Ceritasilat Novel Online

Jalan Bandungan 1

Jalan Bandungan Karya Nh Dini Bagian 1


erita itu memang mengejutkan. Patutlah jika Winar tidak mau memberitahukannya kepadaku di depan orang banyak. Dia hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat supaya aku mengikutinya. Tapi aku tidak segera menanggapinya. Di dalam ruang kantor aku meneruskan percakapan dengan dosen-dosen lain mengenai sesuatu hal yang sebenarnya tidak penting. Sekalisekali kulihat Winar melongok ke arah kami. Baru setelah tiga kali hal itu terjadi, aku keluar.
Kok begitu lama! tegurnya kesal.
Aku tidak mempedulikannya. Ada apa, sih" Mengapa tidak mau berbicara di sana saja"
Winar berjalan menjauhi kantor dan aku terpaksa mengikutinya. Kukira dia akan menunjukkan sesuatu kepadaku. Tetapi dia berhenti setelah berada beberapa jauh dari kantor, di pinggiran yang beratap di samping bangsal tempat pertemuan-pertemuan besar. Badannya berbalik menghadapiku.
Benar, mereka akan dikeluarkan.
Seketika itu juga seluruh pancaindraku tegang, kepalaku tertegak. Kami berpandangan. Beberapa hari yang lalu dia menyampaikan desas-desus dari Ibukota. Sekarang mukanya menunjukkan kesungguhan, bahkan kekhawatiran. Dalam keterkejutanku, aku masih sempat berpikir.
Siapa saja yang akan dikeluarkan"
Kapan" Gelombang pertama diperkirakan sampai di Jakarta pertengahan bulan depan.
Sejenak tidak ada yang berbicara di antara kami. Winar tetap memandangiku. Aku tidak tahan menentang matanya. Matahari jam sepuluh pagi sudah membikin halaman sekolah silau menguning. Dahan-dahan angsana yang ditanam sebagai ganti akasia tahun lalu bersusah payah menjulur dan merentang guna memberikan lindungannya di sana-sini. Tak sesilir angin pun mengirim kesejukan. Mataku kutambatkan pada salah satu cabang pohon itu sambil hatiku lembut membisikkan nama Handoko. Dan sekilas ada perasaan yang menusuk, seolah-olah memperingatkan aku agar waspada akan datangnya sesuatu bahaya. Naluri wanitakah ini" Indra keenam atau ketujuh yang kadang secara aneh menelusup memberitahu kita untuk bersiaga" Bagaimana memberitahu suamimu"
Suara Winar tidak bertanya. Dia membunyikan kata-kata yang terselip di balik bisikan namanya. Jadi kawanku itu memikirkan hal yang sama. Berarti dia juga mengerti bahwa berita itu bukan sesuatu yang menguntungkan. Sebaliknya justru menyebabkan timbulnya masalah.
Kapan dia pulang" tanya Winar sambil tetap memandangiku. Paling cepat baru hari Jumat, sahutku.
Dia diam sebentar, lalu mengatakan perhitungannya. Mestinya Jumat sore atau petang, kemudian diam lagi. Sambil mengeluh dia menambahkan, Masih tiga hari penuh.
Dan aku membetulkan, Kalau dia baru sampai di rumah Jumat malam, ya berarti empat hari.
Senin pagi sudah berada di tempat kerjanya, ialah jembatan yang baru-baru ini runtuh karena tanah longsor dan banjir. Bersama regunya dia harus mengadakan pengamatan dan mencari kemungkinan-kemungkinan terbaik untuk pembangunannya kembali. Sementara menunggu kepulangannya, aku tidak bisa mengambil prakarsa apa pun. Kepalaku berpikir keras. Paling tidak, aku harus mendapatkan informasi selengkap mungkin mengenai berita itu.
Kau mendapat kabar itu dari sumbernya"
Ya, dari saudaraku yang itu. Kau tahu, dia yang selalu menolong kita.
Aku segera mengerti. Sekaligus aku semakin mempercayai kebenaran berita itu. Berkat bantuan saudara Winar itu pulalah selama ini aku selalu menemukan kelancaran di bidang urusan perizinan. Kalau saudara temanku itu memberikan instruksi, biasanya semua berlangsung tanpa hambatan. Tidak jarang perintahnya hanya berupa panggilan telepon kepada instansi yang bersangkutan. Aku mengakui bahwa selama ini campur tangannya selalu menunjukkan keampuhan yang meyakinkan.
Dari ruang terdekat, siswa-siswa mulai keluar. Kuliah yang diberikan pada jam paling pagi telah selesai. Berombongan mereka berjalan menjauh. Dua atau tiga orang mengelompok, berdiri di samping. Kami membalas salam mereka.
Kamu menelepon saudaramu untuk menanyakan hal itu" kataku karena ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut.
Tidak. Kemarin ada CPM datang ke rumah menyampaikan pesan, bahwa saudaraku itu akan singgah di lapangan udara pagipagi ini. Aku baru saja kembali dari sana.
Jadi berita itu benar. Tak hentinya aku terheran-heran. Bamerupakan desas-desus. Dia dari kepulauan sana, lalu ke Ambon, tidur di Surabaya kemarin. Beberapa hari lagi Widodo tentu menyuratimu, kata Winar lagi. Kalau dia pulang, ke mana dia"
Kali itu pun temanku mengucapkan apa yang mendengungdengung dalam kepalaku. Winar menyuarakan persoalan yang memberati berita itu. Ya, akan ke mana dia" Karena tidak tahu bagaimana menjawab, aku menoleh. Sekali lagi mata kami saling bertatapan. Rumah peninggalan ibuku masih dikontrakkan. Jangka waktunya memang akan habis sebulan lagi. Penghuninya sudah memberitahu ingin memperpanjang kontraknya. Kami sedang merundingkan pilihan antara kenaikan harga atau perbaikan beberapa bagian rumah. Handoko memerlukan gudang sementara untuk tempat menyimpan barang-barangnya. Kalau pengontrak rumah ibuku mau memperbaiki atap dan saluran air, harga tidak akan dinaikkan. Di halaman belakang akan kami bangun gudang sederhana berlantai semen. Untuk itu kami terpaksa harus mengorbankan pohon kluwih dan beberapa pohon pisang. Kalau rencana itu jadi, luas halaman akan menyusut. Penghuni rumah itu tidak berkeberatan. Katanya malahan mengurangi pekerjaan membersihkannya. Seperti kata Winar, Widodo tentu akan mengirim surat sebegitu dia tahu akan keluar. Saudara satusatunya di Jawa hanyalah Handoko. Ataukah dia akan ke Klaten, ke tempat keluarga orangtuanya" Adakah di antara mereka yang mau menerimanya" Bagaimana reaksi Handoko jika mengetahui kakaknya akan pulang" Dan anak-anakku" Pikiran terakhir ini mendadak membikin keringat dingin mengalir deras di punggung dan pelipisku. Aku merasa sesak, sukar bernapas. Berlawanan dengan rasa kebakaran dalam diriku, peluh yang menggerayangi kulit
dan bersandar pada dinding.
Kau mau duduk" Ayo ke kantin saja! Aku tidak menyahut dan tidak beranjak. Sekali lagi pandanganku kulempar ke tengahtengah halaman, laju ke seberang, ke kelompok pemukiman yang ditumbuhi kehijauan lebih padat dari lingkup gedung-gedung sekolah. Winar menjawab salam beberapa mahasiswa. Aku menoleh, berusaha kembali sadar untuk cepat memikirkan apa yang harus kukerjakan di hari-hari dekat.
Buat sementara, kalau dia mau menengok anak-anaknya, biar tinggal di rumah kami, kata Winar.
Temanku ini sangat baik. Hari itu dia buktikan untuk kesekian kalinya kedermawanan hatinya bersama istrinya. Selama ini mereka berdua selalu membantu dan menopangku. Dulu di masamasa paling sukar, kebanyakan saudara dan kawan mengucilkan kami, Siswi dan Winar tetap membuka lengan buat merengkuh kami. Keakrabannya sungguhlah bersahabat dan sejati. Tetapi mereka adalah teman-temanku. Siswi tidak pernah bisa cocok dengan Widodo. Maukah yang akhir ini tinggal bersama mereka" Apa yang akan dia pikirkan" Dan orang-orang lain" Mengapa saudara sendiri dititipkan di tempat orang" Sebaliknya, kalau Widodo datang dan tinggal bersama kami, apakah orang-orang juga akan bisa diam" Aku bekas istrinya yang kawin dengan adiknya. Orang selalu usil dan jahil. Apa pun yang kami kerjakan pastilah akan dipergunjingkan. Serba salah. Apalagi anak-anaknya memang tinggal bersama kami. Sehingga Widodo mempunyai dua alasan seandainya berada di rumah kami: dia menengok anak-anaknya dan adiknya.
Empat belas tahun lamanya perpisahan itu. Anak sulungku dan adiknya pernah menengok satu kali ketika tempat tahanan
Untuk terakhir kalinya dia mengorbankan sisa-sisa perhiasannya guna membiayai perjalanan dan membeli berbagai keperluan Widodo. Seolah-olah sudah merasa, dia mendesakku agar memberi izin kepada Eko dan Widowati mengikuti rombongan menjenguk tahanan ke Nusakambangan. Katanya selagi ada kesempatan. Siapa tahu akan lama lagi bertemu kembali.
Waktu itu aku menyadari betapa pentingnya kelestarian hubungan antara bapak dan anak. Lebih penting dari hubunganku sendiri dengan suamiku. Seto masih terlalu kecil. Kenangan yang dia simpan mengenai bapaknya hanyalah merupakan pengaruh cerita dari kakak-kakaknya. Terus terang aku tidak pernah menolong menghidupkan maupun menambah kenangan tersebut. Sejak perkawinanku dengan Handoko, aku lebih ingin menghindari menyebut nama ataupun hal yang bersangkutan dengan bapak mereka. Kehadiran dua anak bersama kami memang tidak memudahkan kehendak tersebut. Sebagai ibu, aku tetap berkewajiban menjadi perantara ikatan anak pada bapak.
Seto malas menulis surat. Kukira tidak banyak anak di dunia ini yang dengan sukarela rajin menulis surat kepada orangtuanya. Meskipun Seto tahu bahwa bapaknya senang menerima berita langsung dari dia dan dia sendiri pun puas jika menerima surat tersendiri, terpisah di halaman lain. Tapi untuk duduk dan mencoretkan kalimat demi kalimat yang berbentuk surat, kami berdua harus berdebat berhari-hari. Aku tidak pernah bisa menyembunyikan kejengkelanku dalam hal ini. Pertama-tama disebabkan karena setiap kali mendesaknya menulis itu, aku terpaksa teringat bahwa aku pernah menjadi istri bapaknya Seto. Dengan ingatan itu, mau atau tidak, perasaan bawah-sadarku menggelitik lalu menggelegak untuk menampilkan ke permukaan lagi semembesarkan ketiga anak. Kehadiran ibuku bukan merupakan unsur pendidikan yang memperkuat disiplin bagi anak-anakku. Ibuku selalu lemah menghadapi cucu-cucunya. Semua ulah dan kenakalan mereka dibiarkan. Alasannya: Kasihan mereka, belum tahu apa-apa. Atau: Sudah, biarkan! Anak sebegitu kecil sudah tidak ditunggui bapaknya! Karena sering berada di luar rumah untuk mengajar, ibukulah yang kuharapkan bisa mengawasi anak-anakku. Meskipun begitu memanjakan, aku merasa sangat beruntung mempunyai Ibu.
Di saat-saat pergolakan hidup yang menggilas dan hampir menghancurkanku, aku masih bersyukur karena ibuku tidak menolakku. Kulihat di sekelilingku, tidak sedikit istri-istri senasib yang jauh lebih menderita. Ada yang tidak mempunyai orangtua lagi, sedangkan saudara-saudara menjauhi dan tidak sudi bergaul lagi dengannya. Ada yang masih memiliki orangtua, tetapi hubungan mereka menjadi dingin karena takut terlibat. Ibuku tidak begitu. Apa pun yang terjadi, rumahnya selalu terbuka untuk menjadi pelindung anaknya. Walaupun tampaknya dia bukan pendidik yang berdisiplin, ibuku mempunyai kekuatan sifat lainnya. Dia berani dan gigih. Sedari masa remaja aku menyaksikan betapa dia bekerja keras sebagai pedagang kecil untuk menambah jumlah pensiun Bapak yang sedemikian sedikit. Terdesak oleh kebutuhan guna menumbuhkan anak-anaknya, ibuku berani menantang pendapat umum. Tanpa menunggu selamatan seratus hari meninggalnya Bapak, Ibu sudah mendatangkan tukang. Dia menyuruh orang membikin warung di samping rumah. Sampai sekarang aku ingat betapa itu merupakan peristiwa besar di jalan tempat kami tinggal. Daerah itu tergolong pemukiman para priyayi yang disebut orang-orang terpandang.
Pada waktu itu, warung terdekat terletak di sebelah barat, empat petak perumahan jauhnya dari jalan kami. Apabila pembantu lupa membeli garam, kecap, atau kebutuhan pokok lain, dia harus berjalan ulang-alik paling cepat setengah jam.
Itulah sebabnya ibuku mengambil keputusan yang berani untuk menjadi bakul, pedagang kecil bumbu-bumbu. Katanya, dia tidak pernah tamat sekolah dan tidak memiliki kepandaian khusus. Tapi dia bisa menghitung dengan baik serta bisa memilih bahan makanan yang segar. Sambil mengawasi rumah tangganya, dia ingin mengerjakan sesuatu yang bisa menambah penghasilan. Maka, jadilah warung itu. Dan Ibu bekerja keras. Sesungguhnya kami anak-anaknya juga diminta membantu dia. Namun sangat sukar mengerahkan tenaga adik-adikku. Ibuku sendiri tidak pernah memaksa mereka. Dia tidak pernah mengeluh. Sampai larut malam aku sering melihat dia membungkusi gula setengah kilo demi setengah kilo, kue kering atau kacang goreng dua sendok demi dua sendok. Dia juga selalu siap melayani pembeli pada jam berapa pun. Berkat warung itulah kami bersaudara dapat terus sekolah, makan, dan berpakaian sepantasnya. Malahan kadangkala aku merasa lebih beruntung dari teman-temanku yang juga bernasib yatim. Ketika Bapak meninggal, aku sudah memulai sekolah kejuruan, pendidikan khusus untuk menjadi guru. Berulang-kali ayah kami berkata kepada Ibu bahwa apa pun yang terjadi, aku harus terus sekolah sampai mendapat ijazah. Meskipun anak perempuan, aku harus memiliki kepandaian dan bukti berupa ijazah sebagai bekal hidup. Ibuku menyetujuinya. Bukankah seringkali dia mengulangi penyesalannya karena tidak pernah menyelesaikan pelajarannya di zaman pendudukan Belanda"
Konon orangtua Widodo kecewa ketika mengetahui bahwa bakal menantunya adalah anak seorang janda yang mempunyai warung kebutuhan dapur. Dan setelah kami kawin, suamiku yang pertama itu bahkan berkali-kali membujuk ibuku supaya menghentikan usaha kecilnya itu. Untunglah Ibu tidak menggubrisnya. Karena ternyata berkat warung itu pulalah ibuku bisa membantu aku membesarkan anak-anakku. Seumpama dulu ibuku menuruti usul menantunya, hidup hanya dengan pensiun yang tipis dan jumlah sumbangan kecil dari sang menantu itu, kemudian aku terpaksa pulang ke rumah ibuku dengan membawa tiga anak, dengan apa kami bisa makan sebelum aku mulai bekerja kembali"
Sambil bersandar pada dinding di pinggiran ruang-ruang kuliah itu, aku terus berpikir. Seandainya dulu kami tidak jadi kawin karena orangtua Widodo tidak menyetujui, barangkali aku tidak mengalami hidup pahit seperti masa-masa yang lewat. Tapi seandainya terjadi demikian, bagaimana kemudian aku akan bisa bertemu dan kawin dengan Handoko" Ah, manusia! Selalu tergiur oleh perkataan seandainya. Seolah-olah dengan perkataan itu kita bisa membentuk dunia baru atau kehidupan lain yang sesuai dengan idaman masing-masing.
Tiba-tiba kurasakan sentuhan di lenganku. Winar menarikku. Kita ke kantin saja, katanya. Aku menurut, kami berjalan berdampingan menuju kantin. Tanpa membantah kubiarkan temanku memesan air jeruk dan makanan gorengan.
Harus kaupikirkan bagaimana sebaiknya memberitahu suamimu. Tadi Siswi berpesan supaya aku mengingatkanmu. Handoko selalu cemburu. Hati-hati berbicara mengenai rencanamu dalam hal ini.
kebingungan seperti sekarang pun, kedua sahabat itu memberiku kecerahan yang meyakinkan. Aku tersenyum.
Ada apa" tanya Winar.
Kalian baik sekali. Benar-benar sahabatku, saudaraku yang melebihi saudara-saudara sedarah dan sekandungan. Siswi benarbenar mengerti sifat Handoko.
Tentu saja kami mengetahui bagaimana sifat suamimu! Cintanya kepadamu sedemikian berlebihan sampai kadang-kadang kami takut apakah itu sungguh-sungguh ataukah untuk menutupi sesuatu kesalahannya. Hingga sekarang setelah lima tahun kalian kawin, kami memutuskan bahwa dia memang tergila-gila kepadamu. Sekali dalam seratus tahun hal itu bisa terjadi pada sejarah kemanusiaan.
Aku juga tergila-gila kepadanya. Meskipun sudah lima tahun kami bersama, hatiku tetap gemetar di saat menyebut namanya, sahutku menanggapi kata-kata ketulusan pandangan temanku itu.
Kini Winar turut tersenyum. Hanya Siswi yang kenal Widodo. Dia bekas temanku sekelas, pindah ke kota lain dan kawin di sana. Ketika mereka pindah lagi ke kota kami, Widodo sudah menghilang. Semula Winar baik kepadaku karena istrinya adalah kawanku. Berangsur-angsur kami mendekat disebabkan karena hubungan Winar dengan tamu-tamu bangsa asing yang secara kebetulan juga mengenalku. Kemudian kedatangan Handoko dari luar negeri mengokohkan kedekatan kami. Winar dan Handoko segera saling cocok. Mereka membuat proyek bersama beberapa teman lain yang juga sejalan gagasan serta pendapatnya. Winar dan Siswi termasuk lingkungan dekatku yang menyepakati hubungan intimku dengan Handoko. Rasa simpati beberapa anggota
hidupku sendirian menumbuhkan ketiga anakku, perlahan-lahan bersemi tanpa aku mengemis maupun mengharapkan belas kasihan mereka. Perhatian mereka yang bermaksud baik lebih diperlihatkan setelah mereka mendengar berita kemampuanku sehingga terpilih untuk memenuhi undangan studi ke luar negeri.
Karena surat kabar besar di kota kami memuat berita keberangkatanku, maka hampir semua kenalan dan keluarga mengetahui hal tersebut. Dari saat itulah rasa percaya-diriku bertambah kuat. Aku semakin tidak takut menghadapi siapa saja dan di kantor instansi mana pun. Mungkin tidak sedikit orang mengatakan bahwa nasibku baik. Bahwa keberhasilanku banyak tergantung kepada keberuntunganku. Kalaupun itu benar, bersalahkah aku karena mendapat keberuntungan itu"
Selama bertahun-tahun aku dikucilkan. Orang takut dan segan bergaul dengan aku. Instansi-instansi di mana pun yang kumasuki untuk urusan perizinan lebih sering memperdengarkan sindiran kata yang menyakitkan hati. Apakah itu tidak terhitung sebagai nasib buruk yang kemudiannya patut diimbali dengan suatu keberuntungan" Pertemuan dan kemudian perkawinanku dengan Handoko benarlah kuanggap sebagai satu hadiah besar. Orangorang yang dekat denganku melihat sendiri bagaimana pergaulan kami sebelum dan setelah menjadi suami-istri. Teman-teman baik kami merasakan keserasian hubungan kami berdua. Aku bahkan seringkali merasa, Handoko keterlaluan memanjakanku. Berduaan atau bersama orang-orang lain, suamiku memperlakukan aku dengan cara yang sama. Selalu memperlihatkan cinta kasihnya yang berlebihan. Dalam hal ini, dia jelas amat berbeda dari kakaknya.
Di kantin siang itu aku memanfaatkan waktuku guna menarik
mi. Seumpama dia Handoko, dia mengawini perempuan bekas istri kakaknya, lalu tiba-tiba kakak itu datang menginap untuk waktu lama, apakah tindakannya" Bagaimana perasaannya"
Sebenarnya yang pokok ialah soal kepercayaan. Kau dan Handoko saling mencintai. Tetapi kalian kurang saling mempercayai. Aku" Aku tidak bisa menempatkan diri sebagai Handoko, suamimu. Aku cemburuan, tapi tidak terlalu emosional seperti dia. Aku tidak punya kakak. Dengan adik satu-satunya pun aku kurang rukun karena tidak cocok. Siswi juga tidak suka kepadanya. Andaikata tiba-tiba adik itu datang dan tinggal bersama kami, terus terang setelah cukup waktunya, kami akan mengusirnya.
Jadi sahabat-sahabatku juga mengetahui kurang adanya kepercayaan antara aku dan suamiku. Alangkah benarnya pengamatan itu. Dengan kesadaran terhadap kebenaran tersebut, rasa bawah-sadar yang tetap hendak kusembunyikan dan kutekan, kini memberi isyarat lebih nyata bahwa berita pagi itu adalah pertanda malapetaka bagi kebahagiaanku.
***** Bagian Dua 17?"?" ertemuanku dengan lelaki yang kemudian menjadi bapak anak-anakku penuh gelora api. Dua pengertiannya. Api revolusi dan api dalam arti kata yang sesungguhnya.
Pekerjaan ayahku ialah polisi di salah satu seksi di kota Semarang ketika perang meletus. Waktu itu, bersama keluarga beberapa pejabat penting kotapraja, kami terburu-buru harus mengemasi dua kopor. Aku dan adik-adikku boleh membawa tas sekolah yang kami isi dengan apa saja, sesuai dengan keinginan kami. Tapi kami tidak berhak bertanya sesuatu pun. Setiap kali kami anak-anak yang besar ingin mengetahui ke mana kami pergi, mengapa kami harus berbicara dengan suara rendah, orangtua kami menghardik dengan suara tertekan sambil memelototkan mata. Aku segera mengerti bahwa semuanya serba harus dipendam. Maka aku sebagai anak sulung, harus memberi contoh sebaik-baiknya kepada adik-adikku. Kubuka pendengaranku untuk mengikuti semua percakapan. Kupertajam pengamatanku agar dapat melihat apa yang disembunyikan. Kalimat-kalimat orang dewasa tidak selalu kumengerti. Tetapi sekurang-kurangnya, aku berusaha mengikuti suasana. Yang akhirnya kumengerti ialah rombongan kami harus mengelabui mata pemburu bangsa Jepang beserta kaki-tangannya.
Sebegitu keluar kota, kami meneruskan menuju ke barat. Aku bahkan mengetahui bahwa kami melewati Pekalongan. Sesudah
kami tinggalkan, kami meneruskan dengan naik kereta api. Karena jembatan rusak, setelah menyeberang dengan rakit, rombongan menyewa gerobak dan dokar. Untuk selanjutnya, aku kurang jelas, karena tertidur kelelahan. Matahari terbenam, matahari terbit, perjalanan berlangsung tanpa kusadari sepenuhnya. Gerobak yang ditarik sapi atau kerbau menjadi alat angkutan utama selama beberapa hari. Kadang-kadang kami berhenti, tidur untuk satu malam, bahkan beberapa malam di tempat yang sama. Yang kuingat benar ialah udara berangsur-angsur menjadi sejuk. Entah sudah berapa hari kami meninggalkan kota. Pada suatu malam, kudengar bisik-bisik di sebelah luar dinding bambu kami yang mengatakan, bahwa kami sedang menuju ke ibu kota RI yang bernama Yogyakarta. Kami tidak pernah sampai di sana. Selama tiga tahun lebih kami mengembara. Kaki, lereng, dan punggung Gunung Slamet kami jelajah konon untuk mencari terobosan yang aman ke arah selatan. Waktu itu aku tidak mengetahui urusan orang dewasa. Setiap kali kulihat ayah kami tergopoh-gopoh mendekati tempat bermalam kami atau perhentian sementara, itu tandanya bahwa kami harus siap untuk berangkat. Bulan berganti bulan, kami anak-anak tidak begitu sadar bahwa waktu itu negara dalam keadaan perang. Kenangan masa itu bagiku adalah perjalanan yang tak kunjung berhenti. Menurut keterangan singkat yang kudapatkan dari Ibu, Bapak sedang mengawal pejabat kotapraja tingkat provinsi. Dia bersama keluarganya harus selamat sampai di ibu kota RI.
Rombongan kami juga dikawal oleh beberapa orang Tentara Rakyat atau pejuang. Dari satu tempat ke tempat lain, pengawal ini diganti. Pakaian mereka tidak selalu seragam. Paling sering para pemuda dan lelaki dewasa itu mengenakan celana dan baju
menyatu atau menghilang dalam hutan. Juga karena tidak perlu terlalu sering dicuci.
Kenangan dari masa itu bagiku juga tidak berbentuk bulat ataupun utuh. Bagian demi bagian yang terpenggal, kadangkala berurutan kejadian diikuti kejadian. Tetapi seringkali juga terdiri dari adegan-adegan saja tanpa kuingati di mana dan dalam peristiwa yang macam mana. Yang tercetak dalam ingatanku misalnya pada saat ketika aku merasa sangat kedinginan. Lalu penduduk setempat membikinkan beberapa ceret wedang jahe buat rombongan kami. Dan itulah minuman yang paling nikmat yang pernah kuteguk hingga umurku waktu itu. Di sudut ingatanku juga tersimpan pemandangan-pemandangan menyenangkan. Umpamanya untuk pertama kalinya aku melihat orang memerah susu. Ingatan yang mengerikan ialah ketika aku menyaksikan seorang anggota rombongan menangkap ular besar sekali. Kata Bapak, itu ular sanca. Tidak berbahaya karena gigitannya tidak mematikan. Tapi kalau dia lapar sekali dapat menelan anak sebesar adikku. Waktu itu aku sepenuhnya mempercayai ayah kami. Tapi kemudian ibuku berbisik, bahwa Bapak berkata begitu supaya adikku patuh jika dilarang bermain terlalu memisah dari rombongan.
Dalam pengungsian itu adikku terkecil lahir. Untunglah waktu itu kami sedang menetap di desa Guci. Tiga kali kami pergi dan kembali lagi ke desa itu. Setiap kali kami serombongan dibagi keluarga demi keluarga, atau dua keluarga bersama, dititipkan pada penduduk yang memiliki tempat. Rumah-rumah di sana sederhana sekali seperti biasanya yang terdapat di desa-desa berhawa dingin lainnya. Meskipun lantainya dari tanah, entah bagaimana, pada saat matahari terbenam, terasa seolah-olah ada uap hangat yang muncul dari sana.
hagiaan masa anak-anak yang juga sangat sederhana namun membekas seumur hidupku. Permainan jual-beli yang kami sebut pasaran menyediakan bahan yang beraneka ragam, karena pagar dan perdu tidak hentinya bertunas. Setiap kali, rombongan harus meninggalkan desa, lalu kembali lagi. Tapi kami anakanak dalam rombongan menyebutkan perkataan pulang pada saat kami tiba lagi di sana. Sepanjang ingatanku, selama dalam pengungsian itu kami tidak pernah mengalami kelaparan. Ke mana pun kami pindah, jatah makanan dari dapur umum selalu mencukupi. Minuman demikian pula, walaupun gula yang kami dapatkan bukan gula pasir. Untuk tambahan lauk dari jatah tersebut, masing-masing keluarga menambahkan sendiri menurut kemampuan dan kemauan mereka.
Pertama kalinya kami datang ke desa Guci, aku tidak tahan udaranya yang dingin menyengat. Lalu penduduk menunjukkan sumber-sumber air panas. Itu tersebar di mana-mana. Yang terdekat dengan tempat kami terletak di tengah-tengah sawah. Aku seringkali bermain-main ke sana hanya untuk merendamkan kaki di parit yang dialirkan ke tepi jalan desa. Karena harus menghemat minyak buah jarak buat pelita, kami harus mandi sebelum kabut mengawang menutupi pemandangan.
Pada waktu terakhir kalinya kami menetap di desa itu, barulah paceklik terasa mengancam. Jatah nasi hanya diberikan satu kali sehari. Meskipun demikian, jagung dan singkong tetap berlimpah. Ibu-ibu yang bertugas di dapur umum sangat kreatif. Mereka menyulap labu sebesar bayi menjadi berbagai makanan asin dan manis, sehingga kami anak-anak tidak lagi menganggapnya sebagai sayur. Pada waktu itu pula, karena lebih dari tiga bulan kami tidak berpindah tempat, ayah kami mengumpulkan anakteratur. Di halaman kelurahan ada hanggar tempat penimbunan panen kentang dan hasil lain. Di sana anggota rombongan mengatur tempat buat pertemuan-pertemuan. Kami anak-anak juga memanfaatkannya buat belajar. Yang dipentingkan ialah pelajaran menulis, membaca, dan menghitung. Sejarah diganti dengan dongeng, cerita mengenai Tanah Air sedari dulu sampai perjuangan masa itu. Semua anak dari semua umur dijadikan satu. Yang mengajar bergantian, siapa saja di antara orang tua yang merasa mampu dan pada saat itu tidak bertugas di dapur maupun di tempat lain, karena orang-orang dewasa yang berbadan kuat juga turut ke ladang, atau berjaga bersama kaum pejuang.
Aku sebagai anak tertua tidak pernah mempunyai waktu senggang. Sebegitu menyelesaikan tugas yang diberikan ibuku, ayahku memanggil untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Tetapi aku merasa masih memiliki waktu untuk bermain-main. Karena selagi orang-orang dewasa beristirahat di waktu siang, kami anak-anak biasa menyelinap keluar rumah, berkencan dengan kawannya sendiri-sendiri. Sejak sekolah mulai teratur, aku merasa semakin lebih santai, karena pagi sampai siang aku harus belajar bersama anak-anak lain. Lalu Ibu mengambil seorang penduduk desa agar bisa menolong mengawasi adikku yang paling kecil. Dia juga bergantian dengan ibuku mencuci pakaian kami. Dengan demikian, masa tinggal kami di desa Guci benar-benar merupakan kenangan yang menyenangkan bagi kami anak-anak.
Sekolah membikin aku terbebas dari tugas mencuci baju. Pekerjaan rumah tangga yang harus kulunasi ialah memandikan adikku; kadangkala menimba untuk mengisi bak di samping sumur dan sore hari mengambilkan jatah minuman teh dari dapur
berdalih buat menghindari tugas yang telah diperingan itu, ibu kami segera mengingatkan berita yang sering disampaikan oleh pendatang baru. Konon di kota-kota pendudukan, di daerah pesisir, air semakin sukar didapatkan. Tidak hanya makanan yang langka dan mahal, air pun harus dibeli dengan harga yang tinggi. Meskipun kami hidup di pengungsian, kami tetap harus bersyukur karena masih bisa makan nasi bersih satu kali sehari, bisa mandi dengan leluasa dan minum sebanyak kemauan kami. Di kota-kota itu, kabarnya, orang harus antre lama untuk mendapatkan makanan maupun air bersih.
Kami anak-anak hampir lupa bahwa desa Guci adalah tempat tinggal sementara. Tiba-tiba pada suatu pagi kami diberitahu bahwa pelajaran dihentikan dan kami harus pulang mengemasi baju untuk dibawa pergi. Setelah membantu ibuku sebentar, aku disuruh mendahului ke halaman kelurahan sambil mengemong adikku. Di sana sudah banyak orang berkumpul. Bapak sibuk berbicara dengan pengawal lain. Seorang anggota tentara membuka kertas lebar di atas meja. Mereka semua menunduk memperhatikan gambar di sana. Aku menunggu bersama anak-anak lain. Kemudian kudengar seseorang berkata bahwa gerobak perbekalan sudah diberangkatkan lebih dahulu, dan bahwa sebaiknya anak-anak dan wanita segera menyusul.
Sebelum lohor, kami meninggalkan desa Guci untuk kesekian kalinya. Dalam rombongan yang berjalan bersama kami anakanak dan kaum ibu, kulihat dua pejabat kota yang selalu dikawal Bapak. Tetapi orangtuaku sendiri tidak tampak. Aku ingin bertanya di mana bapak dan ibu kami. Tetapi wanita-wanita dan lelaki berumur di dekatku tidak ada yang mengetahui. Perjalanan hari itu tenang tetapi menyedihkan. Hanya ada satu gerobak di barisan
berganti, kami diperbolehkan menggonceng gerobak yang sudah penuh dengan tas dan barang bawaan kami semua. Lama sekali kami berjalan. Makan siang dibagikan dalam bungkusan daun yang berbau jamu. Bambu tempat air minum diedarkan dari tangan ke tangan. Kami berhenti sebentar sambil makan dan mengganti kerbau penarik gerobak. Orang-orang dewasa tersebar di dekatdekat, mencari tempat duduk yang kering. Meskipun beberapa anak belum selesai makan, rombongan harus bergerak lagi. Sebegitu matahari bergeser ke barat, kabut mulai bergantungan di pucuk-pucuk dan dahan pohon. Tapi kami terus berjalan. Seseorang mengatakan kekhawatirannya kalau-kalau tidak bisa mencapai tujuan sebelum matahari terbenam. Dari belakang ada yang menyahut bahwa bagaimanapun juga, rombongan harus ke sana. Karena hanya itulah tempat berhenti yang terlindung. Daripada bermalam di tempat terbuka, tambahnya lagi.
Ketika kegelapan kabut menyelubungi kepanjangan rombongan dari depan ke belakang, orang-orang dewasa menyalakan obor. Perjalanan menjadi lebih lambat. Sekeliling kami gelap pekat. Anak-anak lelaki besar yang sudah berjalan sejak waktu berangkat, mulai mengaduh dan mengeluh. Kata mereka, jalan semakin licin. Sebetulnya aku juga berpendapat begitu. Tetapi karena mengerti bahwa sebaiknya diam daripada mengganggu orang-orang dewasa, maka aku membisu saja. Adikku yang paling kecil sudah tertidur di gerobak, dipangku Yu Dinem, pamongnya. Pikiranku masih lebih terpusat kepada kedua orangtuaku yang belum juga tampak menggabung. Entah berapa lama kemudian, kami digiring memasuki sebuah bangunan beratap. Kami ditanya apakah mau makan atau minum. Karena kelelahan, banyak dari kami anak-anak yang lebih memilih tidur. Di pinggiran ruang,
ruh, kami bergelimpangan menjatuhkan diri. Aku mendekati pengasuh adikku, lalu berbaring di sampingnya. Dan langsung tidak sadar apa yang terjadi di sekelilingku.
Entah berapa lama aku tertidur. Tiba-tiba saja terbangun oleh bunyi kecek-kecek belalang dan nyanyian jengkerik. Kutilingkan kuping untuk mengikuti percakapan bernada rendah yang datang dari luar. Di atas kepalaku tampak sinar terang, merembes dari celah-celah atap. Kelihatannya pemandangan di luar lebih jelas daripada di dalam. Dan lebih aneh lagi ialah aku kepanasan. Kutegakkan badan sambil mencoba membiasakan mataku melihat siapa-siapa yang berada di dekatku. Tidak ada bayangan bapak maupun ibuku. Perlahan aku bangun, kemudian menuju ke pintu yang terbuka memberikan sinar dari luar.
Jangan keluar, Nak! Berbahaya! suara perempuan agak serak menahanku.
Aku menoleh, mengenali bayangannya.
Saya ingin mencari Ibu, Mbah, sahutku sambil terus berjalan ke pintu.
Di sini saja. Nanti sebentar lagi ibumu kembali, bujuknya keras.
Sampai di depan pintu aku mengintip. Di luar juga tidak ada lampu ataupun obor yang menyala. Tetapi sinar yang terpancar dari langit berwarna merah, memberi pantulan yang terang sehingga aku bisa membedakan satu pohon dari lainnya. Hati-hati aku melongokkan kepala. Karena tidak merasa adanya bahaya, perlahan aku keluar, menepi-nepi pada dinding. Belum mencapai empat langkah, seseorang menegur.
Ada apa, Dik" orang pemuda menyandang senapan. Saya mencari Bapak atau Ibu, sahutku.
Tentulah dia termasuk pengawal kami malam itu. Kuamati wajahnya kalau-kalau aku sudah pernah mengenalnya. Tiba-tiba segalanya menyilaukan. Seolah-olah sebuah bola cahaya jingga keperakan terlempar ke angkasa dan menerangi luasan yang tidak terbatas. Tanah bergerak seperti gempa, disusul suara dentuman yang menggetarkan udara. Aku menjerit dan menutup mata. Tanganku kulindungkan ke kedua telingaku. Seketika itu juga aku merasa diriku ditarik dan direngkuh, dibawa ke bawah atap. Dentuman dan ledakan yang gaduh bertubi-tubi memecahkan pendengaran. Derak dan geretek berselingan membarengi goyangan tanah tempatku berpijak. Beberapa saat kemudian aku baru sadar karena hidungku tidak leluasa bernapas. Suara pemuda itu lembut memanasi bagian atas kepalaku.
Ssst, tenang Dik, tenang. Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Itu gudang mesiu kepunyaan tentara Belanda yang diledakkan pejuang kita.
Kurasakan rambutku dibelai dan dielus. Aku menengadahkan muka agar bernapas lebih bebas. Sebentar tanah bergerak lagi. Letusan masih beruntunan. Aku tetap berada dalam pelukan pemuda itu. Dari kelompok pengungsi terdengar anak-anak merengek, menangis. Orang-orang dewasa berusaha membujuk. Beberapa dari mereka tidak terkendalikan, berseru bahwa kami lebih baik keluar karena ada gempa. Dan memang mereka berlarian keluar. Aku kembali menjadi panik, memaksa diri lepas dan turut mereka yang keluar.
Seseorang bersuara di depan pintu. Ah, ini bukan gempa! Disusul nada yang lebih tenang, Alhamdulillah! Ini tandanya
gumamkan perasaan syukur mereka.
Mudah-mudahan mereka semua selamat, tambah seseorang. Dan seolah-olah hanya menunggu kalimat tersebut, mendadak terdengar rentetan tembakan di kejauhan. Kami terdiam, menunggu. Kilauan sinar silih berganti antara warna perak dan kuning kemerah-merahan melesat satu-satu ke langit. Percikan nyala yang terlempar ke angkasa memberi pemandangan indah di tengah-tengah keluasan yang tanpa batas. Aku terdorong oleh kerumunan orang dewasa masuk kembali ke dalam bangunan. Pelita yang tadi sudah dinyalakan, kini dimatikan. Suara tembakmenembak terus merentet, berselingan dengan ledakan di sanasini. Bisik-bisik ucapan doa menyela kedahsyatan pertempuran di kejauhan itu.
Lalu, suasana menjadi lebih tenang. Letusan senapan terdengar mengurang. Kemudian berhenti sama sekali. Agak lama kami menunggu, baru ada seorang dewasa yang berkata, barangkali Belanda sudah angkat kaki dari perkebunan. Aku terdiam, tetap menelungkup di tempatku sambil bertanya-tanya sendiri di mana orangtuaku, dan perkebunan mana yang dimaksudkan. Orangorang mulai bergerak. Ada beberapa yang akan keluar. Suara langkah-langkah sibuk di depan pintu. Disusul percakapan dengan suara biasa, tanpa sembunyi-sembunyi. Barangkali pengawal berganti. Ataukah barangkali ada pendatang baru" Seketika itu aku berpikir mungkin orangtuaku yang datang.
Kemudian lalu-lalang semakin sibuk. Seorang di sudut berkata akan menyalakan pelita. Dari pintu ada sahutan memperbolehkan. Terdengar suara korek, lalu ruangan bawah atap itu pun bermandikan cahaya sangat melegakan. Seorang anak minta minum, ditiru yang lain-lain. Orang dewasa mengusulkan
pengasuh adikku, sudah memegang arem-arem. Kulihat orangorang dewasa mulai santai, ada beberapa yang juga memegang singkong rebus atau makanan lain. Seseorang mengusulkan agar pengawal di luar dikirimi ceret teh. Setelah makan sekerat ubi jalar dan minum sedikit, aku kembali berbaring dan tertidur.
Pagi keesokannya, ibu dan bapakku sudah ada di luar ketika aku bangun. Mereka tampak biasa saja. Ketika aku mendekat dan Ibu memelukku, badannya berbau obat-obatan seperti di rumah sakit. Seseorang dari belakang bangunan membawa jatah makan pagi, lalu kami sekeluarga makan bersama. Segera setelah selesai, Ibu bersiap-siap akan pergi lagi. Tapi kali itu aku mendapatkan penjelasan.
Jaga adik-adikmu baik-baik. Aku akan membantu di gubuk palang merah, katanya. Dan kepada adikku yang besar Ibu berpesan, Tidak boleh bermain-main terlalu jauh dari gudang!
Jadi bangunan tempat kami berteduh itu sebuah gudang. Aku mengikuti ibuku sampai agak jauh dari pintu.
Aku ingin turut Ibu, kataku memberanikan diri. Jangan. Kamu membantu-bantu di sini saja. Seperti biasanya, tolong membagikan makanan dan awasi anak-anak lain. Kamu bisa mengatur permainan misalnya, supaya mereka tidak tersebar ke mana-mana.
Pagi itu aku juga mengetahui lebih banyak sebab-sebab kebakaran semalam. Juga mengapa kami harus menyingkir dari desa. Kata orang-orang dewasa, tentara RI menyerbu gudang perbekalan musuh di perkebunan teh Kaligua. Biasanya setelah penyerangan semacam itu, musuh menggeledah desa-desa sekitar. Sebab itulah kami harus mengungsi ke hutan. Anak-anak diberitahu bahwa selama beberapa hari itu kami harus lebih prihatin.
orang-orang dewasa bisa meneruskan pengawalan dan perjuangan dengan hati yang kuat. Dengan menerima keadaan yang sederhana, kami diberitahu bahwa itu juga sudah berarti turut berjuang. Nasi tidak akan selalu ada menurut kata orang-orang dewasa yang menunggui kami. Tetapi makanan lain seperti kacang hijau, kedelai, kentang, singkong dan ubi jalar masih tersimpan berkarung-karung. Itu akan cukup buat makan selama bertahan di tengah-tengah hutan.
Memang hari-hari berikutnya kami mendapat makanan tersebut. Pada hari-hari di mana disuguhkan nasi jagung, rasanya bagaikan pesta. Kami bahkan pernah diberi daging bakar. Anakanak lelaki selalu lebih suka makan daging. Kebanyakan mereka rewel, karena bosan, lalu tidak mau makan jatah yang diberikan. Maka wejangan-wejangan diulang kembali, dan harus diucapkan oleh orang dewasa laki-laki.
Kata seorang ibu yang bertugas di dapur, sudah kodrat kaum wanita tidak selalu dituruti dan dipatuhi oleh anak-anak lelaki. Aku masih muda waktu itu. Tetapi karena pengalaman zaman pengungsian dan juga karena pengamatan terhadap adik-adikku sendiri, aku menyetujui pendapat wanita itu.
Ketika Ibu akan berangkat lagi ke gubuk PMI pada suatu pagi, sambil menggendong adikku yang paling kecil aku diperkenankan menemaninya berjalan turun. Ternyata bangunan itu tidak begitu jauh dari tempat kami berteduh. Tapi karena tidak ada jalan setapak yang langsung menuju ke sana, dan karena letaknya di antara dua gundukan bukit kecil, kerimbunan dahan pohonpohon amat rapat menyembunyikannya. Aku harus berhati-hati mengikuti ibuku supaya adikku tidak tergores oleh duri dan ranting-ranting kering. Supaya tidak tersesat di saat pulang, Ibu
hutan semua pohon kelihatan sama. Tetapi kalau diperhatikan dengan saksama, masing-masing tumbuhan mempunyai ciri atau tanda.
Jalan ke gubuk PMI hanya dikenal beberapa orang dewasa anggota rombongan kami. Aku merasa bangga karena ibuku menunjukkannya kepadaku. Di tempat-tempat tertentu ada bongkahan batu atau batang pohon yang tumbang. Pohon tumbang pun tidak sembarangan. Harus tahu, di dekatnya ada suatu pemandangan yang harus dikenali. Karena siapa tahu ada pencari kayu yang mendadak memotong dan membawa batang pohon itu. Cabang atau dahan besar yang menggelantung di atas juga harus diperhatikan. Itu semua merupakan tanda-tanda alam yang sangat menolong orang di dalam hutan. Dan ketika berhasil pulang kembali ke gudang, aku merasa puas sekali. Pengalaman tersebut tidak akan kulupakan seumur hidupku.
Aku tidak sadar berapa lama kami tinggal di sana. Lelaki dewasa rombongan kami yang dianggap pemuda, jarang tampak bersama kami. Kami anak-anak perempuan mudah diatur. Sedangkan anak-anak lelaki besar semakin hari semakin menunjukkan sikap kejenuhannya. Lingkup gerak mereka sebenarnya cukup leluasa. Tetapi karena sifat mereka yang serba ingin bermain jauh, mereka merasa tidak bebas. Mereka diminta menolong mengangkut air dari sungai kecil yang mengalir di bawah jalan setapak. Itulah batas sebelah barat di mana mereka diizinkan pergi.
Memang tempat itu merupakan daya tarik bagi mereka. Anakanak perempuan juga suka sekali bermain-main di tepian sungai itu. Hingga pada suatu hari terjadi kepanikan. Dua anak lelaki tidak pulang makan siang. Sampai sore, di saat kabut seperti bubur mengalutkan pandangan sejarak dua meter, orang-orang dewasa
khawatir. Air sungai cukup dangkal. Dengan arusnya yang lembut tidak mungkin anak-anak besar itu mendapatkan kecelakaan di sana.
Dua petani yang biasa membantu telah disuruh mencari mereka di sepanjang sungai ke arah hilir maupun udik. Mereka kembali tanpa hasil. Kata mereka, ke udik dan ke hilir sudah dijalani lebih dari empat batu. Mereka tidak berani pergi sampai ke desa kalau tidak diperintah ke sana. Ibu anak-anak yang dianggap hilang menangis sambil menyebut nama Tuhan dan bapak mereka. Umur anak-anak itu sudah sepuluh dan sebelas tahun. Seharusnya mereka mengerti berhati-hati. Apalagi seharusnya juga ingat mematuhi peraturan atau nasihat yang selama itu selalu diulangi orang-orang dewasa. Lalu seorang ibu lain berkata, mungkin anak-anak itu menyusul ayah mereka. Tapi tidak seorang pun pernah diberitahu di mana orang-orang lelaki dewasa berada. Seperti juga aku dan adik-adikku tidak mengetahui ke mana bapak kami pergi. Aku hanya tahu bahwa masing-masing orang dewasa itu memiliki tugas. Di mana dan bagaimana tugas itu, kami tidak pernah yakin.
Dulu ketika kami masih berada di desa Guci, aku sering berjalan di sawah atau ladang. Secara kebetulan, aku melihat sesuatu yang aneh. Seorang laki-laki seperti petani duduk di galengan sambil merokok seolah-olah berlepas lelah. Ketika ada laki-laki lain lewat, mereka berbicara biasa. Lalu petani yang duduk menawarkan tempat rokok. Orang yang baru tiba itu duduk, menarik kertas rokok untuk digulung setelah diisi tembakau. Tapi sebelum meramunya, dia membaca apa yang tertulis di kertas. Sebegitu rokoknya dinyalakan, dia berterima kasih, lalu pergi. Penemuan itu kuberitahukan kepada ibuku. Orangtuaku meberita tidak berani masuk ke desa. Harus ada penerus berita yang kadangkala menemui mereka di hutan atau di ladang. Tempat pertemuan harus berganti-ganti. Sejak waktu itulah aku semakin menghormati siapa saja yang kutemui di mana pun. Walaupun yang berada di jalan atau di sawah itu sungguh-sungguh petani, aku harus tetap hormat. Orangtua kami tidak hentinya mengulang betapa penduduk desa sangat berjasa dan berbaik hati. Mereka banyak membantu para pengungsi dan pejuang. Bagaimanapun juga, rasa hormat harus dimulai dari diri kami lebih dahulu jika kami ingin disegani orang. Bapak kami juga mengajar kami agar tetap waspada. Karena gembala atau petani mungkin juga samaran mata-mata Belanda. Kaki tangan musuh itu dibayar tinggi. Orangorang sebangsa pun mau berkhianat jika nafsu ingin memiliki kekayaan tidak dapat dikendalikan.
Ketika kami tinggal di desa Guci, aku dan adik-adikku pernah menyaksikan penangkapan seorang petani yang menyelundup untuk mencari informasi yang akan dijual kepada tentara Belanda. Aku menjadi semakin ngeri, karena ternyata hidup ini bisa berbalik dari baik menjadi jelek. Maka sikapku terhadap petani-petani yang belum kukenal kembali menjadi biasa saja. Lalu ayah kami mengungkapkan sesuatu cara sepintas lalu untuk mengetahui apakah orang itu benar-benar petani atau bukan. Lihatlah tangannya, kata Bapak. Kalau tangan itu bersih, kukunya tidak hitam, ya patut dicurigai. Kalian tidak perlu banyak bicara, menghindarlah. Lebih baik tidak tahu dia lawan atau kawan. Jika perlu, kalian pulang dan beritahu orang dewasa di desa, begitu kata Bapak.
Pada hari yang tegang karena dua anak tidak makan siang dan sampai jam empat sore belum pulang itu, aku bertanya-tanya
dikenal di sekitar tempat kami bermalam. Siapa tahu anak-anak yang hilang itu dibawa orang lain. Tapi ketika petang hari kami bersiap-siap akan tidur, di luar terdengar beberapa orang datang. Anak-anak yang hilang itu diantarkan pulang oleh tiga Tentara Rakyat. Ibu mereka memeluk serta menciumi mereka sambil tidak hentinya menyesali perbuatan yang dikatakan keterlaluan itu. Akhirnya lelaki sesepuh yang tinggal dalam gudang pengungsian bersyukur. Semuanya berakhir baik-baik. Tentara itu menemukan anak-anak itu jauh sekali dari tempat kami. Sudah diadakan tanya-jawab. Anak-anak itu harus bersumpah tidak akan berbuat kesalahan lagi. Karena perbuatan mereka dapat mengakibatkan kehancuran rombongan kami, juga tentara yang mengawal.
Seperti pada waktu berangkatnya, kembalinya kami ke desa Guci pun dilaksanakan dengan mendadak. Tapi kali itu rombongan dibagi. Kelompok pertama dengan satu gerobak berangkat pagi-pagi buta. Aku dan adik-adikku menunggu orangtua, baru keesokan harinya. Pada waktu itulah kami sepakat mengatakan bahwa kami pulang ke tempat kami mondok di desa Guci. Seolah-olah itu adalah rumah kami yang sesungguhnya. Dimulai dari waktu itu, kenangan dari masa tinggal kami di sana menjadi lebih jelas dan lebih merasuk dalam ingatanku. Desa tetap dikawal atau diawasi tentara dan pemuda pejuang. Bergiliran mereka menampakkan diri. Pada saat-saat tertentu mereka kelihatan. Kadang-kadang berunding dengan pengatur kelurahan. Di lain waktu, sedang mengambil jatah di tempat perbekalan. Ada yang ramah, menegur kami anak-anak. Yang lain hanya lewat, atau mengangguk dari jauh.
Sejak pengungsian ke gudang dengan peristiwa kebakaran itu, aku mencoba mengamati setiap pemuda pengawal. Aku mencari
di depan pintu tempat kami berlindung. Aku tidak sadar apa yang mendorongku mencarinya. Bukan karena aku rindu kepadanya. Aku hanya ingin tahu bagaimana wajahnya. Hingga beberapa hari, kemudian sepekan lebih aku mencarinya. Lalu aku melupakannya.
Pengertian hari dan bulan bagiku belum sepenuhnya lengkap. Karena di rumah yang kami tempati tidak ada kalender. Aku hanya mengikuti perkataan orang dewasa yang melihati langit dan mengintip munculnya bulan. Setelah suasana kembali santai, kami anak-anak dikumpulkan lagi dan mulai mengikuti pelajaran. Seperti pada waktu lampau, berhitung, membaca, dan menulis diutamakan. Kami anak yang besar menolong adikadik. Tambahan pelajaran sejarah berupa dongeng dan cerita, kemudian kami anak-anak yang besar juga diberi pengetahuan umum. Kalender di kelurahan dikeluarkan supaya kami mengenal nama-nama bulan internasional. Kami juga diberitahu mengapa kami berjuang dan mengadakan revolusi. Kegiatan di luar negeri untuk mempersingkat perang di negeri bekas jajahan Belanda lalu Jepang pun diceritakan sedikit oleh orang dewasa yang bertindak sebagai guru.
Demikian santainya suasana di desa sehingga jam malam diundurkan. Baru kali itu anak-anak diperbolehkan bermain di luar meskipun sudah waktunya sembahyang Isya. Kami mempraktekkan permainan dan nyanyian tembang yang sudah lama diajarkan di sekolah pagi. Waktu itulah saat petang bulan purnama pertama yang kualami dengan bermain-main bersama anak-anak desa. Yang tidak menyukai bernyanyi memilih bermain gobak sodor. Atau pada petang-petang terang lainnya, kami duduk bersama sambil menyanyi dalam bahasa Indonesia. Ada saja orang dewasa yang
pejuang di Kaligua tetap menjadi bahan pembicaraan. Tetapi di desa kami, hal itu hanya disentuh dalam suara rendah.
Berita lain yang kemudian lebih mengambil tempat ialah yang mengatakan, bahwa Belanda telah mengundurkan diri ke utara. Dikatakan bahwa perang akan segera selesai. Tapi aku sudah terlalu sering mendengar hal yang paling akhir itu, sehingga tidak mempercayai lagi apakah kami tidak akan berpindah lagi. Keadaan memang damai bagi kami anak-anak. Kami menerima makanan biasa seperti dulu lagi. Tetapi minyak buat penerangan tetap harus dihemat. Pakaian penduduk dan kami sendiri mengurang. Ibu sudah mengorbankan kain-kain batiknya untuk dijadikan celana monyet adik-adikku. Lalu adikku yang besar mulai malu, harus dibikinkan celana pendek lain. Mereka bertambah tinggi terus. Kata orangtua kami, anak-anaknya tumbuh pesat karena udara gunung yang sehat. Baju kami cepat sesak dan menjadi kecil. Bahan pakaian merupakan barang sangat langka. Sama seperti alat tulis-menulis dan obat-obatan yang bukan berasal dari akar, daun, atau kulit pohon. Ayah kami mengatakan bahwa mencari ganti bahan makanan lebih gampang daripada pengganti pakaian. Orang-orang desa yang bekerja di lumpur memang tidak malu mengenakan celana dari bahan bagor atau karung. Selain itu, memang mereka terpaksa menggunakannya, karena baju yang cukup baik tinggal satu-satunya. Rombongan kami lumayan, ke tika berangkat dari kota dapat membawa paling sedikit dua kopor untuk masing-masing keluarga. Ditambah lagi tas-tas kecil. Sebagai pengganti alat penerangan sekaligus untuk mengusir nyamuk, kami meniru orang desa. Bunga kluwih dan kelopak bunga aren dan kelapa dikeringkan, dinyalakan pada malam hari. Ujungnya yang termakan api lumayan bisa menunjukkan titik terang. Pada
kan jenis penerangan semacam itu.
*** Pagi itu kami sedang berada di sekolah. Yang mengajar kami Bapak. Dia meneruskan ceritanya, yaitu Babad Tanah Jawa. Perhatian kami terputus karena kelihatan beberapa orang mendekati pintu hanggar tempat kami belajar. Seseorang masuk, berbisik di telinga Bapak. Mereka bersama-sama keluar. Orang yang tadi kembali dan memberitahu bahwa pelajaran tidak diteruskan. Kami diminta pulang, karena tempat itu akan dipergunakan orang-orang dewasa. Dalam perjalanan ke tempat pondokan, aku bertemu dengan ibuku. Dia berkata supaya aku mengambil jatah makan siang itu ke dapur umum. Ibu juga akan turut berkumpul di halaman kelurahan. Tetapi aku terlalu asyik bermain, baru teringat harus mengambil makanan ketika temanku mengatakan sudah lapar dan akan pulang. Aku ke dapur mengambil rantang. Sewaktu akan berangkat, ayah dan ibuku sudah kembali. Baru sampai di pintu pagar Ibu sudah berseru.
Lihat apa yang kita terima! Di kedua bahunya tersampir lipatan kain berbunga-bunga. Warnanya biru dan kuning. Di bawah ketiak dia mengepit gulungan tebal berwarna cokelat tua. Mari ke sini! panggilnya sambil tetap berteriak. Aku mengikutinya mendekati balai-balai di pinggir dinding depan rumah. Kain tebal yang dikepit diletakkannya di atas amben, katanya, Ini buat celana adik-adikmu. Namanya kain beledu, dari katun. Tebal dan kuat. Awet kalau dipakai, tapi tidak terlalu panas.
nyambung. Aku menoleh ke arahnya. Seorang pemuda tersenyum kepadaku. Dia berada di dekat ayahku. Aku belum pernah melihatnya di antara mereka yang bergilir berpatroli ataupun berjaga di desa.
Ya. Yang kuning terlalu cerah buat dia, Ibu sekali lagi memperdengarkan suaranya yang nyata gembira. Lalu untuk menekankan kata-katanya, dia menempelkan ujung bahan yang tersampir di bahu kirinya ke wajahku. Warnanya biru kehijauan. Benar, Bu. Itu bagus buat Muryati, Bapak menyetujui. Lalu dalam nada suara tetap cerah, Ibu bertanya apakah aku sudah mengambil jatah makanan. Kukatakan bahwa aku baru akan berangkat.
Ayo bersama-sama! pemuda itu langsung mengusulkan. Lalu menambahkan, Sekalian saja saya mengambil jatah saya.
Kami berdua beranjak akan pergi ketika Bapak berkata, Makan di sini saja, Nak Wid. Bukan begitu, Bu"
Ya, itu gagasan yang baik. Saya masih punya sisa sambel goreng telur untuk tambahan lauk. Mur! Bawa wadah makanan lebih besar. Atau satu panci rantang lagi untuk jatahnya Mas Wid. Dijadikan satu saja ya, Nak Wid.
Widodo, itulah namanya. Di waktu keluar rumah, berjalan di sampingnya menuju ke dapur umum, aku belum mengetahui siapa sebenarnya pemuda ini. Jarang sekali orangtuaku menunjukkan keakraban mereka terhadap tentara atau pemuda pejuang lain. Dan baru terjadi kali itulah seseorang diminta makan bersama keluarga. Di rumah kami. Apalagi prakarsa itu datangnya dari Bapak. Seingatku, dulu ketika kami masih tinggal di kota, kalau akan ada tamu ditahan supaya makan, mereka berunding di belakang dulu.
sekarang saya ditugaskan di garis belakang, kata pemuda di sampingku. Dia menyambung, Kebakaran dan letusan-letusan malam itu dahsyat sekali, bukan" Ternyata memang banyak bahan peledak, mortir, dan peluru yang tersimpan di sana. Itu perbekalan Belanda yang penting rupanya.
Aku menoleh sebentar ke arahnya. Ah, jadi inilah si pemuda itu. Biasa saja dia. Seumpama bertemu di suatu tempat, sendirian atau menggerombol bersama pejuang lain, tidak akan aku bisa mengenalinya. Kali itu pun, seandainya dia tidak menyebutkan kejadian malam itu, pastilah aku tetap akan menganggap dia sebagai pejuang atau tentara pengawal lain. Di dapur umum, semua petugas menyalami dan memberi selamat. Kami menerima jatah nasi lebih banyak hari itu, karena ada tambahan kiriman dari luar. Pemuda itu turut mengawal kiriman tersebut. Termasuk bahan pakaian yang tadi dibagi-bagikan.
Suasana makan siang di rumah amat ringan dan santai. Sudah lama aku tidak melihat kedua orangtuaku ramah-tamah dan banyak bicara seperti saat itu. Mas Wid, begitulah Bapak dan Ibu menerapkan panggilan itu terhadap tamu kami. Dan sejak hari itu aku memanggilnya demikian.
Mas Wid menceritakan, bahwa setelah penggempuran gudang perbekalan musuh malam itu, berhari-hari dia bersama pasukannya berjaga-jaga mengawasi gerak-gerik Belanda. Selama hampir dua pekan terjadi pertempuran kecil-kecilan. Waktu itu, kami di hanggar dalam hutan, ditinggal hampir tanpa orang lelaki dewasa. Mereka yang sekiranya berbadan kuat dan sanggup membawa senapan disebar ke beberapa pos sebagai pasukan cadangan. Lalu suasana agak reda. Disusul adanya tanda-tanda musuh bergerak menarik diri. Tapi kaum pejuang tidak mengubah
sama sekali oleh Belanda. Namun Tentara masih menunggu saat. Baru dua hari yang lalu mereka memutuskan memasuki daerah perkebunan tersebut.
Mas Wid tergabung dalam regu pertama yang mengadakan penjajakan di kompleks pemukiman. Rupa-rupanya Belanda betulbetul telah meninggalkan kubu pertahanannya di sana. Sedikit demi sedikit barang-barang dan bahan pangan yang ditemukan di pabrik teh dan pemukiman itu dikeluarkan. Daripada terjadi perampokan yang tidak terarah, barang-barang itu dibagikan kepada penduduk desa sekitar dan para pengungsi. Hari itu giliran desa Guci yang menerima kiriman.
Saya tahu di Guci banyak anak lelaki. Kain-kain jendela dan pintu di rumah-rumah itu masih bagus. Saya suruh kawan-kawan menurunkannya. Itu baik untuk dibikin celana. Kasihan anakanak lelaki kalau iri, karena yang kami temukan di gudang hanya sisa pembagian kain-kain berkembang buat wanita. Itu tentu simpanan sejak zaman pendudukan Jepang, Bu. Entah bahannya masih kuat atau tidak, saya tidak tahu.
Kita lihat saja nanti kalau sudah dipakai. Awet atau tidak. Tapi lumayan buat ganti, Ibu menyahut. Lalu meneruskan, Kalau kain korden memang kuat. Terima kasih sekali, Nak Wid, kok turut memikirkan kami pengungsi dari kota.
Tidak apa-apa, Bu. Saya sendiri punya adik laki-laki banyak. Mereka jauh, di Klaten.
0h, iya" Di Klaten" Apakah bisa mendapat kabar dari sana" Sejak kapan Nak Wid meninggalkan rumah" Ibu masih bertanya.
Adiknya berapa" Bapak turut menyambung.
dup di pedalaman lebih baik. Apalagi orangtua saya petani. Nak Wid anak yang sulung"
Ya, Bu. Kami berlima laki-laki semua. Wah, Pendawa Lima kalau begitu. Ya, benar begitu.
Adik empat ditinggal! Bapak berkata seperti kepada dirinya sendiri. Kalau perang selesai, tahu-tahu Nak Wid melihat mereka sudah besar semuanya!
Ya, pastilah mereka tumbuh terus, Pak.
Di sini sama saja! Ibu memberikan pendapatnya. Lihat mereka! Tambah besar terus. Mur sudah sama tingginya dengan saya.
Ya. Perawan sunti dia sekarang, sambung Bapak. Pipiku terasa hangat karena sadar semua memandang kepadaku. Adikku yang besar bertanya apa artinya perawan sunti. Apakah juga ada joko sunti" Bapak, Ibu, dan Mas Wid tertawa. Merasa terlepas dari pusat perhatian, aku dengan lega turut tertawa.
*** Api revolusi meneruskan kobarannya. Kami di desa Guci dapat dikatakan agak tersisih. Kadang-kadang terdengar sayupsayup letusan tembakan. Di lain waktu, ledakan mesiu. Suatu ketika, rentetan bersahutan lebih lama. Aku tetap menguping percakapan di antara orang dewasa. Biasanya, setelah suatu peristiwa terjadi, penjelasannya datang di kemudian hari. Konon Patroli TNI berpapasan dengan patroli musuh. Atau pemudapemuda mengejar orang yang dicurigai.
Sementara itu pikiranku menjadi lebih terbuka untuk mekuminta, mereka lebih sering memberitahuku kejadian yang dianggap perlu kuketahui. Perkembangan paling akhir yang dibicarakan kepada ibuku juga berarti ditujukan kepadaku. Berturut-turut ayahku menyebutkan nama-nama asing yang berbunyi asing bagi pendengaranku. Lalu terang-terangan Bapak memandang kepadaku, sambil menjelaskan apa arti perundingan atau kegagalan sebuah usaha pertemuan. Perjanjian yang harrus ditandatangani oleh musuh dan pihak RI di suatu tempat harus berhasil, katanya. Di sana pula untuk pertama kalinya aku mendengar, bahwa ada sebuah organisasi dunia yang disebut Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ketika menerima berita bahwa perdamaian hampir disetujui, rombongan kami bersiap-siap akan kembali ke kota asal. Kami turun sampai di desa Moga. Di sana berhenti lebih dari sebulan. Lalu kami berangkat lagi memasuki kota Pemalang. Di situ keluarga-keluarga ditinggal. Ayahku mengantar para pejabat ke Pekalongan. Sesudah itu, lama kami tidak melihat Bapak. Kami hanya mendapat berita melalui pendatang, penduduk asli ataupun orang yang singgah. Mereka menceritakan kehidupan di kotakota pesisir.
Akhirnya datanglah seseorang yang disuruh ayahku. Dia membawa surat buat semua keluarga yang tertinggal. Bapak sudah pulang ke rumah kami di kota. Katanya dalam surat, rumah kami tetap utuh dan keadaannya cukup baik. Tetangga yang tidak mengungsi dan dipasrahi kunci sudah meninggal. Tapi menantunya baik, sering membuka pintu dan jendela-jendela untuk mengurangi bau kelembapan. Waktu menulis surat itu, Bapak sudah memanggil tukang yang diharap akan bisa memasang talang dan mengganti genting yang pecah. Setelah itu, Bapak akan
mua sudah agak lebih rapi, dia akan menyuruh orang menjemput kami. Aku turut menangis ketika melihat ibuku mengusap air matanya. Kami sangat terharu membaca surat Bapak.
Syukurlah. Syukurlah. Bapak kalian selamat sudah sampai kembali di rumah. Malahan sudah memperbaiki rumah kita. Oh, Tuhan, terima kasih. Terima kasih karena aku Kau beri suami yang begitu baik. Kalian lihat itu! Betapa cintanya Bapak kepadamu semua. Masih capek, masih lelah, baru datang dari pengungsian, tapi sudah sempat memikirkan memberi atap yang sebaik seutuh mungkin kepada istri dan anak-anaknya, kata ibuku di sela-sela tangisnya.
Dan waktu itu aku merasakan sungguhlah benar kata-kata ibu kami itu. Di antara sesama pengungsi, aku menyaksikan sendiri bagaimana ayah kami berbeda. Dia memiliki sifat yang tidak kulihat pada bapak-bapak lain terhadap anak mereka. Dia juga suami yang hebat, selalu memperlakukan ibuku dengan ulah yang tidak kuketahui diperbuat laki-laki lain kepada istri mereka. Tanpa segan atau membantah, jika ibuku meminta dia mengambil jatah makanan, Bapak berangkat. Pada waktu dia harus meninggalkan kami untuk bertugas di tempat lain, ciuman dan pelukannya terasa benar dan penuh cinta. Berkali-kali dia kembali lagi sambil membawa sesuatu makanan yang barangkali remeh namun menunjukkan perhatiannya kepada Ibu dan kami. Beberapa tangkai sayur bayam, sekantung jambu air, bahkan kadang-kadang telur asin. Oleh-oleh di zaman pengungsian hanya kusaksikan dibawa oleh ayahku buat kami. Laki-laki atau bapakbapak lain tidak mempunyai prakarsa semacam itu. Kata ibuku, barangkali mereka kurang memperhatikan, atau tidak mempunyai waktu untuk mencari.
dekat pondokan kami di kota Pemalang. Satu jip, satunya lagi lebih besar. Setelah kami amati baik-baik, di antara lima orang yang turun dari dalamnya adalah bapak kami. Aku dan adikku yang besar berseru kegirangan. Alangkah gagahnya dia. Memakai seragam baru. Sepatunya belum pernah kami lihat. Dia langsung mengangkat adikku terkecil, dilambungkan tinggi-tinggi. Sambil membawanya masuk rumah untuk memeluk ibuku dengan lengannya yang lain.
Keesokannya kami berangkat ke kota Semarang. Petang kami sudah sampai, pulang ke rumah sendiri. Aku berkata kepada ibuku bahwa kami telah betul-betul pulang kembali. Mendengar aku mengatakannya, ibuku langsung mendekati ayah kami. Tanpa berbicara, dia menjatuhkan kepala di dada suaminya. Mukanya tersembunyi dalam rangkulan kedua lengan Bapak. Demikian mereka berengkuhan di tengah-tengah kesibukan anak buah ayahku yang hilir-mudik mengangkut kopor serta barang-barang lain.
Terima kasih, Mas, terima kasih, setelah agak tenang ibuku bersuara terputus-putus.
Dari atas kepala ibuku, Bapak menggoda, berkata sambil memandang kepadaku, Lihat ini! Sudah sampai di rumah sendiri, ibumu malahan menangis.
Meskipun berkata demikian, pelukannya tetap mengunci badan ibu kami.
*** Kebiasaan dan alur hidup baru segera terbentuk. Anak-anak didaftarkan masuk sekolah. Waktu itu tidak ada peraturan ketat mengenai batasan umur. Kalau anak sudah bisa membaca dan
anak tidak dipersoalkan. Kekacauan perang menjungkirbalikkan runtutan pendidikan formal di sebagian besar kota di Tanah Air. Sejak aku kecil, orangtuaku sudah mengetahui bahwa menjadi guru adalah cita-citaku. Untuk itu aku diharuskan mengikuti pendidikan dasar. Jadi setelah pulang dari pengungsian, aku masuk kelas enam. Aku senang dapat belajar kembali dengan cara yang lebih teratur.
Setahun berlalu, aku langsung ke pendidikan khusus yaitu Sekolah Pendidikan Guru atau SPG. Aku sendiri tidak memikirkan kemungkinan untuk meraih perguruan yang lebih tinggi. Tetapi orangtuaku berpendapat lain. Sementara menunggu sistem pendidikan RI yang lebih sempurna, aku akan dapat mencari pengalaman dulu selama mengajar. Walaupun kelak sudah mengajar, kalau kesempatan tersedia dan ada biaya, harus menambah pengetahuan. Harus terus berkembang. Ini adalah kata-kata Bapak. Ibuku menyetujuinya. Mengajar itu mengamati, katanya. Secara tidak langsung kamu juga terus belajar sendiri.
Satu tahun di SPG aku puas. Tidak kuragukan lagi bahwa memang itulah jalanku. Aku menyukai semua mata pelajaran yang diberikan. Semuanya bisa kuterima dengan gamblang dan kucerna baik-baik. Ketika kenaikan kelas, tanpa kesukaran aku menjadi murid terbaik dari tiga kelas yang sejajar. Bagiku itu bukan kebanggaan yang paling penting. Tetapi ayah ibuku menganggapnya sebagai prestasi hebat. Aku semakin dijadikan teladan. Kasihan adik-adikku. Mereka harus mengikutiku. Sekurang-kurangnya adikku yang besar. Sulung dan satu-satunya anak perempuan, aku merasa mempunyai tugas cukup berat karena harus merintis semua yang serba paling baik bagi adikadikku.
jungan yang mengejutkan. Biasanya, tamu datang di sore hari, saat setelah orang mandi, sedang minum teh dengan makanan kecil. Hari itu pun Bapak sedang minum teh panas kesukaannya di serambi. Dia mengawasi adikku yang terkecil. Ibu duduk di sampingnya, membaca surat kabar.
Sejak kami pulang dari pengungsian, pembantu kami yang lama datang menemui kami. Ibu langsung menerimanya. Pengasuh adikku, Yu Dinem, juga ikut ke kota kami. Sore begitu, para pembantu di belakang. Ada yang mandi, ada yang membenahi alat-alat untuk makan malam. Waktu itu kudengar kedua adikku mandi bersama-sama. Aku mengatur tas sekolah. Menyisihkan buku yang masih akan kubaca sebagai persiapan pelajaran esoknya.
Aku tidak tinggal di asrama. Tetapi aku berhak menginap di sana di saat-saat ulangan umum atau ketika ada rencana-rencana yang harus dibicarakan bersama siswa lain. Belajar bersama, merundingkan pertemuan atau kegiatan-kegiatan kelompok maupun antar sekolah, merupakan dalih yang baik buat kumpul-kumpul di asrama. Namun aku juga menyadari bahwa kebersamaan itu harus dibatasi. Aku tetap lebih suka berkumpul dengan orangtuaku.
Kata ibuku, anak-anak begitu cepat menjadi besar. Sayang kalau kami mempergunakan waktu yang berlalu seperti kilat itu dengan berpisah-pisah. Kalau Mur dipondokkan di asrama, hanya akan pulang hari Sabtu siang hingga Minggu sore. Selama setahun kita akan bersama dia berapa hari" Kelak jika sudah bekerja, ditempatkan di kota lain, kita berpisah lagi. Tidak. Biar Mur tinggal di rumah saja. Itulah kata-kata keputusan ibuku. Dan aku tahu bahwa Bapak juga menyukai keputusan tersebut. Suara ramai di serambi depan membikinku melongokkan kepala
nyambut tiga tamu. Mereka dipersilakan duduk. Nama-nama kami disebut bergantian. Kemudian nama-nama itu diserukan ke arah belakang. Aku hampir menyelesaikan kesibukanku ketika Ibu masuk sambil mengulangi panggilannya. Melihat aku, dia bertanya, Mana adik-adikmu" Dan tanpa menunggu jawaban, dia meneruskan, Kau keluar dulu menyalami. Aku akan menyiapkan teh. Kamu kembali untuk menyuguhkannya kepada mereka. Sana keluar dulu!
Pikirku, pastilah ini tamu istimewa, karena tidak sering Ibu mau membuatkan minuman. Biasanya tugas itu diserahkan kepada pembantu.
Lha ini Muryati! Sini menyalami tamu-tamu kita, Bapak gembira melihat aku datang mendekat. Ingat kamu siapa mereka" Ini Mas-Mas yang mengawal kalian dulu di Gunung Slamet.
Aku mengulurkan tangan, selintas melayangkan pandang. Orangtuaku menyebut nama-nama Mas Sardi, Mas Yoga, Mas Wid. Tanpa kusengaja, aku menoleh sekali lagi ke arah Mas Wid sebelum pergi lagi.
Bapak menahanku, Duduk sebentar menemui Mas-Mas ini. Aku bikinkan teh dulu, sahutku dan langsung pergi. Ibu sudah menempatkan tiga cangkir di atas nampan. Ini bawa dulu. Nanti kalau sudah semua, bawa juga kue semprongnya. Jangan lupa piring-piring kecil!
Aku membawa minuman ke serambi. Melihatku datang, Mas Wid bangkit dan menolong membagikan cangkir. Yang pertama diletakkan di hadapan ayahku.
Saya yang punya rumah kok malahan didahulukan, kata Bapak.
Sesepuh kok, Pak, jawab Mas Wid dan meneruskan mengamsamaku. Kami merepotkan, Bu, kata seorang tamu setengah bangkit. Ah, tidak. Memang sudah ada. Kalau sore, kami biasa minum teh sambil duduk-duduk di sini.
Tadi Bapak mengatakan bahwa Dik Mur di SPG. Ya, Dik" kata Mas Wid.
Ya, kelas dua, sahutku. Calon guru, sambung temannya entah siapa namanya. Itu kemauannya sejak dulu masih kecil sekali, Ibu memberi penjelasan.
Saya sangat menyetujui, karena kalau liburan panjang sekali, ayahku menanggapi.
Barangkali Dik Mur suka kepada anak-anak, karena itu ingin menjadi guru, Mas Wid berkata lagi.
Saya ingin menjadi guru karena saya senang mengajar. Saya suka sekali memberitahukan apa yang saya ketahui kepada orang lain.
Bapak mengangguk-anggukkan kepala sambil memandangku dengan perasaan puas.
Kalau begitu Dik Mur tidak bisa menyimpan rahasia, ya, seorang tamu bergurau. Kami semua tertawa bersama.
Pembicaraan diteruskan. Banyak menyangkut nama-nama orang dengan siapa kami dulu berkumpul di tempat-tempat pengungsian. Masing-masing menyebut sudah bertemu dengan siapa. Atau si itu sekarang menjabat apa, sedangkan nama lainnya belum ketahuan di mana. Diam-diam aku meninggalkan serambi. Ketika mereka akan pulang, aku dan adik-adik dipanggil lagi supaya bersalaman.
Berselang dua hari Mas Wid datang kembali sendirian. Kali itu
Gurau dan canda mereka memenuhi seluruh rumah. Hampir jam sepuluh malam, barulah dia pamit. Katanya keesokannya akan pulang ke Surabaya. Di sanalah dia bekerja. Tapi dia berjanji akan selalu singgah jika kebetulan dinas ke kota kami. Bulanbulan mendatang barangkali akan sering mampir karena ada proyek kantor yang mengharuskannya berhubungan dengan Jawa Tengah. Bapak bertanya di mana dia biasa bermalam. Lalu Ibu menawarkan, kalau mau tempat yang sederhana, Mas Wid dipersilakan tidur di rumah kami saja.
Ya berdesakan di kamar adiknya Mur. Hanya ruangan itu yang paling besar. Atau, kalau mau tidur di serambi, pakai ranjang tentara buat di lapangan.
Terima kasih, Bapak dan Ibu. Di mana saja saya bisa tidur. Kan prajurit! Biasa tidur di mana pun dan makan apa saja.
Tampaknya Bapak berkenan dengan jawaban tersebut. Dia mengulangi undangannya. Adik-adikku bersuka cita menyambut gagasan itu.
Mulai dari waktu itulah Mas Wid sering datang. Dia dianggap bukan orang lain, bisa keluar masuk di rumah kami tanpa kehadiran orangtua kami. Kalau dia tiba sedangkan di rumah hanya ada pembantu, dia berhak langsung menempatkan barangbarangnya di kamar adikku. Ini dijadikan alasan ibuku untuk mengharuskan anak-anak lelakinya menjadi lebih rapi. Lihatlah bagaimana kamarmu! katanya kepada adik-adikku. Begini ini seandainya Mas Wid tiba-tiba datang, apakah kalian tidak malu" Di mana Mas Wid meletakkan tasnya" Untuk melangkahkan kaki saja tidak bisa. Ayo, jangan dibiarkan semua berantakan!
Mas Wid benar-benar menjadi anggota keluarga kami. Pembantu menyayanginya. Dia bisa minta minum atau makan sekehendatang lagi. Kali itu dia bersama pamannya dari Klaten. Mereka bermalam di tempat lain. Aku hanya sebentar menemui mereka, karena kebetulan keesokannya harus mulai tinggal di asrama buat belajar. Orangtuaku bahkan tidak memanggilku ketika mereka pulang. Tapi setelah kami makan, Ibu dan Bapak memanggilku. Adik-adik disuruh tinggal di kamar dan tidak boleh keluar. Waktu itu aku tidak mempunyai prasangka apa pun. Kukira karena keesokannya aku akan tidur di asrama, barangkali orangtuaku akan mengingatkan beberapa kewajiban pokok.
Ini tadi Mas Wid melamarmu, begitulah Bapak memulai. Lalu meneruskan, Bagaimana kamu"
Aku tercengang-cengang, tidak menjawab.
Ibu menambahkan, Buat melestarikan hubungan kita kan baik, nada suaranya menginginkan persetujuan dari pihakku.
Aku masih terheran-heran, tetap terbungkam. Lalu, karena tidak mampu berpikir jernih menghadapi kabar yang tak terduga itu, aku malahan tertawa.
Lho, kok tertawa! Mur! Apa yang lucu" Bapak jelas ganti keheranan melihatku. Lha aku harus menjawab bagaimana" kataku terus terang.
Kamu senang apa tidak kepada Mas Wid" tanya Ibu. Ya senang sih senang. Tapi kan hanya sebagai kenalan saja. Aku tidak tahu yang lain-lain, misalnya bagaimana sifatnya, bagaimana dia ....
Dia baik dan sudah seperti keluarga sendiri, Ibu memotong kalimatku.
Waktu revolusi Bapak sering bekerja sama dengan dia. Bapak tahu dia memiliki banyak kualitas, Bapak menambahkan. Dia berasal dari keluarga baik-baik. Dan .... Ibu berhenti
mancung! Aku tidak dapat menahan, tertawa lagi. Kini lebih merasa geli daripada gugup.
Ini anak! suara Bapak nyata agak kesal. Kami berpandangan.
Mata Bapak menjadi lembut. Ia berkata lagi dengan suara lebih halus, Apa lagi yang kamu cari" Laki-laki yang bagaimana yang akan kaujadikan suamimu" Nadanya tidak bertanya. Lebih berbentuk desakan.
Tiba-tiba aku teringat kepada cerita di buku-buku mengenai kawin paksa. Perkawinan yang diatur oleh orangtua. Tanpa cinta. Seketika itu aku memutuskan untuk berterus terang.
Aku tidak tahu apakah aku cinta kepadanya. Dan dengan berani namun lembut kutantang pandang ayahku. Tanpa kuharapkan, dia menghindariku.
Ibu yang berbicara, Cinta itu datangnya karena kebiasaan. Ini adalah kata-kata bahasa Jawa yang sering terdengar dalam lakon-lakon wayang atau ketoprak. Aku hampir tertawa lagi. Tetapi segera bisa mengendalikan diri.
Barangkali itu betul, Bu. Sekarang dalam halku, aku tidak merasa biasa dengan Mas Wid. Dan memang sungguhlah demikian. Tidak terpikir sama sekali aku akan berpacaran dengan Mas Wid. Meskipun sudah berbulan-bulan dia sering bermalam di rumah kami, tetapi aku tidak mempunyai rasa tertarik yang lain, yang menggetarkan, seperti yang sering kami bicarakan secara intim di antara kawan sekolahku.
Kita sudah lama kenal dia, sekali lagi Bapak berkata. Lalu meneruskan, Berkali-kali dia mengawal rombongan kita. Aku hanya teringat peristiwa pengungsian di dalam hanggar
ngatakan bahwa Mas Wid adalah pengawal tetap kami, tentulah memang begitu.
Mengapa tiba-tiba Mas Wid melamarku" tanyaku, dan ini lebih merupakan pengucapan isi hatiku daripada mengharapkan jawaban.
Tentu dia menganggap kamu istimewa. Dia takut kedahuluan orang lain, ayahku menyahut.
Jawaban ini sangat membujuk. Tapi aku tidak terkena. Bahkan meneruskan mengatakan isi batinku. Dia kelihatan baik. Tapi aku belum mengenalnya betul-betul, kataku sambil memandang ibuku.
Aku dan bapakmu dulu juga tidak kenal baik ketika kawin. Setelah bertunangan, jarang bertemu. Kalau bertemu, masih ditunggui Bude, eyangmu atau sesepuh lain. Setelah kawin, barulah kami berkenalan dengan sungguh-sungguh. Sampai sekarang perkawinan kami tetap kuat.
Bapak adalah laki-laki istimewa. Dan Ibu juga wanita pilihan. Bapak dan Ibu tidak ada tandingannya. Jangan menyamakan Bapak dengan Mas Wid, Bu, kataku memprotes.
Sekilas aku melihat ayahku tersenyum kepadaku. Dan aku merasa bahwa aku tidak akan terlepas begitu saja dari persoalan petang itu tanpa jawaban mantap dariku. Akhirnya aku berkata, Ibu dan Bapak menyukai Mas Wid"
Dia baik. Punya pekerjaan tetap, Bapak menyahut. Aku menoleh, menunggu komentar ibuku. Namun dia tidak bersuara.
Kalau dia tidak mencintaimu, setiap kali dinas di kota ini tentulah tidak bermalam di sini, Bapak menyambung pendapatnya. Katanya ada saudaranya yang tinggal di Lampersari.
tang lagi, barulah Ibu bersuara.
Aku tinggal di asrama mulai besok siang, Bu. UIangan dimulai hari Senin.
0h ya, betul. Aku lupa! Aku benar-benar tidak tahu bagaimana seharusnya. Aku tidak berani memutuskan. Lalu, barangkali mencari gampangnya, lamaran itu kuserahkan kepada orangtuaku.
Bagaimana" Apa maksudmu terserah Bapak" Ayahku terkejut menanggapi keputusanku.
Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab, Pak. Tadi, sewaktu dia melamar, apa yang Bapak katakan kepadanya"
Kukatakan bahwa kami orangtua setuju-setuju saja. Apalagi aku sudah mengetahui bagaimana Widodo dalam kerjanya. Tapi aku juga mengatakan bahwa keputusan berada di tanganmu. Ibu dan Bapak tidak mau memaksamu.
Aku mau meneruskan sekolah sampai selesai. Mengapa harus mengurusi lamaran segala. Itulah kata pembelaanku yang paling akhir.
Tentu saja! suara Ibu tegas. Lalu melanjutkan, Tadi bapakmu sudah mengatakan hal itu. Bagaimanapun juga, kalau memang kamu menyetujui lamarannya, perkawinan baru akan bisa dilaksanakan jika kamu sudah lulus dan mengajar paling sedikit satu tahun.
Aku menarik napas lega. Mengapa sedari tadi Bapak tidak mengatakannya" Kini hatiku terasa ringan. Sekali lagi orangtuaku menunjukkan kecintaan yang besar dan pengertian yang mendalam. Ibu selalu bilang bahwa dia bapak yang baik, suami yang hebat. Baru saja aku juga menyetujui bahwa laki-laki lain
makin sepakat. Tanpa ragu-ragu, aku berkata, Baiklah. Aku serahkan keputusan menerima atau tidak lamaran ini kepada Bapak dan Ibu. Kalau menurut Bapak dan Ibu, Mas Wid cocok menjadi suamiku, aku patuh. Tapi kami berdua harus berkenalan dulu lebih dekat. Bu, ini zaman modern, jangan sampai kami ditunggui kalau sedang berduaan, ya. Dan aku minta Bapak tetap memperteguh syaratsyarat tadi. Aku harus mengajar dulu buat cari pengalaman. Ah, jadi kamu menerima! Bapak dan Ibu serentak berkata. Ya. Tapi aku besok siang tinggal di asrama.
Ibu langsung bangkit dan menciumku. Wajahku diambil ke dalam kedua tangannya, dipandanginya sambil berkata, Satusatunya gadisku sudah dewasa.
Bapak sudah berada di sampingku, mengambilku ke dalam rengkuhannya.
Anak perawanku yang istimewa, dan diciuminya kepalaku. Sedangkan lengan satunya meraih badan istrinya, memeluknya sekalian, berkata lagi, Dalam hidupku ada dua perempuan yang sangat kucintai. Inilah keduanya!
Dan tanpa kuketahui mengapa, tiba-tiba aku terharu, ingin menangis. Kutahan kecengenganku, mukaku kutekankan pada dada ayahku.
Pekan berikutnya aku menerima surat dari Mas Wid. Jarang sekali aku menerima surat. Di musim ulangan, kami dibiasakan orangtua menulis, meminta restu kepada para sesepuh yang dekat dengan keluarga kami. Aku menerima balasan dari Kakek, dari Bude atau dari Pakde. Di waktu liburan, kami juga bersuratan antara teman sekolah. Menerima balasan selalu amat menyenangkan. Dan hari itu, ketika surat Mas Wid datang,
perasaan istimewa lainnya. Namun sebegitu membaca isinya, perlahan-lahan diriku serasa diselimuti kehangatan yang belum pernah kukenal.
Surat pertama belum kujawab, disusul kedatangan surat kedua. Tak dapat disangkal, perkataan Jawa yang disitir ibuku mulai berpengaruh pada diriku. Aku mulai tertarik kepada Mas Wid karena mulai terbiasa dengan suratnya. Terus terang aku malas menjawab. Tapi aku mengharapkan dia terus menulis kepadaku. Dalam surat-surat itu dia mengatakan bahwa sejak perkenalannya dengan keluarga kami, dia tidak pernah melupakan aku. Dari semua tempat yang dijelajahinya selama revolusi, hanya desa Guci-lah yang melekat dalam kenangannya. Setelah kemerdekaan, dia merintis jalannya sebaik mungkin agar cepat bisa menetap dan bekerja. Dia sudah cukup umur untuk membangun keluarga sendiri. Ketika melihatku kembali, dia memutuskan bahwa aku yang dipilih untuk menjadi istrinya. Dia akan berusaha meminta dipindahkan ke kotaku.
Cinta itu disebabkan karena kebiasaan kata ibuku. Semula aku hanya menganggap Mas Wid sebagai pria seperti anak buah ayah kami lainnya yang juga sering berkunjung. Kami menganggap dia sebagai kakak. Dalam tradisi Jawa, suami diharapkan lebih tua dari istri. Karena aku anak sulung dan kebetulan perempuan, Mas Wid dan beberapa anak buah Bapak kami pandang sebagai abang tertua dalam keluarga kami. Setelah lamaran itu datang, kami baru mengetahui bahwa umur Mas Wid dua puluh lima tahun. Aku menyerahkan keputusan penerimaan atau penolakan lamarannya kepada orangtuaku disebabkan karena aku sendiri tidak tahu mana sikap yang paling baik. Ibu menyetujui. Bapak demikian pula.
ku belum selesai. Umurku belum penuh mencapai tujuh belas tahun. Aku terlalu asyik bersekolah dan merasa bahagia dalam keluargaku, sehingga pandangan kehidupan yang lain sama sekali tidak menarik hatiku. Pemuda-pemuda lain juga tak pernah ada yang memikatku. Keakraban mereka terhadapku biasa-biasa saja. Sama dengan Mas Wid. Tapi yang mengajukan lamaran justru Mas Wid. Aku sungguh-sungguh terkejut. Di samping itu, seandainya waktu itu aku menolak, dan di kemudian hari aku lama sekali tidak menemukan laki-laki yang cocok hingga umurku semakin bertambah, pastilah nasibku akan dihubunghubungkan dengan kejadian sebelumnya. Wanita selalu dijadikan pusat perhatian. Demikian pula dalam keluarga. Aku anak sulung dan satu-satunya perempuan dari empat bersaudara. Dalam hidup berkarier, perempuan tetap diteropong. Meskipun sebagai guru. Kalau aku menjadi perawan tua, Bapak dan Ibu tentu akan menyesal. Barangkali rasa takut bertanggung jawab inilah yang mendorongku menyerahkan jawaban lamaran tersebut kepada bapakibuku.


Jalan Bandungan Karya Nh Dini di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Waktu itu aku merasa cukup matang dan mengerti kehidupan dengan baik. Namun keputusan semacam itu, aku tidak berani mengambilnya seorang diri. Tapi aku mengenal dan percaya kepada orangtuaku. Tidak mungkin mereka menghendaki anaknya mengalami perkawinan yang tidak membahagiakan. Seandainya waktu itu yang melamar bukan Mas Wid, kukira aku juga bertindak sama, yakni menyerahkan persoalan kepada Bapak dan Ibu.
Sesuai permintaan Mas Wid, ayah dan ibuku mengadakan selamatan untuk mengumumkan bahwa kami bertunangan. Tetangga dekat, beberapa rekan, dan anak buah Bapak serta kepala sekolahku diundang. Dari semua siswa SPG, hanya akulah yang
sebagai juru penerang dan penasihat di bidang asmara mulai dari waktu itu. Sebelumnya, perbincangan mengenai masalah cinta, pergaulan lelaki-perempuan kukenal dari bisik-bisik dan pinjam-meminjam buku roman yang disebut cabul. Mereka yang tinggal di asrama tahu saja, terampil menyembunyikan bendabenda terlarang tersebut. Bisa saja menyisihkan waktu untuk memperbincangkan apa yang mereka baca. Saling menyampaikan pengalaman juga merupakan keasyikan kami.
Disebabkan oleh pertunanganku, maka mereka menganggap aku menjadi gudang tempat meminta aneka bagian pengetahuan dalam hal bercinta. Lebih-lebih hari Sabtu siang. Di kala kami akan pulang, sindiran dan pesan mengalir ke arahku. Sabtu dan Minggu merupakan hari bersantai. Sedangkan bagi para kekasih, menjadi saat istimewa berduaan yang jarang terjadi.
Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana harus bersikap, karena aku merasa biasa saja menjelang malam Minggu. Ketika Mas Wid tinggal di Surabaya, waktuku kuhabiskan untuk bersekolah, bersama keluarga, dan tentu saja tidak hentinya mengharapkan kedatangan suratnya. Kemudian, setelah pertunangan diresmikan, Mas Wid dipindah ke kota kami. Mengikuti nasihat Bapak, dia hanya datang pada Sabtu malam. Boleh menginap jika mau. Tapi dia lebih suka hanya berkunjung.
Sejak saat kepindahannya, dia tidak pernah bermalam lagi di rumah kami. Hari Minggu siang dia juga biasa datang, tinggal bersama kami hingga selesai makan malam. Jika dia datang, kami hanya duduk-duduk di serambi. Kadang-kadang dia membawaku berjalan-jalan, lalu makan di warung atau restoran kecil. Berkali-kali aku usul supaya kami menonton ilm. Tetapi sampai lama kami sudah bertunangan, belum pernah dia memenuhi
lang, bergantian teman-temanku menyindir, merangkul sambil membisikkan, Hari Senin jangan lupa ceritakan semua atau Coba kerjakan resep istimewa yang kita baca kemarin, ya. Dalam hati ada rasa menggelitik yang memberi semangat. Yang menantang kegairahanku untuk bertemu dengan Mas Wid. Aku bahkan berkata dalam hati, Ya, aku akan mengelusnya, aku akan menunjukkan bahwa aku bisa berbuat aktif seperti cerita dalam buku.
Tapi semua itu hanya khayalan. Teman-teman dan aku sendiri terlalu berimajinasi. Umur dan rasa ingin tahu yang hanya dipuaskan oleh bacaan murahan serta bayangan kami sendiri tanpa pengarahan, rupa-rupanya membangun khayalan muluk terlalu melambung. Maka jika kenyataan yang dihadapi meleset, kekecewaan yang terasa seolah-olah tak akan terobati. Dalam kelompokku di sekolah ada yang bersombong pemah melakukan hal itu atau pernah melihat kejadian itu. Di lain waktu ada yang tiba-tiba berkata karena ingin menarik perhatian, Hal itu terjadi! Dia mencium bibirku kemarin. Seperti terkena listrik rasanya aku!
Harapan akan menerima surat Mas Wid, yang kemudian diganti dengan degap-degup jantung menunggu kedatangannya setiap Sabtu petang, ternyata amat berbeda hasilnya. Surat Mas Wid memberikan rasa kedekatan, kehangatan. Aku membacanya berkali-kali tanpa kejenuhan. Sabtu-Minggu yang membawa kehadirannya sangat berlainan. Seperti teman-temanku di sekolah, aku ingin mengalami apa yang dilukiskan dalam bacaan kami. Salah satu adegan yang aku tuliskan kembali dalam catatanku, aku baca dan baca lagi sehingga hafal.
Si Pemuda memandangi wajah gadisnya. Wanita itu tersesaling memandang. Tanpa suara, tanpa bicara, dialog terjadi hanya dengan arus kegairahan yang menggemuruh dalam dada masing-masing. Pada saat yang memuncak itu, kedua tangan si Pemuda memegang bahu si Gadis, lalu mendekatkan muka dan menunduk. Bibir mereka bertemu dalam usapan perlahan. Namun pertemuan itu terasa bagaikan benturan dua keping besi membara, berpijar serta memancarkan kepanasan yang mempengaruhi sekitar mereka. Itulah permulaan dari luluhnya kedua tubuh yang akan menyatu.
Bagian kalimat-kalimat tertentu kugarisbawahi dengan pensil merah. Dan aku mengharapkan Mas Wid akan memandangiku dengan kelembutan yang penuh gairah seperti yang kutandai dalam catatanku. Aku juga ingin merasakan arus panas melanda diriku jika dia menyentuhku. Di waktu-waku aku tinggal di asrama, bergantian kami memperagakan adegan-adegan yang sedang dibacakan teman lain. Kami tidak merasakan sesuatu pun, malahan terkikih kegelian menyaksikan bagaimana lucu dan kikuknya teman-teman itu berpelukan maupun saling mendekatkan mukanya. Kalau seorang mendekatkan mulutnya, yang lain melengos. Katanya segan bersentuhan.
Bermain peragaan demikian antara gadis, rupa-rupanya lain rasanya jika berpasangan dengan lelaki yang dikasihi. Dan karena aku sudah bertunangan, aku mengira dan berharap akan mendapatkan pengalaman itu dari tunanganku. Semua yang selama itu menjadi bahan pembicaraan rahasia di asrama sekolah, kutunggu-tunggu akan terjadi pada diriku. Pertemuanku dengan Mas Wid setelah lamarannya diterima, berlangsung di serambi. Orangtuaku membiarkan kami berduaan. Mas Wid memilih duduk di bangku bambu yang terletak di pinggir serambi, lebih
dalam surat pertama dan kedua. Kami duduk berdampingan. Tapi tak ada gerakan untuk menyentuh atau memegang tanganku. Dia juga tidak bertanya apakah aku mau menjadi istrinya. Mungkin karena Bapak sudah memberikan jawaban dan merestui hubungan kami berdua. Dan karena aku duduk di sampingnya, dia tidak mau bersusah payah menoleh untuk memandangiku seperti yang dilukiskan dalam catatanku. Hanya, ketika kami disuruh makan oleh Ibu, dia duduk di hadapanku, maka dia memandangiku hampir terus-menerus. Namun kelembutan ataupun luapan perasaan cintanya tidak terasa mengisi pandang tersebut.
Pada akhirnya, setelah memakai cincin yang bertuliskan gabungan kependekan nama kami berdua, aku juga tetap tidak mengalami gejolak atau sengatan rasa apa pun terhadap Mas Wid. Debaran jantungku yang berpacuan cepat lebih disebabkan oleh penungguan daripada luapan atau kepuasan kerinduan kepadanya. Pendekatan dan perkenalan memang betul lebih mendalam. Meskipun tanpa dilanjutkan dengan kerinduan buat bertemu. Kangen kepadanya, aku tidak pernah merasakannya. Harapan akan bertemu lebih didasari harapan untuk mengalami kebaruan.
Jika ada waktu senggang dan sesuai dengan jadwal sekolah kami, Bapak membawa keluarga mereguk udara luar kota. Pada zaman itu, bepergian santai demikian disebut darmawisata. Seharian kami bersama berada di udara terbuka. Kuakui, Mas Wid luwes sekali dalam pergaulan di luar. Bertemu dengan orang desa atau pedagang kecil di pasar, dia segera bisa berkomunikasi dengan santai.
Kemudian, pada hari libur yang dapat digabung dengan Sabtu dan Minggu, orangtuaku memperkenalkan Mas Wid kepada anggota keluarga di luar kota. Kami sowan ke sesepuh di Pati, dan di lain
benar-benar santai. Dia meminjam kendaraan tambahan dari kantornya yang dikendarai oleh seorang anak buahnya terdekat, namanya Gunardi. Mas Gun lebih muda empat tahun dari Mas Wid. Keduanya tampak cocok. Dan Bapak kelihatan sangat menyukai anak buahnya itu. Seringkali kalau adikku mendapat kesulitan pelajaran, bukan aku yang disuruh menolong, melainkan Mas Gun. Ibu juga berkata menemukan banyak kualitas dalam diri pemuda itu. Jatah yang datang dari kantor selalu dikirim ke rumah. Yang mengantar adalah Mas Gun. Dengan sendirinya, Ibu merasa semakin dekat dengan anak buah suaminya itu. Lebih-lebih lagi, Mas Gun mempunyai banyak saudara di daerah Purworejo. Bapakibunya sendiri sudah meninggal. Dia dibesarkan oleh pamannya. Sehingga bertamasya ke Purworejo bagi kami juga berarti menengok keluarga pula bagi Mas Gun. Dan di waktu orangtua kami memperkenalkan Mas Wid kepada para sesepuh, mereka juga menyebutkan nama Mas Gun sebagai anak buah Bapak yang paling terbiasa dengan keluarga.
Selama setahun itu Mas Wid melihat dan menyelami bagaimana cara kami hidup. Seharusnya dia sudah memperhatikan dari dekat bagaimana Bapak dan Ibu mendidik kami, menjadikan kami manusia yang dekat dengan keluarga.
Sejak kunjungan pamannya turut melamarku, tak sekali pun ada niat Mas Wid membawaku ke Klaten, ke rumah orangtuanya. Ada perundingan di antara kedua orangtuaku mengenai hal ini. Sampai Bapak mengatakannya kepada Mas Wid sendiri. Jawabannya ialah ia justru lebih dekat dengan pamannya, karena sejak kecil diasuh pamannya itu. Untuk berkunjung ke rumah pamannya, harus diatur lebih dulu. Kelak Mas Wid akan memberitahu. Masalah itu tidak dipikirkan lagi.
Minggu pagi kami santai bangun sekehendak hati. Pada siangnya Ibu dan aku berkemas, kemudian Bapak membawa kami hanya sampai di pinggir kota. Sekedar santai makan siang dan tiduran di tepi sebuah sungai, di bawah pohon yang rindang. Yang mau berjalan-jalan diperbolehkan, asal harus mengumpul lagi pada jam tertentu.
Pada hari-hari lain, kendaraan kami titipkan di halaman rumah penduduk di pinggir jalan. Tikar, makanan dan benda lain kami bawa berjalan ke tempat lebih ke dalam. Di pinggir sawah kami makan. Setelah makan, ayahku dan adik-adik berkelana sampai jauh ke kaki bukit, aku dan ibu ditinggal. Kadang-kadang kami membaca, kadang-kadang menyulam. Ketika Mas Wid sudah menjadi anggota keluarga kami, berselang-seling di saat dia turut bertamasya begitu, dia mengembara dengan adik-adikku atau dengan Bapak, tapi adakalanya kami berdua terpisah.
Mas Wid juga dibiasakan bergaul dengan teman-teman orangtua kami, teman-teman adik-adikku. Sejak pulang dari mengungsi, aku mempunyai dua teman dekat: Murgiyani dan Murniyah. Mereka sekelas denganku di Sekolah Rakyat. Kemudian mereka meneruskan ke Sekolah Menengah Pertama. Tapi hubungan kami tetap erat. Kami masih terus bertemu secara teratur. Kami juga bersama-sama dalam kepanduan. Di SPG aku bertambah teman, namun aku merasa paling akrab dengan Siswiah. Dalam kegiatan berpandu, kami mendapat tambahan teman Sriati, murid Sekolah Kepandaian Putri atau SKP. Dulu, ketika masih duduk di Sekolah Rakyat, Murgiyani, Murniyah, dan aku, Muryati, mendapat sebutan Tiga Mur dari teman sekelas dan guru-guru. Kemudian, meskipun Tiga Mur terpencar sekolahnya, kami tetap saling merasa dekat. Tingkatan sekolah menengah di kota kami juga
Berkat pertandingan-pertandingan antarsekolah, Sriati dan Siswiah saling bertemu. Langsung mereka dapat berkawan. Lalu secara kebetulan, pada suatu pertemuan antarpelajar juga, kami berlima berkumpul, berkenalan, dan cocok.
Di mulai waktu itu kami membentuk persahabatan Tiga Mur dan Dua S . Di mana pun kami berada, bagaikan ada radar yang menyatukan kami, yang menggerakkan kami untuk saling mendekat. Murniyah dan aku, Muryati, mendapat panggilan Mur. Murgiyani disebut Ganik oleh ayah-ibunya, jadi kami meneruskan memanggil dengan nama itu. Sriati kami panggil Sri. Siswiah biasa disebut Siswi.
Karena aku calon guru, untuk membedakan kami yang menerima panggilan sama, aku disebut Mur Guru. Temanku yang lain Mur Dokter, karena dia bercita-cita menjadi dokter. Dan dia yakin akan berhasil, karena ilmu eksakta dia kuasai dengan mudah. Ketika masih duduk di Sekolah Rakyat, kami selalu mengaguminya karena dapat menghitung di luar kepala bagaikan mesin. Kalau kami bergurau mengingatkan, bahwa sekolah kedokteran amat lama dan memerlukan banyak biaya, dengan ringan dia menjawab bahwa nilai kelulusannya dari SMA pastilah akan bagus, sehingga dia akan bisa mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi. Ibuku senang melihat keyakinan Mur. Dia memberi nasihat agar kami turut mendoakan, agar tercapai cita-citanya.
Ganik lain. Dia juga anak tunggal, bapaknya dokter. Dia lebih berbakat di bidang bahasa. Sedari kecil sering bepergian ke luar negeri. Zaman Revolusi tidak dia kenal, karena dia berada di Amerika. Sedari permulaan persahabatanku dengan dia, orangtua kami sudah saling berkenalan. Dokter Liantoro dan istrinya adalah keluarga terpandang di kota kami. Dalam pertemuanGanik. Jadi ibu kami berdua juga merasa saling dekat.
Sriati berasal dari keluarga pedagang, juragan. Orangtuanya tinggal di Sala. Di kota kami, Sri turut bibinya yang mempunyai toko kain batik di Kauman. Temanku Siswi sama dengan Mur. Mereka berdua anak janda yang dengan giat masih bekerja. Ibunya Mur menjadi bidan. Ibunya Siswi adalah guru lulusan zaman dulu. Kepada Mur dan Siswi inilah ibuku sering menaruh perhatian lebih besar dalam hal kebendaan. Kalau ada bahan baju yang dirasakan tidak akan terpakai, selalu aku disuruh memberikannya kepada Mur atau Siswi. Sepatu kiriman seorang paman yang terlalu kecil buatku, juga disuruh berikan kepada salah satu dari mereka. Ibu selalu mengulangi bahwa hidup tanpa ayah tidak selalu mudah. Katanya, aku sebagai teman mereka harus berusaha membikin mereka selalu merasa nyaman, tidak bersedih.
Dari kami lima sahabat, Sri dan Ganik tampak hidup paling mentereng. Seringkali mereka dijemput atau diantar naik mobil. Barang-barang dan pakaian mereka kelihatan mahal. Kalau aku sering memberikan kepunyaanku kepada Siswi, Ganiklah yang dapat dikatakan menggantinya dengan pemberian yang tidak mungkin kudapatkan dari orang lain. Dalam hal kedudukan, kami berdua hampir seimbang. Ayahnya dokter terpandang di kota kami. Ayahku termasuk pejabat, kepala polisi berpengalaman yang sangat dekat dengan Walikota. Singkatnya, kami lima bersahabat, masing-masing mempunyai latar belakang berbeda, tetapi kerukunan kami menyatu dan tulus.
Pada saat kami bersama, soal bayar-membayar jajan atau minuman yang kami beli, tidak pernah dipersoalkan asal ada Ganik atau Sri. Masalah perizinan, kalau dalam keluarga mereka menemukan kesulitan, ayahku yang membantu. Dalam hal surat
di Muntilan, ayahnya Ganik yang menanggung. Ibunya Mur dapat menolong kami jika kami harus berurusan dengan rumah sakit. Untuk memeriksakan diri, untuk menengok kerabat yang sakit, Bu Bidan itulah yang menjadi perantara supaya semuanya berjalan lancar tanpa antre di loket. Jadi pada hakikatnya, itulah arti bersahabat. Kami saling memanfaatkan, tetapi juga saling mengisi kebutuhan. Kata ibuku, tidak ada gunanya berkawan jika tidak ada timbal-baliknya. Pemberian atau pengisian tidak selalu berupa harta. Bantuan moril, dukungan gagasan juga sangat berharga dalam hidup bersama. Ibuku juga mengingatkan bahwa persahabatan di masa muda belum tentu akan langgeng. Lingkungan kami berubah. Masing-masing akan berkeluarga. Semua itu akan mempengaruhi. Apakah kami berlima akan tetap erat, belum bisa dipastikan. Pada waktu itu kami serempak menjawab bahwa kami akan berusaha mempertahankan keeratan hubungan kami.
Untuk sementara waktu itu, dari kami berlima, akulah satusatunya yang jelas akan lebih dahulu membangun keluarga. Sedekat dan seerat apa pun tanggapanku terhadap Mur, Ganik, Sri, dan Siswi, namun apa yang kualami dengan Mas Wid tidak bisa kusampaikan kepada mereka. Barangkali aku malu. Aku mungkin takut menyampaikan kekecewaanku. Tapi mungkin pula karena aku masih mengharapkan akan terjadi perubahan.
Waktu pulang dari jalan-jalan, Mas Wid memang merengkuhkan lengannya ke bahuku di dalam becak. Tiga kali, ketika gerimis turun dan tirai becak ditutup, aku dicium Mas Wid. Hanya sebentar bibirnya menyentuh mulutku. Aku merasa tergugah, kudekatkan kepalaku padanya. Tapi dia hanya kembali memegang bahu dan merengkuhku. Di kali lain, dia mengelus pinggangku
Tapi tidak pernah dia memandang dekat-dekat, meneliti wajahku. Aku bahkan terlalu hafal catatan dari bacaan di asrama, sehingga mengharapkan dia tidak hanya mengelus pinggangku, melainkan menaikkan tangan sedikit dan meraba dadaku. Tetapi harapan yang telah cukup membakar dan mempercepat aliran darahku itu tidak terpenuhi. Demikianlah, lebih dari enam bulan kami bertunangan, yang dikatakan Bapak waktu supaya kalian berdua saling lebih mengenal dan mendekat cepat berlalu.
Kemajuan memang ada, ialah aku dibawa menonton ilm oleh Mas Wid. Sebenarnya itu bukan prakarsanya. Sejak lama aku ingin menonton berbagai ilm yang selalu dibicarakan saudarasaudara atau teman-temanku. Tetapi Mas Wid tidak pernah mau. Maka aku mengambil prakarsa lain. Kalau dia berjanji akan datang Minggu sore, paginya aku menonton bersama teman atau adikku. Dia nyata tidak menyukai kelakuanku itu. Dia bertanya mengapa aku suka menonton ilm. Aku ganti bertanya mengapa dia tidak menyukainya. Katanya, ilm itu hanya ilusi. Itu hanya bayangan tentang kehidupan yang tidak benar. Jawaban ini menjadi bahan diskusi yang cukup ramai di antara orangtua dan adik-adikku. Ibuku sangat bersemangat mengatakan bahwa Widodo harus diberitahu bahwa ilusi itu penting dalam kehidupan. Khayalan itu diperlukan manusia yang sehat. Para genius untunglah memiliki khayalan sehingga mereka bisa dan mampu mencipta berbagai penemuan. Tapi aku tidak berani bertindak tanpa pengarahan orangtua. Aku bertanya apakah aku bisa terus menonton bersama teman-temanku. Dengan tegas, Bapak memberi izin. Barangkali Widodo cemburu karena kamu akrab dengan teman-temanmu, demikian komentar ayahku. Katanya lagi, mungkin pula dia ingin
menyukai apa yang dia sukai dan membenci apa yang dia benci.
Apakah Bapak ingin aku berbuat seperti Mas Wid" tanyaku terus terang.
Apakah selama ini Bapak dan Ibu mendidikmu demikian" Membuntuti orang lain tanpa mempunyai pendapatmu sendiri" ayahku ganti bertanya.
Tidak, sahutku. Dan memang orangtua kami mendidik aku dan adik-adikku agar mandiri, mampu mempertahankan pendapat kami masing-masing meskipun menerima pikiran dan gagasan orang lain. Namun selama kami masih muda dan hidup di bawah naungan orangtua, kami harus taat dan patuh pada peraturan orangtua.
Kamu bebas, ibuku menambahkan. Mas Wid akan menjadi suamimu. Terserah kepadamu, apakah kamu akan menuruti pendapatnya ataukah pendapatmu sendiri. Tapi jangan sampai kamu merasa tertekan.
Lalu muncul ilm The Long March di gedung-gedung bioskop kota. Banyak orang membicarakannya. Itu ilm baru mengenai revolusi RI. Beramai-ramai orangtua dan adikadikku menonton. Karena ceritanya mengenai perjuangan, aku menunggu Mas Wid.
Sebegitu Sabtu sore dia datang, Bapak langsung berkata, Tanggal tengahan begini Nak Wid masih punya uang" Sebaiknya Mur dibawa menonton di Orion atau Lux. Filmnya bagus. Tentu Nak Wid sudah mendengar. Itu cerita mengenai Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami sudah menonton semua. Mur tidak mau ikut, karena menunggu anda.
Benar, bagus ilm itu, Nak Wid, sambung ibuku. Sesudah nonton, makan di rumah saja.
Semua itu lebih kedengaran seperti perintah daripada usul. TaDia bertanya jam berapa pertunjukan dimulai.
Langsung naik becak saja supaya mencapai pertunjukan jam tujuh. Di Lux sudah agak sepi, karena sudah lebih lama ilm itu dimainkan, kata Bapak. Dan untuk lebih menekankan, ayahku menyambung bahwa Mur membawa uang secukupnya. Bapak yang membayari menonton, katanya lagi. Berarti Mas Wid hanya bertugas mengantarkan aku. Mau atau tidak.
Sepanjang perjalanan menuju ke gedung bioskop, Mas Wid tampak murung. Aku berusaha menciptakan suasana santai. Kuceritakan apa yang kukerjakan sepekan itu. Ganti aku menanyakan kesibukannya, di kantor, keluarganya. Dia menjawab pendek-pendek. Keluarga" Dia memang tidak pernah menyebutnyebut.
Istana Sembilan Iblis 2 Lupus Boys Dont Cry Maling Budiman Berpedang Perak 3

Cari Blog Ini