Pengkhianatan Dewa Maut 1
Pengemis Binal Pengkhianatan Dewa Maut Bagian 1
PENGKHIANATAN DEWA MAUT Serial Pengemis Binal Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta Cover oleh Henky Penyunting.
Puji S, Hak cipta pada Penerbit Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Serial Pengemis Binal dalam episode.
Pengkhianatan Dewa Maut 136 hal.
Alam baru saja bangun dari tidurnya.
Menggeliat lemah, terusap angin pagi yang lembut.
Batang-batang pohon masih kokoh berdiri dengan daun-daunnya yang rimbun.
Butiran embun bergulir ke pucuk daun untuk kemudian jatuh di atas rerumputan.
Sang baskara malu-malu menampakkan wujudnya.
Sinarnya menerobos sela-sela rimbunan daun, kemudian membentuk garis lurus memancarkan rona-rona indah di tanah.
Dari kejauhan, Bukit Argapala tampak tersamar kabut.
Seiring berlalunya waktu, sejengkal demi sejengkal, kabut itu membubung tinggi melewati puncak bukit, hingga perlahan-lahan warna hijau dedaunan pun tersembul.
Kehidupan terus berlanjut, mengikuti alur yang telah digariskan Sang Pencipta.
Di pagi yang cerah itu, sebuah bayangan putih berkelebat menaiki Bukit Argapala membelah kabut yang rindu terusik.
Bayangan itu bergerak sangat cepat, menyelinap di sela-sela pohon besar yang sebagian akarnya sudah menonjol tinggi melewati permukaan tanah.
Di belakang bayangan putih, juga berkelebat sebuah bayangan yang bergerak tak kalah cepatnya.
Kedua bayangan itu seperti berlomba memamerkan ilmu meringankan tubuh.
Apabila terhadang sebongkah batu besar atau sebuah parit, mereka cepat melenting ke atas, kemudian kembali menjejakkan kaki di atas tanah dengan gerakan sangat ringan.
Ketika sampai di sebuah pelataran yang agak lapang bayangan putih yang berada di depan berhenti.
Kini baru jelas wajah bayangan putih itu.
Tampak seorang kakek tengah berdiri dengan tegap.
Pakaiannya putih longgar, menyerupai jubah pendeta.
Rambutnya yang putih panjang dikuncir ke belakang.
Raut mukanya kemerahan dengan garis-garis usia yang belum begitu kentara.
Padahal umurnya paling tidak sudah mendekati tujuh puluh tahun.
Dadanya bidang.
Dengusan napasnya sangat teratur, sama sekali tak menunjukkan bila habis berlari sedemikian jauh.
Mata kakek ini menyorot tajam, menatap ke kejauhan.
Badannya yang tinggi tegap tampak menggendong seorang bocah laki-laki berumur kira-kira dua belas tahun.
Bocah itu tak bergerak sedikit pun dengan tubuh lemas, seperti sudah tak bernyawa lagi.
Tak lama kemudian, bayangan lain menyusul, kemudian berhenti tepat dua tombak di depan kakek yang tengah menggendong bocah laki-laki itu.
"He, Nenek Peot! Perempuan jelek! Kenapa kau selalu mengikutiku, Arumsari...?!"
Bentak kakek berjubah putih. Yang ditanya tidak segera menjawab. Bayangan terakhir yang ternyata seorang perempuan tua ini menarik napas panjang untuk membenahi aliran darahnya yang sedikit kacau.
"Banjaranpati! Kau adalah kakek bengal yang tak tahu diuntung! Rupanya kau tak pernah bosan mengejekku...,"
Desis perempuan tua berusia sekitar enam puluh lima tahun.
Sambil berkata demikian, nenek yang dipanggil Arumsari menghentakkan kakinya ke tanah.
Gerakannya ringan.
Namun di luar dugaan, bumi kontan bergetar dibuatnya.
Kakek yang bernama Banjaranpati yang menggendong bocah laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.
Tawa yang dibarengi pengerahan tenaga dalam itu bergema dahsyat, membuat nenek yang berada di hadapannya mengerutkan kening.
Segera dikerahkannya hawa murni untuk melindungi gendang telinganya.
"Kakek Gendeng! Kalau mau main-main, tak perlu banyak ulah!"
Seketika Arumsari mengayunkan kedua tangannya ke depan.
"Wuuusss...!"
Sebuah pukulan jarak jauh menimbulkan deru angin dahsyat, terlontar dari tangan nenek itu.
Sementara, yang dijadikan sasaran cuma tersenyum.
Dengan gerakan ringan, Banjaranpati menjentikkan ujung jari kakinya ke tanah.
Saat itu juga tubuhnya melayang ke samping.
Maka, pukulan jarak jauh itu pun luput.
Namun, sebuah pohon besar yang tinggi menjulang kontan terkena sasaran.
Breeessss...! Buuummm...! Pohon itu tumbang dengan pangkal menghitam seperti terbakar.
Melihat serangannya yang gagal, Arumsari naik pitam.
Segera tubuhnya melenting ke arah kakek yang telah berdiri kira-kira empat tombak dari hadapannya sambil tetap menggendong bocah itu.
Ketika tubuh nenek itu melayang di udara, rambutnya yang panjang dan tergerai di punggung tiba-tiba menjadi kaku dan mengejang.
Rambut itu bergerak ke atas dan meluncur deras laksana sebuah tombak.
Sementara Banjaranpati yang menjadi sasaran, kembali tersenyum.
Dengan menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanan, disampoknya rambut itu.
Praat! Akibatnya rambut yang telah mengejang itu membuyar dan kembali tergerai.
Tak ayal lagi, Arumsari pun menggerendeng penuh kemarahan.
Kembali diserangnya kakek itu dengan bertubi-tubi tanpa mau memberi kesempatan bernapas kepada lawannya.
Pertempuran dahsyat kembali terjadi.
Suasana pagi di Bukit Argapala menjadi kacau.
Hewan-hewan hutan berlari ketakutan.
Burung-burung mencicit ngeri.
Satu demi satu pohon-pohon tumbang tersambar pukulan tenaga dalam dahsyat.
Bila melihat pertempuran yang sedemikian hebatnya, sesungguhnya bukan merupakan suatu hal luar biasa.
Karena, yang sedang bertempur memang bukan tokoh sembarangan.
Keduanya adalah tokoh yang sudah sangat termasyhur di rimba persilatan.
Banjaranpati dikenal berjuluk Bayangan Putih Dari Selatan.
Sedang Arumsari dikenal berjuluk Dewi Tangan Api.
Perempuan tua ini cepat terkenal karena pukulan jarak jauhnya yang menimbulkan hawa panas.
Walau sudah tua, tapi di wajahnya masih menampakkan garis-garis kecantikan.
Tubuhnya yang langsing terbungkus baju berwarna hijau, masih sedap dipandang mata.
Rambutnya hitam panjang tergerai indah.
Hingga lewat sepuluh jurus, pertempuran antara dua tokoh sakti itu terus berlangsung seru.
Dewi Tangan Api sangat bernafsu untuk segera menyudahi perlawanan Bayangan Putih Dari Selatan.
Namun, Banjaranpati adalah tokoh persilatan kelas wahid.
Rasanya, tak mudah bagi Dewi Tangan Api untuk merobohkannya.
Walaupun di punggungnya bergayut seorang bocah, Bayangan Putih Dari Selatan sanggup meladeni serangan-serangan.
Ketika dua puluh lima jurus telah lewat, tiba-tiba Dewi Tangan Api menghemposkan tubuhnya ke atas melayang menjauhi arena pertempuran.
"He, Nenek Peot! Kenapa mau lari?! Baru melakukan pemanasan beberapa jurus saja, napasmu sudah ngos-ngosan. Tak pantas kau berjuluk Dewi Tangan Api! Ganti saja dengan Nenek Peot Bertangan Keriput...!"
Ejek Bayangan Putih Dari Selatan.
Mendengar ejekan itu, Dewi Tangan Api menggeram gusar.
Darahnya mendidih naik sampai ke ubun-ubun.
Maka saat itu juga Arumsari menyalurkan seluruh tenaga dalam ke kedua belah tangannya.
Dengan cepat kedua belah tangan itu menjadi merah membara.
Hawa panas segera menjalar, hingga terasa menerpa kulit Bayangan Putih Dari Selatan.
Banjaranpati menyeringai gusar melihat kesungguhan Dewi Tangan Api.
Sama sekali tak diduga kalau nenek itu sedemikian bernafsu untuk menghabisi nyawanya.
"Kakek bengal tak tahu diuntung! Aku tak punya waktu lagi untuk main-main. Cepat serahkan bocah laki-laki itu kepadaku...!"
Ujar Arumsari, membentak Senyum yang selalu menghiasi bibir Bayangan Putih Dari Selatan mendadak lenyap. Diliriknya bocah laki-laki yang berada dalam gendongannya. Kepala bocah itu terkulai lemas, di atas pundaknya.
"Nenek Peot! Bocah ini terlalu berharga untuk kuberikan kepadamu. Lagi pula untuk apa kau menginginkannya...?!"
Tukas Banjaranpati.
"Goblok! Tentu saja hendak kujadikan murid...!"
Bentak Dewi Tangan Api. Banjaranpati tertawa keras.
"Kau tak pantas menjadi gurunya, Nenek Peot!"
"Bedhes Jelek! Masih saja kau mengejekku dengan sebutan itu. Kau pikir dirimu pun pantas menjadi gurunya?!"
"Daripada kau, kukira diriku lebih pantas. Sudah jelek, kau pun jarang mandi...!"
Mendengar penghinaan ini, bahu Dewi Tangan Api menjadi naik-turun menahan hawa kemarahan.
Tanpa terasa, dua belah tangannya yang sudah berwarna merah membara semakin menunjukkan kehebatannya.
Rumput dan dedaunan yang berada di dekatnya perlahan-lahan terkulai layu! Bayangan Putih Dari Selatan segera waspada.
Dia tak mau menganggap remeh.
Segera dilepaskannya bocah laki-laki itu dari gendongannya.
Dengan ayunan kecil, bocah itu dilemparkannya ke tempat aman.
Tubuh bocah berumur sepuluh tahunan itu pun melayang di udara.
Dan dengan ringan dia jatuh tepat di bawah pohon rindang.
Tubuhnya yang lemah karena ditotok jalan darahnya terkulai di tanah seperti selembar kain tak berharga.
Dengan sigap Bayangan Putih Dari Selatan segera mengumpulkan seluruh hawa murninya, untuk menyalurkan tenaga dalam pada kedua tangannya.
Namun, sama sekali tak tampak perubahan yang terjadi pada kedua belah tangannya.
Itulah kehebatan dari ilmu 'Pukulan Tanpa Bayangan' yang dimiliki Bayangan Putih Dari Selatan! "He, Kakek Bengal! Bedhes Jelek! Rupanya kau sudah siap untuk menyambut seranganku...,"
Tegur Arumsari.
Habis berkata demikian, Dewi Tangan Api segera mengambil kuda-kuda untuk memulai serangan.
Tak lama kemudian, kedua belah tangannya ditarik ke belakang sejajar pinggang.
Dan secepat kilat diayunkannya dengan kekuatan penuh ke depan.
Pada saat yang sama, Banjaranpati juga menghentakkan tangannya ke depan.
Wuuussss...! Blaaarrr...! Dua kekuatan dahsyat bertemu di udara.
Tampak tubuh Dewi Tangan Api terdorong ke belakang, melayang ke atas.
Dengan bersalto beberapa kali di udara, dia berusaha mendaratkan kakinya ke tanah.
Namun karena dihempaskan tenaga dorong yang luar biasa, tubuh Arumsari jatuh berguling-guling di tanah sejauh lima tombak.
Apa yang dialami Bayangan Putih Dari Selatan pun tak jauh berbeda.
Tubuhnya juga terlempar ke atas, kemudian bergulingan di tanah.
Dan gulingannya baru berhenti setelah membentur sebuah pohon besar.
Tak ayal lagi, daun-daun dari pohon itu pun berguguran.
Dewi Tangan Api dan Bayangan Putih Dari Selatan sama-sama merasakan kehebatan tenaga dalam satu sama lain.
Dada mereka menjadi sesak.
Perlahan-lahan dari hidung dan mulut mereka mengalir darah segar.
Dengan cepat mereka segera duduk bersila mengambil sikap bersemadi, untuk mengurangi rasa sakit sebagai akibat dari benturan tenaga dalam yang dahsyat barusan.
Tubuh mereka diam tak bergeming dengan kedua mata terpejam.
Mereka mengatur pernapasan dan seluruh aliran darah, berusaha mengumpulkan hawa murni yang berguna mengatasi luka dalam *** Suasana Bukit Argapala yang menjelang siang pun menjadi sunyi.
Burung-burung kembali beterbangan, hinggap dari satu pohon ke pohon lain dengan sesuka hati.
Namun, pepohonan di sekitar arena pertempuran tak lagi menampakkan warna hijau daunnya.
Daun-daun itu telah menguning.
Bahkan sebagian telah terbakar hangus akibat hawa panas yang ditimbulkan kekuatan tenaga dalam Dewi Tangan Api yang bentrok dengan tenaga dalam Bayangan Putih Dari Selatan! Sekitar delapan tombak dari arena pertempuran, keadaan bocah laki-laki yang diperebutkan tampak menjadi sangat mengenaskan.
Pakaiannya yang compang-camping sudah tak terlihat lagi wujudnya, karena sebagian besar telah terbakar hangus.
Dan yang lebih mengenaskan adalah keadaan rambutnya yang terbakar habis tak tersisa.
Karena hawa panas yang dirasakan, perlahan-lahan mata bocah itu terbuka.
Dia menggigit bibirnya sendiri berusaha mengusir rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Tapi, rasa panas yang membakar itu tak mau hilang.
Maka, dengan serta-merta matanya dipejamkan.
Setelah segenap kekuatan batinnya terpusat, akhirnya bocah laki-laki itu dapat mengatasi rasa sakitnya.
Apa yang dilakukan bocah berumur sepuluh tahun itu memang luar biasa, karena di dalam tubuhnya sudah terdapat hawa murni yang sedemikian kuat.
Hal itulah yang membuat tubuhnya sama sekali tak terbakar hawa panas yang ditimbulkan bentrokan tenaga dalam Dewi Tangan Api dengan tenaga dalam Bayangan Putih Dari Selatan.
Memang keajaiban yang dimiliki bocah itulah yang membuat para tokoh sakti di rimba persilatan berusaha memperebutkannya untuk dijadikan murid.
Kini, bocah laki-laki yang bernama Suropati itu berusaha menggerakkan tubuhnya.
Namun, berulang kali usahanya menemui kegagalan.
Hal itu menandakan bahwa yang menotoknya bukanlah tokoh sembarangan.
Dan kalau yang menotok hanya seorang pesilat biasa, dengan sendirinya tubuhnya akan memberikan perlawanan.
Bayangan Putih Dari Selatan yang mempunyai ilmu 'Pukulan Tanpa Bayangan' dapat melakukan totokan sedemikian hebatnya.
Sejak menculik Suropati, bocah laki-laki itu terus digendongnya dari Kota Kadipaten Bumiraksa, menuju Bukit Argapala yang memakan waktu hampir seharian penuh.
Selama ini, Banjaranpati tak sekali pun memperbaharui totokannya.
Tiba-tiba mata Suropati menjadi nyalang.
Entah dari mana, di hadapannya telah melingkar seekor ular sebesar lengannya.
Ekornya bergerak lemah, dan sesekali menjulurkan lidahnya.
Untuk beberapa lama, ular itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang.
Melihat ular yang tampak jinak, hati Suropati menjadi tenang.
Perlahan-lahan matanya dipejamkan kembali.
Seluruh kekuatannya coba dikerahkan untuk mengusir pengaruh totokan di tubuhnya.
Tapi, tiap kali hawa mumi mengalir melewati punggungnya, dia merasakan seperti ada tembok yang menghalangi.
Sehingga, hawa murninya berbalik.
Tahulah Suropati kalau pusat dari pengaruh totokannya terletak di punggungnya.
Maka dengan mata terpejam, segenap kekuatan batinnya segera dikumpulkan.
Seperti terkena sihir, tiba-tiba ular yang melingkar di hadapan Suropati bergerak perlahan, kemudian merayap mendekati.
Dan dengan kecepatan laksana kilat, ular itu mematuk punggung Suropati.
Tukkk...! Suropati menggeliat.
Sementara ular itu pun merayap ke semak-semak.
Bocah itu segera bangkit, namun kembali jatuh terduduk karena tenaganya belum pulih benar.
Ketika matanya menatap pemandangan di hadapannya, keningnya berkerut.
Dia heran, mengapa begitu banyak pohon di sekitarnya tumbang.
Tapi ketika melihat dua orang yang tengah duduk bersila dan tampak terluka dalam, Suropati pun jadi mengerti bila di situ baru saja terjadi sebuah pertempuran dahsyat Suropati segera bangkit kembali, berusaha berlari secepatnya setelah tahu kalau salah seorang yang tengah duduk bersila adalah Bayangan Putih Dari Selatan yang telah menculiknya.
Bocah gundul yang hampir telanjang itu berlari dengan langkah terseok-seok.
Namun belum genap dua puluh langkah, mendadak tubuhnya terjungkal, dan jatuh berguling-guling ke bawah bukit Suropati merasakan kalau punggungnya terasa sangat panas.
Sekujur tubuhnya bergetar.
Tanpa disadari, tubuhnya telah terserang racun hebat.
Ular yang membantu melepaskan pengaruh totokan di tubuhnya, sesungguhnya adalah seekor ular yang sangat berbisa! Suropati terus bergulingan melewati semak-semak.
Dan gulingan tubuhnya baru berhenti setelah sampai di tempat datar.
Bocah itu menggigit bibirnya kuat-kuat, merasakan sekujur tubuhnya yang kembali menjadi sangat panas.
Dadanya sesak, dan perutnya mual bagai diaduk-aduk.
Suropati sekuat tenaga berusaha melawan rasa sakit yang diderita.
Tapi, usahanya sia-sia belaka.
Tubuhnya laksana digodok di tungku pembakaran.
Dia menggigil seperti terserang demam yang hebat Sebelum kegelapan menyelimuti, Suropati sempat melihat seekor keledai yang sedang merumput tak seberapa jauh dari tempatnya tergeletak.
Dengan sisa-sisa kesadarannya, pikirannya segera dipusatkan.
Perlahan-lahan keledai yang sedang merumput itu berjalan mende-katinya.
Kemudian, binatang itu merunduk di hadapan Suropati.
Rupanya, kemampuan Suropati memusatkan pikiran sangat hebat.
Dirinya mampu memerintah benda hidup lainnya hanya dengan memusatkan perhatian ke satu titik.
Bocah itu segera beringsut, berusaha segera naik ke punggung keledai yang sudah tak jauh darinya.
Dengan susah payah, usahanya akhirnya berhasil.
"Bawa aku ke Kota Kadipaten Bumiraksa...!"
Ujar Suropati.
Keledai itu pun meringkik, kemudian segera melangkahkan kakinya menuruni Bukit Argapala.
*** Seharian penuh keledai yang membawa tubuh Suropati berlari tanpa henti.
Matahari sudah hampir terbenam, ketika sampai di pintu gerbang Kota Kadipaten Bumiraksa.
Tubuh Suropati yang lemah terkulai di atas punggung keledai segera menarik perhatian orang-orang.
Kepalanya yang gundul, dan nyaris telanjang benar-benar menjadikan sebuah pemandangan ganjil.
"Hei, bukankah itu Suropati...?!"
Teriak seorang bocah tanggung berpakaian penuh tambalan.
Beberapa bocah tanggung lain yang sedang berkerumun memperhatikan lebih seksama.
Ketika tahu bahwa yang terkulai di atas punggung keledai itu tak lain Suropati, mereka segera berhamburan mendekati.
Beramai-ramai mereka menggiring keledai yang menggendong Suropati itu ke tepi jalan.
Mereka berebut untuk menurunkan tubuh bocah yang malang ini.
Tapi, mereka berteriak ngeri ketika tangan mereka menyentuh tubuh Suropati yang panas bagai habis dipanggang api.
"Masih hidupkah dia...?"
Tanya salah seorang bocah berusia lima belas tahun. Tak ada yang dapat memberi jawaban. Mereka hanya saling berpandangan dan mengangkat bahu tanda tak mengerti.
"Kita bawa ke tabib,"
Usul seseorang yang disambut anggukan kepala dari teman-temannya.
Tak lama kemudian, mereka pun beramai-ramai menggiring keledai yang menggendong tubuh Suropati masuk ke dalam kota.
Para bocah yang berusaha menolong Suropati adalah para pengemis dan gelandangan Kota Kadipaten Bumiraksa yang merupakan teman senasib Suropati sendiri.
Usia mereka rata-rata masih belasan tahun.
Bahkan ada yang berusia di bawah sepuluh tahun.
Tubuh mereka hitam kotor tak terurus.
Pakaiannya pun penuh tambalan, nyaris tak layak dipakai.
Ketika sampai di tempat yang dituju, bocah yang berusia lima belas tahun dan bernama Wirogundi segera mengetuk pintu rumah tabib yang dikenal bernama Pulanggeni.
Karena daun pintu tak segera dibuka, maka beramai-ramai mereka menggedor-gedor.
"Heh?! Mau apa kalian...?!"
Tabib Pulanggeni yang sudah uzur menyambut mereka dengan muka ditekuk.
"Temanku sakit, Kek. Perlu segera ditolong,"
Pinta Wirogundi setengah berteriak. Tabib Pulanggeni memandang sejenak kepada Wirogundi. Lalu kepalanya berpaling kepada teman-temannya. Setelah menyaksikan keadaan Suropati yang mengenaskan, kepalanya malah menggeleng-geleng.
"Bawa saja ke tabib yang lain,"
Ujar Tabib Pulanggeni kemudian sambil menutup daun pintu.
"Eit! Tunggu dulu, Kek...! Temanku itu benar-benar membutuhkan pertolongan,"
Kata Wirogundi sambil menahan gerakan pintu yang bergerak hendak menutup.
"Sudah kubilang, bawa saja ke tabib yang lain...."
"Kau tidak mau menolong, Kek...?"
Tabib Pulanggeni tidak menjawab. Matanya menatap tajam ke tubuh Wirogundi dan teman-temannya.
"Dengan apa kalian akan membayar?"
Tanya laki-laki tua ini meremehkan. Wirogundi saling berpandangan dengan teman-temannya. Kemudian dengan sigap tangannya merogoh kantong baju, mengeluarkan dua keping uang logam.
"Itu belum cukup,"
Tukas Tabib Pulanggeni dengan raut muka dibuat-buat.
Mendengar kalimat tabib tua itu, teman-teman Wirogundi segera merogoh kantong baju masing-masing.
Kini Tabib Pulanggeni tersenyum menerima uang dari para pengemis dan gelandangan yang lugu itu, *** Dengan langkah sedikit gemetar karena termakan usia, Tabib Pulanggeni segera mendekati Suropati.
Diusapnya kening bocah itu pelan-pelan.
Merasakan tingginya suhu badan Suropati, dia segera tahu kalau bocah itu menderita demam yang hebat akibat keracunan.
Segera dibopongnya tubuh Suropati yang hampir telanjang itu ke bilik pengobatannya.
Setelah meletakkan tubuh bocah malang itu ke dipan yang terbuat dari kayu jati, tabib tua itu segera memeriksa seluruh aliran darahnya.
Tabib Pulanggeni mengernyitkan dahinya ketika merasakan ada suatu kekuatan yang berputar-putar di perut Suropati.
Tepatnya, kekuatan itu mengitari pusar.
Dan dia makin terkejut setelah mengetahui bahwa darah Suropati telah bercampur racun.
Segera di periksanya bagian-bagian di tubuh bocah itu untuk mengetahui dari mana racun itu berasal.
Berkali-kali kepalanya meng-geleng karena sama sekali tak mengerti, bagaimana Suropati bisa bertahan hidup dengan darah yang telah bercampur racun.
Dengan hati-hati sekali Tabib Pulanggeni memperlebar luka kecil di punggung Suropati.
Ingin diketahuinya sebagaimana kuatnya racun itu bercampur darah di tubuh bocah yang malang ini.
Kembali tabib itu menggelengkan kepalanya.
Sama sekali tak diketahui, keajaiban apa yang dimiliki Suropati sehingga dapat bertahan dari serangan racun yang berasal dari bisa ular yang belum diketahui jenisnya Keringat segera membasahi tubuh tabib tua itu.
Butiran peluh sebesar jagung menetes dari dahinya yang keriput.
Jalan satu-satunya untuk menolong Suropati adalah dengan mengeluarkan racun di tubuhnya.
Dan itu berarti harus mengeluarkan seluruh cairan darahnya.
Namun tidak mungkin dilakukan, karena sama saja dengan mempercepat kematiannya.
Lama Tabib Pulanggeni memeras otak.
Ilmu ketabibannya sama sekali tak mampu memecahkan persoalan yang sedang dihadapi.
Keringat di tubuhnya semakin membanjir.
Wajahnya yang sudah tua semakin tampak tua, karena berpikir keras.
Di luar, malam sudah tiba.
Obor penerangan rumah sudah mulai dinyalakan.
Sementara teman-teman Suropati masih setia menunggu di halaman rumah Tabib Pulanggeni untuk menantikan hasilnya.
Brakkk...! Daun pintu dibuka dengan keras.
Sebentar saja, Tabib Pulanggeni muncul dengan wajah kusut.
"Bawa saja teman kalian itu ke tabib lain...,"
Ujar laki-laki tua ini.
"Lho, kenapa, Kek?"
Tanya Wirogundi gusar "Aku tidak sanggup,"
Aku Tabib Pulanggeni pelan. Baru saja kata-kata tabib itu lenyap, tangan Wirogundi yang terkepal menghantam deras. Dan.... Buuukkk...! "Aughhh...!"
Pukulan Wirogundi yang tiba-tiba, membuat tubuh tua yang tampak pusing itu terlipat dengan mulut meringis kesakitan.
"Bukankah kami sudah membayar biaya pengobatannya! Kenapa kau tidak sanggup...?!"
Bentak Wirogundi.
"Aduh, maaf,... Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengobati-nya...,"
Ucap Tabib Pulanggeni, terbata-bata Mendengar ucapan tabib tua yang tampak bodoh itu, seketika teman-teman Wirogundi maju mendekati.
Dan mereka langsung menghujani tubuh Tabib Pulanggeni dengan pukulan.
Tabib malang itu pun langsung jadi bulan-bulanan.
Dia pun meraung-raung minta ampun.
Tubuh tua itu segera lumat dihajar remaja belasan tahun yang berjumlah tak kurang dari sepuluh orang! Pada saat keributan terjadi, tanpa diketahui seorang pun tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat memasuki rumah Tabib Pulanggeni.
Bayangan itu bergerak sangat cepat, sulit diikuti pandangan mata.
Setelah mengambil Suropati yang tergeletak lemah, bayangan itu kembali berkelebat menuju ke luar Kota Kadipaten Bumiraksa.
*** Bayangan yang membawa tubuh Suropati terus berkelebat.
Dan ketika sampai di sebuah kuil tua, dia segera melepas gendongannya.
Diletakkannya tubuh Suropati di lantai.
Dengan cekatan segera dibuat perapian.
Dan kuil tua yang sudah tak dipakai itu kini menjadi terang-benderang.
Dalam kilatan cahaya perapian, terlihat kalau orang yang membawa tubuh Suropati adalah seorang kakek kurus dengan rambut dan janggutnya putih panjang tampak terawatt.
Pakaiannya penuh tambalan walaupun tampak bersih.
Warna aslinya sudah hampir tak kentara, karena kelewat banyak tambalan.
Sorot matanya tajam dengan alis menjulang ke atas.
Juga telah memutih.
Tanpa mau membuang banyak waktu, kakek itu segera menyandarkan tubuh Suropati di dinding.
Tangan kirinya menyangga agar tubuh bocah yang lemah itu tak terkulai jatuh.
Sedang tangan kanannya sibuk membuat totokan di beberapa aliran darah Suropati yang telah terserang racun yang hebat.
Dengan sebuah tarikan napas panjang, kakek kurus itu segera membuat gerakan-gerakan untuk mengalirkan tenaga dalam ke pergelangan tangan kanannya.
Kemudian dengan sigap, telapak tangan kanannya ditempelkan ke pusar Suropati.
Sepeminum teh kemudian, wajah kakek kurus itu sudah berhias peluh.
Perlahan-lahan suhu badan Suropati menurun.
Bersamaan dengan itu, dari luka di punggung bocah laki-laki itu keluar cairan kebiru-biruan.
Menjelang kayu di perapian habis, kakek kurus itu melepaskan telapak tangan kanannya dari pusar Suropati.
Kemudian dibaringkannya tubuh bocah itu ke lantai kembali.
Setelah mengusap peluh di wajahnya, kakek itu memperbesar perapiannya yang hampir padam.
"Air...."
Tiba-tiba terdengar suara Suropati yang tengah menggeliat "Aku haus...,"
Kata bocah itu dengan memelas. Kakek kurus itu segera memberikan apa yang diminta Suropati. Kemudian disuapinya bocah itu dengan sepotong roti yang menjadi bekalnya. Suropati menatap tajam kakek kurus yang duduk bersila di hadapannya.
"Kau sangat baik, Kek...,"
Puji bocah ini, Kakek kurus itu tersenyum.
Sedangkan Suropati memandangnya dengan tatapan mata tak mengerti.
Kemudian kepalanya yang tak gatal digaruk.
Tiba-tiba Suropati menjadi terkejut setengah mati, setelah mengetahui bila rambutnya sudah tiada lagi barang sehelai.
Bocah laki-laki itu mengernyitkan keningnya.
Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, tampak jenaka.
Wajahnya yang polos menjadi merah, ketika melihat keadaan dirinya yang nyaris telanjang.
Dengan cepat kemaluannya yang menyembul ditutupi.
Kakek kurus yang tengah duduk bersila itu tertawa terbahak-bahak menyaksikan ulah Suropati.
Tawanya tiada henti, membuat bahunya naik turun dan janggutnya yang panjang bergerak-gerak.
Tiba-tiba Suropati ikut tertawa keras.
Mendengar tawa Suropati, kakek kurus itu menghentikan tawanya, terdiam.
"Eh, apa yang kau tertawakan?"
Tanya kakek ini. Suropati belum mau menghentikan tawanya. Kakek kurus itu pun menjadi sangat gusar.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tanya kakek ini lagi.
"Kau ini lucu, Kek... Janggutmu itu...."
Suropati tak meneruskan bicaranya. Malah, tawanya terdengar makin keras.
"Ada apa dengan janggutku?"
Desak kakek kurus itu dengan raut muka kebodoh-bodohan.
"Jangggutmu itu lucu. Seperti..., seperti...."
"Seperti apa?"
"Seperti ekor sapi!"
"Ha... ha... ha...!"
Mendengar ucapan polos Suropati kakek kurus itu pun tertawa kembali. Mendadak Suropati beringsut menjauh.
"Kau menculikku, Kek?!"
Tanya bocah ini setengah takut. Kakek kurus itu menggelengkan kepalanya.
"Justru aku telah menolongmu,"
Kilah kakek itu dengan suara lembut.
"Menolongku?"
Suropati menggaruk kepalanya kembali. Kemudian dia mengingat-ingat kejadian yang telah menimpa. Tak lama kemudian, tubuhnya pun beringsut mendekati kakek yang tengah duduk bersila dengan tenang.
"Aku berhutang budi padamu, Kek...,"
Ucap Suropati, tulus. Kakek kurus itu tersenyum. Lalu, dielusnya kepala Suropati yang gundul. Mata bocah laki-laki berumur sepuluh tahun itu tampak merem-melek, merasakan kenikmatan. Tapi, tiba-tiba kepalanya didongakkan.
"Aku mau belajar ilmu silat, Kek...,"
Cetus bocah ini dengan kesungguhan hati.
"Belajar ilmu silat? Pada siapa?"
"Padamu."
"Ha ha ha..."
Kakek kurus yang duduk bersila di hadapan Suropati tertawa lebar.
"Dengan belajar ilmu silat, kau akan banyak musuh...,"
Elak orang tua ini sambil menatap wajah Suropati dalam-dalam.
"Kau tidak takut?"
Alis Suropati bertaut.
"Siapa bilang belajar ilmu silat membuat banyak musuh?"
Tukas bocah laki-laki itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sudah tak berambut.
"Justru dengan belajar ilmu silat, banyak yang dapat kuperbuat. Aku ingin menolong kaum lemah yang selalu tertindas, Kek. Aku benci melihat kebengisan para penjahat yang selalu membuat keresahan. Atau paling tidak, dengan belajar ilmu silat, aku bisa melindungi diriku sendiri dari ancaman bahaya...."
Plok... plok... plok...! Kakek kurus penolong Suropati itu bertepuk tangan mendengar kalimat bocah laki-laki berumur sepuluh tahun itu.
"Wah! Bicaramu seperti seorang pendeta. Pendeta pikun! He he he...,"
Ledek kakek ini. Kening Suropati berkerut.
"Kau mau kan, Kek, mengangkat ku sebagai murid?"
"Kalau aku tidak mau?"
"Akan kupaksa!"
"He he he...,"
Kakek kurus itu tertawa geli.
"Dengan cara apa kau akan memaksaku?"
Tiba-tiba mata Suropati bersinar tajam.
"Kau harus mau, Kek...!"
Bentak bocah ini, berani. Kakek kurus itu terkejut. Saat itu juga terasa suatu dorongan kekuatan yang mempengaruhi jalan pikirannya.
"Hm.... Bocah ini mempunyai bakat ilmu sihir juga...,"
Gumam kakek ini dalam hati seraya menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir kekuatan batin yang sedang menyerangnya. Mendadak wajah kakek kurus itu menjadi tegang.
"Hei, Bocah! Hati-hati! Di belakangmu ada ular!"
Wajah Suropati kontan berpaling ke belakang. Dia bergidik ngeri karena tiba-tiba di belakangnya telah melingkar seekor ular sebesar paha manusia dewasa, siap menelannya! "Tolong aku, Kek...!"
Teriak Suropati sekuat tenaga seraya melompat ke depan. Kakek kurus itu pun tertawa gelak.
"Mana ada ular, Bocah Geblek...?!"
Sergah kakek Suropati menjadi heran. Dan dia kontan diam terlongong-longong macam monyet kena sumpit. Ular yang baru saja dilihatnya tiba-tiba lenyap tanpa bekas! "Kau mempermainkan aku, Kek...,"
Cibir Suropati dengan bibir cemberut.
"Sungguhkah kau ingin menjadi muridku, Bocah Geblek?"
Tanya kakek itu.
"Ya,"
Jawab Suropati, penuh keyakinan.
Kakek kurus itu kembali tertawa terbahak-bahak.
Dan Suropati yang melihat janggut kakek yang sedang tertawa itu bergerak-gerak seperti ekor sapi, jadi ikut tertawa.
Maka, kuil tua yang terletak di pinggir Kota Kadipaten Bumiraksa itu segera berhias suara tawa sahut-menyahut.
Sesungguhnya Suropati sangat berun-tung bertemu kakek kurus yang tampak lemah dan sangat miskin itu.
Karena, kakek itu tak lain adalah penasihat kerajaan yang telah mengundurkan diri dan berpetualang dengan menyamar sebagai seorang pengemis.
Namanya, Pragolawulung yang bergelar si Periang Bertangan Lembut.
Karena kakek itu memang jarang sekali menampakkan wajah muram atau sedih.
Dia selalu tampak riang gembira.
Sifatnya pun sangat lembut, penuh welas asih.
Baik kepada lawan maupun kawan.
Sebenarnya kakek kurus yang bernama Pragolawulung itu sudah lama tinggal di Kota Kadipaten Bumiraksa.
Dia selalu memperhatikan gerak-gerik Suropati, bocah laki-laki berumur sepuluh tahunan itu disukai karena kepolosan dan sifatnya yang rada konyol.
Dan tentu saja, bakat luar biasa yang dimilikinya, Suropati selain memiliki bakat sebagai pesilat tangguh, juga berbakat menjadi seorang penyihir karena memiliki kekuatan batin yang luar biasa di usia semuda itu Sejak pertemuan di kuil tua itulah.
Suropati belajar ilmu oleh kanuragan pada si Periang Bertangan Lembut.
Dengan tekun bocah ini menimba ilmu tanpa mengenal waktu.
Pragolawulung pun mencurahkan segala kemampuannya untuk diwariskan kepada muridnya yang memiliki bakat luar biasa! Sore hari di Sungai Balirang.
Sinar mentari mengusap permukaan air yang tenang.
Warna keemasannya memantul, menerpa pinggiran perahu para penambang.
Sebuah rakit tampak bergerak pelan, melewati semak-semak yang tumbuh di pinggir sungai.
Seorang lelaki setengah baya bercaping lebar berdiri dengan angkuh di atasnya.
Warna bajunya ungu.
Selembar kain merah tampak bergayut di pundak, terbuat dari bahan mahal.
Kain itu berkibar-kibar ditiup angin.
Para penambang yang rata-rata berpenampilan sangat sederhana memandang dengan sinar mata takjub.
Merasa dirinya menjadi pusat perhatian, lelaki bercaping lebar itu mempercepat laju rakitnya.
Ketika matanya menangkap gerak seorang gadis berpakaian kuning yang hendak memasuki keramaian pasar di tepi sungai, tongkat panjangnya segera diayunkan ke dalam air.
Seketika rakit yang menopang tubuhnya segera meluncur dengan kecepatan tinggi.
Jelas, dari tindakannya dia tengah mengerahkan tenaga dalamnya.
Setelah rakit itu mencapai jarak kurang dari satu tombak dengan tepi sungai, lelaki bercaping lebar itu melompat ke udara.
Beberapa kali tubuhnya berputaran, lalu mendarat tepat di depan gadis yang menjadi perhatiannya.
"Antarkan aku menghadap Reksapati...!"
Pinta lelaki bercaping ini. Gadis yang diajak bicara itu terkejut melihat lelaki bercaping lebar ini tiba-tiba telah berdiri di hadapan nya. Demikian pula ketika menyebutkan nama Reksapati, sehingga membuat dahinya berkerut.
"Kenapa diam saja? Apakah kau tidak mendengar perkataanku, Anak Manis...?"
Kata lelaki bercaping lebar itu, tersenyum menggoda.
"Siapa kau...?"
Tanya gadis ini, sinis. Dia begitu jengah melihat tatapan mata lelaki di depannya. Yang ditanya membuat senyum lebar.
"Aku Brajadenta, si Dewa Maut. Menilik dari baju yang kau kenakan, bukankah kau murid Perguruan Harimau Terbang? Dan gurumu pasti si Reksapati..."
Gadis yang berpakaian kuning yang di dadanya terdapat gambar harimau bersayap itu menjadi gusar mendengar nama gurunya disebut dua kali tanpa sedikit rasa hormat.
"Apa maumu, Brajadenta?"
Desis gadis ini memasang wajah ketus.
Matanya menatap lelaki setengah baya bernama Brajadenta dengan tajam.
Si Dewa Maut tidak segera menjawab.
Matanya bermain nakal, menyaksikan wajah cantik gadis yang berada di hadapannya.
Brajadenta yang sudah berumur lebih dari empat puluh tahun itu berulang kali menelan ludah, melihat kesempurnaan wajah gadis di depannya.
"Aku tak punya waktu banyak. Segera katakan saja, apa maumu...!"
Ujar Anjarweni, agak keras.
"Aku utusan Baginda Prabu. Ada urusan yang harus diselesaikan dengan gurumu. Tapi..."
Brajadenta tak melanjutkan bicaranya. Senyum di bibirnya semakin mengembang.
"Aku benar-benar tak punya waktu lagi...!"
Usai mengucapkan kalimatnya, gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri.
"Eit! Tunggu dulu, Anak Manis...,"
Cegah Brajadenta seraya menghalangi langkah Anjarweni.
"Aku juga ada urusan denganmu."
Gadis itu kembali mengerutkan keningnya.
"Bajumu bagus, Anak Manis,"
Kata Brajadenta kemudian.
"Gambar kepala harimau bersayap di dada kirimu itu sangat indah. Bolehkah aku pinjam sebentar...?"
"Jangan main-main. Aku, Anjarweni, paling tak sudi direndahkan!"
Sentak gadis bernama Anjarweni. Brajadenta tertawa lebar.
"Kalau kau marah, hanya akan menambah kecantikanmu saja. He he he...."
Brajadenta mentowel dagu Anjarweni.
Gadis itu terkejut namun berusaha mengelak.
Tubuhnya cepat dimiringkan ke samping, sehingga maksud hati Brajadenta menjadi tak kesampaian.
Sebentar saja mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu-lalang di tempat itu.
Apalagi pakaian dan tingkah laku Brajadenta yang kurang ajar, membuat orang-orang tak segan untuk menatapnya berlama-lama.
Merasa dirinya menjadi perhatian orang, Anjarweni segera menjejakkan kakinya ke tanah.
Saat itu juga, gadis ini melompat meninggalkan Brajadenta.
"Kau mau ke mana, Anak Manis...?!"
Dengan gerakan ringan, Brajadenta menyusul Dan Anjarweni jadi menghentikan langkahnya kembali, karena terhalang tubuh Brajadenta yang tinggi besar.
"Aku tidak mau main-main, Brajadenta!"
Dengus Anjarweni sambil mengayunkan tangannya ke wajah Brajadenta.
"Eiiittt...!"
Brajadenta mengelak.
Gadis itu menjadi gusar, menyak-sikan serangannya luput.
Dengan serta-merta tubuhnya berputar seraya melepas tendangan di udara mengarah ke dada Brajadenta.
Lelaki berjuluk si Dewa Maut itu cuma tersenyum melihat serangan.
Tangan kirinya cepat bergerak menangkis.
Plak! Akibatnya Anjarweni.
kontan terpelanting diiringi tawa Brajadenta yang terbahak-bahak.
Sebelum Anjarweni sempat mengatur keseimbangan tubuhnya, tiba-tiba lelaki itu telah menggerakkan tubuhnya ke depan.
Dan dengan tangan kiri dijambretnya pundak Anjarweni.
Brettt...! Tak ayal lagi kain baju Anjarweni pada bagian pundak sobek selebar dua jengkal.
Brajadenta kembali tertawa.
Matanya melotot, menyaksikan kulit mulus Anjarweni.
Gadis yang merasa dipermainkan itu menjadi sangat marah.
Mukanya merah padam, menahan rasa malu.
Maka dengan mengaum laksana seekor harimau, di serangnya Brajadenta tanpa sungkan-sungkan lagi.
Si Dewa Maut dengan tertawa-tawa melayani serangan Anjarweni.
Ketika gadis itu membuat gerakan mencakar bagian wajah, Brajadenta menepis sambil melepaskan sodokan ke perut.
Plak! Desss....! Untuk kedua kalinya Anjarweni terpelanting.
Dan, kali ini kesempatan itu tak disia-siakan Brajadenta.
Dengan gerakan sulit diikuti pandangan mata, tubuhnya berkelebat sambil menotok punggung gadis murid Perguruan Harimau Terbang itu.
Tuk! Tuk! "Aaah...!"
Tubuh Anjarweni menjadi lemas seketika.
Namun, sebelum terjerembab ke tanah, Brajadenta menyambar tubuh gadis cantik itu dan berkelebat lenyap.
Orang-orang yang menyaksikan per-kelahian barusan menjadi kasak-kusuk.
Belum pernah mereka menyaksikan murid Perguruan Harimau Terbang dapat begitu mudah dilumpuhkan.
Maka sore itu, orang-orang begitu ramai membicarakan kehadiran Brajadenta, si Dewa Maut yang telah melumpuhkan dan membawa lari Anjarweni.
*** Brajadenta membopong tubuh Anjarweni menuju Lembah Sungai Balirang yang sunyi.
Berulang kali dia menelan air liurnya sendiri karena merasakan tangan dan pundaknya yang menyentuh kulit mulus Anjarweni.
Sementara, gadis itu sama sekali tak berdaya.
Dia menggelantung lemas di pundak Brajadenta.
Hanya matanya yang memancarkan sinar kemarahan.
Si Dewa Maut tertawa puas, seperti seorang anak yang baru saja memperoleh mainan yang telah lama diidam-idamkannya.
Larinya pun dipercepat, berpacu dengan hasrat hatinya yang menggelora! Matahari sudah hampir terbenam, ketika Brajadenta menemukan tempat lapang berumput tebal.
Saat itu juga, tubuh Anjarweni segera dihempaskan ke tanah.
"He he he..... Kau akan segera dapat merasakan surga dunia, Anak Manis...,"
Leceh Brajadenta sambil membuang capingnya. Anjarweni bergidik ngeri melihat sinar mata Brajadenta yang seperti hendak menelannya bulat-bulat. Bagaikan seekor serigala siap menerkam mangsanya.
"Bunuh saja aku....!"
Teriak Anjarweni ketakutan. Brajadenta tertawa terbahak-bahak.
"Tidak semudah itu, Anak Manis...."
Perlahan-lahan si Dewa Maut mendekati tubuh Anjarweni yang meringkuk tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Jangan sentuh diriku, Lelaki Jahanam! Bunuh saja aku....!"
Teriak Anjarweni semakin ketakutan. Tawa Brajadenta semakin keras.
"Kenapa takut, Anak Manis?! Dan, kenapa pula minta dibunuh? Bukankah aku mau mengajakmu mencicipi nikmatnya surga dunia...?!"
Sambil berkata itu, Brajadenta kembali menjambret baju Anjarweni.
Gadis itu pun berteriak ngeri, ketika menyaksikan tubuh bagian atasnya yang hampir telanjang.
Menyaksikan kulit kuning Anjarweni yang tanpa cacat, mata Brajadenta semakin melotot.
Jakunnya bergerak turun-naik.
Nafsu birahi si Dewa Maut sudah tak dapat dikendalikan lagi.
Hasrat hatinya begitu menggelora, sehingga tak sabaran diterkamnya tubuh Anjarweni.
Dengan kasar Brajadenta melumat bibir gadis yang tak berdosa itu.
Tubuh Anjarweni dipeluknya kuat-kuat.
Tangan kirinya berusaha melepas sisa pakaian yang dikenakan gadis yang hendak dijadikan korban nafsu birahinya.
Pada saat yang gawat itulah, tiba-tiba berkelebat empat sosok bayangan serba hitam yang tersamar suasana hampir gelap.
Menyaksikan kebiadaban Brajadenta, salah satu bayangan segera menerjang! Si Dewa Maut terkesiap.
Sebagai seorang pesilat tangguh, indera keenamnya segera tahu akan adanya serangan.
Dengan gusar pelukannya dilepaskan.
Dan secepat kilat dia melompat ke samping.
Maka serangan itu pun tak mengenai sasaran.
"Siapa kau?! Jangan mencampuri urusanku...!"
Bentak Brajadenta penuh kemarahan.
Tak ada jawaban.
Empat bayangan yang ternyata empat laki-laki berbaju hitam segera mengepung si Dewa Maut.
Ketika melihat gambar kepala harimau di dada kiri dari orang-orang yang mengepungnya, Brajadenta mendengus keras "Punya nyali juga kalian rupanya...! Tidak tahukah kalian, sedang berhadapan dengan siapa...?!"
"Kami tidak perlu tahu siapa dirimu...!"sahut salah satu orang berbaju hitam.
"Melihat perbuatanmu yang melebihi binatang, kau layak untuk dienyahkan dari muka bumi ini...!"
Brajadenta kembali mendengus.
"Kenapa hanya kalian yang datang ke sini?! Apakah murid Perguruan Harimau Terbang lainnya masih enak-enakan tidur siang?! Dan, kenapa tak kalian ajak si Reksapati, guru kalian itu?! Apakah dia sedang sibuk menggali lubang kuburnya sendiri?! Atau, barangkali sedang menyembunyikan diri karena takut seperti anjing buduk yang hendak dihajar tuannya?!"
Kata Brajadenta, pedas. Mendengar ucapan Brajadenta yang terasa panas di telinga, keempat murid Perguruan Harimau Terbang menggerendeng penuh kemarahan.
"Hiaaattt...!"
Secara serempak keempat lelaki ini menerjang Ki Dewa Maut! Saat itu juga, terjadilah pertempuran sengit.
Anjarweni yang masih belum bisa menggerakkan tubuhnya hanya memandang dengan sinar mata penuh harap bagi kemenangan saudara-saudara seperguruannya.
Keempat murid Perguruan Harimau Terbang itu dapat mengikuti jejak Brajadenta, karena mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar Sungai Balirang.
Dan disebabkan rasa ikut bertanggung jawab akan keselamatan Anjarweni, mereka segera mengejar si Dewa Maut yang telah menculik saudara seperguruannya.
Tapi, yang mereka hadapi bukanlah lawan enteng.
Si Dewa Maut walaupun belum begitu ternama di rimba persilatan, tetapi memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi.
Apalagi, dia merupakan salah seorang pengawal istana kerajaan.
"Buuukkk...! Aughhh...!"
Tiba-tiba salah seorang murid Perguruan Harimau Terbang terjungkal terkena hantaman si Dewa Maut.
Dari mulutnya langsung menyembur darah segar.
Dan, tak lama kemudian tubuhnya meregang melepas nyawa! Menyaksikan kematian temannya, murid-murid Perguruan Harimau Terbang lainnya mengaum keras laksana seekor harimau.
Mereka berhamburan menyerang Brajadenta dari berbagai penjuru.
Namun, si Dewa Maut bukanlah lawan yang seimbang bagi mereka.
Ketika Brajadenta berkelebat begitu cepat sambil melepaskan pukulan dan tendangan....
Desss....
Dess....
Dess....
"Aaah! Aaa.... Aaah...!"
Tiga jeritan panjang terdengar.
Tiga orang murid Perguruan Harimau Terbang kontan terjungkal tak bangun-bangun lagi dengan dada amblong! Si Dewa Maut menyeringai dingin sambil menatap mayat lawan-lawannya.
Tangannya mengibaskan bajunya yang berdebu.
Bau anyir darah segera menusuk hidung.
Tiba-tiba Brajadenta teringat dengan tawanannya.
Kepalanya kontan menoleh ke arah Anjarweni.
Tampangnya jadi beringas ketika mendapatkan tubuh Anjarweni masih tergolek lemas di atas rerumputan.
"Aku sudah tak tahan lagi, Anak Manis.... Kita segera menikmati surga dunia...."
Tubuh Brajadenta kemudian melayang.
Sebentar saja, dia sudah tiba di depan Anjarweni.
Langsung diterkamnya tubuh mulus Anjarweni.
Gadis itu hanya pasrah dengan mata basah.
Dia hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir kuat-kuat.
Tak ada kemampuan lagi untuk mempertahankan kehormatannya.
Sore ini, Perguruan Harimau Terbang diliputi suasana berkabung.
Para murid tingkat rendah yang biasa berlatih di halaman belakang hanya duduk-duduk tanpa tahu harus berbuat apa.
Tak seorang pun yang berani mengeluarkan suara keras.
Mereka hanya saling bisik, membicarakan malapetaka yang baru saja menimpa saudara-saudara seperguruan mereka.
Si Reksapati atau Pendekar Harimau Terbang yang merupakan ketua sekaligus pendiri Perguruan Harimau Terbang, tampak berjalan memasuki pelataran perguruan.
Wajahnya kusut, seperti menyimpan kemarahan menggelegak.
Di belakang pendekar berusia hampir lima puluh tahun itu, tujuh puluh orang murid utamanya berjalan mengikuti dengan kepala tertunduk, membersitkan rasa duka.
Hampir seharian penuh mereka menyisir Lembah Sungai Balirang untuk mencari si pembuat petaka yang telah berani mengusik ketenteraman Perguruan Harimau Terbang.
"Kalian semua berjaga-jagalah di depan...,"
Ujar Reksapati kepada ketujuh puluh orang muridnya.
Kemudian, lelaki setengah baya itu berjalan memasuki ruang utama perguruan.
Lalu dia langsung berbelok memasuki ruang pribadinya.
Baru saja Reksapati menutup pintu, seorang bocah perempuan berumur dua belas tahun mengetuk daun pintu.
"Siapa...?"
Tanya Reksapati dari dalam kamarnya.
"Ingkanputri, Ayah...,"
Kata bocah perempuan sambil membuka daun pintu.
Reksapati memandang kehadiran bocah kecil bernama Ingkanputri dengan sorot mata sayu.
Rasa kecewa bercampur amarah karena tak berhasil mencari orang yang telah menanamkan api permusuhan bagi perguruan silatnya, terbayang jelas di wajah lelaki yang bertubuh agak kurus itu.
"Kenapa Ayah diam saja? Bukankah ini sudah waktunya Ayah mengajari Putri berlatih ilmu silat?"
Tanya gadis kecil ini.
"Berlatih dengan Ibu saja, Putri. Ayah sedang sibuk."
Tolak Reksapati, ayah Ingkanputri ini.
"Sibuk? Ayah hanya duduk diam di situ, kenapa bilang sibuk?"
Kata Ingkanputri, polos.
Bersamaan dengan itu pintu kamar ini terbuka.
Dari baliknya muncul seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun.
Kulit tubuhnya kuning bersih.
Rambutnya disanggul ke atas dengan tusuk konde terbuat dari gading.
Bajunya berwarna biru, membungkus tubuhnya yang tampak sintal.
"Putri.... Kau berlatih silat dengan Kakang Singalodra saja,"
Ujar wanita ini kepada bocah perempuan yang sedang bergayut di lengan Reksapati.
"Tidak, Ibu! Putri ingin berlatih dengan Ayah!"
Tolak Ingkanputri, nakal.
"Putri, jangan bandel!"
Kata wanita cantik itu seraya memandang Ingkanputri dengan sorot mata memerintah.
Bocah perempuan berumur dua belas tahun itu segera meninggalkan tempat sambil mengeluarkan gerutuan kecil.
Sementara Reksapati kembali mengeluarkan desah panjang.
Lalu tubuhnya berbalik, membelakangi wanita cantik yang baru saja muncul.
Wanita itu tak lain dari istri Reksapati.
Bila diperhatikan dengan seksama, umur Reksapati dan istrinya terpaut agak jauh.
Reksapati memang terlambat berumah tangga.
Sebagai seorang pesilat, dia lebih senang mengembara tanpa mempunyai suatu ikatan.
Tapi setelah mendirikan Perguruan Harimau Terbang barulah mulai dipikirkan pentingnya berumah tangga demi mengembangkan keturunan sebagai penerus sejarah leluhur.
"Sudahlah, Kangmas.... Jangan terlalu dijadikan beban pikiran. Hanya akan membuat buruk kesehatanmu...,"
Ingat istri Reksapati itu. Pendekar Harimau Terbang hanya mendesah pelan. Dia tak bergeming dari tempat duduknya.
"Semua sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, Kangmas,"
Kata wanita itu lagi.
"Inilah yang namanya takdir."
Reksapati memalingkan muka, menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Mustikaweni.... Aku tak pernah bisa mengerti, kenapa orang itu bisa berbuat begitu biadab terhadap anak murid kita. Sepertinya dia memang sengaja memancing perkara,"
Gumam Reksapati dengan suara berat "Itulah yang disebut tokoh sesat. Dia bisa berbuat seenaknya sendiri tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya...,"
Hibur perempuan bernama Mustikaweni. Reksapati menatap tajam mendengar perkataan istrinya.
"Kau jangan mengguruiku...!"
Ujar lelaki ini kemudian. Mustikaweni menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku, Kangmas. Bukan maksudku untuk menggurui. Tapi, kalau melihat Kangmas begitu terpengaruh memikirkan kejadian itu, aku jadi ikut sedih,"
Ucap perempuan cantik ini. Mendengar ucapan Mustikaweni yang tulus, Reksapati beranjak dari tempat duduknya.
"Inilah cobaan bagi Perguruan Harimau Terbang,"
Katanya pelan sambil meraih tangan istrinya. Pada saat itu pintu ruangan ini kembali terbuka. Dari baliknya muncul seorang pemuda dengan tergopoh-gopoh.
"Guru! Ada seseorang yang ingin bertemu Guru,"
Lapor pemuda itu sedikit gelagapan.
"Siapa?"
Tanya Reksapati.
"Dia mengenalkan diri Brajadenta yang berjuluk si Dewa Maut"
Kening Reksapati berkerut. Dia merasa belum pernah mendengar nama itu.
"Suruh Singalodra menemuinya!"
Perintah Reksapati kepada pemuda yang baru muncul itu.
"Sudah. Tetapi, dia tetap nekat, Guru...."
Braaakkk...! Tiba-tiba terdengar bunyi benturan benda keras.
Reksapati segera melompat dan berkelebat ke luar.
*** Sampai di halaman depan, Pendekar Harimau Terbang menatap tajam seorang laki-laki berbaju ungu sedang berjalan melewati pintu gerbang yang telah jebol.
Para murid yang sedang berjaga mencoba menghalangi.
Namun dengan mengibaskan ujung lengan bajunya, orang yang baru datang itu membuat para murid Perguruan Harimau Terbang terjungkal.
Orang berbaju ungu yang tak lain si Dewa Maut itu segera melompat ke hadapan Reksapati.
"Reksapati, aku hendak bicara denganmu. Suruh murid-muridmu menyingkir!"
Kening Pendekar Harimau Terbang kembali berkerut. Melihat penampilan Brajadenta yang menampakkan kesungguhan, dia segera memberi isyarat kepada murid-muridnya untuk menjauh.
"Siapa kau? Dan, apa yang hendak kau bicara kan?"
Tanya Reksapati.
"Aku Brajadenta, alias si Dewa Maut Akulah yang membunuh keempat muridmu, sebagai peringatan agar kau tahu kalau aku tidak main-main...!"
Kata Brajadenta, pongah. Ketua Perguruan Harimau Terbang itu berusaha mengatasi gejolak perasaannya begitu mengetahui kalau yang telah membunuh empat muridnya di Lembah Sungai Balirang, tak lain adalah orang yang tengah berdiri di hadapannya.
"Aku tak mengerti maksud tindakanmu...,"
Sahut Reksapati, kalem.
"Reksapati! Aku tidak perlu berbasa-basi lagi. Serahkan Batu Kumala Hitam padaku...!"
Bentak si Dewa Maut. Pendekar Harimau Terbang terkejut mendengar perkataan Brajadenta.
"Kau kira siapa dirimu, Brajadenta?! Berani benar kau meminta lambang Perguruan Harimau Terbang...?!"
Dengus Reksapati, gusar.
Ketua Perguruan Harimau Terbang ini makin marah saja, karena yang diminta adalah lambang perguruan.
Apalagi yang meminta adalah si pembunuh dari empat orang muridnya.
Namun sebagai tokoh berhati lurus, Reksapati tak mau bertindak gegabah.
Amarahnya berusaha ditekan semampunya.
Si Dewa Maut tersenyum dingin.
"Aku utusan Baginda Prabu. Bila kau bersedia menuruti permintaanku, mungkin aku bisa bersikap bijaksana dengan mengampuni nyawamu...,"
Sahut Brajadenta, dingin.
"Kau utusan Baginda Prabu?! Apa buktinya?"
Cecar Reksapati.
Dengan senyum sinis yang mengembang di bibir, Brajadenta mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
Reksapati terkejut melihat benda yang dipegang Brajadenta.
Benda itu berupa lempengan emas sebesar telapak tangan orang dewasa, dengan ukiran burung rajawali.
Itulah tanda pelimpahan wewenang dari Baginda Prabu kepada orang yang dianggap dapat dipercaya dan dapat menjalankan tugas.
"Brajadenta! Apa hubunganmu dengan Batu Kumala Hitam?"
Tanya Reksapati kemudian.
"Baginda Prabu menginginkannya...."
Reksapati menggelengkan kepalanya, tidak mempercayai ucapan Brajadenta.
"Harta benda di kerajaan berlimpah. Kenapa Baginda Prabu menginginkan lambang Perguruan Harimau Terbang yang tak berharga bagi orang lain?"
Tukas Reksapati.
"Baginda Prabu menghendaki Perguruan Harimau Terbang dibubarkan...!"
Desis si Dewa Maut.
"Heh?!"
Reksapati terkejut setengah mati mendengar ucapan Brajadenta.
"Ucapanmu semakin ngawur saja, Brajadenta...!"
Si Dewa Maut kembali memamerkan tawanya.
"Kau boleh tak mempercayai ucapanku, Reksapati. Tapi, sesungguhnya itulah yang diinginkan Baginda Prabu."
"Menilik perbuatanmu yang kejam terhadap murid-muridku di Lembah Sungai Balirang, aku memang tak menaruh sedikit pun kepercayaan padamu...!"
Sentak Reksapati, sengit. Brajadenta mengeluarkan dengusan keras.
"Aku tak punya banyak waktu. Cepat serahkan Batu Kumala Hitam. Dan segera kau bubarkan Perguruan Harimau Terbang...!"
Kata Brajadenta, tak kalah sengit. Tiba-tiba seorang pemuda berbadan tegap melompat ke hadapan Brajadenta.
"Mulutmu terlalu berani, Orang Asing! Kau pantas diberi pelajaran!"
Bentak pemuda itu, lantang.
"Singalodra! Kau tak perlu campur tangan!"
Teriak Reksapati. Pemuda yang dipanggil Singalodra segera berbalik. Dia menjura, memberi hormat kepada gurunya.
"Izinkan aku yang bodoh ini untuk memberi sedikit pelajaran kepada orang asing yang tidak tahu sopan santun itu, Guru...,"
Ucap Singalodra.
Pendekar Harimau Terbang diam sejenak.
Dia merasakan kebenaran dari ucapan muridnya.
Dan, kemampuan Singalodra pun tak diragukan karena memang salah satu muridnya yang paling utama.
Dengan anggukan pelan, Reksapati memberikan isyarat kepada muridnya.
Maka Singalodra pun segera berbalik kembali, berhadapan dengan si Dewa Maut Brajadenta tersenyum penuh ejekan.
"Kenapa bukan gurumu saja yang memberi pelajaran? Tanganku sudah gatal untuk segera bermain-main dengannya...."
"Tak perlu banyak bacot! Lihat serangan!"
Bentak Singalodra, seraya meluruk ke depan.
Brajadenta yang memandang enteng, sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri.
Ketika tubuh Singalodra yang melayang hampir menyentuh tubuhnya, ujung lengan bajunya cepat dikibaskan.
Wuuusss...! Breeesss...! Singalodra terkesiap merasakan tubuhnya berhenti di udara, lalu terbanting ke tanah.
Murid utama Perguruan Harimau Terbang itu segera bangkit, dan kembali menyerang.
Kedua tangan dibentangkannya lebar-lebar.
Lalu dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, dia hendak mencengkeram dada Brajadenta.
Si Dewa Maut cuma tersenyum.
Dan tiba-tiba telunjuk jarinya ditudingkan ke arah Singalodra.
Cuuusss...! "Aughhh...!"
Di luar dugaan, gerakan Singalodra terhenti.
Dengan serta-merta dia mendekap kepalanya.
Brukkk...! Tubuh Singalodra kontan menggelosor ke tanah, langsung kelojotan.
Dan, tak lama kemudian, tubuhnya sudah mengejang tanpa nyawa.
Tampak dahinya berlubang menyemburkan darah segar.
Menyaksikan kejadian itu, semua murid Perguruan Harimau Terbang menjadi terkejut bukan kepalang.
Tak terkecuali, Reksapati sendiri.
"Muridmu itu tak berguna sama sekali, Reksapati! Dia layak mati karena kebodohannya...!"
Ujar Brajadenta, congkak. Sebelum, Reksapati memberikan tanggapan, tiba-tiba para murid Perguruan Harimau Terbang menerjang bersamaan ke arah si Dewa Maut.
"Heaaa...!"
Dengan mendengus panjang, Brajadenta memutar tubuhnya laksana sebuah gangsingan. Wuuussss...! "Aaa...!"
Hempasan angin dahsyat menerjang, disusul jerit kematian yang saling sahut segera terdengar.
Tampak belasan tubuh murid Perguruan Harimau Terbang melayang di udara, lalu jatuh berdebum ke tanah.
Mereka mati dengan tubuh berlumuran darah tanpa sempat tahu apa yang telah terjadi.
Baru saja Brajadenta berpaling ke arah Reksapati....
"Heaaa...!"
Tiba-tiba sebuah bayangan biru bergerak cepat, menerjang ke arah si Dewa Maut ini, sambil mengebutkan senjatanya.
Trang...! Pedang di tangan bayangan biru itu membentur ujung lengan baju si Dewa Maut.
Brajadenta menyeringai marah merasa telah dibokong.
"Mustikaweni! Jangan...!"
Teriak Reksapati keras.
Namun, terlambat.
Istri ketua Perguruan Harimau Terbang itu telah menerjang kembali ke arah si Dewa Maut dengan kalap.
Wuuuttt..! Sambaran pedang Mustikaweni yang mengarah leher tak mengenai sasaran, karena mendadak si Dewa Maut menghempaskan tubuhnya ke atas.
Lalu dengan kecepatan kilat, Brajadenta menukik tajam sambil mendaratkan pukulan ke arah Mustikaweni! Begitu cepat gerakannya.
Dan...
Praaakkk! Wanita cantik itu tak sempat menghindar.
Kepalanya remuk tertimpa kepalan tangan Brajadenta.
Tubuhnya kontan limbung sambil memegangi kepala, lalu ambruk tak bergerak-gerak lagi.
"Ibbbuuu...!"
Tiba-tiba seorang bocah perempuan menghambur ke tubuh Mustikaweni yang telah tak bernyawa.
Menyaksikan kejadian itu, Reksapati segera berkelebat cepat.
Tubuh anaknya yang bernama Ingkanputri itu disambarnya.
Ingkanputri menangis meraung-raung di gendongan ayahnya.
Segera bocah itu diserahkan Reksapati pada salah seorang muridnya untuk dibawa ke tempat yang lebih aman.
"Sungguh keji perbuatanmu, Brajadenta...!"
Desis Reksapati dengan dada bergolak. Si Dewa Maut tertawa bergelak.
"Jika kau serahkan Batu Kumala Hitam, dan segera perguruanmu ini dibubarkan, semua ini tak akan terjadi...,"
Kilah Brajadenta.
"Untuk menebus kematian murid-murid dan istriku, aku akan menyabung nyawa denganmu...!"
Tegas Reksapati, tak kuasa lagi menahan amarahnya. Tawa Brajadenta semakin keras.
"Jadi, wanita berbaju biru itu istrimu? Sungguh patut disayangkan, Reksapati. Kini kau telah jadi duda. Ha ha ha...!"
Ejek si Dewa Maut Mendengar ejekan Brajadenta yang menyakitkan hat, Reksapati segera memasang kuda-kuda.
Kedua kaki dipen-tangkan, dan mencengkeram erat ke bumi.
Tangannya membentang berdampingan di depan dada.
Lalu dengan kekuatan penuh dibukanya sebuah serangan.
Tak tanggung-tanggung lagi, Reksapati langsung menggunakan jurus 'Harimau Menerjang Bulan' yang menjadi andalan ilmu silatnya.
"Hup...!"
Si Dewa Maut cepat berkelebat menghindar ketika sambaran tangan Reksapati mengarah ke dada.
Pada saat yang sama, dengan cepat Pendekar Harimau Terbang mengayunkan kakinya untuk menyambung serangannya yang gagal.
Brajadenta cepat menangkis dengan tangan kanannya.
Plakk...! Begitu terjadi benturan, tubuh Reksapati kemudian melayang ke udara.
Setelah bersalto beberapa kali, tiba-tiba telapak tangannya menghentak.
Wuuusss...! Seberkas sinar berwarna putih langsung melesat ke arah Brajadenta.
Namun si Dewa Maut itu telah cepat melenting ke atas.
Dan....
Blarr...! Serangan itu tak mengenai sasaran.
Tapi tanah tempat pukulan jarak jauh Reksapati mendarat amblong sedalam setengah badan manusia dewasa.
Begitu mendarat kembali, Brajadenta terkesiap menyaksikan kehebatan tenaga dalam Reksapati.
Maka tanpa membuang waktu lagi, tubuhnya segera berkelebat mengawali serangannya.
Suasana sore di Perguruan Harimau Terbang segera berhias teriakan kemarahan dari sebuah pertempuran hebat.
Para murid Reksapati hanya bisa menyaksikan dari jarak jauh.
Mereka tentu saja tak mau tertimpa pukulan jarak jauh yang nyasar.
Lewat sepuluh jurus kemudian, gelap hampir menerpa.
Tubuh Reksapati dan Brajadenta yang sedang bertempur hampir tak terlihat lagi karena begitu cepat mereka bergerak.
Yang terlihat hanya bayangan-bayangan tubuh mereka saja.
Memasuki jurus kedua belas, Brajadenta melepas kain merah yang bergayut di pundaknya yang langsung dikibaskan ke wajah Reksapati.
Wuttt..! Bau harum segera tercium.
Pendekar Harimau Terbang yang sudah kenyang makan asam garam rimba persilatan melompat, menjauhi ajang pertempuran.
"Kau sangat licik, Brajadenta.,.!"
Desis Reksapati beringas.
Pendekar Harimau Terbang menyadari adanya racun yang terkandung dari bau harum yang berasal dari kibasan kain merah di tangan Brajadenta.
Maka segera ditelannya sebuah pil berwarna merah sebagai obat penawar racun.
Tak lama kemudian, tubuh Reksapati kembali melayang.
Kedua tangan yang terpentang lebar, segera ditangkupkan sambil menyalurkan seluruh kekuatan tenaga dalam pada kedua tangannya.
Lalu tiba-tiba kedua tangannya menghentak ke depan.
Wusss...! Brajadenta tak mau kalah.
Kedua tangannya pun dihentakkan memapak serangan Reksapati.
Blarrr...! Terdengar ledakan keras menggelegar, disertai kepulan asap tebal-tebal akibat bertemunya dua pukulan bertenaga dalam tinggi.
Dari kepulan itu, tubuh Pendekar Harimau Terbang melayang ke belakang, langsung membentur tembok gerbang.
Broooll...! "Aaah...!"
Tak ayal lagi, tembok setebal dua jengkal itu jebol.
Dan, tubuh Pendekar Harimau Terbang itu terbanting ke tanah tanpa dapat bangun lagi.
Perlahan-lahan dari hidungnya mengalir darah segar.
Si Dewa Maut sendiri terjajar mundur beberapa tindak.
Dari sini jelas terbukti kalau tenaga dalamnya lebih unggul.
Dan dia hanya menatap dingin pada tubuh Reksapati yang tak bergerak lagi.
"Guru...!"
Menyaksikan gurunya telah mati, para murid Perguruan Harimau Terbang segera menghambur ke arah Reksapati.
Sebagian segera berhamburan, mengeroyok si Dewa Maut Namun Brajadenta melayani sambil tertawa-tawa.
Sekali kedua tangan dan kakinya bergerak satu persatu murid Perguruan Harimau Terbang itu segera berjatuhan ke tanah.
Namun, tak satu pun dari mereka yang menjadi ciut nyalinya.
Bahkan dengan melihat kematian teman-temannya, semangat mereka menjadi bertambah.
Tiap kali Brajadenta mengayunkan tangan, empat-lima pengeroyoknya segera meregang nyawa.
Dan, sebelum gelap benar-benar menyelimuti Perguruan Harimau Terbang, seluruh murid telah melayang tak tersisa.
Sementara itu seorang bocah perempuan berumur dua belas tahun berjalan mendekati si Dewa Maut.
Matanya menatap tajam tanpa sedikit pun merasa takut.
Bocah perempuan anak Reksapati yang bernama Ingkanputri ini mengepalkan kedua telapak tangannya.
Giginya bertaut kuat, menyimpan hawa dendam hebat.
Sedangkan Brajadenta memandang, penuh nafsu membunuh.
Namun, sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi, tiba-tiba berkelebat satu bayangan menyambar tubuh Ingkanputri, dan menghilang dengan cepat Si Dewa Maut hanya memandang dengan sinar mata penuh kemarahan.
Dengan langkah perlahan, dia mendekati tubuh Reksapati yang telah terbujur kaku.
Dan tangannya pun segera merogoh ke balik baju Reksapati.
Setelah berhasil mendapatkan benda yang dicarinya, Brajadenta tertawa terbahak-bahak.
Di tangan kanannya kini tergenggam Batu Kumala Hitam.
Tertimpa gelap, batu itu memancarkan sinar merah.
Hingga, membuat baju Brajadenta yang berwarna ungu menjadi bersemu merah.
Dengan perasaan puas, si Dewa Maut segera berkelebat, berlalu dari tempat itu.
Suara tawanya yang panjang masih terdengar hingga beberapa lama.
Puluhan pengemis dan gelandangan di Kadipaten Bumiraksa berhamburan keluar dari sebuah kuil bobrok yang dikenal dengan nama Kuil Saloka.
Lelaki-perempuan, tua-muda, besar-kecil, berjalan dari rumah ke rumah, dari kedai ke kedai, dari tempat satu ke tempat lainnya.
Mereka berusaha mengais, mencari sesuatu yang dapat digunakan sebagai penyambung hidup.
Tubuh mereka kotor terbungkus pakaian compang-camping.
Tulang-tulang tubuh mereka menonjol, menandakan suatu penderitaan yang akrab dengan keseharian mereka.
Tak hanya umpatan dan cacian yang diterima.
Bahkan seringkali mendapat siksaan dari orang-orang yang merasa terganggu karena kehadiran mereka.
Tempat-tempat sampah dikais.
Tapi, tak jarang mereka menyorotkan sinar mata kekecewaan karena tak menemukan apa yang sedang dicari.
Namun, kadangkala ada orang yang begitu baik hati dengan memberi makanan sekadarnya atau pun sekeping uang logam.
Para pengemis dan gelandangan Kadipaten Bumiraksa itu memang telah begitu akrab dengan penderitaan.
Dan, karena keakraban itulah yang membuat mereka sadar akan pentingnya bertawakal.
Hidup mereka penuh kesulitan.
Karena mereka berani hidup, mereka pun harus berani menghadapi kesulitan.
Sebelum manusia dilahirkan, tak pernah merasakan sakitnya dicubit orang, sakitnya menerima ejekan dan hinaan, sakitnya badan ketika harus berusaha keras untuk dapat terus hidup, sakitnya batin ketika harus menerima cobaan yang datang bertubi-tubi.
Tapi, setelah terlahir dan menghirup udara dunia, mereka pun segera merasakan apa yang belum pernah dirasakan.
Rasa sakit berbagai wujud penderitaan segera menimpa.
Penderitaan datang tak kunjung berhenti selama hayat masih dikandung badan.
*** Seorang pengemis memasuki sebuah kedai di Kota Kadipaten Bumiraksa.
Usianya masih muda, berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya kurus kering dengan tulang-tulang menonjol terbungkus hias kulit kotor tak terurus.
Matanya cekung.
Tulang rahangnya tampak kokoh seperti menandakan kekerasan hatinya untuk mengarungi samudera kehidupan.
Baru melangkah beberapa tindak dari ambang pintu kedai, seorang pelayan mengusirnya.
"Aku bukan hendak mengemis, Pak. Aku hendak makan. Dan, aku pun akan membayar,"
Sergah pengemis muda itu.
"Kedai ini tidak melayani pembeli semacammu!"
Kata pelayan kedai, menghina. Pengemis muda yang terhina ini menarik napas panjang.
"Aku membayar dengan uang, Pak. Dan, apakah pemilik kedai ini tak butuh uang...?"
"Sudah kubilang, kedai ini tidak melayani pembeli semacammu! Segera enyah dari tempat ini!"
Bentak pelayan kedai itu sambil mengayunkan tangannya ke wajah pengemis muda yang berdiri tak jauh darinya. Tapi, pelayan itu menjadi terkejut ketika merasakan ayunan tangannya berhenti di udara.
"Biarkan dia masuk!"
Tiba-tiba terdengar suara bernada memerintah.
Dengan serta-merta semua orang yang berada di dalam kedai menolehkan kepala.
Tampak di jajaran meja pojok ruangan, terlihat dua orang wanita tengah duduk santai.
Agaknya, suara tadi berasal dari salah satu dari dua wanita ini.
Mereka sama-sama cantik dan berbaju hitam.
Yang satu berumur kira-kira dua puluh tiga tahun.
Dan, seorang lagi masih sangat belia, berumur tujuh belas tahun.
"Biarkan dia masuk, Pak!"
Ujar wanita yang berumur dua puluh tiga tahun.
Melihat penampilan kedua wanita ini, pelayan kedai ini segera berbalik.
Dan dia segera berlalu dari tempat itu untuk melakukan tugasnya kembali.
Pengemis muda yang merasa mendapat angin itu segera melangkah masuk.
"Terima kasih, Nona,"
Ucap pemuda pengemis ini sambil mengerlingkan mata, mencari tempat duduk kosong.
"Kau duduk di sini saja,"
Ujar wanita yang berumur dua puluh tiga tahun itu sambil menunjuk kursi di hadapannya. Mendengar kalimat itu, semua orang yang berada di dalam kedai kembali menolehkan kepala. Dan tiba-tiba seorang laki-laki berewokan tiba-tiba tertawa keras.
"Dunia sudah gila! Tidak adakah lelaki yang lebih berharga daripada seorang pengemis...?!"
Kata lelaki brewokan itu, mengejek. Yang diejek cuma melirik mata tanpa perubahan air muka.
"Pengemis hina, jangan mengotori tempat ini...!"
Braakk...! Mendadak lelaki berewokan itu menggebrak meja.
Seketika cangkir yang berada di hadapannya meluncur deras ke arah pengemis yang baru datang itu.
Sejengkal sebelum cangkir menyentuh tubuh pengemis itu, tiba-tiba gadis berbaju hitam yang lebih tua mengibaskan tangan kanannya.
Seketika, cangkir itu berhenti di udara, kemudian jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping! Lelaki berewokan itu terkejut.
Matanya memandang tajam pada kedua wanita yang duduk tak jauh darinya.
"Kenapa kau melindungi pengemis jelek itu, Anak Manis?! Hm.... Aku Wilkampana. He... he... he.... Tidakkah kau lihat diriku lebih pantas untuk duduk bersamamu?!"
Kata lelaki brewok bernama Wilkampana dengan nada sombong.
Siapakah dua wanita cantik yang baru saja memperlihatkan ilmu kepandaiannya itu? Melihat raut wajah, jelas mereka adalah Anjarweni dan Ingkanputri.
Waktu yang berjalan lima tahun, membawa langkah kaki mereka ke kedai di Kota Kadipaten Bumiraksa.
Apa sesungguhnya yang telah terjadi ketika Anjarweni mendapat perlakuan biadab dari Brajadenta, si Dewa Maut di Lembah Sungai Balirang? Setelah berhasil membunuh empat orang murid Perguruan Harimau Terbang, kemudian merenggut kesucian Anjarweni, Brajadenta meninggalkan gadis itu dalam keadaan sangat mengenaskan.
Ketika pagi telah tiba, Arumsari yang lebih dikenal sebagai Dewi Tangan Api menemukan Anjarweni sedang menangis, meratapi nasibnya.
Setelah memberi nasihat dan petuah, nenek sakti yang tengah mencari seorang murid itu akhirnya bersedia mendidik Anjarweni dengan ilmu silat tingkat tinggi.
Dan, gadis itu pun menyambutnya dengan gembira.
Dia berharap, akan dapat membalas kebiadaban Brajadenta, si Dewa Maut.
Sore hari menjelang malam, ketika Dewi Tangan Api mengantarkan Anjarweni untuk berpamitan kepada Reksapati.
gurunya, dia melihat Ingkanputri yang masih berumur dua belas tahun tengah berhadapan dengan Brajadenta yang kejam.
Melihat keadaan yang tak menguntungkan, nenek sakti itu segera memberikan pertolongan.
Dan sejak saat itu, Anjarweni dan Ingkanputri menjadi murid Dewi Tangan Api.
Kedua gadis itu sama-sama mempunyai dendam kesumat terhadap Brajadenta.
Maka selama lima tahun, mereka belajar ilmu silat tanpa mengenal lelah! *** "Hei, Brewok! Cobalah berkaca! Bulu yang tumbuh di wajahmu itu tak lebih bagus dari bulu kera kudisan!"
Ejek Ingkanputri kepada Wilkampana yang telah berlaku sombong. Wilkampana pun menggeram gusar. Ucapan gadis berumur tujuh betas tahun itu benar-benar menyinggung perasaannya.
"Kucing Busuk! Beraninya kau menghinaku...!"
"Kera Kudisan! Kau memang pantas untuk dihina...!"
Balas Ingkanputri lebih keras.
Wilkampana yang merasa dirinya seorang jagoan menggerendeng penuh kemarahan.
Seumur hidupnya, belum pernah dia dihina orang seperti itu.
Apalagi dari seorang gadis yang kecil yang tampak lemah.
Dengan gerakan perlahan, Wilkampana menjentikkan sebutir kacang dalam genggamannya.
Kacang itu pun meluncur cepat ke arah Ingkanputri.
Tapi sebelum mencapai sasaran, Ingkanputri mengebutkan tangannya.
Seketika kacang itu berhenti di udara, lalu jatuh ke lantai Wilkampana kembali menggeram gusar.
Tiba-tiba telapak tangannya diputar-putar, menimbulkan gulungan angin menderu-deru yang melontarkan benda-benda di dekatnya.
Akibatnya, semua pengunjung kedai berusaha menghindar dari sambaran cangkir dan mangkuk yang beterbangan.
Ketika Wilkampana menggerakkan telapak tangannya ke depan, gulungan angin itu meluncur ke arah Ingkanputri! Wuss...! Tapi, gadis itu hanya tersenyum kecil.
Dengan perlahan telapak tangannya dikibaskan.
Saat itu juga, gulungan angin yang dibuat Wilkampana tiba-tiba berbalik arah, dan meluncur ke arah tuannya! Lelaki brewokan itu terkejut setengah mati.
Dan, dia segera beranjak dari tempat duduknya.
Tapi, terlambat.
Dan....
Braaakkk...! Tubuh Wilkampana kontan terdorong menghantam meja.
Begitu bangkit matanya menatap Ingkanputri dengan sinar menyala-nyala.
Tiba-tiba lelaki tua pemilik kedai berlari mendekati Wilkampana yang sudah berdiri penuh kemarahan.
"Sudahlah, Tuan.... Jangan berke-lahi di sini...,"
Ujar lelaki tua itu, memohon.
"Heh! Tak perlu kau mencampuri urusanku, Pak Tua...!"
Dengus Wilkampana. Dengan serta-merta lelaki brewokan itu mendorong tubuh pemilik kedai. Dan orang yang telah lanjut usia itu pun jatuh tersungkur menabrak meja dan kursi.
"Siapakah kau sebenarnya, Gadis Kecil?"
Tanya Wilkampana kemudian. Ingkanputri kembali tersenyum, lalu mengerling kepada Anjarweni yang tampak tenang-tenang saja.
"Apa perlunya kau menanyakan itu, Kera Kudisan!"
Kata Ingkanputri mengejek.
"Apakah kau punya anak laki-laki yang tak laku kawin? Oh! Aku tak sudi diambil menantu...!"
Wajah Wilkampana pun merah padam.
"Rupanya kau belum pernah diajar sopan-santun ayahmu, Gadis Kecil! Karena itu, atas nama ayahmu, aku akan memberi pelajaran kepadamu...!"
Selesai mengucapkan kalimatnya, lelaki brewokan itu segera memasang kuda-kuda Sementara melihat keadaan yang tak menguntungkan, pengemis muda yang dari tadi hanya diam di hadapan Anjarweni segera beringsut menjauh.
"Lihat serangan...!"
Teriak Wilkampana sambil menerjang Ingkanputri tanpa sungkan.
Namun gadis itu hanya memiringkan tubuhnya, ketika kepalan tangan Wilkampana hampir mendarat di wajah.
Dan sebelum lelaki brewokan itu melanjutkan serangan, tiba-tiba Ingkanputri mengibaskan telapak tangannya.
Blass...! "Aaah...!"
Akibatnya sungguh di luar dugaan.
Bulu lebat yang tumbuh di wajah Wilkampana menjadi terbakar mengepulkan asap! Dan lelaki brewokan itu kontan menjerit ngeri.
Saat itu juga tubuhnya yang terlontar bangkit berdiri, lalu berkelebat terpontang-panting pergi dari kedai ini.
Plok! Plok! Plok...! Mendadak terdengar suara tepuk tangan seseorang.
Begitu semua orang menoleh ke arah suara tepukan, tampak seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun melangkah memasuki kedai.
"Sungguh menakjubkan pertunjukan yang baru saja kulihat. Bapak dihajar oleh anak.... Sungguh lucu. He-he-he...,"
Puji pemuda ini.
Pemuda yang baru saja muncul memang hanya seorang remaja berpakaian putih penuh tambalan.
Tapi, kulitnya bersih.
Wajahnya sangat tampan.
Rambutnya hitam dibiarkan tergerai di punggung.
Matanya bening menyorot tajam dengan alis menjulang laksana sayap burung rajawali.
Hidungnya mancung.
Dengan bibir berwarna kemerahan, membuat keadaannya sedap untuk dipandang.
Tubuhnya tegap berisi dengan dada bidang.
Walaupun pakaian pemuda remaja ini penuh tambalan, tapi tak mampu menyembunyikan ketampanannya.
Sehingga untuk sesaat, sifat kewanitaan Ingkanputri yang sedang mekar-mekarnya menjadi tergoda.
Demikian juga halnya Anjarweni.
"Hei?! Kenapa kalian diam saja dan berlama-lama menatapku? Apakah ada yang aneh dari penampilanku? Atau...."
Sebelum menuntaskan kata-katanya, pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya ke belakang.
"Kukira aku nggak punya ekor.... Kok, kalian memandangku seperti itu...,"
Lanjut pemuda ini.
Ucapan konyol itu memaksa Ingkanputri dan Anjarweni harus menahan wajahnya yang bersemu merah dadu.
Tapi, mereka segera berpura-pura tak menggubris tingkah laku remaja konyol itu Sementara itu, pengemis muda yang tidak jadi makan karena ulah Wilkampana memperhatikan dengan seksama remaja yang baru muncul.
Merasa diperhatikan, pemuda yang baru datang membalas membalas tatapan.
"Eh! Bukankah kau Wirogundi...?!"
Kata remaja tampan itu sambil berjalan mendekati. Setelah jaraknya dekat, pengemis muda yang dipanggil Wirogundi itu membelalakkan mata.
"Kau... kau Suropati?"
Kata Wirogundi, hampir tak percaya. Yang ditanya tertawa, kemudian langsung memeluk tubuh Wirogundi.
"Aku memang Suropati, Wirogundi...."
Kata remaja tampan berpakaian putih penuh tambalan.
Mendengar ucapan Suropati, Wirogundi melepas pelukannya.
Kemudian matanya kembali menatap wajah Suropati dengan lekat "Kukira kau sudah mati, Suropati.
Lima tahun yang lalu, kau kutemukan dalam keadaan sekarat.
Tubuhmu telanjang berkepala gundul seperti habis dibakar.
Tapi, sekarang...."
Wirogundi tak melanjutkan bicaranya, kemudian balas memeluk tubuh Suropati.
Dan tak lama kemudian, terdengar suara tawa terbahak-bahak dari mulut mereka berdua.
Tawa Suropati dan Wirogundi belum terhenti, ketika di luar terjadi sedikit keributan.
Ketika mereka melihat ke luar, tampak para pengemis dan gelandangan yang kebetulan berada di dekat kedai berlari ketakutan.
Ternyata, belasan prajurit Kadipaten Bumiraksa sedang berjalan dengan wajah tegang seperti tengah siap bertempur.
Sebentar saja, salah seorang yang berpangkat kepala prajurit memasuki kedai.
Di belakangnya, tampak Wilkampana yang telah membebat sebagian wajahnya akibat serangan Ingkanputri.
"Itulah kucing kecil yang telah berani mempermainkan aku, Anggaraksa...!"
Kata Wilkampana, menunjuk Ingkanputri yang tengah duduk tenang di tempatnya. Kepala prajurit yang dipanggil Anggaraksa memandang sekilas. Kemudian matanya menatap wajah Wilkampana dalam-dalam. Lelaki tegap berpangkat punggawa itu menaikkan alisnya.
"Benar kau yang telah melukai tamu kehormatan Gusti Adipati?"
Tanya Anggaraksa, penuh kesungguhan.
"O, jadi kera kudisan yang sok jago itu tamu kehormatan Gusti Adipati.... Tapi, sikapnya sama sekali tak pantas untuk diberi hormat..!"
Sahut Ingkanputri. Anggaraksa terkejut, mendengar ucapan Ingkanputri yang begitu berani. Sedang dada Wilkampana pun menjadi bergolak kembali.
"Setiap tamu di Kadipaten Bumiraksa akan selalu mendapat perlindungan, Gadis Kecil. Dan karena telah berbuat semena-mena, maka kau akan kubawa menghadap Gusti Adipati untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu...!"
Kata Anggaraksa, mantap.
"Enak saja kau berkata, Prajurit!"
Dengus Ingkanputri menjadi beringas.
"Tidakkah kau tahu bahwa yang memancing perkara adalah temanmu itu...?!"
"Aku tidak mau tahu! Yang pasti, kau telah melukai tamu Kadipaten Bumiraksa. Dan berarti, kau telah melecehkan aturan Gusti Adipati....!"
Selesai berkata, Anggaraksa berjalan mendekati Ingkanputri, diikuti empat orang prajurit tamtama. Sedangkan gadis itu segera mempersiapkan diri.
"Jangan memaksaku, Prajurit!"
Tegas Ingkanputri.
"Terpaksa aku menggunakan kekerasan, Gadis Kecil..!"
"Kalau mau menangkap gadis kecil itu segera lakukan, Prajurit! Jangan banyak cingcong. Lalu cepat tinggalkan tempat ini...!"
Teriak Suropati sambil menunjuk kursi kosong.
Dia telah menangkap isyarat kalau sikap Anggaraksa sungguh-sungguh.
Semua orang yang mendengar ucapan Suropati menjadi terkejut.
Karena, mereka menganggap ucapan remaja tampan ini terlalu berani.
Namun, keterkejutan mereka menjadi bertambah, tatkala melihat Anggaraksa membopong sebuah kursi dan membawanya ke luar kedai diikuti Wilkampana dan prajurit-prajurit lainnya.
Apa-apaan ini? "Sebaiknya kau dan temanmu itu segera pergi dari tempat ini...,"
Ujar Suropati, kepada Ingkanputri dan Anjarweni.
Kedua gadis itu menatap tajam ke arah Suropati.
Mereka tidak menyangka sama sekali bila remaja konyol itu ternyata mahir ilmu sihir.
Buktinya, Anggaraksa beserta rombongannya seketika terpengaruh oleh perkataan yang diucapkan Suropati.
Braaakkk...! Tiba-tiba dinding depan kedai itu jebol tertimpa kursi yang dilontarkan Anggaraksa.
"Siapa yang telah mempermainkan diriku, hah...?!"
Bentak kepala prajurit ini begitu tersadar. Anggaraksa pun meloncat masuk ke kedai kembali. Suropati tertawa.
"He, Prajurit Gemblung! Sudah kubilang kalau mau menangkap gadis kecil itu, segera saja lakukan! Setelah dapat, eh, malah dibanting.... Tidakkah kau merasa kasihan. Lihat! Kini, gadis kecil yang manis itu sedang menangis kesakitan! Ayo, segera bimbing dia. Rawat lukanya baik-baik! Kalau dia belum sembuh benar, jangan kemari lagi...!"
Kata Suropati disertai tatapan mata aneh.
Untuk kedua kalinya, Anggaraksa menjadi linglung.
Dengan serta-merta dipungutnya kursi yang telah dilemparkan.
Kepala prajurit itu segera berlalu dari tempat itu, bersama anak buahnya.
Wilkampana pun tak menampakkan batang hidungnya lagi.
Suropati menatap Ingkanputri dan Anjarweni.
"Hmmm.... Kalian sungguh cantik,..,"
Puji Suropati Pipi Ingkanputri dan Anjarweni menjadi merah.
"Sayang, kalian tidak bisa tinggal berlama-lama di tempat ini.... Segeralah berkemas-kemas, dan tinggalkan Kota Kadipaten Bumiraksa sebelum orang-orang itu kembali ke sini dengan membawa lebih banyak lagi prajurit..."
"Kami tidak takut!"
Bentak Anjarweni tiba-tiba.
"Jangan berlaku bodoh, Saudari. Urusan sepele itu bisa menjadi lebih gawat. Apakah kalian berdua ingin selalu dikejar-kejar prajurit Kadipaten Bumiraksa selama hidup...?!"
Tukas Suropati. Merasakan kebenaran ucapan dari Suropati, Anjarweni segera menarik lengan Ingkanputri. Dan mereka segera berkelebat menghilang dari tempat itu.
"Bocah Gendheng! Kenapa kau menyuruh mereka pergi?! Mereka sama sekali belum bayar...!"
Tiba-tiba pemilik kedai mencak-mencak di hadapan Suropati. Suropati pun jadi diam terlongong-longong macam monyet kehilangan ekornya.
"Aduh, kenapa aku lupa...?"
Suropati menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Biarlah aku yang bayar...,"
Kata Wirogundi yang berada di sebelah Suropati dengan suara berat Segera pemilik kedai itu menyebutkan jumlah uang yang harus dibayarkan. Dia kembali mencak-mencak ketika menerima sejumlah uang dari Wirogundi.
"Ini belum cukup...! Ini belum cukup...! Tidakkah kau lihat dinding kedaiku yang telah jebol akibat ulah prajurit itu...?!"
Bentak lelaki tua ini. Suropati mendengus.
"Kalau mau minta ganti rugi, datang saja ke kadipaten! Kami tidak punya uang...!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Suropati segera menggandeng lengan Wirogundi untuk diajak pergi.
Melihat kepergian mereka berdua, pemilik kedai hanya bisa menggerutu panjang-pendek.
*** Di sepanjang perjalanan, Suropati dan Wirogundi tiada henti bercakap-cakap.
Wirogundi yang baru saja melihat kehebatan Suropati segera mengajak teman-temannya untuk menyambut kedatangan remaja tampan yang telah menghilang selama lima tahun itu.
Dan Suropati pun diarak menuju ke sebuah kuil Saloka di pinggir kota kadipaten.
Tak bosan-bosannya Wirogundi bercerita kepada teman-temannya tentang kehebatan Suropati yang telah berhasil mengusir kepala prajurit kadipaten bersama bawahannya hanya dengan perkataannya.
Para pengemis dan gelandangan yang rata-rata tidak mengerti ilmu kanuragan itu pun menjadi terkagum-kagum.
Sehingga mereka menaruh rasa hormat kepada remaja tampan tapi konyol itu.
Maka, tak heran apabila Suropati kemudian dijamu seperti layaknya seorang raja.
Remaja konyol itu pun menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
Hingga dua hari penuh dia tak melakukan pekerjaan apa pun kecuali makan dan tidur.
*** Pagi ini terlihat cerah.
Sinar mentari mengusap lembut.
Dedaunan meliuk, bergerak gemulai.
Burung-burung pun tersenyum, berkicau riang hinggap di atas dahan.
Empat laki-laki bertampang bengis tampak berjalan dengan langkah tegap menuju kuil Saloka tempat para pengemis dan gelandangan Kota Kadipaten Bumiraksa bertempat tinggal.
Warna pakaian mereka sama merah dengan ikat kepala hitam.
Mereka semua bercambang bauk lebat, dan tampak sangat beringas.
Badan mereka yang tinggi besar dihiasi urat-urat menonjol, menandakan keperkasaan.
"Heh, orang-orang jelek yang tak tahu diatur! Kenapa masih saja suka bermalas-malasan?! Empat Begundal Sakti telah datang untuk menagih upeti...!"
Kata salah seorang dari mereka sambil memukul daun pintu kuil yang terbuat dari kayu lapuk.
Braaakkk...! Pintu itu kontan terbuka dengan paksa.
Seketika para pengemis dan gelandangan yang masih tertidur melonjak.
Begitu mengenali siapa yang hadir, mereka menjadi ketakutan.
Mereka tahu, empat lelaki bernama Gitapati, Sarmapati, Bureksa, dan Tambuksa yang tergabung dalam Empat Begundal Sakti adalah orang-orang kejam yang mau enaknya sendiri.
Mereka memeras para pengemis dan gelandangan dengan menarik upeti.
"Heh?! Masih juga belum keluar...?! Apakah kalian perlu kutendang satu persatu...?!"
Bentak Gitapati yang menjadi pemimpin dari Empat Begundal Sakti.
Tiba-tiba para pengemis dan gelandangan berserabutan ke luar menuju halaman kuil.
Mereka segera duduk bersimpuh di tanah dengan kepala tertunduk.
Jumlah mereka yang hampir seratus orang, sama sekali tak mempunyai keberanian untuk menatap wajah Empat Begundal Sakti.
Sinar mata mereka kuyu, seperti ayam sedang menunggu giliran untuk disembelih.
Melihat para pengemis dan gelandangan sudah berkumpul semua, Gitapati menggedrukkan kakinya Brukk...! Bumi pun bergetar, membuat nyali orang-orang yang berada di hadapannya makin ciut.
"Dua hari kalian tidak membayar upeti. Kenapa...?!"
Bentak Gitapati. Pertanyaan Pemimpin Empat Begundal Sakti itu tak mendapat jawaban. Dengan penuh kemarahan, Gitapati segera menggedrukkan kakinya kembali.
"Ayo, jawab pertanyaanku...!"
Tiba-tiba Wirogundi yang duduk di tengah-tengah para pengemis dan gelandangan bangkit, segera mendekati Gitapati.
"Kami merasa keberatan atas upeti yang harus kami bayar,"
Jelas Wirogundi sambil menyembunyikan rasa takut Gitapati mendelik. Matanya bersinar nyalang.
"Rupanya kau sudah bosan hidup, Gembel Busuk!"
Pemimpin Empat Begundal Sakti itu seketika mengayunkan telapak tangannya. Dan....
"Plaaakkk...!"
Wirogundi terpelanting jatuh ke tanah sejauh beberapa tombak. Pipi kanannya merah, bergambar lima jari.
"Apakah perkataanku salah, Perampok Hina!"
Kata Wirogundi keras-keras, seraya menatap Gitapati penuh kebencian.
"Kami mencari makan bukan di tanah nenek moyangmu! Kenapa kami harus tiap hari bayar upeti...!"
Melihat keberanian Wirogundi, bola mata Gitapati melotot hampir keluar dari rongganya. Siiing...! Tiba-tiba Gitapati mencabut golok yang terselip di pinggangnya.
"Kau memang layak untuk disembelih, Gembel Busuk!"
Desis Gitapati seraya melangkah mendekati Wirogundi. Sebelum terjadi sesuatu atas pengemis muda itu, tahu-tahu seorang remaja yang juga berpakaian penuh tambalan berjalan mendekati Gitapati.
"Tak balk marah-marah begitu, Orang Tua...,"
Kata remaja itu, tenang. Gitapati pun berpaling.
"Apakah kau juga ingin mati, Bocah Gendeng?!"
Bentak Gitapati. Remaja yang tak lain Suropati itu hanya tersenyum mendengar bentakan Gitapati.
"Sudah kubilang, tak baik marah-marah begitu, Orang Tua...,"
Ujar Suropati.
"Coba berkaca. Kalau sedang marah, wajahmu yang jelek itu semakin bertambah jelek....!"
"Bocah Gemblung tak tahu diuntung! Kucincang tubuhmu seperti dendeng ragi...!"
Desis Gitapati. Sembari berkata demikian, Gitapati membabatkan goloknya ke leher Suropati. Pada saat yang sama, tiba-tiba Suropati menguap panjang.
"Oaaahhh...!"
Bruuukkk...! Tubuh Suropati jatuh ke tanah dengan mata terpejam.
Tapi, Gitapati menjadi terkejut, melihat sambaran goloknya tak mengenai sasaran.
Pimpinan Empat Begundal Sakti itu menggerendeng gusar, melihat remaja yang tampak bodoh ini tiba-tiba telah tertidur pulas di hadapannya.
Matanya terpejam erat, seperti terserang kantuk hebat.
Tak mau membuang waktu, Gitapati segera menusukkan ujung goloknya ke dada Suropati.
Semua yang melihat peristiwa ini segera menahan napas dan bergidik ngeri.
Sementara, Suropati tak bergerak sedikit pun.
Maka, tak ayal lagi ujung golok Gitapati segera meluncur deras tanpa terbendung lagi! "Aaiihh...!"
Jeritan ngeri dari anak-anak dan perempuan segera terdengar.
"Oaaahhh...!"
Tiba-tiba Suropati menguap lagi.
Tubuhnya dimiringkan tanpa membuka mata.
Maka, ujung golok yang hampir menyentuh dadanya menancap di tanah.
Gitapati menjadi terkejut setengah mati menyaksikan ulah Suropati yang tampak aneh.
Maka dengan seketika dibabatnya perut remaja yang sedang tidur itu.
"Oaaahhh...!"
Untuk ketiga kalinya Suropati menguap.
Tubuhnya digeser ke samping tanpa sedikit pun membuka matanya yang terpejam.
Namun bersamaan dengan itu, dia membuat gerakan seperti orang sedang menggeliat.
Dan....
Buuukkk...! Tiba-tiba Gitapati menyeringai kesakitan karena perutnya terkena tendangan.
"Kunyuk Jelek! Rupanya kau sedang mempermainkan aku...!"
Dengus Gitapati, penuh luapan kemarahan.
Wuuuttt...! Wuuuttt...! Pemimpin Empat Begundal Sakti itu menebas-nebaskan goloknya ke tubuh Suropati.
Namun, serangan itu selalu luput.
Melihat pemimpinnya tampak kesulitan untuk segera menyudahi riwayat remaja konyol itu, tiga anggota Empat Begundal Sakti segera menerjang.
Wuuuttt...! Wuuuttt...! Sambaran golok mereka yang bertubi-tubi menghunjam ke tubuh Suropati.
Namun, remaja konyol itu sama sekali tak membuka matanya.
Hanya tubuhnya yang bergerak-gerak perlahan.
"Jangan ganggu tidurku! Segera enyah kalian dari tempat ini....'"
Ujar Suropati sambil mengibaskan telapak tangannya.
Wuuussss....! Seketika bertiup putaran angin dari telapak tangan Suropati.
Dan Empat Begundal Sakti yang tak menyadari keadaan menjadi terpental mundur beberapa tindak.
Gerakan Suropati yang tampak main-main benar-benar membuat Empat Begundal Sakti terperangah.
Mereka sama sekali tak tahu, ilmu apa yang dimiliki remaja konyol itu.
Namun, karena terbawa amarah yang meluap, mereka segera memulai serangan kembali.
Suropati yang terbaring di tanah, sama sekali tak membuka matanya.
Gerakan tubuhnya yang seperti orang menggeliat walau tampak asal-asalan, ternyata mampu menepis semua serangan Empat Begundal Sakti.
Sebenarnya remaja konyol yang baru berumur tujuh belas tahun itu sedang menerapkan ilmu 'Arhat Tidur' yang diajarkan gurunya yang bergelar si Periang Bertangan Lembut.
Walau ilmu itu belum dikuasai sepenuhnya, tapi sudah cukup tangguh untuk menghadapi Empat Begundal Sakti.
Bahkan ketika Suropati bergerak seperti menggeliat...
Buuukkk...! Buuukkk...! Buuukkk...! Buuukkk...! Tiba-tiba Empat Begundal Sakti merasa sesak, ketika dada mereka menjadi sasaran tendangan dan pukulan Suropati.
Gitapati menyeringai dingin.
Sarmapati, Buraksa, dan Tambuksa pun menggeram gusar.
Namun sebelum mereka berbuat sesuatu, mendadak Suropati bangkit dari tidur sambil memicingkan mata.
"Kalian masih juga belum mau pergi?! Ku putus kepala kalian, baru tahu rasa...!"
Kata Suropati, dingin.
Tiba-tiba Suropati berkelebat cepat.
Dan seketika napas Empat Begundal Sakti terasa berhenti.
Mata mereka pun mendelik! Mereka tak menyadari, apa sesungguhnya yang telah terjadi.
Ketika meraba leher, mereka baru tahu kalau di leher masing-masing telah terjerat ikat kepala mereka sendiri.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka pun segera berlari ketakutan.
"Eh! Kalian belum mendapat hadiah dariku...!"
Teriak Suropati sambil mengibaskan tangannya.
Breeettt..! Breeettt..! Breeettt..! Breeettt...! Mendadak celana yang dikenakan Empat Begundal Sakti putus talinya! Empat lelaki bercambang bauk lebat itu sudah tak mempedulikan lagi celananya yang melorot.
Mereka lari pontang-panting seperti melihat hantu di siang bolong.
Para pengemis dan gelandangan yang tadinya diliputi rasa ketakutan, kini tertawa terbahak-bahak menyaksikan Empat Begundal Sakti yang melarikan diri dengan tubuh hampir telanjang.
Suropati pun tersenyum puas, kemudian mengibas-ngibaskan bajunya untuk menghilangkan debu yang menempel.
Tiba-tiba para pengemis dan gelandangan yang berada di tempat itu melampiaskan kegembiraan dengan membopong tubuh Suropati beramai-ramai.
Remaja konyol itu pun tertawa lepas, merasa keenakan.
"Suropati pemimpin kami...! Suropati pemimpin kami...!"
Teriak Wirogundi seperti orang kesurupan. Tiba-tiba Suropati meloncat, dan segera berjalan mendekati Wirogundi. Kemudian, ditatapnya pemuda pengemis itu dengan sinar mata tajam.
"Eh! Ap..., apa aku salah Suro...?"
Kata Wirogundi, gelagapan karena rasa takut yang tiba-tiba menderanya.
"Kalau aku jadi pemimpin, siapa pendampingku...?!"
Tanya Suropati, setengah membentak. Mendengar itu, Wirogundi dan teman-temannya jadi bengong.
"Apa maksudmu, Suro?"
Tanya Wirogundi kemudian.
Pendekar Rajawali Sakti Bidadari Sungai Ular Pao Kong Karya Yang Lu Pao Kong Karya Yang Lu