Ceritasilat Novel Online

Siluman Penghisap Darah 1


Pendekar Rajawali Sakti Siluman Penghisap Darah Bagian 1


SILUMAN PENCHISAP DARAH Oleh Teguh Suprianto Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta Penyunting .

   Puji S.

   Gambar sampul oleh Henky Hak cipta pada Penerbit Dilarang mengcopy atau memperbanyak seba-gian atau seluruh isi buku ini tanpa Izin tertulis dari penerbit Teguh Suprianto Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode.

   Siluman Penghisap Darah 128 hal ; 12 x 18 cm
http.//duniaabukeisel.blogspot.com Siang itu udara terasa sangat panas.

   Seo-rang wanita muda berbaju kumal penuh tambalan berjalan perlahan-lahan di bawah teriknya sinar matahari yang berada tepat di atas kepala.

   Jalan yang dilaluinya penuh dengan batu kerikil, sea-kan-akan ingin memanggang kakinya yang telan-jang.

   Tapi, tidak dipedulikannya batu-batu yang mulai membara terbakar sinar matahari yang begi-tu terik itu.

   Kakinya terus melangkah perlahan-lahan.

   Tatapan mata wanita muda itu terlihat be-gitu tajam memandang lurus ke depan.

   Di ujung jalan yang sedang dilaluinya, tampak sebuah per-kampungan yang begitu sunyi, bagai tidak ber-penduduk.

   Terlihat satu dua orang sempat melin-tas di jalan itu, tapi kemudian menghilang lagi ke dalam rumah.

   Wanita berpakaian seperti gembel itu menghentikan ayunan kakinya.

   Dilihatnya seorang wanita separuh baya yang bertubuh gemuk tengah duduk bersandar di bawah pohon yang cukup rin-dang, melindungi dirinya dari sengatan sinar ma-tahari.

   "Mau apa kau di situ, Gembel Busuk!? Pergi sana...!"

   Bentak wanita gemuk itu begitu melihat didekatnya telah berdiri seorang perempuan mu-da. Tubuhnya kotor, dan pakaiannya kumal penuh tambalan.

   "Hsss...!"

   Wanita berpakaian kumal itu hanya men-desis seperti ular.

   Matanya yang semakin tajam dan memerah terus menatap perempuan gemuk itu.

   Perlahan bibirnya bergerak terbuka dan menyeringai.

   Tampak dua buah taring menyembul ke luar, sehingga wajahnya yang kotor penuh lumpur semakin kelihatan menyeramkan.

   "Akh...!"

   Pekik perempuan gemuk itu ketakutan.

   Tapi, belum sempat dia berbuat sesuatu, tiba-tiba wanita berbaju kumal penuh tambalan itu sudah melompat cepat seperti harimau yang menerkam mangsa.

   Begitu cepat gerakannya, ta-hu-tahu sudah dicengkeramnya perempuan sepa-ruh baya bertubuh gemuk itu.

   "Ghraaaugkh...!"

   "Aaa..!!"

   Jeritan panjang melengking tinggi terden-gar begitu menyayat.

   Kesunyian pun terpecah di siang hari yang panas menyengat itu.

   Tampak wa-nita berpakaian gembel itu menghunjamkan gi-ginya yang bertaring ke leher berdaging gemuk itu.

   Darah pun seketika muncrat keluar.

   Dan, wanita gemuk itu berkelojotan meregang nyawa.

   "Ghraaagkh...!"

   Sambil menggerung bagai binatang buas, wanita berpakaian kumal penuh tambalan itu mengoyak leher dan dada korbannya dengan buas sekali.

   Lalu, seperti seorang pengelana yang ke-hausan, dihirupnya darah segar yang berhambu-ran keluar dari dada dan leher yang terkoyak lebar itu.

   Sedangkan si wanita gemuk sudah diam tak bergerak lagi.

   Jeritan yang begitu panjang dan melengk-ing tadi rupanya terdengar oleh penduduk desa yang berada tidak jauh dari tempat itu.

   Seketika, orang-orang pun bermunculan dari dalam rumah.

   Mereka berlarian menuju ke arah datangnya jeri-tan tadi, sambil menggenggam berbagai bentuk senjata.

   Namun, para penduduk desa itu tersentak kaget begitu melihat seorang wanita berbaju pe-nuh tambalan tengah mencabik-cabik tubuh seo-rang wanita gemuk.

   Wajah mereka langsung me-mucat "Ghrrr..!"

   Setelah tidak ada lagi darah yang tersisa, wanita kumal yang buas itu segera bangkit berdiri.

   Matanya yang memerah dan menyorot tajam lang-sung menatap pada kerumunan orang banyak.

   Dia mendesis dan meraung kecil.

   Lalu....

   Wusss...! Tiba-tiba wanita aneh itu melesat cepat ba-gai kilat, sehingga dalam sekejap mata sudah le-nyap dari penglihatan.

   Dan para penduduk yang tadi berdatangan itu masih tertegun kaku seperti mimpi.

   *** Kegemparan menyelimuti Desa Gedangan.

   Semua orang membicarakan peristiwa berdarah yang begitu mengerikan dan baru pertama kali ter-jadi itu.

   Terlebih lagi, hampir semua orang di desa ini melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana buasnya wanita aneh itu mencabik serta menghirup darah penduduk yang menjadi korbannya.

   Tak ada seorang pun yang tidak membica-rakan peristiwa aneh dan mengerikan itu.

   Semua orang larut membicarakannya, tidak terkecuali Ki Legik.

   Kepala Desa Gedangan ini tidak habis-habisnya memikirkan peristiwa mengerikan yang baru pertama kali terjadi di desanya ini.

   Siang itu juga dia mengumpulkan para pemuka desa, yang seluruhnya berjumlah empat orang.

   Mereka ada-lah Ki Murad, Ki Rasak, Ki Bulang, dan Cantraka yang paling muda di antara para pemuka desa lainnya.

   Juga usianya masih sekitar tiga puluh li-ma tahun.

   "Aku tidak akan memanggil kalian ke sini kalau tidak ada seorang pun yang melihat keja-diannya. Hampir semua penduduk Desa Gedangan ini melihat-nya...,"

   Kata Ki Legik memulai pembicaraan.

   "Memang sungguh mengerikan Ki. Aku sendiri jelas melihatnya,"

   Selak Ki Murad.

   "Aku tidak tahu, dia itu manusia atau binatang. Begitu buas dan liar."

   "Hm..., apakah kau mengenali wajahnya?"

   Tanya Ki Legik seraya menatap cukup dalam pada wajah Ki Murad.

   "Sulit untuk mengenalinya, Ki. Sosoknya menyeramkan dan kotor sekali. Pakaiannya seperti gembel, penuh tambalan dan compang-camping. Tapi...,"

   Ki Murad menghentikan kata-katanya. 'Tapi kenapa, Ki Murad?"

   Tanya Cantraka minta diteruskan.

   "Tampaknya dia seorang wanita, Cantraka."

   "Wanita...?!"

   Semua orang yang berada di ruangan de-pan rumah kepala desa itu terlongong-longong.

   Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang di-dengarnya.

   Mereka berpandangan satu sama lain.

   Memang, di antara mereka berlima, hanya Ki Murad yang melihat langsung peristiwa menge-rikan itu.

   Sedangkan yang lain, bahkan Kepala Desa Gedangan sendiri, hanya mendengar ceri-tanya.

   Semua mata kini tertuju pada Ki Murad, seakan-akan meminta keterangan lebih banyak la-gi dari laki-laki tua yang mengenakan jubah pan-jang berwarna biru ini.

   "Dari bentuk tubuhnya, aku yakin kalau dia wanita. Tapi suaranya seperti raungan hari-mau,"

   Lanjut Ki Murad.

   "Hm...."

   Ki Legik menggumam perlahan.

   Keningnya yang sudah banyak kerutannya semakin dalam la-gi berkerut.

   Janggutnya yang panjang dan sudah memutih semua dielus-elusnya.

   Laki-laki tua yang mengenakan baju berwarna putih itu mengang-guk-anggukkan kepala.

   Sungguh dia tidak me-nyangka kalau makhluk buas dan mengerikan itu ternyata seorang wanita.

   Dan yang lebih tidak di-mengerti lagi, tidak ada darah setetes pun yang tersisa pada korban yang seluruh tubuhnya terca-bik itu.

   Bahkan lehernya berlubang sangat besar, hampir buntung.

   Dadanya pun berlubang, sampai menampakkan seluruh isinya.

   Siapa pun yang melihat keadaan korban hasil keganasan wanita liar itu pasti akan bergidik ngeri.

   Dan kalau tak melihat langsung kejadian yang menggemparkan itu, siapa pun pasti akan menyangka bahwa itu adalah perbuatan seekor binatang buas yang keluar dari dalam hutan.

   Tapi peristiwa itu disaksikan oleh hampir seluruh pen-duduk Desa Gedangan ini Maka, tak ada alasan lagi untuk tak mempercayainya.

   "Apa kau juga perhatikan, ke mana dia pergi?"

   Tanya Ki Legik setelah cukup lama mere-nung.

   "Tampaknya dia pergi ke Hutan Cengkir,"

   Sahut Ki Murad lagi.

   "Hm...,"

   Gumam Ki Legik lagi.

   "Apa tidak sebaiknya kita kejar saja ke sa-na sebelum dia kembali lagi dan mengambil kor-ban?"

   Selak Ki Bulang, yang sejak tadi diam saja.

   "Benar, Ki. Lebih baik kita mendahului da-ripada nanti jatuh korban lebih banyak lagi,"

   Sambung Ki Rasak menyetujui usul Ki Bulang.

   "Hutan itu terlalu luas dan lebat. Juga ba-nyak binatang buasnya. Terlalu berbahaya jika ki-ta harus mengejar masuk ke sana,"

   Kata Ki Legik, yang tampaknya tidak menyetujui usul itu.

   "Ada kemungkinan juga, dia hanya lewat dan tidak kembali lagi ke sini,"

   Kata Ki Murad, yang bisa mengerti akan keberatan kepala desa itu.

   "Kepercayaan penduduk bisa hilang kalau kita diam saja, Ki,"

   Desak Ki Bulang.

   "Hm..., lalu siapa yang akan pergi ke sa-na?"

   Tanya Ki Legik.

   "Aku dan semua muridku,"

   Sahut Ki Bu-lang mantap.

   "Aku akan menjaga di sekitar tepian hu-tan,"

   Sambung Ki Rasak.

   "Kalau Ki Legik mengizinkan, aku akan ke sana sekarang juga,"

   Sambung Ki Bulang, berse-mangat sekali.

   "Hhh...!"

   Ki Legik menarik napas dalam-dalam.

   Te-rasa berat sekali tarikannya.

   Sebentar dia terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya sedikit.

   Ki Bulang dan Ki Rasak bergegas berdiri.

   Setelah membungkukkan tubuh memberi hormat, kedua laki-laki tua itu bergegas meninggalkan ru-mah Kepala Desa Gedangan ini.

   Sedangkan Ki Le-gik, Ki Murad, dan Cantraka masih tetap duduk di kursinya masing-masing.

   Mereka masih tetap ter-diam, walaupun Ki Bulang dan Ki Rasak sudah ti-dak terlihat lagi.

   "Seharusnya kau tidak membiarkan mere-ka pergi ke Hutan Cengkir. Terlalu berbahaya... Apalagi kita belum tahu betul, siapa pembunuh itu,"

   Kata Ki Murad agak mendesah. Tampak sekali dia tidak menyetujui kepergian Ki Bulang dan Ki Rasak.

   "Mereka akan tetap pergi, walaupun aku tidak mengizinkan,"

   Sahut Ki Legik, yang mengetahui betul watak kedua orang pemuka desa yang bersikeras mengejar wanita aneh itu.

   "Konyol!"

   Dengus Ki Murad.

   "Sudahlah, Ki. Sebaiknya kau kerahkan sa-ja murid-muridmu untuk berjaga-jaga. Mungkin saja wanita itu akan kembali lagi ke sini,"

   Kata Ki Legik.

   "Semua muridku sudah kuperintahkan untuk waspada, Ki. Bahkan aku sudah menyebar se-bagian muridku ke setiap pelosok desa ini,"

   Sahut Ki Murad.

   "Kau selalu saja bertindak cepat,"

   Puji Ki Legik. 'Terima kasih, Ki. Tapi aku tetap mengkhawatirkan mereka. Tidak selayaknya me-reka pergi ke Hutan Cengkir."

   Ki Legik hanya tersenyum.

   Dia bisa men-gerti kekhawatiran laki-laki tua berjubah panjang biru ini.

   Ki Murad, Ki Bulang, dan Ki Rasak memang masih memiliki satu darah persaudaraan, meskipun cukup jauh.

   Berkat mereka bertigalah keadaan Desa Gedangan begitu aman, tenteram, dan damai.

   Mereka masing-masing juga memiliki sejumlah murid, walaupun tidak mendirikan pa-depokan.

   Mereka selalu bekerjasama dalam mem-bangun dan menjaga keamanan Desa Gedangan.

   Di antara para pemuka desa itu, hanya Cantraka yang tidak mempunyai murid seorang pun.

   Bahkan dia tak memiliki satu pun pengikut.

   Cantraka selalu senang bekerja sendiri.

   Tapi, tingkat kepandaian yang dimilikinya tidak kalah di-bandingkan pemuka desa lainnya.

   Bahkan bisa dikatakan, tingkat kepandaian Cantraka lebih tinggi satu tingkat dibandingkan mereka, yang jauh lebih tua darinya.

   "Mau ke mana, Cantraka?"

   Tegur Ki Legik, begitu melihat Cantraka bangkit dari kursinya.

   "Ke luar, Ki,"

   Sahut Cantraka sambil terus saja melangkah meninggalkan ruangan yang berukuran cukup besar itu.

   Tinggal Ki Legik serta Ki Murad yang masih berada di dalam ruangan itu.

   Mereka sama-sama terdiam, tidak tahu apa yang harus dibicarakan.

   Akhirnya, Ki Murad juga berpamitan.

   Ki Legik mengantarkannya sampai di beranda.

   Beberapa saat lamanya, Ki Legik berdiri mematung di be-randa rumahnya yang cukup luas dan terang-benderang oleh cahaya lampu pelita yang tergan-tung di tengah-tengahnya.

   Baru saja Ki Legik memutar tubuhnya, ti-ba-tiba terdengar jeritan panjang melengking ting-gi, yang membuatnya tersentak kaget setengah mati.

   Cepat-cepat dia melompat ke luar beranda.

   Kedua bola matanya langsung terbeliak lebar, be-gitu kakinya menjejak tanah yang berumput cu-kup tebal di halaman depan yang cukup luas itu.

   "Heh.... Apa itu...?!"

   Hampir saja Ki Legik tidak percaya dengan apa yang disaksikannya.

   Laki-laki tua itu tertegun, dengan kelopak mata terbuka lebar dan mulut ternganga.

   Sedangkan jeritan panjang yang me-lengking tinggi tadi tidak terdengar lagi.

   Kini keadaan begitu sunyi, seperti suasana kuburan pada malam hari.

   *** "Hey...!"

   Seru Ki Legik lantang.

   "Hup!"

   Cepat Ki Legik melompat sambil menge-rahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi.

   Beberapa kali lompatan saja, laki-laki tua itu sudah sampai di sudut ha-laman rumahnya yang cukup gelap ini.

   Tampak di bawah sebatang pohon besar, seseorang berpa-kaian kumal dan kotor penuh tambalan dengan rakus tengah mengoyak dan menghirup darah seo-rang pemuda yang sudah menggeletak tak ber-nyawa lagi.

   Darah berceceran di sekitarnya.

   Bentakan Ki Legik tadi membuat wanita berpakaian kumal itu terperanjat "Ghrrr...!"

   "Oh...?!"

   Ki Legik terkesiap begitu wanita bertubuh kotor dan mengenakan pakaian lusuh penuh tam-balan itu memalingkan wajahnya.

   Sosok wanita itu mengerikan sekali.

   Bibir dan seluruh rongga mulutnya berwarna merah akibat darah yang me-lekat.

   Pakaiannya pun bernoda darah yang sudah mengering.

   Sedangkan pemuda yang berada di de-pannya tampak tergeletak dengan seluruh tubuh tercabik, serta leher dan dada terkoyak lebar.

   "Dewata Yang Agung..., makhluk apa ini..?"

   Desah Ki Legik serasa bermimpi.

   "Ghraaagkh...!"

   Tiba-tiba wanita aneh bagai binatang liar itu melompat cepat bagai kilat sambil meraung ke-ras menggetarkan jantung.

   Sesaat Ki Legik terke-siap.

   Namun, bergegas tubuhnya dibanting ke ta-nah, lalu bergulingan beberapa kali.

   Dihindarinya terjangan wanita aneh itu.

   "Hup!"

   Ki Legik bergegas bangkit begitu berhasil lepas dari incaran maut wanita aneh itu.

   Namun, baru saja kakinya menjejak tanah, kembali dia ha-rus melompat ke samping.

   Wanita aneh itu telah menerjang lagi dengan kecepatan bagai kilat.

   Be-berapa kali Ki Legik berjumpalitan di udara.

   Ke-mudian, dengan manis sekali kakinya.

   dijejakkan di tanah.

   Pada saat itu, terlihat beberapa orang ber-larian menghampiri.

   Tiga orang di antaranya membawa obor yang menyala cukup besar, se-hingga malam yang pekat ini menjadi terang.

   Me-reka semua terkesiap dan berdiri kaku begitu me-lihat sosok wanita bertubuh kotor bagai baru ke-luar dari lumpur sawah tengah berdiri tegak ber-hadapan dengan Kepala Desa Gedangan.

   Wajah wanita itu mengerikan sekali.

   Dua buah taring menyembul keluar bagai hendak mengoyak bibir-nya yang merah oleh darah korbannya.

   "Hik hik hik...!"

   Tiba-tiba wanita itu tertawa mengikik.

   Se-mua orang yang berada di halaman depan rumah Kepala Desa Gedangan ini pun bergidik ngeri.

   Dan sebelum ada seorang pun yang bisa berbuat sesu-atu, tiba-tiba wanita aneh itu melesat cepat bagai kilat.

   Saat itu juga....

   Wusss! Bret! "Aaa...!"

   Satu jeritan panjang yang melengking ting-gi terdengar menyayat dan memecah kesunyian malam.

   Dan pada saat wanita itu lenyap, tampak seseorang ambruk menggelimpang di tanah sambil mengerang dan berkelojotan meregang nyawa.

   Le-hernya tampak terkoyak sangat lebar.

   Darah ber-hamburan ke luar tak terbendung lagi.

   Semua yang berada di halaman rumah Kepala Desa Ge-dangan itu kembali terperanjat setengah mati.

   Sungguh cepat gerakan wanita itu.

   Tanpa dapat dilihat dengan pandangan mata biasa, tahu-tahu dia sudah melesat sambil menyambar salah seorang dari mereka hingga tewas berkelojotan.

   Cukup lama mereka terpaku dan tak mampu ber-buat apa pun, hingga tampak kemudian teman mereka telah menggeletak tak bernyawa dengan leher terkoyak lebar dan berlumuran darah.

   Sementara itu, Ki Legik masih berdiri kaku dengan sinar mata memancar kosong ke depan.

   Dia masih belum bisa mempercayai kejadian yang baru dilihatnya tadi.

   Semuanya seperti mimpi bu-ruk yang mengerikan sekali.

   Seorang wanita yang begitu buas dan liar telah membunuh dua orang di halaman rumahnya dalam waktu yang amat sing-kat.

   Gerakannya pun begitu cepat seperti siluman.

   "Hm...,siapa dia sebenarnya...?"

   Gumam Ki Legik bertanya-tanya sendiri.

   Sementara itu beberapa pembantu Ki Legik segera mengurus kedua mayat yang menggeletak di tanah tanpa diperintah lagi.

   Laki-laki tua ini pun mengayunkan kakinya perlahan menuju ke rumahnya.

   Kini tak ada seorang pun yang berbicara, terlebih-lebih Ki Legik.

   Laki-laki tua itu masih belum bisa memahami sepenuhnya kejadian menge-rikan dan mengejutkan yang baru dialaminya.

   *** Kegemparan semakin melanda Desa Ge-dangan.

   Semua orang membicarakan peristiwa mengerikan yang terjadi malam ini di halaman de-pan rumah kepala desa.

   Mereka selalu bertanya-tanya, siapa sebenarnya perempuan siluman penghisap darah itu...? Namun, pertanyaan itu hanyalah tinggal pertanyaan.

   Tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya.

   Mereka hanya bisa ber-harap agar perempuan siluman itu tidak menemui dan menjadikan mereka sebagai korban berikut-nya.

   Sementara itu tidak jauh dari Desa Gedan-gan, tepatnya di tepi Hutan Cengkir, tampak seo-rang wanita muda tengah duduk memeluk lutut di bawah naungan sebatang pohon yang cukup rin-dang.

   Wajah dan tubuhnya kotor.

   Sedangkan baju hitam yang dikenakannya tampak kumal dan compang-camping penuh tambalan.

   Pandangan wanita itu tertuju lurus ke arah Desa Gedangan.

   Entah sudah berapa lama dia duduk diam me-nyendiri di sana.

   Dan saat matahari tepat berada di atas kepala, dia baru bangkit berdiri.

   Terdengar tarikan napasnya yang panjang dan berat sekali.

   Perlahan kakinya melangkah mendekati sebuah sungai kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk tadi.

   Dia berhenti setelah berada di tepi sungai itu.

   Perlahan dia berlutut Dan memandangi wajahnya yang terpantul oleh air sungai yang begitu jernih.

   "Mungkin kalau tubuhku lebih bersih lagi, aku bisa lebih bebas bergerak. Hhh..., aku tidak boleh mengecewakannya. Aku harus mendapatkan mereka sebelum orang lain tahu siapa aku,' gu-mam wanita itu, berbicara pada dirinya sendiri. Beberapa saat dia masih diam memandangi wajah dan seluruh tubuhnya yang terpantul oleh jernihnya air sungai. Kemudian tangannya mulai menyentuh air. Lalu dibersihkannya kotoran yang melekat di lengan. Bibirnya menyunggingkan se-nyuman begitu melihat kulit tangannya yang tam-pak putih halus setelah tersapu air sungai dari segala debu dan kotoran yang melekat. Byurrr! Tiba-tiba dia melompat ke dalam sungai itu. Tawanya langsung pecah berderai. Segala de-bu dan kotoran yang melekat di tubuhnya lang-sung lenyap oleh air sungai yang bening dan jernih ini. Wanita itu bermain-main di sungai sepuasnya, seakan-akan dia tidak akan bertemu air lagi se-panjang hidupnya..Setelah puas bermain-main dan member-sihkan diri di dalam sungai, barulah dia beranjak naik. Tapi, sesaat kemudian wajahnya kembali terlihat murung memandangi pakaiannya yang masih lusuh, compang-camping, dan penuh tambalan. Walaupun kini wajah dan tubuhnya sudah bersih dan kelihatan cantik, namun pakaiannya tetap membuat dia belum merasa senang.

   "Aku harus mencari pakaian yang lebih pantas. Tapi di mana...? Hhh...!"

   Pandangannya langsung tertuju lurus pada Desa Gedangan. Bibirnya yang merah, bergerak perlahan menyunggingkan senyum yang semakin lebar. Dan sepasang bola matanya berbinar cerah, secerah sinar mentari yang bersorot terik siang ini. Tiba-tiba....

   "Hup!"

   Bagaikan kilat, wanita itu melompat.

   Begi-tu cepat gerakannya, sehingga dalam sekejap tu-buhnya sudah lenyap bagai tertelan bumi.

   Entah ke mana perginya.

   Tak ada seorang pun yang me-lihatnya di tempat yang begitu sunyi dan tidak pernah dilalui orang ini.

   *** Tidak seperti hari-hari yang lalu, Desa Ge-dangan kali ini terasa begitu sunyi.

   Peristiwa pem-bunuhan yang begitu mengerikan dalam beberapa hari ini tampaknya benar-benar mencekam selu-ruh penduduk.

   Semua pembunuhan itu dilakukan oleh seorang wanita yang mereka juluki Siluman Peng-hisap Darah.

   Memang tepat sekali julukan itu.

   Ka-rena meskipun korban-korban yang jatuh semua-nya dalam keadaan tercabik, tak ada darah setetes pun yang terlihat.

   Bahkan tidak sedikit yang melihat wanita aneh itu beraksi.

   Pembunuhannya dengan cara yang sangat brutal dan liar.

   Dia menghirup darah korbannya hingga habis tak ber-sisa, seperti binatang liar yang kehausan.

   Hampir semua orang di desa itu tidak be-rani lagi meninggalkan rumahnya.

   Bahkan kini tak ada seorang pun yang berani lagi membicara-kannya.

   Karena Siluman Penghisap Darah seperti memiliki seribu telinga.

   Siapa saja yang membica-rakannya, keesokan harinya pasti kedapatan mati dengan tubuh terkoyak dan darah habis diisap.

   Keadaan seperti ini tentu saja sangat me-rugikan pemilik-pemilik kedai yang biasanya ramai dikunjungi orang.

   Tak satu pun kedai yang kelihatan dikunjungi selama beberapa hari ini.

   Hanya kedai Ki Biran yang tampak dikunjungi tamu hari ini.

   Tapi, tamu itu pun hanya dua orang.

   Dan tampaknya mereka pengembara.

   Atau, bisa juga dikatakan kaum pendekar dari rimba persilatan.

   Tamu yang satu adalah seorang pemuda berwajah tampan, mengenakan baju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung bertengger di punggungnya.

   Sedangkan yang satunya lagi ada-lah seorang gadis cantik berbaju biru muda agak ketat, yang selalu memain-mainkan sebuah kipas di depan dadanya.

   Dan sebilah pedang bergagang kepala naga berwarna hitam tampak tersampir di punggungnya.

   Dari pakaian dan senjata yang ter-sandang, bisa diketahui kalau mereka adalah Rangga dan Pandan Wangi, yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut.

   "Tampaknya tujuan kita ke sini tidak salah, Kakang,"

   Bisik Pandan Wangi, perlahan.

   "Hm...,"

   Gumam Rangga, menanggapi.

   "Sepi sekali di sini,"

   Ujar Pandan Wangi la-gi, seraya mengedarkan pandangannya ke luar melalui pintu kedai yang terbuka lebar.

   Pada saat yang sama, pemilik kedai yang dikenal dengan panggilan Ki Biran itu muncul dari ruangan belakang.

   Di tangannya tergenggam sebuah baki kayu berisi seguci arak.

   Dengan sikap yang hormat dan sopan, laki-laki tua itu menaruh guci yang dibawanya ke meja yang ditempati ke-dua pendekar muda ini.

   "Sebentar, Ki..,"

   Cegah Pandan Wangi, saat Ki Biran hendak berlalu.

   "Ada apa, Nisanak?"

   Tanya Ki Biran dengan tubuh agak sedikit terbungkuk.

   "Kau tahu, kenapa desa ini sepi sekali, Ki?"

   Tanya Pandan Wangi langsung.

   "Oh..., eh...."

   Ki Biran tampak kelabakan mendapat per-tanyaan yang begitu langsung dari gadis cantik ini.

   Wajahnya memucat dan tubuhnya bergetar ber-simbah keringat.

   Perubahan yang begitu menda-dak itu membuat kening Pandan Wangi berkerut.

   Bahkan, Rangga sampai memandanginya dalam-dalam.

   Mendapat pandangan yang begitu dalam dari dua orang tamunya ini, Ki Biran semakin ke-lihatan gelisah ketakutan.

   "Ada apa, Ki? Kenapa kau begitu ketaku-tan...?"

   Tanya Pandan Wangi lagi "Maaf, Nisanak. Maaf, aku..., aku...,"

   Suara Ki Biran terdengar tergagap.

   "Ada sesuatu yang terjadi di desa ini, Ki?"

   Tanya Rangga, masih dengan tatapan mata yang dalam.

   Ki Biran semakin gelisah.

   Dia melirik ke kanan dan kiri, tampak takut kalau-kalau ada orang lain yang mendengar pembicaraannya.

   Tapi, memang tak ada seorang pun selain mereka berti-ga.

   Dengan tangan bergetar, Ki Biran menarik kursi kayu ke dekat meja, lalu duduk di sana sambil memeluk baki kayunya.

   Beberapa kali dia menarik napas dalam-dalam dan menghem-buskannya kuat-kuat untuk menenangkan di-rinya.

   "Memang telah terjadi sesuatu yang mengerikan. Itulah sebabnya, desa ini menjadi sepi. Bahkan beberapa hari ini tidak ada pengunjung yang datang ke kedaiku ini,"

   Kata Ki Biran dengan suara yang berbisik perlahan.

   Begitu pelannya suara Ki Biran, sehingga hampir-hampir tidak terdengar.

   Sedangkan Rang-ga dan Pandan Wangi semakin mengerutkan ken-ing.

   Sesaat mereka melemparkan pandangan, ke-mudian kembali menatap Ki Biran dengan kening masih berkerut.

   Dan untuk beberapa saat, mereka terdiam tanpa ada yang berbicara lagi.

   "Kejadian apa, Ki?"

   Tanya Pandan Wangi kemudian, memecah kesunyian.

   "Beberapa hari ini, muncul seorang perem-puan siluman...,"

   Sahut Ki Biran masih dengan suara yang pelan sekali.

   "Perempuan siluman...?"

   Pandan Wangi langsung menatap pada Rangga, yang sejak tadi diam saja. Dan pandangan si Kipas Maut itu langsung bertemu dengan tata-pan mata Pendekar Rajawali Sakti ini. Mereka ke-mudian kembali sama-sama memandang Ki Biran.

   "Sudah beberapa hari ini perempuan silu-man itu muncul. Dan sudah banyak juga yang menjadi korbannya. Semua korbannya dibunuh dan seluruh tubuh mereka dicabik-cabik. Bahkan darah mereka dihirup sampai habis. Hihhh..., mengerikan sekali."

   Ki Biran bergidik, tidak sanggup membayangkan-nya.

   "Apa ada yang pernah melihatnya, Ki?"

   Tanya Rangga.

   "Ya, hampir semua penduduk desa ini su-dah melihatnya. Dia selalu muncul tanpa takut dipergoki penduduk. Tadinya dia muncul seperti gembel yang baru keluar dari hutan. Tubuhnya kotor dan pakaiannya kumal penuh tambalan. Ta-pi belakangan ini, perempuan itu muncul dengan tubuh yang bersih. Dia seperti seorang putri bang-sawan. Wajahnya cantik sekali. Tapi, dia sangat buas dan liar kalau sudah mengambil korban un-tuk diisap darahnya sampai habis. Kami semua selalu menyebutnya si Siluman Penghisap Darah,"

   Jelas Ki Biran lagi.

   "Dia pasti Inten, Kakang,"

   Ujar Pandan Wangi, langsung bisa menebak.

   "Hm...,"

   Rangga hanya menggumam.

   "Kalian mengenalnya...?"

   Tanya Ki Biran agak terperanjat.

   "Mungkin, Ki. Karena kami berdua memang sedang mengejar orang yang begitu mirip dengan perempuan yang kau ceritakan tadi,"

   Sahut Pandan Wangi.

   "Oh, benarkah...?"

   Rangga dan Pandan Wangi sama-sama menganggukkan kepala.

   "Kalau begitu, kenapa kalian tidak pergi sa-ja ke rumah Ki Legik? Kalian pasti akan mendapat banyak keterangan mengenai Siluman Penghisap Darah itu. Ki Legik pernah bertarung dengannya. Bahkan beberapa orang pembantunya sudah men-jadi korban."

   "Siapa itu Ki Legik?"

   Tanya Rangga.

   "Kepala Desa Gedangan ini,"

   Sahut Ki Biran. Rangga menatap Pandan Wangi yang saat itu juga tengah memandangnya. Sesaat mereka saling melemparkan pandangan, kemudian sama-sama berdiri dari kursinya masing-masing. Ki Bi-ran pun ikut berdiri.

   "Memang sebaiknya kita pergi ke rumah kepala desa, Kakang,"

   Kata Pandan Wangi.

   "Hm..., ayolah,"

   Ajak Rangga.

   "Tunggu dulu...!"

   Cegah Ki Biran "Ada apa lagi, Ki?"

   Tanya Pandan Wangi.

   "Aku ikut. Aku tidak mau tinggal di sini sendirian. Dia pasti datang padaku, karena aku telah bercerita banyak pada kalian,"

   Kata Ki Biran.

   Rangga dan Pandan Wangi tidak bisa me-nolak.

   Setelah Ki Biran membereskan kedainya, mereka segera berangkat ke rumah Ki Legik.

   Ma-ka, tiga ekor kuda pun bergerak tidak begitu cepat melintasi jalan tanah berdebu yang sepi dan lengang.

   Tak ada seorang pun yang terlihat di sepan-jang jalan ini.

   Suasananya begitu sunyi, bagai sebuah desa mati yang tidak berpenghuni lagi.

   *** Semula Ki Legik tampak keheranan ketika menerima kedatangan Rangga dan Pandan Wangi malam-malam begini.

   Terlebih lagi, dia tidak kenal dengan kedua orang muda itu.

   Tapi, setelah Rang-ga menjelaskan perihal kedatangannya ke Desa Gedangan ini, Ki Legik mengangguk-angguk men-gerti.

   "Aku sendiri tidak yakin, dia itu manusia atau bukan...,"

   Gumam Ki Legik, seakan-akan tidak percaya dengan perkataannya sendiri.

   "Dia memang bukan manusia, Ki,"

   Kata Rangga.

   "Apa maksudmu, Kisanak...?"

   Tanya Ki Legik tidak mengerti.

   "Panggil saja aku Rangga, Ki. Dan ini Pan-dan Wangi,"

   Pinta Rangga seraya tersenyum.

   "Baiklah, Rangga....Tapi, kenapa kau kata-kan dia bukan lagi manusia?"

   "Karena dia sebenarnya sudah mati. Dia dihidupkan kembali untuk mencari empat orang yang memperkosa dan membunuhnya. Dan dia akan tetap hidup selama masih bisa mendapatkan darah untuk kehidupan dan kekuatannya,"

   Jelas Rangga.

   "Benar, Ki,"

   Sambung Pandan Wangi.

   "Dia berasal dari Desa Mungkit. Kami sudah berhasil membunuh orang yang membangkitkan kema-tiannya. Tapi itu belum cukup, selama perempuan siluman itu masih terus berkeliaran. Bahkan seandainya dia berhasil mendapatkan keempat orang pembunuhnya pun, dia tetap akan terus berkeliaran sambil membunuh setiap orang yang ditemuinya untuk mendapatkan darah."

   "Semakin banyak dia mendapatkan darah manusia, semakin sempurna saja kehidupannya. Dan aku khawatir, tidak akan ada seorang pun la-gi yang bisa menghentikannya. Karena dia me-mang bukan lagi manusia,"

   Sambung Rangga.

   "Oh...,"

   Desah Ki Legik tidak menyangka.

   "Tapi, kenapa dia datang ke desa ini...?"

   "Dia akan datang dan pergi ke mana saja dengan membawa kehancuran bagi manusia. Dia tidak akan memilih lagi korbannya. Siapa saja yang ditemui, akan menjadi korbannya,"

   Jelas Rangga lagi.

   Ki Legik terlongong-longong, tidak tahu lagi apa yang akan dikatakannya.

   Sungguh dia tidak mengira kalau desanya benar-benar telah keda-tangan seorang perempuan siluman yang haus da-rah.

   Dan, akan me-landa Desa Gedangan ini kalau saja Siluman Penghisap Darah itu tidak segera di-hentikan.

   Dan yang pasti lagi, siluman itu tidak akan pergi sebelum seluruh penduduk desa ini habis menjadi korbannya.

   Tapi, yang lebih menge-rikan, semakin banyak dia mendapatkan darah, semakin sempurnalah kehidupan dan kekuatan-nya.

   Di saat mereka semua terdiam, tiba-tiba....

   "Aaa...!"

   "Heh...?!"

   "Oh,..?!"

   Mereka terperanjat setengah mati ketika ti-ba-tiba terdengar jeritan panjang yang melengking tinggi.

   Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga dan Pandan Wangi langsung melesat keluar da-ri rumah Kepala Desa Gedangan ini.

   Dan Ki Legik sendiri pun turut bergegas ke luar dengan mem-pergunakan ilmu meringankan tubuhnya.

   Rangga dan Pandan Wangi terus berlompa-tan sambil mengerahkan seluruh kemampuan il-mu meringankan tubuh yang sangat tinggi tingka-tannya.

   Bahkan, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti itu sudah menca-pai pada tingkatan yang sempurna.

   Sehingga, da-lam waktu yang begitu singkat, dia sudah berada di tempat berasalnya jeritan panjang melengking tinggi tadi.

   Sedangkan Pandan Wangi tampak ter-tinggal cukup jauh.

   "Inten...!"

   Seru Rangga lantang menggelegar.

   Rangga benar-benar tersentak kaget setengah mati begitu melihat seorang wanita muda berwa-jah cantik tengah mengoyak-ngoyak tubuh seo-rang pemuda yang sudah tergeletak tak bernyawa.

   Dan dari leher yang terkoyak cukup lebar, wanita itu menghirup darah yang bercucuran dengan ra-kus sekali, seperti seorang pengembara yang su-dah berhari-hari tidak menemukan air di padang yang sangat gersang.

   "Ghrrr...!"

   Bentakan Rangga yang begitu keras dan menggelegar tadi membuat wanita itu terkejut.

   Dia cepat berpaling, sambil memperdengarkan gerun-gannya yang menyerupai suara seekor binatang buas.

   Sepasang bola matanya merah menyala ba-gai bola api.

   Sedangkan seluruh bibir dan rongga mulutnya tampak merah berlumur darah pemuda korbannya itu.

   Rangga sempat terkesiap saat menyaksikan kekejaman di depan matanya ini.

   Bulu kuduknya sampai meremang.

   Dan kelopak matanya terbuka lebar, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya.

   Memang sungguh sukar dipercaya, seorang wanita berwajah cantik, dengan bentuk tubuh yang kelihatan lemah itu, mampu melakukan perbuatan keji seperti binatang buas.

   "Apa yang kau lakukan, Inten...?"

   Sentak Rangga, yang masih agak terpana.

   "Siapa kau? Dari mana kau tahu nama-ku...?"

   Wanita yang selama ini dijuluki Siluman Penghisap Darah itu malah balik bertanya dengan suaranya yang begitu datar dan kering.

   Tapi tiba-tiba dia tertegun.

   Ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata yang tajam, seolah-olah sedang terlintas di dalam ingatannya kalau mere-ka pernah bertemu, bahkan pernah bertarung me-nyabung nyawa.

   "Hik hik hik..!"

   Siluman Penghisap Darah yang sebenarnya bernama Inten itu mendadak tertawa mengikik. Tawanya terdengar sangat mengerikan.

   "Hentikan semua ini, Inten. Kau tidak bisa membunuh semua orang kau temui,"

   Kata Rangga, dengan nada suara agak dalam.

   "Hik hik hik...! Kau tidak bisa menghenti-kan aku, Rangga. Aku tidak akan berhenti sebe-lum mereka kulumat habis!"

   Sahut Inten, dengan suara agak mendesis dan dingin.

   Pada saat itu pula Pandan Wangi datang, yang disusul kemudian oleh Ki Legik dan empat orang pemuka Desa Gedangan bersama murid-murid mereka yang rata-rata masih berusia muda.

   Dan sebentar saja, sekeliling tempat ini sudah terkepung.

   Beberapa orang di antara mereka lang-sung mencabut senjata masing-masing.

   Pandan Wangi dan Ki Legik bergegas menghampiri Pende-kar Rajawali Sakti dan berdiri mengapit di samp-ing kanan dan kirinya.

   "Sebaiknya kau ikut denganku kembali ke Desa Mungkit, Inten,"

   Kata Rangga mencoba membujuk.

   "Sudah kukatakan, jangan coba-coba menghentikan ku, Rangga!"

   Sentak Inten agak keras.

   Siluman Penghisap Darah itu tiba-tiba me-lompat meninggalkan tubuh korbannya yang menggeletak berlumuran darah itu.

   Ringan sekali gerakannya.

   Dan tahu-tahu dia sudah berdiri te-gak sekitar satu batang tombak di depan Pendekar Rajawali Sakti.

   Bajunya yang agak longgar dan berwarna merah menyala sedikit berkibar diper-mainkan angin.

   Wanita ini memang sudah meng-ganti pakaiannya yang kumal dan penuh tambalan dengan pakaian yang cukup bersih, walaupun tampak kebesaran untuk ukuran tubuhnya.

   "Ghrrr...!"

   Siluman Penghisap Darah menggerung ke-cil sambil menyeringai.

   Diperlihatkannya baris-baris giginya yang runcing dan bertaring.

   Sementara itu Rangga merentangkan ke-dua tangannya sedikit ke samping.

   Sedangkan Pandan Wangi dan Ki Legik langsung bergerak ke belakang menjauhinya.

   Mereka kini bergabung dengan empat orang pemuka Desa Gedangan.

   Tempat ini sudah terkepung semakin ra-pat.

   Tidak kurang dari lima puluh pemuda, yang semuanya menghunus senjata masing-masing, mengepung rapat tempat ini.

   "Ghraaaughk...!"

   Sambil meraung keras menggelegar, tiba-tiba Inten melompat secepat kilat menerjang Pen-dekar Rajawali Sakti.

   Begitu cepat gerakannya, sehingga Rangga terkesiap sejenak.

   Tapi, dengan cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melompat ke samping kanan.

   Dihindarinya terkaman perem-puan siluman itu.

   "Hap!"

   Setelah melakukan beberapa kali putaran, dengan manis sekali Rangga menjejakkan kembali kakinya di tanah.

   Namun pada saat itu, tanpa di-duga sama sekali Inten berhasil memutar tubuh-nya dan langsung melompat seraya melepaskan satu tendangan keras menggeledek ke arah lam-bung Pendekar Rajawali Sakti.

   "Hait..!"

   Dengan gerakan tubuh yang indah, Rangga kembali berhasil menghindari serangan Siluman Penghisap Darah. Dan secepat itu pula kaki ka-nannya dihentakkan dengan tubuh agak terbung-kuk dan sedikit berputar ke samping.

   "Hiyaaa...!"

   "

   Hih!" *** Ternyata tanpa diduga sama sekali, Inten tidak berusaha menghindar sedikit pun.

   Bahkan dengan cepat sekali tangan kanannya dihentak-kan, menyambut tendangan Pendekar Rajawali Sakti.

   Hingga tak pelak lagi, tangan dan kaki me-reka beradu keras, tepat di depan perut perem-puan siluman itu.

   Plak! "Ufs..."

   Rangga cepat-cepat menarik kembali ka-kinya. Lalu, tubuhnya langsung dilentingkan ke belakang, berputar beberapa kali sebelum menje-jakkan kembali kakinya di tanah.

   "Hap!"

   Cepat-cepat Pendekar Rajawali Sakti mela-kukan beberapa gerakan dengan kedua tangan-nya.

   Dan begitu tangan kanannya menjulur ke de-pan, tampak jari-jari tangannya mengembang le-bar dan meregang kaku bagai sepasang cakar bu-rung rajawali yang siap mencengkeram mang-sanya.

   Rangga memang bersiap mengeluarkan ju-rus 'Cakar Rajawali' pada tingkatan yang terakhir.

   Pendekar Rajawali Sakti rupanya sudah tidak mau tanggung-tanggung lagi menghadapi Siluman Penghisap Darah ini.

   "Hiyaaat...!"

   "Yeaaah...!"

   Tepat ketika Inten melompat cepat sambil berteriak menggelegar, Rangga segera menge-butkan kedua tangannya dengan cepat sekali.

   Disambutnya serangan yang dilancarkan wanita berbaju merah menyala itu.

   Tapi beberapa kali ke-butan tangan Pendekar Rajawali Sakti itu masih berhasil dihindari Inten, walaupun agak kewala-han.

   "Hiyaaa...!"

   Kembali Rangga mengebutkan tangannya hendak menyambar kaki perempuan siluman itu. Tapi, tanpa diduga sama sekali, Siluman Penghi-sap Darah justru melentingkan tubuhnya ke uda-ra.

   "Hiyaaa...!"

   Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rang-ga segera melesat ke udara.

   Dikejarnya perempuan siluman itu.

   Dan, langsung saja jurusnya diubah begitu dia berada di udara.

   Kedua tangannya me-rentang lebar, dengan jari-jari menyatu rapat.

   Pendekar Rajawali Sakti langsung mengebutkan tangannya beberapa kali ke arah tubuh Siluman Penghisap Darah.

   "Hait..!"

   Tapi dengan gerakan-gerakan tubuh yang begitu indah, Inten berkelit menghindari semua kebutan tangan Rangga yang menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' itu.

   Sehingga, tak satu pun serangan yang dilakukan Rangga bisa mengenai sasaran dengan tepat.

   Bahkan beberapa kali Inten memberikan serangan balasan, yang membuat Rangga agak kelabakan menghinda-rinya, apalagi sekarang ini mereka bertarung cu-kup jauh dari tanah.

   "Hap! Yeaaah...!"

   Sambil memutar tubuhnya, Rangga melun-cur ke bawah.

   Dan dengan manis sekali Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya di tanah.

   Te-pat pada saat itu Siluman Penghisap Darah juga sudah kembali berpijak di tanah, tanpa menim-bulkan suara sedikit pun.

   Kemudian....

   "Hiyaaa...!"

   Bagaikan kilat, Inten melepaskan satu ten-dangan keras menggeledek ketika Rangga masih berusaha menguasai keseimbangan tubuhnya. Be-gitu cepatnya tendangan itu dilepaskan, sehingga Rangga tidak sempat lagi menghindar. Hingga.... Desss! "Akh...!"

   Rangga terpekik keras agak tertahan.

   Tendangan yang dilepaskan Siluman Peng-hisap Darah tepat menghantam dada Rangga.

   Se-hingga membuat Pendekar Rajawali Sakti itu jadi terpental sejauh dua batang tombak.

   Tubuh pe-muda berbaju putih itu terbanting keras di tanah.

   Beberapa kali tubuhnya bergulingan, lalu melom-pat bangkit berdiri.

   Tampak setetes darah kental mengalir dari sudut bibirnya.

   "Kakang...,"

   Desis Pandan Wangi, cemas.

   Bergegas gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu berlari menghampiri Rangga.

   Tapi, Pendekar Ra-jawali Sakti segera merentangkan tangannya ke depan, sehingga Pandan Wangi tidak jadi meng-hampirinya.

   Gadis itu hanya bisa memandang dengan sinar mata memancarkan kekhawatiran yang begitu mendalam.

   "Hik hik hik..."

   Kau harus mati sekarang juga, Pendekar Rajawali Sakti!"

   Desis Inten dingin menggetarkan, sambil tertawa terkikik mengerikan.

   "Kau yang harus mampus, Keparat! Hiyaaat..!"

   "Pandan, jangan...!"

   Tapi teriakan Rangga tidak lagi didengar.

   Pandan Wangi sudah melompat cepat sekali.

   Diter-jangnya Siluman Penghisap Darah itu sambil mencabut senjata kipasnya.

   Dan kipas itu lang-sung dikebutkannya beberapa kali dengan kecepa-tan yang luar biasa.

   Begitu cepatnya kebutan itu sehingga yang terlihat hanyalah kilatan-kilatan cahaya keperakan yang berkelebatan di sekitar tu-buh perempuan siluman itu.

   *** Serangan-serangan yang dilakukan Pandan Wangi memang sungguh dahsyat.

   Namun, gera-kan-gerakan tubuh yang dilakukan Siluman Penghisap Darah juga indah dan cepat sekali.

   Se-hingga, sampai lima jurus pertarungan itu ber-langsung, belum juga Pandan Wangi bisa mende-saknya.

   Dan tak satu pun dari serangannya yang mengenai sasaran.

   "Setan keparat! Hiyaaa...!"

   Wuk! Pandan Wangi semakin meningkatkan se-rangannya.

   Langsung dikeluarkannya jurus-jurus maut andalannya.

   Begitu cepat gerakan-gerakan yang dilakukan si Kipas Maut itu, sehingga yang tampak hanyalah bayangan-bayangan biru, me-rah, dan keperakan yang berkelebatan saling sam-bar.

   Rangga pun tidak menyangka kalau kema-juan yang dicapai wanita ini ternyata telah begitu pesat.

   "Akh...!"

   Tiba-tiba terdengar jeritan keras agak ter-tahan.

   Tampak sebuah bayangan merah terpental dari kancah pertarungan itu.

   Dan terlihat Pandan Wangi berdiri kokoh dengan kedua kaki tertekuk dan tangan kiri menjulur lurus ke depan, dengan kipas mautnya terbuka di depan dada.

   Saat itu terlihat Siluman Penghisap Darah jatuh bergelimpangan beberapa kali di tanah.

   Na-mun dia cepat melompat bangkit.

   Tubuhnya agak limbung begitu dia bisa berdiri.

   Tangan kirinya memegangi dada.

   Tampaknya Pandan Wangi ber-hasil memasukkan satu pukulan keras yang diser-tai pengerahan tenaga dalam tinggi ke dada wanita siluman itu.

   "Ghrr...!"

   Siluman Penghisap Darah menggerung per-lahan.

   Sorot matanya yang sangat tajam menusuk langsung ke bola mata Pandan Wangi, yang kini sudah berdiri tegak sambil mengebut-ngebutkan kipasnya di depan dada.

   Tatapan mata Pandan Wangi juga tidak kalah tajamnya membalas sorot mata Siluman Penghisap Darah itu.

   Hup...!"

   Tiba-tiba Inten melesat bagai kilat ke arah kanan. Begitu cepat lesatannya, sehingga tak ada seorang pun yang sempat menyadari. Dan seketika itu juga....

   "Akh!"

   "Aaa...!"

   Dua jeritan yang melengking tinggi tiba-tiba terdengar saling susul, bersamaan dengan le-nyapnya tubuh Siluman Penghisap Darah.

   "Hup? Hiyaaa...!"

   Seketika itu juga, Pandan Wangi segera melenting sambil mengerahkan seluruh ilmu me-ringankan tubuhnya yang sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan. Pandan Wangi benar-benar tidak mau lagi melepaskan wanita yang seharus-nya sudah mati Itu.

   "Pandan, tunggu...!"seru Rangga, keras. Tapi Pandan Wangi sudah menghilang be-gitu cepat, mengejar perempuan siluman yang buas itu.

   "Hup! Yeaaah...!"

   Tanpa membuang-buang waktu, Rangga segera melesat mengejar Pandan Wangi.

   Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimili-kinya, sehingga dalam sekejap Pendekar Rajawali Sakti sudah lenyap dari pandangan mata.

   Semen-tara di tempat itu, tampak dua orang lagi sudah menggeletak tak bernyawa, dengan leher koyak bercucuran darah.

   Kepergian Inten dan dua pendekar muda yang begitu cepat itu membuat semua orang yang berada di sekitar tempat pertarungan tadi terpana beberapa saat.

   Bahkan, Ki Legik sendiri ikut terdiam seperti bermimpi.

   Beberapa hari belakangan ini, tak henti-hentinya dia dihadapkan pada peristiwa yang sangat membingungkan dan mengeri-kan.

   "Dewata Yang Agung..., peristiwa apa lagi yang akan terjadi di desa ini...?"

   Desah Ki Legik begitu tersadar dari keterpanaannya.

   Sementara itu, empat orang pemuka Desa Gedangan yang berada dekat dengannya saling berpandangan satu sama lain.

   Mereka pun masih belum bisa mengerti dan seakan-akan tidak per-caya dengan apa yang baru disaksikan ini.

   Meski-pun rata-rata memiliki kepandaian tinggi, mereka bukanlah orang-orang rimba persilatan, sehingga jarang sekali melihat kejadian-kejadian aneh dan menakjubkan seperti ini.

   "Siapa dua orang anak muda tadi, Ki?"

   Tanya Ki Murad memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka.

   Saat itu Ki Rasak sudah memerintahkan murid-muridnya untuk mengurus ketiga mayat yang ditinggalkan Siluman Penghisap Darah.

   Tampak beberapa jendela rumah yang berada de-kat dengan tempat itu terkuak sedikit.

   Dan, ter-sembullah kepala-kepala yang ingin mengetahui kejadian barusan.

   Tapi yang mereka lihat kini ha-nyalah kepala desa dan empat orang pemuka Desa Gedangan serta puluhan pemuda yang tengah mengurus ketiga mayat tadi.

   "Aku belum kenal banyak. Mereka baru sa-ja datang tadi,"

   Sahut Ki Legik perlahan.

   "Tampaknya mereka pendekar yang berke-pandaian tinggi,"

   Ujar Ki Murad lagi, agak menggumam.

   "Siapa pun kedua orang itu, yang jelas me-reka berada di pihak kita,"

   Selak Ki Rasak.

   "Mereka memang sedang memburu perem-puan siluman itu,"

   Kata Ki Legik.

   "Hm..., jadi mereka tahu siapa perempuan iblis itu, Ki..?"

   Ujar Ki Murad.

   "Ya, tapi mereka belum bercerita banyak....

   "Apakah mereka akan kembali lagi ke sini, Ki?"

   Tanya Cantraka.

   "Aku harap begitu."

   Kembali mereka terdiam beberapa saat. Sebaiknya kita tunggu saja di rumahku. Kuda-kuda mereka masih ada di sana. Aku yakin, mereka akan kembali lagi,"

   Kata Ki Legik kemudian.

   Tak ada yang menolak ajakan itu.

   Mereka segera melangkah menuju rumah Kepala Desa Ge-dangan.

   Hanya Ki Rasak yang tetap tinggal di situ, karena harus membereskan tempat itu dulu serta harus mengatur kembali murid-muridnya untuk tetap berjaga-jaga di seluruh wilayah Desa Gedangan ini.

   *** Sementara itu, Rangga dan Pandan Wangi tampak kebingungan ketika sampai di tepi Hutan Cengkir, yang berbatasan langsung dengan Desa Gedangan.

   Mereka tak menemukan lagi jejak-jejak Siluman Penghisap Darah.

   Jejak-jejaknya benar-benar menghilang di tepi hutan ini "Hm..., apa mungkin dia masuk ke dalam hutan ini..?"

   Gumam Pandan Wangi, seperti bertanya pada dirinya sendiri.

   "Mungkin juga, Pandan,"

   Sahut Rangga.

   "Kau ingin terus mengejarnya, Kakang?"

   Rangga tidak langsung menjawab.

   Ditatap-nya matahari yang sudah condong ke arah Barat.

   Sebentar lagi malam akan datang menyelimuti wi-layah Desa Gedangan dan Hutan Cengkir.

   Dan ter-lalu berbahaya tentunya menjelajahi hutan yang sangat lebat ini di malam hari.

   "Sebaiknya kita kembali dulu ke rumah Ki Legik,"

   Saran Rangga.

   "Yaaah..., hari memang sudah senja,"

   Desah Pandan Wangi seraya mengangkat bahunya sedikit. Mereka pun kemudian melangkah ke Desa Gedangan, yang masih tampak sunyi seperti se-buah desa mati yang ditinggalkan penduduknya. Dan cukup lama mereka berjalan tanpa berbicara sedikit pun.

   "Aku jadi tidak mengerti, kenapa kau se-pertinya tidak mampu menghadapinya, Ka-kang...?"

   Tanya Pandan Wangi, memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka.

   "Kau ingat apa kata Nyai Labur sebelum meninggal..?"

   Pandan Wangi terdiam.

   "Nyai Labur bilang, Inten sengaja dibang-kitkan dengan ilmu warisan leluhurnya. Dan dia juga dipersiapkan untuk berhadapan dengan laki-laki. Nyai Labur juga bilang bahwa Inten sesung-guhnya belum sempurna. Meskipun tidak akan kalah oleh laki-laki, dia tidak akan berdaya bila berhadapan dengan sesama wanita,"

   Jelas Rangga (Untuk lebih jelas, silakan baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah 'Perempuan Siluman"). 'Tapi tampaknya dia lebih tangguh diband-ing di Desa Mungkit dulu, Kakang."

   "Itu sudah pasti, Pandan. Selama ini dia pasti sudah mendapatkan banyak korban untuk diambil darahnya. Dan semakin banyak dia men-dapatkan darah, maka kehidupan dan kekuatan-nya semakin sempurna."

   "Hm..., apa itu berarti dia tidak akan mungkin bisa dihentikan lagi, Kakang?"

   "Entahlah, Pandan. Sebaiknya kita tetap terus berusaha,"

   Sahut Rangga, agak mendesah.

   Mereka terus berjalan perlahan-lahan dan mulai memasuki jalan di Desa Gedangan.

   Desa ini kelihatan masih sunyi sekali.

   Hanya beberapa orang saja terlihat berada di luar rumah.

   Dan itu pun orang-orang yang ditugaskan untuk berjaga-jaga bila Siluman Penghisap Darah muncul kem-bali.

   "Mereka semua benar-benar dicekam ketakutan, Kakang, Kasihan...,"

   Desah Pandan Wangi sambil mengedarkan pandangan ke sekitarnya.

   Rangga diam saja.

   Keadaan seperti ini me-mang kerap kali dijumpai dalam pengembaraan-nya.

   Keadaan desa yang dicekam oleh ketakutan dari ketidakberdayaan terhadap kejahatan orang-orang kuat telah berulang kali mereka temui.

   Desa Gedangan ini sekarang harus meng-hadapi orang yang semestinya sudah terbaring di dalam kubur.

   Adapun siluman yang masih berke-liaran itu adalah hasil perbuatan sesat seorang perempuan tua yang terlalu mencintai anaknya.

   Anak yang terlalu dicintai itu telah mengalami kematian secara tidak wajar.

   Dan perempuan tua itu tidak dapat menerimanya dengan hati lapang.

   Dia bertekad mencari keempat orang pem-bunuh anaknya.

   Namun hal itu tidak mungkin bi-sa dilaksanakannya, karena anaknya sendiri tidak bisa mengenali keempat orang itu.

   Pada saat keja-dian itu, mereka mengenakan topeng yang menu-tupi seluruh wajah.

   Maka hingga kini Siluman Penghisap Darah terus berkeliaran mencari para pembunuhnya sambil menyebar maut.

   Korban-korban pun berjatuhan untuk diisap darahnya hingga habis tak bersisa.

   Sementara itu, Rangga dan Pandan Wangi telah sampai di depan kedai milik Ki Biran.

   Mere-ka menghentikan langkah di situ.

   "Apa Ki Biran sudah kembali, Kakang?"

   Tanya Pandan Wangi sambil merayapi kedai yang tetap tertutup itu.

   "Aku rasa, dia masih berada di rumah Ki Legik. Tidak mungkin dia berani lagi ke sini,"

   Sahut Rangga.

   "Hhh..., kasihan dia,"

   Desah Pandan Wangi. Kembali mereka terdiam.

   "Aku rasa, ada baiknya kita tinggal di sini, Kakang. Biar lebih leluasa dan bebas,"

   Saran Pandan Wangi. Rangga hanya tersenyum.

   "Biar Ki Biran bisa pulang,"

   Sambung Pandan Wangi.

   Mereka kembali mengayunkan kaki perla-han-lahan menyusuri jalan tanah berdebu yang masih tetap lengang itu.

   Tak seorang pun terlihat lagi berada di luar rumah.

   Namun, dari beberapa jendela yang terbuka sedikit, tampak kepala-kepala menyembul.

   Rupa-rupanya beberapa pen-duduk mengintip dan memperhatikan kedua pen-dekar muda itu.

   Pendekar Rajawali Sakti sendiri tidak lagi peduli.

   Kakinya terus saja melangkah di samping Pandan Wangi.

   Sementara itu, matahari semakin condong ke arah Barat.

   Sinarnya tidak lagi terik seperti ta-di, bahkan kini terasa begitu lembut menyapu ku-lit.

   Rangga dan Pandan Wangi sudah sampai di depan pintu halaman rumah Ki Legik, yang ter-buat dari bambu.

   Mereka kemudian melangkah melintasi halaman yang berukuran cukup luas itu.

   Di beranda depan, Ki Legik dan empat orang pe-muka Desa Gedangan tampak sedang duduk me-nanti kedatangan mereka.

   Ki Legik segera menyambut, kedua pende-kar muda ini, dan segera memperkenalkan mereka kepada keempat orang pemuka desa itu.

   Mereka kemudian duduk melingkari meja di beranda ru-mah itu dan langsung terlibat dalam pembicaraan yang serius mengenai Siluman Penghisap Darah.

   *** Malam sudah cukup larut.

   Di beranda de-pan rumah Ki Biran yang juga dijadikan kedai itu, tampak Pandan Wangi masih duduk di balai-balai bambu yang berada di dekat pintu.

   Suasana ma-lam di Desa Gedangan sunyi sekali.

   Hanya desiran angin dan suara binatang malam yang terdengar.

   Sejak matahari tenggelam tadi, tak seorang pun terlihat melintasi jalan di depan sana.

   Benar-benar sunyi dan mencekam keadaannya.

   "Hhh...!"

   Sambil menghembuskan napas panjang yang terasa berat, Pandan Wangi turun dari balai-balai bambu itu.

   Perlahan kakinya terayun ke luar beranda.

   Sedikit dia melirik ke arah jendela sebuah kamar yang tampak terang oleh nyala lampu pelita.

   Dia tahu, Rangga dan Ki Biran masih ber-bincang-bincang di dalam kamar itu.

   Entah apa yang mereka perbincangkan.

   Pandan Wangi terus mengayunkan kakinya melintasi halaman rumah.

   "Pandan..."

   "Heh...?!"

   Pandan Wangi agak tersentak kaget ketika tiba-tiba telinganya mendengar suara pelan yang memanggil namanya. Sesaat pandangannya diedarkan ke sekeliling. Tapi, tak terlihat seorang pun di sekitarnya. Hanya kegelapan yang menyelimuti sekelilingnya.

   "Pandan, ke sini...."

   "Hm...."

   Pandan Wangi menggumam saat berpaling ke arah kanan.

   Di balik sebatang pohon yang ada di seberang jalan, terlihat seseorang seperti sedang bersembunyi.

   Kelopak mata gadis itu sedikit me-nyipit.

   Ketika melihat tangan orang itu melambai memanggilnya.

   Pandan Wangi agak ragu-ragu ju-ga.

   Setelah melirik sedikit ke arah jendela kamar yang masih terbuka lebar dan kelihatan terang-benderang itu, bergegas kakinya melangkah me-nyeberangi jalan tanah yang berdebu dan sedikit berbatu ini.

   Orang yang bersembunyi di balik pohon be-ringin itu langsung keluar begitu Pandan Wangi sudah mendekat.

   Hampir saja Pandan Wangi tidak percaya dengan pandangannya sendiri.

   Sungguh dia tidak mengira, orang yang bersembunyi di ba-lik pohon dan memanggilnya tadi ternyata adalah Darkan, menantu Kepala Desa Mungkit, yang is-trinya kini menjadi perempuan siluman setelah di-bangkitkan kembali dari kubur oleh ibunya (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah "Perempuan Siluman").

   "Darkan..., mau apa kau ke sini?"

   Tanya Pandan Wangi agak berbisik.

   "Menemuimu,"

   Sahut Darkan, langsung.

   "Edan...! Apa-apaan kau, heh...?!"

   Sentak Pandan Wangi, melirik kaget mendengar jawaban yang begitu langsung dari laki-laki muda ini.

   "Pandan, sejak aku melihatmu, aku tidak bisa lagi melupakanmu. Aku...!"

   "Cukup, Darkan..!"

   Sentak Pandan Wangi cepat, memutuskan ucapan laki-laki berwajah cu-kup tampan ini.

   Pandan Wangi melirik ke kanan dan ke ki-ri, khawatir kalau-kalau ada orang lain yang melihat dan mendengarkan pembicaraan ini.

   Kemu-dian dia menatap sebentar ke arah jendela rumah Ki Biran, yang masih juga terbuka lebar dan te-rang benderang.

   Bergegas gadis itu menjauhi jalan ini.

   Darkan segera mengikuti gadis itu dari be-lakang.

   Sedangkan Pandan Wangi terus berjalan menembus sebuah kebun yang hampir tidak tera-wat lagi.

   Semak-semak sudah meranggas meme-nuhi kebun ini.

   Pandan Wangi baru berhenti me-langkah setelah sampai di pinggir sungai kecil yang membelah kebun ini menjadi dua bagian.

   Perlahan dia berbalik, dan langsung menatap Dar-kan yang kini berada dekat sekali di depannya.

   "Kau keterlaluan, Darkan. Tidak seharus-nya kau berada di sini,"

   Desis Pandan Wangi dengan nada tidak senang atas kehadiran laki-laki muda ini.

   "Ke manapun kau pergi, aku selalu mengi-kutimu, Pandan. Rasanya aku tidak bisa lagi hi-dup tanpamu. Percayalah, Pandan.... Aku akan membahagiakan mu,"

   Kata Darkan, tidak peduli dengan sikap Pandan Wangi.

   "Kau gila, Darkan. Kau tahu..., aku sudah bertunangan. Dan tunanganku ada di sini. Jangan berbuat bodoh begitu, Darkan. Kau belum lama kehilangan istrimu. Dan sekarang, istrimu itu jadi manusia siluman penyebar maut!"

   "Aku tidak peduli, Pandan. Aku mencin-taimu. Dan aku ingin kau jadi istriku."

   "Edan...!"

   Desis Pandan Wangi, yang jadi serba salah.

   Baru kali ini dia menghadapi seorang laki-laki yang begitu mencintainya hingga tidak mau peduli dengan keadaan sekeliling, Darkan begitu gigih ingin mendapatkan cintanya.

   Dan hal itu su-dah pernah diutarakan laki-laki itu ketika berada di Desa Mungkit dulu.

   Pandan Wangi sendiri tidak mengerti, baru dua hari mereka kenal, Darkan langsung saja menyatakan cintanya.

   Bahkan laki-laki itu terus mengejar dan mendesaknya, walau-pun Pandan Wangi sudah tegas menolak.

   Bahkan, dikatakan juga oleh Pandan Wangi bahwa dia ada-lah tunangan Rangga, si Pendekar Rajawali Sakti.

   Diingatkan pula bahwa istri Darkan yang sudah meninggal sekarang bangkit lagi menjadi Siluman Penghisap Darah.

   Tapi, Darkan tetap tidak peduli.

   Tiba-tiba Darkan meraih tangan Pandan Wangi dan menggenggamnya kuat-kuat.

   Lalu ce-pat sekali dia menyentaknya, sehingga Pandan Wangi terpekik kaget dan kehilangan keseimban-gan.

   Darkan langsung menyambut tubuh ramping gadis itu dan memeluknya erat-erat.

   "Jangan! Gila kau, Darkan. Lepaskan...!"

   Sentak Pandan Wangi, yang langsung memerah wajahnya.

   "Tidak.... Sebelum kau menerima cintaku, Pandan,"

   Sahut Darkan dengan napas yang ter-sengal memburu.

   "Edan...!"

   Plak! Tiba-tiba tangan Pandan Wangi melayang cepat dan mendarat di wajah laki-laki muda itu.

   Seketika itu pula pelukan Darkan terlepas.

   Pan-dan Wangi cepat-cepat menjauhkan diri.

   Sebentar dia menatap tajam, lalu bergegas berbalik dan me-langkah meninggalkan pemuda ini.

   "Pandan, tunggu...!"

   Darkan bergegas mengejar.

   Dan dihadang-nya si Kipas Maut itu dari depan.

   Pandan Wangi pun terpaksa menghentikan langkahnya.

   Kedua bola matanya yang bersorot tajam menusuk lang-sung ke bola mata Darkan, yang juga balas mena-tapnya tanpa berkedip sedikit pun.

   Tampak di ke-gelapan malam, pipi kiri pemuda itu memerah bergambar lima jari tangan Pandan Wangi yang sempat mendarat tadi.

   "Ikutlah bersamaku, Pandan. Aku benar-benar mencintaimu,"

   Ujar Darkan, agak merengek. Pandan Wangi diam saja. Tatapan matanya masih menusuk langsung ke bola mata pemuda di depannya ini Dan, tiba-tiba...

   "Hup!"

   "Pandan...!"

   Tapi Pandan Wangi sudah melesat cepat bagai kilat.

   Sehingga, sebelum Darkan bisa menge-jar, gadis itu sudah lenyap tak terlihat lagi.

   Dia menghilang tertelan oleh gelapnya malam yang pekat ini.

   Darkan hanya bisa berdiri mematung.

   Di-pandanginya arah kepergian Pandan Wangi.

   "Huh! Dia harus jatuh ke tanganku...!"

   Dengus Darkan. Beberapa saat pemuda itu masih tetap ber-diri mematung di tengah-tengah kebun yang cu-kup lebat pepohonannya. Sementara itu malam te-rus merayap, semakin bertambah larut.

   "Pandan Wangi... Hhh...! Dia cantik sekali. Apa pun caranya, dia harus jatuh ke dalam pelu-kanku. Harus...!"

   Desis Darkan lagi. Cepat dia memutar tubuhnya berbalik. Ta-pi pada saat itu, tiba-tiba sebuah bayangan merah berkelebat cepat tidak jauh di depannya. Darkan tersentak kaget.

   "Hey...!"

   Namun bayangan merah itu sudah menghi-lang begitu cepat, secepat dia berkelebat tadi.

   Darkan penasaran.

   Bergegas dia melesat mengejar bayangan merah itu.

   Gerakannya cepat dan ringan sekali, karena ilmu meringankan tubuh yang dimi-likinya memang sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi.

   Sebentar saja dia sudah jauh me-ninggalkan tempat itu.

   Ditembusnya malam yang begitu pekat tanpa cahaya bulan sedikit pun.

   'Hup! Hiyaaa...!"

   Darkan terus berlari cepat menerobos le-batnya pepohonan di kebun yang cukup luas ini. Sesekali dia masih sempat melihat bayangan me-rah itu berkelebat begitu cepat di depannya.

   "Berhenti..!"

   Seru Darkan keras, sambil mengerahkan tenaga dalamnya.

   Teriakan Darkan yang begitu keras mem-buat sosok berbaju merah muda yang berkelebat cepat bagai kilat itu seketika berhenti.

   Dan, Darkan sendiri pun langsung menghentikan larinya.

   Jaraknya tinggal sekitar dua batang tombak dari sosok berbaju merah muda yang membelakan-ginya itu.

   "Nisanak, siapa kau...?"

   Tanya Darkan dengan suara agak tertahan.

   Wanita berbaju merah itu tidak menjawab.

   Perlahan tubuhnya berputar.

   Seketika itu juga, Darkan terpekik dengan mata terbeliak lebar dan mulut ternganga.

   Hampir-hampir dia tidak per-caya dengan pandangan matanya sendiri.

   Wanita yang berdiri di depannya ini sangat cantik, dengan bentuk tubuh yang ramping dan indah menggiurkan.

   Tapi, bukan itu yang membuat Darkan jadi terlongong-longong seperti patung batu.

   Wajah wanita yang ternyata dikenalnya itulah yang membuatnya tidak bisa lagi berkata-kata.

   "Inten...,"

   Desis Darkan, hampir tidak terdengar.

   "Siapa kau?"

   Tanya wanita cantik berbaju merah muda itu, terdengar begitu datar dan dingin.

   Tak ada tekanan sedikit pun pada nada suara itu.

   Darkan sedikit terkesiap dengan istrinya, yang sebenarnya sudah meninggal tapi bangkit la-gi dalam bentuk siluman.

   Tentu saja Inten tidak mengenalinya lagi.

   "Kau..., kau sudah lupa padaku, Inten...? Aku Darkan, suamimu...."

   Entah apa yang terlintas di dalam benak Darkan sekarang ini.

   Yang jelas, tidak ada lagi ra-sa takut di dalam dirinya.

   Bahkan, dicobanya un-tuk mengembalikan ingatan wanita itu pada di-rinya.

   Perlahan Darkan melangkah mendekati.

   Se-dangkan Inten yang kini dikenal dengan julukan Siluman Penghisap Darah itu masih tetap saja berdiri tegak dengan pandangan kosong, bagai tak memiliki kehidupan sama sekali.

   "Suamiku...?"

   "Benar, Inten. Aku suamimu. Sudah lama aku mencarimu. Kau menghilang begitu saja tan-pa memberi kabar apa pun padaku."

   Inten merayapi Darkan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Beberapa saat lamanya dia terdiam. Sedangkan Darkan sudah semakin dekat. Langkahnya baru berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar lima langkah lagi di depan Siluman Penghisap Darah.

   "Kau tentu ingat dengan Nek Paring, bu-kan...?"

   Darkan terus mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita ini.

   "Nek Paring...?"

   Kening Inten langsung berkerut "Oh...! Bagaimana dia...?"

   "Dia sudah tewas,"

   Sahut Darkan.

   "Keparat..! Siapa yang membunuhnya?"

   Wajah Inten langsung memerah begitu mendengar Nek Paring sudah tewas.

   Hanya pe-rempuan tua itulah yang bisa dikenalnya, karena Nek Paring sebenarnya adalah ibunya sendiri.

   Dan perempuan tua itulah yang telah membangkitkan kematiannya dengan ilmu warisan leluhur keluar-ganya.

   "Rangga.... Dia dikenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti. Dia yang membunuh Nek Paring, nenek kita berdua, Inten. Kau tentu sangat mencintai Nek Paring. Aku juga mencintainya, Inten. Itu sebabnya aku mencarimu untuk memba-las kematiannya."

   "Pendekar Rajawali Sakti...,"

   Desis Inten, dengan nada suara yang dingin sekali.

   "Benar, Inten. Dia yang membunuh Nek Paring. Dan sekarang dia juga sedang mengejar-mu,"

   Kata Darkan, terus menjejali Siluman Penghisap Darah dengan kata-kata bernada mengha-sut. Inten terdiam. Kembali dia memandangi pemuda di depannya ini dalam-dalam.

   "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau men-gaku suamiku?"

   Tanya Inten tiba-tiba, masih dengan nada suara yang dingin.

   "Aku memang suamimu, Inten. Nek Paring yang menikahkan dan merestui kita,"

   Sahut Darkan. 'Tapi..."

   "Aku tahu, kau pasti lupa. Terlalu banyak beban persoalan yang kau hadapi, sehingga kau lupa tentang perkawinan kita,"

   Selak Darkan cepat.

   "Benarkah kau suamiku...?"

   "Aku berani bersumpah, Inten. Aku tidak akan ada di sini mencarimu kalau kau bukan is-triku,"

   Kata Darkan meyakinkan.

   Inten kelihatan masih ragu-ragu.

   Sedang-kan Darkan sudah semakin dekat Perlahan-lahan pemuda itu mengulurkan tangannya, dan meraih tangan wanita cantik ini, lalu digenggamnya erat-erat.

   Agak terkesiap juga dia begitu merasakan tangan wanita ini dingin sekali, seperti batu di puncak gunung yang tinggi dan berselimut kabut.

   Sedikit pun tidak dirasakan adanya kehan-gatan darah pada tangan yang putih dan terlihat pucat ini Tapi, Darkan tidak lagi peduli.

   Dia terus menggenggam tangan yang dingin ini dengan erat sekali.

   Karena, di dalam benaknya, dia sudah mempunyai suatu rencana yang hanya diketa-huinya sendiri.

   Yaitu memanfaatkan Siluman Penghisap Darah ini untuk menghadapi Pendekar Rajawali Sakti, yang dianggapnya sebagai pengha-lang besar dalam upaya memperoleh cinta Pandan Wangi.

   "Sudah lama kita tidak bertemu, Inten. Aku rindu sekali padamu,"

   Desah Darkan selembut mungkin.

   "Kau benar-benar suamiku...?"

   Inten masih kelihatan ragu-ragu.

   "Kenapa kau bertanya begitu, Inten? Aku sungguh-sungguh suamimu. Nek Paringlah yang merestuinya,"

   Ujar Darkan kembali, berusaha meyakinkan.

   "Aku akan melakukan apa saja demi kau, Inten. Percayalah, aku sangat mencintaimu."

   "Kau mau melakukan apa pun untukku?"

   "Ya, demi cintaku padamu."

   "Tapi, aku ini..."

   "Aku tahu, Inten. Aku tahu.... Aku akan membantumu dan menggantikan kedudukan Nek Paring. Percayalah, aku akan mencarikan darah untukmu,"

   Kata Darkan lagi, kelihatan bersungguh-sungguh.

   "Oh, benarkah itu...?"

   "Tentu, Inten. Malam ini juga aku akan mencarikan darah untukmu. Dan kau tidak perlu lagi keluar masuk desa untuk mencari darah. Per-siapkan saja dirimu untuk menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. Kita berdua akan membalas kema-tian Nek Paring,"

   Kata Darkan setengah berbisik di dekat telinga wanita ini.

   "Aku senang mendengarnya."

   "Marilah, kita cari tempat yang aman,"

   Ajak Darkan, 'Tapi, kau akan mencarikan darah untukku malam ini, bukan?" 'Ya,"

   Sahut Darkan mantap.

   "Pergilah kau. Aku tunggu di sini. Nanti ba-ru kita cari tempat tinggal yang aman,"

   Kata Inten lagi.

   "Kau menguji kesetiaanku, Inten...?"

   Siluman Penghisap Darah tidak menjawab sedikit pun. Dia hanya menatap dengan sinar ma-ta yang cukup dalam dan tertuju lurus pada bola mata pemuda di depannya ini.

   "Baiklah, Inten. Malam ini kau tunggu di sini. Aku akan segera kembali untuk memenuhi permintaanmu,"

   Kata Darkan.

   "Pergilah. Aku menunggumu di sini."

   Sebentar Darkan memandangi wajah yang putih dan kelihatan pucat itu.

   Kemudian kakinya melangkah mundur beberapa tindak dan segera melesat pergi dengan cepat sekali.

   Sedangkan In-ten masih tetap berdiri mematung seperti arca ba-tu.

   Dipandanginya arah kepergian pemuda itu.

   *** Malam ini angin bertiup kencang.

   Awan hi-tam menggumpal bergulung-gulung di langit yang kelam, membuat sang rembulan tidak sanggup menembus cahayanya untuk menerangi mayapada ini.

   Di dalam pekatnya malam, tampak sesosok tubuh bergerak mengendap-endap di antara dind-ing-dinding rumah.

   Sosok tubuh tinggi tegap itu mengenakan baju berwarna biru gelap yang ham-pir hitam, sehingga keberadaannya sulit diketahui.

   "Hup!"

   Tiba-tiba dia melesat ringan ke atas atap sebuah rumah.

   Sebentar tubuhnya dirapatkan di atas atap itu.

   Lalu, tangannya mulai membongkar atap.

   Sejenak dia melirik ke kanan dan kiri.

   Di-rayapinya keadaan sekitar.

   Dan tampaknya tak ada seorang pun yang terlihat.

   Begitu sunyi kea-daan di Desa Gedangan ini.

   Brusss! Tiba-tiba orang itu sudah lenyap ke dalam rumah yang atapnya sudah dibongkar cukup lebar olehnya tadi.

   Tak lama kemudian, kembali dia ter-lihat melesat ke atas atap, dengan membawa seso-sok tubuh yang tampaknya tidak sadarkan diri.

   Sejenak pandangannya diedarkan, merayapi kea-daan sekitarnya.

   Lalu bagaikan kilat, laki-laki bertubuh tinggi tegap itu melesat turun dari atas atap.

   Tapi, baru saja kakinya menjejak tanah, ti-ba-tiba....

   "Berhenti...! Siapa kau?"

   "Heh...?!"

   Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu terkejut setengah mati begitu tiba-tiba terdengar bentakan keras yang menggelegar.

   Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba melesat sebuah bayangan kuning.

   Dan tahu-tahu di depan laki-laki muda berbaju biru gelap itu sudah berdiri seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah berwarna kuning.

   Dialah salah seorang pemuka Desa Gedangan, yang bernama Ki Bulang.

   "Phuih! Belum apa-apa sudah ada pengha-lang!"

   Dengus pemuda tampan berbaju biru gelap itu dalam hati.

   "Siapa kau? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"

   Tanya Ki Bulang tegas. Namun pemuda tampan bertubuh tegap yang tak lain dari Darkan itu tidak menjawab. Dan, mendadak....

   "Hiyaaa...!"

   Bagaikan kilat, Darkan melompat sambil mencabut goloknya yang terselip di pinggang. Dan secepat itu pula goloknya dibabatkan ke arah ke-pala orang tua berjubah kuning ini. Wuk! 'Uts...!"

   Untung Ki Bulang segera merundukkan kepalanya, sehingga tebasan golok itu hanya lewat di atas kepalanya.

   Tapi, belum juga Ki Bulang bisa menarik kepalanya tegak kembali, mendadak Darkan sudah melepaskan satu tendangan keras sambil memutar tubuhnya di udara.

   "Hiyaaa...!"

   Desss! Begitu cepatnya tendangan yang dile-paskan Darkan, sehingga Ki Bulang tidak sempat lagi berkelit menghindar.

   Tendangan yang men-gandung pengerahan tenaga dalam tinggi ini tepat menghantam punggung laki-laki tua berjubah kuning itu.

   Tak pelak lagi, tubuh Ki Bulang terje-rembab jatuh mencium tanah.

   "Mampus kau, Orang Tua Keparat! Hiyaaat..!"

   Sambil berteriak menggelegar, Darkan me-luruk deras sambil mengayunkan goloknya dengan cepat sekali ke arah laki-laki tua berjubah kuning yang baru saja bisa bangkit berdiri itu.

   Tak ada la-gi kesempatan bagi Ki Bulang untuk menghindari serangan yang begitu cepat ini.

   Dan....

   "Hih!"

   Tap! "Yeaaah...!"

   Diegkh! "Akh...!"

   Sungguh sukar dipercaya! Begitu Ki Bulang berhasil menjepit golok itu dengan kedua belah tangannya, mendadak Darkan memutar tubuhnya sambil melepaskan satu tendangan keras mengge-ledek ke arah dada laki-laki tua berjubah kuning ini.

   Begitu cepat dan kerasnya tendangan itu.

   se-hingga tubuh Ki Bulang terpental jauh sambil memekik keras agak tertahan.

   "Hiyaaat..!"

   Darkan rupanya tidak mau lagi mem-buang-buang waktu.

   Bagaikan kilat, pemuda itu meluruk deras.

   Dikejarnya tubuh Ki Bulang yang meluncur deras akibat terkena tendangan keras bertenaga dalam tinggi yang dilepaskannya tadi.

   Bet! Sambil mengerahkan kekuatan tenaga da-lamnya, Darkan mengebutkan goloknya dan men-garahkan langsung ke leher laki-laki tua berjubah kuning itu.

   Begitu cepat serangan yang dilakukan Darkan, sehingga Ki Bulang benar-benar tidak da-pat lagi menghindarinya.

   Terlebih lagi, saat ini keseimbangan tubuhnya memang belum bisa dikua-sai.

   Hingga akhirnya....

   Cras! "Aaa...!"

   Satu jeritan panjang yang melengking ting-gi terdengar begitu menyayat.

   Kesunyian malam pun ter-pecah.

   Tampak Ki Bulang jatuh menggele-par di tanah dengan leher terbabat hampir putus.

   Darah bercucuran deras dari luka yang menganga lebar di leher laki-laki tua berjubah kuning ini.

   "Hup!"

   Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dar-kan segera melesat meninggalkan Ki Bulang yang masih menggelepar meregang nyawa.

   Cepat sekali gerakan yang dilakukan Darkan, sehingga dalam sekejap pemuda itu sudah lenyap sambil memba-wa seseorang yang diambilnya dari dalam rumah tadi.

   Seorang penduduk Desa Gedangan akan di-persembahkannya untuk Siluman Penghisap Da-rah.

   Sementara itu, jeritan melengking tinggi dan menyayat tadi telah membuat orang-orang yang tengah terlelap dari buaian mimpi seketika terjaga.

   Dan, lampu di rumah-rumah yang ada di sekitar jalan itu langsung menyala.

   Tampak dari ujung jalan, beberapa orang berlari-lari ke arah tubuh Ki Bulang, yang sudah menggeletak tak bernyawa lagi dengan leher hampir putus terbabat golok.

   Diantara mereka yang berdatangan, tam-pak Rangga dan Pandan Wangi, yang disusul oleh Ki Legik, Cantraka, Ki Murad, dan Ki Rasak.

   Mere-ka terperanjat setengah mati begitu melihat dari dekat tubuh Ki Bulang yang sudah menggeletak tak bernyawa itu.

   Leher pemuka desa ini hampir putus.

   Dan darah masih bercucuran dari lehernya yang menganga lebar itu.

   "Iblis...!"

   Desis Pandan Wangi, yang wajahnya langsung memerah.

   *** Kegemparan dan ketakutan semakin me-landa Desa Gedangan.

   Sekarang bukan hanya Si-luman Penghisap Darah yang muncul mencari korban.

   Tapi, kini muncul juga seorang laki-laki muda dengan wajah tampan dan tubuh tinggi te-gap berotot, yang menculik penduduk desa.

   Bebe-rapa orang peronda sempat memergoki dan berta-rung dengannya.

   Tapi, Tampaknya pemuda itu le-bih tangguh dari mereka.

   Bahkan, Ki Bulang pun berhasil dibunuhnya.

   Padahal laki-laki tua itu adalah salah seorang pemuka Desa Gedangan.

   Semua orang yang diculik pemuda itu pasti ditemukan mati dengan tubuh tercabik dan darah tak tersisa sedikit pun.

   Kenyataan ini membuat Rangga menduga bahwa Siluman Penghisap Darah sekarang dibantu oleh orang lain yang memiliki kepandaian cukup tinggi.

   Entah sudah berapa orang yang menjadi korban iblis itu.

   Dan hal ini membuat seluruh penduduk Desa Gedangan semakin dicekam pera-saan takut.

   Bahkan, mereka tidak lagi merasa aman, walaupun berada di dalam rumahnya sen-diri.

   "Keadaan ini tidak bisa didiamkan terus-menerus, Kakang. Kita harus segera mendapatkan iblis-iblis itu sebelum semua penduduk desa ini habis jadi korban kebiadaban mereka!' desis Pan-dan Wangi geram.

   "Mereka benar-benar siluman Pandan. Me-reka datang dan menghilang seperti setan,"

   Kata Rangga, dengan suara perlahan.

   "Tapi kita harus secepatnya menghentikan mereka, Kakang. Aku tidak ingin kepercayaan Ki Legik kepada kita menjadi luntur, karena sampai saat ini iblis-iblis itu masih juga berkeliaran mencari korban,"


Pendekar Slebor Dendam Dan Asmara Dewa Arak Dewi Penyebar Maut Komplotan Kelelawar Hitam Karya No Name

Cari Blog Ini