Perawan Lembah Wilis 14
Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo Bagian 14
Akan tetapi secara tiba-tiba di puncak Gunung Mentasari muncul perkumpulan ini yang mempu nyai anggauta sembilan puluh sembilan orang!
Dan secara terang-terangan perkumpulan ini mulai mengembangkan pengaruhnya di sekitar Gunung Mentasari, bahkan mulai memasuki daerah Selopenangkep.
Hal ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa perkumpulan ini masih erat hubungannya dengan Kerajaan Cola. Seperti temyata dalam pertemuan antara Ki Tunggaljiwa dengan dua orang pendeta, Wasi Bagaspati adalah seorang pendeta pemuja Sang Bathara Shiwa yang menjadi kaki tangan Kerajaan Cola.
Dan Ni Dewi Nilamanik, pemimpin Agama Durga itu, adalah tangan kanan, bahkan bekas kekasih Wasi Bagaspati! Kalau Wasi Bagaspati kadang-kadang menamakan dirinya Shiwamurti dan mengaku sebagai titisan Sang Hyang Shiwa, adalah Ni Dewi Nilamanik ini mengaku sebagai titisan Sang Bathari Durga!
Di samping Ni Dewi Nilamanik, bersama rombongan Wasi Bagaspati terdapat pula seorang pembantu yang amat diandalkan, yaitu Ki Kolohangkoro yang mengepalai para pemuja Sang Bathara Kala! Malah keadaan anak buah Ki Kolohangkoro ini lebih kuat daripada anak buah Ni Dewi Nilamanik, terdiri dari orang-"orang tinggi besar yang berilmu tinggi, sebanyak seratus orang lebih!.
Pada malam Respati, di puncak Gunung Mentasari diadakan upacara pemujaan Sang Hyang Bathari Durga. Di atas sebuah lapangan rumput yang terbuka dan mendapat cahaya bulan yang kehiiauan, berdiri tiga macam arca yang hesar, arca Sang Bathari Durga.
Sebelah kiri berdiri arca Sang Bathari Durga sebagai Dewi Maut, dalam bentuk yang amat mengerikan sekali. Bertubuh seorang raksasa wanita, rambutnya gimbal sampai ke tanah, kedua kakinya menginjak tengkorak manusia, payudaranya (buah dadanya) panjang tergantung sampai ke perut, lidahnya lebih panjang lagi, seperti seekor ular, sihungnya panjang meruncing dan kuku jari tangannya panjang-panjang pula.
Yang berdiri di sebelah kanan Sang Bathari Durga Bucari, tubuhnya mengeluarkan api menyala-nyala, tubuhnya ramping menggairahkan, dada terbuka, akan tetapi mukanya juga muka raksasa betina, wajahnya membayangkan kebengisan dan kekejaman.
Arca ke tiga yang berdiri di tengah, menggambarkan Sang Hyang Bathari Durga dalam bentuk seorang wanita yang cantik jelita, wajahnya yang cantik itu tersenyum memikat penuh nafsu berahi, tubuhnya yang langsing setengah telanjang memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang menggairahkan.
Di depan tiga buah arca ini penuh dengan kembang-"kembang dan barang-barang sesaji terdiri dari makanan-"makanan dan daging-daging mentah, dan asap kemenyan dan dupa mengepul tinggi.
Di sebelah kiri lapangan itu belasan orang wanita menabuh gamelan yang iramanya riang gembira menyelimuti suara orang-orang yang bercakap-cakap dan bersendau-gurau. Ni Dewi Nilamanik duduk di atas sebuah kursi yang terukir indah, melayani beberapa orang tamu bercakap-cakap dan bersendau-gurau, tamu-tamu yang baru saja tiba dan dipersilahkan duduk di kursi-kursi kehorma tan yang berkelompok tak jauh dari tiga buah arca itu.
Ni Dewi Nilamanik adalah seorang wanita yang usinya sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih tampak cantik menarik dengan gerak-gerik yang luwes. Dia termasuk di antara wanita-wanita yang biarpun usianya sudah lanjut namun masih belum ditinggalkan daya tarik yang khas.
Bahkan tampak kematangan lahir batin yang membuat gerak geriknya terkendali dan tenang, wajahnya dapat membayangkan hati dingin seperti embun pagi hari di puncak Mahameru,di waktu panas membayangkan kegairahan yang membakar.
Pakaiannya indah sekali, dengan warna menyolok. Baju merah tipis sekali membayangkan kulit pundak dan lengan serta punggung yang putih kuning, belum kisut masih padat berisi, juga membayangkan kemben pembungkus pinggang yang ramping dan singset.
Kainnya berkembang dengan dasar warna hijau yang membungkus ketat tubuh dari perut sampai ke mata kaki. Sepasang kakinya tampak kecil dan bersih halus, kaki yang terpelihara baik-baik sehingga tumitnya halus kemerahan dan kuku jari kaki mengkilap.
Dia seorang wanita cantik yang masak, hanya sayang bibirnya yang merah basah itu kadang-kadang membayangkan senyum yang penuh kekejaman dan dingin menusuk jantung, sepasang matanya kadang-kadang mengerling tajam penuh kegairahan, mata seorang wanita pengabdi nafsu berahi. Inilah Ni Dewi Nilamanik, yang selain cantik jelita, juga memiliki ilmu kesaktian yang hebat.
Dia seorang wanita berasal dart pesisir Banten yang sudah amat terkenal di daerah Banten akan tetapi baru sekarang ini terbawa oleh gerakan Kerajaan Cola bertualang ke timur.
Ni Dewi Nilamanik yang mengaku sebagai titisan Sang Bathari Durga sendiri. Ketika bercakap-cakap dengan para tamu, kadang-kadang bibirnya yang merah itu terbuka dan tampaklah deretan gigi putih berkilau.
Yang mendapat kehormatan duduk di atas kursi-kursi kehormatan mengitari sebuah meja besar bersama Ni Dewi Nilamanik hanya beberapa orang saja.
Pertama-tama, yang mendapat kursi pertama di sebelah kanannya, adalah seorang kakek tinggi kurus bermuka merah yang tertawa-"tawa dan suaranya keras nyaring.
Dia ini bukan lain adalah Sang Wasi Bagaspati sendiri! Hanya terhadap Wasi Bagaspati inilah Ni Dewi Nilamanik bersikap menghormat, agak berlebihan, bahkan tadi ketika Wasi Bagaspati dan rombongannya tiba, Ni Dewi Nilamanik menyambutnya dengan sembah dan mencium ujung kakinya!
Tidaklah mengherankan karena Wasi Bagaspati ketua Agama Shiwa ini adalah junjungannya, kekasihnya, juga sebagian daripada ilmu-ilmunya yang hebat ia pelajari dari kakek inilah!
Seperti ketika ia mengunjungi puncak Merapi dahulu, sekarangpun kakek ini memakai jubah pendeta yang berwarna merah darah sehingga rambutnya yang panjang putih itu tampak seperti perak! Hanya bedanya, kalau dahulu pakaiannya itu sederhana, kini terbuat daripada sutera halus berkilauan dan kedua kakinya juga memakai alas kaki jepitan. Rambut yang putih itu kini ia gelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain sutera merah pula.
Anak buah Wasi Bagaspati amatlah banyaknya, merupakan sebagian daripada pasukan Kerajaan Cola yang bergerak memasuki wilayah Panjalu. Akan tetapi yang pada saat itu mengiringkannya untuk menghadiri upacara pemujaan Sang Bathari Durga pada malam Respati itu hanya beberapa orang muridnya terkasih, yaitu pertama-"tama adalah Sariwuni yang selain menjadi murid Wasi Bagaspati,juga tentu saja menjadi kekasihnya pula.
Di samping ini, juga Sariwuni adalah seorang penyembah Durga, maka tentu saja ia hadir dalam pesta itu untuk membantu Ni Dewi Nilamanik. Sariwuni yang sudah kita kenal, yang cantik molek inipun kini berpakaian indah, dan sikapnya terhadap Wasi Bagaspati jelas amat menjilat!
Cekel Wisangkoro juga hadir sebagai abdi (cekel) sang wasi, juga sebagai murid yang sudah tinggi tingkat ilmunya. Rambut Cekel Wisangkoro yang panjang penuh uban dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Jubahnya berwarna kuning dengan hiasan merah di pinggimya.
Tubuhnya juga tinggi kurus seperti gurunya, akan tetapi melihat, hidungnya yang seperti paruh burung betet, is lebih kentara keturunan Hindu daripada gurunya.
Karena keyakinan ilmu hawa sakti yang sama dengan gurunya, wajah sang cekel inipun halus kemerahan. Tongkat hitam berbentuk ular tak pernah terlepas dari tangan kanannya. Cekel Wisangkoro yang kini hadir di antara "orang-orang tinggi", tampak sungkan-"sungkan dan tidak banyak bicara.
Masih ada dua losin pengikut Sang Wasi Bagaspati, laki-laki yang rata-rata bertubuh kuat dan berkepala gundul, yang wajahnya seperti arca. Mereka ini sesungguhnya anak buah Cekel Wisangkoro, orang-orang yang semangat dan pikirannya telah dikuasai oleh Cekel Wisangkoro dengan cengkeraman ilmu hitam.
Akan tetapi dua puluh empat orang mayat hidup ini hanya duduk di atas tikar-tikar pandan yang dihamparkan di atas tanah, mereka duduk berjajar seperti arca.
Di sebelah Cekel Wisangkoro duduk seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan keadaan jasmani laki-laki ini sungguh amat menyeramkan. Dia paling tinggi besar di antara semua yang hadir, seorang raksasa yang tubuhnya membayangkan tenaga kasar yang dahsyat. Duduknya tegak, sikapnya agung dan matanya melotot galak, tidak banyak cakap akan tetapi kalau sekali-kali bicara menjawab pertanyaan Ni Dewi Nilamanik, suaranya nyaring parau seperti suara geluduk dan sepasang anting"anting atau gelang emas di kedua telinganya bergoyang-"goyang.
Inilah Ki Kolohangkoro yang mengepalai para pemuja Bathara Kala. Dia bersama anak buahnya yang tidak kurang dari seratus orang merupakan bala bantuan yang amat kuat bagi pergerakan yang dipimpin oleh Wasi Bagaspati. Kolohangkoro ini adalah adik seperguruan Wiku Kalawisesa, akan tetapi ia sakti mandraguna melebihi kakak seperguruannya yang dulu tewas di tangan Endang Patibroto itu.
Bahkan ia menganggap dirinya sebagai penjelmaan Sang Bathara Kala sendiri, maka di dunia ini hanya dua orang yang ia hormati, yaitu pertama adalah Wasi Bagaspati yang dianggap titisan Sang Hyang Shiwa sendiri, dan kedua Ni Dewi Nilamanik yang dianggap titisan Bathari Durga.
Bukankah Bathara Kala adalah putera sepasang tokoh dewa yang hebat itu?
Di antara seratus orang anak buahnya, hanya tiga puluh orang yang ia ajak ikut menghadiri pesta perayaan untuk memuja Bathari Durga ini. Anak buahnya ini rata-rata juga tinggi besar dan kasar. Mereka duduk berkelompok di dekat para penabuh gamelan, bersendau-gurau, bercakap-cakap dan menggoda wanita-wanita penabuh gamelan dengan sikap terbuka tanpa.............. malu-malu lagi.
Di bagian tamu kehormatan masih terdapat beberapa orang tamu laki-laki yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh kaum sesat di sebelah barat yang sudah terbujuk oleh Wasi Bagaspati dan menjadi sekutunya untuk menghadapi Panjalu dan Jenggala.
Mereka ini adalah kepala-kepala rampok dan kepala-kepala bajak, yang merajai hutan-hutan, gunung, dan sungai-sungai. Mereka datang menghadapi pesta bersama beberapa orang pembantu mereka yang pilihan. Di antara para tokoh ini tampak Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, yaitu dua orang di antara Lima Gagak Serayu yang masih hidup. Tiga orang Gagak lainnya telah tewas di tangan Adipati Tejolaksono. Anak buah mereka inipun masih banyak, akan tetapi yang mereka bawa pada malam hari itu hanya belasan orang saja. Dengan adanya para tamu yang jumlahnya amat banyak ini, maka ramailah lapangan di puncak Gunung Mentasari pada malam Respati itu.
Suara gamelan mengungkung, alunan getaran paduan suara gamelan melayang sampai jauh ke lereng-lereng Gunung Mentasari. Suara ini mengiringi nyanyian waranggana yang merdu merayu dan menghidangkan bermacam-macam tembang.
"Ha-ha-ha-ha, suasana dalam pesta yang sudah-sudah tidaklah segembira malam hari ini. Entah mengapa, hatiku senang sekali!"
Demikian kata Wasi Bagaspati sambil memandang ke arah wajah Ni Dewi Nilamanik...............
"
"Kebahagiaan hati Rakanda Wasi ini menandakan bahwa malam ini diberkahi oleh Sang Hyang Bathara Shiwa, dan saya merasa yakin bahwa Rakanda akan menjadi makin berbahagia kalau melihat apa yang akan saya perlihatkan sebentar di dalam upacara pemujaan!"
Kata Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum gembira.
Sepasang alis putih tebal Sang Wasi Bagaspati terangkat dan matanya bersinar, wajahnya berseri.
"Heh, Ni Dewi............. sudah berhasilkah engkau menangkap isteri Adipati Tejolaksono?"
Ni Dewi Nilamanik memperlebar senyumnya, matanya mengerling genit dan kepalanya digeleng-gelengkan.
"Ayu Candra memang ayu, akan tetapi dia isteri orang lain, saya rasa kurang patut dihidangkan kepada Sang Hyang Bathara Shiwa.............
"
"Eh, Ni Dewi, jangan kau beranggapan begitu. Siapapun dia yang telah menarik minat hati, tidak perduli dia itu tua atau muda, perawan atau janda, dia patut sudah. Pula, mendapatkan dia berarti memukul hancur sang adipati yang pengung (bodoh) dan keras kepala itu!"
"Semua yang paduka katakan memang tepat, Rakanda Wasi. Akan tetapi sayang sekali, bukan Ayu Candra yang tertawan oleh anak buahku, melainkan seorang yang menurut perasaan saya, lebih baik
(Lanjut ke Jilid 17)
Perawan Lembah Wilis (Seri ke 04 - Serial Keris Pusaka Sang Megatantra)
Karya": Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17
lagi. Dia masih perawan, usianya baru lima belas tahun, bertulang kuat berdarah bersih, cantik manis dan mudabelia, juga dia adalah adik misan, bahkan murid terkasih Adipati Tejolaksono."
"Waah-ha-ha-ha! Bagus sekali kalau begitu!"
Sang Wasi Bagaspati tertawa-tawa gembira dan mengelus dagunya, matanya bersinar-sinar. Ki Kolohangkoro yang duduk dekat Ni Dewi Nilamanik,menoleh kepada wanita itu dan berkata perlahan,
"Bunda Dewi............. , apakah dalam kesempatan baik ini Bunda Dewi lupa kepada saya?"
Memang mengherankan bagi orang lain kalau mendengar betapa kakek berusia lima puluh tahunan yang bertubuh raksasa ini memanggil "bunda"
Kepada Ni Dewi Nilamanik yang barn berusia empat puluh tahunan! Hal ini adalah karena Ki Kolohangkoro yang menganggap diri sebagai titisan Bathara Kala menganggap Ni Dewi Nilamanik titisan Bathari Durga, karena itu seperti ibunya! Dan terhadap Sang Wasi Bagaspatipun is menyebut "ramanda wasi"!
Ni Dewi Nilamanik menoleh kepada raksasa ini dan tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih berkilau.
"Jangan khawatir, Kolohangkoro. Aku tidak lupa akan pesananmu dan ingat bahwa saatnya tepat untuk memberi persembahan kepada Sang Hyang Bathara Kala!""
"Terima kasih............. , terima kasih, Ibunda Dewi.............!"
Kata Ki Kolohangkoro dengan girang Sekali.
Dengan mengangkat lengannya ke atas, Ni Dewi Nilamanik memberi isyarat dan berubahlah kini suara gamelan yang ditabuh oleh wanita-wanita muda itu.
Waranggana berhenti menyanyi dan suara gamelan kini iramanya cepat dan nyaring, makin lama makin tinggi, seperti suara orang merintih mengerang, seperti napas terengah-engah, seperti suara ketawa ditahan-tahan. Bukan main hebatnya suara gamelan kini, dibarengi dengan pembakaran dupa yang amat harum.
Asap dupa yang kebiruan bergerak perlahan, makin lama makin tebal dan dari balik asap ini sekarang bermunculan serombongan wanita penari yang berlari-lagi sambil menari-nari, kemudian setelah tiga puluh sembilan orang penari ini tiba di depan arca-arca dan tamu-tamu terhormat, mereka membentuk baris seperti bunga teratai lalu menyembah ke arah arca Bathari Durga.
Mereka menyembah sambil merebahkan tubuh atau menelungkup ke atas tanah, kedua kaki ditekuk di bawah paha. Sampai lama mereka rebah seperti ini, tidak bergerak seolah-olah mati.
Gamelan yang tadinya ramai dan penuh semangat, kini menurun iramanya sehingga terdengar perlahan dan tenang.
Suasana menjadi hening dan sunyi, angker menyeramkan. Upacara pemujaan dan penghaturan sesaji telah dimulai.
Tiga puluh sembilan penari masih menelungkup dan tidak bergerak. Ni Dewi Nilamanik lalu mengeluarkan sebuah bungkusan merah dan menaburkan isinya pada pedupaan.
Seperti tadi, asap mengebul tebal dan tinggi, akan tetapi kalau tadi berwarna kebiruan, kini berwarna kemerahan, amat indah tersinar cahaya bulan dan cahaya obor yang dipasang di sekitar lapangan itu. Pembakaran dupa yang berasap merah dan menghamburkan ganda harum yang aneh ini merupakan isyarat bagi serombongan penari lain yang telah siap.
Dari balik tabir asap kemerahan ini muncul tiga belas orang penari. Berbeda dengan tiga puluh sembilan orang rombongan pertama tadi yang berpakaian sutera beraneka warna, tiga belas penari ini semua berpakaian putih, sutera tipis sekali sehingga sinar obor menembus pakaian tipis itu membuat bentuk tubuh mereka tampak nyata. Juga tiga belas orang penari ini masih muda remaja dan semua cantik jelita.
Tarian mereka juga berbeda, gerakan mereka halus dan lemah gemulai. Tangan kiri mereka menyangga sebuah bokor emas di atas pundak, lengan kanan menari-nari dan kaki mereka seperti melayang saja ketika bergerak di atas rumput lapangan, seolah-olah mereka terbang.
Ketika mereka tiba di depan tiga buah arca Bathari Durga, mereka bersimpuh, kemudian berjalan jongkok menghampiri arca. Dengan gerakan berirama sesuai dengan irama gamelan, setibanya di kaki arca, mereka kembali menyembah dan meletakkan bokor emas masing-masing di depan tubuh mereka. Pada saat itu, tiga puluh sembilan orang yang tadi menelungkup, kini menggerakkan tubuh tegak sambil menembang.
Paduan suara tembang mereka mengalun dalam sebuah lagu pujaan yang aneh dan menimbulkan serem karena suara mereka seperti orang merintih, kadang-kadang seperti menangis dan tiba-tiba berubah menjadi suara orang bergembira tertawa!
Tiga belas orang wanita berpakaiari putih kini menyebarkan bunga rampai dari dalam bokor kencana ke arah tiga buah arca sehingga tubuh arca-arca itu penuh kembang. Bau yang amat wangi memenuhi seluruh lapangan, bau kembang rampai bercampur harum dedes dan dupa.
Setelah semua kembang dalam bokor habis, tiga belas orang wanita berpakaian putih itu yang masih duduk bersimpuh, menggerak-gerakkan tubuh atas mereka, bergoyang-goyang seperti ombak ke kanan kiri, ke depan belakang dengan berbareng dan dari mulut mereka terdengar suara mereka membaca mantera yang mengagung-agungkan nama Sang Bathari Durga.
Ni Dewi Nilamanik kini sudah bangkit berdiri dan menghampiri arca Bathari Durga yang berada di tengah, lalu berlutut dan membaca mantera pula, seirama dengan tiga belas orang muridnya.
Pada saat itu, suasana di lapangan itu benar-benar amat menyeramkan. Asap kemerahan yang mengebul dari depan arca, membuat tiga buah arca itu seolah-olah bergerak-gerak dan bernapas
Dua buah arca Bathari Durga yang mengerikan di kanan kiri itu seolah-olah melotot dan menyeringai, dan hawa busuk keluar dari tubuh dua buah arca itu. Adapun arca yang di tengah, yang cantik dan molek, seperti ikut pula menari dan bibirnya tersenyum"senyum.
Suara nyanyian bersama itu makin membubung tinggi, kadang-kadang menjadi rendah sekali dan dari dalam nyanyian ini seperti terdengar suara-suara aneh, pekik-pekik dahsyat, gerengan-gerengan, pendeknya seolah"olah semua setan iblis brekasakan bangkit dari neraka jahanam, memenuhi pangilan yang tersalur lewat kekuasaan Sang Bathari Durga yang menjadi ratu sekalian jin setan dan iblis!
Setelah pembacaan mantera habis, ketiga belas orang dara berpakaian putih itu bangkit, menari dan dengan langkah-langkah teratur pergi meninggalkan lapangan itu, kemudian tak lama datang lagi membawa sesajen yang disunggi di atas kepala. Bermacam-macam sesajen itu, dari buah-buahan, sayur-sayuran sampai daging segala macam hewan sembelihan, yang matang dan yang mentah.
Tidak ketinggalan kembang dan arak! Semua sesajen ini dijajarkan, di depan ketiga buah arca. Setelah upacara ini yang dikepalai oleh Ni Dewi Nilamanik yang mengatur persembahan sesajen itu, maka upacara selesai dan ,kini tinggal perayaan pestanya. Ni Devi Nilamanik lalu berkata kepada Sang Wasi Bagaspati sambil mendekatinya,
"Rakanda wasi, bersiaplah menerima persembahan hamba."
Kemudian wanita cantik itu memberi isyarat dengan tangan.
Tiga betas orang wanita berpakaian putih menyembah lalu bangkit lagi menari sambil meninggalkan lapangan. Gamelan ditabuh gencar dan kini tiga puluh sembilan penari mengikuti irama yang gencar dan cepat. Mereka itu bergerak cepat, berputaran melenggang-lenggok, memainkan kedua lengan yang lemas, menggerak-gerakkan pinggang yang ramping dan leher yang indah bentuknya, melirik-lirik dan tersenyum-senyum memikat.
Akan tetapi, bertepatan dengan perubahan bunyi gamelan, mereka berhenti menari, lalu terpecah menjadi dua barisan dan membuat lingkaran lalu duduk bersimpuh dan kembali tubuh atas mereka menelungkup mencium tanah dengan kedua lengan dilonjorkan di depan, menelungkup pula di atas tanah.
Gamelan kini berirama tenang dan amat indah, tidak lagi aneh atau liar seperti tadi, namun teratur dan halus. Inilah gamelan yang biasa dimainkan untuk mengiringi tari-tarian bidadari yang seringkali ditarikan di gedung-gedung para bangsawan.
Semua mata memandang ke arah tabir asap dan tampaklah tiga belas orang wanita yang berpakaian putih tadi muncul lagi, berjalan sambil menari perlahan-lahan dengan gerakan lemah gemulai. Namun mereka itu tampak kasar ketika semua mata memandang seorang dara yang mereka iringkan.
Seorang dara remaja yang cantik manis, dan gerakan lengan kakinya ketika menari amatlah lemas dan indah! Diiringkan tiga belas orang wanita cantik berpakaian sutera putih itu, dara remaja ini tampak seperti setangkai kuncup bunga yang sedang mekar dengan segarnya di antara tiga belas tangkai bunga yang sudah terlalu banyak kehilangan madu karena setiap hari dihisap kumbang.
Dara remaja ini bukan lain adalah Pusporini! Baru pagi tadi rombongan anak buah Ni Dewi Nilamanik yang menawannya tiba di puncak Mentasari. Pusporini disambut dengan bangga dan girang oleh Ni Dewi Nilamanik yang segera membuatnya pingsan dengan ilmunya, kemudian memberi minum secara paksa ramuan obat yang membuat dara itu tidak sadar akan keadaan dirinya lagi!.
Inilah sebabnya mengapa pada malam hari itu, ketika Pusporini disambut oleh tiga belas orang wanita berpakaian putih dan diperintahkan menari, seperti sebuah boneka berjiwa
Pusporini lalu keluar dari tempat tahanan, dan begitu mendengar suara gamelan dan melihat tiga belas orang itu menari, iapun lalu melangkah maju dan menari! Tentu saja tarian Pusporini amat indah karena dara remaja ini memang seorang ahli tari di Selopenangkep!
Ia menari dengan kedua mata setengah terpejam, bibirnya otomatis tersenyum manis karena guru tarinya selalu memesan bahwa dalam membawakan tarian, wajah hams berseri dan bibir tersenyum manis, senyum sopan untuk mempercantik wajah.
Semenjak ia masih kecil, Pusporini sudah belajar menari dan setiap kali di Kadipaten Selopenangkep diadakan tari-"tarian, tentu dia menjadi bintang panggungnya. Kini, dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh jamu yang dicekokkan kepadanya ketika ia pingsan, Pusporini menari dengan perasaan bahwa dia harus menari seperti yang ia lakukan di Selopenangkep. Menari seindah-indahnya.
"Bagaimana, Rakanda Wasi? Apakah cukup memuaskan hati Rakanda?"
Bisik Ni Dewi Nilamanik sambil mendekati Wasi Bagaspati yang duduk terhenyak dan kesima memandang ke arah Pusporini. Teguran ini membuat ia sadar dan ia cepat memegang tangan Ni Dewi Nilamanik, ditariknya wanita itu mendekat dan dengan mata masih memandang ke arah Pusporini, ia mengambung pipi kanan wanita cantik itu di depan semua orang yang memandang hal ini tanpa heran sedikitpun.
"Wah, Yayi Dewi, benar hebat.............! Tiada ubahnya dengan Dewi Sang Hyang Saraswati sendiri.............! Dan dara ini adik misan Tejolaksono? Bagus! Hukuman baik bagi adipati yang keras kepala itu. Biarkan dia menghibur dengan tari-tarian sampai pestamu selesai Yayi. Sesudah itu, bawa dia ke kamarku, akan tetapi aku menghendaki dia seaseli-aselinya, tanpa pengaruh jamu-jamu"""
Ni Dewi Nilamanik tersenyum dan maklum akan kehendak Sang Wasi Bagaspati. Ia mengangguk lalu duduk kembali ke atas kursinya sambil memberi isyarat dengan tangan untuk meningkatkan acara perayaan.
Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu menari sambil mengurung Pusporini dan mengiring dara remaja ini naik ke sebuah panggung yang paling tinggi di samping barisan tiga buah arca. Panggung ini hanya dua meter luasnya, agak tinggi dan bentuknya bundar.
Tiga buah obor besar menyala di belakang panggung sehingga ketika Pusporini menari-nari di atas panggung sendirian saja, tampak seperti seorang bidadari menari. Permainan cahaya dan bayangan yang menyelimuti tubuh dan wajahnya benar-benar amat indah.
Setelah Pusporini "disingkirkan"
Di atas panggung menyendiri dan menari dijadikan tontonan dan dikagumi semua orang, Ni Dewi Nilamanik kembali memberi isyarat dengan tangan. Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka datang berlari-lari sambil menari dan masing-masing membawa sebuah bokor pula, kini bokor perak yang berisi benda cair berwarna merah.
Begitu mereka memasuki lapangan, bau yang harum bercampur amis berhamburan dan semua orang yang hadir, baik laki-laki maupun perempuan tertawa-tawa gembira dan pandang mata mereka penuh kehausan melihat ke arah bokor-bokor itu.
Semua bokor perak, tiga belas buah jumlahnya, kini ditaruh di depan kaki tiga buah arca. Ni Dewi Nilamanik lalu bangkit dan menghampiri, mencelupkan sebatang daun ke dalam bokor-bokor itu dan memercik-mercikkan cairan merah ke arah tiga arca hingga tubuh arca-arca itu berwarna merah, bertotol-totol seperti darah.
Kemudian Ni Dewi Nilamanik mengambil dua buah cawan, mengisinya dengan cairan merah itu dan ia menghampiri Wasi Bagaspati. Dengan sikap hormat sambil bersimpuh di depan sang wasi, ia menyodorkan sebuah cawan yang diterima sambil tertawa oleh Wasi Bagaspati. Kemudian kedua orang ini minum cairan merah itu dari dalam cawan, terus ditenggak sampai habis.
Semua anak buah laki-laki perempuan yang hadir di situ bersorak gembira, dan mulailah mereka berteriak-teriak minta bagian cairan merah yang mereka sebut "Anggur Darah"
Di Dewi Nilamanik memberi isyarat dengan tangan.
Di bawah hujan sorak-sorai gemuruh, tiga belas orang wanita berpakaian putih, kini dibantu oleh tiga puluh sembilan wanita berpakaian aneka warna mulai membagi-bagikan anggur darah dari tiga belas bokor perak itu kepada semua orang.
Mula-mula tentu raja para tamu yang duduk di kursi kehormatan yang menerima secawan yang mereka minum dengan lahap. Kemudian semua orang mendapat bagian, sampai para penabuh gamelan dan semua anggauta, baik anggauta penyembah Durga maupun penyembah Shiwa dan Kala.
Setelah semua orang minum, makin riuhlah suasana, makin gembira seakan-akan mereka semua itu mabuk oleh secawan anggur darah itu. Gamelan dibunyikan dengan keras dan iramanya panas merangsang, lima puluh dua penari itu kini menari-nari secara liar, makin lama makin cepat gerakan mereka, makin cepat dan makin liar.
Aneh dan hebat bukan main Setelah minum anggur darah yang berwarna merah itu, wanita-wanita itu tidak hanya seperti mabuk, bahkan seperti orang-orang yang telah kemasukan roh jahat. Juga suasana makin menjadi berubah sama sekali. Seluruh lapangan itu seakan-akan terselimut hawa yang dingin menyeramkan, namun yang mengandung rangsangan hawa panas yang membuat darah mendidih, yang membangkitkan gairah nafsu berahi, dan jelas terasa getaran-getaran aneh yang tidak sewajarnya.
Malam di puncak Gunung Mentasari ini menjadi malam penuh hawa kotor, dikuasai iblis.
Tiga puluh sembilan orang wanita yang berpakaian sutera tipis beraneka warna itu makin hebat tariannya. Tidak lagi mengikuti bunyi gamelan yang iramanya makin panas merangsang, melainkan menari secara liar, menggerak-gerakkan ginggul ke kanan kiri ke depan belakang, membusungkan dada dan menggerak-gerakkan pundak, pinggang mereka bergoyang-goyang, tubuh mereka seolah-olah menjadi tubuh ular yang meliuk-liuk, melekuk, melengkung dan menggeliat-geliat.
Wajah mereka yang rata-rata cantik dan muda itu kini agak pucat, keringat membasahi dahi dan leher, muka diangkat ditengadahkan membayangkan gairah nafsu berahi, mata setengah terpejam, cuping hidung berkembang kempis mendengus"dengus, bibir terbuka memperlihatkan kilauan gigi putih di antara rongga mulut yang merah seperti dasar mereka, ujung lidah merah meruncing menjilat-jilat bibir seperti lidah ular, membasahi bibir yang merah basah, dada yang membusung itu turun naik terengah-engah seperti ombak samudra dilanda badai. Nafsu berahi makin memuncak dalam suasana yang tidak wajar itu.
Keadaan seperti ini makin lama menjalar sehingga tiga belas orang wanita remaja berpakaian putih itupun terkena pengaruhnya dan merekapun mulai meniru gerak-gerik tiga puluh sembilan orang rekannya yang tingkatnya lebih rendah itu.
Gamelan ditabuh makin menggila. Tari-tarian itupun makin menggila. Para anggauta wanita penyembah Bathari Durga itu kini mulai pula menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama gamelan. Merekapun terpengaruh setelah tadi minum secawan anggur darah. Juga para tamu, anak buah Wasi Bagaspati dan Ki Kolohangkoro, mulai berteriak-teriak seperti gila, menjadi histeris dan dengan pandang mata seperti hendak melahap dan menelan bulat"bulat para penari itu.
Yang tidak terpengaruh oleh anggur darah, biarpun ikut minum, hanya para pimpinan saja.
Sang Wasi Bagaspati, biarpun wajahnya menjadi makin merah, namun tetap tenang dan memandang kesemuanya itu sambil tersenyum gembira. Ni Dewi Nilamanik, juga merah sepasang pipinya, membuatnya tampak makin cantik dan kini pimpinan penyembah Bathari Durga melempar kerling mata penuh nafsu ke arah Sang Wasi Bagaspati, namun ia tetap duduk tenang.
Di samping kedua orang sakti ini, Ki Kolohangkoro juga tidak terpengaruh. Matanya terbelalak lebar dan ia minum arak terus-menerus, kadang-kadang tertawa bergelak seperti orang gila. Yang lainnya, termasuk Cekel Wisangkoro, Sariwuni, kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, terseret pula oleh gelombang getaran hawa nafsu berahi, bahkan Sariwuni dan kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah saling mendekat dan saling pegang dalam belaian-belaian penuh nafsu. Yang mengherankan adalah dua puluh empat orang tinggi besar gundul, anak buah Cekel Wisangkoro. Mereka ini tadipun mendapat bagian anggur darah, akan tetapi mereka kini tetap saja duduk di bawah tanpa bergerak dengan mata memandang kosong ke depan!
Tak lama kemudian, setelah gamefan kini berbunyi kacau-balau karena para penabuhnya sudah mabuk semua, beterbanganlah sutera-sutera halus yang tadi membungkus tubuh lima puluh dua orang penari itu. Sorak-sorai terdengar dan para wanita penyembah Bathari Durga semua lalu ikut menari sambil menanggalkan pakaian, melempar-lemparkan pakaian mereka dan mempermainkan nya seperti selendang, sementara tubuh mereka terus melanjutkan tari-tarian penuh gairah.
Sorak-"sorai dari mulut para pria yang hadir makin gemuruh dan mereka-pun bangkit tanpa aturan lagi, ikut menari-nari dan mendapatkan pasangan masing-masing. Bahkan Cekel Wisangkoro sudah pula meloncat dart tempat duduknya dan terjun ke dalam medan tari-tarian menggila itu. Suara ketawa bercampur cekikikan dan semua bercumbuan mengotorkan udara.
"Hua-ha-ha-ha, Bunda Dewi! Manakah hidanganku yang Bunda janjikan tadi?"
Terdengar suara Ki Kolohangkoro menggema dan mengatasi semua suara hiruk-pikuk dari mereka yang berpesta-pora dalam nafsu binatang itu.
"Jangan......... khawatir,........ Kolohangkoro,"
Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
Jawab Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum, lalu ia memanggil Sariwuni.
"Sariwuni, kau ambillah si bagus ke sini, berikan kepada Kolohangkoro!"
Sariwuni terpaksa melepaskan diri dari pelukan Gagak Dwipa, lalu tubuhnya yang kini sudah setengah telanjang itu melesat pergi. Hanya sebentar ia menghilang karena sepuluh menit kemudian wanita sakti ini telah datang kembali, memondong seorang anak laki-laki yang bertubuh montok dan berwajah tampan.
Anak laki-laki itu berusia kurang lebih enam tahun, matanya lebar terbelalak memandang ketakutan dan di kedua pipinya yang segar kemerahan dan montok itu tampak titik-titik air mata.
Ki Kolohangkoro memekik keriangan ketika ia menyambar tubuh anak ini dari tangan Sariwuni yang terkekeh genit dan meloncat lagi ke dalam pelukan Gagak Dwipa sambil mendorong pergi seorang wanita penari yang tadi menggantikan tempatnya.
"Kolohangkoro, kaubawa pergi korbanmu itu dari depan mataku,"
Kata Sang Wasi Bagaspati sambil menyeringai.
Ki Kolohangkoro yang memeluk anak itu tertawa, membungkuk lalu meloncat pergi, akan tetapi saking tak dapat menahan nafsunya, ia berlari sambil menundukkan mukanya ke arah leher anak Itu yang berkulit putih halus. Rahangnya bergerak, tampak giginya yang meruncing dan terdengarlah jerit anak itu yang tenggelam ke dalam suara ketawa di tenggorokan Ki Kolohangkoro yang mulai menghisap darah segar!
Pusporini yang tadinya menari-nari di atas panggung bundar, kini masih menari-nari seperti kehilangan semangat. Karena gamelan kini tidak berbunyi lagi dan para penabuhnya sudah pula terjun ke dalam kancah nafsu jalang yang dipuja-puja, Pusporini kini berdiri termangu-"mangu seperti orang bingung. Sepasang matanya kini terbelalak, penuh kengerian akan tetapi juga seperti orang dalam mimpi.
Pengaruh jamu yang membiusnya masih belum lenyap semua, akan tetapi penglihatan yang terbentang di depan matanya terlalu hebat sehingga mengguncangkan perasaannya, membuatnya terbelalak penuh kengerian, ketakutan, dan kebingungan.
Apa yang terjadi di lapangan puncak Gunung Mentasari itu memang tidak lumrah. Seorang manusia normal tentu akan terguncang perasaannya menyaksikan semua itu. Agaknya semua orang yang berada di situ telah terseret ke dalam tingkat yang amat hina dan rendah, jauh lebih rendah daripada binatang-binatang yang tidak berakal budi. Mengerikan dan memuakkan!
Sang Wasi Bagaspati dan Ni Dewi Nilamanik masih duduk tenang, sungguhpun kini mereka duduk berdekatan dan tangan Wasi Bagaspati membelai-belai rambut, kadang-"kadang mencium muka Ni Dewi Nilamanik.
Mereka berdua yang sakti mandraguna, yang dengan pengaruh ilmu hitam mereka telah menimbulkan suasana seperti ini, tentu saja dapat menguasai diri dan keadaan. Ketika Pandang mata Wasi Bagaspati beralih ke arah Pusporini yang berdiri bingung di atas panggung, is segera bangkit perlahan, menudingkan telunjuknya ke arah Pusporini dan berkata perlahan,
"Ni Dewi, aku ingin mengaso dan antarkan dia itu kepadaku."
Ni Dewi Nilamanik juga bangkit berdiri dan tersenyum lebar.
"Baiklah, Rakanda Wasi. Saya sendiri yang akan menjemput dan mengantarnya kepadamu."
Akan tetapi pada saat itu, secara tiba-tiba sekali jatuhlah air hujan dari angkasa! Kedua orang itu kaget dan menengadah. Langit yang tadinya bersih kini tertutup mendung menghitam. Sinar bulan tertutup mendung dan datang pula angin bertiup sehingga banyak obor secara tiba"tiba menjadi padam. Suasana menjadi gelap, angin bertiup, dan air hujan turun makin deras. Akan tetapi, pasangan"pasangan yang sudah dimabuk nafsu itu masih berdekapan dan bergulingan di atas tanah berumput, sama sekali tidak perduli akan turunnya air hujan. Suara ketawa dan cekikikan masih terdengar, bahkan agaknya makin gembira dengan turunnya air hujan!
"Ah, hujan.............!"
Seru Ni Dewi Nilamanik dengan kaget dan heran.
"Biar saya menyuruh Sariwuni menjemputnya!"
Karena Sariwuni yang dipanggil dua kali tidak mendengar, asyik mengumbar nafsu binatang bersama Gagak Dwipa, sekali bergerak Ni Dewi Nilamanik sudah mendekati lalu menarik bangun wanita itu.
"Sariwuni! Kau bawa dara remaja itu ke dalam!"
SETELAH berkata demikian, Ni Dewi Nilamanik lalu menghampiri Wasi Bagaspati, menggandeng tangannya dan berkata.
"Marilah, Rakanda Wasi, kita berteduh di dalam dan menantinya."
Dua orang pimpinan kaum sesat itu sudah berjalan cepat-cepat meninggalkan lapangan menuju ke bangunan pondok-"pondok yang berada di puncak.
Adapun Sariwuni sambil bersungut-sungut ter"paksa meninggalkan Gagak Dwipa lagi, lari ke arah panggung di mana tadi Pus"porini berdiri bingung!.
Akan tetapi alang"kah kagetnya ketika ia tidak melihat dara remaja itu di sana! Cepat ia me"loncat ke tempat yang tinggi itu dan memandang, lalu terkekeh genit dan keji ketika melihat bayangan Pusporini berlarl-lari pergi dari tempat itu! Beberapa obor yang masih bisa bertahan terhadap serangan angin dan hujan, menerangi tempat itu sehingga ia dapat melihat ke mana Iarinya Pusporini.
Keadaan Pusporini tadi masih setengah sadar setengah mabuk jamu yang membiusnya. Pemandangan yang mengerikan Itu mengguncang perasaannya dan membaritunya untuk cepat sadar ketika air hujan tnenlmpa kepalanya, Pusporini merasa seakan-akan ia disiram air embun suci dari surgaloka. Seketika ia menjadi sadar dan dara remaja ini cepat menutup mulut menahan jerit yang akan keluar dari mulutnya.
Pemandangan yang terbentang di depannya terlalu hebat. Ia meramkan matanya,kemudian meloncat turun dari panggung dan Ian' ketakutan dan penuh kengerian. Ia harus lari dari tempat itu. Harus cepat pergi menjauhi mereka ini!
Kini teringatlah ia. Tadinya ia berada di taman sari Kadipaten Selopenangkep.Lapat-lapat ia teringat betapa ia berada di dalam kekuasaan wanita-wanita genit yang menyeramkan. Kemudian teringat bahwa ia dibawa ke dalam sebuah pondok di puncak bukit itu, melihat wajah seorang wanita cantik yang pandang matanya mengerikan, lalu ia tidak ingat apa-apa lagi.
Bagaimana ia tahu-tahu bisa berada di panggung itu? Dan pemandangan yang ia lihat di atas rumput, lhhh, mengerikan sekali! Perutnya menjadi muak dan mual,membuat ia hampir muntah. Akan tetapi karena ia maklum bahwa tempat itu penuh dengan orang-orang jahat yang amat sakti, ia tidak mau berhenti, terus berlari sambil mengerahkan Aji Bayu Sakti.
Namun tubuhnya terasa lemas dan lelah. Kepalanya masih pening berdenyut-denyut. Pandang matanya berkunang dan malam amat gelap. Hujan turun makin deras sehingga jalan liar yang dilaluinya menjadi licin sekali.
"Heeeeiii............. , Pusporini! Berhenti kau! Hendak lari ke mana?"
Mendengar suara dari sebelah belakang ini, Pusporini terkejut sekali. Ia menoleh dan di antara sinar obor yang bergoyang-goyang hampir mati ia melihat bayangan seorang wanita yang mengejarnya dengan gerakan tangkas dan larinya cepat bukan main.
Pusporini bukanlah seorang penakut, akan tetapi apa yang disaksikan di sana tadi benar-benar telah melenyapkan semua keberaniannya. Terlalu ngeri dan terlalu menakutkan baginya sehingga kini seluruh hati dan pikirannya dicekam rasa takut yang hebat. Maka ia mengeluh pendek dan terus berlari makin cepat lagi.
Beberapa kali ia jatuh tersandung, akan tetapi ia bangkit lagi. Bahkan ia jatuh tersungkur dan terguling-guling, namun setelah mendapat kesempatan meloncat bangun, ia terus berlari lagi tidak memperdulikan betapa kakinya babak-belur dan kainnya robek di sana-sini. Sanggul rambutnya terlepas sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai.
Untung bagi Pusporini bahwa sinar bulan lenyap tertutup mendung dan malam gelap pekat sehingga agak sukarlah bagi Sariwuni untuk mengejarnya. Biarpun Pusporini tidak dapat melakukan perjalanan cepat menuruni bukit di dalam gelap itu, namun sama pula halnya dengan Sariwuni yang juga harus berhati-hati sekali karena selain jalan amat licin, juga amat gelap dan banyak jurang di situ.
Akhirnya Sariwuni berteriak keras memanggil nama Gagak Dwipa dan Gagak Kroda untuk membantu nya mengejar Pusporini. Kedua orang Gagak ini tentu saja cepat bangkit berdiri dan berlari ke arah datangnya suara Sariwuni. Mereka ingin menyenangkan hati wanita cantik yang membuat mereka tergila-gila ini.
Seperti kita ketahui, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda adalah kedua orang di antara Lima Gagak Serayu.
Semenjak gerombolan mereka gagal menyerang Selopenangkep bahkan dihancurkan oleh pasukan yang dipimpin Adipati Tejolaksono sendiri, mereka menyembunyikan diri di dalam hutan-hutan dengan hati penuh dendam.
Kemudian tibalah saat bagi mereka untuk membalas dendam ketika melihat pasukan-pasukan asing yang dipimpin oleh orang-orang Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola. Mereka lalu membawa pasukan yang masih ada untuk menggabungkan diri dan bahkan menghambakan diri kepada pasukan asing yang dipimpin banyak orang pandai itu.
Setelah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. mendekat, Sariwuni dan kedua orang laki-laki tinggi besar ini melanjutkan pengejaran mereka terhadap Pusporini.
Dara remaja itu terus berlari ke depan, menuruni bukit, meraba-raba dan merangkak-rangkak dalam gelap, sebentarpun tidak berani berhenti. Apalagi ia mendengar suara tiga orang pengejarnya di belakang! Tiga orang itu biarpun tidak tampak olehnya, namun selalu berada di belakang, suara mereka kadang-kadang jauh, akan tetapi kadang-kaclang amat dekat.
Malam telah berganti pagi, cuaca gelap menjadi remang-remang ketika akhirnya Pusporini tiba di kaki gunung. karena kini cuaca tidak segelap tadi sehingga jalan di depan tampak remang-remang, Pusporini menjadi girang hatinya.
"Heee, itu dia.............!"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang, suara seorang laki-laki yang parau..
"Pusporini, hendak lari ke mana engkau?"
"Kejar..............!!"
Mendengar suara-suara ini, Pusporini tanpa menoleh lagi lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, lari secepatnya ke depan memasuki sebuah hutan di kaki gunung itu.
Karena khawatir, ia lupa akan kelelahannya, lupa bahwa tubuhnya sudah lelah sekali, kedua kakinya lemas dan pandang matanya berkunang. Ia berlari terus, secepatnya masuk hutan. Teriakan-teriakan itu masih terdengar di belakang, akan tetapi makin perlahan yang berarti bahwa jarak di antara mereka makin jauh.
Sambil berlari cepat, Pusporini memutar otaknya yang tadi digelapkan oleh rasa ngeri dan takut. Ah, mengapa ia lari-lari seperti orang dikejar setan? Pengejarnya hanya tiga orang! Takut apa? Kalau mereka dapat menyusulku, akan kulawan saja. Belum tentu aku kalah, demikian dara remaja yang tadihya ketakutan karena pengalaman hebat di puncak Gunung Mentasari itu kini mulai mendapatkan kembali ketabahannya.
Pada hakekatnya, Pusporini adalah seorang dara yang pemberani. Dia keturunan orang sakti. Ayahnya yang tak pernah dilihatnya karena telah meninggal dunia di waktu ia masih dalam kandungan ibunya, Pujo, adalah seorang ksatria perkasa. Juga ibunya, Roro Luhito bukanlah wanita sembarangan, melainkan murid Sang Resi Telomoyo pertama yang memuja Hanoman.
Selain menuruni watak ksatria ayah bundanya, juga sejak kecil Pusporini telah digembleng oleh kakak misannya, Adipati Tejolaksono yang menjadi gurunya. Tidak, Pusporini bukanlah seorang dara penakut.
Dia seorang dara perkasa yang' biarpun belum matang ilmunya, namun telah mempelajari pelbagai aji kesaktian yang hebat-hebat. Kalau semalam ia melarikan diri penuh kengerian dan ketakutan adalah karena ia mengalami goncangan batin yang hebat menyaksikan peristiwa mengerikan di puncak Gunung Mentasari. Kini, berbareng dengan munculnya sinar matahari. pagi, batinnya mulai tenang kembali dan keberaniannya mulai timbul.
Tiba-tiba dara ini menahan jeritnya dan tubuhnya roboh terguling ke atas........sepasang paha manusia.
Ketika ia memandang, hampir ia menjerit kaget dan marah karena mendapat kenyataan bahwa ia jatuh terduduk di atas pangkuan seorang laki-laki muda yang tampan! Ketika lari tadi, cuaca masih remang-remang dan kakinya tersandung sehingga tubuhnya terguling. Ternyata yang menyandung kakinya bukanlah akar pohon melainkan dua buah kaki pemuda itu yang dilonjorkan, sedangkan tubuh pemuda itu bersandar pada pohon cemara.
Pemuda itu tadinya tertidur melenggut dan kini berseru kaget sambil membuka matanya. Sejenak ia tertegun, memandang muka yang amat cantik, yang amat dekat dan kini sepasang mata indah itu terbelalak.
Kemudian pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya dan mencubit telinganya sendiri sambil berkata,
"Segala puji bagi Sang Hyang Widhi.............! Masih mimpikah aku.......? Mimpi bulan jatuh di pangkuanku, akan tetapi.... ah, Andika tentulah seorang bidadari dari bulan.........!"
Saking kagetnya, Pusporini sampai kesima dan sampai lama ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu. Mereka saling pandang dengan muka berdekatan, wajah pemuda itu penuh kekaguman dan heran, wajah Pusporini penuh kekagetan dan kemarahan. Setelah dapat menguasal rasa kagetnya, kemarahan memuncak di dalam hati Pusporini.
Ia merasa malu dan marah bukan main. Sungguh seorang pemuda yang kurang ajar, berani mati memangkunya!
"Plak-plak.............!!"
Dua kali tamparan tangannya yang dilakukan keras sekali membuat pemuda itu mencelat dan bergulingan beberapa kali. Tamparan bukan sembarang tamparan, melainkan pukulan telapak tangan dengan Aji Pethit Nogo yang tepat mengenai pipi dan leher.
Akan tetapi, sungguhpun pemuda itu terlempar dan bergulingan,namun ia segera bangkit duduk kembali, mengelus-elus pipinya yang menjadi merah dan matanya memandang terbelalak, mulutnya mengomel,
"Aduh-aduh........., ada bidadari kok begini keji dan tangannya seperti besi panas.......!"
Melihat betapa pemuda kurangajar itu tidak mati,bahkan lukapun tidak oleh pukulannya, Pusporini menjadi makin penasaran dan marah. Ia sudah berdirl dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pemuda itu sambil membentak,
"Heh, engkau manusia keparat, tak tahu susila , kurangajar!"
Pemuda yang masih duduk itu terbelalak, menoleh ke belakangnya akan tetapi karena tidak melihat lain orang, baru ia mau mengerti bahwa dirinyalah yang dimaki.
Karena telunjuk dara itu menuding tepat ke arah hidungnya, iapun lalu menunjuk hidungnya sendiri dan berkata,
"Siapa kurangajar? Aku? Kurangajar.............? Mengapa..............?"
"Siapa lagi kalau bukan engkau? Ihh, manusia tak tahu malu, mengapa engkau berani mati memangku aku?"
Pemuda itu mengerutkan alisnya yang hitam tebal, lalu meloncat bangun dan bertolak pinggang. Baru sekarang Pusporini melihat bahwa pemuda itu masih remaja, sepantar dengannya, tubuhnya, tegap jangkung dan wajahnya tampan, matanya bersinar seperti mata harimau.
Pemuda itu tersenyum mengejek dan makin panaslah hati Pusporini.
"Eh-eh, nanti dulu............. Enak benar kau bicara, gadis! Aku memangkumu? Hemm, aku sedang tidur dan tahu-tahu kau menjatuhi pangkuanku sampai kedua pahaku seperti akan remuk, dan kau bilang aku kurangajar memangkumu? Ini namanya maling teriak maling!"
Kemarahan Pusporini makin menjadi. Mukanya menjadi merah, sepasang matanya berkilat dan ia mengepal kedua tinjunya.
"Siapa maling? Engkau maling! Engkau kecu (perampok), engkau copet! Engkau menjegal kakiku ketika aku sampai aku terjatuh! Hemm, bedebah, apa kau masih mau menyangkal? Berani berbuat tidak berani mengaku, apa ini laki-laki namanya?"
Pemuda itu menggosok-gosok hidungnya, makin terheran dan makin marah.
"Aku menjegalmu? Walah walah, engkau ini perawan galak seperti sarak gadungan! Aku sedang tidur dan kakiku terlonjor, kau yang jalan tidak melihat-lihat, nabrak saja masih hendak menyalahkan aku?"
Baru kali ini Pusporini bertemu dengan seorang laki-laki yang dianggapnya cerewet dan selalu membantahnya. Kemarahannya membuat ia hampir menangis. Ia membanting kaki kanan dan membentak,
"Laki-laki bosan hidup! Kenapa menaruh kaki sembarangan saja?"
Pemuda itupun marah dan membalas gerakan Pusporini dengan membanting kaki kanannya juga, selain untuk meniru mengejek juga karena tidak mau kalah, lalu berkata,
"Dan engkau ini perempuan yang agaknya semalam kesurupan setan dan sekarang masih marah-marah tidak karuan. Pagi-pagi buta sudah menabrak seperti maling kesiangan, sudah begitu masih memaki-maki orang tidak karuan. Benar-benar perempuan tidak genap kau ini!"
"Jahanam busuk! Berani kau, ya....?"
"Mengapa tidak berani?"
Dua orang muda remaja itu sudah saling berhadapan, memasang kuda-kuda dan slap untuk saling serang.
Keduanya sudah marah sekali, mereka sebelum bertanding tangan sudah bertanding pandang mata, sekan-akan hendak saling bakar dengan pandang mata masing-masing. Biarpun sedang marah, kini Pusporini teringat bahwa pemuda ini tidak roboh oleh pukulan Pethit Nogo dan hal ini membuktikan bahwa pemuda kurang-ajar ini memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.
Di lain fihak,setelah mencicipi aji Pethit Nogo tadi, si pemudapun maklum bahwa gadis betapapun galak dan kasarnya, adalah seorang dara yang sakti. Maka keduanya bersikap hati-hati dan sedapat mungkin menahan nafsu amarah. Inilah pula sebabnya mengapa mereka tidak segera turun tangan menyerang, bahkan saling menanti lawan turun tangan lebih dulu.
"Pusporinl, hendak lari ke mana engkau?"
Suara inl mengejutkan Pusporini yang cepat membalikkan tubuh. Kiranya tiga orang pengejarnya sudah berada di situ, di hadapannya! Akan tetapi Sariwuni yang sudah melompat ke depan Pusporini, tiba-tiba melihat pemuda itu dan la berdiri seperti orang kesima. Tanpa mengalihkan pandang mata dari pemuda itu, Sariwuni berkata kepada dua orang temannya,
"Kakang Gagak berdua, harap bantu aku menangkap dara itu!"
Dua orang laki-laki tinggi besar yang tadinya merasa kecewa dan menyesal bahwa mereka terganggu kesenangan mereka di puncak Mentasari tadi, dan pengaruh anggur darah masih membuat darah mereka bergolak panas, kini menjadi girang mendapat tugas menangkap dara remaja yang jelita itu.
Dengan mata berkilat-kilat dan mulut menyeringai, kedua tangan dikembangkan mereka kini mengurung dan mendekati Pusporini, sikap mereka seperti dua orang anak nakal hendak menangkap seekor anak itik!
Pusporini tidak takut, hanya agak jijik menghadapi wajah dua orang yang beringas menyeramkan itu, sepasang mata mereka merah terbelalak, mulut menyeringai penuh nafsu. Ia mundur-mundur dan memasang sikap, siap untuk bertanding mati-matian.
Adapun Sariwuni kini melangkah maju mendekati pemuda itu dengan pandang mata penuh gairah dan ujung lidahnya yang merah dan kecil menjilat-jilat bibir.
Sikapnya seperti seekor ular kelaparan melihat seekor katak hijau yang montok gemuk, seolah-olah hendak ditelannya pemuda itu bulat-bulat! Pada saat itu, seperti juga kedua orang temannya, wanita yang pada dasarnya memang berwatak cabul ini masih berada di bawah pengaruh anggur darah.
Kini melihat seorang pemuda remaja yang demikian tampan dan ganteng, jauh bedanya dengan semua pria yang dilihatnya malam tadi di puncak Gunung Mentasari, tentu saja ia menjadi tertarik sekali.
"Duhai, bocah bagus. Andika siapakah? Dan ada hubungan apakah dengan gadis ini?"
Pemuda ini tidak menjawab, melainkan menoleh ke arah Pusporini yang menghadapi ancaman dua orang laki-laki tinggi besar yang liar itu. Gagak Dwipa mengembangkan kedua lengannya yang besar dan berbulu, menyeringai lebar dan berkata,
"Marilah, manis, kau menyerah saja,kupondong kembali ke puncak............. ha-ha-ha!"
"Eh, bocah ayu, engkaupun boleh memilih aku.Kuemban............. kupundak............. ataukah kau ingin gendong-pekeh? Ha-ha-ha, Gagak Kroda siap, cah denok!"
Pusporini tidak takut, akan tetapi menyaksikan sikap mereka dan mendengar kata-kata mereka, ia mengkirik,kedua kakinya menggigil saking jijik dan ngeri.
Pada saat itu, Gagak Dwipa menubruk hendak memeluk pinggang yang ramping itu dan pada saat berikutnya, Gagak Kroda juga menyambar lengannya. Namun dengan gerakan amat manis dan indah, tubuh yang kecil ramping itu sudah menyelinap dan kedua orang raksasa itu menubruk angin belaka. Jangankan tubuh dara jelita, ujung kainnyapun tak dapat mereka sentuh!
Pemuda itu tertawa dengan dada lapang. Ia tidak khawatir lagi. Melihat gerakan Pusporini, tahulah ia bahwa tidak akan mudah bagi dua orang raksasa itu untuk dapat menangkap dara remaja yang amat lincah itu. Ia tertawa sambil menghadapi Sariwuni lagi.
"Andika ingin tahu namaku? Aku Joko Pramono, bocah gunung kabur kanginan (tertiup angin) yang tidak menentu tempat tinggalku. Hubunganku dengan dia itu? Ah, bukan apa-apa. Bukan sanak bukan kadang akan tetapi kalau mati ikut kehilangan. Engkau dan dua orang raksasa itu mau apakah? Mengapa mengganggu orang?"
Sariwuni tertawa sehingga tampak deretan giginya yang rata dan putih menghias rongga mulut yang merah.
"Hihihik, bocah bagus, engkau lucu juga. Tidak perlu engkau mencampuri urusan kami. Lebih baik kau mendekat sini,kita omong-omong yang enak. Engkau mau bukan? Engkau tentu suka bercakap-cakap dengan Sariwuni, ya? Aduh, bocah bagus, bocah ganteng, sinilah mendekat!"
Sariwuni yang sudah tergila-gila akan ketampanan wajah pemuda itu melangkah maju, tangannya meraih, jari-jarinya hendak mencubit dagu.
Pemuda itu melangkah mundur sehingga cubitan Sariwuni tidak mengenai sasaran. Kini pemuda itu memandang penuh perhatian, melihat betapa wanita cantik di depannya itu pakaiannya tidak karuan, hampir telanjang sehingga tampak sebagian besar dada dan pahanya.
Pemuda itu mengerutkan keningnya, menggeleng-geleng kepala lalu berkata,
"Aduh-aduh, sialan benar hari ini aku! Mimpi kejatuhan bulan kiranya dalam kenyataan bertemu dengan bidadari galak lalu disambung bertemu dengan iblis-iblis laknat yang menyeramkan. Engkau ini siapakah dan mau apa.............?"
Sariwuni yang sudah mabuk itu melangkah maju lagi, membusungkan dada dan langkahnya lenggang-lenggok penuh daya tarik, matanya melirik tajam seakan-akan membetot-betot sukma, semyumnya makin panas,
"Cah bagus, jangan menjual mahal, ya? Aku Sariwuni dan aku............. ah, aku amat cinta kepadamu. Kau tampan seperti Harjuna! Aihh............. jangan mundur menjauhkan diri, ke sinilah kau.............!"
Kembali Sariwuni meraih dan kali ini dengan kedua tangannya, hendak memeluk dan merangkul. Akan tetapi dengan gerakan yang tenang namun cepat pemuda itu sudah melangkah mundur dan mengelak.
"Wah-wah, celaka tiga belas, aku bertemu dengan siluman seperti ini! Engkau ini manusia apa kok begini nekat? Pergilah dan ajak pergi pula dua orang kawanmu yang menjemukan itu. Lekas, kalau tidak, jangan salahkan kalau aku Joko Pramono terpaksa harus turun tangan dan memaksa kalian bertiga menggelinding pergi dari sini!"
Kini pemuda itu berdiri tegak dan bertolak pinggang, sikapnya menantang.
Sariwuni memandang makin kagum. Pemuda ini tidak hanya tampan akan tetapi juga gagah berani.
Tentu saja ia merasa geli menyaksikan betapa pemuda remaja ini dengan sikap amat gagah menantang nya! Alangkah lucunya dan ia sama sekali tidak memandang mata kepada seorang pemuda seperti ini. Kembali ia melangkah maju dan tertawa.
Dewi Maut Karya Kho Ping Hoo Pedang Awan Merah Karya Kho Ping Hoo Rajawali Emas Karya Kho Ping Hoo