.

   Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya.

   Dia tidak tahu, apakah harus marah, kecewa, atau berterima kasih pada ayah angkatnya yang telah merawat dan mendidiknya hingga menjadi seorang wanita yang berilmu.

   Tetapi laki-laki itu juga yang membunuh selumh keluarganya.

   Saka Lintang tidak tahu apakah dia harus membalas kematian orang tua dan saudara-saudaranya? Apakah akan dilupakan saja kejadian itu? Orang yang selama ini dianggap ayahnya sekaligus pelindung yang menyayangi dan dihormatinya itu, ternyata pembunuh keluarganya.

   Haruskah dia tinggal diam? Saka Lintang merasa menyesal, kenapa dia harus mengetahui semua ini.

   Seharusnya dia tidak perlu tahu, sehingga tidak dituntut untuk berbakti kepada orang tuanya.

   Bakti seorang anak yang orang tuanya dibunuh laki-laki yang kini jadi ayah angkatnya.

   Haruskah menuntut balas? "Tidaaak...!"

   Saka Lintang menjerit sekuat-kuatnya.

   "Nini..., Nini Lintang...,"

   Emban Girika jadi ketakutan melihat Saka Lintang mengamuk memporak-porandakan kamamya.

   "Tidak! Dia bukan pembunuh orang tuaku! Tidak...!"

   Jerit Saka Lintang sambil meloloskan pedangnya.

   Dengan sekali tebas saja, tiang tempat tidur patah jadi dua.

   Pembaringan yang beralaskan kain surra halus itu pun ambruk disertai suara gemuruh.

   Belum juga puas, Saka Lintang membabatkan pedangnya ke sana kemari seperti kesetanan.

   Lalu dia jatuh terduduk, menunduk lemas.

   Isaknya terdengar memilukan.

   Batin gadis itu tergoncang hebat.

   Sulit baginya menerima kenyataan yang menyakitkan ini.

   Saka Lintang merasa hidupnya tiada berguna lagi.

   Semua orang akan mengejek dan menertawakan dirinya.

   "Gusti Yang Agung, betapa berat cobaan yang kau berikan padaku!"

   Saka Lintang menangis terisak menyesali hidupnya.

   "Mengapa aku tidak sekalian dibunuh saja, Bi. Kenapa Geti Ireng mengambilku sebagai anak? Kenapa, Bi...?" 'Tabahlah, Nini. Semua ini sudah kehendak Sang Hyang Widi. Nini harus menerima kenyataan ini dengan hati lapang,"

   Kata Emban Girika juga tidak kuasa menahan air matanya.

   "Percuma saya hidup, Bi."

   "Nini jangan berkata begitu. Gusti Geti Ireng memang telah membunuh orang tua dan saudara-saudaramu. Tapi Gusti Geti Ireng juga telah merawat, mendidik, dan membesarkan Nini sampai menjadi wanita berilmu sekarang ini. Bagaimanapun juga Nini berhutang budi padanya." 'Tapi dia membunuh keluargaku, Bi!"

   "Memang kewajiban seorang anak menjunjung tinggi martabat orang tuanya. Hanya masalahnya sekarang, pembunuhnya justru ayah angkat Nini sendiri."

   "Katakanlah, Bi. Apa yang harus saya lakukan?"

   Saka Lintang kelihatan putus asa.

   Emban Girika tidak menjawab.

   Memang serba sulit untuk menjawabnya, Dia bersedia tinggal di lembah ini karena merasa kasihan melihat Saka Lintang kecil yang masih memerlukan kasih sayang seorang ibu.

   Dia juga membencl Geti Ireng yang telah membunuh seluruh keluarganya.

   Kedudukan Emban Girika di lembah ini tidak ubahnya seperti tawanan.

   Bisa dikatakan dia adalah budak.

   Emban Girika hanya bisa menerima nasib.

   Dia tidak mungkin mampu mengalahkan Geti Ireng yang sakti.

   Dia sadar tak mampu melawan karena hanya seorang wanita desa yang lemah tidak mengerti ilmu silat dan kesaki an apa pun.

   Pada saat mereka terdiam, di luar terdengar suara-suara ribut.

   Suara senjata beradu dan jeritan meiengking, saling menyusul.

   Saka Lintang terdongak, lalu melompat keluar menembus dinding yang terbuat dari potongan kayu papan.

   "Nini Lintang..,!"

   Emban Girika bergegas ke luar.

   Apa sebenarnya yang terjadi? *** Suasana di Lembah Tengkorak seperti medan pertempuran.

   Orang-orang dari partai Teratai Putih bertarung gigih dibantu partai-partai golongan putih lainnya melawan orang-orang Panji Tengkorak.

   Penyerbuan yang mendadak dan tak terduga ini membuat orang-orang Panji Tengkorak kelabakan.

   Namun mereka semua bukanlah orang-orang sern-barangan.

   "Pradya Dagma! Mana Kala Srenggi?"

   Suara Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak menggelegar di tengah-tengah suara pertempuran.

   "Dia kabur!"

   Sahut Pradya Dagma sambil terns mengebutkan tasbih mutiara saktinya.

   "Pengecut! Kupecahkan kepalanya nanti!"

   Geram Geti Ireng.

   Pertempuran terns berlangsung.

   Korban dari kedua belah pihak mulai berjatuhan.

   Darah mengalir membasahi Lembah Tengkorak ini.

   Mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah.

   Sebentar saja pemandangan lembah ini kian mengerikan.

   Bau anyir darah menyebar terbawa angin.

   "Geti Ireng!"

   Geti Ireng menoleh.

   Tiba-tiba saja seorang tokoh tua berjubah putih melompat ke depan.

   Tokoh tua Ini adalah Begawan Pasopati, guru besar dari partai Teratai Putih.

   Tongkat galian asam dengan cincin emas berbentuk kepala naga diacungkan ke depan.

   Matanya tajam menatap Geti Ireng yang tegak menggenggam tongkat berkepala tengkorak.

   "Hm, Begawan Pasopati. Rupanya kau ikut ambil bagian juga dalam kerusuhan ini,"

   Gumam Geti Ireng dingin.

   "Kerusuhan terakhir dari sepak terjangmu!"

   Balas Begawan Pasopati tidak kalah dinginnya.

   "Ha ha ha...! Akan kulihat, sampai di mana nama kosongmu!"

   Ejek Geti Ireng. 'Tahan seranganku!"

   Pekik Begawan Pasopati segera melompat menyerang.

   Geti Ireng mengernyitkan keningnya sedikit Rupanya Begawan tua ini langsung mengeluarkan jums 'Naga Menggempur Gunung'.

   Geti Ireng tahu kehebatan jurus ini.

   Makanya dia tak sungkan lagi meladeninya.

   Dikeluarkannya jurus 'Tongkat Maut' yang menjadi andalannya dibarengi dengan 'Aji Sangkala Bayu'.

   Dengan ajian ini tubuh Geti Ireng bergerak seringan kapas.

   Gerakannya semakin cepat dan lincah.

   Menyadari lawan telah menggunakan ajiannya, Begawan Pasopati segera merapal aji pamungkasnya.

   'Aji Batara Karang'.

   Sekejap saja selumh tubuh Begawan ini bercahaya menyilaukan mata.

   "Setan! Kau licik, Begawan Pasopati!"

   Dengus Geti Ireng.

   Cahaya menyilaukan yang terpancar dari tubuh Begawan itu membuat mata jadi perih.

   Geti Ireng tidak dapat melihat jelas di mana Begawan Pasopati berada.

   Merasa keadaannya tidak menguntungkan.

   Geti Ireng segera melompat tinggi sambil memekik nyaring.

   Lalu dengan cepat dia meluncur ke bawah dengan ujung tongkatnya terarah ke kepala Begawan itu.

   "Awas, Eyang...!"

   Begawan Pasopati menjatuhkan tubuhnya sambil mengebutkan tongkat ke udara. Serangan Geti Ireng luput. Hampir saja tongkat Geti Ireng mengenai Begawan itu kalau tidak cepat-cepat berkelit di udara.

   "Saka Lintang! Lancang kau!"

   Dengus Geti Ireng mengetahui peringatan itu datang dari putrinya sendiri.

   "Hentikan semua kekejamanmu, Geti Ireng!"

   Keras sekali suara Saka Lintang.

   "He! Sejak kapan kau berani membentak ayahmu?!"

   Geti Ireng terkejut heran.

   "Sejak aku tahu, kau bukan ayahku!"

   Geti Ireng terlonjak kaget sampai melompat dua tombak.

   "Dari mana kau tahu?"

   Tanya Geti Ireng menahan napas.

   "Kala Srenggi!"

   "Setan alas! Bocah itu harus mampus!"

   Jerit Geti Ireng kalap. Setelah berkata demikian, Geti Ireng segera melompat tinggi ke udara.

   "Geti Ireng, jangan lari kau!"

   Teriak Begawan Pasopati seraya menggenjot tubuhnya ke udara.

   Namun baru saja dia melesat, tiba-tiba Geti Ireng melempar jarum-jarum beracunnya.

   Begawan Pasopati tersentak.

   Dengan cepat diputar-putar tongkatnya bagai baling-baling untuk menangkis serangan gelap itu.

   Jarum-jarum berpentalan terkena sambaran tongkat.

   Malangnya, jarum-jarum itu menyambar orangorang yang tengah bertempur di bawah.

   Jerit kesakitan terdengar dari beberapa orang yang terkena.

   Senjata rahasia jarum beracun itu sangat ampuh.

   Dalam sekejap orang yang terkena akan mati.

   Tubuhnya membiru dan kaku.

   "Kejam! Semua dewa mengutukmu, Geti Ireng!"

   Geram Begawan Pasopati. Giginya gemerutuk menahan amarah. Tidak sedikit murid-muridnya yang terkena sambaran jarum-jarum beracun itu.

   "Aku tidak ada urusan denganmu, Begawan Pasopati!"

   Seru Geti Ireng, kembali melenting dengan meminjam landasan daun yang melayang dihembus angin.

   Ketika tubuh Geti Ireng meluncur satu tombak, tiba-tiba sebuah bayangan cepat menghadangnya.

   Geti Ireng tersentak kaget.

   Dengan cepat dia meluncur ke bawah sambil berlompatan beberapa kali di udara.

   Baru saja kakinya menjejak tanah, bayangan itu kembali menyerang.

   Gerakannya sangat cepat sehingga sulit diikuti mata.

   Geti Ireng kewalahan hingga jatuh bangun menghindari serangan cepat yang beruntun.

   "Demit busuk! Siapa kau?"

   Teriak Geti Ireng kesal.

   "Aku Pendekar Rajawali Sakti!"

   Bersamaan dengan terdengarnya suara itu, tiba-tiba di hadapan Geti Ireng telah berdiri seorang pemuda tampan dengan pedang bergagang kepala burung rajawali.

   Begawan Pasopati tersenyum melihat kedatangan pendekar muda itu.

   Dia sudah pernah bertemu ketika pendekar itu berkunjung di kediamannya.

   Saka Lintang yang melihat kemunculan pendekar itu menjadi berseri-seri.

   Dia berharap pendekar itu tahu kalau dirinya benar-benar membenci Panji Tengkorak.

   Saka Lintang berusaha menarik simpati Pendekar Rajawali Sakti dengan membanru tokoh-tokoh aliran putih membasmi Panji Tengkorak.

   Dia memekik keras membabati orang-orang Panji Tengkorak.

   Tentu saja perbuatan Saka Lintang sangat mengejutkan semua anggota Panji Tengkorak.

   Mereka tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang yang tiba-tiba memusuhi mereka.

   Tapi sikap Saka Lintang mendapat sambutan hangat dari tokoh-tokoh golongan putih.

   Mereka tahu sepak terjang gadis itu liar dan kejam.

   "Minggir semua! Biar kuhabisi mereka!"

   Teriak Saka Lintang.

   "Minggir!"

   Perintah Begawan Pasopati memberi kesempatan pada Saka Lintang.

   Dia sudah mengerti duduk persoalannya.

   Sebab Begawan Pasopati tadi telah mendengar sedikit pembicaraan Saka Lintang dengan Geti Ireng.

   Mendengar perintah dari Begawan Pasopati, seluruh murid-murid Te ratai Putih dengan cepat berlompatan ke luar arena.

   Tidak ketinggalan tokoh-tokoh golongan putih lain bersama murid-muridnya mengikuti petunjuk Begawan Pasopati.

   "Lintang! Sudah gila, kau!"

   Bentak Geti Ireng.

   "Arwah ayah ibuku akan mengutuk kalau Panji Tengkorak belum musnah di tanganku!"

   Sahut Saka Lintang keras dan lantang.

   "Lintang, aku ayahmu. Aku yang membesarkanmu!"

   "Tidak! Kau bukan ayahku, kau pembunuh ayah ibuku! Aku memang berhutang budi padamu, tapi kau juga berhutang nyawa padaku. Bahkan, seluruh nyawa anggota Panji Tengkorak belum cukup menebus nyawa keluargaku!"

   Merah padam muka Geti Ireng.

   Rahasia yang selama ini ditutup-tutupinya, akhirnya terbongkar juga.

   Rahasia ini bocor karena ulah Kala Srenggi.

   Geti Ireng benar-benar murka.

   Dia belum puas kalau belum mematahkan batang leher Kala Srenggi dan menghirup darahnya.

   "Demi balas budiku, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya ingin melenyapkan seluruh anggota Panji Tengkorak,"

   Kata Saka Lintang lagi. Semua anggota Panji Tengkorak yang terdiri dari tokoh-tokoh golongan hitam terkejut bergetar. Mereka semua tahu siapa Saka Lintang. Apalagi rata-rata mereka sudah pemah merasakan kehebatan gadis ini.

   "Bersiaplah kalian semua menghadapi ajal!"

   Dengus Saka Lintang.

   Setelah berkata demikian, Saka Lintang berteriak nyaring.

   Tanpa basa-basi lagi, pedangnya berkelebat cepat mencari mangsa.

   Saka Lintang segera mengeluarkan jurus pedang andalannya yang dibarengi dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang sangat dahsyat.

   Beberapa tokoh anggota Panji Tengkorak bemsaha membendung serangan Saka Lintang, namun hanya beberapa gebrak saja, tiga orang tersungkur mandi darah.

   'Lintang, berhenti!"

   Teriak Geti Ireng. ' Tidak, sebelum semua anggota Panji Tengkorak musnah!"

   Sahut Saka Lintang terus mengamuk.

   "Bocah gila! Kubunuh kau!"

   Geram Geti Ireng murka.

   Bersamaan dengan habisnya kalimat itu, Geti Ireng menggenjot tubuhnya menuju ke arah Saka Lintang yang tengah merubah jurusnya dengan 'Tarian Bidadari'.

   Namun belum sempat Geti Ireng sampai, sebuah bayangan kembali menahannya.

   Terpaksa Geti Ireng bersalto di udara dan turun lagi ke tanah.

   "Kau masih punya persoalan denganku, Geti Ireng,"

   Kata Rangga tegas.

   "Aku tidak punya urusan denganmu. Minggir!"

   Sentak Geti Ireng.

   "Urusan lama belum terselesaikan!"

   Dingin suara Rangga.

   "Siapa kau?' tanya Geti Ireng.

   "Aku Rangga, bocah kecil yang kau lemparkan ke dalam jurang Lembah Bangkai!"

   Lagi-lagi Geti Ireng tersentak kaget.

   Sungguh di luar dugaan, hari ini dia menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi karena peristiwa puluhan tahun yang lalu.

   Persoalan-persoalan yang telah teriupakan.

   Bocah kecil yang dilempamya ke jurang dulu, kini tiba-tiba datang untuk menuntut balas atas kematian kedua orang tuanya.

   Padahal pikirnya, bocah itu telah mati dilumat oleh batu cadas dasar jurang Lembah Bangkai! "Ha ha ha...!"

   Geti Ireng tertawa terbahak-bahak.

   Tawanya sangat keras karena dibarengi oleh penyaluran tenaga dalam yang sempurna., Betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki Geti Ireng hingga membuat gendang telinga sakit karena tawanya itu.

   Beberapa orang yang kemampuan ilmunya masih rendah, kesakitan sambil memegang kedua telinga.

   Dari mata dan telinga, darah segar mengaiir.

   Mereka berguling-guling di tanah menahan rasa sakit.

   Tokoh-tokoh yang berilmu tinggi pun harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk meredam suara tawa itu.

   Saka Lintang yang tengah kalap, segera menghentikan pertarungannya.

   Cepat-cepat disalurkan hawa mumi ke bagian telinganya.

   Dirapalkannya 'Aji Pemecah Suara'.

   Ajian ini telah diajarkan oleh Geti Ireng sendiri untuk menangkal lawan yang bisa mengeluarkan suara keras.

   Terbukti suara Geti Ireng hanya terdengar biasa di telinga Saka Lintang.

   Memang ampuh ajian ini.

   Kesempatan ini tidak disia-siakan.

   Gadis itu dengan cepat mengayunkan pedangnya menyerbu ang-gota Panji Tengkorak yang sibuk menahan serangan suara tawa Geti Ireng.

   *** Melihat korban telah cukup banyak, Rangga meng-geram menahan amarahnya.

   Tiba-tiba dia membentak dengan pengerahan tenaga dalam yang luar biasa.

   Betapa hebat akibat bentakan Rangga.

   Di Lembah Tengkorak bagaikan terjadi gempa.

   Batu-batu ber-jatuhan dan pohon-pohon bertumbangan.

   Orang-orang yang berada di sekitar situ sampai terlompat beberapa tombak.

   "Setan!"

   Umpat Geti Ireng yang terlonjat sampai dua tombak ke belakang.

   "Tidak pantas kau mengumbar ilmu iblis di depan ku, Geti Ireng!"

   Dengus Rangga.

   "Kurobek mulutmu, bocah setan!"

   Geram Geti Ireng.

   Setelah selesai kata-katanya, Geti Ireng segera berteriak nyaring, dan tak tanggung-tanggung, dikeluarkannya jurus 'Tongkat Maut Mencabut Nyawa'.

   Rangga menghadapinya tanpa mengeluarkan jurus andalan.

   Dia hanya berkelit menghindari setiap serangan lawan, sehingga membuat Geti Ireng makin marah.

   Jurus demi jurus berlangsung cepat.

   Semua orang yang menyaksikan tertahan napasnya.

   Rangga seperti mempermainkan Geti Ireng saja.

   Setiap kali ujung tongkat nyaris menyentuh tubuhnya, Rangga berkelit Beberapa kali Geti Ireng merasa tertipu oleh gerakan Rangga yang tak terduga itu.

   "Kena!"

   Teriak Rangga tiba-tiba.

   Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu kaki Rangga berhasil menyepak punggung Geti Ireng yang lowong.

   Geti Ireng bergulingan di tanah.

   Dengan cepat dia bangkit kembali.

   Di saat yang bersamaan, Saka Lintang memekik tertahan.

   Hatinya terkesiap melihat ayah angkatnya terguling kena tendangan Pendekar Rajawali Sakti.

   Geti Ireng membuka serangan kembali.

   Hatinya penasaran bercampur malu.

   Sudah tiga jurus dimainkan, tapi belum juga dapat menjatuhkan lawan nya.

   Malah kaki lawan telah mampir di punggungnya.

   Memang tidak berbahaya.

   Tapi menyebabkan Geti Ireng kehilangan muka.

   Pendekar muda itu telah mempermainkannya di depan orang banyak.

   Rangga mendorong kedua tangannya ke depan.

   Kesepuluh jari tangannya mengembang bagai sepasang cakar.

   Rangga mengeluarkan jurus 'Cakar Rajawali'.

   "Hiya...!"

   Dengan suatu teriakan geledek, Rangga men-dahului menyerang. Gerakannya sangat cepat, sehingga tubuh Pendekar Rajawali Sakti hanya terlihat ba-yangannya saja. Geti Ireng makin kewalahan mengha-dapi jums pendekar muda ini. Hingga tiba saatnya....

   "Akh!"

   Pekik Geti Ireng tertahan.

   Tubuh Geti Ireng terdorong ke belakang sejauh dua tombak.

   Tangannya mendekap dada.

   Dari mulut menyembur darah kental kehitaman.

   Cepat-cepat disi-langkan tongkamya ke depan dada.

   Dan darah kental kehitaman kembali menyembur ke luar.

   "Ayah...!"

   Pekik Saka Lintang.

   Gadis yang juga membenci ayah angkatnya ini, ternyata mengkhawatirkan keadaannya.

   Batinnya terus berkecamuk antara benci dan rasa hutang budi.

   Bagaimanapun juga laki-laki itu telah merawat, membesarkan, dan mendidiknya sampai dia dewasa.

   Figur seorang ayah pada Geti Ireng sulit dilupakannya.

   "Lintang, jangan!"

   Sentak Geti Ireng yang melihat Saka Lintang sudah mengeluarkan gabungan dari jums 'Tarian Bidadari' dengan 'Ular Berbisa Menyebar Racun'.

   Namun gadis itu sudah tidak mendengar lagi peringatan ayahnya.

   Dengan cepat Saka Lintang menerjang Pendekar Rajawali Sakti.

   Gerakan-gerakan Saka Lintang segera berubah gemulai setelah berada di depan pendekar muda itu.

   "Ah, indah sekali tarianmu,"

   Rangga memperhatikannya dengan senyum tersungging.

   "Hati-hati, Pendekar Rajawali Sakti. Jurus itu sangat berbahaya!"

   Begawan Pasopati mengingatkan.

   "Dia hanya menari, Eyang Begawan,"

   Sahut Rangga sambil merentangkan kedua tangannya.

   Tangan Pendekar Rajawali Sakti bergerak-gerak gemulai.

   Seperti sepasang sayap yang terkembang akan terbang.

   Itulah jurus 'Rajawali Pentang Sayap'.

   Suatu jurus yang sebenarnya bukan jurus andalan.

   Jurus ini dikeluarkan karena Rangga menganggap jurus yang dikeluarkan Saka Lintang tidak berbahaya.

   Dan lagi Rangga tidak ingin gadis itu celaka.

   Hanya satu yang ingin dicabut nyawanya yakni, Geti Ireng! Semua orang yang menyaksikan, menahan napas ketika gerakan gemulai dari jurus 'Tarian Bidadari' berubah menjadi cepat dan masuk ke beberapa bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

   Namun pendekar muda itu hanya mengepak ngepakkan kedua tangannya saja sambil berlompatan kian kemari menghindari setiap totokan dan pukulan maut Saka Lintang.

   "Gila! Ilmu setan apa yang dimilikinya?!"

   Dengus Geti Ireng keheranan.

   Racun yang menyebar dari setiap gerakan Saka Lintang tidak berarti apa-apa pada Pendekar Rajawali Sakti.

   Bahkan setiap kali tangan mereka beradu, pendekar itu tidak terpengaruh sama sekali.

   Padahal seluruh tubuh Saka Lintang kini tengah menyebarkan racun yang sangat dahsyat dan mematikan.

   "Akh...!"

   Tiba-tiba Saka Lintang terpekik.

   Punggungnya terkena tepukan tangan kanan Rangga.

   Gadis itu jatuh bergulingan di tanah.

   Dia bergegas bangkit lagi dan bersiap-siap menyerang kembali.

   Niat itu tiba-tiba terhenti ketika mendadak saja Geti Ireng menggantikannya dengan jurus-jurus maut Pendekar Rajawali Sakti segera mengeluarkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', jurus andalan kedua dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.

   Dengan jurus ini, kaki Rangga bergerak cepat bagai tidak menyentuh tanah.

   Kedua tangannya selalu mengembang bergerak-gerak cepat mengikuti irama gerak tubuhnya yang meliuk-liuk lentur.

   Geti Ireng makin kebingungan melihat gerakan-gerakan yang aneh dari pendekar muda ini.

   Setiap serangannya selalu kandas mengenai tempat kosong, Dalam keputusasaannya itu, tiba-tiba kaki Rangga berhasil mendarat di dada Geti Ireng.

   "Ukh!"

   Geti Ireng kembali memuntahkah darah kental kehitamaa Belum sempurna posisi Geti Ireng, tiba-tiba tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti menyampok pinggang Geti Ireng.

   Tak ayal lagi, tubuh Iblis Lembah Tengkorak ini melayang ke angkasa.

   Dengan tetap menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', Rangga mengejamya.

   Sukar untuk dibayangkan.

   Tubuh Rangga meluncur cepat mengejar Geti Ireng yang terlontar ke udara.

   Tiba-tiba tubuh yang melayang itu terhajar oleh Pendekar Rajawali Sakti.

   "Ayah...,!"

   Pekik Saka Lintang keras, melihat tubuh Geti Ireng terpotong-potong di angkasa.

   Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti melem-parkan setiap potongan tubuh ke tanah.

   Dan sungguh hebat! Setiap potongan yang jatuh ke tanah, tersusun kembali seperti semula.

   Namun darah telah meng-genang di sekitarnya.

   Pendekar Rajawali Sakti turun kembali dengan manis di tanah.

   *** Melihat pemimpinnya tewas dengan tubuh terpotong-potong, tokoh-tokoh hitam yang tergabung di bawah Panji Tengkorak, segera mengambil langkah seribu.

   "Pendeta Murtad! Berhenti kau!"

   Teriak Pragola yang melihat Pradya Dagma melarikan diri dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya.

   "Pragola, jangan!"

   Teriak Begawan Pasopati.

   Pragola tidak mendengarkannya lagi.

   Dia telah lebih dulu mencelat mengejar pendeta murtad itu.

   Tokoh-tokoh lain dari golongan putih pun segera berlompatan mengejar anggota-anggota Panji Tengkorak yang telah kabur.

   Begawan Pasopati pun segera mencelat mengejar Pragola.

   Dia khawatir karena murid kesayangannya itu mengejar lawan yang bukan tandingannya.

   Dalam sekejap saja di Lembah Tengkorak tinggal Pendekar Rajawali Sakti dengan Saka Lintang.

   Secara bergantian, Saka Lintang menatap tubuh Iblis Lembah i Tengkorak dan Pendekar Rajawali Sakti.

   Batinnya terus berperang antara percaya dan tidak, antara kenyataan dan khayalan.

   Dia ingin menangis, marah, mtmbenci, tapi tidak tahu kepada siapa semua dilim-pakkannya.

   "Dia ayahmu?"

   Tanya Rangga dengan suara pelan dan hati-hati.

   Saka Lintang hanya menatap saja tanpa berkedip pada Pendekar Rajawali Sakti yang juga tengah menatapnya.

   Dada gadis itu bergemuruh, tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.

   Eiitah terdorong rasa apa, tanpa diminta lagi Saka Lintang menceritakan semua yang diketahui tentang dirinya berdasarkan cerita Emban Girika.

   Rangga mendergarkan tanpa memotong sedikit pun.

   Sampai Saka Lintang selesai bercerita, Rangga masih tetap berdiam diri.

   "Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku...."

   "Maaf, Lintang. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan,"

   Potong Rangga cepat. Saka Lintang terdongak.

   "Selamat tinggal!"

   Seru Rangga. Bersamaan dengan itu, tubuhnya sudah melesat ke udara, meluncur cepat menembus hutan dan meng-hilang dari pandangan mata.

   "Rangga....!"

   Saka Lintang menjerit sekuat-kuatnya.

   Saka Lintang menghentakkan kakinya dengan kesal.

   Dalam kesempatan yang sempit tadi, dia sudah berusaha menarik simpati pendekar tampan itu.

   Namun kini Rangga meninggalkannya sendirian.

   Saka Lintang sungguh kecewa.

   Cintanya yang berkotar-kobar tidak terbalaskan.

   Dari cinta yang tak terbalaskan itu, membuat Saka Lintang membenci Pendekar Rajawali Sakti.

   Wajalnya seketika berubah tegang memerah.

   Rasa cinta dan benci bercampur jadi satu.

   Sikap Rangga terasa sangat merendahkan harga dirinya.

   "Satu saat nanti, kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku!"

   Desis Saka Lintang.

   Setelah berkata demikian, Saka Lintang melangkahkan kakinya meninggalkan markas Panji Tengkorak, tempat dia dibesarkan.

   Tempat yang penuh kenangan manis dan pahit.

   Kakinya terayun dengan satu tujuan, mencari dan ingin menaklukkan pendekar tampan yang telah merobek-robek hatinya.

   Mampukah Saka Lintang menaklukkan Pendekar Rajawali Sakti? Nah, bagi paia pembaca yang mau tahu petualangan selanjutnya dari Saka Lintang, silakan ikuti kisah berikutnya dalam 'Bidadari Sungai Ular'.

   TAMAT Pembuat Ebook .

   Scan buku ke djvu .

   Abu Keisel Convert .

   Abu Keisel Editor .

   Dhee_mart Ebook pdf oleh .

   Dewi KZ
http.//kangzusi.com/
http.//dewi-kz.info/

   
http.//kangzusi.info/

   
http.//cerita_silat.cc/

   

   

   

Putri Raja Yang Dikorbankan Karya Widi Widayat Meteor Kupu Kupu Dan Pedang Karya Gu Long Pendekar Pulau Neraka Pembalasan Ratu Sihir

Cari Blog Ini